Fanfiction

YOU’re My Destiny [6]

Happy Reading~

*

*

*

*

*

*

*

*

Ketika Yoona pada akhirnya tak bisa mendapatkan ponsel itu dari tangan Siwon, karna pria itu berkeras menolak dan menggenggam erat ditangannya, ia hanya bisa menahan napas melihatnya. Mengantisipasi akan seperti apa reaksi pria itu ketika mendapati foto-foto ‘Siwon’ nya. Kebersamaannya saat bersama dengan dirinya dan juga Hana maupun Junseo yang pada waktu itu masihlah seorang bayi kecil, yang tersimpan didalam ponsel Hana.

Tubuhnya menegang dan gemetar saat menyaksikan bagaimana Siwon mulai melihat satu persatu foto itu dengan mata terbelalak dan raut wajah yang tak terelakkan menggambarkan keterkejutan yang luar biasa disina.

Ya Tuhan..

“ini.. foto-foto ini.. apa maksudnya semua ini?”

ketika Siwon telah berkali-kali menekan zoom untuk memperjelas wajah pria dalam foto itu, hasilnya tetaplah sama.

Itu foto dirinya..

Dirinya yang mencium pipi Yoona..
Dirinya yang merangkul wanita itu..
Dirinya yang menggendong Hana dipundaknya..
Dirinya yang melumuri es krim pada pipi gadis kecil itu..
Dirinya diantara Yoona dan Hana yang berpose lucu..
Dirinya memeluk, menciuminya dalam ekspresi tawa yang bahagia..
Dan dirinya dengan seorang bayi yang tertidur dalam pelukannya..
Dan entah ada berapa banyak lagi foto yang menyertakan wajah seperti dirinya didalam sana..

Oh Tuhan..
Siapakah pria itu?
Dirinya kah?
Jika itu memang dirinya, mengapa tak sedikitpun ia dapat mengingat moment membahagiakan itu?

“daddy.. lihatkan, daddy sangat mencintai mommy, daddy menyayangi Hana dan Junseo.. Daddy tidak akan pergi kan? Tidak.. Daddy tidak boleh pergi lagi.. Daddy harus pulang kerumah bersama Hana, bersama mommy dan Junseo.. Kita bersama-sama lagi dad..”

Rentetan kalimat Hana terdengar mendengung ditelinganya, kepalanya terasa sakit dan pandangannya mulai berkunang.
Namun Siwon terus mencoba menahan semuanya. Ia tidak akan ambruk saat itu bila belum mendengarkan langsung penjelasan dari Yoona mengenai siapa pria itu sebenarnya.

“Jadi siapa dia? Katakan siapa pria itu? Katakan padaku siapa dia, Yoona!!”

“Harry ssi..”

Sepersekian detik setelahnya, Siwon telah berdiri dari duduknya dan menghampiri Yoona. Menariknya untuk berdiri dan mencengkram bahu Yoona. Sedikit membuat Yoona meringis karna merasakan sakit karenanya.

“Jawab aku! Siapa pria dalam foto itu? Siapa dia?!”

Apa yang dilakukan Siwon setidaknya telah menarik perhatian beberapa pengunjung tempat makan itu. Mereka mengarahkan pandangan nya pada apa yang nantinya akan terjadi pada keluarga kecil itu.

“daddy..hikss..daddy..”

Hana kembali menangis. bingung dan terkejut melihat apa yang dilakukan ‘daddy’ nya pada sang mommy.

Junseo ikut bereaksi. Ia yang sedari tadi diam memainkan makanan diatas piringnya, ikut menangis ketika sang mommy tak lagi duduk disampingnya dan melihat noona nya menangis didepannya.

Suasana bertambah membingungkan. Yoona terjebak diantara tuntutan Siwon yang meminta penjelasan, ataukah mendiamkan tangis kedua buah hatinya.

Mana yang harus ia lebih dulu kan?

“Jawab Yoona!”

“Tolonglah lepaskan aku.. Aku harus mendiamkan Junseo dan Hana. Ya Tuhan.. Lihatlah mereka menangis..”

“setidaknya katakan siapa pria itu?”

“Suamiku.. Pria itu adalah suamiku..”

Terbengong, Yoona memanfaatkan itu dari Siwon, untuk menepiskan kedua tangan pria itu dari atas bahunya untuk kemudiam meraih Junseo, menggendongnya dan berusaha mendiamkan tangisan nya.

“mommy disini sayang..diamlah..”

“umma..”

“Iya.. Jun ingin pulang? Kita ajak noona pulang ya sayang..”

Yoona meraih tas tangannya dari atas kursi dan kemudian menggandeng Hana.
Putrinya masih berurai airmata sambil terus memandangi Siwon yang entah apa yang kini berada dalam benaknya.

Yang terlihat sekarang adalah Siwon yang membeku setelah apa yang tadi diakui yoona.

Pria itu suaminya?
Ya Tuhan..
Tidak mungkin..

“Hana ya.. Kita pulang sayang..”

“Tapi mom.. Daddy..”

“berapa kali harus mommy katakan. Dia bukan daddy.. Bukan daddy mu Hana ya..”

“mommy jahat.. Daddy..!”

Hana melepaskan tangannya dari Yoona, ia beralih untuk memeluk lengan Siwon dengan sangat erat.

“Hana ingin bersama daddy, mom..”

“Hana ya..!”

Hana menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan menyembunyikan tubuhnya dibelakang Siwon.

“Oh, Hana..”

“Kau takkan pergi sebelum memberikan penjelasan padaku kan?”

akhirnya Siwon kembali bersuara lagi.

“Penjelasan apa lagi?”

“bagaimana bisa aku adalah suamimu?”

“siapa yang mengatakan kau adalah suamiku?!”

Yoona menyadari tatapan orang-orang disekitarnya yang telah menjadikan apa yang terjadi antara dirinya dan Siwon seolah-olah tontonan drama yang menarik.

“Jika kau memang masih membutuhkan penjelasan, baiklah.. Jangan disini, ikutlah denganku. Kau akan lebih banyak melihat nanti..”

“Mom.. Apa daddy akan ikut pulang kerumah?”

Hana muncul dari balik tubuh Siwon dengan wajah yang bersemangat.

“Ya.. Kau bisa membawa ‘daddy’ mu pulang bersama kita sayang..”

“Yeii.. Thank you mom.. I love you.. Come on, dad!”

“pulang? Kemana?”

“kerumah kami.. Kau masih penasaran dengan siapa pria itu kan?”

“Ya..”

“Maka ayo, ikutlah denganku..”

Entah terdorong oleh rasa macam apa, atau diam-diam Yoona juga sedang memupuk rasa yang sama seperti Hana. Mengharap pria itu adalah suaminya, ayah dari kedua buah hatinya. Hanya saja ia lebih menutup harapan itu yang kadang kala muncul karna merasa takut kecewa dan kembali terluka.

Tapi kali ini, mendengar curahan hati Hana, melihat tangis kesedihannya. Membuatnya terenyuh tak tega, yang kemudian membuat Yoona akhirnya meloloskan permintaan putrinya dengan memutuskan mengajak Siwon untuk ikut serta dengannya.

Bersama, dengan menggunakan mobil yang dikendarai Siwon, mereka meninggalkan area taman bermain itu, untuk selanjutnya menuju rumah yang ditinggali Yoona bersama kedua buah hatinya dan Ny.Choi. Rumah milik Siwon. Rumah yang menyimpan banyak kenangan bersama dengan suaminya.

Sepanjang perjalanan meski duduk bersampingan, keduanya justru sama-sama terdiam.
Siwon mungkin masih merasakan shock dengan apa yang baru diketahuinya.
Sedangkan Yoona, ia sibuk menerka-nerka apa yang akan terjadi setelah pria itu berada dirumahnya.

Hanya celotehan Hana yang kemudian terdengar meramaikan kesunyian dalam mobil itu. Gadis kecil itu kembali menunjukkan keceriaannya, dengan membicarakan apa saja yang diketahuinya dengan Siwon maupun Yoona. Meski merasakan reaksi yang diterimanya tak cukup hangat, karna mommy dan daddy nya hanya menanggapinya dengan kalimat-kalimat singkat, namun Hana tak menghiraukannya. Kebahagiaannya karna sang daddy pulang bersamanya sudah cukup untuknya mempertahankan keceriaan itu didalam dirinya.

“Jun ah, apa kau mendengarkan noona?”

“Jun sudah tidur sayang..”

“Owh..”

Hana lantas melongok kekursi depan. Junseo memang sudah tertidur dipangkuan Yoona, setelah lelah menangis dan juga kelelahan bermain.

Hana kembali memposisikan duduknya dikursi belakang. Sedikit memberenggut, dan mendesah pelan.
Siapa lagi yang akan diajaknya bicara?
setelah sang adik yang menjadi harapan terakhirnya justru telah tertidur dengan nyenyaknya.
Ia akhirnya memaksakan diri untuk diam dan hanya memandangi mommy dan daddy nya yang berada didepan.

Namun ke-diam-an Hana tak berlangsung lama. Ia kembali berseru setelah mobil yang dikendarai Siwon mulai mendekat kearah rumahnya, sesaat menghentikan lajunya untuk menunggu seseorang yang membukakan pagar besi yang tertutup itu. Setelahnya mobil kembali melaju pelan memasuki halaman rumah.

“Ayo.. Dad!”

Hana keluar lebih cepat dari dalam mobil dan menunggu Siwon diluar, disamping pintu kemudi.

“ini rumahmu?”

tanya Siwon akhirnya, sambil menoleh kearah Yoona, yang berusaha turun namun sedikit kerepotan dengan adanya Junseo dipangkuannya.

“Ya.. Kau pernah mengantarku kan malam itu..”

“Tapi aku hanya berhenti didepan pagar itu..”

“Ayo turun!”

“tunggu sebentar, aku akan membantumu..”

Siwon membuka pintu disampingnya dan langsung disambut rangkulan Hana dilengannya. Gadis kecil itu benar-benar tak sabar ingin segera membawa ‘daddy’ nya masuk kedalam rumahnya.

“sebentar sayang.. mommy mu perlu bantuan..”

Siwon mengitari depan mobilnya dan membukakan pintu untuk Yoona.

“Kau bisa berikan Junseo padaku..”

“Tidak perlu, aku bisa..”

Karna penolakan Yoona, Siwon kemudian hanya memegangi pintu mobilnya sementara Yoona keluar dari dalamnya dengan perlahan, menjaga agar Junseo tak terbangun dari tidurnya.

“Ayo masuklah..”

