Fanfiction

| At First Sight | 16

Happy Reading~

*

*

*

*

*

Apa yang kemudian bisa dilakukan oleh Yoona ketika melihat Siwon telah berdiri disana, berada tak jauh darinya dengan sebelah tangannya yang menempatkan ponsel menempel ditelinga, dan tatapannya yang mengarah padanya.

Ya Tuhan..
Ia tak lagi bisa berbuat apa-apa.
Yoona hanya terbengong.
Mengagumi keindahan raga dari sosok pria yang kini dalam langkah menghampirinya.

Jantungnya seakan terlonjak..
Yoona mendadak merasakan gugup. Kekesalannya yang entah oleh sebab apa terhadap Siwon, padahal nyata-nyata pria itu mengirimkan pesan kerinduan terhadapnya, kini menghilang tanpa jejak.
Pria itu mempesonanya dengan tampilan sempurna yang dimilikinya..

“Hei..”

Siwon seakan tak perduli dengan keterpakuan Yoona pada saat itu. Ia dengan santai menarik bagian pinggangnya merapat pada dirinya sebelum kemudian mendaratkan kecupan pada pipinya.

“Ada masalah denganmu pagi ini?”

Yoona mengerjap, ketika kemudian merasakan Siwon menggunakan jemari besarnya untuk menyentuh pada pipinya.

“Euh, Aku.. Aku sudah katakan tidak perlu datang..”

Yoona bergerak risih, menyingkirkan lengan Siwon yang melingkari pinggangnya. Ia lantas mengarahkan pandangan matanya kesekeliling, dan dapat memastikan pada saat itu Amber melihatnya. Mungkin bukan hanya Amber saja yang melihat apa yang dilakukan Siwon terhadapnya..

“Tapi kenapa?”

Yoona kembali mengarahkan pandangannya pada Siwon begitu mendengar pertanyaannya.

“Tidak perlu ya tidak perlu..”

Yoona beralih, merasa tak mampu melawan tatapan mata Siwon saat itu.

“Jadi kau tidak punya alasan mengapa aku tidak perlu datang?”

“Aku punya..”

“Apa? Katakan padaku..”

“Aku sudah mengatakannya melalui pesan yang kukirim tadi..”

Yoona menyempatkan diri untuk menyesap teh pemberian Amber tadi. Sebagai pengalihan, pengalihan rasa gugup yang masih terus dirasakannya sampai saat itu.

“Aku tak dapat menerima alasanmu..”

Siwon mengambil alih cangkir teh dari Yoona, dan kemudian menyesap untuk dirinya, menjadikan Yoona mendengus kearahnya.

“Yuri oenni baik-baik saja, kupikir aku tak ingin merepotkanmu..”

Ucap Yoona kemudian..

“Begitukah?”

Yoona mengangguk..
Meski tidak seperti itu yang sebenarnya menjadi alasannya. Ia sedang merasa sedikit kesal..

“Aku senang mendengar Yuri baik-baik saja. Tapi yang kulihat justru kau yang nampak tidak baik-baik saja, Yoona.. Mungkin kau butuh sebuah pelukan..”

Yoona hanya sempat sesaat memutar mata dan tak dapat bereaksi lebih karna Siwon benar-benar memeluknya.

“Sajangnim..”

Yoona berusaha melepaskan, namun Siwon justru semakin mendekapnya erat.

“Bagaimana sekarang? Merasa lebih baik..?”

“Aku kesulitan bernapas..”

Siwon sesaat tergelak mendengar jawaban darinya, namun tetap tak melepaskan pelukannya dan hanya melonggarkannya.

“bagaimana dengan yang sekarang?”

“hm..”

“Kau bisa bernapas..?”

Yoona mengangguk..

“merasa lebih baik?”

Yoona kembali mengangguk dan disertai dengan senyum dibibirnya.

Ya..
Berada dalam pelukan pria itu, bersandar pada dadanya, merasakan hangat tubuhnya, serta menghirup aroma dari parfum yang digunakannya, memang dapat dengan sekejap membuat Yoona merasakan perasaan tenang. Perasaan nyaman juga didapatkannya saat bersama dengan Siwon..

Beberapa saat setelahnya, suara berdeham dari Amber lah yang kemudian membuat keduanya saling melepaskan pelukan itu. Apa yang dilakukan Amber pada saat itu sebenarnya sebagai tanda karna Seohyun telah melangkah keluar dari dalam kamar Yuri.

Melihatnya, dengan segera Yoona lantas menghampirinya..

“bagaimana dokter?”

Seohyun menarik senyum dari bibirnya..

“baru tahap awal, Yoona.. Aku masih akan terus datang.”

Yoona menatap pada Siwon yang telah berada disampingnya dan merengkuh bahunya. Membuat sang dokter untuk sesaat memperhatikan pada keduanya.

Seohyun memang tidak terlalu mengikuti berbagai pemberitaan di media, namun ia mengetahui satu pemberitaan mengenai pria itu. Sang penguasaha yang melakukan pertunangan dengan seorang gadis biasa, dengan Yoona. Ia hanya masih belum mengetahui dengan apa yang kemudian terjadi diantara pria itu dan Yuri. Mengapa Yuri kemudian menjadi tergantung dengan kehadiran pria itu.
Ia jelas perlu menanyakan hal itu, setidaknya pada Yoona.

“Apa yang oenni ku katakan, dokter?”

Pertanyaan Yoona memecah apa yang pada saat itu Seohyun pikirkan.

“Yuri masih belum banyak bercerita. Tapi aku senang melihat dia menunjukkan senyum diwajahnya..”

Yoona mengangguk mengerti, dan kemudian membiarkan Seohyun pergi dari sana.

Setelahnya Ia dan Siwon masuk kedalam kamar rawat Yuri, dan Yoona dapat dengan cepat menangkap raut kebahagiaan diwajah sang kakak, begitu melihat kehadiran Siwon disana.

“Siwon.. Kau datang?”

Siwon tersenyum dan mengangguk..

“Bagaimana dengan keadaanmu, Yuri ssi?”

“Aku merasa lebih baik”

“Senang mendengarnya..”

Yoona menyaksikan bagaimana Siwon yang pada saat itu menunjukkan kepeduliannya pada sang kakak. Selain menanyakan kondisi, Siwon juga mengatakan pada Yuri agar terus memotivasi dirinya untuk sembuh. Dan mungkin nanti membantunya lagi menangani segudang pekerjaannya mengurusi perusahaan.
Siwon mengeluhkan betapa dirinya kewalahan dalam beberapa bulan terakhir akibat dari ketidak beradaan Yuri dalam membantunya.

Yoona kembali memperhatikan buket bunga yang tak lagi berada dalam dekapan Yuri, melainkan kini telah berpindah keatas meja disamping ranjang tidurnya, dan sekaligus melihat Siwon yang juga tak segan untuk menggenggam tangan Yuri disela pembicaraan mereka, dan menjadikan wajah sang kakak yang nampak berseri-seri, membuat Yoona kemudian bergerak mundur dengan perlahan.

Keluesan yang ditunjukan Siwon dalam menarik obrolan bersama dengan Yuri, telah membuat Yoona menyadari adanya riwayat kedekatan yang sebelumnya terjalin diantara keduanya. Entah kedekatan semacam apa, Yoona memerintah, mengontrol dan akhirnya melarang keras dirinya untuk tidak terlalu jauh memikirkannya.

Maka ia memutuskan untuk keluar dari dalam kamar Yuri. Namun setelah menekan pada knop pintu untuk membukanya, suara Siwon lah yang kemudian terdengar dan menghentikannya..

“kau mau kemana, Yoona?”

Sesaat merasakan darahnya yang mendesir, Yoona berbalik dan mendapati tatapan mata Siwon lurus kearahnya..

“saya hanya akan berada diluar, Tuan..”

“untuk apa?”

Pertanyaan Siwon yang tersirat penuh dengan selidik, membuat Yuri menatap pada keduanya secara bergantian. Dan Yoona mengetahui hal itu..

“untuk.. untuk..”

Yoona merasa kebingungan memberikan jawabannya..

“Yoona ya..”

Satu suara dengan Siwon, Yuri juga seakan mempertanyakan apa yang akan dilakukannya..

“Aku hanya akan berada diluar untuk mendapatkan sarapan pagi ku, oenni..”

Sekilas Yoona menunjukan senyum diwajahnya..

“Oenni tidak akan keberatan kan aku meninggalkanmu sebentar?”

Yuri mengangguk..

“Tapi jangan keluar terlalu jauh, Yoona..”

“ne oenni, aku mengerti..”
  
Setelahnya Yuri kembali mengalihkan perhatiannya pada Siwon dan Yoona membiarkan saat kemudian Siwon menjelaskan pada Yuri, bahwa dirinya akan berada dikantor hari itu untuk mengurus beberapa pekerjaan dan akan kembali datang setelah menyelesaikan semuanya.

