Fanfiction

FF | At First Sight | 22

Happy Reading~

*

*

*

Ketegangan tak cuma menjadi milik Siwon dan Yoona, yang menerima langsung amukan kemarahan dari Yuri. Ketegangan itu juga dirasakan oleh Ny.Choi yang segera keluar dari dalam kamarnya begitu mendengar suara keras dari teriakan Yuri tadi dan langsung menyaksikan tak jauh dari sana ketika Yuri melontarkan rentetan kalimat kemarahannya terhadap Yoona. Ny.Choi merasakan tercekat pada tenggorokannya melihat Yoona, gadis belia itu menangis mengiba maaf dari kakaknya. Sementara Yuri justru menyebutnya sebagai pengkhianat dan bahkan mengatakan sesuatu yang mengejutkan dengan menyebut Yoona bukan sebagai adiknya.

Jadi Yoona bukanlah adiknya?
Mereka tak memiliki darah persaudaraan yang sama ditubuh mereka?
Benarkah?
Ny.Choi terus bergelung dengan pertanyaan-pertanyaan yang kemudian muncul memenuhi pikirannya.

Sementara ahjumma Lee yang turut menyaksikan kesalahpahaman dua gadis yang juga disayanginya, yang berbuah menjadi pertengkaran hebat diantara keduanya, hanya bisa merasakan ngilu dihatinya, gemetar ditubuhnya dan sekaligus lelehan airmata yang membanjiri wajahnya manakala Yuri berteriak menyebut Yoona bukan sebagai adiknya.
Ya Tuhan..
Itu bukan sesuatu yang diketahui olehnya, dan permohonannya pada Tuhan, Yuri tidak sedang mengatakan kebenaran. Kalimat itu terucap semata hanya karna emosinya yang memuncak.

Selama ini ia mengenal Yuri dan Yoona sebagai dua karib bersaudara yang selalu terlihat akur dimana-mana. Yuri yang dikenalnya juga bukanlah pribadi yang pemarah. Gadis itu penuh kasih terhadap Yoona. Lemah lembut persis seperti mendiang ibunya. Tapi tak bisa ia pungkiri, semenjak Yuri berada dirumah itu, ahjumma Lee memang merasa tak lagi mengenal kepribadian Yuri yang seperti sebelumnya. Gadis itu berubah kaku, penuh waspada dikedua matanya dan bahkan cenderung bersikap dingin terhadapnya.
Apa yang sesungguhnya telah terjadi dengan gadis itu, masih tak diketahui olehnya?
Yang ia ketahui hanyalah Yuri mengalami trauma paska kecelakaan yang dialaminya bersama Donghae, putranya. Dan Yoona yang tengah berusaha keras menyembuhkannya, hingga melakukan kebohongan demi menjaga agar sang kakak tidak semakin terguncang. Tapi yang justru terjadi didepan matanya, buah dari kebohongan yang dilakukan Yoona, sungguhlah membuatnya nelangsa.
Tuhan..
Kuatkanlah kedua gadis itu. Tidakkah Engkau mengetahui niat baik gadis itu demi untuk menjaga kakaknya.
Sudah selayaknya Kau memberikan jalan keluar yang terbaik bagi mereka. Tidak dengan memecah ikatan persaudaraan keduanya seperti sekarang.
Ahjumma Lee terus menerus menggumam doa permohonan dalam hatinya, menyertai tetes demi tetes airmata yang bersumber dari kedua mata tuanya. Mengapa diusia senja nya ia justru banyak menumpahkan airmata untuk orang-orang yang teramat dikasihinya..

Seakan tak cukup hanya dengan menjerit-jerit dan memanggil sang kakak yang berlari meninggalkannya, Yoona bangkit dari duduknya yang bersimpuh dilantai, untuk kemudian mencoba berlari mengejar oenninya. Ia nyaris ambruk andai tak mendapat rengkuhan kuat dari lengan Siwon yang menahannya. Tapi kedua kakinya yang lemas dan seakan tidak lagi bertulang, tak sedikitpun menyurutkan niatannya untuk mengejar oenni nya.
Ia menyentak lengan Siwon dari tubuhnya, yang coba menahannya untuk berlari.
Ia tak boleh diam saja, sementara oenni nya marah dan terluka oleh karena dirinya, dan sekarang pergi meninggalkannya.
Ia harus mengejarnya, ia harus mengetahui dimana keberadaan oenninya. Sang kakak haruslah mendengar dulu penjelasannya, barulah ia akan menerima kemarahan apapun darinya.

Yoona berlari keluar dari rumah itu, melewati pagar kokoh yang membatasi dengan jalanan umum. Kemudian menyusuri dengan berjalan disepanjang pinggiran jalan itu dengan bibirnya yang tak putus memanggil-manggil nama oenni nya.

“Oenni ya.. Yuri oenni..!”

Kemana oenni nya berlari?
Dimana dia sekarang?

Dadanya sesak luar biasa, hatinya perih tiada terkira, sekujur tubuhnya bergetar ngilu ketika kemudian terngiang kembali pada kata-kata kemarahan Yuri terhadapnya.

Sang kakak menyebutnya pelacur..
Seorang pengkhianat..
Dan bahkan tidak menganggap dirinya sebagai seorang adik.

Tuhan..
Sungguh, meski sangat menyakitkan, ia akan sanggup menerima bila sang kakak benar-benar menganggapnya sebagai pelacur. Ia juga akan menerima tuduhan sebagai seorang pengkhianat. Ia memang pantas menerimanya.

Tapi tidak dengan apa yang terakhir dikatakan oenninya, yang telah seperti setajam belati menikam dan mengoyak, melukai dirinya. Sang kakak tidak lagi menyebutnya sebagai seorang adik, sungguh apa yang tadi dengan jelas didengarnya telah membuat Yoona seakan kehilangan arah. Terbayang didalam benaknya, bila apa yang dikatakan sang kakak adalah benar, kenyataan itu akan menghancurkannya.
Tidak..
Ia tidak akan pernah sanggup menerima yang satu itu.
Apa yang bisa dilakukannya, bagaimana ia bisa hidup bila dirinya bukanlah seorang adik bagi oenni nya.

Pemikiran itu membuatnya limbung. Kedua kakinya yang telah sejak tadi terasa lemas kian tak bisa menopang langkahnya. Tersaruk-saruk Yoona menyeret kakinya, memaksa untuk terus menemukan keberadaan oenni nya. Namun apalah daya, raganya tak sekuat jiwa nya yang juga telah digerogoti kerapuhan, namun masih menyisakan satu tekad kuat untuk memberi penjelasan pada oenni nya. Langkahnya yang sempoyongan membuat Yoona tersandung, dan akhirnya tubuh lemah itu terjerembab jatuh lunglai ditengah-tengah trotoar jalan.

Perasaan bersalah tengah membelitnya dengan begitu kuat. Menyesali kebohongan yang dilakukannya justru terbuka kehadapan oenni nya dalam waktu yang tidak tepat, membuat Yoona hanya bisa terisak pilu dengan bibir bergetar menggumam permintaan maafnya berulang-ulang kali. Berharap sang kakak mendengar dan mengetahui penyesalannya. Juga mau mendengar penjelasannya.

“maafkan aku oenni.. Maaf.. Kumohon dengarkan aku.. Jangan pergi.. Oenni ya.. Jangan meninggalkanku..”

Sebuah tangan kuat yang kemudian merengkuh tubuhnya,  menjadi hal terakhir yang bisa dirasakannya, sebelum akhirnya kegelapan menyergap kedua matanya..

Yoona kehilangan kesadarannya..

“Yoona.. Yoona..!!”

Siwon yang memang mengikuti Yoona dibelakangnya, langsung berlari merengkuh tubuh gadis itu begitu melihatnya ambruk tanpa daya. Miris ia melihatnya dalam keadaan terguncang seperti saat itu.

Ini salahnya..
Salahnya yang tak bisa menahan diri. Hingga satu kecerobohannya yang bersumber dari kerinduan yang dirasanya begitu menggelegak pada Yoona, justru yang kemudian mengacaukan semuanya.

Seharusnya ia mendengar ucapan ibunya yang seringkali mengingatkannya untuk menjaga sikap.
Seharusnya ia berpikir terlebih dulu sebelum menarik Yoona dan menciumnya seperti tadi. Seharusnya..
Seharusnya ia memikirkan jika begitu besar kemungkinan apa yang dilakukannya bisa terpergok oleh Yuri.
Dan terbukti telah terjadi..
Yuri melihatnya berciuman dengan Yoona dan menjadi murka karna perasaan dikhianati.

Ya Tuhan..
Betapa ia menyesali kekeliruan sikapnya tadi.

“Maafkan aku, Yoona.. Maaf membuatmu seperti ini..”

Siwon sempat mendekap tubuh Yoona sebelum akhirnya membopongnya kembali menuju rumahnya. Dan langsung disambut oleh wajah-wajah yang masih menyisakan tegang, cemas bercampur dengan panik yang ditunjukkan oleh sang ibu dan juga ahjumma Lee ketika melihat Yoona berada dalam gendongannya dengan keadaan pingsan tak berdaya.

“Ya Tuhan.. Yoona..”

“Dia pingsan, cepat hubungi dokter, oemma.. Aku akan membawanya ke kamarku..”

“Oemma akan melakukannya..”

Sementara kecemasan akan keadaan Yoona terjadi didalam rumah itu, diluar darisana, Amber yang telah berlari lebih dulu sebelum Yoona untuk mengejar Yuri, justru kehilangan jejaknya.
Secepat itukah langkahnya?
Amber tak menemukan keberadaan Yuri bahkan setelah berkali-kali memutar mengelilingi area perumahan Siwon.

Amber memang sempat terkesiap saat tadi, setelah bersusah payah membujuk Yuri dan akhirnya berhasil membawa Yuri keluar dari kamar menggunakan kursi rodanya, dengan tujuan membantu Yoochun yang memintanya agar membawa Yuri keluar dari dalam rumah dan bertemu dengannya. Tapi malah sesuatu yang tak terduga, turut pula disaksikan oleh kedua matanya.
Sadar dirinya membawa Yuri keluar dalam waktu yang mendadak menjadi tidak tepat, Amber sudah ingin memutar kursi roda yang didorongnya, saat mengetahui keberadaan Yoona dan Siwon yang berjarak tak jauh dari mereka. Namun Yuri menahannya, dia pun nampaknya juga sudah melihatnya. Dengan kuat, bahkan sampai membuat buku-buku jarinya memutih, Yuri menggunakan kedua tangannya untuk mencengkram, memegangi roda pada kursi rodanya agar Amber tidak menggerakkannya. Dan sepertinya Yuri justru menunggu apa yang selanjutnya akan terjadi dihadapannya.

Benar saja, tindakan Yuri mengejutkan Amber saat tak lama setelah menyaksikan Siwon mencium Yoona, Yuri berdiri dari kursi yang didudukinya dan sempat membuat Amber menahan napas melihat Yuri yang berjalan dengan yakin menghampiri mereka.

Amber yakin sesuatu yang buruk akan terjadi disana. Dan kembali benar, segera setelahnya amuk kemarahan Yuri tak lagi dapat dihentikan olehnya..

Amber menarik rambut pendeknya dengan rasa frustasi, merutuk dirinya sendiri yang dengan tanpa sengaja menjadi perantara kekacauan itu terjadi.

Andai ia membawa Yuri keluar sedikit lebih lambat dari waktu tadi. Yuri tidak akan menyaksikan adegan berciuman itu dan sudah pasti kekacauan itu tidak akan terjadi.
Tapi, ia bahkan tak mengetahui kepulangan Siwon yang diketahuinya masih berada diluar negri. Bagaimana bisa ia kemudian memprediksi hal itu akan terjadi.

Oh Tuhan, mengapa Engkau tidak mencegahnya..

Amber kembali menarik rambutnya dan mendesah dengan keras, sebelum kemudian merogoh saku celananya, mengambil ponsel yang berbunyi didalamnya..

“Oh, Sunbae.. Sesuatu yang buruk telah terjadi.. Nona Yuri pergi..”

***

Yuri yang terus berlari dengan bertelanjang kaki, tak lagi memperdulikan denyut nyeri dari pergelangan kakinya yang semakin terasa sakit. Ia tak lagi peduli dengan rasa sakit yang semacam itu.
Sakit itu masih tak sebanding dengan perasaan sakit yang ada dalam hatinya yang remuk tak berkeping.

Ia telah berlari cukup jauh, merasakan terguncang oleh apa yang terjadi membuatnya tak tahu arah yang bisa dituju. Sampai kemudian ia menghentikan sebuah taksi dan akhirnya mampu menemukan kemana tujuannya pergi.

Namun begitu, Yuri masih tak memperdulikan meski ia menerima makian-makian kasar dari sang sopir taksi yang bahkan menyebutnya sebagai wanita gila karna dirinya yang tak membayar ongkos taksi yang ditumpanginya.

Yuri menulikan kedua telinganya, ia kemudian justru kembali berlari. Merasakan keinginan kuat untuk segera mencapai satu-satunya tempat yang ingin didatanginya.

Maka disanalah ia sekarang..
Berada diatas perbukitan, sedang terduduk lemas didepan dua gundukan tanah yang menjadi makam kedua orangtua nya.

Yuri menangis..
Isakannya pilu, dan mungkin akan sanggup menyayat hati siapapun yang mendengarnya.

Apa yang sebenarnya telah terjadi?

Tubuhnya bergetar hebat, kesunyian disekitarnya menambah sesak luar biasa yang menghimpit dadanya. Teringat pada apa yang dilihatnya. Pada apa yang juga telah dikatakannya pada Yoona.

Bagaimana ia telah menamparnya dan sampai menyebut Yoona sebagai pelacur..
Bagaimana ia telah menyebutnya pengkhianat..
Dan bagaimana ia telah menyebut Yoona bukan sebagai adiknya.

Ya Tuhan..

