Fanfiction

| At First Sight | 14

Happy Reading~

*

*

*

*

*

*

*

Yoona POV

Tatapan mata itu..
Tatapan mata Yuri oenni yang terus tertuju pada Siwon, aku dapat menilai ada banyak emosi didalamnya.
Oenni menatapnya dengan penuh cinta dan kekaguman.
Tidak..
Lebih dari itu, Yuri oenni seakan sedang menatap pada sesosok dewa. Terdengar berlebihan namun itulah kenyataannya.

Kenyataan yang sekarang ku lihat.
Yuri oenni bukan hanya sedang menatap Siwon dengan cinta yang masih dimilikinya untuk pria itu, melainkan juga menatap pria itu ibarat dewa penyelamat hidupnya.

Ya..
Sangat wajar bila kini Oenni menatapnya seperti itu, karna Siwon lah yang memang telah menyelamatkannya. Menolongnya dari kecelakaan naas yang menimpanya.

Ya Tuhan..
Mengapa kejadian buruk begitu bertubi-tubi dialami oenni ku.

Aku tak dapat membayangkan bagaimana jadinya bila saat itu Siwon tak berhasil mengeluarkan Yuri oenni dari dalam mobil itu.
Tidak..
Aku tak harus membayangkannya.
Sekarang Yuri oenni baik-baik saja, meski terlihat luka dibeberapa tubuhnya. Aku yakin, oenni ku akan bisa bertahan. Dia akan sembuh dan kami akan kembali bersama-sama.

Oh Tuhan ku..
Betapa aku sangat berterimakasih atas apa yang telah dilakukannya. Ingatkan aku untuk mengatakan itu pada Siwon nanti.

“Yoo-na..”

Aku menyeka airmata diwajahku..

“Yoo-na ya..”

Oenni memanggilku setelah beberapa saat aku bahkan tak yakin dia melihatku. Tatapannya hanya terus tertuju pada Siwon. Tangannya juga terus menggenggam pada tangan Siwon.

Tapi sekarang, dia telah menyadari keberadaanku. Dia menatapku, mengulurkan sebelah tangannya yang lain dan aku dapat melihat airmatanya jatuh saat itu..

Tuhan..
Aku tidak ingin melihat Yuri oenni ku menangis.
Aku tidak akan lagi membiarkannya menangis..

“Oenni ya..”

Aku lantas meraih tangannya yang terulur dengan mempergunakan tanganku yang tidak mempergunakan cincin. Entah mengapa aku melakukan itu dan tetap menyembunyikan tangannku yang mempergunakan cincin dibelakang tubuhku. Aku hanya mencoba menghindari Yuri oenni menyadari dan akhirnya mempertanyakan maksud cincin itu yang melingkari jari manisku. Aku pasti akan memiliki kebingungan dan ketidak siapan untuk menjawab.

Ketika aku telah meraih tangan Yuri oenni, Siwon bergeser untuk memberikan tempat untukku. Aku bahkan merasa dia sesaat menarik pinggangku agar dapat memiliki posisi yang nyaman disamping oenniku.

“Yoo-na ya, kau baik-baik saja..? Kau tidak terluka?”

Aku mengangguk dan sedikit meremas pada tangan Yuri oenni yang berada dalam genggaman tanganku.

Dialah oenni ku. Yuri oenni ku..
Hatiku benar-benar tersentuh mendengarnya. Bahkan dengan keadaan luka yang seperti itu ditubuhnya, dia masih mengkhawatirkanku.

“Aku begitu takut, Yoona.. Sangat takut mereka akan menyakitimu. Melukaimu dan…”

Aku menggeleng padanya, meminta dia untuk tidak meneruskan kalimatnya apapun itu yang ingin diucapkannya padaku.

“gwechana oenni, gwechana.. Aku baik-baik saja. Aku tidak terluka..”

Aku ingin memeluknya tapi alat-alat medis yang terpasang ditubuhnya membuatku takut apa yang ingin kulakukan justru akan menyakitinya.

Aku hanya bisa tersenyum kearahnya..

Sampai seorang suster masuk, aku masih memegang tangan Yuri oenni. Aku benar-benar tidak ingin melepasnya. Aku sangat rindu padanya dan ingin selalu berada disisinya, menjaganya. Menggantikan beberapa waktu yang kami lewatkan tanpa satu sama lain. Namun sang suster itu mengatakan dokter ingin berbicara. Tidak jelas pada siapa, namun aku menyimpulkan pasti dengan keluarga pasien. Dan itu aku.

“Biar aku saja yang menemui dokter..”

tapi kemudian Siwon membuka suara, dan saat mendengar kalimat itu aku dapat menangkap kepanikan diwajah oenni ku.

“Tidak.. Si-won, bisakah kau tetap disini bersamaku..”

Pintanya dengan raut penuh permohonan..

“Aku takut.. Aku..”

“Aku yang akan menemui dokter, oenni..”

Aku memotong kalimat Yuri oenni dengan mengatakan hal itu padanya. Memang aku lah yang seharusnya melakukan itu.

“Aku akan kembali lagi setelahnya..”

Yuri oenni mengangguk, sesaat kedua mataku bertemu tatap dengan Siwon, namun aku tak mengerti dengan maksud tatapannya. Aku memutuskan untuk tidak memikirkannya dan dengan segera keluar dari ruang ICU itu dan mengikuti suster menuju ruangan dokter yang berada tak jauh dari sana.

Didalam ruangannya, aku mendapatkan kelegaan setelah dokter mengatakan padaku Yuri oenni telah melewati masa kritis. Dia juga menunjukkan padaku beberapa hasil pemeriksaan dari Yuri oenni. Beberapa tulang yang mengalami keretakan dan bahkan patah telah mendapatkan tindakan operasi. Bagian yang mengalami patah itu adalah pada bagian kaki. Dokter mengatakan kemungkinan Yuri oenni harus melakukan terapi berjalan dan untuk kesehariannya sebelum kakinya benar-benar pulih oenni bisa menggunakan kursi roda.

Aku berterimakasih untuk apa yang telah dilakukannya, dan memintanya untuk melakukan yang terbaik demi kesembuhan Yuri oenni. Dia menyanggupinya, dan membuatku merasakan kelegaan setelahnya.

Keluar dari dalam ruang sang dokter dan kembali menuju ruang ICU, aku melihat Siwon berada diluar. Bersandar dengan punggung menempel pada dinding dan kedua tangan dilipat didepan dada.

“Apa yang terjadi?”

Begitu mendengar suaraku, dia mengarahkan tatapan matanya padaku yang sedang melangkah mendekatinya..

“Oenni ku baik-baik saja kan..?”

Aku mencoba mencari tahu melalui kaca pada pintu yang tertutup itu dan melihat setidaknya dua orang suster berada didalamnya.

“Kenapa? Kenapa dengan Yuri oenni?”

Kepanikan dalam nada suaraku, Siwon mungkin menyadari itu. Dia menarik pergelangan tanganku dan membawaku untuk duduk pada deretan kursi tunggu.

“mereka hanya sedang mengganti infus dan pemeriksaan yang lain. Kau bisa tenang..”

Ya..
Aku lega mendengarnya.

Perlahan-lahan tanpa aku meminta, Siwon melepaskan pergelangan tanganku.

Aku terdiam, bingung dengan apa yang bisa ku mulai untuk dikatakan padanya. Dia juga sama sepertiku. Untuk beberapa saat aku hanya bisa mendengar suara tarikan napasnya.

“Anda bisa pulang sajangnim, aku yang akan menjaga Yuri oenni disini..”

Sampai kemudian aku berbicara, Siwon hanya menatapku sekilas. Dia mengabaikan apa yang telah kukatakan.

“Terimakasih untuk semuanya.. Aku tak tahu bagaimana cara untuk membalasnya. Tapi aku benar-benar berterimakasih pada anda, sajangnim.. Terimakasih untuk telah menyelamatkan oenni ku.”

“Kau tidak perlu sungkan.. Yuri kakakmu dan kau adalah tunanganku..”

Aku menatapnya..
Benar-benar menatapnya. Bagaimana mungkin dia masih menyebutku sebagai tunangannya?

“Apa yang kulakukan adalah hal yang wajar untuk dilakukan. Jangan merasa terbebani karna hal itu..”

Dia menoleh, mengunci tatapannya padaku..

“Biarkan aku berada disini dan menemanimu. Aku ingin melakukan itu. Aku harus melakukannya..”

Dia meraih tangan yang berada dipangkuanku untuk kemudian menggenggamnya.
Mendadak aku menjadi gugup, dan sepertinya dia mengetahui itu.

“Apa kau akan selalu gugup seperti ini?”

ada senyum geli diwajahnya..

Bersyukur aku tak harus terlalu lama menghadapinya, dua suster keluar dari ruang ICU dan aku memanfaatkan itu untuk melepaskan tangan Siwon dari pergelangan tanganku.

“bagaimana oenni ku, suster?”

“Dia telah kembali tertidur..”

“bisakah aku berada didalam dan menjaganya?”

Siwon mendekat dan berdiri tepat disampingku..

“Biarkan dia beristirahat, kau pun juga memerlukannya.”

“Apa yang dikatakan tunangan anda benar, nona..”

aku mengerutkan dahi..
Darimana dia tahu?
Aku ingin menanyakan itu tapi melihat dia tersenyum, aku segera mengetahui Siwon sedang mengedipkan mata padanya.

Ck! Apa Siwon yang telah mengatakan mengenai status ‘tunangan’ itu padanya..

