Fanfiction

| At First Sight | 15

Happy_Reading

*

*

*

*

*

Author POV~

Nyatanya bukan hal yang mudah bagi Yoona untuk kemudian mendapatkan persetujuan dari kedua orangtua Siwon.
Tn. dan Ny.Choi berkeberatan dengan niatannya. Mereka menilai apa yang dikatakan Yoona bukanlah solusi bagi kesembuhan kakaknya.
Bahkan ayah Siwon, Tn.Choi yang selalu dapat menilai dengan bijak dan biasanya berada dipihak Yoona, kini sepaham dengan istrinya. Tak menyetujui kebohongan yang diinginkan oleh Yoona.

“Apa kau sudah memikirkan hal itu lebih jauh, Yoona ya? Kebohongan pada akhirnya tidaklah berakibat baik. Bagaimana nantinya? Bagaimana dengan kedepannya? Pertunangan kalian tak mungkin terus disembunyikan dari kakakmu. Memangnya kau dan Siwon akan terus seperti ini. Kalian tentu berkeinginan menikah bukan? Walau bagaimanapun Kakakmu harus diberitahu. Jika hal itu terlambat diberitahukan, yang menjadi kekhawatiranku adalah, dia justru akan lebih terlukai oleh karna kebohongan yang kau inginkan..”

Tn.Choi mencoba memberikan gambaran dari pemikirannya..

“Hanya sampai keadaan oenni ku lebih baik,Tuan.. euh, abonim..”
 
“tapi menurutku akan lebih baik jika kenyataan itu terbuka sejak dari sekarang, Yoona..”

“Tapi keadaan Yuri oenni, dengan trauma yang sedang dialami olehnya, tidaklah memungkinkan untuk mengatakan hal itu padanya sekarang.. Itu hanya akan semakin menghancurkannya..”

Meski Siwon bersama dengannya pada saat itu, namun pria itu tak banyak berbicara. Ia seakan membiarkan Yoona untuk berusaha sendiri meyakinkan kedua orangtua nya.

“Aku tak ingin melihatnya seperti itu.. Aku tak ingin menjadi penyebab semakin hancurnya perasaan oenni ku..”

Ketika Yoona menundukkan wajah dan kembali menyeka airmatanya, Tn.Choi hanya bisa menghela napas sebelum kemudian mengarahkan tatapannya pada sang istri.

“Kau tahu kakakmu mencintai Siwon. Kau tahu bila bersama dengan Siwon dapat melukai kakakmu, lalu mengapa kau masih mendekatinya? Apa motivasimu, Yoona? Apa sesungguhnya kau memiliki rencana untuk membalas penolakan yang dilakukan Siwon terhadap kakakmu..?”

Yoona terkesiap..
Wanita itu..
Bagaimana bisa..
Darimana ibu Siwon mendapatkan pemikiran seperti itu?
Itu nyaris tepat..

“Tidak, omonim.. Tidak seperti itu. Aku.. Aku hanya..”

“Keinginanmu yang meminta Siwon untuk berpura-pura mencintai kakakmu jelas menunjukkan bahwa kau tidaklah mencintai Siwon dengan sungguh-sungguh. Sejak awal Aku telah menduga sebenarnya kau hanya menginginkan kemewahan yang selama ini tidak pernah kau rasakan..”

Airmata semakin deras membanjiri wajah Yoona..
Mengapa ibu Siwon menilainya sampai seperti itu.
Sebelumnya ia telah merasa wanita itu dapat bersikap baik padanya. Yoona bahkan merasakan kasih sayang dan sisi ke-ibuan yang diperlihatkan Ny.Choi padanya.
Tapi melihat tatapannya yang tajam dan mendengar kalimatnya yang begitu kejam dirasa olehnya. Yoona tak bisa memungkiri, dirinya merasa terlukai oleh karenanya.

“Kau terlalu keras, yeobo..”

pada akhirnya Tn.Choi menarik sang istri ke sisinya.

“Bukan saatnya mengomentari ku, yeobo..”

Ny.Choi menyingkirkan lengan sang suami dan ketika Ia ingin kembali bersuara, ia melihat Yoona yang terus berusaha menyeka airmata yang membanjiri wajahnya. Maka kemudian, dengan sedikit mendecak ia beralih pada Siwon.

“dan kau Siwon.. Lihat akibat dari kelakuanmu. Kau terjerumus oleh karna gadis belia itu sekarang..”

Oh,
Ibunya..
Ibunya kembali sedang menunjukkan taringnya yang ber-bisa.

Dan pemilihan kata ‘terjerumus’ yang baru saja dikatakannya, benar-benar terdengar kejam.

Maka kemudian, Siwon bergerak untuk semakin dekat padanya..

“Oemma..”

“Kau telah menolak kakaknya, kau tahu Yoona adalah adiknya. Lalu bagaimana bisa kau justru mengencani Yoona, bersama dengannya dan mengatakan mencintainya..”

“Tak ada seorangpun yang bisa mencegah perasaan semacam itu, oemma.. Begitupun denganku.”

Siwon terlihat lebih tenang. Berbeda hal nya dengan sang ibu yang merasakan kewalahan menghadapi kisah cinta sang putra dengan dua gadis yang nyatanya bersaudara.

“Tapi Kau jelas tak berpikir dengan akibatnya bila kau terlibat dengan dua gadis yang memiliki ikatan persaudaraan..”

“Ya, oemma benar.. aku tahu Yoona adik Yuri, gadis yang aku tolak. Aku melihat Yoona saat itu, aku tertarik padanya, aku terpikat olehnya dan aku jatuh cinta. Semua itu apa yang kurasakan, dan aku tak pernah berpikir akan seperti ini, serumit ini jadinya. Jika aku tahu, aku pasti akan berusaha keras untuk tak akan jatuh cinta padanya. Mengertilah oemma.. Cinta butuh untuk dirasakan, bukan dipikirkan..”

“Aigoo.. Aigoo, yeobo.. Kau dengar? Darimana putramu mendapatkan kalimat seperti itu..”

Siwon menggaruk tengkuknya, sedikit geli dengan apa yang telah diucapkannya.
Apakah tadi terdengar sebagai kalimat yang puitis..?
Oh,
Tapi sang ibu justru mendorong pada bahunya..

“Terserah dengan apa yang akan kalian lakukan. Aku tak ingin menjadi pihak yang dipersalahkan oleh karna mendukung kebohongan yang kau inginkan, Yoona..”

Dengan kalimat itu, Ny.Choi kemudian meninggalkan Siwon dan Yoona juga sang suami disana.

“Bicaralah dengannya, aku akan menyusul ibumu..”

Ucap Tn.Choi kemudian..

“Aku tahu kecemasan yang dirasakan Yoona pada kondisi kakaknya. Dan apapun yang menjadi keputusan kalian, Aku harap telah benar-benar dipikirkan..”

Siwon mengangguk saat sang ayah menepuk pada bahunya, seakan-akan menaruh kepercayaan disana, sebelum kemudian pergi menyusul langkah ibunya.

Kembali mengarahkan perhatiannya pada Yoona, Siwon melihatnya terduduk dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Gadis itu sedang terisak, membuat Siwon untuk sesaat hanya menghela napasnya sebelum kemudian mengambil tempat dan duduk disampingnya..

“Oemma memang memiliki reaksi yang luar biasa saat sedang terkejut. Bahkan terkadang aku masih merasa tercengang dengan apa yang diucapkannya. Seperti tadi, kau bisa memaklumi kekasarannya kan?”

Mendengar itu, Yoona lantas menyingkirkan telapak tangan yang menutupi wajahnya, mendongak dan kembali menyeka airmatanya, dan kemudian menoleh pada Siwon yang berada disebelahnya.

“Ini bukan pertama kalinya kan oemma marah padamu? Dan padaku..”

Siwon sedikit menarik senyum, jelas terlihat sedang berusaha menghibur atau setidaknya membuat Yoona sedikit merasa lebih baik setelah apa yang diucapkan sang ibu tadi.

