Fanfiction

2S | Champagne | 1 [YoonWon vers]

image

Story | Im Yoona | Choi Siwon | Jessica Jung | Seo Hyun

Cover by : babyglam @indofanfictionart

Sekedar informasi, crita ‘Champagne’ ini memang aq buat dalam 2 versi..
Yang di proteksi itu versi nya HaeFany.. isinya sama aja, jadi kalau buat Nited dan bukan FishyTastic.. ga perlu repot minta Password, cukup dengan baca yg ini^^
Takutnya kalau baca dua-duanya, malah jadi kacau feel-nya~

Cuma kalau disini ada selip dengan nama HaeFany-nya, dimaklumi aja yaa.. kalau gak bisa kasih tau dimana letak selipnya, nanti diperbaiki^^

*

*

*

Enjoy Reading~

*

*

*

Calistha..”

Gadis itu mendecak..

“…luangkan waktumu siang nanti, sayang.. Appa akan mengenalkanmu dengan seorang rekan..”

Masih tak ada sahutan. Gadis itu lebih asik mengunyah setangkup roti berselai strawberry yang menjadi sarapan favoritnya, dari pada menanggapi ucapan sang ayah yang berada satu meja makan dengannya..

Cal, kau tidak mendengar Appa?”

“Yoona, Appa.. Yoo-na. Berapa kali aku harus katakan, aku lebih suka nama pemberian oemma..”

Ucap gadis itu menekankan..

“tapi kau putri Appa, sayang..”

“dan putri oemma..”

“tapi ibumu..”

“Ya, eomma meninggalkanku.. Tapi itu tetap tak bisa mengubah fakta dia yang telah mengandung dan melahirkanku, juga sempat membesarkanku..”

Hening sejenak..
Ayah dan anak itu sama-sama terdiam membisu.

Selalu perdebatanlah yang akan terjadi meski hanya persoalan nama saja, dan akhirnya sang ayah lah yang akan mengalah, demi untuk melihat senyum diwajah putri tersayang nya..

“baiklah, kalau begitu Yoona-ya, Appa ingin kau meluangkan waktumu siang nanti..”

“hm..”

“Appa akan mengirim sopir untuk menjemputmu”

“Tidak perlu.. Hari ini aku berencana mengendarai mobilku sendiri”

“Oh, apakah mobilmu sudah selesai diservice?”

“anio.. Aku membeli yang baru..”

Dengan begitu Yoona menyudahi sarapannya, berdiri dari duduknya dan lantas meninggalkan meja makan beserta sang ayah yang hanya bisa menghela napas melihat putri semata wayangnya itu begitu acuh terhadap dirinya.

Kerinduannya terhadap sang putri yang dulu begitu menyayanginya, rasanya semakin bertambah menyesakkan dadanya..

Bukan tanpa alasan Yoona berperilaku seperti itu. Mulanya ia memang gadis manis nan penurut terhadap apapun yang ia katakan. Namun sepuluh tahun yang lalu. Ketika usia Yoona genap delapan belas tahun, satu kejadian telah mengubah segala sikap manis dan tutur kata baiknya, menjadi acuh dan begitu sulit untuk diatur.

Kejadian yang menyebabkan semua itu adalah karna tepat dimalam ulang tahunnya, Yoona justru mendengar bahkan menyaksikan kedua orangtua nya bertengkar. Saling berteriak, memaki, seolah delapan belas tahun pula usia pernikahan kedua orangtua nya tak memiliki arti apa-apa bagi mereka.

“Jadi kau akan pergi?”

“Ya..”

“Lalu bagaimana dengan Yoona?”

“Dia sudah dewasa.. Dia bisa mengurus dirinya sendiri..”

“Yoona baru delapan belas tahun. Ibu macam apa kau ini..!!”

“Kau menyebutku ibu macam apa?! Delapan belas tahun aku sudah membesarkannya..! Dan kau masih menyebutku ibu macam apa?! Kau keterlaluan..!”

“Tapi dia membutuhkanmu seumur hidupnya. Tidak cukup hanya sampai delapan belas tahun saja..!!”

“Tidak.. Aku mengenal putriku, dia akan bisa hidup walau tanpa aku.. Aku sudah mengajarinya banyak hal..”

“Kau benar-benar tidak punya hati..”

“Sudahlah.. Cukup..! Jangan menghentikanku. Aku sudah mengorbankan diriku selama delapan belas tahun untuk mengurusmu dan juga Yoona. Aku sudah tidak bisa bertahan lagi..”

“Apa ada pria lain yang membuatmu seperti ini?”

“Anggap saja seperti itu.. Kau tahu, kita menikah bukan karna kita saling mencintai. Kita menikah karna terpaksa, karna aku terlanjur mengandung Yoona..”

“Baiklah, kalau begitu pergi..! Pergi kau sekarang juga.. Dan jangan pernah berpikir untuk kembali lagi..!! Aku bersumpah, aku akan membunuhmu jika kau berani muncul dihadapanku..! Pergi..!!”

“Kuharap kau dapat menjaga Yoona dengan baik. Katakan padanya, aku menyayanginya..”

“Kau bahkan tak akan memiliki hak lagi untuk memanggilnya..! Pergi kau.. tempatmu bukan disini pelacur..!!”

Yoona yang tadinya menyembunyikan tubuhnya dibalik pintu kamarnya, dengan airmata bercucuran mendengar pertengkaran yang baru sekali itu ia dengar, mendadak berubah panik saat sang ibu benar-benar melangkahkan kakinya keluar dari dalam rumah.

Ia sudah berteriak memanggil sang ibu dan mencoba untuk mengejarnya. Namun sang ayah menahannya. Memegangnya erat sementara tubuhnya terus meronta dan berteriak agar dilepaskan. Tapi apalah daya, ia tak bisa menggapai sang ibu yang sempat dilihatnya menangis saat terakhir kali ibunya menoleh untuk melihatnya.

Alasan airmata sang ibu pada saat itu akhirnya Yoona ketahui sekitar sebulan setelahnya. Saat seorang perawat dari sebuah rumah sakit menelpon dan menyampaikan kabar duka bahwa ibunya telah meninggal disana. Ibunya pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Bukan alasan pria lain ataupun sang ibu yang tidak lagi mau mengurusnya, seperti yang pernah ia dengar dari apa yang ketika itu diteriakkan sang ayah pada saat pertengkaran mereka. Melainkan, ibunya pergi karna tak mau penyakitnya diketahui oleh sang ayah ataupun dirinya.

Kenyataan itu yang akhirnya membuat Yoona begitu marah pada ayahnya. Sebagai seorang suami, alangkah bodohnya sang ayah karna tak dapat memahami ibunya dan justru mempercayai sang ibu meninggalkan mereka karna alasan memiliki hubungan dengan pria lain.

Sungguh besarnya cinta sang ibu untuknya dan bahkan untuk sang ayah. Namun kekecewaan terhadap sikap sang ibu yang seolah tidak mempercayai besarnya cinta keluarganya, juga membuat Yoona akhirnya memendam kekecewaan besar terhadap kedua orangtua nya..

*****

Jika tidak teringat akan bagaimana gigihnya sang ayah bila sudah menginginkan sesuatu, Yoona tidak akan datang kesalah satu restoran berbintang yang tadi telah ayahnya sebutkan setelah berulang kali menelponnya.

Ia dengan enggan turun dari mobilnya, menyerahkan kuncinya pada petugas valet kemudian melangkahkan kaki berbungkus high heels mahal yang baru dibelinya saat ia berlibur di Paris seminggu yang lalu..

Sedari tadi ia telah menggerutu, siapa sebenarnya rekan yang ingin diperkenalkan sang ayah padanya?
Apakah rekan bisnis ayahnya?
Jika itu benar, orang itu pasti hanyalah pria paruh baya berumur sama seperti ayahnya..

Lalu untuk apa ayahnya perlu mengenalkannya?

Bukankah ia sudah sering kali mengatakan takkan pernah ikut masuk kedalam lingkaran bisnis yang dijalankan ayahnya..

Ataukah sang ayah sedang mengatur…?

“Oh, Yoona-ya..”

Apa yang menjadi tanda tanya dalam benak Yoona, terinterupsi oleh suara sang ayah yang memanggilnya, juga melambaikan tangan kearahnya. Ia juga melihat seseorang yang duduk dihadapan ayahnya, namun membelakanginya hingga ia belum bisa memperkirakan se-tua apa orangnya.

“Yoona-ya, kemarilah sayang..”

Yoona mendecak..
Ia merasa risih di-dua puluh delapan tahun usianya, sang ayah masih saja memanggilnya dengan sebutan sayang (seperti bocah kecil yang kemana-mana masih memegang boneka). Jika itu dilakukan ayahnya dirumah, ia cukup bisa mengabaikannya dan takkan mempermasalahkannya. Tapi, ayahnya memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’ itu ditempat umum, yang kemudian disadari betul olehnya hal itu telah menyebabkan sebagian pengunjung disana sejenak memperhatikan dirinya. Meneliti tampilannya..

Dari cara mereka memandangnya, Yoona bisa memperkirakan apa yang kemudian orang-orang itu pikirkan terhadapnya. Maka ia dengan cepat menghampiri sang ayah, menegurnya..

“Kau membuat orang-orang itu berpikir aku adalah wanita simpananmu, Appa.. Berhenti memanggilku ‘sayang’ mulai sekarang..!”

Dengusnya, yang justru ditanggapi sang ayah dengan tergelak..

“Aigoo.. Aigoo, duduklah Yoona-ya..”

Yoona kemudian mengalihkan perhatiannya pada seorang pria yang duduk dihadapan ayahnya. Pria itu berdiri dari duduknya, menarik kursi disebelahnya, isarat agar ia duduk disana.

Namun Yoona justru mengacuhkannya, ia memilih menarik sendiri kursi yang berada disebelah ayahnya..

Tentu saja, sadar atau tidak ia telah mempermalukan pria itu. Tapi peduli apa dirinya, toh ia masih tidak mengenalnya..

Dan dengan acuh, Yoona kemudian meletakkan tas tangan bermerk Prada keatas meja dihadapannya..

“Apa yang hari ini sudah kau lakukan sayang..?”

Yoona melotot kearah ayahnya..

“Itu tadi terakhir kalinya Appa.. Jika tidak, aku akan meninggalkan tempat ini..”

Ancamnya pada sang ayah terdengar tidak main-main..

“Oh, maafkan Appa, Yoona-ya.. Tentu saja Appa tidak akan membiarkanmu pergi sebelum kau berkenalan dengan rekan kerja Appa..”

Yoona mendengus, sesaat justru menangkap senyum dari pria yang telah kembali menduduki kursinya..

Apa maksud senyuman pria itu tadi?
Apa dia sedang menertawainya..

Oh, punya hak apa pria itu menertawainya?

Menyebalkan..

Yoona sekilas mengarahkan tatapan kesal pada pria itu yang kemudian disadarinya, wajahnya jelas tak terlihat tua. Pria itu bukan pria paruh baya seusia ayahnya seperti yang tadi ia perkirakan. Pria itu pastinya masih berada dikisaran umur tiga puluhan..

Dan pria itu sekarang berdeham seolah ingin mendapatkan perhatian dari ayahnya..

“Jadi inikah putri anda, Tuan?”

“Ya, ini putriku.. Dia satu-satunya putriku, kesayanganku.. Yoona-ya, kenalkanlah.. Ini Tn.Choi Siwon, rekan kerja Appa yang baru.. Aku merencanakan proyek besar bersamanya..”

Pria itu lebih dulu mengulurkan tangan, yang diperkirakannya akan disambut oleh sang wanita dihadapannya. Namun perkiraannya salah, Yoona justru menyilangkan tangannya didepan dada..

Sekali lagi, Yoona telah mempermalukannya..

Namun seperti tak masalah telah dipermalukan, pria itu masih tersenyum sambil menarik kembali tangannya yang sama sekali tak mendapatkan sambutan hangat..

“Senang bisa bertemu dengan anda, nona Albert..”

“Tidak begitu denganku..”

Ucap Yoona tanpa merasa perlu mengontrol kalimat yang keluar dari bibirnya, membuat sang ayah yang berada disebelahnya mendesah atas tingkah sang putri, dan merasa tak enak hati pada pria muda bernama Siwon, yang dalam sebulan ini tengah merancang kerja sama bisnis dengannya.

Padahal, ayah Yoona lah yang sengaja meminta agar Siwon meluangkan waktunya agar ia dapat memperkenalkan sang putri kepadanya..

Bukan tanpa alasan ayah Yoona melakukannya, ia telah cukup dapat menilai se-potensial apa Siwon sebagai seorang pria.

Dia mandiri, pekerja keras,  bertanggung jawab dan terutama Siwon seorang single..

Akan sangat menyenangkan bila tak sekedar hubungan dalam berbisnis yang dijalaninya, mungkin saja dengan memperkenalkan Yoona kepadanya akan bisa mengembangkan hubungan lain yang bisa terjalin dengan pria muda sepertinya. Hubungan keluarga..

Ayah Yoona merasa, dengan sifat keras dan cenderung sulit diatur yang dimiliki putrinya, ia takkan bisa bersama dengan sembarangan pria..

Dan instingnya mengatakan, Siwon akan mampu mengatasi sikap keras putrinya sekaligus juga melunakkannya..

“Oh, Tn.Choi.. Apakah..”

“Tidak usah terlalu formal denganku, Tuan..”

Ayah Yoona mengangguk-anggukkan kepala dan tersenyum..

“Baiklah, jadi bagaimana aku harus memanggilmu sekarang? Nak Siwon? Apakah pantas begitu?”

“Saya lebih menyukai yang itu..”

Ayah Yoona kembali tertawa, sekilas ia melihat pada Siwon yang menatap kearah putrinya. Namun Yoona justru tampak tak terpengaruh dengan tawa sang ayah yang berada disampingnya, ia lebih asik mengotak-atik ponsel yang beberapa saat lalu diambilnya dari dalam tas untuk mengusir kebosanannya.
Melihat kelakuan sang putri yang seperti itu, ayah Yoona berdeham untuk kemudian menarik perhatiannya..

“Apa kau melakukan sesuatu yang menyenangkan hari ini, Yoona-ya?”

“Ya, aku pergi ke salon bersama Jessica tadi, tapi Appa kemudian mengganggu kesenanganku”

Jawabnya tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel..

“Sekali-kali kau perlu menghabiskan waktu dengan orang lain, tidak melulu bersama Jessica”

“kenapa? Dia temanku.. Ah, lebih dari itu, dia saudaraku. Appa tahu sejak kecil aku tumbuh bersamanya, mengapa sekarang Appa melarangku?”

“Aku tidak melarang, aku hanya ingin mengusulkan bagaimana jika sekali-kali kau pergi bersama dengan nak Siwon? Bukankah begitu nak?”

Siwon hanya sekilas tersenyum, namun reaksi yang ditunjukkan oleh Yoona nampaknya berbeda. Wanita itu akhirnya beralih dari menatap layar ponselnya..

“Katakan saja apa maksud Appa sebenarnya?”

“Maksud Appa adalah agar kau bisa mengenal nak Siwon dengan baik..”

“Apakah menguntungkan kalau aku sudah mengenalnya dengan baik?”

Dengan ketus Yoona membalik pertanyaan sang ayah. Dan sekilas ia sempat memicingkan matanya kearah Siwon, namun pria itu nampak tenang dan sepertinya justru asik menyimak ketidak harmonisan yang tersirat dari pembicaraannya dengan sang ayah.

Membuat Yoona kian merasa kesal mengetahuinya..

“Sudahlah Appa tidak perlu berbasa-basi denganku.. Jika maksud Appa adalah ingin menjodohkanku dengannya. Aku menolak..”

“Tapi Yoona-ya.. Maksud Appa hanyalah..”

“Aku menolak..!”

Ucap Yoona sekali lagi dengan penuh ketegasan, setelah ia dapat membaca maksud sang ayah memperkenalkan pria bernama Siwon itu padanya.

Dijodohkan??
Yang benar saja..

Ia tak pernah mengira ayahnya akan berani melakukan hal itu padanya..

Bukankah selama ini ia sudah cukup bersikap keras dengan membangun pagar pemisah agar sang ayah tidak mencampuri hidupnya. Hidupnya yang telah terasa hancur semenjak sang ibu meninggalkannya. Juga kekecewaan yang dirasakannya telah ikut menutup kepercayaan terhadap sang ayah untuk dapat memulihkan kehancuran dalam hatinya. Sesering apapun ayahnya mencoba, Yoona merasa semua itu takkan bisa mengembalikan hidupnya kembali ke masa sebelum kejadian sepuluh tahun yang lalu. Dimana ibunya masih ada. Dimana kedua orangtua nya terlihat harmonis. Dan membuatnya selalu merasakan kebahagiaan dalam setiap harinya..

“Apa tidak sebaiknya kau mendengarkan dulu ayahmu..”

Yoona telah berdiri dari duduknya, bersiap untuk meninggalkan tempat itu. Namun dirasakannya pergelangan tangannya diraih oleh tangan Siwon yang kemudian menahannya..

“aku tidak berurusan denganmu!”