“kalau begitu aku akan menunggunya disini..”

aku membiarkan kedua suster itu pergi sementara aku kembali menduduki salah satu kursi tunggu, seperti tadi.

“Yang benar saja, Yoona.. Kau tak bisa sepanjang malam berada disini”

“Aku bisa, aku akan melakukannya dan menjaga Yuri oenni..”

“Aku tidak percaya kau bisa sebodoh ini. Akan ada suster yang setiap jam bergantian untuk melihatnya. Mereka memiliki sistem, yang akan mengetahui bila pasien dalam keadaan gawat.”

“Siapa yang bisa memastikan sistem itu akan bekerja dengan baik. Selalu ada kemungkinan human error dalam setiap kasus..”

Aku bahkan tak dapat mengerti dengan kalimatku. Tapi aku tak perduli. Aku berkeras untuk menjaga Yuri oenni, jika mereka tak membiarkanku berada didalam bersamanya tak masalah dengan berada diluar sini.

Aku melihat ketika Siwon meremas rambutnya dan kemudian duduk disebelahku.

“Anda bisa pulang sajangnim.. Kapan saja, aku tidak keberatan..”

lagi-lagi dia mengabaikan ucapanku yang semacam itu. Siwon justru menyandarkan tubuhnya kebelakang, kedua tangannya terlipat dan matanya mulai terpejam.

Apa yang dilakukannya?

“Aku juga akan berada disini jika itu apa yang kau lakukan..”

“sajangnim, anda..”

“Sayangnya kau bukan gadis penurut seperti saat bersama dengan ibuku dan aku sedang tak ingin memaksamu untuk menurut padaku. Lakukan sesukamu..”

Aku memberengut, dia mengatakan semua itu dengan memejamkan mata tak sedikitpun menatap padaku.

Beberapa saat setelahnya, aku menyadari tarikan napasnya yang teratur.
Apa dia telah benar-benar tertidur?
Aku tidak yakin..
Itu bukan posisi yang nyaman untuk tidur.
Tapi dia memang sudah tertidur.
Dia mungkin kelelahan. Aku menduga dia tidak memiliki waktu tidur sejak kejadian kecelakaan itu. Dia sibuk mengurusi banyak hal, termasuk aku.

Aku menghentikan seorang suster yang lewat, dan meminta sebuah selimut darinya. Dia kembali dengan selimut itu dan memberikannya padaku.

Beranjak dari kursi yang sedang ku duduki, aku kemudian memasangkan selimut itu ke tubuhnya. Udara tidak terlalu dingin saat ini, namun yang ku lihat Siwon sedikit menggigil dalam tidurnya.

Aku telah melihatnya marah. Sangat marah hingga membuatku takut. Tapi sepanjang hari ini, aku disuguhi dengan kedewasaan yang dimilikinya. Sesuai dengan umurnya, Siwon juga telah memiliki pemikiran yang matang. Dia memiliki kepedulian besar terhadap orang-orang disekitarnya, yang disayanginya.

Aku mengetahui itu dari alasannya yang mengatakan padaku, kenapa dia sampai harus membuat cerita yang seperti itu.

Untuk sesaat aku terdiam didepannya, memandanginya yang sedang tertidur.

Dia tidak mengatakan pada ayah dan ibunya alasan kepergianku akibat dari pengusiran yang dilakukannya setelah aku melakukan kesalahan besar dengan mencoba mengambil dokumen penting perusahaan mereka. Siwon menutupi itu dengan mengatakan aku pergi untuk menjemput Yuri oenni dibandara dari kedatangan luar negri nya.
Terdengar masuk akal, meski pada kenyataannya dia menemukanku dalam keadaan luar biasa panik, meronta-ronta untuk dilepaskan dari seseorang yang menahanku agar tidak mengejar oenni ku.

Siwon bahkan mengatakan padaku untuk merahasiakan semua kebenaran yang terjadi. Hanya aku dan dia yang tahu. Siwon jelas tidak ingin melihat sakit hati kedua orangtua nya atas apa yang telah direncanakan dan sebagian besar telah dilakukan oleh Donghae oppa untuk menghancurkannya. Dan terutama, Siwon berusaha untuk menjaga ahjumma Lee agar dalam kesedihan yang dirasakannya, dia tak juga merasakan perasaan kecewa terhadap putranya. Aku juga tidak ingin mereka tahu apa yang telah dialami oenni ku. Aku tidak ingin membuka luka yang dialaminya.

Hanya saja Aku tidak pernah menyangka dia sampai berpikir sejauh itu.
Kepeduliannya begitu besar, bahkan padaku yang telah begitu jahat terhadapnya.

“Maafkan aku.. Aku benar-benar meminta maaf padamu..”

Meski dia telah sangat sering menggenggam tanganku, namun aku masih tak berani untuk memegang tangannya.

“Terimakasih untuk semua kebaikanmu padaku dan pada Yuri oenni. Aku sangat berterimakasih, sajangnim..”

Yang kemudian berani kulakukan hanyalah sedikit membenarkan selimut ditubuhnya, sebelum kemudian aku beranjak dari hadapannya, melihat melalui kaca pada Yuri oenni yang berada didalam dan kembali duduk setelah aku mengetahui Yuri oenni juga masih tertidur.

Hanya beberapa menit saat kemudian aku mendengar suara dari ponsel yang berbunyi. Ponsel milik Siwon dan Aku melihatnya yang kemudian menggeliat..

Dia belum benar-benar tidur?
Apa dia menyadari apa yang telah kulakukan dengan memberikan selimut ditubuhnya?
Apa dia juga mendengar apa yang kukatakan..
Permintaan maaf dan ucapan terimakasih, apakah dia mendengarnya tadi?
Oh Ya ampunn..
Aku merasakan sesuatu yang agak panas seakan sedang merayap diwajahku.

Aku mengerjapkan mata ketika Siwon kemudian mengambil ponsel itu dari dalam saku kemeja hitam yang masih dikenakannya. Dia hanya sedikit membuka matanya untuk mengetahui siapa yang menelpon, namun setelahnya matanya kembali terpejam dan dia justru mengulurkan telpon itu padaku tanpa menoleh.

“Jawablah, ini oemma..”

Siwon menggoyangkan ponsel itu agar aku meraihnya..

“Jawablah Yoona.. Dan biarkan aku mendapatkan sedikit waktu untuk tidur..”

maka aku meraih ponsel itu dari tangannya. Siwon kembali terlihat melipat tangannya didepan dada, meneruskan kembali tidurnya. Sementara aku lantas menyentuh pada layar ponsel itu untuk menjawab panggilan dari ibunya.

“Omonim..”

“Oh, Yoona ya.. Bagaimana denganmu? Kau sudah baik-baik saja kan?”

Aku merasakan sesuatu dalam hatiku berdebar ketika mendengar suaranya yang mengkhawatirkanku.

“ne, omonim..”

“Oh, syukurlah.. aku begitu cemas memikirkanmu”

Sekarang aku bahkan bisa tersenyum mendengarnya..

“Apa kau berada diruang perawatan? kau masih menggunakan infus?”

“tidak lagi, omonim.. Aku sedang menjaga oenniku.”

“Oh, dan dimana Siwon? Kenapa kau yang menjawab ponselnya?”

“Dia tertidur beberapa saat yang lalu, kemudian terbangun dan memberikan ponselnya padaku agar aku yang menjawab dan membiarkannya kembali tidur”

“Oh, ya.. Siwon pasti membutuhkannya. Setelah semua yang terjadi, kita semua terguncang dengan musibah ini. Lalu bagaimana dengan kakakmu..?”

“dia sudah sadar, omonim..”

Aku lantas mengatakan padanya jika tadi aku juga telah berbicara dengan dokter dan mendapat penjelasan darinya. Yang kukatakan sesuai dengan apa yang sang dokter katakan padaku, mengenai kondisi kritisnya yang sudah dilewati, operasi yang telah dijalani hingga kemungkinan Yuri oenni harus menjalani terapi untuk berjalan. Aku mengatakan semua itu pada ibu Siwon yang sesekali menimpali ucapanku.

“Baiklah Yoona, mungkin aku dan suamiku akan datang besok. Beristirahatlah..”

Aku mengatakan ‘ya’ padanya dan menggumamkan terimakasih sebelum kemudian dia memutus sambungan telponnya.
Aku membiarkan ponsel Siwon berada ditanganku, karna bila mengembalikan padanya sekarang, itu berarti aku perlu untuk membangunkannya dari tidur. Dan aku tidak akan melakukannya. Siwon masih membutuhkan tidur lebih lama.

Yang kemudian bisa kulakukan disamping Siwon yang sedang tertidur, hanyalah terdiam dan termenung. Aku memikirkan banyak hal. Banyak hal yang telah dan mungkin akan terjadi dalam hidupku setelah kejadian-kejadian yang terjadi diluar dugaanku, diluar pemikiranku.

Aku tidak menghitung waktu berapa lama aku hanya terdiam, tapi aku merasa telah cukup lama saat itu. Saat aku kemudian tersentak oleh suara jeritan dan itu suara oenni ku.

Yuri oenni menjerit dan membuatku panik. Aku pasti telah melempar ponsel milik Siwon dari tanganku, akibat dari kepanikanku ketika aku kemudian berlari dan mendorong pintu ruang ICU itu. Menemukan oenni ku dalam keadaan yang pucat berkeringat..

Ketakutan dimatanya..

Ya Tuhan..
Rasanya sesuatu sedang meremas ulu hatiku melihatnya yang seperti itu.

