Fanfiction

FF | At First Sight | 21

Happy Reading~

*

*

*

*

*

Merasakan berbagai pemikiran yang berkecamuk dibenaknya, menyertai kelebat gambaran dari beberapa kejadian yang dialaminya, Yuri masih tak melepaskan pelukannya ditubuh Siwon.

Ia sedang teringat dengan bagaimana hari-hari yang dilewatinya saat masih menjadi sekertaris Siwon. Pria itu selalu begitu memukau dan membuatnya terpesona. Bukan hanya dari tampilan fisiknya semata, melainkan juga dengan segala pemikiran-pemikiran dan ide briliant yang selalu dapat menghasilkan mitra-mitra bisnis berebut menjadi rekan kerja utama didalam perusahaannya. Yuri kagum akan hal itu dan menjadi banyak belajar dari pengalaman-pengalamannya saat bekerja mendampingi Siwon. Ia selaras mengimbangi ritme kerja pria itu yang cekatan. Hingga diam-diam dari kekagumannya dan seringnya ia berinteraksi dalam hubungan pekerjaan maupun diluar pekerjaan itu menyelipkan rasa yang lebih mendalam dihatinya.

Siwon pasti tak pernah menyadari ketika kerap kali ia betah berlama-lama hanya memperhatikannya yang sedang bekerja. Atau memberinya perhatian-perhatian kecil semacam menanyakan menu makan siang yang diinginkannya. Yuri bahkan tak pernah absen menyeduh kopi untuknya. Kebiasaan-kebiasaan Siwon selama dikantor seperti telah ia hapal diluar kepala.

Sampai pada suatu malam ia memiliki keberanian untuk mengutarakan perasaannya terhadap pria itu. Yuri tahu, bila tak segera mengambil inisiatif seperti itu, ia tak akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan hati Siwon. Terlebih bila mengingat ia harus bersaing dengan banyak wanita yang juga menaruh hati padanya. Bukan ia merasa tak percaya diri, namun status sosial yang mereka miliki, kerap kali membuatnya merasa tak cukup setara bila dibandingkan dengan mereka.

Tapi malam itu..
Malam itu justru berakhir dengan kekecewaan yang teramat dalam melukai perasaannya. Sebuah penolakan yang diucapkan Siwon atas pernyataan cintanya, membuatnya seakan merasakan langit diatasnya runtuh seketika. Dan dunianya bahkan bertambah hancur setelahnya..
Setelah Donghae..
Setelah pria itu..

Tidak..

Yuri menutup rapat kedua matanya. Berharap ia tak melihat kejadian malam itu yang seakan tengah terputar jelas dihadapannya.
Airmatanya lolos, tangannya mengerat memeluk Siwon seakan tubuhnya sedang mencari perlindungan dari pria itu.

Ia tidak akan membiarkan dirinya mengingat kejadian menjijikkan dimalam itu.
Tidak..
Tidak akan pernah.

“Siwon.. Aku takut.. Aku benar-benar takut..”

gumamnya lirih, merasakan tangan Siwon yang kemudian berada diatas kepalanya dan mengusap-usap pada rambutnya..

“Apa yang kau takutkan, Yuri ssi? Kau tidak perlu merasa takut..”

Tapi kemudian..
Apa yang sebelumnya telah didengarnya?
Suara seorang wanita yang dengan yakin mengatakan bila Siwon telah bertunangan. Bertunangan dengan Yoona, dengan adiknya.
Menggantikan ingatan dari kejadian menyakitkan malam itu, menjadi sesuatu yang tak kalah menyakitkan untuk ia terima.

Benarkah?
Benarkah bila Yoona melakukannya..?

Bagaimana bisa..
Bagaimana mungkin Yoona tega melakukan itu padanya.

Yang kemudian dirasakan olehnya adalah perasaan terluka yang disertai dengan kekecewaan yang luar biasa dalam dihatinya.

Yoona adiknya..
Adik manis kesayangannya, tahu akan betapa ia mencintai Siwon. Maka tidaklah mungkin dia menjadi pengkhianat untuknya.

Tapi..
Tapi, Ya Tuhan..

Kenyataan yang coba Yuri sangkal bahwa ia bahkan dapat melihat cincin yang melingkar dijari Siwon saat itu, menggerus hatinya yang sedemikian terasa sakitnya.
Bukan selama ini ia tak menyadari, ia bahkan selalu terus memperhatikan pada cincin pria itu, namun juga terus mengingkari terhadap arti yang dimiliki benda itu hingga tak pernah terlihat lepas melingkari salah satu jarinya.

Seperti yang dikatakan wanita itu, benda itu mengartikan bahwa Siwon telah bertunangan. Bertunangan dengan adiknya.

Tidak..
Tidak mungkin..
Karna Yoona tak memiliki cincin dijarinya.
Ya..
Yoona tidak memiliki itu.
Wanita itu berbohong. Dia jelas hanyalah seorang pembohong yang ingin menghancurkan kepercayaannya terhadap Yoona.

Tapi..
Ya Tuhan..

Sekali lagi, gambaran kejadian lain mendadak muncul dan seakan tengah mengitarinya.

“Kau tahu apa yang telah dilakukan adikmu, Yuri ah? Dia bertunangan.. Yoona bertunangan dengan Siwon. Si brengsek itu.. Kau masih mengingatnya? Aku berharap kau tak lagi mengingat pria bodoh itu yang telah menolak cintamu. Tapi aku tetap akan mengatakan padamu bahwa adikmu, Yoona telah bertunangan dengan Choi Siwon, si brengsek yang kau cintai. Bukankah kau merasa tersakiti sekarang..”

Yuri mendadak dihantui kepanikan, ketika mendengar suara-suara yang seakan terus mencoba membuka kedua matanya.

“Lihatlah, Yoona bahkan masih mengenakan cincin pertunangannya. Apakah kau masih akan mengelak, Yoona? Kaulah yang sebenarnya telah menyakiti kakak mu dan bukan aku..!”

“Tidak, oenni ya.. Itu tidak benar. Pertunangan itu sandiwara. Hanya main-main, bukan sesuatu yang sesungguhnya. Dan cincin ini..”

“Cincin ini juga main-main, oenni ya.. Hanya main-main..”

“Tidak ada pertunangan yang sesungguhnya. Tidak oenni, itu tidak terjadi..”

“Dan bagaimana dengan kalian yang telah tingal bersama.. apakah hal itu juga hanyalah main-main saja..”

Gambaran itu nyata, kejadian diapartemen Donghae ketika itu dengan jelas mengingatkannya saat Yoona meyakinkannya dengan melepas dan membuang sebuah cincin ditangannya.

Cincin..
Cincin itu adalah..

Bagaikan kepingan-kepingan puzzle yang kemudian tersusun dan saling terhubung, Yuri seakan tengah menemukan jawaban atas semua kejanggalan dari sikap Siwon, kedua orangtua Siwon beserta orang-orang yang berada disekitarnya.

Yoona bukanlah seorang pekerja dirumah itu..

Adiknya adalah tunangan Siwon..
Itulah mengapa ia melihat Yoona keluar dari dalam mobil Siwon, dengan rangkulan pria itu ditubuhnya.

Adiknya adalah tunangan Siwon..
Itulah mengapa ia melihat
kepanikan dan sekaligus perhatian ketika Yoona mendapatkan luka dari pecahan beling dari gelas yang dijatuhkannya..

Adiknya adalah tunangan Siwon..
Itulah mengapa, dan baru disadarinya jika bukan secara kebetulan bila Siwon selalu berada disekitar Yoona. Seperti yang sekarang ini dilihatnya..

Ya Tuhan..
Berbagai kejadian yang terekam olehnya terjadi beberapa waktu lalu itu, terus muncul kehadapannya.

Adiknya adalah tunangan Siwon..
Itulah mengapa, Ibu Siwon yang terlihat ketus justru menunjukkan kepanikan yang berlebih pada saat Yoona terluka.
Bukan hanya pada saat Yoona terkena pecahan beling ketika itu, Yuri juga melihat kecemasan yang menggurat diwajahnya saat Yoona mengalami luka terkilir pada kakinya. Ibu Siwon bahkan yang memapah Yoona ketika masuk kedalam kamarnya.

Adiknya adalah tunangan Siwon..
Itulah mengapa tampilan Yoona, mengalami perubahan seratus delapan puluh derajat. Kukunya menjadi bercat merah, rambutnya berwarna coklat mengkilat dan pakaian-pakaian yang dikenakannya, menjadi tak luput dari perhatiannya bila semua itu berharga mahal.

“gadis murahan seperti itu memanglah pantas disebut pelacur.. Kau mau tau kenapa? karna dia, dengan cara murahannya telah merebut Siwon dariku. Dia menjual tubuhnya untuk mendapatkan kemewahan.. Aku bahkan memergoki saat mereka nyaris telanjang..! Menjijikkan..”

Ya Tuhan..
Apa yang sebenarnya telah terjadi dan tak ia ketahui?
Benarkah sang adik melacurkan diri untuk sebuah kemewahan?
Seperti yang wanita itu katakan, yang telah memergokinya dalam keadaan nyaris telanjang..
Tidak..
Tidak mungkin..

Jika memang benar, tidaklah mungkin kedua orangtua Siwon membiarkannya. Tidak mungkin kedua orangtua Siwon sebegitu bodohnya membiarkan seorang yang melacurkan tubuhnya tinggal dalam satu atap yang sama dengan mereka. Dan bahkan membiarkan Yoona menjadi tunangan putra semata wayang mereka. Hal itu sudah jelas akan mencoreng nama baik mereka.

Adiknya adalah tunangan Siwon, dan bukanlah seorang pekerja disana, apalagi pelacur..

Itulah mengapa ayah Siwon terlihat begitu baik hingga mengijinkannya untuk tinggal bersama dengan mereka. Semua pasti karna adiknya, karna Yoona adalah tunangan Siwon.

Ya Tuhan..
Bagaiamana pertunangan itu bisa terjadi?

Menyisakan satu pertanyaan itu, Yuri masih terus bergelung dengan pemikiran dan berbagai kejadian yang pernah dilihatnya. Fakta yang berasal dari penyimpulannya, yang kemudian meski tidak secara terang-terangan terbuka kehadapannya, membuat Yuri merasakan sesuatu yang sulit ia terima, pengkhianatan.
Kenyataan bahwa Yoona telah mengkhianati dirinya..
Yoona mengambil Siwon darinya..
Yoona membohongi dirinya..
Telah memukulnya dengan begitu keras hingga kedasar sanubarinya.

Marah, kecewa dan terluka bercampur menjadi satu dalam dirinya. Namun Yuri masih kesulitan dengan bagaimana cara untuk meluapkan semuanya.
Ia terlalu marah..
Terlalu kecewa..
Dan sangat-sangat terluka..
Haruskah ia berteriak dan memaki semua yang telah membohonginya?
Ataukah menangis meratapi pengkhianatan yang dilakukan adiknya?
Tapi bahkan ia merasa tak lagi memiliki airmata sebagai bentuk dari kesakitan hati yang dirasakannya..

“Kau sudah merasa lebih baik?”

Yuri merasakan lagi usapan tangan Siwon diatas kepalanya..

“Jika belum, akan lebih baik jika kau berbaring dan mengistirahatkan tubuhmu. Aku akan disini menemanimu..”

Tanpa mengatakan apapun, Yuri kemudian melepaskan pelukannya pada Siwon. Menatapnya sejenak, melihat Siwon yang tersenyum kepadanya justru menambah kesakitan yang dirasakannya.

Tuluskah senyumnya saat itu?

“Berbaringlah oenni, aku akan membantumu..”

Yoona mencoba untuk membenarkan posisi dari sebuah bantal yang digunakan sebagai penyangga dibagian kepala dan sekaligus sebagai alat penambah kenyamanan beristirahatnya, namun Yuri justru menolak apa yang ingin dilakukan Yoona untuknya..

“Tidak perlu melakukannya, aku hanya ingin Siwon yang melakukannya..”

Yoona terpekur dalam diam. Bahkan tangannya yang telah terulur untuk membenahi posisi bantal itu, seakan menjadi tak bisa digerakkan. Sampai kemudian Siwon menyentuh kedua bahunya, sedikit remasan ia rasakan disana..

“Biar aku yang melakukannya.. Tidak apa-apa..”

Sedikit mundur dari tempat tidur Yuri, Yoona hanya bisa terus menatap dengan kesedihan dimatanya pada kondisi sang kakak yang seperti itu. Yuri acuh dan begitu dingin terhadapnya. Seperti hanya menginginkan Siwon untuk berada disisinya.

Hal yang kemudian juga membuat Yoochun memilih untuk meninggalkan kamar itu. Tak sanggup rasanya menyaksikan semua itu dengan jarak yang terlalu dekat dengan kedua matanya.

“Yoona ssi, bisa kita bicara
sebentar..”

Dokter Cho masuk kedalam kamar itu dan mengisaratkan agar Yoona keluar
untuk berbicara dengannya.

Yoona mengangguk, sesaat menatap pada Siwon dan menemukan pria itu
yang dengan awas sedang
mengarahkan tatapannya kearah
Kyuhyun yang kembali meninggalkan kamar itu.

“Oenni ya, aku akan berbicara dengan dokter Cho sebentar..”

Yoona tak dapat mengerti mengapa Yuri justru memalingkan wajah
darinya, dan justru Siwon yang
kemudian memberikan respon atas ucapannya..

“Minta Amber untuk menemanimu, jangan pernah sendirian..”

Kalimat itu bernada peringatan yang sebenarnya sangat ingin dibantah olehnya, namun keadaan yang tak memungkinkan saat itu untuknya melakukannya, membuat Yoona mengangguk mengiyakan.

Ia keluar untuk menyusul sang dokter, namun sempat menghentikan langkahnya untuk   menanyakan keberadaan Yoochun pada Amber yang menunggu diluar kamar itu.

“Dimana pria itu, Amber ssi?”

“Siapa yang anda maksud, nona..?”

“pria yang sebelumnya berada didalam kamar Yuri oenni, bagaiamana pria itu bisa berada disini?”

“Saya tidak tahu, nona. Dia keluar dan kemudian pergi begitu saja. Yang saya ketahui, dialah yang menolong nona Yuri ketika pingsan tadi..”

“benarkah?”

“ne, pria itu sudah ada saat saya datang tadi.. saya mengira dia adalah salah satu kerabat atau mungkin teman dekat nona Yuri. Saya melihatnya sangat cemas tadi..”

“Teman dekat oenni ku? tapi…”

Teman dekat?
Sepertinya tidak..
Karna yang ia ketahui pria itu adalah teman Siwon yang belum lama ini baru diperkenalkan pada Yuri dan juga padanya dengan tanpa kesengajaan.

“Kalau begitu aku akan keruangan dokter Cho sebentar..”

Amber mengangguk dan membiarkan Yoona yang kemudian beranjak darinya. Namun tak kurang dari lima langkah Yoona berlalu dari hadapannya, Amber mengejarnya..

“Nona tunggu.. Tunggu nona..!”

“waeyo?”

“Tuan meminta saya untuk bersama anda..”