“Siwon, terimakasih untuk bunga pemberianmu. Aku sangat menyukainya..”

Sekali lagi langkahnya untuk keluar dari kamar itu kembali tertahan, Yoona terpaku sesaat, namun dengan cepat tersadar dan memutuskan ia tak ingin mendengar apa yang nanti akan dikatakan Siwon sebagai respon ucapan terimakasih dari Yuri setelah mengirimkan buket bunga itu padanya.

Maka yang selanjutnya Ia lakukan adalah, membuka lebar pintu dihadapannya dan memerintahkan kedua kakinya untuk membawa tubuhnya keluar dari dalam kamar rawat itu.

Yoona menghela napas nya begitu kembali menutup rapat pintu dibelakangnya dan membuatnya tak lagi dapat mendengar apa yang selanjutnya dibicarakan oleh sang kakak bersama dengan Siwon didalamnya.

Sekali lagi helaan napas yang dilakukan Yoona serta langkah dari kedua kakinya yang seakan diseret, menarik perhatian Amber yang berdiri tak jauh darinya untuk kemudian mendekati Yoona..

“Adakah yang anda perlukan, nona?”

“euh..”

Yoona tak langsung meresponnya, sekilas justru terlihat kebingungan diwajahnya untuk menanggapi pertanyaan yang dilontarkan Amber kepadanya.

“Nona..”

Amber mengikuti ketika Yoona lebih memilih untuk menghampiri kursi tunggu dan mendudukkan tubuhnya disana.

Ia baru ingin mengucap sesuatu pada Amber, namun dering pada ponsel miliknya lebih mendahuluinya dan akhirnya membuatnya mendahulukan untuk menjawab panggilan dalam ponselnya..

“Yobseyo omonim..”

“Kau sudah makan?”

Mendengar pertanyaan itu, membuat Yoona langsung menggigit bibir bawahnya. Menyadari tak ada kalimat basa-basi yang saat itu diucapkan Ny.Choi padanya.

“Yoona, kau mendengarku?”

“Oh, ne omonim.. Aku, aku.. Belum..”

“Sudah kuduga..”

Terdengar suara mendecak dari Ny.Choi yang seakan telah dapat mengetahui apa yang akan dikatakan oleh Yoona, meski gadis itu tak sampai menyelesaikan kalimatnya.

“Mianhae..”

Ucap Yoona kemudian, walau pada saat itu Ia masih tak dapat mengerti apakah hal itu menjadi suatu kesalahan dimata Ibu Siwon. Namun mendengar respon yang selanjutnya dikatakan oleh Ny.Choi, jelas memang melupakan waktu makan paginya, itu menjadi suatu kesalahan untuknya..

“Masih dalam hitungan hari kau berada dirumah sakit itu, tapi aku bisa pastikan kau segera akan terlihat seperti seorang gadis kekurangan gizi jika kau terus seperti itu. Mengerikan, kau akan mempermalukan ku, Yoona..”

Kekurangan gizi?
Astaga..
Apa Ia baru saja mendengar Ibu Siwon mengatakan itu padanya?
Tega sekali dia..

Yoona sedikit memberengut mendengarnya..

“Jangan mengabaikan apa yang menjadi kebutuhan tubuhmu Yoona, dan terutama kesehatanmu. Aku tak ingin melihat putraku berada diantara dua gadis yang sedang sakit..”

Yoona masih memberengut, benar-benar tak bisa membalas apa yang terus diucapkan Ny.Choi pada saat itu.

“Katakan padaku kau akan makan. Jika tidak, aku takkan mengijinkanmu seharian berada dirumah sakit. Aku akan memerintahkan Amber untuk membawamu pulang. Dan aku sendiri yang akan memastikan kau duduk dimeja makan, dan menungguimu menghabiskan apa yang berada disana”

Yoona mengangguk, tak sadar Ny.Choi yang tak akan mengetahui respon yang diberikan olehnya.

Yoona sudah bergidik ngeri membayangkan kalimat yang diucapkan Ny.Choi, meski sesuatu yang didengarnya tadi tak cukup untuk disebut sebagai ancaman.
Tapi tetap saja, Ia tahu Ny.Choi tak akan bermain-main dengan apa yang telah diucapkannya.

“Yoona, kau mengabaikanku?”

“Tidak omonim.. Aku mendengarmu, dan ya.. Aku akan melakukannya”

“Bagus jika seperti itu, sayangnya aku tak bisa datang kesana sekarang dan memastikan kau benar-benar melakukannya. Aku sedang dalam perjalanan untuk menjemput ahjumma Lee. Dia menghilang pada pagi hari tadi..”

Yoona jelas terkejut mendengarnya..

“Apa.. Apa yang terjadi dengan ahjumma Lee?”

Sesaat ia mendengar helaan napas dari Ny.Choi disebrang sambungan telponnya..

“omonim..”

“Dia tidak memberitahukan pada siapapun saat pergi. Aku cukup kebingungan mencarinya tadi. Namun telah ada yang memastikan jika ahjumma Lee berada dimakam Donghae. Maka aku akan kesana untuk menjemputnya”

Yoona tertegun untuk beberapa saat. Bagaimanapun kematian Donghae masih terasa sulit untuk dipercayai olehnya. Dan membayangkan perasaan kehilangan putra semata wayang yang dirasakan oleh ahjumma Lee, mendadak membuat Yoona merasakan pilu.

“Berikan ponselmu pada Amber, Yoona. Aku ingin berbicara dengannya..”

Yoona hanya menggumamkan satu kata ‘Ya’ pada Ny.Choi, sebelum kemudian menyerahkan ponselnya pada Amber.

Amber yang kemudian membawa ponsel itu menempel pada telinganya, tak berapa lama langsung terlihat mengangguk-anggukkan kepala, mendengar dengan seksama apa yang dikatakan Ny.Choi melalui sambungan telponnya, sebelum kemudian menyerahkan ponsel itu kembali ketangan Yoona.

“Apa yang anda inginkan, nona? Saya akan pergi untuk membelikannya..”

“Aku akan pergi sendiri untuk mendapatkannya..”

Berdiri dari duduknya, namun Amber menghadang dihadapannya.

“Anda akan tetap berada disini, nona. Saya yang akan keluar untuk mendapatkan sarapan pagi untuk anda..”

“Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. Kau yang tetaplah disini..”

“Tolong, jangan mempersulit saya nona..”

Yoona mendengus mendengarnya dan terpaksa harus kembali mendudukkan tubuhnya.

“baiklah..”

ucapnya terdengar lesu, karna pada akhirnya Ia memang tak bisa berkeras dan harus mengalah jika tidak ingin mendengar Ibu Siwon kembali mengatakan sesuatu yang dirasakannya sedikit kurang enak untuk didengar..

Oh..
Bukankah ia sudah terbiasa dengan kata-kata kejamnya?

Setelah Amber berlalu dari hadapannya, Yoona kembali melongok kedalam kamar Yuri. Dari gerak bibirnya, Siwon masihlah terlihat berbicara dengan kakaknya, maka beralih dari sana menjadi hal yang kemudian dilakukan olehnya. Keluar untuk mendapatkan udara pagi yang segar mungkin akan menjadi bagus untuknya. Dan pilihan Yoona jatuh pada balkon rumah sakit, yang entah sejak kapan dirasa menjadi satu-satunya tempat yang disukainya selama ia berada dirumah sakit itu.

Amber kembali pada sekitar lima belas menit setelahnya dan bertepatan dengan itu, Siwon keluar dari dalam kamar rawat Yuri.

“Amber ssi, dimana Yoona?”

“Oh, nona..?”

Amber menelusuri dengan matanya pada kesekeliling tempat disekitarnya, merasa jika sebelumnya ia meninggalkan Yoona terduduk disalah satu kursi tunggu, namun sekarang justru tak terlihat disana.

“Nona..”

Amber menggumam sendiri..

“Maaf Tuan, tapi saya meninggalkan nona Yoona disini tadi. Nyonya memerintahkan saya untuk mendapatkan sarapan pagi untuknya. Maaf jika..”

Amber menunduk..

“Saya akan menemukan nona secepatnya..”

“Tidak perlu, tetaplah disini.. Kurasa aku tahu dimana gadis itu sekarang”

Siwon lantas bergerak, dengan langkah lebar menuju satu tempat yang diyakini olehnya Yoona sedang berada disana.

Tepat seperti yang diperkirakannya, Siwon menemukan keberadaan Yoona disana. Berdiri terdiam diarea balkon rumah sakit, dengan kedua tangan berpegang pada pagar pembatas dan mata terpejam, Yoona seakan tengah menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya dan membelai ringan rambutnya. Sedikit menerbangkan helaiannya.

