Fanfiction

YOU’re My Destiny [4]

Happy Reading~

*

*

*

*

*

*

*

Ketika itu, Fanny mengernyit memperhatikan perubahan raut wajah Yoona saat mengetahui ada Harry didalam mobil bersama dengannya..

“kenapa Yoona ssi?”

“euh.. Tidak, kurasa aku tak bisa pulang bersamamu. Aku sudah menghubungi pusat bantuan, mereka akan datang dan aku akan menunggunya”

“Tapi ini jalan raya.. berbahaya jika kau sendirian. Masalahmu hanya pecah ban kan?”

“Ya..”

“Kalau begitu tunggu sebentar..mungkin Harry oppa bisa memperbaikinya..”

“Oh Fanny.. tidak perlu. Aku..”

Yoona tak meneruskan kalimatnya, karna percuma. Fanny sudah langsung menghampiri mobilnya dan mengetuk pada kaca mobil itu.

Ketika kaca mobil terbuka, entah apa yang dikatakan Fanny sebelum akhirnya Siwon membuka pintu dan kemudian keluar dari dalamnya.

Oh..
Pria itu..

“Yoona ssi.. Oppa akan membantumu.”

Fanny kembali menghampirinya sambil menarik tangan Siwon bersamanya.

“Tidak usah Fanny.. Itu akan merepotkan”

“aku juga tak mengatakan bisa membantu tadi..”

“Oppa..”

Fanny mencubit lengan Siwon atas apa yang dia ucapkannya..

“Tidak masalah Yoona.. Harry oppa bisa melakukannya kok..”

“Aku tak bisa Fanny ah.. Kau kan tahu, sebelumnya aku tak pernah berurusan dengan ganti mengganti ban. Aku punya cukup banyak orang untuk melakukan hal itu dan tak perlu mengotori tanganku.”

Astaga..
Oppa! Ada apa denganmu?

Fanny berteriak dalam hati sambil memelototi Siwon.
Kesal dengan sikap menjengkelkan Siwon yang justru ditunjukan didepan Yoona.

Bukankah dia tahu, wanita yang sedang membutuhkan bantuan adalah seseorang yang sangat dikaguminya.
Seharusnya oppa nya itu bisa paling tidak sedikit membantunya memberi kesan baik pada Yoona.
Mungkin saja kan Yoona akan kembali mengajaknya kerjasama.

Itu pasti akan sangat menyenangkan…

“berhenti bersikap menjengkelkan, Oppa..”

Siwon hanya mengangkat bahu menanggapi bisikan Fanny ditelinganya.

“Oh Yoona.. Kau pasti punya alat untuk mengganti ban kan? Seperti dongkrak mungkin?”

Dan itu bukan Siwon yang bertanya, melainkan Fanny..

“eh.. aku juga tidak tahu. Sepertinya ada sesuatu dibagasi mobilku.”

“baguslah.. daripada menunggu lama bantuan yang datang, lebih baik kau biarkan Harry oppa yang melakukan nya..”

Fanny masih berkeras dan kembali memelototi Siwon setelah ia mengatakannya. Seolah memberi peringatan serta ancaman pada Siwon ‘awas saja kalau kembali berkata macam-macam’

Namun nampaknya ancaman Fanny dengan mempergunakan matanya, tak cukup berarti bagi Siwon.

Buktinya..

Siwon justru mencegah dengan menahan pergelangan tangan Yoona begitu melihat pergerakannya yang berniat mengambil sesuatu itu yang diperkirakan alat untuk mengganti ban dari dalam bagasi mobilnya.

“daripada memintaku mengganti ban mobilmu, akan lebih baik jika kau memintaku mengantarmu pulang. Dengan senang hati aku akan melakukannya..”

“nde..?”

Yoona masih berada dalam keterkejutan atas apa yang Siwon katakan, ketika kemudian tangannya ditarik oleh Siwon menuju mobil yang dikendarainya.

Fanny hanya tersenyum dan mengikuti dibelakangnya.
Setidaknya itu lebih baik daripada berkata menjengkelkan seperti tadi.

Meski cara yang dilakukan Siwon juga tak cukup layak.

Astaga..
Dia benar-benar tak bagus dalam memperlakukan seorang wanita.

Mulai darisitu Fanny berpikiran akan dan harus mengajarkan pada oppa nya bagaimana cara bersikap baik dan manis mungkin, bila sedang berhadapan dengan seorang wanita, siapapun itu.

“masuklah..”

Siwon membuka pintu depan mobilnya, mempersilahkan Yoona untuk masuk kedalamnya.

“aku tak mengatakan akan ikut denganmu.. Aku tak bisa meninggalkan mobilku disini.”

“berapa harga mobilmu? Aku bisa menggantinya jika kau kehilangan mobil itu disini..”

astaga..

Rasanya saat itu Fanny benar-benar ingin menyumpal mulut Siwon dengan apapun itu yang bisa membungkam mulut besarnya.

Bisa-bisa nya dia menyombongkan dirinya disaat seperti itu.

Dan Fanny haruslah segera bertindak sebelum Siwon semakin mengacaukan nya.

“Yoona ssi.. Sebaiknya kau memang ikut dengan kami saja”

“Tapi..”

Tapi berada satu mobil dengan pria itu rasanya bukanlah ide yang bagus..

Seharurnya itu lah yang Yoona ucapkan.

Ditambah dengan kata-kata yang tadi diucapkan pria itu tadi.
Yoona nampaknya akan kembali menambahkan penilaiannya terhadap pria itu, menjadi pria kasar yang sombong dan menjengkelkan.

Kombinasi yang pas untuk seseorang yang layak dan patut untuk dijauhi.

“Ayolah.. Kami tak akan mungkin tega membiarkanmu disini sendirian.”

kami?

Hanya Fanny mungkin yang tak akan tega.
Tapi pria itu?
Yoona seribu kali yakin, dia adalah jenis pria yang penuh dengan ketegaan.

“jika kau tak ikut dengan kami, kau mungkin akan pulang lebih malam. Kurasa itu tak cukup baik membuat Hana dan Junseo menunggu lebih lama..”

Fanny benar-benar sedang berusaha membujuk Yoona..

“Oh, tahukah kau.. Kami bertemu mereka tadi. Kau pasti takkan menyangka mereka berdua bersenang-senang dengan Harry oppa..”

Apa?
Hana dan Jun?
Dengan Harry?

“dimana dan bagaimana kalian bisa bertemu dengan mereka?”

“maka masuk dan ikutlah dengan kami, nanti kau bisa mendengarkan ceritaku dan Harry oppa bersama dua anakmu yang menggemaskan itu..”

Fanny sepertinya enggan membuat Yoona berpikir keras. Ia mendorong tubuh Yoona masuk kedalam mobil dan membuatnya duduk disamping kursi kemudi.
Sedikit memaksa memang.
Tapi ya..
Mau bagaimana lagi, ia terlanjur ingin menjadi dekat dengan seorang Im Yoona.

“Oppa.. Ayo cepat! Antarkan dia dulu pulang. Kasiankan dia..”

“Ck! Kau ini, kenapa bisanya hanya memaksa terus..”

“jangan bawel dan berhenti bersikap menjengkelkan seperti tadi.”

Fanny memberi ancaman sebelum ikut masuk dan duduk dikursi bagian belakang.

Siwon pun melakukan hal yang sama. Ia duduk dibelakang kemudi mobilnya.

Belum ada percakapan berarti sampai akhirnya mobil melaju ke jalan raya. Justru ponsel milik Fanny lah yang kemudian nyaring terdengar.

“Oppa ambilkan ponselku..”

“ambillah sendiri, kau tak lihat aku sedang menyetir?”

“Ishh..”

“ini..  jawablah”

Yoona lah yang kemudian mengambil ponsel yang berdering itu dari atas dasbord mobil kemudian menyerahkannya pada Fanny.

“Oh, trimakasih.. maaf merepotkanmu Yoona ssi”

“bukan apa-apa Fanny.. jangan menjadi sungkan seperti itu padaku”

tapi tetap saja Fanny merasa tak enak hati meski hanya karna hal sepele seperti tadi.

Dalam hati Siwon mencibir, betapa Fanny begitu bersikap sangat manis terhadap Yoona. Hal yang justru tak dilakukan terhadapnya.

Dasar penjilat..

Mungkin Siwon akan mengeluarkan umpatan itu andai saja Fanny bukanlah adiknya. Seseorang yang biar bagaimanapun disayangi olehnya.

“halo.. ya, ini Tiffany.. Ada perlu apa?”

Fanny memulai percakap entah dengan siapa yang menelponnya.

“berikan alamatnya.. Aku akan datang, baiklah.. Aku kesana sekarang..”

Fanny menutup ponsel dan kemudian berbicara pada Siwon

“Oppa.. Oppa, hentikan mobilnya. Turunkan aku disini..”

“Kau mau kemana?”

“ada tawaran pekerjaan.. Aku harus kesana..”

“kenapa tidak besok saja?”

“tidak bisa.. harus sekarang oppa. Cepat hentikan mobilnya..”

“Tidak.. Aku akan mengantarmu”

“Apa? Tidak, Tidak.. Aku bisa naik taksi. Oppa harus mengantar Yoona terlebih dulu..”

“biar aku yang turun dan mencari taksi, Fanny..”

“Oh, Tidak.. Tidak.. Harry oppa akan mengantarmu, Yoona. Lagipula tempatnya tak terlalu jauh dari sini. Kau harus segera sampai dirumah. Kasihan kan Hana dan Jun menunggumu. Oh..bicara tentang Hana dan Jun, sepertinya aku tak bisa bercerita tentang pertemuan kami tadi. Biar Harry oppa saja yang menceritakannya nanti.. Maafkan aku”

“Tidak apa-apa, Fanny..”

“lalu bagaimana kau akan pulang?”

Siwon yang kini ganti menyela..

“Astaga oppa.. Aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa kembali naik taksi. Atau mungkin menelponmu untuk menjemputku, jika kau mau..”

Tak ada lagi yang bisa mencegah niatan Fanny. Segera setelah Siwon memberhentikan laju mobilnya, ia lansung keluar untuj kemudian memberhentikan taksi yang akan membawanya ketempat yang tadi telah disebutkan sang penelpon padanya.

