Fanfiction / Vignette

FF | A Wish | Vignette

image

Story: Choi Siwon & Im Yoona
Category: Vignette
Cover: Berta/Xoloveyoonwon
Lagi dan lagi, tq buat cover kece nya say.. Thanks juga buat Yulisa yg sudah mewariskan cover pesanannya untuk qu #kecup Berasa ngebegal sih pas minta ini cover dikasihkan ke aq.. Hahhaa~

Masih inget Vignette sebelumnya, Soulmate? Nah, crita ini bisa dibilang sambungannya^^

Enjoy Reading~

*

*

*

SIWON~

Biasanya aku selalu tahu bila seseorang yang selalu tidur bersama denganku, sedang beranjak dari atas tempat tidur dan meninggalkanku sendirian diatasnya. Itu akan membuatku langsung terjaga. Tapi kali ini, entah sudah berapa lama sisi disampingku yang biasa ditempatinya, kosong. Bahkan sisa-sisa kehangatan tubuhnya, sudah tak lagi kurasakan ketika tadi aku meraba-raba dengan tanganku, sebelum membuka lebar kedua mataku karena tidak menemukannya lagi berada disampingku, kecuali bau parfumnya yang selalu tertinggal. Wangi yang membuatku mabuk kepayang..

Ku tendang selimut yang sudah tidak lagi beraturan dibawah kaki ku, dan mulai turun untuk mencari setelan piyama-ku semalam. Yang kutemukan hanyalah celananya saja, entah kemana semalam aku melempar atasannya. Tapi sepertinya aku ingat bukan aku yang melepaskan piyama itu dari tubuhku, tapi istriku. Istriku yang sudah melakukannya. Dokter itu harus diperingatkan, bila perlu diberikan hukuman yang setimpal karena telah membangunkanku dalam arti keseluruhan ditengah malam, juga membuatku tampak seperti bayi yang baru dilahirkan, ketika terbangun dalam keadaan polos tanpa sehelaipun benang. Sebenarnya ini sudah sering terjadi. Dan seringnya, memang akulah yang menginginkan. Jadi sebenarnya bukan salahnya..

Hahhaa~

Tanpa perlu berdiri didepan cermin, aku tahu wajahku sekarang sedang memperlihatkan cengiran riang..

Well, aku langsung memikirkan ulang untuk mengubah mengenai rencana memberinya hukuman, dan menggantinya dengan sebuah penghargaan. Penghargaan besar sebagai seorang istri yang pandai memanjakan ku diatas ranjang. Tak cuma diatas ranjang saja sebenarnya, dia juga jago diatas sofa, lihai ditengah karpet dan yang paling ku suka, dibawah pancuran..

Ya, kami memang sudah menjelajah disemua tempat kecuali ruang prakteknya. Akan terasa tidak beretika bila kami bercinta disana. Seperti tidak ada tempat lain saja. Jadi kami sudah sepakat untuk menjadikan apartemen ini sebagai sarang untuk berkasih sayang. Walaupun pengalaman saat ia mendatangiku dikafe hanya untuk bercumbu diruang kerjaku juga tidak bisa kulupakan. Kami harus benar-benar mencoba untuk melakukannya di tempat itu nanti. Mungkin juga bisa menjadikan ruang kerjaku disana sebagai sarang berkasih sayang berikutnya..

Yeahh~
Akan banyak sarang baru kurasa, mengingat kafe-ku tak hanya satu.

Wajahku sekarang, pasti sedang memperlihatkan seringaian. Saat sudah melihat lagi wajahnya, dan senyuman yang mengulas dibibirnya, aku pasti akan langsung melahapnya..

Oh bibirnya..
Bibirnya yang ranum, yang dulu membuatku terus-terusan berniat melupakan moralitas demi untuk merasakan betapa lezat dan nikmatnya rasa yang akan diberikan olehnya. Untungnya aku bisa mempertahankan moralitas untuk tetap bertindak sebagai seorang sahabat, hingga sekarang tak perlu lagi merisaukan bibirnya yang begitu mengundang ciuman. Aku sudah memilikinya. Aku bahkan suka menggigitnya demi untuk menunjukkan pada siapa saja yang melihatnya, bahwa bekas gigitan itu menandakan bibir itu sudah menemukan pemiliknya..