“Oenni ya.. Yuri oenni, gwechana.. gwechana oenni..”

Aku mencoba memegang tangannya namun oenni menepiskannya..

“Si-won.. Dimana Siwon..? Aku takut.. Donghae menyakitiku.. Dia akan datang dan menyakitiku.. Dimana Siwon..! Dimana Siwon.. Aku benar-benar takut..”

Airmata menetes membasahi wajahku, Yuri oenni seakan tidak menyadari kehadianku. Raut wajahnya panik, matanya hanya terus mencari-cari keberadaan Siwon saat itu..

“Yoona.. Ada apa?”

Aku menoleh mendengar suara itu. Siwon masuk dengan kekhawatiran diwajahnya ketika kemudian dia mendekat padaku.

“Siwon.. Siwon, aku takut..”

Begitu Siwon berada dekat disisi tempat tidurnya, Yuri oenni langsung meraih tangannya dan bergerak cepat memeluk pada pinggangnya.

Oenni tidak membiarkanku mencoba untuk menenangkannya namun kepanikannya segera hilang dan dia mendapatkan ketenangannya ketika melihat Siwon berada didekatnya, dalam pelukannya.

Siwon terlihat bingung, saat dia menatap padaku namun aku hanya bisa menggeleng kearahnya. Aku tak tahu apa yang terjadi, juga apa yang sedang dirasakan oleh Yuri oenni, aku tidak memiliki penjelasan untuk itu.

Tapi kemudian Siwon menggunakan tangannya untuk mengusap pada rambut Yuri oenni dan mencoba menanyakan padanya..

“Ada apa Yuri ssi? Apa yang terjadi denganmu?”

Yang kulihat Yuri oenni justru semakin mengeratkan pelukannya. Aku sedikit mengkhawatirkan jarum infus ditangannya akan terlepas saat oenni melakukan itu.

“Donghae menyakitiku.. Dia menyakitiku. Aku takut..”

Kesedihan menghantamku ketika mendengar itu, dan aku hanya bisa menahan isakanku saat itu..

“Tidak Yuri ssi, itu tidak akan terjadi.. Kau hanya bermimpi. Tenanglah..”

“Tidak.. Donghae akan datang. Dia akan datang dan menyakitiku.. Siwon, aku takut.. Aku benar-benar takut..”

Siwon kembali mengusap pada rambut Yuri oenni. Aku sendiri masih tak yakin ini saat yang tepat untuk mengatakan padanya mengenai kepergian Donghae oppa untuk selamanya setelah kecelakaan itu. Dia tidak akan lagi bisa menyakiti Yuri oenni..

“Tidak.. Percayalah padaku, kau hanya bermimpi Yuri ssi. Hanya mimpi dan takkan pernah terjadi lagi..”

Yuri oenni perlahan melepaskan pelukannya untuk kemudian mendongak menatapnya..

“Tidak ada yang akan menyakitimu, percayalah padaku..”

“Apa kau akan terus menjagaku? Kau akan melindungiku?”

Siwon kembali mengarahkan tatapan matanya padaku, dan aku langsung menganggukkan kepala saat itu dengan maksud agar dia mengatakan ‘iya’ pada oenni ku. Aku tahu itu yang saat ini sedang dibutuhkannya. Seseorang yang bisa menjamin keselamatannya dan membuatnya merasa tetap aman tanpa rasa takut dirinya dalam keadaan terancam.

“Siwon.. Kau akan menjagaku. Kau akan melindungiku kan?”

Kumohon katakan ya sekarang, kumohon..

Aku mempergunakan tatapan mataku untuk mengatakan itu padanya, dan sepertinya Siwon dapat mengerti maksudku. Setelahnya dia mengangguk pada Yuri oenni..

“Ya, aku akan melakukannya. Maka sekarang, kembalilah tidur.. Kau membutuhkan banyak istirahat Yuri ssi..”

“Apa kau akan tetap disini? Berjanjilah kau akan tetap berada disini dan mengusir Donghae jika dia datang dan mencoba menyakitiku. Berjanjilah Siwon, Kau akan memaksa Donghae pergi dari hidupku..”

Siwon mengangguk dan menggumamkan kalimat yang pasti sangat ingin didengar oleh Yuri oenni pada saat itu. Dia mengatakan ‘Ya’ untuk apapun yang pada saat itu diinginkannya. Dan aku merasa senang Siwon pada akhirnya dapat benar-benar menenangkannya dan membuat Yuri oenni dapat kembali membaringkan tubuhnya.

“Yoona..”

Oenni memanggilku, sepertinya setelah mendapatkan ketenangannya dia baru kembali menyadari keberadaanku..

“Aku disini oenni..”

Aku mengusap pada bahunya..

“Yoona, tetaplah disini.. Jangan kemana-mana. Mereka akan menyakitimu bila kau berada diluar sana sendirian. Tetaplah disini, Yoona..”

Aku mengangguk padanya dan oenni menggunakan tangannya yang lemah untuk menyentuh pada wajahku, mengusap pada airmataku.

“Apa kau menangis? Jangan menangis, Yoona.. Jangan..”

Aku menggeleng dengan mantap dan kemudian membersihkan airmataku.

“Tidak oenni ya.. Aku tidak menangis, Aku baik-baik saja..”

Yuri oenni meraih tanganku dan memegangnya denga erat..

“Ya, kau harus baik-baik saja..”

Aku berusaha untuk tersenyum dan mengangguk padanya. Hingga semakin lama aku dapat merasakan tarikan napas Yuri oenni kembali teratur, dan dia kembali tertidur.

Siwon menjauhkan diri, dia tidak mengatakan apapun padaku saat kemudian melangkah untuk keluar. Namun saat Siwon bergerak membuka pintu, aku melihatnya berpapasan dengan seorang suster pada ambang pintu itu..

“Tuan..”

Suster itu memperhatikannya dan juga langsung mengalihkan pandangannya padaku yang masih berada disisi tempat tidur Yuri oenni.

“Sesuatu terjadi suster, aku bisa jelaskan padamu..”

Siwon menutup pintu untuk selanjutnya berbicara dengan suster itu diluar. Entah apa yang dikatakannya, tapi aku menduga itu adalah apa yang telah terjadi pada Yuri oenni tadi.

Beberapa saat kemudian sang suster itu masuk dan melakukan pemeriksaan. Dia tidak menyuruhku keluar, mungkin Siwon yang telah mengatakan untuk membiarkanku tetap berada bersama Yuri oenni.

“Bagaimana suster?”

“semua stabil, nona..”

Dia tidak mengatakan apa-apa lagi dan hanya tersenyum saat kemudian keluar dan meninggalkanku bersama dengan Yuri oenni.

Terlalu lama berada diruang ICU yang dingin, ternyata telah membuatku menggigil. Aku melepaskan tanganku dari Yuri oenni, dan menggunakannya untuk mengusap-usap pada lenganku sendiri agar setidaknya mendapatkan sedikit kehangatan dari apa yang telah kulakukan.

Aku menoleh ketika mendengar suara pintu yang kembali terbuka dan melihat Siwon masuk dengan membawa selimut ditangannya. Sebuah selimut yang tadi aku pasangkan ditubuhnya.

Dia bergerak semakin dekat, dan yang kurasakan dia memakaikan selimut itu dari belakang tubuhku.

“Yuri sudah kembali tidur, kau bisa meninggalkannya sekarang..”

“Aku ingin disini..”

“tapi lihatlah, kau mulai menggigil Yoona..”

Aku menggeleng..

“Tidak akan lagi.. Terimakasih untuk selimutnya, aku akan baik-baik saja..”

Aku dapat mendengar helaan napasnya dan tangannya yang kemudian berada diatas kepalaku, mengusap pada rambutku dan bahkan menciumnya sebelum suara dari ponsel miliknya menghentikan itu.

Oh..
Dia mendapatkan lagi ponselnya..
Aku akan meminta maaf karna telah melempar benda itu tadi.

“Aku akan berada diluar untuk menjawab telpon, panggil aku jika kau membutuhkanku..”

Aku mengangguk dan membiarkannya keluar meninggalkanku.

Siwon tidak kembali masuk setelah sekitar tiga puluh menit berlalu. Satu jam berlalu dan aku mulai terpikir jika dia mungkin memilih untuk pulang. Aku mencoba memastikan itu dengan melihat melalui kaca yang sama yang ada dibagian pintu, namun yang kulihat Siwon berada disalah satu kursi tunggu disana dengan ponsel yang masih menempel ditelinganya.

Entah karna apa, aku merasa lega, senang mengetahui dia tidak benar-benar meninggalkanku..

Aku masih tak mengetahui pukul berapa saat itu. Aku hanya terus berada disisi Yuri oenni. Aku dapat mengetahui pada saat itu alat-alat medis disekitarku bekerja dengan normal setahuku, hanya saja aku memperhatikan kegelisahan terjadi pada Yuri oenni.

Dia mulai bergerak-gerak menggelengkan kepalanya, wajahnya berkeringat dan tangannya mulai bergerak seakan memukul-mukul sesuatu yang berada didepannya.

“oenni ya..”

“Tidak.. Lepaskan.. Lepaskan.. Jangan sentuh aku..!”

“Oenni ya..”

Aku mengguncang tubuhnya mencoba untuk membangunkannya.

Ya Tuhan..
Yuri oenni pasti sedang mengalami mimpi.
Mimpi yang buruk sepertinya..

“Tidak.. Lepaskan.. Jangan sentuh aku! Jangan sentuh aku..!!”

