Fanfiction

| At First Sight | 19

Happy Reading~

*

*

*

*

*

Amber sedang berada diluar kamar Yuri ketika itu. Memperhatikan gadis itu yang kini duduk dipinggiran tempat tidur, sedang menatap cemas pada Yoona yang tengah tertidur disampingnya. Entah apa yang berada dipikirannya. Namun sebelumnya Amber melihatnya menangisi Yoona, setelah melihat sang adik pulang dalam keadaan berjalan dengan kaki terpincang, akibat dari luka terkilir dipergelangan kakinya. Meski Yoona telah meyakinkannya bahwa ia hanya mengalami terkilir saja, namun hal itu tetap tak menyurutkan airmata Yuri yang terus mengalir.

Amber menilai Yuri memang cenderung lebih sensitif dan sangat mudah meneteskan airmata. Apalagi bila hal itu berkaitan dengan Yoona.

Amber menghela napasnya..

Oh, dia hanya tak tahu..
Betapa orang-orang yang berada dirumah itu sangat menyayangi adiknya. Bahkan Ny.Choi yang begitu terlihat ketus, sebenarnya sangat memanjakan gadis itu layaknya putri kandungnya.

Amber kembali menghela napasnya..

Dalam hati ia ikut berdoa, semoga Yuri tidak akan terlukai bila suatu hari nanti dia mengetahui keadaan yang sebenarnya. Hubungan kasih sayang persaudaraan diantara keduanya yang begitu erat, terlalu indah untuk dirusak oleh sebuah kebohongan yang diatas namakan kebaikan.

Semoga..
Semoga gadis itu akan mengerti.

Menutup pintu kamar itu dengan perlahan-lahan, Amber berniat untuk beranjak, namun kemudian getaran ponselnya yang menandakan panggilan dari seseorang, sejenak menghentikannya.

“Ne, sunbae..”

Jawabnya setelah tahu siapa yang pada saat itu menghubunginya.

“Bagaimana keadaan Yuri, dia sudah tertidur?”

“Dia sudah berada dikamarnya, duduk diatas tempat tidur, tapi sepertinya dia belum akan tidur.. Oh, sunbae.. Apa kau sudah kembali?”

“Aku baru saja mendarat, aku berada didepan sekarang..”

“Oh, benarkah.. Apakah aku perlu keluar?”

“Tidak.. Tidak perlu, hanya tetaplah berada disana dan mengawasi gadis ku..”

Amber kemudian justru menertawai bagaimana pria itu menyebut Yuri.

“Jangan menertawaiku seperti itu.. Kau akan tahu aku bisa melakukan itu..”

“hm, baiklah.. Aku akan mempercayainya. Tapi sunbae.. Bagaimana dengan perjalananmu?”

Amber mendengarkan ketika pria itu kemudian menceritakan apa yang dalam seminggu terakhir dikerjakannya. Hal yang kemudian membuatnya menunda rencananya untuk mendekati Yuri, karna sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaannya yang pada akhirnya harus membuatnya berada diluar negri.

“Kau pasti lelah, sunbae.. Mengapa kau tidak pulang saja dan beristirahat”

“Aku akan melakukannya nanti.. Sekarang tolong ceritakan padaku. Mengapa Yuri masih belum tidur?”

Amber mendesah sesaat, sebelum kemudian menceritakan sedikit yang diketahuinya yang disimpulkannya sendiri sebagai penyebab Yuri masih terjaga saat itu.

“Jadi dia sedang menunggui adiknya?”

“Ya, seperti itulah. Nona Yoona mengalami terkilir pada pergelangan kakinya, entahlah apa yang terjadi, kami berpisah dirumah sakit siang tadi dan dia bersama dengan tuan muda Choi yang mengatakan bila nona Yoona harus menemui Nyonya. Dan pada saat dia pulang bersama dengan Tuan dan Nyonya tadi, keadaannya sudah seperti itu”

“Dia pasti merasakan cemas karna itu”

Amber sedikit membuka kembali pintu kamar Yuri dan melihatnya yang sudah berbaring, namun masih belum tertidur. Yuri terlihat menggunakan tangannya untuk mengusap dan menyentuh kepala hingga wajah Yoona, kedua matanya pun tak lepas menatapnya.

“Dia sudah berbaring, aku rasa dia akan segera tertidur..”

“Aku harap dia akan tidur dengan nyenyak malam ini”

Amber justru tersenyum mendengarnya..

“Sunbae, kau tahu.. Ini baru pertama kali kualami. Aku masih tak percaya, sebagai seorang agen yang disewa, kau justru merasakan jatuh cinta pada gadis yang kau tangani kasusnya. Apakah mungkin nona Yuri juga telah bisa menghapus kisah cinta pertama mu yang membuatmu terluka?”

Amber tidak mengetahui bila dibalik sambungan telpon itu, sang pria yang sejak beberapa saat yang lalu mengobrol dengannya, kini sedang tersenyum setelah mendengar apa yang pada saat itu ditanyakannya.

“kau hanya tak tahu, Amber..  siapa gadis yang menjadi cinta pertamaku itu..”

“Kau tidak pernah mengatakan padaku, sunbae.. Apa akhirnya sekarang kau akan mengatakan siapa dia?”

Sang pria justru sesaat tertawa mendengarnya, Ia sudah merasa terpancing dan sepertinya akan mengatakan siapa gadis itu padanya, namun kesadarannya akan sebuah mobil yang berhenti dibelakang mobilnya dan dengan cepat sang pengemudi turun dari dalamnya, membuat pria itu sedikit terkejut saat mengetahui pengemudi mobil itu, yang adalah Siwon, yang sudah ia kenal dan sebaliknya, mengenal dirinya. Kini dalam langkah mendekati mobilnya.

“Aku akan menghubungimu lagi nanti..”

Putusnya pada sambungan ponselnya bersama Amber. Segera menyalakan mesin mobil untuk kemudian pergi, namun ternyata tak cukup cepat untuk dapat melajukan mobilnya, karna Siwon nyatanya telah berada tepat disamping mobilnya dan mengetuk-ngetuk pada bagian jendela kacanya.

Mau tak mau ia kemudian menurunkan kaca mobilnya.

“Agen Park..?”

Ia menatap keterkejutan dari Siwon saat itu dan membalasnya dengan senyum, lantas mematikan mesin mobilnya. Ia berpikir tidak mungkin kabur seperti seorang pengecut pada saat itu.

“Selamat malam, Tuan..”

“Apa yang sedang kau lakukan disini?”

Ia cukup kebingungan untuk menjawab pertanyaan tanpa basa basi yang dilontarkan oleh Siwon kepadanya.

“Saya.. Saya sedang bertugas, Tuan..”

“Oh, benarkah?”

Siwon jelas menangkap kegugupan dan jawaban ragu-ragu dari pria itu. Tidak seperti yang selama ini diketahuinya. Pria itu selalu berkata dengan penuh keyakinan, tanpa nada keragu-raguan sedikitpun.

“Saya sedang menangani sebuah kasus, dan sedang melakukan penyelidikan. Maaf jika anda merasa terganggu dengan keberadaan saya disekitar rumah anda, saya akan segera pergi, Tuan..”

“Tunggu.. Kau tidak perlu seformal itu, Park Yoochun ssi..”

Siwon menahannya..

“Terlalu canggung mendengarmu memanggilku seperti itu sekarang. Aku bukan lagi seseorang yang menyewamu untuk melakukan penyelidikan..”

Pria itu yang disebutkan Siwon bernama Park Yoochun, adalah seorang agen yang sempat disewanya untuk mencari keberadaan Yuri dan mengusut penyebab Yuri yang mengalami depresi pada saat itu. Hingga menemukan berbagai fakta yang tidak terduga, yang sangat jauh dari apa yang diperkirakannya dan juga sangat sulit untuk diterimanya.
Namun begitu, Siwon sangat puas dengan kinerja Yoochun saat itu, dan telah membayarnya mahal untuk itu.

“Mungkin aku tidak jauh lebih pintar darimu, Yoochun ssi. Tapi aku juga tidak sebodoh itu.. Kasusmu yang sedang kau tangani saat ini, tidak mungkin tidak berkaitan denganku. Aku beberapa kali melihat mobilmu terparkir disekitar rumahku, dan kau bahkan sempat mengikuti mobilku..”

Yoochun mengingat saat waktu itu, Amber mengirim pesan singkat yang mengatakan bahwa Siwon sepertinya menyadari ia mengikutinya, dan akhirnya ia pun membelokkan arah laju mobilnya.

“Jadi mengapa kita tidak mencari tempat dan membicarakan ini? Kita jelas perlu bicara, Yoochun ssi..”

Siwon tidak perlu persetujuan dari pria itu, ketika kemudian Ia masuk kedalam mobilnya dan menduduki kursi disampingnya.

“Aku tahu tempat yang nyaman disekitar sini, kita bisa bicara disana..”

Segera saat itu, Yoochun merasa tidak akan bisa menghindar. Siwon jelas bukan seorang pria yang bisa dianggap remeh. Dia bahkan telah menaruh kecurigaan itu dimatanya.

“Kau boleh melajukan mobilmu, sekarang..”

Yoochun dengan segera melajukan mobilnya. Menuju tempat yang ditunjukkan Siwon. Tempatnya memang tak terlalu jauh, tak sampai sepuluh menit bahkan mereka telah sampai disebuah kafe, tempat yang Siwon maksud.

Siwon memilih tempat yang letaknya persis dipojok, berada jauh dari pengunjung lain dan menawarkan Yoochun untuk terlebih dulu memesan minuman yang diinginkannya. Dua kopi panas yang kemudian menjadi pilihan keduanya saat itu.

“Aku tak tahu jika kita memiliki selera yang sama..”

Ucap Siwon sedikit berbasa basi tak lama setelah seorang waiters beranjak dari sana.

Yoochun hanya menanggapi dengan senyuman tanggung, masih banyak yang diantisipasi olehnya. Terutama mengenai apa yang bakal Siwon tanyakan padanya dan apa yang nanti akan dikatakannya.

“Jadi, haruskah kita menunggu pesanan diantar terlebih dulu sebelum memulai pembicaraan?”

“Kurasa tidak, Tuan.. Kita bisa langsung berbicara sekarang? Jadi apa yang ingin anda bicarakan, Tuan?”

“Kau boleh memanggilku Siwon.. Kau membuatku merasa lebih tua dengan panggilanmu yang seperti itu..”

Yoochun tersenyum mendengarnya..

“Baiklah jika dengan begitu kau akan merasa nyaman, Siwon ssi..”

“terdengar lebih baik..”

Siwon menyandarkan punggungnya pada kursi yang didudukinya, menyilangkan kakinya dan berusaha untuk bersikap santai saat didepannya Ia justru melihat kilatan tegang yang sepertinya sedang dirasakan oleh Yoochun pada saat itu.

“Aku tidak bermaksud mengganggu investigasi mu, jika benar itu yang sedang kau lakukan disekitar rumahku. Jadi siapakah yang sebenarnya kau selidiki? Aku?”

Siwon jelas tak lagi menggunakan basa-basi. Ia cukup yakin bila Yoochun memang sedang mengawasi seseorang atau mungkin lebih yang berada dirumahnya.

“Ayahku, ataukah ibuku? Tapi kau ,mengikuti mobilku pada saat itu.. Jadi kemungkinan besar akulah yang sedang kau selidiki?”

Yoochun kembali tersenyum tanggung dan menggeleng..

“Sama sekali tidak, Tuan.. emm, maksudku Siwon ssi.. Aku bukan menyelidikimu. Jika memang kau lah yang pada saat ini sedang menjadi target penyelidikanku, aku pastinya akan berada disekitar kantormu. Bukankah kau lebih banyak menghabiskan waktumu disana..”

Siwon tanpa sadar mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Yoochun pada saat itu. Sedikit terjadi jeda diantara keduanya, saat seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka.

“Aku tidak tertarik untuk berteka-teki, jadi siapa sebenarnya yang sedang kau selidiki, Yoochun ssi?”

“Apakah anda percaya jika saya mengatakan tidak sedang melakukan penyelidikan?”

“Kau sendiri yang mengatakan itu sebelumnya padaku..”

“Aku akan meralatnya..”

Siwon berkerut dahi samar mendengarnya..

“Jadi?”