Yoona, akulah yang sudah memilikinya. Selamanya, hanya Choi Siwon lah yang sepenuhnya bisa memilikinya. Aku menguasai seluruhnya..

Kuputuskan untuk bergegas menyambar salah satu kaos dari tumpukan didalam lemari, sebelum keluar dari dalam kamar dan langsung disambut dengan semerbak aroma masakan yang menguar. Aku tahu dimana sumbernya, jadi aku bergegas menghampirinya..

Melihatnya bergerak-gerak disekitar dapur dengan kaki telanjang, adalah pemandangan pertama yang kemudian kutemukan. Aku sedikit mengagumi tungkai panjangnya yang terlihat begitu mengagumkan dan ketidak sabaranku lebih besar untuk segera menghampirinya.
Ya Tuhaannn..
Itu sempurna. Hanya atasan piyamaku yang sekarang dia kenakan. Pantas saja aku tidak menemukannya dikamar..

Kuputuskan berjalan pelan, dan mendekapnya dari belakang..

“Kau sudah pandai menyelinap dariku sekarang..”

Bisikku didekat telinganya. Tanpa melihat ekspresinya, aku tahu dia sedang tersenyum sekarang..

“Kau tidur nyenyak sekali. Aku tak ingin membangunkan..”

“Kau membangunkan aku semalam”

“Untuk memberikanmu hadiah..”

“Aku suka hadiahnya. Kurasa itu yang menyebabkanku pulas hingga jam berapa sekarang?”

“Sebelas..”

Aku mengerang..
Bagaimana mungkin sudah sesiang ini dan aku baru turun dari atas ranjang? Sebenarnya aku bisa saja berada didalam kamar selama dua puluh empat jam, tapi tanpa bersama dengan Yoona disana, itu mengerikan..

“Aku sudah menelpon ke kafe, kau tidak akan datang. Tidak masalah bukan?”

“Tidak.. Itu malah bagus. Dan apa yang sedang kau lakukan? Ini kamis, kau tidak ke rumah sakit?”

“Aku mengajukan cuti untuk hari ini. Sekarang sampai nanti kita akan melakukan perayaan. Kau senang?”

“Rencanamu pasti luar biasa..”

Yoona melonggarkan pelukan, kemudian berbalik memberiku tatapan paling mengagumkan. Matanya seperti bersinar memperlihatkan kebahagiaan. Ku pastikan akulah yang menjadi sumber utama kebahagiaan yang akan selalu ia rasakan. Itu adalah salah satu janji ku saat pernikahan..

“Selamat ulang tahun.. Kue nya sedang dipanggang..”

Dan aku menerima ciuman selamat ulang tahun dari bibirnya yang lembut menggairahkan. Ulang tahun pertamaku setelah statusku berubah menjadi suaminya. Ingatanku kemudian berputar ketika tahun lalu aku menerima kejutan serta ciuman di pipi. Ya, hanya dipipi..
Ketika itu statusku masihlah seorang teman setia untuknya. Dan sekarang rasanya jauh berbeda bila dibandingkan dengan yang kudapatkan pada tahun sebelumnya. Selain karena dia memberiku ciuman dibibir, status kami sudah naik menjadi pasangan suami istri..
Itu lonjakan yang sangat mengagumkan bukan?
Tentu saja itu hasil dari usaha kerasku untuk meyakinkannya bahwa persahabatan bukanlah sesuatu yang sebenarnya kuinginkan. Dan sama sekali tidak cocok untuk kami teruskan..

Aku masih mengingat pada saat Yoona sempat berusaha menjauh dariku setelah aku mengutarakan keinginan untuk kembali merajut lagi hubungan yang dulu terjalin manis diantara kami. Masa-masa remaja yang sulit ku lupakan karena aku memang tak berencana melupakan.

Pacar pertamanya adalah aku..
Cinta pertamanya adalah aku..
Ciuman pertamanya juga adalah aku..
Kuyakin hal itu pun tidak akan pernah dia lupakan..

“Apa kau mau menjalin lagi hubunganmu denganku? Meneruskan kisah diantara kita yang aku yakin masih dapat kita rajut bersama-sama..”

Dia sempat terdiam beberapa lama, sebelum kemudian terbata bersuara..

“Si-won.. Mengapa, mengapa kau mengatakan hal itu sekarang?”