Mengempaskan tangan Siwon dari pergelangan tangannya, Yoona dengan segera melangkahkan kakinya pergi..

Ia telah berada didepan gedung, menunggu petugas valet yang mengambil mobilnya, saat kemudian disadarinya seseorang berdiri disampingnya. Choi Siwon lah orangnya..

Yoona tidak menyangka pria itu menyusulnya..

“Aku saja yang pergi, sebaiknya kembalilah.. kau perlu meminta maaf pada ayahmu..”

Yoona menoleh, namun Siwon justru melangkahkan kakinya maju menuju mobilnya yang justru lebih cepat berada disana daripada mobil miliknya.

Tak ingin membuat pria itu mengira ia akan menuruti apa yang tadi diucapkannya, Yoona dengan segera menyusul langkahnya. Tidak untuk ikut masuk kedalam mobil Siwon, melainkan memanggil sebuah taksi yang kemudian membawanya pergi lebih dulu. Meninggalkan begitu saja mobil miliknya serta Siwon yang kemudian menggumam disertai dengan senyuman..

“Menarik..”

*****

“Appa benar-benar sudah keterlaluan..”

Yoona langsung menjatuhkan tubuhnya keatas tempat tidur Jessica. Ia sama sekali tidak berniat pulang kerumahnya setelah tadi mengetahui apa yang telah direncanakan oleh ayahnya.

“Hei, begitu datang langsung marah-marah.. Apa memangnya yang dilakukan ayahmu?”

Jessica, sepupu sekaligus sahabat karibnya hanya bisa memandang jengah pada Yoona yang tidak langsung menjawab pertanyaannya..

“Yoona, jangan datang kesini jika kau tidak mau menceritakannya padaku..”

“Jangan menjadi menjengkelkan seperti ayahku, Sica-ah..”

“Memangnya apa yang dilakukan paman Albert padamu”

“Appa berusaha menjodohkanku?”

“MWO..!”

Sica melebarkan mata mendengarnya..

“Kau dijodohkan? Yang benar saja?”

Sekarang, Jessica justru tergelak..

“Kau pikir ini lucu..”

Yoona melemparkan bantal tidur kearahnya, yang untungnya dapat ditangkap dengan kedua tangan Jessica hingga tidak sampai mengenai wajahnya yang bahkan siang tadi baru saja mendapatkan masker perawatan.

“Seperti apa orangnya?”

Yoona justru mendecak mendengarnya..

“Apakah dia tampan?”

“Apa kau ingin aku melemparmu lagi dengan bantal..?!”

dengusnya bertambah kesal..

“Aku hanya bertanya, mengapa kau menjadi sensitif sekali?”

“Aku sedang kesal..”

“Kau memang selalu kesal tiap kali membicarakan ayahmu. Kapan kau bisa berdamai dengan paman Albert.. Kasihan ayahmu, seharusnya kau..”

Jessica tak sampai meneruskan kalimatnya ketika Yoona telah lebih dulu melemparkan kembali bantal tidurnya kearahnya..

“Aku salah datang kemari..”

Yoona beranjak, namun kemudian Sica mencegahnya..

“Jangan pergi, kita bisa bicarakan masalahmu baik-baik..”

Sica membujuk..
Ia telah terbiasa mengalah pada Yoona. Ia juga tahu sejauh mana perubahan watak Yoona semenjak ibunya meninggal dan perasaan kecewa yang dirasakannya terhadap sang ayah..

“Bagaimana? Kau akan tetap disini kan?”

kedip mata Jessica lantas membuat Yoona kembali mendudukkan tubuhnya, namun hanya sesaat, setelahnya ia menarik tangan Sica saat sebuah ide melintas dikepalanya..

“Kita cari hiburan ke club..”

*****

Ditengah hingar bingar klub malam itu, Yoona dan Sica duduk dengan ditemani sebotol Sampanye dan masing-masing gelas ditangan keduanya. Sebelumnya, keduanya telah sama-sama turun kelantai dansa, dan baru sesaat lalu duduk untuk sejenak mengistirahatkan kaki yang sedikit terasa pegal..

“Ponselmu menyala..”

Ucap Sica yang melihat nyala pada layar ponsel Yoona yang tergeletak diatas meja. Sebuah pesan singkat yang ternyata masuk kedalamnya..

Hei sayang…

Yoona mengernyit membaca isi pesan singkat itu yang berasal dari nomor yang tidak dikenalnya. Ia sudah langsung mengabaikannya, namun sekali lagi ia menerima pesan dari nomor yang sama, yang kali ini berhasil membuatnya mengumpat..

“Sial..!”

“Ada apa? Apa ayahmu?”

Yoona tak menjawab dan hanya menyerahkan ponselnya pada Sica, membiarkan sang sepupu yang kemudian ikut membaca isi pesan yang diterimanya..

Sayang, jangan marah..
Kau tidak akan dianggap sebagai wanita simpanan meski aku memanggilmu seperti itu. Karna  jika aku memiliki wanita secantik dirimu, aku tidak akan menyimpanmu..

“Apa maksudnya? Siapa yang mengirim pesan seperti ini padamu?”

“pria itu..”

“nugu?”

“yang ingin Appa jodohkan denganku..”

“Oh, dia berani mengirimkan pesan seperti ini padamu.. apa maksudnya? Aku jadi penasaran seperti apa orangnya?”

“Yang jelas dia sama menjengkelkannya seperti ayahku.. Brengsek..”

Yoona meletakkan gelas ditangannya, berniat untuk kembali turun kelantai dansa, bersenang-senang dan melupakan kekesalannya  terhadap Siwon sekaligus sang ayah yang pasti telah memberikan nomor ponsel miliknya tanpa seijin darinya.

Namun belum sampai ia beranjak, pria itu ada dihadapannya. Siwon berdiri didepannya dan langsung mencondongkan tubuhnya kearah Yoona..

“Hei sayang..”

Bisiknya ditelinga Yoona, dan membuat Yoona mengepalkan tangannya, kesal..

“Kebetulan yang tidak diduga kita bertemu disini”

Entah mengapa Yoona tak merasa itu hanya semacam kebetulan yang tak disengaja. Siwon pastilah mengikutinya sampai akhirnya tahu keberadaannya..

“Padahal aku baru saja mengirimkan pesan padamu, apa kau sudah membacanya?”

“Siapa dia?”

Jessica yang kemudian ikut berdiri dari duduknya, menarik lengan Yoona dan membuatnya sedikit mundur dari tubuh pria yang berada dihadapannya..

“Kau mengenalnya?”

Tanya Sica sekali lagi setelah Yoona tak juga memberinya jawaban..

“Dia pria sialan itu..”

“yang ingin dijodohkan denganmu?”

“hm..”

“Oh My, aku tak percaya paman Albert begitu pintar memilih calon menantu..”

Ingin rasanya Yoona menginjak kaki Jessica saat mendengar komentarnya terhadap sosok pria dihadapannya. Agaknya sang sepupu justru terpesona pada Siwon..

“Apa kau yang bernama Jessica?”

Siwon memulai basa-basinya..

“Oh, nde.. Namaku Jessica..”

“Senang bisa bertemu denganmu, Jessica-ssi..”

Dan Siwon pun meraih tangan Sica, kemudian mencium punggung tangannya. Membuat Sica yang diperlakukan seperti itu olehnya, mendadak merasakan rasa panas merayap kepipinya..

Ya ampunn..
Wajahnya langsung memerah sekarang.

“Ba-bagaimana kau bisa tahu namaku?”

“Aku mendengar Yoona membicarakanmu..”

“Oh, sungguh? Dan apa yang sudah kau bicarakan tentangku?”

Sica memberikan pertanyaan itu untuk Yoona yang mendecak mendengarnya. Pastilah pria itu hanya mengingat saat siang tadi ia dan sang ayah sedikit menyebut-nyebut nama Jessica.

Menyebalkan..
Seperti mereka sudah banyak berbicara saja..

“Bukan sesuatu yang penting. Ayo pergi..”

Yoona yang sudah menarik tangan Jessica dan berkeinginan untuk secepatnya keluar dari club itu, agaknya masih harus tertahan dengan keberadaan Siwon yang masih berdiri dihadapannya. Menghalangi jalannya..

“Menyingkirlah..”

“Apa yang akan kau lakukan sayang?”

“Ya ampunn, dia bahkan memanggilmu sayang, Yoona-ya..”

“tutup mulutmu, Jessica!”

Sica memberengut mendengarnya..

“Apa kau ingin pergi? Kita bahkan belum bersenang-senang..”

“Bersenang-senanglah dengan ini..”

Yoona kembali meraih gelas Sampanye yang tadi ia letakkan ke atas meja. Bukan untuk meneguk lagi isi didalamnya, melainkan melakukan tindakan yang tak diduga-duga dengan menyiramkan Sampanye dalam gelasnya kearah Siwon, tepat mengenai wajah pria itu dan langsung membuat Sica memekik terkejut..

“Apa yang kau lakukan, Yoona-ya..!”

Sontak kejadian yang disaksikan oleh banyak pengunjung di club itu, kemudian memunculkan kegaduhan.

Namun Yoona sama sekali tak menghiraukannya. Ia kembali meletakkan gelas Sampanye-nya keatas meja dan melangkah meninggalkan tempat itu.

Tapi hanya beberapa langkah saja ia berhasil menjauh sebelum kemudian pergelangan tangannya ditarik dengan begitu kuat, hingga tubuhnya berbalik bahkan menabrak keras pada bagian dada seseorang yang telah berani melakukan hal itu padanya..

“Aku menghitung, tiga kali sudah kau mempermalukanku.. Meminta maaflah atau kau akan menyesal..”

Sedikitpun Yoona merasa tak gentar oleh kalimat peringatan bahkan bernada ancaman yang ternyata diucapkan oleh Siwon padanya. Ia mendorong kuat dada pria itu, dan membuat nya sedikit menjauh..

“Jika kau merasa dipermalukan, jangan pernah mencoba berurusan denganku..”

Balasan Yoona yang kemudian justru menyulut ego seorang Choi Siwon..

Pria itu tak hanya kembali menarik pergelangan tangannya, tapi juga meraih pinggangnya, mendekap dan mengunci gerak Yoona ketika kemudian dengan tanpa permisi Siwon menciumnya. Membuat gemuruh para pengunjung club malam itu dengan riuh tepukan tangan sekaligus sorak-sorai terhadap aksinya..

Yoona luar biasa marah, dipermalukan dan terutama direndahkan didepan banyak orang..

Ingin rasanya ia berteriak dan memaki, namun bibirnya masih terkulum oleh bibir Siwon yang seolah begitu menuntutnya untuk memberikan celah pada pria itu agar dapat memasukkan lidahnya dan menjelajah didalam rongga hangat mulutnya..

Jessica yang menyaksikan kejadian itu hanya terbengong sambil menggigit bibirnya. Serba salah rasanya berada diposisinya ketika itu. Disatu sisi ia ingin menarik Yoona yang jelas akan mengamuk setelah dipermalukan oleh pria itu. Namun disisi lainnya, Jessica merasa setuju dengan apa yang dilakukan Siwon yang menurutnya wajar-wajar saja bila kemudian Siwon merasa marah dan membalas apa yang sudah Yoona lakukan sebelumnya. Sepupunya itu memang sudah sangat keterlaluan menuangkan Sampanye ke wajah pria itu tadi..

Sampanye dan bibirmu, benar-benar perpaduan rasa yang nikmat..”

Ucap Siwon sesaat setelah akhirnya menghentikan aksinya. Yoona, dengan wajahnya yang telah memerah menahan amarah, sudah mengangkat sebelah tangannya dan siap melayangkan tamparan kewajah Siwon, namun pria itu lebih sigap menangkapnya..

“Yang tadi itu hanya hukuman kecil, sayang.. Jika kau tidak menyukainya, maka belajarlah bersikap baik mulai sekarang”

Setelahnya, Siwon begitu saja pergi meninggalkannya..

“Yoona-ya, gwechana?”

Ketika Jessica kemudian lebih mendekat untuk memastikan sang sepupu masih dalam keadaan baik-baik saja, Yoona justru menatap tajam kearahnya..

“Apa kau begitu bodoh?! Apa kau tidak melihat si brengsek itu merendahkanku tadi?! Mengapa kau tidak menolongku..?!”

“Aku.. Aku.. Bagaimana aku bisa menolongmu? Pria itu tadi, dia sepertinya marah sekali padamu. Aku menjadi takut.. Bagaimana jika dia justru melakukan hal yang sama padaku. Tapi, sebenarnya.. bagaimana rasanya dicium pria setampan itu?”

“Yakk..! Kau gilaa..!”

Bertambahlah kekesalan Yoona setelah apa yang Jessica katakan. Bukan meredamkan amarah yang dirasakannya, dia malah bertanya rasa dari ciuman bibir pria brengsek tadi..

“Ohh, Yoona-ya.. Tunggu aku..”

Jessica langsung mengejar Yoona yang marah dan keluar meninggalkannya..

“Yoona-ya..”

“Jangan mengikutiku..!”

“Tapi tadi kita datang bersama-sama”

“Sekarang aku sedang tak ingin bersamamu..”

“Yoona-ya..”

“Jangan semakin membuatku marah padamu, Jessica..!!”

“Tapi, apa kau tega membiarkanku pulang sendiri?”

“Jangan bodoh, kau masih bisa pulang dengan taksi..”

“Tapi kau memakai mobilku..”

“Akan ku kembalikan.. Bila perlu aku akan menggantinya dengan yang baru”

Jessica memberengut melihat Yoona yang masuk kedalam mobilnya dan langsung menyalakan mesin, dan benar-benar tidak membiarkannya masuk..

“Yoona-ya..”

“Salahmu yang tidak menolong saudaramu yang dipermalukan tadi”

“Tapi, apa kau akan pulang kerumah?”

“Ya, aku harus membuat perhitungan dengan Appa..”

Jessica hanya bisa mendesah pasrah ketika Yoona melajukan mobilnya dan benar-benar meninggalkannya sendirian disana..

“Jika bukan karna dia saudaraku, aku benar-benar tidak akan mau menjadi temannya..”

gerutunya yang lantas mulai melangkah diatas trotoar jalan. Tentu saja apa yang tadi Sica katakan tidaklah benar. Ia mengenal Yoona dengan sangat baik. Dibalik sikap keras cenderung menyebalkan dan seringkali membuatnya marah hingga tak tahan, Yoona tak lebih dari seorang wanita rapuh. Jessica tahu pasti hal itu, terlebih ketika dulu Yoona pernah menangis dipangkuannya saat menceritakan apa yang sebenarnya ia rasakan.

Maka, bagaimanapun keras dan menyebalkannya sikap Yoona, Sica akan selalu bisa memakluminya, bahkan kapanpun Yoona membutuhkannya, ia akan selalu bersedia menemaninya, menyediakan tempat tersendiri dalam hatinya agar bisa selalu memahami apa yang dirasakannya..

“ughh.. Andai benar-benar ada yang bisa menjaganya, aku pastinya akan merasa sangat senang..”

gumaman lirih Jessica sambil menghela napasnya, lantas membawa kedua kakinya melangkah diatas trotoar jalan..

“Apa aku bisa memberimu tumpangan nona?”

Sica sontak terkejut ketika sebuah mobil berhenti disampingnya, bahkan sang pengemudi yang telah membuka kaca mobilnya kemudian menawarkan tumpangan kepadanya..

“Ohh, kau..?”

“Choi Siwon, bersediakah kau mengingat namaku Sica-ssi?”

Jessica tertunduk dan tersenyum malu-malu..

“Ah, nde.. Siwon-ssi..”

“Masuklah?”

“nde?”

“masuk ke mobilku..”

“Oh, anio.. Aku menunggu taksi saja..”

“Yoona benar-benar tega meninggalkanmu”

“dia hanya sedang marah..”

“dan itu karna aku?”

Jessica mengangguk..

“Kalau begitu biarkan aku menebusnya dengan memberi tumpangan padamu, masuklah..”

“Tapi..”

“Ayo masuklah, lagi pula ada yang ingin kubicarakan denganmu”

Mendengar keramahan yang diperlihatkan Siwon kepadanya, Jessica akhirnyapun mengiyakan dengan masuk kedalam mobil yang dikemudikan oleh pria itu..

“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?”

“tentang sepupumu, Yoona.. Dapatkah kau menceritakan padaku seperti apa dia..?”

“Yoona.. dia, tak ada yang menarik darinya. Kurasa aku justru lebih menarik daripada dia. Lihatlah, kau pastinya akan setuju denganku kan?”

Siwon sempat melebarkan mata ketika mengetahui niatan Jessica yang sepertinya sedang meloloskan kancing pengait pada pakainnya..

“Apa yang akan kau lakukan?!”

Siwon dengan segera mencekal pergelangan tangannya, menghentikannya..

Dan ketika melihat bagaimana pria itu bereaksi, juga ekspresi yang terlihat diwajahnya, entah mengapa justru membuat Jessica tergelak..

“Baiklah, ayo kita bicara..”

“Tapi.. apa maksudmu tadi?”

“Hanya semacam tes..”