“Aku hanya ingin melihat seseorang..”

Yoochun sesaat menghembuskan napasnya, mungkin tak ada salahnya bila ia mencoba mengatakannya pada Siwon saat itu, dari pada pria itu berpikir dirinya sedang menyelidiki keluarganya.

“Siapa?”

Tanya Siwon kemudian, jelas tak dapat menerima jawaban yang mengambang.

“Yuri.. Aku ingin melihatnya..”

Yoochun kembali tersenyum tanggung kearah Siwon yang sepertinya terkejut, atau mungkin hampir tidak percaya mendengarnya.

Pria itu, Yoochun bukan tak memiliki cerita. Nyatanya, jauh sebelumnya Ia telah mengenal Yuri. Ia terpesona, terpikat dan akhirnya jatuh cinta pada Yuri dengan kecantikan polosnya diusia remaja.

Yuri masuk kedalam sekolah yang sama dengan Yoochun kala itu. Ia berada di dua tingkat dibawahnya. Tidak lama sampai kemudian kepopuleran gadis itu terdengar. Yuri tidak hanya bermodal wajah yang cantik, tapi juga dibekali dengan otak yang pintar. Hingga meski berasal dari keluarga sederhana, Ia tak banyak diremehkan oleh siswa-siswi lainnya yang kebanyakan berasal dari kalangan diatasnya.

Sampai pada suatu hari ketika Yoochun berada dimasa-masa terakhirnya bersekolah disana, ia menyatakan perasaan cinta nya terhadap Yuri. Namun sayangnya, Yuri menolaknya. Gadis itu mengatakan masih belum mau memiliki kekasih, dengan alasan keinginannya untuk berkonsentrasi terhadap sekolahnya, mempertahankan nilai terbaiknya agar terus dapat membesarkan hati kedua orangtua nya.

Entah itu alasan yang sesungguhnya, ataukah penolakan halus yang sengaja Yuri katakan karna gadis itu tidak menyukainya. Yang jelas, Yoochun menerima penolakan itu dan membiarkan hatinya terpatahkan oleh karna apa yang dikatakan Yuri pada saat itu.

Karna itu pulalah Yoochun kemudian menyetujui permintaan sang ayah, yang menginginkannya untuk menjalani pelatihan diluar negri.
Sang ayah adalah pemilik perusahaan yang menyediakan jasa pengamanan dan sekaligus memiliki beberapa orang khusus yang dipersiapkan untuk klien yang memerlukan investigasi. Dan berharap kelak, Yoochun akan menjadi penerusnya.

Sang ayah tidak main-main untuk mempersiapkannya, membuat Yoochun bertahun-tahun harus menjalani pelatihan diluar negri. Ditempat pelatihan itulah, setahun sebelum ia keluar, Yoochun bertemu dengan Amber yang menjadi juniornya disana. Gadis tomboy itu entah mengapa kemudian menjadi dekat dengannya. Namun keduanya harus berpisah ketika Yoochun akhirnya bisa keluar darisana.

Berharap setelahnya ia bisa kembali pulang ke negaranya, tapi sang ayah justru masih belum mengijinkannya pulang, Yoochun justru mendengar langsung sang ayah yang mengatakan dirinya telah didaftarkan menjadi agen FBI.

“Aku mengenal beberapa orang disana, tenanglah.. Mereka akan mengawasimu dan aku hanya ingin melihat sejauh mana kemampuan yang kau dapatkan dari pelatihan yang bertahun-tahun telah kau jalani..”

“Tapi appa, tak cukupkah pelatihan yang kujalani bertahun-tahun itu sebagai bukti?”

Suara tawa dari sang ayah justru didengarnya saat itu.

“Tentu saja itu belum cukup anakku, kau belum benar-benar berada dilapangan.. Situasinya akan berbeda dengan yang berada dipelatihan”

“Jika seperti itu, kenapa appa mengirimku masuk kepelatihan? Kenapa tidak langsung membuangku ke lapangan?”

gerutuannya kala itu justru ditanggapi gelak tawa yang semakin kencang dari ayahnya.

“Teori jelas juga diperlukan Yoochun ah.. Kau tahu, Kau yang akan menggantikan posisiku. Aku ingin kau memiliki kemampuan lebih daripada aku..”

“Tapi aku merindukan oemma..”

“Dalam hitungan jam, kau akan melihatnya. Ibumu sedang dalam penerbangan untuk bertemu denganmu..”

Yoochun merasakan saat itu sang ayah yang benar-benar sedang menempanya. Hampir dua tahun ia menjadi agen FBI dan terlibat dalam menangani berbagai penyelidikan, hingga sang ayah akhirnya memintanya untuk kembali.

Bukan menempati langsung kursi kepemimpinan perusahaan ayahnya yang ternyata berkembang pesat, Yoochun memilih untuk menjadi salah satu agen disana dan terlibat langsung dengan banyak karyawan lainnya. Hal yang kemudian mengingatkannya pada Amber, dan akhirnya meminta ayahnya untuk menghubungi gadis tomboy itu, agar mau bekerja disana. Jadilah, Amber berada dalam daftar orang yang siap untuk melakukan pengamanan, dan jasanya kini, menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang disewa oleh keluarga Choi.

Sementara Yoochun, ia sendiri masih bergelut dengan posisi agen yang bertugas melakukan penyelidikan kasus yang sifatnya tertutup. Ia telah banyak disewa oleh orang-orang yang menjadi klien perusahaan ayahnya. Dari kasus-kasus kecil dan bahkan dianggapnya konyol, seperti kasus perselingkuhan, sampai pada kasus besar, semacam rekayasa pembunuhan.

Sampai kemudian sang ayah memberikan padanya klien khusus yang dikatakannya menjadi salah satu klien yang banyak menyewa orang-orangnya, yaitu keluarga Choi. Maka dihari itu, Yoochun secara langsung berbicara dengan Siwon dan akhirnya bertemu dengan pria itu dikantornya.

Siapa sangka, bila Siwon pada saat itu menyodorkan sebuah foto yang teramat sangat dikenalnya. Yoochun jelas tak akan pernah lupa dengan pemilik wajah itu, Yuri.

Maka kemudian, Ia berusaha untuk mengontrol keterkejutannya dan menyimak berbagai penjelasan Siwon yang mengatakan gadis itu menghilang setelah pada malam sebelumnya keduanya terlibat dalam pembicaraan pribadi yang berakhir dengan tangisan Yuri saat meninggalkannya. Dan dipagi harinya, Siwon justru menemukan surat pengunduran diri yang dikirim Yuri diatas meja kerjanya.
Dari Siwon pula, ia akhirnya mengetahui jika Yuri tak lagi memiliki orangtua.

Yoochun bukan tidak merasakan apa-apa. Ia sendiri pun heran, mengapa sesuatu didalam hatinya masih saja bergejolak ketika mendengar nama Yuri. Dan fakta bahwa gadis itu justru sedang tidak diketahui keberadaannya, membuatnya bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Penyelidikan dilakukannya, dan temuan pertama yang didapatkannya adalah keberadaan Yuri yang ternyata ditempatkan disebuah kamar didalam rumah sakit jiwa.

Hatinya seakan diremas hingga membuatnya kesakitan, ketika akhirnya dengan kedua matanya sendiri Ia melihat Yuri benar-benar berada disana. Berteriak, menjerit histeris saat ia mencoba untuk mendekatinya.

Yuri, cinta pertamanya..
Nyatanya justru tidak lagi mengingat apalagi mengenali dirinya.

Lebih dari sekedar menjalankan tugas, lebih dari sekedar kepeduliannya terhadap Yuri, Yoochun memang memiliki niat kuat untuk mengungkap apa yang terjadi sebelumnya yang menjadi penyebab traumatik hingga depresi berat yang dialami oleh Yuri.

Berbagai hal dilakukannya, mulai dari mengorek informasi dari beberapa pekerja dirumah sakit, membuntuti dua nama yang sebelumnya disebutkan oleh Siwon, yaitu Yoona dan Donghae, hingga sampai menyisir cctv yang berada di jalan-jalan yang berkemungkinan dilewati oleh Yuri.

Hingga kemudian, beberapa rekaman dari cctv yang ditemukannya menguatkan dugaannya pada sang pria bernama Donghae yang memiliki kemungkinan kuat mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada Yuri.

Sempat kehilangan jejak keberadaan Yuri yang entah karna apa tiba-tiba dipindahkan dari rumah sakit jiwa itu, membuat Yoochun merasa bersalah dan menilai dirinya lalai, meski rasanya sudah hampir dua puluh empat jam ia mengawasi, jika pun tidak, ia selalu menempatkan beberapa pekerja diperusahaan ayahnya untuk berjaga-jaga disana.

Terlibat dengan perasaan cemas pada kemungkinan yang terjadi pada Yuri, sempat juga membuatnya panik. Namun dengan pengalamannya menyelidiki berbagai kasus, ketenangan itu kembali didapatkannya. Dan meneruskan penyelidikan tidak lagi dianggapnya sebagai tugas dari klien, melainkan keharusan untuk dilakukannya.

Ia menyelidiki berbagai tempat yang kemungkinan menampung Yuri disana, dan bahkan sampai menyelidiki daftar orang-orang yang pergi keluar negri setelah Siwon menginformasikan bahwa Yuri telah dipindahkan kesana.
Namun hasilnya nihil, Yuri tidaklah dipindahkan keluar negri. Melainkan disembunyikan oleh seorang pria yang sangat dekat dengan Yuri sebelumnya, seorang sahabat yang tergila-gila padanya. Seorang yang ternyata adalah psyco yang telah tega berbuat bejat terhadapnya.

Mengetahui hal itu, membuat Yoochun benar-benar meradang. Andai saja ia bisa membaca masa depan, Ia tidak akan meninggalkan gadis itu sekalipun Yuri menolaknya. Ia tidak akan menerima tawaran sang ayah untuk mengikuti pelatihan diluar negri. Ia pasti akan menjaga Yuri dan tidak akan membiarkannya dekat dengan seorang psyco.

Yoochun menyayangkan betapa kemalangan Yuri terjadi setelah ia meninggalkannya.
Yuri yang kehilangan orangtua nya..
Yuri yang harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan juga seorang adik yang dimilikinya..
Hingga Yuri yang menerima perlakuan bejat dari pria yang mengatakan cinta dan sudah seharusnya melindungi, bukan justru merusaknya. Membuat Yoochun merasa nelangsa hingga sampai menjatuhkan airmatanya.

Ia sudah akan bertindak sendiri pada saat Siwon menolak untuk menerima informasi darinya. Dan untunglah tak lama saat itu Siwon kembali menghubunginya, dan mencegahnya dari niatan membunuh yang sudah terbersit didalam pikirannya. Hingga yang terjadi, kecelakaanlah yang justru membunuh pria yang sangat ingin dibunuhnya. Namun penyesalannya, kecelakaan itu juga membuat Yuri kian terluka.

Selama Yuri dirawat dirumah sakit, Yoochun tak pernah absen untuk melihatnya dan mencari tahu perkembangan kondisinya. Hal itu yang kemudian disadari, bahwa..
Cinta nya masih ada..
Cinta nya pada Yuri yang disangkanya telah mati lantaran terkubur sekian lama, nyatanya akarnya masihlah tertanam dengan kuat. Hingga sampai memunculkan lagi tunas yang semakin lama semakin bertumbuh.

Tak perduli dengan keadaan Yuri saat ini. Tak perduli dia mengenalinya atau tidak. Tak perduli dengan siapa pria yang diinginkan Yuri untuk bersama dengannya. Yoochun bertahan dengan cintanya pada gadis itu. Cintanya pada Yuri rasanya tidak akan bisa mati meski gadis itu tidak membalasnya.

Ia tulus dengan perasaannya..
Ia ingin melihatnya sembuh..

Maka kemudian, melalui Amber, ia mulai dengan mengirim buket-buket bunga serta menuliskan kalimat-kalimat penyemangat untuknya, yang perlahan-lahan membuat Yuri menunjukkan senyum diwajahnya. Meski Yoochun sempat pula merasa kecewa lantaran Yuri salah menafsir tentang siapa pengirim bunga itu yang selalu dianggapnya Siwon, namun nuraninya yang telah tergerak kemudian mencoba untuk tidak memperdulikan itu. Yang terpenting adalah ia bisa melihat senyum itu diwajah Yuri.

