Fanfiction

YOU’re My Destiny | Jessica’s B’day

image

Iseng” aja sih yaa..
Berhubung hari ini my Jess ultah, jadi pingin bikin sesuatu bwt doi^^
Dan berhubung juga ada yg kangen dengan YaMD, boleh dinikmati walau yg ini murni bukan tentang YeWe. hihihiii..

Enjoy Reading~

*

*

*

Jessica~

“Sica ah.. Jessica!!”

“Aku masih dibawah..”

Aku baru saja membuka pintu butik dan melangkahkan kakiku masuk, ketika kudengar Yoona berseru memanggilku.

Kemudian aku mendapatinya yang sudah langsung menuruni anak tangga dari lantai dua ruangannya. Yoona lantas berjalan menghampiriku..

“Syukurlah kau sudah kembali. Aku perlu untuk keluar sebentar..”

Ucapnya memberitahuku..

“Jadi kita gantian..?”

Yoona tersenyum dan mengangguk..

“Tapi apa yang akan kau lakukan diluar?”

“em, aku akan pergi untuk memilih bahan.. Hana dan Junseo masih berada diruanganku. Aku titip mereka sebentar. Siwon akan datang menjemput mereka, emm mungkin sebentar lagi..”

Aku hanya mengerutkan dahi melihatnya melambaikan tangan kearahku, tak sempat untuk menanyakan mengapa dia begitu terlihat terburu-buru seperti itu..

Dan pergi untuk memilih bahan? Juga bukan sesuatu yang biasa Yoona lakukan sendiri. Kami punya cukup karyawan yang biasanya melakukan itu. Terlebih dia sedang mengandung. Sudah seharusnya ia tak beraktifitas diluar. Hal itu akan melelahkannya. Seharusnya ia hanya mengerjakan desain didalam ruangannya. Setauku itulah mengapa Siwon oppa, suaminya masih mengijinkannya untuk berada dibutik meski kehamilannya terus membesar.

Oh, entahlah..
Yoona selalu memiliki pemikiran lain didalam kepalanya.

“Aunty.. Aunty Sica..!!”

Aku masih memperhatikan kepergian Yoona, saat kemudian kudengar seruan dari suara Hana yang memanggilku..

“Ya sayang..”

Aku dengan segera naik dan menghampirinya..

“ada apa Hana ya? Dimana Jun?”

“Aunty, Hana dan Jun lapar..”

Gadis kecil itu memberengut lucu dihadapanku..

“Ooh..”

sekilas kulirik penunjuk waktu yang berada dipergelangan tanganku..

Hampir lewat jam makan siang..

Tak biasanya Yoona membiarkan kedua anaknya kelaparan..

“Apa mommy Yoona tak sempat memberi kalian makan tadi?”

Hana menggeleng..

“Mommy buru-buru.. Mommy bilang, Hana dan Jun bisa meminta pada aunty Sica jika aunty sudah datang..”

“Oh, begitukah?”

Hana mengedip dan mengangguk, menjadikanku tersenyum melihatnya..

“Baiklah, apa yang kalian inginkan? Ayo kita keluar dan dapatkan sesuatu untuk kalian makan.. Jun ah, ayo..”

Aku mengulurkan tangan, dan bocah kecil yang sangat tampan itu (yang sayangnya adalah putra Yoona) langsung meninggalkan mainannya yang berserakan untuk kemudian datang dan meraih tanganku.

Hana sudah lebih dulu turun, saat aku mulai menggandeng Junseo untuk perlahan, satu demi satu menuruni anak tangga bersamaku.

Yang kudengar, kebiasaan bocah lelaki ini sekarang adalah, Jun tidak mau lagi digendong bila menaiki ataupun menuruni anak tangga. Dia akan lebih suka menggunakan kedua kaki kecilnya sendiri, dan memilih menangis bila siapapun mencoba membantunya dengan cara menggendongnya.

Hal itu membuatku berpikir jika Yoona harus bertambah ekstra dalam menangani putranya..

Mungkin juga hal seperti ini sebenarnya sebagai salah satu bentuk kecemburuan Junseo, mengingat akan adanya sosok lain yang nantinya hadir sebagai adiknya. Jun pastilah tidak mau kehilangan perhatian, maka kini ia terus ingin mencari perhatian..

Oh, Yoona..
Dia harus diapresiasi dengan caranya yang mampu untuk menangani anak-anaknya..

“Imo..!”

Aku baru saja berhasil menuntun Junseo untuk menjejaki anak tangga yang terakhir, saat suara Hana yang ceria menggema menyambut kedatangan Yuri bersama dengan bayinya..

