Fanfiction / Fantasy

2S | Prince | 1st

image

Story | Im Yoona | Choi Siwon | Kim Yoo Jin (Uee-AS) | Moon Joo Won | Jessica Jung & All SNSD Member..

Cover by  @nurulsshy (tq dear.. udah dibikinin cover yg ketjeh macem ini) :-*

Ehmm.. Ingat dengan Drabble Prince?? Si Meong yang asal muasalnya masih misterius itu?? Hohohoo.. Disini aq hanya mencoba menuangkan apa yang tergambar didalam benak-qu pada saat itu^^

Hope you like it, and Enjoy Reading~

~

~

~

Aku adalah seorang bintang?
Apa yang akan orang-orang katakan jika mengetahui aku terlibat cinta dengan seekor kucing jantan..?

                           ~~~

Terlonjak dari tidur lelap yang kurasakan oleh karna bunyi alarm yang luar biasa memekakkan kedua telingaku dan membuatku siap memuntahkan segala amarah pada siapun itu yang telah men-setting alarm dan meletakkannya tepat disamping bantal tidurku. Namun kemudian yang bisa kulakukan hanyalah mengumpatinya habis-habisan seraya melempar benda sialan itu kekolong tempat tidurku.

Demi Tuhan..
Aku sudah bisa menebak siapa pelakunya, namun sayangnya dia yang melakukan itu, tidaklah sedang berada ditempat yang sama denganku..

Seohyun tidak menginap disini, aku berada diapartemen sendirian kecuali bersama dengan seekor kucing peliharaan-ku, yang sedang tidur mendengkur dibawah kakiku, dan tak sedikitpun terusik oleh suara jeritanku yang menggelegar. Mungkin efek dari latihan vokal yang kulakukan semalam telah mengubah jenis suaraku kini menjadi naik dari minor menjadi mayor. Sesuatu yang sepertinya harus kubanggakan bila mengingat selama ini rasanya sangat sulit bagiku untuk mencapai nada-nada tinggi pada saat menyanyi diatas panggung..

Tapi tetap saja hal  seperti itu tidak bisa dengan serta merta menghilangkan kekesalanku pada Seohyun. Si gadis sialan itu kini justru berani menelponku..

“Halo Yoona, kau sudah bangun..?”

“Kau pikir siapa yang sekarang sedang menjawab telponmu bila aku masih tidur..!”

Dengusku kesal dan kudengar tawa terkekehnya..
Seohyun pasti tidak sendirian..

“Mungkin saja itu Prince yang melakukannya..”

Aku menoleh pada kucing-ku..
Prince-ku bahkan masih tidur mendengkur..

“Alarm-mu benar-benar sialan mengejutkanku..”

Seohyun tergelak sekarang..
Jika dia ada disini, aku sudah pasti akan menjambak rambutnya hingga membuatnya meminta maaf padaku..

“Itu cara efektif untuk membangunkanmu.. Jika aku hanya menelpon, kau takkan menjawab hingga aku datang menjemput, kau pasti masih bergelung dengan selimutmu. Bersiaplah sekarang, ne? Aku dalam perjalanan kesana..”

“Bersama siapa kau?”

“Yuri dan Jessica..”

“Bagaimana dengan Sooyoung? Dan yang lain?”

“Tiffany bersamanya.. Yang lain akan bertemu dilokasi..”

Aku mendesah mendengarnya menyebut lokasi..

Lokasi syuting pastinya..
Lagi-lagi aku harus berada disana entah untuk berapa lama, karna sesuai dengan rencana, hari ini adalah proses pengambilan gambar untuk dua iklan komersil sekaligus.

“… Kau punya lima belas menit sampai aku tiba disana”

Seohyun sudah langsung memutus sambungan telponnya, setelahnya aku langsung beranjak dari tempat tidur ke kamar mandi.

Ketika keluar dari dalam kamar mandi, aku mendapati kucingku sedang menungguku didepan pintu. Seperti biasa, Prince selalu melakukannya..

Aku tersenyum lalu berjongkok untuk mengusapnya..

“Tidur nyenyak Prince..?”

Tanyaku sambil lalu, dan dia mengeong untuk menjawabku, lalu mengikuti dibelakangku. Kemudian diam memperhatikanku ketika aku mulai menanggalkan handuk dan memakai pakaianku..

“Hari ini aku harus syuting Prince.. Dan itu melelahkan.. Aku takkan membawamu. Aku akan menyiapkan banyak makanan.. Dan apa kau mau susu?”

Selesai berpakaian, Aku masih harus menyiapkan makanan untuk Prince. Aku akan meninggalkannya cukup lama, dan sangat tidak manusiawi bila aku tidak terlebih dulu memberinya makan, juga meninggalkan makanan untuknya.

Prince peliharaan yang baik..
Dia sudah menemaniku sekitar lima bulan, terhitung sejak natal lalu saat Yoo Jin oenni memberikan Prince padaku sebagai hadiah natal dan tahun baru. Dia memberiku kucing peliharaan untuk menemaniku karna tak ingin aku merasa kesepian saat harus tinggal di apartemen sendirian, sementara Yoo Jin oenni tinggal bersama dengan suaminya setelah menikah. Sebenarnya aku tidaklah terlalu kesepian, aku memiliki banyak teman yang terkadang menginap denganku meski tidak setiap hari karna mereka semua masih memiliki keluarga utuh. Tidak sepertiku, aku telah kehilangan kedua orangtuaku dan hanya Yoo Jin oenni yang kumiliki, juga Prince, kucingku yang sekarang menemaniku..

“Kemarilah Prince.. Aku akan memberitahumu..”

Prince-ku mengeong dan langsung memakan makanannya yang telah ku tuangkan kedalam wadah..

“Aigoo.. Kau bisa memakannya dengan perlahan Prince..”

Kuusap bulunya yang halus sementara dia terus menikmati makanannya..

Prince sangat suka makan..
Atau memang semua kucing seperti itu..?

“Aku sudah menyiapkan makan siangmu.. Ada diatas meja. Dan makan malam-mu, aku meletakkannya didapur..”

Aku beralih darinya dan mulai menyiapkan tas ku..

Seohyun kembali menelpon dan mengatakan dia sudah berada dibawah. Aku harus segera turun..

“Prince.. Aku harus pergi sekarang.. Jangan membuat kekacauan dirumah, kau mengerti..!”

Aku harus memperingatkannya setelah dia setidaknya merusak tiga sofa milikku..

Prince mengeong dengan suara aneh tak seperti biasanya, dan kemudian berlari mendekatiku, seolah mencegahku pergi dengan terus mengibaskan ekornya pada kedua kakiku..

“Aku benar-benar tak ingin membawamu, Prince.. Kau bisa kelelahan nanti..”

Kucing-ku kembali mengeong dan matanya yang terlihat begitu bening kemudian menatapku dan membuatku seakan melihat permohonannya disana..

“Oh, Prince.. Baiklah, aku mengalah. Aku tak bisa meninggalkanmu dengan tatapan seperti itu..”

Aku merunduk untuk kemudian mengambil Prince kedalam gendonganku..

“Kalau begitu aku perlu membawa makananmu..”

Mengambil satu tas milik Prince yang biasanya ku gunakan untuk membawa makanannya, aku terlebih dulu melakukan pemeriksaan pada isi didalamnya, sebelum kemudian menambahkan beberapa makanan lagi kedalamnya. Aku cukup kewalahan dengan Prince yang berada dalam gendonganku serta dua buah tas yang sekarang menggantung dibahuku saat aku membawanya untuk turun dan langsung menuju mobil yang dikemudikan oleh Seohyun..

“Aigoo.. Prince.. Kau membawanya..”

Seohyun langsung membuka pintu mobil dan keluar menghampiriku. Bukan membantu kesusahanku terhadap dua buah tas yang kubawa, ia justru memilih mengambil Prince dari gendonganku..

“Kau terlihat semakin menggemaskan Prince.. Ayo cepat masuk Yoona..”

Dia mengabaikan dengusanku saat aku mengikutinya masuk kedalam mobil dan mengambil duduk disebelahnya. Menoleh kebelakang, Aku melihat Yuri yang sepertinya tertidur dengan penutup mata yang digunakannya, dan Jessica berada dijok paling belakang dengan smart phone ditangannya. Dia hanya sekilas melihatku, tersenyum dan menyapa kemudian kembali menekuni entah apa yang sedang dilihatnya. Aku menduga dia sedang memeriksa model fashion terbaru, dia memang selalu melakukannya..

“Kembalikan Prince padaku..”

Aku mengambil Prince-ku, meletakkannya dipangkuanku,dan membiarkan Seohyun leluasa menyetir mobilnya, dan membawa kami untuk sampai dilokasi pengambilan gambar hari ini..

Sesampainya disana, sementara menunggu yang lain datang, aku langsung melakukan beberapa menit untuk sedikit melakukan latihan bersama dengan Sooyoung dan Yuri. Setelahnya menjalani make up, dan membiarkan Prince berkeliling sesukanya. Dia bahkan sudah sangat akrab dengan beberapa kru, juga sudah seperti model saja ketika Sunny terus menjepret fotonya, mengabadikan kelincahannya kedalam vidio dan kemudian mengunggahnya ke situs kami. Sepertinya Prince akan menjadi lebih terkenal daripada aku. Dia bahkan sudah memiliki banyak penggemar karna ulah Sunny yang terus memamerkan foto-fotonya ke media sosial ketika Prince ikut bersama denganku..

“Yoona.. Yoona, fans meminta fotomu dan Prince..”

Seakan mengerti, Prince sudah langsung melompat ke pangkuanku dan sedikit mengejutkanku. Dia bahkan seperti memasang ekspresi manja terhadapku, ketika kemudian kami mulai membuat pose..

~~~

Hari yang melelahkan itu telah berlalu, namun aku masih harus melanjutkan aktifitasku di hari berikutnya. Aku terjaga oleh ulah Seohyun yang tiba-tiba saja memekik kencang disampingku. Sepertinya ia sangat histeris, entah oleh karna apa, tapi aku bersumpah sangat ingin memukulnya dengan bantal saat ia kemudian mulai mengguncang-guncang tubuhku, membangunkanku..

“Irona Yoona.. Palli irona.. Kita sudah harus bersiap..!!”

Aku menyesal membiarkannya menginap semalam. Akan lebih baik bila Jessica yang sekarang tidur bersamaku, aku bisa menjamin tidak akan seperti ini kejadiannya..

“Apa sih yang membuatmu berisik pagi-pagi..?”

Aku melempar selimutku dan beranjak turun dari atas tempat tidurku, dan menemukan Prince meringkuk disofa. Aku mendekatinya untuk mengusap bulunya, dan dia langsung terbangun karna sentuhanku..

“Selamat pagi Prince..”

“Ini sudah siang Yoona..”

Seohyun menginterupsiku sambil lalu, dia menghilang kedalam kamar mandiku dan baru keluar pada sekitar sepuluh menit setelahnya..

“Aku sudah selesai, cepatlah segarkan tubuhmu dan kita bisa langsung pergi..”

“Apa jadwal kita hari ini? Dan mengapa kau histeris tadi?”

“Kau tahu.. Tiffany sudah menandatangani kesepakatan untuk rencana promosi kita diluar negri?”

“Serius..? Kita benar-benar akan melakukan tour?”

Seohyun berkedip dan mengangguk dengan wajahnya yang sangat bergembira..

“Uhh, daebak.. Aku bertanya-tanya apa sih yang tidak bisa dilakukan gadis itu..?”

“Seperti kau tidak tahu saja, Tiffany bisa membuat siapapun untuk menurut pada kesepakatannya hanya dengan senyuman dan kedipan matanya yang mematikan. Sungguh dia memiliki anugrah Tuhan yang begitu luar biasa.. Sekarang mandilah..!!”

Dengan sangat kurang ajarnya, dia melemparkan handuk yang sebelumnya digunakannya untuk mengeringkan wajahnya kearahku..

“Yakk..! Kau tidak tahu apa akibatnya jika berlaku kurang ajar terhadap seorang artis sepertiku..!!”

Dia cekikikan saat aku menyalak dan memelototinya, kemudian langsung melarikan diri ke dapurku ketika melihatku ingin membalas keisengannya..

“Kau tak memiliki makanan Yoona ya..!?”

“Prince bisa berbagi makanannya denganmu..”

“Sialan kau..!”

Aku tergelak mendengar kekesalannya..

Kita impas sekarang..

“Siapkan barang-barang ku, Seohyun ah..!!”

Aku meneriakinya dari dalam kamar mandi..

“Nde..!!”

Sekitar lima belas menit setelahnya, aku baru keluar dari dalam kamar mandi dan mendapati Seohyun masih mengemas beberapa benda pribadiku seperti ponsel, kedalam tas tanganku.

“Apa Prince bisa ikut bersama kita?”

Seohyun menoleh padaku dan menggeleng..

“Maafkan aku Prince, tapi jadwal kami hari ini benar-benar padat. Akan jadi sangat melelahkan untukmu bila ikut dengan kami.. Tenang saja, aku akan meninggalkan banyak makanan untukmu..”

Seohyun yang berbicara dengan Prince, meski kemudian kucingku itu kabur dari dekatnya dan berlari mendekatiku, bergelung dikakiku.

Membuatku lantas merunduk dan mengusapnya..

“Prince-ku yang pintar.. Kau mengerti dengan apa yang Seohyun katakan bukan? Aku tak bisa mengajakmu hari ini..”

Dia mengeong..
Entah mengapa suaranya justru terdengar lirih. Ini mungkin semacam caranya untuk memelas..

Prince sepertinya selalu berkeinginan untuk ikut denganku. Tapi ada kalanya aku tak bisa membawanya. Seperti hari ini.

“Cepatlah berpakaian, Yoona.. Aku akan mengurus makanan Prince terlebih dulu..!”

Seohyun kembali mengingatkanku. Dan setelah sekali lagi mengusap punggung Prince, aku beranjak darinya untuk memakai pakaianku, Seohyun juga yang telah meletakkannya diatas tempat tidurku..

Tak kurang dari lima belas menit setelahnya, aku siap. Kami telah membuka pintu apartemen saat sekali lagi kudengar suara Prince yang mengeong dan terdengar aneh ditelingaku..

“Apa kita benar-benar tak bisa membawa Prince-ku?”

Aku mencegah Seohyun yang sudah akan menutup pintu apartemenku. Dan dia menggelengkan lagi kepalanya, kemudian menarikku lebih dekat dengannya. Dia membisikkan sesuatu ditelingaku..

“Besok adalah ulang tahunmu bukan? Dan kita sudah berencana akan merayakannya malam nanti..”

Ooh..
Kurasa aku memang melupakan hal itu..

“… Kita telah menyewa tempat disalah satu club untuk membuat privat party, dan tentu saja Prince tidak akan diijinkan berada disana”

Tatapanku kembali mengarah pada Prince, dan dia juga sedang menatapku. Mengibaskan ekornya, lalu mengeong sekali lagi..

Dia sepertinya mencoba menghampiriku, namun Seohyun telah lebih cepat menutup pintu..

“Oh, Prince..”

Desahku, masih merasa tak tega meninggalkannya..

“Tenanglah Yoona.. Tidak akan terjadi apa-apa dengan kucing-mu itu. Kau lihat tadi aku sudah menyiapkan banyak makanan bukan..”

Seohyun memintaku memakai kaca mata hitam-ku, lalu menggamit lenganku, memaksaku untuk melangkah meninggalkan depan pintu apartemenku. Ini bukan kali pertama aku meninggalkan Prince sendirian, namun aku merasakan keanehan dalam tatapan mata Prince tadi, juga suara mengeongnya yang benar-benar membuatku merasa Prince membutuhkan aku untuk bersama dengannya..

~~~

Seohyun benar, hari ini memang hari yang melelahkan dan sekaligus hari tersibuk bagi kami. Syuting berjalan lumayan lancar, meski kami harus mengulang beberapa kali pengambilan gambar karna kesalahan melakukan koreo ataupun Hyoyeon yang memang menginginkan gerakan tari yang diajarkannya ditampilkan dengan sesempurna mungkin.

Namun kelelahan hari ini rasanya langsung terbayar lunas oleh kesenangan, ketika malam menjelang dini hari, kami sengaja berkumpul untuk melakukan pesta kecil untuk kelancaran pengambilan gambar hari ini, yang sekaligus juga untuk merayakan bertambahnya usiaku..

“Saengil cukka hamnida.. Saengil cukka hamnida.. Saengil cukka uri Yoona.. Saengil cukka hamnida.. Happy birth day Yoona.. Selamat ulang tahun Yoona ya..!!”

Aku terharu saat mereka semua menyanyikan lagu ulang tahun untukku dan membawakan sebuah kue ulang tahun dengan taburan lilin diatasnya kehadapanku. Lampu telah diredupkan saat aku lebih dulu mengucap permohonan sebelum kemudian meniup lilin itu hingga kesemuanya padam. Mereka lantas bertepuk tangan. Pesta kecil ini menjadi meriah, ketika mereka semua ada bersama denganku untuk memberikan kebahagiaan yang tak mungkin dapat ditukar dengan apapun. Kami telah cukup lama berteman, bahkan kami telah menyebut satu sama lain sebagai saudara. Mereka lah keluargaku setelah Yoo Jin oenni..

Mengingat Yoo Jin oenni, membuatku kemudian terpikir untuk memeriksa ponselku. Tak pernah sekalipun oenni melewatkan untuk memberikan ucapan selamat padaku.
Dan benar saja, dua panggilan tak terjawab darinya muncul dilayar ponselku dan satu pesan masuk juga darinya..

Selamat ulang tahun Yoona ya..
Kau mungkin sedang merayakan bersama dengan teman-temanmu karna itu kau tak mendengar aku menelponmu. Aku hanya ingin mengatakan aku menyayangimu sayang.. Dan semoga kesuksesan terus menyertaimu.. :* kado dariku dan Joo Won oppa sudah aku kirim ke apartemenmu.. Semoga kau menyukainya. Saengil cukkae..

Aku nyaris meneteskan airmata saat membaca pesan yang dikirimkan oenni untukku..

Aku merindukannya..
Kesibukan membuatku terbatasi saat ingin menghabiskan waktu dengannya.

Aku juga menyayangimu oenni..

“Nugu?”

Yuri yang berada disebelahku menanyakan saat melihatku menekuni ponsel ditanganku..

“Yoo Jin oenni..”

“Dia mengirim pesan ulangtahun untukmu?”

“hm.. dia juga mengatakan telah mengirim kado untukku”

“Ooh, kakak yang manis”

Aku tersenyum kearah Sunny yang mendadak bersiap menjepretkan kameranya kearahku..