“Karena sebelumnya kau tidak pernah memberiku kesempatan..”

Dia selalu membawa cerita-cerita kandas hubungan asmaranya, namun menyeret serta kisah baru yang ingin dirajutnya dengan lelaki lain yang entah dimana ia menemukannya. Dan menjadikanku tidak menemukan celah untuk kembali masuk kedalam kisah asmaranya..

“Aku.. Turunkan aku disini..”

Selain samar melihat gelengan kepalanya yang mengindikasikan penolakan, ia kemudian juga keluar dari dalam mobil, dan meninggalkanku tercekat sendirian..

Ketika itu aku merasa keinginanku justru menghancurkan persahabatan kami yang begitu akrab. Tapi..
Persetan, aku tak ingin bersahabat dengannya dan hanya berfungsi sebagai tong sampah tempatnya membuang keluh kesah sekaligus cerita-cerita asmaranya yang picisan. Walaupun ada kalanya kami bersenang-senang dengan menghabiskan waktu berdua saja. Tapi tetap saja seperti ada pagar pembatas diantara kami yang muncul melalui kata sahabat ataupun teman baik yang seringkali diucapkannya untuk menggambarkan kedekatan kami yang sama sekali bukan sesuatu yang kuinginkan..

Maka aku tak lantas tinggal diam. Ku susul dia keluar dari dalam mobil, dan dengan satu sentakan kuraih pergelangan tangannya lalu menyeretnya agar mengikutiku kembali masuk ke mobilku..

“Rumah sakitnya masih jauh, Yoona..”

“Siwon lepaskan.. Apa yang kau lakukan?”

Aku tak menjawab sampai ia kembali kupaksa duduk didalam mobilku, dan aku kembali melajukannya..

“Kau marah dengan apa yang kukatakan tadi?”

“Kau mengatakan sesuatu yang konyol.. Kau merusak persahabatan kita..”

“Aku tak ingin bersahabat denganmu. Aku benci menjadi teman baikmu. Sekarang kau tahu itu..”

Ia sedikit ternganga mendengarnya. Bagus..

Terkejutlah Yoona. Seharusnya aku memang sudah mengejutkanmu sejak lama..

“Yang kau cari pada diri para lelaki yang pernah kau kencani itu sudah ada padaku. Aku memiliki pekerjaan, bisnis yang bagus, tempat tinggal pribadi, kehidupan mapan dan segala macam hal lain yang kau perlukan agar kau bisa mempertimbangkan potensi diriku sebagai suami bagimu. Kau mengenalku lebih lama dari pada para lelaki yang sama sekali tak bisa kau harapkan. Kau tahu aku seorang pria yang bertanggung jawab. Aku pastikan akan mampu mengambil alih tanggung jawab atas dirimu dari kedua orangtua mu. Jadi pikirkanlah tawaranku..”

Aku yakin melihatnya tertegun tadi. Tapi apa yang kemudian dikatakannya membuatku sedikit merasa kesal..

“Tidak ada tawar-menawar. Dan aku bukan salah satu kafe rusak yang nyaris bangkrut yang bisa kau ambil alih…”

Kuputuskan untuk mengabaikannya..

“Kau harus melihat apartemen baruku. Aku membayangkanmu ketika membelinya dan yakin kau akan merasa cocok saat tinggal disana bersamaku. Aku juga memiliki beberapa mobil. Tentu saja semuanya berharga mahal. Salah satunya yang sedang kita kendarai sekarang. Dan aku sudah merencanakan untuk membeli satu lagi keluaran terbaru yang akan kuberikan padamu ketika kau nanti menjadi istriku. Jangan khawatirkan saldo tabunganku akan berkurang karena hal itu. Kafe-ku sudah memiliki banyak cabang, pemasukannya akan langsung menutupinya pada akhir bulan..”

“Kau gila Siwon..!”

“Lebih tepatnya tergila-gila padamu. Oh ya.. Kau boleh melihat buku tabunganku sekarang. Sepertinya kau memang butuh diyakinkan..”

Ku buka satu laci yang berada dibagian depan, hanya untuk memperlihatkan padanya tak kurang dari sepuluh buku tabungan yang menjadi bukti aku menyimpan uang-uang ku di bank. Bersyukur aku membawanya meskipun tidak semuanya..

“Sinting..”