“Imo.. Biarkan Hana mencium Yun Jo. Hana merindukannya..”

Aku melihat Yuri yang tersenyum ketika kemudian sedikit menurunkan gendongannya, agar Hana dapat mencapai bayinya dan memberikan ciuman dipipi Yunjo.

Yuri dan Yunjo..
Sekarang menjadi satu paket, karna dia masih menyusui, praktis.. Yuri selalu membawa Yunjo kemanapun dia pergi..

“Oh, Jessica.. Hai, Jun-ah..”

“Hai.. Kupikir kau takkan datang..”

“Aku datang.. Aku perlu bantuanmu..”

Yang kemudian kulihat, Yuri justru seperti nampak panik..

Oh, ada apa?

“Waegurae? Apa ada yang salah..?”

“Yunho oppa memintaku datang ke kantornya. Sepertinya dia tidak enak badan..”

“kenapa dia tidak pulang saja jika seperti itu?”

“Entahlah, mungkin masih ada yang harus diselesaikannya. Dia hanya menelpon dan terdengar sangat membutuhkanku. Jadi aku kesini untuk menitipkan Yunjo. Dimana Yoona?”

“Dia baru saja keluar..”

“Kalau begitu aku bisa menitipkan Yunjo padamu kan? Aku tidak bisa membawanya kesana. Aku tidak akan bisa menangani suamiku dan bayiku sekaligus..”

Terdengar menggelikan, seolah suaminya adalah seorang bocah yang kerap kali rewel..

“Terdengar seperti suamimu mendadak rewel”

“Dia hanya merajuk meminta perhatian dariku”

“Apa kau kurang memperhatikannya dimalam hari?”

Aku mengedip dan membuatnya memutar mata padaku..

Oh, andai tak ada Hana dan Jun, aku bisa melancarkan godaan padanya, seperti ketika dia dan Yoona serta Sooyoung yang terus menggodaku usai pernikahan dan kembalinya aku dari bulan madu..

“Aku tidak bisa meladenimu sekarang.. Tapi tolong jaga putraku..”

Yuri membuatku melepaskan gandengan tanganku pada Junseo, ketika begitu saja ia memberikan bayinya, Yunjo untuk berada dalam gendonganku..

Aku masih melihat kepanikan diwajahnya, meski tidak terlalu jelas..

Sungguh, aku pun tak ingin sesuatu terjadi dengan suaminya. Tapi bagaimana dengan bayinya?
Bagaimana bila Yunjo menangis?
Sebelumnya, aku belum pernah menjaga bayinya dalam waktu lama..

“Jika dia menangis, berikan susunya.. Aku sudah menyiapkannya. Semua ada didalam tas-nya”

Yuri sudah menjawab pertanyaanku yang belum terucap. Dia lebih dulu meninggalkan kecupan untuk bayinya, pada Junseo dan juga Hana, sebelum begitu saja meninggalkanku dengan Yunjo dalam gendonganku..

Ooh..
Syukurlah, Yunjo sedang tidur sekarang..

“Aunty..”

Junseo sudah langsung menarik-narik ujung blus-ku..

“Aunty, ayo..”

“Oh, Jun ah.. Bagaimana kita bisa keluar sekarang? Aku tak bisa membawa Yunjo bersama kita”

“Tapi Hana lapar, aunty..”

“Noona lapar.. Jun lapar.. Aunty ayo..!”

Aduhhh..
Bagaimana ini?

Junseo masih saja menarik-narik ujung blus-ku, ditambah dengan suara rengekannya yang kemudian membuat Yunjo mulai menggeliat dalam gedonganku, menjadikanku dengan segera menggoyang tubuhnya, menepuk-nepuknya ringan agar kembali terlelap..

“Aunty.. Ayoo..!”

Oh, bagaimana menghentikan Jun..?
Yunjo tak boleh bangun..
Aku takkan bisa mengatasi satu bayi menangis ditambah dengan dua bocah yang merengek meminta makan.
Mana yang harus lebih aku dahulukan..?

“Saya bisa menggendong bayinya, Nyonya..”

Oh syukurlah..

Seorang karyawan dengan sikap pengertiannya menghampiriku untuk kemudian mengambil alih Yunjo dari dalam gendonganku, hingga akhirnya aku dapat keluar meninggalkan butik untuk membawa Hana dan Junseo mendapatkan makanan yang mereka inginkan.

