Fanfiction

YOU’re My Destiny [2]

Happy Reading~

*

*

*

*

*

*

Sejujurnya Siwon sendiri masih tak yakin dengan penilaiannya. Ia menatap keseluruhan pada diri Yoona. Wanita dihadapannya itu jelas terlihat berkelas. Berbeda bila dibandingkan dengan wanita-wanita penggoda yang sering kali dilihatnya.

Tapi..
Bukankah wanita-wanita seperti itu memang pandai bersandiwara dan melakukan tipuan?
Bergaya Wah hanya demi menarik, kemudian menjerat mangsanya.
Jika tidak ingin disebut ‘murahan’ lantas apa motivasi wanita itu yang dengan tak tahu malu memeluknya didepan umum secara tiba-tiba.

“kau terkejut? Bukankah sudah biasa hal seperti ini ditanyakan? Untuk mencapai harga yang kemudian bisa kita sepakati.. Katakan berapa nominalnya, nona..?”

Yoona merasakan ruangan disekitarnya kini menjadi hampa seakan tanpa udara yang bisa ia hirup untuk menyuplai oksigen kedalam paru-parunya. Tenggorokannya tercekat hingga ia hanya mampu menggumamkan satu nama..

“Siwon..”

“katakan berapa yang kau mau, nona? Aku punya sofa yang nyaman jika kau ingin melakukannya disini.. Atau kita perlu mencari hotel? Kurasa akan lebih menyenangkan bila kita melakukannya disana..”

Yoona masih tak sepenuhnya bisa mencerna apa yang menjadi perkataan Siwon padanya, kepalanya terasa berputar-putar, dan terguncang.

Hingga dirasakannya sebuah cengkraman pada pergelangan tangannya, tiba-tiba menarik kasar tubuhnya. Memaksanya untuk mengikuti langkah Siwon dihadapannya.

“Siwon..”

lagi-lagi hanya itu yang mampu Yoona ucapkan, yang justru kini membuat Siwon dengan kasar mendorong tubuhnya hingga punggung Yoona bersentuhan dengan tembok. Mengunci gerak kedua tangan Yoona dengan kedua tangannya, dan juga mata Siwon menyala dalam kemarahan ketika menatapnya.

“Berhenti memanggilku seperti itu, nona.. Namaku Harry..! Ingat itu!”

Semuanya terjadi begitu saja. Siwon tiba-tiba menciumnya. Bibirnya dengan paksa ditarik dan dilumat. Kasar dan seakan tanpa perasaan. Yoona juga merasakan gigitan pada bibir bawahnya. Membuatnya mengerang karna tak berdaya untuk melakukan perlawanan.

Ya Tuhan..
Ia benar-benar merasa diperlakukan seperti wanita murahan saat ini.

Tangan nya masih berusaha meronta walau sia-sia saja karna tenaganya tak cukup kuat untuk melakukan perlawanan. Hingga akhirnya ia tak bisa membendung lagi airmatanya dan menangis.

Ya Tuhan..
Detik itu juga ia sadar.
Pria itu bukanlah suaminya.
Dia bukan Siwon nya.
Bukan ayah dari kedua buah hatinya.
Ia terlalu bodoh dan gegabah untuk menyimpulkan.
Pria ini kasar dan tanpa perasaan, dan kini dia sedang melecehkan dirinya.
Siwon nya tidak seperti ini. Siwon nya bukanlah pria kasar tanpa perasaan.
Siwon nya adalah pria penuh kasih dan penyayang.

Satu-satu nya kekasaran Siwon yang pernah dilakukan padanya adalah ketika dulu memaksa mengambil kesuciaannya. Hanya itu. Selebihnya Siwon adalah pria terbaik yang pernah ada.

Siwon merasakan wajahnya yang pada saat itu bersentuhan dengan wajah Yoona kini menjadi terasa basah.

Apa yang terjadi?
Apa wanita ini menangis?

