Fanfiction

YOU’re My Destiny [7]

Happy Reading~

*

*

*

*

*

*

*

Yoona sempat memutar mata mendengar perkataan spontan yang diucapkan oleh Fanny, namun tak berencana untuk menanggapi.

Sementara Fanny berdeham memberi tanda juga mengedikkan mata kearah Siwon sebagai isarat. Berharap sang oppa mengerti maksudnya.

“Jadi kau tak mau menemaniku, begitu?”

“bukan aku tak mau oppa..Tapi aku tak menemukan gaun yang pas..”

“Kau tinggal memilih salah satu diantara semua itu, apa susahnya?”

Fanny menggeleng..
Ia sebenarnya sangat menyukai semua gaun yang dipilihkan Yoona, bahkan ia sangat ingin memiliki kesemuanya.

Tapi apa boleh buat..
Demi oppa nya yang menurutnya payah dalam berurusan dengan wanita, Fanny terpaksa menggunakan trik yang sebenarnya sangat beresiko untuknya.

Dengan penolakan kerasnya pada semua gaun yang dipilihkan Yoona, ia sebenarnya juga takut hal itu akan menyinggung atau lebih ditakuti nya akan melukai perasaan Yoona.

Dia seorang desainer ternama..
Mungkin belum ada yang pernah menolak gaun-gaun yang berada dibutik miliknya.

Oh..
Oppa nya harus membayar mahal pengorbanannya..

“Cobalah yang ini..”

Yoona melepas satu gaun berwarna merah muda dari sebuah manekin dan menyerahkannya untuk dicoba oleh Fanny.

Oh, pink..
Fanny nampak berbinar menerima satu gaun berwarna kesukaannya.

Jika sebelumnya ia langsung menolak dengan berbagai macam alasan dari mulai warna yang tak disukainya, model dan ukuran yang tak pas.
Kali ini ia tergoda untuk mencoba gaun berwarna pink itu terlebih dulu..

“aku akan mencobanya dulu..dimana kamar pas nya?”

“Kau bisa kesana..”

Yoona menunjuk salah satu ruang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

“hmm, maaf jika dia merepotkanmu.. gadis itu memang cenderung pemilih..”

Yoona mengarahkan perhatiannya pada siwon saat pria itu berdeham dan mengucap permintaan maaf nya.

“Tidak apa-apa.. aku sudah biasa menghadapi berbagai macam keinginan pelanggan butikku..”

Senyum Yoona memberi isarat bahwa ia mengerti dan kembali merapikan gaun-gaun yang telah ditolak oleh Fanny.

Siwon memperhatikannya. Memandangi Yoona yang dengan telaten menggantung kembali satu persatu gaun itu dan mengembalikannya lagi ketempatnya semula.

Ia tersenyum..
Tiba-tiba terlintas dibenaknya jika wanita yang bahkan terlihat anggun hanya dengan apa yang dilakukannya itu adalah istri yang dilupakannya.
Bagaimana jika benar dirinya adalah suami Yoona?
Pria itu tidak meninggal tapi menderita amnesia, dan dirinyalah orangnya.

Oh..
Siwon kian tersenyum lebar, membayangkan betapa membahagiakannya kehidupannya dimasa lalu.

Hal itu kian memacu dirinya untuk secepatnya menemukan kembali ingatannya. Dan mendapati lagi kehidupannya yang sempurna.

Semoga..
Semoga apa yang terbayang dipikirannya adalah benar adanya.

Doa nya dalam hati..

“Yoona ssi.. Maaf, tapi ini..”

Fanny membuka kamar pas dengan wajah kecewa, Yoona mengerti maksudnya..

“gwechana Fanny.. Bagaimana jika kau mengenakan satu gaun yang baru kuselesaikan. Aku masih menyimpannya diruanganku.. Akan ku ambilkan untukmu..”

“Euh, tidak usah Yoona ssi.. Aku..”

“Tidak apa-apa, mungkin kali ini kau menyukainya..”

Oh..
Itu pasti. Bahkan ia telah jatuh cinta pada gaun-gaun yang sebelumnya.
Ia teramat mengagumi semua hasil rancangan Yoona..

Fanny hanya bisa menggigit bibir bawahnya saat Yoona melangkah menaiki tangga menuju lantai dua ruang kerjanya.

“Kau ini apa-apaan? Mengapa kau menolak semua gaun yang dipilihkannya..”

“Ck! Jadi oppa masih belum mengerti?”

“mengerti apa?”

“Oh, astaga oppa.. Kau masih menyukainya tidak?”

“kurasa iya..”

“Sudah kukatakan agar kau meminta Yoona untuk menemanimu. Aku memberimu kesempatan dan jalan untuk mendekatinya, karna itu aku mencari alasan dengan menolak gaun-gaun itu..”

“jadi kau hanya beralasan?”

“hm.. Kau tahu, Ya Tuhan..gaun itu cantik sekali. Aku sangat ingin memilikinya”

“tapi Kau sudah menolaknya”

“Ishh.. Aku sudah berkorban untukmu Oppa, kau harus membayar mahal nanti..”

Siwon tersenyum menanggapi..

“Jadi apa yang bisa kulakukan sekarang?”

“Susullah dia keruangannya, katakan aku tak bisa menemanimu dan mintalah dia yang menemanimu”

“Kau pikir Yoona mau menemaniku?”

“Oh, itu tergantung usahamu Oppa..”

Fanny mengedikkan bahu sebelum benar-benar meninggalkan Siwon disana. Didalam butik milik Yoona.

Terlihat ragu namun akhirnya Siwon berniat mencobanya.
Ia melangkah menaiki anak tangga, dan mencari letak ruang kerja Yoona.

Sebuah pintu terbuka dengan cahaya lampu terang didalamnya yang kemudiaan dimasuki olehnya.
Tebakannya benar, Yoona berada didalamnya sedang mencoba melepaskan satu gaun dari sebuah manekin.

Siwon tak bersuara dan hanya diam memperhatikan nya. Namun kemudian suara Yoona yang merintih sedikit menyentaknya.

“awhh..”

“Kau kenapa?”

Siwon dengan cepat mendekatinya, membuat Yoona terkejut namun masih merespon dengan menunjukkan salah satu jarinya yang berdarah, tertusuk jarum sepertinya.

“Astaga..”

Meraih dan kemudian menghisapnya, Siwon membuat hati Yoona mendesir saat itu..

“Siwon..”

“Jika saat ini kau melihatku sebagai pria itu, sebagai Siwon.. Maka biarkan aku melakukan apa yang akan pria itu lakukan untukmu..”

Siwon kembali memasukkan ujung jari telunjuk Yoona kedalam mulutnya. Menghisapnya, agar sedikit darah yang tadi dilihatnya tak lagi keluar.

Yoona memandanginya, merasakan perhatian dan ketulusan yang diberikan Siwon untuknya. Sebelah tangannya terulur, hampir-hampir ia gunakan untuk menyentuh wajah Siwon, namun urung ketika Siwon kemudian mendongak untuk menatap nya.

“terasa sakit?”

sesaat Yoona merasa tubuhnya membeku, pandangan mata itu begitu dalam menatapnya. Melumpuhkan sel-sel dalam dirinya untuk bergerak memberi respon.

“Yoona.. Kau tidak apa-apa?”

“euh..”

Yoona buru-buru menarik tangannya yang masih dipegang oleh Siwon.

“Tidak.. ini tidak apa-apa. Hanya tertusuk jarum, kau tak perlu berlebihan.. Aku sudah biasa mendapatkan hal seperti ini ditanganku”

Jawaban yang diberikan Yoona sedikit mengejutkan untuk Siwon, yang merasa Yoona tak menerima apa yang telah ia lakukan untuknya.

Sementara Yoona kemudian beralih untuk kembali mencoba melepas gaun dari sebuah manekin seperti niatannya sebelumnya.

“Aku akan menunjukkan ini pada Fanny..”

Yoona melangkah namun Siwon menahan lengannya.

“dia sudah pergi..”

“maksudmu?”

“seseorang menelponnya, sepertinya itu penting jadi dia mengatakan agar aku menyampaikan permintaan maafnya padamu..”

Siwon menggaruk tengkuknya, berharap alasan yang diungkapkannya cukup masuk akal dan bisa diterima oleh Yoona.

“Owh.. Jadi dia tak jadi mengambil gaun dariku?”

“Tidak, maafkan aku.. Tapi aku akan membayar berapa yang kau inginkan untuk mengganti waktumu yang tersita karna meladeni gadis itu..”

Yoona memutar mata mendengar perkataan Siwon, ditambah lagi pria itu yang kemudian mengeluarkan dompet dari dalam saku celananya.

“sebutkan saja berapa nominalnya?”

“Apa maksudmu?”

“Aku sudah katakan akan membayar waktumu yang tersita karna Fanny..”

“Kau pikir aku menjual waktu? Aku tak akan menerima uang itu.. Disaat Fanny tak mengambil satu pun gaun dariku..”

Oh..
Siwon mendengar nada ketersinggungan dari kalimat yang diucapkan oleh Yoona pada saat itu.

Ia salah bersikap lagi?
Mungkin benar yang dikatakan Fanny, bahwa dirinya memang payah dalam berurusan dengan wanita..
Ah, tidak..

“Maaf aku tak bermaksud..”

“sudahlah.. Jika tak ada lagi yang diperlukan, aku akan menutup butikku. Jadi pergilah..”

“Tunggu Yoona.. Aku.. emm, bisakah kau yang menggantikan Fanny untuk menemaniku?”

Yoona mengernyit, meski sebelumnya ia telah mendengar hal yang sama dari Fanny yang mengatakan agar dirinya menemani pria itu.

Aneh..
Mengapa jadi dirinya yang harus pergi menemani pria itu?

“maaf.. Aku tak bisa”

“Aku janji tak akan lama.. Itu hanya sebentar, sekedar jamuan makan malam saja..”

“Maaf, tapi.. Aku benar-benar tak bisa. Aku harus cepat pulang.. Hana dan Junseo bisa mengamuk jika aku pulang terlalu malam”

Siwon terdiam mencerna alasan Yoona dan beberapa saat kemudian ia tersenyum kearahnya.

“Jika Hana dan Junseo mengijinkan, apa kau mau pergi denganku?”

“nde?”

“Aku akan menghubungi Hana, meminta ijin dan mengatakan mommy nya akan sedikit pulang telat malam ini..”

Yoona ingin memprotes apa yang dikatakan Siwon, namun pria itu telah lebih dulu merogoh ponsel miliknya dan melakukan panggilan, juga menghidupkan loudspecker, agar ia bisa mendengarnya.

Beberapa saat kemudian, pada deringan ketiga suara nyaring dari putrinya langsung terdengar.
“Daddy..! Daddy dimana? Kenapa daddy tidak pulang? Mommy juga belum pulang..”

“Hana ya..”

“Daddy akan pulang kan?”