Aku tahu Yoona cukup melarang kedua anaknya untuk memakan makanan cepat saji, tapi Hana menyukai pasta, begitupun dengan Junseo yang mudah saja terpengaruh dan menurut saja pada apa yang dikatakan Noona-nya. Jadilah, aku membawa mereka kesalah satu restoran (tak terlalu jauh dari butik) yang menyediakan berbagai jenis hidangan pasta sesuai dengan keinginan Hana..

Aku masih menemani mereka makan dan menyuapi Junseo, ketika kudengar ponsel yang berada dalam tas tanganku bersuara..

“Hallo..”

“Sica ah, apa yang kau lakukan pada Yunjo-ku?”

“nde?”

“Aku menitipkannya padamu.. Tapi kau meninggalkannya kan? Orang butik menelponku dan mengatakan kau pergi.. Sekarang bayiku sedang menangis dan tak ada yang bisa mendiamkannya”

Astaga..

“Bagaimana bisa kau menjadi tidak bertanggung jawab seperti itu?”

Yuri mengomel dan tak memberiku kesempatan untuk menjelaskan situasiku padanya. Dia memutus sambungan ponselnya setelah memintaku untuk secepatnya kembali ke butik dan mendiamkan bayinya.

Sungguh..
Mengapa tidak dia saja yang secepatnya meninggalkan kantor suaminya.

Telpon dari Yuri tadi tak urung membuatku gelisah dan juga cemas. Aku langsung meminta Hana untuk segera menghabiskan pasta dipiringnya, sementara itu aku menghubungi butik dan mendengar dari salah satu yang menjawab telponku bila benar Yunjo terbangun dan sedang menangis.

Aku menelpon Yuri lagi dan dia tidak menjawab panggilanku..

Dia tidak seharusnya marah padaku karna bayinya kan?
Oh, tapi..
Dia memang pantas marah.

Tapi seharusnya ia mengerti..
Aku pun kebingungan karna Yoona juga menitipkan kedua anaknya padaku. Dan tadi Hana dan Junseo merengek kelaparan..

Yuri seharusnya mendengarkan dulu mengenai situasiku yang seperti itu..

Dan Yoona..
Oh, kemana sih dia?
Mengapa aku menjadi tidak yakin dia pergi untuk memilih bahan yang akan dipergunakan untuk rancangannya..

Mengapa pula dia tidak menjawab telponnya..

Jangan katakan dia terburu-buru pergi dan meninggalkan kedua buah hatinya yang sedang kelaparan, hanya untuk berkencan dengan suaminya..

Aku benar-benar akan mengomel padanya bila seperti itu yang dilakukannya..

Akhirnya aku kembali ke butik pada sekitar dua puluh menit setelahnya. Tak terdengar tangis Yunjo saat itu, Aku tanpa sadar telah menarik napas lega mendengar mereka mengatakan sudah berhasil mendiamkannya dan kembali membuat bayi kecil itu tertidur..

“Jessica ssi..”

Aku menoleh dari memperhatikan susunan etalase (sementara membiarkan Hana bermain dengn Junseo) ketika kulihat Sooyoung datang bersama dengan Nayoung yang berada dalam kereta bayinya. Gadis kecil sahabatku itu sepertinya langsung berceloteh kegirangan ketika melihat Hana dan Junseo.

Oh, dia sungguh sudah mengenali saudaranya..

“Aunty cantik..! Biarkan Nayoung bermain bersama Hana dan Jun. Dan Yunjo.. Ah, tapi Yunjo masih tertidur..”

“Oh, Yunjo disini?”

Hana hanya mengangguk dan segera mengambil alih kereta bayi Nayoung..

“Hati-hati Hana ya..”

“tenang saja aunty..”

“Hai..”

Aku menghampiri dan memberinya pelukan..

“Dimana yang lain?”

Tanpa kusadari aku telah lebih dulu menghela napasku sebelum menjawab pertanyaan Sooyoung..

“Mereka pergi dengan kepentingan masing-masing”

Dia tidak menanggapiku tapi malah menarik lenganku dan sedikit menjauh dari para karyawan butik..

“Waeyo?”

“Ada yang ingin kutanyakan?”

“Apa?”

“dimana pengacara Lee? Apa kau tau kemana perginya suamimu?”

“Apa maksudmu?”

“Jawab saja dulu..”

“Dia berangkat ke Jepang tadi..”

“dan kau percaya?”

“Apa sih maksudmu?”

Sooyoung sedikit membuatku tersinggung..

“Dengar, aku melihat pengacara Lee dibandara tadi”

“Itu memang sudah seharusnya dia berada disana untuk melakukan penerbangan ke Jepang..”

“Aku belum selesai..”

