Fanfiction / Fantasy

FF | Princess | 4

image

Story | Im Yoona | Choi Siwon | Lauren Hanna Lunde | Amber| Kim Yoojin | Seohyun | Tiffany | etc

Cover: Berta/Xoloveyoonwon

Happy Reading~

*

*

*

Masih saja tertegun sambil memandangi tangannya yang tadi digenggam oleh Dave, serta masih merasakan rasa hangat dari tangan pria itu yang tadi melingkupi jari-jarinya, menjadikan Yoona tak terlalu memperhatikan ketika Dave yang mengemudi disebelahnya secara pelan -agar tak didengar oleh sang putri- mengumpat kesal pada saat ia berniat menurunkan Yoona -sesuai permintaan wanita itu- dengan menghentikan laju mobilnya didepan gedung apartemen yang ditempati wanita itu, ia justru melihat kerumunan orang-orang yang membawa kamera -para pencari berita itu- sudah membuat kerumunan didepan sana. Andai tak tertahan oleh para petugas keamanan yang berjaga, Dave rasa mereka sekarang sudah menyerbu persis didepan pintu apartemen Yoona.

“Apa-apaan mereka disana..?”

Menyadari ketiadaan reaksi dari Yoona yang berada disebelahnya, Dave lantas menolehkan wajahnya untuk kemudian menemukan seulas senyum yang justru Yoona perlihatkan diwajahnya. Entah apa yang berada dalam pemikiran artis wanita itu hingga dalam keadaan seperti ini, ia masih bisa tersenyum. Dave tak bermaksud menyuarakan pertanyaan yang semacam itu pada Yoona ketika dirinya sendiri sedang terus mempertanyakan mengapa ia tadi menarik serta wanita itu dan menjadikannya juga sang putri sebagai buruan para pencari berita itu. Itu pasti hanya ketidak sengajaannya saja tadi..

“Sial..”

Umpatnya lagi ketika menyadari salah seorang dari para pencari berita disana sedang mengarahkan perhatiannya kearah mobil miliknya. Entah dia melihat keberadaan Yoona didalam mobilnya atau tidak, yang jelas Dave tidak ingin mengambil resiko dengan semakin merasa tidak nyaman ketika mobilnya diserbu oleh mereka. Maka sebelum hal itu terjadi, ia buru-buru melajukan kembali mobilnya dan sedikit kencang menginjak pedal gas nya, hingga membuat Lauren yang duduk sendirian dikursi belakang, mencondongkan tubuh kecilnya kedepan untuk memperingatkannya..

“Daddy jangan ngebut.. Kau membuatku takut, Dad..”

Dave melirik kearah kaca spion didepannya, untuk mengangguk pada sang putri, serta memberinya respon dengan mengurangi kecepatan mobilnya yang sudah kembali melaju dijalan raya..

Suara Lauren tadi-lah yang akhirnya membuat Yoona teralih dari ketertegunannya dan lantas mengarahkan pandangannya kearah Dave, serta lokasi keberadaan dirinya..

“Kemana kita akan pergi? Apa kau lupa dengan letak gedung apartemenku? Sepertinya ini sudah terlewat..”

Dave mencengkram erat-erat roda kemudinya, menahan mulutnya agar tidak mengeluarkan umpatan kekesalannya sekali lagi. Jadi tadi Yoona benar-benar tidak memperhatikan kerumunan para wartawan didepan gedung apartemennya?
Yang benar saja..

“Apartemenku sudah terlewat, Siwon-ssi..”

Dave tidak lagi menegang pada saat Yoona memanggilnya dengan nama itu. Ia pun tak mencoba melarang Yoona memanggilnya dengan menggunakan nama itu. Mungkin karna dalam beberapa hari ini, dirumahnya ia sudah terbiasa mendengar lagi sang ibu serta Minho memanggilnya dengan nama itu. Bahkan Amber juga berani ikut-ikutan dengan tidak lagi memanggilnya Dave melainkan Siwon..

Siwon..
Rasanya nama itu memanglah lebih melekat kedalam jati dirinya, daripada ‘Dave’ kendati delapan tahun lamanya nama itu telah ia pergunakan sebagai identitas baru baginya..

“Kau tidak melihat banyak pencari berita yang sudah bersiap menyerangmu?”

Yoona sesaat menggigit bibirnya..
Sejujurnya memang tidak. Ia sama sekali tidak memperhatikan keberadaan para pencari berita itu, karna dirinya sedang terlalu sibuk mengatasi debaran jantungnya serta meresapi perasaan hangat ketika kembali berada didekat Siwon, dan menghirup partikel udara yang sama sepertinya..

“Aku.. Aku tahu..” Elaknya.. “.. Tapi mereka tidak mungkin menyerangku? Mereka hanya para wartawan, aku sudah biasa menghadapinya. Tidak apa-apa seandainya tadi kau menurunkanku disana”

“Kau seharusnya mengatakan hal itu tadi..”

Yoona kembali menggigit bibir bawahnya dan tak lagi mengatakan apa-apa pada Dave, kecuali hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan oleh Lauren, dan merespon celotehan panjangnya, serta tersenyum bersama gadis kecil itu yang sepertinya juga tengah merasakan kebahagiaan yang sama dihatinya, seperti yang dirasakan olehnya..

“Ya Tuhan..”

Yoona kembali dibuat memfokuskan perhatiannya pada Dave ketika mendengar geraman pria itu, serta sedikit bunyi dari ban mobil pada saat Dave mendadak menginjak rem, juga pukulan dari tangannya yang mengepal pada roda kemudi itu sebelum kemudian pria itu mengambil arah memutar, menjauh dari pagar rumahnya.

Yang kemudian Yoona sadari Dave berniat membawa dirinya kerumahnya, tapi kemudian ia juga mengetahui jika Dave sudah lebih dulu melihat keberadaan para pencari berita didepan rumahnya. Hingga pria itu sekarang mengarahkan laju mobilnya berlawanan dari jalan menuju rumahnya..

Para pencari berita itu, bagaimana mungkin sudah mengetahui siapa Dave yang muncul bersama dengan Lauren disaat-saat proses pengambilan gambar yang tadi dilakukannya, dan lantas menarik serta dirinya.

Ooh, sungguh cerdik sekali mereka..

“Bagaimana mungkin mereka membuatku tidak bisa pulang kerumah ku sendiri..”

Beberapa saat setelahnya, Yoona sekali lagi menggigit bibir bawahnya saat Dave menggumam dengan kekesalan yang terlihat jelas menggurat diwajahnya..

“Kau, seharusnya tidak perlu menarik tanganku tadi..”

Yoona hati-hati mengucapkan, tanpa memperhatikan kearah wajah Dave..

Ralat, mungkin dia tidak benar-benar berhati-hati. Seandainya dirinya berhati-hati, ia takkan mengucapkan kalimat yang seperti itu, yang kemudian langsung ditanggapi oleh Dave..

“Aku hanya bermaksud menyelamatkan putriku, itu saja..”

“Lauren akan baik-baik saja ketika bersamaku..”

“Tapi tidak dengan puluhan para pencari berita itu..!” Dave menggeram, tapi masih ditanggapi santai oleh Yoona..

“Jadi seandainya tanpa wartawan itu, kau setuju Lauren akan baik-baik saja bersamaku?” Kerlingan mata yang ditunjukkan oleh Yoona manandakan ia benar-benar merasa santai meski sekali lagi Dave menggeram mendengar apa yang dikatakannya..

“Bukan seperti itu maksudku..!”

Yoona hanya tersenyum, kemudian memilih beralih untuk memperhatikan Lauren..

“Kita akan pergi kemana, Mom?”

“Kemana yang kau inginkan, sayang?”

“Aku tidak tahu.. Kemana saja asal bersama dengan Mommy..”

Yoona kembali tersenyum lantas mengusap rambut Lauren saat gadis kecil itu kembali mencondongkan tubuhnya kedepan, untuk selanjutnya beralih melontarkan tanya pada sang ayah..

“Apa Daddy sudah merencanakan sesuatu? Kemana kita akan pergi, Dad?”

“hmm, sepertinya aku tahu kemana kita bisa pergi..”

Sebelum Dave sempat menjawab apa yang Lauren tanyakan, Yoona telah lebih dulu bersuara. Menjadikan pria itu lantas sekilas mengarahkan tatapan mata kearahnya. Hanya sekilas saja, Dave tentunya lebih harus berkonsentrasi pada roda kemudi yang membawa mobilnya melaju di jalan raya..

“Kemana Mom?”

“Apa kau mau bertemu dengan Joon dan Chan?”

“Tentu saja.. Apa kita akan pergi kesana sekarang?”

“Ya, kita bisa pergi sekarang..”

“Apa mereka anak-anak yang baik, Mom?”

“hmm, mereka akan senang berteman denganmu, sayang. Kurasa kau juga seusia mereka..”

“Ayo, Dad.. Ayo kita kesana..!” Lauren sudah langsung berseru riang pada sang ayah. Tahu jika sang ayahlah yang sedang mengemudikan mobil yang akan bisa membawanya bertemu dengan dua keponakan ibunya.

“Apa maksud ucapanmu?” Dave berucap dingin pada Yoona..

“Kita bisa kerumah kakak-ku. Kurasa para pencari berita itu tidak akan sampai kesana..” Setidaknya mereka memiliki perasaan jera, dan akan berpikir ulang untuk mendatangi rumah Yoojin oenni-nya. Yoona masih mengingat pada saat ia terbangun dari koma, dan merasakan perasaan terguncang akibat kehilangan Prince. Hingga kondisinya saat itu menjadikan para rekannya memutuskan menghentikan kegiatan grup-nya sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Pada saat itu, Yoona pun menjadi buruan para pencari berita. Ia yang dipaksa oleh Yoojin agar sementara tinggal bersamanya, menjadikan rumah sang kakak tak pernah sepi dari para pencari berita. Mereka terus mendatangi rumah itu, tak sesaat pun mencoba beranjak pergi, hingga suami Yoojin, Joowon yang adalah seorang anggota kepolisian membuat semacam peringatan terhadap mereka. Hingga pada hari itu, mereka membubarkan diri dari depan rumahnya. Seharusnya para pencari berita itu masih mengingat kejadiannya. Atau jika mereka masih seorang yang baru bekerja dibidang itu, setidaknya mereka pernah mendengar cerita itu dari para senior mereka..

“.. Kau bisa memutar arah mobilmu didepan sana, Siwon-ssi?” Yoona meneruskan, setelah sedikit mengingat pada kejadian yang telah berlalu cukup lama itu.

