Fanfiction / Fantasy

FF | Princess | 2

image

Story | Lauren Hanna Lunde | Im Yoona | Choi Siwon (Dave) | Amber | Seohyun | Etc

Cover by : Berta/Xoloveyoonwon

Enjoy Reading~

~

~

~

Setelah tanpa sadar menjatuhkan sepiring kue ditangannya, dan beberapa lama tak bergerak oleh karna terkejut pada keberadaan sang pria yang nyata-nyata berdiri dihadapannya, tak jauh darinya, Yoona memaksa kedua kakinya yang seakan terpaku ditempatnya, untuk kemudian bergerak dengan cepat menubruk dada pria itu, memeluknya dengan suka cita..

“Si-won.. Aku sangat merindukanmu..”

Semacam dejavu bagi Yoona..
Saat sepertinya ia pernah merasakan hal yang seperti ini sebelumnya. Siwon berada dipelukannya, masih diapartemennya..

Inilah alasan mengapa dirinya berkeras tidak mau berpindah dari apartemennya, meski hasil kerjanya selama ini sudahlah lebih dari cukup untuknya membeli hunian mewah.

Dan mengejutkan..
Bukan hanya bagi Dave tapi juga Amber. Dave mendadak saja merasakan kekakuan tubuhnya yang menegang mendengar penyebutan nama yang keluar dari bibir wanita itu, sekaligus terhadap keanehan sikapnya yang tiba-tiba saja memeluknya. Ia juga dapat mengingat, sebelumnya wanita itu juga pernah menggumamkan namanya ketika tempo hari ia membantunya dari kerumunan para penggemarnya di bandara. Hanya saja ketika itu Dave begitu saja mengabaikannya dan menganggapnya kebetulan semata. Tapi tadi ia kembali mendengarnya..

Yang tidak Dave mengerti, darimana wanita itu mengetahuinya??
Sedangkan ia yakin tidak pernah mengenalnya sebelumnya..

Hal itu juga dirasakan oleh Amber yang langsung melongo melihatnya. Apalagi mendengar Yoona menyebutkan nama yang juga tak asing ditelinganya.

Siwon..
Apakah dia benar-benar menyebut Dave dengan nama Siwon tadi?
Bagaimana bisa? Dan darimana ia mengetahuinya?
Adakah yang terlewatkan dan tidak diketahuinya?
Apakah Dave menyembunyikan sesuatu darinya semisal pernah berhubungan dengan wanita itu sebelumnya?
Karena itu dia menunjuk foto Yoona saat Lauren bertanya tentang ibunya..
Tapi mengapa Dave seolah-olah tidak mengenalnya?
Atau dia sedang berusaha melupakannya..
Karena itu Dave marah saat mengetahui ia membawa Lauren menemui Yoona..

Oh Tuhan..
Ini membingungkan..

Amber merasa kepalanya menjadi penuh dengan antisipasi terhadap berbagai pemikiran yang menjadikannya bingung. Ia yang awalnya bukan hanya ingin mempertemukan Lauren dengan Yoona, tapi juga berniat untuk membuka jalan agar Dave mau kembali ke negara-nya, lebih-lebih kembali ke keluarganya, atau sekedar menengok pun tidak apa-apa, dengan memanfaatkan Lauren yang benar-benar pintar diajak kerjasama. Amber kini justru merasa kebingungan memikirkan adanya sesuatu yang sepertinya pernah terjadi dan belum diketahuinya. Dari yang sekarang ia lihat, Yoona yang langsung memeluk Dave dengan sorot kerinduan yang dengan jelas terpancar dikedua matanya, seolah mereka telah terpisah sekian lama, Amber memiliki kesimpulan adanya sesuatu yang pernah terjadi diantara keduanya..

Tapi apa?

Dan diantara keterkejutan yang sama-sama dirasakan oleh para orang dewasa disekitarnya, hanya Lauren lah yang justru cekikikan melihatnya. Gadis kecil itu luar biasa senang melihat ayah dan ‘ibunya’ saling berpelukan. Sesuatu yang selama ini tidak pernah dilihat olehnya. Sama sekali tidak pernah. Dan membuatnya ingin bergabung dengan mereka..

Tapi sayangnya, seseorang lebih dulu mengacaukan keinginan gadis kecil itu untuk berpelukan bersama sang ayah dan juga ‘ibunya’. Seohyun-lah orangnya.

Sejak Yoona memutuskan untuk membiarkan Lauren, gadis kecil yang menganggap Yoona sebagai ibunya, untuk tinggal dengannya, Seohyun pun memutuskan untuk tetap tinggal diapartemen Yoona. Sekalipun ia harus tidur disofa, karna Yoona hanya memiliki satu kamar, dengan satu tempat tidur pula, dan lebih membiarkan gadis kecil itu untuk tidur dengannya daripada memberikan tempat kosong disampingnya itu untuk dirinya yang adalah teman lama, sahabat terbaiknya. Meski begitu, setidaknya Seohyun leluasa mengawasi gerak-gerik Amber, yang dicurigainya memiliki rencana jahat dikepalanya..

Dan sepertinya itu mulai terbukti dengan hadirnya seorang pria asing yang tidak dikenalnya berada didalam apartemen Yoona..

Seohyun yang tadi sempat berada didalam kamar mandi, dan tak mengetahui saat kedatangan Dave, kemudian langsung menarik Yoona dan menjadikan pelukannya ditubuh pria itu terlepas..

“Apa yang kau lakukan?”

Yoona tidak lantas menjawab tanya yang dibisikkan Seohyun ditelinganya, tapi justru menatap pada Dave dan melihat pergerakan mundur tubuh pria itu..

“Si-won..”

Yoona berusaha maju, meraih Dave agar tidak beranjak darinya, namun pergerakan yang coba dilakukannya tertahan oleh tangan Seohyun yang masih memegangi pergelangan tangannya..

Dan Dave pun kemudian lebih memilih mendekati Lauren, sang putri yang dalam tiga hari lamanya tidak bersamanya dan sudah sangat dirindukan olehnya.

Dave jelas ingat pada apa yang membawanya datang adalah yang dikatakan gadis kecilnya ketika kemarin ia menelponnya. Lauren merasa sakit, untuk itu ia kemudian memeriksa keadaannya..

“Lauren, kau baik-baik saja? Apa kau masih sakit sayang? Daddy datang untuk menjemputmu..”

“aku tidak apa-apa, Dad.. Lauren tidak sakit. Lauren sangat senang bersama dengan Mommy disini..”

Lauren memeluk dan juga memberikan ciuman dipipi ayahnya. Mendengar sang putri yang kembali menyebut-nyebut tentang sang Mommy, membuat Dave sekilas melirik pada Yoona, sebelum kemudian beralih menarik lengan Amber, dan dengan cepat sudah membawanya keluar dari dalam apartemen Yoona untuk membuat perhitungan dengannya..

Ada ketidak relaan dari raut wajah Yoona ketika melihat Dave tidak berbicara apapun padanya, terlebih saat melihatnya keluar dengan menarik paksa Amber untuk ikut dengannya..

“siapa pria itu tadi?”

Meski Yoona berkeinginan untuk keluar menyusul Dave, namun ia tidak bisa melakukannya dengan tangan Seohyun yang masih memegang erat pergelangan tangannya..

“Siapa dia, Yoona.. Bagaimana kau bisa memeluknya? Kau ingin membuat skandal? Dan apa hubungannya dengan wanita jadi-jadian itu?”

untuk pertanyaan terakhir Seohyun itu, Yoona kemudian memutar mata kearahnya..

“Jangan salahkan aku jika aku menyebutnya seperti itu..”

Seohyun merengut, menjadi gemas saat Yoona tak juga menjawab pertanyaannya
mengenai siapa pria yang tiba-tiba sudah berada diapartemen itu, sementara Seohyun merasa ia hanya sebentar meninggalkan Yoona untuk menyegarkan tubuhnya. Namun sepertinya ia justru telah melewatkan sesuatu yang penting..

“Mom, apa yang ingin Daddy
dan Amber lakukan?”

“Daddy?”
Seohyun mengerutkan dahi
mendengar Lauren mengatakan hal itu sambil bergerak mendekati Yoona. Sementara Yoona justru terlihat menatap
lekat-lekat wajah gadis kecil itu, mengamati setiap garis dalam wajahnya. Matanya yang bersinar kebiru-biruan itu benar-benar mengingatkannya pada Prince..

“Apa.. Apa yang tadi itu..?”

“aunty Seo belum pernah
bertemu Daddy ya?”

“Dia ayahmu?!”

Seohyun sedikit memekik saat menanyakannya..

Sedangkan Lauren menjawabnya dengan anggukan santai serta senyuman manis diwajahnya. Sebuah senyum kebanggaan
dari seorang gadis kecil terhadap sosok ayahnya. Itu apa yang Seohyun lihat..

“Oh My, Yoona.. Jadi yang kau peluk tadi.. Pria itu adalah ayah Lauren? Bagaimana bisa..??”

Seohyun benar-benar merasa heran terhadap Yoona. Ia langsung memberikan pelukan pada orang asing tadi?
Apa maksudnya?
Salam perkenalan kah?
Tapi sepertinya tidak mungkin..
Meski Yoona termasuk kedalam selebriti yang ramah, namun ia takkan sembarangan memberi pelukan pada orang asing. Pria dewasa asing..
Jadi apa maksud pelukannya?

“kau tidak akan menjelaskan padaku mengapa aku melihatmu memeluknya tadi?”

“tidak sekarang, Seohyun-ah..”

Sementara membiarkan Seohyun yang terpaksa beralih dengan wajah merengut setelah mendengar jawabannya, Yoona lebih memilih mengarahkan perhatiannya kembali pada Lauren..

“Mom, apakah Mom merindukan Daddy?”

Yoona dengan mudahnya mengangguk, kemudian berlutut agar tubuhnya sejajar
dengan Lauren yang kemudian memperlihatkan seulas senyum kehadapannya..

