Fanfiction

YOU’re My Destiny [5]

Happy Reading~

*

*

*

*

*

*

*

Teriakan meminta tolong yang kemudian diteriakkan oleh Yoona membuat beberapa orang akhirnya mendekat untuk memberinya pertolongan.
Membantunya memindahkan tubuh Siwon yang masih tak sadarkan diri, masuk kedalam mobilnya sebelum akhirnya Yoona sendirilah yang membawanya menuju rumah sakit.

“otthokae.. Ya Tuhan.. Ada apa dengannya? Jika dia memang belum sehat kenapa memaksakan diri keluar.. Pria bodoh..”

Kesal namun juga was-was dalam dirinya yang kini Yoona rasakan. Sambil memacu mobilnya, ia terus melirik ke bagian kursi belakang mobilnya dimana Siwon masih tergeletak disana. Berharap pria itu tersadar, atau setidaknya dia baik-baik saja disana.

Setibanya dirumah sakit, Yoona berlari keluar dari dalam mobilnya untuk kemudian meminta bantuan beberapa suster disana.
Beberapa orang kemudian mengikutinya dengan membawa serta ranjang beroda.
Memindahkan tubuh Siwon keatasnya dan dengan cepat membawanya masuk untuk segera mendapat penanganan dokter yang berjaga.

Sementara Siwon telah dalam penanganan, Yoona menunggunya dengan gelisah.
Dua kali sudah ia melihat pria itu mengerang dalam rasa sakit dan untuk yang kali ini dia sampai tak sadarkan diri.

Ya Tuhan..
Apa sebenarnya yang terjadi?
Benarkah pria itu tengah menderita penyakit serius?
Tumor kah..
Atau kanker..
Atau jenis penyakit mematikan lainnya.

Berbagai pemikirannya itu membuatnya gemetar. Ngeri dengan kemungkinan kebenarannya, ia kemudian merasakan dicekam oleh perasaan takut secara tiba-tiba.

“Anda keluarganya..?”

Yoona terkesiap dari lamunannya saat seorang dokter keluar dari ruang yang digunakan untuk menangani Siwon dan langsung mengajukan pertanyaan padanya.

“nde? Saya yang membawanya kemari.. Bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja kan?”

Yoona tak bisa menyembunyikan kecemasan dari wajahnya saat kemudian sang dokter menarik dan menghembuskan napas nya dengan perlahan.

Ya Tuhan..
Apa yang terjadi?
Seserius itukah penyakitnya?

Yoona menunggu penuh antisipasi untuk apa yang akan sang dokter katakan selanjutnya.

“dokter.. Bagaimana?”

“mari ikut saya..sebaiknya kita bicarakan hal ini diruangan saya..”

Ia bukan walinya, Ia juga bukan salah satu keluarganya, namun entah terdorong oleh rasa apa hingga membuat Yoona kemudian mengikuti pria ber jas putih itu masuk kedalam ruangannya.

“saya sudah melakukan scan dan menyimpulkan..”

seorang suster yang tadi juga mengikuti sang dokter keruangannya membantunya untuk memperlihatkan pada Yoona hasil scan yang telah dilakukan pada Siwon.

“pasien kemungkinan tengah memaksa ingatannya, hingga membuat kerja otaknya terlalu keras. Akibatnya pasien tak bisa menahan rasa sakit yang kemudian ditimbulkan..”

Yoona mengerutkan dahi, nampak tak memahami penjelasan dari sang dokter.

“memaksa ingatannya? Apa maksud anda dengan mengatakan hal itu, dokter?”

Kini justru sang dokter yang mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Yoona.

“bukankah anda keluarganya? Apakah anda tidak mengetahui pasien tengah mengalami amnesia.. Seorang yang mengalami amnesia tidak dianjurkan untuk terlalu memaksakan ingatannya..”

“Amnesia..?”

***

Yoona tercenung, bingung oleh informasi yang baru didengarnya. Ia seperti tengah berada antara alam bawah sadar dan dunia nyatanya.

Duduk terdiam disamping ranjang rumah sakit yang ditempati Siwon, Yoona terus memandangi wajahnya.

Ya Tuhan..
Berbagai pemikiran berkecamuk dikepalanya.
Ada apa?
Apa yang terjadi?
Kenapa pria itu bisa sampai mengalami amnesia?
Dan apakah mungkin..
Apakah mungkin pria itu Siwon?
Siwon nya yang tengah kehilangan memorinya hingga membuatnya lupa dengan jati dirinya.
Lupa akan keberadaan Yoona yang sangat mencintainya.
Lupa akan kehadiran dua buah hati yang mendamba kasih sayangnya.
Lupa akan keluarganya.
Dan melupakan orang-orang yang dikasihinya.

Oh Astaga..
Mungkinkah??

“apa sebenarnya yang terjadi denganmu?”

gumamnya pelan. Yoona kemudian mengulurkan tangannya, sudah akan meraih tangan Siwon ketika terpaksa harus ia tarik kembali saat suara yang dikenalnya tiba-tiba terdengar diiringi langkah kaki yang masuk kedalam ruangan

“Harry oppa.. Ya Tuhan.. Apa yang terjadi?”

Tiffany masuk dan langsung menuju kesisi disamping Siwon, terlihat cemas dan mungkin telah menangis tadi.

Yoona memang yang menghubungi Fanny setelah ia mendengar penjelasan dokter tadi.

“Yoona ssi.. Apa yang terjadi dengan Harry oppa?”

“kejadiaannya terlalu cepat tadi.. Mungkin dia memang belum sepenuhnya pulih dari demamnya kemarin”

Yoona tak menyinggung penjelasan yang didapatnya tadi.

“astaga..oppa?”

Fanny menggenggamkan tangannya terlihat sedih.

“Fanny, maaf.. tapi aku harus pergi ke butik..”

Yoona merasa saat ini yang ia perlukan adalah keluar dari kebingungannya mencerna penjelasan sang dokter yang terekam dimemori nya.

“ne..trimakasih atas bantuanmu, Yoona..”

Dan sesaat setelah Yoona keluar dari ruangan itu, Siwon mengerjap dan akhirnya membuka kedua matanya.

“Oppa.. Kau sudah sadar..”

“Yoona.. Yoona…”

“Oppa..”

“katakan dimana Yoona? Yoona..!”

Siwon terus memberontak ketika Fanny mencoba menenangkannya..

“Oppa..tenanglah, Kumohon tenanglah.. Kau membuatku takut jika seperti ini”

“dimana Yoona, fanny ah? Katakan dimana dia.. Tadi aku bersamanya.. Dan aku.. Aku..”

Siwon kembali merasakan dentaman hebat dikepalanya, ia mengerang keras namun masih kembali melanjutkan ucapannya..

“Aku.. Apakah aku menyakitinya? Apakah dia baik-baik saja? Bayangan itu.. Dia, dia orangnya.. Wanita itu menangis karna aku.. Aku menyakitinya, Fanny..”

“Oppa.. Bayangan apa? Apa maksudmu aku tak mengerti? Dan Yoona.. Dia baik-baik saja. Kau tidak membuatnya terluka.. Tadi dia yang membawamu kemari, dan menghubungiku. Dia juga menjagamu sebelum aku datang..”

“benarkah?”

“Ya..”

“lalu dimana dia sekarang? Kenapa dia tak berada disini..?”

“Yoona baru saja pergi.. Dia harus ke butik, oppa..tenanglah semua baik-baik saja, kecuali kau yang harus terbaring disini..”

Siwon perlahan tenang, namun masih terus terpikirkan dengan bayangan yang samar-samar diingat olehnya.

Ya Tuhan..
Mungkinkah bayangan itu adalah dirinya?
Dirinya yang pernah melakukan perbuatan buruk terhadap seorang wanita?
Dan itu Yoona?
Jika itu benar, berarti Yoona seseorang yang berada dalam masalalu yang terlupakan olehnya.
Lantas apa hubungan antara dirinya dan wanita itu?
Kenapa tak ada sedikitpun petunjuk yang bisa membantunya, kecuali perasaannya yang mengatakan tak asing dengan wanita itu.

“Oppa.. Apa yang kau pikirkan?”

Fanny menyentuh lengan Siwon, menyadarkannya dari lamunan.

“tidak..bukan apa-apa. Apa kau bisa menemui dokter dan berbicara dengannya. Kurasa aku sudah baik dan lebih baik kita pulang saja..”

“Kau mau pulang? Tapi sebaiknya kau dalam perawatan sampai benar-benar pulih, oppa.. Aku tak ingin terjadi lagi hal seperti ini..”

“bicaralah dulu dengan dokter.. Aku takkan memaksa jika memang belum diijinkan..”

“baiklah.. Aku akan menemui dokter yang menanganimu tadi..tunggulah..”