“Sebaiknya kita ke tempat lain saja. Hotel memiliki pengamanan yang lebih baik..”

“Tidak, kita tidak akan bisa ke tempat lain. Dan kau bilang hotel..? Astaga, kau ingin membawaku ke hotel? Yang benar saja Siwon-ssi. Para petugas hotel mungkin tidak akan mengenalimu, tapi mereka setidaknya akan menyadari siapa aku. Kau ingin membuat skandal denganku?”

Yoona menahan geli mengetahui Dave yang kemudian memutar mata kearahnya. Dave sendiri merasa bodoh mengapa dirinya terpikir untuk pergi ke hotel, sedangkan Yoona ada bersamanya. Membawa seorang wanita ke hotel jelas akan mendatangkan prasangka-prasangka lain bagi orang yang melihatnya. Apalagi wanita itu adalah Yoona yang berprofesi sebagai seorang artis. Artis ternama..

Ternyata, sungguh tidak mudah berurusan dengan seorang artis wanita seperti Yoona. Dave samar mengerutkan keningnya, merasa agak pusing memikirkan apa yang harus dilakukannya..

“Jadi, kita ke tempat kakak-ku saja kan? Lagi pula Lauren sangat ingin bertemu dengan Joon dan Chan..”

“Lauren tidak mengenal siapa mereka..”

“Karena itu aku akan mengenalkan mereka..”

“Tidak perlu.. Ka–”

“Ayolah Dad.. Mengapa Daddy seperti itu? Biasanya Daddy selalu menuruti keinginanku..”

“Bukan begitu sayang, tapi..”

“Pleaseee..”

Jika sang putri sudah memohon, Dave tahu pasti ia tidak akan bisa melakukan apa-apa kecuali menuruti kemauan putrinya. Maka ia pun mengikuti saja arah yang ditunjukkan oleh Yoona yang akhirnya setelah kurang lebihnya tiga puluh lima menit berkendara, mereka sampai didepan sebuah bangunan dua lantai yang menjadi rumah Yoojin kakak perempuan Yoona, bersama dengan suami dan dua orang putra kembarnya.

Yoona kemudian lebih dulu keluar dari dalam mobil, dan merangkul Lauren untuk selanjutnya menekan bel pada pintu rumah sang kakak..

“Yoona-ya.. Ha-i..”

Yoojin menyambut dengan kerutan dikeningnya pada saat ia mendapati Yoona berdiri didepan pintu rumahnya bersama dengan seorang bocah perempuan kecil yang sedang dirangkul olehnya. Serta seorang pria berperawakan tinggi, postur tubuhnya gagah, yang pada saat itu seperti sedang terlihat mengamati halaman rumahnya..
image

“Kau.. Apa yang– ?”

“Setidaknya persilahkan dulu kami masuk, oenni-ya. Setelah itu kau boleh bertanya. Oh, Siwon-ssi kenalkan ini Yoojin, kakakku..”

Yoojin lantas mengangguk kearah Dave, masih dengan tatapan awas dikedua matanya. Hal yang nyaris serupa juga tengah dilakukan oleh Dave. Sepertinya hanya Yoona-lah yang masih terlihat santai. Dan tentu saja, Lauren. Gadis kecil itu sepertinya tak masalah dengan tempat baru disekitarnya, selama ada sang mommy dan juga ayah yang berada didekatnya.

“Ayo sayang kita masuk..”

Tak menunggu Dave dan Yoojin saling menyapa, Yoona mengajak Lauren untuk masuk kedalam rumah kakaknya. Pada saat Yoona mencoba memasuki rumahnya, Yoojin secara otomatis langsung menggeser tubuhnya dan membiarkan sang adik masuk kedalamnya. Sementara kemudian ia memandang kearah Dave, memperhatikan gerak-geriknya. Siapakah gerangan pria yang disebutkan oleh sang adik bernama Siwon itu?
Yoojin merasa belum pernah melihat pria itu sebelumnya. Tapi mengapa namanya seolah-olah seperti tak asing bagi–
Tunggu..
Tunggu..
Yoona mengatakan namanya tadi adalah Siwon?
Siwon..?
Benarkah dia Siwon..?
Yang sering disebut-sebut oleh adiknya?
Jadi pria itu benar-benar ada? Dia nyata?

Oh Tuhan..
Yoona sudah sering menyebut nama Siwon sebagai kekasihnya, tapi Yoojin tak sekalipun pernah yakin bahwa pria itu ada. Ia selalu beranggapan Yoona hanya mengalami gangguan dalam memorinya pasca kecelakaan yang pernah dialaminya dan sempat membuatnya koma hingga empat bulan lamanya dengan kondisi mengkhawatirkan. Yoojin lebih mempercayai penjelasan dokter yang mengatakan apa yang Yoona ingat adalah bagian dari mimpinya selama ia mengalami koma. Yang disayangkan, sang adik seperti tak dapat membedakan antara mimpi dan kejadian nyata. Hingga Yoona harus mendapatkan pendampingan dari seorang psikolog hingga dokter terapis yang membantunya mengurai mimpi-mimpi yang masih diingatnya. Untunglah, meski tidak sepenuhnya menghilang dari ingatannya, tapi sedikit demi sedikit Yoona membaik dan tidak berkeras pada mimpi yang terus bercokol didalam otaknya..

“Oenni-ya, kami boleh meminta minuman dingin kan?!”

Suara Yoona lah yang kemudian mengalihkan Yoojin dari memperhatikan Dave. Ia kemudian menyusul Yoona, tanpa mempersilahkan Dave untuk masuk kedalam rumahnya.

“Ayo kita bicara..”

Yoojin sudah langsung berniat menarik pergelangan tangan Yoona. Terlalu banyak melintas pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh adiknya. Jadi ia butuh berbicara berdua saja dengan Yoona pada saat itu juga..

“Tunggu sebentar oenni.. Lauren haus..”

Membuka kulkas, Yoona mengambil satu botol air mineral, membukanya sebelum kemudian memberikannya pada Lauren..

“Ini sayang, minumlah..” Lauren meneguknya sedikit, dan mengembalikannya lagi pada Yoona.

“Kau bisa panggil ayahmu dan bawa dia masuk. Mungkin ayahmu juga merasa haus sepertimu..”

“Baiklah Mom..”

Yoojin mendelikkan bola matanya pada saat mendengar sekaligus melihat langsung Lauren memanggil Yoona dengan sebutan ‘Mom’. Dan gadis kecil itu menurut pada apa yang Yoona katakan dengan segera berlari menuju pintu depan. Lauren kembali tak berapa lama setelahnya, dengan menarik serta tangan sang ayah bersama dengannya.

“Mommy.. Daddy bilang tidak haus. Tapi Lauren tetap mengajak Daddy masuk..”

Yang pertama tadi, Yoojin akan percaya bila seseorang mengatakan pendengarannya salah. Tapi tidak setelah kedua kalinya ia kembali mendengar seruan Lauren pada saat memanggil Yoona. Gadis kecil itu benar-benar memanggil Yoona sebagai ibunya?
Ya ampuunnn..
Apa yang terjadi sebenarnya?
Yoojin seribu persen yakin Yoona tidak pernah hamil, jadi bagaimana mungkin Yoona pernah melahirkan?
Siapa anak itu sebenarnya..?
Putri pria itu kah?
Ya, tentu saja. Gadis kecil itu memanggilnya dengan sebutan ayah. Lalu apa hubungan mereka dengan adiknya? Apa pula hubungan sang adik dengan mereka?
Yoona lah yang harus menjelaskan semua itu padanya..

“Kau tidak ingin meminum sesuatu, Siwon-ssi?”

Yoona menawarkan pada saat melihat raut wajah Dave yang sepertinya dengan terpaksa mengikuti tarikan tangan sang putri kecilnya..

“Tidak.. Sebaiknya aku membawa Lauren pergi sekarang. Aku akan meninggalkanmu disini..”

“Tapi aku belum bertemu dengan Joon dan Chan, Dad. Dimana Joon dan Chan, Mom? Dimana mereka?”

Lauren telah lebih dulu memotong perkataan ayahnya dengan protes yang disuarakan dari bibir tipisnya, dan kedua tangan yang bersedekap didepan dada. Menandakan protes gadis kecil itu terhadap apa yang tadi ia dengar dari perkataan ayahnya..

“Oh, mereka..? Dimana Joon dan Chan, oenni-ya? Apa mereka masih belum pulang?”

“Ya Tuhan.. Aku lupa harus menjemput mereka dari sekolah sekarang..”

Yoojin harus terpaksa menunda keinginannya untuk melakukan interogasi istilahnya, terhadap Yoona agar menjelaskan apa sesungguhnya hubungannya dengan sang pria yang memiliki seorang anak perempuan kecil yang menurut perkiraannya usianya tak terpaut jauh dengan kedua putra kembarnya. Ia harus lebih dulu menjemput anak-anaknya..

“Jangan kemana-mana. Kita akan bicara setelah aku menjemput Joon dan Chan..”

Yoojin dengan cepat menyambar syal yang kemudian ia lilitkan dilehernya, serta meraih kunci mobilnya dan bersegera menuju pintu depan rumahnya. Namun pada saat ia membuka pintu, hendak menuju garasi mobilnya, beberapa orang meneriakkan sesuatu padanya. Dan mengejutkan bagi Yoojin, saat ia menoleh pada sumber teriakan itu, ia mendapati kerumunan para wartawan yang sedang berada dibalik pagar rumahnya..

Oh Tuhannnn..
Sedang apa mereka disana?

Yoojin tak sedikitpun menanggapi teriakan mereka, dan justru berbalik masuk kembali kedalam rumahnya..

“Apa-apaan itu, Yoona-ya? Apalagi yang mereka lakukan didepan rumahku?”

Yoojin langsung menghampiri Yoona, dan ketika ia tak langsung mendapat jawaban dari mulut sang adik, Yoojin dengan cepat meraih remote televisi dan menyalakan layar datar itu. Jika ada para wartawan didepan rumahnya, Yoojin tahu pasti itu ada hubungannya dengan pemberitaan yang melibatkan adiknya. Entah apa itu, ia masih belum mengetahuinya. Tapi ia akan segera tahu setelah menemukan pemberitaan itu dilayar datar yang akan menjadi sumber informasi baginya..

Yoojin masih terus memencet remote tv ditangannya, sampai kemudian ia menemukan apa yang dicarinya. Siaran berita yang menayangkan gambar pada saat Yoona meninggalkan kerumunan para wartawan dengan tangan yang digandeng oleh seorang pria yang juga sedang menggendong seorang bocah perempuan kecil. Dan mereka itu, kini sedang berada dirumahnya..

