Fanfiction

FF | At First Sight | 23

Happy Reading~

*

*

*

Siwon bisa jadi lupa, atau ingatan mengenai bocah kecil bernama Yoojin itu tak sekuat ingatan milik ibunya.
Ya..
Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya, Ia seperti baru diingatkan lagi bila dirinya pernah memiliki seorang adik perempuan. Bocah kecil bernama Yoojin itu dibawa pulang oleh sang ibu, dan dijadikan sebagai adiknya melalui proses pengadopsian dari sebuah panti asuhan. Namun malangnya, berselang lima bulan Yoojin menjadi anggota keluarganya, bocah kecil itu hilang ketika bersama sang ibu terlibat dalam sebuah kecelakaan mobil yang terjadi pada sekitar lima belas tahun yang lalu. Dan tak pernah diketahui, bila bocah kecil itu meninggal, jasadnya tak diketemukan. Kalaupun Yoojin selamat? keberadaannya pun tak diketahui sampai sekarang.

Jadi bagaimana bisa ibunya tiba-tiba mengatakan bila Yoona adalah Yoojin?
Adiknya yang hilang?

Meski Yoojin bukanlah adik kandungnya.
Bukanlah putri kandung ibunya, Siwon tahu pasti betapa sang ibu teramat mencintainya. Ibunya adalah orang yang paling bersedih ketika Yoojin tak ditemukan. Ibunya terguncang dan bahkan menjadi terpuruk setelah kecelakaan itu dan terus saja menyalahkan dirinya.

Siwon dapat sedikit mengingat kembali saat dirinya remaja, pada sekitar lima belas tahun yang lalu, ibunya memang secara mengejutkan membawa seorang bocah kecil pulang kerumahnya. Dan langsung memperkenalkan bocah itu sebagai Yoojin adiknya. Siwon tak tahu pasti seperti apa kronologinya, hingga ibunya begitu terlihat bahagia menggendong bocah kecil itu dan terus menyebutnya sebagai putrinya. Namun saat ia melihat ayahnya yang tersenyum dan mengangguk kearahnya, ia pun mengangguk pada sang ibu dan menerima Yoojin sebagai adiknya, bagian dari keluarganya. Yang kemudian di syukurinya, kehadiran Yoojin membuat ibunya seperti memiliki mainan baru, dan tak lagi merecoki apa yang dilakukannya.

Bila Siwon tak memiliki ingatan kuat mengenai Yoojin. Mungkin Tn.Choi juga tak berbeda sepertinya, tapi lain hal nya dengan Ny.Choi.

Sedikitpun wanita itu tak pernah bisa melupakan Yoojin. Putrinya yang hilang akibat kecelakaan yang turut pula dialami olehnya, dan kemudian membuatnya tak bisa berhenti menyalahkan dirinya atas ketidak mampuannya untuk menjaga Yoojin. Harusnya ia bisa mendekap Yoojin dengan erat ketika mobil yang ditumpainya terguling dijalanan.

Bagaimana ia bisa lupa..
Yoojin putrinya, adalah bocah paling manis yang pernah dilihatnya. Dan yang pernah memberinya kebahagian luar biasa dalam hari-harinya, karena akhirnya dapat merasakan senangnya memiliki seorang putri..

Ny.Choi masih dapat mengingat dengan jelas, di sebuah panti asuhan didaerah Gangwon kala itu, Ketika dirinya bersama beberapa teman mengadakan acara amal dan memberikan sumbangan dana, disanalah untuk pertama kalinya ia melihat Yoojin dalam keadaan menangis. Penjaga panti mengatakan bila bocah kecil itu baru saja mereka temukan berada didepan pintu panti asuhan, kedinginan dan terus saja menangis dengan kencang.

Ny.Choi yang begitu terenyuh mendengar suara tangisannya, kemudian merasakan sesuatu yang seakan menggerakkan tangannya untuk meraih bocah kecil itu kedalam gendongannya. Dengan lembut ia menyentuh wajahnya yang basah, menggoyang-goyangkan tubuhnya yang berada dalam gendongannya, hingga tak lama bocah kecil itu diam dan justru tertidur dengan sangat tenang dalam gendongannya..

“Kenapa dia bisa menangis dengan begitu kencang seperti tadi?”

Tanya Ny.Choi masih dengan me-nina-bobo kan nya..

“Kami juga tidak tahu Nyonya.. Dia tidak mau meminum susu ataupun makan. Dia terus saja menangis sejak semalam.. Kami pun bingung bagaimana harus mengatasinya..”

Penjaga panti asuhan itu sedikit bisa bernapas lega, ketika melihat bocah kecil itu akhirnya diam dan bahkan dapat tertidur dengan tenang..

“Siapa namanya?”

Penjaga panti itu menggeleng..

“Kami belum sempat memberinya nama, Nyonya. Dan saat kami menemukannya juga tak ada keterangan apapun mengenai bocah ini. Dia sepertinya benar-benar dibuang..”

Ny.Choi yang sangat mengharapkan seorang putri lahir dari rahimnya, namun Tuhan masih belum memberikannya, nyaris menjatuhkan airmata mendengarnya.
Siapa yang tega melakukannya?
Siapa yang tega membuang bocah semanis ini?
Tak tahukah mereka bagaimana rasanya mengharapkan seorang putri, namun Tuhan tidak mengabulkannya. Mengapa mereka justru menyia-nyiakan kasih sayang Tuhan yang dititipkan melalui kehadiran bocah kecil itu.

Sungguh, siapapun yang tega melakukannya, dia benar-benar tak berprikemanusiaan..

“Kalau begitu, bolehkah aku yang memberinya nama?”

“tentu saja Nyonya.. Anda bisa melakukannya..”

Ny.Choi sesaat terdiam, kemudian tersenyum mengusap pipi bocah kecil itu dengan menggumamkan nama dibibirnya..

“Yoojin.. Namamu adalah Yoojin sayang? Kau suka..”

Ny.Choi kembali mengusap wajahnya kemudian menciumnya. Dan sepertinya pada saat itu, ia bisa melihat bocah kecil itu, Yoojin tersenyum dalam tidurnya..

“Kau pasti akan sangat cantik saat tersenyum sayang..”

Hampir selama dua jam Ny.Choi berada disana, bocah itu tetap tertidur dengan tenang. Meski tak lagi berada dalam gendongannya, namun Ny.Choi selalu memastikan berada didekatnya.

Sampai tiba waktunya ia dan beberapa temannya pulang, baru saja hendak memasuki mobil, Ny.Choi mendengar suara tangisan bocah kecil itu lagi. Namun dikesempatan itu, Ia tak bisa kembali masuk dan mendiamkan tangis bocah kecil itu. Karena dirumah, ia memiliki sang suami yang sudah menunggu dan juga sudah terlalu lama ia meninggalkan Siwon sendirian.

Namun, ketika Ny.Choi berada dirumah, pikirannya tak pernah lepas dari memikirkan Yoojin. Wajahnya terus membayang. Juga suara tangisnya seakan terus ia dengar. Bahkan sampai kedalam mimpi ditidurnya. Ny.Choi seakan-akan melihat Yoojin mencari-carinya dengan derai airmata diwajahnya. Betapa mimpi yang kemudian menyentak kesadarannya itu terus membuatnya gelisah dalam beberapa hari. Hingga timbul pertanyaan dari sang suami ada apa gerangan dengannya.

Ny.Choi kemudian bercerita mengenai Yoojin, dan sang suami menyarankan untuk menghubungi pihak panti asuhan dan menanyakan keadaan Yoojin disana. Mungkin dengan mengetahui keadaan bocah itu yang baik-baik saja disana, akan bisa menenangkan kecemasannya.

Tapi apa yang kemudian didengarnya. Yoojin tidak baik-baik saja. Penjaga panti mengatakan Yoojin sangat sulit ditenangkan. Bocah itu terus saja menangis, dan bahkan terserang demam hingga harus menjalani perawatan dirumah sakit..

