Fanfiction

YOU’re My Destiny [10]

Happy Reading~

*

*

*

*

*

*

Siwon dan Yoona lantas sama-sama mengalihkan pembicaraan mereka dengan sang dokter yang sedang melakukan pemeriksaan, untuk melihat kearah Sooyoung yang bila mendengar apa yang baru saja dikatakannya, Ia pastilah merasa marah pada Siwon.

“Saya sudah selesai melakukan
pemeriksaan. Kita bisa meneruskan pembicaraan diruangan saya nanti.
Saya permisi..”

Sang dokter mungkin menyadari akan situasi yang akan menjadi tak enak bila dirinya tetap berada disana. Untuk itu ia lebih dulu mengakhiri pemeriksaan, dan tersenyum pada Siwon dan Yoona sebelum akhirnya
keluar dari ruangan itu.

“Sooyoungie.. Dimana oemma? Kau tidak membawa Hana dan Junseo kemari?”

Yoona mengalihkan apa yang
Sooyoung katakan sebelumnya.

“aku tak bisa menahan diriku, aku
datang dengan supir.. Oemma akan menyusul bersama Changmin oppa nanti, mungkin hanya akan membawa Junseo. Hana pergi kesekolah..”

Sooyoung kembali mengarahkan
tatapannya pada Siwon..

“Jadi Oppa, apa kau akan tetap pergi ke Jepang?”

“sepertinya aku memang akan pergi Sooyoungie..”

“Apa sih sebenarnya yang akan kau lakukan? Setelah apa yang mereka lakukan padamu, pada keluarga kita..
Tak seharusnya mereka mendapatkan perhatian darimu..!”

Siwon menghela napas dan menatap kearah Yoona, namun sepertinya Yoona tak memiliki jawaban untuk semua protes yang Sooyoung ucapkan.

“Aku harus berada disana
Sooyoungie.. Biar bagaimanapun
semua orang tahu jika aku adalah putranya. Aku akan berada disana pada saat proses pemakaman dan menerima ucapan bela sungkawa”

“Kau bukan putranya, oppa.. kenyataannya mereka adalah penjahat. Tak seharusnya mereka menerima perlakuan spesial darimu!! Oh Tuhan.. Kau bahkan tak berada
pada saat appa dimakamkan dan
sekarang Kau justru akan berada pada pemakaman seseorang yang memiliki andil besar untuk menjauhkanmu dari
kami! Itu sangat tidak masuk akal
Oppa.. Apa yang membuatmu seperti ini? Aku mendengar dari Changmin Oppa bahwa kau bahkan sama sekali
tak menunjukkan kemarahanmu pada pria itu.. Kelewatan!”

Sooyoung mengambil beberapa napas panjang, terengah oleh kata-katanya sendiri.

“Demi Tuhan Sooyoungie.. Aku sangat ingin marah pada saat itu. Tapi apa yang bisa kulakukan.. Semua kemarahan yang ingin kuucapkan tertahan ditenggorokanku. Aku melihat
nya lemah, Aku tak mungkin tega
mengeluarkan amarahku didepannya yang sedang sekarat.. Kumohon
mengertilah..”

“Aku masih tak mengerti Oppa, dan mengapa kau juga harus berada pada pemakamannya di Jepang? Aku tidak
akan pernah bisa mengerti..”

“Sooyoungie..”

“Aku tak ingin Kau pergi kesana!!
Katakan sesuatu Yoona..! Oppa pasti akan mendengarkanmu jika Kau yang memintanya untuk tidak pergi.. Jangan biarkan Oppa pergi kesana Yoona, jangan.. Aku tidak mau..”

Yoona secara langsung menatap
kearah Siwon. Apa yang bisa
dikatakannya, bila nyatanya ia tak
berkeberatan bila Siwon memang akan pergi, Ia bahkan berencana untuk ikut dengannya. Sooyoung pastilah akan bertambah marah jika mengetahuinya.

“mereka sedang berduka Soo..”

“Dan kemana mereka saat kita sedang berduka?! Mereka pergi Yoona..! Mereka kabur dan menyembunyikan
Siwon Oppa hanya demi menutupi kesalahan putrinya. Dia benar-benar jahat! Sama halnya dengan putrinya..
Wanita itu, Aku tak bisa berpikir apa yang membuatnya bisa untuk kembali
melanjutkan hidup dengan
menyembunyikan dosa besar yang telah dilakukan olehnya..”

“Fanny tak tahu jika ada appa yang meninggal karna kecelakaan itu..”

Siwon mendekat, mencoba untuk merangkulnya namun Sooyoung justru menyingkirkan tangan Siwon dari tubuhnya.
Dia benar-benar merasakan marah atas sikap Siwon saat itu..

“Itu bukan menjadi alasan untuk
ketidaktauannya tentang keluargamu. Dia seharusnya bertanggung jawab
atas kesalahannya. Dia seharusnya mencaritahu latar belakangmu yang
pastinya memiliki keluarga dan
mengembalikanmu pada kami. Tidak sampai menunggu sekian lama setelah kami semua menganggapmu
mati! Jika kau tidak menemukan
kembali ingatanmu, Aku bisa pastikan selamanya mereka takkan mengembalikanmu pada kami.. Kau takkan pernah tahu jika kau masih memiliki ibu, kau punya seorang adik yang sedang mengandung dan kau
tidak akan melihat seperti apa anakku oppa.. Kau juga tidak akan pernah tahu jika kau memiliki dua anak-anak
dan meninggalkan istrimu menangis setiap malam, kau tidak tahu.. kau tidak akan pernah tahu hal itu, oppa..”

Sooyoung mengabaikan airmata yang perlahan lolos dari kedua matanya dan membiarkan Siwon untuk menyekanya.

“tenanglah.. Kau terlalu emosional Soo, Aku mengerti maksudmu.. Aku tahu apa yang kau rasakan”

“tidak.. aku merasa kau tidak mengerti Oppa..”

“Siwon, berikan ini padanya..”

Yoona mengambil segelas air dari meja disamping ranjang tidurnya dan
mengulurkannya pada Siwon.

“minumlah Soo..dan tenangkan
dirimu..”

Sooyoung mengabaikannya..

“Aku masih bisa tenang oppa, jika aku tidak sedang menguasai
ketenanganku, aku pasti sudah
mendatangi wanita itu..”

“Fanny maksudmu?”

“jangan lagi bertanya, aku tak ingin
menyebut namanya..!”

“Kau masih terdengar emosional..”

Siwon kembali menghela napas,
merasa tak tahu bagaimana cara
untuk menangani kemarahan
Sooyoung saat itu.

“Aku justru menjadi heran dengan kalian yang tak sedikitpun menunjukkan emosional.. Aku bahkan
tak merasakan jika Yoona marah..”

