Fanfiction

Coretan | Champagne | HaeFany

image

Yang diatas bukan cover yaa, hanya sekedar screen shot chatingan yang menjadi penyebab nih tiba-tiba bikin coretan.. (Udah lama juga ya gak bikin coretan) hihihiii..

Semoga dengan baca ini bisa nambah semangat yaa neng.. (Walau cuma dikit gapapa lah..) Semangat nodong aq lagi juga gak apa”.. Tapi lebih bagusnya sih bisa semangat lanjutin EC.. (Kangen juga tauuuuuuu..)

Happy Reading~

~

~

~

Pagi hari itu, Fany baru saja usai memandikan Seokhae yang entah mengapa terasa begitu merajuk padanya. Tidak biasanya Seokhae tak mau dimandikan oleh seorang pengasuhnya, hingga ia sendiri yang kemudian memandikan bocah lelakinya yang sudah genap berusia tiga tahun itu.

Setelah berhasil mengatasi putra pertamanya, dengan Hyemi sang putri kedua yang berada dalam gendongannya, ia kemudian kembali masuk kedalam kamar untuk melihat mengapa sang suami masih tidak keluar dari dalam kamar mereka. Biasanya dipagi seperti ini, Donghae sudah berdandan rapi dan siap untuk berangkat bekerja. Tapi justru,  Fany menemukan sang suami masih bergelung diatas tempat tidur, dengan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya..

“Yeobo irona.. Yeobo.. Kau tidak pergi bekerja?!”

“Ap-pa.. Ap-pa..”

Disela menarik selimut dari tubuh suaminya,  Fany tersenyum mendengar celotehan Hyemi yang sepertinya juga sedang ikut berusaha membangunkan sang ayah. Putri kecilnya itu yang sekarang berusia satu tahun tiga bulan, sudah semakin aktif berjalan, dan sedang senang-senangnya belajar bicara.

Fany bahkan sempat merasa cemburu, ia yang setiap hari bersama Hyemi, mengajarkan banyak hal pada putri kecilnya itu, termasuk dengan belajar berbicara. Namun kata pertama yang terucap dengan jelas dari bibir mungil putrinya justru saat Hyemi memanggil ayahnya..

Appa..
Appa..
Dan Appa..

Terlebih saat melihat sang ayah pulang setelah seharian berada diluar rumah untuk bekerja, Hyemi akan berceloteh lebih keras -seolah memamerkan kebisaan barunya- dengan kedua matanya yang bening berbinar-binar..

Tapi kemudian, kecemburuan itu musnah saat  Fany merasa impas karena sebelumnya Seokhae sudah lebih dulu fasih memanggilnya Oemma..

Meski terlihat jelas kebanggaan dalam diri sang suami terhadap putra pertamanya, tapi Donghae memang lebih sering bersikap jahil pada putranya, hingga Seokhae selalu berlari padanya saat sang ayah iseng menjahilinya. Sementara terhadap Hyemi, Donghae benar-benar memanjakannya, memperlakukan putri kecilnya itu layaknya seorang princess. Dan mungkin benar apa yang pernah ia dengar, bila kebanyakan seorang anak lelaki akan cenderung dekat dengan ibunya, dan sebaliknya anak perempuan akan lebih dekat dengan ayahnya. Tapi Fany ingin kedua anaknya memiliki porsi kedekatan yang sama terhadap dirinya, maupun terhadap Donghae, ayah mereka. Seokhae akan semakin bertumbuh menjadi putra kebanggaan mereka, sedangkan Hyemi akan selalu menjadi kesayangan ia dan suaminya. Begitupun dengan anak mereka yang lain nantinya..

“Ooh, Hyemi-ah.. Ingin membangunkan Appa?”

Seperti mengerti dengan maksud ucapan ibunya, Hyemi langsung menggeliat dari gendongan sang ibu, hingga kemudian Fany menurunkannya untuk selanjutnya menempatkannya ke atas tempat tidur, persis disamping ayahnya yang masih tertidur..

“Katakan, Appa iro-na.. Appa iro-na, Hyemi-ah..”