“Syukurlah anda menelpon kami, Nyonya.. Kami benar-benar merasa tak enak hati ingin menghubungi anda dan meminta bantuan. Pada saat anda kemari, saya melihat sendiri bagaimana anda dapat dengan mudah menenangkan Yoojin bahkan dia bisa tertidur dengan pulas. Tapi setelah anda pergi, Yoojin benar-benar terus menangis. Dia mengalami demam sekarang. Kami telah membawanya kerumah sakit, namun dalam dua hari ini, demamnya sama sekali tidak turun. Keadaannya benar-benar memprihatinkan, Nyonya..”

Ny.Choi seketika merasakan limbung mendengarnya, kedua kakinya lemas, matanya memanas oleh airmata membayangkan Yoojin yang terus menangis, sungguh menyesakkan dadanya. Dan tak ada hal lain dipikirannya selain pergi ke Gangwon dan melihat keadaan Yoojin disana.

Tn.Choi yang tak bisa melihat istrinya menangis dengan sorot kecemasan dikedua matanya yang memerah, lantas memutuskan untuk menemaninya. Mereka pergi ke panti asuhan itu dan salah satu petugas panti langsung mengantarkan mereka kerumah sakit dimana Yoojin dirawat.

Disalah satu ruang perawatan disana, Ny.Choi melihat Yoojin tengah berada dalam gendongan seorang perawat. Pergelangan tangan kecilnya dipasang infus. Sungguh pemandangan yang membuatnya miris. Airmatanya langsung menetes melihatnya..

“Yoojin ah.. Yoojin ah, gwechana?”

Ny.Choi langsung mendekatinya, dan seperti mengenali suaranya, Yoojin pun langsung menggeliat dari gendongan sang perawat. Masih dengan isak tangisnya, bocah yang berumur sekitar dua setengah tahun itu langsung mengulurkan tangannya kearah Ny.Choi, bibir kecilnya menggumam. Menggumamkan kata yang membuat Ny.Choi langsung meraih dan mendekapnya kedalam pelukan..

“um-ma.. um-ma..”

“Yoojin ah.. gwechana, gwechana sayang.. Kau akan baik-baik saja. Tenanglah sayang..”

“um-ma.. umma..”

“umma disini.. umma akan menjaga Yoojin. Umma akan membawa Yoojin pulang.. Gwechana Yoojin ah.. Kau akan baik-baik saja bersama umma..”

Ny.Choi terus mengusap-usap bagian punggungnya, menenangkan Yoojin dari tangisnya. Dan menasbihkan dirinya sebagai ibu dari bocah kecil itu yang juga terus memanggilnya dengan panggilan ibu, bahkan kedua tangan kecilnya merangkul leher Ny.Choi dengan begitu erat.

Tn.Choi cukup terkejut melihat apa yang terjadi didepan matanya. Ia juga tak bisa mengerti apa yang kemudian membuat istrinya seperti memiliki ikatan tak kasat mata dengan bocah kecil itu. Namun melihat bocah itu yang diam dalam gendongan istrinya, juga memunculkan perasaan tenang dalam dirinya. Hati nuraninya ikut tersentuh, mungkin naluri sang istri yang begitu mendamba seorang putri yang lahir dari rahimnya, tersalurkan dalam diri bocah kecil itu yang terlihat begitu membutuhkannya. Membutuhkan sentuhan tangan sang istri dan pelukan yang dengan cepat dapat menenangkannya.

Hal yang kemudian membuat Tn.Choi tak dapat menolak ketika sang istri mengutarakan niatannya untuk membawa Yoojin pulang dan mengadopsi bocah itu sebagai putri mereka. Bagaimanapun ia telah berjanji akan memberi apapun untuk membahagiakan sang istri, dan bila Yoojin dapat membuat sang istri lebih bahagia dari sebelumnya tanpa melupakan keberadaan Siwon sebagai putra mereka, tak ada yang kemudian memberatkannya untuk tidak mengabulkan permintaannya itu..

“… Tentu saja tidak, yeobo. Aku tidak mungkin mengabaikan Siwon. Dia putraku, aku mengandungnya dan melahirkannya dari rahimku. Siwon segalanya bagiku. Siwon adalah nyawaku.. Tapi Yoojin, lihat betapa dia begitu kasihan.. Aku ingin merawatnya. Aku ingin Yoojin menjadi putriku, yeobo.. Aku…”

Ny.Choi sudah menangis sesenggukan kala itu, dan genggaman erat dan anggukan persetujuan dari Tn.Choi langsung mengubah tangisnya menjadi tangis kebahagiaan serta rasa terimakasih lantaran sang suami yang begitu mengerti dengan apa yang dirasakannya. Perasaan tak tega untuk meninggalkan Yoojin sendirian disana..

Maka setelah mengurus beberapa persyaratan dan surat menyurat dipanti asuhan itu, Ny.Choi secara resmi mengadopsi Yoojin dan bocah kecil itu yang telah sembuh dari demam dapat ia bawa pulang kerumahnya dan memperkenalkannya pada Siwon sebagai anggota baru keluarganya dan menjadi adik perempuannya.

Ny.Choi benar-benar bahagia atas penerimaan Siwon dan sang suami terhadap Yoojin. Kehadiran Yoojin sebagai anggota baru keluarganya juga membawa keceriaan baru dan kehadirannya seakan memang Tuhan kirimkan untuk melengkapi kebahagiaan mereka. Bocah kecil itu perlahan-lahan juga mulai dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan disekitarnya. Tak nampak lagi sorot ketakutan dimatanya.

Meski tak sedekat bila bersama dengan Ny.Choi, yang selalu menjadi tempatnya berlari saat merasa ada sesuatu yang mengganggunya, Yoojin mulai mau berada dalam pangkuan Tn.Choi atau meski dengan malu-malu mencium pipinya. Membuat Ny.Choi selalu tertawa bila meminta dan kemudian melihat Yoojin melakukannya.

Siwon yang berada dalam masa-masa remajanya, juga tak ambil pusing mengenai keberadaan Yoojin yang dijadikan sebagai adiknya. Ia justru senang karna ibunya tak lagi memperlakukannya seperti bayi, ibunya memiliki Yoojin yang memang masih pantas untuk diperlakukan seperti bayi dan bukan dirinya. Tak masalah dengan sikap berlebihan ibunya yang nampaknya berlaku juga pada Yoojin.

Ny.Choi memang mulai memikirkan dan sekaligus merencanakan dimana nantinya Yoojin akan berada ditaman kanak-kanan, dimana dia akan bersekolah disekolah dasar, sekolah menengah bahkan sampai ke perguruan tinggi, Ny.Choi memikirkan semuanya. Ia juga mulai menyiapkan kamar pribadi untuk Yoojin, meski saat itu bocah kecil itu masih tidur dengannya. Tapi pastinya Yoojin akan terus bertumbuh dan membutuhkan kamarnya sendiri. Ny.Choi mulai mendekor kamar, mengisinya dengan berbagai barang-barang yang nantinya akan diperlukan Yoojin. Ia sepertinya sudah sangat tak sabar melihat Yoojin putrinya bertumbuh menjadi seorang gadis cantik.

Namun sayangnya impian untuk melihat Yoojin tumbuh dewasa, jauh dari nyata. Hari dimana Yoojin genap lima bulan bersama dengannya, Ny.Choi secara khusus mengajak Yoojin ke panti asuhan yang berada di Gangwon, dimana ia untuk pertama kalinya melihat Yoojin disana. Selain untuk berbagi kebahagian dengan anak-anak yang berada disana, serta memberikan dana bantuan untuk mereka, Ny.Choi juga ingin mengucap lagi rasa terimakasihnya pada para penjaga panti yang telah mempercayakan Yoojin dirawat olehnya.

Namun naas dihari itu, belum sempat ia melakukan kunjungannya ke panti asuhan itu, mobil yang dikemudikan oleh seorang supir nya, mengalami kecelakaan. Ny.Choi yang mengalami beberapa luka ditubuhnya, sempat tak sadarkan diri, kondisinya kritis selama hampir tiga hari, sementara Yoojin, bocah kecil itu justru hilang dan tak diketahui keberadaannya.

