Fanfiction

YOU’re My Destiny [13]

Happy Reading~

*

*

*

*

*

Ketika getaran ponsel disertai bunyinya yang nyaring mengusik tidur lelapnya, Yoona perlahan mengerjap. Membuka kedua mata mengingat dan mencari-cari dimana terakhir kali Ia meletakkan ponselnya. Namun ketika kemudian Ia mendapatkannya, ponsel miliknya tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Tidak ada panggilan masuk saat itu, atau pesan teks yang dikirim seseorang.

“euh.. yeobo, yeobo irona.. Itu ponselmu yang berbunyi, bukan milikku..yeobo..”

Siwon tak bergeming dan hanya melenguh dalam tidurnya ketika Yoona perlahan mengguncang tubuhnya..

“Yeobo bangunlah.. Dan jawab ponselmu, itu mungkin panggilan penting.. lihatlah..”

dengan mata yang masih terpejam Siwon bergerak, bukan untuk meraih ponselnya melainkan menarik Yoona kembali dalam pelukannya. Membuat kulit pada dada telanjangnya bersentuhan dengan sutra halus dari gaun tidur Yoona dan aroma tubuh keduanya yang kemudian saling melingkupi, menimbulkan geraman dari bibir Siwon yang kemudian terdengar ketika merasakan itu.

“Siwon.. Angkat ponselmu..!”

“siapa yang berani menggangguku pagi-pagi begini?”

“Itu mungkin panggilan penting, jawablah..”

“tak ada yang lebih penting darimu sayang..”

Siwon benar-benar tak mengindahkan apa yang Yoona katakan. Ia justru mengeratkan pelukannya. Tangannya sesekali mengusap dan membuat lingkaran-lingkaran kecil dibagian punggung Yoona menggunakan ujung jemarinya. Gerakannya yang kemudian membuat Yoona merinding disekujur kulit tubuhnya.

Ponsel yang tadi telah berhenti berdering, kini berbunyi lagi dan membuat Siwon mengerang frustasi.

“Astaga, biarkan aku yang mengangkatnya..”

Yoona melepaskan diri dari pelukan Siwon, untuk kemudian menarik sebuah laci nakas disamping tempat tidurnya dan mengambil ponsel milik Siwon dari dalamnya.

Nama Hana putrinya berkedip-kedip pada layar ponselnya..

“Daddy..!”

Yoona sampai perlu sedikit menjauhkan ponsel itu yang menempel pada telinganya hanya karna seruan Hana yang begitu nyaring terdengar bahkan dari sambungan telpon.

“Daddy.. Daddy mendengar Hana..? Mengapa lama sekali menjawab telponnya?”

gadis kecil itu pasti sudah kesal saat ini..

“Ini mommy, sayang..”

“Owhh.. Mommy, kemana daddy mom?”

Yoona menoleh kearah Siwon yang terlihat kembali memejamkan mata..

“Daddy masih tidur, ada apa?”

“Hana hanya ingin bertanya.. kapan mommy dan daddy pulang? Hari ini..?”

Yoona sedikit berpikir, Siwon sudah mengatakan belum akan pulang hari itu dan Ia perlu mencari alasan yang tepat untuk disampaikan pada Hana.

“mom..”

“Ah, ne.. Tapi daddy masih memiliki pekerjaan yang belum diselesaikan, sayang.. Sepertinya tidak bisa hari ini”

“benarkah..?”

Yoona bisa menangkap kekecewaan dari nada suara Hana.

“jadi kapan mommy dan daddy akan pulang? Hana merindukan kalian..”

“Oh sayang.. Mommy juga merindukanmu. Setelah daddy menyelesaikan pekerjaannya, kami akan langsung pulang, Ok..! Kau ingin mommy membawakan sesuatu?”

Pertanyaan yang disebutkan Yoona yang kemudian merubah mood Hana. Dia menyebutkan beberapa barang yang diingkannya, yang justru membuat Yoona terbengong tak menyangka darimana putri kecilnya mengetahui semua itu.

Oh..
Ia harus lebih sering mengingatkan dirinya sendiri bahwa Hana bukan lagi putri kecilnya yang tidak tahu apa-apa.

“Apa mommy sudah mencatat semuanya?”

“hm.. Apa kau benar-benar menginginkan semua itu?”

“tentu saja.. Teman Hana juga memiliki itu mom, Hana ingin tas baru untuk kesekolah.. Sepatu baru, jacket berwarna merah, beberapa leging dan parfum.. Hana hampir kehabisan parfum, mom..”

Yoona kemudian hanya tersenyum mendengarnya. Hana putrinya, memang menyukai fashion sama sepertinya. Bedanya hanya, jika dirinya menyukai berada dibalik layar dengan menjadi seorang desainer, Hana lebih menyukai untuk selalu bergaya dan menjadi pusat perhatian orang-orang disekitarnya.

Yoona kembali teringat saat dulu Hana pernah mengatakan menginginkan menjadi seorang model seperti Tiffany. Ia juga menjadi menyadari jika sudah sejak lama terhubung dengan gadis itu.

“Okey dear.. Mommy sudah mencatat dan daddy akan membelikannya untukmu..”

Karna melihat Yoona yang terdiam, Siwon akhirnya menyambar ponsel itu dari tangannya dan berganti berbicara dengan Hana.

Hana jelas bertambah girang mendengar suara Siwon pada sambungan telponnya..

“Daddy.. Kapan daddy menyelesaikan pekerjaannya?”

“pekerjaan?”

Siwon mengernyit..

“Ya.. Mommy bilang kalian tidak bisa pulang hari ini karna daddy masih memiliki pekerjaan”

“Oh, ya.. Daddy masih memiliki misi yang harus dikerjakan..”

Melirik pada Yoona yang tengah tersenyum kearahnya, Siwon membalasnya dengan kerlingan mata.

“Cepatlah selesaikan, daddy.. Hana dan Jun sudah merindukan daddy..”

“Oh, baiklah.. Daddy juga merindukanmu dan Junseo sayang.. Dan apa yang akan kau lakukan hari ini? Apa kau menjaga Junseo dengan baik..? Dimana Jun sekarang?”

Yoona sudah akan beranjak turun dari atas tempat tidur ketika Siwon masih mengobrol dengan Hana, namun Siwon tak membiarkannya. Ia menarik pergelangan tangan Yoona, memegangnya dan memintanya dengan menggunakan isarat mata agar tetap berada pada tempatnya.

“emm.. Hana sedang menunggu aunty cantik bersiap, Hana akan ikut menemani aunty kerumah sakit untuk memeriksa adik bayi didalam perut aunty.. Dan Jun.. Jun dimana ya? Jun ah…”

mungkin pada saat itu Hana langsung berlarian mencari keberadaan Jun, hingga Siwon hanya mengangkat bahu ketika Yoona menanyakan apa yang sedang Hana katakan ketika Siwon diam dan hanya tersenyum-senyum saja.

“Daddy..!”

“Ah, ya.. Apa kau menemukan jagoan kecil daddy?”

“Jun sedang dimandikan halmoni. Sudah ya dad.. Hana mendengar aunty cantik memanggil. Cepatlah pulang.. Hana sudah merindukan Daddy dan Mommy..”

“baiklah.. Daddy menyayangimu sayang..”

“Hana memaksa kita untuk pulang hari ini?”

Yoona bertanya setelah Siwon menutup ponsel dan meletakkannya.

“Tidak.. Dia mengerti jika kita tak bisa pulang hari ini..”

“memangnya apa yang sudah kau rencanakan hari ini?”

“kemarilah.. Aku akan mengatakannya padamu jika kau mendekat padaku..”

Siwon lantas menarik Yoona kembali merapat ketubuhnya.

“Tidakkah kita harus keluar? Mungkin Fanny sedang menunggu kita untuk bersarapan..”

“masih terlalu pagi untuknya bangun. Dia takkan bangun sepagi ini jika tak ada jadwal pekerjaan..”

“Kau sangat mengenalnya..”

Yoona menarik napas, menempelkan hidungnya pada dada Siwon untuk menghirup aroma dari tubuhnya yang sangat dekat dengannya.

“Aku sudah cukup mengetahui kebiasaanya..”

“Bisa kau ceritakan padaku, bagaimana hari pertama ketika kau terbangun dan tak mengetahui apa-apa tentang dirimu sendiri..”

