Fanfiction

3S | Sorry | 1

image

Cast  | Im Yoona | Jessica Jung | Kim Yoojung | Choi Siwon | Park Yoochun | Kwon Yuri | etc

Cover | Pus’Z Art & My Sista Tika (sebenarnya sedikit miss dengan karakter Sica, tapi its OK lah, dari dulu saia emang ga terlalu peduli dengan cover) tq ya say^^

Kalau ide nya sebenarnya nyantol(?) gara” Non Echa (ehmm.. beneran saia sadur ya non idenya^^ kalau mau nuntut urusannya dibelakang aja) wkwks~
Jadi, pas protes” via bm gegara ff Mr. Mr si Echa kasih beberapa kemauan (siapa dia, masa kemauannya kudu saia ikutin) *peaceNon* plus nyelip satu masukan yg lantas membuat saia terpikir untuk nulis cerita ini..
Karna klu Mr. Mr. itu, aq udah punya plot sendiri bwt kelanjutannya. So, ga bisa di ganggu gugatt..
Hanya saja kemalessannn masih terus menggelayuti saia. Makanya belum diterusin sampai sekarang.. hihihiii
( Mr. Mr. kan project balas dendam saia ke Yunah. Berhubung didunia nyata masih belum kesampaian. Jadi dibikinlah didunia fanfic.. bikin dia cinta mampus ke Siwon) Dan ini adalah balas dendam sesi ke 2^^ Hahahaa..

Sekian cuap” penting nya (Hahhaa) say thanks bwt non Echa.. and semoga ikutan hadir untuk membaca yaa~

#

#

#

Enjoy Reading~

Aku lelaki tak mungkin menerimamu bila ternyata kau mendua, membuatku terluka..

Jangan pernah memilih, aku bukan pilihan.. (Iwan Fals)

                        ###

Terik menyengat sinar matahari siang itu, membuat seorang lelaki yang baru saja keluar dari dalam  mobil audi berwarna hitam miliknya, mempercepat langkahnya yang lebar-lebar memasuki bangunan apartemen yang ditinggalinya.

Didalam lift yang akan membawanya naik ke lantai tujuh, lelaki itu membuka jas putih yang melapisi kemeja berwarna senada yang dikenakannya, yang baru disadarinya semakin membuat hawa panas ditubuhnya bertambah. Ia bahkan telah beberapa kali mengurut pelipisnya. Pusing yang dirasanya sejak tadi pagi nyatanya tak kunjung hilang walau ia sudah menelan beberapa butir obat. Hingga membuatnya terpaksa pulang ditengah hari dan meninggalkan semua pekerjaannya. Lelaki itu nampaknya harus menyerah pada kondisi tubuhnya yang tak mau berkompromi.

Tubuhnya yang lelah setelah melakukan pekerjaan secara maraton, kini seakan sedang memprotesnya untuk diistirahatkan..

Bagaimana mungkin, dirinya yang biasa menyembuhkan pasien justru tak bisa mengobati dirinya sendiri.
Pikirnya masih sambil mengurut pelipisnya..

Lift yang berdenting dan kemudian terbuka, menyegerakan lelaki itu untuk keluar dari dalamnya. Dengan jas tergantung disebelah tangannya, ia berjalan disepanjang koridor guna mencapai pintu apartemennya yang letaknya berada dibagian ujung koridor itu.

Baru saja akan memasukkan digit-digit angka pada interkom, ia justru mendapati pintu apartemennya yang terbuka dan dengan mudah dapat memberikan celah bagi siapa saja untuk masuk kedalamnya. Lelaki itu sesaat sempat mengerutkan dahi melihatnya.
Siapa gerangan yang begitu ceroboh seperti ini?
Tidak mungkin ibunya, karna baru pagi tadi ia sendiri yang mengantar ibunya ke bandara. Ibunya melakukan penerbangan keluar negri untuk menghadiri acara wisuda adik perempuannya disana. Kemungkinannya bahkan sang ibu juga akan menetap beberapa lama disana, lantaran sang adik yang sudah mendahuluinya menikah itu sedang bersiap menanti proses persalinan.

Mungkin seorang pengurus apartemennya yang kini berada didalam sana. Tapi jika bukan seorang yang biasa mengurus dan membersihkan apartemennya, maka sudah pasti yang berada didalam sana dan meninggalkan pintu terbuka seperti ini adalah tunangannya. Hanya ketiga orang itu yang memiliki akses keluar masuk apartemennya.

Melupakan kecerobohan yang dilakukan dengan membayangkan kemungkinan sang gadis yang telah menjadi tunangannya kini sedang berada didalam apartemennya, membuat lelaki itu sekilas menyunggingkan senyum diwajahnya. Meski denyut dikepalanya masihlah belum juga mereda, tetap tak menyurut lengkungan bulan sabit yang terbentuk dari bibirnya.

Dengan segera melangkahkan kedua kakinya untuk masuk, lelaki itu kembali dibuat berkerut dahi ketika sepasang sepatu yang ia tahu pasti bukan miliknya, berjejer dengan sendal berwarna silver yang diketahuinya sebagai milik tunangannya, karna ia lah yang beberapa hari lalu memberikan itu sebagai hadiah untuknya.

Siapa gerangan lelaki yang dibawa oleh tunangannya berkunjung ke apartemennya?
Mengapa bahkan tunangannya tak lebih dulu meminta ijin padanya ketika membawa orang lain memasuki area pribadinya?

Lelaki itu nampaknya tak harus repot mencari jawaban dari pertanyaan yang melintas, karna belum lama setelah pertanyaan itu berkelebat dalam pikirannya, jawaban itu muncul. Sebuah pemandangan yang tersaji kehadapannya. Yang dengan segera membuat rahangnya mengeras. Giginya bergemeletuk menahan kobaran amarah yang kini memerahkan kedua matanya yang menatap dua orang yang sedang bercumbu didepan sana.

Gadis yang berstatus sebagai tunangannya itu kini tengah terbuai oleh ciuman seorang lelaki dibibirnya. Tangan bebas sang lelaki bahkan dengan mudahnya menggerayangi pahanya..

Lelaki itu, yang mendapati sang tunangan melakukan hal itu didalam apartemennya, kini hanya bisa merasakan darah yang mengalir disekujur tubuhnya mendidih. Tangannya mengepal, menyadari harga dirinya sebagai seorang laki-laki telah diinjak-injak dengan semena-mena oleh tunangannya sendiri..

“Oppa..”

Lelaki itu merasa itu suara paling menjijikkan yang pernah didengarnya, meski nyata-nyata terucap dari gadis yang tiga bulan lalu resmi menjadi tunangannya.

Gadis itu yang kini menatapnya dengan keterkejutan luar biasa, kemudian mendorong tubuh lelaki yang telah mencium dan membuat bibirnya membengkak..

Dasar bejat..

“Oppa.. Tunggu..!”

lelaki itu tak hirau oleh panggilan sang gadis yang menyusulnya keluar dari apartemennya..

“Oppa.. Tunggu..! Aku bisa jelaskan padamu..!”

Gadis itu sedikit berlari mengejarnya..

“Oppa.. Oppa mianhae, maafkan aku.. Jebal..”

Lelaki itu lantas menghentikan langkahnya, membalikkan tubuhnya dan melihat gadis itu yang kemudian juga menghentikan langkahnya. Berdiri dalam jarak dua langkah dihadapannya..

“Aku memaafkanmu, Yoona.. Sekarang kau bisa membawa teman lelakimu itu untuk pergi dari apartemenku. Aku akan kembali satu jam lagi..”

Sedingin itu kalimat yang diucapkannya, lelaki itu sedang ingin menunjukkan ia tetap mendapatkan harga dirinya secara utuh meski gadis bernama Yoona itu, tunangannya telah menginjak-injak harga dirinya..

Dan benar saja, ketika lelaki itu yang kembali berbalik dan kemudian meneruskan langkahnya dapat berjalan dengan tegak, meninggalkannya. Yoona justru mendapati kedua kakinya yang terasa lemas sejak beberapa saat tadi, kini tak mampu lagi menopang tubuhnya, hingga membuatnya terjatuh lunglai dengan airmata penyesalan yang mulai menetes membasahi wajahnya..

“Oppa.. mianhae.. Siwon oppa.. maafkan aku..”

###

Kasih maafkan ku..
Kutahu ini sakit untukmu..
Maafkan aku..
Salah ini mengecewakanmu..
(Latinka)

Lebih dari empat jam Yoona telah menunggu Siwon dengan perasaan gelisah. Lelaki yang mengatakan akan kembali dalam waktu satu jam itu, nyatanya masih belum terlihat kembali ke apartemennya.
Siwon pergi meninggalkannya setelah memergokinya melakukan tindakan yang ia sadar tak dapat lagi ditolerir oleh lelaki itu. Meski Siwon dengan mudahnya mengatakan memaafkannya, namun kekecewaan yang bercampur dengan kemarahan yang berkobar dimata lelaki itu, sangat jelas dapat ia lihat.

Setelah menunggu selama itu tanpa kepastian, Yoona akhirnya memutuskan untuk pulang. Ia tak tahu mengapa tiba-tiba Siwon pulang ditengah hari, dan mungkin saja lelaki itu akhirnya kembali lagi ke rumah sakit. Karna bila sudah berurusan dengan pekerjaan dan para pasiennya, Yoona tau, profesi lelaki itu sebagai dokter, mewajibkannya untuk ekstra bertanggung jawab. Beberapa hal darurat yang kadang tak mengenal waktu juga menjadi konsekuensi pekerjaan lelaki itu.

Pulang dengan menggunakan taksi, Yoona melangkah masuk kedalam rumahnya dengan lemas. Wajahnya bahkan terus menunduk. Dengan kedua tangannya yang memegang erat pada selempang tas nya, ia sedang berusaha untuk mengurangi kegelisahannya.

“Yoona..”

Suara ayahnya yang kemudian membuatnya menghentikan langkah dan lantas mendongak..

“nde, appa?”

“Kemari kau..!”

Nada keras dari suara ayahnya dengan segera membuat sekujur tubuhnya menjadi kaku. Ditambah lagi dengan tatapan horor nya yang kini sedang sang ayah perlihatkan padanya. Ibu nya, yang duduk bersebrangan dengan ayahnya, juga memberinya tatapan tak kalah menyeramkan.

Oh Tuhan..
Masalah apa ini?

Takut-takut, Yoona melangkah menghampiri kedua orangtua nya. Kemudian mengambil duduk sejajar dengan ibunya. Tak terlalu dekat, sengaja Yoona membuat jarak dengan tidak menempati kursi yang tepat berada disamping ibunya.

Ada yang kemudian lebih dulu menarik perhatiannya yaitu sebuah cincin yang tergelak diatas meja tepat didepan ayahnya.

“Apa ada yang ingin appa katakan padaku?”

Tanya Yoona akhirnya, setelah sang ayah maupun ibu tak jua mengubah ekspresi wajah mereka yang terus terang saja membuat Yoona sedikit merasa ngeri melihatnya.

“Menantu Choi datang dan mengembalikan cincin pertunangan kalian..”

Jadi cincin itu..

Kalimat yang diucapkan sang ayah dengan tanpa bernarasi panjang terlebih dulu, telah bagaikan sebilah pedang yang dengan cepat menghunus jantungnya. Memutus suplai aliran darahnya, hingga membuatnya pucat pasi dan pasti pada akhirnya membuatnya terkapar dengan begitu mudahnya..

“Ini kan yang kau inginkan? Jadi ulah apa yang sudah kau perbuat hingga berhasil membuat menantu Choi menyerah denganmu..!!”

Yoona menggigit kuat bibir bawahnya, mencegah isak tangisnya meski airmatanya sudah menetes membasahi wajahnya.

“Dia bahkan meminta maaf karna mungkin bukan dirinya yang kau inginkan untuk membahagiakanmu..”

Ucap sang ayah lagi, dan Yoona masih belum menanggapi..

“Jawab Aku, Yoona!! Apa yang membuat menantu Choi mengembalikan tanggung jawab untuk menjagamu ke tangan appa..?!”

Yoona tersentak kaget melihat ayahnya menggebrak pada meja dihadapannya. Tatapannya nyalang penuh kemarahan, hingga membuat ibunya yang tadinya berada disebelahnya dengan cepat berpindah kesisi ayahnya dan mengucapkan kalimat lirih agar sang ayah menenangkan dirinya.

“Gadis tolol seperti ini memang pantas untuk dimarahi, yeobo.. Kau mendengar dan melihat sendiri bagaimana menantu Choi mengembalikan cincin itu tadi. Oh, aku bahkan tak tahu lagi apa aku masih bisa memanggilnya sebagai menantu..

“Appa.. Oemma, mianhae..”

“Apa yang sesungguhnya telah terjadi, Yoona?”

Sang ibu berbicara dengan lebih halus daripada ayahnya. Meski tatapan matanya masih jelas terlihat mengancam..

“Oemma, Appa.. Maafkan aku, tapi biarkan aku menyelesaikan hal ini terlebih dulu dengan Siwon oppa. Mianhae appa.. Mianhae oemma..”

“Jadi kau benar-benar menginginkan pertunangan kalian batal, Yoona..?!”

Yoona tak menjawab..

“Appa sudah mencarikan lelaki terbaik untuk bertunangan denganmu, menjadi pasanganmu. Seharusnya kau sadar, jika bukan karna menilai Siwon sebagai lelaki yang berpotensi besar dapat membahagiakanmu, appa tidak akan memilihnya. Aku tidak mungkin mempertaruhkan kebahagiaan putriku sendiri dan menyerahkannya ke tangan lelaki yang tidak baik..”

Apa yang dikatakan sang ayah hanya semakin membuat dadanya sesak oleh perasaan bersalah dan sekaligus penyesalan. Lidahnya yang terasa kelu membuat Yoona tak mampu lagi berkata-kata.
Yang kemudian dilakukannya justru menyambar cincin yang tergelak diatas meja itu, kemudian berlari kearah kamarnya. Mengabaikan sang ayah yang meneriakkan lagi kata-kata kemarahan terhadapnya.

Tapi didalam kamarnya, ternyata telah ada dua orang lagi yang menunggunya. Yoo jung adiknya, dan Jessica yang adalah kakak iparnya. Keduanya terlihat sudah sangat menanti-nanti dirinya dan siap menyerangnya dengan introgasi yang pastinya berhubungan dengan pengembalian cincin pertunangan yang dilakukan oleh Siwon.

Demi Tuhan..
Ia bahkan masih merasa shock dengan fakta itu.

Selama setahun ia mencoba mengenal Siwon, hingga tiga bulan ini ia telah menjadi tunangannya, sedikit banyak Yoona merasa telah dapat mengetahui beberapa sifat yang dimilikinya. Siwon pribadi yang tenang, nyaris tak pernah memiliki letupan kemarahan. Profesinya sebagai seorang dokter mungkin yang kemudian membentuk karakternya sebagai pria tenang dan penyabar. Namun sikap dinginnya yang baru ia ketahui nyatanya terasa jauh lebih mengerikan.

“Apa yang kalian lakukan di kamarku?”

Yoona melemparkan tas nya keatas tempat tidur, menyusul setelahnya tubuhnya yang kemudian berbaring tengkurap disana. Dengan sengaja mengabaikan pelototan sang kakak ipar dan juga adiknya.

“Oenni ya..”

Yoojung mencoba menarik-narik tangan Yoona, agar sang kakak bangun dan memberi penjelasan kepada mereka.

“Aku lelah, Yoojung ah.. Kalian keluar lah, aku ingin beristirahat”

“Kau pikir akan semudah itu..”

Yang dilakukan sang kakak ipar lebih parah. Jessica menarik kaki Yoona dari atas tempat tidur sampai akhirnya Yoona memekik kesal padanya.

“Yakk.. Punya hak apa oenni melakukan penganiayaan seperti ini padaku. Aku akan mengadukan perbuatan oenni pada oemma dan appa..!”

Ancam Yoona yang mau tak mau menegakkan tubuhnya, duduk dipinggiran tempat tidur sambil menatap pada Jessica dengan kedua matanya yang membulat sempurna, penuh dengan kekesalan. Namun Jessica tak sedikutpun merasakan ciut nyali oleh karenanya, dia justru berkacak pinggang sambil mengarahkan pelototan yang lebih mengerikan kearahnya.

Demi Tuhan..
Ia masih tak percaya bagaimana bisa kakak lelaki satu-satunya, Yoochun oppa nya menikah dengan wanita monster seperti ini, yang pasti lebih menyeramkan daripada nenek sihir jahat dalam cerita-cerita yang sewaktu kecil sering ibunya kisahkan padanya.

Yoona bergidik sendiri atas penilaiannya terhadap Jessica, yang bukan hanya sekali itu saja tercetus dalam pemikirannya..

“Kau pikir akan berhasil mengancamku dengan kalimat seperti itu. Coba saja kau katakan pada omonim dan juga abonim sekarang, disaat mereka berdua jelas-jelas terlihat ingin mencincang tubuhmu..”

Benarkan apa yang dikatakannya..
Dia adalah nenek sihir..
Oh tidak, dia monster..
Bagaimana dia bisa mengatakan mencincang tubuh seseorang dengan semudah itu kalau dia bukanlah seorang monster.

Aishh..

“… Aku yakin omonim dan abonim malah akan berterimakasih bila aku bisa memberi pelajaran pada putri kesayangan dirumah ini yang sayangnya juga sering berbuat ulah..”

Yoona hanya bisa mendengus kesal. Ia tahu pasti tak akan pernah bisa menang saat beradu mulut dengan Jessica. Apalagi dengan keadaannya saat ini, lelah, cemas yang bercampur dengan perasaan bersalah yang mengaduk-aduk nya, membuatnya tak memiliki cukup energi untuk melawan mulut tajam kakak iparnya yang sepertinya semakin hobi untuk menyerangnya.
Kebiasaan wanita itu yang tinggal diluar negri sebelum menikah dengan kakak lelakinya, masih saja terus ia bawa. Jessica sering kali berbicara semaunya, tanpa mempertimbangkan perasaan lawan bicaranya. Meski menurutnya hal itu karna dirinya tak bisa berlaku munafik atau penuh kepura-puraan.

“Jadi, apa sih yang sudah kau lakukan pada dokter Choi, hingga mantan tunanganmu itu…”

Setelah tiga bulan lamanya memplokamirkan diri sebagai gadis yang telah bertunangan, Yoona kini menjadi merasa asing dengan penyebutan statusnya sekarang. Ia bukan lagi seorang yang memiliki ikatan pertunangan dengan lelaki itu?
Ia sudah menjadi mantan tunangan..

Oh, dear..
Mengapa rasanya jadi aneh seperti ini?

Dengusnya pelan, dengan wajah menunduk, menghindar dari tatapan Jessica yang sesaat berdeham sebelum kembali melanjutkan apa yang diucapkannya..

“… Kurasa aku memang tak bisa lagi menyebut Choi Siwon sebagai tunanganmu, karna beberapa jam yang lalu, dengan begitu tenangnya dia datang dan mengembalikan cincin pertunangan kalian pada abonim..”

Yoona menggigit bibir bawahnya, tangannya yang mendadak gemetar lantas memilin jari jemarinya, mencoba untuk mengalihkan kegugupannya..

“Apa yang sudah terjadi, Yoongie ya..”

Jessica meraih dagu Yoona, mengangkat wajahnya yang menunduk agar bertatapan dengannya. Dan tatapan dari sang kakak ipar itulah yang lantas membuat Yoona kebingungan. Apakah ia harus berkata jujur atau menyembunyikan kejadian siang tadi yang menjadi pemicu hingga Siwon mengembalikan cincin pertunangannya. Tindakan yang sama sekali tak pernah terlintas dibenaknya.

Bukankah sebelumnya lelaki itu terlihat tergila-gila padanya?
Lalu kenapa dia justru memutuskan mengakhiri pertunangan dengannya?
Secara sepihak pula..

“Yoona, kau mendengarku?”

Jessica yang menggerak-gerakkan dagunya, kemudian membuat Yoona yang seseaat sebelumnya terdiam, menjadi tersadar dan langsung menepiskan tangan Jessica.

“Ottokhae oenni ya..? Apa yang harus kulakukan?”

Yoona berdiri dan dengan wajah bingungnya, berjalan berputar-putar mengelilingi kamarnya. Yang lantas membuat Jessica maupun Yoojung saling melemparkan tatapan heran yang menyertai kerutan didahi keduanya.

“Oenni ya, kenapa kau malah berputar-putar seperti itu. Apa kau membuat kesalahan pada Siwon oppa?”

Yoona dengan segera berhenti, menatap sang adik dan menganggukkan kepalanya lemah pada Yoojung.

Mungkin memang sebaiknya ia mengatakan yang sejujurnya..

“Jeongmalyo? Jadi kesalahan apa yang telah oenni lakukan?”

Yoojung menatap dengan penuh rasa penasaran, sama hal nya dengan Jessica yang jelas terlihat sangat gemas melihat Yoona yang tak juga mengatakan apa kesalahannya dan malah asik menikmati menggigit bibir bawahnya.

“Oenni.. Cepatlah katakan?!”

“Aku.. Siwon oppa, dia.. Siwon oppa memergoki ku berciuman dengan seorang teman lelakiku..”