“emm, sebentar sayang.. Ada yang ingin daddy katakan padamu..”

Yoona hanya bisa menyimak pembicaraan itu, karna meski bukan kali pertama namun Ia tetap tertegun mendengar pria itu menyebut dirinya sebagai ‘daddy’.

Ya Tuhan..
Mengapa tak ada kesan kaku yang terlihat?
Pria itu tampak luwes menyebut dirinya sebagai ‘daddy’ pada Hana..

“Jadi apa yang ingin daddy katakan? Hana akan mendengarnya..”

“emm..bolehkah malam ini mommy mu pulang telat?”

“daddy sedang bersama mommy?”

Tebakan Hana tepat, membuat Siwon tersenyum mendengarnya.

“hm, kau benar sayang.. Mommy mu sedang bersamaku.”

“Oh..”

respon Hana singkat. Ia mungkin sedang memikirkan apa yang tadi Siwon tanyakan.

“Jadi.. Bolehkah?”

“emm, Okey.. Kalau itu untuk membuat mommy dan daddy berbaikan. Hana akan ijinkan mommy pulang telat malam ini..”

“Oh, trimakasih sayang, dan katakan juga pada Junseo.. Aku menyayangimu..”

“I love you too dad..”

Siwon menutup ponselnya dengan senyum mengembang.
Jika alasan Yoona menolak ajakannya hanya karna takut gadis kecil itu akan marah, maka sekarang tak ada lagi alasan untuk menolaknya.

“Bersiaplah, kita masih punya waktu.. Aku akan menunggumu diluar..”

“Harry ssi.. Tapi..”

“Hana sudah memberi ijin. Dia takkan marah kau pulang telat malam ini”

Yoona mendengus saat Siwon kemudian keluar dari ruangannya dan menutup pintu dibelakangnya.

Mengapa pria itu jadi bersikap seenaknya pada dirinya..

“Ishh..Ottokhae..”

Ia lantas menatap gaun ditangannya..
Haruskah ia memakai itu dan pergi mengikutinya?
Setelah beberapa saat hanya mondar-mandir didalam ruangannya, Yoona akhirnya memutuskan.
Ia terlebih dulu melangkah kearah pintu ruang kerjanya dan kemudian menguncinya.

Siwon tersenyum, saat mendengar bunyi klik dari pintu dibelakangnya yang kini dikunci..

“Kau takut aku masuk dan melihatmu berganti pakaian ya? Tenanglah.. Aku takkan melakukannya, kecuali kau yang meminta dan membutuhkan bantuanku..”

Yoona membelalakkan mata, kemudian kembali mendengus sedikit kesal..

Berani-beraninya dia berkata seperti itu..

“Aku tidak akan membutuhkan bantuanmu.. Maka tetaplah berada diluar!”

Yoona menyahuti, sambil kemudian tangannya bergerak melucuti pakaian yang dikenakan dan menggantinya dengan sebuah gaun berwarna pastel yang tadi ingin ia tunjukkan pada Fanny.

Tak ada masalah, sampai pada bagian ia harus menarik resleting dibagian belakang yang cukup menyulitkannya.

“Oh, astaga..”

desahnya kesal mengutuki dirinya sendiri mengapa ia membuat gaun semacam itu.
Sangat tidak praktis apalagi efektif untuk keadaan seperti yang saat itu ia alami..

“Bisakah kau panggilkan satu karyawan wanitaku yang masih berada dibawah?”

Yoona menaikkan nada suaranya, agar Siwon yang berada didepan pintu ruangannya mendengar apa yang dikatakannya.

“Kurasa tidak ada lagi karyawan wanita mu.. Aku hanya melihat seorang pria yang berjaga didepan. Kau ingin aku memanggil dia untukmu..”

Aishh..
Tentu saja tidak.

Yang Ia butuhkan adalah seorang karyawan wanita untuk membantu menaikkan resleting gaunnya.

“Kau mengalami kesulitan? Kau membutuhkan bantuanku?”

Tawaran yang dilontarkan Siwon, membuat Yoona kemudian menggigit bibir bawahnya.

Oh, haruskah..

“Sebenarnya aku memang mengalami kesulitan. Tapi aku tak ingin kau yang membantuku..”

Siwon mengerutkan kening mendengarnya..

“memangnya kenapa? Apa masalahnya?”

“diamlah.. Aku akan mengusahakannya sendiri..”

“Oh, ayolah.. Jangan mengulur waktu. Kau tak berniat membuatku terlambat kan?”

“Ck! Kalau begitu jangan memintaku menemanimu. Pergilah sendiri..!”

Yoona makin kesal karenanya, dan Siwon kini diam tak lagi menyahuti. Takut apa yang nanti dikatakannya hanya akan menjadi sebuah kesalahan.

Sampai beberapa menit dan Yoona belum juga keluar dari ruangannya.

Demi Tuhan..
Rasanya belum pernah Siwon menunggu demi seorang wanita.

Ada apa dengan wanita itu?
Mengapa membuat Ia bahkan rela berdiri didepan pintu ruangan itu seperti orang bodoh..

“Sebenarnya kau jadi pergi tidak?”

Siwon mulai tak bisa bersabar lagi..

“sepertinya tidak. Kau pergilah sendiri.. Maaf..”

“Apa? Astaga.. Sebenarnya apa masalahmu? Biarkan aku masuk dan membantumu..”

Siwon mulai mengetuk berkali-kali pada pintu ruangan Yoona, membuat Yoona kian gelisah berada didalamnya.

“Sesuatu pada gaunku.. Aku kesulitan memakainya..”

“Oh, hanya itu..? Buka pintunya.. Aku akan membantumu..”

“Tidak.. Bisakah kau turun dan mengambilkan gaun lain di etalase?”

“Tidak.. Aku tak tahu mana yang pas ditubuhmu. Itu hanya akan membuang waktu.. Buka saja pintunya dan biarkan aku masuk untuk membantumu..”

“Tapi..”

“Jangan khawatir, aku hanya akan membantumu saja. Aku bersumpah takkan melakukan perbuatan buruk terhadapmu.. Jika itu yang kau takutkan..”

Mau tak mau, dengan ragu Yoona kemudian membuka kuncian pada pintu ruang kerjanya. Bunyi klik yang kembali terdengar membuat jantungnya berdegup kencang.
Waspada, mungkin itu yang sedang ia coba lakukan, saat kemudian Siwon masuk dan dalan langkah untuk mendekatinya.

“Apa masalahnya?”

“Aku kesulitan menarik resleting gaunku..”

ucap Yoona membalikan tubuhnya untuk menunjukkan bagian belakang dari punggungnya yang terbuka.

Siwon terkagum, Memperhatikan kulit seputih susu milik Yoona yang pasti akan terasa lembut bila ia menyentuhnya.

Oh, berpikir apa dirinya..

“Kau bisa membantuku kan?”

Ucapan Yoona menyentakkan pemikiran Siwon kembali pada tempatnya.

“ehmm.. Aku akan melakukannya..”

Siwon mulai menyentuh bagian ujung resletingnya dan dengan perlahan menaikkannya keatas.

Pergerakan itu membuat Yoona merasakan merinding pada tubuhnya.

Entah mengapa ia merasakan sengatan saat tangan Siwon tanpa sengaja menyentuh bagian kulit punggungnya sambil lalu.

Oh..
Tak seharusnya itu ia rasakan.
Perasaan seperti itu dulu hanya akan ia rasakan ketika sang suami menyentuhnya..

Oh Tuhan..

Yoona buru-buru menarik diri setelah menyadari Siwon telah selesai menaikkan resleting pada gaunnya sampai keatas.

“Terimakasih.. beri aku sepuluh menit untuk merapikan rambutku”
Kalimat Yoona terdengar seperti pengusiran untuk Siwon.
Tanpa berkata-kata ia kemudian keluar dan kembali menunggu Yoona didepan pintu.

Tepat sepuluh menit kemudian saat Yoona keluar, Siwon dibuat terpana dengan penampilannya.

image

Mengagumkan..

Meski Yoona hanya merapikan rambutnya yang terurai dengan menggunakan sisir. Menambahkan riasan wajahnya dengan bedak yang berada di tas tangannya, dan sedikit memerahkan bibirnya dengan tambahan lipstik..

“Kau sangat cantik..”

Puji Siwon dan meminta Yoona merangkulkan tangan pada lengannya..

Yoona tak bisa menolak. Atau mungkin memang dirinya yang tak ingin menolak, ketika Siwon meraih tangannya agar melingkar pada lengannya.

“Siap untuk pergi?”

Yoona tak bisa menjawab, debaran jantungnya terlalu membuatnya gugup. Ia hanya mengangguk sambil menarik sedikit ujung bibir merahnya agar membentuk senyum diwajahnya.

Siwon membawanya menuruni tangga, kelantai bawah butiknya dan terus mengarah keluar ketempat mobilnya yang terparkir.

“Bagaimana dengan mobilku?”

Siwon sudah membukakan pintu ketika Yoona mengucap pertanyaan nya.

“bagaimana apanya?”

“lebih baik aku memakai mobilku sendiri, aku akan mengikuti mu dari belakang..”

Siwon tertawa mendengarnya..

“Apanya yang lucu?”

“Oh, mana bisa seperti itu.. Kita akan menghadiri acara yang sama, tentu saja kita akan berangkat bersama”

“Kau yang ingin menghadiri acara itu, dan bukan aku..”

“Well, itu memang untuk kepentinganku. Tapi aku sudah memintamu untuk menemaniku kan.. dan kau menyetujuinya..”

“Kau memaksaku..”

Yoona mendengus dan Siwon justru menyeringai kearahnya..

“Dimana bagian dari perkataanku yang terdengar memaksamu, Yoona?”

“Ck! Sudahlah.. Biarkan aku menggunakan mobilku. Itu akan lebih praktis saat nanti pulang. Kau tak perlu repot mengantarku..”

“Idemu sangat konyol Yoona.. Itu akan mengesankan jika kita pasangan yang sedang bertengkar ..”

Pasangan?

Yoona mengernyit mendengarnya.
Beraninya dia menyebutnya sebagai pasangan..

“Dan mengantarmu pulang..bukanlah sesuatu yang merepotkan untukku. Ayo, masuklah..”

Sedikit mendorong tubuh Yoona, Siwon tersenyum karna telah berhasil memaksanya masuk kedalam mobil.

Dalam perjalanannya, Yoona hanya terdiam canggung. Tak tahu apa yang cocok untuk dijadikan bahan pembicaraan diantara keduanya.

Sampai pada akhirnya Siwon menghentikan mobilnya didepan sebuah Hotel, dan menyentakkan Yoona dari kediamannya.

“Kita sudah sampai.. Ayo Turun..”
Menatap kearah luar dari kaca mobil, Yoona sepertinya baru tersadar sedang berada dimana dirinya saat itu.

“Hotel?”

“hm..disini tempatnya”

“tapi kenapa hotel?”

