Fanfiction

YOU’re My Destiny [8]

Happy Reading~

*

*

*

*

*

*

“Dan dua bocah itu adalah anak mereka..”

Dengan terus menambahkan apa yang telah mereka ketahui, dua orang pengawal itu seakan tak menyadari dengan informasi yang diberikan telah membuat Tn.Hwang tercengang mendengar nya.

Bukan hanya ketercengangan yang kemudian dirasakannya, tapi dadanya mendadak juga terasa sesak.

“Apa.. Apa maksud kalian dengan menyebut wanita itu istri Harry dan bocah itu sebagai anak mereka. Oh, yang benar saja..”

“maaf Tuan kami juga baru mengetahui, tapi itulah berdasarkan informasi yang kami dapatkan. Anda tentu tidak lupa bukan, siapa Tn.Harry sebenarnya..”

Apa yang kemudian diucapkan oleh pengawalnya nampaknya cukup untuk kembali mengingatkan Tn.Hwang jika Siwon, pria yang telah dijadikan anak olehnya pastilah memiliki kehidupan yang lain sebelum kecelakaan yang menimpanya akibat dari kecerobohan Fanny putrinya, juga keputusannya untuk menyembunyikan jati diri pria itu setelah mengetahui Siwon mengalami amnesia.

Tapi sungguh tak disangka olehnya, jika kehidupan Siwon sebelumnya adalah menjadi seorang suami dan ayah bagi kedua bocah kecil itu.

Dan mengapa pula hal seperti itu tidak pernah terpikirkan atau setidaknya dibayangkan sebelumnya olehnya.

“Apakah Harry telah mengetahui semuanya? Apakah dia mengingatnya?”

“Saya bisa memastikan jika Tn.Harry masihlah belum pulih dari amnesia yang dideritanya”

Tn.Hwang tampak kembali mengarahkan pandangannya kearah rumah itu dimana Siwon dan Yoona telah masuk kedalamnya.

“Kita pergi dari sini.. Aku ingin tahu lebih banyak tentang apa yang telah kalian dapatkan”

“baik Tuan..”

Dua orang pengawal itu, yang dulunya juga ikut membantunya dalam mengatasi kecelakaan yang menimpa Siwon adalah dua orang yang kemudian menjadi orang-orang kepercayaannya yang selalu bisa diandalkan.

Dan dari merekalah diketahui segalanya tentang Siwon dan keluarganya.
Tentang Yoona juga Fanny yang telah beberapa kali bertemu bahkan bekerja sama dengan wanita itu.

Segalanya yang kemudian membuat dadanya terasa kian sesak dan menyulitkan pernapasannya, ketika kecemasan terlebih perasaan takut yang seketika dirasakan olehnya. Lebih-lebih jika Fanny juga mengetahui semuanya.

“Tuan.. Tuan..!”

“Cepat panggil Fanny.. Aku ingin berbicara dengannya..”

***

Ketika telah berada didalam rumah yang kini ditempati oleh Siwon bersama dengan sang asisten dan beberapa orang-orangnya, Yoona menyadari dirinya juga kedua buah hatinya sedang menjadi objek tatapan keheranan oleh mereka yang berada didalamnya.

“Sir.. Kenapa dengan anda?”

“Aku tidak apa-apa..tenanglah..”

sang asisten lantas mengalihkan pandangannya pada Yoona, memperhatikan tangan wanita itu yang tengah memegang erat lengan Siwon seakan pria itu akan terjatuh bila ia melepaskannya.

“Saya akan membantu anda beristirahat Sir..”

Sang asisten mencoba mengambil alih, namun Siwon segera menghentikannya..

“Tidak perlu kau lakukan..”

“tunjukkan saja dimana kamarnya, biar aku yang membantunya..”

Yoona yang kemudian juga menanggapi, sambil sesekali melirik kearah Hana dan Jun yang tampak tak terpengaruh dengan keadaan disekitarnya.

Oh tentu saja..
Dua bocah kecil itu pastilah akan merasa baik-baik saja dimanapun mereka berada selama ada mommy dan daddy nya.

“Mari ikuti saya..”

Saat sang asisten kemudian membukakan salah satu pintu kamar didalam rumah itu, dan membiarkan mereka masuk kedalamnya, Siwon tersenyum kearah Yoona yang juga membantunya merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.

“Aku sungguh tidak apa-apa.. Kau tak perlu seperti ini..”

Mengarahkan tatapan matanya untuk kemudian bertatapan dengan Siwon, ia berkata..

“Aku hanya merasa bersalah, Kau seperti ini pastilah karna kelelahan menemani Hana dan Junseo bermain..”

“Astaga tidak Yoona.. Aku yang mengajak kalian pergi denganku dan aku menikmati itu. Demi Tuhan, jangan merasa bersalah padaku..”

Yoona menyadari Siwon meraih tangannya dan kemudian menggenggamnya erat, Ia ingin membiarkannya namun kemudian kesadarannya menyelinap dan membuatnya menarik diri.

“Baiklah.. Tapi bisakah aku meminta salah satu dari orang-orangmu diluar sana untuk membelikanmu obat? Aku akan memasak sesuatu untukmu dan setelahnya kau harus meminum obat dan beristirahat..”

Entah atas dasar apa dan perasaan macam apa yang menggelayutinya, yang jelas terlihat adalah sikap Yoona yang seakan-akan kesehatan Siwon adalah menjadi tanggung jawabnya.

“Ya.. Kau bisa melakukannya. Terimakasih..”

Siwon kembali tersenyum kearahnya..

“Hana ya..Jun ah, jangan menggangu emm..”

Sesaat Yoona menghentikan kalimatnya..

“Jangan mengganggu daddy..”

“Aku tak pernah merasa terganggu, aku justru senang mereka berada disini..”

Hana langsung naik keatas tempat tidur, diikuti Junseo yang merengek meminta melakukan hal yang sama seperti noona nya..

“Hana akan menjaga daddy, mom..”

“baiklah.. Mommy akan berada didapur sebentar..”

Sebelum Yoona sempat beranjak, Siwon kembali meraih tangannya..

“Bagaimana jika kau benar-benar istriku, Yoona..?”

Oh dear..
Yoona sedikit terbengong..

“Kau bersikap seolah kau adalah seorang istri dan aku adalah suamimu. Apalagi saat kau menyebutku sebagai ‘daddy’ tadi, apa kau tahu? Kau telah melambungkan hati ku, Yoona..”

Siwon meneruskan kalimatnya dan sejenak membuat Yoona tertegun dengan apa yang diucapkannya, namun kemudian pria itu justru melepaskan tangannya..

“Kau begitu terkejut? Kalau begitu lupakan saja apa yang kukatakan tadi..”

Siwon sedikit menarik senyum dari sudut bibirnya saat kemudian membiarkan Yoona melangkah keluar dari dalam kamarnya.

Begitu menutup pintu dibelakangnya, Yoona menyentuh dadanya. Merasakan debaran kuat yang ia rasakan dari jantungnya.

Oh Tuhan..
Perasaan apalagi yang dirasakannya?

Dengan terlebih dulu meminta bantuan seorang yang berada dirumah itu untuk membelikan obat seperti apa yang dikatakannya pada Siwon tadi, Yoona lantas menuju dapur. Tak memperdulikan debaran jantungnya yang tengah memompa darahnya dengan cepat dan mencoba mengabaikan ucapan Siwon yang kembali terngiang olehnya.

Bagaimana jika dirinya adalah istri dari pria itu?
Oh, tentu saja ia akan melakukan..
Tapi tunggu..
Tidak..
Apa yang sedang dipikirkannya?
Ia tak bisa memikirkan hal semacam itu.
Tidak..
Ia takkan menjadi istri pria itu ataupun pria manapun.
Ia sudah memiliki suami, menjadi istri Siwon. Dan selamanya akan seperti itu. Sekalipun Siwon sudah tak lagi bersamanya.

Setelah beberapa lama berkutat didapur, Yoona meletakkan semangkuk bubur yang telah berhasil ia buat keatas nampan, untuk kemudian membawanya kekamar Siwon.

Kembali membuka pintu kamar itu, Ia langsung memutar bola matanya dan mendecak dengan apa yang saat itu dilihatnya..

Siwon sedang menempatkan Junseo diatas punggungnya, dan merangkak kesekeliling kamar. Membuat Jun yang berada diatasnya tertawa senang juga membuat Hana terpingkal-pingkal dalam tawa karenanya.

“Apa yang sedang kau lakukan, Harry ssi?”

Meletakkan nampan ditangannya keatas meja, Yoona kembali mendecak menyadari Siwon yang seperti tak mendengar pertanyaannya.

“Mommy.. Mommy lihatlah. Daddy menjadi kuda..”

“Apa? Kuda?”

Astaga..

“Hana pernah meminta daddy membawakan kuda untuk Hana, seperti yang dilakukan pangeran untuk tuan putri. Dan tadi saat Hana kembali memintanya, daddy justru mengatakan bisa menjadi kuda untuk Hana. Tapi ketika Hana ingin menaikinya, Jun tak memperbolehkan Hana. Junseo curang, mom.. Tapi Junseo sangat senang, lihatlah mom..”

Hana kembali tertawa dan mengabaikan sang mommy yang menggelengkan kepala heran dengan tingkah Siwon serta kedua buah hatinya..

“Harry ssi, kau sedang sakit..”

Sekali lagi Siwon mengabaikan ucapannya..

Dengan sedikit kesal, ia kemudian berdiri dihadapan Siwon dan menghadang kakinya yang masih terus merangkak dengan kedua lututnya membawa Junseo yang menaiki pungggungnya.

Mendongak, Siwon melihatnya yang sedang berkacak pinggang..

“daddy.. Ayo.. Lagi, daddy..”

Junseo merasa tak senang ketika Siwon berhenti merangkak..

“daddy.. Ayo cepat..”

“Jun ah..”

“umma..umma..”

mengangkat tubuh Junseo dari atas punggung Siwon, Yoona lantas menggendongnya..

“umma turun..umma, daddy..”

Saat perlahan Siwon berdiri sambil menggaruk tengkuknya, Jun mengulurkan kedua tangan kearahnya, berharap sang daddy akan meraihnya dan membebaskannya dari gendongan umma nya.

“sudah kubilang kan aku tidak apa-apa. Dan itu tadi, bukan masalah membawa Junseo berkeliling diatas punggungku. Dan jagoan kecil ini sangat menyukainya..”

Siwon membela diri, meski Yoona belum memprotesnya. Ia juga kemudian mencubit gemas salah satu pipi Junseo, yang justru membuat bocah lelaki itu tertawa dengan perlakuannya.

“kembali ketempat tidurmu”

ucap Yoona terdengar tegas..

“Apa?”

“kembali ketempat tidurmu dan habiskan bubur yang sudah ku buat untukmu, juga minumlah obat itu. Setelahnya kau harus tidur agar aku bisa membawa pulang Hana dan Junseo”

“tapi Hana masih ingin disini, mom..”

meski sedikit memprotes ucapan Yoona, Hana masih sempat terkikik geli. Merasa lucu ketika mendengar sang mommy yang sedang memarahi daddy nya. Dan tanpa penolakan berarti, Siwon juga kemudian menurut dengan kembali keatas tempat tidurnya dan mengambil mangkuk yang berada dari atas nampan yang berada dimeja sebelahnya, kemudian menyuapkan bubur kedalam mulutnya.

“Apa daddy ingin Hana menyuapkan bubur itu untuk daddy?”

“Oh, tentu saja sayang..Kau memang anak yang baik..”

Hana tersenyum senang saat menghampiri Siwon, yang kemudian justru membuat Yoona menggerutu karna Junseo memaksa turun dari gendongannya untuk beralih, berlari kearah Siwon seperti yang dilakukan noona nya.

Oh, betapa pria itu telah menyita perhatian kedua buah hatinya..

***

Fanny berlari panik disepanjang koridor rumah sakit dengan sang asisten yang mengikuti dibelakangnya. setelah tadi dirinya tiba-tiba mendapat telpon dari salah seorang pengawal Tn.Hwang..

“ada apa dengan aboji?”

“Tuan mengalami serangan jantung, nona..”

“Ya Tuhan.. Bagaimana keadaan aboji? Dan dimana Harry oppa? Kalian tidak memberitahunya?”