“Jadi sebenarnya kau sudah mengenal Yuri? Dan kau.. Kau adalah pewaris perusahaan jaringan keamanan yang dimiliki ayahmu?”

Yoochun sesaat menghela napas dan kemudian mengangguk menanggapi pertanyaan dari Siwon, setelah ia menyelesaikan ceritanya pada pria itu.

“Kau jelas bukan agen biasa, Yoochun ssi.. Kenapa kau membiarkanku bersikap keras padamu saat itu? Kenapa kau tidak mengatakan semua ini sebelumnya? Atau sebenarnya kau tidak akan mengatakannya jika aku tidak memergokimu tadi?”

Yoochun tersenyum mendengarnya..

“Mungkin akan seperti itu, Siwon ssi.. Dan aku menyukai caramu bersikap padaku. Aku ingin kinerjaku dinilai dengan benar.. Kau bisa marah saat aku melakukan kesalahan, dan itu menjadi koreksi tersendiri bagiku.”

“jadi apa yang bisa kubantu sekarang?”

Pertanyaan dari Siwon tadi membuat Yoochun mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan maksudnya.

“Atau kau akan terus seperti ini? Tidak inginkah kau menunjukkan dirimu secara langsung didepannya? Mungkin Yuri akan bisa mengenalimu nantinya”

“Aku ingin melakukannya, tapi aku masih belum menemukan cara yang tepat untuk memulainya..”

“Ayo, ikut denganku.. Aku akan membantumu”

Siwon sudah berdiri dari duduknya ketika kemudian Yoochun menahannya.

“Kau bisa kerumahku.. Aku akan memperkanalkanmu sebagai temanku..”

Yoochun kembali menunjukkan senyum mendengarnya.

“terimakasih Siwon ssi.. Kurasa tidak bisa sekarang. Ini sudah terlalu malam. Yuri juga sudah tertidur. Aku tak ingin mengganggunya”

Siwon menyeringai mengetahuinya..

“Dan kau juga tau apa yang Yoona minta untuk kulakukan?”

Yoochun menganguk..

“Aku tidak akan terkejut, kau benar-benar tahu segalanya, Yoochun ssi..”

“Tidak segalanya Tuan.. sebagian aku mendengarnya dari Amber..”

Balas Yoochun sambil mengikuti Siwon yang telah lebih dulu berdiri dari duduknya.

“Ya Amber.. Jadi selama ini dia yang membantumu?”

“Dia memang banyak membantuku..”

“Siapa lagi orang-orang yang berada dibelakangmu? Apa semua pengawal yang disewa ayahku dari perusahaan ayahmu, untuk bekerja dirumahku juga termasuk diantaranya?”

“Tidak.. Aku tidak memanfaatkan mereka, Siwon ssi.. Hanya Amber yang melakukannya”

“Baiklah jika seperti itu.. Kurasa sudah cukup penjelasan darimu..”

“terimakasih untuk mau mendengar ceritaku.. Dan aku akan menunggu tawaranmu dilain waktu”

Keduanya akhirnya mengakhiri pembicaraan itu dengan keluar dari dalam kafe itu dan kembali kedalam mobil. Yoochun terlebih dulu mengantar Siwon hingga depan pagar rumahnya, sebelum kemudian ia pergi melaju dengan mobilnya.

***

Yoona tersentak dari tidurnya ketika mendengar suara teriakan dari Yuri yang berada disebelahnya. Sang kakak tengah terduduk, dengan tatapan nyalang yang entah mengarah pada siapa. Juga wajah yang berkeringat dan napas yang terengah-engah..

“Oenni ya..”

Yoona seketika dihinggapi kecemasan melihatnya. Ia lantas beringsut untuk memeluknya dan merasakan betapa tubuh Yuri menegang penuh kewaspadaan.

“Siwon.. Siwon.. Dimana Siwon? Dimana Siwon..?”

“Oenni ya.. Waegurae oenni?”

“Dimana Siwon..? Katakan dimana Siwon..”

“Oenni..”

Yoona menjatuhkan airmatanya ketika kemudian Yuri menyentakkan lengannya, dan malah mencoba turun dari atas tempat tidur.

Yoona sempat mencegahnya dengan meraih tangan Yuri, namun Yuri kembali menyentakkannya..

“Siwon.. Dimana Siwon..?”

Yuri semakin terlihat panik, Ia lantas turun dari atas tempat tidur. Tak sadar dengan kondisi kakinya yang masih belum mampu menopang tubuhnya, yang kemudian membuatnya terjatuh disisi tempat tidur..

“Oenni ya.. Yuri oenni!!”

Yoona menjerit melihatnya, Ia dengan segera melompat turun dari atas tempat tidur, meski nyeri pada kakinya yang terkilir masih terasa sakit saat ia melakukannya. Namun Yoona jelas mengabaikan itu demi untuk menenangkan Yuri.

Keadaan Yuri yang stabil dalam beberapa hari belakangan, dan cenderung semakin baik dalam setiap harinya, membuat Yoona mengira bahwa sang kakak sudah tidak akan mengalami mimpi buruk lagi. Lalu apa yang kemudian membuat Yuri terlihat terguncang saat ini?

“Oenni ya.. Gwechana oenni..”

“Nona ada apa?”

Yoona masih berusaha mendekap tubuh Yuri, saat kemudian Amber membuka pintu, disusul dengan Siwon yang menunjukkan raut wajah cemas melihatnya.

“Apa yang terjadi?”

Siwon mempertanyakan ketika ia telah mendekat, dan Yoona hanya bisa menggeleng dan terisak.

“Yuri ssi..”

Siwon lantas menyentuh bahu Yuri untuk menyadarkannya. Yuri dengan segera merespon, menatapnya dan kemudian menghambur kedalam pelukan Siwon.

“Apa yang terjadi Yuri ssi..?”

“Aku takut.. Siwon aku takut..”

“tidak ada yang perlu kau takutkan, tenanglah..”

“Tapi mereka datang untuk menyakitiku”

“Siapa mereka? Tidak ada seorangpun yang akan menyakitimu, Yuri ssi.. Tenanglah, kau hanya bermimpi. Kembalilah tidur..”

Yuri menggeleng dan makin memeluk Siwon dengan erat..

“Aku takut..”

“sst.. Apa kau tidak mendengarku? Kau hanya bermimpi. Tidurlah, aku akan disini menjagamu..”

Siwon yang lantas membopong tubuh Yuri untuk kembali berbaring diatas tempat tidur, dan  Yoona yang kemudian memasangkan selimut untuknya.

“Kau akan tetap disini kan?”

Mendengarnya, Yoona lantas berniat untuk beranjak dan membiarkan Yuri hanya bersama dengan Siwon. Mungkin dengan begitu, sang kakak akan menjadi lebih tenang. Namun tanpa diduga olehnya, Siwon justru menyelipkan tangan untuk menahan pergelangan tangannya.

“Kau juga sebaiknya kembali tidur, Yoona.. Aku yakin kakimu masih belum sepenuhnya pulih”

“Aku akan keluar sebentar untuk mengambil air minum untuk Yuri oenni”

Yoona berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Siwon, namun pria itu justru makin erat memeganginya.

“Amber bisa melakukannya.. Amber ssi tolong..”

“Saya mengerti Tuan..”

Amber dengan cepat keluar dari dalam kamar itu. Sementara Yoona hanya bisa berdiri kaku dengan sebelah tangannya yang masih dipegang oleh Siwon.

Pria itu memang masih terus menatap pada Yuri, namun dibelakang tubuhnya tanpa sepengetahuan Yuri, tangannya menggenggam erat pergelangan tangan Yoona, mencegah agar gadis itu tak beranjak kemana-mana.

“Kembalilah tidur, Yoona.. Maaf, aku membuatmu terbangun”

Ucapan Yuri yang lantas membuat Yoona mengangguk, Siwon pun kemudian melepaskan pergelangan tanganya untuk membiarkan Yoona melangkah kebagian sisi tempat tidur yang lain, sebelum kemudian naik dan berbaring diatasnya.

“Siwon..”

“Tidurlah.. Aku akan berada disini”

Siwon lantas duduk dipinggir tempat tidur, disisi tubuh Yuri.

“Siwon..”

“hm..”

“Apakah aku bisa mendengar kau mengatakan sesuatu padaku?”

“tentu saja, apa yang ingin kau dengar dariku..”

“Katakan jika kau mencintaiku..”

Mendengar hal itu seketika Siwon mengarahkan tatapan matanya pada Yoona. Yoona yang kini tengah memposisikan tubuhnya untuk berbaring miring membelakanginya dan juga Yuri, dan menyusut airmata yang tiba-tiba kembali membasahi wajahnya. Ia tidak mengerti dengan perasaannya yang berkecamuk ketika itu. Sedih dan terkejut. Melihat kondisi Yuri saat itu, menyadarkannya bahwa sang kakak masihlah sangat membutuhkan Siwon melebihi apapun.

“Siwon.. Apa kau tidak akan mengatakannya? Kau tidak akan mengatakan kau mencintaiku? Aku sangat ingin mendengarmu mengatakan itu padaku..”

Siwon masih hanya terdiam. Ia teringat pada Yoochun dan pada kisah masalalu yang diceritakannya. Hingga sampai saat ini, pria itu lah yang mencintai Yuri, dan bukan dirinya.

Namun kemudian, ia teringat akan janjinya pada Yoona. Ia akan melakukan apa yang diinginkan gadis itu, termasuk menyatakan perasaan cinta jika memang itulah apa yang ingin didengar Yuri darinya.

“Kumohon, aku ingin mendengarnya..”

“Dengarkan aku Yuri ssi.. aku peduli padamu. Benar-benar peduli.. aku sangat ingin melihatmu sembuh..”

Yuri menggeleng, mengisaratkan bahwa ia menolak apa yang dikatakan oleh Siwon, karna bukan hal semacam itu yang ingin didengarnya..

“Kumohon.. hanya sekali. Aku ingin mendengarnya setidaknya untuk sekali saja..”

Siwon kembali melirik pada Yoona sebelum akhirnya bibirnya menggumam..

“Aku.. Aku mencintaimu, Yuri.. Aku mencintaimu..”

Kalimat itu yang kemudian membuat Yuri tersenyum kala mendengarnya, ia menggumamkan kata terimakasih sebelum kemudian memejamkan kedua matanya.

Sementara Yoona justru kembali menyusut airmata dari wajahnya. Airmata dari tangisnya yang tak bersuara.

Apa yang sebenarnya sedang ditangisinya?
Bukankah hal itulah yang diinginkannya dari Siwon, demi dan untuk oenni nya..

Tidak..
Ia tidak sedang menangis karna terhimpit perasaan cemburu.
Ini murni airmata kesedihannya terhadap kondisi Yuri saat itu..

***

Seohyun, dokter yang menangani masalah kejiwaan Yuri, secara khusus datang pada pagi itu. Setelah Yoona menghubunginya dan menceritakan kejadian semalam mengenai sang kakak yang kembali mengalami mimpi buruk yang mengganggu tidurnya. Dan pagi itu Yuri tiba-tiba menolak untuk pergi ke rumah sakit, hingga Yoona meminta dengan sangat kesediaan Seohyun untuk mau datang dan melakukan sesi terapi itu dirumah.

Seohyun menyanggupi dan benar-benar datang pagi itu. Mendengar apa yang sebelumnya diceritakan Yoona melalui sambungan telpon, ia mengatakan kemungkinan Yuri sedang merasakan kecemasan yang berlebih yang kemudian terbawa hingga tidurnya.

“Sebaiknya kita terlebih dulu menemukan tempat yang akan bisa membuatmu merasa nyaman, Yuri ssi..”

“Saya akan mengantar anda kehalaman belakang, dokter.. Disana, saya yakin adalah salah satu tempat yang nyaman untuk anda berbicara dengan nona Yuri..”

Usul Amber yang kemudian mendorong kursi roda Yuri keluar dari dalam kamarnya..

“dokter..”

Yoona sesaat mencegah Seohyun yang sudah akan mengikuti langkah Amber..

“hm, ada apa Yoona?”

“Apakah keadaan Yuri oenni akan kembali memburuk?”

Seohyun tersenyum menanggapi kecemasan yang pada saat itu menggurat diwajah Yoona.

“Aku harap tidak seperti itu..”