Siwon menatap Fanny yang kemudian keluar dari ruang rawatnya. Ia kembali tertegun dan merasa bingung.

“Apa sesuatu pernah terjadi diantara kita, Im Yoona..?”

***

Yoona merasakan tubuhnya gemetar saat kemudian dirinya keluar dari rumah sakit, mencapai mobil dan masuk kedalamnya.
Ia sampai tiga kali menjatuhkan kunci mobilnya sebelum akhirnya berhasil melajukannya.

Ia bingung.
Luar biasa bingung.

Tak pernah terpikir olehnya jika pria bernama Harry itu adalah seorang yang tengah menderita amnesia yang membuatnya kehilangan ingatannya dimasalalu.

Dan mengapa fakta itu langsung mengarahkannya pada Siwon.
Terpikir jika pria itu adalah Siwon suaminya.
Apa karna pria itu memang serupa dengan Siwon?
Tentulah hal itu yang menjadi alasan utamanya.

Oh Ya Tuhan..
Jika seperti itu kenyataannya, lalu siapa pria yang dikuburkan bersamaan dengan jasad ayah mertuanya?

Segala pemikiran dan kemungkinan yang menyertainya terus berputar didalam pikiran Yoona. Hingga tanpa sadar ia telah mencapai depan butiknya.
Ia turun dan langsung masuk kedalamnya.

“Oh Yoona.. Kau baru datang? Aku hampir menghubungi bibi Choi dan menanyakan keberadaanmu”

Yoona memaksa sudut bibirnya tertarik untuk menanggapi ucapan Jessica padanya.

“aku keatas dulu..”

Ucapnya datar yang kemudian membuat Sica mengerutkan dahi, merasa aneh dengan sikap yang ditunjukkannya. 

Tapi tak ada yang benar-benar dilakukan Yoona didalam ruangannya. Ia hanya sesekali menyentuh kertas berisi coretan desainnya dan lebih banyak melamun setelahnya.

Pikirannya berkecamuk, bercabang sampai kebatas yang hampir tak diketahui olehnya.

Apa yang harus ia lakukan?
Dan apa yang bisa ia lakukan dengan fakta yang baru diketahuinya?

Yoona benar-benar merasa tak bisa memfokuskan pikirannya. Jika bukan karna memikirkan tanggung jawab pada butiknya, dan perasaan tak enak nya pada Yuri maupun Sica yang sudah berkali ia bebankan tanggung jawab pada keduanya, Yoona pastinya sudah akan berlari keluar dari dalam ruanga kerjanya.

Dan sepertinya hari itu benar-benar berlalu dengan sangat lama. Sampai pada akhirnya tiga puluh menit sebelum butik ditutup, ia tak lagi bisa menunggu, Yoona akhirnya keluar dari dalam ruangannya.

Dengan hanya mengatakan pada Sica dan Yuri dirinya perlu pulang lebih cepat, Yoona akhirnya keluar pergi meninggalkan butiknya.

***

“Jadi pasien dikamar itu sudah pulang?”

“iya, Nyonya..”

“Oh.. kapan? Apakah dia sudah pulih?”

“sepertinya begitu..karna dokter telah mengijinkannya pulang..”

Ya..
Pada akhirnya Yoona tidak langsung pulang kerumahnya, melainkan terlebih dulu mengunjungi rumah sakit untuk mengetahui kondisi Siwon saat itu.
Dan informasi dari salah satu suster mengatakan, Siwon telah meninggalkan rumah sakit siang tadi.

Tanpa berpikir apapun lagi, ia kemudian merogoh tas tangannya dan mengambil ponsel dari dalamnya. Menunggu sampai dering ketiga hingga panggilannya kemudian tersambung..

“ehmm.. Harry ssi..”

“Yoona.. Benarkah ini kau yang menghubungiku?”

jawab Siwon antusias..

“Hai.. Ya, ini aku.. Bisakah kita bertemu..?”

Padahal sebelnya Siwon menatap dengan kesal kearah ponselnya yang berkedip dan bergetar menandakan ada panggilan masuk saat itu.
Dengan malas ia kemudian mengulurkan tangannya, mengambil ponsel itu dari atas meja disamping tempat tidur.
Terlonjak ia kemudian dari tidurnya, ketika mendapati nama Yoona disana, menunggunya menjawab panggilannya.

“bertemu?”

Siwon langsung menyingkap selimut dari atas tubuhnya, kemudian berjalan keluar dari kamarnya.

“Kau ingin bertemu denganku?”

“Ya.. Jika kau tak keberatan”

“Tidak.. tentu saja tidak. Aku tidak keberatan.. Jadi dimana kita akan bertemu?”

Fanny yang sedang menonton acara televisi, kini mengalihkan pandangannya kearah Siwon. Memandangnya dengan dahi yang berkerut, heran.

Oh..
Siapakah yang sedang berbicara dengan oppa nya?
Hingga membuatnya terlihat antusias..

“Aku.. Keadaanku.. Aku sudah baik kok..”

Siwon tiba-tiba menghampiri Fanny, menurunkan ponsel yang menempel ditelinganya, untuk kemudian berbisik pada Fanny..

“Yoona menelpon..”

“apa yang dia katakan?”

“dia ingin bertemu denganku..”

“katakan oppa masih sakit..”

“tapi aku sudah membaik..”

“aishh..katakan saja begitu..”

“tapi dia ingin aku bertemu dengannya..”

“suruh saja dia kemari”

“Harry ssi.. Kau mendengarku?”

Siwon lantas kembali menempelkan ponsel ketelinganya dan kembali berbicara dengan Yoona..

“Oh..ne, aku mendengarmu. Tapi Yoona, kurasa aku..”

“wae?”

“aku merasa masih sedikit pusing, bisakah kita bertemu disini saja. Maksudku.. Kau bisa datang kemari, maaf karna aku tak bisa pergi keluar..tubuhku masih terasa lemah”

“Oh.. ke apartemen mu?”

terjadi jeda beberapa waktu, karna sepertinya Yoona tengah berpikir untuk ide mendatangi lagi pria itu diapartemen nya.

“baiklah.. aku akan kesana..”

Siwon sedikit melompat ketika akhirnya Yoona mengiyakan untuk mendatanginya.

“Yes..”

“Yoona akan datang oppa?”

“hmm..”

“untuk apa dia meminta bertemu denganmu?”

“entahlah, yang pasti dia akan datang.. dan aku harus bersiap.”

Fanny menahan lengan Siwon ketika pria itu hendak masuk kembali kedalam kamarnya..

“kenapa?”

“oppa mau bersiap? Untuk apa?”

“tentu saja untuk menyambut kedatangan Yoona..”

“Ishh.. dasar bodoh. Tetaplah seperti ini, bukankah tadi kau mengatakan masih pusing dan lemah, jadi biarkan dirimu terlihat berantakan oppa..”

Fanny kemudian sedikit mengacak rambut Siwon, membuatnya terlihat semakin berantakan.

“Yak.. Hei Tiffany, apa yang kau lakukan? Kau yang menyuruhku untuk mengatakan aku masih sakit. Padahal aku sudah merasa lebih baik..”

“aigoo.. itu namanya taktik oppa, agar Yoona kemari jadi sekalian aku bisa bertemu dengannya, tidak mungkin kan kau membiarkanku mengikutimu keluar..”

Fanny tersenyum senang dan beralih dari sofa yang didudukinya.

“Ya.. ya itu curang namanya. Kau memanfaatkan ku.. tidak..tidak kali ini kau tak bisa bertemu Yoona. Kau harus pergi sebelum Yoona datang.”

“MWO.. Mana bisa seperti itu. Anio.. Aku tidak akan pergi. Berdasarkan pengalaman yang kulihat kau bersikap menjengkelkan didepannya. Jadi aku takkan membiarkanmu melakukannya lagi..”

“yak.. Tiffany..!”

“kembalilah ke kamarmu oppa, berbaringlah disana seperti orang yang sakit, maka jika Yoona nanti melihatmu.. dia akan semakin mengkhawatirkanmu”

“menurutmu dia khawatir padaku?”

“tentu saja.. jika tidak untuk apa dia mau datang kemari. Sementara kau berbaring didalam aku akan mengurusmu dan berperan sebagai adik yang baik untukmu..”

Fanny mengedikkan mata memberi isarat ia punya rencana untuk itu.

“aishh..seharusnya aku tahu, kau hanya ingin memberi kesan baik pada Yoona”

“itu memang yang akan kulakukan..”

***

Yoona hanya bisa menggigit bibir bawahnya, terbengong dengan apa yang baru saja dilakukakannya.

Astaga..
Apa yang tadi berada diotaknya?
Berpikir apa dirinya?
Mengapa ia kemudian langsung menelpon pria itu dan meminta bertemu dengannya?
Dan sekarang ia justru terjebak dalam kata ‘ia akan datang’ yang sudah dirinya katakan pada pria itu.
Oh Tuhan..
Apa yang kemudian akan ia katakan ketika bertemu pria itu?

