Fanfiction / Pictures

3S | No Other | 2

image

Story | Im Yoona | Choi Siwon | Jo Hwi Joon (Choi Sihoo) | Lee Haru (Choi Soohee) | Lee Donghae | Hwang Tiffany | Sulli | Etc

Cover by: Renovatio @IndoFanfictionsArts

Yuhuu..
Chap 2 nya hadir nih, ga lama kan yaa.. ‪#‎ngumpet‬😀
Thanks buat beragam komentar di Chapter pertama ‪#‎Tingkatkan‬
hihihiii..

Enjoy Reading~

*

*

*

*

*

Tiada yang lain.. 
Tak ada tempat yang lain.. Disinilah.. 
Hanya akulah tempat-mu kembali.. 
Tiada yang lain..

                          *****

Sedikitnya sudah dua botol minuman beralkohol yang ia tandaskan isinya. Namun begitu, ia masih saja berteriak keras pada seorang bartender untuk mengisi lagi gelasnya yang telah kosong.

Walau sebenarnya pandangan matanya pun sudah mulai mengabur, menandakan kesadarannya yang perlahan-lahan akan menghilang dan membuatnya hanya bisa meracau-racau tidak karuan..

Bukan tanpa sebab ia seperti ini..
Hatinya yang baru saja seperti dicubit, luar biasa terasa sakit hingga membuatnya memerlukan tempat untuk melupakan atau lebih tepatnya melarikan dirinya dari rasa sakit yang tengah ia rasakan.

Dan bising suara didalam club malam itu, seolah menjadi obat bagi hatinya yang merana. Serta minuman beralkohol-lah yang kemudian menjadi pelariannya..

Mengapa ia harus melarikan diri?
Mengapa ia sampai merasakan perasaan sakit dihatinya?
Sewajarnya ia tak merasakan hal sedemikian itu..

Namun anehnya, sakit didalam hatinya itulah yang memang tengah dirasakan olehnya sebab karna dihadapannya tadi ia melihat Yoona, sang mantan istri yang justru berbahagia menerima lamaran pria lain..

“Siwon-ssi..?”

Setengah sadar, Siwon merasakan seseorang mengguncangkan bahunya yang telah tergeletak lunglai diatas meja..

“Siwon-ssi.. Ada apa denganmu? Apa kau sendirian? Siwon-ssi..?!”

Tidak lantas menjawab..
Siwon kemudian justru tersenyum aneh, sambil mengangkat-angkat gelasnya, menawarkannya pada seorang wanita yang baru saja mengajaknya bicara..

“Siwon-ssi.. Apa kau sendirian?”

Ulang sang wanita sambil menoleh kesekelilingnya, berharap menemukan seseorang yang mungkin datang bersama dengan Siwon ketika itu..

“Dia datang sendirian nona, jika kau mengenalnya.. Sebaiknya bawa dia pulang. Dia sudah mabuk..”

sang bartender yang menginformasikan hal itu kemudian membuat wanita tadi sekali lagi mengguncangkan bahu Siwon yang kembali telah menempel diatas meja..

“Siwon-ssi..”

untuk beberapa saat Siwon memandangnya dengan mata menyipit, serta dahi berkerut, sebelum kemudian memperlihatkan lagi senyuman aneh dibibirnya, setelah menyadari keberadaan sang wanita disampingnya..

“Oh, Tif-fa-ny ssi.. Tiffany..”

“Ya.. Kau sepertinya mabuk Siwon-ssi..”

“Tidak.. Aku tidak mabuk Fany-ssi. Aku tidak mabuk”

Siwon mencoba mengangkat kepalanya, namun kembali ambruk keatas meja..

“Ya Tuhan.. kau benar-benar mabuk. Ikutlah denganku, aku akan mengantarmu pulang..”

Siwon malah tergelak meresponnya..

“Tidak.. Kau disini saja menemaniku. Ayo minum bersamaku, Fany-ssi.. Minum.. Minum..”

“Bisakah kau membantuku membawanya sampai ke mobil?”

Setelah kesulitan meminta Siwon agar sukarela ikut dengannya, Tiffany akhirnya meminta bantuan seorang bartender yang kemudian memintakan bantuan lagi pada petugas keamanan club, untuk selanjutnya membawa Siwon hingga masuk kedalam mobil miliknya.

Rencanaya, Tiffany hanya akan menghadiri undangan salah satu rekan yang sengaja mengadakan pesta ulang tahunnya di club malam itu, namun nampaknya, ia mengubah rencananya sekarang, setelah melihat Siwon dan mendapati pria itu dalam keadaan mabuk. Ia akan lebih dulu mengantarkan pria itu pulang..

“Yoo-na.. Yoo-na..”

Disepanjang perjalanan, Fany hanya terus mendengar Siwon meracau menyebut nama itu, bahkan sesekali juga tertawa. Entah apa yang ditertawakannya, namun Fany merasa itu bukanlah suatu tawa kebahagiaan. Melainkan tawa yang terdengar putus asa. Mungkin efek mabuk dan pengaruh alkohol yang lebih menguasai kesadaran Siwon saat itu..

“Yoo-na..”

Sekali lagi Fany mendengar racauannya, dan dengan iseng (masih sambil mengemudikan mobilnya) ia mencoba menanyakan pada Siwon perihal nama yang terus ia sebut dalam racauan kalimat yang sesekali menyertainya..

“Siapakah Yoona, Siwon-ssi?”

“Yoo-na? Oh, Yoona.. Dia istriku.. Istriku..”

“istrimu? Apakah wanita yang malam itu kutemui?”

Fany menggumam sendiri, dan kemudian justru muncul rasa penasaran dalam hatinya..

“Bukankah kalian sudah bercerai?”

“Ah, yaa.. Sudah bercerai.. Kami sudah bercerai.. Tapi Yoona.. Dia.. Dia tetap ibu anak-anak ku..”

“Jadi, kau mabuk karna mantan istrimu? Apa yang dia lakukan padamu?”

“dia menyakitiku.. Yoona menyakitiku..”

Itu menjadi kalimat terakhir dari racauan Siwon sebelum akhirnya ia tertidur dan kembali terbangun ketika Fany mengguncang-guncang tubuhnya, memintanya keluar dari dalam mobil setelah Tiffany memberhentikan laju mobilnya didepan gedung apartemen yang ditinggali oleh Siwon.

Awalnya, Fany ingin menitipkan saja Siwon pada petugas keamanan gedung itu, namun melihat Siwon yang bahkan berjalan sempoyongan, ia memutuskan untuk merangkul lengannya, memapahnya dan membantunya sampai menaiki lift menuju lantai apartemennya..

Fany sudah menekan angka delapan pada tombol lift, yang diketahuinya sebagai letak kamar apartemen Siwon, namun Siwon justru menekan angka tujuh dan keluar dilantai tujuh itu saat tak lama pintu lift yang ditumpanginya terbuka..

“Siwon-ssi, bukankah kamarmu ada dilantai delapan?”

Tanya Fany masih sambil memegangi lengannya, namun Siwon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan malah memperlihatkan seringai diwajahnya..

Seringai seorang pria mabuk yang membuat Fany tak bisa melakukan apa-apa selain mengikuti Siwon, demi menjaga agar pria yang berjalan sempoyongan itu tidak bernasib naas dengan terjatuh dan mencium kerasnya lantai dibawahnya..

“Aku.. Aku akan menyapa mantan istriku terlebih dulu..”

Siwon lantas menggedor pintu dihadapannya dan memanggil-manggil nama Yoona..

“Yoo-na.. Im-Yoo-na.. Istriku..! Oh, aku lupa.. Mantan istriku.. Yoona..!!”

“Siwon-ssi.. Apa yang kau lakukan? Aku yakin mantan istrimu tidak akan menyukai perbuatanmu..”

Fany mencoba menarik tangan Siwon yang mengepal, menggedor pintu dihadapannya. Namun Siwon justru menyingkirkannya..

“ssttt.. Jangan berisik..”

Fany memutar mata mendengarnya, dan harus mendesah pasrah saat Siwon kembali melakukan gedoran pada pintu dihadapannya, masih sambil memanggil-manggil nama mantan istrinya..

“Yoona.. Im Yoona.. Kau tidak akan membukakan pintu dan membiarkanku masuk..!! Sihoo-ya.. Soohee-ya.. Ini Appa sayang..”

“Ya Tuhan..! Apa yang…”

Yoona yang kemudian membuka pintu apartemennya, nampak sudah akan memuntahkan kemarahannya, namun terhenti ketika melihat seorang wanita yang bersama dengan Siwon saat itu..

“Oh, Yoona-ya.. Mantan istriku, bagaimana keadaanmu?”

Yoona yang tak sigap dengan apa yang kemudian Siwon lakukan, nyaris saja terjatuh saat sang mantan suaminya itu menubruk memeluk tubuhnya.

Berat tubuh Siwon yang menimpanya bahkan menjadikannya kesulitan untuk bernapas..

“Siwon..! Apa yang kau lakukan?!”

Yoona lantas memukul kuat bahu dan juga punggung Siwon, hingga pria itu kemudian melepaskan pelukannya..

“Oh, istriku.. Aku merindukanmu..”

Dan tindakan Siwon yang lainnya lebih tidak diantisipasi oleh Yoona. Dengan telapak tangannya yang lebar, pria itu memegang erat kedua bahunya dan selanjutnya memberikan ciuman dipipinya. Membuat Yoona dengan seketika melebarkan kedua matanya, terkejut, hingga akhirnya mendorong dada Siwon dari hadapannya..

Untunglah, masih ada Tiffany dibelakangnya. Wanita itu hanya bisa meringis saat harus menahan berat tubuh Siwon agar pria itu tidak tersungkur kebelakang..

Namun Siwon justru tertawa dibuatnya..

“Kau pikir apa yang sedang kau lakukan?!”

“Yoona-ssi, maaf tapi dia sedang mabuk..”

“Aku tau dia mabuk.. Dan siapa kau?! Mengapa kau membawa pria mabuk kesini..!”

Yoona tersulut semakin kesal ketika wanita yang bersama Siwon itu berani mengeluarkan suara didepannya..

“Aku ingin mengantarnya keatas, tapi Siwon justru turun dan mengatakan ingin menyapamu terlebih dulu..”

“Ya Tuhan.. Dia benar-benar bodoh..”

Meski dengan mendumal kesal, Yoona kemudian membantu Fany yang kewalahan menahan tubuh Siwon yang hampir saja ambruk. Dengan masing-masing memegangi lengannya, keduanya lantas menyeret tubuh Siwon yang hanya bisa meracau tidak jelas, dan sudah hampir kehilangan seluruh kesadarannya, untuk kemudian masuk kedalam apartemen Yoona dan menjatuhkan tubuh Siwon keatas sofa yang berada diruang tamu..

“Apa tidak apa-apa dia tidur disini?”

“Tentu saja tidak apa-apa. Memangnya kenapa kalau dia tidur disini? Kau keberatan?”

Entah mengapa Yoona justru menjawab sewot dengan apa yang ditanyakan oleh Fany..

“Tidak.. Aku hanya berpikir kalau..?”

“Jika kau bisa berpikir, kau seharusnya tidak membiarkannya mabuk..”

Fany menoleh pada Yoona, merasa tersinggung dengan apa yang baru saja didengarnya..

“Maaf.. sepertinya kau salah mengira Yoona-ssi”

“Oh, benarkah? Tapi ini sudah terlalu malam.. tidak perlu menjelaskan, lebih baik kau pergi sekarang..”

“Ah, nde.. Maaf mengganggumu Yoona-ssi..”

“Bukan masalah.. aku sudah biasa mengurusnya..”

“Selamat malam..”

Yoona hanya mengangguk dengan ekspresi datar diwajahnya ketika kemudian Fany melangkah keluar dari dalam apartemennya. Tak terlalu lama ia dapat memperhatikan kepergian wanita itu, Siwon sudah kembali berulah dengan meraih pergelangan tangannya dan meracau menyebut namanya..

“Yoona-ya.. Im Yoo-na.. Oh, Yoona-ya..”

Yoona mendecak dan menyentakkan pergelangan tangannya. Ia sudah berbalik dan berniat akan membiarkan Siwon begitu saja dengan kembali tidur dikamarnya bersama dengan Sihoo dan Soohee. Namun hati kecilnya bersuara lain. Bagaimanapun pria mabuk itu adalah ayah dari anak-anaknya. Dan Yoona tak tega membiarkannya begitu saja.

Ia kemudian mendesah kesal, saat suara dalam hantinya seolah memerintahkannya untuk terlebih dulu mengurusi Siwon. Mulai dari melepaskan sepatu di kedua kakinya, juga jaket berbau alkohol yang dikenakannya..

“Oh, Yoo-na..”

“Diam..!”

Yoona memukul bagian betisnya, ketika Siwon bergerak-gerak saat ia sedang mencoba membuka simpul pada sepatunya..

Setelah sepasang sepatu itu terlepas dari kakinya, Yoona beralih untuk selanjutnya membuka jaket dari tubuh Siwon..

“Angkat tanganmu..”

“Ki-ta tidak sedang bermain perang-perangan seperti Sihoo kan? Mengapa ha-rus meng-angkat tangan-ku..”

Yoona mendecak mendengar racauan asal dari Siwon, dan juga tawanya yang kemudian menyusul..

“menurut saja dengan apa yang ku katakan.. Angkatlah tanganmu, cepat..”

“Kau se-la-lu suka me-me-rintah..”

“Ck.. Angkat bahumu sekarang..”

“biarkan saja aku tidur..”

Yoona memukul keras bahu Siwon saat ia mencoba memposisikan tubuhnya meringkuk..

“Ouhh.. Yoona..!! Berhentilah memukulku.. Kau sudah menyakitiku tanpa perlu memukulku”

Yoona sempat tertegun, namun tak cukup waktu untuk mencerna apa yang Siwon racaukan dengan kalimatnya. Pria itu kembali mencoba meringkuk sebelum Yoona berhasil membuka jaket yang dikenakannya, membuat Yoona harus kembali memukul bahunya..

“awhh.. Berhentilah menyakitiku Yoona..!”

“Diamlah.. Atau kau ingin membangunkan anak-anak dan melihat kelakuan buruk-mu seperti ini..?!”

“Tapi jangan menyakitiku.. Jangan menyakitiku, Yoona..”

Suara Siwon makin melirih..

“Mengapa kau mabuk? Apa kau sedang bermasalah?”

Yoona tak mendapati jawaban dari pria itu. Ia juga tak mendengar lagi Siwon yang meracau tidak karuan. Yang ada justru lirih suara dengkurannya, dan irama teratur dari pernapasannya yang menandakan ia telah tertidur dan sepenuhnya kehilangan kesadarannya..

Yoona mendesah, beranjak untuk membenahi sepatu dan juga jaket milik Siwon yang akhirnya berhasil dilepaskannya dari tubuh pria itu. Ia lantas masuk kedalam kamarnya dan kembali keluar dengan sebuah bantal tidur dan juga selimut yang kemudian ia pakaikan untuk menyamankan tidurnya..

“Bagaimanapun keputusan yang telah ku ambil, aku masih ingin mendengar pendapatmu mengenai lamaran Donghae padaku..”

Ucap Yoona lirih, sambil memegangi cincin yang melingkar dijari manisnya serta memandang beberapa lama wajah Siwon yang tertidur lelap, sebelum akhirnya ia beranjak dan kembali masuk kedalam kamarnya..

*****

Pada pagi harinya, Yoona terbangun lebih awal. Dilihatnya dua buah hatinya Sihoo dan Soohee, yang masih tertidur pulas, begitupun ketika ia keluar dari dalam kamarnya, Siwon pun nampaknya masih belum tersadar dari mabuknya..

Yoona ingat dengan kejadian semalam, dan masih saja terbersit perasaan agak kesal mengingat kelakuan Siwon padanya..

Mungkin ia bisa membalasnya dengan membangunkan pria itu dan mengusirnya keluar dari apartemennya sebelum Sihoo dan Soohee melihatnya. Namun Yoona tidak sampai hati melakukannya, ia justru membiarkan Siwon yang masih tertidur dengan berjalan melewatinya menuju ke dapur, dan mulai meracik menu sarapan pagi yang harus disiapkannya sebelum para penghuni apartemennya terbangun..

Asik dengan kegiatannya berkutat didapur, Yoona tak menyadari Siwon yang telah terbangun dari tidurnya..

Sesaat merasa bingung dengan keberadaannya disana, Siwon akhirnya sedikit dapat mengingatnya. Lantas dengan mengabaikan rasa pusing yang mendera kepalanya, pria itu beranjak untuk selanjutnya melangkah membuka pintu kamar Yoona. Niat awalnya hanyalah untuk memeriksa keberadaan Sihoo dan Soohee, namun saat melihat kedua buah hatinya yang masih tertidur lelap, Siwon justru tertarik untuk kembali tidur bersama mereka, dan menikmati kehangatan yang sama dengan ikut bergelung dibawah selimut bersama dengan keduanya..