Tatapannya lurus dan terarah pada Yoona.

“Aku menyaksikan bagaimana Kau terpuruk, Kau seperti tak lagi ingin hidup. Kau bahkan sempat
mengabaikan Hana dan Junseo karna terus menangisi kepergian Oppa. Kau juga menjadi saksi bagaimana aku
begitu terguncang Yoona.. Aku
kehilangan appa dan Siwon oppa tepat setelah pesta pernikahanku. Aku dua
kali mengalami kehilangan janin
dirahimku.. Semua itu.. Semua
penderitaan, kesakitan dan kesedihan yang kita rasakan berawal dari wanita
itu.. Dan Aku justru tak melihatmu menunjukkan kemarahan.. Sama
sekali tidak, Yoona..”

“Sooyoung.. saat ini Aku hanya tak bisa
meledak-ledak sepertimu”

“Aku bukan meledak-ledak..! Aku
hanya tak bisa berlaku munafik. Aku tak akan berpura-pura dan menutupi apa yang kurasakan terhadap wanita
itu.. Aku marah dan aku
membencinya!”

“Ya, aku mengerti.. Hanya saja
kebahagiaan yang kurasakan karna Siwon kembali pada kita, melebihi apapun. Dan kurasa hampir menutup
kemarahanku pada apapun yang
menyebabkan kepergiannya..”

“dan bagaimana dengan kehilangan appa? Kau tidak merasakan marah
karna hal itu..? Tidak.. Kau pasti tidak marah dan kurasa aku bisa mengerti, Appa hanya seorang ayah mertua bagimu..”

“Sooyoung, bukan begitu..”

Yoona merasakan sakit atas apa yang Sooyoung katakan padanya.

“Appa bukanlah seperti paman Im ayah kandungmu, Tentu saja kau tidak akan merasakan perasaan sayang dan kecintaan
yang mendalam pada Appa, seperti yang kurasakan. Kembalinya Siwon
oppa sudahlah cukup bagimu.. Tapi tidak bagiku.. Aku tak bisa menerima kematiaan Appa yang begitu tragis karena kecerobohan wanita itu..!”

“Astaga Sooyoungie.. Apa yang kau katakan? Lihatlah.. Kau membuat Yoona menangis..”

Yoona buru-buru menyeka airmata yang tak disadarinya telah menetes membasahi wajahnya. Ia tidak ingin
Sooyoung menilainya seperti itu.
Menganggap ketidak marahannya itu
karna Ia tak menyayangi ayah
mertuanya..

“Aku tahu jika Yoona juga menyayangi appa, tapi Kau tidak akan bisa mengukur sedalam apa rasa sayang
itu. Aku tahu kemarahanmu adalah wajar.. Tapi apakah dengan marah
kau bisa mengembalikan appa pada kita? Tidak Soo.. Tidak..
Kemarahanmu hanya akan
membawamu kedalam perasaan sakit yang lebih mendalam..”

Siwon meraih bahu Sooyoung dan mengguncangnya.

“tolong dengarkan aku Sooyoungie..
Semua sudah terjadi, kemarahanmu tidak akan mengembalikan Appa, tidak
akan mengembalikan keadaan seperti semula. Cobalah untuk menerima itu..”

Sooyoung mendadak merasakan
lemas ditubuhnya, hingga Ia merasa perlu untuk merangkulkan lengannya
ditubuh Siwon agar tak terjatuh.

“Ya Tuhan.. Tidak Oppa, Aku tak bisa bersikap sepertimu.. Jika bukan karna wanita itu, kita tidak akan kehilangan appa..”

“Sooyoungie.. Kita tak pernah tahu apa yang dirasakan Fanny malam itu.
Dia dalam keadaan kacau setelah kematiaan ibunya..”

“Itu seharusnya tak membuatnya
bersikap ceroboh Oppa..”

“Ya, kau benar.. Kau harus
mengatakan hal itu bila bertemu
dengannya nanti..”

“Aku harap tidak akan bertemu
dengannya. Aku pasti akan memakinya habis-habisan jika bertemu dengannya”

“Ya Tuhan.. Dimana Changmin? Aku tidak bisa mengatasimu.. Aku harus menyerahkanmu padanya”

Sedikit meledek dan kemudian
membawa Sooyoung untuk duduk pada
sebuah sofa yang berada tak jauh dari
tempat tidur Yoona, Siwon lantas
duduk disebelahnya dan mencoba mengambil sikap untuk
menenangkannya dengan
menggenggam tangan Sooyoung.

“Bayimu mungkin sedang mengerang
didalam sana.. Kau terlihat
mengerikan bila sedang marah”

“tapi Aku bukan marah padanya.. Aku marah padamu, Oppa..”

Mengusap pada perutnya, Sooyoung
melihat ketika Yoona turun dari atas tempat tidur dan kemudian
mendekatinya.
Ia segera melepaskan genggaman tangan Siwon dan berdiri untuk
selanjutnya memeluk Yoona..

“maafkan aku.. Aku tak bermaksud mengatakan hal seperti itu tadi. Aku
hanya tak bisa menguasai diriku..
Kehamilan ini mungkin
mempengaruhiku, tapi kau harus tahu jika aku tak benar-benar ingin menyakitimu dengan kata-kata ku, Yoona maaf..”

“Aku mengerti, Kau tidak harus minta maaf padaku..”

Yoona membalas pelukannya dan merasakan Sooyoung meneteskan airmatanya.

“Tolong katakan pada Siwon oppa untuk tidak pergi. Aku tak ingin dia berada dipemakaman pria itu..”

Sementara Yoona melepaskan pelukan Sooyoung ditubuhnya, Siwon menghembuskan napasnya tak tahu
lagi apa yang bisa dikatakannya pada Sooyoung.

“Sudah cukup Oppa memberikan maaf pada mereka. Tak perlu lagi
memberikan penghormatan pada
jasad orang itu! Jangan lagi bersikap layaknya malaikat terhadap wanita itu.. Aku tidak suka..”

“Sooyoungie..”

“Setidaknya dengan ketidak
hadiranmu disana, itu akan
menghukum mereka. Dan terutama untuk wanita itu, dia sudah seharusnya menerima hukuman atas kesalahannya”

Siwon menarik tubuh Sooyoung untuk bertatapan dengannya.

“Ya Tuhan.. Apa yang harus
kukatakan?”

“Jangan mengatakan apapun Oppa.. Hanya lakukan apa yang aku katakan.
Kumohon jangan pergi..”

