Fanfiction

FF | My Love Is For You | Xtra Part

image

Story | Lee Donghae | Tiffany Hwang | Im Yoona | Choi Siwon | Jessica Jung | Etc

Cover By Jungleelovely

Sebelumnya, mungkin banyak yang lupa dengan salah satu tulisan lama qu yang menurut sebagian pembacanya (ada satu pembaca yang paling kekeh nih.. *tarik Yulisa), menyisakan bagian yang tak tuntas, yang menjadikan ganjalan dihati serta ketidakpuasan dengan akhir
kisahnya.. Namanya manusia emang ga ada puasnya deh yaa.. Udah dibikin Happy ending tokoh utamanya tetep aja kurang puas # Manyun -,-

Tapi berhubung saia masih memiliki daya dan upaya untuk sedikit membuat yang tidak tuntas itu menjadi tuntas (mudah”an) ya sudahlah yaa..
Mari disimak saja ulasan lebih nya^^

Enjoy Reading~

*

*

*

Segelas teh hangat beraroma mint, serta satu majalah yang baru saja diterbitkan pada dua hari lalu sepertinya, menjadi teman bagi seorang wanita yang tengah duduk disebuah kafe, nampak sedang
menunggu kehadiran seseorang bila dilihat dari gerak-geriknya yang sesekali mengalihkan perhatiannya dari lembar demi
lembar halaman majalah ditangannya, untuk sekedar memperhatikan kearah pintu
kafe yang lengang karna tak terlalu banyak pengunjung disore hari itu.

Mungkin beberapa jam lagi, saat tiba waktunya makan malam, tempat ini akan
menjadi ramai. Pikirnya beberapa saat lalu,
merasa ia telah memilih waktu dan tempat yang tepat untuk membuat satu janji temu
dengan seseorang. Saat beberapa pengunjung yang datang bukanlah seseorang yang sedang ditunggu olehnya,
ia dengan segera kembali menekuni profil-profil dalam majalah yang sedang berada diatas meja dihadapannya. Hingga sekitar sepuluh menit setelahnya, ketika sedang asik-asiknya membaca, ia mendengar seruan seseorang memanggilnya..

“Fany-ssi..!”

Saat ia kemudian menoleh, seorang wanita yang sudah ditunggu-tunggu olehnya
akhirnya muncul dikafe itu. Membuatnya dengan segera beranjak dari kursi yang
didudukinya. Jika ia boleh menyebut wanita
itu sebagai sahabat, ia ingin menyebutnya seperti itu. Sebagai salah satu dari sedikit
sahabat yang dimilikinya.

image

Wanita yang semakin terlihat dewasa dan matang itu, tetap terlihat cantik dan masih berpenampilan elegant tentunya, kemudian berjalan menghampirinya dengan menggandeng serta seorang bocah kecil yang wajahnya semakin terlihat mirip dengan seorang pria yang juga dikenalnya dengan cukup baik. Siapa lagi kalau bukan ayah dari bocah itu, yang telah lama menjadi bagian dari masa lalunya.

“Maaf membuatmu menunggu, karna aku dan suamiku harus bekerja. Kami selalu
menitipkan Jun dirumah orangtua ku. Tapi tadi Jun mendadak memintaku untuk
menjemputnya. Lagi-lagi dia bertengkar dengan saudara sepupunya. Anak kakak-ku, mereka sering tidak akur tapi
selalu saling kesepian bila tidak bertemu. Memusingkanku saja..”

Fany tersenyum..
Merasa senang dengan sambutan yang diterimanya. Jika belum apa-apa saja, wanita itu sudah berbicara banyak dengannya, pasti akan sangat menyenangkan obrolan langsung yang akan dilakukannya, yang jelas berbeda dengan komunikasi via email ataupun telpon yang selama ini cukup terjalin
dengan baik diantara keduanya. Keramahan yang langsung ditunjukkan wanita itu, juga semakin membuatnya yakin
dengan pemikirannya selama ini, bahwa telah banyak yang berubah dari wanita yang kini berada dihadapannya..

“Aku tentu saja tidak masalah sekedar untuk menunggumu. Aku justru berterimakasih kau mau menemuiku, Yoona ssi..”

Menurut Fany, wanita itu dulu cenderung ketus saat berbicara. Tapi Yoona yang
sekarang terlihat jauh lebih ramah bila dibandingkan dengan lima tahun yang lalu.
Ataukah mungkin sejak dulu, sebenarnya Yoona telah seperti itu?
Hanya dirinya saja yang tak terlalu baik mengenalnya. Dan justru sempat berkonflik dengannya. Tapi syukurnya, setelah kepindahannya keluar negri, ia bisa menjalin komunikasi yang baik dengannya.

“dan apakah ini Junseo? Putramu itu?”

Yoona mengangguk dan tersenyum sambil tangannya mengusap kepala sang putra..

“Jun-ah.. Beri salam pada–”

Yoona menjeda sejenak. Sedikit bingung sepertinya dengan panggilan seperti apa ia harus memperkenalkan Fany pada putranya..

“..em, pada Fany imo..?”
Yoona mengangkat bahu, sambil mencoba membangun kontak mata dengan Tiffany,
dan pada saat ia melihat Fany hanya tersenyum, ia meyakini Fany tak keberatan
mendengarnya..

“Hai, Jun-ah..”
Tiffany lah yang justru lebih dulu menyapa, sambil sedikit melakukan cubitan gemas
dipipi bocah yang berusia kurang lebih sama seperti lamanya ia tak kembali setelah menetap diluar negri bersama orangtua nya, Lima tahun..

“Annyeong haseyo imo..”
Bocah itu nampak tak terlalu bersemangat ketika kemudian berganti menyapa, dan masih menggayut manja dilengan
Yoona..

“Seperti yang sudah kukatakan, dia baru bertengkar dengan saudaranya. Jadi mood nya yang tidak terlalu baik masih
terbawa-bawa.. Mengertilah..”

Ucap Yoona lirih, sedikit memberi penjelasan terhadap kondisi sang putra pada Fany. Fany mengangguk mengerti,
lantas meraih sebuah kotak berbungkus yang sengaja ia letakkan disamping kursi yang tadi didudukinya..

“Jun-ah.. Imo punya sesuatu untukmu.. Kau mau membukanya?”

“Tapi, bukankah Jun tidak sedang berulang tahun, eomma? Mengapa Jun diberi hadiah?”

Bocah itu sekilas melirik kearah sang ibu untuk bertanya, namun sebelum Yoona memberinya jawaban, ia telah kembali memperhatikan Fany dengan bungkusan kado yang disodorkannya, memandangnya dengan penuh minat, sudah pasti tertarik..

“Jadi, apakah Jun akan menolak? Tidak mau menerima kadonya? Uh, sayang sekali.. Padahal aku jauh-jauh membawanya kesini..”

Ketika melihat wajah Fany yang berubah cemberut, bocah itu kemudian kembali menatap pada Yoona, seolah meminta
persetujuan darinya. Ketika kemudian Yoona tersenyum dan mengangguk, Junseo
dengan cepat meraih kotak yang disodorkan Fany kepadanya..

“Terimakasih imo.. Jun akan membukanya..”

Setelah Junseo melepaskan diri dari menggelayut dilengan Yoona, untuk selanjutnya membuka hadiah yang
didapatkannya, Fany lantas mempersilahkan Yoona duduk dan memesankan minuman untuknya..

“Ooh, kau sudah memiliki RAINBOW? Aku sengaja tidak mengirimi-mu edisi terbarunya karena kau mengatakan akan
datang. Jadi aku berniat memberikannya langsung padamu”

Fany tersenyum mendengarnya..

“Tidak apa-apa, lagi pula sangat mudah mendapatkannya disini. Ditanganmu RAINBOW semakin berjaya, aku yakin
sangat sulit menggeser posisi pertama yang selalu kau capai. Itu seperti sudah dipatenkan ditanganmu..”

Yoona tertawa atas pujian berlebih yang didengarnya..

“Aku benar-benar tersanjung mendengarnya. Dan juga, terimakasih kadonya untuk Jun, tapi sungguh kau tak perlu repot-repot membawakan Junseo mainan seperti itu”

Yoona sejenak mengamati kegirangan sang putra pada mainan barunya..

“sama sekali tidak merepotkan, Yoona.. Kuharap dia akan menyukainya. Oh, dan ini, aku membawakannya untukmu”

Fany menyodorkan sebuah paper bag berukuran kecil untuk Yoona..

“Parfum untukmu..”

“Oh, kau benar-benar tak perlu melakukannya, Tiffany..”

“Sebenarnya aku ingin sedikit memanfaatkanmu, Yoona.. Jadi sebenarnya aku dan seorang rekan sedang berencana untuk mengembangkannya. Dan
sebelum produk ini diluncurkan, aku ingin tahu pendapatmu. Jika kau tidak keberatan..”

“Woahh.. Kau menjadi pebisnis sekarang?”

“sedang merintis..”

“Tapi kau masih bergabung di
GAYA Magazine kan?”

“Ya, tentu saja.. Sepertimu, kurasa aku tak bisa meninggalkan dunia kerja dalam penerbitan majalah. Itu membuat kita setidaknya menjadi yang pertama mengetahui banyak informasi sebelum kita bagi ke para pembaca. Sedangkan ini, ini
hanya proyek sampingan.. Dan aku benar-benar ingin mendengar pendapatmu
tentang parfum-ku”

“Tentu saja, aku sangat senang berpendapat..” Yoona tersenyum dan dengan senang hati menerimanya..

Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk kemudian terlibat obrolan yang semakin
mengasikkan. Dari membahas wangi parfum, juga bertukar ritme kerja yang Fany lakukan saat tergabung disebuah perusahaan penerbitan majalah yang cukup ternama diluar negri.

Awal komunikasi yang terjalin diantara keduanya memanglah bermula dari Tiffany yang telah memutuskan kembali keluar negri, memberanikan diri untuk
menghubungi Yoona dan mencoba menanyakan beberapa hal pada Yoona yang telah cukup berpengalaman dibidangnya mengepalai beberapa tim yang berada dalam perusahaan penerbit majalah. Hingga akhirnyapun komunikasi mereka terus berlanjut. Bahkan disetiap
bulannya, keduanya akan saling bertukar untuk mengirimkan majalahnya masing-masing. Lalu memberikan komentar dalam bentuk pujian, juga saran terhadap hasil kerja satu sama lain.

“Beberapa rekan dalam tim-ku memang sudah berganti. Beberapa yang telah menikah memutuskan untuk mengundurkan diri, ataupun mencoba peruntungan dalam
bidang yang lain. Termasuk Siwon, dia sudah tidak lagi bergabung dengan RAINBOW..”

“Oh, benarkah?”

Anehnya, keduanya sangat jarang, atau hampir tak pernah membicarakan kehidupan pribadi diluar dari yang
berkaitan dengan majalah. Fany sama sekali tak pernah menanyakan Siwon. Ia merasa tak berhak, dan bahkan kurang
pantas menanyakan hal itu, apapun alasannya. Karna itu ia cukup terkejut mendengar dari Yoona bahwa Siwon tak lagi bergabung disana sebagai salah seorang fotografer..

“hm.. Sudah berjalan hampir dua tahun ini, dia membuka studio foto bersama dengan
Lee Donghae..”

Fany terdiam mendengarnya..
Apalagi setelah Yoona menyebutkan nama Donghae..
Pria itu?
Sudah lama ia tak mendengar ada seseorang yang menyebut nama pria itu dihadapannya. Hanya dirinyalah, atau lebih
tepatnya hatinya lah yang kerap menggumamkan nama itu bila sesuatu rasa semacam kerinduan mendadak menelusup masuk kedalam jiwanya. Namun enggan untuk diakuinya..

“Mari kita hentikan pembicaraan mengenai peluang dan potensi produk parfum-mu, apalagi yang berkaitan dengan majalah kita. Sepertinya aku bosan terus-terusan membahas hal itu..”

“Ya, kau benar. Kalau begitu baiklah, kapan kau akan memiliki anak kedua? Tak adakah rencana untuk memberikan Junseo adik?”

Fany mengawali pertanyaannya sebagai pergantian topik, yang sudah langsung disambut oleh senyuman yang diulas Yoona dari bibirnya..

“Aku baru saja melewati trimester pertama..”

“Oh, benarkah? Jadi sudah?”

Yoona tersenyum, saat meyakinkan Fany dengan mengusap perutnya yang masih
belum terlalu memperlihatkan banyak perubahan. Meski begitu nampak jelas kebahagiaan yang menggurat diwajah cantiknya.

“cukkaeyo.. Ini sungguh berita
bahagia..”

“Dan bagaimana denganmu?”

Pertanyaan dan sekaligus tindakan dari Yoona yang kemudian memegang tangannya, nampaknya cukup mengejutkan bagi Fany. Sampai-sampai ia tak terlalu menangkap apa yang saat itu tersirat dalam pertanyaan Yoona. Hingga kemudian
Yoona sekali lagi mengulangnya..

“Bagaimana denganmu, Tiffany-ssi?”

“Bagaimana denganku? Ya, tentu saja seperti yang kau lihat.. Aku baik-baik saja..”

Yoona kembali mengulas senyum, dan dapat Fany rasakan tangan itu meremas tangannya sebelum kemudian Yoona menariknya..

“Kau pastinya tahu bukan itu yang kumaksud, melainkan bagaimana denganmu, dengan kehidupan pribadimu? Apa kau sudah memiliki teman kencan?”

“Oh, tidak.. Tidak ada yang spesial..”

“Mengapa?”

Tiffany hanya mengangkat bahunya, lalu meraih cangkir dan menyesap teh-nya..

Yoona melanjutkan, setelah terlebih dulu tadi melirik pada sang putra yang masih saja asik dengan mainan barunya..

“Tak adakah pria asing di negara itu yang menarik?”

“Hanya teman..”

“Sungguh?”

“Hm..”

“Model-model asing dalam majalahmu sepertinya banyak yang menarik..”

“Kurasa telinga Siwon-ssi akan terasa panas bila mendengarnya”
Yoona yang awalnya berniat untuk menggoda Fany, sekarang justru tergelak karenanya. Sebenarnya baginya tak ada lagi pria menarik selain suaminya..

“Kalau begitu, bagaimana dengan Donghae?”

Tiffany meletakkan cangkir tehnya, dan entah mengapa tangannya menjadi sedikit gemetar. Untuk menyembunyikan itu dari penglihatan Yoona, ia lantas membawanya keatas pangkuan dan memilinnya untuk mengurai kegugupannya yang tiba-tiba setelah mendengar Yoona menanyakan perihal hubungannya dengan Donghae..

“Apa kalian masih saling berhubungan?”

Fany menggeleng, dan memperlihatkan raut wajahnya yang berubah, sendu..

“Kau tahu, Donghae masih menunggumu..”

Fany menatap Yoona seolah tak yakin dengan apa yang baru saja diucapkannya.
Donghae menunggunya?
Menunggu dirinya?
Oh, menunggu dalam arti apa?
Tapi rasa-rasanya entah dalam arti apa Yoona mengatakan Donghae menunggunya, pria itu tidaklah mungkin menunggu dirinya..

Di minggu-minggu awal setelah berpisah dibandara, dan ketika ia berada diluar negri, Fany memang masih menjalin komunikasi dengan Donghae yang selalu menghubunginya. Namun karna merasa dirinya tak boleh memberi harapan berlebih atas perasaan Donghae padanya, Fany memutuskan untuk tidak lagi menjawab telpon dari Donghae, tidak pula membalas pesan yang masuk ke ponselnya, apalagi mananggapi email darinya.

Yang disangka olehnya, Donghae pasti pada akhirnya lelah hingga tak lagi menelponnya ataupun mengiriminya pesan melalui ponsel maupun email. Jadi rasanya, setelah lima tahun, tidaklah mungkin bila pria itu menunggunya, menunggu kedatangannya..