Hasilnya, ia membuat Sihoo dan Soohee memekik kegirangan saat terbangun dan mendapati sang ayah berada diatas tempat tidur yang sama dengannya. Dua kakak beradik itu melompat-lompat diatas tempat tidur, demi membangunkan sang ayah yang berpura-pura tertidur dan mengabaikan mereka..

“Appa.. Appa.. Bagaimana bisa Appa berada disini? Ayo bangun Appa..”

Setelah berlompatan, Soohee bahkan menduduki tubuh ayahnya dan mencubiti hidungnya..

“Appa bangunlah.. Appa..!!”

“Ah, Soohee-ya.. Aku tahu bagaimana caranya membangunkan Appa..”

“bagaimana caranya oppa?”

Sihoo lantas membisikkan idenya ditelinga Soohee, membuat sang adik tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju. Kedua bocah itu lantas sama-sama menghitung hingga hitungan ketiga untuk selanjutnya menyerang sang ayah dengan aksi menggelitiki bagian pinggangnya..

Menjadikan Siwon yang sebelumnya hanya berpura-pura tidur, kini tertawa terbahak dengan aksi kedua buah hatinya..

“Aigoo.. Hentikan anak-anak nakal..”

Sihoo dan Soohee terkikik puas setelah aksinya berhasil membangunkan sang ayah dari tidurnya..

“Appa.. Appa susah sekali dibangunkan..”

“Pasti Appa tertular dari Soohee..”

Siwon menggoda putri kecilnya yang kemudian memberengut mendengarnya..

“Tapi bukan begitu caranya.. Kalian seharusnya membangunkan Appa dengan ciuman. Ayo, meminta maaf dan cium Appa sampai Appa memaafkan kalian..”

Kedua bocah itu kemudian justru sama-sama berebut memberikan ciuman pada Siwon. Membuat kegaduhan didalam kamar itu lantas sampai ke telinga Yoona. Ia menyadari ketiadaan Siwon yang tadinya tidur disofa ruang tamunya. Sang mantan suami itu pastilah telah berpindah kedalam kamarnya..

“Oh, eonni.. Sepertinya ramai sekali dikamarmu. Apa anak-anak bersama dengan Siwon oppa?”

“hm..”

Yoona hanya menjawab singkat pertanyaan dari Sulli yang baru terbangun, sambil melepas apron yang dikenakannya lalu menyerahkannya pada sang adik..

“Aku sedang membuat sup.. Sebentar lagi akan matang. Kau hanya perlu mematikan api nya..”

“Tapi eonni..”

Sulli mendengus, ia baru saja bangun tapi sang kakak sudah langsung menyerahkan tugasnya didapur..

“Aku akan memeriksa anak-anak..”

“Tapi untuk apa kau membuat sulguk?”

“Siwon mabuk semalam..”

“Mwo??”

Sulli tak berhasil menahan sang kakak dengan apa yang masih ingin ditanyakannya karna Yoona sudah lebih dulu masuk kedalam kamarnya.

Membuka pintu dan mendapati kekacauan yang terjadi didalam kamarnya, Yoona sontak bersuara keras..

“Apa-apaan ini..!!”

Namun seolah tak mendengar suara sang ibu, Sihoo dan Soohee masih saja tertawa sambil saling melemparkan bantal tidurnya dari atas tempat tidur..

“Sihoo-ya.. Soohee-ya.. Berhenti..!!”

“Soohee mendorong Sihoo saat ingin mencium Appa, eomma..”

“Sihoo Oppa juga melempar Soohee dengan bantal, eomma..”

“Sudah cukup.. Berhenti kalian..!”

“Tapi eomma..”

“oemma bilang berhenti Sihoo-ya.. Soohee, kemari kalian..!!”

Melihat gelagat kemarahan sang ibu, Sihoo dan Soohee lantas menghentikan aksi saling lempar bantal untuk kemudian mendekat pada Yoona dengan Soohee yang menundukkan wajah, sementara Sihoo lebih terlihat cuek saat melihat kemarahan ibunya..

“Oh, Sihoo-ya.. Soohee, Kenapa kalian berhenti sayang?”

Siwon yang baru keluar dari dalam kamar mandi, langsung menerima pelototan tajam dari Yoona..

“Apa yang kau lakukan didalam kamar mandi-ku?”

“Aku.. Hanya membersih wajah agar terlihat segar, dan menggosok gigi untuk menghilangkan bau alkohol didalam mulutku..”

Sementara Siwon menjawab santai, Yoona justru sudah terlihat ingin mencakar wajahnya, kesal..

“Menggosok gigi katamu?”

“hm..”

“Sikat gigi siapa yang kau gunakan?”

“Milikmu.. Memangnya milik siapa lagi yang ada disitu?”

“Kau.. Kau benar-benar..”

“Sudahlah, kenapa harus mempermasalahkannya sekarang. Dulu bukankah kita juga sering berbagi sikat gigi bersama? Kau masih ingat kan..?”

Kedikan mata pria itu benar-benar membuat Yoona ingin mencongkel dan mengeluarkan bola mata Siwon agar tidak terlihat seperti sedang mengejeknya..

“Sepertinya aku mencium bau masakan.. Apa kau sudah selesai membuat sarapan? Tadi itu kau berisik sekali didapur.. Jadi aku memutuskan untuk berpindah kemari..”

Siwon sudah akan mengajak Sihoo dan Soohee untuk keluar dari dalam kamar, namun Yoona menahan pergelangan tangannya..

“Mau kemana kau?”

“Tentu saja kita akan keluar dan menikmati sarapan buatanmu..”

“Jangan harap kau mendapatkan sarapan dariku jika kau tidak membereskan semua kekacauan ini..”

Yoona menunjuk pada bantal-bantal tidurnya yang berjatuhan dilantai, juga selimut dan sprai diatas tempat tidurnya yang kusut masai..

“Tapi anak-anak yang..”

“Anak-anak yang mengacaukannya tapi kau membiarkannya. Karna itu kau yang bertanggung jawab atas semuanya.. Sihoo-ya, Soohee.. Ayo ikut oemma keluar..”

“Tapi Sihoo ingin membantu Appa, Sihoo yang salah..”

“Tidak.. Kau ikut dengan eomma dan adikmu keluar..”

“Tapi Soohee juga ingin membantu Appa, eomma..”

Dua bocah beradik itu kompak melepaskan diri dari genggaman tangan Yoona dan membuat Siwon tersenyum geli melihat kekesalan yang diperlihatkan Yoona dalam raut wajahnya, ketika kemudian harus keluar sendirian dari dalam kamarnya..

Tak berselang lama, setelah merapikan lagi keadaan didalam kamar itu, Siwon bersama dengan Sihoo dan Soohee keluar dari dalamnya dan mendapati Sulli yang sedang menyiapkan sarapan diatas meja makan..

“Selamat pagi bibi..”

“Selamat pagi sayang.. Hai oppa..”

“Selamat pagi Sulli-ah..”

“Semalam aku tak mendengar Oppa datang..”

“Aku juga tak ingat bagaimana aku bisa sampai berada disini”

Sulli tersenyum..

“Eonni bilang kau minum semalam.. Jadi Yoona oenni memasak ini untukmu..”

“Oh, jadi Yoona yang membuat sup ini untukku?”

“hm, nikmatilah selagi hangat..”

“Tapi bibi, dimana eomma..?”

Soohee menanyakan keberadaan ibunya..

“Dikamar bibi.. Ibumu sedang mandi dan bersiap. Hari ini bibi harus pulang sayang..”

“Yahh.. Bibi, bibi jangan pulang..”

Soohee terdengar mulai merengek..

“Soohee tidak mempunyai teman dirumah jika bibi pulang”

“Sihoo juga.. Bibi jangan pulang, tinggalah disini bersama kami..”

“Aigoo.. Bibi juga ingin tinggal disini bersama kalian, tapi bibi kan masih harus kuliah.. Haraboji dan halmoni akan memarahi bibi jika tidak pergi berkuliah..”

Sulli dengan sayang merangkul dua keponakannya..

“Bagaimana kalau kita mengantar bibi Sulli pulang, sekaligus mengunjungi haraboji dan halmoni.. Juga berjalan-jalan di Busan..”

Ide yang dilontarkan oleh Siwon tadi, langsung mendapat sambutan antusias dari Sihoo dan Soohee, juga Sulli tentunya..

“Ide bagus oppa.. Aboji dan eomma pasti akan senang sekali. Sudah lama Yoona oenni tidak mengajak mereka untuk bertemu dengan kakek dan neneknya. Aku akan mengabari eomma agar oemma menyiapkan sesuatu untuk kalian..”

“Menurutku, tidak usah Sulli.. Kita jadikan saja ini sebagai kejutan..”

“Ya, benar-benar.. Kita akan membuat kejutan untuk Aboji dan eomma. Jadi anak-anak, ayo lekas mandi dan bersiap..”

“Aku bisa mandi sendiri bibi..”

Sihoo sudah langsung berlari, kembali kekamar ibunya..

“Kalau begitu, aku juga akan keatas untuk bersiap..”

“ne, oppa.. Aku akan memandikan Soohee dan memberitahu Yoona oenni tentang rencana kita..”

“Rencana apa?”

Yoona yang sudah keluar dari dalam kamar yang ditempati Sulli selama sang adik berada di apartemennya, sedikit mendengar apa yang Sulli dan Siwon bicarakan..

“Aku akan keatas dulu..”

Ucap Siwon sambil sekilas melirik dan tersenyum kearah Yoona..

Yoona yang melihat Siwon kemudian keluar dari dalam apartemennya, lantas kembali bertanya pada Sulli..

“Rencana apa yang tadi kau bicarakan, Sulli-ah..?”

“Oh, itu..”

“Appa bilang kita semua akan mengantar bibi Sulli pulang sekaligus berjalan-jalan oemma..”

Soohee yang menginformasikan hal itu pada sang ibu, membuat Sulli hanya bisa meringis menerima pelototan mata dari Yoona..

“Sihoo oppa sedang mandi dan bersiap, kalau begitu Soohee juga akan bersiap. Ayo bibi..”

“Kau duluan sayang, eomma ingin berbicara dulu dengan bibi-mu”

Soohee mengangguk pada sang ibu dan segera berlari kekamar..

“Apa-apaan kau ini? Ide siapa itu..?”

“ide Siwon oppa, eonni..”

“Ide Siwon, Ck..!”

“Dan kami semua setuju. Aboji dan oemma pasti senang bertemu dengan Sihoo dan Soohee. Sudah lama oenni tidak mengajak anak-anak mengunjungi mereka”

“Bagaimana bisa kalian membuat rencana seperti itu? Bukankah kau tau, aku ingin mengantarmu pulang hanya karna aku harus memberitahu Aboji dan Oemma mengenai lamaran Donghae padaku”

“tentu saja eonni masih bisa membicarakan hal itu..”

“Tapi tidak dengan keberadaan Siwon disana..”

“Mengapa tidak..?”

“Aku tidak mau Siwon ikut campur”

“Tenang sajalah eonni, menurutku Siwon oppa sangatlah dewasa untuk tahu statusnya hanyalah mantan suami-mu. Dia tidak mungkin mencampuri niatmu untuk membangun kehidupan baru.. Atau jangan-jangan kau merasa tidak enak padanya?”

“Tidak enak bagaimana?”

“Ya, mungkin saja sebenarnya eonni ingin menjaga perasaan Siwon oppa..”

“Menjaga perasaan apa maksudmu?”

“Aduhhh, terkadang cinta memang membuat seseorang menjadi bodoh.. Pikirkanlah sendiri, aku mau menyusul Soohee mandi..”

“Yak.. Sulli-ah apa maksudmu?”

*****

Tak kurang dari satu jam setelahnya, Yoona bersama dengan Sihoo dan Soohee, juga Sulli sudah siap dan sedang berkumpul di lobbi apartemen, sementara menunggu Siwon yang katanya sedang mengambil mobil.

Tak lama berselang, yang ditunggu akhirnya datang. Siwon keluar dari dalam sebuah mobil yang entah diambilnya dari mana. Yang Yoona ketahui mobil itu bukanlah mobil milik Siwon yang biasa ia gunakan..

“Kalian sudah siap?”

Siwon berjalan santai menghampiri mereka. Dan untuk beberapa saat setelah menyimpan tanya mengenai mobil siapa yang saat itu Siwon pakai, Yoona justru memperhatikan tampilan sang mantan suami-nya. Ketika itu, Siwon jelas tak berpenampilan se-kacau semalam saat sedang mabuk. Siwon kini, terlihat segar walau hanya dengan Tshirt putih dan celana jeans pendek yang dikenakannya. Senyum yang terkembang dibibirnya juga semakin memperlihatkan cerah diwajah tampannya..

Oh, Ya ampun..
Apa yang baru diperhatikannya?

Menyadari itu, Yoona lantas mengalihkan perhatiannya..

“Appa.. Appa memiliki mobil baru?”

Dengan antusias Sihoo langsung menghampiri sang ayah..

“Apa kau suka, Sihoo-ya?”

“Tentu saja.. Itu sangat keren Appa..”

Sihoo kemudian berlari mendekati mobil ayahnya..

“Appa, Sihoo didepan ya? Di dekat Appa..”

“Appa.. Soohee juga mau didepan. Jangan Sihoo oppa terus yang didepan. Boleh ya Appa?”

Soohee ikut-ikutan menghampiri Siwon. Dengan menggayut dilengannya seolah memperlihatkan sikap manjanya didepan sang ayah..

“Kau dibelakang saja Soohee..!”

“Tidak mau.. Oppa yang dibelakang”

“Aku juga tidak mau.. Aku ingin didepan..”

“Tapi Oppa terus yang didepan.. Gantian..!”

“Kau juga didepan terus jika dimobil oemma..”

“Aigoo, kenapa meributkan hal seperti itu Sihoo-ya, Soohee..?”

Sementara Siwon terlihat menikmati keributan dua anaknya, begitupun dengan Yoona yang masih hanya diam dan tak mencoba melerai keduanya, Sulli-lah yang kemudian mengambil sikap untuk menjadi penengah diantara dua keponakan tersayangnya..

“Bibi, ajak Soohee duduk dibelakang bersama bibi..”

“Tidak mau bibi, Soohee mau duduk di depan..”

“Tapi Sihoo duluan yang minta duduk didepan, bibi..”

“Bagaimana jika Sihoo dan Soohee mendengar pendapat bibi terlebih dulu…”

Sementara membiarkan Sulli menangani keributan Sihoo dan Soohee, Siwon beralih mendekati Yoona..

“mereka lucu sekali..”

“lucu? Mereka sedang bertengkar, dan kau bilang itu lucu?”

Siwon sempat mengernyit mendengar Yoona yang membalas sengit ucapannya..

“Hei, ada apa denganmu?”

“Ini semua gara-gara rencanamu yang seenaknya..”

“Oh, jadi kau tidak senang kita mengantar Sulli bersama-sama?”

“Sulli bisa pulang sendiri..”

“Tapi dia senang saat aku mengatakan kita bisa mengantarnya. Lagi pula, anak-anak juga ingin pergi kesana..”

“Tapi lihatlah, belum apa-apa kau sudah membuat anak-anak terlibat keributan”

“Bicaramu seperti kau tidak pernah menangani Sihoo dan Soohee.. Bukankah itu hal biasa? Bukan saudara namanya jika tidak pernah terlibat keributan..”

Yoona mendengus setelah tak menemukan argumen untuk membalas kata-kata Siwon. Pria itu hanya membuatnya bertambah kesal..

“Appa.. Sihoo dan Soohee akan duduk dibelakang bersama bibi Sulli. Oemma saja yang duduk didepan..”

Siwon memperlihatkan isarat ‘OK’ pada Sihoo dan tanpa persetujuan dari Yoona, ia sudah langsung melingkarkan lengan dipinggangnya yang ramping..

“Ayo, sepertinya Sulli sudah berhasil menangani mereka..”

“singkirkan tanganmu, Siwon..”

sstt, jangan membuat anak-anak berpikir ayah dan ibunya sedang tidak berbahagia..”

Kilah Siwon tetap mempertahankan tangannya yang melingkari pinggang Yoona, dan menjadikan sang mantan istri mengikuti tarikannya untuk berjalan beriringan menuju mobil..

“Apa itu benar-benar mobilmu? Kau membelinya?”

“Kau pikir mereka akan membiarkanku membawanya jika aku tidak membelinya..”

Yoona merengut mendengar jawabannya..

“Aku serius.. Untuk apa kau membeli mobil lagi?”

“Hanya agar Lee Donghae tidak lagi menyebut ‘butut’ mobilku”

Yoona menghentikan langkahnya..
Terkejut..
Darimana Siwon mengetahuinya?
Bukankah saat itu, Siwon tidak mendengar ketika Donghae mengatakannya..

Melihat gelagat Yoona yang seperti itu, lantas membuat Siwon tersenyum geli..

“Jadi aku benar, dia mengatakan hal seperti itu kan?”

“Ti-tidak.. untuk apa dia mengatakan hal seperti itu?”