Amber menunjukkan pesan singkat yang baru saja dikirimkan Siwon ke ponselnya, yang memerintahkan agar Amber menemani Yoona dan tidak membiarkannya sendirian, sedetikpun.

Astaga..
Yoona tak habis mengerti dengan betapa berlebihannya pria itu. Ia hanya akan berbicara dengan dokter Cho. Memangnya apa yang Siwon kira akan ia lakukan?

Yoona mendengus dalam hati, namun tak ada yang bisa dilakukannya kecuali membiarkan Amber bersama dengannya masuk keruangan Kyuhyun dan ikut mendengarkan ketika sang dokter menjelaskan padanya mengenai kondisi Yuri.

Tak ada masalah dengan kondisi sang kakak saat itu, dan yang membuatnya luar biasa lega dan senang adalah saat Kyuhyun mengatakan bila kemungkinan besarnya adalah Yuri tak lagi memerlukan kursi rodanya.

“Jadi oenni ku sudah bisa kembali berjalan, dokter?”

Kyuhyun tersenyum sebelum kembali menanggapi..

“keretakan tulang dibagian kakinya telah kembali sempurna.. Dan cukup kuat untuk menopang tubuhnya saat berjalan. Seorang suster yang sempat bersama dengannya juga mengatakan jika Yuri telah bisa berjalan dalam jarak yang cukup jauh. Memang dia mengalami pingsan tadi, sepertinya kelelahan”

Yoona bersyukur mendengar kesembuhan sang kakak saat itu. Dan sangat berharap itu menjadi awal yang baik dan sedikit demi sedikit membangun kepercayaan diri sang kakak kembali seperti dulu.
Ia sudah sangat merindukan Yuri yang seperti dulu. Yoona selalu tidak siap bila melihat Yuri merasa tertekan dan ketakutan, seperti tadi.

Kembali keruang kamar Yuri dengan senyum terkembang diwajahnya, Yoona masih mendapati Yuri terdiam dan sama sekali tidak melakukan pembicaraan dengan Siwon.

“Oenni ya..”

Yoona yang lantas mendekatinya, meraih tangannya, lalu menceritakan apa yang tadi dikatakan dokter Cho kepadanya.

“Aku benar-benar senang mendengar oenni tidak membutuhkan kursi roda lagi.. Oenni bisa berjalan seperti dulu lagi..”

Yuri masih tidak meresponnya dan malah kembali menarik tangannya dari Yoona..

“benarkah?”

Siwon yang kemudian menyahuti, mengalihkan perasaan sedih yang kembali hadir dihatinya saat Yuri bahkan tak mencoba untuk melihatnya.

“Dokter Cho mengatakan seperti itu.. Yuri oenni sudah bisa berjalan. Oenni ya, apakah…”

“Aku masih membutuhkan kursi rodaku.. Aku tidak akan bisa berjalan. Kakiku terasa sangat sakit saat aku melakukannya..”

Menghentikan apa yang saat itu masih ingin dikatakan oleh Yoona, Yuri memberi pernyataan yang begitu mengejutkan..

“Tapi oenni ya, dokter Cho mengatakan..”

“Dokter itu, dia bisa saja mengatakan apapun dengan semua teori yang dipelajarinya.. Tapi dia tidak pernah bisa merasakan kesakitan yang kurasakan..”

Yoona benar-benar merasa bingung. Apa yang membuat sang kakak menolak kesembuhannya.
Bukankah selama ini ia telah begitu bersemangat melakukan terapi dan sangat ingin dapat kembali menggunakan kedua kakinya secara normal.
Tapi..
Sekarang, Yuri justru terkesan tidak menginginkan kesembuhan.

Atau memang benar sang kakak masih merasakan sakit dibagian kakinya. Jika seperti itu, Yoona tidak akan memaksa. Ia hanya perlu berbicara dengan dokter dan mengatakan apa yang dikeluhkan Yuri tadi, sehingga sang dokter bisa mengambil langkah penyembuhan.

***

Setelah menunggu cairan infus yang terpasang dipergelangan tangan Yuri habis, dan dokter memperbolehkannya pulang, Yuri benar-benar tak mencoba untuk menggerakkan kakinya. Ia kembali menempati kursi rodanya saat meninggalkan rumah sakit, dengan Siwon yang mendorong dibelakangnya.

Tak ada satupun yang membuka suara ketika berada didalam mobil Siwon saat dalam perjalanan pulang kerumahnya. Yuri terus saja diam, meski tangannya tak pernah lepas menggenggam erat tangan Siwon yang duduk disampingnya.

Sementara Yoona yang menempati kursi depan disamping Amber yang mengemudikan mobil itu, juga ikut terdiam meski beberapa kali ia melihat kearah dibelakangnya melalui spion dan sempat membuat kedua matanya bertemu tatap dengan Siwon.

Perjalanan yang biasanya memakan waktu tak lebih dari tiga puluh menit, kini menjadi terasa sangat lama karna kekakuan mereka yang berada didalamnya. Siwon lah yang sesekali melakukan pembicaraan dengan Amber, itupun secara singkat dan lebih seperti usaha untuk mencairkan kebekuan yang terjadi. Dan selalu gagal karna minimnya topik yang bisa dijadikan bahan pembicaraan diantara keduanya.

Sampai kemudian suasana sunyi nan kaku itu seakan menguar begitu Amber membelokkan arah memasuki perumahan Siwon dan akhirnya menghentikan laju mobil yang dikendarainya tepat didepan bangunan rumah nan mewah itu..

Yoona keluar lebih dulu, membukakan pintu bagian belakang untuk Yuri dan meminta Amber untuk mengeluarkan kursi roda dari dalam bagasi. Ia lantas menggeser tubuhnya ketika Siwon keluar lebih dulu dan kemudian membantu Yuri untuk keluar dari dalam mobil dengan cara membopongnya.

Amber telah menyiapkan kursi roda untuknya, namun ketika Siwon berniat menurunkan dan menempatkannya diatas kursi roda itu, Yuri justru mengalungkan erat kedua tangannya pada leher Siwon..

“Bisakah kau membawaku masuk dengan cara seperti ini?”

Pintanya pada Siwon yang akhirnya urung menurunkan Yuri dari gendongannya, dan mengangguk mengiyakan permintaannya dengan melangkah masuk kedalam rumah.

Amber telah bergerak cepat membukakan pintu rumah bagian depan, sedangkan Yoona untuk sejenak ia sempat hanya berdiri diam disana dan hanya menatap pada punggung Siwon yang telah berjarak beberapa langkah didepannya, sampai kemudian ia mendengar suara dari Ny.Choi yang memanggil-manggilnya..

“Yoona..! Yoona ya, kau sudah pulang?”

Ny.Choi yang segera menuju kebagian depan rumahnya setelah mendengar suara kedatangan dari mobil Siwon, cukup dikejutkan dengan apa yang pada saat itu dilihatnya.

Siwon yang sedang membopong tubuh Yuri, sementara Yoona mengikuti dibelakangnya.

“Yoona ya..”

Siwon mengabaikan sang ibu yang memberikan tatapan tajam padanya, dan langsung mengarahkan langkahnya menuju kamar Yuri.

Melihat tatapan Ny.Choi yang seperti itu, membuat Yoona kemudian mendekat padanya dan merangkul lengannya.

“omonim..”

“apa-apaan itu, Yoona?”

“Siwon oppa hanya membantu Yuri oenni..”

“Tapi tidak dengan cara seperti itu. Kurasa aku perlu memperingatkan kakakmu.”

Yoona sedikit merasa panik saat Ny.Choi melepaskan rangkulan tangannya dan berniat melakukan apa yang dikatakannya, memperingatkan Yuri.

“Omonim.. Omonim, apa yang ingin omonim lakukan?”

Yoona menarik lengan Ny.Choi dan langsung membuat wanita itu memutar mata padanya.

“mianhae omonim, tapi.. Omonim, jangan melakukannya..”

“Aku yang akan memperingatkan kakakmu atau kau yang mengatakan padanya kebenaran status pertunanganmu dan Siwon.. Kau bisa memilih salah satu diantaranya..”

Ny.Choi memperingatkan, namun Yoona merasa keduanya bukanlah sesuatu yang tepat untuk dilakukan sekarang.

“Omonim.. Apa omonim tidak ingin mendengar ceritaku dihari pertamaku masuk universitas?”

“Jangan coba mengalihkan pembicaraan, Yoona..”

Yoona menggigit bibir bawahnya, menyadari tak semudah itu membuat Ibu Siwon beralih pembicaraan dari memperingatkannya mengenai Yuri. Namun ia tak lantas berhenti begitu saja. Dengan memasang raut kesedihan dan sekaligus memelas diwajahnya, ia kembali meneruskan..

“Tapi aku tidak sedang mengalihkan pembicaraan.. Aku benar-benar ingin omonim mendengarku. Aku masih tidak mungkin berbagi cerita dengan Yuri oenni. Jadi siapa lagi kalau bukan omonim yang mau mendengar ceritaku. Aku hanya memiliki omonim dirumah ini yang bisa mengerti keadaanku..”

Yoona sedikit melirik pada Ny.Choi untuk melihat bagaimana reaksi wanita itu. Luluhkah dia oleh karna apa yang dikatakannya?
Oh, semoga saja..

“Dan juga, saat ini aku masih tidak bisa memilih salah satu dari kedua hal yang omonim sebutkan tadi. Mianhae..”

Yoona menundukkan wajahnya seolah pasrah pada apa yang selanjutnya akan diputuskan oleh Ibu Siwon.

“Kalau begitu, ayo ke kamar ku dan kau bisa bercerita disana, sekalian aku ingin menunjukkan padamu beberapa pakaian yang kubeli untuk kau kenakan saat pergi mengikuti kelas.”

Jika pun bisa, ia sudah pasti akan bersorak saat itu juga. Namun ia menahan diri dengan hanya mengangguk dan sedikit menarik senyum dibibirnya..

“Tapi bagaimana dengan abonim? bukankah..”

“tenang saja.. Ayah Siwon sedang memiliki janji diluar. Dia belum pulang. Ayo..”

Yoona akhirnya mengikuti Ny.Choi masuk kedalam kamarnya dan menemukan ahjumma Lee yang juga berada didalam kamar itu. Terlihat sedang menyusun pakaian-pakaian dan memasukkannya kedalam lemari.

“Ahjumma..”

Yoona tersenyum kemudian menghampirinya, memeluk tubuhnya dan memberikan ciuman dipipinya.

“Aku merindukan ahjumma.. Beberapa hari sepertinya aku tak melihat ahjumma, apa ahjumma sakit?”

Ahjumma Lee tersenyum untuk menghilangkan gurat kekahawatiran yang sedang ditunjukkan oleh Yoona diwajahnya.

“Tidak Yoona.. Kau lah yang terlalu sibuk. Hingga berada dirumah yang sama kita justru jarang saling menyapa..”

“Nyonya memberiku banyak kegiatan, ahjumma..”

Bisiknya lirih dan membuat ahjumma Lee tersenyum mendengarnya..

“Tapi terkadang dimalam hari aku memeriksa ahjumma dikamar.. aku melihatmu yang sudah tertidur dan aku tak ingin mengganggumu beristirahat”

“Oh, benarkah?”

Yoona tersenyum dan mengangguk..

“Kau benar-benar gadis yang manis sayang..  Nyonya bilang kau sudah masuk universitas?”

“nde.. Dan aku sangat senang berada disana..”

“Aku ikut senang mendengarnya.. Kau gadis yang baik, Yoona. Sudah sepantasnya kau juga mendapatkan hal-hal yang baik dalam hidupmu..”

Ahjumma Lee menyentuh wajahnya dan mengusap pada pipinya.

“gomawoyo ahjumma..”

“Sudah cukupkah kalian melepaskan rindu? Cepatlah kemari dan lihatlah pakaian-pakaian ini..”

Suara Ny.Choi yang berada tak jauh dari mereka, tepatnya berada disamping tempat tidurnya dengan tumpukan pakaian yang berada diatasnya, membuat Yoona dan ahjumma Lee, saling mengangkat bahu masing-masing.

“cepatlah kesana, sudah sejak tadi nyonya uring-uringan menunggumu yang tak pulang-pulang.”

Yoona sempat terkikik mendengar apa yang dikatakan sang ahjumma, sebelum kemudian melangkah mendekati Ny.Choi yang sedang memilih beberapa pakaian dan kemudian mengepas ditubuhnya.

Sambil mencoba pakaian-pakaian itu, Yoona menceritakan apa yang tadi dilakukannya dihari pertamanya berada dikampus, termasuk dengan pandangan para penghuni kampus itu dengan keberadaannya disana.

“Aku sudah menduganya akan terjadi hal seperti itu.. Karna itu kau tidak boleh tampil sembarangan, Yoona. Jangan mempermalukan Siwon dengan tampilan yang biasa dan terutama jangan mempermalukan ku. Karna itu aku sengaja menyiapkan semua ini untukmu..”

Sementara Yoona memberengut dengan tanggapan Ny.Choi yang berlebihan, dan menjadi tahu darimana asalnya gen ‘berlebihan’ milik Siwon itu berasal. Darimana lagi kalau bukan keturunan dari ibunya.
Ny.Choi justru semakin bersemangat mempersiapkan kostum-kostumnya.
Kostum?
Astaga..
Yoona bahkan tak percaya ia baru saja menyebut pakaian-pakaian yang berjejer diatas tempat tidur itu sebagai kostum.
Bagaimana tidak, Ny.Choi memang terlihat sedang melakukannya. Ia mengepas pakaian itu mulai dari yang akan dikenakannya besok pagi, hingga setidaknya untuk tujuh hari ke depan.

Oh, Ya ampun..
Yoona benar-benar hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala heran melihatnya.
Bagaimana ia akan memberitahu Yuri bila sikap ibu Siwon seperti ingin membuka semuanya kehadapan oenni nya.

“Oh, Yoona ya.. Kau masih belum menceritakan, bagaimana perayaan yang kau lakukan bersama Siwon? Apakah itu menyenangkan?”

“nde? Jadi omonim mengetahuinya?”

“tentu saja.. Jadi bagaimana?”

Yoona lantas menceritakan apa yang tadi dilakukannya. Beberapa jam yang dihabiskannya bersama dengan Hyoyeon dan Sunny, yang kemudian mendapat komentar sedikit tidak menyenangkan dari Ny.Choi yang masih tidak menyukai kedua temannya itu.

Namun kemudian Yoona berhasil membuat wanita itu tertawa ketika ia menceritakan bagian dimana ia melakukan kencan bersama dengan Siwon. Bahkan ahjumma Lee, yang ternyata ikut mendengarkan ceritanya masih dengan melakukan pekerjaannya saat itu juga ikut tersenyum mendengarnya.

“Ya Tuhan.. Aku tidak percaya kau membuat Siwon melakukannya, Yoona..”

“keahlianku adalah merayunya, tapi sa.. emm, Siwon oppa hanya dengan satu kedipan mata dia akan melakukan yang kuinginkan”

Ny.Choi kembali tertawa mendengarnya. Kehadiran Yoona benar-benar telah memberi warna dalam hari-harinya yang biasanya sepi dan membosankan andai ia tak menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan yang dihabiskannya bersama teman-temannya diluar. Tapi setelah merasakan memiliki kedekatan dengan gadis itu, Ny.Choi merasa ia tidak akan pernah merasa bosan selama Yoona bersama dengannya. Entah sikap ceria, keras kepala atau sikap menjengkelkan yang dimilikinya, yang seringkali membuatnya harus mengomeli Yoona, tapi nyatanya gadis itu telah menjadi istimewa dalam hatinya.