Begitu Ny.Choi akhirnya tersadar dan menanyakan Yoojin, ia langsung histeris saat mengetahuinya. Ia merasa mendekap Yoojin dengan erat ketika kecelakaan itu. Atau Yoojin terlepas dari pelukannya dan terlempar dari dalam mobil?
Pemikiran itu muncul ketika Ny.Choi sempat mendengar salah seorang petugas kepolisian memperkirakan Yoojin terlempar dari dalam mobil dan terhanyut ke sungai yang letaknya tak jauh dari lokasi kecelakaan.
Benarkah seperti itu?
Ya Tuhan..
Sungguh ia tak sanggup membayangkan bagaimana keadaan putri kecilnya itu..

Ny.Choi merasa menjadi orang yang paling bersalah dalam hal itu. Walau kemudian ia juga tak sedikitpun mempercayai bila Yoojin telah benar-benar pergi darinya. Sebelum ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri, Ny.Choi berusaha untuk lebih mempercayai bahwa Yoojin selamat. Pasti ada seseorang yang menyelamatkan putrinya dan kemudian merawatnya.

“… Ini pasti alasan kenapa Tuhan tak memberiku putri, yeobo.. Karna aku tak bisa menjaganya. Aku tak bisa menjaga putriku. Karna itu Tuhan tak pernah mau menghadirkan seorangpun putri dalam rahimku. Karna aku tak pantas mendapatkannya. Karna Tuhan tau aku takkan mampu menjaganya.. Yoojin ah.. Yoojin ah.. Mianhae, maafkan umma sayang..”

Ny.Choi yang terus menyalahkan dirinya sendiri dan menjadi terpuruk karna hal itu, membuat Tn.Choi menilai itu menjadi kondisi paling memprihatinkan yang pernah dilihatnya dari sang istri.

Tn.Choi kemudian melakukan segala upaya untuk mengembalikan kondisi sang istri seperti semula, dengan mengatakan mereka masih memiliki Siwon. Meski Siwon telah bertumbuh sebagai remaja, dia tetaplah masih membutuhkan perhatiannya. Akan menjadi tak adil bagi Siwon bila kemudian ibunya mengabaikannya karna Ny.Choi yang tak lagi bersemangat hidup..

“Kau boleh menangis.. Kau boleh menyesal.. Kau juga boleh menyalahkan dirimu sendiri. Tapi jangan berlarut-larut seperti ini, yeobo.. Aku tak akan memintamu melupakan Yoojin, tapi setidaknya perhatikanlah kami.. Aku dan Siwon juga masihlah membutuhkanmu..”

Tn.Choi meraih sang istri kedalam pelukannya dan membiarkan Ny.Choi menangis sesenggukan didalam pelukannya.

Sama seperti ayahnya, Siwon juga berupaya mengembalikan kondisi sang ibu. Ia mulai kembali menggantungkan dirinya pada sang ibu. Tak masalah bila ibunya merecoki aktifitasnya, tak masalah ibunya memperlakukannya sebagai seorang bayi, yang terpenting ia tak lagi melihat ibunya bersedih, menangis dan hanya mengurung diri didalam kamar.

Hingga perlahan-lahan, Ny.Choi dapat kembali melakukan aktifitasnya. Kembali mengawasi Siwon dan kembali berkegiatan bersama teman-temannya. Meski ia harus menahan dengan keras kerinduannya terhadap Yoojin. Ia merindukan hari-harinya bersama Yoojin. Ia merindukan Yoojin yang membangunkannya dipagi hari. Ia rindu bibir mungil gadis itu yang menciuminya ketika membangunkannya. Ia merindukan Yoojin yang memanggilnya ibu dengan begitu fasih. Ia merindukan bermain dengannya. Ia rindu, teramat merindukan putrinya..

Namun demikian ia tetaplah harus melanjutkan hidupnya demi Siwon dan sang suami. Walau harapan untuk mendekap Yoojin kembali kedalam pelukannya, juga masihlah begitu kuat ia rasakan. Bukan tanpa alasan harapan itu masihlah ada, Ny.Choi seringkali memimpikan Yoojin. Putrinya tidak menangis. Putrinya tertawa, berlarian dan melambai-lambaikan tangan seolah mengajaknya. Karna itu Ny.Choi tetaplah tak mempercayai Yoojin-nya benar-benar telah pergi. Ia masih memiliki harapan kuat suatu hari nanti Yoojin-nya akan ditemukan dan kembali tinggal bersama dengannya. Karenanya ia terus merombak interior kamar Yoojin, dan menyesuaikannya dengan umur Yoojin. Meski ia harus menahan tangis tiap kali melakukannya.

Apakah akhirnya harapannya akan terkabul..
Tuhan akhirnya mengasihaninya dan mengabulkan doa-doa nya selama ini..
Oh semoga..

“Oemma..”

Tersadar dari kejadian masa lalu yang begitu menyedihkan untuknya, Ny.Choi lantas menyusut airmata dari sudut matanya yang basah, kemudian menatap pada Siwon yang menyentuh bahunya.

“darimana oemma mendapatkan pemikiran seperti itu? Yoona tidak mungkin Yoojin, oemma. Yoojin sudah.. Dia sudah..”

Siwon tak meneruskan ucapannya begitu sang ibu menepiskan tangannya. Hal yang kemudian diartikan sebagai penolakan atas apa yang akan ia katakan padanya.

“Dimana Yoona? Siwon, kau tak pulang bersamanya?”

“Oemma..”

“Katakan, kau tak pulang bersama Yoona?”

Siwon menggeleng..

“Bukankah aku sudah memintamu untuk memastikan membawanya pulang? Dimana dia sekarang?”

“Dia ingin bersama Yuri..”

“Kalau begitu kenapa kau tidak membawa saja kakaknya itu pulang kerumah kita, agar Yoona tak perlu berada disana”

Siwon meraih tangan sang ibu, kemudian menatapnya..

“Oemma sudahlah.. Bukan itu masalahnya. Yang sekarang menjadi masalah adalah kenapa oemma bisa berpikiran bila Yoona adalah Yoojin? Kenapa oemma?”

“kenapa..? Apa oemma salah bila oemma memiliki pemikiran seperti itu?”

“Tapi Yoona bukan Yoojin, oemma..!”

“darimana kau tahu? Kakaknya bahkan mengatakan Yoona bukanlah adiknya. Dan ahjumma Lee juga mengatakan kalau mereka berasal dari Gangwon. Apa kau lupa, Gangwon adalah tempat dimana oemma mengalami kecelakaan dan kehilangan Yoojin.. Lalu kenapa oemma tak boleh berpikir jika Yoona mungkin saja adalah Yoojin..! Kau harusnya senang adikmu selamat dan masih hidup..”

“Aku tidak pernah berpikir Yoona adalah adikku. Dia adalah tunanganku. Aku akan menganggap tak pernah mendengar pemikiran oemma yang seperti itu..”

Tn.Choi mendekat, meremas bahu sang istri dan menenangkannya..

“Masuklah Siwon, ibumu sedang tidak stabil.. Kita bisa bicarakan ini nanti..”

“Apa maksudmu aku sedang tidak stabil, yeobo? Apa kau juga sedang menganggapku salah karna berpikir Yoona adalah Yoojin-ku?”

Tn.Choi menghela napasnya..

“Bukan begitu, Aku mengerti pemikiranmu, yeobo. Tapi pikirkanlah juga apa yang kemudian dipikirkan oleh Siwon ketika mendengarmu mengatakan bila Yoona adalah Yoojin. Kau tidak lupa bila Yoona sudah bertunangan dengan Siwon kan?”

Ny.Choi lantas mengarahkan tatapannya pada Siwon yang masih berada disana, belum menuruti apa yang dikatakan ayahnya yang memintanya untuk masuk dan meninggalkannya.

“Oh, Siwonie.. Maafkan oemma sayang. Oemma tak bermaksud mengacaukan pikiranmu. Tapi oemma.. Oemma sangat mengharapkan Yoojin..”

Siwon kemudian memeluk ibunya..

“Aku mengerti oemma masih tak bisa melupakan Yoojin dan terus merindukannya bahkan setelah sekian tahun lamanya.. Tapi berpikir bila Yoona adalah Yoojin, itu sangat menggangguku, oemma..”