“dia selalu bersemangat jika sudah menyangkut urusan modeling..”

Siwon mulai berbicara sambil melajukan kembali mobilnya.

“mungkin karna itu sudah menjadi jiwanya..”

tanpa sadar Yoona menanggapi ucapan Siwon ..

“Ya.. itu benar. Apa kau juga seperti itu? Apa kau juga selalu bersemangat untuk mendesain pakaian?”

“Ya, begitulah.. Menjadi seorang desainer adalah jiwaku. Aku bisa berkali lebih bersemangat jika menemukan ide baru untuk rancanganku.”

Ada seulas senyum dibibir Siwon ketika mendengar Yoona mengatakan hal itu.

“ngomong-ngomong seharusnya kau belajar menghadapi keadaan yang seperti tadi..”

“nde?”

Yoona jelas tak mengerti kemana arah pembicaraan Siwon kali ini.

“Mengganti ban mobilmu, seharusnya kau bisa melakukannya sendiri. Berbahaya kan jika kau hanya berdiri dipinggir jalan saja. Banyak orang diluar sana yang punya niat buruk..”

Yoona melongo dibuatnya.
Apa?
Apa maksudnya?
Dia mengkhawatirkannya atau dia justru sedang bercanda?

Hei..
Ia seorang wanita.
Bagaimana bisa mengganti ban mobilnya sendiri?

“apa suamimu tak pernah mengajarimu bagaimana caranya?”

“Apa? Suami? Oh.. Tidak, tentu saja tidak pernah. Suamiku orang yang sama sepertimu. Dia juga punya banyak orang yang bisa melakukan hal seperti itu untuknya. Lagipula dia bukan jenis pria yang akan tega melihat seorang wanita mengganti ban mobilnya sendiri. Terlebih jika wanita itu adalah aku, istrinya sendiri..”

sebenarnya Siwon sudah ingin terkikik mendengar nada ketus dari setiap kata yang terucap dari bibir Yoona.
Dia pastilah merasakan kejengkelan dalam hatinya.

Tapi..

Mengapa Siwon justru merasa menikmatinya.
Menikmati saat Yoona terlihat menahan kekesalan diwajahnya.

Astaga..
Apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya?

“benarkah? Dia jenis pria seperti itu? Dapatkah aku mengenalnya? Mungkin aku bisa belajar banyak darinya..”

Ya Tuhan..
Bagaimana bisa ia mengenalkan nya pada Siwon?
Itu hal yang mustahil..

“Oiya.. Fanny bilang kau bisa mengatakan padaku bagaimana kalian bisa bertemu dengan Hana dan Junseo tadi?”

mengelak..
Yoona berusaha mengalihkan topik pembicaraan tentang ‘suami’ menjadi tentang kedua anaknya.

“Apa kau sedang melakukan pengalihan pembicaraan, Yoona?”

Oh..
Tepat sekali…

Berada dalam satu mobil dengan Siwon saat itu memang benar-benar bukan hal yang bagus. Semestinya ia lebih keras menolak ajakan dari Fanny tadi.
Fanny yang justru pergi dan meninggalkannya terjebak dalam kegelisahan saat sedang bersama dengan seorang Harry,yang terus menyudutkannya dengan berbagai pertanyaan yang semestinya bukan menjadi haknya untuk bisa menanyakan hal itu pada Yoona.

“jadi bagaimana Yoona ssi?”

“apa?”

“kau tak mau mengenalkanku pada suami mu?”

“untuk apa?”

“seperti yang ku katakan tadi.. Aku hanya ingin mengenal jenis pria baik hati yang takkan membiarkan seorang wanita mengganti ban mobilnya sendiri”

“Kau benar-benar ingin aku mengenalkanmu padanya?”

Tidak..
Semestinya tidak.
Membicarakannya saja sudah membuat Siwon merasakan satu perasaan tak enak dalam hatinya.
Apalagi bertemu dan mengenalnya.
Jelas bukanlah sesuatu yang seharusnya ia lakukan.

Tapi..

“Ya..kurasa aku memang ingin mengenalnya”

Rasa penasarannya untuk mengetahui sosok pria yang berpredikat sebagai suami Yoona, pada akhirnya mengalahkan kata hatinya yang sebenarnya menolak untuk melakukan hal itu.

“menurutmu apa yang pantas aku katakan padanya ketika aku membawa seorang pria bersamaku, kemudian mengenalkannya?”

“Jadi itu masalahnya? Hei.. Itu bukan hal serius. Kau bisa mengenalkanku sebagai seorang Teman. Seperti yang kau lakukan ketika mengenalkanku pada putrimu..”

Yoona memutar mata mendengarnya.

“itu karna keterpaksaan..makanya aku mengenalkanmu sebagai teman”

“siapa yang memaksamu?”

“keadaan yang memaksaku..”

“jadi?”

“jadi ya.. Aku terpaksa mengatakan kau sebagai temanku. Mana mungkin aku mengatakan pada putriku bahwa kau adalah seseorang yang telah merendahkanku. Itu sangat tidak pantas untuk dikatakan pada seorang anak seusia Hana.. Terlebih dia termasuk seorang anak yang kritis. Akan tumbuh banyak pertanyaan tentang arti ‘merendahkan’  dibenaknya”

“Oh.. aku minta maaf telah salah mengira tentangmu. Oiya.. Berbicara tentang Hana, putrimu itu sangat manis”

Oh..
Akhirnya pembicaraan itu teralihkan sekarang.

“Ya.. Hana memang gadis kecil yang manis”

“kau pasti menyayanginya”

“sudah pasti aku menyayanginya, dia putriku..”

“Iya aku tahu.. Jangankan Kau. Aku saja yang baru dua kali bertemu dengannya sudah dibuat terpikat olehnya”

“maksudmu?”

“hmm.. Sebelumnya Aku tak pernah merasa punya ketertarikan terhadap seorang anak kecil. Tapi Hana bisa membuatku betah berlama-lama dengannya.. Dan Junseo, Ya Tuhan.. Jagoan kecil itu dia sangat berani Yoona. Tadi kami tak sengaja bertemu di kebun binatang dan aku menggendongnya kemudian mengajaknya berkeliling. Dia benar-benar tak takut dengan berbagai jenis binatang disana. Tapi anehnya Jun justru takut dengan orang asing. Dia bahkan tak mau ketika Fanny menggendongnya. Dan yang lebih aneh lagi, Junseo justru mengulurkan tangannya padaku. Dia ingin aku menggendongnya.. Kurasa dia tahu aku adalah seorang pria yang bisa menjaganya”

Siwon tertawa setelah apa yang diceritakannya.
Benar-benar kelihatan kalau dirinya merasa senang hari itu.

Dan sesaat membuat Yoona tertegun mendengar dan melihat bagaimana pria itu begitu ekspresif ketika bercerita tentang Hana dan Jun.

Apa yang sebenarnya ada pada diri pria itu?
Mengapa Yoona merasa pria itu memiliki kepribadian yang berganti-ganti.

Ia pernah merasakan sikap kasarnya.
Pernah merasakan tatapan marahnya.
Dan belum lama tadi ia juga merasakan kejengkelannya akibat pria itu.
Tapi yang sekarang dilihatnya adalah sosok pria yang terlihat ceria.
Tanpa kekerasan, tanpa amarah dan tanpa sikapnya yang menjengkelkan..

“Yoona.. Yoona! Kau mendengarku?”

Suara Siwon yang kemudian membuyarkan lamunannya.
Ia menoleh untuk mendapati Siwon tersenyum kepadanya.

Deg..

Ya Tuhan..

Senyum itu?
Mengapa Yoona kemudian merasa melihat sekelebat bayangan suaminya disana.

“Kau melamun ya..?”

“Ah..tidak, apa yang ingin kau tanyakan tadi?”

“hmm.. Kurasa kau belum mengatakan alamat rumahmu tadi. Aku ingin menanyakan hal itu”

“Oh, itu..”

Yoona kemudian mengatakan dimana ia tinggal, dan Siwon hanya mengangguk-anggukan kepalanya seolah tahu dimana letaknya.

“bukankah kau baru berada disini?”

Tanya Yoona akhirnya, karna ia merasa heran, saat tak perlu memberitahukan lagi kemana arah jalan menuju rumahnya.

“Ya.. itu pun karna Fanny yang memaksaku. Kenapa?”

“Oh, tidak..hanya saja aku merasa kau sangat mengenali jalanan disini”

“jadi kau juga merasa seperti itu? Aneh.. Fanny juga mengatakan hal yang sama sepertimu.Entahlah, tapi aku memang merasa mengenali bahkan setiap jengkal yang ada dikota ini”

Tak ada lagi pembicaraan setelahnya sampai kemudian Yoona mengatakan pada Siwon untuk memberhentikan mobilnya didepan sebuah rumah berpagar besi kokoh. disitulah rumahnya..

“ini rumahmu?”

“Hm.. terimakasih sudah memberiku tumpangan”

Rasanya saat itu Siwon sudah tak mendengar apa yang Yoona katakan.
Begitu melihat rumah dibalik pagar besi itu, kepalanya tiba-tiba berdenyut dan berbagai bayangan kembali muncul memenuhi kepalanya. Membuatnya mengerang merasakan sakitnya.

“akhh..”

“Oh.. Tuhan! Kau baik-baik saja?”

“akhh..”

“Harry!!”

Siwon sedang kembali merasakan sakit dikepalanya, disertai dengan bayangan-bayangan yang seperti sedang memutari kepalanya. Tak ada yang tergambar dengan jelas, samar dan tak nampak nyata.

“Harry kenapa denganmu? Ya Tuhan..”

Yoona merasakan panik melandanya ketika melihat Siwon mengerang dan kemudian meremas rambutnya.

“Tunggulah sebentar.. Aku akan meminta bantuan..”

Yoona berniat keluar untuk memanggil salah satu pelayan rumahnya mungkin. Tapi Siwon justru menahan lengannya.

“tidak..tidak perlu.. Aku tidak..arghh…”

“tapi kau kesakitan!”

“tidak..tidak apa-apa aku bisa menahannya. Ini akan baik-baik saja..”

“Ya Tuhan.. Ini serius. Kau bahkan terlihat pucat. Ada apa denganmu?”