Dengan Junseo dalam gendongannya, Yoona melangkah lebih dulu. Hana kembali merangkul lengan Siwon dan menariknya untuk mengikuti sang mommy.

Siwon bisa merasakan pandangan terkejut dari seorang pelayan wanita yang membukakan pintu untuk mereka.

“Tuan Choi..?”

“bisa bantu aku menidurkan Junseo dikamar..”

Interupsi Yoona yang menyadari keterkejutan sang pelayan ketika melihat Siwon saat itu.

“Ne.. baik Nyonya..”

Yoona menyerahkan Jun dari gendongannya dan kemudian, mengarahkan pandangannya pada Siwon, yang tersirat kebekuan dimatanya ketika menatap foto pernikahannya yang berbingkai cukup besar terpasang disalah satu dinding rumah itu.

Yoona mengikuti pergerakannya, ketika Siwon melangkah mendekat kehadapan bingkai besar itu.

image

“Ya Tuhan.. Ini adalah.. Ini..”

“itu foto pernikahan kami..”

Yoona mendekat kesisi Siwon dan Hana yang masih terus mengikutinya.

“Itu.. Itu aku? Bagaimana bisa dia begitu mirip denganku? Bagaimana bisa Yoona?”

“Aku juga terkejut dengan itu..”

“daddy.. Apa yang daddy katakan? Itu foto daddy dan mommy.. Apa benar-benar tidak mengingatnya?”

Hana tercenung, kebingungan melihat reaksi daddy nya. Ia bahkan hampir meneteskan lagi airmatanya, namun tertahan saat Yoona meraih tangannya.

“mom..”

“mommy mengerti kebingunganmu sayang.. Sama halnya dengan yang mommy rasakan..”

“tapi kenapa mom? Ada apa dengan daddy?”

Yoona menggelengkan kepalanya, untuk saat ini ia tak mempunyai penjelasan apapun yang bisa ia katakan pada Hana, putri kecilnya.

Ketika masih merasakan kebekuan Siwon yang hingga kini terus memandangi foto pernikahannya. Suara-suara yang masuk kedalam rumah sedikit mengalihkan perhatiannya.

“Omo.. Oh Tuhan ku, Siwon!”

“Oppa..”

Ny.Choi yang ternyata masuk, bersama Sooyoung dan Changmin dibelakangnya.
Sama halnya terkejut melihatnya…

Yoona menyadari keterkejutan dari mereka pada saat itu, ketika mendapati Siwon berada didalam rumahnya.
Namun sepertinya pekikan terkejut dari Ny.Choi maupun Sooyoung tak cukup berpengaruh pada Siwon. Dia hanya menoleh sesaat sebelum kembali terpaku pada foto yang berada dihadapannya.

“oemma..”

Yoona meninggalkan Siwon bersama Hana disana, untuk kemudian menghampiri Ny.Choi yang berjarak tak jauh darinya.

“oemma darimana? Kenapa bisa pulang bersama Sooyoung? Kalian…”

“Yoona ya.. Kau yang membawa Siwon pulang, sayang? Ya Tuhan.. Dia benar-benar Siwon, putra ku?”

Ny.Choi tak merespon pertanyaan Yoona dan justru memotong ucapan Yoona yang sebenarnya hanya digunakannya sebagai basa-basi saja.
Ia tahu selain Siwon yang akan terkejut saat berada dirumahnya. Sang ibu mertua juga pastilah dikejutkan dengan keberadaan pria itu didalam rumah mereka.

“oemma.. Ayo kita bicara sebentar..”

Yoona segera merangkulkan tangan Ny.Choi dilengannya.

“apa kami juga bisa mengetahui apa yang akan kau bicarakan dengan oemma, Yoong?”

Sooyoung menyela sebelum Yoona membawa Ny.Choi melangkah dari hadapannya.

“Ya..sebaiknya kalian juga tahu apa yang akan aku sampaikan”

Sooyoung merangkul Changmin, dan berjalan dibelakang Yoona dan oemma nya, meninggalkan Siwon disana yang memang benar-benar masih tak terpengaruh dengan kedatangan mereka.

“daddy.. Ayo ikut Hana..”

“euh..?”

“Kita kekamar mommy dan daddy..”

“kamar?”

“mm.. Kamar daddy. Hana akan menunjukkan lebih banyak foto disana..”

Tangan kecil Hana lantas menarik Siwon untuk menaiki tangga rumah itu, menuju lantai dua dimana kamar Yoona berada disana.

***

“jadi katakan pada oemma Yoong, apa yang membuatmu kemudian membawa Siwon pulang? Demi Tuhan, oemma benar-benar senang.. hingga hampir menangis melihatnya.. Pria itu putra oemma kan? Dia Siwon suamimu kan?”

Yoona menggelengkan kepalanya tak yakin. Ia sendiri bingung dengan alasannya yang tiba-tiba membawa Siwon pulang bersamanya.

“oemma.. kita sama-sama tahu, Siwon sudah pergi. Kita bahkan menguburkan jasad nya bersama-sama dengan jasad appa. Oemma tidak lupa dengan itu kan?”

“Iya.. Tapi pria itu.. Ya Tuhan, oemma bisa merasakan kehadiran Siwon, Soong..”

“oemma.. Sebenarnya aku mungkin juga sedang memupuk harapanku, agar pria yang berada disana adalah Siwon, suamiku. Meski itu mustahil dan aku mungkin akan merasakan sakit ketika meninggikan harapanku terlalu tinggi dan suatu saat aku bisa saja terjatuh karena itu..”

“sayang..jadi apa yang sebenarnya terjadi?”

“Oemma pria itu, Harry.. Dia menderita amnesia..”

“amnesia? Oh Tuhanku..”

“darimana kau mengetahui itu, Yoong?”

Yoona mengalihkan tatapannya dari Ny.Choi kearah Sooyoung untuk menjawab pertanyaan nya.

“seorang dokter pernah mengatakan hal itu padaku.. Ada suatu kejadian pada saat itu, hingga aku perlu membawa pria itu kerumah sakit. Disanalah aku mengetahui jika ternyada Harry sedang mengalami amnesia”

“Oh, astaga..”

Sooyoung melirik kearah Changmin, namun sepertinya Changmin masih menyimak apa yang pada saat itu Yoona katakan.

“jadi yang kau maksud memupuk harapan itu adalah…”

“Ya.. Aku mungkin sudah gila dengan harapanku.. Tapi perasaanku sebagai seorang ibu, tak tega ketika melihat putriku menangis tersedu-sedu. Hana masih meyakini pria itu adalah daddy nya. Dia mengungkapkan perasaan yang ia rasakan tadi. Hana kebingungan, pria yang dianggapnya ‘daddy’ tak bersikap sama seperti daddy nya. Ia mengira terjadi pertengkaran diantara kami hingga membuat daddy nya pergi cukup lama. Hana pasti telah melupakan ‘kematian’  Siwon daddy nya..”

“Oh, Hana.. Aku bisa memahami kebingungannya. Pria itu benar-benar serupa dengan Siwon oppa..”

“Hana yang kemudian menunjukkan foto-foto Siwon yang ada diponselnya.. Pria itu terkejut, atau shock mungkin. Dan kurasa masih bertahan sampai sekarang, setelah dia melihat lebih jelas lagi wajah yang menyerupai dirinya dalam foto pernikahanku dan Siwon..”

“kurasa aku juga akan mengatakan apa yang kuketahui tentang pria itu..”

Apa yang baru saja Changmin ucapkan, membuat ketiga wanita yang berada diantaranya itu langsung menatapnya penuh antisipasi.

“Oppa.. Apa yang kau ketahui dan tidak kau ceritakan padaku?”

Sooyoung mengajukan protesnya pada sang suami.

“Aku bukan tidak menceritakan, tapi belum.. Masih ada beberapa hal yang perlu kuyakinkan. Dan sebenarnya aku juga masih ingin menyimpan informasi itu, tapi berhubung Yoona yang ternyata telah mengetahui salah satu diantaranya, kurasa tak ada salahnya aku membagi apa yang aku ketahui..”

“jadi apa yang kau ketahui?”

Yoona menyela dengan tidak sabar.

“ini tentang penyelidikan yang kulakukan..”

“penyelidikan?”

“Ya, aku menyewa orang untuk menyelidiki pria itu dan dari beberapa yang sudah kudapatkan, dia…”

Ucapan Changmin terhenti ketika pekikan keras, dan teriakan histeris serta suara tangis yang menyertainya, datang dari suara Hana, yang sontak membuat perhatian mereka teralihkan…

“Oh Daddy! Bangun.. Daddy! Mom Tolong Hana! Mommy! Daddy!”

Hana memang pada akhirnya telah benar-benar membawa Siwon untuk masuk kedalam kamar Yoona. Memperlihatkan segala sesuatu yang berada didalamnya. Tanpa gadis kecil itu tahu ia telah membuat Siwon berkali lipat merasakan shock menghantam dadanya.

Ada lebih banyak foto terpajang disana, yang memperlihatkan wajah serupa dengan dirinya.
Hana bahkan memperlihatkan bagian lebih pribadi dengan membuka salah satu lemari besar dikamar yang luas itu. Ada berbagai jenis pakaian pria didalamnya, dan Siwon meyakini itu semua adalah milik pria yang berada dalam foto-foto itu.
Milik dirinya?
Oh tidak..
Itu semua milik pria yang serupa dengan dirinya.

Betapa kini ia meyakini pria itu memang ada dan pernah hidup ditengah-tengah keluarga itu.

“Daddy.. lihatlah, Mommy bahkan tak memindahkan meja kerja daddy dari sini.. Mommy pasti juga menunggu daddy kembali kerumah ini sama seperti Hana..”

Hana kembali kebagian lain didalam kamar itu, dan menunjukkan pada Siwon sebuah meja kerja yang berada disudut ruangan yang masih menyimpan beberapa perlengkapan kerja seperti bolpoin, kertas-kertas dan beberapa tumpukan map yang berada dalam laci meja itu.

“daddy tidak akan pergi lagi kan setelah melihat semua ini? Ini menunjukkan jika mommy masih menyayangi daddy..mommy pasti tidak marah lagi, jadi daddy juga tak boleh marah pada mommy.. Ayolah dad.. katakan sesuatu pada Hana.. Daddy tidak akan pergi kan? Daddy akan tetap disini bersama Hana dan Junseo kan?”

Siwon menangkap gambaran mengabur dari kamar itu. Beberapa bayangan yang tiba-tiba melintas dipikirannya.
Bayangan tak lazim yang menunjukkan pergumulan seorang pria dan wanita diatas ranjang itu, entah mengapa bisa ikut muncul disana.