Remote ditangan Yoojin langsung terjatuh, setelah ia sedikit menyimak pemberitaan mengenai adiknya dan menjadi tahu jika Yoona sedang terlibat skandal dengan seorang pria. Tidak main-main, pemberitaannya pasti akan meluas mengingat pria itu telah memiliki seorang anak. Anak perempuan yang bahkan telah memanggil Yoona sebagai ibunya.

Sejak kapan mereka terlibat hubungan?
Bagaimana ia bisa tidak mengetahuinya?
Bagaimana mungkin ia kecolongan dalam mengawasi Yoona, sedangkan selama ini ia tahu pasti semua kegiatan Yoona dari apa yang Seohyun laporkan padanya. Kecuali, Seohyun tidak mengatakan semua padanya. Salah satunya mengenai hubungan Yoona dengan pria itu..

“Mommy.. Itu kita Mom. Mereka merekam dan mengirimnya ke televisi.. Wow..”

Lauren, gadis kecil itulah yang justru antusias melihat gambarnya ditelevisi. Bagi Lauren, itu seperti potret kebahagiaan dimana ia dan ayahnya, serta sang ibu, berjalan bersama-sama dan orang-orang akan mengetahui siapa Mommy nya. Dan terutama para teman-teman disekolanya, mereka akan percaya jika ia kembali nanti dan mengatakan ibunya ada bersama dengannya..

“Mom, apa Lauren bisa menjadi seperti Mommy? Sepertinya aku juga ingin menjadi artis seperti Mommy. Rasanya menyenangkan melihat gambar kita berada di televisi..”

Yoona hanya membalas dengan sedikit senyuman pada antusiasme Lauren yang berada didepan televisi. Ia lebih memikirkan bagaimana cara memberikan penjelasan pada sang kakak yang terus mengarahkan pelototan padanya..

“Oenni mianhae.. Kupikir mereka tidak akan berani datang kemari setelah tempo hari Joo Won oppa memperingatkan mereka..”

“Tidak berani bagaimana? Nyatanya mereka sedang berkerumun didepan sana dan sepertinya siap berkemah didepan rumahku seperti yang pernah mereka lakukan dulu..”

Yoona menggigit bibir bawahnya, sekilas mengarahkan tatapannya pada Dave. Mencoba menemukan seperti apa reaksi pria itu. Namun Dave hanya diam, dengan tangan bersedekap didepan dada. Tatap matanya lebih terlihat sedang mengawasi putrinya dan seperti mengabaikan apa yang Yoojin tanyakan pada Yoona. Walau sebenarnya tidak. Sekalipun ia hanya diam, Dave nyatanya menyimak apa yang mereka bicarakan.

“Dimana Seohyun? Apa yang dilakukan Fany sebagai managermu? Dan teman-temanmu yang lain, dimana mereka? Bagaimana bisa mereka tidak memberitahuku dan membiarkanmu terlibat hubungan dengan pria yang–”

“Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Yoona”

“Ooh benarkah..?”

Yoojin dengan geraman kemudian mendekati Dave setelah mendengar apa yang dikatakan pria itu tadi untuk pertama kalinya menyela perkataannya..

“Lalu apa yang kau lakukan pada adikku? Kau tentu sudah tahu siapa Yoona? Kau mencoba membuat skandal dengannya?”

“Putriku menyukai Yoona..”

“Dan kau tidak?”

Yoona menggigit bibir melihat konfrontasi yang dilakukan Yoojin..
Ooh Astaga..
Berapa kali ia telah menggigit bibirnya hari ini?
Tapi, apalagi memangnya yang bisa ia lakukan? Kakak perempuannya itu memanglah bukan seseorang yang mudah untuk dihadapi. Ia sedikit khawatir pada Dave, mengingat sebelumnya pria itu belum pernah bertemu dengan kakaknya -kecuali Dave juga mengingat pada kejadian yang sampai saat ini hanya Yoona sendiri yang mengingatnya-

“Tadi itu tidak disengaja.. Aku sedang berjalan-jalan bersama dengan putriku dan tidak sengaja melihat Yoona disana. Putriku yang menggemarinya langsung berlari pada Yoona. Tapi para wartawan yang mengerubungi mereka membuatku mengkhawatirkan putriku, jadi aku berinisiatif untuk membawanya pergi dari sana”

Dave menjelaskan situasi yang tadi terjadi..

“Hanya sebatas itu?”

“Ya, hanya itu..”

“Lalu tidak adakah penjelasan mengapa putrimu memanggil Yoona dengan sebutan Mommy? Didepan para pencari berita itu yang mengejar kalian hingga sampai ke depan rumahku..?!”

“Itu.. Itu aku..”

“Oenni-ya.. Siwon kebetulan memiliki seorang putri yang menyukaiku. Kami hanya saling mengenal, itu saja..”

Yoona menyela sambil meraih lengan sang kakak, menariknya sedikit menjauh dari Dave..

“Kau membiarkannya memanggilmu seperti itu? Yang benar saja Yoona, apa sih yang sebenarnya kau pikirkan?”

“Aku.. Aku kasihan pada Lauren, oenni. Dia.. Dia kehilangan ibunya.. Dia tidak pernah bertemu dengan ibunya.. Dia mengira akulah ibunya..”

“APA..?! Lucu sekali Yoona? Bagaimana bisa kau membiarkan gadis kecil itu mengira kau adalah ibunya..”

“Apa yang lucu, oenni-ya? Tidak ada hal yang lucu disini.. Itu sesuatu yang menyedihkan ketika gadis sekecil itu tidak memiliki ibu..”

“Lalu apa hal itu membuatmu harus bertanggung jawab dengan menggantikan peran sebagai ibunya?!”

“Mengapa tidak jika aku bisa melakukannya..”

“Ini bukan semacam bermain peran seperti drama yang kau mainkan, Yoona..!!”

Sama halnya seperti Yoona yang merasa agak kesal dengan apa yang dikatakan oleh sang kakak, Yoojin pun cenderung meradang mengetahui arah berpikir Yoona yang lagi-lagi ia rasa tidak masuk akal..

“Putriku tidak seharusnya dipersalahkan dalam hal ini. Aku lah yang bersalah.. Aku yang akan mengklarifikasikan semuanya pada mereka..”

Dave yang kemudian menyela, meraih tangan Lauren untuk bersiap membawanya pergi dari sana. Namun gadis kecilnya itu, malah melepaskan diri darinya dan berlari kearah Yoona, melingkarkan kedua tangannya memeluk erat pada bagian pinggang Yoona..

“Ayo kita pergi, Lauren..”

Lauren menggelengkan kepala mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya..

“Mommy.. Lauren ingin bersama Mommy. Kita akan bertemu dengan Joon dan Chan kan, Mom?”

“Astaga.. Bagaimana aku bisa lupa dengan anak-anak ku..?!”

Yoojin terlihat panik setelah apa yang dikatakan Lauren mengingatkan dirinya yang seharusnya sudah pergi menjemput dua putranya. Gara-gara para wartawan diluar sana tadi, ia justru kembali masuk kedalam rumah. Sekarang, ia harus benar-benar pergi untuk menjemput mereka..

“Kau jangan kemana-mana, Yoona. Pembicaraan kita belum selesai. Aku akan menjemput anak-anak ku terlebih dulu..”

Yoona hanya mengangguk ketika Yoojin kemudian beralih darinya, namun ia masih sempat melihat sang kakak menjawab panggilan di ponselnya..

“Ooh bagus sekali Seohyun-ah.. Apa saja yang kau lakukan saat bersama dengan Yoona? Ya, Mereka ada disini dan para pencari berita itu juga.. Temui aku, kurasa aku juga akan menemui Tiffany nanti. Tidak, aku akan keluar untuk menjemput anak-anak.. Kita bertemu dikantor kalian..”

Mengetahui yang menghubungi sang kakak saat itu adalah Seohyun, Yoona lantas mendekati Yoojin, namun sambungan ponsel mereka telah berakhir. Menjadikan Yoona kembali hanya bisa menggigit bibir bawahnya pada saat Yoojin berbalik kearahnya..

“Seohyun bilang tidak bisa menghubungimu sejak tadi..”

Tentu saja..
Bukankah ponsel beserta barang-barang pribadi yang berada dalam tas tangannya ada pada Seohyun pada saat ia melakukan pengambilan gambar tadi?
Dan ketika Lauren datang, lalu Dave menarik serta dirinya, ia jelas tak sempat meminta tas nya dari tangan Seohyun. Maka jangan salahkan dirinya bila sekarang semua orang, terutama teman-temannya tidak bisa menghubungi dirinya..

“Ponselku memang ada padanya..”

“Jadi jangan coba menghubungi Seohyun untuk memperingatkannya agar tutup mulut, karena dia tentu saja harus memberikan penjelasan mengenai sejauh apa hubunganmu dan pria itu serta anaknya..”

“Oenni-ya, kami hanya…”

“Aku harus pergi sekarang.. Sayang sekali Joowon oppa sedang bertugas. Jika tidak aku akan menyuruhnya pulang sekarang juga. Kau berhati-hatilah, Yoona..”

“Ne, kau juga oenni-ya.. Maaf menyusahkanmu..”

Yoojin hanya menanggapi dengan helaan napas, sebelum akhirnya membuka pintu depan rumahnya dan bersiap melewati kerumunan para wartawan yang berada didepan pagar rumahnya.

Yoona melihat kepergian sang kakak dari balik tirai yang menutupi jendela kaca, sedikit merasa lega setelah melihat mobil yang dikendarai Yoojin berhasil melewati para pencari berita itu disana..

“Mom, apa yang Mommy lihat?”

Menoleh, Yoona mendapati Lauren mengikuti apa yang dilakukan olehnya. Gadis kecil itu melakukan hal yang sama dengan sedikit membuka tirai jendela untuk mengintip keadaan diluar sana. Mau tak mau, Yoona menjadi tersenyum melihatnya. Lalu mengusap rambut Lauren hingga gadis kecil itu mendongak kearahnya..

image

“Ada banyak sekali orang diluar sana, Mom..”

“Hemm, karena itu kita harus tetap berada didalam”

“Bagaimana dengan Joon dan Chan nanti? Apa orang-orang itu akan membiarkan mereka masuk?”