Kini Sica justru mengedipkan sebelah matanya, membuat Siwon lantas geleng-geleng kepala setelah dapat memahami apa yang menjadi maksudnya..

“Apa itu semacam tes moral?”

“Ya, seperti itulah.. dan kau sudah langsung lolos..”

“Bagaimana mungkin kau melakukannya? Bagaimana jika kau melakukannya didepan pria tak bermoral? Kau tidak takut..?”

“Aku juga tidak sembarangan melakukannya, Siwon-ssi.. aku akan mempertimbangkan situasi dan kondisi. Sudahlah, tidak perlu membahas itu.. kau ingin kita membicarakan sepupu-ku kan?”

“Kalau begitu ayo kita temukan dulu tempat yang nyaman..”

“Hotel?”

“Jika kau pikir hotel akan menjadi tempat yang nyaman, mengapa tidak.. ayo kita kesana..”

Keduanya justru sama-sama tergelak setelahnya..

“Aku cukup perasa, kurasa aku tahu mengapa paman Albert memilihmu?”

“Apa?”

“Bukan apa-apa.. cepat jalankan saja mobilmu..”

*****

Datang dengan membawa kekesalan yang bertumpuk-tumpuk didalam hatinya, Yoona langsung mendorong keras ruang kerja sang ayah dan masuk kedalamnya. Tanpa menghiraukan keterkejutan sang ayah dengan apa yang dilakukannya..

“Appa benar-benar sudah keterlaluan..!”

“Oh, ada apa Yoona-ya?”

“Siapa yang memberikan Appa ijin untuk memberikan nomor ponselku pada bajingan itu?!”

“tunggu dulu.. Apa maksdumu? Appa jelas tidak memberikan nomor ponselmu pada seorang bajingan?”

“Choi Siwon, pria itu adalah bajingan..!”

“Oh, nak Siwon..? Kalau dia yang kau maksud, dia adalah pria yang baik sayang.. Dan jelas bukan bajingan”

“Pria itu bajingan, Appa..! Appa hanya tak tahu apa yang sudah dilakukannya padaku?!”

“Apa dia menemuimu? Dan apa yang kalian lakukan berdua?”

Yoona melotot pada sang ayah yang justru memberikan tatapan berbinar dibalik dua lensa kacamata yang membingkai kedua mata tua-nya..

“Apa kalian sudah mulai melakukan pendekatan?”

Ya Tuhan..
Yoona mengerang dalam hati.
Bisa-bisa nya sang ayah mengharapkannya mau menerima perjodohan yang telah direncanakan dengan pria itu..

“Aku tidak akan sudi berdekatan dengan bajingan sepertinya..”

“Tapi mengapa, Yoona-ya? Apa dia melakukan sesuatu yang tidak kau sukai?”

“Yang jelas dia sudah berbuat kurang ajar padaku..”

“Apa yang dilakukannya? Kalian mungkin hanya salah paham saja.. Nak Siwon adalah pria yang sopan, dia akan langsung meminta maaf jika melakukan kekeliruan. Bahkan untuk kesalahan yang tidak dilakukan olehnya, dia bisa melakukannya..”

“Itu namanya dia pria bodoh..”

Gerutu Yoona yang jelas sama sekali tak mempercayai apa yang dikatakan sang ayah kepadanya. Pria sopan macam apa yang tanpa tau malu menciumnya secara paksa didepan umum?
Bagaimanapun Yoona lebih mempercayai apa yang ia alami sendiri, bahwa Siwon hanyalah seorang pria brengsek. Bajingan yang takkan pernah mau ia lihat lagi wajahnya..

“Appa tidak akan memaksamu, Yoona-ya.. Tapi..”

“Memang tidak ada seorangpun yang bisa memaksaku..”

“Ya, aku tahu.. Tapi cobalah untuk mengenalnya dulu, kau akan tahu seperti apa nak Siwon yang sebenarnya..”

“jawabannya adalah, Tidak!!”

“Appa hanya berusaha mencarikan seseorang yang bisa menjagamu. Appa sudah cukup tua Yoona-ya, aku harus menemukan seseorang yang dapat menggantikanku untuk menjagamu.. dan Nak Siwon-lah yang ku nilai mampu melakukannya..”

“Selama ini aku tidak merasa Appa menjagaku.. Appa tidak bisa menjaga siapapun..! Jika Appa bisa, Appa seharusnya menjaga eomma dan tidak membiarkannya pergi hingga meregang nyawa sendirian..!”

Yoona nyaris emosional..
Dengan sekuat hati ia pun menahan airmatanya agar tak menetes didepan sang ayah. Sekalipun saat itu ia sekilas melihat kesakitan dalam sorot mata ayahnya, Yoona tak lantas mempedulikannya. Ia justru merogoh ponselnya dari dalam tas, kemudian menggeletakkannya diatas meja kerja sang ayah. Meninggalkannya disana sementara ia kemudian beranjak untuk selanjutnya melangkah keluar..

“Kenapa kau meninggalkan ponselmu disini, sayang..?”

“Aku tidak akan memakainya lagi. Aku akan menggantinya dengan yang baru dan memastikan Appa tidak akan mengetahui nomor baru ku..”

“Tapi bagaimana jika Appa ingin menghubungimu?”

“Tidak perlu menghubungiku..”

Ayah Yoona hanya bisa menghela napas dengan berat ketika melihat sang putri yang kemudian keluar dari dalam ruang kerjanya. Pikirnya, Yoona mungkin akan beristirahat dikamarnya, namun yang didengarnya justru deru suara mobil yang menandakan Yoona kembali meninggalkan rumah..

*****

“Apa-apaan kau ini.. Berapa hari kau tidak pulang?! Kenapa baru menghubungiku sekarang?!”

Yoona lebih memilih menikmati satu cup eskrim didepannya, daripada mendengarkan ocehan Jessica yang baru saja datang dan bahkan belum mendudukkan tubuhnya..

Sepupunya itu pasti sedang merengut kesal..

“uhh, ini benar-benar lezat.. Ayo Sica-ah, cobalah.. Atau kau ingin aku memesankan sendiri untukmu?”

“Yoona..! Jawab dulu pertanyaanku..!”

Jessica menaikkan nada suaranya dan menjadikan
Yoona kemudian mendongak dan memutar mata kearahnya..

“Aku memanggilmu bukan untuk membuat keributan.. Setidaknya, duduklah terlebih dulu..”

Jessica sesaat mendengus, sebelum kemudian mengikuti apa yang dikatakannya..

“Jadi kau mau es krim atau..?”

“Tidak.. Aku hanya ingin mendengar alasanmu, mengapa kau tidak pulang? Dan dimana kau selama ini? Tidak mengaktifkan ponsel dan baru menghubungiku?”

“Aku menginap di hotel..”

“Menginap di hotel?! Apa kau tidak memiliki rumah?!”

Yoona melotot pada Jessica yang kembali berteriak keras padanya..

“Sudah kukatakan aku memanggilmu bukan untuk membuat keributan..”

“Persetan.. Kau yang membuatku ingin mengajakmu melakukan keributan, Yoona-ya..!”

Oh Tuhan..
Sica benar-benar merasa gemas dengan kelakuan sepupunya yang satu itu..

Namun Yoona justru terkikik mengetahui kekesalannya..

“Sica-ah, ayolah.. Aku memanggilmu untuk menemaniku. Kita selalu bisa melakukan kesenangan berdua. Aku bosan sekali sendirian..”

“Berapa hari kau berada dihotel?”

Jessica sengaja mengabaikan perkataan Yoona tadi..

“Sekitar tiga hari..”

“Apa kau menghubungi dan memberitahu paman Albert?”

“Tidak.. Aku justru sedang melakukan pelarian dari Appa”

Ingin rasanya Sica menjitak kepala sepupu nya itu..

Melakukan pelarian dari sang ayah katanya?
Tapi memangnya berasal darimana uang yang dipergunakannya untuk menginap dihotel kalau bukan bersumber dari sang ayah..?
Jelas Yoona masih memakai uang dan segala fasilitas yang diberikan ayahnya..

Tapi jika Jessica mengatakan kalimat yang seperti itu, ia tahu itu justru akan membuat Yoona menjauh darinya. Tidak akan lagi memanggilnya dan jika sudah seperti itu, siapa memangnya yang akan tahan menemaninya. Jessica masih memikirkan itu semua, hingga memutuskan memperpanjang kesabarannya, lagi dan lagi..

“Lalu kapan kau akan pulang?”

“Yang jelas tidak sekarang, karna aku sudah merencanakan sesuatu yang menyenangkan. Aku ingin kita berkeliling dan berbelanja..”

“Yoona-ya..”

Yoona mengabaikan nada protes Jessica ketika kemudian ia berdiri dan menarik tangan Sica agar mengikutinya. Keduanya lantas mengelilingi pusat perbelanjaan yang berada dikawasan Gangnam tersebut.

Beberapa menit hingga jam berlalu, Sica masih saja menggerutu, sementara Yoona justru terlihat sumringah berburu apa saja yang diinginkannya. Hingga tak kurang dari tiga paper bag, telah berada dimasing-masing tangannya..

“Sica-ah, sepertinya yang ini cocok untukmu”

Yoona memperlihatkan rancangan clutch terbaru dari salah satu brand ternama didunia..

“Aku tidak membutuhkannya..”

“Ayolah, sejak kapan kau menunggu membutuhkannya untuk sesuatu yang kau inginkan?”

“sejak sekarang..”

Yoona mendengus, lalu memutuskan mengabaikan Jessica dengan memanggil sang pramuniaga, untuk membungkus belanjaannya dan selanjutnya melakukan pembayaran..

“Siwon-ssi..”

nama itu bukan terucap dari bibirnya..
Membuat Yoona lantas menoleh, dan mendapati Jessica-lah yang tadi menyebutkan nama pria brengsek itu..

“Yoona-ya, itu Siwon kan?”

Mengikuti arah tatapan mata Jessica, Yoona menemukan keberadaan pria itu disalah satu toko pakaian yang letaknya berada persis didepan toko penjual tas yang saat ini disinggahinya..

“Oh, bersama siapa dia? Seorang gadis kah?”

Jessica kembali bersuara sedangkan Yoona masih mengamati gerak-gerik Siwon yang sepertinya memang tidak sendirian. Benar saja saat kemudian Yoona melihat seorang wanita yang kemudian menghampirinya dengan sebuah paper bag ditangannya. Namun kemudian Siwon meraih dan meminta membawakannya..

“Siapa wanita itu, Yoona-ya?”

“Peduli apa kita harus tahu siapa wanita yang bersama si brengsek itu..”

“Tunggu, tunggu.. Lihatlah, mereka berangkulan..”

Mau tak mau, Yoona yang tadinya sudah sempat berpaling dan tidak lagi melihat kearah Siwon, kembali mengarahkan perhatiannya kearah dua sejoli yang berada tak jauh darinya itu..

Dan selintas ide, mendadak menjadikannya tersenyum..

“Tunggulah disini..”

Yoona lantas menyerahkan paper bag yang berisi barang-barang belanjaannya pada Jessica..

“Tapi, apa yang akan kau lakukan?”

“stt, diam dan lihatlah..”

Dengan langkah anggun, Yoona dengan cepat dapat menghampiri Siwon yang bersama seorang wanita, kini tengah memasuki butik penjual pakaian lainnya..

“Choi Siwon-ssi..”

Suaranya kali ini bernada lembut..
Membuat sang pria yang dipanggilnya itu segera menoleh kearahnya, sepertinya terkejut melihatnya. Bukan hanya Siwon, namun seorang wanita yang bersama dengannya, kemudian juga menatap kearah Yoona dengan sorot tanya yang terpancar dari kedua matanya..

“Siwon-ssi, kita bertemu lagi.. Apakah ini kebetulan yang juga terjadi lagi?”

Siwon sempat mengerutkan dahi mendengarnya, sebelum kemudian menanggapi apa yang diucapkannya..

“Ya, sepertinya ini juga kebetulan”

“Oppa, siapa dia?”

Wanita yang tadi dilihatnya merangkul Siwon, kini kembali merangkulkan tangannya pada lengan pria itu. Seolah ingin memperlihatkan kedekatan mereka dihadapan Yoona.

Tanpa melakukan hal demikian, Yoona pun merasa telah dapat membaca, jika ada kedekatan khusus yang terjalin diantara keduanya. Terlihat jelas dari bahasa tubuh juga tatapan mata keduanya. Apalagi sang wanita, yang menatapnya seolah mengagumi dan sekaligus memuja..

Jika demikian, untuk apa sang ayah berusaha menjodohkan pria itu dengannya?

Apakah ayahnya tidak mengetahui pria itu yang telah menjalin kedekatan dengan seorang wanita?

Ah, ayahnya jelas masih belum mengetahui ke-brengsekan seorang Choi Siwon..
Pria itu pasti telah mengelabuhi sang ayah dengan berpura-pura baik didepan ayahnya..

“Kau tak ingin memperkenalkan aku padanya, Siwon-ssi? Kau tidak lupa denganku kan?”

“Oppa, siapa dia?”

Siwon masih saja diam meski sang wanita disampingnya kembali menanyakan. Pria itu seolah sedang memperkirakan apa yang selanjutnya akan Yoona katakan..

“Siwon-ssi, kau yang sudah menciumku di club malam itu.. Bagaimana mungkin kau menggandeng wanita lain dihadapanku? Tidakkah kau berpikir kau sedang menyakitiku sekarang..”

Melihat sang wanita yang lantas melepaskan rangkulan tangannya dari lengan Siwon, membuat Yoona sekilas tersenyum menang..

Siwon yang mengetahui senyuman itu, kemudian mendekat dan berbicara lirih padanya..

“Apa kau sedang mencoba membuat urusan denganku, sayang..?”

Yoona tak ingin terpengaruh, ia dengan santai mendorong dada Siwon agar tak terlalu dekat dengannya, dengan hanya mempergunakan jari telunjuknya..

“Siwon-ssi, bukankah seharusnya kau juga tidak menyakitinya apalagi membuatnya melihatmu menciumku?”

“Kau menginginkan aku menciummu lagi, sayang?”

“Tapi bukankah seharusnya tidak didepan wanita itu..”

Liriknya pada wanita dibelakang Siwon yang kemudian mencoba untuk beranjak, namun Siwon menahan pergelangan tangannya..

“Kau mau kemana, Seohyun-ah?”

“Lepaskan tanganku, Oppa..”

Dari raut wajah wanita bernama Seohyun itu, Yoona mengetahui sirat kesedihan didalamnya. Namun ia tak ingin peduli, sasarannya adalah Siwon, untuk membalas apa yang pada malam itu dilakukan pria itu dengan memaksa menciumnya..

“Kita datang bersama-sama.. Kita juga akan pulang bersama”

“Kurasa tidak setelah oppa bertemu dengannya..”

Seohyun menyentakkan tangan Siwon dan berlari meninggalkannya. Sementara Yoona justru tersenyum menang melihatnya..

“Tunggulah, aku pasti akan mendatangi kamar hotelmu..”

Yoona memutar mata dan sedikit tercengang mendengar apa yang dikatakan Siwon, dan sekaligus kesal melihat kedikan mata pria itu sebelum kemudian ia berlari mengejar wanita bernama Seohyun yang tadi bersamanya..

“Dia tahu aku menginap di hotel?”

Gumamnya dengan sedikit berpikir..

“Apa kau gila..!! Apa yang kau katakan hingga membuat wanita itu berlari seolah tak ingin melihatmu lagi?”

Jessica tergopoh mendekatinya..

“Aku hanya sedikit memberitahunya seperti apa pria yang sedang bersamanya”

“Tapi untuk apa? Apa urusannya denganmu?”

“Aku hanya kasihan pada wanita itu”

“kasihan?”

“hm, apa kau tak lihat.. Lugu sekali wajahnya. Pantas saja pria itu dengan gampang menipunya. Dia pasti takkan pernah tahu betapa brengseknya pria itu jika aku tidak memberitahunya”

Jessica mendesah..

“Yang brengsek dimatamu belum tentu dimatanya..”

“Hei, apa maksudmu..?”

“Anio, lupakan saja.. Ayo pulang, dan bawa sendiri barang-barangmu”

“Tapi aku belum akan pulang..”

Yoona mendengus sambil mengambil alih paper bag miliknya dari tangan Jessica..

“Terserah padamu, Yoona-ya.. Lakukan saja sesukamu..”

*****

Yoona telah kembali ke hotel dan menjadi gelisah ketika sendirian berada didalam kamar hotel yang disewanya. Ia cemas setelah mendadak teringat pada kata-kata Siwon yang tadi mengatakan akan mendatanginya. Mungkin untuk membuat perhitungan dengannnya karna apa yang telah ia lakukan dengan membuat wanita bernama Seohyun tadi melarikan diri dari pria itu.

Setelah beberapa lama hanya mondar-mandir saja sambil menggigit bibir bawahnya, tatap matanya tiba-tiba saja tertuju pada ponsel baru miliknya yang dibelinya beberapa hari lalu, dan terlintas dipikirannya untuk kembali menghubungi Jessica dan memintanya datang untuk menemaninya.