Bayangan akan bagaimana tubuh kecil Hana berlari-lari menyambut seorang pria yang masuk kedalam kamar itu sebelum akhirnya gadis kecil itu bisa mencapai dan memeluknya.

Bayangan dimana
memperlihatkan senyum Yoona yang mengembang ketika seseorang merengkuhnya, memeluk dan mendaratkan sebuah ciuman manis dibibirnya.

Bayangan dirinya didalam kamar itu..
Tidak..
Tidak mungkin ia pernah berada ditempat ini.
Ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kakinya dirumah itu.
Tapi mengapa perasaan tak asing dengan semua yang ada didalamnya bisa ia dapatkan saat itu..

“daddy.. are you okey?”

Hana menangkap perubahan dari wajah Siwon yang entah sejak berapa lama berubah pucat. Sebelah tangannya menekan pinggiran meja kerja itu dengan kuat, sementara yang satunya ia gunakan untuk menekan pelipisnya, mencoba menahan sakit yang mendentam dengan begitu kuat disana.

“daddy..”

“hana ya.. Akhh..”

“daddy..daddy..!”

Siwon tak bisa lagi menahan erangannya, rasa sakit yang sudah ia rasakan sejak berada ditempat makan tadi semakin membuatnya limbung. Tubuhnya ambruk seiring pandangannya yang berubah menjadi gelap..

Membuat Hana kemudian menjerit-jerit memanggil Yoona..

Jeritan Hana direspon tak berapa lama ketika Changmin berlari diikuti Yoona mencari keberadaannya. Dengan cepat Changmin maupun Yoona bisa menemukan hana yang tengah menangis disisi tubuh Siwon yang terkulai dilantai..

“Hana ya..”

“mommy..hikss..daddy..”

“apa yang terjadi sayang?”

“Hana tidak tahu.. daddy tiba-tiba saja terjatuh.. Hana takut mom..”

Hana memeluk Yoona dengan masih mempertahankan tangisnya melihat bagaimana ketika Changmin dengan dibantu dua orang pelayan memindahkan tubuh Siwon keatas tempat tidur.

Yoona juga tak bisa menyembunyikan perasaan khawatir melihatnya.

“Tolong hubungi dokter..”

“Tunggulah Yoona, aku akan menghubunginya..”

Changmin melangkah keluar dan berpapasan dengan Ny.Choi dan Sooyoung yang juga menunjukkan raut cemas diwajah mereka.

“apa yang terjadi oppa? Ada apa dengan Hana?”

“Hana tidak apa-apa, tapi pria itu..dia tak sadarkan diri..”

“Oh Tuhan.. Ada apa dengannya?”

Ny.Choi langsung mendekat meninggalkan Changmin yang masih berbicara dengan Sooyoung.

“aku akan menghubungi dokter untuk memeriksa keadaannya..”

“Ya.. lakukanlah oppa..”

***

Ketika akhirnya seorang dokter datang untuk memeriksanya, dan belum bisa memastikan secara pasti apa yang dialami Siwon sebelum melakukan pemeriksaan menyeluruh dirumah sakit, setidaknya kecemasan yang tadi sempat mereka rasakan sedikit berkurang setelah sang dokter juga mengatakan, tubuh Siwon baik-baik saja. Hanya pasti ada suatu faktor yang kemudian membuatnya sampai tak sadarkan diri.

“siapa sebenarnya dirimu?”

Yoona menggumam sambil memandangi Siwon yang masih belum sadarkan diri.

Pembicaraannya dengan Changmin sempat terhenti, namun kembali berlanjut setelah dokter menyelesaikan pemeriksaan tadi.

Pembicaraan yang kemudian membuat Yoona tak bisa menutupi harapan dimata nya ketika Changmin mengungkapkan padanya, bahwa pria itu hanyalah anak angkat.
Namun Changmin masih kesulitan menemukan orangtua kandungnya dan apa yang menjadi penyebab amnesia yang dialaminya. Semua masih ia selidiki..

“kenapa kau membuatku berharap jika…”

“Yoona…”

Yoona terkesiap merasakan secara mendadak tangannya diraih dan digenggam dengan erat..

Mengerjapkan kedua matanya, Siwon menemukan Yoona tengah duduk dengan menundukkan wajah disampingnya.

Ia tak sepenuhnya ingat apa yang terjadi hingga tubuhnya bisa terbaring diatas tempat tidur itu dan entah sudah untuk berapa lama ia disana.

“Yoona..”

Maka dengan meraih dan kemudian menggenggam tanganya, Siwon telah membuat Yoona mengangkat wajahnya dan terkesiap melihatnya.

“Si.. hmm, Harry ssi.. Syukurlah Kau  sadar..”

“Apa yang terjadi?”

“Aku tak tahu bagaimana.. Hana membawamu kemari dan tiba-tiba ia menjerit karna kau jatuh pingsan. Hana menangis dan ketakutan, jadi aku belum bisa menanyakan padanya apa yang terjadi sebelumnya..”

Siwon berusaha duduk dari tidurnya, namun terhalang saat ia menyadari ada tangan lain yang tengah memeluk lengannya.

Oh..
Ia melihat Hana. gadis kecil itu meringkuk disampingnya. Dengan kedua tangannya memeluk erat lengan kanannya.

“Hana.. Dia..?”

“seperti yang ku katakan, Hana ketakutan ketika melihatmu tak sadarkan diri. Dia memintaku agar mengijinkannya menungguimu hingga sadar. Tapi setelahnya dia justru tertidur. Pasti sebenarnya dia lelah setelah bermain-main tadi..”

“Owh.. Aku tak bermaksud membuatnya takut..”

Siwon mengusap tangan Hana dan dengan perlahan melepaskan rangkulan tangan kecil itu pada lengannya.

“dan kau menunggui ku bangun? jam berapa ini?”

Yoona memperhatikan tangannya yang dengan perlahan terlepas dari genggaman tangan Siwon, ketika pria itu mencoba bangun dari tidurnya. Sudah dua kali seingatnya pria itu menggenggam tangannya, dan entah mengapa ia pun tak menolak perlakuan itu.

“jam berapa ini?”

Siwon mengulang pertanyaannya, ketika Yoona tak juga merespon. Ditambah temaram lampu kamar itu semakin membuatnya tak bisa memperkirakan waktu saat itu.

Mungkin sudah malam..

“Kurasa sudah tengah malam, biar kupastikan..”

Yoona beranjak untuk menyalakan lampu kamar, yang kemudian membuat ruangan itu menjadi terang oleh cahaya yang dihasilkan.

“Astaga.. Benar sudah tengah malam. Kau tak tidur dan memilih menunggu ku hingga tengah malam? Ya Tuhan, apa yang kau…”

Siwon beranjak dari atas tempat tidur dan menghentikan ucapannya ketika melihat kesekeliling kamar itu.

Foto-foto itu..
Semua itu..
Menyadarkannya pada alasan mengapa selama ini Yoona memandangnya dengan tatapan yang sulit ia mengerti.
Hana yang sering kali memanggilnya ‘daddy’.
Bibi itu yang ia sadari hampir meneteskan airmata tiap kali melihatnya.
Semua karna pria itu?
Pria yang serupa dengannya..

Dan..
Oh..
Ia ingat sekarang. Apa yang kemudian membuatnya pingsan adalah dentaman kuat dikepalanya dan rasa sakit yang ia rasakan ketika bayangan-bayangan mengabur yang muncul dan memenuhi kepalanya.

Bayangan-bayangan pria itu..
Pria itu?
Siapa pria itu?

Ada sebagian sel-sel dalam tubuhnya yang menjeritkan itu adalah dirinya.
Namun sebagiannya lagi meneriakkan dengan tak kalah kencang bahwa hal itu tidaklah mungkin.

Jika pria itu adalah dirinya, mengapa tak sedikitpun ia menyimpan memori tentang mereka semua?

Tapi bagaimana dengan bayangan-bayangan yang sering kali muncul?
Bukankah itu mungkin bagian dari memorinya yang belum ia pahami?

Oh Tuhan..
Jadi siapa sebenarnya dia?

“Jadi dialah alasanmu, Yoona..?”

“alasan apa?”

“alasan kenapa dihari itu kau mendatangiku di Jepang. Aku ingat kau mengatakan bahwa kau mengira aku sebagai seseorang yang kau..”

“Ya.. Aku mengira kau adalah suamiku. Aku begitu tersiksa dengan perasaan rinduku padanya. Aku melihatmu muncul ditelevisi dan akal sehat serta logika ku terbang entah kemana. Aku berlari seperti orang gila mencarimu.. Aku menemukanmu dan yakin Tuhan memberiku keajaiban dengan menghidupkan lagi suamiku. Meski itu mustahil, tapi aku tetap meyakininya. Aku memelukmu dengan segenap hatiku dan kerinduanku yang tertumpah. Namun pada akhirnya aku berakhir terluka. Dan menganggap kemunculanmu justru sebagai mimpi buruk setelah kau melecehkan ku..”

“Yoona, aku…”

“Aku tidak menyalahkanmu. Siapapun pasti mengira aku adalah wanita murahan yang dengan mudahnya melakukan kontak fisik dengan memelukmu didepan umum. Aku mengerti pemikiranmu saat itu..”

Siwon meremas rambutnya. Ia ingat kejadian itu. Jelas mengingatnya ketika Yoona kemudian meneteskan airmata dan meninggalkannya tanpa kata. Saat itu Yoona pasti sakit hati dan terluka oleh perlakuan kasarnya.

“lalu sekarang siapa yang kau lihat?”

“maksudmu?”

“Kau melihatku sebagai siapa? Berjam-jam kau menungguiku terbaring disana itu karna apa? Siapa yang kau lihat! Siapa yang kau anggap sekarang..!”

Yoona merasa nada suara Siwon meninggi dan matanya menatap tajam kearahnya.

Apa yang terjadi..?

“Aku tak mengerti apa yang kau…”

Oh..
Sepersekian detik Yoona terhuyung. Bahunya dicengkram erat saat tubuhnya terdorong hingga punggungnya menempel pada dinginnya tembok kamarnya.

Ya Tuhan..

“apa yang kau lakukan?”

“Siapa yang sekarang kau lihat berada dihadapanmu?”

“Aku.. Aku..”

“Jawab Yoona!”

“Siwon.. Aku melihat Siwon, suamiku.. kau Siwon..Katakan padaku kau adalah Siwon suamiku..”