Setelahnya, kuputuskan untuk sejenak beranjak dan menghubungi oenni-ku.

~~~

Sepertinya kami telah bersenang-senang dengan mengobrolkan banyak hal-hal seru, juga telah menghabiskan cukup banyak hidangan yang kami pesan, dan tak melewatkan untuk meminum wine. Hanya sedikit, Fanny takkan membiarkan siapapun mabuk malam ini (termasuk aku yang sedang berulang tahun) karna besok masih ada beberapa jadwal yang harus kami selesaikan..

Mengakhiri pesta kecil yang sengaja kami adakan untuk menandai ulang tahunku, mereka semua memeluk dan mendoakanku, dan lantas bersama-sama kami saling menyemangati satu sama lain..

Bukan Seohyun yang kali ini mengantarkan ku pulang, dia ada bersama dengan Yuri, aku ikut dalam mobil Sooyoung bersama dengan Jessica dan Sunny..

“Kau membiarkan Prince sendirian hingga dini hari seperti ini..”

Aku lebih dulu mendesah, lantas melirik penunjuk waktu dipergelangan tanganku, dan menemukan sekarang telah mencapai pukul dua dini hari, lewat lima belas menit malah. Kemudian menoleh pada Sunny yang berada dikursi belakang, dan menunjukkan anggukan ringan padanya..

“Kau tahu aku tak mungkin membawanya hari ini”

“setidaknya kau menitipkannya ditempat penitipan hewan, Yoona. Kasihan sekali dia..”

Sooyoung menimpali disela konsentrasinya mengemudikan mobilnya..

Tapi aku tak berpikir demikian, karna sebelumnya aku pernah sekali melakukannya dan justru mendapatkan semacam komplain dari petshop dimana aku menitipkan Prince, yang mengeluhkan kucingku yang tak bisa diam dan terus mengeong sehingga mengganggu binatang lain yang dititipkan disana.

Sejak saat itu, kupikir memang Prince tak suka dititipkan. Dia lebih nyaman berada diapartemenku, meski aku terpaksa harus meninggalkannya sendirian..

“Seohyun sudah meninggalkan banyak makanan tadi, Prince-ku cukup pintar, dia akan baik-baik saja jika merasa kenyang, lagi pula bukan sekali ini saja aku meninggalkannya sendirian..”

Perasaanku sebenarnya juga mengkhawatirkannya sejak tadi, namun aku haruslah meyakini Prince baik-baik saja..

Ya, dia baik-baik saja kecuali jika merasa kesal, dia mungkin hanya akan mencakar-cakar karpet ataupun sofa yang kumiliki..

Turun dari mobil Sooyoung, aku melambaikan tangan pada ketiganya yang sudah langsung meneruskan perjalan pulang. Bergegas masuk kedalam gedung apartemenku, aku dihampiri petugas yang berjaga, yang kemudian menyerahkan sebuah kotak yang berbungkus. Ini pasti kiriman kado dari Yoojin oenni. Senyumku lantas mengucap terimakasih dan segera menuju depan lift untuk naik kelantai kamar apartemenku.

Setelah harus beberapa saat menunggu pintu lift terbuka, dengan segera aku masuk kedalamnya dan menekan angka tujuh, hingga sampailah aku didepan pintu kamar apartemenku..

“Prince.. Aku pulang..!”

Membuka pintu, melepas sepatu yang kugunakan dan menggantinya dengan sepasang sandal rumahan, tatap mataku yang sebelumnya menunduk, kini justru dikejutkan dengan keadaan didalam apartemenku.

Ya Tuhan..
Bungkusan kotak yang kubawa dengan seketika terjatuh dari tanganku.

Bukankah tidak mungkin Prince yang melakukannya.
Mengacau apartemenku..
Dia hanya pernah mencakar-cakar sofa milikku, tidak sedemikian mengacau seperti ini..

“Prince..”

Aku menggumam lirih..
Masih berdiri diam, shock kurasa, saat kini melihat kekacauan didepan mataku..

“Prince, dimana kau?”

Perlahan mulai menggerakkan kedua kakiku untuk melangkah, aku menemukan dengan jelas kekacauan parah yang terjadi. Di dapur kecil yang kupunya, aku mendapati banyak pecahan piring, mangkuk serta gelas yang berserakan dilantai. Juga sendok dan sumpit, yang tersebar disekitar lantai dapurku. Juga diatas meja makan, terdapat pecahan gelas dan genangan air yang berasal dari dalam botol yang telah pecah..

Aku bergidik..

Apa yang telah terjadi?

Sejauh yang kulihat, semua sudut didalam ruangan ini kacau..

Bahkan tempat tidurku, seakan tak berbentuk. Dua lampu tidur yang masing-masing berada dikanan dan kiri tempat tidurku, pecah. Selimutku rusak. Bahkan bulu-bulu angsa yang berasal dari bantal tidurku, beterbangan dimana-mana.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, bingung dan merasa mungkinkah aku mabuk hanya dengan seteguk wine?
Rasanya tidaklah mungkin ini hanyalah masalah disorientasi dari penglihatanku.

Ini nyata..

Oh Tuhan-ku..
Dengan cepat aku telah membekap mulutku saat ketakutan mendadak muncul menyergapku..

Apakah ada penyusup di apartemenku?

Ya Tuhan..
Tidak mungkin..

Aku memutar tubuhku kesekeliling, memperhatikan setiap sudut diruanganku dengan waspada..

“Prince.. Prince..! Dimana kau?”

Kedua lututku dengan seketika lemas saat ekor mataku menemukan ceceran berwarna merah..
Sepertinya darah..
Ya, itu memang darah.

Tercium bau anyir dihidungku yang lantas membayang kengerian yang mungkin saja telah terjadi pada Prince.

Prince-ku terluka..
Oh Tuhan, Tidak..
Jangan lakukan itu pada Prince-ku..

“Prince..! Prince..!”

Ketakutan yang beberapa saat kurasakan akan adanya penyusup yang masih berada didalam apartemenku mendadak hilang dan berganti menjadi kecemasan yang luar biasa terhadap kondisi Prince.

Dimana Prince-ku?
Dia seharusnya mengeong ketika aku memanggilnya..

“Prince..”

satu-satunya tempat yang masih terlihat sama seperti ketika aku meninggalkannya dipagi tadi, hanyalah kamar mandi. Dan aku tak menemukan Prince-ku berada didalamnya..

Kuputuskan untuk mengikuti arah ceceran darah itu dengan perasaan bergidik oleh kengerian, namun kecemasanku terhadap keadaan Prince membuatku mengalahkan rasa takut dalam diriku..

“Prince.. Dimana kau? Bersuaralah.. Aku ingin mendengarmu.. Prince..”

Warna merah itu, yang tercecer dilantai-ku, yang lantas menuntunku untuk membuka pintu balkon..

“Prince..”

Kumohon..
Prince, kau baik-baik saja..

Menggeser pintu kaca yang terdapat pada balkon apartemen-ku, aku dengan segera merasakan merinding pada kulitku. Bukan hanya karna dinginnya angin malam yang langsung menerpa mengenai pori-poriku, melainkan juga karna tingginya antisipasi dalam diriku terhadap kemungkinan yang mungkin akan kutemukan..

Tatap mataku menjelajah dan sontak jeritanku tak terkontrol saat melihat Prince-ku tergeletak bersimbah darah, tepat diujung balkon apartemenku..

Kedua kaki-ku gemetar, lemas dan aku terduduk jatuh bahkan sebelum dapat meraih Prince dan memastikan kucing-ku masih hidup..

Oh Tuhan..
Mengerikan menyaksikan ini sendiri dengan kedua mataku..

Prince..
Prince-ku..

“Prince..!! Prince..!!”

Aku merangkak mendekatinya, dan kutemukan beberapa luka robek bekas sayatan diseputar leher hingga perutnya. Kurasakan darah seketika turun dari wajahku. Aku memucat..

Biadab seperti apa yang tega melakukan hal mengerikan ini pada Prince-ku..

“P-prin-ce..”

Suaraku tersedak oleh airmataku yang segera luruh diwajahku. Tercekat, bahkan sesak menghimpit kuat dadaku ketika kuraih tubuh lunglai Prince, dan bahkan tubuh tertutup bulu tebalnya yang biasa terasa hangat, kini justru terasa dingin dikulitku..

“Prince.. Bangun Prince.. Apa yang terjadi? Prince.. Siapa yang melakukan ini padamu.. Prince..”

Prince sama sekali tak bergerak ketika aku terisak mendekapnya. Tak peduli dengan bau anyir, dan darahnya yang kemudian menempel mengenai pakaianku. Entah bagaimana aku merasakan ketakutan luar biasa saat kemudian kusadari kemungkinan aku takkan memiliki lagi Prince-ku..

Tidak..
Prince tak boleh mati. Prince-ku harus selamat. Aku akan membawanya ke dokter, lalu melapor pada polisi mengenai penyusup yang telah mengacau diapartemenku, dan bahkan melukai Prince-ku.

“Prince.. Kumohon Prince, aku tak mau kehilanganmu. Bangunlah.. Prince.. Aku benar-benar tak mau kehilanganmu. Kau yang selalu menemaniku. Kau yang selalu mendengar keluhanku.. Siapa yang akan menemaniku lagi. Aku tak mau kucing-kucing yang lain, Prince. Aku menyayangimu..”

Airmataku kembali menetes..
Aku pun tak tahu, bagaimana seekor kucing peliharaan bisa sampai membuatku seperti ini. Yang jelas aku memang menyayangi Prince-ku. Dia temanku..

“Kau harus selamat Prince..”

Meletakkan lagi tubuh Prince diatas lantai balkon, aku dengan segera berlari mencari tas tanganku yang kuyakin telah terjatuh tanpa aku sadari.

Menemukannya berada tak jauh dari pintu apartemenku, didekat kotak berbungkus kiriman oenni-ku, aku merogoh kedalam tas-ku, mencari ponselku dengan rasa panik, aku sesaat justru kebingungan pada siapa yang terlebih dulu harus kuhubungi..

Kuputuskan untuk menghubungi Yoojin oenni yang namanya berada dalam daftar teratas dari panggilan terakhir yang kulakukan. Selain karna dia adalah kakak-ku, yang dulu menghadiahkan Prince padaku, juga karna Joo Won oppa, suaminya adalah seorang yang bertugas dikepolisian. Aku bisa langsung melaporkan hal ini padanya. Dia akan cepat datang dan mencari bukti-bukti yang mungkin saja tertinggal dari penyusup keparat yang telah masuk kedalam apartemenku..

Tapi Yoojin oenni justru tidak menjawab ponselnya..

Aku kembali berlari kearah balkon, dan jerit suaraku kembali tak dapat kukontrol saat aku tak menemukan Prince-ku, tapi justru mendapati seorang pria yang sama bersimbah darah ditubuhnya sedang menunduk (mungkin memperhatikan pada luka-lukanya), namun karna jeritanku, pria itu kemudian mendongak dan menunjukkan kilatan dimatanya ketika ia menatap kearahku..

Tuhan..
Dia pasti penyusup itu..

Kurasa aku telah berhenti bernapas saat melihatnya mengulurkan sebelah tangannya..

“S-si-a-pa.. Kau..?”

Aku sontak bergerak mundur..

Tubuhku terasa gemetar, bahkan ponsel yang berada dalam genggaman tanganku telah terjatuh..

“Yoo-na..”

Suaranya serak..
Lirih..
Mengerikan..

Dia tahu namaku..
Itu bukan sesuatu yang mengherankan mengingat seringnya aku muncul didepan publik. Tapi bagaimana dia bisa memasuki apartemenku?
Aku yakin para petugas keamanan selalu melakukan penjagaan dengan ketat.

Dan..
Dan dimana Prince-ku?
Apa dia telah melempar Prince-ku dan menjatuhkannya hingga kelantai bawah?

“Tidak.. Prince..!”

“Yoo-na..”

“Berhenti..!! Siapa kau? Jangan mendekat atau aku akan semakin berteriak..!”

“Yoo-na..”

Dia menghiraukanku, dan justru melangkah semakin mendekat kearahku..

Mengambil langkah untuk terus mundur, sebelah kakiku justru tersandung oleh benda-benda yang berserakan dibawah kakiku, aku nyaris saja terjatuh kebelakang, namun pria penyusup itu dengan cepat telah meraih pinggangku..

Tuhan..
Apa yang akan terjadi denganku?
Aku melihat kilat dikedua matanya, yang membuat ketakutan kian menelusup kedalam diriku..

Aku menutup mata tak ingin melihatnya..

Namun masih dapat tercium bau anyir darahnya yang begitu dekat dihidungku dan membuat perutku bergolak mual..

“Yoo-na.. A-ku..”

aku mendengar lagi suara penyusup itu..

Serak..
Lirih dan semakin terasa menakutkan..

Aku ingin memberontak dan mendorongnya menjauh dariku, namun shock atas apa yang kualami ini telah membuat tubuhku menjadi lunglai tanpa tenaga..

“Yoo-na.. Yoo-na..!”

Aku masih sempat mendengar nada suaranya yang berbeda, sebelum kemudian gelap menyergap, menutup kesadaranku..

Oh Tuhan..
Aku berpasrah pada-Mu atas apa yang akan terjadi padaku ditangan pria itu..

~~~

Kupikir aku telah mengalami yang namanya mati rasa..

Seingatku, pria penyusup itu telah berhasil meraih tubuhku. Dan jika dia kemudian melukaiku, dengan cara menyayat atau merobek bagian kulit tubuhku seperti apa yang dilakukannya pada Prince, aku pasti akan menjerit kencang dan menangis kesakitan..

Tapi sekarang, aku justru tak merasakan apa-apa. Tak sedikitpun nyeri ataupun ngilu  Atau karna aku telah mati?

Ohh..

Pemikiran itu menyentak kesadaranku. Kedua mataku awalnya hanya mengerjap, sebelum kemudian terbuka sepenuhnya dan langsung merasakan silaunya cahaya lampu diatasku..

Mencoba mengerjapkan kedua mataku lagi, dan keadaanya tetaplah sama..

Ketika kemudian kuputar kepalaku kesatu sisi sebelah kiri, aku terlonjak bukan main, melihat pria itu berdiri tak jauh dariku. Memperhatikanku dalam diam, namun kutahu kedua matanya yang berkilat itu fokus menatapku..

Ya Tuhan..
Penyusup itu..

Siapa dia, dan apa yang diinginkannya dariku?

“A-apa yang kau inginkan?”

Aku dengan segera beringsut dari atas tempat tidur, dan mengambil ancang-ancang, kalau pria itu berani mendekatiku aku mungkin bisa melemparnya dengan sesuatu benda apapun yang berada didekat ku..

“Kau bangun, Yoo-na.. Aku senang melihatmu bangun..”

Dia mendekat..
Menjadikan sekujur tubuhku merinding melihatnya..

“Tolong, berhenti.. Jangan mendekatiku..”

Aku menggeleng-gelengkan kepala, dan kurasa dia menangkap sorot ketakutan dimataku ketika kemudian dia berhenti dan tak meneruskan langkahnya yang ingin mendekatiku..

“Yoo-na..”

Dia kembali memanggil namaku. Suaranya masih sama terdengar lirih, seperti semalam..

Ya Tuhan..
Semalaman pria itu berada disini, bersamaku. Apa yang sudah dilakukannya padaku?

Sontak kedua mataku dengan awas memeriksa seluruh tubuhku. Syukurlah aku tak menemukan sesuatu yang janggal terjadi pada tubuhku. Pakaianku masih lengkap seperti semalam. Kecuali sepatu yang sebelumnya kupakai, seingatku memang telah kulepaskan dan berganti dengan sendal rumahan yang kini tergeletak dipinggir tempat tidurku.

Kusadari, ketika kedua mataku kemudian menjelajahi kamar apartemenku, tak terlihat lagi kekacauan seperti semalam. Bahkan dua lampu tidur yang berada dimasing-masing sisi tempat tidurku, kini kembali seperti semula.

Bagaimana mungkin?
Aku yakin itu telah pecah semalam..

Bulu-bulu angsa yang berasal dari bantal tidurku, yang semalam kuyakin benar-benar bertebaran diseluruh ruangan, kini bahkan tak terlihat sehelai bulu-pun yang berada dilantai kamarku..

Dan juga, ceceran darah itu..
Darah Prince..
Tak kutemukan lagi bekasnya ataupun bau anyirnya seperti yang tercium semalam..

Oh, Prince-ku yang malang..
Sesak kembali menghimpitku dan membuatku merasa ingin menangis..

“Prince.. Dimana Prince-ku?”

Segera berjingkat dari atas tempat tidurku, aku seolah lupa dengan keberadaan pria penyusup itu. Dia bahkan menggeser tubuhnya ketika kemudian aku melewatinya dan masih terheran karna benar-benar tak menemukan sisa-sisa ataupun bekas kekacauan yang terjadi semalam. Kuyakin aku tidak sedang bermimpi. Tapi, sungguh didapurku tak kutemukan lagi kepingan-kepingan bekas pecahan piring, mangkuk ataupun gelas, bahkan sendok dan sumpit yang semalam kulihat berserakan dimana-mana. Semua kembali utuh, dan berada pada tempatnya..

Tidak mungkin..
Ini sungguh tidak mungkin..
Aku tidak sedang bermimpi kan?

Kutepuk-tepuk kedua pipiku, lebih untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku telah terbangun dan kedua bola mataku masihlah berfungsi dengan normal. Dan terutama otakku, masihlah berfungsi dengan benar dan dapat menyimpan atau memutar memori dengan sangat baik..

“Yoo-na..”

Aku kembali berjingkat, kaget saat mendengar suara pria itu lagi memanggilku, dengan segera kuraih pisau yang berada didapur-ku dan berbalik mengancamnya..

Dengan inikah dia telah melukai Prince-ku..

“Jangan coba mendekatiku..!”

Dia sontak diam, namun tatapannya terus memperhatikan sebilah pisau ditanganku..

“Kau akan menyesal bila berani mendekatiku..”

Aku masih mengacungkan pisau padanya..

Sungguh, tanganku bahkan gemetar hebat saat memegangnya. Ini pertama kalinya aku melakukan ancaman terhadap seseorang dengan menggunakan senjata tajam. Mungkin memang pisau ini tidak terlalu tajam, tapi ku yakin benda ini tetaplah sanggup untuk menusuk ataupun melukai seseorang sepertinya bila dia terus membuatku merasa terancam, aku bisa jadi bertindak nekat untuk melindungi diriku..

Oh Tuhan..

“Yoona.. Jauhkan benda itu..”

“Tidak..! Kau.. Kaulah yang seharusnya menjauh dariku..! Pergi dari tempatku..!”

Beraninya dia justru menggelengkan kepalanya..

Kurasa aku melihatnya yang kemudian memejamkan matanya sesaat, lalu terbuka lagi dan entah ini kebetulan atau apa, aku merasakan sesuatu seperti menyengat tanganku dan membuatku menjatuhkan pisau itu dari tanganku..

Aku segera merundukkan tubuhku untuk mengambilnya, namun seperti ada yang menendangnya, pisau itu bergerak dan malah berada jauh dari jangkauanku..

“Itu bisa jadi akan membahayakanmu, Yoona”

Jelas dialah yang saat ini membahayakan ku..

“Katakan apa mau-mu?!”

“Aku hanya menginginkanmu..”

Pengakuannya membuatku memutar mata, dan secara tiba-tiba kurasakan seperti desiran angin yang membuat seluruh tubuhku mendadak merasakan hawa dingin disekitarku..

Dengan cepat kemudian aku menghindarinya yang kembali bergerak untuk mendekatiku..

“Tidak.. Jangan mendekat!!”

Aku memekik, dan dia kembali menghentikan gerak kakinya yang sedang melangkah untuk menjangkau-ku..

Gelagatnya yang kemudian diam dan menundukan wajahnya, terasa aneh. Apakah dia menurut dengan apa yang kukatakan?

Oh, berpikir apa diriku?
Akulah yang aneh karna telah berpikir demikian..