“Kau mungkin tidak tahu, Yoona.. jika seorang pria terkadang mengetahui apa yang dipikirkan oleh lawannya..”

Yoona tak mengerti dengan apa yang menjadi maksud ucapan Siwon. Keduanya sudah berada didekat mobil milik Siwon dan
pria itu sudah langsung membukakan pintu untuknya, dan mempersilahkannya masuk, menyusul sang adik Sulli, juga Sihoo dan Soohee yang sudah lebih dulu berada didalamnya..

Mereka akan pergi ke Busan dengan menggunakan kereta cepat. Dan perjalanan untuk sampai ke stasiun sepertinya hanya akan memakan waktu beberapa menit saja. Dan disepanjang perjalanan yang mereka lalui, telah diisi oleh nyanyian-nyanyian serta canda tawa dari Sihoo dan Soohee, juga tak ketinggalan Sulli yang tak henti-hentinya membuat guyonan yang tidak hanya membuat dua keponakannya tergelak, tapi juga Yoona dan Siwon yang ikut tertawa dan terhibur mendengarnya. Candaan itu bahkan masih berlanjut setelah sampai distasiun kereta, hingga akhirnya berada dalam rangkaian kereta yang akan membawa mereka hingga sampai ke Busan.

Namun pada sekitar lima belas menit yang lalu, setelah sampai di stasiun Busan dan Siwon yang ternyata sudah melakukan penyewaan sebuah mobil, ketiga orang pencipta lelucon itu sepertinya lelah dan kehabisan tenaga untuk kembali tertawa. Mereka tertidur saat berada didalam mobil dan langsung menciptakan keheningan diantara Siwon dan Yoona..

“Tidurlah, aku akan membangunkanmu jika kita sudah sampai..”

“Anio, aku tak yakin kita akan sampai ke tujuan jika aku juga tertidur..”

“maksudmu?”

“bukankah aku harus menjadi penunjuk jalan? Memangnya kau masih mengingat rumah orangtua ku? Kau baru sekali datang kesana, itupun sudah bertahun-tahun yang lalu..”

Siwon hanya tersenyum sekilas saat mendengar apa yang dikatakan oleh Yoona..

“Aku masih mengingatnya, jangan meremehkanku..”

“benarkah?”

“Ya, tidurlah.. Dan jangan khawatir aku akan membawa kalian tersesat..”

Yoona balas tersenyum mendengarnya..

“Aku juga masih ingat saat itu..”

Yoona seolah menerawang ke masalalu, dan Siwon menyadari hal itu..

“Apa itu waktu kita mengatakan akan menikah?”

“hm..”

Melihat anggukan dari Yoona, Siwon seakan kembali diingatkan pada kejadian dimasa lalu, ketika dulu Yoona mengajaknya untuk menemui kedua orangtua nya. Mengakui kesalahan mereka dan meminta agar orangtua Yoona memberikan ijin sekaligus restu untuk keduanya menikah..

Ketika itu, lebih kurang tiga jam keduanya duduk didalam kereta dengan berpegangan tangan dan saling menguatkan..

“Ayahmu menendangku waktu itu..”

“Apakah saat itu terasa sakit?”

“Ya, tentu saja.. Apa kau tak ingat, ayahmu menggunakan sepatu seperti yang digunakan para tentara. Itu jelas sakit sekali saat mengenai perutku..”

Tentu saja Yoona juga masih dapat mengingatnya..
Dulu ia bahkan menangis saat Siwon menerima perlakuan itu dari ayahnya. Tapi sekarang, ketika melihat Siwon yang mengernyit seperti memperlihatkan lagi ekspresi kesakitannya saat dulu, Yoona justru ingin menertawainya..

“Dan sekarang, kau masih berani mau menemui ayahku lagi?”

“Pastinya setelah bertahun-tahun, tenaga ayahmu sudah berkurang..”

“Kita lihat saja nanti, bagaimana tanggapan Aboji saat melihatmu. Aku hanya berharap dia tidak akan sampai hati menendangku ketika nanti aku mengatakan niatku untuk menikah lagi..”

Entah bagaimana, mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Yoona tadi, Siwon secara refleks menginjak pedal rem pada mobil yang dikemudikannya..

Membuat Yoona merasakan hatinya mencelos seketika..
Dan perasaan was-was yang kemudian dirasakannya. Untung saja kejadian itu tidak sampai membangunkan tiga orang yang duduk dibelakang. Sihoo dan Soohee juga Sulli yang sepertinya benar-benar terlelap dalam tidur masing-masing..

“Siwon, gwechana?”

Siwon justru terdiam..

“Siwon, ada apa?”

Yoona mencoba menyadarkan keterdiamannya dengan memegang lengannya, menggerakkannya..

“Siwon, katakan sesuatu padaku?”

Entah benar atau tidak, saat kemudian Siwon menoleh padanya, Yoona sesaat seperti melihat kesakitan yang tersirat dari sorot dikedua matanya..

“Apa kau yakin, Yoona?”

“Apa?”

“Menerima lamaran Donghae..?”

“Ya, aku sudah menerimanya..”

Melihat Yoona yang kemudian memandangi cincin yang melingkar dijari manisnya, membuat Siwon tak lagi ingin menanyakan apapun padanya. Siwon kembali melajukan mobilnya, dan membiarkan hening berada diantara dirinya dan juga Yoona, sampai akhirnya mereka tiba dirumah kedua orangtua Yoona yang sangat terkejut dan sekaligus juga dari raut kerinduan diwajah tua mereka, kedua orangtua Yoona nampak senang dengan kedatangan mereka. Terutama saat menerima pelukan dari kedua cucunya. Sihoo dan Soohee, yang walaupun jarang sekali bertemu mereka namun sudah langsung terlihat dekat dan menunjukkan kasih sayangnya. Dari cara keduanya memeluk, Yoona menyadari kerinduan yang sama dari kedua buah hatinya terhadap sang kakek dan juga neneknya.

Yang sempat membuat Yoona merasa heran ialah sikap sang ayah maupun ibunya yang sepertinya tidak terlalu terkejut dengan keberadaan Siwon yang datang bersama dengannya. Sang ayah pun tak memperlihatkan raut kemarahan diwajahnya. Ayahnya justru mengangguk menerima salam sekaligus penghormatan yang diberikan oleh Siwon, dan lalu mengajaknya masuk bahkan kemudian terdengar perbincangan keduanya.

Sementara sang ibu, sudah langsung sibuk mengolah masakan didapur..

“Apa kau sudah terlebih dulu memberitahu aboji dan eomma mengenai Siwon yang ikut bersama dengan kita?”

Sulli hanya memberinya jawaban dengan gelengan kepalanya dan membuat Yoona mendengus saat sang adik kemudian meninggalkannya dengan masuk kedalam kamar..

“Halmoni, apakah ada yang bisa Soohee bantu?”

“Oh, tidak cucuku yang manis.. Duduklah saja dan biarkan halmoni memasak untukmu? Apa yang kau sukai sayang?”

“em, Soohee suka sandwich halmoni..”

“Makanan seperti apa itu? Halmoni bahkan tidak bisa menyebut namanya..”

Apa yang diucapkan sang nenek tadi kemudian membuat Soohee terkikik..

“Namanya sandwich, halmoni.. Rasanya sangat enak jika oemma yang membuatnya..”

“Oh, apakah ibumu juga memasak untuk kalian?”

“Ya, eomma membuat sarapan juga bekal makan siang untuk Soohee dan Sihoo oppa..”

Ketika masih asik melihat sang nenek yang tengah memasak didapur, Soohee mendengar Sihoo memanggil-manggilnya..

“Soohee-ya.. Soohee..! Kemarilah, aku menemukan sesuatu disini..”

“ne, Oppa..”

Gadis kecil itu lantas berlari menghampiri sang kakak yang berada dihalaman belakang rumah. Membiarkan sang nenek sendirian, sampai kemudian Yoona yang juga tengah sendirian kemudian mendekati ibunya..

“eomma..?”

“hm..”

“Tidak perlu repot..”

“bagaimana eomma tidak repot, kalian datang tanpa memberitahu, oemma jadi tidak menyiapkan apa-apa..”

“oemma?”

Sang ibu yang tadi hanya memperhatikan pada bahan-bahan makanan yang berada diatas meja dapurnya, akhirnya menoleh pada Yoona..

“oemma, apa oemma masih marah padaku?”

“Apa maksudmu Yoona-ya?”

“Aku hanya berpikir oemma masih marah dan kecewa padaku..”

“Untuk apalagi perasaan yang seperti itu? Bukankah tidak ada gunanya lagi? Semua sudah terjadi, dan lagipula kau membesarkan anak-anakmu dengan baik.. Oemma hanya ingin agar kau lebih sering mengajak mereka kemari. Lihatlah, rumah jadi ramai dengan suara mereka..”

Yoona tersenyum dan merasa lega mendengarnya..

“oemma, sebenarnya ada yang ingin kubicarakan..”

“nanti saja, kalian akan menginap kan?”

“Hanya untuk semalam..”

“kalau begitu beristirahatlah dulu.. Minta adikmu untuk membersihkan kamarmu juga kamar tamu. Oemma akan menyelesaikan ini dulu..”

Mendengarkan apa yang dikatakan oleh sang ibu, Yoona lantas masuk kedalam kamar Sulli dan menyampaikan apa yang ibunya tadi telah katakan..

“Kenapa harus menyiapkan dua kamar? Kenapa tidak tidur bersama saja..”

“Jangan sembarangan..”

Sulli terkekeh ketika Yoona melotot dan melemparnya dengan bantal..

“ugh, beginikan jadinya.. Menyusahkan saja, harusnya oenni dan Siwon oppa tidak bercerai, jadi aku tidak perlu repot menyiapkan dua kamar..”

“Siapa memangnya yang menyetujui Siwon datang kemari? Kau kan orangnya.. Jadi lakukan saja tugasmu..”

Sulli hanya meringis mendengar apa yang dikatakan oleh Yoona..

Meski juga sempat memberengut pada sang kakak yang kemudian ia lihat merebahkan tubuhnya diatas ranjang tidurnya, Sulli mengerjakan apa yang tadi dikatakan oleh Yoona dengan membersihkan dua kamar tidur dan mengganti masing-masing sprai pada tempat tidurnya..

Menjelang malam, Sulli baru kembali masuk kedalam kamarnya untuk membangunkan sang kakak yang ia rasa sudah tidur terlalu lama. Yoona bahkan melewatkan makan bersama tadi..

“eonni-ya, apa kau benar-benar tidak akan bangun?”

“hmm..”

“Apa oenni merasa lelah..?”

“hmm..”

Yoona yang masih saja hanya melenguh, menjadikan Sulli sedikit merasa kesal hingga kemudian ia mengguncang-guncangkan tubuh sang kakak..

“oenni-ya.. Apa kau datang kemari hanya untuk tidur?”

“Oh, Sulli-ah.. Berhentilah bersuara dan menggangguku..”

“Astaga.. Kau benar-benar hanya akan tidur?”

“hmm.. Kurasa aku merindukan tidur dirumah ini”

Apa yang Sulli dengar dari apa yang dikatakan sang kakak yang lantas mengerjap bangun dari tidurnya, telah membuatnya merasa terenyuh..

“Kalau begitu eonni tidur saja.. Aku tidak akan mengganggu lagi..”

Yoona tersenyum..

“Tidak.. Kau sudah berhasil menggangguku. Dimana anak-anak?”

“Sihoo dan Soohee ada dikamar..”

“lalu Siwon?”

“hm, Siwon oppa menemani mereka.. Mungkin juga sekaligus menidurkannya. Sihoo dan Soohee sudah sempat merengek tadi. Mereka meminta untuk diajak berjalan-jalan”

“Oh, lalu bagaiamana? Apa Siwon sudah membawa mereka tadi?”

“Karna Sihoo tidak mau pergi tanpamu, jadi Soohee menangis..”

“Ya Tuhan.. Kenapa tidak membangunkanku tadi?”

Sulli mendecak..

“Aku bahkan sudah tiga kali membangunkanmu”

“Apa Sihoo dan Soohee juga membangunkanku tadi?”

“Tidak.. Siwon oppa melarang mereka. Dan mengatakan kau lelah dan meminta mereka agar membiarkanmu beristirahat”

“Astaga.. Mereka pasti kesal sekali padaku..”

Yoona lantas segera keluar dari dalam kamar, diikuti Sulli dibelakangnya..

“Oh, kau bangun Yoona? Oemma akan menghangatkan makanan untukmu..”

“Anio oemma, aku ingin memeriksa anak-anak lebih dulu. Dimana Sihoo dan Soohee..?”

“Ada didalam kamarmu bersama dengan ayah mereka.. Sebaiknya kau biarkan saja mereka mungkin sudah tertidur..”

“tapi..”

“iya eonni.. Daripada mereka bangun dan merengek lagi..”

Sulli menyetujui usulan sang ibu..

“Bukankah kau bilang tadi ada yang ingin kau katakan pada eomma?”

“ne..”

“kalau begitu mungkin kau bisa mengatakannya sekarang..”

“bagaimana dengan Aboji?”

“apa ayahmu juga perlu mendengarnya?”

“ne..”

“Kalau begitu ayo, ayahmu sedang duduk didepan..”

Yoona mengangguk, sekilas melirik pada Sulli yang sepertinya telah mengetahui apa yang nanti akan ia bicarakan dengan kedua orangtuanya, dan meminta sang adik agar juga ikut menemaninya..

“Ada apa Yoona-ya?”

Sesungguhnya, sejak ia menjadi seorang anak yang mengecewakan kedua orangtua nya, Yoona menjadi segan untuk berbicara dengan ayahnya..

“Ada yang ingin aku sampaikan pada Aboji dan eomma..”

“Apa ini berhubungan dengan mantan suami-mu, Siwon..? Apa kau sengaja membawanya datang kemari untuk mengatakan pada kami bahwa kau ingin kembali rujuk dengannya..”

Yoona terdiam..
Darimana asalnya sang ayah bisa menyimpulkan hal yang demikian?

“Aboji, sebenarnya..”

“Tidak ada salahnya mencoba hal itu kembali..”

“eomma juga melihat bagaimana dia menangani Sihoo dan Soohee..”

Apa yang dikatakan kedua orangtua nya membuat Yoona merasa semakin susah untuk menyampaikan maksudnya yang sebenarnya..

“Bukan sesuatu yang berdosa jika kau ingin melakukan pernikahan untuk kedua kali.. Itu juga akan menjadi baik bagi tumbuh kembang anak-anakmu..”

“Aboji, aku.. Aku memang berencana melakukan pernikahan, tapi bukan dengan Siwon..”

“Apa?”

Ayah dan ibunya jelas mengisaratkan raut keterkejutan diwajah mereka..

“Aku ingin menikah dengan pria lain..”

“Siapa pria itu Yoona-ya? Apa kau sudah mengenalnya dengan baik?”

“namanya Lee Donghae, eomma.. Dan tentu saja, aku sudah mengenalnya. Dia pria yang baik..”

“Nyatanya pria baik saja tak cukup untukmu mempertahankan pernikahan..”

Entah apa maksud sang ayah mengatakan kalimat seperti itu padanya, yang jelas hal itu mengingatkan Yoona lagi pada omongan Siwon yang juga sempat mengatakan hal yang semacam itu padanya.

Ada apa dengan sang ayah dan juga Siwon?
Bagaimana keduanya bisa mengatakan kalimat yang nyaris serupa?

“Apa anak-anakmu tahu? Apa kau sudah meminta ijin pada mereka?”

“Anio oemma, aku belum mengatakan pada mereka, tapi aku akan berbicara pelan-pelan pada Sihoo dan Soohee..”

“Biar bagaimanapun, anak-anak akan lebih baik tumbuh bersama dengan kedua orangtua kandungnya..”

“Aboji, aku dan Siwon sudah berusaha sebaik mungkin untuk mereka..”

“Ya, aku melihatnya.. Dari tumbuh kembang Sihoo dan Soohee, aku dapat mengetahui kalian dapat bekerjasama dengan baik..”

“Tapi aku dan Siwon.. kami sudah bercerai, kami tidak bisa kembali bersama..”

“mengapa tidak? Lebih baik memperbaiki dari pada kau harus membangun satu hubungan lagi dari awal. Ingat Yoona, kau bukan lagi wanita lajang. Kau memiliki dua orang anak. Jangan bertindak egois, pikirkanlah juga perasaan anak-anakmu..”

“Aku tahu aboji, eomma.. dan pasti aku memikirkan anak-anakku. Sudah lebih dari enam tahun aku bercerai dengan Siwon, tapi aku masih tidak berpikir kami akan dapat kembali bersama..”

“Tapi eonni, sepertinya..”

“Aku sudah memutuskannya, Sulli-ah.. Kau juga melihat sendiri saat aku menerima lamaran Donghae..”

Yoona terpaksa memutus kalimat yang ingin diucapkan oleh sang adik. Ia tahu Sulli bisa mengatakan pemikirannya yang macam-macam didepan kedua orangtua nya..

