Fanfiction / Fantasy

FF | Princess | 1

image

Story | Lauren Hanna Lunde | Choi Siwon (Dave) | Im Yoona | Amber | Seohyun | Choi Sooyoung | Etc

Bisa dibilang ini lanjutannya Prince, bisa dibilang juga tidak.. #bingung
Pokoknya ini saia bermain” dengan imajinsi aja lah yaa.. so kalau nantinya ada bagian” yang diluar nalar, harap dimaklumi cuz ini sedikit masih berbau fantasy..😀

Happy Reading~

*

*

*

“Daddy..”

“Dad..”

“Daddy..!”

Ketika tiga kali panggilannya tak mendapatkan sahutan, bahkan setelah ia menaikkan nada suaranya, gadis kecil itu mendecak dan kembali meninggikan nada suaranya, hingga terdengar nyaris berteriak..

“Daaaaaddy..!!”

Aksinya berhasil, sang ayah yang belum lama pulang, bahkan baru saja mengistirahatkan tubuhnya disofa dengan mata terpejam, akhirnya mendongak mengarahkan tatapan kearahnya yang pada saat itu sedang berdiri diatas anak tangga..

image

“Daddy tak mendengar Lauren memanggil?”

sang ayah tersenyum melihatnya yang menggerutu diatas anak tangga, dengan tangan bersedekap didepan dada.

Lalu sang ayah memberi isyarat dengan tangannya, agar gadis kecil itu menghampirinya..

Gadis kecil berusia tujuh tahun itu, yang bernama Lauren, dengan segera menuruni anak tangga dibawahnya untuk selanjutnya menghampiri sang ayah dan langsung melompat naik keatas pangkuannya..

“Dad, kau tidak mendengarku yaa..?”

Masih dari bibir mungil gadis kecil itu yang menggerutu, agak kesal telah diabaikan..

“Sepertinya tadi Daddy nyaris tertidur, sayang..”

Sambil tangan kecilnya terulur kemudian bergerak meraih dasi sang ayah dan membuka simpul ikatannya, Lauren menanyakan..

“Apa sangat melelahkan hari ini, Dad?”

Sang ayah mengangguk, yang lantas tak butuh waktu lama bagi Lauren untuk memindahkan kedua tangan kecilnya merangkul leher sang ayah, dan menghujani wajah ayahnya dengan berkali-kali ciuman..

“Daddy bilang ciuman-ciuman Lauren selalu bisa menghilangkan kelelahan yang Daddy rasakan, jadi bagaimana dengan sekarang Dad..?”

“Ohh.. Selalu, ini sempurna sayang.. Terimakasih..”

Lauren terkikik ketika sang ayah yang gemas dengan tingkahnya kemudian membalas menciumnya juga menggelitik pinggang kecilnya..

“Kalau begitu, sekarang giliran Daddy yang menghilangkan kelelahan Lauren..”

“Oh, apakah gadis kecil Daddy juga merasakan kelelahan? Apa tugas sekolah-mu banyak, sayang?”

“Ini bukan mengenai tugas sekolah, tapi.. Lauren lelah karna teman-teman Lauren terus menerus menanyakan mengenai keberadaan Mommy. Dimana Mommy Lauren, Dad..?”

“Oh, please Lauren.. Daddy sudah pernah menjelaskannya bukan. Mengapa kau masih saja bertanya..!”

gadis kecil itu menunduk, lalu secara perlahan turun dari pangkuan ayahnya..

“Hentikan pertanyaan yang seperti itu, apa kau mengerti..!”

gadis kecil itu menggeleng..

“Lauren..!”

“Lauren selalu bisa menghilangkan kelelahan Daddy, tapi Daddy tak pernah bisa menghilangkan kelelahan Lauren.. Dad-dy.. Dad-dy tidak me-nger-ti..”

Lauren menghentikan kalimatnya, ketika suaranya sudah lebih dulu tersedak oleh airmata. Ia kemudian berlari, kembali menaiki anak tangga, dan mengabaikan panggilan ayahnya juga seorang asisten pribadi sang ayah yang kebetulan berpapasan dengannya ditengah-tengah anak tangga..

“Ada masalah dengan Lauren, Sir?”

“masalah yang sama.. Dia kembali menanyakan tentang ibunya..”

“Mungkin sebaiknya anda berterus terang, Sir”

“Dengan mengatakan bahwa ibunya meninggal karna memilih mengorbankan nyawa demi untuk melahirkannya? Itu hanya akan menyakitinya..”

“Apa bedanya dengan yang kau katakan bahwa ibunya pergi entah kemana. Itu juga sama menyakitinya..”

Pria itu melotot saat sang asisten meninggalkan keformalannya saat berbicara..

“Jaga bicaramu, Amber..”

“Kita tidak sedang dikantor.. Op-pa..”

Amber justru mulai menggodanya dengan sengaja..

“Kau lebih pantas memanggilku, Hyung..”

Pria itu melemparkan dasinya kearah Amber, sang asisten..

“Baiklah Hyung..”

Amber tak gentar meski sekali lagi ia sedang mendapatkan pelototan karna aksinya yang dengan sengaja menggoda pria itu..

“walau bagaimanapun, aku masih tak ingin Lauren mengetahui ibunya telah tiada..”

“Mengapa tak kau bawa saja Lauren kembali ke Korea?”

Pria itu menggeleng dengan kesedihan yang tersorot jelas dikedua manik matanya..

“setidaknya dia masih berada didaratan yang sama dengan pusara ibunya”

“kalau begitu sebaiknya kau memberitahu Lauren keberadaan pusara ibunya, agar dia bisa ikut mendoakannya.. Lauren sudah cukup besar, aku yakin dia akan mengerti..”

“Karna itu, kau tahu bagaimana Lauren.. aku hanya tak mau jika aku menceritakan kematian ibunya, dia akan berpikir disetiap ia berbahagia di hari ulang tahunnya, dihari itulah dia sedang merayakan kematian ibunya”

Amber terdiam, lalu menghela napas berat. Ia mengerti apa yang di takutkan pria itu, namun belum sempat ia memberi tanggapan ketika kemudian Amber harus lebih dulu beralih demi untuk menjawab panggilan pada ponselnya yang bersuara..

“Hallo.. Asisten Tn.Dave disini.. Ada yang bisa saya bantu?”

Untuk beberapa saat Amber hanya mendengarkan, sebelum kemudian menyodorkan ponselnya kearah sang pria yang masih berada dihadapannya..

“Calon mitra bisnis ingin bicara denganmu, Dave..”

“Sudah kukatakan, jangan pernah sambungkan urusan pekerjaan denganku saat aku sudah berada dirumah..”

Tolaknya tajam, dengan membawa tubuhnya berdiri tegak dan siap melangkah meninggalkan Amber untuk menghendel entah siapapun yang berada disambungan telpon itu..

Amber sempat mendecak sebelum kemudian meminta sang penelpon untuk menunda dan membicarakan hal yang ingin dibicarakannya ketika berada dijam kerja saja..

“Jadi, bolehkah aku menginap disini?”

“Terserah.. Lakukan sesukamu..”

Amber mendesah melihat pria itu, David Joseph Choi, atau yang lebih familier dipanggil Dave, yang bisa disebut sebagai atasannya saat berada dikantor, juga sahabatnya diwaktu-waktu tertentu, dan terutama yang takkan pernah bisa terelakkan, Dave adalah saudara sepupunya. Pria itu kini sedang memasang raut muram diwajahnya saat kemudian membawa tubuhnya dengan langkah lebar menaiki anak tangga untuk selanjutnya memeriksa keadaan putrinya.

Dave mendapati Lauren berdiri didepan jendela kamarnya yang terbuka, dengan salah seorang pengasuh sang putri yang sedang mencoba membujuk Lauren agar gadis kecil itu mau menutup jendela kamarnya -masalahnya angin malam cukup kencang berhembus- dan segera pergi tidur. Namun yang Dave lihat, Lauren justru tak bergeming dengan bujukan pengasuhnya. Hingga kemudian ia bersuara..

“Terlalu dingin untukmu berdiri disana, sayang..”

Mengetahui sang tuan yang kemudian mendekat, sang pengasuh undur diri meninggalkan ayah dan anak itu disana..

Dave langsung menutup jendela kaca yang terbuka lebar itu, tanpa peringatan ataupun bertanya dulu pada Lauren.

Gadis kecil itu pun sudah langsung beralih. Berpindah naik keatas tempat tidur dan segera meringkuk dengan mata terpejam rapat..

“Sayang.. Kau marah? Lauren marah pada Daddy?”

Dave mendekat, dan mendudukkan tubuhnya diatas tempat tidur, disamping Lauren yang meringkuk membelakanginya..

“Lauren.. Sayang..”

“Daddy yang marah pada Lauren.. Daddy yang membentak tadi..”

Dave sedikit mengurut pelipisnya, menghela napas sesaat dan cukup menyesali sikapnya yang kurang bersabar menghadapi sang putri tadi. Lauren makin bertumbuh, makin kritis dan semakin keras melontarkan pertanyaan-pertanyaan mengenai sosok ibunya.

Masalahnya tadi, Lauren bertanya disaat dirinya sedang lelah-lelahnya setelah seharian penuh mengurusi bisnis yang dijalankannya. Hingga Dave sendiri tak mampu mengontrol jawaban yang diberikannya hingga yang keluar justru semacam peringatan yang bernada membentak..

“Daddy tak bermaksud seperti itu, sayang.. Maafkan Daddy.. Daddy hanya terlalu lelah tadi..”

“Tapi Lauren sudah menciumi Daddy tadi.. Seharusnya kelelahan Daddy hilang bukan?”

Dave mau tak mau tersenyum, seulas senyum sayang kala mendengarnya, seraya tangannya bergerak mengusap rambut panjang Lauren dengan belaian lembut..

“Iya sayang.. Maafkan Daddy.. Daddy tidak akan seperti itu lagi..”

Dave melepas sepatu kerjanya, lalu menaikkan kedua kakinya keatas tempat tidur dan segera membaringkan tubuhnya disamping sang putri.

Merasakan sang ayah yang berbaring disebelahnya, Lauren lantas membalikkan tubuhnya menghadap sang ayah, serta melingkarkan tangan kecilnya memeluk Dave. Sepertinya amarah gadis kecil itu menguap setelah mendengar permintaan maaf yang diucapkan sang ayah kepadanya..

“Dad..?”

“Lauren sudah mengantuk?”

Lauren mengangguk..
Tangan kecilnya mengerat dipinggang sang ayah yang kemudian dibalas Dave dengan pelukan tak kalah erat..

“Ingin Daddy bacakan cerita pengantar tidur?”

Lauren menggeleng..

“Bosan..”

“Kalau begitu hari minggu nanti kita harus pergi ke toko buku dan membeli beberapa buku cerita baru..”

Lauren mengangguk senang..

“Sekarang tidurlah, sayang”

“Dad.. Bolehkah Lauren bertanya lagi sebelum tidur?”

Dave tersenyum lantas mengangguk dengan sebelah tangannya bergerak menyelipkan helaian rambut kebelakang telinga Lauren..

“Seperti apa Mommy?”

Dave terdiam..
Pertanyaan yang seperti itu bukan baru sekali ini terlontar dari bibir mungil putrinya. Bila ia menghitung, sudah ratusan kali Lauren menanyakannya. Dan Dave entah mengapa merasa sama sekali tak mampu untuk menjawab, sekedar untuk memberi gambaran pada sang putri pada sosok ibunya saja, ia tak sanggup..

Itu akan mengingatkannya lagi pada sosok wanita yang telah menghadirkan Lauren kehidupnya. Yang meregang nyawa dihadapannya. Bahkan sebelum ia sempat menikahinya..

“Ayolah Dad.. Lauren hanya menanyakan itu saja. Seperti apa Mommy?”

Setelah beberapa saat terdiam, Dave akhirnya berusaha keras untuk kembali mengulas senyum dibibirnya, dan memberikan jawaban pada sang putri dengan hanya satu kalimat singkat yang berhasil diucapkannya dari tenggorokannya yang tercekat..

“Dia adalah wanita tercantik didunia..”

*****

Dari balik meja kerjanya, Dave mengamati tingkah Lauren yang sejak beberapa saat tadi berjalan keluar masuk dari ruang kerjanya. Sebenarnya keberadaan Lauren saat itu sedikit mengganggu konsentrasinya memeriksa beberapa dokumen, namun ia tak bisa menegur gadis kecil tersayangnya itu dua kali dalam sehari. Bisa jadi Lauren akan murung dan mengabaikannya. Cukup sekali dipagi tadi ia menegur Lauren yang berniat membolos dari kegiatannya disekolah, dan sebagai kompensasinya, gadis kecil itu ia ijinkan berada dikantornya seusai pulang dari sekolahnya..

“Amber.. Amber..! Kemarilah dan bantu aku..”

Dave sekali lagi mendongak, melihat Amber masuk oleh karna suara Lauren yang memanggilnya..

“Ada apa Princess?”

Amber mendekati gadis kecil itu yang sedang memandangi layar laptop dan menunjuk-nunjuk beberapa gambar disana..

“Amber, bisakah kita mencetaknya?”

“Kau ingin mencetaknya?”

“hm, bisakah Amber?”

“Biasakan memanggilnya Aunty, Lauren..”

Dave tiba-tiba saja menginterupsi dan membuat keduanya menoleh dan memandangnya dengan dahi berkerut-kerut..

“Kau wanita, tentu saja Lauren harus memanggilmu aunty..”

Amber mendecak dan malah melotot kearah Dave..

“Amber tak suka jika Lauren memangginya aunty, Dad.. Aunty Amber, ugh.. terdengar tidak begitu pantas untuknya, Dad..”

Amber tergelak mendengarnya..

“Aku juga lebih suka kau cukup memanggilku dengan Amber, sayang.. Sebutan aunty itu terdengar terlalu tua untukku”

Amber menaik-naikan alis hitamnya kearah Dave yang kemudian langsung mencibirnya. Sementara Lauren cekikikan melihatnya..

“Baiklah Princess.. Aku akan kerjakan apa yang kau inginkan tadi”

“Dad, bolehkah aku ikut dengan Amber..?”