***

Selesai dengan Ny.Choi dan juga Ahjumma Lee, Yoona lantas melangkahkan kakinya menuju kamar Yuri. Didalamnya, Ia melihat sang kakak yang telah meringkuk diatas tempat tidur.

“Oenni ya..”

Menutup pintu dibelakangnya, ia lantas mendekat kesisi tempat tidur, menghampiri Yuri yang dalam posisi miring membelakanginya.

“Oenni.. Kau sudah tidur?”

Pertanyaannya yang tak mendapat sahutan dari Yuri, membuatnya berpikir jika sang kakak mungkin memang telah tertidur. Maka kemudian, ia menarik selimut yang masih terlipat rapi dibawah kaki Yuri untuk selanjutnya memasangkan ketubuhnya.

Yoona sudah akan beranjak, namun dirasakannya tangan Yuri meraih, menahan pergelangan tangannya.

“Yoona..”

“ne, oenni..”

Yuri mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk, yang kemudian bisa membuatnya bertatapan dengan Yoona.

“Oenni menginginkan sesuatu? Aku akan mengambilkannya untukmu..”

Yoona tersenyum sambil sebelah tangannya mengusap tangan Yuri yang memegang pergelangan tangannya.

Yuri merespon dengan menggelengkan kepalanya..

“Yoona..”

“hm..”

“Siwon mengatakan dia mencintaiku.. aku mendengar lagi dia mengatakan mencintaiku dan Aku juga mencintai nya.. Kau tahu kan aku sangat mencintai Siwon?”

Untuk beberapa saat Yoona hanya bisa diam mendengarnya..

Ia tahu, tentu saja ia sangat tahu tentang hal itu. Terlebih bila melihat tatapan kedua mata oenni nya yang telah menyiratkan segala perasaan yang dimilikinya terhadap pria itu.

“Yang ku inginkan hanya bahagia, Yoona.. Aku ingin bahagia bersama dengan Siwon. Bisakah aku mendapatkan hal itu? Setelah semua derita yang kurasakan, dapatkah aku merasakan bahagia yang seperti itu?”

Yoona melihat setetes airmata yang dengan perlahan turun membasahi wajah kakaknya. Dan karna hal itu, sesuatu seakan dengan kuat telah menghantam bagian dadanya. sesak dan perih yang kemudian dirasakannya.

Ia sangat tahu sang kakak begitu mencintai Siwon, tapi mengapa ia justru bermain hati dengan pria itu.

Tuhan..
Bukankah ia tak ada bedanya dengan seorang pengkhianat.
Ya..
Ia telah berkhianat.
Mengkhianati kakaknya..

Mendadak Yoona benar-benar merasakan dirinya telah berlaku seperti itu. Dirinya telah menjadi seorang penghianat karna perasaannya yang justru tumbuh untuk seorang pria yang ia ketahui memiliki arti penting bagi oenni nya.

“Apa yang harus kulakukan, Yoona? Bahagia ku hanya Siwon.. Aku ingin terus bersamanya. Aku takut kehilangannya.. aku benar-benar takut. Masih layak kah aku untuk mendapatkan kebahagiaan..? Aku telah ternoda, aku kotor.. aku wanita hina.. aku.. aku..”

“Ya Tuhan, oenni ya.. apa yang kau katakan..?”

Yoona telah menjatuhkan airmata ketika mendengarnya, dan buru-buru menyekanya untuk kemudian menghentikan sang kakak dari merendahkan diri sendiri.

“Oenni ya, oenni sangatlah layak mendapatkan kebahagiaan. Kau memang haruslah bahagia, oenni..”

“Jika seperti itu, apakah kau akan mendukungku, Yoona? Apakah kau akan mendukung aku untuk meraih kebahagianku? Kebahagiannku adalah Siwon..”

Yuri menatapnya lekat, namun Yoona merasakan tak menemukan sesuatu apapun dari tatapan sang kakak kepadanya saat itu. Tanpa pancaran cinta, menjadi terasa kosong tak seperti biasanya..

“Tentu saja, oenni.. Tentu saja aku akan mendukung apapun itu yang bisa membuat oenni bahagia..”

“benarkah?”

Yoona memastikan dengan anggukan kepala dan mengeratkan genggaman tangannya ditangan Yuri, namun
Yuri justru mengalihkan tatapannya, kemudian melepaskan tangan Yoona dari menggenggam tangannya. Ia kemudian juga kembali merebahkan tubuhnya.

“Bisakah kau keluar, aku ingin beristirahat. Aku ingin sendirian malam ini..”

“Oenni ya, tapi aku..”

“Kau tidak keberatan jika aku memintamu untuk tidak tidur disini kan? Aku tak ingin ada yang menggangguku..”

Yoona sedikit tersentak mendengarnya..
Apakah selama ini sang kakak menganggapnya sebagai seorang pengganggu?
Tidak..
Tidak mungkin seperti itu.

Namun pikiran positifnya mengatakan jika mungkin saja sang kakak memang sedang membutuhkan waktu untuk sendiri, maka kemudian Yoona mengangguk meski pada saat itu Yuri tidak sedang melihat respon yang ditunjukkan olehnya karna kedua matanya telah mengatup rapat.

Yoona juga lantas menarik selimut sebatas bahu, menyelimuti tubuh Yuri, menjaganya agar tetap merasa hangat.

“Baiklah jika oenni ingin sendiri, aku akan keluar.. Aku tidak akan mengganggu oenni. Aku akan tidur dengan Amber, tapi kuharap besok oenni akan memperbolehkan aku untuk tidur denganmu. Aku hanya ingin menjagamu, aku menyayangimu.. Jaljayo oenni..”

Yoona yang kemudian melangkah keluar meninggalkan kamar itu, pastilah tidak menyadari Yuri yang kemudian meneteskan airmata dan menangis cukup lama sambil memandang pada pintu kamarnya yang telah tertutup rapat.

Apa yang tadi dikatakannya?
Mengapa ia menjadi sedemikian tega terhadap adiknya?

Namun ia masihlah merasakan kemarahan, kecewa dan perasaan tersakiti oleh karna kebohongan sekaligus pengkhianatan yang dilakukan Yoona terhadapnya, yang telah pula menghancurkan kepercayaannya.

Rasanya ia tak lagi bisa menatap sang adik dengan perasaan yang sama seperti sebelumnya. Menatap Yoona justru hanya semakin membuatnya merasakan perihnya luka yang sedang dirasakannya..

“Mengapa kau tega melakukannya, Yoona.. Mengapa kau tega mengkhianatiku?”

Yuri masih terus terisak, seakan airmatanya takkan pernah bisa mengering dari sumbernya..

***

Sementara dengan Yoona, setelah menutup pintu kamar Yuri dan sempat beberapa lama hanya berdiri diam disana, tak tahu apa yang selanjutnya akan dilakukannya. Sejujurnya ia tengah dilanda kebingungan. Bingung dengan sikap sang kakak yang ia rasakan berubah begitu dingin terhadapnya.

Yoona bahkan tak menemukan lagi pancaran cinta yang biasa terlihat dari sorot mata sang kakak ketika menatapnya. Ia hanya mendapati kekosongan tanpa rasa didalamnya.

Oh Tuhan..
Apa yang terjadi dengan oenni nya?

Setelah cukup lama bergulat dengan kebingungannya, Yoona lantas beranjak, melangkahkan kakinya untuk menemukan keberadaan Amber. Seperti yang dikatakannya, ia mungkin bisa tidur dengan Amber malam ini. Atau jika tidak, ahjumma Lee mungkin juga takkan keberatan memberinya tempat dikamarnya.

Mengapa ia tak kembali saja menempati kamarnya dirumah itu?

Pemikiran yang seperti itu sempat terlintas dibenaknya, namun Yoona buru-buru membuangnya. Ia mungkin takkan pernah lagi kembali menghuni kamar itu.

Helaan napasnya yang berkali-kali, telah menemani langkah-langkah ringannya mengelilingi beberapa bagian dalam rumah itu untuk menemukan keberadaan Amber. Namun sampai saat itupun, Yoona masih belum menemukannya. Amber juga tak sedang berada dikamarnya.

Berniat untuk kemudian menuju kamar ahjumma Lee, Yoona justru mendapati pintu ruang kerja Siwon yang dilewatinya sedikit terbuka, memperlihatkan bias cahaya yang berasal dari dalamnya, yang kemudian membuat kedua kakinya menghentikan langkahnya.

Yoona justru mendekat pada pintu itu, sedikit mendorongnya hingga kemudian mendapati Siwon berada didalamnya. Pria itu sedang duduk dibelakang meja kerjanya, terlihat serius dengan berlembar-lembar kertas dihadapannya. Keseriusan itu pula yang nampaknya sempat membuatnya tak menyadari saat Yoona melangkahkan kakinya masuk kedalamnya.

Siwon baru menyadari kehadiran Yoona didalam ruang kerjanya itu, saat tak kurang dari tiga langkah lagi gadis itu akan menjapai meja kerjanya.

“Oh, Hai..”

Wajah serius itu, berubah dengan cepat menunjukkan senyumnya kehadapan Yoona.

“Hai..”

Yoona balas tersenyum kearahnya. Membuat
Siwon terlihat ingin beranjak dari kursi yang didudukinya, namun dengan segera Yoona mencegahnya..

“Tetaplah disana, aku tidak ingin mengganggumu..”

Siwon masih belum beralih dari Yoona yang kemudian mendudukkan dirinya pada satu-satunya sofa yang berada tak jauh darinya.

“Ada apa?”

Siwon juga sepertinya menyadari ketidak beresan dalam raut wajahnya yang kemudian ditutupi oleh Yoona dengan sedikit menarik sudut-sudut bibirnya agar membentuk senyum diwajahnya.

“Tidak apa-apa.. Kenapa kau masih bekerja? Itu pasti karna seharian tadi kau menemaniku kan? Mianhae..”

Yoona berhasil mengalihkan perhatian Siwon yang lantas juga tersenyum padanya.

“Aku tidak akan berbohong karna memang seperti itu. Aku meninggalkan beberapa pekerjaanku untuk melakukan kencan konyol dengan seorang gadis belia. Tapi kau tidak perlu meminta maaf, aku menyukainya..”

Yoona tak merespon kalimatnya dan hanya terus menatap pada Siwon yang masih tersenyum padanya, sampai kemudian pria itu kembali mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang memenuhi meja kerjanya.

“Kenapa tidak tidur saja? Apa kau tidak merasa lelah seharian ini?”

Yoona baru berkedip ketika sesaat Siwon mendongak melihatnya dan kembali lagi membolak-balik kertas-kertas yang berada didalam map dan menandatangani beberapa diantaranya.

“Aku belum mengantuk..”

jawabnya sekenanya, meski sebenarnya ia cukup lelah, bahkan kedua matanya terasa berat. Namun Yoona memastikan tidak akan mengatakan jika Yuri baru saja mengusirnya keluar dari kamar dan tak membiarkannya tidur dengannya, karna itu ia berkeliling mencari Amber untuk menumpang tidur dikamarnya, namun masih belum menemukannya hingga sekarang ia justru tertarik masuk kedalam ruang kerja Siwon.
Tidak, ia tidak akan mengatakan yang seperti itu.

“Kalau begitu baguslah, kau bisa disini menemaniku..”

Siwon kembali menunjukkan senyumnya. Senyum yang menawan. Yang dirasakan Yoona berkali lipat lebih menawan dari biasanya.
Oh, bahkan sampai menggetarkan hatinya..

“Kau tidak keberatan kan?”

“Oh, hm..”

Yoona seakan linglung dan hanya bisa mengangguk. Benar-benar tertawan oleh senyuman yang telah menggetarkan hatinya sedemikian rupa, bahkan sampai sekarang..

Baru beberapa saat setelahnya, setelah Siwon kembali bergelut dengan kertas-kertas nya, Yoona baru kembali bersuara..

“Mau kopi?”

Tawarnya yang dengan cepat ditanggapi oleh Siwon..

“Jika tidak keberatan”

“Aku akan membuatnya..”

“Tidak dengan menambahkan garam kan?”

Siwon menaikkan alisnya seolah sedang menampilkan kecurigaan diwajahnya, yang kemudian membuat Yoona tersenyum. Teringat pada kejadian yang terjadi beberapa waktu sebelumnya.

“Aku mungkin tidak akan berani melakukannya lagi. Tunggulah, aku akan membuatkannya..”

Yoona lantas beranjak dari sofa yang didudukinya, keluar dari ruang kerja Siwon dan selanjutnya menuju kearah dapur. Bergerak membuka beberapa laci yang terdapat disekitar mesin pembuat kopi, dan menemukan kopi instan siap seduh didalamnya. Praktis yang dilakukannya kemudian adalah menuangkannya kedalam cangkir, lalu menyeduhnya. Dan dengan segera meninggalkan ruang dapur untuk kembali ke ruang kerja Siwon.
Dalam langkahnya melewati ruang utama didalam rumah itu, Yoona justru berpapasan dengan Tn.Choi yang baru saja masuk melewati pintu depan.

“Oh, abonim.. Anda baru datang?”

Yoona sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memberikan salam, yang langsung ditanggapi dengan senyuman dari Tn.Choi.

“Apa yang kau lakukan malam-malam begini, Yoona ya.. Kau tidak tidur?”

Tn.Choi memperhatikan sebuah cangkir yang berada ditangannya..

“Kau membuat kopi? Kau tau aku masih tidak suka kau berada didapur, Yoona.. tapi, bau nya sangat enak..”

Tn.Choi juga kemudian menghirup, menikmati harum aroma kopi panas yang mengepul dari cangkirnya.

“Aku membuatnya untuk sajangnim.. emm, maksudku Siwon oppa. Apa abonim menginginkannya? Aku bisa membuatkannya lagi..”

“Oh, aku sangat ingin Yoona ya.. Tapi aku juga tidak ingin mengambil resiko ibu Siwon mengomeliku. Istriku sangat cerewet dan melarangku mengkonsumsi terlalu banyak kafein..”

Yoona terkikik geli mendengarnya, ingin menanggapi keluhan Tn.Choi saat itu, namun sebuah suara lebih dulu menghentikannya..

“Apa aku baru saja mendengar kau menjelekan aku, yeobo?”

Ny.Choi sudah dalam langkah mendekati keduanya, meski nada dalam kalimatnya tadi terdengar ketus, namun wanita itu langsung menghampiri sang suami untuk mengambil mantel hangat ditangan Tn.Choi, yang lantas membuat pria itu tersenyum kearahnya.

Yoona sesaat tertegun melihatnya..

Bagaimana bisa tindakan sekecil itu yang dilakukan kedua orangtua Siwon didepan matanya bisa begitu membuatnya merasakan kehangatan oleh karna aura yang begitu kuatnya dari jalinan cinta yang mengikat mereka.