Fany sekaligus mengajarkan pada sang putri pengucapan suku kata lainnya..

“Ap-pa.. Appa.. Appa..”

Namun Hyemi sepertinya sudah cukup senang dengan bisa memanggil ayahnya saja..

“Aigoo.. Sepertinya ayahmu benar-benar mengabaikanmu, Hyemi-ah..”

Fany lantas menyingkap selimut yang menutupi tubuh suaminya..

“Yeobo bangunlah.. Lihatlah, Hyemi sedang ikut membangunkanmu..”

Donghae kemudian baru menggeliat dan melenguh saat selimut itu disingkap dari atas tubuhnya. Itu saja..
Ia tidak lantas membuka kedua matanya untuk memperlihatkan tanda-tanda ia akan bangun dari tempat tidurnya..

“Yeobo, kau sakit?”

Bukan tanpa alasan Fany menanyakan hal itu. Selain karna tidak biasanya sang suami terbaring lesu diatas tempat tidur seperti saat ini, dipagi yang biasanya Donghae akan terlihat bersemangat untuk pergi bekerja. Namun Fany justru melihat wajah suaminya yang agak memucat..

“Aku merasa seperti itu..”

“Apa yang terjadi? Semalam kau masih baik-baik saja..”

“Kepalaku terasa berat..”

Kekhawatiran langsung menyusupi Fany saat mendengarnya. Ia lantas menempatkan punggung tangannya didahi sang suami, mengira-ngira suhu tubuhnya saat itu. Sepertinya masih normal..
Tapi juga sedikit terasa hangat..

Ooh..
Ia bukanlah seorang dokter yang pandai menentukan normal dan tidaknya suhu tubuh seseorang. Jadi ia tidak mau hanya mengira-ngira saja..

“Yeobo, sebaiknya kita pergi kerumah sakit sekarang”

“Kurasa aku tidak bisa pergi kemana-mana..”

Donghae akhirnya membuka kelopak matanya, sambil tangannya bergerak mengurut pada pelipisnya..

“Kepalaku terasa pusing sekali, sayang..”

Keluhnya yang semakin membuat Fany merasa cemas..

“Kalau begitu aku akan menelpon dokter agar datang memeriksamu.. Tunggu sebentar yeobo..”

Fany kemudian meraih tubuh Hyemi, membawanya keluar dan akan membiarkannya bersama dengan seorang pengasuh yang membantunya, sementara ia menghubungi dokter, memintanya secepatnya datang untuk memeriksa suaminya.

Fany kembali masuk kedalam kamar setelahnya, dan mendapati sang suami sudah tidak berada diatas tempat tidur, melainkan didalam kamar mandi yang kemudian ia mendengar suara tak biasa dari sana.

Sang suami sepertinya mengalami muntah, dan benar saja ketika kemudian Fany melangkah masuk kedalam kamar mandi, ia menemukan Donghae sedang berjongkok didepan kloset, sambil menyeka bibirnya menggunakan sebuah handuk..

“Yeobo.. Apa kau muntah?”

“Ini kedua kalinya..”

“Ya Tuhan.. Mengapa kau tidak mengatakannya padaku..”

“Aku baru saja mengatakannya..”

“Tadi, saat kau mengatakan kepalamu pusing, mengapa kau tidak mengatakan kau juga sudah mengalami muntah?”

“Apa kau bahkan tega memarahiku yang sedang sakit..”

Donghae memasang wajah merengut, meski kemudian tangannya meraih bahu Fany, merangkulnya agar membantunya melangkah kembali ke tempat tidur..

“Aku akan mengambilkan air hangat..”

Fany sudah akan beranjak andai Donghae tidak menahan pergelangan tangannya..

“Gomawo chagiya..”

Fany menganguk dengan kekhawatiran yang terlihat jelas dimatanya, kemudian memberikan kecupan dipipi suaminya..

“Kumohon jangan sakit.. Jangan membuatku cemas, yeobo..”