Siwon perlahan menarik kedua tangannya dari bahu Yoona. Melepaskan cengkramannya seiring dengan tubuhnya yang kemudian melangkah mundur, menjauh dari Yoona.

“Si-Won..”

“Jangan Yoona.. Jangan katakan apapun lagi..”

“Si won.. Aku..”

“Cukup Yoona!!”

Bentakan Siwon saat itu yang sedikit terdengar kasar, membuat Yoona terkesiap melihat perubahan raut ketidak sukaan dari wajahnya. Matanya mengisaratkan luka dan serta kekecewaan.

Oh..
Apalagi yang terjadi?

“Sudah Cukup Yoona.. Aku tak ingin mendengarnya”

“Siwon..”

“Aku tak ingin mendengar kau menyebut suamimu! Aku tak mau mendengar ceritamu! Aku tak ingin kau memikirkan pria itu sementara yang sedang bersamamu adalah Aku! Kau jelas sedang hidup dalam bayang-bayang pria itu, Yoona. Dan tak pernah menganggap kehadiranku!”

“Siwon.. Tapi kau…”

“AKU BUKAN PRIA ITU..!!”

Yoona tercekat, airmatanya langsung membasahi wajahnya saat mendengar bentakan kasar dari Siwon.

Suaranya cukup keras, hingga Hana bahkan kemudian menggeliat dari tidurnya dan terbangun.

“daddy..”

“Maaf.. Maafkan aku, bukan maksudku…”

“aku harus pergi..”

“Si…”

Yoona tak mampu meneruskan apa yang sudah ada dimulutnya, saat Siwon langsung pergi, keluar dari kamarnya tanpa memandangnya ataupun menghiraukan panggilan Hana.

Tubuhnya merosot, Yoona seketika terkulai, terduduk dilantai dan menangis.

Pria itu bukan Siwon suaminya?

Dan sekali lagi ia telah gegabah, dengan mengatakan anggapan atau lebih bisa diartikan sebagai harapannya yang mustahil, jika pria itu adalah suaminya.

Dia menjadi terluka saat Yoona menganggapnya sebagai orang lain.
Memandangnya sebagai Siwon suaminya dan bukannya sebagai diri pria itu sendiri.
Bukannya sebagai ‘Harry’ seperti identitasnya.

Tidak..
Sebenarnya tidak.
Yoona tak selalu menganggap pria itu seperti Siwon.
Hanya saja, keserupaan wajah itu yang terkadang menyulitkannya. Tapi selebihnya pria itu jauh berbeda dengan pribadi Siwon. suaminya yang lembut dan penuh kasih.

Namun setelah melihat bagaimana sikap lembut dan penuh kasih dari pria itu muncul pada saat bersama Hana dan Junseo, juga fakta mengenai ‘amnesia’ yang diketahuinya, serta penyelidikan yang dilakukan Changmin, sedikit banyak telah memunculkan harapan dalam diri Yoona.

Harapan jika pria itu adalah benar Siwon suaminya.
Siwon nya yang mengalami amnesia dan melupakan dirinya dan kedua buah hati mereka, juga keluarganya.

Tapi nyatanya..
Semua tak seperti yang diharapkannya.

Pria itu pergi..
Sakit hati dan terluka ketika dirinya disamakan dengan Siwon, dan dipandang sebagai sosok suaminya.

“maaf.. maafkan aku..”

Yoona terus menggumamkan itu dalam tangisnya yang semakin membuat dadanya sesak.
Hingga tak menyadari Hana meloncat turun dari atas tempat tidur kemudian menjerit, memanggil-manggil ‘daddy’ nya.

“Daddy.. Daddy..! Don’t go Dad.. Please.. Daddy!”

Siwon sudah berada di anak tangga terbawah saat itu, dan hanya sekilas menoleh kearah Hana yang masih berada diatas. Setelahnya ia kembali melangkah, dan justru semakin mempercepat langkah kakinya untuk keluar dari dalam rumah itu.

“Daddy.. Jangan pergi! Daddy..!”

Hana menangis, menjerit dan langsung berlari untuk mengejar Siwon.
Berusaha mencegah kepergiannya.
Namun apa daya..
Hana terlambat mencapainya.
Siwon telah menstater mobilnya dan langsung melaju, meninggalkan Hana yang meraung, memelas dalam tangisan yang terisak-isak.

“Ya Tuhan.. Hana ya, ada apa sayang?”

Ny.Choi langsung keluar dari dalam kamarnya setelah terkejut mendengar jeritan-jeritan dari Hana.

“Dad.. Hal mo ni.. Daddy.. Dad pergi..”

Hana terbata, saat mencoba mengatakan apa yang terjadi pada halmoni nya. Namun Ny.Choi sudah cukup mengerti maksud dari beberapa kata yang terucap dari dalam isakan tangis Hana.

“Oh Tuhan.. Sayang, tenanglah.. Kenapa daddy mu bisa pergi? Apa yang terjadi dan dimana mommy Yoona sekarang?”

“Halmoni.. Hana mendengar mommy dan daddy bertengkar.. Daddy berteriak dan pergi. Hana ingin bersama daddy.. Hana tak mau daddy pergi lagi..”

Ny.Choi langsung memeluk Hana, Entah apa yang bisa dilakukannya selain menenangkan sang cucu yang sangat disayanginya.

“Ayo sayang..kita kembali kekamar..”

“tapi halmoni, daddy.. Bagaimana dengan daddy?”

“Halmoni harus bicara dulu dengan mommy, sayang..”

Ny.Choi menggandeng Hana, untuk kembali masuk kedalam kamar Yoona.

Didalamnya, Ny.Choi mendapati Yoona masih dalam posisi terduduk memeluk kedua lututnya dan terdengar suara isakannya.

“Sayang.. Apa yang terjadi?”

“Oemma..”

Yoona mendongak dan langsung menghambur kedalam pelukan Ny.Choi.

“Dia marah padaku. Dia bukan Siwon.. Bukan, oemma..”

***

Siwon melajukan mobil dalam kecepatan tinggi. Dengan tangan mencengkram kuat roda kemudinya.

Entah bagaimana, tapi ia merasakan kekecewaan yang menyeruak dari dalam hatinya.
Ia tak pernah dianggap..
Wanita itu..
Yoona, tak pernah memandangnya sebagai dirinya.
Melainkan menganggapnya sebagai sosok suaminya yang telah tiada.
Yang sudah tak dimilikinya..

“Siapkan tiket untukku.. Aku akan kembali ke Jepang.. Sekarang!!”

Siwon melempar ponselnya kesamping kursi pengemudi yang didudukinya setelah mengakhiri panggilan singkat yang berisi perintah nya.

Ia benar-benar akan pergi malam itu. Seseorang yang dihubunginya tadi, kemudian telah dengan sigap memesankan tiket dan mengatur semuanya, hingga ia hanya tinggal datang kebandara untuk mengambil tiket dengan menunjukkan identitas nya.

Beberapa jam setelahnya, ia sudah mendarat di Jepang. Namun hal pertama yang didapatnya adalah kekesalan yang mungkin telah menuju pada kemarahan dari Fanny. Gadis itu menelpon dan mengomel hingga membuat Siwon merasakan panas ditelinganya.

“Oh Tuhan.. Oppa, keterlaluan sekali kau! Kenapa kau kembali ke Jepang tanpa memberitahu ku!”

“Astaga.. Sudah berapa kali kau mengatakan kalimat yang sama padaku, berhentilah.. Kau bisa kesini jika ingin bertemu denganku.”

“Ck! Apa yang terjadi hingga kau perlu melarikan diri seperti itu?”

“yak..siapa yang melarikan diri.. Aku hanya kembali ketempat dimana seharusnya aku berada. Aboji sudah memperingatkan ku untuk mengurusi perusahaan disini. Aku tak akan berada disana untuk bermain-main lagi. Lagipula mereka juga tak memandang siapa aku..”

“hah? Maksudnya? Siapa yang kau sebut dengan ‘mereka’ oppa?”

Siwon menghela napas sebelum kembali melanjutkan..

“sudahlah.. Aku masih jet lag. Sebaiknya kau juga pergi dari sana dan tinggalah disini bersamaku, atau kembalilah untuk menjaga aboji..”

“Tidak.. Aku masih akan disini”

“Terserahlah.. tapi mintalah asistenmu untuk tinggal denganmu. Dia bisa menjagamu selama berada disana.. jangan merepotkanku.”

Siwon mengakhiri panggilan dengan sepihak. Ia tahu Fanny akan kembali menelpon, untuk itu ia langsung mematikan ponselnya.

***

Dua hari setelah kejadian malam itu, Yoona masih menyesalkan sikapnya yang telah menyebabkan Siwon marah, dan Hana yang terus memprotesnya dengan mengatakan sang mommy lah yang membuat ‘daddy’ nya pergi lagi.

Yoona tak tahu bagaimana cara memberi penjelasan pada Hana. Putrinya terlanjur menganggap pria itu adalah daddy nya. Hana menolak keras tiap kali Yoona berniat menjelaskan padanya. Putrinya juga diam-diam kerap menangis didalam kamarnya, isakan yang didengarnya jelas terasa menyakitkan untuk Yoona.

“Sayang.. Apa mommy boleh masuk?”

Tanyanya sambil mengetuk pelan pintu kamar Hana.

Mendengarnya, Hana langsung mengusap airmatanya. Meletakkan pigura foto Siwon dari dekapannya, kemudian ia memiringkan tubuhnya diatas tempat tidur, untuk membelakangi pintu kamarnya.

Ia tahu sang mommy tetaplah akan masuk, meski ia mengatakan tidak.

“Hana ya.. Kau sudah tidur?”

Benar saja, Yoona menekan knop pintu, mendorongnya agar terbuka dan kemudian masuk untuk mendekati Hana.

“sayang..”

“hmm..”

“Oh, mommy kira kau sudah tidur..”

“Hana memang sudah ingin tidur, mom..”

Yoona sedikit tersenyum, setidaknya Hana mau untuk menjawabnya.

“Baiklah.. Mommy juga akan tidur..”

Hana merasakan pergerakan pada tempat tidurnya, dan tangan sang mommy yang kemudian memeluknya.

“mom..”

“ya..”

“mommy akan tidur disini?”

“mommy ingin bersamamu sayang..”

“bagaimana dengan Junseo?”

“Jun bersama halmoni..”

Hana tak lagi mengeluarkan suara, ia menikmati ketika Yoona membelai-belai rambutnya.

“Hana ya..”

“hm..”

“maukah Hana ikut dengan mommy besok?”