“Tuan ingin berbicara terlebih dulu dengan anda”

“berbicara denganku? Tentang apa..?”

gumamnya..

Fanny sudah akan membuka pintu ruang ICU dimana ayahnya saat itu dirawat, ketika kemudian terhenti oleh suara langkah kaki yang berlari mendekat..

“Oppa..”

membalikkan tubuhnya, ia mengira jika Siwon lah orang itu, tapi nyatanya Nickhun yang berada disana. Terlihat panik dengan napas yang terengah.

“Apa yang terjadi? Bagaimana dengan keadaan Tn.Hwang? Fanny ah..”

“jadi Kau tak bersama aboji saat dia mengalami serangan tadi? Kupikir kau mengatakan padaku akan memastikan aboji selalu dalam keadaan baik..”

“Aku.. Maafkan aku Fanny ah, tapi aku punya sesuatu yang harus aku urus tadi..”

“Aku tak perduli Oppa! Aku hanya menginginkan kau menepati ucapanmu..”

“Aku tahu.. Sekarang biarkan aku melihat bagaimana keadaannya”

Nickhun mencoba membuka pintu ruangan dihadapannya, namun Fanny tak membiarkannya.

“Tidak.. Aboji ingin berbicara denganku terlebih dulu.”

Fanny mengabaikan bagaimana raut wajah Nickhun yang terlihat terluka karna apa yang telah dikatakannya. Ia segera membuka pintu ruangan itu, dan masuk kedalamnya..

“Aboji..”

Tn.Hwang terbaring disana, dengan selang oksigen yang terpasang untuk membantu pernapasannya.

“Aboji.. Kenapa? Tadi aboji terlihat baik-baik saja..”

“Fanny ah..”

Tn.Hwang mengulurkan tangannya agar kemudian Fanny meraihnya.

“Aku baik-baik saja..”

“Tapi mereka mengatakan aboji mengalami serangan tadi”

“Tidak.. Hanya ada sesuatu yang mengejutkanku tadi”

“apakah itu?”

Tn.Hwang sangat ingin tak menjawab pertanyaan itu, untuk itu ia kemudian mengalihkan pembicaraan..

“Fanny ah..”

“hm..”

“Ayo kita pulang. Aku ingin membawamu dan juga Harry pulang.. Kita kembali ke San Fransisco.”

Fanny mengerutkan dahi mendengarnya..

“Tapi aboji baru saja datang. Tidakkah aboji merindukan berada disini?”

“Tidak.. Kalian benar-benar harus pulang denganku”

“Tapi aku sudah menandatangani beberapa pekerjaan disini. Dan Oh, kurasa aboji harus tahu, jika sekarang Harry oppa sedang mendekati seorang wanita. Oppa juga akan menolak jika aboji memintanya kembali”

“Harry mendekati wanita?”

“hm.. Apa aboji terkejut? Awalnya aku juga merasa begitu saat dia mengatakan ketertarikannya pada wanita itu. Tapi bukankah itu suatu kabar yang bagus.. Selama ini Oppa bahkan tak menunjukkan dia punya ketertarikan pada wanita, hingga aku menganggapnya seorang gay..”

Fanny sedikit terkikik saat mengatakan tuduhan yang pernah beberapa kali ia ucapkan pada Siwon.

“aboji.. kurasa aboji harus tahu siapa wanita itu. Dia cantik dan baik, terlihat cocok bersama Harry oppa. Tapi Oppa terlalu payah untuk bisa mendapatkannya. Aku bahkan harus melakukan beberapa cara agar bisa membantunya..”

Fanny pasti tak menyadari jika saat itu Tn.Hwang begitu tercenung mendengarnya.

Jika putrinya itu tahu yang sebenarnya, akankah ia melakukan hal yang sama?

Rasanya tidak..
Dan pastilah tidak..

“Kau hanya tak tahu apa yang sedang kau bicarakan, Fanny ah..”

“euh..? Maksud aboji apa?”

“wanita itu.. Kau seharusnya menjauhkan Harry dari wanita itu”

“aboji.. Mungkinkah aboji sudah tahu siapa wanita itu? Aboji tahu siapa Yoona sebenarnya?”

Fanny pastilah sedang berpikir jika yang dimaksudkan dan diketahui oleh Tn.Hwang adalah status dan keadaan Yoona sekarang. Dia seorang yang pernah menikah sebelumnya dan telah memiliki dua orang anak.
Hal itulah yang pasti menjadi pemikiran ayahnya dan menjadi pertimbangan penting untuknya hingga kemudian mengatakan padanya untuk menjauhkan Siwon dari Yoona..

“aboji.. wanita itu tidak seperti apa yang aboji pikirkan. Aku bahkan telah lama mengaguminya. Dia wanita muda yang sukses. Meski ya.. Statusnya dengan dua orang anak mungkin yang membuat aboji berkeberatan menerimanya. Tapi percayalah padaku, aboji akan bisa menerima wanita itu jika nanti aboji bertemu dan mengenalnya. Juga kedua buah hatinya, mereka dua bocah lucu dan menggemaskan. Aku benar-benar menyetujui jika Harry oppa pada akhirnya mendapatkan Yoona..”

Tn.Hwang menarik napas panjang mendengarnya..

“Bukan itu masalahnya, Fanny ah.. Tapi wanita itu.. Dia seseorang yang berhubungan erat dengan masalalu Harry. Dia bisa menghancurkan keadaanmu sekarang. Harusnya KAU SADAR ITU..!!”

Fanny terkesiap mendengar apa yang dikatakan Tn.Hwang dengan nada yang cukup tinggi. Meski ia masih belum bisa mencerna sepenuhnya dengan apa yang dimaksudkan sang ayah saat itu..

“Apa maksud aboji?”

***

Yoona terus menggerutu kesal ketika Hana maupun Junseo benar-benar tak menginginkan untuk pergi dari rumah itu, atau sekedar keluar dari dalam kamar Siwon dan membiarkan pria itu beristirahat.

Ia juga kesal karna Siwon justru tak melakukan apa-apa untuk membuat kedua buah hatinya agar menuruti ucapannya dan mau diajak pulang bersamanya.

“Jika kau merasa tak suka disini, kau bisa pulang Yoona.. Biarkan saja mereka bersamaku”

betapa entengnya Siwon mengatakan itu, dan membuat Yoona mendengus karenanya. Baru saja ia ingin menanggapi lebih saat kemudian seorang asisten Siwon masuk dan berbicara..

“Sir.. Ayah anda mengalami serangan jantung..”

“Apa??”

Siwon kemudian melangkah mendekati sang asisten yang baru saja menyampaikan kabar itu yang cukup mengagetkan untuknya..

“Siapa yang menyampaikan kabar seperti itu?”

Sang asisten menyebutkan salah satu nama pengawal yang biasa bersama dengan Tn.Hwang.

“Sebaiknya anda kerumah sakit sekarang, Sir..”

Sang asisten sempat melirik kearah keberadaan Yoona disana yang juga sedang memeperhatikan percakapan keduanya..

“Baiklah.. Siapkan mobil sekarang..”

Sang asisten melangkah keluar, dan Siwon langsung berbalik kearah Yoona..

“Maafkan aku, tapi aku harus pergi sekarang..”

“Tidak apa-apa aku mengerti.. Jadi Ayahmu berada disini?”

“Ya, kurasa dia baru saja datang.. Perjalanan jauh mungkin telah membuatnya kelelahan”

“Semoga dia baik-baik saja..”

“Kuharap juga begitu..”

Siwon lantas bergerak kearah Hana dan Junseo untuk kemudian berpamitan pada kedua bocah itu dengan menciumnya bergantian..

“Kita akan berjalan-jalan dan bermain lagi sayang, daddy janji..”

Hana mengangguk dan tersenyum saat kemudian Siwon kembali mendekat pada Yoona..

“Aku pergi ya..”

“Kau sudah baik-baik saja kan?”

“Kau sedang mengkhawatirkanku?”

Siwon sedikit menggodanya..

“Tak perlu khawatir, aku sudah lebih baik.. Terimakasih, dan aku akan menyuruh seseorang untuk mengantar kalian pulang”

Siwon sudah akan beranjak dari hadapan Yoona ketika kemudian ia menahan lengannya..

“Tunggu..”

Yoona bergerak kearah dimana matanya melihat sebuah mantel hangat tergantung disana. Mengambilnya, ia kemudian menyerahkannya pada Siwon untuk dikenakan.

“Pakailah, Kau perlu menghangatkan tubuhmu saat berada diluar..”

Tersenyum Siwon menerima dan lantas memakainya..

“Terimakasih..”

Sebelum ia kehilangan keberanian itu, Siwon mendekat untuk kemudian mencium kening Yoona dengan cepat, namun cukup untuk membuat Yoona membeku setelahnya.

Oh Tuhan..
Apa yang telah dilakukan pria itu padanya..
Dan apa yang kembali dirasakannya..

“Aku akan menghubungimu nanti..”

Tak menyadari kebekuan yang saat itu dirasakan sang Mommy, Hana menarik tangan Yoona, setelah terlebih dulu menggandeng Junseo untuk kemudian mengikuti langkah Siwon keluar dari dalam kamarnya.

Sebelum benar-benar pergi, Ia bisa mendengar ketika Siwon memerintahkan seseorang disana agar mengantarkannya dan memastikan ia pulang dengan selamat.

***

Tn.Hwang tak pernah ingin mengatakan ataupun mengungkit lagi peristiwa kecelakaan itu. Ia sadar bila dirinya melakukannya, itu sama saja dengan membuka kembali luka serta trauma yang dirasakan Fanny.

“Katakan aboji.. Apa maksud aboji tadi?”

“Fanny ah..”

“bagaimana bisa aboji mengatakan wanita itu berhubungan erat dengan masalalu Harry oppa? Siapa Yoona dalam masalalu Harry oppa? Dan apa yang aboji sembunyikan dariku?”

“Fanny ah..”

“Katakan padaku aboji..!”

Ketika Fanny terus mendesak, Tn.Hwang tahu jika dirinya tak akan bisa mengelak. Tapi bagaimanapun Fanny memang lebih baik tahu dengan kenyataan siapa sebenarnya wanita yang ia maksudkan.

“wanita itu.. Dia istri dari Harry dimasalalu.. Sebelum kecelakaan itu. Sebelum Harry mengalami amnesia. Wanita itu adalah istrinya..”

“Apa?”

Fanny merasakan kepalanya berputar.
Apa yang baru saja didengarnya..
Fakta macam apa itu?
Mengapa ia baru diberi tahu sekarang..

“Aku juga baru mengetahuinya dan itu cukup mengejutkan untukku..”

Tn.Hwang seakan menjawab pertanyaan tak terucap dari Fanny..

“Jika Harry terus bersamanya, bertemu dengan keluarganya. dia kemungkinan akan menemukan lagi ingatannya. Untuk itu kita harus menjauhkannya..”

“Tidak.. Apa yang aboji katakan?”
“itulah yang harus kita lakukan, Fanny ah..!”

“tapi kenapa kita harus melakukan itu?”

Fanny mulai merasakan tubuhnya gemetar. Kepalanya berdenyut atas informasi yang baru ia terima dan serap kedalam otaknya..

“kecelakaan itu.. Kau tentu tak lupa bukan. Jika kaulah penyebabnya..”

Tn.Hwang harus merasakan sakit dihatinya ketika ia menyalahkan Fanny untuk semua yang telah terjadi..

“Jika wanita itu tahu.. Jika keluarganya mengetahuinya. Kau bisa bayangkan apa yang akan mereka lakukan. Mereka bisa menuntutmu. Pikirkanlah itu!”

“Tidak aboji.. Aku memang salah. Tapi Harry oppa.. Dia baik-baik saja sekarang. Kita telah mengobatinya.. Aku akan meminta maaf pada mereka”

“Tidak semudah itu Fanny ah..!”

“Aku akan memohon aboji.. Aku akan meminta mereka memaafkanku untuk dua tahun yang telah membuat Harry oppa dijauhkan dari keluarganya”

meski Fanny seakan yakin dengan apa yang dikatakannya namun Tn.Hwang tak bisa menutup kenyataan, jika ada ketakutan yang tersorot dari kedua mata putrinya..