“gwechana Oenni, Yuri oenni kumohon.. Tidak akan terjadi apa-apa denganmu. Tidak ada yang akan menyakitimu, Donghae oppa telah mati.. Dia telah mati, oenni..”

Aku mengatakan itu sambil terus mengguncang tubuhnya, hingga kemudian dia terbangun dengan tanpa melihat kearahku. Tatapan matanya mencari-cari sesuatu..

“Dimana Siwon.. Siwon.. Dimana Siwon..!”

Kenyataan itu membuatku menyadari kemungkinan Yuri oenni kini memiliki ketergantungan terhadap keberadaan Siwon. Dia telah mencintainya sejak dulu dan sekarang memiliki anggapan bahwa Siwon adalah satu-satunya orang yang dapat melindunginya. Menyelamatkannya dari ketakutan yang dirasakannya..

“Yoona..”

Pintu itu dengan cepat terbuka, dan aku kembali melihat kekhawatiran yang diperlihatkan oleh Siwon saat dia masuk dan menghampiriku.
Aku hanya bisa menjatuhkan airmata saat itu..

“Siwon.. Aku takut..”

“gwechana Yuri ssi, gwechana.. Apa kau bermimpi lagi..?”

Yuri oenni menggeleng..

“Tidak.. Itu bukan mimpi. Itu nyata.. Donghae menyakitiku, dia menyakitiku. Siwon, tolong jangan meninggalkanku.. Kumohon jangan meninggalkanku..”

“Oenni ya..”

Aku begitu sedih melihatnya ketakutan seperti itu..

“Dia tidak akan bisa menyakitimu oenni, tidak lagi. Dia takkan bisa lagi melakukannya..”

Aku mengatakan itu meski oenni seakan tak mendengarku. Dia hanya terus terfokus pada Siwon..

Ya Tuhan..

“Kau bermimpi Yuri ssi.. Lihatlah, tidak ada Donghae disini. Kau hanya bermimpi.. Tenanglah, ada aku dan ada Yoona yang akan menjagamu..”

Oenni memperhatikan kesekelilingnya, dan sepertinya tatapannya menemukan keberadaanku.

“Yoona..”

“Aku disini, oenni.. Aku disini. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu..”

“Yoona.. Aku takut. Aku sangat takut..”

“Tidak oenni.. Jangan takut. Tidak ada yang perlu kau takutkan. Aku selalu bersamamu..”

Setelah mendapatkan mimpi buruk itu, Yuri oenni masih mengalami mimpi lagi pada sekitar pukul satu atau dua dinihari.

Lebih dari yang sebelumnya, dia menjerit dengan kencang dan meronta-ronta saat aku memeluk untuk menenangkannya. Dalam keadaan seperti itu, oenni seakan tidak mengenaliku. Dan itu melukaiku. Rasanya benar-benar sakit melihat Yuri oenni mengalami hal seperti itu..

Dia kembali tenang setelah mengetahui Siwon bersama dengannya. Memegang tangannya , mengusap rambutnya dan bahkan memeluknya..

“Terimakasih sajangnim.. Terimakasih untuk mau membantuku menenangkan Yuri oenni..”

Pembicaraan ini terjadi diluar ruang ICU, setelah dokter melakukan pemeriksaan dan memutuskan untuk memberi suntikan obat penenang agar Yuri oenni dapat benar-benar tertidur tanpa harus terjaga karna mimpi buruk yang dialami olehnya..

Melihat apa yang telah terjadi dengan Yuri oenni, aku merasa perlu untuk berbicara dengan Siwon.

“Aku mengerti kekhawatiranmu, Yoona..”

“Sajangnim..”

“hm..”

“dapatkah aku mengatakan sesuatu?”

“Ya, tentu saja kau bisa melakukan itu..”

“Aku tahu aku bukan seseorang yang pantas untuk meminta ini setelah apa yang telah ku perbuat padamu dan pasti aku telah menjadi egois karna hanya mementingkan perasaanku. Tapi..”

Siwon menatapku dengan sangat dalam..

“Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”

“Bisakah.. bisakah aku meminta anda untuk bersama dengan Yuri oenni?”

“Apa maksudmu?”

Aku gemetar melihat tatapan mata itu..

“Hanya sementara.. Sampai Yuri oenni benar-benar pulih. Dapatkah anda berperan menjadi seseorang yang peduli padanya.”

“Tanpa kau meminta, aku memang telah menaruh kepedulian padanya..”

“maksudku, lebih dari itu sajangnim, bisakah anda menjadi sesorang yang mencintainya..?”

“Apa?”

Aku melihatnya yang tersentak oleh apa yang ku katakan.

“Yuri oenni mencintai anda, sajangnim.. Dan dia benar-benar bergantung pada kehadiran anda disampingnya. Aku tahu anda seseorang yang sibuk tapi..”

“Bukan itu masalahnya, Yoona..”

Aku terkejut saat Siwon merengkuh bahuku dan membawaku untuk berdiri dan menatap pada kedua matanya.

“masalahnya adalah Kau.. Apa aku harus mengingatkanmu lagi pada pengakuanku beberapa jam yang lalu? Aku telah mengatakan aku menyukaimu, Yoona. Kau gadis yang ku cintai dan bukan Yuri, kakakmu..”

“Sajangnim..”

“Aku peduli padanya itu memang benar. Dia pernah bekerja dengan baik untukku dan aku benar-benar kehilangannya saat itu. Tapi lebih dari itu, kepedulianku pada Yuri adalah karna kau. Yuri telah menjadi bagian besar dalam hidupmu dan aku peduli akan hal itu..”

Apa yang ingin kukatakan seakan terhenti ditenggorokan ku..

“Aku melihat betapa kau panik dan ketakutan pada saat kecelakaan itu. Dan apa yang kulakukan dengan menyelamatkannya dari kecelakaan itu adalah karna Kau. Karna kepanikan dan ketakutanmu.. Aku tidak ingin melihat itu diwajahmu.”

“Sajangnim..”

“ssttt.. Jangan khawatir, Aku akan tetap peduli pada Yuri. Aku hanya ingin kau tahu, aku mencintaimu dan bukan kakakmu..”

Aku menggeleng kearahnya, dan aku melihatnya terkesiap oleh reaksiku..

“Yoona..”

“Sajangnim, tolong aku.. Yuri oenni membutuhkan anda. anda melihat sendiri bagaimana keadaannya. Dia membutuhkan anda.. Kumohon, berpura-pura lah mencintainya..”

“Kau ingin aku melakukannya? Kau ingin aku membohonginya?”

Aku mengangguk..
Bukankah hanya itu yang sekarang dibutuhkan oenni ku?
Dia membutuhkan Siwon sebagai seorang pria yang peduli padanya dan sekaligus mencintainya.

“Yang benar saja.. jangan menjadi konyol, Yoona.. Bagaimana kau bisa memintaku untuk membohongi kakakmu sendiri..”

“Seperti apa yang telah anda katakan.. bukankah kebohongan itu juga akan membuat keadaannya menjadi lebih baik”

Itu akan sama seperti dia yang telah mengarang cerita pada kejadian kecelakaan yang telah terjadi. Kebohongan yang dilakukan untuk menjaga sesuatu agar tetap menjadi baik. Dapatkah sekarang aku memintanya untuk melakukan hal yang sama demi kebaikan Yuri oenni..?

“Akan lebih baik jika kita mengatakan padanya bahwa kita telah bertunangan..”

Tidak..
Itu akan sangat melukai oenni ku.

“Yuri perlu mengetahui itu sejak dari sekarang..”

“Tidak sajangnim.. Aku tidak bisa. Hal itu justru akan melukai Yuri oenni..”

Aku melepas cincin yang melingkari jari manisku..

“kau dan aku sama-sama tahu, pertunangan ini hanyalah main-main. Bagian dari sebuah permainan yang sekarang telah berakhir..”

Aku melupakan ke-formal-an ku..
Meraih dan menggenggamkan cincin itu di tangannya..

“Kedua kalinya Aku memasangkan cincin itu padamu. Aku tahu, itu bukan lagi main-main. Tidak ada lagi permainan.. Aku ingin kau tahu bahwa aku serius denganmu, Yoona.. Aku ingin ini tetap berada dijari manismu..”

Aku bergerak mundur ketika Siwon mencoba memasangkan kembali cincin itu dijari ku. Dan apa yang ku lakukan sepertinya hanya membuatnya marah padaku.

“Persetan dengan cincin sialan ini, kau tidak membutuhkannya untuk menjadi tunanganku..”

Dia membuatku terkesiap dengan melemparkan cincin itu..

“Sajangnim..”

“Pertunangan kita telah diumumkan, dan semua orang mengetahui itu. Dengan atau tanpa kau memakai cincinmu kau tetaplah sebagai tunanganku.”

Dengan kalimat itu dia pergi meninggalkanku..
Meninggalkanku dalam keadaan lemas dan sendirian pada dingin dan sunyinya dini hari ini. Kesedihan dengan cepat melandaku.

Dari semua sifat yang ku ketahui dimiliki olehnya, aku sadar aku tak menyukai ketika dia menunjukkan amarah nya. Melihat Siwon marah membuatku takut. Aku tahu dia pria baik tapi bisa menjadi kejam karna kemarahan yang dia rasakan.
Ini salahku..
Aku yang kembali membuatnya marah padaku..

“Maafkan aku..”

Aku ingin hanya terduduk dan menangis, tapi aku harus menemukan cincin ku..

***

Siwon POV

Aku marah..
Kecewa..
Dan terluka..
Karna itu aku meninggalkannya disana.