“mommy akan pergi? Tapi Hana harus ke sekolah mom..”

“Selesai bersekolah mommy akan menjemputmu..”

“apa Junseo juga ikut?”

“Ya.. dan juga halmoni..”

“kemana kita akan pergi mom?”

“ke makam haraboji dan daddy.. Sudah lama kita tidak kesana kan?”

Hana terdiam, dan Yoona bisa merasakan bahunya yang bergetar saat kemudian isakan tangis Hana terasa lebih menyakitkan.

“sayang..”

“Tidak, Hana tidak mau mom.. Daddy masih ada, daddy bukan pergi ke surga seperti yang mommy katakan. Ada apa dengan kalian? Mengapa mommy mengatakan hal seperti itu.. Daddy hanya marah dan akan kembali lagi untuk Hana..”

“Hana ya..”

“Jangan katakan apa-apa lagi, Hana tak mau mendengarnya.. Hana ingin tidur, mom..”

Tak disadari olehnya airmata itu juga telah membasahi wajahnya. Yoona menangis saat kemudian ia memeluk tubuh putrinya dengan erat dan menangis bersamanya.

***

Siwon memimpin rapat direksi hari itu. Menerima laporan, usulan dan masukan dari beberapa pemegang saham, untuk kemudian ditindak lanjuti.

Dua hari berada di Jepang, ia terus disibukkan dengan urusan perusahaan. Meski cukup lelah, tapi ia menganggap hal itu cukup efektif untuk pengalihan.

Mengalihkan sosok Yoona yang entah mengapa terus membayangi pikirannya meski ia telah merasa tersakiti saat mengetahui wanita itu selalu memandangnya sebagai oranglain.

“Sir..?”

“Ya.. Apa yang kau katakan?”

Siwon nampaknya telah sedikit kehilangan konsentrasinya.

“Saya membawa pihak yang memenangkan proyek kerjasama ini..”

Siwon menajamkan tatapannya, saat kemudian tiga orang masuk dan ia merasa mengenali salah satu diantaranya.

“Oh, Kau..?”

“Saya Shim Changmin, Tuan.. Sangat mengejutkan kita pernah bertemu sebelumnya. Senang bisa bekerja sama dengan anda Tn.Harry.. ”

Jika changmin cukup tenang dan sepertinya telah memperhitungkan apa yang akan dilakukannya disana, lain halnya dengan Siwon. Ia benar-benar tak menyangka akan bertemu dengan Changmin pada saat itu. Meski ia tak mengenalnya secara dekat, namun Yoona pernah mengenalkannya sebagai saudara.

Oh..
Mengapa disaat seperti itu ia harus terhubung lagi dengan Yoona?
Wanita itu yang telah membuatnya kecewa..

Siwon memperhatikan dengan seksama bagaimana Changmin memberi penjelasan detail proyek yang akan mereka kerjakan bersama.
Siwon bisa menilai dari raut wajah para direksi yang berada dalam rapat yang sama, kesemuanya puas dengan kerjasama yang akan segera terjalin dengan pihak Changmin.

Maka tak ada alasan bagi Siwon untuk menolaknya. Apalagi hanya karna hubungan persaudaraan pria itu dengan Yoona.

“Bagaimana Tn.Harry.. Anda bisa menerimanya?”

Siwon menegakkan tubuhnya untuk kemudian menjawab pertanyaan yang diajukan Changmin padanya.

“Sepertinya menarik dan akan sangat menguntungkan.. semua direksi juga nampaknya setuju dengan itu. Baiklah aku bisa mempercayakan proyek itu ditanganmu”

Changmin tersenyum senang dan kemudian menghampiri Siwon untuk kemudian keduanya berjabat tangan.

“Trimaksih untuk kepercayaan anda.. Sampai jumpa lagi di Korea. Saya akan siapkan semuanya untuk anda, Tn.Harry”

“Baiklah, semoga akan berjalan lancar.. Dan sebaiknya kita melakukan penandatanganan kontrak kerjasamanya sekarang..”

Dua orang dari pihak Siwon lantas membawa dua buah map berisi dokumen yang akan mereka tanda tangani bersama.

Setelah prosesi itu selesai, Changmin yang membawa serta dua orang rekannya kemudian melangkah keluar dari gedung perusahaan Siwon.

“Kau akan semakin dekat dengan identitas mu Choi Siwon..”

***

Hari itu meski Hana tak ikut bersamanya, Yoona tetap melakukan niatnya untuk mengunjungi makam suami dan ayah mertuanya.

Ia ditemani Ny.Choi dan mengajak serta Junseo bersamanya.

Tiap kali berada disana, baik Yoona maupun Ny.Choi selalu meneteskan airmata. Menangisi dua gundukan tanah yang bersisian, dimana dua orang tercinta yang lebih dulu pergi meninggalkan mereka dikuburkan. Terlebih kepergiannya dengan cara yang mengenaskan, membuat tangisan itu terasa kian memilukan.

“Yeobo.. Mianhae, sudah lama aku tak mengunjungimu dan appa.. Kau tak marah padaku dan oemma kan? Kau tahu, aku semakin disibukkan dengan butik dan mengurusi Hana dan Junseo, tapi oemma membantuku. Jangan mengkhawatirkan kami.. Aku.. Aku merindukanmu yeobo.. Aku ingin berbicara denganmu. Aku ingin kau mendengarkan keluhanku.. Yeobo..Aku..”

Airmata Yoona kian mengalir deras hingga membuatnya sesaat tak bisa meneruskan kalimatnya. Ny.Choi yang berada disampingnya sedang memangku Junseo, mencoba menenangkannya dengan mengusap punggung Yoona.

“Hana masih bersekolah, dia tak bisa ikut bersamaku.. Kau lihat Jun kan? Dia semakin besar dan sudah bisa berbicara dengan jelas. Kau mau mendengarnya? Jun ah.. Ayo sapa daddy sayang..”

Yoona meraih tangan kecil Junseo, namun putra kecilnya itu menggeliat dalam pangkuan Ny.Choi.

“umma..pulang..umma..halmoni, ayo pulang.. Jun ingin pulang.. Umma..”

Junseo mulai merengek hingga kemudian Ny.Choi menurunkan dari pangkuannya.

“umma..ayo..”

“sebentar sayang.. Jun belum menyapa daddy..”

“pulang..umma, ayo..”

Yoona sudah bisa memastikan akan seperti itu pada akhirnya. Junseo memang tak pernah betah berlama-lama tiap kali Ia membawanya kearea pemakaman itu.

Dulu disaat Junseo belum bisa berbicara, putra kecilnya itu selalu menangis. Tangannya menggapai-gapai meminta pergi darisana. Dan kali ini, setelah bisa berbicara cukup lancar, Junseo bisa menyuarakan ketidaknyamanan nya berada disana.

“Yoona ya.. Ayo sayang, kasihan dengan Junseo..”

“ne oemma..”

***

Sekitar seminggu setelah penandatanganan kerjasama yang terjalin antara perusahaan yang dipimpinnya dengan Changmin, Siwon bersiap untuk kembali ke Korea.
Tak pernah terpikir olehnya, akan secepat itu ia kembali kesana.

Meski saat ini, kekecewaan dan perasaan terluka yang sempat dirasakannya atas pengakuan Yoona yang mengatakan memandangnya sebagai sosok orang lain, sudah tak lagi sebesar sebelumnya.

Siwon sudah berpikir untuk memaklumi sikap Yoona. Terasa wajar memang jika Yoona memandangnya seperti itu. Apalagi Siwon juga telah mengetahui sendiri pria itu memanglah serupa dengan dirinya.

Siwon justru berbalik menilai dirinya lah yang terlalu kekanakan dengan sikapnya, yang langsung pergi hanya karna sakit hati, tanpa memikirkan perasaan Yoona yang mungkin juga merasakan kekecewaan karna sikapnya.

Tersenyum saat mengambil ponsel dari saku celananya, Siwon lantas menekan kontak untuk melakukan panggilan..
Tiga kali mendengar nada tunggu, panggilannya kemudian terjawab..

“Hallo..”

“Hana ya..”

“Oh.. Daddy! Ini daddy kan? Daddy!!”

Siwon tak bisa menyembunyikan kegembiraan diwajahnya, saat mendengar teriakan histeris dari Hana.

Oh..
Betapa ia tersadar akan kerinduannya pada gadis kecil itu.

“Ya.. Daddy akan datang sayang”

Hana berteriak gembira sambil melompat-lompat diatas tempat tidurnya, dengan ponsel miliknya yang masih tertempel di telinganya.

“Daddy! Daddy benar-benar akan datang? Daddy akan pulang.. Daddy tidak bohong pada Hana kan?”

“Tidak, sayang..tentu saja aku tidak membohongimu.. Aku sudah berada di bandara dan Kau hanya perlu menungguku beberapa waktu..”

“benarkah begitu, daddy?”

“hm..”

“Bisakah Hana memberitahu mommy jika daddy akan datang?”
“Ah, Jangan!”

Hana mengerutkan dahi mendengar respon cepat dari Siwon yang melarangnya memberitahukan hal itu pada sang mommy.

“Hana tidak boleh memberitahu mommy? Tapi kenapa?”

“Ya.. Jangan beritahu mommy mu sayang. hmm.. Biarkan ini jadi rahasia kita berdua dan kejutan untuk mommy mu..”

Hana terkikik mendengar Siwon yang mengatakan kedatangannya itu sebagai sebuah kejutan untuk mommy nya.

Oh..
Apakah mommy dan daddy nya akan berbaikan?

Ya.. Semoga saja..

“Okey dad.. Hana akan tutup mulut”

“anak pintar.. Baiklah sayang, kurasa aku harus segera naik ke pesawat. Sampai jumpa..”

“Sampai jumpa dad.. I miss you..”

“miss you too dear, bye..”

Siwon tersenyum dan memasukkan lagi ponsel kedalam saku celananya.

Alasan mengapa yang pertama ia hubungi adalah gadis kecil itu, Hana adalah karena ia merasakan perasaan bersalah saat malam itu dirinya sama sekali tak menghiraukan jeritan dan tangisan hana yang tidak menginginkan dirinya untuk pergi.

Siwon menyesalkan sikap nya yang pergi tanpa memberikan kata perpisahan terlebih dulu pada gadis kecil itu.

Hana pastilah tak tahu apa-apa. Dia masih terlalu kecil untuk terlibat dalam pemikiran yang rumit. Gadis kecil itu pasti juga merasakan kebingungan dengan kehadiran nya yang tiba-tiba, yang dalam pandangan Hana, dirinya adalah sosok ‘daddy’ yang telah pergi namun kembali tapi bersikap tak sama pada dirinya.