Hingga kemudian perlahan Siwon menarik diri. Melepaskan cengkramannya dikedua tangan Yoona. Sejenak ia benar-benar melihat Yoona menangis, sebelum akhirnya wanita itu berlari keluar dari ruanganya.

Hanya tangisan.
Tanpa kata..
Tanpa amarah..
Wanita itu pergi begitu saja dengan membawa tangisannya.

Bukankah seharusnya dia marah?
Bukankah seharusnya dia memakinya?
Atau memukulnya dengan benda apapun yang ada diruangannya.
Tapi wanita itu tidak melakukannya. Tidak marah. Tidak memaki. Juga tidak memukulnya.
Dia hanya berlari dengan airmata diwajahnya.

Dan itu justru membuat Siwon menjadi gusar. Jika saja tadi wanita itu marah dan memukulnya. Mungkin ia takkan segusar ini sekarang . Tapi wanita itu justru diam dan meninggalkannya dengan tanpa kata.

“apa aku salah?”

***

Yoona pada akhirnya kembali pulang. Perih akibat gigitan dibibirnya tak sebanding dengan perih didalam hatinya akibat luka menganga yang ada didalamnya.
Seharusnya ia tak bersikap bodoh.
Seharusnya ia menggunakan logikanya.
Siwonnya telah pergi. Dan tak mungkin bisa kembali lagi..

“Mommy..!”

seruan Hana memecah keheningan dirumah itu. Dan membuat semua mata disana kini tertuju pada Yoona.
Yoona melangkah menghampiri Hana, kemudian meraih tanganya. Terlihat tenang seakan tak terjadi apa-apa.

“dimana Junseo?”

“Jun sedang berada didalam kamar, mom..”

“Oh.. Mommy rindu kamu dan Jun, sayang”

Yoona seolah tak perduli dengan tatapan semua yang sedang berkumpul dirumahnya. Kenekatannya pergi ke Jepang, pasti adalah penyebabnya..

“Yoona..”

“aku lelah. Aku ingin beristirahat..”

Semua terheran dengan sikap datar yang ditunjukkan oleh Yoona didepan mereka. Namun tak ada yang berani mempertanyakan hal itu dan membiarkan Yoona membawa Hana naik menuju lantai atas kamarnya.

Sampai didalamnya Hana langsung menyuarakan pertanyaannya..

“Mommy.. Benarkah itu? Benarkah yang dikatakan aunty? Mommy pergi bertemu daddy?”

Tak ada sahutan atas pertanyaan Hana tadi ..

“Jadi daddy masih hidup? Daddy tidak pergi ke surga?”

“hentikan pertanyaanmu Hana ya..”

“why? Hana juga merindukan daday, mom.. Hana juga ingin bertemu daddy”

“Hana!”

“Hana tahu mom.. Hana melihat daddy ditelevisi. Hana…”

“DIAM HANA!! Mommy bilang DIAM..!!”

“hikss… Mommy. Kenapa mommy membentak Hana??”

Suara keras yang ditujukan Yoona pada Hana, nyatanya juga membuat Junseo terkejut dan ikut menangis bersama Hana. Dan entah kenapa Yoona justru tak bergerak sedikitpun untuk mendiamkan kedua buah hatinya.
“Ya Tuhan.. Apa yang terjadi?”

Ny.Choi mengucap pelan dan langsung berjalan kearah kamar Yoona begitu mendengar suara keras dari Yoona yang kemudian diikuti tangis kedua cucunya, disusul Yuri dan Jessica yang juga melakukan hal yang sama. Keduanya memang memutuskan tetap tinggal disana sebelum mendapatkan kepastian tentang Yoona. Dan pada saat Yoona akhirnya pulang dan bersikap datar tadi. Mereka tahu sikapnya itu, hanyalah usaha yang Yoona coba lakukan untuk menutupi kegamangan hatinya.

Sooyoung diam dan hanya menghela napas disisi suaminya, tak tahu harus berbuat apa. Ia beringsut merapatkan tubuhnya pada Changmin dan melingkarkan kedua tangannya pada tubuh sang suami, seolah sedang mencari ketenangan dari sana.