“Aishh.. Bodoh..”

Umpatnya pada diri sendiri kemudian melajukan mobilnya. Mau bagaimana lagi, ia sudah terlanjur mengiyakan. Maka yang sekarang akan dilakukan adalah mendatangi pria itu diapartemennya.

Ya Tuhan ku..
Tetaplah bersamaku..

Dalam perjalananya menuju apartemen Yuri, yang kini ditempati Siwon dan Fanny, Yoona terlebih dulu membelokkan mobilnya dan berhenti disebuah toko buah.

Membeli beberapa buah segar yang nantinya akan ia bawa dan berikan kepada Siwon.

“agassi..ada yang bisa saya bantu?”

“ne..bisakah pilihkan buah segar untukku..”

“Oh, tentu.. Apa saja yang agassi inginkan?”

Mendengar pertanyaan sang penjaga toko, membuat Yoona tiba-tiba terbersit untuk..

Tidak ada salahnya memberi pria itu apa yang dulu disukai oleh Siwon suaminya.
Dan apakah pria itu juga akan menyukainya sama halnya dengan Siwon?

Ia akan melihatnya nanti…

Selesai berbelanja di toko buah dan telah sampai di area parkir gedung apartemen, Yoona masih sempat berdiam diri lama didalam mobilnya. Memikirkan apa yang akan dikatakannya saat bertemu dengan Siwon nanti. Namun semakin lama ia memikirkannya, Yoona justru semakin bingung. Hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari dalam mobilnya dan melangkah menuju apartemen yang kini ditempati oleh Siwon.

Berdiri didepan pintu, Yoona lantas menekan bel. Meski ia bisa langsung masuk mengingat ia tahu kode akses untuk membuat pintu dihadapannya terbuka.

Tapi akan menjadi tidak sopan bukan bila ia melakukannya..

“annyeonghaseyo..”

“Oh annyeong.. Yoona ssi, apa yang kau lakukan disini?”

Fanny memasang wajah yang seolah terkejut, meski ia sudah tahu Yoona akan datang saat itu. Dan ia juga sudah sangat menunggunya..

“eh.. Aku, aku merasa perlu mengunjungi Harry. Aku kerumah sakit dan mendapati dia sudah tak berada disana. Apakah dia sudah benar-benar pulih?”

“ah, masuklah..”

Fanny membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan Yoona masuk kedalamnya.

“begitulah, Harry oppa memang keras kepala, Dia masih lemah tapi memaksaku berbicara dengan dokter agar memperbolehkannya pulang..”

“Oh, ini.. aku membelinya diperjalanan tadi. Semoga Harry menyukainya”

Yoona menyerahkan keranjang buah yang dibawanya ketangan Fanny.

“Terimakasih, tapi kau harusnya tak perlu repot seperti ini..”

“Tidak apa-apa”

“duduklah..”

“dimana Harry?”

Fanny sudah akan beranjak untuk meletakkan keranjang buah ditangannya, ketika Yoona menanyakan hal itu dan membuatnya langsung tersenyum simpul.

“Oppa sedang beristirahat dikamarnya. Kau ingin melihatnya?”

“apa tidak akan mengganggunya?”

“kurasa tidak.. ayo kutemani..”

Yoona lantas mengikuti langkah Fanny masuk kedalam kamar Siwon.

Pria itu tengah meringkuk ditempat tidur.
Berpura-pura meringkuk tepatnya. Karna sedari tadi mendengar suara Yoona diluar kamarnya sudah sangat ingin membuatnya melompat dari atas tempat tidur untuk kemudian menyapanya.

“Oppa, Harry oppa.. Yoona datang menjengukmu”

Fanny berpura-pura mengguncang tubuh Siwon, meski ia sangat yakin oppa nya masih kesal dengan ide meringkuk yang datang dari dirinya.

“eoh, kau sudah datang?”

“ne..”

Siwon lantas mengubah posisi tubuhnya, yang kini menjadi bersandar pada kepala ranjang.

“Yoona juga membawakan buah ini untukmu..”

ucap Fanny yang lantas meletakkan keranjang buah ditangannya keatas meja di samping tempat tidur.

“Aku ingin memakan itu, sekarang..”

Oh astaga..
Tak bisakah dia bersabar.

Fanny mendecak kesal dalam hati, kemudian memelototi Siwon.

“oppa aku sudah membuatkan bubur untukmu.. bukankah kau menginginkannya tadi..”

“bubur? Tidak, kapan aku mengatakan menginginkan bubur? Tidak..aku tidak menginginkannya. Aku ingin buah itu, yang dibawakan Yoona untukku..”

Fanny hanya tersenyum masam, meski ia sangat ingin mengacak rambut Siwon kemudian menariknya kuat-kuat.

Ia telah memesan bubur dan beberapa makanan lain tadi, tinggal menghangatkan dan membuat itu terlihat seperti ia yang memasaknya. Dengan begitu Yoona pastilah menilainya sebagai seorang adik yang baik, yang bersungguh-sungguh mengurusi oppanya.

Ck!
Tapi karna ulah oppa nya yang menyebalkan itu, gagal sudah rencananya untuk mendapatkan simpati dari Yoona.

“aku akan mengupasnya untukmu..”

Yoona sudah akan beranjak ketika kemudian Siwon menahannya.

“biar Fanny yang mengambil pisau untukmu.. Fanny ah, kau bisa membantunya kan?”

“Oh, tentu..”

Fanny keluar dari kamar Siwon dan kembali dengan sebuah pisau buah dan piring ditangannya yang kemudian ia serahkan pada Yoona.

“jadi, apa yang kau sukai?”

Yoona mulai bertanya ketika ia kemudian membuka plastik pembungkus keranjang buahnya.

“aku suka semuanya..”

Fanny mencibir mendengar jawaban yang diberikan Siwon.

“semuanya?”

“Ya..”

“Tidak ada yang khusus?”

“Tidak, aku bukan orang yang pemilih. Aku suka semua itu yang kau bawa untukku..”

Fanny yang masih betah menunggui keduanya kembali mencibir melihatnya. Namun kali ini ia tak bisa menahan diri untuk tidak menimpali..

“bukankah oppa hanya menyukai apel..”

Oh..
Itu berbeda dengan Siwon.

Siwon memelototi Fanny atas kelancangan ucapannya.

“kau tak suka jeruk?”

tanya Yoona yang kemudian meletakkan sebuah jeruk ditangannya kembali kedalam keranjang.

“aku suka, hanya saja aku tak suka mengupasnya..”

Oh..
Siwon suaminya juga sama tak suka bila harus mengupasnya terlebih dulu.

“tapi oppa tetap tidak suka meskipun aku telah mengupasnya untukmu..”

Siwon berdecak kesal, nampaknya Fanny juga sama kesalnya. Keduanya jelas memiliki tujuan yang sama untuk mengambil hati Yoona. Tapi jika yang terjadi justru seperti itu, keduanya sudah semestinya mengkomunikasikan lagi keinginannya masing-masing…

“jadi apa yang kau inginkan sekarang?”

tanya Yoona mengalihkan tatapan kekesalan dari Siwon maupun Fanny.

“Aku ingin Fanny keluar dan membiarkanku berbicara berdua denganmu..”

“yak.. Oppa..!”

“keluarlah Fanny, aku ingin berbicara dengan Yoona”

“tentang apa?”

tanya Yoona ingin tahu..

“tentang Kau dan Aku..tentang kita..”

“Apa..?”

Sepertinnya Yoona harus berterimakasih pada dering ponsel yang berada dalam tas tangannya. Ia merasa terselamatkan dari suatu topik yang menurutnya masih membingungkan.

Apa yang dimaksudkan pria itu dengan mengatakan ‘tentang kita’ dan apa pula yang akan mereka bicarakan?
Hal itu sama membingungkannya dengan keputusannya mendatangi pria itu saat ini.
Sama-sama sulit dimengerti..

Yoona merasa bersyukur saat mengetahui Hana lah yang pada saat itu menelponnya..

“Ya sayang.. emm, Iya baiklah mommy akan segera pulang.. ne, sampai bertemu dirumah. Love you too dear.. Jaga Junseo sampai mommy pulang, Ok..”

Yoona menutup ponselnya dan mengarahkan pandangannya pada Siwon dan Fanny yang juga tengah memperhatikannya.

“Hana?”

“hmm.. Dia memintaku pulang sekarang. Maaf sepertinya aku harus pergi..”

“Oh, aku mengerti..”
Fanny tersenyum memaklumi.

Tapi berbeda dengan Siwon, ia nampak tak rela jika secepat itu Yoona pergi darinya.

“Yoona ssi..”