Tak lama berselang, dokter datang untuk memeriksanya. Memberitahukan diagnosa sementara dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukannya. Menurut sang dokter, Donghae mengalami sedikit demam dan asam lambungnya yang cenderung meningkat hingga mengakibatkannya mengalami muntah. Sang dokter lantas memberikan resep obat yang harus diminum olehnya. Dan mengingatkan untuknya menjaga pola makannya dengan benar..

“Yeobo.. Kau ingin memakan sesuatu?” Donghae menggelengkan kepalanya “Tapi kau harus makan dan meminum obat” Tenggorokannya bahkan terasa pahit untuk sekedar meminum air, bagaimana ia bisa makan apalagi menelan obat “Aku akan membawakan sarapan pagi untukmu..”

Fany tak menunggu sang suami mengiyakan untuknya kemudian kembali keluar dari dalam kamar dan melangkah menuju dapur, mengambil sendiri makanan untuk suaminya..

“Oemma.. Appa..”

“Ooh. Seokhae-ya..”

Fany baru saja usai menunggui sang suami menghabiskan sarapannya, ketika Seokhae berlari masuk bersama Hyemi yang menyusul dibelakangnya dengan seorang pengasuh yang menjaganya. Fany kemudian meminta sang pengasuh agar meninggalkan anak-anak bersama dengan dirinya..

“Ap-pa.. Appa..” Hyemi sudah langsung meminta naik keatas tempat tidur dan berada dekat dengan ayahnya “kemarilah kesayanganku..” Sepertinya melihat Donghae yang masih berada diatas tempat tidur, justru membuat putri kecil mereka itu merasa senang karna tidak kehilangan sang ayah yang biasanya sibuk bekerja. Hyemi bahkan mencoba naik keatas perut ayahnya, jika Fany kemudian tidak memeganginya..

“Oemma.. Appa, wae?”

“hm, Appa Seokhae sedang sakit, sayang..” Sedangkan Seokhae yang sudah lebih mengerti dengan keadaan sang ayah saat itu, kemudian memandangi wajah ayahnya, sebelum meminta naik keatas tempat tidur seperti hal nya yang sang adik lakukan “Appa, tidak boleh sakit..” Meski sedikit merasakan lemas ditubuhnya, Donghae tersenyum mendengar apa yang dikatakan putra kecilnya yang lantas memeluknya..

Pada siang harinya, Donghae merasa sudah sedikit lebih baik. Ia yang tadi kembali tertidur setelah meminum obat, merasakan sepi didalam kamar tidurnya sendirian, hingga kemudian memutuskan untuk keluar. Saat sedang mencari keberadaan istri dan kedua anaknya, Donghae menemukan Fany berada didapur sedang mengaduk-aduk isi didalam sebuah panci yang berada diatas kompor yang menyala dihadapannya..

“Sayang, apa yang sedang kau lakukan?” Fany nyaris terlonjak karna terkejut. Namun lebih terkejut lagi saat ia melihat Donghae melangkah menghampirinya “Oh, yeobo.. Kau bangun..” Fany lebih dulu mematikan kompor-nya, sebelum bergerak mendekati suaminya, dan memintanya untuk duduk dikursi meja makan “Apa sudah lebih baik?”

Donghae mengangguk..
Ia kemudian merasakan tangan sang istri yang menempel di dahinya, memeriksa suhu tubuhnya “Bagaimana, apa aku masih demam?”

“Sebenarnya aku tidak bisa memastikannya..” Fany meringis, yang lantas dibalas senyum geli diwajah suaminya “Tapi kau sudah tersenyum, sepertinya kau akan segera sembuh..” Beralih dari sang suami, Fany kembali kehadapan kompor-nya, kemudian menyalakannya..

“Apa yang sedang kau lakukan?”

“Aku membuat bubur untukmu”

“Kenapa melakukannya sendiri.. Kau bisa meminta pekerja untuk melakukannya”

“Aku ingin melakukannya sendiri untuk suamiku, Tn.Lee.. Dia mungkin sakit karna kekurangan perhatian dariku..” Fany mengedip kearahnya..

Apakah ia sedang ingin membuat suaminya merasa terharu mendengar perhatiannya?
Tentu saja tidak..
Meski saat itu ia telah melakukannya dan membuat ruang dihati suaminya menghangat..