“Demi Tuhan Soo, katakan saja kemana arah pembicaraanmu”

“Aku melihat pengacara Lee berada di Bandara bukan untuk melakukan penerbangan ke Jepang seperti yang kau katakan, melainkan dia disana untuk menjemput Fanny?”

Menjemput Tifany?
Oh, Tidak..
Sooyoung pasti salah mengenali suamiku. Lagi pula, dia akan selalu mengatakan yang sesungguhnya bila itu berkaitan dengan gadis itu..

“Kau mau tau apalagi yang kulihat..? Mereka berangkulan.. Mesra..”

Darah seakan menyusut dari wajahku..
Aku pasti telah memucat saat mendengarnya..

Suamiku bersama dengan Fanny?

Tidak, Sooyoung pasti salah..

“Bagaimana kau bisa melihat mereka?”

“Oh ya ampunnn, Jessica-ku sayang.. Kau tak lupa aku memiliki suami yang punya andil besar disana kan. Aku mengajak Nayoung untuk menemani ayahnya makan siang tadi dan tidak sengaja melihat mereka..”

Sooyoung mengedip padaku..
Oh, ya..
Dia benar..
Changmin salah satu orang penting disana..

“Aku sudah pernah mengatakan padamu kan untuk tidak membiarkan suamimu terlalu dekat dengan gadis centil itu.. Dia seorang gadis pengacau.. Ingat bagaimana dia pernah membawa petaka bagi keluarga kami..”

“Cukup Soo, hentikan.. Aku mengerti kau masih tidak menyukainya bahkan cenderung mengakar kebencianmu padanya. Tapi.. Tapi dia baik, dan aku merasa Fanny tidak seperti itu. Apalagi suamiku lebih dulu mengenal baik gadis itu daripada aku..”

“Lantas, apa itu pantas dijadikan alasan untuk membenarkan perbuatan mereka yang diam-diam bertemu dibelakangmu. Ingat posisimu Jessica, kau istrinya. Kau berhak untuk marah..”

Aku memicingkan mata padanya..
Mengapa Sooyoung justru lebih berapi-api daripada aku?

Ah, dia memang selalu begitu bila apa yang dikatakannya menyangkut Tiffany. Sooyoung bukan seorang yang pandai menahan diri terhadap gadis itu, bahkan setelah sekian lamanya, dia masih tak bisa melupakan kesalahan gadis itu..

“Apa kau mencoba memprofokasiku? Lagipula, bila mereka memiliki hubungan, mengapa tidak dari dulu saja sebelum Donghae oppa mengenalku?”

“Kau tahu bagaimana asiknya bermain kembang api? Berbahaya namun mengasikkan bukan? Itu yang sedang mereka lakukan. Seperti halnya bermain kembang api, perselingkuhan juga membahayakan jika ketahuan, namun sering kali terasa mengasikkan lantaran memacu adrenalin pelakunya..”

Tidak, Sooyoung tidak bisa menggunakan perumpamaan yang seperti itu..

Itu terasa sudah menyengat hatiku, menjadi panas..

“Kau harus menghentikan mereka, Jessica.. Sebelum permainan api yang mereka lakukan menghanguskan rumah tanggamu..”

Apa-apaan sih Sooyoung..
Aku mati-matian berusaha menolak apa yang coba ia jejalkan kedalam pikiranku..

“Tapi.. Tapi secara logika, bukankah akan lebih bagus bila suamiku melakukan penerbangan ke Jepang.. Hal itu akan meminimalisir kemungkinan dia terpergok olehku. Itu bila suamiku benar-benar bermain api dengan gadis itu..”

Sooyoung justru tergelak dan membuatku sekali lagi memutar mata kearahnya..

“Oh, terserah kau saja.. Sebagai sahabat sekaligus sesama wanita, aku hanya mencoba untuk memperingatkanmu. Kau seharusnya lebih waspada. Ooh, Hana ya.. Mengapa Nayoung menangis sayang..?”

Sooyoung meninggalkanku dalam keadaan terpaku, mencerna apa yang dikatakannya.

Benarkah..
Benarkah suamiku..?
Ya Tuhan..
Tidak mungkin..

Aku mulai mencari ponselku dan menghubunginya. Tersambung, namun tidak ada jawaban..

“Pengacara Lee tidak menjawab ponselnya bukan..?”

Sooyoung tiba-tiba saja sudah berada dibelakang tubuhku. Aku menoleh dan mendapati seringai kejam diwajahnya..

Tega sekali dia..
Aku bahkan sudah hampir menangis mendengar apa yang dikatakannya.

“Dia pasti hanya tidak mendengarnya.. Aku akan menghubunginya lagi nanti..”