“Jika berada disini tak juga membuatmu merasa lebih baik. Mungkin kita bisa pulang saja”

“aniyo oppa..aku ingin disini”

tolak Sooyoung atas tawaran Changmin tadi..

“Oppa..”

“hmm..”

“menurutmu apa yang terjadi dengan Yoona?”

“entahlah.. Takkan ada yang tahu kecuali dia mengatakannya pada kita”

“menurutmu pria itu Siwon oppa? Siwon oppa masih hidup? Lalu siapa pria yang kita kuburkan waktu itu?”

entah sudah untuk yang keberapa kalinya Sooyoung menggumamkan pertanyaan yang sama. Changmin tentu saja tak punya jawaban atas semua pertanyaan itu. Ia hanya mengusap-usap rambut Sooyoung. Berharap dengan itu dapat mengurangi kekalutan juga shock yang sedang dirasakan istrinya.

***

“Yoona ya.. Ada apa sayang?”

Ny.Choi masuk ke dalam kamar Yoona dan melihat sang menantu yang hanya terdiam dengan tatapan kosongnya tertuju pada sebuah pigura foto didinding kamarnya. Foto kebersamaan dirinya bersama Siwon, Hana dan Junseo yang ketika itu masih berusia beberapa bulan.

“halmoni.. hikss..”

“Hana ya.. Biarkan halmoni bicara dengan mommy ya..”

Hana kemudian berlari kearah Yuri dan Sica yang masih berdiri diambang pintu. Sica meraih Hana dan Yuri kemudian masuk untuk meraih Junseo yang masih menangis kemudian menggendongnya.

“Katakan padaku apa yang terjadi, Yoona ya? Kau baik-baik saja?”

“oemma.. Mianhae. Maafkan aku..”

“ada apa? katakan pada oemma, Yoona..”

“Dia bukan Siwon, oemma.. Pria itu bukan Siwon ku. Dia bukan suamiku. Siwon sudah pergi oemma. Dia benar-benar pergi meninggalkan kita.. Dia telah..”

Yoona tak bisa lagi meneruskan kalimatnya. Airmata sudah sampai dipelupuk matanya. Membuat Kata-kata tertahan ditenggorokannya. Dan lagi tak perlu rasanya menceritakan apa yang telah dilakukan pria yang mengaku bernama Harry itu padanya. Ia tak mau menciptakan kesakitan yang sama pada ibu mertuanya.

“tapi dia sangat mirip dengan Siwon, Yoong.. Oemma sudah mengira jika Tuhan akhirnya menunjukkan kuasa nya. Siwon masih hidup. Itu mungkin saja kan?”

Yoona menatap iba kearah Ny.Choi. Bagaimanapun apa yang dikatakan Ny.Choi juga sama seperti apa yang ia harapkan. Namun ia tak mau memberikan harapan semu pada ibu mertua yang sangat disayanginya. Bila akhirnya hanya membuat luka menganga sama seperti yang sekarang dirasakannya.

“oemma ingin menemuinya, Yoona.. Oemma ingin bertemu dengannya. Oemma ibunya.. Oemma bisa mengenali putra ku sendiri”

Yoona terhenyak oleh keinginan Ny.Choi. Mana mungkin ia membiarkannya bertemu dengan pria kasar itu.
Apa jadinya nanti?
Bagaimana jika pria itu menyakiti ibu mertuanya?
Berkata kasar padanya..
Membayangkan tatapan mencemooh, juga pelecehan yang ia terima. Juga kekasaran pria itu padanya, sudah membuatnya ngeri. Mana mungkin ia membiarkan sang ibu mertua bertemu dengan pria seperti itu.
Tidak..
Ia tak akan membiarkan ibunya melakukan kebodohan yang sama seperti dirinya.

“Tidak oemma.. Tidak perlu. Aku cukup bisa mengenali Siwon. Apa oemma tidak mempercayai ku? Dia bukan Siwon, oemma.. bukan.”

airmata Yoona tumpah, begitupun dengan Ny.Choi. Keduanya kemudian saling berpelukan erat. Harapan itu pasti telah pupus begitu saja.