“Jika seperti itu, kenapa kau tidak membawa pria itu untuk datang dan berbicara denganku? Kenapa kau justru membawa mantan suami-mu?”

“Itu.. Itu bukan sesuatu yang kurencanakan. Aku memang akan mengajak Donghae kemari, tapi setelah aku terlebih dulu mengatakan hal ini pada Aboji dan eomma..”

“Bahkan dulu, saat aku terpaksa harus menikahkanmu.. Aku masih memberimu kesempatan untuk memikirkannya. Sekarangpun, semakin dewasa dirimu, aku juga masih menginginkan kau untuk memikirkan lagi lamaran pria itu..”

“Aku sudah menerimanya, Aboji.. Aku hanya ingin kalian merestuiku..”

Tak ada yang mengetahui jika pembicaraan itu ikut pula didengar oleh Siwon. Ia yang telah berhasil menidurkan Sihoo dan Soohee, dan berniat keluar dari dalam kamar, dengan terpaksa harus menahan langkahnya agar tetap berdiri dibelakang pintu ketika suara pembicaraan mereka sampai ketelinganya..

Rasanya, seseorang bukan hanya sekedar mencubit hatinya, tapi juga meremas kedalam ulu hatinya, menjadikannya berdarah saat kalimat bernada yakin itu terucap dari bibir Yoona yang meminta restu untuk pernikahan yang akan dijalaninya bersama dengan Lee Donghae..

*****

Semalam, sebelum membuat kedua buah hatinya tertidur, Siwon memang telah menjanjikan akan membawa mereka untuk berjalan-jalan pada keesokan harinya.
Maka setelah Sihoo dan Soohee terbangun dan menagih janji, tak ada alasan lagi bagi Siwon untuk menunda keinginan dua buah hatinya.

Hal yang sama juga dilakukn oleh Yoona. Demi untuk menyenangkan hati Sihoo dan Soohee, ia pun tengah bersiap dan menunggu Siwon keluar daru dalam kamar tamu yang ditempatinya..

“Sulli-ah, dimana kau meletakkan  ransel pakaianku?”

“Ada dikamarmu oppa..”

“tidak ada, aku sudah mencarinya..”

“euh.. Mungkin ikut terbawa kekamar Yoona oenni..”

Sulli melirik pada sang kakak yang sedang duduk disampingnya sambil sesekali memeriksa ponsel ditangannya..

“Akan ku ambilkan..”

Ucap Yoona kemudian sudah langsung berdiri dari duduknya..

“Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri..”

Tolak Siwon tanpa ekspresi dan langsung berbalik untuk melangkah menuju kamar Yoona. Tak lama setelahnya, suaranya kembali terdengar..

“Sulli-ah, disebelah mana kau meletakkannya?!”

“Sepertinya ada disamping lemari, oppa!”

Sulli membalas teriakannya dari luar..

“Tapi disini juga tidak ada..?!”

“ugh, bisa-bisa dia mengacaukan kamarku”

Yoona mendecak, dan lantas beranjak dari kursi yang telah kembali didudukinya untuk selanjutnya melangkah masuk kedalam kamarnya..

“Aku sudah menduga kau pasti tidak akan bisa melakukannya”

Siwon menoleh pada Yoona yang sudah langsung mendekatinya.
Ah, tidak..
Tidak benar-benar mendekatinya, melainkan mendekati salah satu lemari yang letaknya persis disebelah ia berdiri saat itu.

Yoona lantas membukanya, dan mengeluarkan sebuah ransel dari dalamnya..

“Bagaimana aku bisa menemukannya.. kau sudah menyembunyikan ranselku”

“Aku tidak menyembunyikan.. semalam aku hanya merapikan kamarku”

Dengusnya sedikit merasa kesal..

“Apa yang kau perlukan?”

tanyanya kemudian..

“Berikan saja ranselnya padaku..”

“Katakan saja apa yang kau perlukan, aku akan mengambilkannya untukmu..”

“Tshirt, Jeans, dan celana dalam.. Apa kau bisa mengambilkannya untukku?”

Yoona sempat memutar mata mengetahui seringaian diwajah Siwon saat itu, tapi kemudian ia justru meladeni omongannya..

“Tentu saja, aku bahkan sudah terbiasa harus memunguti pakaian dalammu”

Namun belum sempat ia membuka isi dalam ransel milik Siwon, Sihoo dan Soohee lebih dulu menyerbu masuk kedalam kamar, dan menjadikan Yoona kemudian melempar ransel ditangannya kearah pria itu..

“Appa.. Oemma, kapan kita akan pergi?”

“Oh, sebentar lagi sayang.. Appa sebentar lagi selesai, kajja..”

Siwon merangkul keduanya keluar, dan hanya dalam waktu sepuluh menit berselang, mereka telah siap didalam mobil. Sayangnya, Sulli tak bisa ikut bersama. Begitupun dengan kedua orangtua Yoona yang telah memiliki rencana mereka sendiri.

“Nikmatilah jalan-jalan kalian Sihoo-ya, Soohee.. Dan anggap saja sebagai jalan-jalan keluarga kalian Oppa, Oenni..”

Pesan Sulli sebelum kemudian ia keluar dari dalam mobil. Ia hanya menumpang hingga sampai ke halte bis, untuk selanjutnya pergi kesalah satu rumah teman kuliahnya. Menjadikan mobil yang disewa oleh Siwon itu kini hanya berisi Siwon sendiri yang mengemudi, Yoona, Sihoo dan juga Soohee..

Yoona mengusulkan untuk pergi ke Shinsegae, yang disebut-sebut sebagai salah satu mall terbesar didunia. Namun Siwon memberi usulan lain. Ia menawarkan pada Sihoo dan Soohee untuk mengunjungi pantai Haeundae. Salah satu tipikal pantai kota yang rapi dan enak untuk dikunjungi. Disana juga terdapat Busan Aquarium, yang tentu saja bagi Sihoo dan Soohee, keduanya lebih tertarik dengan apa yang diusulkan sang ayah.

Jadilah, Yoona yang sudah merencanakan untuk berburu beberapa produk kencantikan yang dijual disana, harus rela menahan egonya demi untuk menyenangkan kedua buah hatinya dengan menemani Sihoo dan Soohee mengunjungi Busan Aquarium.

Setelah berjalan-jalan cukup lama disana, dan telah puas melihat-lihat isi didalam aquarium itu, mereka keluar dan berpindah ke pantai..

Sihoo dan Soohee kembali menunjukkan antusias mereka ketika kaki-kaki kecilnya menginjak pasir di bibir pantai itu..

“Soohee-ya, ayo kita buat istana pasir disana..”

“Tapi, aku ingin mencari kerang oppa..”

“Kalau begitu, kau yang mengumpulkan kerangnya, dan aku yang akan membuat istana pasirnya..”

Yoona tersenyum mendengar apa yang di rencanakan kedua buah hatinya, yang sama sekali tak memperlihatkan raut kelelahan diwajah mereka, namun justru nampak teramat berbahagia.

Membuat Yoona hanya perlu duduk dihamparan pasir itu, sambil mengawasi keduanya.
Sementara, Siwon justru menanggalkan Tshirt dari tubuhnya, dan bersiap untuk terjun kedalam air dan berenang dipantai itu..

“Appa..! Appa.. Akan berenang?!”

Soohee berteriak, namun sang ayah sepertinya tidak mendengarnya..

“Appa..! Sihoo juga mau berenang bersama Appa..!”

“Sihoo-ya, biarkan saja ayahmu..”

“Tapi Sihoo juga mau berenang bersama appa, eomma..”

“Soohee juga, oemma..”

“Nanti sayang, lebih baik sekarang Sihoo membuat istana pasirnya. Dan Soohee, oemma akan membantu Soohee mencari kerang..”

Setelah berhasil membujuk kedua buah hatinya, Yoona kembali memperhatikan kearah pantai. Mencari keberadaan Siwon yang belum kembali muncul kepermukaan. Bagaimanapun, perasaan was-was itu masih saja muncul, tiap kali Siwon bersikap aneh menurutnya. Yoona bukan tidak memperhatikan, ia juga menyadari jika sedari tadi Siwon lebih banyak diam. Pria itu hanya akan bersuara ketika Sihoo maupun Soohee bertanya sesuatu padanya. Selebihnya, ia seperti mengunci rapat mulutnya.

Entah apa yang tengah dipikirkannya?
Adakah masalah yang sedang dihadapinya?

Yoona merasa sepertinya Siwon memiliki permasalahan, sejak malam itu ia pulang dalam keadaan mabuk..

Mungkinkah permasalahannya menyangkut salah seorang wanita-nya?

Yoona teralih dari apa yang melintas dipikirannya, dan merasa lega saat melihat Siwon keluar dari dalam air..

“Appa..! Soohee menemukan sesuatu.. Lihatlah Appa..!!”

image

“Appa.. Appa..!! Lihatlah Sihoo juga membuat istana pasir..!”

Tapi Siwon yang justru hanya diam saja dan tak sedikitpun menanggapi kedua buah hatinya yang meminta untuk diperhatikan, membuat Yoona kemudian mendekat dan mencoba berbicara dengannya..

image

“Anak-anak memanggilmu, kau tidak mendengarnya?”

Siwon lantas hanya melambaikan tangan pada mereka..

“Ada apa denganmu? Kuperhatikan kau lebih banyak diam..”

“Sepertinya sudah waktunya kita pulang sekarang..”

Mengabaikan pertanyaan Yoona, Siwon lantas mendekati Sihoo dan Soohee untuk kemudian membujuk keduanya agar mau meninggalkan pantai itu dan selanjutnya kembali kerumah orangtua Yoona untuk berpamitan, setelahnya mereka akan langsung menuju stasiun Busan dan kembali ke Seoul..

*****

Perjalanan menggunakan kereta cepat dari Busan menuju Seoul yang memakan waktu lebih kurang tiga jam lamanya, membuat mereka baru sampai kembali diapartemen pada malam hari. Dengan kedua buah hatinya yang sudah tertidur, membuat keduanya harus membagi tugas untuk memindahkan mereka dari dalam mobil tanpa perlu membangunkannya. Siwon kemudian menggendong Sihoo, sementara Yoona meraih Soohee yang berat tubuhnya lebih ringan kedalam gendongannya.

Sebenarnya, Siwon ingin membawa Sihoo tidur dikamar apartemennya, namun Yoona melarangnya dengan alasan besok Sihoo dan Soohee harus pergi ke sekolah, dan dirinya akan kerepotan bila mengurusi mereka ditempat yang terpisah. Siwon yang tidak sedang berkeinginan membuat perdebatan dengan Yoona, menurut saja dengan apa yang dikatakan oleh ibu dari anak-anaknya itu. Ia mengikuti Yoona sampai kedalam apartemennya, untuk kemudian menurunkan Sihoo dari gendongannya dan menidurkannya didalam kamar Yoona..

Namun setelahnya, Siwon tidak langsung pergi tapi justru menjatuhkan tubuhnya tidur diatas sofa yang berada diruang tamu. Menjadikan Yoona untuk sesaat mengerutkan dahi mengetahuinya..

“Siwon, apa yang kau lakukan? Pergilah ke kamarmu..”

“Biarkan aku disini..”

“nde?”

“Aku akan tidur disini.. Kurasa aku terlalu lelah walau hanya sekedar untuk naik ke atas, ke kamarku..”

“Tidak.. Kau tidak bisa melakukannya. Naiklah ke kamarmu..”

“Kau hanya perlu masuk kekamar dan tidur bersama anak-anak. Aku tidak akan mengganggumu..”

“Tidak, bukan itu masalahnya.. Aku sudah menerima lamaran pria lain, jadi mulai sekarang aku ingin membuat batasan diantara kita..”

Mendengar apa yang diucapkan oleh sang mantan istri, Siwon lantas beranjak dan menjadikan tubuh tingginya berdiri dihadapan Yoona..

“Batasan? Batasan seperti apa maksudmu..?”

Yoona bergerak mundur, tatkala melihat kedua mata Siwon yang berkilat, sepertinya marah mendengar apa yang tadi diucapkannya..

“Batasan apa yang kau maksud, Yoona?!”

“Kita tak bisa seperti ini terus Siwon.. Kau tidak bisa keluar masuk disini sesukamu. Begitupun denganku, aku tidak akan keluar masuk apartemenmu..”

“Tapi aku tak peduli beratus kalipun kau keluar masuk apartemenku..”

“Tapi aku peduli Siwon.. Aku peduli. Aku pun ingin menjaga perasaan wanita lain yang mungkin sedang dekat denganmu..”

“Tidak ada wanita lain, Yoona.. Tidak ada..”

Siwon mengerang kesal, melihat Yoona yang terus bergerak mundur menjauhinya. Ia kemudian merenggut pergelangan tangannya, hingga membuat Yoona menubruk keras bagian dadanya..

“Siwon..!!”

“Aku tidak ingin membuat batasan denganmu..”

Seperti yang terjadi malam itu, dengan tanpa diduga oleh Yoona, Siwon menciumnya. Melumat keras bibirnya, menjadikan Yoona yang mulanya meronta justru menjadi lemah tanpa daya sebab karna kepandaian pria itu dalam mencumbu dan membangunkan kembali hasratnya..

Yoona kembali harus kehilangan akal sehatnya. Entah bagaimana, ia membiarkan saja saat Siwon menjamah tubuhnya, memesrai raganya diatas sofa itu yang berderit seolah-olah memberikan irama pada pergerakan dua orang yang tengah mereguk kepuasan dibatas nirwana..

“Tadi itu menjadi bukti bahwa sesungguhnya kaupun tak ingin ada batasan diantara kita, Yoona..”

Dalam peluh yang membasahi tubuhnya, Siwon mendekapnya. Menjadikan Yoona merasakan kulit telanjangnya kembali bersentuhan dengan pria itu..

Ia merasa gemetar..
Setelah kabut gairah yang menutupi akal sehatnya perlahan-lahan menghilang dan menjadikannya tersadar ia telah berbuat dosa besar dengan melakukan sebuah penghianatan pada pria yang telah melamar dan menyematkan cincin dijari manisnya..

“Tidak.. ini tidak benar.. ini tidak benar..”

Yoona dengan segera melepaskan diri dari Siwon, dan merasa nanar mendapati pakaiannya yang terkoyak kini tergeletak diatas lantai ruang tamunya, seakan sedang merendahkannya..

Ya, ia merasa rendah..
Benar-benar rendah..
Tidakkah apa yang dilakukannya tadi adalah sebuah perselingkuhan?
Dan tadi bukanlah pertama kali ia melakukannya..

Yoona merasa dirinya masihlah seorang pembenci perselingkuhan..
Tapi lihatlah..
Ia justru telah menjadi pelaku utamanya..

“Ini tidak benar.. ini tidak boleh terjadi lagi..”

Dengan perasaan malu yang kemudian menghimpitnya, Yoona memunguti dan kembali memakai pakaiannya..

Hal yang sepertinya juga tengah dilakukan oleh Siwon ..

“Yoona.. Aku..”

“Cukup Siwon.. jangan mengatakan apapun lagi. Jangan membuatku merasa semakin rendah..”

“Kau bukan wanita rendah Yoona..”

“Tapi aku merasa seperti itu.. adakah yang lebih rendah dari perbuatan yang kita lakukan tadi?!”

“Itu bukan perbuatan yang merendahkan Yoona.. tadi adalah bukti kecintaan kita terhadap satu sama lain..”

“Ya.. itu rendah.. sangat rendah.. kecintaan apa? Kecintaan yang seperti apa? Cinta yang seperti itu adalah salah..”

“Jangan menutup dirimu Yoona.. kenyataannya, masih ada rasa cinta diantara kita..”

“Tidak.. tidak ada cinta.. yang ada aku justru menyelingkuhi calon suamiku”

Siwon melihat Yoona menjatuhkan airmata, ia berusaha memeluknya namun Yoona mendorong tubuhnya..

“Tolong, pergilah..”

“Yoona..”

“Mengertilah, aku sudah menerima lamaran Donghae.. Aku akan menikah dengannya, jadi aku harap kita melupakan yang tadi dan mulai membuat batasan diantara kita. Aku ingin menjaga perasaan calon suamiku..”

Mendengar Yoona yang sekali lagi menyebut Donghae sebagai calon suaminya, membuat Siwon makin merasakan sakit didalam hatinya yang kembali terasa nyeri dan berdarah..

“Oh, baiklah kalau begitu.. baik jika itu keinginanmu. Kau bisa membuat batasan apapun denganku. Tapi jangan pernah berpikir kau akan bisa membatasi hubunganku dengan anak-anak..!!”

Yang dirasakan oleh Yoona adalah gemetar sekaligus ngilu disekujur tubuhnya, mengetahui sirat kemarahan yang ditunjukkan Siwon melalui apa yang diucapkannya. Pria itu bahkan membanting pintu ketika kemudian keluar dari apartemennya. Membuat Yoona hanya bisa terduduk diam diatas sofa yang tadi sempat menempatkan raganya kedalam panas pusara gairah yang membuatnya kehilangan akal sehat..