“Tapi oenni mengalami mimpi buruk lagi.. Dia panik dan ketakutan..”

“Seperti yang sebelumnya kukatakan padamu, Yuri mungkin sedang memiliki kecemasan dalam dirinya. Biarkan aku berbicara dengannya.. Aku akan mengatakan kesimpulanku padamu, nanti..”

Yoona mengangguk dan mengucap trimakasihnya pada Seohyun, sebelum kemudian membiarkan dokter itu untuk menyusul Amber yang telah lebih dulu membawa Yuri.

Setelahnya, Yoona mendudukkan tubuhnya dipinggiran tempat tidur. Ia berniat untuk mandi, tapi terlebih dulu akan melepas kain perban yang membebat pergelangan kakinya. Nyerinya memang masih terasa, tapi tidak lagi sesakit saat setelah terjatuh dan berada dikantor Siwon. Karna setelah dibawa pergi oleh Tuan dan Ny.Choi darisana, ia juga dibawa kesebuah rumah sakit untuk memeriksakan keadaan kakinya. Yang untunglah tidak separah seperti apa yang dikatakan Ny.Choi padanya. Ibu Siwon itu sempat membuatnya takut dengan apa yang dikatakannya mengenai kemungkinan-kemungkinan buruk pada pergelangan kakinya yang mungkin saja mengalami keretakan atau bahkan patah. Ibu Siwon juga terus mengomeli kecerobohan yang akhirnya membuatnya cedera.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

image

Yoona menoleh dan mendapati Siwon sedang berdiri diambang pintu kamar itu. Tersenyum kearahnya dengan setelan rapi yang telah dikenakannya. Begitu pria itu mendekat, aroma parfum maskulinnya tercium hingga membuat Yoona tanpa sadar menghirupnya dalam-dalam, dan menjadi tidak menyadari ketika Siwon kemudian berjongkok dihadapannya.

Ia baru merasakan terkesiap ketika merasakan ada sesuatu yang terasa menyengat kakinya. Meski pada saat itu yang dilakukan Siwon hanyalah meraih kakinya, dan memeriksanya.

“Bagaimana, masih terasa nyeri tidak?”

Namun efeknya, Yoona hanya mampu memberinya jawaban dengan menggelengkan kepalanya. Seolah kosakata bahasanya menghilang entah kemana.

Siwon lantas meneruskan apa yang sebelumnya coba Yoona lakukan dengan membuka gulungan perban yang melilitnya. Melakukannya dengan perlahan, yang tanpa diketahuinya hanya semakin membuat Yoona bertambah gelisah. Ia berusaha untuk menarik kakinya, namun Siwon justru memegangnya dengan erat.

“Lepaskan.. Aku bisa melakukannya sendiri..”

“Kau sudah pernah menendangku, jangan kira aku akan membiarkanmu melakukannya lagi..”

Seringai yang ditunjukkannya kemudian membuat Yoona memberengut.

“Apa yang selanjutnya akan kau lakukan?”

Tanyanya masih dengan membuka perban itu..

“Aku perlu mandi.. Aku melewatkan itu kemarin karna omonim melarangku.”

“Baiklah, kurasa aku bersedia membantu..”

“Yakk.. Sajangnim..!”

Yoona memekik saat Siwon dengan cepat membopongnya untuk mencapai kamar mandi yang berada didalam kamar itu.

“Turunkan aku.. apa yang kau lakukan?”

“Aku bersedia membantumu..”

“Aku tidak membutuhkannya, aku bisa berjalan.. Turunkan aku..!”

Yoona memukul pelan dada Siwon, namun pria itu bergeming dengan tidak menurunkannya dan justru melangkah membawanya masuk kedalam kamar mandi. Siwon baru menurunkannya dengan mendudukkan Yoona diatas dudukan kloset.

“Pertama-tama apa yang biasanya kau lakukan lebih dulu?”

Yoona memutar mata mendengarnya..

“Sajangnim, Apa yang akan kau lakukan?”

“bukankah sudah kukatakan aku bersedia membantumu..”

“dan aku juga sudah mengatakan aku tidak membutuhkan bantuanmu..”

“tapi aku memaksa.. dan kau tidak seharusnya menolak. Aku sedang dalam mood yang baik sekarang. Jadi bersikap baiklah dan jangan merusak mood-ku..”

Yoona mendengus melihat Siwon yang kemudian menggulung lengan kemejanya, dan lantas memeriksa beberapa peralatan mandi nya.

“yang mana milikmu?”

Yoona mengambil salah satu dari dua sikat gigi yang pada saat itu disodorkan oleh Siwon. Pria itu kemudian juga mengoleskan pasta gigi keatasnya. Membiarkan Yoona menggosok gigi, sementara dirinya tetap berdiri disana, tanpa sekalipun mengalihkan perhatiannya sampai kemudian Yoona menyelesaikannya.

“Kau tidak akan terus berada disini kan?”

“mengapa tidak.. Aku masih punya cukup waktu sebelum pergi..”

Yoona berdiri untuk kemudian mencoba mengusir Siwon keluar.

“Aku perlu mandi, sajangnim.. Keluarlah..”

Reaksi yang ditunjukkan Siwon jelas diluar dari prediksi Yoona. Pria itu kemudian justru mendorong tubuhnya hingga punggungnya menyentuh dinding kamar mandi yang terasa dingin. Mengurungnya dengan kedua tangan yang masing-masing berada disisi tubuhnya.

“Kenapa kau tidak membiarkanku berada disini?”

Yoona membulatkan mata mendengarnya.
Oh..
Apakah pria ini kembali kerasukan?
Dia jelas sedang memiliki pemikiran yang tidak waras..

“Sajangnim..”

“Kau memakai pasta gigi yang berbau segar. Rasanya pasti juga enak, kenapa kau tidak membiarkanku untuk mencicipinya..”

“nde?”

Siwon tidak membiarkannya bereaksi lebih. Dengan cepat ia sudah meraih bibir Yoona dan sedikit mengulum bibir bawahnya, sebelum kemudian tubuhnya terdorong mundur oleh karna kedua tangan Yoona..

“Sajangnim.. Dasar pria mesum!!”

Siwon tergelak..

“Bukankah kau sudah mengakui menyukai pria mesum ini..”

Terlihat dari kedua pipi Yoona yang merona merah, menandakan ia telah berhasil menggoda gadis itu.

Setelah semalam ia melihat kecemasan dan sekaligus gurat kesedihan diwajah gadis itu, akibat dari keadaan Yuri. Dan Siwon juga bukan tidak menyadari jika semalam Yoona bahkan menangis, namun dengan adanya Yuri disana, dirinya jadi tidak dapat melakukan apa-apa untuk menenangkannya. Maka saat ini, ia tak ingin lagi melihat kecemasan itu diwajah Yoona.

Ia ingin menghibur gadis itu dengan menggunakan caranya. Yang salah satunya adalah dengan terus menggodanya..

“Sajangnim..”

“hm..”

“Yuri oenni tidak mau pergi ke rumah sakit.. Karna itu aku menghubungi dokter Seohyun dan memintanya untuk datang”

“Aku tau, aku melihat mereka berbincang dihalaman belakang. Tidak apa-apa.. Jika dokter itu bersedia datang, dia bisa terus melakukan sesi terapi dengan Yuri disini..”

“Terimakasih.. Dan bolehkah aku meminta ijin padamu?”

“Apa?”

Yoona sesaat menggigit bibir bawahnya. Merasa ragu untuk mengatakannya..

“Apa? Kau ingin meminta ijin apa dariku?”

“emm, bolehkah aku juga menghubungi dokter Cho dan memintanya untuk datang..?”

“Tidak..”

jawaban yang diberikan Siwon seolah tanpa perlu berpikir membuat Yoona mendengus mendengarnya.

“Yang benar saja.. kau baru saja meminta ijin untuk memasukkan dokter perayu itu kedalam rumahku? Tentu saja jawabannya adalah tidak.. kau seharusnya tidak menanyakan hal semacam itu, Yoona. Kau pasti sudah tau apa jawabanku..”

“Tapi, sajangnim.. Yuri oenni masih harus melakukan terapi. Dan aku tidak tau mengapa oenni menolak untuk pergi kerumah sakit. Bagaimana dengan terapinya? Bagaimana oenni ku akan sembuh dan bisa kembali berjalan jika tidak melanjutkan terapi pada kakinya?”

“Kita akan menemukan cara untuk membujuk Yuri agar mau pergi ke rumah sakit, tapi tidak dengan memasukkan dokter perayu itu kedalam rumahku..”

“Kenapa sih kau menyebut dokter Cho seperti itu?”

“Jadi kenapa, kau tidak menyukainya aku menyebutnya seperti itu? Apa dia bukan perayu? Sekarang katakan padaku jika dia tidak pernah merayumu..”

Oh, pembicaraan ini jelas salah. Dan Yoona sangat ingin mencari celah untuk menghindar. Terlebih dari tatapan kedua mata Siwon yang seakan menuntutnya..

“Katakan, jika dokter itu memang benar-benar tidak pernah merayumu..”

“Dokter Cho.. emm, dia.. Dia memang tidak pernah benar-benar merayuku, hanya saja dia.. Dia melakukannya hanya untuk…”

“Dia tidak benar-benar merayuku? Apa maksudnya kalimat seperti itu, Yoona?”

Siwon memotong kalimat yang belum diselesaikan oleh Yoona..

“Aku tak tau pada saat itu dia sedang merayuku atau bukan.. Mungkin dia hanya sedang menggodaku..”

Yoona dengan segera menggigit bibir bawahnya.
Ini benar-benar salah..
Sekarang ia merasa terjebak kedalam pembicaraan yang tak semestinya. Kenapa juga dia harus meladeni omongan Siwon. Dan mengapa dia tidak menyangkal saja?

Oh, dear..
Sekarang pria itu justru memiliki tatapan keras kearahnya.

“Sialan.. Dan kau berani meminta ijin padaku untuk memasukkan pria seperti itu kedalam rumahku..”

Siwon meletakkan kedua tangan diatas kepalanya, dan kemudian menarik-narik rambutnya. Namun kemudian Yoona mendekatinya. Meraih tangannya dan menurunkan dari atas kepalanya, kemudian menggelayuti lengannya.

“Sajangnim.. Aku hanya meminta ijin untuk menghubungi dokter Cho agar mau melakukan terapi pada Yuri oenni disini. Tidak ada maksud lain apapun..”

“Dan jawabanku adalah tidak.. Kita akan menggunakan cara lain..”

“Kalau begitu kenapa tidak menggunakan caraku saja.. aku juga masih memiliki cara lain..”

Siwon mengerutkan dahi mendengarnya..

“Jika kau tidak memberikan ijin padaku untuk menghubungi dokter Cho dan memintanya datang kemari, aku mungkin bisa mendapatkan ijin itu dari omonim.. Aku bisa mengatakan padanya jika aku akan lebih menurut dan akan menemani omonim kemanapun, asal dia mengijinkan Yuri oenni melakukan terapinya dengan dokter Cho disini. Atau aku akan meminta ijin pada ayahmu. Pada abonim, aku yakin akan lebih mudah mendapatkan ijin itu darinya..”

Siwon memutar mata mendengar cara atau lebih tepat disebut rencana, yang dengan lancarnya diucapkan oleh Yoona.
Namun ia menemukan nada humor disana, dan sepertinya Yoona pun tidak serius dengan apa yang telah diucapkannya.

“Jadi setelah berhasil mendapatkan hati kedua orangtua ku, sekarang kau berniat menggunakan mereka untuk meloloskan segala permintaanmu?”

Yoona kembali melihat seringai diwajah Siwon, saat kemudian pria itu mendekat, membuatnya bergerak mundur dan mendapati pria itu kembali menghimpit tubuhnya.

“Gadis pintar.. Tapi jangan harap kau akan bisa melakukannya..”

Apa yang kemudian dilakukan Siwon, sama sekali tidak diperkirakan oleh Yoona. Ia mengira pria itu akan mengeluarkan kata-kata kemarahan, tapi yang terjadi justru Siwon meraih pinggangnya dan menggerakkan jemarinya untuk menggelitik disana. Sepertinya pria itu memang sudah menangkap ketidakseriusan dari apa yang telah diucapkannya, dan sekarang Siwon juga menanggapinya dengan candaan.