Airmata itu kian bercucuran membanjiri wajahnya.
Seharusnya ia tidak mengatakannya..
Sekecewa apapun, sesakit hati apapun, seterluka apapun dan semarah apapun dirinya, seharusnya ia tidak sampai menyebut Yoona seperti itu.
Seharusnya kalimat itu tak pernah keluar dari mulutnya.
Seharusnya rahasia itu selamanya hanya akan diketahui oleh dirinya dan terkubur bersama dengan jasad kedua orangtua nya.

Tapi apa yang telah terjadi tadi..

“Oem-ma mian-hae.. Mianhae ap-pa.. Aku telah melanggar janjiku pada kalian. Aku telah.. Aku.. Maafkan aku oemma.. Maafkan aku appa.. Maaf.. Aku telah bersalah pada kalian..”

Penyesalan akan kalimat itu begitu dalam dirasakan olehnya. Ia yang telah berjanji didepan makam orangtua nya tak lama setelah kedua jasad itu dikebumikan, untuk menjaga Yoona, untuk melindungi adiknya, dan takkan pernah mengatakan siapa Yoona sebenarnya, kini justru telah melanggar janjinya sendiri.

Bagaimana ia bisa melakukannya..
Bagaimana ia bisa lupa ketika lima belas tahun yang lalu ibu dan ayahnya membawa pulang seorang bocah kecil bersama dengan mereka. Bocah kecil yang kemudian menambah keceriaan dalam keluarganya.

Tidak..
Ia tidak akan pernah lupa.

Lima belas tahun yang lalu untuk pertama kalinya Yuri melihat mata polos seorang bocah kecil yang mengerjap menatapnya. Bocah itu berada dalam gendongan ibunya saat itu. Memegang sebuah permen ditangan kanannya, sementara tangan kirinya merangkul erat leher ibunya.

Ayahnya kemudian mengajaknya duduk, dan menceritakan padanya bila mereka menemukan bocah kecil itu terlantar dipinggir jalan. Dan menanyakan padanya apakah dirinya tidak keberatan jika untuk semalam saja bocah kecil itu tidur bersama dengan mereka. Barulah pada keesokan harinya ayahnya akan melapor pada polisi dan memberitahukan mengenai penemuan bocah kecil itu.

Yuri mengangguk setuju, sama sekali tidak merasa berkeberatan. Ia justru menatap iba pada bocah kecil yang terpisah dari orangtua nya dan sedang dalam gendongan ibunya.

Ketika kemudian ia mendekat, menyentuh pipinya dan mengusap rambutnya, ibunya tersenyum padanya dan mengatakan pada bocah kecil itu untuk memanggilnya oenni.

Dan Yuri dibuat terpana oleh gumaman lirih dari bibir mungil bocah kecil itu yang dengan malu-malu mengikuti gerakan bibir dari ibunya yang mengajarkan untuk memanggilnya oenni.

“Oh, yeppuda.. Siapa namanya, oemma?”

Ibu dan ayahnya saling mengerutkan dahi kala itu. Mereka mengatakan tak mengetahuinya..

“aigoo.. Bagaimana bisa bocah manis ini tidak memiliki nama. Apa oemma tidak bertanya padanya?”

Yuri lantas mencoba mengajak bocah kecil itu untuk berbicara. Namun tetap saja bocah itu tak bisa menyebutkan siapa namanya.

“Bagaimana kalau kita memberinya nama, oemma? Ottokae appa.. Appa setuju bila aku yang memberinya nama?”

“Dia hanya akan semalam bersama kita, sayang.. Mungkin dia tidak membutuhkannya. Dia pasti akan segera tertidur. Bila besok polisi menemukan keberadaan orangtua nya kita bisa menanyakan siapa nama bocah itu. Bocah semanis itu pasti telah memiliki nama yang indah seperti kau, Yuri ah..”

Yuri memberengut mendengar apa yang dikatakan ayahnya, dan masih bersikeras untuk memberi nama pada bocah kecil itu walaupun dia hanya akan semalam berada dirumahnya.

“Aku akan memanggilnya, Yoona.. Namanya Yoona.. Ottokae appa, oemma, kalian juga menyukai nama yang kuberikan?”

Yoona..
Pada akhirnya nama itu tak cuma menjadi nama semalam bagi bocah kecil itu.

Rencana sang ayah untuk melapor pada polisi urung dilakukan karna pada keesokan paginya, Yoona justru mengalami demam tinggi yang kemudian mengharuskan mereka membawanya untuk mendapatkan perawatan dirumah sakit. Tiga hari berada dirumah sakit, Yoona menjadi tak bisa lepas dari ibu Yuri yang memang terus menjaganya. Menggendongnya saat menangis dan menenangkannya kala Yoona terjaga ditengah malam. Bocah kecil itu sepertinya mengalami shock setelah terpisah dari orangtua nya.

Setelah tiga hari itu. Setelah Yoona sembuh dari demam dan kembali mereka membawanya pulang. Rencana untuk melapor pada polisi justru semakin jauh untuk dilaksanakan.

Ibu Yuri mengatakan, tunggu satu atau dua hari lagi sampai Yoona benar-benar pulih. Jangan sampai nanti orangtua Yoona menuduh mereka yang macam-macam bila mendapati putri mereka ditemukan dalam keadaan sakit.

Dua hari berselang, setelah Yoona benar-benar telah terlihat sembuh dan bahkan mulai bisa diajak bercanda, giliran Yuri yang melarang. Yuri yang baru berusia sepuluh tahun ketika itu, bahkan mengatakan kalimat yang kemudian mampu membuat kedua orangtua nya tersentak, dan menjadi ikut memikirkan mengenai kebenaran dari kalimat yang diucapkannya.

“Bagaimana jika Yoona memang sengaja dibuang? Bagaimana bila orangtua nya yang sudah membuangnya? Mereka tidak akan menginginkan Yoona lagi, oemma.. Appa..”

Jika benar demikian..
Sungguh malangnya nasib bocah manis itu.

Hingga sampailah mereka pada keputusan untuk merawat Yoona sampai setidaknya mereka mendengar berita pencarian dari kedua orangtua nya. Jika memang Yoona tidak dengan sengaja dibuang, sudah pasti kedua orangtua nya akan melakukan pencarian. Begitu apa yang ada dalam pemikiran mereka.

Namun sehari berselang setelah pengambilan keputusan itu, ayah Yuri menerima kabar pemindahan lokasi pekerjaannya yang mengharuskannya untuk pindah dan tentu saja membawa serta anak dan istrinya. Ketika ia kemudian mengatakan itu, ibu Yuri menangis. Begitupun dengan Yuri. Keduanya memohon agar sang ayah masih tetap pada keputusan mereka untuk merawat Yoona. Yang itu berarti mereka juga akan membawa serta Yoona kemanapun mereka pindah. Sang ayah sempat bimbang, bagaimana mereka bisa mengetahui jika orangtua Yoona mencari?
Namun melihat airmata istri dan anaknya, serta melihat wajah polos tak berdosa dari Yoona yang bahkan sudah ikut memanggilnya dengan sebutan ayah, membayangkan menyerahkan bocah kecil itu pada polisi yang belum tentu akan merawatnya dengan baik, membuatnya tak kuasa untuk menolak keinginan dari mereka yang teramat berharga untuknya.

Airmata masih tak bisa berhenti mengalir dari kedua mata Yuri, ketika ingatannya kembali memutar memori itu..

Bagaimana mungkin ia menjadi begitu tega terhadap Yoona.
Bagaimana mungkin ia lupa dengan kebersamaan yang mereka lewati selama lima belas tahun sejak kedua orangtua nya membawa Yoona. Sejak pertama kalinya bibir mungilnya menyebutnya oenni, Yuri sadar ia telah jatuh cinta pada Yoona.

Seharusnya ia terus mengingat saat dulu Yoona kecil selalu menunggunya didepan pintu ketika ia pulang dari sekolahnya. Yoona kecil akan berseru memanggilnya dan langsung menghampirinya dengan binar kegembiraan dikedua matanya. Sepertinya tahu bila sang oenni sudah pulang, ia akan memiliki teman yang kemudian akan mengajaknya bermain seharian.
Yuri bahkan rela menyisihkan uang saku pemberian ayahnya selama seminggu demi untuk membelikan sebuah boneka untuk Yoona.

Yoona yang menerima mainan pertamanya dengan begitu suka cita, kemudian tak henti menciumi wajah Yuri dan membuat ayah dan ibunya tertawa bahagia melihatnya.

Hari yang berganti hari..
Bulan yang berganti bulan..
Musim yang berganti musim..
Hingga tahun-tahun yang kemudian berlalu, membuat jalinan kasih sayang yang dirajut diantara Yoona dan Yuri bersama dengan kedua orangtua nya kian terjalin erat.

Sang ibu bahkan kerap kali mengatakan pada Yuri jika mungkin saja dikehidupan sebelumnya, putrinya memanglah seorang saudara bagi Yoona. Melihat begitu sayangnya Yuri terhadap Yoona, dan melihat pertumbuhan Yoona yang kian hari menjadi semakin mirip dengan Yuri, membuat ibunya semakin meyakini hal itu. Ibunya terus-terusan mengingatkannya untuk menjaga Yoona..

“dikehidupan yang telah lalu kalian berdua pasti sudah menjadi anak-anak yang begitu manis, hingga Tuhan bermurah hati mempertemukan kalian kembali. Oh, betapa beruntungnya aku yang menjadi ibumu, sayang.. dan betapa beruntungnya dirimu, Yuri ah.. Jagalah selalu adikmu..”

Begitupun dengan sang ayah, yang memintanya untuk terus menjadi kakak yang menyayangi Yoona, adiknya sampai kapanpun.

“Dimasa depan nanti, Kau harus terus berbahagia bersama Yoona, Yuri ah.. Kalian berdua adalah pemberian Tuhan yang paling berharga dalam hidupku dan juga ibumu. Jangan mengingat siapa Yoona sebelumnya. Dia adikmu, kalian harus terus saling mengasihi, sampai kapanpun..”

Saat itu, Yuri semakin menyadari kedua orangtua nya adalah dua orang baik hati yang tak sedikitpun membedakan kasih sayang antara Yoona dengan dirinya. Dan Yuri merasa luar biasa beruntung memiliki orangtua seperti mereka. Namun hal itu juga yang kemudian disadari Yuri, jika semua kalimat itu adalah permintaan terakhir dari kedua orangtua nya, sebelum maut merenggut mereka dari sisinya lima tahun yang lalu. Mereka menitipkan cinta dan kasih sayang mereka untuk Yoona ketanganannya.

Menyadari akan cinta tulus kedua orangtua nya, terucaplah janji dari bibirnya saat itu, didepan makam orangtua nya bahwa dirinya akan selalu menjaga Yoona, menyayanginya sama seperti ayah dan ibunya mencurahkan kasih sayang mereka untuknya.

Tapi apa yang telah terjadi..
Ia sendiri yang kemudian melanggar janjinya..

“Mianhae oemma.. Mianhae appa.. Aku sungguh meminta maaf pada kalian..”

Yuri terus menggumamkan kalimat itu disela isak tangisnya dan airmata yang semakin deras bercucuran dari kedua matanya yang sembab dan mulai nampak sayu..

Tapi kekecewaan dan rasa sakit dihatinya juga masihlah teramat perih dirasakan olehnya.

Yang tak pernah terbayang olehnya adalah Yoona tega mengkhianatinya. Bukankah dia tahu perasaan cintanya untuk Siwon?
Lalu kenapa..
Mengapa Yoona justru bertunangan dengan pria yang dicintainya?
Tidakkah Yoona memikirkan perasaannya..
Tidakkah Yoona mengerti akan sakit dihatinya mengetahui dia yang disayanginya justru berkhianat padanya..

“Mengapa Yoona melakukan ini padaku, oemma.. Mengapa Yoona tega mengkhianatiku, appa..”

Langit telah menjadi gelap saat itu, namun masih belum ada tanda-tanda Yuri akan beranjak dari sana. Ia masih terduduk berlutut diantara gundukan tanah pusara orangtua nya. Menangis, menangis dan terus menangis. Merasakan hatinya yang remuk dan mungkin takkan pernah lagi kembali utuh seperti semula..

***

Berbekal informasi yang didapatkannya dari Amber melalui sambungan telponnya, Yoochun bergerak cepat untuk dapat menemukan Yuri. Ia turut meminta beberapa karyawan ayahnya untuk membantunya melakukan pencarian. Dengan pula menggunakan kemampuannya dalam melakukan penyelidikan.
Yoochun telah menyisir disepanjang jalan menuju rumah Yuri, ia telah pula mendatangi rumah Yuri, namun mendapati pintu rumah itu masih dalam keadaan terpasang gembok. Ia bahkan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi saat kemudian juga mendatangi tempat-tempat yang berkemungkinan didatangi oleh Yuri.

Dari mulai sekolah lama mereka, ataupun gedung universitas. Dan bahkan dengan konyolnya ia menggedor-gedor rumah Donghae persis seperti orang gila, tapi tak satupun dari semua tempat itu menunjukkan keberadaan Yuri disana.

Yoochun yang telah merasakan kecemasan yang luar biasa, dengan segera berubah panik. Was-was juga takut Yuri melakukan perbuatan nekat seperti apa yang diketahuinya pada saat sebelumnya melakukan penyelidikan, Yuri nyaris membunuh dirinya sendiri.

Tak ingin berputus asa, Yoochun kemudian kembali menghubungi Amber, menanyakan kemungkinan dia telah menemukan keberadaan Yuri. Namun Amber pun masih belum menemukannya..

“bagaimana dengan Siwon dan juga adiknya? Tidakkah mereka juga mencarinya?”

“Saya sempat kembali kerumah sebentar dan mengetahui nona Yoona mengalami pingsan setelah tak berhasil mengejar nona Yuri.. Dia telah ditangani dokter. Tuan Siwon sepertinya masih lebih mencemaskan keadaan nona Yoona. Dia memang tak kalah terguncang..”

“Ya Tuhan..”

Yoochun mendesah panjang sebelum kemudian hanya bisa bergumam lirih pada Amber..

“Aku akan menghubungi Siwon, tolong teruskan pencarianmu, Amber..”