“Terimakasih untuk mengatakannya, Ya.. Sepertinya Aku mulai terbiasa dengan itu..”

Yang kemudian dilakukan Siwon adalah berdiri dari duduknya dan lantas meraih tangan Yoona agar mengikutinya..

“Ikut denganku?”

“kemana?”

“Ikut saja.. Ayo..”

Yoona menggeleng..

“Aku tidak bisa meninggalkan Yuri oenni..”

“Dia masih akan tertidur..”

“Tapi oenni juga bisa sewaktu-waktu terbangun..”

“Tidak setelah dokter tadi menyuntikkan obat penenang padanya. Oh, tapi dia tidak bekerja dirumah sakit ini kan? Siapa yang menghubungi dokter wanita itu tadi untuk memeriksa Yuri?”

Yoona menggeleng..

“Aku tidak tahu, dokter Seohyun tiba-tiba datang tak lama setelah Nyonya dan Tuan datang, sebelum Yuri oenni terbangun dan berteriak ketakutan.. Mungkin dia telah mengetahui kecelakaan itu.”

Dokter wanita itu bahkan telah datang pada saat prosesi pemakan, dengan mendung diwajahnya..

Siwon ingin mengatakan itu, namun kemudian mengurungkannya dan menggantinya dengan..

“kupikir kau telah mengubah caramu memanggil oemma dan aboji..”

“nde?”

Siwon hanya tersenyum..

“Ayo, ini sudah mendekati jam makan siang. Akan menjadi ramai jika kita berada disana pada waktu seperti itu..”

“berada dimana?”

Yoona mengerutkan dahi, masih belum mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Siwon.

“kita pergi makan, kau membutuhkannya Yoona..”

“Tidak, aku tidak lapar..”

“Tapi tubuhmu yang kurus itu setidaknya membutuhkan semangkuk nasi dan sup..”

Siwon kembali menarik tangan Yoona..

“Oahh..”

Dan ketika akhirnya Yoona juga berdiri dari duduknya, Ia mengalami limbung hingga Siwon perlu melingkarkan lengan pada pinggangnya untuk menahan tubuhnya agar tak terjatuh..

“Aku sudah katakan kan, Kau membutuhkan makan. Jangan berkeras dan mengabaikan kesehatanmu, Yoona.. Jika kau ingin terus berada disini dan menjaga Yuri, sebaiknya kau juga memperhatikan itu”

Yoona mengangguk dan pada akhirnya menurut pada Siwon yang membawanya ke sebuah rumah makan yang berada disebrang rumah sakit itu.

Mulanya Siwon ingin menggunakan mobil dan mencari tempat makan yang lain, namun jelas Yoona tak menyetujuinya. Akan memakan waktu lama bila hal itu dilakukan.

Maka di rumah makan tak terlalu besar itu, yang menyediakan menu nasi dan sup, keduanya saat ini berada..

“Kau ingin aku menyuapimu..?”

Siwon mengatakan itu ketika melihat Yoona hanya mengaduk-aduk makanan didalam mangkuknya. Gadis itu terlihat tak tenang dan terus memandang pada gedung rumah sakit. Jelas yang saat itu dipikirkannya adalah Yuri. Rasanya benar-benar tak mengenakkan ketika meninggalkan oenninya seperti saat itu.

“Aku sudah selesai, bisakah kita kembali kerumah sakit sekarang..”

Siwon memelototinya sambil menarik mangkuk itu dari hadapan Yoona.

“Tidak sebelum kau menghabiskan makananmu..”

Dengan semangkuk nasi yang masih utuh, Siwon memesan lagi sup hangat yang kemudian mencampurnya menjadi satu. Menggunakan sendok ditangannya yang telah terisi makanan itu, Siwon membawanya kehadapan Yoona..

“Buka mulutmu..”

Yoona menatap kesekelilingnya pada tak banyak orang yang saat itu juga menikmati makanan disana.

“Sajangnim..”

“buka mulutmu sekarang, ini perintah..”

Siwon terus menyodorkan sendok makanan ditangannya.

“Aku bisa melakukannya sendiri..”

Yoona berusaha meraihnya namun Siwon menariknya mundur.

“hanya buka mulutmu, Yoona.. Lakukan sesuai perintah.”

Yoona kembali mengedarkan pandangannya kesekeliling, sepertinya orang-orang tak memperhatikannya maka kemudian ia membuka mulutnya dan menerima suapan dari Siwon.

“Biarkan aku melakukannya sendiri..”

“Aku sudah memberikan kesempatan itu tadi, tapi kau telah menyia-nyiakannya.. Maka sekarang hanya lakukan sesuai dengan yang aku perintah.. Menurutlah..”

“Ck! Bossy sekali..”

Yoona mendengus, namun Siwon mengabaikannya. Ia justru tersenyum ketika gadis itu nampak tak bisa berbuat apa-apa kecuali menerima suapan-suapan itu masuk ke dalam mulutnya.

“Kapan terakhir kali ada seseorang yang menyuapimu seperti ini? Atau jangan-jangan belum pernah ada yang melakukannya? Apakah aku menjadi yang pertama melakukannya?”

Siwon sempat bertanya disela-sela suapan terakhir yang dilakukannya untuk Yoona. Ia telah benar-benar tak membiarkan Yoona mengambil alih makanan itu darinya.

“Yuri oenni yang terakhir kali melakukannya. Aku tak pernah ingat ada orang lain yang pernah melakukannya, termasuk ibuku.. Aku tak pernah ingat. Oenni lah satu-satunya yang pernah melakukan itu padaku..”

airmata seketika menetes saat itu, saat ia teringat akan kebersamaan yang dirasakannya bersama dengan sang kakak. Segalanya tentang Yuri menjadi sangat berarti untuknya dan membuat kesedihan Yoona semakin dalam dirasa ketika Yuri yang sekarang justru dalam keadaan rapuh dan trauma.

“Aku ingin merasakannya lagi.. Aku ingin suapan tangan dari Yuri oenni. Dia telah berperan sebagai ibu dan sekaligus ayah untukku. Dia melindungi dan menjagaku.. Melihatnya sekarang, aku benar-benar sedih. Aku takut kehilangannya. Aku hancur bersamanya. Aku ingin kebersamaan kami yang dulu. Aku ingin oenniku kembali seperti dulu. Aku menyayanginya dengan sepenuh jiwaku.. Aku ingin oenni sembuh. Aku mau dia baik-baik saja.. Oenni ya.. Aku mau kau baik-baik saja..”

Yoona telah terisak saat itu dan hampir tak menyadari Siwon telah beralih dari duduknya, dan kini berada dibelakang kursi yang didudukinya. Siwon merasa menyesal pertanyaanya justru makin menumbuhkan kesedihan dalam diri Yoona. Maka kemudian Ia meraih kedua bahunya dan mengusap sekaligus meremasnya untuk dapat menenangkannya.

“Maafkan aku.. Aku seharusnya tak menanyakan hal seperti itu dan membuatmu bersedih seperti ini. Hanya tolong yakinlah bahwa Yuri akan sembuh. Dia akan bisa melewati semua ini dan kembali menjadi kakakmu yang seperti dulu, percayalah..”

Menarik Yoona untuk berdiri, Siwon justru mendapati gadis itu langsung memeluknya dan terisak, menumpahkan airmata diatas dadanya.

“sstt.. Sudahlah jangan menangis lagi. Mengapa kau begitu banyak memiliki airmata? Dimana kau menyimpan semua itu didalam tubuhmu yang kurus ini..”

Siwon mengusap pada punggungnya dan sedikit mengeluarkan candaan yang sepertinya tidaklah efektif untuk menghentikan tangisan Yoona pada saat itu. Gadis itu masih terus terisak..

“Segalanya tentang Yuri oenni sekarang membuatku sedih dan emosional. Aku tak bisa menahan diriku untuk tidak menangis..”

Siwon kembali mengusap pada punggungnya..