“MWORAGO..!!”

Jessica dan Yoojung secara bersamaan memekik terkejut, sementara Yoona kemudian memejamkan matanya dan kedua telapak tangannya reflek menutup telinganya. Mungkin ia akan segera menyesali kejujurannya..

“Yakk, bagaimana kau bisa melakukannya Yoona!?”

“Oenni.. Oenni mengkhianati Siwon oppa? Oenni kenapa kau melakukannya..?”

Yoona yang kemudian membuka lagi kedua matanya, dengan kedua tangannya yang kemudian juga terjatuh lunglai disekitar tubuhnya, Ia bersiap menerima konsekuensi dari pengakuannya.

Yoona langsung mendapati Jessica yang sedang memelototinya seakan siap mengulitinya habis-habisan. Sedangkan Yoojung, adiknya juga ikut-ikutan menatapnya seakan ia ingin mencekiknya.

“Jelaskan bagaimana kejadiannya? Kau berselingkuh, Yoona ya? Kau mengkhianati dokter Choi..? Astaga..”

“Oenni.. Tidak seperti itu. Tapi aku.. Aku, ya.. Aku memang memiliki teman lelaki yang cukup dekat akhir-akhir ini. Tapi..”

“Bodoh.. Itu namanya kau berselingkuh..”

Yoona memberengut..

“Dia hanya membantuku menyelesaikan tugas-tugas kuliahku. Dia…”

“lalu bagaimana hingga tunanganmu itu bisa memergoki kalian?”

“Tadi aku datang ke apartemennya. Aku mengambil beberapa berkas yang kemarin tertinggal disana”

“Dan kau membawa lelakimu itu?”

meski merasa risih dengan bagaimana sang kakak ipar menyebut teman lelakinya itu, Yoona akhirnya mengangguk lemah, sedangkan Jessica kemudian menggeram. Raut wajahnya seakan ingin memaki-makinya, menjadikan Yoona kembali menggigit bibirnya..

“Aku sudah memintanya menunggu di mobil. Aku tak tahu jika dia mengikutiku masuk ke apartemen Siwon oppa. Dan dia, aku juga tak tahu kenapa tiba-tiba dia menciumku.. Kemudian aku melihat Siwon oppa datang. Dan dia langsung meninggalkanku..”

“Kau tidak mengejarnya?”

“Aku melakukannya.. Aku ingin menjelaskan padanya, aku juga meminta maaf padanya. Dia langsung mengatakan bahwa dia memaafkanku, tapi dia tidak mendengar penjelasanku. Jika dia memaafkanku, kenapa dia justru mengembalikan cincin ini..”

Yoona memperhatikan pada cincin yang masih berada dalam genggaman tangannya.

“Itu artinya dia tidak memaafkanmu, Yoona. Bagaimana mungkin seorang lelaki menerima diselingkuhi secara terang-terangan seperti itu. Kau sudah jelas-jelas menginjak-injak harga dirinya. Wae? Apa sih yang sebenarnya kau pikirkan, Yoona!? Kau yang telah bermain api, dan sekarang rasakanlah bagaimana api itu membakarmu..”

Yoona bergidik ngeri mendengar kalimat yang terakhir diucapkan Jessica. Lantas menunduk dan hanya menggumam lirih dengan kalimat yang sama bahwa ia juga tak merencanakan melakukan ciuman dengan teman lelakinya itu. Dan berganti, Jessica yang kini terlihat mondar-mandir disekitarnya..

“Oenni, kau keterlaluan sekali. Bagaimana kau bisa menyelingkuhi lelaki sebaik Siwon oppa.. Oenni, waegurae? Kenapa kau membuatku malu memiliki oenni sepertimu..”

Yoona dengan cepat mendongak, dan langsung memutar kedua bola matanya mendengar apa yang dikatakan Yoojung padanya. Setelahnya, sebuah bantal tidur yang ia lempar, melayang mengenai tubuh adiknya..

“Yakk..”

Ia juga sudah berniat menoyor(?) jidat adiknya, namun Jessica menghalanginya.

“Kurasa apa yang dikatakan Yoojung memang benar. Aku juga merasa malu memiliki adik ipar sepertimu.. Kenapa kau begitu bodoh dan ceroboh.. setidaknya lebih pintar lah sedikit jika kau sedang berselingkuh..”

“Ishh.. Aku sedang tertimpa masalah, kenapa kalian justru memojokkanku? Benar-benar tidak solider. Dan kau Yoojung ah, jika kau malu memiliki oenni sepertiku, maka jangan campuri urusanku. Tau apa gadis enam belas tahun sepertimu.. Lebih baik kembali kekamarmu dan kerjakan PR mu..!”

“Aigoo, Yoona oenni lah yang telah membuat kesalahan, kenapa jadi aku yang dimarahi? Sica oenni, bukankah tadi kau juga mengatakan malu pada Yoona oenni?”

Jessica mengangguk pada Yoojung yang kemudian merangkul lengannya. Mencari perlindungan dari tatapan membunuh yang diberikan Yoona padanya.

“Keluarlah kalian dari kamarku sekarang..”

Yoona yang kemudian merasa kesal, mendorong-dorong tubuh Jessica dan juga Yoojung agar keluar dari kamarnya.

“Tunggu dulu, tunggu sebentar Yoona.. Ada yang ingin ku tanyakan padamu..”

Yoona kemudian berhenti mendorong..

“Apa?”

“Apa yang kemudian kau lakukan pada lelakimu?”

“Ck! Berhenti memanggilnya seperti itu, oenni. Menggelikan..”

“geurae.. Apa yang kau lakukan pada selingkuhanmu setelah kejadian itu?”

Yoona mendecak, tak ada bedanya cara penyebutan lelakimu ataupun selingkuhanmu yang dilakukan oleh Jessica. Keduanya sama-sama menggelikan. Seolah ia telah benar-benar menjadi gadis yang tak bermoral..

Oh, dear..
Menyelingkuhi tunanganmu sungguhlah bukan sesuatu yang patut dibanggakan. Jadi menyebutnya sebagai tak bermoral, rasanya menjadi cukup tepat.

Bisik kata hatinya membuat Yoona kian terlihat frustasi..

Benarkah ia sedemikian buruk dalam berperilaku?

“Jangan katakan kau malah berasik-asikan dengannya setelah itu?”

Jessica meringis menerima pelototan dari Yoona..

“Oh, sorry Yoona.. Hanya dugaanku. So, apa yang kau lakukan pada lelaki itu?”

“Aku menendang selangkangannya..”

Jessica dan Yoojung ternganga mendengarnya..

“Uhhh, seberapa keras kau melakukannya?”

“Lumayan keras hingga membuatnya terpincang-pincang saat berjalan..”

“Bagus, setidaknya kau masih melakukan satu tindakan yang benar setelah melakukan kesalahan fatal. Oh, adik iparku yang malang..”

Jessica memeluknya dan membiarkan Yoona menangis dipundaknya..

###

Seminggu berselang setelah hari itu, Yoona masih saja selalu menangis ketika sendirian didalam kamarnya. Sesal dan perasaan bersalah terus membelitnya. Apalagi bila dirinya teringat bukan kali itu saja kesalahan yang dilakukannya pada Siwon. Tanpa lelaki itu ketahui, ia telah seringkali mengingkari janji. Tapi justru lelaki itu yang selalu meminta maaf padanya. Setidaknya pada saat itu Yoona merasa keberuntungan memang selalu berpihak padanya.

Pernah suatu hari ia lupa dengan janji makan siangnya bersama Siwon. Ia justru asik keluar dari kampus bersama dengan teman-temannya. Namun Siwon, yang mendadak harus menangani pasien, mengira jika Yoona telah lama menunggunya. Hingga lelaki itu terus-terusan mengatakan permintaan maaf karna terpaksa mengingkari janjinya. Atau ketika Siwon tak datang menjemput, padahal ia telah lebih dulu pulang dengan teman lelakinya. Beberapa makan malam yang pernah dijadwalkan Siwon dengannya juga sering kali ia lupakan. Yoona lebih mementingkan hangout dengan teman lelakinya ataupun teman-temannya yang lain. Bukan dirinya yang kemudian meminta maaf, tapi selalu Siwon yang melakukan hal itu. Dan lagi-lagi Yoona merasa terberkati oleh karna keberuntungannya. Karna pria itu selalu mendapatkan jadwal mendadak ataupun keadaan darurat yang mengharuskannya untuk menangani pasien, dan sama sekali tak mengetahui dirinya yang bahkan tak mengingat dengan janjinya.

“Mianhaeyo oppa.. Maafkan aku..”

gumamnya disela isak tangisnya. Kedua matanya yang basah dan membengkak juga masih terus menatap lekat pada ponsel disebelahnya. Berharap Siwon akan sekali saja menghubunginya, namun seminggu yang telah berlalu, lelaki itu tak sekalipun menghubunginya. Bukan Yoona tak berinisiatif lebih dulu untuk menelponnya, ia telah berkali-kali melakukannya. Tapi nomor ponsel lelaki itu tak pernah dalam keadaan aktif.

Seminggu itu dirasa Yoona benar-benar menyiksanya. Sang ayah masih mendiamkannya, malah cenderung memusuhinya. Ibu nya juga sama, hanya sesekali saja menegurnya, itupun secara singkat dan terkesan ogah-ogahan.

Jessica dan Yoojung, mereka apalagi. Meski keduanya selalu mengatan mencoba untuk menghiburnya, Yoona malah merasa keduanya justru lebih sering meledeknya, menyindirnya dan bahkan Yoona merasakan dirinya seakan dibully oleh sang adik dan terutama kakak iparnya itu.
Apa mereka serius?
Apa mereka tak melihat kesedihannya?
Ia hanya bisa menggerutu melihat Yoojung yang menempel terus pada Jessica dan dinilainya bersekongkol dengan kakak iparnya itu untuk melakukan pem-bully-an terhadapnya.

Uhg, menjengkelkan..

Hanya Yoochun oppa nya saja yang nampak biasa-biasa saja. Ia memang sempat menanyakan padanya perihal pengembalian cincin yang dilakukan oleh Siwon, tapi kakak lelakinya itu kemudian menilai, Yoona telah mencapai dua puluh empat tahun usianya, maka sudahlah cukup besar untuk mengambil keputusan. Begitu menurutnya..

Mengubah posisinya miring ditempat tidur, Yoona mulai memainkan ponselnya dengan mengubah wallpaper yang awalnya bergambar dirinya dengan beberapa teman yang salah satunya adalah teman lelakinya itu, (sejak kejadian itu, Ia telah bersumpah takkan menyebut namanya, menghindarinya saat dikampus dan menghapus kontak yang berada di ponselnya) foto pada pesta halowen beberapa waktu lalu itu, kemudian ia menggantinya dengan satu-satunya foto yang dimilikinya bersama dengan Siwon. Foto pertunangannya. Dimana saat itu Siwon memasangkan cincin dijari manisnya. Adiknya lah yang pada saat itu mengambil fotonya..

Setelahnya ia memandangi foto itu, dan bahkan jemarinya menyentuh pada layar ponselnya tepat dibagian wajah Siwon.

“Mianhaeyo oppa.. Dengan cara apa aku harus menebus kesalahanku..?”

“Tentu saja dengan cara bangun dari sana dan berhenti menjadi putri tidur. Kau tidak sedang mencoba menyaingi snow white kan?”

Yoona mendengus, kemudian mengusap airmatanya. Tak perlu membalikkan tubuhnya untuk mengetahui siapa yang menyahuti ucapannya. Siapa lagi yang suka bersikap seenaknya didalam rumahnya kalau bukan kakak iparnya yang semakin lama bertambah menyebalkan itu, Jessica.

“Yoona ya.. Kau tidak mungkin berbicara saat sedang tidur kan?”

Jessica menyentuh bahunya, lalu mengguncangnya. Yang kemudian direspon Yoona dengan geliat tidak peduli membuat sang kakak iparnya itu kemudian mendecak. Tapi bukan Jessica namanya jika menyerah begitu saja, ia bergerak kearah jendela besar kamar Yoona dan segera menarik hordeng bercorak kebiruan itu agar terbuka. Sinar yang masuk dan menyilaukan mata itu, langsung membuat Yoona berteriak sebal pada Jessica..

“Yakk.. Oenni ya, apa yang kau lakukan?!”

Jessica mengangkat bahu kemudian tersenyum miring tanpa dosa..

“Jika didalam kisah snow white, dia memiliki seorang pangeran yang mencium untuk membangunkannya, itu jelas takkan berlaku untukmu. Kau telah diputus pertunangan karna perselingkuhanmu. Maka untuk  sekarang takkan ada pangeran dalam hidupmu. Jadi bersyukurlah pada matahari yang telah membangunkanmu..”

“Sialan kau oenni..!”

Yoona berjengit sambil melempar bantal tidurnya kearah Jessica. Namun wanita itu justru tertawa menerima lemparan itu..

“Sekarang katakan, ada perlu apa oenni menggangguku..?”

Jessica memutari tempat tidur Yoona dan berdiri disamping adik iparnya itu yang kini telah dalam posisi duduk dan tak lupa memberinya tatapan kesal..

“Oh, adik iparku yang manis tapi telah berubah menjadi mengerikan..”

Jessica menahan geli ketika mengucapkannya. Tangannya yang mengusap kepala Yoona juga dengan cepat ditepiskannya..

“Ck, Oenni..!”

“Baiklah, kau lihat kan hari yang cerah ini. Sayang sekali jika kau tak menikmatinya. Ikutlah denganku..”

“Tidak, aku malas..”

Yoona sudah akan kembali bergelung diatas tempat tidurnya, namun dengan cepat Jessica menyambar lengannya..

“Anak ini benar-benar.. Kau lupa ini hari apa?”

Jessica mendesah..

“Kau memang tidak memiliki perhatian ataupun kepedulian terhadap kakak iparmu ini. Cepatlah mandi, sementara aku akan mencarikan pakaian untukmu. Dan tidak ada penolakan, kau harus ikut. Yoojung pasti sudah mengomel dibawah..”

“Sica oenni..! Lama sekali..”

“benar kan apa yang kukatakan..”

Keluh Jessica pada Yoona ketika melihat dengan wajahnya yang memberengut, Yoojung nyelonong masuk dan langsung berkerut dahi melihat sang kakak ipar yang tengah mendorong-dorong tubuh Yoona agar mau masuk kedalam kamar mandi.

“kukira kita akan pergi tanpa Yoona oenni?”

“mana bisa begitu.. Aku ingin anggota keluarga berkumpul hari ini..”

“memangnya ada acara apa hari ini? kita mau kemana sih?”

Yoona nampak mulai tertarik ketika melihat tampilan Yoojung saat itu. Adik kecilnya yang telah bertumbuh menjadi gadis remaja, yang belakangan kerap kali membuatnya was-was ketika memikirkan pergaulannya, takut-takut Yoojung berteman dengan orang yang salah, terlihat cantik dengan gaun selutut berwarna merah muda. Kalau dengan kakak iparnya, Yoona takkan heran melihat penampilan berkelas yang dimilikinya. Dalam kesehariannya, Jessica yang adalah seorang desainer yang kadang merangkap sebagai model busana rancangannya, dalam kesehariannya pun selalu terlihat fashionable. Di awal-awal wanita itu menjadi kakak iparnya dan tinggal serumah dengannya, Yoona sempat terheran-heran, apa wanita itu tidak mengurusi Yoochun oppa nya hingga pagi-pagi sekali disaat dirinya masih mengenakan piama tidurnya, Jessica justru sudah terlihat glamour dengan dandanannya. Yoona bahkan sempat menduga-duga dengan konyol bahwa wanita itu melakukan makeup saat sedang tertidur..

“Ayo cepat mandilah..”

Jessica kembali mendorong tubuh Yoona..

“Oenni belum menjawab pertanyaanku.. Kita mau kemana sebenarnya?”

“Astaga.. Gadis ini..”

Yoona mengaduh ketika dihadiahi pukulan dipunggungnya..

“Hari ini aku meluncurkan koleksi terbaru rancanganku. Acaranya sekitar pukul dua nanti jadi masih ada waktu untukmu bersiap. Cukup dengan lima menit mandi, sepuluh menit aku akan membantumu berias dan selanjutnya kita bisa pergi..”

Sementara Jessica terus mengintruksinya, Yoona malah melihat pergerakan sang adik yang mendekati tempat tidurnya dan langsung menyambar ponsel miliknya. Yoona tahu apa yang kemudian dilihat oleh Yoojung saat adiknya itu tersenyum-senyum sendiri memandangi layar ponselnya..

“Berhenti bersikap sembarangan pada oenni mu, Yoojung ah..”

Yoojung meringis ketika Yoona menyerobot ponsel itu dari tangannya.

“Kenapa oenni ku jadi kasihan sekali.. Kau merindukannya? Kau menyesal ya setelah Siwon oppa mengembalikan cincin pertunangannya?”

Yoojung mendesah..

“Seharusnya oenni memasang foto itu saat masih menjadi tunangan Siwon oppa. Setidaknya saat melihat itu, bisa dijadikan alarm yang mencegah saat oenni ingin berselingkuh..”

“Diam kau gadis tengil..”

Yoona sudah memasang tatapan memperingatkan bila adiknya itu kembali bersuara ia takkan segan-segan mencekiknya, namun semua itu menjadi mentah ketika Jessica dengan semena-mena menumpahkan segelas air keatas kepalanya. Membuat Yoojung yang tadinya memasang wajah meminta ampun, kini malah cekikikan menertawainya..

Benarkan..
Berada didalam kamarnya saja, yang harusnya menjadi tempat aman-nya, bentengnya untuk berlindung, nyatanya ia masih mendapatkan pembully-an semena-mena. Apalagi berada diluar?
Bisa mati dirinya..

Dengusnya kesal..

“Oenni..!!”

“Jika aku tidak melakukannya, kau tidak akan segera mandi dan bersiap. Palliwa..!”

Jessica dengan segera menyeretnya kedalam kamar mandi. Jika wanita itu tak terlihat sudah sangat siap untuk pergi, Yoona yakin Jessica akan sanggup untuk memandikannya. Mengerikan..

Oh, Tuhan..
Selain menyelingkuhi tunangannya, dosa apalagi dirinya hingga memiliki kakak ipar gila, menyebalkan dan SADIS (dengan kata yang harus dicetak dengan huruf besar) yang sayangnya adalah seorang desainer muda yang tak bisa dianggap sebelah mata. Lebih sayangnya lagi, kakak iparnya justru menjadi menantu kebanggaan kedua orangtua nya. Sampai-sampai mereka melarang ketika Yoochun berniat hidup mandiri dengan memboyong Jessica pindah. Karena sepertinya kedua orangtua nya cenderung tak mau kehilangan seorang menantu yang memiliki sikap terbuka, terkadang berbicara kasar namun apa adanya, tanpa kepura-puraan dan jauh dari kemunafikan. Berbeda dengan dirinya yang diam-diam menikam. Tersenyum namun berselingkuh.

Kenyataan itu kembali memelintirnya dalam perasaan sakit oleh rasa bersalah atas pengkhianatannya terhadap Siwon..

###

Menghadiri acara yang diselenggarakan oleh sang kakak ipar, ternyata cukup untuk membuat Yoona sedikit melupakan kesedihannya.
Hanya sedikit memang, tapi tak apalah..

Setelah seminggu merasakan kesuraman, akhirnya untuk sejenak ia bisa memaksa bibirnya untuk tersenyum dan bertepuk tangan memberi dukungan pada Jessica yang telah usai membuatnya terpana, jelas bukan hanya dirinya saja melainkan para tamu undangan yang hadir dan ikut menyaksikan hingga berdecak kagum oleh karya yang ditampilkan kakak iparnya.

Jessica bukan hanya sekedar mendapatkan ucapan selamat ataupun tepukan tangan atas keindahan koleksi terbaru yang siap dipasarkan, sang kakak ipar juga langsung dibanjiri pesanan, dan termasuk menerima buket-buket bunga indah yang salah satunya berasal dari Yoochun oppa nya, yang sayangnya berhalangan hadir karna harus memimpin pertemuan dirumah sakit.
Ya..
Yoochun adalah direktur dirumah sakit menggantikan sang ayah yang memutuskan untuk pensiun. Rumah sakit yang sama dimana Siwon bekerja sebagai salah seorang dokter bedah.

Yoona mendesah..
Teringat dengan lelaki itu, kembali membuatnya sesak hingga bulir-bulir airmatanya tanpa terasa berjatuhan dengan begitu mudahnya..

“Oenni, ada apa? Kau menangis?”

Yoojung yang berada disampingnya kemudian meraih dan meremas tangannya, membuat Yoona sedikit gelagapan dan buru-buru menyeka airmatanya.

Ia melihat ibunya yang berada disebelah Yoojung hanya meliriknya sekilas, kemudian kembali memfokuskan perhatiannya pada Jessica yang masih sibuk meladeni beberapa tamu undangannya.

“oenni..”

“gwechana Yoojung ah, kurasa aku harus ke toilet sebentar”

Yoona berniat menitipkan tas tangannya pada Yoojung, namun sang adik malah mengatakan akan menemaninya. Keduanya lantas keluar dari tempat berlangsungnya acara..