“Ya, pergilah dengannya..”

Dave sedikit menarik napas lega akhirnya, karna ia cukup dapat berkonsentrasi dengan beberapa dokumen dihadapannya setelah Lauren mengikuti Amber keluar dari dalam ruang kerjanya.

Namun hal itu tak berlangsung lama, pada sekitar tiga puluh menit setelahnya, keseriusannya membaca lembar-lembar dokumen dihadapannya kembali terganggu. Siapa lagi kalau bukan sang putri kecil yang kembali, dengan melengkingkan suaranya yang bernada ceria..

“Daddy.. Daddy lihatlah ini.. Lihatlah apa yang tadi Lauren minta untuk Amber kerjakan..”

Dave dengan kasat mata kembali menghela napasnya, kesabarannya untuk meladeni permata hatinya yang menginginkan perhatian darinya kembali diuji.

Ketika kemudian Dave mengetahui Lauren berniat untuk duduk dipangkuannya, ia dengan segera mendorong kursi kerjanya sedikit mundur dan memberi ruang bagi Lauren agar bisa dengan mudah berada diatas pangkuannya..

“Dad.. Lihatlah foto-foto ini..”

Lauren dengan cekatan meletakkan beberapa lembar foto yang sebelumnya berada dalam genggaman tangannya, keatas meja kerja Dave dan meminta sang ayah untuk melihatnya satu persatu..

Dave dengan dahi berkerut mengamati Lauren yang sedang menjajarkan -setidaknya itu lebih dari sepuluh foto-foto wanita- diatas meja kerjanya..

“Jadi yang manakah Mommy Lauren, Dad?”

Dave dengan serta merta melebarkan bola matanya. Indra pendengarnya jelaslah tidak sedang bermasalah. Lauren jelas-jelas menanyakan yang mana ibunya, dari sekian banyak foto yang sekarang berjejer diatas meja kerjanya..

Ya Tuhan..

“Yang mana, Dad.. Yang mana Mommy? Lauren bingung..”

“Lauren.. A-pa.. Apa maksudmu sayang?”

“Daddy.. Apa Daddy tidak mendengar Lauren bicara tadi? Lauren bertanya yang mana Mommy? Yang mana Mommy Lauren..”

“Tapi sayang, Mommy.. Mommy Lauren..”

“Lauren terus terbayang-bayang, semalam Daddy mengatakan jika Mommy adalah wanita tercantik didunia. Tapi Daddy tidak memberitahu Lauren seperti apa wajah Mommy. Jadi.. Tadi Lauren menggunakan internet, dan mencari-cari seperti apa wanita tercantik didunia.. Dan foto-foto inilah yang muncul.. Tapi Lauren jadi bingung, yang manakah Mommy Lauren? Tidak mungkin kan mereka semua adalah Mommy Lauren. Semua teman Lauren hanya memiliki satu Mommy saja..”

Oh Astaga..
Bagaimanakah ia harus bereaksi sekarang?

Dave merasa bingung..
Haruskah ia berbangga terhadap kecerdasan putri kecilnya, Lauren? Dan sekaligus bersyukur terhadap pesatnya kemajuan teknologi sekarang yang dengan kecanggihan yang semakin meningkat, begitu mudah untuk diakses oleh siapa saja tak terkecuali Lauren, putri kecilnya..
Namun ironis yang dirasakan Dave. Hatinya serasa diiris-iris sekarang. Karna ketidak mampuannya untuk mengatakan pada Lauren mengenai kematian ibunya, sang putri jadi berpikir bisa menemukan ibunya dengan menggunakan kecanggihan dunia maya..

Pantas saja, begitu datang keruangannya tadi, Lauren langsung meminjam laptop kerjanya. Dave mengira, sang putri hanyalah ingin mempergunakannya untuk bermain game-game online seperti yang biasa dilakukannya. Namun nyatanya, apa yang saat itu berada dipikiran Lauren jauh diluar dari prediksinya..

“Yang mana, Dad? Yang manakah Mommy-ku?”

Suara Lauren kembali menyadarkan Dave bila putri kecilnya itu sedang menanti-nanti jawabannya. Dan dengan sekilas memperhatikan beberapa foto dihadapannya dengan sedikit minat, Dave dengan asal menunjuk salah satu foto dari beberapa foto itu yang beberapa diantaranya ia ketahui sebagai actres-actres ternama, dan mungkin sisanya adalah supermodel-supermodel dunia. Yang jelas, meski tak kalah cantik, namun tak ada salah satu diantara wanita-wanita cantik itu yang menyamai wajah ibu Lauren yang sebenarnya.

“Jadi ini Mommy Lauren..? Mommy Lauren.. Mommy, Mommy benar-benar cantik..”

Dengan bola matanya yang bening dan berbinar-binar, Lauren mengagumi sebuah foto yang tadi ditunjuk sang ayah dan diakui sebagai ibunya..

image

“Dad.. Mommy memang yang tercantik..”

Gadis kecil itu bahkan mencium hingga mendekapnya kedalam pelukan..

“Lauren akan meminta Amber untuk mencetak foto-foto Mommy sebanyak-banyaknya”

Begitu Lauren yang kemudian melompat turun dari pangkuannya dan berlari keluar dari ruangannya, Dave kembali menerawang.

Ingatannya kembali pada seorang gadis Amerika yang hidup sebatang kara. Wanita mandiri nan gigih dalam bertahan ditengah ketatnya persaingan dinegara maju ini -yang sekarang pun menjadi negara tempat tinggalnya- seorang wanita yang kemudian menjadi kekasihnya hampir satu tahun lamanya itu, tujuh tahun lalu telah pergi meninggalkan dirinya serta buah dari percintaannya untuk selama-lamanya.

“Seandainya kau ada disini dan melihatnya..”

Gumamnya dengan hati yang didera kepedihan..

*****

“Amber..! Amber..!! Dimana kau..! Amber..!!”

Dave benar-benar merasa kesal saat itu. Ia hanya pergi melakukan perjalanan bisnis dan meninggalkan Lauren tak kurang dari seminggu lamanya. Namun dari apa yang baru saja didengarnya, yang dilaporkan pengasuh Lauren padanya, bahwa gadis kecil itu berubah sejak memegang selembar foto yang diakui Lauren sebagai ibunya.

Pengasuh Lauren mengatakan gadis kecil itu tak pernah beranjak dari layar televisi sejak pulang dari kegiatannya disekolah. Lauren juga hampir setiap hari meminta sang pengasuh untuk menemaninya mendapatkan kaset-kaset DVD, atau juga mencarikannya chanel yang berada di youtube, entah demi untuk menyaksikan apa. Dave hanya terlalu khawatir Lauren menyaksikan tayangan yang belum pantas untuk dilihat bocah seusianya.

Namun dari mulut sang pengasuh pulalah, Dave mengetahui jika Lauren hanya memburu tayangan yang menampilkan seorang wanita yang bahkan sampai saat itupun belum ia ketahui siapakah sang wanita itu yang telah dijadikan Idola oleh putrinya. Hingga membuat Lauren bertingkah tak seperti biasanya saat ia pergi, putri kecilnya itu sama sekali tak menghubunginya, kecuali ia yang menelpon lebih dulu untuk menanyakan keadaannya..

“Kau mencariku Dave? Aku diruang kerjamu..”

Amber muncul dan langsung melangkah menghampirinya..

“Bagaimana transaksinya.. Kau berhasil mengakuisisi perusahaan itu?”

“Simpan dulu pertanyaanmu yang semacam itu..”

Amber diam dengan wajah merengut..
Ia dapat langsung membaca ada rasa yang tidak beres pada raut wajah Dave saat itu.

“Apa yang terjadi pada Lauren? Apa yang kau katakan padanya?”

Amber memutar bola matanya kearah Dave..

“Aku..? Tunggu dulu Dave, apa maksudmu dengan apa yang kulakukan pada Lauren? Dia jelas sangat baik-baik saja.. Kau pikir aku menganiayanya?”

“Ck! Apa kau tidak melihat kedalam kamarnya? Siapa yang mengacaukan kamar Lauren seperti itu? Siapa yang menempelkan begitu banyak foto, ah tidak.. Itu bukan lagi sekedar foto melainkan poster?! Dan bagaimana bisa kau mengatakan wanita dalam poster itu adalah ibunya?!”

“Woahhh.. Apa sekarang kau sedang menyalahkanku?”

Amber tak terima dengan serbuan pertanyaan yang dilontarkan oleh Dave, terlebih pada kalimat tuduhannya yang terakhir..

“Siapa lagi kalau bukan kau..!”

“Hei.. Itu kau yang melakukannya. Kau lupa.. Kau yang mengatakan pada Lauren bahwa wanita dalam foto itu adalah ibunya. Konyol sekali Dave, kau yang mengatakan hal itu tapi sekarang kau menyalahkanku..”

“Aku katamu? Aku yang mengatakan hal itu pada Lauren?”

“Ya.. Itu kau, Dave. Kau yang mengatakannya saat Lauren memintaku mencetak banyak sekali foto. Awalnya aku tak mengerti maksudnya, sampai kemudian Lauren menunjukkannya padamu dan kembali padaku dengan hanya satu foto dalam dekapannya yang kemudian dengan suka cita ia katakan itu adalah ibunya”

“Aku.. Aku tidak menyadarinya..”

Dave mendesah, lantas menjatuhkan tubuhnya diatas sofa..

“Kupikir kau mendapati jalan buntu hingga terpaksa mengatakan hal seperti itu pada Lauren. Aku tak sempat bertanya padamu karna kau sudah langsung pergi hari itu..”

“Ya Tuhan..”

Dave kembali mendesah..

“Bagaimana mungkin Lauren menanggapinya sampai sejauh itu?”

“Itu karna dia sangat ingin mengetahui ibunya, Dave. Sudah kukatakan, walau menyakitkan, kejujuran adalah yang terbaik. Kau lihat sekarang, dia malah menjadikan seorang wanita asing sebagai ibunya”

“Siapa wanita itu? Bagaimana bisa Lauren mendapatkan banyak sekali fotonya?”

Amber meringis..

“Ingat, jujur adalah yang terbaik kan.. Karna sejujurnya aku yang..”

Dave kembali melotot kearahnya, ia sudah langsung mengerti dengan apa yang ingin Amber katakan..

“itu karna Lauren yang memintaku, Dave. Dan kau tahu sendiri, siapa memangnya yang bisa menolak keinginan putrimu itu..”

“jadi semua poster dikamarnya itu..?”

“hehee.. Itu aku yang menempelnya..”

Amber menangkupkan kedua tangannya meminta maaf..

“Kenapa kau tak memberitahuku lewat telpon?”

“Kupikir lebih baik untuk membicarakannya saat kau pulang”

“Jadi siapa wanita itu?”

“Namanya Yoona..”

“Yoo-na?”

“Ya, Im Yoona.. Aku juga heran, sepertinya kebetulan sekali, dia wanita Korea. Dia artis, seorang mantan bintang idola malah.. Karna itu sangatlah mudah mendapatkan gambar-gambarnya di internet”

“Ya Tuhan.. apa yang harus kulakukan?”

Dave mendesah, bingung..
Benar-benar tak menyangka Lauren akan sampai sejauh itu..

“Mungkin sekaranglah saatnya untukmu memberitahu Lauren tentang ibunya, Dave.. sebelum terlambat dan dia semakin mempercayai wanita asing itu sebagai ibunya”

Belum selesai keduanya berbicara, ketika kemudian terdengar seruan dari Lauren..

“Daaaaddy..!! Daddy sudah pulang?”

Siwon masih terperangah dengan apa yang dikatakan Amber, saat kemudian gadis kecil yang dirindukannya pulang dan langsung menyerbunya dengan pelukan, juga ciuman bertubi-tubi diwajahnya..

“I miss you, Dad..”

“Daddy juga merindukanmu sayang.. Bagaimana hari ini? Apakah menyenangkan?”

Lauren merengut dengan bibir mengerucut..

“Teman-temanku masih belum percaya jika Lauren memiliki Mommy. Ughh.. Mereka sangat menyebalkan..”

Dave melirik pada Amber dan mendapatinya hanya bisa mengangkat bahu..

“Mommy Lauren..”

“Ya, kapan Mommy akan pulang, Dad..? Lauren sangat rindu Mommy. Apa Mommy pergi karna ingin berkarir? Tapi yang Lauren lihat Mommy sudah sukses dengan karirnya. Mengapa Mommy tidak segera pulang? Apa Mommy tidak rindu pada Lauren dan Daddy..”

“Sayang.. Mommy.. Mommy pasti juga merindukanmu..”

“Ya, Lauren pikir juga begitu. Mungkin Mommy masih ingin mengembangkan karirnya. Apakah begitu, Dad?”

Dave tak menolak ataupun mengiyakan apa yang sang putri pikirkan. Hatinya terlalu pedih mendapati Lauren menghayalkan wanita asing bernama Yoona itu sebagai ibunya..

Andai ia bisa berterus terang, mungkin takkan seperti ini kejadiannya. Sang putri mungkin dapat menerima kematian ibunya, ataukah yang terjadi akan sebaliknya, hati kecilnya takkan mampu menerima kenyataan itu hingga kesedihan lah yang justru akan terus menerus dirasakannya..

Dan hal yang paling tidak ingin dilihatnya adalah kesedihan putrinya. Maka yang kemudian Dave lakukan hanyalah memeluk Lauren erat, sambil menciumi wajahnya..

“Apa Daddy sudah tahu, Lauren memiliki banyak foto Mommy dikamar..”

“hm, Daddy sudah melihatnya”

“bagaimana menurut Daddy?”

“itu terlalu penuh sayang, bahkan tak ada tempat untuk memasang foto Daddy..”

Lauren terkikik..

“Itu karna Lauren sangat merindukan Mommy, Dad.. Sekarang Lauren menjadi tak bisa tidur kalau tidak melihat foto Mommy..”

“Sayang, sebenarnya..”

“Oh, Apa Daddy tau, Lauren bahkan memimpikan Mommy datang. Mommy tersenyum saat melihat Lauren.. Mommy cantik sekali, Dad..”