Yoona lebih dulu tersenyum setelah mendengar apa yang ditanyakan oleh Lauren. Ia heran sebenarnya, Lauren sama sekali belum mengenal dua keponakan kembarnya itu, dan hanya mendengar cerita mereka dari dirinya, namun sejak tadi Lauren terus menyebut-nyebut Joon dan Chan, terlihat sekali bila gadis kecil itu ingin bertemu dengan mereka..

“Kita akan bertemu dengan mereka kan, Mom?”

“Ya, tentu saja.. Ini rumah mereka. Orang-orang itu tidak boleh menghalangi Joon dan Chan untuk masuk kedalam rumah mereka sendiri..”

“Nyatanya mereka sudah berhasil menghalangiku masuk kedalam rumahku sendiri..”

Komentar Dave seolah-olah ditujukan untuk mementahkan apa yang telah Yoona katakan pada sang putri. Yang tak sesuai dengan fakta yang baru dialaminya..

Mendengarnya, Yoona kemudian mengalihkan perhatiannya dari Lauren dan berniat menanggapi apa yang dikatakan oleh Dave, namun ia lebih dulu mendengar bunyi yang berasal dari suara ponsel yang berada dalam saku celana pria itu. Dave yang kemudian beralih untuk menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya, menjadikan Yoona hanya mendesah sambil memandangi bagian punggungnya saja. Tidak terlalu lama sebelum kemudian ia merasakan tarikan tangan Lauren yang menarik pergelangan tangannya..

“Mom, sepertinya aku mendengar suara kucing? Apakah ada kucing disini..?”

“Ooh, kau mendengarnya? Memang ada seekor kucing disini?”

“Benarkah?”

“Heumm.. Joon dan Chan yang memeliharanya? Kau mau melihatnya?”

“Yaa..”

Lauren berseru, bersemangat, membuat Yoona kemudian tersenyum ketika mengajaknya untuk menuju halaman belakang. Menggeser pintu kaca yang menjadi skat antara bagian dalam dan luar, Yoona memperlihatkan pada Lauren keberadaan kucing peliharaan yang sedang berada didalam kandang. Mengeong bosan, sepertinya kucing itu sudah tidak sabar untuk dikeluarkan..

“Oh, cantik sekali Mom..”

Itu komentar pertama Lauren pada saat Yoona mengeluarkan kucing itu dari dalam kandang dan menggendongnya..

“Dia tampan, Lauren.. Kucing jantan”

“Ooh, benarkah? Siapa namanya, Mom?”

Setelah mengajaknya untuk duduk dikursi malas, Lauren mengulurkan tangannya untuk mengusap-usap pada bulu halus kucing itu yang sekarang berada dalam pangkuan Yoona..

“Prince.. Namanya Prince..”

Bagaimana bermulanya kucing itu memiliki nama yang sama seperti kucing miliknya -yang tak sempat Yoona lihat setelah semua orang mengatakan kucingnya telah mati dalam insiden kecelakaan yang dialaminya- adalah karena Yoona sering menceritakan pada dua keponakannya itu mengenai kucing peliharaan yang sempat dimilikinya. Jadilah Joon dan Chan, dua keponakannya itu merengek-rengek pada Yoojin, ibu mereka, agar memberikan mereka kucing peliharaan. Mereka masing-masing bahkan menginginkan satu kucing yang akan mereka pelihara sendiri-sendiri, namun Yoojin hanya memberikan keduanya seekor kucing yang harus mereka pelihara bersama. Nama Prince yang dipilih dua keponakannya itu untuk nama kucing mereka, sempat membuat Yoona berkeberatan karna menurutnya Prince hanya boleh dimiliki olehnya, namun dengan pintarnya Joon dan Chan telah meluluhkan hati Yoona dengan mengatakan..
‘Imo, bukankah kita seperti menghidupkan Prince lagi? Imo senang kan seandainya Prince hidup lagi? Kita juga akan menyayanginya, Imo.. seperti Imo menyayangi Prince’

“Hihihii.. Lucu sekali Mom, namanya Prince..?”

“Ya, namanya Prince..”

Yoona ikut membelai bulu kucing itu, seperti yang dilakukan Lauren..

“Bukankah seorang Prince akan berpasangan dengan Princess? Karena Daddy dan Amber biasanya memanggilku Princess.. Mungkin kucing ini bisa menjadi milikku? hihihiii..”

Lauren terkikik lagi setelahnya..

“Atau kau bisa memelihara seekor kucing betina yang akan menjadi Princess untuk Prince..”

“Ooh Mommy benar.. Kau benar, Mom. Seekor Princess untuk Prince..!!”

Lauren berseru kegirangan dengan ide Yoona, sebelum kemudian teringat Daddy-nya tidak akan setuju ia memiliki hewan peliharaan..

“Tapi Daddy tidak akan mengijinkannya, Mom..”

“Oh, kenapa?”

Lauren sesaat mendesah..

“Daddy pasti berpikir seekor binatang tidak akan aman untuk diajak bermain apalagi ditempatkan didalam rumah..”

“Seekor kucing tidak membahayakan, sayang”

“Tapi Daddy tidak akan senang”

Yoona berpikir Dave pasti cukup posesif terhadap putrinya. Tapi hal-hal yang terlalu di kekang juga tidak akan baik bagi pertumbuhan Lauren nantinya. Ia kemudian tersenyum melihat wajah memberengut yang ditunjukkan oleh Lauren, dan menjadikannya kemudian membelai lembut pada rambutnya, menghiburnya..

“Bagaimana jika pelan-pelan kau membujuknya.. Ayahmu pasti setuju jika kau terus merayunya..”

***

“Cuci dulu tanganmu, sayang..”

“Ya, Mom..”

Ketika kembali masuk kedalam rumah, setelah bermain-main dengan Prince, dan Lauren yang tiba-tiba mengatakan bahwa ia lapar, Yoona mendapati Dave masih terlibat pembicaraan dengan seseorang yang tersambung melalui ponselnya. Sesekali juga mengintip kearah keluar jendela, pada keberadaan para pencari berita yang Yoona yakin masih betah berada disana..

Menunjukkan pada Lauren dimana letak wastafel agar gadis kecil itu mencuci tangannya, Yoona membiarkan saja Dave merasa nyaman membicarakan apapun yang tengah dibicarakannya. Ia lebih memilih untuk kemudian berada didapur dan coba menemukan apa yang bisa ia hidangkan untuk Lauren yang sedang merasa lapar. Kakaknya pasti sudah memasak sesuatu untuk Joon dan Chan, yang bisa Yoona bagi untuk Lauren juga..

“Kau sudah mencuci tanganmu?”

“Hmm, aku mencucinya dengan sabun. Lihatlah Mom..”

Yoona tersenyum melihat Lauren menunjukkan jari-jari tangannya yang kecil..

“Bagus sekali sayang.. Ayo duduklah..”

“Apa Mommy akan memasak untukku?”

“Ya, aku akan melakukannya..”

“Aku senang sekali melihat Mommy memasak untukku..”

“Aku juga senang melakukannya untukmu, sayang..”

Lauren..
Putriku..

Entah mengapa Yoona tiba-tiba merasakan keharuan yang menyeruak dari dalam hatinya setelah mendengar apa yang dikatakan Lauren padanya tadi. Ia kemudian mendekati gadis kecil itu dan memberikan kecupan dipipinya..

“Aku menyayangimu..”

“Aku juga menyayangi Mommy.. Aku sangat sayang Mommy..”

“Ooh Lauren..”

Yoona mendekapnya, menghujaninya dengan ciuman dirambutnya. Hal yang turut serta disaksikan oleh Dave dan menjadikannya tertegun dengan apa yang dilihatnya, yang tak bisa ia pungkiri rasa sayang Yoona untuk putrinya bukanlah sesuatu yang main-main, begitupun sebaliknya. Lauren terlihat sangat menyayangi wanita itu juga..

Jika sudah seperti itu, bagaimana ia akan bisa memisahkan mereka?

***

Usai merasakan kenyang pada perutnya, Lauren justru kembali berlari ke halaman belakang untuk bermain-main bersama dengan kucing peliharaan milik Joon dan Chan. Sebelumnya ia juga sudah kembali menanyakan pada Yoona mengapa dua orang yang ingin segera ditemuinya itu tidak segera datang. Yoona mengira dari apa yang didengarnya tadi saat Yoojin berbicara dengan Seohyun melalui ponselnya, sang kakak pasti membawa serta dua keponakannya itu untuk bertemu dengan Seohyun dan sepertinya mereka akan berada dikantor agensi milik Fany. Entah apa saja yang akan kakaknya bicarakan nanti, yang jelas pasti salah satunya mengenai pemberitaan yang baru beredar mengenai dirinya dan Dave..

“Mau minum..?”

Yoona menyodorkan kaleng minuman bersoda yang diambilnya dari dalam kulkas, kearah Dave yang dilihatnya sudah tidak lagi mengintip keluar jendela dan telah mengakhiri sambungan ponselnya sejak beberapa saat tadi. Sejenak terlihat ragu, Dave kemudian menerimanya..

“Sebenarnya aku lebih menginginkan kopi sekarang..”

“Oh, kau suka kopi? Kau mau sekarang? Aku bisa membuatkannya untukmu..”

“Tidak.. Tidak.. Tidak perlu melakukannya. Ini saja cukup..”

Dave menolak tawaran Yoona dengan kemudian membuka kaleng minumannya. Meski begitu, Yoona tetap saja beralih kedapur, yang kemudian terdengar suara dari mesin pembuat kopi, menandakan ia tengah membuat kopi yang Dave inginkan..

“Aku sudah katakan kau tidak perlu melakukannya..”

Agak terkejut mendengar suara itu, Yoona menoleh dan mendapati Dave tengah berdiri tak jauh darinya, memperhatikannya. Menjadikan Yoona tersenyum melihatnya..

“Tidak apa-apa.. Lagi pula aku juga menginginkannya..”

Mengambil dua cangkir dari dalam lemari dapur, Yoona lantas mengisinya dengan seduhan kopi yang ia buat. Biasanya, ia tak pernah membuat sendiri kopi yang sesekali diinginkannya, Yoona lebih memilih membelinya diluar, dikafe-kafe yang menjadi umum menyediakan berbagai jenis kopi sebagai menu andalan, atau bahkan membelinya dari mesin penjual kopi yang sama sekali tidak sulit untuk ia temukan. Namun keadaan sekarang, yang tak memungkinkan dirinya untuk keluar sekedar membeli kopi, membuat Yoona harus meracik sendiri kopinya, dan mengira-ngira takarannya agar menjadi pas..