“Oenni, oenni masih saja sedih karna Siwon oppa?”

Yoojung yang tadinya kesulitan menyamakan langkah-langkahnya dengan Yoona, akhirnya dapat membuat sang kakak menghentikan langkahnya.

“Kau bahkan menangisinya saat kita berada dikeramaian..? Ugh, daebak..”

Yoona yang merasa ia akan segera merasa terharu akan betapa peka-nya sang adik terhadapnya, justru menjadi kesal karna kalimat terakhir Yoojung yang seperti menggodanya..

“Oenni..”

“Aku sedih, Yoojung ah..”

Yoojung terdiam melihat kesenduan diwajah Yoona dan segera mengikuti sang kakak yang kembali berjalan masuk kedalam toilet.

“Oenni jangan marah.. Aku tak bermaksud menggodamu”

Yoojung berdiri didepan pintu toilet yang tertutup dan mendengar suara isak tangis dari Yoona didalamnya..

“Oenni..”

Baru pada sekitar sepuluh menit setelahnya, Yoona keluar dan meminta tisu padanya untuk menghapus airmatanya. Yoona kemudian sesaat membenarkan make-up diwajahnya.

“Oenni, aku baru sadar jika ternyata oenni begitu sedih berpisah dengan Siwon oppa..”

“Apa selama seminggu aku menangis itu tak cukup untuk menunjukkan kesedihanku..?”

Yoojung meringis mendengarnya..

“Aku merasa bersalah, Yoojung ah.. Aku merasa bersalah telah berkhianat dan membuatnya kecewa”

“Oenni, apa akhirnya setelah berpisah, kau sadar bahwa kau telah mencintai Siwon oppa?”

Cinta..
Apa dirinya mencintainya?

Yoona terdiam mendengar pertanyaan Yoojung. Selama ini tak pernah terbersit ia akan mencintai lelaki itu. Ia mengenal Siwon karna ayahnya yang memperkenalkan lelaki itu kepadanya. Bahkan pertunangannya tiga bulan yang lalu juga ia lakukan atas dasar permintaan sang ayah, dan dirinya sebagai anak yang merasa perlu berbakti pada ayahnya kemudian menjalaninya.

Itu menjadi alasan ketika teman-temannya menanyakan kenapa ia memutuskan bertunangan. Jawaban yang selalu ia berikan bukan lantaran ia telah menemukan lelaki idaman, melainkan ayahnya. Ia menjalani pertunangan karna ayahnya yang menginginkan dan bukan dirinya.

Sekarang, merasakan kesedihan luar biasa setelah berpisah dengan Siwon yang mengembalikan cincin pertunangannya, dan muncul pertanyaan dari sang adik yang menanyakan perihal perasaan yang dimilikinya untuk lelaki itu, apakah ia bisa menjawab ‘tidak‘? Ia tidak mencintai Siwon dan kesedihan yang dirasakannya semata karna ia mengecewakan ayahnya.

Hati kecilnya tahu, itu suatu kebohongan bila ia mengatakan ‘tidak’ pada apa yang Yoojung tanyakan padanya. Maka anggukan ringan kepalanya dan senyuman miris dibibirnya, Yoona tunjukkan sebagai jawaban pada sang adik yang kemudian memeluknya dan membuatnya kembali menumpahkan airmata..

“Bukankah aku begitu bodoh, Yoojung ah.. Aku telah menyia-nyiakan lelaki sebaik Siwon oppa..”

“Kau memang bodoh oenni.. Ya, kau bodoh. Sangat bodoh..”

“Ck! Kau benar-benar adik yang buruk. Kenapa kau tak mencoba menghiburku..”

Yoona melepaskan pelukannya dengan Yoojung. Sang adik kemudian membantunya menghapus airmata..

“jangan menangis lagi oenni ya.. Dengan begitu mari kita pikirkan bagaimana cara agar oenni bisa kembali dengan Siwon oppa..”

Yoojung mengedipkan mata, membuat Yoona mau tak mau menarik senyum dibibirnya. Merasa terhibur dengan adiknya..

“Yang harus kau lakukan pertama kali memang berhenti menangis. Lakukanlah sesuatu, jangan hanya menghubunginya tapi cobalah temui dia dan bicara. terutama dapatkanlah maaf darinya..”

Jessica berdiri disana, mengedikkan mata dan tersenyum menunjukkan dukungannya..

“Lakukanlah sesuatu, Yoona..”

###

Setelah mendapatkan suntikan semangat dari Jessica dan juga Yoojung, Yoona akhirnya memutuskan memberanikan diri untuk menemui Siwon. Tempat pertama yang berkemungkinan besar dimana dirinya dapat menemukan keberadaan lelaki itu adalah di rumah sakit. Maka disanalah dirinya sekarang. Berbicara dengan seorang petugas yang berjaga dimeja resepsionis..

“Dokter Choi sedang dalam masa cuti, nona.. Sampai hari ini beliau belum kembali masuk..”

Dengan informasi itu, Yoona lantas mendatangi ruangan kakak lelakinya, Yoochun. Setelah menunggu sekitar lima belas menit diruangan itu sendirian, barulah sang oppa muncul dan cukup terkejut dengan keberadaannya yang tiba-tiba berada disana.

“Oh, Yoona ya.. Ada perlu apa kau datang kemari?”

“Oppa, kenapa kau tak memberitahuku jika Siwon oppa sedang cuti?”

“Kau tak pernah bertanya padaku..”

jawabnya santai tak peduli dengan sang adik yang memutar mata mendengarnya..

“sejak kapan?”

“Ada apa? Kenapa setelah seminggu berlalu kau baru mencarinya?”

“Sejak kapan, oppa..?!”

“sejak hari dimana dia mengembalikan cincin pertunangannya denganmu. Dia hanya menghubungiku via telpon”

“kenapa Oppa membiarkannya?”

“kenapa tidak.. Siwon sama sekali belum pernah mengambil cuti dalam tiga tahun bekerja dirumah sakit ini. Dan dia mengatakan membutuhkan waktu untuk berlibur. Aku kasihan padanya, Siwon memang terlihat lelah, maka aku memberinya ijin. Tak tahunya ada alasan lain yang ternyata berhubungan denganmu..”

“Kau tahu dia kemana?”

Yoochun sesaat mengerutkan dahi mendengarnya..

“kenapa kau begitu ingin tahu?”

“Ishh, jawab saja oppa..”

“Ada harga untuk informasi itu”

Yoochun yang mengedik kemudian dibalas pelototan tajam oleh Yoona dan kakak lelakinya itu justru menahan geli melihatnya..

“Ck.. Oppa!!”

“baiklah, Siwon berada diluar negri..”

“Mwo?”

“Siwon pergi ke Kanada. Bukankah dia memiliki adik perempuan yang tinggal disana? Dia mengatakan adik perempuannya akan menjalani wisuda. Dan adiknya juga menginginkannya berada disana..”

“Aku tau tentang itu. Dia pernah menyinggungnya.. Tapi dia tidak mengatakan akan datang”

“dia pasti berubah pikiran..”

“Tapi oppa, berapa hari dia mengajukan cuti padamu?”

Yoochun mengangkat kedua bahunya, acuh..

“Oppa, aku tahu kau pasti mengetahuinya”

“lebih dari sebulan jika dia mau..”

Kedua bahu Yoona langsung merosot mengetahuinya.
Selama itu?
Seminggu saja sudah sangat menyiksa seperti ini..
Bagaimana dengan sebulan?
Ia tak bisa menunggu selama itu. Ia harus secepatnya bertemu dan kembali meminta maaf atas kesalahan yang dilakukannya.

Yoona terdiam selama lebih dari sepuluh menit, sebelum akhirnya memutuskan mengambil tas tangannya yang tergeletak diatas meja kerja oppa nya dan berniat meninggalkan ruangan milik Yoochun itu..

“mau kemana?”

“pulang.. Tak ada gunanya aku berada disini”

“Tapi aku belum selesai bicara, kau tidak ingin mendengarku?”

Yoona kembali berbalik dan mendapati Yoochun yang tersenyum kearahnya.

“belum terlambat jika kau ingin menemuinya. Kau bisa menjemputnya di bandara. Dia menghubungiku dan mengatakan akan kembali hari ini..”

“Bedebah kau oppa.. Kenapa tidak mengatakannya dari tadi..!”

Yoona berjengit semakin menunjukkan kejengkelan diwajahnya manakala mendengar tawa renyah Yoochun ketika ia segera melangkah keluar dari ruangannya. Kakak lelakinya pasti begitu senang telah berhasil mempermainkannya.
Dasar tidak peka..
Apa dia tidak melihat keseriusan diwajahnya?
Yoona terus menggumam dengan jengkel. Bagaimana bisa ia memiliki saudara yang kesemuanya memiliki kemampuan berlebih untuk membuatnya kesal.

Benar-benar menyebalkan..

“Yoona ya, hei.. Tunggu sayang..”

Yoona berhenti, ia paling tidak suka kakak lelakinya memanggilnya dengan sayang. Berbeda dengan Yoojung yang menyukai panggilan semacam itu, ia justru merasa itu begitu menjijikkan kedengarannya..

“Apa?!”

jawabnya ketus..

“Pakailah mobilku..”

Yoochun mengedik sambil melempar kunci mobil kearahnya, membuat Yoona sedikit tak sigap namun berhasil juga menangkap kunci mobil itu.

“bagaimana kau pulang nanti?”

“Urusan gampang, aku bisa menumpang ambulans..”

Jawab Yoochun asal sembari melangkah kembali masuk kedalam ruangannya, menjadikan Yoona tersenyum melihatnya. Memiliki saudara-saudara yang menjengkelkan namun juga sangat memberi perhatian, benar-benar membuat ikatan persaudaraan diantara mereka terasa lebih indah, penuh warna dan menyenangkan.

###

Berdiri dengan gelisah lebih dari tiga puluh menit lamanya, benar-benar telah membuat Yoona tersiksa. Ia menjadi sangsi dengan informasi yang dikatakan Yoochun padanya mengenai kedatangan Siwon dari Kanada.

Awas saja..
Jika oppa nya itu membohonginya, ia takkan segan merusak mobilnya bila perlu menerjunkannya kedalam jurang.

Aishh..
Yoona terus menggerutu kesal..

Namun kemudian dari informasi petugas bandara ia mendengar pemberitahuan kedatangan maskapai dari Kanada, dan hal itu sontak membuatnya gugup.
Jantungnya berlompatan seakan sedang memainkan permainan lompat tali. Benar-benar kacau dan sulit ia kendalikan.

Bagaimana reaksi Siwon nanti saat melihatnya..
Dan bagaimana ia akan menyapanya??

Tak lama, Yoona mendapati banyak orang yang mulai keluar dan dari banyaknya orang itu, kedua matanya terpaku pada sesosok lelaki berkacamata hitam yang berjalan diantara banyaknya orang itu sambil sebuah ponsel menempel ditelinganya. Tampilannya nampak santai dengan mengenakan celana jeans dan Tshirt.

“Si-won op-pa..”

gumamnya saat lelaki itu, Siwon makin melangkah mendekat kearahnya.
Bukan..
Bukan kearahnya, melainkan kearah yang lain.

Entah mengapa Yoona malah kemudian beralih dan bersembunyi. Nyalinya untuk bertemu dengan lelaki itu mendadak hilang entah kemana. Ia merasakan kegugupan luar biasa, hingga sebelah tangannya kemudian ia gunakan untuk menepuk-nepuk dadanya. Tepat dijantungnya, untuk menenangkan degupan dari dalamnya yang malah kian mengencang.

Oh Tuhan..
Apa yang dirasakannya?
Seminggu tak melihat lelaki itu, kini saat ia kembali melihatnya, sesuatu seakan tengah mendesir didalam aliran darahnya.
Kerinduankah..?
Oh, Bagaimana ini?

Yoona justru dibuat belingsatan sendiri oleh perasaannya pada saat itu..

Ia kemudian memutuskan mengintip dibalik tempat persembunyiannya, dan memperhatikan Siwon yang telah melepas kacamata hitamnya, sedang memutar tubuhnya, ponsel masih menempel ditelinganya, sepertinya lelaki itu sedang mencari keberadaan seseorang disana..

Pasti bukan mencari dirinya kan?
Lelaki itu tak tahu dengan keberadaannya disana.
Atau jangan-jangan Yoochun oppa nya yang saat itu sedang menelpon dan kemudian mengatakan keberadaannya disana untuk menemuinya?

Ah, tidak mungkin..
Oppa nya bukan seseorang yang suka mencampuri urusan orang lain. Sekalipun itu adalah adiknya..

“Dokter Choi..!”

Yoona mendengar suara seruan itu dan melihat Siwon yang kembali memutar tubuhnya. Tanpa sadar ia juga ikut mencari-cari sumber suara itu. Matanya awas meneliti beberapa orang yang berlalu lalang disekitar Siwon.

“Dokter Choi..!”

Sekali lagi Yoona mendengar seruan itu dan kali ini disertai dengan munculnya seorang wanita yang sempat melambaikan tangannya, sebelum kemudian menghampiri Siwon dan membuat lelaki itu menurunkan ponsel dari telinganya, kemudian tersenyum kearahnya. Kearah wanita itu maksudnya..

“Annyeong haseyo dokter Choi.. Bagaimana liburan anda? Menyenangkan?”

Siwon menanggapi dengan anggukan kepala..

“Apa anda juga baru saja berkunjung dari luar negri, dokter Kwon?”

Siwon terlihat memperhatikan sebuah koper yang ditarik oleh wanita itu, sementara wanita itu tersenyum sambil menyelipkan rambut kebelakang telinganya.

“ne, ngomong-ngomong bisakah kita menggunakan bahasa yang tak terlalu formal, dokter Choi? Kita tidak sedang berada dirumah sakit..”

Siwon mengangguk menyetujui..

“Jadi, Kau berkunjung kemana Yuri ssi?”

Yoona yang menyaksikan secara sembunyi-sembunyi interaksi diantara keduanya, kini memutar mata melihat wanita itu yang kembali menunjukkan senyum diwajahnya dan kembali menyelipkan rambutnya..

Perlukah wanita itu bertingkah seperti itu?
Sudah terlalu tua untuk wanita itu bertingkah sok manis seperti itu.

“hm, aku menghadiri undangan seminar di Indonesia. Bali dan Surabaya tepatnya..”

“Ohh..”

“Anda pernah berada disana, dokter Choi? em, maksudku Siwon ssi..?”

“Hanya Jakarta.. Beberapa kali aku pernah kesana..”

Dibalik tempat persembunyaiannya, Yoona terus memperhatikan saat Siwon bersama dengan wanita itu kemudian berjalan beriringan. Siwon bahkan meminta koper wanita itu dan membantu membawakannya. Yang kemudian entah sadar atau tidak Yoona mengepalkan tangannya, ditambah dengan ketika Siwon menghentikan sebuah taksi, meletakkan koper kedalam bagasi taksi tersebut kemudian membukakan pintu untuk wanita itu, dan tersenyum mempersilahkannya yang kemudian masuk kedalamnya.

“Kau bisa ikut dengan mobilku jika kau mau?”

“Tidak, aku tidak akan merepotkan. Senang berjumpa denganmu, dan sampai bertemu lagi dirumah sakit..”

Siwon melambai ketika kemudian taksi itu melaju pergi, membawa serta wanita itu.

Melihatnya, Yoona dengan segera keluar dari tempat persembunyiannya. Keberaniannya mendadak muncul. Dan sebelum kembali menghilang, Ia dengan segera melangkah cepat menuju Siwon..

“Oppa..! Siwon oppa..!!”

Menggigit kuat bibir bawahnya, ia telah dapat menangkap keterkejutan yang tersirat dimata lelaki itu. Ekspresinya pun berubah, yang sebelumnya terlihat santai bersama wanita tadi, kini justru mengeras.
Yoona yang telah bertekad mengabaikan apapun itu reaksi Siwon ketika melihatnya, kemudian semakin mendekat hingga berdiri tepat dihadapannya.

“Oppa..”

Tuhan..
Apa yang harus dikatakannya..

“Bagaimana dengan Ji won? Apa wisuda nya berjalan dengan lancar? Bibi tidak pulang bersamamu..?”

Tidakkah dirinya terlalu percaya diri menanyakan semua itu.
Ingat, kau bukan lagi berstatus sebagai tunangannya. Dia telah memutuskanmu..
Batinnya mengeluarkan suara olok-olokan padanya.

“Kau pasti terkejut aku berada disini. Tidak perlu seperti itu, aku tahu dari Yoochun oppa.. Kau…”

“Aku seharusnya tak pernah menghubunginya”

“nde?”

Yoona sedikit tak mendengar gumaman lelaki itu yang kemudian beranjak dari hadapannya.

“Oppa.. Kita perlu bicara..”

Lelaki itu masih terus berjalan mengabaikannya..

“Siwon oppa..!”

Yoona akhirnya menghadang langkahnya dengan berdiri didepannya.

“Aku ingin bicara denganmu.. Ikutlah denganku. Tidak akan lama, aku janji hanya sebentar”

Yoona kemudian membalikkan tubuhnya, dan berjalan lebih dulu didepan Siwon. Ia nampaknya cukup percaya diri lelaki itu akan mengikutinya. Seperti yang sebelum-sebelumnya, Siwon memang selalu menuruti apa yang menjadi kemauannya. Namun tidakkah ia menyadari, atau sedang dengan sengaja melupakan bahwa lelaki itu telah memutuskan mengembalikan cincin pertunangannya?
Bagaimana kemudian ia bisa menjadi seyakin itu?
Memikirkannya, setelah beberapa langkah berjalan didepan Siwon, Yoona akhirnya menoleh kebelakang dan apa yang pada saat itu dilihatnya langsung membuatnya terbengong.
Tidak Tidak..
Lebih dari itu, Ia sedang tercekat..

Siwon tidaklah berjalan mengikuti dibelakangnya, melainkan lelaki itu telah menghampiri mobil audi hitam miliknya yang dikemudikan seorang supir yang menjemput, masuk kedalamnya dan bersiap melaju meninggalkannya.

“Oppa.. Siwon oppa!”

Yoona yang menyadari Siwon akan segera pergi, langsung berlari namun tak cukup cepat untuk mencapainya. Mobil itu telah melaju meninggalkannya yang masih terus memanggil-manggil lelaki itu, berharap dia akan mendengarnya. Tapi percuma, pria itu berada didalam mobil yang menulikan telinganya dari mendengar suara-suara yang berada diluar.

###

“Aku pulang..”

Kembali kerumah dengan membawa kekecewaannya, Yoona mendapati ibunya dan Yoojung sedang berada didepan layar televisi, menyaksikan drama yang menjadi tontonan wajib mereka. Biasanya Yoona akan ikut bergabung menonton, namun sikap ibunya yang masih acuh tak acuh terhadapnya, membuatnya enggan melakukannya.

“Oh, oenni kau pulang..”

Yoojung yang merespon dengan menoleh dan tersenyum kepadanya..

“hm, aku akan berada dikamarku..”

“oenni tidak ingin menonton? Ini drama favoritmu dan oemma. Iya kan oemma?”

Mendengar sang ibu yang hanya berdeham saja, membuat Yoona menggeleng menolak tawaran Yoojung.

“Makanlah lebih dulu..”

Suara ibunya yang kemudian berdiri. Yoona bahkan belum sempat mengatakan apa-apa, namun sang ibu sudah melangkah meninggalkannya dan Yoojung. Sikap dingin yang masih ditunjukkan oleh ibunya membuat Yoona ingin menangis. Ia buru-buru masuk kedalam kamarnya dan membuat sang adik kebingungan antara menonton drama, mengikuti ibunya atau mengikuti Yoona, sang kakak yang telah berlari kekamarnya.

“Oenni ya..”

Yoojung akhirnya memutuskan untuk mematikan tv dan mengejar Yoona kedalam kamarnya.

“oenni, bagaimana tadi? Kau sudah menemui Siwon oppa?”

Berdiri diambang pintu, Yoojung mendapati Yoona yang sudah tidur tengkurap diatas tempat tidurnya. Ia tau, itu kebiasaan sang kakak bila sedang menyembunyikan tangisnya.

Yoojung mendesah..

“Yoona sudah pulang?”

Jessica yang menempati kamar disebelah Yoona, kemudian keluar dan berdiri disebelah Yoojung.

“Ada apa?”

Yoojung mengangkat bahunya..

“sepertinya tidak berjalan dengan baik..”

“Kurasa juga begitu, oenni..”

Keduanya lantas masuk dan menghampiri Yoona. Jessica mengusap-usap rambutnya, sementara Yoojung kemudian melepas sepatu yang masih dikenakan oenni-nya.

“Apa yang terjadi, Yoona ya? Kau sudah menemuinya? Apa yang dokter Choi katakan padamu?”

Jessica bertanya dengan suara lembut, masih dengan mengusap-usap rambut Yoona..

“Dia mengacuhkanku.. Siwon oppa mengacuhkanku, oenni ya. Apa yang harus kulakukan, oenni? Katakan apa yang harus kulakukan, Yoojung ah? Beritahu aku, apa yang harus kulakukan..”