“Kupikir kau mengatakan akan mendapatkan sarapan pagimu, mengapa sekarang kau justru berada disini, Yoona?”

Mendadak Yoona merasakan tubuhnya menegang akibat dari suara Siwon yang baru didengarnya.

Ia menghembuskan napas sejenak, sebelum berbalik dan melihat Siwon yang melangkah semakin dekat kearahnya.

“Kau disini? Kau belum pergi?”

“Jadi kau akan membiarkanku pergi tanpa terlebih dulu melihatmu..”

Kerlingan mata Siwon justru membuat Yoona dengan cepat membalikkan tubuhnya.

Siwon tertawa kecil dalam hati pada apa yang dilakukannya..

“hm, udara disini sangat segar. Berbeda dengan didalam, sepertinya semua ruangan disana berbau obat..”

Yang kemudian dirasakan oleh Yoona adalah kedua tangan Siwon yang menelusup, melingkari pinggangnya dan dagu Siwon yang bertumpu diatas bahunya.

“hm, kau juga berbau segar..”

Refleks Yoona menyikut perut Siwon dengan lengannya akibat terkejut karna pria itu yang mula-mula mengendus namun kemudian mencium pada lehernya.

“Awhh..”

Melepas tangannya yang melingkar ditubuh Yoona, Siwon lantas bergerak mundur dan merintih sambil memegang pada perutnya.

“Sajangnim..”

“Apa yang kau lakukan, Yoona? Kau menyakitiku..”

Yoona dibuat panik ketika Siwon terus memegangi perutnya.

Apakah ia terlalu keras tadi?

“Sajangnim, mianhae.. Aku, aku tak bermaksud..”

Yoona mendekat untuk memastikan apakah pria itu baik-baik saja, namun Siwon justru tak membiarkan dirinya untuk mendekatinya.

“Sajangnim..”

“Aku tak percaya setelah semua yang kulakukan untukmu, kau malah menyakitiku seperti ini”

“Aku sudah meminta maaf.. Tapi itu bukan sepenuhnya salahku. Aku bereaksi seperti itu karna terkejut kau tiba-tiba menciumku. Seharusnya kau mengatakan dulu padaku jika ingin menciumku disana.. Aku, Aku merasa geli tadi..”

Kini Yoona merasa ada lebih banyak aliran darah yang naik kewajahnya. Wajahnya pasti telah menjadi semerah ceri. Sementara Siwon justru bersusah payah menahan tawa akibat dari apa yang baru saja dikatakan oleh Yoona.

Ia berdeham singkat, sebelum akhirnya kembali mendekati Yoona yang sedang menundukkan wajahnya. Menyembunyikan semburat malu yang dirasakannya.

Siwon tersenyum dan mengusap rambutnya..

“Aku pergi ke kantor ya.. Aku akan datang sore atau mungkin pada malam nanti. setelah urusan pekerjaan selesai..”

Ketika kemudian Yoona mendongakkan wajahnya, Siwon memanfaatkan hal itu untuk mencium pada keningnya.

Yoona mendengus dalam hati..
Betapa pria itu sangat suka mencium. Namun perasaan hangat yang kemudian dirasakannya, membuat Yoona menarik senyum disudut bibirnya.

“Kau tidak marah padaku?”

“kenapa aku harus marah padamu?”

“Kau bilang aku menyakitimu tadi..”

“Oh, kau benar-benar gadis belia yang lucu..”

Siwon tersenyum, sambil tangannya mengacak pelan rambut Yoona, kemudian beralih untuk meraih tangannya..

“Tangan kurus seperti ini bagaimana bisa menyakitiku..”

Dan Siwon pun mengecup pada punggung tangannya, menjadikan wajah Yoona semakin merona karenanya.

Setidaknya selalu ada waktu meski hanya sebentar bagi keduanya untuk saling berbicara santai tiap kali bertemu. Itu yang terjadi dalam beberapa hari setelahnya.

Siwon masih selalu datang dipagi sebelum dirinya berada dikantor, dan malam sebelum ia pulang ke rumah.

Begitupun dengan Ny.Choi yang sesekali datang untuk melihat dan memastikan gadis belia yang menjadi tunangan putranya dalam keadaan baik-baik saja. Yoona memang belum sekalipun pulang, dan berkeras untuk terus berada dirumah sakit, selama Yuri juga masih berada disana.

Seminggu telah berlalu, dan keadaan Yuri cenderung stabil bahkan berangsur-angsur membaik. Seohyun yang menangani kondisi kejiwaan Yuri, juga terus datang dalam setiap harinya. Meski Yuri masih mengalami mimpi buruk, namun hal itu sudah tak terlalu sering terjadi. Setidaknya dalam semalam, Yuri hanya sekali dua kali terjaga, malah pernah Ia dapat tertidur nyenyak semalaman. Juga rencananya diminggu ini, Ia sudah akan mulai menjalani terapi berjalan.
Seorang dokter telah direkomendasikan oleh pihak rumah sakit, dan Yoona cukup senang dengan kabar bahwa Ia dapat membawa sang kakak pulang. Sang dokter terapis juga mengatakan Yuri dapat berobat jalan, dan hanya datang kerumah sakit bila ia memiliki jadwal untuk terapi.
Seohyun juga bersedia datang kerumahnya bila Yuri memang sudah tak lagi berada dirumah sakit itu.

“Oenni ya..”

Yoona masuk kedalam kamar rawat Yuri dengan wajah berseri setelah tadi berbicara dengan ketiga dokter berbeda yang sudah dan akan menangani Yuri dalam kedepannya untuk sepenuhnya mendapatkan kesembuhannya.

“Oh, Yoona ya.. Kemarilah..”

Yuri tersenyum menyambutnya, dengan sebuah rangkaian bunga indah yang berada ditangannya..

Satu yang terlewatkan, sejak buket bunga pertama yang dikirimkan pada pagi itu, Yuri memang tak pernah absen selalu mendapatkan kiriman bunga disetiap harinya. Bukan hanya sekali, tapi dipagi dan sore hari akan selalu ada rangkaian bunga-bunga indah yang menghiasi kamar rawatnya. Bukan hanya itu, dalam setiap rangkaian bunga yang dikirim, selalu terselip kalimat-kalimat indah yang dituliskan oleh sang pengirim, yang sangat mampu membuat Yuri tersenyum ketika melihat dan membacanya. Meskipun itu hanya sebaris kalimat saja..

“Lihatlah, bahkan setelah beberapa banyak kalimat indah yang dituliskannya, aku masih tak dapat mempercayai bila Siwon benar-benar pandai menulis. Kau bisa melihat apa yang dituliskannya disana..”

Yuri menyerahkan sebuah kartu ucapan kecil pada Yoona agar ia ikut membacanya..

‘Aku akan menjadi malaikat tanpa sayap yang akan terus melindungimu~

Yoona tersenyum tanggung dan kembali menyerahkan kartu itu pada Yuri agar sang kakak dapat menyimpannya, seperti hal nya kartu-kartu ucapan lain yang telah memenuhi laci meja kecil yang berada disamping tempat tidurnya.

Sampai saat itu pun, sama hal nya dengan Yuri, Yoona juga meyakini jika Siwon lah sang pengirim bunga-bunga indah itu. Meski ia belum pernah sekalipun menanyakan langsung mengenai hal itu.

Pernah sekali ketika suatu perasaan aneh bergejolak didalam hatinya, Ia berniat untuk menanyakannya, namun akhirnya kembali diurungkannya karna tak ingin membuat Siwon merasa tidak nyaman ketika ia mempertanyakan perhatian yang diberikan pada kakaknya.

Bukankah ia yang meminta Siwon melakukan hal seperti itu?
Untuk peduli pada oenni nya..
Bahkan berpura-pura untuk mencintainya..
Lalu mengapa Ia harus perlu menanyakan perhatian yang kemudian diberikan Siwon pada Yuri..

Yoona menertawakan dirinya sendiri jika sampai benar-benar melakukan hal itu..

“Oenni ya..”

“hm..”

Yuri mengalihkan tatapan matanya dari rangkaian bunga ditangannya..

“Dokter mengatakan bila hari ini kau bisa memulai melakukan terapi berjalan..”

Yuri langsung terdiam ketika mendengarnya, dan kemudian mengarahkan tatapan matanya pada kedua kakinya.

“Apakah aku masih akan bisa menggunakan kaki ku, Yoona..?”

Oh Tuhan..
Pertanyaan itu seakan langsung membuat Yoona merasakan sayatan dihatinya.

“Oenni ya.. Apa yang kau katakan? Tentu saja kau bisa.. Oenni akan sembuh..”

Yoona meraih tangan Yuri, lalu kemudian menggenggamnya..

“Bagaimana jika sebaliknya.. Kakiku terjepit pada saat itu, aku mungkin akan lumpuh..”