“Sebelumnya aku jarang membuat kopi. Biasanya aku membelinya.. Jadi kau harus maklum jika rasanya tidak enak..”

“Kau seharusnya tidak memberikan kopi yang tidak enak padaku..”

Yoona justru tertawa mendengarnya..

image

Ia kemudian membawa dua cangkir kopinya dan meletakkannya keatas meja, setelahnya ia dan Dave menduduki sofa secara berhadapan. Melihat Dave yang hanya memandangi cangkir kopi dihadapannya, membuat Yoona kembali menyunggingkan senyum dibibirnya…

“Kau takut mencicipi kopi buatanku? Baiklah, biar aku dulu yang mencicipinya..”

Meraih cangkirnya, Yoona lebih dulu menghirup merasakan aroma kopi itu dari uap panas nya yang mengepul, sebelum hati-hati bibirnya menyesap, perlahan lidahnya mencecap merasakan bagaimana rasa kopi buatannya..

“Ya Tuhan.. Ini enak. Ayolah, kau harus mencicipinya Siwon-ssi. Aku tidak berbohong.. Ini memang enak..”

Sambil tersenyum, Yoona kembali menempelkan cangkir kopi ke bibirnya, yang kemudian diikuti oleh Dave dengan meraih cangkir dihadapannya. Tidak seperti Yoona yang cenderung berhati-hati, perlahan ketika menikmati kopi yang masih panas itu, Dave secara tidak ragu-ragu meminumnya. Membiarkan rasa kopi itu yang kemudian menghangatkan tubuhnya..

“Bagaimana? Enak kan..?”

Terlihat penasaran, Yoona menanyakan hal itu dengan tubuh agak dicondongkan kearah Dave yang duduk dihadapannya dan hanya dibatasi oleh meja didepan mereka.

“Siwon-ssi?”

“Lumayan..”

“Ini enak, kau tidak seharusnya hanya menyebutnya dengan lumayan”

Yoona merengut..

“Ya, setidaknya ini lumayan enak jika dibandingkan dengan yang berasal dari mesin penjual kopi dipinggir jalan..”

Dave terlihat kembali menyesap kopinya, menandaskan isi cangkirnya. Menjadikan Yoona kemudian tersenyum mengetahui pria itu menghabiskan kopi buatannya..

“Kau tahu.. Kau terlihat lebih baik jika bersikap ramah seperti ini..”

Dave terdiam mendengarnya, dan hanya memandang pada Yoona yang langsung kembali menyesap kopinya. Menunduk menghindari tatapan Dave yang ia tahu kini sedang tertuju padanya setelah apa yang tadi dikatakan olehnya..

“Sebenarnya, apa yang membuatmu terlihat tidak keberatan dengan apa yang Lauren lakukan?”

Mendengarnya, Yoona lantas mendongak dan meletakkan cangkir kopi ditangannya keatas meja..

“Kau menanyakan itu padaku?”

“Ya, aku ingin tahu apa alasannya. Mengapa wanita sepertimu tidak keberatan saat seorang anak kecil seperti Lauren menyebutmu sebagai ibunya?”

“Wanita sepertiku? Memangnya menurutmu wanita seperti apa aku?”

“Kau.. Seorang artis terkenal”

“Kau mengakui itu sekarang?”

“Aku tidak merasa itu adalah sebuah pengakuan..”

Yoona kembali tersenyum, enggan memperpanjang pembahasan mengenai status keartisannya, dan memilih untuk langsung menjawab apa yang tadi Dave tanyakan padanya..

“Aku menyayangi Lauren..”

“Kau tidak mungkin bisa menyayanginya secara tiba-tiba. Kau baru bertemu dengan putriku dalam hitungan hari..”

“Mengapa tidak? Buktinya aku sudah menyayanginya.. Bukan hal yang sulit untuk memberikan kasih sayang pada gadis manis seperti Lauren. Aku sungguh menyayanginya. Bahkan kurasa, aku jatuh cinta padanya..”

Sesaat Yoona mengalihkan perhatiannya untuk mengetahui keberadaan Lauren. Mendengar suara gadis kecil itu, Yoona tahu Lauren masih bermain-main dengan Prince. Kemudian, ia kembali menatap pada Dave untuk mengetahui seperti apa reaksi pria itu setelah mendengar yang dikatakannya tadi. Namun saat melihat Dave hanya terdiam, Yoona lantas kembali meneruskan..

“.. Lauren naik keatas panggung sewaktu aku melakukan konser. Dia memelukku sangat erat dan meneteskan airmata. Saat itu dia sudah memanggilku dengan sebutan ‘Mommy’ dan aku belum mengerti mengapa dia melakukannya. Yang aku tahu, tatapan Lauren ketika itu telah membuatku terenyuh. Aku bahkan terus teringat padanya, dan memikirkannya setelah kepulanganku..”

“Mom.. Apa yang sedang Mommy dan Daddy bicarakan? Apa kalian sedang membicarakan aku..?”

Suara Lauren yang kemudian menyela, dan langkah kaki gadis kecil itu yang mendekat, lantas duduk dan langsung merangkul Yoona, menjadikan apa yang sebelumnya mereka bicarakan terhenti dan teralih untuk menanggapi tanya Lauren..

“Dari mana kau tahu kami sedang membicarakanmu?” Tanya Yoona sambil mencolek, memainkan hidung gadis kecil itu..

“Aku mendengarnya tadi, kalian menyebut namaku. Oh ya, Mom.. Apa Joon dan Chan masih belum datang?”

“Hmm, mereka belum datang sayang”

“Huuhh.. Aku sudah lelah menunggu mereka, Mom”

“Oh, kau lelah? Apa kau mengantuk?”

Yoona merapikan rambut Lauren yang agak berantakan menutupi keningnya, dan mendapati gadis kecil itu menganggukkan kepalanya..

“Lauren bisa tidur dulu dikamar. Ayo aku tunjukkan kamarku..”

Lauren menggeleng, dan justru memposisikan tubuhnya naik keatas sofa, dengan kepala dipangkuan Yoona. Dan dengan begitu, gadis kecil itu kemudian memejamkan kedua matanya..

“Seperti ini saja, Mom.. Aku ingin tidur disini..”

“Sayang, tapi nanti..”

Lauren tak lagi merespon, ia sudah meringkuk dan hanya sekali menggeliatkan tubuhnya untuk menemukan posisi ternyaman dalam tidurnya..

Keheningan yang beberapa saat terjadi ketika Yoona hanya menepuk-nepuk tubuh Lauren, mengantarkan gadis kecil itu semakin nyenyak dalam tidurnya, sementara Dave pun sama diamnya dengan hanya terus memperhatikan apa yang tengah Yoona lakukan terhadap putrinya. Secara tiba-tiba keheningan itu terpecah oleh suara telpon rumah Yoojin yang berdering dengan cukup nyaring..

Yoona yang tak bisa beranjak dari sofa itu karena Lauren yang tertidur dipangkuannya, membuat Dave-lah yang kemudian meraih telpon rumah itu dan memberikannya pada Yoona..

“Yobseyo..”

“Yoona-ya, apa para wartawan itu benar-benar tak bisa pergi dari rumahku?”

“Oh, oenni-ya..”

“Mereka benar-benar akan membuatku tidak bisa masuk kedalam rumahku sendiri..”

“Oenni, ada dimana?”

“Aku sedang memarkir mobilku didepan pagar rumah tetangga. Dan sejauh ini mereka belum melihatku..”

“Ottokhae oenni-ya.. Aku juga bingung. Apa yang harus kulakukan untuk membuat mereka menyingkir, dan membiarkanmu masuk. Kurasa, mereka bahkan bertambah lebih banyak. Apa sebaiknya aku pergi dari rumahmu sekarang?”

“Tidak.. Tidak.. Kau tidak boleh pergi kemana-mana. Lagi pula Seohyun dan Tiffany ikut bersamaku..”

“Mereka bersamamu?”

“Ya, Fany juga memarkirkan mobilnya dibelakang mobilku..”

“Kakakmu didekat sini?”

Yoona mengangguk pada Dave yang menanyakan hal itu padanya..

“Katakan padanya untuk menunggu sebentar. Aku akan keluar untuk mengalihkan perhatian mereka. Saat aku sudah melakukannya, kakakmu bisa masuk..”

Yoona tersenyum mendengar itu, kemudian kembali berbicara dengan Yoojin..

“Oenni-ya, dengar.. Siwon akan keluar untuk mengalihkan perhatian para wartawan itu. Saat mereka berusaha mengejarnya, kau bisa masuk..”

“Baiklah, suruh pria itu untuk melakukannya sekarang..”

Setelah Yoojin menutup telponnya, Yoona meletakkan gagang telpon ditangannya, kemudian mengarahkan perhatiannya pada Dave..

“Aku akan membawa Lauren pergi bersamaku..”

Ucap pria itu yang menjadikan Yoona terkejut. Dave bahkan langsung mengambil alih sang putri yang tertidur dipangkuan Yoona, beralih kedalam gendongannya..

“Tapi Lauren.. Dia sedang tidur, bisakah kau meninggalkannya disini?”

“Tidak.. Aku tidak bisa meninggalkannya”

“Aku jamin tidak akan terjadi apa-apa padanya. Kau lihat kan bagaimana aku memperlakukannya? Aku akan menjaganya..”

“Tapi aku tak pernah meninggalkan putriku bersama dengan orang asing”

Yoona seperti merasakan remasan yang menjadikan hatinya terasa nyeri sekarang setelah mendengar apa yang tadi Dave katakan..

“Jadi menurutmu aku orang asing?”

“Selain kau seorang artis, aku tak mengenalmu Yoona..”

“Kalau begitu cobalah untuk mengenalku mulai sekarang..”

Dave merasa sedikit menegang ketika tangan Yoona memegang pada lengannya, mengusapnya dengan tatapan dari kedua matanya yang terasa dalam menatapnya..

“Aku tidak ingin dianggap sebagai orang asing olehmu. Aku bukan orang asing, Siwon..”

Yoona seperti hendak memeluknya, namun Dave justru bergerak mundur dari hadapannya..

“Aku akan keluar sekarang, kakakmu pasti sudah menunggu lama..”

“Siwon, tunggu..”

Yoona kembali meraih lengan Dave untuk menahannya, dan melepaskannya ketika pria itu sudah mengarahkan tatapan mata kearahnya..

“Kau tidak akan membiarkan Lauren bertemu denganku? Atau menghubungiku?”

“Begitu dia bangun nanti aku yakin dia akan langsung meminta keduanya”

“Apa kau akan membiarkannya menelponku?”