Walau sedikit ragu entah Jessica akan mau atau tidak mengingat sang sepupunya itu tadi sempat kesal dan marah karna ia menolak ajakannya untuk pulang, namun Yoona cenderung yakin bagaimanapun marahnya Jessica kepadanya, ia tetap akan selalu ada untuknya terlebih saat ia telah mengucapkan kalimat bernada permohonan. Jessica sudah pasti akan luluh dan meninggalkan kegiatan apapun yang tengah dijalaninya, demi untuk bersama dengannya..

Sedikit seringai lantas muncul diwajah Yoona saat kemudian tangannya menggapai untuk meraih ponselnya, namun seketika benda itu terjatuh dari tangannya lantaran terkejut pada bunyi yang berasal dari interkom kamarnya..

Oh Tuhan..
Siwon kah itu?

Dan apa yang harus dilakukannya sekarang?
Diam saja dan tak perlu membukakannya pintu..
Ataukah memanfaatkan keberaniannya dengan menghadapi pria itu..

Oh sialnya, ia bahkan merasa gugup sekarang..
Kemana keberaniannya pergi?

“Yoona-ya..!! Yoona.. Buka pintunya..!! Yoona-ya.. Cepat buka pintunya..!!”

Yoona tersentak dari pemikiran-pemikirannya ketika mendengar gedoran berkali-kali pada pintu yang disertai dengan suara yang sepertinya mirip dengan suara sang sepupu, Jessica..

“Yoona..! Cepat buka pintunya..!!”

Ya, itu pastilah Jessica..

Entah mengapa, Yoona kemudian menarik napas lega..
Ia lantas dengan segera menuju pintu kamarnya, untuk selanjutnya membukakan pintu untuk Jessica..

“Ya Tuhan.. Apa yang kau lakukan? Kau membuat keributan lagi.. Mengapa menggedor-gedor pintu?”

“tidak ada waktu untuk menjawab pertanyaan tak penting mu itu. Ayo ikut denganku..”

Jessica sudah berhasil meraih pergelangan tangannya, namun dengan cepat Yoona menyentaknya..

“Tunggu dulu, Ada apa denganmu? Untuk apa aku ikut denganmu?”

“Kau harus pulang sekarang”

“Pulang?”

“Ya, ayolah..”

Sica kembali mencoba meraih pergelangan tangannya, namun Yoona lebih dulu menghindar darinya dengan melangkahkan kakinya masuk kedalam..

“Aku tidak mau.. untuk apa aku harus ikut pulang denganmu?”

“keadaannya gawat, Yoona-ya.. Kumohon aku tak ingin mengatakannya disini.. Ikutlah saja denganku..”

“Tidak.. Jangan harap aku akan begitu saja mengikutimu. Kau tak bisa memaksaku ikut denganmu, sementara aku tak mengetahui maksud dan tujuanmu”

“Ini menyangkut paman Albert.. Ayahmu mendapat serangan jantung, Yoona-ya..!”

“Apa? Ayahku?”

*****

Yoona tidak pernah menyangka dirinya akan mendapati sang ayah dalam keadaan terbaring lemah dengan selang oksigen dan alat-alat medis yang terpasang ditubuhnya..

Kedua kakinya terasa lemas, andai Jessica tak memapahnya untuk kemudian mendekati tempat tidur ayahnya, Yoona sudah pasti akan terjatuh lunglai sebelum dapat mencapai kesisi ayahnya..

“Ap-pa..”

suaranya bahkan terdengar bergetar. Airmata perlahan luruh membasahi wajahnya..

“Ap-pa..”

Yoona lupa, kapan terakhir kali ia menangis, dan begitu merasa takut kehilangan sang ayah seperti yang sekarang ini ia rasakan..

Semenjak luka yang dirasakannya atas kematian sang ibu, ia seakan mengalami mati rasa terhadap apapun yang dilakukan sang ayah kepadanya..

“Apa yang terjadi Appa..? Bagaimana Appa bisa jadi seperti ini?”

Digenggamnya tangan sang ayah dan membuatnya menyadari sudah sangat lama ia tak merasakan sentuhan tangan sang ayah yang dulu senantiasa mengusap lembut rambutnya. Dan itu disadari Yoona lantaran sikapnya sendiri yang begitu kekeh menolak perhatian dan kasih sayang dari sang ayah untuknya..

“Appa.. Appa, bangunlah.. Yoona pulang Appa, aku sudah pulang.. Bangunlah..”

Yoona menggerak-gerakkan tangan sang ayah, tapi tetap saja ayahnya tidak meresponnya..

“Kenapa kalian diam saja.. Kenapa Appa tidak dibawa kerumah sakit? Bagaimana jika terjadi sesuatu? Bagaimana jika ayahku..”

Gemetar dalam nada suaranya, membuat Jessica kemudian meremas kedua bahunya, menguatkan..

“Yoona-ya, tenanglah.. Dokter ada disini. Paman Albert juga sudah diperiksa..”

“Tapi lebih baik Appa berada dirumah sakit kan?!”

“Bukankah kau tau, ayahmu tidak menyukai rumah sakit..? Rumah sakit hanya akan mengingatkan paman Albert pada bibi Mi Joo..”

Yoona kembali tersedu disampingnya..
Bagaimana Ayahnya bisa terkena serangan jantung?
Apa penyebabnya?
Apakah itu karna ulahnya..
Karna sang ayah terlalu memikirkannya..

“Apa yang terjadi? Bagaimana ayahku bisa terkena serangan jantung?”

Yoona bukan hanya melemparkan pertanyaan itu pada Jessica, tapi juga pada orang-orang terdekat yang berada disekitar ayahnya. Dari para pekerja dirumahnya dan terutama asisten dan sekaligus sekertaris pribadi sang ayah yang selalu bersama dengan ayahnya..

“Aku tidak tau, Yoona-ya.. Sekertaris Kim menelponku dan mengatakan dia tidak bisa menghubungimu. Karna itu dia memintaku untuk memberitahumu..”

Yoona lantas mengarahkan tatapannya pada sekertaris sang ayah yang juga tengah berdiri tak jauh darinya..

“Katakan apa yang terjadi dengan ayahku?”

“begini nona, sebenarnya Tuan..”

Dari mulut sang sekertaris-lah, Yoona kemudian mengetahui bila serangan jantung yang dialami ayahnya adalah akibat dari shock karna mitra bisnis yang saat itu melakukan kerja sama proyek dengan ayahnya, mencurangi sang ayah hingga membuat perusahaan ayahnya mengalami kerugian fantastis hingga mencapai jutaan dolar banyaknya. Dan teracam perusahaan yang didirikan sang ayah akan mengalami kebangkrutan total..

“Bagaimana mungkin.. Aku tahu ayahku, dia bukan pria bodoh.. Bagaimana mungkin dia bisa tertipu seperti itu?!”

“Mitra yang sekarang benar-benar lihai nona, dan kami sama sekali tidak mencurigainya..”

Sekertaris itu menunduk, menyadari kemarahan Yoona yang kemudian menatapnya tajam..

“Kalian benar-benar bodoh.. Jadi bagaimana sekarang?”

“Kita harus secepatnya mengembalikan kestabilan dana perusahaan nona..”

“berapa yang tersisa dari perusahaan Appa?”

“Hanya beberapa juta Won saja nyonya..”

“Oh, Shit..!”

Yoona mengumpat, ia menjadi kesal dan marah sekarang..

Ia tidak pernah mengetahui apalagi mempelajari seluk beluk perusahaan ayahnya, sekalipun sang ayah kerap mengatakan dirinyalah yang akan mewarisinya. Tapi Yoona cukuplah tahu bila ayahnya bukanlah pria yang sembarangan melakukan kerja sama. Ayahnya sangat teliti. Dan orang sepandai apa yang telah dapat mengelabuhi ayahnya..

Pria itu kah orangnya?

Choi Siwon..
Entah mengapa, nama itu yang tercetus dalam pikirannya..

“Apa mitra bisnis ayahku adalah Choi Siwon? Apa dia yang telah menipunya..?”

Sekertaris itu mengangguk dan sekaligus juga menggeleng, membuat Yoona memutar mata kearahnya..

“Tn.Choi memanglah termasuk mitra bisnis ayah anda nona, tapi bukan dia orangnya. Bukan Tn.Choi yang telah mencuranginya.. Tapi..”

“Tapi apa? Jangan bertele-tele denganku.. Katakan jika pria itu memanglah seseorang yang busuk..”

“Tidak.. Bukan seperti itu nona.. Tapi justru.. Justru Tn.Choi lah seseorang yang potensial untuk meminjamkan dana demi kestabilan perusahaan..”

“Apa katamu..?”

Yoona benar-benar merasa tak mempercayai pendengarannya. Namun belum sempat ia menggali informasi lebih banyak lagi dari sekertaris ayahnya, ia telah lebih dulu mendengar gumaman sang ayah yang memanggilnya..

“Yoona-ya.. Putri-ku..”

“Ap-pa..”

Yoona buru-buru mendekat, dan menggenggam erat tangan ayahnya..

“Pe-ru-sa-ha-an-ku.. Pe-rusahaan-ku- Yoona-ya..”

“Ap-pa.. Sudahlah, tidak perlu memikirkannya.. Appa beristirahatlah saja..”

Ayahnya terbatuk, dan tersengal..

Sepertinya Yoona benar-benar merasa takut jika nafas sang ayah hanya sampai saat itu saja..

Ia menangis melihatnya..

“Ap-pa..”

“Yoona-ya..”

“Appa.. Appa tidak usah berbicara jika tidak kuat. Appa istirahat saja..”

Ayahnya menggeleng dan memegangi tangannya..

“Tidak sayang.. Aku.. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.. Mung-kin.. Mungkin ini akan menjadi ke-ingin-an ku yang ter-akhir..”

“Appa..! Bagaimana bisa kau mengatakan hal semacam itu..”

“Tidak, sayang.. Yoona-ya..”

“Aku tidak mau mendengarnya..”

Yoona dicekam kengerian saat sang ayah kembali tersengal..

Mungkinkah saat itu akan menjadi tarikan napas terakhir ayahnya?

Ya Tuhan..
Tidak..
Ia belum melakukan hal yang baik untuk ayahnya..

Jadi bagaimana mungkin Tuhan akan mengambil sang ayah darinya, seperti Tuhan telah mengambil sang ibu dari sisinya.

Apakah karna selama ini ia telah menyia-nyiakan waktu yang Tuhan berikan untuk berbuat baik pada ayahnya?

Ya Tuhan..
Tidak..
Beri ia waktu sekali lagi..

“Appa..”

“Yoona-ya.. Appa ingin.. Appa ingin kau menikah dengan nak Siwon.. Appa ingin ada yang menjagamu saat aku pergi menyusul ibumu. Menikahlah dengannya sayang.. Appa ingin kau menikah dengannya. Itu keinginan terakhir-ku.. ughh..”

“Appa..!!”

Yoona menjerit ketika melihat sang ayah memegang dadanya, dan sepertinya menahan kesakitan didalamnya..

“Dokter.. Apa yang kau lakukan?! Cepat tolong ayahku..! Appa..!!”

“Sebaiknya kita keluar Yoona-ya.. Biarkan dokter memeriksa ayahmu..”

“Tapi Appa.. Appa..”

“Paman Albert pasti baik-baik saja.. Ayahmu akan baik-baik saja..”

Jessica merangkul Yoona dan sedikit memaksanya agar sang sepupu mau keluar dari dalam kamar ayahnya dan membiarkan dokter kemudian melakukan penanganan terhadap kondisi sang ayah..

Menyusul kemudian, seorang sekertaris sang ayah yang juga keluar dan memberitahukan padanya bahwa ayahnya kembali kehilangan kesadarannya..

Yoona kembali merasa lemas, bahkan kedua kakinya seakan tak mampu lagi menahan berat tubuhnya, sehingga Jessica kemudian membawanya agar ia dapat mengistirahatkan tubuhnya didalam kamar..

“Minumlah Yoona-ya..”

Sica memberikan segelas air putih untuknya, namun Yoona menggeleng dan masih terus menangisi ayahnya..

“Kau tidak bisa seperti ini terus Yoona-ya.. Ayahmu tidak akan sembuh bila kau terus menangisinya.. kau harus tenang..”

“Lalu apa yang harus kulakukan? Katakan apa yang harus kulakukan?”

Sica lantas meraih tubuhnya, memeluknya dengan mengusap lembut pada bahunya. Menenangkannya..

“Lakukan apa yang ayahmu inginkan..”

“Maksudmu?”

Yoona dengan cepat melepaskan pelukan Jessica ditubuhnya..

“Ya, kau sudah mendengar apa yang menjadi keinginan ayahmu kan?”

“Jangan bercanda, Sica-ah..”

“Demi Tuhan.. Disaat seperti ini kau kira aku masih bisa bercanda, Yoona-ya?!”

“Tapi Appa memintaku menikah dengan Choi Siwon, Sica-ah.. Dan kau pikir aku bisa melakukannya?!”

“Ya, mengapa tidak.. Itu jika kau bersungguh-sungguh ingin melihat ayahmu sembuh, atau kau memang benar-benar tidak mempedulikannya”

“Kau pikir aku sekejam itu.. Tega sekali kau mengatakan hal itu padaku..”

Yoona kembali menangis, dan kali ini tangisnya menjadi tersedu-sedu..

“Aku memang terus mengabaikan ayahku, tapi bukan berarti aku tidak peduli padanya, Sica-ah.. Aku menyayangi Appa.. Apa kau tahu apa yang kurasakan tadi saat melihatnya terbaring lemah seperti itu? Aku begitu takut, Sica.. Aku begitu takut akan kehilangan Appa, seperti aku telah kehilangan oemma..”

“Kalau begitu lakukan sesuatu.. Lakukan sesuatu untuk ayahmu, Yoona-ya..”

“Bagaimana caranya?”

“Menerima perjodohan itu.. Menikahlah dengan Siwon..”

“Sica-ah..!”

“Dengarkan aku Yoona-ya.. Itu keinginan ayahmu, paman Albert bahkan mengatakan itu mungkin menjadi keinginan terakhirnya..”

“Itu tidak mungki keinginan terakhirnya, Appa pasti sembuh..”

“Ya, itu juga yang kuharapkan.. Tapi cobalah paksa dirimu untuk memikirkan kemungkinan terburuknya. Tidak menyesalkah kau jika tidak dapat memenuhi keinginannya..”

Yoona memucat mendengar Jessica yang terus berbicara, seolah sedang membuka mata, hati dan sekaligus pikirannya..

“Kau dengar apa yang dikatakan sekertaris Kim tadi? Kau bukan hanya akan menyenangkan ayahmu dengan memenuhi permintaannya, tapi sekaligus menyelamatkan perusahaan ayahmu.. Kau bisa mendapatkan dua kebaikan sekaligus bila kau menikah dengan Choi Siwon”

Apa yang dikatakan Sica bisa jadi benar. Sang ayah mengalami serangan jantung karna kecurangan dalam perusahaannya. Dan yang menjadi keinginan ayahnya adalah dirinya bisa menerima Siwon. Pria itu yang disebutkan sekertaris sang ayah sebagai seseorang yang cukup potensial untuk dapat memperbaiki pendanaan didalam perusahaan ayahnya..

Jika dua hal yang menjadi beban pikiran ayahnya itu dapat Yoona selesaikan, bukan mustahil ayahnya akan bangun dan kembali sehat seperti sebelumnya..

“Tapi bagaimana denganku Sica-ah.. Bagaimana dengan perasaanku? Aku tidak ingin bersama seseorang yang tidak kucintai.. Aku tidak mencintai pria itu.. Aku justru membencinya. Sangat membencinya..”

Jessica malah tersenyum..

“hanya ada skat tipis yang membedakan benci dan juga cinta Yoona-ya.. Kau pasti juga pernah mendengar kalimat yang mengatakan jangan terlalu membenci karna bisa jadi kau akan berbalik mencintainya”

“Bicaramu seperti kau adalah seorang penyair berpengalaman..”

Jessica terkekeh..

“Jadi kau akan mencobanya?”

“Entahlah, aku masih tidak yakin..”

“Pikirkanlah dampak baiknya untuk ayahmu.. mungkin ini saatnya kau berdamai dengan paman Albert. Lakukanlah kebaikan ini untuknya Yoona-ya..”

Yoona sesaat tercenung mendengarnya..

“Baiklah.. aku akan mencoba. Tapi bagaimana aku harus melakukannya?”

“Pertama-tama.. temuilah Siwon ..”

*****

Setelah melihat keadaan sang ayah yang belum tersadar dan masih harus menggunakan selang oksigen untuk membantu pernapasannya, Yoona kembali menangis disisinya. Dan keadaan itu yang kemudian memantapkan tekadnya untuk benar-benar mengikuti apa yang dikatakan Jessica, yaitu memenuhi apa yang menjadi keinginan ayahnya.

Maka pada keesokan harinya, dari informasi yang didapatkannya dari sekertaris sang ayah, Yoona mendatangi gedung perkantoran dimana Choi Siwon berkantor disana..

Namun Yoona tidak berhasil menemui pria itu. Seorang petugas resepsionist memberitahunya bahwa pria itu tidak berada diruangannya karna sedang melakukan peninjauan di lokasi proyek yang akan segera dibangun..