“Tidak oenni.. Tidak.. Bahkan dokter telah mengatakan kau akan dapat kembali berjalan dengan sempurna. pasti dia tahu tidak separah itu. Oenni hanya perlu mengikuti beberapa kali terapi..”

Bening airmata menetes membasahi wajah Yuri, dan Yoona juga kembali dapat melihat raut ketakutan diwajahnya. Dua hal yang dalam beberapa hari sebelumnya telah menghilang dalam diri sang kakak.

Ketika Yoona masih terus berusaha untuk meyakinkan Yuri, dua orang suster masuk kedalam kamar dengan membawa serta sebuah kursi roda..

“Dokter menginginkan kami membawa anda keruang terapi, nona. Apakah anda sudah siap?”

Yuri langsung menggenggam erat tangan Yoona, dan Yoona merespon dengan anggukan kepalanya dan tersenyum meyakinkan.

“Aku akan bersama oenni..”

“bagaimana dengan Siwon? Apa dia akan datang?”

Yoona sedikit mengerutkan dahi mendengarnya..

“Jangan biarkan dia melihatku, Yoona.. Jangan biarkan dia melihat saat aku menjalani terapi. Kumohon, jangan biarkan dia melihatku.. Aku tak mau dia melihatku. Aku tak ingin begitu terlihat menyedihkan dimatanya.”

Yoona meremas tangan Yuri begitu mendengar kalimat itu keluar dari bibirnya, ia pun mengangguk mengerti, dan bersusah payah untuk tidak menjatuhkan airmatanya saat itu.

Hingga kemudian dua orang suster tadi membantunya, untuk memindahkan tubuh Yuri menempati kursi roda, dan Yoona lah yang kemudian berada dibelakangnya. Mendorong kursi roda itu mengikuti dua orang suster yang mengarahkan menuju ruang khusus untuk melakukan terapi pada Yuri.

Didalam ruangan itu, telah menunggu seorang dokter terapis pria yang beberapa saat lalu telah melakukan pembicaraan dengan Yoona bersama dengan Seohyun dan seorang dokter lainnya.

“Selamat siang, nona-nona..”

Sapanya ramah sambil tersenyum pada keduanya. Namun hanya Yoona lah yang kemudian membalas senyuman itu, sedangkah Yuri masih terdiam dengan tangannya yang tak lepas menggenggam tangan Yoona.

“Selamat siang, dokter..”

Yoona balas menyapa sambil mendorong kursi roda itu agar lebih dekat kearah sang dokter.

“Jadi inikah pasienku hari ini?”

Sang dokter mencoba untuk menyapa Yuri, namun gadis itu tetap hanya diam dan malah memasang raut waspada diwajahnya.

Yoona yang menyadari tak adanya respon dari sang kakak, kemudian beralih untuk berada dihadapan Yuri..

“Oenni ya, ini dokter yang aku ceritakan tadi. Dia yang akan membantumu melakukan terapi. Namanya dokter Cho..”

Yoona tersenyum memperkenalkan sang dokter..

“Cho Kyuhyun nama lengkapku..”

sang dokter menambahi, masih dengan senyum diwajahnya.

“Apa dia.. Dia akan bisa membuatku berjalan?”

Pertanyaan Yuri lebih ditujukan pada Yoona namun Kyuhyun, sang dokter itulah yang kemudian menjawabnya.

“Mari kita bekerja sama, dan melakukannya..”

Mulanya dengan bantuan dua suster tadi, Yuri lebih dulu dipindahkan dari kursi rodanya, untuk selanjutnya dipapah menuju tempat didalam ruangan itu yang akan dipergunakan sebagai tempat dilakukannya terapi. Namun ketika Kyuhyun mulai melakukan pemeriksaan pada kakinya, Yuri merasakan tubuhnya gemetar. Keringat diwajahnya yang  berubah pucat, seakan menunjukkan Ia yang sedang menahan sesuatu dalam dirinya. Baru ketika kemudian Kyuhyun bergerak menyentuh pada tangannya untuk membantu Yuri berdiri dan memulai terapi pertamanya, jerit Yuri pecah.

Teriakan Yuri agar sang dokter tidak menyentuhnya, membuat Kyuhyun sedikit mundur sesaat namun kemudian kembali mencoba meraihnya, dan sekali lagi Yuri menjerit. Bukan hanya Kyuhyun yang kemudian menjadi panik tapi juga Yoona yang masih berada disana serta dua suster lainnya.

“Oenni ya..”

“Tidak.. Jangan.. Jangan sentuh aku!! Pergi.. Jangan sentuh aku..!”

“nona.. kita hanya akan melakukan terapi. Aku harus terlebih dulu memegangimu..”

Yuri menggeleng dengan keras, kedua tangannya kemudian memeluk tubuhnya sendiri dengan erat.

“Pergi.. Jangan sentuh aku.. Kumohon jangan sentuh aku..”

Yoona menyadari airmatanya telah terjatuh saat melihat Yuri yang kembali menunjukkan trauma dalam dirinya. Ia terlebih dulu menyeka airmata diwajahnya, sebelum kemudian mendekat pada Yuri dan langsung memeluknya.

“gwechana oenni.. gwechana, dokter Cho tidak akan menyakitimu.. Dia akan membantumu. Aku ada disini untuk menemanimu..”

“Tidak.. Jangan menyentuhku.. Kumohon jangan menyentuhku..”

Yuri terus menggumamkan kalimat itu. Ia sepertinya benar-benar tak menginginkan seorang pria menyentuhnya. Terbayang dalam benaknya kekasaran yang pernah dilakukan oleh Donghae terhadapnya.

“Jangan sentuh aku..”

“Oenni ya..”

Yoona masih terus memeluknya. Kejadian ini sedikitpun tak pernah dibayangkannya.
Seharusnya oenni nya sudah melupakan tindak kekerasan seksual yang pernah dialaminya.
Bukankah bersama dengan Siwon, ia baik-baik saja.
Yuri tidak menjerit, tidak berteriak ketika Siwon menyentuh atau memegang tangannya.
Bahkan Yuri sendiri yang sering kali memeluknya.
Tapi mengapa dengan dokter itu, justru memunculkan kembali kejadian buruk yang telah dialaminya.

Oh Tuhan..
Yoona tak dapat menutupi kesedihannya.
Ia kembali menjatuhkan airmata dengan mengeratkan pelukannya ditubuh Yuri.

“Oenni ya.. Oenni ya..!!”

Yoona menyadari pada saat itu Yuri telah kehilangan kesadarannya..

***

Setelah gagal melakukan terapi pertama dihari itu, dan Yuri yang menjadi tak sadarkan diri, membuat Yoona kembali mencemaskan keadaannya.

Amber meminta ijin untuk keluar pada siang itu, menjadikan Yoona tak memiliki teman untuk diajak bicara. Yuri masih tertidur, dan ia memutuskan untuk membiarkannya beristirahat.

“Minumlah..”

Seseorang menyodorkan sekaleng minuman padanya, dan Yoona baru mengetahui setelah mendongakkan wajahnya jika sang dokter, Kyuhyun lah yang memberikan itu padanya.

“dokter..”

“minumlah.. Ini akan dapat mengurangi keteganganmu..”

Kyuhyun tersenyum ketika Yoona kemudian menerimanya.

“khamsahamnida..”

“bolehkah aku duduk..”

“ne, silahkan dokter..”

Menempati kursi tunggu yang kosong disebelah Yoona, Kyuhyun lantas membuka satu kaleng minuman ditangannya, untuk kemudian meminumnya.

“Apa yang sebelumnya terjadi pada kakakmu?”

“nde?”

“Aku bisa melihat ketakutan dimatanya ketika aku menyentuhnya. Bahkan aku hanya memegang tangannya dan dia menjadi luar biasa histeris..”

Yoona menatap pada Kyuhyun yang masih berbicara.

“Bukan bermaksud mencampuri, tapi aku perlu mengetahuinya. Jika tidak dan kakakmu terus seperti itu, bagaimana bisa aku melakukan terapi terhadapnya..”

Yoona sedikit menimbang-nimbang haruskah ia menceritakan kejadian buruk yang sebelumnya dialami oleh Yuri, namun kemudian ia berbicara..

“seseorang dimasalalu menyakitinya, dan oenni ku sempat mengalami depresi karna hal itu..”

Meski Yoona tidak secara gamblang mengatakan kesakitan macam apa yang telah ditorehkan oleh seseorang dari masalalu itu terhadap Yuri, namun sepertinya Kyuhyun telah dapat memahami.
Yoona juga sempat menceritakan mengenai insiden kecelakaan itu, yang kemudian menjadikan Yuri sampai harus menjalani terapi dan hanya semakin menambah kejadian buruk yang dialami oleh oenni nya.

Tanpa sadar ketika itu airmatanya menetes, Ia selalu tak kuasa menahan cairan bening itu tiap kali dirinya ikut merasakan betapa sakit dan terlukanya hati Yuri.