“Lauren tahu itu, karna itu Lauren menelpon Daddy agar datang”

“Kau yang menelponnya?”

“Hm, apakah Mommy senang Daddy datang?”

Yoona kembali mengangguk, dan juga kembali mengajukan pertanyaan pada Lauren..

“Apakah dia ayah yang baik?”

“Maksud Mommy, Daddy? Tentu saja Daddy sangat baik Mom, kecuali tentang Daddy yang tidak membiarkan Lauren bertemu dengan Mommy, Daddy adalah yang terbaik..”

Yoona bisa melihatnya..
Dia pasti merawat, menjaga dan melindungi putrinya dengan begitu baiknya..

“Apa kau benar-benar tidak
tahu siapa ibumu?”

Lauren sesaat sempat terdiam tidak mengerti, sebelum kemudian ia merangkulkan tangannya pada leher Yoona, memeluknya..

“Mom, Mommy adalah Mommy-ku kan? Mommy ku.. Aku sangat menyayangi Mommy..”

“Oh, Lauren sayang..”

Putriku..
Yoona mendekapnya, lalu
menciuminya..

Rasanya ia benar-benar siap sekalipun semua orang akan menyebutnya sebagai seorang wanita gila yang percaya pada
mimpi dan halusinasinya..

Tapi Siwon bukanlah seseorang yang hanya berada dalam mimpinya. Yoona semakin meyakininya. Dia nyata. Dia telah datang kehadapannya..

Dan Lauren..
Yoona ingat dengan jelas ia pernah mengandung. Namun saat ia terbangun dalam keadaan berada dirumah sakit,
terguncang akibat kehilangan Siwon yang tiba-tiba, janin dalam kandungannya sudah
menghilang entah kemana. Para dewa yang murka karna Siwon telah menyalahi takdir
hidup seseorang, demi untuk menyelamatkannya, pasti yang telah mengambil janin-nya kemudian memindahkannya kerahim wanita lain. Untuk yang satu itu Yoona masih bisa merasa bersyukur dan berterima kasih pada para dewa yang masih membiarkan
janinnya bertumbuh walau dengan menitipkannya kedalam rahim wanita lain. Meski ia juga teramat marah pada mereka
yang dengan tega menghapus ingatan semua orang tentang Siwon, dan membiarkan dirinya tersiksa dengan
ingatan-ingatan yang hanya ia sendiri yang memilikinya. Bahkan sepertinya, Siwon pun
tidak mengingat dirinya dan kebersamaan yang terasa singkat yang pernah keduanya
lalui bersama.

Pria itu, dan bahkan semua orang mungkin akan menganggap mustahil apa yang sedang terlintas dipikirannya, tapi begitulah apa yang selama ini dirasakannya. Apa yang pernah dialaminya memanglah penuh dengan kemustahilan..

Biarkan Yoona dengan kecamuk pikirannya antara alam nyata dan mimpi di alam bawah sadarnya, sementara itu beralihlah pada apa yang dilakukan Dave setelah menarik Amber untuk mengikutinya keluar dari dalam apartemen Yoona..

Pria itu berniat untuk memuntahkan kemarahannya..

“kau pikir apa yang sedang kau lakukan disini?!”

“aku sudah katakan padamu, aku hanya membawa Lauren untuk berlibur..”

“dan kau kira aku percaya kau hanya ingin mengajaknya berlibur?”

“dan bertemu dengan ibunya, itu saja..”

Dave melotot kearahnya, sedikit membuat nyali Amber menciut karenanya..

“emm, maksudku bertemu Yoona.. Lauren sangat mengidolakannya, Dave. Dia ingin bertemu dengannya..”

“Lauren menelponku dan berpura-pura sakit itu kau juga yang menyuruhnya?”

“dia yang ingin kau berada disini, aku hanya memberikan ide dan mengajarinya..”

Amber meringis setelah membela diri..

“Sekarang katakan apa
maksudmu yang sebenarnya?”

“Dave, kurasa ada yang lebih penting daripada kau mengintrogasiku sekarang..”

“Ya, tentu saja.. Dan itu adalah membawa putriku pulang sekarang juga..”

“Tidak.. Bukan itu, tapi ada hubungan apa kau dengan Yoona?”

“Pertanyaan macam apa ini? Aku bahkan tidak mengenal wanita itu..”

Dave menggeram kesal..
Ia sudah berencana ingin mencekik Amber sejak berada dalam penerbangan berjam-jam yang harus dilakukannya
hanya untuk melihat wajah menjengkelkan dari sepupu sekaligus orang kepercayaannya yang paling berani berlaku sembarangan padanya. Namun ketika sudah berhadapan dengan Amber seperti saat ini, Dave merasa justru dirinyalah yang akan menjadi mangsa bagi Amber..

Benar-benar membuatnya kesal..

“Yoona jelas-jelas mengenalmu. Dia tahu nama lahirmu. Nama pemberian keluargamu. Nama yang sudah melekat padamu sejak kau lahir, tapi kau menghapuskannya dari daftar riwayat hidupmu saat kau mengasingkan diri dari keluargamu..”

Dave tertegun sejenak..
Rupanya Amber pun mendengar saat wanita itu sempat membuatnya menegang tadi dengan menyebutkan nama yang sudah lama tidak lagi digunakannya. Bahkan ia sendiri menjadi asing dengan nama itu.

Siwon..
Ia lupa, kapan terakhir kali ada yang memanggilnya dengan nama itu..

“Darimana Yoona tahu?”

“Aku tidak tahu..”

“Apa mungkin dia paranormal?”

“yang lebih mungkin adalah
wanita itu tidak normal..”

Amber memutar mata mendengarnya..

“Atau jangan-jangan seorang artis seperti Yoona.. Apa mungkin dia, dia keturunan
cenayang?”

Amber bergidik sendiri dengan pemikirannya, lalu ia sedikit mengaduh merasakan tangan Dave memukul kepalanya..

“jangan semakin konyol.. Tidak ada lagi cenayang di jaman serba modern seperti ini..”

Bahkan semua sudah serba canggih dengan internet. Bukankah sang putri menemukan ibunya juga melalui internet..

Dave benar-benar merasa konyol bila mengingat kejadian yang menjadi serius seperti sekarang ketika Lauren benar-benar mengira -bukan mengira tepatnya, tapi sudah benar-benar meyakini wanita yang ditemukannya lewat jaringan internet itu adalah sebagai sang ibu. Mommy-nya..

Jangan lupa, kau pun ikut andil mengenai itu, Dave..

Batinnya mengingatkan..

“Tapi Yoona juga langsung berlari memelukmu begitu ia melihatmu. Kerinduannya padamu begitu jelas terlihat
dimatanya. Yang itu, apa maksudnya Dave?”

Dave teralih dari lamunan
sesaatnya..

“Kau menyembunyikan sesuatu dariku, Dave. Apa dulu kalian pernah berhubungan?”

“Jangan sembarangan.. Sudah kukatakan aku tidak mengenalnya..”

“Kau bilang tidak ada lagi keturunan cenayang di jaman modern seperti ini, lalu
bagaimana dia bisa tahu nama-mu? Dan apa artinya pelukan itu?”

“lebih baik kau tanyakan itu padanya.. Aku tak ada urusan dengan semua itu. Yang
menjadi urusanku hanyalah membawa Lauren pulang..”

“kau tidak ingin mengajak putrimu menemui kakek dan neneknya?”

Dave terdiam menegang, sebelum kemudian memberikan tatapan tajam pada Amber..

“Jangan kira aku akan membiarkanmu terlalu jauh mencampuri hidupku..”

“Dave..”

“Bawa Lauren keluar dari sana sekarang, aku akan menunggu dibawah..”

Amber hanya bisa menghela napas melihat Dave yang kemudian meninggalkannya
setelah tadi mengatakan kalimat peringatan padanya. Maka kemudian, Amber kembali masuk ke apartemen Yoona, untuk mengajak Lauren pergi dari sana..

“Ayo kita pergi Princess..”

“Amber, dimana Daddy?”

“Daddy menunggu kita dibawah”

“Apa yang Daddy lakukan disana?”

“Daddy ingin kita pulang, sayang..”

Lauren langsung bergerak mundur dari hadapan Amber, menghampiri Yoona yang juga menyimak apa yang telah Amber katakan tadi..

“Mom, Lauren masih ingin
bersama Mommy..”

Tangan kecilnya kemudian melingkar memeluk erat bagian pinggang Yoona. Yoona memperlihatkan seulas senyum
padanya, mengusap rambutnya sebelum kemudian ia beralih pada Amber..

“Apa yang terjadi?”

“Dave tidak senang aku membawa Lauren..”

“Dave?”

“Dave adalah ayah Lauren..”

Jadi bukan Siwon..
Tapi Dave..

“Aku harus membawa Lauren bersamaku..”

Yoona merasakan tangan Lauren makin mengerat setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Amber..

“Princess, ayolah..”

“Apa Mommy ikut bersama kita? Apa kau ikut, Mom?”

Yoona jelas merasa tak ingin berpisah dengan gadis kecil itu. Dalam benaknya ia telah meyakini Lauren sebagai putrinya. Sang janin yang dulu sempat dikandungnya, sebelum akhirnya para dewa mengambilnya dan menitipkannya pada rahim wanita lain. Namun jika ia
menyuarakan apa yang diyakininya saat itu, ia sadar dirinya hanya akan dipandang
bodoh. Tak akan ada yang mempercayai hal-hal mustahil diluar nalar dijaman serba modern seperti sekarang ini..

“Bisakah aku berbicara dengannya?”

“Maksudmu dengan Dave?”

Yoona mengangguk..

“Kau tidak memiliki urusan dengannya, Yoona..”

Seohyun langsung bergerak mendekati Yoona, mencegahnya..

“Seohyun-ah..”

“Biarkan gadis kecil ini pergi. Ayahnya datang untuk menjemputnya..”