Kudengar komentarnya dan sekaligus putaran matanya yang ditujukannya padaku. Dia terlihat sungguh kesal mendengarkan aku menyombong. Aku memang baru sekali ini menyombong didepannya. Tapi menggemaskan, dia marah tapi masih saja terlihat cantik..

“Aku hanya rajin menabung. Aku selalu memikirkan masa depanku bersamamu. Itu belum semuanya, jadi kau boleh mencari kata lain selain ‘sinting’. Itu agak kurang tepat..”

“Kau menganggap aku matrealistis..?”

“Tidak.. Tapi kau realistis kan? Dan aku memuja sikapmu yang seperti itu. Yang telah membuatku bekerja keras untuk mengumpulkan jutaan won yang akan kuberikan padamu sebagai hadiah pernikahan..”

“Hentikan.. Berhenti menyombong didepanku Choi Siwon. Aku sungguh tidak mau lagi melihatmu. Persahabatan kita selesai..”

“Bagus.. Aku setuju persahabatan kita selesai. Dengan begitu aku bisa melakukan pendekatan lain padamu..”

“Terserah.. Kuucapkan selamat tinggal sekarang..”

“Sampai bertemu lagi, sayang..”

Mobilku berhenti didepan gedung rumah sakit tempatnya bekerja, membiarkan Yoona masuk kedalamnya, sementara kemudian aku dapat menarik napas panjang setelah menghadapi reaksinya yang nyaris sama seperti yang telah aku prediksikan. Dia shock..

Well, dia hanya perlu untuk diyakinkan dan diberi ruang sekaligus waktu untuk menjernihkan pikiran yang akan membuatnya tahu bahwa apa yang kukatakan adalah benar. Dia terbiasa mendominasi, tapi akulah yang akan lebih mendominasinya mulai sekarang..

Maka untuk sementara aku tidak akan mengganggunya. Tunggu sampai dia yang akan mencariku. Tapi kemudian, bahkan setelah seminggu berselang, Yoona sama sekali tidak menghubungiku. Tidak mengirimkan pesan, apalagi datang ke kafe seperti yang biasa ia lakukan. Aku sudah rindu membuatkan ice coffe kesukaannya. Kurasa akulah yang harus mengalah dengan mendatanginya dirumah sakit..

Jadi hari itu aku datang dengan penampilan paling menawan serta dua gelas ice coffe ditangan dan dia justru mengarahkan pelototan tajam. Tidak adakah kerinduan?
Jelas ada..
Aku bahkan melihat binaran matanya yang coba dia sembunyikan ketika melihatku berdiri diambang pintu ruang prakteknya. Ku yakin dia telah begitu kuat menahan diri untuk tidak menghubungiku. Biasanya hanya sekedar untuk merengek, dia selalu mencariku..

“Aku sakit. Sepertinya kau harus memeriksa keadaanku..”

Ucapku sambil melangkah masuk, mendekatinya..

“Jantungku terus berdebar nyeri sejak seminggu yang lalu. Sejak aku tak lagi melihatmu..”

“Aku tidak peduli”

“Tapi aku peduli dengan kesehatanku. Bagaimana jika sesuatu terjadi dengan jantungku padahal aku masih muda dan belum menikah?”

“Aku bukan dokter jantung. Pergilah..”

“Tapi aku yakin hanya kaulah yang bisa menyembuhkanku. Aku juga sudah membawa ice coffe untukmu..”

“Tidak ada pasienku yang membawa ice coffe”

“Aku bukan pasien, aku calon suamimu..”

Dan sepertinya dia sudah siap untuk memaki dan melemparkan stetoskop itu kewajahku, tapi–

“Yeobo..!”

Aku mendengar suaranya memanggil.

Tidak..
Tidak..
Yoona jelas tidak berteriak seperti itu pada saat itu. Dan memang bukan seperti itu kejadiannya. Kapan-kapan akan aku lanjutkan. Akan ku ceritakan lebih banyak lagi usaha kerasku untuk mendapatkannya sebagai istri seperti sekarang. Salah satunya tentang kerajinanku menyambangi kediaman calon mertua. Tentu saja Yoona lebih sewot lagi ketika aku banyak menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan kedua orangtua nya, daripada mendatanginya dirumah sakit dua kali dalam sehari..