“kau juga cantik sayang, seperti ibumu..”

Dave kembali menciumnya, dan berharap sang putri akan berhenti membicarakan wanita asing itu. Namun Lauren tak bisa berhenti, ia terus membicarakannya dan bahkan mengajak Dave untuk melihat lagi kedalam kamarnya. Lauren juga menceritakan apa saja yang telah diketahuinya tentang sosok sang Mommy, dan Dave harus berusaha keras menekan kesedihan yang dirasakannya. Bahkan ketika kemudian ia melihat sendiri sang putri yang tertidur dengan sebuah pigura foto wanita asing itu, nyeri serasa meremas hingga ke ulu hatinya..

“bagaimana Daddy bisa menjelaskan padamu, sayang.. Bagaimana kau bisa menerima kenyataan yang sebenarnya?”

Diambilnya pigura itu dari dekapan Lauren, dan digantinya dengan mendekap sang putri kedalam pelukannya hingga akhirnya Dave pun ikut tertidur bersamanya, bahkan tanpa sadar memimpikan sang wanita dalam pigura..

image

*****

“Daddy..! Daddy..!!”

“ada apa Princess?”

Lauren berseru memanggil sang ayah, namun Amber lah yang justru menyahutinya..

“Amber, dimana Daddy?”

“Ayahmu pergi ke Eropa.. Dia sedang melakukan perjalanan bisnis, sayang..”

“Lagi?”

Amber mengangguk dan membuat Lauren mendengus kesal..

“Kenapa Daddy sibuk sekali..”

“Daddy-mu tentu saja bekerja untuk menghasilkan uang dan membahagiakanmu, Princess..”

“Tapi Daddy harus tahu, Amber.. Lauren punya kabar gembira untuk Daddy..”

“Kabar gembira? Kabar gembira apa sayang?”

Lauren menggeleng..

“Lauren ingin memberitahu Daddy lebih dulu. Cepat telpon Daddy, Amber..”

Meski sempat ikut mendengus seperti yang Lauren lakukan tadi, Amber menuruti apa yang menjadi keinginan gadis cilik itu. Ia mencoba menghubungi Dave, namun sayangnya panggilannya tidak bisa tersambung. Dave sedang tidak mengaktifkan ponselnya..

“sepertinya Ayahmu masih berada didalam pesawat, sayang.. Ponselnya tidak aktif..”

Lauren mendesah kecewa..

“Sebenarnya kau ingin menyampaikan kabar gembira apa, Lauren?”

“Haruskah aku mengatakan padamu lebih dulu?”

“Ya, mengapa tidak..”

“em, baiklah.. Karna ini kabar gembira, semua harus mengetahuinya..”

Amber sedikit merasa aneh mengetahui Lauren yang menjadi terlihat bersemangat..

“Mommy akan datang..”

“APA?”

“Iya, Amber.. Mommy akan datang..”

“Mom-my.. Mom-my siapa, sayang?”

“tentu saja Mommy Yoona, Amber.. Mommy-ku, siapa lagi memangnya..”

Oh My God..
Amber merasa kehilangan kata-kata setelah mendengar apa yang gadis kecil itu bicarakan.

“Benarkah? Bagaimana kau tahu sayang..?”

“Mommy akan melakukan pertunjukan disini, karna itu aku ingin memberitahu Daddy dan mengajak Daddy untuk menonton pertunjukannya.. Mommy pasti akan sangat senang jika Lauren dan Daddy datang. Lauren juga akan mengajak Mommy pulang..”

Ya Tuhan..
Apa yang bisa Amber katakan sekarang. Ia bahkan seperti kehabisan kata mendapati Lauren yang bersungguh-sungguh menganggap wanita asing itu sebagai ibunya.

“Jadi kapan Daddy akan pulang, Amber?”

“Aku.. Aku juga tidak mengetahuinya, sayang..”

“bagaimana bisa kau tidak mengetahuinya? Bukankah kau yang mengatur jadwal kerja Daddy..?”

“Tapi ayahmu kan tetap saja bos-nya, dia bisa membuat jadwalnya sendiri..”

“Kalau begitu, kau yang harus membantuku untuk bertemu Mommy..”

“Apa?”

“Ya, Amber.. Kau harus mendapatkan tiket untuk menonton pertunjukkannya..”

“Tapi, Princess..”

“Pokoknya kau harus mendapatkannya dan jika Daddy belum juga pulang, kau yang harus menemaniku untuk bertemu dengan Mommy dan mengajak Mommy pulang..”

Oh Tuhan..
Ingin rasanya Amber, mendatangi Dave dan memberitahukannya langsung pada pria itu mengenai keinginan putrinya..

“Amber.. Kau akan melakukannya kan?”

“Tapi Lauren, sebenarnya..”

“Please Amber.. Ayolah, katakan iya padaku.. Katakan kau akan melakukannya..”

Oh, siapa yang akan tega menolak permohonan gadis kecil itu..

Amber, akhirnyapun mengangguk dan membuat Lauren bersorak, melompat kegirangan dan memberikannya pelukan..

“Jadi kapan Mommy-mu akan melakukan pertunjukannya?”

“Besok..”

“Besok?”

Setelah mencari tahu mengenai pertunjukan konser salah satu grup wanita yang berasal dari negara di Asia, Korea tepatnya, yang juga pernah beberapa lama menjadi tempat tinggalnya, Amber mendapati kenyataan pahit bahwa semua tiket telah terjual habis, dari mulai kelas festival, sampai ke kelas VVIP sekalipun, tak ada yang tersisa sama sekali..

Padahal, dari apa yang dibacanya melalui media online, grup wanita itu sudah lama tidak aktif diindustri hiburan. Bahkan album yang terakhir mereka keluarkan, sudah diluncurkan pada sekitar delapan tahun yang lalu. Tapi rupanya masih banyak saja orang yang setia menggemari mereka. Hingga konser bertajuk reuni itu, sangat menyedot minat tak hanya penggemar setia tapi juga kaum muda penggemar musik Asia, hingga semua tiket telah ludes terjual..

Jadilah Amber harus memutar otak untuk menemukan cara agar bagaimana ia bisa mendapatkan tiketnya..

Untunglah ia masih dapat berpikir jernih dan teringat pada salah seorang rekan yang bekerja dibidang even pertunjukan. Dan kebetulannya, even pertunjukan grup wanita itu ternyata berada dibawah payung perusahan dimana sang rekan tergabung didalamnya. Dari sang rekanlah Amber kemudian mendapatkan tiket pertunjukannya..

“Amber..! Amber..! Apa kau sudah mendapatkannya? Dimana tiketnya? Dimana, Amber..?”

Serbuan pertanyaan itu yang langsung Amber terima ketika kedua kakinya baru saja melangkah memasuki rumah yang ditempati Dave dan sang putri Lauren, yang terkadang ia pun menginap disana..

“aku sudah tidak sabar, Amber.. Aku sudah tidak sabar bertemu Mommy..”

Amber bahkan masih belum dapat bernapas dengan normal setelah berjam-jam tadi berada diluar, demi untuk memenuhi keinginan putri Dave itu..

Oh, Dave..
Pria itu bahkan menolak untuk dihubungi. Dan menjadikannya kelimpungan(?) sendirian mengatasi Lauren..

Jika tahu begini, Amber merasa lebih baik mengikuti perjalanan bisnis Dave ke Eropa, sekaligus ia dapat berjalan-jalan disana. Tapi sayangnya, sekalipun jabatannya adalah asisten pribadi pria itu, Dave tak pernah mengajaknya dalam perjalanan bisnis dan lebih senang memberinya tugas untuk mengawasi Lauren..

“Amber, kenapa kau diam saja?! Kau mendapatkan tiketnya kan? Katakan padaku kau mendapatkannya, Amber..!!”

“Oh Tuhan, tenanglah Princess.. Tentu saja aku mendapatkannya.. Setengah mati aku berusaha mendapatkan tiketnya untukmu..”

“Benarkah? Oh, Amber.. Aku sangat menyayangimu..”

Lauren sudah langsung memeluk dan menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi diwajahnya..

Melihat Lauren se-ceria itu, Amber merasa kelelahan yang dirasakannya tadi sirna seketika. Betapa ia belum pernah melihat gadis kecil itu se-ceria saat ini..

Lauren memperlihatkan kedua matanya yang begitu bersinar, penuh kebahagian, dan sekaligus harapan yang membuncah untuk dapat bertemu dengan ibunya..

Oh, Lauren..

Disaat yang bersamaan, Amber merasa ingin menjatuhkan airmatanya..

Andai dia tahu..
Andai gadis kecil itu tahu, siapa dan dimana ibunya yang sebenarnya..

“Dimana tiketnya, Amber? Aku ingin melihatnya..”

“Tidak ada padaku, sayang.. Tapi besok, kita bisa mengambilnya langsung disana dan melihat dari dekat pertunjukkannya..”

“Aku sangat senang Amber.. Aku sangat senang.. Tapi, Apa Daddy tidak bisa pulang besok?”

“sepertinya lusa Daddy-mu baru akan pulang sayang..”

“Yahh, bagaimana bisa Daddy tidak mengetahui Mommy akan datang? Bagaimana jika nanti Mommy kecewa karna Daddy tidak datang dan menonton pertunjukannya? Bagaimana…”

“sstt, jangan memikirkan hal itu sayang.. Sekarang kau harus tidur, dan besok setelah kegiatanmu disekolah selesai, aku akan menjemputmu dan kita pergi untuk mengambil tiketnya..”

“baiklah Amber, aku mengerti.. Selamat malam..”

“good night Princess..”

*****

Mulanya, Lauren menolak untuk pergi ke sekolah. Ia benar-benar menjadi tidak sabar untuk berada dilokasi pertunjukkan dan menyaksikan secara langsung penampilan Mommy-nya.

Namun Amber membuat kesepakatan, jika tidak pergi ke sekolah, itu berarti Lauren juga tidak akan mendapatkan tiket pertunjukannya. Tentu saja Amber membuat gadis kecil kesayangan Dave itu menangis, tapi harus bagaimana, ia pun akan mendapatkan omelan dari Dave bila pria itu mengetahui dirinya membiarkan Lauren membolos.

Dan akhirnyapun kesepakatan itu disetujui oleh Lauren. Gadis kecil itu tetap dengan kegiatan rutinnya dipagi hari, dengan pergi ke sekolah. Dan membuat Amber berjanji untuk tidak terlambat menjemputnya..

Lauren bahkan telah meminta pengasuhnya agar menyiapkan pakaian yang nanti akan dipakainya, dan sudah langsung menyimpannya didalam mobil..

Hingga akhirnya, saat kegiatan belajarnya disekolah usai, Lauren benar-benar bersorak mendapati Amber telah menunggunya..

“Amber.. Apa kita akan pergi untuk mengambil tiketnya sekarang?”

“emm, pertama-tama kita harus pergi untuk mendapatkan makanan, sayang..”

“Tapi aku sudah menghabiskan bekal makan siangku tadi..Dan lagi pula, pertunjukkannya tidak akan lama lagi, Amber.. Aku tidak mau telat menonton Mommy. Ayolah kita kesana saja sekarang.. ayolah Amber, pleaseee..”

Lagi-lagi Amber tak bisa
menolak permohonan gadis
kecil itu. Ia mengiyakan apa
yang Lauren inginkan dengan
langsung membawanya ke
lokasi pertunjukkan.

Sampai disana, meski baru
sore hari dan pertunjukan
konser itu baru akan
berlangsung pada malam
harinya, namun ternyata para
penggemar sekaligus
pengunjung konser itu sudah
memadati lokasi diselenggarakannya acara.
Hingga Amber harus ekstra
hati-hati dalam menjaga
Lauren.

Amber bahkan tak bisa
membayangkan akan seperti
apa reaksi Dave bila
mengetahui ia membawa
Lauren ketempat seramai itu..

“Amber lihatlah itu Mommy..
Itu Mommy, Amber..!”

Lauren sudah bersorak
kegirangan hanya dengan
melihat poster-poster
berukuran besar yang dipasang
disana..

“Amber, apa kita bisa masuk
sekarang? Aku sudah tidak
sabar..”

“Tunggu sayang, kita belum
bisa masuk.. Kita kan masih
belum mendapatkan tiketnya..”

“Tapi kau bilang kita akan
mendapatkannya kan?”

“Iya sayang.. Tunggulah
sebentar, aku akan
menghubungi temanku yang
memiliki tiket untuk kita”

“Cepatlah Amber..”

Lauren benar-benar tidak
sabar, apalagi setelah melihat
para pengunjung konser yang
mulai mengantri masuk
kedalam gedung pertunjukan.
Namun Amber justru masih
terlihat tenang-tenang saja,
menunggu sang rekan yang tak
kunjung menemuinya untuk
menyerahkan tiket yang telah
dijanjikannya..

“Amber, bagaimana dengan
tiketnya? Semua orang sudah
masuk dan melihat Mommy
tapi kita masih disini saja..
Bagaimana jika aku tidak bisa
masuk dan bertemu dengan
Mommy, bagaimana Amber?”

“Lauren, sayang.. Tenanglah..”

Sebenarnya Amber-pun sempat
merasakan kecemasan karna
sedari tadi rekannya masih
tidak menjawab panggilan
telponnya. Mungkin dia sedang
sibuk dengan segala persiapan
konser, dan Amber berusaha
untuk memakluminya. Tapi
ketika melihat hanya tinggal
tersisa sedikit orang yang
berada diluar arena konser dan
mendapati Lauren yang
kemudian terisak, membuat
Amber kembali merasakan
kecemasannya..

Hiks.. Aku sangat merindukan
Mommy. Aku sudah lama
menunggu Mommy datang..
Tapi sekarang, Lauren tidak
bisa bertemu dengan Mommy..
Mengapa kau membohongiku
Amber..”

“Oh, Princess.. Aku tidak
berbohong, temanku pasti
sedang sibuk dibelakang
panggung.. Bersabarlah
sebentar lagi sayang..”

“Seandainya Daddy tidak
pergi.. Kalau Daddy ada disini,
Daddy pasti sudah mengajak
Lauren masuk dan bertemu
dengan Mommy..”