“Seohyun-ah, tapi..”

“Lagi pula Dave sedang marah padaku, Yoona-ssi.. dia tidak akan mendengarmu..”

Amber kemudian meraih tangan Lauren, sedikit menariknya..

“Ayo Princess, Mommy-mu akan menyusul nanti..”

“tapi aku mau bersama Mommy, Amber..”

Lauren masih berusaha menolak, meski kemudian Amber berhasil menariknya hingga ke ambang pintu apartemen..

“Mommy..”
Yoona ingin meraih gadis kecil itu yang terlihat sudah ingin menangis, namun Seohyun menghalanginya. Seohyun juga
yang kemudian meyakinkan Lauren bila Yoona akan menyusulnya setelah ia
menyelesaikan jadwalnya hari itu.

“Amber-ssi, tunggu sebentar.. Apa kalian benar-benar akan pergi?”

“semua tergantung pada Dave..”

Sekarang, Amber sedikit menyesal. Seharusnya ia tidak menyuruh Lauren menghubungi Dave dengan berpura-pura sakit dan membuat Dave datang menyusul mereka. Mungkin ia masih bisa membiarkan
Lauren bersama Yoona jika ia tidak melakukannya. Sepertinya, ia sudah salah perhitungan..

“kalau begitu bisakah kau menyimpan nomor ponselku? Hubungi aku bila terjadi sesuatu..”

“tentu saja, dengan senang hati Yoona-ssi”

Amber tersenyum sambil merogoh saku celananya, kemudian memberikan
ponselnya pada Yoona agar ia memasukkan nomor ponselnya.

Seohyun tak bisa mencegah Yoona melakukannya saat itu. Ia hanya mendengus melihat Yoona yang sedang menuliskan nomor ponselnya.

Setelah memasukkan nomor ponselnya kedalam ponsel Amber, Yoona lantas
mempergunakannya untuk menghubungi ponsel miliknya..

“Aku juga sudah memiliki nomor ponselmu, kuharap kau tidak akan keberatan jika aku
menghubungimu lebih dulu. Aku hanya khawatir pada Lauren..”

“Tidak apa-apa.. Aku akan sangat senang bila kau mau menghubungiku. Ayo princess, berikan salam pada Mommy
Yoona sebelum kita pergi..”

“Mom, aku tak ingin pergi. Aku mau bersama Mommy”

Begitu Amber melepaskan pergelangan tangannya, Lauren langsung menghambur
kepelukan Yoona. Melingkarkan kedua tangannya erat dipinggangnya..

“kita akan bertemu lagi sayang, jangan khawatir..”

“Apa mommy mau berjanji?”

“Ya, tentu saja.. Aku janji padamu..”

Yoona membelai rambutnya, lalu memberikan kecupan dipipinya. Yang kemudian juga dibalas dengan hal yang sama dari Lauren..

“I Love you, Mom..”

“I Love you too dear..”

***

“Daddy..!!”

Lauren memekik kencang sambil berlari menghampiri sang ayah saat melihatnya tengah menunggunya di lobi. Dave yang mendengar seruan suara dari sang putri, lantas tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya. Menyambut putri
kecilnya yang kemudian ia raih kedalam gendongannya..

“Astaga, berapa hari Daddy tidak menggendongmu? Sepertinya kau bertambah semakin berat, sayang..”

Lauren terkikik mendengarnya..

“Pasti karena Lauren banyak makan, Dad..”

“Oh, apa kau menikmati makanan disini?”

“Tentu saja.. Masakan Mommy sangat lezat..”

“Awalnya aku juga tidak percaya artis seperti Yoona bisa berada didapur dan memasak..”

Amber ikut bergabung dalam obrolan ayah dan anak itu. Tapi sepertinya Dave masih
merasakan kesal terhadapnya, hingga kemudian ia menaggapi ketus ucapannya..

“aku tidak perlu mendengar komentarmu..”

“Tapi Lauren benar, Dave. Yoona sangat pandai memasak. Kurasa aku juga bertambah berat badan. Apa kau ingin memastikannya dengan menggendongku..?”

Sialan..
Jika Lauren tidak bersamanya ketika itu. Dave pasti benar-benar akan menyuarakan umpatannya kehadapan Amber. Apalagi melihat Amber yang sama sekali tidak terpengaruh dengan pelototan matanya, dan justru tergelak dengan candaannya sendiri, yang kemudian juga diikuti oleh tawa putri kecilnya, membuat Dave semakin merasa kesal terhadapnya yang terang-terangan berani mempermainkannya dihadapan sang putri.

“ehm, Jadi.. Apa kita akan pergi sekarang?”

Amber menyudahi gelak tawanya yang ia tahu hanya menjadikan Dave merasa semakin kesal terhadapnya. Buktinya, Dave
mengacuhkannya dan tidak langsung menjawab pertanyaannya..

“Dave, kau tidak berubah menjadi perempuan yang mudah sekali marah kan?”

Amber menyindir dengan kalimatnya..

“Aku baru menerima kabar, ada sedikit masalah dengan pesawatnya.. Kita perlu
menunggu sebentar sementara para teknisi mengatasinya. Jadi sebaiknya kau menyewa hotel untuk kita beristirahat..”

“mengapa kita tidak kembali keatas, Dad? Bersama Mommy..”

Amber meringis mendengarnya, mengantisipasi apa kira-kira yang akan dikatakan Dave pada putrinya. Meski sudah jelas sekali terlihat Dave sedang mencari-cari kalimat yang pas untuk menjawab pertanyaan Lauren tadi..

“Tidak sayang.. Daddy rasa apartemen itu terlalu kecil untuk ditempati kita semua. Amber akan memesan kamar hotel untuk kita..”

“Aku sudah menyewa kamar sebelum kami bertemu Yoona dan Lauren yang memilih
tinggal dengannya. Jadi kurasa kita bisa pergi kesana, Dave..”

Kendala yang terjadi pada pesawat-nya, akhirnya membuat Dave mau tak mau harus terpaksa tinggal lebih lama. Bahkan kemudian terpaksa harus menginap. Sebenarnya ia bisa saja beralih dengan menggunakan pesawat komersil,namun Amber memberitahunya bahwa Lauren tidak terlalu nyaman saat ia membawanya dengan menggunakan pesawat komersil. Maka demi memikirkan kenyamanan sang putri, Dave mengikuti pendapat Amber dengan memutuskan untuk menunggu sampai para teknisi yang menangani pesawat-nya memberikan kepastian mengenai kesiapan pesawatnya untuk kembali melakukan penerbangan..

“Dave, apa kau hanya akan berdiam diri saja.. Tidak ingin membawa Lauren keluar dan menikmati keindahan malam?”

Mereka..
Dave, Amber dan Lauren telah berada didalam kamar hotel sejak beberapa saat yang lalu. Bahkan baru saja menikmati
makan malam bersama..

image

Melihat Dave yang hanya terdiam, sepertinya melamun dengan tatapan matanya yang mengarah ke sinaran lampu
yang berasal dari deretan bangunan-bangunan tinggi lainnya, sementara Lauren asik menyimak siaran televisi yang sepertinya menayangkan
semacam talk show yang menampilkan Yoona sebagai bintang tamunya, Amber
kemudian bergerak mendekati Dave..

“Dave, kau mendengarku?”

“hm..”

“bagaimana kalau kita keluar?”

Dave merespon dengan gelengan kepalanya..

“Bukankah sudah lama sekali Dave, kau tidak kembali.. Kau tidak merasa rindu dengan suasana kota ini? Apa kau tidak memperhatikannya, sudah banyak yang berubah disini..”

Hanya helaan napas Dave yang
kemudian Amber dengar..

“Dave..?”

“Pergilah jika kau berencana untuk pergi..”

“Tapi Dave..”

“Aku akan menemani Lauren beristirahat. Penerbangan yang akan dilalui besok akan
membuatnya kelelahan..”

“Tidak bisakah kau menundanya? Sehari saja, mengapa kau tak mencoba
kembali. Temui ayah dan ibumu, mereka merindukanmu Dave..”

Mendengarnya, Dave dengan segera memutar tubuhnya. Mengarahkan tatapannya yang cenderung menajam kearah Amber..

“Kau tahu, keadaannya sudah tidak sama lagi.. Semua sudah berubah. Aku bukan lagi bagian dari keluarga itu.. Mereka telah mengusirku pergi..”

“Kau seharusnya tidak menganggap serius hal itu. Apa yang dikatakan ayahmu ketika
itu hanyalah emosi sesaatnya. Aku yakin dia tidak benar-benar menginginkanmu pergi. Bahkan sampai selama ini, Dave. Delapan tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk ayahmu dapat menyadari
kekeliruannya..”

Amber menyayangkan watak keras Dave dan juga ayahnya. Ia bahkan tak menyangka, perseteruan yang terjadi antara Dave dengan sang ayah, sudah berlangsung hingga delapan tahun lamanya. Delapan tahun jelaslah bukan menjadi waktu yang singkat..

Ya..
Dave pun merasa delapan tahun memanglah bukan waktu yang singkat. Delapan tahun sudah dilaluinya dengan jatuh bangun menghadapi berbagai
macam kejadian yang menguji mentalnya.

Semua itu bermula dari percekcokan yang terjadi antara ia dan sang ayah yang menentang jalinan kasih yang dirajutnya bersama dengan ibu Lauren. Yang berujung dengan kata pengusiran dari sang ayah karna dirinya lebih memilih meneruskan hubungannya. Lalu perubahan yang terjadi setelah ia meninggalkan fasilitas yang diberikan ayahnya. Kehamilan hingga kematian ibu Lauren yang
benar-benar membuatnya terpuruk. Serta kerja kerasnya untuk bangkit dari keterpurukan dengan merintis bisnisnya, sekaligus menjaga darah dagingnya, benar-benar telah dilalui Dave dengan tidak
mudah. Ada banyak keringat dan airmata didalamnya.