Aku dengan cepat mendekat kearah balkon, menggeser pintunya dan memeriksa keadaan disana. Aku bahkan sempat melongok kelantai terbawah, mencari-cari kemungkinan pria itu yang semalam melempar Prince-ku.

Tapi tak terlihat jejak-jejak apapun. Ataukah petugas keamanan telah melakukan evakuasi terhadap kucing-ku?

Ya Tuhan..
Kurasakan airmata menyeruak dari sudut mataku. Sesak didadaku saat membayang kengerian yang terjadi semalam membuatku kembali menangisi kemalangan nasib Prince oleh karna perbuatan keji pria itu..

Aku berbalik, bukan lagi dengan ketakutan melainkan dengan kemarahan dikedua mataku..

“Apa yang kau lakukan?! Dimana Prince-ku? Mengapa kau begitu keji membunuhnya?! Brengsek..! Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?!”

Dia baru kembali mendongak setelah mendengar letupan kemarahanku. Lalu menatapku dengan tatapan yang begitu terasa tak asing untukku.

Tidak..
Siapa orang yang pernah menatapku seperti itu?
Kurasa tak pernah ada..
Tapi itu sungguh benar tak asing bagiku..

“aku Prince.. Akulah Prince, Yoona.. Akulah Prince-mu..”

“Apa?”

Aku melongo kearahnya..

Apa dia sedang mengatakan lelucon?
Apa aku harus tertawa setelah mendengar lelucon yang dikatakannya?

Oh, yang benar saja..

Aku hanya harus menendangnya keluar dari apartemenku dan memastikan dia mendapatkan balasan atas perbuatannya yang telah melukai Prince. Bahkan aku masih belum tahu dimana dan bagaimana Prince-ku sekarang..

“Aku tahu ini begitu mustahil bagimu.. Tapi ini benar terjadi, aku bersungguh-sungguh, Yoona. Aku Prince.. Akulah Prince-mu. Yang sebelumnya berwujud seekor kucing dan menjadi peliharaanmu. Akulah Prince, Yoona..”

Oh, Ya ampuunnn..
Aku tertawa..
Benar-benar menertawai ucapannya..

Apakah dia berpikir aku wanita gila, yang akan mempercayai kegilaannya..

Ya Tuhan..
Ada pria gila didalam apartemenku, dan semalaman telah bersama denganku (walau diluar kesadaranku). Aku tak pernah berpikir akan mengalami hal sedemikian. Tapi pria gila ini telah melukai Prince-ku, dan besar kemungkinan dia juga akan melukaiku. Dia memiliki kesempatan untuk itu semalam, tapi mengapa dia tidak melakukannya?

Oh, sungguh memusingkan..

“Dengar, aku masih seorang yang waras..”

“Aku sudah menduga kau takkan mempercayaiku..”

“Ya, apa kau pikir aku gila hingga akan mempercayai leluconmu?”

“lelucon? Apa itu lelucon? Aku hanya mengatakan akulah Prince.. Aku Prince-mu, Yoona.. Kau harus tahu, sebelumnya aku mendapatkan kutukan hingga aku terjebak dalam wujud seekor kucing. Tapi airmata tulusmu semalam ketika menangisiku, telah membebaskan aku dari mantra yang selama ini mengutukku”

Astaga..
Dia benar-benar berpikir aku gila seperti dirinya..

“Aku tahu ini mustahil untukmu, Yoona. Tapi aku bisa meyakinkanmu bahwa benar akulah Prince. Prince-mu masih hidup.. Aku hanya kembali pada wujudku..”

Aku menggeleng..

Bagaimana mungkin aku masih berdiri disini dan mendengar segala omong kosongnya.

Pria itu gila..
Yang seharusnya kulakukan adalah secepatnya menyelamatkan diriku..

“Yoo-na.. maukah..”

“Tidak.. Aku tak perlu diyakinkan..”

“Jadi kau sudah bisa menerimaku?”

“Apa?”

“Kau menerimaku seperti ini? Sebagai Prince-mu?”

Aku memutar mata kearahnya..

“Ya Tuhan.. tentu saja tidak.. Kau bukan Prince-ku..”

“Yoo-na.. Aku..”

“Berhenti.. Jangan mengatakan apapun lagi, dan jangan coba mendekatiku..!”

Aku memperingatkannya saat menyadari gerakannya yang coba mendekatiku, dan sekali lagi dia mendengar ucapanku. Dia diam dan hanya menatapku..

Aku memanfaatkan hal itu dengan beralih dan menyambar tas tanganku. Aku harus secepatnya pergi. Yang kukhawatirkan, bila aku terlalu lama berada dalam satu ruangan dengannya, aku akan tertular kegilaannya.

Pemikiran itu membuatku bergidik..

“Dengar, keluar dari tempatku sebelum aku kembali bersama dengan polisi untuk menangkapmu..”

dia menggeleng..

Tapi aku tak peduli, aku hanya berpikir untuk menyelamatkan diriku, lalu mencari dimana keberadaan Prince-ku. Setidaknya, meski aku pasti akan meraung menangisinya, aku masih harus menguburkannya dengan layak.

“Yoo-na..”

Dia kembali bersuara memanggilku ketika aku bersiap membuka pintu apartemen-ku.

Kuputuskan untuk mengabaikannya..

“Aku akan tetap berada disini.. Aku akan menunggu kau kembali. Tapi tolong, berpikirlah untuk mempercayai bahwa aku adalah Prince.. Aku Prince-mu..”

Aku telah benar-benar keluar dari apartemenku dan menutup pintu dibelakangku..

Sungguh, aku masih tak percaya ada seorang pria gila yang berada didalam apartemenku.

Kurasa aku benar-benar harus segera melapor..

Aku berjalan cepat menuju lift, namun langkahku terhenti saat kudengar dering suara yang berasal dari ponselku. Merogohnya dari dalam tas-ku, aku menemukan nama Yoojin oenni yang terdapat dalam layar ponselku..

“Oenni..”

“selamat ulang tahun Yoona ya..”

Oh, meski semalam aku telah merayakannya, namun sekarang aku bahkan lupa hari ini adalah ulang tahunku.

Siapa memangnya yang akan peduli dengan ulang tahunnya, saat dirumahnya terdapat seorang pria gila yang bahkan telah berhasil melukai seekor kucing peliharaan. Bisa keluar dengan selamat seperti ini saja, aku sudah sepantasnya bersyukur..

“Yoona ya..? Kau masih mendengarku?”

“Ooh, ne oenni.. Gomawo..”

“Apa kau sudah menerima hadiah yang kukirimkan?”

“Ya, aku menerimanya.. Terimakasih oenni..”

Aku tak ingin mengecewakan Yoojin oenni dengan mengatakan aku bahkan belum membuka kado darinya. Sekilas kulihat tadi, kotak berbungkus itu masih utuh seperti semula dan telah berada diatas meja. Entah siapa yang telah memindahkannya disana.

“Apa kau ada waktu hari ini? Datanglah.. Aku merindukanmu, Yoona. Ayo kita rayakan ulang tahunmu dirumahku..”

“Aku sedang menunggu lift oenni, aku memang akan pergi menemuimu. Apakah Joo won oppa ada dirumah?”

“Ya, dia bahkan baru pulang.. Dia sedang beristirahat, tapi dia akan bangun saat kau datang.. Apa kau akan datang bersama temanmu?”

“Anio.. Aku sendiri”

“Baiklah, cepatlah datang Yoona ya, aku sangat merindukanmu..”

Aku memutus sambungan, memasukkan kembali ponselku kedalam tas, dan tiba-tiba terpikir siapa yang telah meletakkan ponselku lagi kedalamnya. Seingatku, terakhir aku mengambilnya untuk menelpon Yoojin oenni, tapi oenni tidak menjawab telponku, lalu..

Ahh, aku menggeleng mengingat lagi kejadian semalam..

Pria itu bukankah memakai pakaian yang telah bernoda darah? mungkin terkena darah Prince.
Tapi mengapa yang terlihat tadi adalah pakaiannya yang berwarna putih, nampak bersih dan andai aku sedikit berkonsentrasi, kurasa aku bahkan dapat mencium semacam wewangian yang menguar dari tubuhnya..

Aku menggeleng-gelengkan kepala, merasa bodoh dengan pemikiranku yang melantur kemana-mana.

Dan jika mengingat, aku juga telah mendekap Prince dan membuat darahnya menempel dipakaianku, bahkan mengenai kedua tanganku, mengapa sekarang keadaanku-pun bersih, sama sekali tak tercium bau anyir ditubuhku..

Bagaimana bisa?

Kepalaku terasa berdenyut, memikirkan berbagai keanehan yang terjadi..

Namun segera kusadari, aku memerlukan kunci mobilku untuk sampai ke tempat Yoojin oenni, aku harus berkendara sendiri.

Atau mungkin aku bisa menggunakan taksi, tapi aku masih mengingat Tiffany selalu mewanti-wanti agar aku tidak melakukannya. Sepertinya dia memikirkan keamananku. Jika seperti itu, dia seharusnya juga menempatkan beberapa pengawal untukku agar tidak ada penyusup gila yang bisa memasuki apartemenku..

Bergidik aku memikirkan jika aku harus kembali untuk mengambil kunci mobilku. Tidakkah itu jadi akan beresiko?
Bagaimana jika pria itu nanti menahanku. Mengurungku didalam apartemenku sendiri dengan sebuah tali yang mengekang tangan dan kakiku..

Tapi dia punya waktu semalam, dan dia tak melakukan apapun padaku. Bahkan kupikir, dia yang telah membereskan kekacauan didalam apartemenku, meski sangat mustahil dia bisa menyatukan lagi pecahan-pecahan piring dan gelas itu kembali mencadi utuh..

Astaga..
Aku benar-benar akan tertular menjadi gila bila terus memikirkan keanehan-keanehan itu..

Memberanikan diri untuk kembali membuka pintu apartemenku, aku mendapati pria itu masih berdiri diam ditempat semula ketika aku keluar meninggalkannya.

Bukan meninggalkannya lebih tepatnya menyelamatkan diri darinya..

Tapi sekarang, dengan bodohnya aku justru mengumpankan diriku kehadapannya..

“Kau kembali dengan cepat, Yoona ya..”

“A-ku.. Aku perlu kunci mobilku..”

Bergerak cepat mendekati satu kabinet yang menjadi tempat aku menggantung kunci mobilku, aku menyambarnya dan sesegera mungkin mencapai gagang pintu untuk kembali keluar..

“Aku akan tetap berada disini, Yoona.. Aku akan menunggumu..”

Aku kembali mendengar suaranya sebelum aku menutup pintu. Dan rasanya jantungku telah terlepas dari tempatnya saat kugunakan kedua kakiku untuk berlari meninggalkan apartemenku dan pria gila itu yang berada didalamnya..

~~~

Meski akhirnya berhasil sampai dirumah Yoojin oenni dan Joowon oppa, tapi aku mendapati diriku dalam keadaan linglung. Aku telah sempat bertanya pada petugas keamanan dan mereka memastikan tak melihat Prince-ku. Jika pria itu benar-benar telah melempar kucing ku kebawah, sudah pasti akan ada ribut-ribut dari para petugas keamanan untuk mengetahui pemilik hewan peliharaan itu.

Prince-ku jelas tak terlihat seperti kucing jalanan yang hanya akan dibiarkan begitu saja bila dia mati. Prince-ku mempunyai pemilik. Akulah pemiliknya..

Tapi dimana dia sekarang..
Bagaimana bisa Prince lenyap begitu saja..?

Terus memikirkan Prince, membuatku tak terlalu fokus dengan apa yang ditanyakan oenni padaku. Bahkan aku menjadi bingung untuk mengatakan apa yang seharusnya kukatakan tentang keberadaan seorang pria gila yang berhasil menyusup masuk kedalam apartemenku..

“Aku Prince.. Akulah Prince, Yoona.. Akulah Prince-mu..”

Justru kata-kata pria itu terus saja terngiang-ngiang dikepalaku..

“Kau bilang kau belum sarapan, Yoona ya.. Jadi mengapa kau hanya mengaduk-aduk makananmu?”

Aku teralih saat suara Yoojin oenni membuyarkan lamunanku..

“Ah, ne oenni.. Sepertinya aku masih mengantuk. Kemarin dan semalam benar-benar melelahkan”

“Kalau begitu tidurlah lagi.. Aku akan menyiapkan selimut untukmu”

“ne.. Terimakasih oenni ya..”

Oenni tersenyum dan lebih dulu mengusap bahuku sebelum beranjak meninggalkanku diruang makan sendirian. Sengaja aku melarangnya untuk membangunkan Joowon oppa, karna sepertinya aku tak yakin akan mengatakan keberadaan pria penyusup itu. Toh dia tidak melukaiku, dan aku tak ingin membuat Yoojin oenni menjadi cemas padaku.

Aku hanya perlu berada disini beberapa lama, sampai penyusup itu pergi dari apartemen ku..

Aku sudah akan menyusul Yoojin oenni, namun terhenti oleh suara yang berasal dari dering di ponselku. Seohyun yang menelpon, menanyakan dimana keberadaanku, sekaligus mengingatkanku bahwa aku masih memiliki serentetan jadwal untuk hari ini. Praktis aku harus secepatnya berada dilokasi..

“Aku ada dirumah Yoojin oenni.. Tidak, tidak perlu menjemputku. Aku mengendarai mobil-ku. Tapi kurasa akan perlu lebih dari tiga puluh menit untuk sampai kesana..”

“Kalau begitu bisakah kau mampir untuk menjemput Jessica? Dia rewel dengan kostum panggung yang harus dibawanya”

“hm, baiklah.. Aku akan menjemputnya”

Setelah mengakhiri pembicaraan melalui telpon dengan Seohyun, aku bergegas pamit pada Yoojin oenni dan mengatakan padanya kemungkinan aku akan pulang lagi kesini. Oenni cukup senang mendengarnya. Dia bahkan menanyakan apa yang kuinginkan untuk makan malamku nanti.

“Tidak perlu merepotkan dirimu dengan keberadaanku, oenni. Hanya beristirahatlah untuk kebaikan calon keponakanku..”

Oenni tersenyum ketika aku mengusap perutnya yang sudah semakin terlihat membuncit di lima bulan usia kehamilannya. Kucium pipinya ketika kemudian berpamitan padanya..

“Oh, Yoona ya.. kau disini?”

“Hai oppa.. tapi aku harus pergi sekarang”

“Benar-benar kehidupan seorang Idol yang sibuk..”

Aku terkekeh mendengarnya..

“Aku akan datang lagi nanti malam.. jika boleh, mungkin aku akan menginap”

“Tentu saja, datanglah setelah kau menyelesaikan jadwalmu..”

Joo won oppa tak melupakan untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun untukku, sebelum kemudian aku harus bergegas pergi..

~~~

Tiga hari, aku telah pulang dan pergi untuk beraktifitas dari rumah Yoojin oenni. Meski terasa lebih melelahkan karna jarak yang harus kutempuh menjadi dua kali lipat bila dibandingkan dengan saat aku pulang dan pergi dari apartemen-ku yang strategis karena letaknya yang berada dipusat kota, namun hal ini terasa lebih baik bila membayangkan dengan aku yang harus kembali ke apartemen lalu mendapati penyusup itu masih berada disana.

Aku sempat berpikir akulah yang bodoh karna tidak melapor. Hanya saja terlalu banyak kemungkinan yang kemudian kupikirkan. Akupun tak ingin menciptakan kehebohan dimata publik saat berita mengenai keberadaan penyusup didalam apartemenku tersebar kemana-mana. Aku bahkan tak memberitahukan pada yang lain alasan sebenarnya mengapa dalam tiga hari ini aku memilih tinggal bersama dengan Yoojin oenni.

Sesungguhnya ada perasaan tak enak yang kurasakan terhadap kakak iparku, Joowon oppa. Keberadaanku disini mungkin membuatnya sedikit risih dan tak leluasa menghabiskan sedikit waktunya yang cukup berharga untuk bersama dengan Yoojin oenni. Karna itu aku tengah berpikir untuk menemukan tempat tinggal baru, mungkin sementara aku bisa tinggal bersama Taeyeon ataupun Hyoyeon. Hanya keduanya (dari kami) yang menempati semacam basecamp yang biasanya menjadi tempat kami untuk berlatih, dari mulai vokal hingga koreografi, mengembangkan konsep panggung dan sekaligus menjadi tempat utama bagi kami untuk berkumpul dan bersantai..

Aku sudah mengatakan pada Yoojin oenni jika aku akan kembali ke apartemenku, dan tidak mengatakan yang sebenarnya mengenai rencanaku untuk berpindah tempat ke basecamp..

Aku sedang menyetir saat kemudian ponselku bersuara..

“Yobseyo..”

“nona Im?”

“Ya..”

“saya dari petugas keamanan apartemen..”

“Oh, ya.. Ada apa?”

“Kami menemukan kucing anda..”

“Sungguh?”

Secara refleks aku menghentikan laju mobilku..

“benarkah kucing-ku ditemukan? Bagaimana keadaannya?”

Aku ingat benar Prince terluka parah..

“Sejauh ini baik-baik saja. Kami hanya ingin anda datang untuk memastikan”

“Ya.. Tentu, aku kesana sekarang..”

Syukurlah..
Prince akhirnya ditemukan, setelah setiap hari aku menelpon dan menanyakan pada petugas apartemen mengenai kemungkinan mereka melihat kucing-ku. Dan bukankah tadi mereka mengatakan Prince dalam keadaan baik-baik saja..?

Oh Tuhan..
aku berterimakasih pada-Mu.

Memutar laju mobilku, aku segera mengarahkannya menuju gedung apartemenku. Dan dalam beberapa menit berikutnya, aku telah memarkir mobilku dan bergegas keluar untuk menemui petugas yang tadi menghubungiku..

“Bagaimana dengan Prince-ku? Dimana dia sekarang?”

“Prince?”

Seorang petugas yang kutemui justru mengerutkan dahinya, bingung..

“Prince, kucingku.. Namanya Prince..”

“Ooh, seekor kucing.. Kami telah mengamankannya nona..”

“Aku ingin melihat kucing-ku”

“Saya akan mengantar anda..”

Aku mengikuti langkah petugas itu yang kemudian membawaku kesalah satu ruangan..

“Prince..?”

Aku merasa kecewa saat melihat itu bukanlah kucingku..

Kurasa kucing itu memang berjenis sama seperti Prince, bahkan warna bulunya juga menyerupai Prince, tapi dia bukanlah Prince-ku. Bahkan suara mengeongnya terasa asing bagiku..

“Itu bukan kucingku..”

Aku bersuara lemah, dan petugas itu mengurungkan niatnya yang sudah membopong kucing itu untuk kemudian diserahkan padaku..

“bukan kucing anda, nona?”

Aku menggeleng..

“Mungkin anda bisa membawanya saja.. Kucing ini terlantar dibasemant tempat parkir..”

Dia menawarkan kucing itu padaku..

Tapi kupikir aku tidak bisa menerimanya. Bagaimana dengan pemiliknya yang mungkin juga sedang mencari-carinya. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan hewan peliharaan. Dan itu menyedihkan..

“Tidak.. Mungkin sebaiknya kau mencari pemilik aslinya. Dan tolong, tetaplah membantuku untuk mencari kucingku..”

Petugas itu mengangguk, dan aku telah beberapa langkah meninggalkannya tapi kemudian aku berbalik, saat sebuah pertanyaan melintas dibenakku..