Aku tidak habis mengerti dengan apa yang diminta Yoona dariku.
Permintaannya sungguh konyol. Dan apa dia berpikir aku akan mengabulkannya?

Tidak..!

Aku paham jika dia menganggap Yuri segalanya untuknya. Tapi memintaku untuk berpura-pura mencintai Yuri bukanlah solusi.

Tidakkah sedikit saja dia memahami perasaanku?

Oh,
Dia jelas-jelas mengabaikan nya. Gadis itu tidak perduli bahkan setelah Aku membuat pengakuan padanya. Aku bahkan menunjukkan padanya melalui tindakan nyata bahwa aku memiliki perasaan terhadapnya. Aku menyukainya..
Tidak..
Tapi lebih dari itu. Aku telah mengatakan padanya bahwa aku mencintainya. Tidakkah dia menghargai itu?

“Sial Yoona..! Mengapa kau lakukan ini padaku?”

Memikirkan permintaanya hanya semakin membuatku marah. Aku telah memukul kemudi mobilku berkali-kali sebagai sasaran kemarahanku.

Aku sedang dengan leluasa memacu mobilku dalam kecepatan tinggi. Tidak heran bila tak banyak pengendara, ini dini hari. Dan aku meninggalkan Yoona sendirian disana, didalam rumah sakit yang memiliki hawa tidak mengenakkan.
Oh Tuhan..
Aku juga melihat ketakutan dimatanya ketika aku marah dan aku mengabaikannya.

Apakah aku menyesalinya sekarang?

Tapi melihat dia melepas cincin itu dan mengembalikannya padaku, serta menolak ketika aku mencoba memasangkannya kembali, sungguh telah membuatku benar-benar marah. Meski sejujurnya sekarang aku menjadi tidak perduli apakah dia memakai cincin itu atau tidak, gadis itu telah berstatus tunanganku. Dan akan tetap seperti itu.

Sial..
Aku bisa menjadi bajingan pemaksa yang akan tetap memaksakan status pertunangan itu terhadap Yoona.

Aku tidak lagi perduli..
Bukankah gadis itu juga sama tak peduli dengan perasaanku.

Aku kembali memukul pada stir ketika berbelok untuk memasuki jalanan menuju rumah. Penjaga membukakan pagar untukku dan mobilku melesat dengan cepat memasuki halaman dan langsung masuk kedalam garasi.

Keluar dari dalam mobil, aku pasti telah membanting pintu mobil itu dengan begitu keras. Masuk kedalam rumah, aku melihat oemma yang baru membuka pintu kamarnya dengan wajah mengantuk, dan terkejut ketika melihatku.

Aku pasti telah membuat kegaduhan..

“Siwonie.. Suara apa itu? Kau pulang? Sendiri? Bagaimana dengan Yoona?”

Demi Tuhan oemma..
Tak perlu mengkhawatirkan gadis itu.

Aku ingin berteriak..

“Siwon.. Apa yang terjadi?”

Aku memberi isarat dengan tanganku agar oemma tidak mendekat dan tetap berada disana.

“Aku merasa lelah, oemma..”

“lalu bagaimana dengan Yoona? Kau meninggalkan gadis itu sendirian disana?”

“Dia akan baik-baik saja. Yoona bisa menjaga dirinya sendiri..”

“Siwonie..!”

Aku tahu oemma masih ingin berbicara, namun aku dengan segera meninggalkannya dan masuk kedalam kamarku, melempar tubuhku keatas tempat tidur dengan tanpa melepas sepatuku.

Aku perlu tidur dan melupakan semuanya. Tapi begitu memejamkan mata, wajah Yoona dengan raut ketakutan dan berlinang airmata, justru terlintas.

Membuatku mengerang dengan berlebihan..
Bisakah dia dikeluarkan dari dalam pikiranku, sekarang.

“Siwonie.. Semua baik-baik saja kan?”

Aku membalikkan tubuhku dan mendapati oemma telah masuk dan dalam gerakan mendekatiku.

“Tidak bisakah oemma mengetuk pintu terlebih dulu?”

Aku bergerak bangun dan duduk dipinggir tempat tidur..

“Apa masalahmu..? Aku ibumu dan bukan orang lain. Haruskah seformal itu hanya untuk masuk kedalam kamar putraku..”

Aku mendengus pada oemma yang kini telah berdiri dihadapanku..

“Aku tidak dapat tidur, tapi ayahmu terbangun karna mendengar suara gaduh itu dan memintaku untuk bertanya padamu apa yang sebenarnya terjadi?”

“Aku sudah katakan, oemma.. Aku lelah. Bisakah oemma keluar dan hanya membiarkanku beristirahat?”

“sungguh?”

“hm..”

“baiklah, tapi bisakah kau memberitahuku bagaimana dengan keadaan Yoona dan kakaknya?”

“mereka baik.. Jika oemma tidak percaya padaku, oemma bisa mengunjunginya besok”

Oemma memicingkan matanya padaku..

“Oemma memang sudah merencanakan akan kesana besok. Tapi sikapmu begitu mengesalkan, Siwon. Aku tidak yakin dengan apa yang kau katakan jika keadaan baik-baik saja. Kau jelas terlihat sedang bermasalah..”

Ya..
Aku bermasalah..
Bermasalah dengan seorang gadis belia yang telah menjadi kesayangan ibuku.

Oemma tidak lagi berbicara dan langsung keluar dari dalam kamarku.

Menarik napas dalam-dalam aku sedang mencoba untuk merilekskan diriku dan menghilangkan gambaran-gambaran wajah Yoona yang masih terus melintas didalam benakku.

Sampai pada sekitar pukul enam pagi hingga kemudian matahari terbit, aku benar-benar tidak bisa tidur. Meninggalkan Yoona justru membuatku kian gelisah.
Memutuskan untuk turun dari atas tempat tidur, aku dengan segera masuk kedalam kamar mandi dan menyegarkan tubuhku.

Ketika pada akhirnya aku keluar dari dalam kamar, keadaan rumah sepi. Tidak ada ahjumma Lee yang berada didapur seperti biasanya.

Melangkahkan kaki ku menuju pada salah satu kamar yang biasanya ditempati ahjumma Lee ketika dia menginap, aku dengan perlahan membuka pintunya. Melihatnya yang tertidur dengan mendekap sesuatu didalam pelukannya.
Ketika telah mendekat, aku mengetahui itu adalah bingkai foto Donghae. Bingkai foto yang sebelumnya dipakai dalam acara pemakaman.

Aku menatapnya, wajahnya bahkan masih memperlihatkan sisa-sisa airmatanya. Ahjumma Lee pasti telah terjaga sepanjang malam dan terus menangis. Menangisi putranya yang telah tiada. Keadaannya begitu memprihatinkan dan aku begitu sedih melihatnya.

Memasangkan selimut ditubuhnya aku lantas meninggalkannya. Dia membutuhkan tidur dan beristirahat.

Walau bagaimanapun, kepergian Donghae juga menjadi kedukaan untukku. Entah apa yang sudah berada dalam rencananya untuk menghancurkanku aku tak akan mencoba mencari tahu. Dia telah pergi dengan membawa rahasia itu bersamanya. Dan kuharap dia mendapatkan ketenangan disana.

Keluar dari kamar ahjumma Lee, aku menemui seorang supir yang biasa mengantarku dan menanyakan padanya keberadaan oemma dan juga aboji..

“Nyonya telah meminta diantar pada pagi-pagi sekali, dan Tuan menemaninya..”

Oemma pasti telah tidak sabar untuk bertemu dengan gadis kesayangannya.

“Apa kita akan pergi sekarang, Tuan..?”

“Ya, tentu saja..”

“Anda akan terlebih dulu kerumah sakit atau..?”

“Tidak, aku akan langsung ke kantor..”

Aku tidak ingin datang.
Aku tidak akan berada disana pada saat ini dan bertemu dengan Yoona. Akan lebih baik jika untuk sementara aku menghindarinya. Aku masih saja merasakan marah ketika mengingat permintaannya..

Aku masuk kedalam mobil dan membiarkan ahjussi mengemudikannya. Hingga kemudian setelah beberapa menit lamanya berada diperjalanan, laju mobil berhenti didepan gedung perusahaan.

Aku sudah akan keluar ketika seseorang telah bergerak membukakan pintu untukku, namun suara dering ponsel yang kemudian menahanku untuk melakukan itu.

“Yobseyo oemma..”

“Kau dimana sekarang?”

Aku langsung menyadari tak ada kalimat basa-basi dari apa yang oemma katakan.

“Aku telah sampai dikantor..”

“datanglah ke rumah sakit, keadaan menjadi gawat dan jelas oemma memerlukan penjelasan darimu.”

“oemma, apa yang..”

“Cepatlah Siwon, bahkan ayahmu menunggumu disini..”

Oemma menutup telpon bahkan sebelum aku mengatakan ketersediannku untuk pergi kesana.
Itu jelas bukan sebuah permintaan melainkan perintah..

“Rumah sakit, ahjussi..”

Pintu mobil kembali ditutup dan ahjussi kembali melaju kejalan raya. Butuh beberapa menit untuk sampai dirumah sakit. Dan beberapa menit itu rasanya begitu cepat ketika mobil yang membawaku didalamnya kembali berhenti dengan ahjussi yang langsung bergerak keluar untuk selanjutnya membuka pintu mobil untukku.

“Terimakasih ahjussi..”

Setelahnya, dengan langkah lebar aku memasuki lobi dan telah mengetahui tempat mana yang akan ku tuju.