Kyuhyun yang melihat Yoona menangis pada saat itu, langsung berinisiatif mengambil sebuah sapu tangan dari dalam saku jas putih kebanggaannya, kemudian dengan tanpa diminta ia menggunakan itu untuk menyeka airmata dari wajah Yoona.

Yoona cukup terkejut mendapatkan perlakuan yang seperti itu dari sang dokter yang bahkan baru hari itu dikenalnya, namun sepertinya Kyuhyun tak menyadari, atau memang sengaja mengabaikan ketidak nyamanan Yoona akibat dari perlakuannya.

“Maaf dokter, aku..aku..”

“Tidak apa-apa jika kau ingin menangis, aku bisa mengerti..”

Yoona bergerak kikuk, sebelah tangannya kemudian mencoba untuk mengambil alih sapu tangan itu dari tangan Kyuhyun, namun sang dokter itu tidak mengijinkannya dan justru memegangi pergelangan tangannya. Bertepatan dengan itu sosok tinggi menjulang tiba-tiba muncul, dan berdiri didepan keduanya.

“Disini kau rupanya..”

Suara bernada dingin itu untuk sesaat sempat membuat tubuh Yoona menegang, namun kemudian ia tersadar..

“sajangnim..”

Dengan cepat Yoona berdiri dari duduknya. Ia masih begitu terkejut dengan kehadiran Siwon yang tiba-tiba.
Tapi Siwon mengabaikan keterkejutan diwajah Yoona, dan lebih memperhatikan pada pergelangan tangan gadis itu yang masih dipegang oleh seorang pria disampingnya.

“Kau datang.. Kau tidak biasa datang pada siang hari seperti ini. Ada apa?”

“Aku ingin makan siang denganmu”

Ucap Siwon datar, dengan masih tak melepas tatapan matanya. Ia pun lantas menarik sebelah tangan Yoona, memegangnya erat dan hal itu langsung menyadarkan Kyuhyun untuk melepaskan pergelangan tangan Yoona dari genggaman tangannya.

Yoona yang merasa tak enak pada Kyuhyun karena sikap Siwon yang tak menunjukkan keramahan, kemudian sedikit membungkuk untuk meminta maaf padanya.

“Maaf dokter, aku harus..”

“Tidak apa-apa..”

Kyuhyun tersenyum seolah telah mengerti apa yang coba dikatakan oleh Yoona.
Meski begitu ia masih tak berniat untuk menyapa pada Siwon dan hanya mengarahkan pandangannya pada Yoona. Begitupun dengan Siwon yang merasa tak perlu untuk memberikan sapaan terlebih dulu. Ekspresi wajahnya justru terlihat keras saat ia menatap pada pria itu..

“Ambilah, kau mungkin akan membutuhkannya..”

Kyuhyun mengulurkan sapu tangan yang tadi sempat dipergunakannya untuk menyeka airmata Yoona. Namun belum sampai Yoona menerimanya, Siwon telah lebih dulu menampiknya..

“Simpan itu kembali untukmu, dia tidak akan membutuhkannya..”

Dengan itu Siwon kemudian menarik pergelangan tangan Yoona untuk berjalan mengikutinya. Tujuannya tentu agar Yoona secepatnya berada jauh dari seorang pria yang tak dikenalnya meski yang dilakukannya sedikit memaksa, dan cengkraman tangannya pada pergelangan tangan Yoona membuat gadis itu merasakan kesakitan.

“Awhh.. Sajangnim, lepaskan tanganku..”

Siwon tak bergeming..
Dan malah semakin mempercepat langkahnya.

“Apa yang kau lakukan? Mengapa tiba-tiba datang tanpa terlebih dulu memberitahuku..?”

“Aku sudah katakan aku ingin makan siang denganmu..”

Siwon terus menarik Yoona sampai keduanya berada dipinggir jalan didepan gedung rumah sakit. Menunggu lampu lalu lintas berwarna merah, untuk selanjutnya menyebrang jalan menuju sebuah rumah makan yang sebelumnya sudah pernah mereka datangi.
Sampai saat itu pun, Siwon masih mempertahankan pergelangan tangan Yoona untuk tetap berada dalam genggamannya.

“Sajangnim, lepaskan aku.. Tanganku terasa sakit. Kau terlalu kuat menarikku..”

Ucap Yoona hati-hati, masih tak mengerti dengan sikap Siwon yang seperti itu. Yang sungguh terasa lain dan tak seperti biasanya..

Apakah ada sesuatu yang sedang mengganggunya?

Yoona masih hanya mempertanyakan hal itu didalam hatinya saja.

“Sajangnim..”

Siwon langsung menyentakkan tangannya, dan dengan raut wajah mengeras dan tatapan mata yang menyiratkan kemarahan ia menatap pada Yoona yang berada disebelahnya.

Yoona luar biasa terkejut karenanya..

“Sajangnim, kau marah? Kau marah padaku? Kenapa kau seperti ini? Kenapa kau tiba-tiba marah padaku..?”

Rahang Siwon mengeras mendengarnya..

“Kau datang tanpa terlebih dulu memberitahuku. Dan sekarang kau tiba-tiba bersikap kasar dan marah padaku. Apa sih yang terjadi?”

“Kau bilang aku tidak memberitahumu.. Sekarang jawab aku, kau kemanakan ponsel mu!!”

Yoona tersadar, ia memang tak membawa ponselnya pada saat itu. Ia bahkan lupa dimana terakhir kali meletakkannya. Mungkin tertinggal saat ia berada dikamar Yuri tadi..

Oh,
bodohnya dirinya..

“Aku berkali-kali menghubungimu tapi kau tidak menjawab ponselmu. Aku cemas dan dengan cepat berubah panik saat Amber bahkan mengatakan dia tidak sedang bersamamu. Aku takut terjadi sesuatu padamu. Aku meninggalkan semua pekerjaan penting dikantor. Dan menyetir seperti berandalan gila hanya untuk memastikan kau baik-baik saja. Dan benar, kau memang baik-baik saja, bahkan asik berbicara dengan seorang pria. Aku kesal dan tentu saja marah karna hal itu. Lihat betapa bodohnya aku.. Aku panik karena mengira sesuatu yang buruk terjadi pada gadis yang menjadi tunanganku, tapi yang kutemukan justru kau yang asik berbicara dengan pria lain. Kau bahkan membiarkannya memegang tanganmu, Yoona.. Didepanku! Sialan..!”

Rahangnya mengeras, Siwon bahkan terlihat ingin meninju apapun itu yang berada disekitarnya untuk melampiaskan kemarahannya.

Mendengar apa yang dikatakan Siwon sebelumnya, sempat membuat Yoona merasa bersalah karna telah membuat kepanikan dalam diri pria itu, namun Yoona berubah terkesiap dengan kata-kata kasar yang diucapkan oleh Siwon, dan menjadi kesal karna kemarahannya yang tidak masuk akal hanya karna melihatnya yang sedang berbicara dengan Kyuhyun.

Yoona bergerak sedikit mundur melihat kemarahan yang masih berkilat dari sorot mata Siwon pada saat itu.

Memang bukan sekali itu Ia melihat emosi dalam diri pria itu.
Tapi yang sebelumnya, kemarahan yang ditunjukkan Siwon padanya selalu beralasan, dan itu karna dirinyalah yang memang melakukan kesalahan.

Tapi untuk sekarang ini, Yoona benar-benar merasa tak melakukan kesalahan.
Ok, jika kesalahannya adalah melupakan keberadaan ponselnya, dia akan meminta maaf. Tapi rasanya Siwon tak perlu sampai semarah itu.

“kurasa aku tak bisa makan siang denganmu, maaf..”

Tapi Siwon tak membiarkannya begitu saja.

“Kau tidak bisa pergi.. Aku ingin kau menemaniku”

Siwon meraih pergelangan tangannya, namun Yoona dengan cepat menyentakkannya..

“Aku tak bisa bersama pemarah sepertimu..”

“Oh, lalu kau akan lebih memilih bersama dengan pria lain dibanding menemani tunanganmu..”

“Sajangnim!”

Yoona makin terpancing kesal..

Melihat lampu lalulintas yang telah berubah warna menjadi merah, Siwon mencoba kembali meraih tangan Yoona untuk membawanya menyebrangi jalan raya itu, namun Yoona begitu terlihat enggan dan justru menepiskan tangan Siwon darinya..

“Kau bahkan lebih rela tanganmu digenggam oleh pria lain daripada tunanganmu sendiri..”

Siwon bergumam sinis, menanggapi penolakan yang dilakukan oleh Yoona padanya.