Tanpa disadarinya, setitik airmata bahkan telah jatuh membawasi wajahnya..

Dan yang tak diketahui oleh Yoona, sejak beberapa saat tadi sang putra telah mendengar pertengkarannya dan juga Siwon. Sihoo nyatanya terbangun dari tidurnya, dan hanya bisa berdiri diam dibalik pintu kamarnya..

*****

“Mengapa oemma lama sekali..”

Soohee terus menggerutu saat menunggu sang ibu yang tak kunjung datang untuk menjemputnya dan juga sang kakak Sihoo. Biasanya, bila sang ibu telat menjemput, Sihoo lah yang lebih sering akan mengomel, namun melihat sang kakak yang cenderung diam saja sejak tadi, membuat Soohee berpikir jika dirinya menggerutu, mungkin sang kakak akan menyahuti gerutuannya. Namun kenyataannya, Sihoo justru masih hanya diam saja. Hingga akhirnya Soohee memutuskan untuk mendekatinya dan mengajaknya berbicara..

“Oppa, kau kenapa?”

Sihoo menggeleng..

“tapi kau diam saja.. Apa oppa sakit?”

Sihoo yang sekali lagi hanya menggeleng, membuat Soohee mendengus kesal..

“Sepertinya oppa memang sakit.. Aku akan masuk kedalam dan memanggil songsaenim

“Ck.. Tak bisakah kau duduk disini saja, Soohee-ya..?!”

“Tapi oppa jangan diam saja.. Katakan pada Soohee, kau kenapa?”

“Aku.. Aku hanya pusing”

“Tuh kan.. Aku sudah menduga Oppa pasti sakit. Jika tidak oppa tidak akan diam saja seperti ini..”

“Aku tidak sakit Soohee-ya, aku hanya pusing..”

“pusing itu juga sakit, oppa..”

“tapi aku tidak sakit Soohee, aku hanya pusing karna memikirkan oemma..”

Soohee mengerutkan dahinya, tak mengerti dengan apa yang menjadi maksud ucapan sang kakak tadi..

“Soohee tidak mengerti, mengapa oppa menjadi pusing memikirkan oemma. Ada apa dengan eomma? Apa karna oemma tak datang-datang menjemput kita?”

Sihoo mendengus mendengar ketidak mengertian adiknya..

“oemma akan menikah dengan paman Donghae, Soohee-ya.. Itu yang membuatku pusing..”

“Kenapa oppa harus pusing karna oemma akan menikah dengan paman Donghae?”

“Apa kau benar-benar tidak mengerti..?”

Soohee menggeleng dengan sirat penuh kepolosan diwajahnya, membuat Sihoo sekali lagi mendengus melihatnya..

“Jika oemma menikah dengan paman Donghae, itu berarti paman Donghae akan menjadi ayah kita..”

“Paman Donghae ya paman Donghae, Oppa.. Mengapa dia akan menjadi ayah kita? Kita kan sudah punya Appa..”

“Jadi kau juga tidak mau jika paman Donghae menjadi ayah kita?”

Soohee menggeleng..

“Apa kau juga tidak menyukai paman Donghae?”

“Aku menyukainya.. Tapi jika apa yang oppa katakan benar, kita kan sudah memiliki Appa.. Untuk apa lagi paman Donghae menjadi ayah kita. Paman Donghae tetap akan menjadi paman Donghae, bukan Appa..”

Sihoo kini tersenyum setelah mendengar apa yang dikatakan adiknya..

“Kalau begitu kita tidak boleh membiarkan eomma menikah dengan paman Donghae..”

Soohee mengangguk setuju..

“Tapi bagaimana caranya, Oppa..?”

“Itu dia yang membuatku pusing, Soohee-ya.. Aku terus memikirkan bagaimana caranya..”

dua bocah beradik itu sama-sama menumpukan kedua tangannya dibawah dagu mereka..

“Sihoo-ya.. Soohee-ya..!”

Keduanya lantas menoleh kearah suara sang ibu yang terdengar berseru memanggil mereka. Jika Soohee kemudian langsung berdiri dan berlari menghampiri Yoona, berbeda hal nya dengan Sihoo yang masih tidak beranjak dari tempatnya..

“Sihoo-ya, kenapa sayang? Kenapa kau diam saja? Sihoo marah lagi pada oemma karna terlambat datang? Maafkan eomma sayang..”

“oemma.. Sihoo Oppa bilang, dia sedang pusing”

Soohee yang berada disebelah sang ibu memberitahukannya..

“Sihoo-ya, kau pusing sayang? Kau sakit?”

Yoona dengan cepat berjongkok dihadapan sang putra, kemudian menempelkan punggung tangannya ke dahi Sihoo untuk memeriksa dan mengetahui suhu tubuhnya.

Sedikit terasa hangat..

“Ya Tuhan.. Sepertinya kau demam sayang, Ayo kita pulang sayang..”

Yoona yang lantas berdiri dan meraih tangan Sihoo, cukup terkejut saat kemudian Sihoo memeluknya..

“oemma.. Sihoo tidak mau oemma menikah dengan paman Donghae. Sihoo tidak mau.. Oemma tidak boleh menikah dengan paman Donghae..”

Lebih terkejut lagi ketika mendengar Sihoo mengatakannya..

“Sihoo-ya..”

“Sihoo tidak mau oemma.. Sihoo tidak mau melihat oemma bersama paman Donghae..”

“Sihoo-ya, dengarkan oemma.. Kita bisa bicarakan hal itu nanti sayang, kau sedang demam Sihoo-ya.. Sekarang kita harus pulang dan oemma akan mengobatimu..”

Sihoo hanya mengangguk dan mengikuti rangkulan tangan sang ibu yang membawanya masuk kedalam mobil.

Sepanjang perjalanan pulang ke apartemen, Yoona terus merasakan kecemasan terhadap kondisi Sihoo yang masih hanya diam saja. Sesekali Yoona mengulurkan sebelah tangannya untuk kembali memeriksa suhu tubuh putranya, yang ia rasakan justru rasa hangat yang menandakan demam yang dialami Sihoo bertambah.

Hingga setelah berhasil memarkirkan mobilnya, Yoona dengan cepat membawa Sihoo masuk kedalam kamar apartemen dan juga memastikan Soohee mengikutinya..

“Soohee-ya, temani kakakmu.. Oemma akan mengambil obat dan alat pengompres..”

“ne, eomma..”

Soohee yang telah lebih dulu meletakkan tas sekolahnya, lantas duduk dipinggiran tempat tidur, disebelah Sihoo yang sedang berbaring diatasnya..

“Oppa, apa kau benar-benar pusing sekarang?”

Sihoo hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan adiknya..

“Soohee kan sudah katakan kalau oppa sakit.. Tapi oppa tidak mempercayainya..”

Sihoo tidak lagi menanggapi ucapan sang adik sampai kemudian Yoona kembali masuk kedalam kamar.

Sang ibu memberinya obat, juga meletakkan pengompres didahinya..

“Apa masih terasa pusing, sayang?”

Sihoo mengangguk..

“Sebentar lagi pasti tidak, setelah kau meminum obatnya tadi..”

Tentu saja kecemasan yang lebih besar masihlah dirasakan olehnya. Yoona kemudian mencoba tersenyum, sambil mengusap-usap lengan sang putra untuk mengurangi perasaan cemas yang dirasakannya..

“Tapi jika demamnya tidak segera turun, oemma harus membawa Sihoo ke rumah sakit”

Sihoo menggeleng sebagai tanda penolakan..

“Kalau begitu, kau harus sembuh sayang..”

“Sihoo oppa pasti akan sembuh oemma.. Soohee akan terus menemani oppa disini”

Yoona tersenyum dan lantas mengusap lembut pada rambut sang putri. Ia juga merasa terharu dengan perhatian Soohee terhadap sang kakak..

“Sebentar, oemma akan mengangkat telpon lebih dulu..”

Yoona kemudian beralih keluar dari dalam kamar untuk menjawab panggilan pada ponselnya yang berbunyi.

Melihat apa yang dilakukan sang ibu, Sihoo masih saja sempat meminta Soohee untuk mencari tahu siapa yang pada saat itu menghubungi ibunya.

Walau sebenarnya tak ingin meninggalkan sang kakak yang tengah sakit berada didalam kamar sendirian, tapi demi memenuhi keinginannya, Soohee pun menurut dengan menyusul sang ibu keluar dari dalam kamar. Gadis kecil itu bahkan dengan pandai berpura-pura mencari semacam snack atau makanan kecil yang biasa disediakan sang ibu sebagai camilan untuknya, tapi sebenarnya Soohee justru sedang mencuri dengar pembicaraan sang ibu dengan seseorang yang menelponnya..

“Maafkan aku Donghae-ssi, aku tidak bisa bertemu denganmu.. Sihoo demam, aku tidak bisa meninggalkannya sekarang. Aku harus menjaganya.. Mungkin kita bisa membahas hal itu lain kali.. Hm, baiklah..”

Ketika kemudian Yoona menutup telpon dan mengakhiri pembicaraannya, ia menemukan sang putri yang berada tak jauh darinya..

“Apa yang kau lakukan, sayang?”

“em, Soohee mencari ini oemma..”

Soohee menunjukkan sebungkus makanan kecil ditangannya dan membuat Yoona tersenyum melihatnya..

“Apa kakakmu yang memintanya?”

“Anio, ini untukku..”

“Benarkah? Tapi yang oemma tahu, kau tidak terlalu menyukainya.. Itu kesukaan Sihoo kan?”

“Ini juga kesukaan Soohee, oemma..”

Dan gadis kecil itupun berlari dan kembali masuk kedalam kamar..

“Siapa yang menelpon oemma, Soohee?”

“paman Donghae..”

“paman Donghae?”

“hm..”

Soohee mengangguk dan meletakkan bungkus makanan yang tadi diambilnya. Ibunya benar, ia tidak terlalu menyukainya. Soohee hanya keliru mengambilnya karna tadi ia lebih memperhatikan sang ibu daripada bermacam-macam snack yang berada dilemari makanan.

“Lalu apa yang oemma katakan?”

“sepertinya oemma tadi ingin bertemu dengan paman Donghae”

“Apa oemma pergi sekarang?”

Soohee menggeleng..

“oemma mengatakan tidak jadi pergi karna oppa sedang sakit..”

“benarkah? Lalu dimana oemma sekarang?”

“Apakah kau mencari oemma, Sihoo-ya?”

Yoona kembali masuk kedalam kamar dan tersenyum mendekati Sihoo dan Soohee..

“Coba oemma periksa demam-mu apakah sudah turun atau belum..”

“Sihoo kira oemma akan pergi..”

“Tidak.. Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin oemma bisa pergi dan meninggalkanmu dalam keadaan sakit sayang. Tidak, oemma tidak akan kemana-mana..”

Sihoo tersenyum senang dan membiarkan sang ibu mengganti pengompres didahinya..

“Sekarang tidurlah sayang, setelah kau bangun nanti, Sihoo pasti sudah sembuh..”

Sihoo mengangguk dan memegangi tangan ibunya..

“oemma tidak akan pergi kan?”

“Tidak.. Tapi jika Sihoo ijinkan, oemma hanya akan mengerjakan beberapa pekerjaan diluar..”

“diluar?”

“Ya, diluar.. Dimeja makan atau diruang tamu. Bagaimana?”

Sihoo mengangguk mengijinkan..

“Kalau begitu, beristirahatlah sayang.. Satu jam lagi, oemma akan memeriksa lagi suhu tubuhmu”

Sihoo mengangguk..

“Soohee-ya, jaga kakakmu..”

“Okey eomma..”

Yoona terlebih dulu mencium keduanya, sebelum kemudian keluar dari kamar untuk memeriksa email pekerjaannya.

Satu jam kemudian, ketika ia kembali masuk kedalam kamar, ia melihat Sihoo yang sudah tertidur, dan juga Soohee yang ikut tertidur disampingnya. Yoona menyempatkan untuk mengganti pengompres didahi Sihoo, setelah mendapati demamnya masih saja stabil dan belum turun..

Selanjutnya, ia akan kembali keluar untuk mengerjakan pekerjaan. Begitu yang dilakukannya hingga beberapa kali sampai akhirnya ia selesai mengerjakan pekerjaannya.
Namun Sihoo maupun Soohee masih belum terbangun dari tidur mereka, dan Yoona memutuskan untuk keluar lagi dari dalam kamarnya. Kali ini untuk memasak dan membuatkan bubur untuk Sihoo..

Ketika berada didapur itulah, Yoona tak menyadari kedua buah hatinya yang kemudian terbangun..

“Soohee-ya..”

“ne, apa oppa sudah sembuh sekarang?”

Sihoo menggeleng..

“Apa oppa ingin aku memanggil oemma..?”

Sihoo kembali menggeleng..

“Apakah Appa tidak datang, Soohee?”

“em, sepertinya belum..”

“Apa oemma tidak menghubungi Appa?”

“Aku tidak tahu oppa.. Apa oppa ingin Soohee bertanya pada oemma?”

“Tidak.. Bisakah kau menelpon Appa saja?”

“Tapi bagaimana caranya? Oemma kan belum membelikan Soohee ponsel..”

Soohee memberengut..

“Tentu saja memakai ponselku.. Ambillah, ada didalam tas dan cepat telpon Appa..”

Soohee kembali menuruti ucapan sang kakak dengan segera turun dari atas tempat tidur, mencari ponsel Sihoo dan langsung melakukan panggilan ke nomer sang ayah begitu ia menemukan ponsel sang kakak dari dalam tas..

“Oh, Sihoo-ya.. Ada apa sayang?”

“Ini Soohee, Appa..”

“Soohee? Oh, ada apa putriku yang cantik menelpon..?”

“Appa.. Sihoo oppa sedang sakit. Oppa ingin Appa pulang sekarang..”

“Oh Tuhan.. Sihoo sakit?”

*****

“Keterlaluan.. Anakku sakit dan kau tidak memberitahuku..?!”

Yoona terkejut saat tiba-tiba Siwon datang dan masuk kedalam apartemennya.

Seingatnya, ia telah mengatakan pada pria itu agar membuat batasan dengannya dan tidak sembarangan keluar masuk apartemennya. Namun sepertinya Siwon melupakannya..

“Siwon.. Kau seharusnya ingat dengan apa yang kukatakan, kau bisa mengetuk dan menunggu aku membuka pintu untukmu. Ini mengenai batasan yang seharusnya..”

“Persetan dengan batasan antara kau dan aku Yoona.. Tapi jangan pernah mencoba membatasi hubunganku dengan Sihoo dan Soohee. Atau kau sedang mencobanya sekarang? Kau tidak mengatakan padaku Sihoo sakit karna kau sedang mencoba membatasiku?!”

“Siwon.. Aku tidak berpikir seperti itu. Aku bukan tidak memberitahumu, aku hanya belum memberitahumu karna kupikir kau masih sibuk dengan pekerjaanmu”

“dengan kata lain kau berpikir kesibukanku akan mengalahkan keadaan Sihoo, begitu?!”

“Siwon.. Sihoo sedang sakit, aku tak ingin kita membuat keributan yang bisa didengar olehnya..”

“Kau tahu Sihoo sedang sakit.. Tapi kau tidak segera menghubungiku..”

“Siwon, aku sudah mengatakan alasanku..”

“Dengar Yoona, kau tidak bisa membatasi hubunganku dengan anak-anak dan aku berhak tahu apapun yang terjadi dengan mereka sebelum orang lain yang lebih dulu mengetahuinya..”

“Siapa yang kau maksud orang lain? Apa kau mencoba menyinggung Donghae sekarang?”

Siwon mengabaikan Yoona begitu saja dengan secepatnya melangkah masuk kedalam kamar Yoona dan langsung disambut oleh Soohee yang memeluknya kemudian menggandengnya mendekati Sihoo yang berbaring ditempat tidur. Putranya terlihat pucat, membuat Siwon makin mencemaskannya..

“Sihoo-ya, bagaimana keadaanmu sayang..?”

“Appa.. Sihoo senang appa datang..”

“Seharusnya kau menghubungi Appa sejak tadi sayang.. Bagaimana keadaanmu?”

“Sihoo demam, Appa..”

Siwon lantas menempelkan punggung tangannya, dan merasakan suhu hangatnya..

“Bagaimana jika kita pergi kerumah sakit sekarang?”

Sihoo menggeleng..

“Tapi kau harus diperiksa sayang.. Dokter akan mengobatimu..”

“Tapi oemma sudah memberi Sihoo obat tadi.. Oemma bilang Sihoo akan segera sembuh..”

Dan ketika itu Yoona masuk dengan membawa sebuah nampan yang berisi semangkuk bubur. Ia melangkah mendekat dan membuat Siwon beralih menyingkir dengan berdiri didekat jendela kamar. Mengawasi ketika Yoona menawarkan pada Sihoo untuk memakan semangkuk bubur yang dibawanya..

“Jika kau ingin cepat sembuh, Sihoo tidak hanya perlu meminum obat, tapi kau juga harus makan sayang.. Oemma sudah membuat bubur untukmu..”