Yoona akhirnya bersuara disela-sela isak tangisnya. Kemudian menceritakan kejadian yang terjadi dibandara tadi. Termasuk dengan seorang wanita yang dilihatnya akrab dengan Siwon..

###

Pagi harinya, usai semalam berbicara dengan Jessica dan Yoojung, mencurahkan semua isi hatinya dan meminta saran dari keduanya. Yoona memutuskan untuk tidak menyerah pada Siwon. Ia bertekad untuk mendapatkan maaf dari lelaki itu. Sekalipun Siwon mengatakan memaafkannya ketika itu, namun apakah begitu saja? Karena Ia dengan jelas masih menemukan kekecewaan dari tatap mata lelaki itu ketika kemarin melihatnya.
Dan jika lelaki itu tidak luar biasa kecewa padanya, tidak mungkin dia sampai mengembalikan cincin pertunangannya.

Oh, lelaki mana yang tidak akan kecewa melihat tunangannya melakukan pengkhianatan seperti yang dilakukannya. Dan parahnya terjadi didalam apartemennya sendiri..
Lagi-lagi ini memang salahmu. Kesalahan fatal yang pastinya sulit mendapatkan pengampunan.

Batinnya mengusik. Membuat Yoona ingin melakukan pembelaan..

Toh, ia hanya berciuman kan..
Tidak berbaring terlentang dalam keadaan telanjang untuk teman lelakinya.

“Aishh, jinja..”

Yoona memukul-mukul kepalanya yang semakin kacau..

Tapi apakah akan seperti itu keadaanya bila saat itu ia tak melihat Siwon memergokinya..

“Oh, paboya..”

Yoona kembali memukul kepalanya, kemudian meneruskan memakai celana panjang training yang akan digunakannya untuk berolah raga pagi. Ia tahu Siwon sangat gemar berolah raga, dan terutama melakukan jogging dipagi hari. Maka dari itu, dengan menyambar kunci mobil milik Yoochun oppa nya yang belum sempat ia kembalikan, Yoona mengendarainya untuk sampai ke apartemen milik Siwon.

Yang ingin dilakukannya adalah masuk kedalam dan membangunkannya, namun yang terjadi ia malah tertahan dilobi gedung dengan dua orang security yang mendadak menjadi menjengkelkan karna tidak membiarkannya untuk masuk..

“Ahjussi, kau pasti sudah sering melihatku kan? Aku sering datang kemari. Kenapa sekarang aku tak diijinkan masuk..?”

salah seorang security itu mengangguk..

“Tapi anda sudah tidak memiliki akses, nona..”

“Aku punya.. Penghuni dilantai tujuh itu adalah tunanganku..”

Yoona masih dengan percaya diri menyebutkan statusnya..

“Tuan Choi sendiri yang mengatakan dan meminta kami melakukan peningkatan pengamanan. Dia mengatakan pernah ada lelaki asing yang masuk dan itu menjadi teguran keras bagi kami..”

“Kau pikir aku orang asing? Aku tunangannya.. Aku sudah ada janji dengannya..”

“Tuan Choi mengatakan sudah tidak memiliki tunangan..”

“MWO..!”

“Beliau telah mencabut akses yang anda miliki untuk memasuki apartemennya. Kecuali bila anda bersama langsung dengannya. Kami tidak akan menahan anda, nona..”

Yoona menghentak-hentakkan kedua kakinya kesal, ketika kemudian ia harus keluar dari gedung apartemen itu. Betapa ketatnya penjagaan disana. Ia baru mengetahuinya. Biasanya ia akan dengan mudah keluar masuk. Itu saat ia menyandang status sebagai tunangan Siwon. Tapi sekarang, bagaimana mungkin Siwon bahkan mengatakan pada security bahwa mereka tidak lagi bertunangan. Dan tidak lagi memberinya akses untuk masuk..
Dengusnya kesal dan terpaksa kini harus menunggu Siwon keluar dengan berdiam diri didalam mobil..

Sedikit beruntung ia tak harus menunggu terlalu lama, hanya sekitar sepuluh menit, Yoona mendapati Siwon keluar dengan mengenakan kaos tanpa lengan dan training olahraga-nya.

Sudut bibirnya tertarik, ia tidak salah memperkirakan..

Yoona lantas tak membuang waktu untuk kemudian keluar dari dalam mobil dan berlari mengejar lelaki itu..

“Pagi yang indah, Oppa..”

Yoona mensejajarkan lari nya dengan lelaki itu, namun yang kemudian disadarinya Siwon yang mengenakan earphone, pasti tidak mendengar sapaannya hingga lelaki itu masih terus saja berlari..

Tak hilang akan, ia pun menambah kecepatan larinya untuk selanjutnya berhenti menghadang lelaki itu. Yoona langsung dapat menemukan keterkejutan dimata Siwon yang melebar, mengetahui keberadaannya. Namun lelaki itu, yang kemudian berhenti berlari, dapat dengan cepat mengubah ekspresi terkejut itu dengan memasang tampang datar, mengacuhkannya..

“Annyeong oppa..”

Sapaan itu sama sekali tak digubris. Siwon yang sempat berhenti berlari, kini justru menambah kecepatan larinya. Membuat Yoona menghentakkan kakinya kesal, namun kemudian tetap menyusul Siwon dengan berlari dibelakangnya. Entah hingga berapa putaran, yang jelas ia telah ngos-ngosan dan Siwon masih saja belum berhenti berlari.

Dari belakangnya, Yoona dapat melihat kaos dibagian bahu hingga punggung Siwon yang telah basah oleh keringat. Entah mengapa hal itu kemudian membuat Yoona tersenyum.
Alangkah bodohnya dirinya. Mengapa tak pernah menyadari lelaki itu memiliki bahu yang lebar. Kedua lengannya juga kencang dan bahkan terlihat menonjolkan otot-ototnya. Apalagi dirinya yang melihat lelaki itu dalam keadaan basah, berkeringat. Satu kata seksi yang muncul dikepalanya langsung menyentak kesadaran Yoona. Ia menatap kesekelilingnya, masih dengan berlari, kali ini hanya lari-lari kecil, Siwon bahkan telah berada cukup jauh didepannya, dan ia mendapati beberapa gadis yang juga sedang berolah raga lari, nampak tersenyum-senyum melihat lelaki itu. Beberapa diantaranya bahkan cekikikan dan ada yang sampai berani memanggil Siwon. Meski lelaki itu tak menggubris dan masih terus saja berlari, tetap saja hal itu membuat Yoona merasa kesal. Sesuatu yang terasa sangat tidak nyaman saat melihatnya kemudian mengusiknya untuk bertindak..

“Hei kalian.. Gadis-gadis centil..”

Yoona menghentikan beberapa gadis itu..

“Jangan mengganggunya, dia itu tunanganku. Mengerti kalian..! Awas saja jika aku melihat kalian tersenyum-senyum padanya..”

Yoona mengancam dengan mengepalkan tangannya dan mengarahkan ke para gadis itu. Membuat para gadis itu terbengong, namun setelah Yoona beranjak dari hadapan mereka. Para gadis itu meneriakinya..

Yoona yang mendengar teriakan-teriakan itu, lantas berbalik. Memberikan tatapan penuh ancaman yang kemudian membuat para gadis itu berlari menjauhinya. Yoona tertawa puas melihatnya..

“Dasar gadis-gadis centil..”

Setelahnya, Yoona memutuskan untuk beristirahat. Membeli dua botol air mineral (rencananya yang satunya akan ia berikan pada Siwon ) untuk menghilangkan dahaga ditenggorokannya yang mengering. Ia duduk dipinggiran jalan itu untuk menunggu Siwon yang masih berlari melakukan putaran. Namun hingga beberapa lama, Siwon justru tak terlihat kembali melintas. Membuat Yoona dengan kesal melempar botol air mineralnya. Malang tak dapat ia cegah, botol yang ia lempar justru mengenai punggung seseorang, dan seseorang yang tak dikenalinya itu kemudian memutar tubuhnya.

Oh My God..

Maka sebelum seseorang itu mengetahui dirinya lah yang telah melemparkan botol minuman itu, Yoona cepat-cepat berlari dari sana..

###

Gagal saat di bandara, gagal pula mencoba berbicara dengan Siwon pada kesempatan berlari pagi tadi, Yoona kemudian mendatangi rumah sakit usai mengurus beberapa keperluan untuk wisudanya dikampus. Ia menanyakan keberadaan lelaki itu pada seorang suster yang ditemuinya dikoridor ruangan Siwon..

“Sepertinya dokter Choi sedang berada diruang bedah, nona. Ada yang bisa saya bantu?”

“Anio, aku akan menunggu diruangannya saja..”

“Tapi nona..”

Yoona berkerut dahi, mengarahkan tatapan matanya pada tangan sang suster yang memegangi pergelangan tangannya. Suster wanita itu lantas meminta maaf dan kemudian melepaskannya..

“maaf nona, tapi dokter Choi melarang siapapun untuk memasuki ruangannya ketika beliau sedang tidak ada..”

“siapapun?”

sang suster mengangguk..

“Termasuk aku yang adalah tunangannya?”

suster itu kembali mengangguk dan apa yang kemudian dikatakannya membuatnya langsung berjalan cepat keruangan Yoochun oppa nya.

“Dokter Choi juga mengatakan sudah tidak lagi bertunangan..”

Yoona menekan-nekan pelipisnya, mengingat apa yang dikatakan suster yang ditemuinya tadi justru membuat kepalanya nyeri berdenyut-denyut.

Apa-apaan sih Siwon..
Kenapa dia membuat pengumuman kepada semua orang? Selain security di apartemennya kemudian suster dirumah sakit, siapa lagi yang sudah mendapatkan pemberitahuan itu darinya?

Bukankah dia tak seharusnya melakukannya. Setidaknya sampai mereka berbicara. Pertunangan itu kan terjadi atas persetujuan kedua belah pihak. Jika ingin membatalkannya pun harusnya juga atas persetujuan kedua belah pihak. Bukan keinginannya sendiri. Mana bisa seperti itu..
Siwon mengembalikan cincin tanpa berbicara dengannya..

“kenapa aku melihat banyak sekali kerutan di keningmu?”

Yoona sedikit tersentak dari apa yang berkecamuk dikepalanya, ketika mendengar suara Yoochun yang telah melangkah masuk. Memberinya senyum kemudian berjalan menempati kursi kerjanya.

Yoona yang tadinya tiduran disofa ruangan itu, kemudian menegakkan tubuhnya..

“Kau datang untuk mengembalikan kunci mobilku?”

“hm.. Itu diatas meja..”

Yoochun kemudian membenahi kunci mobilnya dengan memasukkannya kedalam laci.

“Ada lagi yang ingin kau lakukan, sayang..?”

“berhenti memanggilku seperti itu, oppa? Menggelikan..”

“wae? Kau adikku.. Dan aku menyayangimu..”

“Aishh.. Aku bukan lagi adik kecilmu seperti Yoojung. Kau membuatku mual..”

Yoona berdiri dari duduknya dan menghampiri sang oppa yang sedang tertawa karenanya.

“Oppa..”

“hm.. Apa?”

“tidak jadi.. Aku mau pulang saja”

“Kenapa..? Kau datang untuk menemui mantan tunanganmu kan?”

Yoochun menahan pergelangan tangan Yoona, dan apa yang ditanyakannya justru membuat Yoona memelototinya.

“Setidaknya jangan menyebutnya seperti itu. Bisakan kau hanya menyebut dengan namanya saja, tanpa embel-embel mantan…”

Yoona tak meneruskan..

“Kenapa? Itu menyakitkan untukmu? Kau masih tidak rela Siwon mengembalikan cincin pertunangan kalian? Makanya, jangan berulah..”

“Kau begitu menyebalkan oppa..”

Yoona memukulkan tas tangannya ke lengan bagian atas Yoochun, kemudian berjalan dengan menghentakkan kakinya keluar dari ruangan itu. Yoochun hanya geleng-geleng kepala melihatnya..

“Apa aku perlu mengantarmu pulang, sayang?”

“Seperti kau punya waktu untukku, oppa. Tidak usah.. Aku akan menumpang ambulans..”

Yoona meninggalkan gelak tawa Yoochun. Entah karena apa, oppa-nya itu gemar sekali membuatnya kesal. Ia menundukan wajahnya ketika menunggu lift untuk turun, dan pada saat lift terbuka dan ia masuk kedalamnya, Yoona baru menyadari ketika ia mendongak, ada dua orang yang berada didalamnya. Ia terkejut luar biasa, namun berusaha mengontrolnya ketika tatap matanya bertemu dengan Siwon dan seorang wanita disebelahnya.
Oh, bukankah dia wanita itu?
Wanita yang ia lihat dibandara..

Sementara Siwon bersikap diam seolah tak mengenalnya, wanita itu justru berkerut dahi kearahnya, sesaat dan setelahnya menunjukkan senyum diwajahnya..

“Annyeong haseyo nona..”

Yoona ragu-ragu menjawab sapaannya. Matanya masih memperhatikan pada Siwon. Namun lelaki itu, tak sedetikpun melirik kearahnya..

“Oh, annyeong.. Dokter Kwon..”

Yoona yakin wanita itu adalah salah seorang dokter dirumah sakit setelah melihat pada pakaian yang dikenakannya. Ia juga mengetahui namanya dari name tag yang dikenakan wanita itu..

“bukankah anda adik direktur Im Yoochun?”

“ne, Im Yoona imnida..”

wanita itu kembali tersenyum..

“ne, saat itu aku juga menghadiri pertunanganmu dan dokter Choi..”

Yuri melirik pada Siwon. Merasa aneh lelaki itu justru tak bereaksi ketika seorang gadis yang menjadi tunangannya sedang berada disana.

“Mungkinkah kau datang untuk menemui dokter Choi?”

Yoona mengangguk, ia kemudian beralih pada Yuri..

“Aku ingin mengajaknya makan siang denganku..”

“Oh, begitukah.. Kalau begitu, dokter Choi silahkan jika anda sudah memiliki janji. Sebaiknya kita membicarakan mengenai kasus penyakit pasien tadi setelah anda selesai”

Siwon tak memberikan respon..

Begitu pintu lift terbuka, Siwon justru langsung keluar dari dalamnya. Ia tak sedikitpun mengindahkan keberadaan Yoona disana. Tangannya justru bergerak menepis tangan Yoona yang sempat meraih pergelangan tangannya.

“Oppa..”

“Sebaiknya langsung keruanganku saja Yuri ssi..”

Yoona menatap Siwon dengan sendu. Sedangkan Yuri justru diliputi kebingungan dengan aura permusuhan yang ditunjukkan Siwon terhadap gadis itu. Tidakkah keduanya masihlah sepasang tunangan?
Oh, apa yang terjadi diantara mereka?

“Tapi dokter Choi, bukankah anda memiliki janji dengan nona Yoona?”

“Tidak..”

“Saya tidak keberatan bila anda ingin makan siang dengan nona Yoona. Lagi pula saya juga akan makan siang terlebih dulu..”

“Keselamatan nyawa pasien tadi lebih penting.. Kita perlu membahas langkah selanjutnya untuk mencegah penyebaran sel-sel penyakitnya. Kau bisa makan diruanganku saja. Kita makan bersama, Aku yang akan memesan..”

Dengan itu Siwon melangkah mendahului Yuri. Wanita itu yang sempat merasa tak enak hati pada situasi yang terjadi, kemudian sedikit membungkuk pada Yoona sebagai permintaan maafnya. Entah oleh sebab apa namun Yuri merasa perlu melakukannya sebelum kemudian ia menyusul Siwon menuju ruangannya.

Yoona menatap dengan kesedihan dimatanya. Airmatanya bahkan telah menyeruak disudut-sudut kedua matanya. Yang selanjutnya dilakukan olehnya adalah secepatnya masuk kedalam toilet dan menumpahkan airmatanya pada salah satu ruang disana..

“Kau dengar berita terhangat saat ini?”

Yoona membekap mulutnya sendiri, mencegah agar isakannya tak terdengar oleh orang lain yang terdengar masuk kedalam toilet itu..

“Jika yang kau maksud itu tentang dokter Choi, tentu saja aku sudah mengetahuinya..”

“gosip memang menyebar dengan cepat”

“Kurasa tak bisa hanya disebut dengan gosip. Itu fakta yang keluar langsung dari mulut dokter Choi..”

mendengar suara-suara berbeda yang bersahutan itu, setidaknya, Yoona berpikir itu percakapan yang terjadi antara tiga orang..

“Dokter Choi seorang single sekarang.. Itu berarti kesempatan untuk mendapatkan hatinya makin terbuka lebar. Oh, betapa aku sudah menanti-nantikan nya”

suara kecentilan itu berhasil membuat Yoona menggeram. Ia ingin membuka pintu dan melihat siapa yang sebenarnya baru saja berbicara seperti itu. Namun ia masih mencoba mengendalikan diri..

“Tapi dokter Choi menjadi terlihat dekat dengan dokter Kwon..”

“Iya.. mereka bahkan memesan makanan bersama diruangan dokter Choi”

“Tapi mereka memang sudah dekat sejak lama.. dan dokter Kwon bukankah sudah bersuami?”

“Akan berbeda ceritanya bila desas desus yang terdengar bahwa dokter Kwon bercerai benar-benar terjadi?”

“Jadi dokter Kwon akan bercerai?”

“Apa kau tak dengar beritanya sudah menyebar sebulan yang lalu..”

“ngomong-ngomong, menurut kalian mengapa dokter Choi dan nona Yoona memutuskan pertunangan? Bukan berkaitan dengan perceraian dokter Kwon kan?”

“entahlah, awalnya aku mengira dokter Choi bertunangan dengannya karna menginginkan posisi tinggi disini. Maaf jika aku sempat berpikiran sedemikian buruk. Tapi kalian tahulah, pasti bukan aku saja yang berpikir seperti itu, mengingat nona Yoona adalah putri dari mantan direktur, dan adik dari direktur rumah sakit ini..”

“kalau menurutku, dokter Choi memang tidak mencintai nona Yoona..”

Yoona telah mengepalkan kedua tangan mendengarnya..

“Atau jangan-jangan benar dokter Choi berselingkuh? Dia memiliki affair dengan dokter Kwon, hingga nona Yoona memutuskan pertunangan?”

“bicara apa kau ini.. Tidak mungkin dokter Choi berselingkuh. Aku yakin dia tipikal lelaki setia. Jika ada kemungkinan berselingkuh…”

Suara itu sesaat terhenti, namun segera berlanjut namun dengan volume yang lebih lirih..

“… Aku lebih percaya jika itu nona Yoona yang melakukannya..”

“Oh, jika seperti itu, dia benar-benar bodoh. Dokter Choi terlalu sempurna dan baik hati untuk diselingkuhi..”

Cukup..
Yoona tak tahan lagi mendengarnya. Ia membuka pintu toilet dengan bantingan keras. Dan melihat lonjakan dari ketiga perempuan berseragam suster, yang seketika berubah pucat pasi ketika melihatnya.

Tanpa kata..
Hanya dengan beberapa saat memperlihatkan tatapan tajam dari kedua matanya kearah mereka, Yoona meninggalkan toilet itu tanpa mengetahui efek dari tatapan matanya itu telah membuat kaki ketiga suster tadi melemas..

“ottokhae.. Bagaimana jika nona Yoona meminta direktur memecat kita?”

###

Mendapati rumah dalam keadaan sepi ketika ia pulang, Yoona berpikir jika Yoojung belum pulang dari sekolah. Jessica pasti berada dibutiknya dan sedang sibuk mengerjakan pesanan. Ibunya..
Ibunya mungkin keluar untuk bertemu beberapa temannya. Atau jika tidak, ibunya mungkin pergi ke pemandian air panas bersama dengan ayahnya.
Namun ketika melewati kamar kedua orangtua nya, Yoona melihat dari pintu yang sedikit terbuka, sang ayah berada didalamnya dan sedang tertidur. Mungkin ibunya pergi sendirian, atau menemani sang kakak ipar dibutik nya. Entahlah, ia tak mengetahuinya. Sang ibu tak lagi menceritakan aktifitas yang dilakukan kepadanya.

Sempat mempertimbangkan untuk masuk kedalam kamar orangtua nya, Yoona akhirnya mengurungkannya setelah berpikir ia tak ingin mengganggu istirahat ayahnya. Sang ayah yang masih terlihat murka padanya meski dalam sikap diamnya.

“Mianhaeyo appa..”

Yoona menggumam dan akhirnya hanya merapatkan pintu kamar itu, dan segera menuju kamarnya sendiri..

###

Mungkin sudah sekitar satu jam Yoona bergelung dengan sebuah buku ditangannya. Novel terbaru yang dipinjamkan sang teman dikampus tadi. Iseng tak melakukan apa-apa dan sebenarnya juga sebagai pengalih dari carut marut pikirannya, Ia akhirnya terhanyut dalam kisah yang dibacanya, sampai tak sadar Yoojung telah masuk kedalam kamarnya..

“Astaga oenni, apa yang sedang kau baca..?”

Yoojung langsung mengambil buku itu dari tangan Yoona..

“kau membaca roman erotis? Bagaimana bisa..?”

“kembalikan Yoojung ah.. Aku sudah memperingatkanmu agar tak sembarangan padaku..”

