Fanfiction

FF | At First Sight | 18

Happy Reading~

*

*

*

*

*

Yoona POV

Sejak beberapa waktu yang lalu Aku benar-benar berpikir Siwon memang telah kerasukan hantu yang berasal dari rumahku, seperti lelucon yang dikatakannya dan berhasil membodohiku semalam.

Dia bertingkah menyebalkan..

Ya..
Aku harus mengatakan bahwa dia sangat menyebalkan sekarang dan telah menjadi seorang yang keterlaluan.

Bagaimana bisa hanya karna pesan yang dikirim oleh Dr.Cho dan kenyataan aku memberikan nomer ponselku padanya, bisa sampai membuatnya seperti itu.

Dia benar-benar berlebihan..

Selain sisi pemarah dalam dirinya aku juga tak menyukai sikap konyolnya saat ini.

Demi Tuhan, dia sudah dua puluh delapan tahun. Aku tak percaya ada seorang pria dewasa seusianya yang bertingkah seperti remaja belasan seusiaku. Itulah yang sedang aku saksikan sekarang.
Dia bahkan bisa terus mengoceh disepanjang perjalanan pulang menuju rumahnya dan itu membuatku mual. Tapi aku bersyukur setidaknya aku belum sampai mengalami muntah ketika mobil yang dikemudikannya berhenti tepat dihalaman rumahnya.

Aku keluar dengan cepat, benar-benar harus menghindarinya.

“Yoona.. Yoona..”

Dia keluar dan mengikutiku dan menarik pinggangku untuk menyamakan langkahnya.

“Lepaskan aku..”

Aku menyentakkan lengannya yang melingkari pinggangku dan mempercepat langkahku. Namun lagi-lagi dia menyusulku dan kembali menarikku untuk berjalan bersisian dengannya.

“Kau marah padaku?”

“Kau menyebalkan, sajangnim..”

“jadi aku seperti itu?”

Aku mengabaikan ucapannya dan membalasnya dengan kalimat yang lain..

“Jangan menyentuhku sebelum hantu yang merasukimu itu keluar dari tubuhmu..”

Aku mendengus dan dia malah menertawakanku, tetap tak melepaskan pinggangku dan justru tangannya semakin mengerat disana. Dia memiliki tangan yang kuat, yang membuatku tak dapat melakukan apa-apa kecuali membiarkannya.

Dia membawaku masuk melewati pintu yang berada digarasi, kukira masih terlalu pagi untuk ada yang terbangun, namun ternyata salah karna sekarang aku justru dapat melihat Ibu Siwon yang sedang duduk disalah satu sofa, dengan kedua tangan bersedekap, kaki yang menyilang dan matanya yang awas menatap padi kami.

Oh Tuhan..
Ini akan menjadi masalah untukku. Hanya untukku. Karna yang kulihat Siwon sama sekali tak risau dengan keberadaan ibunya disana. Dia masih tidak menjauhkan tangannya dariku dan malah menarikku untuk menghampiri Ibunya.

Oh..
Apa yang harus kukatakan padanya.

“Oemma.. Apa kau sedang menunggu kami?”

“menurutmu begitu?”

Aku mulai menggigit bibirku ketika yang kulihat kemudian adalah Ibu Siwon beranjak dari sofa yang didudukinya dan melangkah, menghadang dengan berdiri didepan kami.

“Darimana saja kalian? Semalaman tidak pulang.. Jadi apa saja yang kalian lakukan?”

“Oemma.. Aku tak bisa menjelaskannya. Aku harus bersiap kekantor.. Yoona yang akan mengatakannya padamu..”

Aku membulatkan mata kearahnya saat dia menjauhkan tangannya dari pinggangku dan bergerak mendekati ibunya hanya untuk terlebih dulu memberikan ciuman dipipinya dan pergi begitu saja meninggalkan kami.

“Sajangnim..”

“ceritakan saja apa yang semalam kita lakukan, Yoona. Oemma pasti akan mengerti..”

Sialan..
Dia malah mengedipkan matanya padaku. Dan Aku bersumpah benar-benar ingin melepas alas kakiku dan melemparkan benda itu kearahnya.

Mengapa dia justru meninggalkanku bersama dengan ibunya, disaat wanita itu sedang terlihat ingin memangsaku.

Ya Tuhan..
Bagaimana ini?

“Om-monim..”

Aku sedikit melengkungkan bibirku untuk menciptakan senyum diwajahku, meski hal itu terasa percuma. Ibu Siwon tetap tak mengubah tatapannya padaku.

“Omonim.. Semalam aku.. Yang terjadi semalam adalah, aku.. Aku sama sekali tidak..”

“Sudahlah, kau pikir aku tertarik untuk mendengar ceritamu. Kalian pasti sengaja mencari tempat yang aman untuk berduaan kan?”

Dia mendengus..

“Aku sudah menduga yang terjadi pasti tak akan jauh dari apa yang berada dipikiranku..”

Apa yang ada dipikiran ibu Siwon sekarang?

Sungguh aku bisa menjelaskannya bila memang saat ini dia memiliki pemikiran yang salah.

“Astaga.. Apa yang dilalukan anak itu? Siwon tidak membiarkanmu tidur semalam? Kau memiliki lingkaran hitam dimatamu.. Cepatlah mandi dan kembali temui aku. Aku akan mengurus masalah dimatamu itu sebelum kita pergi nanti.”

“Omonim..”

Aku meraih pergelangan tangannya ketika dia ingin beranjak dari hadapanku.

“Hari ini Yuri oenni memiliki jadwal terapi. Aku harus menemaninya..”

Aku melihatnya yang memutar mata padaku..

“Kau sudah melakukan itu kemarin, dan aku membiarkanmu. Tapi tidak hari ini, Yoona. Aku memiliki acara dan yang harus kau lakukan adalah ikut denganku.”

“Omonim.. Tapi..”

“Aku tidak ingin mendengar alasan yang seperti itu. Sebaiknya sekarang kau mulai bersiap.. Amber yang akan mengantar dan menemani kakakmu. Dia lebih dari sekedar mampu untuk diandalkan”

Aku menghela napas ketika dia beranjak. Setidaknya aku lega wanita itu tidak lebih mengkritisi dengan mulutnya yang biasa mengeluarkan kata-kata tajam, mengenai ketidak pulanganku dan Siwon semalam.

Maka setelah melihatnya masuk kedalam kamar, aku memutuskan untuk melihat Yuri oenni. Sebelum mencapai kamar Yuri oenni, Aku terlebih dulu melewati bagian dapur dan melihat ahjumma Lee yang sudah memulai aktifitasnya disana. Ahjumma Lee pasti sedang sibuk menyiapkan menu sarapan. Aku senang melihatnya seperti itu, setidaknya ahjumma mencoba untuk meneruskan hari-harinya meski kini tanpa kehadiran Donghae oppa.

“Ahjumma..”

Aku memutuskan untuk menghampiri, dan mencari tahu apa yang sedang dikerjakannya.

“Oh, Yoona ya.. Sepertinya kau baru pulang?”

“nde..”

“dan berada dimana kau semalam? Bersama Siwon?”

“Aku merasa merindukan rumahku. Kami bermalam disana..”

Ahjumma Lee memberiku senyum mengerti dan kembali fokus pada apa yang saat itu dikerjakannya.

“Ahjumma.. Adakah yang bisa aku bantu?”

“Tidak, tidak usah Yoona. Nyonya melarangmu berada didapur. Sebaiknya kau pergi sekarang sebelum dia melihatmu..”

“Dia tidak akan melihat.. Aku melihat omonim masuk kedalam kamarnya tadi”

Aku memaksa mengambil spatula dari tangan ahjumma Lee dan menggantikannya mengaduk-aduk masakannya yang berada didalam wajan.

“Menyingkirlah ahjumma.. Sementara aku mengerjakan ini, ahjumma bisa mengerjakan yang lain..”

“Aku benar-benar tidak mau kau melakukan ini, Yoona. Nyonya bisa saja melihat dan kau akan mendapatkan masalah, sayang”

“itu tidak akan terjadi ahjumma, tenanglah..”

Aku memberinya senyum yakin, sesaat sebelum sebuah suara teriakan kudengar..

“AKU TIDAK MENYURUHMU UNTUK BERADA DISANA, YOONA. MENYINGKIRLAH SEKARANG..!!

Astaga..
Suaranya mengejutkanku dan membuatku menjatuhkan spatula dari tanganku. Aku bahkan nyaris menggulingkan wajan itu. Namun ahjumma Lee bergerak cepat membantuku.

“Awhhh…”

Kejadiaannya juga terjadi begitu cepat hingga aku tak bisa menjelaskan bagaimana kemudian aku mengaduh saat kurasakan sakit akibat dari pergelangan tanganku yang tergores pinggiran wajan panas itu.

“Astaga Yoona, gwechana?”

Ahjumma Lee terlihat panik, aku ingin mengatakan tidak apa-apa padanya, tapi suara kepanikan lain lebih dulu muncul dari belakangku.

“Ya Tuhan.. Aku mendengar teriakan itu. Apa yang terjadi denganmu, Yoona?”

Aku berbalik dan secara refleks menyembunyikan tangan dibelakang tubuhku, saat kulihat ibu Siwon yang sedang berjalan cepat menghampiriku.

“om-monim..”

“Katakan padaku apa yang terjadi?”

Aku menggeleng dan tersenyum, namun dia justru mendecakan lidah sebelum kemudian mengarahkan tatapannya pada ahjumma Lee yang berada disebelahku.

“Apa yang terjadi, ahjumma?”

“maafkan saya Nyonya, tapi ini kesalahan saya..”

“Aku tidak menanyakan kesalahan apalagi menyuruhmu meminta maaf. Aku hanya ingin bertanya apa yang terjadi pada gadis itu hingga aku mendengar suaranya berteriak..?”

Ahjumma Lee lebih dulu melihat kearahku, dan aku hanya bisa menggigit bibirku.

“Pergelangan tangan Yoona terkena wajan panas, Nyonya. Maafkan saya karna telah membiarkannya berada disini..”

“Apa..?!”

Aku bisa melihat kedua mata ibu Siwon yang membulat sempurna sekarang, saat dia kemudian menatapku.

“anio, omonim.. Ini tidak apa-apa, sungguh..”

Aku menunjukkan pergelangan tanganku yang kini terlihat memerah. Hanya memerah, tidak sampai melepuh, dan aku yakin tidak akan terjadi apa-apa, meski sekarang aku sedang merasakan sengatan dari rasa sakitnya.

“Aku sungguh tidak apa-apa. Ahjumma, mianhae.. Aku justru mengacaukan masakanmu..”

Ahjumma Lee mengangguk mengerti sambil mengusap pada bahuku..

“Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak berada disini..”

Ibu Siwon menarik pergelangan tanganku yang lain, saat kemudian dia membawaku meninggalkan ruang dapur.

“mianhae.. Tapi ini tidak akan terjadi jika aku tak mendengar suara teriakan omonim tadi. Aku terkejut karna hal itu, lalu___”

Dia menghentikan langkah mendengarnya. Dan aku sangat ingin menggigit lidahku sendiri saat ini, menyadari kesalahanku yang telah mengatakan hal seperti itu..

“jadi kau menyalahkanku?”

“anio..”

Aku menunduk..

“bukan maksudku seperti itu, omonim.. Mianhae, ini kesalahanku..”

“Kau benar-benar menguji kesabaranku, Yoona. Aku memintamu untuk bersiap, maka itulah yang seharusnya kau lakukan. Ingat apa yang kau katakan padaku tentang menjaga sikap dan tidak membuatku kesal..”

Ibu Siwon melepaskan pergelangan tanganku dan meninggalkanku yang masih menundukkan wajah, menyesali kesalahanku yang telah menganggap remeh dan mengabaikan ucapannya.

“Mianhae, omonim..”

Aku menghela napas berat sebelum kemudian menyeret kakiku menuju kamar Yuri oenni. Menekan knop pintu dan sedikit mendorongnya, Aku masuk dan melihat Yuri oenni sudah terbangun. Dia dalam posisi duduk diatas tempat tidur..

“Oenni ya..”

Aku mendekat dan tersenyum saat telah berada dihadapannya.

“Oenni ya..”

Aku menyentuh tangannya saat Yuri oenni hanya diam tak menanggapi sapaanku.

Apa yang terjadi?
Apa oenni ku mengalami mimpi buruk lagi..

Ya Tuhan..
Jangan biarkan hal itu terjadi lagi..

“Oenni ya, ada apa?”

Oenni baru merespon ketika aku meremas tangannya. Dia kemudian menatapku..

“Yoona.. kau sudah pulang..”

Aku hanya menanggapinya dengan tersenyum, masih mencoba mencari tahu apa yang sedang dipikirkannya..

“Oenni melamun?”

Dia menggeleng..

Namun jelas terlihat dari tatapan matanya saat melihatku, aku merasa ada sesuatu yang lain yang saat itu sedang dirasakannya.
Tapi apa?

“Oenni..”

“hm..”