“Aku juga akan meminta maaf pada Harry oppa. Aku akan melakukan apapun agar mereka memaafkanku. Kecelakaan itu.. Aku tidak melakukan itu dengan sengaja.. Malam itu Aku berada dalam titik paling kacau sepanjang hidupku. Aku baru saja kehilangan oemma..”

“Tapi kecelakaan itu juga telah menghilangkan nyawa seseorang, Fanny ah..”

Dan Fanny merasakan tubuhnya benar-benar bergetar hebat, terguncang saat mendengarnya..

“Aboji.. Apa, apa yang aboji katakan tadi?”

“Aku sungguh tak pernah berharap akan menyampaikan fakta itu padamu, Fanny ah..”

Dalam keterguncangan hatinya mendengar kenyataan itu, Fanny berusaha mencerna semuanya kedalam kepalanya.

Mengumpulkan beberapa hal yang diketahuinya untuk kemudian menjadikannya menjadi satu yang saling berkaitan.

Kecelakaan Harry oppa nya dengan kecelakaan suami Yoona, benarkah kecelakaan yang sama?

Ya..
Itu mungkin benar, Ia ingat ketika Jessica pernah mengatakan Yoona kehilangan suaminya dalam sebuah kecelakaan di Jepang.
Dan dirinya juga mengalami kecelakaan itu disana.

Dan satu lagi, disana juga Jessica mengatakan Yoona bukan hanya kehilangan suami tapi juga ayah mertuanya..

Oh Tuhan..

Fanny merasakan lututnya lemas saat itu.
Hingga ia perlu berpegang pada pinggiran ranjang rumah sakit yang kemudian mencegahnya untuk terjatuh.

“Fanny ah..”

“Tidak aboji.. Itu tidak mungkin..”

Bukankah yang waktu itu berada dalam mobil yang ditabraknya hanyalah Harry oppa nya. Dan dia telah diselamatkan. Kenapa sekarang ayahnya justru mengatakan ada nyawa yang hilang dalam kecelakaan itu?

“Aboji.. Katakan padaku itu tidak benar! Itu tidak mungkin.. Kenapa aboji membohongiku..!”

“Fanny ah.. Apa kau ingat betapa kau ketakukan waktu itu.. Kau meminta aboji untuk menolongmu. Itu sebabnya aku membawamu pergi. Aku ingin melindungimu..
Bisa kau bayangkan bagaimana jika saat itu keluarga Harry tahu. Mereka akan menuntutmu. Kau akan diadili dan dipenjarakan. Kau pikir aku akan tega melihat putriku diperlakukan demikian, sementara aku bisa melakukan hal untuk melindungimu..”

Tn.Hwang menghentikan kalimatnya untuk melihat bagaimana terguncangnya Fanny ketika mendengarnya.
Ia kemudian meraih tangan putrinya yang gemetar..

“maafkan aku.. Seharusnya aku punya usaha lebih untuk menutup semua ini darimu. Atau setidaknya aku mengatakan hal ini lebih awal padamu. Pasti takkan seperti ini jadinya jika kau tahu kenyataan yang sebenarnya. Kau takkan pernah meninggalkan San fransisco, kau takkan pernah ke Jepang.. Dan kau juga takkan mengajak Harry kesini. Ketempat dimana keluarganya berada.. Itu bisa menghancurkanmu sayang..”

“Aboji..”

“Aku tahu kau tak menginginkan itu. Dan sebelum hal itu terjadi, ikutilah apa yang kukatakan. Kita kembali dan bawa Harry pergi dari sini. Disana kita akan bisa melanjutkan hidup dengan tenang, seperti sebelumnya..”

Fanny menarik tangannya dari genggaman sang ayah..

“Tidak aboji.. Tidak.. Kita tak akan melakukannya..”

“Tiffany..!”

“Itu berarti kita akan menjauhkan Harry oppa dari keluarganya.. Tidak aboji..”

“Ya.. Itu yang terbaik yang bisa kita lakukan! Dan selama ini kita juga sudah melakukannya..”

“tapi aboji..”

“Dengarkan Aku, Fanny ah..! Harry akan baik-baik saja. Selama ini dia sudah menunjukkan jika dirinya menerima kehidupan baru yang kuberikan padanya. Dan keluarganya, mereka pasti sudah menerima kehilangan Harry untuk selamanya..”

Fanny mengelengkan kepalanya, menolak pemikiran yang menurutnya sangat jahat untuk dilakukan.

Bagaimana bisa ia melakukan nya setelah mengetahui hal yang sebenarnya?
Ia telah memisahkan Yoona dari suaminya.
Ia juga membuat kedua buah hatinya yang menggemaskan itu kehilangan ayahnya.

Ya Tuhan..
Tidak..
Ia tak bisa melakukannya.

“Aboji.. Apa tak sebaliknya kita menyatukan Harry oppa dengan keluarganya..”

“Jangan konyol, Fanny ah.. Itu tidak akan pernah bisa untuk dilakukan, setelah mereka kehilangan nyawa anggota keluarga. Mereka akan menuntut..!”

“Aku akan memohon..”

“Itu takkan berhasil.. Gunakanlah logika mu! Jika kau kehilangan ku dalam sebuah kecelakaan yang disebabkan oleh kecerobohan seseorang, apa kau akan bisa memaafkannya. Apa kau akan bisa membiarkannya bebas..? Aku yakin tidak. Karna kau bahkan masih tak bisa memaafkan Nickhun atas kematian ibumu, padahal sudah jelas itu bukan sepenuhnya kesalahannya mengapa ibumu tak tertolong waktu itu..”

Fanny bergerak mundur dari sisi ranjang ayahnya..

“Pikirkan bagaimana ini akan menjadi kehebohan jika mereka melaporkan ke polisi. Membuka kembali kasus kecelakaan itu. Publik akan tahu karna kecerobohanmu menghilangkan nyawa seseorang. Karir mu sudah pasti akan hancur dan bukan hanya itu imbasnya sudah pasti akan mengenai nama baikku juga perusahan. Dan Harry.. Harry akan membencimu. Dia takkan mau lagi mengenal dirimu..”

“Tidak aboji.. Cukup.. Aku tak ingin mendengarnya..”

Fanny menutup rapat kedua telinganya dengan telapak tangan. Berharap tak lagi mendengar apa yang dikatakan sang ayah kepadanya. Tubuhnya lunglai, merosot jatuh kelantai seiring dengan airmatanya yang deras mengalir diwajahnya. Gemetar dalam rasa takut yang kemudian menyergapnya.

Melihatnya, Tn.Hwang merasakan sesak didadanya. Tangannya menekan kuat kearah jantungnya yang seakan telah berhenti berdetak.

Pada saat itu, Siwon menerobos masuk dan terkejut dengan apa yang dilihatnya..

“Aboji..Aboji..! Fanny ah, apa yang terjadi? Aboji..! Nickhun ssi, bantu aku..!!”

Mendengar teriakan Siwon dari dalam, Nickhun langsung masuk menghampirinya..

“Aboji.. Aboji..”

Siwon masih berusaha menarik kesadaran Tn.Hwang yang masih saja menekan dadanya, erangan kesakitan bahkan telah beberapa kali lolos dari mulutnya..

“Tetaplah disini.. Aku akan panggilkan dokter rumah sakit ini..”

Nickhun mengangguk ketika Siwon berlari keluar dan meminta bantuan orang-orang nya untuk memanggilkannya dokter. Tak lama Ia kembali masuk dengan beberapa dokter mengikutinya..

“Mohon keluar.. Kami akan melakukan penanganan”

“Saya dokter pribadinya.. Saya akan tetap disini untuk membantu..”

Nickhun berbicara dengan seorang dokter yang juga bertanggung jawab atas kesehatan Tn.Hwang saat itu..

“Siwon.. Sebaiknya kau bawa Fanny keluar. Dia pasti ketakutan dengan keadaan ayahnya saat ini..”

Siwon mengalihkan pandangannya kearah Fanny yang masih terduduk dan menangis disana. Bergerak, ia lantas menghampirinya..

“Kita keluar dulu Fanny ah, aboji pasti akan bisa melewati ini. Dia selalu bisa bertahan..”

Siwon mencoba merengkuh tubuh Fanny untuk membangunkannya, namun yang dilakukan Fanny adalah menepiskan tangan itu dari tubuhnya.

Ia menggeleng, seakan tak mau jika Siwon menyentuhnya..

“Ada apa Fanny ah? Jangan takut.. Aku akan bersamamu.. Yakinlah, aboji akan baik-baik saja”

Fanny pastilah sudah tak memiliki lagi cukup tenaga untuk menolak, Ia membiarkan Siwon memapahnya keluar darisana.

Ia sempat menoleh kearah Tn.Hwang dan kembali dengan deras airmatanya mengalir ketika melihat dokter menggunakan alat pemacu jantung ditubuhnya.

“Aku takut Oppa.. Sangat takut..”

Setelah keluar dan hanya bisa menunggu dibalik pintu ruangan yang tertutup, Fanny bersuara dengan nada bergetar..

“ssh.. Tenanglah, Kita akan melewati ini bersama-sama”

Siwon mengusap punggungnya berusaha menenangkan.

Sedikit heran melihat Fanny yang terlihat begitu shock.
Sebelumnya, separah apapun keadaan Tn.Hwang, Fanny memang menangis tapi tidak pernah seperti sekarang ini. Raut wajahnya berbeda.
Begitu terguncang..
Apa karna Ia sadar dengan keadaan ayahnya yang memburuk tadi?

“Seharusnya aboji tidak pernah datang. Harusnya aboji tetap berada disana dan menjalani perawatan. Aboji tidak dalam keadaan sehat dan Nickhun oppa membiarkannya begitu saja..”

“Jangan lagi menyalahkan Nickhun.. Ini pastilah juga bukan sesuatu yang diinginkan olehnya”

Fanny menyadari ia memang tak seharusnya menyalahkan Nickhun, karna menurunnya kesehatan sang ayah lantaran dirinya sendiri.
Ayahnya pastilah mencemaskan nasibnya andai semua kebenaran itu terbongkar.

“Hilangkanlah kebencian itu dari dalam hatimu.. Nickhun pria yang baik”

Apa kau juga bisa menghilangkan kebencian dihatimu Oppa?
Jika kau tahu siapa aku sebenarnya..
Jika kau bisa melakukannya, Aku juga mungkin bisa melakukan hal yang sama pada Nickhun oppa.

Fanny hanya bisa menggumam didalam hatinya sambil menatap kearah Siwon.
Betapa dua tahun yang ia habiskan bersama Harry oppa nya begitu berarti dalam hidupnya.

Masih pantaskah dirinya menyebut pria itu sebagai oppa nya setelah apa yang dilakukannya..

Ya Tuhan..
Apa yang kemudian harus dilakukannya.

Ia tak ingin lagi menjauhkan Siwon dari keluarganya, terlebih Yoona dan kedua buah hati mereka.
Tapi dalam hatinya terus berkecamuk dengan perkataan sang ayah, tentang bagaimana pria itu akan membencinya. Menjauhinya dan tak akan lagi berada disisinya.

Belum lagi ia yang akan mengahancurkan nama baik dan bisnis ayahnya, juga merusak karirnya sendiri. Dunia modeling yang dicintainya. Memang bukan nominal uang yang dicarinya melainkan kepuasan hati ketika melakukannya.

Dan Yoona..
Betapa wanita yang dikaguminya itu akan mencaci maki didepan wajahnya.

Tuhan..
Semua itu sungguh memberatkan untuknya.

Ketika Fanny sedang bergelung dalam pemikirannya, pintu didepan mereka terbuka dengan beberapa dokter yang keluar dari dalamnya..

“Bagaimana keadaannya dokter?”

“Pasien sudah berhasil ditangani, namun keadaannya masih lemah”
Fanny yang kemudian lebih dulu menerobos masuk untuk melihat keadaan ayahnya, sementara Siwon menyusul sesaat setelah mendengar penjelasan lebih jauh dari dokter.

“Aboji..”

“Fan..ny ah..”

“Aboji..”

“A ku.. Tidak apa-apa..”

Fanny menangis disisinya..

“Kita kembali pulang.. Kau mau kan?”

Fanny hanya bisa mengangguk..

“Kau juga pulang bersamaku Harry..”

“Maaf Tuan.. Tapi anda belum diperbolehkan melakukan perjalanan”

Nickhun memperingatkan..

“Tapi aku ingin secepatnya pergi darisini..”