Ayahmu mungkin justru akan
menggendongmu pulang
sayang..

Amber mendesah, tak sampai
hati ia mengatakan kalimat itu
pada Lauren yang sedang
menangis sekarang. Ia
kemudian meraih tangan
Lauren, menggandengnya..

“Aku tidak mau pulang..
Lauren tidak mau pulang
sebelum bertemu dengan
Mommy..”

“Kita tidak akan pulang
sayang, lihatlah.. Yang berlari
itu, dia adalah temanku..”

Amber kemudian memang
melihat sang rekan yang ketika
itu berlari kearahnya dan
membuatnya merasa lega..

“Benarkah Amber..?”

“Tentu saja Princess.. Jadi
sekarang hapus airmatamu
karna kita akan masuk
kesana..”

Lauren mengangguk, dan
dengan bantuan Amber gadis
kecil itu menghapus
airmatanya..

“Apa setelah menangis Aku
masih terlihat cantik, Amber..?
Kurasa aku menjadi malu jika
bertemu Mommy dengan wajah
jelek..”

Amber justru terkekeh..

“Kau selalu terlihat cantik,
Princess.. Tenang saja..”

Sang rekan yang ia lihat
berlari tadi, kini telah berada
dihadapan Amber dan Lauren..

“Sorry Amber, tapi kalian tidak
akan bisa masuk..”

“APA??”

“Didalam telah terisi penuh..”

“Tapi kau sudah berjanji
memberikan dua tiket
kepadaku..”

“Ya, tapi ternyata rekanku
sudah memasukkan orang lain
kesana”

“lalu bagaimana sekarang? Apa
kau tahu, keponakanku ini
sangat ingin berada didalam
dan menonton pertunjukan
konser itu. Dia sudah menangis
sejak tadi..”

“Kalian memang tidak bisa
masuk kedalam, tapi aku bisa
memasukkan kalian kebelakang
panggung, jika kau mau?”

Sang rekan Amber tersenyum
memperlihatkan dua id cart
bertuliskan kru, yang
kemudian dikalungkannya
pada Amber dan juga Lauren..

“Daripada berdesak-desakan
didalam, akan lebih baik
berada dibelakang panggung..”

“Apa tidak akan berbahaya
bagi gadis kecilku untuk berada
disana?”

“Tentu saja tidak, aku sudah
menemukan tempat agar kalian
bisa menontonnya dengan
nyaman. Hai cantik, siapa
namamu?”

“Lauren..”

“Jadi Lauren ingin menonton
konsernya?”

“hm, Lauren ingin menonton
dan bertemu dengan Mommy..”

Amber hanya mengangkat
kedua bahunya saat sang rekan
mencoba mencari tahu siapa
yang dimaksud oleh gadis kecil
itu..

“Mom-my..?”

“Ya.. Mommy Yoona.. Dia
adalah Mommy-ku”

“Well, aku mengerti.. Gadis-
gadis kecil sepertimu memang
menginginkan ibu mereka
menjadi seperti Yoona..”

“Tapi dia benar-benar Mommy-
ku.. Daddy yang
mengatakannya kalau Mommy
Yoona adalah Mommy-ku”

“Baiklah sayang, kurasa Daddy-mu juga menginginkan ibumu berganti menjadi seorang idola seperti Yoona..”

Amber memukul bahu sang rekan, menghentikannya yang sedang terkekeh..

“Ohh, kalau begitu ayo kita lihat
seperti apa pertunjukkan
Mommy-mu..”

*****

Berada dibalik panggung megah
itu, membuat Amber semakin
ekstra melakukan penjagaan
pada Lauren. Meski Lauren
terlihat santai dan nyaman
berada diantara orang-orang
asing disana, namun Amber
yang justru merasakan was-
was. Akan seperti apa jadinya
bila Lauren melihat wanita itu yang dalam pemikirannya telah diyakini Lauren sebaga ibunya..

Ohh..
Itu karna kesalahan dan kebodohan Dave yang secara sembarangan menunjuk wanita itu sebagai ibu dari gadis kecilnya..

Dan sekarang, ini menjadi
kesalahannya..

Karna sepertinya tidak lama
lagi Amber pun akan menyesali
apa yang telah dilakukannya
dengan menuruti keinginan
gadis kecil itu..

“Mommy..!! Mommy..!!”

Dan benar saja apa yang
sebelumnya tadi menjadi
kewaspadaan Amber, Lauren
yang sebelumnya terlihat
tenang, menjadi histeris saat
dari sisi bagian kanan
panggung, ia melihat wanita
itu bersama dua orang rekan
wanita dalam grup-nya, tengah
bersiap untuk menaiki tangga
yang kemudian akan membawa
mereka naik keatas panggung..

“Mommy..! Itu Mommy,
Amber.. Mommy..!!”

“Lauren, tenanglah sayang..”

“Tapi Lauren ingin bertemu
dengan Mommy.. Lauren ingin dekat dan memeluk Mommy, Amber..”

Amber bahkan harus menahan
tubuh Lauren yang seperti
bersiap berlari mendekati
wanita itu..

“Tapi.. Tapi tunggu Lauren.
Kau lihat kan, mereka sedang
bersiap untuk pertunjukannya..? Kau tidak bisa melakukannya sekarang, sayang..”

“Tapi Lauren sudah tak sabar
ingin memeluk Mommy,
Amber.. Lihatlah, Mommy-ku
cantik sekali kan? Lauren
ingin mencium Mommy..”

Ya Tuhan..
Amber bisa melihat kedua mata
Lauren yang berkaca-kaca.
Gambaran dari dalam hatinya
yang memperlihatkan
kerinduan akan sosok ibunya..

Tapi wanita itu..
Wanita itu bukanlah ibunya.
Dia hanyalah bagian dari
kesalahan Dave yang masih
belum bisa menjelaskan
kematian ibu Lauren pada
gadis kecil itu..

Untunglah Amber masih bisa
menahan Lauren sampai
kemudian wanita itu bersama
dua rekannya naik keatas
panggung dan membuat para
pengunjung konser itu yang
sebelumnya bahkan telah
membuat suara bergemuruh
menjadi pecah dengan histeria
mereka yang akhirnya dapat
menyaksikan lagi pertunjukan
sang idola..

“Amber, aku haus..”

“Itu karna kau tak berhenti
berteriak, Princess”

Lauren terkikik..

“Lauren kan harus memberi
semangat pada Mommy..”

“Baiklah, Lauren tunggu disini
dan jangan kemana-mana”

Lauren mengangguk,
sementara Amber kemudian
meninggalkannya untuk
mendapatkan sebotol air
mineral seperti yang gadis kecil
itu inginkan.

Pada saat itulah, ketika Lauren
kembali menatap keatas
panggung, dan alunan musik
yang sebelumnya terdengar
sangat kencang kini dimatikan
untuk memberi kesempatan
pada sang idola untuk menyapa
para penggemar, Lauren tak
sedikitpun mengalihkan
tatapan matanya dari ‘sang
Mommy‘. Dan keinginan
Lauren untuk dapat
memeluknya, semakin tak
tertahankan..

Lauren dengan cepat
mendekati tangga yang di
pergunakan untuk naik keatas
panggung, dan kedua kakinya-
pun selaras dan kompak
mengikuti keinginan hati dan
pikirannya. Gadis kecil itu
menaiki anak tangga,
kemudian berlari keatas
panggung dan langsung
memeluk salah satu dari tiga
bintang idola yang saat itu
berada disana dan sedang
berinteraksi dengan para
penggemarnya..

“Mommy..”

Sontak saja, apa yang
dilakukan Lauren saat itu,
membuat suasana kembali
pecah bergemuruh. Mereka
pastilah iri pada gadis kecil itu
yang dapat memeluk secara
langsung idola mereka..

“Aku merindukan Mommy..
Sangat rindu, Mom..”

Tak tinggal diam, para kru
yang mengetahui kejadian
seperti itu tak termasuk
didalam script pertunjukan,
beberapa dari mereka
kemudian mendekat dan
mencoba membawa turun
gadis kecil itu..

Tapi Lauren menangis..
Ia dengan kuat mengeratkan
rangkulan kedua tangannya
pada pinggang wanita itu,
hingga membuat Yoona, sang
wanita yang saat itu dipeluk
olehnya, mengisaratkan pada
kru-nya agar membiarkan ia
untuk mengatasinya..

“Hai, sayang..”

Meski masih merasa bingung
dengan tingkah gadis kecil itu,
Yoona tetap tersenyum saat
kemudian juga mengusap pada
rambutnya..

“Are you okey, dear..?”

Lauren mengangguk, kemudian
mendongak menatapnya..

“Mom-my..”

Ya Tuhan..
Alangkah terkejutnya Yoona..
Tatapan penuh linangan
airmata itu, masih tak
menutupi mata biru gadis kecil
itu yang langsung
mengingatkan Yoona pada
seseorang yang begitu
dirindukan olehnya, yang juga
memiliki sorot mata yang sama
seperti gadis kecil itu..

“Apa kau baik-baik saja?
Bagaimana kau bisa sampai
disini?”

“Aku ingin memeluk Mommy..
Mommy sangat cantik.. Aku
juga ingin menciummu..”

“Menciumku?”

Lauren mengangguk, dan
kemudian Yoona tersenyum
merendahkan tubuhnya agar
gadis kecil itu dapat
mencapainya untuk
selanjutnya memberikan
ciuman dipipinya..

“Kalau begitu, apa kau mau
turun sekarang?”

Lauren menggelengkan
kepalanya kuat..

“Aku ingin bersama Mommy..
Lauren tidak mau lagi berpisah
dengan Mommy..”

Suara-suara dari penggemar
kian bergemuruh, untuk itu
dua rekan Yoona, Sooyoung dan Yuri mengambil inisiatif untuk melanjutkan interaksi mereka, sementara membiarkan Yoona sedikit mundur kebelakang panggung bersama dengan gadis kecil itu..

“Astaga Lauren..!!”

Amber yang mengetahui satu
lagi kesalahannya yang telah
meninggalkan Lauren,
kemudian dengan cepat
menghampirinya. Dengan id
yang dipakainya, tak ada yang
kemudian mencoba
menghentikannya naik keatas
panggung..

“Lauren..!”

“Amber, aku sudah bertemu
dengan Mommy.. Aku tak mau
berpisah dengan Mommy..”

Amber kemudian menyadari
wanita yang ketika itu di
idolakan oleh banyak
penggemar disana, kini sedang
menatapnya..

“annyeong haseyo, Yoona-ssi..”

“Oh, annyeong.. Kau mengerti
dengan bahasaku?”

“Ya, tentu saja.. Separuh diriku
berasal dari negara yang sama
sepertimu”

“gadis kecil ini, dia..?”

“keponakanku.. Maaf
membuatmu tidak nyaman.
Ayo kita turun, sayang..”

Amber mengulurkan tangannya, namun Lauren menggeleng dan kembali melingkarkan tangannya, erat memeluk Yoona..

“Lauren ingin bersama Mommy..”

“Tapi sayang, bagaimana
dengan pertunjukannya?”

“Maksudnya pertunjukan
Mommy?”

“Ya, lihatlah mereka terus
berteriak memanggilnya..”

Lauren sepertinya memikirkan
apa yang Amber katakan. Ia
perlahan melepaskan
pelukannya ditubuh Yoona,
dan menerima uluran tangan
Amber, hingga dengan sedikit
tarikan Amber dapat membuat
gadis kecil itu kembali berada
didekatnya..

“Mom, Aku akan menunggu
Mommy dibawah..!”

Lauren melambaikan
tangannya dan tersenyum
melihat Yoona yang juga
melambaikan tangan
kearahnya sebelum kemudian
bergabung kembali bersama
dengan kedua rekannya dan
meneruskan lagi interaksinya
dengan para penggemarnya
yang sesaat lalu sempat
tertunda..

Setelah berhasil membawa
Lauren turun dan kembali ke
belakang panggung, Amber
harus menghadapi sang rekan
yang tadi telah memberikannya
akses untuk berada disana, atas
insiden yang terjadi diatas
panggung tadi dan melibatkan
keponakannya.

Amber mengatakan itu
hanyalah karna keinginan
Lauren yang begitu
mengidolakan Yoona, hingga
gadis kecil itu tak bisa
menahan dirinya ketika
merasa memiliki kesempatan
untuk bertemu dan
memeluknya. Untunglah sang
rekan kemudian dapat
memakluminya, dan insiden kecil yang telah terjadi tadi tidak
mempengaruhi berlangsungnya
pertunjukkan itu hingga sesi
demi sesi berlanjut, sampai
akhirnya pertunjukkan itu
selesai dan ditutup dengan
kalimat manis dari tiga idola
diatasnya yang menjadi sang
bintang di acara itu..

“Mom.. Dimana Mommy-ku,
Amber?”

Lauren mulai terlihat resah, ia
sudah mendengar ‘sang ibu’
mengatakan salam perpisahan
dengan para penggemarnya
yang menandakan berakhirnya
pertunjukan yang dilakukan
pada malam itu, tapi mengapa
‘ibunya’ tidak lekas turun
padahal ia telah menunggu
disisi tangga yang seharusnya
dilewati oleh ‘sang ibu‘ dan dua
rekan lainnya..

Namun kesibukan banyak kru
disana usai konser berakhir
membuat Lauren tak dapat
mengetahui ketika Yoona dan
yang lain telah turun dari atas
panggung dengan
memanfaatkan tangga
panggung yang lain, bahkan
mereka semua sudah langsung
keluar meninggalkan tempat
itu dengan pengamanan ketat
dari para petugas keamanan.

Hal yang Amber dan Lauren
baru ketahui, kemudian
menjadikan Lauren histeris
karna dirinya yang masih
merindukan ‘sang ibu‘, ingin
memeluknya dan bahkan
mengajaknya pulang
bersamanya, harus
menanggung kekecewaan besar
dihatinya..

“Mommy.. Lauren ingin
bersama Mommy.. Mom,
mengapa Mommy pergi..?”

