Fanfiction

FF | Second Chance | 6

image

Story | Im Yoona | Choi Siwon | Choi Sooyoung | Cho Kyuhyun | Etc

Cover: Berta/Xoloveyoonwon

Happy reading~

~

~

~

Terang saja aku menantinya..
Terang saja aku mendambanya..
Terang saja aku merindunya..
Karena dia..
Karena dia begitu indah.. (Padi)

                               ~ ~ ~

Dalam perjalanan hidupnya sebagai pria muda, hingga sekarang menjadi seorang pria dewasa -beranjak tua begitu sang adik Sooyoung mengolok dirinya saat tahun lalu ia menghadiahi dirinya dengan sebuah perayaan kecil menandai pertambahan usianya yang menginjak kepala tiga, Siwon mengingat setidaknya ia telah merasakan ketertarikan pada tiga wanita berbeda.

Jumlah yang cukup bisa dikatakan sedikit bila mengingat banyaknya wanita yang tertarik pada ketampanan wajahnya, serta statusnya sebagai putra dari kalangan keluarga kaya terhormat..

Ketertarikan pertamanya adalah terhadap seorang wanita yang kemudian menjadi cinta pertamanya saat dirinya sempat berada diperguruan tinggi untuk menempuh pendidikan kedokteran yang kemudian begitu saja ditinggalkan olehnya. Sayangnya, sang wanita sampai dengan sekarang masih tak jelas dimana keberadaannya. Yang Siwon sesalkan, ketika menjalin hubungan dengannya dulu, ia tak sempat mencari tahu tentang keberadaan keluarga dari sang wanita. Hingga ketika wanita itu menghilang, Siwon benar-benar kehilangan jejaknya. Kecuali satu hal yang kemudian diketahui olehnya dari rekan sang wanita, bahwa wanita yang menjadi cinta pertamanya itu menerima beasiswa-nya keluar negri. Jiwa mudanya sempat bergejolak ingin menyusulnya ketika itu, namun otoritas ayah dan ibunya telah berhasil menahan kepergiannya. Dengan menjadikannya berkali-kali berpikir ulang jika ia tidak bisa meninggalkan Sooyoung sendirian.

Bertahun-tahun merasakan kehampaan didalam hatinya akibat kehilangan cinta pertamnya, Siwon akhirnya merasakan lagi perasaan tertarik terhadap wanita lainnya.

Wanita kedua yang membuatnya tertarik adalah wanita yang tidak dikenalnya. Aneh memang. Bagaimana bisa ia tertarik pada wanita yang tidak ia kenal?
Ia sendiri tidak mengerti. Tapi seperti itulah yang pernah dirasakan olehnya. Siwon tertarik pada wanita yang nama dan bahkan struktur wajahnya sama sekali tidak ia ingat. Yang ia ingat hanyalah wanita itu ia temui disebuah klub, dan satu-satunya yang pernah ia bawa ke apartemennya, hingga keatas ranjang tidurnya. Sooyoung tidak termasuk disini, karna dia adalah adiknya. Dan sekarang ia sedang membicarakan wanita yang telah sempat menarik perhatiannya hanya dalam waktu semalam, yang sudah tidak dilihatnya dipagi itu ketika ia terbangun dari tidurnya. Siwon kemudian menyadari apa yang telah diperbuat olehnya berdasar dari keadaan didalam kamar apartemennya. Terdapat satu botol anggur yang telah kosong bersama dengan dua gelas-nya diatas meja, lalu pakaian yang sudah tidak dikenakannya yang saat itu tergeletak dilantai, dan bau parfum lain yang tertinggal dibantal tidurnya bahkan sampai kedalam kamar mandi miliknya. Yang kemudian Siwon simpulkan, wanita yang malam itu bersamanya pasti telah sempat menggunakan kamar mandi-nya sebelum akhirnya pergi meninggalkannya. Bahkan rasa penasarannya terhadap wanita yang tidak dikenalnya itu, yang meninggalkan bau parfum dibantal tidurnya, kemudian telah sempat membuat Siwon dalam  dua bulan lamanya menghabiskan setiap malam didalam klub yang sama, sekedar untuk memenuhi rasa penasaran dan juga harapannya bahwa wanita itu akan kembali mengunjungi klub itu. Sebelum akhirnya ia menyerah setelah tidak menemukan gambaran dari wanita yang membuatnya penasaran itu. Ia kemudian juga merasa konyol lantaran tak mengingat jelas wajah wanita itu, jadi bagaimana bisa ia akan menemukan wanita yang dicarinya itu didalam klub yang juga dikunjungi oleh banyak wanita dengan berbagai gaya tampilan yang berbeda, yang pasti juga dengan bau parfum yang berbeda-beda. Tidak ada yang beraroma vanilla seperti yang dicarinya, yang sesekali masih tercium dari bantal tidurnya. Wangi yang begitu kuat.

Biasanya Siwon tak pernah tertarik dengan wanita yang ditemuinya didalam klub. Dalam kepalanya seperti telah ter-setting bila wanita yang ia temui diklub, bukanlah wanita yang baik. Wanita yang baik menurutnya tidak akan berada di klub. Katakanlah ia salah telah menarik garis pemikirannya sendiri, karna wanita baik sesekali boleh berada diklub tergantung pada apa kepentingan yang mendasarinya. Tapi masih menurutnya, wanita baik yang tetap berada di klub apapun alasannya, Siwon anggap bukanlah baik untuknya. Tapi pengecualian untuk wanita yang tidak dikenalnya yang ditemuinya diklub malam itu. Sepertinya itu adalah wanita baik yang tersesat didalam klub itu, yang kemudian ia selamatkan. Terlepas dari ketidak sadarannya pada malam itu, Siwon meyakini pasti adanya suatu ketertarikan yang begitu kuat terhadap wanita itu hingga ia membawanya masuk kedalam apartemennya, bahkan sampai keatas ranjang tidurnya. Tempat yang sebelumnya tidak pernah terjamah oleh tubuh wanita manapun. Sooyoung sekali lagi adalah pengecualiaan. Dia satu-satunya adiknya, kesayangannya, yang bahkan sejak kecil telah sering tidur ditempat tidur yang sama dengannya, meski hal itu Siwon lakukan dengan mencuri-curi kesempatan saat ibunya sedang bepergian. Jika sang ibu mengetahuinya, bukan hanya dirinya yang mendapat hukuman, tapi juga sang adik yang akan langsung menerima caci maki dari ibunya..

Setelah wanita kedua, wanita ketiga yang membuatnya tertarik adalah wanita baru bagi Siwon. Ia telah lebih dulu mendapatkan gambarnya, sebelum mengenalnya. Dan menjadi tertarik untuk terus-terusan mengamati hasil jepretan tidak sengaja yang didapatkannya pada sekitar satu bulan yang lalu itu. Hampir sama seperti perburuannya untuk menemukan wanita diklub malam itu, meski untuk yang kali ini agaknya jauh lebih melelahkan. Jika untuk wanita yang coba ia temukan diklub malam itu, Siwon hanya perlu keluar dari dalam apartemennya, lalu menggunakan lift untuk sampai kedalam klub yang masih berada dalam satu gedung yang sama dengan kamar apartemennya, berbeda dengan yang harus dilakukannya untuk kembali menjumpai wanita dalam jepretan kameranya. Siwon harus melakukan perjalanan cukup jauh untuk sampai kedaerah Yeoju. Tempat dimana ia membidik sang wanita dengan menggunakan kamera-nya.
Bahkan Siwon telah menggunakan tiga kali akhir minggunya untuk kembali ke Yeoju, dengan harapan dirinya dapat menjumpai lagi wanita itu. Namun hasil akhirnya adalah sama seperti ketidak berhasilannya menemukan wanita diklub malam itu. Siwon harus terpaksa pulang membawa harapan hampa tiap kali keberadaannya di Yeoju yang dilakukannya pada akhir minggu, tidak berhasil membuatnya melihat wanita itu. Tapi justru, dalam keberadaan yang tidak direncanakannya, Siwon akhirnya bertemu dengan wanita itu. Tidak sekedar bertemu, melainkan ia juga mengetahui namanya, Yoona.
Meski pada saat itu ia tidak secara langsung berkenalan dengan Yoona, dan hanya mendengar namanya dari yang disebutkan oleh salah satu bocah penghuni panti yang dikunjunginya.

Entah mengapa, Yoona yang telah sempat dilihatnya bersikap ramah pada anak-anak penghuni panti, justru menolak bertegur sapa dengannya, dan memilih pergi begitu saja dari hadapannya. Walau begitu, setidaknya Siwon menjadi tahu dimana ia dapat menjumpai lagi wanita itu.

Karena nya, meski baru mengunjungi panti yang berada didaerah Yeoju itu pada pertengahan minggu, yang berarti tiga hari lalu, di akhir minggu ini Siwon sudah berencana kembali melakukan perjalanan lagi menuju Yeoju. Kali ini dengan tidak melupakan kameranya. Ia cukup menyesalkan tidak membawa kameranya ketika berada dipanti ketika itu. Jika ia membawanya waktu itu, ia pasti bisa menambah bidikan kameranya dengan gambaran keceriaan anak-anak ketika sedang bermain dihalaman. Dan juga, keseriusan yang nampak diwajah Yoona ketika sedang mengobati luka dilutut sang bocah. Terbayang wajah wanita itu, memunculkan seulas senyum dibibir Siwon ketika ia sedang menyiapkan kamera yang akan dibawanya besok..