Oh..
Betapa malangnya gadis kecil itu.

***

“Hana ya.. Waeyo? Kenapa kau berteriak-teriak sayang? Dan siapa yang berbicara denganmu?”

Hana langsung menghentikan lompatan-lompatan kecil yang dilakukannya diatas tempat tidur, kemudian duduk dan memberikan senyum pada Yoona yang mulai melangkah masuk kedalam kamarnya.

“Hai mom..”

“kenapa belum tidur?”

Yoona memandang kesekeliling kamar Hana. Ia mengarahkan perhatian pada jendela kamar yang masih terbuka.
Mendekat, Yoona menutup kemudian menarik hordeng darisana.

“Siapa yang tadi berbicara denganmu, sayang?”

“hmm.. Tidak ada, Hana tidak berbicara dengan siapapun..”

“Tapi kau menjerit-jerit tadi.. Wae?”

“Hana hanya merasa senang mom..”

“senang? Untuk..?”

“emm.. Hana tidak bisa memberitahu mommy..”

Oh..

Yoona mendekati Hana dengan duduk diatas tempat tidur, disampingnya.

“kenapa mommy tidak diberitahu?”

“Karna ini sebuah kejutan mom..”

“Kejutan!”

“ehem..”

“Tidak akan memberitahu mommy? Oh, ayolah sayang.. apa yang kau sembunyikan dari mommy..”

Tangan Yoona mulai bergerak, ia menggelitik tubuh Hana, hingga membuat putrinya menjerit dalam tawa.

“mommy..mommy.. Hentikan mom!”

Hana makin tertawa geli, sang mommy tak juga menjauhkan tangan dari atas perut juga seputaran pinggangnya, dan terus menggelitikinya, hingga kemudian keduanya tergelak dalam tawa bersama.

“Mom.. Hana sayang mommy..”

“mommy juga, sayang.. sekarang tidurlah..”

Yoona membelai rambut Hana dan memasangkan selimut untuknya. Seringkali putri kecilnya telah membuatnya tersentuh hanya dengan kata-kata sederhana yang diucapkannya. Seperti yang saat ini ia rasakan. Ucapan sayang dari Hana yang tulus, membuatnya menyadari betapa ia masih diperlukan untuk tegar demi menemani buah hatinya.

Sementara Yoona masih diam memandangi Hana, gadis kecil itu nampaknya sudah tertidur bila dilihat dari hembusan napasnya yang teratur.

Hana memang menginginkan untuk cepat tertidur, agar malam itu tak terasa berlalu. Dan keesokan harinya, ketika pagi datang ia akan menyambut dan memeluk daddy nya yang akan datang untuknya.

***

Sekitar tengah malam saat Siwon tiba dibandara bersama beberapa orang pengawal juga seorang asisten yang ikut serta dengannya, seorang supir telah menunggu untuk menjemputnya.

Mereka kemudian diantar kesebuah tempat tinggal yang sudah disiapkan oleh Changmin. Siwon memang sudah memikirkan tak akan tinggal diapartemen bersama Fanny, setelah Fanny melakukan apa yang ia katakan untuk tinggal bersama dengan seorang asistennya.

Beruntung kedatangannya telah diberitahukan sebelumnya, dan Changmin melakukan gerak cepat dengan mempersiapkan segala apa yang dibutuhkan dirinya selama berada disana.

Dan pagi ini, setelah merasa cukup beristirahat semalam, Siwon memanfaatkan waktu paginya untuk menemui Hana.

Ia sudah mempersiapkan sebelumnya dengan membawa sebuah boneka dan satu mainan berbentuk robot yang akan ia berikan pada Hana dan Junseo.

Tersenyum melihat apa yang berada ditangannya, ia lantas menekan bel pada pagar rumah itu.

“Daddy.. Daddy!!”

Yoona dibuat terkejut saat mendengar bel rumah berbunyi, Hana langsung berlari meninggalkan meja makan serta sarapannya.

“Daddy..!”

Hana memang benar-benar terlihat bersemangat. Dia berlari keluar rumah, kearah halaman depan kemudian menuju pagar rumah nya. Ia sendiri yang kemudian membuka pagar rumahnya mendahului seorang pelayan yang biasa melakukannya.

“Daddy..!”

Hana sungguh-sungguh berbinar, melihat Siwon yang berdiri dihadapannya. Saat itu juga ia langsung menghambur dalam pelukan Siwon.

“I miss you dad..”

“Oh, aku juga merindukanmu sayang..”

Di samping mobil yang tadi membawa Siwon, seorang asistennya berdiri disana. Tampak terkejut dengan panggilan ‘daddy’ yang diucapkan oleh Hana.

“Sir..”

“tunggulah, aku akan masuk sebentar..”

“Ayo dad..!”

Hana langsung menarik Siwon agar mengikutinya.

“Oh, ini untukmu sayang..”

Siwon memberikan sebuah boneka yang tadi dibawanya. Hana menerima dan jelas-jelas senang. Daddy nya telah kembali, sama seperti dulu yang sering membawakan hadiah-hadiah untuknya.

“dan untuk Junseo..”

“Wah.. Jun pasti juga senang. Terimakasih daddy..”

Siwon tersenyum kemudian merunduk untuk menerima sebuah ciuman yang diberikan Hana dipipinya.

Siwon bisa melihat kebahagiaan yang berbinar dimata gadis kecil itu.

Apakah ia salah bila kemudian Hana menghidupkan sosok ‘daddy’ nya yang sebenarnya kedalam dirinya?

Ah..
Semoga saja tidak.

Ia tak bermaksud memberi harapan pada gadis kecil itu.
Ia hanya berusaha mengerti dan menyelami perasaannya dan mencoba menyenangkan hatinya.

“Hana ya.. Apa yang kau…”

Yoona sontak menghentikan langkahnya diambang pintu rumahnya. Ia ingin menanyakan pada Hana ‘Apa yang dilakukan nya hingga berlari dan meninggalkan sarapan nya’. Namun sepertinya ia tak perlu menanyakan hal itu. Apa yang saat ini dilihatnya telah menjawab semua itu.

Putrinya sedang menggandeng tangan Siwon.
Pria itu..
Sedang apa dia?
Mengapa kemudian berada dirumahnya?

Mendadak Yoona merasakan gemuruh dalam dadanya. Jantungnya berdebar hebat ketika melihat senyum pria itu tertuju padanya.

Oh Tuhan..
Apa yang terjadi..

“Mommy.. Lihatlah, daddy membawakan ini untuk Hana dan juga Junseo..emm, Hana akan memperlihatkannya pada jun..”

“Hana ya..”

Hana sudah akan berlari kedalam saat Yoona menghentikannya.

“Ya.. mom?”

“adikmu sedang makan, simpan dulu mainan itu..”

“Oh.. Okey!”

Siwon kembali tersenyum melihat Hana bersenandung ceria dengan boneka ditangannya dan kemudian masuk meninggalkannya berdiri diambang pintu bersama Yoona.

“Hai..”

Ada perasaan kikuk ketika Siwon mencoba menyapanya.

“Aku datang untuk menemui Hana.. dan ada pekerjaan yang akan aku kerjakan disini..”

Siwon menjelaskan meski pada saai itu Yoona tak menanyakan apapun padanya.

“Kau marah padaku karna kejadian malam itu? Maaf aku tak bermaksud untuk..”

“Yoona ya, bawa dia masuk sayang.. Ini masih pagi, terlalu dingin untuk berbicara diluar..”

Suara Ny.Choi menghentikan ucapan Siwon. Hana pastilah telah memberitahukan kehadiran Siwon disana.

“Oemma menyuruhmu masuk.. Masuklah..”

Yoona berjalan lebih dulu sementara Siwon mengikuti dibelakangnya. Memperhatikan Yoona yang sudah terlihat rapi, terlihat cantik dengan wangi parfum yang disukainya.

Sejak pertama kali mencium wangi parfum itu, didalam kamar mandi rumah sakit tempo hari, Siwon menjadi hapal dan menyukai keharumannya.

“Selamat pagi bibi..”

Ny.Choi yang tidak terlihat terlalu terkejut, menandakan jika Hana memang sudah terlebih dulu memberitahunya.

“Selamat pagi, Oh ayolah..ikut sarapan bersama kami..”

Ny.Choi menawarkan dengan mengambilkan semangkuk nasi dan sup untuknya.

“Tidak perlu bibi, saya sudah..”

“tidak usah menolak, ayolah..”

Siwon kemudian menarik salah satu kursi dan duduk diatasnya.

“dimana Junseo, oemma..?”

“Hana membawanya naik kekamar, menunjukkan mainan yang dibawanya..”

“Oh, aku sudah mengatakan untuk membiarkan Junseo makan terlebih dulu. Aku akan memanggil mereka…”

“sudah, duduklah dan habiskan sarapanmu Yoona.. Jun sudah menghabiskan makanannya..”

Yoona nampak heran dengan sikap yang ditunjukkan ibu mertuanya. Ia tak se-emosional seperti sebelumnya ketika berhadapan dengan kehadiran Siwon disana.

Apa yang membuatnya seperti itu?
Apakah pada akhirnya ibu mertuanya bisa menerima kenyataan jika pria itu bukanlah putranya?
Ataukah karna hal yang lain?
Apa Changmin yang telah mengatakan sesuatu hingga kemudian mengubah pandangannya?

Yoona masih memikirkan kemungkinan itu ketika kemudian pandangannya bertemu dengan tatapan Siwon.

Apakah pria itu sedang memandanginya?

Mendadak debaran itu kembali dirasakannya..

“ehm.. ini enak sekali bibi..”

ucap Siwon yang mencoba mengalihkan dari ke-kikuk-an nya karna telah tertangkap basah saat sedang memandangi Yoona.
“maka habiskanlah, aku akan senang bila kau melakukannya..”

Sebelum kembali menyuapkan makanannya, mendadak Siwon terpikir akan sesuatu.

Mengapa ia bisa begitu serupa dengan pria dalam foto itu?

Pria itu meninggal dalam kecelakaan?
Dan dirinya juga mengalami kecelakaan sebelum akhirnya menderita amnesia.

Apakah..
Apakah mungkin mereka orang yang sama?

Ya Tuhan..
Mengapa ia baru menemukan Pemikiran semacam itu..

Siwon terkesiap dengan pemikiran yang sekelebat muncul dikepalanya.
Ia mengurungkan untuk kembali menyuapkan makanannya dan beralih untuk melontarkan pertanyaan pada Yoona..