“Ya, aku mengerti.. Tapi jika seperti ini orang-orang akan salah paham melihat kita.”

Begitu mendengar apa yang Siwon katakan, Yoona langsung melepaskan pelukannya ditubuh pria itu. Dengan wajah yang basah oleh airmata ia kemudian menatapnya. Yoona dapat melihat senyuman dibibir pria itu saat kemudian tangannya bergerak menyentuh pada wajahnya dan menghapus sisa-sisa airmatanya.

“Orang-orang mungkin sedang berpikir jika aku adalah seorang pria brengsek. Didalam pemikiran mereka mungkin sedang mengira aku telah membuat wanita yang ku kencani menangis oleh karna aku menidurinya dan pada akhirnya tidak mau menerima janin yang dikandungnya..”

Sesaat Yoona memutar mata mendengarnya, sebelum kemudian memukul pada dada Siwon atas apa yang telah diucapkannya.

“Jahat sekali, aku sedang bersedih, jangan bercanda konyol seperti itu. Dan lagi itu tidak pantas kau katakan pada gadis belia sepertiku..”

Siwon ingin tergelak ketika sekali lagi Yoona memukul pada dadanya, namun gadis itu telah lebih dulu menubruk pada dadanya, kembali memeluknya dan kembali lagi melingkarkan tangan ditubuhnya.

“Sejak mengakui tertarik padaku, kau sudah tidak malu lagi ya memelukku..?”

Yoona berusaha untuk mencubitnya, namun kesulitan. Tubuh Siwon terlalu keras dengan otot-otot yang dimilikinya. Pada akhirnya yang bisa dilakukannya hanya dengan kembali memukul pada dadanya. Bibirnya sedikit tersenyum, memeluk Siwon nyatanya membuatnya merasakan perasaan nyaman dan terlindungi.

Siwon juga merasa tak masalah dengan Yoona yang memukul dadanya kesal. Ia justru lega karna setidaknya telah bisa membuat ekspresi lain selain muram dalam wajah gadis itu. Yoona tersipu dan bahkan sudah sedikit tersenyum karna apa yang telah dilakukannya.

“Kembali kerumah sakit..?”

“hm..”

Yoona mengangguk dalam pelukannya, sebelum kemudian melepaskan pelukan itu dan menerima rangkulan tangan Siwon ditubuhnya saat keduanya kemudian meninggalkan rumah makan itu.

Kembali kerumah sakit tak sampai sepuluh menit setelahnya, Yoona langsung melongok pada kamar ICU Yuri. Lega ketika melihatnya yang masih terlelap dalam tidurnya.

“Kau tidak akan pergi ke..?”

“Jangan.. Tidak.. Lepaskan aku.. Siwon.. Siwon.. Siwon..!!”

Yoona bahkan belum selesai dengan apa yang ingin diucapkannya, saat suara teriakan Yuri terdengar dan membuat kelegaan yang sesaat dirasakan olehnya langsung menghilang seketika dan berganti menjadi kekalutan.

“Oenni ya..”

Yoona langsung mendorong pintu dan berlari pada Yuri. Begitupun dengan Siwon yang menyusul dibelakangnya.

Dan memang benar-benar hanya Siwon yang kemudian dapat menenangkannya. Dengan meraih tangan Yuri dan mengatakan bahwa dirinya ada bersama dengannya, Yuri perlahan-lahan bernapas dengan teratur hingga pada akhirnya kembali tenang.

“Siwon..”

“hm..”

“Kau tidak meninggalkanku?”

“Tidak, aku ada disini..”

“terimakasih..”

Yuri menggenggam erat tangannya, dan kemudian beralih memperhatikan pada Yoona yang berdiri tak jauh dari tempat tidurnya dan sedang berusaha menahan isak tangisnya agar tak terdengar olehnya.

“Yoona ya..”

“ne, oenni.. Aku disini.”

Yoona lantas lebih mendekat..

“kenapa sepertinya aku selalu melihatmu menangis?”

Melepaskan genggaman tangannya pada Siwon, Yuri lantas meraih tangan Yoona.

“Apa kau mengkhawatirkanku? Yoona.. Aku baik-baik saja. Hanya saja tubuhku, kakiku terasa sakit..”

“Yang mana oenni? Bagian mana yang terasa sakit.. Aku akan panggilkan dokter untukmu.”

Yuri sedikit menarik pada pergelangan tangan Yoona mencegahnya untuk beranjak dari sisinya.

“Tidak apa-apa, tidak perlu memanggil dokter. Siwon sudah bersama denganku. Aku akan baik-baik saja..”

Ada keyakinan dalam sorot mata oenni nya dan Yoona hanya bisa terdiam mendengarnya..

“Apa kau tahu, Yoona.. Dia yang menolongku. Siwon yang menyelamatkanku dari pria jahat itu. Dia brengsek.. Donghae benar-benar bajingan. Dia telah.. Dia telah..”

Yuri telah meneteskan airmata juga melepas genggamannya pada tangan Yoona, dan apa yang kemudian akan dilakukannya telah diperkirakan oleh Yoona. Maka kemudian ia meraih tangannya dan berganti menggenggamnya. Tidak ingin melihat oenni nya mengingat kejadian buruk yang telah bertubi-tubi dialaminya.

“Iya, oenni.. Aku tahu Tuan muda Choi telah menyelamatkanmu. Dan aku benar-benar berterimakasih padanya”

Yoona menatap pada Siwon, kemudian sedikit membungkuk padanya. Juga berusaha untuk tersenyum pada saat itu, meski ia ikut merasakan sakit yang dirasakan oenni nya. Siwon hanya mengangguk, mengerti dengan situasi yang dialaminya.

“Yoona ya..”

“hm..”

“Aku merasa lapar, bisakah kau meminta suster untuk memberiku makanan..”

Mendengarnya, Yoona kembali merasakan kelegaannya..

“Oh, iya.. Oenni, aku akan melakukannya. Oenni bisa menungguku sebentar kan?”

Yuri mengangguk, namun ketika Yoona mencoba melangkah untuk beranjak, Siwon menahan dengan meraih pergelangan tangannya.

“Biarkan aku yang melakukannya, Yoona..”

Yoona menggeleng..

“Tidak Tuan, anda bisa tetap menemani Yuri oenni disini..”

Mengetahui perubahan sikap Yoona kepadanya saat berada didepan Yuri, berbeda bila dibandingkan dengan sebelumnya ketika keduanya menikmati makan bersama tadi, Siwon tak mengatakan apa-apa kecuali melepaskan tangannya dan membiarkan Yoona untuk pergi keluar dari kamar ICU itu.

Tidak berapa lama Yoona memang kembali masuk, kali ini dengan seorang suster yang membawa nampan berisi makanan dengan kedua tangannya.

Yoona mengucap terimakasih pada sang suster sebelum kemudian membiarkannya kembali keluar darisana.

“Oenni ya.. Apa kau ingin aku untuk menyuapimu?”

“Tidak, aku ingin Siwon..”

Yuri menggeleng kearah Yoona dan lantas mengarahkan tatapannya pada Siwon yang masih belum beranjak dari samping tempat tidurnya.

“Siwon, dapatkah kau melakukannya?”

Yuri terus menatapnya ketika Siwon tak juga menjawab permintaannya, Siwon malah lebih dulu memperhatikan pada Yoona. Namun gadis itu justru sedang menundukkan wajahnya.

“Siwon..”

Yuri menarik tangannya dengan maksud agar mendapatkan perhatian darinya..

“Ah, ne.. Kau ingin aku untuk menyuapimu?”

Yuri mengangguk..

“baiklah, aku akan melakukannya..”

“gomawo..”

“Aku akan meninggalkan kalian, oenni..”

Ucap Yoona kemudian membuat Siwon kembali mengarahkan tatapan padanya, dan Yuri yang kemudian bersuara..

“Kau akan kemana, Yoona ya?”

“Aku.. Aku hanya akan berada diluar sebentar. Oenni harus menghabiskan makanan itu dan pulih dengan cepat. Aku sudah tidak sabar untuk membawa oenni pulang. Kita akan kembali bersama-sama oenni..”

