Fanfiction

| At First Sight | 20

Happy Reading~

*

*

*

*

*

Yuri..
Untuk beberapa saat keterkejutan itu yang menggurat jelas diwajahnya, membuatnya hanya bisa terdiam dengan tubuhnya yang mendadak menjadi kaku.
Ia yakin telah salah mendengar. Atau wanita itu yang telah salah berbicara.
Tidak..
Tidak mungkin..
Yoona, adiknya..
Tidaklah mungkin seperti apa yang disebutkan wanita itu yang dengan penuh kebencian tersirat dimatanya menyebut adiknya sebagai seorang pelacur.

Tapi apa yang didengarnya, yang dengan jelas dikatakan oleh seorang wanita yang kemudian beranjak dari hadapannya, tak berhenti berputar-putar dikepalanya..

Tuhan..
Kenyataan macam apa yang sedang coba Kau tunjukkan..

“Tunggu.. Tunggu dulu..!!”

Entah mendapatkan kekuatan darimana untuknya kemudian bergerak. Kedua kakinya yang sebelumnya lemas seakan tak bertulang, kini justru dapat menopang tubuhnya untuk berdiri dari kursi roda yang didudukinya..

“Nona Yuri..”

Seorang suster yang masih bersama Yuri saat itu bahkan terkejut ketika perlahan Yuri menggerakkan kakinya untuk melangkah.

Satu langkah..
Dua langkah..
Yuri masih merasakan gemetar disekujur tubuhnya. Namun ia menghalangi dengan tangannya, saat suster itu berniat membantunya.

Tiga langkah ia menggerakkan kedua kakinya, Yuri merasakan kekuatan untuk mengejar wanita itu yang telah berada jauh meninggalkannya.

Ia harus memastikan..
Memastikan jika omongan wanita itu hanyalah omong kosong yang tidak memiliki kebenaran sama sekali..

“Tunggu.. Tunggu dulu sebentar, nona..!”

Yuri melangkahkan kakinya semakin cepat, mengabaikan denyut nyeri yang kemudian dirasakannya.
Ia terus berusaha mengejar Jessica..

“Kumohon berhenti.. Chakkaman..!”

Jessica, akhirnya menghentikan langkahnya. Ia berbalik kebelakang dan langsung melebarkan bola matanya tatkala melihat Yuri, wanita yang disebutnya cacat itu sedang berjalan kearahnya.

Meski Yuri melangkah dengan sempoyongan, nafas terengah dan keringat membasahi dahinya, namun akhirnya ia berhasil mencapai Jessica dan berhasil menegakkan kakinya untuk tetap berdiri dihadapan wanita itu..

“Oh, kau bukan wanita cacat rupanya..?”

Jessica memberikan tatapan sinis kearahnya, namun Yuri mengabaikannya..

“Kenapa kau menyebut Yoona tunangan Siwon tapi juga menyebutnya sebagai seorang pelacur?”

Mengucapkan pertanyaan itu, bahkan telah membuat Yuri merasakan sakit dihatinya.
Adiknya tidaklah mungkin seperti yang dituduhkan wanita itu..

” dari yang sepintas kulihat saat itu, Kau terlihat intim dengan Siwon kemarin, tapi kau tak tau dengan pemberitaan tentang statusnya? Apa kau mengabaikan atau kau benar-benar tak tau karna hidup dibelahan bumi lain selama ini? Lucu sekali..”

Jessica menertawai sekaligus menunjukkan dalam raut wajahnya bahwa ia tak lagi memiliki minat untuk berlama-lama berada disana. Tapi Yuri jelas merasa itu belumlah selesai. Ia masih belum mendapatkan penjelasan. Maka ia menahan pergelangan tangan Jessica ketika wanita itu mencoba pergi dari hadapannya..

“Hei, lepaskan aku..!”

Hardiknya kesal sambil menyentakkan tangan Yuri..

“Kau tidak bisa menyebut Yoona seperti itu!!”

Yuri pasti tak menyadari telah menaikkan nada suara dalam kalimatnya. Hal yang kemudian membuat Jessica mengerutkan dahi melihatnya..

“Kenapa.. Kenapa kau menyebutnya seperti itu?”

“benar-benar tidak penting.. kenapa kau terus mengulang-ulang pertanyaanmu? Siapa kau dan apa sih maumu? Sudah cukup aku menjawab apa yang kau tanyakan.. Apa itu masih belum jelas kau dengar..!”

“Kenapa.. Kenapa kau menyebut Yoona pelacur?”

Jessica mendecakkan lidah sambil menatap Yuri tajam setelah mendengar pertanyaan yang sama lagi darinya..

“gadis murahan seperti itu memanglah pantas disebut pelacur.. Kau mau tau kenapa? karna dia, dengan cara murahannya telah merebut Siwon dariku. Dia menjual tubuhnya untuk mendapatkan kemewahan.. Aku bahkan memergoki saat mereka nyaris telanjang..! Menjijikkan..”

Yuri kehilangan kekuatan yang tadi berhasil membuatnya berdiri tegak. Ia limbung, kedua kakinya lemas dan ia terjatuh, terduduk dilantai koridor rumah sakit itu dengan kesakitan luar biasa yang dirasakannya. Dadanya sesak seakan tengah ada yang meremasnya dengan begitu kuat. Kepalanya terasa berat, setelah menyerap informasi yang masih tak dapat dipercaya apalagi diterima olehnya.
Pandangannya pun mengabur, terhalang oleh bening airmata yang menggenang dikedua matanya.

Yuri terisak..
Ia juga menjerit..

“Pembohong..! Kau pasti membohongiku. Aku tak percaya padamu.. Aku tak percaya.. Tidak, tidak mungkin..”

“Ck! Itu bukan urusanku..!”

Sebelum menarik perhatian banyak orang yang berada dirumah sakit itu, Jessica dengan cepat berjalan pergi, jelas tak peduli dengan keadaan Yuri saat itu.

“Pembohong.. Kau wanita pembohong..!”

Yuri memegang pada bagian dadanya yang terus berdenyut kesakitan..

“Yoona tidak seperti itu.. Dia tidak seperti itu.. Pembohong.. Kenapa kau mengatakan kebohongan seperti itu..”

Suara Yuri makin terdengar lirih, pandangan matanya benar-benar telah mengabur, tubuhnya lunglai, benar-benar lemas. Kepalanya bahkan nyaris membentur lantai andai pada saat itu tak ada tangan kokoh yang dengan cepat menahannya..

“Ya Tuhan, Yuri ssi.. Yuri ah, apa yang terjadi?”

Yuri merasakan seseorang tengah mengguncang tubuhnya, ia yang telah mengatupkan kedua matanya kemudian dengan perlahan kembali membukanya. Namun pandangannya masihlah mengabur, ia tak dapat dengan jelas mengenali wajah seseorang yang kini sedang meletakkan lengannya dibelakang lehernya, menahan kepalanya agar tak berbenturan dengan lantai..

“Siwon..”

sebelah tangan Yuri terulur untuk menyentuh wajah seseorang itu. Yuri merasakan gerakan dari kepala pria itu yang menggeleng..

“Si-won..”

“Aku bukan Siwon, Yuri ah.. Lihat aku.. Aku Yoochun, kau mengenalku?”

Yuri terus mencoba memperjelas gambaran wajah pria itu, namun tetap saja genangan airmatanya membuat ia hanya bisa memandang samar-samar kearahnya.

“Aku Yoochun, Yuri ah.. Kau seharusnya masih mengingatku.. Sedikit saja, kenapa kau tak menyimpan memori tentangku..”

“Yoo- Yoo-chun ssi..”

Yoochun terkejut bercampur senang mendengarnya, namun kemudian disadarinya jika Yuri menggumamkan namanya hanya beberapa detik sebelum ia akhirnya kehilangan kesadarannya.

“Yuri.. Yuri-ah..!”

Dengan segera Yoochun membopong tubuh Yuri, mencari dokter untuk menanganinya. Yang kemudian bertemu dengan Kyuhyun dan seorang suster yang memang berniat untuk mencari keberadaan Yuri.

“Ada apa dengannya?”

“Dia tiba-tiba pingsan, dokter..”

“Bawa dia ke ruang pemeriksaan sekarang..”

Selama setengah jam kemudian Yoochun hanya bisa berdiri cemas didepan sebuah pintu ruang pemeriksaan itu. Menunggu dengan gelisah kepastian dari Kyuhyun dan juga seorang dokter lain yang sedang melakukan pemeriksaan terhadap kondisi Yuri.

Apa yang sesungguhnya terjadi?
Yang membuat Yuri jatuh terisak hingga kemudian tak sadarkan diri, masihlah tak diketahui oleh Yoochun. Ia hanya bisa terus berdoa, semoga bukan sesuatu yang akan semakin memperburuk keadaan Yuri.

“Sunbae.. Sunbae..!”

Yoochun menoleh, mendapati Amber yang pada saat itu berlarian kearahnya.

“Sunbae, apa yang terjadi? Mengapa nona Yuri bisa pingsan?”

Amber menanyakan dengan napas tak beraturan setelah berlarian disepanjang koridor rumah sakit hingga menemukan keberadaan Yoochun disana.

“Aku juga tidak tau.. Dan kenapa kau tidak menemaninya tadi? Biasanya kau bertugas mengantarnya kan..?”

“Aku memiliki urusan, Tuan muda Choi memintaku untuk melakukan sesuatu. Jadi aku terlebih dulu mengerjakannya.. Aku sudah mengatakan pada nona Yuri jika aku akan menyusulnya..”

“Aku melihatnya terduduk lemas dilantai, dan dia menangis kemudian tak sadarkan diri. Tapi menurut seorang suster tadi, dia mengatakan Yuri telah bisa berjalan. Ia memaksakan diri untuk berjalan. Itu mungkin yang menyebabkan tubuhnya menjadi lemas..”