“bolehkah aku tahu, kapan pria itu.. Maksudku, suamimu pergi?”

Yoona yang tadinya menunduk langsung mendongakkan wajah, menatap Siwon sesaat dan kemudian beralih pada Ny.Choi. Keduanya sama-sama mengernyit dengan pertanyaan yang diajukan oleh Siwon..

“maaf, aku hanya ingin tahu..mungkin saja.. emm, tapi ya sudahlah tidak perlu dijawab jika itu hanya akan…”

“sekitar dua tahun yang lalu putra ku itu pergi nak..”

Ny.Choi yang pada akhirnya menjawab dengan mata menerawang kejadian memilukan yang menimpa keluarganya saat itu..

“bagaimana bisa dia.. Kudengar dia mengalami kecelakaan.. Benarkah begitu? Bagaimana kejadiannya?”

mendadak Siwon menjadi tak bisa menahan diri. Pikirannya berkecamuk hanya dengan satu kemungkinan bahwa bisa saja dirinya adalah pria itu.

Oh..
Apakah itu mungkin?

Ya selalu ada kemungkinan..

Tapi masalahnya adalah amnesia yang dideritanya menyulitkannya untuk mengingat siapa dan bagaimana dirinya pada kehidupannya yang sebelumnya.

“kejadiaannya di Jepang.. Putraku..”

“Oemma..”

Yoona menggeleng, tampak keberatan bila Ny.Choi menceritakan kejadian tragis itu pada Siwon.

Yoona tak ingin diingatkan. Ia juga tak mau bila dipaksa untuk mengingat lagi kejadian itu.
Ia tak mau dengan itu akan membawanya terlarut lagi kedalam kesedihan.

“Maaf, tapi aku tak ingin peristiwa itu kembali diingat..”

“Oh, aku mengerti Yoona..maafkan aku..”

Siwon mendorong kebelakang kursi yang didudukinya sebelum akhirnya berdiri dan benar-benar menyudahi sarapan paginya disana.

“Terimakasih bibi, saya menyukai makanannya.. Saya harus pergi sekarang..”

“Oh, kau sudah akan pergi? aku tak keberatan jika kau mau makan lagi disini. Kau tahu.. Kau dan putraku, kalian.. Kau mengingatkanku padanya..”

“saya mengerti dan tidak keberatan jika bibi..”

“Oh Tuhan.. Siwon, putraku..”

baik Yoona maupun Siwon sendiri menjadi terkejut ketika Ny.Choi tiba-tiba menghambur memeluk nya. Airmatanya mengalir, Yoona menjadi tahu sedari tadi mungkin ibu mertuanya tak benar-benar bersikap tenang. Ia menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.

“maafkan aku nak.. Aku benar-benar kehilangannya. Aku merindukan putraku..”

Tangan Siwon perlahan membalas pelukan Ny.Choi. Rasanya nyaman dan sangat menenangkan. Perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

“Tidak apa-apa bibi.. Tidak apa-apa..”

Meski berat dan tak ingin melepaskan pelukannya pada Siwon, namun Ny.Choi berusaha menahan diri dan melepaskan pelukannya. Siwon tersenyum kearahnya, mengucap trimakasih padanya dan juga Yoona dan kemudian melangkah untuk mencapai pintu depan.

Belum lagi ia dapat mencapainya, suara nyaring dari Hana menghentikannya.

“Daddy.. Daddy!”

gadis kecil itu terlihat sudah mengganti pakaian menggunakan seragam sekolahnya.

Dengan berlari kecil, Hana menuruni tangga dan lantas menghampiri Siwon.

“Daddy mau kemana? Apa daddy akan pergi lagi?”

“hmm.. Masih ada pekerjaan, sayang..”

“daddy..daddy akan pulang kesini lagi kan?”

“euh..tidak, tidak bisa begitu Hana ya..”

“kenapa tidak bisa? Ini rumah daddy..ini rumah kita dad..”

“sayang..tapi aku bukan..”

“Tidak.. Hana tidak mau mendengarnya. Jadi daddy jangan pernah mengatakannya..”
Hana yang memasang wajah cemberutnya justru membuat Siwon gemas dan mencubiti kedua pipinya.

“Oh.. Baiklah Kalau begitu. Jadi dimana Junseo? Aku belum melihatnya..”

“Jun menyukai mainannya.. Dia tak mau meninggalkannya..”

“Ah, aku benar-benar ingin melihatnya. Tapi aku harus pergi sayang..”

“nanti daddy akan pulang kan?”

“hmm..”

Dari sudut matanya, Siwon bisa melihat Yoona sedang memperhatikan ketika ia berbicara dengan Hana.

“sebaiknya kau tanyakan itu pada mommy mu sayang.. Aku harus pergi, Okey..!”

Siwon memberikan kecupan dipipi Hana dan lantas meninggalkannya. Ia tersenyum saat mendengar Hana yang langsung mencari Yoona..

“mommy.. biarkan daddy pulang kesini, Ok?!”

gadis kecil itu juga pasti akan menanyakan apa yang tadi dikatakan oleh nya..

***

Sepanjang perjalanan menuju tempat pertemuannya dengan Changmin, Siwon masih sibuk dengan pemikirannya. Ia juga sempat menanyakan beberapa pertanyaan pada seorang asisten yang diketahuinya telah lama bekerja untuk Tn.Hwang..

“apa kau tahu mengapa aboji kemudian pindah ke San Fransisco?”

“euh.. saya tidak tahu alasan pastinya, Sir..”

“lalu apa kau mengenal siapa orangtua ku? Aboji bilang dia adalah temannya..”

“Tidak, saya tidak tahu..”

Siwon kembali berpikir..
Dua tahun lalu ia terbangun dan yang berada disekitarnya adalah Tn.Hwang, Fanny dan juga Nickhun.
Ia mengetahui nama dan asal-usulnya dari pria yang kini dipanggil aboji olehnya.

Tapi anehnya, Ia selalu merasa ada yang ditutup-tutupi ketika ia ingin tahu bagaimana masalalu nya.

Maka dari itu ia bertekad mencari tahu sendiri siapa dirinya, dengan mencoba menemukan kepingan-kepingan memorinya yang hilang..

“aku pasti bisa mengingatnya..”

***

Sampai pada pembicaraan proyek yang dilakukan Siwon dikantor Changmin, Keduanya tampak serius dengan susunan perencanaan yang mereka buat.
Siwon dibantu sang asisten dan Changmin dengan beberapa orang yang bergerak langsung dilapangan.
Hampir tiga jam lebih waktu yang mereka habiskan untuk pembicaraan itu.
Hingga di jam makan siang, Changmin menjamu mereka disebuah resto yang bertempat tak jauh dari kantornya.

“Kau merencanakan proyek ini dengan matang Changmin ssi..”

Puji Siwon ditengah santap siang mereka.

“Aku memang sudah sejak lama merencanakannya. Hanya saja tak menemukan partner yang cocok.. Senang akhirnya bertemu denganmu dan proyek ini akan segera terealisasi..”

Siwon tersenyum menanggapinya, menyudahi makannya saat ia mulai menyesap minumannya.

Siwon terus memperhatikan Changmin, dan pikirannya kembali terputar.

Pria itu adalah saudara bagi Yoona. Dia suami dari adik perempuan suami Yoona, pria yang serupa dengan dirinya.
Maka pastilah Changmin mengenal suami Yoona dengan baik.

Oh..
Jika seperti itu mungkin ia bisa mencoba menanyakan sesuatu padanya. Setelah tadi tak berhasil mendapatkan banyak dari bibi yang memeluknya lantaran larangan dari Yoona untuk tak menceritakan kejadian itu padanya.

Ya Tuhan..
Entah mengapa hari itu ia sangat menginginkan untuk mengetahui banyak hal..

Sudah cukup lama rasanya ia tersesat lantaran jati diri yang masih tak sepenuhnya ia ketahui..

“Changmin ssi..”

“Ya..”

“bisakah aku menanyakan sesuatu padamu?”

“Oh, tentu saja.. Apapun mengenai proyek itu kau bisa menanyakan langsung padaku”

“Tapi ini bukan menyangkut proyek yang tadi kita bahas..”

Oh..

Changmin merapikan kemejanya dan lantas ikut menyudahi makan siangnya, mengambil segelas air kemudian meminumnya. Ia juga kemudian memberi perhatian lebih pada apa yang ditanyakan Siwon padanya.

“Jadi apa yang ingin kau tanyakan padaku, Harry ssi..?”

Menyadari ada orang lain disekitar mereka, Siwon memelankan suaranya dan hampir terdengar seperti berbisik pada Changmin.

“Ini tentang suami Yoona, pria itu sangat mirip denganku. Bisakah aku tahu tentang dia?”

Changmin tentu saja cukup terkejut dengan pertanyaan dari Siwon. Ia tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan itu dari nya.

Melakukan seperti apa yang Siwon lakukan, Changmin menjawabnya dengan suara tak kalah pelan.

“kita tak bisa membicarakan hal itu disini.. Sebaiknya setelah ini kau ikut keruanganku. Aku bisa mengatakan apa yang ingin kau ketahui..”

Changmin lantas terpikir, menjadi wajar kemudian jika Siwon bertanya hal seperti itu padanya.

Hanya orang bodoh yang kemudian tak mencurigai kemiripan pria itu yang nyaris seratus persen dengan ‘suami’ Yoona. Ditambah fakta bahwa pria itu mengalami amnesia, tentu saja hal itu akan semakin mengulik rasa ingin tahunya.

Beberapa waktu kemudian yang terjadi, Changmin benar-benar membawa Siwon kedalam ruang kantornya. Setelah terlebih dulu meminta Siwon agar mengirim asistennya untuk mengikuti orang-orangnya yang bergerak dilapangan, meninjau lokasi proyek mereka.
Dengan begitu keduanya bisa berbicara cukup leluasa.

“duduklah..”

Pinta Changmin yang kemudian mengarahkan Siwon pada sofa diruang kerjanya.

“Jadi kau ingin tahu tentang pria itu..?”

“Ya.. Aku tak tahu bagaimana kemudian aku bisa terpikir seperti ini. Tapi beberapa hal membuatku mulai memikirkannya..”

“apa beberapa hal itu jika aku boleh tahu?”