Aku mencoba untuk mengacuhkannya..

“Sica ah..”

“Tidak Soo, jangan katakan apapun lagi..”

Aku memberengut dan dia justru berekspresi geli diwajahnya..

“Aku hanya akan mengatakan jika aku perlu membeli semacam biskuit untuk Nayoung. Sepertinya dia menangis karna lapar, aku lupa tidak membawanya. Aku akan keluar sebentar..”

Setelah melihat Sooyoung yang melangkah keluar, aku sekali lagi melakukan panggilan pada kontak suamiku, dan sekarang justru tidak tersambung. Aku mengulangnya sekali lagi dan tetap hasilnya adalah sama..

Ya Tuhan..
Apa yang dilakukan suamiku?

“Apa yang kau lakukan Lee Donghae-ssi..”

Aku menggeram sambil mencengkram erat ponsel ditanganku. Aku pasti akan meremukkan benda itu andai saja Hana tidak meraih tanganku..

“Aunty.. Popok Yunjo basah, dia bangun dan sepertinya merasa tidak nyaman..”

Hana mengedip, dan aku seperti ditarik kembali pada kesadaranku..

Oh, aku punya bayi sahabatku yang harus ku urus..

“Aunty?”

“Oh, ne Hana-ya.. Aunty akan mengurusnya..”

Aku mulai mengambil sebuah tas yang sebelumnya ditinggalkan Yuri, dan mulai menggantikan popok bayi lelakinya.

Selesai dengan itu, aku sudah berniat untuk menelpon Yuri dan menanyakan keberadaannya, mengapa dia tidak cepat kembali dan mengambil Yunjo, namun yang lebih dulu kudengar justru suara tangis bayi lainnya.

Ya Tuhan..
Nayoung..

Aku tidak sadar ketika Sooyoung juga meninggalkan bayinya. Dia keluar hanya untuk membeli biskuit, maka seharusnya dia telah kembali..

“Aunty Sica..! Bagaimana dengan Nayoung? Dimana aunty cantik? Nayoung menangis..?”

Aku lebih dulu melakukan panggilan ke nomer Sooyoung, namun menyerahkan ponselku pada Hana..

“Telpon aunty cantik-mu itu, Hana ya.. Katakan untuk cepat kembali..”

Meraih Nayoung dari kereta bayinya, aku berusaha
untuk mendiamkannya.

“Aun-ty..”

Junseo tiba-tiba saja kembali menarik ujung blus-ku, dan mengulurkan kedua tangannya padaku..

Benar saja, bocah lelaki itu tidak menyukai tidak mendapat perhatian. Jun mengisaratkan agar aku meraihnya kedalam gendonganku..

Astaga..
Bagaimana bisa aku melakukannya, hanya dengan kedua tanganku dan Nayoung..

Kepalaku sudah mulai berdenyut sekarang..

“Jun-ah, tunggu aunty mendiamkan Nayoung, okey..”

Ketika aku kemudian menggelengkan kepala pada bocah lelaki itu, reaksi Junseo adalah meledakkan tangis, disertai dengan tubuh kecilnya yang kemudian merosot terduduk dilantai..

“Aigoo, Jun-ah..”

Junseo masih saja menangis..
Yang parahnya disertai dengan airmata, memilukan..

Bagaimana aku bisa menangani ini?
Nayoung belum berhenti menangis, ditambah dengan Junseo dan sekarang Yunjo ikut-ikutan menangis dan menciptakan paduan suara yang benar-benar sangat kacau kedengarannya..

“Bagaimana Hana-ya? Apa aunty Sooyoung menjawab telponnya..?”

“Tidak aunty..”

“Telpon Mommy Yoona, sayang..”

“sepertinya Mommy melupakan membawa ponselnya tadi..”

Ya Tuhan..
Adakah yang akan lebih kacau dari ini?

“Kalau begitu hubungi Yuri imo, Hana-ya.. Atau daddy-mu, atau siapapun yang seharusnya lebih bertanggung jawab pada bayi-bayi ini. Ya Tuhan.. Kemana sih mereka semua?”

aku mulai terpancing kesal..

Demi Tuhan..
Kepalaku dipenuhi dengan pemikiran terhadap apa yang dilakukan oleh suamiku. Tapi tubuhku harus menghadapi kenyataan anak-anak sahabatku menangis secara bersamaan disekitarku.

“Apa mereka pikir disini tempat penitipan bayi..”

Aku masih menggerutu kesal ketika kemudian, Hana mengulurkan ponselnya padaku..