“Oh, Princess.. Tenanglah
sayang, jangan menangis terus
seperti ini. Bagaimana jika
ayahmu tahu kau menangis,
dia akan memarahiku,
sayang..”

“Tapi Lauren sudah sangat
lama menunggu Mommy
datang. Lauren ingin terus
bersama Mommy.. Lauren
tidak mau berpisah lagi dengan
Mommy..”

“Sayang, dia bukan ibumu
Lauren.. Dia bukan siapa-
siapa..”

“Ayo kita cari dimana Mommy-
ku Amber.. Kau pasti bisa
mencari tahu dimana Mommy
menginap. Jika tidak, cepat
telpon Daddy dan katakan
Lauren ingin Daddy pulang
sekarang..!”

Oh..
Amber mendesah..
Lauren tidak mungkin
mendengarkannya, apalagi
mempercayai ucapannya..

Gadis itu hanya terus
merengek, menangis dan
berteriak marah pada Amber
yang justru melajukan
mobilnya pulang, kembali ke
rumahnya..

*****

Tak ada suara sambutan dari
putri kecilnya ketika Dave
pulang dihari itu. Yang ia
dengar justru suara Amber dan
pengasuh Lauren yang
sepertinya sedang membujuk
gadis kecilnya agar Lauren
mau keluar dari dalam
kamarnya..

Sejak semalam..
Lauren memang hanya terus
menangis dan mengunci
dirinya didalam kamar. Gadis
kecil itu sama sekali tak
menghiraukan bujukan yang
dikatakan Amber padanya..

Namun pagi tadi Amber sudah
tidak mendengar lagi suara
tangisnya, yang Amber kira
gadis kecil itu sudah merasa
lelah dan akhirnya tertidur.
Namun sampai menjelang
siang, tak ada suara apapun
yang dapat terdengar dari
dalam kamar Lauren hingga
membuatnya menjadi gelisah..

“Ada apa dengan Lauren?”

“Oh, Dave.. Kau pulang..”

“Apa yang terjadi pada
putriku?”

“Lauren.. Lauren mengurung
diri dikamar. Aku sedang
membujuknya..”

“Kenapa dia seperti itu? Apa
kau yang membuatnya kesal,
Amber?”

Amber menggigit bibir
bawahnya..

“Aku.. Aku tidak..”

“Ck! Aku hanya memintamu
menemani putriku. Apa
susahnya tugas semacam itu..”

Amber merengut
mendengarnya..

Dave yang kemudian berganti
mengetuk-ngetuk pintu kamar
Lauren, namun putri
tersayangnya itu tetaplah tidak
memberinya respon..

“Sayang, Daddy sudah pulang..
Apa kau tidak merindukan
Daddy..? Ayolah Lauren..
Daddy ingin pelukan darimu”

“Kita buka saja pintunya,
Dave..”

“Sejak kapan Lauren seperti
ini?”

“Se-semalam.. Semalam kami..”

“Ya Tuhan.. Sejak semalam dia
seperti ini dan kau baru
membujuknya sekarang?!
Tunggu apalagi.. ambilkan aku kunci cadangan..!!”

Dengan kunci cadangan yang
kemudian diberikan seorang
pekerja rumahnya, Dave
membuka kuncian pada pintu
kamar Lauren dan terkejut saat
melihat Lauren yang ketika itu
meringkuk dibawah tempat tidur, di lantai kamarnya..

“Lauren..!”

Tak hanya Dave yang kemudian
berseru terkejut dan bergegas
mendekatinya, tapi juga Amber
yang tak kalah cemas
melihatnya..

“Lauren, sayang..”

Dave mendapati tubuh Lauren
menggigil, dan dalam dekapan
kedua tangan putri kecilnya, ia
menemukan sebuah pigura foto
yang dalam beberapa waktu
belakangan ini akrab menjadi
teman tidur putrinya..

“Lauren, ini Daddy sayang.. Ini
Daddy..”

“Mom.. Mom-my..”

“Ini Daddy, sayang.. Lauren..”

“Mom-my..”

gemetar dalam nada suara sang
putri, membuat Dave yang saat
itu telah meraih tubuh Lauren
merasakan kecemasan yang
luar biasa dihatinya..

“sepertinya Lauren demam
Dave..”

“APA SAJA YANG KAU LAKUKAN..?! CEPAT SIAPKAN MOBIL..!!”

Mendengar bentakan dari Dave,
Amber dengan segera berlari,
menuju garasi dan menyiapkan
sebuah mobil yang kemudian
dikemudikan sendiri olehnya..

Mengantarkan Dave membawa
Lauren ke rumah sakit terdekat..

***

Yoona masih hanya diam
didalam kamar hotel yang
ditempatinya, sementara
teman-temannya justru sedang
keluar untuk menikmati
sarapan pagi mereka, yang sebenarnya lebih tepat disebut sebagai makan siang, mengingat ketika itu sudah mencapai lebih dari pukul sebelas.

Rencananya setelah kesuksesan
konser semalam, dan sisa
sehari yang mereka miliki
disana, setelah makan
bersama pagi itu, mereka akan
menghabiskan sedikit waktu yang tersisa untuk
berjalan-jalan dengan
mengunjungi beberapa spot yang banyak dikunjungi sebagai tempat berlibur,
dan pastinya tidak akan
melewatkan untuk ber-shoping
ria bersama..

“Na-ya.. Yoona..?”

Yoona teralih dari lamunannya
ketika mendengar suara
Sooyoung yang memanggil,
mendekatinya yang tengah
berdiri didekat jendela besar
kamarnya..

“Kau benar-benar tidak ingin pergi sarapan..?”

Yoona menggeleng dan
tersenyum sekilas ketika
Sooyoung mengerutkan
dahinya..

“ada apa? Kau sakit?”

Sooyoung mencoba memegang
dahinya, namun Yoona beralih
menghindarinya..

“Aku tidak apa-apa, Soo..”

“Tapi aku perhatikan setelah
konser semalam, kau lebih
banyak diam..”

“Aku hanya lelah..”

“Oh, ayolah.. Kita semua
pastinya merasakan lelah. Tapi
kau terlihat berbeda Yoona..
Seperti sedang ada yang kau
pikirkan..”

Sooyoung benar..
Memang ada yang terus
merasuki pikirannya bahkan sejak ia bertubrukan dengan seorang pria yang begitu tak asing dibandara..
Dan makin bertambah sejak semalam..
Sejak seorang bocah kecil
menghampirinya diatas
panggung..
Sejak bola mata kebiruan itu
memandangnya dengan sorot
penuh kerinduan..
Sejak tangan kecil bocah itu
memeluk erat pinggangnya..
Sejak mendengar suara dari
bibir mungil gadis kecil itu
yang memanggilnya..
Sejak saat itulah pikirannya kembali dipenuhi dengan bayang-bayang pria yang begitu nyata hadir dalam mimpinya, serta wajah bocah kecil itu yang semalam tiba-tiba muncul dan memeluknya..

“Katakan padaku, apa yang
sedang kau pikirkan?”

“gadis kecil itu, Soo.. Siapa
dia?”

“gadis kecil? Gadis kecil mana
yang kau maksud..?”

“Yang semalam menghampiri
kita diatas panggung.. Siapa
dia?”

Sooyoung mengerutkan dahi,
lagi..

“Oh, bocah itu pastilah
penggemar.. Dia begitu berani
ya.. Aku juga berpikir
demikian..”

Sooyoung justru tersenyum
mengingat insiden kecil diatas
panggung yang terjadi semalam
saat pertunjukan mereka..

“Dia.. Tatapan matanya.. Dia
mengingatkanku pada.. Si-won..”

“Yoona..”

“Kumohon jangan
menghentikanku Soo.. Jangan
menghentikanku..”

“Yoona, tapi..”

“Kau bertanya padaku kan apa
yang sedang ku pikirkan? Itu
lah yang sekarang aku
pikirkan.. Bocah kecil itu, dia
mengingatkanku pada Siwon..
Siwon, aku bahkan
melihatnya, aku bertemu
dengannya saat kita berada
dibandara.. Aku tidak
mungkin salah, aku benar-
benar yakin..”

“Yoona, kurasa kau..”

“Aku berhalusinasi.. Aku
bermimpi.. Aku harus
meminum obat dan mendatangi
dokter psikiater-ku.. Itu kan
yang ingin kau katakan
padaku?!”

Yoona sedikit mendorong tubuh
Sooyoung agar ia menyingkir dari hadapannya..

“Yoona kumohon.. tenangkan
dirimu..”

“Keluar Soo.. Kalian pergi saja,
tinggalkan aku sendirian..”

Sooyoung tak mengatakan apa-
apa lagi, ia sudah sangat
memahami sifat dan sikap
Yoona yang memang cenderung
berubah semenjak ia tersadar
dari koma setelah kecelakaan
yang dialaminya lebih dari delapan tahun yang lalu. Apalagi setelah tersadar dihari itu, Yoona tak berhenti membahas sosok yang sama sekali tak pernah ia maupun rekan lainnya kenal. Sosok dalam mimpi yang membuat Yoona seakan memiliki dunia-nya yang lain..

Dan Yoona pun demikian..
Setelah ia terbangun dirumah sakit hari itu, dan semua orang melupakan kehadiran Siwon, ia seperti seseorang yang paling terguncang saat kedekatan hingga keintimannya bersama dengan Siwon terus tergambar dengan jelas, sementara tak seorangpun mengerti dengan apa yang dikatannya..

Hingga akhirnya ia pun harus dengan terpaksa mempercayai apa yang dialaminya bersama dengan Siwon hanyalah sebagai mimpi panjang-nya ketika ia tertidur dalam keadaan koma, setelah dirinya sama sekali tak dapat menemukan jejak apapun sebagai bukti kehadiran Siwon bersamanya..

Vidio klip yang dibintanginya bersama Siwon..
Skandal besar mengenai kencan-nya..
Apartemen mewah milik Siwon..
Atau bahkan selembar fotonya di media-media pemberitaan, sama sekali tidak ia temukan..
Yang ada justru pemberitaan mengenai kecelakaan tragis yang dialiminya..
Yang menjadikannya koma hingga empat bulan lamanya. Kecelakaan yang mencedarai kondisi fisiknya hingga nyaris merenggut nyawanya..

“Baiklah jika kau merasa lelah, aku akan menemanimu disini..”

Mendengar apa yang Sooyoung katakan, Yoona justru memperlihatkan seringai sinis diwajahnya..

“Kau takut aku mencoba bunuh diri, Soo?”

“Aku hanya ingin menemanimu..”

Ucap Sooyoung lugas..
Walau bagaimanapun, rasa khawatir dan terlebih takut dalam dirinya memanglah terus ada. Begitupun rekannya yang lain terhadap kondisi Yoona..

Keadaan Yoona memanglah sempat sangat memprihatinkan. Yoona pernah mencoba mengakhiri hidupnya dengan mengiris urat nadinya, untunglah kejadian itu cepat diketahui oleh Yoojin, kakak perempuan Yoona. Hingga Yoona dapat diselamatkan dan keadaan emosinya perlahan-lahan stabil setelah seorang psikiater rutin melakukan terapi padanya. Dan menguraikan apa yang ia alami dialam bawah sadarnya..

Hingga Yoona menjadi dapat menerima semua itu sebagai mimpi belaka, meski jauh terselip disana, jika ia menggali didasar hatinya, masih tersimpan suara hatinya yang bertentangan dengan logika dan akal sehatnya, yang tetap mempercayai apa yang dialaminya sebagai sesuatu yang nyata..

“Aku sudah berjanji pada kalian, aku tidak akan melakukannya lagi, Soo.. tenanglah..”

Sooyoung tersenyum, tanpa mengatakan apapun lagi, ia kemudian memeluk Yoona..

***

Dave menunda dan bahkan
meninggalkan semua
pekerjaannya demi untuk
menjaga dan menemani sang
putri yang harus menjalani
perawatan dirumah sakit
dikarenakan demam dan
bahkan suhu tubuhnya sempat
bergerak meningkat..

Dave terlampau khawatir..
Tidak biasanya Lauren seperti
ini. Putrinya terhitung jarang
sekali sakit, apalagi sampai
harus menginap dirumah sakit.
Tidak pernah. Lauren putrinya
seakan memiliki kekebalan
tubuh yang kuat, berbeda
dengan bocah kecil lain
seusianya. Terkadang Dave
bahkan berpikir jika ibu
Lauren yang telah berada disisi
Tuhan, mungkin yang meminta
pada Tuhan agar selalu
menjaga putrinya..

Tapi kini..
Disaat Lauren terbaring lemah
dan tertidur dengan terus
mengigau memanggil-manggil
ibunya, Dave merasakan pedih,
nyeri yang terasa meremas ulu
hatinya..

Dave sempat berpikir hal
terburuk mengenai penyakit
yang mungkin diidap sang
putri, yang tidak diketahuinya,
namun dari tes darah yang
telah sempat Dokter lakukan,
syukurlah tidak ada hal yang
seperti ditakutkan olehnya.
Dokter malah menanyakan
padanya mengenai keberadaan
ibu Lauren dan
menyarankannya agar
mendatangkannya karna
sepertinya gadis kecil itu terlampau merindukan ibunya, hingga terus-terusan mengigau memanggilnya.
Keberadaan sang ibu, dirasa
sang dokter sebagai obat paling
ampuh untuk menyembuhkan
putrinya..

Tapi..
Mendatangkan ibu Lauren?
Tentu saja itu hal paling gila
dan mustahil untuk
dilakukannya..
Kecuali dengan membongkar
makamnya, itupun pasti hanya
tulang belulang-nya saja yang
tersisa..

Ya Tuhan..
Berpikir apa dirinya?

“Dad-dy..”

Dave yang sebelumnya
termenung diam, kemudian
teralih ketika mendengar suara
sang putri yang memanggilnya..

“Oh, Lauren sudah bangun?”

Dave mendekat dan
memastikan suhu tubuhnya
dengan menempatkan pungguh
tangannya pada dahi Lauren..

“Apa Mommy sudah datang,
Dad..?”

Dave terdiam..