“Bisakah aku bertanya?”

“Ya, nona.. Apa yang ingin anda tanyakan? Silahkan saja..”

“emm, beberapa hari ini aku tak sempat pulang.. Apakah kau melihat keanehan dikamar-ku?”

Petugas itu kembali menunjukkan kerutan didahinya..

“Maksud nona?”

“maksudku, apakah kau mendengar suara-suara seperti kegaduhan mungkin?”

Petugas itu menggeleng..

“sama sekali tidak nona.. Saya jamin semua aman. Seluruh petugas kami selalu melakukan patroli dalam setiap jam-nya”

aku sedikit mendengus..

Dia hanya tak tahu seorang pria gila telah berhasil menyusup kedalam kamar apartemenku..

Entah apa yang kemudian membawaku mempercayai ucapan petugas keamanan itu, mungkin memang pria penyusup itu telah pergi setelah dalam tiga hari ini aku tidak kembali.

Dengan pemikiran bahwa apartemenku telah aman, aku memutuskan untuk menaiki lift dan dengan kedua kakiku, aku melangkah mendekati pintu apartemen-ku.

Cukup lama aku hanya berputar-putar disekitar pintu itu, sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka pintu dan terlonjak oleh rasa terkejut mendapati pria itu masih berada disana.

Berdiri ditempat yang sama ketika aku keluar tiga hari yang lalu. Kurasa dia benar-benar tak bergeser sedikitpun dari tempatnya..

Ya Tuhan..
Pria itu sungguh gila..
Dia benar-benar tidak waras..

Aku mengambil langkah mundur, namun pintu dibelakangku yang tiba-tiba saja menutup dengan sendirinya, langsung mematikan langkahku begitu saja.

“Yoo-na..”

Dia bersuara..
Pria itu bersuara lirih, dengan tatapan matanya yang sepertinya berubah menjadi sendu ketika ia melihatku.

Ya Tuhan..
Apa yang harus kulakukan sekarang?

“Kau kembali Yoona.. Aku masih menunggumu”

“bagaimana.. Bagaimana kau melakukan ini padaku? Apa yang kau inginkan?! Mengapa kau tak pergi dari tempatku..!!”

Aku nyaris berteriak, sementara dia justru menggelengkan kepalanya..

“Aku menyesal tak melaporkanmu pada polisi.. Aku akan melapor sekarang..”

Aku merogoh ponsel dari dalam tas-ku, dan tak sedikitpun pria itu bergeming untuk menghentikanku.

Dia hanya terus menatap..
Menatap kedalam mataku..
Menembusku..

Mendadak kurasakan sekujur tubuhku melemas, hingga ponsel itu malah terjatuh dari tanganku..

“Aku hanya ingin bersamamu, Yoona.. Hanya bersamamu..”

“Bagaimana bisa kau menginginkan hal semacam itu?!”
Aku sedikit membentak..
Entahlah, kurasa aku mulai merasa kesal dengan pria itu didalam apartemenku..

“Aku Prince.. Kau masih tidak mempercayaiku?”

“Bagaimana mungkin aku akan mempercayai omong kosong-mu.. Jangan konyol..!! Prince-ku hanyalah seekor kucing dan bukan penyusup gila sepertimu. Kau yang telah melukai Prince-ku. Prince.. Prince-ku, dia mungkin sudah mati karna luka-luka itu ditubuhnya..!! Kau seorang brengsek..! Kau membunuh Prince-ku..!! Pergi dari tempatku..!!”

Aku merasa emosional..
Mengingat kembali saat mengerikan dimana aku menemukan Prince terkapar bersimbah darah dengan luka-luka ditubuhnya, membuatku sangat ingin melangkah maju untuk selanjutnya menampar atau mungkin mencakar-cakar wajah lelaki itu. Namun sayangnya, kedua kakiku seperti dipaku pada tempatnya, hingga yang bisa kulakukan hanyalah terus bersuara, mengeluarkan kekesalan sekaligus kemarahanku..

“Kau ingat apa yang terjadi ketika kau pulang dimalam itu?”

“Aku hanya melihat kekacauan..”

Apa yang coba dilakukannya sekarang?

Dia mulai bergerak..
Melangkahkan kakinya mendekatiku, dan aku benar-benar masih tak bisa menggerakkan kedua kakiku..

“Lalu?”

“Hanya kekacauan dan.. dan kucingku yang terkapar..”

Yang kulakukan justru terus menjawab pertanyaannya..

“Lalu?”

“Lalu aku melihatmu dan kehilangan Prince-ku.. Dimana kau membuang Prince-ku?!”

“Akulah Prince, Yoona.. Akulah Prince-mu.. Aku tidak hilang ataupun mati.. Aku hanya terlepas dari kutukan yang membelenggu ku ditubuh kucing itu”

Dia telah berdiri didepanku..

Membuat hawa disekitar tubuhku berubah menjadi dingin..

“Itu mustahil..”

gumamku lirih..

“Kau ingin aku membuktikannya? Dengan cara apa? Katakan dengan cara apa aku bisa meyakinkanmu bahwa akulah Prince..”

“Aku tidak tahu, kupikir tak ada yang bisa membuatku percaya kecuali kau kembali menjadi Prince, seekor kucing”

Dia kembali menatapku sendu..

“Aku tak ingin menjadi seekor kucing lagi..”

“Kalau begitu, sudah jelas kau hanya mengatakan omong kosong. Kau pria gila.. Pembohong..!!”

“Aku bahkan tak tahu bagaimana cara untuk berbohong..”

Aku memperlihatkan cibiran kearahnya..

“Memang sudah seharusnya aku tidak mendengar omongan pria gila sepertimu”

“Baiklah, tak perlu lagi mendengarku.. Hanya lihatlah aku..”

Dia beralih dari hadapanku, bergerak menuju dapurku dan kembali dengan sebilah pisau ditangannya..

Tenggorokanku tercekat..

Apa yang akan dilakukannya padaku?
Apa dia akan melukaiku seperti yang telah dilakukannya terhadap Prince?

Oh Tuhan..
Aku langsung dicekam oleh kengerian..

“A-pa.. A-pa, yang a-kan kau la-ku-kan?”

Aku tergagap dengan kalimatku..

“Lihat..”

“Aaaaa..!!”

Aku menjerit..
Menutup kedua mataku..

Kupikir dia akan menghujamkan pisau itu ketubuhku, namun aku tak merasakan apa-apa karna yang dilakukannya justru menggoreskan pisau itu ketangannya. Mengucurkan darah segar dari pergelangan tangannya yang diiris seperti potongan daging..

Aku bergidik ngeri..
Takut..

“Lihat Yoona..”

Aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang kulihat saat ini. Pria itu tak melakukan apapun. Dia nyata-nyata hanya terus menatap padaku, namun hal yang sangat mustahil kini sedang terjadi didepan mataku. Goresan dari pisau tajam itu ditangannya, mendadak hilang begitu saja, dan menjadikanku melebarkan mata, benar-benar tidak mempercayai kedua mataku sendiri..

“Aku bisa menyembuhkan luka-ku sendiri..”

“Apa?”

Dia tak menjawab pertanyaanku yang pasti terucap diluar kesadaranku atas kemustahilan yang baru saja kusaksikan..

Pria itu bergerak kembali menuju dapurku, dan kali ini aku bisa menggerakkan kakiku untuk kemudian mengikutinya..

“Apa yang kau lakukan?!”

Dia tiba-tiba saja menjatuhkan beberapa gelas, dan perabot lain yang berada disana, menjadikanku yang sebelumnya masih memperhatikannya dengan linglung, sontak menjerit sekali lagi..

Jeritan yang kemudian menghentikannya dari membuat kekacauan disekitarku..

Apa lagi yang sebenarnya sedang ia coba perlihatkan padaku?

“Kau bisa melihatnya, Yoona..?”

Aku mundur hingga nyaris terjatuh oleh karna apa yang kusaksikan sekarang begitu kembali mengejutkanku. Mustahil, menjadi kata yang kembali kugumamkan, ketika tak banyak perabot yang berada didapurku, yang sebelumnya telah dikacaukan oleh pria itu, kini justru berterbangan sendiri, seolah mencari tempatnya yang semula. Bahkan kepingan-kepingan gelas kaca itu, dengan mudahnya menjadi utuh hanya karna tatapan pria itu yang terarah disana.

Aku lemas dan benar-benar terjatuh sekarang, setelah menyaksikan dua kejadian mustahil, namun dengan nyata telap diperlihatkan pria itu padaku..

“Yoona..”

Dia mendekati-ku untuk selanjutnya merengkuh bahuku..

“Apa yang kau lakukan? Bagaimana kau bisa melakukannya? Apa kau bukan manusia?”

“Bukan.. sekitar tiga ratus lima tahun yang lalu aku adalah seorang dewa, Yoona. Tapi kurasa aku pun menjadi tak tahu sebangsa apakah diriku yang sekarang..”

“Apa?”

Aku refleks mendorongnya..
Dan dia justru memperlihatkan cengiran diwajahnya.

Untuk pertama kalinya aku melihatnya memiliki ekspresi yang berbeda diwajahnya..

“…karna apa yang telah kulakukan, para dewa kemudian menghukumku dengan melemparku turun dari atas langit, namun setelah terlebih dulu dia mengutukku menjadi seekor kucing. Aku hanya sempat mendengar, setelah terlepas dari kutukan, aku akan bisa menjadi manusia setelah melewati beberapa tahapan. Itu pun jika aku tak salah dengar.. ”

“Aku tak percaya..”

Aku masih saja menggeleng-gelengkan kepalaku..

Ya, karna hal itu jelas sangat mustahil untuk dipercayai dijaman seperti sekarang ini..

“Karna itu, sebaiknya aku mungkin tak menceritakan mengapa hingga seorang dewa sepertiku menerima kutukan. Kau tidak akan pernah bisa mempercayai. Hanya satu hal yang ingin agar kau mempercayainya Yoona, bahwa akulah Prince..”

“Bagaimana aku bisa percaya.. Itu sungguh mustahil..”

“Bukankah aku sudah menunjukkan kemustahilan yang bisa terjadi didepan matamu..”

“Ya, tapi.. tapi.. Aku benar-benar tak mempercayai itu..”

Aku berbalik dan menjauhinya..

Kurasa aku perlu ruang untuk mencerna semuanya..

Aku melarikan diriku ke balkon, dan masih jelas terekam kejadian malam itu saat dimana aku menemukan Prince terkapar, dan tak lama justru pria itu yang muncul dan mengaku dialah Prince-ku.

Ya Tuhan..
Kutukan..
Seekor kucing..
Dan seorang dewa di tiga ratus lima tahun yang lalu, seperti yang tadi dikatakannya..

Ooh..
Bagaimana itu semua bisa menjadi mungkin..

Tapi dia bisa menyembuhkan luka ditangannya yang juga dibuat sendiri olehnya..

Dia juga bisa mengembalikan semuanya menjadi seperti semula..

Jadi kekacauan yang malam itu terjadi disini, juga dialah yang kemudian membereskannya?

Oh Tuhan..
Mengapa ini terjadi padaku?

Dari balkon tempatku berada sekarang, aku bisa melihatnya yang terus memperhatikanku, namun ia tak mencoba mendekatiku, hingga sesuatu tercetus kedalam pemikiranku dan kemudian membuatku melangkah untuk mendekatinya..

“Jika kau benar-benar Prince.. Aku akan menanyakan satu hal padamu, yang kuyakin hanya pernah kukatakan pada Prince..”

“Kau bisa menanyakannya sekarang.. Aku selalu mendengarmu, jadi aku pasti tahu apa yang kau katakan..”

“Jika kau benar-benar selalu mendengarku, kau pasti..”

“Aku selalu mendengarmu, Yoona.. Katakanlah apa yang ingin kau tanyakan padaku..”

Aku diam sejenak untuk menarik napas..

Mungkinkah dia akan benar-benar tahu dengan apa yang ingin aku tanyakan?

“Aku.. Aku dan Yoojin oenni, bagaimana hubungan kami yang sebenarnya?”

“Kau yakin pertanyaan itu akan bisa membuatmu mempercayaiku sebagai Prince..”

Aku mengangguk..
Belum seorang-pun yang tahu mengenai hal itu sebelumnya, kecuali Prince. Aku hanya pernah mengatakan itu didepan Prince, bahkan tidak sekalipun didepan teman-temanku.

“Kau dan kakakmu, Yoojin.. Kalian sebenarnya bukanlah saudara kandung. Ayah Yoojin menikahi ibumu saat kau masih berada didalam kandungan ibumu. Saat itu Yoojin mengalami kecelakaan, dan kau tak bisa mendonorkan darah untuknya. Saat itulah kau mengetahui yang sebenarnya.. Kau menangis dan setelah Yoojin tersadar, dia bahkan ikut menangis bersamamu dan memintamu untuk tidak menganggap itu sebagai sesuatu yang penting. Kalian tetaplah dua bersaudara, dengan atau tanpa ikatan darah yang sama ditubuh kalian. Itu apa yang kudengar darimu..”

Aku membekap mulutku, dan sekali lagi merasakan lemas dikedua lututku yang langsung membuatku kembali jatuh terduduk dilantai..

Ya Tuhan..
Tidak mungkin..

Dia benar-benar Prince..
Dia Prince-ku..

“Yoona.. Bagaimana? Apa sekarang kau mempercayaiku. Aku ingat kau memang mengatakan itu.. Aku Prince, Yoona. Percayalah padaku..”

Aku mengangguk..

Namun entah apa yang kemudian membuat airmata menetes diwajahku..

Ini begitu mustahil..
Ini sangat sulit untuk dapat dipercayai..
Dan ini terlampau mengejutkanku..

Kucing peliharaan-ku..
Prince-ku..
Nyatanya adalah jelmaan dari seorang dewa..

Ya Tuhan..
Apa aku bisa mempercayai ini semua?
Adakah yang pernah mengalami ini sebelumnya?

Aku dengan cepat menegakkan tubuhku, dan melarikan diriku masuk kedalam kamar mandi.

Kurasa aku perlu untuk sekedar membasuh wajah dan mencerna kembali semuanya kedalam pikiranku, serta menggunakan hatiku..

“Yoo-na.. Yoona, kau tidak apa-apa?”

Aku mendengar suaranya yang menyertai ketukan dipintu kamar mandi..

“Aku tahu ini sulit untuk kau terima ataupun percayai, tapi aku sungguh Prince-mu, Yoona. Aku.. ”

“Aku tahu.. Tapi aku perlu beberapa waktu untuk memahami ini semua. Tolong biarkan aku sendiri..”

“Ya, aku mengerti..”

Aku tak mendengar lagi suaranya, dan yang selanjutnya kulakukan hanyalah berkali-kali membasuh wajahku dan berbicara sendiri dengan sisi lain yang menempati batinku..

Apakah kemustahilan ini adalah nyata?

Satu pertanyaan itu yang terus ku ulang-ulang didalam kepalaku dan meresap sampai kedalam hatiku..

Jika memikirkan ini dengan menggunakan logika dan akal sehat, jelas itu adalah sesuatu yang mustahil. Sangat mustahil dan jauh dari kata mungkin. Itu apa yang kemudian didengungkan dalam kepalaku.

Namun aku cukup terkesiap menyadari perlahan hatiku seperti membisikkan kepercayaan terhadap pria itu, terhadap jelmaan Prince yang mengaku sebelumnya dia adalah seorang dewa. Dewa yang dikutuk..

Ketika hati dan logika-ku tak berjalan beriringan dan masih melakukan perdebatan, aku kemudian justru melangkahkan kakiku mendekati pintu, dan memutuskan bahwa hatiku lah yang menang.

Aku mempercai pria itu..
Aku mempercayai Prince-ku..
Walau logika dan akal sehat ku sudah pasti akan menggugat kewarasanku..

Dia duduk disatu sofa milikku dengan kepala tertunduk, dan baru mendongak setelah mendengar suara dari pintu yang terbuka. Dia kemudian berdiri dan menatapku..

“Yoo-na..”

Aku melangkah untuk mendekatinya..

“Aku percaya padamu, Prince.. Aku mempercayaimu..”

Aku mengeluarkan suara dalam hatiku dengan cepat, sebelum logika-ku sempat untuk menghentikannya. Dan pria itu langsung meraih tanganku..

“terimakasih Yoona..”

Dia mencium punggung tanganku, dan secara mengejutkan aku bukan hanya merasakan kelembutannya, tapi juga sesuatu seperti menyengat dibagian itu, dan dengan cepat membuatku menarik tanganku..

“Aku lapar..”

“nde?”

Aku melebarkan mata ketika melihatnya melangkah mundur hingga kedua kakinya menyentuh sofa, dan lantas kembali mendudukkan tubuhnya disana..

Terlihat lesu kurasa..

“Aku sangat lapar.. Kau meninggalkanku tanpa makanan..”

Aku benar-benar masih tetap melebarkan kedua mataku hingga sekarang..

Bisakah seorang dewa merasakan lapar?

Aku mengerutkan dahi ketika memikirkan hal itu..

“Apa yang bisa kau makan?”

“Apapun yang kau siapkan untukku, aku akan memakannya..”

“Apakah kau bisa memakan ini, Prince?”

Aku menunjukkan padanya sekantong makanan milik Prince, namun dia menggeleng dengan cepat. Bahkan ekspresi diwajahnya sepertinya jijik saat mengetahui aku menawarkan itu padanya.

Bagaimana mungkin sekarang dia tak menyukai makanan-nya, makanan kucing..

“Tapi kau memakan ini sebelumnya..”

“Ya, tapi sekarang.. Kurasa itu sangat menjijikkan”

“Kau mungkin bukan lagi seorang dewa.. Bukankah para dewa tidak merasakan lapar?”

“Ya, itu mungkin saja, tapi pengecualian untukku.. Terlalu lama berada dibumi dan menjadi seekor kucing, pastilah telah mengubahku..”

Dia kembali memperlihatkan cengiran diwajahnya..

“Baiklah, kau bisa menungguku sebentar..”

Aku memutuskan untuk mengambil kunci mobilku saat teringat Yoojin oenni sempat memaksaku untuk membawa beberapa hidangan makanan yang telah dimasak sendiri olehnya.

Dan sepertinya aku perlu berterimakasih pada Yoojin oenni yang telah memaksaku membawa ini semua, saat kemudian aku mengeluarkan semuanya Prince sudah langsung mendekatiku sebelum aku memanggilnya..

“Baunya sangat enak..”

Ia berusaha untuk mengendus, hingga membuatku sedikit menjauhkan wadah makanan itu darinya, serta memperingatkannya dengan pelototan kedua mataku..

“Kau harus duduk disana, Prince..”

Dia mengangguk dan lantas mengikuti arah telunjuk-ku yang menunjukkannya pada kursi meja makan..

Aku lantas menaruh wadah-wadah makanan milik Yoojin oenni kehadapannya, dan dalam sekejap aku ternganga dengan begitu cepatnya Prince menghabiskan semuanya.

Itu bahkan cukup untuk menjadi menu makananku selama lebih dari tiga hari, dan hanya dalam sekejap mata semuanya ludes oleh Prince..

“Ooh, terimakasih Yoona.. Aku sangat kenyang sekarang.. Kurasa aku bisa tidur setelah ini..”

Aku mengerjap-ngerjapkan mata, ketika kemudian Prince berdiri meninggalkanku dengan wadah-wadah bekas makanan yang telah dihabiskan olehnya.