Sihoo sepertinya tak terlalu tertarik untuk memakannya, namun sang ibu terus membujuknya. Yoona bahkan meminta Soohee untuk mencicipinya dan ketika sang adik mengatakan bubur buatan ibunya enak, Sihoo kemudian mau membuka mulut dan menerima suapannya..

Sedikit demi sedikit, Yoona dengan telaten menyuapinya, membuat Siwon yang tadi merasa marah atas sikapnya, kini tertegun melihat kelembutan sikapnya yang Siwon rasa jarang sekali diperlihatkan padanya..

“Sudah oemma.. Sihoo tidak ingin memakannya lagi..”

Yoona mengangguk dan meletakkan mangkuk ditangannya..

“Kalau begitu, sekarang Sihoo bisa meminum lagi obatnya..”

Setelah memberikan obat lagi kepada Sihoo, Yoona membiarkan putranya ditemani sang ayah, sementara dirinya kemudian mengurusi Soohee. Dari mulai memandikannya, menemaninya makan, sampai mengerjakan tugas sekolahnya, hingga menemani sang putri tidur. Untuk malam ini Yoona terpaksa menidurkan Soohee terpisah dari Sihoo. Putrinya akan tidur dikamar yang sebelumnya ditempati oleh Sulli..

“oemma..”

“hm..?”

“ada yang ingin Soohee tanyakan..”

“Apa sayang?”

Soohee yang telah berada dalam pelukan sang ibu, dan menikmati belaian lembut dirambutnya, kemudian mendongak menatap Yoona..

“Benarkah oemma akan menikah dengan paman Donghae?”

“Soohee-ya..”

“benarkah oemma?”

Yoona mengangguk dan merasa berdebar menunggu reaksi Soohee selanjutnya. Namun sang putri tidak lekas meresponnya..

“Soohee menyukai paman Donghae kan?”

“Apa benar, jika paman Donghae menikah dengan oemma, paman Donghae akan menjadi ayah Soohee dan Sihoo oppa?”

“Ya.. Jadi Soohee bisa memanggil paman Donghae dengan…”

“Tidak mau.. Soohee tidak mau paman Donghae menjadi ayah Soohee..”

Yoona terkejut mendengar apa yang dikatakan putrinya, terlebih saat kemudian Soohee melepaskan diri dari pelukannya..

“Soohee-ya, sayang..”

“Soohee tidak mau, oemma.. Soohee sudah memiliki Appa. Soohee tidak mau paman Donghae juga menjadi Appa.. Soohee tidak mau..”

Dan putri kecilnya yang tiba-tiba saja menyuarakan protesnya, kemudian keluar dari dalam kamar, meninggalkan Yoona yang untuk sesaat terdiam tidak menyangka. Tapi setelahnya ia menyusul Soohee yang terdengar memanggil-manggil nama ayahnya..

“Appa.. Appa..”

Terlambat meraih Soohee, Yoona telah melihat Ketika Siwon yang mendengar Soohee memanggilnya kemudian membuka pintu kamar dan langsung mendapati Soohee menghambur memeluknya..

“Oh, Soohee-ya.. Ada apa sayang?”

Siwon bertanya sambil sekilas melirik pada Yoona yang sudah menghentikan langkahnya, dan hanya bisa berdiri diam sambil menggigit bibir bawahnya..

“Appa.. Soohee ingin bersama Appa..”

“Appa disini sayang..”

“Appa.. Soohee tidak mau paman Donghae menjadi Appa..”

“Apa?”

“Soohee tidak mau Appa.. Soohee tidak mau..”

Siwon kembali mengarahkan tatapan matanya yang kali ini menajam kearah Yoona, namun Yoona memalingkan wajah darinya..

“Soohee-ya, apa kau mengigau sayang?”

Soohee menggeleng..
Siwon kemudian berusaha tersenyum mengusap rambutnya, lantas meraih Soohee dan menggendongnya..

“Sepertinya Soohee memang mengigau.. Ayo, Appa akan menemani Soohee tidur..”

Soohee mengangguk dan mengalungkan kedua lengannya dileher sang ayah..

Yoona yang juga melihat Siwon menggendong Soohee masuk kedalam kamarnya, sudah berniat untuk menyusulnya, namun suara bel yang berasal dari interkom pada pintu apartemennya, membuat Yoona lebih dulu memeriksa siapakah tamu yang malam itu datang..

Ketika mengetahui Donghae-lah yang ketika itu berada diluar pintu apartemennya, Yoona merasa ragu untuk membukakannya pintu, mengingat Siwon sang mantan suami juga tengah bersama dengan anak-anaknya. Namun Donghae yang terus-terusan membunyikan bel, membuat Yoona mau tak mau kemudian membukakan pintu untuknya..

“Donghae-ssi..”

“kenapa lama sekali?”

“euh.. Aku.. Aku tadi dikamar menidurkan Sihoo..”

“Oh, bagaimana keadaannya sekarang? Aku datang untuk menjenguknya..”

Yang kemudian Yoona ketahui, Donghae datang dengan membawa beberapa kotak mainan ditangannya..

“Apa kau tidak akan mempersilahkan aku masuk, Yoona?”

“euh, ne.. Maaf, masuklah..”

Donghae tersenyum dan lantas merangkulnya..

“dimana Sihoo?”

“dia ada dikamar.. Sihoo baru saja tertidur..”

“Oh, bisakah aku melihatnya?”

“Tidak.. Tidak perlu Donghae-ssi..”

Yoona lantas melepaskan diri dari rangkulan tangan Donghae dibahunya, dan membuat pria itu berkerut dahi mendengar apa yang tadi diucapkannya..

“mengapa aku tidak boleh melihatnya?”

“Sihoo.. Sihoo, baru saja tertidur. Aku hanya tak ingin dia terbangun lagi. Jika sedang sakit, Sihoo cenderung sangat rewel. Dan aku sudah cukup lelah mengatasinya..”

“begitukah?”

“hm, jadi sebaiknya kita disini saja..”

“Soohee juga sudah tidur?”

entahlah..
Tapi Yoona memutuskan untuk mengiyakan saja..

“Baiklah kalau begitu, kita bisa sambil membicarakan rencana pernikahan kita..”

Yoona hanya sedikit menarik sudut bibirnya..
Entah mengapa, ia tak bisa memperlihatkan senyum lebar saat Donghae mengajaknya membicarakan rencana pernikahan mereka. Yang kemudian justru terlintas ialah suara penolakan dari Soohee yang diucapkan sang putri tadi. Juga Sihoo, yang tadi sempat menyuarakan hal yang senada..

“Apa aku bisa mendapatkan kopi buatanmu, Yoona?”

Yoona teralih, ketika suara Donghae menyadarkannya..

“Ah, ne.. Aku akan membuatnya untukmu..”

“Aku terus membayangkan bagaimana rasanya saat nanti aku bisa setiap saat merasakan kopi buatanmu, itu pasti sangat menyenangkan..”

Donghae memperlihatkan senyum kebahagiannya, sedangkan Yoona hanya membalas dengan senyum seadaanya. Ia lantas beranjak kedapur, dan kembali menghampiri Donghae yang telah duduk disofa ruang tamunya, dengan membawa secangkir kopi ditangannya..

Dan Siwon bukan tidak mendengar Yoona memiliki seorang tamu yang datang. Ia bahkan dengan sengaja berada dibalik pintu kamar, sedikit membukanya untuk mencuri dengar apa yang ketika itu Yoona dan sang tamu bicarakan. Seorang tamu pria yang ketika itu datang, yang kemudian ia tahu Lee Donghae-lah orangnya.

Yang tidak lain dibicarakan ialah mengenai rencana pernikahan. Donghae bahkan berbicara dia telah menyewa sebuah gedung yang nantinya akan menjadi tempat pesta pernikahan mereka dan meminta Yoona untuk segera memilih desainer yang akan merancang gaun pengantinnya. Jika yang Siwon dengar Donghae telah lebih berpikir kearah persiapan pestanya, Yoona berbeda hal nya. Yoona masih meminta Donghae untuk lebih dulu bertemu dengan kedua orangtua nya, begitupun dengan Yoona. Ia pun merasa perlu adanya pertemuan antar keluarga..

Sampai disitu pembicaraan mereka masih terus berlanjut, namun Siwon tidak lagi mencoba mendengarkan apa yang keduanya bicarakan ketika ia mengetahui Sihoo merintih.

Siwon cepat-cepat memeriksa kondisi sang putra, dan mengetahui demam kembali menyerangnya..

Ia mencoba mencari pengompres yang tadi Yoona gunakan, tapi sepertinya Yoona telah membawanya keluar ketika tadi demam Sihoo sudah sempat menurun..

“Ap-pa.. Ap-pa..”

“Appa ada disini, Sihoo-ya..”

Siwon menggenggam tangannya, juga memakaikan selimut lebih rapat ketubuhnya. Ia sungguh merasa kian cemas saat mendengar sang putra yang meruntuh dalam tidurnya..

“Oem-ma.. Oem-ma..”

Mendengar Sihoo yang mengigau memanggil-mencari ibunya, Siwon lantas mengarahkan tatapannya kearah pintu kamar, dan merasa kesal sekaligus muncul amarah ketika dalam keadaan sang putra yang tengah sakit, Yoona justu asik berbincang dengan seorang rekan prianya.

Ingatkan dirinya lagi jika pria diluar sana bukan sekedar rekan pria Yoona. Pria itu sudah meminang dan statusnya sekarang adalah calon suami Yoona..

Siwon mengatupkan rahangnya, ia lantas meraih ponsel dan mengirim pesan pada Yoona..

‘Jangan coba mengabaikanku.. Masuk ke kamar sekarang’

Yoona mengernyit mendapati pesan masuk yang berasal dari Siwon diponselnya. Ia juga masih mendengar apa yang Donghae bicarakan, dan membuat konsentrasinya sedikit terpecah saat Siwon mengirimkan lagi sebuah pesan. Kali ini seperti bernada memperingatkan..

‘Masuk ke kamar, Yoona..! Atau aku yang akan keluar dan mengusir tamu-mu yang datang’

Yoona lantas mencari alasan dengan mengatakan pada Donghae, ia perlu untuk sebentar saja memeriksa keadaan Sihoo..

Membuka pintu kamarnya, dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam, Yoona terperanjat saat Siwon menarik tangannya kemudian mendorong bahunya hingga tubuhnya membentur pada dinding kamarnya.

Jika tidak teringat pada keberadaan Donghae diluar, (yang tidak mengetahui bila mantan suaminya berada didalam kamarnya) Yoona sudah pasti akan berteriak dan memaki Siwon atas apa yang telah ia lakukan padanya. Namun Yoona hanya bisa membulatkan kedua matanya, memelototinya..

“Apa yang kau lakukan..?!”

Hembusan napas pria itu begitu dekat mengenai lehernya, membuat bulu kuduknya meremang dan menjadikannya bergerak tidak nyaman..

“Ini sudah malam.. Mengapa dia tidak lekas pergi?”

“Mengapa kau juga masih berada disini?”

Yoona membalas kalimatnya dengan tak kalah sengit..

“Oh, jadi kau ingin aku keluar.. Baiklah..”

Menyadari Siwon seperti tidak main-main dengan apa yang dikatakannya, dan terlihat sudah akan beranjak dari hadapannya, Yoona dengan segera berganti menarik tangannya..

“Siwon, jangan..!”

dan pria itu menyeringai padanya..

“mengapa Yoona? Bukankah kau ingin aku keluar dan bertemu dengan calon suami-mu itu?”

“Tidak.. emm, kau.. Kau, kenapa kau memanggilku masuk..?”

“oem-ma.. oem-ma..”

Mendengar suara Sihoo, keduanya lantas sama-sama beralih menatap tempat tidur..

“Itu alasan kenapa aku memanggilmu.. Demamnya naik, dan Sihoo terus mengigau memanggilmu..”

“Oh, Tuhan.. Sihoo-ya..”

Yoona sudah berniat beranjak dan mendekati sang putra, namun Siwon mencegahnya..

“Jangan mendekati Sihoo sebelum kau menyuruh pria itu pergi..”

“Siwon.. Apa maksudmu? Sihoo membutuhkanku..”

“Suruh Donghae pergi sekarang, atau kau ingin aku yang keluar dan mengusirnya..”

“Kau keterlaluan..!”

Yoona berusaha menyentak, namun Siwon justru makin mencengkram pergelangan tangannya erat. Membuat Yoona meringis merasa sakit..

“Kau yang keterlaluan.. Kau mengabaikan Sihoo demi untuk menemani pria itu?”

“Aku tidak mungkin mengabaikan Sihoo..!”

“Yoona, apa Sihoo baik-baik saja?”

Mendengar suara Donghae diluar, Siwon lantas menempatkan satu telunjuknya didepan bibir Yoona, mengisaratkan untuknya diam..

“Maka cepatlah, suruh Donghae pergi dari sini..”

Yoona dengan keras mendorong dada Siwon, lantas keluar dari dalam kamarnya untuk selanjutnya berbicara pada Donghae, dan menuruti apa yang Siwon katakan dengan meminta Donghae pergi..

“Kuharap kau mengerti.. Sihoo sakit, dia benar-benar ingin aku terus menemaninya..”

“Ya, baiklah.. semoga Sihoo cepat sembuh. Tapi ngomong-ngomong dimana ayahnya? Apa dia tidak peduli pada anaknya yang sedang sakit..?”

“Si-won.. Siwon sedang..”

“Ayah macam apa seperti itu.. Memang dibandingkan denganku, seorang karyawan sepertinya pasti lebih takut kehilangan pekerjaan daripada kehilangan…”

“Donghae-ssi..”

Yoona sepertinya mengetahui apa yang akan Donghae katakan, dan sebelum pria itu mengucapkannya, ia lebih dulu menghentikannya..

“Baiklah, aku pergi sekarang..”

“berhati-hatilah..”

Segera setelah Donghae keluar dan menutup pintu apartemennya, Yoona bergegas untuk memeriksa Sihoo. Namun saat hendak masuk kedalam kamarnya, Siwon justru sudah menghadangnya didepan pintu..

“Apa maksudnya? Dia menyebutku ‘ayah macam apa’?”

“Aku tidak tahu.. Menyingkirlah, aku akan memeriksa keadaan Sihoo..”

Siwon sama sekali tak beranjak dan justru mencekal pergelangan tangan Yoona..

“Siwon..! Apa sih mau mu?! Jika kau ingin membuat keributan denganku, aku tidak memiliki waktu untuk itu, jadi sebaiknya kau pergi sekarang..”

“Dengar Yoona, kau harus mengatakan pada calon suamimu itu.. Dia tidak tahu apa-apa dan tak berhak mengomentari peranku sebagai ayah kandung Sihoo dan Soohee”

Yoona tidak menanggapinya, ia memaksa Siwon menyingkir dari hadapannya dan membuatnya dapat masuk kedalam kamarnya untuk kemudian memeriksa keadaan Sihoo..

Betapa kecemasan kembali melingkupinya ketika merasakan suhu hangat tubuh sang putra yang kembali naik..

“Oem-ma.. Oem-ma..”

Bahkan dalam tidurnya, Sihoo nampak gelisah memanggil-manggil namanya. Yoona lantas menggenggam tangannya, juga mengusap wajahnya..

“oemma disini Sihoo-ya.. Oemma disini sayang..”

“Oemma..”

Sihoo mengerjap, kemudian terbangun dari tidurnya..

“Mungkin lebih baik kita bawa Sihoo kerumah sakit..”

Siwon kembali masuk kedalam kamar dengan membawa wadah pengompres ditangannya..

“..Aku khawatir demamnya akan semakin tinggi”

Mendengar yang dikatakan sang ayah, Sihoo lantas bergerak bangun dari tidurnya, untuk kemudian memeluk erat sang ibu yang duduk diatas tempat tidur disampingnya..

“Aku tidak mau kerumah sakit oemma, Sihoo tidak mau..”

“Tapi ayahmu benar sayang, oemma juga takut jika demamnya akan semakin tinggi”

Sihoo tetap saja menggeleng dalam pelukan Yoona..

“Sihoo pasti sembuh, oemma.. Aku akan sembuh asalkan oemma disini”

Yoona mengusap wajah Sihoo dan menciumnya..

“Sayang, oemma selalu disini bersamamu”

Sesaat Yoona melirik kearah Siwon, dan pria itu hanya mengangkat kedua bahunya, tanda bahwa ia menyerahkan keputusannya pada Yoona..

“Baiklah, kalau Sihoo tidak mau kerumah sakit.. Sekarang, berbaringlah dan oemma akan mengompres Sihoo lagi.. Tapi, jika besok kau masih demam, Sihoo harus menurut pada oemma dan Appa, kita akan kerumah sakit..”

Sihoo mengangguk, kemudian melepaskan pelukannya ditubuh sang ibu dan membiarkan ibunya yang kembali memasangkan pengompres di dahinya..

