Fanfiction

| At First Sight | 17

Happy Reading~

*

*

*

*

*

Kesunyian didalam mobil itu kian kentara, tatkala Amber mematikan music R&B yang sebelumnya diputarnya, dengan maksud agar dua wanita muda yang duduk dikursi belakang, tak hanya diam seribu bahasa.

Yoona justu lebih memilih bergelung dengan pemikirannya daripada memperhatikan Yuri yang saat itu berada disampingnya. Ia masih berusaha memikirkan alasan apa yang sekiranya cukup masuk akal yang nanti akan dikatakannya pada sang kakak ketika mereka tiba dirumah Siwon. Alasan itu haruslah dapat diterima oleh sang kakak tanpa memunculkan rasa curiga nantinya.

Tapi apa?
Alasan seperti apa itu?

Yoona masih tak mendapatkan ide..

Mungkin karna itulah ia tak menyadari ketegangan dalam raut wajah Yuri.

Yuri yang masih diselimuti perasaan bingung pada kejadian seorang pria yang tak dikenalinya dirumah sakit tadi, yang tiba-tiba muncul dan membisikkan kalimat yang terus terngiang-ngiang ditelinganya bahkan sampai saat itu, juga hanya terdiam dan tidak berusaha membuka suaranya untuk mengatakan kejadian itu pada Yoona.

Yuri hanya terus memegang tangan Yoona dengan eratnya..

“Kita sudah sampai nona..”

Sampai kemudian suara Amber lah yang menyadarkan Yoona jika mobil yang membawanya telah memasuki pagar dan perlahan sang supir menghentikan lajunya dihalaman rumah Siwon.

Yoona menoleh pada Yuri yang seakan tak bergeming, sang kakak juga pastilah masih tak menyadari dimana keberadaan mereka saat itu.

“Oenni ya.. Yuri oenni, kita sudah sampai oenni..”

Yoona sedikit meremas tangan Yuri untuk menyadarkannya. Dan berhasil saat kemudian Yuri menoleh padanya.

“Kita sudah sampai, oenni.. Ayo turun..”

Amber yang telah lebih dulu mengambil kursi roda, kemudian membukakan pintu, dan Yoona menarik tangan Yuri agar sang kakak mengikutinya keluar dari dalam mobil itu.

Barulah ketika Yuri turun dengan bantuan Yoona dan Amber, dan berada diluar duduk diatas kursi rodanya, matanya seakan menatap dengan awas pada apa yang saat itu dilihatnya.

Halaman yang sangat luas, yang menghijau oleh rumput taman yang tumbuh dan terawat. Beberapa mobil yang terlihat berjejer digarasi dan terutama bangunan bak sebuah istana yang berdiri kokoh dihadapannya, sangatlah mampu untuk membuat Yuri melebarkan mata. Merasakan ketercengangan terhadap apa yang pada saat itu dilihatnya..

“Yoona ya.. Kenapa kita ada disini? Untuk apa kita berada disini? Bukankah kau akan membawaku pulang? Ayo kita pulang, Yoona.. Ayo kita kembali ke rumah kita..”

Tanyanya beruntun dengan tangan Yuri yang mencoba menarik-narik  tangan Yoona, namun Yoona justru tersenyum tenang kearahnya.

“Oenni ya.. Untuk sementara kita akan berada disini. Kita tinggal disini..”

“Tidak.. Bagaimana bisa? Kita tidak akan diijinkan, Yoona. Bagaimana mungkin mereka memperbolehkan kita tinggal didalam sana. Kita pulang saja kerumah kita, ayo..”

Yoona mengusap-usap pada lengan Yuri..

“Aku sudah mendapatkan ijin, oenni. Ayo..”

Dengan Amber yang berada dibelakang kursi roda, mendorongnya, dan Yoona yang memegang tangan Yuri, mereka membawanya melintasi area halaman luas itu dan pada saat itu pintu dari rumah Siwon terbuka lebar. Memperlihatkan Tuan dan juga Ny.Choi yang melangkah keluar dari dalamnya..

“Yoona ya..”

Ny.Choi nampak tersenyum dan selanjutnya justru Melangkah lebih dulu menghampiri Yoona. Dan tanpa Yoona bisa menduga sebelumnya, Ny.Choi memeluknya..

“Yoona ya, kau pulang.. Aku begitu kesepian tanpamu. Tak ada yang menarik yang bisa kukerjakan tanpamu.”

Yoona tidak tahu apakah pada saat itu Ny.Choi tak melihat, meski nyata-nyata sang kakak berada dikursi roda disebelahnya, atau wanita itu memang sengaja mengabaikan kehadiran Yuri disana?
Entahlah..

“Nyonya.. Aku, Aku..”

Mendengar bagaimana Yoona memanggilnya saat itu, seketika membuat Ny.Choi melepaskan pelukannya dan menatap Yoona dengan dahi berkerut samar, menunjukkan keheranannya..

“mianhae..”

gumam Yoona lirih, sadar akan ketidak sukaan yang pada saat itu diperlihatkan Ny.Choi padanya.

“Yoona ya..”

Yuri menggerakkan lengan Yoona agar sang adik melihat kearahnya.

“ne oenni..”

“Mereka.. Mereka..? Bukankah mereka..?”

Yoona tersenyum kaku, sadar bila saat itu Yuri mungkin telah dapat mengenali keberadaan Tn. dan Ny.Choi.

“Ya oenni.. Mereka Tn. dan Ny.Choi, ayah dan ibu dari tuan muda Choi”

Tn. dan Ny.Choi hanya bisa saling bertatapan mendengar apa yang Yoona ucapkan.

“mereka mengijinkan aku tinggal disini, begitupun dengan oenni..”

Apa yang kembali dikatakan oleh Yoona sepertinya masih belum cukup dimengerti oleh Yuri.

“Aku.. Aku bekerja disini. Aku bekerja pada Nyonya..”

meski ragu, namun itulah satu-satunya alasan yang Yoona temukan, yang ia rasa cukup masuk akal untuk ia katakan pada Yuri mengenai ijin tinggal yang didapatkannya dirumah itu.

Yoona lantas menunduk, tak mengetahui pada saat itu Ny.Choi yang langsung melebarkan mata mendengarnya.

“Yoona ya, kau.. kau bekerja?”

Yoona mengangguk untuk pertanyaan yang diucapkan oleh Yuri.

“maafkan aku karna tak mengatakan ini pada oenni. Tapi kita tak bisa pulang.. Aku masih harus berada disini oenni, aku harus bekerja pada nyonya..”

Sesaat Yoona memberanikan diri untuk menatap pada Ny.Choi, dan menemukan ibu Siwon itu menggelengkan kepala dan mendecakkan lidahnya.

Ny.Choi sudah pasti tidak menyetujui kebohongannya.
Tapi apa yang bisa dilakukannya, Ia mau tak mau memang sudah memutuskan akan mengikuti ide gila gadis itu, yang menurutnya demi kebaikan kakaknya.

“Oenni, tidak apa-apakan?”

Setelah terlebih dulu memberikan tatapan permohonannya pada Ny.Choi, Yoona kembali beralih pada Yuri.

“Jadi kau benar-benar bekerja?”

Yuri seakan ingin memastikan apa yang dengan jelas telah didengarnya. Sementara Yoona hanya mengangguk mengiyakan..

“Bagaimana dengan rumah kita, Yoona? Apa kau menjualnya? Apa kita telah kehilangan rumah itu, untuk membiayai perawatanku? Ya kau pasti melakukannya.. Maafkan aku, Yoona. Seharusnya kita tidak kehilangan rumah kita. Seharusnya aku tidak membiarkanmu bekerja. Ya Tuhan, kau adik kecilku. Usiamu masih terlalu belia untuk dapat bekerja, Yoona. Kau seharusnya meneruskan sekolahmu. Aku memang bukan kakak yang baik. Seharusnya aku bisa bertahan untukmu.. Seharusnya aku.. Seharusnya aku bisa..”

Yuri tersedak oleh karna airmatanya sendiri, dan tak dapat lagi meneruskan kalimatnya.

Yoona ingin menolak pemikiran Yuri, namun mungkin dengan begitu sang kakak tidak akan mempertanyakan atau malah mencurigai keberadaannya dirumah Siwon itu.

Ya..
Bekerja, menjadi satu-satunya alasan yang dapat menjelaskan dengan masuk akal mengenai keberadaannya yang kemudian membawa Yuri tinggal dirumah itu.

“gwechana oenni, gwechana.. Aku tidak apa-apa. Aku bukan lagi gadis kecil. Aku sudah dewasa dan mampu untuk bekerja.  Oenni jangan berkata seperti itu. Kau tahu, kaulah segalanya bagiku. Oenni satu-satunya yang kumiliki. Aku akan melakukan apapun demi kesembuhan oenni. Aku rela menukar apapun untuk oenni. Aku tahu oenni juga akan melakukan hal yang sama untukku..”

Yoona sedikit merendahkan tubuhnya untuk menghapus airmata Yuri, dan kemudian meremas, menggenggam tangannya erat untuk meyakinkannya bahwa dirinya tidak apa-apa melakukan semua itu.

“Aku tidak apa-apa, oenni. Percayalah padaku. Aku tidak apa-apa. Aku menyayangi oenni..”

Tuan dan Ny.Choi saling bertatapan menyaksikan ikatan persaudaraan yang begitu terlihat kuat diantara kedua gadis itu. Tn.Choi kemudian mengangguk, seakan mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh sang istri pada saat itu, dan seolah memintanya untuk menyetujui apa yang pada saat itu telah dikatakan Yoona pada Yuri mengenai alasan keberadaannya disana.

Ny.Choi menghela napasnya, mendesah dan kemudian berbicara..

“Ya, Yoona masih harus berada dirumah ini dan bekerja untukku. Dua puluh empat jam penuh, jika aku membutuhkannya dia harus selalu ada untukku. Karna itu aku mengijinkannya membawamu. Aku tidak akan membiarkannya menggunakan alasan kesehatanmu untuk dia mengabaikan tugas-tugasnya. Kau tahu berapa besar biaya perawatanmu? Dan jelas adikmu yang masih belia itu harus bekerja dan mengumpulkan uang untuk mengganti biaya pengobatanmu, dan juga..”

“yeobo ya.. Hentikan, cukup..”

Tn.Choi memperingatkan, tahu bila sang istri pasti akan mengatakan sesuatu yang mungkin akan terdengar lebih menyakitkan lagi daripada apa yang telah dikatakannya.

Ny.Choi mendengus kemudian berbalik, dan melangkah pergi dari sana. Wajahnya terlihat kesal saat masuk kedalam rumah mewahnya.

Yoona merasakan remasan dari tangan Yuri di tangannya begitu mendengar apa yang tadi dikatakan Ny.Choi dan melihat langkahnya yang terkesan begitu angkuh ketika wanita itu masuk kedalam rumahnya.

“Yoona ya, bawalah kakakmu masuk. Dia pasti ingin beristirahat. Ahjumma Lee telah menyiapkan kamar untuknya..”

Tn.Choi tersenyum, dan Yoona sangat berterimakasih melihat sikap hangat yang diperlihatkan ayah Siwon pada saat itu.

“terimakasih.. terimakasih Tuan..”

Tn.Choi mengangguk dan kembali tersenyum sebelum akhirnya menyusul langkah sang istri.

“mari nona..”

Yoona mengangguk, kembali meraih tangan Yuri dan mengikuti
Amber yang kemudian mendorong kursi roda itu, memasuki rumah dan selanjutnya membawanya ke sebuah kamar yang pintunya dalam keadaan terbuka, memperlihatkan ahjumma Lee yang berada didalamnya, sedang merapikan sprai diatas tempat tidur itu.

“Ahjumma..”

Yoona memanggilnya, membuat ahjumma Lee kemudian menoleh padanya. Sedikit senyum terlihat ditarik dari sudut bibirnya, meski hal itu masih tak mampu untuk menghilangkan gurat kesedihan yang masih terlihat jelas dalam raut wajah tuanya.

Sejak terakhir kali dirumah sakit pada saat kematian Donghae, Yoona memang belum lagi bertemu dengan ahjumma Lee.
Ia yang terus berada dirumah sakit untuk menemani Yuri, hanya sesekali bertanya pada Siwon mengenai keadaan ahjumma Lee. Dan yang ia ketahui dari Siwon, ahjumma Lee memang selalu berada dirumah itu dan tak diperbolehkan untuk pergi seorang diri. Karna kesedihan dan perasaan teramat kehilangan yang dirasakannya takut-takut sesuatu terjadi padanya.

“Yoona ya, kau pulang sayang..”

Ahjumma Lee mendekat dan kemudian memeluknya..

“Aku sudah menunggumu, Yoona. Aku senang melihatmu kembali berada dirumah ini..”