“benarkah? Benarkah nona Yuri bisa berjalan?”

Yoochun mengangguk..

“Hal itu sedikit membuatku lega, tapi penyebab Yuri menangis karna apa, aku masih tidak mengetahuinya.. Aku sempat menangkap shock yang tersirat dimatanya, wajahnya pun terlihat sangat pucat..”

Amber menepuk bahunya, mencoba untuk setidaknya menenangkan keresahan yang sedang dirasakan Yoochun saat itu.

“Tenanglah sunbae, airmata tidak selalu menggambarkan kesedihan. Mungkin nona Yuri menangis haru karna bahagia akhirnya terapi yang selama ini dijalaninya tidaklah sia-sia. Dan juga, pucat diwajahnya pasti karna nona Yuri mengalami kelelahan setelah memaksakan kedua kakinya untuk terus berjalan”

Yoochun sedikit tersenyum dan mengangguk. Mungkin penyimpulan yang dikemukakan oleh Amber tadi ada benarnya..

“Aku akan menghubungi nona Yoona dan mengatakannya.. Dia pasti akan sangat senang jika mengetahui kakaknya telah kembali bisa berjalan. Kau belum menghubunginya kan, Sunbae?”

“Belum, aku memang tak memiliki nomer ponselnya. Aku mencoba menghubungi Siwon tadi, tapi dia tak menjawab ponselnya..”

“baiklah, biar aku yang menghubunginya..”

Amber mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya dan lantas melakukan panggilan. Sekali panggilan yang dilakukannya tidak mendapat jawaban. Yang kedua pun demikian. Bahkan hingga ketiga kalinya, hasilnya tetaplah sama.

“nona Yoona tak menjawab ponselnya. Dia pasti masih mengurusi keperluannya di universitas..”

“universitas?”

“hm, itu yang aku dengar.. Nyonya telah mendaftarkannya masuk ke perguruan tinggi..”

“Yuri mengetahuinya?”

Amber menggeleng..

“tentu saja tidak.. Akan timbul kecurigaan bila dia mengetahuinya”

“Maka dilakukanlah kebohongan lagi untuk menutupinya?”

Amber mengangguk, sementara Yoochun kemudian tersenyum miris..

“Aku mengerti dari awal kebohongan itu muncul, dilakukan atas niatan demi kebaikan Yuri. Aku hanya mengkhawatirkan bagaimana jika sewaktu-waktu kebohongan itu terungkap kehadapannya. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaannya. Aku hanya berharap ketika itu terjadi, Yuri sudahlah berada dalam kondisi yang kuat dan dapat mengerti, tidak serapuh saat ini. Atau setidaknya saat  itu terjadi aku ada bersama dengannya”

Amber tak bisa mengatakan apa-apa. Ia mengerti dengan kecemasan yang dirasakan Yoochun. Ia juga paham yang dilakukan Yoona memang demi kebaikan Yuri.

Hanya saja kebohongan tetaplah kebohongan. Meski dilakukan atas nama kebaikan sekalipun, siapa yang akan tau dengan balasannya nanti. Berbuah kebaikan seperti yang diharapkan ataukah justru berakhir dengan kesakitan yang lebih mendalam.

Tuhan yang bisa memutuskan..

***

Didalam mobil yang dikendarai Siwon saat itu, Yoona terus mempertanyakan kemana arah tujuan mereka pergi saat itu dan sekaligus perayaan macam apa yang Siwon maksud.

Namun Yoona hanya mendapati kekesalan lantaran Siwon hanya mengatakan agar ia bersabar menunggu sampai mereka sampai ditempat yang dituju. Dan tak sedikitpun lagi Siwon membuka mulutnya untuk memberitaukan rencana perayaan itu padanya.

Sampai kemudian setelah cukup jauh jarak yang ditempuh, Siwon baru menghentikan laju mobilnya diarea sebuah taman yang dikenali Yoona lokasinya berada tak terlalu jauh dari gedung kantor Siwon.

“Ayo turun..”

Siwon akhirnya bersuara sambil tangannya membuka sabuk pengaman yang dikenakannya. Menoleh pada Yoona yang berada disampingnya, Siwon tersenyum saat mengetahui Yoona yang sedang mengedarkan pandangan matanya seakan keseluruh penjuru area taman itu.

Namun kemudian Yoona bersedekap dan menggelengkan kepalanya..

“Aku tidak mau turun..”

“Kenapa?”

“hanya tidak mau..”

“kalau begitu bagaimana kita akan melakukan perayaan-nya?”

Yoona kemudian menoleh menatap pada Siwon..

“Aku tidak mengerti, perayaan macam apa yang kau maksud?”

“bukankah aku sudah mengatakannya.. Ini untuk merayakan hari pertamu masuk universitas”

“Aku bahkan tak melihat siapapun disini.. Bukankah lazimnya perayaan dilakukan dengan banyak orang?”

Siwon mengulum senyum dibibirnya..

“Pada kasus-kasus tertentu perayaan tidak perlu melibatkan banyak orang. Seperti saat ini, kita hanya akan melakukan perayaan kecil untuk hari pertamamu masuk ke universitas. Jika kau ingin lazimnya perayaan yang melibatkan banyak orang, tunggu sampai aku menikahimu. Saat itu terjadi, aku akan memberimu perayaan besar dengan mengundang semua orang..”

Yoona memberengut..

“bukan seperti itu maksudku.. Hanya saja, kurasa aku tak memerlukan perayaan..”

Siwon mengabaikan apa yang Yoona katakan dengan meraih sabuk pengamannya, berniat untuk membukanya namun Yoona menahannya.

“Aku sudah katakan aku tidak mau turun..”

“Tapi aku sudah membawamu jauh kemari.. Kau tidak menghargaiku?”

“Aku tidak memintamu melakukannya..”

“baiklah, kau memang tidak meminta tapi aku yang menginginkan melakukannya”

“tapi aku tidak menginginkan perayaan apapun..”

Ya Tuhan..
Dalam hati Siwon mengerang, mempertanyakan bagaimana dirinya bisa menghadapi gadis belia seperti ini. Maksudnya adalah untuk menyenangkannya, tapi yang terjadi justru perdebatan konyol seperti ini.

“Sudahlah, kenapa kau suka sekali berdebat denganku..”

“Aku hanya…”

“Yoona.. Yoona..”

Yoona menghentikan apa yang ingin diucapkannya ketika mendengar ketukan-ketukan pada bagian kaca pintu mobil, yang disertai dengan suara yang memanggilnya..

Menoleh ia mendapati Hyoyeon dan Sunny yang berada diluar mobil itu, mengetuk pada pintu sambil terus memanggilnya..

“Yoona.. Yoona, cepatlah turun..”

“kenapa lama sekali didalam.. Apa yang kau lakukan.. Cepatlah keluar..”

Hyoyeon dan Sunny terus memanggilnya, sementara Yoona masih berkerut dahi melihat mereka. Ia kembali mengarahkan tatapan matanya pada Siwon dan menemukan senyum dibibir pria itu..

“Keluarlah, mereka sudah menunggumu sedari tadi..”

Siwon berucap sambil membukakan sabuk pengaman yang masih dikenakan Yoona, yang tak lagi ditolak olehnya..

“Jadi..”

“untuk perayaan kecil hari ini, Aku sengaja mengundang mereka..”

“Yoona.. Sampai kapan kau akan berada didalam? Cepatlah turun..”

“Keluarlah..”

Membuka kuncian pada pintu mobilnya, Siwon menahan senyum geli melihat Yoona yang seakan kehabisan kata.

Begitu pintu mobil itu terbuka, Hyoyeon dan Sunny langsung menarik tangan Yoona agar secepatnya keluar dari dalamnya.

Siwon menyusul keluar dari dalamnya, dan langsung membuat Hyoyeon dan Sunny membungkukkan badan kearahnya..

“Sajangnim..”

“Kalian sudah menerima apa yang seseorang kirimkan tadi?”

Hyoyeon dan Sunny sama-sama mengangguk mengiyakan..

“Kalau begitu kalian bisa menikmatinya.. Aku mempersilahkan kalian membawa gadisku untuk ikut serta..”

Hyoyeon dan Sunny saling melempar senyum disertai tatapan jahil kearah Yoona, setelah mendengar bagaimana Siwon menyebutnya tadi. Keduanya juga kemudian menarik pergelangan tangan Yoona agar mengikutinya.

Sementara Siwon hanya berdiri disana, bersandar didepan kap mobilnya dengan tangan dilipat didada, Ia tersenyum ketika Yoona sempat menoleh kebelakang untuk melihatnya.

Gadis itu menunjukkan raut keterkejutan dan sekaligus binar dikedua matanya ketika akhirnya mengetahui perayaan macam apa yang diberikan Siwon untuknya.
Siwon memberinya waktu khusus untuk bersama dengan kedua temannya.

Bukan hanya itu, Hyoyeon dan Sunny ternyata menariknya untuk memperlihatkan apa yang telah mereka siapkan.

Seperti sedang melakukan piknik, diatas hamparan rumput ditaman itu, mereka telah menggelar tikar yang diatasnya penuh dengan berbagai jenis makanan. Hyoyeon melepaskan tangan Yoona untuk kemudian mengambil kue yang bertuliskan ucapan selamat untuknya. Seperti perayaan ulang tahun, Sunny juga lantas meniupkan mainan semacam trompet kecil kearahnya, keduanya lantas berseru..

“chukkaeyo.. Yoona..! Selamat masuk ke universitas..”

Yoona sesaat terbengong dalam rasa terkejutnya, namun kemudian ia berhasil mengeluarkan suara..

“Ya Tuhan.. Kalian melakukan semua ini untukku?”

Sebelum menjawab pertanyaan yang kemudian diajukan oleh Yoona, Sunny terlebih dulu menarik Yoona untuk duduk.

