Fanfiction

FF | Second Chance | 5

image

Story | Im Yoona | Choi Siwon | Choi Sooyoung | Cho Kyuhyun | Etc

Cover: Berta/Xoloveyoonwon

Happy reading~

~

~

~

Bila dibandingkan dengan keadaannya sebelumnya, senyum itu kini sudah lebih sering menghias wajah Yoona. Menggantikan muram yang beberapa lama sempat menggurat jelas diwajahnya. Muram yang diakibatkan kekecewaannya karna Tuhan tidak begitu saja membiarkannya mati dengan mudah, tanpa terlebih dulu membuatnya menanggung kesakitan karna kesalahan yang telah dilakukannya. Dan salah satu kesakitan yang kemudian ia rasakan ialah pada saat janin-nya tak bisa diselamatkan. Seakan statusnya sebagai pendosa masih tidak cukup, Tuhan menambah dengan memberikan stempel pembunuh pada dirinya. Keinginannya untuk mati dan menebus dosanya, justru telah menjadikannya sebagai pembunuh janin dalam kandungannya sendiri..

Entah apa yang menjadi maksud Nya, tapi Yoona merasa seharusnya Tuhan tidak membiarkannya hidup..
Seharusnya ia ikut mati bersama dengan janin-nya..
Namun nyatanya Tuhan telah menggariskan lain hidupnya, dengan membiarkannya tetap hidup dan mendatangkan seorang wanita paruh baya untuk menyelamatkannya.

Adalah bibi Han, orang yang pertama kali Yoona lihat ketika ia membuka matanya dan kemudian membuat Yoona berurai airmata, saat untuk pertama kalinya ia menceritakan permasalahan hidupnya pada orang lain. Wanita paruh baya itu tidak menghakiminya, tapi justru merangkulnya dan mengatakan nasehatnya yang semakin membuat Yoona bercucuran airmata..

Betapa saat itu ia merasa teramat membutuhkan keberadaan kedua orangtua nya. Jika ayah ibunya masih bersama dengannya, ia mungkin tidak akan terjerumus kedalam hubungan yang mengakibatkan luka dihatinya, dan terlebih melukai hati orang lain. Mereka pasti tidak akan membiarkan ia melakukannya..

Ayah serta ibunya mungkin akan mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan bibi Han.
Menurut sang bibi, mati bukanlah cara untuk menebus kesalahannya. Justru ia harus tetap hidup agar dapat memperbaiki kesalahan yang telah dilakukannya. Dan Tuhan pasti juga menginginkan demikian. Tuhan membiarkannya tetap hidup bukan karna membencinya, lalu ingin menyiksa dirinya melalui kehidupannya yang menyedihkan. Melainkan, Tuhan sedang menunjukkan kasih sayangnya dengan memberikan kesempatan kedua baginya untuk memperbaiki kesalahannya. Maka sudah sepantasnya ia berterimakasih pada Tuhan, dan mempergunakan kesempatan kedua yang telah diberikan untuknya dengan meneruskan hidupnya, mengisinya dengan hal-hal baik. Karna kesedihan maupun kesenangan itu sendiri tergantung pada bagaimana cara kita memandang kehidupan..

Yoona sempat tak percaya dengan kesempatan kedua yang Tuhan berikan untuknya, namun bibi Han lah yang kemudian meyakinkannya bahwa semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, termasuk dengan dirinya..

“Kau harus yakin Yoona-ya.. Kau memang pantas mendapatkan kesempatan kedua itu. Kau bukanlah orang jahat, hanya saja situasi dalam kehidupan ini terkadang membuat kita bingung hingga menjadikan kita mengambil keputusan yang salah..”

Mendengar itu, Yoona kemudian memutuskan untuk melanjutkan hidupnya, memperbaiki kesalahannya. Meninggalkan apa yang sudah terjadi dibelakangnya, termasuk dengan cintanya pada Kyuhyun..