“Lauren ingin memeluk
Mommy lagi.. Lauren
merindukan Mommy.. Apa
Daddy tidak menelpon
Mommy? Apa Daddy tidak
mengatakan pada Mommy
kalau Lauren sakit?
Bagaimana kalau Mommy pergi
jauh lagi.. Lauren tidak mau
Mommy pergi Dad.. Lauren…”

“Cukup Lauren, hentikan..”

Rasanya Dave tidak sanggup
saat melihat kedua mata bening
putrinya yang kini terlihat
berkaca-kaca. Namun
sepertinya, inilah saatnya. Ia
tidak bisa lagi
menyembunyikan kebenaran
yang ada. Ia harus menjelaskan
pada Lauren, agar gadis itu
mengerti. Selamanya, dia
takkan bisa bertemu dengan
ibunya..

“Sayang, dengar.. Dengar apa
yang Daddy katakan.. Ibumu,
ibumu tidak ada sayang..
Ibumu sudah pergi.. Dia
meninggal.. Dia meninggalkan
kita dan berada bersama
dengan Tuhan..”

“Dad-dy..”

“Lauren dan juga Daddy.. Kita
tak bisa lagi bertemu dengan
ibumu. Kau tidak bisa
memeluknya. Tapi, meski
begitu.. Ibumu akan terus
melihatmu sayang, dia
menjagamu dari tempat yang
berbeda..”

Lauren menggeleng-gelengkan
kepala, jelas menolak apa yang
dikatakan sang ayah padanya..

“Daddy, bohong.. Daddy
membohongi Lauren.. Lauren
bisa bertemu Mommy, Lauren
bisa memeluk Mommy..”

“Lauren.. Sayang..”

“Mengapa Dad, mengapa Daddy
mengatakan seperti itu? Apa
Daddy sudah tidak menyukai
Mommy? Apa Daddy tidak
merindukannya?”

“Lauren, dengarkan Daddy..”

gadis itu kembali menggeleng,
serta menutup rapat kedua
telinganya dengan telapak
tangan..

“Lauren tidak mau mendengar
Daddy.. Daddy tidak sayang
pada Lauren..”

“Aku bahkan menjalani hidup
hanya untukmu Lauren..!
Bagaimana bisa kau
menyebutku tidak
menyayangimu..?!”

Dave seakan kehilangan
kendali, dan mengabaikan
suara isak tangis sang putri
yang sepertinya ketakutan
dengan nada suaranya yang
meninggi..

“Setelah kau sembuh, Daddy
akan tunjukkan padamu.. Aku
akan mengajakmu melihat
seperti apa makam ibumu..”

hiks hikss Mom-my.. Mom-
my, Lauren ingin bertemu
dengan Mommy..”

“LAUREN..!!”

“Astaga Dave..! Ada apa dengan
suaramu yang seperti itu?”

Amber yang baru datang dan
berencana menggantikan posisi
Dave yang sejak kemarin belum pulang dan terus
menunggui Lauren, justru
dikejutkan dengan suara bentakan keras dari
Dave yang ditunjukkannya
didepan sang putri yang tengah
terbaring sakit. Amber tak
mengerti mengapa Dave sampai
melakukan hal seperti itu.
Yang jelas dilihat olehnya, Dave sedang terlihat frustasi, sementara gadis kecil itu kini menangis dan menjadikan Amber yang kemudian langsung bergerak mendekatinya..

“Jika kau tidak membawanya
melihat pertunjukan itu,
Lauren tidak akan seperti ini..!”

Dave sekali lagi berbicara keras..
kali ini ditunjukan untuk Amber yang tengah memeluk menenangkan Lauren..

“Dave, aku sudah jelaskan
padamu..”

“Sekarang tugasmu adalah
menjelaskan pada Lauren
kemana ibunya yang
sebenarnya..”

“tapi Lauren sedang sakit,
Dave..”

“dan jangan lupa ini terjadi karna
ulahmu..”

Dave melangkah keluar
meninggalkan mereka.
Sejujurnya, ia tidak kuat
berada disana dan mendengar
suara isak tangis putrinya..

“Am-ber.. Hikss..

“Princess tidak boleh
menangis..”

“Am-ber..”

“stt.. Jangan membuatku ikut
menangis, sayang..”

Amber membelai sayang
rambut Lauren, dan
menghapus airmata
diwajahnya. Melihatnya yang
seperti itu, sungguh membuatnya ikut merasakan pedih didalam
hatinya..

“Saat kau sembuh nanti, aku
akan mengajakmu ke tempat
ibumu..”

“Benarkah, Amber.. kau akan mengajakku bertemu Mommy?”

Amber mengangguk dan
tersenyum..

“Yakso?”

Amber terkikik mendengar Lauren menggunakan kata yang biasa digunakannya..

Dulu, Lauren sering merengut saat Amber memakai kata-kata yang tidak dimengerti olehnya, dan lantas Amber akan tertawa sebelum kemudian mengenalkan dan mengajarkan beberapa kata baru pada Lauren, dengan harapan gadis kecil itu juga dapat mengenal bahasa ayah-nya. Bisa dibilang ia lebih berfungsi sebagai pengasuh Lauren daripada pengasuh yang sebenarnya, ataupun dari statusnya sebagai asisten Dave..

“Amber, apa kau berjanji?”

“Aku berjanji sayang.. Aku
berjanji.. Tapi kau harus sembuh terlebih dulu..”

“Aku akan sembuh Amber.. aku akan sembuh agar bisa bertemu dengan Mommy..”

***

Lauren terus menagih janjinya.
Janji Amber yang akan
mempertemukannya dengan
sang ibu setelah ia sembuh dari
sakit. Dan alih-alih membawa
Lauren ke area pemakaman,
Amber justru mengemasi
beberapa pakaian milik
Lauren, memasukkanya
kedalam koper dan baru
melakukan semua itu disaat
Dave sedang bepergian..

“Amber, apa kita sedang
bersiap untuk menemui
Mommy-ku?”

“Ya, aku sudah berjanji
padamu kan?”

“Asiikkk.. Jadi aku benar-benar
akan bertemu dengan Mommy?
Apakah Daddy juga ikut?”

“Tidak.. Ayahmu sedang
bepergian.. Dia sibuk sayang..”

“Jadi hanya kita yang pergi?”

“hm..”

Amber mengangguk dan sesaat
berhenti dari mengemasi
pakaian Lauren..

“Tapi nanti, kita akan membuat
ayahmu menyusul kita..”

Kurang lebih sekitar satu jam
berselang, Lauren sudah
berjalan dengan wajah berseri-
seri riang memasuki bandara,
dengan sebelah tangannya
mendekap sebuah boneka, dan
satu yang lain dalam
gandengan tangan Amber..

Keduanya langsung bertemu
dengan petugas yang kemudian
memeriksa kelengkapan tiket
dan juga pasport yang
dibawanya. Amber rupanya
telah menyiapkan semuanya
dari beberapa hari
sebelumnya..

Saat keduanya sudah berada
didalam pesawat, bersiap
menunggu pesawat untuk
tinggal landas, Amber
merasakan getar yang berasal
dari ponselnya. Dave
menelponnya. Hal yang
sebelumnya telah diperkirakan
oleh Amber. Meski tadi ia
sempat mengatakan pada para
pekerja dirumah Dave,
terutama pada sang pengasuh
Lauren, untuk tidak
memberitahu Dave bahwa ia
mengajak Lauren pergi
bersamanya. Tapi pastilah para
pekerja itu lebih merasa takut
pada ancaman pemecatan yang
akan mereka terima dari Dave
andai mereka tak melaporkan
hal itu padanya. Apa yang
sering kali Dave katakan
(apalagi setelah Amber diam-
diam membawa Lauren
menonton pertunjukan) untuk
memberitahukan apapun
mengenai Lauren padanya,
nampaknya benar-benar
diingat betul oleh para pekerja
itu. Terbukti sekarang Dave
sudah menghubunginya..

“Ya, Dave..”

“Dimana kau? Dimana
Lauren?!”

“Lauren bersamaku.. Kau
tenang saja..”

“Katakan dimana kalian
sekarang?!”

Amber bukan tidak mendengar
geraman dalam suara Dave
ketika itu. Namun Amber
sebisa mungkin tetap santai
menanggapinya..

“Kami sedang berada didalam
pesawat..”

“dalam pesawat? Apa
maksudmu?!”

“Lauren memiliki beberapa hari untuk berlibur, jadi kami akan bepergian.. lagi pula Aku
sudah berjanji pada Lauren,
setelah dia sembuh aku akan
membawanya bertemu dengan
ibunya..”

“Ibunya? KAU SADAR DENGAN
APA YANG KAU KATAKAN..!!”

Amber sedikit menjauhkan
ponsel yang menempel
ditelinganya saat mendengar
suara Dave yang keras
membentak..

“Bawa Lauren pulang sekarang
dan kau harus berhadapan
denganku..”

“Tidak bisa Dave.. Aku sudah
berjanji pada Lauren. Kami
akan kembali setelah Lauren
bertemu dengan ibunya..”

“Jangan membuatku berpikir
kau mengidap ke-gila-an,
Amber.. Lauren tidak akan
pernah bisa bertemu dengan
ibunya..!!”

“Aku juga merasakan
kesedihanmu, Dave.. Aku tidak
bisa membawanya melihat
makam ibunya. Dan setidaknya
biarkan dia bertemu dengan
wanita yang diyakininya
sebagai ibunya..”

“Kau benar-benar akan
berursan denganku Amber.
Bawa Lauren pulang jika kau
masih ingin hidup..!”

“Aku sungguh-sungguh merasa
takut dengan ancamanmu
Dave. Tapi mau bagaimana
lagi, aku sudah terlanjur
berjanji pada putrimu. Jika kita
bisa meluruskan benang
merahnya, kesalahan
utamanya jelas ada padamu.
Jika saat itu kau tidak
menunjuk wanita dalam foto
itu sebagai ibu Lauren, tentu
tidak akan seperti ini jadinya..”

“Beraninya kau justru
menyalahkanku..!”

“Itu memang benar kan? Tapi
sudahlah, karna kau juga tidak
bisa mencari pengganti ibu
Lauren, biarkan saja aku
membantu putrimu bertemu
dengan Yoona, ‘ibunya’..
Lagipula, aku sudah mencari
tahu, wanita itu masih single,
mungkin saja dia mau benar-
benar menjadi ibu Lauren..”

Amber justru terkikik, dan
berani mengatakan lelucon-
nya..

“Tolong matikan ponsel anda,
Nona..”

Amber mengangguk pada
seorang pramugari yang
mendekat dan
mengingatkannya bahwa
mereka akan segera tinggal
landas..

“Kau dengar Dave, aku harus mematikan ponselku.. Aku akan
menghubungimu nanti saat kami
sudah tiba di Korea..”

“Korea?”

“Sampai jumpa, Dave..”

***

Yoona kembali menekuni
kesibukan di negaranya setelah
beberapa pertunjukan konser
yang diselenggarakan diluar
negaranya usai digelar..

Beberapa konser kemarin sebenarnya hanyalah untuk memenuhi kerinduan mereka terhadap penggemar dan sebaliknya, kerinduan penggemar terhadap mereka..

Setelah kecelakaan yang Yoona alami pada delapan tahun lalu, kondisinya memang tak sebaik seperti sebelumnya. Ia
lumayan perlu waktu hingga
beberapa bulan lamanya untuk
masa pemulihan. Beberapa
bagian tulangnya yang
menurut dokter patah,
membuatnya tak bisa lagi bergerak leluasa untuk
melakukan koreografi. Bukan hanya fisiknya saja yang mengalami cedera, namun kondisi psikologisnya-pun sempat membuat Yoona harus mengkonsultasikan dirinya pada seorang ahli psikiater. Hal itu
yang kemudian menjadi salah
satu penyebab, rekan-rekannya
yang lain memutuskan untuk
menghentikan kegiatan mereka
sebagai bintang idola. Keadaan
Yoona yang seperti itu, sempat
membuatnya merasa bersalah
terhadap kelangsungan karir teman-temannya. Terutama Sooyoung dan Yuri.
Namun mereka meyakinkan,
disaat Yoona tengah terbaring
dalam keadaan koma,
keputusan itu telah mereka
buat dan lantas menjadikan
mereka memilih menjalankan
pekerjaan lain sesuai dengan
bidang yang masing-masing
mereka kuasai..

Kini, setelah delapan tahun berlalu, hampir semua rekannya, kecuali ia dan Seohyun, juga Sooyoung, telah memutuskan untuk menikah dan hidup sebagai ibu rumah tangga. Jika Seohyun masih terus mengikuti kegiatannya, berbeda halnya dengan Sooyoung yang mungkin sebentar lagi akan menyusul rekannya yang lain, mengingat ia telah menerima lamaran seorang pria..

Sedangkan Yoona, setelah tak lagi tampil dari panggung ke panggung sebagai bintang idola, dan memiliki cukup waktu yang bisa dihabiskannya bersama sang kakak Yoojin dan dua keponakan yang kini dimilikinya. Yoona kemudian lebih memilih untuk mengambil pekerjaan di industri itu namun dalam bidang yang lain. Seperti sesekali ia membintangi film, menjadi bintang iklan ataupun model dalam berbagai pemotretan majalah..

Seperti yang saat ini sedang Yoona lakukan, ditemani Seohyun, ia tengah berada disalah satu acara peluncuran produk yang menjadikannya sebagai model pengiklan..

image

Dengan senyum yang ia
perlihatkan diwajahnya saat
menyapa dan memberikan
tanda tangan pada para
penggemarnya yang hadir
dalam acara itu, yang sekaligus
menjadi acaranya berjumpa
secara langsung dengan para
penggemar setia-nya, tak ada
yang tahu jika dibalik senyum
yang membuat siapapun
merasakan kebahagiaan dengan
melihatnya, Yoona nyatanya
masih sering menangis disaat
sedang sendirian. Ia
menyimpan kekosongan dalam
hatinya, yang menjadikannya
seringkali merasa tercekat dan
hampa.

Kadang ia juga merasa menjadi
pendosa yang terus membohongi para penggemarnya, karna senyum diwajahnya tidaklah sama dengan keadaan hatinya yang merana..