Yoona tersenyum, menyusut airmata yang tanpa sadar telah menetes dari kedua mata ahjumma Lee, membasahi wajahnya yang menurut Yoona terlihat lebih menua dibandingkan sebelumnya.

Ya Tuhan..
Kesedihan dan kehilangan kah yang membuat sang ahjumma seperti itu?
Yoona hanya bisa membatin didalam hati saja.

“Ahjumma baik-baik saja kan?”

Ahjumma Lee menggeleng, dan kembali menjatuhkan airmata kesedihannya.

“bagaimana aku bisa baik-baik saja, Yoona ya. Aku kehilangan Donghae, aku kehilangan putraku satu-satunya. Bagaimana bisa aku akan baik-baik saja.. Aku tidak memiliki siapapun lagi didunia ini.”

Yoona meraih tangan ahjumma Lee dan menggenggamnya dengan erat, sebagai bentuk ungkapan bahwa ia ikut merasakan kesedihannya.

Terlepas dari apa yang telah dilakukan Donghae padanya, dan terutama pada Yuri oenninya, ahjumma Lee hanyalah seorang ibu, dan dia tidaklah tahu apa-apa.

Benar apa yang dikatakan Siwon sebelumnya, bila kebohongan yang dilakukan dirinya mengenai perilaku Donghae, semata dilakukannya karna ingin menjaga agar wanita itu tidak semakin terluka dan tetap memiliki kebanggaan terhadap sang putra.

“Aku tahu ahjumma, aku tahu.. Tapi ahjumma tidak sendiri. Aku akan berada disini untuk menemani ahjumma. Kumohon jangan lagi bersedih, Donghae oppa pasti tidak ingin melihat ahjumma seperti ini. Berkubang dalam duka dan terus menangisi kepergiannya..”

Ahjumma Lee kembali meraih tubuh Yoona dan memeluknya dengan erat.

“Tapi siapa yang akan menjagaku, Yoona. Siapa yang akan menjagaku jika bukan Donghae. Aku sudah semakin tua, tapi anak itu kenapa tega sekali membiarkanku hidup sendiri..”

Yoona mengusap-usap pada punggung ahjumma Lee untuk menenangkannya.

“Aku juga tidak memiliki siapa-siapa kecuali Yuri oenni. Aku juga kehilangan orangtua ku. Mereka pergi meninggalkanku dan Yuri oenni sendiri. Apakah.. Apakah ahjumma Lee tidak ingin menggantikan kedua orangtua kami? Apakah ahjumma tidak ingin menganggapku sebagai putrimu? Jika ahjumma Lee mau menjadi orangtua ku, aku juga berjanji akan menjadi putri yang baik untukmu. Aku akan terus menjagamu. Aku tidak akan meninggalkanmu, ahjumma. Aku janji..”

Yoona merasakan pelukan ahjumma Lee yang semakin erat ditubuhnya, dan kali ini disertai dengan anggukan kepalanya yang mengiyakan kata-katanya.

“Oh, Yoona.. Trimakasih, kau begitu baik, sayang. Sejak lama aku memang telah menganggapmu juga kakakmu sebagai putriku. Kalian berdua adalah gadis yang baik, sayang..”

Ahjumma Lee melepas pelukan ditubuh Yoona, dan kemudian memperhatikan keberadaan Yuri yang hanya terdiam memperhatikan keduanya. Tatapan matanya mengisaratkan ketidak mengertiannya pada apa yang telah terjadi antara adiknya dan wanita paruh baya itu yang berkali telah dipeluk oleh Yoona.

“Oh, Yuri ah.. Bagaimana dengan keadaannya sekarang, Yoona?”

Yoona memberikan seulas senyum dibibirnya sebelum menjawab pertanyaan sang ahjumma.

“Oenni sudah baik-baik saja, ahjumma. Dia hanya perlu menjalani beberapa terapi untuk memulihkan kondisinya.”

Ahjumma Lee lantas melangkah untuk mendekati Yuri. Menatap gadis itu dengan pandangan sedih, dan kemudian meraih tangannya.

“Yuri ah, apa kau baik-baik saja? Kau tidak terluka parah kan?”

Ahjumma Lee seakan meneliti pada tubuh Yuri. Melihat pada sebelah kakinya yang masih dililit dengan perban. Namun selebihnya, keadaannya terlihat baik-baik saja kecuali wajahnya yang sedikit pucat dan lebih tirus. Gadis itu jelas terlihat lebih kurus daripada terakhir kali ia melihatnya, ketika seringkali Donghae mengajak Yuri ke rumahnya.

Sebelum kemudian ia mendengar kabar yang cukup mengejutkan dari Donghae, bahwa gadis itu pergi untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik diluar negri.

Apakah kemudian pekerjaan yang didapatkan Yuri menyengsarakannya?
Hingga membuatnya kehilangan begitu banyak berat tubuhnya?
Oh..
Sungguh, betapa malangnya.

Begitu apa yang ada didalam pemikiran sang ahjumma..

Yuri masih hanya menatapnya. Dahinya berkerut samar, seolah sedang berusaha mengingat-ingat siapa wanita paruh baya itu yang masih terus menatapnya, bahkan kini tangannya telah bergerak mengusap pada rambutnya.

“Aku masih ingat saat dulu kita tinggal berdekatan. Kau selalu mengajak Yoona untuk bermain bersama Donghae. Kau juga kadang menitipkan Yoona padaku. Bahkan saat Donghae kemudian mengajakku untuk pindah, Kau masih sering datang ke rumahku. Dan itu begitu membuat Donghae senang. Aku selalu melihat Donghae cemas ketika menunggu kedatangan mu. Tapi dia dengan cepat akan tersenyum ketika melihatmu berjalan menuju rumah kami. Dia akan langsung berlari menghampirimu didepan pintu. Sejak saat itu aku tahu jika Donghae menyukaimu. Putraku pasti telah jatuh cinta pada gadis cantik sepertimu, Yuri ah. Dia bahkan memajang banyak fotomu didalam kamarnya.”

Mendengar ahjumma Lee yang terus menyebut nama Donghae, membuat tubuh Yuri kembali menegang. Ia juga seakan menyaksikan sekelebat bayangan yang muncul. Gambaran dari kejadian buruk yang dialaminya didalam sebuah kamar yang memajang banyak foto dirinya. Didalam kamar Donghae.
Pelecehan itu..

Seketika, Yuri menepiskan tangan ahjumma Lee yang masih terus mengusap rambutnya. Membuat sang ahjumma terkesiap oleh karna apa yang telah dilakukannya.

Begitu juga dengan Amber yang masih berada dibelakang kursi rodanya, yang nampak terkejut melihatnya. Terlebih Yoona, Ia lantas dengan cepat mendekat setelah melihat sikap yang ditunjukkan Yuri terhadap ahjumma Lee.

“Jangan menyentuhku..”

“Yuri ah..”

suara ahjumma Lee sedikit bergetar. Kedua sorot matanya menyiratkan kebingungannya.

“Yuri ah, ada apa sayang? Apa kau tidak mengenaliku? Kau tidak mengingatku? Aku ahjumma Lee, Yuri ah. Aku ibu Donghae.. Kau masih tak mengingatku? Aku yang selalu memasak dan mengundangmu juga Yoona untuk makan bersamaku dan Donghae. Tapi sekarang putraku, Donghae sudah..”

Ahjumma Lee tak bisa meneruskan kalimatnya. Ia kembali mengulurkan tangan untuk menyentuhnya, namun sekali lagi Yuri menepiskannya.

“Jangan menyentuhku..! Sudah kukatakan jangan menyentuhku!!”

“Oenni ya..”

Yoona makin terkejut saat Yuri mulai berteriak. Ia mendekat kesisi Yuri, untuk kemudian menenangkannya.

“Oenni ya.. Gwechana, ahjumma Lee tidak akan menyakitimu. Tenanglah oenni.. Bukankah kau juga mengenal ahjumma Lee dengan baik..”

Yuri menggeleng dengan keras..

“Tidak Yoona.. Kumohon, aku tidak ingin dia mendekatiku..”

“Oenni ya.. Ahjumma Lee, hanya..”

Yuri malah menutup telinga dengan kedua tangannya. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali tak ingin mendengar Yoona mengatakan sesuatu tentang ahjumma Lee terhadapnya. Melihat wanita itu, entah mengapa justru langsung mengingatkannya pada Donghae. Bayangan pria itu langsung memenuhi benaknya.
Tentu saja karna ahjumma Lee, wanita paruh baya itu adalah ibunya.
Ibu dari pria bajingan yang dengan tega merampas bahkan merusak kehormatannya sebagai seorang wanita.

“Kumohon Yoona.. Aku tak ingin melihatnya disini. Aku tak mau dia mendekatiku. Aku tak mau dia menyentuhku. Kumohon Yoona, suruh dia pergi. Aku lelah.. Aku ingin beristirahat..”

Yoona tak tahu apa yang kemudian harus dikatakannya. Ia juga bingung mengapa sang kakak bersikap seperti itu terhadap ahjumma Lee. Ia masih hanya memandang dengan tidak percaya, saat kemudian Yuri meminta Amber untuk mendorong kursi rodanya.

“Ahjumma..”

Yoona juga melihat raut terluka diwajah ahjumma Lee yang kemudian melangkah dengan lemah kearah pintu kamar. Berniat untuk keluar dari kamar itu seperti apa yang Yuri minta.

Yang tak diduga oleh Yoona, entah sudah berapa lama, diambang pintu kamar itu Ny.Choi berdiri. Disana, menyaksikan kejadian yang terjadi didalamnya.

Ny.Choi langsung meraih sang ahjumma, merangkul bahunya dan kemudian membawanya keluar darisana.

“Omonim..”

Yoona hanya mampu menggumam lirih. Wanita itu hanya menatapnya sekilas, dan entah apa yang nanti akan dipikirkannya.

Yoona sudah akan melangkah untuk keluar dari dalam kamar itu dan mengejar Ny.Choi juga ahjumma Lee. Setidaknya ia mungkin akan bisa memberikan penjelasan mengenai sikap Yuri tadi, meski dirinya sendiri masih tidak tahu pasti alasannya.

Namun suara Yuri yang memanggilnya yang kemudian menghentikan niatannya.

Yoona mendekat untuk kemudian bersama Amber membantu Yuri turun dari kursi rodanya, dan selanjutnya membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur.

“Adakah yang anda perlukan, nona?”

Amber menanyakan, Yoona lantas mengucap pertanyaan serupa pada Yuri.

“Apa oenni perlu sesuatu?”

Yuri menggeleng..

“Aku hanya merasa haus”

Yoona tersenyum mengerti..

“Amber ssi, bisakah kau mengambilkan air sekarang?”

“tentu saja, nona”

“Aku merasa heran, Yoona.. Kau mengatakan bekerja disini, tapi mengapa dia sepertinya ada untuk memberi pelayanan padamu”

Oh dear..

Yoona menggigit bibir bawahnya, tidak salah bila kakaknya adalah seseorang yang pintar. Pemikirannya jelas dengan cepat dapat menangkap kejanggalan dari sikap Amber yang begitu terlihat patuh dan selalu siaga disekitar mereka.

Mengetahui Yoona yang masih hanya terdiam tak memberikan jawaban, maka Amber yang memang belum mencapai pintu untuk keluar, kemudian menghentikan langkahnya dan berbalik untuk menjawab pertanyaan yang tersirat dari kalimat Yuri mengenai keberadaan dirinya..

“Tuan muda Choi yang memerintahkan saya untuk berada disekitar anda, nona. Bukankah saya sudah mengatakannya sebelumnya..”

“Oh, Siwon yang memintamu melakukannya?”

Amber mengangguk dan Yoona menarik senyum disudut bibirnya, lega dan pasti akan mengucap terimakasih pada Amber nanti karna mampu membaca situasi yang dialaminya.

“Baiklah aku mengerti..”

“Saya permisi nona..”

Amber keluar dan menutup pintu dibelakangnya. Begitu ia berada selangkah menjauh dari kamar itu, Amber merasakan getaran pada ponsel miliknya.
Melihat siapa yang pada saat itu menghubunginya, Amber buru-buru, mencari tempat yang ia rasa takkan ada yang mendengar suaranya.

“Sunbaenim..”

jawabnya dengan suara lirih, disertai dengan tatapan dari kedua matanya yang awas memperhatikan kesekeliling.

“Kau benar-benar nekat, sunbae. Kau tahu, kau pasti telah membuat nona Yuri takut. Dia begitu terlihat tegang tadi..”

“Maafkan aku, tapi aku benar-benar sudah tak bisa menahan diriku. Aku ingin melihatnya, aku ingin dia melihatku. Aku ingin dia mengenalku..”