“Tapi Soo.. Dengarlah, Aku tak
seharusnya menghukum seperti itu. Walau bagaimanapun orang itu telah menyelamatkan nyawaku. Meski
karna putrinya aku mengalami celaka, tapi Dia mengobati dan
menyembuhkanku.. Dia tidak
menelantarkanku, dia menganggapku sebagai seorang anak dan dia memberiku kehidupan yang layak.
Jika pada saat itu dia tak membawaku pergi, aku juga mungkin tak tertolong.
Dan takkan berada disini saat ini..”

“Oppa..”

Sooyoung menatapnya ngeri setelah kalimat terakhirnya yang kemudian membuatnya kembali memeluk Siwon.

“Dia sudah pergi Soo, maka biarkan Tuhan yang menentukan apa yang pantas dia terima dengan segala
kebaikan dan termasuk
kesalahannya..”

“Lalu bagaimana dengan wanita itu? Dia bebas dan  masih bisa bernapas lega setelah
apa yang dilakukannya..”

“Fanny sudah mendapatkan
hukumannya. Cobalah kau bayangkan, Dia akan hidup dalam penyesalan dan
perasaan bersalah atas apa yang telah dilakukannya. Itu yang akan menghukumnya. Itu pasti sudah menjadi hukuman terberat yang dia terima, melebihi hukuman penjara
seperti yang kau inginkan..”

Siwon kembali melepaskan pelukan Sooyoung dan meneruskan..

“Dan dia sendirian Soo, ketahuilah dia
sudah kehilangan ibunya dan
sekarang ayahnya. Jika kau tahu
Fanny juga memperlakukanku dengan baik, dia menyayangiku layaknya seorang adik sepertimu.. Aku bisa katakan padamu apa yang dia katakan
padaku, dia mengatakan tidak akan takut menerima hukuman jika kita menuntutnya. Dia justru lebih takut jika aku membencinya.. Fanny ingin
agar aku terus menganggapnya
seperti seorang adik. Dia juga takut Yoona membencinya, dia sangat mengagumi Yoona.. Aku juga baru menyadari jika secara tidak langsung
dia lah yang membawaku untuk
mengenal Yoona kembali. Aku bisa ceritakan padamu nanti apa yang sudah dia lakukan untuk mencoba mendekatkanku dengan Yoona. Dia
gadis yang baik, Kau pasti juga tak akan tega melihatnya seperti saat ini. Fanny lebih dari sekedar terguncang, Soo..”

Sooyoung seakan mulai melunak
setelah apa yang Siwon katakan
padanya..

“Aku tak ingin menjadi bersimpati
setelah apa yang kau katakan tentang
nya Oppa.. Tapi aku menghargai jika benar selama ini dia
memperlakukanmu dengan baik..”

Sooyoung bergerak mundur dan
kembali mendudukkan tubuhnya pada sofa dan menerima uluran tangan Yoona yang memberikan segelas air
yang kemudian Ia minum.

“Aku juga mengenal Fanny, meski tak sering bertemu dengannya seperti seringnya aku bertemu denganmu,
ataupun Yuri dan Sica tapi aku bisa mengatakan jika Siwon benar, Fanny
gadis yang baik. Aku sudah
menilainya seperti itu sebelumnya..”

Sooyoung menghela napasnya
mendengar apa yang dikatakan Yoona padanya.

“Jadi kau akan membiarkan Jika
Siwon oppa pergi ke Jepang dan
menghadiri pemakaman itu..?”

“Semua terserah pada Siwon.. Aku percaya dia tahu apa yang akan dilakukannya..”

Sooyoung kembali mengarahkan
perhatiannya pada Siwon..

“Jadi kau tetap akan pergi Oppa?”

Belum sempat Siwon menjawab,
ketika sebuah panggilan telpon pada
ponsel Siwon mendahului.
Nickhun menelponnya..

“Harry ssi..”

“ada apa?”

“Kau akan ikut dengan kami kan?
Fanny terus menanyakanmu.. Dia
terlihat cemas kau tidak akan datang pada prosesi pemakaman ayahnya. Maka aku menelpon untuk memastikan.. Kuharap kau akan datang..”

masih belum bisa memberikan
jawaban pada Nickhun, Siwon
menatap pada Yoona dan Sooyoung..

“Aku akan memberitahumu nanti..”

“tapi kami sudah menyiapkan pesawat dan akan segera berangkat sekitar
satu jam lagi..”

“Jika aku tak bisa pergi bersama
kalian, Aku akan menggunakan
penerbangan berikutnya. Aku akan membawa Yoona ikut denganku..”

Sooyoung membelalak mendengarnya
dan lantas menatap Yoona dengan tanya atas apa yang Siwon katakan..

“baiklah.. Aku akan menghubuingimu
nanti..”

Menutup ponselnya, Siwon tahu jika Sooyoung akan kembali mencecarnya
dan juga Yoona..

“Sudah bisa berpikir untuk
membiarkan ku pergi..?”

Siwon mendahului untuk bertanya pada Sooyoung..

“tidak setelah Kau juga akan
membawa Yoona bersamamu.. Ya Tuhan.. Oppa kau bahkan belum mendatangi makam Appa.. Tapi Kau justru mementingkan untuk menghadiri pemakaman orang itu. Kau sungguh
keterlaluan Oppa..!”

“Aku sudah memikirkan untuk
mendatangi makam appa, Soo..
Tenanglah..”

“sekarang Oppa..! Aku ingin kau
kesana sekarang.. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum kau menemui appa..”

“Ya, tentu saja.. Aku akan kesana, semalam Aku sudah membicarakan
hal itu dengan Changmin..”

bertepatan dengan itu, pintu kamar Yoona terbuka dengan Ny.Choi yang masuk bersama Yuri dan Sica yang menggendong Junseo, serta Changmin
dan Yunho dibelakangnya.

“umma..umma..”

menggeliat turun dari gendongan Sica, Jun berlari kearah Yoona yang sudah tersenyum merentangkan kedua
tangan untuk menyambutnya.

“aigoo.. Anak umma.. Tidur dengan baik semalam..?”

Junseo mengangguk..

“anak pintar..”

Yoona lantas menciuminya..

“dengan siapa Jun tidur?”

“aunty..”

“aunty?”

Junseo menunjuk pada Sooyoung yang
berada disebelah Yoona..

“aunty cantik..umma..”

dan Junseo tersenyum malu-malu mengalungkan kedua tangannya memeluk pada leher Yoona.

“Baguslah.. Hana menularkan cara memanggilku dengan sangat baik pada Junseo. Dia hanya belum berhasil mengubah Jun untuk berhenti
memanggilmu ‘umma’ dan
menggantinya dengan ‘mommy’

Sooyoung terlihat gemas saat
kemudian mencubit pipi Junseo..

Terlalu asik dengan Junseo sedikit membuat Yoona tak memperhatikan
bagaimana Yuri dan Sica yang sedang berbicara dengan Siwon.