“apa sekarang pertanyaanmu menjadi beralih dari apa rencana kita hari ini dan berubah menjadi apa yang terjadi padaku saat itu?”

Yoona mengangguk..

Siwon mendesah saat menghirup dan mencium rambut Yoona..

“Aku kebingungan.. Aku begitu merasa asing bahkan dengan diriku sendiri. Lalu kemudian ayah Fanny memberitahuku mulai dari nama Harry sebagai namaku dan mengapa aku sampai kehilangan ingatan ku..”

“Dia menceritakan kecelakaan itu?”

Yoona mendongak untuk menatap Siwon yang kemudian mengangguk kearahnya.

“Jadi sejak saat itu Kau sudah tahu jika Fanny yang membuatmu seperti itu?”

“Tidak.. Dia tidak memberitahuku jika Fanny pelakunya. Dia hanya mengatakan jika ayahku meninggal dalam kecelakaan yang sama denganku. Karna itulah ayah Fanny kemudian menjadikanku sebagai anak angkat.. Aku tak sadar jika appa lah yang benar-benar pergi..”

Yoona mengusap lengan Siwon, saat mengetahui kesedihan dalam nada suaranya.

“Appa sudah beristirahat dengan tenang.. Dia pasti ikut senang melihatmu sekarang. Lalu bagaimana dengan ayah Fanny, apa pria itu orang yang baik? Dia menyayangimu?”

“Ya, dia mengajariku banyak hal. Dia begitu bersemangat mendorongku untuk bisa hingga mempercayakan padaku beberapa pekerjaan yang sedang ditangani olehnya..”

“Apa kau merasa senang saat hidup bersama mereka?”

Siwon menatap pada Yoona yang sedang menatapnya penuh keingintahuan.

“mengapa kau menanyakan hal seperti itu?”

“Apa aku tidak boleh menanyakannya?”

“Tidak, bukan begitu.. Hanya saja..”

“Aku hanya ingin tahu, jawablah..”

Yoona kembali melingkarkan lengannya di pinggang Siwon dan menyandarkan kepala diatas dada bidangnya.

“jujur Aku memang merasakan senang, tapi aku tidak bahagia..”

“Kau tidak bahagia? Kenapa..?”

Yoona mulai menjalankan jemarinya disekitar pinggang Siwon, meraba diatas perutnya hingga naik keatas dadanya membuat Siwon mengerang dan langsung menangkap tangannya.

“Apa kau bisa mengehentikan tanganmu untuk tidak bergerak?”

“kenapa? Kau tak suka aku menyentuhmu..?”

“Kau takkan bisa membuat aku berbicara. Kau hanya akan membuatku ingin terus memilikimu, sayang..”

“Yak.. Siwon!!”

Sedetik kemudian Siwon sudah membalik tubuhnya, membuat Yoona langsung menjerit ketika Siwon justru sudah berada diatasnya dengan bertumpu pada kedua tangan dan menatap dengan seringai diwajahnya.

“Jangan melakukan apapun padaku sekarang, semalam kau sudah cukup banyak menandaiku sebagai milikmu..”

Siwon tergelak ketika Yoona kemudian mendorong tubuhnya kembali terbaring disampingnya.

“Oh, sayang.. Apa yang kau lakukan?”

“Kau belum menyelesaikan ceritamu Siwon.. Katakan padaku kenapa kau tidak merasa bahagia?”

“Aku tidak tahu.. Aku tidak mengerti bagaimana untuk menjelaskannya. Tapi aku selalu merasa hampa didalam hatiku. Suatu ruang didalam sana kosong dan aku terus merasa perlu untuk membuatnya kembali terisi. Tapi aku tak tahu dengan apa aku harus mengisinya..”

“katakan padaku apa kau pernah mencoba mengisinya dengan Cinta? Berkencan dengan wanita lain misalnya.. Apa kau pernah melakukannya?”

Siwon menangkap kecurigaan dimata Yoona. Ketika Ia hanya tersenyum kearahnya, Yoona justru memutar mata kepadanya.

“Katakan Siwon.. Kau sudah mencoba berkencan dengan wanita lain?”

“Apa kau akan cemburu jika aku mengatakannya?”

“Jadi kau benar berkencan? Berapa wanita yang sudah kau kencani..?!”

“Oh, ini akan jadi introgasi yang panjang. Kapan ini akan selesai? Apa kita akan terus berada diatas tempat tidur? Bisakah aku mendapatkan sedikit waktu untuk berada di kamar mandi..?”

Siwon mencoba beranjak, namun Yoona memukul dadanya dan membuatnya sekali lagi justru tergelak senang dengan respon kecemburuan yang ditunjukkan oleh Yoona untuknya.

“jangan coba- coba menghindar sebelum menyelesaikan ini. Berapa wanita yang sudah kau kencani? Katakan padaku sekarang..”

Siwon menggeleng..

“Kau tidak akan mengatakannya padaku?”

Siwon kembali hanya menggeleng..

“Siwon.. Aku serius!”

Siwon menggeleng namun kali ini disertai dengan ucapan dari bibirnya..

“Tidak ada sayang, tidak ada wanita yang pernah kukencani..”

“tidak ada?”

“Tidak satupun..!”

Siwon mengangguk untuk memastikan.

“Bohong..!”

Yoona tak percaya dan justru mendorong dada Siwon.

“Hei.. Aku mengatakan yang sebenarnya padamu..”

“tapi aku tidak mempercayaimu.. Siapa memangnya yang tidak akan tertarik dengan pria sepertimu..”

Yoona memberengut..

“Jadi aku menarik? Apa karna itu kau juga tertarik padaku.. Kau tertarik pada Harry bukan?”

Siwon justru beralih menggoda Yoona..

“Jadi siapa yang lebih menarik menurutmu? Siwon, ataukah Harry..?”

“suamiku..”

“Siapa yang lebih tampan?”

“suamiku..”

“Dan siapa yang lebih kau Cintai? Siwon atau Harry?? Katakan padaku..”

Yoona sekali lagi memukul dada Siwon, yang telah membuatnya tersipu dengan pertanyaan yang bertujuan untuk menggodanya.

“Jangan membuatku malu..”

Siwon tertawa mendengarnya, sementara Yoona merasakan pipinya memerah hingga Ia merasa perlu untuk menyembunyikannya dengan membenamkan wajahnya didada Siwon.

“Sayang, sepertinya aku melupakan sesuatu.. Maafkan aku, tapi aku harus jujur padamu jika ada seseorang yang kemudian menarik perhatianku..”

Yoona langsung menarik diri dan menatap Siwon dengan mata menajam.

“Apa sekarang Kau akan mengakuinya?”

Siwon mengangguk..

“Ya, kurasa aku akan merasa bersalah jika tidak mengatakan ini padamu. Aku pernah berjanji untuk tidak membohongimu lagi”

“jadi siapa wanita itu..?”

“pertama-tama aku ingin kau tahu dia wanita pertama yang berhasil menarik perhatianku..”

Siwon mengulum senyum tapi Yoona justru terdiam..

“Fanny sering mengenalkanku pada teman-teman wanita nya. Tapi tak satupun dari mereka bisa menarik perhatianku, hingga Fanny sempat menuduhku sebagai gay..”

Yoona mengerutkan dahi..

“Ya, Fanny mengatakan aku gay karna aku tak pernah berkeinginan untuk berkencan dengan wanita.. Namun kemudian tuduhannya terbantahkan saat aku merasakan ketertarikan pertamaku pada seorang wanita dan keinginanku untuk mengencaninya”

Yoona mulai mendesah terlihat tidak menikmati apa yang Siwon katakan..

“langsung pada intinya, Siwon.. Siapa wanita itu? Dan berapa lama kau berkencan dengannya?”

Siwon justru cekikikan mendengarnya..

“Siwon..!”

“Oh, tenanglah sayang.. Aku ingin Kau mendengar bagaimana cerita selengkapnya”

“Tidak perlu.. Aku tidak tertarik”

Yoona makin memberengut. Sepertinya ide tentang pembahasan mengenai wanita itu telah merusak mood nya.

“emm.. Bagaimana aku harus mengatakannya, wanita itu sangat istimewa.. Aku bisa tertarik padanya hanya dengan sekali melihatnya saat berada di Milan”

“Milan?”