“Tentu saja Sunbae.. Aku akan menghubungimu begitu aku menemukan nona Yuri..”

Yoochun memutus sambungan dan langsung melakukan panggilan pada nomor ponsel Siwon. Pada panggilan pertama tak ada jawaban. Namun yang kedua kalinya, Siwon menjawab ponselnya..

“Yoochun ssi, aku baru saja akan menghubungimu..”

“Aku sudah tahu semuanya..”

“Ya Tuhan.. Aku benar-benar tak menduga akan menjadi seperti ini. Kumohon bantu aku menemukan dimana Yuri..”

“Kau tak seharusnya memohon padaku.. Aku sedang melakukan pencarian, aku ingin menanyakan dimana saja tempat yang pernah kau dan Yuri datangi berdua. Mungkin dia pergi kesana..”

Yoochun menarik napas dalam, menanyakan hal semacam itu sesungguhnya membuat perasaan dan hatinya sama sekali tidak nyaman. Namun ia dengan segera menepiskan rasa semacam itu. Bukan waktunya untuk mengurusi perasaan dirinya bila ia menginginkan agar Yuri secepatnya ditemukan.

“Aku tidak yakin Yuri akan berada disana, tapi aku akan mengatakan ada beberapa tempat..”

Apa yang disebutkan Siwon, lantas dengan cepat dicatat oleh Yoochun. Meski Siwon sendiri memang benar-benar tak merasa yakin Yuri akan berlari ketempat-tempat itu, karena beberapa tempat yang disebutkannya, yang pernah didatanginya bersama Yuri bukanlah tempat yang akan menjadi spesial bila mengingat tempat-tempat itu hanyalah tempat yang mereka datangi untuk bernegosiasi bisnis.

“Baiklah aku sudah mencatat semuanya..”

“Hubungi aku jika kau sudah menemukannya..”

“Tidakkah kau juga berniat membantuku mencarinya, Siwon ssi?”

Entah mengapa yang dirasakan oleh Yoochun adalah rasa tidak adil untuk Yuri ketika Siwon justru hanya berdiam dirumah menunggui Yoona. Meski Amber mengatakan Yoona juga sangat terguncang, dan ia percaya hal itu. Namun setidaknya gadis itu aman dirumah Siwon. Sedangkan Yuri..
Ya Tuhan..
Segala kemungkinan buruk yang bisa saja menimpa gadis itu, kembali memenuhi pikirannya.

“Aku akan melakukannya.. Aku sudah berada dimobil sekarang”

Yoochun telah memutus sambungan ponselnya dengan Siwon ketika kemudian ia berniat melajukan mobilnya kesalah satu tempat yang disebutkan Siwon tadi. Namun bunyi ponselnya sesaat membuatnya sedikit mengurangi kecepatan..

“bagaimana?”

“saya menemukan jejak nona Yuri dari seorang supir taksi yang terus menyumpah..”

“katakan padaku dimana dia?”

Yoochun dengan cepat kembali memutus sambungan ponselnya, kali ini dengan sedikit bernapas lega begitu salah satu agen yang bekerja pada ayahnya dan juga rekan yang telah banyak membantunya pada saat menyelidiki Donghae tempo hari, mengatakan sebuah kawasan dimana agen itu sedang berada.

Tuhan..
Betapa bodoh dirinya karna tak terpikir jika Yuri berada dimakam kedua orangtua nya.

Dengan cepat ia pun lantas menambah kecepatan mobilnya, melaju membelah padatnya lalu lintas malam itu. Mengabaikan tak sedikit pengendara lain yang nyaring membunyikan klakson untuk memperingatkannya. Yoochun bahkan yakin para pengemudi itu telah dan sedang menyumpah serapah padanya.

Tak kurang dari empat puluh menit waktu yang dibutuhkannya untuk mencapai lokasi keberadaan sang agen. Yoochun dengan cepat keluar dari dalam mobilnya. Ia melempar kunci kearah sang agen dengan tanpa mengatakan apa-apa, hanya dengan menggunakan isarat mata namun sang agen nampaknya telah mengerti yang dimaksud Yoochun agar dia segera bersiap, sementara Yoochun sendiri kemudian berlari mencari keberadaan makam kedua orangtua Yuri yang letaknya diatas tanah perbukitan.

“Yuri ssi..! Yuri ah..”

Yoochun memutar tubuhnya kesegala penjuru area pemakaman itu. Gelapnya malam dan hanya mengandalkan penerangan dari layar ponsel miliknya yang sangat minim memberinya cahaya saat itu cukup menyulitkannya untuk menemukan keberadaan Yuri disana. Yoochun bahkan beberapa kali tersandung. Namun untungnya sang rekan agennya menyusul dengan membawa sebuah senter sebagai penerangnya..

“Yuri ssi..! Yuri ah..”

Setidak-tidaknya ia sangat menginginkan Yuri menyahuti panggilannya..

“Yuri ah..!”

“Disana Tuan..”

Samar-samar, mata Yoochun tertumbuk pada sesosok tubuh yang terlihat sedang meringkuk dipinggir sebuah makam..

“Yuri ah..!!”

Yoochun berlari..
Secepat kilat untuk kemudian mendapati tubuh Yuri yang  menggigil hebat akibat rintik hujan saat itu yang membuat udara malam kian terasa dingin.
Maka Ia dengan segera merengkuh tubuh itu kedalam dekapannya. Berharap dapat memberikan kehangatan untuknya..

“Ya Tuhan.. Yuri ah..!”

Yoochun menepuk-nepuk wajah Yuri untuk menyadarkannya..

“Yuri ah..”

“Ap-pa.. Ap-pa..”

gumaman itu serasa mengiris-iris hati Yoochun. Betapa memilukan keadaan gadis yang dicintainya sekarang..

“gwechana Yuri ah, gwechana..”

Bisiknya sambil mendekap tubuhnya erat. Namun hanya beberapa detik berselang, Yuri telah sepenuhnya kehilangan kesadarannya..

“Yuri ah.. Yuri ah..”

Dengan terlebih dulu melepaskan sebuah jacket yang dikenakannya, Yoochun menggunakannya untuk menutupi tubuh Yuri sebelum kemudian membopongnya. Bersama dengan sang rekan agen, ia melangkah dengan cepat membawa Yuri kedalam mobilnya untuk selanjutnya membawanya pergi dari area pemakaman itu.

***

Tergesa-gesa dengan tubuh Yuri dalam gendongannya, Yoochun memasuki ruang kamarnya dan langsung membaringkan tubuh Yuri diatas tempat tidur yang berada didalamnya.
Ia tidak mungkin membawa Yuri pulang kerumahnya, karna ayahnya dan terutama ibunya pasti akan menanyakan beribu pertanyaan padanya. Dan ia sedang dalam keadaan yang belum ingin memberikan penjelasan. Yoochun pun tak mungkin membawa Yuri pulang kerumah yang sebelumnya ditempati Yuri dan adiknya. Terlalu jauh dan lagipula rumah yang telah lama tidak ditempati itu, pastilah akan membutuhkan waktu untuk terlebih dulu membersihkannya. Dan kondisi Yuri jelas tidak memungkinkan untuk menunggu. Pilihannya kemudian, membawa Yuri ke sebuah villa milik keluarganya. Yang hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit untuk sampai kesana.

Yoochun bahkan telah menghubungi dokter keluarganya untuk datang. Namun tak sabar menunggu hingga sang dokter datang dan melihat wajah Yuri yang semakin pucat, Yoochun dengan segera berlarian keluar dari kamar itu untuk selanjutnya memasuki kamar lainnya. Sebuah kamar yang biasa ditempati kedua orangtuanya bila mereka menginap. Yoochun bergerak membuka lemari pakaian ibunya dan mengambil sebuah pakaian dari dalamnya beserta sweter hangat milik ibunya. Dan dengan cepat kembali memasuki kamarnya setelah terlebih dulu meneriaki sang rekan agen untuk membantunya mengambil alat pengompres.

Yoochun lantas mencoba membuka pakaian Yuri yang telah basah dan kotor oleh cipratan-cipratan tanah, sesaat menghentikan tangannya dan menggumamkan permintaan maaf karna melakukan hal itu tanpa seijin Yuri. Tapi keadaan saat itu darurat, jika ia tak segera mengganti pakaian yang saat itu dikenakannya, ia takut Yuri akan terserang demam.
Sebenarnya ada seorang wanita yang biasa datang untuk membersihkan villa, namun di malam hari, wanita itu telah pulang. Hingga tak ada yang bisa Yoochun mintai tolong untuk melakukannya.

Kembali menggerakkan kedua tangannya untuk membuka kancing-kancing pakaian yang dikenakan Yuri, Yoochun melucuti semuanya kecuali pakaian dalam, dan lantas menukar dengan memakaian pakaian milik ibunya dan melapisinya dengan sweter cukup tebal untuk menghangatkan tubuh Yuri yang memiliki permukaan kulit sedingin es pada saat ia menyentuhnya.

Yoochun juga kemudian kembali memberikan tatapan miris pada kedua bagian kaki Yuri..

Ia senang mengetahui Yuri yang akhirnya benar-benar dapat kembali berjalan. Namun miris dirasakannya ketika melihat pergelangan kaki itu yang mengalami lecet- lecet. Begitupun dengan telapak kakinya yang memerah, nyaris bengkak akibat dari berlarian tanpa menggunakan alas kaki. Yoochun sesaat mendesah panjang. Yuri tak seharusnya menjadi seperti ini..

Maka yang kemudian dilakukannya adalah mengelap dan membersihkannya dengan perlahan-lahan agar tidak menyakitinya.

Hanya berselang beberapa menit setelah ia selesai membersihkan kaki Yuri, sang dokter yang dihubunginya datang dan langsung melakukan pemeriksaan.

Yoochun tak sedikitpun beranjak dari sisi tempat tidurnya, menatap pada Yuri dengan gelisah saat sang dokter memeriksanya..

Usai sang dokter melakukan pemeriksaan, memberikan suntikan obat dan mengatakan bila setidaknya Yuri akan tertidur dalam beberapa jam, Yoochun mulai kembali merasakan sedikit kelegaan.
Ya..
Hanya sedikit..
Sebelum Yuri membuka kedua matanya, ia takkan bisa benar-benar lega.

Ya Tuhan..
Wajah pucat dihadapannya..
Mata yang terpejam rapat tak membalas tatapannya. Membuatnya merasakan kesedihan luar biasa seakan jantungnya diremas, sesak tiada terkira.

Teringat akan betapa wajah itu dulu berseri penuh warna. Mata indah itupun berpendaran dan membuatnya terpesona. Yuri diwaktu remaja adalah gadis nan cantik hingga mampu membuatnya menyatakan cinta.
Tapi melihatnya yang sekarang tergolek diatas tempat tidurnya dan sedang terluka, membuat Yoochun merasakan puluhan atau bahkan ratusan jarum menusuk-nusuk hatinya. Ia benar-benar nelangsa melihatnya..

“Aku tidak akan pernah lagi meninggalkanmu, Yuri ah.. Sekalipun kau tidak menginginkanku untuk berada didekatmu, aku tidak akan pergi darimu..”

Tekadnya yang terucap kuat,  sambil tubuhnya bergerak condong untuk memberikan kecupan didahi Yuri..

Yoochun kemudian meninggalkanya, keluar dari dalam kamar itu untuk selanjutnya menggunakan ponselnya dan melakukan panggilan..

“Siwon ssi.. Aku sudah menemukannya..”

***

Siwon telah meninggalkan Yoona yang sudah ditangani dokter, namun masih belum sadar, untuk dijaga oleh ibunya dan juga ahjumma Lee.

Ia yang merasa paling bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi, juga kemudian berusaha keras menemukan keberadaan Yuri. Siwon merasa sangat perlu untuk memberi penjelasan pada situasi yang terjadi antara dirinya dan Yoona, juga dengan hubungan dan status pertunangan mereka. Agar Yuri tak semakin salah paham dan memuntahkan amuk kemarahan terhadap Yoona. Yuri harus banyak mendengar. Ia yakin, bila Yuri telah mendengar duduk persoalannya, dia akan mengerti dengan posisi sulit yang juga dialami oleh Yoona, adiknya.

Tapi, demi Tuhan..
Apa dia tadi mendengar saat Yuri menyebut Yoona bukan sebagai adiknya?
Lalu bagaimana kebenarannya?
Tidak..
Pasti tidak benar. Yuri hanya sedang berada dipuncak amarah hingga ia tak sadar dengan apa yang diucapkannya.

Bagaimana jika itu benar?
Siwon tak ingin membayangkan bagaimana hancur dan remuk redamnya hati Yoona. Gadis itu sudah cukup menderita karna selama ini hanya terus mengkhawatirkan keadaan Yuri. Haruskah Tuhan menambah lagi penderitaannya dengan kenyataan Yuri, sang kakak yang begitu ia bela dan sayang, bukanlah kakak kandungnya.

Siwon mendesah panjang..

Sebelum kemudian apa yang saat itu berkecamuk dipikirannya, terhenti oleh dering suara ponselnya. Ia dengan segera menjawab panggilan itu begitu nama Yoochun tertera pada layarnya.
Ia sempat menahan napas menunggu Yoochun bersuara, namun kemudian Siwon merasa lega setelah mendengar Yoochun mengatakan telah menemukan Yuri dan sedang bersama dengannya.

“Kau menemukannya? Oh Tuhan.. Syukurlah. Katakan dimana kalian? Aku akan kesana..”

“Sebaiknya kau datang besok saja.. percuma bila sekarang, karna Yuri masih tertidur setelah menerima beberapa suntikan obat”

“Tidak, aku perlu kesana sekarang. Aku harus memastikan.. Kirimkan alamatmu sekarang..”

Siwon memutus sambungan telponnya, dan menunggu sambil terus melajukan mobilnya. Sampai kemudian bunyi pesan masuk, dari Yoochun yang mengirimkan alamat kepadanya.

Segera, Siwon memacu mobilnya..

Perlu waktu sekitar satu jam hingga akhirnya Siwon menghentikan laju mobil yang dikendarainya setelah memastikan ia benar telah sampai didepan alamat yang dituliskan Yoochun melalui pesan yang dikirimkannya.