“Sebenarnya tidak sepenuhnya.. Sajangnim menyuruh kami untuk datang kemari dan ada seorang pria berseragam, tapi entahlah aku merasa dia seorang wanita. Seseorang itu telah menunggu kami disini dan menyerahkan banyak makanan-makanan ini. Aku dan Hyoyeon hanya mengaturnya..”

Mendengar hal itu, Yoona berpikir jika Amber lah yang pasti diminta oleh Siwon untuk melakukannya.
Pagi tadi Amber memang telah mengatakan padanya tak bisa mengantar Yuri ke rumah sakit, namun berjanji akan menyusul sang kakak setelah ia menyelesaikan tugasnya.

“Ayo, Yoona.. Potonglah kue nya, sedari tadi aku sudah tak sabar ingin mencicipinya..”

ucapan Hyoyeon memutus lamunan singkatnya, Yoona lantas menerima pisau pemotong kue nya.

“Apa sajangnim akan tetap berada disana dan tidak akan bergabung dengan kita?”

Sunny mempertanyakan, membuat Yoona kemudian menoleh dan menatap pada Siwon yang masih dalam posisi yang sama, berada didepan kap mobilnya.

“Aku akan memanggilnya..”

“anio, anio.. Biar aku saja..”

Hyoyeon mencegah niatan Yoona dengan lebih dulu berdiri dari duduknya dan langsung melangkahkan kakinya untuk menghampiri Siwon. Yoona hanya bisa melihat, namun jarak yang meski tak terlalu jauh dari keberadaan Siwon saat itu tetap membuatnya tak bisa mendengarkan apa yang pada saat itu kemudian dikatakan Siwon pada Hyoyeon.
Yang kemudian terjadi, Hyoyeon kembali pada mereka tanpa berhasil mengajak Siwon untuk bergabung disana..

“Bagaimana? Sajangnim tidak mau bergabung? Bukankah dia yang telah mengatur semua ini?”

Tanya Sunny masih dengan mencomot beberapa makanan dihadapannya.

“Ouhh.. Aku tak menyangka bila tuan muda bisa semanis itu. Aku menawarinya untuk bergabung tapi dia mengatakan lebih menikmati saat berada disana dan menonton kita bersenang-senang bersama..”

“Ck..! Kau ini, tentu saja yang dimaksud sajangnim bukanlah kita, melainkan Yoona..”

Hyoyeon sedikit memberengut mendengar Sunny yang justru menyanggah apa yang dikatakannya. Tapi Sunny sepertinya ada benarnya, tidak mungkin tuan muda nya itu menatap pada mereka bertiga. Sudah pasti Yoona lah, sebagai gadis yang menjadi tunangannya yang mendapatkan perhatian ekstra lebih dari pria dambaannya itu..

“Oh, Yoona.. Apa yang kau lakukan hingga bisa menggaet tuan muda ku..?”

Yoona memutar mata mendengar bagaimana Hyoyeon yang menyebut Siwon dihadapannya..

“Dan kau benar-benar masuk universitas?”

Sambung Hyo kemudian, tanpa perlu menunggu mendapatkan jawaban dari pertanyaannya yang sebelumnya.
Yoona hanya memberikan jawaban dengan anggukan kepalanya yang disertai dengan senyuman dibibirnya, dan telah dapat membuat kedua temannya itu merasakan kecemburuan pada keberuntungan yang didapatkannya.

“Bagaimana perasaanmu sekarang setelah masuk universitas? Ah, haruskah aku menanyakan pertanyaan bodoh seperti ini. Sudah pasti kau sangat bahagia.. Kau pernah bercerita jika impianmu adalah untuk masuk ke universitas dan tuan muda telah mewujudkannya..”

“Hari ini, sebenarnya aku sangat gugup tadi. Meski aku masih belum mengikuti kelas dan hanya mengatur jadwal kelas yang  akan kuikuti, tapi rasanya benar-benar gugup ketika berhadapan dengan dosen yang baru kukenal”

Yoona juga kemudian menggulirkan cerita jika sebenarnya Ny.Choi lah yang mendaftarkannya masuk ke universitas. Ide itu memang berasal dari Ibu Siwon dan mendapat persetujuan dari ayah Siwon. Hyoyeon dan Sunny jelas sempat tak mempercayai apa yang dikatakannya. Karna yang mereka ketahui, pada waktu itu saat Siwon membawa mereka kerumahnya untuk bertemu dengan Yoona, Hyoyeon dan Sunny dapat memastikan jika sikap ibu Siwon tak begitu baik pada Yoona. Namun Yoona menjelaskan jika ia telah dapat memahami karakter ibu Siwon yang cenderung keras, galak dan masih sering mengomelinya, namun wanita itu memiliki sisi lembut seorang ibu yang juga kerap ditunjukkan kepadanya. Yoona bahkan merasa merindukan perasaan nyaman dan hangat yang perlahan tumbuh ketika ia memeluknya.

Sementara Yoona asik berkumpul dengan kedua temannya disana, Siwon masihlah betah hanya dengan menonton bagaimana interaksi dari ketiganya. Melihat Yoona yang entah sedang bercerita apa pada kedua temannya, kemudian tersenyum dan bahkan tertawa bersama ketika Hyoyeon ataupun Sunny menimpali apa yang diceritakannya.

Siwon senang hanya dengan melihatnya..

Setelah khir-akhir ini Siwon merasa Yoona jarang tersenyum apalagi tertawa seperti saat itu. Raut wajahnya selalu lebih sering menunjukkan kecemasan. Oleh karna itu, ia kemudian memikirkan cara apa yang kemungkinan besar dapat membuat Yoona kembali bersemangat. Dan ide untuk membiarkan gadis itu mendapatkan waktu bersama dengan kedua temannya dan menikmati keakraban dengan mereka menjadi yang pertama dipilih untuk ia lakukan.

Dan sepertinya moment yang di pilihnya cukup tepat dan tidak sia-sia. Siwon kini melihat tawa keceriaan itu dihadapannya, yang kemudian membuatnya enggan untuk berpaling. Rasanya sayang jika ia melewatkan moment menyenangkan yang sedang Yoona rasakan ketika itu. Gadis itu tersenyum, tertawa dan beberapa kali menoleh untuk menatap padanya. Tatapannya seakan ingin menyampaikan trimakasih atas perayaan yang diberikan padanya..

“Yoona, sepertinya kami harus kembali kekantor..”

Hyoyeon membuat Yoona seketika mengalihkan tatapannya yang sebelumnya terarah pada Siwon, kini berganti pada kedua temannya itu yang mulai berkemas..

“Kenapa kalian terburu-buru”

“tentu saja karna kami harus bekerja, nona muda..”

Gurau Sunny menggoda Yoona..

“Kami tidak sama sepertimu yang sekarang tidak memerlukan lagi pekerjaan menjadi resepsionis seperti itu..”

“tapi kita bahkan baru mengobrol..”

“Astaga.. Kau tak sadar kita sudah menghabikan waktu lebih dari dua jam?”

“kurasa kita baru beberapa menit..”

Yoona ikut berdiri dari duduknya ketika Hyoyeon dan Sunny melakukan hal itu.

“kita bisa melakukan hal menyenangkan seperti ini lagi lain waktu, kau hanya tinggal memintanya pada sajangnim..”

Yoona memasang wajah cemberutnya, masih tidak ingin kehilangan kebersamaan dengan keduanya yang sudah sangat jarang ia miliki.

“Benar yang dikatakan Sunny. Tuan muda yang sangat baik itu pasti akan memberikan apa yang kau inginkan dan kami akan dengan senang hati menerima hal-hal menyenangkan seperti ini..”

Hyoyeon dan Sunny sama-sama terkikik setelahnya. Mempunyai seorang teman yang memiliki keberuntungan seperti Yoona setidaknya juga membuat mereka sesekali ikut merasakan keberuntungan seperti menikmati makanan gratis dan dispensasi waktu kerja mereka.

“Kalian hanya tak tahu jika sajangnim kadang tak sebaik itu..”

Yang dimaksud Yoona adalah sikap Siwon yang terkadang ia rasa konyol dan begitu menjengkelkan. Namun Hyoyeon dan Sunny jelaslah tidak mengetahui hal itu, keduanya saling menatap sambil mengerutkan dahi mendengar apa yang dikeluhkan Yoona saat itu.

“Jadi maksudmu tuan muda tidak baik? Begitukah?”

Yoona memberengut sambil mengarahkan tatapannya pada Siwon..

“kadangkala dia bisa menjadi seorang yang menjengkelkan..”

“dalam hal apa sajangnim biasanya bersikap seperti itu?”

Sunny tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, Yoona pun merasa pada saat itu ia tak bisa jika tidak berbagi cerita mengenai yang satu itu dengan kedua temannya. Maka ia kemudian menceritakan bagian dimana Siwon bisa menjadi seorang yang begitu menjengkelkan hanya karna seorang dokter terapi yang menangani kakaknya mengirimkan pesan padanya. Beruntung Hyoyeon ataupun Sunny tak mengenal sang kakak yang dulunya pernah menjadi sekertaris Siwon, mereka sama-sama baru bekerja disana. Karna itu Yoona tak perlu bercerita banyak mengenai Yuri. Yoona lantas menyambungnya dengan tak melewatkan bagian dimana Siwon menuduhnya berbohong dengan status ‘pernikahan’ sang dokter. Yang sebenarnya ia sendiri hanya mengira-ira saja.

“Jadi waktu kau tiba-tiba muncul dikantor bersama dengan sajangnim saat itu dia sedang marah padamu?”

Yoona mengangguk membuat Hyoyeon dan Sunny justru menertawainya.