“Nickhun benar, aboji lebih baik berada disini untuk sementara..”

“Aku hanya takut tak bisa menjaga putriku jika terus berada disini..”

“Aku yang akan menjaga Fanny, aboji..”

Tn.Hwang menatap lurus kearah Siwon saat kemudian dirinya terpikir akan sesuatu..

“Jika benar kau akan melakukannya. Maka menikahlah dengan putriku.. Aku akan percaya kau menjaganya untuk selamanya, Harry..”

Fanny menangis..
Siwon terbengong, dan Nickhun terkesiap mendengarnya..

Siwon hampir-hampir tak mempercayai apa yang didengarnya. Ia juga masih belum bisa mencerna dengan apa yang dimaksudkan Tn.Hwang tadi..

“Harry.. Kau bisa melakukannya kan? Menikahlah dengan Fanny..”
Apakah itu sebuah lelucon?

“Aboji..”

Bukan suara Siwon yang terdengar, melainkan Fanny yang berseru dengan bibir bergetar.

“Aboji.. Sebaiknya beristirahat. Dan jangan bicara yang tidak-tidak..”

“Aku bukan sedang bicara yang tidak-tidak Fanny ah.. Aku serius.. Menikahlah dengan Harry”

“Apa yang aboji bicarakan? Menikah..? Itu tidak mungkin dan tidak akan bisa. Fanny adikku..”

“Kau seharusnya tidak melupakan bahwa Kau hanyalah anak angkatku, Harry.. Fanny bukan adik kandungmu dan kalian tak terikat darah yang sama”

Mungkin hanya itulah yang dapat terpikir oleh Tn.Hwang.
Ia tak dapat membawa Siwon pergi lantaran kondisi tubuhnya yang tak memungkinkan.
Dan setelah mendengar cerita dari Fanny, Ia juga yakin nantinya Siwon pasti menolak karna dirinya sedang mengejar seorang wanita.

Wanita yang akan membuka jalan bagi Suwon untuk kembali kemasa lalunya dan membuat kehidupannya, terlebih Fanny  putrinya menjadi berantakan.

Maka menikahkan keduanya menjadi satu-satunya hal yang bisa dilakukan untuk saat itu.
Siwon takkan lagi mencari wanita itu apalagi mendekatinya jika sudah ada seorang istri disampingnya.

“Aku merasa takkan memiliki waktu lagi untuk menjaga Fanny.. Maka kumohon Harry, menikahlah dengannya dan jaga putriku..”

“Aboji..”

Siwon bergerak kesisi Tn.Hwang..

“Tidak perlu dengan pernikahan, Aku berjanji akan menjaga Fanny..”

Fanny tak tahu apa yang kemudian bisa ia katakan. Menangis menjadi satu-satunya hal yang bisa ia lakukan saat itu.

“Tapi aku ingin mati dengan tenang..”

“Aboji..”

“dengarkan Aku Harry.. Aku ingin mati dengan tenang setelah putriku mendapatkan pendamping hidupnya. Dan satu-satunya orang yang kupercayai, yang bisa mendampinginya adalah Kau”

Siwon sekilas menatap kearah Nickhun dan mendapati raut wajah yang menegang. Nickhun bahkan tak lagi berkata sepatah katapun saat itu..

“Aku tidak bisa aboji.. Aku tak bisa mendampingi Fanny sebagai seorang suami. Tapi aku bisa memastikan untuk menjaganya sebagai seorang kakak. Seperti yang selama ini kulakukan..”

“Tidak.. Tidak, aku tak ingin seperti itu. Kau bisa saja meninggalkannya sendirian jika nanti Kau tahu.. Kau..”

Tn.Hwang menghentikan ucapannya, merasakan napasnya yang tercekat saat kemudian Nickhun bergerak memeriksa keadaannya..

“Tuan.. Hentikan pembicaraan ini. Anda harus beristirahat”

“Tidak.. Harry, Fanny ah.. Menikahlah.. Aku ingin melihat kalian menikah. Ini permintaan terakhirku..”

“Aboji..”

Fanny terisak-isak ketika meraih tangan sang ayah. Saat itu ia tak bisa meski sekedar untuk mengatakan Ya atau Tidak atas permintaan ayahnya.

“Tidak aboji.. Ini konyol. Semua orang tahu jika kami bersaudara, bagaimana mereka akan menilai pernikahan itu nantinya?”

“persetan dengan penilaian mereka! Aku tak perduli.. Yang aku perdulikan adalah bagaimana nasib Fanny nantinya setelah aku mati..”

“Aboji.. Tidak aboji, jangan mengatakan hal seperti itu. Aboji akan baik-baik saja. Aku tak ingin Harry oppa yang menjagaku, yang ku inginkan hanyalah Aboji. Aboji yang akan melindungiku.. Jangan tinggalkan aku seperti Oemma meninggalkanku..”

Fanny makin berurai airmata, ketika Siwon merangkulnya..

“Aku berjanji apapun yang terjadi, Fanny tetaplah adikku.. Aku takkan pernah meninggalkannya, aboji. Percayalah padaku..”

“Tidak Harry.. Kumohon..”

“Katakan sesuatu Fanny ah, Kau juga tak ingin seperti ini kan! Kita tak mugkin melakukan pernikahan.. Tidak, Aku tak bisa..”
Siwon berbalik dan melangkah keluar, pergi meninggalkan ruangan itu. Mengabaikan Tn.Hwang yang memanggil-manggilnya juga isakan Fanny menangisi ayahnya.

“Aboji.. Aboji.. Harry oppa kumohon..”

entah permohonan untuk apa yang Fanny maksudkan, yang jelas Siwon tetap pada keputusannya untuk pergi. Ia merasa membutuhkan waktu untuk memikirkan semuanya.

***

Yoona merasakan gelisah malam itu, meski waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam namun ia tak juga bisa memejamkan matanya, seperti halnya Junseo yang sudah terlelap begitupun dengan Hana yang juga tidur didalam kamarnya.
Kedua buah hatinya telah dibuai mimpi dalam tidur mereka.

Entah apa yang kemudian membuatnya beranjak turun dari atas tempat tidur dan membuka jendela kamarnya.

Tak ada sinaran rembulan saat itu, hanya taburan bintang dilangit yang begitu indah dilihatnya..

Yoona menghela napasnya, benar-benar bingung dengan kegelisahan yang dirasakannya.

Ia masih bergelung dengan pemikirannya ketika ponsel miliknya berbunyi, dan membuatnya beralih untuk mengambil dan menjawabnya..

“yobseyo..”

“Kau belum tidur?”

“Harry ssi..”

“berdirilah disana lagi.. Aku ingin melihatmu..”

Yoona tersentak namun segera mendekat kearah jendela dan mendapati Siwon berada diluar, berdiri disamping mobilnya dengan tatapan yang mengarah padanya.

Oh..
Sejak kapan pria itu berada disana?

“Apa yang sedang kau lakukan??”
Yoona bisa mendengar saat itu Siwon hanya mendesah tak menjawab pertanyaannya..

“Harry ssi, Itu benar-benar Kau kan? Yang berdiri disana?”

“Ya.. Ini aku, Aku bisa melihatmu disana. Kau belum tidur?”

“hm.. Aku tidak bisa tidur”

“kenapa?”

“Tidak tahu..”

Keduanya terdiam sejenak..

“tapi apa yang sedang kau lakukan disana?”

Yoona kembali menanyakan hal yang sama, sambil terus mencoba menatap kearah Siwon dari temaramnya lampu-lampu dihalaman rumahnya.

“Aku sedang memikirkan banyak hal..”

Yoona mengerutkan dahi, dan kembali mendengar Siwon menghela napasnya.

Sepertinya pria itu memang sedang memiliki masalah.
Yoona memikirkan akan kemungkinan itu.

Mungkin itu tentang ayah nya?

Oh Tuhan..
Seberapa parahkah sakitnya?

“Aku akan turun..”

Siwon yang tadinya terlihat lesu, mendadak bersemangat ketika mendengar Yoona mengatakan hal itu.

“Kau akan turun dan menemuiku?”

“hm.. Apa Kau sudah akan pergi?”

“Tidak..tidak, Aku akan senang jika kau melakukannya”

“Tunggulah..”

Menutup ponselnya, Yoona lantas bergerak kesisi tempat tidurnya. Membenarkan selimut diatas tubuh Hana dan Junseo, juga memastikan keduanya telah tidur nyenyak dan tak akan terbangun ketika ia meninggalkannya keluar sebentar untuk menemui Siwon.

Meraih sweter yang tergantung, Yoona mengenakannya untuk melapisi gaun tidur yang dikenakannya, sebelum akhirnya membuka pintu kamar dan melangkah perlahan menuruni tangga menuju pintu depan rumahnya.

Melangkah keluar dari dalam rumah, Ia lantas meraih kuncian pada pagar untuk selanjutnya membukanya..

“Harry ssi..”

Disana Yoona bisa melihat Siwon berdiri, bersandar diatas kap mobilnya dan tersenyum ketika melihat ia menghampirinya.
Ia lantas melakukan hal yang sama seperti apa yang Siwon lakukan, disebelahnya..

“Hai..”

“Hai..”

terjadi kecanggungan diantara keduanya..

“Apa aku mengganggumu, Yoona?”

“euh..tidak. Aku hanya terkejut melihatmu berada disini”

Beberapa menit berikutnya yang ada hanya kebisuan diantara keduanya.

Siwon..
Pria itu tengah menyimpan banyak pemikiran dikepalanya hingga tak mengerti bagaimana cara untuk mengungkapkannya.
Ia terdiam dalam kebingungan..

Sedangkan Yoona merasa tak tahu dengan apa yang bisa ia katakan, sampai kemudian ia terpikir untuk menanyakan sesuatu padanya..

“Harry ssi, bagaimana keadaan ayahmu?”

Siwon menoleh, dan bertatapan langsung dengan Yoona yang berdiri disebelahnya.

“buruk..”

lagi-lagi Yoona menyadari Siwon mendesah..

“seberapa buruk?”

“sangat buruk..”

“Ya Tuhan.. Aku berdoa untuk kesembuhannya”

“Ya.. terimakasih”

Siwon kembali mengalihkan pandangannya dari Yoona. Ada begitu banyak hal yang berkecamuk dikepalanya.

Hingga ia sendiri bingung dengan apa yang kemudian bisa membuatnya menghentikan laju mobilnya didepan rumah Yoona..

“bagaimana dengan Fanny?”

“Dia shock dan tak berhenti menangis..”

“Aku turut bersedih.. Itu pasti berat untuk kalian”

“Tidak seberat dengan apa yang kupikirkan sekarang..”

“Apa yang kau pikirkan? Kau terlihat terbebani..”

“Aboji memiliki permintaan yang tak mungkin bisa kupenuhi..”

“Kau tak ingin mencoba memenuhi permintaan itu? Mungkin Kau bisa melakukannya setelah mengusahakannya..”

Siwon kembali mengarahkan perhatiannya pada Yoona. Menatap dalam kearah matanya.

Yoona mengerjap, mendadak merasakan aliran darahnya yang seakan dipompa dengan cepat ketika kemudian Siwon meraih tangannya dan menggenggamnya erat.

“Harry ssi..”

“kumohon jangan melepaskannya..”

Ia memang tak berniat melepaskan genggaman tangan itu sekalipun pikirannya mengatakan hal demikian, namun hati dan tubuhnya tak sejalan dengan apa yang ada dalam pemikirannya.

“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu..”

“Apa?”

“Bagaimana perasaanmu terhadapku?”

“Apa?”

Mungkin ia salah dengar?
Tapi tidak..
Pria itu jelas menanyakan bagaimana perasaan dirinya.
Dan jawaban macam apa yang bisa ia berikan..

“Apa maksudmu menanyakan hal seperti itu?”

“Kau mengatakan mengapa aku tak mencoba memenuhi permintaan ayahku bukan? Maka aku sedang mengusahakannya dengan menanyakan perasaanmu terlebih dulu..”

“Itu tak ada hubungannya..”

“Percayalah padaku, hal itu sangat berhubungan.. Katakan bagaimana perasaanmu, Yoona?”

“Aku.. Aku..”

“Kau masih tidak melihatku sebagai Harry? Kau tetap memandangku sebagai pria lain? Suamimu?”