Mungkin awal dari kesempatan kedua yang Tuhan berikan adalah dipertemukannya ia dengan bibi Han. Dengan bantuan wanita paruh baya itu, Yoona mencoba menata kembali hidupnya. Bibi Han lah yang awalnya menawarkan pada Yoona, agar ia mau tinggal dengannya. Bukan bermaksud membawa Yoona melarikan diri dari permasalahannya, namun sang bibi merasa Yoona memerlukan beberapa waktu untuk menenangkan diri dari situasi yang menghimpitnya dan mengatasi tekanan yang berasal dari dirinya sendiri akibat penyesalan dan sekaligus kuatnya rasa bersalah yang dirasakan olehnya..

Bibi Han ternyata tinggal seorang diri setelah sang suami meninggal dan dua orang anak yang dimilikinya memang sejak lama telah tinggal terpisah darinya. Anak pertamanya sudah tinggal terpisah darinya sejak berada diperguruan tinggi hingga sekarang setelah menikah. Tak berbeda dengan anak keduanya yang sama halnya mengikuti jejak sang kakak. Anak gadisnya itu bahkan memperoleh beasiswa dari perguruan tinggi diluar negri, hingga sekarang bekerja disana. Saat bibi Han melihat percobaan bunuh diri yang dilakukan Yoona, dan memutuskan untuk berteriak meminta pertolongan, ketika itu sebenarnya ia berada disekitar sana hanya untuk mengunjungi rumah anak pertamanya dan juga menantunya.

Wanita paruh baya itu rupanya tinggal jauh didaerah Yeoju, dan dari sinilah Yoona kemudian mencoba membuka lembaran baru hidupnya. Meninggalkan kepahitan dibelakangnya. Berharap kesempatan kedua itu benar-benar Tuhan berikan untuknya..

“Bibi, bolehkah aku pergi sekarang?”

“Ya, pergilah dan bawa ini.. Berikan pada anak-anak..”

Yoona tersenyum menerima wadah makanan yang diulurkan sang bibi, kemudian memasukkannya kedalam keranjang sepedanya..

Bibi Han adalah seorang pemilik kedai kecil penjual mie, yang ditinggalkan suaminya. Dalam tiga bulan terakhir ia tinggal dengannya, setiap pagi Yoona memulai aktifitasnya dengan membantu sang bibi menyiapkan berbagai bahan yang akan digunakan untuk menjual mie di kedainya yang mulai buka menjelang siang hingga kembali tutup pada malam hari. Dari mulai membuat mie, hingga tak jarang Yoona pun ikut menemani sang bibi berbelanja di toko hingga pasar, dengan sepeda mini yang sekarang menjadi akrab dengannya. Menemaninya pergi kemana-mana. Menurut sang bibi, sepeda itu dulu adalah milik anak perempuannya yang sekarang bekerja diluar negri. Dan ia merasa sangat senang saat melihat Yoona mau memakainya. Menurutnya, Yoona terlihat mirip seperti anaknya saat memakai sepeda itu..

Selain kesibukan mengurus kedai, bibi Han rupanya juga mengenalkan pada Yoona keberadaan sebuah panti asuhan yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal mereka. Setiap hari, sang bibi juga membagikan makanan dari kedai miliknya pada anak-anak yang berada disana. Tidak banyak memang, namun cukup memberinya kepuasan saat bertemu dengan anak-anak disana dan melihat senyum diwajah mereka ketika mengucapkan terimakasih padanya. Dan sejak keberadaan Yoona disana, tugas membagikan makanan ke panti asuhan itu kini berpindah ke tangannya. Yoona yang menjadi cukup dekat dengan anak-anak yang berada dipanti asuhan itu, belakangan juga menambah kunjungannya pada sore hari, yang dilakukannya sekedar untuk menemani mereka bermain atau berjalan-jalan disekitar panti..

Seperti yang ketika itu ingin dilakukannya saat terlebih dulu ia meminta ijin dari sang bibi..

“Yoona noona..!!”

Tidak seperti biasanya, hanya ada seorang bocah lelaki kecil yang ketika itu berseru memanggilnya, berlarian menghampirinya yang sedang meletakkan sepedanya dihalaman panti..

“Dimana teman-temanmu yang lain? Apa mereka masih belajar?”