“Fany-ssi..”
Yoona mencoba menarik perhatian Fany, ketika melihatnya yang justru hanya diam saja..

“Ah, ne Yoona..”
Yoona sesaat kembali mengulas senyum kearahnya, entah dengan maksud apa..
“Bukan hal yang mudah bagi seorang pria untuk menunggu seorang wanita. Terlebih,
sudah lima tahun berlalu semenjak kepergianmu keluar negri waktu itu. Dan Donghae masih saja mengatakan
menunggu kedatanganmu. Kau tidak mengatakan padanya kau akan datang?”

Fany menggeleng..

“Aku tidak ingin mengganggunya. Kupikir dia sudah bahagia bersama wanita yang baik. Dia seorang pria yang baik, Yoona.. Dia pantas mendapatkan wanita yang sama sepertinya. Sedangkan aku–”

Fany tak meneruskan kalimatnya, merasakan getir dilidahnya bila mengingat lagi hal yang pernah diperbuat olehnya..

“Kau juga wanita yang baik, Fany-ssi. Apakah kau tidak menyadari itu? Dan lagipula, semua orang pernah melakukan kesalahan.. Tapi janganlah kesalahan yang telah berlalu itu kemudian memberatkan langkahmu dan membuatmu menilai buruk terhadap diri sendiri. Aku sangat yakin, kau seseorang yang memiliki ketulusan ketika terakhir kita bertemu dan kau meminta maaf padaku. Aku bahkan menyesal mengapa saat itu aku tak mengatakan aku telah memaafkanmu..”

Fany mengulas senyum diwajahnya yang masih saja terlihat sendu, setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Yoona..

image

“terimakasih.. Dan kau adalah wanita yang luar biasa, Yoona-ssi..”

Keduanya kemudian sama-sama saling memperlihatkan senyum..

“Oh, kau tahu.. Kau memilih tempat yang tepat untuk kita bertemu..”

“Ya, kurasa juga begitu. Disini nyaman.. Tapi mungkin akan menjadi ramai beberapa jam lagi, saat makan malam..”

“Tidak.. Tidak.. Bukan itu maksudku. Yang kumaksud adalah, apa kau tahu gedung
yang berada diseberang jalan itu..”

Fany mengikuti pandangan Yoona, yang mengarah keluar kafe..

“.. Disanalah Siwon dan Donghae membuka studio mereka..”

Mendengarnya, Fany lantas menatap lekat-lekat bangunan tiga lantai itu..

“Mereka menyewanya.. Sekarang, mereka pasti ada disana. Aku akan kesana setelah ini. Maukah kau ikut denganku, Fany-ssi?”

Fany lantas mengarahkan tatapannya pada Yoona setelah mendengar ajakannya..

“Dia pasti akan senang melihatmu..”

“Aku.. Kurasa aku, aku tidak bisa Yoona..”

“Kenapa? Dengar, aku benar-benar mengatakan kebenarannya padamu. Donghae menunggumu.. Walaupun dia sempat mencoba untuk berhubungan dengan kakakku, tapi mereka hanya bertahan beberapa bulan saja. Donghae masih lebih menginginkanmu, sedangkan kakak ku, Sica oenni, dia juga tak benar-benar bisa lepas dari cintanya yang dulu, Heechul oppa. Keduanya hanya melakukan ajang coba-coba saja. Tapi perasaan dan hati, tetaplah tak bisa dijadikan bahan percobahan”

Fany tak mengatakan apa-apa kecuali mencoba mencerna apa yang Yoona katakan..

***

Usai bertemu dengan Tiffany, Yoona yang memang berencana untuk menemui Siwon
distudionya, hanya perlu untuk menyebrang jalan sambil menggandeng Junseo yang
sepertinya juga sudah tak sabar untuk memperlihatkan mainan barunya didepan sang ayah..

“Samchun..!”
Junseo berseru, meski yang pertama kali dilihatnya bukanlah Siwon sang ayah,
melainkan Donghae yang nampak sedang berbicara dengan salah seorang pekerja
disana..

“Hai jagoan..”

“Samchun.. Aku punya mainan baru..”

“Oh ya.. Jadi ibumu membelikan mainan baru?”
Bocah itu menggeleng..
“Anio.. Bukan eomma, tapi teman eomma.. Seorang wanita cantik yang memberikan ini
padaku..”

Bocah itu cekikikan setelah menyebut seorang wanita cantik dan mendapati Donghae memutar mata kearahnya..

“Aigoo.. Jika ada wanita cantik, kau seharusnya lebih dulu memberitahu Appa Jun-ah..”

“Appa..!!”

Bocah itu kembali berseru, sambil berlari menghampiri sang ayah dengan menenteng
mainan ditangannya. Yoona menyusul dibelakangnya setelah terlebih dulu menyapa pada Donghae.

“Appa.. Oemma bilang, wanita cantik untuk apa, hanya eomma.. Jadi tidak ada wanita
cantik yang lain buat Appa..”

Siwon tergelak mendengarnya..

“Aigoo.. Begitukah? Jadi siapa yang mengajarimu mengatakan begitu, Jun-ah..?”

“Oemma yang memberitahu Jun.. Oh, Appa, bagaimana mainan baru Jun? Bagus kan?”

“Ya.. Itu bagus sekali Jun-ah..”
Begitu Yoona mendekat, dan lengannya dapat merengkuh tubuhnya, Siwon langsung mendaratkan satu tangannya
yang lain keatas perut Yoona, mengusapnya, menyapa calon buah hati keduanya..

“Bagaimana hari ini?”

Siwon menanyakan setelah lebih dulu memberikan kecupan dibibir Yoona..

“berjalan dengan baik seperti biasanya.. Kau sudah selesai?”

“Aku mempercepat prosesnya karna tahu kau akan datang”

Siwon mengedikkan mata yang disambut dengan senyuman dari Yoona. Keduanya sudah kembali saling mendekatkan
wajah, ketika kemudian terhenti oleh suara Donghae yang bernada menegur..

“Ya Tuhan.. Tak bisakah untuk tidak mempertontonan kemesraan kalian didepan
seorang pria single kesepian sepertiku..”

Gerutu Donghae sambil lalu..
Melangkahkan kakinya untuk mencapai pintu keluar..

“Donghae ssi..!”
Yoona memanggil dan menghentikannya..
“Apa kau tidak ingin tahu siapa wanita cantik yang Junseo maksud? Yang telah
memberikan mainan baru padanya..?”

“siapapun dia, kurasa tidak akan menjadi penting bagiku, Yoona-ssi..”

“Baiklah, kalau begitu aku tidak akan mengatakan padamu jika wanita cantik itu
adalah Fany.. Tiffany.. Hwang Tiffany..!”

Donghae terdiam dengan kedua matanya yang melebar, namun sedetik kemudian dia berlari mendekati Yoona..

“Apa maksudmu Yoona-ssi? Jadi Tiffany.. Fany, Tiffany ada disini? Dia datang..?”

“Aku tidak tahu, bukankah aku mengatakan aku tidak akan mengatakan siapa wanita
cantik itu tadi..”

“Tapi kau sudah mengatakannya.. Jadi dimana dia sekarang?”

Yoona mengangkat kedua bahunya, acuh..

“Yoona ssi..!”
Ketika kemudian Donghae menguncang-guncangkan bahu Yoona, agar ia mau untuk berbicara dan mengatakan keberadaan Tiffany padanya,
Siwon dengan cepat mencekal tangan Donghae dan menjauhkannya dari bahu
Yoona..

“Hati-hati dengan tanganmu, Donghae-ssi.. Istriku sedang hamil..”

Yoona justru cekikikan setelahnya..

“Tapi istrimu harus mengatakan padaku, dimana Tiffany berada sekarang? Dimana dia, Yoona-ssi?”

“Apa imbalannya untukku jika aku mengatakannya padamu?”

“Oh, apapun Yoona.. Apapun yang kau inginkan. Cepatlah katakan padaku..”

“hm, baiklah.. Bagaiamana dengan beberapa sesi foto ketika perutku sudah semakin membesar? Aku ingin difoto..”

“Itu jelas hal mudah..”

“Gratis tanpa bayaran..”

“Aturlah saja waktunya..”
Yoona tersenyum menang sedangkan Siwon yang kemudian justru menggeram..

“Suami-mu ini juga seorang fotografer chagi-ya.. Aku tidak akan membiarkan Donghae memotret-mu. Lagi pula, sejak
kapan kau menjadi suka difoto..?”

Yoona memperlihatkan senyuman manisnya, yang biasanya ia perlihatkan
didepan Siwon ketika sedang menginginkan sesuatu, ataupun membujuknya untuk melakukan sesuatu..

“Aku hanya ingin mengabadikan momen kehamilanku kali ini. Kurasa aku menjadi sedikit menyesal tak melakukan itu saat
mengandung Junseo.. Ooh, dan tentu saja seorang fotografer ahli sekalipun takkan bisa memotret dirinya sendiri dengan benar. Kita perlu Donghae, yeobo.. Karna aku juga ingin kau berfoto bersamaku dan calon bayi kita, juga dengan Junseo tentu saja..”

“Astaga, jangan membuatku ikut mendengar perdebatan kalian. Lanjutkan saja nanti setelah kau mengatakan padaku dimana Tiffany sekarang..”

“Oh, mianhae Donghae ssi..” Ucap Yoona sengaja mengulur-ulur waktu, hanya untuk
mempermainkan Donghae sebenarnya..

“Katakan Yoona.. Kau membuatku frustasi. Kenapa tak kau ajak saja dia kemari tadi?”

“Aku mengajaknya.. Tapi dia menolak.. Dan dia berada dihalte sebrang jalan sana tadi,
itu jika dia belum menaiki bis yang melintas, ataupun menghentikan taksi..”

“Sial..”
Donghae dengan cepat melesat keluar, berlari namun kembali masuk hanya dalam hitungan detik berselang..

“Dia masih disana.. Oh Tuhan, aku membutuhkan payung sekarang. Payung, dimana ada payung. Aku butuh payung.. Diluar mulai gerimis. Sepertinya akan turun hujan deras”

“Aigoo.. Bagaimana mungkin kau masih memikirkan hujan, disaat seharusnya kau berlari dan segera mendapatkannya..”

Komentar Siwon ketika melihat Donghae kebingungan mencari payung, hingga akhirnya seorang pekerja disana menemukan benda itu dan langsung menyerahkan padanya..

“Kau hanya tak tahu, benda ini bisa jadi senjata awal untuk mendekatinya..”

Mengabaikan Siwon dan Yoona yang sama-sama menggeleng-gelengkan kepala, heran melihatnya, Donghae sudah langsung bergegas lari keluar dari studionya, menuju sebrang jalan dimana terdapat sebuah halte, yang disanalah ia
melihat Tiffany duduk dengan wajah menunduk memperhatikan pada kakinya yang berbungkus sepatu berwarna merah, sedang mengetuk-ngetuk berirama..

Beberapa kali bis yang melintas berhenti untuk mengangkut maupun menurunkan
penumpangnya disana, namun Fany yang awalnya memang tak berniat naik bis, hanya acuh saja dan tak beranjak dari
tempatnya. Sampai kemudian disadarinya rintik-rintik gerimis yang turun mulai memberikan tanda bahwa hujan deras akan segera turun, ia mulai berpikir untuk beralih dari sana.

Tiffany menghela napas, sebelum kemudian berdiri dari duduknya ketika sebuah bis menghentikan lajunya. Pikirnya, sebelum hujan mengguyur, ia harus pergi dari sana. Namun dua langkah ia memajukan kakinya, disertai dengan wajahnya yang kemudian mendongak, tubuhnya sontak bergetar dan mendadak terpaku dengan apa, atau lebih tepatnya siapa yang saat itu telah berdiri dihadapannya, memayunginya, melindungi dirinya dari serbuan rintik-rintik hujan diatasnya.

Lee Donghae..
Nama itu sudah berada diujung lidahnya, namun kelu membuatnya terdiam dan tak
sekecap-pun bisa mengeluarkan kata-kata, sekedar untuk menyapanya..

Entah sudah sejak berapa lama pria itu berdiri disana, Fany sama sekali tidak mengetahuinya. Yang jelas itu pasti belumlah terlalu lama. Karna sebelum ia
menundukkan wajahnya dan hanya memperhatikan pada kedua kakinya yang sengaja ia mainkan, ia telah terus memperhatikan ketika Yoona menyebrang jalan dan masuk kedalam salah satu gedung disana. Namun setelah Yoona masuk dan tak nampak tanda-tanda pria itu keluar dari dalamnya, mencari keberadaanya, seperti yang diharapkannya.

Kini, setelah pria itu benar-benar berada dihadapannya, apa yang kemudian akan dikatakannya?

Keduanya sama-sama terdiam dan hanya saling menatap hingga beberapa lama, bahkan bis yang sebelumnya berhenti
dan menunggu, kini telah kembali melaju dan meninggalkan keduanya.

Fany lah yang lantas lebih dulu berpaling dari tatapan Donghae, yang sepertinya bisa menembus kedalam dirinya, melihat kedalam hatinya, mengetahui isinya.

“lima tahun kita tak bertemu dan kau tak berniat menyapaku? Sungguh kejamnya dirimu, Fany-ah..”

Fany terenyak, kembali ditatapnya Donghae dan mendapati keterlukaan dalam
sorot matanya.

Bagaimana mungkin pria itu menunggunya..
Bagaimana mungkin dirinya pantas untuk ditunggu..
Sedangkan baru berjumpa saja, ia telah membuat pria itu terluka, meski bukan itu yang menjadi maksud dan tujuannya
mengapa ia hanya terdiam saja mengatupkan rapat bibirnya.

Sungguh, ia justru sedang bingung menenangkan debaran dalam dadanya..

“Kau terlihat baik-baik saja. Bukankah begitu? Jadi aku takkan menanyakan bagaimana kabarmu..”

Bukan kalimat semacam itu yang sebenarnya ingin diucapkan Donghae pada wanita yang sekian lama telah ditunggu-tunggu nya. Ia sesungguhnya ingin mengatakan betapa ia merindukannya, dan luar biasa senang melihatnya yang kini berada dihadapannya, dengan nyata, bukan seperti mimpi-mimpi yang kerap kali membuai tidurnya.

Donghae ingin mengatakan betapa setelah sekian lama, perasaannya masihlah sama. Ia mencintainya. Ingin memeluknya, menciumnya dengan segenap kerinduan yang selama ini mengendap penuh dalam hatinya, dan telah menyesaki dadanya..

Namun ia menghindari Fany yang mungkin akan berlari terbirit-birit dan menghindarinya bila kalimat cinta itu terucap dipertemuan pertama mereka setelah sekian tahun lamanya. Meski hal itu lah yang benar-benar dirasakan olehnya dan sangat ingin disuarakannya..

“Masih tak menemukan kata-kata untuk menyapaku?”

Donghae kembali bersuara, hingga akhirnya Fany menggumamkan namanya..
“Donghae-ssi..”

“Ya..”

“Donghae-ssi..”

“Ya.. Fany-ah..”

Donghae mulai merasa gemas dengan sikap wanita dihadapannya..
Mengapa hanya gumaman?
Bukankah setelah sekian lama, sudah sewajarnya bila Fany harusnya memeluk dirinya?

Oh, itu sih keinginannya..

“Donghae-ssi, bagaimana.. Bagaimana kabarmu?”

Susah payah kalimat itu terucap, meski kemudian Fany merasa itu tak terlalu tepat. Yang seharusnya ia katakan adalah apa yang saat itu ia rasakan. Kerinduan yang menjadikannya berdebar-debar tak karuan..

“Secara fisik kau sudah melihat sendiri, aku baik.. Tapi secara mental, aku terluka dan kesepian. Aku merindukanmu. Lima tahun,
Fany-ah. Lima tahun aku menunggumu dan bagaimana bisa kau datang tanpa memberitahuku. Itu jelas melukaiku..”