“Ugh.. Sepertinya aku menjadi tidak sabar. Haruskah aku melakukan perjalanan malam ini?” Seyumnya nampak diwajahnya yang agak konyol saat sedang berbicara dengan dirinya sendiri “kalau aku berangkat sekarang, aku pasti juga mendapatkan gambar matahari terbit” Meski telah banyak bidikan kameranya yang mengabadikan ketika sang surya menampakkan kegagahannya, Siwon tak pernah merasa bosan untuk mengabadikannya ditempat yang berbeda. Ia menyukai tampilan warna kemerah-merahan diatas langit disekitarnya. Kuasa Tuhan yang takkan bisa tertandingi oleh siapapun juga..

Setelah mempertimbangkan beberapa waktu lamanya, Siwon benar-benar melakukan perjalanan malam itu juga setelah ia selesai mempersiapkan kameranya. Untunglah sebelum memutuskan untuk mengikuti paksaan sang ibu dengan ikut  bekerja dirumah sakit ayahnya, Siwon telah lebih dulu membuat kesepakatan dengan ibunya bahwa diakhir minggu adalah hari miliknya. Dimana sang ibu tidak bisa mengganggu dirinya, apapun yang dikerjakannya, termasuk dengan kembali pada kesenangan fotografi yang selama ini bahkan telah mampu menghidupinya secara mandiri.

Udara masih cukup dingin ketika Siwon tiba di Yeoju menjelang pagi hari itu. Meski begitu tetap terasa lebih sejuk bila dibandingkan dengan udara didalam kamar apartemennya, apalagi bila dibandingkan dengan udara disekitar rumah sakit yang benar-benar tidak disukainya. Siwon dengan kamera yang telah siap ditangannya, kemudian meninggalkan mobilnya dan memilih berjalan kaki untuk mencapai tempat terbaik yang bisa ditemuinya.

Matahari telah siap untuk terbit ketika ia akhirnya menemukan tempat untuk mengabadikan maha karya sang Tuhan yang berada dihadapannya. Siwon tersenyum puas setelah mendapatkan semua gambar detik demi detik hingga sang matahari pagi itu seluruhnya muncul dan merangkak lebih tinggi, membagikan sinar hangatnya. Ia lantas meninggalkan tempat itu, dan kembali berjalan menuju mobilnya yang tadi sengaja ia parkir dijalanan dekat panti asuhan dengan niatan agar memudahkannya saat menunggu kemunculan Yoona disana.

Ketika sedang berjalan santai itulah, Siwon mendengar suara lonceng yang berbunyi dari dalam rumah ibadah dan menjadi tertarik pada saat kemudian ia melihat pemandangan burung-burung yang berputar berterbangan diatas atap bangunan rumah ibadah itu. Suara kicauannya seperti menandakan mereka juga mensyukuri keindahan dipagi hari itu. Menjadikan Siwon kemudian berbelok mendekati rumah ibadah itu, untuk mendapatkan gambar dari jarak yang lebih dekat.

Beberapa saat tadi, memang burung-burung yang berada diatas atap-lah yang menarik perhatiannya. Namun setelah Siwon mendekat, justru keberadaan sebuah sepeda yang berada didepan rumah ibadah itulah yang kemudian mengalihkan perhatian Siwon dari keinginannya untuk memotret burung-burung itu. Ia justru kemudian melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah ibadah itu, setelah mendekat dan memastikan jika sepeda yang saat itu berada disana adalah sebuah sepeda yang sama yang sebelumnya telah dilihatnya. Sepeda milik Yoona..

Maka benar saja ketika ia mendapati seseorang berada didalamnya. Itu pasti Yoona yang sekarang berada dibangku paling depan, terlihat sedang menunduk khusyuk melafalkan doa didalam hatinya..

Siwon tak ingin membuat suara yang dapat mengganggunya, jadi ia memilih mengambil duduk dibangku yang jaraknya cukup jauh dari keberadaan Yoona ketika itu. Ia menunggu. Menunggu Yoona menyelesaikan doa-nya. Dalam hati ia ikut mengamini apapun yang saat itu sedang dipanjatkan olehnya. Suatu hari nanti, ia ingin namanya disebut dalam doa yang wanita itu panjatkan. Pikirnya spontan dengan senyum menghias wajahnya. Dan apa yang ia pikirkan tadi sepertinya menjadi doanya dipagi itu..

Mungkin sekitar sepuluh menit setelahnya, Siwon yang tak melepaskan pandangannya kearah Yoona, melihatnya yang akhirnya mendongak lalu berdiri meninggalkan bangku yang didudukinya. Yoona yang menundukkan wajahnya ketika melangkahkan kakinya keluar dari dalam rumah ibadah itu, sepertinya tak melihat keberadaan Siwon yang sedang terus memperhatikannya dari salah satu bangku lain yang berada disana. Setelah tubuhnya terlewati oleh langkah kaki Yoona, Siwon menjadi sedikit panik dan lantas bergerak menyusul langkah wanita itu yang telah melewati pintu rumah ibadah..

“Yoona-ssi..” Yoona seperti tidak terlalu yakin saat mendengar seseorang yang sepertinya memanggil namanya “Yoona-ssi..” Namun ketika sekali lagi suara itu terdengar, ia akhirnya menghentikan langkahnya tepat sebelum ia mencapai sepedanya. Yoona merasakan sedikit ketegangan dari tubuhnya. Sejak bertemu dengan pria yang tidak ingin lagi ditemuinya, ia menjadi cukup khawatir kalau-kalau orang yang ketika itu memanggilnya adalah salah satu dari orang yang juga tidak ingin lagi dilihatnya. Dan benar saja ketika kemudian ia membalikkan tubuhnya, pria itu berada disana. Pria yang tidak pernah ingin dilihatnya. Bagaimana bisa pria itu muncul dari sana. Dari dalam rumah ibadah yang setiap hari selalu didatanginya sebelum matahari terbit sampai sang surya itu memperlihatkan seluruh wajahnya, untuk mengucap terimakasih karena Tuhan masih memberikan kesempatan kedua untuknya, dan sekaligus memanjatkan doa semoga Tuhan selalu berada disisinya, menuntunnya pada jalan yang tidak akan melukainya..

Dan reaksi tubuhnya tetaplah sama ketika mendapati keberadaan pria itu disana. Kedua kakinya sudah langsung terasa lemas sehingga sulit untuk ia gunakan berlari menjauh seperti yang diinginkannya. Dan masing-masing telapak tangannya mulai terasa basah oleh keringat..

“Yoona-ssi, sepertinya kau tidak melihatku..” Siwon yang melihat Yoona menghentikan langkahnya lalu terdiam didekat sepedanya, kemudian melangkah untuk mendekatinya “Aku sedang memperhatikan burung-burung yang berada diatas sana tadi, lalu melihat sepedamu dan kuputuskan untuk masuk. Aku tidak menyapamu tadi karna kupikir aku tidak mau mengganggumu yang sedang berdoa”

Yoona tidak mengerti mengapa pria itu menjelaskan hal itu panjang lebar didepannya, seolah-olah ia baru saja menanyakan alasan keberadaannya disana, padahal dirinya masih tidak mengatakan apa-apa.

“Kau terlihat bingung, Yoona-ssi.. Apa kau tidak mengingatku? Kau lupa?”

Apa pria itu tidak lupa?
Apa pria itu juga masih mengingatnya?
Mengingat dirinya sebagai wanita yang pernah bermesraan dengannya dalam satu malam. Malam yang ingin dilupakannya dalam seumur hidupnya. Malam yang kemudian menjadi awal ia terperosok pada kesalahan-kesalahan lain yang seharusnya tidak pernah berani dilakukannya. Jika malam itu ia tidak kehilangan kegadisannya, mungkin ia tidak akan pernah mau kembali pada Kyuhyun dan menerima ajakannya untuk kembali menjalin hubungan yang ia tahu sungguhlah terlarang mengingat status pria itu yang telah menjadi suami dari wanita lain. Namun pikiran dangkalnya yang mengatakan tak ada lagi yang perlu dipertahankan dari harga dirinya setelah ia kehilangan keperawanannya, membuat Yoona menerjang batasan norma yang seharusnya tidak ia langgar dan mengatas namakan cinta sebagai alasannya..

“Sebelumnya, kita pernah bertemu dipanti asuhan, Yoona-ssi.. Ya, disana.. Aku melihatmu disana pada waktu itu dan mendengar seorang bocah yang ketika itu memanggilmu, dan membuatku mengetahui namamu, Yoona-ssi”

Jadi apakah karena itu dia memanggilnya?
Pria itu memanggil namanya bukan karna teringat ia pernah menyebut namanya dengan keras pada saat mereka bersama disebuah klub malam ketika itu?
Apakah mungkin dia lupa dengan kejadian malam itu?

“Kau benar-benar tidak ingat kita pernah bertemu dipanti sebelumnya?”