“Baiklah, maafkan oemma.. Oemma tidak akan memikirkan hal seperti itu lagi. Meski sebenarnya tidak akan jadi masalah dengan pertunanganmu bila Yoona adalah Yoojin..”

“menurut oemma begitu?”

“Ya.. Karna Yoojin bukanlah adik kandungmu”

“Tapi oemma sudah mengadopsinya.. secara legal dia adalah adikku.  Aku takkan bisa menikahi Yoona jika benar seperti itu..”

Siwon menghembuskan napas, sedikit lebih santai daripada sebelumnya.

“Kalau begitu kau bisa mencari perempuan lain untuk kau nikahi..”

Ke-santai-an nya yang baru sesaat dengan sekejap menghilang ketika mendengar sang ibu mengatakannya.

“Tidak segampang itu, oemma. Aku sudah terlalu jauh dengannya. Bagaimana jika aku membenarkan apa yang selama ini oemma sangkakan padaku dan Yoona.. bahwa aku telah tidur dengannya. Oemma tidak akan memikirkan hal itu?”

“MWO..? Siwon..!”

Siwon mengangkat bahunya acuh, melangkah pergi sebelum menerima pukulan dari ibunya..

***

Yoona telah melihat Yuri tertidur tadi, sementara dirinya justru tak sedikitpun merasakan rasa kantuk yang memberatkan kedua matanya. Turun dari atas tempat tidur, ia meninggalkan Yuri dan memutuskan untuk mencari udara segar diluar. Namun bukan justru merasakan angin segar ketika ia berada diteras sisi kanan bangunan villa itu, yang ada dirinya justru disesaki perasaan kalut. Berbagai hal memenuhi pikirannya dari mulai oenni nya, orangtua nya yang ternyata bukanlah orangtua kandungnya, dan Siwon. Pria itu memang telah mengambil alih hampir separuh isi pikirannya setelah apa yang dikatakannya tadi, Yoona benar-benar merasa bersalah telah menjadi gadis yang begitu egois mementingkan dirinya sendiri. Memutuskan apapun yang diinginkannya tanpa peduli dengan keinginan Siwon, dengan apa yang dirasakannya. Dan ketika ia melihat lagi sisi lain dalam diri Siwon yang sanggup membentak, marah atas keinginannya, ia tak tahu lagi apakah keputusannya yang sekarang adalah tepat. Sementara menengok kebelakang apa yang pernah diputuskannya berakhir dengan mengecewakan..

“Kau disini?”

menoleh, Yoona mendapati Yoochun sedang berjalan kearahnya. Dua gelas anggur berada ditangannya, yang kemudian salah satunya diulurkan kepadanya.

“Minumlah..”

Melihat raut wajah Yoona yang ragu-ragu menerima ulurannya, Yoochun menambahkan..

“Hanya segelas tidak akan membuatmu mabuk..”

Yoona hendak meraih, namun Yoochun justru menariknya..

“eh, Kau sudah cukup umur kan?”

image

Yoona sedikit menarik sudut bibirnya, apa pria ini sedang mencoba bercanda dengannya?

Sementara Yoochun justru terlihat tersenyum lebar sekarang..

“Aku delapan belas tahun, mungkin lebih sekarang..”

Yoona kini memegang segelas anggur itu, kemudian meneguknya dengan perlahan.

“Kau terlihat lelah.. Kenapa kau tidak tidur?”

“Aku tidak merasa mengantuk.. Dimana Amber?”

“Ada yang kau butuhkan?”

Yoona menggeleng..

“Tidak.. Aku hanya tak melihatnya”

“Aku menyuruhnya untuk berbelanja pakaian. Yuri memerlukan pakaian ganti, kau juga kan..?”

Apa pria ini selalu perhatian seperti ini?

“Aku bisa mengambil pakaianku saja, tidak perlu membeli lagi”

“Jadi kau ingin kembali kerumah Siwon? Ku dengar kau sudah meminta memutuskan hubungan dengannya.. Aku mendengar kalian bertengkar tadi”

Yoona menghembuskan napas mendengarnya, dan kembali meneguk anggur dari gelasnya..

“dapatkah aku meminum segelas lagi?”

Yoochun menyeringai kearahnya..

“Tidak.. Aku memberi ini hanya untuk menghangatkan tubuhmu, bukan menjadikannya pelarian pikiranmu..”

Terdiam..
Yoona tak memberikan tanggapan, hingga beberapa menit berikutnya hanya keheningan yang terjadi diantara keduanya.

“Apa kau mencintai oenni ku?”

“Kau sudah tahu?”

Yoona mengangguk..

“Sajangnim yang menceritakannya padaku.. Jadi kau sudah mengenal Yuri oenni sejak lama?”

“Kau memanggil Siwon ssi seformal itu? Tidak bisa dipercaya”

Yoona tidak menanggapi sampai kemudian Yoochun melanjutkan..

“hm, kami satu sekolah.. Aku sudah jatuh cinta padanya sejak saat itu. Tapi Yuri menolakku.. Mungkin dulu aku tak terlalu tampan..”

“Jadi sekarang kau menganggap dirimu tampan?”

“Jadi aku masih tidak tampan? Oh, bagaimana ini..”

Yoona merasakan geli mendengarnya..
Sejak kapan ia mengenal pria ini?
Rasanya hanya saat Siwon memperkenalkannya saja. Setelahnya, ia tak pernah berbicara apapun dengannya.
Tapi mengapa obrolan mereka yang sekarang mengalir tanpa ia merasakan segan padanya, seolah-olah ia telah akrab dan mengenalnya sejak lama. Ia juga merasakan nyaman dan menjadi santai sekarang.

“Jadi bagaimana menurutmu.. Aku mencintai kakakmu. Apakah kau akan menerimaku?”

“Kau bicara terus terang sekali, Tuan..”

“Tuan..? Kau memanggilku Tuan? Kusarankan jangan memanggilku seperti itu. Aku ini calon kakak iparmu, jadi mulailah membiasakan diri denganku.. Panggil aku oppa..”

Sebelah mata Yoochun yang mengerling, benar-benar membuat Yoona meloloskan tawa mendengarnya..

“Oenni bahkan menolakmu, bagaimana bisa kau menjadi kakak iparku..?”

“Jangan meremehkan, aku pastinya akan mengusahakan agar aku bisa menjadi kakak iparmu. Ayo, cobalah memanggilku Oppa..”

“Op-pa.. Seperti itu?”

“Ya, seperti itu.. Terdengar sangat manis bila kau yang mengucapkannya..”

Yoona kembali menunjukkan senyum geli karenanya..

“Kurasa alasan Yuri oenni menolakmu bukan karna kau tidak tampan, tapi karna kau sering membual pada para gadis..”

Yoochun tertawa mendengarnya, ia kemudian juga mengulurkan tangannya menyentuh kepala Yoona dan sedikit mengacak rambutnya.

Mengapa rasanya menjadi aneh sekarang?

“Gadis pintar.. Sekarang tidurlah, sudah terlalu malam bagi seorang gadis untuk berada diluar”

“kurasa, ini bahkan baru jam delapan..”

Yoona mendengus..

“Lagi pula, ada yang ingin kutanyakan padamu..”

“Apa?”

“Jadi kau seorang detektif?”

“bisa dibilang seperti itu..”

“Kau bekerja pada sajangnim?”

“Siwon kan maksudmu?”

Yoona mengangguk..

“Beberapa waktu lalu untuk mencari keberadaan Yuri dan menyelidiki pria bernama Lee Donghae itu, iya.. tapi sekarang tidak. Aku…”

Apa yang dikatakan Yoochun terinterupsi oleh suara ponselnya.

“Panjang umur sekali pria ini, kita sedang membicarakannya dan dia menelpon…”

deg..
Jantungnya tiba-tiba berdesir, Yoona tahu yang dimaksud Yoochun adalah Siwon.

Ia kemudian hanya bisa memperhatikan saat Yoochun menjawab ponselnya..

“Ya, Siwon ssi? hm, ada.. Kau ingin bicara dengannya? Baiklah, tunggu..”

Yoochun mengulurkan ponselnya pada Yoona..