Sekarang aku harus sementara berhenti mengingat kejadian lalu, dan beralih pada istriku yang sedang memanggil meminta perhatian..

“Yeobo.. Coba lihat, kue-mu sudah matang..!”

Yoona sudah berdiri didepan mesin pemanggang, kemudian mengeluarkan seloyang besar kue dari dalamnya. Aroma kue itulah yang sejak tadi semerbak diindera penciuman. Dan aromanya lebih kuat lagi setelah dikeluarkan..

“Kau membuat kue sendiri untukku?”

“Tentu saja. Kue-mu harus dibuat spesial..”

“Kau sungguh wanita spesial..”

“Aku tahu..” Dia tersenyum riang..

“Aku tahu selain pandai memainkan pisau bedah, kau juga pandai menggunakan pisau dapur. Tapi yang ini aku baru mengetahuinya. Kau bisa membuat kue, sayang..?”

“Mantan pacarku yang seorang koki pembuat kue pernah mengajariku caranya dan upss..

Dia meringis menghentikan ucapannya, lantas menggigit bibir bawahnya ketika menatapku. Pasti sadar telah melakukan kekeliruan dengan menyebutkan mantan pacarnya. Bedebah sialan itu yang telah mengajarkannya cara membuat kue, aku ingin mematahkan tangannya sekarang juga. Membayangkan mereka pernah bersama sambil memainkan adonan dengan tangan saling bersentuhan, lalu bercanda sambil memainkan tepung dan mencoretkannya ke wajah, membuat kedua tanganku langsung terkepal.
Oh Tuhannn…
Kuharap bayangan itu hanya potongan adegan dalam drama yang pernah aku tonton. Tapi aku sama sekali tak pernah menonton drama. Jadi aku benar-benar sedang membayangkan saat Yoona belajar membuat kue itu dari–
Argggh… Jangan harap aku akan menyebut namanya. Bedebah sialan..

Kurasakan kemudian tangan Yoona yang mengalung dileherku. Menjadikanku refleks bertindak posesif dengan menarik pinggangnya merapat padaku. Milikku..

“Yeobo, kau tidak marah kan?”

“Jadi ada yang mengajarimu cara membuat kue itu, huh?”

“Hmm..” Angguknya..

“Kau pasti mengingat semua detailnya kan?”

“Tidak terlalu..”

“Kau pasti bercanda?”

“Sungguh..”

Dia menunjukkan cengirannya, sebelum kemudian mengecup bibirku. Aku tahu dia tidak sengaja menyebut mantan pacarnya tadi, jadi kurasa aku memaafkannya. Lagi pula tidak ada yang boleh merusak hariku. Hari ulang tahun pertamaku bersama dengan Yoona sebagai istriku. Dia bahkan membuat kue sendiri untukku..

“Aku hanya mengambil keuntungan dari apa yang kuingat. Kue-mu akan jadi sempurna. Aku hanya tinggal menghiasnya saja..”

Dia melepaskan diri dariku setelah kubalas kecupannya dengan satu ciuman panjang. Sementara kemudian aku duduk dan memperhatikannya menghias kue ulang tahunku. Wajahnya kadang terlihat serius saat mengoleskran krim putih dan coklat itu keatas kuenya. Lalu dia akan berubah tersenyum ketika beralih menatapku, dan kembali serius menghias kue dihadapannya. Sampai kemudian senyuman puas itu terlihat diwajahnya setelah hasil karyanya selesai ia buat..

“Mau dibawa kemana?”

Aku beranjak ketika melihatnya mengangkat kue itu dari atas meja dapur..

“Aku harus memasukkannya ke mesin pendingin. Hanya sebentar. Sementara menunggu, kau bisa mandi terlebih dulu..”

“Tunggu.. Aku mau mencicipinya..”

Kudekati dia yang kemudian mencoba menjauhkan kue itu dariku saat kuulurkan tangan untuk mencolek krimnya. Terlambat..
Aku sudah mendapatkan krim itu diujung jariku, dan Yoona memekik karena itu. Ia kembali meletakkan kue itu keatas meja, lalu bertolak pinggang kearahku..

“Yeobo, apa yang kau lakukan. Kau merusak kue-mu..!”

“Aku ingin merasakannya..”

Ku oleskan krim kue itu yang berada diujung jariku keatas bibirnya, lalu menjilatnya..