Ia ingat..
Ia bahkan bisa mengingat lebih dari itu..
Ia ingat bagaimana malam itu terjadi dan berakhir dengan penyesalan besar yang kemudian ia rasakan.

“Kau sepertinya terburu-buru saat kita bertemu dipanti asuhan saat itu, jadi kita tidak sempat berkenalan”

Ia memang tak ingin berkenalan..
Ia tak ingin mengenal pria itu yang telah mengambil kegadisannya. Sedangkan melihat wajahnya saja sudah cukup membuatnya tersiksa karna dengan begitu membuatnya kembali mengingat kesalahan yang dilakukannya pada malam itu. Jadi mana mungkin ia mau mengenal dirinya.

“Namaku Siwon.. Choi Siwon. Kurasa tak adil aku tau namamu sementara kau tidak mengetahui namaku”

Setelah membuatnya mengingat kembali kesalahannya dimalam itu, haruskah pria itu juga membuatnya mengingat nama yang tadi disebutkannya?

Tak ingin mendengar lebih banyak lagi Siwon berbicara, Yoona dengan segera menggerakkan kedua kakinya untuk mengambil sepedanya. Meninggalkan Siwon dengan suaranya yang kembali terdengar..

“Yoona-ssi, apakah kau akan berada dipanti lagi? Aku juga berencana akan berada disana nanti..”

Namun sampai berjam-jam lamanya, hingga matahari sore bahkan perlahan kembali terbenam, hari berganti menjadi malam, Yoona tak muncul di panti asuhan itu lagi. Padahal yang Siwon dengar dari beberapa anak penghuni panti, Yoona selalu datang untuk bermain bersama mereka. Malam itu, ketika Siwon terpaksa harus kembali meninggalkan Yeoju, di sepanjang perjalanan pulang, dirinya hanya terdiam mengingat bagaimana Yoona yang sama sekali tidak menanggapinya, mengabaikannya..
Adakah yang salah dengan dirinya? Sikapnya?
Ataukah hal seperti itu memang Yoona lakukan karna masih merasa asing dengan kehadiran orang baru seperti dirinya?

Untuk memenuhi rasa penasarannya terhadap sikap tertutup Yoona itulah, Siwon masih kembali ke Yeoju pada akhir minggu berikutnya. Dan tempat pertama yang kemudian ia tuju adalah bangunan sebuah rumah ibadah dimana pada minggu sebelumnya ia melihat Yoona disana. Kali itu Siwon tidak turun, ataupun keluar dari dalam mobilnya meski ia telah melihat keberadaan sepeda Yoona didepan sana. Siwon lebih memilih menunggu didalam mobilnya, sampai kemudian melihat Yoona keluar dari dalamnya dan berjalan menghampiri sepedanya. Setelahnya pun, ia masih tidak keluar dari dalam mobilnya. Ia justru menyiapkan kameranya dan melakukan jepretan pertamanya dari dalam mobil, pada saat Yoona menaiki sepedanya.

Pelan-pelan kemudian, dengan menggunakan mobilnya Siwon mengikuti Yoona sampai ia berhenti dikeramaian pasar tradisional. Disanalah, Siwon kemudian turun dari dalam mobilnya dan mengikuti Yoona berjalan dari satu pedagang ke pedagang yang lain, yang kesemuanya menerima senyuman manisnya tiap kali Yoona menerima kantong belanjaannya.

“Bibi, berapa kau menjual ini? Kau akan memberiku harga murah kan?”

“Aigoo.. Aigoo gadis manis ini. Kau keponakan Han Jung hee itu kan?”

Siwon yang terus berjalan tak terlalu jauh dibelakang Yoona, bahkan dapat mendengar beberapa interaksi yang dilakukannya dengan para penjual dan seulas senyum yang selalu diperlihatkannya pada orang-orang yang menyapa dirinya.

Apakah suatu waktu nanti dirinya bisa menerima senyuman yang sama dari wanita itu? Seperti anak-anak yang berada dipanti asuhan, dan para pedagang itu yang terlihat senang ketika Yoona menunjukkan senyum diwajahnya untuk mereka. Siwon berpikir ia tidak mungkin kembali menjadi anak-anak, jadi haruskah ia lebih dulu menjadi seperti salah satu pedagang disana untuk menerima senyuman dari Yoona?
Siwon mengulas senyum dibibirnya saat pikiran konyol untuk menjadi pedagang itu terlintas dikepalanya.

Jadilah orang spesial untuknya. Orang spesial dimata dan juga hatinya. Orang seperti itu pasti akan menerima senyumannya yang lebih lebih dan lebih manis lagi dari yang diperlihatkannya pada anak-anak panti dan juga para pedagang itu disana..

Batinnya ikut bersuara, memprofokasinya dengan jenaka. Membuat Siwon kembali mengulas senyum diwajahnya. Dan aktifitas-aktifitas yang dilakukan Yoona di sebuah pasar tradisional itulah yang kemudian menjadi objek bidikan kamera yang dibawa oleh Siwon.

Yoona selesai dengan beberapa bahan belanjaan yang ia beli sesuai dengan pesanan bibi Han untuk keperluan kedainya. Ia sedang berjalan menuju sepedanya yang tadi ia tinggalkan diarea depan pasar itu, saat tiba-tiba ia berpapasan dengan beberapa remaja pria tanggung yang berlarian kearahnya. Tidak secara langsung menabrak tubuhnya, tapi menyenggol kantong-kantong belanjaannya, dan membuat beberapa diantaranya terlepas dari genggaman tangannya. Tiga remaja tanggung itu kemudian berhenti dan mendekati Yoona, membantunya mengambil kantong-kantong belanjaannya yang terjatuh..

“Mianhaeyo, noona..” Yoona tidaklah marah apalagi mengumpat. Ia hanya mengangguk maklum pada mereka, dan kemudian berpesan..
“Lain kali berhati-hatilah, jangan berlari-lari dikeramaian” “arasso, noona..”

Ketiga remaja itu mengangguk-anggukkan kepala mereka dan saling melempar senyuman terhadap satu sama lain. Segera meninggalkan Yoona disana dan bersiap berlari ketika mendengar seseorang meneriaki mereka..

“Heiii.. Berhenti kalian pencuri-pencuri kecil..!”

Siwon dengan sebuah kamera terkalung dilehernya, sebelumnya telah mendapatkan gambar bagaimana ketiga remaja itu yang terlihat sengaja menabrak Yoona, menjatuhkan kantong-kantong belanjaannya untuk selanjutnya bergerak mendekat mengambil dompet milik Yoona ketika wanita itu lengah saat membereskan barang belanjaannya. Siwon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ketika melihat aksi ketiga remaja tanggung itu yang berhasil menyelipkan dompet Yoona dibelakang tubuh salah satu diantaranya.

Yoona masih tak sadar dompet miliknya telah berpindah tangan sampai kemudian salah satu dari ketiga remaja itu dengan sengaja memamerkan dompet miliknya padanya dan pada seorang pria yang ketika itu meneriaki mereka.
Terlihat puas dengan manipulasi yang berhasil dilakukan oleh mereka.

“Terimakasih noona..! Ahjussi, urusi saja noona itu. Tidak perlu repot mengurus kami..!”

“Ya Ya Yakk.. Berhenti kalian..!”

Yoona merasakan kedua lututnya lemas, kantong-kantong ditangannya kemudian terjatuh begitu saja. Bukan lantaran ia telah kehilangan dompetnya karna ulah ketiga remaja nakal itu. Tapi karna ia melihat Siwon yang ketika itu berlarian mengejar para pencuri dompetnya. Bagaimana pria itu bisa berada disana?
Dan apa yang sebenarnya dilakukannya?
Kebetulan kah? Jika iya, Yoona benar-benar tak menyukai kebetulan-kebetulan yang seperti ini. Ia lebih baik kehilangan dompet miliknya dengan beberapa lembar uang yang tak terlalu berharga, daripada bertemu lagi dengan pria itu yang nyata-nyata telah mengambil sesuatu yang paling berharga dari dirinya. Kegadisannya..

Memang bukan salah pria itu. Dia juga tidak memaksa merenggut kegadisannya. Ia lah yang dengan suka rela menyerahkan kehormatan utama yang ia miliki kepadanya. Tapi justru karena itu Yoona tidak ingin bertemu lagi dengannya. Pria itu akan terus membuatnya teringat pada kesalahan utama dan terbesar yang pernah dilakukannya, yang mengawali kesalahan-kesalahan besar lain yang kemudian juga dilakukan olehnya. Maka seharusnya ia tidak bertemu lagi dengan pria itu. Tidak akan pernah. Disaat dirinya telah membuang kehidupan yang ia anggap kotor dibelakangnya, dan melangkah untuk menata kehidupan barunya, seharusnya pria itu tidak pernah muncul dihadapannya..

Yoona lantas dengan segera membereskan barang belanjaannya yang beberapa saat tadi kembali terjatuh dari tangannya. Ia ingin secepatnya meninggalkan tempat itu, mengambil sepedanya lalu pulang ke kedai milik bibi Han. Namun baru beberapa langkah ia beranjak, suara Siwon menghentikannya..