Amber menghela napas mendengarnya..

“Tapi apa yang kau lakukan tadi benar-benar gegabah, sunbae. Kau melupakan kehati-hatian mu yang bahkan selalu kau ajarkan padaku.”

“Aku tahu..”

“Jika kau melakukan kecerobohan lagi, Aku berpikir takkan lagi bisa membantumu.. ”

“Oh ayolah, Amber.. kau pasti tidak akan melakukan itu. Aku masih membutuhkan bantuan, dan hanya kaulah satu-satunya yang bisa membantuku..”

“Apa kau sudah memiliki rencana, sunbae?”

“Ya, tentu.. Aku lelah bersembunyi. Aku ingin dia tahu bahwa aku ada. Seperti yang kukatakan, Aku ingin Yuri mengenalku. Tapi tenang, aku tidak akan tiba-tiba muncul dihadapannya seperti tadi dan menakutinya. Aku akan…”

“Amber ssi..”

Amber terkejut dan buru-buru mematikan sambungan telponnya. Memutus suara dari seorang pria disambungan telponnya yang masih terus berbicara.

Menoleh ia mendapati Yoona yang tengah berdiri tak jauh darinya, memperhatikannya.

“Apa yang sedang kau lakukan disini? Kupikir kau mengatakan akan mengambil air minum untuk Yuri oenni..”

“Ah, ne nona.. Saya, saya hanya sedang menerima telpon tadi. Maafkan saya nona..”

“Oh, siapa? Apakah tadi itu kekasihmu yang menelpon?”

Amber hanya menunjukkan cengiran sambil menggaruk tengkuknya.

“bukan, nona.. Hanya seorang teman sekaligus sunbae”

Yoona bergumam ‘Oh’ sambil mengangguk paham.

“Kalau begitu saya permisi, nona. Saya akan langsung mengantarkan apa yang nona Yuri inginkan ke kamarnya”

“Baiklah, dan tolong jagalah oenni ku sebentar. Aku ingin menemui ahjumma Lee..”

Amber mengangguk dan kemudian meninggalkannya. Yoona pun lantas meneruskan langkahnya. Ia berjalan menuju kamar ahjumma Lee. Dan tepat pada saat ia ingin mengetuk pintu kamar itu yang tertutup, Ny.Choi lebih dulu keluar dari dalamnya.

“Omonim..”

gumamnya sambil menundukkan wajahnya..

“Kita perlu berbicara, Yoona..”

“ne, omonim. Tapi terlebih dulu ijinkan aku untuk menemui ahjumma Lee..”

Yoona mengabaikan decakan Ny.Choi saat dirinya kemudian membuka pintu dan masuk kedalam kamar ahjumma Lee.

Didalamnya sang ahjumma sedang berbaring miring diatas tempat tidurnya.

“Ahjumma..”

Baru setelah Yoona berada dekat disisi tempat tidur itu, ia dapat mendengar isak tangisnya dan sekaligus melihat airmata yang membasahi wajahnya. Ahjumma Lee bahkan tengah mendekap pigura poto Donghae dengan kedua tangannya.

“Ahjumma..”

Ahjumma Lee menoleh kearah Yoona begitu menyadari gadis itu telah mendudukkan tubuhnya dipinggir tempat tidurnya.

“Maafkan atas sikap Yuri oenni, ahjumma.. Aku juga bingung mengapa oenni seperti tidak mengenali ahjumma. Tapi aku mungkin bisa sedikit menceritakan sesuatu pada ahjumma”

Ahjumma Lee lantas bergerak mendudukkan tubuhnya menjadi berhadapan dengan Yoona.

“Aku begitu sedih melihat keadaan kakakmu, Yoona. Apakah dia seperti itu karna dia marah padaku? Apakah dia marah karna pada saat itu Donghae menjemputnya? Karna kemudian dia mengalami kecelakaan itu yang mematahkan kakinya dan membuatnya tidak bisa berjalan seperti sekarang ini. Tapi Donghae, dia sudah..”

Yoona menggeleng, meraih tangan ahjumma Lee dan menghentikan apa yang dikatakannya.

Ya Tuhan..
Tapi bagaimana dia harus menjelaskannya.
Karna pada kenyataannya sang kakak lebih dari sekedar marah terhadap Donghae. Karna sang kakak bahkan sampai mengalami depresi karna ulah Donghae yang begitu tega.

“Tidak ahjumma.. Tidak seperti itu. Tapi Yuri oenni memang mengalami sebuah trauma akibat dari kecelakaan itu..”

Jika Yoona jujur menjelaskan ia pasti akan menambahkan mengenai kejadian sebelum kecelakaan itu. Tapi bersama dengan Siwon, Ia telah memutuskan untuk merahasiakan semua itu. Maka kemudian Yoona hanya menggulirkan cerita dari akibat kecelakaan itu yang menyisakan trauma bagi Yuri.

Yoona mengatakan awalnya Yuri juga seperti tidak mengenal dirinya sebagai adiknya. Itu terjadi bila Yuri tiba-tiba terjaga dari tidurnya karna mimpi buruk yang mungkin dialaminya. Yuri menjadi tidak bisa ditangani, kecuali oleh Siwon.
Ya..
Yoona juga lantas menceritakan mengenai ketergantungan sang kakak terhadap kehadiran Siwon.
Alasan mengenai Siwon lah yang pada saat itu menjadi orang yang menyelamatkan Yuri dari kecelakaan itu yang juga kemudian Yoona katakan pada ahjumma Lee. Maka kemudian kisahnya bergulir pada keputusannya untuk merahasiakan pertunangannya dengan Siwon, sampai pada akhir permintaannya yang menginginkan sang ahjumma untuk juga tidak mengatakan fakta itu pada kakaknya.

“Tapi bukankah pada saat Yuri berada diluar negri, kau sudah mengatakan mengenai pertunanganmu dan Siwon?”

Yoona sedikit tak menyangka ahjumma Lee akan mengingat hal itu, dan membuatnya menjadi gelagapan ketika memberikan jawabannya.

“itu, emm.. ne ahjumma, aku memang mengatakannya. Tapi Yuri oenni, sepertinya dia melupakan bagian itu. Ya, Yuri oenni pasti lupa aku pernah menceritakan itu padanya”

Ahjumma Lee menghembuskan napasnya dengan berat saat kemudian tangannya meremas dan menggenggam erat tangan Yoona.

“Aku mengerti apa yang kau rasakan, Yoona. Dan tentu saja aku akan membantumu untuk kesembuhan Yuri.. Aku bisa mengerti keadaannya sekarang”

Yoona merasakan airmata membasahi wajahnya saat kemudian ia memeluk sang ahjumma.

“gomawo ahjumma, gomawoyo..”

Pada akhirnya Ia memang terpaksa menyeret orang-orang disekitarnya kedalam lingkaran kebohongan yang diciptakannya.

Demi kakaknya..
Demi Yuri..
Ia hanya berharap kedepannya semua akan menjadi baik-baik saja. Dan Yuri dapat segera disembuhkan.

***

Tn.Choi merasa begitu terkejut mendengar suara pintu kamarnya yang dibanting dengan begitu keras, dan ketika kemudian ia mendongak, mengalihkan perhatiannya dari sebuah surat kabar yang belum habis ia baca. Tn.Choi langsung dapat melihat sang istri yang masuk kedalam kamar itu dengan wajah memerah karna kesal dan bibirnya yang menggumamkan kata-kata tak jelas.

“Sejak kapan kau memiliki kebiasaan membanting pintu seperti itu?”

Karna sebenarnya, kejadian semacam itu telah terjadi untuk yang ketiga kalinya dihari itu.

Tn.Choi lantas hanya menggelengkan kepalanya dan kembali pada surat kabar yang dibacanya, saat setelah melihat yang dilakukan oleh sang istri hanyalah mondar-mandir tak jauh dari depannya dan mengabaikan ucapannya.

“Apa dia akan seharian berada didalam kamar itu, keterlaluan..!”

Ny.Choi masih terus bersungut-sungut, entah siapa yang telah membuatnya kesal saat itu.

“gadis itu benar-benar kelewatan, tidak cukupkah berhari-hari dia sudah berada dirumah sakit dan mengabaikan apa yang masih seharusnya ia kerjakan. Yeobo..”

Ny.Choi lantas mendekat, duduk disofa love seat disamping suaminya yang kini tak bergeming dari surat kabar ditangannya.

“Yeobo..”

“hm..”

“bukankah Yoona sudah keterlaluan. Kau tahu apa yang dia lakukan?”

“Apa yang Yoona lakukan?”

Tanya Tn.Choi mencoba menanggapi, meski pandangannya masih tak lepas dari surat kabar ditangannya yang kemudian membalik beberapa halamannya.

“Dia menyuruh Amber untuk memindahkan beberapa pakaiannya kekamar kakaknya”

“Oh ya.. Kenapa seperti itu? Ah, itu pasti karna dia ingin selalu menjaga kakaknya dan juga alasan yang dia katakan tinggal dirumah ini untuk bekerja tentulah juga menjadi pertimbangannya. Kakaknya akan mencurigainya bila dia menempati kamarnya..”

Ny.Choi mendesah mendengar pemikiran suaminya.

“Tapi seharusnya dia bertanya dulu padaku..”

“Dia mungkin hanya belum sempat memberitahumu..”

“Ck! Kau mulai membelanya, yeobo..”

Ny.Choi beranjak dari samping suaminya, berdiri dan mulai lagi berjalan mondar-mandir.

“Daripada terus-terusan berada dikamar itu bersama kakaknya, bukankah dia bisa menggunakan beberapa menit untuk bicara dan meminta ijin atas tindakannya. Tapi dia tidak melakukan itu. Dia berada dirumah ini, tapi dia bahkan tidak melakukan makan siang bersama kita tadi. Dia membawa makanannya kedalam kamar kakaknya. Apa menurutmu itu sopan? Sebelumnya dia selalu berada dimeja makan bersama kita, tapi tadi..”

“Jadi kau seperti ini hanya karna Yoona?”

“Kau pikir dia pantas bersikap seperti itu?”

Ny.Choi mendesah dan memberengut kesal mengingat kejadian siang tadi ketika dirinya memergoki Amber membawakan nampan berisi makanan itu kedalam kamar yang ditempati Yuri.

Ia telah merasa kesal sejak saat Yuri datang dan Yoona yang mulai mengarang kebohongan didepannya. Ditambah lagi gadis itu mengabaikannya dan lebih memilih menemui ahjumma Lee, ketika ia menginginkan untuk berbicara. Lalu yang terakhir adalah ia melihat Amber yang memindahkan beberapa pakaian Yoona. Membuat kekesalannya makin menumpuk terhadap gadis itu.

Tn.Choi yang mendengarnya hanya geleng-geleng kepala. Ia telah mengenal sifat  sang istri luar dalam, dan mengerti apa yang sebenarnya dimaksudnya.

“Apa kau mulai merasa kehilangan gadis itu? Kehilangan kesempatan untuk bersama dengannya?”

Ny.Choi memutar mata ketika Tn.Choi sedikit menertawainya..

“Ini bahkan baru hitungan jam Yoona membawa kakaknya kerumah kita, dan kau sudah uring-uringan seperti ini. Daripada sibuk mengawasi Yoona, sebaiknya carilah kesibukan lain. Kau bisa pergi berbelanja dengan teman-temanmu seperti yang biasa kau lakukan, agar kau tidak menjadi stres karna Yoona mengabaikanmu..”

Tn.Choi malah bersusah payah menahan tawa ketika kedua mata sang istri membulat memelototinya.

Merasa sang suami benar-benar dapat membaca pikirannya dan mengetahui apa yang dirasakannya, Ny.Choi kembali mendengus kesal dan kemudian keluar dari dalam kamar itu tanpa mengucapkan kata ataupun kalimat bantahan pada apa yang tadi telah Tn.Choi katakan.

“Aigoo.. Sepertinya istriku benar-benar telah jatuh hati pada gadis itu.”

***

Yoona baru dapat keluar dari kamar Yuri pada sekitar sore hari. Setelah berbicara dengan ahjumma Lee dan kembali menemani Yuri didalam kamarnya, Ia memang tak keluar lagi dari dalam kamar itu karna Yuri memaksanya untuk menceritakan bagaimana bisa kemudian ia bekerja pada Ny.Choi dan tinggal dirumah keluarga Siwon.

Hasilnya, Yoona kembali harus memutar otak untuk membuat cerita. Yang sepertinya berhasil, Yuri dapat menerima meski dia terlihat begitu sedih karna harus membiarkan Yoona bekerja.