“Siwon ingin bicara denganmu”

Yoona menggeleng, membuat Yoochun berkerut dahi atas penolakannya..

“Kau tidak ingin bicara dengannya?”

“Tidak ada lagi yang harus kami bicarakan..”

“Kau benar-benar ingin putus?”

Yoona tak memberi jawaban, sementara Yoochun kembali menempatkan ponselnya menempel ditelinga, dan mengatakan pada Siwon apa yang baru saja Yoona katakan padanya.

“Dia, dia ada bersamaku.. Kami sedang minum..”

Entah apa yang Siwon katakan saat itu, namun Yoochun seakan menahan tawa karenanya.

“Kami hanya berdua, Yuri sudah tidur. Amber, aku menyuruhnya keluar membeli pakaian.. Telpon saja dia jika kau ada perlu dengannya”

Yoona makin berkerut dahi saat Yoochun kini benar-benar tertawa..

“Santai saja Man, aku tidak akan melakukan apa-apa pada gadis mu. Kau sudah tahu aku menyukai kakaknya. Jadi apa yang ingin kau katakan padanya, katakanlah.. Akan ku sampaikan..”

Yoochun menutup telpon setelah beberapa saat mendengarkan. Ia kemudian kembali mengarahkan tatapannya pada Yoona. Sisa-sisa tawa masih bertahan diwajahnya..

“Dia memintamu untuk tidur sekarang, jika tidak.. Dia akan datang dan menyeretmu pulang bersamanya”

Yoona memutar mata mendengarnya..

“Aku tidak bohong, itu memang yang Siwon katakan tadi. Menggelikan.. Pria sepertinya, seorang pimpinan perusahaan besar sepertinya, ternyata bisa bersikap menggelikan seperti itu. Kurasa dia terbakar cemburu saat aku mengatakan sedang minum denganmu.. Oh, aku sangat ingin melihat seperti apa wajahnya sekarang..”

Cemburu..
Yoona sangat tahu bagaimana berlebihannya pria itu.

“Yoona..”

Yoochun menyentuh pada bahu Yoona, dan menyadarkannya dari keterdiamannya memikirkan Siwon yang mungkin sedang mencemburuinya.

Oh..
Mengapa ia juga ingin melihat seperti apa wajah pria itu sekarang.

“masuklah, kau perlu beristirahat..”

Sekali lagi, Yoochun harus beralih pada ponselnya yang berdering. Kembali Siwon yang menghubunginya..

“Anda harus membayarku jika ingin mendapatkan informasi, Tuan..”

ada canda dalam suaranya, dan dengan ponsel masih menempel ditelinganya, ia mengerling pada Yoona sebelum kemudian mulai melangkah masuk kedalam villa, meninggalkan Yoona yang masih berada disana.

Namun tak berselang lama, kemudian Yoona menyusul masuk, ia melihat Yoochun yang tak lagi berbicara melalui ponselnya, melainkan mulai mengambil remote dan menyalakan televisi. Melihat Yoona yang melangkah mendekatinya, ia lantas menunjukkan senyum diwajahnya..

“Dia benar-benar memperingatkanku, Yoona..”

“hm.. Aku akan tidur. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih padamu karna telah menjaga oenni ku. Terimakasih untuk semua bantuanmu..”

“Tidak usah sungkan.. Itu yang dilakukan seorang pria pada gadis yang dicintainya, juga pada calon adik iparnya..”

Mau tak mau, Yoona kembali menarik senyum dibibirnya..

“Terimakasih, Oppa..”

Ucap Yoona yang langsung membuat Yoochun tertawa saat kemudian melihat gadis itu melarikan diri masuk kedalam kamarnya.

“jika tak ada masalah seperti ini, dia sebenarnya gadis yang ceria. Berapa kali aku sudah melihatnya selama penyelidikan yang dulu kulakukan? Wajahnya seperti tak asing.. Mengingatkanku pada…”

Yoochun menggeleng-gelengkan kepala, menghentikan gumaman sekaligus sekelebat pemikiran yang mendadak muncul. Ia kemudian mencoba memfokuskan dirinya pada televisi yang dinyalakannya. Namun gagal, sampai kemudian ia tersentak oleh karna kelebat-kelebat pemikirannya sendiri dan buru-buru setelahnya ia meraih lagi ponselnya..

“Appa.. Bisa kita bertemu? Ada yang ingin ku bicarakan denganmu..”

***

Pagi harinya, saat terbangun dari tidurnya Yuri mendapati Yoona tengah berdiri diam didepan jendela kamar. Pandangannya lurus kedepan, entah apa yang sedang dilihatnya. Yang Yuri sangkakan sang adik sedang melamun, karna keadaan diluar villa masihlah terlalu gelap untuk dapat mengamati sesuatu.

“Yoona ya..”

Tak ada sahutan, bahkan setelah Yuri mengulangnya sekali lagi.

“Yoona ya..”

Kali ini Yoona menoleh, dan sesuatu seakan menghantam Yuri dengan begitu keras, saat melihat Yoona yang kemudian tergugup berusaha menghapus airmata diwajahnya.

Bila dibandingkan dengannya, dilihat dari muram diwajahnya, Yoona pastilah jauh lebih sakit. Dan itu karna dirinya. Karna kurangnya kehati-hatiannya untuk menutup mulut dan mengontrol emosi dalam dirinya.
Hingga kalimat tak pantas serta kenyataan yang tak seharusnya terungkap, dapat ia ucapkan dengan tanpa memikirkan perasaannya.

Tuhan..
Ampuni aku..

Yuri menggumam dalam hati seraya menahan airmatanya sendiri. Ia lantas meminta Yoona untuk mendekat padanya..

“ne, oenni..”

“kemarilah..”

Yuri yang telah dalam posisi duduk dipinggiran tempat tidur, menepuk bagian disampingnya, mengisaratkan agar Yoona berada disana.

“Apa kau tidak tidur semalam?”

Yoona menggeleng, meski itu benar. Ia sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Perasaannya kacau, campur aduk menjadi satu dan memenuhi kepalanya.

“Tidak, aku baru saja terbangun”

Senyumnya dipaksakan. Yuri ikut memaksakan senyumnya, tak membahas airmata Yoona karna dirinya tahu jika ia melakukannya, hanya akan membuatnya dengan mudah dapat menangis lagi dengannya. Yuri memilih meraih tangan Yoona dan menggenggamnya.

“Yoona ya..”

“hm..?”

“Ayo kita pulang”

“maksud oenni?”

“Ayo kita pulang ke rumah kita. Rumah peninggalan appa dan oemma. Rumah kecil namun memberikan kebahagiaan yang begitu besar untuk kita. Aku harap kau masih beranggapan sama seperti itu”

Yoona meremas tangan Yuri memberi respon..

“Tentu saja oenni.. Tak ada yang lebih indah dan membahagiakan selain berada disana bersama appa, oemma dan juga oenni”

“Rumah kita masih ada kan? Kau tidak menjualnya?”

Yoona menggeleng..

“maafkan aku karna saat itu tak mengatakannya pada oenni. Aku hanya…”

“Tidak apa-apa, aku mengerti..”

Yuri tersenyum lalu kemudian menarik Yoona untuk berdiri..

“Ayo kita bersiap..”

“Bersiap kemana nona-nona?”

Amber masuk dengan membawa lebih dari dua paper bag ditangannya.

“Amber ssi..”

“Ini pakaian untuk anda, semalam sunbae.. em, maksudku Tn.Park Yoochun memintaku untuk membelinya. Dan aku mengalami kesulitan saat memilih pakaian untuk wanita feminim. Tapi, semoga kalian menyukainya..”

Amber tersenyum, meletakkan paper bag ditangannya keatas tempat tidur.

“terimakasih Amber ssi, maaf merepotkan”

“Jadi apa maksudnya kalian akan bersiap?”

“Kami akan pulang kerumah kami..”

Yuri yang memberi jawaban kemudian mendapatkan anggukan persetujuan dari Yoona.

“Tapi nona, anda masih belum pulih”

“Aku tidak apa-apa..”