“Aku.. Aku hanya–”

Fany tidak sampai menyelesaikan kalimat yang coba diucapkannya ketika Donghae sudah lebih dulu melempar payung ditangannya, dan menarik tubuh Fany kedalam pelukannya. Membiarkan rintik-rintik hujan yang turun, membasahi tubuhnya. Hujan itu seolah menambah syahdu pertemuan keduanya..

Barulah ketika merasakan tubuh Fany yang menggigil didalam pelukannya, Donghae lantas melepaskan pelukannya, lalu menariknya agar mengikutinya ke studionya..

“Donghae-ssi, aku.. Aku harus pergi..”

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi”

“Donghae-ssi..”

“Setidaknya tidak dalam keadaan seperti ini. Kau bisa sakit nanti..”

Didalam studio foto miliknya dan juga Siwon, hanya tersisa seorang pegawai yang masih berada disana. Sedangkan Siwon dan Yoona juga Junseo, sudah tak terlihat lagi keberadaan mereka disana. Donghae lantas membawa Fany kedalam ruang kerjanya, kemudian memintanya untuk menunggu sementara ia keluar dari dalamnya untuk kemudian kembali dengan membawa sebuah handuk ditangannya..

“Kau bisa mengeringkan rambutmu terlebih dulu. Aku akan coba carikan pakaian ganti untukmu..”

Fany menerima handuk yang diulurkan Donghae padanya..

“Donghae-ssi, aku tidak apa-apa dengan ini..”

“Tidak.. Kau basah. Dan itu salahku.. Tunggulah sebentar..”

Donghae kembali keluar dari dalam ruangannya, membiarkan Fany yang hanya bisa terdiam menatapnya. Tidak terlalu lama setelahnya, Donghae kembali masuk dengan membawa serta satu setel pakaian wanita ditangannya..

“Aku mendapatkan ini dari ruang penyimpanan kami. Aku dan Siwon memang menyiapkannya untuk keperluan pemotretan. Kurasa ini seukuran untukmu..”

Fany sedikit ragu, tapi kemudian ia menerimanya..

“Terimakasih..”

“Aku akan menunggu diluar sementara kau menukar pakaianmu..”

Donghae tersenyum sebelum kemudian melangkah mendekati sebuah lemari yang ditempatkan didalam ruangannya. Membukanya, ia mengambil satu tshirt dari tumpukan..

“Aku juga akan mengganti pakaianku..”
Sebelum Donghae kemudian keluar dari dalam ruangannya dan membiarkan Fany berganti pakaian, ia masih sempat untuk kembali menoleh kearahnya..
“Ooh, apa kau mau kopi? Kurasa itu bisa untuk menghangatkan tubuhmu”

“Kau tidak perlu melakukannya, Donghae-ssi..”

“Aku menginginkannya, jadi sekalian saja aku juga akan membelinya untukmu..”

” Aku akan pergi setelah mengganti pakaianku”

“Kau tidak harus buru-buru, Fany-ah.. Aku masih ingin berbicara denganmu”

Untuk beberapa saat Donghae menatapnya dengan tatapan yang memancarkan kerinduan didalamnya, membuat Fany kemudian menundukkan wajahnya, seperti tak berani membalas tatapannya. Ia baru kembali mendongak setelah mendengar suara langkah kaki Donghae yang menjauh darinya.

Setelahnya, Fany mulai mengganti pakaiannya yang sedikit basah dengan menggunakan setelan yang diberikan Donghae. Ia mencari-cari kantong untuk membawa pakaiannya yang basah karena tidak mungkin memasukkannya kedalam tas tangannya. Setelah menemukannya, dan memasukkan pakaiannya yang basah kedalamnya, Fany lantas keluar dari dalam ruangan itu. Sedikit memperhatikan ke sekelilingnya, pada beberapa ruang didalam studio yang dipergunakan Donghae, Fany cukup dapat merasakan kenyamanan dari interior ruang didalamnya. Setelah sejenak mengagumi, ia kemudian menyadari ketidak beradaan Donghae disana. Memutuskan dirinya perlu pergi saat itu, Fany lantas keluar dari dalam studio untuk selanjutnya mencoba menghentikan taksi yang melintas..

“Fany-ah..!”

Taksi itu sudah berhenti, Fany sudah membuka pintu belakangnya, bersiap untuk masuk kedalamnya, namun suara itu sedikit mengagetkannya. Donghae yang saat itu memanggilnya, lantas berlari mendekat dan meraih pergelangan tangannya, menahannya..

“Aku hanya meninggalkanmu sebentar untuk membeli kopi, dan kau sudah mencoba kabur dariku?”

“Aku.. Aku masih memiliki beberapa urusan yang harus kuselesaikan”

“Aku akan mengantarmu..”

“Tidak perlu Donghae-ssi. Aku bisa me–”

“Kubilang aku akan mengantarmu..”

Fany langsung terdiam ketika Donghae menarik pergelangan tangannya. Donghae juga lantas menutup pintu belakang taksi itu dan meminta maaf pada sang pengemudi yang harus kehilangan calon penumpangnya. Sebagai gantinya, Donghae memberikannya sejumlah uang dari dalam dompetnya..

“Ayo..”

“Donghae-ssi..”

“Setelan itu ternyata cocok untukmu. Lebih cocok daripada yang terakhir kali dipakai oleh seorang model yang aku foto..”

image

Mengabaikan keengganan Fany untuk ikut dengannya, Donghae justru tersenyum memujinya sambil menarik pergelangan tangan Fany, membawanya menuju mobilnya..

image

“Kau bisa membantuku memegang kopi ini? Oh, apa itu yang kau bawa?”

“Ini hanya pakaianku yang basah..”

“Kalau begitu, berikan saja padaku. Aku akan mengirimnya ke laundry..”
Donghae begitu saja mengambil sebuah kantong ditangan Fany, lalu menukarnya dengan dua gelas kopi yang dibawanya. Donghae kemudian juga membuka pintu belakang mobilnya, memasukkan kantong berisi pakaian Fany kedalamnya.

“Donghae-ssi, aku akan mencucinya sendiri”

“Kau tidak perlu repot seperti itu. Tenang saja, aku akan mengembalikannya padamu setelah selesai. Kajja..”

Tak ada yang bisa Fany lakukan selain mengikuti apa yang ketika itu Donghae katakan dengan masuk kedalam mobilnya, dan membiarkan pria itu mengantarnya..

***

“Jadi, bagaimana kau bisa tidak mengatakan padaku jika Fany akan datang?”

Siwon dalam keadaan menyetir mobilnya ketika itu, bersama dengan Yoona disebelahnya, dan sang putra, Junseo yang duduk dikursi belakang, tengah asik memainkan gadget ditangannya. Mereka baru saja pergi kerumah sakit, mengunjungi dokter untuk memeriksa keadaan janin dalam kandungan Yoona. Bersyukur, janin itu dalam keadaan sehat dan memiliki pertumbuhan yang baik saat berada didalam kandungan seorang ibu seperti Yoona yang terhitung memiliki cukup banyak kesibukan dalam bekerja..

“Kupikir itu bukan menjadi sesuatu yang menarik untukmu. Jadi aku tidak mengatakannya” Yoona menjawab tanya yang dilontarkan sang suami padanya..

“Begitukah?”

“Hm.. Apa aku salah? Kau masih menyimpan ketertarikan terhadapnya?”

“Haruskah aku menjawabnya?”

“Tidak usah.. Aku sudah tahu jawabannya. Hanya akulah yang sekarang bisa dan selalu akan menarik perhatianmu..”
Yoona terkikik setelah mengatakannya..

“Anda begitu percaya diri, nyonya..”

“Tentu saja tuan. Apa kau baru menyadari kau telah memperistri seorang wanita yang memiliki kepercayaan tinggi dalam dirinya?”

“Kurasa aku juga sudah mengetahuinya. Karena itu aku merasa bangga memilikinya..”

Siwon mengerling sembari sebelah tangannya meraih tangan Yoona, lalu membawanya kedepan bibirnya untuk mendapatkan kecupan darinya, lantas mempertahankannya dalam genggaman tangannya..

Sudah lebih dari lima tahun keduanya menikah. Hidup bersama dalam kurun waktu itu, telah membuat baik Siwon ataupun Yoona jauh lebih mengenal karakter masing-masing. Dan tahu cara-cara untuk membuat obrolan diantara keduanya tidak menjadi membosankan. Karena rasa bosan yang terjadi diantara pasangan suami istri seperti halnya mereka, mempunyai kecenderungan untuk memunculkan konflik yang seharusnya tidak pernah terjadi. Bukan berarti keduanya tidak pernah berkonflik setelah mengatasi rasa bosan itu, mengingat sumber konflik tidaklah hanya berasalah dari hal itu. Mereka tentu pernah dan sesekali masih terlibat percekcokan. Tapi hanya sesekali. Tidak menjadi sering mereka lakukan. Baik Siwon ataupun Yoona sama-sama menyadari dan selalu berusaha untuk mengecilkan masalah besar yang terjadi, dan meniadakan masalah kecil agar tidak terjadi konflik yang berlarut. Dan cara itu cukup efektif untuk menjadikan rumah tangga mereka harmonis sampai sekarang..

“Yeobo, ada film baru yang diputar dibioskop malam ini. Kau mau pergi denganku?”

“Kau ingin menontonnya?”

Yoona mengangguk..

“Sepertinya sudah lama kita tidak pergi menonton berdua”

“Baiklah, kita bisa pergi. Aku suka berkencan dengan istriku” Siwon sekali lagi mengerlingkan mata.. “Tapi, bagaimana dengan Jun?”
Khusus untuk kalimat tanyanya ketika itu, ia telah lebih dulu mengecilkan suaranya agar tidak didengar oleh sang putra yang dilihatnya masih asik memainkan gadget miliknya..

“Jun bisa kita titipkan pada oemma seperti biasa..” Yoona pun ikut mengecilkan suaranya dan sekilas melirik kearah Junseo..

“Aku mendengar yang kalian bicarakan, oemma..”

Namun sepertinya, meski terlihat asik dengan permainan yang berada dalam gadget sang ayah, bocah lelakinya itu juga menyimak apa yang ketika itu diobrolkannya bersama dengan Siwon. Jun lantas menyudahi permainannya, meletakkan gadget sang ayah disampingnya, kemudian mencondongkan tubuhnya ditengah diantara ayah dan ibunya..

“Jun tidak mau dititipkan lagi pada halmoni, aku ingin ikut bersama kalian..”

Yoona mencoba membiarkan Siwon untuk menanggapinya, tapi sang suami hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh sang putra, dan memilih untuk berkonsentrasi pada roda kemudinya..

“Jun-ah, oemma.. oemma dan appa akan kembali bekerja. Jadi Jun sebaiknya bersama dengan halmoni dan bermain dengan Sora disana..”

“Jun sudah mendengarnya, oemma. Oemma dan Appa akan pergi menonton kan? Apa itu film yang bagus? Aku juga ingin menontonnya..”

Sayangnya yang Yoona inginkan adalah menonton film bergenre roman dewasa. Dan tidaklah mungkin mengajak Junseo bersamanya. Tapi sang putra sudah terlanjur mendengar apa yang coba direncanakannya dengan Siwon. Maka keduanya tak lagi bisa mengelak dari dibuntuti oleh Junseo. Dan sisa hari itu sepertinya akan mereka habiskan untuk kencan bertiga dengan menemani Junseo menonton film kartun yang menurut Yoona menjadi satu-satunya film teraman yang bisa disaksikan oleh putranya..

“Oemma, aku ingin popcorn..”

“Tunggulah, oemma akan mendapatkannya untukmu. Kau juga menginginkan sesuatu yeobo?”

“Sama seperti Jun, hanya saja tambahkan juga minuman bersoda untukku”

“Baiklah..”

“Oemma, bolehkan Jun juga minta minuman bersoda?”

“Kau hanya boleh meminum susu, sayangku..”

Yoona mengusap kepala Junseo, dan membiarkan sang putra sedikit memperlihatkan wajah merengut kearahnya.

Sementara membiarkan Siwon mengantre tiket bersama dengan sang putra, Yoona lantas beralih untuk mendapatkan popcorn yang diinginkan oleh Junseo serta menambahkan pesanan untuk suaminya. Setelah mendapatkan semuanya, ia sudah berencana untuk kembali menghampiri Siwon yang sepertinya sudah mendapatkan tiket menonton mereka. Namun kemudian, tatap matanya menemukan keberadaan sang kakak ipar yang juga tengah melakukan pemesanan untuk mendapatkan popcorn sepertinya..

“Oppa..!” Panggilan pertamanya sepertinya tidak didengar.. “Heechul oppa..!” Barulah ketika sekali lagi ia memanggilnya, sang kakak ipar menoleh, lalu tersenyum ketika melihatnya. Heechul lantas menghampiri Yoona setelah mendapatkan popcorn ditangannya..

“Kau disini Yoona-ya..”

“Hm, oppa sendirian?”

“Tentu saja tidak. Aku bersama dengan istriku..”

“Ooh, dimana Sica oenni?”

“Dia sedang mengantri tiket..”

“Yoona-ya..”

Yang sebelumnya Yoona tanyakan keberadaannya, kini melangkah mendekatinya dengan seulas senyum diwajahnya..

“Oenni, kalian hanya pergi berdua?”

“Ya, Heechul oppa sudah tidak memiliki jadwal praktek dirumah sakit. Jadi aku menyusulnya dan mengajaknya untuk menonton. Kau juga ingin menonton film ini kan?”

Jessica sang kakak, memperlihatkan dua tiket yang telah didapatkannya, yang kemudian membuat Yoona mendesah melihatnya. Ia pun ingin menonton film itu sebenarnya, tapi tidak dengan membawa Junseo ikut serta..

“..Dimana Siwon?”

“Dia sedang mengntre tiket bersama dengan Jun..”

“Jun? Kalian mengajak Junseo untuk menonton film ini?”

“Tentu saja tidak.. Karna Junseo memaksa ikut, jadi aku tak bisa menontonnya sekarang. Dan kalian meninggalkan Sora..”

“Sora bersama dengan neneknya, Yoona-ya. Tidak perlu khawatir. Kau seharusnya juga terlebih dulu menitipkan Junseo pada oemma tadi”

“Jun terlanjur mendengar pembicaraanku dan Siwon, dia tidak mau kami tinggalkan..”

“Kalau begitu sayang sekali, seharusnya kita bisa melakukan double date malam ini”
Jessica dengan sengaja mengedipkan matanya kearah Yoona, yang hanya membuat sang adik sekali lagi mendesah melihatnya. Ia juga ingin melakukan kencan berdua bersama dengan Siwon seperti halnya yang ketika itu dilakukan oleh sang kakak. Tapi apalah daya, ia juga tak bisa egois dengan mengabaikan keinginan Junseo. Ia sudah cukup sering membiarkan sang putra berkegiatan sendiri dengan sang nenek selama ia meninggalkannya untuk bekerja, jadi rasanya tidaklah salah bila sekarang menjadi gilirannya dan juga Siwon untuk menyenangkan hati sang putra, toh ia yakin dilain waktu nanti, ia masih bisa menemukan waktu yang tepat untuk hanya berdua bersama dengan suaminya. Meski tidak benar-benar berdua juga sebenarnya, karna sekarang ada sang jabang bayi didalam kandungannya.

***

“Apa kau lelah chagiya?”
Siwon menanyakan sesaat setelah ia menidurkan Junseo dikamarnya lalu masuk kedalam kamarnya bersama dengan sang istri, dan melihat Yoona yang sepertinya tengah memijit-mijit pada bagian betisnya..

“Kau menggantikan pakaian Junseo terlebih dulu kan?”

“Hm.. Aku sudah melakukannya. Dia tidur nyenyak sekali..”