“Aigoo.. Pantas saja kalian terlihat aneh. Tapi dalam keadaan marah sekalipun tuan muda bisa bersikap manis dengan menggendongmu saat itu, bagaimana jika dia tidak sedang marah… Dan bagaimana bisa kau menyebutnya menjengkelkan? Oh, jika aku diposisi mu Yoona.. Andai saja, aku pasti akan…”

Yoona memutar mata mengetahui Hyoyeon yang mulai berandai-andai dengan apapun itu yang kini sedang berada dalam pemikirannya. Ia mendengus saat kemudian pergelangan tangannya ditarik oleh Sunny dan juga Hyoyeon yang kemudian mengikuti untuk melangkah mendekati keberadaan Siwon saat itu.

“Kau harus tahu, Yoona.. Jika seorang pria bersikap seperti itu, itu tandanya dia cemburu dengan kehadiran pria lain yang coba mendekatimu”

ketiganya masih saja berbincang saat dalam langkah menghampiri Siwon..

“tapi dokter Cho tidak sedang mencoba mendekatiku..”

“tetap saja kau, dengan statusmu yang sekarang kau harus berhati-hati ketika berdekatan dengan pria manapun. Sajangnim pasti tidak hanya membesarkan kecemburuan yang dirasakannya, tapi dia juga memikirkan dampak dari kedekatanmu dengan dokter itu?”

“Apa maksudmu berkata seperti itu, Sunny?”

Sunny mendesah..

“Apa kau masih tidak sadar? Kau seorang tunangan Choi Siwon, Yoona.. Meski sajangnim bukanlah seorang selebriti, tapi dia lebih terkenal daripada selebriti manapun di negri ini. Dia tampan dan kaya. Satu-satunya pewaris jaringan bisnis ayahnya. Dan apa jadinya jika seorang gadis yang menjadi tunangannya kedapatan dekat dengan pria lain? Akan banyak yang mengira jika kau sedang berselingkuh dan akhirnya mereka semua akan menghujat-mu..”

Sunny terus melanjutkan..

“Pasti akan banyak yang mengatakan jika kau hanyalah gadis yang tak tahu diuntung. Ingat bagaimana ramai-nya pemberitaan atas pertunangan kalian waktu itu? Dan aku yakin akan lebih ramai jika ada skandal perselingkuhan. Sajangnim pasti memikirkan sampai sejauh itu, kurasa dia juga memikirkan untuk melindungimu dari hal itu..”

Meski merasa apa yang dikatakan Sunny sangatlah berlebihan saat itu, namun dalam benaknya mengikuti apa yang sedang coba digambarkan oleh Sunny, dan tak ayal hal itu juga membuat Yoona bergidik ngeri membayangkannya. Ia telah mengetahui bagaimana jadinya bila publik sudah mengambil sikap terhadap skandal perselingkuhan yang dilakukan selebriti negri nya. Seperti yang dikatakan Sunny, mereka menghujat dan mencaci tanpa tahu pasti kebenarannya, dan sepertinya dirinya bahkan juga pernah menjadi salah satu dari mereka yang ikut memberikan komentar tajamnya.
Meski ia tidak berselingkuh, bisa saja mereka akan salah mengira dan menganggapnya demikian bila melihatnya berama dengan dokter Cho.
Tapi..
Astaga..
Yang benar saja,
Mengapa ia justru terseret dalam omongan Sunny?

“Tapi aku kan tidak berselingkuh..”

Yoona mendengus..
Menyadari pemikirannya telah melanglang jauh kemana-mana.

“lagipula untuk apa sih mempermasalahkan kecemburuan tuan muda padamu, menurutku seorang pria yang dengan terang-terangan menunjukkan kecemburuannya, itu tandanya dia benar-benar menginginkanmu, Yoona.. Oh, aku pasti meleleh. Andai saja kita bisa sesaat saja bertukar tempat, aku ingin merasakan seperti apa rasanya saat tuan muda.. Ya yaa kalian..! Jangan berlari..”

Mengabaikan Hyoyeon, Sunny dan Yoona tertawa saat keduanya kemudian berlari meninggalkan teman mereka yang satu itu, yang masih terus saja mengandaikan sikap Siwon. Ketiganya lantas menghampiri Siwon, pria yang banyak menjadi topik obrolan mereka tadi.

Hyoyeon dan Sunny kembali membungkukkan tubuh mereka dihadapan Siwon, mengatakan keduanya akan kembali kekantor, dan sekaligus mengatakan terimakasihnya karna telah diberi waktu menyenangkan untuk bertemu dan mengobrol bersama, sekaligus merayakan masuknya Yoona ke universitas.

Siwon menanggapi dengan gaya penuh wibawa sebagai seorang atasan, yang sesaat lalu justru mendapatkan cibiran dari Yoona. Ia yang merasa telah begitu mengenal pria itu dalam kesehariannya, justru merasa geli melihat sikap yang ditunjukkan Siwon saat itu terhadap kedua temannya. Jika Yoona tidak telah mengenal watak pria itu secara keseluruhannya, ia sudah pasti juga akan terkesan atau bahkan menjadi segan dengan ke-wibawa-an yang ditunjukkannya seperti yang sedang dilihatnya dirasakan oleh kedua temannya. Hyoyeon dan Sunny terlihat jelas sedang menunjukkan raut segan mereka terhadap Siwon.

“kenapa? Dari raut wajahmu, sepertinya kau sedang menahan tawa?”

Siwon..
Dengan kembali bersandar diatas kap mobilnya, kedua tangannya yang terlipat didepan dada, kaki yang menyilang dengan bagian sebelah kanan yang berada lebih didepan, serta ekor matanya yang memicing, Ia terus memperhatikan Yoona yang berada dihadapannya dengan penuh rasa keingintahuan terhadap hal menggelikan macam apa yang tengah dirasakan gadis itu.

“lucu, sikap wibawa-mu yang kau perlihatkan sedikit tidak berada pada tempatnya..”

kali ini Yoona terang-terangan menunjukkan tawa gelinya, setelah kedua temannya tidak lagi berada diantara ia dan Siwon. Yoona tak mengelak dengan apa yang dirasaknnya ketika itu.

“jadi kau sedang menertawai sikapku?”

“e-hm..”

Yoona mengangguk..

“Menggelikan..”

Siwon memutar mata mendengar dan sekaligus menyaksikan tawa terkikik Yoona saat itu. Tapi ia lantas tak hanya tinggal diam setelah dihadapannya Yoona dengan terang-terangan sedang menertawainya. Bahkan setelah kedua temannya menunjukan keseganan terhadap sikapnya, bagaimana bisa gadis itu justru menilainya menggelikan.

Oh, yang benar saja..

Maka kemudian, Siwon mendekat untuk kemudian meraih pinggang Yoona merapat ketubuhnya. Membuatnya sesaat menangkap sinyal keterkejutan dalam raut wajah belia-nya.

Yoona langsung menghentikan tawanya dan hanya bisa mengerjapkan kedua matanya..

“Kau beruntung karna hari ini aku membebaskanmu untuk bersikap semaumu.. Jadi silahkan saja menertawaiku..”

Siwon mulai menjalankan ujung jemarinya dipipi Yoona..

“Aku suka melihat bibir ini yang tertawa..”

Siwon juga menyentuh pada sudut bibirnya, membuat Yoona tanpa sadar menelan ludah karenanya.

“Aku suka melihat keceriaan yang membingkai indah diwajahmu.. Apa kau menyukai harimu saat ini?”

Tanpa keraguan sedikitpun, Yoona mengangguk dan dengan keberanian yang dimiliki, ia langsung mengalungkan kedua tangannya, memeluk pada leher Siwon.

“gomawoyo sajangnim.. Terimakasih karna telah bersikap sangat baik hari ini..”

Apa yang didengarnya membuat Siwon tersenyum, tangannya yang telah merangkul pada pinggang Yoona kemudian makin erat memeluknya. Beberapa saat menikmati kedekatan mereka. Yoona yang masih mengalungkan tangannya, menunjukkan senyum malu-malunya saat Siwon terus menatap dengan menunjukkan senyum yang diyakini Yoona
akan mampu mempesona siapapun. Dan itu termasuk dirinya.

“Kenapa tadi tidak bergabung dengan kami?”

Yoona memulai lebih dulu membuka kembali suaranya.

“Aku tak ingin mengganggu obrolan kalian dan membuat suasana jadi tidak nyaman dengan kehadiranku ditengah-tengah kalian..”

“Siapa yang akan menjadi tidak nyaman? Hyoyeon dan Sunny pasti akan semakin bersemangat..”

Yoona mendengus..

“terutama Hyoyeon, dia terus mengatakan kekagumannya padamu”

“Oh, benarkah? Temanmu itu melakukannya? Dan apa yang kau katakan padanya ketika dia sedang mengagumiku..?”

Yoona menggeleng membuat Siwon berkerut dahi melihatnya..

“Tidak ada yang kau katakan?”

“hm..”

“tidak sama sekali?”

“hm..emm..”

Yoona mengangguk-anggukkan kepalanya..

“ini tak bisa dipercaya.. Kau tidak mengatakan apapun pada gadis yang mengagumi tunanganmu didepan matamu? Kau membiarkannya..?”

Yoona kembali mengangguk-anggukan kepalanya tanpa dosa, seolah tak menyadari kalimat bernada kekesalan yang diucapkan Siwon ketika itu.

“Setidaknya kau mengatakan ‘Hei.. Dia sudah menjadi tunanganku’ seperti itu..”

Yoona justru tertawa mendengarnya..

“Sajangnim, aku tak perlu mengatakan hal seperti itu. Hyoyeon sudah pasti tahu akan hal itu..”

Sesimpel itukah pemikirannya?

Siwon benar-benar tak habis mengerti. Tidakkah gadis belia yang berada dalam rangkulannya kini merasakan sedikit saja kecemburuan terhadapnya. Seperti yang selalu dirasakannya ketika ada pria lain yang berada dekat dengan Yoona. Bagaimana gadis itu justru bisa bersikap sesantai itu terhadap seorang teman wanitanya yang jelas-jelas menunjukkan kekaguman terhadapnya?

Oh, astaga..