Siwon mengangguk..

“Aku berada di Milan saat itu.. Dan melihatnya ketika berdiri dibalkon hotel yang bersebelahan dengan kamarku menginap. Aku bahkan tak perlu melihat seperti apa wajahnya untuk tahu aku telah tertarik padanya”

Siwon tersenyum mengulurkan tangannya untuk membelai rambut Yoona..

“Dia memiliki rambut yang indah.. Sangat halus, dan aku bisa merasakannya dengan tanganku sekarang..”

“Siwon..”

“Wanita itu adalah Kau, sayang.. Kau satu-satunya yang bisa menarik perhatianku. Hatiku langsung tertarik saat aku melihatmu..”

“karena itu Kau pernah menanyakan tentang keberadaanku di Milan?”

“Ya.. Hanya untuk memastikan. Saat itu aku mulai tertarik padamu sebagai Yoona yang kukenal saat itu adalah seseorang yang dikagumi Fanny. Namun aku juga masih menyimpan ketertarikan pada wanita yang kulihat di Milan.. Dan aku merasa tidak mungkin tertarik pada dua wanita diwaktu yang sama. Sampai kemudian aku menyadari kemungkinan jika kau adalah orang yang sama. Untuk itu aku menanyakan mengenai keberadaanmu di Milan..”

“Oh, Siwon..”

Yoona langsung memeluknya..

“Aku juga merasakan kehadiranmu waktu itu? Aku merasa kau berada dekat denganku..”

“benarkah..?”

Siwon melepaskan pelukannya dan menatap kedalam manik mata Yoona.

“Apa kau juga melihatku disana?”

“Aku bahkan mencari-cari keberadaanmu disana. Hingga kemudian aku merasa semua hanya halusinasi yang kuciptakan, karna kerinduanku yang begitu besar kepadamu..”

“Oh, sayang.. Aku menyesal kita tak bertemu saat itu”

Siwon kemudian mendekapnya erat..

“Oh Tuhan.. Kau adalah takdirku Yoona. Aku berterimakasih Karna Tuhan telah mengembalikan aku pada takdirku.. Kini aku mengerti ruang kosong dalam hatiku itu adalah untukmu sayang. Kurasa bukan hanya satu ruang melainkan seluruh ruang dihatiku adalah milikmu.. kau yang telah memenuhinya.. ”

“Sisakan ruang yang lain untuk Hana dan Junseo.. Atau mereka akan marah padamu..”

Yoona berucap dengan canda, Siwon tersenyum dan semakin mendekapnya dengan erat.

“masih ada yang ingin kau tanyakan padaku?”

Yoona mengangguk..

“Ya, aku senang mendengarmu bercerita banyak padaku..”

“Apa yang ingin kau ketahui sekarang..?”

“bagaimana kemudian kau menemukan ingatanmu..?” 

Siwon kemudian menggulirkan apa yang dirasakannya setelah bertemu kembali dengan Yoona. Mengatakan dirinya yang kerap kali melihat bayangan-bayangan mengabur yang tak dimengerti olehnya dan termasuk Changmin yang membantunya untuk menggali lebih dalam kedalam memorinya yang hilang, serta anggapannya pada dirinya sendiri yang membuatnya terpikir bahwa dirinya memang adalah suaminya. Hingga sampai bayangan mengabur itu terputar dengan jelas pada saat dirinya akan menjalani prosesi pemberkatan pernikahan dengan Fanny..

“Aku masih tak mengerti mengapa saat Kau mengatakan bahwa kau takkan pernah melihatku sebagai Harry dan akan terus menganggapku sebagai Siwon, tapi hal itu justru menyakitiku hingga aku berkeputusan untuk menyerah dan memutuskan mengiyakan keinginan ayah Fanny untuk menikahi putrinya. Padahal aku telah berkeyakinan jika Aku adalah suamimu..”

“kurasa ego-mu sebagai Harry pada saat itu lebih kuat dibanding dengan keyakinanmu jika Kau adalah suamiku..”

“Ya, mungkin seperti itu”

“Aku tak menyangka Changmin juga melangkah sejauh itu.. Kurasa hanya aku yang tetap ditempat dan tak mengusahakanmu, maafkan aku yeobo..”

“stt.. tidak, apa yang kau katakan”

Siwon lantas mengecupi kening Yoona dengan rangkulan erat yang masih Ia pertahankan ditubuhnya.

Hanya dengan berada diatas tempat tidur bersama Yoona, bergelung dibawah selimut yang sama dengannya dan membicarakan banyak hal yang bisa mereka bahas bersama sudahlah menjadi kebahagiaan besar untuk Siwon dan begitupun bagi Yoona. Ia merindukan saat-saat yang seperti itu bersama dengan Siwon..

“Ayo bersiap.. Kita akan menjalankan rencana hari ini. Misiku adalah membahagiakanmu sayang..”

Siwon terlebih dulu memberikan kecupan dibibir Yoona, sebelum kemudian beranjak turun dari atas tempat tidur.

“Aku akan mandi terlebih dulu, ingin bergabung denganku?”

Mengerlingkan mata, Siwon mengulurkan tangan pada Yoona..

“Aku perlu untuk menghubungi Jessica dan Yuri terlebih dulu. Aku ingin mengecek keadaan butik..”

“Baiklah..”

Siwon menarik tangannya dan mulai melangkah kearah kamar mandi.

“Siwon..”

“hm..”

Berbalik Ia menemukan Yoona yang tersenyum padanya..

“jangan mengunci pintunya.. Aku akan bergabung denganmu nanti..”

***

Sekitar satu jam kemudian Siwon sudah merangkul Yoona keluar dari dalam kamar, namun pada saat itu yang terlihat adalah kesibukan beberapa pelayan yang sedang keluar masuk dari dalam kamar Fanny..

“Ada apa dengan Fanny? Apa yang terjadi?”

Siwon bertanya pada salah satu pelayan yang dilihatnya baru saja keluar dari dalam kamar Fanny..

“Sir.. Nona Fanny sakit, Tn.Nickhun sedang memeriksa keadaanya..”

“Kenapa tidak ada yang memberitahuku..?”

Yoona melihat kepanikan diwajah Siwon ketika kemudian dengan cepat Ia membawanya masuk kearah kamar Fanny.

Keduanya melihat gadis itu terkulai lemah diatas tempat tidur. Nickhun sedang memasangkan jarum infus dengan dibantu seorang asisten dari Fanny..

“Nickhun ssi, ada apa dengan Fanny?”

Nickhun terlebih dulu menyelesaikan apa yang saat itu dilakukannya, sebelum akhirnya menarik Siwon sedikit menjauh dari sisi tempat tidur Fanny.

“Harry ssi.. Kurasa Fanny shock”

“shock? Kenapa?”

“Kau belum melihat berita hari ini?”

Siwon menggeleng..

“semua media membicarakannya.. Mengatakan saat ini adalah akhir karirnya. Headline dari semua surat kabar menuliskan namanya. Orang-orang memojokkan dirinya atas kecelakaan itu..”

“tapi kita sudah mengklarifikasikan jika semua sudah selesai. Aku dan Yoona, kami memaafkannya..”

“tapi kita tetap tak bisa menghindar dari penilaian orang lain. Dan mereka semua kini menyalahkannya.. Fanny mengaku siap untuk menerima semua itu.. Tapi sesungguhnya dia rapuh dan sama sekali tak siap. Terlebih Ayahnya, satu-satunya orang yang selalu melindunginya kini telah tiada..”

Siwon mengarahkan pandangannya pada Fanny dan melihat Yoona yang kini berada disisi Fanny dan memegang tangannya.

“Aku sudah memberinya beberapa obat.. Dia akan tertidur. Kuharap dia akan lebih tenang dan siap ketika bangun nanti..”

“Tolong jaga dia, Nickhun ssi..”

“pasti.. Kau tak perlu memintanya.. Kau berencana untuk pergi hari ini? Kalian belum akan pulang kan?”

“Aku hanya ingin mengajak Yoona keluar..”

“Kau tidak khawatir para pencari berita mungkin masih mengincarmu?”

“Aku tidak perduli pada mereka..”

Siwon meraih tangan Yoona ketika melihatnya mulai mendekat.