Mereka sudah mendengar cerita
mengenai Siwon sebelumnya tapi seakan masih tak menyangka jika pria
itu benar-benar adalah Siwon yang selama ini mereka kenal..

“Ya Tuhan.. Oppa, Aku masih tak
percaya ini.. ”

“bagaimana kabarmu Yuri ah..?
Senang mengetahui kau masih terus menemani Yoona..”

Yuri memberikan pelukan..

“baik Oppa.. Dan aku sudah
menikah..”

tersenyum saat melepaskan pelukan Siwon, Yuri menunjukkan cincin dijari
manisnya dan kemudian Yunho
mendekat kesampingnya..

“dan perkenalkan, aku lah
suaminya..”

Yunho menepuk bahunya..

“Tuhan.. Hyung, Aku tak menyangka jika kalian akhirnya menikah.. Selamat untuk kalian..”

menggeser posisi Yuri, Sica
bergantian menyapa Siwon. Ia bahkan terlihat berkaca-kaca dalam kebahagiaan..

“Senang melihatmu kembali Oppa.. Tuhan tahu bagaimana aku turut merasakan sakit melihat kondisi Yoona saat kau pergi..”

“Terimakasih untuk selalu
bersamanya.. Aku senang dia
memiliki teman sepertimu disisinya..”

Sica juga memberikan pelukan yang disambut hangat oleh Siwon, yang tak disadari oleh mereka jika Yoona mulai
memperhatikan keduanya..

“berapa lama kau akan memeluk
suamiku, Sica..??”

Oh…

Melepas pelukannya pada Siwon, Sica memutar tubuhnya menghadap pada Yoona dan melihatnya yang sedikit memberengut pada nya.

Ia sudah cukup lama mengenal dan bersahabat dengan Yoona, dan tahu jika pada saat itu Yoona tidak sedang serius dengan apa yang dikatakannya. Maka untuk meladeni nya, terlintas ide jahil Sica yang justru menarik lengan Siwon dan merangkulnya.

“Ada apa Yoona.. Kau tidak senang aku berdekatan dengan suamimu?”

Siwon menahan geli menyadari jika Yoona mungkin sedang mencemburui sahabatnya sendiri dan Sica yang justru memanasinya.

“Kau datang kesini untuk menjengukku kan? Aku yang sedang sakit, kenapa perhatiaanmu justru terarah pada suamiku dan bukan padaku..”

Sica mencibirnya..

“Oh ya.. Kau sakit? Tapi kau terlihat baik-baik saja..”

Menurunkan Junseo dari pangkuannya, Yoona membiarkan putra kecilnya yang langsung berlarian kearah Siwon.
Jun yang lantas menarik-narik salah satu tangan Siwon yang tak berada dalam rangkulan Sica untuk meminta perhatian..

“daddy..daddy..”

“Uh! Apa kau sedang menggunakan Junseo untuk menjauhkan suamimu dariku..”

Sica yang berganti memasang wajah memberengut ketika melepas rangkulannya pada lengan Siwon, yang kemudian digunakan Siwon untuk meraih Jun kedalam gendongannya.

“Uh! Kurasa Jun menyadari seseorang sedang mengancam posisi umma nya saat ini..”

Membuat beberapa orang yang berada didalam kamar rawatnya menggeleng-gelengkan kepala heran namun juga tersenyum oleh apa yang dikatakannya, Yoona terkikik saat kemudian berdiri dari duduknya dan membuka kedua tangan untuk Sica yang mendekat dan memberi pelukan ditubuhnya.

“Oh Tuhan.. Aku melihatnya. Aku sangat bersyukur bisa kembali melihat binar-binar kebahagiaan yang telah lama menghilang dari matamu, Yoona..”

“Tuhan memberi kami keajaiban..”

“Ya.. Sungguh keajaiban melihat Siwon oppa kembali. Aku ikut merasakan bahagia yang kau rasakan sekarang..”

“terimakasih Sica, Kau telah menjadi sahabat yang selalu ada untukku dalam kondisi apapun..”

melepaskan pelukannya dan saling tersenyum, keduanya lantas mengalihkan perhatian mereka pada Sooyoung yang berdiri dari duduknya dan mulai berbicara..

“Baiklah.. Kalian sudah bertemu dengan Siwon oppa, maka sekarang aku akan membawanya untuk bertemu dengan Appa..”

Mendengarnya, Changmin mendekat pada Sooyoung dan merangkulkan lengannya.

“Aku yang akan mengantar Siwon, Chagi.. Kau tidak perlu ikut”

“anio.. Aku juga ingin mengunjungi appa. Dan sekaligus memastikan jika Siwon oppa lebih dulu berada dimakam appa daripada menghadiri pemakaman orang itu. Aku masih berkeinginan kuat agar Siwon oppa tak usah berada disana”

Siwon hanya menghela napasnya tak ingin menanggapi apa yang diucapkan Sooyoung dan membuatnya kembali emosional.

Ia lebih memilih untuk mendekat pada Yoona dengan Junseo yang masih berada dalam gendongannya.

“Aku akan pergi ke makam appa, tetaplah disini dan beristirahat..”

Yoona mengambil alih Junseo dari dalam gendongan Siwon..

“Apa tidak sebaiknya aku ikut dengan kalian?”

Siwon menggeleng menandakan ketidak setujuannya atas usulan Yoona.

“tidak.. Tetaplah disini. Masih ada waktu untukmu beristirahat”

Siwon mengecup keningnya..

“tapi Aku sudah baik-baik saja”

“Kau juga dengar kan, dokter tidak menyarankan untukmu melakukan perjalanan ke Jepang, sayang.. Aku hanya memastikan Kau mendapatkan istirahat yang cukup sebelum aku membawamu pergi denganku”

“tapi dokter tidak sepenuhnya melarang.. Dia mengatakan aku lebih tahu dengan kondisi tubuhku”

“Iya aku tahu.. Tapi aku ingin Kau menggunakan beberapa waktu yang kau miliki untuk beristirahat sementara aku pergi kemakam Appa. Aku akan menjemputmu nanti..”

Yoona akhirnya mengangguk menyetujui..

“Apa maksudnya Yoona akan pergi denganmu, Siwonie..? Kau akan membawanya ke Jepang?”

Ny.Choi mendekat pada keduanya..

“Ya, Yoona akan ikut denganku ke Jepang, oemma”

“Kau yakin? Yoona ya, kau masih sakit sayang..”

“Aku tidak apa-apa oemma..”

Ny.Choi kemudian menempatkan punggung tangannya didahi Yoona, mencoba untuk memastikan suhu tubuhnya saat itu..

“Kau masih sedikit demam Yoona, tidak..sebaiknya kau jangan pergi..”