***

Siwon terjaga dari tidurnya. Napasnya tak teratur seperti ia baru saja berlari jauh. Tapi nyatanya ia sedang berada diatas tempat tidurnya yang nyaman.
Tapi kenyamanan itu tak ada dalam hatinya. Hampa dan kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang dari dalamnya.

Dan seorang wanita yang menangis tanpa kata pergi meninggalkannya, kini justru muncul dalam pikirannya.

Apa yang terjadi?
Mengapa reaksi wanita itu kini terus berkelebat membayang dalam benaknya..

Mungkin sebuah tamparan diwajahnya atau pun makian kasar untuknya akan lebih baik, pikirnya. Daripada reaksi seperti itu yang sungguh sangat tak dimengerti olehnya.

Belum sempat lebih jauh ia mengartikan reaksi wanita yang tiba-tiba muncul dikantornya. Siwon kemudian mengalihkan perhatian pada ponselnya yang berbunyi.

“ada apa Fanny ah..?”

“Yakk.. Oppa! Kapan kau akan menyusulku? Jangan mengingkari janjimu oppa. Atau aku tak akan memaafkanmu..!”

Siwon berdecak kesal oleh paksaan yang telah terus-terusan Fanny katakan.

“Oppa..!”

“Ya.. Ya besok aku kesana. Kau puas!”

“haha.. Tentu saja. Sampai bertemu disini oppa, bye..!”

Siwon mengemasi beberapa pakaiannya setelah Fanny berhasil memaksanya untuk menyusul gadis itu ke Korea. Selama ini mungkin kebanyakan orang yang telah mengenalnya menilai dirinya adalah pria berwatak keras dan kasar. Itu memang benar. Tapi tak banyak yang tahu jika Fanny sering kali bisa menjinakkan nya. Membuatnya mau tak mau menuruti kemauan gadis itu bila sudah merajuk atau pun mengancam.

“Sir.. Anda membutuhkan sesuatu?”

“Ya.. Aku butuh tiket ke korea besok”

“Korea? Tapi untuk apa anda pergi kesana?”

“Aku ada sedikit urusan yang harus diselesaikan”

“tapi sir..belum ada sesuatupun tentang perusahaan yang berhubungan dengan negara itu”
“ini bukan urusan perusahaan. Sama sekali tak ada hubungannya”

“Lantas bagaimana jika anda pergi? Tn.Hwang sudah berpesan agar beberapa waktu kedepan anda tetap tinggal disini”

“Bisakah kau berhenti bicara! Lakukan saja apa yang ku katakan!”

Siwon mulai kesal dengan asistennya yang terus menyinggung-nyinggung urusan perusahaan ayahnya.

“aboji tak akan tahu kemana aku pergi jika kau tak mengadu padanya. Jadi sebaiknya lakukan perintahku dan tutup mulutmu!”

jika sudah begini sang asisten hanya bisa tertunduk mendengarkan tanpa berani melakukan bantahan.

“Kau siapkan saja apa yang mesti aku kerjakan. Aku akan mengatasinya dari sana”

“Ya Sir..”

***

Setelah berhasil menenangkan hati juga menguasai dirinya sendiri. Yoona membuka pintu kamar Hana. Tadi sebelum Yuri dan Sica pulang, mereka mengatakan kedua buah hatinya itu sudah tidur, dan karna tak mau mengganggu dirinya, Yuri pun menidurkan Junseo didalam kamar Hana.

Yoona menyadari kesalahannya yang telah membentak Hana. Pikirannya kalut untuk menyadari seharusnya ia tak bersikap seperti itu tadi. Kini ia melihat, dalam tidurnya Hana tengah memeluk Junseo seolah memberikan perlindungan untuknya.

Ya Tuhan..
Ibu macam apa dirinya? hingga membuat kedua buah hatinya menangis karnanya..

