Fanfiction

YOU’re My Destiny [3]

Happy Reading~

*

*

*

*

*

*

*

Jadi bagaimana sebenarnya yang terjadi hingga Siwon sudah berada ditengah-tengah banyaknya orang disana. Dan seperti ia sedang mendapat kejutan sekarang..

Kahadiran wanita itu sebagai desainer, pemilik acara dan sekaligus bintang disana, dalam acara itu sungguh sangat mengejutkan untuknya.

Ya..
Seperti yang sudah terpaksa ia sepakati sebelumnya dengan Fanny, bahwa ia akan datang dihari gadis itu mengikuti acara fashion show. Berkali ketika Fanny menelpon, dia selalu mengingatkannya dan memberi ancaman kebencian bila Siwon sampai mengingkari janjinya.

Akhirnya Siwon benar-benar datang setelah banyak pertimbangan. Selain karna enggan menerima amukan dari Fanny nantinya, Siwon juga berniat mengetes(?) kebetulan yang selama ini ia temukan saat bertemu dengan Yoona.

Oh..
Apakah akan terjadi lagi?
Mungkin saja ia akan bertemu lagi dengan wanita itu. Bila kebetulan itu sedang berpihak padanya.
Entah karna apa wanita itu begitu meresahkan pikirannya.

Ia tak berniat menerka-nerka lagi, melainkan akan memaksa wanita itu mengakui siapa dia sebenarnya.

Apakah dia berhak melakukan hal demikian?
Tentu saja tidak.
Tapi Siwon akan melakukannya.
Memangnya siapa yang bisa mencegahnya.

Ia hanya punya beberapa waktu setelah pesawat yang ditumpanginya mendarat di korea. Fanny mengatakan telah menitipkan undangan pada resepsionis hotel agar Siwon bisa langsung masuk ke acara.
Jelas Fanny tahu ia akan sibuk berada dibelakang panggung untuk menyiapkan dirinya.

Sedikit terlambat karna acara sudah berjalan hampir setengahnya ketika Siwon masuk ke ballroom hotel itu. Tempat yang sama dimana Fanny juga menginap disana.

Dengan menyempatkan membeli sebuket bunga, Siwon berharap Fanny tidak akan merasa kesal dengan keterlambatannya. Karna berkali tadi gadis itu telah mengirimkan beberapa pesan yang mempertanyakan dimana keberadaannya hingga dia belum juga melihat Siwon berada diantara tamu undangan lainnya.

Yang terjadi selanjutnya adalah kebosanan untuknya.
Fashion show itu jelas diperuntukkan untuk kalangan wanita.
Hanya segelintir pria yang berada disana.
Mungkin mereka sama terpaksanya seperti dirinya.

Dipaksa oleh sang istri.
Terpaksa menemani kekasih yang pasti akan meminta salah satu dari gaun-gaun cantik itu.
Tapi Siwon yakin tak ada dari pria-pria itu yang dipaksa oleh seorang adik seperti dirinya.

Oh..
Menjengkelkan.

Sampai disitu kejengkelannya hingga semua berubah menjadi kejutan besar untuknya.

Surpraise..!!

Di puncak acara atau tepatnya akhir penutupan fashion show hari itu, Yoona muncul dan berjalan diatas ketwalk dengan senyum dan sesekali menundukkan kepala, sebagai rasa terimakasih atas respon dari seluruh tamu yang datang. Yang kini menyambutnya dengan tepuk tangan meriah setelah puas dengan pertunjukan fashion yang disuguhkan.

“khamsahamnida..”

Siwon terhenyak. Berkali-kali ia bahkan telah mengerjapkan matanya. Merasa tak yakin dengan apa yang sedang dilihatnya saat itu.

Ini kejutan..
Benar-benar kejutan besar yang hampir membuat jantungnya berhenti berdetak.

Lihatlah senyumnya.
Senyum kepuasan yang dimata Siwon itu adalah sebagai bentuk ejekan untuknya.
Wanita itu jelas sedang menunjukkan siapa dia sebenarnya.

Oh..
Wanita itu bahkan belum menyadari kehadirannya.
Tapi Siwon sudah merasakan hal seperti itu.

Jadi sudah bisakah membayangkan betapa terkejutannya Siwon saat ini?

Tidak..
Karna ia merasa menjadi satu-satunya orang yang mendapatkan kejutan luar biasa itu..

Berhasil mengatasi keterkejutannya, Siwon lantas berdiri dari duduknya, melewati beberapa orang didepannya, ia melangkah mendekati Yoona masih dengan sebuket bunga ditangannya.

Jelas siapa yang kini berganti terkejut?

Yoona menegang..

Jika tadi jantung Siwon sudah dibuat hampir berhenti berdetak, sekarang giliran Yoona yang merasakannya.

Pria itu?
Bagaimana bisa dia berada di dalam acaranya?

Sebelum bisa mencerna semuanya, Yoona justru kembali dibuat terkejut oleh senyum dan juga uluran tangan Siwon yang menyerahkan sebuket bunga untuknya..

“Terimalah.. Ini untukmu. Wanita yang begitu terlihat mengagumkan dan luar biasa mengejutkan untukku”

“Siwon..”

dejavu..
Yoona merasakan hal itu.
Ia pernah menerima hal seperti itu sebelumnya.
Persis seperti ini saat dulu Siwon juga memberinya bunga di akhir fashion show nya.

“Harry oppa..”

Fanny mengernyit dengan apa yang dilihatnya.

“Astaga Siwonie..!”

“Siwon oppa..”

“Siwon..”

“daddy..”

Tentu saja keterkejutan itu bukan hanya milik Yoona, tapi juga keluarganya.
Ada Ny.Choi, ada kedua buah hatinya. Jika Junseo belum mengerti, jelas Hana langsung bisa menyadari kehadiran pria itu yang jelas terlihat seperti daddy nya. Hana bahkan sudah akan berlari memeluk Siwon, andai saja Sooyoung dan Changmin yang juga ada disana tak menahannya.

Ada Yuri dan Jessica yang juga tak bisa menutupi keterkejutan itu..

Ya Tuhan..
Jelas itu mengejutkan semua yang telah mengenal Siwon sebelumnya.

“Ikut aku nona.. Kita harus bicara!”

Berbisik, Siwon lantas menarik tangan Yoona agar mengikutinya. Menyebabkan banyak suara berbisik dari orang-orang yang berada disana.

“Jadi, siapa kau sebenarnya, nona!?”

Rasanya Yoona belum bisa mencerna kejadian apa yang kini dihadapinya.
Dan bagaimana dengan keluarga yang melihatnya?

Yoona terdiam sesaat, Siwon telah menariknya keluar dari area keramaian acara nya. Kini keduanya saling menatap dengan tatapan yang memiliki makna berbeda.

Jika Yoona merasa bingung, lain halnya dengan Siwon. Tatapan nya menuntut meminta penjelasan.

“apa yang kau lakukan disini?”

“aku menerima undangan..”

Siwon mengeluarkan sebuah undangan dari dalam saku kemejanya..

“siapa yang mengundangmu? Dan apa yang kau inginkan?”

“Demi Tuhan.. Bukan itu yang ingin kudengar darimu! Aku ingin kau menjawab pertanyaan ku! Siapa kau sebenarnya..?”

“siapa aku? Menurutmu siapa aku? Bukankah kau melihatnya tadi.. Mengapa aku masih perlu menjawab pertanyaan seperti itu?”

“Kau adalah wanita yang tiba-tiba datang dan memeluk ku dikantor.. Kau meninggalkanku tanpa kata, tapi dengan tangisan setelah aku mencoba memberikan apa yang kau inginkan dan memberi penawaran untukmu..”

memangnya apa yang dia inginkan?
Penawaran?
Penawaran macam apa yang dia maksud?
Apa penawaran untuk ‘tidur’ dengannya?
Itukah maksudnya?
Brengsek..!

Yoona meremas gaun yang dikenakannya. Mencoba menahan makian untuk pria dihadapannya ini.

“melihatmu pergi dengan dua pria berbeda. Keluar masuk hotel.. Aku bahkan telah memberimu stempel ‘murahan’ sejak saat itu”

Apa..?
Dua pri berbeda? Siapa?
Dan ‘Murahan’?
Keterlaluan..!

“Dan terakhir kali kita bertemu dirumah sakit. Hal itu semakin menguatkan dugaan ku, bahwa mungkin kau akan melakukan aborsi? seperti yang ku katakan waktu itu, kau kebingungan dengan siapa ayah dari bayimu, tapi aku juga melihatmu…”

Cukup..
Yoona merasa tak bisa lagi mendengarnya.
Ia memberikan tamparan cukup keras agar Siwon berhenti berbicara.

“Hentikan dan simpan pikiran kotor itu dalam kepalamu, aku tak ingin mendengarnya. Dan aku tak perlu menjelaskan siapa diriku. Bagaimanapun kau tak ada hubungannya dengan semua itu”

Yoona mencoba melepaskan tangannya dari cekalan tangan Siwon.
Tapi tidak..
Ia tak bisa melakukannya.
Tangan itu terlalu kuat mencengkram pergelangan tangannya.

“kau seorang desainer? Mengapa kau tak mengatakannya padaku? Mengapa kau membiarkanku menilai buruk tentangmu.. Menganggapmu wanita murahan dan…”

“Hentikan..! Aku bilang hentikan! Berhenti bicara dan tinggalkan aku..!”

Perlahan Siwon mengendurkan cekalan ditangan Yoona. Melihatnya dengan napas yang memburu dan sedang menahan airmata yang telah ia lihat disudut matanya.

Ada apa dengan wanita itu?
Apa yang dirasakannya?

“Kau..  Aku..”

“Harry oppa.. Kau disini rupanya? Apa yang sedang kalian lakukan? Kau mengenal Yoona?”

Kehadiran Fanny menghentikan apa yang ingin Siwon katakan. Ia benar-benar melepaskan tangan Yoona dan kemudian menatap kearah Fanny.

“euh.. Fanny ah..”

“Kau mengenal Yoona? Kalian sudah saling mengenal?”

Fanny kembali mengulang pertanyaannya..

“Oh.. Itu aku me…”

“Tidak.. Aku tak mengenalnya”

Yoona menjawab dengan yakin pertanyaan dari Fanny..

“Tidak saling mengenal? Lalu apa yang kalian lakukan disini?”

“entahlah.. Kau bisa tanyakan itu padanya. Dia yang tiba-tiba menarikku tadi”

Fanny mengalihkan tatapan nya pada Yoona dan kini berganti menatap Siwon..

“Harry oppa.. Apa yang ingin kau lakukan dengan membawa Yoona kesini?”

“aku.. euh.. Aku hanya ingin berkenalan dengannya. Didalam terlalu ramai.. Bukankah kau juga ingin aku mengenalnya?”

“Oh.. Ya, Yoona ssi.. Ini oppa ku yang kau ijinkan aku untuk mengundangnya”

Jelas sudah..
Pria kasar ini adalah Harry yang sama yang Fanny maksud.

“Harry oppa dia Im Yoona.. Desainer yang ku ceritakan itu. Kau juga liat kan tadi, semua gaun cantik didalam sana. Yoona yang membuatnya..”

“Oh.. Iya aku melihatnya”

“Yoona ssi.. Kau tidak apa-apa?”

Fanny mempertanyakan kediaman Yoona saat itu.