Yuri mengangguk..

“Tapi jangan terlalu jauh, Yoona. Aku takut jika kau..”

Menempatkan telunjuk diatas bibirnya, dan juga menggeleng kerahnya, Yoona mengisaratkan agar Yuri tak meneruskan kalimatnya.

“Aku hanya akan menunggu oenni diluar. Jangan mengkhawatirkanku.. Oenni bisa memanggilku jika butuh sesuatu.”

Yoona mencoba untuk menghiraukan tatapan Siwon yang dirasa olehnya masih terus mengarah padanya. Ia membuka pintu, dan lantas keluar dari dalamnya untuk kemudian hanya berdiri didepan pintu itu yang telah kembali ia tutup.

Beberapa saat Ia mencoba melihat melewati kaca pada pintu itu dan dapat mengetahui ketika Yuri oenni nya tersenyum.
Yoona langsung terlihat tersenyum saat itu, mengetahui Yuri yang tersenyum sungguh seakan hatinya disirami dengan kesejukan dan dibanjiri dengan kelegaan. Ia menjadi yakin bahwa oenni nya akan dapat kembali seperti dulu, sebelum kejadian-kejadian buruk dialami olehnya.

Namun kemudian suatu rasa ikut hadir disana, ketika mengetahui senyum oenni nya lantaran karna kehadiran Siwon disana yang saat itu sedang menyuapkan makanan untuknya, membuat Ia teringat tak berapa lama sebelumnya Siwon telah melakukan hal yang sama terhadapnya. Dan apa yang kemudian dirasakannya aneh, dadanya berdenyut sedikit sakit. Tidak terlalu sakit, tapi cukup untuk kemudian membuat Yoona meletakkan sebelah tangan diatas dadanya, mencoba untuk semakin merasakannya..

Dan rasa semacam apakah itu?

Yoona mencoba menepiskan ketika hati kecilnya berbisik dengan pelan bahwa itu adalah kecemburuan.

Itu tidak mungkin..

Menghiraukan perasaan itu, Yoona lantas  membalikkan tubuhnya, Ia mulai melangkah ke kursi tunggu dan berada disana dalam bebera jam setelahnya. Hanya untuk membiarkan Siwon menemani Yuri.

Beberapa jam dan Siwon masih belum keluar, Yoona memutuskan untuk mempergunakan beberapa menit waktunya untuk berada di kamar mandi rumah sakit. Maka kemudian ia bergerak dari kursi tunggu yang didudukinya dan mulai melangkah. Namun dalam langkah itu, Yoona mendadak berhenti ketika mengetahui seorang wanita paruh baya yang sudah cukup dikenalnya sedang dalam langkah menuju kearahnya. Bersama dengan seorang pria..
Oh, Tidak..
dia seorang  wanita, hanya saja caranya berpenampilan seperti seorang pria.
Yoona merasa belum pernah melihatnya karna itu ia masih belum mengenalnya..

“Yoona ya..”

“Omonim..”

Yoona tidak lagi menghentikan langkahnya, namun kemudian Ia lebih dulu menghampiri Ibu Siwon itu.
Ya..
Ny.Choi kembali terlihat datang pada tengah hari itu..

“Omonim.. Apa yang..”

Yoona tak meneruskan, Ia jelas cukup terkejut dengan kedatangannya. Setelah tadi wanita itu bahkan pergi meninggalkannya dengan membawa serta kemarahan terhadapnya.
Tapi sekarang Ny.Choi justru kembali menemuinya..

“Aku membawa pakaian ganti dan makanan untukmu..”

Yoona dapat melihat pada dua paper bag yang dibawa oleh seorang wanita yang saat itu berdiri satu langkah dibelakang Ny.Choi..

“Astaga apa kau benar-benar tak melihat bagaimana tampilanmu sekarang?”

Yoona menunduk, memperhatikan pada apa yang saat itu melekat ditubuhnya.
Ya..
Ibu Siwon benar..

“Pakaianmu terlihat lusuh, Yoona..”

“ne.. Maafkan aku, omonim..”

Ny.Choi mendesah..

“Ikut denganku, sekarang..”

Yoona ingin menolak namun melihat tatapan Ny.Choi padanya, Ia yakin wanita itu takkan menerima jenis penolakan apapun saat itu. Maka Yoona mengikuti ketika Ny.Choi mengarahkannya ke sebuah kamar mandi yang berada dirumah sakit itu.

“Setidaknya basuhlah wajahmu dan gantilah pakaianmu, setelahnya kau bisa makan dan kita akan berbicara..”

Sama sekali tak ada bantahan yang keluar dari bibir Yoona. Entah karna apa, Ia seakan memiliki rasa patuh didalam dirinya terhadap apa yang dikatakan Ny.Choi padanya.
Tatapan wanita itu mungkin adalah penyebabnya..

“ne, omonim..”

Ny.Choi menyerahkan dua paper bag ketangannya. Dua paper bag yang sebelumnya berada ditangan seorang wanita yang masih belum dikenalinya.

“Aku akan menunggu diluar..”

Begitu Ny.Choi keluar, Yoona segera melakukan seperti apa yang dikatakan Ibu Siwon padanya. Ia terlebih dulu membasuh muka sebelum kemudian membuka isi didalam paper bag itu.
Segala yang dibutuhkannya, terutama pakaian berada didalamnya. Dan Yoona tersenyum mengetahui hal itu.
Hatinya tersentuh..
Betapa Ibu Siwon begitu peduli terhadapnya bahkan setelah kemarahan dan kata-kata kasar yang sebelumnya diucapkannya dan telah membuatnya menangis. Tapi wanita itu tetaplah masih peduli.

Yoona terpikir ia menemukan kesamaan antara wanita itu dengan Siwon.
Sebelumnya Siwon juga marah terhadapnya, namun kemudian Ia kembali datang untuknya. Sama hal nya seperti yang saat itu dilakukan Ny.Choi. Betapa Yoona kini menyadari, akan patutnya Ia bersyukur karna berada diantara orang-orang yang memiliki kebaikan hati yang luar biasa. Dan betapa Tuhan juga begitu baik karna telah menempatkannya diantara mereka..

“gomawo omonim..”

gumamnya kemudian, sebelum akhirnya mengganti pakaiannya.

Tak sampai lima belas menit kemudian ketika Yoona keluar, bukan Ny.Choi yang menunggunya didepan kamar mandi itu  Melainkan seorang wanita yang masih belum dikenalnya, yang tadi juga bersama dengan Ny.Choi..

“Nyonya menunggu anda disana, nona..”

Ucapnya, sambil meminta Yoona agar mengikutinya. Yoona diarahkan kesebuah ruang tunggu dan Ny.Choi telah berada didalamnya, duduk pada salah satu kursi didepan sebuah meja yang diatasnya telah berisi beberapa jenis makanan..

“Omonim..”

Ny.Choi menoleh..

“hm, duduklah..”

Yoona makin mendekat hingga kemudian menduduki kursi yang berada didepannya.

“Aku akan membiarkanmu makan terlebih dulu..”

“Tapi omonim, aku.. Sebelumnya Siwon, emm.. Siwon oppa telah memberikan makanan untukku. Kami telah makan bersama beberapa waktu yang lalu..”

“Sungguh?”

Yoona mengangguk..
Itu memang terjadi beberapa jam yang lalu, namun ia merasa perutnya masih terisi penuh dan belum ingin ada yang kembali memaksanya untuk makan.

“Harusnya aku tahu jika dia telah melakukannya.. Kalau begitu, aku akan langsung berbicara denganmu..”

Tatapan Yoona langsung penuh antisipasi mendengarnya. Kedua tangan yang berada dipangkuannya bahkan mendadak
gemetar..

“Ketahuilah Yoona, aku masih marah dan cenderung dapat kembali meradang pada apa yang kau inginkan..”

“maafkan aku..”