Baru kemudian, setelah Yoona menemani Yuri untuk makan siang didalam kamarnya, Ia merasa lelah dan tanpa sadar tertidur hingga cukup lama. Saat terbangun, Yuri pun ternyata tengah tertidur disampingnya. Tak ingin membangunkan sang kakak, Yoona memilih untuk meninggalkannya.

Berjalan keluar dari kamar itu, Yoona menuju kehalaman belakang dan justru menemukan Ny.Choi disana. Wanita itu sedang berkebun rupanya..

Pada akhirnya Ny.Choi memang lebih memilih menghabiskan waktu dengan tanaman-tanaman bunga miliknya, ketimbang mengikuti saran sang suami untuk pergi dengan teman-temannya.

“omonim..”

Yoona tersenyum dan lantas menghampirinya. Tak menyadari Ny.Choi yang memasang wajah kesal dan mengabaikan sapaanya.

“Omonim.. Aku mencarimu”

“jadi aku menjadi orang terakhir
yang kau datangi?”

Yoona mengerutkan dahi samar, tak mengerti dengan apa yang menjadi maksud dari perkataan Ny.Choi saat itu. Tapi kemudian ia
memutuskan untuk
mengabaikannya.

“Omonim.. Bisakah aku
membantumu?”

“Ya, kau memang sudah
seharusnya melakukannya.
Bukankah kau memang berada
dirumah ini untuk bekerja padaku..”

Yoona menggigit bibir bawahnya
mendengar kalimat sindiran yang
diucapkan Ny.Choi padanya.
Namun apa yang dilakukannya
kemudian pastilah diluar dugaan
wanita itu, ketika Ny.Choi
berpaling, berbalik memunggungi
Yoona dan menunjukkan ketidak
hirauannya pada kehadiran gadis
itu, Yoona malah memeluk Ny.Choi dari belakang tubuhnya. Membuat Ny.Choi terkejut dan menjatuhkan sebuah gunting pemotong ditangannya.

“Astaga.. Apa yang kau lakukan?”
Ny.Choi mencoba menyentakkan
tangan Yoona dari tubuhnya, namun gadis itu malah semakin erat memeluknya.

“omonim, gomawo.. gomawoyo
omonim..”

“Kau tahu, aku sedang merasa
kesal padamu..”

“Aku tahu, omonim..”

“kalau begitu lepaskan aku..”

Yoona menggelengkan kepalanya.

“Aku ingin berterimakasih pada
omonim..”

“apa kau berterimakasih karna aku memarahimu?”

Tidak..
Sedikit banyak Yoona telah mulai
memahami watak wanita itu. Kata-kata kasar dan tajam yang sering terucap dari bibir Ny.Choi tidaklah selalu sama dengan isi hatinya.

Yoona telah merasakan kelembutan hati itu, dan berbagai perhatian yang pernah entah dengan atau tanpa sengaja ditunjukkan Ny.Choi
terhadapnya.

Seperti ahjumma Lee yang
menyiapkan kamar untuk Yuri oenni nya tadi, sebuah kamar yang nyaman, yang dianggapnya lebih dari sekedar layak untuk ditempati.
Yoona yakin hal itu dilakukan pasti atas dasar perintah atau setidaknya persetujuan dari ibu Siwon.

“Terimakasih untuk menerimaku
dan Yuri oenni disini.. Terimakasih banyak, omonim. Aku janji, aku akan menjaga sikapku agar omonim
tidak merasa kesal lagi padaku..”

Ny.Choi kemudian hanya menghela napasnya. Entah mengapa kekesalan yang sebelumnya
menumpuk didalam hatinya seakan menguar begitu saja setelah mendengar ucapan Yoona tadi.

“Baiklah, pada akhirnya kau
memang membuatku terpaksa harus berpartisipasi dalam
kebohonganmu. Tapi aku minta
padamu, Yoona. Jangan hanya
terpaku pada kepentingan kakakmu. Kau juga tak bisa mengabaikan apa
yang masih harus kau kerjakan.
Kelas kepribadian, kau masih harus menyelesaikannya”

Yoona kembali mengangguk-
anggukkan kepalanya..

“ne, omonim.. Aku mengerti. Dan
aku akan bersungguh-sungguh
mengerjakan apa yang omonim
perintahkan. Aku janji..”

Yoona melepaskan pelukannya dan justru dengan berani mencium pada pipi Ny.Choi.

“Terimakasih omonim.. Aku
menyayangimu..”

Apa yang dilakukan Yoona jelas
membuat Ny.Choi terkejut,
sekaligus merasa kalimat sayang
yang diucapkan gadis itu padanya dapat dengan cepat membuat hatinya menghangat.

“Jadi, omonim.. Apakah aku boleh
membantumu dengan memotong
rumput-rumput liar itu?”

Namun Yoona tidak menunggu
persetujuan dari Ny.Choi ketika
kemudian Ia mengambil gunting
pemotong yang tadi terjatuh, dan
memulai melakukan apa yang ingin dikerjakannya.

Tak perlu menunggu beberapa lama sampai kemudian keduanya terlibat kedalam obrolan-obrolan ringan ditengah kegiatan berkebun yang mereka lakukan.

Tn.Choi yang mengetahui hal itu, hanya mengamati dan ikut
tersenyum melihat sang istri yang
sebelumnya berwajah kesal, kini
justru terus tersenyum dan
beberapa kali tawanya terdengar
saat sedang bersama dengan
Yoona.

“Aboji.. Apa yang sedang aboji
perhatikan?”

Tn.Choi menoleh ketika mendengar
suara Siwon dibelakangnya.

“Oh, Siwonie.. Kau sudah pulang,
kemarilah..”

Siwon mendekat..

“Lihatlah, Ibumu dan gadis itu.
Mereka semakin dekat dan kompak saja..”

Siwon mengikuti arah pandang sang ayah, dan menemukan sang Ibu yang tengah bersama dengan Yoona, asik dengan tanaman-tanaman bunga dihalaman belakang
rumahnya.
Tak terasa Siwon pun ikut
menyunggingkan senyum
dibibirnya..

“Aboji tolong bawakan ini, atau
letakkan diruang kerja atau
kamarku, terserah aboji. Aku akan menyapa wanita-wanitaku..”

Tn.Choi menggeleng-gelengkan kepala dengan tingkah Siwon yang menyerahkan tas kerja ketangannya.

Siwon sudah melesat menuju halaman belakang, menghampiri Yoona dan ibu nya.

“Hai, wanita-wanita cantikku.. Apakah ada yang lebih indah daripada melihat senyum yang sama diwajah kalian?”

Siwon dengan cepat berada ditengah diantara Ny.Choi dan Yoona, dan merangkulkan lengannya dimasing-masing bahu mereka.

“Kurasa tidak, bahkan senja disore hari ini masih tak bisa mengalahkan keindahan senyum kalian..”

Siwon menjawab sendiri pertanyaannya, dan lantas membuat aksi yang mengejutkan. Setidaknya itu apa yang Yoona rasakan. Dengan berani mencium pipinya dan kemudian melakukan hal yang sama terhadap ibunya.

“Rasanya benar-benar luar biasa berada ditengah wanita-wanitaku yang cantik ini..”

Ny.Choi yang kemudian lebih dulu melepaskan rangkulan Siwon dibahunya. Dan kemudian menggerutu karna apa yang baru saja Siwon lakukan.

“Apa kau tidak malu menciumnya didepanku?”

“wae oemma? Apa sekarang aku harus malu padamu? Oemma bahkan sudah pernah melihat sesuatu yang lebih dari sekedar ciuman dipipi, yang pernah aku dan Yoona lakukan didepan mu..”

Siwon justru hanya mengedikkan bahunya meski saat itu ia sedang menerima tatapan tajam dari Yoona yang seakan mengatakan bahwa ia bisa menyumpal mulutnya yang asal berbicara dengan potongan-potongan rumput taman disekitarnya, atau malah sangat ingin memotong lidah Siwon dengan gunting pemotong yang berada ditangannya. Begitupun dengan Ny.Choi, sang ibu juga memberinya tatapan mengerikan seakan ingin melayangkan pot bunga kearah wajah tampannya.

Siwon lantas menunjukkan cengiran dan sedikit ngeri membayangkannya.

“Oh, ayolah oemma.. Aku terbiasa banyak belajar dari aboji. Bukankah kalian juga terbiasa menunjukkan kemesaraan dihadapanku. Lalu apa salahnya bila sekarang aku mencontohnya dengan melakukan hal yang sama pada Yoona”

Ny.Choi memutar mata kearahnya, dan Yoona berusaha melepaskan rangkulannya. Namun Siwon memaksanya agar tetap berada disampingnya, dengan malah mencengkram kuat bahu Yoona dan lantas berbisik ditelinganya.

“tadi itu termasuk salah satu ‘tindakan nyata’ yang sebelumnya pernah kukatakan padamu. Dan bukankah telah terjadi kesepakan untuk itu diantara kita. Kau tak bisa menolaknya..”

Yoona menggerakkan bibirnya, menggumam kesal.
Yang benar adalah Siwon yang memutuskan itu sendiri tanpa perlu persetujuan darinya.

Mengetahui gerutuan Yoona saat itu, Siwon hanya mengedikkan mata sesaat sebelum kembali mengarahkan pandangan pada ibunya.

“Oemma bisa mengertikan, bagaimana gejolak percintaan kaum muda yang selalu ingin.. Awhhh..”

Yoona memelototinya sambil menggunakan kakinya untuk menginjak salah satu kaki Siwon dan membuat pria itu mengaduh keras, merasakan sakit pada ujung jari kakinya dan akhirnya membuatnya berhenti berbicara.

“Jika kau masih ingin mendukung Yoona dengan kebohongannya, sebaiknya jaga kelakuanmu. Kakaknya, gadis yang juga menyukaimu dan bahkan tergantung padamu, berada dirumah ini sekarang. Berada dibawah atap yang sama dengan kita. Kau tentu tidak menginginkan terjadi perang saudara, bukan? Oh, astaga.. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika hal itu sampai terjadi..”

Ucap Ny.Choi memperingatkan dan dengan cepat menyadarkan Yoona untuk secepatnya menjauh dari Siwon.

Tatapan matanya langsung mengarah kesekeliling. Sang kakak tidak boleh melihatnya. Yuri tidak boleh melihatnya berada dekat dengan Siwon.

Ya.. Itu tidak boleh terjadi. Dan Ibu Siwon benar.
Ia sudah seharusnya menjaga jarak dengan Siwon, setidaknya sampai Yuri oenni nya pulih dan ia bisa mengatakan kebenaran itu padanya.

Hanya saja..
Bagaimana dengan Siwon?
Pria itu cenderung seenaknya saat memperlakukan dirinya, bahkan sangat sering memanfaatkan kesempatan.

“Oh, aku lupa jika hari ini kau pulang bersama dengan Yuri. Jadi dimana dia sekarang?”

“oenni berada dikamarnya. Dia sedang..”

“Aku akan menemuinya..”

Yoona belum menyelesaikan kalimatnya saat kemudian Siwon lebih dulu meninggalkannya dan membuatnya hanya bisa menatap pada bagian punggungnya ketika pria itu berlalu dari sampingnya.

Yoona ingin mengatakan bahwa oenni nya sedang tertidur. Tapi dari caranya bereaksi, Siwon nampaknya lebih bersemangat untuk menemui Yuri hingga tak perlu untuk mendengar apa yang masih ingin dikatakan olehnya.

Benarkah seperti itu?

Setelahnya, Yoona tak mengerti perasaan apa yang berkecamuk didalam hatinya..

Namun Ny.Choi jelas memperhatikan perubahan dalam raut wajahnya, saat dan setelah Siwon pergi darisana. Dan sebagai seorang wanita, ia cukup dapat mengerti sesuatu macam apa yang saat itu sedang Yoona rasakan, tapi gadis itu coba ingkari..

***

Ketika Siwon kembali masuk kedalam rumah, secara kebetulan ia berpapasan dengan Amber yang baru keluar dari ruang kamar dan sedang menutup pintu dengan perlahan.

“Amber ssi..”

Siwon menangkap gelagat terkejut dari Amber saat itu, dan sedikit yakin bila satu-satunya pengawal wanita dirumahnya itu baru saja hampir terlonjak hanya karna Ia memanggilnya.

“Ada apa? Kau terkejut aku memanggilmu?”

“eh.. Saya, saya hanya..”

Amber kemudian dengan cepat menganggukkan kepalanya.

“Ya, saya terkejut Tuan. Tuan tiba-tiba saja bersuara..”

Amber menundukkan wajah, menghindar dari tatapan Siwon yang seakan sedang menyelidik, membaca raut diwajahnya.

“benarkah? Lalu apa yang baru kau lakukan?”

“saya.. saya hanya melihat keadaan nona Yuri..”