Menutup pintu dibelakangnya, Siwon kemudian menarik lepas pakaian yang dikenakannya melewati kepalanya lalu menjutuhkannya dibawah kakinya, sebelum kemudian berjalan mendekati Yoona yang lantas mengernyit melihatnya..

“Apa yang kau lakukan?”

“Membuka pakaianku..”

“Untuk apa.. Bukankah aku tidak memintamu melakukannya?”

“Apa aku harus menunggu istriku terlebih dulu memintanya? Bagaimana jika sekarang aku yang memintanya..?”

“Aku tidak akan memberikannya..”

“Tentu saja kau akan memberikannya, karna kau tidak mungkin bisa menolakku”

Siwon mencondongkan tubuhnya kehadapan Yoona, kemudian meraih bibirnya, menciumnya, dengan sebelah tangannya yang mulai menjalari bagian punggungnya, turun kebawah dan mulai meraba-raba pada bagian pinggulnya..

“Mesum..”

“Wae? Apa kau sedang tidak bergairah, chagi-ya..?”

“Berhenti menggodaku, yeobo..”

“Istriku benar-benar sedang tidak bergairah rupanya”

“Kapan memangnya aku pernah tidak bergairah..? Aku selalu bergairah denganmu, apalagi terhadap sentuhanmu..”

Yoona mengakui itu dengan semburat kemerah-merahan diwajahnya. Masih saja, setelah sekian tahun lamanya keduanya menjadi pasangan suami istri, dan entah sudah yang ke berapa kalinya Siwon membuatnya harus mengakui gairah yang selalu dirasakannya, Yoona tetap akan merasakan sesuatu yang seperti sedang memanaskan wajahnya. Meski ia pun cukup menikmati dan bahkan cenderung menyukai pembicaraan intim yang dilakukan untuk mengharmoniskan sekaligus menjaga agar percintaan mereka diatas ranjang tetap terasa hangat, lebih lagi menjadi semakin panas..

“Aku merasakan hal yang sama sepertimu. Bahkan dalam keadaan perutmu yang mulai terlihat membuncit, kau masih saja menggairahkanku..”

“Yeobo..”
Yoona merengut mendengar Siwon yang mulai mengomentari perubahan pada perutnya..

“Aku bercanda, chagi-ya.. Kau seksi. Sekarang berbaringlah..”

“Dan membiarkanmu menelanjangiku?”

Siwon tergelak mendengarnya, dan baru terdiam setelah mendapat pukulan dari kepalan tangan Yoona didadanya..

“Sepertinya kaulah yang berpikir mesum, chagi-ya..”

“Memangnya apa yang akan kau lakukan dengan memintaku berbaring, kecuali untuk menindihku..”

“Kau merasa lelah bukan? Aku akan memijat kakimu, jadi berbaringlah dan berikan kakimu padaku..”

Yoona tersenyum agak malu mendengarnya, kemudian mengikuti arahan Siwon untuk naik keatas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya disana. Merasakan kedua tangan Siwon yang meraih lalu melakukan pijatan-pijatan ringan tehadap kakinya, membuat Yoona merasakan kenyamanan hingga nyaris memejamkan kedua matanya andai tidak mendengar suara sang suami ketika itu..

“Jangan memakai high heels-mu lagi, sayang..”

“Hm.. Hanya hari ini, besok aku tidak akan memakainya lagi”

“Berhentilah menggunakannya sebelum aku menyembunyikan lagi semuanya”

Yoona memasang ekspresi merengut pada wajahnya. Ia ingat ketika mengandung Junseo beberapa tahun yang lalu, Siwon juga menyembunyikan semua sepatu berhak miliknya, dan menggantinya hanya dengan beberapa flat shooes.

“Jangan mengancamku, yeobo..”

“Aku hanya memperingatkan”

“Aku tidak akan terjatuh..”

“Aku tahu. Kau sudah terlalu pandai menggunakannya. Tapi, untuk berjaga-jaga, aku memintamu agar tidak memakainya lagi selama masa kehamilanmu. Dokter pun setuju denganku bukan..”

“Kau bersekongkol dengan dokter Song..”

“Aku akan memintanya untuk terus mengingatkanmu. Bagaimana, sudah terasa lebih baik?”

Yoona mengangguk lalu memberikan sebelah lagi kakinya yang lain agar mendapatkan perlakuan yang sama dari kedua tangan Siwon yang telah membuat otot-otot dikakinya terasa lemas, tidak sekaku tadi..

“Menurutmu bagaimana yang terjadi dengan Donghae dan Fany?”

Setelah pembahasan mengenai sepatu Yoona, kini Siwon mengalihkan obrolan mereka untuk membahas mengenai hubungan yang akan terjadi dengan Donghae dan Fany setelah pertemuan mereka kembali usai kurang lebihnya lima tahun keduanya tidak bertatap muka.

“Molla, tapi kurasa Fany akan lebih memilih menghindar”

“Menghindar?”

“Ya, ia datang untuk urusan pekerjaan. Bukan sengaja datang untuk bertemu dengan Donghae”

“Tapi kurasa Donghae tidak akan membiarkannya menghindar. Kali ini dia pasti akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya”

“Menurutmu begitu?”

“Donghae sudah menunggu selama ini. Dia pastinya tidak akan mau menunggu lagi. Bagaimana sekarang? Apa sudah merasa lebih baik?”

“Hm.. Tapi kurasa akan lebih baik lagi jika aku mandi air hangat sekarang”

“Kau mau berendam?”

“Ooh, itu sempurna yeobo..”

“Aku akan mengisi bak mandi dengan air hangat untukmu..”

“Terimakasih, yeobo..”

“Aku juga akan bergabung denganmu tentunya..” Siwon mengerling, lantas mencuri kecupan dibibir Yoona dan dengan cepat telah berpindah masuk kedalam kamar mandi. Mendengar senandung lagu yang kemudian dinyanyikan Siwon, menjadikan Yoona tersenyum lantas beranjak turun dari atas tempat tidur untuk kemudian melangkah menyusulnya..

***

Fany baru saja keluar dari dalam lobi hotel tempatnya menginap setelah tadi ia sempat melakukan sarapan pagi didalamnya, sebelum kemudian ia akan menyelesaikan urusan pekerjaan yang telah dipercayakan sang atasan pada dirinya. Fany rencananya akan menggunakan taksi untuk menuju tempat pertemuan yang telah disepakati dengan salah seorang mitra bisnis yang akan menjadi distributor besar untuk majalah-nya, yang direncanakan akan turut dipasarkan pula disana..

“Selamat pagi, Fany-ah..”

image

Fany yang sudah membuka pintu belakang sebuah taksi yang telah diberhentikannya, terhenti dan terkejut dengan keberadaan Donghae yang telah dalam langkah menghampirinya. Pria itu tersenyum, lantas melakukan hal yang sama seperti yang kemarin dilakukannya dengan menarik pergelangan tangan Fany, lalu menutup kembali pintu taksi itu dan mengatakan permintaan maafnya pada sang pengemudi. Untungnya ada pelanggan lain yang langsung bersiap memasuki taksi itu, hingga sang pengemudi tak terlalu merasa kecewa kehilangan calon penumpangnya.

“Donghae-ssi, apa yang kau lakukan disini?”

“Aku menjemputmu”

“Me-menjemputku?”

“Ya..”

“Tapi aku tidak memiliki janji apapun denganmu”

“Aku pun tidak memerlukannya..” Donghae tersenyum “jadi kemana kau ingin pergi hari ini? Aku akan mengantarmu..”

“Aku datang kesini karna memiliki beberapa urusan pekerjaan, bukan untuk sekedar berjalan-jalan. Maka aku akan melakukan pekerjaanku, dan kau pun sebaiknya lakukanlah pekerjaanmu..”

“Sejak kemarin kita bertemu, baru yang tadi itu aku mendengar kau berbicara dengan kalimat yang cukup panjang. Aku suka mendengarnya. Kaja..”

“Donghae-ssi”

Donghae benar-benar mengabaikan isarat penolakan yang dikatakan Fany lewat kalimatnya. Ia justru membawa Fany menuju mobilnya, membukakannya pintu dan mempersilahkannya menduduki kursi disamping kemudinya.

“Aku bisa menggunakan taksi”

“Apa kau tidak pernah membaca berita? Emm, maksudku mengenai politik dan ekonomi? Kau sepertinya tidak tahu, pertumbuhan ekonomi di beberapa negara cenderung mengkhawatirkan. Terjadi persaingan sengit didunia kerja. Banyak orang-orang berlomba-lomba mengumpulkan uang dan menabung. Jadi mengapa kau justru berencana menghambur-hamburkan uangmu untuk membayar ongkos taksi, jika seseorang bersedia memberikan tumpangan padamu. Masuklah..”

“Aku baru tahu, ternyata kau cukup banyak bicara..”

Donghae memperlihatkan ringisan diwajahnya ketika mendengar Fany mengatakan hal itu sebelum ia kemudian menurutinya dengan masuk kedalam mobilnya. Tersenyum, ia lantas bersegera menyusul masuk untuk selanjutnya melajukan mobilnya..

“Kemana kau harus pergi?”

“King’s Hotel..”

Fany menjawab sambil memalingkan wajahnya, memandang pada jalan raya yang cukup padat dengan berbagai macam kendaraan yang melintas. Setelah merasa bosan dengan lalu lalang kendaraan itu, ia mulai sedikit memperhatikan apa saja yang ketika itu berada didalam mobil Donghae.

Fany melihat hanya ada sebuah tas ransel yang diletakkan dijok belakang, lalu sebuah kamera yang berada diatas dashboard mobil.

Pria itu adalah seorang fotografer, maka wajar bila ia tidak bisa meninggalkan kameranya. Bahkan sepertinya, Fany menduga ada kamera yang juga berada didalam tas ransel itu..

“Apa kau menemukan sesuatu yang menarik perhatianmu?”
Fany sedikit tergeragap untuk menjawabnya. Donghae rupanya juga memperhatikannya..

“Aku.. Tidak, bukan apa-apa..”

Donghae justru tersenyum mengetahui kegugupannya..

“Kau akan bertemu seseorang disana?”

“Huh?”

“Di King’s Hotel..”

“Ya, kami sudah membuat janji bahkan sebelum aku datang”

“Seorang wanita?”

“Pria..”

Refleks saja, Donghae mencengkeram erat roda kemudinya.

Tak butuh waktu lama untuk mengantar Fany sampai ke salah satu hotel berbintang yang tadi disebutkannya. Donghae berniat turun terlebih dulu, namun Fany mencegahnya..

“Pergilah.. Tidak perlu menungguku”

“Tidak apa-apa, aku bisa melakukannya. Aku tidak memiliki klien hari ini dan sudah mengatakan pada Siwon jika aku takkan datang ke studio..”

Fany justru terdiam melihat Donghae yang mengulas senyum diwajahnya.

“Maaf, tapi aku benar-benar tidak merasa nyaman denganmu. Kumohon pergilah, Donghae-ssi..”

Donghae cukup merasa tersentil mendengarnya. Apalagi ketika melihat Fany keluar dari dalam mobilnya tanpa menunggu ia mengatakan apa-apa, hatinya seperti teremas, sakit.

Namun hal itu tidak lantas membuatnya beralih dari keingintahuannya terhadap siapa yang saat itu ditemui oleh Fany. Seperti apakah orangnya?
Seorang yang sudah berumur-kah?
Atau masih semuda dirinya?
Menarikkah dia? Mungkinkah Fany akan merasa tertarik dengannya?

Donghae berusaha untuk memusnahkan semua pertanyaan itu dari dalam kepalanya. Tapi ia tak berhasil melakukannya. Pertanyaan itu terus dan terus berulang hingga dirinya menemukan satu pemikiran berdasar apa yang pernah dialaminya, bahwa biasanya orang-orang yang bekerja dibidang pembuatan majalah adalah orang-orang muda yang lincah dan cermat dalam menggali informasi serta pandai meramu ide-ide kreatif. Dan orang seperti itu jelas patut untuk diwaspadainya. Maka untuk memastikan apakah orang yang ketika itu membuat janji dengan Fany dan sedang ditemuinya adalah orang yang masih terus akan berprospek dalam hidupnya dan bisa jadi berkemungkinan menarik perhatian wanita yang disukainya, Donghae memutuskan untuk mencari tahu kebenarannya. Setelah terlebih dulu memarkir mobilnya, ia menyambar kamera dari atas dashboard yang nanti mungkin akan bisa digunakan sebagai alasan kalau-kalau ia terpergok sedang memata-matai Fany disana.

Memasuki lobi hotel itu, Donghae baru menyadari ia tidak mengetahui dimana tepatnya Fany sedang membuat janji. Untuk itu ia mendekati resepsionis hotel, untuk mencoba mendapatkan informasi dari mereka..

“Ada yang bisa saya bantu, tuan?”

“Ya, emm.. Aku sedang mencari keberadaan rekanku. Dia sedang membuat janji disini. Tapi aku tidak bisa menemukannya. Namanya Hwang Tiffany, bisakah membantuku menemukan dimana tempatnya berada sekarang”

Seorang resepsionist yang saat itu berbicara dengan Donghae lantas menoleh pada rekan lainnya. Sepertinya kemudian berkompromi tentang boleh tidaknya mereka membocorkan data pengunjung..

“Ada seseorang yang sedang ditemuinya saat ini. Dan dia adalah kepala tim penerbitan majalah kami. Aku adalah salah satu fotografer disana” Donghae melanjutkan.. “Kalian tahu RAINBOW kan?” Para petugas resepsionis itu mengangguk, lantas memperhatikan kamera ditangannya, menjadikan Donghae tersenyum melihatnya.. “Aku bekerja disana..”

“Ooh, kalau begitu saya akan membantu anda tuan, sebentar..” Resepsionis itu mulai memeriksa data yang dimilikinya.. “Nona Tiffany berada di Orens restaurant, ada dilantai dua, tuan..”

Setelah mendapatkan informasi itu, Donghae bersegera untuk menyusulnya. Ia yang merasa terlalu lama bila harus menunggu lift, kemudian bahkan menggunakan tangga darurat untuk selanjutnya mencapai lantai dua dimana sebuah restaurant yang tadi disebutkan sang resepsionist hotel berada disana.

Tatapannya mulai mencari-cari dengan awas untuk menemukan keberadaan Fany dipuluhan pasang meja dan kursi yang berada didalamnya. Dan ia pun menemukannya. Menemukan keberadaan Fany yang tengah duduk berhadapan dengan seorang pria. Wanita itu bahkan nampak memperlihatkan senyum diwajahnya. Sayangnya Donghae tidak bisa melihat seperti apa wajah sang pria yang menerima senyuman itu, karena posisi duduknya yang ketika itu membelakanginya. Yang jelas siapapun yang melihat senyum semanis itu pasti akan dibuat jatuh terpesona oleh karenanya. Dan hal itu jelas menjadi keresahan tersendiri bagi Donghae. Ia tentu saja tak bisa membiarkan orang lain terlalu lama menikmati senyum itu, sedangkan dirinya yang bahkan menunggu sekian tahun lamanya justru sama sekali belum mendapatkan apa-apa..

“Fany-ah..!”

Menahan sedikit kesal, Donghae lantas melangkah menghampiri Fany yang tentunya membuat wanita itu terkejut melihat keberadaannya disana. Fany kemudian juga berdiri dari duduknya, memperlihatkan antisipasi terhadap apa yang akan Donghae lakukan disana..

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku, aku hanya..”

Sial..
Ia seharusnya membawa sebuah bolpoin, tisu, sapu tangan atau benda apapun didalam saku celananya yang bisa diulurkannya pada Fany saat itu sambil mengatakan ‘milikmu tertinggal di mobilku’. Jadi ia tidak akan merasa kebingungan seperti ini dan hanya bisa menggaruk tengkuknya dengan ekspresi wajah yang diyakininya sama sekali tidak sedang terlihat keren apalagi menarik dimata wanita yang disukainya.