“Yoona-ssi, aku sudah berhasil menangkap mereka”
Yoona tidak ingin menoleh kebelakangnya, namun suara pria itu kembali memanggilnya.
“Yoona-ssi, aku membawa berandal-berandal kecil ini untuk meminta maaf padamu..”
“Noona, maafkan kami..! Maafkan kami, Noona..!”
Yoona akhirnya membalikkan tubuhnya, melihat pada ketiga remaja pria tadi yang menundukkan wajah mereka. Lalu beberapa pedagang dipasar tradisional itu mulai berkumpul mendekat dan mengumpat pada anak-anak itu yang telah berbuat ulah disekitar mereka. Yoona masih hanya terdiam sampai kemudian seorang wanita paruh baya seusia bibi Han mendekatinya dengan mengulurkan kotak p3k padanya.

“Aku mendengar dari Han Junghee, bila kau yang mengurus anak-anak dipanti ketika mereka sakit dan terluka. Jadi kupikir kau bisa membantu pria muda itu yang sedang terluka. Kasihan sekali bila wajah tampannya membiru karna ulah anak-anak nakal itu. Biar kami yang akan mengurus mereka. Aku tahu siapa orangtua nya dan akan melaporkan ulah mereka nanti..”

Setelah menggenggamkan kotak p3k itu ketangan Yoona, wanita paruh baya itu kemudian mendekati Siwon, memintanya untuk masuk kedalam warung makan miliknya dan menyuruhnya duduk pada kursi yang berada didalamnya, sementara kemudian ia kembali memanggil Yoona. “Agassi, cepatlah kau bantu mengobati lukanya”

Yoona yang merasa tak enak hati, kemudian masuk dan mendekat. Menempati sebuah kursi yang berada didekat Siwon.

Untuk seorang pemegang sabuk hitam taekwondo sepertinya, semestinya menghadapi ketiga remaja tadi bukanlah menjadi masalah bagi Siwon hingga menyebabkan sudut bibirnya berdarah. Tapi tadi ia memang sengaja membiarkan pukulan salah satu dari mereka mengenai wajahnya. Yang ia ingat saat itu, adalah gambaran ketika Yoona mengobati seorang bocah dipanti yang memiliki luka dilututnya. Dan sepertinya ia ingin mendapatkan simpati dari Yoona dengan luka yang dialaminya akibat menolongnya menangkap para pencuri dompetnya. Dan terbukti ia berhasil mendapatkannya. Yoona sekarang berada cukup dekat dengannya, sedang sibuk membuka kotak p3k itu untuk menemukan alat untuk mengobati luka disudut bibirnya..

“Ini dompetmu.. Lain kali berhati-hatilah terhadap anak-anak nakal seperti itu”

Yoona hanya menerima dompet miliknya yang diulurkan Siwon, kemudian meletakkannya keatas meja disampingnya. Kembali ia pada kesibukannya membuka kotak p3k didepannya. Dengan beberapa kapas yang ia basahi dengan menggunakan air, Yoona kemudian menyeka darah dari sudut bibir Siwon. Bibir itu, tak cuma pernah bersentuhan dengan bibirnya tapi juga pada kulit lehernya dan bagian tubuhnya yang lain..

Yoona kemudian memejamkan matanya rapat-rapat. Menolak ingatan yang begitu saja terlintas dibenaknya. Yang tidak seharusnya muncul disaat seperti ini, dan disaat apapun. Kejadian malam itu seharusnya telah menghilang dari dalam ingatannya. Bukan justru hadir sewaktu-waktu, sesukanya..

Siwon bukan tidak menyadari ketika tangan Yoona gemetar saat melakukannya. Namun ia menikmati kedekatannya saat itu dan bahkan mengabaikan rasa perih pada sudut bibirnya. Dengan kedekatannya saat itu, Siwon dapat mencium aroma parfum yang digunakan oleh Yoona. Bahkan sesaat ia seperti merasa wangi yang semacam itu pernah tercium dari bantal tidurnya. Wangi vanilla yang begitu kuat. Dan aroma parfum yang seperti itu adalah yang pernah ditinggalkan oleh wanita yang pada malam itu menghabiskan malam bersama dengannya diatas ranjang tidurnya. Mungkinkah wanita itu..?
Siwon dengan segera menepiskan pemikiran mustahil yang mendadak melintas dibenaknya. Tidak mungkin wanita itu adalah Yoona. Wanita yang ditemuinya diklub, sampai menghabiskan malam dengan bercinta dengannya tidaklah mungkin adalah Yoona. Terlalu mustahil bahkan hanya untuk dipikirkan saja. Dengan dua kali keberadaannya yang ia lihat dirumah ibadah, Yoona terlihat cukup religius dimatanya. Dan wanita religius seperti Yoona tidaklah mungkin berada diklab malam.

Siwon masih menikmati memandang wajah Yoona yang menurutnya berada begitu dekat dengan wajahnya. Tapi ketika melihat tangan Yoona yang berhenti bergerak dari menyeka darah disudut bibirnya, dan kedua matanya yang kemudian terpejam, Siwon meraih pergelangan tangannya, lalu mengambil alih kapas itu darinya. Ia kemudian merasa cukup terkejut ketika melihat Yoona yang sepertinya tersentak dengan apa yang dilakukannya. Walau hanya sesaat menyentuhnya, tapi Siwon dapat merasakan dinginnya kulit tangan Yoona..

“Maaf mengejutkanmu.. Tapi kurasa aku bisa melakukannya sendiri sekarang”

Mendengar hal itu, Yoona lantas bergegas pergi meninggalkan pria itu tanpa berkata-kata, ataupun mempedulikan untuk membawa dompet miliknya yang tadi ia letakkan diatas meja. Namun dengan begitu, setidaknya Siwon memiliki alasan untuk membuatnya kembali mendatangi Yeoju pada akhir minggu berikutnya. Ialah untuk mengembalikan dompet Yoona..

Maka kemudianpun, dompet berwarna putih itu menjadi benda berharga bagi Siwon. Ia terus membawanya kemana-mana. Meletakkannya diatas dashboard mobil ketika ia sedang berkendara.  Memasukkannya kedalam tas kerjanya ketika ia berada dirumah sakit. Hingga menempatkannya disamping tempat tidurnya saat ia bersiap mengistirahatkan tubuhnya. Dompet milik Yoona itu seperti tak pernah jauh darinya. Memang tidak pernah. Dan selalu mengingatkannya pada kejadian dimana Yoona berada begitu dekat dengannya. Menyentuh sudut bibirnya. Bahkan rasa ketika ia menyentuh kulit tangannya yang dingin -walaupun hanya sesaat- telah membuat Siwon merasakan sesuatu yang menggetarkan didalam hatinya. Normalkah rasa yang demikian?
Tidakkah perilakunya cenderung mengindikasikan sifat seorang maniak?
Entahlah, yang jelas pasti Siwon merasakan kenyamanan dengan apa yang dirasakannya terhadap Yoona, juga terhadap barang pribadi miliknya. Dan foto-foto yang didapatkannya yang tak luput dipandanginya pada setiap kesempatan yang dimilikinya. Bahkan rasanya, seperti ada semacam rindu yang kemudian menyusupi hatinya, mewarnai hari-harinya. Kerinduanya untuk melihat secara langsung keindahan wajah Yoona dan senyuman dibibirnya. Baginya, Yoona memanglah begitu indah..

image

“Oppa.. Sepertinya seorang wanita meninggalkan dompetnya disini?”

Siwon cukup terkejut pada saat dirinya baru keluar dari dalam kamar mandi, ia langsung mendapati keberadaan Sooyoung didalam apartemennya, sekaligus pada apa yang saat itu berada ditangannya. Cepat-cepat ia kemudian meraih dompet itu dari tangan sang adik, lalu mengamankannya dengan memasukkannya kedalam salah satu laci kabinet yang menjadi tempat ia menyimpan berbagai jam tangan, topi, ikat pinggang, dan aksesoris pria lainnya.

“Aku tidak pernah tau kau membawa wanita pulang kesini. Sejak kapan, oppa?”

Sejak malam itu. Dan hanya pada malam itu ia pernah membawa wanita masuk kedalam apartemennya. Malam dimana ia seharusnya berada dipesta pernikahan Sooyoung, Siwon justru melarikan dirinya dengan masuk kedalam klab. Ia merasa frustasi, sedih dan juga marah pada dirinya yang tak mampu mencegah Sooyoung dari melakukan pernikahan yang ia tau hanya akan semakin menyengsarakan kehidupan adiknya. Dalam keadaan kacau pikirannya, dan semakin bertambah kacau dengan bergelas-gelas anggur yang ditenggak olehnya, saat itulah ia bertemu dengan seorang wanita yang kemudian hanya meninggalkan bau vanilla dibantal tidurnya. Tanpa dapat ia ingat nama maupun struktur wajahnya..

“Oppa.. Kau tidak akan memberitahuku? Sejak kapan kau membawa wanita pulang bersamamu?”