“pagi ini kau memiliki jadwal untuk terapi”

Anggukan kepalanya sebagai respon membuatku tersenyum. Aku merasa senang, dengan rutin menjalani terapi itu, aku yakin Yuri oenni akan lekas sembuh dan dapat kembali menggunakan kedua kakinya untuk berjalan.

“Kalau begitu aku akan membantu oenni bersiap. Tunggu sebentar, aku akan menyiapkan air hangat terlebih dulu..”

Aku sudah akan beranjak dari hadapannya, tapi kurasakan oenni meraih pergelangan tanganku.

“Tunggu, Yoona.. Ada yang ingin kutanyakan padamu, ini tentang___”

“Awhh..”

Aku mengaduh merasakan nyeri, saat tangan Yuri oenni sedikit menekan dan mengenai bagian pergelangan tanganku yang terkena wajan tadi.

“Apa yang terjadi dengan pergelangan tanganmu, Yoona?”

Oenni memperhatikan pergelangan tanganku yang memerah, raut wajahnya kembali berubah. Tidak seperti yang sebelumnya, yang kali ini aku dapat menangkap kekhawatirannya padaku dalam sorot matanya.

“Ini tidak apa-apa, oenni. Hanya sedikit terkena wajan panas saat aku membantu ahjumma Lee memasak didapur tadi..”

Aku tersenyum, namun sepertinya hal itu masih tak melegakan untuknya. Oenni masih terus memperhatikan pergelangan tanganku yang memerah.

“Oenni ya..”

“Apa itu juga bagian dari pekerjaan yang harus kau lakukan?”

“nde?”

“kau sudah bekerja sepanjang malam, dan kau masih harus bekerja didapur? Kau pasti mengalami kelelahan hingga sampai membuat tanganmu terluka, Yoona”

Aku melihat setitik airmata jatuh diwajah Yuri oenni dan menyadari betapa besarnya kecemasannya terhadapku.

“Kau seperti ini karna aku..”

“Tidak, oenni.. Tidak karna oenni. Tidak seperti itu. Lihatlah aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit ceroboh dan kurang berhati-hati tadi. Kumohon, jangan terlalu mengkhawatirkanku..”

Aku menyusut airmata diwajahnya dan kembali menunjukkan senyum dibibirku. Dan kemudian oenni mengulurkan tangan, menyentuh wajahku, tepat dibagian bawah mataku.

“bagaimana bisa aku tidak mengkhawatirkanmu, Yoona.. Kau bahkan tidak tidur kan? Kau memiliki lingkaran hitam ini..”

“Aku akan tidur nanti.. Sekarang sebaiknya aku membantu oenni bersiap..”

Aku tidak menginginkan pembicaraan yang semacam itu terjadi lagi. Aku tak ingin mendengar Yuri oenni terus merasa bersalah dengan menyalahkan dirinya sendiri.

Maka setelah terlebih dulu menyiapkan air hangat dan selanjutnya membantu Yuri oenni untuk mandi, dan berganti pakaian yang kesemuanya selesai pada sekitar tiga puluh menit. Aku lantas melakukan hal yang sama pada diriku sendiri. Ketika kemudian keluar dari dalam kamar mandi, aku melihat Yuri oenni yang duduk diatas kursi rodanya dan berada didepan cermin sebuah meja rias, sedang memoleskan bedak diwajahnya. Aku tersenyum melihatnya, teringat saat dulu hal itu menjadi salah satu dari sekian banyak keahliannya, dan sepertinya yang satu itu masih tak berubah. Oenni memang sangat pandai merias wajah cantiknya dan bahkan oenni pula yang dulu sering mengingatkanku agar tak terlalu cuek pada penampilanku. Yuri oenni juga tak segan mendadaniku. Dia benar-benar mengurusku dengan baik.

“Oenni sangat cantik..”

Aku menghampirinya dan menyentuh kedua bahunya dari belakang..

“Kau juga cantik, Yoona..”

Dia meraih dan menggenggam tanganku, sementara aku menggelengkan kepalaku.

“Tidak lebih cantik daripada oenni..”

“kau adikku yang paling cantik, sangat cantik..”

Kini aku dapat melihat senyum diwajahnya..

“Apakah kita sudah cukup memuji satu sama lain..”

Dia masih tersenyum dan mengangguk..

“Yoona, apa kau akan menemaniku kerumah sakit?”

Aku teringat kata-kata ibu Siwon yang tak menginginkanku untuk kembali menemani Yuri oenni menjalani terapinya hari ini, dan baru saja ingin mengatakan hal itu padanya ketika kemudian terdengar ketukan dipintu dan melihat Amber yang kemudian melongok setelah aku mengatakan padanya untuk masuk.

“Nyonya meminta anda untuk berada diruang makan, nona.. Mereka menunggu untuk sarapan bersama..”

Tatapan Amber mengarah padaku..

“Aku?”

“Dan nona Yuri..”

***

Author POV

Ketika kemudian Yoona menuju keruang makan, dengan Amber yang membantunya mendorong kursi roda Yuri, disana Tuan dan Ny.Choi sudah menunggu, begitupun dengan Siwon. Ketiganya sedang memperbincangkan sesuatu yang kemudian terhenti ketika mendengar langkah Yoona mendekat.

Tn.Choi tersenyum, sementara Ny.Choi hanya menatap awas pada Yoona dan Yuri secara bergantian. Sedangkan Siwon, kemudian berdiri dari duduknya dan langsung menarik sebuah kursi yang berada disebelahnya.

Yoona sempat menghentikan langkahnya ketika melihat Siwon melakukan itu, tapi yang kemudian ia lakukan adalah membungkuk memberi salam pada Tuan dan Ny.Choi.

“Duduklah Yoona, istriku ingin kau berada dimeja makan dan menikmati sarapan pagi bersama kami..”

Ny.Choi memutar mata kearah sang suami setelah mendengar apa yang dikatakannya, dan lantas membuat Tn.Choi memperbaiki kalimatnya..

“Maksudku, kami semua ingin mengajakmu dan juga kakakmu untuk sarapan bersama, duduklah..”

Yoona terlihat ragu, atau sebenarnya ia justru sedang kebingungan menentukan dimana posisi duduknya saat itu. Sebelumnya ia memang terbiasa duduk disebelah Siwon, namun dengan keberadaan Yuri disana, hal itu jelas tidak mungkin dilakukannya.

“Siwon, bolehkah aku berada disebelahmu..”

Apa yang dikatakan Yuri membuat Tuan dan Ny.Choi langsung saling berpandangan, namun mendengar keinginan Yuri itu, dengan segera dapat membuat Yoona menentukan pilihan. Ia memilih untuk melangkah memutar dan mengambil tempat duduk yang berada satu kursi jaraknya disamping Ny.Choi, namun belum sempat Ia mendudukkan tubuhnya, wanita itu telah lebih dulu meraih pergelangan tangannya dan mengarahkannya untuk menempati kursi yang tepat berada disebelahnya.

“Siwon, bolehkah..?”

Yuri mengulang pertanyaannya pada Siwon yang pada saat itu sedang memperhatikan langkah Yoona dan apa yang dilakukan nya dengan tidak menduduki kursi yang biasa digunakannya.

“Oh, ne.. Tentu saja..”

Siwon kemudian menggeser kursi tadi agar Amber bisa meletakkan kursi roda yang diduduki Yuri untuk berada disebelahnya.

“Terimakasih..”

Ucap Yuri kemudian saat telah berada disamping Siwon.

Siwon menunjukkan senyum untuk meresponnya..

Ny.Choi menyipitkan mata melihatnya dan memutuskan untuk tidak mengomentari apa yang dilihatnya saat itu, setelah merasakan Yoona meraih dan menggenggam tangannya yang berada dibawah meja. Tatapan mata gadis itu bahkan seperti sedang meminta agar ia membiarkannya.

Ny.Choi lantas mendengus sebelum akhirnya memanggil ahjumma Lee untuk membawa sarapan pagi mereka keatas meja makan.

Ahjumma Lee muncul dari arah dapur dengan memimpin dua pelayan lain yang membawakan nampan berisi makanan. Mengaturnya sedemikian rupa diatas meja, ahjumma Lee lantas mengisi gelas-gelas kosong disana dengan menuangkan air putih kedalamnya.

Tiba pada bagian Yuri, ahjumma Lee terlihat menunjukkan senyum diwajahnya, namun respon yang didapatkannya justru teramat mengejutkannya.

Prang~

Yuri menyenggol atau memang dengan sengaja menjatuhkan gelas disebelahnya dari atas meja. Menciptakan suara berdenting dari gelas yang beradu dengan lantai marmer yang mengkilap, dan menjadi pecah berkeping-keping. Hal itu sontak membuat sang ahjumma terlonjak dan bahkan sedikit merasakan shock melihatnya.

“Tolong jangan melakukan ini padaku..”

Ucap Yuri kemudian, dengan suara yang terdengar bergetar..

“Astaga.. Ahjumma..”

Ny.Choi langsung bersuara keras, Ia sudah akan berdiri tapi sang suami menahan dengan  memegang tangannya. Yang lantas dilakukannya hanyalah mendecak, dengan tatapan tajamnya yang mengarah pada Yuri.

“Oenni ya..”

Yoona pun sempat terperangah, namun kemudian ia  bergerak cepat menghampiri ahjumma Lee, berusaha untuk menenangkannya dari keterkejutan akibat dari sikap sang kakak yang teramat jauh dari prediksinya.

“gwechana ahjumma, gwechana?”

Yoona menyentuh kedua bahu ahjumma Lee dan sedikit meremasnya. Ahjumma Lee lantas memberinya respon dengan menganggukkan kepalanya, berusaha keras menunjukkan senyum dihadapan Yoona dan juga menghalau airmatanya agar tak jatuh pada saat itu.

“Aku tidak apa-apa, sebaiknya aku membersihkan pecahan gelasnya. Minggirlah Yoona, itu bisa melukai kakimu..”

“Biarkan aku saja yang melakukannya..”

Yoona kemudian merundukkan tubuhnya dan memungut pecahan gelas kaca itu dengan menggunakan tangan kosong. Akibatnya, jemari tangannya justru tertusuk serpihan-serpihan beling itu.

“Awhh..”

Yoona mengaduh setelah merasakan perih menyerangnya dan setitik darah yang keluar dari ujung jari telunjuknya.

“Ya Tuhan, sudah kukatakan jangan melakukannya, Yoona..”

Ahjumma Lee berusaha menarik tangan Yoona dan menjauhkannya dari pecahan-pecahan gelas itu, namun Yoona menghiraukannya.

Dan reaksi yang lebih justru ditunjukkan oleh Siwon. Ia dengan cepat mendorong kursi yang didudukinya dan lantas menghampiri Yoona. Merenggut tangannya, dan kemudian memasukkan ujung jari telunjuk itu kedalam mulutnya, menghisap darah yang keluar darisana.

“gwechana?”

Yoona hanya mengerjap dan terbengong. Ia seakan sedang berusaha keras mencerna apa yang terjadi, yang pada saat itu dilakukan Siwon padanya.

“gadis itu benar-benar bodoh.. tadi dia sudah membuat pergelangan tangannya terkena wajan panas, sekarang dia malah melukai tangannya dengan pecahan gelas.. Apa yang sebenarnya kau lakukan, Yoona..!!”

Ny.Choi berdiri dari duduknya, menunjukkan raut wajah campuran dari rasa kesal dan sekaligus khawatir, yang lantas membuatnya berteriak pada Amber untuk membawakannya obat luka.

Dengan cepat Amber muncul dengan membawa sesuatu ditangannya, yang kemudian langsung diberikannya pada Siwon. Siwon lah yang kemudian memasangkan sebuah plester kecil diujung jari telunjuk Yoona.

Namun pada saat itu tidak satupun yang menyadari tubuh Yuri menegang mengetahui kepanikan yang terjadi disekitarnya, karna semua masih terfokus pada Yoona yang terluka.

“Tidak terasa sakit kan?”

Yoona mengangguk mengiyakan..

“Sakit?”

Siwon memastikan, yang langsung ditanggapi Yoona dengan gelengan cepat dikepalanya. Membuat Siwon tersenyum melihatnya..

“gomawo..”

“hm, lain kali hati-hati..”

Siwon terlebih dulu mengusap pada rambutnya, sebelum berdiri dan kembali menduduki kursinya.

“Yoona..”

Yoona dapat mendengar gumaman Yuri pada saat itu, sang kakak pasti sedang merasa bingung oleh karna kepanikan disekitarnya yang ditunjukkan padanya.

Oh, jangan sampai sang kakak berpikir macam-macam..

“gwechana oenni, aku tidak apa-apa..”

“Tapi kau terluka..”

“hanya luka kecil, ini akan segera sembuh. Tidak apa-apa..”

Yoona tersenyum..

“Ini salahku.. Maafkan aku, Yoona. Aku___”

Yoona menggeleng, memutus kalimat yang berusaha diucapkan oleh Yuri, ia lantas meraih dan menggenggam tangannya.

Sementara kemudian seorang pelayan lain muncul untuk membersihkan pecahan gelas, dan membereskan sedikit kekacauan yang sempat terjadi diruang makan itu. Sedangkan Ahjumma Lee, entah sejak berapa saat lalu sudah tak terlihat lagi disana.