Dan untuk delapan tahun yang telah dilaluinya itu, rasanya sulit bagi Dave bila sekarang ia harus bertemu dengan orang yang dengan jelas telah mengatakan mencoret namanya dari daftar keluarga. Ayahnya..

Dave tidak mau bertemu dengan sang ayah, yang hanya akan membuatnya mengorek
kembali luka yang dulu dirasakannya. Meski ia juga sangat merindukan ibunya. Sama halnya dengan Lauren..

“Amber, kau akan pergi?”

Suara Lauren-lah yang kemudian mengalihkan Dave dari mengingat kembali masa-masa sulit yang telah dilaluinya, dan dengan begitu menghentikan pembicaraannya dengan Amber..

“Tidak.. Kita akan berada disini dan menemanimu, sayang. Kau perlu beristirahat untuk besok..”

“Tapi, bukankah tadu kau mengatakan aku boleh pergi? Aku memang berencana pergi, Dave..”

Dave melotot kearah Amber yang buru-buru beralih dari hadapannya, untuk kemudian
mencari keberadaan pakaian hangatnya dari dalam lemari..

“Amber, kemana kau akan pergi?”

Lauren mengikuti Amber dibelakangnya..

“Hanya berjalan-jalan princess, dan bertemu dengan temanku..”

Lauren sesaat mengerutkan keningnya..

“kau memiliki teman disini?”

Amber sekilas melirik Dave yang memberinya tatapan tajam seolah memperingatkan, membuat Amber kemudian beralih untuk menjawab apa
yang Lauren tanyakan..

“Ya, aku memiliki teman disini dan sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya.. Jadi aku berencana menemuinya. Sebenarnya aku juga sangat ingin mengajakmu, tapi Daddy-mu sepertinya tidak akan mengijinkannya..”

“Kau bisa pergi kemanapun kau mau, hanya jangan pernah mengatakan keberadaanku disini..”

Amber hanya mendesah mendengar apa yang Dave katakan, yang kembali menyiratkan peringatan. Ia kemudian menuju pintu, hendak keluar ketika Lauren menahan pergelangan tangannya dan kemudian memintanya untuk sedikit merunduk agar gadis kecil itu dapat berbisik ditelinganya..

“Bisakah kau menelpon Mommy dan memintanya untuk datang? Katakan aku ingin Mommy datang..”

Amber tersenyum-senyum mendengarnya, kemudian mencubit pelan hidungnya..

“Oh, ide yang bagus princess, tentu saja aku bisa menghubunginya.. Aku memiliki nomor ponselnya. Jadi duduklah dengan manis sampai Mommy-mu itu datang..”

Lauren mengangguk dengan senyum saat kemudian membiarkan Amber keluar dari dalam kamar hotel yang kini hanya ditempati gadis kecil itu bersama dengan ayahnya..

“Sayang, sekarang ayo kita tidur?”

Lauren lantas menghampiri
sang ayah yang memanggilnya..

“Lauren masih belum mengantuk, Dad..”

“tapi kau perlu beristirahat sayang..”

“Bolehkah sebentar lagi, Dad? Lauren masih ingin menonton acara Mommy.. Apa Daddy mau melihatnya? Kemarilah Dad..”

Dave sempat menghela napasnya mendengar sang putri yang kembali menggunakan kata Mommy untuk menyebut sang artis wanita yang sekarang sedang mengisi slot acara yang ditayangkan oleh stasiun televisi yang ditonton oleh putrinya. Sungguh Dave merasa ingin mengubah pemikiran itu dari dalam diri Lauren, tapi sepertinya salah pemikiran itu tak dapat diperbaiki kecuali Dave benar-benar bisa membawa sang
putri, menunjukkannya pada makam sang ibu yang telah melahirkannya ke dunia. Dan
sampai sekarangpun, setelah keadaan menjadi lebih kacau setelah sang putri meyakini artis wanita itu sebagai ibunya,
Dave masih tidak memiliki kesiapan untuk melakukan hal itu. Apalagi dengan sebuah
resiko besar yang harus dihadapi olehnya dengan membuat putri kecilnya terluka “ayo kemarilah Dad..”

Setelah sekali lagi Lauren memanggilnya, Dave kemudian mendekati Lauren, duduk
disatu sofa yang sama dengan sang putri dan merangkulnya. Lauren pun terlihat sangat nyaman menyandarkan tubuhnya dipelukan lengan sang ayah..
“Daddy sayang padaku?”

“apa yang kau tanyakan sayang, tentu saja Daddy menyayangimu”
Dave mencium kepalanya, membelai lembut rambut putrinya..
“Kalau Daddy sayang padaku, bisakah Lauren meminta sesuatu?”

“apa yang kau inginkan sayang?”

“Tapi Daddy harus berjanji tidak akan marah”

“Apa Daddy pernah marah?”  Lauren mengangguk..
“Berjanjilah untuk tidak marah, Dad..”

Dave tersenyum menerima kelingking putri kecilnya, menautkannya lalu mengangguk dengan sebelah tangan yang kembali digunakannya untuk membelai rambut Lauren..

“Lauren ingin berada disini dan bersama Mommy, Dad. Bisakah Daddy mengabulkannya?”

“Daddy tidak bisa sayang. Daddy tidak bisa..”

“Tapi kenapa Dad? Kenapa Daddy tidak membiarkanku bersama dengan Mommy?”

Karena dia bukan ibumu sayang..
Bukan..
Dia bukanlah ibumu..

Dave ingin membuka mulutnya untuk mengatakan itu, namun lidahnya terasa kelu, sementara tenggorokannya seperti tercekat ketika hendak mengatakannya. Ini benar-benar bukanlah sesuatu yang mudah untuk mengatakan pada sang putri bahwa ia sudah tidak lagi memiliki seorang ibu seperti anak-anak lainnya.

“kau masih harus pulang bersama Daddy dan meneruskan sekolah-mu disana, sayang. Dan bukankah Lauren yang menelpon Daddy agar menjemputmu”

“Lauren berbohong tentang itu Dad.. Lauren masih ingin bersama Mommy disini”

Dave sedikit terkejut ketika Lauren menyingkirkan lengannya dan dengan segera gadis kecilnya itu berlari naik keatas tempat tidur dan memposisikan tubuhnya membelakangi dirinya. Ia ingin menyusulnya, namun kemudian berpikir jika lebih baik tidak terus membujuk Lauren dan kali ini hanya membiarkannya saja. Tidak lama sang putri mungkin akan tertidur jika ia tidak mengganggunya. Maka Dave hanya duduk terdiam mengawasi putrinya dan sama sekali tidak beranjak sampai ia mendengar suara bel yang berbunyi dari pintu kamar hotelnya. Dave baru beranjak
berdiri, berniat untuk mencari tau siapakah yang berada dibalik pintu itu. Amber sepertinya tidak akan kembali secepat ini dan seandainya dia kembali dengan cepat, ia seharusnya tak perlu menekan bel dan hanya langsung membuka pintunya saja.

“Mommy.. Mommy..!!”

Dave yang baru bergerak dua langkah, kemudian justru didahului oleh Lauren yang
telah turun dari atas tempat tidur, berseru sambil berlari menuju pintu, membukanya..
“Mommy..!”
Dave terpaku ditempat melihat histeris yang ditunjukkan oleh putrinya pada saat melihat
artis wanita itu berdiri dihadapan putrinya, dengan senyum sempurna yang menghias diwajahnya.

Yoona memang yang saat itu datang setelah sebelumnya menerima telpon dari Amber. Ia sudah menunggu-nunggu Amber menghubunginya dan begitu senang saat mengetahui keberadaan Lauren, apalagi
saat mendengar Amber mengatakan gadis kecil itu menginginkan dirinya untuk bertemu dengannya.

“sayang, kau menangis?”
Lauren hanya mengangguk, membuat Yoona dengan segera berjongkok didepan gadis kecil itu untuk kemudian menghapus
airmata diwajahnya.

“Mommy..” Lauren mengalungkan kedua tangan kecilnya dileher Yoona,
memeluknya..
“Aku merindukan mommy.. Lauren ingin tidur bersama Mommy” Lauren terlihat sudah mengantuk. Kedua matanya yang memerah selain karna gadis kecil itu baru saja mengeluarkan airmata, pasti juga karna dia sebenarnya telah merasakan kantuk namun memaksa kedua matanya agar tidak terpejam.

Yoona kemudian sedikit bersusah payah berdiri dengan Lauren yang masih memeluk
lehernya. Menjadikan gadis kecil itu kini berada dalam gendongannya..

“Bisakah kau mengijinkanku masuk? Aku hanya akan menidurkannya..”

Dave sudah langsung mendekat saat melihat Yoona menggendong putrinya. Dan
mendengarnya yang meminta ijin darinya untuk menidurkan Lauren ketika itu, entah
mengapa membuat Dave seolah kehilangan kata. Dave hanya bisa menanggapinya dengan anggukan dan menggeser tubuhnya pada saat Yoona
kemudian melangkah melewatinya dan selanjutnya menurunkan Lauren dari
gendongannya keatas tempat tidur..

“Mom, ceritakan padaku tentang Joon dan Chan..”

Yoona tersenyum mendengarnya. Lauren ternyata masih mengingat dua nama keponakannya. Joon dan Chan adalah dua bocah lelaki kembar, anak dari Yoojin oenni nya.

“Kau masih mengingatnya?”

“Lauren ingat apapun yang Mommy ceritakan”

“Baiklah..”

Sekilas, Yoona sempat melirik kearah Dave untuk mengetahui reaksi pria itu selanjutnya. Dan Yoona melihatnya yang hanya terduduk disofa. Tatapan matanya memang mengarah ke layar televisi dihadapannya, namun Yoona rasa tak ada pancaran apapun disana. Mata itu redup, pandangannya jelas kosong ketika itu. Yoona sangat ingin mendekatinya, berbicara dengannya, apapun yang bisa membuatnya mengenal pria itu, Dave.