“Aku hanya kebetulan juga ingin makan disini. Aku lupa belum melakukan sarapan pagi tadi.. Ya, aku belum sarapan..”

Akhirnya setelah lumayan memeras otak, Donghae menemukan juga alasan keberadaannya disana.

“Donghae-ssi..?”

Suara itu bukan lagi berasal dari Fany, melainkan dari seorang pria yang sebelumnya menjadi lawan bicaranya. Donghae kemudian menoleh, dan cukup terkejut melihat pria itu disana..

“Yesung-ssi.. Apa yang kau lakukan disini?”

“Kalian saling mengenal?”

Keduanya justru bergantian melontarkan pertanyaan..

“Tunggu, tunggu.. Jadi kau yang telah membuat janji dengan Fany?”

“Kau juga mengenal nona Hwang?”

“Ya, tentu saja.. Aku mengenalnya..”
Donghae sekilas melirik kearah Fany yang tidak mengatakan apa-apa..

“Tapi untuk apa kau bertemu dengannya?”

“Urusan bisnis, aku sedang bernegosiasi untuk menghadirkan GAYA disini”

“Mengapa kau mengajaknya bernegosiasi disini, tidakkah tempat ini terlalu intim untuk membahas urusan bisnis yang seserius itu”

Donghae sedikit memicingkan mata, sedangkan Yesung justru tergelak dan kemudian menepuk punggungnya..

“Kau lupa, istriku adalah manager restaurant ini? Karena tidak mau membuatnya memikirkan kecurigaan saat aku sedang membahas bisnis dengan seorang wanita, jadi aku memilih tempat ini dan membiarkan Yuri agar melihatku”

Ya Tuhan..
Donghae sama sekali tidak mengingatnya. Restaurant yang saat ini didatanginya adalah tempat dimana mantan rekan kerjanya Yuri, bekerja sebagai seorang manager setelah ia memutuskan untuk resign dari RAINBOW, seperti yang juga dilakukan olehnya.

“Sebenarnya Yuri yang lebih menginginkannya. Obsesi kerjanya pada dunia majalah masih cukup besar meski ia memutuskan keluar dari RAINBOW..”

“Kalau begitu, kalian bisa melanjutkan pembicaraan. Aku akan bertemu dengan Yuri dan memintanya agar menyiapkan sarapan untukku..”

“Kau pikir siapa yang sedang kau ajak bicara sekarang. Seenaknya saja kau meminta istriku untuk melayanimu..”

Donghae yang sekarang tergelak dan membalas tepukan tangan Yesung dibahunya..

“Sudah cukup lama aku juga tak bertemu dengannya. Kurasa aku merindukannya.. Yuri-ah..!”

Donghae kemudian menghampiri Yuri yang ketika itu ia lihat sedang memberikan intruksi pada para pramusaji yang bekerja. Mendengar suara yang cukup keras memanggilnya ketika itu, Yuri lantas beralih untuk menemukan siapa yang telah memanggilnya..

“Donghae-ssi..?”

“Hai..”

“Apa yang sedang kau lakukan disini?”

“Apa kau selalu menanyakan hal seperti itu pada pengunjung restauran-mu?”

Yuri merengut mendengarnya..

“Bukan begitu, maksudku..”

“Aku lapar. Bisakah kau merekomendasikan menu apa yang lezat hari ini?”

“Apa kau tahu Fany berada disini?”

“Hm.. Aku tahu, aku bahkan yang mengantarnya..”

“Oh Tuhan.. Jadi kalian?”

Yuri merenggut lengan Donghae, lantas membawanya agak menjauh dari para pelayan restauran, untuk kemudian kembali membertegas apa yang ditanyakannya.

“Jadi kalian masih berhubungan? Aku terkejut sekali ketika melihatnya datang untuk berbicara dengan suamiku..”

“Sama sepertimu, aku juga terkejut saat melihatnya..”

“Bagaimana sebenarnya perasaanmu pada Fany?”

“Tidak ada yang berubah. Aku masih tertarik padanya..”

“Apa dia masih belum memiliki teman kencan?”

“Entahlah, aku tidak bertanya..”

“Bagaimana jika Fany sudah memilikinya?”

“Aku tidak peduli. Aku akan tetap mendapatkannya..”

“Atau mungkin dia sudah menikah, Donghae-ssi. Kau tidak bertanya?”

“Dia tidak memakai cincin dijarinya, Yuri-ssi..”

Yuri meringis mendengar geraman dari Donghae. Lantas mencoba mengalihkan topik pembicaraan dengan memanggil salah seorang pelayan dan memintanya menyiapkan beberapa menu andalan yang akan dihidangkan untuk Donghae.

“Kudengar kau meminta suamimu agar membawa GAYA kesini?”

“Hm, aku hanya iseng ketika mengatakannya. Tapi dia menseriusinya..”

“Apa sebenarnya dulu kau tidak keluar, melainkan dipecat dari RAINBOW? Sepertinya kau mencoba melakukan persaingan dengan RAINBOW dan Yoona, dengan menghadirkan GAYA kehadapan para pecinta majalah?”

Yuri malah tergelak mendengarnya..

“Aku mengenal Yoona. Apasih yang tidak bisa dilakukannya untuk RAINBOW? Dia butuh banyak tantangan dalam pekerjaannya, salah satunya dengan memberikannya pesaing baru”

“Jangan menjadi kejam padanya. Yoona sedang mengandung anak kedua. Dia butuh berpikir santai..”

“Aku tahu. Kami membicarakannya di grup. Dan dia akan segera mengambil cuti dalam beberapa bulan lagi..”

“Lalu siapa yang akan menggantikannya?”

“Sepertinya Sooyoung..”

“Dia lagi?”

Yuri tertawa melihat ketidak yakinan diwajah Donghae. Sepertinya ia juga masih mengingat bagaimana kewalahannya Sooyoung ketika dulu juga sempat menggantikan Yoona sebagai pimpinan tim.

“Karena itu aku menjadi bersemangat untuk membuat persaingan dengannya. Belum apa-apa Sooyoung sudah mengomel dalam chatingan kami di grup”

Yuri terkikik mengingatnya. Ketidak bersamaan mereka sebagai rekan kerja, bukan berarti memutus pertemanan mereka. Mereka yang masih bekerja di RAINBOW ataupun telah memutuskan menggeluti kerja dibidang yang lain masihlah tetap saling berhubungan baik, bahkan memiliki grup khusus untuk melakukan chating bersama, yang didalamnya juga termasuk dengan Yoona.

“Kalau begitu aku akan meninggalkanmu sebentar Donghae-ssi”

“Mana makanan untukku?”

“Bersabarlah, mereka sedang menyiapkannya..”

Setelah Yuri beralih darinya, Donghae menempati salah satu meja setelah lebih dulu memastikan itu adalah tempat paling tepat untuknya dapat memperhatikan Fany. Dan sementara menunggu pesanannya datang, Donghae memanfaatkan kamera yang dibawanya, untuk kemudian melakukan jepretan pertamanya kearah Fany. Donghae mendapati beberapa ekspresi wajah dalam fotonya. Dari Fany yang sedang berbicara maupun mendengarkan dengan serius, hingga senyuman manis yang terulas diwajahnya.

image

Sayangnya kemudian Fany mengetahui ia yang diam-diam telah memotret dirinya. Dan ia terus mengarahkan tatapannya, sampai kemudian Donghae menurunkan kameranya.

“Aku hanya memotret, tidak akan mengganggumu. Jadi lanjutkanlah pembicaraannya..”

Yesung yang mendengar Donghae mengatakannya, kemudian menoleh kearahnya dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat pria itu yang tengah bersiap menjepret bidikan dari lensa kameranya. Yesung pun lantas memperhatikan Fany dan tersenyum padanya..

“Apa dia menyukaimu?”

Fany tidak tahu bagaimana ia akan menjawabnya. Maka kemudian ia mengalihkan pertanyaan itu dengan pembahasan seputar kerja sama yang akan mereka lakukan nantinya.

***

“Oemma, dimana kaus kaki Jun?!”

“Nanti oemma yang akan mengambilnya untukmu, Jun-ah..”

“Tapi aku mau sekarang, oemma..! Bagaimana jika aku terlambat nanti. Jun akan menjadi malu pada teman-teman..”

Yoona sedang berpakaian ketika itu. Merapikan dirinya sebelum ia pergi bekerja. Sebelumnya ia telah menyiapkan sarapan diatas meja makan sementara membiarkan Junseo mandi bersama dengan Siwon. Setelah Junseo lebih dulu keluar dari dalam kamar mandi, Yoona membantunya untuk berpakaian. Barulah setelah dirinya merapikan Junseo, ia beralih masuk kedalam kamarnya untuk menyiapkan pakaian Siwon. Setelah semuanya selesai dan sang suami keluar dari dalam kamar mandi, dirinyalah yang mendapat giliran terakhir untuk mandi dan bersiap.

Seperti itulah rutinitas paginya selama beberapa tahun terakhir ini setelah ia berpindah dari apartemen Siwon dan bersama dengan sang suami mereka membeli sebuah rumah yang lebih nyaman untuk mereka tinggali setelah memiliki Junseo. Yoona yang memutuskan untuk kembali bekerja setelah Junseo bisa berjalan dan tidak lagi menyusuinya, memang cukup kerepotan mengurus semuanya sendirian. Namun meski mengalami kerepotan, ia tetap menolak mempekerjakan seseorang dirumahnya. Sepertinya ia seorang yang cukup menikmati kerepotannya. Barulah setelah mengetahui kehamilan keduanya, sang ibu memaksanya agar menerima seorang asisten rumah tangga yang telah dipilihkan oleh ibunya. Meski begitu, Yoona memberikan larangan pada sang bibi yang bekerja dengannya agar tidak datang kerumahnya dipagi hari sebelum ia dan sang suami pergi bekerja. Yoona merasa tidak ingin kehilangan moment kesibukannya di pagi hari untuk mengurus sang suami sekaligus sang putra. Dan walau sudah ada seorang pekerja yang sebenarnya bisa untuk menjaga dan menemani Junseo dirumah, tapi sang putra lebih senang bila bersama dengan sang nenek. Apalagi setelah Yoona memasukkannya ke sebuah sekolah yang berada tak jauh dari rumah ibunya, Junseo sudah selalu ribut dipagi hari, seperti yang ketika itu dilakukannya saat tengah kesulitan menemukan kaus kakinya..

“Oemma..! Dimana kaus kakinya..?! Aku ingin memakai sepatuku sekarang..!”
Suara Junseo sekali lagi terdengar berteriak dari luar kamarnya.
“Aigoo, kau dengar putramu itu, yeobo. Cerewet sekali dia..”

“Putramu juga. Kau mengandungnya dalam beberapa bulan. Kurasa saat itulah Jun menyerap semua sifatmu..”

Yoona memutar mata mendengarnya. Dengan kata lain ia yang tadi menyebut Junseo cerewet adalah bagian dari sifatnya. Begitukah yang dimaksud suaminya?
Yoona mendengus setelahnya, lalu mencoba menemukan pembelaan..

“Jun jelas lebih mirip denganmu, ayahnya..”

“Hanya wajahnya, tapi keras kepalanya sama persis sepertimu, ibunya..”

“Kalau begitu, anak kedua kita nanti juga akan menjadi sepertiku dan Jun. Dan lihat apa yang akan kau lakukan dengan tiga orang keras kepala dihidupmu..”

Siwon tertawa mendengarnya sebelum kemudian mendekati Yoona untuk memberikan kecupan dipipinya dan mengelus pada perutnya..

“Aku pastinya akan tetap mencintai kalian. My love is for You..” Satu kecupan menyusul dibibir Yoona “You..” Lalu diatas perutnya.. “And You.. Jun-ah..” Siwon kemudian keluar dari dalam kamar pasti untuk memberi ciuman pada Junseo. Menjadikan Yoona tersenyum melihat tingkahnya..

***

“Ayo, kita mengobrol didalam Fany-ssi”

Fany baru saja turun dari dalam mobil Yoona, dan sejenak mengamati sekeliling halaman rumah Yoona. Ada beberapa jenis tanaman bunga yang ditanam didalam pot, ada sepeda kecil yang tergeletak, sepertinya sudah jarang dimainkan oleh Junseo. Serta terdapat sebuah ayunan kursi yang sepertinya nyaman untuk digunakan bersantai dimalam hari, sambil mengobrol atau sekedar memandangi tampilan bintang dilangit.

“Fany-ssi?”

“Ooh, ne..”

Siang hari tadi, setelah selesai melakukan pembicaraan dengan Yesung dan mendapatkan beberapa kesepakatan dengannya, Fany memutuskan untuk berjalan-jalan dan bersyukur Donghae sudah pergi setelah mendapatkan sebuah panggilan yang kemudian mengharuskannya berada distudio. Sampai akhirnya setelah bosan berjalan-jalan sendirian, dan menjadi berpikir mungkin tidak apa-apa Donghae mengikutinya karna dengan begitu ada yang menemaninya, Fany hanya bisa tersenyum masam atas pemikirannya dan lantas terpikir hal yang lain untuk kemudian mengunjungi kantor RAINBOW. Bertemu dengan Taeyeon disana yang langsung memeluknya dengan suka cita dan banyak mengobrol dengannya. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Yoona yang lantas mengajak dirinya untuk datang kerumahnya..

“Kau memiliki rumah yang indah, Yoona-ssi..” Komentar Fany setelah sedikit melihat-lihat, lalu duduk bersama Yoona disofa ruang tengah..

“Terimakasih, karna itulah yang ingin kudengar darimu..”

“Dan terasa sangat nyaman”

“Itu apa yang aku dan Siwon inginkan. Kami ingin agar pada saat pulang, kenyamanan disini dapat langsung memeluk tubuh lelah kami usai bekerja”

“Kurasa jika aku memiliki rumah seperti ini, aku bahkan tak ingin meninggalkannya kemana-mana”

“Kau pasti bisa memilikinya, Fany-ssi”

“Kuharap juga begitu..”
Fany mengulas senyum diwajahnya..

“Bagaimana, apa kau sudah menyelesaikan semuanya?”

“Hm, aku sudah membereskan pekerjaanku”

“Jadi kau akan segera pulang?”

“Besok aku akan melakukan penerbangan kembali”

“Besok? Tidakkah itu terlalu cepat?”

“Tidak ada yang perlu kukerjakan lagi, jadi sepertinya lebih cepat lebih baik”

“Bagaimana dengan Donghae?”

Fany terdiam sesaat..

“Maksudmu?”

“Maksudku adalah apa kau sudah memutuskan seperti apa hubungan diantara kalian?”

“Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya, jadi kurasa tak ada yang perlu aku putuskan”

“Tapi kau tahu dia masih mengharapkanmu kan? Dia menyukaimu Fany-ssi. Tidakkah kau menjadi terlalu kejam bila tidak memberikan kepastian padanya..”

“Dia pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dariku” Fany menggumam getir didalam hatinya.

“Meski akan sangat menyakitkan bagi Donghae jika kau menolaknya, tapi akan lebih baik untuk kedepannya daripada kau menggantungkan perasaannya..”

“Bisakah kita tidak membahasnya, Yoona-ssi..”

“Maaf, aku seharusnya memang tidak ikut campur. Baiklah kalau begitu, kita bisa mengobrol untuk banyak hal yang lain. Tapi terlebih dulu, ijinkan aku untuk mengganti pakaianku..”

Fany mengangguk dan tersenyum kearah Yoona yang kemudian melangkah membuka sebuah pintu dan masuk kedalamnya. Setelah Yoona kembali kehadapannya, kali ini dengan membawa dua kaleng minuman segar ditangannya, dan memberikannya untuk Fany, keduanya lantas kembali terlibat kedalam obrolan-obrolan ringan.

Mereka masih sedang tertawa mengingat apa yang pernah terjadi dengan para rekan kerja mereka dulu saat masih berada dalam ruang kerja yang sama, ketika kemudian terdengar suara yang berasal dari pintu depan rumah Yoona.