“Jika itu yang diinginkannya, Lauren bisa melakukannya”

“Jadi kau akan membiarkannya menelponku?”

Dave mengangguk, membuat Yoona tersenyum melihatnya..

“Aku pergi..”

“Apa kau tidak apa-apa jika para pencari berita itu mengikutimu setelah kau keluar nanti?”

“Kau bilang mereka tidak mungkin menyerang kan? Jadi kurasa aku juga akan baik-baik saja..”

Sebenarnya Yoona tak ingin membiarkan Dave dan Lauren pergi. Ruang dalam hatinya terasa terisi lengkap dengan kehadiran mereka didekatnya. Meski orang-orang sedang ribut membicarakan tentang dirinya, ia tak ingin peduli. Namun ia pun merasa tak enak hati pada Yoojin yang telah menunggu diluar sana, kesulitan untuk masuk kedalam rumahnya sendiri karena dirinya. Maka yang bisa Yoona lakukan hanyalah mengangguk kearah Dave dan mengikuti langkah pria itu menuju pintu depan..

“Kau tidak perlu ikut keluar..”

Ucap Dave saat Yoona membukakan pintu untuknya. Namun Yoona sepertinya enggan untuk mendengarkannya. Ia justru berjalan dibelakang Dave, dan membantunya membuka pintu mobil bagian depan, serta mengatur sandaran kursi mobil itu agar Lauren yang masih pulas tertidur dapat merasa nyaman disana..

“Im Yoona-ssi.. Yoona-ssi, apa hubungan kalian?!”

“Apa kalian berkencan..?!”

“Kau memiliki hubungan yang serius dengannya?! Beritahu pada kami Yoona-ssi..!”

Mengabaikan suara-suara para pencari berita itu, Yoona justru mendekati Dave yang bersiap masuk kedalam mobilnya, memegang lengannya dan tersenyum sembari berucap..

“Hati-hati..”

Yoona jelas tahu pasti, apa yang dilakukannya tadi telah memberikan gambar yang bagus bagi para pencari berita itu disana. Dan ia tidak peduli bagaimana mereka akan mengembangkan gambar yang mereka dapatkan tadi hingga menjadi kemasan berita yang bisa menarik minat publik yang mengenal dirinya. Ketidak pedulian Yoona ketika itu, sepertinya sama hal nya dengan ketidak peduliannya terhadap karir keartisannya kedepan..

Setelah Dave masuk kedalam mobil, berada dibalik kemudinya, Yoona kemudian kembali masuk kedalam rumah dan hanya mengintip dari jendela pada saat mobil Dave melaju melewati para pencari berita itu. Bergantian dengan itu, saat sebagian wartawan bersiap mengikuti laju mobil Dave, dua mobil lain melintasi pagar. Masing-masing dibelakang kemudi itu adalah Yoojin dan Tiffany.

Yoojin keluar dari dalam mobilnya dengan cepat, sambil merangkul dua putranya ia lantas masuk kedalam rumahnya, menghiraukan para wartawan yang mencoba mendapatkan konfirmasi darinya mengenai pemberitaan tentang adiknya. Menyusul dibelakang Yoojin dan anak-anaknya adalah Fany dan Seohyun. Mereka sama hal nya mendengar teriakan para pencari berita itu yang menanyakan klarifikasi kebenaran gambar yang telah mereka dapat dan sebar luaskan..

“Paboya..!”

Yoona yang baru beranjak dari pinggir jendela setelah melihat kedatangan oenni-nya beserta dua rekannya, agak terkejut dengan lengkingan suara Seohyun serta pelototan kedua matanya. Seohyun pula yang kemudian dengan cepat mendekatinya, dengan ekspresi gemas cenderung kesal yang diperlihatkannya pada Yoona..

“Apa kau benar-benar bodoh? Huh..?”

Yang juga tak disangka oleh Yoona, Seohyun kemudian memukulkan tas tangan miliknya ke tubuhnya, mengenai pinggangnya dan menjadikan Yoona mengaduh karenanya..

“Yakk.. Apa-apaan kau, Seohyun-ah.. Oenni, lihatlah Seohyun menganiaya-ku..”

Keluh Yoona yang juga mengadu pada sang kakak. Seharusnya ia lebih dulu mendapatkan pelukan dari dua keponakan kembarnya. Joon dan Chan, yang sudah beberapa hari ini ia tak bertemu dengannya, dan cukup dirindukan olehnya. Tapi Seohyun..
Teman baik merangkap asistennya ini, justru telah lebih dulu bertindak semena-mena terhadapnya..

“Bagaimana mungkin seorang asisten melakukan hal seperti ini pada artisnya, Seohyun-ah? Aku akan mencari asisten baru setelah ini..” Yoona mendumal kesal..

“Aku bukan sekedar asisten-mu. Jabatanku bahkan telah dinaikkan.. Aku seorang wakil manager sekarang..”

Meski masih merasa kesal, namun melihat Seohyun yang bersungut-sungut, pasti lebih dari sekedar kesal terhadap dirinya, membuat Yoona kemudian justru merasa geli karenanya..

“Kau masih bisa tersenyum sekarang? Huh?”

“Setidaknya, jika kau benar-benar adalah wakil manager-ku, berhentilah bersikap seperti asisten pribadiku..”

Seohyun memutar mata, mencoba memukulkan kembali tas tangan milik Yoona yang dibawanya, namun Yoona sudah lebih cepat menghindar darinya dengan menyapa pada Joon dan Chan..

“Kalian tidak merindukanku?”

“Imo..!”

Joon dan juga Chan, dua bocah lelaki itu kemudian berbarengan memeluk Yoona. Sang bibi kesayangan yang selalu mereka bangga-banggakan pada teman-teman disekolah..

“Diluar itu ramai sekali Imo, apa Imo akan melakukan jumpa penggemar? Disini, dirumahku?”

image

Tanya Joon dengan binar rasa penasaran dikedua matanya..

“Itu bukan jumpa penggemar, Joon-ah. Mereka semua membawa kamera. Itu artinya mereka sedang syuting.. Iya kan Imo?”

image

Sahut si bocah lelaki satunya, Chan yang membuat Yoona terkikik mendengarnya. Bergantian kemudian ia mengusap kepala anak-anak itu..

“Ayo ganti dulu pakaian kalian anak-anak..”

Yoojin mengintruksikan, yang bertujuan agar kedua putranya itu beralih dari sana dan masuk kedalam kamar mereka. Sehingga selanjutnya mereka bisa leluasa berbicara dengan Yoona. Namun Joon dan Chan justru tidak langsung masuk kedalam kamar mereka. Dua bocah lelaki itu malah berlarian kehalaman belakang untuk selanjutnya memeriksa kucing peliharaan. Melihat si kucing yang berada diluar kandang, tertidur seperti telah merasa kenyang, keduanya lantas kembali keruang tengah untuk menanyakan pada sang ibu siapa yang telah mengeluarkan serta memberi makan kucing itu..

“Oemma.. Apa oemma yang telah mengeluarkan Prince dari dalam kandang?”

“Anio.. Oemma tidak melakukannya”

“Tapi bagaimana bisa Prince berada diluar sekarang?”

“Oemma tidak tahu Joon-ah, Chan-ah.. Bukankah oemma menyuruh kalian untuk berganti pakaian?”

“Itu aku dan Lauren yang tadi melakukannya, sayang..”

Sahut Yoona kemudian..

“Imo dan Lauren? Siapa itu Lauren? Apakah itu kucing baru, Imo?” Tanya Chan penasaran..

“Aigoo.. Apakah ada seekor kucing dengan nama secantik itu? Lauren bukan kucing. Dia adalah temanku..”

“Dimana Lauren sekarang?”

“Dia pulang, padahal dia sangat ingin bertemu dengan kalian tadi”

“Benarkah? Apa dia tahu kami?”

“Ya, dia tahu kalian..”

“Tentu saja dia tahu kita, Chan-ah. Yoona Imo kan seorang artis. Dan kita adalah keluarga artis, tentu saja orang-orang tahu kita..”

“Tapi kita kan tidak pernah muncul di televisi, bagaimana orang-orang tahu mengenai kita?”

Tak hanya Yoona yang kemudian terkikik mendengarnya, tapi Yoojin tentunya serta Fany dan Seohyun yang sebelumnya bersungut-sungut kesal pada Yoona, sesaat juga dibuat tertawa mendengar celotehan kedua bocah kembar itu. Menggemaskan..

“Imo, bagaimana caranya agar kita bisa masuk televisi seperti Imo..?”

“Aigoo.. Cukup Imo kalian saja yang menjadi artis. Kalian tidak akan ku ijinkan melakukannya. Cepatlah, cuci tangan dan ganti pakaian…”

“Waeyo oenni-ya? Padahal aku berencana mendaftarkan Joon dan Chan diacara reality show. Aku yakin mereka bisa menjadi setenar Daehan, Minguk, Manse..”

“Ooh.. Kau pasti sudah tahu alasannya, Yoona-ya. Aku tidak mau makin terganggu dengan para pencari berita semacam itu..”

Setelah melihat Joon dan Chan berlarian masuk ke dalam kamar mereka, Yoona kemudian melanjutkan untuk meminta maaf lagi pada sang kakak. Karena dirinyalah kehidupan pribadi Yoojin ikut terganggu. Ia tahu, meski tidak setiap hari ataupun minggu, tapi selalu saja ada pencari berita yang menghubungi nomor telepon kakaknya, sekedar untuk menanyakan tentang dirinya..

“Mianhae oenni, karena selama ini aku telah membuatmu ikut merasa terganggu. Tapi oenni itu tidak akan terjadi lagi. Karena aku sudah putuskan, aku akan berhenti dari dunia hiburan..”

“APA??”

Yoojin, Seohyun dan Tiffany..
Ketiganya serentak menyuarakan tanya dengan nada terkejut luar biasa. Selama ini sang kakak selalu merasa Yoona menyenangi pekerjaannya. Ia tak pernah sekalipun mengeluh didepannya tentang pekerjaannya didunia hiburan. Malah Yoona mengatakan pada Fany agar menerima tawaran kerja apapun selagi jadwalnya masih ada yang kosong. Yoona juga sempat menawarkan pada Seohyun jika sang rekan itu lelah mengikuti jadwalnya, ia bisa meninggalkannya dengan mencarikannya orang lain untuk menggantikan tugasnya. Walau Yoona pasti akan merasa kesepian tanpa ditemani oleh Seohyun. Sang rekan yang terlihat pendiam jika dilihat dari wajahnya yang bagaikan seorang dewi ketenangan, nyatanya Seohyun bisa jadi cerewet luar biasa bila sedang mengomeli dirinya.