Oh..
Apakah dulu orangtua nya juga seperti itu?
Sayangnya ia sama sekali tak memiliki ingatan tentang keharmonisan kedua orangtua nya.
Betapa Siwon sangat beruntung memiliki kedua orangtua yang seperti itu. Yang saling memperhatikan hingga hal sekecil itu.

“dan apa yang kau lakukan disini, Yoona?”

Yoona mengerjap mendengarnya, tersadar dari kekagumannya terhadap sikap yang ditunjukkan kedua orangtua Siwon pada satu sama lain. Ia semakin dapat menilai bahwa Tn.Choi seorang yang sangatlah penyabar, yang mampu mengimbangi sikap sang istri yang cenderung keras dan kadang terkesan tanpa perasaan.

“Ck! Yoona, kau tidak mendengarku?”

Yoona kembali mengerjap..

“Oh, ne omonim.. Mianhae..”

Ny.Choi lantas memperhatikan pada cangkir kopi ditangan Yoona. Hal yang sama seperti yang dilakukan Tn.Choi tadi.

“untuk siapa kau membuatnya, Yoona? Yeobo.. Aku sudah memperingatkanmu. Kau pikir kau masih muda. Kafein tak baik untuk pria tua sepertimu..”

Merasa ucapannya diabaikan, Ny.Choi menjadi terlihat kesal pada sang suami, yang kemudian justru merangkulnya.

“Yoona membuatnya untuk Siwon.. Aigoo, tenanglah aku masih selalu mendengar omonganmu..”

“untuk Siwon?”

“ne, omonim..”

Yoona mengatakan jika Siwon sedang berada diruang kerjanya untuk mengerjakan pekerjaan kantor yang tertunda karna pria itu seharian menemaninya. Mulai dari memberinya perayaan, melakukan kencan seperti yang diinginkannya hingga berada dirumah sakit saat mendadak kondisi Yuri menurun tadi.

“sebaiknya aku membawakan ini sekarang..”

“Tapi kau tidak boleh menemani Siwon hingga larut. Kau jelas terlihat lelah dan membutuhkan tidur, Yoona..”

Yoona mengangguk dan membuat Ny.Choi kemudian mengulurkan tangan, menyentuh kemudian mengusap pada pipi Yoona.

“Aishh.. Berapa lama aku tidak membawamu ke salon kecantikan? Kulitmu kusam dan membutuhkan perawatan”

Yoona sedikit memberengut mendengarnya. Sepertinya tak ada masalah dengan kulit wajahnya. Kecuali ia memang merasakan letih dan lelah seharian ini.

“Besok setelah jam kuliahmu berakhir, kau harus ikut denganku..”

Ny.Choi berpesan itu padanya sebelum akhinya menarik lengan sang suami dan berjalan bersisian masuk kedalam kamar mereka. Yoona yang sempat berdiri diam, kemudian juga meneruskan langkahnya kembali keruang kerja Siwon..

Tapi tak ada yang mengetahui dengan keberadaan Yuri disana. Yuri yang tengah berdiri kaku setelah melihat dengan kedua matanya bagaimana percakapan antara Yoona dengan kedua orangtua Siwon tadi.

Jadi seperti itukah yang selama ini terjadi dibelakangnya?
Jadi semua orang telah bersekongkol untuk membohonginya?

Yuri merasakan lagi hantaman rasa sakit yang nyaris membuatnya terjatuh dalam keadaan lunglai tubuhnya, ia lantas menyeret kedua kakinya kembali masuk kedalam kamarnya dengan langkah tertatih-tatih.
Niat awalnya keluar dari dalam kamar tadi adalah untuk mencari Yoona, setelah menyadari ia tak benar-benar tega memperlakukan sang adik sedimikian kejam, namun kenyataannya ia justru disuguhi dengan senyuman canda dari Yoona bahkan setelah ia tadi mengusirnya keluar dari kamarnya. Sang adik jelaslah terlihat tak masalah, apalagi bersedih lantaran sikapnya tadi.

Jadi, untuk apa ia menyesali sikapnya..

“kenapa kau begitu jahat, Yoona.. Kenapa kau begitu jahat padaku?”

***

Masuk kedalam ruang kerja Siwon dan mendapati pria itu masih terlihat berkonsentrasi pada apa yang sedang dikerjakannya,
Yoona kemudian meletakkan cangkir kopi itu disudut meja kerjanya, sembari mengatakan agar pria itu lekas meminumnya selagi masih hangat. Selanjutnya, ia kembali menduduki sofa yang sebelumnya ditempatinya, dengan sebelah tangannya terulur mengambil sebuah buku yang tergeletak diatas meja kecil disampingnya.

Yoona bahkan tak mengetahui buku semacam apa itu, ia hanya membaca tulisan pada sampulnya yang menggunakan bahasa asing, dan seketika mendengus mengetahui isi didalamnya yang keseluruhannya juga menggunakan bahasa asing. Ia menyerah, ia mungkin bisa mengerti dengan arti dari judul yang tertera pada sampulnya, namun ia takkan pernah paham dengan isi buku itu.

“Kenapa?”

Siwon bertanya setelah melihat Yoona meletakkan lagi buku itu keatas meja, ketempatnya semula.

“Anio, lanjutkanlah.. Aku tidak akan mengganggumu.”

Yoona mengalihkan tatapannya kesekeliling, menghindar dari tatapan Siwon yang sedang mengawasinya. Sampai akhirnya pria itu kembali membuka-buka tumpukan map yang tersisa, Yoona baru berani memperhatikannya lagi.

Berbagai pemikiran berkelebat dibenaknya, termasuk salah satunya mengenai apa yang dikatakan Yuri beberapa saat tadi.

Ya Tuhan..
Apa yang harus dilakukannya?

Oenni nya menginginkan kebahagiaan, menginginkan Siwon. Dan bagaimana ia bisa menjelaskan keadaannya pada Yuri oenni nya?
Ia tahu cepat atau lambat harus berkata jujur. Tapi ia sadar kejujurannya pun akan menyakiti hati oenni nya.
Dan menyakiti Yuri bukanlah yang menjadi keinginannya. Yang ia inginkan tentu adalah kebahagian sang kakak. Dan kebahagiaan itu jelas bersumber pada Siwon. Mampukah ia memberikan kebahagiaan itu untuk oenni nya, jika separuh hatinya terus membisikkan ketidak relaan.

Tuhan..
Apa yang terjadi dengan hatinya?
Apakah ia telah terlalu jauh bermain-main dengan melibatkan hatinya..

Yoona memejamkan matanya, tak sanggup lagi rasanya menatap pada sosok Siwon yang berada tak jauh darinya. Sedetik berikutnya, ia menyusut cairan bening yang lolos membasahi pipinya dengan menggunakan jari-jarinya.

Ia kalut, cemas dan gelisah. Bahkan mendadak justru menjadi takut dengan kebohongan yang telah dilakukannya.

Tuhan..
Apa yang harus dilakukannya?

Yoona terus menggumamkan tanya yang sama disetiap tarikan napasnya. Hingga kelopak matanya yang terasa berat dan telah mengatup rapat terasa sulit untuk kembali terbuka. Lelah yang kemudian membuatnya tertidur..

Siwon baru menyadari jika pada saat itu Yoona sudah tertidur pulas ketika tiga kali ia memanggilnya, namun tak ada sahutan dari gadis itu.

Menyudahi apa yang sedang dikerjakannya, Siwon kemudian beralih dari kursi kerja yang didudukinya untuk selanjutnya berjalan mendekati Yoona. Berjongkok disebelah sofa yang saat itu ditiduri Yoona, ia mendecak melihat bagaimana posisi tubuh gadis itu saat tertidur. Kepalanya bersandar pada lengan sofa, sementara kedua kakinya yang bahkan lebih panjang dari sofa itu, menekuk dengan tidak nyaman.

“Bagaimana bisa kau tidur seperti ini.. Yoona, hei.. Yoona, bangunlah..”

gadis itu hanya sedikit melenguh saat Siwon mencoba membangunkannya dengan mengusap-usap pada wajahnya, dan membuat Siwon menyadari bekas airmata yang masih terasa basah dipipinya.

Siwon berhenti mengusapnya dan menjadi tertegun menatapnya..

“Apa yang sedang kau cemaskan sekarang? Percayalah bahwa aku akan terus ada untukmu. Aku benar-benar tak ingin melihatmu bersedih, Yoona..”

Menyingkirkan anak-anak rambut didahinya, Siwon lantas mencondongkan tubuhnya untuk memberikan kecupan disana. Selanjutnya beralih membuka sepasang sepatu yang masih dikenakannya, dan kemudian
membopong tubuh Yoona keluar dari dalam ruang kerjanya.

***

“Ahjumma.. Ahjumma..! Apa kau masih belum bangun..? Ahjumma..!”

Pagi itu, ahjumma Lee dibuat tergopoh-gopoh saat keluar dari kamarnya yang berada tak jauh dari ruang dapur ketika mendengar suara Ny.Choi yang memanggil-manggilnya, juga beberapa kali suara gaduh yang didengarnya.

Ahjumma Lee cukup terkejut ketika mendapati kekacauan didapurnya, serta Ny.Choi yang telah berada didapur itu, lengkap dengan mengenakan celemek ditubuhnya. Hal yang seingatnya tak pernah terjadi selama kurun waktu yang cukup lama ia bekerja disana. Wanita itu tak pernah sekalipun bersinggungan dengan dapur lantaran telah memiliki para pekerja yang melakukannya dan terlebih karna adanya larangan keras dari suaminya.

Jam berapa sekarang?
Apa ia telat bangun hingga sang nyonya sampai harus turun tangan membuat sarapan? Dan berakhir dengan mengacaukan perkakas dapurnya..

Pikir ahjumma Lee dengan mata mengerjap, masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya..

“Ahjumma..!”

“Ohh, Nyonya.. Apa yang sedang nyonya lakukan? Apa saya kesiangan? Bagaimana jika Tuan melihatnya..”

Ahjumma Lee mencoba meraih pisau pemotong dari tangan Ny.Choi, namun wanita itu tidak membiarkannya.

“Ayah Siwon masih belum bangun, jadi aku bisa mengerjakan ini. Aku membuat bekal makan siang untuk Yoona, hari ini dia sudah harus aktif mengikuti kelas di universitas..”

“Ya Tuhan, kalau hanya itu, saya masih bisa mengerjakannya.. Nyonya menyingkir saja, biar saya yang meneruskan..”

“Tidak.. Tidak.. Aku yang akan mengerjakan ini, aku membangunkan ahjumma hanya untuk menanyakan apakah yang aku buat ini rasanya sudah pas?”

Ny.Choi menyodorkan telur gulung buatannya agar ahjumma Lee mencicipinya. Wanita itu bahkan terlihat was-was saat ahjumma Lee kemudian mencomot satu dan mencicipinya.

“Ottokhaeyo?”

Ketika ahjumma Lee mengangguk dan mengatakan telur gulung buatannya cukup enak untuk kategori pemasak pemula sepertinya, Ny.Choi tersenyum cerah dan terlihat makin bersemangat membuat menu makanan yang telah ia daftar dalam secarik kertas yang ditempelkannya pada pintu kulkas.

Astaga..

Ahjumma Lee terheran saat mengetahui semua itu adalah jadwal dari menu bekal makan siang untuk Yoona..

“Kapan Nyonya mendaftar semua ini?”

Ny.Choi justru tersenyum bangga saat melihat raut ketidak percayaan yang sedang ditunjukkan sang ahjumma diwajahnya.

“Semalam sambil menunggu ayah Siwon pulang, Aku menyusunnya. Kau lihat sendiri, ahjumma.. Betapa kurusnya gadis itu. Aku harus memberinya banyak makan, terlebih seharian dia akan berada dikampus. Yoona harus membawa banyak bekal makanan.. Ahjumma tidak perlu khawatir, ini tidak akan menambah pekerjaanmu, karna aku sendiri yang akan mengerjakannya.. Aku hanya membutuhkan ahjumma untuk mencicipi rasanya..”

Ny.Choi kembali tersenyum..

“Saya sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu Nyonya.. Hanya saja, bagaimana jika Tuan marah karna anda berada didapur?”

“stt.. Karna itu aku mengerjakannya pagi-pagi seperti ini, ayah Siwon tidak akan mengetahuinya dia tidak akan bangun sepagi ini..”

“bagaimana aku tidak akan terbangun jika kau terus membuat suara gaduh seperti itu, yeobo..”

Ny.Choi hampir saja menjatuhkan pisau pemotong ditangannya ketika sang suami telah berada tak jauh darinya. Berdiri berkacak pinggang dengan tatapan mata mengawasinya.

“Oh, yeobo.. Kau sudah bangun?”

“hm..”

“Aku.. Aku sedang mengerjakan sesuatu..”

“keluar darisana sekarang..”

Ny.Choi mengabaikan kalimat peringatan dari sang suami dan malah meneruskan mencincang bawang putih yang rencananya akan dipergunakan untuk menumis.

“Yeobo, kau tidak mendengarku?”

“Nyonya.. Tuan memanggil anda, biarkan saya yang mengerjakannya”

Ny.Choi mendesah frustasi, meletakkan pisau pemotong ditangannya dan kemudian menatap pada sang suami tanpa beranjak dari dapur sesuai yang diperintahkan Tn.Choi kepadanya..

“Kau tak bisa seperti ini terus, yeobo.. bagaimanapun aku juga ingin menjadi wanita normal”

“Jadi selama ini kau menganggap dirimu sendiri tak normal?”

“Ck.. Aku seorang wanita, seorang istri dan terutama seorang ibu. Apa salahnya berada didapur?”

“Kau sudah tau alasannya.. Dan lagi pula kau tak perlu melakukannya. Ahjumma Lee bisa mengerjakannya..”

“Iya Nyonya, Tuan benar..”

“Sebaiknya kau diam ahjumma, ini menjadi urusanku dengan suamiku”

Ahjumma Lee kemudian menyingkir, mengerjakan tugasnya untuk membuat sarapan pagi itu dan mencoba mengabaikan perdebatan yang terjadi disekitarnya.

“Apa yang sebenarnya sedang kau kerjakan hingga kau berkeras seperti ini?”

Tn.Choi mempertanyakan..

“Aku.. Aku sedang menyiapkan bekal makan siang untuk, Yoona..”

“Apa? Apa aku tidak salah dengar? Kau sedang menyiapkan bekal untuk, Yoona..?”

Ny.Choi mengangguk dan sekaligus memutar mata saat kemudian sang suami justru tertawa. Sangat jelas sedang menertawainya..

“Aigoo.. Yeobo, Yoona bukan lagi gadis kecil di sekolah dasar, dia di universitas..”

“memangnya kenapa kalau dia di universitas, Yoona tetap membutuhkan makan bukan..”

“Kau cukup membekali dia dengan uang, tapi jika kau berkeras membawakan bekal makan siang untuknya, biarkan ahjumma Lee yang menyiapkannya.. Dan jauhkan tanganmu dari pisau itu..”