“Chagi-ya, kau sudah pulang?”

Suara Siwon-lah yang ketika itu memanggil Yoona. Yoona rupanya terlalu asik dengan pembahasan yang dilakukannya bersama dengan Fany, salah satunya mengenai pendapatnya tentang parfum yang hari itu Fany berikan padanya, hingga ia tak mendengar saat mobil Siwon memasuki halaman.

“Ooh, aku disini yeobo..”

Siwon melangkah menghampiri dan cukup terkejut ketika melihat keberadaan sang istri bersama dengan Fany disana.

“Kau datang Fany-ssi..”
Fany lantas berdiri untuk kemudian menyapa Siwon.
“Maaf karena tidak meminta ijin untuk datang kerumahmu, Siwon-ssi..”
“Oh, anio.. Apa kau datang bersama Yoona?”
“Hm, aku kekantor nya tadi, dan Yoona mengajakku. Rumahmu indah, Siwon-ssi..”
“Terimakasih.. Yoona lah yang mengatur semuanya”

Siwon tersenyum kearah sang istri, kemudian menggeleng saat tangan Yoona ingin mengambil alih sebuah tas ditangannya.

“Masih ada yang ingin kukerjakan, Chagiya.. Kalian lanjutkan saja mengobrolnya..”

“Kau akan kembali ke studio lagi?”

“Tidak, aku akan mengerjakannya disini”

Siwon sudah beberapa langkah meninggalkan Yoona bersama dengan Fany untuk selanjutnya berada diruang kerjanya, saat kemudian ia teringat akan ketidak beradaan Junseo, Siwon kembali menghampiri Yoona..

“Kau tidak menjemput, Jun?”

“Dia tidak mau pulang. Oemma menelponku tadi dan Jun mengatakan ingin menginap malam ini..”

“Jadi tidak ada yang mengganggu kita malam ini..”

Siwon mengedik dan membuat Yoona memutar mata. Dengan keberadaan Fany disana, tidak seharusnya Siwon mengatakan hal-hal yang membuat orang lain dapat dengan mudah berpikir ke hal-hal yang menjurus pada kegiatan intim yang dilakukan diatas ranjang. Dan seperti yang diperkirakan Yoona, ia melihat Fany ikut tersenyum, menjadikannya cukup merasa malu.

“Jadi apa biasanya Jun mengganggu kalian..?”

“Oh, jangan membuatku bertambah malu Fany-ssi..”

Fany tertawa mendengarnya. Tawa yang kemudian terhenti, bahkan menghilang dari bibirnya ketika ia melihat seseorang yang tiba-tiba saja masuk kedalam rumah Yoona.

“Donghae-ssi..”
Donghae pun sama terdiamnya dan tidak langsung menjawab sapaan Yoona.

“Kapan kau datang, Donghae-ssi?”

“Ooh, aku..aku bersama Siwon tadi. Hanya saja aku sebentar menikmati duduk di ayunan kalian. Kau juga disini, Fany-ah..”

“Hm..” Fany hanya mengangguk ringan kearahnya, dan kemudian memalingkan wajahnya.

“Aku yang mengajaknya. Siwon berada diruang kerjanya, Donghae-ssi. Kalian akan menyelesaikan pekerjaan bersama?”

“Oh, baiklah.. Aku akan kesana..”

Fany yang seperti menahan napas tadi, kemudian dapat bernapas lega setelah Donghae beranjak dari sana. Buru-buru kemudian ia berdiri dari duduknya dan mengambil tas tangannya dari atas meja.

“Yoona-ssi, sepertinya aku harus pergi sekarang”

“Kau mau pergi? Tapi aku masih ingin mengobrol denganmu” Yoona menahan pergelangan tangannya..

“Sepertinya mereka akan membutuhkan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan. Jadi aku akan menyiapkan makan malam untuk mereka. Maukah kau membantuku, Fany-ssi?”

“Tapi aku..”

“Kau tidak harus menghindarinya, Fany-ssi. Lagi pula kau akan pergi besok. Berilah dia sedikit kesan sebelum pergi”

Dengan itu Fany lantas kembali meletakkan tas tangannya, lalu mengikuti Yoona menuju dapurnya.

Yoona hanya perlu menghangatkan makanan yang berada didalam kulkas, yang telah dimasak oleh sang bibi, dan hanya menambahkan satu hingga dua menu lagi yang biasanya Siwon sukai. Fany membantunya dengan menyiapkan piring lalu menata makanan yang telah Yoona panaskan keatas meja..

“Yeobo.. Aku sudah menyiapkan makan malam. Kemarilah dan ajak Donghae bersamamu..! Duduklah Fany-ssi..”

“Sebaiknya aku pergi saja, Yoona-ssi”

“Apa maksudmu pergi? Kita bisa melakukan makan malam bersama disini. Ayo, duduklah..”

“Tapi–”

Belum sampai mengatakan apa yang coba dikatakannya, Fany sudah langsung terdiam melihat Donghae dan Siwon yang sedang melangkah menuju meja makan..

“Duduklah Fany-ssi..”

Yoona menarik kursi disebelahnya dan sedikit melakukan paksaan agar Fany mendudukinya. Siwon dan Donghae lantas menyusul duduk, bergabung dengan keduanya. Siwon tentu saja memilih duduk berhadapan dengan istrinya, sementara Donghae menempati satu kursi lagi yang berada disebelah Siwon yang otomatis menjadikannya duduk berhadapan dengan Fany.

Yoona seperti biasa, ia lebih dulu melayani sang suami. Dari menyendokkan nasi, menambahkan lauk dan menanyakan apalagi yang Siwon inginkan untuk makan malamnya. Setelah Siwon mengatakan sudah cukup dengan apa yang saat itu berada diatas piringnya, Yoona baru menyendok sendiri nasi untuknya.

Melihat apa yang Yoona lakukan ketika itu, membuat Fany terdiam dan sedikit menarik senyum disudut bibirnya. Betapa kebahagian yang melingkupi keduanya, bisa turut pula dirasakan oleh orang-orang yang berada disekitarnya..

“Aku selalu iri denganmu Siwon-ssi, kapan aku memiliki seseorang yang bisa melayaniku seperti Yoona?”

Donghae memperhatikan kearah Fany, tapi yang diperhatikan justru sedang menundukkan wajahnya.

“Kau sendiri yang menolak banyak wanita yang menginginkan menjadi istrimu”

“Aku hanya pria setia, yang tak mudah memalingkan hatiku dari wanita yang telah menguasainya”

Siwon dan Yoona saling berpandangan dan sama-sama tak tahu harus berkata apa melihat Donghae yang sebenarnya berbicara dengan Siwon ketika itu, tapi tatap matanya tak pernah beralih dari memperhatikan Fany.

Fany yang merasa sedang terus diperhatikan, tiba-tiba saja berdiri dan sedikit mendorong mundur kursi yang didudukinya.

“Mianhae Yoona-ssi, Siwon-ssi, aku harus pergi sekarang..”

“Fany-ssi.. Tapi kau belum memakan apa-apa”

Yoona ikut berdiri dari duduknya, namun Fany menyentuh lengannya dan berisarat agar Yoona tidak lagi menahannya seperti sebelumnya.

“Terimakasih untuk mengajakku mengunjungi rumahmu, Yoona-ssi. Dan aku benar-benar menikmati berbincang denganmu, aku akan menelponmu nanti..”

“Ne, berhati-hatilah..”

Fany mengangguk, lantas melangkah mengambil tas tangannya sebelum kemudian membuka pintu rumah Yoona, dan keluar dari dalamnya. Donghae yang melihat kepergian Fany yang begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun padanya, hanya terdiam sampai kemudian Siwon menepuk bahunya..

“Kau diam saja melihatnya pergi seperti itu?”

“Apa yang bisa kulakukan, kurasa dia pergi karena aku..”

“Besok Fany akan benar-benar pergi, apa kau mengetahuinya Donghae-ssi?”

“Apa kau bercanda Yoona-ssi?!”

“Fany sendiri yang mengatakannya tadi..”

“Sial..”
Donghae berjingkat dari kursi yang didudukinya, dan dengan cepat berlari keluar meninggalkan Siwon dan Yoona yang menggeleng-gelengkan kepala melihatnya.

“Yeobo, bagaimana kalau kita pergi menonton sekarang?”

Siwon menunda untuk memasukkan sendok kedalam mulutnya ketika mendengar Yoona mengatakannya. Ia kemudian membalas untuk menanggapinya..

“Kau masih ingin menonton film?”

“Hmm..”
Yoona mengangguk antusias..
“Tapi apa kau tidak merasa lelah, chagi-ya?”
“Tidak.. Sama sekali tidak. Selagi Junseo menginap, yeobo. Ayolah..”
“Siapa pemeran utama film nya?”
“Hyun Bin”
Siwon memutar mata mendengarnya, dan kemudian menggelengkan kepala sambil beranjak dari kursinya..
“Yeobo..! Kau tidak mau?”
“Lebih baik kita menonton DVD saja dikamar” Siwon sudah membayangkan apa yang akan terjadi jika kali ini ia mengikuti keinginan Yoona. Dan ia tidak akan membiarkan istrinya berdecak kagum pada saat melihat sang aktor utama dilayar super besar di sepanjang kurang lebihnya dua jam mereka menonton filmnya. Itu akan menjadi menjengkelkan untuknya..

“Yeobo, ayolah.. Ini keinginan bayi kita? Bagaimana bisa kau tidak menurutinya..”

Yoona dengan segera menyusul langkah Siwon masuk kedalam kamar mereka.

“Mana ada bayi yang menginginkan menonton roman dewasa. Jangan mengada-ada Chagi-ya”

“Tapi ini benar, Yeobo..”

“Aku tahu kau hanya mengincar untuk melihat se-sixpek apa aktor itu, bukan?”

“Mana mungkin seperti itu. Suamiku lebih sixpek dari pada siapapun. Aku tentu saja akan lebih mengincar suamiku..”
Yoona mendekat, melingkarkan tangannya pada pinggang Siwon, lalu mendekatkan wajahnya untuk dapat mencium pipinya. Lebih tepatnya pada bagian bawah rahangnya. Yang ia tahu menjadi titik lemah suaminya. Terbukti Siwon mengerang merasakannya..

“Kau sedang merayuku?”

“Apa salahnya merayu suamiku..”
Yoona memperlihatkan cengiran diwajahnya, lalu memindahkan kedua tangannya untuk mengalung pada leher sang suami, lantas tanpa keragu-raguan memberikan kecupan di bibir suaminya. Melanjutkan aksi untuk merayunya..
“Aku hanya perlu hiburan, Yeobo. Jadi ayolah kita pergi menonton..”
“Kau bukan perayu yang pintar, chagi-ya. Kau masih perlu usaha lebih untuk merayuku..”
Siwon mengedikkan mata dan tertawa saat merasakan Yoona menggelitiki pinggangnya..

Sementara Yoona berusaha membujuk Siwon dengan usahanya merajuk dan bertingkah kekanakan yang berbeda 180 derajat dari sikapnya ketika sedang berada dilingkungan kerja, yang terjadi dengan Donghae dan Fany setelah tadi Donghae berhasil menahan langkah Fany yang sudah berada diluar pagar rumah Yoona, kemudian dengan sedikit paksaan -Donghae sendiri sebenarnya tidak ingin menyebutnya sebagai paksaan melainkan ketegasan- ia memintanya agar masuk kedalam mobilnya, keduanya kini justru masih sama-sama terdiam didalam sebuah kafe yang Donghae pilih sebagai tempat untuk berbicara dengan Fany.

Donghae sedari tadi hanya menatap pada keberadaan Fany dihadapannya, sedangkan Fany sendiri hanya menumpukan pandangannya pada gelas minuman dihadapannya.

“Aku akan pergi jika tak ada yang akan kau katakan..”

Fany yang merasa tidak nyaman dengan keheningan yang terjadi diantara keduanya, meski sekelilingnya ramai oleh para pengungjung kafe yang lain, akhirnya mengambil keputusan untuk membuka suara lebih dulu disertai dengan gerak tubuhnya yang juga beranjak dari kursi yang didudukinya.

“Duduklah, aku akan bicara..”

Melihat tatapan dikedua mata Donghae yang terkesan menjadi serius ketika menatapnya, menjadikan Fany kemudian mendudukkan kembali tubuhnya. Jantungnya terasa berdebar lebih cepat sekarang, ketika menunggu apa yang akan Donghae katakan. Jari-jemarinya kemudian terpilin diatas pangkuannya ketika rasa gugup saat bertatapan dengan pria itu mulai kembali menghampirinya.

“Aku mendengar dari Yoona, besok kau akan pergi lagi. Benarkah?”

“Ya..”

“Aku tidak ingin kau pergi. Bisakah kau tetap tinggal?”

“Aku tidak memiliki alasan untuk tetap tinggal. Orangtua ku, pekerjaanku, tidaklah berada disini”

“Tapi orang yang terus mengharapkanmu dan juga mencintaimu berada disini, Fany-ah. Tidakkah kau memikirkannya? Memikirkan bagaimana perasaanku padamu..”

“Donghae-ssi.. Kau tidak seharusnya merasakan perasaan yang seperti itu padaku”

“Kenapa? Kenapa aku tidak boleh merasakannya?”

“Karena.. Karena aku tidak pantas, Donghae-ssi. Aku tidak pantas menerima cintamu. Banyak wanita lain yang lebih pantas untuk menerimanya. Bukan aku..”

“Siapa.. Siapa wanita lain yang kau sebut lebih pantas itu? Katakan padaku..”

” Maafkan aku.. Aku harus pergi..”

Fany merasakan kedua matanya terasa basah, ia mulai berkaca-kaca dan tidak akan sanggup lagi berada disana lebih lama. Ia pasti akan menangis. Menangisi ketidak pantasannya untuk menerima pengakuan pria itu. Ia kemudian segera beranjak untuk meninggalkannya..

“Mengapa kau masih saja menilai rendah dirimu. Mengapa kau menutup hatimu untuk menerima cintaku..!”

Fany menghentikan langkahnya ketika suara Donghae terdengar lebih keras, dan cukup untuk menarik perhatian pengunjung kafe yang lain. Dan tanpa bisa ia cegah, airmata itu telah jatuh membasahi wajahnya..

“Aku tertarik padamu awalnya, dan kemudian mencintaimu dari hari ke hari. Jadi mengapa kau tidak memberi kesempatan pada hatimu, dan dirimu sendiri untuk berbahagia. Aku akan menjaga hatimu dengan cintaku, Fany-ah. Aku akan membahagiakanmu..”

Fany tak tahan mendengarnya. Antara ia ingin memeluk Donghae atau berlari meninggalkannya, membawa perasaan tidak pantas itu bersama dengannya. Ia sudah berniat untuk meneruskan langkah, namun tiba-tiba ia merasakan tangan yang melingkar dipinggangnya. Donghae memeluknya dari belakang..

“Kau lah wanita yang paling pantas menerima cintaku, Fany-ah. Kau orang nya..”

Fany merasakan hatinya ikut bergetar mendengarnya, dan detak jantungnya kian bergemuruh didalam sana..

“Cintaku hanyalah untukmu, bukan yang lain. Kumohon, jangan lagi menilai rendah dirimu. Kau pantas untuk dicintai, Fany-ah..”

Ingin rasanya Fany membalikkan tubuhnya, lalu menatap wajah pria itu dan mengatakan apa yang berada dalam hatinya bahwa dirinya pun berharap menjadi seorang wanita yang pantas untuk menerima cintanya. Namun masalalu dibelakangnya masih kerap membayanginya. Ia pernah gagal dalam pernikahan, ia juga bukanlah wanita yang baik dimasa lalu, jadi bagaimana mungkin ia seorang yang cukup pantas untuknya. Sementara diluar sana, ia yakin cukup banyak wanita baik yang jauh lebih pantas bila dibandingkan dengan dirinya.