“wae? Kenapa oenni membaca buku seperti ini? Apa kau sebegitu frustasi karna Siwon oppa memutuskan pertunangan kalian?”

“Ck! Kembalikan, aku tak ingin membuat keributan denganmu..”

“jawab aku oenni, darimana oenni mendapatkan buku ini?”

“Temanku, dia membaca semua seri novel itu.. Dan meminjamkan aku salah satunya. Kenapa.. kau tertarik untuk membacanya?”

“Apa aku boleh membacanya, oenni?”

Yoojung mengedik, tanpa perlu diminta lagi ia memberikan buku itu kembali ketangan Yoona. Dan tanpa diduga, sang kakak langsung menggunakannya untuk memukul kepalanya..

“Kau belum boleh membaca yang seperti ini..”

Yoojung memberengut..

“Aku sarankan oenni berhenti membacanya..”

“ini menarik..”

Meletakkan tas sekolahnya, Yoojung kemudian naik keatas tempat tidur.

“Oenni, itu akan merusak sistem kerja otakmu dan kau akan memiliki orientasi seksual yang menyimpang bila terus-terusan membaca roman erotis seperti itu”

Yoona nampaknya menjadi lebih tertarik pada omongan adiknya..

“darimana kau tahu?”

“Temanku, oenni tahu.. Dia itu seorang lelaki. Tapi dia menyukai cerita-cerita erotis seperti itu. Dan oenni tahu apa yang dia katakan padaku..”

Yoojung mulai mencondongkan tubuhnya pada Yoona, lalu mengecilkan suaranya..

“… Dia mengatakan padaku, jika dia memiliki istri, dia akan mengikat istrinya itu sebelum berhubungan intim dengannya. Uhh, aku merinding ketika mendengarnya. Itu sangat mengerikan..”

“Yang perlu kau lakukan hanya jangan menjadi istrinya, Yoojung ah..”

Yoona berkomentar santai, meski sang adik telah memasang wajah serius didepannya. Ia yang kemudian beranjak turun dari atas tempat tidurnya, menuju kulkas tempatnya menyimpan beberapa minuman, mengambil dan memberikannya pada Yoojung.
Sang adik dengan senyuman lebar menerima pemberiannya dan berterimakasih atas perhatian yang ditunjukkannya..

“bagaimana usahamu untuk berbicara dengan Siwon oppa? Dia mau mendengar oenni?”

Seketika bahu Yoona merosot mendengarnya. Ia kembali keatas tempat tidur dan mulai bercerita pada Yoojung..

###

Sang adik bukan hanya menyebalkan, tapi juga penuh perhatian padanya. Yoona mengakui itu. Setelah mendengar ia bercerita, Yoojung juga menemaninya tidur. Meski yang terjadi ia lah yang menemani Yoojung yang tertidur nyenyak, sementara ia terus terjaga mungkin sepanjang malam. Kantuk menyerangnya dan membuatnya baru bisa tertidur ketika Yoojung terbangun dipagi hari untuk bersiap ke sekolah.

Yoona kembali terjaga ketika sayup-sayup mendengar ketukan pada pintu kamarnya. Dan pada saat ia mengerjap, Jessica telah masuk dan langsung membuka lebar hordeng kamarnya..

“Kau sudah bangun?”

“Oenni..”

Yoona masih menguap, namun kemudian menegakkan tubuhnya dengan kedua tangan yang mengucek matanya.

“Tidak ada rencana hari ini?”

Yoona menggeleng..

“Tidak ke kampus?”

“Tidak.. Semua urusanku sudah selesai disana”

“Jadi kapan kau akan di wisuda?”

“Sepertinya bulan depan..”

“Cukaeyo.. Setidaknya itu berita baik yang patut dirayakan”

Masih adakah berita baik yang bisa ia bawa kerumah untuk membalas berita buruk akibat pemutusan pertunangan yang dilakukan oleh Siwon?
Yoona merasa sangsi, wisuda kelulusannya dari perguruan tinggi akan membuat ayah dan ibunya berbangga kepadanya. Bahkan mereka tak lagi menanyakan mengenai perkembangan kuliahnya..

Akankah ayah dan ibunya selamanya akan menjadi setega itu kepadanya?
Mendiamkannya tanpa menanyakan bagaimana perasaannya..

Bahwa ia juga merasakan kesedihan..
Bahwa ia juga merasa kecewa terhadap dirinya sendiri..
Bahwa ia menyesal..
Bahwa ia sedang berusaha memperbaiki kesalahan fatal yang tak sengaja ia lakukan..

Ya, ia memang masih membela diri bahwa apa yang ia lakukan dengan teman lelakinya bukanlah sesuatu yang ia perbuat dengan secara sengaja.

Yoona menghembuskan napasnya dengan berat ketika memikirkan hal itu..

“ada apa Yoona ya?”

“Anio, oenni tidak ke butik? Bukankah kau menerima banyak pesanan?”

“Aku pulang untukmu..”

Jessica yang tersenyum miring justru membuat bibir Yoona mencibir kearahnya..

“Eh, tidak percaya? Yoojung sudah menceritakan padaku apa yang kau ceritakan padanya..”

“Lalu?”

“Ayolah, kau tidak mungkin menyerah hanya karna Siwon masih belum mau mendengarmu kan?”

“Tapi aku tak tahu apa lagi yang bisa kulakukan, oenni?”

“Karna itu aku pulang untukmu.. Untuk membantumu..”

Jessica mengedipkan mata, bergerak membuka lemari pakaiannya, kemudian memilihkan setelan yang ia letakkan diatas tempat tidur disamping Yoona.

“Mandi dan pakailah ini.. Aku menunggu diluar..”

“Tapi apa yang akan kita lakukan? Aku malas kalau oenni mengajakku ke butik..”

“Kau akan tahu nanti..”

###

Tiga puluh menit kemudian Yoona keluar dari kamarnya, mencari keberadaan sang kakak ipar dan akhirnya menemukannya berada didapur. Sedang menata makanan dalam wadah..

“Sica oenni..”

“Kau sudah selesai?”

“hm, apa yang kau lakukan?”

“Tunggu sebentar, ini akan segera selesai..”

Yoona menarik kursi meja makan dan kemudian duduk sambil terus memperhatikan pada Jessica. Masih bingung dengan apa yang dilakukannya dengan berbagai makanan yang ia tempatkan didalam wadah..

“Ingin makan sesuatu?”

Yoona menggeleng..
Nafsu makannya telah lenyap sejak hari itu. Entah kapan terakhir kali ia menyentuh nasi, sesuatu yang biasa disukainya kini sama sekali tak menarik minatnya.

“Oenni akan membawa itu?”

“No, not me.. But it’s You..”

“me?”

“Yes.. Bukankah kemarin kau gagal mengajak mantan tunanganmu pergi makan siang?”

“Oenni, tak tahukah kau aku terganggu kau menyebut dengan memberi embel-embel Siwon oppa seperti itu? Kau tak ada bedanya seperti Yoochun oppa..”

Jessica menahan keinginannya untuk tertawa, demi menjaga kesensitivan perasaan sang adik ipar.

“Oh, begitukah? Baiklah kalau begitu aku akan mengulanginya. Ehm, bukankah kemarin kau gagal mengajak dokter Choi untuk makan siang denganmu, Yoona ya? Dan dia lebih memilih memesan makanan bersama dengan seorang dokter wanita..”

Yoona memberengut dan hanya mengangguk..

“Aku dengar dari suamiku jika ibu dokter Choi, juga sedang berada di Kanada menemani putrinya. Jadi bisa kusimpulkan jika dalam beberapa hari ini dokter Choi tidak bisa menikmati makanan rumahan..”

“dia memang tinggal di apartemen, oenni. Siwon oppa hanya sesekali menginap dirumah ibunya”

“Tapi bukan berarti ibunya tak datang mengunjunginya kan dan pastinya juga memasak makanan untuknya..”

Yoona mengangguk..
Ia memang beberapa kali melihat ada berbagai makanan yang berada didalam kulkas diapartemen Siwon. Dan ketika ia menanyakan kepada lelaki itu, Siwon mengatakan ibunya yang mengirimkannya. Ia hanya tinggal memanaskannya saja..

“Jadi maksud oenni, aku..?”

“Yups, bawa ini kerumah sakit dan ajaklah dia makan bersamamu. Aku yakin dokter Choi tidak akan menolak jika kau mengatakan omonim yang memasak ini untuknya. Kuperhatikan beberapa kali kita makan bersama, Siwon juga menyukai masakan omonim..”

“Oemma.. Jadi oemma yang memasak itu semua?”

Yoona menoleh kesekeliling mencari keberadaan ibunya. Apakah ibunya tak marah lagi padanya?

“Tapi dimana oemma?”

“omonim pergi bersama abonim, mereka bilang akan mengunjungi teman lama”

“Jadi bukan oemma yang sebenarnya memasak? Dan aku yakin bukan juga kau yang memasaknya. Kau kan tak bisa memasak. Kau memesan itu semua?”

Yoona memutar kedua matanya sementara Jessica justru menunjukkan senyum kepadanya.

“Tentu saja oemma yang memasaknya. Aku mengatakan jika beberapa temanku akan datang. Selanjutnya, kau pasti sudah bisa membayangkan seperti apa…”

Yoona mendengus..
Tak bisa lagi ia pungkiri bila sang ibu teramat menyayangi putri menantunya. Hingga rela melakukan apa yang menjadi keinginannya.

“Selesai.. Dan ayo, aku akan mengantarmu sampai kerumah sakit. Dan tolong, berikan ini pada suamiku nanti..”

Jessica memang hanya mengatarkan Yoona sampai didepan gedung rumah sakit. Ia harus secepatnya kembali ke butik. Yoona sangat menghargai apa yang dilakukan sang kakak ipar untuknya, mengingat jarak tempuh antara butik dan rumah sakit lumayan jauh dan bahkan berlainan arah. Tapi kakak iparnya itu tak memperbolehkannya menggunakan taksi dan berkeras untuk mengatarnya.

Yoona memang kerap kali menyebut Jessica wanita sadis, mereka juga sering beradu mulut. Namun kedekatannya dan juga Yoojung dengan Jessica juga sudah bagaikan saudara kandung. Maka ribut-ribut yang kerap terjadi diantara ketiganya sudahlah dinilai sangat wajar dalam hubungan persaudaraan. Wanita itu, harus diakui Yoona memanglah pandai menempatkan diri serta sikap. Jessica akan marah bila dia merasa kemarahan memang diperlukan. Dia juga bisa sangat lembut dan penuh perhatian disaat ia membutuhkan.

Tak ada yang bisa dikatakan Yoona selain mengucap terimakasih sesaat sebelum Jessica melajukan mobil yang dikendarainya dan mengingatkannya untuk tak lupa memberikan satu wadah yang telah ia siapkan untuk Yoochun..

Sebenarnya Yoona masih merasakan kesal pada tiga orang perawat yang menjadikannya bahan bergosip. Tapi yasudahlah..
Lagi pula ia juga tak hapal siapa saja mereka. Ia terus melangkah masuk kedalam lobi rumah sakit dan terlebih dulu menuju ruangan Yoochun..

“Oppa..”

Yoochun mendongak dari layar komputer dihadapannya..

“Hai, masuklah Yoona.. Apa kau sedang mencoba menunjukkan kasih sayangmu padaku? Akhir-akhir ini kau menjadi sering mengunjungiku..”

Komentar Yoochun iseng begitu melihat Yoona meletakkan satu wadah makanan yang dititipkan Jessica diatas meja kerjanya.

“Jika bukan karna Sica oenni yang menitipkan ini untukmu. Aku tidak akan masuk kesini..”

“Oh, istriku menitipkan ini? Dia begitu peduli.. Aku tak salah memilih istri seperti yang sering kau katakan kan? Aku akan menghubunginya..”

Yoona ingin keluar  dari ruangan itu begitu sang oppa bermanis-manis ketika berbicara dengan sambungan ponsel yang menghubungkannya dengan Jessica, namun Yoochun memberi isarat agar ia menunggu sebentar disana.

Mendengar oppa nya mengucapkan kalimat-kalimat pujian setinggi langit, yang ia yakini lawan bicaranya pasti sedang merasakan dilambungkan ke angkasa, Yoona merasa geli sebenarnya tapi juga bahagia melihat Yoochun mampu menjaga keharmonisan rumah tangga yang dibangunnya bersama Jessica, meski keduanya tergolong sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Mungkin setelah ini, ia bisa menyarankan agar oppa nya meminta Jessica untuk mengurangi aktifitasnya dibutik, dan mulai memikirkan untuk memiliki momongan. Dua tahun pernikahan mereka, ayah dan ibunya juga sudah sering menanyakan perihal cucu dari mereka..

“Melamun lagi?”

Yoona sedikit tersentak, Yoochun telah meletakkan ponselnya..

“Aku hanya memikirkan kapan oppa dan Sica oenni akan memikirkan untuk memiliki bayi? Pasti akan menyenangkan..”

Yoochun tersenyum mendengarnya..

“Sebaiknya kau membicarakan ini saat ada kakak iparmu. Oh, ya.. Untuk siapa makanan yang kau bawa itu?”

“Siwon oppa..”

“curang, bagaimana kau hanya memberiku satu sedangkan tiga untuk Siwon?”

Yoona mencibir pada protes yang dilontarkan Yoochun..

“Siwon oppa tidak akan memakannya sendiri, tapi denganku..”

“Yakin dia akan mau?”

“Aku tidak mau terprovokasi oleh karna ucapanmu. Sudahlah, aku akan keruangannya..”

“Dia sedang melakukan operasi..”

“Aku bisa menunggunya”

Yoona dengan segera keluar dari ruangan Yoochun untuk selanjutnya menuju ruangan Siwon. Tertulis nama pria itu pada bagian pintu ruangannya, dan Yoona tak peduli pada larangan yang sempat didengarnya dari seorang suster yang tidak memperbolehkannya masuk.

Tak ada siapapun didalamnya, Yoona baru menyadari ini adalah untuk pertama kalinya ia berada disana..

Tak sempat ia meneliti apa saja yang berada didalamnya, karna pemilik ruangan itu masuk dan lagi-lagi nampak terkejut oleh keberadaannya..

“Siwon oppa..”

Yoona menunjukkan senyumnya, namun seketika lenyap ketika dibelakang tubuh lelaki itu yang ternyata tak seorang diri, muncul seorang wanita yang lantas tersenyum menyapanya..

“Oh, annyeong haseyo nona Im..”

Yoona hanya membalas sapaan Yuri dengan anggukan, ia masih memperhatikan pada Siwon yang belum beranjak, berdiri terpaku dengan tatapan yang membuat Yoona merasa gemetar..

Oh..
Lelaki itu nampaknya tak menyukai kehadirannya..

“Oppa, aku membawakan makan siang untukmu. Oemma yang membuatkannya, bisakah kita makan bersama sekarang?”

“Oh, kalau begitu saya akan permisi dokter..”

Yoona merasakan terkesiap, tubuhnya seakan tengah ditikam dengan sebilah belati ketika kalimat itu selesai diucap oleh Yuri, wanita yang saat itu berdiri disamping Siwon, lelaki itu justru langsung meraih pergelangan tangannya, menahannya agar tidak pergi dari sana.

“Tidak perlu Yuri ssi, kita akan melakukan apa yang sudah kita rencanakan..”

“tapi dokter Choi, nona Im.. Dia..”

“Aku tak pernah memintanya datang”

kalimat itu menohok Yoona dengan sedemikian sakitnya. Ia hampir-hampir menjatuhkan airmatanya. Apalagi setelahnya, dengan nada dingin Siwon mengatakan kata pengusiran kepadanya.

“Pergilah..”

“Op-pa..”

“Katakan pada ibumu untuk tak perlu melakukan ini lagi..”

“baiklah jika kau masih tak ingin melihatku, tapi setidaknya jangan menolak ini. aku pulang..”

Meninggalkan wadah-wadah berisi makanan yang tadi dibawanya, dengan langkah lemah nyaris limbung, Yoona berjalan keluar dari ruangan Siwon..

“Dokter Choi apa yang terjadi? Kenapa anda melakukannya? Kejarlah dia..”

“Tidak perlu..”

Mendengar itu membuat Yoona tak lagi sekedar hanya melangkah, ia berlari. Berlari untuk secepatnya menjauh dari Siwon. Agar tak mendengar kata-katanya yang terdengar kejam ditelinganya.

Kenapa lelaki itu tega?
Kenapa dia tak melihat penyesalan yang dirasakannya..

Oh, kau bahkan jauh lebih tega, Yoona.
Apa kau memikirkan perasaannya ketika kau sedang bersama dengan teman lelakimu?
Batinnya mengingatkan, membuat Yoona tak bisa menahan airmatanya.

Ia mendengar kasak-kusuk dari beberapa perawat yang melihatnya, namun mencoba mengabaikannya dengan terus berlari keluar dari dalam rumah sakit itu.

###

Sejujurnya Yoona telah lelah untuk kembali lagi kerumah sakit. Lelah fisik, lelah hati apalagi. Setelah terang-terangan mendapatkan pengusiran dari Siwon. Mau ditaruh dimana mukanya jika dalam jangka waktu kurang dari tiga jam saja dirinya kembali berada disana.

Tapi Yoojung, adik satu-satunya itu memaksa dan bahkan mengatakan dia akan bisa membuatnya berbicara dengan Siwon. Sebuah tawaran yang membuatnya tergiur. Maka pada sore hari itu, Yoona menurut pada apa yang akan dilakukan Yoojung. Sang adik yang sempat membuatnya terkesima pada saat melakukan pembicaraan melalui ponsel dengan Siwon.
Oh, betapa gadis remaja memang sangat pandai merajuk..
Selama ini lelaki itu bahkan tak pernah menjawab ponselnya, namun begitu Yoojung yang menghubungi, Siwon langsung menjawabnya..

“Siwon oppa, ini Yoojung..”

“iya, Yoojung ah.. Ada apa?”

“Apakah oppa sibuk?”

“selalu, aku selalu sibuk”

ada kekehan dalam suaranya..

“itu berarti akan mengganggu bila aku ingin menemuimu?”

“tergantung, ada keperluan apa kau ingin menemuiku?”

“Apa karna oppa dan Yoona oenni sudah putus, aku jadi tak bisa menemuimu?”

“Tidak, bukan seperti itu maksudku..”

Yoojung tersenyum mendengarnya..

“Jadi?”

“jadi, katakan saja apa keperluanmu.. Aku usahakan untuk meluangkan waktu”

Yoojung makin tersenyum lebar..

“Aku memiliki tugas sekolah, bisakah oppa membantuku?”

“bukankah kau memiliki dua orang kakak?”

Yoojung mendecak..

“Jadi oppa tidak mau membantuku? Ayolah oppa.. Hanya kau yang bisa membantuku. Kedua kakakku itu, Yoochun oppa selalu tak memiliki waktu untukku. Dan Yoona oenni.. Dia tak bisa diharapkan apalagi diandalkan.. Apa Siwon oppa tahu, dia hanya memiliki nilai standart dikelas..”

Yoojung terkikik sementara Yoona yang saat itu berada disebelahnya, langsung memutar bola mata mendengarnya.

“Oppa akan membantuku kan? Ayolah oppa.. Aku ingin mendapat nilai sempurna agar aku dapat lulus dengan nilai terbaik, dan segera bersekolah kedokteran.. Aku ingin menjadi dokter sepertimu..”

Yoojung menggigit bibir bawahnya, menunggu jawaban dari lawan bicaranya.

“Jam berapa kau akan datang?”

“Aku sedang dijalan, oppa..”

“baiklah, kau bisa menghubungiku lagi saat kau sudah sampai dirumah sakit”

“Sipp..”

Yoojung menutup ponselnya dan langsung berseru kegirangan seakan telah berhasil menaklukkan gunung es yang ia daki..

“Yes, berhasil..!”

“Kau melakukan kebohongan? Sejak kapan kau berkeinginan menjadi dokter?”

Yoona mengerutkan dahinya saat menatap pada Yoojung..

“Demi oenni ku yang tersayang aku rela berpindah haluan..”

kedikan mata Yoojung langsung dapat membuat Yoona tersenyum dan sekaligus mencibir..

“Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan untuk membuat Siwon oppa mau berbicara denganku? Rencana Sica oenni saja gagal membuatku bicara dengannya..”

Yoona mendesah mengingat apa yang dialaminya siang tadi..

“mau dan tidaknya itu tergantung pada usahamu, oenni. Aku hanya akan membuka jalan untuk itu. Maka berusahalah untuk menahan Siwon oppa disisimu..”

Tak sampai lima belas menit setelahnya, keduanya yang telah berada disebuah taksi, akhirnya sampai didepan gedung rumah sakit.

Yoojung turun lebih dulu, dan menggandeng tangan Yoona saat berjalan masuk kedalamnya..

“Kau belum mengatakan padaku, Yoojung ah. Apa yang akan kau lakukan?”

“sst, diamlah oenni.. Kau akan tahu nanti..”

Yoojung mengeluarkan ponsel dan kembali menghubungi Siwon..

“Oppa, aku sudah berada dilobi..”