“Anio, sedang ada tamu yang datang..”

“Tamu?”

“Ya, beberapa petugas kesehatan datang untuk memberi bantuan.. Jadi kami diminta untuk berkumpul didalam..”

Yoona kemudian menggumam Oh saat mendengar bocah lelaki itu memberikan penjelasan..

“Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu kalian ditaman..”

“Noona tidak ingin masuk..?”

“Tidak.. Sepertinya aku perlu menyiapkan permainan yang akan kita mainkan nanti”

“Wow.. Itu pasti sesuatu yang menyenangkan, noona.. Aku akan memberitahu yang lain..”

Yoona tersenyum melihat wajah bersemangat sang bocah yang kemudian berlari masuk kedalam panti. Meninggalkan Yoona yang lantas melangkah menuju area taman bermain yang masih terletak diarea halaman itu..

Bersama anak-anak yang ceria, sedikit banyak telah menjadi semacam terapi bagi Yoona yang dengan perlahan-lahan membantunya mengatasi rasa tertekan oleh perasaan bersalah yang masih kerap muncul setiap kali kalimat-kalimat yang diucapkan Sooyoung terngiang olehnya. Kepedihan diwajah wanita itu bahkan terus membayanginya sampai kedalam tidurnya. Menjadikannya merasakan hujaman belati yang ditancapkan kedalam hatinya. Sakit dan luar biasa menyiksa..

Tak lama berselang, satu persatu anak-anak mulai berlarian keluar dari dalam panti dan terdengarlah seruan kesenangan mereka saat bermain dengannya..

Hingga kemudian suara canda tawa itu terdengar oleh salah seorang pria yang menjadi tamu, yang berkunjung ke panti asuhan itu..

Siwon, sejak tadi sebenarnya sudah merasa jengah berada didalam panti asuhan itu. Bukan jengah terhadap keadaan panti yang dikunjunginya, melainkan jengah terhadap dirinya terlebih keberadaannya disana bersama dengan beberapa orang lainnya yang diperintahkan oleh ayahnya untuk memberikan bantuan medis. Dari mulai suplai obat-obatan dan pemeriksaan kesehatan yang dilakukan terhadap anak-anak yang berada disana.

Bukankah apa yang diperintahkan sang ayah adalah suatu perbuatan yang mulia?
Mengapa ia justru merasa jengah?

Tentu saja karna ia tahu, bukan semata ketulusan yang mendasari itu semua, melainkan bentuk pencitraan yang dilakukan sang ayah demi menjaga nama rumah sakit-nya. Dan kejengahan yang dirasakannya itu karna dirinya berada disana untuk mewakili sang ayah, dan secara otomatis membantunya dalam pencitraan yang sedang dilakukan ayahnya..

Tidakkah ia terlalu berpikir sentimentil terhadap ayahnya sendiri?

Justru karena ia sangat mengenal ayahnya, ia menjadi tahu apa yang banyak orang tidak ketahui dari ayahnya..

Kembali mendengar suara canda tawa itu, Siwon kemudian memilih untuk keluar dari dalam panti, menuju halaman depan dimana sepertinya sumber suara tawa itu berasal. Untuk beberapa saat ia berhenti melangkah, dengan dahi mengernyit ia memperhatikan pada sebuah sepeda yang sepertinya, saat ia datang tadi sepeda itu tidak berada disana.

Bukan keberadaan sepeda itu disana yang membuatnya mengernyit, namun perasaan tak begitu asing yang seolah mengingatkan dirinya jika ia pernah melihat sepeda itu sebelumnya.
Milik anak-anak kah? Atau penjaga panti?
Tapi sepeda itu, dimana ia pernah melihatnya?

Ooh..
Jangan selalu menggunakan perasaan untuk hal-hal semacam ini, tapi cobalah gunakan ingatan yang kau miliki..

Batinnya bersuara, membuat Siwon makin mengernyitkan dahinya lagi. Dan ia masih tetap tidak dapat mengingat kapan dan dimana sebelumnya ia pernah melihat sepeda seperti yang berada dihadapannya.