“Harry ssi..”

Yoona merasakan genggaman ditangannya mengencang, membuatnya kemudian berusaha untuk membebaskan tangannya dari genggaman tangan Siwon.

“Harry ssi.. Lepaskan aku..”

“Demi Tuhan.. Jawab aku Yoona!”

Yoona terkesiap, melihat kekasaran yang kembali ditunjukkan pria itu dihadapannya.
Ia menyentak tangannya dan berbalik melangkah untuk menjauh, namun kemudian Siwon dengan cepat menarik pergelangan tangannya dan mendekap tubuhnya..

“Aku mencintaimu Yoona.. Katakan jika Kau memiliki perasaan yang sama padaku. Maka aku akan mengambil keputusan..”

Tuhan..
Sekujur tubuhnya membeku ketika kemudian Siwon memagut bibirnya dengan lembut..

Oh Tuhan
Ini ciuman suaminya..
Siwon nya..

Yoona merasakan uforia dari dalam hatinya, keinginan untuk membalas dan merasakan lebih dalam pagutan bibir itu dengan menggunakan lidahnya.

Ia sungguh merasakan sentuhan suaminya ketika pria itu menarik pinggangnya lebih rapat, juga menekan pada tengkuknya.
Membuatnya kemudian meletakkan kedua tangannya diatas dada Siwon dan meremas kemeja yang dipakainya.

Tersentak oleh apa yang tak seharusnya dilakukannya, Yoona lantas mendorong dada Siwon untuk menghentikan ciumannya.

Namun tak berhenti sampai disana, karna Siwon tak membiarkannya menjauh. Ia justru menangkup wajahnya dengan kedua tangan dan kembali membenamkan bibirnya.

Tuhan..
Ini begitu manis.
Ini bukan seperti ketika pria itu memaksa menciumnya disaat pertama kali mereka bertemu.
Ini seperti ciuman hangat yang selalu diberikan suaminya.
Yang sangat dirindukannya..

Yoona merasakan limbung oleh sensasi yang dirasakannya. Ia menyerah untuk tetap diam dan perlahan membalas pergerakan diatas bibirnya.

Ia bukan lagi mendapatkan sebuah ciuman. Melainkan ia sedang berciuman.
Memberi, membalas dan menikmati setiap pergerakan  pada bibirnya.

“Aku mencintaimu, Yoona..”

Yoona terengah, merasakan deru napasnya yang tak teratur ketika Siwon menempelkan dahi keduanya.

“Katakan jika kau juga merasakan hal yang sama seperti apa yang kurasakan.. Katakan jika kau mencintaiku.. Katakan, Yoona.. Aku ingin mendengarnya..”

Yoona merasakan jantungnya berdebar kencang.
Tidak..
Ia tidak memiliki perasaan semacam itu.

Jika pun ada, itu bukan untuk pria itu. Cinta nya hanya untuk Siwon suaminya dan bukan pria lain.

“Katakan Yoona..”

Siwon menggenggam kedua bahunya agar Yoona bertatapan dengannya..

“Tidak..”

Satu kata yang cukup untuk membuat Siwon merasakan hantaman kuat mengenai dadanya.

Wanita itu menolaknya..

“Aku tidak mencintaimu.. Aku tidak bisa..”

“Kau bohong! Kau jelas membalas ciumanku..!”

“Tapi bukan kau yang berada dalam pikiranku.. Aku berimajinasi jika suamiku, dialah yang sedang melakukannya dan aku terbiasa menikmati setiap ciuman dan sentuhannya..”

Yoona sadar jika itu terdengar menyakitkan, dan
Siwon jelas tersakiti dan meraskan kesakitan itu ketika kemudian ia mengendurkan pegangannya dikedua bahu Yoona dan perlahan melepaskannya..

“Maafkan aku.. Aku tidak bisa mencintaimu. Selamanya.. Kau hanya akan menjadi bayang-bayang suamiku. Dan aku tak ingin memanfaatkanmu untuk itu. Untuk mengobati kerinduanku padanya..”

Ya..
Yoona menyadari ketika dirinya menatap pria itu benar-benar merefleksikan sosok suaminya.
Dan ciuman yang dilakukannya tadi juga tak lepas dari apa yang dirasakannya untuk suaminya dan bukan untuk pria itu.

Yoona tak ingin membuat pria itu tersakiti dengan memanfaatkan kehadirannya sebagai pelampiasan, pengganti kerinduaannya terhadap sosok sang suami.

Selalu, pria itu hanya akan menjadi bayang-bayang Siwon dalam hidupnya.

“Maafkan aku.. Aku tak bisa..”

Yoona bergerak mundur dan lantas membalikkan tubuhnya untuk melangkah pergi darisana, namun kemudian ia merasakan Siwon kembali meraih tangannya..

“Dan bagaimana jika akulah suamimu? Dia tidak benar-benar pergi untuk selamanya.. Aku suamimu. Aku mengalami kecelakaan yang membuatku menderita amnesia hingga lupa akan jati diriku juga keluargaku.. Kau tak memikirkan akan kemungkinan itu?”

Yoona tersentak oleh apa yang diucapkan Siwon.

Ia kemudian hanya menggelengkan kepalanya..

Tidak..
Ia bukan tidak pernah memikirkan akan kemungkinan itu. Ia hanya tak ingin terpaku pada satu pemikiran itu yang pada akhirnya akan mengecawakan untuknya.
Berkali ia telah merasakan kekecewaan karna harapan kosong semacam itu..

Siwon nya pergi..
Siwon nya telah pergi dan takkan pernah kembali..

“Jika kau tak pernah memikirkan hal itu, maka kau bisa memikirkannya sekarang. Bagaimana jika aku suamimu dan kau akan membiarkanku menikahi wanita lain. Apa kau takkan menyesalinya nanti?”

Yoona kembali membalikkan tubuhnya dan langsung bertatapan dengan tatapan sendu yang tersorot dari kedua mata Siwon..

“Aboji memintaku menikah dengan Fanny..”

Tuhan..
Ia merasakan aliran panas yang akan menyeruak dari sudut matanya andai ia tak segera menahannya. Dan secepatnya pergi darisana..

Ia tak bisa memikirkan apapun saat itu..

“Aku tak mengerti mengapa kau mengatakan hal itu padaku..”

Tanpa mengatakan apapun lagi, Yoona berbalik untuk selanjutnya pergi.
Ia limbung dan butuh berpegang pada apapun yang bisa mencegahnya agar tidak terjatuh..

“Demi Tuhan Yoona.. Itu konyol.. Aku tak ingin pernikahan itu!!”

Siwon mengerang frustasi melihat Yoona mempercepat langkahnya untuk kembali masuk kedalam rumahnya.

***

Changmin telah berkali memeriksa kedalam ponselnya, berharap ada satu panggilan atau setidaknya pesan yang dikirimkan Siwon padanya.

“Ada apa Oppa?”

“Harry tidak bisa dihubungi..”

“bukankah kemarin kalian berencana bertemu?”

“Dia tidak datang..”

Sooyoung mendekat..

“Adakah sesuatu terjadi padanya?”

“sepertinya begitu.. Aku akan mencari tahu nanti..”

***

Tiffany tercenung disisi tempat tidur ayahnya.
Semalaman ia tak bisa tidur dan terus terpikirkan akan permintaan Tn.Hwang yang dirasa sangat memberatkan untuknya.

Ia telah menganggap Siwon layaknya saudara. Sosok seorang kakak yang selama ini diinginkannya.
Dan tak pernah terbersit dalam pikirannya jika mendadak sang ayah menginginkan dirinya untuk menikahinya.

Tuhan tahu ia memang punya perasaan mendalam untuk Siwon.
Tapi bukan perasaan layaknya seorang gadis pada pria yang dikasihi nya. Melainkan perasaan menyayangi sebagaimana adik terhadap kakaknya.
Ia merasa bersalah atas apa yang telah disebabkan olehnya, maka dirinya sangat berharap dapat mengganti kebahagiaan Siwon dengan apapun juga.

Tapi bagaimana jika lantas kebahagiaan Siwon justru yang akan menghancurkan ayahnya dan dirinya sendiri tentunya.

Tuhan..
Apa yang harus dilakukan?

“Fanny ah..”

Nickhun mendekat, menyentuh bahunya dan menyadarkan Fanny dari lamunan.

“beristirahatlah.. Lihat betapa kacaunya dirimu..”

“Oppa..”

Fanny menatapnya dengan mata berkaca-kaca ketika Nickhun meraih tangannya, membawanya untuk berdiri.

Baru kali ini Fanny membiarkan Nickhun berlaku seperti itu pada dirinya. Sejak saat ia kehilangan ibu nya, sikap nya berubah jadi tak bersahabat dan dingin pada pria itu.

“Mata indahmu membengkak akibat terlalu banyak menangis.. Ayo, Kau harus makan dan beristirahat setelahnya”

Fanny juga tak menolak ketika Nickhun menariknya keluar dari kamar Tn.Hwang. Namun setelah pintu dibelakangnya tertutup, Ia mendadak menghentikan langkahnya.

“Ada apa?”

“bagaimana dengan aboji? Aku tak bisa membiarkannya sendirian. Bagaimana jika nanti…”

Fanny terlihat belum yakin untuk meninggalkan sang ayah sendirian didalam sana.
Jika ayahnya tiba-tiba mendapat serangan dan tak ada seorangpun disana, akan seperti apa jadinya..

“tenanglah.. Akan ada suster yang menjaganya selama kita meninggalkannya”

Nickhun sudah akan kembali melangkah saat Fanny kembali terlihat berkeberatan untuk mengikutinya. Ia menarik lepas tangannya dari genggaman Nickhun.

“Fanny ah..”

“Aku takut Oppa.. Aku sangat takut. Apa yang harus kulakukan sekarang?”

Nickhun bisa melihat gadis didepannya itu kembali meneteskan airmatanya, benar-benar terlihat kesedihan disana. Wajahnya mendung menunjukkan kemuramannya.

“tidak ada yang perlu kau takutkan.. Aku janji akan melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan untuk kesembuhan ayahmu. Kumohon jangan menangis..”

Nickhun meraih tubuhnya kedalam pelukan membuat Fanny justru bertambah terisak, menumpahkan airmata didadanya.

“Bukan hanya karna aboji. Tapi Aku juga takut.. Aku takut Harry oppa akan membenciku..”

“tidak ada alasan Harry untuk membencimu..”

sontak Fanny menjauhkan tubuhnya dari pelukan Nickhun..

“Ada.. Jelas ada, Kau juga tahu hal itu bukan!”

Nickhun terkesiap mendengarnya.
Apa yang sebenarnya dimaksudkan Fanny dengan ucapannya?

“Apa maksudmu, Fanny ah..”

“Aku tahu Oppa.. Aku tahu semua yang seharusnya kuketahui sejak lama. Aboji sudah mengatakan semuanya”

Ya Tuhan..
Jadi itu sebabnya mengapa gadis itu terlihat Shock bahkan terguncang..

Nickhun kembali meraih tubuhnya dan memeluknya erat, meski Fanny kemudian mengepalkan tangannya dan memukul-mukul dadanya..

“mengapa kau tak mengatakannya padaku.. Mengapa kau membiarkan aboji menutupi kesalahanku. Aku patut dihukum oppa.. Aku telah menghilangkan nyawa seseorang. Harry oppa akan membenciku.. Aku sangat takut..”
Nickhun merasakan betapa tubuh dalam pelukannya bergetar hebat seiring dengan derasnya airmata yang turun membasahi wajahnya.

Ini lah yang juga menjadi ketakutannya.
Kesakitan gadis itu menjadi kesakitan tersendiri untuknya.
Dan melindungi Fanny menjadi daftar nomor satu yang akan dilakukannya..

“Tidak.. Harry akan mengerti. Kita bisa menjelaskannya..”

“Aboji tak ingin aku melakukannya. Permintaannya agar Harry oppa menikahiku menjadi bukti jika aboji tak menginginkan Harry oppa kembali pada keluarganya. Dan itu dilakukannya untuk melindungiku”

Bagaimanapun Nickhun merasakan sakit mengetahui niatan itu, meski ia memahami kebaikan untuk Fanny menjadi alasan dibaliknya.

“Sejujurnya aku tak ingin membiarkan hal itu terjadi. Aku tak ingin melihatmu menikahi pria lain.. Aku menginginkanmu Fanny ah..”