Tn.Choi sedikit menggeram melihat sang istri yang kembali memegang pisau dan dengan santainya kembali menggunakan benda berbahaya itu.
Betapa ia sedang melihat itu dengan pandangan ngeri dikedua matanya.
Bagaimana jika pisau itu melukai tangan istrinya?
Ya Tuhan..
Ia paling tidak menginginkan seseorang yang dicintainya terluka.

“Kau tidak lihat apa, ahjumma sudah cukup kerepotan menyiapkan sarapan, kau tidak kasihan padanya? Dan jangan lupakan bila aku yang membawa Yoona kerumah ini, jadi segala sesuatu tentangnya menjadi urusanku. Aku tidak mau dia ditangani orang lain..”

Tn.Choi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala pada kekeras kepalaan yang diperlihatkan sang istri padanya.

“Sudahlah yeobo, apa kau tidak sadar selama ini kau sudah menghalang-halangiku untuk menjadi selayaknya seorang istri sekaligus ibu Siwon yang sudah seharusnya mengurusi kebutuhan makan kalian. Kau tak pernah membiarkanku menyentuh dapur, padahal aku sangat ingin melakukannya. Tapi mulai sekarang aku harap kau tidak lagi melakukannya dan berhenti dengan ketakutan konyolmu. Percayalah, aku bisa menangani ini. Ini adalah apa yang kuinginkan, dan kau sudah berjanji saat menikahiku akan memberikan apapun yang kuinginkan..”

Tn.Choi mendesah pasrah, apa yang dikatakan sang istri telah membuatnya mengambil sikap mengalah. Setidaknya untuk saat itu, sampai nanti dirinya menemukan cara untuk membujuk kekeras kepalaan yang dimiliki oleh istrinya.

“Baiklah, aku mengalah.. Ahjumma, tolong kau awasi dia. Aku benar-benar tak menginginkan satu-satunya istri yang kumiliki terluka..”

Ahjumma Lee mengangguk..

“gomawoyo yeobo..”

Ny.Choi tersenyum-senyum sendiri melihat sang suami yang akhirnya beranjak dan tak lagi mengawasinya. Ia kemudian meneruskan apa yang dikerjakannya dengan sesekali meminta bantuan ahjumma Lee, hingga akhirnya menyelesaikan semua menu masakannya, dan kemudian menyusunnya kedalam wadah.
Jelas terlihat gurat kepuasan diwajahnya saat itu, melihat hasil olahannya yang dibuat khusus untuk Yoona. Gadis itu, entah ada sesuatu macam apa dalam diri gadis itu yang mampu membuatnya melakukan hal seperti itu. Dan Yoona, sudah pasti dia harus menghabiskan semua yang dikerjakannya dengan susah payah bahkan sampai harus melakukan perdebatan di pagi-pagi buta dengan suaminya.

Ny.Choi kembali tersenyum setelah menutup satu wadah terakhir berisi makanan-makanan bekal makan siang untuk Yoona. Dan setelah sempat membantu ahjumma Lee menata sarapan diatas meja, ia melepas celemek yang dipakainya, berniat untuk memanggil Yoona dikamarnya.

Biasanya, jika sudah selesai mengurusi kakaknya, Yoona akan keluar dari kamarnya. Tapi sampai saat itu gadis itu masih belum terlihat.

“Apa dia lupa jika sudah harus bersiap?”

Ny.Choi sedikit menggerutu dalam langkahnya menuju kamar yang ditempati Yoona bersama dengan Yuri. Tapi kemudian ia justru berpapasan dengan Amber yang baru saja keluar dari dalam kamar itu dan mengatakan padanya bila Yoona tak sedang berada didalamnya. Amber juga mengatakan bila Yuri bahkan mengira Yoona tidur dengannya.

“jadi dimana gadis itu?”

“Saya akan melihat kekamar yang berada diatas, Nyonya. Mungkin semalam nona Yoona tidur disana”

Namun apa yang dipikirkan Ny.Choi jelas berbeda dengan apa yang dipikirkan Amber. Ia teringat saat semalam Yoona membuatkan kopi untuk Siwon dan mengatakan akan menemani Siwon yang sedang mengerjakan beberapa pekerjaan kantor yang belum diselesaikannya.

Dengan itu, Ny.Choi memiliki satu pemikiran pasti yang kemudian membuatnya melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kearah kamar Siwon. Mereka berdua pasti bersama semalaman..

Benar saja, decakan lolos dari lidahnya saat melihat Yoona yang berada diatas tempat tidur. Jelas masih tertidur dengan lengan Siwon yang memeluk pinggangnya.

“Ya Tuhan…”

Alih-alih memperlihatkan kemurkaan diwajahnya saat melihat keduanya yang berada diatas tempat tidur yang sama, Ny.Choi justru hanya mendesah sambil melangkah dengan santai mendekati tempat tidur Siwon. Dan dengan segera menyingkap selimut yang hanya menutupi tubuh keduanya sebatas kaki, lalu mengguncang tubuh Siwon dan juga Yoona.

“Bangun kalian.. Siwon! Yoona..! Bangun.. Kalian harus bersiap.. Siwon!!”

Siwon hanya melenguh dan sedikit menggeliat, sementara Yoona kemudian mengerjap dan sontak terlonjak kaget melihat Ny.Choi dan terlebih menyadari keberadaannya diatas tempat tidur yang sama bersama dengan Siwon.

Oh, dear..
Apa yang sudah terjadi?

“Omonim..”

Buru-buru menyingkirkan lengan Siwon dari tubuhnya, Yoona dengan panik bergerak turun dari atas tempat tidur dan langsung berdiri berhadapan dengan tatapan Ny.Choi yang sedang meneliti tampilannya saat itu.

Wanita itu mendesah melihatnya..

“Setidaknya kau masih mengenakan pakaianmu dengan lengkap”

komentarnya kemudian, yang juga membuat Yoona lantas meneliti dirinya sendiri.

“omonim, aku bisa menjelaskan.. Kami tidak..”

“Apa tadi aku mengatakan membutuhkan penjelasan darimu?”

Ny.Choi kembali mendesah, sambil tangannya kini mengurut pada pelipisnya..

“Tidak, aku tak memerlukan penjelasan apapun.. Aku hanya akan menyuruhmu untuk bersiap-siap. Kau memiliki jadwal kuliah pagi bukan? Dan bangunkan Siwon.. Dia juga harus bersiap kekantor..”

Yoona mengerjap, hampir-hampir tak percaya dengan reaksi tak biasa yang ditunjukkan Ny.Choi pada saat itu.
Bagaimana mungkin wanita itu tidak menunjukan amarah ataupun omelan-omelan yang seringkali dilakukannya, setelah tadi melihatnya berada ditempat tidur yang sama dengan Siwon?

Tunggu..
Tempat tidur?
Bersama Siwon..?!

Yoona memekik dalam hati, melihat Siwon yang dalam posisi tengkurap dalam tidurnya.

Ia memikirkan keras apa yang telah terjadi yang membuatnya bisa berada diatas tempat tidur Siwon..

Oh, bagaimana ini?
Apa yang sudah dilakukan pria itu padanya?

“Sajangnim.. Sajangnim! Bangun sajangnim..? Apa yang sudah kau lakukan padaku? Sajangnim..!”

Yoona mengguncang-guncang tubuh Siwon, membangunkannya. Ketika Siwon hanya melenguh dan malah menarik sebuah bantal untuk menutup telinganya, Yoona dengan segera menarik bantal itu dan memukulkan ketubuhnya.

“Yak.. Yakk.. Awhh.. Oemma, kenapa membangunkanku seperti ini?”

“Bangun dan jelaskan padaku, sajangnim!!”

Siwon terduduk, mengucek kedua matanya kemudian mengacak rambutnya kesal, masih belum menyadari Yoona-lah yang pada saat itu membangunkannya dengan pukulan bantal ketubuhnya.

“Sajangnim.. Cepat jelaskan padaku apa yang terjadi?”

“Ohh, Yoona.. Kau disini?”

Siwon tidak menyadari kepanikan yang diperlihatkan diwajahnya..

“Kenapa.. Kenapa aku ada disini? Kenapa aku bisa tidur denganmu?”

Yang dapat diingatnya, ia berada didalam ruang kerja Siwon semalam dan, dan.. Dan apalagi yang terjadi?
Yoona kian terlihat panik, mendapati ingatannya yang seakan tumpul bahkan sekedar untuk mengingat sedikit saja kejadian semalam..

“jangan diam saja, sajangnim..! Apa yang semalam ku lakukan? Apa yang kau lakukan? Apa yang kita lakukan..?!”

Siwon justru tersenyum melihat raut wajah Yoona saat itu..

“Sajangnim..!”

“Apa.. huh?”

“Apa yang terjadi?”

“Kau tidak ingat?”

Yoona menggeleng dengan lemah..

“Kenapa ingatanmu payah sekali.. Kau bahkan tidak mengingat kejadian manis yang semalam terjadi”

Yoona melebarkan mata mendengarnya..

“A-apa maksudmu? Ke-kejadian apa?”

Siwon hanya tersenyum-senyum mengingatnya..

Semalam, setelah mendapati Yoona tertidur didalam ruang kerjanya dan akhirnya membuatnya harus membopong gadis itu, Siwon dibuat kebingungan untuk menidurkannya dimana. Tidak mungkin ia membopongnya masuk kedalam kamar Yuri, itu jelas akan membuat tanda tanya besar dari Yuri nantinya. Ia sempat berniat menidurkan Yoona dikamar yang sebelumnya sempat dipergunakan Yoona sebelum kedatangan Yuri, namun akhirnya ia urungkan karna untuk melakukannya ia harus menaiki puluhan anak tangga. Sudah terlalu malam dan ia pun cukup lelah hari itu, sepertinya takkan sanggup untuknya menaiki puluhan anak tangga itu dengan bobot tubuh Yoona dalam gendongannya. Praktis, ia mengambil pilihan paling mudah dengan membawa Yoona kedalam tempat terdekat, yaitu kamarnya..

“Benar seperti itu? Kau tidak melakukan ‘apa-apa’ padaku?”

“Jadi kau ingin aku melakukan ‘apa-apa’ padamu? Kau seharusnya mengatakan itu semalam.. Jika kau mengatakannya semalam, aku jamin kau tidak akan bangun dengan pakaian lengkap seperti ini..”

“Yakk..!!”

Yoona langsung melemparkan bantal ditangannya kearah Siwon dan bergegas untuk keluar dari dalamnya.

“Sebenarnya semalam aku sempat menciummu..”

Siwon berhasil membuat Yoona menghentikan langkahnya dan untuk beberapa saat berhenti diambang pintu, dengan kedua bola matanya yang melebar menatapnya. Wajahnya yang kemudian menjadi terlihat bersemu merah sesaat sebelum menutup pintu kamarnya dengan suara bantingan yang lumayan keras, membuat Siwon menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum kembali..

Ia tak berbohong mengenai ciuman yang dilakukannya terhadap Yoona. Dan bukan mengenai ciuman didahi yang dilakukannya sebelum akhirnya ia membopong tubuh gadis itu. Melainkan ciuman lain yang ia lakukan pada saat gadis itu telah berada diatas tempat tidurnya.

Semalam setelah berlama-lama memandangi wajah Yoona saat tertidur,  wajahnya yang nampak sedikit pucat, lelah pasti, membuat kecemasan menyusup kedalam hati Siwon. Ia lantas menyentuh dan mengusap dengan jari-jarinya. Juga membelai rambutnya, sebelum akhirnya Siwon kembali menciumnya. Mencium pada bibirnya. Ciuman yang diberikannya secara lembut dan perlahan itu dilakukannya dengan harapan dirinya bisa mengirimkan rasa tenang juga nyaman dalam tidurnya. Serta tak lupa membisikkan pernyataan sayangnya, yang dirasanya Yoona mungkin juga mendengarnya. Karna semalam setelah ia mencium dan mengatakan kalimat cintanya, gadis itu yang masih lelap dalam tidurnya, beringsut untuk merapat padanya, mencari kehangatan dengan memeluknya. Yang kemudian juga membuat Siwon mendekapnya dan tanpa sadar menyusulnya yang telah lebih dulu tertidur.

***

Yoona masuk kedalam kamar Yuri dan mendapati sang kakak telah berada diatas kursi rodanya. Terlihat segar sehabis mandi. Ia lantas mendekat dan menyapanya..

“selamat pagi oenni..”

Yoona tanpa segan mencium pada pipinya, dan reaksi yang kemudian diberikan Yuri dengan memundurkan kursi rodanya, memunculkan sengatan rasa sakit dihati Yoona yang kemudian dengan susah payah ia menepisnya dengan cara tetap menunjukkan senyum dibibirnya.

“Oenni sudah sangat cantik.. Siapa yang membantu oenni mandi tadi?”

Lagi-lagi Yuri tidak menjawab, ia justru memutar kursi roda dan mengarahkannya kedekat jendela. Menjauh dari Yoona.

“Oenni ya.. Aku..”

“kenapa kau tidak mandi saja dan segeralah bersiap. Kau masih harus bekerja bukan?”

Sekalinya bersuara, Yuri memutus apa yang ingin diucapkan oleh Yoona, dan dengan tanpa menatap kepadanya.

“ne, oenni.. Aku akan melakukannya.”

Yoona merasakan kedua matanya mulai berair, maka buru-buru ia melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi. Mungkin ia akan menumpahkan airmata itu didalamnya..

Yuri yang mendengar suara pintu kamar mandi terbuka dan kemudian menutup kembali, menandakan Yoona yang telah masuk kedalamnya, membuatnya kemudian memutar kembali arah kursi rodanya. Kedua matanya menatap pada pintu kamar mandi, dimana suara gemericik air terdengar dari dalamnya.

Ia meremas kuat bagian rok yang dikenakannya dengan menggunakan kedua tangannya, merasakan tak tahu bagaimana ia harus bersikap terhadap seorang adik yang teramat disayanginya namun justru dengan teganya mengkhianatinya, menusuknya dari belakang. Ia marah, kecewa dan terluka. Tapi tak tahu dengan cara seperti apa harus melampiaskannya. Ia sendiri merasakan terguncang oleh karna kebohongan yang dilakukan Yoona kepadanya. Hingga menatap sang adik, rasanya tak lagi sama seperti sebelumnya. Sebelum kebohongan itu diketahui olehnya. Yang dirasakannya malah perasaan sakit yang teramat sangat menyayat-nyayat hatinya. Yoona telah membodohinya.

Semalam ia melihat bagaimana akrabnya Yoona dengan kedua orangtua Siwon. Semalam juga Yoona membawakan secangkir kopi untuk Siwon kedalam ruang kerjanya. Dan tadi pagi, ketika Amber masuk kedalam kamarnya, membantunya saat berada dikamar mandi, dia bertanya dimana keberadaan Yoona saat itu. Yang berarti bahwa, semalam Yoona tak bersama Amber, tak tidur dikamarnya.

Hal itu yang kemudian memunculkan pikiran negatif dalam benak Yuri pada saat tadi ia melihat Yoona masuk kedalam kamarnya.

Jadi dimana Yoona tidur semalam?
Bersama Siwon kah?

“gadis murahan seperti itu memanglah pantas disebut pelacur.. “

“… Dia menjual tubuhnya untuk mendapatkan kemewahan.. Aku bahkan memergoki saat mereka nyaris telanjang..! Menjijikkan..”