“jadi disini kamar Yuri? Dia sedang berada didalam?”

“ne..”

Amber menjawab disertai dengan anggukan kepalanya. Ia kemudian segera menggeser tubuhnya ketika Siwon menekan knop pada pintu itu dan kemudian masuk kedalamnya.

Diatas tempat tidur itu, Yuri masih terlelap. Siwon mendekat dan hanya melihatnya. Tak ingin mengganggu istirahat Yuri, maka kemudianpun Ia beranjak dari sana. Namun baru mencapai pintu untuk keluar, suara Yuri yang tiba-tiba terbangun, yang kemudian menghentikannya.

“Siwon..”

Siwon menoleh dan kemudian tersenyum kearahnya..

“Siwon..”

“Hai, kau bangun? Kurasa aku yang sudah membangunkanmu.. Mianhae..”

“Tidak.. Tidak seperti itu. Aku tahu kau pasti tidak melakukannya”

Siwon masih berdiri diambang pintu kamar itu ketika Yuri mencoba untuk mendudukkan tubuhnya dan bersandar pada kepala tempat tidur itu. Dan kemudian pandangan matanya justru menemukan sebuket bunga mawar tergeletak diatas nakas disisi tempat tidurnya.

Yuri tersenyum dan kemudian kembali menatap pada Siwon..

“gomawo..”

Siwon tidak cukup mengerti untuk apa ucapan terimakasih itu, namun kemudian ia membalasnya..

“sama-sama..”

“Terimakasih juga untuk membiarkanku tinggal disini, bersama Yoona..”

Yuri masih tidak melupakan kenyataan yang dianggapnya bahwa Yoona bekerja, dan itu cukup mengganggunya..

“tidak masalah, senang melihatmu berada disini. Dan buatlah dirimu merasa nyaman, Yuri ssi..”

Yuri mengangguk dan kembali menarik senyum dibibirnya.
Ia berusaha untuk beranjak dan turun dari atas tempat tidurnya. Namun baru saja kakinya menjejak pada lantai, dan mengira setelah dua kali terapi yang dilakukannya, kedua kakinya itu akan dapat menopang tubuhnya seperti dulu, tapi nyatanya ia nyaris ambruk andai tangannya tak dengan cepat meraih dan berpegang pada pinggiran tempat tidur.

Siwon yang melihat itu, dengan cepat berlari menghampiri Yuri dan meraih tubuhnya. Melingkarkan tangannya pada pinggang Yuri dan membuat keduanya berada dalam jarak yang cukup dekat..

“gwechana?”

“hm, kukira aku sudah bisa kembali berjalan.. ternyata tidak..”

“belum.. Kau hanya harus diterapi..”

“hm, aku tahu..”

“maka kau harus giat melakukannya..”

“Aku memang akan melakukannya. Aku ingin sembuh..”

“Aku juga.. Aku ingin melihatmu sembuh?”

“kau ingin melihatku sembuh?”

“tentu saja..”

“kenapa?”

“Karna kau akan bisa kembali membantuku dikantor..”

“hanya itu?”

Jika Siwon bisa, ia ingin menambahkan bahwa ia berharap Yuri sembuh, kembali terlihat sebagai gadis yang kuat dan tangguh, bukan rapuh seperti sekarang ini, agar dirinya bisa mengatakan kebenaran status Yoona sebagai tunangannya dan meminta restu dari Yuri.

Hanya saja Siwon tak sampai hati mengatakan hal itu sekarang. Ia masih sangat memikirkan perasaan Yoona daripada dirinya sendiri.

“Siwon..”

“Ah ne.. Apa kau tidak akan melakukan itu jika kau sembuh nanti? Oh, ayolah Yuri ssi.. Demi Tuhan, aku membutuhkanmu”

Meski bukan alasan seperti itu yang sebenarnya ingin didengarnya dari Siwon, namun Yuri berusaha untuk menunjukkan senyum diwajahnya.

“Ya, tentu saja aku akan membantumu. Aku akan bekerja padamu. Dan pada saat itu, kau harus memberiku gaji yang sangat besar. Jauh lebih besar dari sebelumnya..”

Siwon tertawa mendengarnya..

“Tidak bisakah kita melakukan negosiasi? Semacam tawar menawar terlebih dulu..”

Yuri menggeleng dengan yakin..

“Oh, baiklah.. Sepertinya aku akan kembali mempekerjakan sekretaris yang berkuasa..”

Kini giliran Yuri yang dibuat tertawa oleh candaan Siwon..

Secara tiba-tiba dan mengejutkan bagi Siwon, Yuri lantas melingkarkan kedua tangan dipinggangnya dan memeluknya dengan erat.

“Terimakasih Siwon.. Aku merasa aman dan nyaman saat berada didekatmu. Aku tak lagi merasakan ketakutan pada orang-orang yang ingin menyakitiku. Kau pasti akan melindungiku..”

“Kau aman selama berada dirumah ini, Yuri ssi.. Jangan khawatir. Tidak akan ada yang menyakitimu, percayalah padaku..”

Siwon membalas pelukan Yuri dengan mengusap pada rambutnya.
Dan tepat disana, didepan pintu kamar itu, Yoona sedang berdiri mematung melihat seperti apa pemandangan didepan matanya. Yang kemudian secara tiba-tiba membuat dadanya bergemuruh, jantungnya berdetak sakit didalamnya.

Oh, ada apa?
Mengapa perasaan semacam itu kembali mendatanginya..

“Yoona.. Yoona ya.. Apa yang sedang kau..”

Ny.Choi yang telah mendekat, dan kini persis berada disamping Yoona, tidak meneruskan apa yang diucapkannya begitu melihat hal yang sama seperti apa yang pada saat itu dilihat oleh Yoona. Ny.Choi hanya mendesah, melihat Siwon dan Yuri yang sedang berpelukan didalamnya.

Tapi kemudian, Ny.Choi lah yang menyeret tangan Yoona untuk pergi darisana..

“Ayo ikut denganku.. Aku akan mengatakan padamu apa yang harus kita lakukan besok..”

***

Pada keesokan harinya, setelah pada pagi hari mengantar dan menemani Yuri untuk melakukan sesi terapi kejiwaannya bersama dengan Seohyun, dan kemudian menjalani terapi berjalan dengan Khuhyun pada menjelang siang hari, Yoona baru membawa Yuri kembali pulang kerumah Siwon pada sekitar pukul dua siang..

“Apa sekarang kau akan membiarkan adikmu untuk bekerja?”

Tak disangka oleh Yoona, bahwa Ny.Choi yang pada saat itu terlihat serius menyimak siaran televisi dihadapannya, ternyata sedang menunggu kedatangannya.

Wanita itu memang telah beberapa kali menelponnya dan menanyakan keberadaannya selama ia masih berada dirumah sakit tadi..

“Aku sudah merelakan jam kerjanya lebih dari setengah hari untuk hanya mengurusmu.. Bukankah aku seseorang yang sangat baik hati untuk ukuran pekerja seperti adikmu itu..?”

Ucapannya terdengar sinis, baik Yuri ataupun Yoona sadar, ucapan itu jelas tertuju untuk Yuri.

“Maafkan saya, nyonya.. Tapi saya akan..”

Yuri meraih tangan Yoona dan meremasnya, menghentikan Yoona untuk berbicara.

“Maafkan saya, Nyonya.. Saya yang bersalah. Tolong jangan menyulitkan Yoona..”

Ny.Choi melebarkan mata mendengarnya..

“Oh, yang benar saja.. menyulitkannya? aku lebih tahu apa yang harus kulakukan pada pekerja seperti adikmu..”

Meraih tas tangannya yang berada diatas meja, Ny.Choi juga lantas meraih dan menarik tangan Yoona dari sana..

“Ikut denganku sekarang.. banyak tugas yang harus kau kerjakan. Kau tak perlu ikut denganku Amber.. hanya pastikan kau menjaga kakaknya dengan baik.”

Amber mengangguk mengerti. Sedangkan Yuri masih terus menatap pada Yoona yang sudah berjalan melewati pintu depan, mengikuti Ny.Choi yang masih menarik tangannya.

“Mari nona, saya akan mengantar anda kekamar?”

“bagaimana dengan, Yoona? Apa dia akan baik-baik saja? Apa yang akan dilakukan ibu Siwon padanya?”

“anda tidak perlu cemas, nona. Tidak akan terjadi apa-apa pada nona Yoona. Dia hanya akan melakukan pekerjaannya, menemani Nyonya kemanapun beliau pergi. Saya yakin, Nyonya hanya akan meminta nona Yoona untuk menemaninya berbelanja..”

Tepat seperti apa yang dikatakan Amber pada Yuri, Ny.Choi memang sudah merencanakan akan memuaskan dahaganya untuk berbelanja, yang nyaris tak pernah dilakukannya setelah Yoona berhari-hari berada dirumah sakit.

Ny.Choi telah lebih dulu menghubungi beberapa butik yang ingin ia datangi, dan meminta agar menyiapkan koleksi-koleksi terbaru yang mereka punya. Hasilnya, dari ketiga butik yang mereka datangi selama kurun waktu sekitar tiga jam, Yoona membawa setidaknya lima paper bag ditangannya. Dan hal itu benar-benar membuatnya kewalahan menghadapi sikap Ny.Choi yang jelas terlihat gila-gilaan saat membelanjakan uang nya.

“Aku ingin kau memakai semua itu dalam acara-acara yang akan kita hadiri minggu depan..”

Ny.Choi menghitung setidaknya telah ada tiga undangan dari teman-temannya, dua undangan pesta ulang tahun, acara amal dan kegiatan sosial lainnya.
Dan Yoona tak menunjukkan reaksi lain, kecuali menganggukkan kepalanya.

Setelah mendatangi ketiga butik tadi, Ny.Choi kemudian membawa Yoona kesebuah salon. Meminta pekerja salon untuk mengurusnya, sementara ia juga melakukan beberapa treatmen untuk perawatan tubuhnya.

Setelah kekesalan yang sebelumnya sempat dirasakannya, Ny.Choi cukup merasakan kesenangan karna setelah berhari-hari ia merasa kesepian, Yoona kembali bersama dengannya.

Gadis itu menjadi miliknya sendiri saat berada diluar rumahnya seperti ini. Tidak bisa dipungkiri, semenjak munculnya sang kakak, Yuri dan bahkan baru sehari berada dirumahnya, Ny.Choi mulai merasa kehilangan gadis itu. Yoona tidak lagi terfokus padanya, tapi gadis itu harus membagi perhatiannya terhadap sang kakak dan sesekali juga pada ahjumma Lee. Dan hal itu membuat Ny.Choi merasa kehilangan banyak waktunya yang seharusnya bisa ia lewatkan bersama dengan Yoona.

“Yoona ya..”

“ne, omonim..”

“Aku ingin kau mengganti warna rambutmu, mungkin kita bisa menggunakan warna yang sama. Bagaimana menurutmu dengan yang ini?”

Yoona langsung menggelengkan kepalanya..

“Aku tidak bisa melakukannya..”

“kenapa? Bukankah ini warna yang bagus?”

“Aku tidak ingin terlihat mencolok didepan Yuri oenni. Dia akan mencurigaiku..”

Ny.Choi mendengus mendengar alasannya..

“sepertinya kakakmu benar-benar menjadi penghalang. Baiklah, kita tidak akan melakukannya kalau kau tak mengiginkannya”

Yoona tersenyum mendengarnya..

“gomawo omonim..”

“Tapi setelah semua ini selesai, kau harus berada dikelas kepribadian dan sebagai ganti penolakanmu untuk mengganti warna rambut, aku akan meminta penambahan waktu dua kali lipat pada jam belajarmu. Aku sudah mengatur jadwal, hanya perlu menghubungi guru pengajarmu. Dan aku akan segera melakukannya..”

Yoona memberengut mengetahui Ny.Choi tak main-main untuk hal itu, karna wanita itu benar-benar menghubungi guru pengajarnya dan berbicara beberapa lama dengannya. Sampai kemudian Ny.Choi kembali menghampirinya. Dan kemudian selesai dari salon itu, Ny.Choi justru terlebih dulu mengajaknya kesebuah restoran cepat saji, menikmati makan bersama, sedikit bersantai dengan melakukan obrolan yang didomonasi oleh suara Ny.Choi yang menceritakan teman-temannya.

Untung saja mood Ny.Choi tak berlanjut menjadi buruk karna penolakan yang tadi sempat dilakukan oleh Yoona, dan hal itu terlihat dari seringnya wanita itu menunjukkan senyumnya disela-sela ceritanya. Hal itu juga diyakini Yoona karna ia akan mengganti penolakan itu dengan mengikuti kelas kepribadian selama lebih dari dua jam seperti yang diinginkan Ny.Choi untuk dilakukannya.