“memangnya kenapa dengan hotel?”

“Aishh.. Aku bertanya padamu..”

“tapi aku tak mengerti dengan maksud pertanyaanmu..”

Yoona merengut, pria itu benar-benar membuatnya kesal..

“Oh, ayolah.. Aku tidak akan mengajakmu cek-in disalah satu kamar disana. Jadi bersikap santailah.. Sudah kukatakan bukan, akan ada jamuan makan malam dengan partner bisnisku..”

Siwon bergegas turun dari mobilnya, memutar dan kemudian membukakan pintu untuk Yoona.

“Turunlah beautiful lady..”

Mengerlingkan mata, Siwon lantas mengulurkan tangannya untuk kemudian disambut oleh Yoona.

Ya Tuhan..
Yoona merasakan darah mengalir lebih banyak ke wajahnya, hingga memerahkan kedua pipinya.

“Aku jamin tak akan ada yang mengira kau ibu dari dua orang anak.. Kau terlihat seperti seorang gadis yang tersipu malu saat ini.”

Ya Ampun..
Siwon pasti menyadari wajahnya yang memerah saat itu. Hingga kemudian membuatnya bertambah ingin menggodanya.

“Ck! Cepatlah kita masuk dan selesaikan ini.. Aku ingin segera pulang memeluk Hana dan Junseo..”

“Oh, tidak masalah.. Tapi sebelumnya kau bisa memelukku terlebih dulu..”

Siwon tertawa ketika kemudian Yoona memukul lengannya. Tidak benar-benar marah, karna Siwon bisa melihat senyum diwajah malu-malunya.

Hal itu membuatnya senang.
Benar-benar merasa senang..
Fanny haruslah tahu, Ia bukan seorang yang payah dalam memperlakukan wanita. Terbukti, Yoona sekarang tersenyum saat bersamanya.

Setelah Siwon menyerahkan kunci mobilnya pada seorang valet yang ada disana, keduanya kemudian memasuki lobi hotel dengan seseorang yang kemudian menyambutnya. Mengarahkan keduanya ketempat dimana jamuan makan malam itu diadakan.

Mendadak Yoona menghentikan langkahnya saat melihat keberadaan Changmin dan juga Sooyoung.

Oh..
Apa yang dilakukan mereka disana?

“ada apa Yoona?”

“Itu.. Bukankah itu Changmin dan Sooyoung?”

Siwon mengikuti arah pandang Yoona kearah meja bundar dimana ada beberapa orang disana yang diantaranya adalah Changmin dan Sooyoung.

Mereka sudah mulai menikmati hidangan dihadapan mereka, dengan Changmin yang beberapa kali terlihat menyuapkan makanan untuk Sooyoung.

“Itu memang mereka..”

“Kenapa mereka ada disini?”

“Oh, apakah aku belum mengatakan, jika partner bisnisku adalah Changmin..”

“Kau berbisnis dengan Changmin?”

“Ya.. Dia menawarkan sebuah proyek kerjasama dan perusahaan ku menerimanya. Dia mengadakan jamuan makan malam untuk meresmikan kerjasama kami. Ayo, kita sapa mereka..”

“Eh, tunggu..”

Yoona menarik tangannya dari lengan Siwon, dan berbalik berniat menghindar. Namun kemudian Siwon menahannya..

“Kau mau kemana?”

“Ada Sooyoung dan Changmin disana..”

“Lalu kenapa?”

“mereka..mereka akan..”

Siwon sepertinya bisa membaca apa yang Yoona maksudkan..

“Kau takut dengan penilaian mereka saat melihatmu menggandeng pria lain kan?”

“Harry..”

“Oh, ayolah.. Kau tak perlu bersikap seperti itu”

“Tapi Aku..”

“Yoona.. Kau disini?”

Oh..

Yoona tak lagi bisa menghindar, ketika mendengar suara Sooyoung diiringi langkah kaki yang mendekatinya.

“Yoona..?”

Siwon merapatkan dirinya, meraih pinggang Yoona untuk kemudian membalikkan tubuhnya menghadap kearah Sooyoung.

“Apa yang Kau lakukan?”

“Ah, lihatlah.. Saudari iparmu menyapa.. Kau tak berniat kabur dan menghindarinya kan?”

“Harry ssi.. Singkirkan tanganmu!”

“Kenapa? Tadi kau tak masalah seperti ini..”

“Tapi masalahnya, sekarang.. Sekarang..”

“Karna ada saudara iparmu itu? Oh, ayolah Yoona.. Kau sudah seharusnya melanjutkan hidupmu. Wanita itu juga pasti bisa mengerti.. Kau masih muda, sukses, cantik dan menarik. Tak salah bila kemudian seseorang tertarik padamu”

“Harry ssi.. Cepat singkirkan tanganmu..”

Sebelum Siwon melakukan apa yang dikatakn Yoona, Sooyoung sudah lebih dulu mencapainya. Dan memperhatikannya dengan pandangan menyeluruh.

Sooyoung pasti tak menyangka, akan bertemu dengan Yoona disana..

“Annyeong..”

Siwon tersenyum dan lebih dulu menyapanya. Sementara Yoona masih terdiam kikuk dibawah tatapan kedua mata Sooyoung yang terus terarah kepadanya..

“annyeong haseyo Opp, Tn.Harry..”

Sooyoung lantas sedikit membungkuk. Ia hampir saja salah menyebut, dengan memanggilnya Oppa.

“Anda dan Yoona, kalian..?”

“Aku datang bersamanya.. Aku yang mengajaknya..”

“Owh..”

Sooyoung memperhatikan sebelah tangan Siwon yang masih melingkari pinggang Yoona.

“Sooyoung, Aku ingin bicara denganmu..”

“Tapi kurasa jamuan makan malamnya telah dimulai Yoona, sebaiknya kita bergabung dengan yang lain. Kalian bisa mengobrol setelahnya..”

Siwon mencegah niatan Yoona dengan membawanya bergabung bersama tamu yang lain.
Membuat Yoona sedikit mendecak kesal, namun Siwon tak mencoba menanggapinya..

Menarikkan sebuah kursi untuknya, Ia justru sedang berusaha membuat Yoona terkesan dengan memperlakukannya dengan baik..
“Kau ingin makan sesuatu? Apa yang kau inginkan? Aku akan ambilkan untukmu..”

Siwon menawarkan beberapa macam makanan kepadanya..

“Tidak, terimakasih.. Aku bisa melakukannya sendiri..”

Yoona menyadari jika Sooyoung yang duduk disebelahnya masihlah terus memperhatikan dirinya. Dan apa yang dilakukan Siwon padanya.

“Aku benar-benar tak menyangka akan bertemu dengan mu disini..”
Sooyoung tak sabar untuk menunggu sampai jamuan makan itu selesai. Ia berbicara dengan berbisik kearah Yoona.

“bagaimana bisa.. Bagaimana dia bisa mengajakmu? Dimana kalian bertemu dan..?”

“hentikan Soo.. Aku bisa menjelaskannya..”

“Oh, ya.. Aku memang butuh penjelasan darimu.. Aku hanya belum percaya dengan apa yang kulihat. Kalian telah sedekat ini sekarang..”

Sooyoung tersenyum sambil mengerling jahil kearahnya, membuat Yoona memutar mata kearahnya. Hal itu justru menjadikan Sooyoung terkikik.

Oh..
Nampaknya Ia tak berkeberatan sekalipun Yoona menjadi dekat dengan Siwon.

***

Setelah menikmati makan malam bersama, Siwon dan Changmin terlibat pembicaraan yang terlihat serius dengan beberapa orang disana. Hal itulah yang kemudian dimanfaatkan Sooyoung untuk menarik Yoona dan menuntut penjelasan darinya..

“Jadi?”

“Awalnya aku sudah akan pulang dan menutup butik. Tapi kemudian Fanny datang bersamanya dan…”

Cerita Yoona kemudian mengalir untuk didengarkan oleh Sooyoung. Ia mengatakan apa yang terjadi hingga kemudian pria itu bisa membawanya ketempat itu..

“Oh, kurasa Dia dan Hana menjadi dekat sekarang..”

“Ya.. Hana bahkan memanggilnya ‘daddy’, Aku tak tahu lagi bagaimana cara menjelaskannya pada Hana.. Dia sulit untuk mengerti..”

“Jangankan Hana, Yoong.. Aku pun sulit mengerti jika didunia ini ada orang yang serupa dengan Siwon oppa.. Sulit dibedakan..”

“Yang membedakan adalah sifatnya.. Siwon tidak seperti pria itu. Dia pemaksa dan sering mengesalkan..”

“Oh, benarkah..?”

“hm.. Itu yang kurasakan..”

“Itu berarti dia memang seperti Siwon oppa yang dulu..”

Apa..

Keduanya lantas sama-sama memperhatikan kearah Siwon yang sedang berbicara dengan Changmin dan kemudian keduanya berjalan kearah mereka.

“Sudah waktunya pulang, chagi..”

Changmin mengulurkan tangannya dan Sooyoung langsung menerimanya.

“Oh, baiklah aku juga sudah mulai lelah.. Yoona, aku duluan ya.. Dan Kau..?”

“Tentu saja aku bertanggung jawab untuk mengantarnya.. Kalian tak perlu khawatir, wanita cantik akan selalu aman saat bersamaku..”

Changmin dan Sooyoung tersenyum mendengarnya, dan tak memperdulikan bagaimana wajah Yoona yang memerah karna apa yang telah Siwon ucapkan.

Oh..
Kesalkah dirinya..
Ataukah Ia merasa malu..

***

Di tempat lain, dalam keadaan dan suasana yang berbeda dengan apa yang dirasakan Siwon,
Tn.Hwang mengcengkram kuat gagang telpon dan menggeram marah pada sesorang yang saat itu sedang berada dalam sambungan telpon dengannya..

“Apa saja yang selama ini kalian lakukan? Bodoh!”

“maafkan kami Tuan..”

“Bagaimana informasi sepenting ini baru kalian laporkan padaku.. Kirimkan foto-fotonya padaku sekarang! Aku harus tahu siapa wanita itu, yang berani mendekati Harry…”

***

Satu jam setelah usai menghadiri jamuan makan malam itu, Siwon telah membawa Yoona kembali ke rumahnya.

Ya..
Siwon tak mengantar Yoona ke butik untuk mengambil mobil miliknya, melainkan langsung mengantarnya pulang kerumah.

Dengan sedikit memaksa, juga berbagai macam alasan yang dikemukakannya mulai dari keadaan yang sudah terlalu malam dan Yoona yang hanyalah seorang wanita.
Ketidak amanan berkendara dijalan raya.
Hingga menyinggung tanggung jawabnya untuk mengembalikan Yoona dengan selamat.
Pada akhirnya membuat Yoona kemudian mau tak mau menerima apa yang Siwon katakan..