Perlahan Yoona duduk disisi tempat tidur sang putri, membelainya, menyingkirkan anak rambut yang menutupi kening Hana kemudian menciumnya. Ia menangisi kebodohannya.

“Maafkan mommy sayang.. Mommy tak bermaksud membentakmu tadi. Maaf kan mommy..”

Hana merasakan usapan lembut dirambutnya. Merasakan kecupan lembut dikeningnya dan sesuatu yang menetes membasahi wajahnya. Perlahan ia menggeliat dalam tidurnya kemudian mengerjap membuka kedua matanya yang menyipit karna kantuk yang masih dirasakannya.

“Mom..”

“Oh, maafkan mommy sayang.. Mommy mengganggu tidurmu. Mommy hanya ingin memindahkan Junseo kekamar mommy”

“euh.. biarkan Jun disini. Hana ingin tidur bersama Junseo, mom..”

“bagaimana jika Jun terbangun dan menangis nanti. Mommy tak bisa mendengarnya”

“mengapa mommy tak tidur saja disini? Sudah lama mom tidak tidur bersama Hana. Hana merindukannya.. Hana juga ingin tidur bersama mommy”

Ucapan Hana membuat Yoona menyadari jika dirinya harus kembali meningkatkan kwalitas hubungannya bersama kedua buah hatinya dan bukan justru mengejar sesuatu yang bahkan tak bisa terlogika.

“hmm.. Baiklah, mommy akan tidur disini”

Yoona mengitari sisi lain tempat tidur Hana kemudian merebahkan tubuhnya, menempatkan Junseo kini berada diantara dirinya dan Hana.

“mom..”

“emm..”

“mommy tidak apa-apa?”

“tidak sayang..”

“mommy menangis?”

“anio..”

“mommy tidak marah pada Hana?”

“Tidak sayang, Tidak.. Mommy sangat menyayangimu. Maafkan mommy.. Mommy tak bermaksud marah padamu, Hana ya..”

“Hana mengerti mom. Maafkan Hana, seharusnya Hana tahu mommy lelah. Hana takkan melakukannya lagi. Hana sayang mommy..”

“mommy juga dear..”

Pada pagi harinya saat terbangun, Yoona merasa menemukan lagi kepercayaan dirinya. Sesuatu itu yang sempat ia rasakan hilang dari dalam dirinya.

Seseorang yang berada di Milan dan pria kasar yang ditemuinya di Jepang membuat ia menyadari sesuatu hal, bahwa banyak orang yang mengatakan didunia ini setidaknya ada tujuh orang yang memiliki wajah yang serupa, tapi bukan berarti itu orang yang sama.

Dengan pemikiran itu Yoona bisa menerima jika seseorang bisa saja terlihat mirip dengan Siwon. Tapi bukan berarti mereka adalah Siwon, suaminya.

Ia tak akan lagi membiarkan dirinya terpuruk untuk kesekian kalinya. Tidak lagi.

***

“Harry oppa..!”

Fanny melambaikan tangannya saat melihat Siwon keluar dari pintu kedatangan dibandara. Senyumnya cerah menandakan betapa senangnya ia saat itu..

“selamat datang oppa..”

“gayamu seperti kau sudah lama berada disini..”

Siwon mencibir sambutan yang diberikan Fanny padanya.

“heuh.. Biarkan saja. Lagi pula aku memang berencana untuk lama berada disini.”

“jangan membuat aboji mencemaskanmu, Fanny ah..”

“aboji pasti tidak apa-apa. Aku sudah dewasa, oppa. Jadi aku berhak menentukan pilihanku sendiri..”

“Terserahlah.. Tapi aku takkan membelamu jika aboji marah nanti”

“Okey..”

“jadi akan kemana kita?”

“emm.. Butik”

“butik? Jangan bercanda Fanny ah.. Aku tak mau kau jadikan alat untuk membawa barang belanja mu”

“Tidak begitu.. Aku ingin menemui seorang desainer. Tapi aku merasa malu bila menemuinya seorang diri. Jadi aku berniat mengajak oppa dan mengenalkanmu sebagai kekasihku..”