“Tidak, Tidak.. Aku akan memberi tahu Tn.Choi Siwon”

Yoona reflek menarik pergelangan tangan Amber yang telah merogoh saku celananya begitu mendengar nama Siwon disebutkan olehnya.

“Jangan menghubunginya.. Aku minta kau jangan menghubunginya, Amber ssi”

“Tapi nona..”

Yoona memberinya tatapan permohonan..

“Baiklah kalau begitu, tapi sunbae harus mengetahui rencana kalian”

Amber meninggalkan keduanya yang sedang sama-sama mengerutkan dahi, heran saat Amber berjalan cepat keluar dari dalam kamar dengan memanggil-manggil Yoochun dengan sebutan sunbae.

Tak berapa lama, belum hilang keheranan yang menggurat diwajah Yoona maupun Yuri, Yoochun masuk dengan memberondongkan pertanyaan kearah keduanya.

“Apa yang Amber katakan benar? Apa maksudnya? Kalian berencana pulang? Pulang kemana, kalian bisa tinggal disini. Kau belum pulih Yuri ah.. Jawab aku Yoona, kalian tidak akan kemana-mana kan?”

“Yoochun ssi..”

Yuri yang lebih dulu mendekat..

“Aku dan Yoona ingin kembali kerumah kami. Aku tak ingin terlalu banyak merepotkanmu..”

“omong kosong, rumah yang mana? Apa rumah yang bahkan tak layak untuk kalian tinggali itu? Kalian akan pergi kesana? Demi Tuhan Yuri ah, aku tidak merasa direpotkan. Sama sekali tidak..”

“Kau menyakiti ku Yoochun ssi. Kau melukai ego ku dengan menyebut rumah peninggalan orangtua ku seperti itu”

“maaf, tapi aku tak bermaksud.. Mengertilah Yuri ah, aku masih tak bisa membiarkanmu pergi. Setidaknya tunggulah beberapa hari sampai kau benar-benar pulih”

“Aku baik-baik saja. Aku merasa tak nyaman disini. Aku ingin kembali kesana dengan Yoona. Mengertilah, kami perlu bersama-sama dan memperbaiki apa yang telah terjadi dan membuat kami saling merasa tersakiti. Aku tak ingin mengulang yang seperti itu”

Yoochun meremas rambutnya frustasi, setelah tak menemukan satu kalimatpun untuk menyanggah dan menahan keinginan Yuri.

“baiklah, berikan kunci rumah kalian.. Aku akan menyuruh orang untuk membersihkannya terlebih dulu sebelum kalian sampai disana”

Yuri beralih dari Yoochun, mengarahkan tatapannya pada Yoona untuk tahu kemana sang adik menyimpan kunci rumah mereka. Namun Yoona menggeleng sambil menggigit bibir bawahnya.

“Maaf, tapi aku menyimpan kuncinya didalam tas dan meninggalkannya dirumah Siwon”

“Kalau begitu jangan menyalahkanku karna aku akan menyuruh orang yang akan membersihkan rumah kalian agar mendobrak pintunya”

Yoochun tak hirau dengan apa yang kemudian Yuri maupun Yoona katakan, ia telah sibuk dengan ponselnya dan berbicara dengan orang yang dihubunginya.

“Bersiaplah, aku akan mengantar kalian”

ucap Yoochun segera setelah ia menutup ponselnya.

“gomawo Yoochun ssi”

Yuri menunjukkan senyum diwajahnya, membuat pria itu bersumpah dalam hati untuk melakukan apapun yang bisa membuat senyum itu terus bertahan diwajah gadis yang dicintainya.

“Aku akan meninggalkan kalian..”

“Tunggu Op-pa..”

Yoona menahan langkah Yoochun..

“Ada apa?”

“Tolong jangan memberitahu Sajangnim jika aku..”

“Maaf tapi itu bukan permintaan yang bisa aku kabulkan, Yoona. Kau tak tahu berapa kali semalam dia menghubungiku? Dia benar-benar mengganggu..”

Ucap Yoochun santai, tak perduli Yoona menunjukkan wajah memberengut mendengarnya. Ia hanya mengangkat kedua bahunya dan sedikit menunjukkan senyum sambil lalu meninggalkan kamar itu.

Tak kurang dari satu jam setelahnya, mereka meninggalkan villa. Amber yang mengemudi sementara Yoochun berada dikursi sebelahnya dan membiarkan Yuri berada dikursi belakang bersama Yoona.

Di dalam mobil Yoona mengatakan permintaannya yang cukup mengejutkan. Setidaknya mengejutkan bagi Yuri. Yoona mengatakan ingin mengunjungi makam kedua orangtua nya sebelum kembali kerumah mereka.

Setelah beberapa saat terdiam, Yuri akhirnya mengiyakan dan meminta pada Yoochun untuk menemani Yoona, sementara dirinya justru tetap berada didalam mobil bersama Amber. Bukan ia tak mau menemani Yoona. Yuri hanya merasa tak sanggup bila harus kembali kesana dan berada didepan pusara orangtua nya setelah ia melanggar janjinya, setelah apa yang dilakukannya pada Yoona.

“Aku akan membeli bunga”

Ucap Yoochun saat keluar dari mobil..

Menerima anggukan dari Yoona, ia kemudian berlari menghampiri penjual bunga yang berada tak jauh dari area pemakaman. Kembali beberapa saat setelahnya dengan dua rangkaian bunga ditangannya yang kemudian diserahkannya pada Yoona.

“gomawo.. Kurasa aku bisa sendiri, kau tidak perlu menemaniku, Op-pa”

Yoona melangkah lebih dulu, sementara Yoochun berada dibelakangnya.

“Aku benar-benar menyukaimu memanggilku seperti itu”

Yoochun tak menanggapi apa yang dikatakan Yoona, tapi malah mengomentari bagaimana cara gadis itu yang kini memanggilnya dengan sebutan oppa.

“bukankah kau yang memintaku melakukannya?”

“Apa dengan kata lain kau merestui aku menjadi kakak iparmu?”

“apa oenni ku sudah menerimamu?”

Yoona membalikkan pertanyaan dengan senyum seakan mengejek yang diperlihatkan diwajahnya.

“Jangan menggodaku dengan senyum seperti itu.. Kau akan terkejut saat aku mendapatkan kakakmu”

Yoona mendesah, menghentikan langkah dan membalikkan tubuhnya menjadi berhadapan dengan Yoochun..

“tapi Yuri oenni sudah mencintai pria lain”

“Apa maksudnya Yuri sudah mencintai pria lain? Apa sebelumnya Yuri mencintaiku?”

“Ck! Oenni mencintai pria lain. Itu maksudku..”

Yoochun menahan tawa..
Mengapa rasanya menyenangkan mengetahui ia berhasil menggoda gadis itu.

“Aku tahu, Siwon kan maksudmu?”

Yoona mengangguk..

“Jadi sekarang pembahasan beralih ke Siwon? Kau ingin membicarakan pria itu? Kau merindukannya?”

Yoona memutar mata menyadari Yoochun mengalihkan kenyataan Yuri yang mencintai pria lain, dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang justru dimaksudkan untuk menggodanya. Tak ingin menanggapinya, Yoona dengan segera kembali membalikkan tubuhnya dan berjalan cepat meninggalkan Yoochun yang menahan geli melihatnya.

Sampai didepan pusara kedua orangtua nya (rasanya lebih terasa sakit mengingat mereka bukanlah orangtua kandungnya) Yoona meletakkan rangkaian bunga pada masing-masing pusara mereka dan lantas melakukan penghormatan. Setelahnya, ia tak bisa menahan dirinya. Tubuhnya langsung terduduk bersimpuh dengan derai airmata yang dengan begitu deras membasahi wajahnya.

“Oem-ma.. Ap-pa.. Bo-go-shi-po..”

Yoona seakan tak bisa berkata-kata lagi. Apa yang keluar dari bibirnya tadi bahkan terucap dengan tersendat-sendat. Ia hanya masih tak mempercayai mereka bukanlah orangtua kandungnya, dirinya bukanlah putri kandung mereka.

Yoona terus menangis tersedu, sampai kemudian Yoochun merengkuh kedua bahunya, mengajaknya untuk berdiri.