Sesungguhnya, demi untuk melihat Lauren dan juga Dave, Yoona telah menekan dalam-dalam ke dasar hatinya anggapan mengenai pria itu adalah Siwon. Meski keyakinan bahwa pria itu adalah Prince-nya bertumbuh kian subur didalam hatinya. Namun Yoona mencoba memahami keadaan disekitarnya, bahwa sejauh ini masih tidak ada yang mempercayai apa yang pernah dialaminya bersama dengan Siwon. Prince-nya yang adalah jelmaan dewa..
Dan sepertinya hal itu juga berlaku pada pria itu. Dave sendiri terlihat jelas tidak mengingatnya. Tidak mengenal dirinya. Hal yang kemudian menjadikan Yoona terluka.
Namun sekali lagi ia mencoba memahami keadaan yang ada bahwa dirinyalah satu-satunya yang dapat mengingat detail kejadian yang sudah terjadi dihidupnya. Karna itu Yoona berusaha bersikap wajar dengan menahan diri untuk tidak berlari memeluk pria itu seperti yang sudah dilakukannya. Delapan tahun ia telah menunggu, Yoona tak ingin membuat pria itu pergi, kembali menghilang dari hidupnya bila ia membuat keadaan menjadi tidak masuk akal bagi Dave..

“Ada apa?”

Yoona merasakan degup jantungnya mengencang saat mendengarnya. Ia mengira Dave memergokinya yang diam-diam memperhatikannya, namun kemudian disadarinya ada sebuah ponsel yang ketika itu menempel ditelinga pria itu dan menjadikan Yoona menarik napas lega..

“Jangan bermain-main denganku. Aku tidak mempercayaimu. Kau pasti membohongiku..!”

Sebenarnya Yoona sudah tidak lagi memperhatikan pria itu, namun ia tentu saja masih dapat mendengar nada suara Dave yang membentak pada seseorang yang ketika itu berada dalam sambungan ponsel dengannya.

“Aku tidak akan datang, Amber. Kau dengar itu?! Aku tidak akan datang..”

Dave yang tadi sudah sempat berdiri dari sofa yang didudukinya, kembali mengempaskan tubuhnya disana sambil membanting ponselnya keatas meja.

Yoona tak tahu apa yang sedang terjadi, tapi ia merasa bersyukur bahwa Lauren sudah sangat mengantuk jadi gadis kecil itu hanya menanyakan apa yang terjadi dengan ayahnya, sebelum kemudian tertidur sambil menggenggam erat tangannya.

Setelah membuat Lauren tertidur hanya dengan beberapa cerita mengenai betapa menggemaskannya dua keponakan kembar-nya, Yoona dengan perlahan-lahan melepaskan genggaman tangan Lauren ditangannya, untuk kemudian memasangkan selimut ditubuhnya, lantas beralih dari sisi tempat tidur. Mendekati Dave yang sepertinya tidak menyadari langkah kakinya..

“Lauren sudah tertidur”
Pria itu sedikit terlihat terkejut melihat keberadaan Yoona yang hanya berjarak sekitar dua langkah dari sofa yang ketika itu didudukinya.

Mata pria itu yang terlihat memerah menahan amarah, sempat membuat Yoona merasa takut dan berniat untuk melangkahkan kakinya mundur. Namun keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan Dave, lebih kuat mengalahkan perasaan takut itu..

“Kau tidak apa-apa? Apa sesuatu terjadi?”

“Apapun itu, bukanlah menjadi urusanmu”

Dave beranjak dan berdiri dihadapan Yoona. Sekali lagi, Yoona merasakan kerinduan yang membuncah didalam hatinya. Ia merasa ingin menyentuh wajahnya dan memastikannya benar-benar nyata..

“Si-won..”
Namun pria itu bergerak mundur, menjauhinya..

“Aku memintamu pergi sekarang..”

Tidak..
Yoona tak ingin pergi sekarang. Ia masih ingin melihatnya, bersama dengannya. Walau pria itu tidak mengingat siapa dirinya..

“Kau menonton acara-ku?”
Yoona mencoba mengabaikan pengusiran yang Dave tujukan padanya dengan mengomentari tayangan pada layar televisi yang ketika itu menayangkan salah satu reality show yang dibintanginya.

“Tidak.. Lauren yang melakukannya”
Dave dengan cepat meraih remote dan mematikan layar televisi itu.

“Maaf..”
Gumaman yang berasal dari bibir Yoona saat itu membuat Dave yang berencana membuka pintu kamar hotelnya untuk mempersilahkan Yoona pergi, sesaat menghentikan langkahnya.
“Maafkan aku..”
Apa yang digumamkan Yoona sekali lagi, menjadikan Dave lantas berbalik dan mendapati Yoona yang ketika itu sedang menatapnya.
“Aku meminta maaf untuk ketidak nyamananmu saat berada di apartemenku. Sepertinya aku membuat kesalahan. Maafkan aku..”

Dave tidak memperlihatkan reaksi lain selain hanya menatapnya dan membiarkan bibirnya terkatup rapat. Tapi hal itu sudah cukup untuk membuat Yoona bisa mengatakan apa yang sudah direncanakannya untuk ia katakan pada pria itu. Yoona sudah memikirkan jika Dave tidak mengingat dirinya, itu juga berarti Dave takkan mempercayai bila ia mengatakan mereka sudah pernah terlibat hubungan sebelumnya. Hubungan cinta yang begitu penuh mengisi relung dihatinya. Jadi Yoona akan berusaha untuk membuat alasan agar pria itu paham dengan apa yang saat itu ia lakukan dengan memeluknya..

“Aku sedang sangat merindukan seseorang ketika aku melihatmu tadi. Dan kau sangatlah mirip dengan seseorang itu. Aku sudah sangat lama menunggunya. Aku sangat merindukannya. Jadi aku tak bisa mengendalikan diriku ketika aku melihatmu tadi. Kau.. Kau benar-benar mirip dengannya. Sangat mirip..”

Yoona perlahan melangkah untuk mendekatinya, dan Dave pun kembali bergerak untuk selanjutnya membuka lebar pintu kamar hotelnya..

“Kau tidak perlu menjelaskan semua itu padaku. Hanya pergilah sekarang.. Dan jangan pernah lagi menemui putriku..”

“Tapi Lauren.. Dia..”
Dave terlihat memiliki rahang yang mengeras ketika itu dengan tatapan tajam kearah Yoona. Tatapan itu tidaklah sama seperti tatapan mata Prince yang begitu polos saat melihatnya. Tapi tatapan mata itu hampir sama seperti tatapan mata Siwon ketika sedang menginginkan dirinya..

“Putriku baik-baik saja selama tujuh tahun dia sudah bersamaku. Jadi kau tidak perlu repot mencampuri apa yang bukan menjadi urusanmu. Silahkan keluar..”

Dave membiarkan pintu itu terbuka saat kemudian ia beralih, meraih ponselnya yang kembali bersuara..

“Aku tidak peduli sekalipun ia sedang sekarat sekarang..!”

“Siwon-ah, ini oemma sayang.. Ini oemma.. Siwon-ah..”

Dave menegang, yang berada disambungan telpon dengannya bukan lagi Amber, melainkan ibunya. Ibunya yang memanggil ia dengan nama itu, ibunya yang sekian tahun tidak dilihatnya, kini yang ia dengar justru suara tangisnya..

“Ayahmu.. Ayahmu terserang strok. Dia mungkin tidak akan bertahan lama. Pulanglah Siwon-ah.. Kasihanilah ayahmu. Beri dia kesempatan untuk meminta maaf padamu. Oemma mohon Siwon-ah.. Oemma mohon..”

Dave tak dapat membayangkan seandainya benar apa yang dikatakan sang ibu ketika itu. Bagaimana bisa, ayahnya yang seorang pria kuat penguasa, yang bahkan mampu mencoret dirinya dari daftar anggota keluarga, kini sedang tergolek lemah tak berdaya..

Hatinya bergejolak antara ingin berlari untuk melihat pria tua yang telah mengusirnya dan melontarkan sumpah serapah kearahnya, hanya untuk kemudian membalas apa yang pernah dilakukan sang ayah dengan menunjukkan kesuksesannya yang sekarang, ataukah datang menemuinya dengan sebongkah rindu yang mengeras dihatinya pada sang ayah yang bagaimanapun juga telah mengalirkan darah ditubuhnya..

“Apa yang terjadi?”

Yoona masih belum benar-benar pergi ketika itu. Ia melihat saat ponsel yang sebelumnya menempel ditelinga Siwon terjatuh begitu saja dari genggaman tangan pria itu, dan kemudian memutuskan untuk mendekatinya..

Samar-samar Yoona mendengar suara seseorang yang berasal dari ponsel yang tergeletak dibawah kaki Dave ketika itu. Yoona mengambilnya lalu melihat nama Amber yang ketika itu tertera dalam layar ponselnya..

“Yobseyo.. Amber-ssi..”

“Siwon-ah.. Siwon-ah.. Kau mendengar oemma? Kau mendengar oemma, Siwon-ah..”

“Amber-ssi?”

“Siapa kau? Dimana Siwon? Berikan ponsel itu pada putraku sekarang. Aku ingin berbicara dengan Siwon.. Siwon-ah..?”

“Si-won..”

Yoona menggumam..
Benarkah ia mendengar suara disambungan ponsel itu tadi juga memanggil pria itu dengan nama Siwon. Jadi bukan hanya dirinya yang mengenal identitas pria itu sebagai Siwon? Jadi dia benar-benar Siwon?

Yoona tak sempat berbicara apapun lagi, ponsel itu sudah ditarik paksa dari tangannya. Lalu mengejutkan dirinya ketika Dave dengan kasar membantingnya..

“Kau masih tidak pergi?! Sudah kukatakan jangan mencampuri apa yang bukan menjadi urusanmu..!”