“Aku akan baik-baik saja selama Siwon bersamaku..”

Yoona tersenyum meyakinkan..

“Aku mungkin akan semakin merepotkan oemma untuk menjaga Hana dan Junseo selama aku pergi..”

“itu bukan menjadi masalah. Setiap hari oemma sudah bersama mereka.. Hana dan Jun akan baik-baik saja dengan oemma. Lagipula masih ada Sooyoung dan Changmin yang akan membantu oemma menjaga mereka..”

“Aku juga bisa menjaga mereka..”

Yuri dan Sica sama-sama tertawa setelah mengatakan kalimat yang sama dan diwaktu yang bersamaan.

“gomawoyo..”

Yoona tersenyum berterimakasih dan kembali mengalihkan perhatiannya pada Ny.Choi yang meraih tangannya.

“Oemma justru mengkhawatirkanmu sayang.. Bagaimana jika dalam perjalanan nanti demammu kembali tinggi. Siapa yang akan menolongmu?”

“ada Siwon, oemma tenanglah..”

“tapi Siwon bukan dokter, apa yang bisa dilakukannya?”

“Aku bisa melakukan apapun untuk istriku, oemma..”

Siwon tersenyum merangkul Yoona, namun
Ny.Choi masih terlihat jelas meragukan..

“Aku setuju dengan oemma. Kau tidak usah ikut Yoona.. Justru lebih baik jika kalian tidak berada disana. Siwon oppa baru kembali, akan lebih baik jika kita menikmati waktu bersama untuk menggantikan dua tahun yang hilang karna perbuatan mereka. Bukan justru…”

“saat ini Aku tak ingin lagi beradu argumen denganmu Sooyoungie..”

Siwon memotong ucapannya, membuat raut kekesalan diwajah Sooyoung kembali terlihat..

“Sebaiknya kita pergi mengunjungi appa sekarang.. Oemma ikut dengan kami?”

Ny.Choi mengangguk mengiyakan, dan Siwon lantas kembali bertatapan dengan Yoona.

“beristirahatlah saat aku pergi.. Aku akan siapkan semuanya sebelum kita pergi”

Kembali memberikan kecupan dikeningnya, Siwon juga terlebih dulu mencium Junseo.

“Daddy pergi sebentar, Ok!”

Junseo langsung menggeliat dari gendogan Yoona..

“daddy..daddy..ikut..”

“Jun ah, disini bersama umma, arra..”

Yoona mencoba menenangkan kegelisahan Junseo saat itu.

“daddy..daddy..”

“Bisakah aku membawa Jun denganku..?”

tanya Siwon yang sepertinya tak akan tega melihat Junseo yang berkeinginan untuk ikut bersamanya.

“tidak usah.. Jun tak pernah betah berada disana. Terakhir kali aku mengajaknya, dia terus merengek dan menangis meminta pulang. Pergilah bersama oemma, aku bisa mengatasi Jun..”

“baiklah..”

Siwon lantas merangkul Ny.Choi setelah terlebih dulu berpamitan pada Yunho yang juga mengatakan tak bisa berlama-lama dan akan segera pergi untuk mengurus pekerjaan, namun akan meninggalkan Yuri disana untuk menemani Yoona.

Ketika kemudian melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam kamar rawat Yoona, bersama dengan Ny.Choi dan diikuti oleh Sooyoung dan Changmin, Siwon masih mendengar Junseo yang memanggil-manggilnya dan membuatnya kembali menoleh..

“daddy..umma, umma.. Jun ikut..daddy..”

“stt.. Daddy tidak akan lama sayang..”

“daddy..daddy..”

“Kau yakin tidak apa-apa dan bisa mengatasi Jun?”

Yoona tersenyum pada Siwon yang berbicara padanya dan terlihat meragukannya..

“Aku sudah biasa menghadapi rengekan Jun.. Pergilah, Jun akan segera tenang setelah tak lagi melihatmu..”

Siwon balas tersenyum dan melambaikan tangan pada Junseo sebelum menutup pintu dibelakangnya.

Karna hal itu yang kemudian membuat Junseo histeris dan menangis, tidak seperti apa yang dikatakan Yoona pada Siwon tadi, jika Jun akan lebih tenang setelah kepergian Siwon.

“daddy..umma..daddy..!”

“Astaga.. Jun ah, daddy tidak akan lama sayang..”

Junseo terus menggerakkan tubuh kecilnya dalam gendongan Yoona, hingga kemudian Yoona harus menurunkannya. Ternyata tak seperti biasanya, Ia memang masih merasakan lemas pada tubuhnya hingga hanya untuk menahan tubuh kecil Junseo agar tetap berada dalam gendongannya saja, rasanya cukup sulit..

“umma.. Ayo pergi.. Ayo ikut daddy..”

Junseo mulai menarik-narik tangan Yoona agar mau menurutinya..

Beruntung masih ada Jessica dan Yuri disana dan menyadari ketidakmampuan Yoona saat itu untuk menuruti keinginan Junseo.

Maka Sica yang kemudian mengulurkan tangannya pada Jun dan mengatakan pada bocah kecil itu bahwa dirinya bisa membawa Jun untuk menyusul sang daddy.
Hingga kemudian Jun mau untuk ikut dengannya.
Jessica yang kemudian membawa Junseo keluar dari dalam kamar Yoona, dan entah akan mengajaknya bermain dimana. Yang jelas Yoona merasakan lega setelah Sica bisa membantunya untuk mengatasi Junseo.

Ia sudah berniat untuk kembali naik keatas tempat tidurnya dan memanfaatkan waktunya untuk beristirahat, namun kerutan didahi Yuri dan tatapannya yang terasa aneh membuat Yoona tertarik untuk mendekatinya.

“Apa yang sedang kau perhatikan?”

“euh..?”

Yuri baru menyadari jika Yoona sekarang sudah berada disampingnya.

“Kau terlihat aneh..”

“Aku hanya sedang mengamati tingkah Junseo..”

“Junseo?”

“hm..”

Hanya menyertai anggukan kepala namun Yuri tak meneruskan maksudnya dan justru menarik Yoona untuk kembali keatas tempat tidurnya.

“beristirahatlah.. Siwon oppa memintamu untuk melakukannya kan..”

Yuri tersenyum mengingatkan..

“Kau belum menjawab pertanyaanku tadi..”

“pertanyaan apa?”

“Junseo.. Apa maksudnya dengan mengamati Junseo ku?”

“Owh, itu..”

Yuri kembali tersenyum..

“Aku hanya sedang mempelajari bagaimana tingkah polah seorang anak kecil. Aku tak ingin merasa terkejut nanti.. Ketika mengalami itu aku akan memastikan jika diriku sudah siap dan bisa untuk mengatasinya”

“Oh My.. Apa itu berarti..”

dan Yoona baru menyadari jika selain terus menunjukkan senyumnya, Yuri juga terus memegangi perutnya. Meski belum terlihat namun sudah tersirat dengan jelas apa yang membuat Yuri melakukan hal itu.