Siwon keluar dari dalam mobil dan dengan langkah lebar berjalan menuju pintu depan villa yang kemudian langsung berhadapan dengan Yoochun yang membukakan pintu untuknya.

“dimana Yuri?”

Siwon menerobos masuk kedalam, bahkan sebelum Yoochun sempat menggeser tubuhnya.

“dimana Yuri?”

Mengulang sekali lagi pertanyaannya, Siwon lantas mengikuti arah telunjuk Yoochun yang menunjuk pada salah satu pintu yang tertutup. Dengan segera ia melangkahkan kakinya, berhenti sejenak untuk menekan knop membuka pintu dan selanjutnya masuk kedalamnya.

Mendekat, Siwon merasakan kelegaan yang luar biasa mendapati Yuri terbaring diatas tempat tidur dengan tubuh tertutupi selimut.

“Yuri ssi..”

Kesedihan dengan cepat menelusup kedalam hatinya. Wajah Yuri yang terlihat pucat, tanpa sedikitpun menyisakan rona disana, seakan tengah memperlihatkan kerapuhan dalam dirinya. Hal yang sama yang sebelumnya ia lihat pada Yoona.

Tuhan..
Betapa kebohongan itu telah membuat keduanya sama-sama terluka.

“Mianhae Yuri ssi.. Tak sedikitpun aku berniat menyakitimu. Kau harus mendengar penjelasanku dan juga Yoona.. Dia dalam posisi sulit sepertimu. Mengertilah..”

Siwon baru saja ingin meraih tangan Yuri, namun terhenti oleh suara Yoochun yang berbicara..

“Percuma kau mengatakan itu sekarang, Siwon ssi.. Dia tidak akan mendengarmu. Dokter yang memeriksanya mengatakan Yuri akan tertidur dalam beberapa jam, sebaiknya biarkan dulu dia beristirahat. Sementara itu, sepertinya kita perlu untuk berbicara..”

Siwon mengalihkan perhatiannya pada Yoochun yang kemudian meninggalkan ambang pintu dimana ia mengatakan kalimat itu darisana, dan tak lama berselang, setelah sekali lagi ia menggumamkan permintaan maafnya, Siwon meninggalkannya mengikuti Yoochun.

***

Pukul tiga dini hari, setelah berbincang panjang dengan Yoochun mengenai situasi yang pada saat itu terjadi, Siwon memutuskan untuk kembali kerumahnya. Keresahan yang nampak jelas diwajahnya-lah yang juga menjadi penyebabnya hingga Yoochun memberinya saran agar ia meninggalkan villa miliknya, setelah menjanjikan ia akan menghubunginya bila Yuri telah terbangun nanti. Yoochun juga mengatakan akan mencoba berbicara dengan Yuri, meski kecil kemungkinan Yuri akan mendengarkannya. Tidak menatapnya dengan pandangan waspada saja, Yoochun sudah sangat bersyukur. Tapi meskipun begitu ia tetap akan mencoba. Siapa tau Yuri sudah jauh lebih tenang dan mau berpikiran jernih untuk mencerna hingga menelaah apa yang nantinya akan coba dikatakannya.

Masuk kedalam rumahnya, Siwon mendapati ibunya yang masih terjaga, sedang berdiri mondar-mandir tak jauh dari kamarnya. Sementara, dari arah dalam kamarnya, ahjumma Lee baru saja keluar dan langsung melihat kedatangannya..

“Siwon ah..”

Ibunya menoleh..

“Oh, Siwonie..”

Siwon mendekat untuk kemudian merangkul ibunya, dan mengeluarkan helaan napas panjang setelahnya..

“Yuri masih belum ditemukan?”

Tanya sang ibu kemudian..

“Sudah.. Dia sudah ditemukan.”

“Oh Tuhan ku, syukurlah..”

Ahjumma Lee tak bisa menutupi kelegaan diwajahnya. Ia mendekati Siwon yang kemudian mempergunakan lengannya yang satunya untuk meraihnya. Ia merangkul bahu kedua wanita itu untuk selanjutnya membawa mereka duduk..

“Jadi dimana Yuri sekarang?”

“Dia ada disebuah tempat bersama dengan seseorang yang menjaganya..”

“Apakah itu akan baik-baik saja untuknya? Kau sudah menjelaskan semuanya padanya? Kenapa kau tidak membawa Yuri agar dia melihat keadaan Yoona setelah dia meninggalkannya..”

“Aku belum bisa berbicara dengannya.. keadaan Yuri tak lebih baik dari Yoona. Dan apakah Yoona masih belum sadar?”

“Dia mungkin sebaiknya tidur saja.. Oemma takut dia akan kembali histeris saat terbangun nanti. Kebohongan ini kemauannya, maka dia seharusnya siap menerima apapun konsekuensinya. Tapi kenapa aku tak bisa menyalahkannya. Aku bahkan tak tega untuk mengomelinya seperti biasanya.. Dia begitu terlihat tertekan, Siwon. Oemma sangat kasihan padanya..”

Siwon mengusap-usap bahu ibunya. Apa yang dirasakan sang ibu jelas sama persis dengan apa yang dirasakannya..

“Sekian lama aku mengenal mereka, tak sekalipun aku melihat mereka bertengkar. Baru tadi, baru tadi aku melihat mereka menjadi seperti itu.. Tuhan, aku tak ingin keduanya terpisah seperti ini..”

Suara yang terdengar parau dari ahjumma Lee, juga membuat Siwon melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan terhadap ibunya untuk menenangkannya.

Ahjumma Lee lantas menyusut airmata diujung kedua matanya, yang terus saja basah sejak tadi. Ia mencemaskan Yoona dan juga sangat mengkhawatirkan keadaan Yuri..

“Ahjumma.. Apakah aku bisa menanyakan sesuatu pada ahjumma?”

“Apa Siwon?”

“Sejak kapan ahjumma mengenal Yuri dan orangtua nya?”

“Itu sudah sangat lama ketika dulu mereka menempati rumah disebelahku.. Yuri masih disekolah dasar sepertinya. Dan Yoona, dia masih sangat kecil dan terus berada dalam gendongan ibunya..”

“Benarkah apa yang Yuri katakan tadi?”

Ahjumma Lee tidak langsung menjawab. Ia mencoba mencerna apa yang ditanyakan oleh Siwon pada saat itu..

“Benarkah Yoona bukanlah adiknya? Bukan adik kandung Yuri?”

Siwon memperjelas pertanyaannya, membuat ahjumma Lee dengan cepat menggelengkan kepalanya. Airmata kembali lolos dari sudut kedua matanya.

“Tidak.. Pasti tidak benar. Yuri hanya sedang sangat marah hingga dia mengatakan hal seperti itu.. Seingatku dari awal mereka baru pindah dari Gangwon sampai terakhir orangtua Yuri meninggal, mereka adalah satu keluarga yang kompak. Yuri bahkan dengan bangga memperkenalkan Yoona sebagai adiknya. Tak terlihat ada yang janggal. Semuanya normal, tak sedikitpun terlihat jarak yang menunjukkan jika Yoona bukanlah anak kandung dalam keluarga itu.. Setelah kedua orangtua nya meninggal, Yuri lah yang mengambil alih peran mereka dengan menjaga dan mengurus semua kebutuhan Yoona, sendirian.. Yuri sangatlah mencintai adiknya..”

Ahjumma Lee kembali menyusut cairan bening dimatanya..

“Ahjumma, apa tadi kau mengatakan mereka berasal dari Gangwon?”

Ny.Choi tiba-tiba mempertanyakan..

“Ya, mereka mengatakan berasal dari salah satu desa disana..”

“Gangwon.. Jadi mereka benar-benar berasal dari Gangwon?”

Ny.Choi bergumam sendiri, dalam kepalanya memproses informasi yang baru didengarnya itu..

Apa mungkin, Yoona..??

“Ada apa, oemma?”

“Ah, anio..”

***

Siwon memasuki kamarnya usai ia meminta atau lebih tepat disebut memaksa sang ibu dan ahjumma Lee untuk beristirahat, sementara dirinya yang kemudian menggantikan kedua wanita itu untuk menjaga Yoona.

Yoona masihlah belum sadar ketika Siwon mengambil duduk disebelah tempat tidurnya, memperhatikan pada bagian tangannya dimana terdapat jarum infus yang menempel pada pergelangannya. Siwon meraih tangan itu untuk selanjutnya menjalin jari-jari tangan Yoona dengan jari-jari tangannya. Merasakan permukaan kulit dinginnya yang hanya semakin menambah kecemasan yang masih terus membelitnya semakin kuat disetiap menitnya.

Tuhan..
Betapapun ia ingin menyerap kesakitan yang dirasakan gadis itu, ia tetap tak akan bisa melakukannya.
Betapapun ia ingin memutar waktu kembali sebelum ia mengikuti keinginan Yoona untuk melakukan kebohongan, ia sadar tak akan mampu untuk melakukannya.
Semua sudah terlambat untuk dilakukan..
Kebohongan yang diinginkan Yoona untuk kebaikan, sekarang justru mengakibatkan kekacauan.
Kebohongan itu nyatanya bagaikan bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan membuat siapapun yang berada didekatnya terluka oleh karna serpihan-serpihan yang dihasilkan.
Ya..
Kebohongan itu telah membawa beribu-ribu serpihan yang menimbulkan luka rasa sakit yang bukan saja mengenai Yuri, tapi jelas paling parah dirasakan oleh Yoona, yang memegang bom waktu itu ditangannya.

Siwon tak dapat membayangkan bagaimana perasaan Yoona saat ini..
Ia ingin menggenggam hatinya, mengamankannya, agar serpihan itu tak mengenainya. Namun apalah daya, terlambat untuknya bisa melakukannya.

Semua sudah terjadi, tak ada pilihan lain selain menghadapi..

“Aku akan terus menggenggam tanganmu.. Aku hanya berharap kau tidak akan pernah melepaskan genggaman tanganku, Yoona. Aku tahu semua ini teramat berat untukmu.. Tapi yakinlah, selalu ada ujung untuk setiap masalah yang terjadi. Dan aku inginkan kau akan terus bersamaku sampai kita mencapai ujung itu bersama-sama..”

***

Hangat sinar matahari yang merangkak naik, sang surya yang sedang menunjukkan besarnya perannya dalam kehidupan semua mahluk yang menjadi penghuni bumi, yang kemudian secara perlahan-lahan membuat pergerakan dibola mata Yuri ketika sinar surya itu mengenai wajahnya. Sinar itu masuk melalui kaca pada jendela-jendela besar yang terdapat dikamar itu.

Bola mata yang awalnya bergerak-gerak itu, lantas mengerjap. Hingga beberapa kali kerjapan untuk menyesuaikan intensitas cahayanya yang cukup terang sekaligus  juga cukup menghangatkan.

Yuri dengan segera merasakan terkesiap..
Sedang berada dimana dirinya sekarang?
Apakah ibu dan ayahnya akhirnya menjemputnya untuk bersama dengan mereka dan terlepas dari semua rasa yang melukai hatinya?

Yuri sekali lagi mengerjap..
Menelusuri dengan pandangan matanya yang berkeliling.
Tidak..
Apa yang dilihatnya tak nampak seperti pemandangan disurga yang selama ini tergambar tak nyata dalam benaknya.
Ia sedang berada diatas tempat tidur, didalam sebuah ruangan yang luas, yang terang dan terasa hangat.
Jadi dimanakah dirinya sekarang?
Siapa yang telah membawa tubuh ini hingga sampai berada ditempatnya sekarang?

Pertanyaan-pertanyaan yang mengitari kepalanya kemudian terhenti saat tatap matanya tertumbuk pada sebuket bunga yang berada diatas meja tak jauh dari sampingnya.

Yuri perlahan bergerak..
Meraih bunga itu, lalu kemudian membawanya menempel pada hidungnya. Keharuman yang lantas terasa memenuhi udara disekitarnya.
Bunga itu mengingatkannya pada buket-buket bunga yang sebelumnya banyak ia terima. Yang kemudian disadarinya telah beberapa lama ia tak menerima buket bunga semacam itu. Kerinduan mencium wangi bunga yang selalu diterimanya, kini terbayar dengan bunga yang menempel dihidungnya.

Yang kemudian dilakukannya adalah menyerap keharuman itu sampai memenuhi rongga pernapasannya..

Siapa yang telah meletakkan bunga itu?

Tatap matanya kemudian beralih, ia menemukan secarik kertas yang juga tergeletak diatas meja dimana sebelumnya bunga itu berada. Kertas itu nampaknya lebih menarik minat Yuri ketimbang semangkuk nasi beserta sup yang uap panasnya bahkan terlihat masih mengepul, menandakan tak lama makanan itu diletakkan.

Siapa pula yang meletakkan itu disana?

Menarik secarik kertas itu, Yuri menemukan tulisan yang lantas ia baca..

‘Terimakasih sudah membuka matamu..’

Tulisan yang dibacanya dalam hati itu langsung menggetarkan dadanya. Ia mengenali jenis tulisan tangan seperti itu. Jelas tulisan tangan yang sama yang selama ini juga menyertai buket-buket bunga yang selalu ia terima. Ia bahkan telah mengumpulkan dan menyimpan banyak tulisan tangan seperti itu..

Apakah Siwon..
Apakah Siwon yang akhirnya menemukannya?
Apakah Siwon sekarang berada ditempat yang sama dengannya?
Pria itu yang telah meletakkan bunga itu untuknya?

Namun mengapa rasanya berbeda. Tak ada lagi rasa yang menggetarkan hatinya.
Mengapa mengingat Siwon, sekarang justru membuatnya merasa sesak didada.

Yuri kemudian menyingkap selimut dari atas kakinya. Sontak menjadi panik mendapati dirinya yang tak lagi mengenakan pakaian miliknya..

Tuhan..
Siapa yang telah melakukannya?

Yuri telah menurunkan kedua kakinya dari atas tempat tidur dan telah memiliki niat untuk beranjak dari sana. Namun kemudian, pintu yang terbuka, menyusul suara seruan yang mengiringi langkah kaki seorang pria yang masuk, dengan segera menghentikannya..