Yuri makin meremas kuat ujung bagian rok nya. Kalimat yang dengan jelas diucapkan oleh Jessica kembali berdengung ditelinganya.

“Oenni..”

Yoona keluar dari dalam kamar mandi pada sekitar lima belas menit setelahnya, dan melihat pada Yuri, kemudian tersenyum padanya. Ia mengambil setelan pakaian dan mengenakannya, kemudian menyisir rambutnya.

Mendengar dering suara ponsel didalam tas tangannya, Yoona lantas meletakkan sisir ditangannya, untuk mengambil ponsel dan menjawab panggilan yang masuk saat itu..

“Yobseyo dokter Cho.. Oh, ne.. Tidak apa-apa, saya bisa menemani oenni nanti malam. Ne.. Khamsahamnida dokter..”

Menutup sambungan ponselnya, Yoona kemudian mendekati Yuri..

“Oenni ya.. Dokter Cho mengatakan terapimu hari ini diundur hingga nanti malam. Tidak apa-apa kan, oenni? Nanti malam aku justru bisa menemanimu..”

Yoona tersenyum sambil mencoba meraih tangan Yuri dan reaksi sang kakak kembali membuatnya terkesiap.

“Aku tidak akan melakukan terapi lagi..”

“Oenni ya.. Tapi kenapa? Kenapa kau tidak…”

“ini keputusanku.. Aku tidak akan melakukan terapi lagi. Semua itu tidak ada gunanya..”

“Tapi oenni..”

“Cukup Yoona.. Sekarang keluarlah. Aku ingin sendiri..”

Yuri yang kemudian memalingkan wajah darinya, membuat sekujur tubuh Yoona kaku dan sangat sulit untuknya beranjak dari sana.

“Oenni ya..”

“Keluar Yoona.. Aku mau kau keluar sekarang..! Tinggalkan aku sendiri..”

Yoona menjatuhkan airmata tak kuasa lagi untuk menahannya. Setelah mendengar nada suara Yuri yang meninggi, ia berjalan dengan langkah berat keluar dari kamar itu.

Tuhan..
Ada apa dengan oenni-nya?
Mengapa sikapnya menjadi seperti itu?

***

Setelah keluar dari dalam kamar sang kakak, Yoona berjalan kearah ruang makan, meski ia sama sekali tak berselera untuk memakan apapun saat itu, namun ia tetap melakukannya, tahu bahwa Ny.Choi akan mengomelinya bila ia melewatkan hal itu.

Belum sampai ia memberikan sapaannya ketika melihat Tn.Choi yang telah duduk disana, tangannya lebih dulu ditarik oleh ibu Siwon yang menggumamkan sesuatu tak jelas dibibirnya.

Ny.Choi menariknya hingga masuk kedalam kamar pribadinya, kemudian meminta Yoona untuk mengganti pakaian yang dikenakannya saat itu dengan salah satu pakaian yang telah dipersiapkannya.

Yoona menurut, ia melakukan semua yang dikatakan Ibu Siwon ketika itu, dengan tanpa mengeluarkan suara bantahan apapun dari bibirnya. Hal yang kemudian membuat Ny.Choi berkerut dahi melihat kelesuannya..

“Ada masalah denganmu?”

“a-anio omonim.. Aku tidak apa-apa..”

Meski Yoona mengatakan hal itu, Ny.Choi tetap saja terus memperhatikan pada wajahnya. Wajah yang terlihat pucat ditambah dengan kedua matanya yang memerah, jelas membuat Ny.Choi tak begitu saja mempercayai ucapannya. Namun demikian ia hanya bisa mendesah melihatnya, Yoona jelas sedang terlihat enggan untuk bercerita kepadanya.

Setelah selesai mengganti pakaiannya dan mendapatkan polesan diwajahnya, sampai kemudian Ny.Choi kembali membawanya keruang makan, Yoona masih tak mengeluarkan sepatah kata dari bibirnya. Ia terus hanya terdiam. Bahkan ketika tak lama Siwon bergabung dengan pandangan terheran melihat ibunya.

Ibunya yang dalam dua puluh delapan tahun dilihatnya selalu nampak segar dan sudah rapi dipagi hari saat menemaninya dan ayahnya sarapan, kini justru terlihat lain dimatanya.
Ibunya masih mengenakan piyama tidur, dan hanya menggelung rambutnya asal. Serta sedang sibuk berjibaku membantu ahjumma Lee menata menu sarapan pagi mereka diatas meja. Sungguh menjadi pemandangan langka dimatanya.
Pasti juga bagi ayahnya, karna Siwon melihat sang ayah yang juga tak melepaskan pandangan matanya dan terus memperhatikan pada ibunya..

“Oemma.. Tidakkah oemma terlihat lain pagi ini?”

Komentar Siwon sambil menarik salah satu kursi disamping Yoona yang kemudian didudukinya dengan sekilas menatap gadis itu yang terlihat diam disampingnya.

“Kelakuan ibumu membuatku ngeri, Siwon..”

Komentar sang suami membuat Ny.Choi memutar mata kearahnya..

“Ck! Yeobo.. Jangan menjadi berlebihan..”

“memangnya apa yang oemma lakukan, aboji?”

“Dia memasak dan membuat bekal makan siang untuk Yoona.. Kau tahu aku paling tidak suka melihat ibumu berada didapur..”

Bahkan saat kemudian Siwon tergelak, menertawai apa yang didengarnya dari sang ayah dan juga ahjumma Lee yang ikut membenarkan mengenai ibunya yang mengacaukan dapurnya saat menyiapkan bekal makan siang untuk Yoona, gadis disampingnya yang telah membuat ibunya sampai melakukan hal sedemikian langka seperti itu, nampaknya justru sedang memiliki hal lain yang dipikirkannya. Yoona tak ikut melibatkan diri dalam percakapan penuh ledekan yang ditujukan pada Ny.Choi saat itu. Siwon justru mendapati Yoona yang menunduk dengan terus menerus menghela napasnya.

“gwechanayo..?”

Siwon meraih tangannya dan menarik perhatian Yoona untuk menatap kearahnya.

“Ada yang sedang mengganggumu?”

Siwon meremas tangan yang berada dalam genggamannya dan menatap Yoona penuh dengan tanya. Sejak semalam, ia tahu gadis itu memiliki sesuatu yang mengganggu pikirannya.

Tapi apa?
Apa mengenai Yuri?

“aniyo..”

Yoona menggeleng, dan sedikit menarik sudut bibirnya membentuk senyum untuk menguatkan apa yang dikatakannya.

Ia kemudian mengalihkan perhatian Siwon dengan mengajaknya menikmati sarapan mereka, meski saat itu Yoona harus berusaha keras memaksa menelan kedalam tenggorokannya.

Dua puluh menit setelahnya, Siwon menyudahi sarapan dan serta obrolan yang dilakukannya dengan sang ayah, dan berpamitan pergi kekantor. Menyusul Yoona tak lama setelahnya, setelah mendengar beberapa penuturan Ny.Choi agar ia tak melupakan menghabiskan bekal yang telah disiapkannya dengan susah payah.
Ny.Choi juga mengingatkan jika setelah menyelesaikan kelasnya, Yoona harus ikut dengannya mengunjungi salon kecantikan.

Yoona masih saja mendesah beberapa kali saat akan memasuki mobil yang akan mengantarnya, seolah ada beban dibahunya yang tak kunjung berkurang beratnya. Rasanya justru makin bertambah berat. Membuat kemuraman makin jelas terlihat diwajahnya.

Namun gurat muram diwajahnya saat itu dengan cepat berganti menjadi keterkejutan ketika mendapati Siwon berada didalam mobil yang akan mengantarnya..

“Ayo, masuklah..”

Siwon mengulurkan tangannya, menarik Yoona yang terdiam mematung dalam keterkejutannya.

“Sajangnim.. Bagaimana kau bisa ada disini? Kau tidak kekantor?”

“Aku menunggumu untuk berangkat bersama.. Aku akan terlebih dulu mengantarmu. Kau bisa jalankan mobilnya sekarang, ahjussi..”

Begitu sang ahjussi supir melajukan mobil meninggalkan pelataran rumah Siwon, keheningan-lah yang untuk beberapa lama terjadi diantara keduanya. Sampai kemudian Siwon memecah keheningan itu..

“Bicaralah..”

Yoona menoleh pada Siwon, mendapati pria itu yang intens menatap pada kedua bola matanya.

“bicaralah, Yoona..”

“Apa?”

“Sejak semalam kau terlihat muram. Aku tahu ada sesuatu yang sedang kau pikirkan.. Apa itu? Bicaralah denganku..”

“Sajangnim.. Aku..”

Siwon justru mendengar nada bergetar dalam suaranya dan melihat airmata menetes membasahi wajah Yoona. Apa yang sedang dipikirkan gadis itu pastilah sesuatu yang cukup sulit dan memberatkannya.

Maka kemudian, Ia merangkul bahu Yoona. Membiarkannya yang kemudian menangis didalam pelukannya. Menumpahkan airmatanya yang dengan cepat membasahi kemeja yang dikenakannya. Gadis itu terus terisak.

Hingga akhirnya, disela isakan tangisnya, Yoona mengatakan apa yang menjadi satu-satunya sumber kegelisahannya yang tak lain mengenai kondisi Yuri yang sekarang. Sang kakak yang bersikap lain padanya, hingga tiba-tiba mengatakan dengan keras tidak akan lagi melakukan terapi.

Yang dilewatkannya hanyalah mengenai kalimat Yuri yang mengatakan ingin mendapatkan kebahagiaannya. Mendapatkan Siwon.

Entah mengapa, lidahnya menjadi kelu untuk menceritakan hal itu pada Siwon, hingga membuatnya menyimpan hal itu untuk diketahui oleh dirinya sendiri.

“Sekarang, dengarkan aku..”

Siwon menangkup wajah Yoona dengan kedua telapak tangannya. Membuat mata gadis itu kini bersitatap dengannya.

“Jika hanya masalah itu, aku bisa membujuknya. Sebelumnya Yuri juga pernah seperti ini kan.. Dan aku berhasil membujuknya. Maka jangan khawatir, aku akan kembali melakukannya”

Entah mengapa, Yoona merasa kali ini sang kakak takkan mudah terbujuk. Tapi semoga saja, dengan Siwon yang kembali melakukannya, oenni nya akan kembali luluh seperti sebelumnya.

“Sajangnim..”

“hm..”

“Mendadak aku merasa takut.. Takut dengan kebohongan ini. Aku takut menyakiti Yuri oenni..”

Siwon terdiam mendengarnya, menghela napasnya dan mencoba menenangkannya. Meski kebohongan itu yang awalnya diinginkan oleh Yoona, namun Siwon menyadari hal itu juga sangat berat untuk dijalaninya.

Dan sebagai seorang pria dewasa, ia akan mengerti dengan kelabilan emosi yang dimiliki gadis delapan belas tahun seperti Yoona, yang masih belum memiliki pemikiran yang matang. Gadis yang kini kembali berada dalam dekapannya. Ia takkan mungkin bisa menyalahkannya yang memilih langkah untuk melakukan kebohongan pada Yuri dan akhirnya menyeret mereka dalam pusaran kerumitan dari akibat kebohongan yang dilakukan.

“Aku akan terus bersamamu.. Jangan takut..”

Siwon memberinya kecupan yang menghangatkan dahinya..

“Atau kita sudahi saja sampai disini. Aku akan menjelaskan pada Yuri..”

“Tidak.. Jangan..”

Yoona buru-buru menegakkan tubuhnya..

“Jangan melakukannya..”

“Ini hanya masalah waktu dan pilihan, Yoona. Cepat atau lambat Yuri haruslah tahu keadaan kita yang sebenarnya. Dan kau sudah seharusnya memilih kita selesaikan ini secepatnya atau kau ingin kebohongan ini berlarut-larut dan semakin membesar. Pilihan ada ditanganmu.. Dari awal aku sudah tak setuju dengan kebohongan ini. Tapi aku berusaha mengikutimu, karna aku tak ingin melihat kesedihan dimatamu. Tapi melihatmu sekarang, menangis dan bersedih, sepertinya percuma saja aku mengikutimu. Kau justru terlihat semakin tertekan, Yoona..”

Siwon benar..
Tapi ia tak bisa melakukannya. Apalagi setelah mendengar yang diinginkan oleh kakaknya hanyalah bahagia bersama Siwon. Jika ia mengatakan fakta hubungannya dengan pria itu, Yoona jelas akan membuat sang kakak jatuh kedalam perasaan terlukai sedemikian dalam.

Tuhan..
Ia benar-benar bingung sekarang..

“Kumohon jangan sekarang, sajangnim.. Yuri oenni masihlah sangat rapuh. Aku tak ingin melihatnya terpuruk sekali lagi..”

Jika tak ingin melihat Yuri terpuruk, maka menjauhlah dari Siwon dan biarkan pria itu menjadi dekat dengannya, dan Yuri akan mendapatkan kebahagiaanya..

Sekelebat pemikiran itu melintas dan menyentaknya. Membuat Yoona lantas beringsut, mengambil jarak untuk memisahkan diri dari Siwon yang begitu dekat disampingnya.

***

Hari itu yang menjadi hari pertamanya mengikuti beberapa kelas diuniversitas, hari yang dirasanya memiliki perputaran jarum jam yang cukup lamban, akhirnya berhasil juga dilalui oleh Yoona tanpa meninggalkan catatan dibuku sang dosen pengajarnya semisal dirinya melamun disela mata kuliah yang diikutinya. Hal yang cukup melegakan baginya ketika kemudian dapat keluar meninggalkan ruang kelas terakhirnya dihari itu.

“Yoona ssi..! Yoona ssi..!!”

Yoona menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya begitu mendengar suara seseorang yang memanggil namanya.

“Yoona ssi..”

Dan akhirnya menemukan sumber suara itu yang berasal dari seorang pria yang sedang dalam langkah menuju kearahnya.

“Oh, dokter Cho.. Annyeong haseyo..”

Dokter itu memberikan senyum terbaiknya..

“Aku tak menyangka akan melihatmu disini, Yoona..”

“ne, saya juga tak menyangka bertemu dokter disini. Apa yang sedang dokter Cho lakukan?”

“Sesekali jika diminta, aku memberikan pengajaran materi disini.. ”

“Oh, benarkah?”

Sang dokter tersenyum dan mengangguk meyakinkan..

“dan sepertinya kau adalah salah satu mahasiswa baru disini? Aku tak sekalipun pernah melihatmu berada disini sebelumnya..”

Yoona mengangguk membenarkan..

“Jadi ini sebabnya dokter tidak bisa melakukan terapi pada Yuri oenni..”

“Aku minta maaf, Yoona..”

“Tidak apa-apa dokter..”

“Tapi tidak masalah dengan nanti malam kan? Kau bisa membawa kakak mu kerumah sakit?”

“Yoona ya..”

Yoona tak sempat menjawab apa yang ditanyakan oleh Kyuhyun, saat melihat Ny.Choi sudah berada tak jauh darinya dan langsung menghampirinya. Meraih dan menarik tangannya menjauh dari Kyuhyun.