“Tn.Lee pasti akan sangat senang mendapatkan perhatian khusus dari anda, Nyonya..”

“Seperti apa contoh perhatian khusus yang bisa kuberikan untuknya? Apakah ini saja cukup dengan membuatkannya bubur?”

“Mungkin dengan ditambah memberikan suapan padanya”

Fany menahan kegelian mendengarnya..

“Dimana anak-anak?”

“Mereka sedang tidur siang..”

“Oh, maka sepertinya inilah waktu yang tepat untuk menerima perhatian khusus itu. Anak-anak tidak akan cemburu melihatnya..”

Tak berapa lama, Fany sudah membawa semangkuk bubur kehadapan suaminya, dengan seulas senyum dibibirnya ia melakukan apa yang diinginkan sang suami dengan menyuapinya. Membuat Donghae berpikir jika lebih baik dirinya sakit karna dengan begitu ia bisa mendapat perhatian ekstra dari istrinya.

Apakah selama ini istrinya menjadi tidak memperhatikannya?

Fany masih memperhatikannya..
Tapi jelas, perhatian itu menjadi terbagi dengan kedua buah hatinya. Saat mereka masih hanya memiliki Seokhae, Donghae mengakui perhatian untuknya masih sama besar seperti yang sang istri berikan untuk sang putra. Namun setelah Hyemi lahir, rasanya ia hanya mendapatkan sisa-sisanya saja. Bagaimana nanti saat anak mereka bertambah lagi?

Apakah sekarang ia sedang mengeluh atas kehadiran dua buah hatinya yang telah menyita perhatian istrinya?
Jelas saja tidak..
Ia justru merasakan kebahagiaan yang tak terkira karna telah memiliki mereka dan melihat sang istri yang sungguh-sungguh menjalani perannya sebagai seorang ibu. Jika mengingat bagaimana sikap Fany saat ia pertama kali bertemu dengannya dulu, Donghae tidak pernah menyangka Fany istrinya akan menjadi sosok yang penuh kehangatan seperti sekarang ini..

Ia juga hangat cenderung panas diatas ranjang..

Pikirnya jahil sambil tersenyum-senyum menerima suapan demi suapan dari tangan istrinya..

“Apa yang sedang kau pikirkan hingga membuatmu tersenyum seperti itu?”

“Aku hanya sedang berpikir jika kompor yang menyala tadi pasti sama panasnya dengan tubuhmu jika sekarang aku membawamu keatas tempat tidur..”

Fany sontak melotot mendengarnya..

“Yak.. Lee  Donghae-ssi, kau sedang sakit dan masih berpikiran mesum..!”

“Kurasa itu juga termasuk perhatian khusus yang diinginkan oleh Tn.Lee, nyonya..”

“Kau sakit, Yeobo..”

Fany melotot gemas..

“Ooh, aku lupa kepala-ku..”

Donghae kemudian memegangi pelipisnya, membuat Fany dengan segera beralih dari duduknya untuk selanjutnya berdiri dibelakang kursi yang diduduki sang suami guna memberikan pijatan dikepalanya.

Donghae merasakan kenyamanan saat tangan lembut sang istri melakukan pijatan dikepalanya. Sepertinya ia akan memanfaatkan sakit yang dirasakannya untuk lebih lama menikmati perhatian ekstra dari istrinya..

Untuk itu, Donghae berniat untuk tidak lagi meminum obat yang dokter berikan padanya. Ia tidak memerlukan obat..
Ia lebih perlu tangan sang istri yang memijat kepalanya. Menyuapinya ketika sedang makan. Menanyakan menu apa yang ia inginkan. Lalu memasaknya sendiri untuknya. Dengan begitu ia akan menghabiskan semua makanannya, dan pastinya asam dilambungnya tidak akan kembali naik hingga mengakibatkannya merasa mual..