“Seperti yang dikatakan suamiku, kakakmu akan semakin terluka bila suatu saat dia mengetahui kebohongan itu..”

“Tapi aku tak terpikir ada cara lain yang bisa untuk menyelamatkan oenni ku. Dia membutuhkan Siwon.. Omonim, maafkan aku..”

Ny.Choi menghela napasnya..

“Bagaimana jika kakakmu justru akan semakin tergantung pada Siwon? Bagaimana dengan status pertunangan kalian? Publik telah mengetahui itu dan kau tak bisa bertindak sembarangan dengan keberadaan Siwon bersama kakakmu.. Apa yang akan dibicarakan oleh orang-orang diluar sana? Pikirkanlah itu, Yoona..”

Segalanya memang akan menjadi rumit..

“Seperti yang dikatakan dokter, Yuri oenni akan menjalani terapi.. Dia akan terlepas dari trauma kecelakaan itu..”

Dan trauma dari kekerasan yang dilakukan Donghae terhadapnya..

Yoona meneruskan itu didalam hatinya.

“Aku tidak bisa memikirkan apapun selain kesembuhan Yuri oenni, omonim.. Maafkan aku. Aku memang tidak seharusnya menjadi egois dan membebani Siwon oppa, tapi oenniku membutuhkannya. Dia membutuhkan Siwon untuk menghadapi traumanya.. Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan kecuali meminta Siwon oppa untuk melakukannya. Maafkan aku omonim.. Aku hanya sangat takut kehilangan oenni ku. Dia satu-satunya keluargaku.. Oenni segalanya untukku..”

Airmata Yoona kembali jatuh..

“Jadi kau masih belum menganggap kami sebagai keluargamu?”

“Omonim..”

“Jika memang hanya itu lah caranya..”

Ny.Choi menghentikan ucapannya, untuk sesaat menghela napasnya..

“Baiklah.. Kau bisa melakukannya. Tapi aku tidak akan ikut bertanggung jawab dengan sesuatu yang mungkin terjadi dikemudian hari. Maka kau harus menghadapi sendiri resiko kebohonganmu.. Termasuk sakit hati dari kakak mu.. Dan tentu saja jangan melakukan kebohongan itu terlalu lama, Yoona..”

Respon yang diberikan Yoona atas apa yang baru saja dikatakan oleh Ny.Choi padanya adalah, Yoona yang kemudian berdiri dari duduknya dan langsung memberikan pelukan pada Ny.Choi dari belakang kursi yang didudukinya.

“gomawoyo, omonim.. Gomawo..”

Ny.Choi hanya mendesah sambil mengusap tangan Yoona. Pada akhirnya Ny.Choi memang tak tega dengan situasi yang dihadapi oleh Yoona. Itu pasti sangat berat dirasakan oleh gadis belia seusianya..

“Kembalilah duduk, aku belum selesai denganmu..”

Yoona melepas pelukan itu, menyeka airmata diwajahnya dan kemudian kembali menduduki kursinya..

“Untuk kesembuhan kakakmu, aku dan suamiku telah berencana mencari dokter khusus untuk melakukan terapi.Semakin cepat kakakmu disembuhkan, maka semakin cepat pula mengakhiri kebohongan yang kau inginkan.. ”

“Terimakasih omonim, tapi Yuri oenni akan ditangani oleh dokter Seohyun, dokter wanita yang tadi memeriksanya.”

“Apa kau yakin dia cukup baik untuk menangani kakakmu?”

Yoona mengangguk..
Seohyun sudah cukup mengetahui seluk beluk trauma yang dialami Yuri, bahkan depresi yang dialaminya sebelum kejadian kecelakaan itu terjadi.

“Kau bilang kakakmu juga perlu melakukan terapi berjalan?”

“ne, dokter mengatakan seperti itu..”

“Kalau begitu aku akan bertanya dan meminta pada pihak rumah sakit untuk mencarikan dokter khusus untuk itu..”

“Terimakasih omonim, aku tak tahu apa lagi yang dapat kuucapkan selain itu.. Omonim telah begitu baik padaku..”

“Maka jangan pernah lagi beranggapan jika kau hanya hidup dengan kakakmu. Aku, suamiku dan juga Siwon, kami juga telah menjadi keluargamu. Kau telah bertunangan dengan putraku, meski aku awalnya membencimu tapi aku melihat Siwon begitu tertarik padamu. Dan aku menerima itu.. Dan jelas kami akan membantumu jika kau mengalami kesulitan, Yoona ya..”

Yoona justru makin meneteskan airmata mendengarnya.
Ia begitu merasakan haru ketika kalimat demi kalimat itu diucapkan Ny.Choi didepannya..

Itu jelas berbeda bila dibandingkan dengan apa yang sebelumnya telah dikatakan Ibu Siwon padanya, bahwa ia akan membiarkan Yoona menghadapi sendiri resiko kebohongannya.

Tapi ternyata dibalik sikap kerasnya, justru begitu besar kepedulian wanita itu terhadapnya dan juga pada Yuri oenninya..

“Dan ini untukmu, Yoona..”

Ny.Choi mengeluarkan sesuatu dari dalam tas tangannya.

“Aku telah menukar ponsel lama milikmu. Ponsel lama mu terlihat tak pantas bila kau pakai dengan statusmu yang sekarang sebagai tunangan putraku. Maka gunakan ini.. kau membutuhkannya agar aku bisa menghubungimu atau kau yang menghubungiku..”

Yoona tidak ingin menerima tapi Ia memang membutuhkan sebuah ponsel untuknya..

“terimakasih, omonim..”

Ketika kemudian tangannya terulur untuk menerima ponsel pemberian Ny.Choi itu, Yoona tanpa sadar menunjukkan jari tangannya yang tidak memakai cincin. Hal itu jelas langsung mengundang tanya dari Ny.Choi..

“dimana cincinmu? Kau tidak memakainya?”

Yoona sedikit terkejut mendengarnya..

“Euh, aku.. Aku melepasnya omonim..”

Ia melepas dan mengembalikannya pada Siwon. Dan kemudian pria itu melemparnya..

Yoona semestinya mengatakan selengkapnya seperti itu, tapi hanya dengan kalimat ‘melepaskan’ yang diucapkannya, Ny.Choi sudah langsung melebarkan mata mendengarnya..

“Karna Yuri oenni, aku tak bisa memakainya sekarang.. Mianhae..”

Ny.Choi kembali hanya bisa mendesah..

“Apa kau berpikir untuk pulang bersamaku?”

Yoona dengan cepat menggeleng..

“Aku masih harus berada disini. Aku tidak bisa meninggalkan Yuri oenni..”

“Sudah kuduga kau akan melakukan itu..”

Ny.Choi kemudian menyerukan sebuah nama, dan seorang wanita tadi yang berpenampilan seperti pria yang tak dikenali Yoona kemudian masuk kedalamnya.

“Selama berada disini, dia akan menemanimu. Dan membantumu jika kau membutuhkan sesuatu. Namanya Amber.. Dia dari perusahaan penyedia keamanan. Dia sudah beberapa lama bekerja untukku. Kau belum pernah melihatnya karna dia mengambil cuti beberapa waktu.  Tapi mulai hari ini, Amber akan kembali bekerja. Dan tugas barunya adalah menemanimu disini..”

Wanita itu yang telah diperkenalkan oleh Ny.Choi kemudian membungkuk pada Yoona.

“Anda bisa mengandalkan saya, nona..”

Yoona sedikit terbengong..
Apakah Ibu Siwon baru saja menempatkan seorang pengawal untuknya?

Oh..

“omonim, tapi aku.. Aku merasa tidak membutuhkannya. Aku bisa menjaga Yuri oenni sendirian..”

“Tidak.. Kau pasti masih akan berada disini sepanjang hari, maka jelas kau membutuhkan seseorang. Jangan makin membebani putraku untuk urusan keamananmu. Siwon masih harus memikirkan perusahaan, dan suamiku juga telah menyetujui Amber berada disini selama kau juga berada disini..”