“Yuri imo ingin berbicara dengan aunty.. Oh, Jun-ah”

Hana menyerahkan ponselnya padaku dan lantas mendekati Junseo dan memeluknya, mencoba untuk mendiamkan sang adik dari tangisnya.

Dia kakak yang baik..

“Sica-ah.. Jessica!!”

Aku teralih dari memperhatikan Hana dan Jun, untuk kemudian menyahuti panggilan Yuri..

“Dimana kau?!”

Aku langsung menyuarakan nada ketus padanya..

“Aku perlu memberitahumu.. Aku sedang melihat suamimu, Sica-ah..”

Jantungku, entah mengapa rasanya tiba-tiba berhenti berdetak..

“A-apa maksudmu?”

“Aku melihat pengacara Lee bersama dengan gadis itu..”

“Siapa?”

“Suamimu dan Fanny, aku melihat mereka.. Mereka ada disini. Kau harus melihatnya..”

Ya Tuhan..
Jika Sooyoung bisa saja melebih-lebihkan mengenai apa yang dikatakannya tadi.
Lalu bagaimana dengan Yuri..
Dia tidak mungkin mengarang cerita kan?

“Kau dimana? Dan bagaimana aku bisa kesana.. Ada banyak bayi disini..”

Sekilas, aku seperti mendengar suara terkikik, namun segera teralih oleh suara Yuri lagi..

“Yoona dan Siwon oppa akan segera sampai disana.. Kau bisa meninggalkan Yunjo-ku, dan yang lain begitu mereka tiba disana. Palliwa Sica-ah..”

Aku benar-benar sudah menjatuhkan airmata sekarang..

Nyaris stres karena setelah beberapa jam Yoona dan Siwon oppa bahkan belum juga datang..

“Mommy.. Daddy..!!”

Akhirnya mereka..

Hana dan Junseo (yang sudah diam dari tangisnya) berseru bersamaan saat pintu kaca terbuka, dan Yoona bersama Siwon masuk secara bersamaan. Mereka tersenyum sumringah tentu saja, semakin membuatku yakin jika Yoona hanya mengada-ada saat mengatakan berniat untuk memilih bahan.

Mereka mungkin saja baru selesai berkencan. Tapi aku tak bisa mengomel sekarang. Aku harus segera berada ditempat yang disebutkan Yuri tadi.

Menyerahkan Nayoung pada Yoona, juga mengatakan padanya jika dia masih harus mengurus Yunjo, aku tak sedikitpun melihat keberatan terpancar dikedua matanya. Yoona cenderung lebih santai kurasa.

Maka tak lagi membuang-buang waktu, aku segera beranjak mengambil tas tanganku. Senja pasti telah menggantung, nyaris malam hari ketika aku keluar dari butik dan segera menghentikan sebuah taksi yang melintas. Mengatakan kemana tujuanku, tak butuh waktu lama, hanya sekitar lima belas menit, sang sopir berhenti melaju dan mengantarkanku kedepan sebuah restoran yang tak asing bagiku.

Disini salah satu yang menjadi favoritku..
Donghae oppa tahu itu..
Kami bahkan sudah sering melakukan makan bersama disini.
Lalu bagaimana mungkin dia mengajak wanita lain untuk menghabiskan waktu dengannya disini? Ditempat ini.. Tidak ingatkah dia padaku?

Relung hatiku kembali merasa tersengat dan menimbulkan rasa sakit didalamnya..

Dengan enggan aku melangkah, dan seorang petugas restoran dengan sigap membuka pintu untukku, mempersilahkanku masuk. Aku tak mendengar ketika dia menanyakan meja pesananku, mataku masih mencari-cari dimana keberadaan suamiku.

Aku berdoa, dia tidak berada disini..

Namun doa-ku justru dijawab dengan kepahitan ketika sudut mataku diam-diam memperhatikan pada sejoli yang sedang duduk berdekatan membelakangiku. Seorang pria dengan kemeja linen berwarna biru, merangkulkan tangannya dipundak seorang gadis berambut coklat, ikal sebahu..

Tuhan..
Aku mengenali mereka bahkan sebelum keduanya berbalik menatapku.
Bagaimana aku tidak langsung mengenali, jika bahkan kemeja berwarna biru itu adalah yang tadi kusiapkan untuk ia pakai sebelum kepergiaannya yang mengatakan mendadak harus berada di Jepang.

Bagaimana mungkin sekarang aku justru melihatnya disini bersama dengan wanita lain..

“Jadi disinikah Jepang yang kau maksud, Tn.Lee..?”

Aku merasa tak perlu menunggu untuk memuntahkan kemarahanku, namun reaksi keduanya sama sekali diluar pemikiranku.