“Apa kau sengaja melakukannya tadi? Membuat kekacauan dengan menjatuhkan gelas itu?”

Suara Ny.Choi seketika membuat Yuri maupun Yoona menujukan tatapan mereka pada Ibu Siwon. Menggurat ketidak sukaan dalam wajah cantik wanita paruh baya itu, atas sikap yang telah dilakukan oleh salah satu dari kedua gadis itu.

“yeobo ya.. Dia pasti tidak sengaja melakukannya, bukankah begitu Yuri ssi?”

“Ne, Tuan.. Maaf, saya tidak bermaksud membuat kekacauan. Maafkan saya Nyonya..”

Yuri menundukkan wajahnya..

“Seharusnya kau juga mengatakan permintaan maaf itu pada ahjumma Lee..”

Sambung Ny.Choi lagi, masih dengan nada kesinisannya yang kemudian dibalas dengan teguran dari sang suami..

“Jangan memperbesar masalah, Yeobo.. Sebaiknya ayo mulai sarapan pagi kita..”

Ny.Choi mendengus dan kemudian diam. Hanya sesaat ia terdiam, karna selanjutnya ia kembali mengeluarkan suaranya pada Yoona yang masih berdiri diam disamping kursi roda Yuri.

“Apa yang kau lakukan disana.. Cepatlah kembali duduk..”

Kalimat yang disuarakan oleh Ny.Choi seketika itu membuat Yoona tersadar dari lamunannya dan lantas kembali menempati kursi yang berada disebelah wanita itu.
Begitu Yoona berada disebelahnya, Ny.Choi langsung meraih pergelangan tangan Yoona, untuk memastikan gadis itu tidak mendapatkan luka serius pada jari tangannya.

“Kau tidak apa-apa?”

Yoona menggeleng dan tersenyum sebagai jawaban untuk pertanyaan itu. Ia dan ibu Siwon saat itu pasti tidak menyadari keberadaan Yuri yang dapat  mendengar dan bahkan melihat langsung interaksi singkat yang terjadi didepannya, antara Yoona dan Ny.Choi saat itu.
Yuri hanya bisa menyimpan pertanyaan didalam hati saja. Bahkan kepanikan Ibu Siwon kala mendengar Yoona mengaduh tadi, masih terasa janggal bagi Yuri. Begitupun dengan sarapan bersama yang dilakukan mereka pada saat itu.

Untuk hubungan dengan seorang pekerja seperti posisi Yoona saat ini, wajarkah bila sikap Ibu Siwon sampai seperti itu?

Jika pun wajar, mengapa hanya sang adik yang menerima perlakuan seperti itu.
Mengapa hanya Yoona yang diminta untuk berada satu meja dan melakukan sarapan bersama mereka.
Bagaimana dengan pekerja yang lain, termasuk dengan Amber?
Amber jelas tidak ikut serta disana..
Tidakkah posisi mereka sama seperti Yoona?
Sebagai pekerja dirumah itu..

Dan juga sikap Siwon tadi..
Ada apa sebenarnya?

Yuri terus menggulirkan pemikiran itu, hingga ia merasakan pandangannya yang menjadi sedikit berkunang..

“Yuri ssi, kau ingin aku mengambilkan sesuatu untukmu?”

Suara Siwon yang berada disampingnya yang kemudian membuyarkan pemikiran yang berputar-putar dibenaknya. Ketika ia menoleh, wajah Siwon yang tersenyum padanya dengan seketika membuat hatinya menghangat..

“Apa yang kau inginkan?”

Siwon tak menunggu Yuri memberikan jawaban, Ia langsung menggunakan sepasang sumpit ditangannya untuk mengambil beberapa menu makanan didepannya dan meletakkannya diatas piring nasi milik Yuri.

“gomawo..”

“hm, makanlah.. Kau harus memiliki banyak tenaga untuk melakukan terapi hari ini..”

Yuri tersenyum, merasa Siwon sedang memberikan perhatian untukknya..

“omong-omong soal terapimu hari ini, aku minta kau tidak menyuruh Yoona untuk menemanimu. Aku membutuhkannya melakukan pekerjaan..”

Ny.Choi menyela..

“Tapi om__  tapi nyonya, saya ingin menemani Yuri oenni..”

Ny.Choi memutar mata pada Yoona..

“bukankah tadi aku sudah mengatakannya padamu. Aku memiliki acara dan kau harus ikut denganku..”

Yoona sedikit memberengut, namun kemudian suara ponselnya yang menandakan pesan masuk didalamnya, mengalihkan perhatiannya..

“Om___ emm, Nyonya.. Kumohon ijinkan aku, dokter Cho bahkan baru memberitahuku bahwa ada yang ingin dibicarakan denganku. Nyonya bisa melihat sendiri isi pesannya..”

Siwon membulatkan mata mengetahui hal itu..

Dokter itu kembali mengirim pesan?
Sial..

Sedangkan Yoona kemudian mencoba menunjukkan ponselnya, tapi Ny.Choi justru melengos-kan wajahnya..

“Nyonya..”

suara Yoona terdengar mengiba..
“Tidak, kau tetap ikut denganku. Kau sadar kan berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk terapi kakakmu? Haruskah aku menyebut nominalnya, dan mengingatkanmu bahwa kau harus bekerja padaku untuk membayar semua itu..”

Tn.Choi menggelengkan kepala mendengar itu, sedangkan Siwon justru sedikit menarik senyum dibibirnya atas sikap keras ibunya pada saat itu..

“Kurasa oemma benar, kau memang lebih baik ikut bersama ibuku, Yoona.. Akan lebih aman bila kau bersama dengan oemma..”

Dan jauh dari dokter itu..

Siwon menambahkan dalam hati.

Yoona langsung mengalihkan perhatiannya pada Siwon, dan melihat pria itu mengedikkan mata padanya.
Yang langsung dibalas Yoona dengan putaran mata kearahnya.

Siwon tidak berpihak padanya dan malah mendukung niatan ibunya..

Benar-benar pria menyebalkan..

Rasanya ia sudah lama tidak memaki Siwon. Dan sekarang ia sangat ingin melakukannya pada pria itu..

“Kau lihat, Siwon juga menyuruhmu untuk ikut denganku..”

Ny.Choi tersenyum senang setelah mendapatkan dukungan dari Siwon.

“Tapi oenni.. bagaimana dengan Yuri oenni ku..?”

“Sudah kukatakan Amber bisa diandalkan”

“Aku yang akan mengantar Yuri kerumah sakit..”

Ucapan Siwon kembali membuat Yoona mengarahkan perhatiannya, sesaat melihat pria itu, ia kemudian justru terpaku melihat binaran dimata Yuri, ketika sang kakak kemudian memusatkan pandangannya pada Siwon.

***

Siwon POV

Melihat Yoona yang memberengut dan begitu berwajah kesal sekarang, apa dia sebenarnya juga ingin bertemu dengan dokter itu?
Dan apa dia mengira aku akan begitu saja membiarkannya bertemu dengan dokter itu?

Tidak..
Jelas saja tidak..
Dia tidak boleh bertemu dengan dokter itu.

Mengetahui ada pria lain, dokter itu yang berhubungan telpon dengannya, sudah cukup membuatku kesal.
Dia mungkin menganggapku konyol. Tapi dia hanya tak mengetahui jika seorang pria terkadang memiliki insting, atau firasat ketika ada sesuatu yang mengancam ingin mengambil sesuatu yang dimilikinya.

Dan aku merasakan hal itu..

Aku merasa dokter itu berniat untuk memiliki gadisku.

Sialan..
Saat seperti ini aku merasakan pentingnya Yoona memakai cincin pertunangan kami. Dan menunjukkan pada orang-orang yang masih belum mengetahui, bahwa gadis belia itu telah terikat pertunangan denganku.
Sayangnya aku sendiri yang justru telah membuang benda itu dan menganggapnya tak penting.
Tapi pada saat itu, Yoona memang benar-benar sedang membuatku marah karna dengan mudahnya dia melepas dan mengembalikan cincin itu padaku.

Lalu bagaimana aku harus menjaga milikku, selain menjauhkannya dari dokter itu.
Itulah satu-satu nya cara. Bukan karna aku pria pencemburu.
Bukan..
Aku yakin bukan karna itu.
Tapi..
Demi Tuhan, Yoona masihlah gadis belia. Dia delapan belas tahun.
Astaga..
Haruskah aku mengingat itu..
Dia memiliki kelabilan emosi dan jelas sangat muda terpengaruh. Bagaimana jika dokter itu merayunya dan dia terjerat kedalam perangkapnya.

Ini akan membuatku gila dengan hanya memikirkannya saja..

Meski Yoona mengatakan pria itu tak mungkin mendekatinya, karna telah menikah dan memiliki istri. Aku tetap tak sepenuhnya dapat menerima alasan seperti itu.

Oh, ayolah..
Melihat dari keadaan manusia didunia ini, populasi pria yang berkurang dan cenderung lebih sedikit bila dibandingkan dengan para wanita. Hal itu bisa dimanfaatkan para pria hidung belang untuk merayu wanita-wanita yang masih belum memiliki pasangan.

Dan dokter itu, aku bukan bermaksud menuduh. Ini hanya dugaan dan sekaligus hal yang kuwaspadai. Meski telah beristri, tapi dia mungkin berada dalam barisan pria hidung belang semacam itu dan sudah pasti dia bukan jenis pria setia.

Sampai saat ini aku masih beranggapan bahwa, satu-satunya pria yang bisa kupercayai sebagai pria setia adalah aboji. Aboji begitu setia pada oemma, setia pada cintanya. Dan sangat jarang menemukan pria seperti nya. Karna bagiku tak ada pria lain yang kesetiaan dan cintanya bisa menandingi ayahku.

Itu..
Kecuali aku.
Ya..
Aku..
Karna aku mewarisi darah ayahku, darah pria setia yang mengalir didalam tubuhku. Aku memastikan diriku akan menjadi pria setia seperti aboji.

Jadi mana mungkin aku akan mempercayai dokter itu setia dan tidak akan menggoda Yoona.
Dia jelas sedang melancarkan aksi dengan berkali-kali mengirim pesan pada Yoona.
Modus..
Pesan jebakan..
Dan aku jelas tidak akan membiarkan gadisku terjebak..

“Siwon..”

Aku menoleh pada Yuri dan merasakan sentuhan tangannya ditanganku. Dia telah membuyarkan isi dikepalaku..

“hm..?”

“Kau benar akan mengantarku kerumah sakit?”

Aku melihat binaran dimatanya, seperti yang dulu seringkali ia tunjukkan padaku.

Ya Tuhan..
Aku memang peduli padanya. Tapi aku tak ingin dia menyalah artikan kepedulian ku.
Aku sungguh tidak ingin memberinya harapan palsu. Yuri layak mendapatkan pria yang mencintainya.
Tapi permintaan Yoona padaku..
Aishh..
Gadis itu benar-benar menempatkanku dalam posisi yang sulit, tapi kusadari diriku tetap mengikutinya. Alasannya semata karna aku tak ingin melihat airmatanya.
Aku tak ingin melihatnya bersedih. Aku bahkan tak ingin membuatnya terus memohon.
Aku mencintainya..
Gadis itu, aku sungguh akan melakukan apapun demi untuk kebahagiaannya.
Dan yang menjadi salah satu kebahagiaannya adalah Yuri. Kesembuhan kakaknya, itu apa yang saat ini diinginkannya.

“Siwon..”

Yuri kembali menggerakkan tanganku ketika aku hanya diam menatapnya.

“Ya, aku akan melakukannya. Aku tidak memiliki jadwal penting pagi ini..”

“Tapi.. Tapi aku tidak mau kau melihatku saat aku melakukan terapi”

Ada kecemasan yang kemudian kulihat dimatanya.

“Aku bisa menunggumu diluar..”

Dia meremas tanganku dan tersenyum.

“gomawo..”

Aku mengangguk dan mengalihkan tatapan dari Yuri. Dan yang kemudian kutemukan adalah Yoona yang sedang memperhatikanku.
Tatapan kami bertemu, sesaat sebelum dia mengalihkannya. Aku merasa ada sesuatu dimatanya, namun aku tak bisa membaca makna apa yang tersirat disana saat itu.

Sepuluh menit berlalu dan yang kulihat Yuri tidak berselera dengan makanan didepannya. Jelas saja, siapa yang akan bisa menelan makanan disaat ibuku terus mengucapkan kata-kata sindiran disetiap kalimat yang diucapkannya. Yang kulihat justru ketegangan yang menggurat diwajahnya.

“Kau sudah selesai, Yuri ssi?”

dia menoleh padaku dan mengangguk..

“Baiklah, ayo kita pergi..”

Aku memanggil Amber untuk membawa Yuri, dan terlebih dulu mengambil beberapa berkas dari dalam kamarku.

Kembali keruang makan, aku berpamitan pada aboji dan juga oemma. Tidak melewatkan untuk memberikan ciuman pada ibuku. Ibuku yang tersayang, yang kadang berbicara manis tapi lebih sering bermulut tajam.