Tapi pemikirannya yang seperti itu agaknya keliru, ia masih saja mengalami mual meski tidak lagi melewatkan waktu makannya. Selama tiga hari ini ia tidak bekerja, sang istri selalu memastikan ia makan tepat waktu seperti yang disarankan oleh dokter yang memeriksanya. Berbeda bila dibandingkan dengan saat ia berada dikantor yang terkadang kesibukan mengurusi pekerjaan membuatnya lupa dengan waktu makan yang seharusnya. Tapi mual itu masih saja ia rasakan hingga membuatnya harus berlari kedalam kamar mandi, sekalipun kemudian sama sekali tak ada yang bisa ia muntahkan..

“Yeobo.. Sebenarnya apa yang kau lakukan? Kau tidak meminum obat-mu?”

Fany biasanya akan langsung berlari menghampiri sang suami ketika mendengarnya mengalami muntah. Tapi kali ini, ia justru hanya berdiri diambang pintu kamar mandi sambil menatap Donghae dengan kesal. Bagaimana tidak, ditangannya ia menggenggam beberapa butir dan kapsul obat yang tidak sengaja ditemukannya berada dibawah tempat tidur saat tadi ia mengambil sisir yang terjatuh dari tangannya ketika sedang menyisir rambut Hyemi usai memandikannya..

“Jelas saja kau masih selalu merasa mual karna kau justru membuang semua obatmu..”

Omelnya dengan kedua tangan berkacak pinggang. Membuat Donghae hanya bisa memperlihatkan ringisan diwajahnya karna aksinya telah diketahui oleh istrinya..

“Aku tidak mau meminum obat itu, rasanya sangat pahit..”

“Mwo.. Apa kau anak kecil seumuran Seokhae yang wajar bila takut meminum obat?”Fany lebih kesal lagi setelah mendengar alasan yang dikatakan suaminya..

“Aku tidak mengatakan takut meminum obat itu, aku hanya tidak memerlukan itu, sayang..” Donghae keluar dari dalam kamar mandi, melewati tubuh sang istri yang kemudian tidak membiarkannya tidak memberi penjelasan pada apa yang tadi dikatakannya..

“Apa maksudmu tidak memerlukannya? Bagaimana jika pencernaanmu bermasalah karna kau terus muntah seperti ini..”

“Pencernaanku baik-baik saja.. Bukankah aku selalu menghabiskan makanan-ku? Lagi pula, aku berencana untuk pergi bekerja hari ini.. Kau tidak perlu khawatir, sayang..”

“Tapi yang membuatmu mual, pasti ada penyebabnya..”

Untuk mengetahui alasan itulah, Fany memaksanya untuk lebih dulu memeriksakan keadaannya kerumah sakit. Tentu saja karna ia memiliki ketakutan kalau-kalau terjadi hal serius pada suaminya. Hal yang sama sekali tidak akan pernah diinginkannya..

Dan syukurlah dokter yang memeriksanya mengatakan semuanya baik-baik saja. Bahkan setelah Fany memaksa Donghae untuk menjalani beberapa tes untuk lebih memastikan kesehatan tubuhnya. Namun sejauh hasil pemeriksaan yang dijalani, dokter tidak menemukan adanya ketidak beresan ditubuhnya. Mengenai mual yang dialaminya, dokter hanya menyarankan untuknya mengatur pola makan dan memberinya obat pereda rasa mual..

“Yeobo, karna kita sudah berada dirumah sakit.. Bagaimana kalau kita menemui dokter Park?”

“Bukankah baru beberapa hari lalu kita menemuinya?” Beberapa hari yang lalu sebelum pada pagi harinya ia merasakan mual “Ya, tapi tidak ada salahnya kita kembali melakukan pemeriksaan.. Sekalian saja..”

“Baiklah, kurasa aku juga ingin mengetahui bagaimana perkembangannya..” Mereka kemudian beralih menuju ruang genekologi, dan bertemu dengan seorang dokter wanita disana..

“Oh, Ny.Lee.. Apa sesuatu terjadi dan membuat anda datang lebih cepat dari jadwal kunjungan?”

“Anio, dokter.. Kebetulan aku mengantar suamiku untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Jadi kupikir, aku bisa sekalian menemui dokter..”

“Oh yaa, tentu saja.. Jadi apa ada yang ingin anda keluhkan? Bagaimana dengan morning sickness nya?”