“Bisakah aku tahu dimana lokasinya?”

“Ada disekitar Incheon, nona..”

“Proyek apa yang akan dikerjakan disana? Apa kau mengetahuinya?”

“Pembangunan hotel yang akan terhubung langsung ke bandara..”

Dari sekilas informasi itu, Yoona dapat menyimpulkan jika Choi Siwon dan perusahaan pengembang yang dipimpinnya, sepertinya menjadi pengendali sejumlah proyek-proyek besar. Tak salah bila kemudian sekertaris ayahnya menyebut pria itu mampu melakukan pendanaan pada perusahaan ayahnya yang terancam gulung tikar..

Dari apa yang diketahuinya itu, Yoona lantas tak membuang waktu untuk kemudian mengendarai mobilnya menuju Incheon. Walau setelah sampai disana, ia justru menjadi bingung dengan apa yang akan dikatakannya pada Siwon. Hingga membuat Yoona cukup lama hanya diam saja didalam mobilnya..

“Oh, ayolah.. Aku bukan seseorang yang pengecut seperti ini..”

Mengucapkan kalimat itu untuk menyemangati dirinya, Yoona lantas keluar dari dalam mobil, dan berusaha menemukan keberadaan Siwon disana. Namun sejauh yang saat itu ia lihat, hanyalah bahan-bahan material pembangunan.

Yoona mendengus kesal..
Dimana pria itu sekarang?

“Anda mencari seseorang nona?”

Yoona nyaris terlonjak ketika kemudian mendapati seseorang berada didekatnya..

“Oh, maaf jika mengejutkan nona.. Tapi sepertinya anda sedang mencari seseorang, jadi saya menghampiri nona untuk menanyakan..”

“Ah, ne ahjussi.. Aku, aku sedang mencari Tn.Choi.. Bukankah seharusnya dia datang kesini?”

“Oh, Tn.Choi sudah pergi sekitar tiga puluh menit yang lalu, nona..”

Jadi dia sudah pergi?
Oh Tuhan..
Sia-sia saja ia mencari pria itu sampai sejauh ini..

“Baiklah, terimakasih ahjussi..”

Dengan membawa perasaan kesal, Yoona meninggalkan tempat itu dan kembali mengendarai mobilnya. Tidak untuk pulang kerumahnya, melainkan mendatangi Jessica. Yoona tahu, dengan kondisi ayahnya yang sedang sakit, ia tidak bisa membawa dan melampiaskan kekesalannya dirumah..

“Kau tahu, apa yang sudah aku lakukan Sica-ah?”

“Minumlah dulu, wajahmu benar-benar terlihat memerah..”

“Tentu saja karna aku sedang sangat kesal.. Aku menahan kekesalanku sepanjang jalan tadi..”

Yoona kemudian menerima segelas air pemberian Sica dan mulai meneguknya..

“memangnya apa yang terjadi?”

“Aku tidak bisa menemui Siwon..”

“Oh, tapi kenapa?”

“Dia tidak berada dikantor.. Pekerja dikantornya mengatakan dia sedang meninjau lokasi proyek. Kau tahu, aku mendatangi lokasinya, aku mencarinya sampai ke Incheon tapi dia sudah pergi dari sana..”

“Ya Tuhan, sayang.. Kau pasti lelah sekali..”

Yoona justru memutar mata mendengar nada meledek dari apa yang baru saja diucapkan Jessica..

“Kau mencoba meledekku?”

“Apa maksudmu, tentu saja tidak Yoona-ya.. Aku justru mengerti, pantas saja kau merasa kesal dan kau benar-benar lelah kan? Beristirahatlah saja disini..”

“Tidak.. Aku akan pulang sebentar lagi, setelah merasa lebih baik. Kasihan Appa, tidak ada yang menjaganya bila aku berada disini..”

Jessica tersenyum mendengarnya..

“Kalau begitu, aku yang akan ikut denganmu.. Nanti kita bisa bicarakan cara untuk membuat janji dengan Siwon. Sepertinya dia orang yang sibuk kan?”

“hm..”

Yoona mengangguk dan mendesah..

Rasanya tak percaya dirinya membutuhkan pria itu sekarang..

Oh, semua demi ayah nya..
Dan ia tak ingin menyesal untuk kedua kalinya..

*****

Setelah sebelumnya gagal menemui Siwon dikantor maupun lokasi proyek, Yoona masih menuruti omongan Jessica yang menyarankannya untuk kembali mencoba. Kali ini, ia akan mencoba menemui pria itu disebuah apartemen yang masih menurut sekertaris sang ayah, disanalah Siwon tinggal.

Ketika keluar dari dalam mobilnya, dan menjejakkan kakinya dilobi bangunan gedung bertingkat itu, Yoona langsung dapat menilai eksklusif dan mewahnya tempat yang ditinggali oleh pria itu, yang bahkan tak kalah mewah dengan hotel-hotel berbintang yang biasanya ia sewa ketika sedang merasa kesal terhadap ayahnya..

Setelah berhasil melewati para petugas keamanan dengan memperlihatkan semacam tanda pengenal yang didapatkannya dari sekertaris sang ayah, Yoona dengan segera dapat menemukan pintu kamar dengan nomor 305, dimana Siwon menjadi sang penghuni yang menempati kamar itu..

Demi Tuhan..
Yoona masih tak dapat mempercayai, dirinya sedang mencari keberadaan pria itu..
Bahkan ia telah sempat mengambil dua botol Sampanye dari dalam gudang anggur yang berada didalam rumahnya dan sekarang ini sedang ia bawa ditangannya..

Untuk beberapa saat ia sempat hanya berdiri diam, ragu.  Namun kemudian ia memaksa ujung telunjuknya untuk membunyikan bel, hingga beberapa kali sampai seseorang kemudian membukakan pintu dihadapannya..

Namun yang mengejutkan untuk Yoona adalah, bukanlah Siwon yang ketika itu membukakan pintu untuknya, melainkan seorang wanita. Wanita yang tempo hari pernah ia lihat bersama dengan Siwon, kini berdiri dihadapannya, dengan hanya mengenakan celana pendek yang memperlihatkan kaki jenjangnya, dan sebuah Tshirt kebesaran, yang kemudian Yoona asumsikan sebagai milik dari Choi Siwon..

Ya, wanita mana yang mau memakai ataupun membeli Tshirt kebesaran seperti itu, kalau bukan karna terpaksa harus memakainya demi kesopanan setelah pakaiannya sendiri mungkin telah terkoyak dan entah berada dilantai sebelah mana..

Oh, apa yang sebenarnya sedang terlintas dibenaknya?

Yoona mencoba memenggal pemikiran nyeleneh yang menurutnya juga masuk akal, untuk kemudian berbicara dengan sang wanita yang bila dibandingkan dengannya, wanita itu masihlah lebih tinggi beberapa senti darinya..

Ugh, menyebalkan..
Harusnya ia memakai sepatu yang ber-hak lebih tinggi dari yang saat itu dipakainya..

“Aku mencari Choi Siwon.. Apakah dia ada?”

Tanyanya tanpa merasa perlu berbasa-basi..

“Oh, kau mencari Siwon oppa? Tapi dia baru saja pergi..”

“Pergi?”

“Ya..”

“kemana?”

“luar negri.. Paris..”

“APA?!”

Yoona tak peduli saat wanita dihadapannya kini mengerutkan dahi setelah mendengar respon terkejutnya..

“Berapa lama dia disana? Dan kau.. Apa yang kau..?”

“dua sampai tiga hari.. Dan aku, aku memang selalu ada disini. Meski Siwon Oppa pergi dan meninggalkanku sendirian, dia selalu kembali pulang dan aku, aku ada untuk menunggunya dan juga menemaninya..”

Yoona mendengus dalam hati..
Memangnya ia ingin mendengar informasi sampai sejauh itu?
Sama sekali tidak..

“Tapi kau? Bukankah kau yang waktu itu..”

“Kalau begitu, tidak ada gunanya aku berada disini..”

Yoona beralih, sebelum wanita itu benar-benar menyadari siapa dirinya..

Memandang Sampanye ditangannya..
Yoona mendengus kesal..

Sekali lagi, ia harus menerima kegagalan untuk menemui pria itu dan mencoba berbicara dengannya..

*****

Tiga hari berselang, Yoona kembali mendatangi kantor Siwon, setelah sebelumnya ia meminta pada sekertaris Kim agar mematiskan pria itu telah kembali dari luar negri, dan kemudian membuatkan janji pertemuan dengannya. Namun hingga satu jam menunggu, Pria itu masih belum muncul dan membuat Yoona kembali merasakan kekesalan dalam hatinya.

Lagi-lagi penyebabnya adalah Choi Siwon..
Pria itu benar-benar menjengkelkan..

Siapa sebenarnya yang saat itu berada diruangnya?
Tamu penting-kah?
Hingga membuat pria itu mengabaikan keberadaannya yang sedang menunggu diluar ruangannya..

Merasa telah habis kesabarannya untuk menunggu pria itu membuka pintu ruangannya, Yoona kemudian berdiri dari duduknya dan telah berencana untuk pergi dari sana. Bahkan dalam hati ia berani bersumpah untuk tidak lagi mencoba menemui pria itu, namun akhirnya pintu ruangan Siwon terbuka dan menjadikan Yoona sejenak menahan langkahnya untuk tahu siapa sebenarnya seseorang yang sejak tadi berada didalam ruangan pria itu..

Dan keberadaan seorang wanita yang sebelumnya pernah ia lihat, namun ia lupakan namanya, yang ketika itu muncul dari dalam ruangan Choi Siwon, sukses membuatnya mendengus kesal..

“Berhati-hatilah Seohyun-ah..”

“hm, jangan lupa aku menunggumu dirumah..”

“Dan pastikan kau akan menunjukkan padaku permainan yang menyenangkan..”

Dan kemudian Yoona mendengar suara kekehannya sekaligus disuguhi pemandangan ketika wanita itu memberikan kecupan dipipi Siwon, sebelum kemudian meninggalkan pria itu yang tersenyum memandang kepergiannya..

“Permainan seperti apa yang bisa menyenangkanmu Siwon-ssi?”

“Oh, kejutan sekali melihatmu disini sayang..”

Yoona mendengus..

Kejutan katanya?
Bukankah ia yang telah menyetujui janji temu yang dibuat oleh sekertaris ayahnya, dan Yoona sangat yakin pria itu bahkan mengetahui ia telah lama menunggunya..

“Ini jelas bukan suatu kejutan, sekertaris ayahku yang sudah mengaturnya..”

“Ya, dan yang kumaksud kejutan adalah keinginanmu untuk bertemu denganku.. Ayo masuklah..”

Mengikuti langkah Siwon memasuki ruangannya, Yoona berusaha mengatasi kegugupannya agar tak terlihat oleh pria itu..

“Apa kau ingin minum sesuatu terlebih dulu?”

“Tidak..”

“Sampanye mungkin?”

Oh, sialan..
Apa dia sedang mencoba mengingatkannya pada insiden yang terjadi di club malam itu?
Saat segelas Sampanye mengguyur wajahnya..

“Kau menyukai Sampanye bukan? Sama seperti ku.. Apalagi kalau Sampanye itu berasal dari…”

“Kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk meminum Sampanye. Jadi aku menolak..”

“Kalau begitu aku akan menunggu kapan waktu yang tepat untuk meminum Sampanye bersamamu..”

Siwon tersenyum kemudian mempersilahkannya untuk duduk. Keduanya mengambil tempat saling berhadapan. Dan Yoona bertambah gelisah saat pria itu hanya diam dan menatapnya..

“Ada apa?”

“Seharusnya aku yang bertanya.. Aku hanya menunggumu berbicara. Jadi katakanlah, apa yang ingin kau bicarakan denganku?”

“Aku.. Aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa sepertinya tak ada salahnya untuk mengenalmu”

Yoona berucap cepat sebelum hatinya menyesali apa yang telah diucapkan oleh bibirnya..

“Maksudmu?”

“Aku, aku akan menerima perjodohan yang direncanakan Appa denganmu..”

“Kau serius?”

Yoona mengangguk..
Namun seringai yang diperlihatkan pria itu diwajahnya sempat membuat Yoona merasa ingin melarikan diri dari hadapannya. Betapa ia telah mempermalukan dirinya dihadapan pria itu. Tapi harus bagaimana lagi, kalimat itu telah terucap dengan begitu jelas dari bibirnya. Hanya karna terbayang pada wajah sang ayah yang kini hanya terbaring lemah, yang membuat Yoona lantas berusaha menahan kedua kakinya serta menguatkan dirinya untuk tetap berada ditempatnya duduk ketika itu..

“Sayangnya aku sudah tidak tertarik..”

Apa yang dikatakan Siwon, kemudian membuat Yoona melebarkan mata ketika mendengarnya..

Betapa ia telah rela mempermalukan dirinya. Dan jawaban semacam itukah yang kini didapatkan olehnya..?

Benar-benar sialan..

“Wanita keras dan pemberani sepertimu, bukanlah tipeku.. Karna aku cenderung dominan dalam suatu hubungan, sementara kau terlihat sudah cukup berpengalaman dan pandai melawan. Kita tidak akan cocok.. Aku lebih tertarik pada gadis-gadis lugu dan penurut..”

Tak perlu lagi menanggapi apa yang dikatakan Siwon pada saat itu, Yoona tidak lagi menahan dirinya, ia dengan segera beranjak dari duduknya untuk secepatnya membawa kedua kakinya melangkah keluar dari ruangan pria itu, tapi kemudian Siwon menahan pergelangan tangannya..

“Kau mau kemana? Kita belum selesai berbicara kan..?”

“Lepaskan tanganku.. Tidak ada lagi yang ingin kubicarakan denganmu..”

“Kudengar ayahmu sakit, apa itu yang menjadi alasanmu untuk menerima perjodohan denganku?”

“Bukan urusanmu..!!”

“Baiklah kalau begitu, sampaikan salamku untuk ayahmu.. Semoga dia lekas sembuh..”

Yoona tak lagi menghiraukan ucapannya, ia dengan cepat melangkah keluar dari dalam ruangan Siwon, dan justru kemudian membuat pria itu tersenyum melihat kepergiannya..

“Aku masih ingin melihat kesungguhanmu..”

*****

Penolakan Siwon, sekaligus kata-kata yang tadi diucapkannya, membuat Yoona benar-benar berada dalam puncak kekesalannya. Dan Jessica-lah yang kemudian harus rela melihat sang sepupu melampiaskan kemarahannya.

Jika diumpamakan, saat itu Yoona bagaikan gunung berapi yang tengah memuntahkan lava panas yang akan membuat siapa saja tidak akan mau berada disekitarnya..

“Choi Siwon itu, dia benar-benar brengsek.. Dia bilang sudah tidak tertarik dengan perjodohan itu, tapi masih saja bermain mata kepadaku. Dia juga menyebutku keras dan pandai melawan, bukan tipenya karna dia lebih suka gadis lugu dan penurut. Tentu saja wanita itu terlihat lugu, bahkan mungkin dia juga bodoh hingga tak mengetahui siapa si brengsek itu yang sebenarnya.. Jangan membuatku semakin kesal Sica-ah, mengapa kau diam saja? Katakan sesuatu..!”

Jessica bahkan perlu untuk menelan ludah terlebih dulu..

“Ya Tuhan.. Apa yang bisa ku katakan? Kau terlihat sangat kesal dan hanya terus berbicara tanpa memberiku kesempatan..”

“Sekarang aku memberimu kesempatan, jadi katakan sesuatu? Bagaimana menurutmu..? Demi Tuhan, aku tidak ingin bertemu lagi dengan pria itu..”

“Kau harus tenang Yoona-ya..”

“Tidak.. Jangan memintaku untuk tenang Sica.. Choi Siwon, dia sudah kelewatan..”

“Jadi sebenarnya Siwon sudah punya teman kencan?”

“Ya, gadis yang nampak lugu yang kita lihat waktu itu, seperti itulah tipenya. Dan bahkan tadi aku melihatnya lagi dikantornya. Entah apa saja yang mereka lakukan, sepertinya masih tidak cukup padahal mereka sudah tinggal bersama. Dan yang jelas keberadaannya disana sudah membuatku menunggu lama..”

“Tapi kau tidak sedang cemburu dengan gadis itu kan?”

Sica memasang ringisan diwajahnya saat kemudian Yoona melebarkan mata kearahnya..

“Jangan bodoh Jessica..!”

“Kupikir.. Karna kau kesal sekali, jadi mungkin kau cemburu Yoona-ya..”

“Tak adakah hal lain yang bisa kau pikirkan selain hal bodoh semacam itu..?”

Yoona makin bersungut-sungut kesal..

“Baiklah, itu hanya pemikiran ku saja.. Jadi lupakanlah. Tapi, jika benar Siwon sudah berkencan dengan gadis itu, tak ada cara lain Yoona-ya, tentu saja kita harus mencari cara untuk memisahkan mereka”

“APA?”

“Ya, agar Siwon mau menerima perjodohan denganmu, bahkan menikahimu, kita harus memisahkannya dari gadis itu. Kau tidak akan menunggu sampai mereka putus kan? Atau kesehatan paman Albert akan…”

“Cukup, Jessica.. Jangan kau teruskan..”