Maka, salahkan saja ingatannya yang payah bila kemudian ia kesulitan untuk mengingatnya..

“Noona.. Hikss hikss..

Siwon masih belum beralih dari memperhatikan sebuah sepeda dihalaman itu, sampai kemudian terdengar suara tangis yang mengganti tawa canda yang sebelumnya ia dengar, yang selanjutnya membuatnya mencari sumber suara tangis itu berasal..

“Noona.. Appoyo.. Hikss..

“Gwencana.. Tidak apa-apa, aku akan mengobati lukanya..”

“Oenni.. Ini obatnya..”

Seorang gadis remaja tanggung, usianya mungkin terbilang baru tigabelas atau empat belas tahun, menghampiri Yoona dan memberikan kotak p3k padanya..

“Aku bilang jangan berlari-lari kencang seperti tadi..”

Remaja itu kemudian memarahi sang bocah lelaki yang sedang meringis merasakan perih pada lututnya yang berdarah setelah ia terjatuh beberapa saat tadi..

“Tapi aku hanya ingin mengambil bolanya tadi..”

Bocah itu membela diri, sambil menatap pada Yoona seakan meminta perlindungan darinya. Yoona tersenyum pada bocah itu, sambil tangannya terulur mengusap pada rambutnya..

“Gwechana.. Setelah diobati ini akan sembuh..”

Membuka kotak p3k itu, Yoona mengeluarkan peralatan dari mulai kapas, cairan alkohol hingga plester penutup luka dari dalamnya. Dengan hati-hati ia kemudian lebih dulu membersihkan darah disekitar luka pada lutut sang bocah, sebelum kemudian memasangkan plester untuk menutup lukanya.

Anak-anak lain yang berkerumun membentuk sebuah lingkaran yang mengelilingi Yoona dan bocah yang sedang terluka itu, memperhatikan meski sambil ikut meringis seolah rasa perih akibat luka yang terjatuh itu ikut pula dirasakan oleh mereka..

“Ini sudah selesai.. Dan akan segera sembuh, tapi untuk sementara kau tidak bisa ikut bermain..”

Bocah itu mengangguk, dan hanya duduk disamping Yoona sementara anak-anak yang lain kemudian membubarkan diri dan kembali meneruskan permainan mereka.

Diantara kerumunan anak-anak tadi, hanya Siwon lah yang tidak beralih. Masih berdiri sambil memperhatikan sang wanita yang berjarak sekitar tiga langkah darinya. Matanya tidak berkedip, sekarang ia ingat dengan sepeda itu setelah melihat wanita itu disana. Wanita yang tanpa sengaja menjadi objek fotonya..

“Ahjussi..” Siwon berkedip, dan mengalihkan perhatiannya pada sang bocah yang memiliki luka dilututnya itu, sambil mengerutkan dahi setelah mendengar bagaimana cara bocah itu memanggil dirinya “Hei, apakah aku terlihat berpenampilan seperti ahjussi..? Akan lebih baik jika kau memanggilku Hyung saja” Bocah itu justru terkikik mendengarnya “Arrasseo hyungnim..” Siwon menarik sudut-sudut bibirnya, tersenyum saat bocah yang terluka itu mengulang sapaannya pada dirinya. Sepertinya ingin menghampirinya, namun karna luka dilututnya lah yang kemudian membuat bocah itu bertahan dengan posisinya. Siwon lah yang kemudian melangkah maju, mendekat dan berjongkok dihadapan bocah itu, memperhatikan pada luka dilututnya “Kau terluka?”

“Ne, aku terjatuh saat mengejar bola-ku. Tapi Yoona noona sudah mengobatiku. Noona bilang, tidak lama ini akan sembuh. Bukankah begitu noona?”Siwon beralih dari sang bocah, untuk kemudian mengarahkan pandangannya pada wanita yang berada disamping bocah itu. Bocah itu memanggilnya Yoona noona, tadi..
Jadi namanya Yoona..?

Yoona..
Lagi-lagi seperti tak asing..
Apakah ia pernah mendengar nama itu sebelumnya?