Nickhun mungkin tak bisa melihat saat itu Fanny tengah terperangah mendengarnya, tapi ia bisa merasakan tubuh itu menegang dalam pelukannya.

***

Yoona keluar dari dalam rumahnya, menggandeng Hana masuk kedalam mobil yang akan dikendarainya.

Dengan sapuan make up diwajahnya ia menyamarkan kondisinya. Mungkin dengan itu tak akan ada yang tahu jika semalam ia tak bisa tidur dan justru menangis.

Tak ada senyum dibibirnya saat Hana mulai berceloteh, yang ada justru kemuraman yang menggurat diwajahnya..

“Oh, mommy.. Bukankah itu daddy? Daddy.. Daddy!”

Yoona terpaku didalam mobil melihat pria itu yang masih berada didepan pagar rumahnya, seperti apa yang semalam dilakukannya.

Jadi dia tidak pergi?
Ya Tuhan..

Yoona juga dapat  melihat jika Siwon mengarahkan tatapan mata kearahnya. Melihatnya dari balik kaca depan mobil yang dikendarainya.

Dia benar-benar masih berada disana. Berdiri didepan kap mobilnya..

“Mom.. Bisakah Hana turun untuk bertemu Daddy?”

Hana menekan kuncian pada bagian pintu mobil, mencoba untuk membukanya.

Namun Yoona tak membiarkannya dan justru menarik tangan Hana.

“Kita harus berangkat Hana ya.. Kau bisa terlambat sampai di sekolah”

“Tapi daddy disana mom.. Daddy pasti sedang menunggu kita. Hana ingin menyapa daddy.. Hanya sebentar mom”

“tidak Hana ya..”

“Mom!”

Yoona mengabaikan rengekan Hana dengan menstater mobilnya, untuk selanjutnya melajukannya. Melewati pagar rumahnya yang telah terbuka dan melewati Siwon yang tanpa ia memperdulikannya, Yoona bisa merasakan tatapannya yang menusuk.

Terasa perih setelah apa yang terjadi, juga apa yang pria itu katakan semalam pada dirinya.

Pikirannya mencerna tentang pernikahan yang Siwon katakan sebagai permintaan dari ayahnya yang sakit dan hatinya mungkin sedang meneriakkan penolakan akan ide konyol itu, meski ia terus menyangkal dengan mengatas namakan suaminya sebagai tameng hati nya yang bergejolak.

Yoona terus memberatkan kesetiaan cinta nya pada Siwon suaminya sebagai alasan untuk menolak.

Tapi ternyata sungguh perih mengetahui pria itu berdiri disana sepanjang malam yang dingin..

Setelah melihat mobil yang dikendarai Yoona melaju melewatinya, Siwon hanya bisa menatapnya nanar. Meski sebelumnya dirinya masih sangat berharap Yoona akan merubah ucapannya setelah pagi ini melihatnya tetap berada disana.

Tapi nyatanya wanita itu justru menunjukkan jika benar apa yang dikatakannya semalam. Dia tak punya perasaan apapun selain menganggapnya sebagai orang lain.

Maka tak ada lagi pemikiran yang mengharapkan dirinya sebagai sosok suami Yoona.
Tak ada lagi pemikiran jika dirinya adalah seorang ayah bagi Hana dan Junseo, serta bagian dari keluarga penghuni rumah dihadapannya.
Semua itu lenyap..
Hilang..
Tertelan oleh kekecewaan nya..

Tapi mengapa ia harus kecewa..
Mengapa ia sampai merasakan marah.
Jika sebelumnya telah sempat berada dalam pemikirannya bahwa dirinya adalah sosok ‘suami’ Yoona, bukankah ia seharusnya berbangga wanita itu memegang teguh kesetiannya. Tapi pada saat itu ego nya sebagai seorang ‘Harry’ lebih besar, hingga yang terjadi adalah sebaliknya. Dirinya yang merasa sebagai pria yang tak dianggap..

“Kau yang mendorongku mengambil keputusan ini, Yoona..”

***

Fanny baru akan menerima paksaan Nickhun untuk menyuapkan makanan kedalam mulutnya ketika kemudian ia mendengar sedikit gaduh dan melihat beberapa suster dan dokter berlarian kedalam kamar rawat ayahnya.

“Aboji.. Aboji..”

Ia sontak berdiri, dengan Nickhun yang lantas mengikutinya.

“Aboji, Oppa.. Apa yang terjadi?”

“Kita akan melihatnya..”

Berlarian menuju kamar rawat Tn.Hwang, keduanya menerima pemberitahuan jika kondisinya kembali tidak stabil dan cenderung menurun.

Fanny kembali menangis ketakutan, meski Nickhun telah mencoba menenangkan dirinya dengan pelukan..

“Fanny ah..”

diujung koridor rumah sakit Siwon berlari, terengah saat kemudian berhasil mencapai Nickhun dan membuat Fanny melepaskan pelukan Nickhun ditubuhnya.

“Oppa..”

“bagaimana keadaan aboji?”

“Oppa.. Aboji semakin melemah. Aku takut..”

Fanny beralih untuk kemudian menghambur kedalam pelukan Siwon. Membuat Nickhun merasakan sakit dalam hatinya.
Mungkin ia egois karna merasakan perasaan cemburu disituasi seperti saat itu. Meski Ia telah sadar akan posisinya, begitu ada Siwon disana dirinya tak akan menjadi penting dimata Fanny.

“Aku akan bersamamu Fanny ah.. Aku takkan meninggalkanmu lagi seperti semalam”

Siwon mengusapkan tangannya diatas rambut Fanny..

“Oppa..”

“Kita akan penuhi permintaan aboji.. Aku akan menikahimu dan menjagamu seumur hidupku..”

Fanny terkejut dan melepaskan pelukannya..

“Oppa apa maksudmu? Kita tidak bisa menikah..”

“Kita bisa.. Seperti yang aboji katakan, kita tak punya ikatan darah..”

“Tapi aku.. Tapi..”

Fanny sekilas menatap kearah Nickhun, bagaimanapun dirinya baru saja menerima pengakuan cinta darinya. Dan sekarang pria itu justru terdiam tanpa ekspresi diwajahnya.

“Tapi bagaimana dengan Yoona? Oppa.. Kau tak bisa melakukannya. Untuk pertama kalinya aku melihatmu tertarik pada seorang wanita. Dan kau tak bisa mengorbankan dirimu hanya demi aboji..”

“Tidak Fanny ah..Ini bukan hanya demi aboji, tapi ini juga demi dirimu. Kalian yang selama ini bersamaku, dan aku merasa perlu membalas budi kebaikan aboji selama ini..”

“bagaimana dengan Yoona, Oppa? Bagaimana dengannya?”

“Dia tak memiliki perasaan apapun untukku. Percuma saja jika aku terus memaksanya”

“Oppa..”

“Jangan membuatku goyah Fanny ah..Kita akan memberitahu aboji setelah ini. Kuharap dia bisa sembuh setelah mendengarnya”

***

Changmin benar-benar gusar setelah Siwon bahkan tak bisa ia temukan dirumah yang ia sewakan untuknya, dan tak ada informasi apapun mengenai keberadaannya.

“Apa yang terjadi dengannya?”

Baru saja ia meraih ponsel dari atas meja kerjanya berniat untuk kembali mencoba menghubungi Siwon, namun sebuah panggilan masuk lebih dulu mencegahnya.

“Ada apa?”

“Tuan.. Saya telah menemukan wanita yang biasa mengunjungi makam keluarga anda. Wanita itu mengaku sebagai istrinya.. Seperti yang anda duga, jasad itu bukanlah Tn.Choi..”

“APA?!”

Begitu memutus sambungan telepon setelah memerintahkan seorang itu untuk datang dan membawa serta bukti-bukti hasil dari penyelidikannya, Changmin kembali mencoba menghubungi Siwon.

Dan hal yang sama kembali terjadi, Siwon tak menjawab ponselnya. Membuat Changmin semakin yakin jika terjadi sesuatu dengannya.

Apakah Siwon sengaja menghindarinya?
Apa dia tidak mempercayai ketika dirinya mengatakan bahwa dugaannya adalah Fanny, sang adiklah yang terlibat dalam kecelakaan yang pernah dialaminya.

Ya..
Bagaimana pun Siwon masih beranggapan jika dirinya adalah ‘Harry’ maka wajar saja bila kemudian dia merasa tak nyaman ketika sang adik dipersalahkan tanpa bukti akurat.

“Tuhan.. Kau harus menjawab ponselmu, Siwon..”

Changmin kembali memeriksa beberapa berkas diatas mejanya, hingga beberapa waktu setelahnya seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya, kemudian pria itu masuk menghampirinya.

“Tuan..”

“duduklah.. Dan berikan padaku apa yang telah kau temukan?”

Pria itu lantas mengeluarkan beberapa lembar kertas, berisi catatan yang juga disertai dengan beberapa lembar foto.

“Ini wanita yang saya maksudkan..”

pria itu menunjuk pada salah satu foto..

“Dia sudah mengakui jika jasad dalam makam itu adalah suaminya..”

“bisakah kau mendatangkannya padaku?”

“saya bisa melakukannya..”

Changmin memeriksa dengan seksama bukti-bukti yang telah berada ditangannya..

“Jadi benar, penyebab kecelakaan itu adalah gadis dalam foto ini?”

Changmin menunjuk pada foto Tiffany..

“Ya.. Mereka memanipulasi kecelakaan itu demi menyelamatkan nama baik mereka. Membawa Tn.Choi yang terluka ke San Fransisco, dan mengorbankan orang lain sebagai gantinya”

“jadi siapa sebenarnya suami dari wanita itu?”

“Istrinya mengatakan jika suaminya bekerja untuk Tn.Hwang, sebagai salah satu pengawalnya. Mereka telah memberikan kompensasi uang pada wanita itu, sekaligus sebagai tutup mulut”

Changmin seakan tak bernapas ketika mendengarnya..

“Jadi jasad itu benar bukan Siwon?”

“anda bisa melihat tes DNA yang saya dapatkan.. Mereka telah menukar hasilnya dengan milik Tn.Choi”

Tuhan..
Changmin merasakan kelegaan dalam hatinya. Membayangkan jika segera setelah ini tangis Sooyoung istrinya..
Tangis Yoona..
Tangis ibu mertuanya..
Dan juga tangis Hana dan Junseo selama ini, akan terganti dengan senyuman kebahagiaan ketika mereka mengetahui yang sebenarnya.
Sebenarnya Siwon masihlah hidup dan bisa bersama lagi ditengah-tengah mereka.
Jikapun mereka menangis nantinya, itu menjadi tangis kerinduan, tangis keharuan dan tentunya tangis kebahagiaan. Bukan lagi tangis kesedihan seperti sebelumnya.

“Kita bawa wanita itu.. Karna aku akan langsung mengatakan semua ini pada Siwon..”

***

Sekali lagi tim dokter rumah sakit itu berhasil menyelamatkan Tn.Hwang dan mengembalikan lagi degup jantung nya kembali normal.

Ketika kemudian Siwon dan Fanny masuk dan menemuinya, Tn.Hwang hanya bisa menatap mereka dengan lemah mengulurkan tangan yang kemudian langsung disambut Fanny, yang
Sekuat hati ia menahan agar tak menangis didepan sang ayah..

“Aboji.. Aboji baik-baik saja kan?”
Tn.Hwang mengangguk sambil berusaha untuk tersenyum kearahnya.

“Aboji..”

Siwon mendekat kesamping Fanny..

“Harry.. Aku.. Aku..”

“Aboji.. Cepatlah sembuh dan Jangan khawatir, Aku.. Aku akan memenuhi keinginan aboji. Aku akan menikahi Fanny”

“Oppa..”

“Kita sudah membicarakan ini, Fanny ah..”

Tn.Hwang lantas meraih tangan Siwon dan menyatukannya diatas tangan Fanny..

“Terimakasih Harry.. Dengan menikahi Fanny, Kau benar-benar akan menjadi putraku, terimakasih.. Dan kumohon lakukanlah pernikahan itu besok. Aku ingin melihatnya.. Aku takut takkan bisa menyaksikannya jika kalian tak segera melakukannya..”