*****

Meski demam ditubuh Sihoo tidak seperti semalam, sudah menurun dan cenderung kembali ke suhu tubuhnya yang normal, namun bocah lelaki itu masih harus beristirahat dan terpaksa tidak dapat mengikuti kegiatan belajarnya disekolah..

Soohee yang sudah terbiasa pergi dan pulang dari sekolah bersama kakaknya, menjadi terlihat lesu ketika pagi ini ia harus sendirian pergi ke sekolah.

Soohee bahkan terlihat malas bangun dari atas tempat tidurnya..

image

“Appa.. Apa kita akan pergi tanpa Sihoo oppa dan oemma?”

Ketika itu, Soohee memang sedang bersama dengan sang ayah. Siwon yang akan mengurus dan menyiapkan keperluan Soohee sebelum berangkat ke sekolah..

“hm, kakakmu masih sakit Soohee-ya.. Dan oemma, sepertinya tidak akan pergi bekerja hari ini”

Soohee mendesah..

“Kapan Sihoo oppa akan sembuh, Appa?”

“kita doakan saja, sayang.. Semoga Sihoo oppa cepat sembuh..”

Siwon tersenyum, mengusap kepala Soohee sebelum kemudian mengangkat tubuh sang putri dan membawanya turun dari atas tempat tidur..

“Tidak enak sekali jika Sihoo oppa sakit, apalagi oemma juga..”

Siwon yang kemudian mengetahui Soohee mendengus, mengerutkan dahi melihatnya. Ia sedikit tidak mengerti dengan apa yang menjadi maksud dalam kalimat Soohee tadi..

“ibumu kan tidak sedang sakit, Soohee-ya”

“bukan itu maksud Soohee, Appa..”

“lalu?”

“Apa Appa tidak tahu, oemma akan menikah dengan paman Donghae?”

Ohh..

“itu juga yang membuat Soohee merasa tidak enak sekarang..”

Siwon mengerti..
Dengan kata lain, mood Soohee sedang tidak baik sekarang..

“Soohee-ya, bagaimana jika pulang sekolah nanti, kau ikut dengan Appa ke kantor.. Ada toko eskrim didekat sana, kau pasti akan menyukainya”

Siwon mencoba mengalihkan pembicaraan Soohee dan berharap akan dapat memperbaiki mood sang putri.

“.. disana juga ada banyak toko boneka, Soohee suka boneka kan?”

Namun Soohee menggeleng..

“Appa, menurut Sihoo oppa dan oemma jika paman Donghae menikah dengan oemma, maka paman Donghae akan menjadi ayah Soohee. Apakah menurut Appa juga begitu?”

“Soohee-ya, lebih baik sekarang…”

“Tapi Soohee dan Sihoo oppa tidak mau seperti itu, Appa.. Untuk apa paman Donghae menjadi ayah Soohee? Kita sudah memiliki Appa kan, dan Soohee sangat menyayangi Appa..”

“Oh, sayang.. Appa juga menyayangimu Soohee-ya..”

Siwon lantas mengangkat tubuh Soohee, menggendongnya dan membuatnya kemudian mendapatkan ciuman selamat pagi dari sang putri..

“Appa, bisakah kita melarang oemma agar tidak menikah dengan paman Donghae?”

Sementara Siwon dibuat tak bisa berkata-kata oleh apa yang diucapkan sang putri, tak berbeda hal nya dengan Yoona. Sihoo yang masih tak mau lepas darinya, membuatnya membiarkan sang putra mengikutinya, menunggunya dengan duduk dikursi meja makan, sementara ia berada didapur untuk memasak menu sarapan untuknya dan sekaligus menyiapkan bekal makan siang untuk Soohee..

Beberapa saat tadi, ia pun telah menghubungi ke kantor, dan meminta ijin untuk tidak melakukan siarannya hari ini..

“Sihoo-ya, apa kau bisa membawakan ponsel oemma kemari?”

Sebenarnya setelah sempat melirik kearah ponsel sang ibu yang tergeletak diatas meja dihadapannya, dan mengetahui siapa yang saat itu menghubungi ibunya, Sihoo sudah berharap sang ibu tidak mendengar suara dari ponselnya yang berbunyi, namun nyatanya sang ibu mendengarnya dan bahkan meminta dirinya untuk mengambil dan menyerahkannya..

Dengan sedikit dengusan, Sihoo akhirnya mengambil ponsel itu dari atas meja, kemudian mendekati sang ibu dan menyerahkannya..

“Paman Donghae yang menelpon..”

Yoona tersenyum menerima ponsel yang diulurkan Sihoo, kemudian mengusap rambutnya. Tapi sang putra tidak lantas beranjak darinya melainkan, Sihoo justru melingkarkan kedua tangannya memeluk pada pinggang sang ibu, sementara Yoona kemudian menjawab panggilan pada ponselnya..

“ne, Donghae-ssi.. Aku ada dirumah.. Tidak, aku tidak siaran hari ini, Sihoo masih kurang sehat..”

“oemma, oemma.. Apakah sudah selesai memasaknya? Sihoo lapar oemma..”

“Sebentar sayang, oemma sedang menelpon..”

Sihoo mendengus saat Yoona kembali berbicara dengan ponselnya, mengabaikannya..

“Dimana tempatnya.. Apa kau ingin aku juga pergi kesana?”

“Tapi Sihoo sudah lapar, oemma.. apa oemma mau Sihoo sakit lagi?”

Sihoo terus saja merengek, dan membuat Yoona mendesah karna harus mengakhiri pembicaraannya..

“Donghae-ssi, maafkan aku.. Tapi sepertinya hari ini aku tidak bisa pergi denganmu. Hm, ya.. Sihoo masih sedikit rewel..”

Yoona tersenyum sambil mencubit hidung Sihoo, sementara sang putra justru memberengut mendengar sang ibu mengatakannya..

“Jadi menurut oemma Sihoo rewel?”

“Ya.. jagoan oemma yang rewel..”

“Tapi yang biasanya rewel kan Soohee, oemma bukan Sihoo..”

“Kalau begitu kau mirip dengan Soohee..”

“Maksud oemma, Sihoo seperti anak perempuan?”

Yoona tergelak karna berhasil menggoda putranya..

“Yakk.. kenapa oemma tertawa? Oemma menertawaiku kan.. oemma, oemma jangan menertawaiku..”

“Ohh.. Sihoo benar-benar terlihat menggemaskan sekarang. Jadi apakah putraku sudah benar-benar lapar?”

“Apa oemma berencana pergi dan meninggalkan Sihoo sendirian?”

Sihoo kemudian justru menyuarakan protesnya..

“Tidak.. Oemma justru membatalkannya kan..”

“Apa oemma tidak jadi pergi dengan paman Donghae karna Sihoo sakit?”

Yoona mengangguk..

“Oemma tidak mungkin tega meninggalkanmu sayang, jadi apa yang Sihoo inginkan sekarang?”

Sihoo melonjak dengan kedua matanya yang nampak berbinar kemudian semakin memeluk erat ibunya..

“Sihoo menyayangi oemma.. Sihoo sangaattt menyayangi oemma..”

Yoona terkekeh dengan tingkah manja Sihoo yang bahkan mengalahkan kemanjaan adiknya..

*****

Sadar terhadap keputusannya menerima lamaran Donghae, Yoona tahu dirinya tidak akan bisa mundur dari rencana pernikahannya. Maka dengan perlahan-lahan ia terus mencoba berbicara dengan Sihoo dan juga Soohee. Memberi kedua buah hatinya pengertian dan sekaligus membuat keduanya mengerti terhadap apa yang telah diputuskannya adalah satu kesulitan yang harus dihadapinya.

Disatu sisi ia merasa anak-anaknya adalah hal yang utama dalam hidupnya, tapi disisi lain, ia hanyalah seorang wanita biasa yang juga memiliki keinginan normal untuk membangun sebuah keluarga yang utuh, seperti hal nya keluarga lain, meski sebelumnya ia telah pernah gagal melakukannya.

Untuk mencapai keinginannya itu tanpa melukai perasaan Sihoo dan Soohee, Yoona tahu ia pun membutuhkan bantuan Siwon agar dapat memberi penjelasan pada mereka. Karenanya, siang itu usai melakukan pengambilan gambar untuk siaran berita di jam pertamanya, Yoona sengaja membuat janji untuk bertemu dengan Siwon ditempat yang tak terlalu jauh dari kantor pria itu..

“Sudah lama menungguku, Yoona?”

Yoona tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Siwon, dan tersenyum mendapati sang mantan suami yang kemudian mengambil tempat duduk dihadapannya..

“Belum terlalu lama.. Bagaimana kabarmu?”

Rasanya aneh menanyakan hal semacam itu pada Siwon. Tapi memang dalam beberapa minggu terakhir, semenjak Sihoo sakit hari itu, ia belum sekalipun bertatap muka lagi dengan pria itu. Entah karna dirinya yang menghindar, ataukah Siwon yang akhirnya memang setuju dengan adanya batasan diantara mereka. Hingga Siwon seperti membuat jarak dengannya dan hanya Sihoo dan Soohee lah yang masih dan selalu bertemu bahkan menginap diapartemen ayahnya..

“Rasanya aneh mendengarmu menanyakan hal seperti itu..”

“Ya, aku juga merasa demikian.. Tapi aku serius, bagaimana kabarmu?”

“Aku baik-baik saja, seperti yang kau lihat.. Jadi apa yang ingin kau bicarakan denganku?”

“Tidakkah kau lapar? Kau tidak ingin memesan sesuatu terlebih dulu?”

“Ya, kau benar.. Aku merasa lapar, sepertinya pagi tadi aku melupakan sarapanku..”

“Itu kebiasaanmu, tunggulah.. Biar aku pesankan untukmu..”

Yoona memanggil pelayan, dan tanpa bertanya terlebih dulu pada Siwon, ia sudah mengatakan pesanannya seolah-olah paham dengan apa yang biasa menjadi kesukaan pria itu untuk menu makan siangnya..

“Kenapa kau tidak ikut memesan?”

“Aku sudah memesan jus tadi..”

“Kau tidak ingin makan sesuatu?”

“Aku sedang tidak berselera.. Entahlah, tapi beberapa hari ini sepertinya aku tidak bisa menikmati makananku..”

“Mungkin seperti saat kau mengandung Sihoo dulu..”

Jika kemudian tidak ada seorang pelayan yang membawakan pesanannya, Yoona mungkin memiliki kesempatan untuk mencerna apa yang diucapkan oleh Siwon tadi, namun kehadiran sang pelayan yang kemudian membuat Yoona dan Siwon teralih, menjadikan keduanya meninggalkan pembicaraan basa-basi yang sudah sempat mereka lakukan sebelumnya.

Yoona membiarkan Siwon lebih dulu menikmati makan siangnya. Dan meskipun pria itu berkali-kali menawarkan padanya, ia sama sekali tak tergiur untuk ikut mencicipinya. Hanya segelas jus segar lah yang kemudian ia tandaskan isinya..

“Jadi, apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan denganku?”

Siwon menyudahi makan siangnya, dan kini memilih menatap pada Yoona yang kemudian nampak menegakkan posisi duduknya. Sepertinya siap dengan apa yang akan dibicarakannya..

“Ini mengenai anak-anak..”

“anak-anak?”

“Ya.. Aku membutuhkan bantuanmu, Siwon.. Bisakah kau membantuku?”

“Jika itu menyangkut Sihoo dan Soohee, kau tak perlu sungkan padaku, Yoona. Ada apa?”

“Sebenarnya.. Sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu untuk.. Untuk..”

Siwon mulai mengernyitkan dahi menyadari sang mantan istri yang justru terlihat gugup tidak seperti biasanya. Latar belakang Yoona yang sebelumnya telah cukup lama bekerja sebagai seorang reporter, bahkan kini naik menjadi seorang pembaca berita, diketahui Siwon turut membentuk Yoona menjadi terbiasa berbicara cerdas dan kegugupan yang seperti itu bukanlah ciri seorang Yoona yang selama ini dikenalnya..

“Untuk apa Yoona? Katakan saja..”

Disadari oleh Siwon, Yoona kemudian menatapnya dengan begitu dalam. Isarat yang menandakan jika sang mantan istri benar-benar membutuhkan bantuan darinya..

“Tolong, bantu aku untuk menjelaskan pada anak-anak mengenai rencana pernikahanku dengan Donghae..”

Dan yang dirasakan oleh Siwon ketika itu, tak lagi sekedar rasa sakit seperti cubitan didalam hatinya yang menjadikannya merasa ngilu didalamnya. Yang Siwon rasakan sepertinya jauh melebihi itu..

“.. Aku, sebenarnya aku juga sudah mencoba untuk berbicara dengan Sihoo dan Soohee, tapi sepertinya mereka belum bisa menerima penjelasanku. Jadi kupikir, mungkin jika kau yang mengatakannya, mereka akan mengerti”

“Tapi bagaimana seandainya mereka tetap tidak mau mengerti, apa kau tetap akan melanjutkan rencana pernikahanmu?”

“Aku.. Aku masih tidak bisa menjawab hal itu..”

“Mengapa kau tidak bisa menjawabnya, Yoona.. Itu hanya seandainya..?”

“Disatu sisi aku tak bisa mengabaikan perasaan mereka, tapi disisi lain aku hanyalah wanita biasa, Siwon. Akupun memiliki keinginan yang sama seperti hal nya wanita-wanita lain yang berharap dapat membangun sebuah kehidupan rumah tangga yang utuh dan bahagia. Aku mengharapkan kebahagiaan yang sempurna seperti itu. Meski aku pernah gagal denganmu, aku tidak ingin mengulang kegagalanku bersama dengan Donghae..”

Siwon terdiam..
Dadanya terasa penuh dan terhimpit, menjadikannya merasakan sesak disana..

“Apa kau mencintainya?”

“Aku sudah menerima lamarannya, masih haruskah kau menanyakannya?”

Ya, Siwon tak harus menambah sesak didadanya sekaligus nyeri dihatinya dengan memperjelas bagaimana perasaan Yoona terhadap pria itu yang telah membuat sebuah cincin bertahta berlian itu kini melingkar manis dijari Yoona..

Seperti hal nya pria itu yang pasti sudah menempati tahta singgasana cintanya didalam hati Yoona..

“Aku memiliki banyak harapan yang ingin ku wujudkan bersamanya..”

“Kau yakin akan berhasil dengannya?”

Yoona mengangguk..

Dan membuat Siwon tak memiliki reaksi lain selain mengangguk, menyetujui permintaan Yoona..

*****

Usai bertemu dengan Siwon, Yoona masih kembali ke studio penyiaran untuk melakukan satu kali lagi pengambilan gambar untuk siarannya disore hari. Selesai dengan itu ia sudah berencana akan langsung pulang. Selain untuk menemani Sihoo dan Soohee, ia sendiri merasa lelah. Kepalanya sedikit terasa berat dan berdenyut, pusing yang bahkan sempat membuat pandangannya berkunang-kunang tadi.

Namun yang tak diketahui olehnya, Donghae justru mendatangi studio penyiaran untuk menjemputnya dan mengajak Yoona mendatangi butik salah seorang perancang gaun pengantin terkenal..

Donghae rupanya mencoba memberinya kejutan dengan sebuah gaun pengantin indah yang ternyata telah dipesan oleh pria itu untuknya..

“Donghae-ssi..”

Yoona tak hanya terkejut, ia juga dibuat terpana oleh keindahan yang berkilau dari taburan batu permata yang menghiasinya..

“Kuharap kau tidak keberatan dengan pilihanku..”

“Ya, ini luar biasa.. Sangat indah..”

Yoona masih mengingat, dulu gaun pengantinnya tak seindah seperti yang sekarang ia lihat..

Bahkan dulu, Yoona sengaja memilih gaun paling sederhana yang berada dalam butik yang didatanginya bersama dengan Siwon, agar tak membuatnya banyak mengeluarkan uang. Ia cukup mengetahui keuangan Siwon saat itu..

“Kau bisa mencobanya, mereka hanya tinggal mengepas dan menyesuaikan ukurannya dengan tubuhmu..”

“Apa aku harus mencobanya sekarang?”

“Ya, tentu saja sayang.. Dan aku tak sabar untuk melihat cantiknya calon pengantinku..”

Yoona tersenyum dengan rona memerah diwajahnya..

Ia sudah melangkah mengikuti seorang wanita pekerja butik itu,
namun Yoona kemudian menghentikan langkahnya. Memegang pada dahinya yang kemudian mengernyit saat kembali merasakan kepalanya yang tiba-tiba berdenyut, dan membuat pandangan matanya mendadak buram dan mengabur, bahkan kemudian menggelap dan menjadikan wanita pekerja butik yang ketika itu bersamanya menjerit melihat tubuh Yoona yang kemudian terjatuh ambruk tanpa memberi kesempatan bagi siapapun untuk menopangnya..

“YOONA..!!”

Donghae yang saat itu pun berada tak jauh dan melihat kejadian yang terjadi begitu cepat itu, menjadi panik dan langsung menghampiri dan meraih tubuh Yoona..

“Ada apa denganmu? Yoona bangunlah..”