“euh.. ne, kurasa aku harus masuk”

Yoona sudah akan meninggalkan Fanny dan Siwon disana ketika sebuah suara memanggilnya.

“Mommy..”

Ya Tuhan..
Hana, Apa yang harus ia katakan pada putrinya.

“daddy..”

Tidak..
Hana tak boleh salah mengenali pria itu.
Harry bukan Siwon. Dia bukan daddy nya.

“daddy..”

“Hana ya..kenalkan ini teman mommy dear. Beri salam pada uncle Harry, sayang..”

“tapi mom.. Daddy”

Siwon menatap lekat pada gadis kecil itu, sebelum kemudian ia bersuara..

“annyeong Hana ya..”

mendengar seseorang yang dikenalkan Yoona, yang Hana yakini itu daddy nya kini membuka suara dengan sapaan nya, entah bagaimana membuat Hana langsung menghambur kedalam pelukannya. Memeluknya erat seolah tak akan melepaskannya.

Yoona terenyuh melihatnya. Ia lantas memalingkan muka untuk menyeka airmata yang sudah membasahi kedua pipinya.
Ia tahu bagaimana rasanya.
Ia tahu pasti bagaimana perasaan putrinya saat ini.
Kerinduannya pada Siwon, juga kerinduan Hana pada sang daddy pastilah yang membuat sosok Harry nampak seperti Siwon.

Tapi nyatanya tidak.
Harry bukanlah Siwon.
Harry bukanlah suaminya.
Harry bukanlah ayah dari kedua anaknya.

Harry tak sama seperti Siwon.
Mereka jelas orang yang berbeda. Yang juga memiliki kepribadian yang berbeda.
Harry berbeda dengan sosok Siwon.
Pria yang dicintai dan mencintai dirinya…

“aigoo.. Siwonie.. Putraku..”

Oh Tuhan..
Kini seperti apa ia harus memberikan penjelasan pada ibu mertuanya…

Sebelum Ny.Choi berada lebih dekat dengan mereka, Yoona labtas lebih dulu menghampiri dan memberi pelukan sambil membisikkan ucapannya..

“kumohon oemma dia bukanlah seperti yang oemma harapkan.. Pria itu bukan Siwon, oemma.. Bukan..”

“Tapi Yoong.. Tidak bisakah kau mengenali suamimu sendiri. Lihatlah dia, dia sangat mirip dengan Siwon.. Tidak-tidak bukan mirip. Dia memang Siwon, Yoongie ah..”

Ny.Choi melepaskan pelukan Yoona dan mencoba untuk mendekat kearah Siwon, namun sekali lagi Yoona mencegahnya dan kembali memohon untuk mendengarkannya.

“oemma jebal.. Aku sudah merasakan kekecewaannya dan itu sangat sakit.. Aku tak mau oemma juga merasakan sakit yang sama sepertiku.”

“Tidak Yoong.. Lihatlah Hana. Dia mengenalinya. Dia mengenali daddy nya. Tidakkah kau melihat bagaimana Hana memeluk pria itu sekarang, lihatlah..”

Yoona melihatnya.
Hana memang masih terus mempertahankan pelukannya.
Meski pria itu, hanya diam dan terlihat kebingungan. Siwon bahkan berkali menatap Fanny untuk bertanya apakah ia tahu apa yang terjadi saat itu. Namun Fanny hanya mengangkat kedua bahunya, pertanda ia pun tak mengerti.

“Oemma akan kesana Yoong, oemma akan memastikan pria itu Siwon atau bukan..”

“oemma..oemma tunggu! Jangan katakan tentang Siwon padanya.. Kumohon oemma, jangan dulu mengatakannya. Aku punya penjelasan untuk semua itu nanti”

“baiklah jika seperti itu yang kau inginkan..”

Yoona kemudian menggenggam tangan Ny.Choi, membawanya untuk mendekat pada Siwon, Fanny dan Hanna.

“Hana ya.. Sini sayang”

Yoona meraih tangan Hana, melepaskan pelukan putrinya pada Siwon.

“mom..”

mata bening itu.
Ya Tuhan..
Ia melihat putrinya berkaca-kaca saat ini.

“Oh.. Hana ya, kau tak ingin memberi pelukan pada aunty Fanny?”

“aunty Fanny?”

“ne.. Kau lupa? Bukankah Hana ingin menjadi model seperti aunty Fanny..”

Yoona memang sedang mencoba mengalihkan perhatian Hana dari Siwon.

“Hello Hana ya..”

Fanny menyapa dan tersenyum kearahnya.
Hana masih meneliti, mencoba mengingat-ingat apakah pernah bertemu dengan wanita cantik dihadapannya saat itu.

“hai.. Sungguh tak mengingat aunty?”

“aunty Fanny..!”

Hana berseru dan memeluknya.
Sepertinya ia telah berhasil mengingatnya..

Siwon ikut tersenyum melihatnya. Meski begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk dibenaknya.

Gadis kecil itu..
Mata beningnya..
Suaranya..
Hana..
Hana..
Aneh, mengapa nama itu terasa tak asing untuknya.

Dia memanggil Yoona dengan sebutan mommy.
Itu berarti gadis kecil bernama Hana itu adalah putri Yoona?

Ya..
Ia ingat, Ketika berniat mencegah kalau-kalau Fanny kembali mencoba menjodohkannya. Fanny mengatakan seseorang itu sudah menikah.

Wanita itu..
Yoona, sudah menikah?
Astaga..
Bukankah ia terlihat masih terlalu muda untuk menjadi seorang ibu?

Dan menikah?
Dia sudah menikah?
Oh..
Mana suaminya?
Dimana pria itu sekarang?
Apa pria dihotel yang menjemputnya itu adalah suaminya?
Atau pria yang satunya? yang keluar dari butik dan menurunkannya dirumah sakit tempo hari?

Ya ampun..
Mengapa ia menjadi begitu ingin tahu.
Rasanya ia sudah ingin meluapkan semua pertanyaan itu. Tapi ia tahan, mengingat bukan hanya dirinya dan Yoona yang saat itu berada disana.

Dengan semua pertanyaan yang memenuhi kepalanya, Siwon masih terus memperhatikan Fanny dan Hana bercengkrama.
Ia tak sadar ada dua wanita berbeda usia yang juga terus memperhatikannya.

Ny.Choi sangat ingin meraih Siwon, memeluknya. Namun Yoona terus menggenggamkan tangannya.

“Oppa..”

belum selesai dengan Hana dan ibu mertuanya, kini Yoona juga bertambah hutang penjelasan pada Sooyoung dan Changmin. Keduanya tengah berjalan menghampiri mereka..

“umma..umma”

Oh..
Siwon mengernyit..
Bocah kecil itu.
Dia juga anak Yoona?

Junseo yang berada dalam gendongan Changmin, langsung menggeliat ketika melihat Yoona disana.

“Oh.. Jun ah”

Yoona melepaskan genggaman tangannya pada Ny.Choi, kemudian mengulurkan tangan meraih Junseo.

Ketika tangannya tak lagi digenggam dengan erat oleh Yoona, Ny.Choi mendekat kearah Siwon. Tangannya gemetar ingin menyentuh wajah Siwon.

“Kau.. Kau..”

“oemma..”

Yoona menggeleng dan memohon menggunakan isarat matanya.

“euh.. Annyeonghaseyo ahjumma”

Fanny lah yang kemudian menyapa, menundukkan kepala kemudian tersenyum pada Ny.Choi..

“annyeong..”

“eh, oemma dia Tiffany.. salah satu yang menjadi model didalam tadi”

Yoona mencoba mengendalikan suasana ditengah kebingungannya akan situasi yang terjadi.

“Ya..oemma melihatnya tadi”

“dan dia..dia kakak Fanny, Harry namanya..”

“Harry?”

“ne.. Annyeong bibi..”

Siwon juga memberikan tatapan lekat pada saat itu..

“Harry.. Harry..”

Ny.Choi menggumam dan berkali mengulang nama itu, seakan tak percaya mendengarnya.

Siwon memperhatikannya, Menatapnya. Merasakan sesuatu yang lain ketika ia bertatapan dengan wanita paruh baya itu.

“Oh.. Tiffany, kenalkan juga.. Dia sahabat sekaligus adik iparku, Sooyoung dan Changmin suaminya..”

“oh ne..annyeong, senang bisa berkenalan dengan keluargamu Yoona ssi”

Sooyoung memberi tatapan penuh tanya pada Yoona.
Sedangkan Siwon justru kemudian menatap serius kearah Changmin.

Pria itu?

“Yoona..Kurasa aku perlu bicara berdua saja denganmu”

“nde..?”

Mustahil rasanya bagi Yoona memenuhi permintaan Siwon. Ia sedang dalam kebingungan menghadapi keluarganya, dan berbicara berdua dengan pria itu?

Astaga..
Yang benar saja!

Walaupun tak sedang diposisi bingung seperti yang saat itu ia rasakan, sepertinya Ia masih perlu berpikir ribuan kali untuk sekedar berbicara dengan pria itu, jika mengingat apa yang telah Siwon lakukan dan tuduhkan padanya.

“maaf.. tapi tak ada yang perlu kita bicarakan dan kami pun harus segera pergi”

“Kita belum selesai tadi!”

Ucap Siwon menegaskan..

“apa yang belum kita selesaikan? Kurasa kita sudah berkenalan tadi.. Itu kan alasan mengapa anda menarikku keluar. Anda ingin berkenalan dengan ku, dan kurasa anda sudah mendapatkan keinginan itu untuk berkenalan denganku..”

Yoona jelas sedang menekankan tiap kata ‘berkenalan’ yang ia ucapkan. Menegaskan pada Siwon bahwa selama ini pria itu telah salah mengenal nya.

Ya..
Siwon telah salah mengenal siapa dirinya.
Dan dengan kemunculannya yang tiba-tiba diacara fashion show nya, rasanya cukup untuk mengenalkan siapa sesungguhnya dirinya.
Bukan wanita murahan seperti yang Siwon stempelkan kepadanya.

Masih dengan Junseo dalam gendongannya, Yoona kemudian menggunakan sebelah tangannya untuk meraih Hana, menggandeng sang putri agar mengikutinya.

“mom..”

Hana masih tak rela bila harus beranjak dari tempatnya. Ia masih sangat merindukan Siwon, daddy nya.

Ya..
Biarpun Yoona mengenalkan pria itu sebagai temannya.
Sebagai uncle Harry.
Namun dimata Hana, pria itu tetap adalah daddy nya.
Benar-benar sama seperti daddy nya.
Bagaimana bisa mommy nya justru mengenalkannya sebagai orang lain.

“kita pulang sayang, ayo!”

“tapi mom..dad..”

Hana mencoba mecegah Yoona dengan menarik-narik tangannya yang kini digenggam erat oleh Yoona, namun sayang mommy nya tak membiarkan tangan kecilnya terlepas begitu saja.

“mom..”

“Hana please.. Ayo! Oh.. Changmin ssi bisa kau membawa oemma dengan mu?”

“Ya..tentu saja”

“Yoona ya..”

“oemma.. jebal!”

Yoona kembali memohon dengan isarat matanya.

“Tiffany.. Maaf aku harus pulang lebih dulu. Kau bisa menemui Yuri atau Sica setelah ini..”

“baiklah Yoona, aku mengerti..”