***

Entah apa yang kembali ada dalam pikiran Siwon saat itu.
Setelah ia bahkan sudah mengambil keputusan, Ia justru melajukan mobilnya dan menghentikannya didepan butik milik Yoona.

Keputusannya untuk menikahi Fanny justru membuat Hatinya dicekam kemuraman dan perasaan berat untuk melakukannya.

Keluar dari mobil, Ia langsung masuk kedalamnya dan tanpa mengindahkan beberapa karyawan disana, Siwon yang telah mengetahui letak ruang kerja Yoona langsung naik untuk menemuinya..

“Yoona..”

menoleh dan terkejut, Yoona bisa melihat kebingungan pada Yuri dan Jessica yang ketika itu berada dalam ruangannya.

“Aku ingin bicara denganmu..”

“Kami akan meninggalkan kalian..”

Tidak..
Yoona sangat ingin menghentikan Yuri dan Sica melangkah keluar dari ruangannya, tapi ia tak bisa melakukannya..

“Apa lagi yang ingin kau bicarakan?”

Siwon mendekat merenggut pergelangan tangan Yoona..

“Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku..!”

“Aku tak perduli saat ini Kau melihat ataupun menganggapku sebagai siapa.. Aku hanya ingin Kau melihatku sebagai seorang pria yang mencintaimu. Aku mencintaimu Yoona.. Ini akan menjadi yang terakhir..”

Dan seketika tubuhnya gemetar, merasakan kembali rasa yang sama seperti sebelumnya.
Sentuhan lembut nan hangat dari bibir suaminya..

Menyadari kediaman Yoona dan tak menerima balasan seperti ketika malam sebelumnya, Siwon pada akhirnya melepaskan ciumannya, menatapnya dengan begitu dalam ketika ia kemudian mengusapkan ujung jemarinya untuk menyentuh sudut bibir bagian bawah milik Yoona yang basah oleh ciumannya.

“Cukup melihatku sebagai orang yang mencintaimu.. Dan aku akan pergi..”

Yoona tak ingin hatinya kembali digoyahkan oleh perlakuan maupun ciuman pria itu, Ia harus menjaga cinta nya untuk sang suami.
Maka dengan menggunakan kedua tangannya Ia kemudian mendorong dada Siwon menjauh darinya.

“Aku akan pergi.. Jaga dirimu dan jaga dua bocah menggemaskan yang kau miliki. Harus kuakui, aku juga mencintai mereka berdua..”

memberikan tatapan kesedihan dari kedua matanya, Siwon keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Yoona yang merasakan rasa sakit menghantam dadanya, juga lemas dikedua kakinya hingga membuat tubuhnya merosot lunglai diatas lantai dingin ruang kerjanya.
Matanya memanas ketika airmata yang tak terbendung membasahi wajahnya.
Ia menangis dalam isakan pilu..

Apa yang ditangisinya?
Dan apa yang sebenarnya diinginkan olehnya?
Bukannya seharusnya ia merasakan senang pria itu menjauh darinya?

Tidak..
Hatinya menjerit jika bukan itu yang diinginkan olehnya..

“Tidak.. Harry..! Harry Tunggu..!”

Menegakkan tubuhnya, Ia dengan cepat membuka pintu ruang kerjanya dan berlari menuruni tangga, berusaha untuk mengejar Siwon.

“Harry ssi, Tunggu.. Kumohon Tunggu..!”

Yoona tak perduli ketika ia harus berlari keluar dari dalam butiknya dengan airmata yang terus berlinang.

Ia ingin mengakui..
Ia akan berkata jujur pada pria itu..
Ia juga mencintainya..
Seharusnya ia mengatakan padanya..

Namun sepertinya sudah terlambat, ketika Ia melihat Siwon telah melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi ditengah jalan raya..

“Tunggu.. Kumohon tunggu Aku.. Harry, maafkan aku.. Aku..”

Yoona terduduk diatas trotoar jalan didepan butiknya.
Menekan dan meremas bagian dadanya yang ia rasakan jantungnya tengah berdetak kesakitan didalam sana.
Isakan tangisnya pilu dalam penyesalan..

“Astaga Yoona.. Apa yang terjadi? Tuhan.. Ada apa dengan dirimu?”

Yuri dan Jessica berlarian mendekat dan langsung merengkuh tubuh Yoona kedalam pelukan.

“Apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian?”

Yoona tak ingin menjawab.
Ia memang sepertinya tak akan bisa menjawab. Bibirnya kelu, lidahnya kaku untuk sekedar mengeluarkan suaranya.

***

Tak bisa terus berada di butiknya, Yoona pulang kerumahnya dengan perasaan terguncang oleh rasa bersalah yang begitu besar pada suaminya.

image

Sepanjang malam didalam kamarnya, ia hanya terus menangis.

Menangisi ketidak mampuannya untuk menjaga hatinya, menjaga cinta dan juga kesetiaannya pada sang suami.

Tuhan..
Ia telah berdosa.

Membiarkan pria lain masuk kedalam hatinya dan mengisi ruang disana yang seharusnya hanya bisa ditempati oleh suaminya.

Tuhan..
Ia telah berdosa.

Membiarkan pria lain menyentuh, memeluk dan menciumnya.

Tuhan..
Ia telah berdosa.

Ia telah berkhianat.
Mengkhianati suaminya.

Jelas karna itu, Tuhan takkan pernah mempertemukannya kedalam surga yang sama dengan suaminya.
Tuhan takkan pernah menyatukannya kembali dengan sang suami didalam surga indahnya.

“Mianhae yeobo.. Mianhae.. Maafkan aku..”

Yoona terisak-isak membayangkan betapa saat itu Siwon sedang memandangnya penuh kekecewaan.

***

Sepanjang hari hingga sampai pada malam harinya, Changmin terus berusaha menemukan keberadaan Siwon, dengan meminta bantuan beberapa orang yang ia bayar.

Ia perlu bertemu dengan Siwon secepatnya dan mengatakan semua kebenaran itu padanya.

Namun hingga tengah malam itu, Ia tak juga menemukan Siwon maupun mendapatkan kabar dari orang-orang suruhannya. Yang kemudian membuatnya mengerang dalam kefrustasian..

“Dimana sebenarnya Kau saat ini, Siwon..?”

***

Pemandangan berbeda terlihat pada taman rumah sakit pagi itu.
Entah sejak kapan orang-orang melakukan persiapan disana.

Yang kemudian bisa dilihat adalah dekorasi altar yang sederhana dengan beberapa kursi berlapis kain putih dengan pita berwarna yang berada dibelakangnya.

Tak lama lagi akan ada sebuah pemberkatan disana.
Pemberkatan pernikahan yang diinginkan Tn.Hwang untuk putrinya dan Siwon.

Jika persiapan ditaman rumah sakit telah selesai, tak berbeda halnya dengan persiapan yang dilakukan Siwon dan Fanny.

Siwon telah mengenakan jas rapi, sementara Fanny memakai gaun putih sepanjang mata kaki yang sebelumnya telah dimiliki olehnya.

Keduanya telah berada disebuah mobil yang sama, dengan seorang supir yang akan mengantar mereka kerumah sakit dimana Tn.Hwang dirawat.

Pemberkatan akan dilakukan ditaman rumah sakit disana, mengingat kondisi Tn.Hwang yang tidak memungkinkan untuk dibawa keluar juga karna pernikahan mendadak itu sangat tidak memungkinkan mereka untuk melakukan banyak persiapan.

“Kau Siap Fanny ah..?”

“hm.. Oppa..”

“Apa?”

“Kau yakin?”

“Apa maksudmu?”

“Kita masih bisa menghentikan ini..”

“Tidak, Fanny ah.. Kita akan melakukannya..”

Fanny tak mengatakan apapun atau berbuat sesuatupun setelahnya.
Apa yang bisa dilakukannya jika dirinya sendiri takut untuk mengatakan yang sebenarnya.

Ia takut membayangkan kebencian Siwon nantinya.
Ia takut menerima kemarahan Yoona nantinya.
Dan ia bertambah takut akan kehilangan Ayahnya nantinya.

Jika sampai semua itu terbongkar dan berpengaruh pada kesehatan ayahnya, Ia tak bisa membayangkan akan seperti apa hidupnya.
Ayahnya telah melindunginya dan sekarang menjadi kesempatannya untuk memenuhi permintaan ayahnya.
Meski untuk itu Ia sadar telah mengorbankan banyak orang.

Mengorbankan Siwon yang seharusnya kembali pada keluarganya.
Mengorbankan Yoona dan kedua buah hatinya.
Serta mengorbankan keluarga Siwon yang merindu kehadirannya ditengah-tengah mereka.

Biarlah..
Ia memang sudah menjadi manusia jahat dengan menghilangnya nyawa seseorang akibat ulahnya.
Ia telah memiliki noda hitam dalam kehidupannya.
Maka biarkanlah jika dirinya harus menjadi hitam sepenuhnya.
Fanny merasakan sudut matanya basah oleh airmata.
Ia menangis tanpa suara..

Tuhan..
Ampunkanlah dirinya.

Dan selanjutnya, sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, keduanya sama-sama terdiam dalam pikirannya masing-masing. Sampai kemudian Fanny sedikit menjerit dan Siwon yang kemudian merangkulnya ketika merasakan guncangan dari dalam mobil yang mereka tumpangi.

Mobil itu berjalan oleng bahkan hampir menabrak mobil yang berada disekitar dan hadapannya, sang supir seperti kehilangan konsentrasi ketika mengemudikannya.

“Ahjussi..Berhati-hatilah. Kita bisa celaka!”

“maaf nona.. Maafkan saya, mobil dibelakang tadi melaju kencang. Saya hanya berusaha menghindar”

Fanny sedikit menarik napasnya, kejadian tadi juga sedikit menakutkan untuknya hingga tanpa sadar ia menjerit. Ketika kecelakaan itu kembali membayanginya.

“Oppa..”

Fanny menyadari ketika Siwon melepaskan rangkulannya, Ia menoleh dan mendapati Siwon yang sedang menekan pelipisnya.

Ada bayangan mengerikan yang kemudian terputar dikepalanya. Diiringi suara benturan keras yang seakan didengarnya.

Membuat Siwon merasakan kesakitan, rasa pusing dikepalanya juga pandangan berkunang dimatanya.

“Oppa..Kau tidak apa-apa? Oppa..”

Fanny menggoyangkan bahunya ketika Siwon tak menjawab dan justru mengerang memegang kepalanya.

“Akhh…”

“Oppa.. Oppa..!”

“Maaf Tuan.. Saya menyetir tidak hati-hati. Maafkan saya..”

“Ahjussi.. Hentikan mobilnya!”

“Tidak.. Tidak perlu, Lajukan kembali mobilnya ahjussi..”

“Oppa..”

“Aku tidak apa-apa Fanny ah..”

Siwon masih merasakan bayangan itu dikepalanya, tertutup oleh kabut putih yang menyulitkan dirinya untuk melihatnya dengan jelas dan mengingatnya..

***

Setiba dipelataran rumah sakit ketika mobil itu menghentikan lajunya, Siwon keluar lebih dulu menyusul Fanny dibelakangnya.

Keduanya lantas berjalan masuk dengan terlebih dulu menuju ke kamar rawat Tn.Hwang.

Didalamnya mereka melihat sang ayah yang sudah berpakaian rapi, namun terlihat lemah saat duduk dikursi roda dengan selang infus dipergelangan tangannya.
Dan Nickhun yang berada dibelakang kursi roda..

“Aboji..”

Fanny mendekat, mengabaikan tatapan Nickhun yang dengan jelas tertuju hanya kepadanya.

“Kau cantik sayang..”

“Aboji..”

Fanny menggenggamkan tangan sang ayah ditangannya, dan menggelengkan kepalanya memberikan tatapan memohon kearah sang ayah.

Ada airmata yang sudah menggenang dipelupuk matanya..

“Ini masih bisa dihentikan aboji..Kumohon..”

Jelas meski ketakutannya begitu besar, Fanny masih memiliki nurani dan menyuarakan apa yang dikatakan nuraninya. Walau pada akhirnya ia akan menjadi hitam untuk sepenuhnya, setidaknya ia akan mengingat jika dirinya pernah mencoba untuk menghentikannya.
Agar suatu hari nanti ia tak akan menyesalkan apa yang telah dilakukannya.