“Sejauh ini, saya belum merasakan adanya morning sickness, dokter..”

“Oh, benarkah..? Anda tidak merasa mual dan mengalami muntah-muntah?”

“Tidak, dok..” Dokter itu lantas menuliskan apa yang Fany katakan pada catatan medis-nya..

“Tapi dokter.. Apakah, apakah mungkin morning sickness itu bisa dirasakan oleh suamiku?”

Dokter itu kemudian mendongak mendengarnya..

“Apa suami anda mengalami mual dan muntah, Nyonya..?”

Fany mengangguk sambil menatap pada sang suami yang mengerutkan dahinya..

Ia tidak terlalu terkejut dirinya tidak mengalami morning sickness dalam kehamilan ketiga nya kali ini, karna sebelumnya saat mengandung Hyemi, ia pun tidak mengalami hal itu. Hanya saja, mengenai morning sickness yang mungkin dialami oleh suaminya, Fany merasa ini sesuatu yang baru terpikir olehnya. Mengingat dari hasil pemeriksaan terhadap kondisi tubuh Donghae yang menunjukkan keadaannya baik-baik saja, sementara dalam beberapa hari ia telah melihatnya mengalami mual dan muntah, Fany kemudian berpikir bagaimana jika seandainya sang suamilah yang mengalami morning sickness dalam kehamilannya kali ini. Mungkinkah ada hal semacam itu yang sebelumnya pernah terjadi?

Dokter yang melakukan konsultasi dengannya itu tersenyum, kemudian mengajukan pertanyaan pada Donghae..

“Apa anda merasa cemas dengan kehamilan istri anda kali ini, Tuan..?”

Donghae mengangguk..
Dan kemudian mereka mendengarkan penjelasan  sang dokter mengenai pendapat ilmiah terhadap kondisi yang seperti itu. Beberapa mengatakan jika masalah psikologi dan pengaruh dari kerja hormon yang menjadi penyebab mengapa seorang suami bisa mengalami morning sickness dimasa kehamilan sang istri. Seorang suami yang cemas dengan kehamilan istrinya, akan menyebabkan estrogen dalam tubuhnya meningkat sehingga memicu rasa mual itu.

“Jadi, bagaimana kau bisa merasa cemas dengan kehamilanku yang sekarang, yeobo..?”

Fany menanyakan setelah mereka meninggalkan rumah sakit, kembali berada dirumah dan melihat Seokhae maupun Hyemi sudah tertidur pulas..

“Seokhae baru tiga tahun, sedangkan Hyemi baru berusia satu tahun tiga bulan, dan kau sudah hamil lagi. Aku mencemaskanmu sayang, aku khawatir kau akan kesulitan mengurus mereka dan membagi perhatianmu nantinya..”

“Bukankah kita memang sudah berencana menambah anak lagi? Kita ingin memberikan banyak saudara untuk Seokhae dan Hyemi kan?”

Agar mereka tidak bernasib sama seperti ayah dan ibunya yang terlahir sebagai seorang anak tunggal..

“Ya, tapi kurasa kehamilanmu masih terlalu cepat..” Fany tersenyum kemudian memberikan kecupan dipipi suaminya “Terimakasih sudah mencemaskanku, yeobo..” Tangannya lantas mengerat dilengan suaminya, dengan kepala bersandar dibahunya..

Kehamilan ketiganya ini memang terhitung kecolongan. Rencananya, mereka baru akan memberikan adik bagi Hyemi setelah sang putri berada disekolah dasar. Namun penggunaan pil yang Fany minum untuk menunda kehamilannya lagi ternyata tidak cukup efektif. Namun meski melenceng dari yang sudah mereka rencanakan, kehamilan itu tetap saja membuatnya bahagia. Dan baru saja telah menambah pengetahuan baru untuknya..

“Sebenarnya, aku lebih merasa cemas akan semakin berada jauh dibelakang dalam daftar penerima perhatian darimu..”

Fany mendengus mendengarnya..