“Yeobo..! Emhhh..” Dan melumatnya dengan bibirku. Rasa yang luar biasa. Aku akan menghabiskan kue itu jika dia meletakkan semuanya diatas bibirnya..

“Mandilah.. Aku akan menyiapkan makan siang..”

Dia mendorong bahuku sampai aku menurutinya dengan masuk kedalam kamar, menuju kamar mandi. Menyegarkan diri dan kembali kehadapannya dalam waktu lima belas menit berselang. Sudah ada beberapa hidangan yang ia tata diatas meja. Semuanya kesukaanku..

“Bagus kau sudah selesai.. Sekarang giliranku..”

“Kenapa kita tidak mandi bersama saja tadi?”

“Kita pasti akan melewatkan waktu makan siang jika melakukannya”

Ucapnya sambil melewatiku. Dan itu benar..

“Tugasmu hanya membuat ice coffe untukku.. Aku akan mandi dengan cepat..”

Baiklah..
Itu hal yang mudah. Kubiarkan dia masuk kedalam kamar, sementara aku mulai bergerak didepan mesin pembuat kopi. Yoona sangat tergila-gila pada kopi buatanku, sekalipun aku bukanlah seorang barista handal. Aku hanya terbiasa mengamati para pekerja di kafe saat membuat pesanan pelanggan dan mempelajari hal itu dari mereka..

Saat Yoona telah selesai mandi, dia langsung menghampiri mesin pendingin untuk selanjutnya mengeluarkan kue itu dari dalamnya dan menata lilin-lilin kecil diatasnya, menyalakannya. Dia tersenyum mempesona membawa kue itu padaku, dengan bibirnya menyanyikan lagu ulang tahun untukku. Suaranya merdu. Setidaknya untukku..

“Make a wish, yeobo..”

“A wish?”

“Ya, katakan sebuah keinginan sebelum kau meniup lilinnya..”

Aku memikirkan keinginanku. Sebuah keinginan seperti yang Yoona katakan. Tapi apa lagi yang kuinginkan sekarang?
Satu-satunya keinginan yang selalu kupanjatkan setiap kali merayakan ulang tahun adalah memiliki Yoona. Dan keinginanku itu sudah terkabul..

“Ayo, yeobo.. Katakan apa keinginanmu?”

Aku terus memikirkannya. Hingga akhirnya aku menemukan keinginan lain sekarang. Satu keinginan mulia..

“Aku ingin kita memiliki anak. Keinginanku adalah melihatmu mengandung anak-ku.. Semoga Tuhan mengabulkannya..”

Kutiup lilin-lilin itu hingga semuanya padam. Yang ingin kulakukan kemudian adalah mencium Yoona dan mengucapkan terimakasih padanya. Namun aku urung melakukannya saat melihat raut wajahnya yang menegang. Apa yang terjadi..?
Ku sentuh bahunya, dan dia dengan segera meletakkan kue itu keatas meja. Padahal aku ingin merasakan lagi kue itu diatas bibirnya..

“Sayang, tidak ada yang salah dengan keinginanku tadi kan?”

“Yeobo, aku.. Aku.. Sebenarnya aku..”

Firasatku seperti mulai tidak mengenakkan saat dengan kecemasan di kedua matanya dia menatapku..

“.. Aku mengkonsumsi pil–”

“Pil?”

“Pil untuk mencegah kehamilan. Sebenarnya selama ini aku selalu meminumnya. Siwon, aku belum siap hamil. Bisakah kau mengerti itu?”

Ini serius..
Dia bahkan memanggilku dengan namaku seperti dulu. Bukan lagi panggilan sayang..

Demi Tuhan..
Jadi maksudnya dia memakai kontrasepsi. Pil yang ia minum untuk mencegah kehamilan itu adalah bagian dari alat kontrasepsi kan? Aku merasa merinding mengetahui fakta itu..

Dia tidak mau hamil?
Dia tidak ingin mengandung anakku?
Jadi untuk apa selama ini kita bercinta gila-gilaan, jika dia tidak mau menerima benih-ku dirahimnya?
Sialan..

“Yeobo.. Aku hanya belum siap. Aku bukannya tidak mau mengandung..”

Dia seperti bisa membaca pikiranku..

“Beri aku waktu..”