Yoona sedikit menjerit ketika Siwon tak juga menghentikan aksi konyol nya, dan suara terkikik dari keduanya, yang secara kebetulan didengar oleh Ny.Choi yang sedang melintas didepan kamar itu, lantas membuat wanita itu membawa langkahnya untuk masuk dan mengetahui apa yang pada saat itu terjadi didalamnya.

Dan yang kemudian dilihatnya benar-benar langsung membuatnya menggelengkan kepala. Siwon yang sedang berada didalam kamar mandi bersama dengan Yoona, dan bergurau dengan gadis itu disana..

“Aigoo.. Aigoo.. Apa yang sedang kalian lakukan? Berduaan didalam kamar mandi.. Astaga, apa kalian tidak berpikir sedang berada dimana kalian sekarang?”

Keduanya sama-sama terkejut mendengar suara Ny.Choi saat itu. Namun wanita itu nampak tidak memperdulikan keterkejutan itu. Ia dengan segera meraih pergelangan tangan Yoona, menariknya agar berada disisinya, sedangkan tatapannya mengarah pada sang putra.

“Oemma rasa kau telah berpamitan untuk pergi ke kantor tadi? Tapi kau justru berada disini.. Oemma sudah peringatkan, jaga kelakuanmu, Siwon..”

“Oemma.. Aku memang akan pergi kekantor. Tapi tadi aku memutuskan untuk melihat keadaan Yoona terlebih dulu. Dan yang kulihat tadi, dia sedang membutuhkan bantuan. Maka aku hanya berencana untuk membantunya”

Yoona memutar mata kearahnya..
Jelas tadi ia mengatakan tidak membutuhkan bantuannya.

“Membantu Yoona? Didalam kamar mandi.. Ya Tuhan..  pikiran kotor apa yang berada dikepala mu, Siwon..!”

Siwon tidak mengira jika sang ibu kemudian justru melayangkan pukulan-pukulan dibahunya.

“Yak.. Yakk.. Oemma, kau benar-benar telah menjatuhkan harga diriku didepan tunanganku..”

Protes Siwon pada sang ibu kala mendengar Yoona terkikik, menertawainya..

“Sebaiknya kau pergi ke kantor sekarang.. atau oemma akan menyiram mu dengan air kran..”

“Ohh.. baiklah baiklah..”

Begitu Siwon keluar dengan gerutuan kesal pada ibunya, Yoona juga melakukan hal yang sama. Ia keluar dari dalam kamar Yuri lantaran Ny.Choi yang menariknya keluar dari sana.

***

Udara dingin malam itu tak menyurutkan Yoona untuk tetap berdiri dibagian teras belakang rumah itu. Benaknya melayang-layang, memikirkan banyak hal yang terutama mengenai kondisi Yuri yang dirasanya menurun hari itu. Seharian tadi Ny.Choi memang tidak mengajaknya pergi kemana-mana karna kakinya yang terkilir masihlah belum sepenuhnya pulih. Dan seharian tadi Yoona mempergunakannya untuk bersama Yuri. Membujuk sang kakak agar mau pergi kerumah sakit dan kembali menjalankan terapinya. Namun Yuri bersikukuh, tidak mau melakukannya. Hingga sesi terapi hari itu harus terlewat begitu saja.

Apa yang menjadi alasan Yuri menolak pun, Yoona masih tak mengetahuinya. Yuri tidak mengatakan apapun kecuali kata tidak padanya. Sang kakak menjadi terlihat enggan untuk berbicara. Seperti itu juga apa yang dikatakan Seohyun usai terapi yang dilakukannya.
Entahlah, tapi Yoona menangkap kegelisahan dan sirat ketakutan dari wajah sang kakak saat itu.
Mungkin berkaitan dengan mimpi buruk yang kembali dialaminya. Dan mungkin sang kakak kembali merasakan ketakutannya saat berdekatan dengan seorang pria.

Ya Tuhan..
Jangan biarkan hal itu terjadi lagi padanya.

Menyilangkan tangannya, Yoona lantas mengusap-usap pada kedua lengannya. Menghalau hawa dingin yang telah menembus pakaian yang dikenakannya..

“Sudah tau udara malam ini dingin, kenapa kau masih betah berdiri disini..”

Yoona tidak sampai membalikkan tubuhnya, Siwon telah lebih dulu melingkarkan lengan dipinggangnya, memeluknya erat dari belakang, kemudian mencium rambut diatas kepalanya.

“Sajangnim..”

“Aku berhasil membujuk Yuri.. Dia mau kembali kerumah sakit dan melanjutkan terapinya, besok..”

Mendengarnya, Yoona dengan segera memutar tubuhnya menjadi berhadapan dengan Siwon.

“benarkah?”

Siwon tersenyum dan mengangguk. Membuat Yoona melompat senang dengan mengalungkan tangannya dileher pria itu, memeluknya disana.

Ia telah membujuk Yuri seharian dan tak berhasil. Dan lihatlah, betapa berpengaruhnya Siwon terhadap Yuri. Hanya dengan beberapa menit Ia berdiri disana, meninggalkan Siwon untuk berbicara dengan sang kakak, pria itu dengan mudahnya telah berhasil meluluhkan oenni nya.

“dia sudah berjanji padaku.. Dan sekarang dia sudah tertidur..”

“trimakasih untuk membantuku.. Trimakasih banyak, sajangnim..”

Yoona makin erat mengalungkan tangannya dileher Siwon dan juga membenamkan wajahnya disana. Hingga Siwon dapat merasakan sesuatu yang kemudian terasa membasahi lehernya dan langsung membuatnya menyadari itu adalah airmata Yoona.

“Hei, apa yang terjadi? Kenapa kau justru menangis..”

Yoona menggeleng dengan masih menyembunyikan wajahnya. Siwon lantas mengusap-usap pada punggungnya, untuk menenangkannya.

“Aku berhasil membujuk Yuri, kau tidak seharusnya menangis karna hal itu kan..”

“tadi aku sangat takut Yuri oenni tidak mau lagi datang kerumah sakit dan kau juga tidak mengijinkanku untuk menghubungi dokter Cho dan memintanya melakukan terapi itu disini.. Tapi sekarang, aku merasa lega karna Yuri oenni akan menjalani terapi itu lagi.”

“dan kau menangis karna hal itu?”

Yoona mengangguk, membuat Siwon kembali tersenyum mengetahuinya.

“Aku menangis karna senang..”

“Kau memang sangat hobi menangis..”

Godanya sambil kemudian menangkup wajah Yoona yang tertunduk, agar menatapnya. Siwon lantas mengusap dengan jemarinya airmata itu dari wajahnya.

“masuk dan tidurlah, besok aku akan mengantar kalian kerumah sakit..”

“Kau tidak akan kekantor?”

“Tidak sebelum Yuri menyelesaikan terapinya, dan kau tidak lagi berada disekitar dokter perayu itu. Demi Tuhan.. Bisakah kita mencari dokter terapis yang lain?”

Yoona memberengut mendengarnya..

“Baiklah tidak perlu.. Aku bisa berada disana bersamamu dan mengawasi dokter itu. Aku tidak akan memberinya celah untuk mendekatimu”

“Ck! Kau tau.. Kau terlalu berlebihan, sajangnim..”

“Aku tidak perduli..”

“Terserahlah..”

Yoona terlebih dulu menyisihkan lengan Siwon dari pinggangnya, berniat untuk beranjak dari sana karna merasa percuma setiap kali membicarakan dokter Cho dengan Siwon, hanya akan membuatnya menjadi kesal pada pria itu.

“Mau kemana?”

Siwon menahan lengannya..

“Kau yang menyuruhku tidur tadi..”

“temani aku sebentar..”

“Tidak mau.. Kau juga yang mengatakan udaranya dingin kan. Dan sepertinya aku benar-benar harus masuk. Aku akan segera menggigil disini..”

Maka kemudian Siwon menarik tubuh Yoona kembali kedalam pelukannya..

“Udaranya memang dingin.. Tapi jangan khawatir, dengan begini aku akan menghangatkanmu. Temani aku sebentar saja..”

“Omonim akan memarahi ku jika dia melihat kita seperti ini”

“Tidak akan.. Oemma sudah berada ditangan aboji. Maka bisa kupastikan oemma tidak akan keluar kemana-mana dari kamar mereka..”

“Kau bisa menjamin?”

“tentu saja..”

“baiklah, kupikir aku bisa menemanimu sebentar jika seperti itu..”

***

Yoona merasakan kelegaan luar biasa ketika Yuri akhirnya mau untuk pergi kerumah sakit dan melanjutkan terapinya. Sang kakak juga sudah banyak berbicara seperti sebelumnya. Sebelum mimpi buruk yang kembali menghantuinya malam itu.

Yoona kini berada dirumah sakit bersama dengan Amber, dan juga Siwon yang benar-benar ikut mengantarnya. Ia sempat tak habis pikir ketika Siwon bahkan rela menunggu didepan ruang terapi itu bersama dengan Amber, sementara ia berada didalam ruangan untuk menemani Yuri. Namun Yoona juga telah beberapa kali keluar dari ruangan itu, karna Siwon terus mengirimkan pesan bahkan tak segan melakukan panggilan ke ponselnya.

Pria itu benar-benar bisa menjadi sangat menjengkelkan..

“ada apa lagi, sajangnim?”

tanya Yoona sedikit meredam kejengkelannya..

“berapa lama lagi?”

Yoona memperhatikan benda mengkilat berwarna keperakan yang saat itu menghias indah pada pergelangan tangannya. Jam tangan baru pemberian Ny.Choi, yang telah ia tolak namun Ibu Siwon itu tak menerima penolakannya dan memaksa agar ia memakainya.

“sepertinya dua sampai tiga puluh menit lagi..”

Siwon mendesah..

“bukankah sudah kukatakan anda bisa pergi, sajangnim..”

“Aku tidak akan melakukannya..”

Siwon lantas menarik pergelangan tangan Yoona, memaksanya untuk duduk disebelahnya, dan kemudian menyuruh Amber untuk masuk kedalam ruang terapi. Menggantikan Yoona menemani Yuri disana.

Hingga sekitar tiga puluh menit kemudian, Amber keluar bersama dengan Yuri diatas kursi rodanya.

“Siwon..”

Yuri tersenyum, mengulurkan sebelah tangan agar Siwon meraihnya.

“Kau sudah selesai?”

“hm.. Kau benar-benar menungguku?”

“tentu saja, aku sudah mengatakannya bukan..”

“ne, gomawoyo..”

Yuri meremas pada tangan Siwon, dan kembali menunjukkan senyumnya pada pria itu.

“Oenni ya, ayo kita pulang..”

“Tunggu Yoona, sebenarnya aku ingin mengajakmu pergi makan siang.. emm, maksudku kau dan Yuri..”

“tapi oenni..”

Yuri mengangguk pada pertanyaan yang belum sampai terucap dari bibir Yoona.

Siwon lantas meminta Amber untuk menyiapkan mobilnya, sedangkan ia yang kemudian mengambil alih kursi roda Yuri. Mendorongnya disepanjang koridor, masuk kedalam lift yang kemudian membawanya turun sampai ke lobi rumah sakit itu.

Sementara menunggu Amber mengambil mobil, Yoona meminta ijin untuk berada ditoilet. Dan setelah menunggu beberapa menit, ketika mobilnya akhirnya terlihat, Siwon sudah akan mendorong kursi roda Yuri ke mobilnya, namun kemudian ia mendengar suara seseorang yang memanggilnya. Membuatnya mengurungkan niatannya..

“Siwon..!”

Siwon menajamkan pandangannya setelah mendengar seseorang yang pada saat itu memanggilnya. Seorang wanita berkacamata yang kini dalam langkah kearahnya. Begitu wanita itu semakin mendekat, lalu melepas kaca mata berwarna kecoklatan yang sebelumnya nampak pas membingkai wajahnya, Siwon langsung dapat mengenalinya..

“Hei Siwon..”

Siwon hanya tersenyum tanggung untuk menanggapi sapaan itu, sadar bahwa wanita itu pun kini juga tak lagi mengarahkan tatapan padanya, melainkan berpindah pada Yuri yang berada diatas kursi roda didepannya.

“Siapa dia?”

Tanyanya kemudian tanpa basa-basi..