Yoona tak dapat menemukan
apa yang menjadi penyebab ia
merasakan kekosongan itu
dalam hatinya. Dan entah
dengan cara apa serta
bagaimana ia dapat mengisi
kekosongan itu agar rasa
hampa dihatinya tidak terus
menerus ada, sampai dengan
sekarang..

Yoona masih terus memasang
senyum diwajahnya, meladeni
permintaan tanda tangan dari
para penggemarnya sampai
kemudian ia sesaat tertegun ketika seseorang menyodorkan
selembar kertas bergambar dan
bertuliskan ‘I Love You Mom’..

Melihatnya, Yoona lantas
mendongak dan mendapati
seorang bocah kecil yang
tengah berdiri dihadapannya,
tersenyum padanya dengan disertai simbol cinta dijarinya yang bertaut..

image

Bocah kecil bermata biru itu..

“Oh, hai.. Kau yang waktu itu..
Siapa nama mu?”

“Lauren..”

“Lauren.. Kau ingin aku
menanda tangani ini untuk
ibumu?”

Lauren menggeleng..
Tersenyum, kemudian justru
bergerak mengitari meja
didepannya, untuk meraih
Yoona. Memberikan ciuman
dipipinya  dan juga
merangkulkan kedua tangan
dilehernya..

“I Love You Mom.. Aku
merindukan Mommy, sangat
rindu..”

Yoona kembali dibuat tertegun
oleh apa yang Lauren lakukan
ketika itu..

“Yoona-ssi, apakah aku bisa
bicara denganmu?”

***

“MWO.. Jadi maksudmu dia
mengira Yoona adalah
ibunya?!”

Seohyun yang pertama kali
berseru..
Sedangkan Yoona, masih hanya
terdiam sambil tatap matanya
terus mengawasi pada Lauren
yang ketika itu tengah bermain
sendirian, sementara Amber
yang berhasil mengajak Yoona
berbicara setelah acara itu
berakhir, sedang memberikan
penjelasan mengenai Lauren
dan alasan mengapa bocah
kecil itu memanggilnya
‘Mommy’ adalah karna ketidak
sengajaan ayah Lauren yang
tidak mampu menceritakan
perihal kematian ibu Lauren
pada gadis kecil itu..

“Ibunya meninggal saat
melahirkannya.. Tapi kami
tidak mampu menjelaskan hal
itu padanya..”

“Tapi bagaimana bisa ayahnya
mengatakan Yoona-ku adalah
ibunya?!”

Seohyun yang lagi-lagi
menanggapi apa yang Amber
katakan saat Yoona justru
hanya terpaku mendengarkan..

“Aku sudah katakan itu ketidak
sengajaan..”

“Oh, aku tak percaya ada hal
semacam ini terjadi..
Bagaimana menurutmu Yoona?
Gadis keci itu memanggilmu Mommy. Dia benar-benar
menganggapmu sebagai
ibunya..”

Yoona bergeming..
Ia seolah tertawan pada mata
biru gadis itu yang kembali
mengingatkannya pada Prince..
Pada Siwon..
Pada seseorang yang muncul
dalam mimpinya saat ia
mengalami koma..

Oh, bagaimana semua itu
hanya mimpi..
Jika nama dan wajahnya tak pernah dapat ia lupa..

“Yoona.. Kau tidak
mendengarku?”

“dia cantik sekali, bukankah
begitu Seohyun-ah..?”

“gadis kecil itu mengira kau
ibunya, Yoona.. Apa kau tahu
itu?!”

“Mommy..!”

Belum lagi Yoona menanggapi
ucapan Seohyun, Lauren sudah
lebih dulu mendekatinya..
Merangkul manja lengannya..

“Mom, aku bosan disini..”

“Oh, kau merasa bosan.. Apa
kau ingin pergi denganku?”

Amber tersenyum melihat
Lauren yang mengangguk
penuh semangat saat
mendengar tawaran Yoona,
sementara Seohyun justru
melebarkan mata mendengar
apa yang dikatakan oleh Yoona
pada bocah kecil itu..

“Yoona..?!”

“Kemana kau ingin pergi?”

Seohyun mendengus saat tak
ditanggapi oleh Yoona..

“Lauren akan ikut kemanapun
Mommy pergi.. Lauren tidak
mau berpisah lagi dengan
Mommy..”

“Baiklah kalau begitu..”

Dengan menggandeng
tangannya, Yoona mengajak
Lauren dan Amber untuk
meninggalkan tempat itu dan
membiarkan Seohyun
memasang wajah merengut saat
mengikuti langkahnya..

Namun baru beberapa menit
dalam perjalanan, Lauren
justru sudah tertidur didalam
mobilnya..

“dia tidur..”

“dia pasti lelah.. Lauren tidak
tidur sejak kami datang. Bahkan semalam, dia membuat gambar yang tadi ia berikan padamu, Yoona-ssi..”

“Oh, manis.. Kasian sekali..”

Yoona membelai lembut
rambut Lauren..

“Dimana kalian menginap?
Kami akan mengantarmu..”

Untuk menanggapi pertanyaan
Seohyun, Amber menyebutkan
nama hotel dimana ia
menyewa salah satu kamar
disana. Sampai kemudian, beberapa menit berselang
Seohyun yang mengemudikan
mobil itu, sudah menghentikan
lajunya didepan bangunan
hotel berbintang yang tadi
Amber sebutkan..

Amber satu-satunya yang
kemudian keluar dari dalam
mobil itu untuk selanjutnya
meraih tubuh Lauren,
menggendongnya keluar dari dalam mobil itu..

“Terimakasih telah membuat
keponakanku tersenyum,
Yoona-ssi..”

Yoona mengangguk..
Tapi dari tatapan matanya yang tertuju pada Lauren, ia sepertinya mencemaskan gadis kecil yang baru dikenalnya itu..

“Apa dia akan baik-baik saja ketika dia bangun nanti?”

“Entahlah.. kuharap dia takkan menangis mencarimu..”

“Oh, gadis kecil yang malang.. aku sebenarnya tak ingin meninggalkanmu..”

Yoona menyempatkan diri mengarahkan tatapannya pada Seohyun, dan mendapati Seohyun yang saat itu tengah memelototinya..

Dari dalam mobil, Yoona kemudian mengulurkan tangan untuk kembali mengusap rambut
Lauren.

Rasanya ia tidak ingin
meninggalkan gadis kecil itu,
namun Seohyun sudah
mengatakan akan segera
menutup pintu mobilnya..

“Sampai bertemu lagi..”

Amber tersenyum, lantas dengan menggendong tubuh Lauren yang terasa berat, ia perlahan melangkah mundur dari sisi mobil itu dan membiarkannya melaju pergi..

Namun saat Amber hendak memasuki lobi hotel, Lauren yang berada dalam gendongannya menggeliat, membuka kedua matanya dan lantas turun dari gendongannya. Gadis kecil itu kemudian menjerit mengetahui tak ada lagi sang ibu yang tadi bersamanya..

“MOMMY..!! MOMMY.. JANGAN PERGI..!! MOMMY..!!”

Lauren berlari..
Berlari mengejar mobil Yoona yang telah melaju..

“MOMMY..!!”

“Berhenti Seohyun-ah.. hentikan mobilnya..”

“Ada apa, Yoona?”

“Cepat berhenti.. Lauren mengejar kita..”

“Apa?”

Seohyun melirik pada kaca spion, melihat Lauren yang berlari dibelakang mobil dan lantas membuatnya mendesah sebelum kemudian menghentikan laju mobil yang dikemudikannya..

“Astaga.. gadis kecil itu.. apa yang dilakukannya?”

Yoona tak menanggapi ucapan Seohyun dan lebih memilih untuk segera membuka pintu mobil dan keluar dari dalamnya. Menyambut Lauren yang berlari kearahnya dan langsung menghambur memeluknya..

Terisak-isak didalam pelukannya..

“Mom-my..”

“Lauren..”

“Mengapa Mommy ingin pergi.. mengapa Mommy meninggalkan Lauren? Mengapa Mom?”

“Sayang, kau sedang tidur tadi.. kupikir kau lelah dan harus beristirahat..”

Lauren menggeleng-gelengkan kepalanya..

“Luren ingin bersama Mommy.. Lauren tidak mau berpisah lagi dengan Mommy..”

“Maafkan kami Yoona-ssi..”

Amber yang juga menyusul Lauren saat berlari mengejar Yoona, kemudian mencoba untuk meraih tubuh gadis itu, namun Lauren dengan erat melingkarkan tangannya memeluk tubuh Yoona..

“Apa yang bisa kita lakukan sekarang..? Dia benar-benar tak mau berpisah denganmu, Yoona..”

Seohyun yang kemudian juga keluar dari dalam mobil, memberikan komentarnya. Yang justru ditanggapi Yoona dengan sebuah pernyataan yang langsung membuat Seohyun melebarkan kedua matanya..

“Dia bisa ikut bersama kita..”

“Apa?”

“Sayang, kau mau ikut denganku?”

Tidak perlu ditanya, Lauren sudah jelas pasti dengan senang hati mengangguk menyetujuinya..
Seohyun-lah yang kemudian mencoba menghentikan Yoona. Ia menarik Yoona menjauh dari Lauren dan Amber, untuk kemudian mengatakan apa yang saat itu berada dalam pemikirannya..

“Apa yang kau lakukan? Kita baru mengenal mereka dan tak tahu pasti apa yang sebenarnya sedang mereka rencanakan..”

“Ya Tuhan.. dia hanya seorang bocah kecil, Seohyun-ah.. kau pikir apa yang bisa dilakukan seorang bocah sepertinya?”

“Tapi yang bersama dengannya jelaslah bukan seorang bocah.. dia bersama wanita dewasa yang entah apa yang kini sedang direncanakannya dengan memanfaatkan gadis kecil itu.. lihatlah caranya berpakaian saja tidak terlihat seperti wanita baik-baik..”

Seohyun sekilas melirik curiga pada Amber..

“Aku tidak peduli, itu pastilah gayanya.. yang aku pedulikan adalah Lauren. aku hanya ingin membantu gadis kecil itu..”

“Jika cerita wanita itu benar, aku juga kasian padanya yang telah kehilangan ibunya. Tapi.. membantu bagaimana, Yoona? Kau justru akan membuatnya terus menempel padamu.. kita seharusnya meninggalkannya saja..”

“Aku tidak tega melihatnya, Seohyun-ah.. apa kau akan benar-benar tega membiarkannya?”

“Tapi dia mengira kau ibunya, Yoona.. Ibunya..!! Kau tidak berpikir apa yang akan terjadi jika dia terus menganggapmu sebagai ibunya?!”

“Aku tidak tahu.. aku tidak memikirkan apa-apa kecuali membuatnya berhenti menangis..”

“Ya Tuhan.. ini gila.. seharusnya kau mengatakan bukan kau lah ibunya..”

“Mungkin bukan sekarang waktunya.. aku lelah Seohyun-ah, ayolah kita pulang..”

“Dan membawa mereka bersama kita?”

Yoona mengangguk..

“Sejak kau tersadar dari koma, aku memang menjadi tak mengerti dengan jalan pikiranmu, Yoona..”

“Seohyun-ah..”

Seohyun menghela napas..

“Baiklah, terserah padamu.. kau ingin kita pulang kemana? Rumah Yoojin oenni atau…”

“Apartemenku.. kita ke apartemenku saja..”

****

“Daddy.. hatchiii..!!”

“Lauren?”

Dave tersentak dari istirahatnya saat mendapati Amber menghubunginya, namun suara sang putrilah yang berada disebrang sana..

“Dad..”

“Lauren sayang.. ada apa?”

“Dad.. sepertinya Lauren tak cocok dengan udara disini..”

“Daddy sudah pernah katakan jangan pergi tanpa Daddy..”

“Sekarang Lauren ingat itu, Dad.. maafkan aku.. hatchiiii..!”

“Dimana Amber?”

“Amber sedang dikamar mandi dan aku diam-diam mengambil ponselnya menelpon Daddy. Lauren demam dan tak berhenti bersin, Dad. Tapi Amber tidak mau menelpon Daddy. Amber pasti takut Daddy akan memarahinya..”

Dave menggeram..
Amber memang pantas menerima kemarahannya bahkan lebih daripada itu. Amber telah benar-benar keterlaluan.
Sudah menculik sang putri darinya, dia juga tak bertanggung jawab pada kesehatan Lauren disana..

“Dad, I miss You.. bisakah Daddy menjemputku.. Lauren sangat merindukan Daddu.. Lauren ingin bersama Daddy..”

Bagi Dave, keinginan sang putri adalah perintah tertinggi untuk segera dilakukannya..

Maka pada saat itu juga, Dave langsung memberi perintah pada pekerjanya untuk mempersiapkan penerbangan dengan menggunakan pesawat pribadinya..

Ia akan membawa pulang sang putri, dan memastikan akan memberi pelajaran setimpal pada Amber atas kelancangannya..

Berjam-jam dalam penerbangan, Dave sungguh gelisah. Ia terus teringat  pada percakapannya dengan sang putri dan cemas terhadap keadaannya disana..

Maka setelah pesawat-nya akhirnya mendarat, Dave yang kemudian menerima pesan singkat dari Amber yang berisi alamat dimana saat itu ia menginap, langsung menuju pada alamat tersebut dengan mempergunakan jasa supir taksi yang kemudian mengantarnya sampai pada bangunan bertingkat sebuah gedung apartemen..

Jadi Amber membawa putrinya dan menyewa kamar apartemen?
Bukan mengajaknya untuk menginap dihotel..

Apa yang direncanakannya?
Apa Amber mencoba  untuk tidak mengembalikan putrinya?

Sialan..

Dengan langkah kakinya yang lebar, Dave memasuki lobi gedung apartemen itu, dan bertemu dengan petugas keamanan yang berjaga, yang kemudian setelah menanyakan maksud dan tujuannya, sang petugas kemudian mengantar dan menunjukkan padanya letak dari pintu apartemen yang dicarinya..

Dave tak berinisiatif untuk menekan bel, ia lebih memilih menggedor pintu dihadapannya dengan lumayan keras hingga lebih dari tiga kali sampai kemudian pintu itu terbuka dan Dave mendapati Amber yang berada dibelakang pintu itu tersenyum menyambutnya..