Menghindari kontak mata dengan Siwon, Yoona sadar pria itu kini tengah menatap tajam kearahnya.
Ia kemudian melangkah pergi, diikuti Changmin bersama Ny.Choi dan Sooyoung.

Entah karna apa pada saat itu Sooyoung justru tak bersuara. Meski ia sangat ingin mengatakan sesuatu untuk pria yang dikenalkan Yoona sebagai Harry. Tapi semuanya tertahan ditenggorokannya setelah melihat bagaimana ekspresi Yoona dan tatapan matanya yg memohon. Ia tahu Yoona akan mengatakan sesuatu, ia pasti punya alasan dibalik ketidak percayaannya bahwa pria itu bukanlah Siwon, oppa nya.

Ya Tuhan..
Tapi mereka benar-benar serupa.
Rasanya tak mungkin bila keduanya adalah orang yang berbeda.

Meskipun merasakan keanehan saat bertatap muka dengan keluarga Yoona, namun Siwon tak mengerti itu apa.
Pikirannya terlalu dipenuhi oleh pertanyaan yang ia sendiri belum menemukan jawabannya.

Hal yang sama terjadi pada Fanny, ia menyadari keanehan pada keluarga Yoona ketika melihat oppa nya, namun Fanny mencoba mengabaikannya.
Mungkin itu hanyalah perasaan nya saja.
Karna nyatanya Yoona tak mengatakan suatu hal yang macam-macam padanya.

“Oppa.. Kenapa kau diam?”

“euh..”

“kenapa aku merasa ada sesuatu yang salah antara kau dan Yoona?”

“sesuatu yang salah? Maksudmu?”

“entahlah.. Hanya perasaan ku mungkin. Tapi bila melihat ekspresi kalian tadi, seperti ada sesuatu masalah yang belum terselesaikan”

“wanita itu masih berhutang penjelasan padaku..”

“maksudmu Yoona? Penjelasan? Penjelasan apa oppa..?”

“sudahlah.. Ayo pergi!”

“yakk.. Oppa, apa maksudmu? Katakan padaku!”

Siwon tak menanggapi pertanyaan Fanny dengan berjalan lebih dulu meninggalkannya disana.

***

Yoona masih merasakan lututnya lemas saat ini. Sejak tadi ia sudah menahankan diri untuk tidak terjatuh dan menangis didepan keluarganya dan terutama kedua buah hatinya.

Sesampainya dirumah, ia langsung meminta Hana agar menemani Jun bermain dikamarnya.
Ia tahu dirinya harus memberikan penjelasan untuk apa yang terjadi tadi.
Sesuatu yang sangat jauh dari dugaannya akan terjadi disana. Dan Hana tentulah tak bisa mendengarnya.
Ia akan memberikan penjelasan tersendiri pada putri kecilnya nanti.

“jadi bagaimana bisa kau mengatakan dia bukan Siwon, Yoona ya..?”

Ny.Choi yang pertama mengawali, sesungguhnya pertanyaan itu sudah ia tahan sejak tadi.

“Oemma tahu saat aku dengan tanpa berpikir pergi ke Jepang.. Semua berawal dari sana, dan disana lah aku tahu dia bukan Siwon. Harry berbeda dengan Siwon.”

Selanjutnya Yoona menceritakan semuanya.
Dari mulai ciuman paksa saat di Jepang sampai tuduhan sebagai wanita murahan, Yoona terpaksa mengatakan semuanya didepan sang ibu mertua, Sooyoung dan Changmin, meski sebenarnya ia ingin menyimpan itu sendiri.
Tapi mau bagaimana lagi, ia juga harus memberikan alasan tentang ketidak percayaannya.

“Ya Tuhan.. Benarkah seperti itu?”

“ne.. Oemma, pria itu sangat kasar”

“Tidak.. Oemma tak percaya”

“Oemma..”

Ny.Choi berkali-kali menggelengkan kepala, tak percaya akan apa yang baru saja Yoona katakan padanya.

“Oemma.. Itulah yang terjadi. Itu juga yang membuatku merasa dia memang bukan Siwon. Dia bukan Siwon, oemma..”

“Yoona ya.. Kau juga seorang ibu. Kau pasti mengerti apa yang oemma rasakan. Kau pasti mengenali kedua anakmu. Itu juga yang oemma rasakan saat melihat pria itu. Oemma benar-benar merasakan kehadiran Siwon..”

Yoona memeluk ibu mertuanya itu, ia juga merasakan kesedihannya.
Ya Tuhan..
Ia pastinya akan bersyukur bila firasat seorang ibu yang kini dirasakan Ny.Choi adalah benar.
Tapi apa?
Pria itu, yang mereka kira sebagai Siwon bahkan tak mengenali ibunya.
Sebegitu dangkal kah perasaan seorang anak terhadap ibunya?

“mendengar ceritamu, mengapa aku justru merasa pria itu sangat mirip dengan Siwon oppa ketika dulu..”

Ucapan Sooyoung tadi membuat pelukan Yoona dan Ny.Choi terlepas. Mereka, juga  hangmin langsung mengarahkan perhatian pada Sooyoung, karna apa yang telah di ucapkannya tadi.

“maksudmu?”

“Ya.. Sebelum oppa menyesali pemaksaan yang pernah dilakukannya padamu. Oppa juga seorang pria yang kasar dan semaunya sendiri. Oemma tahu kan apa maksudku?”

“Ya.. Oemma tahu itu. Siwon yang dulu memang seperti itu. Oemma baru tahu ternyata ia berubah karna menyesal dengan apa yang telah dia lakukan padamu. Menyesal telah menghancurkan masa depanmu. Ya Tuhan.. Oemma merasa ngeri bila mengingat itu lagi”

“oemma sudahlah.. Itu masa lalu. Aku sudah lama menguburnya”

Yoona menggenggamkan tangannya.
Benarkah dulu Siwon seperti itu?
Ia memang tak mengetahui prilaku Siwon sebelumnya.

Yang ia tahu waktu itu adalah Siwon sebagai malaikat penolongnya. Yang membangkitkan lagi semangat hidupnya. Menariknya dari keterpurukan. Meskipun pada akhirnya ia tahu Siwon melakukan semua itu sebagai wujud penebusan dosa.
Rasa bersalah atas apa yang dilakukan padanya.

Tapi sudahlah..
Ia sudah memaafkannya. Siwon menebus semua nya dengan memberinya kebahagian luar biasa meski itu terasa sangat singkat.

“aku tak tahu Siwon di masalalu. Yang aku kenal adalah Siwon yang selalu bersikap lembut padaku. Dan pria bernama Harry itu jelas tak memiliki kelembutan seperti yang dimiliki Siwon, suamiku..”

Yoona menegaskan hal itu sebelum akhirnya ia berdiri dari duduknya dan menyudahi semuanya.

“kurasa sudah cukup.. Aku tak ingin membahas apapun lagi”

Ia kemudian berpamitan untuk lebih dulu masuk kedalam kamarnya. Beberapa jam terakhir sejak kemunculan pria itu telah membuat hari itu terasa lebih berat dari biasanya.

“Oemma.. Oemma masih mempercayai jika Harry itu adalah Siwon oppa?”

“Iya Soo.. Tentu saja iya. Dan apa yang kau rasakan? Kau dan Siwon sangat dekat, kau juga pasti bisa merasakan kehadiran oppa mu kan?”

“sepertinya memang begitu oemma.. Dia benar-benar serupa dengan Siwon oppa. Bagaimana mungkin ada orang yang benar-benar sama seperti itu. Dua orang kembar saja kita masih bisa menemukan perbedaan nya”
“jadi apa yang bisa kita lakukan? Apa yang bisa oemma lakukan jika Yoona saja sudah meyakini pria itu bukanlah suaminya”

“aku bisa memahami apa yang Yoona rasakan. Dari apa yang dia ceritakan, kurasa pertemuan mereka yang salah hingga menciptakan kesan buruk pada pria itu terhadap Yoona. Yoona terlalu gegabah awalnya.. Tapi aku mengerti.. Mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama bila diposisi nya.”

“Ya Tuhan.. Oemma benar-benar bingung Soo..”

“Omonim.. Kurasa aku bisa meminta seseorang untuk melakukan penyelidikan”

Ibu dan anak itu sontak mempertanyakan maksud dari penyelidikan yang baru saja Changmin katakan.

“Kita bisa menyewa seorang profesional untuk menyelidiki latar belakang Harry yang sebenarnya.. Jujur aku juga merasa aneh dengan semua ini.”

“Ya Oppa lakukanlah.. Kita perlu mencari kebenarannya.”

***

Siwon memukul-mukul stir mobilnya. Sudah sejak beberapa menit yang lalu ia menunggu.
Menunggu didepan butik milik Yoona. Ia bertekad untuk menerima penjelasan dari wanita itu.

Meski ia memang tak berhak mencampuri urusan pribadi wanita itu.
Tapi wanita itu lah yang pertama kali muncul dikantornya.
Muncul dalam kehidupannya.
Dan kini dia juga yang harus bertanggung jawab atas keresahan yang lebih sering ia rasakan semenjak kemunculan wanita itu.

“apa dia tak akan datang hari ini?”
Siwon menggumam, menarik napas panjang yang menandakan ia sudah tak bisa lagi untuk menunggu.
Dia bisa saja gila jika terlalu lama seperti itu.

Namun kemudian sedikit kelegaan nya muncul, melihat sebuah mobil berhenti didepan butik itu dan wanita itu, Yoona keluar dari dalamnya.

“akhirnya.. Dia datang”

Yoona menyerahkan kunci mobil pada seorang karyawan butiknya, membiarkannya untuk memarkirkan mobilnya.

Ketika hendak masuk, lengannya tertahan oleh cekalan seseorang dibelakangnya

“Awhh…”

Menengok ia mendapati Siwon menatap tajam padanya.

“kau.. Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku?”

“Ikut aku sekarang!”

Tak perlu persetujuan Yoona, Siwon langsung saja menariknya, memasukkannya kedalam mobil dan segera melajukannya.

“Apa yang kau inginkan?”

“Kau..!”

“Mwo? Hai.. Turunkan aku..”

Yoona memekik terkejut dengan apa yang diucapkan Siwon dengan begitu jelasnya.
Menginginkan dirinya?
Apa maksudnya?
Oh..
Rasanya pria itu benar-benar perlu diwaspadai.

Namun kepanikan yang dirasakan Yoona sesaat justru disambut tawa renyah oleh Siwon, yang sedang mengendalikan kemudi mobilnya.
“kenapa takut sekali?”

“aniy.. Siapa yang takut. Aku hanya minta kau menurunkanku. Kau tak berhak memaksaku untuk ikut denganmu..”

“Aku hanya ingin bicara denganmu. Kita selesaikan salah paham diantara kita”

Ucapannya berubah serius. Siwon kemudian terdiam, berfokus pada laju mobil yang dikendarainya.

Meski duduk dalam gelisah, Yoona pun tak kembali bersuara. Hanya menatap keluar dari balik kaca mobil sambil memainkan jemarinya. Hal yang biasa ia lakukan untuk menghalau rasa gugup yang dirasakannya.

“Ayo turun! Kurasa disini tempat yang nyaman untuk berbicara..”

Awalnya Yoona tak menyadari dimana tepatnya Siwon memberhentikan laju mobilnya.
Dan ternyata mobil itu berhenti didepan sebuah rumah makan.
Sedikit menarik napas lega, karna pria itu membawanya ke tempat umum, setidaknya ia bisa berteriak kalau-kalau pria itu berniat buruk terhadapnya.