Suamiku melepaskan rangkulannya pada Fanny..
Ya, benar..
Itu mereka..

Untuk kemudian memperlihatkan padaku sebuah kue ulang tahun dengan taburan lilin yang menyala diatasnya..

Yang kemudian kusadari, kedekatan tubuh suamiku dan rangkulan tangannya dibahu Fanny tadi, adalah untuk sesaat menutupi kue itu dari pandangan mataku..

Oh My..

Aku menutup mulutku, terkejut mendengar suara riuh setelahnya yang berasal dari sahabat-sahabatku. Mereka menjeritkan ucapan selamat ulang tahun padaku, disertai dengan tepukan tangan yang terdengar sangat meriah..

Donghae oppa lantas mengambil kue itu dari atas meja, dan membawanya kehadapanku yang masih mematung, terpesona..

“Untuk ulang tahun pertama sebagai istriku, selamat ulang tahun sayang..”

meneteslah airmataku yang tak lagi mampu terbendung, haru..

Bagaimana suamiku telah mengatur semua ini. Kami secara pribadi sudah merayakan hari spesialku. Suamiku lah yang pertamakali mengucapkan selamat ulang tahun padaku sambil memberikan kecupan dikeningku. Dia juga memberiku sebuah kado kecil semalam..

Tapi ini..
Kejutan ini..

Aku tak pernah menyangkanya..

“Cepatlah tiup lilinnya, Sica-ah.. Jangan biarkan api pada lilin itu berlama-lama menyala, atau…”

Sooyoung cekikikan..
Diikuti oleh Yoona dan Yuri. Ketiganya kompak berangkulan, menertawaiku..

Aku tahu mereka semua telah mengerjaiku. Membuatku mengurus anak-anak mereka. Menjadikanku cemas dan panik dalam satu waktu sekaligus karna berpikir curiga pada suamiku..

“Ayo sayang, tiup lilinnya..”

“gomawoyo..”

Aku mengucap terimakasih, sebelum akhirnya meniup lilin diatas kue ulangtahunku.

“Kau terkejut?”

“sangat..”

Donghae oppa tersenyum, Fanny mengambil kue itu dari tangannya dan membiarkannya yang kemudian memelukku..

“Happy birthday..”

“Thank you..”

Melepas pelukannya, dia memberikan kecupan dibibirku, yang sukses menciptakan suara riuh dari mereka yang bersorak pada kami..

“Kalian tidak bisa mendapatkan kamar disini, pengacara Lee.. Maka tahanlah..”

Itu Siwon oppa yang membuat wajahku memerah. Yoona sudah menempel padanya, dan aku sangat senang melihat mereka begitu harmonis. Begitupun halnya dengan yang lain..

Yuri dan Sooyoung, masing-masing sudah langsung mengambil tempat duduk disamping suami mereka..

Namun Fanny justru beranjak..

“Ada apa?”

Aku menahan pergelangan tangannya. Dia tersenyum dan menggeleng padaku..

“Selamat ulang tahun, Jessica ssi.. Senang bisa merayakan hari spesialmu..”

“Terimakasih.. Kau tidak akan bergabung?”

“Ya, tentu.. Tapi aku perlu untuk menghubungi seseorang..”

“Nickhun?”

Dia mengangguk dan kembali tersenyum. Aku senang mendengar apa yang dikatakan Fanny, setidaknya dia akan terus mencoba untuk melibatkan diri dengan obrolan kami, meski lebih sering ia terlihat  menjaga sikap dan cenderung  berhati-hati, terlebih didepan Sooyoung..

Aku membiarkan Fanny untuk sementara menjauh dari kami, dan lantas bergabung dengan yang lain, duduk disamping suamiku tentu saja..

“Jadi dimana bayi-bayi itu sekarang? Sungguh tega sekali kalian memanfaatkannya untuk mengerjaiku..”

“Lagi pula, kami mengawasinya.. Kami tak terlalu jauh darimu..”

Aku mendengus pada Yoona..

“Kau membiarkan Hana dan Junseo kelaparan tadi..”

Yoona tergelak..

“Tentu saja tidak.. Aku dan Siwon mengajak mereka makan dan kembali kebutik sebelum kau datang tadi..”

Pantas saja, meski merengek lapar Hana dan Jun tak menghabiskan makanannya..

“menyebalkan.. Jadi Hana?”

“gadis kecilku tentu saja bisa diajak kerja sama..”

Yoona mengerling jahil, tangannya masih saja sempat meraih tangan Siwon oppa. Aku menduga keduanya saling meremas tangan mereka..