“Kau salah Sooyoungie. Aku tidak membawa wanita pulang bersamaku..”
Siwon mencoba terlihat santai dari introgasi dadakan sang adik dengan mulai membuka lemari pakaiannya, memilih kemeja mana yang akan dipakainya untuk bekerja hari ini. Sesungguhnya ia lebih merasa nyaman menggunakan jeans dan Tshirt. Namun sejak ia menyetujui untuk bekerja dirumah sakit, sang ibu langsung memenuhi lemari pakaiannya dengan berbagai warna kemeja dan menyingkirkan sebagian Tshirt miliknya.

“Jadi kau akan menyangkal jika yang kupegang tadi adalah dompet seorang wanita?”

“Seseorang lupa dan meninggalkannya. Aku sudah berencana untuk mengembalikannya”

“Dengan kata lain kau mengenal pemiliknya?”

“Ya..”

“Seorang wanita?”

“Ya..”

“Apa seorang pasien dirumah sakit? Atau keluarga pasien?”

“Kau tau aku tidak bertugas memeriksa pasien apalagi berurusan dengan keluarga mereka”

“Lalu siapa?”

Siwon menyeringai terhadap keingintahuan adiknya..

“Bukan seseorang yang kau kenal”

“Oppa tidak berencana memperkenalkannya padaku?”

Siwon terkekeh, dan sambil lalu ia mengusap kepala adiknya..

“Daripada membicarakan hal yang masih tidak jelas, lebih baik aku bertanya padamu, apa yang kau lakukan disini? Kau ingin mengadu padaku tentang suami-mu itu? Pastikan terlebih dulu kau sudah merelakan aku untuk menghabisinya..”

Siwon mendengar dengusan sang adik, dan wajah merengut Sooyoung ketika mendengar apa yang dikatakannya. Dengan perutnya yang sudah terlihat semakin membuncit di lima bulan usia kehamilannya, Siwon tahu sang adik sudah semakin tangguh daripada sebelumnya. Apalagi semenjak ia membuat Kyuhyun babak belur waktu itu, Sooyoung menjadi cenderung berhati-hati untuk menceritakan permasalahannya. Tidak selalu menunjukkan kerapuhan dihadapannya. Bahkan memilih mencari sendiri solusi untuk permasalahan yang sedang dihadapinya. Siwon mulanya menyesalkan sikap sang adik yang seperti itu. Tapi kemudian ia pun memuji kecerdasannya.

Sooyoung yang sekarang, memilih tinggal bersama dengan orangtua Kyuhyun. Ayah dan ibu mertuanya, yang sangat berbahagia dengan kabar kehamilannya. Tahu akan kebahagiaan mereka itulah, dan kecenderungan mereka berpihak padanya, yang lantas membuat Sooyoung memanfaatkannya agar Kyuhyun tetap bersama dengannya. Memperhatikan janin didalam kandungannya. Walau awalnya ia melihat sang suami yang sepertinya tercekik dengan apa yang dihadapinya, namun perlahan-lahan Sooyoung cukup bisa merasakan kerelaan Kyuhyun menerima calon bayi mereka. Tidaklah masalah walau hanya calon bayi mereka yang diterima oleh sang suami, Sooyoung sudah merasa cukup dengan hal itu..

“Apa kau menemukan tanda-tanda bajingan itu berhubungan lagi dengan wanita simpanannya?”

“Oppa, berhati-hatilah saat kau sedang berbicara didepan bayiku”
Melihat Sooyoung yang kemudian mengusap-usap perutnya, dengan tatapan memperingatkannya, Siwon lantas membuat gerakan dengan mempergunakan tangannya seolah sedang mengunci mulutnya.

“Aku kemari karna aku merindukanmu. Belakangan kau selalu bepergian diakhir minggu. Jadi kupikir aku bisa datang hari ini sebelum kau pergi bekerja. Tapi sebenarnya aku merasa sedikit penasaran, kemana kau pergi dan menghabiskan akhir minggu-mu? Apa Oppa masih memburu objek fotografi?”

Siwon diam dan tidak menanggapi pertanyaan Sooyoung..

“Oppa, sebenarnya kau pergi kemana saja setiap akhir minggu?”

“A-ku ti-dak bi-sa men-ja-wab.. Mu-lut-ku ma-sih ter-kun-ci-”

“Yak..”
Sooyoung lantas memukul bahu Siwon yang langsung tertawa melihat kekesalannya. Selanjutnya, keduanya terlibat obrolan-obrolan ringan lainnya setelah Sooyoung tak terlalu berhasil mengetahui kemana sang kakak pergi menghabiskan akhir minggu yang dimilikinya. Siwon hanya membenarkan kepergiannya memang untuk memburu objek fotografi, dan mengatakan Sooyoung semestinya tak perlu mempertanyakan hal itu apalagi merasa heran dengan kepergiannya diakhir minggu. Karna hanya pada akhir minggu-lah Siwon merasa memiliki hari bebas untuk dirinya. Melakukan apapun yang diinginkannya..

Siwon sendiri kemudian merasa senang Sooyoung menemaninya melakukan sarapan pagi bersamanya. Meski kesenangan itu masih tidak dapat mengalihkan dirinya dari memikirkan Yoona. Ia sudah tidak sabar menantikan akhir minggu berikutnya dan benar-benar merasa sudah merindukannya..

Maka diakhir minggu berikutnya itu, Siwon yang sebenarnya masih tidak ingin mengembalikan dompet milik Yoona, terpaksa mengembalikannya dengan meletakkan dompet itu didalam keranjang sepeda milik Yoona yang seperti sebelumnya, Siwon temukan berada dihalaman sebuah rumah ibadah. Ia kemudian beralih untuk menunggu hingga Yoona keluar dari dalamnya, dan melihat akan seperti apa reaksinya. Siwon memang berencana hanya akan melihat bagaimana reaksi Yoona, tanpa bertemu langsung dengannya, setelah ia menyelipkan catatan kecil didompetnya..

Yoona tentu saja terkejut menemukan dompetnya yang tiba-tiba saja berada didalam keranjang sepedanya. Meski kemudian ia sadar tidak mungkin dompet itu bisa tiba-tiba berada disana. Pasti seseorang telah meletakkannya dikeranjang sepedanya. Dan seseorang itu sepertinya adalah pria itu. Yoona memucat memikirkan Siwon yang kembali muncul disekitarnya, tapi keberadaan persisinya dimana, ia masih belum mengetahuinya. Dan hal itu yang kemudian membuatnya sedikit gemetar. Bahkan untuk beberapa lama ia hanya memandangi dompetnya saja, tanpa berniat untuk mengambilnya dan memeriksa isi didalamnya yang ia tahu tidaklah seberapa. Setelah beberapa lama itulah, dan tidak mendapati tanda-tanda pria itu berada disekitarnya, Yoona akhirnya mengambil dompet itu dari dalam keranjang sepedanya dan menemukan kertas kecil yang terselip didalamnya..

Kau melupakan membawa dompetmu hari itu, jadi aku mengembalikannya padamu..

Yoona memang tak melihat keberadaan Siwon saat pria itu mengembalikan dompetnya, namun ia bertemu dengannya dipanti asuhan saat ia telah lebih dulu datang dan bermain bersama dengan anak-anak, Siwon muncul dengan membawa balon-balon mainan ditangannya, yang kemudian langsung menarik perhatian anak-anak panti asuhan itu untuk berlari menyerbu kearahnya. Berebut balon-balon yang berada ditangannya. Siwon kemudian berhasil mengatasi kerumunan anak-anak itu setelah membagikan satu persatu balon ditangannya pada mereka, salah satunya pada sang bocah yang beberapa minggu lalu memiliki luka dibagian lututnya..
“Gomawoyo ahjussi..”

“Kau lupa bagaimana seharusnya kau memanggilku? Hyung..

Bocah itu kembali terkikik mendengarnya..

“Ya, baiklah hyung.. Siwon hyung..”

“Oh, dan bagaimana dengan lututmu emm..?”
Siwon menjeda kalimatnya. Sepertinya ia lupa dengan nama bocah itu, atau memang ia belum mengetahuinya..
“Hyung lupa dengan namaku?”

“Ah, bagaimana kau bisa tahu aku lupa namamu?”

“Chan-ah.. Ayo kemarilah dan terbangkan balon itu bersama-sama..!”

“Oh, hyung.. Mereka memanggilku..”
Siwon mengangguk dan tersenyum melihat Chan yang kemudian berlari kearah teman-temannya. Setelahnya, ia baru bisa mencari-cari dimana keberadaan Yoona. Tadi ia sudah melihatnya ada bersama anak-anak. Ia juga melihat sepedanya berada dihalaman depan panti. Namun sekarang, ia tidak melihatnya berada dimanapun. Wanita itu pergi? Apa Yoona pergi setelah melihatnya? Dia pergi dan menghindar darinya? Tapi kenapa? Kenapa Yoona bersikap seperti itu padanya? Masih merasa asing kah ia terhadapnya?

Siwon termenung dengan berbagai pertanyaan dikepalanya. Hingga beberapa lama sampai kemudian ia mendengar suara tangisan dua bocah lelaki kecil yang berebut sebuah balon ditangan mereka. Chan salah satunya. Yang menangis mempertahankan balon itu ditangannya. Siwon sudah berencana untuk mendekat dan melerai pertengkaran anak-anak itu. Namun pada saat itulah ia melihat Yoona berlari keluar dari dalam panti asuhan, diikuti seorang pengurus panti dibelakangnya..