“Noona, Hyungnim adalah tamu yang memberikan bantuan pada kami..” Yoona berusaha memalingkan wajahnya dari sang pria yang ketika itu terus menatapnya. Lututnya mulai terasa lemas, tangannya mendadak berkeringat dan sekujur tubuhnya menjadi gemetar sekarang.
Bagaimana tidak, diantara orang-orang yang tidak ingin lagi ditemui olehnya, termasuk dengan Kyuhyun, pria itu, pria yang sekarang tengah berjongkok dihadapannya, sedang mengarahkan tatapan mata kepadanya, adalah salah satu yang tidak pernah ingin dilihat lagi olehnya. Pria itu bahkan dipastikannya berada dalam daftar teratas sebagai pria yang tidak ingin lagi ditemuinya. Demi Tuhan..
Dikehidupan yang sekarang, dimasa depan, ataupun kehidupan lain berikutnya, Yoona benar-benar tak ingin bertemu lagi dengannya..

Keberadaan pria itu sekarang, hanya mengingatkannya pada satu malam dimana untuk pertama kalinya ia melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Malam itu, disaat seharusnya ia menghadiri undangan pesta pernikahan Kyuhyun, Yoona justru berbelok mendatangi sebuah klub untuk menghilangkan kesedihan yang menyesaki dadanya. Ia tidak bisa. Ia tidak akan sanggup melihat pernikahan itu dan seolah ikut berpesta dengan kebahagiaan mereka. Yang menjadi harapannya ketika itu, dengan berada dikeramaian klub malam, sejenak akan dapat untuk menghiburnya. Sekalipun ia nantinya tidak akan merasa terhibur, suara tangisannya tidaklah akan mampu mengalahkan kerasnya suara musik yang diputar didalam klub itu. Hingga ia dapat menangis kencang, tanpa seorangpun yang akan peduli padanya..

Yoona memanglah tidak berpengalaman mendatangi klub malam. Meski keberadaan klub-klub yang seperti itu berjamur disekitarnya, namun sebagai tenaga kesehatan, ia tahu pasti akibat dari sering berada ditempat seperti itu. Asap rokok, alkohol dan obat-obat terlarang, salah satunya sudah bisa dipastikan menjangkiti orang-orang yang berada didalamnya. Tapi pengecualian untuk malam itu, Yoona tidak ingin mempedulikannya. Ia justru cukup menikmati saat turun kelantai dansa, bersama orang-orang yang sama sekali tidak dikenalnya, namun saat itu ia merasakan memiliki kesenangan yang sama seperti mereka dengan menggoyangkan tubuhnya mengikuti suara music yang diputar. Persetan dengan keinginannya untuk menangis, malam itu Yoona merubah niat dengan memutuskan untuk tidak membiarkan airmatanya tertumpah. Disaat seseorang yang dicintainya justru sedang menikmati kesenangan dimalam pertamanya bersama dengan sang istri, dimalam itu juga Yoona ingin membuka babak baru hidupnya dengan melupakan kemalangan yang menimpa kehidupannya sebagai wanita yang telah kehilangan cintanya. Bukan tidak mungkin ia bisa mendapatkan kesenangan dengan mendapatkan cinta baru, dari pria baru tentu saja. Bukan pria yang justru mencampakkan cintanya, meninggalkannya demi menikahi wanita lain..

Setelah menghabiskan kembali segelas anggur yang tidak lagi terasa membakar tenggorokannya seperti ketika pertama kali ia meminumnya tadi, Yoona kembali turun menuju kerumunan, dan tidak menyia-nyiakan alunan musik yang cocok untuk meliukkan tubuhnya. Sepertinya, musik yang diputar malam itu memanglah diperuntukkan untuk orang-orang yang menginginkan kesenangan. Tak terkecuali dengan Yoona. Ia masih terus menggoyangkan tubuhnya, saat seorang pria mendekat dan bahkan berani memegang pinggulnya..

“Ingin bersenang-senang nona? Sepertinya kau sangat menikmati malam ini..”

Yoona melotot, kemudian mendorong dada sang pria yang tidak dikenalnya. Napasnya yang berbau campuran dari alkohol dan asap rokok, benar-benar telah membuatnya bergidik jijik..