“Terimakasih untuk malam ini, Kau sudah mau kurepotkan dengan menemaniku.. Dan jangan khawatir, Aku akan menyuruh orang untuk mengambil mobilmu..”

Ucap Siwon sesaat setelah menghentikan laju mobilnya. Yoona yang sudah akan turun kemudian mengalihkan pandangannya kearah Siwon dan tersenyum kepadanya.

“Tak ada yang akan kau katakan?”

“Apa?”

“Kau hanya memberiku senyum..?”

Yoona mengernyit mendengarnya..

“meskipun senyummu itu sudah cukup, tapi tetap saja aku menginginkan kau mengatakan sesuatu..”

“Apa? Kurasa aku tak punya sesuatu untuk dikatakan padamu..”

“Oh, baiklah.. Kurasa aku harus puas menerima senyum yang kau berikan padaku..”

“terimakasih telah mengantarku pulang..”

ucap Yoona akhirnya, sebelum berpaling untuk kemudian mencoba melepas sabuk pengaman ditubuhnya yang entah mengapa kemudian menjadi terasa susah untuk ia lepaskan.

Siwon yang mengetahui kesulitan yang sedang dialami Yoona, lantas menggeser posisi duduknya dan mencondongkan tubuhnya kearah Yoona.

“ternyata selain tak bisa menarik resleting gaunmu kau juga tak bisa membuka sabuk pengaman..?”

Mendengar suara Siwon yang begitu dekat ditelinganya, sontak membuat Yoona menoleh dan..

Astaga..
Jantungnya hampir saja melompat.

Saat menyadari wajahnya yang begitu dekat dengan Siwon. hingga pada saat Ia menoleh tadi, ia bisa merasakan hidungnya yang bersentuhan dengan hidung Siwon..

“Biarkan aku membantumu lagi..”

Sedetik kemudian Yoona berusaha menekan tubuhnya sendiri lebih kebelakang untuk menghindari bersentuhan lagi dengan Siwon, saat kemudian tangan pria itu bergerak untuk membukakan sabuk pengaman ditubuhnya.

“Mommy.. Daddy.. Apa yang kalian lakukan didalam..?”

Ketukan-ketukan kecil, pada kaca pintu mobil itu membuat keduanya sama-sama terlonjak karna terkejut.

“Awhh..”

Siwon bahkan sempat mengerang sakit akibat keterkejutan yang kemudian membuat kepalanya membentur bagian mobilnya.

“Kau tidak apa-apa?”

“Ah, tidak.. tidak apa-apa, hanya saja kepalaku..”

Siwon mengusap kepalanya, membuat Yoona merasa geli menyadari pria itu mungkin mengalami kesakitan disana.

“Mom.. Daddy.. Kenapa tidak turun? Apa yang kalian lakukan..?”

Ketukan pada kaca mobil Siwon kembali terdengar..

“Hana..”

“Oh, Ya.. Aku akan membuka kunciannya..”

Siwon menekan salah satu tombol pada bagian mobilnya yang kemudian membuat kuncian pada pintu mobil itu terbuka.

Saat keduanya kemudian membuka pintu dan keluar dari dalam mobil, Hana menyambutnya dengan wajah memberengut sambil memeluk sebuah boneka pemberian Siwon.

“Sayang..”

“Kenapa lama sekali?”

“dan kenapa kau belum tidur? Ini sudah malam Hana ya..”

Yoona mendekat, mencium pipi Hana dan mengusap rambutnya..

“Hana menunggu mommy dan daddy pulang..”

“Ayo masuk.. sekarang Mommy sudah pulang, sayang..”

“Tapi Hana ingin tidur bersama daddy.. Ayo dad, masuk..temani Hana tidur..”

Hana lantas mendekat dan menggelayut memeluk lengan Siwon, membuat Yoona mendesah melihatnya.

“Hana ya..”

“please mom.. Daddy Ayo! Hana sudah mengantuk.. Ayo dad..”

“Tidak Hana ya..”

“Tidak apa-apa Yoona, Aku bisa menidurkannya sebentar.. Jangan khawatir aku akan pergi setelahnya..”

Ucap Siwon sambil mengusap rambut Hana..

“Tidak dad.. Daddy tidak boleh pergi. Daddy harus tetap bersama Hana dan ada disamping Hana saat Hana bangun..”

“Oh, baiklah Tuan putri.. Aku akan memenuhi permintaanmu. Ayo kita tidur sekarang..”

Siwon meraih tubuh Hana kedalam gendongannya..

“Turunkan Hana, dad.. Hana sudah terlalu berat untuk digendong..”

“Oh, tidak masalah sayang.. Yang pasti kau masih tidak lebih berat dari mommy mu.. Daddy bahkan sudah pernah menggendongnya dan itu bukan suatu masalah. Aku cukup kuat untuk melakukan itu..”

Hana terkikik mendengarnya sementara Yoona terbengong mencerna apa yang baru saja ia dengar dari apa yang telah Siwon katakan.

Oh Tuhan..
Siwon nya memang pernah melakukannya..
Tapi mengapa pria itu bisa tiba-tiba mengatakannya?
Darimana dia mengetahuinya??

***

Lembaran-lembaran foto itu telah berulang kali dilihatnya, foto yang diambil dari jamuan makan yang dihadiri Siwon bersama dengan seorang wanita.
Dan perasaan yang dirasakannya tetaplah terasa sama.
Tn.Hwang merasakan kecemasan dalam hatinya.
Entah oleh karena apa..

“Siapkan tiket dan atur keberangkatanku. Aku ingin tahu proyek apa yang dikerjakan Harry disana..”

“Tapi Tn.. Anda tidak bisa pergi dengan kondisi yang..”

“cukup Nickhun.. Kali ini jangan menghalangiku..”

Ketika Nickhun tak lagi bisa mencegah niatan Tn.Hwang, hal yang pertama kali dilakukannya adalah menghubungi Siwon.
Namun setelah lebih dari tiga kali ia melakukan panggilan pada ponsel Siwon, namun tak sekalipun mendapat jawaban, dirinya pasrah. Dan hanya berharap perjalanan yang nantinya dilakukan takkan berdampak buruk pada kesehatan Tn.Hwang.

“Kau bisa ikut denganku jika kau mengkhawatirkan kondisiku, Nickhun..”

“tentu saja saya akan mendampingi anda, Tuan..”

“Baiklah, semua sedang dipersiapkan. Setelahnya kita akan langsung pergi. Kau bisa bersiap sekarang..”

***

Setelah membersihkan make up pada wajahnya, melepas gaun yang dikenakannya dan menggantinya dengan piyama tidur, Yoona mendekat pada ranjang tidurnya dimana Junseo sudah terlelap diatasnya.

Mengecupi wajah Junseo, Ia kemudian dengan perlahan membaringkan tubuhnya disisi sang putra. Tangannya terulur mengusap tubuh putra kecilnya, juga untuk memberi pelukan padanya.

“Tidur yang nyenyak sayang..umma disini menemanimu..”

Namun kemudian pikirannya menerawang, menyadarai Siwon yang sedang berada dirumahnya. Dan apa yang kini dilakukan pria itu didalam kamar Hana?
Mendadak Yoona merasa ingin tahu, hingga kemudian membuatnya turun dari atas tempat tidur meninggalkan Junseo yang sedang terlelap dan kemudian keluar dari dalam kamarnya..

Dengan hanya beberapa langkah, Yoona telah mencapai depan pintu kamar Hana, hal itu karena kamar sang putri yang berada tepat disebelah kamarnya.

Menekan knop pada pintu dan kemudian membukanya, Ia lantas melongok untuk melihat kedalamnya.

Disana, diatas tempat tidurnya Hana terlihat sudah memejamkan mata. Tangannya melingkari tubuh Siwon yang saat itu masih membacakan sebuah buku cerita untuknya..

“Jadi apakah tuan putri akhirnya bertemu sang pangeran?”

Yoona mengerutkan kening, melihat Hana yang ternyata belum tertidur. Melihat Siwon yang kemudian mengalihkan perhatiannya dari sebuah buku ditangannya dan tersenyum saat menoleh pada Hana..

“tentu saja.. Pangeran mendatangi sang Putri dengan membawa kuda putihnya. Dia terlihat gagah saat menaikinya..”

“Dad.. Bisakah daddy juga membawakan kuda putih untuk Hana?”

“Kuda putih?”

“hm.. Pangeran pasti mengajak tuan putri menaiki kuda putihnya. Hana juga ingin seperti itu.. Hana ingin seperti tuan putri”

Siwon tergelak saat kemudian mengusap rambut Hana..

“Daddy tidak bisa sayang..”

“kenapa?”

“daddy bukan pangeran.. Dan tidak memiliki kuda putih seperti itu..”

“tapi daddy juga setampan pangeran.. Daddy hanya tinggal membeli kuda putih seperti itu..”

Siwon tak tahan untuk tidak mencubit gemas kedua pipi Hana..

“Kau begitu menggemaskan sayang.. Kapan kau akan tidur jika berbicara terus seperti ini? Bukankah tadi kau bilang mengantuk.. Jadi sekarang tidurlah..”

“Tapi daddy akan membeli kuda putih seperti itu kan?”

“bagaimana kalau kita membicarakannya besok..”

“hm, baiklah.. tapi daddy harus membacakan satu buku lagi sampai Hana tidur.. Hana senang daddy melakukan hal ini lagi..”

“Apa aku sering melakukan ini untukmu?”

“Ya, sebelum daddy pergi.. Daddy sering membacakan buku untuk Hana..”

Yoona melihat Hana yang kemudian mengeratkan tangannya ditubuh Siwon. Dengan perlahan ia kemudian menutup kembali pintu kamar itu. menyadari jika airmata sudah menggenang dipelupuk matanya. Dan jika ia terlalu lama berada disana, mendengarkan setiap kata-kata yang terucap dari bibir putrinya, ia sudah pasti akan menangis.

Maka sebelum hal itu terjadi, ia memutuskan menjauh dan memilih menuruni tangga menuju lantai bawah rumahnya, untuk menunggu Siwon disana.

Sekitar dua puluh menit kemudian, Ia mendengar suara langkah kaki menuruni anak tangga dan mendekat kepadanya..

“Putrimu sudah tidur..”

“Oh, terimakasih..”

“sama-sama.. Apakah kau tidak akan tidur?”

“Aku menunggumu untuk pulang..”

“Oh, baiklah.. Aku akan pulang sekarang, tapi dimana bibi.. Aku tak melihatnya?”

“Oemma sudah tidur..”

“dan Junseo?”

“Dia juga sudah tidur.. Ini sudah terlalu malam kan untuk anak seusianya tetap terjaga..”

“Ya, aku tahu.. Sebenarnya aku merindukan putra kecilmu itu..”

Yoona kemudian mengiringi langkah Siwon keluar dari dalam rumahnya.

“Aku pergi..”

Yoona mengangguk dan tersenyum memandangi Siwon yang bergerak masuk kedalam mobilnya.