Chan langsung berlari kepelukan Yoona, sedangkan seorang bocah lainnya ditenangkan oleh seorang pengurus panti..

“Ada apa Chan-ah?”

Melihat kedua bocah yang menangis saat itu, Yoona menyesalkan mengapa ia meninggalkan anak-anak itu bermain tanpa pengawasan. Ia seharusnya tidak meninggalkan mereka hanya karena ingin menghindar dari Siwon. Kehadiran pria itu seharusnya tidak membuatnya mengabaikan anak-anak hingga mereka saling bertengkar dan menangis seperti sekarang.

“Dia meminta balon-ku..” Chan mengadu masih sambil menangis. Kemudian Yoona mengalihkan perhatiannya pada bocah kecil lainnya yang kini berada dalam gendongan seorang pengurus panti yang juga sedang membujuknya agar berhenti menangis..

“Chan-ah, bukankah kalian semua disini bersaudara?” Chan mengangguk, mulai berhenti menangis dan kini mendengarkan apa yang dikatakan oleh Yoona. “Dia lebih kecil darimu, dia adikmu. Dan sebagai kakak, bukankah kau menyayanginya, Chan-ah?” Chan kembali mengangguk..
“Jadi, mengapa kau tidak berbagi balon-mu dengannya? Kalian bisa bermain bersama-sama setelahnya..”
“Aku akan memberikannya Noona.. Aku akan memberikan balon-ku pada, Minjae..”
“Anak pintar..”
Yoona tersenyum kemudian mengusap rambut Chan, saat bocah kecil itu dengan suka rela mengulurkan balonnya pada sesama saudaranya dipanti asuhan itu. Minjae, sang bocah yang berebut balon itu dengan Chan kemudian juga terdiam dan tersenyum senang saat mendapatkan balon itu ditangannya. Dua bocah itu dengan cepat sudah kembali akrab dan bermain bersama lagi.

Melihatnya, Siwon kemudian mendekat..

“Maaf, karna balon itu yang kuberikan pada mereka, mereka jadi bertengkar”

“Oh, bukan salah anda tuan.. Anak-anak memang biasa seperti itu. Mereka hanya perlu pengarahan dari para orang dewasa untuk mengajarkan pada mereka saling berbagi terhadap sesama saudara lainnya disini”

Siwon harap kata-kata itu keluar dari bibir Yoona. Tapi seorang pengurus panti lah yang tadi menanggapinya, sedangkan Yoona justru terlihat enggan bertatap muka dengannya. Wanita itu menundukkan wajahnya sebelum terlihat mengalihkan perhatiannya pada keberadaan anak-anak yang sedang bermain, mengawasi mereka.

Setelah seorang pengurus panti tadi meminta diri untuk kembali masuk kedalam, menitipkan anak-anak dalam pengawasan Yoona, Siwon sebenarnya ingin mendekati Yoona yang ketika itu dilihatnya sedang duduk disalah satu kursi taman. Namun ia mengurungkannya setelah sikap diam wanita itu saat melihatnya, bukan mustahil ia juga akan melakukannya jika Siwon mendekatinya sekarang. Maka yang kemudian dilakukannya hanyalah mempergunakan kameranya dengan sebaik-baiknya untuk memotret Yoona. Beberapa kali jepretan yang didapatkannya, Yoona masih tidak menyadari saat itu ia tengah menjadi objek foto-nya. Namun sepertinya wanita itu kemudian merasakan sedang terus diperhatikan, hingga pada saat akhirnya Yoona menoleh, ia mendapati Siwon yang sedang mengarahkan kamera kearahnya.

Yoona tidak tahu mengapa pria itu memfoto dirinya. Yang ia tahu, ia semakin merasa tidak nyaman dengan keberadaan pria itu disana. Dengan segera Yoona memutuskan beranjak dari kursi yang didudukinya, lantas menyuruh anak-anak untuk berhenti bermain dan waktunya untuk beristirahat dengan masuk kedalam.

“Sebentar noona, aku ingin berbicara dulu dengan hyung..”

Yang Chan maksud pasti adalah Siwon. Maka Yoona membiarkannya setelah lebih dulu mengatakan pada Chan untuk tidak berlama-lama. Ia bersama anak-anak lantas meninggalkan halaman dan masuk kedalam panti.

“Hyung, apa itu?” Chan memperhatikan kamera ditangan Siwon.

“Ini kamera, Chan-ah”

“Kamera?”

“Ya, kamera..”

“Untuk apa kamera itu?”

“Untuk memotret”

“Memotret?” Chan terus bertanya, hingga Siwon yang merasa gemas kemudian mengarahkan kameranya untuk memfoto bocah kecil itu, lalu menunjukkan padanya. Dan membuat Chan mengerti apa gunanya benda itu yang berada ditangan Siwon.

“Hyung.. Hyung juga mengambil foto noona kami?”

Chan melihat foto-foto Yoona yang diambil Siwon beberapa saat lalu..

“Apa hyung menyukai noona kami?”
Siwon sempat terbengong, sebelum kemudian tergelak mendengar pertanyaan bocah kecil itu. Apa begitu jelas terlihat diwajahnya?
Apa sudah terdapat tulisan didahinya?
Hingga bocah seusia Chan bahkan bisa membaca apa yang dirasakan olehnya.

“Yoona noona memang sangat baik. Hyung pasti menyukainya, karna aku juga menyukainya..”
Chan meringis dalam tawa bersama Siwon yang tersenyum mengusap kepalanya. Seseorang akhirnya tahu apa yang dirasakannya, meski seseorang itu adalah bocah kecil bernama Chan yang Siwon yakin usianya masih belum genap tujuh tahun.

“Chan-ah, bisakah kau memanggilnya?”

“Nde?”

“Panggilkan noona kalian itu, dan katakan padanya aku sedang terluka..”

“Hyung terluka? Tapi hyung baik-baik saja. Apa yang terluka, hyung?”

Bocah kecil seperti Chan pastilah tidak memahami apa yang ketika itu Siwon pikirkan dan lakukan dengan meninju sebatang pohon, cukup kencang, hingga membuat darah keluar dari dalam buku-buku jarinya yang sebelumnya terkepal. Kini ia mempunyai luka. Luka ditangannya yang didapatkannya dengan sengaja..

“Hyung..! Noona.. Yoona noona! Hyung berdarah..! Yoona noona, hyung berdarah..! Noona!”

Chan dengan cepat berlari masuk kedalam panti, mencari-cari keberadaan Yoona dan menemukannya yang sudah siap membawa pulang wadah-wadah makanan yang tadi dibawanya.

“Noona..! Hyung, noona.. Siwon hyung..” Bocah itu sedikit tersengal setelah berlari dari halaman.

“Ada apa Chan-ah?”

“Hyung terluka.. Hyung berdarah, noona. Cepat tolong dia..”

“Apa?”

“Ayo cepat noona..”

Chan menarik Yoona agar mengikutinya. Anak-anak lainnya sudah lebih dulu kembali berlarian keluar dari dalam panti, menuju halaman, untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Siwon duduk diatas rerumputan halaman, bersandar pada sebatang pohon yang sebelumnya mendapatkan kepalan tinju darinya, dengan sedikit nyeri pada punggung tangannya yang memar dan berdarah. Anak-anak yang melihatnya saat itu, hampir semuanya memperlihatkan ekspresi ngeri diwajah mereka. Termasuk dengan Chan, yang berhasil menarik Yoona sampai kesana..

“Cepat obati hyung, noona..”

Yoona masih hanya terdiam diantara anak-anak lain yang mengerumuni Siwon, sampai kemudian seorang penghuni panti yang lebih dewasa dari anak-anak yang berada disana, mendekatinya dengan kotak p3k ditangannya..

“Ini noona..”

Yoona memandangi kotak p3k itu, sebelum kemudian menerimanya. Meski masih merasa bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Ia sungguh tidak ingin memiliki urusan apapun dengan pria itu. Tapi keberadaan pria itu yang belakangan lebih sering muncul disekitarnya, entah dengan maksud dan tujuan apa, membuat Yoona mau tak mau kembali berurusan dengannya. Seperti keadaannya yang sekarang sedang terluka, membuatnya akhirnya mendekat untuk mengobati lukanya. Sejenak ia memperhatikan letak dan bentuk lukanya, sebelum kemudian dapat menyimpulkan luka ditangan Siwon saat itu sepertinya diperoleh karna kecerobohan atau kesengajaan pria itu sendiri..

“Maaf, aku seharusnya tidak merepotkanmu. Aku sedang berusaha memukul serangga yang bisa membahayakan anak-anak. Tapi sepertinya aku melakukannya terlalu keras hingga melukai tanganku sendiri”

Yoona hanya mendengar tanpa menanggapi penjelasan pria itu sebelum akhirnya memposisikan tubuhnya duduk dihadapan Siwon, lalu menerima tangan pria itu yang diulurkan kepadanya. Tuhan tahu apa yang ketika itu dirasakannya. Ingatan yang berputar didalam kepalanya ketika tangan itu bersentuhan dengan tangannya. Tangan itu pernah menariknya dari seorang pria menjijikkan. Tangan itu pernah menuangkan anggur yang begitu memabukkan untuknya. Tangan itu juga pernah menyentuh tubuhnya. Hingga menuntun dirinya sampai keatas ranjang..