“Aku sudah mengira, daripada mencemaskanku ataupun pengasuhan anak-anak, kau pasti akan lebih cemas pada dirimu sendiri, termasuk dengan libido-mu..”

Donghae sesaat sempat tergelak, sebelum kemudian ia menyadari satu hal dari apa yang sang istri katakan “Oh Tuhan.. Setelah kau melahirkan nanti, itu berarti butuh sekitar satu bulan untuk masa pemulihan?”

“Ya, bukankah kau sudah memiliki dua kali pengalaman itu sebelumnya..”

“Itu sungguh waktu paling menyiksa dalam hidupku..” Donghae lantas menarik bahu sang istri, menjadikan tubuh Fany menempel dengan dadanya, dan bibirnya memagut erat bibir istrinya. Memberikan ciuman yang begitu mendalam terhadap satu sama lain..

“Kalau begitu aku harus lebih sering menengok-nya sebelum dia lahir..”

Fany tertawa ketika sang suami kemudian menjatuhkan tubuhnya keatas tempat tidur. Sepertinya ia akan kembali sering mendengar kata menengok  keluar dari bibir suaminya. Bibirnya yang teramat pandai mencumbuinya..

Namun sebelum cumbuan itu terjadi, Fany lebih dulu mengernyit melihat Donghae yang justru menggelengkan kepalanya, sedikit terlihat frustasi dengan telapak tangannya yang membekap mulutnya, lantas dengan cepatnya berlari masuk kedalam kamar mandi..

“Chagiya, jangan gunakan parfum itu lagi..! Parfum-mu memicu ku merasakan mual..”

Fany melongo, sebelum kemudian tergelak mendengarnya..
Suaminya tidak akan bertingkah sama sepertinya ketika dulu ia mengandung Seokhae kan??

~

~

~

~

#DadaDadahKePembaca

Segini aja yaa.. Wkwkwkwkkk~

@joongly

19 thoughts on “Coretan | Champagne | HaeFany

  1. Waduh… waduh… sudah mau anak ketiga.. Daebak.. 😉
    Kasihan fishy, Fanny yg hamil dia yg morning sickness,… sabar ya Appa.. ☺
    Eeiiyy… bisa jd tuh Fany.. tingkah Haeppa bkalan kya drimu wktu hamil Seokhae..hehehe…
    Coretan YW dong Joong… plis.. hehee
    Gomawo ^^

  2. selalu suka dengan yg nama nya ff km…

    hahaha hae ngidam…
    jiaaa dy hamilin istri nya dy sendiri yg galau takut kurang perhatian

  3. OMG!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    hahahaha aduh.. ketawa dulu boleh ga julny? xD
    demi apa???!!!! bnr2 d luar dugaan dan perkiraan :v ya ampyun.. pantes aja smalem bbm aku nanya hayeh mw sakit apa ga d jwb2,dan trnyata ini toh!!!hayeh mo punya de2 baru😀 asikk >< pknya makasiyy bgt bwt ff nya,bwt semangatnya juga😀
    and makasiy dlu2 aku request yg hf harus punya de2 bnyak trnyata d kabulkan😀 haha bang hayeh gakan cape deh ya kalo urusan nambah anak😀

    ummm.. terus apalgi ya? lupa mw ngmg apalgi,ntr lnjt d bbm aja ya julny😀 wkwkwk pknya tengsomac bgt😀 btw aku ngefens bgt ama seokhae,ah.. knpa tuh anak munculnya dkit xD wkwkwk,ama hyemi juga.. aduh kecian masi bayi unyu2 udah mw jdi kaka😀

    intinya makasi bgt deh julny udah ngorbanin waktu,tenaga dan pikiran bwt ngabulin bkin coretan ini,udh gt matanya istrahat dlu abis ini kacian u.u

    soalnyakan masi bnyak yg mau aku todong kek semacep si dep,and SC xD *dilempar*

    wkwkwk okay julny ku sayang,smangat bwt nerusin epep yg masi gantung n munculin karya2 baru yg selalu nge-HITZZZ😀

    n i hope ga d gembok gni jdi bnyak yg bca n aku ga cendilian d kursi vvip xD wkwk

    okay julny-ya… lanjt d obrolan rahasia ^_*

  4. Eh tipani udah ada 3 aaja, ya ampun-_- ceritanya lucu. Aku baru tau kaalau cowo bisa kena morning sickness juga :v dan aku gak ngerti :’v lain kali bawa coretannyaaa yw ya…. Kangen sama ff mereka nih.