“Oh, kau bisa langsung ke ruanganku?”

“Aku tidak tahu yang mana ruanganmu. Bisakah oppa kemari?”

tak langsung ada jawaban..

“Maaf jika merepotkanmu, oppa..”

“Tunggulah..”

“ne..”

Yoojung tersenyum, lalu menyimpan ponsel kedalam tas nya. Sementara Yoona hanya bisa memperhatikan sang adik dengan tatapan curiga.
Apa yang akan dilakukan Yoojung, sungguh ia tak dapat mengira-ngira.

“Yoojung ah..”

“sst, bersiaplah oenni.. Itu Siwon oppa..”

Yoona merasakan degupan jantungnya mengencang melihat Siwon yang berjalan kearahnya, tapi sepertinya masih belum menyadari keberadaannya disana.

“Oenni, berjalanlah lebih dulu..”

“nde?”

“cepatlah..”

Yoona merasa bingung dengan apa yang diinginkan Yoojung. Dan ketika ia menurut dengan berjalan lebih dulu, sepertinya hanya tiga langkah didepan Yoojung, tubuhnya justru didorong. Ia yang tak sigap dengan hal semacam itu, kemudian terjatuh dengan nyeri yang langsung ia rasakan dipergelangan kakinya.

“Awhhh..!”

“Ya Tuhan.. Yoona oenni..!”

“Yoojung ah, kau..?”

Yoona meringis sambil memegangi kakinya. Ia bisa menyimpulkan jika Yoojung lah yang telah mendorongnya.

“mianhae oenni, tapi aku harus melakukannya..”

“Apa maksud.. Awhh..!”

Yoona kembali merintih, menghiraukan Yoojung yang lantas berteriak-teriak memanggil Siwon.

“Siwon oppa..! Oppa..! Tolong aku.. Yoona oenni terjatuh, oppa..!!”

Siwon dengan cepat telah berada disampingnya..

“Apa yang terjadi Yoojung ah..?”

“Yoona oenni tiba-tiba terjatuh oppa. Mungkin karna sepatunya, atau lantainya yang licin, aku akan mengatakan pada Yoochun oppa agar dia memeriksa para petugas kebersihan..”

“Awhh..!!”

Yoona lagi-lagi merintih, menekan pergelangan kakinya yang kian terasa berdenyut-denyut.

“Oenni, bagaimana ini? Kakimu tidak mungkin patah kan?”

Yoona masih sempat memutar mata mendengar apa yang dikatakan Yoojung. Apalagi melihat kepanikan pura-pura diwajahnya..

“Siwon oppa, lakukanlah sesuatu..”

Yoona merasakan sesuatu seperti tersengat pada pergelangan kakinya ketika Siwon berjongkok melepas sepatunya kemudian menekan pergelangan kakinya..

“Awhh..!!”

“Ini hanya terkilir..”

Siwon lantas kembali berdiri..

“Oppa yakin? Jadi tidak patah?”

“Jadi kau ingin kakiku patah..?!”

“Tidak seperti itu oenni.. tapi..”

Yoojung meringis melihat  Yoona yang melebarkan mata padanya. Sang kakak jelas akan membuat perhitungan dengannya..

“Yoojung ah, ikut keruanganku..”

“Siwon oppa, bagaimana dengan Yoona oenni? Kau harus mengobati oenni ku terlebih dulu..”

“Tak perlu aku yang turun tangan. Perawat akan menanganinya..”

Siwon meng-kode seorang perawat agar menghampirinya dan memintanya untuk menangani Yoona. Sedangkan dirinya justru beranjak dengan sekali lagi meminta Yoojung untuk mengikutinya.

###

Yoona benar-benar mengomel disepanjang perjalanan pulang kerumahnya. Yoojung tentunya yang menjadi sasaran omelannya akibat ide gila yang telah dilakukannya. Bagaimana tidak, adik perempuannya itu dengan konyol, sengaja dan terencana mencelakai dirinya. Hal yang awalnya diperkirakan dan dimaksudkan Yoojung untuk menarik Siwon agar menunjukan kepedulian atau setidaknya belas kasihan dengan mengobati Yoona, sehingga sang kakak dapat memanfaatkan kesempatan itu untuk berbicara dengan Siwon. Tapi yang terjadi justru diluar apa yang diperkirakan. Lelaki itu sama sekali tak menyentuhnya. Maksudnya mengobatinya. Siwon hanya sesaat memeriksa (tentu dengan cara menyentuh) pergelangan kakinya, memastikan Yoona hanya mengalami terkilir, setelahnya justru membiarkan perawat yang mengobati Yoona sementara dirinya justru pergi dan tak memperlihatkan lagi batang hidungnya dihadapan Yoona, bahkan sampai akhirnya Yoona dan Yoojung meninggalkan rumah sakit itu.

“Lalu apa yang tadi Siwon oppa katakan padamu?”

“Dia hanya mengatakan agar aku sebaiknya fokus saja belajar”

Yoojung menggigit bibir bawahnya, kemudian meneruskan..

“Dengan kata lain Siwon oppa mungkin mengetahui akal-akalanku..”

“Dasar bodoh..”

Yoona menyentil pada dahi adiknya..

“aww.. Oenni, sakit. Aku kan hanya ingin membantumu..”

“jika aku tahu rencanamu membantuku dengan cara mencelakaiku seperti ini, aku takkan mengikutimu..”

Memang apa sih salahnya?
Ia kan hanya berniat baik. Hanya saja tak berjalan dengan lancar sesuai apa yang ia prediksikan..
Yoojung memberengut dan tak lagi mencoba membantah.
Ya..
Ia memang salah. Putusnya kemudian dengan satu tarikan napas berat..

“Kita sudah sampai, ayo bantu aku..”

Yoojung mengangguk. Ia kemudian lebih dulu membuka pintu dan turun dari dalam taksi yang mereka tumpangi, sementara membiarkan sang kakak yang melakukan pembayaran.

Yoona kemudian juga turun dengan Yoojung yang telah berada diluar, disisi pintu sebelah kanan, lantas memegangi tangannya, membantunya saat berjalan masuk kedalam rumahnya.

“Kenapa dengan kaki mu, Yoona ya?”

Jessica telah berada dirumah, dan langsung berkerut dahi melihat langkah terpincang dari Yoona ketika berjalan.

“Tanyakan saja pada gadis usil ini. Dia yang mencelakaiku..”

“Oenni, aku kan tidak sengaja.. Sica oenni, aku bisa jelaskan nanti”

###

Usai melakukan makan malam, yang hanya dilakukan oleh Yoona bersama dengan Jessica dan Yoojung, karena ayah dan ibunya masihlah belum pulang. Begitupun dengan Yoochun yang masih berada dirumah sakit. Yoona mengabaikan panggilan Yoojung agar menonton drama bersamanya, dan memutuskan untuk berada didalam kamar Oppa-nya dan Jessica, menemani sang kakak ipar yang tengah merapikan sebuah gaun rancangannya.

“Bagaimana orang sepertimu tak bisa merasakan lelah, oenni? Apa kau tak bisa diam dan bersantai..?”

Yoona mengalihkan perhatiannya dari buku yang dibacanya (masih buku yang sama, novel yang sempat diprotes oleh Yoojung) untuk kemudian memperhatikan pada Jessica yang berada disebelah manekin gaunnya.

“tentu saja aku lelah.. Tapi aku perlu melakukan ini untuk mencari kesibukan, dan mengalihkan pikiranku dari terus memikirkan dan merindukan suamiku..”

Senyum yang ditunjukkan oleh Jessica langsung mendapat cibiran dari Yoona..

“Itu memang benar, aku selalu merindukan suamiku. Kau tahu sendiri Yoochun oppa-mu itu sangatlah sibuk. Sedikit sekali waktu yang kami miliki untuk bersama-sama”

“Kenapa oenni tak mencoba kesibukan yang lain?”

“maksudmu? Kesibukan lain apa?”

“Memiliki bayi mungkin? Memiliki bayi, lalu kemudian mengurusnya itu akan menyibukkanmu. Appa dan oemma juga sudah menanti-nantikannya. Begitupun denganku dan Yoojung. Aku bertanya-tanya akan seperti apa wajah keponakanku?”

Tak menanggapi ucapan Yoona dengan menggunakan kata-kata, Jessica justru menanggapinya dengan menunjukkan senyum misterius dan kembali pada pengerjaan gaun yang berada di manekin-nya. Yoona pun kembali mengangkat bukunya, dan meneruskan membacanya.

“Oenni.. Yoona oenni..!”

Suara Yoojung terdengar dari luar, dan tak berselang lama gadis remaja itu telah berada dikamar Jessica, langsung menghampiri Yoona yang duduk nyaman dengan bersandar pada kepala ranjang, menikmati roman yang dibacanya.

“Oenni..”

“Ada apa lagi.. Aku memperingatkanmu, Yoojung ah.. Jangan menggangguku..”

“Aishh.. Kau masih saja membaca roman erotis-itu..”

Yoojung sedikit memberengut, namun kemudian pancaran ide dimatanya kembali berpendar-pendar. Membuatnya kemudian menarik buku itu dari tangan Yoona.

“Yakk.. Yoojung ah..!”

Yoona berdecak kesal dengan tingkah adiknya. Sedangkan Jessica masih saja sibuk dengan manekinnya. Ia hanya geleng-geleng kepala melihat kakak beradik itu bersiteru, sepertinya justru menikmati keramaian yang mereka buat didalam kamarnya.

“Oenni dengarkan aku dulu.. Aku memiliki ide yang sangat hebat untuk dapat membuatmu kembali pada Siwon oppa..”

Yoona yang berkerut dahi tak yakin justru dibalas dengan senyuman miring dari Yoojung.

“Aku mendapatkan ide ini dari drama yang baru selesai aku tonton. Apa oenni mau tahu?”

“Tidak.. Idemu bisa saja lebih gila dari yang tadi. Demi Tuhan Yoojung ah, kau hampir saja mematahkan kaki ku”

“Oenni, kau hanya terkilir saja kan. Jangan terlalu berlebihan..”

Yoona memutar mata namun sang adik justru memberikan cengiran diwajahnya.

“Oenni ya, kau benar-benar harus mendengarkanku..”

kali ini Yoojung memasang wajah serius. Membuat Jessica menjadi tertarik hingga kemudian ikut bergabung dengan meninggalkan manekinnya lalu naik keatas tempat tidurnya. Lalu meminta Yoojung melakukan hal yang sama. Ketiganya berada ditengah-tengah diatas tempat tidur super besar itu, dan bersiap mendengarkan apa yang akan disampaikan Yoojung. Gadis remaja nan cantik itu masih saja mempertahankan mimik serius diwajahnya..

“Jadi oenni, berdasarkan cerita dalam drama yang aku tonton tadi. Sepertinya kau bisa mencoba melakukan apa yang dilakukan sang tokoh wanita dalam drama itu”

Jessica dan Yoona sama-sama saling pandang dengan kerutan yang sama banyak didahi keduanya.

“Dalam drama tadi, si tokoh wanita memiliki masalah yang sama dengan seorang laki-laki. Meski dengan kasus yang berbeda. Si tokoh wanita tidak melakukan perselingkuhan seperti oenni..”

Yoona langsung mendecakkan lidah mendengarnya..

“Langsung saja Yoojung ah, katakan pada intinya jangan membuatku bertambah kesal padamu..”

“Baiklah, jadi si tokoh wanita itu melakukan sesuatu untuk mendapatkan sang lelaki yang diincarnya..”

Yoojung mulai memelankan suaranya, nyaris berbisik malah..

“… Jadi si tokoh wanita itu membuat satu jebakan untuk mendapatkan lelaki yang diinginkannya itu”

“Apa yang tokoh wanita itu lakukan?”

tanya Jessica tak sabar..

“Dia membuat jebakan seolah-olah lelaki itu telah tidur dengannya..”

Yoojung mengutip dengan kedua tangannya ketika mengucapkan kata ‘tidur’ yang langsung dapat dengan cepat dicerna apa maksudnya oleh Yoona ataupun Jessica.

“MWORAGO..!!”

setelahnya keduanya sama-sama melebarkan mata, kompak memekik dengan sama kerasnya dan membuat Yoojung menutup kedua telinganya.

“dengarkan dulu oenni-oenni ku sayang.. Si tokoh wanita tidak benar-benar tidur dengan si lelaki-nya. Dia hanya membuat jebakan. Ku ulangi sekali lagi, hanya jebakan..”

Terbayang jelas dalam benak Yoona, scene-scene dalam drama yang baru saja disaksikan Yoojung. Ide penjebakan dimana sang tokoh wanita memberikan sesuatu dalam minuman si lelaki, hingga si lelaki tak sadar kemudian menciptakan keadaan seolah-olah mereka telah tidur bersama, biasanya hanya akan dilakukan oleh seorang wanita yang berperan menjadi tokoh antagonis. Dan lagi pula ide yang sudah tergolong pasaran seperti itu bagaimana bisa masih digunakan dalam sebuah drama dijaman modern seperti saat ini. Tidakkah mereka memiliki kemampuan dan kapasitas berpikir yang lebih cerdas. Mengapa masih membuat drama dengan ide monoton seperti itu.

Yoona mengomel sendiri dalam hati, dan segera tersadar ketika Yoojung kembali bersuara..

“Bagaimana oenni? Kau tertarik?”

“Jadi maksudmu aku harus membuat, aniy..aniy.. maksudmu aku harus menjebak Siwon oppa untuk tidur denganku. Yakk, Yoojung ah.. Apa kau sudah tidak waras!”

Yoona mengambil buku-nya yang digeletakkan Yoojung di tempat tidur disampingnya, kemudian memukulkannya pada kepala Yoojung. Membuat sang adik mengaduh sakit karenanya.

“Oenni ya.. Aku kan hanya berusaha membantumu. Aku sedih melihat kefrustasianmu dalam beberapa hari ini. Jika kau tak berniat move on dari Siwon oppa, maka cepat-cepatlah dapatkan dia kembali. Jangan sampai dia jatuh ketangan dokter wanita itu yang sebentar lagi mungkin akan berstatus janda..”

Yoojung memberengut sekaligus berapi-api memberikan pendapatnya..

“Tapi tidak dengan cara seperti itu. Kau mengomel melihatku membaca roman erotis, tapi ternyata otakmu sendirilah yang perlu dibersihkan..”

Tak cukup dengan memukul kepala Yoojung dengan menggunakan buku, Yoona juga lantas menoyor(?) jidatnya.

“Mulai sekarang berhenti menonton drama-drama semacam itu Yoojung ah, sebelum otakmu teracuni semakin parah..”

Tak puas dengan Yoona, Yoojung beralih pada Jessica, semacam menanyakan bagaimana menurut sang kakak iparnya itu yang justru hanya tersenyum-senyum melihatnya yang tengah dianiaya(?) oleh Yoona.

“Kalau menurutku.. emm, Yoona ya.. Mungkin tak ada salahnya kau mencoba ide yang dikatakan Yoojung”

Jessica yang dengan santainya mengedikkan mata, membuat Yoona geleng-geleng kepala melihatnya..

“Ya Tuhan.. Ada apa dengan kalian berdua? Tidak Yoojung, tidak pula kau Sica oenni.. Kurasa kalian perlu mandi dan melakukan keramas. Bersihkan kepala kalian..”

Yoona justru bersungut-sungut kesal, sudah akan turun dari atas tempat tidur, keluar dari kamar Jessica dan mengakhiri obrolan konyol yang dimulai oleh Yoojung. Namun pergelangan tangannya tertahan oleh tangan Jessica yang memeganginya juga Yoojung yang menghadang tubuhnya.

“Waeyo? Yoojung bilang si tokoh wanita itu tidak benar-benar tidur dengan si lelaki-nya kan..”

” Lalu?”

“cobalah, aku mungkin bisa membantumu untuk mendapatkan semacam obat tidur dari suamiku..”

“Sica oenni benar.. Yoochun oppa pasti memiliki obat semacam itu”

Yoojung kian bersemangat setelah mendapatkan dukungan dari Jessica..

“Tapi Siwon oppa juga dokter, dia bisa saja tahu aku menjebaknya..”

“Jadi oenni tertarik..?”

“Molla.. Aku jelas tak bisa melakukannya. Penjebakan seperti itu sangatlah konyol dan murahan. Lagipula bagaimana aku bisa menjebaknya. Akses untuk masuk ke apartemennya saja aku sudah tak punya..”

“Jadi jika kau memiliki akses untuk masuk ke apartemen dokter Choi, kau akan melakukannya, Yoona ya..?”

“Mungkin, aku bisa memikirkannya..”

Yoona meringis..
Apakah dirinya benar-benar akan sebuntu itu, hingga menyetujui ide gila Yoojung, yang parahnya juga didukung oleh Jessica.

“Uh, dasar kau oenni.. Roman erotis pasti juga telah membuatmu berfantasi kotor kan..”

Yoojung yang lebih dulu memulai dengan memukulkan bantal ke tubuh Yoona..

“Sialan kau, Yoojung ah..”

“Hahahahahaa…”

Yang terjadi setelahnya, ketiganya justru saling memukulkan bantal, tertawa terbahak-bahak dengan obrolan yang mendadak disadari tak lagi menjadi sesuatu yang serius tapi justru lucu. Dan rasanya, untuk pertama kalinya setelah insiden diapartemen Siwon waktu itu, Yoona bisa tertawa dengan begitu lepas seolah lupa dengan masalahnya. Dan itu berkat kehadiran sang adik dan kakak iparnya yang menyebalkan dan sekaligus menggelikan serta penuh perhatian dan selalu memberikan dukungan padanya.

###

Tiga hari semenjak ia diusir oleh Siwon dari ruang kerjanya dirumah sakit. Sejak ia terkilir gara-gara ide gila Yoojung, Yoona belum lagi pergi kesana untuk mencoba lagi menemui Siwon. Dalam tiga hari itu, ia malah menyibukkan diri dengan ikut ke butik Jessica dan membantu sang kakak ipar menangani pesanan pelanggan yang cukup banyak itu. Yoona memang tak terlalu mengerti tentang desain mendesain, tapi memperhatikan Jessica dan sesekali membantunya memilih-milih bahan ataupun corak warna yang akan digunakan, ternyata cukup menyenangkan dan sesekali berhasil membuatnya tidak melulu memikirkan masalahnya. Yah, meskipun tetap saja ia terkadang masih kepikiran dengan semua itu. Apalagi membayangkan Siwon yang setiap hari bertemu dan bersama dengan dokter wanita itu. Belum lagi banyaknya perawat yang berada disana yang rata-rata juga mencoba mendekatinya.
Uh, seringkali membuatnya uring-uringan gak jelas seperti yang kini dirasakannya.

Ia seharusnya membantu salah seorang karyawan Jessica memilih dan menggunting kain, namun Yoona justru mendadak terpikir untuk meninggalkannya saja..

“Jika Sica oenni bertanya padamu, katakan aku sedang keluar mencari makan siang. Aku akan kembali lagi nanti..”

sepuluh menit setelahnya Yoona sudah berada didalam taksi, dan hampir tiga puluh menit setelahnya, taksi yang membawanya telah menghentikan lajunya didepan gedung rumah sakit. Entah mengapa kerinduannya begitu menggebu untuk setidaknya sesaat saja menjumpai lekaki-nya.

Ah, lelaki-nya..
Yoona tersipu sendiri karenanya.

Ia sudah berniat untuk turun, namun mendadak urung dilakukannya ketika kedua matanya tanpa sengaja menatap pada dua insan yang tak seharusnya ia lihat bersama-sama.
Ya..
Didepan pintu masuk rumah sakit itu, Yoona melihat Siwon yang tengah bersama dengan Yuri. Keduanya baru akan masuk, mungkin baru saja selesai beristirahat dengan melakukan makan siang. Pikirnya, yang kemudian membuat hatinya terasa panas. Bukan hanya itu saja, ia juga melihat dokter wanita itu yang sepertinya tersandung dan sudah akan jatuh terjengkang kebelakang, namun dengan keberadaan Siwon disana, lelaki itu dengan sigap menahan tubuhnya dengan tangannya yang begitu kuat. Yoona ingat saat Yoojung membuatnya jatuh hingga terkilir namun Siwon justru diam saja.
Yoona ingat tangan kuat yang terlihat berotot saat mengikuti Siwon berlari pagi beberapa hari lalu. Dan melihat lengan itu kini memeluk bahu seorang wanita, wanita lain selain dirinya tentunya, membuat aliran darah yang mengalir keseluruh tubuhnya mendidih. Sel-sel dalam tubuhnya juga pasti sedang berteriak-teriak murka. Lelaki itu tak seharusnya terlihat begitu memperhatikan wanita lain selain dirinya.

Uh, ingatkan dirimu ketika dulu kau seringkali menolaknya yang ingin merangkulmu.
Batinnya menginterupsi, dan segera menyadarkannya bahwa lelaki itu bukan lagi miliknya. Dan ia tak bisa mendatangi keduanya, dan berpura-pura memergoki mereka yang melakukan perselingkuhan dibelakangnya.
Yoona jelas tak bisa melakukannya..
Ia tak berhak lagi atas Siwon, atas apapun yang telah ia campakkan dengan semena-mena itu untuk mengharapkan dia kembali padanya.