Yuri menoleh, mengulurkan sebelah tangannya dan meraih tangan Siwon agar menggenggamnya. Membuat wanita tadi sesaat mengerutkan dahi melihatnya, namun kemudian senyum sinis diperlihatkan olehnya..

“Oh, jadi kemana pelacur kecilmu itu? Kenapa kau malah mengurusi wanita cacat seperti ini..”

Siwon sedikit menggeram mendengarnya..

“Kenapa? Bukankah pelacur itu sudah kau jadikan tunangan? Atau sudah tidak lagi? Kau sudah membuangnya dan sekarang bermain-main dengan wanita cacat ini? Oh, seleramu benar-benar rendah, Siwon..”

“Tutup mulutmu, Jessica..!!”

Wanita itu, yang adalah Jessica kini malah menertawainya..

“Siwon, apa maksudnya?”

“Kau tidak perlu mendengarnya, Yuri ssi..”

“Oh, bukankah itu dia.. Pelacur kecilmu?”

Jessica menatap sinis pada Yoona yang pada saat itu dalam langkah mendekat pada mereka. Membuat Siwon kemudian mengantisipasi apalagi yang akan keluar dari mulut Jessica.

Oh, jangan sampai terjadi keributan nantinya..

Maka kemudian, saat Yoona hanya berjarak beberapa langkah saja darinya, Ia dengan segera meraih pergelangan tangan Jessica, menariknya menjauh darisana. Membuat Yuri berkerut dahi samar, bingung pada kejadian yang baru disaksikannya.

Namun tidak dengan Yoona, Ia mengenali wanita itu adalah Jessica dan menjadi was-was dengan apa yang telah dikatakannya hingga membuat Siwon menarik wanita itu pergi dari sisi oenni nya.

“Oenni ya..”

“Oh, Yoona.. Kau sudah selesai?”

Yuri hanya sesaat menatap pada Yoona, selanjutnya ia kembali mengarahkan perhatiannya kearah dimana Siwon berada. Namun Siwon, bersama dengan wanita tadi yang tak dikenalnya, kini tak lagi terlihat dalam jangkauan kedua matanya.

“Yoona.. Apa maksudnya?”

“Apa maksud oenni?”

“wanita tadi, dia mengatakan tunangan dan pelacur.. Apa kau tau maksudnya? Siapa yang dia maksud?”

Ya Tuhan..
Tidak..
Apalagi yang oenni nya dengar dari mulut wanita itu?

“Apalagi yang tadi dikatakannya padamu, oenni?”

Yuri menggeleng..

“Dia tidak berbicara padaku. Dia berbicara pada Siwon. Tapi tadi.. Aku tau, dia menyebutku cacat.”

Yoona menangkap kesedihan itu dari wajah Yuri. Ia tidak perduli seperti apa Jessica menyebutnya, tapi seandainya tadi ia mendengar sendiri wanita itu menyebut Yuri seperti itu, Ia sudah pasti akan mencari sesuatu untuk menyumpal mulutnya. Atau mungkin kembali menjambak rambutnya, berkelahi dengannya seperti yang pernah terjadi waktu itu. Sayangnya Siwon telah lebih dulu menarik wanita itu pergi.

“Oenni ya, kau bukan cacat.. Kau dengar kan, dokter Cho bahkan mengatakan perkembangan terapinya sangat pesat. Tadi Oenni bahkan sudah bisa berjalan tiga sampai empat langkah tanpa berpegangan. Oenni akan kembali sembuh.. Jadi sebaiknya jangan dengarkan omongan wanita itu..”

Yuri tersenyum dan mengangguk..

“Aku tau, jangan khawatir.. aku tidak perduli dia menyebutku seperti itu. Tapi Yoona..”

“nde?”

“Apa kau mengenalnya? Apa kau tau siapa dia? Siapa yang dia maksud sebagai pelacur? Mengapa dia bisa sekasar itu menyebutnya..”

Yoona memalingkan wajahnya dari tatapan kedua mata Yuri yang seolah mencoba mencari sendiri jawaban dari pertanyaan itu melalui matanya. Namun kemudian Yoona memberi jawaban, setelah berpikir ia tak mungkin membiarkan Yuri menjadi berpikiran macam-macam..

“Aku tidak tau, Oenni.. Sudahlah, tak perlu didengarkan. Dia hanya wanita yang suka berkata kasar. Bicaranya pun asal.. Sekarang, sebaiknya kita menunggu tuan muda Choi didalam mobil saja..”

Sementara Yoona yang kemudian mendorong kursi roda Yuri menuju mobil, Siwon masih terus mencekal pergelangan tangan Jessica, membawanya menjauh hingga kemudian wanita itu yang merasa tak terima dengan perlakuan Siwon, menyentakkan tangannya.

“Apa yang kau lakukan padaku, Siwon..!?”

Jessica memperhatikan pergelangan tangannya yang nampak memerah.

“Kau tau, kau tak bisa memperlakukanku seperti ini..”

“Apa yang sedang kau lakukan disini?”

“Apa yang sedang kulakukan disini? Oh, apa aku perlu memberitahumu? Apa itu akan menjadi penting bagimu..”

Siwon tidak menanggapi. Mungkin ia telah salah mengajukan pertanyaan seperti itu. Seharusnya ia langsung saja memberi peringatan atas ucapan kasar yang telah keluar dari mulut wanita itu. Namun kemudian Jessica melanjutkan..

“Baiklah jika kau ingin mengetahuinya.. Aku berada disini karna memiliki janji untuk bertemu dengan dokter bedah. Aku sudah merencanakan untuk melakukan beberapa operasi dibagian tubuhku.. Bagaimana? Kau tertarik setelah mendengarnya? Aku tidak memiliki dendam denganmu meski kau telah menginjak-injak harga diriku. Jadi, mungkin aku masih bisa berbuat baik padamu..”

Senyumnya nampak tidak tulus dan malah cenderung seperti mencemooh, ketika kemudian Jessica sedikit maju untuk mendekat, dan lantas mengusap pada bahu Siwon..

“Aku bisa memberimu kontak dokter bedahku, siapa tau setelah mendengar apa yang ingin kulakukan, kau juga ingin melakukan perubahan pada tubuh pelacurmu. Melihat bagian dadanya yang sekecil itu, Aku tak yakin dia bisa memuaskanmu. Teknologi semakin canggih, operasi bisa membuat payudaranya menjadi penuh, meski harus juga aku katakan, itu tidak akan sesempurna seperti yang asli. Seperti milikku..”

Siwon masih memiliki rahang yang mengeras, kedua sorot matanya menatap tajam saat kemudian mendorong bahu Jessica hingga tubuhnya bersentuhan dengan dinding rumah sakit itu. Membuat Jessica bahkan terkesiap dengan apa yang pada saat itu dilakukan Siwon kepadanya..

“Seharusnya kau bisa menjaga mulutmu..”

Siwon menggeram..

“Wanita terhormat sepertimu tidak pantas mengatakan hal menjijikkan seperti itu..”

“Menjijikkan katamu? Kau lah orang paling menjijikkan di dunia ini..”

Mendesis kemarahan dalam kalimat yang diucapkannya..

“Dan tak perlu terlihat sebagai wanita terhormat saat berhadapan dengan pria tidak terhormat sepertimu..!”

Jessica kemudian membalas dengan mendorong dada Siwon dengan cukup keras, agar pria itu menjauh dari hadapannya.

“Ku peringatkan padamu.. Aku bukan salah satu dari wanita rendah disekitarmu. Jadi jangan berpikir kau bisa memperlakukanku seperti ini..”

Mendorong bahu Siwon, Jessica kemudian melewatinya dengan senyuman puas. Ia pergi begitu saja meninggalkan Siwon yang kemudian hanya bisa memberikan tatapan keras padanya.
Namun kemudian Siwon memaklumi Jessica yang jelas masih menyimpan kemarahan padanya, meski wanita itu tadi mengatakan tak memiliki dendam terhadapnya, tapi kalimat-kalimat kasar bernada cemooh tadi, sudahlah cukup untuk menjelaskan isi hatinya yang sebenarnya.

Siwon lantas menghela napasnya, sebelum akhirnya beranjak darisana untuk kembali pada Yuri dan Yoona yang sudah pasti sedang menunggunya.

***

Amber yang mendapatkan tugas menyetir saat itu, menghentikan laju mobilnya didepan sebuah rumah makan yang sepertinya sedang tidak memiliki banyak pengunjung disana, terlihat dari tidak banyaknya mobil yang berparkir didepannya.

Mereka keluar dari dalam mobil, dengan Siwon yang mendorong kursi roda Yuri masuk kedalamnya, sementara Yoona kemudian memilih untuk memesan tempat. Saat kemudian ia menyingkirkan sebuah kursi yang nantinya akan menjadi tempat untuk kursi roda Yuri, lengannya tidak sengaja bersinggungan dengan seseorang yang berjalan didekatnya. Seorang pria yang mungkin sedang memilih tempat yang dirasa nyaman, sama sepertinya..

“Oh, mianhae..”

Yoona sedikit membungkukkan badannya untuk meminta maaf..

“Tidak apa-apa nona..”

responnya ramah, membuat Yoona kemudian menatapnya dan merasa pernah melihat wajah yang sama seperti pria itu yang kini berdiri dihadapannya.

“Oh, Yoochun ssi..”

Suara Siwon yang kemudian terdengar langsung membuat Yoona mengalihkan perhatiaanya.

Oh..
Apakah mereka saling mengenal?

“Siwon ssi..”

Terlihat seperti itu, dari cara sang pria tadi yang kemudian mendekat menghampiri Siwon dan kemudian menjabat tangannya.

“Kau disini?”

“Ya, aku ingin makan siang..”

“Oh, kebetulan sekali kita bertemu.. Bagaiman jika kita makan bersama sekarang”

Siwon mengedik sebagai isarat pada Yoochun yang kemudian tersenyum. Karna sebenarnya pertemuan itu memang sudah direncanakan. Sebagai wujud dari ucapan Siwon pada Yoochun yang mengatakan akan membantunya untuk bertemu dengan Yuri.

“kurasa ide yang bagus.. Tapi kau tidak sendiri?”

“hm.. Aku akan memperkenalkan mereka padamu.. Yuri ssi kuharap kau tidak keberatan..”

Siwon memegang kedua bahu Yuri yang kemudian direspon oleh Yuri dengan anggukan kepala..

“jadi Yuri ssi, perkenalkan dia Yoochun, temanku..”

Yoochun tersenyum, mengulurkan tangannya namun Yuri tidak meresponnya.

“ehm.. kurasa sebelumnya kita pernah bertemu, nona..”

Apa yang dikatakan Yoochun kemudian menarik perhatian Yuri untuk menatapnya.

“dirumah sakit beberapa waktu lalu.. Apa kau ingat?”

Yuri yang masih hanya terdiam membuat Yoochun kemudian melanjutkan..

“Kau menerima bunga yang salah dariku..”

Yuri menunduk, memilin jemari diatas pangkuannya dan kemudian terlihat gerakan dari bibirnya seiring dengan suaranya yang terdengar, meski sangat lirih..

“Ya, aku mengingatnya..”

Oh Tuhan..
Andai saja dia tau betapa gerak bibir itu yang memunculkan suara lirihnya sebagai respon singkatnya itu telah membuat Yoochun menjadi luar biasa bahagia..

Yuri mengingat pertemuan itu..
Kenyataan itu membuatnya tersenyum.

Siwon kemudian ikut tersenyum mendengarnya, sebelum kemudian menimpali dengan basa-basi yang dilakukannya..

“Oh, jadi kalian pernah saling bertemu? Satu lagi kebetulan yang tidak terduga terjadi.. Jadi, ayo kita duduk.. Aku merasa kita akan memiliki obrolan yang menyenangkan. Dan Yoochun ssi, perkanalkan dia Yoona, adik Yuri..”

“annyeong haseyo..”

Yoona dengan segera memberikan sapaanya..

“Sepertinya kita juga pernah bertemu, tuan.. Dirumah sakit, dan..”