“Tapi Yoona-ya..”

“Sekalipun Choi Siwon berpisah dengan gadis lugu itu, dia pasti akan mencari gadis-gadis bodoh yang lain, yang bisa dia kelabuhi..”

“Kalau begitu kita tak hanya akan membuat mereka putus, tapi sekaligus juga membuatnya tidak bisa mengelak dari menikahimu..”

“Aku tidak mengerti.. Apa yang kau pikirkan Sica-ah?”

Jessica justru lebih dulu memperlihatkan seringai diwajahnya..

“Aku tidak hanya sedang memikirkan, Yoona-ya.. Tapi aku sedang merencanakan..”

*****

“Menurut sekertaris Kim, malam ini Choi Siwon akan hadir dalam acara pembukaan salah satu hotel berbintang, dimana perusahaannya-lah yang menjadi pihak pembangunnya.. Dan kau pun akan berada disana untuk mewakili ayahmu sebagai salah satu tamu yang juga menerima undangan dari mereka. Jadi, disanalah sepertinya tempat yang tepat untuk menjalankan rencananya..”

Jika tidak sedang dalam situasi teramat sulit seperti yang ia rasakan dengan kondisi sang ayah yang masih tidak memperlihatkan perkembangan berarti, Yoona akan menyebut apa yang Sica rencanakan sebagai hal paling gila yang pernah ia dengar. Dan mustahil ia akan mau untuk mengikuti apa yang direncanakannya.

Bayangkan, Jessica mengatakan padanya untuk membuat gadis bernama Seohyun itu memutuskan hubungannya dengan Siwon, maka ia harus membuat semacam skenario dimana Seohyun akan memergokinya sedang bersama dengan pria itu dalam satu kamar..

“Jangan gila Jessica..!”

“kita memang harus melakukan hal yang gila, Yoona-ya..!”

“Tapi aku tidak bisa melakukannya..”

“Kau bisa, kau pasti bisa..”

“Ya Tuhan.. Aku tak percaya kau merencanakan hal seperti itu..”

“Mau bagaimana lagi Yoona-ya.. Tidak ada cara lain, satu-satunya cara untuk membuat gadis itu memutuskan hubungannya dengan Siwon adalah membuatnya melihat sepak terjang pria itu terhadap wanita lain..”

“Tapi aku sudah pernah melakukannya.. Ingat apa yang sudah kulakukan saat tempo hari kita melihat mereka bersama? Tapi, gadis itu sepertinya tak terpengaruh dan masih saja bersama dengan Choi Siwon..”

“Karna itu.. Kita perlu menunjukkan padanya sesuatu yang lebih intim yang terjadi antara kau dan Choi Siwon”

“Tidak.. Tidak.. Aku tidak bisa..”

“Ayolah Yoona-ya.. Nanti aku juga akan meminta bantuan sekertaris Kim, dia mungkin bisa mengambil beberapa gambar sebagai bukti. Maka dengan itu pria itu tidak akan bisa mengelak darimu. Siwon pasti akan langsung menikahimu karna dia tidak akan mau skandalnya tersebar..”

“Oh Tuhan, kau sungguh merencanakan hal yang memalukan Sica-ah..!”

“Aku hanya berpikir ini satu-satunya cara untuk membantumu, Yoona-ya..

“Bagaimana jika dia benar-benar berbuat mesum padaku?! Apa kau tidak memikirkannya..?!”

“Tenang saja, aku akan terus bersama denganmu. Kita akan membuat Siwon tidak sadar dan kau hanya akan berpura-pura.. Ingatlah, ini semua demi ayahmu..”

“Ya Tuhan.. Appa benar-benar menginginkanku masuk ke dalam neraka. Apa jadinya bila aku benar-benar menikah dengan pria seperti itu?”

“Kau akan membuat ayahmu merasa senang, karna menuruti keinginannya. Bukan hanya itu saja tapi kau akan bisa menyelamatkan perusahaannya. Itulah yang akan terjadi, Yoona-ya..”

Dan sayangnya, keadaan memang tak membiarkannya untuk menolak apa yang telah Jessica rencanakan. Faktanya, ia memang menginginkan pria itu agar menyetujui perjodohan dengannya. Meski itu bukanlah keinginan dari dalam hatinya, melainkan demi memenuhi permintaan ayahnya yang mungkin sedang berjuang dibatas akhir umurnya..

Maka, seperti yang telah direncanakan, bersama dengan Jessica dan juga sekertaris sang ayah, malam ini Yoona menghadiri acara itu sebagai wakil dari ayahnya..

Didalam ballroom hotel yang menjadi tempat berlangsungnya acara, Yoona terus merasakan tangannya berkeringat. Padahal ia belum melihat kehadiran Siwon disana, namun memikirkan apa yang telah direncanakan oleh Jessica, membuat Yoona terus merasakan kegugupan yang melingkupinya..

“Itu dia, Siwon dan gadis itu..”

Mendengar apa yang Jessica katakan, Yoona lantas mengarahkan kedua matanya pada sepasang tamu yang baru saja masuk dan langsung mendapatkan sambutan hangat dari sang penyelenggara acara maupun tamu-tamu lainnya yang turut berjabat tangan dengan mereka, terutama Choi Siwon..

“Sebentar lagi kita akan memulainya..”

Jessica lantas meraih tangan Yoona, menariknya sedikit menjauh dari kumpulan para tamu..

“Astaga, tanganmu berkeringat.. Apa kau merasa gugup?”

“tidak perlu bertanya, tentu saja aku sangat gugup.. Aku akan melakukan hal gila, dan itu adalah idemu”

Jessica menggigit bibirnya, sengaja ia tidak menanggapi ucapan Yoona, atau yang terjadi nanti sang sepupu justru akan mengatakan mundur dari apa yang sudah direncanakannya.

Masih sambil menarik tangannya, Sica lantas membawa Yoona mendekat ke salah satu meja dimana diatasnya terdapat gelas-gelas bening berisi bermacam-macam jenis minuman. Sica mengambil dua gelas Sampanye kemudian mengambil sesuatu dari dalam tas tangannya. Sebuah botol kecil berisi semacam serbuk, yang kemudian ia tuangkan sedikit isinya kedalam salah satu gelas Sampanye, sebelum kemudian menyerahkannya pada Yoona..

“Sementara aku yang akan membuat gadis itu menyingkir dari sisi Siwon, kau harus memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekatinya dan mengajaknya minum. Pastikan Siwon meminumnya, Yoona-ya. Ini yang akan membuatnya tidak sadar nanti..”

“Apa yang kau masukkan kedalamnya tadi?”

“hanya obat tidur..”

“Tapi Sica-ah.. Tapi bagaimana aku..”

“Tenang saja, aku mengawasimu.. Aku juga akan memberi kode pada sekertaris Kim..”

Oh, ia tidak akan bisa mundur..

Yoona lantas membiarkan Jessica beranjak darinya dengan membawa segelas anggur berwarna merah, kemudian mendekat kearah dimana Siwon dan Seohyun berdiri. Lalu seperti tengah menyapa seseorang yang berada jauh darinya, Sica melangkah tergesa hingga menumpahkan minumannya dan mengenai gaun yang dikenakan Seohyun saat itu.

Entah apa yang kemudian Jessica katakan selain berpura-pura meminta maaf, Yang jelas Yoona lihat, keduanya lantas berjalan beriringan. Mungkin untuk berada dikamar mandi dan membantu Seohyun merapikan lagi gaunnya yang terkena tumpahan dari minuman yang dibawanya.

Setelahnya, akan menjadi giliran Yoona untuk mendekati Siwon..

Maka setelah dalam-dalam menekan kegugupannya, Yoona mulai melangkah dan hanya mengarahkan tatapannya pada pria itu, Choi Siwon yang kini hanya berjarak beberapa meter darinya..

“Siwon-ssi..”

Pria itu menoleh, dan menatap kearahnya..

image

Sekilas, Yoona merasa menemukan tatapan terpesona yang tersorot dari kedua mata pria itu ketika melihatnya. Meneliti tampilannya dengan gaun malam yang saat itu dikenakannya..
image

“Kau sendirian?”

Tanyanya berbasa-basi sambil menyerahkan segelas Sampanye ditangannya..

“Apa sekarang adalah waktu yang tepat untuk meminum Sampanye?”

Siwon lebih dulu bertanya sebelum menerima gelas yang disodorkan Yoona untuknya..

“Ya, kurasa begitu.. Hampir semua tamu disini memegang gelas minuman mereka. Dan kuperhatikan kau masih belum mengambil minuman-mu”

“Jadi apa kau memperhatikanku sejak tadi?”

Seringaian diwajah pria itu saat kemudian menerima gelas Sampanye pemberiannya, membuat ke-gugupan yang Yoona kira telah dalam ia tekan kedasar hatinya, justru kembali muncul kepermukaan dan dirasakannya menjadi kian bertambah sekarang..

“A-anggap saja seperti itu..”

Dan untuk mengatasi kegugupannya, Yoona justru yang lebih dulu meminum Sampanye digelasnya. Menjadikan Siwon kemudian tersenyum simpul melihatnya..

“Kita seharusnya lebih dulu bersulang, sayang..”

Siwon mengedikkan mata saat mendentingkan gelasnya pada gelas ditangan Yoona, lantas menenggak Sampanye-nya. Membuat Yoona yang semestinya tersenyum melihat pria itu menandaskan isi gelasnya, justru mendengus menahan kekesalannya..

Lihat, ia bilang tidak tertarik dengannya?
Tapi masih saja bermain mata dan memanggilnya dengan sebutan sayang..
Pria macam apa seperti itu?
Apakah ia juga lupa, bahkan tadi ia datang dengan menggandeng tangan seorang wanita dilengannya..

“Jadi, kau mewakili undangan atas nama ayahmu?”

Yoona hanya mengangguk..
Ia lebih menunggu bagaimana efek dari obat tidur yang dituangkan Jessica kedalam minumannya setelah pria itu menghabiskan Sampanye pemberiannya..

“Bagaimana keadaannya? Maaf, tapi aku belum sempat menjenguknya. Akhir-akhir ini aku sangat sibuk..”

“Aku yakin juga begitu.. Kau pasti tidak memiliki waktu”

Yang kemudian Yoona lihat, Siwon sepertinya mulai memegangi kepalanya..

“gwechana Siwon-ssi?”

“Ya, aku baik-baik saja.. Tapi..”

Yoona meraih gelas Sampanye dari tangannya, kemudian meletakkannya keatas meja..

Melihat pria itu yang sedikit mulai terlihat sempoyongan, kemudian membuatnya berusaha untuk memapahnya..

“sepertinya kau terlihat tidak baik-baik saja Siwon-ssi..”

“Ya, kurasa aku menjadi sedikit pusing.. Apa Sampanye yang kau berikan tadi me…”

“Ah, kalau begitu lebih baik kita mencari tempat untukmu beristirahat sebentar..”

Yoona menoleh kesekelilingnya, berharap ia akan melihat Jessica ataupun sekertaris sang ayah. Namun tak satupun dari keduanya yang tertangkap oleh pandangan matanya. Hingga terpaksa ia sendirian yang kemudian tertatih memapah tubuh Siwon untuk kemudian membawanya masuk ke sebuah kamar dihotel baru itu yang entah bagaimana caranya, Jessica telah menyiapkannya..

Untunglah, setelah akhirnya berhasil membawa keluar Siwon dari dalam Ballroom, Yoona berpapasan dengan Jessica yang kemudian membantunya memapah pria itu..

“Kau berhasil melakukannya?”

“hm..”

“kalau begitu, ayo cepat kita bawa dia ke kamar..”

Sampai didalam kamar, keduanya langsung menjatuhkan tubuh Siwon keatas tempat tidur dan sesaat memperbaiki pernapasannya yang agak tersengal..

“Ternyata dia berat juga..”

“hm..”

Yoona mengangguk menyetujui..

“dimana sekertaris Kim?”

“entahlah, aku tidak melihatnya tadi..”

“Kalau begitu aku akan mencarinya.. Kau, mulailah melepaskan pakaiannya Yoona-ya..”

“Apa?”

“Lepaskan pakaiannya, kita tidak memiliki banyak waktu.. Sebelum Siwon sadar, kita harus sudah menyelesaikannya..”

“Tapi Sica-ah..”

“Cepatlah, lakukan saja sesuai dengan yang kita rencanakan..”

Yoona tak berhasil menahan Jessica, dan keberadaannya didalam kamar itu yang hanya bersama dengan Siwon -meski pria itu tidaklah sadarkan diri- tetaplah masih membuatnya merasakan was-was..

Setelah beberapa saat hanya mondar-mandir sambil menggigiti bibir bawahnya, Yoona akhirnya mengumpulkan keberaniannya untuk mendekat pada tempat tidur dimana tubuh Siwon terbaring diatasnya..

“Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang..?”

gumamnya ragu-ragu ketika akan mulai menyentuh tubuh pria itu..

Namun kemudian, Yoona memberanikan dirinya dengan mulai melepaskan kedua sepatu Siwon..

Dan setelah kedua sepatunya terlepas, ia perlahan mencoba melepaskan kancing pada jas-nya, juga pada kemeja yang saat itu dikenakannya..

Yoona seakan menahan napas ketika melakukannya?
Apalagi setelah mendapati liat tubuh pria itu dibalik kemeja yang selama ini menutupinya..

Oh, mengapa Jessica tidak segera datang..
Bagaimana jika pria itu terbangun sekarang?

Pemikiran itu makin membuatnya merasa berkeringat dingin, dan keinginannya untuk menarik tangannya justru menjadikannya terkesiap saat tiba-tiba saja pria itu mengejutkannya dengan meraih pergelangan tangannya..

Jadi dia tidak benar-benar tertidur?
Dan Sampanye yang diminumnya tadi..

Oh Tuhan..
Yoona merasakan darah berhenti mengalir dibawah permukaan kulit wajahnya. Pastinya ia terlihat se-pucat mayat sekarang..

“Jangan memaksa dirimu untuk melakukannya.. Kau gemetar, sayang..”

Siwon lantas menariknya, tidak terlalu kuat sebenarnya, namun cukup untuk menjatuhkan tubuh Yoona keatas tubuhnya, dan kemudian sebelah tangannya yang lain memeluknya..

“Itu tandanya, kau masih tidak berpengalaman..”

Degup jantungnya serasa mengencang..
Bahkan debarannya sepertinya menjadi tidak karuan..

Oh, mati sajalah ia sekarang..
Daripada harus berhadapan dengan pria itu..

“A-apa yang kau lakukan?!”

Yoona mencoba melindungi dirinya dengan berusaha melepaskan diri dari Siwon, namun sepertinya sia-sia saja, pria itu justru memutar-membalik tubuhnya- entahlah bagaimana cara ia menyebutnya, yang jelas sekarang tubuhnya sudah berpindah posisi menjadi berada dibawah tubuh pria itu..

“Bukankah seharusnya aku yang bertanya padamu? Apa yang kau lakukan? Kau ingin menelanjangiku..?”

Sialan..

Seringaian yang diperlihatkan oleh pria itu, telah membuat Yoona mengumpat didalam hati..

Oh, Jessica..
Dimana sepupu bodoh-nya itu berada sekarang?
Tak taukah apa yang sedang dihadapinya sekarang akibat dari mengikuti rencana gila-nya..

“Kau hanya perlu meminta padaku untuk melakukannya, tidak perlu kau yang melakukannya sendiri.. Dengan senang hati aku pasti akan menuruti keinginanmu..”

“Apa yang kau lakukan, Siwon-ssi?! Lepaskan aku..”

Yoona merasakan panik ketika pria itu kemudian dengan sekali sentakan, melepaskan jas beserta kemeja dari tubuhnya, lalu melemparnya asal..

“Bukankah seperti ini yang kau inginkan tadi..?”

“Siwon-ssi, apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku..”

“Apa yang biasa pria dan wanita dewasa lakukan, sayang.. Apa kau benar-benar tidak mengetahuinya?”

“Lepaskan aku Siwon-ssi..”

“Dari cara bicaramu, sikapmu.. Aku mengira kau sudah memiliki banyak pengalaman dengan beberapa pria. Karna itu kau menurut saja pada rencana sepupumu. Tapi sepertinya, aku salah .. Belum pernah ada yang berani menyentuhmu.. Bukankah begitu?”

“Lepaskan aku Siwon-ssi, atau aku akan berteriak..!!”

Siwon sepertinya tidak mendengarkannya..
Ia hanya terus menatap, mengamatinya..

Wajah Yoona yang sebelumnya pucat, kini memerah menandakan ia yang tengah menahan amarah..

Tapi justru, gerakan naik turun dari dadanya, dan gaun yang saat itu dikenakannya, yang dengan jelas memperlihatkan belahan dadanya yang menonjol, menjadikan Siwon kemudian mengerang..

Bagaimanapun ia masihlah seorang pria normal..
Dan pria normal mana yang akan menolak bila disuguhi pemandangan yang terlepas hal itu kesengajaan ataupun tidak, namun itu begitu indah dan terlihat liar dihadapannya..