“tidakkah kekhawatiranmu berlebihan untuk seseorang sepertiku, Yoona?”

Yoona tergeragap dengan pertanyaan Siwon.
Disaat seperti itu pun dia masih bersikap mengesalkan..

“Siapa yang mengkhawatirkanmu.. Tidak, aku tidak seperti itu. Hanya saja jika sesuatu terjadi padamu pastilah akan berdampak padaku, karna itu terjadi didepan rumahku.”

Menahan rasa sakitnya, Siwon sedikit menarik sudut bibirnya untuk tersenyum.
Tapi gagal..
Denyutan dikepalanya justru kian terasa.

“minumlah terlebih dulu..”

Yoona menemukan botol air mineral dari dalam mobil kemudian menyerahkannya pada Siwon.

Meneguknya, Siwon lantas mengatur pernapasannya. Berharap itu bisa membantu mengurangi rasa sakit di kepalanya.

“bagaimana? Apa lebih baik?”

“Ya.. Sudah lumayan. Turun dan masuklah..”

“Kau yakin masih bisa menyetir? Aku bisa meminta sopir dirumahku untuk mengantarmu pulang”

“aku tidak apa-apa..”

“kau yakin?”

“apa kau benar-benar mengkhawatirkanku. Jika iya.. Aku akan menerima tawaran seorang supir darimu. Agar kau merasa tenang..”

Oh..
Pria ini memang tidak apa-apa rupanya.

“aniy.. kurasa supirku sudah pulang dijam seperti ini. Pulanglah sendiri..”

Yoona buru-buru keluar, seseorang membukakan pagar untuknya dan ia pun masuk kedalam rumahnya.

Siwon kemudian melihat dengan geli tingkah Yoona, namun kemudian ia juga tertegun memperhatikan rumah itu.
Mengapa lagi-lagi ada perasaan tak asing yang muncul dari dalam hatinya.
Rasanya ia ingin masuk untuk mengetahui ada apa didalamnya.

Cukup lama Siwon terdiam disana hanya untuk mengamati rumah itu.
Tak ada apa-apa. Tak terjadi apa-apa. Ia memang tak memiliki ingatan apa-apa dengan rumah itu.

Masih dalam kediamannya, Siwon kemudian dikejutkan oleh deringan pada ponselnya.

“Ya Fanny… Oh, sudah.. Iya. Dia sudah dirumahnya. Tidak.. Kau pikir apa yang aku katakan pada Yoona? Iya… Ya sudah aku akan menjemputmu”

Siwon berdecak setelah Fanny mengakhiri panggilannya. Ia pun lantas melajukan mobilnya pergi dari depan pagar rumah Yoona.

***

Yoona terus berguling dalam tidurnya. Merasakan gelisah yang terjadi entah karna apa.

Oh Tuhan..
Ada apa sebenarnya?

Saat ia menanyakan pertanyaan itu dalam hatinya, bayangan kesakitan pria itu justru lah yang kemudian muncul dalam pikirannya.

“apa dia baik-baik saja? Apa dia akan kembali dengan selamat..?”

astaga..
Untuk apa ia mengkhawatirkannya.

Pergerakan tubuh Yoona sepertinya cukup mengganggu. Hingga membuat Junseo yang berada diatas satu tempat tidur dengannya kemudian terbangun dari tidurnya.

“umma..”

Yoona langsung mengusap-usap tubuhnya, berusaha membuat Jun tak benar-benar terjaga. Namun gagal karna Jun terlanjur mengerjap dan membuka kedua matanya.

“umma..”

“tidurlah sayang umma disini..”

“umma.. daddy..”

image

Junseo menunjuk kearah foto pernikahan nya dan Siwon yang berbingkai besar, yang dipasang pada dinding kamarnya

“umma.. noona, Jun dan daddy”

Sekali lagi Junseo menunjuk pada foto yang berbeda yang kali ini terletak persis diatas nakas disamping tempat tidurnya.

“iya sayang.. itu daddy..”

“Junseo bersama daddy..daddy..”

Yoona mengernyit, merasa tak paham akan maksud ucapan Junseo.

Ada apa dengan Jun?
Apa dia bermimpi tadi?
Ataukah Jun justru teringat kebersamaan nya dengan pria itu.. Dengan Harry?
Munginkah Jun teringat padanya?
Dan mengenalinya seperti daddy nya, sama seperti Hana..

Ah..
Pastilah Hana yang mempengaruhi adik kecilnya tadi.

“tidurlah sayang.. Jun bisa bertemu daddy dalam mimpimu”

Yoona memeluk Junseo kemudian mengusap-usap kembali tubuhnya, menina bobokan putranya agar kembali tertidur.

***

Dipagi hari ketika Yoona memeriksa ponselnya, ia menemukan pesan dari nomor yang tak dikenalnya.

Matanya membelalak ketika kemudian ia membaca isi pesannya..

aku sakit.. dapatkah mungkin kau melihatku..

“nuguya..?”

Yoona bertanya pada dirinya sendiri, tapi kemudian ia tak menanggapi pesan tersebut dengan serius.
Menganggap itu hanya pesan yang salah kirim ke ponselnya.

Namun kemudian dua pesan dari nomor yang sama kembali masuk, kali ini dengan isi..

Ya Tuhan.. Aku tak bisa bangun. Tapi aku merasa lapar..

Tak ada siapa pun disini.. Dan aku benar-benar tak mengenal siapapun. Tiffany sedang pergi.

Oh…

“Harry..?”

Astaga..
Apa pria itu?
Tapi darimana ia mendapatkan nomor ponselnya?

Dan dia benar-benar sakit?
Ya Tuhan…

Menjadi tidak logis bila kemudian Yoona berubah cemas hanya karna beberapa pesan diponselnya yang bahkan ia tak tahu pasti siapa pengirimnya.

Jika dilihat dari isi pesan yang menyebutkan nama Tiffany didalamnya, Kemungkinan memang Harry yang mengirimnya. Karna selama ini Yoona memang melihatnya bersama gadis itu.

Jikapun itu benar Harry, tak ada alasan bagi yoona untuk kemudian berubah mengkhawtirkan pria itu. Jadilah kini ia bersikap biasa saja dengan mencoba menikmati pagi harinya seperti biasa..

“good morning sayang..”

Yoona kemudian berjalan menghampiri Hana yang sedang menikmati sarapannya bersama Ny.Choi dan juga Junseo.

“mommy..!”

Hana berseru kemudian mendorong kursinya dan berdiri untuk kemudian memeluk Yoona yang belum sempat duduk.

“morning mom.. I miss you..”

Semalam saat Yoona tiba dirumah, Hana memang sudah tertidur. Karna pasti ia kelelahan setelah seharian berjalan-jalan. Hingga gadis kecil itu tak bisa menyapa sang mommy ketika pulang.

“miss you too dear..”

Yoona melepas pelukan Hana kemudian mencium pipinya.

“lanjutkan sarapanmu, sayang..”

“Iya mom..”

Sebelum duduk, Yoona lebih dulu menyapa ibu mertuanya..

“pagi oemma..”

“selamat pagi..Yoona ya..oemma tak melihat mobilmu. Kau tak mengendarainya semalam?”

“ne..mobilku mengalami pecah ban dijalan”

“Oh Tuhan.. dijalan? dan bagaimana kau pulang?”

“seorang teman yang kutemui mengantarku, oemma.. tak perlu khawatir”

Yoona kemudian menghampiri Jun, menciumnya dan menarik kursi untuk duduk disampingnya.

“aigoo.. Anak umma tampan sekali”

Junseo kemudian dibuat terkikik saat dengan gemas Yoona memainkan kedua pipinya.

“umma..umma..makan..”

“Jun ah.. mom-my..”

Hana lagi-lagi mengeluarkan protes pada Jun perihal panggilan yang sering diucapkan sang adik pada mommy nya.

“mommy Jun ah.. OK!”

“mom-my.. Noona..”

Yoona maupun Ny.Choi hanya tersenyum melihatnya.

“Oh.. Baiklah, Umma akan menyuapimu sayang”

“Ck! mom..”

Kali ini giliran Yoona yang mendapat protes itu dari Hana.

“Oh baiklah.. Mommy akan menyuapi Jun sekarang”

Yoona mengambilkan makanan yang dibuat khusus untuk Junseo, kemudian menyuapinya. Melihat Jun makan dengan sangat baik, ia lantas mengusap rambutnya.

“anak mommy pintar..”

***

Menikmati sarapan paginya bersama Hana dan Jun memang sempat membuatnya melupakan pesan membingungkan yang masuk kedalam inbox ponselnya.

Namun ia kembali teringat saat sudah berada dibutiknya.
Ia bahkan sempat kehilangan konsentrasinya ketika berhadapan dengan seorang pelanggan tadi. Membuatnya kemudian meminta Jessica untuk menggantikannya.

Apalagi kini, saat berada diruang kerjanya, berhadapan dengan kertas-kertas yang seharusnya ia gunakan untuk menggambar pola desainnya. Yoona justru merasakan buntu dipikirannya. Ia tak bisa menuangkan kedalam bentuk gambar apa yang sebelumnya telah terbayang didalam benaknya.

“Ya Tuhan..”

Berkali-kali hanya itulah yang bisa ia keluhkan, disertari helaan napas yang juga cukup sering ia lakukan hari itu.

“wae? Sesuatu mengganggu pikiranmu? Ku perhatikan kau terus menghela napas dengan berlebihan..”

Yuri masuk keruangannya dan menyadari ada yang salah dengan diri Yoona hari itu.

“Ah, anio.. Hanya sedikit bingung”

“bingung?”

“hmm..”

“apa yang menjadi sebab kebingunganmu itu?”

“entahlah, aku sendiri tak yakin..”

Yuri mengernyitkan dahi, jelas tak mengerti dengan penjelasan mengambang dari Yoona.

Yoona sendiri hampir tak menyangka, masuknya beberapa pesan kedalam ponselnya bisa membuat harinya menjadi kacau.

Pikirannya terus dipenuhi kalimat-kalimat dari pesan itu.
Apalagi jika ia kemudian memikirkan kemungkinan besarnya Harry lah pengirimnya. Ia akan langsung teringat, bagaimana malam itu Harry mengerang dan terlihat kesakitan.

Pria itu benar-benar sakit?
Apa dia sebenarnya memang menderita penyakit serius?