Ada ketidak relaan dalam hatinya ketika mobil itu melaju meninggalkan halaman rumahnya..

Oh Tuhan..

***

Setiba dirumah yang sekarang ditempatinya, Siwon dikejutkan dengan kehadiran Fanny disana..

“Oppa..kemana saja kau membawa Yoona, hingga jam segini kau baru pulang?”

Siwon hanya tersenyum-senyum menanggapi Fanny..

“Ishh.. Oppa..!”

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku ingin menuntut imbalan darimu..”

“imbalan untuk apa?”

“untuk membuatmu bisa mengajak Yoona pergi.. Ini semua yang kumau..”

Fanny menyodorkan kertas kecil bertuliskan beberapa jenis barang dan gaun yang diingkannya sebagai ganti penolakannya yang disengaja untuk semua gaun dibutik Yoona..

“Oh ya Oppa.. Nickhun bilang, aboji akan datang..”

“Apa??”

Siwon cukup terkejut dengan kabar yang disampaikan Fanny. Cukup tak menyangka jika Tn.Hwang akan menyusulnya..

“apalagi yang Nickhun katakan padamu?”

“Dia menghubungimu, tapi Oppa tak menjawab telponnya..”

Oh..
Siwon melupakan ponselnya.
Ia meninggalkan benda itu diatas dasbord mobilnya saat tadi berada dirumah Yoona untuk menemani Hana.

Sekarang saat ponsel itu telah berada disaku celananya, Ia segera mengambil untuk kemudian memeriksanya.
Benar saja, ada beberapa panggilan dari Nickhun disana..

Menekan contact itu, Siwon mencoba melakukan panggilan balik namun tak ada sambungan darisana..

“nomornya sedang tidak aktif..”

“mungkin mereka sedang dalam penerbangan..”

Siwon bergerak mengambil segelas air dari atas meja kemudian meneguknya..

“kemana aboji akan mendarat.. Jepang kah? Atau kesini?”

“entahlah.. Nickhun oppa juga tak mengatakannya.. Dimanapun itu, kuharap mereka tiba dengan selamat”

“Itu yang ku khawatirkan.. Kondisi aboji, aku takut jadi tak stabil”

Menghela napasnya, Siwon lantas mencoba mengistirahatkan tubuhnya dengan duduk bersandar pada sebuah sofa..

“Jadi bagaimana dengan daftar imbalan yang aku minta?”

Fanny mengalihkan pembicaraan pada niat awalnya mendatangi Siwon tadi..

“Kau bisa menggunakan ini..”

Mengeluarkan salah satu kartu atm dari dalam dompetnya dan kemudian menyerahkannya pada Fanny, Siwon membuat
Gadis itu langsung bersorak gembira dengan mata berbinar..

“WoW.. Kau sungguh baik oppa..”

“bersyukurlah kau datang disaat mood ku sedang baik.. Kalau tidak jangan harap aku akan mengijinkanmu menghamburkan uang hanya demi barang-barang itu..”

“Oh Tuhan aku bersyukur padamu..”

goda Fanny yang lantas mendudukkan dirinya disebelah Siwon..

“jadi semuanya berjalan dengan baik?”

“hm..”

“Apa saja yang kalian lakukan tadi?”

“kau ingin tahu?”

“Ishh.. tentu saja, jika tidak untuk apa aku bertanya..”

“cukup menarik, kurasa aku bisa katakan aku menikmati malam ini dengannya..”

“Kau tak lagi mengatakan sesuatu yang menjengkelkan kan..?”

“Tidak.. Kurasa aku justru berhasil membuatnya tersenyum tadi..”

Siwon memposisikan tubuhnya menghadap kearah Fanny..

“Fanny ah.. Ada yang ingin kutanyakan padamu..”

Siwon teringat apa yang dikatakan Changmin agar dirinya mencari tahu tentang jati dirinya sebagai ‘Harry’. Meski ia sangat tahu Fanny selalu menjadi tak suka bahkan marah ketika ia mencoba menanyakan masalalu nya. Tapi sekarang ia ingin mencoba disaat menyadari perasaan hati gadis itu juga sedang baik, sama hal nya seperti dirinya..

“hm.. Kau ingin bertanya padaku? Menanyakan apa, Oppa?”

“Aku.. Bisakah aku tahu, bagaimana dengan…?”

Belum selesai kalimat itu terucap, Siwon terpaksa menghentikannya disaat deringan ponsel menunggunya untuk menjawab panggilan itu..

“ponselmu Oppa..”

“hm, sebentar aku akan menjawabnya..”

Berdiri dari duduknya, dan melihat pada layar ponsel yang menyala, Siwon mendapati nama Changmin disana..

“Oh, halo..”

“Harry ssi.. Kuharap aku tak sedang mengganggu tidurmu..”

“Tidak.. Ada apa?”

“Aku harus mengatakan ini sekarang.. Kuharap kau belum melakukan apa yang saat itu kusarankan..”

Siwon kemudian menyimak saat Changmin mulai mengatakan maksudnya hingga perlu untuk menghubunginya malam-malam seperti itu.

Raut wajahnya berubah ketika mendengar Changmin mengatakan berdasarkan informasi yang diperoleh olehnya, Tiffany pernah mengalami kecelakaan yang sama dan dugaan sementaranya adalah kemungkinan kecelakaan itu berhubungan dengan kecelakaan yang menimpanya.

“Tapi jangan dulu mengatakan dugaan itu pada adikmu..”

“Ya, aku mengerti..”

“Aku tahu ini mengejutkan untukmu, Harry ssi..”

“Sangat..”

“begitupun denganku.. Tetaplah tenang dan kuharap besok kau bisa menemuiku, kita bisa membahasnya nanti..”

“baiklah..”

Siwon menutup ponselnya dengan wajah bingung.
Antara percaya dan tidak dengan informasi yang baru didengarnya..

“Oppa.. Kau baik-baik saja? Siapa yang menelponmu..?”

Fanny mungkin menyadari perubahan raut wajah Siwon saat itu..

“Oppa..”

“Oh, apa kau sudah akan pulang?”

“Ya..sepertinya begitu”

“dengan siapa kau datang tadi?”

“tentu saja dengan asistenku.. Kau tahu kan aku tak bisa mengendarai mobil sendiri. Dia sedang menunggu diluar, mungkin sedang berbincang dengan para pengawalmu. Baiklah aku pergi Oppa..terimakasih untuk atm nya aku akan mengembalikannya nanti..”

Siwon tercenung menatap kepergian Fanny..

Gadis itu memang tak bisa mengendarai mobil.
Tidak..
Mungkin dia bukan tidak bisa..
Fanny selalu terlihat ketakutan setiap kali Siwon memintanya mengemudi.
Gadis itu selalu mengatakan tidak bisa, padahal yang diketahuinya dari ketidak sengajaan ucapan Nickhun sebelumnya, Fanny sangat suka mengendarai mobilnya sendiri hingga sesuatu yang terjadi membuatnya tak mau lagi melakukan hal itu..

Apa itu berarti sesuatu yang dimaksud Nickhun adalah sebuah kecelakaan..
Kecelakaan yang kemudian membuat Fanny mengalami trauma untuk berkendara mobil..

Ya Tuhan..
Benarkah kecelakaan itu ada hubungannya dengan dirinya..

***

Sooyoung terbangun dari tidurnya dan mendapati Changmin sudah tak berada disampingnya, diatas ranjang yang sama dengannya.

Perlahan ia bergerak turun dari tempat tidur kemudian keluar dari dalam kamarnya..

“Oppa.. Kau dimana? Oppa..?”

mengarah ke ruang kerja Changmin, Sooyoung melihat pintu disana terbuka dengan lampu dari dalamnya yang menyala.

Dia pasti berada disana..

“Oppa..”

melongok pada pintunya, Sooyoung menemukan sang suami yang tengah sibuk membaca, membolak-balik beberapa lembar kertas diatas meja..

“Oh, chagi.. Kau terbangun?”

Tak beranjak dari tempatnya berada, Changmin hanya melihat Sooyoung dengan wajah mengantuk yang kemudian menghampirinya..

“Apa yang kau lakukan? Kenapa tidak tidur?”

“eh, ada yang harus ku kerjakan..”

“selarut ini?”

“Aku tak bisa menundanya..”

“Apa itu mengenai proyek yang sedang kau kerjakan dengan..?”

“dengan Harry.. Ya, sebagian tentang itu dan sebagiannya lagi lebih penting dibanding itu..”

Sooyoung menarik sebuah kursi yang berada didepan meja kerja suaminya dan lantas duduk berhadapan dengannya..

“Apa yang lebih penting itu? Kau juga belum memberitahuku lagi bagaimana dengan penyelidikan yang kau lakukan?”

“Aku berharap tak memberitahumu tentang hal itu sekarang, chagi..”

“wae? Aku ingin tahu oppa.. Ayolah..”

“Kau sedang hamil.. Aku tak ingin kau terlalu banyak memikirkan hal yang tak seharusnya kau pikirkan. Ingat kan.. sudah dua kali kehilangan calon anak kita.. Kali ini aku ingin kau berkonsentrasi pada kehamilanmu.. Biar aku yang mengurus untuk masalah itu..”

“Tapi aku sudah lebih stabil sekarang.. Kurasa aku cukup bisa menerima informasi apapun itu..”

Sooyoung berkeras dan Changmin pun kemudian membiarkannya saat tangan Sooyoung perlahan bergerak mengambil beberapa kertas itu dari hadapan nya dan kemudian membacanya..

“Oppa..ini?”

menghembuskan napasnya Changmin lantas menjawab..

“itu yang baru saja didapatkan oleh orang suruhanku..entah bagaimana mereka berhasil mengorek informasi itu”

“yang ini apa maksudnya, Oppa..?”

“Tiffany.. Gadis yang menjadi adik Harry itu, ternyata pernah terlibat kecelakaan. Dan itu terjadi di Jepang..”

“Jepang? Itu berarti..”

“tempat yang sama dimana Siwon mengalami kecelakaan dan sekarang pria yang serupa dengannya justru muncul bersama dengan wanita itu. Ini baru dugaan sementara.. ada saling keterlibatan dalam kecelakaan itu”

“Oh Tuhan.. Tapi polisi mengatakan kecelakaan Siwon oppa adalah kecelakaan tunggal”

“itulah yang masih harus kubuktikan. Jika kecelakaan yang dialami wanita itu berhubungan dengan apa yang menimpa Siwon ada kemungkinan..”

“Apa kemungkinan itu berarti pria itu adalah Siwon oppa.. dan dia.. Dia masih hidup dan mengalami amnesia..”

Changmin mengangguk oleh pemikiran yang lebil dulu dikemukakan oleh Sooyoung..

“Ya Tuhan Oppa.. jadi siapa pria yang telah kita kuburkan bersama dengan appa..?”