Yoona kembali merasakan gemetar ditubuhnya.
Apalagi ia sadar, pria itu sedang terus menatapnya. Segera ia melakukan apa yang seharusnya dilakukannya dan mengabaikan gambaran-gambaran yang muncul dikepalanya yang kembali mengingatkannya pada kejadian saat ia bertemu dengan Siwon didalam klub malam itu..

Selesai membersihkan darahnya, Yoona mengoleskan sejenis salep pada luka dan bekas memarnya, sebelum menutup luka itu dengan menggunakan gulungan kain kasa..

“Terimakasih Yoona-ssi, dan sekali lagi maaf telah merepotkanmu”

Yoona seperti biasa, tidak membalas apa yang dikatakannya. Bahkan sekedar menganguk pun tidak. Wanita itu dengan segera beralih dari hadapannya..

Tapi kejadian saat Yoona mengobati luka ditangannya, benar-benar membekas dihati Siwon. Ia juga semakin dibuat penasaran dengan sikap Yoona yang seperti itu. Ia jelas memperlihatkan ketidak inginan untuk mengenal dirinya, namun dari kejadian saat dipasar tradisional dan ditambah dengan yang terjadi dipanti asuhan, Siwon telah mendapatkan pembuktian bahwa meski terkesan mengabaikan pria asing sepertinya, Yoona nyatanya masih memiliki kepedulian didalam hatinya. Walau seharusnya Yoona sudah tak asing dengannya. Mereka sudah sering bertemu. Bahkan Siwon selalu menyapa dirinya. Sejak pertemuan pertama mereka yang terjadi dipanti asuhan waktu itu, terhitung sudah sekitar dua bulan lamanya Siwon selalu menjadikan Yeoju sebagai tempat tujuan menghabiskan akhir minggu nya.

Tapi khusus untuk hari itu, Siwon yang kembali mendapatkan perintah dari ayahnya untuk mengirimkan sumbangan ke panti asuhan itu, mendatangi kawasan Yeoju pada awal minggu, disaat cuaca cerah dan matahari bersinar tidak terlalu panas, hingga lebih terasa menghangatkan tubuhnya.

Karena kedatangannya hari itu bersama dengan beberapa orang staf yang bekerja dirumah sakit, mereka langsung menuju panti dan bertemu langsung dengan pemilik yayasan panti asuhan itu. Siwon hanya berharap ia bisa menjumpai Yoona disela-sela kunjungannya hari itu. Meski tidak bertemu pun, ia tidak akan terlalu kecewa karna tujuan kedatangannya hanyalah dalam rangka menjalankan pekerjaan, dan ia masih bisa kembali lagi nanti untuk menjumpai Yoona pada akhir minggu seperti biasanya.

Meski ia mengatakan pada hatinya bila ia takkan merasa kecewa, namun nyatanya ia merasakan sedikit perasaan yang seperti itu ketika sampai di akhir kunjungannya, Siwon benar-benar tak melihat kedatangan Yoona dipanti asuhan itu. Mungkin memang belum waktunya Yoona datang. Tapi ia sudah harus segera pulang. Siwon yang sudah berniat meninggalkan panti asuhan itu dengan melangkah menuju mobilnya yang terparkir dihalaman, justru dikejutkan dengan suara seorang wanita paruh baya yang memanggilnya..

“Oh Tuhan.. Bagaimana ini bisa terjadi anak muda? Bagaimana aku bisa bertemu denganmu disini?”

Siwon masih berkerut dahi, mengingat-ingat dimana sebelumnya ia pernah bertemu dengan bibi itu yang tadi sepertinya muncul dari halaman samping panti..

“Kau tidak mengingatku?”

Siwon menggeleng, kemudian menunduk meminta maaf..

“Aku yang waktu itu meminta tolong untuk menyelamatkan seorang wanita yang mencoba menenggelamkan dirinya dilaut. Bukankah kau yang waktu itu berlari kelaut dan menyelamatkannya?”

Ohh..
Jika wanita paruh baya itu saja bisa mengingat kejadian yang terjadi beberapa bulan lalu itu, bagaimana Siwon tidak mengingatnya?
Ia tentu bisa mengingat kejadiannya. Ia ingat karna ia bahkan kehilangan kameranya disana. Kamera peninggalan sang wanita cinta pertamanya. Hanya saja Siwon lupa pada wanita paruh baya itu jika tadi bibi itu tidak mengingatkannya..

“Oh, aku ingat dengan kejadian itu bibi.. Hanya saja aku tidak mengenali bibi. Maafkan aku bibi..?”

“Han Junghee, kau bisa memanggilku bibi Han..”

“Kalau begitu bibi bisa memanggilku Siwon. Namaku Choi Siwon..”

“Aigoo.. Aku benar-benar tak menyangka bisa melihatmu disini, Siwon-ah”

Siwon mengangguk dan tersenyum ketika bibi Han menepuk-nepuk bahunya..

“Jadi apa yang sedang kau lakukan disini?”

“Aku datang untuk memberikan bantuan pada panti asuhan, bibi..”

“Jadi kau yang memberikan bantuan kesehatan untuk anak-anak?”

“Aku dan beberapa rekan, atas nama rumah sakit bibi..”

“Aigoo.. Kau benar-benar anak muda yang baik, Siwon-ah. Aku berterimakasih kalian memperhatikan anak-anak disini”

Siwon hanya mengangguk. Salah satu yang tidak disukainya dari pencitraan yang coba dilakukan sang ayah untuk rumah sakitnya. Dimata orang-orang awam seperti bibi Han misalnya, jelaslah maksud terselubung sang ayah adalah sesuatu yang mulia yang patut untuk dipuji dan dielu-elu kan..

“Maaf bibi, tapi aku harus pergi sekarang”

“Oh, bisakah kau ikut denganku sebentar?”

“Nde?”

“Kamera-mu.. Aku menyimpan kameramu dirumah. Hari itu dirumah sakit, seseorang yang menemukan kameramu disekitar pantai itu menitipkan kameramu padaku..”

“Jadi kamera-ku, kamera ku ada pada bibi?”

Bibi Han mengangguk..

“Aku tidak tahu kemana aku bisa mengembalikannya padamu, jadi aku menyimpannya”

“Masuklah bibi.. Masuklah kedalam mobilku dan kita kerumah bibi sekarang”

“Anio, aku akan berjalan kaki saja.. Tidak terlalu jauh dari sini”

“Tidak apa-apa bibi. Ayo, aku ingin segera mengambil kameraku”

Bibi Han akhirnya mengikuti Siwon dengan masuk kedalam mobilnya. Dan tak sampai lima menit perjalanan dengan menggunakan mobil, bibi Han meminta Siwon menghentikan laju mobilnya didepan kedai mie miliknya. Keluar dari dalam mobil, Siwon mengikuti bibi Han masuk kedalam kedai dan duduk pada salah satu kursi disana. Sementara kemudian, bibi Han mengambil kamera yang disimpannya dan kembali kehadapan Siwon dengan kamera itu ditangannya.
“Ini kamera-mu, Siwon-ah..”
“Terimakasih telah menyimpannya untukku, bibi”
Siwon tersenyum menerima kamera itu ditangannya. Kamera yang menjadi salah satu benda berharga untuknya. Ia sudah sempat kembali ketempat dimana ia begitu saja melempar kameranya sebelum menceburkan dirinya kedalam laut untuk menolong seorang wanita yang saat itu berusaha mengakhiri hidupnya. Namun setelah berkali-kali menyisir pinggiran pantai itu, ia tidak menemukannya. Rupanya seseorang telah lebih dulu menemukannya, dan bersyukur kemudian bibi Han menyimpan itu hingga sekarang kembali berada ditangannya.
“Aku lah yang seharusnya berterimakasih padamu, kau sudah bertaruh nyawa untuk menyelamatkan gadis itu”
“Bagaimana keadaannya sekarang? Apa bibi mengetahuinya?”
“Dia berangsur-angsur membaik, dia tinggal bersamaku sekarang” Bibi Han tersenyum saat dari dalam kedainya, ia melihat Yoona pulang dengan menaiki sepedanya..
“Apa gadis itu saudara bibi?”
“Dia sudah seperti keponakanku, bahkan putriku. Itu dia, Na-ya.. kemarilah sayang”

Siwon menoleh, Yoona yang tadi sempat tersenyum saat membuka pintu, seketika terdiam ditempat, terpaku pada saat melihat Siwon duduk bersama dengan sang bibi. Pria itu disana? Bagaimana bisa?

Sementara Siwon kemudian menatap lekat-lekat pada wajah Yoona. Benarkah Yoona yang saat itu ia selamatkan?
Pantas saja saat pertama kalinya ia melihat hasil fotonya, ia merasa pernah melihatnya. Ternyata bukan saat itulah pertama kalinya Siwon melihat Yoona. Sebelumnya ia sudah melihatnya saat ia membawa tubuhnya keluar dari dalam lautan. Saat itu, Yoona memiliki wajah yang sangat pucat, bibirnya bahkan membiru. Tapi yang belakangan Siwon lihat, Yoona memiliki rona diwajahnya. Pantas saja ia tidak mengenalinya. Yoona memang terlihat berbeda. Lebih cantik dari yang waktu itu ia lihat dalam keadaan pucat pasi dan tidak sadar..