“Dia tiba-tiba saja jatuh Tuan.. Saya akan menelpon ambulans..”

“Tidak perlu, aku yang akan membawanya ke rumah sakit..”

Donghae lantas membopongnya keluar dari dalam butik, dan memasuki mobilnya. Dengan tanpa mempertimbangkan apapun lagi, ia dengan cepat mengendarai mobilnya untuk selanjutnya membawa Yoona yang tak sadarkan diri ke rumah sakit terdekat yang berhasil ditemuinya..

Sampai dirumah sakit, Donghae masih harus merasakan kecemasan terhadap kondisi Yoona yang tiba-tiba saja menjadi lemah, saat ia sendirian menunggu dokter yang memeriksa Yoona keluar dari dalam ruang pemeriksaan dimana Yoona ditempatkan ketika itu..

“Bagaimana.. Bagaimana keadaannya dokter?”

“Pasien didalam, apa anda suaminya?”

“Saya calon suaminya.. Bagaimana keadaannya? Mengapa dia tiba-tiba saja pingsan..”

“Oh, jadi anda calon suaminya..?”

“Ya, katakan padaku bagaimana keadaannya, dokter?”

“Kalau begitu, selamat untuk anda Tuan..”

“Maksudnya?”

“Calon istri anda baik-baik saja.. Ia hanya mengalami pusing dan tak sadarkan diri sebab pengaruh kehamilannya..”

Dokter itu tersenyum, sementara Donghae justru seperti mendengar kabar kematian saat sang dokter secara jelas mengatakan hal itu padanya..

“Kehamilan? Maksud dokter dia sedang..”

“Ya, karna itu saya ingin mengucapkan selamat pada anda Tuan, calon istri anda sedang hamil sekarang.. Semoga ini menjadi kabar baik untuk kalian..”

“Tapi.. Tapi bagaimana dia…”

“Anda bisa tenang.. Sekarang keadaannya sudah baik-baik saja, begitupun dengan janin yang berada dalam kandungannya. Tapi saya sarankan sebaiknya dia tidak sampai kelelahan. Dalam beberapa hari kedepan, saya juga sudah menyarankannya untuk tidak pergi bekerja..”

Ketika kemudian dokter itu meninggalkannya setelah terlebih dulu menyuruhnya masuk untuk melihat keadaan Yoona, Donghae merasa kehilangan kendali atas dirinya.

Ia melihat Yoona yang ketika itu masih berada diatas tempat tidur sedang menangis, namun kemudian turun dari atasnya dan mencoba menghapus airmatanya ketika melihatnya masuk..

“Donghae-ssi..”

“Apa yang terjadi Yoona.. Apa yang terjadi..?”

“Donghae-ssi, Aku.. Aku tidak..”

“Sialan..!!”

Donghae mendekat kemudian merenggut kedua bahunya, mencengkramnya dan memperlihatkan tatapan kemarahan dikedua matanya..

“Kau mengkhianatiku.. Kau tega mengkhianatiku, Yoona..! Janin siapa yang ada disana?! Bayi siapa yang kau kandung?!”

Dan seolah tidak menyadari wajah Yoona yang bahkan terlihat memucat ketika itu, Donghae menghempaskan tubuhnya keatas ranjang tidur rumah sakit itu..

Yoona terisak..
Namun Donghae masih tak berhenti mencecarnya..

“Apa pria itu orangnya? Apa itu mantan suamimu?! Kau mengkhianatiku dan berselingkuh dengannya? Jawab aku Yoona?!”

Yoona merasakan gemetar ditubuhnya saat menyaksikan kemarahan Donghae ketika pria itu kemudian melampiaskan amarahnya dengan menendang meja, dan bahkan mengepalkan tangannya meninju dinding rumah sakit..

Yoona mencoba menghentikannya dengan meraih lengan Donghae, namun hanya semakin menjadikan pria itu bertambah kesal. Donghae menghempaskan tangannya, hingga membuat Yoona yang masih belum dapat menyeimbangkan tubuhnya, menjadi limbung dan andai ia kemudian tak berpegangan pada pinggiran ranjang, ia mungkin akan kembali terjatuh..

“Choi Siwon.. Tidak bisa dipercaya.. Kau benar-benar rendah, Yoona..!!”

Dengan kalimat itu, Donghae seaaat menatapnya, bukan tatapan yang penuh dengan sirat yang bermakna, namun Yoona merasa Donghae menatapnya seakan dirinya adalah wanita paling hina yang pernah dilihat olehnya. Pria itu  lantas keluar meninggalkannya..

Meninggalkan Yoona yang kemudian merosot, terduduk dilantai rumah sakit yang dingin dengan sekujur tubuhnya yang gemetar dan derai airmata yang tidak bisa ia tahan..

Yoona terisak..
Mengetahui dirinya yang tengah hamil sekarang, sungguh bahkan membuatnya terguncang. Melebihi rasa terguncang ketika dulu ia mengetahui dirinya sedang mengandung Sihoo..

Dan dalam keadaan lemah seperti saat itu, Yoona berusaha menemukan ponselnya. Ia menggapai tas tangannya dari atas meja, dan benar-benar tak mengerti dengan apa yang pada saat itu dipikirkannya ketika yang dilakukannya justru melakukan panggilan ke nomor ponsel milik Siwon..

“Yobseyo.. Yoona??”

Alangkah bodoh dirinya..
Teramat bodoh..
Bahkan seekor keledai pun takkan jatuh kedalam lubang yang sama untuk kedua kalinya..

Keadaan ini tidak seperti saat ia mengetahui sedang mengandung Sihoo, jadi untuk apa ia menghubungi pria itu..

Seperti tersadar, Yoona kemudian melempar ponsel ditangannya dan menjerit keras hingga seorang suster tergopoh masuk kedalam kamar pemeriksaan yang ditempatinya..

“Keterlaluan.. Kau sudah menghancurkanku Siwon.. Kau kembali menghancurkanku..!!”

*

*

*

*

*

To Be Continued~

Sampai ketemu di last part yaa^^
Tapi maaf kalau slow update yaa.. hihihiii~

@joongly

398 thoughts on “3S | No Other | 2

  1. mwooooo!!!!
    yoona hamil lagi. duh penasaran ma kelanjutannya. moga2 gn ini yoona batal nikah sama donghae.
    YW harus bersatu lagi kasihan anak2-nya.

  2. Aaaaahhhh sebel bangt , bikin gereget ini cerita , bisa bikin aku marah kesel ihh gemes banget sama sikap kedua pasangan ini yoona eonni sama siwon , kenapa mereka ngga rujuk aja lagi , toh mereka masih saling mencintai kok , buktinyaa yoona cemburu sama tiffany dan buktinyaa juga yoona eonni bisa hamil lagi apa itu kurang bukti kalau mereka saling mencintai ,
    Semoga kehamilan yoona bisa bikin berkah buat semua ini berkah yang pertama , yoona ngga jadi nikah sama donghae , berkah yang ke dua siwom sama yoona bersama lagi dan hidup bahagia ☺☺

  3. Omo omo omo ternyata udh lma aku kagak on ternyata chap 2nya udh dirilis kkk ^_^ sepertinya aku tdr terlalu lama. hmm sepertinya mereka msh saling mencintai dan membutuhkan satu sama lain. Buat yoona dri pd ntar pisahaan lagi lbh baik akhiri saja sma donghae kayaknya cinta terpaksa dehh, di akhir udh nebak klo yoona hamil terus kagak jdi nikah kkk😀 eh ternyata beneran, wokeh lanjut ke chap selanjutnya ..

  4. Omoooo gmn yoona hamil apa dia bakalan ngasih tauu ke siwon oppa kaloitu anak nya dan apa donghae masih mau nikahin yoona dengan keadaan ituu..
    Aku curiga kak joongly kan sering bikin penasaran gitu yerus jalan ceritanya unik bangettt…
    Yakin deh kalo yang bikin ceritanya kak jongly pasti ceritanya bakal happy end

  5. Omoooo gmn yoona hamil apa dia bakalan ngasih tauu ke siwon oppa kaloitu anak nya dan apa donghae masih mau nikahin yoona dengan keadaan ituu..
    Aku curiga kak joongly kan sering bikin penasaran gitu yerus jalan ceritanya unik bangettt…
    Yakin deh kalo yang bikin ceritanya kak jongly pasti ceritanya bakal happy end dehhh hehehe

  6. mwooo… Yoona hamil, semoga gak jadi nikah sama donghae…
    Lagian anak-anak juga gak setuju kalau yoona dan donghae menikah…
    Semoga dengan yoona hamil mereka bisa rujuk kembali…

  7. Berhubung karena komennya gk muncul, jadi ulang komen lagi…
    Agak kesel gara gara Yoona nerima lamaran donghae, kasian siwonnya. Sihoo sama Soohee juga gk setuju Yoona sama Donghae dan ditambah lagi yoona sedang hami
    l. Semoga Yoona gk jadi nikah sama Donghae dan YW kembali rujuk. Penasaran sama kelanjutannya

  8. dulu nikah karena udah hamil duluan, trus cerai gak nyadar kalau hamil anak kedua. sekarang disaat ingin menikah dengan pria lain malah hamil lagi. bener bener cerita yang menarik dan seperti lingkaran gak ada ujungnya dengan yg namanya kehamilan.
    tapi syukurlah yoona hamil lagi soalnya aku masih ragu saat yoona mengatakan menerima lamaran donghae, mengingat dia baru mengenal donghae dan masih mencintai siwon terbukti yoona mau diajak bercinta sma siwon.
    semoga mereka bisa kembali bersama karena cinta itu masih ada disana, anak anaknya juga gak setuju yoona nikah lagi serta orangtua yoona juga ngarep rujuj ama siwon

  9. Oh yaampuuunn
    Sudah kuduga pas Yoona bilang dia pusing pas ketemuan sama Siwon..
    Hamil anaknya Siwon lagi dan itu kembali terjadi di luar ikatan yang sah…
    Penasaran sama kelanjutannya…
    Aku harap dengan kehamilan Yoona bisa ngebatalin pernikahannya dengan Donghae dan rujuk dengan Siwon…

  10. Knp pas bagian ini aku sedih yaa?saat yoona gamau balikan lg sama siwon?? Dan aku seneng bgt pas bagian trakhir,,yoona hamil ^^ itu brrti yoona gajadi menikah😀 siwon hebat yaah :^) trharuu :’)

  11. what???? Yoona hamil???? Ini pasti gara2 prcintaab mereka yg disofa 😊 semoga aja yoona gk benci sma siwon dan bisa mengatakan dg jujur klu itu anak siwon.. Trus suruh tu si donghae jauh2 atau gk ketemuin sma jessica atau dara 😀 semoga aja di chap end mereka brsatu kembali trus gk ada pakai cerau2 lg ♥️♥️

  12. What the hell! Itu yongg astga.. Knpa musti gitu sih lah kalu cinta knpa msti ampe sgitunya.. Donghae jg ah.. Itu kan yoongie hamil ma wonpa napa kamu msih mau sih ahh.. Biarin yoongie ma wonpa aja knpa sih.. Ahh baper ihh..

  13. Ahh semakin penasaran banget Sama lanjutannya 😂
    Semoga yoona mau Terima siwon lagi😦
    Pdhl yoong Hamil gara” siwon😦
    Sukses bgt author nya bikin baper
    Gomawo author ^^

  14. kasihan yoona gak jadi nikah sma donghae,
    tapi seandai nya yoona jdi nikah sama donghae kasian siwom padahal siwon masih cinta sama yoona,,
    jadi bingung sendiri aku
    tpi keren banget sih alur cerita nya
    di tunggu kelanjutan nya ya

  15. Mdh”n yoona gak jdi nikah ma donghae,
    Ayolah yoona klo msh cinta knapa hrus d ttup ttupin,klo msh cnta knpa hrusbrpisah ayo dong siwon brsha mndpatkan yoona lgi,
    Pnsran bngeut sma ending nya,!!

  16. berharap banget siwon oppa dan yoona unnie bisa bersatu kembali.. semoga hamilnya yoona unnie bisa membuat mereka kembali…

  17. seru cerita nya bikin dag dig dug
    kasian yoona harus kehilangan bayi nya pdhl siwon blm di kasih tahu
    donghae mau ngakuin anak nya dari fany auuu so sweet

  18. sedih bngt baca part ini kasian siwon oppa..knp di sini yoona egois bngt..untung saja ada 2 buah hati yoonwon..trus knp yoona mau nikah sama donghae…tp mdh”n yoona ga jadi nikah sama donghe deh.kan udh mau punya bayi lagi..masa sih nikah sama donghe..greget deh jadinya..brhrp yoona mw nerima siwon lagi dan yoonwon bahagia.

  19. Donghae sadar dong, wonpa mah gitu2 masih papa nya anak2. Ya walaupun salah sih mantan suami tapi masih gituan.
    Tpi yoona yo masih cinta ma wonpa kog. Buktinya yo masih mau hahahha. Udeh terima kenyataan saja.

  20. Waah, yoona hamil? Berarti otomatis siwon harus tanggung jwab dong, ada2 aja ya, kalo jodoh mah gk bakalan kemana, emank takdir yoona dan siwon itu jadi sepasang suami istri,,
    Tapi masih bingung nih, sebenernya yoona itu masih cinta gk sih ama siwon, soalnya dia kekeh bnget mau nikah ama donghae, apa dia udah melupakan siwon?

  21. lha, ini gimana coba, YH mau nikah, tp yuna malah hamil anak siwon.

    kurang keren gmn cb siwon ini, nglakuin sekali ada hasilnya. hahahaha

    makin ruwet ya cz kayaknya hae g mgkn semudah itu lepasin yuna, eh tp thor apa YH bakal tetep nikah ya kalau keadaannya kyk gt?? reaksi siwon jg gmn pas tau yuna hamil anaknya..

    lanjut, next chap~
    ^^

  22. Waaaaaa..kasian sekali kau wonnippa😦 ud tetap berusaha menjd ayah yg baik walaupun bnyak bgt cobaan..hiks *baper pan gua bacanya😀 * suka bgt pas tw yoong hamil lg..ehehe ~ moga saja kehamilan kedua itu ngbuat mereka rujuk😀

  23. Plisss eon ini aku penasaran pake banget banget eonnnn
    Sumpah kasian banget Yoonanyaa
    Walaupun kasian tapi ngeselin sumpah karakter Donghaenya juga nyebelin dehhh hehehe
    Siwon Oppa kasian bangettt
    Semoga endingnya YoonWon yaa eon
    Yaampun mereka tuh tinggal ngakuin perasaan masing2 susah banget deh cyinnn wkkwkw
    Pokonya ini cerita TOP deh eonnn
    Gatau kenapa yaa disini ceritanya Siwonnya kere jadi gimana gitu haha soalnya biasanya Karakter Siwonnya kayanya selangit dan pas Donghae ngerendahin Siwon sumpah deh kesel banget😦
    Tapi Over All bagus banget feelnya dapet banget
    Next Part 3, Pwnya pasti dapet kannn eonnn aku kepo berat nih haha LEBAY
    Ditunggu Next Second Chancenya Eon
    Hwaiting!

  24. semoga yoonwon cepet bersatu dan semoga yoona gak jdi nikah sama donghae dan jga berharap yoona bisa nerima siwon lagi penasaran sama part endnya

  25. ya ampun. kasian yoonanya di gituin ama donghae, tapi ngak nyangka bakalan kegini kejadiannya,,, dan gak kebayang lagi gimana kedepanya nih, hub.yoona ama siwon.
    pkknya mereka harus bersatu thor…. fighting siwon oppa. dapetin yoonanya lagi….

  26. Gemes ngeliat sihoo soohee. Mrka lucu semacem ngeliat kehdupan keluarga asli.
    Smga aja yoonwon kembli bersatu.

  27. Oh? knp yoona sama sekali tidak peka trhdp perasaan siwon? Bgaimana dengan yoona saat ini. Dia hamil apa itu berarti dia gk jadi nikah sama donghae? Seharusnya yoona senang, tapi knp dia malah marah kpd siwonn😭
    Ksih pw chap terakhirya ya eonn

  28. ASIK !! Loh?! Wkwk. Yah gmn ya senggaknya ada alasan YoonWon rujuk. Tp si Yoona susah amat yawloh..rujuk aja ampyun. Salah juga mereka gituan gak pake pengaman, jd yg gmn lg toh hwehe. Berharap Siwon berjuang ekstra di next part.. ! Ada bacok? Pengen lempar Donghae ane *dikroyokfishy. Sudah cukup…YW 4ever

  29. jinjjaaaa aku bacanya nonstop sampe lupa makan hahahaha

    geregetan sama kelanjutannya thor.. yoona gimana kelanjutannya? akan kaburkah? marahkah? atau bunuh diri karna stres?? hmm

  30. . Mungkin dgn hamil y yoona siwon bz kmbali mnjalani khidupan rmh tngga dgn yoona mmbangun kel yg bhagia, walaupun agak sulit dgn keadaan yoona yg terguncang kya gtu… 😔

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s