Beralih dari oemma, aku mendekat pada Yoona yang berada disebelahnya. Gadis ini masih diam dan terus memberengut. Aku menyentuh kedua bahunya dan sedikit merundukkan tubuhku untuk kemudian berbisik ditelinganya.

“Aku pergi.. Aku akan mengantar Yuri kerumah sakit”

Dia hanya merespon dengan anggukan ringan, dan hal itu jelas tidak membuatku merasa puas.
Setidaknya dia seharusnya menoleh dan menatapku.

Maka aku meremas bahunya dan lantas memberikan ciuman dipipinya. Sebelumnya aku telah memastikan Amber sudah membawa Yuri keluar dan menungguku dimobil. Jadi takkan ada masalah dengan apa yang kulakukan pada Yoona.

Ciuman dipipinya pasti membuatnya terkejut. Dia hampir terlonjak, dan langsung memberikan respon dengan memutar tubuhnya dari kursi yang didudukinya, dan kedua matanya membulat menatapku. Namun semburat diwajahnya jelas lebih menarik perhatianku. Dia mungkin malu karna apa yang sudah kulakukan didepan oemma dan aboji.

“Sajang___ Oppa…”

Benar..
nada suaranya jelas terdengar kesal. Tapi aku suka saat dia memanggilku seperti itu. Terdengar sangat manis, seperti rasa di bibirnya. Meski hal itu hanya akan kudengar bila dia berada diantara aboji ataupun oemma. Tapi Aku akan menemukan cara agar dia mau memanggilku seperti itu disetiap waktu.

“Aku pergi..”

Ucapku mengedikkan bahu, tapi kurasakan tangan oemma memukul pada bahuku.

Oh..
Apalagi ini?

“Oemma bilang jaga kelakuanmu, bagaimana jika gadis itu melihatmu mencium Yoona..”

Aku mengedikkan mata dan kembali memberikan kecupan dipipi oemma.

“Aku tahu, oemma..”

Aboji menggeleng-gelengkan kepala padaku dan aku membalasnya dengan tersenyum.

Langkahku terasa ringan meski aku meninggalkan Yoona yang masih merasakan kekesalan terhadapku. Setidaknya dia sudah aman. Dia takkan bertemu dengan dokter itu.

Amber benar sudah membantu Yuri masuk kedalam mobil, aku menyusul dengan duduk disampingnya dibagian kursi belakang. Yuri terlihat tersenyum ketika itu dan aku mencoba untuk membalasnya.

“Kau sudah siap?”

“hm..”

Amber ikut bersama kami, dan ahjussi yang seperti biasa mengemudikan mobilku, lantas menghidupkan mesin dan melajukannya meninggalkan halaman rumahku.

Melewati pagar, aku tanpa sengaja melihat sebuah mercedes yang terparkir dipinggir jalan, nampak tak asing, tapi aku mencoba mengabaikannya.
Bukankah banyak pemilik mobil yang semacam itu?

Namun kemudian aku menyadari jika mercedes itu mengikuti laju mobilku..
Benarkah seperti itu?

Aku mencoba memastikan dengan beberapa kali menoleh kebelakang, dan memang sepertinya mobil itu sedang mengikuti, dengan lajunya yang berada tak terlalu jauh dibelakang.

“Siwon.. Ada apa?”

Yuri pasti menyadari saat aku berkali-kali menengok kebelakang dan hal itu kemudian dipertanyakan olehnya.

Aku tidak akan mengatakan jika aku sedang mencoba memastikan apakah benar ada yang mengikuti kami, aku tidak ingin membuat Yuri menjadi khawatir atau yang lebih parah membuatnya menjadi panik. Dia masih rentan dan cenderung memiliki ketakutan dan kewaspadaan berlebih setelah apa yang dialaminya. Dan aku merasa prihatin untuk itu.

Mungkin aku perlu berbicara dengan Amber dan mengatakanpadanya nanti.

“Apa kau mungkin meninggalkan sesuatu?”

Yuri memiringkan kepala dan kembali bertanya padaku.

“Tidak, tidak ada apa-apa..”

“Tapi kau terus melihat kebelakang, ada apa?”

Yang kemudian kulihat, Yuri menoleh kebelakang mencoba mencari tahu apa yang ada dibalik kaca mobil dibelakang kami, dan jelas dia tidak menyadari apa yang sebelumnya terus kuperhatikan.

“Tidak ada apa-apa Yuri ssi, tenanglah..”

Dan yang kemudian kulihat, mercedes itu sudah tidak ada dibelakang laju mobilku.

Mungkin aku hanya terlalu berlebihan tentang pengemudi didalamnya yang sedang mengikuti kami. Dia pastilah hanya kebetulan berada disana sebagai pengguna jalan seperti yang lain.

***

Author POV

Setelah kepergian Siwon dan Yuri, Ny.Choi langsung menarik Yoona kekamarnya. Ia memilihkan setelan berlengan panjang untuk menutupi pergelangan tangannya yang masih terlihat memerah.
Ny.Choi juga terus mewanti-wanti Yoona agar tidak lagi menginjakkan kakinya didapur. Dan Yoona hanya bisa mengangguk pasrah. Sejujurnya yang ada dipikirannya adalah Yuri. Dan bagaimana dengan sang kakak yang menjalani terapi tanpa ditemani olehnya.

Maka sepanjang dirinya bersama Ny.Choi ketika itu, Yoona terus merasakan kekhawatiran yang menggurat jelas diwajahnya. Kecemasannya bukan tidak terbaca oleh Ny.Choi, tapi wanita itu memang sengaja mengabaikannya, meski Ia harus menahan kesal karna Yoona yang lebih sering diam dan tak terlihat antusias menanggapi ucapannya.

Namun yang sebenarnya terjadi dengan Yuri, Ia dapat melewati terapi hari itu dengan cukup baik. Tidak merasa setegang sebelumnya, ketika sang dokter melakukan sentuhan guna membantunya. Kehadiran Siwon mungkin salah satu yang menjadi sumber motivasinya. Meski ia sendiri melarang pria itu untuk melihatnya selama menjalani terapi, tapi dengan keberadaan Siwon yang ia ketahui tengah menunggu diluar ruang terapi itu, membuat Yuri merasakan ada kekuatan lain yang mendorongnya untuk melakukan yang terbaik pada sesi terapinya saat itu.

“Baiklah, cukup untuk sesi hari ini, nona Yuri..”

Sang dokter lantas mengisaratkan seorang suster yang membantunya hari itu untuk mengambil alih.

Sang suster lah yang lantas membantu Yuri merapikan diri dengan menyeka keringat dan membantunya kembali pada kursi rodanya.

“Jadi kemana Yoona saat ini? Dia tidak terlihat menemanimu seperti biasanya?”

sang dokter tiba-tiba memulai obrolan lain yang tak berkaitan dengan terapinya hari itu.

“Padahal aku sudah mengirimkan pesan bahwa aku ingin bicara dengannya..”

Yuri terlihat ragu untuk menanggapi, tapi melihat keramahan sang dokter saat itu dan selama beberapa kali sesi terapi yang dijalaninya, ketakutan yang kerap kali muncul ketika ia berhadapan dengan seorang pria perlahan-lahan sirna dari sorot kedua matanya.

“Yoona memiliki pekerjaan, dokter. Dia tidak bisa menemaniku karna harus bekerja..”

Sang dokter mengangguk mengerti..

“Apakah yang ingin anda katakan pada Yoona itu ada hubungannya dengan kondisi kakiku?”

Yuri kemudian mempertanyakan..

“Jika iya, anda bisa langsung mengatakannya padaku..”

“Tidak semuanya, tapi sebagian kecil memang ada yang menyangkut dengan keadaanmu. Tapi, tidak perlu dikhawatirkan Yuri ssi, saya hanya ingin menanyakan beberapa hal padanya..”

Sang dokter lantas sedikit memberitahukan mengenai perkembangan terapinya itu pada Yuri. Yuri menyimak dan mengeluhkan beberapa hal yang kemudian ditanggapi oleh sang dokter. Pembicaraan itu tak berlangsung lama, Yuri lantas diantar keluar oleh seorang suster yang sebelumnya sudah membantunya selama sesi terapi didalam tadi.

“Nona..”

Amber mendekat begitu melihat Yuri keluar dari ruangan.

“dimana Siwon?”

tatapannya mengitari kesekelilingnya, mencari-cari keberadaan Siwon saat itu.

“Tuan sudah pergi..”

“dia pergi?”

“ne, Tuan mendapatkan telpon dari kantor.. Tuan hanya berpesan agar saya terus menemani anda..”

Tak bisa ia pungkiri, Yuri merasakan kekecewaan dalam relung hatinya. Ia mengira Siwon benar-benar akan menunggunya, tapi nyatanya pria itu pergi tanpa terlebih dulu mengatakan sesuatu padanya.

“Nona..”

Amber telah mengambil alih kursi roda yang diduduki Yuri dari sang suster tadi.

“Ayo kita pulang..”

“Tunggu nona, bolehkah saya berada ditoilet sebentar..”

“baiklah, tapi jangan terlalu lama..”

Amber menepikan kursi roda yang didorongnya, kemudian meninggalkan Yuri sendirian disana.

Yuri berkali menghela napasnya, entah apa yang pada saat itu dirasakannya. Ia hanya diam dengan kedua matanya yang mengembara menatap kesekelilingnya.

Seseorang tiba-tiba muncul dihadapannya, dan membuat pandangannya terpaku pada sosok bocah kecil dengan setangkai bunga mawar ditangan yang terulur kearahnya.

Bocah itu tidak bersuara, hanya mengulurkan bunga itu dan sedikit menggoyang-goyangkan tangkainya untuk menarik perhatian Yuri agar kemudian ia menerimanya.

“Kau memberiku bunga ini?”

bocah itu mengangguk..

“Siapa yang menyuruhmu?”

Tanya Yuri selanjutnya setelah setangkai bunga itu kini berada ditangannya.

“Siwon kah yang memintamu memberikan ini untukku?”

bocah itu menggeleng dengan kerutan samar didahinya. Nampak tidak mengenali nama yang disebutkannya..

“Paman itu yang menyuruhku..”

ucap suara kecil itu menunjuk seorang pria yang saat itu dalam langkah kearahnya. Tak mengatakan apapun lagi, bocah itu berlari dengan suara terkikik yang tertahan.

Yuri segera memperhatikan seseorang itu yang semakin mendekat padanya.
Siapa dia?
Ia merasa tak mengenali pria itu, dan perasaan panik dengan cepat menyergapnya.

Yuri lantas meletakkan setangkai bunga itu dipangkuannya dan kedua tangannya berusaha menggerakkan kursi rodanya. Tidak dapat digerakkan, Amber pasti telah menguncinya.

“Amber ssi.. Amber ssi..”

Suara sepatu yang mengiringi langkah pria itu semakin mendekat, membuat Yuri merasakan ketegangan dalam dirinya.

“Amber ssi, cepatlah.. Ayo kita pulang..”

“Apa kau yang sudah menerima bungaku, nona..?”

Yuri menduga wajahnya mungkin sudah memucat pada saat pria itu kini tepat berada dihadapannya..

“Mianhae, tapi sebenarnya itu bukan untukmu. Gadis kecil tadi ternyata payah, seharusnya dia memberikan bunganya pada wanita itu..”

Pria itu entah karna apa tersenyum, dengan salah satu telunjuknya yang kemudian menunjuk pada seorang wanita paruh baya yang juga berada dikursi roda seperti Yuri, yang pada saat itu berada tak jauh dari mereka.

“Gadis kecil itu seharusnya memberikan bungaku pada bibi itu, tapi tak apa-apa karna sudah berada ditanganmu, itu menjadi milikmu.”

Pria itu kembali tersenyum sambil memegang tengkuknya, mungkin menganggap lucu kesalahan dari bocah kecil yang tadi ia suruh.

Namun Yuri masih belum merespon. Ia justru merasakan gemetar dikedua tangannya, dan pandangan matanya berusaha menghindari tatapan mata pria itu.

“Kau sendirian?”

Pria itu menanyakan..

Yuri tidak menjawab dan memilih berusaha menggerakkan kursi rodanya sekali lagi.

“Amber ssi.. Amber ssi..”

“Hei, aku tidak bermaksud apa-apa. Aku bisa membantumu jika kau ingin pergi dari sini. Tapi baiklah jika kau merasa terganggu. Aku tidak akan berkata apa-apa lagi.. Tapi terimakasih untuk menerima bungaku..”

Setelah beberapa saat melakukan kontak mata dengan seorang pria yang pada saat itu berada didekat Yuri, yang mengisaratkan pada Amber jika sudah saatnya Ia keluar, Amber yang tidak benar-benar berada ditoilet dan sejak tadi memang telah memperhatikan interaksi singkat yang terjadi saat itu, kemudian dengan langkah cepat menghampiri Yuri.

“Saya sudah selesai nona, mari kita pulang..”

Amber membuka kuncian pada kursi roda Yuri sebelum kemudian mendorongnya menjauh dari pria itu. Setelah beberapa langkah, ia menoleh kearah belakang, mengacungkan jempol pada pria itu yang selalu dipanggilnya dengan sebutan sunbae, yang kemudian membalasnya dengan tersenyum, sambil memberi isarat dengan jarinya bahwa ia akan menelpon nanti.