“jadi?”

“well.. Aku hamil, Yoong..”

Yuri benar-benar tak bisa menutupi semburat kebahagiaan diwajahnya.

“pemeriksaan dokter waktu itu yang sempat kukatakan padamu, menyatakan jika aku sudah dua bulan mengandung. Dan dalam tujuh bulan kedepan aku akan memiliki bayi pertamaku..”

“Oh Tuhan.. Itu akan menyenangkan sekali, selamat untukmu..”

Yoona langsung memberinya pelukan..

“Mengapa baru mengatakannya padaku.. Sica dan Sooyoung sudah tahu?”

“tentu saja sudah.. Yunho oppa yang langsung mengatakan tentang kehamilanku pada Changmin dan otomatis Sooyoung juga langsung tahu. Sica yang lebih dulu bertanya tentang hasilnya, maka aku langsung mengatakannya. Mengapa aku belum mengatakannya padamu, itu karna aku belum memiliki saat yang tepat untuk menyampaikan kebahagiaanku padamu. Hari-hari itu aku melihatmu menyimpan banyak rasa dan pemikiran yang tidak kau utarakan pada kami.. Jadi aku menghargaimu dengan mencoba menahan untuk tidak mengatakannya”

Tak heran jika Yuri mengetahuinya, Ia memang sudah lama mengenalnya.

“dan belakangan pada malam itu baru aku dan Sica menyadari alasan apa yang sebenarnya membuatmu seperti itu. Kau rupanya kembali jatuh cinta, dan itu pada Harry.. Suamimu sendiri”

Yoona tersipu dan merasakan wajahnya memanas. Pastilah sekarang sudah memerah, menahan malu mendengar nada meledek yang diucapkan oleh Yuri kepadanya.

“Kau seharusnya tidak melakukannya.. Kau tahu aku akan ikut berbahagia jika mengetahuinya, seperti saat ini..”

“Aku tak ingin membagi kebahagiaan diatas kegundahanmu..”

Seringaian diwajah Yuri tak ditanggapi oleh Yoona, Ia justru menarik selimut dibawah kakinya untuk menutupi tubuhnya dan bersiap untuk beristirahat.

“Aku akan tidur.. Kau akan tetap disini kan?”

“hm, kurasa begitu..”

“terimakasih.. Bangunkan aku jika Siwon datang..”

Yuri mengangguk dan lantas membiarkan Yoona memejamkan mata.

***

Setelah menempuh lebih dari tiga puluh menit dalam perjalanan menuju area pemakaman, akhirnya mobil yang dikendarai Changmin bersama dengan Sooyoung dan sebuah mobil lagi yang dikendarai seorang supir yang membawa Siwon dan Ny.Choi didalamnya, perlahan menghentikan lajunya disekitar tempat pemakaman.

Siwon keluar lebih dulu dan membantu sang Oemma untuk turun setelahnya. Merangkulnya, Siwon lantas membawa Ny.Choi untuk menghampiri Changmin dan Sooyoung yang juga baru keluar dari dalam mobilnya.

Setelah terlebih dulu menyempatkan untuk membeli buket bunga, mereka kemudian mulai berjalan masuk.

Siwon merasakan kesedihan yang menyeruak didalam hatinya ketika kakinya mulai melangkah memasuki area pemakaman itu. Ia merangkul sang oemma dengan erat.
Ny.Choi yang menyadari apa yang saat itu dirasakan oleh Siwon, kemudian meraih tangannya dan menggenggamnya.

“maafkan Aku oemma, selama ini aku tak bersamamu..”

Ny.Choi mengangguk dan hanya mengeratkan genggaman tangannya sebagai respon. Ia tak dapat berkata-kata, atau memang sengaja untuk tak membuka suara karna bila ia melakukannya sudah pasti airmata yang akan lebih dulu bersuara lewat isakannya.

Mengingat kembali hari-hari sulit yang dilaluinya setelah sang suami pergi dengan begitu tragis dan beranggapan jika Siwon putranya juga bernasib sama, sungguh telah menghancurkan hatinya.

“Oppa.. Siapa dia?”

Mendadak Sooyoung menghentikan langkahnya ketika melihat keberadaan seorang wanita disekitar makam ayahnya yang tak berada jauh dari mereka.
Wanita itu sedang berlutut diantara makam ayahnya dan juga makam seorang yang tadinya mereka anggap sebagai Siwon.

“Siapa wanita itu..?”

Ny.Choi juga ikut menanyakan hal yang sama. Pertanyaan yang juga Ia tujukan pada Changmin tentunya..

“Nanti dia akan menjelaskannya pada kita.. Ayo..”

Changmin kembali merangkul Sooyoung dan mereka kemudian meneruskan langkah mendekat pada makam Tn.Choi.
Ketika telah mendekat, mereka bisa melihat ada buket bunga yang terlihat baru diatas masing-masing gundukan tanah itu dan juga suara isakan tangis dari sang wanita.

“Sudah lama berada disini?”

Wanita itu tak cukup terkejut dengan pertanyaan yang diucapkan Changmin.
Ia lantas menyeka airmata diwajahnya sebelum kemudian berdiri dan membungkuk pada semuanya.

Rupanya Changmin yang telah mengatur nya. Wanita itu adalah wanita yang menjadi istri dimana jasad sang suami terkubur dan diatas namakan Siwon.

Changmin sengaja meminta wanita itu untuk datang dan menjelaskan sekaligus meminta maaf pada keluarganya. Andai wanita itu tak ikut menutupi kebenarannya dan mengatakan siapa yang sebenarnya mereka kuburkan saat itu, pastilah kesedihan panjang akan kehilangan Siwon tak akan sedemikian sakit mereka rasakan pada saat itu.

“Maafkan saya.. Maafkan saya Ny.. Tuan.. Saya mohon maafkan saya.. Saya juga terpaksa melakukan ini..”

Kemudian mengalirlah alasan dari bibir wanita itu mengapa Ia merelakan jasad sang suami diatas namakan orang lain. Hingga ia harus bersembunyi-sembunyi tiap kali ingin mengunjungi makamnya.

Semua karna putranya, satu-satunya peninggalan sang suami yang sudah selayaknya Ia jaga. Suaminya adalah penopang kehidupannya serta anak semata wayangnya.
Dan setelah mengetahui suaminya meninggal, praktis yang terbayang adalah ketiadaan seseorang yang akan mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan mereka. Maka Ia menerima saja ketika seorang rekan kerja suaminya mengabarkan kematian sang suami dan sekaligus memintanya untuk menutup rapat-rapat mulutnya agar tidak mengatakan pada siapapun mengenai hal itu. Dan dengan itu Ia akan mendapatkan imbalan yang pantas sebagai gantinya.