“tenanglah chagi.. itu masih dalam penyelidikan.. Ada seseorang yang melihat seorang wanita beberapa kali mendatangi makam Siwon dan selalu meletakkan buket bunga disana..”

“wanita? Tidakkah itu Yoona?”

“Tidak.. Dia mengatakan bukan Yoona, kemungkinan wanita itu adalah anggota keluarga.. Dan aku sedang mencari keberadaan wanita itu..”

Sooyoung menekan pelipisnya, merasa limbung dengan apa yang baru diketahuinya..

“Chagiya..”

“kepalaku pusing Oppa..”

“Astaga.. Sudah kukatakan kau tak seharusnya mengetahui informasi ini..”

“Tidak.. Kau memang harus memberitahukan itu padaku..”

“sudahlah.. Ayo kembali kekamar”

Changmin merangkulkan lengannya ditubuh Sooyoung dan lantas keluar dari ruang kerjanya untuk kemudian membawanya kembali kedalam kamar mereka.

“Tidurlah..”

“aku tak yakin apa aku bisa tidur sekarang..”

“chagiya..”

“biarkan aku bertanya sekali lagi padamu.. Jadi wanita bernama Fanny itu adalah penyebabnya?”

“Aku belum bisa memastikan. Setidaknya tunggu sebentar lagi.. Aku sedang menunggu seseorang yang menjadi Ayah dari Harry.. Menurut informasi yang kudapatkan, pria itu akan datang..”

Rasanya sangat ingin mengetahui seperti apa Orang itu..

***

“Mommy..!! dimana daddy? Mom..”

Pagi itu Yoona dikejutkan oleh lengkingan suara Hana yang tiba-tiba masuk kedalam kamarnya dan mengguncang tubuhnya, membangunkan ia dari tidurnya..

“eughh.. Hana ya..”

“Mom.. Daddy tidak ada? Kemana daddy pergi, mom?”

Yoona yang belum sepenuhnya bisa menguasai kesadarannya, hanya bisa mengerjap menatap Hana penuh tanya..

“Apa yang kau bicarakan sayang?”

“Ishh.. Daddy pergi mom! Daddy tidak ada! Kenapa mommy membiarkan daddy pergi? Kenapa..”

belum selesai Hana mengajukan protes, suara bel rumah itu lebih menarik perhatian Hana yang kemudian membuatnya secepatnya keluar dari dalam kamar mommy nya..

“Daddy..!”

Yoona mengernyit mendengar seruan itu..

“Mom.. Daddy sudah datang..!”

Apa..?

Bergerak turun dari atas tempat tidur, Yoona langsung menghampiri cermin pada meja rias dan merutuki kekusutan rambut juga wajahnya sehabis tidur..

“Aishh.. Apa yang harus kulakukan?”

Yoona hanya bisa menggigit bibir bawahnya ketika Hana terus saja memanggil-manggil dirinya untuk segera keluar dari kamar dan turun menemui daddy nya.

Daddy?

Oh..
Yoona sudah bisa memastikan jika pria itu lah yang datang. Jika bukan, Hana tak mungkin memanggilnya dengan ‘daddy’.

Dan untuk apa pria itu datang sepagi ini kerumahnya?

Aishh..

“Mom.. Cepatlah daddy sudah datang!”

Hana kembali nyaring berteriak..

Membuat Yoona semakin bingung karenanya.

“Astaga..bagaimana ini?”

Terpikir untuk hal pertama yang bisa dilakukannya adalah menggosok gigi dan mencuci muka untuk menyegarkan wajahnya atau setidaknya menyisir rambutnya yang ia rasa kusut, Yoona sudah akan bergerak untuk melakukannya namun urung ketika melihat kearah tempat tidurnya dan mendapati Junseo mulai menggeliat dan kemudian bangun dari tidurnya.

“umma..umma..”

Ketika putra kecilnya bergerak untuk turun dari atas tempat tidur, Ia segera mendekat dan meraihnya kedalam gendongan.

“anak umma sudah bangun, um..?”

Jun dibuat terkikik saat Yoona kemudian menciumi wajahnya, merasa senang dengan perlakuannya..

“Mommy.. Mom cepatlah turun. Daddy sudah menunggu..!”

Oh, astaga..
Hana..

“umma.. noona..?”

“hm, noona ada diluar sayang..”

“noona..noona, umma turun..”

Junseo merosot turun dari gendongan Yoona dan segera berlari kearah pintu kamar, namun tubuh kecilnya membuat Jun kesulitan membuka pintu yang tak sepenuhnya tertutup itu..

“umma.. buka..”

“sebentar Jun ah..”

Yoona melangkah kepintu kamarnya dan lantas membuka lebar pada pintu kamarnya.

Melihat Junseo yang langsung berlari keluar membuat Yoona sedikit panik karna putra kecilnya sudah pasti akan langsung mengarah kelantai bawah rumahnya untuk menemukan dimana sang noona, Hana berada..

“Jun ah.. Jun ah..”

Dengan sigap menyusul langkah kecil Junseo, Yoona bisa meraih tangannya dan menuntunnya untuk menuruni tangga dengan perlahan..

“noona.. Hana noona..!”

“Oh, Jun ah.. Kau sudah bangun..”

Hana yang kemudian menghampiri sang adik dan mengambil alih tangannya dari gandengan tangan sang mommy..

“biarkan Jun bersamaku mom.. Jun ah, kemarilah.. Apa kau ingin bertemu daddy, um?”

“daddy..?”

“hm.. Ayo ikut noona, dan kita temui daddy..”

“daddy..daddy..”

“aigoo.. Jun ah, kau pasti sangat merindukan daddy kan..”

“Ayo noona.. daddy..”

Junseo yang kemudian menarik-narik tangan Hana membuat Yoona sesaat menghentikannya..
“Jun ah, Hana ya..tunggu dulu..”

“kenapa mom? Jun ingin bertemu daddy.. Tidak apa-apa kan?”

“Hana ya.. tapi..”

Apa yang bisa Yoona katakan ketika kemudian ia melihat sosok Siwon lebih dulu berjalan menghampiri mereka. Kata-katanya jadi terhenti ditenggorokan dan mungkin telah tertelan kembali dan takkan lagi bisa ia ucapkan.

Mendadak ia pun menjadi gelisah menyadari penampilannya yang masih berantakan saat itu, apalagi ketika Siwon yang dilihatnya mengarahkan pandangan mata kearahnya.

Oh..
Sudah pasti pria itu menyadari betapa berantakan dirinya.

Memalukan..

Oh Tuhan..
Bisakah ia menghindar saat itu?

“Jun ah, itu daddy..”

“daddy..daddy..”

mendengar ucapan noona nya, membuat Junseo kemudian berlari kecil menghampiri Siwon..

“Oh, jagoan kecil..bagaimana kabarmu?”

“daddy..”

“Kau merindukanku?”

“euh..”

Junseo mengangguk dan mengulurkan kedua tangannya pada Siwon.
Dan dengan tersenyum Siwon kemudian meraih tubuh kecilnya kedalam gendongan.
Setelah Junseo berada dalam gendongannya, Siwon mendekat kearah Yoona.

“ehm.. Selamat pagi, Yoona ssi..”

“eh, pagi.. untuk apa pagi-pagi kau datang?”

“apa tidak boleh?”

“hanya mengejutkan saja..”

Siwon justru tersenyum. Andai Yoona tahu dengan apa yang ada dalam pikirannya hingga kemudian membuatnya datang sepagi itu.

Semua bertujuan untuk mencari memorinya yang hilang..

Jika memang dirinya adalah suami Yoona..
Jika ia memang ayah dari dua bocah menggemaskan yang berada bersamanya..
Jika ia memang anggota dari keluarga itu..
Seharusnya takkan susah mengumpulkan kepingan dari masalalunya yang terlupakan akibat dari amnesia yang dideritanya.
Atau Setidaknya ia akan mendapatkan gambaran lebih untuk itu..

“Yoona ssi..”

“ne..?”

“hm, Kau terlihat lain..”

“lain?”

Yoona memperhatikan dirinya sendiri dan menyimpulkan apa yang lantas membuat dirinya lain dimata pria itu..

“Ya, aku tahu apa yang ingin kau katakan. Aku terlihat berantakan kan sekarang..”

Yoona menelusurkan jari-jari tangannya berusaha untuk merapikan rambutnya yang ia rasa kusut..

Oh..
Seharusnya ia menggunakan satu atau dua menit untuk bersisir lebih dulu tadi..

“Tidak.. Bukan itu. Siapa yang ingin mengatakan kau berantakan.. Kau masih tetap terlihat cantik sekarang..”

Hana terkikik mendengar apa yang Siwon katakan. Menyadari hal itu, Siwon pun menoleh kearahnya dan mengedikkan mata pada Hana..

“Mommy memang selalu cantik, dad..”

“Oh sayang, aku setuju denganmu..”

Siwon kembali tersenyum menyadari kekikukan yang ditunjukkan Yoona dibawah tatapan matanya..

“sebenarnya Aku datang untuk mengajak kalian pergi.. Boleh kah?”

Tidak Tidak..

Seharusnya kata itu yang Yoona ucapkan jika dirinya tak menghendaki apa yang Siwon katakan.

Tapi nyatanya, Ia merasa membutuhkan waktu untuk memikirkan tawaran Siwon untuk pergi bersama dengannya..

Pergi?
Memangnya kemana pria itu akan membawanya pergi?

Yoona juga masih sempat bertanya-tanya dalam hatinya..

“Ayo dad.. Hana mau pergi bersama daddy.. Jun ah, kau juga kan?”

“Jun mau noona.. Ayo daddy! Ayo..”

Yoona mengerutkan dahi dan menggeleng heran dengan cepatnya respon yang diberikan oleh kedua buah hatinya..

Jun bahkan telah merosot turun dari gendongan Siwon hanya untuk menarik-narik tangannya..

“Ayo daddy.. Ayo..!”

Siwon tersenyum mengetahui tawarannya untuk mengajak mereka pergi, disambut baik oleh kedua bocah menggemaskan itu..

“Oh baiklah sayang.. Tapi cobalah tanyakan pada mommy kalian apa dia mengijinkan dan mau untuk ikut pergi bersama kita?”

Siwon tersenyum mengarah pada Yoona yang kembali terlihat canggung saat bertatapan dengannya..

“bagaimana Yoona?”

“Ayolah mom.. Hana ingin pergi dengan Daddy. Hana juga ingin mommy ikut bersama kami..”

Hana mulai merajuk pada Yoona dengan memasang wajah memelas penuh permohonan..

“memangnya kemana kita bisa pergi sepagi ini?”

Mendengar pertanyaan dari mommy nya Hana lantas mengalihkan perhatiannya kearah Siwon..

“Kemana kita akan pergi dad?”

“hm.. Kita bisa berjalan-jalan kemana saja. Mungkin ke taman bermain seperti waktu itu..”

Hana mengangguk mengerti dan tersenyum mendengar jawaban dari Siwon..