“Apa sih masalahmu? Kau terus menyebut pria lain sedari tadi. Asal kau tahu, pria lain yang terus kau sebut-sebut itu adalah seorang dokter. Dia dokter terapis yang akan membantu Yuri oenni untuk melakukan terapi berjalan. Dan seharusnya dia telah melakukan terapi mulai hari ini. Tapi tadi, oenni menolak untuk melakukannya. Dia ketakutan, dia tidak mau dokter itu menyentuhnya. Oenni bahkan menjerit-jerit hingga dia tak sadarkan diri. Apa yang pernah dilakukan Donghae oppa pasti masih melekat didalam ingatannya. Dan Aku hanya membicarakan kondisi Yuri oenni dengannya. Maaf jika aku tak mengetahui kau menghubungiku. Aku terlalu panik terhadap Yuri oenni dan melupakan keberadaan ponselku. Aku takut, Aku sangat takut bila keadaan Yuri oenni memburuk, sajangnim.. Tapi kenapa kau justru bersikap seperti ini padaku..”

Yoona meloloskan cairan bening dari kedua matanya, dan membiarkan airmata itu membasahi wajahnya. Tak lama, Ia yang sudah merasakan lemas dikedua kakinya justru terduduk dibahu jalan itu, tak perduli beberapa orang yang melintas menoleh dan terus memperhatikannya.
Tentu saja, pertengkaran dan kemudian tangisannya yang terisak cukup untuk menarik perhatian dan tanda tanya diwajah orang-orang yang melintas disekitarnya pada saat itu.

Tapi keduanya sepertinya sama-sama tak perduli dengan hal itu.

Siwon justru tercenung..
Apa yang dikatakan Yoona dan airmata yang kemudian menyertainya, dirasakan Siwon sebagai tamparan keras untuknya. Menyadarkannya..
Ya Tuhan..
Mengapa ia begitu bodoh. Mengapa ia tak berpikir sampai kesana dan justru terbakar cemburu hanya karna kepanikannya yang ternyata sia-sia ketika dengan kedua matanya ia justru melihat gadis itu berbicara dengan pria lain yang tak dikenalinya.

Ia seorang pria dewasa yang seharusnya juga dapat bersikap secara dewasa, tapi kemarahannya kali ini benar-benar kekanakan.

“Kau seharusnya bertanya terlebih dulu padaku. Kau seharusnya tidak langsung marah padaku. Mengapa kau bisa begitu marah hanya karna hal seperti itu..”

Apa yang kembali dikatakan Yoona, kemudian membuat Siwon tersadar untuk meraih gadis itu. Ia sudah berjongkok dihadapan Yoona, mengulurkan tangan untuk memeluknya, namun Yoona lagi-lagi menolak dan malah mendorongnya.

“Pergi.. Menjauhlah dariku..!! Aku tak membutuhkan pemarah sepertimu. Aku ingin seseorang yang bisa mengatakan padaku bahwa semua akan baik-baik saja. Yuri oenni akan baik-baik saja. Aku membutuhkanmu yang bisa menenangkan kecemasanku. Bukan justru kau yang datang dan memuntahkan kemarahanmu padaku..”

“Ya Tuhan, maafkan aku Yoona.. Aku tak tahu jika yang terjadi seperti itu. Aku benar-benar minta maaf.. Aku tak tahu apa yang sedang menguasaiku hingga menjadi seorang yang brengsek dengan kemarahanku. Maafkan aku.. Aku juga terlalu panik karna mengkhawatirkanmu.”

“Bukan keadaanku yang mengkhawatirkan. Aku baik-baik saja.. Tapi Yuri oenni.. Yuri oenni ku.. Dia, dia..”

Airmatanya mengalir bertambah deras hingga Yoona tak sanggup meneruskan kalimatnya.

“Yuri juga akan baik-baik saja.. Percayalah, dia akan baik-baik saja..”

Siwon memaksa untuk memeluknya, meski Yoona masih berusaha menolak dengan memukul-mukul pada dadanya.

“Maafkan aku, sungguh aku meminta maaf karna sikapku yang tak dewasa.. Aku menyesal Yoona, maafkan aku..”

“Kau seharusnya mengerti, aku membutuhkanmu. Sejak tadi aku mengharapkanmu berada disini dan menemaniku. Aku merasa takkan bisa menghadapi semua ini sendirian. Tapi aku tak berani memintamu untuk datang. Aku tak ingin terus membebanimu..”

“Ya Tuhan, tidak Yoona.. Jangan lagi berpikir seperti itu. Kau sama sekali tidak membebaniku..”

Siwon mengeratkan pelukannya, sambil mengusap dan menciumi puncak kepalanya. Berharap dengan itu dirinya dapat menenangkan dan membuat Yoona berhenti menangis.

“Maafkan aku, aku janji akan lebih memahamimu..”

Siwon merasakan pergerakan dari kedua tangan Yoona yang kemudian membalas pelukannya. Gadis itu juga lantas menganggukkan kepala dalam pelukannya.

Meski bukan kali pertama Siwon merasakan marah pada gadis itu, tapi kejadian tadi bisa dikatakan sebagai pertengkaran pertama diantara mereka setelah sama-sama mengungkapkan perasaan diantara keduanya. Dan karna Siwon merasa dirinya yang jauh lebih dewasa dan seharusnya telah matang dalam berpikir dan juga bersikap, akan mengusahakan agar kesalahpahaman semacam itu tidak terjadi lagi diantara dirinya dan Yoona.

***

Pada akhirnya Siwon memutuskan untuk tidak kembali ke kantor nya, meski Yoona meyakinkan dirinya tidak masalah jika Siwon ingin meninggalkannya disana karna dirinya sudah merasa tenang, dan lagipula Amber sudah kembali dan bisa menemaninya.
Tapi Siwon berkeras tak mau meninggalkannya.
Ia menemani Yoona sampai pada sore hari ketika Yuri terbangun. Siwon juga yang kemudian membujuk dan meyakinkan Yuri untuk melakukan terapi. Hingga apa yang dikatakan Siwon dapat membuat Yuri mengangguk mengiyakan, meski Ia tetap menolak dan tidak menginginkan Siwon melihatnya selama dirinya menjalani terapi itu.

Malam itu juga Yuri menjalani terapi pertamanya dengan ditemani oleh Yoona, sementara Siwon menunggu diluar ruangan dan mencoba mengabaikan keberadaan seorang dokter pria tadi yang tengah bersama Yoona didalamnya.

Didalam ruang terapi itu, meski sepanjang sesi terapi berlangsung Yuri masih terus memasang raut waspada diwajahnya terhadap Kyuhyun, sang dokter yang menjadi terapis nya, namun Yoona cukup lega sesi terapi malam itu berjalan dengan baik.

Yuri yang merasa kelelahan kemudian tertidur tak berapa lama setelah terapi berakhir. Dan Siwon yang sebelumnya menemaninya didalam kamar rawat itu, kemudian keluar dan disambut oleh Yoona yang sudah memesankan kopi untuknya..

“gomawoyo..”

Ucapnya tersenyum sambil menerima kopi yang diulurkan Yoona padanya.

“Oenni sudah tidur?”

“hm, dia mengatakan kelelahan..”

Merangkulkan sebelah tangannya ditubuh Yoona, Siwon membawanya untuk duduk.

“terimakasih untuk membujuknya..”

“sama-sama..”

Siwon mengusap pada rambut Yoona, sebelum kemudian menyesap kopi panasnya.

“Kau tidak akan pulang?”

“Tidak, sebenarnya aku sangat ingin berada disini dan menemanimu..”

“Omonim akan marah.. Dia mungkin akan berpikir aku sengaja menahanmu disini..”

Siwon tersenyum mendengarnya..

“Bukankah sudah biasa menerima tuduhan dan sekaligus kemarahan oemma..”

Yoona yang menjadi tersenyum mendengarnya.

“Aku lebih suka melihatmu tersenyum seperti ini.. Kau terlihat jelek jika menangis.”

“tapi kau yang tadi membuatku menangis..”

Yoona memberengut kearahnya..

“Sajangnim..”

“hm..”

“Dokter sudah mengijinkan Yuri oenni untuk pulang. Dia hanya harus kembali ke rumah sakit bila ada jadwal untuk terapi..”

“Bagus jika seperti itu. Berarti kekhawatiranmu pada kondisi Yuri yang mungkin menurun tidak terjadi..”

“Ya, dan aku sudah memutuskan untuk membawa oenni pulang.. Pulang kerumah kami.”

“Apa?”

Siwon cukup terkejut dengan keputusan yang dikatakan Yoona, namun belum sampai ia mengatakan keberatannya, sebuah suara lebih mendahuluinya..

“Seharusnya kau tahu Yoona, Kau tidak lagi dapat memutuskan segala sesuatunya sendiri..”

Ny.Choi melangkah cepat menuju keduanya, bersama dengan sang suami dibelakangnya.

“omonim..”