Oh..
Ya Ampun..
Apa yang kemudian akan terjadi?
Sedangkan pria itu mengatakan Tiffany sedang tak bersama dengannya.
Bagaimana jika kemudian dia mendapat serangan dari penyakit yang dideritanya?
Sekarat..
Dan sendirian..
Oh Tuhan ku..
Yoona kemudian benar-benar melompat dari pikiran logisnya.

Ia buru-buru pergi meninggalkan butiknya tanpa mengatakan apapun pada Yuri dan Jessica.

Pikirannya terlanjur dipenuhi hal-hal buruk dengan kemungkinan paling buruk yang mungkin sedang dialami pria itu, Harry.
Terlebih setelah ia melakukan pembicaraan singkat dengan Fanny melalui sambungan telepon..

“Oh, Yoona ssi.. Ada apa?”

“bisakah aku tahu kau berada dimana sekarang?”

“eh, aku? Aku sedang berada di Jeju..”

“Jeju?”

“Ya.. Kau ingat malam itu aku menerima telpon tawaran pekerjaan? Dan aku menerimanya.. Maka disinilah aku. Aku sedang melakukan pemotretan.”

“Oh.. Kau sendirian?”

“Tidak..seorang asistenku telah datang dan langsung menyusulku kesini.”

“Jadi kau tidak sedang bersama Harry?”

“Oh, Harry oppa.. Tidak aku tidak bersamanya. Malam itu setelah mengantarmu, aku hanya memintanya mengantarku ke bandara..”

Pada saat itu Yoona langsung menyadari pria itu memang benar-benar sedang sakit dan sendirian.
Ya Tuhan…

Yang dilakukannya kemudian adalah benar-benar keluar dari batas kewajaran.
Yoona memutar arah kemudinya. Ia sangat ingat jika Fanny menyewa apartemen milik Yuri dan kemungkinan besarnya adalah pria itu, Harry berada disana, sakit dan sendirian. Ia kembali mengulang itu.

Ya Tuhan..

Bayangan wajah pucat pria itu dan kesakitannya kembali muncul dan entah mengapa bisa membuat Yoona merasakan gemetar.

Ia sampai didepan gedung apartemen dan dengan sedikit berlari, Yoona menuju lift untuk mencapai lantai apartemen Yuri.
Tentu saja ia tak perlu bertanya terlebih dulu, ia sudah berkali datang keapartemen Yuri sebelumnya.

Berada didepan pintu apartemen Yuri, ia kemudian menekan bel, membunyikannya berkali-kali namun tak ada sahutan apalagi pintu yang terbuka.

Oh Tuhan ku..
Pria itu tidak sekarat kan?
Kemana dia?

“Harry.. Harry ssi..!!”

Yoona memanggil-manggilnya sambil jemarinya terus menekan bel itu.

“Harry..  Apa kau didalam? Kau mendengarku? Harry ssi..”

“agassi.. Anda mencari penghuni baru itu?”

Seorang yang berada di pintu apartemen yang tepat didepan apartemen Yuri melongok untuk menegurnya.

“Oh, ne..ahjumma. Apa anda melihatnya?”

“Semalam aku bertemu dengannya di lift. Dia menggigil dan tak bersuara apapun selain giginya yang bergemertak.. Aku ingin bertanya tapi kemudian dia berlari masuk kedalam. Jadi aku tak tahu apa yang terjadi..”

Oh Tuhan..

Ahjumma itu kembali menutup pintu apartemennya. Dan informasi yang diberikannya hanya semakin membuat Yoona menjadi panik.

“otthokae..? Harry ssi.. Ya Tuhan.. Kau mendengarku?”

Yoona menggigit jemarinya bingung, apa yang bisa dilakukannya?

Mengambil ponsel dari dalam tas nya, ia kemudian menghubungi nomor yang tadi mengirimi nya beberapa pesan.

Tidak tersambung..

Panggilannya justru dialihkan ke voice mail.

“Aku harus tahu kode pintunya, agar aku bisa masuk..”

Masih dalam kepanikannya, ia kemudian kembali menelpon Fanny. Selain pria itu, Fanny lah pastinya yang tahu berapa kode untuk membuka apartemennya.

“Oh, Fanny.. berapa kode untuk membuka apartemenmu?”

“nde?”

Yoona yakin disebrang panggilan telponnya Fanny sedang mengerutkan dahinya, bingung oleh pertanyaannya yang tiba-tiba.

“aku tak tahu darimana aku bisa menjelaskannya. Yang pasti aku ingin kau memberitahuku berapa kode pintu apartemenmu agar aku bisa masuk sekarang..”

“Kau berada di apartemenku?”

“Ya.. Harry mengirim pesan padaku dan mengatakan dia sakit. Aku menyesal tak cepat meresponnya. Sekarang aku datang untuk memastikan ada apa dengannya..”

Yoona sepertinya tak perduli bagaimana nanti Fanny menilai kepanikannya.
Tapi ia memang benar-benar cemas sekarang.

“Oh Tuhan.. Harry oppa, aku sadar dia memang belum menghubungiku..”

Yoona bisa mendengar nada bicara Fanny yang berubah menjadi panik saat kemudian dia menyebutkan digit angka yang bisa membuat Yoona membuka pintu apartemen dihadapannya.

Yoona mendengarkannya sambil memasukkan angka-angka yang itu disebutkan oleh Fanny padanya..

“Ya.. Berhentilah untuk cemas, aku akan langsung menghubungimu setelah aku bertemu dengannya.”

“Terimakasih Yoona.. Ya Tuhan, tolong langsung kabari aku..”

Menutup ponselnya, Yoona kemudian mendorong pintu dihadapannya yang belum sepenuhnya terbuka.

“Harry ssi..”

Sunyi, tak ada suara apapun ketika kemudian ia melangkahkan kakinya masuk kedalam.

Yoona meletakkan tas tangannya disofa, dan kemudian menuju salah satu kamar yang tertutup.

“Harry.. apa kau didalam?”

Mengetuknya, Yoona tak mendengar suara apapun dari dalamnya, dan memutuskan untuk menekan knop pintunya agar terbuka.

Kosong..

Ia tak menemukan ada pria itu didalamnya. Yang dilihatnya hanya dua koper yang terbuka, dan keadaan kamar yang lumayan berantakan.
Ini pastilah kamar yang digunakan Fanny.

Fanny mungkin belum sempat membereskan atau memang dia sengaja menunggu asistennya datang dan mengerjakan semuanya.

Kembali menutup pintu, Yoona lantas menuju kamar satunya. Ia tahu Yuri memiliki dua kamar di apartemennya dan ia tahu pasti dimana letak-letaknya.

“Harry ssi.. Kau didalam?”

Tanpa mengetuk, Yoona langsung membuka pintu dihadapannya.

Gelap..

Tak ada penerangan didalamnya.
Yoona harus meraba-raba dinding untuk menemukan saklar lampu kamar dan kemudian menyalakannya.

“Harry ssi..”

Ketika kemudian ada cahaya dalam kamar itu, spontan sosok tubuh yang bergelung dalam selimut itu makin menaikkan selimut menutupi kepalanya.
Silau akan cahaya yang tiba-tiba mencoba masuk kedalam matanya.

Astaga..
Pria itu..

“Harry..!”

Yoona menghampirinya dan bersyukur tidak menemukan pria itu sekarat dalam kamarnya.

“Kau baik-baik saja? Harry..”

Dia hanya menggigil, dan Yoona memastikan pria itu mengalami demam setelah ia menempelkan punggung tangannya didahi Siwon.

Siwon mengerjap, dan hampir tak menyangka Yoona berada disana dan terlihat mengkhawatirkannya.

Oh..
Benarkah wanita itu sedang khawatir?
Pemikiran itu melambungkan angannya..

“Kau datang?”

“Ya.. apa yang kau rasakan?”

“dingin dan lapar, tapi aku tidak bisa bangun dari tempat ini..”

“Aku akan memasak untukmu..”

Oh..
Benarkah??

Sepertinya Yoona tak sadar untuk apa yang sedang ia lakukan saat ini. Ia berada disebuah apartemen yang ditinggali seorang pria yang bahkan pernah melecehkan dan merendahkan dirinya.

Ya..
Meskipun semua itu berdasar karna kesalah pahaman semata.
Tapi tetap saja bukankah pria itu juga telah ia nilai sebagai pria kasar, sombong dan menjengkelkan.

Jadi untuk apa dia berada disana?
Terlebih untuk merawatnya yang sedang dalam keadaan tak sehat.
Pertanyaan itu takkan terjawab jika Yoona sendiri saja tak menyadari bagaimana ia kemudian bisa berlaku seperti itu.
“Oh.. Dia tak memiliki apapun disini. Bagaimana dia bisa makan jika seperti ini..”

Yoona menghela napas ketika tak menemukan bahan apapun dari dalam kulkas yang bisa untuk ia masak saat itu.

Kembali ia melangkah dan masuk kedalam kamar Siwon. Pria itu masihlah bergelung dalam selimut tebalnya..

Tadinya Yoona berniat untuk memberitahunya bahwa ia perlu keluar sebentar untuk berbelanja bahan makanan. Namun nampaknya ia lebih baik mengurungkan niatnya. Pria itu akan lebih baik tidur dan beristirahat saja sementara ia keluar.

Yoona kemudian keluar lagi dari kamar itu, mengambil tas tangannya dari atas sofa dan bergegas keluar dari apartemen. 

Tiga puluh menit berselang, Yoona telah kembali dengan dua kantong bahan makanan dan satu kantong kecil berisi obat penurun demam diantaranya yang sengaja ia beli ditoko obat tadi.

Terburu ia menyiapkan semuanya karna teringat Siwon berkata lapar tadi.
Ya Tuhan..
Sedari tadi pria itu pasti telah menahan lapar diperutnya.

Hal pertama yang ia lakukan adalah mencuci beras yang juga baru ia beli tadi, memasaknya kemudian ia beralih untuk menyiapkan sayuran.
Beberapa bahan juga telah ia beli untuk membuat sup tadi.

Semangkuk sup hangat pastilah akan membuat Siwon merasakan hangat yang sama pada tubuhnya hingga dia tak merasakan kedinginan lagi.