Meski merasa tak enak hati pada Kyuhyun yang ia tinggalkan begitu saja, namun Yoona tak bisa melakukan apa-apa. Ny.Choi sudah langsung membawanya memasuki mobil, meninggalkan gedung universitas itu.

“Kau mengikuti semua kelas dengan baik kan?”

Yoona hanya mengangguk-anggukkan kepala sebagai jawaban.

“Kau menghabiskan bekal makan siangmu?”

Yoona sedikit meringis, namun kemudian kembali mengangguk. Walau sesungguhnya ia tak sedikitpun memakan bekal makan siangnya, dan justru memberikannya pada beberapa teman yang baru dikenalnya dalam kelas yang diikutinya tadi. Merasa bersalah sebenarnya terhadap Ibu Siwon yang telah memperhatikannya sampai seperti itu, tapi ia benar-benar tak berselera makan sama sekali.

Sisa hari itu berlalu dengan Yoona yang menjadi gadis super penurut terhadap apa saja yang diinginkan oleh Ny.Choi terhadapnya. Seperti yang sudah-sudah pernah dilakukannya, dan seolah tak ada yang namanya bosan, Ny.Choi terlebih dulu membawanya ke sebuah salon yang telah menjadi langganannya. Melakukan beberapa treatmen wajah hingga beberapa jam lamanya, sampai melakukan perubahan tampilan rambutnya dengan tatanan poni (biar kayak Yunah yang sekarang yee..) dan sedikit memangkas dibagian belakangnya. Tak cukup dengan itu, Ny.Choi juga mengajaknya berbelanja, dan terakhir membawa Yoona bertemu dengan teman-temannya.

“Aigoo.. Semakin hari, calon menantumu terlihat makin segar saja. Dia benar-benar gadis muda yang cantik..”

Komentar salah satu temannya saat itu, langsung membuat Ny.Choi tersenyum senang. Tapi, bukan wanita itu tak menyadari, disampingnya, Yoona justru sedang menekuk wajahnya.
Walau Yoona menjadi super penurut dan tak sekalipun melakukan bantahan, namun gadis itu jelas terlihat murung, dia bahkan cenderung gelisah saat itu. Sampai-sampai membuat Ny.Choi tak tahan melihatnya. Hanya sekitar tiga puluh menit saja acara berkumpul dengan teman-temannya, selanjutnya Ny.Choi meminta maaf karna harus lebih dulu pulang. Ia mencoba mengerti keadaan Yoona. Kemurungan gadis itu, mungkin karna lelah dengan aktifitasnya hari itu.

***

Tiba dirumah, rupanya Siwon mencegat keduanya diambang pintu. Melihat Yoona yang lebih dulu keluar dari dalam mobil, disusul dengan ibunya yang kemudian keduanya berjalan bersisian kearahnya. Siwon justru melebarkan mata dan menggeram didalam hati atas kelakuan ibunya.

Apa-apaan itu?
Apa yang dilakukan ibunya terhadap Yoona?
Gadis itu..
Ya Tuhan..
Bagaimana bisa ibunya justru membuat gadis belia itu kini terlihat seperti remaja lima belas tahun?

Astaga..

Siwon kembali menggeram saat sang ibu sudah berada dihadapannya dan menunjukkan senyum padanya..

“Oh, Siwonie.. Kau sudah pulang..”

“Ini sudah jam sebelas malam, oemma. Aboji bahkan sudah tidur..”

“Oh, ya..? Astaga, jalanan tadi pasti sangat macet, oemma sampai tidak sadar sudah selarut ini. Kalau begitu, ayo masuk dan beristirahatlah, Yoona ya..”

Siwon memicingkan mata mendengar alasan ibunya. Dan ketika sang ibu melepaskan rangkulan tangannya terhadap Yoona, mencoba untuk beranjak dari hadapannya, Siwon justru menahan lengannya.

“Apa yang sudah oemma lakukan?”

“ne..? Apa yang kau maksud, sayang?”

Siwon mencoba menahan kesabarannya..

“Yoona, oemma.. Mengapa oemma justru membuatnya terlihat seperti remaja lima belas tahun? Apa yang akan dikatakan orang-orang ketika nanti aku mengajaknya keluar.. Tidakkah mereka akan menilaiku sebagai…”

Siwon tak meneruskan kalimatnya karna sang ibu sudah lebih dulu menertawainya..

“Jadi kau tak suka dengan penampilan Yoona yang sekarang? Waeyo..? Bukankah Yoona terlihat lebih muda dan segar?”

“Itu masalahnya, oemma?”

Siwon mendecak kesal..

“Oemma rasa bukan masalah, teman-temanku bahkan terus-terusan memuji Yoona tadi..”

“Tapi tidak denganku..”

Siwon semakin kesal karna ia tahu ibunya mengetahui masalah apa yang dimaksudnya, tapi sang ibu dengan sengaja membuatnya agar menyuarakan dengan jelas maksudnya.

“Yoona seharusnya berpenampilan lebih dewasa untuk mengimbangi usiaku, oemma..”

Ny.Choi yang kian menertawainya, membuat Siwon memberengut dan akhirnya melangkah masuk kedalam. Hal yang kemudian tanpa sadar membuat Yoona ikut menarik senyum diwajahnya. Wajahnya yang sedikit masih terasa kaku akibat dari beberapa perawatan tadi.

“Aigoo.. Putraku yang malang. Masalahnya ada pada dirimu sendiri, sayang.. Salahmu yang memilihnya. Jadi sebaiknya kau yang mengimbangi penampilan muda Yoona jika tidak ingin terlihat tua saat bersama dengannya..”

Sang ibu yang masih saja terkikik ketika kemudian meninggalkannya untuk masuk kedalam kamar, membuat Siwon kembali menggeram kesal.

“Sajangnim..”

Siwon menoleh, Yoona yang masih berada dibelakangnya kemudian mendekatinya.

“Sajangnim..”

“hm..”

Yoona menunduk, sesaat memilin jemarinya kemudian kembali mendongak dan bertemu tatap dengan Siwon yang memandanginya dari ujung kaki hingga kepala.

Siwon bukan tak menyukai penampilannya.
Tapi lihatlah..
Yoona yang sekarang, dia sungguh cantik seperti kuncup bunga yang baru saja merekah. Seperti kupu-kupu yang baru menetas(?) maksudnya, maksudnya adalah..
Astaga..
Siwon bahkan merasa kesulitan menemukan perumpamaannya. Mungkin memang tak ada perumpamaan yang benar-benar tepat untuk menggambarkannya.
Gadis itu cantik.
Ya, cantik seperti kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong-nya. Begitu indah, luar biasa..
Dan bukankah ibunya sangat keterlaluan mendandaninya secantik itu..

“Sajangnim..”

“hm..”

“Apa kau sudah mencoba membujuk Yuri oenni? Bagaimana.. Oenni mau untuk di terapi lagi kan?”

Apa yang ditanyakan Yoona membuat Siwon kemudian beralih dari mengagumi gadis itu dan menjadikannya teringat dengan sedikit obrolannya yang dilakukan dengan Yuri tadi.

“Aku sudah melakukannya.. Tapi Yuri berkeras, tidak mau menjalani terapi itu lagi”

wajah Yoona makin terlihat muram saat mendengarnya. Siwon menjadi satu-satunya harapan baginya agar dapat membujuk Yuri, tapi kini harapan agar oenni nya mau kembali menjalani terapinya telah padam seiring dengan apa yang Siwon katakan.

Siwon memang telah mencoba, tapi Yuri sepertinya tak mendengarkannya. Yuri bahkan lebih sering membuang muka, tak mau menatapnya. Siwon merasakan ada perubahan dalam sikap Yuri tadi. Yuri yang bahkan terlihat enggan berbicara dengannya. Yuri juga yang kemudian meminta ia untuk meninggalkannya setelah menanyakan apakah Siwon telah selesai dengan apa yang dikatakannya.

“Tapi tenanglah, besok aku akan mencoba membujuknya lagi. Hari ini mungkin suasana hatinya tidak terlalu baik, mengertilah..”

Yoona mengangguk, namun tak bisa menahan airmata kesedihannya, hingga Siwon lantas meraih dan mendekap tubuhnya kedalam pelukan..

***

Namun nyatanya, Siwon tetap tak berhasil membujuk Yuri bahkan setelah lebih dari tiga kali ia mencobanya.
Yuri mengatakan tidak, tidak dan tidak. Begitu seterusnya.

Bukan hanya menolak terapi dengan Kyuhyun, Yuri juga tak mau lagi melakukan sesi terapinya dengan Seohyun. Tak ada lagi sesi konseling dengan dokter wanita itu yang biasanya membuat Yuri merasa nyaman setelah berbicara dengannya, tapi kini Yuri seperti tak ingin mempercayai siapapun.

Yoona juga merasakan kian hari sikap oenni nya kian terasa dingin terhadapnya. Yuri tidak mau tersenyum, tidak mau menatapnya ataupun menyapanya. Oenni nya seakan mencoba menjauh darinya. Membuat jarak yang Yoona tak mengerti apa sebabnya. Menyebabkan ia terus menangis disetiap malam karna hanya bisa memandanginya saja. Ia rindu mengobrol dengannya. Ia rindu tatapan sayang oenni-nya terhadapnya. Ia rindu menggenggam tangan lembut yang selalu membelai rambutnya, yang selama ini bekerja keras membesarkannya. Ia rindu pada kedekatannya dengan sang kakak seperti sebelumnya. Ia rindu, benar-benar sangat rindu..

Bukan Yoona diam saja, ia telah mencoba membawa Seohyun untuk datang kerumah. Tapi sang kakak tak mau menemuinya. Yuri justru berteriak keras didepannya..

“Apa kau pikir aku berpenyakit jiwa..! Hingga kau terus memaksaku melakukan konseling dengan seorang psikolog. Aku tidak gila, Yoona! Dan jangan pernah berpikir aku seperti itu..!!”

Yoona menangis saat itu..
Seohyun yang juga telah mendengar cerita dari Yoona mengenai penolakan Yuri pada terapi di kakinya padahal dokter memastikan Yuri bisa kembali berjalan, mengatakan penyimpulannya secara mental pada Yoona, jika Yuri bukan tidak mau sembuh. Dia hanya takut. Takut bila telah sembuh, dia justru akan kehilangan perhatian-perhatian yang didapatkannya ketika ia sedang sakit.

Yoona jelas mengatakan tidak akan mungkin seperti itu. Ia akan terus memperhatikan sang kakak bagaimanapun keadaannya. Tapi Seohyun kembali mengatakan, mungkin bukan perhatian darinya yang dikhawatirkan oleh Yuri akan hilang, melainkan perhatian dari orang lain selain dirinya.

Yoona termenung..
Itu pastilah perhatian dari Siwon.

Dengan kembali teringat pada apa yang dikatakan Yuri mengenai keinginannya untuk berbahagia dengan Siwon, Yoona menyadari satu lagi kesalahannya adalah membiarkan pria itu mengetahui perasaannya. Seharusnya ia tak pernah mengatakan menyukai Siwon. Seharusnya ia memendam perasaannya seperti yang pernah dilakukannya ketika menyembunyikan perasaannya pada Donghae. Seharusnya yang ia terus lakukan adalah meminta pria itu agar mencintai Yuri oenni nya. Bukan justru bermain hati dibelakang oenni nya.

Ya Tuhan..
Yoona terus menangis, menyesali semuanya. Ia tidak ingin melakukan kebohongan lagi. Ia tak ingin semakin menyakiti hati oenni nya. Tapi ia juga tak bisa mengatakan kebenarannya. Serba salah rasanya. Hingga sebuah gagasan untuk menghindar dari Siwon tiba-tiba muncul dalam kekalutan pikirannya.
Dan itulah yang kemudian diikuti olehnya.

Yoona secara perlahan mengambil sikap menghindar dari Siwon. Dua hari ia telah tak bersitatap dengan pria itu, lantaran Siwon sibuk dengan proyek baru yang ditanganinya. Tiga hari berikutnya Siwon bahkan berada diluar negri, Tokyo tepatnya. Dan dari apa yang ia dengar dari pembicaraan kedua orangtua Siwon, pria itu akan seminggu berada disana. Tn.Choi bahkan memutuskan untuk menyusul dan membantu Siwon, meski sang putra tidak memintanya melakukan itu.

Semua itu membuat Yoona merasa mempermudah nya  memulai niatannya untuk menghindar. Namun tetap tidak semudah itu meski Siwon tak berada disekitarnya.

Pria itu menelponnya tiap hari, hampir setiap jam, namun Yoona tak menjawabnya. Beberapa pesan yang dikirimnya juga tidak ia balas. Siwon bahkan menelpon melalui Amber, tapi Yoona selalu mencari-cari alasan untuk tak menerima telponnya. Meski rasanya menjadi bertambah sulit untuknya. Tak melihat Siwon. Tak mendengar suaranya. Telah mengalirkan kerinduan didalam darahnya. Jika seperti ini, bagaimana ia bisa meneruskan rencananya untuk menghindar. Jika bayangan pria itu malah seakan terus mengikutinya dan membuatnya pusing setengah mati.

Oh Tuhan..
Jika sudah seperti itu Yoona hanya bisa terus mendesah.
Perasaan resah di hatinya tak jua berganti apalagi berhenti.

Puncaknya pada sore hari itu, didalam mobil yang menjemputnya usai dari universitas, Yoona hanya bisa memandangi ponselnya yang terus bernyanyi. Menginginkannya untuk menjawab panggilan yang masuk saat itu. Tertera nama Sajangnim disana. Dan kerinduannya pada sosok pria itu tak bisa ia pungkiri, kian menggelegak dalam aliran darahnya. Namun Yoona menguatkan hati untuk tetap mendiamkan ponselnya, tak menjawab panggilan itu meski setelahnya tiga pesan suara beruntun masuk kedalamnya. Pesan dari Siwon yang kemudian ia dengarkan..

“gadis belia-ku yang sibuk.. Kau benar-benar tak memiliki waktu untuk menjawab ponselmu? Siapa dosenmu? Aku pastikan akan mendatanginya..”

pesan kedua nya..

“Aku merindukanmu..”

Jika dalam pesan suara pertama yang didengarnya, Yoona dapat mendengar nada menggeram dari Siwon. Pada pesan suara yang kedua itu, Suara Siwon begitu lembut dan dengan segera menggetarkan hatinya. Menyusul pesan suara ketiga yang langsung berhasil membuatnya menjatuhkan airmata.

“saranghae..”

“saranghae..”

“saranghae..”

Yoona bahkan terus mengulang memutarnya, hingga kemudian bibirnya menggumam lirih..

“nado saranghae..”

Hatinya sakit tiada terkira. Ia mencintai pria itu, tapi ia juga mencintai kakaknya. Lebih dari apapun, ia mencintai Yuri diatas segala-galanya..

Yoona tersentak kaget, luar biasa terkejut, setelah sampai didepan rumah Siwon, keluar dari dalam mobil dan masuk kedalam rumah itu, sebuah tangan menarik dan membekapnya dari belakang kemudian membalikkan tubuhnya, mendorongnya mundur hingga tubuhnya terpojok setelah punggungnya bersentuhan dengan dinding..