“ne, harry ssi.. Maaf aku harus pulang, kita tak bisa bicara sekarang..”

“Ya.. Aku tahu, tapi…”

tapi ia tetap ingin Yoona berada disana. Tapi Siwon tak bisa mengatakan hal itu padanya, Yoona pergi untuk pulang dan bertemu dengan kedua buah hatinya. Akan sangat egois bila ia menghalanginya, dan juga pastilah tak mungkin Yoona memberatkan diri berada bersamanya ketimbang kedua buah hatinya.

“aku harus pulang.. Hana dan Junseo menungguku..”

Oh..
Hana dan Jun.
Dua bocah itu..
Ada getaran kerinduan yang tiba-tiba Siwon rasakan untuk mereka.

“Ya, pulanglah dan sampaikan salamku pada dua anak menggemaskan itu..”

“Terimakasih, dan semoga kau lekas pulih..”

Siwon tersenyum menanggapi ucapan Yoona, meski masih tersirat dalam hati untuk menahan kepergiannya.

“Yoona..”

“ne?”

“Aku merindukan mereka..”

“nde?”

“Hana dan Junseo.. Aku merindukan mereka. Apa kau akan mengijinkan jika aku ingin bertemu mereka..”

Yoona terenyuh, dadanya terasa sesak mendengarnya. Entah karna apa ia merasakan perasaan sedih menyusup kedalam hatinya.

Bagaimana jika itu Siwon?
Bagaimana jika Siwon yang mengatakan hal itu padanya?

“bolehkah?”

Yoona tersenyum dan mengangguk mengiyakan. kemudian ditemani Fanny ia keluar dari kamar itu dan berpamitan sekali lagi padanya.

Beberapa saat setelah kepergian Yoona, Fanny sudah mendapati Siwon merebahkan tubuhnya diatas sofa.
Ia sudah akan memukulnya, menyalurkan kekesalan yang ditahannya tadi, namun urung saat melihat Siwon termenung menatap langit-langit apartemennya.

“apa yang kau pikirkan oppa?”

“banyak hal Fanny..”

“salah satunya?”

“Yoona.. mungkinkah aku bisa bersamanya..?”

Fanny menghela napasnya, ia merasa mengerti kerisauan Siwon saat itu. Dan memutuskan untuk duduk pada sofa disebrangnya untuk mendengar apa yang mungkin akan Siwon curhatkan padanya.

“kau sungguh-sungguh tertarik padanya?”

“hmm..”

“seberapa besar?”

“entahlah, yang jelas aku merasa tak pernah merasakan perasaan semacam itu sebelumnya..”

“hmm.. Jadi kau benar-benar suka pada ?oona..”

“Cinta.. Aku bukan hanya sekedar suka padanya, tapi aku jatuh cinta padanya seperti yang aku katakan padamu sebelumnya.. Bagaimana menurutmu?”

Siwon beralih untuk duduk dan kemudian berhadapan dengan Fanny.

“aigoo..entahlah oppa, aku tak tahu..”

“tak tahu bagaimana? Menurut penglihatanmu bagaimana dengan Yoona?”

“Yoona.. Aku melihat dia.. Kurasa dia memang menyimpan ketertarikan dimatanya. Tapi entahlah, itu tertarik dalam arti kata suka, atau tertarik untuk hal lainnya..”

“aishh..jangan membuatku bingung. Jadi dia tertarik padaku tidak?”

“mana aku tahu.. Oppa tanyakan sendiri saja padanya..”

“Kau tak tahu, aku sudah berniat melakukannya tadi, andai ia tak buru-buru pergi..”

Siwon beranjak dari duduknya untuk mengikuti Fanny yang tengah melangkah kearah dapur. Membuka kulkas dan mengambil dua kaleng minuman untuk keduanya.

“Kalau aku memutuskan untuk mendekatinya, apa kau akan menyetujuinya?”

“mendekati siapa?”

“Ya Tuhan.. Tentu saja Yoona, siapa lagi memangnya..?”

Siwon merasa ingin memukul kepala Fanny, mengetahui gadis itu sedang tersenyum menggodanya.

“Oh, tapi kurasa itu bukan ide yang bagus jika aboji mendengarnya”

“kenapa?”

“status Yoona, oppa.. Dia seorang yang pernah menikah dan juga memiliki dua orang anak. Kau pikir aboji bisa menerimanya? Kurasa tidak..”

“tapi Yoona wanita yang mengagumkan. Kau pasti setuju dengan hal itu. Aboji pasti akan menerima jika kau juga mendukungku..”

“well.. Aku mendukungmu oppa. Tapi kita akan lihat bagaimana dengan aboji…”

***

Hana dan Junseo tengah bermain didalam kamar tidur Yoona.
Mommy mereka sedang mandi untuk kemudian bersiap, sesuai keinginan yang pernah diungkapkan hana padanya, dan Yoona berencana mengabulkannya untuk mengajak kedua buah hatinya berjalan-jalan hari itu.

Ditengah candaan Hana yang menggoda adiknya, ponsel diatas nakas milik Yoona berbunyi dan mengalihkan perhatian Hana saat kemudian ia menjawabnya..

“Halloo.. Siapa disana??”

“Hana ya..”

terdiam, Hana mencoba mengenali suara itu..

“uncle, uncle Harry..?”

Hana terlonjak senang saat mendengar suara Siwon dalam sambungan ponsel ditangannya.

“Kau mengenali ku?”

“Ya.. tentu saja, Hanna tahu..”

“hmm.. Dimana Yoona? Euh, maksudku.. Mommy mu, bisakah uncle bicara dengannya?”

Hana mengarahkan pandangannya pada pintu kamar mandi yang tertutup dengan gemericik air yang terdengar dari dalamnya.

“Oh, mommy..? Mom sedang mandi uncle, apa yang ingin uncle katakan?”

“ah, tidak..sebaiknya uncle mengatakan langsung pada mommy mu, sayang.. dan apa yang kau lakukan sekarang?”

“Oh.. Hana sedang bermain dengan Junseo dan kami sedang menunggu mommy bersiap untuk pergi berjalan-jalan..”

“kalian akan pergi berjalan-jalan?”

“hmm.. Mommy sudah berjanji akan meluangkan waktu dan mengajak hana dan jun berjalan-jalan..”

“kedengarannya menyenangkan..”

“ne.. Apa uncle ingin bergabung?”

“Apa?”

Hana tak tahu jika dibalik panggilan telponnya Siwon tengah bersorak atas undangan kecilnya.

“noona..noona..”

Junseo mendekat dan menarik-narik ujung baju yang dipakai Hana.

“ssttt.. Jun ah, diamlah.. Noona sedang berbicara dengan daddy. Kita bisa mengajak daddy, dan pergi bersamanya nanti..”

ucapnya pelan pada Jun, sambil menjauhkan ponsel dari telinganya dan agar suaranya tak terdengar oleh Yoona yang masih berada dalam kamar mandi.

“apa uncle tidak mau?”

“hmm..tentu saja bisa Hana ya..kemana kalian akan pergi?”

“daddy..daddy..daddy..”

Jun kembali menarik-narik baju Hana..

“ssttt.. Jun ah, diamlah..”

“apa itu suara Junseo? Apa yang sedang dia katakan?”

“Jun sedang memanggil-manggil daddy..”

“daddy? Bukankah dia sudah…”

“Jun melihat foto daddy dikamar mommy..”

“Owh..”

Jagoan kecil itu perlu sosok ayahnya..
Batin Siwon yang kemudian menghela napasnya.

“jadi kemanakah kalian akan pergi hari ini?”

“Hana belum tahu.. Mommy akan mengatakannya nanti. Apa uncle benar-benar akan bergabung bersama kami?”

“Ya.. kurasa begitu..”

“baiklah, Hana akan memberitahu uncle setelah mommy mengatakannya..”

Setelah sambungan telpon itu berakhir, Hana langsung memindahkan nomor ponsel Siwon dari ponsel Yoona kedalam ponsel miliknya.

Ia berseru gembira saat kemudian meraih kedua tangan Junseo dan mengajak adik kecilnya berputar-putar bersamanya.

“kita pergi dengan daddy, Jun ah.. Daddy akan datang..”

Junseo mungkin tak paham maksud noona nya, tapi dia tertawa ketika Hana mengajaknya bergandengan tangan dan berputar bersama.

“Kau juga senang kan, Jun ah?”

“aigoo.. Hana ya, apa yang kau dan Jun lakukan, sayang? Jangan bermain seperti itu..kalian bisa pusing dan terjatuh nanti..”

Yoona yang baru keluar dari kamar mandi memperingatkan hana. Putrinya itu justru tertawa dan sekali lagi mengajak Junseo berputar dengannya.

“Hana ya..”

“Ok.. Ok mom.. Kami hanya terlalu senang..”