“Apa..??”

Fanny memperhatikan reaksi keterkejutan dari Siwon saat itu dan ia justru langsung tertawa dan memukul bahunya..

“aku bercanda oppa, kau serius sekali.. Dan reaksi mu itu membuatku sedikit tersinggung. Banyak pria yang mau menjadi kekasihku. Sedangkan kau, baru juga aku meminta untuk mengaku sebagai kekasihku kau sudah ketakutan seperti itu, Memangnya begitu tidak menarik ya wanita dimata mu?”

Siwon memutar mata mendengar ucapan Fanny..

“jika seperti itu. Kurasa aku harus percaya bila kau mengaku sebagai ‘gay’ padaku”

Siwon menajamkan tatapannya seolah memberi peringatan pada Fanny..

“Yakk.. Tiffany, jaga bicaramu!”

“huu.. Menyeramkan. Itu salahmu oppa, mengapa kau tak mau mengencani salah satu dari teman-temanku atau wanita lain yang kau temui”

“berapa kali harus kukatakan. Bukan aku tak tertarik, tapi merekalah yang tidak menarik.”

“jadi wanita seperti apa yang bisa membuatmu tertarik, oppa?”

“itu bukan sesuatu yang bisa dijelaskan Fanny ah.. Kau tahu, ketika di Milan aku melihat wanita yang bisa menarik perhatianku bahkan sebelum dengan jelas aku melihat wajahnya. Aku hanya melihatnya menikmati tiupan angin yang membelai rambutnya. Hanya itu, tapi hatiku menginginkan dia melihatku yang sedang memperhatikannya”

“jinja? Lantas apa yang oppa lakukan?”

“Tidak ada”

“what? Nothing? Aishh.. Oppa kenapa kau payah sekali..”

Fanny kembali memukul pada bahunya..

“aku tak ada kesempatan untuk mencari tahu siapa dia. Tapi dengan itu, setidaknya aku bisa menyangkal tuduhan mu, bahwa aku bukan ‘gay’. hanya saja, seorang wanita yang special lah yg bisa menarik perhatianku..”

“jadi wanita yang ada di Milan itu termasuk special?”

“kurasa begitu”

“percuma saja bila kau justru tak tahu apapun mengenai dia, oppa.. Bagaimana kau bisa menemukannya kembali jika seperti itu?”

“Takdir.. Aku percaya jika takdir menginginkan kami bertemu maka takdirlah yang akan membawanya padaku, atau aku padanya. Atau kami secara bersama-sama dalam satu waktu..”

“aigoo.. Kurasa aku harus segera menarikmu dari sini oppa. Tempat ini membuatmu hampir menjadi seorang penyair”

Siwon tergelak saat Fanny kemudian menarik tangannya. Keduanya langsung menuju mobil untuk meninggalkan area bandara tersebut.

***

Yoona sibuk memilih-milih sketsa gambar yang ada dikertas-kertas diatas meja kerjanya. Bersama Yuri dan Sica mereka akan menentukan desain mana yang akan lebih dulu mereka keluarkan untuk koleksi musim ini. Tak banyak tanya yang diajukan Yuri maupun Sica tentang apa yang terjadi dengan Yoona di Jepang. Sudah cukup dengan penjelasan Yoona bahwa pria itu bukanlah Siwon, suaminya. Keduanya menahan diri untuk mengajukan pertanyaan. Tahu hal itu bukan sesuatu yang akan membuat suasana menjadi lebih baik, tapi justru akan semakin menyakiti Yoona.

“apa tidak lebih baik yang ini saja?”

Yuri memberi pendapatnya..

“bisa saja, tapi tidakkah ini terlalu sederhana untuk sebuah gaun malam? Kau tahu sendiri kebanyakan pelanggan disini, mereka adalah sosialita yang bergelung dengan kemewahan”

Sica juga turut mengeluarkan pemikirannya..

“mungkin kita bisa tambahkan sesuatu disini..disini.. Atau disini”

Yoona menandai beberapa titik pada gambar desainnya..