“Sajangnim..”

Yoona mencoba menahan getaran dalam suaranya saat melihat Siwon lah yang pada saat itu melakukannya. Pria itu kini menatapnya dengan pancaran penuh kerinduan dikedua matanya yang entah mengapa justru membuat dadanya sesak melihatnya..

“Sajangnim, kau pulang..? Bukankah, bukankah seminggu kau akan berada…”

Yoona tak bisa melanjutkan kata-katanya saat jemari Siwon mulai menyentuh wajahnya. Sentuhan yang kemudian membuat kulit di sekujur tubuhnya terasa merinding..

“Kau coba menyiksaku? Aku begitu tersiksa karna merindukanmu, Yoona..”

“Sajangnim, aku..”

sepertinya, yang pertama dibutuhkan Siwon bukanlah sebuah penjelasan mengapa Yoona tak menjawab ataupun membalas ponselnya. Yang pertama dibutuhkannya adalah menyalurkan kerinduannya terhadap gadis itu.

Maka yang kemudian dengan cepat dilakukannya adalah meraih pinggang Yoona merapat padanya, menarik tengkuknya dan selanjutnya menyatukan bibirnya dengan bibir gadis itu. Mencecap menikmati dengan suka cita..

Tidak..
Ini salah..
Sangat salah..
Pengkhianat..
Aku telah menjadi penghianat Yuri oenni..

Yoona tersentak, oleh karna kelebat dalam pikirannya. Ia mendorong dada Siwon, sesaat mencoba mengatur napasnya yang terengah. Baru saja akan bersuara, mengatakan pada Siwon jika ia tak lagi bisa menerima perlakuannya, dan mungkin ia juga akan mengatakan untuk mengakhiri hubungannya. Namun sebuah tangan lebih dulu menarik pergelangannya. Kuat dan kasar..

“Oenni ya..”

Yoona terkejut luar biasa. Wajahnya pasti telah menjadi seputih mayat ketika melihat Yuri berdiri didepannya dengan wajah memerah dan mata berkilat kemarahan. Luka dan kecewa..

“Oenni ya.. Aku…”

Tamparan keras ia terima diwajahnya..

“Pelacur..!”

Ucapan itu menyayat hatinya, bahkan sengatan rasa sakit dipipinya rasanya tidak sebanding dengan apa yang ia rasakan ketika mendengar kata hina itu meluncur dari bibir oenninya..

“Oenni ya.. Mianhae, mianhae oenni.. Aku, Aku..”

Yuri tak mendengarnya, ia berbalik meski kemudian tertahan oleh tangan Siwon yang memegang pergelangan tangannya.

“Aku akan jelaskan padamu, Yuri ssi..”

Yuri menyentakkan tangan Siwon, berbalik menatap pada pria itu dengan tatapan yang sama seperti saat ia menatap pada Yoona. Kebencian, kemarahan, kekecewaan dan keterlukaan yang dirasakannya melebur menjadi satu, menjadikan tatapan mata itu begitu tajam dan menusuk..

“Persetan dengan itu, aku tidak membutuhkan penjelasan apapun. Mataku tidak buta untuk melihat apa yang terjadi..!”

Yuri kembali mencoba melangkah, tapi kali ini Yoona yang meraih pergelangan tangannya. Sang adik bahkan kemudian duduk berlutut didepannya..

“Kumohon oenni.. Kumohon dengarkan aku..”

“Aku takkan mendengar apapun darimu. Pengkhianat..!!”

Yoona menangis penuh rasa penyesalan..

“Mianhae oenni.. jebal, dengarkan dulu penjelasanku. Aku sama sekali tak bermaksud…”

“Dengar, Kau telah menjadi seorang yang menjijikkan dimataku..!!”

Yuri mendorongnya untuk selanjutnya melangkahkan kakinya, mempercepatnya. Tahu Yoona yang kemudian menyusulnya..

“Oenni ya.. Yuri oenni jebal.. kumohon oenni..”

Suara memohon nya..
Tangisannya..
Dan airmata Yoona, justru membuat Yuri merasa muak.

“Yuri oenni mianhae..”

Yoona berhasil kembali meraih tangannya, meski hanya sesaat karna Yuri yang menyentakkannya dengan kasar..

“JANGAN MEMANGGILKU SEPERTI ITU..!!”

Yuri berteriak..

“AKU MUAK MELIHATMU..!!”

“Oenni ya, mianhae.. maafkan aku oenni. Tapi dengarka …”

“Berhenti.. cukup.. aku tak bisa mendengarmu!!”

“Oenni ya..”

“KU BILANG JANGAN MEMANGGILKU SEPERTI ITU.. AKU BUKAN KAKAKMU..!! KAU BUKAN ADIKKU..!!”

Tidak ..
Tidak mungkin apa yang dikatakan kakaknya adalah benar.
Dia hanya sangat marah padanya hingga mengatakan hal demikian menyakitkan untuknya.

“Tidak oenni.. jangan mengatakan hal seperti itu. Aku sangat menyayangimu.. kau satu-satunya yang kumiliki, kau segalanya bagiku, keluargaku. Kau adalah kakakku dan aku adalah adikmu..”

“Adikku tidak akan menjadi seorang penghianat. Dia tidak akan menghianatiku.. Tapi kau, kau bukan adikku. Kenyataannya kau bukan adikku!! Kau hanyalah bocah kecil yang ditemukan dipinggir jalan dan di pungut oleh orangtua ku. Kau bukanlah adikku. Bukan.. kau bukan adikku..”

Ucapan sedingin es, namun setajam belati itu menusuk kedalam jantung Yoona. Menghujam dadanya dengan begitu kerasnya hingga fungsi jantungnya melemah dan seakan tak mampu lagi memompa, mengalirkan darah ke tubuhnya.

Yoona tak tahu lagi apa yang dirasakannya saat itu. Sekujur tubuhnya ngilu dan lemas ketika mendengarnya, membuatnya  jatuh bersimpuh dikaki Yuri. Mengiba pada sang kakak untuk tidak  mengatakan kalimat yang menyakitinya seperti itu.

Namun Yuri justru meyakinkannya dengan mengulang kalimat yang terdengar perih itu sekali lagi, sebelum akhirnya ia berlari pergi meninggalkan Yoona yang menjerit-jerit memanggilnya…

Siapa yang sangka akan menjadi pelik seperti ini.
Dan benarkah ia bukanlah adik dari oenni nya?
Ya Tuhan..
Tidak…

*

*

*

*

*

#ToBeContinued~

Tadaaaa..
Sudah sepanjang ini, semoga merasakan klimaks dalam part ini^^

Thanks for reading..

@joongly

250 thoughts on “FF | At First Sight | 21

  1. Ya ampun Ny. Choi gk ada habisnya mengubah penampilan Yoona, selalu aja hal tak terduga yg di lakukannya sampai suaminya terheran2 begitu jg dgn Wonppa
    Omo… YW ketahuan sama Yuri saat Wonppa mencium Yoona
    Aigo… Yuri benar2 marah sampai menampar Yoona dan memakinya
    yg lbh mengejutkan lgi apa benar Yoona bkn adk kandungnya
    lalu anak siapa Yoona sebenarnya?
    Aish… Benar2 menegangkan
    Yuri benar2 mengerikan sampai termakan omongan Jessica
    perang persaudaraan sudah di mulai. Author inspirasimu ini daebak bgt apalagi kata2 dlm penulisannya ini seperti serasa nonton drama sungguhan
    inspirasi yg sangat bagus

  2. Ya Tuhan akhirnya terbongkar juga, pertama siih pengen cepat kelar masalahnya, tpi klau tau gni, biar aja gag kelar” gag pa”,
    apa bner yoona unni bukan adik yuri unni….?

  3. Kebongkar jga kan.Yuri eonni marah beaar smpe² nampar Yoona eonni ksian.knapa Wonppa cma diem?knapa ga bntu nenangin Yuri eonni.bnerkan Yoona eonni bkan adik kandung Yuri eonni??

  4. segitu sayangx nyonya choi sama yoona unnie sampai rela masak dan berdebat ma tuan choi….
    terbongkar juga akhirx….
    yuri unnie kata2 kejam sekali, sampai sakitx tuh disini…
    yoona unnie bukan adikx yuri unnie???…..

    penasaran…….

  5. Salut deh sma keharmonisan keluarga choi…
    yuri kok jdi egois bget hanya mikirin drinya sendri…
    Bguslah klo yuri udah tau hbungan yoonwon, cpat atau lambat semoga yuri bsa nerimanya…
    Kasian liat yoona tersiksa bget…
    Tpi ny beneran yoona bkan adik yuri…?
    Kyaknya bkalan ada konflik bru nih…

  6. kasian yoona dibilang penghianat walu sebenernya kan bukan begitu maksudnya,apa bener yuri bukan saudara kandung yoona,truz bagaimana keadaan yoona

  7. segitu marahnya kah yuri eonni hinggga tega bilang yoona penghianat dan bukan saudara kandungnya….
    semoga semua berakhir bahagia….

  8. Tisuu ohh tisuu!! Dibuat nangis smpe misek misek di chapter ini!! Ohgod!! Yuri eonni tega bgtt.. Pdhal yoong udh ngorbanin prsaannya diaa demii yuri!! Tpi apaa!! Aarrrgghh.. Yoongieku yang malang!!:'( sumpah, nyesek akunya.. Bsa ngrsain gmna jdi yoong.. T.T
    Wonppa lakukan sesuatu!!

  9. Kebohongan yang mengatasnamakan kebaikan berakhir kesalah pahaman 😢 Yuri uni tega bnget.. tega bngt nyakitin yoona uni ma sikapnya . Jelas2 yoona pduliin dia ampe ga pduli ma peradaanyA sendiri 😭 kasian yoona uni udah ngorbanin perasaanya ..

  10. Kasian bgt Y00na, krna Yuri mulai prcaya dgn yg d bilang Jessica & bukti2 yg dia liat sndiri,, Jd dingin & nganggap Y00na pnghianat,.
    Dan Y00na tmbah bingung krna prmintaan Yuri yg pgn trs sama Siw0n & bikin dia ngehindarin Siw0n,. Tp reaksi.a Yuri stlh liat kissing scene.a Y00na-Siw0n apa gk brlebihan tuh? Smpai nyebut Y00na bukan adik.a? Sem0ga aja itu bukan kenyataan & cma d ucapin krna dia lg kalap aja.,

  11. Nyesek bgt bacanya..kasihan yoona oenni. Harusnya yuri dpt terima kalo yoona itu tunangannya siwon oppa jelas” siwon oppa menolak cinta yuri oenni itu lo jauh sebelum siwon oppa kenal yuri

  12. Sakit hati sih boleh aja yul tapi ga’ harus sekasar itu juga kali sama yoona,,😠
    Engga bisa apa dia dengerin penjelasan yoona dulu,,
    Lagian juga yoona kan ngelakuin semua itu untuk dia,,
    Apa dia ga mikirin sama sekali perasaan yoona,,
    Disini yoona sudah melakukan banyak hal dan mengorbankan perasaannya juga hanya demi kesembuhan yuri,,
    Apa yuri ga bisa liat segimana sayangnya yoona sama dia selama ini tanpa harus melihat tentang kebohongan yang dilakukan yoona,,
    Jadi yoona bukan adik yuri..??
    #lanjut baca ..

  13. yuri eonni bnr egois..
    dia udh tau kebnrannya, tp knp marahnya cm sm yoong eonni? dan msh ttp nempel mulu sm siwon oppa?
    dia terlalu berharap siwon oppa bnran cinta sm dia..

  14. Muak sama Yuri
    Di chapter kali ini, banyak berhenti baca, rasanya ga percaya sama konflik-konflik yang hadir. Terlalu berat rasanya untuk YoonA
    dan jangan sampai YoonA adalah adik kandung Siwon

  15. Yuri kau kaka yg EGOIS hnya mementingkan perasaan cinta sesaat mu tak meliat pengorbanan adik mu. Bahkan saya ikut nangis ;-( ….

  16. Ya allah ada apalagi in yoona bukan adik yuri, kesian bgt yoona gak selesai masalahx, tp syukur deh yuri dah tau hub mereka tinggal menunggu waktu untuk memperbaiki nya aj semoga cepet happy yoonwon

  17. Setelah semuanya terbongkar jd nangis kan akunya…

    Oh dear sungguh menyesakkkan part ini.. Sempat terhibur dg ny choi sh.. Tp sedihny lbh dominan.. Eonni apa yg akn trjd dg gadis beliamu.. Sungguh jgn menyakitiny terlalu dlm dg sikap yuri.. Dan apkh bnar yoona bkn adik yuri.. Kbenaran mcam apa lg ini hadeuh.. Yuri segitunya sih okay aq ngerti dia kcewa tp setidakya dia ahh.. Bngung juga.. Lnjut bca ajh deh

  18. brakhir sdah…yuri bner2 da tahu smua na….aq ga mengira bkal sperti in…
    kasian yoona….n wait2 yoona bkan adik yuri, trus yoona sbenarnya siapa/???

  19. Ny.choi sayang bgt sma yoong dia sampe bela belain buat bikinin yoong bekal makan siang, padahal sebelumnya dia gk pernah masuk dapur karna gk di bolehin sma Tn.choi.. tp demi yoong dia masak sendiri sampe harus berdebat sma Tn.choi.
    tp bakal ada masalah lagi yuri ngelian yoonwon ciuman. yuri bener2 marah dan memaki yoong.
    dan tadi yuri bilang kalo yoong bukan adknya?? apa bener yoong bukan adk kandung yuri atau itu cuma sekedar emosi aja??

  20. setelah merubah penampilan yoona kini Ny.Choi juga nyiapin bekal makan siang untuk yoona…
    Akhirnya kebohongan yoona terbongkar…dan yoona bukan adik yuri? lalu sebenernya yoona anak siapa?

  21. Gerget juga sama yuri yg selalu minta dimanjain siwon dan bertanya pd yoona bisakah bahagia bersama siwon??.
    Huh.. sedikit gak suka
    Yoona malang sekali
    Dia selalu bersedih krna yuri pd akhirnya cuek dan enggan dgn nya
    Dan ya semua terbongkar.. yuri dgn teganya mengatakan yoona bukan adiknya
    Benarkah demikian??

  22. amarah yuri akhirnya kekuat setelah ditahan dengan hanya bersikap dingin terhadap yoona. yah walaupun menurut ku agak keterlaluan karena yuri egois bnget .maunya siwon sma dia .tpi apakah benar bahwa yoona bukan adik kandung yuri .deabak tambah greget baca ff ny .

  23. Hancur smua hati ku,,,cmas nya aku,,,knapa msti ktahuan nya hbungan yoonwon dgn adegan yg buat yuri pst mkin marah ma yoona,,trus ada apa lgi ini,,ucapan yuri kpd yoona buat mkin pnasaran ma kebenaran nya,

  24. Omaigat, beneran itu? Yoona bukan adik yuri? Trus dia anak siapa dong?
    Waah makin mumet aja nih masalahnya, eh, apa itu cuma karena yuri lagi emosi aja kali makanya dia ngomong ngasal.. semoga ya,,,
    Kasian bnget mereka semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s