Disana..
Ketika sejenak kemudian aku menghentikan langkahku. Aku melihat oemma yang berada dalam rangkulan tangan aboji, sedang berdiri didepan pintu ruang ICU. Dengan tatapan yang terus tertuju kedalam ruangan itu.

“Oemma.. Aboji..”

Aku sedikit berlari untuk menghampiri mereka.

“Oh, Siwonie.. Oemma masih tidak tahu apa yang terjadi tapi gadis itu, bagaimana bisa kakak Yoona begitu menjadi histeris dan mencari-cari keberadaanmu..? Meski Yoona berada didalam, dia tetap tak bisa untuk menenangkannya.”

Aku dapat mendengar suara teriakan Yuri pada saat itu yang menyebut namaku..

“Biarkan aku masuk terlebih dulu oemma, aboji.. Aku akan menjelaskannya nanti”

Walau bagaimana pun aku lah seseorang yang dapat menenangkan Yuri. Dan aku akan melakukannya. Lebih untuk membuat keadaan tidak menjadi semakin panik..

“Siwon.. Dimana Siwon..! Katakan padaku dimana Siwon.. Siwon.. Tidak, Siwon..”

“Yuri ssi..”

Aku memanggilnya meski pada saat itu pandanganku tertuju pada Yoona.

Ya Tuhan..
Gadis itu..
Dia masih menangis.
Raut diwajahnya begitu terlihat memilukan. Dia akan bisa menghancurkanku dengan keadaannya yang seperti itu. Melihat airmatanya bahkan seakan telah ada sebilah belati yang menghujam kedalam tubuhku.

Kesedihan jelas tak dapat terelakkan dari dalam sorot kedua matanya yang sayu, terlebih melihat dua orang suster yang pada saat itu mencoba untuk mengikat tangan dan kaki Yuri.

Haruskah sampai seperti itu..

“Yuri ssi..”

Aku bergerak semakin dekat menghampirinya dan sepertinya Yuri kemudian menyadari keberadaanku. Dia berhenti meronta dari dua orang suster yang memeganginya. Bahkan ada seorang dokter yang juga memeganginya.

Oh..
Dokter itu..
Dokter wanita itu, aku sempat melihatnya menghadiri pemakaman. dan bahkan aku juga mengetahui Jessica berada dalam barisan para pelayat. Entah ada hubungan apa yang sebelumnya terjalin dengan Donghae, aku masih tak mengetahuinya.
Tapi dokter wanita itu, dialah yang selama ini menangani Yuri.

Dan siapakah yang telah mengundangnya untuk datang?

“Si-won..”

“Aku ada disini..”

“Si-won..”

Ketika kemudian aku mencapai disisi tempat tidurnya, Yuri menyentakkan tangan kedua suster itu dan langsung memelukku.

“Si-won.. Aku takut.. Aku benar-benar takut..”

“gwechana Yuri ssi.. Bukankah sudah kukatakan tidak akan ada yang menyakitimu. Kau hanya bermimpi..”

Dia menggelengkan kepalanya..

“Kau tidak mempercayaiku?”

“Tidak.. Aku takut.. Aku benar-benar takut..”

Aku tidak menyangka akan seperti ini..
Seorang wanita yang pintar seperti Yuri akan menjadi seperti ini.

Menyedihkan..
Dan sulit dipercaya.

Sedangkan masih jelas terekam dalam ingatanku saat dia begitu lihai menangani pekerjaannya. Yuri juga selalu dapat untuk diandalkan.

Tapi keadaannya yang sekarang, aku harus menyebutnya dengan memprihatinkan.

Bahkan beberapa saat setelahnya, setelah dia dapat untuk ditenangkan dan perlahan mengenali dokter wanita itu dan juga Yoona yang berada disekitarnya, Yuri masih tak ingin melepaskan tangannya dariku. Dia benar-benar memandangku seolah aku lah satu-satunya orang yang dapat untuk menjaga dan melindunginya. Berbeda ketika sebelumnya dia menatapku dengan binar-binar dikedua matanya. Sorot mata Yuri yang sekarang justru lebih sering terlihat penuh dengan kewaspadaan dan serta antisipasi didalamnya.

Dua orang suster telah keluar dari dalam ruangan, Yuri pun perlahan memejamkan kedua matanya dan pegangan tangannya pada pergelangan tanganku ikut mengendur. Pengaruh obat sepertinya yang kemudian membuatnya kembali tertidur.

Aku meletakkan tangan Yuri keatas tubuhnya dan kemudian hanya memperhatikan ketika Yoona bergerak untuk memasangkan selimut ke tubuhnya.

“Mungkin kita bisa bicara, Yoona..”

Dokter wanita itu mengatakan..

“Ne, dokter..”

Mengusap sisa-sisa airmata diwajahnya, Yoona lebih dulu menatap pada Yuri sebelum kemudian kedua matanya terarah padaku.

“Terimakasih untuk kehadiran anda, sajangnim. Saya benar-benar berterimakasih..”

Aku tak tahu apa yang bisa kukatakan untuk menjawab ucapan trimakasihnya. Aku masih marah terhadapnya, namun melihatnya berada dalam pandangan mataku lebih terasa membuatku lega bila dibandingkan dengan ketika aku meninggalkannya.

“Mungkin kita juga dapat berbicara, Tuan..”

Dokter wanita itu mengarahkan pandangan matanya padaku, sedangkan Yoona kemudian menatap pada dokter itu.

Apa yang juga ingin dia bicarakan denganku..

“Mengenai Yuri, dan melihat reaksinya tadi terhadap kehadiran anda. Saya ingin menyampaikan mengenai itu..”

“Baiklah dokter, kita bisa membicarakannya diluar..”

“Tolong jangan membahas mengenai pelecehan seksual itu, aku tak ingin lagi mendengarnya..”

Aku mendengar Yoona mengatakan itu pada sang dokter, ketika aku lebih dulu membuka pintu dan keluar dari dalam ruangan. Oemma dan aboji langsung menghampiriku.

“Bagaimana? Sepertinya gadis itu tak lagi berteriak..”

“Dia telah kembali tertidur..”

“Oemma perlu menanyakan sesuatu padamu, Siwonie..”

Entah apa namun aku telah dapat menduga pertanyaan macam apa itu yang ingin oemma tanyakan padaku.

“Tunggu dulu oemma, dokter sepertinya ingin mengatakan sesuatu..”

Ketika Yoona kemudian keluar dari dalam kamar ICU Yuri bersama dengan dokter wanita itu, Oemma langsung beralih dariku untuk kemudian mendekatinya.

“Yoona ya..”

“omonim..”

Aku kembali melihat airmatanya ketika Yoona bertatapan dengan oemma, namun kemudian yang ibuku lakukan adalah mengambil sesuatu dari dalam tas nya. Dan dengan menggunakan itu, oemma mengusap airmata dari wajah Yoona.

“Aku mengerti ini pasti sulit untukmu, Yoona ya..”

Aku menghela napas..
Bukan pemandangan yang terduga sebelumnya. Oemma telah begitu besar menaruh perhatiannya terhadap Yoona. Maka menjadi tidak salah saat aku telah menyebut gadis belia itu sebagai kesayangan oemma.

“Jadi apa yang ingin anda katakan, dokter?”

Aku memulai pertanyaanku..

“Oh, maaf sebelumnya jika saya harus mengatakannya disini..”

“Bukan masalah, anda bisa mengatakannya sekarang..”

Aku melihat pada aboji dan juga oemma dan terutama Yoona, yang langsung menyimak apa yang kemudian dokter itu katakan.

Dari awal dia telah menangani Yuri. Dari keberadaan Yuri dirumah sakit waktu itu hingga sampai keberadaan Yuri yang ternyata disembunyikan oleh Donghae, dokter wanita itu masih dilibatkan untuk menanganinya. Aku beranggapan jika dia juga cukup mengenal Donghae. Maka aku percaya jika dia telah dapat mengetahui bagaimana kondisi kejiwaan dari Yuri.

Dari pemeriksaan yang telah dia lakukan, dan dari apa yang telah dia saksikan, dokter itu mengatakan bahwa kecelakaan yang dialami Yuri telah menyisakan trauma dalam dirinya. Yuri pastilah mendapatkan mimpi-mimpi buruk dari kecelakaan itu yang nyaris merenggut nyawanya.

Maka saat kemudian ia melihat seseorang berhasil menolongnya dari bahaya yang mengancam jiwanya, yang terekam dalam memorinya adalah seseorang itu juga akan dapat menyelamatkannya dalam situasi mencekam lainnya, seperti yang terjadi dalam mimpinya.

Dan seseorang itu adalah aku..

Oh, mungkinkan Yuri akan terus seperti itu?

“Tapi saat itu bukan hanya aku yang melakukan pertolongan terhadapnya, dokter..”

“Tapi anda pastilah satu-satunya orang disana yang pada saat itu dapat dikenali oleh Yuri. Kejadian kecelakaan yang mencekam itu pasti terus terekam dalam memorinya, hingga anda lah orang pertama yang selalu dia cari ketika mimpi itu datang”

“Apakah dia akan dapat disembuhkan dari trauma itu?”

“Seharusnya bisa.. Yuri perlu mendapatkan terapi untuk itu.”

“berapa lama itu diperlukan?”

“Itu bukanlah sesuatu yang dapat ditentukan, Tuan. Tergantung pada seberapa kuat keinginan Yuri untuk terlepas dari trauma yang dia rasakan..”

Aku tak dapat mengatakan apa-apa lagi. Sungguh tak menyangka semua akan menjadi seperti ini.