Oh..
Sungguh kelas yang membosankan menurutnya.

“Baiklah Yoona, aku akan meninggalkanmu.. Aku tak bisa menungguimu karna aku memiliki janji untuk menemani ayah Siwon bertemu dengan teman lamanya. Ahjussi yang akan menjemputmu nanti. Bersenang-senanglah..”

Yoona memaksa menunjukkan senyum diwajahnya, meski setelah mobil yang ditumpangi Ny.Choi melaju meninggalkannya, Ia justru menekuk wajahnya.

Bersenang-senang seperti apa maksudnya?
Kelas itu jelaslah bukan kelas yang menyenangkan untuknya..

Yoona hanya bisa mendengus dan menyeret kakinya masuk kedalam kelas yang segera akan diikuti olehnya.

***

Beberapa jam setelah menyelesaikan kelas yang dianggapnya membosankan, Yoona akhirnya bisa keluar dari dalam ruang kelas itu dengan perasaan lega dan langkah ringan seakan puluhan beban dipundaknya telah terangkat.

Namun kemudian sesuatu yang berbunyi dari dalam tas selempang yang dikenakannya, sejenak menghentikan langkahnya. Satu pesan masuk kedalam inbox ponselnya dan Yoona dengan segera membukanya, tahu bahwa itu adalah pesan yang berasal dari Siwon. Seharian pria itu tidak menghubunginya, begitupun sebaliknya. Dan baru saat itu Siwon mengirimkan pesan padanya.

‘Aku begitu sibuk hari ini. Dan lelah😦 dan merindukanmu :*’

Yoona tersenyum melihat beberapa emoticon yang menyertainya. Jemarinya baru saja ingin bergerak diatas layar ponselnya untuk membalas pesan itu, tapi satu pesan lagi dari Siwon mendahuluinya..

“Tidak perlu membalas pesanku. Hanya cepatlah katakan pada ahjussi untuk membawamu pulang. Lakukanlah sekarang, Ini perintah!!’

Yoona mendengus membaca kalimat terakhir itu, tapi tanpa sadar ia dengan cepat kembali memasukkan ponsel miliknya kedalam tas, dan berlari kedepan gedung untuk menghampiri seorang supir yang telah berada disana untuk menjemputnya.

“Ahjussi..!”

“selamat malam, nona..”

“ne.. Ayo cepat kita pulang, ahjussi..”

Yoona benar-benar melakukan apa yang Siwon perintahkan dalam pesannya. Sang ahjussi sopir itu mengangguk sambil membukakan pintu untuk Yoona.

Baru sekitar pukul sepuluh malam itu, setelah sang supir menghentikan laju mobilnya, Yoona kembali menginjakkan kakinya didalam rumah Siwon. Keadaan rumah sepi. Ayah dan Ibu Siwon pasti belum pulang saat itu. Maka kemudian Yoona bergegas untuk mencari keberadaan Siwon saat itu.

“Sajangnim ..”

Yoona memanggilnya lirih, Ia memeriksa kedalam ruang kerjanya namun Siwon tak terlihat berada didalamnya.

Oh..
bukankah pria itu mengatakan lelah, tadi?
Maka tak mungkin ia berada diruang kerjanya.

Yoona lantas mengintip kedalam kamarnya, mencarinya diruang makan hingga ke halaman belakang rumah, tapi Siwon masih belum terlihat.

“dimana sebenarnya pria itu? menyusahkan sekali. Sajangnim..”

Yoona menggerutu dan akhirnya memutuskan untuk memeriksa keadaan Yuri didalam kamarnya.

Namun apa yang kemudian dilihatnya pada saat itu, diluar dari dugaannya. Siwon sedang berada didalamnya, membopong tubuh Yuri dari kursi roda untuk kemudian membaringkannya diatas tempat tidur.

“Siwon.. Bisakah kau disini dan menemaniku sampai aku tertidur?”

Yoona melihat dengan tanpa keraguan Siwon mengangguk mengiyakan keinginan Yuri. Bahkan kemudian Siwon menarik sebuah kursi dari depan sebuah meja rias yang berada didalam kamar itu, dan menggunakannya untuk duduk disamping tempat tidur Yuri.

“Tidurlah, aku akan berada disini dan menjagamu..”

Siwon juga mengusap rambutnya dan bahkan menggenggam tangan Yuri.

Melihatnya, Yoona mendadak merasakan dadanya yang terasa nyeri dan kedua matanya memanas. Ia tak tahu apa yang kemudian akan terjadi pada dirinya sendiri, andai ia memaksakan diri untuk tetap berdiri disana dan melihat bagaimana Siwon memperlakukan kakaknya.

Maka dengan kesadaran penuh Yoona bergegas beralih. Ia sedikit berlari ketika meninggalkan depan pintu kamar Yuri, hingga tanpa sadar bertubrukan dengan Amber.

“Oh, nona.. Anda sudah pulang.. Ada apa? Anda terlihat tergesa-gesa?”

“Aku ingin pergi. Katakan pada Yuri oenni jika dia bertanya padamu, katakan aku.. Aku masih memiliki pekerjaan dari Nyonya yang harus kuselesaikan.”

“tapi nona.. nona Yoona..!”

Yoona tak hirau dengan suara Amber, ia malah berlari lebih cepat keluar dari dalam rumah Siwon. Meminta seorang security untuk membukakan pagar, dan selanjutnya Yoona sudah berjalan menyusuri sepanjang trotoar.

Entah akan kemana ia, yang dirasakannya hanya ingin menjauh. Menjauhi apa yang tadi dilihatnya dan anehnya terasa menyesakkan dadanya.

Ya Tuhan..
Ada apa sebenarnya dengan dirinya?
Terlalu sensitifkah ia saat itu?

“Hyoyeon ssi..”

image

Yoona terpikir untuk menelpon temannya, dan Hyoyeon lah yang kemudian dihubungi olehnya.

“Oh, Yoona? Kaukah itu..?”

Yoona tersenyum mendengarnya..

“ne, ini aku. Bagaimana kabarmu?”

“Aku baik.. Tapi hari ini benar-benar lelah. Setelah menjadi resepsionis dikantor tunanganmu yang tampan dan kaya itu, Aku mengambil tambahan kerja ditempat lain selama tiga jam penuh..”

“benarkah?”

“hm, seperti itukah keadaanku. Tapi tunggu, ada apa tiba-tiba kau menghubungiku?”

“bagaimana dengan Sunny?”

Yoona mengalihkan pertanyaan Hyoyeon dan masih sambil menyusuri pinggiran jalan yang mulai sepi.

“Dia mencoba melakukan hal yang sama sepertiku.. Kebetulan dia sedang menginap ditempatku, dia terlalu lelah untuk dapat menyeret kakinya sampai didepan rumahnya. Dan sekarang dia sudah tidur.. Yoona, ada apa?”

“em, Tidak.. Aku hanya membutuhkan teman”

“selarut ini? Kenapa?”

“kupikir aku bisa mengajak kalian untuk minum soju.. Tapi..”

“Astaga, apa kau sedang memiliki masalah dan ingin melarikan diri dengan minum soju? Apa yang terjadi, Yoona? Kau bertengkar dengan tuan muda?”

Yoona menggigit bibir bawahnya sebelum kembali bersuara.

“Tidak.. Bukan seperti itu. Aku hanya merasa tiba-tiba.. Tiba-tiba aku merindukan kalian”

“Oh, Yoona.. Kami juga merindukanmu. Kau bisa datang kesini jika kau mau..”

“Kau lebih baik beristirahat. Kita bisa pergi lain waktu. Aku akan menghubungimu lagi nanti. Sampaikan salamku pada Sunny..”

“Kau serius tidak terjadi apa-apa?”

“hm, istirahatlah..”

“baiklah..”

Yoona tidak mungkin akan mengganggu temannya yang kelelahan dan membutuhkan beristirahat. Jadi akan kemana dirinya?

Pulang kerumahnya menjadi satu-satunya pilihan..

Maka kemudian ia menghentikan sebuah taksi untuk mengantarkannya kealamat rumahnya.

***

Sesaat setelah Yuri memejamkan matanya dan deru napasnya yang mulai teratur, dan Siwon telah meyakininya tertidur, ia baru keluar dari dalam kamar Yuri dan langsung menemukan Amber yang berada didepan pintu kamar itu.

Amber lah yang sebelumnya memintanya untuk membujuk Yuri karna gadis itu terus saja gelisah dan menanyakan keberadaan Yoona secara terus-terusan. Yuri bahkan menolak untuk berada diatas tempat tidur sebelum melihat Yoona pulang. Kegelisahannya jelas beralasan, mengingat bagaimana tadi Ibu Siwon itu memperlakukan adiknya.

Hingga kemudian Siwon berhasil membujuknya dan meyakinkan Yoona baik-baik saja, karna ia tahu pasti seperti apa ibunya. Ibu nya tidak pernah bermasalah dengan para pekerjanya.

“Apa Yoona sudah pulang?”

Tanyanya langsung pada Amber..

“Nona pulang, tapi tergesa-gesa saat pergi lagi. Sepertinya ada sesuatu yang teradi?”

“sesuatu yang terjadi? Dia tidak mengatakan apapun padamu?”

“nona hanya berpesan agar mengatakan pada nona Yuri, jika dia bertanya, bahwa nona Yoona masih memiliki pekerjaan dari Nyonya..”

“Oemma..”

Siwon langsung merogoh ponselnya dan lantas menghubungi ibunya. Menanyakan apa yang masih harus dilakukan hingga selarut ini. Namun sang ibu mengatakan ia tidak bersama Yoona ataupun menyuruh gadis itu melakukan sesuatu. Ibunya bahkan telah menyuruh supir untuk menjemputnya dan membawa Yoona pulang kerumah.

Jadi kemana gadis itu pergi, sekarang?

Siwon memutus sambungan telponnya dan segera menghubungi nomor ponsel Yoona namun gadis itu tidak menjawab, bahkan setelah tiga kali berturut-turut Siwon melakukan dial dari ponselnya.

“Astaga.. Gadis itu kembali mengulangi kesalahannya. Untuk apa dia dibekali ponsel jika dalam keadaan darurat seperti ini, dia bahkan tak menjawab ponselnya..”

Siwon tak bisa berdiam diri dan menunggu. Maka kemudian Ia menyambar kunci mobilnya.

***

Setelah terlebih dulu membeli beberapa ramen dari mini market yang terletak disekitar rumahnya, Yoona lantas menuju rumah kecilnya yang telah beberapa lama tak ditempati.

Menaiki beberapa anak tangga untuk mencapai pintu rumahnya, Yoona merutuki kebodohannya setelah menyadari ia tak membawa kunci rumahnya. Dan bagaimana caranya untuk membuka gembok pada pintu itu?

Yoona akhirnya menemukan cara dengan menggunakan batu, dan justru kemudian merasa miris karna gembok pada pintu rumahnya dapat dengan mudah terbuka hanya dengan sekali pukulan batu yang dilakukannya.

“menyedihkan..”

Yoona bergumam lirih, sambil membuka pintu rumahnya dan masuk kedalamnya, setelah terlebih dulu kembali mengunci pintu itu dari dalam.

Dengan mengabaikan pengapnya udara, Yoona lantas menekan saklar untuk menyalakan lampu yang kemudian menerangi bagian kecil dari ruang tamu rumahnya. Terdapat satu sofa lusuh disana, yang kemudian digunakan Yoona untuk meletakkan tas selempangnya.

Selanjutnya, Yoona menuju bagian yang menjadi favoritnya,  dapur. Yoona sangat menyukai berada didapur rumahnya yang kecil dan melihat Yuri menyiapkan makanan untuknya. Tapi kali ini ia yang akan melakukannya. Yoona lantas mengeluarkan beberapa bungkus ramen yang tadi sempat dibelinya, dan mencari-cari peralatan memasaknya.

***

Setelah menemukan dimana keberadaan Yoona melalui alat pelacak yang dipasang didalam ponselnya, Siwon memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan langsung saja memarkir kendaraannya itu dipinggiran jalan begitu mencapai tempat yang menjadi tujuannya.

Selanjutnya, Ia berlari untuk mencapai sebuah tangga yang kemudian akan menghubungkannya dengan sebuah pintu. Pintu rumah Yoona.

Ia sedikit menggeram melihat kondisi pintu rumah itu..

“Sialan..! Mengapa masih ada hal mengerikan seperti ini..”

Siwon yakin ia dapat dengan mudah merobohkan pintu didepannya itu hanya dengan sekali tendangan.

Dan fakta bahwa Yoona berada didalamnya, dan mungkin sedang berpikir dia akan terlindungi dengan pintu rumah semacam itu benar-benar membuat Siwon marah dan tanpa perlu mengetuk, Siwon langsung melakukan gedoran-gedoran kencang pada pintu.