Karena itu ia kemudian meraih tangan Donghae, dan melepaskan diri dari pelukannya..

“Mianhae Donghae-ssi.. Maafkan aku. Lebih baik kau memberikan cintamu pada yang lain, aku tidak bisa menerimanya. Maafkan aku..”

Tanpa membalikkan tubuhnya, Fany kemudian melangkah menuju pintu keluar kafe. Meski ia kemudian merasakan tubuhnya agak limbung, namun ia terus berusaha agar dapat mencapai gagang pintu, dan secepatnya keluar, menghilang dari pandangan Donghae saat itu. Namun setelah ia baru saja berhasil membawa tubuhnya melewati pintu kafe itu, seseorang dengan cepat merenggut pergelangan tangannya, menariknya..

“Donghae-ssi, apa yang kau lakukan?”

Mengetahui yang ketika itu menarik tangannya adalah Donghae, Fany kembali mencoba melepaskan diri darinya..

“Aku tahu kau pasti tak ingin melihatku lagi. Tapi ada yang harus aku kembalikan padamu. Hanya sebentar, setelah itu aku berjanji akan menghilang dari hidupmu dan kau tidak perlu melihatku lagi…”

Donghae membawanya kembali ke mobilnya yang terparkir. Setelah berada didepan mobilnya, ia baru melepaskan genggamannya pada tangan Fany, untuk kemudian membuka pintu belakang mobilnya dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Sebuah paper bag berukuran sedang kemudian ia ulurkan pada Fany, yang dengan tangan sedikit terasa gemetar menerimanya..

“Pakaianmu yang sudah selesai di laundry, aku mengembalikannya. Meski aku menginginkan untuk menyimpannya sebagai kenang-kenangan, tapi kurasa kau tidak akan mengijinkannya”

Rasanya Fany melihat nanar dikedua matanya, dan mengetahuinya membuat hatinya terasa seperti sedang diremas..

“Mendengar apa yang kau katakan tadi, membuatku sadar, kau menolak perasaanku bukan karna kau sedang menilai rendah dirimu sendiri karena beberapa kejadian dimasa lalu, melainkan karena kau memang tidak menyukaiku..”
“Donghae-ssi..”
“Bukan salahmu, aku lah yang memutuskan untuk terus menunggumu”
Donghae tersenyum masam setelah mengatakannya..
“Tapi aku tidak menyesal telah menunggumu selama ini. Aku akan merasa lebih baik setelah malam ini, dan akan menemukan wanita yang bersedia kucintai esok hari. Jadi, selamat tinggal Fany-ah.. Hiduplah dengan bahagia, aku mendoakanmu”

Lebih dari seperti merasakan hatinya yang teremas saat mendengarnya, Fany tak tahu bagaimana menggambarkan sakit yang dirasakannya pada saat melihat Donghae melajukan mobilnya, meninggalkannya. Kedua lututnya sudah langsung terasa lemas, ia nyaris terjatuh seandainya sebelah tangannya kemudian tidak menggapai pada kap mobil yang berada didekatnya untuk berpegangan.

Ia tahu telah melukai Donghae, dan ia sendiri merasakan sakit mengetahuinya..

“Mianhaeyo Donghae-ssi, maafkan aku.. Meski aku juga menyukaimu, tapi aku bukanlah wanita yang pantas untukmu. Aku telah menyakitimu.. Maafkan aku..”

***

“Appa..! Oemma..!!”

Yoona tersenyum ketika ia baru keluar dari dalam mobil sang suami, Junseo yang pastinya mendengar suara mobil sang ayah, langsung berlari keluar dari dalam rumah sang nenek untuk menyambut kedatangan ibu serta ayahnya. Setelah semalam membiarkan sang putra menginap dirumah kedua orangtua nya, Yoona dan Siwon memang sengaja mampir untuk menemui Junseo. Meski hanya semalam berpisah dengan sang putra, rasanya mereka sudah sangat merindukannya. Rindu suara tawa dan celotehannya..

image

“Halo sayang..”

Yoona merentangkan tangannya untuk menyambut sang putra kedalam pelukannya, mendekapnya dan kemudian menciumi wajahnya.

“Tampan sekali, siapa yang sudah memandikan Jun?”

“Paman Heechul..”

“Apa kau tidur nyenyak semalam?”

“Nde..”

“Anak oemma pintar..”
Yoona mengusap kepalanya, kemudian menciumnya sekali lagi..

“Tidak merindukan Appa, Jun-ah?”

image

“Appa..”

Beralih dari sang ibu, Junseo kemudian menghampiri ayahnya dan langsung mengadu pada sang ayah tentang sang sepupu, Sora yang mendapatkan mainan baru dari ayahnya. Sepertinya Jun kemudian juga akan meminta dibelikan mainan baru oleh ayahnya.

Membiarkan Siwon bersama dengan Junseo, Yoona melangkah masuk lebih dulu kedalam rumah orangtuanya. Sang ibu dan juga ayahnya yang tengah berada diruang makan, bersiap melakukan sarapan pagi bersama, menyambut dirinya dengan ucapan selamat pagi yang dibalas dengan senyuman oleh Yoona serta memberikan ciuman dipipi ayah dan ibunya..

“Dimana Sica oenni dan Heechul oppa?”

Yoona menanyakan setelah ikut bergabung diruang makan dengan menempati salah satu dari setidaknya delapan kursi yang berada disana. Kursi-kursi itu akan senantiasa terisi penuh bila mereka berkumpul bersama. Dan nantinya sang ibu masih perlu menambahkan satu kursi lagi untuk anak keduanya. Tapi sekarang kursi-kursi itu hanya ditempati oleh ayah dan ibunya, karenanya Yoona menanyakan keberadaan kakak perempuannya juga kakak iparnya serta keponakannya Sora, yang masih belum bergabung diruang makan bersama mereka.

“Kakak-mu masih memandikan Sora, sedangkan Heechul, dia sudah lebih dulu berangkat tak lama sebelum kau datang..”

“Appa.. Appa janji akan membelikan mainan baru untukku kan?”

Yoona menoleh mendengar suara Junseo yang lantas bersama dengan Siwon, keduanya ikut bergabung diruang makan. Disusul setelahnya, Jessica keluar dari dalam kamarnya bersama dengan Sora. Keponakan kecil Yoona, yang baru berusia tiga tahun itu didandani dan semakin terlihat mirip dengan ibunya. Menggemaskan, menjadikan Yoona tak tahan untuk tidak menciuminya. Ia berharap dan sudah membayangkan akan memiliki bayi perempuan seperti kakaknya. Yang nantinya juga akan ia perlakukan layaknya sang kakak memperlakukan Sora..

image

“Yeppuda Sora-ya..”

Meski sekarang Sora baru berusia tiga tahun, tapi Jessica biasanya sudah memakaikan gadis kecilnya dengan pakaian yang sama sepertinya. Membuat Yoona merasa iri saja melihatnya. Jika ia bisa memakaikan tshirt yang sama pada Siwon dan Junseo, serta membuat mereka memakai sepatu yang sama, Yoona juga menginginkan mengenakan item yang sama dengan putrinya kelak. Semoga..
Semoga bayi keduanya nanti terlahir sebagai seorang putri, meski untuk itu ia akan memiliki perdebatan dengan sang putra. Junseo lebih menginginkan seorang adik laki-laki sepertinya, karena menurutnya ia sudah memiliki adik perempuan yaitu Sora. Dan masih menurut Junseo, Sora adalah adik yang cerewet dan gampang menangis, jadi ia tidak menginginkan lagi adiknya nanti juga menangis saat sedang bermain dengannya..

“Kudengar dari Junseo kemarin kau melakukan pemeriksaan kandungan? Bagaimana menurut dokter?”

“Pertumbuhannya sehat, oenni..” Yoona menjawabnya sambil mengusap-usap pada perutnya.

“Apa itu perempuan?”

“Aku belum tahu, kami belum melakukan usg. Tapi kuharap juga begitu..”

“Adik Jun laki-laki, imo..”
Jessica lantas mengarahkan perhatiannya pada Junseo, setelah mendengar apa yang dikatakan keponakan lelakinya itu.

“Kau menginginkan adikmu laki-laki, Jun-ah?”

“Ne..”

“Tapi Sora ingin memiliki teman untuk bermain..”

“Aku juga..”

“Kau kan sudah memiliki banyak teman disekolah, sedangkan Sora belum..”

“Jun mau teman untuk dirumah”

“Kau kan bisa mengajak Sora kerumahmu dan bermain bersamanya”

“Tapi Sora tidak bisa bermain, imo. Dia hanya merusak mainan Jun, dan cerewet sekali kalau aku meminjam mainannya. Apalagi kalau sedang menangis, membuat aku pusing saja..”

Jessica dan Yoona kemudian justru tertawa mendengarnya, begitupun dengan Siwon serta sang kakek dan juga neneknya. Tuan dan Ny.Im jelas terlihat terhibur dengan kehadiran cucunya. Karenanya mereka lebih ingin agar Junseo tinggal bersama dengan mereka. Rumah itu semakin ramai dengan keberadaan Junseo dan Sora. Meski sering kali bertengkar untuk memperebutkan mainan, namun suara celotehan mereka selalu dirindukan.

“Bagaimana jika kau benar-benar melahirkan bayi perempuan, Yoona-ya?” Jessica berbisik ketika menanyakannya..
“Kurasa Jun akan memintaku untuk mengembalikannya kedalam perutku, lalu menukarnya dengan seorang adik laki-laki. Seperti ketika mainannya rusak, dia selalu meminta agar mainannya dikembalikan ke toko tempatnya membeli, lalu menukarnya dengan yang baru disana..”
“Dia benar-benar lucu dan menggemaskan..”
Yoona dan Jessica kembali terkikik setelahnya..

“Ngomong-ngomong semalam aku sudah menonton film itu, oenni..”
“Benarkah? Kau dan Siwon sudah menontonnya? Bagaimana menurutmu?”
“Itu film yang bagus, bukankah begitu yeobo..?”
Yoona memberi isarat agar Siwon mengangguk saja, namun sang suami justru memperlihatkan seringai diwajahnya.
“Tentu saja itu film yang bagus.. Sampai-sampai istriku tertidur setelah baru sepuluh menit film itu diputar, kau pasti menikmatinya kan chagi-ya..”

Siwon sengaja mengatakan kebenaran itu hanya untuk menggoda istrinya. Yoona yang begitu menginginkan untuk menonton film itu, namun justru tertidur pada sepuluh menit pertama setelah layar lebar dihadapan mereka memainkan filmnya. Sampai sekitar dua jam setelahnya, Yoona masih tertidur nyenyak dan baru terbangun ketika Siwon membangunkannya untuk mengajaknya pulang. Ia sedikit kesal semalam, tapi terlalu mengantuk dan lelah untuk bisa mengomel pada suaminya.

“Ayo kita berangkat sekarang..”

Menyudahi sarapan pagi yang dilakukannya dirumah sang mertua, Siwon mengajak Yoona untuk berangkat bekerja setelah ia melihat penunjuk waktu pada pergelangan tangannya.

Keduanya lantas berpamitan, dan memberikan Junseo berkali-kali ciuman diwajahnya, sebelum kemudian meninggalkannya hingga pada malam nanti mereka akan kembali untuk menjemputnya dan membawanya pulang.

“Kau tidak terlambat kan?”
Siwon menanyakan sambil hati-hati memasangkan sabuk pengaman pada Yoona..

“Sesekali terlambat tidak apa-apa. Ny.Kim tidak akan memecatku..”

“Karena dia tahu kau akan segera mengambil cuti dengan sendirinya..”

“Kau benar sekali, yeobo..”

Siwon berniat untuk menghidupkan mesin mobilnya, namun suara ponselnya sesaat menghentikannya dan membuatnya lebih dulu menjawab panggilan yang masuk, meski yang dilihatnya itu berasal dari nomor yang tidak dikenal..

“Yobseyo..”

“Apakah saya berbicara dengan Tn.Choi Siwon?”

“Ya..”

“Kami menelpon dari rumah sakit Tuan..”

“Rumah sakit?”

Siwon kemudian mengarahkan tatapannya pada Yoona yang juga terlihat sedang bertanya-tanya dengan apa yang sedang dibicarakannya.

“Kami perlu mengabarkan pada anda mengenai Tn.Lee Donghae. Dia mengalami kecelakaan dan sedang dalam perawatan dirumah sakit..”

“Donghae kecelakaan?!”

***

Fany sedang mengemasi pakaiannya dengan memasukkannya kedalam koper. Dan harus kembali merasakan sesak didalam dadanya pada saat melihat pakaiannya yang semalam Donghae kembalikan padanya. Semalam, setelah ia kembali berada dalam kamar hotel yang disewanya, ia menangis, berurai airmata kesedihan. Sampai-sampai ia sama sekali tidak tertidur, hingga menyebabkan kedua matanya terlihat memerah sekarang.

Ia sedang mencari-cari keberadaan kacamata hitam miliknya, untuk dipakainya menutupi bagian matanya saat keluar meninggalkan kamar hotelnya nanti, ketika yang didapatinya justru ponselnya yang bersuara. Yoona yang ketika itu ia lihat menghubunginya. Mengingat bagaimana Yoona menanyakan perihal hubungannya dengan Donghae semalam, sempat membuat Fany berpikir untuk tidak menjawab telponnya. Namun rasa tak enaknya terhadap Yoona yang telah begitu baik padanya, membuat ia kemudian menjawab panggilannya..

“Fany-ssi.. Dimana kau sekarang?”

“Aku.. Aku sedang di..”

“Kau belum pergi kan? Katakan kau belum melakukan penerbangan..”

“Yoona-ssi, aku.. Tapi, ada apa? Mengapa kau terdengar panik?”

“Donghae mengalami kecelakaan, dia berada dirumah sakit sekarang..”

Fany mendengar Yoona mengatakan jika semalam, tepatnya pada dini hari tadi, Donghae berkendara dalam keadaan mabuk, hingga mengakibatkan mobilnya berserempetan dengan mobil lain, dan ringsek setelah menabrak pembatas jalan. Dan pria itu sekarang berada dalam penanganan dirumah sakit.

Kecelakaan?
Donghae kecelakaan?
Bagaimana mungkin..

Ponsel itu segera lolos dari genggaman tangan Fany begitu Yoona mengakhiri panggilannya, seiring dengan tubuhnya yang ikut merosot. Fany terduduk lunglai, setelah kedua kakinya langsung terasa lemas saat tadi Yoona juga mengatakan masih belum bisa memastikan bagaimana keadaan pria itu sekarang, karna ia dan Siwon masih dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk mengetahui seperti apa kondisinya.

Kata-kata pria itu mendadak terngiang-ngiang kembali..
‘Hanya sebentar, setelah itu aku berjanji akan menghilang dari hidupmu dan kau tidak perlu melihatku lagi..’
Dan menjadikan tubuhnya gemetar, ketakutan setengah mati..

“Tidak.. Tidak Donghae-ssi.. Jangan pergi.. Kumohon Donghae-ssi.. Maafkan aku..”

Tanpa perlu berpikir lagi, ia kemudian berlari dari dalam kamarnya, keluar dari dalam hotel yang disewanya dan memanggil sebuah taksi yang kemudian membawanya sampai ke depan sebuah gedung rumah sakit yang tadi telah disebutkan oleh Yoona.

Setelah mendapatkan informasi dari seorang perawat mengenai dimana tepatnya pasien yang mengalami kecelakaan ditangani, Fany dengan segera menuju bagian lorong sebelah kanannya yang ditunjukkan oleh sang perawat tadi, guna menemukan keberadaan Donghae yang sedang dalam penanganan saat itu.