“Hana ya.. dimana ponsel mommy? Mommy perlu menghubungi aunty Sica, sayang..”

Yoona kemudian beralih kearah meja rias untuk memoleskan bedak kewajahnya.

“euh.. Itu mom..”

Hana menunjuk kearah tempat tidur dimana ia meletakkan ponsel sang mommy tadi.

“kenapa bisa ada disana? Apa seseorang menelpon mommy?”

“euh, ani.. Hana dan Jun hanya mengambil dan memainkannya tadi..”

Hana menempatkan telunjuk dibibirnya dan mengedikkan mata kearah Junseo, seolah meminta agar sang adik tak membocorkan rahasia. Jun hanya terkikik melihatnya.

“mommy ayolah..cepat..!”

“sebentar sayang..”

“mommy tak perlu berdandan, mommy sudah cantik.. eh, ani..aniy mommy memang harus berdandan agar semakin cantik, karna akan ada…”

Hana mendekat kearah Yoona, ia akan membantunya memoleskan bedak saat kemudian Yoona menahan tangannya.

“akan ada apa?”

tanyanya menyadari Hana yang menghentikan ucapannya tadi.

“anio.. Palli mom..!”

Hana buru-buru menarik Yoona, mencoba menghentikan kerutan didahi sang mommy yang terheran oleh sikapnya.

“jadi kita akan pergi kemana mom?”

“taman bermain.. Kalian suka?”

“Oh, tentu saja mom..”

Yoona menggendong Jun, berpamitan pada Ny.Choi dan lantas menuju mobil yang sudah disiapkan. Yoona tak menyetir sendirian ada seorang supir yang mengantar mereka. Jadi ia duduk memangku Jun di kursi belakang dan memperhatikan Hana yang terus tersenyum sambil memainkan ponsel ditangannya.

“siapa yang kau kirimi pesan sayang?”

Hana menengok kearah Yoona.

“Owh.. Ini aunty cantik mom. Hana mengatakan pada aunty kita pergi berjalan-jalan sekarang..”

***

Siwon langsung mengganti pakaiannya begitu sebuah pesan masuk ke ponselnya, dan itu berasal dari Hana.
Gadis kecil itu mengatakan kemana tujuannya pergi hari itu.

“Oppa kau mau kemana?”

“aku akan keluar Fanny ah..”

“iya.. tapi kemana?”

“bertemu Yoona dan anak-anaknya..”

“MWO..!”

Tak hirau dengan keterkejutan Fanny, Siwon buru-buru keluar sebelum fanny meminta ikut bersamanya. Baru beberapa langkah dari pintu apartemen, ponselnya kembali berdering. Tapi kali ini Nickhun yang menelponnya?

Oh..

“Siwon..Benarkah  kau sedang berada di Korea?”

“Ya.. Ada apa?”

“Oh Tuhan.. Tn.Hwang memaksa menyusulmu, jadi sebaiknya kau pulang dulu kemari..”

“Apa??”

Tn.Hwang memang terdengar menggeram marah ketika mendengar kabar bahwa Siwon mengabaikan tanggungg jawabnya atas kepemimpinan perusahaan di Jepang dan justru beberapa hari terakhir berada di Korea.

Korea?
Apa yang dilakukannya disana?

Cemas hingga berubah menjadi panik, Tn.Hwang menumpahkan kemarahannya pada beberapa orang-orangnya yang dinilai lalai hingga kabar seperti itu harus terlambat diketahuinya.

Nickhun mencuri dengar, ia baru akan masuk kekamar rawat rumah sakit itu ketika mendengar suara keras dari Tn.Hwang, yang kemudian membuatnya berinisiatif untuk langsung menghubungi Siwon.

“Apalagi yang aboji katakan..?”

“Tidak terlalu jelas, karna aku berada diluar kamarnya saat ini..tapi kusarankan kau secepatnya menghubungi atau setidaknya kembalilah ke Jepang. Tn.Hwang nampaknya marah karna kau meninggalkan perusahaan.”

“Ya.. Aku mengerti maksudmu. Tapi bagaimana dengan keinginannya untuk menyusulku. Tidakkah itu akan membahayakan? Aboji belum sepenuhnya pulih kan?”

“Tidak, sebenarnya itu bukan hal yang masalah.. tapi aku akan menggunakan alasan kesehatannya untuk mencegahnya pergi”

“aku menghargai bantuanmu Nickhun, terimakasih..”

Siwon kemudian mengakhiri sambungan telponnya dengan Nickhun dan langsung berganti untuk menghubungi Tn.Hwang.

“aboji..”

***

Yoona telah sampai ditempat tujuannya, membawa Hana dan Junseo disebuah taman bermain yang cukup ramai saat itu.

Jun memaksa turun dari kereta dorongnya, ia juga tak mau ketika Yoona berniat menggendongnya. Jun lebih memilih berjalan dengan berpegangan tangan pada Hana dan Yoona. Nampak terlihat menikmati keramaian disana..

“aigoo.. Apa anak umma senang?”

Yoona mensejajarkan tubuhnya dengan putra kecilnya, sambil mencubit gemas pipi junseo ketika ia mengucapkan pertanyaannya tadi.

“Ck! mommy..”

Hana mendecak mengoreksi kalimat Yoona. Hana tetaplah sensitif jika menyangkut cara memanggil mommy nya.

“Oh, baiklah.. Jun ah, apa anak mommy ini merasa senang sekarang?”

Jun mengangguk mengiyakan dan kemudian menarik Yoona kearea kereta bermain yang berada tak jauh darinya, yang sepertinya ingin dinaikinya..

“umma..umma itu..”

“Jun ingin naik?”

“ne..”
angguknya yakin dan kembali menarik tangan Yoona.

“Hana ya.. Apa kau ingin menaiki kereta itu?”

Hana menggeleng, sedari tadi Yoona merasa Hana memang kurang bersemangat, sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan antusiasnya ketika mereka baru akan berangkat tadi.
Apa yang menjadi penyebab Hana kehilangan mood bermainnya?

“Hana ya, kenapa sayang?”

“anio mom.. Hana hanya tak ingin”

“Tapi Junseo ingin naik kereta itu sayang.. Mommy harus menemaninya, kalau Hana tidak ikut juga, siapa yang akan menemanimu?”

“Hana akan melihat dan menunggu mommy dan Jun disini.. Tidak apa-apa mom.. Hana tidak akan kemana-mana..”

“Oh, ayolah sayang.. Mommy tak mungkin meninggalkanmu sendirian..”

Yoona masih berusaha membujuk Hana agar mau ikut dengannya. Ia tahu pasti ada sesuatu yang membuat Hana menjadi tak seantusias sebelumnya.

“umma..umma.. Ayo..noona ayo..”

Jun masih terus menarik-narik tangan Yoona, merasa tak sabar ketika melihat kereta itu berhenti dan berkerumun anak-anak mengantri untuk menaikinya.

“umma..itu.. Ayo..”

“iya sayang, kita tunggu noona.. Hana ya, please..”

disaat Junseo mulai merengek, Hana tetap tak ingin ikut naik ke kereta yang diinginkan Jun, yang nantinya bisa membawanya berkeliling diarea taman bermain itu.

“mommy dan Junseo saja yang naik.. Hana disini mom. Hana janji tak akan kemana-mana. Promise..”

“biar mommy menelpon ahjussi agar menjagamu disini..”

Yoona mengambil ponselnya untuk menelpon sang supir yang tadi mengantarnya, namun sepertinya ia melupakan telah meminta ahjussi supir itu untuk meninggalkan mereka disana dan kembali menjemputnya lagi nanti, karna pastinya Hana dan Junseo akan banyak menghabiskan waktu untuk bermain disana, kasihan bila sang supir harus menunggui mereka.

“Hana ya, dengarkan mommy.. Kalau Hana tak mau ikut, Hana harus tetap disini dan tunggu mommy Ok..! Jangan pergi kemana-mana atau ikut dengan siapapun.. Arrasso!”

“Ok mom..”

Yoona akhirnya menuruti tarikan tangan Jun, meski ia masih beberapa kali menoleh kebelakang memastikan Hana tetap berada disana.

Sepeninggal sang mommy yang menemani Junseo sang adik, Hana memang tetap diam disana, memperhatikan keramaian anak-anak lain disekitarnya. Tadinya ia merasakan kegembiraan yang sama ketika mengetahui Siwon akan datang kesana. Tapi nyatanya setelah beberapa lama disana, Hana tak menemukan Siwon datang dan menjadikannya tak lagi bersemangat ketika nomor ponsel yang ia ambil dari ponsel Yoona, yang tadi ia gunakan untuk berkirim pesan, kini justru tak aktif hingga Hana tak bisa menghubunginya.

“Daddy bohong pada Hana.. Daddy tidak datang..”

kesalnya sambil memainkan ponsel yang terkalung dilehernya.