Dia akan membiarkanku untuk membersihkan ini semua?

Oh, yang benar saja..

Aku memberengut kesal..
Tapi setelah teringat setidaknya dia mengucapkan terimakasih tadi, aku hanya bisa mendesah, kemudian membereskan semuanya dari atas meja makanku..

“Prince..?”

Aku baru memanggilnya setelah selesai mencuci semuanya, dan pria itu, Prince-ku, kutemukan dia sudah meringkuk diatas sofa. Tidur dengan cepat persis seperti Prince-ku.

Oh, dia memang Prince..

Yang kulakukan kemudian, segera mengambil selimut dari atas tempat tidurku, untuk menyelimuti tubuh Prince. Sebelumnya Prince-ku tak pernah merasa kedinginan, dia memiliki bulu-bulu tebal yang bisa selalu menghangatkannya, tapi dengan keadaannya yang sekarang, aku menjadi tak yakin, mungkin saja dia akan merasakan kedinginan nanti..

Beberapa saat setelahnya, aku justru mendapati diriku tertegun memandangi wajah Prince.

Dia pasti tak berbohong dengan ucapannya yang mengatakan bahwa dirinya adalah seorang dewa. Aku menyadari hal itu sekarang ketika memperhatikan wajahnya yang begitu rupawan. Kurasa aku belum pernah melihat sebelumnya ada pria setampan Prince. Wajahnya seperti pahatan sempurna, begitu cerah hingga nyaris terlihat seperti bersinar.

Bahkan kemudian tanganku terulur menyentuhnya, pasti hanya sekedar untuk memastikan apakah dia benar-benar nyata atau hanya sekedar imajinasiku saja.

Dan ketika ujung jemariku yang kemudian menempel pada kulit wajahnya, merasakan sedikit rasa hangat disana, yang bisa kulakukan hanyalah mendesah. Dia sungguh nyata. Entah apa yang akan kulakukan selanjutnya. Kurasa aku akan memilih untuk tidur terlebih dulu, mungkin ketika aku bangun nanti, kejadian ini akan menghilang dan aku hanya akan mengingatnya sebagai bagian dari mimpi belaka. Sebuah mimpi yang benar-benar gila..

~~~

Lagi-lagi terjaga, bahkan terlonjak dari tidur lelapku oleh karna suara ponsel-ku, aku menyesalkan kenapa semalam tak me-non-aktifkan benda itu, agar tak ada seorangpun yang mengganggu tidurku..

Menggapainya dengan sebelah tanganku, aku tak lebih dulu memperhatikan siapa yang tega membangunkanku, saat kemudian aku menjawab panggilan itu..

“Yob-se-yo..”

Ucapku dengan tak menyembunyikan suara menguap-ku..

“Hei, kau belum bangun?”

Aku sudah menghapal semua suara temanku. Kali ini Tiffany..

“Kau baru saja membangunkanku, nona manager..”

Aku mendengar tawa terkikik dari Fany, yang kuyakin dia dalam mood yang riang sekarang. Tentu saja, semua sudah mengakui kehebatannya dalam mendapatkan kontrak kerja bagi kami..

“Bersiaplah Yoona, aku akan menjemputmu dalam lima belas menit..”

“nde?”

“Aku dalam perjalanan menuju apartemenmu sekarang”

“Tapi kemarin kau bilang kita hanya memiliki jadwal dimalam hari”

“hm, kali ini aku membawa tawaran untukmu.. Satu naskah film, mungkin kau tertarik untuk membintanginya seperti yang dilakukan Yuri”

Aku memutar mata..
Kurasa tidak untuk sekarang, saat jadwal kami sangatlah padat..

“tenang saja, ini bukan untuk waktu dekat.. Mereka memperkirakan syuting akan dilakukan tahun depan. Ah, sebaiknya kita berbicara langsung dengan produser-nya, jadi bersiaplah..”

Sialan Tiffany..
Dia begitu saja menutup ponselnya, membuatku dengan cepat melompat turun dari tempat tidurku, dan keberadaan seorang pria yang meringkuk diatas sofa milikku, masih saja mengejutkanku.

Oh, kupikir aku hanya bermimpi..
Tapi ternyata kejadian itu benar-benar nyata. Pria itu masih disini. Prince-ku..

Mendadak aku seperti merasakan dejavu, biasanya Prince akan tidur ditempat tidur yang sama denganku, berada dibawah kakiku, tapi sekarang dia meringkuk disana..

Aku tak boleh berlama-lama hanya diam dan memandanginya, Tiffany akan datang, apa yang dikatakannya saat melihat ada seorang pria didalam apartemenku, dia bisa mengomel habis-habisan, berkhotbah seperti pendeta pasti..

Oh, aku tak bisa membiarkannya..
Aku harus lebih dulu berada diluar, dan mengajaknya berbicara ditempat lain, tidak disini..

Dengan segera masuk kedalam kamar mandi, dan hanya menggosok gigi serta mencuci wajahku, aku kembali keluar dan langsung menghampiri lemari pakaianku. Berniat mengganti pakaianku, aku tersadar aku tak bisa sembarangan membuka pakaian ketika seorang pria berada bersamaku..

Dan satu pemikiran kembali tercetus dan membuatku langsung memukul kepalaku sendiri, merasa bodoh. Selama ini aku telah berlaku sembarangan didepan Prince. Aku selalu berganti pakaian didepannya, aku bahkan bisa berkeliaran disini hanya dengan menggunakan pakaian dalam saja. Aku juga ingat pernah melempar bra-ku tepat didepannya..

Oh My..
Siapa yang tahu, seekor kucing seperti Prince akan menjelma menjadi sosok seperti pria itu..

Aku meringis merasa malu mengingat semua itu, dan lantas dengan cepat menarik pakaian yang akan ku kenakan dan membawanya kedalam kamar mandi.

Ketika aku kembali keluar dari dalam kamar mandi, aku mendapati pria itu telah terbangun. Dia berjalan mondar-mandir disekitar tempat tidurku, mungkin menungguku..

“Ada apa?”

Aku melangkah, bukan mendekatinya, melainkan menuju meja rias untuk merapikan rambutku.

Tak banyak waktu yang tersisa, aku harus segera turun dan menunggu Fany diluar..

“Ada yang akan aku kerjakan, aku harus pergi”

Aku sudah menyambar tas-ku, bersiap melangkah saat Prince meraih pergelangan tanganku..

“Aku lapar.. Apa kau akan pergi dan meninggalkan ku lagi tanpa meninggalkan makanan?”

“Apa?”

Aku memutar tubuhku kearahnya..

“Apa yang bisa kau lakukan hanyalah makan, lalu tidur.. Begitu?”

dia melepaskan pergelangan tanganku, lalu menunduk. Apa aku berbicara terlalu keras tadi?

Aku mendesah dan lantas berjalan menuju dapurku, mencari-cari apa yang bisa dijadikan menu untuk memberi makan Prince..

Yang kutemukan hanyalah beberapa cup ramen, jadi hanya itulah yang kemudian ku seduh. Entah dia akan bisa memakannya atau tidak..

“Kemarilah Prince..”

Dia masih saja menunduk saat menghampiriku..

“Prince?”

dia tak menjawabku atau sekedar mendongak untuk melihatku..

“Prince..! Kau marah?”

“Kau yang marah padaku..”

Jawabnya yang langsung membuatku memutar mata..

“Kau pasti sedang berpikir aku menyusahkanmu.. Kau mungkin akan membuangku setelah ini..”

Apa dia benar-benar sedang berpikir seperti itu?

Astaga..
Aku memang masih bingung dengan apa yang terjadi dan apa yang harus aku lakukan dengan seorang pria jelmaan kucing sepertinya..

Tapi jujur, sama sekali tidak atau mungkin belum terlintas untuk membuangnya. Bagaimana bisa? Apa dia pikir membuang seorang pria sepertinya akan semudah aku membuang sekantong sampah??

“Prince, dengar.. Aku bukan marah padamu. Aku hanya harus buru-buru keluar. Tiffany akan segera datang, dan aku tak ingin dia melihatmu.. Dia pasti tidak akan mempercayai kau adalah Prince, kucingku..”

“Bisakah aku ikut denganmu?”

“Tidak Prince, barusan aku sudah mengatakannya.. kau tidak bisa..”
Aku sudah bersiap melangkah, tapi dia kemudian menahan lenganku..

“Prince..!”

“biasanya kau juga membawaku bersamamu..”

“Itu saat kau dalam wujud seekor kucing, tidak seperti sekarang. Bisakah kau kembali menjadi seekor kucing? Maka kau bisa ikut denganku..”

dia menggeleng, menunduk lalu melepaskan lenganku dan membiarkanku melangkah..

“Apakah kau akan pergi dalam waktu yang lama seperti kemarin? Kau akan meninggalkanku..”

Ucapannya menghentikanku dan membuatku berbalik menatapnya yang masih saja menunduk.

Tuhan..
Apa yang bisa kulakukan padanya?

“Lihat aku.. Lihat aku Prince..”

Perlahan dia menggerakkan kepalanya, memperhatikanku..

“Aku hanya sebentar, aku akan keluar untuk berbicara dengan Tiffany.. Kau tahu Tiffany kan?”

“Aku tahu semua temanmu..”

“Bagus, jadi kau pasti juga sudah tahu dengan pekerjaanku kan?”

Dia mengangguk..

“karna itu aku perlu keluar untuk membahas pekerjaan dengannya. Aku akan pulang..”

“Aku akan menunggumu..”

“hm, kau bilang kau lapar bukan? Sekarang makanlah.. Apa kau bisa makan ramen? Aku hanya punya itu untuk sekarang”

“aku memakan apapun yang kau siapkan..”

“itu seperti Prince-ku..”

“Aku memang Prince-mu..”

Aku merasa ingin tersenyum mendengarnya..

“Ya, kau adalah Prince-ku.. Dan jangan mengacau selama aku pergi. Kau mengerti?”

Dia mengangguk, dan membuat langkahku terasa ringan saat kemudian membuka pintu dan meninggalkannya.

Rasanya benar-benar aneh..
Bagaimana mungkin aku menerima semua ini dengan mudah?

Aku teringat, aku tak bisa berlaku sembarangan sekarang. Ada seorang pria didalam apartemenku, dan pastinya akan jadi kehebohan bila salah satu dari teman-temanku mengetahuinya. Terlebih bila hal itu kemudian tersebar kemana-mana. Maka sebagai langkah awal pencegahan, aku terlebih dulu mengubah kode pada pintu apartemen-ku.

~~~

Kupikir aku hanya akan bertemu dengan Fany dan bersamanya kami akan menemui seorang produser film seperti yang Fanny katakan sebelumnya, dan kemungkinan hal itu tidak akan memakan waktu lama, jadi aku bisa kembali ke apartemen sebelum melanjutkan satu jadwal kami dimalam hari. Namun ternyata Fany membawaku ketempat yang lain lagi karna kami masih harus menggunakan waktu senggang itu untuk berlatih, sebelum akhirnya meneruskan jadwal kami pada malam harinya yang berlokasi disalah satu studio TV ternama.

Karna itu, sepanjang hari tadiaku terus saja merasakan gelisah bila mengingat aku meninggalkan Prince tanpa meninggalkan makanan untuknya kecuali beberapa cup ramen di pagi hari tadi, itupun aku yakin akan langsung habis dalam sekejap mata, seperti hal nya yang terjadi semalam.

Maka, saat Sunny yang tadi mengatarkanku pulang di jam sepuluh malam, aku langsung bergegas untuk membeli beberapa menu makanan, dan membawanya kehadapan Prince.
Dia benar-benar berdiri dibalik pintu, menungguku..

“Maaf, aku terlambat..”

“Tidak apa-apa.. Aku senang kau datang..”

Aku melepas sepatu dan melangkah menghampirinya..

Anehnya, sejak mengetahui dia adalah seorang jelmaan, aku seperti tak memiliki perasaan takut terhadapnya. Mungkin karna dia adalah Prince. Prince yang selalu menemaniku..

“Apa kau lapar, Prince?”

Dia mengangguk dan mengikutiku menuju meja makan..

“Makanlah..”

Meletakkan bungkusan itu keatas meja, aku meninggalkannya untuk mencuci wajahku. Saat aku kembali, aku masih menemukannya yang hanya memandangi bungkus makanan dihadapannya..

“Prince.. Kau tidak memakannya?”

“Kau tidak menyiapkannya untukku..”

“Aku membelikan itu untukmu, makanlah..”

“Kau tidak menyiapkannya untukku..”

Aku memutar mataku..
Jadi maksudnya aku harus menyiapkan itu untuknya?
Jadi untuk apa kedua tangannya jika tidak digunakan..??

Aku mendengus dan berjalan mendekatinya, lalu membuka bungkus makanan itu untuknya. Aku bahkan mengambilkan sebuah piring, serta menuangkan air kedalam gelasnya..

“Kau bisa menyatukan pecahan-pecahan gelas menjadi utuh, kau bahkan bisa menyembuhkan lukamu sendiri. Jadi bagaimana mungkin kau tak bisa menyiapkan makananmu sendiri”

Aku sedikit mengomel ketika Prince mulai memakan makanannya.

Dia terlihat ingin berbicara, namun mulutnya sudah terisi penuh dengan makanan.

Dan aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihatnya..

“Aku hanya suka ketika kau mengurusku, mempedulikanku, menyayangiku. Aku bisa merasakan kasih sayangmu..”

Ucapnya setelah dengan cepat menelan semua makanan dimulutnya, dan yang kulakukan hanyalah mencibir kearahnya..

“Maaf, kupikir aku bisa kembali setelah berbicara dengan Fany, tapi ternyata aku harus langsung menjalani latihan..”

Entah mengapa aku merasa perlu untuk menjelaskan keterlambatanku pada Prince. Dia sudah dengan cepat menghabiskan makanannya, dan kembali menanggapi ucapanku..

“Tidak apa-apa, aku tahu..”

“Kau tahu?”

“Ya, aku tahu apa saja yang kau lakukan hari ini”

Aku melebarkan mata..
Bagaimana bisa?

“Apa kau keluar dan mengikutiku?”

“Tidak.. Aku hanya memikirkanmu untuk tahu apa saja yang kau lakukan”

“Serius?”

Dia mengangguk mantap..

Membuatku lantas mencondongkan tubuhku kearahnya, memperhatikan lekat-lekat kedalam matanya, mungkin saja aku akan menemukan ketidak jujuran disana. Namun aku justru hanya mendapati bayangan diriku sendiri yang berada didalamnya..

“Bagaimana bisa?”

“Kurasa karna aku masih memiliki sisa-sisa ke-dewa-an ku..”

Dia memperlihatkan lagi cengiran diwajahnya, yang hanya bisa kutanggapi dengan desahan napas..

Apakah hal-hal mengejutkan seperti ini akan selalu dapat kuterima dengan mudah?

“Apa kau juga bisa membaca pikiran?”

“Kau ingin aku membaca pikiranmu..?”

“Kau bisa?”

“Tidak.. Tidak sampai seperti itu”

Aku langsung mendesah lega. Tapi tunggu..
Bukankah dia tadi mengatakan bisa mengetahui apa saja yang sedang kulakukan hanya dengan memikirkanku.

Garis bawahi kata apa saja..

Apakah apa saja yang menjadi maksudnya adalah apa saja yang kulakukan?
Apa saja yang kukerjakan?
Seluruhnya?
Apakah termasuk ketika aku melakukan hal-hal pribadi seperti mandi misalnya?

Sumpah mati, aku langsung terlonjak ketika pemikiran itu melintasi kepalaku. Berdiri dengan terlalu cepat membuat sebelah tanganku tanpa sengaja menyenggol gelas berisi air untuknya, yang kemudian membasahi pakaiannya..

“Omo.. Prince..?”

dia berdiri dan mengibas-ngibaskan pakaiannya yang basah. Aku mendekat setelah terlebih dulu mengambilkan handuk untuknya..

“Ini sangat basah, Prince..”

“Tidak apa-apa..”

“Kau harus berganti pakaian..”

Aku langsung tersadar jika tidak ada pakaian untuk Prince, untuk seorang pria aku jelas tidak memilikinya.

Aku membuka lemari pakaianku, mencari-cari dengan mataku apa yang bisa kutemukan untuk dipakai Prince sementara waktu. Dan yang kudapatkan adalah celana training olah raga-ku, dengan satu Tshirt dengan ukuran paling besar yang kumiliki.

Dengan segera aku kembali menghampiri Prince..

“buka pakaianmu dan pakailah ini Prince..”

“Tidak perlu Yoona, aku..”

“Tidak, kau harus menggantinya..”

Dia mengangguk menuruti ucapanku, lalu dengan cepat, dalam sekali sentakan ia melepas pakaiannya, dan dalam beberapa saat langsung membuatku ternganga, mengagumi keindahan tubuhnya..

Ini gila..
Bagaimana dia bisa mendapatkan tubuh seperti itu, sedangkan selama ini dia berada dalam tubuh seekor kucing?

Satu kemustahilan yang kembali terjadi didepan mataku..

“berikan itu padaku, Yoona..”

Aku tanpa sadar masih memegang erat pakaian untuk Prince ditanganku..

Dengan cepat aku memberikan itu padanya, lalu berbalik membelakanginya..

“Kau tak bisa sembarangan seperti itu Prince.. Kau harus mengganti pakaianmu didalam kamar mandi”

“Apakah harus seperti itu?”

“Ya.. itu hal normal yang harus kau lakukan..”

Aku mendesah lalu berbalik dan mendorongnya masuk kedalam kamar mandi. Beberapa saat setelahnya dia keluar. Hanya sesaat aku terdiam menatap Prince, dan setelahnya dia membuatku tertawa terpingkal-pingkal hingga perutku terasa sakit.

Ya ampunnn..
Celana training olahraga-ku menggantung saat dipakainya, begitupun dengan Tshirt milikku yang menempel ketat ditubuhnya, bahkan masih memperlihatkan bagian perutnya..

Aku benar-benar meledakkan tawa karenanya..

“Kau menertawaiku, Yoona?”

Aku sampai tak bisa menjawab pertanyaannya. Tawaku masihlah belum mereda..

“Aku ingin mengatakan aku bisa mengeringkan pakaianku tadi, jadi tak perlu memakai pakainmu..”

“Prince..!!”

Aku memekik, saat Prince begitu saja membuka pakaianku dan menggantinya dengan pakaiannya sendiri, yang sudah langsung mengering ketika kembali menempel ditubuhnya..

“Prince..! Kau tak bisa melakukan hal seperti itu didepan seorang wanita..!!”

Dia hanya langsung menunduk ketika aku memarahinya. Itu karna aku benar-benar merasa kesal dengan kesembarangannya. Bukankah aku sudah mengatakan untuk mengganti pakaiannya didalam kamar mandi?
Tapi dia mengabaikan ucapanku..

Aku bahkan merasa malu melihatnya, tidakkah dia merasa seperti itu?

Oh, sungguh..
Dewa konyol macam apa dirinya dulu..

“Aku lelah, aku perlu untuk tidur sekarang.. Tidurlah Prince..”

Aku beranjak dan segera naik keatas tempat tidurku, berpikir aku mungkin harus membelikan beberapa pakaian untuk Prince besok. Meski sekarang aku sedang merasa kesal padanya, meski kurasa dia juga akan baik-baik saja hanya dengan satu pakaian ditubuhnya yang entah darimana asalnya, tapi tetap saja aku tak bisa mengabaikannya..