“Yoona..! Apa yang kau lakukan didalam sana? Buka pintunya.. Sebelum aku menghancurkannya.. Yoona! Kau pasti mendengarnya kan..? Yoona.. Yoo..”

Siwon sedikit terlonjak saat pintu itu terbuka dan Yoona yang langsung membekap mulutnya.

“Benar-benar pria tidak tahu sopan santun. Kenapa berteriak-teriak dan menggedor pintuku? Kau ingin menghancurkannya..”

Yoona menggerutu kesal, dan kemudian meninggalkan Siwon berdiri disana. Namun kemudian Siwon dengan cepat menyusulnya, menarik tangannya, merengkuh pinggangnya dan langsung memeluknya.

“Kau tidak apa-apa kan?”

“Sajangnim, lepaskan aku..”

“Katakan padaku bahwa kau tidak apa-apa..”

“Sajangnim, kau konyol.. Untuk apa aku mengatakan hal seperti itu. Kau bisa melihat sendiri.. Jadi sekarang lepaskan aku”

“Aku khawatir melihat pintu sialan itu..”

Yoona memutar mata mendengarnya..

“Apa kau baru saja menyebut pintu rumahku ‘sialan’ ”

Siwon hanya mengangkat kedua bahunya, seolah apa yang tadi dikatakannya bukanlah masalah karna kenyataannya memanglah seperti itu.

“bau apa ini?”

Siwon menggunakan hidungnya untuk mengendus-endus udara disekitarnya, dan apa yang dilakukannya langsung menyadarkan Yoona dari kegiatan memasaknya..

“Ya Tuhan.. Kau mengacaukan masakanku..”

Yoona terbirit berlari kearah dapurnya, dan Siwon juga lantas membuntutinya.

Ia melihat Yoona yang mengaduk-aduk sesuatu yang berada didalam panci, dan menjadi tertarik untuk mengetahui apa yang sedang dimasak olehnya.

“Baunya enak.. Bolehkah aku mencicipinya?”

Yoona merasa bulu kuduknya meremang, Siwon tepat berada dibelakangnya dan melihat apa yang sedang dimasak olehnya dengan meletakkan kepala diatas bahunya.

“Hanya ramen.. Menyingkirlah, aku harus mengangkatnya.”

“Biarkan aku yang melakukannya.. Kau siapkan meja dan jangan lupakan untuk memberiku mangkuk. Aku merasa lapar setelah mencium bau masakanmu..”

Siwon menggeser tubuh Yoona agar menyingkir, dan mendorongnya untuk menyiapkan meja, sementara ia kemudian mengangkat panci itu dari atas kompor.

“Kau seharusnya terlebih dulu mematikan kompornya..”

“Aku tidak tahu..”

“Kau bisa membakar rumahku..”

“Percayalah, aku memang sudah memiliki niat untuk melakukannya”

Yoona membulatkan mata mendengarnya, namun memutuskan untuk mengabaikan hal itu, dengan lantas mengambil duduk didepan panci itu dan mulai mengisi mangkuknya dengan menggunakan sendok.

“Tidakkah seharusnya kau melayaniku terlebih dulu?”

Siwon memprotes ketika melihat Yoona menyeruput kuah ramen dari mangkuknya.

“Kau bisa melakukannya sendiri kan.. Gunakan kedua tanganmu, tidak perlu dilayani?”

“Apa kau juga akan memperlakukanku seperti ini jika kita menikah nanti..?”

Yoona tersedak dan buru-buru mencari air minum dari kantong yang berasal dari mini market tadi, sedangkan Siwon hanya tersenyum melihatnya. Bahkan terlihat santai ketika ia mulai memakan ramen itu dari mangkuknya.

“Uwahh.. Ini benar-benar enak, Yoona. Dimana kau belajar membuatnya?”

“Jangan membual, semua orang bisa memasak seperti ini..”

Yoona kembali mendudukkan tubuhnya, dihadapan Siwon dan kembali menikmati ramen buatannya.

“Kenapa kau berada disini?”

“Kenapa kau bisa menemukanku disini?”

“Jawab dulu pertanyaanku..”

“Aku hanya rindu berada disini..”

“Kenapa tidak mengatakan dulu padaku jika kau ingin pulang?”

“Bukankah itu tak perlu..”

“Apa maksudmu?”

“Tidak.. Lupakanlah. Jadi bagaimana kau bisa menemukanku?”

“Kemana lagi kau bisa pergi.. Kau bukan putri konglomerat, atau gadis dengan karir gemilang yang berinvestasi dengan membeli puluhan rumah dan bisa pergi kemanapun tempat dimuka bumi ini. Kau hanya gadis belia yang memiliki satu tempat, disini..”

Yoona mendengus mendengarnya..

“Aku hanya bercanda.. Sebenarnya aku bisa menemukanmu karna oemma memasang GPS atau semacam alat pelacak, didalam ponselmu”

“Ibumu melakukan itu?”

“hm, dan berguna bukan..”

Siwon mengedikkan mata, membuat Yoona dengan cepat mengalihkan tatapannya dengan berkonsentrasi menghabiskan ramen didalam mangkuknya.

Melihat Siwon yang sudah mendorong mangkuknya yang telah kosong, Yoona pun lantas melakukan hal yang sama.
Ia mengambilnya dari atas meja beserta dengan pancinya yang telah kosong dan kemudian membawanya kedapur untuk membersihkannya.

“Sajangnim.. Apa kau akan..”

Yoona kembali menghampiri Siwon dan menemukan pria itu kini sudah berbaring diatas sofa nya yang usang. Dan menggunakan sebelah lengannya sebagai bantal.

“Sajangnim..”

Yoona ingin memastikan apakah saat itu Siwon tertidur atau hanya berpura-pura..

“Sajangnim..”

Yoona menggerakkan kakinya, merasa lucu dengan keadaan kaki Siwon yang menggantung karna ukuran sofanya yang lebih kecil bila dibandingkan dengan tinggi tubuh Siwon.

“Apa kau benar-benar sudah tidur? Sajangnim..”

Kenapa Siwon begitu cepat tertidur?

Ia bahkan masih ingin menanyakan alasan mengapa Siwon sampai perlu mencari keberadaanya. Bukankah pria itu tadi mengatakan pada sang kakak, akan berada dikamar Yuri dan menemaninya.

Teringat akan hal itu membuat Yoona merasa kesal dan akhirnya meninggalkan Siwon tertidur disana dengan masuk kedalam kamarnya.

Tak lama setelah ia  masuk kedalam kamarnya, dan sedikit melakukan bersih-bersih pada tempat tidurnya, Ia mulai membaringkan tubuhnya miring diatas tempat tidurnya yang kecil, yang sangat berbeda jauh ukuran besar dan kenyamanannya bila dibandingkan dengan tempat tidurnya yang berada dirumah Siwon, Yoona baru saja ingin memejamkan kedua matanya ketika Ia justru merasakan ranjangnya berderit akibat dari pergerakan seseorang yang naik keatas tempat tidurnya.
Meletakkan tangan diatas perutnya dan kemudian makin merapatkan tubuhnya.
Membuat Yoona langsung dapat merasakan kehangatan dari tubuh dibelakangnya. Dan hanya dari aroma parfumnya yang menguar yang kini memenuhi kamar sempitnya, ia telah mengetahui siapa yang saat itu berani naik keatas tempat tidurnya. Karna memang hanya dia lah satu-satunya orang selain dirinya yang pada saat itu berada dirumahnya.

“Sajangnim..! Apa yang kau lakukan?”

Yoona dengan cepat memutar tubuhnya berbalik menghadap pada Siwon, namun apa yang dilakukannya terasa salah karna wajahnya kini justru berhadapan langsung dengan dada kokoh pria itu.

Astaga..

Hal itu untuk sesaat membuatnya menahan napas, namun kesadarannya dengan cepat memukulnya mengetahui Siwon telah menanggalkan pakaiannya.

Ya Tuhan..
Apa yang ingin dilakukan Siwon padanya.

“Dasar pria mesum.. Sajangnim..! Keluar dari kamarku!”

Yoona memekik sambil mendorong dada Siwon, namun sepertinya hal itu tak banyak berpengaruh. Apa yang dilakukannya hanya membuat tubuh Siwon sedikit bergeser, hingga kemudian ia bisa melepas pelukan pria itu dan lantas berhasil mendudukkan tubuhnya.

“Astaga Yoona.. Kau berisik sekali, tidak bisakah kau membiarkanku tidur?”

“Tapi.. Tapi, apa yang ingin kau lakukan?”

“Aku mau tidur.. Aku lelah, mengerti..”

“Tapi kenapa kau melepas pakaianmu..”

Siwon sedikit mengacak rambutnya, terlihat kesal pada Yoona.

“Diluar sangat panas.. Aku tidak tahu bagaimana caranya kau bisa hidup ditempat seperti ini. Kau bahkan tidak memiliki pendingin ruangan? Astaga.. ini sangat menyedihkan..”

“Aku tidak membutuhkannya.. Kau bilang diluar sangat panas. Lalu mengapa kau tidak pulang saja, bukankah disini jauh lebih panas”

Yoona menaikkan alisnya, menduga jika Siwon mungkin saja memiliki rencana dengan masuk kedalam kamarnya. Dan tentu saja ia harus mewaspadainya.

“kupikir disini tidak terlalu panas bila dibandingkan dengan diluar. Asal kau tahu diluar itu benar-benar luar biasa panas.”

“bohong..”

Yoona menarik salah satu bantal dan memukulkannya ketubuh Siwon.

“keluarlah dari kamarku dan pergilah. Pulanglah sajangnim.. Kau tidak akan bisa tidur ditempat seperti ini..”

“Aku akan tidur jika kau menutup mulutmu dan diam, Yoona. Atau kau ingin aku yang menutup mulutmu..”

Yoona memutar mata dan kembali memukulkan bantal ketubuh Siwon. Namun kali ini Siwon menangkapnya dan melempar bantal itu kebawah, kemudian tangannya dengan kuat menjatuhkan tubuh Yoona agar kembali berbaring disampingnya, didalam pelukannya.

“Sajangnim..”

“Aku ingin tidur seperti ini..”

Yoona mendongak, melihat Siwon yang memejamkan mata dan mengatur pernapasannya. Ia lantas hanya bisa mendecak, ingin melepaskan tangan Siwon yang melingkari pinggangnya namun usahanya sia-sia saja.

“bukankah tadi kau sudah tertidur saat diluar?”

“hm..”

“lalu kenapa kau masuk kedalam kamarku?”

“Aku takut berada diluar sendirian..”

“Ck! jangan bercanda..”

“Aku serius.. Aku mendengar sesuatu tadi. Sebuah suara yang membuat bulu kudukku merinding. Kurasa ada penghuni lain dirumah ini”

Siwon membuat tanda kutip dengan tangannya ketika ia menyebut ada penghuni lain, sebagai tanda agar Yoona mengerti apa yang dimaksudkannya.

“Rumahmu benar-benar memiliki aura mistis, apakah kau tidak merasakan energi berbeda yang berada disini?”

Yoona menggelengkan kepalanya dengan polos.

“kurasa sekian lama tidak ditempati yang membuat rumahmu ini memiliki penghuni baru. Seharusnya kau terlebih dulu memanggil seseorang yang ahli untuk mengusir mereka dari sini”

“Sajangnim, jangan menakutiku..”

“Aku tidak menakutimu.. aku hanya ingin memberitahumu jika ada beberapa hantu yang mungkin telah menghuni rumah ini dengan nyaman”

“Kau benar-benar membuatku takut..”

Yoona tanpa sadar beringsut makin merapatkan tubuhnya pada Siwon. Tangannya bahkan melingkar memeluk pada pinggang Siwon.

“Aku tahu kau pasti akan takut, Karna itu aku masuk untuk menemanimu. Daripada membiarkanmu ditemani oleh hantu, mahluk penghuni baru rumah ini. Bukankan lebih baik jika tunanganmu yang berada disini dan menemanimu..”

Siwon mengerling sambil tangannya bergerak mengusap-usap punggung Yoona.

Namun Yoona menyadari ada tawa terkikik yang pada saat itu coba ditahan oleh Siwon, dan Yoona merasa pria itu menipunya. Siwon pasti sedang membohonginya dan parahnya ia mempercayai omong kosongnya.

Astaga.
betapa bodohnya dirinya..

“Sajangnin.. ini tidak lucu!! Kau benar-benar penipu, aku tidak akan mempercayaimu..”

Siwon justru tergelak dalam tawa meski Yoona bertubi-tubi memukul dadanya dengan menggunakan kedua tangannya yang mengepal.