    Ohya, princess jan lupa dilanjut, pen tau kelanjutannya banget T.T

  5. OMG!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    hahahaha aduh.. ketawa dulu boleh ga julny? xD
    demi apa???!!!! bnr2 d luar dugaan dan perkiraan :v ya ampyun.. pantes aja smalem bbm aku nanya hayeh mw sakit apa ga d jwb2,dan trnyata ini toh!!!hayeh mo punya de2 baru😀 asikk >< pknya makasiyy bgt bwt ff nya,bwt semangatnya juga😀
    and makasiy dlu2 aku request yg hf harus punya de2 bnyak trnyata d kabulkan😀 haha bang hayeh gakan cape deh ya kalo urusan nambah anak😀

    ummm.. terus apalgi ya? lupa mw ngmg apalgi,ntr lnjt d bbm aja ya julny😀 wkwkwk pknya tengsomac bgt😀 btw aku ngefens bgt ama seokhae,ah.. knpa tuh anak munculnya dkit xD wkwkwk,ama hyemi juga.. aduh kecian masi bayi unyu2 udah mw jdi kaka😀

    intinya makasi bgt deh julny udah ngorbanin waktu,tenaga dan pikiran bwt ngabulin bkin coretan ini,udh gt matanya istrahat dlu abis ini kacian u.u

    soalnyakan masi bnyak yg mau aku todong kek semacep si dep,and SC xD #dilempar

    wkwkwk okay julny ku sayang,smangat bwt nerusin epep yg masi gantung n munculin karya2 baru yg selalu nge-HITZZZ😀

    n i hope ga d gembok gni jdi bnyak yg bca n aku ga cendilian d kursi vvip xD wkwk

    okay julny-ya… lanjt d obrolan rahasia ^_*

  6. wah seneng banget. pagi pagi buka email udah ada coretan champagne dan sorry…
    selamat ya haefai udah mau punya tiga anak.hehe…
    abisnya si ikan mokpo terlalu giat kerja malam sih. jadi kecolongan deh, udah hamil aja tuh fani….

  7. bgus critanya…wlopun versi haefany tp pas baca smbil ngebyangin yoonwon hehehe
    ntr bkin lgi yaa coretannya pas ank ktiganya dah lhir tp yg versi yoonwon🙂

  8. bgus critanya…wlopun versi haefany tp pas baca smbil ngebyangin yoonwon hehehe
    ntr bkin lgi yaa coretannya pas ank ktiganya dah lhir tp yg versi yoonwon🙂

  9. D0nghae m0dus,, bilang mencemaskan kehamilan Tiffany, nyata.a lbh mencemaskan diri sendiri takut gk dpt ‘jatah’ dr Tiffany lg ^^

  10. Hahaha lucu bgt yg hamil fany yg kena morning sickness donghae oppa….aduh bneran deh sumpah lucuu bgt……yoonwon jg dong chingu bikinin coretannya…

  11. Kirain donghae punya penyakit karrna muntah – muntah mulu, ternyata bukan..
    Seru..seru banget, akhirnya aku bisa baca ff lagi ya walaupun bacanya telat.
    Makasih ya..
    Semangat terus!!!

  12. insom seabis bbman ama KaJulll,ngomongin HF, kangen mereka, cari yg ringan,dan aku kmbali buka ni coretan ketjeee aaaaaaaaaa kangen ama mereka niiiiiii jadinyaaaaaa ayolah mereka berjodoh di real life 😢😢😂😂 ayolah kajuly bikin lanjutannya pas anak ke 4 mereka ada lagi di peyut pani hahahahaha lucu kali yaaaaaa 😂😂😂 hayeh masi muda jadi bapa beranak banyak 😄😆 haepani haepani 💕💖💓💘💞

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s