“Ya Tuhan.. Sebaiknya kau tetap berada disana, Yuri ah..”

Benar rupanya nada suara memperingatkan itu, ketika kedua kaki Yuri menginjak lantai berlapis karpet dibawahnya, yang ia yakin bila ia menginjak itu dengan kaki normal akan terasa lembut, tapi yang dirasakan Yuri justru nyeri berdenyut, ngilu pada telapak kakinya..

“Awhh..”

Rintihnya kemudian sambil mengangkat kedua kakinya. Membuat Yoochun yang melihatnya, mempercepat langkah untuk menghampirinya.

Tanpa memperhatikan pada tatapan waspada dari Yuri, Yoochun meraih kedua kakinya dan kembali meletakkannya diatas tempat tidur..

“Senang melihatmu sudah sadar.. Tapi sebaiknya kau tetap berada diatas tempat tidur”

Yoochun sedikit tersenyum. Namun senyum yang hanya sedikit itu, seketika lenyap saat melihat Yuri beringsut dari atas tempat tidur dengan kilatan tatapan waspada dikedua matanya.

“Yuri ah.. Gwechana?”

“Siapa kau? Siapa kau hingga berada disini?”

“Yuri ah..”

Yoochun mencoba meraih tangan Yuri, namun jeritan darinya yang kemudian justru ia dengar..

“Jangan sentuh aku..! Kumohon jangan sentuh aku.. Pergi..! Jangan sentuh aku..”

Yoochun mundur dari sisi tempat tidur, mengetahui tubuh Yuri yang mendadak gemetar, membuatnya sesaat meremas rambutnya sendiri.

Sialan..
Trauma itu..
Mengapa masih saja dirasakannya.

“Yuri ah.. Aku tidak akan menyakitimu”

Yuri menggeleng dan bahkan menutup kedua telinganya dengan telapak tangan..

“Tuhan.. Bagaimana caranya agar kau mengingatku? Tolong katakan padaku bagaimana caranya membuatmu mengingatku..”

Yoochun dibuat kehilangan kesabarannya ketika Yuri terus saja menggeleng, menutup telinganya seolah-olah tak mau mendengar apapun darinya. Ia lantas kembali mendekati tempat tidur, meraih tangan Yuri dan memegangnya dengan erat meski Yuri berontak dan kembali berteriak.

“Dengarkan aku! Yuri ah.. Dengarkan aku..! Aku tidak akan menyakitimu”

“Kalau begitu lepaskan aku!!”

“Aku akan melepaskanmu, tapi tolong tenanglah.. Aku bersumpah takkan pernah menyakitimu..”

“Kau sedang melakukannya sekarang!”

Perlahan Yoochun mengendurkan cengkraman tangannya, namun masih tak melepaskannya.

“Sudah tidak lagi kan?”

Yuri tak menjawab, melainkan memberikan tatapan tajam kearahnya.

“Beri aku kesempatan untuk membantumu menemukan kepingan memori tentangku yang aku yakin masih kau miliki..”

Entah bagaimana kemudian Yoochun justru bersenandung. Sebuah lagu yang dinyanyikannya kemudian seakan tengah menggulung ingatan Yuri, membawanya kemasa lalu. Kemasa bertahun-tahun lalu, ketika seorang pria menariknya untuk berada dibelakang gedung sekolah, menunjukkan sebuah gitar kehadapannya kemudian mendendangkan lagu untuknya.

Tepat setelah syair-syair lagu itu selesai dinyanyikan, sang pria meletakkan gitarnya, kemudian berlutut dengan bunga mawar yang tiba-tiba sudah berada ditangannya. Sekuntum mawar yang sebelumnya entah disembunyikan dimana. Yang paling mengejutkannya adalah kalimat cinta yang diucapkan pria itu dihadapannya..

“Yuri ah.. Aku jatuh cinta padamu. Pada pandangan pertama aku melihatmu, aku tahu telah merasakan perasaan berdebar-debar didadaku. Karna itu, hari ini aku mengumpulkan seluruh keberanianku untuk menyatakan perasaanku padamu. Yuri ah, aku jatuh cinta padamu. Maukah kau berkencan denganku..? Jadilah gadis ku..”

Yuri tersentak oleh karna ingatan itu. Bibirnya lantas dengan lirih menggumamkan satu nama, bahkan sebelum Yoochun menyelesaikan nyanyiannya..

“Yoo-chun ssi..”

Seolah tak yakin, Yuri kembali mengulanginya..

“Yoo-chun ssi..”

Yoochun menghentikan nyanyiannya..

“Kau mengingat itu? Kau mengingat saat aku menyanyikan lagu ini untukmu?”

“Yoo-chun ssi.. Kau.. Kau kah.. Kau kah Yoo-chun ssi..?”

Yoochun mengangguk dengan bersemangat..

Akhirnya, Tuhan..

“Kau mengingatku, Yuri ah?”

Yuri menganguk, perlahan tapi pasti kilatan kewaspadaan dikedua matanya memudar. Dan sepersekian detik setelahnya tubuhnya terasa hangat dalam dekapan pria itu.

“Yoo-chun ssi..”

“terimakasih karna telah mengingatku, Yuri ah.. Terimakasih..”

Yoochun menjalankan tangannya diatas kepala Yuri, mengusap rambutnya yang berantakan namun tetap terasa  lembut menyentuh telapak tangannya.

“Yoochun ssi.. ”

Yuri menarik diri, melepas pelukan Yoochun ditubuhnya..

“ba-bagaimana aku bisa disini..?”

“Aku akan jelaskan nanti.. Mungkin sebaiknya kau mengisi perutmu terlebih dulu.. Baru setelah itu kita bicara. Banyak hal yang harus kita bicarakan, Yuri ah. Jadi aku akan pastikan kau terlebih dulu memiliki cukup banyak energi untuk mendengarku..”

Yoochun menunjukkan senyumnya, sambil tangannya kembali mengusap kepala Yuri. Setelahnya, ia bergerak mengambil nampan berisi nasi dan sup..

“Pakaianku.. Bagaimana dengan pakaianku?”

Pertanyaannya membuat Yoochun berpaling, ia hampir tak menyangka Yuri akan menanyakan hal itu..

“Ah, itu.. Aku.. Aku yang menukarnya dengan pakaian yang kau kenakan sekarang. Tapi tenanglah, Yuri ah.. Tidak ada yang kulakukan selain mengganti pakaianmu. Pakaianmu basah, kau menggigil jadi aku harus menggantinya agar kau tidak mengalami demam. Kondisimu semalam, memaksa ku dengan lancang melakukannya karna tak ada seorang wanita disini yang bisa kumintai bantuan. Maafkan kelancanganku..”

Yoochun yang telah menjelaskan situasinya semalam, lantas mendekat kembali kesisi tempat tidur untuk meyakinkan Yuri bahwa apa yang dikatakannya adalah benar..

“Aku bersumpah, aku tidak melakukan hal yang kurang ajar padamu..”

Yuri masih diam menatap kedalam matanya, seakan sedang mencari kesungguhan kata-kata Yoochun. Dalam hati ia mempercayainya. Seingatnya, pria dihadapannya ini, yang dikenalnya beberapa tahun yang lalu, memang selalu memperlakukannya dengan baik. Bahkan ketika ia menolak pernyataan cintanya ketika itu, Yoochun tak sedikitpun marah kepadanya.

Siapa yang tidak menyukai pria sebaik itu..
Tidak..
Ia menolak bukan karna tidak menyukai Yoochun.
Ia menyukainya dan mungkin cinta pertamanya juga telah tumbuh pada saat itu. Tapi ia lebih tak percaya dengan dirinya sendiri. Pantaskah ia menjadi gadis yang disukai pria itu.
Yuri telah banyak mendengar mengenai reputasi keluarganya, dan menjadi tak yakin mereka akan bisa menerima gadis biasa sepertinya. Dan lagi pula, ia masihlah seorang remaja. Masih banyak yang ingin ia kejar untuk masa depannya.

Namun, perasaan tak enak lantaran tidak mengatakan perasaannya yang sesungguhnya, membuat Yuri merasakan gelisah dalam beberapa hari. Ditambah lagi dengan selentingan kabar yang berkembang diantara teman-temannya, bahwa Yoochun akan pergi keluar negri setelah kelulusannya, membuat Yuri semakin uring-uringan. Hingga akhirnya ia mendengar salah seorang teman yang mengatakan jika Yoochun benar-benar akan pergi dengan menggunakan penerbangan hari itu.

Tak ada yang dipikirkan olehnya selain berlari dari sekolahnya meski jam pelajaran saat itu sudah akan berlangsung. Ia perlu mengungkapkan perasaannya, atau setidaknya melihat pria itu untuk terakhir kalinya sebelum pergi. Namun, Yuri terlambat. Yoochun rupanya membatalkan penerbangan hari itu dan telah melakukan penerbangan lain dengan menggunakan pesawat pribadi bersama kedua orangtuanya yang ikut mengantarnya.

Yuri tergugu menangisi ketidak jujurannya terhadap pria itu. Dan tak ada yang mengetahui penyesalannya ketika itu..

“Yuri ah..”

Saat Yuri masih terus terdiam, Yoochun menyentuh tangannya dan membuat Yuri tersadar dari menerawang ingatan masalalunya..

“Yuri ah, kau mendengarku?”

“hm..”

“maafkan atas kelancanganku padamu..”

Yuri yang kemudian mengangguk percaya membuat kelegaan tersendiri dalam diri Yoochun. Pria itu lantas meneruskan mengambil semangkuk nasi dan mengaduknya dengan sup panas kemudian memberikannya pada Yuri..

“Apa kau mau aku menyuapimu?”

Yuri malah mendorong mangkuk ditangan Yoochun dari hadapannya..

“Aku tidak lapar.. ”

“Tapi kau…”

“Kau yang selama ini mengirimkan bunga untukku?”

Yoochun merasa tubuhnya menegang mendengarnya, meski inilah yang ditunggu-tunggu olehnya.

“Kau jelas telah banyak mengetahui tentangku.. Jadi bisakah kita langsung saja membicarakan banyak hal yang tadi kau katakan akan kita bicarakan..?”

***

“Oenni ya..! Yuri oenni..!!”

Dengan dada naik turun oleh karna nafasnya yang tak beraturan, Yoona tersentak bangun dari tidurnya. Teriakannya tadi juga kemudian membangunkan Siwon yang tertidur pada sebuah kursi disampingnya.

“Yoona.. Kau sudah sadar..”

Yoona masih berusaha mengatur pernapasannya dan mengingat-ingat apa yang tadi dilihatnya, yang kemudian disadarinya hanyalah mimpi buruk saja.
Apakah tadi itu mimpi?
Ia yang menangis ketika Yuri oenni nya pergi meninggalkannya, apakah hanya mimpi?
Tidak..
Oenni nya memang telah benar-benar pergi meninggalkannya..

Tersentak oleh kejadian-kejadian yang sebelumnya terjadi, Yoona langsung menyingkap selimut dari atas tubuhnya dan menarik lepas jarum infus dari pergelangan tangannya. Mengabaikan nyeri dan sedikit darah yang keluar dari pergelangan tangannya akibat mencabut jarum infus itu dengan paksa.

“Demi Tuhan Yoona.. Apa yang kau lakukan?”

Siwon memegang kedua bahunya, meremas dan kemudian mengguncangnya ketika yang terus digumamkan Yoona hanyalah nama Yuri saja..

“Lepaskan aku! Aku ingin bersama Yuri oenni..! Aku harus mencari Yuri oenni..”

Wajahnya telah menjadi lebih dari sekedar cemas ataupun panik ketika ia kemudian turun dari atas tempat tidur..

“Yuri oenni, dimana Yuri oenni ku?”

“Aku mengerti, tapi tenanglah dan lihatlah pada kondisi tubuhmu sendiri?”

“Lalu bagaimana dengan oenni ku. Dia pasti tidak lebih baik diluar sana.. Kumohon biarkan aku mencari Yuri oenni”

“Dia sudah ditemukan.. Yuri sudah ditemukan?”

“Oenni ku.. Benarkah Yuri oenni sudah ditemukan?”

Siwon mengangguk, sambil tangannya terulur mengusap rambut Yoona..

“Dimana oenni ku sekarang? Apa dia ada dikamarnya? Aku ingin bertemu dengannya.. Aku harus berbicara dengannya..”

Siwon menggeleng..

“Waeyo?! Aku harus menjelaskan pada oenni ku, sajangnim..”

“Dia tidak berada dirumah ini..”

“Apa maksudmu? Tadi kau mengatakan oenni ku sudah ditemukan.. Jadi ada dimana Yuri oenni sekarang?”

“Dia berada disuatu tempat..”

“Sendirian?”

“Tidak, seseorang bersama dengannya..”

“Nugu?”

“Yuri bersama dengan seorang pria yang mencintainya..”

Yoona hampir-hampir tak percaya dengan apa yang didengarnya. Ataukah pendengarannya yang memang sedang bermasalah?
Siapa pria yang Siwon maksud?

“… Jadi tenanglah, Aku juga sudah meminta Amber untuk berada disana. Yuri akan baik-baik saja. Sementara ini kau lebih baik memulihkan kondisi tubuhmu terlebih dulu..”

Siwon mencoba mendorong tubuh Yoona agar kembali menempati tempat tidurnya. Namun Yoona justru menepiskan tangannya.

“Aku harus bertemu dengan oenni ku..”

“Demi Tuhan, Yoona.. Bisakah sekali ini saja kau memperdulikan keadaanmu..!”

Siwon sedikit menggertak dengan tatapan matanya..

“Aku akan baik-baik saja jika aku melihat Yuri oenni juga baik-baik saja..”

“Aku sudah katakan Yuri akan baik-baik saja. Dia aman bersama dengan Yoochun, pria yang mencintainya..”