Tn.Hwang sebagai majikan dimana sang suami bekerja sebagai salah seorang pengawalnya berjanji akan menanggung dan menjamin kehidupannya juga putranya dengan layak. Dan dia memang melakukannya, membiayai hidupnya dan menyekolahkan anaknya.

“saya mendengar jika suami saya berniat untuk menyelamatkan seseorang yang berada didalam mobil itu.. Tapi dia justru terjebak didalamnya dan ikut terbakar”

Wanita itu kembali menyeka airmatanya..

“saat mengetahui suami saya meninggal, yang pertama terpikir adalah bagaimana dengan nasib putra saya.. Saya tidak menginginkan dia mengalami kesusahan hidup. Maka saya menerima untuk merahasiakan ini.. Mohon maafkan saya..”

Wanita itu kembali melanjutkan, dengan mengatakan bahwa Tn.Hwang selalu menitipkan permintaan maafnya dan agar dirinya menyampaikannya pada jasad Tn.Choi yang telah terkubur, dan berpesan agar dirinya tak lupa untuk membawakan bunga tiap kali mendatangi makam suaminya.

“Saya merasakan jika Tn.Hwang juga merasa bersalah atas kecelakaan itu”

“sedikitpun aku tak akan bersimpati untuk apa yang dilakukannya dengan menitipkan permintaan maafnya dan menyuruhmu untuk selalu membawakan bunga. Jika dia menyesalinya, sudah seharusnya dia membawa putrinya untuk meminta maaf pada ayahku dan kami semua..”

Sooyoung kembali bereaksi keras..

“Dia hanya takut akan apa yang nantinya akan diterima oleh putrinya, karna itu dia ingin melindunginya..”

“putrinya yang bersalah itu memang sudah seharusnya dihukum..! Dan bukan untuk dilindungi..”

Changmin meremas bahu Sooyoung sebagai isarat untuk memintanya tenang..

Wanita itu juga lantas menunduk saat melihat kemarahan dimata Sooyoung..

“Kau seorang ibu.. Sudah pasti Kau juga tahu bagaimana perasaanku. Bagaimana denganku yang selama ini mengira jika putraku mati.. Tidakkah sedikitpun kau memikirkan itu?”

Untuk pertama kalinya setelah wanita itu mengatakan alasannya, Ny.Choi bersuara..

“maafkan saya Ny.. Saya sungguh-sungguh minta maaf..”

Siwon mengusap lengan Ny.Choi menenangkannya saat melihat airmata telah lolos membasahi wajahnya..

“Kalian benar-benar egois dengan hanya mementingkan anak dan kehidupan kalian sendiri.. Bagaimana dengan keluargaku yang menjadi korban? Kalian telah menghancurkan kebahagiaan kami..”

Siwon merangkulnya dan membiarkan sang oemma menangis dalam pelukannya..

“Sudah oemma, sudah.. Wanita itu tidak harus dipersalahkan. Dia juga mengalami kesakitan karna kehilangan suaminya.. Dia hanya terdesak untuk memikirkan kelanjutan hidup putranya..”

“dan bagaimana denganmu Siwon.. Semua orang menganggapmu mati, tapi ternyata mereka menyembunyikanmu.. Oemma tak bisa menerima itu..”

“Sekarang Aku disini oemma. Aku tidak akan lagi meninggalkan kalian..”

“Tapi appa mu Siwon.. Bagaimana dengan appa mu? Dia pergi.. Dia benar-benar pergi meninggalkan kita..”

Siwon mengeratkan pelukannya, dan berusaha untuk menyerap tangis kesedihan oemma nya..

“Ini musibah oemma.. Tuhan sudah mengaturnya. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain menerimanya..”

Ny.Choi tersedu, namun setidaknya berpeluk dengan putranya bisa untuk menenangkannya dan berpikir jika Siwon benar dengan apa yang dikatakannya.
Tak ada lagi yang bisa dilakukan selain menerima apa yang telah Tuhan takdirkan.

“Sekarang biarkan Aku untuk melakukan salam dan penghormatan pada Appa..”

***

Baru pada hampir dua jam setelahnya berada dipemakaman, Siwon kembali kerumah sakit.
Sooyoung yang berlama-lama berusaha untuk menahannya. Gadis itu benar-benar masih tak menginginkannya untuk pergi.
Hingga pada akhirnya Siwon tak bisa untuk ikut dengan pesawat yang membawa jasad Tn.Hwang bersama dengan Fanny dan Nickhun. Maka Ia kemudian menghubungi Nickhun dan mengatakan akan menggunakan penerbangan selanjutnya dan seperti yang sudah dikatakannya, Ia akan membawa serta Yoona bersamanya. Untuk itu Ia kembali kerumah sakit dan menjemput Yoona disana.

“Sayang..”

Setelah menggunakan beberapa menit yang lain untuk menemui dokter dan mengurus administrasi, Siwon melangkah masuk kedalam kamar Yoona dan melihatnya yang masih tertidur.

“Yeobo.. Irona, kita harus pergi sekarang.. Kau masih ingin ikut pergi denganku kan?”

Siwon menjalankan jemarinya pada wajah Yoona, juga mengusap rambutnya. Dan dengan itu perlahan Yoona mengerjapkan matanya.

“Siwon..”

“hm.. Bangunlah..”

Siwon mengecup keningnya..

“Kita akan segera berangkat..”

Yoona bergerak bangun dan memposisikan tubuhnya untuk duduk, masih diatas tempat tidur dan mengarahkan pandangan kesekeliling kamarnya. Ia ingat jika tadi Yuri masih berada didalamnya sebelum Ia tertidur dan juga Sica yang membawa Junseo untuk menenangkannya.

“dimana Junseo?”

“Baru saja sebelum aku membangunkanmu, aku meminta Sica untuk membawanya pulang. Jun sedang tertidur dan Yuri menemani Sica, dia yang mengendarai mobil.. Kau sudah lebih baik?”

menempatkan punggung tangannya pada kening Yoona, Siwon mencoba mencari tahu bagaimana dengan demamnya..

“Aku sudah merasa lebih baik. Jangan khawatir..”

Yoona memberinya senyum ketika Siwon bergerak mengambil paper bag yang sebelumnya Ia letakkan diatas meja, dan kemudian menyerahkannya pada Yoona.

“Pakailah.. Kau bisa mengganti pakaianmu dengan ini? Kita akan segera pergi..”