“Berapa lama?” Tantangku dan melihatnya kembali menggigit bibir bawahnya. Tidak bisa menjawabku..

“Sampai pil itu tidak lagi dijual? Sampai suatu hari kau muntah saat meminumnya? Sampai semua jenis kontrasepsi sialan itu tidak ada lagi didunia? Sampai kapan, Yoona..!! Beri aku kepastian sekarang..!!”

Aku berbalik membelakanginya. Tidak sanggup melihat wajahnya yang memucat mendengar bentakan kerasku. Kurasakan tangannya melingkari pinggangku, tubuhnya merapat di punggungku, memelukku dari belakang. Tak ada yang dikatakannya, tapi bahasa tubuhnya sudah menjelaskan apa yang dirasakannya padaku..

“Ini ulang tahunku, aku tak ingin merusaknya dengan pertengkaran”

“Maaf.. Aku mencintaimu, yeobo”

Aku juga mencintaimu sayang..
Aku yakin kau akan menjadi seorang ibu yang luar biasa bagi anak-anak kita nantinya. Tapi baiklah jika kau masih belum siap, aku tidak akan memaksanya. Aku hanya perlu bertarung melawan pil sialan itu. Seberapa ampuh fungsinya melemahkan benih-benihku yang akan membuahi rahimnya. Mereka akan saling melawan. Dimulai dari sekarang, aku akan menggiringnya keatas ranjang..

Seringai diwajahku menandakan aku siap untuk menang..

***

“Yeobo.. Mana susu untukku? Kau belum membuatnya?”

“Sedang aku siapkan, sayang. Kau sudah tidak sabar yaa..?”

“Kami kelaparan..”

Kutolehkan wajahku kearahnya, melihatnya yang tengah menyandarkan tubuhnya pada dinding pembatas dapur. Kedua matanya menatap tidak sabar kearahku, mengawasiku yang tengah menyiapkan segelas susu untuknya. Sementara tangannya berada diatas perutnya yang membuncit, bergerak-gerak mengusapnya. Seperti menenangkan bayi kami didalam sana..

Ya, Yoona hamil..
Bersoraklah untukku karna aku telah mengalahkan pil sialan pencegah kehamilan itu..

Maka jangan heran bila tugasku sekarang bukan lagi menyiapkan ice coffe kesukaannya, melainkan berganti menjadi si pembuat susu untuknya. Itu dimulai sejak lima bulan yang lalu, setelah Yoona mengalami pingsan dirumah sakit, dan seorang rekan dokternya mengatakan istriku tengah hamil. Mulai saat itu aku selalu menyiapkan susu khusus bagi ibu hamil sepertinya. Sama dengan ice coffe buatanku, dia juga tergila-gila dengan susu yang kubuat untuknya. Dia bahkan tak akan bisa tidur sebelum meminumnya..

“Kemarilah sayang, susu untukmu sudah siap..”

Gaun tidurnya melambai-lambai seolah menantang untuk dilepaskan seiring dengan langkah kakinya yang mendekat padaku..

“Akan aku habiskan..”

“Bagus untuk kalian..”

Kuletakkan tanganku diatas perutnya, sementara Yoona meraih gelas susu ditanganku yang satunya. Dia sudah bersiap meminumnya, ketika kami kemudian sama-sama terkesiap merasakan adanya gerakan dari dalam perutnya. Bayi kami bergerak, seperti menendang. Aku langsung menatap Yoona, dan kami sama-sama memperlihatkan tatapan takjub..

“Yeobo, kau merasakannya? Apa kau merasakannya tadi?”

“Ya.. Dia, dia bergerak. Dia bergerak, sayang..”

“Dia seperti menendang, yeobo.. Ya Tuhan, dia melakukannya lagi..”

Kucium Yoona dengan segenap rasa sayang yang ku punya, dan dia menggenggam tanganku yang masih berada diatas perutnya. Tidak lagi mengingat dia sempat mengatakan ketidak siapannya untuk hamil. Nyatanya aku selalu melihat binaran dimatanya, dan wajahnya yang terus berseri-seri semenjak hadirnya bayi kami didalam perutnya. Dia sudah sangat siap menjadi seorang ibu. Dan aku akan menjadi seorang ayah.

Luar biasa..