Yoona langsung berdiri dari duduknya dan membungkukkan tubuhnya pada ayah dan ibu Siwon yang kini berada dihadapannya.

“jadi kakakmu sudah diperbolehkan pulang?”

“ne, omonim..”

“dan kau berencana membawanya pulang kerumah itu. Rumah kalian yang terlalu kecil untuk disebut sebagai rumah, dan.. Astaga, kau pikir aku akan membiarkanmu melakukannya?”

“Kupikir oemma tidak akan membiarkan Yoona melakukannya..”

Yoona memutar mata pada Siwon yang kini beralih darinya untuk kemudian berada disebelah Ny.Choi, seolah tahu dan siap memberi dukungan pada apa yang akan dikatakan ibunya yang sepertinya satu pemikiran dengannya.

“Ya, tentu saja tidak.. Aku tidak akan mengijinkanmu kembali ke rumah itu, Yoona”

“Tapi omonim, aku tidak memiliki tempat lain selain dirumah kami..”

Yoona menundukkan wajahnya..

“Tempat mu adalah dirumah kami, Yoona ya..”

Ia kembali mengangkat wajahnya setelah mendengar ucapan dari Tn.Choi tadi.

“abonim..”

“Kau bisa membawa kakak mu pulang kerumah kami. Pikirkanlah, disana ada ahjumma Lee, ada beberapa orang lagi yang bisa membantumu untuk menjaganya. Jika kau membawanya pulang kerumahmu, siapa yang akan mengawasinya jika sewaktu-waktu kau ingin pergi bersama istriku ataupun dengan Siwon”

“Ya, ayah Siwon benar.. Dan jangan kau pikir bisa menggunakan alasan kakakmu untuk membuatku membiarkanmu mengabaikan apa yang masih harus kau pelajari. Kau masih memiliki kelas kepribadian yang harus kau selesaikan dan beberapa hal lain yang sudah kurencanakan, termasuk mengirimmu ke perguruan tinggi.”

Siwon mengangguk-angguk setuju pada apa yang ayah dan ibu nya sampaikan.

Tentu saja, ia juga tak akan membiarkan gadis itu berada jauh darinya..

“Tapi omonim, bagaimana nanti aku menjelaskan pada Yuri oenni..?”

“Kau hanya tinggal mengatakan pada kakakmu, kau adalah tunangan dari Siwon dan calon menantu keluarga kami. Wajar jika kami memberimu fasilitas yang layak..”

“Omonim tahu, aku masih belum bisa mengatakan hal itu pada oenni ku.. Mianhae..”

Ny.Choi mendecakkan lidah mendengarnya.
Yoona jelas masih bersikukuh untuk menyembunyikan statusnya dari sang kakak.

“Sebaiknya itu tidak perlu dipusingkan. Kita bisa membicarakannya nanti.. Asal kau setuju untuk membawa kakakmu kerumah kami, Yoona ya..”

Yoona tahu, ia sudah pasti tidak bisa melawan pada apa yang telah dikatakan Ayah dan Ibu Siwon dan Siwon sendiri yang juga satu pemikiran dengan kedua orangtua nya. Apalagi jika itu Tn.Choi yang memutuskan. Meski pria itu terkesan tidak memaksakan apa yang menjadi pemikirannya, tapi Yoona sendiri merasa tak mampu untuk mengatakan kata ‘Tidak’ untuk menolaknya. Hingga akhirnya ia pun mengangguk setuju, meski masih harus memutar otak, mencari alasan apa yang nantinya dapat diterima oleh Yuri oenni nya bila dia dibawa pulang kerumah Siwon. Rumah megah bak istana yang kini menjadi tempat tinggalnya..

***

Pada pagi itu ketika Yuri terbangun dan kembali menemukan buket bunga yang diletakkan diatas meja disamping tempat tidurnya, seulas senyum langsung tertarik disudut bibirnya. Ia mengulurkan sebelah tangannya untuk mengambil rangkaian bunga itu dan membaca kartu kecil yang disematkan diantara tangkai-tangkai bunganya..

*Hari ini kau akan tersenyum..
Aku yakin kau akan terus tersenyum~

Begitu kalimat yang tertulis disana dan Yuri langsung membawa bunga itu mendekat kewajahnya, menciumnya dengan sungguh-sungguh.

“terimakasih untuk terus memperhatikanku..”

gumamnya dengan senyum membingkai diwajahnya. Namun kemudian sebuah suara dan sekelebat tubuh yang dilihatnya berada dibalik pintu kamarnya, membuat Yuri memasang raut waspada..

“Yoona.. Yoona ya, kau kah itu? Yoona.. Siwon.. kau yang disana? Siwon..?”

Andai kedua kakinya dapat ia pergunakan untuk berjalan, Yuri sudah pasti akan memastikan siapa seseorang itu yang sekelebat seperti berdiri dibalik pintu kamarnya, mengawasinya.

“Yoona.. Yoona ya!!”

Yuri sedikit berteriak saat itu, hingga kemudian Yoona muncul, masuk kedalam kamarnya dengan raut cemas diwajahnya.

“Oenni ya, ada apa oenni? Kau mencariku?”

“Yoona.. Kau kemana?”

“Aku baru saja selesai dari kamar mandi.. Waeyo oenni?”

“Siapa yang berada diluar tadi?”

Yoona mengernyit mendengarnya..

“nugu?”

“Dibalik pintu itu, aku melihat seseorang disana tadi..”

Yoona menoleh pada pintu kamar dibelakangnya.

“Aku tidak menjumpai siapa-siapa tadi..”

“Tapi aku melihatnya, dia berdiri disana dan seperti mengawasiku..”

Ya Tuhan..
Jangan sampai oenni nya kembali merasakan trauma.
Doa Yoona dalam hati..

“Tidak ada oenni.. Kurasa hanya petugas kebersihan. Aku juga melihatnya tadi..”

“Benarkah?”

Yoona mengangguk dan tersenyum meyakinkan.

“Oenni ya?”

“ne..”

“Apakah oenni ingin pulang?”

“Ya, tentu saja Yoona.. Aku sangat ingin pulang..”

“Kalau begitu ayo kita bersiap, dokter sudah memperbolehkan oenni untuk pulang. Tapi sebelumnya, oenni memiliki jadwal terapi pagi ini..”

Yoona dapat melihat kedua mata Yuri yang nampak berkaca-kaca mendengarnya. Sang kakak kemudian meletakkan rangkaian bunga ditangannya dan kemudian memanggilnya..

“Yoona ya.. Kemarilah, aku ingin memelukmu..”

Merentangkan kedua tangannya, Yuri bersiap menyambut Yoona yang kemudian memberikan pelukan untuknya.

“terimakasih Yoona.. Terimakasih untuk menjagaku. Aku menyayangimu.. Aku akan sembuh untukmu, aku janji..”

Yoona mengangguk-anggukkan kepala mendengarnya dan ikut meneteskan airmata mendengarnya.

“Aku juga menyayangi oenni.. Dan apa yang kulakukan tidaklah sebanding dengan apa yang telah oenni lakukan untukku”

Keduanya saling berpeluk cukup lama, hingga kemudian seorang suster masuk dan memberitahukan bahwa dokter sudah datang dan menunggu Yuri diruang terapi.

Sesi terapi pagi itu berjalan cukup baik, meski sama halnya dengan semalam Yuri masih merasakan ketegangan tiap kali Kyuhyun menyentuhnya dan wajahnya terus mengekspresikan kewaspadaan.

Setelah sesi terapi berakhir pada pertemuan kali itu, Yoona sudah akan langsung membawa Yuri untuk pulang hanya bersama dengan Amber yang masih terus menemaninya. Yuri jelas mempertanyakan kehadiran Amber pada saat itu, dan membuat Yoona sesaat merasakan kebingungan untuk menemukan jawabannya.
Untung saja Amber mengerti dan mengambil alih dengan mengatakan bahwa Tuannya, Siwon lah yang menyuruhnya untuk berada disana.

Siwon memang sudah menghubungi Yoona dan mengatakan tidak bisa menjemputnya karna harus memimpin rapat dikantor pagi itu. Namun Ayahnya telah mengirimkan mobil dan seorang supir untuk menjemput mereka.

“Saya sudah mengurus semua administrasinya, nona. Kita bisa pulang sekarang..”

Yoona mengucap terimakasih pada apa yang telah Amber lakukan. Biaya rumah sakit untuk perawatan Yuri jelas begitu besar, dan Yoona sangat bersyukur dalam keadaan seperti itu ia tak perlu mengkhawatirkan hal itu karna Siwon yang menanggung semuanya dengan tanpa Yoona meminta padanya. Segera Ia akan mengucap terimakasih bila bertemu dengan pria itu dan juga pada kedua orangtua Siwon yang telah berbaik hati padanya. Meski ia sadar itu tidaklah cukup untuk membalas kebaikan mereka.