“Mom..”

“Tapi kita takkan bisa pergi sepagi ini sayang.. Mereka pasti juga belum membuka tempat-tempat itu sepagi ini. Dan Kurasa kau terlalu cepat untuk datang..”

Yoona mengarahkan kalimat terakhirnya kearah Siwon..

“Oh, jangan khawatir untuk itu.. Aku sengaja datang sepagi ini karna tak ingin kalian mempunyai hal lain untuk direncanakan.. Kita bisa pergi nanti siang dan menggunakan waktu pagiku untuk bermain bersama dua bocah mengemaskan ini..”

Siwon kembali mengangkat tubuh Junseo dan sedikit mengelitik juga menciumi wajahnya, membuat bocah kecil itu langsung tertawa karenanya..

Tak disadari olehnya, Yoona tersenyum melihatnya..

“Jadi bagaimana Yoona? Aku menyimpulkan kau menyetujuinya..”

“bagaimana bisa kau langsung menyimpulkannya sendiri..”

“tentu saja aku bisa.. dari awal kau tidak berniat menolak, dan hanya mengatakan alasan mengapa kita tidak bisa pergi sepagi ini. Jika kita merencanakan pergi lebih siang, bukankah kau bisa menerimanya?”

Yoona tak punya jawaban untuk itu..

“Yoona ya.. Kemarilah sayang, dan bawa mereka untuk sarapan bersama..”

Suara Ny.Choi dirasa menyelamatkan keadaan saat itu.
Tapi bukan Yoona yang kemudian mengambil langkah lebih dulu, melainkan Siwon dengan Junseo yang masih berada dalam gendongannya yang mengambil keputusan untuk menghampiri Ny.Choi yang sedang menata makanan diatas meja makan..

“Ayo jagoan kecil, sebelum pergi kau harus mengisi perutmu terlebih dulu.. Hana ya.. Ayo sayang, halmoni sudah memanggilmu..”

“Okey dad..”

Yoona sedikit cemberut dengan sikap seenaknya yang dirasakannya ditunjukkan Siwon bahkan di dalam rumahnya..

“Mom..”

Hana yang kemudian mengulurkan tangan agar Yoona meraihnya dan mengikutinya berjalan kearah meja makan mengikuti Siwon dan Junseo..

“Oh, duduklah nak Harry..”

“terimakasih bibi..”

“dan biarkan Junseo duduk disini..”

Ny.Choi menunjuk pada kursi balita milik Junseo, namun bocah itu justru merangkulkan lengannya pada leher Siwon dan enggan turun dari gendongannya..

“Jun ah, sini sayang..”

“Daddy.. tidak mau. Jun sama daddy..”

“aigoo..darimana Jun bisa memanggilmu seperti itu..”

“Hana yang mengajarinya halmoni..”

Hana tersenyum saat menarik kursi disamping Siwon dan lantas mendudukinya..

“tidak apa-apa bi, saya senang mendengarnya memanggil seperti itu.. dan biarkan Junseo bersama dengan saya..”

Siwon yang kemudian duduk dan meletakkan Junseo dalam pangkuannya..

“tapi kau harus makan nak Harry..”

“saya bisa melakukannya nanti..”

Siwon tersenyum sebagai tanda tidak masalah ketika harus menunda sarapan paginya dan membiarkan Junseo yang berada dipangkuannya untuk makan terlebih dulu..

“Yoona ya, kenapa kau diam saja sayang..”

“euh..tidak oemma..”

memilih menarik sebuah kursi yang berada disamping ibu mertuanya, Ia lantas mendudukinya dan merasa heran melihat ada lebih banyak makanan dari biasanya yang berada diatas meja..

“Oemma.. kenapa memasak sebanyak ini?”

“Tidak, oemma bahkan tidak memasak pagi ini.. Nak Harry yang telah repot-repot membawa banyak makanan ini..”

Oh..

“Saya hanya ingin membalas apa yang bibi lakukan dengan memberikan saya sarapan kemarin..”

“Kau seharusnya tidak usah melakukannya..”

“Tapi saya ingin melakukannya bi.. Apa kau menyukainya Hana ya?”

“hm.. Hana sangat suka dad..”

Dengan mulut berisi makanan Hana menjawabnya dan membuat Siwon tersenyum kemudian mengusap rambutnya..

“Kedengarannya kalian berencana pergi?”

“tidak Oemma..”

“Iya bi, Kurasa tadi Yoona telah setuju untuk itu..?”

Jika Yoona kemudian membuat suara sedikit gaduh diatas piring makanannya dengan sendok dan garpu yang beradu dengan berlebihan, menandakan kekesalannya menghadapi sikap memaksa yang diperlihatkan Siwon padanya saat itu.
Berbanding terbalik dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Yoona, Ny.Choi justru tersenyum menyambut baik niatan Siwon untuk membawa Yoona dan kedua buah hatinya pergi bersamanya.

“Yoona ya, Kau bisa bersiap sayang.. Biarkan oemma yang mengurus Junseo..”

“Tidak perlu oemma.. Aku..”

“sudahlah, oemma tidak apa-apa..sekali-kali kau memang perlu memberikan waktu khusus untuk Hana dan Jun. Kurasa ide nak Harry untuk mengajak kalian pergi bisa untuk menyenangkan hati mereka”

Siwon tersenyum mendengar ucapan Ny.Choi dan lantas mengarahkan pandangannya pada Yoona, membuat Yoona mau tak mau kemudian mendorong kursi yang diduduki olehnya sebelum akhirnya berdiri dan mengulurkan sebelah tangannya pada Hana agar mengikutinya.

“Ayo sayang.. Mommy akan membantumu bersiap”

“Okey mom.. Daddy akan menunggu Hana kan?”

Hana mengedip memastikan pada Siwon..

“tentu saja sayang..”

“Okey.. Ayo mom!”

Hana yang kemudian menarik tangan Yoona. Keduanya menaiki puluhan anak tangga bersamaan dan lantas masuk kedalam kamar Hana.

“mandilah sayang, mommy akan siapkan pakaian untukmu..”

Sementara membiarkan Hana mandi, Yoona menyiapkan pakaian untuknya sebelum akhirnya meninggalkan Hana didalam kamarnya untuk kemudian mempersiapkan dirinya sendiri.

Ia telah menggunakan lebih dari sepuluh menit untuk mandi dan sekarang telah lebih dari tiga puluh menit ia habiskan hanya sekedar menatap pakaian-pakaian yang telah berjajar diatas tempat tidurnya, yang mana yang akan terlihat pantas dikenakannya untuk saat itu.

Mendadak ia merasa kebingungan menentukan pilihannya.

Astaga..
Apa yang terjadi dengan dirinya saat itu?

“Mom.. Bisa menyisir rambutku..”

Setelah terlebih dulu melongok dipintu kamar Yoona, Hana lantas berjalan masuk mendekati sang mommy yang dilihatnya tengah terdiam dengan kimono mandi yang masih dikenakannya.

“Mom.. Mommy tidak bersiap?”

“Oh, Hana ya.. Kapan kau masuk sayang?”

“Hana membutuhkan bantuan mommy untuk menyisir rambut Hana..”

Hana menunjukkan sebuah sisir ditangannya..

“tapi sepertinya mommy lebih membutuhkan bantuan”

Putrinya melirik pada pakaian-pakaian diatas tempat tidurnya.

“Oh..”

“mommy tak mungkin memakai pakaian-pakaian itu sekaligus kan?”

Hana terkikik ketika Yoona memutar mata kearahnya.

“mommy hanya bingung, mana yang lebih pantas untuk mommy pakai sayang..”

“tak biasanya mom seperti itu.. Apa karna daddy? Apa karna hari ini kita akan pergi bersama?”

“nde?”

Yoona cukup terkejut dengan pemikiran yang diucapkan oleh Hana, namun dengan jelas Hana tak terpengaruh oleh keterkejutannya.

Hana yang kemudian bergerak mendekat kesisi tempat tidur Yoona untuk selanjutnya mengambil salah satu pakaian dari atasnya.

“Mommy harus pakai yang ini..”

“nde?”

“pakai ini mom..”

“tapi Hana ya, Kita hanya akan pergi berjalan-jalan.. Mommy ingin memakai pakaian yang lebih santai”

“Tapi mommy ingin terlihat cantik didepan daddy kan?”

“Apa?”

Hana mengedikkan bahu dan tersenyum kearahnya.

Oh Tuhan..
Perlu berapa lama lagi untuknya menyadari jika Hana bukan lagi seorang putri kecilnya.
Hana telah bertumbuh dengan pemikiran-pemikiran yang terkadang cukup untuk bisa membuatnya tercengang.

“Mommy harus memakainya Okey..! Hana akan menunggu dibawah dan meminta bantuan halmoni untuk bersisir” 

Bahkan setelah Hana keluar dari dalam kamarnya, setelah lebih dari tiga puluh menit berlalu, Yoona masih saja berada didalam kamarnya.

Namun sepertinya Siwon tak menyadari betapa wanita itu memerlukan waktu cukup lama untuk sekedar bersiap. Ia terlalu asik bergurau dan menemani Junseo bermain-main.

“Mom.. Mommy, cepatlah..!”

Hana lah yang sedari tadi menjadi risau. Ia bahkan telah berkali berteriak memanggil Yoona dan memintanya untuk segera turun agar mereka bisa langsung pergi setelahnya.

“Biarkan mommy mu bersiap sayang..”

“tapi ini sudah terlalu lama dad.. Hana tak bisa lagi menunggu..”

Baru saja ia akan melangkahkan kakinya untuk menyusul sang mommy yang entah sedang melakukan apa didalam kamarnya, namun kemudian Yoona telah terlebih dulu keluar dari dalam kamarnya dan perlahan melangkah menuruni tangga dan langsung membuat senyum Hana melebar.

Mommy nya sangat cantik dengan pakaian yang dipilihkannya..

“kita pergi sekarang?”

Siwon mengarahkan pandang kearahnya, tak bisa menutupi kilatan kagum dimatanya saat menatap Yoona yang berdiri tak jauh darinya.

***

Langkahnya tak terlalu cepat, dengan beberapa pengawal dibelakangnya dan juga Nickhun disampingnya, Tn.Hwang berjalan memasuki sebuah mobil yang saat itu sudah disiapkan untuk menjemputnya dibandara..

“dimana Harry tinggal sekarang?”
“kami sudah mendapatkan alamatnya Tuan.. Apa anda ingin langsung kesana?”

“Tidak..Kita akan cari hotel atau penginapan yang tak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Tapi sebelumnya aku ingin bertemu dengan putriku..”

“Baik Tuan..”

Ketika Fanny bersama asistennya berjalan dilorong menuju pintu apartemennya, Ia merasakan keterkejutan ketika melihat Tn.Hwang dan Nickhun yang berdiri didepan pintu apartemennya.

“Aboji..”