“Apa yang kau buat? Kelihatannya enak..”

Yoona sedikit terlonjak mendengar suara Siwon dan pria itu yang sedang berjalan kedapur menghampirinya.

“eh.. Kau bangun? Kupikir tadi kau berkata tak bisa bangun dari atas tempat tidurmu..”

“Aku tak tahan mencium harum masakanmu.. Ya Tuhan.. Baru kali ini aku merasakan kelaparan.”

“Apa aku terlalu lama?”

“begitulah..”

“itu karna aku perlu keluar tadi.. Aku tak menemukan apapun yang bisa kumasak..”

Yoona berbalik kearah kompor, untuk kembali mengaduk sup yang sudah hampir matang didalam panci.

“Ah.. Itu karna Fanny lebih suka makan diluar. Gadis itu mana bisa bersentuhan dengan dapur..”

“jadi kenapa kau bisa tiba-tiba demam dan sakit seperti itu?”

“semua karna Tiffany.. Kalau dia tak sangat antusias menerima tawaran pekerjaan di Jeju dan menyuruhku malam-malam mengantarnya ke bandara, aku takkan seperti ini.. Kurasa aku terserang flu”

Oh..
Yoona mengangguk mengerti.

Ia salah telah dalam penyimpulan terburuk tadi, bahwa pria itu mungkin mengalami serangan dari penyakit yang dideritanya dan tengah sekarat dalam apartemennya.

Pemikiran itu membuatnya bergidik ngeri.
Siapa yang tahu kalau pria itu hanya demam dan terkena flu saja.

“jadi darimana kau mendapat nomor ponselku? dan mengapa kau mengirim pesan padaku?”

Yoona mengambil mangkuk sup dari dalam lemari, kemudian menuangkan sup kedalamnya.
Ia juga mengambil semangkuk nasi yang kemudian ia letakkan dihadapan Siwon.

“makanlah.. Sebelum kau jatuh pingsan karna lapar. Itu akan sangat merepotkan..”

“gomapta..”

Siwon tak sabar, dan mulai menyuapkan sup panas kedalam mulutnya.

Yoona yang melihatnya hanya menggelengkan kepala dan kemudian menarik kursi untuk kemudian duduk dihadapannya.

“Oahh… Ini enak sekali. Apa kau tak ikut makan?”

“Tidak..”

“Oiya.. Aku mendapatkan nomor ponselmu dari handphone Fanny. Aku mencurinya..”

Yoona memutar mata mendengarnya, tapi sepertinya Siwon tak menyadarinya. Ia masih asik menikmati makanannya.

“dan kenapa kau yang ku kirimi pesan. Kurasa aku sudah mengetakan padamu aku tak mengenal siapapun disini..”

“bukankah kau bilang punya cukup banyak orang yang bisa kau andalkan..”

Kalimat itu terdengar sinis ditelinga Siwon. Yoona pastilah sedang teringat bagaimana saat ia menyombongkan dirinya malam itu.

“mereka semua berada di Jepang.. Pastilah terlalu lama bila aku menunggu mereka datang. Tapi ternyata keputusanku salah.. Justru lebih lama menunggumu datang daripada mereka..”

Siwon tersenyum geli melihat raut wajah kesal yang tergambar diwajah Yoona.

“aku bercanda.. Bagaimanapun terimakasih telah datang. Maaf merepotkanmu..”

Yoona tak tahu bagaimana ia menanggapai ucapan terimakasih dari Siwon.
Di tambah pria itu kini justru menatap, mengamatinya dan membuatnya kikuk berada dihadapannya.

Oh..
Apa yang sedang dilakukannya?

“kurasa aku harus pulang..”

Yoona ingin beranjak dari duduknya, namun Siwon menahan pergelangan tangannya.

“eh..tunggu, ada yang ingin ku tanyakan padamu..”

“apa?”

“apa wanita yang berada di Milan itu kau..?”

wanita di Milan?
Maksudnya?
Oh..
kemana dia akan membawa pembicaraan ini??

Yoona mengernyit mendengar pertanyaan itu. Ia kemudian memutuskan untuk duduk kembali dan mendengarkan apa lagi yang akan Siwon katakan.

“Ah.. Aku rasa itu sedikit membingungkan. Baiklah, aku akan mengganti pertanyaannya dengan.. Apakah kau pernah berada di Milan?”

“apakah itu sesuatu yang penting?”

“mungkin..”

“bagaimana jika aku mengatakan tidak pernah.. Apa kau akan membawaku kesana?”

“itu mungkin juga..”

“tak perlu.. Aku sudah pernah kesana.”

“Oh.. Kapan tepatnya?”

“apa yang kemudian menarik dengan Milan hingga kau merasa perlu menanyakan itu padaku?”

“astaga.. Jawab saja pertanyaanku. Jangan justru menimpali dengan pertanyaan-pertanyaan mu. Itu sedikit memusingkan.. Kau tahu kan aku sedang tidak sehat. Pertanyaanmu itu bisa menekan kedalam pikiranku dan membuatku pusing..”

Yoona menghela napas, jelas terlihat kesal.

Memangnya siapa yang memulai dengan pertanyaan-pertanyaan membingungkannya.
Jelas pria itu yang melakukannya.

“belum lama ini..”

“tepatnya?”

“bulan lalu..”

Oh..
Mendekati tepat.
Yoona kemungkinan adalah wanita itu.

“dimana kau menginap?”

“apa?”

“dimana kau menginap?”

Yoona sebenarnya sudah mendengar pertanyaan itu. Ia hanya tak yakin Siwon akan bertanya seperinci itu.

“Hanya jawab Yoona..tak perlu berpikir lebih”

Entah sudah untuk yang keberapa kalinya Yoona menghela napas sebelum akhirnya ia mengatakan juga di hotel mana ia menginap sekaligus nomor kamarnya.

Astaga..

“cukupkah yang ingin kau ketahui? Jika kau perlu lebih, sebaiknya tanyakan saja pada agen perjalanan dan bukan aku..”

gerutunya kesal.

Well..
Dia lah wanita itu.
Siwon meyakini itu dalam hati setelah Yoona mengatakan tempatnya menginap, nomor kamarnya dan itu sama dengan yang ada dalam ingatannya.

“Jangan marah.. Aku sudah selesai dengan pertanyaanku.”

Siwon berdiri dari duduknya kemudian membawa mangkuk sup nya yang telah habis kedalam bak pencuci piring.

Berbalik menghampiri Yoona, Siwon kembali merasakan denyutan dikepalanya dan rasa pusing yang menyertainya. Ia terhuyung dan hampir jatuh andai tak dengan cepat ia berpegang pada pinggiran meja makan.

“Ya Tuhan.. Harry ssi..”

Yoona mendorong kursi yang ia duduki kemudian menghampirinya, merangkulkan lengannya ditubuh Siwon, berusaha untuk menopangnya.

“Kau seharusnya tak bangun dulu.. Ayo kembali kekamar..”

Yoona lantas membantu Siwon berjalan kekamarnya.
Ia kemudian keluar lagi untuk mengambil segelas air dan obat yang tadi dibelinya.

“minumlah ini..”

“apa ini?”

“obat.. Jangan bercanda dengan mengatakan aku akan meracunimu”

Siwon menurut setelah melihat Yoona memelototinya.

“Kau akan mengantuk setelahnya.. Dan mudah-mudahan kau akan lebih baik saat kau bangun tidur..”

“gomawo..”

Siwon meraih tangan Yoona dan kembali mengucap terimakasih nya.

“aku akan pulang setelah kau tidur..”

Siwon mengangguk dengan tetap memegang tangannya. Perlahan dia mengatupkan kedua matanya, sepertinya obat yang tadi diminum sudah bereaksi.

Yoona menyadari Siwon telah tertidur saat kemudian pegangan ditangannya melemah.
Ya Tuhan..
Mengapa ia bahkan tak menolak tadi saat pria itu meraih tangannya.

Yoona buru-buru melepaskan tangan Siwon setelah tersadar dari pemikirannya.

Sejenak ditatapnya sosok pria dihadapannya dan tiba-tiba menggumam.

“Siwon..”

betapa pria itu adalah pemilik rupa yang sama dengan suaminya. Meski keduanya adalah pemilik watak yang berbeda.
Tapi setidaknya kerinduan untuk memandangi wajah suaminya menjadi terobati saat ini.

Oh..
Berpikir apa dia?

Terlebih dulu membenarkan selimut yang menutupi tubuh Siwon, memastikannya tetap hangat dan tak merasakan kedinginan, Yoona kemudian keluar dari kamar itu untuk setelahnya pergi meninggalkan apartemen.

***

Ketika Siwon terbangun, ia merasakan tubuhnya kembali normal. Tak lagi ia rasakan pusing dikepalanya dan rasa dingin yang bahkan mencapai tulang-tulang nya.

“dia benar-benar menyembuhkanku..”

Tersenyum ketika mengingat perlakuan Yoona, Siwon lantas teringat tentang fakta yang telah menguatkannya bahwa wanita itu juga lah seseorang yang telah menarik perhatiannya saat berada di Milan.

“Astaga.. Bagaimana bisa mereka adalah satu orang yang sama.”

Siwon tak habis mengerti bagaimana hal itu bisa terjadi.
Sekalinya ia tertarik pada seorang wanita mengapa dia haruslah seorang yang telah bersuami dan bahkan memiliki dua orang anak.

Ya Tuhan..

Wanita itu jelaslah telah menemukan kebahagiaan dalam hidupnya.

Dan tadinya telah tumbuh harapannya untuk kemungkinan mencari wanita di Milan itu.
Wanita yang pertama kali menarik perhatiannya.

Tapi kini…

Bila kenyataan nya wanita itu adalah satu orang yang sama.
Wanita itu adalah Yoona..
Apa yang kemudian bisa dilakukannya?

“aishh…”

Siwon meremas-remas rambutnyaa, merasa frustasi.

“Oppa.. Harry oppa.. Kau kenapa?”

Lengkingan suara Fanny terdengar tiba-tiba.
Rupanya Fanny memutuskan untuk pulang hari itu.

“Oppa.. Apa yang terjadi? Apa kau benar-benar sakit? Tapi kau terlihat sehat..”

“Aku jatuh cinta…”

“MWO..!?”