“Tidak.. aku bahkan tak mengenal siapa pria itu. Bagaimana bisa aku membiarkan Yuri oenni bersamanya”

“Dia Yoochun.. pria yang pernah aku perkenalkan padamu. Kau ingat? Dia juga telah…”

“Tapi terakhir kali aku membiarkan oenni ku bersama dengan pria yang mengaku mencintainya, Dia malah mendapatkan pelecehan.. Yuri oenni diperkosa..!! Sampai kapanpun aku takkan pernah melupakan kenyataan mengerikan itu..! Jadi biarkan aku menemui oenni ku..”

Yoona mendorong dada Siwon dari hadapannya dan menghalangi jalannya. Ia melangkah dengan cepat meraih gagang pintu, membuka pintu yang tertutup dan keluar dari dalam kamar itu.

“Yoona ya, kau sudah bangun sayang..”

Ia sesaat menoleh pada Ny.Choi yang dalam langkah mendekatinya. Namun kemudian Yoona mengabaikannya dengan kembali mempercepat langkahnya menuju pintu depan. Namun belum sampai ia mencapainya, Siwon telah lebih dulu meraih tangannya.

“Aku akan mengantarmu.. Kau bahkan tak tahu kan dimana Yuri berada sekarang..?”

Yoona terdiam, merasakan tangannya yang kemudian digenggam erat oleh Siwon..

“Yoona ya.. Siwonie.. Mau kemana kalian?”

Ny.Choi mendekati keduanya..

“Kau baik-baik saja, Yoona? Kau masih terlihat pucat..”

Yoona mengangguk ketika tangan Ny.Choi kemudian terulur untuk meraih wajahnya.

“… Sebaiknya kau makan terlebih dulu.. Aku sudah membuat bubur untukmu..”

Yoona menggeleng, menolak ketika tangan Ny.Choi beralih dari wajahnya, berpindah untuk meraih pergelangan tangannya..

“mianhae omonim, Aku harus menemui oenni ku..”

“Kenapa bukan kakakmu saja yang datang kemari? Kau masih terlihat lemah untuk keluar dari rumah, Yoona. Biarkan Siwon yang membawanya kemari. Siwon, kau saja yang pergi dan jemput gadis itu. Biar Yoona bersama dengan oemma..”

Siwon hanya diam, tahu dengan kekeras kepalaan gadis yang berada disebelahnya yang pastinya takkan menyetujui ide ibunya saat itu..

“Mianhaeyo omonim, tapi aku.. Aku ingin secepatnya bertemu dengan oenni ku..”

“Tapi Yoona ya..”

“Jeongmal mianhaeyo, omonim..”

Yoona memberikan tatapan permohonan dari kedua matanya yang nampak sendu. Membuat Ny.Choi mendesah melihatnya..

“Tapi kau akan kembali kan? Kau akan pulang kerumah ini kan..?”

Yoona merasa tak yakin, namun ia kemudian mengangguk..

“Baiklah, aku akan membiarkanmu. Pergi dan selesaikanlah apa yang harus kau selesaikan. Setelah menyelesaikan semuanya, segeralah pulang.. Aku menunggumu..”

Yoona kembali hanya bisa menganguk..

“Aku akan mengantarnya, oemma..”

“hm, pastikan kau membawanya pulang, Siwon..”

“ne, aku mengerti..”

Ny.Choi kembali hanya bisa mendesah ketika kemudian Siwon menghela tubuh Yoona masuk kedalam mobil. Dan kemudian melaju meninggalkan rumahnya.

***

Yuri masih terlihat tegang saat itu, namun terus menyimak apa yang sedang dikatakan oleh pria dihadapannya.
Yoochun pada akhirnya berhasil membuat Yuri mendengarkan ucapannya. Ia dengan hati-hati mengatakan bagaimana awal mula dirinya mengetahui keadaan Yuri. Yang terjadi lantaran jasanya yang disewa oleh Siwon untuk melakukan penyelidikan terhadapnya yang tiba-tiba menghilang. Namun akhirnya dari hasil penyelidikan intens yang dilakukannya, diketahui bila Yuri bukanlah menghilang melainkan mengalami keterguncangan dan ditempatkan disebuah rumah sakit jiwa.

Selesai dengan itu, Yoochun beralih mengatakan tentang apa saja yang kemudian dilakukan oleh Donghae. Ia tahu, ketika menyebut nama pria itu, Yuri menjadi bertambah tegang. Kedua tangannya terkepal, matanya menyiratkan sorot kemarahan yang bercampur dengan kebencian. Namun Yoochun tetap meneruskan.

Ia mengatakan Donghae telah banyak melakukan kebohongan. Mengklamufase beberapa hal yang hanya bisa dibenarkan sendiri oleh otak kotornya. Pria itu juga mencekoki Yoona dengan informasi-informasi yang tidak benar. Donghae mengatakan jika Siwon lah, dalang atau tersangka utama yang menjadi penyebab keterguncangan yang dialaminya ketika itu. Yoochun sendiri masih belum tahu pasti alasan Donghae yang justru mengkambing hitamkan Siwon atas kesalahannya. Bila melihat dari latar belakangnya sebelumnya, seharusnya pria itu tak sampai hati melakukan hal demikian kepada orang yang telah memberinya penghidupan dengan lebih layak.

Namun pria itu nyatanya memiliki pemikiran lain. Donghae berhasil mempengaruhi Yoona, dan membuatnya dengan mudah mengikuti rencananya. Yoona yang berpikiran teramat polos, kemudian diracuni hingga dengan serta merta mendarah daginglah kebenciannya terhadap Siwon. Yang ia percayai dari omongan Donghae, pria itu sebagai seorang yang sudah sepantasnya dihancurkan karena telah pula menghancurkan kehidupan oenni nya. Keduanya lantas mulai menyusun rencana untuk membuat kehancuran Siwon menjadi nyata. Entah kehancuran seperti apa, tapi rencana itu dimulai dari memasukkan Yoona sebagai resepsionis perusahaan.

Namun yang kemudian tak diketahui oleh keduanya, Siwon tak sebodoh atau lebih tepatnya bukanlah orang bodoh yang memiliki kerja otak lamban. Ia dapat dengan cepat mengendus ketidak beresan yang terjadi disekitarnya. Meski ia nyaris tak sedikitpun percaya Donghae yang dikenal baik olehnya sedang merencanakan suatu kehancuran yang tak dimengerti olehnya karna apa, tapi kemudian Siwon mengikuti permainan yang dimainkan. Ia pun kemudian ikut bergerak. Gerakannya justru jauh lebih cepat bila dibandingakan dengan gerak rencana yang disusun oleh Donghae dan melibatkan Yoona didalamnya.

Siwon yang memegang kail, melempar umpannya tepat kesasaran..

Mengatakan pada Donghae tentang rencana pertunangannya yang berasal dari perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtua nya dengan salah satu putri pemilik perusahaan yang bergerak dibidang yang sama dengannya, Siwon mengansumsikan kedalam pemikiran Donghae betapa penyatuan kedua perusahaan yang nantinya dilakukan akan semakin membumbungkan kejayaan bisnisnya. Meski sebenarnya yang yang diinginkan oleh Siwon hanyalah untuk mengetahui kehancuran semacam apa yang diinginkan Donghae darinya. Bila pria itu menginginkan kehancuran bisnis ataupun kehidupan pribadinya, Donghae sudah harus pasti menjalankan rencananya.

Dengan semua itu, Donghae telah tanpa sadar menyambar umpan yang dilemparkan Siwon, hingga pada malam yang seharusnya menjadi malam pertunangan Siwon dengan seorang wanita bernama Jessica, justru Yoona lah yang kemudian menggantikan posisi wanita itu.

“Aku sebenarnya tak tahu pasti apa yang sudah direncanakan Siwon maupun Donghae. Tapi malam itu Yoona lah yang justru diperkenalkan ayah Siwon sebagai gadis yang akan bertunangan dengan putranya.. Kurasa salah satu diantaranya atau malah keduanya sama-sama terjebak..”

Komentar Yoochun setelahnya..

“Ta-tapi wanita itu.. Dia dengan penuh kebencian mengatakan Yoona adalah pelacur”

Ucap Yuri dengan suara bergetar, serta kedua tangannya meremas kuat pada ujung sweter hangat yang dikenakannya..

“Maksudmu? Dia, siapa dia?”

“wanita itu.. Jessica, aku pernah bertemu dengannya dirumah sakit”

Yoochun yang cukup terkejut mendengarnya kemudian menanyakan apa saja yang sudah Jessica katakan. Hingga ia akhirnya mengetahui dari apa yang kemudian Yuri katakan, gadis itu nyatanya telah lebih dulu mengetahui kebohongan yang dilakukan Yoona melalui mulut wanita itu.

“dengar Yuri ah, kaulah yang paling mengenal adikmu. Coba tanyakan pada hatimu, apa menurutmu Yoona seperti itu?”

Yuri menggeleng..
Tangannya kemudian menyusut airmatanya yang perlahan-lahan menetes.
Ya Tuhan..
Ia bahkan juga telah menyebut adiknya seperti itu.

“Kita sendiri tak bisa mengontrol perasaan cinta yang kita miliki untuk seseorang, apalagi mengontrol perasaan orang lain.. Kita takkan bisa melakukannya, sekalipun itu adikmu sendiri. Kau mengerti maksudku?”

Yuri mengangguk, Yoochun kembali meneruskan..

“… Aku tak tahu sejauh mana perasaan Siwon dan juga adikmu tumbuh setelah keduanya tinggal dibawah atap yang sama. Apalagi setelah Yoona mengetahui bila Siwon bukanlah seseorang yang menyebabkan kesakitanmu. Tapi yang kuketahui, adikmu mengesampingkan semua perasaan yang dimilikinya demi untuk melihat kesembuhanmu”

Yoochun meraih tangan Yuri kemudian menggenggamnya, lantas menatap kedalam mata Yuri yang basah oleh karna airmatanya yang tak berhenti mengalir.

“Aku tahu bagaimana sakit hatimu. Aku tahu kau terluka. Aku tahu kau kecewa. Aku juga tahu kau marah pada apa yang telah dilakukan adikmu. Tapi mengertilah, Yoona melakukan kebohongan itu semata untuk melindungimu. Adikmu hanya memiliki satu pemikiran, yaitu kesembuhanmu. Kau bisa melihatnya saat kau benar-benar menatap kedalam mata polosnya. Dia tak memiliki keinginan lain, apalagi niat untuk mengkhianatimu..”

Yuri menangis tersedu-sedu setelahnya, hingga Yoochun memerlukan beberapa waktu untuk menenangkannya.

Tuhan..
Alangkah kejam dirinya telah memperlakukan Yoona.
Adik kecilnya telah telah diperalat. Dia seharusnya tidak menjadi serapuh saat itu. Dia seharusnya bisa bertahan untuk melindungi Yoona. Maka takkan ada yang bisa meracuni adik kecilnya.

Dia juga seharusnya mendengarkan adiknya. Bukan malah berteriak memaki, dan mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia katakan seumur hidupnya.

Tapi kebohongan itu terlalu menyakitinya. Kebohongan yang dilakukan Yoona telah dalam melukai perasaannya. Bukan hanya sekali itu saja, beberapa kali ia telah melihat Yoona dan Siwon bersama secara diam-diam. Sakit hatinya mengetahui Siwon mengatakan cinta padanya, tapi pria itu jelas tak merasakan perasaan itu padanya.

Juga ketika ia melihat Yoona kembali kerumah Siwon, adiknya akan selalu lebih dulu menghampiri ibu Siwon. Memeluk dan menciumnya, seringkali Yuri juga mendengar tawa terkikik mereka dihalaman belakang ketika sedang merangkai bunga bersama-sama. Tapi bila dihadapannya, Yoona akan memperlihatkan rasa sungkan terhadap ibu Siwon. Begitupun sebaliknya, wanita itu juga menatap adiknya dengan sinis, seakan bermusuhan dengan Yoona. Semua kebohongan dan sandiwara itu membuatnya muak. Hingga meledaklah kemarahannya yang sudah tak mampu lagi ia kendalikan..

Sekarang, apa yang harus dilakukannya setelah mendengar keseluruhan ceritanya?
Bagaimana dengan Yoona?
Apa dia akan membencinya setelah semua kata-kata kasar yang diucapkannya?

“Yuri ah..”

Yoochun kembali menyadarkan Yuri dari berbagai kelebat dipikirannya.

“Maaf, bisakah kau meninggalkanku.. Aku ingin sendirian”

pintanya pada Yoochun..

“Kau janji akan memakan makanmu setelah kita berbicara. Tapi sepertinya makanan itu sudah dingin. Aku akan menggantinya dengan yang baru..”

Yuri tak merespon. Ia hanya menatap pada punggung Yoochun yang berjalan keluar meninggalkannya. Setelahnya, Yuri menutup wajahnya dengan telapak tangan dan kembali terisak. Hanya berselang beberapa detik setelahnya, tubuhnya mendadak kaku ketika mendengar suara teriakan dari luar..

“Oenni ya..! Yuri oenni..!!”

Ia mengenali suara itu sebagai suara Yoona. Buru-buru Yuri turun dari atas tempat tidur kemudian berlari kearah pintu dan menguncinya..

Bukan ia tak ingin bertemu dengan adiknya. Yuri hanya merasa apa ia akan sanggup bila nantinya Yoona mempertanyakan kebenaran ucapannya, mengenai siapa sesungguhnya dirinya..

***

“Yuri oenni..!”

Yoona terus memanggil-manggil Yuri setelah masuk kedalam villa milik Yoochun itu dengan Siwon yang hanya bisa mengikuti dibelakangnya.

Yoona kemudian mendapati Amber yang telah berada didalamnya..

“nona Yoona..”

“dimana oenni ku?”

Tepat saat itu, matanya kemudian melihat pada Yoochun yang berjalan kearah mereka.

“kurasa aku bahkan belum menelponmu, Siwon ssi?”

Siwon hanya mengangkat bahu untuk menanggapi apa yang dikatakan Yoochun saat itu. Kedua matanya memberikan isarat menunjuk pada Yoona yang dengan tatapannya sedang mencari-cari keberadaan oenni nya.