“Kau bercanda? Apa maksudmu berhenti dari dunia hiburan?” Tanya Fany yang kemudian mendekati Yoona. Sebagai seseorang yang mengatur kontrak kerja Yoona, Fany tahu pasti berapa banyak kontrak kerja yang telah ditanda tangani olehnya. Dan keputusan yang telah Yoona lontarkan tadi bukanlah sesuatu yang bisa diputuskan secara main-main. Jika Yoona memutuskannya secara sepihak, bisa jadi ia akan menerima tuntutan dari pihak yang telah mempekerjakan dirinya dan dampak yang Fany khawatirkan, Yoona akan diminta untuk mengganti kerugian mereka..

“Kau tidak bisa melakukannya seperti ini, Yoona..”

“Aku akan melanjutkan jadwalku, dan menyelesaikan yang sudah berada dalam kontrak. Kau tidak perlu khawatir, Fany-ah. Aku akan bekerja secara profesional. Aku tidak akan menyalahi kontrak kerja yang telah kita buat dan sepakati. Aku hanya ingin memberitahumu untuk tidak lagi menerima tawaran kerja apapun..”

“Tapi apa masalahmu? Ini tidak ada hubungannya dengan pria itu kan? Bukan dia yang memintamu melakukan ini kan?”

“Maksudmu Siwon? Tidak.. Tidak.. Dia tidak tahu mengenai hal ini”

Alasan yang lebih utama adalah dirinya telah merasa cukup lama dengan karir keartisannya. Ia ingin berhenti, beristirahat dan terbebas. Tidak lagi harus terus diikuti oleh para pencari berita yang ingin mengetahui apapun kegiatannya termasuk dengan kehidupan pribadinya. Ia ingin lebih banyak privasi, bukan melulu semua terekspos kehadapan mereka. Yang wajar-wajar saja masihlah bisa Yoona terima, namun jika sampai membuat orang-orang terdekatnya merasa terganggu, seperti yang dikatakan Yoojin tadi, ia rasa sudah saatnya mengakhiri semua itu.

Dulu yang diinginkannya memanglah menjadi sibuk. Sangat sibuk agar ia bisa terlupa dengan ingatan-ingatan yang membuatnya merasa tertekan karena baik Yoojin dan tak satu pun dari rekan-rekannya paham dengan apa yang berada dalam ingatannya.

Namun berbeda dengan dulu, dimana ia sempat terguncang hingga terus-terusan menyalahkan Tuhan atas apa yang dialaminya. Sekarang Yoona lebih dapat menerima apapun jalan Tuhan yang telah dibuat untuknya. Jika memang yang dialaminya itu adalah mimpi, ia akan percaya itu sebagai mimpi. Mimpi yang pada akhirnya membawanya pada seorang pria yang diinginkan oleh hatinya. Jika pun itu nyata namun hanya dirinya yang mengingatnya, tapi pada akhirnya Tuhan pun mempertemukan lagi mereka seperti sekarang. Intinya, mau ia pikirkan dari sisi manapun, hanya kata takdir-lah yang menjadi kunci dari semuanya..

Bagaimanapun jalan yang dilaluinya, takdirnya adalah untuk bertemu dengan Siwon..

“Tapi tidak mungkin kau tiba-tiba memutuskan untuk berhenti dari dunia hiburan, Yoona-ya. Aku tahu kau sangat suka dengan apa yang kau kerjakan selama ini..”

Yoojin ikut menyuarakan keheranannya atas apa yang mendadak diputuskan oleh sang adik..

“Aku sudah merasa lelah, oenni.. Aku ingin beristirahat, bersantai dan dapat setiap waktu menghabiskan waktu bersama denganmu, bebas bermain bersama Joon dan Chan serta lebih banyak waktu untuk mengobrol dengan teman-temanku..”

“Setidak-tidaknya jangan sekarang, Yoona-ya. Tundalah dulu keputusanmu untuk berhenti. Bagaimana bisa kau melakukannya disaat Fany baru mengangkatku sebagai wakil manager-mu..”

Seohyun memberengutkan wajahnya, dan ekspresinya yang seperti itu justru membuat Yoona agak terkikik sebelum kemudian mendekatinya..

“Tenanglah, lagi pula kau tahu kan jadwal kerjaku sudah terisi hingga beberapa bulan ke depan, kau masih memiliki kesempatan untuk peran barumu sebagai wakil manager..” Yoona mengedik dan merangkulnya..

***

Sebelum sampai ke rumahnya, Dalam perjalanan pulang tadi, Dave telah lebih dulu menghubungi Amber dan memintanya untuk memastikan para pencari berita itu tidak akan menghalangi jalannya dengan berkerumun didepan pagar rumahnya. Sehingga para petugas keamanan yang bekerja dirumahnya dapat bersiap-siap dengan menghalangi para pencari berita itu ketika mobil yang dikendarai oleh Dave melaju memasuki halaman rumahnya..

“Astagaaa Dave.. Apa kau membaca beritanya? Kau tahu mereka bahkan menyebutmu sebagai seorang duda? Ya ampuunnnn.. Bisa-bisanya mereka menuliskan itu. Kau memang telah memiliki Lauren, tapi kan kau belum pernah melakukan pernikahan. Apa itu bisa memberimu status sebagai seorang duda?”

Amber yang pada saat itu Dave temui saat ia masuk kedalam rumahnya dengan Lauren yang masih tertidur didalam gendongannya. Dave memasang raut agak kesal diwajahnya pada saat mendengar Amber berbicara panjang lebar, menceritakan perihal pemberitaan yang sedang beredar..

“Tapi meski para wartawan itu menulis statusmu sebagai duda dengan seorang anak, aku membaca komentar dari para penggemar Yoona yang menyebutmu sebagai pria tampan yang cocok saat bergandengan tangan bersama dengan Yoona. Ada juga yang mengatakan kalian terlihat seperti keluarga. Kurasa mereka setuju kau berhubungan dengan Yoona..”

Sekarang Amber sedikit terkikik mengingat komentar-komentar para penggemar Yoona yang tadi ia baca dibeberapa situs-situs pemberitaan dengan skandal hubungan asmara Yoona yang sedang menjadi topik panas pembicaraan..

“Tapi apa yang sebenarnya terjadi, Dave? Berita tentangmu dan Yoona, juga Lauren.. Apakah yang sebenarnya kalian lakukan tadi? Apakah kalian bersama dan–?”

“Kau tidak melihat aku sedang menggendong Lauren sekarang? Biarkan aku menidurkannya baru setelah itu kau boleh menyerbu-ku dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu..”

Amber meringis mendapati geraman dalam nada suara Dave, serta melihatnya yang kemudian membawa Lauren masuk kedalam kamarnya. Amber kemudian mengikutinya dengan masuk kedalam kamar Dave, dan melihat Dave yang sudah menidurkan Lauren keatas tempat tidurnya dan sekarang sedang mencoba melepaskan sepatu yang dipakai oleh gadis kecilnya..

“Siwon, yang tadi terjadi itu.. Apa sebenarnya yang–”

“Aku merasa sangat gerah sekarang. Aku ingin mandi terlebih dulu agar lebih segar”

Amber merengut merasa diabaikan pada saat melihat Dave membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakannya, melepaskan melewati bahu dan lengannya hingga melemparnya asal kesalah satu sudut kamar, menjadikannya sekarang bertelanjang dada dihadapan Amber yang memperlihatkan ekspresi kesal kepadanya..

“Setidaknya kau masih seorang wanita kan..? Kau tidak bisa menunggu didalam kamar seorang pria yang sedang berencana untuk mandi..”

“Sialan.. Kau pikir aku tertarik dengan tubuh seperti itu. Selain kau hanyalah saudara, kau juga bukan tipeku..”

Amber mengumpat, memutar bola matanya kearah Dave, lalu beranjak mengambil kemeja yang tadi dilempar oleh Dave untuk selanjutnya melemparkannya kembali kearah wajah Dave. Dave menangkap kemeja putih miliknya itu dengan ekspresi geli diwajahnya. Biasanya, seperti beberapa saat tadi, Amber-lah yang selalu membuatnya merasa kesal, entah dengan kalimatnya maupun candaan-candaannya, sekarang keadaan menjadi terbalik sepertinya. Amber lah yang sekarang merasakan kekesalan terhadapnya..

“Sekalipun aku bukan tipemu, kau tetap tidak boleh berlama-lama berada didalam kamarku. Apalagi ketika aku bertelanjang dada seperti ini..”

“Kau pikir aku berminat meraba-raba dadamu..”

Amber mencibir kesal..

“Kalau begitu cepatlah keluar dari kamarku..”

“Ya ya yaa.. Aku tahu kau sudah memiliki wanita lain sekarang. Jika yang berada disini adalah Yoona dan bukannya aku, kau pasti tidak akan mengusirnya. Bisa jadi kau malah akan menariknya mandi bersamamu dan memintanya untuk menyabuni tubuhmu..”

“Sial..”

Siwon berganti melemparkan kemejanya tadi kearah Amber, yang langsung membuatnya justru tergelak..

“Wajahmu sekarang memerah, Dave. Aku pasti benar kau merencanakan yang seperti itu jika sekarang Yoona berada dihadapanmu kan?”

“Tutup mulutmu dan keluar sekarang..”

“Baiklah aku akan keluar dan memberitahu bibi kau dan Lauren sudah pulang. Tapi setelah kau selesai, kau harus ceritakan apa yang terjadi. Mengapa diam-diam kau berhubungan dengan Yoona?”

“Aku tidak berhubungan dengannya”

Bantah Dave..

“Kau tidak berhubungan dengannya tapi kau bertemu dengannya bahkan menggandeng tangannya hingga membuat kehebohan seperti sekarang. Kau pikir itu apa namanya?”

“Itu tidak disengaja..”

“Anak kecil seperti Lauren saja sudah cukup pintar, Dave. Kau pikir aku bodoh dan percaya begitu saja itu tidak disengaja?” Amber beranjak dengan seringai puas diwajahnya ketika melihat Dave membulatkan mata mendengar apa yang tadi dikatakannya. Namun langkahnya terhenti diambang pintu, saat Dave memanggilnya..

“Kau sebaiknya kemasi barang-barang Lauren sekarang. Aku akan membawanya pulang besok..”

“APA..?”