Fanny nampaknya tak yakin dengan apa yang didengarnya.
Ia kemudian mendekat kearah Siwon yang masih terduduk dipinggir tempat tidurnya.

“apa yang oppa katakan tadi?”

“aku jatuh cinta Fanny ah.. Ja-Tuh-Cin-Ta.. Jelas!?”

“Kau benar sakit?”

Menempelkan telapak tangannya pada dahi Siwon, Fanny mencoba mengukur suhu tubuhnya. Mungkin pengaruh demam atau gangguan apalah yang menyebabkan oppa nya berbicara aneh saat ini.

Normal..

Tapi mengapa oppa nya itu tiba-tiba berbicara ngaco padanya.

“Kau tidak demam..”

“Aishh.. Kau pikir aku sakit?”

Siwon kemudian menyingkirkan tangan Fanny yang menempel didahinya.

“tapi bicaramu aneh oppa..”

“aneh.. Astaga.. Kukira kau akan senang mendengarnya. Setidaknya pengakuanku membuatmu membuang tuduhan ‘gay’  itu jauh-jauh dari pikiranmu”

berdiri dari duduknya kemudian melangkah keluar dari dalam kamarnya, Siwon menjadi kesal. Kefrustasiaannya juga pengakuannya yang justru dinilai ‘aneh’ oleh Fanny semakin menjatuhkan perasaannya.

“Jadi kau serius, oppa..? Aigoo..”

Fanny mengikuti langkah Siwon yang kemudian keduanya duduk bersebelahan disofa.

“Harry oppa ku jatuh cinta?? Ya Tuhan.. Akhirnya..”

terlihat geli dengan ucapannya sendiri, Fanny menjadi terkikik hampir tak yakin dengan pengakuan Siwon. Itu lebih karna oppa nya justru terlihat lesu, sama sekali tak ada binar-binar dimatanya layaknya orang-orang yang tengah kasmaran.

Sama sekali tak ada..
Bukankan hal itu menyedihkan..

“Jangan menertawakanku..”

“Oh, baiklah.. Jadi siapa wanita ‘beruntung’ itu?”

Fanny nampak sedikit ragu menyebut wanita itu ‘beruntung’. Secara ia tahu pasti bagaimana Siwon perprilaku terhadap wanita.

Benar-benar kurang layak menurutnya..

Tapi dari sisi lain ada benarnya ia menyebut wanita yang telah membuat Siwon jatuh cinta itu sebagai wanita ‘beruntung’ bila mengingat secara finansial, materi dan ketampanan, Siwon pastilah berada dikelas teratas.
Yang mampu membuat wanita-wanita diluar sana tergiur untuk memilikinya.

Kalau seperti itu siapa yang bisa memungkiri wanita itu memang ‘beruntung’ karna dicintai pria tampan nan mapan seperti oppa nya.

“kenapa diam saja..jadi siapa wanita itu? Kau tak ingin mengatakannya padaku?”

Siwon nampak berpikir. Ragu, apakah ia perlu mengatakan siapa wanita itu.

Oh..
Apa yang akan dikatakan Fanny nanti bila mengetahui wanita yang telah membuat bibirnya mengatakan kata ‘cinta’ adalah seorang yang telah bersuami dan memiliki anak.

Terlebih wanita itu adalah seseorang yang dikaguminya.. Im Yoona..

Tidak.. Tidak..
Fanny sebaiknya tak perlu tahu hal itu.

“Oppa.. Kau mendengarku tidak sih..”

Fanny merasa kesal karna pertanyaan nya yang terus diacuhkan.

“apa?”

“aishh.. Siapa wanita itu?”

“eh.. Dia, seseorang yang pernah kuceritakan padamu, yang kulihat di Milan. Aku menemukannya dan terpesona olehnya..”

Meski tak menyebut nama, tapi setidaknya ia tak memulainya dengan mengarang cerita bohong pada Fanny.

“Omo..Omo.. Benarkah seperti itu? Wanita itu? Kau akhirnya menemukannya? Bagaimana bisa? Astaga.. Inikah yang kau bilang takdir yang akan mempertemukan kalian. Ya Tuhan.. Aku hampir tak percaya. Kata-kata mu benar oppa..”

Fanny sedikit mencibir dengan ucapannya, membuat Siwon hanya bisa menanggapinya dengan senyuman masam.

“Begitulah..”

“bagaimana bisa oppa tahu dan yakin jika wanita itu yang berada di Milan?”

“Kau pikir aku bodoh.. Selain karna perasaan tertarikku padanya, aku juga sudah meyakinkan diri dengan bertanya langsung padanya..”

“Oh My God.. Jadi sudah sejauh itu? Kalian bahkan sudah saling berbicara? Kapan oppa bertemu dengannya?”

Fanny menjadi begitu penasaran setelah mendengar penjelasan-penjelasan Siwon yang dianggapnya sedikit mengambang.

“hmm..belum lama..”

Bahkan masih dalam hitungan jam.

Itu yang seharusnya ditambahkan. Sayangnya itu hanya bisa dibisikkan Siwon dalam hatinya.
Fanny pastilah akan semakin mencecarkan pertanyaan nya.

“ngomong-ngomong kau kenapa sudah pulang?”

“aishh.. Kupikir kau benar sakit”

“Oh.. Jadi kau mengkhawatirkan ku..”

“tentu saja.. Tapi, oppa jangan mulai mengalihkan pembicaraan. Kita belum selesai dengan topik wanita Milan itu”

“apanya yang belum selesai? Sudahlah.. Jangan membahasnya aku sudah langsung mengubur perasaan ku setelah tahu siapa dia sebenarnya..”

“Oh.. No no no.. Oppa tak bisa melakukannya!”

Fanny berjingkat dari duduknya dan menatap miris kearah Siwon.

Oh..
Betapa mengenaskan dia, baru merasakan jatuh cinta dan kemudian langsung menguburnya?

“kenapa aku tak bisa melakukannya?”

“dan kenapa oppa melakukannya? Oh, Ayolah.. Ini pertama kalinya Kau merasakan perasaan cinta pada wanita, kenapa kau langsung menguburnya?”

“itu memang yang harus kulakukan..”

“why?”

“karna memang begitulah seharusnya”

“Oppa.. Jawab aku! Kenapa itu menjadi Harus!”

“Karna dia seorang yang telah bersuami dan memiliki anak..”

“Apa??”

Fanny melebarkan kedua matanya yang sipit..

Pantas saja oppa nya itu justru terlihat mengenaskan..

“Ya Tuhan.. Katakan padaku siapa wanita itu, oppa??”

“Dia.. Dia adalah…”

***

Yoona gelisah menatap layar ponselnya. Berharap benda ditangannya itu akan menyala, bergetar atau berbunyi yang menandakan ada pesan atau panggilan yang masuk keponselnya.

Tapi nyatanya sedari tadi ponsel itu berada ditangannya tak ada sesuatupun reaksi dari benda itu. Ponselnya tetap saja diam, kecuali bergerak sesuai dengan gerakan tangannya.

Oh..
Apa yang sebenarnya sedang ditunggunya..

“Apa dia sudah membaik? Ataukah dia.. Ah, mengapa dia tak mengabariku?”

Berdiri mondar-mandir dikamarnya, Yoona tak menyadari sepasang mata mengawasinya dengan dahi kecilnya yang berkerut.
Berkacak pinggang diambang pintu kamar, Hana lantas memanggilnya..

“mommy..”

Tak ada sahutan, sang mommy masihlah sibuk dengan apapun itu yang berada dalam pikirannya.
“mommmmyy…”

Yoona menoleh, melihat sang putri tengah mengawasinya.

“Oh, Hana ya..”

“kenapa mommy tidak turun? Kenapa mommy berjalan mondar-mandir disana? Are you Ok?”

Yoona berusaha menarik senyum atas pertanyaan dan tatapan menyelidik dari putrinya, saat kemudian Hana mendekat padanya.

“Junseo dan halmoni menunggu mommy untuk makan dibawah..”

Melihat jam dipergelangan tangannya, Yoona menyadari ia telah melupakan acara makan bersama mereka pagi ini.

“Oh, mommy terlalu lama bersiap.. Ayo kita turun..”

mengambil tas dari atas tempat tidurnya, Yoona kemudian menggandeng tangan Hana berniat membawanya turun, tapi putrinya itu justru menahan nya.

“ada apa Hana ya..?”

“mommy belum menjawab pertanyaan Hana..”

“eh, yang mana?”

“kenapa mommy mondar-mandir tadi? Adakah yang sedang mengganggu mommy..?”

Sejujurnya ya..
Ada yang sedang ia khawatirkan.

Tapi tak mungkin kan ia mengaku pada Hana, terlebih kekhawatiran yang bahkan tak wajar menurutnya.
Mengapa ia harus mengkhawatirkannya?
Dan mengapa pria itu bisa membuatnya khawatir?

“mom..?”

“Oh, ya sayang..”

“mommy melamun lagi..”

“ah, aniyo.. Mommy hanya sedikit berpikir”

senyumnya berusaha menghilangkan kecurigaan sang putri.

“berpikir tentang apa?”

Hana nampaknya justru semakin tertarik dengan apa yang ada dalam pemikiran mommy nya.

“hmm.. Itu tentang banyak hal sayang..”

mengerucutkan bibirnya, Hana nampak berpikir. Sang mommy pastilah sedang berteka-teki dengannya.
Yoona tersenyum melihat Hana, bibir mengerucut dengan dahi berkerut jelas terlihat lucu dimatanya.

“aigoo.. Anak mommy tidaklah boleh terlalu keras berpikir. Bukan apa-apa sayang, itu hanyalah sesuatu yang berhubungan dengan butik mommy..”

“benarkah?”

“hmm.. Tidak menarik bukan?”

“sepertinya.. Tapi mommy juga jangan terlalu memikirkannya. Mom selalu sibuk, sudah lama mommy tak mengajak Hana dan Junseo bermain diluar..”

Yoona sedikit tertegun menerima keluhan dari Hana..

“Oh.. Sorry, maafkan mommy, sayang. Apa Hana ingin pergi bersama mommy?”

“hmm.. tentu saja..”

“baiklah, kita akan rencanakan nanti.. Sekarang Ayo turun, halmoni dan Jun pasti terlalu lama menunggu..”