“dimana oenni ku? Yuri oenni..! Oenni ya..!!”

“Yuri masih berada dikamar. Dia sudah sadar, dan aku telah menjelaskan padanya apa yang terjadi, dari sisi apa yang kuketahui”

Yoona langsung mengarahkan perhatiannya pada Yoochun. Sedikit banyak ia telah mendengar perihal siapa pria itu, dari apa yang dikatakan Siwon ketika diperjalanan tadi.

Jadi pria itu mencintai oenni nya?
Bahkan sejak dulu..?

“sepertinya Yuri bisa menerima penjelasanku..”

Siwon menarik napas lega mendengarnya, tapi tidak dengan Yoona. Tak ada yang bisa membuatnya lega kecuali bertatap muka langsung dengan Yuri dan melihat bagaimana keadaannya.

Apakah oenni nya masih marah?
Apakah oenno nya akan membencinya?
Tidak..
Ia tidak akan sanggup menerima bila dibenci oleh oenni nya..

“Katakan dimana oenni ku sekarang?”

Yoochun menunjuk pada salah satu pintu yang tertutup, yang segera diikuti langkah cepat Yoona untuk mencapainya.

“Oenni ya.. Yuri oenni, ini aku..”

Yoona beberapa kali mengetuk, namun tak mendapat sahutan.

“Oenni, apakah tidak apa-apa jika aku masuk? Aku ingin bertemu denganmu oenni..”

Yoona mencoba menekan gagang pintu, dan hatinya serasa mencelos seketika mendapati pintu itu yang terkunci dari dalam. Airmata dengan segera berlelehan diwajahnya..

“Oenni ya.. Buka pintunya, oenni.. Biarkan aku masuk. Biarkan aku bicara padamu. Oenni mianhae.. Jeongmal mianhaeyo oenni..”

Melihat Yoona yang terus menerus mengetuk maupun menekan-nekan knop pintu, membuat Siwon dan juga Yoochun kemudian bergegas menghampirinya..

“Oenni mengunci pintunya.. Oenni tidak ingin aku menemuinya..”

Siwon lantas merangkul tubuh Yoona, sementara Yoochun kemudian ikut mengetuk pintu kamarnya.

“Yuri ssi.. Yuri ah, kau mendengarku? Yuri ah..”

tak ada sahutan, membuat airmata Yoona makin deras membanjiri wajahnya.

“oenni ya.. Aku mohon, biarkan aku melihatmu. Kita perlu bicara, oenni..”

dengan bibir bergetar, Yoona mengucapkan lagi permohonannya agar sang kakak yang berada didalam sana mau membuka pintu dan bertemu dengannya.

“jebalyo Oenni, biarkan aku masuk.. Jangan seperti ini oenni, aku takut. Aku takut bila kau membenciku..”

Siwon sudah akan ikut bersuara, namun terhenti ketika niatannya itu lebih didahului oleh suara kuncian pintu yang kemudian sedikit terbuka. Memperlihatkan Yuri yang berada dibaliknya.

“Oenni..”

“Masuklah, Yoona..”

“Oenni..”

“Masuklah..”

Yuri lantas mengarahkan tatapannya pada Yoochun dan hanya sekilas melihat kearah Siwon.

“Aku hanya ingin berbicara dengan Yoona..”

“Yuri ssi..”

Siwon mencoba untuk berbicara dengan Yuri, namun Yuri menghiraukannya dengan menarik pergelangan tangan Yoona, membawanya masuk kedalam kamar dan menutup rapat pintu dibelakangnya.

“Semua akan baik-baik saja, percayalah. Yuri tak mungkin menyakiti adiknya..”

Yoochun lah yang kemudian menepuk bahu Siwon dan mengajaknya beralih dari depan pintu kamar itu.

***

“Aku sangat senang oenni sudah bisa kembali berjalan..”

Yoona langsung memeluk Yuri dan menangis haru melihat sang kakak yang tak lagi berada diatas kursi roda. Kemarin ia terlalu tegang untuk dapat mensyukuri kesembuhan Yuri.

Yoona lantas menggumamkan permintaan maafnya berkali-kali namun sang kakak masih saja diam, tak jua meresponnya. Yoona juga merasakan Yuri yang bahkan tak membalas pelukannya. Tubuh oenninya serasa kaku, seperti enggan menerima pelukannya. Hal yang semakin menambah kesedihan dihatinya.

“oenni ya mianhae, semua itu terjadi karna aku.. aku..”

“Aku sudah mendengar semuanya, kau tak perlu menjelaskannya lagi padaku..”

Yuri melepaskan pelukan Yoona dari tubuhnya..

“Oenni..”

“Yang ingin kubicarakan denganmu sekarang adalah, bagaimana kita menjalani kehidupan kita selanjutnya..”

“Oenni, benarkah aku.. Apa aku bukan..”

Yuri merasakan gemetar ditubuhnya. Yoona pastilah ingin mengetahui kebenaran akan apa yang telah dikatakannya..

“Kau adikku, Yoona. Sekalipun aku sangat marah, terluka dan kecewa padamu, pada kebohongan yang kau lakukan padaku. Itu takkan menghapus persaudaraan diantara kita. Kau tetaplah adikku sekalipun kau terlahir bukan dari rahim oemma, tapi kau bertumbuh dari ketulusan hati oemma dan appa..”

Yoona mengangguk sambil menyeka airmatanya, dadanya sesak luar biasa.
Jadi benar..?
Dia bukanlah adik kandung oenni nya?
Oh Tuhan ku..

Ia mengira akan kuat menerima hal itu, namun nyatanya ia tak sekuat  yang diperkirakannya. Yoona jatuh lunglai merosot kelantai, dengan isak tangis yang menjadi tak bisa dikendalikan..

Sementara Yuri justru melengos.  Hatinya serasa diremas melihat airmata adiknya dan serta kesedihan diwajahnya. Ia kemudian juga bersusah payah menahan genangan airmatanya agar tak terjatuh..

“Kenapa oenni.. kenapa aku bukan adikmu.. kenapa aku bukan adikmu oenni ya..”

Yuri luar biasa tercekat mendengarnya. Mendengar Yoona yang terus menggumamkan tanya itu, ia kemudian mensejajarkan tubuhnya untuk menangkup wajah Yoona dengan kedua tangannya..

“Dengarkan aku Yoona. Kau adikku. Satu-satunya adikku yang ku punya. Sekalipun kau tak terlahir dari rahim oemma, Kau tentu bisa merasakan betapa oemma dan appa yang sangat menyayangimu. Begitu juga denganku. Jadi jangan pernah memikirkan hal itu.. Sampai kapanpun, kau adalah adikku. Tak ada sesuatupun yang bisa mengubah itu..”

Yuri tak kuasa menahan airmatanya sekalipun ia telah dengan keras menahannya agar tak terjatuh. Ini kesalahannya yang kemudian membuatnya harus berusaha keras meyakinkan Yoona bahwa dia bukanlah sekedar bocah kecil yang dipungut dari pinggir jalan. Bocah kecil yang telah menjadi  begitu bernilai baginya dan juga kedua orangtua nya..

Yuri lantas meraih tubuh Yoona, memeluknya dan menangis bersamanya..

“Tuhan, ampuni aku.. Mianhae Yoona ya.. Aku seharusnya menjagamu. Maafkan ketidak mampuanku untuk melakukannya..”

Yoona tak bisa bersuara, ia hanya mengangguk-angguk disela isakan tangisnya..

Hingga beberapa lama, keduanya masih terus saling berpeluk. Yuri bahkan tak berhenti mengusap-usap rambut dan juga bahu Yoona. Menenangkan sang adik dari tangisnya..

“Yoona..”

“Oenni..”

“Aku menyayangimu..”

“A-ku ju-ga me-nyayangi oenni..”
Suaranya tersendat oleh isak tangisan..

“Aku ingin terus bersamamu..”

Yoona mengeratkan pelukannya..

“Aku ingin hubunganku denganmu membaik, Yoona. Seperti dulu. Kita tak boleh saling menyakiti satu sama lain. Kau mengerti dengan maksudku kan?”

Yoona mengangguk..

“Aku juga ingin terus bersama dengan oenni. Tak ada yang lebih berharga selain bersama dengan oenni.. Aku juga akan memperbaiki kesalahanku yang telah menyakiti oenni. Mianhae oenni..”

“Tapi…”

Yuri melepaskan pelukannya dan kemudian beralih dari hadapan Yoona. Berdiri membelakanginya, kemudian meneruskan kalimatnya..

“… akan menjadi tak nyaman jika kau masih bersama dengan Siwon..”

deg..
Yoona kembali merasakan hantaman yang mengenai bagian dadanya.

“Aku mengerti, oenni..”

Untuk beberapa lama setelahnya, hening diantara keduanya. Sampai kemudian tatapan Yoona tertumbuk pada dua mangkuk yang berisi nasi dan sup, yang terlihat tak lagi mengundang selera untuk menyantapnya.

“Oenni masih belum makan?”

Yuri menggeleng..

“Apa yang oenni inginkan? Aku akan membuatkannya untuk oenni..”

Yoona sudah akan beranjak, namun kemudian Yuri meraih pergelangan tangannya.

“Kau berhak memilih bersamanya, Yoona.. ”

“Apa yang oenni bicarakan. Aku akan keluar dan mencari makanan untukmu. Tunggulah..”

Yuri menatap pada pergerakan Yoona yang mulai berjalan keluar dari dalam kamar. Ia kemudian mendesah ketika Yoona benar-benar telah keluar dan membuatnya hanya bisa menatap pada pintu yang kembali menutup..

“Kau satu-satunya yang tersisa dan teramat berharga, Yoona. Biarkan Aku untuk melindungimu..”

***

Keluar dari dalam kamar itu, Yoona menundukkan wajah, sesekali memejamkan kedua matanya. Terngiang-ngiang dengan apa yang tadi dikatakan Yuri padanya.

Tak ada yang salah dari apa yang dikatakan oenni nya, tinggal dirinya saja yang harus memutuskan..

“Kalian sudah selesai berbicara?”

Yoona terkesiap mendengarnya..
Ia hampir-hampir menubruk pada dada Siwon. Pria itu telah berdiri dekat dihadapannya..

“Yoochun mengatakan dia sudah menjelaskan semuanya. Jadi bagaimana? Yuri bisa mengerti kondisi yang memaksamu membohonginya?”

Yoona mengangguk..
Siwon tersenyum melihatnya. Ia telah mengulurkan tangan untuk meraih tubuh Yoona kedalam pelukannya, namun gadis itu justru mundur darinya..

“Sajang-nim.. Aku, ada yang ingin.. Ada yang ingin aku katakan padamu..”

Siwon sesaat mengerutkan dahi mendengarnya..

“Apa.. Katakanlah?”

“Aku.. Aku..”

Yoona kembali menunduk, memejamkan kedua matanya, kemudian menarik napas dalam-dalam..

“Aku.. Aku ingin mengakhiri hubunganku denganmu. Sajangnim, aku tak bisa lagi.. Aku…”

Kalimat yang diucapkan Yoona terputus ketika kemudian Siwon merenggut kedua bahunya, lalu kemudian mengguncangnya seolah tak yakin dengan apa yang baru saja diucapkan gadis dihadapannya itu.

“Apa yang kau katakan tadi, Yoona..? Cepat ulangi apa yang kau katakan, kurasa aku tak mendengarmu tadi..”

Yoona merasakan sekujur tubuhnya gemetaran, namun kemudian ia memberanikan diri untuk mendongak dan menatap pada Siwon walau hanya sesaat sebelum akhirnya ia kembali memalingkan wajahnya.

“Sajangnim, aku ingin mengakhiri hubunganku denganmu.. Aku, aku akan..”

Ia sadar, telah menjadi gadis tak tahu diri saat itu. Siwon begitu baik padanya. Hingga melakukan apapun untuknya. Tapi dirinya, justru tak bisa memberikan apapun untuk membalasnya.

“omong kosong..!”

Yoona merasa sedikit limbung ketika Siwon menyentakkan tangan dari bahunya. Pria itu kemudian berbalik membelakanginya..

“Sajangnim mianhae, tapi aku ingin bersama dengan oenni ku..”

Mendengarnya, Siwon lantas kembali membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Yoona. Dan mulai menunjukkan kilatan kemarahan dimatanya..

“Lalu, kau pikir aku akan menghalangimu? Tentu saja tidak, Yoona..! Kau bisa bersama dengan Yuri. Tentu saja kau boleh melakukannya..”

“Tapi oenni.. Dia, dia akan menjadi tidak nyaman. Sajangnim, mianhae.. Aku benar-benar ingin memperbaiki hubunganku dengan Yuri oenni”

“Lakukan sesukamu, tapi jangan menghalangiku untuk melakukan apa yang ingin kulakukan. Aku akan berbicara dengan Yuri..”

“Sajangnim..”

Yoona tahu Siwon telah menjadi marah padanya, pria itu juga tak main-main dengan apa yang dikatakannya. Maka sebelum Siwon benar-benar beranjak darinya, Yoona telah lebih dulu menarik pergelangan tangannya..

“jeongmal mianhaeyo sajangnim.. Kumohon, biarkan aku bersama dengan Yuri oenni..”

“Dan dengan kata lain aku juga membiarkan hubungan kita berakhir? Sialan, Yoona! Kau tak bisa memohon hal seperti itu dariku..!!”

dengan terlebih dulu melepaskan tangannya dari Yoona, dan dengan wajah memerah menahan marah, Siwon beranjak dari hadapan gadis itu. Ia mungkin hanya akan semakin marah bila sekali lagi ia mendengar Yoona memohon padanya..

Namun kemudian, Yoona mengejarnya dan kembali menahan pergelangan tangannya.

“sajangnim mianhae, aku tahu kau marah. Aku tahu, aku adalah gadis paling tak tahu diri. Kau telah banyak membantuku tapi aku.. Aku justru, seperti inilah balasanku padamu. Mianhae sajangnim, tapi aku tak bisa.. Aku tak bisa terus bersamamu dan terus menyakiti Yuri oenni..”

Yoona kemudian melepaskan tangan Siwon..