“Apa kita akan tetap pergi?”

Siwon mengangguk..

“Nickhun akan menjaganya..”

“jangan khawatir.. Kalian pergilah”

“hubungi aku jika terjadi sesuatu?”

Siwon berpesan, Ia terlebih dulu mendekat pada sisi tempat tidur Fanny untuk melihat kondisinya.
Sejauh itu wajahnya memang terlihat pucat..

Ketika Siwon sudah akan beranjak, tiba-tiba Fanny meraih tangannya..

“Oppa..”

“Fanny ah.. Kau tidak apa-apa? Apa yang kau rasakan?”

“Oppa..”

dan Fanny mulai meneteskan airmata..

“Jangan pergi.. Oppa, tetaplah disini. Jangan pergi.. Aku ingin kau menemaniku..”

Siwon kemudian diam, tak menjawab dan justru mengalihkan tatapannya pada Yoona.

Ia sudah punya rencana sendiri yang akan dilakukannya bersama dengan Yoona, namun dengan keadaan Fanny saat itu tegakah Ia untuk meninggalkannya…

Yoona yang juga melihat bagaimana Fanny menangis, memohon agar Siwon tidak pergi dengan sorot ketakutan dimatanya akhirnya hanya menganggukkan kepala pada Siwon untuk pertanyaan yang tak terucap dari suaminya.

Yoona merasa takkan bisa bersenang-senang diatas kesedihan dan kesakitan Fanny saat itu, meski gadis itu pernah menjadi penyebab kesakitan terbesar yang pernah Ia rasakan dalam hidupnya. Dan yakin, setelah sebelumnya melihat kedekatan Siwon dengan Fanny, Siwon juga akan merasakan yang demikian.

Jikapun memaksakan untuk pergi, mereka pasti takkan merasa tenang meninggalkan Fanny yang sedang sakit lantaran merasa tertekan secara emosional.

“Aku tidak akan kemana-mana.. Aku ada disini menjagamu..”

Siwon beralih pada Fanny yang kemudian menggenggam tangannya erat saat mendengarnya.

“tidurlah.. Kau membutuhkannya. Kau akan lebih baik setelah tidur”

“Jangan pergi, Oppa..”

Siwon mengangguk dan Fanny langsung memejamkan matanya. Pengaruh obat yang tadi diberikan Nickhun sebenarnya telah mempengaruhi dan membuatnya mengantuk.

“Yeobo.. Aku akan keluar sebentar”

Siwon mengangguk mengijinkan..

Yoona yang kemudian keluar dari dalam kamar Fanny, langsung melangkahkan kakinya menuju kearah dapur yang ada dirumah itu.

Sampai disana, Ia langsung dikelilingi tiga pelayan paruh baya yang siap untuk membantunya ataupun memenuhi permintaannya.

Namun Yoona hanya tersenyum dan menolak tawaran mereka dengan mengatakan  Ia bisa melayani dirinya sendiri dan hanya memerlukan bantuan dari mereka untuk memberitahukan dimana mereka menyimpan bahan makanan.

Selanjutnya Ia mempersilahkan para pelayan itu untuk meninggalkannya sendirian, dan Yoona memulai mengerjakan apa yang ingin dilakukannya.

Ia mendekati mesin pembuat kopi, mengambil beberapa biji kopi yang Ia rasa cukup, kemudian menggilingnya dan menunggu untuk kopi buatannya bisa Ia taruh kedalam cangkir yang sudah ia siapkan.

“Aku tak menyangka jika anda juga ahli saat berada didapur, Ny..”

Yoona menoleh mencari sumber suara dan mendapati Nickhun yang sedang tersenyum memperhatikan apa yang sedang dilakukannya.

Sebelumnya Ia tidak tahu jika Nickhun juga keluar dari dalam kamar Fanny dan mengikutinya..

“Oh.. Maaf, tapi aku sedikit lupa dengan namamu. Siwon beberapa kali menyebutkannya namun aku tak berkonsentrasi untuk mengingatnya..”

Nickhun kembali tersenyum sambil melangkah lebih dekat pada Yoona, hingga akhirnya menarik sebuah kursi kemudian mendudukinya dan kembali memperhatikan apa yang Yoona lakukan dengan mesin pembuat kopi dihadapannya.

“Anda bisa memanggilku Nickhun, Ny..”

“Oh, ne.. Nickhun ssi, senang bisa mengenalmu.. Apa Kau ingin secangkir kopi?”

“boleh jika Nyonya menawarkan..”

“Oh, kuharap kau tak memanggilku se-formal itu”

“dan bagaimanakah seharusnya saya memanggil anda Ny..? Aku hanya tak ingin berlaku lancang terhadap anda..”

Yoona kini berganti tersenyum mendengarnya.

“Kau cukup memanggilku Yoona.. Itu akan membuatku jauh lebih nyaman..”

“Oh.. baiklah Yoona ssi, aku menunggu kopi buatanmu”

Nickhun terlihat lebih santai saat tak berapa lama Yoona memberikan kopi yang telah Ia tuangkan kedalam cangkir kehadapannya.

Ia langsung memberikan pujiannya setelah menyesap secangkir kopi yang dibuat oleh Yoona.

“Aku benar saat mengatakan kau ahli berada didapur Yoona.. Kopi buatanmu sangat enak..”

“Oh, benarkah? Terimakasih untuk pujiannya.. Sejujurnya aku sudah lama tak bersinggungan dengan situasi yang berada didapur, sejak aku kehilangan Siwon, aku tak lagi merasa nyaman. Hal itu justru akan semakin mengingatkanku pada saat-saat dimana aku menyiapkan segala sesuatu untuk Siwon yang kukerjakan didapur”

“tetap saja, kau tidak kehilangan keahlianmu Yoona ssi..”

Yoona tersenyum dan kemudian beralih untuk memanggang roti. Ia menyiapkan beberapa untuknya dan Siwon, juga memberikan panggangan pertama dari roti buatannya kehadapan Nickhun.

“Yoona ssi..”

“hm..”

“Maafkan aku.. Aku merasa bersalah atas apa yang telah kulakukan padamu dan kedua anakmu, juga keluargamu..”

Yoona hanya mengangguk sebagai tanda Ia menerima permintaan maaf dari Nickhun.

“Fanny sudah berkali-kali mengatakan permintaan maafnya padamu, tapi aku belum sekalipun melakukannya.. Maafkan aku Yoona ssi, seharusnya aku tak ikut menutupi kebenaran itu dari Siwon, tapi aku justru melakukannya karna merasa tak memiliki pilihan lain selain melakukannya..”

Memang sudah seharusnya Nickhun turut merasa bersalah. Ia memang mengetahui kesalahan Fanny dan dirinya ikut menutupi kesalahan gadis itu dikarenakan rasa sayang dan cintanya terhadap Fanny.

Ia tak menginginkan gadis itu terpuruk. Seperti sekarang ini, apa yang dirasakan Fanny juga ikut dirasakan olehnya. Melihat Fanny yang biasanya tersenyum ceria meski bukan untuknya, namun beberapa hari terakhir gadis itu justru terus menangis dalam kesedihan hingga sampai jatuh sakit, dan lemah tak berdaya. Kalah oleh tekanan emosional yang menyerangnya, membuat Nickhun dicekam kesedihan yang mendalam didalam hatinya.

“Apa yang sedang kalian perbincangkan?”

Yoona yang terlalu menyimak apa yang Nickhun katakan sampai tak sadar jika Siwon telah berada tak jauh dari mereka dan kini mulai melangkah mendekatinya.

“Siwon..”

Siwon tersenyum kearahnya..

“Harry ssi, bagaimana dengan Fanny?”

“Dia sudah tidur dengan lelap, jangan khawatir.. Aku meminta asistennya untuk tetap berada dikamarnya..”

Siwon mulai menarik kursi dan duduk disebelah Nickhun.

“Sayang, apa yang sedang kau siapkan?”

“Aku menyiapkan kopi untukmu..”

Yoona membawa secangkir kopi panas dengan uap yang masih mengepul dan juga sepiring roti panggang untuk Siwon.

“Aku sedang memuji keahlian Yoona menyiapkan semua ini untukmu.. Sayangnya aku yang telah mencicipinya lebih dulu..”

Gurau Nickhun pada Siwon sambil kembali menyesap kopi dari cangkirnya.