“siapa yang membohongi mu gadis cantik?”

“daddy yang membohongi Hana..”

“daddy?”

Hana menoleh menyadari suara itu dan terkejut setelahnya..

“daddy..!!”

Sebelumnya Siwon telah lebih dulu menghubungi Tn.Hwang, Ia berhasil meyakinkan pria paruh baya itu bahwa keberadaannya di Korea hanya sekedar untuk mengunjungi Fanny, dan akan kembali lagi ke Jepang untuk melaksanakan tanggung jawabnya pada perusahaan.

Setelahnya Siwon kembali meneruskan niatannya untuk pergi ke taman bermain sesuai dengan janjinya pada Hana. Dalam perjalanan Siwon dengan sengaja mematikan ponselnya agar tak seorangpun bisa mengganggunya melalui panggilan telpon. Ia akan menikmati harinya saat itu.

Setelah memarkirkan mobil yang dikendarainya, ia lantas melangkahkan kakinya kearea taman bermain yang lumayan luas itu. Butuh waktu cukup lama baginya untuk dapat menemukan Yoona bersama dengan kedua anaknya ditengah keramaian para pengunjung yang lain.

Hingga pada akhirnya, Siwon bisa bernapas lega ketika melihat gadis kecil yang dikenalinya. Ia perlahan mendekat, dan mendengar gerutuan kesal dari Hana..

Siwon mengernyit tak mengerti maksud ucapan Hana. Ia juga bertambah bingung saat Hana berseru setelah menyadari kehadirannya.

“daddy..!!”

Merendahkan tubuhnya, Siwon sepertinya tahu jika Hana berniat memeluknya.
Benar saja..
Dengan sorot mata berbinar, gadis kecil itu langsung menghambur kedalam pelukannya.

“daddy.. Hana kira daddy tidak jadi datang.. Hana sudah kesal tadi..”

“Hana ya.. Apa kau sedang memanggil uncle dengan sebutan ‘daddy’?”

“hmm..apa tidak boleh? Daddy.. Hana merindukan daddy.. Sangat rindu..”

Siwon bisa merasakan, kedua tangan kecil Hana semakin memeluknya erat. Hatinya tersentuh dan iba dengan apa yang dilihatnya. Gadis kecil dalam pelukannya itu pastilah sudah sangat merindukan sosok ‘daddy’ yang kini tak bisa lagi dipeluknya.

Perlahan Siwon mengulurkan tangannya untuk membelai rambut Hana.

“sayang.. dimana mommy mu dan Junseo?”

mendengar pertanyaan Siwon, Hana kemudian melepaskan pelukannya untuk menatap kesekeliling nya.

“emm.. Mommy dan Jun naik kereta bermain tadi..”

“astaga.. Jadi Yoona.. Maksudku mommy mu meninggalkanmu sendirian disini? Ceroboh.. Apa yang ada dipikirannya? Kenapa dia tak memikirkan keselamatanmu.. Ini tempat umum..”

Hana mengerutkan dahi dan menggelengkan kepala mendengarnya.

“tapi daddy.. eh, uncle..”

“tidak apa-apa sayang.. Hana bisa memanggil uncle dengan ‘daddy’ seperti tadi..”

“benarkah?”

“hmm..”

Oh,
Ya..
Siwon merasa panggilan itu terasa tepat untuknya.
Bukankah ia memang tertarik dengan mommy anak itu.
Tentu saja Hana harus membiasakan diri memanggilnya ‘daddy’ karna Siwon akan mengusahakan menggantikan posisi itu dengan dirinya.

“jadi apa yang tadi ingin kau katakan pada ‘daddy’ sayang..?”

Siwon bisa merasakan tawa dari dalam hati kecilnya.

Dan jelas saja Hana semakin berbinar mendengarnya..

“tapi daddy.. Bukan salah mommy, Hana yang..”

“tentu saja itu salahnya. Meninggalkanmu sendirian disini tanpa pengawasan seseorang, tentu saja itu kesalahan besar.. Bagaimana jika sesuatu terjadi? Penculikan mungkin.. Ya Tuhan, itu mengerikan..”

“bukan karna mommy.. tapi Hana..”

“jangan membela mommy mu sayang.. Biarkan aku memarahinya nanti..”

“mommy bukan meninggalkan Hana. Tapi Hana yang…”

“Hana ya..!”

Usaha Hana untuk memberi penjelasan pada Siwon terhenti, ketika mendengar suara Yoona memanggilnya dari kejauhan.

“mommy..”

“Hana ya.. Kau diam saja Ok..biar uncle.. emm.. Maksudnya, daddy..yang memarahi mommy mu..”

“tapi dad..”

“ssttt..”

Tak berapa lama langkah Yoona kian mendekat pada keduanya. Ia terkejut mendapati putrinya sedang bersama Siwon disana.

“Hana ya.. Kau.. Harry ssi.. Kenapa kau bisa berada disini? Apa yang kau lakukan?”

image

Sejenak Siwon justru hanya diam menatap Yoona. Wanita itu terlihat berpenampilan beda dari biasanya. Dengan hanya mengenakan atasan biasa yang dipadukan dengan jeans panjang senada, sepasang flat shoes dan rambut yang digerai bebas, Yoona terlihat santai dan muda.
Jika bukan karna Junseo yang saat itu berada dalam gendongannya, Siwon yakin banyak orang tak mempercayai bahwa dia adalah seorang ibu.

“Harry ssi..”

“euh..”

Mungkin Siwon akan lebih memilih diam dan hanya memandangi Yoona, bila tidak teringat dengan apa yang telah wanita itu lakukan dengan meninggalkan putrinya sendirian ditengah keramaian.

“harusnya aku yang bertanya padamu.. Apa yang sudah kau lakukan pada…”

“umma..umma..”

Siwon menghentikan ucapannya saat melihat Junseo menggeliat, berusaha melepaskan diri dari gendongan Yoona untuk menggapainya.

“umma..turun..umma..”

“Jun ah..”

“umma turun..”

Yoona tak kuasa ketika Junseo semakin menggeliat, meminta untuk diturunkan. Dan saat putra kecilnya itu akhirnya turun, Yoona semakin terperangah. Larian kaki kecil Junseo dan sesuatu yang diucapkannya membuat Yoona membeku ditempatnya.

“daddy..daddy..”

Siwon kembali merendahkan tubuhnya, dan merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Junseo yang bersiap menghambur dalam pelukannya.

“Hai jagoan kecil.. Kau merindukanku?”

“daddy..”

Oh Tuhan..

Bagaimana bisa Junseo kemudian berlarian kecil kearah Siwon sambil menggumamkan seruan ‘daddy’ dengan begitu fasih. Bahkan Junseo juga mengulurkan kedua tangannya, mengisaratkan permintaannya untuk berada dalam gendongan Siwon.

Bagaimana bisa..
Bagaimana mungkin putra kecil nya bisa mudah dan langsung akrab dengan seseorang yang baru dilihatnya.

Tidak..
Sebelumnya Jun memang pernah melihat dan bertemu dengan Siwon. Tempo hari Mereka bahkan menghabiskan banyak waktu disalah satu kebun binatang.
Tapi itu pun baru sekali.
Jika Hana yang bersikap manja dan terus bergelayut di lengan pria itu, Yoona merasa masih bisa memakluminya. Hana sudah cukup besar untuk dapat mengenali seseorang yang serupa dengan ‘daddy’ nya. Bahkan Yoona juga menyadari putri nya itu masih beranggapan pria itu adalah benar-benar daddy nya.

Sedangkan Junseo..
Dia bahkan masih terlalu kecil ketika Siwon pergi. Dia juga hanya mengenali sosok seorang ‘daddy’ dari lembaran-lembaran foto yang terpajang didalam rumah, dan dari ocehan-ocehan Hana yang terus bercerita tentang daddy mereka pada Jun.

Apakah karna itu?
Apakah hanya karna lembaran foto..
Ataukah karna mengikuti apa yang dilakukan Hana hingga Junseo pun melakukan hal yang sama..

Yoona terus membantin diantara tatapan matanya yang menatap sebuah pemandangan yang sebelumnya tak pernah diduga akan dilihat olehnya.
Kedua buah hatinya sedang asik bercengkrama dengan pria itu..
Hingga mungkin melupakan keberadaan nya disana..

“Hana ya.. Jun ah.. Ayo sayang.. Mommy akan menghubungi ahjussi untuk menjemput. kita pulang sekarang..”

Hana spontan menggelengkan kepalanya dengan berlebihan. Menolak ide Yoona untuk pulang saat itu..

“kenapa harus terburu-buru. Aku bahkan baru bertemu dengan kalian..”
Ucap Siwon menyela, sama tak setujunya dengan hana.

“Aku tidak mau mereka kelelahan.. Ayo sayang..”