“Sajangnim, ini keputusanku.. Maafkan aku..”

“Dengar Yoona, kau telah banyak memutuskan segala sesuatunya sendiri. Dan sekarang, aku takkan membiarkanmu melakukannya. Jangan berpikir aku akan semudah itu mengikuti kemauanmu. Tidak lagi, aku takkan mengikuti kemauanmu yang tak masuk akal..”

Siwon meneruskan langkah, namun kembali berhenti ketika mendengar Yoona menggumamkan namanya.

“Aku akan pulang dan menganggap tak pernah mendengar apa yang tadi kau katakan. Kau boleh berada disini hari ini. Aku yang akan memberitahu oemma. Amber akan tetap berada disini untuk menemani kalian..”

Setelah mengucap rentetan kalimat itu, Siwon pergi. Meninggalkan Yoona yang merasakan sekujur tubuhnya membeku setelah mendengar apa yang dikatakannya. Airmatanya kemudian berlinang, rasanya tengah ada berton-ton puing-puing reruntuhan bangunan yang menimpanya. Membuatnya terhimpit, dengan dadanya yang tertekan, sesak dan sakit tiada terkira..

Yoona lantas terjatuh lemas dilantai, dan kembali menggumamkan permintaan maaf pada Siwon yang beberapa saat lalu telah pergi meninggalkannya..

Yuri bukan tidak mengetahui kejadian itu. Ia telah berada dibalik pintu, sedikit membukanya dan mencuri dengar pembicaraan tadi. Namun ia bungkam dengan terus menyaksikan ketika Siwon terlihat beberapa kali menggeram namun masih menahan kemarahannya terhadap Yoona..

“Kau harus benar-benar mencintai adikku, jika ingin bersama dengannya..”

Gumamnya sambil menutup pintu setelah melihat Siwon pergi membawa kemarahannya..

***

Ny.Choi berada dihalaman belakang rumahnya ketika itu. Tidak seperti biasanya, wanita itu berada disana bukan untuk merawat tanamannya ataupun merangkai bunga-bunganya. Melainkan justru termenung dengan pemikirannya yang berkelana kemana-mana. Sampai-sampai tak sadar, sang suami telah berada disana. Semalam, setelah kejadian terbongkarnya kebohongan Yoona terhadap Yuri, setelah Yoona pingsan dan sambil menunggui gadis itu, Ny.Choi memang menghubungi suaminya dan langsung menceritakan semua kekacauan yang terjadi dirumahnya.
Membuat Tn.Choi dengan segera memutuskan mengambil penerbangan paling pagi, dan kembali dari membantu Siwon mengurusi pekerjaannya..

“Apalagi yang kau pikirkan, yeobo..”

Ny.Choi baru tersadar setelah sang suami meremas kedua bahunya..

“Oh, yeobo..”

“Aku bawakan  teh hangat untuk kita.. Beberapa hari aku tak menikmati ini denganmu. Aku merindukannya..”

Tn.Choi mencoba berkelakar sambil merangkul bahu istrinya, namun sepertinya apa yang dilakukannya gagal, sang istri hanya diam tak menanggapi..

“Yeobo..”

Tn.Choi kembali meremas bahunya..

“hm..?”

“Ayo duduk, dan ceritakan padaku apa lagi yang sedang kau pikirkan..”

Ny.Choi mengikuti sang suami untuk duduk dan kemudian meraih cangkir, menyesap teh hangat dari dalamnya.

“Apa masih mengenai Yoona dan kakaknya..?”

Ny.Choi mendesah saat meletakkan cangkir keatas meja..

“kau tahu yeobo, aku memikirkan hal lain tentang Yoona..”

“Apakah itu?”

“Aku.. Aku berpikir jika mungkin saja Yoona itu.. Dia, Yoojin-ku..”

Tn.Choi hampir saja tersedak mendengarnya..

“yeobo..”

“Aku tahu yeobo.. Aku tak seharusnya menumbuhkan harapan yang seperti itu. Tapi hati kecilku terus menyuarakannya. Yuri telah mengatakan jika Yoona bukanlah adiknya..”

“itu bisa saja hanya spontan terucap karna kemarahannya. Dia pasti tak benar-benar serius tentang itu..”

“Tapi.. Apa kau tahu yeobo, Aku mendengar dari ahjumma Lee bahwa sebelumnya Yoona dan keluarganya tinggal di Gangwon..”

“Jadi..?”

“Ya, Yoona mungkin saja adalah Yoojin, putriku.. kau tau aku kehilangannya disana..”

Tn.Choi melihat lagi sisi emosinal di kedua mata sang istri yang sekarang telah mulai berkaca-kaca. Ingatannya pasti tengah menerawang kemasa lalu..

“Hal itu saja, tidaklah cukup menguatkan yeobo.. Mengapa kau bisa mengambil kesimpulan seperti itu? Apa yang membuatmu yakin jika Yoona adalah Yoojin..?”

“Matanya.. Yoona memiliki mata yang polos seperti Yoojin. Semakin aku menatapnya, semakin dia mengingangkat aku pada Yoojin-ku. Yeobo.. Bisakah kau melakukan sesuatu? Bisakah kita melakukan penyelidikan dan mencaritahu lebih jauh tentang Yoona? Besar kemungkinan dia adalah Yoojin, yeobo.. Yoona adalah Yoojin-putriku..”

“Jangan mengada-ada, oemma.. Apa maksudnya Yoona adalah Yoojin??”

“Oh, Siwonie..”

Mulut  Ny.Choi seketika mengering ..

Siwon telah berdiri disana beberapa saat yang lalu dan langsung mendengar penuturan ngaco(?) dari ibunya. Setidaknya itu menurutnya..

Demi Tuhan..
Apalagi ini?

Diam-diam Siwon mengerang dalam hati..

Beberapa saat lalu Ia baru saja mendengar Yoona menginginkan mengakhiri hubungan. Dan sekarang, baru saja menginjakkan kaki dirumahnya, Ia justru disambut dengan pemikiran paling konyol dari ibunya.
Yoona adalah Yoojin..?
Yoojin yang itu?
Yoojin, adiknya..??
Sungguh itu hal paling mustahil yang pernah ada.

Oh, Sialan..

*

*

*

*

To Be Continued~

Finally, ga lama nunggu setelah spoiler kemaren kan yaa..(Spoiler-nya sih diposting di fb) Hihihiii
*ngebut cynn..

Okeylah yaa, ada yg sudah bsa menebak kemana arahnya?? *anggep aja ada* Tapii.. yakin tebakannya akan jadi benar?? 😀

Dan berhubung sudah ada yg memprotes cerita ini makin ngelantur saja dan selebayyy sinet Indo>< (sebenarnya saia telah menunggu" komen yg seperti ini supaya saia pnya alasan bwt mengakhiri ini dengan cepat) kkkk~
Karenanya ini akan segera diakhiri dengan damai😀
/sampai bertemu di last part^^ #KalauJadi

#tks

@joongly

241 thoughts on “FF | At First Sight | 22

  1. kesalahpahaman sudah selesai muncul lgi msalah yg lain oh my god…ni brner” rumit dari a2al baca selalu menahan nafas eh ternyata smpai terakhir pun ceritanya masih nyesek…aigoo

  2. Yuri unni egois banget
    gag bisa maksain perasaan orang lain buat cinta pd seseorang kan,
    ny choi ada” aja, masak yoona unni adiknya wonpa, gag mungkin donkz

  3. Spertinya Yuri eonni udh bsa menerima YooWon bersatu deh.ganyangka ternyata Yoochun&Yuri eonni sling cinta mskipun dlu sih tpi setidaknya ada kmungkinankan CLBK(?)smoga saja bner.Yoona eonni adik Siwon oppa?bagaimana hubungan mreka nanti?

  4. ya ampun apalagi ini…
    setelah yoona unnie bukan adik kandung yuri unnie, sekarang nyonya choi berprasangka klo yoona unnie tuh yoojin adiknya wonpa…
    makin rumit dan tak terduga…

  5. Aduh konfliknya nambah lgi…
    Mkin ribet ini mah ffnya…
    Knpa yoonwon hrus putus sih…
    Semoga yoona bkan adiknya siwon, gmna nnti hbungan mereka klo mereka bersaudara…

  6. jangan sampai dugaan ny.choi bener kalau yoona adalah yoojin,kalu bener truz hub.siwon gimana ma yoona,next chapter apa yang akan terjadi……..

  7. baca ff ini harus sedia bnyak tissue nih
    aigoo, yoonwon bneran putus???
    nah nyonya choi apalagi sih?? masak iya yoona adiknya siwon kan gk lucu

  8. Satu masalah hampir terselesaikan, skrg dteng lgi maslah bruu!! Jika yoona adlah yoojin, brrti wonppa dann yoong brsaudra, truss gmna sma prsaan mrka.. Ooohhh.. Knpa ini jdi smkin rumit.. *pening
    Penasaran bgtt sma crta slnjutnya..
    Semoga semuanya tdak sprti Ɣĝ saya pkirkan..

  9. Sumpah udah kedua klinya baca,tapi tetap aja ngeluarin air mata,apalagi saat mome yoonyul di villa yoochun,mewek mener saat kefaktaan terungkap,apalagi kesediahan eunniku,huhhu…

  10. Stlh Yuri tau kejadian sebenar.a srta alasan Y00na trpaksa melakukan.a & baikan lg sama Y00na, tp knpa masih mnta Y00na putusin Siw0n?
    Siw0n-habis jatuh trtimpa tangga, baru d putusin Y00na langsung dngar pemikiran E0mma.a yg bilang Y00na adalah Y00jin, adik.a d masa lalu,,
    Andwee, jangan smpai itu beneran.’!

  11. Satu masalah sudah selesai,,
    Walaupun yuri masih menyulitkan dan menghalang-halangi hubungan yoonwon tapi seengga’nya dia udah denger semua alasan kenapa yoona ampe tega boongin dia…
    Dan sekarang,, (tada)👐… 🎉_KEJUTAN_🎉
    Yoona adalah yoojin dan yoojin adalah adik siwon… ??😱
    Ooohhh ini lebih mengerikan lagi kalo itu bener kenyataan nya#jangan sampe..-NO

  12. dan akhirnya kebohongan yg dibuat yoong eonni cm nyakitin satu sama lain, dan menyeret org2 yg terlibat di dlmnya..
    *peluk jauh buat yoong eonni🙂
    bnr2 lega krn yuri eonni mau maafin yoong eonni dan nerima dia lg sbg adiknya, tp knp yoong eonni hrs bpisah dr siwon oppa?? itu kan sungguh terlalu..
    ga rela pokoknya klo yoonwon hrs pisah T.T
    tp siapa yoojin? anak adopsi ny. choi? adik angkat siwon?
    klo yoona eonni bnran yoojin, berarti bklan ada rahasia masa lalu yg blm terungkap nihh

  13. Chapter ini isinya sedih semua
    Konfliknya juga terus bertambah
    “Aku.. Aku berpikir jika mungkin saja Yoona itu.. Dia, Yoojin-ku..” merinding saat dialog itu.
    Bener-bener berharap Happy Ending dari cerita ini

  14. Satu malam yg menghancurkan tp membuka kebenaran. saking menghayati sampe nangis d kamar . Yg ngena tu pas yuri dengerin penjelasan yoochun mata saya gx bisa nahan. padahal dari pas awal baca udah coba buat kuat. Jngan nangis ..jangan nangis… Pada ahkir’y lolos juga tu kristal bening . Trus gimana jadi’y klo yoona jadi adik siwon? apa yoonwon gx bakalan nyatu ? apa ff ini bakal sadending..? Lanjut aja ding tinggal baca ini gx nunggu” sampe lumutan #bhakkk terimakasih dan semngat..ff’y keren

  15. yoona tak bisakah egois sekali saja tanpa harus memperdulikan perasaan yuri.
    kasihan siwon, dia selama ini udah baik dan mencintai yoona tapi malah minta putus ke siwon.
    yuri juga egois kenapa tidak membiarkan saja yoona bersama siwon

  16. La kok yoona adik siwon aduh jangan dong udah nangis bombay mas mau ditambah lagi kisah yoonwon yg berakhir jadi adik kakak oh tidak, syukur yuri udah bisa nerima keadaan

  17. Omegat nangis lg kan akunya hiks..
    Disini yoonyul sling tersakiti..

    Akn tetapi tdk bisakah yuri tdk egois sprti itu.. Hmm entahlah smoga yuri mrelakan Siwon..

    Dan kbnaran apa lg ini.. Stlh yoona trnyt bkn adikny yuri.. Skrg yoona adl yoojin adikny Siwon.. Omg gg kbayang sama sekali..

  18. maslah hampir selesai meskipun yuri masih jadi penghalang buat hubungan yoonwon tp seenggk nya dia mau baikan lagi sma yoong tp ada masalah lagi yoong adalah yoojin dan yoojin itu adiknya wonppa. trs gimana jdinya hubungan yoonwon yg semula tunangan jdi adk kakak.

  19. satu masalah udah hampir selesai dan kini tambah lagi satu masalah. Ny.Choi yg ngangep yoona itu yoojin putri angkatnya….klo beneran yoona itu yoojin gimana sama hunungan siwon ama yoona nanti nya..?

  20. Tambah lagi mslah nya,,,mlah tambah buat rumit,,,,,apa lagi msalh identitas yoona dia anak siapa sbnar nya buat aku makin pnasaran makelanjutan cerita nya,,

  21. Demi apa? Jadi beneran yoona bukan adik yuri?
    Trus kalo ternyata beneran yoona putri ny.Choi alias adiknya siwon,apa kabarnya ama hubungan mereka..
    Setelah yuri yg ngelarang hubungan mereka sekarang kalo ternyata bneran yoona adik siwon berarti mereka bubar gitu? Ya gak mungkin kan?
    Kalo menurut gue sih kayaknya yoona bukan adiknya deh..

  22. Makin seru…
    pengen baca kelanjutannya tapi di proteks.
    Min follback twitter aku dong,penasaran bnget sma nih ff.
    habisnya bkin ketagihan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s