“Ayo..!”

Siwon kembali mengulang setelah melihat Yoona masih terdiam seakan enggan beranjak dari mobilnya.

“kenapa kita kesini?”

“kenapa? Kau tak suka?”

“Kau bilang kita akan bicara.. Jadi mengapa kau membawaku kemari?”

“jadi sebaiknya kemana aku membawamu? Hotel?”

Seketika tatapan tajam terarah kepadanya.

“Jangan menatapku seperti itu. Aku hanya bercanda..”

“itu tidak lucu..”

“aku tahu.. Ayo turun! Aku tak ingin memulai pertentangan denganmu.”

“apa sebenarnya yang kau inginkan? Kau menyita waktu ku!”

“Kau.. Bukankah sudah kukatakan aku menginginkanmu tadi..”

Siwon tak memperdulikan tatapan tajam yang kembali terarah padanya. Ia turun dari mobil untuk kemudian membukakan pintu agar Yoona juga ikut turun dengannya.

“aku menginginkanmu untuk menjelaskan kesalah pahaman diantara kita..”

“menurutmu terjadi kesalah pahaman diantara kita?”

“Ck! Yang benar saja.. Kau pun tahu itu memang terjadi. Bukankah aku telah salah mengenalmu. Jadi sebaiknya kita luruskan sekarang..”

Siwon kembali meraih dan sedikit menarik pergelangan tangan Yoona. Ia sudah tak ingin melakukan omong kosong lagi.

“jika sekedar berbicara, tak seharusnya kau memaksaku untuk ikut dengan mu, kita bisa bicara di butikku..”

“Tapi aku lapar. Aku melewatkan sarapan pagi ku hanya untuk menunggu didepan butikmu”

“aku tak memintamu..”

“Well..memang tidak. Tapi aku melakukannya.. Apa yang ingin kau makan?”

Oh..
Apa yang sebenarnya terjadi?
Pria itu tadi mengajaknya bicara kan?
Bukan justru makan bersama..

“Tidak.. Aku sudah menikmati sarapan pagi dengan keluargaku”

Sejenak Siwon menatap kearah Yoona.

Oh..
Tentu saja apa yang dia katakan adalah benar.
Wanita itu pasti menikmati sarapan paginya dengan suami dan anak-anak nya.
Entah mengapa hanya membayangkan hal itu terasa mengganggu untuknya.

“ehmm.. Baiklah, sebaiknya kita mulai saja. Jadi mengapa tiba-tiba kau datang dan memelukku waktu itu. Karna dari sanalah penilaian burukku terhadapmu berawal..”

Yoona tertegun beberapa saat.

Ya Tuhan..
Apa ia harus benar-benar mengatakan alasannya?

“kurasa aku salah mengenali seseorang waktu itu..”

Yoona membuka suara setelah beberapa saat terdiam. Bingung apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya. Sementara melihat tatapan Siwon yang terarah padanya begitu menuntut jawaban darinya.

“seseorang?”

“Ya.. Aku kira kau seseorang yang kukenal. Tapi ternyata aku salah”

“siapa seseorang itu?”

Oh..
Apakah pria ini berubah dari pria kasar menjadi pria yang begitu ingin tahu kehidupan pribadinya.

“euh.. Dia..”

“ini pesanan anda Tuan..”

Ucapannya terhenti saat seorang pelayan mengantarkan menu yang dipesan Siwon tadi.
Itu adalah secangkir coffe dan waffel hangat.
Yoona mengernyit, tadi ia tak sempat menyimak saat pria dihadapannya itu mengatakan pesanannya, tapi mengapa ia kemudian menjadi teringat suaminya.

Astaga..
Itu menu sarapan yang sama yang serin kali ia siapkan untuk Siwon.

“kenapa? Apa kau berubah pikiran? Kau juga mau memesan sarapan?”

Siwon mengamati arah mata Yoona yang terarah pada waffel dipiring yang berada dihadapannya.

“Kau mau? Kurasa Aku berbaik hati dan bisa berbagi denganmu..”

“euh.. Tidak-tidak, kau tak perlu melakukannya. Bukankah sudah kukatakan, aku menikmati sarapanku tadi. Nikmatilah sarapanmu..”

Menyesap kopi dari dalam cangkir, kemudian menggigit waffel nya, mata Siwon tetap tak pernah lepas menatap Yoona dengan lekat. Membuat Yoona merasa kikuk karenanya.

Mengapa pria itu terus menatapnya?

Ia lantas menunduk, mengambil ponsel dari dalam tas nya untuk menciptakan kesibukannya sendiri.

“aku sudah selesai. Ayo lanjutkan! Sampai dimana kita tadi?”

“eh, itu..”

“seseorang itu, siapa dia?”

Siwon nampak tak lupa apa yang tadi mereka bicarakan.

“dia seseorang yang sangat berarti untukku.”

“berarti?”

“aku menyimpan begitu besar kerinduanku padanya. Hingga pada saat aku melihatmu, Aku menganggap kau adalah dia. Aku merasa kerinduanku bisa tercurah saat itu. Tapi nyatanya…”

Yoona menarik napas dalam, teringat bagaimana perlakuan kasar Siwon waktu itu.

“ehmm..”

Siwon berdeham kikuk, menyadari pembicaraan itu terhenti pada bagaimana perlakuaannya pada Yoona saat itu.

“maaf.. Aku salah. Tapi kau juga..”
“nde?”

“ya.. Kau juga salah. Kenapa kau hanya menangis dan langsung pergi. Kau seharusnya menampar atau memakiku. Dan jelaskan apa yang sebenarnya. Bukan justru pergi begitu saja. Jadi aku tak akan salah menilaimu..”

“apa jika aku menjelaskan waktu itu, kau akan percaya?”

“Ya.. ya itu mungkin saja. Jika penjelasanmu masuk akal”

Oh..
Tentu penjelasannya takkan masuk akal.
Yoona mengira pria itu suaminya yang hidup kembali setelah ia melihat sendiri bagaimana jasad kaku itu terkubur dalam tanah.
Apa itu akan menjadi sesuatu yang masuk akal?
Jawabannya pasti tidak kan?

“sudahkah itu cukup untukmu?”

“belum.. Masih ada yang perlu kau jelaskan.”

“apa?”

“siapa dua pria yang bersamamu pada waktu yang berbeda yang aku lihat?”

“dua pria?”

jelas Yoona semakin bingung dibuatnya.

“eh, bukan.. Yang satu sepertinya aku sudah tahu. Dia pria yang kau kenalkan saat fashion show mu usai”

“Changmin?”

“Ya.. Kurasa dia. Aku tak ingat namanya. Aku melihatmu naik kemobilnya saat dihotel, kukira kalian.. Well aku tak perlu jelaskan, karna itu mengarah pada suatu tuduhan untukmu..”

“dia suami adik iparku..”

“Ya.. Pada akhirnya aku tahu.. Dan pria yang mengantarmu kerumah sakit itu? Siapa dia?”

“apa kau menguntitku?”

Yoona terkejut akan bagaimana pria itu tahu ia kerumah sakit dengan diantar oleh Yunho.
Yoona mengira pertemuan dirumah sakit saat itu adalah kebetulan semata. Tapi ternyata ia diikuti?
Ya Tuhan..
Apa sebenarnya yang dilakukan pria itu?

“bukan seperti itu. Aku tak benar-benar berniat menguntit atau apalah itu. Hanya kebetulan, ya.. Itu hanya kebetulan..”

Siwon mengelak. Mana mungkin ia akan mengakui kebenaran dirinya memang mengikuti mobil yang ditumpangi Yoona saat itu.

“jadi siapa dia?”

“kau benar-benar ingin tahu siapa dia?”

“apa dia suamimu?”

“menurutmu?”

“hei.. Aku bertanya lebih dulu..”

“aku harus kembali ke butik, kau terlalu banyak menyita waktuku.”

memasukkan ponselnya kembali kedalam tas, Yoona buru-buru berdiri dari duduknya.
Sudah cukup introgasi yang dilakukan pria itu padanya.

“Tapi siapa pria itu? Suamimu bukan?”

Ya Tuhan..

“bukan..”

Siwon tersenyum setelah merasakan sedikit kelegaan.

“Jika salah satu dari keduanya bukanlah suamimu. Lantas dimana suamimu?”

“apakah aku juga harus menjawab?”

“Baiklah.. Kurasa tak perlu. Karena Aku yang membawamu kemari, maka aku yang akan mengantarmu kembali ke butik”

“Tidak.. Aku bisa naik taksi”

Yoona menolak Siwon yang berniat mengantarnya. Ia kemudian sedikit terburu-buru keluar, berdiri dipinggir jalan menunggu taksi lewat untuk memberhentikannya.

Dari dalam, Siwon masih terus memperhatikannya. Menatap Yoona yang sesekali membenarkan rambutnya yang tertiup angin.
Rambut panjangnya yang tergerai, semakin terlihat indah ketika angin menerpanya. Mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang..

Pada saat itu Siwon mengernyit.
Wanita itu, mengapa ia merasa pernah melihatnya.
Ya Tuhan..
Kenapa ia baru menyadarinya..
Sepertinya..
Sepertinya dia wanita yang menarik perhatiaannya saat di Milan kan?

“Hei.. Tunggu!”

Tepat saat Siwon kemudian berlari keluar, saat itu juga sebuah taksi berhenti dan Yoona pun langsung melangkah masuk kedalamnya.

“Hei.. Nona tunggu! Apa kau wanita di Milan itu?”

Siwon sebenarnya tahu pertanyaan nya takkan terjawab setelah taksi itu bahkan telah melaju dengan cepatnya. Namun ia tetap menyuarakan pertanyaan itu.

“Aishh.. Apa aku juga masih bisa memanggilnya nona? Dia sudah bersuami sekaligus seorang ibu dari dua orang anak. Dua anak.. Astaga..”

Seakan memukul udara disekitarnya, Siwon mempertanyakan hal itu pada dirinya sendiri.

Ia sudah akan menyusul Yoona dengan menggunakan mobilnya, namun niatannya terhenti oleh dering pada ponselnya.

“Ya Tiffany.. Ada apa?”

***

Changmin sibuk dengan beberapa kertas ditangannya. Semua itu berisi data mengenai kecelakaan yang melibatkan ayah mertua dan juga teman yang baru menjadi kakak ipar nya, Siwon.

Semalam Ny.Choi lah yang memberikan semua itu pada Changmin.
Ibu mertuanya itu jelas sangat mendukung niatannya.
Ia menggali semua informasi termasuk ingatannya sendiri.
Dan menyadari Yoona pernah histeris mengatakan melihat Siwon dibawa pergi, bahkan mereka sampai mencari dibandara.
Meski hasilnya nihil dan tak menemukan apapun disana, tapi Changmin bisa melihat keyakinan dimata Yoona ketika itu, sebelum akhirnya terpatahkan oleh hasil tes DNA terhadap Siwon yang diberikan polisi kepada mereka.

“ini semua informasi yang bisa kau gunakan..”

Changmin menyerahkan salinan data itu terhadap dua orang yang telah disewanya untuk melakukan penyelidikan.

“selediki secara mendetail.. Aku tak ingin ada kekeliruan apapun nanti.”