Siwon menahan erangan dari dalam dirinya..

“Aku tahu jika Hyoyeon telah lama menjadikanmu sebagai tuan muda dambaannya. Tapi dia adalah sedikit teman yang kumiliki yang mengerti dan selalu mendukungku. Dia hanya sekedar mengagumi dan tak benar-benar ingin mendapatkanmu. Karna itu aku membiarkannya terus mengagumimu. Aku justru berbangga dengan hal itu. Bangga karna bisa memiliki seseorang yang dikagumi oleh temanku..”

Apa yang dikatakan Yoona seolah karna ia tau dengan apa yang saat itu berada dalam pemikiran Siwon, dan sengaja diucapkan untuk menjawab tanya dalam benak pria itu. Hal yang lantas membuat Siwon kembali menunjukkan senyum dibibirnya..

“Oh, aku tak percaya jika kau bisa mengatakan kalimat semanis itu, Yoona..”

“itu karna Aku tak mungkin memiliki kecemburuan konyol terhadap Hyoyeon”

Kalimat bernada sindiran untuknya itu kemudian membuat Siwon memutuskan untuk tidak perlu menanggapinya. Jika ia melakukannya, sudah pasti hanya akan menjadikan perdebatan lagi yang tak henti diantara mereka. Perdebatan yang sangat kontras bila dilihat dari kedekatan tubuh keduanya yang bahkan telah nyaris menempel satu sama lain ketika itu. Dan Siwon tak ingin merusak kemungkinan momen manis yang bisa diciptakannya bersama Yoona, dengan terus melakukan perdebatan tak penting disepanjang waktu kebersamaannya.

“Baiklah, untuk kalimat manis yang kau ucapkan itu, kau pantas untuk mendapatkan sesuatu..”

“sesuatu?”

“hm, katakan sesuatu yang kau inginkan dan aku akan mengabulkannya..”

Yoona sesaat terlihat berpikir namun kemudian ia menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak menginginkan sesuatu lagi.. Karna tak ada lagi yang lebih kuinginkan selain melihat Yuri oenni sembuh..”

Siwon mengerti dengan yang satu itu. Tapi bukan sesuatu seperti itu yang menjadi maksudnya. Maka ia meraih tangan Yoona yang mengalung dilehernya, untuk kemudian menggenggamnya.

“Aku mengerti dengan keinginanmu yang seperti itu. Tapi untuk kali ini, aku memintamu untuk memikirkan keinginan yang lain..”

Yoona tetap menggeleng..

“Pikirkanlah tentang dirimu, Yoona”

“Aku benar-benar tak memiliki keinginan yang lain, sajangnim..”

“Benarkah? Sekedar keinginan agar aku menciummu.. Kau pun tak memiliki keinginan yang semacam itu?”

Yoona memberengut mendengarnya..

“Oh, ayolah Yoona.. Pikirkan sesuatu yang kau inginkan”

“Apakah aku perlu melakukan itu?”

“sangat perlu, jadi lakukanlah..”

“emm.. Kurasa, aku.. Aku menginginkan..”

Ragu-ragu Yoona mengatakan apa yang pada saat itu kemudian terlintas dibenaknya..

“kencan..”

Ucap Yoona yang kemudian langsung disesalinya. Ingin rasanya ia menggigit lidahnya saat itu, terlebih setelah melihat seringai yang ditunjukkan Siwon diwajahnya.

“Kencan?”

Yoona malah kemudian menunduk saat Siwon menanyakan, sekedar untuk memastikan jika itulah apa yang menjadi keinginan Yoona saat itu.

“Kau ingin kencan?”

Siwon yang lantas meraih dagu Yoona, mengangkat wajahnya agar kemudian dapat bertatapan dengannya, hingga kembali menanyakan apa yang tadi diinginkannya.

“Kau ingin kencan?”

Yoona mengangguk..

“Aku ingin kau mengajakku berkencan.. Selama ini belum pernah ada yang mengajakku melakukannya..”

Sekali lagi ia merasakan keinginan untuk menggigit kuat lidahnya. Kenyataan itu yang seharusnya tak perlu dikatakannya pada Siwon hanya semakin membuat Yoona merasakan semburat rasa malu yang menjalar naik dan pasti telah memerahkan wajahnya.
Ia kemudian menyadari jika Siwon yang kini berganti menertawainya.

“Kau yang memaksaku untuk mengatakan apa yang kuinginkan.. Kenapa sekarang kau justru menertawai keinginanku.. Menyebalkan..”

Yoona berusaha melepaskan tangannya yang berada dalam genggaman tangan Siwon, namun ia tak berhasil melakukannya. Siwon masih terus menggenggamnya erat, meski pria itu jelas mengetahui keinginannya untuk terlepas..

“Sudah sangat lama sejak terakhir kali aku berkencan dengan seorang gadis. Kurasa aku menjadi lupa bagaimana caranya mengajak seorang gadis berkencan..”

“Baiklah tidak perlu melakukannya, lupakan saja keinginanku itu.. Aku memang tak seharusnya mengatakannya..”

Yoona memalingkan wajahnya, mendengus kesal pada apa yang dikatakan Siwon sebelumnya.

“Ya, bukan seperti itu maksudku. Mengapa kau cepat sekali marah? Aku hanya ingin kau tahu jika aku sudah sangat lama tidak berkencan dengan seorang gadis. Aku jarang berkencan dan lebih sering berhubungan dengan wanita dewasa, bukan gadis belia seperti ini..”

Mendengarnya, Yoona kembali mengarahkan tatapannya pada Siwon dan menemukan senyum diwajah pria itu.

Apa yang membuat Siwon tersenyum?
Apa pria ini akan menyombongkan dirinya yang tak pernah merasakan kesepian karna selalu memiliki wanita disisinya, sementara tadi ia justru mengatakan tak pernah ada seorang pria yang mengajaknya berkencan.

Menyebalkan..

Yoona menggerutu didalam hatinya. Bertambah kesal dengan dugaan yang dipikirkannya.

“Aku mungkin lupa bagaimana cara berkencan dengan seorang gadis, tapi mengapa kita tak mencoba berkencan seperti kau adalah wanita dewasa. Kurasa aku masih mengingat bagaimana cara melakukannya..”

Yoona mengerutkan dahi dan memberikan tatapan penuh tanya dikedua matanya.

“maksudku adalah, kita bisa berkencan dengan cara seorang pria dan wanita dewasa.. Kau mengerti?”

“maksudmu?”

Siwon yang mengerlingkan sebelah matanya, membuat Yoona justru membulatkan mata melihatnya. Ia kemudian dapat mengerti dengan maksud dari ucapan Siwon yang tadi didengarnya tanpa pria itu memberikan penjelasan lebih merinci kepadanya. Maka dengan segara Yoona lantas menarik tangannya dari genggaman tangan Siwon, lalu mendorong pria itu mundur dari hadapannya.

Dasar pria mesum..

Kesalnya yang melihat Siwon justru sedang menunjukkan gelak tawa atas reaksi terkejut yang ditunjukkannya.

Yoona yang merasa telah dibuat kesal oleh Siwon, kemudian beranjak dari hadapannya namun dengan segera pergelangan tangannya kembali ditarik dan ia kembali berada dalam rangkulan kuat lengan Siwon.

“Lepaskan aku jika kau masih memiliki pemikiran mesum dikepalamu, sajangnim..”

Siwon justru masih saja menunjukkan senyum geli kearahnya.

“Sajangnim..!”

Yoona yang benar-benar telah merasa kesal saat itu, kemudian memukul dada Siwon sampai beberapa kali dan baru menghentikannya ketika Siwon meraih tangannya kembali dalam genggamannya.

“Oh, siapa yang sebenarnya sedang memiliki pemikiran mesum disini? Aku sama sekali tidak merasa memilikinya.. Aku hanya mengatakan untuk melakukan kencan dewasa, maksudnya adalah dengan usia ku yang sekarang, well.. Aku tak perlu menyebutkannya. Aku tak ingin melakukan kencan yang dilakukan seperti remaja..”

Yoona masih diam sampai kemudian mendengar Siwon mengatakan..

“Ayo, berkencanlah denganku Yoona..”

Dan dengan perlahan Yoona menunjukkan senyum dibibirnya, mengangguk malu mendengar ajakan Siwon yang lantas menggandengnya, membukakan pintu mobil untuknya.

Siwon melajukan mobilnya dikeramaian pusat kota sampai kemudian Yoona menunjuk sebuah tempat hiburan yang ingin dikunjunginya. Awalnya Siwon menolak, bukankah sebelumnya ia telah mengatakan tak ingin melakukan kencan layaknya pasangan remaja berusia belasan?
Namun nampaknya Yoona mengindahkan hal itu, ia bahkan tak segan merengek didepan pria itu. Hingga membuat Siwon mau tak mau menurutinya.

Yang terjadi didalam tempat hiburan itu lebih tak pernah terbayang akan pernah dilakukan oleh seorang pria dewasa sepertinya. Yoona memaksanya masuk kedalam gedung teater untuk menonton pertunjukan. Yang awalnya sedikit masih bisa diterima olehnya karna Siwon menemukan beberapa pria dewasa yang pada saat itu juga melakukannya. Namun setelah beberapa menit berada didalamnya, Ia benar-benar merasa jengah. Pertunjukan yang ditontonnya saat itu benar-benar membosankan, terlebih Yoona yang berada disampingnya nampak tak terlalu peduli dengan apa yang pada saat itu dirasakan olehnya. Gadis itu memiliki perhatian yang terus tertuju pada apa yang sedang disaksikannya. Yoona tersenyum dan benar-benar terlihat menikmati tontonan yang sedang berlangsung.
Senyum itu..
Senyum yang begitu indah membingkai wajahnya, yang akhirnya membuat Siwon dapat menghilangkan kebosanan yang dirasakannya. Matanya tak lagi tertuju kearah panggung yang berada didepan, tapi justru kearah Yoona, kearah gadis disampingnya dan tanpa kebosanan mengagumi senyum yang terus diperlihatkan oleh Yoona. Sampai sekitar seratus dua puluh menit pertunjukan itu berjalan dan akhirnya berakhir, Siwon dapat menghitung Yoona yang hanya tiga kali menoleh kearahnya.