Sebuah keinginan takkan pernah tercapai tanpa niat serta usaha. Begitulah apa yang kuyakini selama ini. Dan satu keinginan yang muncul dihari ulang tahunku telah tercapai sekarang. Jangan penasaran dengan bagaimana cara serta usahaku dalam mengalahkan pil pencegah kehamilan itu, aku tidak akan menceritakannya sekarang. Mungkin suatu saat nanti, bersabarlah..
Karna sekarang kami sedang menikmati bayi kami yang menendang-nendang. Jadi ku katakan cukup sampai disini saja sekarang…

Hahahhaaa~

*

*

*

~END~

Mengikuti Siwon, aq juga ketawa aja lah.. Absurd gini ya critanya. Bodo ahh.. Yg penting punya coretan dihari spesial^^ #HappySiwonDay
Di kehidupan nyata, semoga cepet jadi ayah juga ya Bang..#Doaku *ehh
Tapi setelah merid dulu sama Yoona pastinya.. Wkwkwkkk..

Gak menerima komentar ini kurang panjang–
Untuk category vignette, aku bahkan telah menabrak aturan. Harusnya hanya 3ribuan kata aja maksimal, tapi ini lebih-.-
#Thanks

@joongly

170 thoughts on “FF | A Wish | Vignette

  1. Yeay.. akhirnya merid juga :v😀
    Bagus, bagus. Tpi YoonWon nya lgi edisi dewasa yah, bnyak banget moment kissingnya😀 pdahal pengen dibikin ber part lgi, tpi kyaknya gx bisa nih:/ sukses yaa eonn buat FF selanjutnya (y)

  2. Udah jadi bumil aja yoona dan setelah hamil malah tambah disayang lagi sama suami tercintanya ..😊
    SEmoga dikehidupan nyata nya bisa kaya gini juga ya tapi siwon sama yoona dan yoona sama siwon .. #Ngarepnya..☺
    Siwon oppa setelah ini ditunggu cerita lanjutan nya ya tadi kan kepotong ama panggilan istrinya..😉
    Ff mu yang laen ditunggu kelanjutan nya thor..🙂

  3. Waaah….sweeet daaah…hadeuh,, ada konflik kecil pas wonnie ultah… Untung aja tdk terjadi hal2 yg tdk diinginkan…hehe… ayoo donk bikin lanjutan cerita gmn siwon bisa yakinin yoona buat nerima lamaran siwon, kepotong tuh gegara panggilan yoona…haha… Dtggu ff yg balu,, n ff yg belom kelar… Fightiiiing…

  4. alaamaak kangen kalii aku sma cerita joongly eonni ,,, akhirnyaa sdkit terobatii sama moment2 sweet dFf inii,,kereenn eon ,, smw edisii romantis yg bikin melting euyyyy ^_^ ayooo yg lain jg dlnjut yaa eonnikuuu sayang semangaaat

  5. Sweet + ‘h0t’ buat hadiah ulang tahunnya Siw0n, meskipun sempat trjadi prtengkaran antara mereka brdua.. Akhirnya Siw0n bisa ngalahin pil k0ntrasepsinya Y00na ^^

    Sem0ga nanti 30/05 ada st0ry kelanjutannya ini

  6. Ceritanya .(Y) eon, penasaran apa yang dilakukan siwonppa sebelum yoona menikah dengannya,suka sama karakter siwonppa disini,akhir kata ceritanya jongmal jongmal jjang eon

  7. Keren2 akhirnya hamidun…ehhh hamil maksudnya….tp teuteup aja kissing nya banyak beuudd…..gpp suka mlh….ada lanjutannya g???!

  8. selamat yaaa akhirnya yoonwon nikah……(semoga dikehidupan nyata jg terjadi).
    moga langgeng n bahagia…..

  9. Manis bgt sih siwon beruntung yoona asli romntis abis mereka berasa ngebanyangin mereka beneran dikehidp nyata semoga kejadiqn beneran seperti wishnya siwon kan segala usaha pasti tercapai

  10. Wkwk akhirnya meridd jugaa and udah ada baby lagi di dalem rahimnya yoona yeyyy yoonwon jangan kesel2 lagi happy truss lovee yaaa❤️

  11. siwon aku padamuuu. eh gak jadi deh ntar digampar yoona lagi.
    suka banget sama karakter siwon saoloh menggairahkan(?)><

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s