“Tidak sayang..Lakukanlah. Aku tahu kau akan melakukannya”

“tidak aboji.. tidak”

Fanny menelungkupkan wajahnya dipangkuan sang ayah dan menangis disana.

Sementara Siwon tak mengatakan apapun. Ia hanya terus memperhatikan apa yang Fanny lakukan.

“Ayo kita keluar..Aku dengar pendeta sudah datang. Kalian bisa melakukan pemberkatan..”

***

Sooyoung berdiri mondar-mandir ditengah ruangan kamarnya.
Semalam changmin tidak pulang dan hanya mengatakan ada hal penting yang harus diselesaikan.

Tiba pada saat ia akan menghubunginya, Changmin telah lebih dulu menelponnya..

“Oppa..”

“Chagiya..”

“Kau dimana? Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Aku tidak bisa mengatakannya ditelpon..”

“wae?”

“Hanya dengarkan aku chagiya.. Tolong jemput Yoona dan Oemma. Dan bawa mereka ke alamat yang akan aku kirimkan. Aku sudah mencoba menghubungi Yoona maupun Oemma, tapi mereka tak menjawab telpon. Cepat chagiya..”

“Ya.. Aku akan melakukannya..”

“berhati-hatilah, kita bertemu disana nanti..”

Ketika kemudian Sooyoung bergegas mengendarai mobilnya menuju rumah Yoona, apa yang dilihatnya justru membuatnya panik. Sebuah ambulans berada dihalaman dan keributan yang kemudian terdengar dari dalam rumahnya..

Dengqn cepat Sooyoung masuk kedalam rumah Yoona, Ia langsung disambut dengan suara tangis dari Hana dan Junseo yang memanggil-manggil sang mommy dalam tangisnya.

“Waegurae?”

Ia bertanya pada salah satu pelayan didalam rumah yang ditemuinya. Namun belum sempat sang pelayan itu menjawab, Sooyoung lebih dulu melihat Ny.Choi yang menggendong Junseo dan Hana yang berada disebelahnya berjalan menuruni tangga, disusul beberapa orang berseragam rumah sakit yang membawa seseorang menggunakan sebuah ranjang beroda.

Tuhan..
Apakah Yoona..
Ada apa dengannya?

“Oemma waegurae? Kenapa dengan Yoona..?”

“Oh Sooyoungie.. Tuhan memberkatimu sayang. Oemma tak tahu apa yang terjadi dengannya. Yoona mengalami demam, panas tubuhnya sangat tinggi. Oemma panik dan menelpon ambulans untuk membawanya kerumah sakit”

“Ya Tuhan.. Yoona ya..”

Sooyoung sekilas melihat tubuh Yoona yang menggigil, ketika para petugas ambulans itu melewatinya, mendorong ranjang beroda keluar dari dalam rumah.

“mommy..mommy..”

Sooyoung memberi isarat dengan tangannya agar Hana mendekat kesisinya.

“Tolong bawa Hana dan Jun, oemma akan menemani Yoona..”

Ny.Choi menyerahkan Junseo yang masih menangis kedalam gendongan Sooyoung.

“Jun ah, tenang sayang..”

“umma..umma..”

Junseo sedikit memberontak, tangannya menggapai mengarahkan untuk mengikuti kemana umma nya saat itu dibawa.

“Aku akan mengikuti oemma dengan mobilku..”

“Ya.. Lakukanlah..”

Ny.Choi lantas terburu keluar mengikuti petugas ambulans yang sudah memasukkan tubuh Yoona kedalamnya.

Sebelum masuk kedalam ambulans itu, Ny.Choi menerima sebuah selimut yang diberikan seorang pelayan rumahnya yang kemudian dipergunakannya untuk menyelimuti tubuh Yoona.

“Dingin oemma..”

“Iya sayang.. Kita akan segera kerumah sakit..”

Ny.Choi semakin merapatkan selimut menutupi tubuh Yoona. Panas tubuhnya tinggi, namun Yoona terus mengeluhkan dingin dan menggigil pada tubuhnya.

Hingga kemudian ambulans itu melaju dengan suara sirene yang kadang bisa terdengar mengerikan..

“Mommy.. Aunty, bagaimana dengan mommy?”

“tenang Hana ya, mommy akan dibawa ke rumah sakit. Dokter akan mengobatinya. Mommy Yoona akan sembuh..”

“Hana takut.. Mommy tak pernah seperti ini, kecuali saat daddy pergi. Dan semalam Hana melihat mommy menangis lagi dan terus menangis seperti saat daddy pergi. Hana takut jika daddy pergi lagi.. Mommy seperti ini karna daddy meninggalkannya. Hana takut aunty.. Hana tak mau daddy pergi. Hana tak ingin mommy sakit..”

Souyoung sedikit tak mengerti dengan apa yang dimaksudkan Hana, namun ia tetap mencoba menenangkannya.

“tidak akan seperti itu Hana ya, tenanglah. Masuk ke mobil aunty sayang.. Kita akan menyusul mommy dan halmoni..”

***

Sementara yang terjadi di taman rumah sakit saat itu adalah berkumpulnya beberapa suster dan dokter jaga yang terlihat sudah menduduki kursi yang telah disiapkan, menunggu untuk acara pemberkatan yang segera akan dilaksanakan. Mereka semua yang akan menjadi saksi pemberkatan pernikahan Siwon dan Fanny yang direncanakan terjadi hari itu.

Selain beberapa suster dan dokter tadi, juga hadir Tn.Hwang tentunya dan dengan beberapa pengawal yang juga akan menyaksikan prosesi pemberkatannya.

Dan Nickhun yang juga berada disana dengan wajah muram. Tak rela jika wanita yang dicintainya menikahi pria lain didepan matanya. Dan lebih menyesakkan dirinya tak bisa berbuat apa-apa. Sekali dia berpikir untuk melakukan hal bodoh, maka ia tahu resiko nantinya hanya akan menyakiti Fanny.
Gadis itu yang akan menerima segala akibatnya.

Maka untuk itu ia menekan egonya dan menelan dalam-dalam kepahitan yang dirasakannya, saat melihat wanita yang diinginkannya, Fanny melangkah merangkul lengan Siwon.
Keduanya sedang berjalan menuju altar dimana seorang pendeta telah berdiri disana.

Siwon masih merasakan sedikit sakit yang menekan dibagian kepalanya ketika dirinya menggandeng Fanny berjalan diatas hamparan rumput taman rumah sakit, menuju sebuah altar yang sudah tak jauh darinya.

Saat telah mencapai altar dengan seorang pendeta dihadapan mereka, Siwon beberapa kali mengerjap mencoba memperjelas bayangan-bayangan buram yang memenuhi kepalanya.

Ia tak tahu apa yang kemudian dikatakan sang pendeta padanya, yang justru coba ia lakukan adalah menyingkirkan sesuatu seperti kabut dikepalanya yang menghalangi bayangan yang seakan terus berputar mengelilinginya.

Ada banyak buket bunga yang Ia lihat..
Ada senyum bahagia dari banyak orang..
Ada doa yang Ia dengar..
Ada riuh tepuk tangan yang mengiringinya..
Ada dirinya disana..
Dan seorang pengantin wanita dihadapannya, tersenyum menerima sebuah cincin yang terlingkar dijari manisnya..

Tak ada lagi kabut menutupi..
Bukan hanya sekedar siluet tubuh..

Ia melihatnya..
Melihat wanita itu..
Melihat Yoona..
Melihat Pengantinnya..

Siwon terkesiap dan langsung menoleh kearah Fanny yang sedang mengarahkan pandangannya pada sang pendeta dihadapannya.

Ya Tuhan..
Tidak..

“Choi Siwon.. Hentikan semua ini..!”

*

*

*

*

*

*

*

To Be Continued~

@joongly

176 thoughts on “YOU’re My Destiny [8]

  1. Nah lho kan kebuka deh smuanya.. yoona oennie jg tanpa disuruuh emg pasti krmh skit.. hey ajhussi *tunjuk appanya tiffany* anda memang licik tp anda tdk beruntung… takdir yg membuat rencana anda jd boometang sndiri hahahahhaa *smirk smile*

  2. Mudah2an yg datang itu changmin oppa… Deg2an bener deeeh baca chapt inii,,bikin sport jantung and nyesek senyesek nyeseknyaaa….

  3. Baca di bagian part ini penuh dgn air mata, sampai menangis aku bacanya. Omo wonppa akan menikahi fanny, aish.. jgn smpe itu terjadi. Tuan Hwang gila benar sudah menyembunyikan wonppa eh malah nikahkan fanny dgn wonppa yg ada smkin rumit masalah Fanny, jdi kesal sndiri aku bacanya. Tapi sepertinya wonppa sudah mulai menemukan memorinya, apa itu benar
    lalu siapa yg manggil wonppa?
    Author inspirasi daebak bgt
    bahkan kosakatanya gk ada salah dlm penulisannya

  4. Geregetan aku baca yg part ini.. Ya Tuhan apa Tn hwang sudah gila.
    Sebel, ksel, marah campur jdi satu.
    Ya Tuhan pengen banget aku maki” Tn hwang

  5. Kya…. jdi tegang sendiri aku bacanya, di tambah lgi campur aduk waktu baca part ini, rasanya pengen berteriak aku
    NO??? jgn smpe Wonppa dgn Tiffany, Omo… Yoong sepertinya emg tertekan sampe2 dia mengalami demam tinggi
    sumpah ni ff keren bgt lo author
    inspirasimu emg benar2 daebak
    selalu ada kejutan dlm ceritanya

  6. Kya…. jdi tegang sendiri aku bacanya, di tambah lgi campur aduk waktu baca part ini, rasanya pengen berteriak aku
    NO??? jgn smpe Wonppa dgn Tiffany, Omo… Yoong sepertinya emg tertekan sampe2 dia mengalami demam tinggi
    sumpah ni ff keren bgt lo author
    inspirasimu emg benar2 daebak
    selalu ada kejutan dlm ceritanya
    readersnya sampai tegang sendiri bacanya

  7. Yoonwon …. tenang aja. Kalian itu udah jodoh dari sononya. So, apapun yang terjadi kalian pasti akan tetap bersatu.
    Meskipun ada si jahat tn. Hwang yang berusaha memisahkan kalian dengan keji sekalipun. Setega apapun dia sama kalian, buktinya tuh ada pahlawan kesiangan yang akan bantu Siwon (gak tau siapa) untuk batalin pernikahan konyolnya …
    Lagian, ada2 aja sih permintaan orang sekarat itu. Udah tau Siwon punya Yoona, Tiffany punya Nickhun. Eh, malah dituker, tuker …
    Huft, jengahku memuncak.
    Cus to next chap aj deh …

  8. Ɣǻ ampun, apa lagi ini… Sudah hampir terbuka, nah skrg sudah hampir gagal krna ulah tn. Hwang.

    Siapa kah yng bisa membantu nya…?

  9. Part ini benar2 menguras emosi, tn.hwang benar2 egois hanya memikirkan perasaannnya dan tiffany…
    Semoga Siwon dan fanny ga jdi menikah…
    Apa siwon sudah ingat sma masa lalunya…?

  10. Kebangetan Tn. Hwang, mau nambah d0sa terus dgn menikahkn Harry & Tiffany,,
    Kasian Y00na mikirin ttg pnghianatan.a trhadap suami.a krn udah jatuh cinta sama Harry smpai sakit,.
    Changmin udah tau siapa Harry sebenar.a & Sem0ga Dia jg yg mnghentikn prnikahan SiFany,.

  11. Nah kan kebenaran pasti akan terungkap dn itu terbukti bahwa siwon oppa mengingat masa lalu yg berusaha ditutupi tn hwang

  12. Wah siapa yg teriak itu…
    Bikin penasaran aja….
    Dan aku gk mau sampek siwon bneran nikah sma fanny…
    Apalagi yoona lagi sakit kyk gitu

  13. yeeah,akhirnya siwon oppa inget semua sebelum terlambat,kasihan yoona dia sadar mencintai harry tapi disatu sisi merasa bersalah sama siwon oppa,karena gak bisa jaga cintanya buat siwon oppa,

  14. Ya ampun yang baca tegang
    Dan siapa yg manggil daddy
    Siapapun hentikan pernikahan daddy dgn fanny
    Daddy tdk boleh nikah dgn fanny

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s