“Tidurlah Prince..”

Aku masih melihatnya berdiri, dan dengan wajahnya yang juga masih tertunduk aku bisa melihat gelengan kepalanya..

“Kau tidak akan tidur?”

Lagi-lagi dia hanya menggelengkan kepalanya..

“Kemarilah kalau begitu”

Saat aku kemudian memanggilnya, dia langsung menghampiriku..

“Mengapa kau tidak mau tidur?”

“Aku tidak akan bisa tidur ketika kau marah padaku.. Kau tiba-tiba berubah. Kau tertawa sangat keras, lalu kau marah begitu saja..”

Aku memutar mata dan lantas mendecak mendengarnya..

Bagaimana bisa dia menggerutu karna sikapku?

Jelas aku memiliki alasan untuk kemarahanku, tapi sepertinya Prince tidak akan memahami hal itu. Aku tak pernah marah saat dia menjadi kucing-ku. Sekarangpun kurasa aku tak bisa benar-benar marah padanya.

“Kau salah Prince.. Aku tidak marah, aku hanya memberitahumu.. Duduklah, kurasa aku ingin berbicara denganmu”

Aku menepuk-nepuk sisi tempat tidurku, dan sepertinya dia terlihat senang saat dengan cepat ia menaiki tempat tidurku, kini duduk berhadapan denganku..

“Siapa yang malam itu mengacau disini, dan juga melukaimu?”

Pertanyaan itu sebenarnya telah muncul dari malam dimana aku mendapati kekacauan disini, hanya saja aku baru terpikir untuk menanyakan hal itu sekarang. Beberapa kejadian telah lebih dulu menyita pikiranku..

“Kau tidak akan percaya jika aku mengatakan mereka datang dari langit”

“Apakah memang yang terjadi seperti itu?”

Dia mengangguk..

“Kalau begitu aku percaya.. Jadi mengapa mereka mengacau dan melukaimu?”

aku sesaat seperti melihat kilatan dikedua matanya. Entah apa maksudnya itu..

“Mereka memang selalu datang”

“Apa tujuan mereka?”

“Hanya untuk menyiksaku..”

Ohh..

“Sejak sebelumnya, ketika mereka datang lalu mengejar dan melukaiku, memang akan selalu meninggalkan kekacauan. Dan ketika seseorang kemudian menemukan rumah mereka menjadi kacau dan berantakan, juga menemukan aku dalam keadaan terkapar (masih dalam wujud seekor kucing) mereka akan lebih memilih memeriksa harta berharga mereka daripada aku. Tidak akan ada yang peduli, apalagi menangisi seekor kucing sepertiku. Mereka akan membuangku begitu saja, lalu aku akan kembali hidup dan menemukan orang baru yang memeliharaku. Tapi tak satupun dari mereka yang benar-benar tulus dan peduli. Sampai selama lebih dari tiga ratus tahun, aku terus mengalami hal seperti itu”

Ya Tuhan..
Itu sungguh menyedihkan..
Aku tak tahu ada kehidupan seperti itu?
Sungguh sulit untuk diterima nalar..

“Tapi kau sungguh peliharaan yang baik, Prince. Bagaimana mungkin tak ada yang tulus menyayangimu? Sedangkan aku.. Aku begitu takut kehilanganmu saat malam itu..”

“Ya, kau satu-satunya yang memiliki perasaan seperti itu. Malam itu kau telah dengan tulus menangisiku. Tangisanmu yang kemudian membebaskanku dari kutukan”

Aku mengerti sekarang, tapi yang tak kumengerti mengapa seorang dewa bisa menerima kutukan. Mustahil rasanya. Dan Prince masih tak mau menceritakan alasannya. Dia hanya mengatakan karna dirinya telah melakukan kesalahan besar.

Seorang dewa melakukan kesalahan?

Kurasa itu juga mustahil, tapi mau bagaimana lagi. Akupun tak bisa memastikannya sendiri dengan terbang ke langit, menuju khayangan dan menanyakan satu persatu kebenarannya pada dewa-dewa yang berada disana..

Aku meringis dengan kekonyolan pikiranku. Cukuplah aku mempercayai apa yang dikatakan Prince padaku..

~~~

Kurasa aku menjadi lebih berempati dan lebih menyayangi Prince sejak mendengar ceritanya dimalam itu. Aku tak perlu lagi alarm, ataupun telpon dari Seohyun yang selalu rajin membangunkanku dan mengingatkan jadwal kami. Aku menjadi terbiasa bangun dipagi hari, terlebih dulu menyiapkan makanan untuk Prince, sebelum aku meninggalkannya untuk menjalani aktifitasku.

Prince selalu makan banyak, hingga aku perlu waktu untuk menyiapkannya. Tak jarang, dia sudah lebih dulu bangun sebelum aku selesai mengerjakannya.

Semua berjalan lancar-lancar saja dalam beberapa hari berikutnya. Aku mulai terbiasa dengan keberadaan dan keadaan Prince yang sekarang bersamaku. Terkadang aku malah terhibur dengan tingkahnya yang bisa jadi konyol, menggemaskan dan sesekali juga mengesalkan. Dia juga lumayan penurut.

Namun malam itu, ketika aku baru saja pulang setelah menyelesaikan jadwal bersama dengan teman-temanku, aku tak mendapati Prince yang biasanya akan berdiri menyambutku, aku justru menemukan Prince berada dilantai, mengguling-gulingkan tubuhnya dan mengeluarkan suara erangan seakan dia sedang menahan sesuatu.

Ketika aku menjadi panik melihatnya seperti itu, dia justru memintaku untuk menjauh darinya. Dia tak membiarkanku mendekatinya.

Hal yang seperti itu terjadi hingga beberapa kali. Aku tak mengerti apa yang Prince-ku alami dan apa yang saat itu dia rasakan..

Aku masih berusaha mendekat, meski Prince terus menolak aku menyentuhnya..

“Katakan apa yang terjadi padamu, Prince? Apa yang kau rasakan? Bagaimana aku bisa membantumu jika kau tak mau mengatakan padaku”

“Menjauh Yoona.. Menjauhlah dariku..”

“Prince, aku tak bisa membiarkanmu seperti ini. Apa yang terjadi?”

Aku perlahan menyentuh bahunya, dan terkejut ketika dengan cepat dia menyentak tanganku, hingga aku terjatuh, nyaris tersungkur..

“Awhh..!”

“Yoo-na..!”

Prince sepertinya tersadar dengan apa yang telah di lakukannya padaku. Dia lantas mendekatiku..

“Aku tidak bermaksud menyakitimu, Yoona”

kutepiskan tangannya, kesal..

“Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi denganmu. Aku sudah melihatmu beberapa kali seperti ini. Kau seperti menahan sesuatu. Kau kesakitan..”

dia menatapku dengan tatapan sendu, yang telah beberapa lama tak pernah lagi diperlihatkannya padaku. Namun itu hanya sejenak sebelum kemudian kulihat lagi kilatan dikedua matanya, dan erangannya yang tertahan saat ia mundur menjauhiku..

“Apa yang terjadi, Prince?”

“Yoo-na.. Aku.. Aku memiliki masalah”

“Apa?”

Aku masih tak dapat mengerti dengan kegamangan ucapannya..

“Aku.. Aku memiliki gejolak nafsu birahi didalam tubuhku”

“Apa?”

Aku terhenyak..

“Seorang dewa seharusnya tak memiliki nafsu.. Tapi aku memilikinya. Aku memiliki semacam kebutuhan untuk memuaskan dan dipuaskan. Karna itu aku tak pantas berada dilangit bersama dengan para dewa-dewa yang suci. Aku sempat nyaris menggagahi sang dewi. Karna itu aku menerima hukuman dikutuk menjadi seekor binatang”

Aku terdiam, shock pastinya. Mendengar alasan yang akhirnya dikatakan olehnya yang menyebabkan dia dikutuk dan bahkan dibuang dari atas langit..

Beberapa saat setelah mencerna itu semua, aku mendapati diriku bergerak menjauhinya..

“Aku pasti sudah menakutimu, Yoona..”

Dia menatapku sendu, namun aku tak dapat mengatakan apapun saat ini. Yang kemudian kulakukan justru mengambil langkah cepat untuk pergi meninggalkannya dengan keluar dari apartemenku..

Sumpah mati, aku merasa ngeri dan takut dengan apa yang sudah dikatakan olehnya..

Aku memutuskan untuk mengunjungi Yoojin oenni dan menginap disana. Namun tak sedetikpun aku bisa melupakan apa yang dikatakan Prince sebelumnya. Bahkan ketika aku sibuk dengan latihan dan menjalani aktifitas diatas panggung sesuai dengan jadwal kami dihari itu, aku terus saja merasakan gelisah, hingga Taeyeon menegur saat pencapaian nada-nada ku ketika bernyanyi, lebih banyak yang meleset.

“Ada apa denganmu hari ini, Yoona?”

“Aku hanya perlu beristirahat sebentar, maafkan aku..”

Hyoyeon sama halnya menegurku, ketika aku justru melamun ketika dia memperagakan koreografinya.

Hari itu rasanya benar-benar kacau. Aku tetap tak bisa melupakan Prince. Apalagi membayangkannya mengerang sakit, sungguh membuatku ingin menemukan sesuatu untuk membantunya.

Hingga kudapati setelah menyelesaikan jadwalku hari itu, aku kembali ke apartemen dan kejadian serupa saat Prince mengerang membuatku tak bisa berdiam diri membiarkannya terus merasakan kesakitan..

“Prince, katakan apa yang bisa kulakukan?”

“Tidak Yoona..”

Aku mendengar suara giginya yang bergemeletuk..

“tapi aku tak bisa membiarkanmu seperti ini, Prince.. Apa yang bisa menolongmu?”

“Yoona..”

“katakan padaku..”

Aku menangkup wajahnya, mencegahnya yang sudah berniat menghindari tatapanku.

Sekali lagi dia mengerang..

“Aku sedang menahan diriku, Yoona.. Nafsu ini tak boleh menang..”

Tanpa sadar, menitik airmata membasahi wajahku. Itu pasti menyakitkan untuknya. Aku bisa melihat itu dari kilatan dikedua matanya yang merah..

“Kau tak harus menahan diri.. Katakan padaku apa yang bisa menghentikan rasa sakit itu”

Aku terus menatap meyakinkannya untuk mengatakan padaku. Aku yakin ada sesuatu yang dapat membebaskannya dari kesakitan itu..

“Ayolah, Prince.. Kau bisa mengatakannya padaku..”

“Yoona.. Aku.. Aku membutuhkan pelepasan..”

Ia menggeram, dan sejurus kemudian kurasakan tubuhku terdorong hingga terjatuh keatas tempat tidur, dengan Prince yang berada diatasku. Bertumpu dengan kedua siku tangannya agar dia tidak sampai menindih tubuhku..

“Prince..”

“Aku memiliki nafsu seekor binatang Yoona.. Aku pasti menakutimu..”

Aku menggeleng dan kembali menangkup wajahnya..

“Kau tidak menakutiku, Prince.. Tidak, aku tidak takut padamu..”

“Ooh, Yoona..”

dia menempelkan dahinya di dahiku. Dan segera kurasakan hawa panas disana..

“Aku tak ingin menyakitimu..”

“Kau tidak menyakitiku.. Kau bisa melepaskannya padaku, Prince”

Prince-ku menggeleng..
Meski kilatan dikedua matanya yang memerah, kini tertutup oleh semacam kabut yang kian menggelap..

Kurasa dia begitu keras menahan dirinya. Dan membiarkan tubuhnya menanggung kesakitan..

Aku tak tega membiarkannya merasakan penderitaan yang seperti itu.

Maka dengan tanpa pertimbangan panjang, aku membiarkan wajahku mendekatinya sampai bibirku menempel pada bibirnya dan menjadikan geramannya kian terdengar keras..

“Lepaskan itu padaku, Prince..”

Aku mendengar suara hujan yang bergemuruh, dan kilat yang terlihat dari dinding kaca apartemenku saling sambar-menyambar, bersahutan dengan suara petir yang menggelegar, tepat saat Prince menghujam masuk kedalam tubuhku..

Semesta pasti sedang mengutuk perbuatanku..

~~~

“Astaga Yoona.. Apa yang terjadi dengan bahumu?”

Jessica mengejutkanku dengan tiba-tiba masuk keruang ganti disaat aku sedang memakai kostum panggung-ku..

Perhatiannya langsung tertuju pada bahuku. Masih jelas terlihat memerah disana, meski sebelum pergi tadi aku sempat menutupinya dengan memoleskan bedak..

“Apa ini?”

Dia memicingkan matanya, curiga..

“Apa kau secara sembunyi-sembunyi telah berkencan dengan seorang pria?”

Aku tergeragap dengan analisisnya..

“Ini seperti bekas..”

“itu bekas gigitan..”

Aku memotong dugaan-dugaan yang kuyakin sedang melintas didalam kepala cantiknya..

“bekas gigitan?”

Aku mengangguk..

“Ya Tuhan.. Ulah Prince?”

Aku kembali mengangguk..

Aku bahkan tak menyadari ketika Prince menggigitku. Kurasa aku luar biasa terbuai, berhasrat, bergairah, hingga yang kurasakan hanyalah sengatan nikmat sekaligus sensasi aneh yang menghentak-hentak dadaku. Tidak, kurasa aku merasakan hentakan itu diseluruh tubuhku. Memporak-porandakan jiwaku..

Aku baru merasakan ngilu disekujur tubuhku dan perih dibahuku pada pagi ketika aku terbangun tadi, dan tersadar dari perbuatanku semalam..

“Kenapa Prince sampai menggigitmu? Apa dia telah menjadi kucing liar sekarang?”

entah mengapa apa yang ditanyakan Jessica justru membuatku ingin memperlihatkan senyumku yang terkembang. Namun aku sebisa mungkin tak menunjukkan itu diwajahku..

Prince-ku liar..
Ya, dia memang menjadi seperti itu. Dan kurasa Prince juga telah membangunkan sisi keliaranku yang selama ini jauh bersembunyi didalam diriku..

“Yoona..?”

Jessica menggerakkan bahuku, memperhatikanku dengan kerutan dahinya, dan masih menatapku dengan tatapan mata yang menyelidik..

“bukan apa-apa, Sica.. Prince hanya bermain-main. Dia bergurau..”

“Aku akan temukan sesuatu untuk mengobati itu.. Kau bisa saja terkena infeksi..”

“Hei, Prince tidak akan menyebarkan virus padaku”

Aku menggerutu, menegurnya namun Jessica tak mempedulikan gerutuanku. Dia sudah langsung keluar meninggalkanku dan kembali dengan membawa semacam obat yang kemudian dioleskannya dibagian bahuku yang memerah..

Dia hanya tak tahu aku juga memiliki bekas cakaran dipunggungku, yang tadi bahkan membuatku terkesiap saat baru menemukannya.

“Apa kau sudah memvaksinasi kucing-mu itu?”

“Kau berlebihan..”

“Hanya untuk berjaga-jaga, Yoona. Lain kali Prince melakukan yang seperti ini lagi, kurasa kau harus mengganti peliharaan-mu”

Aku mendengus dan tak menanggapi omongannya..

Sisa hari itu (setelah menyelesaikan salah satu show panggung) berjalan dengan satu jam berlatih vokal dengan Taeyeon, nyaris dua jam melatih koreografi bersama dengan Hyoyeon dan selanjutnya kami mendatangi lokasi pengambilan gambar untuk salah satu majalah. Selesai dengan itu semua, kami sempat berkumpul untuk sejenak membahas beberapa jadwal diminggu-minggu yang akan datang. Aku sudah merasa gelisah ketika itu, dan berpikir aku mungkin bisa pergi lebih dulu.

Dan dengan alasan aku perlu untuk mengunjungi Yoojin oenni, akhirnya aku diperbolehkan..

Sebelumnya aku telah memesan makanan untuk Prince, dan pada saat aku tiba diapartemen, seorang petugas menyerahkan pesananku, dan bahkan menawarkan diri untuk membawakan beberapa bungkusan makanan itu. Aku mengiyakan, dan petugas itu mengantarkanku sampai depan pintu..

Ketika aku membuka pintu, kemudian masuk dengan cukup kerepotan, aku justru dikejutkan dengan tingkah Prince yang menubruk memelukku, bahkan sebelum aku melepas sepatuku..

“Woahh.. Prince?”

“Kupikir kau melarikan diri dariku, Yoona..”

Oh..

“…Aku senang kau datang”

Dia mengangkat tubuhku, menjadikan kedua tanganku melepaskan apa yang pada saat itu kupegang..

Prince memutar tubuhku, dan menunjukkan kegembiraannya, yang kemudian kubalas dengan tawa ketika dia terus memutar-mutar ku. Ini menyenangkan tapi sekaligus juga menakutkan..

Bagaimana jika Prince menjatuhkan tubuhku?

Maka untuk menghindari kemungkinan yang seperti itu, dengan erat aku merangkul lehernya dengan kedua tanganku..

“Cukup Prince, turunkan aku..”

Aku terengah ketika kemudian dia menurunkanku, lantas mengamati lekat-lekat wajahku..

“Aku terbangun dan tak menemukanmu. Aku menjadi takut kau melarikan diri dariku dan takkan kembali setelah apa yang kulakukan padamu”

“Tidak Prince, apa yang kau lakukan telah aku ijinkan. Dan lihatlah, aku kembali..”

Masih dengan kedua tangan yang merangkul lehernya, aku semakin mempersempit jarak diwajahku dengan mengecup bibirnya..

“Oh, Yoona.. Aku sangat senang”

Aku tersenyum, mengusap wajah tampannya..

“Begitupun denganku.. Aku bahkan membeli banyak makanan untukmu. Bukankah kau lapar?”

“Ya.. tapi aku merasa lapar terhadap dirimu..”

“Prince..!!”

Aku menjerit dalam tawa saat Prince mengangkat tubuhku dengan begitu mudah seolah berat-ku seringan kapas..