Yoona memutus kalimatnya, mengerjap kedua matanya saat sekelebat ingatan itu muncul. Ketika beberapa hari lalu ia melihatnya berada didepan ruang terapi Yuri, disadarinya itu bukan pertama kali ia melihatnya. Pantas saja ketika itu ia merasa pernah melihat wajah yang serupa sepertinya. Yoona mengingatnya, pria itu juga yang pernah dilihatnya keluar dari dalam kamar rawat Yuri yang berada dirumah sakit jiwa. Jika ia tidak salah mengenali, dalam kepanikannya kala itu, pria itu juga yang sepertinya dilihatnya bersama dengan Siwon yang datang ke apartemen Donghae sebelum kecelakaan itu terjadi.

Jadi siapa sebenarnya pria itu?
Sekedar teman Siwon?
Ataukah…

“Kau juga pernah bertemu dengan Yoona, Yoochun ssi? Woahh.. Betapa banyak kebetulan yang terjadi..”

Apa yang berada dalam pemikiran Yoona buyar ketika mendengar Siwon yang kembali bersuara.

Sementara Yoochun, dirinya hanya bisa menggaruk tengkuknya, merasa tak memiliki respon yang tepat untuk menanggapinya. Karna kebenarannya adalah ia terpergok oleh Yoona setidaknya dalam dua kali pertemuannya, hanya saja gadis itu yang memanglah tidak menyadarinya.

“Siwon.. Aku tidak ingin berada disini. Aku ingin pulang..”

gumpalan kekecewaan harus ditelan oleh Yoochun kala mendengar Yuri mengatakannya..

Acara makan siang itu yang memang direncanakan Siwon untuk mempertemukan nya dengan Yuri, tak berjalan seperti yang diharapkannya. Bahagianya sesaat lalu atas respon Yuri juga ikut melayang bersama dengan angannya.

Sampai kapan akan seperti ini?
Sampai kapan Yuri tidak mengenali dirinya?
Setidaknya hanya mengingat dirinya sebagai seorang pria yang pernah menyatakan cinta padanya..

Yoochun terpaksa menelan kepahitan itu, saat Siwon juga tak bisa membujuk Yuri untuk tetap berada disana.

“Ada apa oenni?”

Yoona terlihat cemas dengan perubahan Yuri saat itu.

“Aku hanya merasa tidak nyaman.. Aku lelah, aku ingin beristirahat..”

“baiklah, kita pulang saja..”

***

Yuri terdiam sepanjang perjalanan pulang menuju rumah Siwon. Bahkan ketika Siwon turun didepan gedung kantornya, dan mengatakan permintaan maafnya karna tak mengantarnya sampai ke rumah, Yuri hanya menggumam lirih mengatakan tidak apa-apa. Selanjutnya ia membisu, bahkan sampai mobil yang dikemudikan Amber menghentikan lajunya.

Tidak ada yang mengetahui, bahkan Yoona sekalipun yang selalu berada disampingnya dengan apa yang pada saat itu berkecamuk didalam pemikirannya. Benaknya entah mengapa mengingat tentang wanita yang dilihatnya dirumah sakit, serta kalimat kasar yang diucapkan Jessica saat itu.

Tunangan..
Pelacur..
Siapa yang sebenarnya dimaksud oleh wanita itu?

Masuk kedalam rumah dengan Yoona yang mendorong kursi rodanya, sementara Amber mengikuti dibelakangnya, mereka disambut oleh suara Ny.Choi dan langkah wanita itu yang kemudian menghampiri..

“Oh, Yoona ya..”

Ny.Choi tersenyum dan langsung menuju pada Yoona, meraih lengannya..

“Aku sudah menunggu-nunggu kau pulang.. Ayo ikut denganku, ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan padamu..”

“Tapi nyonya.. Aku..”

Ny.Choi dapat membaca apa yang membuat Yoona terlihat berkeberatan untuk ikut dengannya.

“Amber ssi.. Antarkan dia kekamarnya..”

“Baik Nyonya..”

Sementara Amber mengambil alih kursi roda Yuri, Ny.Choi menarik Yoona kesisinya.

“Oenni sebentar ya..”

Yuri mengangguk pada Yoona yang telah ditarik pergi dari hadapannya. Sesaat ia tertegun, melihat wajah penuh senyum dan antusias dari Ibu Siwon, ketika wanita itu menghela Yoona untuk kemudian masuk kedalam kamarnya. Hal janggal yang kembali dirasa Yuri untuk status pekerja seperti adiknya.

Yuri akan jauh merasakan kejanggalan andai ia melihat didalam kamar itu, apa yang sedang ditunjukkan Ny.Choi pada Yoona.

Ny.Choi sedang menunjukkan berkas pendaftaran atas nama Yoona dari salah satu perguruan tinggi ternama. Membuat Yoona jelas merasakan keterkejutan karena nya..

“Omonim.. Ini.. Bukankah ini..”

“hm, kau terkejut?”

Yoona mengangguk..

“Kau ingat aku pernah mengatakan rencana untuk ini sebelumnya kan? Karna beberapa kejadian yang kemudian terjadi, kita jadi tak sempat membahasnya. Tapi aku dan juga suamiku sudah memutuskan untuk memilihkan perguruan tinggi yang kompeten untukmu. Dan aku sudah melakukan pendaftarannya tadi, besok kau sudah bisa memulai. Dan mengenai kelas kepribadian itu, aku sudah berbicara dengan pengajarmu. Sepertinya kau tidak perlu lagi mengikuti kelasnya.. Bagaimana Yoona, kau senang dengan hal ini?”

Bagaimana mungkin ia tidak senang..
Lebih dari apapun, masuk perguruan tinggi adalah impiannya.
Dan Ibu Siwon, kini dengan mudahnya mewujudkan mimpinya..

Oh, bagaimana cara ia bersyukur setelahnya..

“Omonim..”

Memeluk Ny.Choi adalah hal pertama yang dilakukan oleh Yoona setelah terlepas dari rasa terkejut yang dirasakannya.

“Omonim.. Bagaimana aku harus berterimakasih padamu.. Ini sesuatu yang luar biasa. Ini adalah mimpiku..”

“Aku senang mendengarnya.. Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Selesaikanlah pendidikanmu, maka kau akan menerima restu untuk menikah dengan putraku..”

Yoona merona mendengar kalimat itu. Ia lantas melepas pelukannya ditubuh Ny.Choi, mencium pipinya dan kembali memeluknya. Seolah kata terimakasih saja tidaklah cukup. Memang tidaklah akan pernah cukup..

“Jeongmal gomawoyo, omonim.. Aku menyayangimu. Aku ingin memiliki ibu sepertimu..”

Ini terlalu banyak..
Apa yang diterima olehnya terlalu banyak untuk dapat ia bendung.Keharuan meluap yang dirasakannya membuat Yoona meneteskan airmata. Ny.Choi menyadari hal itu dan lantas mengusap-usap pada punggungnya. Ia sendiri tak menyangka, gadis belia ini, gadis yang dulu dinilainya liar, kini justru berada dalam pelukannya. Sebuah pelukan yang lantas membuat hatinya menghangat.

Ny.Choi bukan tidak menyadari, Yoona telah menempati ruang didalam hatinya..

***

Yoona hanya masih terlalu bingung dengan bagaimana cara untuk menyampaikan pada Yuri mengenai dirinya yang telah didaftarkan masuk dalam salah satu universitas. Hal itu jelas tidak akan masuk akal bagi Yuri, dan sang kakak sudah pasti akan mengajukan banyak pertanyaan untuknya.

Karna itu, pada esok harinya, dihari pertamanya masuk, Yoona menunda untuk mengatakan hal itu pada Yuri. Ia hanya mengatakan pada sang kakak, jika dirinya akan pergi karna mendapatkan pekerjaan dari Ny.Choi, dan tak dapat menemaninya untuk berterapi pagi itu.

Selanjutnya, Yoona sudah memikirkan akan memilih jadwal mata kuliahnya agar tidak berbenturan dengan jadwal terapi Yuri, sehingga ia masih bisa menemani sang kakak menjalani terapinya.

Tapi hari itu, Yoona terpaksa membiarkan Yuri pergi ke rumah sakit sendirian. Hanya dengan seorang supir yang mengantarnya, dan bahkan tidak dengan Amber yang biasa menemaninya.

“Nona Yuri..”

Seorang suster yang sudah seringkali mendapatkan tugas untuk membantu Kyuhyun dalam sesi terapi, menghampiri Yuri dan kemudian mengambil alih untuk mendorong kursi roda Yuri, menuju ruang terapi.

Saat berada dikoridor rumah sakit itulah, Yuri tanpa sengaja melihat seorang wanita yang baru saja Keluar dari salah satu ruang prakter dokter. Wanita itu yang kemarin sempat menyebutnya sebagai wanita cacat.

“Tunggu sebentar suster..”

intruksinya untuk berhenti pada seorang suster yang mendorong kursi rodanya.

Yuri lantas mengamati gerak langkah ketika wanita itu mulai berjalan kearahnya. Tampilannya menarik, menunjukkan kelas sosial tinggi yang pasti dimilikinya. Mungkin malah telah mendarah daging dalam dirinya.

Ketika wanita itu berjalan hampir melewatinya, rasa penasaran pada apa yang sebelumnya wanita itu ucapkan dan masih terus terngiang-ngiang dalam pikirannya bahkan sampai saat itu, membuat Yuri kemudian berani untuk menghentikannya.

“Chogiyo..”

Jessica berhenti melangkah untuk sekilas saja menatap pada Yuri..

“Chogiyo..”

Ulang Yuri sekali lagi ketika merasa wanita yang tadi dipanggilnya nampak tak peduli dan justru hendak meneruskan langkahnya.

“Siapa kau? Aku tidak memiliki urusan dengan wanita cacat sepertimu..!”

gertaknya kasar, dengan memicingkan matanya Jessica jelas sedang memberikan tatapan remeh kepadanya. Namun Yuri mencoba menghiraukannya. Ia justru meraih pergelangan tangan Jessica ketika wanita itu kembali hendak melangkahkan kakinya.

“Hei.. Apa sih mau mu?!”

Jessica dengan segera menyentak tangan Yuri, pandangan matanya menatapnya risih. Tapi kemudian ia ingat dengan sesuatu..

“Oh, kau.. Kau gadis cacat itu, yang kemarin bersama dengan bajingan bernama Siwon..”

Jessica makin menunjukkan kesinisannya begitu sekelebat ingatannya tentang sosok Yuri yang kemarin hanya sekilas lalu dilihatnya, kini muncul ke permukaan.

“Ada urusan apa kau mengganggu ku?”

“Aku.. Aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu..”

“Sayang sekali, aku tidak memiliki waktu yang bisa kusia-sia kan..”

Jessica mencoba kembali melangkah dan Yuri kembali menahannya..

“Siapa yang kau maksud dengan tunangan dan pelacur?”

Apa yang ditanyakan Yuri benar-benar berhasil menghentikan Jessica dan sekaligus membuat wanita itu menertawainya..

“Kau.. Menayakan hal bodoh seperti itu padaku? Hei, berada dibelahan bumi mana kau selama ini..? Kau tidak tau jika Siwon menjadikan seorang pelacur rendahan sebagai tunangannya?”

“Apa maksudmu?”

“Ya, si brengsek itu.. Memilih pelacur sialan itu daripada aku.. Oh, tidak tidak.. Aku lah yang memilih tidak bersama dengan Siwon. Dia sampah dan seorang bajingan..”

Jessica menunjukkan kilatan kebencian dan sekaligus kemarahan dari dalam sorot kedua matanya..

“Tapi siapa.. Siapa yang kau maksud dengan pelacur?”

Meski Yuri sama sekali belum sepenuhnya mempercayai apa yang dikatakan Jessica pada saat itu, namun ia merasa perlu memperjelas omongan wanita itu..

“Yoona.. Dia tak lebih dari pelacur sialan itu. Menjijikkan aku masih mengingat namanya..”

“Apa..?!”

Yuri merasakan sekujur tubuhnya gemetar kala mendengarnya..

***

Yoona telah menyelesaikan beberapa urusannya yang menyangkut dengan segala hal mengenai kemahasiswaan yang harus diurusnya diperguruan tinggi itu. Sebagai salah satu mahasiswi baru, kehadirannya ternyata cukup banyak menarik minat beberapa orang untuk melirik dua kali kearahnya. Entah oleh sebab apa, tapi Yoona menduga, beberapa mengenalinya sebagai tunangan seorang Choi Siwon dan bahkan telah ada yang menyebutnya sebagai calon menantu keluarga Choi. Namun tak sedikit pula yang menatapnya dengan remeh, seolah menyimpan olok-olokan didalam kepala mereka.