Hei, tapi ia tak mencampakkannya..
Lelaki itulah yang mencampakkan dirinya dengan seenak hatinya mengembalikan cincin pertunangan dan menolak berbicara dengannya.

Tapi jika bukan kau yang memulai dengan melakukan pengkhianatan, lelaki itu tak akan mungkin melakukannya.
Batinnya sekali lagi mendebatnya..

Membuat Yoona hanya bisa mendesah dan sekaligus mengerang frustasi. Entah mengapa, dadanya kemudian terasa berdenyut kesakitan. Ia tak sanggup lagi berada disana dan melihat lelaki yang pernah selama tiga bulan menjadi tunangannya, kini sedang bermesraan dengan dokter wanita itu.

“Jalan lagi, ahjussi.. Aku tidak mau turun”

Perintahnya pada sang sopir taksi yang dengan segera mengikuti apa yang dikatakannya.

###

Sesampainya dirumah, Yoona langsung masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu agar tak seorangpun melihatnya menumpahkan airmata kesedihan.

Tuhan..
Kenapa rasanya begitu sesakit ini?

“Oenni.. Oenni..! Gwechana?”

Suara Yoojung mengiringi ketukan-ketukan pada pintu kamarnya.

“Oenni.. Kau tidak apa-apa kan?”

“gwe-cha-na Yoo-jung ah..”

jawabnya dengan suara sedikit tersendat..

“Oenni, kau tak ingin aku menemanimu?”

“Anio, selesaikanlah tugasmu.. Aku hanya akan tidur”

“Oenni, kau tak bisa terus-terusan tidur! Oenni..!! Aku tahu kau pasti tidak akan tidur. Kau pasti akan menangis lagi kan? Oenni.. Yoona oenni..!!”

Yoojung mulai menggedor-gedor pintu kamarnya, namun segera terhenti ketika suara sang ayah terdengar memperingatkannya.

“Hentikan Yoojung ah. Jangan membuat keributan, kembali ke kamarmu dan selesaikan tugas sekolahmu. Cukup kakakmu saja yang membangkang. Jangan ikut-ikutan menjadi putri yang mengecewakanku..”

Yoona makin terisak-isak setelahnya. Airmatanya bahkan hampir membuatnya tersedak. Sang ayah secara tidak langsung baru saja menyebutnya membangkang..
Itu menjelaskan dengan sejelas-jelasnya betapa ayahnya sangatlah marah dan kecewa padanya. Meski sampai saat itu sang ayah ataupun ibunya tak mengetahui kejadian di apartemen Siwon, dan ia pun yakin lelaki itu juga tak mengatakan secara gamblang alasannya saat mengembalikan cincin pertunangannya. Karena yang ia dengar dari Yoojung dan juga Jessica, didepan ayah dan ibunya ketika itu, Siwon justru mengaku dialah yang tak bisa berbuat banyak untuk membahagiakannya. Namun Yoona tahu ayahnya telah berpikir dirinyalah yang sebenarnya telah berbuat kesalahan sehingga Siwon memutuskan untuk melepas ikatan pertunangan dengannya dan mengembalikan tanggung jawab atas dirinya kembali ketangan sang ayah.

“Aku benar-benar minta maaf appa.. Maafkan aku..”

Tak selang berapa lama, Yoona mendengar ponselnya yang berbunyi. Jessica yang menghubungi, meski enggan, namun mengingat apa yang telah sang kakak ipar lakukan untuknya, Yoona kemudian menjawabnya. Ia menduga Yoojung yang telah menghubungi Jessica dan pastinya menceritakan mengenai dirinya yang pulang dalam keadaan menahan tangis..

“ne, oenni..”

“are you okey? Apa yang terjadi, Yoona ya..? Yoojung bilang padaku, kau..”

“gwechana oenni.. Aku tidak apa-apa. Jangan mengkhawatirkanku.. Bisakah aku menutup telponmu sekarang? Ada yang ingin ku kerjakan..”

“Tapi Yoona..”

“Kita bicarakan nanti saja, oenni..”

Yoona memutus sambungan telponnya dan membiarkannya ketika sekali lagi Jessica menghubunginya.

###

Langit telah menjadi gelap ketika Yoona terbangun. Menangis membuatnya merasa lelah dan akhirnya tertidur. Jam diatas nakas telah menunjukkan ke angka sepuluh, yang berarti telah beberapa jam ia telah tertidur. Ia juga melewatkan makan malam, mungkin karna itulah perutnya mendadak berteriak kelaparan, dan akhirnya memaksa Yoona untuk turun dari atas tempat tidur dan kemudian keluar menuju dapur untuk menemukan sesuatu yang dapat ia makan.

Namun, alih-alih mencari makanan untuk mengisi perutnya seperti niat awalnya tadi, Yoona malah tertarik pada sebotol vodka yang berada dimeja dapur. Mengambilnya, membuka dan lantas menuangnya kedalam gelas, ia meminumnya dalam sekali teguk. Merasakan pekat yang terasa panas, ketika cairan itu melewati tenggorokannya..

“Ahh, mengapa rasanya seperti ini..”

ia mengeluh, namun kembali menuang kedalam gelasnya hingga beberapa kali. Sampai kemudian senyum aneh menghias wajahnya, entah apa yang tiba-tiba melintas dalam pikirannya, yang kemudian dilakukannya adalah membawa botol vodka itu beserta gelasnya masuk kedalam kamarnya..

“Aku akan memberitahu Siwon oppa.. Dia pasti mau minum denganku..”

Yoona mulai mencari-cari ponselnya, diatas meja, didalam tas nya dan akhirnya ditemukannya tergeletak ditempat tidur dengan tertutupi oleh selimut. Yoona lantas melakukan panggilan, namun tak mendapatkan jawaban.
Dengan senyum aneh yang kembali muncul, Yoona membiarkan tubuhnya terduduk dilantai disamping ranjang tidurnya, ia pun kembali menuang vodka-nya kedalam gelas, meneguk dan terus mengulanginya..

“Ahh, mengapa jadi seenak ini. Oppa, kau akan menyesal jika tak mau minum ini denganku..”

Teringat dikala malam seperti ini, Siwon akan selalu mengirimi pesan sekedar mengucap selamat malam atau mengabarkan bahwa dirinya telah pulang dari rumah sakit, Yoona merasakan dililit oleh kerinduan terhadap lelaki itu. Terhadap pesan-pesan manis yang dikirimkannya.
Bagaimana mungkin ia merindukannya?
Padahal biasanya..
Ia selalu menganggap pesan yang dikirim lelaki itu tak lebih dari pesan yang mengganggu tidurnya.
Tapi kini, betapa menyedihkan dirinya. Ia merindukan lelaki itu hingga rasanya sakit luar biasa..

Yoona mulai menenggak vodka-nya..

Kemudian terpikir untuk mengirim pesan pada Siwon, Yoona lantas memainkan jemarinya diatas layar ponselnya..

“Oppa..”

ketiknya singkat kemudian mengirim ke kontak atas nama Siwon.

“Apa kau sedang sendirian? Aku juga.. Aku sedang sendirian..”

“Oppa.. Sampai kapan kau akan marah padaku.. Mianhae..”

“Siwon oppa.. Maukah kau datang kemari? Maukah kau minum denganku..?”

Pesan terakhir yang dikirimnya, akhirnya berhasil membuat ponselnya bersuara. Lelaki itu menghubunginya..

Yoona langsung tersenyum begitu melihat nama Siwon berkedip dilayar ponselnya..

“Op-pa..”

“dimana kau?!”

“Kau akan datang?”

“katakan dimana kau..? Apa yang kau lakukan?!”

“Aku.. Aku sedang memikirkanmu.. Aku terus memikirkanmu dan menangis. Aku terus menangis.. Op-pa.. ”

Ada tawa aneh dalam suaranya, namun Yoona tak peduli. Ia menuang lagi vodka-nya, meminumnya dengan sekali teguk, tapi kali ini cairan itu membuatnya tersedak hingga terbatuk-batuk. Dan ia menertawai apa yang dilakukannya..

“Kau mabuk, Yoona?!”

“kenapa kau berteriak padaku, Oppa..”

“Demi Tuhan.. Katakan dimana kau sekarang?!”

“Op-pa.. A-ku..”

Yoona merasakan denyutan nyeri dikepalanya yang lantas membuat ponsel ditangannya terjatuh bersamaan juga dengan tubuhnya yang ambruk. Ia kehilangan kesadarannya dan tak mendengar lagi suara dari sambungan ponselnya..

###

Yoochun langsung terkejut dengan telpon yang diterimanya dari Siwon yang menanyakan keberadaan Yoona, serta mengatakan adiknya yang sedang mabuk. Pembicaraan yang dilakukannya juga membuat Jessica terbangun dan menanyakan siapa yang menelpon malam-malam seperti ini.

Yoochun tak cukup menjelaskan, ia hanya meminta Jessica untuk memeriksa Yoona dikamarnya.

“Astaga.. Yoona ya!”

Jessica kontan memekik melihat Yoona yang tergeletak dilantai, dengan ditemani botol vodka yang telah kosong dan sebuah gelas yang juga tergeletak didekatnya.

Mendengarnya, Yoochun pun lantas menyusulnya masuk kedalam kamar Yoona.

“Dia minum didalam kamarnya, Siwon ssi.. Aku akan mengurusnya terlebih dulu. Aku akan menghubungimu nanti”

Menutup ponselnya, Yoochun lantas meletakkannya asal dan selanjutnya mendekat pada Jessica yang sedang berusaha menyadarkan Yoona.

“Yeobo, apa yang membuat Yoona sampai se-mabuk ini?”

“entahlah, sepertinya masih persoalan yang sama tentang Siwon.. Aku akan memindahkannya keatas”

Sementara Yoochun mengangkat tubuh Yoona, memindahkannya keatas tempat tidur, Jessica yang kemudian membenahi botol vodka, gelas dan juga ponsel Yoona keatas meja.

“Ada ribut-ribut apa ini?”

Yoochun menoleh dan mendapati ayah dan ibunya telah berada diambang pintu. Sang ayah tetap berdiri disana, sementara ibunya kemudian masuk untuk memastikan apa yang terjadi.

“Ada apa dengan Yoona?”

“Dia mabuk, omonim..”

“Astaga, apalagi yang dilakukannya..”

“Appa, oemma.. Kurasa kalian sudah terlalu keras pada Yoona. Dia pasti tertekan karna kalian terus bersikap mendiamkannya. Cobalah kalian bicara dan tanyakan apa yang diinginkannya..”

Yoochun berpendapat, namun langsung mendapat sanggahan dari ayahnya.

“Keinginannya sudah jelas, dia memang ingin pertunangannya dan Siwon batal. Itu sudah terjadi, lalu apalagi yang diinginkannya?”

“Tapi lihatlah keadaannya setelah itu.. Yoona menyesal, appa. Dia bahkan sedang berusaha meminta maaf pada Siwon”

“Kalau seperti itu, biarkan saja ini menjadi pembelajaran untuknya..”

###

Sejak pagi ia terbangun dan mengalami hangover, mengingat Siwon yang tak mengkhawatirkannya, apalagi datang mencarinya. Yoona masih sempat menangis sesenggukan didalam kamar mandi. Butuh beberapa lama barulah ia sedikit bisa mengendalikan perasaannya sendiri. Dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari bawah shower, melupakan hari itu dan berusaha menjalani hari-hari kedepan yang masih harus dilaluinya dengan menyibukkan diri berada dibutik dan membantu apa yang dikerjakan Jessica disana.

Namun nyatanya..
Usaha hanya tinggal usaha..
Hasil akhir yang didapatkannya seringkali malah tak sesuai dengan niat dan tekad dalam dirinya.
Melupakan lelaki itu nyatanya tak semudah saat ia melakukan pengkhianatannya.  Memikirkan Siwon yang benar-benar tak memperdulikannya, dan mungkin telah menjadi sangat dekat dengan dokter wanita itu, atau malah para perawat dirumah sakit telah berhasil merayunya. Sumpah mati membuatnya benar-benar tak bisa merasakan ketenangan dalam hari-harinya. Yoona justru bertambah resah. Kecemburuan perlahan namun pasti menggerogoti hatinya yang merana. Tak mendengar suaranya, apalagi melihat wajahnya, memunculkan kerinduan yang membuat Yoona beberapa kali mendatangi apartemen Siwon dipagi hari. Diam-diam mengikuti lelaki itu saat melakukan olah raga pagi, atau mendatangi rumah sakit, meski hanya berada didepan gedung sekedar menguji keberuntungannya untuk dapat melihat lelaki itu yang terkadang keluar untuk beristirahat dan melakukan makan siang diluar.

Ia benar-benar tengah menjadi sicret admirer lelaki itu..

Meski beberapa kali, ia harus menelan pahit kekesalan lantaran Siwon terlihat bersama dokter wanita itu. Kwon Yuri nama yang diketahuinya dari Yoochun oppa nya. Wanita dewasa yang cantik dan ingat, meski sudah berstatus menikah dia sedang dikabarkan akan melakukan perceraian.

“Aishh, jinja..”

Yoona memukul-mukulkan ponselnya pada bantal tidur. Mengingat kebersamaan Siwon dengan dokter wanita itu sudah seperti petaka untuknya.

“Yoona ya, kau sudah menghubungi dokter Choi? Mungkin dia sudah mendengar dari suamiku, tapi tak ada salahnya kau coba memberitahu dia..”

Jessica tersenyum dari ambang pintu. Sesaat Yoona menghela napas berat mendengar apa yang dikatakannya. Namun kemudian ia mengangguk pada Jessica yang kemudian kembali menutup pintu kamarnya dan meninggalkannya.

Malam itu menjadi malam dimana esok hari ia akan menjalani wisuda-nya. Ia sudah berniat menelpon Siwon sejak tadi, untuk memberitahukan mengenai hal itu padanya. Namun urung dilakukannya, lantaran keberaniannya mengempis pada detik-detik terakhir.

Namun dengan mengatakan dalam hatinya, sekarang atau tidak sama sekali, Yoona menekan kontak atas nama lelaki itu dan entah kemujuran macam apa yang sedang menanguinya, karena Siwon tiba-tiba menjawab panggilannya..

“Op-pa..”

Yoona masih tak yakin lelaki itu menjawab ponselnya..

“Siwon oppa..”

“hm..”

Ya Tuhan..
Jantungnya nyaris melompat kegirangan. Hanya dengan mendengar respon seperti itu, mendadak ia merasakan grogi melebihi ke-grogi-an apapun yang pernah dirasakannya.

“em.. Oppa, apakah kau ada waktu? Ada yang ingin kukatakan padamu..”

“Hanya dua menit sebelum aku bersiap melakukan operasi”

Yoona sempat mendengus mendengarnya, ia kemudian memperhatikan pada penunjuk waktu, pukul sepuluh lebih dua puluh menit saat itu, dan lelaki itu masih harus melakukan operasi?
Itulah mengapa dirinya dan Yoojung tak pernah bercita-cita menjadi dokter. Cukup sang ayah dan Yoochun dalam keluarganya yang berprofesi itu. Karna sejak dulu ia telah mengalami ketika sang ayah kerap kali mendadak absen dalam acara keluarga karna  harus mengutamakan tanggung jawab menangani para pasiennya.

“Tidakkah ini sudah terlalu malam untuk melakukan operasi? Oppa kau pasti lelah. Sudah sejak pagi hari kau berada dirumah sakit. Pulang dan beristirahatlah..”

Tak ada tanggapan atas kalimatnya. Yoona mungkin terlalu menghayal bila lelaki itu akan luluh dengan perhatian yang coba ia tunjukkan.
Tapi sungguh, ia memang sedang menghawatirkannya.

“Oppa, mianhae aku..”

“satu menit lagi.. Katakan apa yang benar-benar ingin kau katakan sebelum aku mematikan ponselku..”

“Ahh, tunggu.. Tunggu sebentar oppa..”

Yoona menarik napas dalam sebelum kembali meneruskan..

“Aku.. Besok aku akan menjalani wisuda. Bisakah kau datang? Aku ingin kau melihatku..”

“Aku memiliki jadwal besok..”

“Jebal oppa.. Sekali ini saja, aku menginginkanmu. Aku ingin kau datang dan melihatku. Aku janji, jika kau datang, aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku benar-benar ingin kau datang, oppa. Aku akan menunggumu..”

“Tidak usah menungguku.. Aku tidak bisa..”

tut tut tut..

Sambungan terputus, Siwon lah yang pertama kali memutus sambungan itu. Membuat Yoona hanya bisa memandangi ponselnya dengan perasaan miris.
Oh..
Betapa kerasnya hati lelaki itu.
Dengan cara apa ia bisa melumerkannya..

“Kau jahat oppa.. Mengapa kau menjadi benar-benar jahat padaku..”

Dengan satu sentakan, Yoona melempar ponselnya, yang langsung menghilang dibawah meja rias yang berada didalam kamarnya. Selanjutnya ia membiarkan airmatanya berlinang kembali membasahi bantal tidurnya. Menangis memanglah sudah menjadi rutinitas malam nya dalam bebetapa minggu ini. Seolah ia takkan pernah bisa tidur sebelum menumpahkan airmatanya..

***

Dengan dihadiri kedua orangtua nya, Yoojung sang adik, kakak lelakinya Yoochun dan kakak iparnya, Jessica. Seharusnya Yoona sudah merasakan bahagia atas kehadiran lengkap keluarganya pada salah satu moment terpenting dalam hidupnya. Namun nyatanya kelengkapan itu masih belum dirasakannya. Bahagia itu masih jauh untuk dapat menyentuh lubuk hatinya. Lelaki yang diharap-harapkannya untuk datang dan melihat kelulusannya, bahkan ia telah sempat memohon, justru tak memperlihatkan dirinya. Siwon benar-benar tak datang, sekedar mengirim bunga, atau setidaknya mengirim pesan ucapan selamat padanya sama sekali tak dilakukannya.
Sebegitu tidak berarti lagikah ia dimata pria itu?

Entah apa yang kemudian dipikirkannya, namun Yoona tiba-tiba saja meninggalkan acara makan bersama yang diadakan untuk merayakan kelulusannya. Perayaan itu, Ibunya yang telah menyiapkannya. Sejak malam ia sampai tak sadarkan diri karena mabuk, ibunya memang menjadi bersikap lebih melunak, tapi tidak dengan sang ayah yang masih saja betah mendiamkannya. Jika bukan karna ibunya yang memaksa, mungkin ayahnya juga tidak akan mengahadiri acara wisudanya.
Ayahnya, benar-benar seorang lelaki yang keras.
Oh..
Mengapa ia harus dihadapkan pada dua orang lelaki yang keras didalam hidupnya?

Yoona kemudian justru mendatangi rumah sakit. Mencari keberadaan Siwon disana. Namun lelaki itu tak ada disana. Berdasar apa yang dikatakan seorang perawat padanya, Siwon ternyata melakukan kunjungan keluar rumah sakit bersama dengan dokter Kwon.

Wanita itu lagi..
Jadi Siwon lebih mementingkan pergi dengan wanita itu daripada mendengar permohonannya untuk datang pada acara wisudanya.

Yoona hanya bisa menggeram kesal ketika akhirnya ia meninggalkan rumah sakit. Bukan untuk pulang kerumahnya, melainkan mendatangi apartemen Siwon. Meski masih tak memiliki akses masuk, hal itu tak menghalanginya untuk menemui lelaki itu. Yoona menunggu Siwon pulang dengan berdiri didepan gedung apartemen itu. Lebih dari satu jam disana, ia bahkan mengabaikan hujan rintik-rintik saat itu yang telah membuat pakaiannya cukup basah. Meski petugas resepsionis dan juga security telah memintanya untuk menunggu di lobi, Yoona justru menghiraukannya.

Tubuhnya yang mulai menggigil oleh karna udara dingin yang terasa menusuk-nusuk permukaan kulit hingga sampai tulangnya, mendadak menjadi kaku manakala melihat lelaki itu. Siwon terlihat keluar dari dalam sebuah sedan berwarna putih yang dikemudikan oleh seorang wanita. Yoona tak perlu mendekat  atau memastikan siapa wanita itu untuk tahu dia adalah dokter wanita itu, Kwon Yuri.

Begitu mobil yang sempat berhenti untuk menurunkan Siwon kembali melaju, lelaki itu nampak terkejut mendapati Yoona berdiri disana. Sejenak ia bahkan menahan langkahnya..

“Apa yang kau lakukan?”

Siwon lantas mendekat, berdiri didepan Yoona dan menerima uluran payung dari seorang security yang menghampirinya.

“Saya telah meminta nona ini untuk menunggu didalam, tuan. Tapi dia tidak mau mendengar..”

Siwon mengangguk dan membiarkan security itu beranjak..

“Apa yang kau lakukan?”

Yoona tak menjawab ketika Siwon sekali lagi menanyakan..

“Akan kupanggilkan taksi, pulanglah..”

Yoona menepis tangan Siwon yang mencoba mengulurkan payung ketangannya. Membuat payung itu terjatuh, dan rintik-rintik hujan yang berjatuhan kembali mengenai keduanya..

“Apa yang kau inginkan?”