Dan mulai saat itu, dengan bantuan Amber, dengan terus mencoba memanfaatkan kesempatan yang sengaja diciptakan, pria itu makin bertekad kuat untuk mendekati Yuri dan membuat ketegangan dan sorot ketakutan dimata Yuri menghilang saat melihatnya.

***

Semenjak hari ia tidak diijinkan oleh Ny.Choi untuk menemani Yuri, Yoona memang tak lagi melakukan protes terhadap wanita itu. Ia cenderung menurut dan melakukan apapun yang diinginkan Ny.Choi. Meski kegelisahan sering kali menggurat diwajahnya.

Yoona telah menghitung setidaknya dalam jangka waktu seminggu ini, ada tiga kali sesi terapi yang dilakukan sang kakak bersama dengan dokter Cho, yang telah ia lewatkan. Begitupun dengan terapi kejiwaan yang dilakukan Yuri dengan Seohyun. Yoona tak pernah mengantar apalagi menunggui Yuri. Amber lah yang kini memiliki tugas untuk melakukan itu.

Tapi dihari itu, setelah menghadiri acara lelang yang Yoona bahkan tak mengerti apa maksud tujuan dari acara itu, Ia dibuat terkejut ketika menyadari Ny.Choi menyuruh sang supir untuk memberhentikan laju mobilnya didepan gedung rumah sakit. Yoona sangat mengenali rumah sakit itu sebagai tempat yang selalu didatangi Yuri untuk melakukan terapi.

“Omonim..”

Yoona memperhatikan Ny.Choi yang masih terdiam, tidak mengatakan maksud dari tujuannya meminta berhenti didepan gedung rumah sakit itu.

“Masuklah.. Kau mungkin ingin melihat kakakmu..”

Yoona hampir tak percaya dengan apa yang didengarnya pada saat itu.

“maksud omonim.. Aku..”

“Aku tidak memiliki acara lagi yang perlu kita hadiri hari ini.. Jadi kau bisa bersama kakakmu. Aku juga memiliki janji dengan suamiku..”

Yoona hampir-hampir menitikkan airmata pada saat itu, entah karna apa. Yang jelas ia merasa sangat senang ketika itu.

“gomawo omonim..”

Yoona dengan tanpa sungkan memeluk wanita itu dan merasakan tangan Ibu Siwon itu bergerak mengusap pada punggungnya.

Setelah beberapa hari berkeras memiliki Yoona untuk dirinya sendiri, pada akhirnya Ny.Choi menyadari jika Yoona tidak sepenuhnya menikmati aktifitas yang dilakukan bersamanya. Tubuh gadis itu memang berada didekatnya, tapi hati dan pikirannya selalu gundah memikirkan sang kakak.

Gadis itu memang berbeda. Ny.Choi menyadari hal itu. Yoona tidak bisa dialihkan meski hampir setiap hari Ia mengajaknya ke acara-acara berkumpul yang selalu diikuti Ny.Choi dengan beberapa temannya, meski ia juga telah membelanjakan gadis itu dengan berbagai macam benda hingga pakaian yang sudah tak terhitung lagi jumlahnya, Ny.Choi tetap saja masih dapat menangkap kegelisahan yang kerap kali terlihat dari kedua sorot mata Yoona.

Ia mendesah beberapa kali sebelum akhirnya memutuskan untuk, mungkin lebih baik memberi kebebasan terhadap gadis itu..

“cepatlah kau turun.. Aku harus pergi. Ayah Siwon pasti sudah menungguku..”

“Oh, ne.. Gomawo omonim..”

Yoona mengambil tas tangannya, sudah berniat turun ketika Ny.Choi tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.

“pakai ini.. Udara diluar semakin dingin akhir-akhir ini..”

Ny.Choi melilitkan scraf yang sebelumnya dipakai olehnya keleher Yoona.

“Jangan lupakan ponselmu.. Dan hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu..”

Yoona mengangguk dan tersenyum, dan kembali tanpa sungkan Ia memberikan ciuman dipipi wanita itu.

“gomawo omonim.. Aku sangat-sangat menyayangimu..”

Ny.Choi mengangguk dan tersenyum sambil mengusap pada pergelangan tangan Yoona, sebelum akhirnya membiarkan gadis itu keluar dari dalam mobil.

***

Melangkah cepat saat berada dikoridor rumah sakit menuju ruang terapi Yuri, Yoona sempat sejenak menghentikan langkahnya saat seorang pria terlihat berdiri didepan pintu ruang terapi, dan sepertinya tengah mengintip kegiatan yang berada didalamnya.

Siapa dia?

“Dimana Amber? Apa aku sudah terlambat datang..?”

gumam Yoona sambil kemudian meneruskan langkahnya. Mengira mungkin bukan sang kakak yang saat ini berada diruang terapi itu.

“ehmm..”

Suara berdeham dari Yoona sepertinya mampu mengejutkan pria itu..

“Maaf Tuan, apa yang anda lakukan disini?”

Yoona sedikit melirik kedalam ruangan, dan melihat Yuri yang pada saat itu masih sedang melakukan terapinya bersama dengan sang dokter.

“Ah, maaf.. Saya hanya ingin berbicara dengan dokter itu. Tapi sepertinya dia sedang menangani pasien. Saya akan menunggu saja..”

Ucap pria itu yang kemudian berlalu dari hadapan Yoona, membuat Yoona mengerutkan dahi melihatnya.

“Sepertinya aku pernah melihatnya? Tapi dimana? Apa wajahnya saja yang mirip? Tapi mirip dengan siapa..?”

Yoona menggumam sendiri, dan kemudian dibuat terkejut saat Amber menyentuh bahunya.

“Nona Yoona..”

“Astaga, Amber ssi.. Kau mengagetkanku..”

“Oh, maafkan saya nona.. Saya tidak bermaksud seperti itu”

“Aku kira Yuri oenni sudah selesai melakukan terapi karna aku tak melihatmu tadi..”

“Ah, sepertinya sebentar lagi..”

Amber melihat pada jam dipergelangan tangannya.

“dan darimana kau tadi?”

“Oh, saya membeli ini sebentar..”

Amber menunjukkan sekaleng minuman bersoda ditangannya.

“Apa anda mengingkannya nona?”

“hm, boleh.. Dan tolong untuk Yuri oenni juga..”

Amber mengangguk dan segera beranjak dari hadapannya.
Yoona lantas mengetuk pintu dan masuk kedalam ruang terapi itu.

“Oenni ya.. Dokter Cho, selamat siang..”

Yoona tersenyum membawa langkahnya mendekat pada Yuri dan sang dokter. Ia mungkin tak menyadari sang kakak pada saat itu hampir-hampir tak mengenalinya. Jika bukan karna senyum diwajahnya, Yuri takkan mengenali Yoona sebagai adiknya, adik kecilnya.

Tampilan Yoona sangatlah berbeda. Dengan bibir berwarna merah, rambut kecoklatannya yang ditata menjadi sedikit ikal membingkai wajahnya dengan sempurna.

Ditambah dengan setelan yang dikenakannya, sepasang anting yang menghiasi kedua telinganya dan juga sebuah liontin dari kalung yang dikenakannya, yang mengintip dibalik scraf yang melilit lehernya, nampak menunjukkan kilaunya yang indah.

“Yoona ya..”

Yuri menggumam, sekedar untuk memastikan gadis itu benar adalah Yoona, adiknya.

“Oenni ya.. Apa terapinya sudah selesai?”

Yuri hanya mengangguk, masih tak lepas memperhatikannya.

“Yoona..”

“hm?”

“Kau sangat cantik, Yoona. Ya Tuhan.. Aku hampir tak mengenalimu. Siapa yang membuatmu terlihat begitu mempesona seperti ini?”

Yuri mengulurkan tangan untuk meraihnya. Rasanya Ia belum pernah melihat Yoona seperti itu.

Selama beberapa hari ini, Yuri memang belum sekalipun memergoki Yoona dalam tampilannya yang sudah didandani oleh Ny.Choi. Ia selalu lebih dulu pergi kerumah sakit untuk jadwal terapinya. Atau jika Ia berada dirumah dan tidak memiliki jadwal terapi itu, Ny.Choi lah yang mengambil inisiatif dengan terlebih dulu membawa Yoona ke salon, sebelum keduanya pergi keberbagai acara yang dikehendaki oleh Ibu Siwon itu. Ny.Choi jelas tahu, jika gadis itu tak mungkin mau didandani ketika sang kakak bisa melihatnya. Tak ingin menimbulkan kecurigaan sang kakak, begitu alasan yang selalu diucapkannya. Yoona juga menyiasati dengan terlebih dulu menghapus riasan wajahnya, dan bila perlu mengganti pakaiannya, sebelum ia kembali pulang kerumah Siwon.

Namun tadi, Yoona bahkan tak terpikir dengan semua itu. Ia terlalu senang saat Ny.Choi mengijinkannya untuk menyusul Yuri, hingga melupakan tampilannya yang pasti terlihat mencolok bagi sang kakak pada saat itu.

“Yoona..”

Yuri meremas tangan Yoona untuk menyadarkannya yang hanya terdiam tak menjawab apa yang ditanyakannya.

“Ah, ne oenni..”

“Apa kau baru saja menghadiri suatu acara?”

“ne, Nyonya memiliki acara yang harus dihadiri dan dia memintaku untuk menemaninya.. Aku, Aku hanya..”

“Kau terlihat cantik seperti ini..”

Yuri mengulurkan tangan untuk menyentuh scraf dileher Yoona. Merasakan kelembutan dari bahan yang digunakannya, dan jelas sebuah scraf itu tidak berharga murah. Apalagi dengan yang lain, yang pada saat itu melekat ditubuh Yoona.

“Nyonya yang meminjamkannya padaku, Ini bukan milikku, oenni..”

Nada suaranya terdengar gugup, saat kemudian Yoona melepas scraf itu dari lehernya, namun tidak menyadari ia justru kemudian memperlihatkan keseluruhan kilauan kalung yang mempercantik leher jenjangnya.

“Kau tidak perlu melepasnya, Yoona. Kau cantik mengenakan itu..”

Yuri tersenyum, namun tersimpan banyak keheranan yang melintas dibenaknya.

Ia bahkan kadang merasa tertekan dengan sikap ketus Ny.Choi. Jadi bagaimana mungkin wanita itu bisa sedemikian baik terhadap Yoona, jika sang adik hanyalah pekerja biasa?

“Dokter Cho, bagaimana dengan terapi oenni ku hari ini?”

Suara Yoona yang kemudian berbicara dengan sang dokter, yang lantas mengalihkan perhatian Yuri dari apa yang pada saat itu berada dalam pemikirannya.

“Sejauh ini semakin baik dan malah sangat baik..”

Kyuhyun menanggapi pertanyaan Yoona pada saat itu dengan senyum terkembang diwajahnya.

“Senang melihatmu lagi, Yoona ssi..”

“Ah, ne dokter..”

Yoona dibuat merona oleh karna pernyataan tiba-tiba dari sang dokter pada saat itu.

Ketika kemudian Ia berniat akan menanyakan lebih jauh mengenai terapi Yuri, suara ketukan yang terdengar pada pintu ruangan itu sudah lebih dulu menghentikannya.

“Ny.Cho mengirim makan siang anda dokter..”

Seorang suster membawakan beberapa kotak bekal yang kemudian diletakkannya diatas meja.

“Terimakasih suster..”

Setelahnya, Kyuhyun kembali mengarahkan pandangannya pada Yoona dan Yuri yang terlihat memperhatikan suster tadi yang membawakan kiriman makan siang untuknya.

“Anda memiliki istri yang begitu perhatian, dokter..”

Yoona berkomentar, sementara Kyuhyun hanya tersenyum mendengarnya.

“Dia mengirim dan pasti memasak sendiri makan siang untuk anda, Istri anda pasti sangat mencintai anda, dokter”

“Bukan istri, tapi ibuku..”

“nde?”

“Ibuku yang selalu mengirim makan siang kemari”

“Jadi anda belum menikah?”

“Kenapa? Kau berminat menikah denganku.. Menjadi istriku dan menggantikan ibuku memasak dan mengirim makan siang untukku?”

Oh dear..

Yoona terbengong, sementara Yuri justru sedikit tertawa mendengarnya dan melihat betapa memerah wajah Yoona saat itu.

“Saya hanya mengira jika pria seperti anda pasti sudah menikah..”

“Belum.. Jadi kau bisa memikirkan tawaranku tadi..”

“nde?”

Yoona menunjukkan dahinya yang berkerut-kerut mendengarnya.

“Anda membuat adik saya malu, dokter..”

Ucap Yuri menengahi, yang kemudian ditanggapi dengan senyuman dari Kyuhyun.

“Aku sudah selesai, Yoona.. Ayo kita pulang”

Ajak Yuri kemudian yang dirasa Yoona menyelamatkannya dari candaan sang dokter, yang memang telah membuatnya merasa malu untuk menanggapinya.