Satu persatu Fany kemudian memasuki beberapa ruang perawatan dengan kepanikan yang semakin terlihat jelas diwajahnya. Apalagi beberapa ruang yang telah ia masuki berisi pasien dan anggota keluarga yang beberapa diantara mereka sedang menangis, dan menjadikannya kian dicekam kengerian. Pikiran-pikiran aneh langsung membayanginya. Akankah Donghae selamat atau tidak?
Akankah ia bisa berbicara dengannya atau tidak?
Apakah dia akan begitu saja pergi..

Tidak..
Tidak..
Ya Tuhan..
Selamatkan dia..

Fany terus menggumamkan doa dalam hatinya, sampai akhirnya ia menemukan keberadaan Donghae di salah satu ranjang pesakitan yang berada disana. Kepala pria itu dililit perban, begitupun dengan bagian lengan dan kakinya..

“Donghae-ssi..”
Fany dengan segera mendekat, meraih tangannya dan merasakan tangan Donghae yang terasa dingin menyentuh permukaan kulit tangannya.

“Donghae-ssi.. Kau mendengarku? Apa kau baik-baik saja, Donghae-ssi.. Kenapa kau tidak membuka matamu.. Donghae-ssi..”
Fany tak mendapati respon apa-apa dari pria itu..

“Donghae-ssi.. Kumohon buka matamu. Jangan seperti ini.. Katakan kau baik-baik saja.. Katakan kau tidak akan mati. Katakan semalam bukanlah menjadi pertemuan kita yang terakhir. Maafkan aku Donghae-ssi, maafkan aku karna sudah tak berkata jujur padamu.. Bangunlah Donghae-ssi, aku menyukaimu.. Aku mencintaimu.. Aku mencintaimu, Donghae-ssi..”

Setelah menggerak-gerakkan lengan Donghae, dan berusaha untuk membuatnya membuka mata namun masih tidak mendapati reaksi apapun dari pria itu, Fany menjadi sedikit histeris dengan berteriak memanggil-manggil suster dan dokter. Apa yang dilakukannya jelas saja menarik perhatian para keluarga pasien yang berada dalam satu ruangan dengan Donghae saat itu. Mereka semua memperhatikannya dengan mengernyitkan dahi, tapi hal itu jelaslah tidak dipedulikan oleh Fany..

“Fany-ssi..”

“Kumohon Donghae-ssi.. Bangunlah.. Aku tidak akan pergi lagi. Aku akan bersamamu.. Tapi kau harus bangun sekarang. Donghae-ssi..”

“Fany-ssi, apa yang terjadi? Donghae baik-baik saja. Apa yang kau lakukan?”

Fany baru menyadari itu adalah suara Yoona ketika kemudian Yoona mendekat dan menyentuh bahunya.

“Gwechana, Fany-ssi.. Donghae sudah ditangani dia baik-baik saja sekarang..”

“Tap dia tidak bergerak, Yoona-ssi.. Dia tidak menjawabku meski aku sudah berkali-kali memanggilnya. Aku takut.. Aku takut akan kehilangannya, Yoona-ssi..”

“Tidak, jangan berpikir seperti itu. Donghae baik-baik saja. Aku dan Siwon sudah berbicara dengan dokter yang menanganinya tadi. Kami tadi juga berada dibagian administrasi ketika melihatmu berlari masuk. Aku sudah memanggilmu tapi sepertinya kau tidak mendengarnya..”

“Tapi mengapa dia hanya diam saja”

“Itu mungkin karena pengaruh obat, dia pasti hanya sedang tertidur sekarang”

“Benarkah?”

“Kurasa tidak.. Ini pasti hanya permainannya saja..” Siwon yang tadi mengatakannya, kemudian mendekati sisi ranjang tidur yang ditempati Donghae.

“Apa yang kau lakukan setelah membuatku terpaksa menjadi walimu dan menanggung semua pembayaran rumah sakit, Lee Donghae-ssi? Kau tidur sekarang..?”

Siwon kemudian sedikit menekan pada bagian kaki Donghae yang dililit perban. Ia tahu dari dokter tadi bahwa itu hanya memar, jadi tidak akan membahayakan tapi pasti akan terasa sakit ketika ia menekannya seperti itu..

“Yakk.. Siwon-ssi, kau benar-benar kurang ajar. Ini sakit sekali..” Benar saja, Donghae yang tadinya tidak memperlihatkan pergerakan apa-apa, kini justru berjingkat hingga posisi tubuhnya menjadi duduk diatas ranjang. Sepertinya refleks yang dilakukannya karna perbuatan Siwon membuatnya tidak sadar telah melakukan hal yang mengejutkan bagi Fany yang sempat mengira dirinya tidak bisa diselamatkan..

“Donghae-ssi..?” Fany menggumam sambil menatapnya penuh kelegaan. Ketakutan dalam hatinya seolah menghilang dalam waktu sekejap mata..

“Kau.. Kau tidak apa-apa?”

“Aku tidak apa-apa, Fany-ah..”

Melihat Donghae yang kemudian tersenyum padanya, menjadikan Fany lantas memeluknya, erat. Bagian dadanya yang sebenarnya mengalami benturan tadi, dan cukup terasa sakit, tidak dihiraukan oleh Donghae demi menerima pelukan Fany dan menjadi sandaran wanita itu ketika menumpahkan airmatanya..

“Mengapa kau tega.. Aku takut sekali tadi. Kupikir kau tidak akan membuka matamu lagi..”

Donghae justru tersenyum-senyum mendengarnya..

“Apa kau mendengar semuanya tadi?”

“Mendengar apa?”

“Yang ku katakan..”

“Apa yang kau katakan?”

“Tadi.. Tadi aku.. Aku mengatakan.. Aku..”

“Kau mencintaiku..? Itu kan yang tadi kau katakan?” Fany menganggukkan kepala, masih dipelukan Donghae.

“Aku juga mencintaimu, Fany-ah. Sejak dulu, sampai dengan sekarang, aku masih tetap mencintaimu..”

Ia kemudian merasakan usapan tangan pria itu dirambutnya serta kemudian dekapan dari sebelah tangannya..

“Bukankah kau pergi hari ini?”

Fany menggeleng..

“Pergilah, aku tidak apa-apa. Aku bisa menyusulmu setelah aku sembuh nanti. Ini tidak akan lama untukku bisa kembali pulih lagi..”

“Aku tidak mau pergi dan meninggalkanmu..”

“Tapi pekerjaanmu disana? Bagaimana kalau kau kehilangan pekerjaanmu..?”

“Apa kau pikir aku akan takut kehilangan pekerjaanku dari pada aku takut kehilanganmu? Dan juga, lima tahun aku disana, tak sekalipun kau mendatangiku. Apa kau pikir sekarang aku akan percaya saat kau mengatakan akan menyusulku? Tidak Donghae-ssi, aku akan tetap disini bersamamu..”

“Ya Tuhan, bicaramu sungguh manis sekali Fany-ah. Membuatku ingin menciummu..”

Donghae benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Ia membuat Fany melepaskan pelukan ditubuhnya, lalu mendekatkan wajahnya, menangkup kedua pipinya untuk kemudian mencium pada bibirnya dan mempertontonkan hal itu didepan Siwon dan Yoona..

“Aigoo, itu memang manis bila aku menyaksikannya dalam tayangan drama, Donghae-ssi. Tapi melihatmu langsung, itu membuatku merasakan kembali mual seperti pada awal-awal kehamilan..” Yoona mengatakannya sambil mengusap-usap pada perutnya..

“Kita tinggalkan saja mereka, Chagi-ya. Dia akan semakin bertingkah bila kita berada disini dan menontonnya..”

Siwon merangkul istrinya, membawa Yoona keluar dari dalam ruangan itu. Tak mempedulikan dengan kepergian mereka, Donghae masih menikmati menciumi bibir wanita yang dicintainya..

***

“Senang sekali melihat mereka tadi, yeobo..”

“Tidak sia-sia Donghae menunggunya selama ini..”

Yoona masih merangkul pinggang Siwon ketika keduanya berjalan santai disepanjang koridor rumah sakit. Hampir mencapai lobi rumah sakit ketika keduanya tidak sengaja berpapasan dengan Heechul dan juga seorang dokter wanita yang dulu menangani proses persalinannya ketika melahirkan Junseo. Sekarang pun, dokter Song juga menjadi dokter yang memantau keadaan janin dikehamilan keduanya kali ini..

“Apa yang sedang kalian lakukan disini?” Heechul bertanya..
“Kita tidak membuat janji pemeriksaan kan, Nyonya..?” Suara dokter Song kemudian sambil memperlihatkan senyum kearah Yoona..
“Anio, dokter.. Kami kemari untuk menjenguk seorang teman yang sedang dirawat”

“Siapa Yoona-ya?”

“Donghae, Oppa..”

“Lee Donghae, pria itu kah?” Heechul mengerutkan dahinya..

“Ya, dia mengalami kecelakaan”

“Kecelakaan? Bagaimana kondisinya..?”

“Untungnya tidak terlalu parah, hanya perlu pemulihan. Lagi pula ada Tiffany yang menunggunya, dia pasti akan segera pulih..”

“Fany? Dia disini?”

“Hm, beberapa hari lalu dia datang..”

“Kalau begitu aku akan coba melihat kondisinya..”
Heechul sudah lebih dulu pergi, padahal Yoona ingin mengatakan padanya sebaiknya tidak sekarang karena Donghae mungkin masih belum selesai dengan aksinya. Dan sejak kapan kakak iparnya itu peduli pada apa yang terjadi dengan Donghae, seingatnya dulu ia bahkan sempat terlibat perang dingin untuk menarik simpati kakak perempuannya Jessica..

“Kalau begitu, kami permisi dokter..”

“Silahkan Tuan.. Sampai bertemu lagi pada pemeriksaan anda selanjutnya, Nyonya..”

“Ne, terimakasih dokter..”

Siwon kembali merangkul Yoona, namun baru beberapa langkah mereka beranjak, Yoona meminta Siwon menghentikan langkahnya..

“Tunggu sebentar, yeobo..” Dan ia pun kemudian kembali memanggil dokter Song, dan melangkah menghampirinya..

“Ada apa, Nyonya?”

“Apa dokter bisa melakukan pemeriksaan sekarang?”

“Sekarang? Tapi baru beberapa hari yang lalu anda diperiksa Nyonya. Dan lagi pula, janin anda baik-baik saja. Atau mungkin anda memiliki keluhan sekarang?”

“Aku hanya ingin melakukan usg. Aku ingin tahu apa jenis kelaminnya. Apakah bisa?”

Setelah dokter Song menyetujui permintaannya, dan dengan ditemani oleh Siwon ketika usg itu dilakukan, Yoona yang kemudian melangkah keluar dari ruangan sang dokter sambil merangkul lengan sang suami, benar-benar terlihat berbinar-binar pada saat itu, sampai-sampai sebelah tangannya masih tidak lepas dari mengusap pada bagian perutnya, yang menjadi tempat calon bayi perempuannya sedang terus bertumbuh didalamnya..

“Yeobo, kau yang harus mengatakan dan mulai memberi pengertian pada Jun kalau adiknya nanti seorang perempuan..”

“Mengapa tidak kau saja, chagiya. Kau lebih pandai berbicara dengan Jun dari pada aku..”

“Aku juga akan melakukannya. Tapi pertama-tama, kau yang harus mengatakannya. Junseo selalu mendengarkanmu..”

“Kalau Jun tidak menerima, sepertinya setelah melahirkan putri kita, kau harus segera hamil lagi dan memberikan adik laki-laki seperti yang Jun inginkan..”

“Mwo..?!” Siwon tertawa gemas dengan reaksi Yoona yang langsung memperlihatkan putaran mata kearahnya.
“..Tapi apa sebenarnya kau sama seperti Jun, yeobo? Kau juga ingin anak kedua kita laki-laki?”
“Aku ingin keduanya.. Jadi seperti yang kukatakan tadi, kau harus hamil lagi setelah melahirkan nanti..”
“Oh, Tuhan.. Andai kau tahu ini tidak mudah seperti saat membuatnya, aku akan senang sekali mengabulkan keinginanmu”
Siwon kemudian justru tergelak mendengar apa yang dikatakannya, hingga membuat Yoona perlu untuk mencubitnya agar Siwon berhenti membuat para perawat dirumah sakit serta orang-orang yang berada disana mengarahkan perhatian mereka kearah keduanya..

“Apa yang kau tertawakan, yeobo? Tidak ada yang lucu disini..”

“Oh, yang kau katakan tadi itu sungguh lucu chagiya..”

Sesaat Yoona merasakan rona diwajahnya, dan kembali merangkulkan tangannya pada lengan sang suami..

“Jangan hanya tertawa, pikirkanlah bagaimana cara mengatakannya pada Junseo nanti”

“Tidak perlu terlalu khawatir, sayang.. Jun pasti akan menyayangi adiknya..”

“Menurutmu begitu?”

“Ya.. Kita sudah melihatnya menyayangi Sora, meski terkadang dia agak kesal, itu masih hal yang wajar..”

“Kuharap dia akan lebih menyayangi adiknya nanti..”

“Itu pasti, Junseo tipikal penyayang sama sepertiku..”

Yoona mencibir, meski dalam hati ia tidak memungkiri itu benar adanya. Keduanya lantas bersama-sama meninggalkan lobi rumah sakit itu dengan seulas senyum diwajah mereka. Dan bersiap menyambut lebih banyak kebahagiaan yang akan mereka dapatkan dengan kehadiran bayi perempuan yang masih berada dalam kandungan Yoona. Tunggu beberapa bulan lagi, dan suara tangis bidadari kecil itu akan semakin memeriahkan hari-hari mereka sebagai orangtua yang berbahagia dengan putra dan putri yang terlahir dari buah cinta mereka..


*

*

*

Udahan sampai sini aja yaa.. Gantian buat cerita yang lain nanti.. Kkkk~ tq

Btw, Salah satu teman qu yg suka kirim kado, kirim pulsa (tau aja klu posting ff tuh btuh kuota)😀, pembaca qu, pengamat tulisan qu, sedikit pengkritik kadang”, tapi gak mau komen langsung #nyebelin Besok udh mau merid aja.. Yeiiiii.. Congrats yaa bu Susie, sekarang pasti lgi deg”an^^ cma bsa mendoakan semuanya lancar yaa.. Pernikahannya nnti sebahagia YW disini.. hihihiii~

@joongly

110 thoughts on “FF | My Love Is For You | Xtra Part

  1. kasian banget yoona unnie sama sieon oppa harus keganggu nontonnya garagara ada jun, tapi masih bisa lagi sih….dan ga sia sia perjuangan hae oppa dapetin fany unnie

  2. Cie cie makin happy aja untuk para pasangan dalam ff . Jun adek mu cewe ya dan kisah nya berakhir d sini ff yg manis unn. Ini kado buat temen unni yg nikah ..? Happy weddying and SAMAWA ammin meskipun gx tau temen unni yg mana itu. Buat unn jaga kesehatan ya

  3. Makin seneng aja nichpunya bakalan punya anak cewe
    Masih ada lanjutannyakah? Klo masih ada ditunggu kelanjutannya

  4. senangnya liat kluarga yoonwon berbahagia….. ditambah lgi ada calon anak perempuan dikandungn yoona, makin lengkap sudah kebahagian mereka.
    bwt tifany n donghae….. selamat ya semoga cepat married

  5. Ahirnya ada lanjutannya..bikin senyum2sendiri bacany..kebanyakan fanny sm donghaenya….coba diceritain jessica kaka ny yoona sm pacarnya pasti lebih seru nih..

  6. Ceritanyaaa seru, akhirnyaa tiffany jujur juga sama donghae oppa kalau dia juga mencintain donghae….
    Kasihan kan donghae udah nunggu lama fany….
    Suka juga sama rumah tangganyaa yiina eonni sama siwon oppa.. sweey banget mereka hehe….
    Semoga menjadi kenyataan mereka bersama kaya gitu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s