“Kau tahu, kurasa Junseo benar-benar mulai menunjukkan kecemburuan. Bagaimana jika kau sudah melahirkan adiknya nanti?”

“Itu akan menjadi kerja ekstra untukku dan Siwon..”

Yoona mendesah ketika aku membahas hal itu dan menceritakan padanya bagaimana bocah lelakinya itu merengek ketika aku lebih memilih menggendong Nayoung tadi..

“Bagaimana dengan Yunjo-ku?”

Yuri menanyakan..

“Untungnya dia masihlah bayi laki-laki yang hanya menangis ketika popok-nya basah.. Tidak terlalu merepotkan, aku bisa mengatasinya..”

“Dan Nayoung..?”

“Kurasa dia akan menjadi sama berisik seperti ibunya..”

Sooyoung tergelak..

“Hei, jangan berbicara seperti itu pada putri kecilku..”

Protesnya kemudian..

“Jadi intinya, apa kau sudah siap memiliki bayi?”

Aku berkerut dahi mendengar pertanyaan dari Yoona. Sebelum menjawabnya, aku melihat Fanny kembali bergabung dengan kami, dan aku langsung mempersilahkannya untuk duduk dan ikut dalam obrolan kami, sementara para pria telah membentuk obrolan mereka sendiri..

Aku melirik pada suamiku, dan dia secara kebetulan juga sedang mengarahkan tatapannya padaku..

Dia mengakat bahunya, sepertinya mendengar apa yang ditanyakan Yoona dan sepenuhnya menyerahkan keputusannya padaku..

“Bukan hanya kalian.. Aku juga bisa membuat kejutan..”

Meraih dari dalam tas tanganku, aku menunjukkan foto hasil USG yang kudapatkan pada malam sebelumnya..

Ada gumpalan kecil mungkin sebesar buah anggur, yang telah sempat membuatku meneteskan airmata haru. Dialah vetus yang sedang bertumbuh dan akan menjadi calon bayiku, bayi suamiku juga, bayi kami lebih tepatnya..

“Oh, Tuhan.. Jadi sudah?”

Aku mengangguk dan mereka bersorak untukku, hal yang menggembirakan saat tak henti-hentinya mereka mengucapkan double selamat untukku..

Selamat untuk hari ulang tahunku, dan selamat untuk kehamilan pertamaku..

*

*

*

*

#HappyJessicaDay

Waktunya mepet, jadi ga bisa bikin yang panjang” &
Maaf yaa.. Yang part lahirannya si baby Boy nya Yuri-Yunho dilewatin dulu😀
*masih buntu T.T

@joongly

172 thoughts on “YOU’re My Destiny | Jessica’s B’day

  1. sampe ngucapin met ultah utk dirinya sendiri ni hehe..
    no comment deh ya utk ceritanya..
    ditunggu kisah lainnya aja ya xixixix..
    makasi bacaannya..

  2. baca coretan ini jd pengen GG ber9 lg
    mngkn g ya????
    qt cm berdoa bt sica unnie dan jg bt member gg yg laen smoga d ksh jln yg terbaek dan smoga mreka bs jd tmn baek lg msk g jd member lg

  3. kasian bgt si jessica..
    hana bner gadis kecil yg pintar yg bisa diajak kerjasama..
    oh daebak! daebak eonni!!

  4. Walah jess dikerjain. Hehhehe. Ngurus 4 baby sekaligus sama di komporin masalah laki nya. Hehehe. Pasti mumet bangett. Dah. Hihiihhi. Jadi kangen ot 9 hehehe

  5. Sica bingungn sdiri di titip bgtu.. Apa lagi smua nya msih tergolong batita.

    2 kebhagiaan sxlgus yang sica dapat… Slmat. Itu kejutan nya cukup buat jantung memompa lebh cpat…!

  6. Ga kebayang bingung n paniknya sica waktu harus ngurus anak2 sahabatnya apalagi pikirannya tertuju sma donghae n fanny, kejutan ultah yg bener2 manis…
    D tunggu bget part2 untuk couple2 berikutnya, sepertinya masih banyak moment yg hrus di ceritain nih author…kkkkkk

  7. Ya ampun sica kasian bgt dikerjain sama bayi dan anak2 shabatnya smpe pusing sendiri…..ya author kok pas yuri lahiran gak da ceritanya….bikinin ya…

  8. suka bgt ada kelajutannya…
    eonnie bikin lagi donk yg haesica sudah punya baby..
    sooyoonyul kompak bgt ngerjain sica…
    tapi berakhir dgn senyuman…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s