Yoona mencoba berjalan acuh ketika keluar dari ruangan salah seorang dosen yang nantinya akan menjadi salah satu pengajar dalam salah satu mata kuliah yang diambilnya. Ia menuju arah parkiran mobil, mencari seorang supir yang tadi mengantarnya. Namun sejurus matanya justru menemukan sosok Siwon yang tengah tersenyum sambil melambaikan tangan kearahnya.

“Sajangnim..”

gumam Yoona sesaat menghentikan langkahnya. Melihat Siwon yang berada didepan kap mobil hitamnya yang mengkilap, terlihat santai dengan kemeja putihnya yang telah digulung, pria itu benar-benar terlihat mencolok, setidaknya bila dibandingkan dengan para mahasiswa disana.

Kenyataan itu kemudian justru membuat Yoona menggerutu. Ia menghampiri Siwon dengan langkah yang dipercepat..

“Hai..”

Sapa Siwon santai, dengan tangannya yang terulur mencoba meraih pinggul Yoona..

“Apa yang kau lakukan disini?”

“menjemputmu..”

“Aku bersama ahjussi..”

“Aku sudah menyuruhnya pulang..”

Siwon tersenyum, membuat Yoona mendengus mengetahuinya..

“Kau tak lihat berpasang-pasang mata sedang memperhatikanmu?”

“aku tau.. Itu sudah menjadi hal biasa bagiku..”

“Kau sangat suka mencari perhatian..”

“Aku hanya menginginkan perhatian darimu..”

Siwon malah tergelak saat Yoona memukul dadanya, merona oleh apa yang baru saja dikatakannya..

“Kau sudah selesai kan?”

“hm..”

“Kalau begitu, Ayo ikut denganku?”

Siwon meraih tangannya, namun Yoona menyingkirkannya..

“Tunggu, kita akan kemana..? Aku sudah berencana menyusul Yuri oenni ke rumah sakit..”

“Ini hari pertama mu masuk universitas. Maka kita akan melakukan perayaan untuk itu..”

Oh..
Benarkah..

“Perayaan? Seperti apa?”

“Hmm.. Kau akan  tau nanti.. kajja..”

*

*

*

*

*

To Be Continued~

Tolong dimaklumi bila ada beberapa kalimat yang menggunan kata-kata kasar yaa..^^ thanks ..

@joongly

199 thoughts on “| At First Sight | 19

  1. Ternyata Agen Park itu Park Yoo Chun ya seseorang yg pernah di sewa Wonppa, benar2 teka teki yg mengejutkan author
    apalagi Yoo Chun mengenal Yuri
    dan cinta pertamanya, pantas aja di melakukan penyelidikan sampai benar2 tuntas
    Sepertinya rahasia YW bakal terbongkar ni, aish… bagaimana ini
    Jessica di sini emg cocok jg di gambarkan wanita bermulut tajam dan sombong apalagi dia membuat Yuri panas dgn perkataannya. Sepertinya bakal tejadi perang persaudaraan ni,
    sumpah keren bgt ff mu thor
    seperti drama aku menghayati ceritanya, bahkan kata2nya pas dan tdk ada yg salah. inspirasi yg hebat author

  2. yuri udah tau semuabya ya bagus dech biar masalah bya cepet selesai/bertambah molla..kkk~ tp pnasaran pa yg akan di lkukan yuri ya ketikak tau yoona eonni tunangan wonpps trus prayaan seperti apa yg di tunjukin wonppa ke yoona eonni…

  3. Waaaaaaaaaaaaah gawat sica unni udah membongkar semuanya
    lalu apa yg akan terjadi pd yoonwon
    semoga yuri unni dapat menerima dgn lapang dada

  4. yuri percaya pa gag ya ma sica?….
    wonpa nakal nich, masak mau bantuin yoona unnie mandi…
    penasaran yoona unnie mau di ajak kemana ma wonpa…

  5. Yuri eonni bkal tau kebenarannya.tpi reaksi apa yg dia brikan?membenci Yoona/merestuinya?bner² membingunkan.smoga aja bisa mnerima kenyataannya.dan mungkin Yuri eonni bsa deket dngan Yoochun.smoga aja gaada perang persaudaraan.

    Aku sangat sangat sangat suka alur ceritanya.kereeenn

  6. Akhirnya tau jga siapa agen park itu…
    Gawat nih jessica udah bongkar rahasianya yoonwon, gmna nasib yoonwon nanti…?
    Walaupun hrus sembunyi2 tpi moment yoonwonnya sweet…

  7. jadi pria itu yoochun,itu yoona ma siwon gak ada tempat lain buat mesra2an sampai kamar mandipun jdi,tpi so sweet banget.
    truz gimana dengan yuri jika kebohongan yoona terbongkar…

  8. mereka berdua memang pasangan serasi,truz bagaimana keadaan yuri kalu dia sudah tahu semuannya……
    penasaran banget!!!!!!!

  9. aduh jessica, bagaimana ini???
    kasian yoonwon
    yoonwon mesra-mesraan dikamar mandi ampe kepergok sm nyonya choi

  10. Wuahhh.. Akhirnya yurii tauu!! Yeyeyeye.. *plak
    Tpi gmna selnjtnya, dia bakl gmna ke yoong.. Pliss partnya yoong dann wonppa bhgia dongg,, udh wktunya mrka hruss bhgia.. Tnpa hrus mkirin prsaan org laen.. Next chap, gakk sbrr

  11. Yoonwon soswit 😊 Waahh akhirnya yuri tau juga hub yoonwon ga sabar liat reaksinya haha.:D daebak thor… lanjut

  12. Kisah cinta.a Y00chun pd Yuri manis jg, bisa tahan lama mskipun tlh sekian lama trpisah, tp dgn bantuan Siw0n akhir.a dia bisa deketin Yuri lg, y tp harus nelan pil pahit krna Yuri udah gk ingat sama dia,.
    Yuri udah tau nih kalau yg d sebut pelacur & tunangan.a Siw0n yg d sebut Jessica adalah Y00na, bakal kyk apa reaksi.a nanti k Y00na?
    Kejutan perayaan dr Siw0n buat Y00na p nih? Penasaran pgn baca next Chaptr.,

  13. Yoonwon so sweet bgt sih..?? Dan Yuri.,dia sdah tau yg dimaksud jesika dgn tunangan dan pelacur itu adl yoona…. Oh.,god apa yg dia lkukan..?? Mkin pnasaran..

  14. Woa yuri udah tau kalo yoona adalah tunangan siwon,,😏#bagus lah..
    Apa yang akan dia lakukan setelah dia tau kalo adik kesayangan nya ternyata adalah tunangan dari pria yang amat sangat dicintai nya..

    Siwon semenjak mengakui perasaan nya pada yoona kaya nya selalu punya banyak waktu luang untuk dihabiskan bersama yoona,,😊
    Kaya’nya yoona udah jadi prioritas utama untuk dia bahakan mengalahkan pekerjaan nya…☺
    Ny Choi baik banget dia udah bener-bener sayang sama yoona,,
    Bahkan sekarang dia keliatan lebih sayang sama yoona dibandingkan siwon. . 😄😄

  15. pasti nyesekk bgt tu hatinya yoong eonni waktu siwon oppa bilang cinta ke yuri eonni-nya, tp semua jg gara2 kebohongan yg dibuat yoong eonni sendiri..
    sabar yaa eon,
    dan ommona😮.. ngapain coba yoonwon b2an di kmr mandi?? kkkk kalian mesum😀

  16. Setelah dibuat merinding dengan pernyataan-pernyataan Yoochun, gue dibikin geram dengan permintaan Yuri “Katakan jika kau mencintaiku..”
    banyak yang tak terduga pokonya di part ini
    YoonWon moment-nya juga benar-benar dah pokonya, TOP
    Berharap lebih pada Yoochun
    Entah harus berterimakasih atau menyumpal mulut Jessica karena telah membeberkan apa yang YoonWon tutupi selama ini
    Mari baca kelanjutanyaa
    DAEBAAAAAAAK

  17. Yoonwon’ya makin sweet dan sama” perhatian makain sayang lah diriku sama mereka. Agen’y ternyata prak yoochun . Dan yuri’y mengetahui pertunangan yoonwon dari jessica yg mengatakan klo yoona adalah seorng pelacur . Haduh panas dingin + ngeri apa yuri akan murka pada yoona setelah dia tau ??

  18. wah park yoochun ternyata si pendatang barunya.
    jadi yuri cinta pertamanya sekaligus teman sekolahnya park yoochun.
    seneng liat siwon selalu bisa membuat yoona merasa dicintai meskipun ada sedikit salah paham.
    akhirnya yuri sudah tau kalau yoona tunangan siwon.

  19. Yuri semakin nyebelin,bgt sih gsk tau ap yoona sedih, bagus deh klo yoochun suka am yuri,,ya jesicca merusak semua nya, wah parah ni part ddepan pasti peran yoona yuri nih, secara yuri dah tau yoonwon tunangan

  20. Jeng jreng jreng yuri sudah tahu.. Aigoo apa yg akan dilakukan yuri kpd YW Nantinya.. Aishhh kasihan yoona jika hrus menanggung amarah yuri nantinya.. Yoona ajh smpe sering nangis gra2 khawatir dg keadaan yuri..

    Yoochun cpet dong yakinin yuri sblum smw ny terlambat..

    Yoonwon hihi lucu wktu scane dikmr mndi..

  21. jessica bner2 pnghancur keadaan…….pasti yuri bner2 syok…
    trnyata yoochun oppa sejak awal dah knal ma yuri…bru tau,,,hihihihi
    moga yuri ma nrima….

  22. oh jadi agen park, itu ternyata park yoochun seseorang dimasalalu nya yuri pantesan dia bener2 nyelidiki sampe tuntas bgt penyebab yuri depresi.
    dan akhirnya yuri tau kalo yoong itu tunangannya wonppa. kira2 apa ya yg akan terjadi setelah yuri tau kalo yoonwon udah tunangan. akankan terjadi perang saudara seperti yg dikatakan nyonya choi.

  23. tet tot yuri udah tau, dan dia tau bukan langsung dari siwon atau yoona, tapi malah tau dari jessica,
    dan pemain barunya adalah yoochun? atau agen park? dan yuri adalah cinta pertama yoochun?

  24. Konyol deh siwon selalu godain yoona dgn mau mandiin dia hahaha.. dasar wonpa
    Gawat semakin mendekati kebohongan terbongkar dan itu krn ulah jessica

  25. Siwon lucu yaa
    Selalu godain yoona mandiin yoonaa.. dasar wonpa hihi
    Gawat yuri akan semakin curiga dgn omongan jessica
    dan pd akhirnya kebohongan akan segera terbongkar

  26. omg .apakah yg akan dilakukan yuri setelah mengetahui kebenarannya .dan ternyata siwon jdi mak comblang yuri dan agen park .

  27. Ah,,,,sica,,,knpa yuri tau harus dari sica tambah rumit lagi ne,,,apa yg akan yuri lakukan??? Buat pnasaran aja,,waduh wonpa ada2 aja masak mau mandiin yoona

  28. Ooh trnyata prak2 itu prak yoochun,,,brti yg ngsiiih bunga ke yuri prk yoochun bkn siwon,,,
    whh gwat yuri udh tau smuanya gmna ya sikap yuriii smaa yoon pnsarn nex prt,,

  29. Waah, agen park akhirnya ketauan juga kalo selama ini ngikutin yuri dan ternyata dia udah udah pernah nembak yuri pas SMA tapi di tolak dan baru bertemu lagi dengan yuri setelah bertahun-tahun berpisah, tapi sayang yuri dirawat di rumah sakit jiwa, cinta sejati banget ya, bukannya illfil ama yuri tapi dia tetep cinta. Saluuut,,
    Tapi gimana tuh si yuri tau kebohongan yoona dan siwon dari jessica, pasti yuri marah besar tuh, apa kabarnya nih ama hubungan mereka semua..

  30. Haaaah sicca kenapa dia yg harus menceritakan itu pada yuri.pasti setelah ini yuri akan salah paham.
    ga bisa berkomentar lg pengen lanjut baca part selanjutnya..
    bava ni ff kaya lg nnton sinetron kadang bkin seneng,deg -degan juga..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s