“Baiklah.. Sampai berjumpa lagi dengan kalian, emm.. lusa. Kau memiliki jadwal lagi denganku lusa kan?”

Yuri mengangguk mengiyakan..

“terimakasih dokter..”

Yoona berucap sambil kemudian mendorong kursi roda yang telah diduduki Yuri keluar dari ruang terapi itu.

“dimana Amber?”

“Tadi aku memintanya untuk membelikanku minuman, aku akan menghubunginya nanti..”

Yoona mendorong kursi roda itu makin menjauh dari ruang terapi, melewati koridor-koridor disana, dan kemudian masuk kedalam lift yang akan membawanya turun sampai ke lobi rumah sakit.

“Sebentar oenni, aku akan menghubungi Amber..”

Keluar dari dalam lift, Yoona langsung mengambil ponsel dari dalam tas tangannya untuk menghubungi Amber yang masih belum terlihat saat itu.

“Siwon..”

Yoona mendengar gumaman Yuri saat itu, dan melupakan niatnya untuk menghubungi Amber. Ia dibuat terkejut ketika kemudian melihat langkah Siwon yang tiba-tiba muncul dilobi rumah sakit itu, bergerak kearahnya yang sedang mendorong kursi roda Yuri.

“Yoona ssi..”

Dan secara kebetulan bertepatan dengan itu, sebuah suara terdengar dari belakang tubuhnya. Saat kemudian Yoona menghentikan langkahnya, berbalik untuk mencari tahu siapa yang pada saat itu memanggilnya, Yoona menemukan sang dokter, Kyuhyun lah yang melakukan hal itu. Dokter itu sedikit berlari mendekatinya..

“Kau meninggalkan ini diruang terapi tadi..”

Kyuhyun mengulurkan sebuah scraf berwarna biru muda ditangannya..

“Oh..”

Yoona meraba lehernya, menyadari benda itu memang sempat ia lepas dan pasti tak sadar telah terjatuh diruang terapi tadi. Ia pun lantas menerima scraf itu dari tangan sang dokter..

“ne, terimakasih dokter..”

Kyuhyun tersenyum menyambut dan membalas ucapan terimakasih dan senyuman yang sama dari Yoona. Namun kemudian suara berdeham dari seorang pria yang berjarak tak jauh darinya yang kemudian membuat Kyuhyun mengalihkan perhatiannya dari terus memperhatikan senyum dibibir Yoona saat itu.

Begitupun dengan Yoona yang kemudian membalikkan tubuhnya dan menemukan Siwon telah berdiri dihadapannya. Dihadapan kursi roda yang diduduki Yuri tepatnya. Yang kemudian mengingatkanya jika sebelum Kyuhyun memanggilnya, kemunculan Siwon disana telah lebih dulu mengejutkannya.

“Siwon..”

Yuri jelas nampak berbinar melihatnya, berbeda dengan Yoona yang entah karna apa justru merasa tegang dengan keberadaan pria itu disana.

Untuk alasan apa Siwon tiba-tiba muncul?

Yoona hanya bisa mempertanyakan hal itu didalam hatinya, sementara bibirnya menggumam lirih..

“Tuan muda..”

“Hai..”

Siwon menarik senyum saat kemudian lebih dulu memberikan sapaan pada Yuri, dan mengabaikan gumaman Yoona yang masih jelas didengar olehnya.

“Siwon, kau datang..”

“Aku baru menyelesaikan pertemuan disekitar sini dan teringat pada jadwal terapimu, apa kau sudah selesai dengan terapi hari ini?”

Meski yang benar adalah ketika tadi ia menelpon ibunya untuk menanyakan keberadaan Yoona, yang memiliki kebiasaan tidak menjawab ponselnya, ibunya malah memberitahukan padanya bahwa Yoona menyusul Yuri kerumah sakit.
Maka sudah pasti Yoona akhirnya bertemu dengan dokter terapi Yuri, yang lantas membuat Siwon tak perlu berpikir lagi untuk meninggalkan kantornya..

Yuri kemudian mengangguk untuk menjawab pertanyaan Siwon tadi..

“Apa yang kau rasakan pada kakimu sekarang?”

“Aku merasa kakiku lebih ringan untuk digerakkan..”

“kedengarannya bagus..”

“Nona Yuri mengalami perkembangan yang signifikan, Tuan..”

Siwon mengalihkan perhatiannya dari Yuri, ketika mendengar suara Kyuhyun yang menyahuti. Tak ingin sebenarnya melakukan pembicaraan dengan dokter itu. Apalagi setelah yang dilihatnya beberapa saat lalu antara sang dokter dan Yoona.

“Bahkan saya dapat mengatakan perkembangannya cukup pesat..”

“Oh, anda dokter Cho itu kan?”

“Ya, saya orangnya..”

“Anda pasti merasa senang, setelah lelah bekerja dirumah sakit dan tiba saatnya anda pulang, dirumah sudah ada istri yang menunggu..”

Siwon menyadari kedua mata Yoona yang langsung membelalak mendengarnya, namun Ia mengabaikannya. Siwon juga mengabaikan kerutan pada dahi sang dokter ketika itu, Ia bahkan tak perduli dengan apa yang diucapkannya yang telah melenceng dari topik yang dibicarakan sebelumnya dan malah keluar dari jalur.

“Sayangnya saya masih belum merasakan kesenangan yang semacam itu. Dirumah, saya tidak memiliki istri yang menunggu”
Kyuhyun menanggapi..

“bukankah anda sudah menikah?”

“Tidak, saya belum menikah.. Sepertinya anda salah menerima informasi, Tuan..”

“Sepertinya memang begitu.. Seseorang pasti telah mengatakan kebohongan padaku..”

Oh dear..

Yoona merasa ingin ada seseorang yang memberinya mantra sulap atau lebih baik seseorang itu yang melakukan magic terhadap dirinya, apa sajalah agar bisa membuatnya menghilang pada saat itu, dengan sangat cepat.

Mengetahui seringai diwajah Siwon ketika kemudian pria itu menatapnya, membuat Yoona seketika memejamkan mata, dan menggigit kuat bibir bawahnya.

Oh, mati sajalah aku..

Rutuknya kemudian, laksana ingin mengubur dirinya sendiri pada saat itu.

“Tapi mendengar anda mengatakan hal seperti itu, membuat saya ingin segera mendapatkan istri yang seperti itu..”

Tatapan mata Kyuhyun yang disertai dengan senyum diwajahnya yang mengarah pada Yoona, seketika membuat Siwon mengumpat didalam hatinya.

Sialan..
Bukankah firasatnya terbukti benar?
Dokter itu mengincar gadisnya..

Kedua tangan disisi tubuhnya mengepal, sangat ingin rasanya meninju dokter itu tapi setelah terlebih dulu ia menarik tubuh Yoona dan mengklaim gadis itu sebagai miliknya.

Tapi Siwon hanya bisa memberikan tatapan keras memperingatkan, yang entah dapat ditangkap atau tidak oleh sang dokter pada saat itu.

Karna amarah yang dirasakannya jelas takkan bisa tersalurkan pada saat itu.
Bisa..
Tapi kekacauanlah yang kemudian pasti ditimbulkannya. Maka sebagai seorang pria, ia sadar telah menjadi pria dewasa. Ia memutuskan untuk menahan diri..

“Kalau begitu saya permisi.. saya masih memiliki pasien”

Kyuhyun tersenyum sebelum kemudian melangkah pergi..

“Baiklah jika sudah selesai, kita bisa pergi sekarang kan? Oh, Amber ssi..”

Ucap Siwon yang bersamaan dengan kemunculan Amber yang sedikit berlari menghampiri mereka.
Amber memberi salam disertai dengan tubuhnya yang membungkuk hormat padanya.

Namun belum sempat Siwon memerintahkannya untuk membawa Yuri dan juga Yoona tentunya, pergi dari sana, Siwon lebih dulu mendengar suara ponselnya yang berdering.

Merogoh dari dalam saku kemejanya, Siwon melihat salah satu nama dewan direksi dikantornya yang pada saat itu menelpon.

Dengan cepat ia justru terpikir untuk memanfaatkan hal itu..

“Oh, ne oemma..”

Siwon tak perduli disebrang sambungan sana seseorang itu pasti tengah kebingungan menanggapinya.

“Apa.. Oemma tidak bisa menghubungi Yoona? Gadis itu tidak menjawab ponselnya? Bukankah itu sudah menjadi kebiasaannya. Tidak perlu heran. Oh.. Ne..”

Siwon diam seolah mendengarkan..

“jadi oemma membutuhkannya? Ne.. Aku akan mengatasinya. Tidak perlu marah-marah seperti itu, aku melihatnya sekarang. Aku akan menyuruhnya untuk menyusul oemma secepatnya.. Baiklah..”

Siwon memutus sambungan telponnya dan kembali mengarahkan perhatiannya pada Yoona. Gadis itu terlihat gelisah dan benar-benar memiliki gurat kecemasan diwajahnya.

“Siwon, apa ibumu mencari Yoona?”

Siwon mengangguk..

“Dia memiliki kesalahan dan harus mempertanggung jawabkannya..”

“Tapi Nyonya sendiri yang tadi mengijinkanku untuk menemani Yuri oenni..”

“Mungkin karna ibuku baru melihat kesalahanmu..”

Yoona lantas kembali menggigiti bibir bawahnya begitu Siwon kembali melihat kearahnya, masih dengan seringai diwajahnya.

“Tapi kesalahan apa yang dilakukan Yoona? Dan apa yang akan dilakukan ibumu terhadapnya..?”

“Tenanglah Yuri ssi, ibuku bukanlah monster yang akan memangsanya. Yoona hanya harus menjelaskan dan mungkin memperbaiki kesalahannya”

“Kalau begitu ayo cepat kita pulang agar Yoona bisa memperbaiki kesalahannya..”

“Ibuku sedang tidak berada dirumah, dia meminta Yoona untuk menyusulnya..”

Siwon kemudian meminta dengan hati-hati agar Yuri pulang lebih dulu dengan Amber, sementara Yoona akan ikut dengannya. Siwon mengatakan ia akan kembali kekantor, tapi terlebih dulu akan menurunkan Yoona ditempat ibunya berada.

“Yoona, apa kau tidak akan apa-apa?”

Yuri menanyakan dengan meraih tangan Yoona, lalu menggenggamnya.

“Tidak oenni.. Aku tidak apa-apa..”

Yoona berusaha menunjukkan senyum meski sebenarnya ia sendiri bingung dan masih merasa tak yakin dengan apa yang nanti akan terjadi.

“oenni pulanglah bersama Amber, aku akan baik-baik saja. Jangan mengkhawatirkanku..”

Yuri mengangguk, kemudian melepaskan tangan Yoona dan beralih pada Siwon..

“Siwon, jika ibumu marah pada adikku, tolong katakan padanya bila Yoona tidak sengaja melakukan kesalahannya”

Siwon nampak ragu memberikan jawaban. karna ia tiba-tiba merasa bersalah telah membuat Yuri menjadi terlihat khawatir. Tapi kemudian ia mengangguk sebagai jawaban.

Setelahnya, Amber yang mengambil alih kursi roda itu dari Yoona, untuk kemudian membawa Yuri menuju mobil. Siwon dan juga Yoona bergerak mengikuti sampai mereka masuk kedalam mobil dan kemudian menyaksikan mobil itu melaju pergi dari depan gedung rumah sakit itu.

Yoona masih diam memperhatikan mobil itu yang membawa kakaknya ketika kemudian Siwon meraih dan sedikit menarik pergelangan tangannya, mengarah pada mobil milik Siwon yang terparkir tak jauh darisana.

“Sajangnim..”

Yoona mencoba memprotes apa yang dilakukan Siwon padanya saat itu, namun pria itu bergeming dan justru membuka pintu mobilnya dan mendorong tubuh Yoona masuk kedalamnya.

Yoona hanya bisa memberengut kesal melihat Siwon menutup pintu mobil dan lantas menyusul masuk kesisi pengemudi. Dengan cepat menghidupkan mesin dan langsung melajukannya..

“Sajangnim.. Sebenarnya Aku___”

“Aku tidak berbicara saat sedang mengemudi..”

Siwon memotong kalimat Yoona dengan tanpa menatapnya..

“Ishh..”

Yoona mendengus dan tak lagi mencoba untuk membuka mulutnya. Ia lebih memilih untuk memperhatikan lalu lalang kendaraan dijalan raya saat itu, daripada memperhatikan Siwon yang bukan tak disadari olehnya jika pria itu sepertinya sedang marah padanya.

Ia pasti melamun sepanjang perjalanan tadi, hingga tak sadar kemana Siwon mengarahkan laju mobilnya. Yoona baru menyadari ketika Siwon menghentikan laju mobil itu tepat didepan sebuah gedung bertingkat, gedung kantornya.

“Sajangnim.. Bukankah seharusnya kau menurunkanku ditempat omonim? Kenapa justru kesini? Dimana omonim?”

Siwon sama sekali tidak menanggapi pertanyaan beruntun itu dan malah begitu saja keluar dari dalam mobilnya, membuat Yoona mendecakkan lidah melihatnya.

“Ayo turun..”