“baik Tuan.. Kami akan memulainya hari ini”

***

“Hana ya.. Hana!”

“Aku disini halmoni..”

“Owh.. Hana ya. Ayo ikut halmoni”

“euh?”

“Apa kau tak mau bertemu daddy?”

“Mwo? Daddy..?”

“Iya cepatlah.. Kita akan menemui daddy. Tapi Hana jangan bilang mommy. Ok!”

“Ok!”

Ny.Choi begitu bersemangat hari itu. Changmin memberitahunya dimana pria bernama Harry itu tinggal. Yang ternyata dia masih menginap di hotel yang sama dimana Yoona mengadakan fashion show nya.

Ia mendukung Changmin melakukan penyelidikan.
Sementara menunggu hasilnya, tak ada salahnya bukan, jika dirinya melakukan penyelidikan dari sisi seorang ibu.
Seorang ibu takkan salah mengenali putranya.
Tapi demi menjaga perasaan Yoona, Ia berusaha menyembunyikan semua itu darinya. Sampai nanti ketika telah benar-benar menemukan kebenarannya.

“kajja Hana ya..”

“Halmoni.. Apa Junseo ikut?”

“Tentu saja.. Kita akan mengajak Junseo”

“Wahh..Let’s go halmoni..”

Pada sekitar satu jam berikutnya, Ny.Choi nampak sedang menggendong Junseo dan berbicara dengan nada kecewa, karna tak bisa bertemu dengan pria bernama Harry  itu.

Resepsionis hotel mengatakan pria itu atau yang lebih tepat seorang wanita yang mengaku sebagai adiknya, sudah melakukan cek out tak lama sebelum Ny.Choi datang.

“bisakah aku tahu dimana mereka tinggal sekarang?”

“nde?”

sang resepsionis jelas bingung dengan pertanyaan itu.

“maaf Nyonya.. tapi tak ada informasi pribadi yang seperti itu”
Ny.Choi menghembuskan napas pasrah setelah kedatangannya ketempat itu tak mendapatkan hasil apa-apa.

Sepertinya kekecewaan itu bukan hanya milik Ny.Choi tapi juga Hana yang sudah sangat bersemangat menemui daddy nya.
Ia jadi teringat ucapan Yoona bahwa pria itu hanya serupa tapi bukanlah daddy nya.
Ah..
Benarkah?
Tapi Hana jelas tak bisa mempercayainya. Apalagi setelah mendapat keyakinan yang sama dari sang halmoni.

“Halmoni.. Benarkah daddy sudah pergi?”

“Ne.. Hana ya. Sepertinya begitu, tapi tenanglah kita bisa beritahukan ini pada uncle Changmin”

“uncle Changmin?”

“Ya.. Uncle Changmin bisa membantu menemukan dimana daddy tinggal sekarang”

Ny.Choi kemudian meminta Hana menelpon Changmin dengan menggunakan ponselnya.

“Yoboseyo Hana ya..”

“Ini oemma..”

“Oh omonim.. Ada apa?”

“Siwon sudah meninggalkan hotel..”

“Siwon?”

“Maksud oemma.. Harry. Pria itu sudah tidak menginap dihotel yang kau sebutkan”

“Oh.. Benarkah? Tapi bagaimana omonim  mengetahuinya?”

“aku datang untuk menemuinya..”
“Apa?”

Changmin jelas terkejut.
Tentu saja hal itu bukanlah idenya. Sang ibu mertua pastilah berinisiatif sendiri untuk melakukannya. Dan ia tak ingin ada tindakan gegabah bahkan sebelum menemukan fakta apapun.

“Omonim.. Aku akan segera mencaritahu dimana keberadaan pria itu. Tapi kumohon omonim tak melakukan hal seperti ini lagi”

“maksudmu?”

“jangan dulu menemui pria itu. Kita perlu bukti. Bukan sekedar menggunakan firasat atau dugaan. Maaf omonim.. Tapi aku harus mengatakan hal ini”

“Ya.. Oemma mengerti. Oemma terlalu terburu-buru. Baiklah aku tidak akan melakukannya lagi..”

“Terimakasih omonim.. Jangan khawatir, aku akan segera mencaritahu dan mengabarkannya”

Begitu sambungan ponsel terputus, sekali lagi Ny.Choi menghembuskan napas kekecewaannya. Dan menatap Hana yang juga sama kecewanya.

“Hana ya.. Ayo kita pergi jalan-jalan saja!”

“tapi Hana tak punya ide untuk pergi kemana..”

“hmm.. Bagaimana kalau kita mengajak Junseo ke kebun binatang.”

“Ah..ya. Jun pasti suka halmoni..”

“kita pergi sekarang?”

“Okey..”

***

“Harry oppa.. Bagaimana menurutmu?”

“benar kau akan tinggal disini?”

“hmm..”

Yuri mengamati kedua orang itu, yang sedang berkeliling didalam apartemennya.

Ya..
Fanny sempat mengatakan padanya dan Jessica tentang keinginannya untuk menetap beberapa waktu di Korea.
Dan Yuri menyambutnya dengan sebuah tawaran. Menawarkan apartemennya yang kosong untuk Fanny jika gadis itu mau menyewanya.

Setelah menikah Yuri memang langsung mengosongkan apartemennya untuk tinggal bersama Yunho, suaminya.

“Ada dua kamar oppa.. Jika kau mau. Kita bisa tinggal bersama disini..”

“memangnya kau pikir aku akan menetap juga?”

“mungkin saja.. Karna tak ada teman wanitaku yang membuatmu tertarik, siapa tahu kau bisa tertarik dengan wanita disini. Apa kau tahu, aku benar-benar berdoa untuk itu..”

“kau ini..”

Senyum Fanny yang kemudian membuat Siwon mengikutinya.

Yuri terus memperhatikan Siwon.
Pria itu tak menegurnya dan benar-benar terlihat tak mengenalinya. Ia juga mengamati keakraban Fanny dan Siwon saat itu.
Jika bukan karna pria itu kakak nya mana mungkin mereka bisa seakrab itu, dan tak segan saling mengeluarkan gurauan mereka.

“Yuri ssi..”

Seketika seruan Fanny membuyarkan lamunannya..

“ne?”

“aku suka apartemenmu. Harry oppa sepertinya juga menyukainya. Bisakah aku langsung menempatinya?”

“Oh, tentu saja..”

Setelah melakukan kesepakatan dengan Yuri, Fanny pun langsung memasukkan barang bawaannya.
Tak banyak memang karna dari awal ia memang tak berencana untuk tinggal.

“Harry oppa..”

“hmm..”

“Kau tak ada acara lain kan?”

“Tidak.. Aku seorang pengangguran disini”

“baguslah.. Aku akan memberimu pekerjaan sebagai sopirku hari ini. Ayo antarkan aku..”

“Kau mau kemana?”

“aku ada job pemotretan dikebun binatang..”

“Hahhaa.. Pemotretan macam apa yang kau lakukan dikebun binatang. Kau mau observasi satwa?”

Fanny memukul pada lengannya ketika Siwon terus tergelak menertawakan apa yang dikatakannya..

“aishh.. Konsepnya seperti itu. Menyatu dengan hewan dan alam liar disekitarnya. Sudahlah ayo.. Palliwa!”

***

Saat tiba dibutik dan masuk kedalam ruang kerjanya, Yoona langsung mengerutkan dahi melihat sebuket bunga yang berada diatas mejanya.
Ia mendekat, bunga itu sudah tak terlihat segar dan sedikit layu.
Bukankah itu bunga..?

“itu bunga yang diberikan pria itu padamu..”

Suara Sica menjawab pertanyaan tak terucap dari Yoona.

“Aku lihat kau menjatuhkannya saat pria itu menarikmu keluar. Dan aku memutuskan untuk mengambilnya..”

“Owh..”

Yoona merasa tak ingat ia pernah menjatuhkan bunga itu.
Tapi ya..
Itu memang bunga yang sama yang diberikan pria bernama Harry pada saat itu.
Mungkin buket bunga itu terjatuh karna saat itu ia dikejutkan oleh tarikan tangan pria itu.

“sebenarnya apa yang terjadi diantara kalian Yoong?”

“euh.. Maksudmu?”

“Kau pasti tahu maksudku.. Sesuatu terjadi diantara kalian kan?”

Ia memang tak menceritakan atau mungkin belum menceritakan tentang apa saja yang telah terjadi antara dirinya dan Siwon, baik pada Sica maupun Yuri.

“dan tadi seorang karyawan kita mengenali pria itu sebagai ‘Siwon’ suamimu, dan dia membawamu pergi menggunakan mobilnya. Benarkah itu?”

rasanya inilah waktu yang tepat bagi Yoona untuk membuka apa yang sebenarnya telah terjadi, selama ini ia memang tak pernah menyembunyikan hal sekecil apapun pada Jessica dan juga Yuri.

“Apa yang sedang kalian bicarakan?”

Yuri masuk dan bergabung dengan keduanya..

“Oh.. Kau baru datang?”

“ne.. Mianhae. Aku terlebih dulu menemani Tiffany melihat apartemenku”

“Tiffany, maksudmu Fanny..?”

“hm, ya..Fanny yang menjadi model untuk fashion show kemarin..”

“Oh..”

“Jadi bagaimana?”

Jessica yang sebelumnya memang sudah mengetahui, langsung menanyakan kemungkinan Fanny yang jadi menyewa apartemen milik Yuri.

“Ya.. dia sudah menempatinya. Bersama Harry..”

“Oh.. Pria itu?”

Yuri mencoba melirik kearah Yoona dan menemukan keterkejutan dimatanya.

“jadi sekarang mereka tinggal di apartemenmu?”

“Ya..”

“dan pria itu? Harry.. Bukankah dia seharusnya mengurus perusahaannya di Jepang?”

“molla.. Tapi yang aku dengar dari pembicaraan mereka, sepertinya pria itu hanya mengunjungi Fanny. Mungkin dia akan kembali ke Jepang. Entahlah..”

“jadi ayo ceritakan apa yang terjadi diantara kalian?”

Sica menagih hal yang tadi memang sudah akan Yoona katakan.

“Tunggu, tunggu.. Maksudnya diantara kalian itu siapa?”

Yuri nampak belum memahami..

“maksudku yang terjadi antara Yoona dan pria bernama Sarry itu?”

“Jessica, memangnya apa yang terjadi diantara mereka. Jadi benar pria itu Siwon?”

“aigoo..bukan begitu. Hanya saja… memangnya kau tak curiga kenapa tiba-tiba si Harry itu muncul dan memberikan bunga padanya. Dan tadi dia juga datang ‘menculik’  Yoona”

“Mwo.. Menculik?”

“Tentu saja bukan dalam artian sebenarnya. Yang pasti dia sempat membawa Yoona pergi bersamanya”

“Astaga Yoong.. Benarkah? Apa yang pria itu lakukan?”

“Semua tak seperti yang kalian pikirkan..”

Mungkin Sica dan Yuri, kedua sahabatnya itu melupakan bagaimana tangis kesedihan dan kekecewaan Yoona pada saat ia kembali dari Jepang dengan sebuah kesakitan.

Pemberian bunga dari pria itu mungkin membuat keduanya terpikir akan kejadian manis yang mungkin terjalin antara dirinya dan pria itu.
Sayangnya itu salah.
Tak ada sesuatupun yang manis diantara mereka. Yang ada justru tuduhan-tuduhan tak mengenakkan yang Yoona terima dari pria itu.