Dari kilatan yang berasal dari kedua matanya, aku dapat merasakan kebutuhannya untuk mendapat pelepasan..

~~~

Semakin menyenangkan ketika bersama dengan Prince, kehadirannya semakin menambah warna dan keceriaan ditengah padatnya aktifitas-ku yang telah terjadwal. Singkatnya dia adalah penghibur dan penyemangatku.

Tapi pagi ini, ketika aku membangunkannya untuk berpamitan, aku justru mendapatinya hanya melenguh dan kembali meringkuk diatas tempat tidur. Dia bahkan menolak ketika aku memintanya untuk memakan makanan yang telah aku siapkan..

Karenanya aku merasa tak tenang dan begitu mencemaskannya..

“Na ya.. Yoona.. Im Yoona ssi..!”

Aku sedang menjalani make up yang dilakukan Sunny, ketika akhirnya kuputar tubuhku setelah mendengar tiga kali panggilan yang diteriakkan oleh Jessica sambil menenteng beberapa kostum ditangannya dan menunjukkannya padaku..

“Mana yang lebih kau sukai?”

“Kau penata gaya-ku.. Kau lebih bisa menilai mana yang cocok untukku, Jessica ssi..”

“Ck! Diantara kalian bertiga, kaulah yang paling sering melakukan protes.. Dan kali ini aku hanya tak mau mendengarmu mengomel dan menjadi penyebab kau bertambah kehilangan mood sebelum naik keatas panggung hanya gara-gara kostum. Jadi yang mana?”

Well..
Sebenarnya dia selalu lebih baik dari diriku untuk urusan yang satu ini. itulah mengapa dia yang dipilih untuk menjadi stylish. Penentu gaya pakaian kami..

“Berikan padaku yang merah..”

jawabku sambil kembali memutar tubuhku, membiarkan Sunny yang mendadak menjadi sang pe-make-up meneruskan pekerjaannya. Sebenarnya ini bukan pekerjaannya. Tugasnya yang sebenarnya adalah sebagai koordinator fans, dia admin yang bertugas mempromosikan kegiatan kami melalui media sosial. Namun karna hari ini salah satu yang menjadi make up artist berhalangan hadir, Sunny akhirnya ikut turun tangan.

“Tapi ukurannya sudah disesuaikan untuk Yuri..”

Suara Jessica lagi..

“Kalau begitu aku suka yang gold..”

“gold? Sooyoung baru saja menginginkannya..”

dia memaksa tubuhku untuk kembali menoleh, dan membuatku langsung memutar mata ketika melihat Jessica justru menunjukkan cengiran diwajahnya..

“Yak.. Kau sedang bercanda denganku..! Kalau begitu untuk apa kau menanyakannya jika semua sudah kau pilih dan atur sesukamu?”

dia justru terkikik singkat setelah berhasil memancing kekesalanku..

Menyebalkan..

“Hanya ingin membuat percakapan denganmu.. Sedari tadi kuperhatikan kau hanya diam saja. Ada masalah?”

“Kekanakan.. Masalahku jelas ada padamu..!!”

Dengusku kesal, namun tak membuatnya terpengaruh dan segera pergi..

“Oh, sepertinya bukan karna aku.. apa itu karna Prince.. Kau tidak membawanya lagi? Sudah beberapa lama kau tidak membawanya..”

itu memang apa yang membuatku diam sejak tadi..
Aku suka ketika membawanya dan membiarkannya berada dipangkuanku sementara aku melakukan make up. Aku suka menyentuh bulunya yang terasa lembut ditanganku.

Tapi..
Sudah tak bisa lagi kulakukan. Aku tak sanggup membiarkannya berada dipangkuanku.
Dia menjadi sangat berat pasti. Melebihi berat tubuhku..

Dan sekarang, Aku justru meninggalkannya yang sedang sakit berada sendirian dirumah..

Aku terus memikirkannya..

“Ya, banyak fans juga menanyakan keberadaan Prince.. sudah beberapa lama aku tak membagi foto kalian”

Sunny menimpali, masih sambil memoles wajahku..

“Dia sakit.. Bisakah aku pulang setelah ini? Aku sungguh cemas..”

Baik Jessica maupun Sunny sama-sama mengangkat kedua bahunya, jelas tak memiliki jawaban dan justru segera melirik pada seseorang yang sepertinya memiliki telinga yang cukup panjang menyamai seekor kelinci hingga dapat mendengar percakapan kami..

“Aku baru saja menerima persetujuan untuk kalian melakukan wawancara dan pemotretan untuk Star Magazine. Tak ada seorangpun dalam tim yang bisa pulang lebih dulu, dan itu jelas termasuk kau, Yoona..”

Hanya dengan senyumnya yang menawan ditambah sekali kedipan matanya, Tiffany telah banyak mendapatkan job-job besar untuk kami, menjadikan para pengiklan mengantri untuk kami dan membuatku kelelahan setengah mati..

Oh, siapa yang dulu mengusulkannya untuk menjadi manager?

Dia sungguh sukses..

Tapi sebaiknya Tiffany harus secepatnya diganti..
Jika tidak, aku akan segera terbaring lemah diranjang seperti Prince.

Oh, Prince-ku yang malang..
Aku bahkan tak sempat memaksanya untuk mengatakan ada apa lagi sebenarnya dengannya?
Bukankah dia sudah mendapatkan tempat pelepasannya padaku?
Lalu kali ini..?

Aku terus bertanya-tanya. Dan merasa hari ini waktu berjalan dengan sangat lamban.
Kapan aku bisa mengakhiri jadwal hari ini dan pulang untuk memeluknya..

Kesibukanku menjalani jadwal hari ini justru terus berlanjut. Aku sedang berpikir untuk membelikan Prince sebuah ponsel agar aku bisa menghubunginya (terutama disituasi seperti saat ini) ketika sebuah suara kemudian membuatku mendongakkan kepala..

“Kudengar Prince sakit? Benarkah..?”

“hm..”

Aku menjawab dengan anggukan, sedikit lesu ketika Sooyoung melangkah mendekatiku..

Kami baru saja menyelesaikan pemotretan dan bersiap melakukan wawancara. Hanya saja Yuri mendapat giliran lebih dulu. Itu mungkin akan banyak pertanyaan yang diajukan seputar film yang akan melibatkannya sebagai salah satu pemain..

“Sakit apa dia?”

“Semacam flu.. Dia hanya terus tidur dan menolak untuk makan”

Sejujurnya aku masih belum mengerti Prince-ku sakit apa, kecuali dia memang tak biasanya menolak untuk makan..

“Aku punya dokter langganan yang biasa memeriksa anjing ku, kau ingin dia datang untuk memeriksanya? Aku bisa menelponnya sekarang..”

“Anio.. Tak ada yang akan membukakan dia pintu..”

“Itu bukan masalah, kita semua tahu kode untuk membuka pintu apartemenmu. Aku akan memberitahunya..”

Tidak..
Sooyoung tidak bisa melakukannya..

“Anio, Sooyoungie.. Aku tidak mengijinkanmu..”

“Wae..? Tenang saja dokter-ku bukan penjahat.. dia tak akan melakukan apa-apa kecuali memeriksa Prince-mu”

“Aku bisa mengurusnya sendiri.. Lagi pula aku sudah mengganti sandi apartemenku..”

“Kenapa? Ada yang kau sembunyikan dari kami..?”

Aku mengangkat bahu..
Belum siap menceritakan apa yang kualami padanya ataupun pada yang lain..

Mereka pasti tidak akan percaya..

“bukan sesuatu yang penting, kajja.. Mereka memanggil kita..”

Aku menyeret Sooyoung dan sebisa mungkin menghindar untuk meneruskan pembicaraan kami, dengan mendekati Yuri dan bergabung dalam wawancara yang tengah dilakukannya..

Selesai dengan pemotretan dan wawancara, kami langsung bergerak untuk menjalani latihan dengan Hyoyeon. Dia sudah menunggu dan siap dengan koreografi yang diciptakannya sendiri..

Selesai dengan Hyoyeon yang berhasil memeras seluruh keringat didalam tubuhku, aku baru merasakan nikmatnya melemaskan otot-otot ku saat berada dimobil bersama dengan Seohyun..

“Taeyeon menelpon.. Dia mengatakan akan mengoreksi penampilanmu setelah dia kembali dari rumah orangtuanya. Dia segera berada dalam perjalanan..”

Seohyun tak harus mengatakan itu sekarang, setelah lebih dari dua jam Hyoyeon mengajarkan koreografi baru dan membuatku nyaris membenturkan kepalaku ke dinding berlapis kaca yang kami gunakan sebagai tempat untuk latihan..

Dia telah menciptakan gerakan yang begitu susah untuk dipraktekan, dan aku masih harus berhadapan dengan koreksi yang akan dilakukan Taeyeon?

Demi Tuhan..
Setidaknya beri aku ruang..
Dia bisa melakukannya besok atau lusa.

Tidak hari ini..

Aku harus pulang dan mengecek kondisi Prince. Memastikannya membaik, jika tidak aku sudah berniat membawanya keluar mendatangi dokter..

Tapi sebaiknya ke dokter apa?
Aku masih bingung..

“… Sepertinya dia menyaksikan pertunjukan tadi dan menyadari suaramu yang cenderung tidak stabil..”

Jika Taeyeon bertugas sebagai pelatih dan pemerhati vokal yang luar biasa kritis, Seohyun adalah seorang yang terus mengikutiku kemanapun aku pergi, juga menjadi pengingat sampai ke hal-hal yang tak penting. Dia dengan senang hati bertindak seperti seorang asisten untukku, Sooyoung maupun Yuri. Jelas saja dia mau, itu karna sesuai dengan perjanjian awal yang telah kami semua sepakati, bagian yang kami dapatkan akan dibagi sama rata apapun porsi yang menjadi tugasnya ketika kami (terhitung bersembilan) menjadi satu tim mencari peruntungan dengan memutuskan masuk kedalam industri hiburan. Yang sekarang sukses kami capai. Bisa dibilang kita sedang dalam masa gemilang dan tengah berada dipuncak popularitas..

“Katakan pada Taeyeon untuk melakukannya besok”

“Tapi dia mau sekarang”

“Bagaimana dengan yang lain?”

“Hanya kau yang tidak stabil, Yoona”

Aku mendengus dan memutuskan untuk menelpon sendiri pada Taeyeon. Meminta pengertiannya karna aku sudah cukup lelah hari ini, sekaligus juga aku memiliki Prince yang sakit, dan perlu untuk memeriksakan kondisinya..

“Bagaimana?”

“Taeyeon tidak akan bisa memaksaku”

Aku memperlihatkan seringai bangga pada Seohyun yang lantas mendengus kearahku..

“Bisakah aku turun disini?”

“Apa yang akan kau lakukan.. Kau bisa dikenali banyak orang..”

“Aku perlu membeli sesuatu untuk Prince, mungkin dia bosan memakan makanannya yang itu-itu saja..”

“Tapi itu supermarket.. Lebih baik kau membelinya di petshop.. Tiga blok dari sini kita baru berhenti..”

Tidak..
Prince-ku tak lagi memakan makanan yang dijual disana..

Menjijikkan katanya..

“Anio, sekarang supermarket juga menyediakannya, aku bisa mendapatkannya disana. Lagi pula aku juga membutuhkan makanan untukku. Kau bisa langsung pulang Seohyun ah..”

“Aku akan ikut turun dan membantumu. Kau pasti akan kesulitan saat membawa barang belanjaanmu..”

Seohyun sungguh berniat membuntutiku kemanapun..

“Kau lelah Seohyun ah, menyetirlah dengan baik dan pulanglah..”

“Aku berencana menginap ditempatmu. Aku juga ingin menjenguk Prince.. Sudah beberapa lama aku tidak melihatnya, sepertinya aku juga merindukannya..”

Ya Tuhan..
Bagaimana cara menghentikannya..
Seohyun tak boleh datang. Dia tak bisa melihat Prince-ku..

“Prince tidak perlu dijenguk..”

“Bukankah dia sakit?”

“Ah ya dia sakit.. tapi.. anio, Sebenarnya masalahnya hanya Prince dalam masa birahi, dia banyak merontokkan bulunya diseluruh ruangan. Kau tidak akan merasa nyaman saat berada ditempatku..”

“Kau harus segera mengawinkannya..”

Aku sama sekali tak berpikir demikian..

“hm.. Aku hanya belum memiliki waktu untuk mengurusnya. Kalau begitu aku turun disini..”

“Jangan lupa memakai masker untuk menyamarkan wajahmu..”

Aku mengangguk mengikuti sarannya. Lalu dengan segera masuk kedalam supermarket dan membeli beberapa bahan makanan. Aku akan pulang dan masih sempat untuk memasak menu baru untuk Prince dan bisa menemaninya saat memakannya.

Kuharap selera makannya sudah kembali..
Aku lebih suka Prince-ku yang sangat suka makan, daripada hanya meringkuk diatas tempat tidur.

Sekitar satu jam setelahnya, aku sudah berada di apartemen..

Kujatuhkan dua kantong berisi bahan makanan ditanganku saat kulihat dia tidak terbaring diatas tempat tidur seperti ketika aku meninggalkannya dipagi tadi, namun justru sedang berdiri ditengah dapur milikku..

Apa yang sedang dia lakukan..

“Prince.. Apa yang kau lakukan?!”

Langkahku cepat ketika menghampirinya..

Dia sudah langsung menoleh ketika mendengar suaraku dan tersenyum saat melihatku..

“Prince, sedang apa? Kau merasa lebih baik?”

Kutangkup wajahnya dengan kedua tangan, lalu memeriksa dahinya. Entah apakah ini cara yang sama yang bisa kulakukan padanya. Dia jelas berbeda. Dia bukan kebanyakan orang pada umumnya..

Dia seorang dewa..
Lebih tepat menyebutnya mantan dewa mungkin, karna kenyataannya berkata seperti itu.

Prince masih saja tersenyum dan mengangguk untuk menjawab pertanyaanku. Kemudian beralih untuk menarik sebuah kursi pada meja makan dan memintaku untuk duduk disana..

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku bosan.. Kau terlalu lama meninggalkanku. Aku memasak untuk menunggumu..”

“Kau? Memasak? Bagaimana mungkin..”

Aku masih tidak percaya..
Bagaimana mungkin Prince-ku memasak..?
Dia bahkan tak bisa menyalakan kompor..

Yang baru kusadari sekarang, dia bukan tak bisa (dia pastinya bisa) tapi dia hanya tak mau melakukannya. Seperti yang dia katakan, dia suka ketika aku yang mengurusnya..

Biasanya yang dia lakukan, bila tidak mencakar-cakar sofa milikku yang telah lebih dari tiga kali harus ku ganti karna ulahnya, dia hanya akan tidur setelah menghabiskan seluruh makanan yang kutinggalkan diatas meja, lalu merajuk ketika aku pulang..

Aku mendapati beberapa piring diletakkannya diatas meja dihadapanku..

Sungguh, dia bukan hanya bisa menghabiskan seluruh persediaan makananku selama seminggu, tapi dia bisa memasak..?

Oh, luar biasa..

Bagaimana aku masih terkejut dengan hal seperti itu, bila hal yang lebih mengejutkan seperti menyembuhkan lukanya sendiri, sudah pernah ia perlihatkan padaku..

Hanya saja, bisa dibilang ini kejutan yang sangat manis..

“Prince, darimana kau melakukannya? Bagaimana kau bisa?”

Dia mengedipkan mata dan tersenyum sombong. Tapi kemudian menunjuk TV plasma yang berada ditengah ruangan, yang baru kusadari layarnya dalam keadaan menyala..

“Aku sering melihatmu melakukannya.. Aku menyalakan itu dan belajar dari caramu melakukannya..”

Ya Tuhan..
Tentu saja dia sungguh pintar. Dia meniru kebiasaanku yang selalu menonton acara memasak sebelum akhirnya mempraktekannya dan menyiapkan itu untuknya. Tapi kuyakin dia bisa walau tanpa hal itu. Prince hanya mencoba untuk melakukan segala sesuatunya dengan normal, seperti yang pernah kukatakan..

“Kau mengurusku dengan sangat baik.. Sekarang aku ingin membalas kebaikanmu..”

Oh..
Prince-ku sangat manis..

Aku menikmati perhatiannya, yang ternyata masih terus berlanjut..

“Prince..”

“hm..?”

Aku sudah berbaring diatas tempat tidur bersamanya, memeluknya, merasakan kehangatan yang berasal dari tubuhnya..

“Ayo kita temukan nama lain untukmu..”

“nama untukku?”

Aku mengangguk, kemudian mendongak untuk melihatnya. Dia sedang mengerutkan dahinya saat melihatku..

“Aku berencana membawamu keluar dan aku tak bisa memanggilmu ‘Prince’  ketika kita berada diluar”

“Tapi bukankah kau mengatakan kau masih tidak bisa untuk melakukannya?”

Aku mendesah..

Aku tahu jika aku melakukannya, akan ada orang-orang yang memotret kemudian menyebarkannya dan menjadikannya berita. Lalu membuatku terlibat skandal. Bahkan mungkin akan menjadi lebih dari itu..

Tapi aku sudah cukup lelah menyembunyikannya..

“… Jangan khawatir, aku tidak apa-apa hanya tinggal disini, asalkan kau masih terus kembali dan kita bisa terus seperti ini..”

Itu masalahnya..
Dalam waktu dekat, kami akan memulai promosi keluar negri, dan aku takkan bisa membawanya bersamaku. Kami akan berpisah..

Maka sebelum itu terjadi, aku berencana memperkenalkannya pada anggota tim, agar dia nanti bisa tetap ikut denganku.

Mereka mungkin tidak akan terima, tapi aku akan tetap mencoba..

“Apa kau ingin memilih nama-mu sendiri? Atau aku yang akan memilihnya untukmu?”

“Kau serius ingin membawaku keluar?”

Aku mengangguk, kemudian kurasakan kecupannya dirambutku..

“Sesungguhnya, aku juga memiliki namaku sendiri..”

“benarkah? Kau punya?”

Dia mengangguk dan tersenyum..
“Benarkah para dewa memiliki nama?”

“Tentu saja, bagaimana kami akan memanggil satu sama lain bila kami tak memiliki nama”

Oh..
Aku mengerutkan hidungku..

“Kenapa tidak mengatakannya?”

“Aku menyukai nama yang kau berikan padaku..”

“Tapi aku tetap ingin mengetahui siapa nama mu yang sebenarnya?”

“Siwon.. Choi Siwon.. Aku memiliki nama itu sebelum kutukan itu datang padaku..”

Jadi namanya Si-won..
Choi Si-won..

Namanya tentu saja tak terlalu buruk, sesuai dengan wajahnya yang tampan. Seorang mantan dewa yang sangat tampan.

Aku meringis memikirkannya..

“Baiklah, namamu Choi Siwon.. Kita akan menggunakan itu saat kau berada diluar dan memperkenalkanmu pada teman-temanku..”

“Tapi aku sudah cukup mengenal semua temanmu..”

Dia erat memeluk tubuhku..

“Itu jelas berbeda dengan yang sekarang.. kau bukan lagi seekor…”

Tiba-tiba saja dia sudah membalikkan tubuhku dan berada diatasku. Menjadikanku tak berkedip ketika menatap sorot kedua matanya yang menggelap..

“Seekor kucing yang sedang dalam masa birahi..?? Itu kan yang kau katakan pada temanmu tadi..?”

Oh, aku lupa dia bisa mengetahuinya..

Aku memberengut ketika dia justru memperlihatkan seringai diwajahnya..

“Kali ini jangan menggigit bahu atau mencakar punggungku..”

“Apa itu menyakitimu?? Aku seperti  tak sadar ketika melakukannya..”

Bukan..
Bukan karna itu menyakitiku. Hanya saja aku tak ingin mengarang penjelasan lagi jika besok Jessica mengepas kostum untukku, dia akan melihat kemudian mempertanyakan bekas gigitan ataupun cakarannya ditubuhku..

Dia bisa saja telah menaruh curiga padaku..

“… maafkan aku..”

Aku mengangguk dan tersenyum maklum..

“Kau tak pernah menyakitiku Prince.. ”

Kau justru membuatku jatuh cinta padamu..

Kurasa, aku sendiri tersentak oleh kalimat yang berasal dari dalam hatiku..

Ya Tuhan..
Bumi ini akan segera menelanku..
Tapi sungguh, aku tak peduli selama dia terus ada bersamaku..
Kurasa aku tak bisa kehilangan Siwon..
Tak bisa kehilangan Prince-ku..

~~~

“Dimana Yoona? Dan siapa kau? Mengapa pagi-pagi seperti ini kau sudah berada disini? Kau temannya?”