“Ya.. Ini sempurna. Dan kita harus memilih setidaknya dua desain lagi sekarang”

“kita makan siang saja dulu.. Diluar atau kita pesan saja?”

Ucap Yoona mengusulkan sambil meletakkan alat tulis ditangannya.

“pesan saja.. Aku sedang malas pergi keluar”

“baiklah..”

***

Fanny meminta sang supir menghentikan laju mobilnya didepan sebuah bangunan dikawasan pusat kota. Bangunan itu setidaknya memiliki tiga lantai, dengan lantai paling bawah berdinding kaca yang memudahkan siapapun melihat isi didalamnya.

Berbagai gaun dengan model dan warna yang berbeda terpasang pada beberapa manekin, juga diletakkan dibeberapa etalase didalamnya. Dengan melihat itu dari dalam mobil, Siwon sudah bisa memastikan Fanny benar-benar mengajaknya ke butik. Butik mewah pastinya sesuai dengan selera gadis itu. Siwon bisa membayangkan betapa ia akan kebosanan ketika berada di dalam sana, dengan Fanny yang pasti akan sibuk mengelilingi keseluruhan butik yang akan segera mereka masuki.

“Ayo oppa.. Ini tempatnya”

“kau yakin?”

“tentu saja. Aku sudah sempat datang kemarin, tapi entah karna apa butik itu ditutup..”

“jangan terlalu lama, aku lelah..”

“baiklah..”

Fanny turun lebih dulu, kemudian Siwon mengikuti dibelakangnya. Seorang karyawan membukakan pintu masuk untuk Keduanya.

“selamat datang Nona,Tuan.. Silahkan masuk..”

“terimakasih..”

Fanny menarik Siwon untuk lebih masuk kedalam butik dan seorang karyawan lainnya menghampiri keduanya.

“selamat datang.. Ada yang bisa saya bantu?”

“emm.. Aku ingin melihat beberapa koleksi terbaru. Dan juga, bisakah aku bertemu dengan Ny.Im Yoona?”

Siwon langsung menarik lengan Fanny begitu mendengar nama seseorang yang tadi ingin ditemuinya. Entah mengapa ia seperti pernah mendengar nama itu. Tapi kapan?

“kau bilang siapa tadi?”

“apa?”

“siapa nama orang yang kau sebut tadi?”

“Im Yoona.. Dia desainer yang ingin kutemui, sekaligus pemilik butik ini”

“Im Yoon-a? Yoona??”

“ya.. Kenapa oppa? Kau mengenalnya..?”

Siwon sudah hampir tak mendengar apa yang Fanny tanyakan padanya. Kepalanya mendadak berdenyut, mendentam dan sakit yang luar biasa dirasakannya. Pandangannya berkunang oleh siluet seseorang. Seseorang dengan rambut panjang turun dari mobil menghampiri, memeluk dan menciumnya.

Oh..
Benarkah pria itu dirinya?
Tapi siapa wanita pemilik siluet yang bersamanya?
Tertawa dan ceria disampingnya. Dengan sesekali bergelayut manja dilengannya.

“Oppa.. Harry oppa!”

“akhh..”

“Oppa.. Ada apa denganmu? Ya Tuhan.. Oppa!!”

“akhh..”

Siwon hanya bisa meneriakkan kesakitannya dengan terus memegang kepalanya. Membuat kepanikan Fanny dan juga beberapa karyawan yang berada disana.

“Tolong.. Tolong bantu aku membawanya ke mobil..”

Mungkin beberapa karyawan yang tadi bertatap muka dengan Siwon, tak mengenalinya. Sebagian dari mereka memang masih baru dan masih dalam hitungan bulan bekerja disana.

Namun sebagiannya lagi, yang masih diam tanpa melakukan apa-apa meski rekan lainnya telah kebingungan membantu Fanny. Sebenarnya mereka sedang mengalami keterkejutan. Sangat terkejut dan tak menyangka.