“Tidak masalah.. Aku masih bisa mendapatkan pelayanan seperti ini dari istriku setiap harinya”

Siwon mengedikkan mata kearah Yoona yang tersenyum , kemudian mendekat dan duduk dihadapan Siwon dengan secangkir teh hangat yang Ia buat untuk dirinya sendiri.

“jadi apa yang tadi sedang kalian bicarakan? Itu terdengar sangat serius..”

Nickhun meletakkan cangkir ditangannya untuk kemudian berbicara..

“Harry ssi.. Aku meminta maaf pada Yoona atas apa yang kulakukan dengan menutupi kesalahan Fanny. Dan aku juga ingin meminta maaf padamu.. Seharusnya aku mengatakan yang sebenarnya”

“Aku mengerti yang kau lakukan untuk melindungi Fanny.. Aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kau meminta maaf padaku. Jika berada diposisimu.. Aku mungkin akan melakukan apa yang telah kau lakukan demi gadis yang kau cintai..”

“Oh Tuhan.. Jika aku mengetahui kalian adalah orang-orang yang berpikiran hebat, aku takkan takut untuk berkata jujur padamu Harry ssi.. Terimakasih karna telah memaafkanku..”

“Tunggu dulu yeobo..”

Yoona menyela dengan mengarahkan tatapan pada kedua pria dihadapannya.

“Siapa yang kau maksud dengan gadis yang dicintai.. Apakah Nickhun..?”

Siwon mengangguk meski Yoona belum menyelesaikan kalimatnya, namun Ia sudah lebih dulu mengerti akan maksudnya.

“Ya.. Kau juga melihatnya bukan, bagaimana Nickhun yang selalu menatap Fanny dengan cinta..”

Siwon menyenggol lengan Nickhun, menggodanya yang hanya bisa menanggapi dengan senyuman malu diwajahnya.

Ia lantas mengambil potongan roti panggang dan kemudian menyuapkannya pada Yoona.

“Oh, jadi mereka sebenarnya berhubungan asmara?”

Tanya Yoona nampak tertarik setelah mengunyah dan menelan suapan roti panggangyang diberikan Siwon untuknya.

“tidak, maksudku Fanny belum menerima ungkapan perasaanku padanya..”

Nickhun berujar terus terang dihadapan Siwon dan Yoona.

“Kau sudah mengatakan perasaanmu padanya?”

Nickhun mengangguk yang kemudian mendapatkan tepukan pada bahunya dari Siwon sebagai bentuk dukungan.

“Kau harus lebih mengusahakannya.. Fanny bukan gadis yang mudah melunak, tapi belakangan aku bisa melihatnya mulai tak keberatan dengan kehadiranmu disisinya”

“Kalian terlihat cocok bersama-sama..”

Yoona menambahi, membuat Nickhun merasa lebih percaya diri untuk menaklukkan hati Fanny. Hanya gadis itu yang selama ini diinginkannya dan membuatnya melakukan apapun demi untuk melindunginya.

“Jadi kalian memutuskan membatalkan rencana kalian untuk pergi?”

Yoona mengarahkan tatapannya pada Siwon yang sedang menyesap kopi didalam cangkirnya.

“kami tidak membatalkan, hanya menundanya saja..”

Siwon meraih tangan Yoona yang berada diatas meja, kemudian menggenggamnya.

“Kita masih banyak memiliki waktu untuk berdua..”

Yoona tersenyum dan mengangguk menyetujui apa yang Siwon ucapkan.

Beralih dari meja dapur setelah menghabiskan kopi didalam cangkirnya, Siwon lantas merangkul Yoona. Bersama Nickhun ketiganya kemudian memeriksa seperti apa pemberitaan dari media-media yang telah membuat Fanny tertekan atas pemberitaan yang mereka tuliskan dan edarkan kepada publik yang dengan mudah bisa mengaksesnya dan berkomentar seolah-olah mereka tahu segalanya.

Yoona turut merasakan keprihatinan dari semua headline dan artikel pada hampir semua surat kabar dipagi itu yang menyebutkan Fanny sebagai tersangka utama dalam kecelakaan itu. Yang tidak bertanggung jawab, karna menutupi dan justru membawa kabur juga menyembunyikan korbannya.

“mereka benar-benar keterlaluan.. Bagaimana mereka bisa menuliskan hal sedemikian kasar. Bukankah kita sudah mengatakan jika kita telah memaafkan Fanny..”

Siwon juga tak habis mengerti, sama halnya dengan apa yang baru saja dikatakan Yoona.

“Aku hanya berharap Fanny lebih bertahan untuk menghadapi pemberitaan itu..”

“Kita harus membantunya, yeobo..”

Yoona sangat bersyukur disaat  terburuk dalam hidupnya, Ia masih memiliki sang ayah yang bisa menjadi sandaran dan terus menyemangatinya. masih memiliki seorang ibu mertua yang menyayangi dan selalu berusaha menenangkan tangisnya. masih memiliki sahabat yang perduli dan terus mendukungnya. dan memiliki dua buah hati yang  memotivasi dirinya untuk bangkit dari keterpurukan dan mendorongnya bertahan untuk mereka.

Tapi Fanny..
Miris..
gadis itu benar-benar malang dan sendirian.

Siwon mengangguk setuju sambil mengeratkan rangkulannya ditubuh Yoona, tersentuh dengan ketulusan dari kata-kata yang diucapkan olehnya.

“Ya.. Fanny membutuhkan banyak dukungan dari orang-orang disekelilingnya, yang menyayangi dan terutama mencintainya..”

Siwon mengarahkan tatapannya pada Nickhun ketika Ia mengatakannya.

“Aku takkan lagi bisa terus bersama Fanny, Kau yang harus selalu bersamanya dan menjaganya Nickhun ssi..”

“terimakasih untuk mempercayakan Fanny padaku, Harry ssi..”

Nickhun beranjak dari hadapan keduanya kemudian kembali memasuki kamar Fanny untuk memeriksa lagi keadaannya.

Alih-alih menikmati lagi kebersamaannya berdua dengan Yoona, Siwon justru kemudian kedatangan sang pengacara Tn.Hwang yang meminta untuk berbicara dengannya.

Maka kemudian Yoona membiarkan Siwon disana setelah terlebih dulu mengatakan Ia akan kembali kekamar untuk menghubungi Jessica guna membicarakan beberapa hal mengenai butiknya yang tadi belum sempat Ia selesaikan.

Yoona mengambil ponsel miliknya dan duduk pada salah satu kursi dari dua kursi dengan sebuah meja bundar yang berada didalam kamar itu.

Memeriksa ponselnya, Yoona menemukan satu pesan dari Yuri yang mengatakan jika hari itu Ia tak bisa datang ke butik dikarenakan morning sicknees yang dialaminya hari itu lumayan membuatnya kacau.

Yoona tersenyum dan membalas pesan dari Yuri dengan mengatakan tidak masalah, dan menuliskan beberapa saran sesuai pengalaman yang pernah dialaminya sewaktu mengandung Hana dan Junseo.

Beberapa menit kemudian Ia menghabiskan untuk berbalas pesan dengan Yuri.

Selanjutnya, bukan untuk bertelepon dengan Jessica seperti yang dikatakannya pada Siwon, namun yang dilakukannya lebih dulu adalah menggambar pola desain pakaian dengan menggunakan ponsel pintar nya, baru kemudian mengirimkannya pada Jessica.

Sica dengan cepat memberikan komentarnya dan juga membalasnya dengan beberapa email mengenai keinginan desain dari beberapa pesanan pelanggan.

Yoona lantas membacanya satu persatu kemudian kembali menggambar dan selanjutnya kembali mengirimkannya pada Jessica.

Jessica meresponnya dengan antusias, kali ini bukan lagi melalui email melainkan langsung menelponnya.

“Oh, Yoona.. Aku tak sabar untuk mengerjakan desain ini.. Luar biasa, aku menyukainya..”

“Kita bisa menyempurnakannya nanti..”

“Ya.. Pasti akan menjadi semakin cantik. Aku menilai kau sedang dalam keadaan yang baik sekarang.. Kau mendesainnya dengan sangat cepat..”

“Sempurna.. Begitulah keadaanku sekarang..”