Yoona mengamati isi dalam paper bag ditangannya. Dan berganti menatap Siwon, yang baru disadarinya jika Dia juga sudah mengganti pakaiannya..

“Ini baru? Darimana kau mendapatkannya?”

“Aku perlu mengganti pakaianku.. Dan ada sebuah toko pakaian yang kulihat saat menuju kemari, jadi aku berhenti disana. Dan terpikir jika kau juga perlu mengganti pakaianmu, maka aku memutuskan untuk berhenti sebentar dan membelinya..”

“bukankah kita akan pulang dulu kerumah? Aku bisa mengganti pakaianku disana..”

Siwon menggeleng..

“Tapi aku juga perlu bersiap terlebih dulu..”

“Tidak akan cukup waktu.. Kita akan langsung ke bandara. Aku sudah meminta oemma untuk menyiapkan pakaian dan keperluanmu yang lain untuk dibawa. Kita bertemu dengan oemma dibandara nanti..”

“Oh, begitukah?”

“hm..”

Yoona lantas mengeluarkan isi dari dalam paper bag yang berada ditangannya, dan tersipu ketika menemukan setelan pakaian lengkap dengan pakaian dalamnya.

Oh..

“Kau masih memakai ukuran yang sama kan?”

apa yang ditanyakan Siwon telah memerahkan wajah Yoona, membuatnya hanya bisa mengangguk mengiyakan..

“Ya, Aku juga melihatnya seperti itu..”

Dengan kalimat itu, Siwon menerima pukulan dari Yoona pada lengannya yang kemudian justru membuatnya tergelak..

“Sedikitpun aku tak melihat Kau berubah sayang.. Sebaliknya, tubuhmu indah dan Kau semakin cantik..”

“jangan membuatku malu..”

“Kau tidak akan malu pada suamimu sendiri kan..”

Merunduk pada Yoona yang masih terduduk diatas tempat tidur, Siwon meraih dagunya untuk membuat keduanya saling bertatapan dan kemudian memberikan kecupan dibibirnya.

“Kau bisa bersiap sekarang..”

“baiklah.. Aku akan menukar pakaianku dengan ini. Tunggulah sebentar..”

Yoona bergerak turun dari atas tempat tidur dengan Siwon yang memegangi lengannya..

“Kau tidak akan memerlukan bantuanku?”

“kurasa tidak..”

“Oh, kurasa tadi aku membelikanmu setelan dengan resleting dibagian punggungnya. Buatlah dirimu kesusahan untuk menariknya, Aku berada disini dan siap untuk membantumu lagi..”

Seringainya telah menciptakan kembali semburat kemerahan diwajah Yoona. ketika teringat saat Siwon pernah membantu memakai gaunnya. dan sedetik kemudian berhasil memunculkan kupu-kupu yang seakan sedang beterbangan didalam hatinya.

Astaga..

Akan berapa kali lagi pria itu menggodanya?

Ah, tapi..
Ia memang sungguh merindukannya..

***

Meninggalkan rumah sakit dengan seorang supir yang kemudian mengantar mereka menuju bandara, Siwon tak pernah melepaskan rangkulannya ditubuh Yoona. Menopangnya yang masih terlihat lemah agar tak terjatuh, hingga sampai memasuki area bandara dan melihat Ny.Choi dan Sooyoung beserta Changmin yang ternyata sudah lebih dulu sampai disana dengan membawakan sebuah koper milik Yoona.

“Oemma..”

“Yoona ya..”

Yoona menghampiri dan memberi pelukan..

“Pakailah ini.. Kau tidak boleh kedinginan. Oemma juga sudah menyiapkan beberapa pakaianmu untuk disana”

Ny.Choi memberikan pakaian hangat yang berada ditangannya, dan membantu memakaikan nya ketubuh Yoona..

“terimakasih oemma..”

“Kalian tidak akan lama kan?”

Sooyoung menyela dengan pertanyaannya, yang kemudian membuat Yoona memberikan pandangan pada Siwon agar menjawabnya..

“Tidak.. Kami akan pulang setelah prosesi pemakaman selesai”

“baguslah.. Kalian tak perlu berlama-lama, cepatlah kembali!”

Siwon menghela napasnya dan tidak menanggapi. Ia lebih memilih untuk mendekat pada Sooyoung, memberinya pelukan dan sekaligus berpamitan.

“Aku akan secepatnya pulang.. Tolong jaga Hana dan Junseo untukku. Jangan jadi pemarah.. Perhatikan kehamilanmu..”

melepas pelukannya, Sooyoung memberengut saat mendengarnya, namun masih mengangguk mengiyakan.

“Berhati-hati lah Oppa ..  Jangan biarkan wanita itu menahanmu disana dan tak membiarkanmu kembali pada kami..”

“Fanny tidak akan melakukan itu..”

“itu mungkin saja, Aku tidak tahu.. Aku tidak mengenalnya”

Siwon hanya bisa menggeleng heran dan bingung untuk menghadapi kekeras kepalaan Sooyoung yang masih belum berhenti. Ia kemudian beralih untuk berbicara dengan Changmin.

Sementara Yoona berada didekat Ny.Choi, berbicara dengan sang ibu mertua untuk menitipkan Hana dan Junseo padanya selama dirinya pergi bersama Siwon..

“Seperti yang oemma katakan.. Oemma justru lebih mengkhawatirkanmu. Tak ada masalah dengan Hana dan Jun, mereka akan baik-baik saja bersama Oemma.. Kau seperti belum pernah saja meninggalkan mereka bepergian”

“Ini hanya terasa lain saat Aku bahkan tak mengatakan sesuatu dan berpamitan pada Hana..”

“Hana mungkin akan memprotes, tapi dia akan mengerti.. Oemma akan menjelaskannya”

Yoona kembali memberinya pelukan..

“Oh, trimakasih oemma.. Aku menyayangimu..”

“Oemma juga menyayangimu sayang.. Kembalilah dalam keadaan baik bersama Siwon. Oemma akan menunggu kalian..”

Siwon mendekat untuk berganti memeluk Ny.Choi dan berpamitan padanya. Setelahnya Ia kembali merangkulkan lengannya dipinggang Yoona..

“Ayo sayang.. Kita akan segera pergi. Kita harus berada didalam pesawat sekarang..”

Melambaikan tangan dan tersenyum, keduanya lantas melangkah meninggalkan mereka untuk selanjutnya masuk kedalam pesawat yang akan membawanya sampai ke Jepang.

“Apa kau memberitahu Fanny jika aku ikut denganmu?”

“Tidak.. Aku hanya memberitahu Nickhun, dan dia tidak akan mengatakannya. Kehadiranmu akan menjadi kejutan untuknya..”

*

*

*

*

*

*

To Be Continued~

@joongly

151 thoughts on “YOU’re My Destiny [10]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s