“Lauren dan Aku akan pergi dari sini besok..”

“Apa maksudmu, Dave?”

Amber dengan cepat kembali melangkah mendekati Dave, tidak percaya Dave berencana untuk pergi lagi dari rumahnya..

“Kurasa sudah cukup aku menemani Lauren berlibur disini. Waktunya dia kembali dan bersekolah..”

“Tapi Dave.. Kau tidak–”

“Aku bisa memutuskan apapun yang terbaik untuk Lauren..”

“Tapi yang terbaik untuk Lauren bukan–”

“Yang terbaik untuknya tentu saja adalah bersama denganku..” Ucap Dave memotong kalimat Amber..

“..Aku tidak akan menetap lebih lama lagi disini. Lauren akan ikut denganku. Terserah bagaimana denganmu, aku bisa mencari orang baru jika kau tidak ikut denganku..”

“Tidak.. Tidak.. Kau tidak bisa melakukannya. Bagaimana dengan bibi? Ayahmu menitipkan ibumu padamu. Kau lupa dengan apa yang dikatakannya sebelum kematiannya datang?”

“Minho bisa melakukannya.. Selama ini dia sudah melakukannya..”

“Tapi Dave–”

“Kemasi barang-barang Lauren sekarang, sepertinya itu tugas terakhirmu dariku jika kau ingin tetap tinggal..”

Ketika Dave berbalik membelakanginya dan mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi, Amber dengan segera keluar dari sana dan bergegas mencari keberadaan bibinya. Dave tidak boleh pergi lagi dan meninggalkan sang bibi kembali bersedih dan menangisinya..

“Bibi.. Kau tahu apa yang baru saja Siwon katakan padaku?”

Amber langsung memasuki kamar sang bibi, mendapati bibinya sedang berdiri didepan lemari pakaian yang Amber tahu itu milik sang paman. Bibinya pasti sedang merindukan mendiang suaminya..

“Siwon sudah pulang?”

“Hm, dia pulang..”

“Lauren?”

“Dia masih tertidur..”

“Kalau begitu aku ingin berbicara dengan Siwon sekarang..”

“Tunggu sebentar bibi, ada yang ingin aku katakan padamu”

Amber menahan tangan sang bibi yang sudah berencana untuk beranjak dari kursi yang didudukinya..

“Siwon ingin aku mengemasi barang-barang Lauren. Dia merencanakan untuk pergi besok..”

“Apa maksudmu, Amber? Siwon.. Siwon akan pergi? Tapi disinilah rumahnya. Ayahnya bahkan sudah meninggal. Bagaimana mungkin dia juga berencana meninggalkanku. Tidak akan ku ijinkan Siwon melakukannya. Apalagi memisahkan Lauren dariku..”

“Bagaimanapun Siwon berpikir tidak membutuhkan ijin siapapun, bibi”

“Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu? Bagaimanapun aku adalah ibunya.. Ibu yang telah melahirkannya. Dia tidak bisa memisahkan diri lagi dari keluarganya. Oh, bagaimana dengan cucuku nantinya? Kasian sekali Lauren.. Aku akan berbicara dengan Siwon sekarang?”

“Tunggu sebentar bibi, menurutku Siwon tidak bisa dicegah dengan cara seperti itu?”

“Maksudmu?”

“Siwon sama berwatak keras seperti paman, apalagi setelah dia keluar dari rumah ini. Dia pasti akan melakukan apa yang sudah dia katakan..”

“Karena itu sebelum dia melakukannya, aku akan mencegahnya. Siwon tidak boleh pergi lagi dari rumah ini…”

“Aku tahu bagaimana cara agar Siwon tidak pergi, bibi”

Amber memperlihatkan seringaian diwajahnya..

“Kau memikirkan sesuatu?”

“hmm.. Bibi tahu kan berita yang baru beredar hari ini. Alasan mengapa banyak pencari berita diluar sana adalah karena mereka ingin mendengar konfirmasi dari Siwon mengenai hubungannya dengan Yoona..”

“Tapi bukankah Siwon tidak menjalin hubungan serius dengan Yoona?”

“Apa bibi kira Siwon tidak tertarik pada Yoona dan sebaliknya?”

“Entahlah, Amber.. Yang jelas aku tidak mau mencampuri urusan asmaranya. Cukup waktu itu aku dan ayahnya melarangnya berhubungan dengan wanita asing itu.. Sekarang, siapapun yang disukainya aku akan merestuinya, asalkan wanita itu bisa menerima Lauren dengan baik..”

“Nahh, bibi tahu.. Yoona lebih dulu bertemu Lauren daripada Siwon. Dan bukankah bibi juga melihat dia menyayangi Lauren, bahkan tidak masalah Lauren memanggilnya dengan sebutan ‘Mommy’. Setelah aku menjelaskan kesalahpahaman hingga Lauren memanggilnya seperti itu, Yoona masih tidak apa-apa. Kulihat dia justru makin bersimpati pada Lauren dan secara tulus menyayanginya..”

“Aku senang mendengarnya. Yoona memiliki hati yang juga secantik wajahnya..”

“Menurut bibi bagaimana jika Yoona tak hanya sayang pada Lauren tapi juga tertarik pada Siwon?”

“Dia tertarik pada Siwon?”

“Mungkin.. Dan bukankah jika benar begitu, itu menjadi hal yang bagus, bibi? Untuk Lauren yang memang sudah beranggapan Yoona sebagai ibunya, dan juga Siwon. Mungkin memang banyak wanita yang tertarik pada Siwon, tapi begitu mereka mendapati Siwon memiliki Lauren, mereka akan langsung mundur dengan sendirinya. Selain sikap keras dan kaku-nya terhadap wanita, kehadiran Lauren memang menyulitkan Dave untuk mendapatkan pasangan. Berbeda hal nya dengan Yoona, dia telah lebih dulu menyukai Lauren baru setelah itu mengenal Siwon.. Jadi jika benar Yoona tertarik pada Siwon, dia tidak akan mundur karena adanya Lauren”

Amber melihat sang bibi yang terus menyimak apa yang dikatakannya, mungkin juga mencernanya, jadi ia kembali meneruskan..

“Bibi, sekarang aku merasa sepertinya saat Siwon menunjuk foto Yoona sebagai ibu Lauren ketika itu, bukanlah suatu kebetulan ataupun kesembarangannya. Melainkan karena Tuhan telah mengarahkannya pada Yoona sebagai wanita yang pantas menjadi ibu putrinya”

“Kalau begitu apakah cara mencegah Siwon pergi adalah dengan melibatkan Yoona?”

Amber tersenyum senang dan mengangguk..

“Mengapa tidak sekarang saja bibi keluar dan temui para wartawan itu, katakan pada mereka kalau Yoona memang adalah calon menantu yang bibi inginkan..”

*

*

*

To Be Continued~

Yeahhhh.. Berapa lama yaa si Princess ini tak apdet? Hihihiii..
Sorry aq nya lagi rada sibuk soalnya, kalau apdetnya ini tidak memuaskan harap dimaklumkan^^
Ini pun disempat-sempatin ngerjain disela persiapan nikah…
Yupsss..
Aq akan menikah Jumat nanti.. Insyaallah ditanggal 6 mei nanti. Karena itu selain kasih apdetan terakhir saat status masih lajang (berasa agak berat juga ya meninggalkan status lajang yang bebas merdeka mau ngapain aja..*eh)
Aq juga mau minta doa restunya dari teman-teman semua, para pembaca setia yang selalu mensupport tulisan-tulisan qu dengan berbagai komentar-komentarnya. Minta doa nya yaa.. Semoga apa yang kami & keluarga rencanakan berjalan dengan lancar.. (Aamiin)

Yang bisa dateng ke Lampung, dateng yaaa.. Yang gak datang ya minimal kadonya lah ya yang datang.. Hihihiiii #becanda
Minta kiriman doanya aja yang banyak bwt aq yaa.. #tq
Doain jg masih bisa lanjut nulis stelah merid ^^

@joongly

212 thoughts on “FF | Princess | 4

  1. si amber kocak abis semangat bgt ngecomblangin yoonwon pake ngomporin ummanya siwon pula.. amber jjang!!
    ayolah bang choi jgn jutek2 amat ame yoongie kalo udh cinta bisa klepek2 loh bang.

    .buat authornya happy weddingday smoga jd kluarga samawa

  2. Lah, Eonnie ternyata udh married? (Aku comment tgl 2 June 2016) walah Walahh.. Chukkae eon!!! Moga2 langgeng Trus.. Hana yg hanya sbg follower hanya bisa ngomong gini Dan kirim DOA.. Mudah2an Eonnie ttp bisa berkarya stlh married, amin!! Moga2 cepet dpt momongan ya eon.. Wkwk.. Biar bisa bagi2 cerita juga.. Wkwk.. Chukkaeyo eonnie~~

  3. Selamat eonni atas pernikahannya. semoga menjadi keluarga yang samawa yaa. maaf telat ngucapih hehehe oh iya eonn, penasaran nih sama cerita selanjutnya. apakah si laurent yang imut itu anak kandung nya yoona? aarrgghhhh penasaran banget. pokoknya ditunggu update nya ya eonn. makasih eonni

  4. amber niat bgt utk jodohin yoonwon, smpai ngomporin eommanya siwon ,, tpi aku mndukung mu .. hhe
    ayolah choi siwon jgan jutek bgt, ksian yoona, n lbh kasian laurennya jgn dpisahin sma yoona ,,,
    sbnrnya siapa sih ibu kndungnya lauren ?? mash tnda tanya besar .. dtunggu lnjutnnya kak ,, happy wedding ..:^)

  5. Happy wedding eonni, sorry karena telat ngucapinnya, hehehe
    oea, kayaknya amber berhasil tuh nyomblangin yoonwon dengan ngomporin ibu siwon, wah apa jadinya ya reaksi siwon dan yoona kalo saja beneran ibu siwon konfirmasiin hubungan siwon dan yoona ke wartawan, kalo yoona sih aku yakin gak bakalan masalah, yaaa palingan kakak dan temen2nya yang protes, tapi kalo siwon gimana ya?
    waduh gak sabar nunggu reaksinya,,,
    ayooo dong eonni lanjutin chapter berikutnya, gak sabar nunggu eonni comeback again,,, hahaha

  6. pnasaran ama klnjutan kisah ff ini
    unnie, buat yoona & siwon tbh dkat , and biar lauren punya mommy
    big hug buat unnie,mga kluarga nya samawa ya, cpet dpt mmongan yg lucu n cntik nya kyk lauren😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s