“Sudahlah.. Kau datang bukan untuk memperlihatkan kesedihan dihadapan mereka kan..”

Yoochun mengusap rambutnya, entah apa yang mendorong Yoona untuk kemudian menghambur kepelukan pria itu dan menyembunyikan tangis didadanya.

“Aku bukan putri mereka, Op-pa..”

ucapnya disela isak tangis..

“Kau sedih karna hal itu?”

Yoona hanya mampu mengangguk, tangisnya benar-benar masih tak bisa surut. Tangan Yoochun juga masih berada diatas kepalanya, mengusap-usap rambutnya. Sampai kemudian Yoona tersadar dengan apa yang dilakukannya. Ia dengan segera bergerak mundur dari Yoochun..

“Maaf..”

“Tidak apa-apa. Kau bisa lebih tenang sekarang?”

“sedikit..”

“hanya sedikit?”

Yoona mengangguk..

“bertahun-tahun aku hidup bersama mereka dengan anggapan mereka adalah orangtua kandungku. Tapi…”

“Tapi? Apa mereka tidak menyayangimu?”

Yoona menggeleng..

“apa kau sedang meragukan kasih sayang mereka padamu tulus atau tidak?”

Yoona kembali menggeleng..

“Jadi apa masalahnya?”

“Aku tidak tahu, aku tak bisa menjelaskan apa yang kurasakan sekarang.. Aku hanya benar-benar bersedih..”

“Dengarkan aku Yoona.. Apa kau tidak berpikir kau sedang membuat mereka ikut menangis melihatmu saat ini? Mereka mencintaimu, mereka memberikan kasih sayang tulus padamu, tapi setelah kau mengetahui mereka bukanlah orangtua kandungmu, apa kau menyesal menerima kasih sayang mereka..”

“Tidak, tentu saja tidak.. Meski kadang kami merasakan sulit, tapi Aku merasa bahagia hidup bersama mereka. Aku mencintai mereka..”

Yoona kembali menghadap pada makam orangtua nya, menyeka airmatanya dan dengan sedikit bersusah payah berbicara didepan tanah pusara itu..

“Oem-ma.. Ap-pa.. Bogosipoyo, aku benar-benar merindukan kalian. Terimakasih untuk semuanya.. Aku masih tak bisa membalas apa-apa. Aku justru menyakiti Yuri oenni. Maafkan aku.. Aku janji akan memperbaikinya. Aku janji akan hidup dengan baik bersama oenni. Sungguh, aku benar-benar ingin kalian adalah orangtua kandungku.. Aku.. Aku..”

kalimatnya kembali tersendat oleh isak tangis, hingga Yuri tiba-tiba berada disampingnya, dan kemudian memeluknya erat tanpa berkata-kata. Rasanya sama seperti beberapa tahun yang lalu saat keduanya berada disana menangisi kepergian orangtua nya.

***

“Siwon.. Siwonie..!! Choi Siwon.. Kau tidak akan bangun..!?”

Ny.Choi mengetuk hingga menggedor-gedor pintu kamar Siwon. Namun masih tak ada sahutan dari dalamnya..

“Oemma tidak bisa menghubungi Yoona. Dia tidak membawa ponselnya. Ponsel Amber juga tak bisa dihubungi. Kau bilang akan menjemput Yoona kan? Cepatlah, oemma sudah siap. Oemma akan ikut denganmu..”

Kesal tak juga mendapat jawaban, Ny.Choi langsung masuk kedalam dan seketika melebarkan mata mendapati Siwon tertidur dilantai kamarnya. Dengan dua botol anggur tergeletak disampingnya.

“Ya Tuhan..”

Ny.Choi dengan segera menghampirinya..

“Apa yang kau lakukan? Siwon.. Bangunlah..”

Siwon hanya melenguh saat sang ibu terus mengguncang-guncangkan tubuhnya.

“Siwon..! Bangun.. Bangun atau oemma akan mengadukan ini pada ayahmu. Siwon..!”

“Oemma.. Kenapa kau begitu berisik..”

Erangnya yang justru mendapat pukulan telapak tangan di bahunya dari sang ibu.

“Oemma..!!”

“Bangun atau oemma akan panggilkan ayahmu..”

Ancaman itu berhasil membuat Siwon bangkit, dan langsung didorong masuk ke dalam kamar mandi oleh sang ibu.

Tak sampai satu jam setelahnya, Siwon telah mengendarai mobilnya bersama dengan sang ibu yang memaksa ikut dengannya.

Perjalanan menuju villa Yoochun yang memakan waktu lebih dari satu jam, namun berakhir sia-sia manakala disana tak ada siapapun kecuali seorang penjaga villa yang mengatakan Yoochun dan tiga orang tamunya (yang dimaksud pastilah Yuri, Yoona dan Amber) telah pergi sejak pagi-pagi tadi.

“Kau dimana?”

Siwon tak melakukan basa-basi saat kemudian menghubungi Yoochun melalui ponselnya..

“Kau mencariku?”

“Katakan, kau dimana sekarang?”

Siwon sedikit menggeram mendengar disebrang sambungan ponselnya, Yoochun justru terkekeh dengan begitu santainya..

“Aku dirumah Yuri.. Mereka memaksa pulang, jadi aku mengantarkan mereka”

“Kenapa tidak memberitahuku..”

Siwon tak menunggu Yoochun memberi jawaban. Ia memutus sambungan ponselnya dan dengan segera melajukan mobilnya..

“Siwon, dimana mereka?”

“Yoona pulang ke rumahnya”

“rumah yang itu?”

Ny.Choi teringat pada kejadian saat dirinya dengan terpaksa menjemput Yoona dirumahnya, (betapa rumah itu terlalu kecil untuk ditinggali) dan membawanya pulang kerumahnya, dengan tujuan mendidiknya, setelah ia merasa tak terima ibu Jessica menjelek-jelekkan Siwon dan mengait-ngaitkan ketidak mampuannya mendidik sang putra hingga menyebabkan Siwon bertingkah seperti seorang bajingan yang mengkhianati Jessica dan justru memilih wanita rendahan seperti Yoona sebagai tunangannya.

Ny.Choi kemudian juga kembali teringat pada kemungkinan Yoona adalah Yoojin, putrinya. Meski ia telah mengatakan pada Siwon takkan lagi memikirkannya, namun nyatanya pemikiran seperti itu tak sedikitpun bergeser, apalagi hilang dari kepalanya.

Oh Tuhan..
Ia akan sangat bersyukur bila apa yang berada dalam pemikirannya adalah benar adanya. Bahwa Yoona adalah Yoojin-nya.

“Apa yang oemma pikirkan?”

pertanyaan Siwon menyentak pemikiran Ny.Choi, dan membuatnya sedikit tergugup menjawabnya..

“Bukan apa-apa, hanya menyetirlah.. Oemma ingin secepatnya bertemu Yoona”

Sampai akhirnya Siwon menghentikan laju mobilnya dijalanan yang berada tak jauh dari rumah Yuri, Ny.Choi lah yang lebih dulu keluar dan langsung melangkah cepat menuju rumah itu.

“Yoona ya.. Kau didalam? Ini aku sayang, buka pintunya.. Yoona ya..”

ketika pintu didepannya yang sebelumnya ia ketuk, kini terbuka dan memperlihatkan Yoona yang berada dibaliknya terkejut melihatnya, Ny.Choi tersenyum sekaligus nyaris menangis dan langsung memeluknya..

Ya Tuhan..
Sungguh, ia merasakan Yoojin berada dalam pelukannya..

“Nyonya..”

“Yoona ya, kau baik-baik saja?”

Yoona mengangguk dalam pelukan wanita itu..

“kenapa kau tidak pulang? Kenapa berada disini?”

Ny.Choi telah melepaskan pelukannya dan berganti meraih tangan dan menggenggamnya..

“Maafkan saya Nyonya.. Tapi..”

“kenapa memanggilku seperti itu? Aku tidak menyukainya.. Sudahlah, tidak perlu berpura-pura lagi, kakakmu sudah tahu semuanya kan? Suka tidak suka, dia harus menerimanya..”