Yoona terkikik oleh karna ucapannya sendiri.

Jika keduanya sedang berbicara berhadapan, Yoona pasti akan bisa melihat seringai dari wajah Sica.

“Well.. Kapan kau pulang? Aku tak sabar untuk mengerjakan ini bersamamu..”

“Aku masih belum tahu.. Aku ingin besok atau lusa, tapi sepertinya Siwon masih memiliki urusan yang akan dia kerjakan. Aku menunggu dia menyelesaikannya..”

“Apa ini mengenai gadis itu? Fanny? Aku mendengar dan melihat gencarnya pemberitaan yang sedang membahas dirinya..”

Yoona mendesah..

Dan kemudian berbagi pemikirannya pada Jessica mengenai Fanny.
Yoona mengatakan rasa kasihannya melihat keadaan gadis itu dan Jessica kemudian menanggapi..

“gadis itu masih beruntung, karna korbannya adalah Siwon oppa yang tidak melakukan tuntutan. Dan juga Kau yang berbesar hati memaafkannya, setelah apa yang dilakukannya mengakibatkan kesakitan hatimu, Yoona.. Dia patut bersyukur bertemu denganmu dan Siwon oppa.”

Keduanya berbincang cukup lama, sampai kemudian ketukan pada pintu kamar itu sejenak menghentikan Yoona dari pembicaraannya bersama Sica.

Ia membuka pintu dan mendapati seorang pelayan berada disana dengan sebuah nampan dikedua tangannya yang berisi jus segar dan beberapa jenis kue kecil sebagai hidangan.

“Maaf Ny.. Tn.Harry meminta saya menyiapkan dan mengantarkan ini untuk anda. Dan juga menyampaikan, jika Tuan masih dalam pembicaraan dengan pengacara Tn.Hwang..”

Oh..

Yoona tersenyum atas perhatiaan yang diberikan Siwon untuknya.

“terimakasih, Kau bisa meletakkan itu disana..”

Yoona menunjuk pada meja bundar yang tadi Ia tempati dan kembali pada sambungan telponnya dengan Jessica.

“Kau sedang mendapatkan perhatian ekstra dari suamimu?”

Yoona langsung tertawa mendengar Sica yang kembali bersuara..

“Uh.. Kau benar-benar dalam mood yang baik, Yoona..”

“Ya, aku mengakui itu.. Bukankah sudah kukatakan tadi bahwa aku merasa sempurna..”

“Oh, kau sungguh membuatku iri..”

“Aku sarankan kau segera menemukan seseorang yang bisa menyempurnakan hidupmu..”

“Aku katakan padamu jika aku merasa hampir menemukan seseorang yang seperti itu dari salah satu kencan buta yang kuikuti..”

“Sungguh..?”

Sica yang kini terkikik menyadari Yoona yang berseru terkejut atas apa yang baru dikatakannya.
Ia kemudian menceritakan beberapa hal tentang teman kencannya yang menurutnya tampan, menarik, dan layak untuk Ia miliki.
Sica juga mengatakan akan memperkenalkan seseorang itu pada Yoona nanti.
Keduanya tertawa bersama sekitar beberapa menit, sebelum akhirnya beberapa menit selanjutnya kembali membahas tentang pekerjaan dibutik dan sekitar tiga puluh menit setelahnya Yoona menutup ponselnya, mengakhiri pembicaraannya bersama Jessica dengan senyum puas diwajahnya.

“Senang melihat tawamu yang seperti itu, sayang..”

Yoona menoleh pada suara Siwon yang baru disadari keberadaannya olehnya yang kini sudah berdiri diambang pintu kamar, tersenyum memperhatikannya.

“Oh, Siwon.. Kukira kau masih bersama pengacara itu..”

“Kami sudah menyelesaikannya..”

“Kemarilah..”

Yoona balas tersenyum, mengulurkan sebelah tangannya sebagai tanda agar Siwon mendekat dan meraihnya.

“Jessica membuatku banyak tertawa tadi..”

Ucapnya setelah Siwon meraih tangannya dan kemudian menempati satu kursi yang berhadapan dengannya.

“apa yang dia katakan?”

“kami membahas banyak hal diluar mengenai butik.. Dia juga mengatakan sedang memiliki ketertarikan pada seorang teman kencan buta nya”

“Jessica mengikuti kencan buta?”

“hm.. Dia sedikit frustasi karna tak menemukan pasangan”

“kupikir dia cukup cantik untuk mendapatkan seorang pria yang dia inginkan”

“Tapi tidak semua pria menyukai wanita cantik..”

“Ya, kau benar.. Aku termasuk pria yang tidak menyukai wanita cantik. Karna aku telah jatuh cinta pada wanita yang luar biasa menarik sepertimu.. Kau lebih dari sekedar cantik, sayang..”

Yoona mencibir kedikan mata yang diarahkan Siwon untuknya..

“Oh ya.. terimakasih untuk pelayanan kamarnya, Aku menyukainya..”

Siwon tergelak ketika Yoona menunjuk pada jus segar yang masih tersisa setengah dari gelasnya, dan juga beberapa hidangan yang menemaninya.

“Kupikir kau membutuhkannya untuk bersantai, maka aku memerintahkan mereka untuk menyiapkannya..”

“Ya, terimakasih.. Aku sangat menikmatinya”

“Aku memiliki pelayanan kamar eksklusif hanya untukmu jika kau menginginkannya..”

Seringai diwajahnya dan tatapannya yang mengarah pada tempat tidur bersprai satin halus dikamar itu, membuat Yoona memutar mata mengetahui yang dimaksudkan Siwon adalah untuk bergumul diatasnya.

Yoona kemudian juga meresponnya dengan sebuah cubitan pada lengan Siwon yang lantas membuatnya menjerit, sedikit merasakan kesakitan.

“Jangan bercanda Siwon..”

“Oh, aku tak pernah seserius ini sayang..”

Yoona menambahkan dengan memukul pada lengannya. Menutupi semburat kemerahan yang perlahan meronakan wajahnya.

“Apa kau tak lihat semua ini..”

Yoona melonggarkan sebuah syal yang melilit lehernya, yang ternyata digunakannya untuk menutupi beberapa tanda kemerahan yang membekas disana yang disebabkan oleh gigitan-gigitan kecil yang dilakukan Siwon ketika mencumbui lehernya.

“Aku yakin itu masih belum termasuk ‘semua’ yang telah kulakukan.. Aku menandaimu dibanyak bagian dari tubuhmu..”

Siwon kembali tergelak ketika melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Yoona. Mengagumi bagaimana wajah merona itu yang semakin membuatnya terlihat cantik dimatanya. Siwon juga termasuk menyukai keterbukaan diantara keduanya untuk membicarakan hal yang semacam itu.

Berdiri dari duduknya, Siwon lantas meraih tangan Yoona agar mengikutinya..

“Ayo sayang..”

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Oh, percayalah.. Apa yang akan kulakukan bukanlah sesuatu yang sebenarnya kuinginkan. Karna yang kuinginkan sesungguhnya adalah menahanmu disini dan memanjakanmu diatas ranjang itu..”

“Siwon.. Jangan terus menggodaku”

Yoona memukulkan tangannya kebagian dada Siwon beberapa kali, namun kemudian Siwon meraihnya dan menciumi buku-buku jarinya.

“Untuk itu aku harus secepatnya membawamu keluar dari kamar ini.. Jika tidak, aku akan benar-benar menginginkan untuk memilikimu..”

“Aku istrimu, tentu saja Kau bisa memiliki aku..”

“Apa itu sebuah persetujuan? ataukah undangan untukku..?”

Yoona mengangguk untuk kedua opsi yang diajukannya. Dan Siwon tersenyum mendengarnya.

“Tidak sayang.. Aku tahu kau adalah seorang istri yang akan terus berusaha menyenangkan suamimu. Tapi aku tidak akan memanfaatkannya untuk kesenangan dan kepuasanku sendiri.. Aku tahu bukan itu yang kau inginkan sekarang..”

Siwon meraih beberapa helai rambut Yoona dan menyelipkan kebelakan telinganya.

“Jadi apa yang akan kita lakukan.. Yang sesungguhnya tidak benar-benar kau inginkan?”

“emm.. Aku ingin mengajakmu berwisata mengelilingi rumah ini. Kau setuju?”