“Maaf, tapi sepertinya kau akan membuatku melanggar kesepakatan, Yoona-ya..”

Entah apa yang menjadi maksud ucapannya, Yoona tak berkesempatan untuk memikirkannya saat Siwon dengan cepat telah melumat bibirnya, serta dirasakan pula olehnya saat tangan pria itu bergerak meraba keatas dadanya. Awalnya hanyalah usapan lembut yang Yoona rasakan, namun perlahan intensitasnya semakin kuat, sentuhan yang mulanya lembut itu berubah menjadi remasan..

Tak cukup dengan itu, ia pun kemudian merobek selapis kain yang menjadi penghalangnya..

“Oppa.. Siwon-Oppa..! Apa kau didalam?!”

“Sial..”

Dengan suara sedikit mengumpat, Siwon kemudian bergerak cepat turun dari atas tempat tidur, mengambil jas nya yang sebelumnya telah ia lempar secara asal, dan selanjutnya ia gunakan untuk menutupi gaun Yoona yang terlanjur ia koyak dan menyebabkan tubuh bagian atasnya terbuka..

“Oppa.. Apa yang sedang kau lakukan?!”

Siwon tak memiliki kesempatan untuk membantu Yoona memperbaiki tampilannya, ketika Seohyun membuka pintu, menerobos masuk dan otomatis melebarkan mata melihat dirinya yang justru bertelanjang dada..

“Oh, Seohyun-ah.. Aku..”

Menyusul dibelakang Seohyun, Jessica yang juga tak kalah lebar memperlihatkan bola matanya, membuat semacam kontak mata denga pria itu sebagai tanya atas kejadian diluar rencana yang saat itu telah terjadi, namun Siwon hanya menanggapinya dengan isarat ‘kau bisa melihatnya sendiri’ dan menjadikan Jessica lantas mendengus kesal..

“Siwon-ssi.. Kau…”

Yang kemudian juga Sica khawatirkan adalah keadaan Yoona saat itu, sebab dari yang ia lihat, kejadiannya melenceng dari apa yang tadinya telah ia rencanakan. Juga pria itu rencanakan..

“Memalukan.. Siapa wanita itu Oppa? Apa kalian mencoba tidur bersama ditengah-tengah berlangsungnya acara?”

“Yoona-ya.. Gwecahana..?”

Jika Seohyun yang tidak mengetahui apa-apa mencoba mendapatkan penjelasan dari Siwon, lain halnya dengan Jessica yang lebih khawatir saat memperhatikan Yoona yang memegang erat jas yang menutupi bagian depan tubuhnya, sepertinya menjadi linglung setelah kejadian yang dirasakan olehnya..

“Yoona-ya..?”

“Aku harus pergi.. Kita harus pergi, Sica..”

Yoona menggumam hendak melewati tubuh Siwon, namun pria itu kemudian justru menahan pergelangan tangannya..

“Oppa.. Sebenarnya apa hubungan kalian?”

“Kami akan menikah, Seohyun-ah.. Jadi perkenalkanlah, dia calon istriku..”

“APA?”

ketika Seohyun kembali melebarkan kedua matanya setelah mendengar apa yang Siwon katakan, Yoona justru terbengong dan Jessica lah yang sekilas kemudian memperlihatkan senyum diwajahnya..

“Ya, aku dan Yoona.. Kami akan segera menikah..”

“Keterlaluan.. Mengapa tidak mengatakannya padaku? Jika aku tidak memergoki kalian dalam keadaan setengah telanjang seperti ini.. Oppa pasti masih belum mengatakannya padaku”

Seohyun dengan mimik kesal diwajahnya, kemudian melempar tas tangannya mengenai tubuh Siwon, dan mulai beranjak dengan melangkah keluar meninggalkannya..

“Yak, Seohyun-ah.. Ini tas mahal yang kubelikan untukmu. Mengapa kau justru melemparnya?”

“Aku tidak peduli.. Aku membencimu Oppa..!”

Setelah melihat Seohyun yang benar-benar pergi, Siwon beralih pada Yoona dan Jessica..

“Maaf.. Terkadang Seohyun memang bersikap menyebalkan seperti itu. Tapi sebenarnya, dia adik-ku yang baik..”

“Adik?”

Disaat Yoona seakan tak percaya dengan apa yang baru didengarnya, Jessica justru mengigit bibir bawahnya sebagai reaksi saat kemudian Yoona menatap kearahnya..

“Kau.. Kau yang bilang kalau gadis itu teman kencan nya kan? Jadi aku juga baru mengetahuinya, dan sama terkejutnya sepertimu..”

Jessica berdalih..
Meski yang sebenarnya, sebelumnya ia telah mendengar informasi itu dari Siwon. Dan apa yang menjadi rencananya, juga adalah bagian dari persetujuan pria itu..

Hanya saja, Jessica sepertinya harus menanyakan apa yang terjadi yang sepertinya telah melenceng dari kesepakatan awal antara dirinya dan Siwon, yang rencananya hanya akan memberikan semacam shock terapi guna meluruhkan kekerasan hati dan keangkuhan yang sekian tahun bercokol dalam diri Yoona, yang digunakannya sebagai tameng untuk menutupi hatinya yang terlanjur menyimpan kekecewaan..

“Kita pulang sekarang..”

Tanpa mempedulikan Siwon yang sepertinya juga tak berniat menahan langkahnya, Yoona dengan cepat melangkah keluar dari dalam kamar hotel itu, disusul kemudian oleh Jessica yang berjalan terburu untuk menyamai langkahnya..

Dalam perjalanan pulang, Yoona hanya terdiam sambil terus mendekap tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya yang ia silangkan didepan dada, memastikan jas milik pria itu tidak terjatuh dari pundaknya dan tetap menutupi bagian dadanya..

Sesekali, Yoona juga menggeleng-gelengkan kepalanya. Seakan tak percaya pada apa yang telah dialaminya..

Oh sungguh..
Sejak tadi ia terus merutuk pada dirinya sendiri..

“Yoona-ya, ada apa sebenarnya.. Apa yang dilakukan Siwon tadi?”

Jessica yang ketika itu berada dibalik kemudi mobil, memberanikan diri untuk bertanya setelah beberapa waktu hanya terdiam dan berfokus pada jalanan yang dilaluinya. Dan akhirnya pun Yoona ikut membuka suaranya..

“Tidakkah seharusnya aku yang bertanya.. Apa yang kau tuangkan dalam Sampanye yang kuberikan pada Choi Siwon? Itu bukan semacam obat tidur kan?! Demi Tuhan.. Dia berpura-pura Sica-ah..! Dia tidak tertidur..”

Sica sesaat menggigit bibir bawahnya, sebelum menanggapi apa yang dituduhkan Yoona kepadanya. Tuduhan yang sepertinya mengarah pada kebenaran..

“Mungkin.. Mungkin kau yang salah memberikan Sampanye-nya..?”

Yoona mengerutkan dahinya..
Benarkah?
Benarkah ia yang salah memberikan gelas Sampanye itu pada Siwon..

Ouchh..
Bodoh..
Ingatkan dirinya untuk tidak lagi meminum yang namanya Sampanye..

Yoona memukul sendiri kepalanya setelah teringat pada satu lagi kebodohannya..

“Dan gadis itu adalah adiknya, Sica-ah..! Ya Tuhan.. Aku tidak percaya.. Sia-sia saja kita membuat rencana gila itu.. Tapi bukankah gadis itu, dia tidak terlihat seperti adiknya? Ataukah Siwon mengatakan kebohongan tadi? Ya Tuhan.. Sepertinya kepalaku akan segera pecah..”

“Tenanglah saja Yoona-ya.. Tidak ada yang sia-sia dari apa yang telah kita rencanakan. Bukankah kau mendengarnya tadi, Siwon mengatakan dia akan menikah denganmu. Itu berarti, kita berhasil kan..”

Jessica terkekeh senang..

“Entahlah, apakah aku bisa senang saat tahu neraka sedang menantiku..”

“Hei, jangan mengatakan hal seperti itu.. Pernikahan adalah apa yang diinginkan ayahmu..”

“dan aku masih tidak mengerti, mengapa Appa mengingikanku untuk menikah dengan pria seperti itu..”

yang kemudian kembali Yoona ingat adalah apa yang tadi telah Siwon lakukan padanya..

Ouhh..
Bagaimana caranya agar ia dapat menghapus ingatan itu..?
Dan sekaligus kembali menormalkan detak jantungnya yang mengencang tiap kali mengingat kejadian tidak mengenakkan itu..

*****

Setelah tadi ia melarang Jessica yang ingin menemaninya, dan justru memintanya untuk langsung pulang, Yoona sendirian saat perlahan ia membawa kedua kakinya untuk melangkah masuk kedalam rumahnya.

Ia sudah berniat untuk masuk kedalam kamarnya, namun dilihatnya pintu kamar ayahnya yang terbuka. Perlahan Yoona melangkah mendekat saat ia juga mendengar suara-suara yang berasal dari dalamnya.

Sejurus yang dipikirannya adalah keadaan sang ayah, namun apa yang ditakutkannya tidaklah terjadi, dan sebaliknya, kejutanlah yang didapatkannya saat ia melihat ayahnya yang berada diatas tempat tidur sedang berbincang dengan sekertaris Kim..

“Nona Jessica yang meminta saya pulang, Tuan..”

“Oh, apakah mereka sudah berhasil? Aku tidak sabar menunggu Yoona pulang dan mengatakan padaku dia akan menikah dengan Siwon. Rasanya aku rela terus berpura-pura sakit, jika sikap putriku terus seperti ini padaku. Yoona kembali seperti dulu, dia perhatian dan penuh kasih sayang padaku..”

Mendengarnya..
Yoona merasakan kedua lututnya melemas.
Jadi ayahnya..
Ayahnya tidak benar-benar sakit..
Ayahnya hanya berpura-pura, dan tega membuatnya cemas hingga ketakutan setengah mati..

“Siwon dan keponakanku Jessica, mereka benar-benar membantuku mengembalikan Yoona seperti dulu. Rasanya tidak cukup hanya dengan mengucapkan trimakasih pada mereka..”

Kemarahan Yoona kemudian tersulut mendengar hal itu..
Jadi Jessica, dan juga pria itu..
Mereka bersekongkol..
Mereka mengetahui keadaan sang ayah yang sebenarnya, dan sengaja membohonginya..

“Keterlaluan..!!”

Yoona mendorong dan membuka lebar pintu kamar ayahnya, dan menjadikan sang ayah terkejut melihatnya..

“Yoo-Yoona-ya..”

“Aku mendengarnya Appa.. Aku sudah mendengar semuanya.. Tega sekali Appa.. Tega sekali kau membohongiku..!!”

“Yoona-ya.. Sayang, dengarkan Appa.. Aku hanya…”

“Appa yang dengar..!! aku tidak mau hidup bersama dengan pembohong seperti kalian..!!”

Selain pada sang ayah, kalimat itu juga Yoona tujukan untuk sekertaris ayahnya yang hanya bisa menunduk menerima tatapan tajam darinya..

Ya, tentu saja sekertaris ayahnya juga termasuk dalam lingkaran persekongkolan yang entah sejak kapan telah mereka ciptakan..

“Yoona-ya.. Dengarkan Appa, sayang.. Yoona-ya..!!”

Mengabaikan suara sang ayah yang memanggil-manggil dirinya, Yoona berlari keluar dari dalam kamar ayahnya. Untungnya ia masih mengingat untuk lebih dulu berada dikamarnya dan mengganti gaunnya yang tidak layak.

Ia berteriak sambil melempar jas milik Siwon dari tubuhnya, mencopot gaunnya, lalu mengganti dengan menggunakan pakaiannya yang lain sebelum kemudian keluar dari dalam kamarnya.

Dua orang penjaga rumahnya sempat menahannya, namun dengan kalimat penuh dengan nada ancaman, Yoona membuat mereka menyingkir dari hadapannya dan tidak lagi menghalangi jalannya..

“Yoona-ya.. Tunggu sayang.. Maafkan Appa.. Yoona-ya..!!”

Yoona masih mendengar suara ayahnya namun mengabaikannya, saat kemudian ia melangkah menuju garasi dan mengambil mobilnya yang sudah langsung ia bawa untuk meninggalkan rumahnya..

“Keterlaluan..!!”

Ya, bukankah mereka sudah sangat keterlaluan membohonginya..
Membuatnya cemas dan ketakutan hingga berhari-hari terhadap kondisi ayahnya..

Tapi ternyata?
Ya Tuhan..
Semua hanya rekayasa..

Apa sebenarnya yang menjadi tujuan mereka?
Apa yang mereka inginkan dari membuat kebohongan mengerikan seperti itu?

Oh, Yoona merasa ingin meledak..
ia tak ubahnya seperti seseorang yang dungu, yang begitu mudahnya dipermainkan oleh orang-orang terdekatnya..

Dan terlebih, terhadap apa yang telah ia lakukan demi menuruti omongan Jessica..

“KETERLALUAN..!!”

Yoona kembali berteriak sambil tangannya mencengkram erat pada roda kemudi mobil yang dikendarainya. Kali ini kemarahannya memuncak pada sang sepupu. Dan tempat pertama yang kemudian menjadi tujuannya adalah mendatangi Jessica dan membuat perhitungan dengannya..

Maka setelah beberapa menit memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, Yoona kini berada dihadapan sang sepupu dan tak membuang-buang waktu untuk kemudian melayangkan satu tamparan diwajah Jessica..

“Yoona-ya..”

“Pandai sekali aktingmu.. Kenapa kau tidak menjadi seorang aktris saja? Aku yakin kau akan membawa pulang semua piala penghargaan diajang tahunan untuk kemampuan aktingmu..”

“Yoona-ya.. Aku mengerti kau marah. Aku rela jika kau ingin menamparku ribuan kali sekalipun. Tapi tidak sekarang, bukan saat ini waktunya. Baru saja sekertaris Kim menelponku dan mengatakan ayahmu, paman Albert sedang..”

Bullshit.. Ayahku baik-baik saja dan kalian semua berbohong dengan sangat keterlaluan. Dan terutama kau, Jessica.. Kau bahkan tega membuat rencana yang…”

“Demi Tuhan Yoona-ya.. Dengarkan aku..!”

“Tidak akan pernah.. Terakhir kali aku mendengarmu, kau justru tega membiarkanku dilecehkan..!!”

“Aku tidak mengerti, tapi kau harus menjelaskannya nanti.. Karna sekarang, paman Albert benar-benar..”

“Cukup Jessica.. Aku tidak bisa lagi mendengarmu.. Kau sudah mengecewakanku..”

“Yoona-ya.. Yoona..!!”

*****

Sudah dalam dua hari ini, Yoona hanya berdiam diri dihotel. Ia mematikan ponsel agar tak seorangpun dapat menghubunginya. Dalam hatinya masih bertumpuk perasaan kesal sekaligus marah. Jika sudah seperti itu, sesekali ia akan berteriak kemudian menangis, dan masih terus mempertanyakan mengapa sang ayah tega melakukan kebohongan seperti itu padanya? Mengapa Jessica juga ikut-ikutan membohonginya. Menjadikannya kehilangan kepercayaan terhadap mereka..

Lebih-lebih Siwon..
Jika pria itu turut serta dalam kebohongan sang ayah dan juga Jessica, itu berarti perbuatan mesum yang coba dilakukannya juga telah ia rencanakan sebelumnya..

Oh, mengerikan..
Yoona bergidik memikirkannya..

Pria brengsek seperti itukah yang ingin sang ayah jodohkan dengannya. Menjadi suaminya..?
Yang benar saja..

“Astaga.. Aku benar-benar akan menjadi stres bila terus-terusan memikirkan orang-orang tak berperasaan seperti mereka..”

Menyambar remote televisi yang tergeletak diatas nakas ranjang tidurnya, Ia berniat untuk memutar film dan sesaat mencoba melupakan apa yang pada saat itu memenuhi pikirannya.

Namun belum sempat ia melakukannya, suara dering telpon didalam kamar hotel yang ditempatinya mendahului niatnya..

“Nona Yoona?”

“Ya..”

“seseorang menunggu anda dibawah..”

“Aku tidak memanggil tamu untuk datang. Suruh saja dia pergi..”

“Tapi nona..”

Yoona mendengus kemudian begitu saja menutup telpon. Namun tak berapa lama, benda itu kembali berdering..

“Mohon kerjasamanya nona..”

“Aku sudah katakan tidak mengundang tamu untuk datang.. Apa kau tidak mengerti?!”

“Tapi.. Tapi Tuan ini memaksa, nona..”

“Aku tidak peduli.. Tugas kalian adalah menyediakan kenyamanan untuk para tamu kan? Jadi itu menjadi urusanmu.. Aku tidak ingin diganggu..!!”

“Maaf tapi, jika anda tidak turun.. Kami akan mengeluarkan anda..”

“Apa maksudmu? Jangan macam-macam, kau tidak bisa melakukannya.. Aku sudah membayar secara penuh untuk satu minggu”

“Kami akan mengembalikan uang anda, nona..”

“Kau pikir itu menjadi masalahku..?!”