Siwon membuka pintu dan mengulurkan tangannya pada Yoona..

“dimana omonim? Sajangnim.. Kau membohongiku?”

“Siapa yang lebih dulu berbohong disini..?”

Yoona memberengut, menepis tangan Siwon dan lantas keluar dari dalam mobil.

“Aku bisa menjelaskan jika yang kau maksud itu mengenai dokter Cho yang..”

“Aku tak ingin mendengarnya disini..”

“Sajangnim..!”

“bersikap baiklah, ini kantorku.. Banyak karyawan dan direksi yang akan melihat kita nanti..”

Siwon kemudian justru menarik pinggang Yoona dan merangkulkan lengannya disana. Membawa gadis itu masuk kedalam lobi kantornya.

Dan kembalinya Siwon saat itu dengan membawa Yoona bersamanya, jelas saja langsung menarik perhatian beberapa karyawannya yang melintas untuk sejenak menghentikan langkah guna melihat pada keduanya, pada pemandangan yang tak sering mereka jumpai seperti saat itu. Tak terkecuali dengan kedua resepsionis disana, Hyoyeon dan Sunny yang menjadi teman-teman Yoona, yang kini sedang sama-sama menunjukkan keterkejutan meski bukan sekali itu saja mereka melihat keduanya.

Setidaknya setelah pertunangannya, Yoona memang pernah datang bersama dengan Ny.Choi kala itu. Dan sudah pernah menunjukkan perubahan tampilannya pasca menjadi seorang tunangan dari putra pemilik perusahaan pada saat itu. Yoona jelas tak lagi terlihat sebagai seorang mantan resepsionis atau mantan sekertaris dadakan sang bos. Yoona yang sekarang, terlihat bukan lagi sebagai seorang gadis melainkan seperti wanita dewasa yang anggun yang cocok dan sangat pas ketika berjalan berdampingan dengan Siwon.

“Sajangnim.. Lepaskan aku. Mereka semua memperhatikanku..”

Yoona berucap lirih sambil bergerak risih untuk mencoba melepaskan rangkulan tangan Siwon ditubuhnya. Ia sadar betul bila keberadaannya pada saat itu langsung menjadikannya pusat perhatian dan bisik-bisik para karyawan disana.

“Sajangnim, lepaskan aku..”

Permintaan Yoona yang seperti itu hanya membuat Siwon semakin kesal. Dengan tanpa mengatakan apa-apa Ia akhirnya melepaskan rangkulannya, dan kemudian berjalan dengan langkah lebar meninggalkan Yoona dibelakangnya.

Yoona sempat menoleh kearah Hyoyeon dan Sunny, tapi justru menangkap isarat dari kedua temannya itu agar ia mengikuti langkah Tuan muda mereka. Sejujurnya ternyata, Yoona memang langsung merasakan bukan justru menjadi lebih baik tanpa Siwon disisinya, ia baru menyadari takkan bisa kedua kakinya melangkah dengan tegak saat semua mata disana jelas mengarah padanya. Ia membutuhkan Siwon disisinya..

“Sajangnim.. Tunggu..!!”

Yoona lantas berusaha menyusul langkah Siwon dan kembali menyadari kebodohannya jika panggilannya terhadap Siwon hanya semakin membuat orang-orang disana menatap heran kepadanya.

image

“Op-pa..! Op-pa.. Tunggu aku!!”

ragu-ragu Yoona mengucapkannya, tapi berhasil membuat Siwon menghentikan langkahnya.

Yoona yang mengetahui hal itu jelas tersenyum senang. Ia makin mempercepat langkahnya untuk menyusul Siwon, namun..

“Awhh..”

Sepatu berhak tujuh senti yang dipakainya itu rupanya yang kemudian menyulitkannya. Lebih tepatnya membawa masalah untuknya, karna dengan bodohnya justru membuatnya terjatuh dan mengalami kesakitan pada pergelangan kakinya.

“Awhh..”

Siwon yang mendengar suara terjatuh yang disertai dengan rintihan itu dengan cepat berbalik dan langsung menghampiri Yoona.

“gwechana?”

“Awhh..”

Yoona tidak menjawab dan malah merintih semakin kesakitan. Hingga membuat Siwon kemudian mendecak melihatnya..

“Menyusahkan saja..”

Meletakkan tangannya dibelakang bahu dan dibawah lutut Yoona, Siwon lantas mengangkat tubuh gadis itu kedalam gendongannya. Menimbulkan sedikit suara memekik dari Yoona, merasakan keterkejutan karna apa yang dilakukan Siwon padanya didepan banyak pasang mata dan didepan kedua temannya yang terbengong seolah menyaksikan pertunjukkan menarik dan tak membiarkan mata mereka berkedip.

“Sajangnim, turunkan aku..”

Meski begitu Yoona kemudian mengalungkan kedua tangannya dileher Siwon.

“Setelah terjatuh seperti itu tadi, kau mungkin mengalami terkilir pada kakimu.. Dan jangan semakin mempermalukanku dengan memintaku menurunkanmu”

Yoona memberengut dan lantas menekankan kepalanya kuat didada Siwon dengan memejamkan kedua matanya rapat,  seolah bersembunyi dari tatapan orang-orang yang pada saat itu melihatnya dalam gendongan Siwon ketika pria itu membawanya untuk menaiki lift khusus. Meski masih merasa kesal, namun Siwon juga sempat merasakan geli dengan tingkah Yoona saat itu. Dan membuatnya benar-benar tersadar, bila dirinya sudah bertunangan dengan seorang gadis belia.
Gadis belia yang dapat menjungkir balikkan perasaannya menjadi tidak karuan.
Astaga..

Seorang staf membukakan lift itu dan menutupnya setelah Siwon masuk, kemudian mengantarkannya naik sampai dengan lantai atas letak ruang kerja Siwon. Seorang staf lain yang berada disana sempat terkejut melihat Siwon membopong tubuh seorang wanita, namun kemudian ia tersadar dan langsung bergerak cepat membukakan pintu ruang kerja Siwon.

“Tolong carikan aku alat pengompres..”

perintah Siwon pada sang staf, setelah ia menurunkan Yoona dari gendongannya, kesebuah sofa yang berada ditengah ruangan.

“Baik Tuan..”

Sang staf keluar, sementara Siwon kemudian melepaskan sepatu yang menjadi penyebab kesakitan Yoona pada saat itu.

“Awhh.. Sakit..”

“Siapa memangnya yang menyuruhmu memakai sepatu seperti ini..”

“omonim bilang aku cantik memakai itu”

“jangan terlalu menuruti semua yang dikatakan oemma..”

“tapi bukankah benar, aku terlihat cantik dengan sepatu itu?”

Siwon memutar mata mendengarnya..

“jadi sekarang kau sudah mulai bisa membanggakan dirimu?”

Yoona memberengut mendengarnya dan memutuskan tak menanggapi sindirian dari Siwon terhadapnya. Hingga tak berselang berapa lama seorang staf yang tadi diperintahkan oleh Siwon, kembali masuk dengan membawa peralatan untuk mengompres, serta sebuah kotak yang berisi peralatan obat.

“Ini yang anda perlukan, Tuan..”

“Terimakasih, kau bisa keluar dan kembali bekerja”

Dengan menggunakan peralatan itu, Siwon lantas lebih dulu mengompres pada pergelangan sampai telapak kaki Yoona, yang kini memerah dan sedikit terlihat membengkak.

Ia kesal dan merasa marah setelah mengetahui gadis itu berbohong padanya, bahkan Siwon sudah berencana untuk menghukumnya. Tapi melihat Yoona yang sekarang merintih kesakitan, membuatnya memikirkan ulang untuk melakukannya.

“Aw.. Awhh.. Sajangnim, pelan-pelan..”

Yoona menarik kakinya dari tangan Siwon yang sedikit menekan, sebenarnya sedang berusaha untuk mencari urat kakinya yang terkilir..

“Aku juga melakukan ini dengan pelan. Kau hanya harus menahannya sedikit..”

“Sajangnim.. Awhh..!! Sakit..”

Yoona lantas memukul dan mendorong bahu Siwon agar menjauh darinya..

“Kau tidak mengobati dan justru membuatku kesakitan. Kau hanya akan semakin membuatku cedera..”

“Astaga.. kau hanya terkilir, Yoona.. ulurkan lagi  kakimu, aku sudah pasti tidak akan mencederaimu..”

Siwon kembali meraih kakinya, melakukan pengompresan sampai beberapa saat, dan selanjutnya mengambil obat oles dari kotak obat, mengoleskannya sebelum akhirnya membebatnya dengan perban.

“Apa yang kau lakukan? Aku tidak akan bisa berjalan jika seperti ini..”

“Kau tidak harus berjalan.. Aku masih punya cukup banyak tenaga untuk menggendongmu, asal kau bersikap baik..”

“Aku tidak mau seperti itu..”

Yoona memaksa untuk mencoba berdiri, dan hasilnya denyut nyeri dikakinya kembali terasa. Kesakitan itu membuatnya meringis dan kembali merintih. Hingga Siwon dengan cepat merengkuh kedua bahu Yoona dan mendorongnya untuk kembali duduk.

“Jangan menjadi keras kepala. Kau tidak mungkin bisa berjalan sekarang”

“Tapi aku harus pergi, untuk apa aku berada disini?”

Yoona mendengus..

“kau memang sudah seharusnya tetap berada disini, kita masih perlu menyelesaikan sesuatu kan.. Itu yang menjadi alasanku membawamu..”

Yoona sedikit menjadi gelisah saat Siwon kemudian menyingkirkan peralatan yang sebelumnya dipergunakan dan lantas mengambil duduk disamping nya, yang justru membuatnya beringsut sedikit menjauh dari Siwon.

“Apa memangnya yang perlu kita selesaikan?”

Pancingnya berpura-pura tidak mengingat arah yang dituju oleh Siwon.

“Kau dan kecenderunganmu untuk melakukan kebohongan, bahkan terhadapku. Jadi dokter itu belum menikah kan?”

“Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya___”

“Kau hanya menyukai saat ada pria lain yang tertarik padamu, hingga membuatmu berbohong padaku dengan mengatakan pria itu sudah beristri agar aku tidak mencurigaimu dan kau bisa bersenang-senang.”

Siwon meneruskan kalimat Yoona dengan dugaan-dugaan yang berada dalam pemikirannya. Membuat gadis itu mendecak mendengarnya.

“Bukan seperti itu, sajangnim.. Kau tahu, kau berlebihan dan menjadi keterlaluan pada malam itu. Dan aku mengatakan bahwa dokter Cho sudah menikah semata hanya untuk menghentikanmu. Aku tidak berpikiran lain atau bermaksud lain dan bukan sengaja membohongimu. Aku juga tidak tahu jika dokter Cho belum menikah. Aku baru mengetahuinya tadi, jika tidak percaya, kau bisa tanyakan pada Yuri oenni. Sebelumnya, Aku hanya menduga jika pria sepertinya mungkin sudah menikah. Dia baik dan disukai banyak pasiennya..”

“Termasuk kau?”

“Aku bukan pasiennya..”

Yoona terlihat kesal, setelah menjelaskan panjang lebar dan Siwon masih terus melontarkan tuduhannya.

“tapi bukan berarti kau tidak menyukainya kan?”

“Aku tidak mengatakan aku menyukainya..!”

Yoona semakin bertambah kesal karna keadaan kakinya saat itu membuatnya tak bisa beranjak darisana. Jika bukan karna kakinya yang sakit, ia sudah pasti akan berlari keluar, terserah dengan apapun itu yang dipikirkan Siwon mengenai dirinya.

Dasar pria gila..

Omelnya kesal didalam hatinya.

“Lalu siapa yang kau sukai?”

Dari tatapan kecurigaan, Siwon berubah menatap dengan seringai diwajahnya ketika melihat Yoona menundukan wajah, menyembunyikan rona merah yang bergerak menjalari permukaan kulitnya. Efek dari pertanyaannya.

“Jelas kau sepertinya bimbang dengan itu”

Yoona mendongak, sejurus tatapannya melihat pada Siwon yang seakan sedang membaca isi pikirannya.

Ia memberengut kesal, namun tiba-tiba memiliki pemikiran berani didalam kepalanya yang kemudian membuatnya beringsut diatas sofa yang didudukinya. Bukan untuk bergerak menjauhi Siwon seperti yang sebelumnya ia lakukan, melainkan justru mendekat dan secara mengejutkan memberikan kecupan dipipi Siwon.

“Otte..?”

Siwon hanya mengerutkan dahi, dan Yoona lantas kembali mencium pipinya.

“Ottokae oppa..”

Yoona bertingkah aneh dengan merangkul, menggelayut manja pada lengan Siwon.

“Apa?”

“Ishh.. Bukankah tadi kau menanyakan siapa yang kusakai? Kau masih belum mengerti? Itu jawabanku..”

Yoona menundukkan wajah, namun dengan cepat kembali mendongak ketika mendengar Siwon yang justru tertawa mendengarnya.

“Jadi maksudnya ciuman dipipi tadi sebagai jawabannya? Kau ingin mengatakan aku pria yang kau sukai?”

Yoona mengangguk malu-malu..