Yoona tersenyum dan mengangguk..

“tentu.. Tapi pertama-tama bisakah kita melihat Fanny? Bagaimana keadaannya sekarang?”

Maka dengan rangkulan lengan Siwon pada tubuhnya, keduanya melangkah keluar dari dalam kamar dan langsung mengarah pada kamar Fanny.

Disana Nickhun masih menunggui Fanny yang sedang tertidur, dengan jemarinya yang bertaut pada tangan gadis itu. Ia tau Fanny memang tak mendapatkan kesakitan secara fisik, tapi dia terlukai secara psikis lebih parah dari apa yng orang lain bisa rasakan.

Dari sorot matanya, Nickhun memang terlihat cemas dan masih mengkhawatirkan keadaan Fanny. Namun kemudian dihadapan Siwon dan Yoona, Ia menunjukkan senyum dan mengatakan kondisi Fanny yang stabil. Jika sudah terbangun dari tidurnya nanti, Fanny mungkin hanya perlu untuk dijauhkan dari berbagai pemberitaan yang menyerangnya.
Dan sangat membutuhkan support dari orang-orang yang masih menaruh kepedulian padanya, seperti yang dikatakan Siwon tadi.

Siwon menepuk bahu Nickhun untuk menguatkannya, dan kembali merangkul Yoona saat keduanya kemudian meninggalkan kamar Fanny.

Siwon yang lantas membawa Yoona mengelilingi rumah itu. Menunjukkan padanya beberapa hal yang menarik. Membuat Yoona tersenyum dan tertawa, juga sesekali memberengut kesal dan sekaligus tersipu malu saat Siwon tak bosan untuk menggodanya.

Ia menyukainya..
Menyukai Yoona yang bertingkah seperti seorang gadis remaja yang malu-malu tiap kali bersama dengan teman kencannya.

Siwon akan dengan santai mengatakan..

“Sayang.. Kita sudah sama-sama dewasa, dan Berapa tahun kita telah bersama? Kita bahkan sudah memiliki dua anak.. akan sampai kapan kau masih merasa malu tiap kali aku menggodamu..”

Maka Yoona kemudian menjawab jika selamanya Ia mungkin akan merasakan hal yang seperti itu. Karna Siwon sendiri yang juga bertingkah seperti seorang remaja yang terus menggoda gadis yang disukainya.

Hal seperti itu mungkin akan terus bertahan dalam kehidupan mereka bersama..

“yeobo.. Jadi kapan kita akan pulang?”

“Kau ingin segera pulang?”

sejujurnya Yoona masih tidak benar-benar tahu apakah dirinya ingin secepatnya kembali pulang atau tidak, yang pasti yang saat itu ia inginkan adalah terus berada disisi Siwon dimanapun dia berada.

Tapi bayangan kedua buah hatinya juga terus membayang, dan kerinduannya juga tak tertahankan untuk celotehan Junseo yang terkadang masih tak Ia mengerti apa maksudnya, juga gadis kecilnya Hanna yang selalu bisa membuatnya tersenyum dan tertawa dengan segala tingkah dan keinginannya, seiring dengannya yang semakin bertumbuh dan membuat Yoona harus terus mengingatkan dirinya sendiri bila Hanna bukan lagi putri kecilnya.

“Aku merindukan Hana dan Junseo.. Dan memiliki beberapa pekerjaan dibutik..”

“Oh, aku lupa jika istriku seseorang yang sibuk..”

Meski belum merasakan lelah setelah mengajak Yoona berkeliling, namun kemudian Siwon membawanya untuk duduk pada sebuah kursi panjang yang berada pada sebuah hamparan rumput taman dihalaman belakang rumah itu.

“Bagaimana jika besok?”

Siwon menawarkan..

“bagaimana dengan Fanny?”

“Kau mengkhawatirkannya?”

“Apa kau tidak? Kau tidak akan cemas meninggalkannya seperti itu? Aku yakin kau akan mencemaskannya.. Aku melihat kedekatanmu dengannya, dan Fanny terlihat masih bergantung pada kehadiranmu disisinya..”

Siwon mendesah..

“Aku akan memberi pengertian padanya.. Aku memiliki keluargaku dan akan terus bersama dengan mereka, dan bukan lagi berada bersama disisinya.. Aku bisa lebih tenang meninggalkannya bersama dengan Nickhun..”

Keduanya lantas membicarakan perkembangan kedua buah hati mereka. Siwon menyesalkan dirinya yang tak menyaksikan pertumbuhan Junseo hingga sampai dia sebesar itu, hal yang sama yang terulang ketika dulu dirinya juga tak mengetahui pertumbuhan Hana dan baru melihatnya setelah Hana berusia lima tahun.

Maka yang kemudian Yoona lakukan adalah menceritakan bagaimana Junseo bertumbuh dengan sedetail mungkin yang bisa Ia lakukan dan ceritakan pada Siwon, Ia tak ingin sedikitpun melewatkannya.

Ada saatnya Siwon tercenung, dan merasa sedih mendengarnya. Dan Yoona lantas akan menggenggam tangannya dan dengan segera menceritakan sesuatu yang bisa membuatnya tersenyum, hingga tertawa bahagia saat mendengarnya.

“Jangan menyesali apa yang telah kau lewatkan.. Kau akan bisa menebus itu dengan kebahagiaan dihari-hari yang akan datang..”

Yoona mengeratkan genggaman tangannya..

“Kau sudah mulai melakukan itu ketika mengajak mereka bermain bersamamu.. Kau melihatkan bagaimana Hana dan Junseo begitu bahagia saat itu? Kau harus terus membahagiakan mereka, yeobo.. Membahagiakan kami dan menghapus seluruh kesedihan itu”

Yoona tanpa sadar meneteskan airmatanya, bukan karena kesedihan melainkan membayangkan sesuatu yang membahagiakan akan terus Ia rasakan.

“Kenapa kalian berada disini? Mengapa tidak pergi saja..”

Siwon dan Yoona menoleh pada sumber suara yang terdengar tak jauh dari keduanya, dan mendapati Fanny sedang berjalan menghampiri mereka dengan bantuan Nickhun yang merangkul tubuhnya dan seorang asisten yang memegangi saluran infus yang masih dikenakannya.

“Fanny ah..”

“Oppa..”

Fanny menarik senyum dari kedua sudut bibirnya.

“Fanny, apa yang kau lakukan? Kau seharusnya tetap berada dikamarmu dan beristirahat..”

Yoona yang kemudian lebih dulu menghampirinya.

“Tidak.. Aku sudah tidak apa-apa.. Maaf, Aku seharusnya tidak membuat kalian membatalkan rencana untuk pergi”

Ya..
Ketika tadi Fanny terbangun dari tidurnya dan menemukan Nickhun yang berada disampingnya dan bukannya Siwon, Ia langsung mencari-cari keberadaan Siwon.

“Harry oppa.. Harry oppa..! Dimana Harry oppa..”

Nickhun yang lantas mengatakan jika Siwon hanya sedang berada diluar bersama Yoona. Siwon tidak pergi meninggalkannya, dan justru membatalkan rencananya untuk pergi bersama Yoona karena mereka lebih mencemaskannya.

“mereka tidak seharusnya melakukannya..”

“Ya, tapi mereka melakukannya.. Harry dan istrinya begitu baik, mereka mencemaskanmu Fanny ah..”

“dimana mereka sekarang oppa? Aku harus berbicara dengan mereka..”

Ia tahu jika Siwon seharusnya tak mengiyakan permintaannya.
Harry oppa nya tidak seharusnya mengecewakan istrinya.

Ia juga seorang wanita. Meski Yoona memang mungkin tak berkeberatan membatalkan rencana itu, tapi Ia mengetahui jika siapapun wanita yang berada diposisi itu pasti akan memiliki kekecewaan, sekecil apapun didalam hatinya.

Dan Fanny merasa bersalah karena telah menjadi penyebabnya..

“Kalian punya rencana bukan? Pergilah.. Mengapa masih berada disini..”

“Fanny ah, apa kau merasa baik-baik saja..?”

“Ya.. Aku baik-baik saja oppa.. Aku hanya terlalu terkejut tadi. Jangan mengkhawatirkanku. Maaf aku mengacaukan rencana kalian..”