“Hai Dave.. selamat datang..”

Disaat Dave jelas-jelas terlihat ingin mencekiknya, berperang dengannya, Amber justru memperlihatkan senyum diwajahnya..

“Daddy..!! Daddy sudah datang.. ayo masuk dan bertemu dengan Mommy, Dad..!!”

Lauren yang langsung berlari saat mendengar Amber menyebut nama ayahnya, lantas menarik tangan sang ayah agar mengikutinya masuk..

Saat itulah ia mengetahui bahwa tak hanya sang putri dan Amber yang ketika itu berada disana, melainkan ia melihat seorang wanita lagi yang sedang berdiri diam menatapnya..

Entah apa arti tatapan mata wanita itu, yang Dave lihat wanita itu masih tak bergerak dari tempatnya berdiri ketika itu, seolah terdapat paku yang ketika itu memaku kedua kakinya..

“Yoona-ssi, perkenalkan.. ini Dave, ayah Lauren..”

“Si-won..”

image

Dave mengernyitkan dahinya ketika ia dapat mendengar gumaman dari bibir Yoona, yang kemudian membuatnya dapat mengingat, ia pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya, saat ia menolongnya dari desakan orang-orang yang berkumpul diarea bandara..

Jadi wanita itu…?

*

*

*

*

To Be Continued~

Hohohoo…
Terlalu datar yaa critanya?? Harap maklum karna aslinya aq emang belum dapat plot buat keseluruhan ceritanya, makanya buat nentuin ini akan jadi 2 or 3 shoot aja, aq blm bisa.. huhuhuuu
seperlunya nanti ngabisin berapa part aja yaa^^ & doain lanjutannya CP bisa cepat kelar
😀

@joongly

348 thoughts on “FF | Princess | 1

  1. Ahhhh,, ini membuatku pusingg bgtt! Siwon masak musnah gtu aja sih dan hanya meninggalkan kenangan buat yoona aja. Kasian yoona ;( apalagi saat menatap preences rasanya dia bener2 merindukan bgtt si prince siwon.
    Dave? Aq juga masih kurang yakin apakah itu siwon atau bukan. Soalnya dia yakin bgtt ibunya preences dah meninggal gtu dia juga keliatan nggak kenal ma foto yoona. Apa jangan2 siwon itu ingatannya dihapuss semua gtu kenangan dngan yoonanya. Soalnya yoona yakin preences anak siwon dan berarti itu anak yoona yg berakhir hanya mimpi itu,,,kangen siwon price dari pada dave,,kalau dave susah bayangin wajah siwonnya,,,heheh
    lanjutttt semangatttt kakakkk

  2. Jd dave itu siwon… To msh nggak ngerti jln crtanya.. Yoona itu mmpi atau bkn?? Jd penasaran sma kelanjutannya..
    Update soon author

  3. YaY!!! finally the sequel publish❤❤❤ …….Kasian sama Yoong & Lauren yg sama2 kehilangan dan gak tau reality yg sebenernya hhmmm…… hiks😦 Yoona yg masih inget sama Siwon alias Prince, yg terus mencari kebenaran ttg hal2 yg berkaitan dgn Siwon, real atau cuma terjadi dialam bawah sadarnya krn kecelakaan itu???? Lauren yg kehilangan oemanya, & menemukan sosok itu pada Yoona, walaupun kenyataannya itu hanya akal2an sang appa yg akhirnya menjadi bumerang buat Mr. Dave ………dengan bertemunya sang putri dengan "omanya" maka dimulailah babak baru dlm kehidupan Yoona utk bertemu kembali dengan Siwon/Prince dalam sosok Dave yg sangat dia rindukan hohoho……
    Joongly oeni really love this genre …… this plot really different with your others ff… nggak sabar buat nunggu lanjutannya….. pingit tau pake bingits interaksi antara Yoona, Dave & Lauren…. ditunggu next chapienya ya.. klo bisa nggak pake lama hehehe… fighting !!!!!!

  4. Huuuuhh… Rada gak ngerti jadinya, gegara gak baca prince part 2nya, langsung ke sequelnya.

    Ffnya buat penasaran banget. Sebenernya dave itu siapa? Terus ibu aslinya lauren itu siapa.. Sumpah bingung banget. Tapi keren! Paling suka sama ff yang jalan ceritanya gak gampang ditebak.

    Kasian banget si lauren yang terus-terusan ngebayangin yoona itu ibunya. Yoona juga gak bisa lepas dari bayang-bayangan siwon. Sama sekali aku gak tau ending prince, buat tambah ngures otak buat mikirin terus sambung-sambungin/?-_-

    Keren…T.T
    Eonni selalu ngehadirin ff yang bagus-bagus banget T.T T.T T.T T.T
    Pokoknya ditunggu banget part 2nya ini T.T cepet diupdatenya ya eonni………..^^

  5. Aiiiiiiiiish,, gregetan deh jadinya >_< jadi Yoona itu pernah Koma gitu ya, Prince-siwon??
    Wow,,jadi nambah Kepo
    harus baca Prince part ENDnya nih.

  6. Kasian juga liat lauren yg begitu merindukan ibunya😦
    Dan penasaran juga siap ibunya lauren sebenarnya ?
    Bagaimana reaksi yoona yach saat melihat ayahnya lauren yg memiliki wajah sama dengan siwon ?
    Jadi. Makin penasaran
    Ditunggu lanjutan nya
    Fightinggg🙂

  7. hallo eonni author🙂 perkenalkan aku reader baru. ijin baca ff kamu yaa eon🙂 awal awal baca ff ini udah seru makin baca makin seru dan makin kebawa sama emosi nya. tapi pas bagian yoona yang seolah – olah mengenal lauren saat pertama kali ketemu sampe bagian seterusnya malah bingung eon huffttttt tapi tetep aja penasaran ada hubungan apa sebenarnya siwon oppa dan yoona eonni di masa lalu. apakah hanya sebatas mimpi dan khayalan yoona eonni atau beneran ada something??? gatau lahhh hihihi yang pasti ditunggu chapter selanjut nya eonni. F I G H T I N G🙂🙂

  8. Si lauren pinter banget otaknya ampe nyari mommy nya di internet, hehee
    Wonppa kena batunya tuh bo’ongin anak pinter soal mommy nya tp ada hikmahnya tuh Duren ama Yoong unnie yang masih single ^^
    Ditunggu part berikutnya July Unnie🙂

  9. Oh benarkah itu siwon???nsebenernya bingung knapa yoona bisa kecelakaan trus prince itu siapa dan apakah sebelumnya mereka saling kenang,oh berharap teka-tekinya cepat terjawab. Buat onnie,semangat……..

  10. Ping-balik: FF | Second Chance | 1 | joongly's Mind

  11. Ya tuhan….aku smp nangis bacanya kasian sama Laurent,kasian sama Dave jg.
    Tp sumpah seruuuuu banget Ga sabar baca Lanjutannya,pengen tahu gmn perasaan yoona saat dia tahu bahwa si-won nya ada dlm kenyataan bkn hanya sesosok mimpi dlm komanya seperti yg dikatakan org lain??? Dan perasaan Dave sendiri setelah dia bertemu dgn yoona untuk ke-2 kalinya ???
    Beneran Ga sabar nunggunya….cepetan di publish ya next chapter …..

  12. Klo yg ini bru bs komen, kmren2 kuota’a udh kbru abis..hehe
    Kya’a sich msh atu bnang merah sma ff prince ya kn eon…wlpun ngk jg gk pp sich..tp jd pnsran sma crta ibu’a lauren..trs nah loch gmn tuh rrsksi yoona ps liat siwon..mkin ngk sbr bcs lnjtn’a…

  13. Aduuuuhhh aq msh blum mudeng nih jd laurent itu bkn anaknya yoona??? Trus dave itu siwon??? Nah ibu kandungnya laurent itu siapa???? Tp sedih jg sih klo baca sambil dibayangin anak sekecil laurent kehilangan kasih sayang ibunya dan ayahnya g mw jujur klo ibunya dah meninggal waktu ngelahirin dy……lanjuuuuttt jgn lama ya author….fighting

  14. yg bkin pnsran tuh siapa sbner’a ibu asli lauren
    ya ampunn ksian yoona donk klo cuma yoona yg inget sang dewa tampan choi siwon, jdi dia sndri yg trus di byang2in masa lalu
    tpi seruuu, sifat dave nya kya’a ga romantis, di tunggu bgt lnjutan’a dan prjlnan ksah cinta dave dan yoona

  15. Kan kan bacanya bingung ini siapa sih sebenerya siwon a.k.a dave? Dia ini prince atau bukan? Kayaknya prince deh dia hilang ingatan atau gimana.? Trus ibunya lauren itu siapa? Kayanya juga ada ikatan batin nih antara yoona sama lauren. Bingung teka-tekinya banyak banget.. penasaran sama kelanjutannya nih semoga cepet publish.. hwaiting kak joongly

  16. ini kelanjutan dari prince ya….
    tapi masih binggung ma kisah-nya
    kenapa siwon jadi Dave?
    lalu ibu Lauren sebenarnya siapa?

  17. daripada bingung mikirin siapa dave itu sebenernya siapa mending nunggu aja kelanjutan dari FF ini, walaupun sebenernya bingung juga tentang siapa sebenernya Dave ‘Itu’ hihihi
    ff nya sukses buat orang penasaran
    keren lanjutkan (y)

  18. ya ampun cerita nya seru tapi bikin bingung…
    jangan lama2 ya chingu di publish chap selanjut nya😉
    udah gak sabar nunggu kelanjutannya..

  19. Kasian banget lauren,,,
    Tapi penasaaran nih kenapa siwon bisa mirip bnget sama dave dan dia juga udah punya anak lagi, trus istrinya dave siapa,
    Okedeh, aku tunggu lanjutannya ya, jangan lama2 ya author🙂

  20. Aku bacaa banyak yang di skip hehe maaf ya eon soalnyaa aku penasran sama yoona makanyaa bacaa penuhnyaa pas yoona udh nongol

  21. Wah lanjutannya prince to pantesan kog apa ya… walaupun aku belum baca selesai sih…. semoga wonpa dan eonni berjodoh… dan disatukan oleh lauren hehheh.
    Tak sabar menunggu cerita selanjutnya

  22. uwaaah keren keren thor, siwon mah ngada ngada ye kalo lauren tau mah sakiit itu yoona bukan ibunya eh tapi berharapnya sih beneran ibunya😀. sempet mikir juga sih baca ini ff gagal paham wkwk. lanjut thor fighting!!

  23. Aigoo dave itu bneran siwon ka tpi kok dia udh pnya anak jdi anakx it ibux siapa ngak mngkin yoona kan ….???
    Pnasran abis….

  24. aku sbnarx kurang suka,ff bergenre fantasi,mkax aku ga baca ff prince,tpi krna pnasaran aku baca lnsung aja bca ff princess, membingungkan tpi entah knpa aku lngsug ska,kya mau baca part 2 lgi ni.

  25. ini ceritanya bagus, menarik, seru bgt😀
    tp masih bingung jg, sebenernya Mommy nya Lauren itu udah meninggal apa Yoona malah Mommy nya Lauren?
    Lauren lahir 7 tahun yg lalu, sdangkan Yoona kcelakaan dan koma 8 tahun yg lalu, apakah ada hubungannya? trus knp pas koma Yoona bisa mimpiin Siwon?
    duh makin pernasaran, ijin baca next chapter ya July🙂

  26. ada ikatan batin antara ibu dan anak ya..
    eh maksudnya yg ngiketin sang authornya ni..
    daebak bener deh ni author kalo mbuat cerita..
    padahal versi sebelumnya ceritanya kan antara dua dunia hehehe..
    tp ya sudahlah..ngikut alur neng authornya aja..
    makasi bacaannya ya..😘

  27. Wah,akhirnya bisa baca ff nya,
    Wow mau diapakan tetep pilihan siwon ya yoona hahaha,lauren sampek gax mau pisah sama yoona,daebak itu namanya ikatan batin.
    Aku ampek kebawa alurnya,jadi penasaran sama yang part 2nya eonni semangat ya🙌

  28. Aku masih g mengertii joongly
    Dave itu siwon
    Dan siwon itu punya masa lalu dgn yoona kah
    Kok spt nya yoona kenal betul dgn dave
    Dan td nyebutin klo siwon itu prince
    Ini ada hubungannya sama ff yg prince kah
    Aduh aku bingung hehe
    Penasaraan sama ceritanya
    Dan lauren malang sekali km nak

  29. masih bingung,keterkaitan masa lalu mereka berdua
    dave itu siwon atau mungkin kmbran siwon ??
    trs kalau dave itu siwon apa hubungan nya sma yoona hingga bisa ada lauren
    bikin pnsraan aja joongly
    semgat buat nrsin ff ini

  30. haiii eonie.. aku selalu suka sama karya tulisan mu hahaha maaf baru muncul lagi buat baca2 dan komen2.

    utk serial prince ini aku nunggu banget sebenernya hahaha dulu pas jaman princenya aku sampe ngejar2 kamu minta pw haha seneng dilanjutin.

    awalnya aku bingung, siapa dave? sempet mikir ah apa siwon kena kutukan jd manusia ya trs anaknya lauren diasuh sama dia dan dia lupa sama yoona?

    tapi ternyata siwon punya masa lalu. aaah bingung hahaha tapi suka sama alurnya jd penasaran. semangat ya eon dan ditunggu karyanya makasiiiiih utk terus update ff yoonwon.

  31. Annyeong aku reader baru izin baca ne eonn 😊,soalnya bru nmuin crta ini
    Msh agk bingung sbnarnya dgn jln crtanya, knp og tiba2 siwon nya hlg bgtu saja dri khdupn yoona? Kn kshn yoona yg diliputi rsa pnasarn dgn khdupnnya sblm dia koma, dan knp siwon jg bsa hlg ingtan ttg dri yoona? Huh bnar2 ctta rumit tp mnarik 👍
    Daebak eonn hwaiting 🙋

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s