Begitu dokter wanita itu selesai dengan penjelasannya dan pada akhirnya pergi setelah mengatakan memiliki pasien lain yang harus ditangani, Oemma langsung bertindak.

Dia tak menunggu untuk mengatakan pertanyaannya padaku..

“Jadi Siwon, apa yang sesungguhnya terjadi antara Kau dan gadis itu, kakak Yoona. Apa yang telah terjadi diantara kalian?”

“Oemma, apa maksudnya pertanyaan semacam itu..?”

“Oh Tuhan ku.. Aku telah melihatnya dari dekat. Jangan kira oemma bodoh dan tak menyadari siapa gadis itu. Dia jelas-jelas pernah bekerja untukmu. Menjadi sekretarismu. Oemma masih memiliki ingatan itu saat aku berkali-kali melihatnya dalam satu ruangan bersamamu..”

Oemma bergerak mendorong pada bahuku..

“Kenapa kau tak pernah mengatakan padaku jika Yoona adalah adiknya?”

Sesaat setelahnya, Oemma beralih pada Yoona dan memberikan tatapan tajam padanya.

“Kenapa kau juga tidak mengatakan padaku jika kakakmu yang kau katakan sebelumnya berada diluar negri, dia adalah bekas sekretaris Siwon?”

“Omonim, Aku.. Aku hanya..”

“Yeobo, apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan?”

Aboji pada akhirnya menarik oemma ke sisinya.

“Astaga.. Kenapa kau tidak memiliki pemikiran yang sama denganku, yeobo. Kakak Yoona pernah menjadi sekretaris Siwon. Dan kau lihat bagaimana gadis itu histeris mencari-cari keberadaan Siwon tadi. Mereka berdua pastilah memiliki riwayat kedekatan yang lebih sebelumnya..”

“Jadi maksudmu adalah..?”

“Ya, kau mengerti apa yang menjadi maksudku sekarang..”

Aboji kini menatap meminta penjelasan dariku. Dan aku mengerti apa yang saat ini sedang menjadi kecurigaan kedua orangtua ku..

“Ya Tuhan, oemma.. Mengapa kau berpikir aku serendah itu?”

“Itu karna aku melihat sendiri dengan kedua mataku bagaimana kelakuanmu bersama dengan Yoona saat itu. Bahkan sekarang saat oemma terpaksa harus mengingatnya, aku masih merasakan kecewa terhadapmu, Siwon..”

“Oemma.. Yang terjadi malam itu sebenarnya, sebenarnya hanyalah..”

Aku berpikir jika aku mengatakan yang sebenarnya terjadi pada malam itu, pada saat oemma memergoki ku bersama dengan Yoona, itu sama saja dengan aku harus membongkar kebenaran yang sengaja ku tutupi. Dan itu tidak mungkin kulakukan. Maka kemudian aku menghentikan ucapanku..

“Apa.. Hanyalah apa, Siwon? Hanyalah tindakan main-main mu dengan mencoba untuk menidurinya? Kau ingin mengatakan seperti itu pada oemma..? Kau mungkin juga telah melakukan hal yang sama dengan kakaknya..”

Aku meremas rambutku, sedikit frustasi dengan pemikiran ibuku yang telah begitu rendah memberikan penilaian terhadap putranya sendiri.
Tidakkah oemma mengenalku?
Oh,
aku tak bisa menyalahkannya. Semua pemikiran itu muncul karna salahku..

Sementara yang kulihat dari Yoona, dia hanya menundukkan wajahnya, diam seakan mengunci rapat-rapat mulutnya.

“Tidak oemma, tidak ada yang main-main dengan apa yang kulakukan dengan Yoona. Aku mencintainya.. Aku serius dengan perasaanku terhadapnya.”

Dengan mendengar kalimat itu, Yoona mendongak menatap padaku. Aku membalas tatapannya dengan masih terus melanjutkan kalimatku..

“Tidak pernah terjadi sesuatu antara aku dan Yuri, seperti yang terjadi antara aku dan Yoona. Aku mencintai Yoona dan aku menginginkannya bersamaku..”

Aku tahu Yoona akan bersuara tapi aku takkan membiarkan dia menginterupsi ucapanku..

“Dan aku tidak akan berdusta pada oemma dan aboji, jika sebelumnya Yuri memang mengatakan bahwa dia mencintaiku..”

“Astaga.. Siwon..!”

Meski telah memiliki dugaan didalam pemikirannya, oemma masih terkejut saat mendengarku mengatakannya.
Ya..
Aku memutuskan untuk tidak melakukan kebohongan pada hal satu ini.

“Aku tidak bisa mencegah perasaan seseorang tumbuh terhadapku, oemma. Mengertilah..”

“Tapi bagaimana bisa kemudian kau justru bersama dengan adiknya? Bersama dengan Yoona? Bagaimana kau melakukan itu?”

Oemma kembali mengarahkan tatapannya pada Yoona. Aku menyadari bahkan penjelasan seperti ini akan menjadi panjang bila yang kuhadapi adalah ibuku.

Oemma seakan memiliki seribu satu pemikiran yang sanggup untuk mencecarku..

“Aku menolak perasaan Yuri terhadapku. Aku ingin hubungan profesional kami tetap terjaga. Dia pintar dan selalu bisa ku andalkan. Namun sepertinya Yuri terlukai oleh karna penolakanku. Dia memutuskan pergi dan berhenti dari pekerjaannya.”

“Dan membiarkan adik belianya menjadi liar dengan pergi keluar negri hanya karna perasaannya ditolak. Seperti itu kah?”

Sesungguhnya tidak..
Aku juga melihat ketidak relaan dimata Yoona mendengar oemma mengatakan itu. Tapi dalam hal ini aku terpaksa harus mengatakan ‘Ya’ berdasar pada cerita yang telah ku buat sebelumnya.

Kini aku merasakan kebenaran pepatah yang mengatakan jika satu kebohongan akan membuatmu melakukan kebohongan berikutnya.

Oh Tuhan..
Ampuni aku..

“Jadi apakah dia telah mengetahui jika kau dan Yoona sudah menjalani pertunangan?”

Itu pertanyaan yang kudengar dari aboji..

“Tidak.. Yuri belum mengetahuinya..”

“Saya telah memutuskan untuk tidak mengatakannya”

Oh,
Yoona..
Kau jelas tidak dalam posisi untuk mengambil keputusan.

Aku mengarahkan tatapan tajam padanya, namun nampaknya dia mengabaikan itu dan melanjutkan ucapannya ketika oemma dan aboji terlihat terkejut mendengarnya.

Ya..
Memang apa yang baru terucap dari mulut gadis belia itu cukup mengejutkan. Bahkan aku yang sebelumnya telah mengetahui hal itu masih dibuat terkejut dengan keberaniannya mengucapkan hal itu pada oemma dan aboji.

“Apa maksudmu Yoona?”

“Omonim.. Sebelumnya maaf, maafkan aku, tapi omonim telah melihat bagaimana keadaan Yuri oenni sekarang. Oenni ku tergantung pada keberadaan Siwon disisinya. Maka tidak mungkin untukku mengatakan bahwa kami telah menjalin pertunangan. Ditambah dengan trauma yang dirasakannya, Itu akan menghancurkan oenni ku. Yuri oenni mencintai Siwon.. Dia mencintainya. Oenni membutuhkannya sekarang..”

Aku menunggu bagaimana oemma dan aboji akan bereaksi, namun sepertinya keterkejutan itu masih bertahan disana.

“Aku ingin meminta Siwon untuk.. Untuk mencintai Yuri oenni ku..”

Dia menatapku dengan tatapan memohon, namun hal itu justru kembali memunculkan amarah dalam diriku.

Aku tak lagi perduli dengan kehadiran oemma dan aboji disana, aku telah meraih pergelangan tangannya, mencengkramnya dan menariknya menjauh dari oemma dan aboji yang mungkin saja tak menyangka dengan apa yang telah mereka dengar dan juga lihat sekarang.

Aku menarik Yoona disepanjang koridor rumah sakit, hingga menemukan tempat yang bisa membuatku leluasa..

“Sajangnim..”

Aku masih tak melepaskan pergelangan tangannya, sampai kemudian menemukan tempat itu pada balkon rumah sakit..

“berani-beraninya kau mengatakan permintaan konyol itu didepan aboji dan oemma.. Bagaimana bisa Yoona!!”

Aku mungkin telah membentak, melihat dari Yoona yang sedikit mundur dari hadapanku.
Dia pasti menyadari geraman kemarahanku saat itu. Sejurus kemudian airmata jatuh dari kedua sudut matanya.

Sial..
Airmatanya..
Kesedihannya..
Dan juga tatapan memohonnya..
Aku merasa itu akan dengan mudah melumpuhkan kekerasan ku.

“sajangnim.. Aku..”

“bagaimana bisa kau tidak memikirkan perasaanku? Bagaimana bisa kau tidak peduli tentang itu, Yoona..! Katakan bagaimana kau bisa berlaku seperti itu..!!”

Rasanya aku perlu meninju apapun yang berada disekitarku, hanya untuk melampiaskan kemarahan dan kefrustasian yang kurasakan.
Bagaimana mungkin gadis belia itu bisa membuatku begitu frustasi.
Aku ingin mengabaikan. Sangat ingin mengabaikannya. Tapi sayangnya aku juga merasa peduli. Dan keinginan untuk melindungi serta menjaganya juga begitu besar kurasakan.