“Murahan!!”

Yuri dan sica sama-sama memekik dalam keterkejutan, setelah mendengar apa yang Yoona katakan.

Yoona memang pada akhirnya tak bisa menyembunyikan apa yang terjadi dari dua sahabatnya itu.
Ia menceritakan beberapa pertemuan tak sengaja antara dirinya dan Siwon, juga apa saja yang Siwon katakan saat bertemu dengannya.

“Aku tak percaya.. Pria itu berpikir demikian tentangmu. Dia salah paham Yoona, tidakkah kau mengatakan yang sebenarnya kepadanya”

“Ya.. Saat dia melihatku di fashion show, itu menjadi keterkejutan untuknya”

“kemunculan pria itu juga menjadi keterkejutan untuk kita semua, Yoong..”

Ucap Sica menambahkan.

“Ya, kau benar. Dan saat dia menarikku keluar, kemudian melontarkan semua tuduhan dikepalanya padaku. Aku benar-benar tak menyangka dan bingung darimana dia dapatkan semua pemikiran itu. Ditambah lagi kehadiran Hana dan oemma, Ya Tuhan.. Aku tak pernah terpikir akan berada disituasi seperti saat itu”

Yoona nampak masih menyimpan raut kebingungan diwajahnya.
Setidaknya sikap Siwon pagi tadi juga ikut mempengaruhi.
Bagaimana pria itu kemudian bisa menuntut penjelasan darinya?
Ia tak habis mengerti akan hal itu.
“jadi pria itu sudah mendapatkan penjelasan darimu?”

“hmm.. Tadi dia memaksa ku ikut untuk memberi penjelasan”

“apa kau juga menceritakan tentang Siwon?”

“Tidak Yuri..”

“Oh, wae?”

“aku merasa itu semua tak perlu. Aku sudah menjelaskan kejadian yang ia tangkap dengan sudut pandang yang salah. Aku sudah katakan padanya, dan kurasa itu semua sudah cukup. Dia tak perlu tahu tentang Siwon..”

“Tapi dengan mengatakan kemunculanmu dikantornya di Jepang, karna kau salah mengenali seseorang? Itu hanyalah memberikan penjelasan abu-abu padanya. Jika dia begitu sangat ingin tahu tentangmu, aku yakin pria itu akan datang lagi dan kembali mempertanyakan hal itu padamu”
Yuri mengutarakan penyimpulannya.

“Tapi dia tak berhak melakukan hal itu..”

“siapa yang perduli dengan berhak dan tidaknya seseorang untuk berlaku apapun. Kurasa pria itu juga akan melakukan penyimpulan seperti itu..”

“Iya.. Yoona, Yuri benar. Kenapa kau tidak katakan tentang kemiripannya dengan Siwon, maka dia akan mengerti kenapa kau bersikap demikian pada saat pertama kali melihatnya”

Yuri dan Sica sebenarnya mengerti, sebagai sahabat sudah pasti keduanya mengenal apa yang telah menjadi salah satu sifat Yoona. Ia seorang yang cenderung berpikir memutar-mutar. Hanya untuk memikirkan kesemua dampak yang mungkin terjadi dari pernyataannya.
Tentu hal itu punya sisi baik, namun terkadang juga membuat kedua sahabatnya itu menilai Yoona kurang tegas.
Teralu banyak berpikir terkadang membuatnya menjadi lamban untuk mengambil sikap.

“haruskah? Tapi dia sudah menerima penjelasanku. Untuk apa aku mengulang penjelasan padanya. Kurasa tak perlu..”

Well..
Pada akhirnya keputusan memang berada ditangan Yoona. Sebagai sahabat Yuri dan Jessica hanyalah mencoba membuka sesuatu yang lain yang bisa Yoona pikirkan atau lakukan.

***

“Harusnya kau mencari asisten baru, atau memanggil asisten lama mu untuk datang. Jadi aku tak perlu direpotkan oleh hal seperti ini”

Siwon terus mengomeli Tiffany, namun tak ada sedikitpun kesedihan yang ditunjukan diwajah gadis itu, sepanjang perjalanan ia justru seakan menikmati ocehan Siwon padanya.

“aku sudah melakukannya oppa.. asisten ku akan datang besok. Dia masih dalam perjalanan. Jadi kau tak perlu khawatir. Ayo turun..!”

Fanny membuka sabuk pengamannya dan kemudian membuka pintu mobil, diikuti Siwon yang melakukan hal yang sama sepertinya.

“dimana temanmu yang lain dan juga kru yang akan melakukan pemotretan?”

Siwon mengedarkan pandangannya kesekitar.
Benar sekarang mereka berada di kebun binatang. Tapi tak ada kesibukan yang mengarah akan ada suatu pemotretan ditempat itu.

“jadi oppa serius mengira aku akan melakukan pemotretan disini?”

“jadi kau bercanda? Kau berbohong padaku? Astaga Tiffany..!”

“Oh.. Ayolah oppa. Jangan seperti itu.. Sudah lama aku tak datang ketempat seperti ini”

“Ck! kau benar akan observasi satwa?”

Fanny malah terkikik dengan nada kekesalan dari Siwon..

“ini benar kekanakan Fanny ah. Tempat ini jelas diperuntukkan bagi anak kecil..”

“dulu aboji sering mengajakku ketempat seperti ini. Sekarang apa salahnya jika oppa yang menggantikannya”

“jadi kau merindukan aboji? Pulanglah..”

“anio.. Sudah lama Aboji tak bisa meluangkan waktunya. Sibuk dengan pekerjaan membuatku harus menerima hanya berdua dengan oemma. Tapi sekarang oemma…”

“jadi kepergianmu sebagai protes pada aboji?”

“anggap saja begitu..”

Fanny baru akan menarik lengan Siwon ketika kemudian pandangan matanya menangkap sesuatu yang berada tak jauh dari tempat keduanya berdiri saat itu.

“Oh.. Oppa bukankah mereka.. Itu… Hana ya..!”

“Hana..?? siapa yang sedang kau panggil, Fanny ah?”

“Hana, gadis kecil itu oppa. Lihatlah dia..”

Fanny menunjuk kearah Hana yang sedang  memutar tubuhnya, mencari-cari suara yang terdengar memanggil namanya.

“Hana ya..!”

Sekali lagi Hana mendengar suara itu, dan kali ini ia melihat seseorang itu tersenyum sambil melambaikan tangannya.

Hana mengernyit, meski jarak antara dirinya dan seseorang itu tak terlalu jauh namun ia merasa tak mengenali wanita itu, yang tengah tersenyum padanya dan terus memanggilnya.

“Hana ya.. Choi Hanna!”

seolah mengerti kebingungan Hana saat itu, Fanny kembali menyerukan nama gadis kecil itu..

“apa tadi kau bilang? Choi.. Choi Hanna?”

Siwon merasa perlu meyakinkan pendengarannya..

“ne.. Aku dengar dari Sica, dia bermarga Choi dari ayahnya. Dia Hana, putri Yoona oppa. Desainer itu.. Apa kau tak ingat kita pernah bertemu dengan mereka?”

“aku ingat..dan aku justru merasa tak asing dengan nama itu?”

“nde? Maksudmu?”

“Ah.. Tidak. Kurasa aku juga pernah mendengar seseorang yang memanggil seperti itu, Choi Hanna..”

Sejujurnya Siwon ragu, karna ia masih merasa aneh dengan perasaan yang seolah mengatakan dirinya memang familiar terhadap gadis kecil itu.

Ia kemudian kembali mengarahkan perhatiannya pada Hana. Melihatnya yang ternyata tak seorang diri.

Oh..
Tentu saja. Mana mungkin gadis kecil itu seorang diri ditempat seramai ini.

Siwon kembali merasakan perasaan aneh dalam dirinya. Melihat Hana yang ternyata tengah bersama sang nenek dan bocah laki-laki kecil yang berada dalam kereta dorongnya.

Bocah kecil itu?
Bibi itu?

Siwon teringat bagaimana saat Ny.Choi menatapnya ketika Yoona memperkenalkan mereka.
Tatapan teduh dan tersirat kerinduan juga rasa sakit didalamnya.
Entahlah, ia sendiri merasa sulit bagaimana menjelaskan tatapan dari wanita paruh baya yang saat itu terpusat padanya.

Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya?

“kurasa dia tak mengenalimu, Fanny..”

“dia akan mengenaliku oppa..”

Hana kembali mengernyit, mencoba untuk memfokuskan penglihatannya dan ia langsung tersenyum ketika akhirnya berhasil mengenali seseorang itu.
Oh bukan..
Dua orang tepatnya..

“aunty Fanny.. Daddy?”

Nampak ragu, benarkah orang itu daddy nya?
Hana kemudian menarik lengan Ny.Choi agar ikut mengenali pria itu.

“halmoni..halmoni.. Bukankah itu daddy?”

“apa?”

Ny.Choi mengikuti arah telunjuk Hana, dan melihat sendiri seseorang yang sangat ia rindukan berada tak jauh darinya.

Ya Tuhan..
Siwon?

Mereka bahkan baru saja menelan kekecewaan saat tak berhasil menemui pria itu.
Tapi kini, justru mereka bertemu ditempat itu.

Sesuatu yang tak pernah disangka sebelumnya.

Namun kemudian Ny.Choi tersadar. Teringat akan perkataan Changmin padanya.
Buru-buru ia meraih tangan Hana dan mengatakan padanya..

“Hana ya.. Jangan memanggil pria itu daddy, mengerti!”

“Oh.. Kenapa halmoni? Bukankah halmoni juga mengatakan kita akan bertemu daddy? Itu daddy, halmoni..”

“iya sayang.. Halmoni mengerti. Tapi untuk saat ini, Hana tak bisa memanggilnya daddy. Mommy Yoona sudah bilang kan, pria itu bernama Harry. Uncle Harry, sayang..”

Oh..
Bagaimana menjelaskannya?

Hana benar-benar merasa kebingungan.
Jelas-jelas itu daddy nya.
Daddy nya masih hidup.
Daddy nya tidak pergi ke surga.
Tapi mommy nya mengatakan pria itu adalah temannya, uncle Harry namanya.
Dan sekarang halmoni, yang tadinya juga mengatakan bahkan mengajaknya untuk bertemu daddy nya, juga mengatakan hal yang sama seperti mommy nya.
Oh..
Apa yang sebenarnya ada dalam pemikiran para orang dewasa?
Mengapa mereka berpikir terlalu rumit dan sulit untuk ia mengerti?

Belum sepenuhnya bisa menerima apa yang Ny.Choi katakan padanya, Hana sudah dihadapkan pada dua orang itu yang entah sejak kapan melangkah menghampiri mereka.

“annyeonghaseyo bibi..”

Fanny tersenyum dengan sapaannya, sementara Siwon sedikit membungkuk untuk menunjukkan kesopanannya.

“ne.. annyeong, kalian..”

Ny.Choi merasa gugup. Benar-benar gugup.
Ya Tuhan..
Bagaimana ia bisa menahan diri untuk tidak memeluknya.
Siwon..
Putranya..