Ny.Choi lantas berdiri dari duduknya dan Yoona pun kemudian melakukan hal yang sama..

“Omonim..”

Ny.Choi menggeleng, menolak apapun itu yang ingin Yoona katakan..

“Aku harus pergi.. Ada kegiatan amal yang harus ku hadiri. Oh, kau seharusnya ikut bersamaku, Yoona..”

“maafkan aku, tapi aku pasti akan menemani omonim dilain waktu..”

“baiklah, aku akan pergi sekarang.. Dan Amber, kau bisa memulai tugas baru mu..”

“baik Nyonya..”

Bergerak dari kursi yang didudukinya, Ny.Choi kemudian mengambil langkah untuk pergi sesuai dengan apa yang telah dikatakan olehnya. Namun baru beberapa langkah, Yoona menyusulnya dan menghentikannya dengan sebuah pelukan dari belakang tubuhnya..

“Omonim..”

Airmata kembali menetes membasahi wajahnya..

“Kau kenapa?”

“Omonim, gomawo.. Jeongmal gomawoyo.. Terimakasih untuk bersikap baik, terimakasih untuk tidak marah padaku..”

“Aku marah, Yoona.. Jelas-jelas aku marah padamu. Apa kau sedang mengabaikan kemarahanku tadi?”

Yoona menggeleng..

“Tidak, Aku tahu Omonim tidak lagi marah padaku. Terimakasih untuk semuanya.. Aku.. Aku menyayangimu..”

Ny.Choi mendesah dan lantas mengusap pada tangan Yoona..

“Sudahlah, aku harus pergi..”

Yoona kemudian melepaskan pelukannya, dan menyeka airmata diwajahnya. Membiarkan Ny.Choi untuk selanjutnya berbalik menghadapnya..

“Jaga dirimu, aku akan kembali datang nanti..”

Yoona mengangguk..

“Amber, pastikan kau selalu bersamanya”

“Saya mengerti Nyonya..”

Tak lama setelah kepergian Ny.Choi yang meninggalkannya disana bersama dengan seorang wanita, yang diyakini Yoona ditugaskan untuk mengawalnya, Yoona mendengar suara dari ponsel ditangannya dan sekaligus merasakan getarannya.

Ia sedikit melebarkan mata ketika mendapati nama ‘Tunanganku’ sebagai nama kontak yang pada saat itu sedang menunggunya menjawab panggilan diponselnya..

Oh..
Siapa yang sudah menuliskannya disana?

“Yob-se-yo..”

Yoona berucap ragu-ragu begitu menggeser tanda hijau dari layar ponselnya..

“Tak perlu se-kaku itu dengan tunanganmu sendiri..”

Menjauhkan ponsel yang menempel ditelinganya, Yoona mengetahui pemilik suara itu adalah benar-benar Siwon yang berbicara dengannya..

“Darimana kau tahu nomer ponselku?”

Ucapnya setelah kembali mendekatkan ponselnya..

“Apa kau lupa pernah menjadi karyawanku? Dan sudah kukatakan, aku menghapal semua data mereka termasuk dirimu..”

Sesaat Yoona mendengus mendengarnya..

“Tapi darimana kau tahu aku sudah menggunakan ponsel?”

“Kau masih bersama, oemma..?”

“Kau tahu aku bersama omonim? Bagaimana bisa..?”

“Oh, ayolah.. Aku tahu segalanya. Haruskah aku mengatakan hal seperti itu sekarang..”

“Kau sudah mengatakannya..”

Yoona makin mendengus menyadari dalam sambungan telponnya Siwon justru sedang menertawakan dirinya.

“Aku menunggumu dibalkon rumah sakit, datanglah..”

Yoona memandangi layar ponselnya yang telah mati begitu Siwon memutus sambungan telponnya setelah mengatakan kalimat terakhirnya.

Melakukan apa yang Siwon minta, Yoona lantas meninggalkan tempatnya berbicara dengan Ny.Choi tadi dan mulai berjalan menuju balkon rumah sakit. Namun menyadari wanita bernama Amber itu berjalan dibelakangnya, mengikutinya, membuat Yoona merasa risih hingga kemudian membuatnya menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Amber yang juga langsung menghentikan langkahnya..

“Kau mengikutiku?”

Amber mengangguk..

“Tunggulah disini, aku ada perlu sebentar..”

“Saya bisa bersama anda, nona..”

Yoona mendesah..

“Itu apa yang Nyonya perintahkan pada saya, untuk selalu bersama dengan anda..”

Amber menambahkan, apa yang dikatakannya kemudian membuat Yoona berjalan mendekatinya.

“Aku ingin bertemu sajangnim.. emm, maksudku Siwon.. Choi Siwon, kau tahu dia?”

“Tentu saja saya tahu Tn.muda Choi yang anda maksud, nona..”

“Kalau begitu biarkan aku menemuinya, dan kau tidak perlu mengikutiku..”

“Tapi..”

Sela Amber sebelum Yoona menyelesaikan kalimatnya..

“kau tahu kan Siwon tunanganku?”

Amber mengangguk..

“Dan kau masih tetap akan bersamaku disaat aku ingin menemuinya, bersama dengannya?”

Amber kembali mengangguk tanpa keraguan diwajahnya..

“Bagaimana mungkin kau melakukannya.. Kau akan berada diantara pasangan yang ingin saling bertemu? Kau akan mendengar apa yang kami bicarakan? Kau juga akan melihat saat kami.. Ah, aku tak harus mengatakannya. Kau pasti tahu kan apa yang biasanya terjadi ketika seseorang bertemu dengan pasangannya? Kau memiliki pasangan kan?”

Yoona benar-benar memiliki niat membuat Amber berhenti mengikutinya, dan kata-kata yang diucapkannya sepertinya telah memunculkan gambaran-gambaran dalam benak Amber, hingga membuatnya menjadi kikuk..

“Eh, baiklah.. Saya akan menunggu disini. Tapi saya harus lebih dulu memastikan keberadaan anda. Dimana anda akan bertemu dengan Tn.muda Choi?”

“Kami akan berada dibalkon rumah sakit..”

Amber mengangguk mengerti..

“emm, mungkin kau bisa pergi keruang ICU dan..”

“Saya sudah mengetahuinya nona, saya akan melakukannya..”

Yoona tersenyum mengetahui betapa cepat respon Amber dengan apa yang ia maksud..

“Kau bisa menghubungiku jika sesuatu terjadi pada oenni ku..”

Yoona baru saja berniat membuka ponselnya dan memberikan nomor ponselnya pada Amber, namun Amber telah lebih dulu mengatakan..

“Saya telah memiliki nomor ponsel anda, nona.. Jangan khawatir..”

“Oh, baiklah.. Terimakasih. Aku tidak akan lama, tunggulah disana..”

Selesai dengan Amber, Yoona kemudian meneruskan berjalan menuju balkon rumah sakit. Sesampainya disana, Ia mengarahkan pandangan matanya kesekeliling untuk mencari keberadaan Siwon, namun tidak menemukannya..

“Sajangnim..”

Yoona memutar tubuhnya, Apa ia terlalu lama untuk sampai disana hingga membuat Siwon terlalu lama menunggu dan memutuskan untuk pergi?
Ya..
Pasti karna itu, Ia terlalu lama berbicara dengan Amber tadi?

“Sajangnim.. Sajangnim..”

Yoona mendesah, saat benar-benar tak ada sahutan dari Siwon..

“Bagaimana bisa dia tidak menunggu sebentar saja..”

gerutu Yoona yang saat itu sudah berencana untuk beranjak, namun sesuatu yang dari belakang ia rasakan melingkupi tubuhnya, kemudian menghentikannya..

“Sajangnim..”

“Bagaimana bisa oemma membiarkanmu memakai pakaian tipis seperti ini, udara akan semakin dingin menjelang malam..”

Siwon yang ternyata melepas jas kerjanya, dan kemudian memasangkannya dari belakang tubuh Yoona. Ia juga yang kemudian mendekapnya dan tak membiarkan Yoona yang mencoba untuk melepaskannya..