“Tapi tadi.. Seseorang tadi memanggilmu..”

“Pergi atau kau akan menyesal pernah bertemu denganku..!”

Nadanya mengancam, namun entah bagaimana Dave masih saja melihat Yoona tidak beralih dari hadapannya. Maka untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak sedang bermain-main dengan apa yang dikatakannya, Dave kemudian merenggut pergelangan tangan Yoona, lalu menarik dan mengempaskan tubuhnya ketengah sofa, serta mengunci pergerakan tubuhnya dengan menempatkan kedua tangannya dimasing-masing sisi tubuhnya, masih dengan memperlihatkan tatapan tajam kepadanya..

“Apa kau tidak berpikir apa yang mungkin terjadi denganmu ketika bersama dengan seorang pria asing sepertiku?! Kau ingin aku memberitahumu..?”

“Aku tidak tahu. Aku tidak bisa memikirkan apa-apa sekarang. Dan aku tidak peduli..”

Yoona sesungguhnya berpikir jika pria itu tidak mungkin melakukan sesuatu yang buruk terhadapnya. Dalam pemikirannya, tidaklah mungkin Dave menyakiti wanita sepertinya, sementara ia memiliki seorang putri kecil seperti Lauren. Lagi pula Lauren juga mengatakan bahwa ayahnya adalah orang baik. Bila melihat bagaimana Lauren yang begitu pintar dan cantik, Dave pastilah memang orang baik yang memperlakukan putrinya dengan sangat baik. Dan orang baik seperti Dave pastinya akan lebih dulu berpikir ribuan kali jika ia menginginkan menyakiti seorang wanita. Karena ia juga pasti berpikir kelak Lauren pun akan bertumbuh menjadi seorang wanita dewasa dan Dave tentunya tidaklah menginginkan ada yang menyakiti putrinya..

Setelah apa yang dikatakannya tadi, Yoona justru semakin dalam menatap mata Dave, seolah tidak mempedulikan ancamannya dan malah cenderung menikmati kedekatan pria itu dengannya yang membuatnya dapat meresapi aroma dari tubuhnya. Kedua tangannya kemudian juga bergerak menyentuh lengan pria itu. Salah satunya bahkan merambat naik hingga kebagian bahu, lalu leher, sampai kebagian wajahnya. Yoona sesaat mengusap pipinya, sebelum bibirnya bergerak menggumamkan kata..

“Aku merindukanmu..”

Dave tak menyangka Yoona seberani itu. Ia pun tak mengerti mengapa tubuhnya menjadi kaku dan sulit untuk ia gerakkan sekarang. Ia yang berniat untuk memberikan ancaman pada Yoona, tapi justru sebaliknya. Sentuhan tangan Yoona lah yang kemudian justru membuatnya takut akan kehilangan kendali atas dirinya..

“Aku merindukanmu.. Aku sungguh merindukanmu hingga kurasa dadaku sesak dan aku tak bisa bernapas. Aku pasti akan segera mati andai kau tidak segera datang..”

Dave tak mengerti mengapa Yoona tiba-tiba menjatuhkan airmata. Apa arti airmata itu, ia sungguh tidak dapat mengetahuinya?
Yang kemudian ia tahu, Yoona seperti melakukan tarikan pada bagian belakang lehernya, menjadikan wajahnya menjadi begitu dekat dengannya. Bibirnya nyaris bersentuhan dengan bibir Yoona, andai keduanya tidak mendengar suara Lauren dan menjadikan Yoona tersadar dengan apa yang coba dilakukannya..

“Mommy.. Mommy..!”

Dave dengan cepat menyingkir dari hadapan Yoona. Mencoba berpikir  apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan wanita itu tadi? Tapi kepalanya mendadak justru terasa kosong..

“Lauren bangun.. Sepertinya dia mencariku..”

Yoona lantas mendekati tempat tidur, menghampiri Lauren..

“Mommy..”

“Aku disini sayang..”
Lauren kembali memejamkan matanya setelah meraih tangan Yoona. Bibir mungilnya sempat menggumam “jangan pergi” sebelum ia kemudian terlelap lagi..

Tangan Yoona masih bergerak mengusap rambut Lauren, tapi kedua matanya kemudian melirik pada Dave yang terlihat berjalan mondar-mandir, gelisah..

“Sepertinya kau memiliki keadaan yang mendesak. Kau bisa meninggalkan Lauren bersamaku..”

Kalimat itu cukup untuk menarik perhatian Dave yang kemudian mengarahkan tatapan matanya pada Yoona..

“Telpon tadi.. Sepertinya itu mendesak untukmu..”

“Aku tidak akan pergi..”

“Kau bisa pergi. Lauren akan baik-baik saja bersamaku..”

“Menurutmu seperti itu?”

“Yaa..”

“Apa sebenarnya yang kau inginkan?”

“Maksudmu..?”

Melihat Lauren yang sudah kembali terlelap, Yoona melepaskan genggaman tangannya, lantas beranjak untuk kemudian lebih mendekat pada Dave guna menanyakan maksud dari apa yang ditanyakannya..

“Apa kau tidak memiliki pekerjaan hingga kau mencampuri urusan orang lain?”

“Apa aku perlu memberitahumu jika aku adalah seorang artis? Apa aku perlu memperlihatkan agenda kerjaku? Kau ingin melihat jadwalku?”

Yoona sedikit menarik sudut bibirnya, tersenyum ketika kemudian Siwon terdiam dan membalikkan tubuh,membelakanginya..

“Aku akan menghargai jika kau pergi sekarang..”

***

“Dad, dimana Amber? Apa kita akan meninggalkannya? Bagaimana dengan Mommy? Mommy akan menyusul kita kan?”

Dave hanya bersama dengan Lauren pagi itu. Mereka sudah berada dibandara untuk segera melakukan penerbangan. Semalaman Amber tidak kembali ke hotel, dan Dave mengeraskan hati untuk tidak memikirkan dan mempedulikan apa yang mungkin sedang Amber lakukan. Yang terpenting adalah Lauren bersamanya. Dan tidak seorangpun yang bisa mengambil alih tanggung jawabnya untuk menjaga sang putri. Termasuk dengan Yoona. Wanita itu, Dave benar-benar tidak mengerti, bagaimana ia bahkan memohon padanya agar bisa terus bersama dengan Lauren. Dia jelas sama sekali tak berhak atas putrinya..

“Bisakah aku menemuinya lagi besok?”

“Aku akan membawa Lauren pulang besok”

“Apa kau akan mengijinkanku mengunjunginya? Apa kau akan membiarkannya bertemu denganku?”

“Lauren hanyalah anak kecil. Dia mudah sekali merasa bosan dan kembali menyukai hal-hal baru. Dia akan melupakanmu, dan memiliki idola baru..”

Dave mengabaikan tatapan mata Yoona yang sepertinya terluka mendengar apa yang dikatakannya..

“Pergilah dan jangan pernah berpikir untuk menemui Lauren sekalipun dia yang memintamu, karna aku tidak akan membiarkannya..”

“Bagaimana bisa kau melakukannya?! Bagaimana bisa kau menjauhkanku dari putriku..!”

“Putriku? Siapa yang sedang kau maksud sebagai putrimu?”

“Lauren.. Dia, dia putriku..”

“Apa kau sedang bercanda, nona..”
Dave tersenyum sinis..

“Lauren putriku.. Dia putriku.. Kumohon biarkan aku bersama dengannya..”

“Dad, bagaimana dengan Mommy?”

Dave teralih dari teringat akan pembicaraannya dengan Yoona, serta wajah penuh permohonan yang diperlihatkan wanita itu sebelum ia benar-benar memaksanya agar meninggalkan Lauren. Dave lantas mengarahkan perhatiannya pada Lauren, dan mencoba memperlihatkan senyum kearahnya..

“Kau menanyakan sesuatu tadi?”

“Jadi Daddy mengabaikanku sejak tadi?”
Lauren mengerucutkan bibirnya, kesal..

“Daddy hanya tidak sedang berkonsentrasi, sayang”

“Apa itu karna Daddy sedang memikirkan Mommy? Daddy bersedih karna Mommy tidak ikut bersama kita?”

“Tidak, bukan seperti itu..”

“Ayolah Dad, mengapa kita tidak menundanya saja. Kita harus menunggu Amber dan juga Mommy. Lauren ingin pulang bersama-sama dengan mereka..”

Dave kemudian hanya meraih pergelangan tangan sang putri, menggenggamnya..

“Ayo, pesawat kita sudah siap, sayang..”

“Tapi Dad..”

“Daddy tidak sedang ingin dibantah, sayang. Mengertilah..”

Lauren lantas menundukkan wajahnya dan berjalan mengikuti tarikan tangan sang ayah pada pergelangan tangannya. Sesekali ia menoleh kebelakang, berharap melihat sang Mommy yang datang untuk menyusulnya. Lauren sudah sempat menangis tadi, disaat ia terbangun dari tidurnya dan tidak mendapati keberadaan Yoona disana..

“Dave..! Dave berhenti..! Dave..!”

Lauren yang pertama kali menoleh, kemudian tersenyum dan lantas melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman tangan sang ayah untuk selanjutnya berlari menghampiri Amber..

“Amber..!”

“Lauren, kau baik-baik saja princess?”

“Hm..”

“Apa semalam Mommy-mu datang?”

“Ya, Mommy Yoona datang dan menemaniku tidur..”

“Bagus, aku senang mendengarnya..”

“Kupikir kau sudah tidak membutuhkan tumpangan untuk kembali..”

Dave bersuara agak sinis ketika kemudian ia juga menghampiri Amber..

“Kau tau aku memang tidak membutuhkannya, Dave. Aku datang bukan untuk itu.. Aku datang untuk mencegahmu pergi. Aku tak ingin kau menyesal..”

“Aku sama sekali tidak pernah menyesal meninggalkan negara ini..”
Dave seperti sedang menekankan kalimatnya dengan tatapan matanya yang mengarah pada Amber.