Aku berbalik menghindari tatapan memohonnya. Rasanya takkan lama sampai aku benar-benar akan menjadi luluh dengan permintaannya jika terus menatap pada kesedihan diwajahnya.

“Maafkan aku.. Maafkan aku karna telah menempatkanmu dalam kesulitan seperti ini..”

Ini mengejutkan..
Aku merasakan Yoona memeluk dari belakang tubuhku. Kedua tangannya melingkari pada pinggangku.
Bahkan kini aku mulai merasakan basah dari airmatanya yang menempel pada punggungku.

Oh Tuhan..
Mengapa gadis itu bisa melakukan ini padaku.

“Aku begitu takut.. Takut akan kehilangan Yuri oenni. Aku bingung dan tidak tahu apa yang bisa kulakukan untuk membantu Yuri oenni selain dengan itu. Aku ingin dia sembuh. Aku selalu ingin oenniku baik-baik saja. Maaf karna keegoisanku. Maafkan aku..”

Isak tangisnya..
Airmata permohonan dibalik permintaan maafnya, telah membuat seakan-akan sesuatu meremas dengan begitu kuat didalam hatiku.

Seberapa keras dan kuatnya aku bertahan dengan kemarahanku, nyatanya Aku tidak ingin mendengar permohonannya. Aku tidak ingin membuatnya melakukan hal itu.

“bahkan dengan aku memohonpun, Aku tahu aku tidak pantas meminta ini darimu, sementara aku telah begitu jahat padamu.. Tapi aku.. Aku hanya ingin..”

Tuhan..
Aku tak ingin mendengar lagi apapun itu yang coba dikatakannya.

Maka kemudian aku melepas kedua tangannya yang melingkari pinggangku, berbalik dan merengkuh bahunya dengan kedua tanganku..

“sekarang Aku hanya ingin bertanya padamu.. Apa kau peduli dengan perasaanku?”

Dia mengangguk dengan lelehan airmata diwajahnya..

“jika Kau mengerti dengan perasaanku padamu. Maka jawab aku, Yoona.. Apakah kau merasakan memiliki perasaan semacam itu terhadapku?”

Aku melihatnya terdiam dan hanya menatap padaku..

“Aku ingin kau mengatakannya sekarang..”

Aku membiarkan diriku menjadi sedikit pemaksa terhadapnya..

“Aku.. Aku tidak tahu bagaimana, tapi.. tapi sepertinya ada sesuatu disini..”

tangannya bergerak menyentuh pada dadanya dan kemudian wajahnya tertunduk..

“sesuatu apa, Yoona..? Katakan dengan jelas padaku..”

Aku perlu meraih dagunya untuk mengangkat wajahnya dan membuat manik matanya menatap padaku..

“Katakan padaku..”

“Aku.. Sepertinya aku.. Aku juga tertarik padamu.. Entah sejak kapan tapi aku menyadari diriku terus berusaha untuk mengingkarinya..”

Oh Tuhan ku..
Betapa melegakan  mendengarnya..

“Kau tidak harus melakukan itu setelah aku mengatakan mencintaimu kan..”

“Tapi aku..”

“ssttt..”

Aku menempatkan jari telunjukku didepan bibirnya..

“Aku yakin akan ada solusi lain untuk Yuri..”

Dia menggeleng tidak yakin..

“Untuk saat ini, aku rasa hanya itu satu-satunya yang bisa dilakukan..”

Aku menghela napas mendengarnya..

“Jika pada akhirnya hanya itulah yang bisa dilakukan. Baiklah.. Aku mungkin akan menuruti permintaanmu..”

“Sajangnim..”

“Aku akan mengatakan pada Yuri bahwa aku mencintainya jika itu apa yang ingin didengar olehnya. Aku akan berada disisinya jika itu juga apa yang dibutuhkannya..”

“Terimakasih.. Terimakasih untuk melakukannya. Aku berjanji akan melakukan apapun untuk membalasnya..”

Aku akan mengingat itu..

Dengan itu Yoona langsung menubruk dadaku, memelukku.
Tapi aku bahkan belum selesai dengan apa yang ingin kukatakan padanya..

“Tapi dengan catatan, kau tidak harus menghindar apalagi menolak jika aku menunjukkan tindakan nyata terhadap perasaanku padamu..”

Baiklah..
Aku pasti bisa menghadapi kekeras kepalaannya dengan caraku..

*

*

*

*

*

*

*

*

To Be Continued~

@joongly

179 thoughts on “| At First Sight | 14

  1. dr caranya siwon oppa ngambil keputusan, keliatan bgt tu klo dia pemimpin perusahaan yg pinter ngelobby dan negosiasi dgn ‘win win solution’
    bisa aja menangin hatinya yoong eonni🙂🙂

  2. Miris miris
    Merasa prihatin dan muak pada saat yang
    bersamaan lihat tingkat Yuri
    Rasanya bisa mengerti pesaan Siwon
    Buat ending kali ini, ga tau apa harus senang
    atau sedih

  3. Huwah penuh dengan emosi . Kasihan ama yuri tp lebih kasihan dengan hubungan yoona dan siwon. Ny.choi bantulah mereka semoga yoona dan siwon bisa mengatsi yuri dan si yul cepet sembuh agar supaya yoonwon kesayangan tersenyum bahagia #lebay . Lanjut…..

  4. apa yang kamu lakukan yoona ya?
    kenapa kmu melakukan itu pada siwon?
    kenapa harus meminta dia berpura pura untuk mencintai yuri padahal jelas jelas dia menyukaimu.
    akan beresiko juga kalau sampek kebohongan kalian terbongkar bisa bisa yuri semakin sakit hati.
    jelas itu adalah cara yg slah yg dilakukan agar yuri cepet sembuh.
    org depresi harus ditangani dengan bener bukan dengan malah semakin menggantungkan hidupnya pada orang lain

  5. Yuri in menyebalkan sekali sih, kan kasian yoonwon gak bisa sama sama gara gara dia,semoga yuri cepet. Sembuh dr trauma nya jadi siwon cepet bebas deh dr belegu cinta heheh, bakal gimana nih reaksi ortu siwon terutama eommax bakal nerima atau luluh nih ama rayuan yoona

  6. Part ini sarat akan emosi..

    Mataku bahkan berkaca2 mengetahui seberapa besar rasa sygny sigadis belia kpd eonninya..
    Ditunggu kebohongan2 apa lg yg akn dilakukan YW kpd yuri.. Meskipun tujuanny baik.. Tp enth knp itu sngt mnyakiti YW khususny yoona.. Dan yuri pasti bkal berlanjut ini ketergantunganny pd siwon.. Gmna reaksi ny choi yh

  7. yeay akhirnya Siwon dan yoona saling mengungkapkan perasaannya tapi kenapa yoona keras kepala banget sih jadi gemes deh liatnya

  8. aq bner2 kasian liat yoona onnie…dsatu sisi dya sayang bnget ma yuri tpi dsisi lain dia dah mulai ska ma siwon….bner2 rumin…smoga ja keadaan ni cpet brlalu,,,

  9. miris bgt hubungan yoonwon disaat mereka udah ngakuin perasaan masing2 tpi mereka harus nyembunyiin hubungan mereka hanya gara2 yuri yg ketergantungan sma wonppa. aku muak bgt sama kelakuan yuri dia menghalangi hubungan yoonwon..

  10. yaaa kenapa di saat mereka udah mulai terbuka dengan perasaan masing2…dan mereka harus tetep nyembunyiin hubungan mereka.

  11. Repot ini kalau yuri malah bergantung trz sama siwon ini
    Dan yoona kenapa dgn tega menyuruh siwon mencintai yuri pdhal jelas2 siwon sudah mengungkapkan perasaannya sama yoona

  12. kesal dengan sikap yoona yang hrus merelakan perasaannya kerena yuri .kn kasian siwon mau tdak mau hrus menurutin yoona yah walaupun hnya didpan yuri .tpi apa yang akan terjadi jika yuri tau ya..? semakin rumit aja ni kisah percintaanya

  13. onnie konfirmasi fb ak dong . ak mau mnta pw part yang selanjutnya .klw part yang sebelumnya msih bsa bca di fb .tpi part slanjutnya enggak bsa

  14. Yeyee prat 14 udah di bca tpi prt 13ny blm,,,konvir dong permintan pertmnan q ke fb autor,,,,akhirnya yoona dan siwon mengkui persanya,,,gmna ya klo yuri tau klo yoona ama siwon udh tunangn huuf nggx kebyng gmna reaksinya,,,nex prt

  15. Di satu sisi seneng banget liat yoonwon bersatu pi disisi lain aku kasihan ma yuri,,,aku takut yoona nanti nya akan terluka dgn semua kputusan nya utk yuri.

  16. Bingo, konfliknya makin panas. Kali ini aku gak tahu harus nyalahin siapa lagi. Yoona cuma gak pengen nyakitin eonninya walaupun harus dengan merelakan Siwon, dan Siwon cinta banget sama Yoona. Aish kayak film mellowdrama, jadi sebel aku. Kenapa sih Yuri harus kayak gitu, sekarang salah siapa coba. Donghae, biarkan dia tenang dia alam sana *bow*
    Eonni, suka ff nya😀 Daebak!!!🙂🙂

  17. Hmm, sbenernya belum bca part 13 karena belum dapet pw, mungkin author july lagi sibuk kali ya,,
    Tapi seneng akhirnya mereka saling mengakui perasaan masing2, tapi agak sedikit khawatir juga sma kebohongan mereka ke yuri, bisa2 itu nanti jadi bom waktu buat mereka bertiga,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s