“Tidak perlu jual mahal, aku tahu kau sedang mencoba menarik perhatian seseorang untuk menidurimu..”

Yoona sudah mengangkat tangannya, siap untuk memberikan tamparan pada pria kurang ajar didepannya. Namun tangannya yang sudah terangkat, tiba-tiba saja diraih oleh tangan seseorang yang pada saat itu menggenggam pergelangan tangannya..

“Sayang sekali, dia akan bersamaku malam ini.. Ayo, sayang..”

Seorang pria lain yang juga tidak dikenalnya, tiba-tiba saja menariknya menjauh dari kerumunan, membawanya ke meja yang lebih sepi, meski Yoona tahu tidak ada tempat yang bisa benar-benar dikatakan sepi didalam klub itu. Meski pria itu dengan tanpa permisi menarik tangannya, setidaknya pria itu telah menyelamatkannya dari berurusan dengan pria kurang ajar menjijikkan tadi. Karena itu kemudian Yoona menggumamkan kata trimakasih padanya..

“Gomawoyo..”

“Kuterima ucapan trimakasihmu..”

Setidaknya lagi, pria yang juga tidak dikenalnya ini, tidak berbau campuran dari alkohol murahan dan asap rokok. Pria ini lebih berbau anggur. Yang menandakan jika ia juga baru menikmati minuman sejenis itu..

“Ingin minum lagi, nona?”

Pria itu menawarkan gelas kosong padanya, yang kemudian diraih oleh Yoona, menyertai anggukan kepalanya yang membuat sang pria kemudian menuangkan anggur dari dalam botolnya. Yoona menghabiskannya dalam sekali teguk. Membuat sang pria menyeringai melihatnya.

“Lagi?”

“Hm..”

Yoona kembali mengangguk, dan sang pria langsung mengisi lagi gelasnya. Ia memang tak mengerti jenis-jenis anggur ataupun minuman beralkohol dan semacamnya. Tapi setidaknya ia bisa merasakan, anggur yang telah dua gelas diteguknya itu berharga mahal, berbeda dengan yang sebelumnya ia pesan, yang pada tegukan pertama serasa membakar tenggorokannya. Itulah mengapa anggur itu berada ditempat ini, tempat yang sedikit lebih sepi hanyalah untuk pengunjung yang memesan ruangan VIP. Dan sepertinya pengunjung yang berada dikelas eksklusif seperti ini, adalah pengunjung dalam tingkat sosial lebih tinggi, yang rela merogoh kantongnya lebih dalam sekedar untuk duduk dan menonton kalangan dibawahnya yang mencoba bersenang-senang ditengah himpitan masalah yang menimpa mereka. Seperti apa yang sedang dilakukan oleh Yoona..

“Kau datang sendirian?”

“Hm..”

“Dari yang terlihat diwajahmu, sepertinya kau memiliki masalah, nona?”

“Dari yang terlihat diwajahmu, sepertinya kau adalah seorang pria yang sok tau.. Dan jangan memanggilku, nona. Itu terdengar menggelikan..”

Sang pria terkekeh mendengarnya..
Keduanya jelas sama-sama tidak terlalu bisa melakukan pengamatan terhadap wajah masing-masing dibawah temaramnya lampu ruangan itu..

“Jadi..?”

“Namaku Yoona.. Im Yoona.. Kau ingin minum denganku? Aku akan menuangkannya untukmu..”

“Kau benar-benar terlihat sedang bermasalah..”

“Satu-satunya masalahku adalah jika kau menolak minum denganku..” Pria itu kembali terkekeh saat Yoona kemudian mendentingkan gelas anggurnya sebelum kembali meneguk habis isinya. Dan yang selanjutnya terjadi hanyalah kebisuan diantara keduanya. Tidak ada lagi yang membuka suara, keduanya cukup nyaman hanya dengan bergantian saling menuangkan anggur kedalam gelas masing-masing. Hingga tambahan sebotol anggur yang dipesan kembali mereka tandaskan “A-ku.. Aku harus berhenti sebelum aku mabuk..”