***

Im Yoona..

Nama itu sebenarnya sudah ada diujung bibirnya, namun mengapa rasanya sulit untuk mengucapnya dan memberitahukan fakta mengenai wanita itu kepada Fanny..

“Oppa.. Kenapa justru diam, siapa wanita itu sebenarnya?”

“Dia.. Oh Ya Tuhan, kita harus menghentikannya Fanny ah. Aku tak tahu bagaimana kau akan bereaksi jika tahu siapa wanita itu..”

“Mwo.. Maksudnya? Apa maksud oppa aku mengenal wanita itu? Yak.. Oppa! Cepat katakan!”

“aishh.. Tidak perlu, aku sudah memutuskan untuk mengubur perasaan itu..”

“Oppa.. Ketika kau telah mengatakan sesuatu padaku, Kau tak bisa berhenti sebelum menuntaskannya. Palliwa.. Siapa dia Oppa? Siapa yang telah menarikmu kedalam perasaan cinta?”

“Tapi ini bukanlah perasaan cinta yang benar.. Apa yang kurasakan adalah jenis cinta terlarang, Fanny ah. Dia.. Wanita itu..telah menemukan kebahagiaan nya. Aku tak mungkin bisa meraihnya..”

“Yak oppa.. Jangan dulu berpikir terlalu jauh, aku hanya ingin tahu siapa wanita itu? Siapa dia oppa?”

Ya Tuhan..
Begitulah Fanny..
Salahnya juga kenapa ia justru membuka mulutnya tadi.
Fanny pastilah takkan berhenti sebelum ia mendapatkan apa yang telah menjadi kemauannya kini.

“Oppa..!”

Siwon merasa terdesak, Fanny telah benar-benar memojokkan dirinya dan ia takkan lagi bisa mengelak, apalagi ditambah dengan tatapan menuntut darinya.

“Yoona.. Wanita itu Im Yoona..”

“A-pa??”

“desainer itu.. Yoona. Wanita yang kau kagumi. Dialah wanita yang menarik perhatiaanku di Milan. Dan bahkan sebelum aku mengetahui bahwa dia lah wanita di Milan itu, kenyataannya aku memang telah tertarik padanya..”

Oh..
Fanny tak tahu bagaimana dirinya akan bereaksi.
Ini lebih dari sekedar mengejutkan untuknya.

“Sudah kubilang itu bukanlah jenis ketertarikan, ataupun perasaan cinta yang benar. Jangan khawatir aku akan mengubur dalam-dalam perasaan itu..”

“Oppa..”

“hmm..”

“Tapi Oppa. Dia bukanlah wanita yang bersuami. Yoona telah kehilangan suaminya..”

“Apa katamu..?”

Entah bagaimana, Fanny nampaknya tak tega membiarkan Siwon memupus perasaan yang bahkan baru muncul dalam dirinya..

Terkejut oleh informasi masing-masing yang didengar, reaksi berbeda yang kemudian ditunjukkan oleh keduanya.

Jika Fanny kemudian kembali duduk, nampak tak percaya bila Siwon jatuh cinta terhadap sosok wanita yang dikaguminya, Yoona.

Oh..
Kenapa Yoona?
Kenapa oppa nya tertarik dengan seorang yang sudah pernah terikat pernikahan, dan bahkan telah memiliki dua orang anak.

Walaupun ia juga tak menutup mata dan memungkiri, meskipun seperti itu kondisinya, Yoona tetaplah sosok yang terbilang masih muda, mempesona dan berkarier mapan.

Maka rasanya wajar bila kemudian seorang pria seperti oppa nya merasakan ketertarikan lebih atas pesonanya.

Oh Tuhan..
Bagaimana ini..

Bila Fanny masih terdiam mencoba mencerna semuanya, berbeda halnya dengan Siwon, keterkejutannya mendorongnya untuk mendesak Fanny agar mengatakan lebih jelas mengenai Yoona yang telah kehilangan seorang suami?

Apa maksudnya kehilangan suami?
Apa pria yang berstatus suami itu pergi meninggalkannya dan mencampakkan dia dengan anak-anaknya?

Oh..
Yang benar saja.
Rasanya itu tidak mungkin dilakukan oleh seorang pria normal..
Pria bodohlah yang pasti bisa berlaku demikian terhadap wanita itu.

Entah karna apa pemikiran itu menimbulkan perasaan marah dalam hatinya.

“apa katamu tadi? Apa maksudnya Yoona kehilangan suaminya?”

Siwon mengguncang bahu Fanny, karna setelah mengatakan hal tadi padanya, Fanny kemudian justru terdiam.

“Tiffany..! Jawab aku!?”

“Oppa..”

“darimana kau tahu jika Yoona kehilangan suaminya..”

“aku tahu dari Jessica..salah satu teman Yoona yang juga menangani butiknya. Dia mengatakan Yoona kehilangan suaminya dalam sebuah kecelakaan”

“kecelakaan?”

“Ya..kecelakaan itu merenggut nyawa suami dan ayah mertuanya, itu yang Sica katakan padaku”

Fanny ikut merasakan ngeri ketika ia mengatakannya..

Dan pada saat menatap Siwon, bayangan kejadian kecelakaan yang dialaminya kala itu tiba-tiba muncul dimemorinya. Membuatnya kemudian dicekam perasaan takut dan juga rasa bersalah terhadap Siwon.

“Oh..tidak mungkin Fanny ah. Apa kau sudah memastikannya?”

“memastikan apa?”

“memastikan suaminya benar-benar tiada?”

“Dia benar telah kehilangan suaminya oppa, tapi tentu saja aku tak memastikan itu padanya.. Aku takut jika aku menanyakan padanya. Hal itu hanya akan membuka luka lamanya..”

“Ya Tuhan…”

Siwon bergerak masuk kedalam kamarnya, dan kembali keluar dengan menggunakan jaket dan sebuah kunci mobil ditangannya.

Fanny terperangah dengan kemungkinan apa yang akan Siwon lakukan selanjutnya.

“Oppa kau mau kemana? Apa yang akan kau lakukan?”

“aku akan menemuinya dan memastikannya..”

“apa kau gila.. Kau akan mengingatkan Yoona dengan rasa sakit yang dialaminya..”

“aku tak perduli Fanny ah.. Aku harus tahu kebenarannya, agar aku bisa mengambil langkah untuk selanjutnya, sebelum aku benar-benar menjadi ‘gila’ seperti apa yang kau katakan..”

“Yak.. Oppa.. Kau tak bisa seperti itu..”

Tak memperulikan ucapan Fanny, Siwon langsung keluar dari dalam apartemennya meninggalkan Fanny yang shock dengan reaksinya, kebingungan, dan sedikit menyesal dengan perkataannya tadi.

Oh..
Apakah akan lebih baik jika tadi oppa nya tetap berpikiran Yoona masihlah seorang wanita yang bersuami?
Pastilah hal ini takkan terjadi..

“Oh.. Ottokhae.. Sebenarnya kenapa Oppa bisa sampai seperti itu?”

Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali berjalan mondar-mandir dalam kecemasan, mengantisipasi apa yang akan dikatakan oppa nya pada Yoona.

“Oppa.. Kumohon jangan membuat kekacauan..”

do’a nya dalam hati. Hanya itulah yang saat ini dapat Fanny lakukan.

***

Menghentikan laju mobilnya, Siwon sangat ingat malam itu ia mengantar Yoona sampai didepan pagar besi rumahnya.
Dan kini ia berada disana. Merasakan perasaan yang sulit diartikannya.

Ia baru saja mengetahui jika wanita itu telah kehilangan suaminya. Harusnya ia senang karna dengan begitu langkahnya untuk mendekati wanita itu takkan terganjal oleh status Yoona yang telah bersuami.

Tapi nyatanya ia justru menjadi tak rela menyebut suami Yoona telah tiada.

Oh..
Membingungkan..
Ia rasanya sedang berada ditengah antara perasaan suka dan duka.

Tak berselang berapa lama ia melihat sosok itu.
Wanita yang telah mengacaukan perasaannya.
Yoona keluar dari dalam rumahnya untuk kemudian masuk kedalam mobilnya.

Siwon lantas memundurkan sedikit mobilnya, memastikan Yoona takkan melihatnya disana.

Dan pada saat Yoona akhirnya keluar melewati pagar besi yang telah terbuka, Siwon mengikutinya.

Mengikuti kemana arah mobil itu melaju. Namun setelah beberapa lama ia tak lagi bisa menunggu.

Menekan pedal gas, ia melaju lebih cepat, mendahului lajuan mobil dihadapannya, sebelum akhirnya berhenti dan menghalangi lajuan mobil Yoona.

Astaga…

Yoona terkesiap dan langsung menginjak rem mobilnya.

Apa pengemudi itu mabuk?
Ya Tuhan..

Yoona merasa ngeri saat membayangkan harus berurusan dengan seorang yang tengah mabuk. Ia baru akan kembali melaju ketika melihat seorang keluar dari dalamnya…

“Harry..?”

Yoona menjadi merasa terkejut ketika Siwon keluar dari dalam mobil didepannya yang hampir saja akan bertabrakan dengan mobilnya.
Dia kemudian berjalan kearah mobilnya dan langsung mengetuk bagian kaca pintu mobilnya.

Yoona tak lantas keluar, ia hanya menurunkan kaca mobilnya.

“Harry ssi.. Apa yang kau lakukan?”

“Keluarlah.. Aku ingin bicara”

“apa? Bicara apa? Kenapa kau merasa aku harus bicara denganmu?”

Siwon menggeram dan hampir saja meninju bagian mobil Yoona menggunakan kepalan tangannya, yang membuat Yoona justru berjingkat ketakutan.

“Keluarlah Yoona.. Atau aku harus memaksamu?”

Oh Tuhan..
Apa pria itu benar sedang mabuk?
Ada apa dengannya?

Perlahan Yoona membuka kuncian mobilnya, kemudian turun dan berhadapan dengan Siwon.

“ada apa? Kau sudah baikan kan?”

Ia mengulurkan tangannya, sudah akan menyentuh wajah Siwon untuk memastikan pria itu tak lagi merasakan demam seperti sebelumnya. Namun yang terjadi, Siwon justru merenggut pergelangan tangannya, mencengkramnya kuat sebelum akhirnya mendorong tubuh Yoona hingga menekan kesisi mobilnya.