“saya Fanny, bibi.. dan ini Harry oppa.. Kita pernah bertemu sebelumnya”

“Ya.. Aku ingat”

“senang dan tak menyangka kita bertemu disini. Hai.. Hana ya”

“Hello aunty Fanny.. Hello dad..emm, hello uncle Har-ry”

Rasanya sulit bagi Hana untuk memanggilnya sebagai ‘uncle’ dan bukan ‘daddy’ nya.Tapi apa yang bisa dilakukannya selain menurut pada sang halmoni dan juga mengikuti perkataan mommy nya.

Meski sesaat tadi Siwon tersenyum saat menanggapi sapaan Hana, namun kemudian ia kembali diam. Terpaku dengan situasi dan perasaan aneh dalam dirinya.
Bukan perasaan aneh dalam artian yang buruk.
Tidak..
Bukan seperti itu.
Melainkan perasaan aneh yang ia tak bisa mengerti, karna seingatnya belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ini seperti sesuatu yang selama ini dicari-carinya, kemudian ia menemukannya.
Ada rasa lega dan senang didalamnya.
Ruang kosong dalam hatinya yang kembali terisi.

“Oh Hana ya.. Sepertinya aku lupa, siapa nama adik tampan mu ini?”

“Jun-seo.. Bukankah itu namanya?”

Oh..
Siwon mengetahuinya.
Mungkinkah?

“Harry oppa, bagaimana kau bisa tau?” 

Bukan hanya Fanny yang terkejut mendengar Siwon menyebutkan nama Junseo, melainkan Ny.Choi juga mengalami hal yang sama.

Bukankah sebelumnya belum ada yang pernah menyebutkan nama itu dihadapan Siwon?

“Harry oppa..”

“Oh.. Itu.. Aku melihatnya dari pakaian yang dikenakan”

Siwon menunjuk sisi pakaian yang dipakai Jun. Pada bagian atas bahunya memang tertulis nama Junseo yang dibordir dengan menggunakan huruf yang tidak terlalu besar.
Sekali lagi Siwon merasa melafalkan nama Jun-Seo begitu tak asing untuknya.

Oh..
Perasaan apalagi itu??

“mommy yang membuatnya untuk Jun..”

Hana yang kemudian menyahuti..

“Ah.. Itu bagus sekali”

Ucapnya kemudian..

“mommy juga membuatkan untuk Hana..”

“jinja? Apalagi yang mommy Yoona buatkan untuk kalian?”

Hana kemudian berceloteh, mengatakan apa saja yang telah Yoona buatkan untuknya.

Siwon terpaku mendengar gadis kecil itu bercerita.
Sebelumnya ia tak pernah ingat punya ketertarikan terhadap anak kecil.
Satu-satunya gadis kecil baginya adalah Fanny, adik nya yang manja dan pemaksa.
Tapi gadis kecil itu, Hana bisa membuatnya tak merasa bosan meski hanya mendengar celotehannya.

Dan rasanya lebih dari sekedar menyenangkan..

“Oh.. Apa aunty dan uncle kesini hanya untuk mendengar Hana bercerita?”

Fanny tersenyum..

“Ah..tentu tidak sayang. Harry oppa bilang aku ingin observasi satwa”

jawab Fanny sambil terkikik, tahu akan betapa kesalnya Siwon tadi..

“observasi satwa? Apa maksudnya aunty?”

“Kau tak tahu?”

“Tidak..”

Hana menggelengkan kepala dan memasang raut kesedihan..

“emm..baiklah, tak perlu khawatir. Kurasa Harry oppa bisa membantu”

Hana mendongak dan bersama dengan Fanny beralih menatap kearah Siwon..

“aku?”

“ne oppa.. Tadi kau yang bilang tentang observasi satwa itu. Jadi ayo kita ajak Hana melakukannya”

“Ayo.. Dad..eh, uncle Ayo!”

spontan Hana meraih tangan Siwon dan menariknya untuk berkeliling..

Pada saat Fanny hendak mengikuti keduanya, tiba-tiba Ny.Choi mencegahnya dengan sebuah pertanyaan.

“bisakah bibi menanyakan sesuatu?”

“Oh.. Ada apa bibi?”

“benarkah dia kakak kandung mu??”

Fanny mengernyit tak mengerti arah pertanyaan yang dimaksud Ny.Choi padanya.

“maksud bibi?”

“hmm.. Kalian berdua saudara kandung atau..”

“Oh..”

“bukan maksud bibi ingin tahu, hanya saja kalian terlihat…”

“iya aku mengerti maksud bibi. Pasti bibi menanyakan hal itu karna aku dan oppa yang terlihat tidak mirip sebagai saudara. Itu karna aku dan Harry oppa…”

“noona..hikss noona..”

“Oh Jun ah..”

Ucapan Fanny terhenti ketika tiba-tiba Junseo menangis memanggil Hana. Sepertinya Jun melihat noona nya pergi tanpa mengajaknya.

“Jun ah.. Ada apa? Bibi kenapa Junseo menangis?”

Ny.Choi lantas meraih Jun dari dalam kereta dorong kemudian menggendongnya.

“noona..noona..”

Jun menggapai-menggapai mengisaratkan untuk mengikuti kemana hana yang saat itu tengah menarik tangan Siwon.

“Sepertinya Junseo, ingin bersama Hana”

“Oh.. Bibi, biarkan aku yang menggendongnya. Aku akan mengantar Jun menyusul Hana dan Harry oppa”

Fanny sudah mengulurkan kedua tangannya untuk menggendong Jun, namun Junseo justru melengos kebelakang dan mengencangkan kedua tangan kecilnya pada leher Ny.Choi, seolah takut dengan uluran tangan Fanny.

“euh..apa Junseo tidak mau aku mengajaknya?”

ada nada kecewa dari kalimat tanya yang diutarakannya.

“Jun memang tidak mudah akrab dengan orang baru. Berbeda dengan Hana.. Dia takut karna belum terbiasa denganmu”

Ny.Choi mengusap-usap punggung Jun untuk menenangkannya dan mendiamkan dari tangisnya.

“Oh..begitukah?”

“Iya, tidak apa-apa biar bibi saja yang menggendongnya”

“kalau begitu kita bersama saja menyusul Hana dan oppa”

Fanny sedikit merangkulkan lengannya pada Ny.Choi untuk kemudian berjalan beriringan dengannya.

“Oppa.. Harry Oppa..”

Fanny memanggil Siwon yang saat itu tengah menunjukkan Hana beberapa binatang melata disana. Hana memeluk erat lengan Siwon, sedikit takut mungkin tapi kemudian ia tergelak dalam tawa.
Entah apa yang saat itu Siwon katakan padanya.

“Oppa.. Hana ya..”

Siwon dan Hana kemudian menoleh kearah Fanny yang sudah tak terlalu jauh dengan mereka.

“aunty lihatlah..”

“Tidak.. tidak aku tak mau kesitu. Kalian kemarilah, Hana ya.. Jun ingin bersamamu sayang, dia menangis karna kalian tidak mengajaknya”

“Oh.. Jun ah..”

Hana kemudian berlari untuk menghampiri Fanny dan Ny.Choi diikuti Siwon dibelakangnya.

“noona..noona..”

image

*Junseo nya bule..^^
req nya Ibu Susie.. hihihiii~

“Jun ah.. Apa Jun ingin kesana bersama noona?”

Jun langsung mengangguk senang. Mata yang tadinya mengalirkan cairan bening kini berganti dengan binar-binar kegembiraan.

“Sini ikut noona..”

Hana mencoba menggendong Jun namun Siwon mencegahnya.

“biar uncle saja.. Kau terlalu kecil Hana ya”

sebenarnya Hana ingin mengatakan kalau ia sudah biasa menggendong-gendong Jun saat dirumah, namun niatannya itu ia urungkan saat Junseo dengan sendirinya mengulurkan kedua tangannya kearah Siwon.

“Oh.. Oppa, Jun mau ikut denganmu? Tadi saja dia menangis saat aku ingin menggendongnya”

“mungkin dia tak yakin akan aman dalam gendonganmu..”

“aishh..”

Siwon mencibir membuat Fanny cemberut dan Hana yang justru terkikik mendengarnya.

Ny.Choi merasakan keharuan yang coba ia tahan saat melepaskan Jun dari gendongannya, untuk kemudian berada dalam dekapan Siwon.

“hai.. Jagoan kecil, siap untuk berkeliling?”

***

Changmin baru saja melangkahkan kakinya masuk kedalam rumahnya ketika kemudian ponsel disaku celananya berbunyi.

“yoboseyo..ne, bagaimana? apa yang kalian temukan disana?”

Changmin terdiam mendengar penjelasan dari seseorang yang menelponnya.

“Kau yakin? Jadi maksudmu pria itu hanya anak angkat? Informasi apalagi yang kalian dapatkan?… Oh, baiklah kabarkan padaku apapun yang sudah kalian temukan”

“Siapa yang kau maksud anak angkat oppa?”

Changmin baru saja mengakhiri pembicaraan ketika Sooyoung ternyata sudah berada dibelakangnya. Mendengar pembicaraannya..

“kau mendengarnya?”

Sooyoung mengangguk..

“apa orang-orang itu yang menghubungimu?”

“Ya, itu mereka”

“jadi..anak angkat itu adalah..”

“Harry, pria itu ternyata hanyalah anak angkat dari pengusaha itu”

“Oh, Ya Tuhan..”

“tapi mereka belum menemukan siapa orangtua kandungnya. Mereka sedang mencari tahu..”

Changmin kemudian merangkul Sooyoung dan mengajaknya untuk duduk.

“kau sudah makan?”

“hmm.. apalagi yang bisa kulakukan selain makan. Morning sicknes ku sudah hilang, jadi aku bisa menikmati makananku”

“itu bagus untukmu, setidaknya bayi kita tidak akan kelaparan..”

Changmin mengusapkan tangannya diatas perut Sooyoung..

“jadi oppa.. apalagi yang orang-orang itu katakan tentang penyelidikan mereka”

“baru itu..”

“tidak adakah yang lain?”

“belum, tapi chagi.. tolong jangan katakan hal ini pada omonim”

“oemma.. kenapa?”

“bukan apa-apa, hanya saja aku takut reaksi omonim akan berlebihan. Aku memberi tahukan dimana pria itu menginap, dan Omonim mencoba menemuinya”

“benarkah?”

“ya.. Aku hanya tak ingin gegabah dan merusak semuanya”

“memang apa lagi yang sudah kau rencanakan?”

“aku berencana melakukan pembicaraan bisnis dengannya. Jika aku bisa bekerja sama dengannya, itu akan lebih mudah untuk membuatnya tetap berada di Korea. Dan mencari tahu tentangnya..”

***

Sudah beberapa jam berlalu Siwon mengajak Hana dan Junseo berkeliling. Hana nampaknya tak merasa bosan ataupun lelah, ia begitu bersemangat dan ceria hari itu. Lain hal nya dengan sang adik, sepertinya Jun kelelahan dan kini tertidur dalam gendongan Siwon. Hal itu karna Junseo terkadang memaksa turun dari gendongan Siwon, untuk berjalan sendiri seperti noona nya.

“Halmoni.. Hana masih ingin disini. Hana ingin mengajak dad.. Hmm, maksudnya uncle Harry untuk berkeliling. Hana belum mau pulang..”

Hana merengek ketika Ny.Choi mengajaknya pulang setelah melihat Junseo yang sudah tertidur.