Siwon mendadak tersenyum melihatnya setelah teringat ia tak hanya sekedar pernah memegang tangannya, tangan yang juga pernah mengobati lukanya. Tapi juga, Siwon sudah pernah menyentuh bibirnya pada saat memberikan pernapasan buatan untuknya..

*

*

*

To Be Continued~

Menunggu lagi bwt apdetan selanjutnya yaa^^

@joongly

237 thoughts on “FF | Second Chance | 6

  1. ish kapan ingat’y sih itu siwon klo dia udh merawanin (?) yoona, bkan hnya smpai bibir ><
    n yoona kpan skapnya brubah ??
    sbnrnya siapa yg jdi cinta pertamanya siwon ?? smpai spesial gtu ??
    dia bsa bgt sih cari" ksmpatan spya d/obati sma yoona ..
    ayo kak dtunggu lnjutnnya

  2. Woow yoonwon momen nya udh lumayan banyak, tapi ko siwon nya ga inget siapa cewe yg pernah tidur semalam dengan nya ya…
    Okelaah, siap menunggu chapter selanjutnya eonnie😉

  3. Siwon konyol bgd…
    Saking pengendnya interaksi sama yoong sampe nglukain diri sendiri….
    Wkwkwkwk…
    Misterinya mulai terpecahkan satu persatu…
    Gag sabar sama next chapternya….
    Fighting thor…🙂

  4. haduh wonpa kok ga ingat sama yoona sih? cuma inget ma rasanya aja ya.wkwkw..emangnya makanan ada rasanya…
    wonpa tuh sebenernya jatuh cinta ma orang yang sama , yaitu yoona, cuma dia ga tau aja…. penasaran ma lanjutannya , apalagi kalo wonpa sampe tau dia hampir punya anak dari yoona

  5. aku selalu telat ne bacanya yoonwon sering brtemu tapi yoong eon selalu menghindar ayo joongly cepat update donk pas seru2nya slalu tbc jadi sebel kadang pngn protes. dilnjut

  6. aduh knph siwon engga ingat2 klu yoona adalah perempuan yg tdr dengan nya..trs sikap yoona bikin geregetan aj kenapah engga blng aj klu mereka pernah tdr brng jd gemes jdnya,coba nya yoona engga nyebur ke laut dan hamil anak siwon pasti lebih seru..tp yg bkn penasaran cinta pertama siwon ciapa kira2 orng itu?,bikin penasaran..

  7. Siwon ga inget…jls nyesek bgt itu…ceeitanya seru nih…
    gmna Ntar sikap yoona bs berubah apa ga ya ke siwon coz kynya dia trauma bgt…

  8. yaa ampun won oppa, ingatan mu bner-bner deh.. kasian yoong eonni jd trauma seperti itu,, semoga ingatan siwon oppa balik dan ingt ttg yoong eonni,, dan kyusoo semoga mereka harmonis.. yoonwon semoga cepet bersatu walau badai menghadang…
    ditunggu next chapnya eonni

  9. Wah keren kasian yoona pasti masih trauma gara2 kejadian itu sma siwon tp yoona jangan cuek2 dong sama siwon kan siwon udah nyelamatin dia..
    Penasaran juga sama kyuhyun apa masih nyari yoona

  10. Siwon kapan sih ingat kalau dia pernah bertemu sama Yoona di klub..
    Sepertinya Yoona bener2 trauma yah..
    Ooo.. Siwon sepertinya mulai jatuh hati sama Yoona..
    KyuSoo langgeng yah…

  11. Jadi yoona itu orng yang sama dengan wanita di klub? Yaampuuun siwon oppa kenapa lupa sih aah sayang banget :” eh tapi gimana nanti kalo udah inget ya terus misalnya udah ketauan semuanya? Semoga aja pas semuanya ketawan yoonwon udah saling cinta dan udah punya hubungan Aamiiiiin🙂
    Semangat terus eonnie😀

  12. Itu sisiwon kenapa gaainet cobaa kalo dia pernah ituan samma yoonaa biar dia tau gituuu kalo yoona hamil anaknyaaa eee tapi siwon gatau y kl yoona lg hammil

  13. Itu kepala siwon harus di pukul pake besi biar inget, gws buat Wonpa. Kkk~ oh itu nafas buatan sebut saja Tabrakan bibir.. Hehe
    july unnie daebak! Unnie aku nunggu ini lama dan baru sempet baca sekarang oh kangen banget sama tulisan unnie, hihi semoga yang ke 7 gak lama *eh

  14. Akhirnya aku baru ada waktu untuk baca ff ini, padahal publishnya udh lama. Siwon benar-benar telah jatuh cinta pada pandangan pertama. 3 wanita yang bisa membuatnya jatuh cinta. yang kedua dan ketiga aku yakin itu orang sama yaitu yoona, tapi perempuan yang pertama siapakah dia ? kenapa sih yoona tidak bilang saja kalau siwon pernah tidur dengannya dan kenapa lagi siwon sangat tidak bisa mengingatnya ?

  15. Duh ini bakalan jadi long ff dengan roller coaster mood nih kayaknya
    Gak ada komedi2nya di dlm cerita ini? *dijitak july unni*
    Hehehehe
    Suedih liat hidup yoona unni disini😥😥

    Akhir2 ini kok ff unni “nyiksa” yoona unni mulu yak?
    Gak kasian?😞😞

  16. moment yoonwonnya sweet banget ya,tapi siwon oppa belum inget juga,gimana nich,tapi siwon oppa sepertinya jatuh cinta pada pandangan pertama nich,(sok tau w ya),hehehe

  17. Aduuuuh siwon….baru inget prnh ngasih napas buatan aja seneng na segituh,, apalagi klo inget yg lebih dr ituh…kapan sih oppa inget?? Hadeuh….pen rasa na nabrakin kepala kk yg ganteng itu ke tembok..heuheu…*peace…haha..gemes deh jd na…tp siwon uda curiga dan mulai bertanya2 klo wanita yg dibawa ke apartement itu yoona…hoho..apa jd na yah klo soo tau ce yg ditaksir siwon yoona??? Dan gmn reaksi siwon klo tau yoona itu pernh ngejalin hubungan sama kyu?? Makin pnasaran sama cerita na…dan pnasaran dgn kejutan2 yang tak terdugaaaaa…dtggu lnjtn na…fiiiiiighhtiiiiing….

  18. Kebetulan yg sungguh diluar dugaan!!
    Emg bener yee,yg nama’y jodoh mah ga bakalan kmn,mo lari trus ilang k ujubng duniapun pasti ttp aka bakalan ketemu,dan itu terjadi pada siwon & yoona di cerita ini. Hahahaha…

    Skrg tujuan d akhir pekan ada 3 tmpt,rumah ibadah,panti asuhan & kedai bibi han!!
    Yiipppiieee…

    Semangat siwon oppa,taklukan (kembali).hati yoona dgn pesona muu…

  19. Wonppa dsni kyk ny pelupa terus orgny :3
    Hadeh wonppa kpn kah dirimu ingat bhwa dirimu lh yg prtma kli merebut kegadisannya yoona eon >_<

  20. ya Tuhaaannnn…
    Apa ini? Kenapa siwon pikun gini??
    Apa ada riwayat khususnya??
    Wanita yg selama ini bersarang di pikiran siwon tuh hanya yoona seorang. Tapi kenapa won, lu pikun gini?
    Apa mungkin yoona anaknya bibi han??
    Ohh my seruuu sekaleee…

    Eh tapi gak kbayang deh jika saatnya siwon mengetahui bahwa wanita simpenan itu adalah Yoona nya tersayang..
    Bagaimana ini?? So stay tunee..
    Hahaha ditunggu bgt next chapternya authorr baik hatii :*

  21. Ohhh yoona,,, ternyata siwon yang melakukan semuanyaaa,, jangan2 yoona adalah ketiga wanita yang berhasil menarik perhatiannya… ohh aku semakin penasaran, tapi siwon oppa sungguh pikun baget yahhh…

  22. Seandainya siwon ingat kejadian pas sama yoona waktu itu. . Cepet lanjut chap selanjutnya ya thor. . Udah penasaran bgt,, ^^ author fighting!! ^o^

  23. Makin sweet makin panjng dan sangat sangat menarik..
    #horeeeeeeeeee!!!!
    Pahlawan kuda tampan’y yoona udah mulai inget ya oppa meskipun dikit”. tp yg di inget momen yg sweet y doang #mesum si oppa kekeke😀
    saya mah gx mentingin gadis d masa lalu wonppa yg penting gadis masa sekarng yg ada d hadapan wonppa harus d perjuangkan ya oppa #semngat.
    Udah lah sweet” an ya ngantuk mau bobo hehhe dan untuk unnnie cepet” d lanjutin ya dah gx sabar unnn.. Soal’y cerita ya tu makin seruuu pake bangettt..
    Terimakasih 🙂 selamat malm dan sampai jumpa joongly unn.. D tunggu ya #cerewet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s