Siwon tersenyum meraih dagunya, bertatapan dengannya, membuat Yoona merasa terkunci oleh tatapannya.

“Jika seperti itu caramu, masihlah belum meyakinkanku. Aku akan mengajarkanmu bagaimana cara yang benar untuk meyakinkan seseorang yang kau sukai..”

Yoona tak sempat untuk mencerna apalagi mempertanyakan maksud dari perkataan Siwon, karena pria itu telah dengan cepat menutup mulutnya dengan sebuah ciuman. Bibirnya bergerak leluasa memagut dan kemudian mencecap rasa yang dimilikinya. Membuat Yoona tak kuasa untuk menolak cumbuan manis yang diterimanya. Perlahan tapi pasti bibirnya bergerak seirama, mengikuti gerakan Siwon yang memimpin ciumannya.

Yoona menahan desah napasnya dan perasaan ingin meledak yang ada didalam dadanya. Dan malah kedua tangannya mengalung dileher Siwon, seakan tak cukup dekat dengan pria itu meski nyata-nyata dadanya telah bersentuhan dengan kokohnya dada bidang Siwon.

Yoona sedikit mengerang namun bertambah terbuai ketika merasakan gigitan pada bagian bibir bawahnya. Dan ketika Siwon kemudian melesakkan lidahnya masuk kedalam mulutnya, Yoona mendadak teringat pada peristiwa penjebakan yang pernah dilakukannya pada Siwon dulu, namun ternyata gagal. Ditempat yang sama, didalam ruang kerja Siwon. Kejadiannya pun sama persis disofa yang sekarang diduduki olehnya.

Tak disangka olehnya bila sekarang ia justru menikmati ciuman dari pria itu disini..

Yoona dengan segara mendorong dada Siwon, mengakhiri ciuman dan membuat kekecewaan tersirat jelas dimata pria itu.

“Dasar pria mesum..”

Siwon kemudian justru tergelak mendengar komentar Yoona pada saat itu. Dan kemudian beranjak dari sampingnya, berpindah menduduki kursi dibelakang meja kerjanya. Ia butuh sesuatu sebagai penghalang, sebelum ia kehilangan kontrol dirinya untuk memiliki gadis belia itu didalam ruang kantornya.

Sialan..
Bisikan sisi gelap didalam dirinya seakan terus berdengung. Dan jangan sampai itu menutupi mata hatinya.

Ia tidak ingin menyakiti dan berbuat bejat terhadap gadis yang dicintainya.

Tapi menggoda gadis itu, juga sudah cukup menyenangkan untuk dilakukannya..

“Tapi pria mesum seperti aku lah yang kau sukai kan? Dan bukan dokter baik hati itu..”

“Ishh..”

Yoona mendengus sambil melemparkan sebuah bantal sofa kecil yang dilihatnya berada tak jauh darinya.

“Sajangnim, aku ingin pulang..”

“Kenapa? Kau bahkan belum meminta maaf atas kebohonganmu padaku..”

“Tapi aku sudah menjelaskannya tadi. Aku juga tidak tahu jika sebenarnya dokter Cho masih belum.. Aishh, baiklah.. aku minta maaf. Maafkan aku.. sajangnim, ayolah..”

“kenapa tidak memanggilku ‘Oppa’ seperti tadi..?”

Yoona melebarkan mata kearahnya..

“Ck! kenapa aku harus melakukannya?”

“kenapa? Karna Aku menyukainya. Itu terdengar sangat manis jika kau yang mengucapkannya. Dan aku ingin mendengarnya disetiap waktu. Bukan hanya disaat-saat tertentu saja..”

“Aku tidak akan melakukannya.. Sajangnim, ayolah.. Telpon ahjussi untuk menjemputku..”

“kenapa kau tidak mencoba melakukannya lagi untuk menyenangkanku. Mungkin aku akan mengabulkan permintaanmu. Bersikap baiklah padaku, Yoona..”

Yoona memberengut kesal, dan berkeras tidak mau melakukan apa yang Siwon inginkan dengan memanggilnya ‘Oppa’. Entah mengapa, kali ini ia merasa tak akan membiarkan Siwon memenangkan semua yang diinginkannya.

“Sajangnim..”

“hmm..”

“Bolehkah aku turun kebawah untuk menemui Hyoyeon dan Sunny?”

“Kau sudah bisa berjalan?”

Yoona menggeleng..

“Kalau begitu kau akan tetap berada disini”

“Tapi aku ingin mengobrol dengan mereka.. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka, Sajangnim..”

“Ini awal pekan dan sekaligus awal bulan.. disini hanya kau yang tidak bekerja, sedangkan mereka memiliki banyak pekerjaan. Kau sebaiknya tidak mengganggu..”

Yoona kembali menunjukkan wajah yang memberengut..

Sampai sekitar satu jam setelahnya, keduanya sama-sama terdiam. Sama sekali tidak melakukan percakapan. Siwon sibuk dengan pekerjaan yang dilakukannya. Mengoreksi dan mencermati beberapa tawaran bisnis yang diajukan padanya. Namun sesekali ia masih mencuri pandang pada Yoona.

Keberadaan gadis itu disana, yang meskipun saat itu hanya diam saja dan malah kembali terlihat kekesalan diwajahnya, tak menjadi masalah bagi Siwon. Ia sudah cukup merasa senang bekerja dengan ditemani gadis itu didalam ruangannya.

Tapi yang dirasakan Yoona jelas berbeda dengan yang dirasakan oleh Siwon. Berada satu ruangan dengan pria itu untuk waktu yang lumayan lama, disadari Yoona kemudian membuatnya gugup. Namun memikirkan untuk memenuhi keinginan Siwon, jelas menjadi terlalu gengsi untuk dilakukannya. Dan tiba-tiba terlintas sesuatu didalam pikirannya yang akhirnya membuat senyum dibibirnya terlihat.

Siwon yang saat itu memperhatikannya, melihat Yoona yang sedang berusaha menjangkau tas tangannya yang tergeletak diatas meja. Setelah gadis itu mendapatkannya, Ia mengambil ponsel dari dalamnya dan dengan segera memainkan jemarinya diatas layar, sebelum kemudian membawa ponsel itu menempel ditelinganya..

“Omonim..”

Dikursi kerja yang didudukinya, Siwon mengernyit mendengar dan akhirnya mengetahui siapa yang dihubungi Yoona pada saat itu, adalah Ibunya.

“Omonim..”

Ia mengeluarkan suara memelas..

“Ada apa Yoona ya?”

“Omonim.. Ottokae? Ottokae omonim..?”

“kenapa? Ada apa? Katakan sesuatu dengan jelas padaku?”

“Aku.. Kaki-ku omonim.. Kaki-ku sakit, Aku tidak bisa berjalan..”

“Ya Tuhan.. Apa yang terjadi?”

“Aku terjatuh.. kaki ku terkilir dan sangat sakit..”

Jawab Yoona tak sadar dengan menggigit bibir bawahnya..

“Astaga.. Kenapa kau menjadi suka mencederai dirimu sendiri, Yoona..!”

Nada suara Ny.Choi mulai meninggi..

“Dimana kau sekarang?”

Yoona menoleh kearah Siwon dan tahu pria itu sedang memperhatikannya dan ia kemudian justru tersenyum sebelum kembali menjawab pertanyaan dari Ny.Choi tadi.

“Aku berada dikantor Siwon oppa.. Tapi aku ingin pulang, omonim.. Aku ingin bersamamu..”

“Aku akan kesana..!!”

Begitu Ny.Choi memutus sambungan telponnya, Yoona langsung bersorak..

“Yeiii.. akhirnya aku bisa pulang dengan caraku. Bukankah aku sangat pintar, sajangnim..?”

dan kemudian ia malah dengan berani menjulurkan lidah kearah Siwon yang masih memperhatikan tingkahnya. Membuat pria itu dengan seketika memutar mata melihatnya.

Dasar kekanakan..

Komentar Siwon dalam hati, meski disaat yang sama ia juga ingin tertawa melihatnya.

***

Satu setengah jam setelahnya Siwon sudah tidak memiliki Yoona didalam ruang kantornya.
Tak lama setelah melakukan pembicaraan ditelpon tadi, Yoona dijemput oleh ibunya dan sekaligus ayahnya. Dan Siwon harus rela mendesah pasrah saat setelah melihat kondisi kaki gadis itu yang dibebat dengan perban, bukan memarahi gadis itu karna kecerobohannya sendiri, sang ibu justru langsung memarahinya karna menganggap dirinya tak mampu menjaga gadis itu dengan baik.

Siwon ingin mengatakan itu hanya masalah terkilir saja, tapi jelas apapun itu sang ibu takkan menerimanya. Tersirat dari apa yang sang ibu katakan tadi, jika tak ada yang boleh membuat gadis belia kesayanganya, atau Siwon lebih suka menyebut ‘bonekanya’ terluka, sekecil apapun.

Maka setelah menyaksikan tingkah konyol Yoona yang menunjukkan sikap bermanja-manja dan terlihat menikmati perhatian berlebihan yang diberikan oleh ibunya, Siwon memutuskan untuk berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaannya hari itu.
Siwon bahkan tanpa sadar baru keluar dari kantor setelah jam kerja normal berakhir pada sekitar dua jam yang lalu.

Dan dengan mengendarai mobilnya sendiri hari itu, Ia bisa memacunya dengan lihai diatas kecepatan rata-rata.

Hingga hanya dalam hitungan menit saja ia telah berada dekat dengan rumahnya. Dan pada saat mobilnya berada dekat dengan area rumahnya itu, satu yang kemudian tertangkap mata olehnya, adalah keberadaan sebuah mobil yang terparkir tak terlalu jauh dari pagar rumahnya.

Siwon mendadak menghentikan laju mobilnya dibelakang sebuah mobil yang terparkir itu, hanya untuk mengamati. Dan tak butuh waktu lama untuknya mengetahui itu adalah sebuah mercedes yang sama, yang beberapa kali sebenarnya pernah dilihatnya berada disekitar rumahnya dan malah pada saat itu sempat ia curigai mengikuti laju mobilnya.

Tak butuh waktu lama juga untuknya akhirnya menyadari dan mengingat siapa pemilik mobil itu. Pantas saja, ia sempat merasa tak asing dengan mercedes itu, karna jelas ia mengenal pemiliknya, lumayan mengenalnya dalam kerjasama yang pernah dilakukannya.

Maka untuk membenarkan dugaannya, Siwon lantas keluar dari dalam mobilnya, melangkah mendekati mobil itu, ia sudah mendengar suara mesin mobil yang telah dihidupkan, namun beruntung ia lebih cepat beberapa detik untuk mengetuk pada bagian kaca disisi pengemudi. Mengetuknya beberapa kali hingga akhirnya sang pengendara itu menurunkan kaca mobilnya..

“Agen Park…?”

Siwon benar dengan apa yang diduga olehnya..

*

*

*

*

*

*

To Be Continued~

Ehmm.. sudah bisa nebak kah siapa kira” pria misterius itu..??
Aq sudah kasih clue dengan menyebutkan marganya ya..
so ayo ditebak siapa??
Bagi yang tebakannya benar akan dapat vocer pulsa dari saya^^ #iniseriuslohh
Yang dapat diambil dikonter” terdekat..
Ambil aja abis itu bayar sendiri yaa.. wkwkwkkk..

Dan bagi yang ngarep tuh orang bermarga ‘Kim’ mohon maaf yaa.. apalagi yang ngira si abang Donghae yg udah putus kontrak itu balik lagi disini.. ewww, sinet banget kalau dibikin kek gitu yaa.. hihihiii

Thanks for loyal readers.. #ketjup

@joongly

206 thoughts on “FF | At First Sight | 18

  1. Yuri udh mulai curigaa sykur deh biyar cpet” ktaun trs yoonwon nggx smbuyi” trs,,,cie cie yoona lucu bngt,,,spaa itu agn prk,,,nex prt

  2. Hay2 aku reader baru.. dalam kenal buat joongly chingu… maaf baru koment di part nie.. baru buat akun blog aq na…
    Wah makin gemesina aja nie si yoonwon.. agen park tu yg di suruh siwon buat nyelidikin si donghae ntu kan ya…

  3. Aduuh2 yoonwon makin so sweet aja sih, trus ibunya siwon sayang bnget sih ama yoona, ada ya calon mertua yg sesayang itu ama mantu, aku mau juga dong mertua kayak gitu. Hahaha
    Dan yuri semoga kalo rahasianya yoonwon kebongkar dia gak marah besar sama yoona, jadi ngenes lagi nasib yoona kalo ampe dimusuhin kakaknya..

  4. Diantara part2 AFS sebelumny,part ni yg jadi favoritku,mngkin bakal baca berulang2.
    siwon so sweet bnget,ditambah dengan perhatian ibu siwon yg langsung dtang ke kantor begitu menerima telpon dri yoona yg memberitahukan bahwa kakinya sakit.
    lucunya bukannya yoona yg kena marah tapi malah siwon yg diomelin…
    tapi siap itu agen park..?
    Apa itu orang yg selalu memperhatikan yuri diam2 saat dirumah sakit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s