“mereka terlihat baik-baik saja.. Hana ya, sayang.. Apa kau lelah? Dan jagoan kecil ini..apa juga sudah kelelahan?”

Junseo malah terkikik saat Siwon menggelitik kecil perutnya.

“Tidak.. Hana bahkan belum bermain mom..”

“tapi tadi kau sendiri yang menolak untuk bermain kan..”

“tapi sekarang Hana ingin bermain mom.. Jun ah, masih ingin bermain bersama noona kan?”

“iya noona.. main.. ayo!”

“bolehkan mom?”

“tapi Jun bisa kelelahan sayang..”

“Jun baik-baik saja mom.. Atau mommy yang sudah lelah? Kalau begitu mommy istirahat saja.. Hana dan Jun akan bermain bersama daddy.. Iya kan dad?”

“daddy..!?”

Yoona sedikit memekik mendengar ucapan Hana.

“ne.. Uncle bilang Hana boleh memanggil uncle dengan ‘daddy’ iya kan dad?”

“hmm..”

“Harry ssi.. Apa maksudmu mengatakan hal itu? Kau bukan..”
“iya aku tahu apa yang ingin kau katakan. Aku memang bukan daddy nya.. Hanya kali ini, biarkan saja mereka melakukannya. Mereka pasti sedang merindukan suamimu.. daddy nya. Apa kau tak kasihan pada mereka? Lagi pula Aku juga tak keberatan mereka memanggilku ‘daddy’

Siwon mengedikkan matanya, membuat Yoona tak bisa lagi berkata-kata dan hanya bisa mengikuti dibelakangnya, ketika Siwon menggandeng Hana dengan Jun yang masih dalam gendongannya. Dia membawa kedua buah hatinya menaiki beberapa wahana yang tak membahayakan dan memang diperuntukkan bagi anak-anak.

Yoona dapat melihat bagaimana saat itu Hana dan Junseo tertawa lepas saat bersama dengan Siwon. Jun bahkan sempat menangis saat Siwon membawanya turun dari permainan kuda-kudaan yang dinaikinya. Dan untuk pertama kalinya saat itu Yoona tak bisa mendiamkan putranya. Junseo baru mau diam setelah Siwon kembali membawanya menaiki permainan itu dengan beberapa kali putaran yang membuatnya akhirnya merasa bosan.

Siapa yang bisa menggambarkan perasaan Yoona saat itu?
Tidak ada..
Tidak seorang pun yang bisa.
Bahkan dirinya sekalipun. Semua rasa seakan teraduk didalam dirinya.
Ada perasaan bahagia yang menyeruak..
Ada sedih yang juga menyelinap..
Hingga airmata yang bahkan telah menggenangi pelupuk matanya.

“Kau kenapa?”

Tanpa disadari Siwon ternyata memperhatikannya. Dengan cepat Yoona memalingkan wajah, untuk menyeka airmata yang meluncur turun membasahi wajahnya.

Ya Tuhan..
Kenapa ia tiba-tiba menangis sekarang..

“Kau baik-baik saja?”

Siwon mengulurkan tangannya meraih dagu Yoona. Mengarahkan wajah itu agar kembali menghadap kearahnya.

“kau menangis? Kenapa kau menangis?”

“Tidak.. siapa yang menangis? Aku tidak menangis. Kurasa ada debu yang terbawa angin dan masuk ke mata ku, rasanya perih..”

Yoona menggerak-gerakkan tangannya, berpura-pura mengipasi matanya.

“sini, biar aku bantu..”

Yoona hanya bisa mengerjapkan mata, saat kemudian Siwon meniup-niup pelan matanya. Ia merasakan jantungnya berdebar dan intensitasnya semakin kencang seiring kesadarannya akan betapa dekatnya posisi wajah Diwon dengan wajahnya.
Hembusan nafasnya yang teratur menggelitiki permukaan kulit wajahnya, dan sejurus kemudian Yoona bisa merasakan hidungnya yang sudah bersentuhan dengan hidung pria itu.

Yoona berusaha menjauh, namun gagal saat kemudian tangan Siwon bergerak melingkari pinggangnya.

Oh Tuhan..
Apa yang akan dia lakukan??

Ciuman..
Sebuah ciuman hampir saja terjadi, andai kedua tangan kecil Junseo tak menarik-narik ujung t-shirt yang dikenakan Siwon.

“daddy.. lapar..”

Tarikan tangan kecil Junseo makin kuat, membuat Siwon mau tak mau menoleh kebawah, kearah Jun yang mendongak menatapnya.

“Jun lapar..noona lapar.. Ayo makan! Ayo..!”

Oh..
Harusnya ia memang menyadari dengan siapa ia saat ini.
Ia tidak sedang bersama seorang gadis, melainkan dengan seorang wanita yang telah menjadi ibu dari dua orang anak.
Maka wajar saja bila gangguan seperti itu akan terjadi.

“daddy ayo!”

Jun sekali lagi menariknya, namun kali ini bukan lagi t-shirt yang ditariknya, melainkan tangan Siwon yang sudah tak lagi melingkari pinggang Yoona.

“Oh.. Kau lapar?”

Memegangi tengkuknya, Siwon berusaha tersenyum. Entah mengapa ia menjadi kikuk. Bocah kecil dihadapannya baru saja memergoki dirinya. meskipun Siwon sangat yakin Junseo pastilah tak mengerti akan apa yang berniat diperbuat olehnya.

“Ayo.. Jun lapar..Ayo!”

Sesaat melirik kearah Yoona yang hanya terdiam, Siwon lantas meraih Jun dalam gendongannya dan kembali menyunggingkan senyumnya.

“Oh.. Baiklah jagoan kecil. Ayo kita  panggil noona mu.. dan cari apa yang kalian inginkan..”

Siwon lantas memanggil Hana yang sedang asik menaiki wahana yang berada tak jauh darinya, diikuti Jun yang juga menyerukan nama noona nya.

“Hana ya.. Ayo sayang, bukankah kau lapar?”

“Okey dad..tunggu!”

Siwon menyempatkan menoleh kearah belakangnya dan mendapati Yoona masih tak beranjak dari tempatnya.

“Kau tidak akan diam saja disana kan? Ayo.. Anak-anak ini sudah berteriak lapar..”

Yoona merespon dengan mengikuti langkah Siwon yang lebih dulu berjalan bersama kedua buah hatinya.

“daddy.. Hana mau itu!”

Hana menunjuk pada salah satu deretan tempat makan yang menyediakan beberapa menu makanan cepat saji.

“Jun ah.. Kau juga mau kan?”

Jun menganggukkan kepala menyetujui.

“Ayo dad..kita kesana..”

“baiklah..”

“Tidak, Hana ya..”

dibelakangnya Yoona menolak permintaan Hana. Ia pun langsung melangkah maju mensejajarkan langkahnya dengan Siwon.

“kenapa? Kau tak dengar dia menginginkannya..”
bantah Siwon setelahnya.

“aku tak pernah membiasakan mereka memakan fast food..”

“astaga.. Aku tahu itu memang bagus kau lakukan. Tapi jika sesekali tak masalahkan..itu takkan jadi kebiasaan..”

“sesekali itu yang kemudian akan menjadi berkali-kali..”

“tidak akan, jika kau tetap mengawasi mereka..”

“sudahlah, aku tak ingin berdebat denganmu. Dan Kau pun tak berhak mendebat apa yang kuputuskan untuk anak-anak ku.. Yang kulakukan demi kebaikan mereka..”

“Kau keras kepala..”

“baiklah.. jika mommy tak mengijinkan, Hana takkan memaksa. Ayo dad, kita cari tempat makan yang lain..”

Hana menghela napas sejenak, sebelum akhirnya berjalan lebih dulu. Ia merasa sedih, bukan karna sang mommy menolak keinginannya. Tapi lebih dari itu.
Hana merasakan perbedaan pada kebersamaan mommy dan daddy nya. Mereka lebih sering tak sependapat dan sang mommy pun lebih banyak diam.

Pemikirannya sebagai seorang anak kecil mengatakan mommy dan daddy nya sedang bermasalah. Mereka pastilah sedang bertengkar.
Karna itu daddy nya marah dan pergi begitu lama.
Karna itu juga mommy nya tidak memperbolehkan dirinya memanggil daddy nya dengan sebutan ‘daddy’ tapi justru menggantinya dengan ‘uncle’. Mommy nya juga pastilah marah setelah daddy meninggalkan mereka begitu lama.

Oh..
Mengapa begitu rumit?
Mengapa mommy dan daddy nya tidak bisa berbaikan?

Pemikiran itu terasa menyesakkan hati Hana, ia berjalan dengan menundukkan wajahnya. Merasakan kesedihan itu semakin dalam di dirinya.