“Dokter mengatakan ayahmu tidak akan bisa bertahan. Semalam dia bahkan mengalami serangan jantung. Kita hampir saja kehilangannya..”

“Hyung..”

Dave mengira Amber hanya sendirian tadi. Ia pun tidak memperhatikan siapa yang ketika itu berdiri dibelakangnya sampai seseorang itu memanggilnya. Hyung..

Seingatnya dulu, sang adik masihlah seorang pemuda berusia belasan, tapi sekarang, Minho terlihat sudah menjadi seorang pria dewasa..

***

Yoona sama sekali tidak berkonsentrasi untuk pengambilan gambar yang dilakukannya hari itu. Ia yang seharusnya memperlihatkan ekspresi kebahagiaan diwajahnya, sesuai dengan konsep yang diminta, justru memperlihatkan kemuraman diwajahnya. Ia benar-benar sedang tidak dapat berlaku profesional seperti yang biasa dilakukan olehnya. Bahkan untuk sebuah senyum palsu sekalipun, Yoona kesulitan melakukannya. Kedua matanya sudah lebih dulu menyiratkan kegelisahan hatinya..

“Sebenarnya apa yang sedang mengganggumu, Yoona?”

Seohyun yang seperti biasa menemani Yoona, mendekat dengan sebotol air mineral yang kemudian disodorkannya pada Yoona disela-sela istirahat yang terpaksa dilakukan untuk kembali memberikan pengarahan pada Yoona. Biasanya, semua kru yang sudah sering terlibat kerja sama dengannya, tidak perlu memberikan Yoona penjelasan sampai dua atau tiga kali. Yoona sudah cukup memahami hanya dengan satu kali penjelasan mengenai konsep yang akan mereka kerjakan. Tapi hari itu, Yoona sama sekali tak bisa melakukan fokus pada pekerjaannya..

“Aku memikirkan Lauren..”

“Gadis kecil itu lagi?” Seohyun sedikit mendecak mendengarnya.. “Ada apa lagi dengannya, bukankah ayahnya sudah membawanya pergi?”

“Semalam ia masih tinggal.. Dan aku menemuinya yang sedang menginap di hotel bersama dengan ayahnya..”

“Kau menemuinya lagi? Kalian bersama di hotel? Bagaimana mungkin.. Apa kau tidak berpikir seseorang mungkin melihatmu, mengambil fotomu lalu menyebarnya ke media. Kau mau terlibat skandal?!”

“Pelankan suramu Seohyun-ah..”

Yoona sedikit memperhatikan sekelilingnya, beberapa kru yang sedang mempersiapkan set memang sempat mengalihkan perhatian mereka padanya dan juga sang sisten Seohyun..

Seohyun kemudian merasa perlu menghela napasnya hingga berkali-kali. Sungguh mati ia tidak mengerti dengan sikap Yoona yang sudah ia garis bawahi dengan menggunakan kata aneh..

“Tidak terjadi apa-apa. Lauren ingin bertemu denganku. Itu saja..”

“Berapa yang gadis kecil itu berikan padamu?”

“Nde?”

“Bahkan untuk bersalaman denganmu saja, seseorang perlu mengeluarkan uang dan membayarmu melalui acara jumpa fans. Dan itu jumlah yang tidak sedikit, Yoona. Jadi berapa yang gadis kecil itu berikan hingga saat dia mengatakan ingin bertemu denganmu, kau dengan segera datang menemuinya..?”

“Kau tau ini bukan mengenai persoalan uang.. Tapi ini masalah hati..”

Hatinya yang sepertinya sudah terikat dengan gadis kecil itu..

“Lain kali, kau harus memberitahuku jika gadis kecil itu meminta bertemu denganmu..”

“Kau mendengar sendiri bagaimana yang diceritakan Amber mengenai Lauren..”

“Aku tahu, tapi aku tidak seratus persen mempercayainya. Kurasa dia hanyalah seorang penculik anak yang pandai mengarang cerita. Kuharap ayahnya benar-benar membawa gadis kecil itu pergi..”

Seohyun lantas meninggalkan Yoona. Tak lama setelahnya, Yoona yang hanya terdiam sedikit dikejutkan dengan suara ponselnya yang bersuara. Amber yang ternyata menghubunginya..

“Amber-ssi..?”

Yoona sejenak mendengarkan, sebelum kemudian ia berdiri dari duduknya. Lantas menyambar tas tangannya, mengeluarkan kunci mobil dari dalamnya sambil melangkah cepat meninggalkan lokasi pengambilan gambar..

“Ayah Dave meninggal.. Jadi kami membatalkan rencana untuk pergi. Tapi Lauren merasa asing disini. Dia menangis dan terus memanggilmu, Yoona-ssi. Maafkan jika aku mengganggumu, tapi Lauren benar-benar sulit ditenangkan. Sedangkan Dave.. Dave sangatlah berkabung sekarang. Aku tidak ingin membuatnya semakin bersedih dengan mengatakan keadaan Lauren padanya. Bisakah kau membantuku, Yoona-ssi? Bisakah kau menemui Lauren sekarang?”

“Katakan dimana kalian? Aku akan kesana sekarang..”

Amber menyebutkan alamat keberadaan mereka, dan Yoona dengan segera melajukan mobilnya, mengabaikan panggilan Seohyun yang ketika itu melihat kepergiannya.

Yang Yoona tidaklah sangka-sangka adalah ketika beberapa menit setelah melakukan perjalanan, dan tiba dialamat yang disebutkan oleh Amber, ia melihat banyak para pencari berita yang ketika itu berkerumun didepan pagar besi yang kokoh menghadang mereka untuk dapat memasuki rumah duka. Dan ketika kemudian Yoona keluar dari dalam mobilnya, beberapa blits kamera langsung menyambutnya dan lontaran pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para pencari berita itu membuat Yoona kemudian mengerti jika rumah besar itu adalah kediaman salah seorang pengusaha ternama yang bahkan ia pernah dan masih terlibat kontrak kerja sebagai bintang yang mengiklankan beberapa produk mereka..

Jadi apakah pemilik perusahaan itu benar-benar adalah ayah Dave?
Bagaimana mungkin?

*

*

*

To Be Continued~

Perjuangan banget ini nerusin ceritanya–
Setelah merasa buntu dimana-mana, jadilah part ala kadarnya yang mungkin masih membingungkan juga bagi yang baca– (yang nulis apalagi, lebih bingung kayaknya)

Gak janji update cepet yaa, semampu saia aja^^ #tq

@joongly

241 thoughts on “FF | Princess | 2

  1. Wahhh always daebak onnie, mian aku bru read and coment ni ff soal nya kmarin kmrin sibuk mulu onn, dan ini adalah salah stu ff yg aku tunggu tunggu onn, wahh bener bner daebak onn, pokoknya, aku tunggu bnget ni kelanjutan ff nya, please, jangan lama lama nde?? Gomawo sebelumnya onnie ku,,

  2. Lama bgt nih gakk update ternyata udah ad lanjutannya, ya ampun kesian bgt sih yoona knp yoona fak dibikin lupa aj deh am suwon klo gini kan yoona yg lesiksa sendiri mana siwon nya juga kayaknya bener bener jadi org yg baru bukan prince lgi,terus sebenarnya dave itu emang jelmaan sieon atau bukan sih, terus jira kira yg dipikirkan yoona bener kah klo lauren itu anak yoona kykc gak mungkin bgt deh, asli geregetan bgt nih gak bisa nebak gimana lanjutan nya, masih penuh tanda tanya apalagi tentang masa laulu dev terus yg jadi ibu atau istri siwon siapa sih, soga authorx cepet dpt ilham biar cepet lanjut next

  3. Lama bgt nih gakk update ternyata udah ad lanjutannya, ya ampun kesian bgt sih yoona knp yoona fak dibikin lupa aj deh am suwon klo gini kan yoona yg lesiksa sendiri mana siwon nya juga kayaknya bener bener jadi org yg baru bukan prince lgi,terus sebenarnya dave itu emang jelmaan sieon atau bukan sih, terus jira kira yg dipikirkan yoona bener kah klo lauren itu anak yoona kykc gak mungkin bgt deh, asli geregetan bgt nih gak bisa nebak gimana lanjutan nya, masih penuh tanda tanya apalagi tentang masa laulu dev terus yg jadi ibu atau istri siwon siapa sih, soga authorx cepet dpt ilham biar cepet bisa lanjut cerita nya

  4. kasihan yoona hanya dia yg mengingat kenangan masa lalunya dan siwon/dave…
    smg yoona gk pntng menyerah menghdpi sikap siwon yg jlas2 tdk menginginkan keberadaannya…
    amber dan laurent semoga mrka bisa menyatukan cinta yoonwon lgi…

    ditunggu next part’nya thor

  5. Masalalu Dave sebenarnya gimana ? Dia diusir dari keluarganya dan dia adalah Siwon. Tapi apa hubungannya dengan Siwon yang dulu jelmaan malaikat itu ? Lalu anak siapa sebenarnya Lauren ? Apakah benar Lauren adalah janin yang dulu pernah dikandung Yoona ? Bagaimana caranya bisa berpindah pada rahim wanita lain? dan siapa istri Siwon yang meninggal itu ? Kenapa semuanya nampak tidak masuk akal ? Kasihan Yoona yang tersiksa, hanya dia yang mengingat masa lalu itu pernah ada.

  6. makin seru azza nih cerita…… penasaran banget sma conflict antara siwon dan keluargax..
    ditunggu part selanjutnya, semoga ada flashback mengapa siwon meninggalkan kluargax n siapa sebenarnya ibu kandung laurent.