Tak cukup sampai disitu, keluar dari dalam ruang pertunjukan, Yoona menariknya menuju beberapa wahana permainan yang kontan saja membuat Siwon membulatkan mata mengetahui keinginan Yoona yang ingin memainkan permainan-permainan itu bersamanya. Meski gadis itu tak berhasil memaksanya untuk memainkan semua wahana yang berada disana, namun Yoona berhasil membuatnya mengantongi sebuah dasi yang tanpa sadar masih dipakainya dan juga menggulung lengan kemejanya pada saat memainkan beberapa permainan yang menurutnya sangat konyol untuk dilakukan, dan berakhir memalukan untuknya karna ia tak berhasil melakukannya dengan benar.

Yoona bahkan terus menggerutu hanya karna ia tak berhasil mencetak angka ataupun mengambil satu saja boneka dari dalam sebuah mesin permainan.

“Aku tak percaya ini.. Kau benar-benar payah, sajangnim..”

“bagaimana mungkin kau mengatakan itu pada tunanganmu hanya karna aku tak bisa mendapatkan boneka menggelikan seperti itu? Demi Tuhan, aku bahkan bisa memenuhi kamarmu dengan seluruh boneka yang jauh lebih bagus dan berkwalitas, atau membeli lebih dari sepuluh mesin semacam itu dan kau bisa memainkannya sendiri dirumah..”

Siwon yang nampak kesal dan kemudian melangkah mendahuluinya membuat Yoona justru tersenyum geli melihatnya.

“Sajangnim.. Tunggu aku..”

Yoona menyusulnya dan setelah berhasil menyamakan langkahnya, ia meraih tangan Siwon dan bergelayut dilengannya..

“Oppa..”

Mendengar itu, membuat Siwon dengan segera menghentikan langkahnya. Menatap pada Yoona, ia menemukan senyum diwajahnya yang menyertai binar dikedua matanya. Tau bahwa gadis itu pasti sedang kembali merajuk karna memiliki keinginan lain setelahnya..

“Oppa.. Apa kau akan memperbolehkanku untuk menikmati itu..?”

Tidak salah apa yang diperkirakan Siwon sebelumnya..

“Boleh kan? Aku benar-benar menginginkannya, Oppa..”

Yoona menunjuk pada pedagang yang menyediakan aneka jenis eskrim dan sekali lagi menunjukkan kemampuannya yang pandai merajuk.

Oh, siapa yang tidak akan luluh bila melihat ekspresi polos wajahnya dengan bibirnya yang mengerucut ketika ia terus memanggilnya dengan sebutan ‘Oppa’.

Meski Siwon mengetahui itu hanyalah tak-tik yang digunakan Yoona untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, namun nyatanya dengan itu, Yoona berhasil membuat Siwon mengeluarkan dompet dari dalam saku celananya dan membayar satu cup besar es krim untuknya.

Tidak hanya itu saja, dengan kata ajaib-nya itu (Oppa), Yoona juga berhasil menjejalkan es krim kedalam mulut Siwon.

Tak puas hanya menikmati es krim saja, Yoona kembali bertingkah manja ketika menginginkan gulungan permen kapas berwarna merah muda yang dilihatnya.

“Oppa, ini benar-benar enak.. Kau tidak mau mencobanya?”

Yoona menyodorkan gulungan permen kapas ditangannya pada Siwon yang berada disebelahnya.

“cukup Yoona, Aku menghindari mengkonsumsi gula secara berlebihan..”

“Kenapa? Karna kau takut kehilangan kotak-kotak dalam perutmu?”

Ucap Yoona santai, Masih dengan mempermainkan gulungan permen kapas ditangannya. Ia memutar, menempelkan dibibirnya, beberapa kali menjilat sebelum kemudian melumat dan memasukkan kedalam mulutnya.

Apa yang sedang dilakukannya didepan Siwon saat itu, membuat pria itu sama sekali tak berkedip melihatnya dan tanpa sadar telah menelan air liurnya.

“Kau menginginkannya bukan?”

Siwon mengerjap dan tergerapap untuk menjawab pertanyaan Yoona yang tiba-tiba memperhatikan dirinya dengan seringaian yang bercampur dengan rasa geli yang menggurat diwajahnya.

“mengaku sajalah, sajangnim.. Kau juga menginginkan permen kapas ini seperti kau menginginkan es krim ku tadi. Kau tak bisa mengelak karna aku yakin melihat kau menelan air liur mu..”

Siwon memutar mata mendengarnya. Masalahnya adalah bukan karna ia menginginkan jenis makanan anak kecil seperti itu, melainkan memperhatikan cara Yoona yang menikmati itu dengan lidah dan bibirnya lah yang pasti telah membuatnya menelan air liurnya dengan tanpa sadar.
Karna hanya itu yang bisa dilakukannya.
Tak mungkin ia menyerang gadis itu ditempat umum seperti ini. Meski hasratnya untuk membelit lidahnya dan melumat bibir tipis itu begitu kuat dirasakan olehnya.

“Sajangnim, Aaa.. Buka mulutmu dan cobalah ini. Kau menginginkannya kan.. Ayo cobalah..”

Aku lebih menginginkan kau yang membuka mulutmu dan berpasrah pada lidahku didalamnya..

Siwon hanya bisa mengerang didalam hatinya..

“Aaa.. Sajangnim, ayolah..”

“jangan mengada-ada, Yoona.. Aku tidak mungkin menginginkannya”

Siwon menghindar dengan menjauhinya dan sesaat justru membuat Yoona tertawa melihatnya.

“percayalah padaku, memakan ini sekali saja takkan menghilangkan kotak-kotak di perutmu”

Yoona menyusul langkah Siwon, menghadang dengan berdiri didepannya dan menunjukkan senyum diwajahnya dan beberapa kali kedipan dimatanya.
“Oppa..”

Kedipan mata itu hampir saja membuat Siwon meloloskan tawa dari bibirnya.

“Siwon oppa.. Apa kau tak ingin menyenangkanku dengan memakan ini bersamaku? Ayolah.. Ini sangat enak dan begitu manis.. Kau pasti juga akan menyukainya. Oppa ayolah..”

Dengan kembali menggunakan kata ajaib nya, Yoona terus saja menyodorkan gulungan permen kapas miliknya yang tak lagi utuh itu kehadapan Siwon. Membuat Siwon mendecakkan lidah, berikutnya tangannya justru meraih tubuh Yoona mendekat dengannya, untuk selanjutnya berbisik ditelinganya..

“Apa kau bisa menjamin itu akan terasa lebih manis dari bibirmu? Karna sekarang aku lebih menginginkan merasakan manisnya bibirmu daripada gumpalan kapas seperti itu..”

Skak..
Alih-alih kembali memaksa Siwon, Yoona justru seakan kehilangan suara dari tenggorakannya karna apa yang dikatakan pria itu tadi tadi.
Yoona memberengut, saat Siwon justru tersenyum. Seringai puas kemudian muncul diwajahnya.

Tapi..
Bukanlah Yoona namanya jika tak bisa mengubah keadaan..

Begitu apa yang kemudian dipikirkan gadis itu untuk membalas kegagalannya memaksa Siwon memakan permen kapas miliknya.

Yoona kembali mengatakan sindiran-sindiran penuh ejekan pada saat keduanya kembali melewati mesin permainan boneka yang sebelumnya gagal dimainkan oleh Siwon.

Ia sengaja berhenti melangkah, untuk melihat sepasang remaja, dengan sang pria yang sedang mencoba menaklukan mesin permainan itu dan mendapatkan boneka yang diinginkan oleh seorang gadis yang usianya pasti hanya satu atau dua tahun dibawahnya.

Yoona bukan hanya melihat tapi kemudian juga memberikan dukungan pada sang pria itu..

“Oh, kau hampir mendapatkannya.. Kau hampir mendapatkannya.. Ya yaa.. Ambil yang itu..!!”

kedua remaja itu saling mengerutkan dahi dan sepertinya ucapannya yang begitu tiba-tiba itu, telah membuat sang pria kehilangan konsentrasinya dan menjatuhkan kembali boneka yang telah berhasil didapatkannya.

“Masih ada waktu.. Ayo cobalah sekali lagi.. Cobalah sekali lagi dan mendapatkannya..”

ucap Yoona lagi dengan semangat..

“hei, kau justru mengganggu konsentrasi kekasihku..”

komentar sang gadis yang kemudian lebih mendekatinya..

“Aigoo.. Kau seharusnya tidak diam saja. Kau harusnya menyemangati kekasihmu itu agar mendapatkan boneka itu untukmu. Dia sudah hampir berhasil.. Tidak seperti tunanganku, dia benar-benar sangat payah. Tak satupun dia bisa mendapatkan boneka menggemaskan seperti itu untukku..”

Siwon yang berada tak jauh darinya langsung mendecak kesal mendengarnya.

Sementara Yoona masih terus saja menyemangati pria remaja seusianya itu yang kembali mencoba mendapatkan setidaknya satu boneka saja untuk kekasihnya. Sampai akhirnya Yoona yang justru lantang bersorak saat pria itu berhasil mendapatkan sebuat boneka panda dari dalamnya.

“chogiyo..”

Yoona mencegah saat sepasang remaja itu hendam beralih darisana..

“emm, bisakah.. bisakah kau mengambilkan yang itu untukku..”

Yoona menunjuk boneka kuma yang berukuran sangat kecil yang berada didalam mesin. Boneka itulah yang sangat ingin didapatkannya. Namun Siwon, bahkan setelah lebih dari sepuluh kali melakukan permainan untuk mengambil boneka itu, dia masih tak bisa mendapatkan itu untuknya.