Berbalik kearah suara yang dikenalnya, Tn.Hwang maupun Nickhun tersenyum melihat Fanny melangkah mendekat pada mereka.

“Fanny ah..”

“Aboji, kenapa berada disini?”

Sang asisten bergerak membuka pintu apartemen, dan mempersilahkan mereka masuk kedalamnya.

“Kau pikir aku dan Nickhun bisa masuk tadi..”

Sekilas Fanny lantas melirik Nickhun, dan kembali mengalihkan perhatiannya pada Tn.Hwang.

“Aboji kan bisa menghubungiku.. Berapa lama aboji berdiri diluar sana?”

“tidak terlalu lama.. Kupikir itu takkan menjadi kekhawatiran untukmu”

Sindirnya pada sang putri yang langsung terlihat memberengut kearahnya..

“Aboji.. Bagaimanapun aku selalu mengkhawatirkanmu”

“tapi kau justru meninggalkanku untuk pergi ketempat ini”

“Kupikir sudah ada Nickhun oppa disampingmu, jadi Aku..”

Nickhun tersenyum kearahnya..

“Kau tak perlu khawatir Fanny ah.. Aku akan selalu memastikan agar Tuan baik-baik saja”

“itu memang seharusnya kau lakukan..setidaknya kau takkan mengulang kesalahanmu”

Nickhun menatapnya dengan sedih, gadis itu jelas masih tidak bisa menerima dirinya yang tak bisa menyelamatkan nyawa ibunya waktu itu.

“Fanny ah.. Kemarilah sayang, aboji ingin berbicara denganmu”

***

Setelah beberapa tempat yang Siwon tawarkan untuk mereka kunjungi saat itu, pilihan Hana justru kembali tertuju pada sebuah taman bermain.

Beberapa jam yang mereka lalui disana nampaknya tak juga membuat Hana maupun Junseo merasakan kebosanan.
Kedua bocah itu justru kian asik bermain.

Yoona merasakan betapa kedua buah hatinya sangat menikmati kebersamaan mereka saat itu, dan entah mengapa hal itu justru menyelip perasaan miris dari dalam hatinya.

Andai pria itu Siwon..
Andai pria itu suaminya..
Andai pria itu benar-benar daddy bagi kedua buah hatinya..

Pastilah bukan rasa miris yang kemudian dirasakan olehnya, melainkan kebahagiaan melimpah yang memeluk mereka..

“Hana ya.. Jun ah.. Kalian menginginkan ini?”

Yoona menoleh, dan mendapati Siwon yang tersenyum dengan memegang dua eskrim ditangannya. Tatapan mereka bertemu, dan debaran jantung yang dirasakan mendadak memompa darahnya lebih cepat.

Dan pada saat itu juga, Yoona melihat Siwon menghentikan langkahnya, untuk kemudian terdiam memandangnya dalam jarak yang tak terlalu jauh..

Siwon tercenung, menemukan sekilas bayangan yang tiba-tiba muncul ketika ia tengah memperhatikan Yoona disana.

Bayangan yang kemudian membuat pandangannya berkunang dan kepalanya yang kembali berdenyut sakit.

Ketika ia kemudian menekan bagian kepalanya yang berdenyut, ia menyadari dua eskrim ditangannya telah terjatuh, dan disadarinya tubuhnya mungkin juga akan terjatuh setelahnya andai tak ada sebuah tangan yang dengan cepat menahan tubuhnya..

“Kau tidak apa-apa?”

“Oh, Yoona..”

Siwon tak bisa mengatakan apa yang dirasakannya, ia hanya kembali menekan bagian kepalanya. Denyutannya kian terasa sakit..

“Apa kau sakit?”

nada suaranya terdengar cemas..

“Tidak, tapi.. Aku, akhh..kepalaku terasa pusing”

Siwon akhirnya mengerang..

“Ya Tuhan.. Kau seharusnya beristirahat”

“daddy..daddy..”

Hana menggandeng Junseo, berlarian kearah Siwon dan Yoona..

“daddy.. mom, ada apa dengan daddy?”

“sayang, sepertinya..emm, sepertinya daddy sakit. Kita harus pulang sekarang..”

“daddy sakit?”

“Tidak Yoona, tidak Hana ya..”

“sudahlah, jelas-jelas tadi kau mengatakan padaku”

“Tapi aku tidak apa-apa, mereka pasti masih ingin bermain..”

“jangan konyol.. Kau bahkan sudah terlihat pucat. Hana ya, bisakah kita pulang sekarang?”

“Iya mom.. Hana juga tidak mau jika daddy sakit” 

Pada akhirnya Yoona lah yang menyetir mobil yang tadinya dikendarai oleh Siwon, dan mengantarkannya kembali ke rumah yang ditinggalinya, yang sebenarnya membuat Hana mengernyit heran.

Seharusnya daddy nya dibawa pulang kerumahnya dan bukan ke rumah itu..

Namun gadis kecil itu tak menyuarakan apa yang dipikirkannya. Hana hanya menggandeng Junseo dan mengikuti sang mommy yang membantu Siwon masuk kedalam rumahnya.

“Siapa wanita itu?”

Tak diketahui oleh mereka, jika pada saat itu ada Tn.Hwang yang tengah memperhatikan dari dalam mobilnya.

Ia sudah berniat keluar dari dalam mobilnya untuk menemui Siwon, ketika kemudian didahului oleh penglihatannya yang tertuju pada seorang wanita yang bersama dengannya.

“Diakah wanita yang ada difoto itu?”

“Iya Tuan..”

“dan siapa dua bocah kecil itu, mengapa mereka bersama?”

Saat itu Tn.Hwang hanya bersama dengan dua orang pengawal yang menemaninya, setelah
Nickhun meminta ijin untuk mengurus beberapa keperluannya.

“Tuan.. Mereka adalah..”

“Siapa mereka?!”

Pertanyaan Tn.Hwang terdengar menuntut..

“Saya masih tak yakin dengan kebenarannya”

“Apa maksudmu?”

Tn.Hwang menajamkan tatapan matanya..

“Katakan apa yang kalian ketahui tentang wanita itu? Dan apa hubungan Harry dengannya..”

“Wanita itu adalah.. dia adalah istrinya..”

“APA..?!”

*

*

*

*

*

*

*

To Be Continued~

@joongly

146 thoughts on “YOU’re My Destiny [7]

  1. yeaaahhh….akhirnya mereka dapat bersatu!!!
    Mudah”n secepatnya mereka bersatu….
    Aduuuhhh…sedih banget baca ini cerita krn Hana merasa klo itu ayahny…
    dan senang krn Yoona mulai menerima Siwon…
    lanjut baca next chapter…

  2. Ayo Changmin sepat temukan wanita yg ad d makam Wonppa palsu,,jgn sampai d dahului tn.hwang yg pengen memisahkan Wonppa dg keluarganya.
    Stl tahu kebenaran ttg Yoong dan kedua buah hatinya apakah tn.hwang masih ingin memisahkan mrka???

  3. tujuan tuan hwang melindungi fani benar semua ayah mgkn akan seperti itu..tp itu tidak mendidik fani jd wanita yg bertanggung jawab..,

  4. Ya ampyun tn hwang jahat banget! Apa gak ngerasain ya seorang anak yang merindukan ayah nya? Padahal diakan seorang ayah!! Gereget banget sih, lebih baik tn hwang istirahat saja!! Jangan fikirkan hal hal tentang siwon kamu kan sudah rempoo masa masih mau membohongi siwon?? Huh:-/😀

    Unni aku izin baca next chapter ne😉

  5. moment keluarga kecil siwon dan yoona nya dapet banget . wah ada Tn.Hwang dateng , jangan jangan mau bawa siwon pergi lagi oh tidak

  6. Aduuuh parr 6 dan 7 ikin greget…lgian ap seh motif Tn.Hwang…lalu bgaimana dg yoona nantinya,q msh pnasaran dg kjadian kclkaan dijepang

  7. Jiiiaaahh….lg seru-serunya dipotong,hihi….
    Sumpah makin seru,makin genes bacanya,makin sebel sama tn.hwang,yg pasti makin penasaran gmn reaksi siwon saat dia dptin lg ingatannya?gmn reaksi Tiffany saat dia tau trnyata Harry adlh siwon suami yoona idolanya.haaah pengen lanjuuuuut

  8. Iissshh kan bner appa nya tiffany tuh psti yg jd penghalangnya…. ooohh jahatnyaaa… entah rencana aph lg yg mau dilakuin appanya tiffany…

  9. Senang bgt lihat peran Hana dan Jun seo, mereka anak2 yg lucu ya pas bgt ada gmbar wajah anak Yoonwon, cocok jg kok klo itu gambaran anak YW
    YW semakin dekat aja ya
    dan lbh untungnya lgi Wonppa
    akhirnya berusaha mencari jati diri
    tentang dirinya. Moga aja dia ingat
    tpi sepertinya Tuan Hwang melakukan sesuatu ni seperti memisahkan wonppa dgn sluruh kluarganya. Makin seru aja ceritanya

  10. Kenapa sih harus ada pertanda buruk dengan kehadiran tn. Hwang itu … gak bisa apa ya biarin aja Yoonwon bahagia gitu … Kasian kan mereka udah menderita selama ini. Termasuk Hana & Jun Seo …
    Wah, gak bisa ini pokoknya tn.Hwang g boleh jadi penghalang mereka.
    Yoonwon fighting …
    Yuuu mari, go to next chap

  11. tn.hwang betapa menyeblkannnya dirimu itu,, aku tidak tahan…
    semoga tn.hwang tidak memisahkan uri yoonwon

  12. Makin pintar hana dan junseo..
    Siwon makin penasran sma masa lalu nya.. Trus cari tau siwon.

    Changmin jangn menyerah.. Ttp cari tau..

  13. Aduh tn.hwang knpa hrus balik k korea sih, mending dia jauh2 deh dri siwon, gmna reaksi tn.hwang waktu dia tau yoona itu istrinya harry, jgan smpai d pisahin lgi mentang2 siwon blum sepenuhnya ingat sma masa lalunya…
    Changmin truslah berusaha buat nyari info tentang harry…

  14. Ay0 Changmin, brgerak lebih cepat sebelum keduluan sama Tn. Hwang & pengawal.a yg udah tau kalau Y00na adalah istri Harry.,

  15. siwon segeralah ingtan mu kmbali,, jgn sampe tn. hwang brbuat jahat pda yoona dan anak” mu serta kluargamu..😦
    changmin hrus brgerak cpat…

  16. siwon segeralah ingtan mu kmbali,, jgn sampe tn. hwang brbuat jahat pda yoona dan anak” mu serta kluargamu.. dan memisagkn klian😦
    changmin hrus brgerak cpat…

  17. Aku seneng akhirnya yoonwon beserta hana dan jun bersama…
    Tpi dengan taunya tn.hwang bahwa yoona istri siwon pasti bakalan dipisahin nih
    Pengen tau kelanjutannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s