  7. ahhh aku ketinggalan kelewat lama banget ini… gpp yah eonni hehehe
    seneng banget sama part ini yoona pantang menyerah banget ke siwon, semoga siwon bener prince nya yang dulu…
    sumpah laurent bener bener ngegemesin banget udah cantik nempel ajh sama mommy biar daddy nya jadi inget sama masa lalunya, aku sih berharapnya yoona itu benr mommy nya laurent…
    eonni paling bisa ngasih tulisan TBC nya pas lagi seru serunya, jadi keluarganya siwon tuh orang kaya, tapi kenapa bisa siwon pergi dari rumah,,, ah penasaran banget semoga update selanjutnya cepet ya eonni hehe semangat eonni nulisnya

  8. Di part ini udah terungkap siapa Siwon Oppa sebenarnya…
    dan..akhirnya siwon oppa juga udah kembali ke keluarganya kembali walaupun ayahnya udah pergi….
    apa setelah ini Wonpa akan menetap di korea…baguslah.. itu akan membuat yoona mudah untuk mendekati Oppa… yehh YW moment akan ada nhii..
    tpi Siwon Oppa bener2 kasar sma Yoona.. ktanya2 itu lho…jdi pengen lihat gimn reaksi wonpa apbila yoona udah akan pergi krna sikap mhu yg buruk oppa #JdiKeselSendiri hehe… semoga Wonpa akan cepat2 jatuh hati ma Yoona eonni.. hhee.. dan seharusnya Siwon Oppa seneng bisa deketN ma artis secantik yoona.. Oppanti nyesel lho Oppa.. hehe
    jdi ngk sabar pengen baca kelanjutannya..
    Eonni yang cpet ne.. hehe
    Okay..
    Good job unnie..
    keep writing..
    and
    fightingg!!

  9. Nice alur un
    Dan gue selalu berdoa supaya unni bisa nerusin ff ini
    Amazing lha kalo sampe kelar dg smooth
    Ini ff gak ketebak banget and you can bring this story nicely un
    Proud to be your reader and happy to know you as an author
    Gak nuntut secepatnya kok un
    Hanyaaaaa
    Tolong jangan dihentikan sebelum end 😝😝😝

  10. masih bingung sama hubungan Yoona dgn Siwon :3
    apa Yoona itu bener2 Mommy Lauren? tp ntah knp aku ngrasa nya Yoona itu Ibu kandung Lauren~
    Ya ampun bener2 tak terduga, gk sabar bgt sama kelanjutannya~
    ditunggu next chapter.nya July🙂

  11. makin greget aja nih cerita.. makin penasaran… dan makin pengin baca klnjutannya lagi. sebenarnya dave bnar siwonn kan?tpi knpa sikapnya gitu sam yoona eonni. kan kasiannn

  12. Akhirnya dilanjut juga nie ff
    Kasiann yoonanya kpn siwon akan luluhhh
    Sebenanrnya siapa sie ibu lauren msh pnsaran thor cpet2 dilanjut yahhhh

  13. masih bingung apa siwon yg sekarang adalah prince yg dulu dan lauren apakah benar anak nya yoona yg dititipkan ke rahim orang lain menurut pemikiran yoona seperti itu tapi semoga di Next chap semuanya lebih jelas greget sama ni couple di story ini soalnya belum bersatu

  14. Telat baca gegara tugas numpuk
    aduh bingung sih kalau jd Yoona,nyambung juga sih kalau disambung2
    dan yg terakhir itu pasti bakal heboh
    skandal tuh

  15. Annyeong author july, udah lama banget nunnguin princes chapter 2, jujur ampe aku bosen sendiri buka blog ini karena gk ada yg baru dan lanjutan princess,,
    Eeh setelah sekian lama gk buka blog ini pas buka udah banyak aja ff baru,,
    #senengnya🙂
    Oea, btw, lanjutin princess ini keren banget kayaknya yoona emank ditakdirkan buat gantiin ibu kandung lauren deh dengan berbagai kejadian yg hanya ada dalam ingatan yoona, semoga siwon dan yoona cepet saling mencintai ya🙂

  16. Aku coment di part 3 dulu hehe…
    Makin seru ni cerita, aku pikir admin udah ga akan posting terusan nya soalnya udah lumayan lama juga nunggu nya…
    Pokonya apapun alur cerita nya, yoong unie ga boleh jauh2 dari won apa ya min
    Yoonwon jjang😍

  17. huahhh udah ketinggalan ceritanya
    siwon itu kira” bener prince bkn sih
    kayanya lauren dkt bgt sm yoona, apa bener yoona ibu lauren
    siwon jutek bgt sih sm yoona
    ntar jatuh hati lg hahaha😀
    aku mau lanjut baca chap 3 dulu😉

  18. enak banget jadi lauren,, si princess kecil.. keinginan lauren diatas segala-galanya, apapun pasti diturutin 😍
    lucuyaaaa~~ takdir YW.. benang merahnya adalah internet hehehe Siwon, Lauren, Amber, ketiganya memiliki andil yg sama besar sih sebenarnya.. siwon jangan nyalahin org lain dong kan lauren bisa percaya yoona mommynya ya karena dia juga.. hohoho~

    watak siwon yg keras sekeras tembok rumahnya (?). Demi apapun gedek banget, rasanya pengen nyeburin siwon kerawa-rawa liat dia kasar ke yoona ih keselllll~

    Ff prince tentu saja masih berkaitan dgn ff princess. Tp menurutku, ff prince ibarat katanya hanya mampi panjang yoona (masa koma) dan ff princess ini yg realitanya.. tp ini menurutku yahhhh thornim, masih berupa imajinasiku untuk masa depan (?) ff ini~~~~ hehehehehe 😁😂😁
    Lanjutannya dangdingdong!!!!! Update-an secepatnya plzzzzzz~~~~

  19. Ceritanya bikin penasaran, banyak banget pertanyaan tentang ff ini, kasian yoona nya disini, semoga cepet terungkap semuanya..
    Penasaran abis sama ff ini…

  20. wissss ceritanya makin seru unnni.
    kok siwonnya jahat banget ihhh terus klw siwon utu jelmaan dari prince atau bukan.
    terus ibunya laurrn itu siapa???

  21. Lama sekali aku tak jumpa” apa lagi membaca aduhhh nambah keren +seru ..kangen berat sama ff yoonwon karangan unnie ..
    6 gx menjelajah deg”an baca ff’y lauren dan siwon + yoona pengen cepet nyatu ..
    Dari minta pw no other part 3 sampe muncul ff” baru ya allah lama amat ya rasanya gx ngunjungi bloge unni kangen soohae dan sooho .. Kngen unnie juga … D lanjut y unn

  22. Whoaaaah…makin seruuuu….aah… Lauren ma yoona makin lengket..ayo lauren bikin daddymu terus2n deket sama mommy…woaaah…siwon bnr2 keras kpala bgt ya…ga mau ketemu ma kluarga na.. Kasian ma yoona, cuma yoona doang yg inget siwon, bikin dy tersiksa..apalagi sekeliling na tidak mendukung, + siwon na juga ga peduli… Makin pnasaran ma cerita na…menunggu kejutan yg tak terduga..hoho..

  23. iya thor bnr,pusiiiinngg…
    msh belum ngerti sm jalan cerita’y,msh aneh bgt alurnya.
    jgn rumit2 thor,pusing pala berbie.
    hehehehe…
    Mdh2an yg selnjut’y udh mengerti sm jalan cerita’y.

  24. sebenernya yg hilang ingatan tu siapa sih? yoona ato siwon? hehehehe..
    agak sedikit bingung sm chap ini..masa lalu biarlah menjadi masa lalu karna membingungkan..
    pikirin masa depan aja..maksudnya, masa depannya siwon n yoona dibuat happy marriage life hahahaha bahasanya kocar kacir..
    ya udh langsung next chap aja deh hehehe..
    makasi bacaannya ya..

  25. Lauren sebenarnya anak siapa?? Np yoona sangat yakin kalau lauren anaknya yg dipindahkan ke rahim orang
    Bagaimana masa lalu siwon dan yoona sebenarnya??
    Masih belum terjawab

  26. Author joongly masih bingung sama ceritanya, apakah ini genre fantasi, enatahlah bikin tambah penasaran next aja bacanya

  27. disini yoona miris banget, punya kenangan yg cuma dia doang yg inget. sedih :’

    siwon masalalunya misteri banget, dia yg kaku, dia yg ga ga deket sama keluarganya. aaah penasaran.

    bagus eon ceritanya. yah memang ceritamu selalu bagus sih hahaha

  28. di part ini tuh banyak kesannya dari yoona yg sayang sama Lauren sampai Dave kehilangan ayahnya untuk selamanya (turut berduka ya oppa)

  29. Oh god. Sebenarnya siwon Dan janin nya yoona Itu nyata Atau ga Si? Trus klo misalnya benar, Dan siwon/Dave Itu sebenarnya siwon yg dikenal yoona, kenapa siwon lupain yoona yah?? Omg.. I’m seriously curious right now.. Aku bakal baca chap selanjutnya eon…

  30. Saya selalu suka tulisan eoni. Dan semakin suka ketika baca ff ni. Sedih dengar lauren yg ingin dkt dengan ibunya terus, mungkin karena dia blum pernh ngersaain ksh syng seorang ibu kali ya.
    yoona eoni yg baik hati dan siwon oppa yg jutek. Lucu deh

  31. wah,cerita nga makin seru, ketinggaln jauh sih,terlalu sbuk mkanya jrang bka ff, baru kli ini luang dan ingget ff yg mumbat ak pnasaran kelnjutaannya
    kenapa oppa cuek bgt ama yoona ?? di gk bakal nyulik lauren kok
    mungkin oppa tkut jka yoona membuat lauren gk lg manja” sma oppa😀

  32. baru sempet bca ff nya unnie, keingetan ff yg buat ak greget dn pnsaraan eh cba buka udh smpe chap 4, tp bkal ak kebut buat baca ff yg membuat pnsraan ini
    oppa,knapa cuek bgt ama yoona unnie ?? dia gk bkal ambil lauren kok , turunin lh kdar cuek nya oppa biar gateng nya tbah😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s