Yoona pun sudah beberapa kali mencobanya sendiri, namun ia juga mengalami kesulitan untuk mengambilnya..

“Kau tidak seharusnya meminta bantuannya.. Aku yang akan mendapatkan itu untukmu..”

Sepasang remaja itu langsung beralih ketika Siwon mendekat dan membuat Yoona merasakan kegirangan didalam hatinya dan harus bersusah payah menyembunyikan tawa dibibirnya ketika Siwon langsung mendekat pada mesin permainan boneka dihadapannya.

“Mana yang kau inginkan?”

Siwon bertanya seolah-olah lupa pada kegagalan yang sebelumnya dan seakan sudah dipastikan ia bisa mendapatkannya kali itu.

“Aku mau yang itu, Oppa..”

Yoona mengedikkan mata, membuat Siwon akhirnya tersenyum dengan tingkah gadis belia itu dihadapannya. Sesaat sebelum melakukan permainan, ia juga mengulurkan tangannya untuk menyentuh kepala dan sedikit mengacak rambut Yoona.

“Kau benar-benar akan membuatku gila, Yoona..”

Yoona terkikik dan lantas menunjukkan aksi dukungannya terhadap apa yang akan dilakukan Siwon, dengan mengepalkan tangan dan mengangkatnya serta mengatakan..

“Siwon oppa, fighting..! Fighting.. Fighting.. Huuu yeahh..!!”

Siwon tertawa mendengarnya, lalu berkonsentrasi pada mesin dihadapannya..

“Itu Oppa.. Ya, yang itu.. Ayo, Ayo.. Lebih turun lagi.. Sedikit lebih kekiri, Ya begitu.. Yaa.. Tangkap.. Uhh..”

Permainan pertamanya gagal..

“Ya yaa.. sedikit lagi.. itu oppa.. itu itu.. yaahhhh..”

Begitupun dengan yang kedua, ketiga dan bahkan sampai yang ke tujuh kalinya, nyatanya Siwon masih belum berhasil mendapatkan boneka itu untuk Yoona. Hanya sekali, dengan alat permainan itu ia sebenarnya hampir berhasil meraih boneka berjenis kuma itu dari dalamnya. Namun teriakan bersemangat dari Yoona yang menganggapnya telah berhasil, membuatnya justru kehilangan konsentrasinya dan kembali menjatuhkan bonekanya.

Kedelapan kalinya Siwon melakukan permainan itu, Yoona merasakan telah kehilangan semangat untuk melakukan dukungan. Siwon pun sudah sangat kesal hingga rasanya sangat ingin menendang mesin itu, atau bahkan melenyapkan dari hadapannya.

Satu kali lagi ia berniat mencoba dan bertekad..

“Demi Tuhan, jika kali ini aku tak berhasil mendapatkannya aku benar-benar akan membawa mesin sialan ini pulang, lalu kemudian menghancurkannya..”

geramnya dengan tangan yang mencengkram kuat pada pinggiran mesin itu..

Yoona yang telah berubah lesu hanya menghela napasnya dan tak lagi mengamati permainan yang telah dihitungnya dilakukan Siwon untuk yang ke sembilan kalinya.

Dalam hati ia terus saja menggerutu akan betapa payahnya pria itu..

Yoona kembali hanya mendengus, namun seketika kedua matanya mengerjap dengan penuh rasa terkejut pada saat didepan kedua matanya Siwon tersenyum sambil menggoyangkan boneka kuma yang diinginkannya.

“Kau mendapatkannya? Kau berhasil mendapatkannya? Kyaaaa.. Sajangnim, kau benar-benar mendapatkan bonekanya untukku..”

Siwon hanya mengangguk dan Yoona sudah langsung mengambil boneka itu dari tangannya, lalu berputar dan melompat kemudian menghambur kedalam pelukannya.

“Kau benar-benar hebat, sajangnim.. gomawoyo, aku menyayangimu..”

Siwon hanya perlu mendekap tubuh gadis itu dengan erat untuh menghilangkan lelah dan perasaan kesal yang sesaat lalu dirasakannya.

Dan sepertinya, mendapatkan boneka kecil berjenis kuma itu bukan menjadi bagian akhir dari hal paling menyenangkan yang dirasakan Yoona pada kencan pertama yang dilakukannya bersama dengan Siwon. Karna Siwon yang tadinya terlihat enggan dan cenderung kesal menuruti permintaan-permintaannya yang dianggapnya konyol justru berbalik dengan menawari Yoona untuk melakukan permainan apalagi yang ingin dicoba olehnya.

Yoona jelas tak perlu bersusah payah memikirkan tawaran Siwon hingga dua kali. Ia menyambar umpan yang dilemparkan pria itu dengan antusias. Dengan merangkul lengan Siwon, ia lantas membawanya kebeberapa wahana permainan yang belum sempat dicoba, dan kembali mengulang permainan yang sebelumnya gagal dimainkan oleh Siwon.

Kepatuhan Siwon yang terkesan mendadak saat itu terhadap gadis belianya itu bukan tak berdasar. Bukan hanya karna ia yang kemudian menyadari dirinya yang sedang mengencani seorang gadis belia, yang sudah semestinya ia juga bisa mengimbangi gaya kencan yang diinginkannya. Tapi juga karna melihat Yoona yang begitu menunjukkan binaran dikedua matanya ketika ia berhasil mendapatkan sebuah boneka yang diinginkannya dan memberikan itu untuknya, membuat Siwon berniat memberikan hari itu sepenuhnya untuk Yoona. Karena itu bahkan ia tak memprotes ketika Yoona menariknya untuk melakukan foto box bersama.

image

“Aigoo.. kenapa ekspresimu kaku sekali, sajangnim.. ckckckk. Yang seperti ini sama sekali tidak terlihat tampan..”

Yoona kembali menertawainya..

“Kau tidak pernah berfoto dengan gadis cantik yaa..?”

Dan hanya dengan melihat tawa lepas gadis itu dihadapannya, ia telah merasakan kepuasan yang luar biasa didalam hatinya. Meskipun yang ditertawakan gadis itu adalah dirinya.
Biarlah..
Siwon tak sedang peduli akan hal itu. Yoona bebas menertawai siapapun hari itu.

Bahkan, hingga kemudian keduanya memutuskan untuk menyudahi kencan yang dilakukan hari itu, Yoona masih tak bisa menghilangkan senyum yang begitu terlihat jelas diwajahnya. Senyum kepuasan lantaran impian kencan-nya telah menjadi kenyataan.

“gomawoyo sajangnim.. Aku menganggap kencan kita tadi sebagai perayaan kedua yang kau berikan padaku. Yang pertama tentu perayaan bersama Hyoyeon dan Sunny tadi. Jadi aku berterimakasih untuk perayaan pertama yang begitu menyenangkan dan perayaan kedua yang juga luar biasa menyenangkan. Terimakasih..”

Yoona mengucap itu sesaat setelah keduanya masuk kedalam mobil. Namun Siwon justru diam, tidak menanggapi ungkapan terimakasihnya dan hanya terus memandang pada wajahnya.

“Sajang-nim…”

Yoona sedikit merasa kikuk dan sekaligus terkejut saat Siwon mencondongkan tubuhnya, membuat jarak yang cukup dekat dengan wajahnya..

“Aku sudah menahan ini sejak tadi, maka ijinkan aku untuk mendapatkannya..”

Yoona tak perlu lagi mencerna apa yang dimaksud Siwon sebelumnya, karna pria itu segara menunjukkan apa yang menjadi maksud dari ucapannya tadi dengan mencium bibirnya.

Entah sejak kapan, Yoona sepertinya menjadi terbiasa dengan kontak bibir yang tiba-tiba dilakukan Siwon terhadapnya..

Awalnya pria itu hanya melakukan ciuman ringan dengan memagut bibir bawahnya, namun setelah Yoona ikut menggerakkan bibirnya dan memainkan lidahnya, Siwon seakan kehilangan kendali atas kewarasan dirinya yang selama ini selalu ia jaga.

Ia melumat bibir Yoona seakan ingin mengambil semua rasa yang dimilikinya. Lidahnya mendorong, melesak masuk kedalam rongga hangat mulutnya. Bahkan sebelah tangannya kemudian ikut berpartisipasi dengan mengusap semakin naik keatas paha Yoona.  Menjadikan rok seatas lutut yang dikenakannya menyingkap lebih keatas dari yang sebelumnya.

Didalam sebuah mobil di area lahan parkir, yang itu artinya keduanya sedang berada ditempat umum. Namun yang terlihat, Siwon justru tak peduli berada dimana mereka saat itu. Bahkan kemungkinan akan adanya seseorang yang memergoki tindakannya saat itu, lalu kemudian menyebarkan berita yang bisa saja menjatuhkan nama baiknya sebagai seorang pria dewasa yang sudah seharusnya menjaga tingkah lakunya didepan khalayak, masih tak mengusiknya untuk setidaknya sebentar saja menghentikan lumatannya terhadap bibir Yoona.

Siwon mengerang..
Yoona terengah setelah desah tertahan lolos dari bibirnya, hingga suara deringan ponsel yang akhirnya menjadi penyelamat yang memaksa keduanya untuk tersadar dan mengakhiri ciuman yang tengah mereka lakukan..

Yoona dengan segera membenarkan rok nya yang menyingkap, dengan perasaan kikuk. Lalu mengalihkan rasa berdebar dari jantungnya dengan mencari-cari sumber dari suara dering ponsel yang pasti berada disekitarnya..

“Apakah itu ponselmu, sajangnim?”

Yoona bahkan sepertinya menjadi tak mengenali jenis suara ponselnya sendiri..

“euh.. bukan, ponselku ada disitu..”