“Ayo oenni..”

Yuri tersenyum dan mengangguk..

Namun ketika Yoona bergerak mendorong kursi roda yang ditempati Yuri, seseorang tiba-tiba memanggilnya dan membuat Yoona menghentikan langkahnya.

“Yoona ssi..”

“Oh, ne dokter..”

Kyuhyun berdiri didepan ruang terapi dan dengan menggunakan tangannya ia mengisaratkan agar Yoona menghampirinya.

“Tunggu sebentar oenni, sepertinya ada yang ingin dokter Cho katakan padaku..”

Yuri mengangguk mengerti, dan Yoona lantas meminta Amber untuk menjaga kakaknya sementara dirinya kemudian menghampiri sang dokter.

Yuri hanya terus menatap pada Yoona yang terlihat membicarakan sesuatu dengan dokter terapis itu. Sang dokter juga menyerahkan sesuatu pada Yoona saat itu. Yuri yang terus memperhatikan itu, tanpa sadar menjatuhkan buket bunga dari tangannya. Sebuah buket yang pagi itu ketika ia bangun telah berada didalam kamar rawatnya seperti biasanya.
Mendadak ia berpikir apakah nanti Siwon masih akan mengiriminya bunga setelah ia tak lagi berada dirumah sakit itu. Jika tidak, Ia pasti akan sangat merindukan hal seperti itu..

“Oh, bungaku..”

Amber yang mengetahui hal itu, sudah akan mengambilkan bunga yang terjatuh dan kini berada dilantai tepat dibawah kaki Yuri, namun seseorang mendahuluinya dan mengambil bunga itu dari sana.

“Ini milikmu..”

Ucap seorang pria dengan suara berat sambil mengulurkan buket bunga yang diambilnya pada Yuri.

Melihat seorang pria yang berjongkok dihadapannya, mengambil bunganya dan kemudian menyerahkan itu padanya, entah mengapa justru membuat Yuri mencengkram erat pada pinggiran kursi roda yang didudukinya.
Tentu saja, karna Yuri memang masih selalu mewaspadai kehadiran seorang pria disekitarnya.

“Ini bungamu..”

Ucap pria itu sekali lagi dan dengan tangan yang gemetar Yuri kemudian mengambilnya.

“terimakasih..”

Ucap Yuri dengan menundukkan wajahnya, namun yang kemudian dirasakannya adalah tangan pria itu yang mengusap rambutnya.

“Semoga cepat sembuh.. Aku ingin melihatmu sembuh..”

gumamnya didekat telinga Yuri sebelum kemudian berlalu meninggalkan Yuri yang menegang mendengarnya.

Siapa dia?

“Oenni ya, ayo kita pulang.. Dokter Cho hanya menyerahkan jadwal terapi untuk mu..”

suara Yoona ceria tak tahu jika Yuri merasakan ketegangan yang luar biasa pada apa yang baru saja didengarnya dari seorang pria yang tak dikenalinya.

Siapa dia?
Siapa dia?

Yuri mendekap tubuhnya yang gemetar, kepalanya menggeleng dengan keras dan ketakutan langsung tergambar diwajahnya..
*

*

*

*

*

To Be Continued~

*hohohoo..
Gak berasa lama kan nunggunya?? Kkkk~
Sebenarnya masih mau nambahin lagi tapi kayaknya udah kepanjangan dan emang udah harus posting karna aq nya udah ga kuat(?) ditanya”in terus
._.
So semoga masih pada mau menunggu lagi dengan sabar & tidak akan meninggalkan story ini u,u

Terimakasih untuk mengikuti cerita ini, anggap chapter ini sebagai ucapan terimakasih saia buat teman” semua yang telah tulus mengucap & mendo’a kan saia hari ini.. #kecupjauh :*
#Thanks

@joongly

177 thoughts on “| At First Sight | 16

  1. Senneng banget karna siwon nya perhatian banget pada yoona,, 😊
    Tapi kalo siwon marah serrem banget ya,,
    Yoona harus hati-hati tuuhh,,😄
    Kaya’nya calon suaminya ini pencemburu berat,
    Dia ampe ngamuk gitu karna melihat yoona sama cowo lain,,
    Tapi senneng,, jadinya kalo gini siwon akan selalu perhatian dan ga membiarkan yoona jauh dari pantauan nya…🙂

    Keluarga siwon baik banget dan perhatian banget ama yoona,,🙂 #jadi terharu😉
    Eommanya siwon biar keras banget gitu tapi sekarang udah keliatan banget segimana sayang nya dia pada yoona,,

    Owh ada cowo lain yang menaruh perhatian pada yuri,,
    Semoga aja dia bisa cepet mengalihkan perhatian yuri dari siwon,,
    Biar ga ganggu yoonwon terus tuh anak…#sorry yuri…😌

  2. oppa..
    eonni..
    jgn berantem, please..
    aku kan syedihh klo kalian kayak gitu
    siwon oppa bnr2 nyeremin klo lg marah,
    apalagi klo marahnya krn cemburu
    dah ngeri sendiri ngebayanginnya

  3. Saya pikir d part ini kok yuri yg nempel terus sama siwon ais dia gx liat ade’y sampe cemburu berat . Aku penasaran deh sama cast baru’y sapa sih apa sia suka yuri..? Atau mau deketin yoona ..? Trus siwon punya saingan lagi dokter cho keke yg sabar oppa tunangan mu meskipun masih belia tp dia tu pemikat hati para laki” . Ny dan tuan choi mertua saya ini baik bnget sih sayang choi familidah #hugunnie makasih f’y

  4. tu kan maknya siwon bakat banget jadi ninja, tiba tiba aja udah main nongol di depan siwon dan yoona.
    sepertinya air mata yoona obat yang mujarab untuk meluluhkan siwon.
    dan apakah nanti kyuhyun akan mengganggu hubungan yoona dan siwon?
    siapa yg selalu mengirimi yuri bunga dan mengambilkn bunga yuri yg jatuh, si pemain baru mungkin?

  5. Masalah datang lagi nih siapa tuh org yg datengin yuri kok seperti kenal ama yuri bukan doghae lag kan, nah pulg ke rumah siwon kira kira yuri curiga gak nih ama yoona, semoga cepwt sembuh yuri biar yoonwon bersatu

  6. Pasti org yg ngambil bunga yuri sama orgny yg ngirimin bunga.. Yakin dah ?

    Siwon mulai cemburu ciee.. Dokter cho jgn terlalu perhatian ma yoona.. Nanti jatuh cinta lg .

  7. hahahaha siwon cmburu,,,,tnang siwon oppa, yoona onnie ga mngkin slingkuh,,,hihihihi
    aq mlai ksel ma yuri..cma siwon yg dia pkirin,,,yoona onnie sbar ya

  8. seneng liat perhatian wonppa ke yoong,, tp wonppa kalo cemburu serem bgt, kyaknya yoong perlu hati2 soalnya wonppa cemburuan.
    trs apa nanti reaksi yuri saat dia dibawa pulang ke rumah orang tua wonppa??

  9. kira2 siapa yg datengin yuri di RS?
    ah dokter Cho jangan terlalu perhatian sama yoona, nanti dokter bisa di makan lho ama si Simba :v

  10. Hahah siwon cemburu buta sama dokter cho
    Dan gimana kelanjutannya ini klo yuri jg tinggal di rumah siwon
    Aduh.. akan repot
    Penasaran selanjutnyaa

  11. siapa yang sering memberikan yuri bunga apakah memang benat siwon atau orang lain .dan dokter cho sepertinya ada ketertarikan dengan yoona . bahaya siwon klaw marah serem apalagi klaw karena cemburu .mkin seru cerita selalu ad konflik di setiap chapternya

  12. Siwon pa marah nyeremin,,,,jadi tambah kasihan ma yoona krn yuri nempel mulu ma won pa,,,wah,,kluarga wonpa bener2 baik,,,bener2 calon mertua idaman.

  13. Siapa dia? Apa jangan2 dia orang yg ngasih yuri bunga setiap hari, karena klo siwon kayaknya gak mungkin soalnya siwon gk pernah bahas mengenai bunga, dan satu lagi ituh dokter kyuhyun perhatian bnget ama yoona, awaas nanti suka lagi…

  14. Setelah part sebelumnya yoona dibkin cemburu karena bung pemberian dri siwon sekarang malah terbalik,siwon yg cemburu karena melihat interaksi antara yoona dan dokter itu,sepertinya mng bner ya dokter itu suka sma yoona..??

  15. Setelah part sebelumnya yoona dibkin cemburu karena bung pemberian dri siwon sekarang malah terbalik,siwon yg cemburu karena melihat interaksi antara yoona dan dokter itu,sepertinya mng bner ya dokter itu suka sma yoona..??
    terharu banget dengan sikap keluarga choi yg baik pada yoona..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s