“awhh..”

Yoona terkesiap saat itu juga..

“Har-ry ssi.. A a pa yang kau lakukan?”

“Jawab pertanyaanku Yoona.. Benarkah kau telah kehilangan suamimu?”

Oh Tuhan..
Karna hal itu kah dia menjadi seperti ini.
Kasar, seperti ia pertama kali melihatnya.

“Apa maksud pertanyaanmu itu?”

“Hanya jawab Yoona.. Dan jangan mengulang atau justru kembali bertanya padaku..”

menggunakan sebelah tangannya, sementara tangan satunya masih tetap menekan tangan Yoona, Siwon menarik rambutnya sendiri. Frustasi oleh apa yang selalu Yoona lakukan dengan kembali bertanya disaat ia sedang membutuhkan jawaban darinya.

“Kau kehilangan suamimu?”

Dengan perasaan getir dan sakit dihatinya karna terpaksa mengingat kembali bagaimana ia kehilangan Siwon suaminya kala itu.

“Ya.. Aku kehilangannya. Suamiku, satu-satunya pria yang mengisi hatiku dan aku telah kehilangan dia untuk selamanya..”

Ada kilatan kesedihan dimata Siwon ketika ia mendengarnya. Hatinya terasa diremas oleh sesuatu yang entah oleh apa sebabnya.

“karna itukah kau masih mengenakan cincin itu dijarimu?”

Yoona mengikuti arah pandang Siwon yang melihat pada cincin dijari manisnya.

Ya..

Selama ini tak pernah terbersit niat untuk melepaskan cincin itu.
Meski terkadang kesedihan ia rasakan saat melihat cincin pernikahannya.
Saksi bisu penyatuan cintanya yang masih melingkar dijarinya itulah sebagai bukti betapa tak ada lagi tempat untuk orang lain yang mencoba mendekatinya.
Hanya suaminya.. Dan selamanya hanya dialah yang ada dihatinya.

“Ya.. Agar aku terus mengingatnya”

“kenapa kau tak mengatakannya padaku?”

Yoona mengerutkan dahi mendengar pertanyaan tak masuk akal menurutnya.

“kenapa tak kau katakan padaku sebelumnya bahwa suamimu telah tiada?”

“Kau? Apa hubungannya denganmu? Suamiku tak ada keterkaitan apapun denganmu..”

“Tapi.. Aku..”

Siwon tergeragap, Yoona memang  tak salah untuk hal itu.

“bisakah kau melepaskan tanganku?”

Siwon lantas menatapnya, memperhatikan raut wajah Yoona yang terlihat cemas. Deru napasnya memburu, mungkin ia tengah dalam kondisi waspada.

“aku harus pergi kebutik..”

Dengan Siwon yang masih menatapnya dan terus merasakan betapa hembusan napas Yoona yang terengah saat itu, serasa menggulung memorinya, menghadirkan bayangan-bayangan yang sepintas dan samar dikepalanya.

“Yoona.. Pernahkah sebelumnya kita sedekat ini?”

“nde..?”

“apakah aku sebelumnya pernah berlaku kasar padamu?”

“Ya.. Kau pernah melakukannya di kantormu..”

“Tidak.. tapi itu tidak terlihat seperti dikantorku. Itu ditempat lain.. Apa itu kau? Kau yang berteriak, kau yang memaki, kau memukul dan menangis..”

Siwon tiba-tiba melepaskan pergelangan tangan Yoona. Ia memegang kepalanya, meraskan dentaman kuat disana dan bayangan itu yang seakan terus mengitari kepalanya.

“awhh..”

Siwon meremas kuat rambutnya, mengerang dalam rasa sakit yang kembali dirasakannya.

“Harry ssi.. Harry.. Ya Tuhan..!”

Yoona kembali dibuat terkesiap ketika kemudian Siwon jatuh dan tak sadarkan diri dihadapannya.

***

Changmin membaca beberapa pesan yang di email kan padanya.
Seseorang yang telah disewa nya untuk menemukan informasi mengenai pria yang bernama Harry, sedang mengabarkan beberapa hal yang didapatkannya.

Segera setelah ia membaca seluruh informasi dalam email nya, Changmin menggunakan ponselnya untuk melakukan panggilan..

“yoboseyo..”

“Oh, omonim.. Ada yang ingin aku tanyakan..”

“nde? Apa sesuatu terjadi pada Sooyoung?”

“anio.. Omonim, bukan karna Sooyoung.Tapi ini tentang Siwon..”

“Siwon?”

“ne.. Apa aku bisa melihat barang-barang milik Siwon yang diserahkan polisi saat itu..”

“Oh.. Aku rasa tak ada barang milik Siwon yang tertinggal”

“maksudnya?”

“polisi hanya bisa menemukan sedikit barang dan itu hanya milik ayah Siwon, suamiku..”

Oh..

Changmin nampak memikirkan hal itu, dan setelah mengakhiri sambungan telpon dengan Ny.Choi, satu lagi pesan masuk kedalam emailnya..

“Amnesia..??”

*

*

*

*

*

*

*

To Be Continued~

@joongly

146 thoughts on “YOU’re My Destiny [4]

  1. Aku kok jadi suka sama karakter hary ya?:-/ hmmm namun aku pengen juga siwon kembali ke yoona dan 2 buah hati mereka yg kyeopta itu😀 wedeh wedeh makin penasaran dah. Ok fighting ya eonn buat nulis😉 gomapta

  2. Semakin seru,,Wonppa kembali melihat bayang2 samar memorinya dulu dan setiap bertemu keluarganya dia sllu merasakan kehangatan yg mengisi hatinya yg kosong
    Akankah Changmin secepatnya bz menemukan bukti ttg Wonppa dan membuka identitas Wonppa yg Sebenarnya…

  3. Waaahh kayaknya siwon bakalan sadar deh, itu juga changmin yang mulai mengetahui kebenarannya😀
    waaahh makin seruu, ijin baca next duluuuu

  4. Wah kayak nya sebentar lagi siwon pulih tuh semoga semoga, kasian hana yoona sama junseo,😦 mereka sangat merindukan sosok mu, apa lagi sama hana!

    Hwatingg changmin oppa kau pasti berhasil mengembalikan ingatan siwon😀

    IZIN baca next chapter ne eon!!🙂

  5. Kasian yoona sama anak*nya yg rindu sama sosoknya siwon,kayaknya siwon udah mulai pulih deh soalnya dia udah mulai melihat bayangan masa lalunya.semoga aja titik terang dg changmin udah mulai menemukan kebenarannya

  6. sepertinya siwon akan segera sembuh, dia udah pusing saat lihat yoona dan ingat tentang masa lalunya, udah mulai ada titik terang, makin seru ceritanya

  7. Finally kebenaran akan terungkap. Siwon Oppa come back …. Manseeeeeeeee
    semoga ini pertanda akan Kelauraga Swion Kembali utuh. aminn

  8. Yeeeeeyy changmin emg. Hebat,dia benar2 lelaki yg bs diandalkan,secara tinggal dia pria yg bs diandalkan di keluarga choi,fighting changmin temukan kbenaran itu.
    Yg di ingat siwon pasti kejadian wkt dia perkosa yoona,ayooo dong siwon ingat2 lg.
    Cinta sejati emg hebat ya,bahkan saat hilang ingatanpun cinta itu tetap menemukan jln untuk tumbuh kpd org yg sama. Daebak…

  9. Ayoo changmin oppa smoga ad titik terang bukti kalo harry itu wonppa…
    Smoga kali ini wonppa smbuh dr amnesianya..

  10. Makin seru dan makin penasaran aja, di adegan ini si won dan Tiffany yg bikin lucu kisah ceritanya
    tanpa di sadari Tiffany dialah
    yg menyatukan YW
    dan mak comblangnya
    dan ku harap Changmin bisa
    mendapatkan info kebenaran
    tentang jati Diri Harry

  11. Wow wow apa ini? Hahaha bagus banget ceritanya, ckck yoona benar benar terperangkap, cepat atau lambat mereka pasti akan saling menyukai, aku bener bener penasaran dengan donghae, bahkan aku berpikir donghae lah yang membuat yuri depresi, tingkahnya mencurigakan.

  12. Puzzle-puzzle misteri sudah mulai terkuak sedikit demi sedikit …
    Makin lama, aku jadi gak bisa membenci tokoh Tiffany.Yeah, meskipun dia bersalah. Tapi disini dia bukan orang jahat kaya biasanya.
    Makin kasian aja liat Yoona. Nasibnya berasa bener-bener dipermainkan. Siwon juga, amnesianya betah banget, sampe 2 tahun gak sembuh-sembuh …
    Nah, tapi tuh sudah ada titik pencerahan untuk Yoonwon …
    Believe it, kalian pasti bersatu lagi …
    Next chap, caoooo ….

  13. Sudah mulai ada titik terang nya… 1 per 1 sdh mulai terbongkar. Jangn lama2 ksian klurga nya wonpa…

    Wonpa semangat smkin sering kepla nya sakit smkin sering dia melihat masa lalu nya…

  14. Perlahan lahan siwon sdah mulai mengingat masa lalunya…
    Changmin ayo semangat buat nyari tau tentang harry…

  15. M0ment Y00nW0n.a lumayan waktu Siw0n sakit & Siw0n ngaku ke Fany kalau dia jatuh cinta sama Y00na,,
    Tp stlh Siw0n & Y00na bahas s0al kematian suami.a Y00na, Siw0n ‘sedikit’ ingat ttg sikap kasar.a ke Y00na dulu & mlh ada acara pingsan lg,,
    Changmin mulai nemuin pencerahan nih s0al Harry yg ngalamin amnesia, lanjut trs Min,, (Q mendukungmu).,

  16. Huwaaaa
    Akhirnya sebentar lagi udh mau mjncul kebenaran krna siwon udh mulai inget dan changmin yg mencati tau…
    Kabar baik untuk yoonwon

  17. Dalam kondisi amnesiapun daddy tetap cinta sama mommy
    Dan bayangan2 yg selalu muncul sama daddy semakin banyak dan menguat
    Semoga segera sadar yaa dad dan kembali lg
    Dan changmin oppa segeralah dapatkan bukti semuaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s