“Kau sudah mabuk, nona..” Pria itu terkekeh “Anio.. Kau yang lebih mabuk dariku” “bagaimana mungkin, kau jelas yang lebih banyak menghabiskan anggur yang kupesan. Kau selalu mengisi penuh gelasmu, tapi hanya menuangkan setengah pada gelasku..” Mendengar racauan panjang pria itu, membuat Yoona merengut sebelum dengan cepat berdiri dari duduknya. Pergerakannya ketika itu membuat lututnya sedikit terantuk pada pinggiran meja, yang kemudian menjadikan gelas anggurnya terguling dan jatuh hingga pecah berkeping. Daripada mengaduh pada ngilu yang terasa dilututnya, Yoona sesaat justru menyeringai sebelum tertawa sumbang melihat pecahan gelas anggurnya “Itu.. Seperti hatiku sekarang.. Hancur berkeping-keping..” ia lalu melangkah agak sempoyongan meninggalkan pria itu “Ya.. Yaa.. Lihatlah, kau jelas yang lebih mabuk dariku”

Yoona tak tahu jika pria tadi mengikutinya, sampai ia meninggalkan keramaian didalam klub itu dan sepi disekiarnya menjadikan suara langkah tak beraturan pria itu terdengar dibelakangnya saat mereka berada dilorong menuju lift “Kau mengikutiku?” Yoona memicingkan mata kearah pria itu yang kemudian menggelengkan kepalanya “Aku.. Aku juga mau pulang” Lift dihadapan mereka yang terbuka, membuat Yoona kemudian tak lagi memperhatikan pria itu dan lebih memilih masuk kedalamnya. Hal yang sama kemudian juga dilakukan oleh pria yang mengikutinya.

Yoona menekan tombol untuk turun kelantai basemant, sementara pria itu hanya berdiri diam sampai pintu lift tertutup, dan untuk sementara mengurung keduanya yang saat itu berada didalamnya. Udara didalam lift yang sedang bergerak turun itu terasa panas bagi Yoona, hingga kemudian membuat bibirnya bergerak-gerak meniup udara didepannya, sambil kedua tangannya mengipasi wajahnya. Siapa yang mengira jika apa yang dilakukannya saat itu menarik perhatiian sang pria yang berada dalam satu lift dengannya. Pria itu tiba-tiba saja berada dihadapannya, menatapnya dengan kedua matanya yang memerah sewarna anggur yang tadi diminumnya. Lalu dengan perlahan tangannya meraih wajahnya, mengusap pipinya dan tersenyum merasakan kelembutan kulit yang berada dibawah telapak tangannya “Yeppo..” Komentar pria itu yang membuat Yoona berkedip-kedip tidak percaya. Ia berniat mendorong dada pria itu, namun saat kedua tangannya berada didada pria itu -yang seharusnya ia langsung melakukan dorongan terhadapnya- Yoona justru merasakan kekokohan otot pada dada bidang pria itu, yang kemudian membuat Yoona kehilangan akal sehatnya. Ia bukannya mendorongnya, melainkan melakukan tarikan pada kemeja pria itu, untuk kemudian meraih bibirnya, menciumnya. Ciuman yang langsung dibalas pria itu dengan lumatan dan gigitan pada bibir bawahnya. Tak hanya itu, lidah sang pria kemudian juga melesak membelit lidahnya, menjilati rongga mulutnya sambil tubuhnya yang terasa panas menekan pada tubuh Yoona yang juga tak kalah panasnya. Disela ciuman panas keduanya, tangan sang pria bergerak mengelus bagian punggungnya turun sampai kebagian pinggulnya, sebelum kemudian erangan keluar dari mulutnya saat terpaksa ia harus melepaskan bibirnya, menjauhkan tangannya ketika suara dentingan pada lift menandakan lift itu akan segera terbuka. Dan sebelum Yoona bisa bergerak ataupun tersadar dari keterkejutan karna telah melakukan ketidak senonohan dengan pria yang tidak dikenalnya, pria itu mengulurkan tangannya menekan pada tombol yang menahan pintu lift itu agar tidak terbuka.. “Apartemenku berada diatas, maukah kau ikut denganku..?”