“Tidak juga.. Aku dan Yoona masih memiliki banyak waktu untuk bersama..”

Yoona mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Siwon.

“Pergilah Oppa.. Kau akan membuatku merasa bersalah..”

Siwon menatap pada Yoona untuk mengetahui bagaimana dengannya, namun nampaknya Yoona menyerahkan semua keputusan ditangannya.

“Kau tidak perlu merasa bersalah, Fanny..”

“Tidak.. Aku akan merasa seperti itu. Maka kalian pergilah.. Kau sudah kehilangan banyak waktu bersama Harry oppa karena aku.. Aku tak ingin lagi menjadi penyebab kau kehilangan waktumu bersamanya..”

“Aku akan mendapatkan lebih banyak waktu dengannya..”

“Dan mulailah itu sekarang..”

dengan tersenyum Fanny meraih tangan Yoona..

“Pergilah bersama Harry oppa, Yoona.. Nikmati waktu kalian. Aku akan sangat senang bila kalian melakukannya..”

“Baiklah.. Karena adikku memiliki modus menjadi sangat pemaksa, dan sepertinya sedang mengusirku karena…”

Siwon mengarahkan pandangannya pada lengan Nickhun yang merangkul pinggang Fanny, dan gadis itu menyadari kemana arah tatapan Siwon saat itu..

“Aku akan membawa istriku pergi dan membiarkan kalian bersama..”

Siwon dengan cepat merangkul Yoona untuk melangkah, menghindari Fanny yang sepertinya akan mengeluarkan kekesalannya mengetahui apa yang tadi dimaksudkannya..

“Yak.. Oppa..! Harry Oppa.. Bukan karena itu..”

Nickhun yang juga mengerti maksud ucapan Siwon hanya bisa tersenyum mendengarnya.

“Bersenang-senanglah Harry ssi, Fanny akan lebih baik saat hanya berdua denganku..”

“Oppa.. Apa yang kau katakan..?”

Dan Nickhun justru tergelak ketika Fanny memukul lengannya dan memberengut kearahnya.

“Aku akan menghibur gadis ku..”

Oh..

*

*

*

*

*

To Be Continued~

Yang salah ngira, bagian part en-ce tuh ada di bagian akhir chapter  12 yaa.. aq udah kasih link mature nya kan disana..
but tidak untuk dibawah 18 tahun..

@joongly

146 thoughts on “YOU’re My Destiny [13]

  1. Hana selalu aj ada ketika yoonwon sedang asyik berduan.kasian juga siwon tidak pernah tau bagai mn pertumbuhan waktu kecil taunya pas udh gede,sekarang junseo br juga berapah bulan,siwonnya udh keburu kecelakaan.kasian kasian2 klu yoona hamil lgh gmn yah?apakah siwon bs melihat tumbh kmbng nya dr lahir smpei besar entah lah?

  2. Moga Fanny tdk terlalu tertekan dgn pemberitaan yg memojokkanx. YoonWon terlalu Sweet, sepertix Fanny dan Nickhun dah mulai smakin dkt.

  3. yoonwon nys romantis 😍. nikhun sama fany tau aja yoonwon butuh waktu berdua hehe. ayo dong mereka cepet pulang supaya bisa ketemu sama hana dan jun, ga sabar buat liat moment keluarga kecil mereka.

  4. senang ny melihat Yoona Siwon kmbli romantis n hangat seperti dulu. semoga dgn ini kehidupan baik siwon yoona fanny nickun dgn yg lain bahagia.

  5. So sweeet….suka suka suka moment yoonwon nya banyak banget dan aduh Ga kuat sama manisnya.
    jd kpn mau plg nya?kasian hana sama junseo tuh.
    Pulang dong jgn cuma mikirin tiffany aja.Ga sabar baca endnya..pasti moment sweet semua

  6. Selalu romantis dimanapun. Hehhehehe. Hana minta nya banyak banget ? Hehehehe. Semoga fany kuat dan menyadari kalo dia ga sendiri setelah siwon pergi ? Masih ada nickhun ? Hheheheh

  7. Halaah lo manja bgt tiffany.. kalo aku yg jd yoona oennie.. gak bakal bsa pnya hati sbesar itu trserah wonppa mau suka atw gak yg jelas kalo aku jd yoona oennie aku bakalan ttap benci tiffany .. gak ush nuntut jalur hukum deh ckup jauhi tiffany aj dr kehidupannya itu hukumannya buat dy.. lagian jd ad nikchun yg msih ngebalin si fany ngapain msti ngurusin dy plisss deh wonppa..

  8. Kirain si fany berubah jd egois.. Yoonwon so happy and romantic…
    Si fany blm minta maafkn sm kel siwon,,d next chapt mgkin yaaa?? Okeey next…

  9. Senang bgt melihat kebahagian YW
    setelah ujian menerpa mereka
    cinta mereka tetap terjaga
    kata2 dlm ff nya benar2 sangat menyentuh bgt
    dan YW semakin romantis aja
    oh author inspirasi emang benar2 brilian bgt

  10. senang dan sedih jg bercampur haru bacanya, apalagi di part ini semuanya cerita YW senang bgt palagi momennya sangat manis, sepertiya Wonppa makin agresif sama Yoong haha… tpi namanya jg istrinya, hehe…
    udh baca sampe part ini makin seru aja ceritanya, bnyak kisah mendalam di ceritakan benar2 sangat menyentuh
    inspirasi authornya benar2 daebak

  11. Hana selalu aj ada ketika yoonwon sedang asyik berduan.kasian juga siwon tidak pernah tau bagai mn pertumbuhan waktu kecil taunya pas udh gede,sekarang junseo br juga berapah bulan,siwonnya udh keburu kecelakaan.kasian kasian2 klu yoona hamil lgh gmn yah?apakah siwon bs melihat tumbh kmbng nya dr lahir smpei besar entah lah?

  12. Emang dasarnya udah perfect couple ya, mau digimanain juga jadinya perfect. Cerita yang bikin mewek aja berasa jadi perfect gara mereka tokohnya …
    Wah, aku bener-bener makin cinta couple ini. Makin suka cerita ini… semua yang ada dicerita ini aku suka. *gegara udah bingung mau komen apalagi …
    Kayanya yang belum tinggal peresmian hubungan Nickhun-Fany deh …
    Next chap …

  13. aku ikut seneng, akhirnya uri yoonwon bahagia,,
    tapi kasian juga fanny, untungnya ada nichkhun yg jagain dy

  14. Romantic…
    Suka..suka.
    Nickhun juga ternyata suka sma fanny.
    Lapang dada, uda bgtu di buat terluka oleh sma ayah tp yoong dengan senyum nya mau memaafkan smuanya..

  15. Author benar2 ahli menciptakan moment yoonwon yg super duper romantisss…
    Fanny sepertinya jga akan menemukan kebahagiaanya bersama nichkhun…

  16. Y00na main ‘nakal’ nih kalau lg sama Siw0n, kkkk.,
    Benr yg d bilang Y00na ke Siw0n, kalau hati.a Siw0n jangan sepenuh.a d tmpatin Y00na, sisakn buat ke-2 anak lucu & mnggemaskan yg mereka miliki-Hana & Junse0,.~
    Teman kencan buta.a Jessica siapa y? Bakal jd Cast baru mungkin? (Q harap D0nghae)
    Tiffany sh0ck dngar pmberitaan yg m0j0kin dia, tp syukurlah ttp ada Nickhun yg setia & tulus cinta sama dia & mulai nunjukin perasaan & prlakuan r0mantis.a d depan 0rang lain.,

  17. senyum2 sendiri baca chap ini and banyak yoonwon moment….
    fany oenni terima aja pernyataan cintax nickhun oppa gag usah pakai mikir…..

  18. senyum2 sendiri baca chap ini and banyak yoonwon moment….
    fany oenni terima aja pernyataan cintax nickhun oppa gag usah pakai kelamaan mikir…..

  19. Moment yoonwon banyak banget disini….
    Seneng banget yoonwon bersatu….
    Apalagi kehidupan intim mereka, dan ini belum sepenuhnya seneng krna hana dan jun belum ada…
    Dan yah waalaupun tifanny buat kesel. Tpi selagi yoonwon memaafkan dia gk pa2 deh…
    Seneng jga kalo tifany sma nichun bersatu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s