Siwon yang tak kalah kikuk, menunjuk pada ponselnya yang tergeletak diatas dashboard mobilnya dan sedang tidak menunjukkan ada suara yang berasal dari sana. Kemudian ia menoleh kebagian jok belakang, dimana tas tangan Yoona berada disana. Sedari tadi benda itu memang telah tergeletak disana. Yoona sengaja meninggalkan itu, sementara Siwon juga tidak membawa ponselnya dan hanya mengantongi dompet miliknya saja.

“Pasti itu berasal darisana, ponsel milikmu..”

Siwon yang lantas menggapai tas itu, kemudian memberikannya pada Yoona..

Memasukkan boneka yang sedari tadi berada dalam genggaman tangannya kedalam tas itu, Yoona menukarnya dengan mengambil ponselnya yang masih terus berdering.

“Oh, Amber..”

Ia kemudian menatap pada Siwon..

“jawablah..”

Ucap Siwon kemudian, masih terus memperhatikan pada Yoona yang kemudian menjawab panggilan dari Amber..

“yobseyo.. Oh, ne.. Amber ssi..”

“Ya Tuhan, nona.. Anda berada dimana? Kenapa sejak tadi tak menjawab ponselnya..”

“nde.. Aku, aku.. emm.. Apa kau mencoba menghubungiku sejak tadi? Wae? Yuri oenni baik-baik saja kan?”

Siwon dapat melihat raut wajah Yoona yang segera berubah cemas..

“Karna itu saya terus mencoba menghubungi.. Nona Yuri masih berada dirumah sakit sampai sekarang, dia mengalami pingsan tadi..”

“Apa? Amber ssi.. Apa yang terjadi pada Yuri oenni?”

“sebaiknya anda cepatlah datang, nona..”

Yoona langsung memutus sambungan telponnya dengan Amber, dan saat itu pula Siwon dapat melihat gurat-gurat kepanikan diwajahnya.

“Apa yang terjadi?”

“Sajangnim, ayo cepat kerumah sakit.. Oenni, Yuri oenni.. Amber mengatakan Yuri oenni pingsan..”

“Apa? Pingsan?”

Dengan tanpa menunggu lagi, Siwon lantas menjalankan mobilnya, memacunya diatas kecepatan rata-rata dengan sesekali menoleh pada Yoona dan mengatakan kalimat-kalimat untuk menenangkan kegelisahan gadis itu.

Tiba dirumah sakit pada sekitar tiga puluh menit setelahnya, Yoona nyaris berlari ketika memasuki rumah sakit dan segera mencari keberadaan Amber disana. Ia menemukan Amber berada dibarisan kursi tunggu disana..

“Amber ssi..”

“Oh, nona..”

Amber segera berdiri dari duduknya, sedikit membungkukkan tubuhnya setelah melihat kehadiran Siwon yang datang bersama Yoona saat itu.

“Apa yang terjadi Amber ssi? Ada apa dengan oenni ku? Mengapa dia bisa pingsan?”

Yoona mengatakan pertanyaan beruntun, tapi tak menunggu ataupun membiarkan Amber menjawab dengan mengatakan kejadiannya. Ia langsung menuju pada salah satu ruangan dimana saat itu ia melihat seorang suster yang baru saja keluar dari dalamnya.

“Suster, Apa oenni ku berada didalam?”

sang suster yang sempat sedikit terkejut dengan keberadaan Yoona, kemudian dapat mengenalinya sebagai salah seorang yang memang biasa menemani Yuri selama berada disana.

Sang suster lantas mengangguk mengiyakan..

“Apa yang terjadi, suster? Bagaimana dengan oenni ku?”

“saya baru saja mengganti cairan infus nya, nona.. Nona Yuri masih belum sadar..”

Yoona tak menunggu penjelasan suster itu lagi. Ia dengan segera membuka pintu didepannya dan kemudian dibuat terkejut dengan keberadaan seseorang didalamnya.

Seorang pria yang pada saat itu berada disisi tempat tidur kakaknya, yang sedang menggenggam tangan Yuri dan menatap sang kakak dengan penuh kekhawatiran dimatanya.

Yoona tertegun melihatnya..

Oh, siapa kah dia?

Namun kemudian, pria itu sepertinya menyadari keberadaannya. Ia menoleh dan langsung melepaskan tangan Yuri dari genggaman tangannya serta sedikit menjauh darinya.

Yoona kemudian dapat mengenali pria itu..

“Tuan, Yoochun ssi..”

Pria itu tersenyum dan kemudian mengangguk..

“Apa yang anda lakukan disini?”

Yoochun melihat pada Siwon yang menyusul Yoona masuk kedalam kamar itu, dan tak sempat memberi Yoona penjelasan atas keberadaannya disana ketika kemudian Yoona menyadari pergerakan dari tangan Yuri yang menyertai kerjap pada kedua matanya yang tertutup.

“Oenni ya.. Oenni ya, kau sudah sadar? Oenni ya.. Syukurlah..”

Yoona yang telah menggenggam tangan Yuri, tak dapat mengendalikan airmata nya yang kemudian menetes kala mengetahui betapa pucat nya wajah sang kakak ketika itu.

“Oenni ya, kau baik-baik saja kan? aku begitu khawatir padamu..”

Entah apa yang kemudian membuat Yuri menarik tangannya lepas dari genggaman tangan Yoona dan membuat sang adik terkesiap oleh karna apa yang dilakukannya.

“Oenni ya..”

“Siwon..”

Yoona kembali menjatuhkan airmata, sesak ia rasakan menghimpit kuat pada bagian dadanya mengetahui Yuri tak hirau dengan keberadaannya dan justru mengalihkan perhatiannya pada Siwon yang lantas mendekat, membuat Yuri kemudian melakukan pergerakan untuk memeluknya.

Tuhan..
Ada apa lagi dengan oenni nya?

“Siwon..”

“Aku disini, Yuri-ah..”

“Jangan pergi.. Jangan meninggalkanku..”

Bukan hanya Yoona yang merasakan sakit saat melihatnya, tapi juga Yoochun yang telah sekian lama menunggui Yuri tersadar, tapi keberadaannya disana justru terasa terabaikan…

*

*

*

*

*

To Be Continued~

*maaf untuk keterlambatan memposting cerita ini ya.. #Thanks

@joongly

223 thoughts on “| At First Sight | 20

  1. yuri eonni tau kebenarannya?? oh my😮
    trs gmn dong nasibnya yoong eonni??
    yoonwon emg bnr2 pasangan yg konyol, kaya kencan pertama mereka yg ala2 abg labil gitu..
    dan siwon oppa bnr2 pria mesum, knp dia selalu pengen nyium yoong eonni

  2. Gara” sica yuri euh….nyebelin. Setelah seharian melakukan ala kenca pria dewasa dan gadis belia yg menyenagkan serta sweet gx ketulungan harus berakhir dengan kecemasan. Tp setidak’y d part ini saya tau kenapa bibir oppa kemaren luka. mungkin klo dia melakukan adegan kiss gx mikir tempat dan durasi waktu. sampe segitu ya hot kiss #bhakkk yuri piss jangan hancurin yoonwon kasihanilah adik mu yg cute itu. semngat aja ding

  3. Aihs lebay bgt sih yuri ini, knp kuga gak sembuuh sembuh ah cape deh, kesian yoona selalu salah, bakal gimana nih yuri ntr secara dia dah tau semuax bakal marah benci or gimana nih, yoona juga sih pake boong panjang kan jd masalahx

  4. Terlepas dr sikap yuri nantinya kpd yoona.. Part ini bnar2 menyenangkan sekaligus membahagiakan..

    Omoo yoona sigadis belia itu menggemaskan sekali, eoh ..
    Siwon bisa nurut ajh nglakuin hal2 konyol seksligus manis sprti itu.. Hihi kerenn.. Kerennn..

  5. ck sikapnya yuri bener2 kekanakan. udah tau yoong itu tunangannya wonppa. masih aja nyari perhatian ke wonppa. kasian kan yoong yg tdinya seneng bgt karna selesai kencan sama wonppa eh malah liat pemandangan yuri yg meluk wonppa.

  6. part yg manis..wkwkk
    kayanya siwon udah cinta mati sama si gadis belia… bahkan dia mau ngelakuin hal yg di anggap siwon tidak cocok untuk pria dewasa seperti diri nya (kencan) hanya untuk nyenengin hati nya yoona…juga kejutan yg manis di hari yoona masuk universitas

  7. Kencan pertama yoonwon seruu dan mereka udah mulai berani yaa
    Hihi
    Kan yurii tahu semuanya..
    Gmn nasib persaudaraan merekaa

  8. so sweet banget kencan siwon dan yoona.tpi bru sebentar eh ad lagi yg ngganggu .dan yuri langsung syok saat tau kebenaran nya bahwa yoona adalah tunangan siwon .apa yg akan dilakukan yuri selanjutnya ..bikin penasaran banget ceritanya

  9. Ah,,,,nyebelin ne gara2 sica,,,yuri kan jadi sakit hati ma yoona,,,krn hasutan sica paling tuh,,,kasihan yoona nya dia pst terluka,,,liat sikap yuri skrng.

  10. Iish siwon, hampir aja luoa diri, hahaha
    Untunh handphonenya bunyi, jadi kembali sadar, yg sabar bg siwon, nunggu sah dulu ya, wkwkwk
    Yuri akhirnya tau tuh, mana taunya dari jessica lagi bukan dari yoona langsung, kasian mereka berdua harus terlibat perang saudara dan gak ada yg bisa disalahin dalam hal ini karena pada dasarnya ini berawal dari rasa kasih sayang yang terlalu besar sang adik pada kakaknya..

  11. Aih,baru aja yoona dan siwon menikmati kencan yg pastunya membawa kebahagiaan bagi mereka berdua,tapi justru mendapat berita klo yuri pingsan..
    Pasti setelah ini yoona akan bersedih lg..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s