“Kau lihat apa yang kau lakukan pada putrimu. Laranganmu membuatnya sedih seperti itu.. Hana ya.. Ayo kita kesana..!”

Siwon kemudian menyusul langkah Hana. Berusaha membujuk dan mengajak Hana memasuki tempat makan yang tadi diinginkannya. Namun Hana berkeras menolak.

Untuk apa..
Jika itu justru membuat mommy nya marah.
Jika nantinya kembali membuat mommy dan daddy nya berselisih.
Hana memikirkan itu, dan tak menginginkan itu terjadi.

“Hana ya.. ini benar-benar enak. Ayo cobalah..”

Yoona melirik kearah Siwon yang duduk disebelah Hana. Masih saja terus membujuknya, ketika pada akhirnya Hana mau untuk masuk kedalam tempat makan lainnya. Namun sepertinya Hana telah benar-benar kehilangan nafsu makannya. Ia hanya memainkan sendok ditangannya.

“Hana ya..”

Hana mendongak saat mendengar suara sang mommy yang memanggilnya. Seakan mengerti dengan apa yang tersirat dari tatapan Yoona, ia kemudian mengangguk dengan suara lemah..

“iya mom..”

dan satu suapan kemudian masuk kedalam mulutnya.

“bagus Hana ya.. setelah ini kita bermain lagi. Aku akan menghabiskan hari ini bersama kalian, sebelum kembali ke Jepang besok..”

Seketika Hana menjatuhkan sendok ditangannya.

“daddy akan pergi?”

“mm..”

“Tidak.. Daddy tidak boleh pergi lagi. Daddy sudah pergi sangat lama. Hana tidak mau kehilangan daddy lagi..Tidak mau. don’t go dad, please..”

“Hana ya, Apa maksudmu sayang?”

Siwon menatap bingung pada Hana. Suara gadis itu bergetar, ada kesedihan dimatanya yang kemudian airmata mulai berurai membasahi wajahnya.

“Hana ya.. kenapa sayang?”

“don’t go dad.. Please! Hana mohon..”

Demi Tuhan..
Siwon juga merasakan kesedihan itu. Ia juga menyayangkan telah mengatakan rencana kepulangannya ke Jepang.
Meski baru mengenal, tapi rasanya sangan berat meninggalkan dua bocah itu.

Mengapa?

“Hana ya, tapi…”

“Tidak.. Hana tidak mau..”

Dengan cepat Hana beralih dari duduknya. Memeluk Siwon yang masih duduk ditempatnya dengan merangkulkan kedua tangan dilehernya.

“Jangan pergi lagi.. Hana dan Jun akan kesepiaan. Tidak bisakah daddy dan mommy berbaikan? Kenapa tidak seperti dulu? Kenapa daddy tak mencintai mommy seperti dulu.. Kenapa mommy juga sama? Kenapa kalian tak saling mencintai lagi..Hana sangat sedih..”

Hana terisak dipundak Siwon. Ia juga bergerak mengeratkan pelukannya ketika merasakan Siwon berusaha melepaskannya.

Benar-benar tak akan membiarkan daddy nya pergi lagi.
“Hana ya..”

Yoona ikut merasakan getaran dalam suaranya. Ia tahu bagaimana putrinya. Hana pastilah akan mengatakan yang lebih daripada itu.

Menatap kearah Siwon saat pandangan mereka bertemu, ia sadar kebingungan akan kata-kata Hana yang saat itu pasti sedang Siwon rasakan.

“Hana ya..uncle Harry pasti punya urusan penting sayang.. Mommy akan lebih sering lagi mengajak Hana dan Junseo bermain-main. Mommy janji.. Jangan khawatir sayang..”

mendengar suara sang mommy, justru membuat Hana seketika melepaskan pelukannya pada Siwon dan beralih untuk memperhatikan Yoona. Namun ia justru memberikan tatapan marah pada mommy nya..

“Hana tidak suka memanggil daddy dengan ‘uncle’.. Kenapa mommy terus mengatakan untuk memanggil daddy seperti itu? Hana tidak suka mom..”

“Hana ya..”

“dan Hana tidak ingin bermain apapun mom.. Hana hanya ingin bersama daddy. Hana tidak mau daddy pergi lagi.. Hana mohon jangan bertengkar lagi. Daddy ingin pergi pasti karna tadi bertengkar dengan mommy gara-gara Hana kan? Hana janji akan jadi anak yang penurut.. Hana akan menuruti apapun yang mommy katakan. Hana janji mom.. Tapi Hana mohon mommy dan daddy berbaikan.. Jangan biarkan daddy pergi lagi, please.. Hana takut..”

Oh Tuhan..
Siapa yang tidak merasakan pilu, mendengar putrinya menangis dan mengatakan hal semacam itu.

Tapi situasinya membingungkan. Yoona sendiri merasa tak tahu dengan apa yang harus ia lakukan.
Bagaimana lagi ia bisa memberi penjelasan pada Hana.

“Yoona, sebenarnya apa yang dimaksud Hana. Aku benar-benar tak mengerti. Mengapa Hana berbicara seolah-olah aku pernah meninggalkan kalian..”

“Aku akan jelaskan padamu nanti.. Biarkan aku bicara dulu pada putriku..”

Yoona menepiskan tatapan Siwon kearahnya, ia sudah merasakan tangannya gemetar saat itu.

“Hana ya..dengarkan mommy dulu sayang..”

“mommy yang harus mendengarkan Hana! Mommy harus tahu apa yang Hana rasakan. Hana sedih mom.. sangat sedih..”

Ya Tuhan..
Yoona tak pernah membayangkan putri kecilnya, Hana nya.. Akan bereaksi seperti itu.

Oh..
Ia mungkin tak bisa lagi menyebut Hana sebagai putri kecilnya.
Hana yang sekarang telah bisa memberontak, menyuarakan apa yang dirasakannya..

“daddy.. Hana menyadari daddy menjadi aneh. Mengapa daddy seperti itu? Mengapa daddy bersikap seolah-olah tak mengenali Hana dan Junseo? Apa pergi terlalu lama, membuat daddy jadi melupakan Hana? Hana tidak mau seperti itu.. Selama ini Hana selalu teringat daddy. Dan daddy juga harus mengingat Hana terus, daddy harus tahu Hana merindukan daddy. Sangat rindu sampai Hana terus menangis..”

Hana kembali memeluk Siwon dengan tangisan yang tersedu-sedu.

Yoona ingin meraihnya dan membawa Hana pergi dari sana, namun Siwon menahannya. Sepertinya pria itu menyadari keganjilan dari sikap emosional Hana pada saat itu. Yang pastilah ada sebabnya dan itu berhubungan dengan dirinya atau ‘daddy’ yang terus disebutkannya.

“sayang.. Aku benar-benar tak tahu apa yang kau bicarakan..”

Siwon mengusap-usap punggung Hana, berusaha untuk menenangkan dan menghentikan tangisnya.

“Daddy jahat.. Kenapa daddy tak mengerti? Kenapa daddy seakan-akan lupa pada semuanya..”

“hei.. Aku, maksudku.. Daddy tak bermaksud jahat padamu. Tidak sayang, tidak seperti itu..Daddy hanya tak mengerti. Dan lupa? Apa yang daddy lupakan darimu? Kita baru bertemu kan..dan daddy masih ingat semua itu.”

Hana melepaskan pelukannya. Meraih ponsel yang terkalung dilehernya. Jari-jari nya kemudian bermain untuk membuka beberapa folder didalamnya.
Ia berhenti pada salah satu folder yang berisi banyak fotonya bersama Siwon dan Yoona, juga bayi kecil Junseo.

Ia lantas menyerahkan ponselnya pada Siwon.

“lihat.. apa daddy tidak ingat itu?”
Yoona terkesiap dengan apa yang dilakukan Hana, tapi ia masih berusaha merebut ponsel itu dari tangan Siwon.

“berikan itu padaku!!”

“Demi Tuhan, Yoona.. Biarkan aku melihatnya! Aku harus tahu apa yang ingin diperlihatkan putrimu padaku!”

Oh Tuhan ku..
Ia shock saat itu…

*

*

*

*

*

*

*

*

To Be Continued~

@joongly

159 thoughts on “YOU’re My Destiny [5]

  1. Hana akhirnya menyampaikan keluh kesahnya….
    Dan memberikan foto kenersamaan mereka… pengem cepet2 tau reaksi siwon

  2. Akhirnya hana menyampaikan keluh kesahnya
    Dan dia memberitahu dengan siwon foto kebersamaan mereka dulu…
    Wah pengen cepet2 tau reaksi siwon

  3. Hana ya
    Kangen sama daddy y dear.. rindu kebersamaan daddy ya cantik
    terharu bgt denger ungkapanmu
    Dan mommy jangan ambil hp hana
    Biarkan harry liat mom
    Biar dia bisa ingat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s