“Aku tinggal disini”

“Apa katamu?! Kau tinggal disini?! Bersama adikku?”

Aku baru saja mencuci rambutku dan sedang menggelungnya dengan sebuah handuk kecil, ketika samar-samar kudengar suara-suara itu, yang kemudian dengan cepat menyentak kesadaranku bahwa telah ada orang lain yang masuk kedalam apartemenku..

Siapa?

Kusambar kimono handukku, mengenakannya cepat dan langsung membuka pintu kamar mandi untuk mengetahui apa yang telah terjadi..

Oh, Tuhan..

“Oenni ya..”

Kudapati Yoojin oenni berada disini, kedua matanya membelalak. Ia berdiri berhadapan tak jauh dari Prince yang berdiri disamping tempat tidur-ku (sebenarnya telah menjadi tempat tidur kami) dengan hanya bertelanjang dada dan rambut acak-acakan. Kuyakin Prince baru bangun dan mungkin sama terkejutnya dengan keberadaan Yoojin oenni. Tapi wajahnya menampilkan ekspresi biasa saja, jauh berbeda denganku yang pastinya menjadi panik oleh karna keberadaan Yoojin oenni.

“Jelaskan apa artinya ini, Yoona?!”

Mulutku mendadak kering saat Yoojin oenni beralih menatapku, dengan mempergunakan tatapan tajam, menuntut penjelasan..

“Jelaskan apa maksud pria itu yang mengatakan dia tinggal bersamamu..?!”

“Oen-ni.. A-ku..”

Ya Tuhan..
Apa yang bisa kukatakan pada oenni-ku?
Dia tidak akan percaya jika aku mengatakan dialah yang menempatkan pria itu kedalam apartemenku. Bagaimana mungkin oenni akan percaya bahwa Prince adalah jelmaan dari seekor kucing yang diberikannya padaku. Terlalu sulit mempercayai semua itu bila tidak menyaksikan sendiri kejadiannya dengan kedua matamu.

“Jelaskan padaku, Yoona..!!”

“Oh, oen-ni .. Oenni bagaimana kau bisa masuk tadi?”

Oenni mendecak, mencibir seakan itu pertanyaan konyol yang tak seharusnya ku tanyakan padanya..

“Kau mengganti sandi apartemenmu, Yoona. Ya, aku tahu itu. Dan kau menggantinya dengan menggunakan tanggal lahirku.. Bagaimana mungkin aku tidak mengetahuinya. Aku mengenalmu sejak kau dilahirkan..!”

Oenni menekankan kalimat terakhirnya dan aku jelas menangkap kemarahan dalam keseluruhan nada suara dalam kalimat yang dilontarkan Yoojin oenni padaku. Dan aku tahu itu karna dia melihat Prince, melihat seorang pria berada diapartemenku..

“Siapa dia?”

“dia.. dia, emm.. Namanya Pri- emm.. Choi-Siwon, oenni..”

Aku ingat itu nama Prince..
Untunglah semalam aku sempat melakukan pembicaraan dengannya mengenai namanya..

“Aku bukan ingin mengetahui namanya, Yoona? Tapi siapa dia? Mengapa ada seorang pria disini? Apa hubungannya denganmu..?”

desisinya memutar mata padaku..
“Oen-ni.. Aku.. Aku bisa jelaskan padamu.. Sebaiknya oenni duduk, dan biarkan aku berpakaian terlebih dulu..”

Sekilas aku melihat Prince mengarahkan perhatiannya padaku. Namun aku tak bisa memberi isarat apapun padanya..
Aku menyambar pakaian manapun yang berada dilemari lalu kembali masuk kedalam kamar mandi, dan begitu aku kembali keluar, Yoojin oenni telah kembali berhadapan dengan Prince..

“Oenni ya..”

Aku mendekat dan merangkul lengannya, bermaksud untuk menariknya dan membawanya keluar dari apartemenku, jadi kami bisa berbicara berdua, namun oenni melepaskan rangkulanku..

“Dimana kau tidur?”

aku melebarkan mata saat Yoojin oenni menanyakan hal itu pada Prince, dan dia sama sekali tak mendengar lengkingan suaraku yang berusaha untuk menghentikan pertanyaannya..

“Oenni, hanya bicaralah denganku..”

“Anio.. Aku harus bertanya padanya. Jawab aku.. Dimana kau tidur?”

“Yoona hanya memiliki satu tempat tidur, tentu saja kami tidur bersama..”

“Pri- Si-won ssi..!”

Aku memekik, juga memelototinya..
Bagaimana Prince bisa mengatakan hal seperti itu pada Yoojin oenni.

Aku hanya mendapati oenni mendesah, sebelum kembali bersuara..

“Sejak kapan kalian berhubungan?”

“Oenni ya..”

“Diam Yoona.. Jawab..!! Sejak kapan kalian berhubungan?”

“Aku pertama kali melihatnya pada Natal tahun lalu.. Dan kami intens berkomunikasi dan semakin dekat hingga sekarang”

Oh Tuhan ku..
Bisakah Kau menghentikan Prince agar tidak bersuara..

“Apa pekerjaanmu?”

Prince sempat menatapku, sebelum kemudian dia menggelengkan kepalanya..

“Apa pekerjaanmu?”

Prince kembali menggeleng..

“Oenni ya..”

“Apa pekerjaannya, Yoona?!”

“Tidak ada.. Aku tidak bekerja. Aku hanya tinggal disini dan menunggu hingga Yoona pulang..”

“APA..?!”

Yoojin oenni memekik..
Dan aku dengan segera mendorong Prince, dan memintanya untuk berhenti berbicara atau dia akan membuat keadaan yang sudah kacau ini bertambah semakin parah..

“Kau memelihara seorang pria pengangguran untuk hidup bersamamu, Yoona! Bagaimana bisa..? Apa kau sudah tidak waras?!”

“Oenni.. Aku.. Aku tidak..”

“Aku tahu kau sudah dewasa dan berhak menentukan jalan hidupmu sendiri. Tapi aku tetap saja tidak akan pernah membiarkanmu menjadi bodoh apalagi merelakan jika seseorang memanfaatkanmu..”

Oenni memperhatikan kesekeliling, entah apa yang coba ia temukan. Aku baru mengetahui saat ia memungut sebuah Tshirt (itu milik Prince) yang tergeletak dilantai dan melemparnya, tepat mengenai wajah Prince..

“Kluar..!! Pergi kau dari sini..!! Kau pikir dengan tampang bak dewa yang kau miliki, selamanya kau akan bisa membodohi Yoona..!! Aku jelas takkan membiarkan adikku diperdaya oleh pria sepertimu..!! Dia bekerja keras disetiap harinya dan kau malah dengan gampangnya menumpang hidup dengannya..!! Cih, tak bisa kupercaya dimana harga dirimu sebagai pria..!! Apa kau tak merasa kau begitu sangat memalukan..!!”

Aku benar-benar tak bisa menghentikan omelan Yoojin oenni. Dia sedang sangat marah, dan memuntahkan kemarahannya itu kehadapan Prince. Sungguh, kini Prince diam tanpa kata, tak sekecap-pun ada kata-kata apalagi kalimat yang keluar dari mulutnya seperti sebelumnya. Entah apa yang dipikirkannya setelah mendengar kata-kata pedas dari oenni-ku. Tapi kuharap dia bisa mengerti bagaimana perasaan Yoojin oenni saat ini.

Sungguh, aku tahu, dia seperti itu karna dia sangat menyayangiku..

“Keluar sekarang.. Sebelum habis kesabaranku dan memanggil petugas keamanan untuk mengeluarkanmu dari sini. CEPAT KELUAR..!!”

Oenni mendorong tubuh Prince hingga sampai ke ambang pintu, dan meski aku mengisaratkan pada Prince dengan menggelengkan kepala, aku tak ingin dia pergi, tapi situasinya menjadi sulit dengan kemarahan Yoojin oenni dan akhirnya setelah beberapa saat hanya terus menatapku, Prince benar-benar keluar melewati pintu apartemenku meski aku menjerit, histeris memanggilnya.

Aku tak bisa mengejarnya karna Yoojin oenni menahan pergelangan tanganku. Dan ketika aku berhasil melepaskan diri darinya, dan berlari sampai diambang pintu, suara merintih yang kudengar dan tubuh Yoojin oenni yang terlihat merosot jatuh kelantai dengan sebelah tangannya yang memegangi perutnya, membuatku harus memilih untuk kembali mendekati nya..

“YA Tuhan.. Oenni ya!”

“Awhh..”

Jika sesuatu terjadi dengan bayi dalam kandungannya, calon keponakanku, aku takkan memafkan diriku yang telah membuat Yoojin oenni mengalami syok atau parahnya tertekan oleh karna perbuatanku memelihara seorang pria bersamaku..

“Oenni ya..”

Airmataku menitik, takut, ketika aku memapah tubuh Yoojin oenni dan mendudukannya pada sofa..

Aku lantas berlari kedapur dan mengambilkan segelas air untuknya..

Oenni lantas meneguk, kemudian mengatur napasnya, mungkin sekaligus juga mengendalikan emosi dalam dirinya, yang masih jelas terlihat dari wajahnya..

“oenni ya.. Maafkan aku, aku tak bermaksud mengejutkanmu seperti ini, hanya saja..”

“Apa teman-temanmu yang berada satu tim denganmu tahu kau memelihara seorang pria disini?”

Aku menggeleng lemah..

Dari apa yang aku lihat dalam raut wajah Yoojin oenni, mungkin jika dia tidak sedang mengandung dan memikirkan keadaan bayinya, dia akan mengumpat habis-habisan padaku..

“Aku tak habis pikir, Yoona.. Benar-benar tak habis pikir kau bisa sebodoh itu”

Aku mengambil duduk disebelahnya, dan melihatnya yang kemudian menekan-nekan pelipisnya..

“Oenni, aku..”

“Cukup, aku tak mau mendengar apapun.. Mulai saat ini hubunganmu dengan pria tak berpenghasilan itu selesai! Kurasa hal yang sama juga akan dikatakan teman-temanmu bila mereka tahu apa yang sudah kau lakukan.. Jadi berpikirlah waras mulai sekarang, Yoona. Dan jangan pernah lagi terlibat dengan pria seperti itu.. Dia hanya memanfaatkanmu, kau mengerti..!!”

Oenni menangkup wajahku dengan kedua telapak tangannya, menatap mataku tajam seakan menuntut ketegasanku untuk memutuskan, hingga pada akhirnya aku hanya bisa mengangguk mengiyakan.

Tapi sungguh, aku tak bisa melepaskan Prince dari dalam pikiranku..

Bagaimana dengannya?
Dimana dia sekarang?

Aku nyaris tak bisa tidur dengan nyenyak selama satu minggu ini. Wajah Prince terus membayangiku. Dan sayangnya aku tak memiliki kesempatan untuk mencari keberadaannya lantaran Yoojin oenni yang dalam seminggu ini selalu bersamaku. Dia bahkan menginap diapartemenku karna kebetulan Joowon oppa sedang bertugas keluar kota. Oenni selalu mengawasiku..

Terkadang, aku diam-diam meneteskan airmata ketika perasaan rindu-ku pada Prince tak bisa lagi kukendalikan. Seperti sekarang, sementara yang lain sibuk melakukan persiapan sambil menunggu para kru selesai menyiapkan setting pengambilan gambar untuk video klip kami selanjutnya, aku menyelinap masuk kedalam kamar mandi, dan berlama-lama berada didalamnya, sekedar untuk menumpahkan airmata yang telah membuat kedua mataku memanas..

“Aku merindukanmu, Prince.. Mengapa kau tak memberiku pentunjuk tentang keberadaanmu? Dimana kau? Apa kau baik-baik saja? Apa kau bisa makan dengan layak?”

Aku terus menggumamkan pertanyaan-pertanyaan ku..

Kuharap Prince saat ini sedang memikirkanku, bukankah dia pernah mengatakan dia tahu apa saja yang kulakukan hanya dengan memikirkanku. Kuharap dia sedang melakukannya, dan tahu aku sedang sangat merindukannya..

“Aku merindukanmu, Prince.. Aku rindu padamu yang..”

“Na ya.. Yoona ya..!!”

Aku lekas menghapus airmataku, saat kudengar suara Yuri dari luar dan sejurus kemudian menggedor pintu..

“Yoona ya.. Kau didalam?”

“ne..”

“Cepatlah, kita akan mulai mengambil gambar”

“Ya, tunggu..”

Aku masih berdiam beberapa lama untuk menghapus airmata, juga mengendalikan perasaanku

Kukira Yuri kemudian meninggalkanku, namun dia justru masih berada didepan pintu.

Dahinya mengernyit saat melihatku, mungkin menyadari bekas tangisku..

“Matamu merah.. Kau menangis Yoona? Ada apa?”

Aku menahan diri untuk tidak meledak oleh karna simpati yang coba diperlihatkan Yuri padaku..

Aku menggeleng sebagai jawaban, dan mengajaknya untuk lekas berada ditempat yang telah disetting untuk pengambilan gambar kali ini, namun Yuri tidak serta merta mengikutiku, dia malah menahan pergelangan tanganku..

“Kita berteman bukan baru satu dua tahun, Yoona. Meski kau terus saja diam, jangan kira kami semua tidak tahu, kau menjadi aneh dalam seminggu ini. Kau terlihat murung. Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Itu hanya perasaan kalian saja..”

Aku berusaha keras mengulas senyum dibibirku, untuk meyakinkan Yuri meski ku tahu itu tidaklah akan semudah itu..

“Anio, aku tak percaya.. Kau jelas terlihat mengkhawatiran sesuatu”

“Jikapun ada yang sedang ku khawatirkan ataupun cemaskan, itu adalah keadaan Yoojin oenni”

dalihku yang kemudian menambahkan bila kecemasanku adalah karna memikirkan proses persalinan Yoojin oenni yang semakin dekat..

“Bukankah kehamilannya baru berusia lima bulan? terlalu dini untukmu mencemaskan proses persalinannya”

Yuri jelas memperlihatkan ketidak yakinannya terhadap alasanku..

“waktu berjalan cepat, Yuri ah..”

“Lagi pula, kurasa kau tak perlu secemas itu, bahkan kakakmu justru terlihat santai dan baik-baik saja..”

“Ya, mungkin kau benar..”

Aku mengulas senyum dan merangkulnya, bersyukur pembicaraan ini tak harus berlanjut ketika Sooyoung muncul dan memanggil kami. Dia mengatakan seorang pria yang seharusnya menjadi model untuk vidio klip kami mengalami kecelakaan saat sedang menempuh perjalanan kemari, dan sontak semua dibuat panik oleh karna berita itu. Terlebih, akan sangat memakan waktu mengatur penjadwalan ulang untuk pengambilan gambar hari ini. Kami sudah harus menyelesaikannya sebelum menjalani serangkaian tour diluar negri..

“Jadi bagaimana? Tidakkah kita bisa memakai model lain?”

“Tidak ada yang bersedia jika meminta dengan mendadak seperti ini”

“Lantas apa kita juga bisa membatalkan pengambilan gambar hari ini?”

Aku mendengar gumaman dari beberapa kru ditengah kepanikan dan entah siapa yang bisa memutuskan hal semacam ini..

Aku terlalu lelah untuk ikut berpikir, hingga yang kulakukan hanyalah duduk dan menunggu akan bagaimana pengambilan gambar hari ini. Entah dilanjutkan dengan menggunakan model lain yang belum pasti bisa kita dapatkan dalam waktu dekat, ataukah membatalkan jadwal hari ini begitu saja dan menggantinya dihari lain, aku hanya akan menurut dengan apapun keputusannya..

Namun agaknya, kami akan melanjutkan pengambilan gambarnya ketika Tiffany menelpon dan memastikan dia akan datang dengan membawa seorang model pengganti..

Sungguh, dia begitu tangkas dan bergerak cepat..

Rasanya, dia baru beberapa menit lalu berkata akan keluar untuk berpikir. Tapi sekarang, dia sudah kembali muncul dengan menggandeng lengan seorang pria. Seorang pria yang kemudian membuatku tersentak luar biasa. Hampir-hampir tak mempercayai penglihatanku ketika kulihat pria itu adalah Prince. Prince-ku..

Tiffany sudah begitu terlihat berseri-seri saat kemudian memperkenalkan pria itu..

“Kita akan memulai pengambilan gambar hari ini setelah model pria melakukan persiapan terlebih dulu. Oh ya, namanya Choi Siwon.. Dia yang akan menggantikan model pria yang seharusnya mengambil gambar hari ini, namun sayangnya dia mengalami kecelakaan. Aku turut bersedih, tapi aku senang bertemu denganmu, Siwon ssi..”

Ya namanya Siwon..
Prince-ku memang bernama Siwon..

“bisa perkenalkan dirimu..”

Lanjut Fany meminta pada Prince, dan aku masih saja mengerjap-ngerjapkan mata tak percaya..

“Selamat siang, dan mohon kerja samanya..”

Semua mengangguk (kecuali aku) dan bertepuk tangan untuk membangkitkan semangat yang sempat hilang beberapa saat lalu..

“Jessica, siapkan kostumnya..”

“tentu saja semua kostum sudah siap..”

“Bagaimana dengan para gadis?”

Tiffany merujuk padaku, Yuri dan Sooyoung tentunya, namun hanya keduanya yang mengatakan kesiapannya sementara aku masih terpaku pada Prince yang berada tak jauh dariku..

Mengenakan Jins..
Sebuah Tshirt berwarna abu-abu gelap tertutup dengan jaket kulit yang dikenakannya, dia telah memperlihatkan senyum diwajahnya ketika kemudian berkenalan dengan teman-temanku.

Mungkin karna hanya akulah yang masih diam ditempat, dia kemudian menghampiriku, mengulurkan tangannya padaku..

“Aku sering melihatmu ditelevisi, senang akhirnya bisa bertemu denganmu, Yoona..”

“Prince..”

Aku menggumam lirih, mungkin hanya kedua telingaku saja yang dapat menangkap gumaman itu, tapi kulihat Pria itu tersenyum padaku. Tubuhnya kemudian condong kearahku, dan berbisik ditelingaku..

“Aku datang Yoona.. Aku mendengar pesan kerinduanmu.. Aku datang untukmu..”

Rasanya aku sudah sangat ingin melempar lalu menjatuhkan tubuhku kedalam pelukannya, terlebih ketika melihat ulasan senyum diwajahnya..

“Kuharap aku akan lebih banyak beradegan denganmu”

Oh, Prince..

~

~

~

To Be Continued~

Ga mau ngomong apa”lah bwt cerita Absurd ini.. daya khayal saia cetek masalahnya .-.
Tapi ditunggu pendapat & masukannya^^

#HappyYoonaDay

@joongly

351 thoughts on “2S | Prince | 1st

  1. Hal yg mengerikan wktu yoona msuk apartnya dan trkejut Ketika melihat isi rumah yg sangat berantakan. Ditambah dengan darah yg dilantai.
    Eh eonnie, nafsu birahi itu apa? Trus apa yg telah dilakukan siwon kpd yoona saat siwon ada nafsu birahi? Aku gk tau komenan ku sblmnya udah masuk ato belum. Soalnya dihp aku gaada komenan dariku yg keluar, jadi aku koment lagi biar dpt pw dari eonnie, maaf. Ga ada maksud buat ngasih koment berdouble”/? Btw Bagi pw eonn, nnti aku chat dehh😣😣😣

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s