“yang pertama tentu kemiripan ku dengannya, dan kecelakaan pria itu hampir sama dengan waktu kecelakaan yang ku alami..sekitar dua tahun yang lalu.. Oh, dan aku sebenarnya menderita amnesia karna kecelakaan itu.. Hingga aku benar-benar mengalami kebutaan tentang jati diriku. Yang ku tahu, aku adalah anak angkat dan seorang kakak bagi Tiffany..”

Changmin menghela napas sebelum menanggapi.

“Aku sudah tahu kau mengalami amnesia..”

“Kau tahu?”

“maafkan aku.. Karna sebenarnya aku telah melakukan penyelidikan dan menemukan beberapa hal tentang dirimu..”

“kau melakukan itu?”

“Semua demi istriku yang sangat kehilangan oppa nya, demi ibu mertuaku yang terus meratapi kepergian putranya, demi Yoona yang masih terus menangisi suaminya, juga demi Hana dan Junseo yang sangat merindukan ayah mereka..”

Siwon nampak terkejut dengan informasi itu, ia mengikuti gerak Changmin kearah meja kerjanya saat kemudian Changmin mengeluarkan beberapa dokumen dari dalamnya dan menunjukkannya pada Siwon.

“ini beberapa foto yang diberikan polisi dari kecelakaan itu..”

Siwon melihat satu persatu foto itu.

Mengerikan..

melihat nyala api yang berkobar dari sebuah mobil yang terbakar.
Mendadak ia merasakan kepalanya berkunang.
Dadanya sesak seakan ia menghirup asap yang mengepul dari api yang menghanguskan mobil itu.

“Siwon juga adalah sahabatku..”

“Siwon..?”

“Nama pria itu.. Kurasa kau juga sudah mengetahuinya..”

“Ya.. Yoona selalu menyebut namanya..”

“Ya Tuhan.. Aku sangat berharap kau adalah Siwon, sahabatku..”

“Tolong bantu aku menemukan ingatanku..”

“Tentu saja kita akan melakukannya.. Ingatanmu adalah kunci nya..”

Changmin tak menyangka akan menjadi terlihat mudah seperti saat ini. Awalnya
Ia sengaja menyiapkan proyek baru demi untuk mendekati Siwon. Namun yang terjadi sebaliknya, Siwon lah yang justru lebih dulu mendekatinya.
Dengan keterbukaan Siwon padanya jelas akan memudahkannya untuk mengorek informasi sedalam-dalam nya dari Siwon secara langsung.

Ia bersyukur untuk itu..

“Jadi untuk membuatmu mengingat lagi, bagaimana kalau kita buka dua kemungkinan dalam dirimu..”

“maksudmu?”

“kita buka kemungkinan jika kau adalah ‘Harry’ atau benar-benar Siwon seperti yang aku harapkan..”

“Oh aku mengerti..”

Changmin mulai mengajukan berbagai pertanyaan yang menghubungkan Siwon dengan identitas nya sebagai Harry.

“bagaimana bisa kau kemudian tinggal di San fransisco?”

“Aku terbangun saat itu dan telah berada disana.. Aku tak tahu bagaimana persisi nya..”

“mereka mengatakan dimana kau dan orangtua sebelumnya tinggal?”

“Tidak.. aboji tidak pernah sedikitpun menyinggung mereka. Dia hanya mengatakan aku anak sahabatnya.. Dan ayahku meninggal dalam kecelakaan yang.. Oh Tuhan.. Ayahku, jika seperti itu maka…”

“ne.. Ayah Siwon meninggal dalam kecelakaan itu. Beliau ada dimobil yang sama bersama Siwon ketika ity..”

Siwon merasakan tubuhnya kian lunglai. Berbagai hal yang baru diketahuinya membuat otaknya mencoba berpikir lebih keras.

“Jadi dia meninggal dalam kecelakaan itu?”

“Ya..dan tubuhnya hampir tak bisa dikenali karna terbakar..”

Siwon bergidik ngeri mendengarnya..

“bagaimana dengan pria itu?”

“Siwon maksudmu?”

“hm..”

“Kondisinya tak jauh beda dengan ayah mertua ku..mengenaskan..”

Siwon merasakan dadanya sesak..
Kepulan asap itu seakan kembali terhirup masuk kedalam paru-paru nya, menyulitkan pernapasan nya.
Ia lantas menekan dadanya..

“kau tidak apa-apa?”

“euh..”

Sekelebat bayangan muncul seperti hujan yang mengguyur..
Hantaman keras..
Ban yang berdecit..
Dan mobil yang terbakar..

“Kau terlihat pucat Harry ssi..”

“Tidak.. Aku tidak apa-apa..”

Siwon terengah, dengan rasa pening mulai menggelayuti kepalanya.

“sebaiknya kita hentikan ini.. Aku takut akan terjadi sesuatu yang buruk saat kau memaksakan ingatanmu..”

“tapi aku harus mengingatnya Changmin ssi.. Aku harus..”

“kita masih punya banyak waktu.. Jangan memaksakan dirimu..”

Changmin mengambil segelas air dan memberikannya pada Siwon.

“Jika kau mendapatkan kepingan ingatanmu kau bisa memberitahu ku..”

“Baiklah..”

Siwon kemudian berdiri untuk berpamitan, sebelum pergi Changmin sempat menepuk pundaknya dan mengatakan sesuatu padanya..

“Yakinlah kau akan menemukan ingatanmu kembali..”

“terimakasih untuk bantuanmu..”

“Oh, mungkin sebaiknya kau sedikit demi sedikit menanyakan pada ayah atau adikmu, atau orang-orang yang mengenalmu sebagai ‘Harry’ tentang kehidupan masalalu mu.. Dan aku akan berusaha menunjukkan bagaimana sosok Siwon padamu.. Well, Aku tahu ini akan memusingkan untukmu..”

“Tidak masalah untukku.. Aku akan mencobanya..”

***

Yoona merapikan satu gaun yang terpajang pada sebuah manekin diruang kerjanya. Menusukkan beberapa jarum untuk mengepas pada bagian-bagian yang kurang sesuai dengan ukurannya.

“sudah jam enam.. Kau tak berencana lembur kan?”

Yuri melongok keruang kerjanya, dan Yoona menoleh tersenyum menanggapinya.

“Tidak.. Hana bisa mengamuk jika aku pulang larut..”

“Oh, baiklah.. Aku duluan. Yunho oppa sudah menjemputku. Kami ada janji dengan dokter..”

“Kau sakit?”

“Tidak..emm, tapi.. Aku sudah telat dua minggu..”

“jadi..Apa aku akan dapat kabar gembira dari kalian?”

“kuharap begitu..”

“Oh my.. Biarkan aku memelukmu..”

“itu belum pasti Yoong..”

“Kau hanya perlu memastikannya sayang.. Pergilah dan beritahu aku kabar baiknya..”

Setelah Yuri meninggalkannya, Yoona tak lagi meneruskan pekerjaannya. Ia mengambil tas tangannya kemudian keluar dari ruang kerjanya dan turun kelantai bawah butiknya.

Ketika melangkah ditengah anak tangga, ia melihat seorang memasuki butiknya.

Oh..

“annyeong Yoona ssi..”

Tiffany, seperti biasa menunjukkan senyum nya yang mempesona dihadapan Yoona.

“Oh, Tiffany..”

Yoona mempercepat langkah untuk menghampirinya.

“Kau sudah akan pulang?”

“ne..”

“Ah, apa aku datang terlalu telat..”

“kami biasa tutup di jam enam sore..”

“Otthokae.. Tapi aku membutuhkan bantuanmu..”

“wae?”

“Aku ada jamuan makan malam menemani Harry oppa, aku perlu sebuah gaun darimu..”

Yoona kemudian melihat Siwon melangkah memasuki butiknya.

“Kau mendapatkannya?”

“Oppa.. Tapi Yoona…”

“Aku akan mencarikannya untukmu..”

Fanny tersenyum mengikuti Yoona memilih gaun yang berada dibutik untuknya.

Namun kemudian
Ia berkali mendecak merasa tak menyukai semua yang dipilihkan Yoona untuknya.

“bagaimana dengan yang ini?”

Fanny menggeleng..

“ini?”

“aku tak menyukai warnanya..”

Yoona mengernyit..

“Cepat Fanny ah..!”

“sebentar oppa..”

“berapa lama lagi?”

Siwon mulai kesal..

“Ishh.. aku tak tahu. Aku belum menemukan gaun yang cocok.. Oh, bagaimana jika Kau meminta Yoona saja yang menemanimu..”

Apa..?

*

*

*

*

*

*

*

*

To Be Continued~

@joongly

164 thoughts on “YOU’re My Destiny [6]

  1. sungguh mengharukan d awal2, kasian hana..tp pas bca selanjutx jd senyum2 sendiri….mdh2an ini awal yg baik u/ yoonwon….

  2. Di chap ini, Changmin yang berperan sebagai penolong Yoonwon couple ….
    Hana, Jun Seo, tenang saja … orang tua kalian pasti akan bersatu lagi. Tinggal tunggu waktunya saja.
    Oh kenapa makin kesini aku jadi suka gayanya Tiffany ya ? Cara bantu bersatunya Yoonwon itu unik. Keren …
    Aku benar-benar berharap ini merupakan awal yang baik buat Yoonwon …
    Penasaran saya sudah memuncak.
    Cuz to next chap …

  3. Siwon mulai penasaran sma masa lalunya…
    Tiffany benar2 berniat buat jodohin harry sama yoona…
    gmna nanti klo siwon sembuh dri amnesianya apa dia msih akan tetap menyayangi fanny secara fanny penyebab kecelakaannya…

  4. Hana nyalahin Y00na krna nyebapin Siw0n prgi & Y00na jg ngerasa brsalah ke Harry krna nganggap dia adalah Siw0n,. Syukurlah Siw0n akhir.a bisa maklumin sikap.a Y00na.,
    Harry mulai nyari jati diri.a dgn berusaha tanya ke Changmin, kemajuan nih,,,
    0m00, Tiffany jebak Y00na biar bisa nemenin Siw0n nih, kkk.,^

  5. Akhirnya siwon udh mau nginget masa lalunya
    Semoga changmin bisa membantu siwon untuk mengembalikan ingatannya

  6. Uuuh bagian yang diinget siwon oppa sampe ke pergumulan di ranjang ya, tapi suka poiny dimana siwon oppa merasa kecelakaan yang dialaminya ditutupi,jadi siapa yang menutupinya ya

  7. Daddy mulai penasaran sama cerita masa lalunya
    Dan dgn kedekatan dgn changmin oppa semoga bisa menyadarkan ingatan daddy
    Dan terima kasih sudah semakin mendeatkan daddy dgn mommy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s