Yoona meradang..
Jujur saja ia tersinggung mendengarnya.

Apa ia terlihat kekurangan uang?

Oh, menyebalkan..

“Dengar, siapapun orangnya.. Suruh dia pergi sekarang..!”

“Lima menit, aku memberimu waktu lima menit untuk turun.. Jika tidak, kau akan tahu seperti apa..”

Yoona melebarkan mata, menyadari pembicara yang tersambung dalam sambungan telpon dengannya bukanlah petugas hotel yang sebelumnya berbicara dengannya, melainkan orang lain. Pemilik suara berat itu, ia tahu siapa orangnya.

Choi Siwon..
Sejak peristiwa malam itu, Yoona merasa ia takkan mau melihat pria itu lagi. Atau kejadian saat pria itu meremas payudaranya…

Ya ampun..
Mengapa ia masih saja mengingat semua detil kejadian yang mempermalukannya seperti itu.

“Sayang, kau mendengarku? Keluar dan temui aku sekarang..”

Yoona tidak menjawab dan justru begitu saja menutup telponnya..

“dia benar-benar pria sialan menyebalkan.. Apa dia pikir akan bisa memaksaku menuruti apa yang diucapkannya? Aku tidak akan membiarkannya..”

untuk satu menit pertama, Yoona cukup yakin dengan apa yang dilakukannya dengan tetap berada didalam kamar hotelnya..

Siwon tidak akan bisa memaksanya keluar. Apalagi turun untuk kemudian menemuinya..

Namun pada menit kedua, Yoona menjadi gelisah. Bagaimana jika pria itu yang kemudian akan mendatangi kamarnya? Apa yang akan dilakukannya sementara ia hanya seorang diri disana?

Bukankah lebih baik ia keluar dan turun..?
Setidaknya, ada banyak petugas hotel disana, dan juga para pengunjung hotel lain yang mungkin sedang berada dilobi..

Jadi ia tidak sendirian seperti sekarang, dan Siwon tidak akan berbuat macam-macam dihadapan banyak orang.

Jika pun pria itu nekat melakukan hal yang macam-macam, ia bisa berteriak meminta tolong dan orang-orang tidak mungkin tidak mendengar teriakannya dan sudah pasti akan menolongnya..

Dengan pemikiran yang seperti itu, Yoona akhirnya beranjak dan melangkah keluar dari dalam kamar hotel yang ditempatinya, untuk selanjutnya memasuki lift yang kemudian membawanya turun sampai ke lantai bawah lobi hotel itu..

Tidak seperti apa yang diperkirakannya, yang mengira akan melihat wajah menantang yang diperlihatkan Siwon kehadapannya, namun yang dilihatnya justru gurat-gurat seperti kecemasan yang muncul disana..

Oh, benarkah seperti itu?

“Apa yang kau inginkan?!”

Memutuskan untuk mengabaikan apa yang pada saat itu dilihatnya, yang mungkin saja salah karna sebelumnya ia bukanlah seseorang yang pandai dalam memperhatikan raut wajah orang lain, mungkin karna itu ia begitu mudah ditipu, Yoona langsung menanyakan apa maksud pria itu memaksa menemuinya..

“Ayo, ikutlah denganku..”

Siwon mengulurkan tangannya, yang tentu saja tidak disambut baik oleh Yoona dengan balas meraih tangannya..

“Katakan apa yang kau inginkan?”

“Ikutlah denganku.. Kau harus menemui ayahmu..”

Yoona mencibir mendengarnya..

“kau tak berhak mengaturku”

“Aku hanya tak ingin kau menyesal seumur hidupmu.. Ayahmu sakit..”

“berpura-pura sakit.. Itu kebenarannya..”

“Dia hanya ingin mendapatkan sedikit perhatian darimu.. Percayalah, dia benar-benar sakit sekarang..”

“kau sedang bermimpi jika berharap aku mempercayai ucapanmu..”

Yoona merasa jengah mendengarnya, ia berbalik untuk menjauhinya, namun kemudian Siwon menarik pergelangan tangannya..

“Ikut aku secara baik-baik, atau aku yang akan memaksamu..”

“kau tidak akan bisa memaksaku..!”

“kau mau bukti?”

Yoona menatapnya tajam, kemudian mengempaskan tangannya dari cekalan pria itu..

Ia sudah kembali melangkah, tapi kemudian Siwon menghadang didepannya. Dan entah bagaimana cara pria itu melakukannya, Yoona hanya bisa memekik kencang saat merasakan tubuhnya yang kemudian terayun hingga kini berada dipundak pria itu..

Siwon memanggulnya..
Ia memanggulnya seakan tubuhnya adalah sekarung beras..

“Yakk..! Turunkan aku..! Apa yang kau lakukan brengsek..! Turunkan aku..!!”

Yoona berteriak..
Berusaha meronta, dengan kedua tangannya yang mengepal memukul-mukul bagian punggung pria itu yang sedikitpun tak bergeming dengan suara teriakannya dan justru mulai melangkah membawa tubuhnya keluar dari dalam lobi hotel itu..

“Turunkan aku..! Tolong aku..! Pria ini brengsek!! Dia brengsek..! Dia ingin menculikku..!!”

Apa yang Yoona teriakkan kemudian mengundang dua petugas keamanan hotel yang kemudian mendekat..

“Tuan, anda..?”

“Jangan ikut campur.. Dia calon istriku..”

Siwon memperingatkan hingga membuat dua petugas keamanan tadi minggir dari hadapannya dan membiarkannya keluar dan langsung memasukkan Yoona kedalam mobilnya..

“Bajingan..!”

Yoona mengumpat pada Siwon yang telah duduk disampingnya dan sedang memerintahkan sang supir untuk melajukan mobilnya..

“Kau tidak akan menyebutku seperti itu jika kau sudah melihat keadaan ayahmu..”

“Ayahku baik-baik saja..”

“Dia sakit.. Dia benar-benar sakit sekarang..! Apa kau tidak mendengarku..! Kau bahkan bisa kehilangannya sewaktu-waktu.. Jadi jangan buat dirimu menyesal..!!”

Yoona merasa gemetar ketika mendengar dan melihat keseriusan diwajah Siwon terhadap apa yang diucapkannya..

Ketakutan akan kebenaran ucapan Siwon tadi kemudian dengan cepat menyesaki dadanya..

“Tidak.. Tidak mungkin.. Appa baik-baik saja.. Dia baik-baik saja..”

Ketika akhirnya mobil Siwon yang sebelumnya melaju dengan kecepatan lumayan tinggi dan kini berhenti didepan gedung rumah sakit, Yoona sadar apa yang dikatakan Siwon adalah benar.

Ayahnya pasti benar-benar sakit, dan keadaannya mungkin parah. Jika tidak, sang ayah tidak akan mau dibawa kesana. Meski Yoona bersikap acuh terhadap sang ayah, tapi ia tahu bagaimana sang ayah yang selalu menolak mendatangi rumah sakit sejak terakhir ayahnya berada disana dan mendapati ibunya sudah dalam keadaan kaku tak bernyawa. Sejak saat itu, ayahnya seperti memiliki trauma terhadap rumah sakit..

Dan kini, bila ayahnya benar-benar berada didalamnya, itu mungkin karna sang ayah yang sudah tak berdaya untuk melakukan penolakan..

Oh Tuhan..
Jangan ambil ayahnya..

“Appa.. Appa..!!”

Yoona dengan segera keluar dari dalam mobil dan dengan perasaan panik berlari kedalamnya, disusul Siwon dibelakangnya yang kemudian meraih tangannya, menggenggamnya erat saat kemudian pria itu menunjukkannya pada kamar rawat intensiv dimana sang ayah berbaring lemah didalamnya..

“Yoona-ya..”

melihat kedatangannya, Jessica yang sebelumnya berdiri didepan pintu kamar itu, kemudian menghambur memeluk Yoona dan menangis..

“Apa yang terjadi dengan ayahku? Bagaimana keadaannya, Sica-ah..?!”

“Yoona-ya.. Ayahmu.. Paman Albert, dia.. dia..”

Sica sepertinya kesulitan berkata-kata saat airmata begitu deras membasahi wajahnya..

“Kenapa kau tidak menghubungiku..?!”

“Aku sudah mencobanya berkali-kali, Yoona-ya.. Tapi tidak tersambung..”

Yoona merasa limbung, hingga kemudian Siwon menangkap tubuhnya..

“Malam saat kau pergi dari rumah dan mendatangiku, aku baru saja mendapatkan telpon dari sekertaris Kim dan ingin mengatakan padamu bahwa ayahmu sakit. Tapi kau tidak mau mendengarku..”

“Tapi Appa baik-baik saja, Sica-ah.. Appa baik-baik saja saat aku pergi..”

“Dia berusaha mengejarmu, tapi paman Albert terjatuh.. Dan dokter bilang, dia terkena serangan jantung..”

Ini salahnya..
Semua yang terjadi karna kesalahannya..

“Dan apa yang sedang dokter lakukan didalam? Apa yang mereka lakukan?! Aku ingin melihat Appa.. Aku ingin melihat ayahku..!”

“Detak jantungnya melemah tadi, jadi mereka sedang berusaha menanganinya..”

“Ya Tuhan.. Appa mianhe, maafkan aku..”

Beberapa menit berselang, saat kemudian beberapa dokter keluar dengan mengatakan kondisi jantung ayahnya hanya beberapa persen saja yang berfungsi. Dengan kata lain keadaannya memburuk dan harapan yang mereka miliki sangatlah tipis, Yoona tersedu dengan tubuh berlutut disamping tempat tidur ayahnya.

Ia berkali-kali menggumamkan doa agar sang ayah membuka kedua matanya, melihatnya dan mendengar permintaan maafnya..

Dan sepertinya Tuhan masih mendengar doa nya..

Yoona bersyukur dalam linang airmatanya saat melihat sang ayah yang perlahan membuka matanya, namun kesulitan untuk berbicara. Ayahnya hanya meraih kemudian menggenggam tangannya..

“Maafkan aku Appa.. Maaf.. Aku menyayangi Appa, tapi aku tak menunjukkan sikap yang baik sebagai putrimu. Mianhe..”

“sa-ya-ng..”

Yang Yoona lihat, ayahnya meneteskan airmata ketika itu. Membuatnya kemudian menyeka airmata itu dengan jari-jari tangannya, lalu melakukan hal yang telah sangat lama tidak dilakukan olehnya, yaitu mencium pipi ayahnya..

“Appa.. Appa harus sembuh, aku memiliki banyak permintaan yang masih harus Appa penuhi..”

“ma-af kan Ap-pa, Yoo-na-ya..”

“Appa..”

“A-ku.. Aku ingin me-nyu-sul ibu-mu..”

“Tidak Appa.. Appa tidak boleh meninggalkanku sendirian. Dan lagi pula aku belum pernah membuat Appa bahagia..”

“A-ku ba-ha-gia me-mi-li-ki-mu, sa-ya-ng..”

Yoona menggeleng..

“Tidak.. Selama ini aku hanya terus…”

Yoona tak bisa menahan isakannya, ia teringat pada sikapnya selama sepuluh tahun belakangan ini yang lebih sering menjauh bahkan mengabaikan ayahnya..

“Yoo-na-ya.. Jangan me-na-ngis, sa-ya-ng..”

“Appa kumohon.. Bertahanlah.. Bertahanlah Appa.. Beri aku kesempatan untuk melakukan apa yang Appa inginkan. Appa ingin melihatku menikah kan?”

Ayahnya terlihat berusaha keras untuk tersenyum dan mengangguk sebagai respon atas apa yang tadi dikatakannya..

Setelahnya, ia mengarahkan tatapannya kearah Jessica dan Siwon yang dengan raut wajah sendu serta tatapannya yang begitu dalam kearahnya, pria itu menganggukkan kepala seolah mengerti dan dapat membaca apa yang pada saat itu sedang dipikirkannya..

“Appa.. Appa harus melihatku.. Aku akan menikah.. Disini.. Didepan Appa..”

Yoona yakin jika tidak pada saat itu juga, ia takkan memiliki kesempatan lain lagi..

“Ijinkan aku untuk menikahi putrimu, Tuan.. Aku akan menjaganya dan bertanggung jawab atas kebahagiannya dalam seumur hidupku. Aku berjanji padamu..”

Maka setelah ayah Yoona mengangguk atas apa yang dikatakan Siwon, mereka dengan cepat mempersiapkan acara pernikahan yang akan dilakukan didalam kamar itu..

Beberapa suster yang mengetahui rencana mengharukan itu, bahkan kemudian mencarikan bunga-bunga yang sedang mekar ditaman rumah sakit, memetiknya dan menggunakannya untuk membuat buket bunga, dan sebagian lainnya dijadikan mahkota bunga yang kemudian menghias indah dirambut Yoona..

Setelahnya, didepan sang ayah, dengan disaksikan oleh Jessica, seorang sekertaris sang ayah, beberapa suster dan dokter rumah sakit, Yoona sekuat hati menahan airmatanya agar tidak menetes pada saat Siwon menggenggam tangannya, dan bergantian dengannya mengucap janji pernikahan yang begitu menggetarkan hatinya..

Bahkan mungkin hati semua orang yang pada saat itu menjadi saksi yang menyaksikan dan mendengar langsung janji pernikahan keduanya..

Ya, mengingat situasi dan kondisi saat itu, keduanya hanya melakukan janji pernikahan tanpa pemberkatan seorang pendeta..

Namun sayangnya, sesaat setelah Siwon mengecup keningnya usai janji pernikahan keduanya selesai terucap, bunyi alat medis yang terpasang ditubuh ayahnya, memberitahukan bahwa jantung sang ayah telah berhenti berdetak..

Yoona harus menerima kenyataan, sang ayah pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya..

“Kau tidak sendirian.. Aku bersamamu, aku akan selalu bersamamu..”

Yoona kemudian memeluk erat tubuh Siwon dan menumpahkan tangis didadanya, sebelum kemudian mereka mempersiapkan upacara pemakaman ayahnya..

Setelah menerima banyak ucapan bela sungkawa, duka yang Yoona rasakan kian bertambah menyesaki dadanya saat ia terpaksa harus menguburkan jasad ayahnya, dan menerima kenyataan ia takkan bisa lagi melihat wajah sang ayah untuk selama-lamanya.

Yoona menangis dan terus menangis..
Seolah airmata takkan mengering dari kedua matanya..

Tubuhnya lemas tanpa tenaga, untunglah keberadaan Siwon disampingnya dan menopangnya, mampu untuk menguatkan dan menyadarkannya pada kecintaan sang ayah padanya..

Ya..
Ayahnya pergi meninggalkannya, setelah lebih dulu menghadirkan sosok lain kedalam hidupnya yang baru Yoona sadari, dengan memeluknya ia merasakan kenyamanan dan perasaan yang begitu tenang dihatinya..

Maka ketika keesokan harinya ia terbangun dari tidurnya dan berada dalam pelukan pria itu, suaminya, Yoona mengetahui hidupnya telah berubah..

Ia bukan lagi seorang putri keras kepala bagi ayahnya, melainkan seorang istri..
Istri dari seorang pria bernama Choi Siwon..^^

*

*

*

*

*

To Be Continued~

Okey..
Critanya udah termasuk Mature kan yaa?? Wkwkwkkk~

Iseng” sih di Teaser kemarin bikin jebakan betmen biar yg biasanya ngumpet mau nongol dgn dikasih umpan pake iming-iming crita ‘dewasa’h -_-
*Piss yaaa..😀 yg dewasa”nya dsimpen dulu aja^^

Sudah cukup panjang kan ya kisahnya, kalau gitu gak perlu ditambahin banyak cuap-cuap lagi, sampai ketemu aja di chapter kedua yang akan mengisahkan kehidupan pasangan pengantin baru itu😉

Tks~
@joongly

513 thoughts on “2S | Champagne | 1 [YoonWon vers]

  1. ff-nya seru abissss…….
    thor…. jinja aq ska banget yoonwon.
    cerita mereka di ff ini seru lucu tegang degdegan semuanya deh…
    campur aduk ppkny… dan gak bsa bayangin gimana kehidupan mereka selanjutny pas jadi suami istri…. hihihi… pasti lucu.
    tapi sedih jgak sih soalny ayahnya yoona di sinikan baru meninggal ya….

  2. . Cerita seru n fress, walaupun awal y d awali dgn pksaan dn sebuah k bohongan tp pda akhirnya yoona mau nikah ma siwon oppa walaupun appa y mninggal stlah yoonwon nikah… 😭

  3. Kakak…ff yoonwonnya keren abis…
    Bkin deg”an cmpur aduk keren bgt,tdi udah nbak” mngkin sica ma siwon ntar skongkol bwat ngrjain yoona trus cwek itu adeknya siwon eh pas kbawah” jd rada gk yakin ma tbakanya…
    Tpi kren bget bner” keren selalu suka cerita tntang yoonwon
    Semangat kak buat nulis lanjutannya….

  4. wow baru ceritanya complicated baru juga part 1,july emng daebak klo buat cerita…liat karakter yoona dari yg biasanya berasa beda nya bikin kesel,gemas,dan kasian juga,hiks hiks yang terakhir bikin mewek T.T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s