Yoona tak bisa memberikan tanggapan pada kalimat penuh ketegasan yang diucapkan wanita itu dihadapannya. Terlebih ia telah menyadari sedari tadi Siwon terus menatapnya, meski pria itu masih belum mengeluarkan suara.

Oh..
Betapa ia sangat ingin memeluknya, kemudian menangis didadanya seperti yang seringkali dilakukannya.
Ia ingin tangan pria itu mengusap rambutnya dan mengucapkan sesuatu yang dapat menenangkannya dan mengurangi kesedihan yang dirasakannya.

Tapi..
Ia tak lagi berhak mendapatkan perhatian seperti itu, terlebih setelah berulang kali keegoisan yang diambilnya.

“pulanglah bersamaku, Yoona.. Tempatmu bukan lagi disini”

Yoona menggeleng, kemudian menundukkan wajahnya tak berani menatap wajah Ny.Choi.

“Aku harus bersama oenni ku..”

“Bukan masalah, kakakmu bisa ikut denganmu”

Yoona menggeleng, buliran airmatanya menetes tanpa bisa ia cegah.

Tuhan..
Mengapa ia begitu mudah menangis?
Mengapa airmatanya tak juga habis?
Ia sudah sangat lelah terus dan terus menangis seperti ini..

“mianhae omonim.. Aku.. Aku tak bisa. Aku ingin bersama Yuri oenni dan mengakhiri semuanya. Aku.. Aku minta maaf. Maafkan aku, omonim.. Aku bukan gadis yang baik. Aku egois dan hanya bisa menyusahkan kalian.. Maaf..”

Yoona kembali merasakan pelukan wanita itu ditubuhnya dan tangan yang mengusap-usap punggungnya..

“gwechana, Yoona ya.. Gwechana. Aku mengerti.. Jadi kau ingin berada disini bersama kakakmu? Baiklah, kau bisa melakukannya. Apa kau ingin aku mengirim pakaian-pakaianmu kemari? Tidak semuanya, mungkin sebagian. Karna aku sangat yakin kau tidak memiliki lemari yang cukup untuk menempatkan semuanya”

“Oemma..!”

Siwon menggeram mendengarnya. Bagaimana bisa ibunya justru tak berkeberatan dan terkesan mendukung keinginan gadis itu. Sementara dirinya sudah membayangkan ibunya akan memaksa Yoona untuk kembali kerumahnya. Karna itu ia diam saja dan membiarkan ibunya melakukannya. Karna biasanya gadis itu tak akan bisa membantah apa yang dikatakan oleh ibunya. Tapi mengapa sang ibu justru bersikap lunak terhadap Yoona.

Bukan hanya Siwon yang tercengang mendengar sang ibu mengatakannya. Tapi juga Yoona. Ia merasa sedikit tak yakin dengan pendengarannya. Ketika melihat wanita itu berdiri didepan pintu rumahnya tadi, ia bahkan telah menguatkan hati, mempersiapkan diri untuk menerima amuk kemarahan atas apa yang telah diputuskannya.
Tapi wanita itu, ibu Siwon justru memeluk dan sama sekali tak menunjukkan ada amarah diwajahnya.

“dimana kakakmu? Biar aku bicara dengannya.. Aku akan memintanya untuk tetap memperbolehkanmu berkuliah.. Kau tidak akan mengatakan kau ingin berhenti dari sana kan?”

Yoona masih tidak yakin. Ia ingin terus berkuliah dan sekaligus ingin berhenti diwaktu yang bersamaan. Ia ingin mengejar impiannya menyandang gelar sarjana dibelakang namanya, namun tak ingin terus merepotkan keluarga Siwon, sementara ia justru telah menjadi gadis tak tahu diri dengan meminta mengakhiri hubungannya setelah begitu banyak bantuan yang diterimanya.

“kakakmu tidak ada?”

Ny.Choi sedikit melongok keadaan didalam yang nampak sepi..

“Yuri oenni berada disupermarket membeli beberapa keperluan bersama Amber dan Yoochun oppa..”

“Nuguya?”

“Yoochun oppa.. dia teman Yuri oenni”

Yoona pasti tak menyadari saat Siwon memutar mata mendengarnya.
Apa yang telah terjadi diantara gadis itu dan Yoochun?
Mengapa dia terlihat begitu nyaman memanggil pria itu dengan sebutan oppa?
Pertanyaan itu mengusiknya, Siwon baru saja ingin bersuara namun sang ibu lebih mendahuluinya..

“Kalau begitu nanti katakan pada kakakmu kau akan tetap menjalani kuliahmu. Aku akan pulang dan mengemas beberapa pakaianmu. Katakan pada Amber untuk pulang dan mengambilnya nanti. Dan ini tas mu, ponselmu ada didalamnya.. Pastikan untuk terus aktif, karna aku akan sering menghubungimu..”

Ny.Choi tersenyum, mengusap pipi Yoona sebelum kemudian menarik tangan Siwon agar mengikutinya..

“Oemma, apa yang oemma lakukan? Kenapa membiarkan gadis itu berada disana? Oemma seharusnya memaksanya pulang..”

Protes Siwon tak terima dengan keputusan ibunya..

“Jangan cerewat.. Oemma hanya membuat keputusan yang mempermudahnya. Situasinya pasti akan semakin sulit bila oemma bersikap keras padanya. Kau tidak lihat betapa kacaunya wajahnya? Dia sudah cukup tertekan. Biarkan dulu dia dengan keinginannya..”

“Tapi dia sudah terlalu sering mendapatkan keinginannya, oemma..”

“beri dia satu kali lagi..”

“Oemma..!”

“Ayo pulang.. Oemma memiliki pekerjaan mengemasi pakaian-pakaiannya..”

Siwon hanya bisa terus mengerang kesal saat sang ibu menariknya dan tak membiarkannya untuk berbalik pada Yoona dan memaksa gadis itu agar ikut dengannya.

***

Keberadaan Yoona dirumahnya, nyatanya memunculkan berita-berita yang sebelumnya sama sekali tak diduga olehnya. Dua hari ia berada disana, telah muncul headline dari sebuah surat kabar yang mengatakan putusnya pertunangannya dengan Siwon.

Oh..
Darimana mereka mengetahuinya?

Tak sampai disitu saja, karna berita-berita serupa atau malah bisa disebut lebih parah, muncul dengan berbagai judul yang salah satunya menyebutkan Yoona didepak dari rumah keluarga Choi setelah kedapatan melakukan perselingkuhan. Lengkap dengan beberapa foto yang kemudian membuat Yoona tersentak tak percaya.

Kapan seseorang mengambil fotonya bersama dokter Cho? Dan dimana mereka mendapatkannya?

Sial..
Apa yang kemudian dipikirkan Siwon saat melihat fotonya??

*

*

*

#ToBeContinued~

Yang berharap crita ini selesai dipart ini, maaf yaa.. kayaknya harus nambah satu dua lagi..^^ hihihiii #peace

@joongly

260 thoughts on “FF | At First Sight | 23

  1. apakh hubungan yoona dan siwon benar benar berakhir ..? dan apa yang dikatakan yoochun kepada appa nya .apakah yoochun tau siapa yoona sebanarnya

  2. Siwonpa ada2 aja di saat mslah masih numpuk2 dia smpat2 nya mau ngamuk ma yoona hanya krn yochum oppa nya,,,malah pake bujuk ibu nya biar yoona di bwa plang kerumah nya,,,

  3. Ooh, ternyata bukan adik kandung siwon, kirain adek kandungnya…
    Yaa, kalo bukan adek kandung bisalah dinikahin dan sembunyian aja identitasnya sebagai yoojin dari semua orang kalo itu takut menghalangi hubungan mereka..
    Trus ada yg aneh tuh ama yoochun, dia inget seseorang kalo liat senyum yoona, apa mungkin yoona adiknya yoochun, tapi masa iya sih yoona dibuang ama keluarga yoochun, gak mungkin dong apa masalahnya coba? Ekonomi? Gak mungkin kan? Secara mereka kaya, trus apa ya kira2,,
    Eeh, gak tau deh, pusing, hehhe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s