“Sajangnim..”

“hm..”

“Bagaimana dengan Yuri oenni?”

Sesaat Yoona merasakan Siwon mencium rambutnya..

“Dia tidur setelah dokter memberinya obat, dan Yuri telah dipindahkan dari ruang ICU..”

“benarkah?”

Dengan meraih kedua tangan Siwon yang melingkari pada pinggangnya, Yoona melonggarkan pelukannya untuk dapat berbalik menatap pada Siwon dan meyakinkan apa yang telah diucapkannya..

“benarkah Yuri oenni sudah dipindahkan?”

Siwon mengangguk..

“Ya, dia berada diruang perawatan sekarang..”

“Oh, syukurlah.. tapi tadi..”

Yoona teringat telah menyuruh Amber untuk berada diruang ICU..

“Aku menyuruh Amber untuk menunggu disekitar ruang ICU?”

“Amber?”

Siwon mengerutkan kening mendengarnya, sementara Yoona malah mendesah mengingat Amber yang sebelumnya mengikutinya. Ia tidak terbiasa diperlakukan sedemikian dan jelas-jelas diikuti oleh seseorang seperti itu.

“Omonim memintanya untuk berada disini..”

Siwon mengangguk seolah mengerti meski hanya dengan satu kalimat yang diucapkan Yoona..

“Kau tahu siapa dia?”

Siwon mengangguk..

“Dia bekerja untuk oemma. Aboji yang sebenarnya mempekerjakannya. Tidak apa-apa, dia cukup baik menangani banyak hal..”

“Tapi aku tidak terlalu menyukai hal seperti itu. Itu terlalu berlebihan..”

“Amber hanya melakukan tugasnya, jika kau menolaknya mungkin kau akan membuatnya kehilangan pekerjaan. Dan lagi pula, tidak ada yang berlebihan jika itu untuk kebaikanmu..”

Siwon memutar tubuh Yoona agar ia dapat kembali mendekapnya. Membuat punggung Yoona menempel pada dadanya..

“Sudahlah, jangan memikirkan hal semacam itu. Hanya nikmatilah saat aku disini bersamamu..”

Yoona menarik sudut bibirnya dan hanya tersenyum, merasakan hangat saat memandang pada indahnya langit sore dari balkon rumah sakit itu.

***

Pada malam harinya ketika Yuri terbangun oleh mimpi buruk yang lagi-lagi menghantuinya, Siwon sudah tidak berada dirumah sakit saat itu. Yoona yang telah memaksanya untuk pulang dan memintanya untuk beristirahat.

Karna itu, ketika Yuri mencari-cari keberadaannya, Yoona cukup kesulitan untuk menyadarkan Yuri bahwa dirinya berada disana dan terus menemaninya.

Yoona baru dapat menenangkan dan membuat kesadaran Yuri kembali, setelah Ia melepas jas kerja milik Siwon yang sebelumnya dikenakannya dan memasangkannya ditubuh Yuri.

Yuri mencium pada aroma tubuh Siwon disana..

“Siwon..”

“Oenni ya..”

Yuri kini mendengarnya dan kemudian menatapnya..

“Yoona ya, dimana Siwon? Apa dia pergi? Dia meninggalkanku?”

Yoona terlebih dulu meraih tangan Yuri dan menggenggamnya..

“Tidak oenni ya.. Dia tidak benar-benar pergi. Dia memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan dan akan kembali setelah menyelesaikannya”

“Siwon akan kembali..?”

Yoona mengangguk, lega Yuri dapat menerima penjelasannya..

“Bukankah oenni pernah bekerja dengannya? Oenni pasti mengetahui betapa banyak pekerjaan yang membutuhkannya..”

Yuri mengangguk..

“Ya, Siwon sangat sibuk. Aku juga menjadi sangat sibuk untuk membantunya..”

Yoona dapat melihat ketika sudut bibir Yuri tertarik membentuk senyum, saat sepertinya ia mengingat masa-masa bekerja sebagai sekretaris Siwon.

“Kapan Siwon akan datang?”

“em, secepatnya.. Mungkin besok, dan untuk malam ini aku yang akan menemani oenni. Apakah tidak apa-apa aku yang menemani oenni?”

“Tidak Yoona, tentu tidak.. Selalu menyenangkan bersamamu.. Kemarilah..”

Yuri menggeser tubuhnya diatas tempat tidur, mengarahkan Yoona untuk berada diatasnya bersamanya..

“Kau terlihat lelah, Yoona.. Berbaringlah disini bersamaku..”

“Tidak oenni ya, aku baik-baik saja disini. Aku bisa menyakiti kakimu nanti. Oenni baru menjalani operasi..”

“Tidak akan apa-apa, aku ingin bersamamu.. Kemarilah, aku akan bisa kembali tidur setelah memastikan kau tidak akan kemana-mana dan tetap bersama denganku..”

Yoona ingin menangis mendengarnya, namun Ia tak bisa melakukannya. Tangis nya pasti justru akan membuat oenni nya semakin mengkhawatirkannya..

“Suster bisa memarahiku jika aku melakukannya..”

“Aku yang akan memarahinya jika suster itu berani memarahimu..”

Ketika akhirnya Yoona benar-benar melakukan seperti apa yang Yuri katakan, Ia merasakan lagi kasih sayang yang sedang Yuri tunjukkan untuknya. Dengan itu Yoona berjanji akan mengganti setiap kesedihan yang telah Yuri rasakan..

“Aku merindukanmu oenni ya.. Aku menyayangimu..”

“Aku juga merindukanmu Yoona ya, adik kecilku.. Aku selalu menyayangimu..”

Yoona kemudian dapat melihat Yuri menjatuhkan airmatanya, tangannya lantas bergerak untuk mengusapnya..

“Aku tidak akan membiarkan oenni menangis lagi..”

Yuri mengangguk setuju, dan keduanya kemudian sama-sama tersenyum untuk menguatkan satu sama lain.

***

Dipagi hari ketika Yoona terbangun, Ia begitu lega semalam Yuri tidak lagi terjaga dari tidurnya karna mimpi buruk. Sekarang bahkan Ia dapat melihat Yuri yang tertidur dengan lelap dan wajahnya yang terlihat tenang.

Memutuskan untuk beranjak dari atas tempat tidur itu, Yoona keluar dari dalam kamar rawat Yuri dan mendapati Amber menunggu didepan pintu kamar itu.

“Kau.. Bagaimana bisa kau berada disini sepanjang malam?”

“Saya sudah mendapatkan istirahat, nona.. Jangan merasa khawatir terhadap saya..”

Yoona mendesah, mau bagaimanapun Ia tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan Amber untuk terus berada disana.

“Aku akan berada dikamar mandi sebentar..”

Amber mengangguk dan kemudian bergerak mengambil sesuatu yang diletakkannya pada kursi tunggu. Satu paper bag kemudian diserahkannya pada Yoona..

“Nyonya mengirimkan ini, pakaian ganti untuk anda..”

“Oh, apa omonim datang?”

“Belum, hanya seorang supir yang mengantarkan itu tadi..”

Yoona lantas menerima paper bag itu ditangannya dan selanjutnya mempergunakan beberapa menit untuk mandi dan mengganti pakaiannya.

Sekitar lima belas menit setelahnya, Ia kembali masuk kedalam kamar Yuri. Disana, Ia melihat Yuri sudah duduk dengan bersandar pada bantal dan sedang tersenyum dengan sebuket bunga yang berada ditangannya dan sedang dipandanginya.

Untuk pertama kalinya, Yoona mendapati Yuri tidak terbangun dalam keadaan panik dan berteriak..

“Oenni ya..”

“Oh, Yoona.. Kemarilah, lihatlah ini..”

Yuri tersenyum kearahnya sambil menyerahkan sebuah kartu ucapan kecil padanya.

Yoona menerima dan kemudian membaca kalimat yang tertulis didalamnya..