Gadis itu benar-benar membisu. Meski tatapannya terus berusaha mengunci mata Siwon..

“Baiklah jika kau tak mau pulang atau menjawab, aku tak bisa melakukan apa-apa. Aku akan masuk..”

Yoona bergeming, meski kemudian Siwon benar-benar masuk kedalam gedung itu.

Menunggu sekitar sepuluh menit didalam lobi dan melihat Yoona yang benar-benar tak bergerak sedikitpun darisana, membuat Siwon menggeram, dan akhirnya mengalah dengan kembali keluar.

Melepas jas putih yang masih dikenakannya, yang setidaknya tidak lebih basah dari pakaian Yoona, ia mencoba memakaikan itu meski Yoona kembali menepisnya. Namun dengan tangan Siwon yang mencengkram bahunya, Yoona tak bisa lagi melakukan apa-apa.

“Ikut denganku..”

Rangkulan lelaki itu yang akhirnya membawa Yoona masuk. Ia berada didalam kamar apartemen Siwon beberapa saat setelahnya, dan langsung menjatuhkan jas putih lelaki itu dari bahunya.

“Jadi kau lebih memilih pergi dengan wanita itu daripada menghiraukan permohonanku untuk datang diacara wisuda-ku?”

Siwon sedikit menegang ketika mendengar Yoona yang mendadak mau bersuara, hanya sesaat setelah ia menutup pintu apartemennya.

“Aku sudah katakan aku tidak bisa datang”

“Tapi aku menunggumu..”

“aku juga sudah katakan tidak perlu menungguku..”

“Tega sekali kau, oppa..”

“Kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa, Yoona. Aku tak memiliki alasan untuk pergi”

“Aku mengundangmu.. Aku bahkan memohon padamu. Tidakkah semua itu cukup untuk menjadi alasan untukmu pergi?”

“Tapi aku tak bisa. Aku memiliki pekerjaan.. kenapa tak meminta teman lelaki mu saja untuk menemani? bukankah akan jauh lebih menyenangkan..”

“Tapi aku memilihmu, oppa.. aku menginginkanmu yang datang..”

Lelaki itu kemudian justru menggeram, dan menunjukkan tatapan tajam kearahnya..

“Jangan pernah memilih.. aku bukan pilihan..”

“Kau masih marah padaku?”

“Aku akan mengambilkan handuk..”

Lelaki itu jelas mengabaikan pertanyaannya dengan bergerak kearah kamar mandi, masuk dan kembali keluar dengan sebuah handuk ditangannya.

“Keringkan rambutmu dengan ini, aku akan menelpon Yoochun. Mungkin dia bisa menjemputmu..”

Siwon memberikan handuk itu, meski menyadari Yoona menerima namun kemudian juga menjatuhkannya, ia mencoba untuk mengabaikannya dengan melakukan panggilan melalui ponselnya.

“Yoochun ssi.. Ohh, maaf jika aku mengganggumu, direktur.. Aku hanya ingin memberitahumu Yoona berada disini. Bisakah kau menjemputnya? Aku ingin beristirahat.. Aku tidak bisa melakukannya bila dia ada disini.. Baiklah, aku menunggumu..”

Siwon mengakhiri sambungan telponnya, dan kembali mengarahkan tatapannya pada Yoona.

“Yoochun akan datang dan menjemputmu..”

“Kau marah? Kenapa kau marah dan tak pernah mau mendengarku? Aku tentu memiliki alasan kenapa aku melakukannya saat itu, meski kejadian itu juga bukan sengaja kulakukan”

“Aku tidak ingin mendengarnya..”

“Tapi kau seharusnya mendengarnya. Kau harus tahu mengapa aku sampai menghianatimu itu karna kesalahanmu..! Salahmu yang tak pernah menunjukkan padaku bahwa kau menginginkan pertunangan ini denganku.”

“Jangan melempar kesalahan yang jelas-jelas kau lah pelakunya..”

Siwon mulai terpancing, rahangnya mengeras mendengar kalimat yang diucapkan Yoona.

“Kau tak pernah menunjukkan padaku seberapa besar kau menginginkanku. Kau bahkan hanya sekali menciumku. Saat malam pertunangan kita..”

“Kau lupa, terakhir kali.. Malam dimana aku berniat menciummu, kau justru menghindar”

“Itu.. Itu karna aku, aku merasa gugup..”

“Dan aku berusaha bersikap sopan dengan tidak melakukannya atau memaksa menciummu karna aku tahu kau tidak menginginkannya..”

“Tapi kau terlalu bersikap sopan santun padaku. Kau seharusnya tahu pada saat aku.. Aku…”

Yoona melihat kilatan dimata Siwon ketika lelaki itu kemudian bergerak mendekatinya. Kini berdiri tegap dihadapannya dengan seringai diwajahnya..

“Jadi kau lebih menyukai lelaki brengsek yang dengan semaunya menggerayangimu, daripada aku yang bersopan santun padamu..”

Yoona sedikit terkesiap ketika Siwon menarik pinggangnya, tangannya yang lain bergerak mengusap belakang punggungnya..

“Jadi kau menyukai pria brengsek yang seperti ini…”

Tangan itu bergerak makin turun, berhenti dipinggulnya dan lebih membuat Yoona terkesiap saat Siwon meremas pantatnya..

“rambut basah, pakaian basah dan begitu transparan memperlihatkan bra hitam berenda.. Kau tak tahu seberapa keras aku sedang menahan diri untuk tidak melakukan ini..”

“Ahh..”

Yoona benar-benar merasa ingin mengutuk dirinya sendiri. Ia seharusnya marah ataupun meronta atas perlakuan kurang ajar yang sebelumnya sama sekali tak pernah dilakukan lelaki itu padanya. Namun apa reaksinya?
Ia justru mendesah, manakala tangan bebas Siwon menelusup masuk kedalam pakaiannya yang basah, menemukan payudaranya dan lantas melakukan remasan pada salah satunya.

“Kau menyukai lelaki yang seperti ini, Yoona..?”

“Ahh, Op-pa..hh..”

Seluruh syaraf-syaraf dalam dirinya seketika menegang..

“Sayangnya aku tidak menyukai bekas jamahan lelaki lain.. Bibir ini juga telah dinikmati lelaki lain.. Sialan..!”

Siwon menarik diri dan sedikit mendorong tubuh Yoona kebelakang dan lantas membiarkan Yoona yang sempat menahan napas, kini justru terengah-engah mengatur pernapasannya. Setelah menyadari apa yang telah lelaki itu lakukan padanya, Yoona melepas tas selempang yang dikenakannya kemudian melemparnya kearah Siwon, dan tepat mengenai punggung lelaki itu. Umpatan keluar dari bibirnya,membuat Siwon kemudian menoleh kearahnya, namun Yoona mengabaikannya. Sama sekali tak berbicara, Ia kemudian justru bergerak mendekati tempat tidur, berdiri dihadapan lemari Siwon, membukanya dan memperhatikan isi didalamnya.

Detik berikutnya, ia mulai melepaskan satu persatu pakaiannya yang basah. Dan apa yang dilakukannya jelas tak luput dari perhatian Siwon, lelaki itu menggeram dan dengan segera mendekatinya..

“Apa-apaan kau ini? Apa kau selalu sembarangan membuka pakaianmu seperti ini didepan laki-laki..?”

Yoona menyentak tangan Siwon yang memegang kuat dibagian atas sikunya..

“Tidak.. Kau pikir aku gadis murahan? Sebelumnya aku belum pernah melakukannya. Ini pertama kalinya aku membuka pakaianku dihadapan laki-laki. Apa kau tak melihat aku gemetar? Aku bahkan tak bisa membedakan aku menggigil karna kedinginan atau aku sedang gemetaran karna harus membuka pakaianku dihadapanmu. Aku tidak mau sakit. Aku harus mengganti pakaianku..”

Yoona meneruskan membuka kancing-kancing pakaiannya hingga meyisakan pakaian dalamnya saja, kemudian menarik sebuah Tshirt dari tumpukan didalam lemari Siwon dan langsung memakainya..

“Aku tidak mau pulang.. Aku mau menginap..”

Ucapnya kemudian yang membuat Siwon memutar mata kearahnya. Namun Yoona mengabaikannya, ia justru naik keatas tempat tidur dan segera meringkuk dibawah selimut yang menghangatkannya..

“Kau tidak bisa melakukannya, Yoona. Bangunlah.. Yoochun akan menjemputmu”

“Aku tidak mau pulang.. Aku mau menginap..”

Ucapnya sekali lagi dan berhasil membuat Siwon mengerang. Ia kemudian meninggalkan gadis itu disana, dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri serta mengganti pakaiannya.

Sekitar dua puluh menit setelahnya ia keluar, mendekati tempat tidurnya  dan melihat Yoona yang sudah tertidur disana (setidaknya itu yang dipikirkannya bila melihat kedua matanya yang terpejam dan napasnya yang berhembus secara teratur). Ia lantas mengambil duduk dipinggiran tempat tidur dan menatapnya lekat dengan kedua matanya..

“Kau akan membuatku mengubah prinsip, Yoona..”

“Tapi kau telah membuatku menjadi gadis tak tahu malu dengan terus mengiba maaf dan sekaligus mengemis cintamu, Oppa. Laki-laki brengsek..”

Nyatanya Yoona masihlah belum tertidur seperti yang diperkirakan Siwon. Ia membuka kedua matanya, dan lantas mengunci tatapannya dengan Siwon hingga beberapa lama.
Sampai kemudian Yoona bergerak merangkul leher lelaki itu dan dengan tanpa keraguan mendaratkan ciuman dibibirnya.

Persetan dengan apa yang sebelumnya dikatakan Siwon bahwa ia tak menyukai bibirnya yang telah dinikmati lelaki lain, karna nyatanya ia berhasil membuat Siwon mengerang didalam mulutnya dan memberinya celah untuk melesakkan lidahnya yang langsung disambut dengan belitan lidah didalamnya..

“Jangan salahkan aku dan menyebutku laki-laki brengsek karna aku tak mengijinkanmu memakai pakaianku..”

“Lepaskan saja jika itu yang kau mau, Oppa..”

Dalam sekali sentakan Tshirt longgar yang dikenakannya telah terlepas dari tubuhnya. Namun bukan dingin yang kemudian dirasakannya, melainkan gelenyar panas yang menjalari tubuhnya kala lelaki itu menatapnya dengan nyala gairah dikedua matanya dan dengan cepat bergerak menindihnya…

#

#

#

#

#

To Be Continued~

HAHAHAHAAAA.. #ketawasetan
Sorry di cut dulu yaa..😉😀

Setelah sepanjang ini dan ternyata hasilnya creepy creepy seperti ini.. Hayoo ngaku siapa yang nyesel baca ini.. u,u

Part ini memang miskin YoonWon moment banget kan yaa..
Karna part YW nya akan keluar dibagian keduanya (mungkin) #ehh..
So, siapkan diri buat part semanis kembang gula dan bersiaplah diabetes melanda..😀
gak perlu pake ancaman buat meninggalkan komentar dengan benar kan yaa..?? saia garis bawahi tinggalkan komentar dengan benar yaa.. ga asal satu dua patah kata.. minimal harus 50 kata..(ini aja udah puluhan ribu kata, masa komen minimal segitu ga bisa) + ga menerima kalimat duhh bingung mau komen apa’ #jiahhh udah basi kali yang kayak gitu.. Hohohooo

Jadi ya silahkan berkomentar dengan benar (kalau gak mau masuk dalam Black List saia), bila suatu saat nanti lanjutannya rilis dan terpaksa harus diproteksi, ga akan kelimpungan kalau ditanyain ID komentar..😉

Thanks for reading..

Eh yaa.. Happy New Year, semoga kebaikan, rahmat & keberkahan dari Allah sllu menyertai kita semua.. #Aamiin

Dan selamat memperingati tragedi 1 Januari..!!! #LOL

@joongly

682 thoughts on “3S | Sorry | 1

  1. hm seruh banget crtanya adu baru prtma kali aku baca ff yg panjang banget, panjang tapi bikin orng sedih hikshiks,,,kenapa siwon oppa egk mau maafin yoona eonnie, tapi kalu dipikir2 sih emng salah yoona eonnie kenapa bawa temen laki2nya, dan pasti siwon oppa kecewa banget sama yoona eonnie karna uda kiss:* didepan matan siwon oppa😦

  2. Huft siwon salah paham tuh .
    Ah yoona kasian tau masa di cuekin trs.siwon please deh ngga usah dingin gtu ke yoona.
    Hahha ngakak ah pas bagian yoojung mau ngebantu masalah yoona eh malah nyakitin kaki yoona .

  3. Miris bgt jd Y00na ,, udah brkali-kali minta maaf & menunjukkan penyesalan.a , tp Siw0n belum luluh jg . . . + 0rang tua.a yg jg brsikap dingin ke dia ,,
    Plg parah waktu d celakai sama Y00jung yg buat kaki.a trkilir & acara wisuda yg gk d hadiri sama Siw0n

    Tp prtengkaran mereka d apartemen Siw0n setelah Y00na menggigil kedinginan mlh berakhir d ranjang (secara gk langsung ngikuti trik dlm drama yg d t0nt0n Y00jung) ^^

  4. Seru banget,,, makax jd cwok perhatian jg dong am cwekx biar cwekx G selingkuh. Trus yg bwt cwek klo udh punya tunangan yg tmpan kya siwon jangan lirik cwok lain dong..

  5. Yoona kasian banget berkali-kali minta maaf tapi masih dicuekin ama siwon,, msa sih siwon setegah itu am yoona???? G kasian ap liat yoona udh kakix terkilir truz hujan-hujunan lagi sampai menggigil…bahkan u/ mendapatkan maaf dari siwon, yoona rela korbanin kehormatanx sbg wanita.
    Aduh gmn nih apakah siwon bkal tanggung jawab am yoona??? Yoona semangat yh.

  6. Wuaah daeebak..
    Pantes aja komennya ampe 500+ gitu, soalnya cerita kereeen,
    Disini yoona bener-bener jadi pejuang cinta yang sungguh malang, tapi pantang menyerah,,
    Walau dia udah dicuekkin siwon ditambah lagi udah jadi buah bibir di rumah sakit itu pasti malu banget, gk kebayang deh kalo itu nyata,,
    Yoona bukan hanya dicuekkin siwon tapi juga oleh ayah dan ibunya, tertekan bnget pasti itu,,
    Tapi dia masih beruntung punya kakak, adik, dan kakak ipar yang mau bantu dia, ya walaupun agak sedikit menjengkelkan karena sering menggoda dan membullinya.. hehehe

  7. kasian yoong udah minta maaf dan nunjukkin penyesalannya tp wonppa tetep nyuekin yoong. padahal yoong nyesel bgt, dia pengen bgt balikan lagi sama wonppa.. apalagi waktu yoong jatuh terus kakinya terkilir wonppa malah cuekkin dia, kasian bgt yoong jg sampe nyerahin kehormatannya ke wonppa..

  8. Gak ad bosen nya baca nih ff keren abis yoona ampe kehilnan urat malunya buat mint maaf tapi dasar siwon keras kepaa dan sakit hti diselingkuhin yoona tiada maaf bagi mu poor yoona

  9. penyesalan emang selalu datang terakhir yoong^^
    senyum2 sendiri liat kekompakan kakak ipar dan juga sang adik. untuk ngebully yoona :v walaupun begitu mereka tetep perhatian dan sayang sama yoona…
    siwon jangan keras2(?) sama yoona ntar ujung2nya nyesel lho kya yoona :p
    btw ide yoojung bener2 gila wkwkwk
    kira2 apa yg bakal terjadi selanjutnya? kayanya bakal wow banget, dan apakah kejadian yoona buka baju(?) di apartement siwon bisa meluluhkan kekerasan hati dari seorang Choi Siwon?
    thanks thor buat cerita yg keren banget (y) Good Job

  10. kasian Yoona dikucilkan keluargany sndiri -_-
    sdikit ga rela jg sih nasib Yoona kayak gini di ff ini, tp mau gimana lg yg buat ff kan bukan aku -_-
    Siwon jg ga usah gengsi si, kalo masih cinta tinggal terima maaf dan jalani lg kan beres -_-
    wkwkwk… Ijin baca next chapter ya🙂

  11. Eummm.. sempet kasian juga sihh liat yoona di cuekin sma siwon belum lagi sma orang tuanya.. Lagi pula tuhh kwjadian kn bukan yoona juga yg mau.. Plisss jngan ada orang ketiga donggg.. Sudah cukup yoona di cuekin sma siwonn… Ceritanya asikk eonni,beda dari cerita yg lain,baru liat ada ff yg yoonanya yg ngejar” siwonn… Keren dehhh..
    Ok thorr,lanjutt baca chap 2 yahhh…

  12. Ya ampuuun yoona kenapa tega banget sih sama siwonppa,, tapi kaihan juga sih lihat yoona yang kaya gitu,,siwon oppa keterlaluan! Dingin bangett sma yoona, aaaaaahhhh author. Bikin anne bapeeer bacanyaa…….

  13. Kasian jugaa yoona
    Dia sampai ngemi2 cinta gitu
    Segala usaha dilakukan demi dpt maaf dari siwon
    Tp siwon sungguh keras,tdk bisa ditaklukkan begitu saja
    Yoona jugaa siih dia selingkuh
    Karma kan
    Dl wkt msh tunangan dia biasa aja
    Mlh g anggep siwon
    Skg ngejar2

  14. Kasian jugaa yoona
    Dia sampai ngemi2 cinta gitu
    Segala usaha dilakukan demi dpt maaf dari siwon
    Tp siwon sungguh keras,tdk bisa ditaklukkan begitu saja
    Yoona jugaa siih dia selingkuh
    Karma kan
    Dl wkt msh tunangan dia biasa aja
    Mlh g anggep siwon
    Skg ngejar2
    Sedihnyaa
    Dan apa yg akan mereka lakukan
    Sepertinya menarik
    Inikah awal penerimaan kembali hihi

  15. Sempet kasihan sama yoona sampai mengiba perhatian bahkan sampai mengemis cinta gitu
    Sungguh siwon kalau kecewa gak susah ditaklukin
    Dia dingin.. sangat dingin seperti bongkahan es
    Bahkan bongkahan es pun bisa cair kena panas
    Tp ini sungguh susah
    Tp mau gimana lg
    Salahnya yoona juga
    Dia selingkuh
    Oh tunangan mana yg g marah pasangannya ciuman di depannya apa lagi apartemennya
    Dan kejadian terakhir apa bisa buat siwon luluh??
    Semoga awal penerimaan

  16. Wuah thor disini aku bener” kasian sama Yoona, memang semuanya itu kesalahannya tapi didemin+didinginin gitu sama Siwon Yoona kasian banget..
    Lucu ya 3 bersaudara itu, selalu membully Yoona tapi mereka juga tetep ngasih kepedulian dan perhatiannya ke Yoona…

  17. Yoona kasihan banget padahalkan diakan ga salah coba aja siwon opa lebih perhatian sama yoona yoona pasti ga akan deket sama cowok lain giliran kayak gitu dia ga mau maafin yoona padahalkan itu karna dia kurang perhatian sama yoona lucu liat yoona di bully sama jessica yoojung dan yoochun kira kira wonpa mau maafin yoona ga ya semoga ja wonpa luluh hatinya

  18. entah kenapa malem ini aku pengen berkelana di FP mu thor hehe aku udah baca FF ini 2 kali dulu kayaknya dan sekarang setelah baca Ff princess td siang aku kepengin baca lagi bbrp FF lama mu. dan jatuh di story ini. (karna cuma 3 part jd aku bacanya ga akan semaleman ahahahaha) lagipula aku emang sebenernya suka sama alur disini. biasanya siwon ngejar yoona tp disini siwon jual mahal banget jd aku tertarik baca lagi.

    tp baru inget chat aku sama kamu di FB udah keapus yg dimana isinya banyak password.😦
    aku akan chat kamu lg kayaknya. semoga kamu masih inget sama aku reader lamamu hehe

  19. lucu banget nih ff. suka banget ngebacax. yoona eoni brani banget nantangin wonppa..
    sbnarx q pnasaran bgt ma cowo yg nyosor yoona eoni, fishy oppa bukan?. lanjut chingu,, bagus banget ffx, ;D

  20. Siwon salah paham tuhh sama yoona . Yoona melakukan itu karna yoona merasa siwonn tidak sungguh” mencintai yoona dan kurang memperhatikan yoona . Tapi sedih juga sih lihat yoona yang ngejar” siwon dan ngemis maaf sama siwom tapi lucu hahhah . Oppa siwon kalau udh kecewa susah untuk di taklukkan hhahahaha . Annyeong author akuu reader baru mu hheh

  21. Keren ceritanya, kasihan yoongie udah minta maaf tapi siwonnya dingin banget, baper bacanya😂 tapi kayanya di next part bakal seru nih😂

  22. Tiba tiba kangen sama ffmu eonni gkgkgk kangen sama dokter ganteng ahh di baca lagi dan lagi ttep suka bgd sm cerita ini kerreen bgd…
    Siwon siwon awalnya gk mau tapi ujung ujungnya ga bisa nolak juga ada bidadari masuk ke dlam kamarnya kekeke..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s