“tapi kasian Junseo, sayang.. dan mommy Yoona akan marah kalau kita pulang malam. Sudah cukup liburannya, besok kau harus sekolah..”

“Tapi Hana masih ingin disini. Halmoni pleasa..”

Ny.Choi sebenarnya tak tega saat melihat Hana memohon, ia paham Hana berkeras tidak mau pulang pastilah karna keberadaan Siwon disana.

“Hana ya.. Aunty bisa mengajakmu jalan-jalan lagi lain kali”

Fanny mencoba membujuk Hana..

“aunty masih akan lama tinggal disini”

“benarkah?”

“hmm..”

“apa uncle juga?”

“Oh.. Harry oppa bagaimana denganmu?”

“sepertinya aku akan kembali ke Jepang..”

“kenapa harus ke Jepang? Kenapa uncle tidak disini saja..?”

Hana semakin bertambah sedih mendengarnya. Ia bergerak memeluk lengan Siwon. Siwon lantas mengusap pada rambutnya..

“karna uncle bekerja disana, sayang..”

“Tidak bisakah bekerja disini saja? Dulu daddy bekerja disini. Daddy hanya pergi ke Jepang saat mengunjungi halmoni. Itu pun Hana dan mommy selalu diajak. Tapi sekarang kenapa…”

“Hana ya…”

Ny.Choi memotong ucapan Hana, menyadari cucunya kini tengah menganggap sosok dihadapannya bukan lagi sebagai ‘uncle Harry’  tapi sebagai daddy nya, dengan mengatakan bagaimana kegiatan daddy nya dulu yang masih diingatnya.

“Hana ya..jangan menyamakan daddy dengan uncle Harry, sayang”

“Tapi halmoni, uncle..”

“uncle Harry mempunyai pekerjaan sendiri, berbeda dengan daddy mu..”

Sebenarnya Ny.Choi merasa bersalah berkata demikian pada Hana. Tapi harus bagaimana lagi, perkataan Changmin masih terus diingatnya. Ny.Choi sendiri merasa hampir membuat satu kecerobohan lagi dengan mempertanyakan hubungan persaudaraan Fanny dan Siwon. Untunglah gadis itu sepertinya tak menaruh kecurigaan apapun pada Ny.Choi.

“Terimakasih untuk hari ini nak.. Kalian berdua membuat cucuku bersenang-senang tadi..”

Ny.Choi lebih dulu mengatakan terimakasih yang sekaligus sebagai tanda perpisahan, sebelum Hana kembali merengek.
“sama-sama bibi.. Aku juga menikmati hariku bersama mereka”

Fanny tersenyum sambil mengusap rambut Hana..

“aunty janji ya.. Akan mengajak Hana jalan-jalan lagi bersama dengan uncle Harry..”

Hana menunjukkan jari kelingkingnya, mengisaratkan agar Fanny menautkan jari kelingking dengannya.

“Okey.. Promise!”

Fanny menautkan kelingkingnya dengan Hana dan menggoyang-goyangkannya, membuat gadis kecil itu tersenyum akhirnya.

Melepaskan rangkulannya pada lengan Siwon, Hana tersenyum senang saat kemudian Siwon merundukkan tubuhnya untuk mencium pada pipinya.

“Sampai bertemu lagi gadis kecil..”

“Okey uncle.. bye aunty..bye uncle..”

Hana lebih dulu masuk kedalam mobil yang sudah menunggu mereka dengan seorang supir didalamnya.

Ny.Choi kemudian mengikuti masuk setelah terlebih dulu meraih Junseo dari gendongan Siwon.

“terimakasih nak Harry..”

“sama-sama bi..”

Ny.Choi merasakan pandangannya mengabur akibat airmata yang berada di sudut matanya dan coba ia tahan agar tak jatuh, setelah mendengar siwon memanggilnya dengan ‘bibi’ dan bukan ‘oemma’ .

“bye bye uncle.. bye aunty..”

sekali lagi Hana melambaikan tangannya, tapi kali ini disertai ciuman jauh yang ia tiupkan sebelum kaca jendela mobil itu tertutup dan kemudian menjauh, melaju dari hadapan Siwon dan Fanny.

Siwon hanya terus menatap pada mobil yang semakin melaju jauh itu..

“mengapa mereka berdua bisa begitu menggemaskan.. Oppa, cepatlah menikah dan berikan aku keponakan lucu seperti mereka..”

Siwon tidak menyahuti membuat Fanny kemudian menyenggol pada lengannya..

“Oppa..!”

“Hm..”

“Kau tidak mendengarku?”

“Apa?”

“Ishh.. cepatlah menikah dan berikan aku keponakan seperti mereka..”

“kenapa tidak kau saja yang menikah. Dan milikilah anakmu sendiri.. Kurasa Nickhun akan bersedia menikahimu..”

“yakk.. Oppa, kenapa justru menyinggung pria itu. Aku tak suka padanya..”

“hati-hati bisa saja kau malah jatuh cinta padanya”

“Oppa..!!”

Fanny berteriak kesal atas candaan Siwon yang dianggapnya sama sekali tak lucu, tapi justru mengesalkan.

***

Malam dalam perjalanannya pulang dari butik, Yoona merasa panik saat berada ditengah jalan dan tiba-tiba mobilnya mengalami pecah ban. Untungnya ia masih bisa menepikan mobil itu hingga tak mengganggu pengguna jalan lainnya.
Tapi masalahnya, bagaimana caranya mengganti ban mobilnya?
Ia jelas tak mampu melakukannya sendiri.

“aishh..otthokae?”

Mengambil ponsel, ia mencoba mencari bantuan. Menelpon jasa derek mobil mungkin bisa membantunya.
Namun pada akhirnya ia tetap harus menunggu sampai bantuan itu datang.

“Ya Tuhan..”

Saat ia akan masuk kembali kedalam mobilnya, merasa menunggu didalam mobil pastilah akan lebih aman untuknya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara klakson dari arah belakang mobilnya dan tak lama seorang wanita keluar dari dalamnya.

“Yoona ssi..”

“Oh, Tiffany..”

“Ternyata benar itu kau.. Apa yang terjadi dengan mobilmu?”

“Mengalami pecah ban.. Dan aku tak tahu bagaimana menggantinya..”

“Owh.. Tinggalkan saja disini. Dan hubungi seseorang untuk memperbaikinya. Kau bisa pulang denganku..”

“kau sendirian?”

“Tidak.. Aku bersama Harry oppa?”

“bersama Harry??”

Tidak…
*

*

*

*

*

*

*

*

*

To Be Continued~

@joongly

139 thoughts on “YOU’re My Destiny [3]

  1. Huuuuuaaahh, joongly kau benar benar membuat ku menangisssss, hanya ya, kau sungguh merindukan daddy mu, dan young itu benar siwon bukan harry , sungguh senang rasa nya membaca adegan pas siwon sama hana dan junseo di kebun binatang, kapan siwon sembuh? Dan mengingat semua nya?

    Next chapter aku izin baca ne eon?🙂

    😥😥😥😥 sungguh ingin rasanya menangiss sekencang kencang nya

    #lebaykumat

  2. Hana benar2 rindu dgn daddyx, Junseo sepertix tau daddyx dan mau digendong ma Siwon. Smoga Changmin secepatx mendapatkan kebenaranx.

  3. aigooo ….. Hana & Junseo 2 orang anak yg sangat menggemaskan. aku menyukai mereka.
    dan benar perasaan seorang ibu memang tak pernah salah. dan semoga Siwon Oppa cpt mengingat kembali keluarga ny.

  4. Aigoo darah emg lbh kental dr air,sepertinya itu yg pepatah yg cocok melihat moment Harry-eomma siwon,jg moment hanna-Harry-junseo
    Apakah changmin dpt membongkar kebusuksn Tn. Hwang? Dan mengetahui klo Harry itu siwon?
    Ga sabar….makin seru dan sukses bikinpenasaran

  5. Complicated bgt siiih… pdhal takdir udh dpn mata…wonppa udh ktmu sma istri sma ank2nya tp msih bnyk rahasia dibalik rahasia.. *halaaaaah*
    Ayo dong wonppa cpat inget cpat smbuh amnesia nya lama bgt gg smbuh2…

  6. Ceritanya ada yg sedih ada lucu2nya jg, kasihan ya anak2 YW meraka terus menerus bertanya tentang daddy nya sepertinya benar ya ikatan org tua itu sangat kuat dgn sang anak, hiks…
    Tpi untung aja di dlm kisah ini Tiffany tdk di gambarkan dengan sifat jahat. Aku suka penggambaran dlm peran tokohnya, pas bgt author

  7. Jodoh itu memang gak lari kemana ….
    Udah pisah lama, udah saling jauh …. tapi tetep aja ujung-ujungnya ketemu juga.
    Itulah yang terjadi pada Yoonwon kita tercinta … apapun yang terjadi pada mereka berdua, eh nyatanya balik lagi dipertemukan. Pisahnya cuma kaya iklan, sementara … Gak seterusnya …
    Itu baru namanya bener-bener destiny …
    Komen dikit untuk kakak beradik Hana & Jun Seo. Mereka berdua udah pas banget kalo jadi anaknya Yoonwon. Perfect.
    cuz to next chap deh …

  8. hana dan jun seneng bgt ya jalan-jalan sama siwon..jun jg pas mau digendong fanny dy gk mau,, tapi pas sama siwon dy menawarkan diri..
    emg iktan batinnya kuat bgt ya

  9. Kasian choi family, ktemu siwon tpi blum bsa meluapkan kerinduan mereka…
    Kasian hanna n jun yg kgen bget sma daddynya…
    Semoga Siwon oppa cpetan ingat sma masa lalunya…

  10. Sayang.a Y00na gk nyeritain ttg Siw0n ke Harry, pasti dia punya prtimbangan trsendiri seprti yg d pikirin Yuri & Jessica,.
    Ide.a Changmin bagus tuh buat nyelidikin latar belakang.a Harry, tp Ny. Ch0i yg d ajak brk0mpl0t hampir aja mmbuat kesalahan,.
    Seneng.a ada sedikit m0ment antara Hana & Junse0 dgn Siw0n,.

  11. Kasihan bgt hana krn harus memanggil daddy nya dg sebutan uncle,dn mudah”an amnesia siwon oppa cepat sembuh sehingga ingat kalo memiliki istri dn anak

  12. hana ma junseo seneng banget bisa jalan2 ma wonpa. ya walaupun harus manggil uncle bukanx daddy…
    wonpa cepatlah sembuh kasiam liat hana ma junseo…

  13. Junseo ma hana sngt
    merindukan daddy nya. Kasian
    mrka. Apalagi junseo.
    Ouh lagian fany bnr2 ga mrsa janggal apa, ma
    hubngan keluarga siwon ma siwon

  14. Wah kebetulan yg luar biasa…
    Udh siwon ktemu jun dan hana skarang ketemu sma yoona…
    Semoga aj yoona naik mobil siwon bareng fanny dan dianter

  15. Kenapa mommy g cerita semuanya sama harry
    Dan malah mau digendong harry sementara dgn fanny gak.. oh jun yg masih kecil juga bisa merasakan kalau harry itu daddy nyaa

  16. Harusnya mommy cerita semuanya sama harry oppa jd biar harry g mikir macem2
    Dan junseo yg masih kecil mau digendong harry pdhl sama fanny gak.. oh jun
    Dia juga punya firasat kalau itu daddy nyaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s