“Tersenyumlah seindah bunga yang bermekaran ini”

Yoona menyuarakan isi kalimat itu dan lantas menatap pada Yuri yang masih terus mempertahankan senyum itu diwajahnya..

“Oenni ya, siapa yang telah mengirimkan ini?”

“Pasti Siwon yang mengirimnya.. Aku terbangun dan tidak melihat siapapun disini, tapi aku melihat bunga ini berada diatas tempat tidur, disampingku..”

Yuri menciumi kelopak-kelopak bunga yang bermekaran itu.
Yoona kemudian diam dan hanya terus memperhatikannya..

Benarkah Siwon yang telah mengirimnya?

Ia mempertanyakan itu didalam hatinya..

Tapi kenapa?
Kenapa Ia sampai mempertanyakan hal itu?
Pikirnya kemudian..
Bukankah seharusnya Ia merasa senang karna Siwon menunjukkan perhatian terhadap Yuri?
Tapi..
Tapi..
Hati kecilnya kembali menyuarakan rasa kecemburuan lah yang menjadi penyebabnya.

Ah,
lagi-lagi Yoona menepiskan rasa semacam itu dan tak ingin terus bergelung dengan rasa yang tak jelas dapat dimengerti olehnya.

Kecemburuan pasti tidak termasuk kedalam perasaan yang sedang dirasakan olehnya. Yakinnya kemudian..

Dan rasa itu segera teralihkan ketika ketukan pada pintu kamar Yuri terdengar, dengan Seohyun yang kemudian masuk kedalamnya..

“Selamat pagi..”

“Oh, dokter Seohyun.. Anda datang..”

Seohyun tersenyum dan melangkah semakin dekat..

“Aku ingin melihat bagaimana keadaanmu, Yuri ssi?”

Yoona lantas mengatakan pada Yuri bahwa Ia akan berada diluar dan membiarkannya untuk berbicara dengan Seohyun. Seohyun mungkin akan memulai sesi terapi pada Yuri, maka akan lebih nyaman bila dirinya membiarkan Yuri untuk mengatakan apa yang dirasakannya pada Seohyun, tanpa kehadirannya disana..

Berada diluar dan langsung menerima secangkir teh hangat yang diberikan Amber padanya, Yoona mendengar bunyi pada ponselnya ketika dirinya baru memulai untuk menyesap teh didalam cangkirnya..

*Merindukanmu..

Isi pesan teks yang dibacanya dari kontak dengan nama ‘Tunanganku’ sesaat membuat Yoona mengernyit, sebelum akhirnya menyadari Siwon lah yang mengirim pesan itu kedalam ponselnya..

*Sebelum berada dikantor, Aku akan datang untuk memeriksamu..

Satu pesan lagi masuk, dan Yoona lantas membalasnya.

*Tidak perlu datang..

*Aku akan datang, aku sudah berada diperjalanan..

*Yuri oenni baik-baik saja, tidak perlu datang..

*Aku datang untukmu, bukan karna Yuri..

Yoona kembali mengetikkan sesuatu pada layar ponselnya, tanpa sadar dengan ekspresi memberengut diwajahnya. Teringat akan buket bunga yang dilihatnya dikamar Yuri tadi..

*Urus saja kantormu. Masih Ada Amber disini..

Yoona meletakkan ponselnya segera setelah mengirimkan pesan itu, namun kemudian bukan lagi pesan teks yang didapatkannya sebagai balasan, melainkan panggilan yang langsung dilakukan Siwon..

“Hei, apa kau marah padaku?”

Yoona hanya dapat menggigit bibir bawahnya begitu mendengar suara Siwon disambungan telponnya..

“Jika kau terus menggigit bibir mu seperti itu dan tidak menjawab pertanyaanku, jangan salahkan aku karna dalam hitungan detik aku akan berada dihadapanmu..”

Yoona menoleh..

Oh dear..
Nyatanya Siwon memang telah berada tak jauh darinya..

*

*

*

*

*

*

To Be Continued~

Tolong dimaklumi ya aq ga bisa menjanjikan buat update cepat.. hanya di tunggu saja lah yaa..^^ #tq

@joongly

174 thoughts on “| At First Sight | 15

  1. Yoong unn ini menyakitkan. Apa benar siwon yg memberi buket bunga untuk yuri ? Lalu kenapa dia sms klo dia akan dtng ke rumah sakit apa ada cast yg baru? Dari pada saya penasaran next part 16

  2. kayaknya ibunya siwon bener bener udah sayang banget sama yoona.
    buktinya dia tak bisa marah lama lama.
    kemarinnya baru marah marah,eh paginya udah dateng dengan segala keperhatiannya.
    akhirnya yoona bisa juga merasakan cemburu meskipun dia masih belum mengakui perasaan cemburunya.
    trus siapa yg ngasih bunga, beneran siwon kah atau ada rookie mungkin?

  3. Yoona bisa cemburu juga oh sweet sekali, eomma siwon emang top deh galak diluar tp perhatian bgt ama menantu emang beruntung bgt yoona, semoga next yoonwon punya monment yg maniz

  4. Bangga dg ny choi akn sikapnya.. Aigooo ny choi bnar2 daebak..

    Moment YW Juga manis bgt, sampai2 meluber-luber tuh manisny yh terlepas dr traumany yuri sih..

    Itu bunga dr Siwon bnarkah? Sprtiny tidak deh.. Siwon kan hny mencintai yoona tdk mngkin ia bertindak perhatian sprti itu kpd yuri. Yg justru akn mmbuat yuri smkin berharap.. Jika bkn siwon lalu syp??

    Ciee ehemm gadis belia mulai cemburu nih ye..

  5. yuri bner2 ga bsa pisah ma siwon…aq bner2 ga tau hrus blang pa….yoona oonie sbar ya….untung na ibu na siwon mau nmenin yoona….aq bner2 pngen smua bhagia..

  6. nyonya choi udah bener2 sayang sma yoong. meski dia marah tp dia masih perhatian sama yoong..
    moment yoonwon so sweet bgt.
    lucu jg yoong cemburu. tp apa bner yg ngasih bunga ke yuri itu wonppa ??

  7. awal dari sebuah kobohongan sudah di mulai.
    dan segalak-galaknya Ny.Choi doi sangat menyayangi yoona, udah kya anak sendiri

  8. G habis pikir sama yoona yg meminta ke orang tua siwon agar siwon mencintai yuri
    Dan lg ny.choi ternyata sangat perhatian sama yoona
    Tp dgn menyembunyikan tunangannya pda yuri .. apa akan baik??
    Tp setidaknya yoonwon sudah mengatakan saling suka.. yey

  9. yoona sdah merasakn kecemburuan terhadap yuri dan siwon .dan kenapa pula sikap yuri hrus seperti itu selalu hrus ad siwon di sampingnya . semoga yuri cpat tahu dan tidak menggangu hubungan yoona dan siwon

  10. Wah,,,Ny.choi memang sesuatu,,,,dlu nya dia galak bnget ma yoona pi skrng dia sayang banget ma yoona,,yona bisa cemburu juga rupa nya. Miris liat cinta yoona dan siwon terhalang oleh yuri yg bergantung kpd siwon

  11. Makin bingung aku bacanya. Ny Choi emang sesuatu banget deh, baik banget gitu ke Yoona..jadi makin suka aku sama karakternya.😀
    Yoona dan Siwon, semoga kalian akan tetap bersama dan happily ever after.
    Fighting eonni!!!🙂🙂

  12. Ciiee ada yg cemburu, lagian siwon bisa aja bikin yoona cemburu dan paling bisa bnget ngegoda yoona, hahahah
    Aduuh, ny.choi so sweet bnget sih sampe nyediain bodyguard segala buat yoona, mau dong jadi mantunya *looh eeh* wkwkwk

  13. Sepertinya yoona cemburu dengan sikap perhatian siwon ke yuri,tapi mang bener ya siwon yg ngasih bunga itu..
    next baca part selanjutnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s