Dan Yoona benar-benar tidak mendapatkan lagi kesadarannya setelah ia mengangguk pada pria itu dan membiarkan sang pria menekan tombol lift yang kemudian membawanya hingga berada didalam apartemen pria itu. Yang Yoona ingat setelahnya ia masih sempat meminum beberapa gelas anggur lagi bersama dengan pria itu sebelum kemudian terjatuh diranjangnya, dalam buaian sang pria yang kemudian menerbangkannya keatas nirwana.

Yoona terbangun pada keesokan harinya dengan pemandangan wajah sang pria yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Bahkan tangan pria itu berada dipinggangnya, memeluk tubuhnya yang kemudian disadarinya tidak lagi mengenakan busana. Jika semalam ia tak benar-benar sadar untuk dapat mengamati wajahnya, pagi itu Yoona dapat beberapa saat mencermati struktur wajahnya. Sebelum kepanikan menyerang dirinya dan menjadikannya dengan cepat melarikan diri meninggalkan pria itu dan mengutuk perbuatannya yang telah mendatangi klub malam itu. Apalagi kemudian, wajah tertidur pria itu dipagi hari, terus-terusan membayanginya hingga beberapa waktu lamanya, bahkan sampai ketika ia berhubungan dengan Kyuhyun.

Atas apa yang telah terjadi dimalam itu, bagaimana bisa ia menatap pria itu sekarang. Pria yang telah memerawani-nya, yang mengambil kegadisannya, adalah pria dalam daftar teratas sebagai orang yang tidak ingin lagi ditemuinya..

Maka dengan tanpa berpikir untuk berpamitan pada sang bocah yang memiliki luka pada lututnya tadi, atau pada gadis remaja tanggung yang menyerahkan kotak p3k padanya, ataupun pada anak-anak lain penghuni panti asuhan itu, Yoona bergegas melangkahkan kakinya untuk secepatnya pergi menjauh dari keberadaan pria itu..

“Noona..! Apa Noona mau pergi..!”

Melihat Yoona yang mengabaikan bocah itu, Siwon kemudian mengikuti langkah dibelakangnya..

“Tunggu.. Tunggu sebentar, Yoona-ssi..”

Seluruh tubuh Yoona menegang. Kedua kakinya menjadi sulit untuk digerakkan saat mendengar pria itu memanggil dirinya, menyebut namanya. Dan kepalanya kemudian menjadi penuh dengan satu hal yang berulang-ulang berputar dipikirannya, bahwa pria itu mengingat dirinya. Mengingat kejadian dimalam itu, dimana keduanya terlibat dalam kemesraan satu malam..

~

~

~

~

To Be Continued~

Hohhoo.. yang ini ada yg udah nyangka ga klu Yunah & Siwon pernah terlibat cinta satu malam?? *nyanyi* wkwkwkkk~

Next chapter ditunggu lagi yaa^^

@joongly

255 thoughts on “FF | Second Chance | 5

  1. yang ingin kukatakan saat ini adlah.. Untung untung gw lg kagak puasaaa..
    Ohemgee hot bgt masa *-*
    siwon knapa pikun gini?? Udah kronis deh keknya hemmm
    authorr.. Di blan ramadhan yg suci baca ginian gak papa kan yah??
    *duuhh bingung*

  2. Aku sukaaaa tp hasil cinta satu malam’y keguguran #sedihh ;( .
    Lalu apa siwon bisa mengingat wajah dan nama wanita yg d renggut keperawanan’y itu..?
    Haya yoong unn yg fasih ingatan’y ya . Oke leh lanjut dae dari pada komen” yg aneh” .
    Makin wow unn .. Maksih

  3. Omegot, jadi yunah hamil itu sama?

    Kirain sama kyuyoon, cinta satu malam yang mengenaskan, itu siwon ingatkah sama yunah? Tapi dari cara siwon liat yunah pas waktu di taman itu kayaknya gak deh,

    Ah jadi binun :3

    Next yah🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s