Gadis itu marah, namun rona diwajahnya justru membuat Siwon menyukai kemarahan nya. Ia tahu Yoona tidak benar-benar marah, gadis itu hanya merasa malu karna telah tertipu oleh candaan yang diucapkannya.

“Aku mencintaimu, Yoona. Aku mencintaimu..”

kalimat itu yang kemudian justru menghentikan Yoona dari aksinya memukul Siwon karna merasa sesuatu yang hangat sedang merayap, menjalari wajahnya.

Siwon memanfaatkan kebisuan Yoona dengan menangkup wajahnya dan lantas mengecup pada bibirnya.

“Aku mencintaimu..”

Yoona mengerjapkan mata saat kemudian Siwon tak lagi hanya sekedar mengecup bibirnya, pria itu melumat, menarik bibir bawahnya dan menggigitnya pelan. Namun hal itu cukup untuk membuat Yoona mengerang, sedikit memberikan celah untuk Siwon memasukkan lidah dan menjelajahi rongga mulutnya.

Yoona merasa kuwalahan menerima ciuman yang diberikan Siwon dibibirnya, tapi kemudian dengan sedikit malu-malu, Ia mulai dengan mengalungkan kedua tangannya dileher Siwon, makin merapat pada pria itu dan menggunakan keberanian yang sedikit dimilikinya pada saat itu, Ia membalas perlakuan Siwon dengan menggerakkan bibirnya, ikut berpartisipasi dalam ciumannya.

Yoona merasakan sesuatu yang berbeda bila dibandingkan dengan ciuman-ciuman yang diterimanya sebelumnya. Ia tidak sekedar menerima tapi juga memberi hal yang sama. Ia sedang berciuman, tidak lagi sekedar menerima ciuman. Dan rasanya sungguh luar biasa. Dadanya bergemuruh, seakan penuh dan siap meledak oleh sensasi aneh yang dirasakannya.

“emhh..”

Siwon menahan diri untuk tidak menjatuhkan tubuh Yoona, dan menempatkan gadis itu dibawahnya, ketika mendengar desah tertahan dan geliat tubuhnya, yang benar-benar telah menyulut gairahnya. Awalnya ia hanya ingin mencium gadis itu main-main, tapi untuk pertama kalinya ia merasakan Yoona membalas ciumannya, dan membuat sisi liar dalam dirinya terbangun.

Maka sebelum sesuatu yang lebih terjadi, Siwon mengontrol diri dengan mengakhiri ciumannya.

Yoona terengah dan merasa kehilangan ketika Siwon melepaskan tautan bibirnya.

“Woww.. Tadi itu benar-benar luar biasa, Yoona. Aku tak menyangka kau bisa menggerakkan bibirmu dengan begitu manis..”

Yoona menunduk, merasakan wajahnya memanas oleh apa yang Siwon katakan padanya.

Namun kemudian Siwon meraih dagunya, mendongakkan wajahnya dan membuatnya bertatapan dengannya..

“Kita akan melanjutkannya saat sudah resmi menikah nanti. Aku tidak akan menahan diri jika kau sudah menjadi pengantinku..”

Siwon mengerlingkan mata kearahnya..

“Aku akan menunggu saat itu tiba,  tidurlah.. Aku akan berada diluar..”

Siwon terlebih dulu mengecup keningnya, sebelum turun dari atas tempat tidur Yoona dan tersenyum melihat Yoona yang masih terdiam karenanya.

Yoona bahkan masih terdiam pada sekitar sepuluh menit setelahnya, rasanya ia benar-benar akan meledak..

“Apa yang kulakukan tadi.. Aishh..”

Berguling diatas tempat tidur, menyambar bantal tidurnya, Ia menutup wajahnya dengan itu. Merasa malu pada dirinya sendiri, karna keberaniannya tadi.

***

Pada sekitar pukul lima pagi ketika Siwon tiba-tiba terjaga dari tidurnya, matanya mengerjap menyusuri apa yang berada disekitarnya. Tubuhnya sedikit terasa sakit, dan baru disadarinya ia telah tertidur disebuah sofa usang yang berada didalam rumah Yoona.

“Yoona..”

Siwon terlonjak, dan kemudian berjalan kearah pintu kamar Yoona sekedar untuk memastikan keberadaan gadis itu.

Namun setelah dengan pelan membuka pintu kamar itu, Siwon sedikit terkejut melihat Yoona yang tidak sedang tertidur tapi malah asik dengan ponsel ditangannya dan memainkan jemarinya diatas layar ponselnya.

“Kau tidak tidur? Apa yang sedang kau lakukan?”

Yoona mendongak dan melihat Siwon yang berdiri diambang pintu kamarnya..

“Oh, sajangnim.. Kau terbangun..”

Yoona kembali memperhatikan layar ponselnya, sementara Siwon kemudian mendekatinya.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

“hm.. Aku sedang membalas pesan”

Siwon mengerutkan dahi mengetahuinya..

“Siapa yang mengirimu pesan pagi-pagi buta seperti ini?”

“Dokter Cho..”

“Dokter Cho?”

“ne, dokter yang melakukan terapi pada Yuri oenni..”

Pria itu..

Siwon menggertakkan gigi saat itu, menatap Yoona dengan rahang mengeras dan selanjutnya mengambil ponsel itu dari tangan Yoona, mengabaikan keterkejutan gadis itu..

“Sajangnim..”

“Kau memberikan nomer ponselmu padanya? Dokter itu?”

Yoona mengerutkan dahi sesaat dan kemudian mencoba mengambil ponsel miliknya dari tangan Siwon.

“Sajangnim, kembalikan ponselku..”

“kenapa kau melakukannya, Yoona? Kenapa kau sembarangan memberikan nomer ponselmu?”

Yoona memutar mata mendengarnya.

Oh..
Jadi itu masalahnya?

“Apa salahnya melakukan itu?”

Salahnya adalah dokter itu seorang pria..
Pria yang bahkan dengan terang-terangan memberi perhatian pada Yoona didepannya.

Siwon menggumam kesal didalam hatinya..

“Dia hanya mengirim pesan untuk mengingatkanku..”

“Pagi-pagi buta seperti ini? Dan kau terbangun hanya karna mendengar pesan darinya, kemudian bersemangat untuk membalasnya..”

“Siapa yang terbangun..? Aku bahkan tak bisa tidur sepanjang malam..”

“Kenapa? Kenapa kau sampai tak bisa tidur sepanjang malam? Karna menunggu dokter itu mengirim pesan atau menelponmu?”

“Ya Tuhan.. Kau konyol. Kenapa juga aku sampai tak tidur hanya karna dokter Cho? Ini tidak ada hubungannya dengan itu”

“Kau tahu, kau tidak seharusnya seperti itu..”

“Astaga.. aku tidak seperti itu.”

Yoona mulai beranjak  dari tempat tidurnya, dengan kesal melangkah keluar dari kamarnya.

“Kau tidak seharusnya memberinya nomor ponselmu..”

“Apa sih salahnya aku memberikan nomer ponselku pada dokter Cho.. Dia hanya mengatakan agar lebih mudah mengingatkanku mengenai jadwal terapi Yuri oenni.. Dan dia melakukan itu tadi..”

“Kau bisa memberinya nomor ponselku”

“Dan membuatmu mengurus semuanya? Ini hanya hal kecil. Aku tak ingin membebankan semuanya padamu..”

“Tapi meminta nomor ponselmu dengan alasan untuk mengingatkanmu pada terapi Yuri, itu hanya akal-akalan saja.. Modus yang digunakannya untuk mendekatimu.. bukankah kau sudah memiliki jadwal itu? Dia tak perlu lagi mengingatkanmu.”

“Sajangnim..”

Yoona terpancing semakin kesal oleh kesimpulan sepihak yang diucapkan Siwon.

“Dia memang hanya melakukan itu. Dokter Cho mengirim pesan hanya untuk mengingatkanku bahwa pagi ini Yuri oenni
harus melakukan terapi. Dan dia tidak mungkin mendekatiku.. Dokter Cho sudah menikah. Dia memiliki istri..”

“Bagaimana jika dia adalah seorang pria hidung belang yang sering melakukan perselingkuhan dibelakang istrinya. Dia melihatmu sebagai gadis lugu dan siap melancarkan aksi untuk merayumu..”

Yoona benar-benar membulatkan mata mendengarnya..

“Kau sudah keterlaluan, sajangnim.. mungkin benar, rumahku memang memiliki penghuni baru dan kau pasti sedang kerasukan salah satu hantu itu..”

Yoona mengambil tas selempangnya dan kemudian melemparkan sebuah kaos milik Siwon yang ditanggalkannya, yang juga berada diatas sofa usangnya.

“Cepat pakai bajumu, aku ingin pulang sebelum Yuri oenni terbangun..”

“Jika dokter itu kembali mengirim pesan atau malah menelponmu, katakan kau sudah mengingat sendiri jadwal itu..”

Yoona mendecak sambil memelototinya..

“Aku menunggu diluar..”

Yoona keluar lebih dulu untuk mengakhiri ketidak warasan Siwon saat itu.

***

Yuri terjaga sepanjang malam itu, Ia tidak benar-benar tertidur. Yuri bahkan mengetahui ketika Siwon meninggalkannya sesaat setelah dirinya berpura-pura menutup matanya. Dan tak bisa ia pungkiri, hal itu membuatnya sedih.

Namun keberadaan Yoona yang belum juga pulang, lebih mengkhawatirkan dan terus-terusan memenuhi pikirannya. Jadi mana mungkin ia bisa tertidur sementara yang berada didalam pikirannya adalah Yoona yang terpaksa harus melakukan pekerjaan sepanjang malam karna pada pagi harinya sang adik malah mengurus dirinya dan membuat Ny.Choi kesal karnanya.

Dan Yuri merasakan kesedihan karna dirinya justru tak dapat melakukan apa-apa untuk melindungi Yoona.

Namun kemudian lamunan Yuri terusik oleh deru suara mobil yang memasuki halaman. Ia mendapat celah untuk melihat dari balik jendela kamarnya dan mengetahui saat Yoona keluar dari dalam mobil itu, disusul Siwon yang keluar dari sisi pintu pengemudi.

Yuri melihat dengan tertegun, saat Yoona berjalan lebih dulu dan Siwon yang berjalan cepat menyamakan langkahnya dan kemudian menarik pinggang Yoona.

Yoona sepertinya menolak, dengan terlihat menyingkirkan lengan Siwon, namun pria itu kembali mengejarnya dan kembali melakukan hal yang sama dengan merengkuh pinggang Yoona agar berjalan sejajar dengan dirinya..

“Yoona..”

Yuri menggumam serak pada apa yang baru saja dilihatnya..

*

*

*

*

*

*

To Be Continued~

Hohohooo.. Udah nyampe sebulan belum sih aq ga update ff ini?? ._.
Tapi hasilnya malah berasa datar” aja.. karna sebenarnya emang mood lagi kacau gegara kejadian ‘nila setitik rusak susu sebelanga’ (pake pribahasa)
gara” seseorang yg ga bertanggung jawab dan dengan teganya mengcopas salah satu tulisan qu.. hampir” membuat qu mengorbankan para pembaca setia ff ini dengan menghentikan cerita ini.. u,u

Tapi tenang, dengan support kalian aq akan berusaha menuntaskan cerita ini. Moga ga akan lama yaa.. hihihiii~
Thanks and kecupp.. :-*

@joongly

208 thoughts on “| At First Sight | 17

  1. yoona mulai cembru dengan perhatian siwon terhadap yuri ..tpi siwon jga ikut cembru sama yoona dan dokter cho ..ciee kedua duanya saling cembru .yuri sudah merasa kan kejanggalan terhadap kebohongan yoona dan siwon .ak sih berhrap biar yuri cpat tau jadi yoona enggak usah sembunyi lagi sma siwon klw mau bermesraan

  2. Wah,,,wonpa cemburu,,,,won pa ada2 aja blang di apertment yoona ada hantu nya,,,,trus yoona juga awal nya percya,,lucu bnget,,malah ampe yoona nuduh wonpa ksurupan setan apertmnt nya.

  3. Ooaalah siwon bisa aja ambil kesempatan buat cium yoona,mana yoona kebawa suasana gitu lagi, hahaha
    Tapi gimana itu si yuri,dia udah ngeliat siwon ngerangkul yoona, bakal ada perang saudara ini mah..

  4. Pasti sesek banget hati yoona,karena harus berbagi cinta dengan kakaknya alias yuri..walaupun siwon tidak menaruh perasaan pada yuri,
    Dan gimna selanjutnya nih,saat tadi siwon dan yoona pulang bersa dengan keadaan siwon yg selalu menarik pinggang yoona.
    apa kebohongan itu akan berakhir smpe dipart ini..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s