Bagaimana mungkin?
Pria itu..
Pria yang sedang mengerang karna tiba-tiba mengalami kesakitan, Dia adalah suami dari pemilik butik dimana mereka saat ini bekerja. Suami dari bos mereka Im Yoona. Pria itu sering datang meski hanya sekedar untuk mengantar ataupun menjemput istrinya.
Pria itu yang sudah dikabarkan meninggal.
Tidak.. Tidak.
Bukan dikabarkan lagi. Melainkan telah dipastikan meninggal.
Dan mereka tahu pasti betapa terpuruknya sang bos mereka hingga tiga bulan lamanya tak mendatangi butik.

“Astaga.. Tn.Choi? Ya Tuhan.. Tidakkah ini hanya mimpi?”

“Tidak.. Itu memang benar Tn.Choi.. Dia masih hidup? Ottokhae? Apa yang terjadi padanya?”

“aku akan keatas dan memberitahu Ny..”

“Ya.. Cepatlah naik dan beritahukan padanya”

***

Yoona yang sedang menikmati makan siangnya bersama dengan Sica dan Yuri, tak sengaja menjatuhkan gelas berisi air minumnya. Sedikit perasaan tak tenang mendadak menyergapnya.

“Ya Tuhan..”

“Yoona.. Gwechana?”

“ah, ne.. Mianhae, perasaanku tiba-tiba tak enak. Kurasa aku harus menelpon oemma. Aku takut sesuatu terjadi pada Hana atau Junseo”

“kalau begitu lakukanlah..biar aku yang membersihkan pecahannya”

“gomawo Yuri..”

Yoona mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Ny.Choi. Sedikit merasa lega saat ibu mertuanya mengatakan Hana masih berada di sekolahnya dan memastikan seorang supir telah berada disana untuk menjemputnya. Sedangkan Junseo, putra kecilnya itu sedang menikmati tidur siangnya setelah menghabiskan makanannya yang membuatnya kenyang dan akhirnya mengantuk.

“Terimakasih oemma.. Tolong kabari aku jika ada sesuatu”

“tak ada masalah kan?”

tanya Sica setelah melihat Yoona mengakhiri pembicaraannya dan kembali meletakkan ponselnya.

“syukurlah tidak.. Semua baik-baik saja”

Saat ingin meneruskan kembali makan siang, mereka mendengar suara gaduh diluar. Dari lantai bawah tepatnya. Baru saja Yoona membuka pintu ruangannya berniat mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya, seorang karyawan butiknya sudah terlebih dulu berada didepan pintu ruangannya.

“Nyonya..”

“ada apa? Aku mendengar keributan dibawah”

“Nyonya, Ada.. ada Tn.Choi dibawah”

“apa yang dia katakan Yoong?”

Yuri melangkah mendekati Yoona yang berdiri diambang pintu..

“entahlah Yul.. Katakan apa maksudmu tadi. Siapa yang membuat keributan dibawah?”

“Tn.Choi, Nyonya.. Tn.Choi Siwon ada dibawah”

sang karyawan nampak kebingungngan bagaimana cara untuk menjelaskannya.

“Yoona..!”

Yuri langsung menyusul Yoona yabg dengan segera turun menuju lantai bawah butiknya. Namun ia tak menemukan kebetadaan Siwon disana. Yang ada hanya wajah-wajah panik yang masih diperlihatkan sebagian karyawannya.

“dimana pria tadi?”

“seorang wanita yang datang bersama pria itu membawanya pergi. Mungkin kerumah sakit..”

Ya Tuhan
Apalagi ini?
Siapa pria itu?
Mengapa bahkan karyawannya sendiri mengenalinya sebagai Siwon?

Oh Tuhan..
Ia sungguh tak ingin berharap kali ini.

“Yoona.. Benarkah itu..?”

“entahlah.. Dia sudah pergi Yul. Kurasa dia salah mengenali orang sama sepertiku. Sudahlah aku ada janji..”

“kau mau kemana?”

“kau lupa? Aku janji untuk melihat ballroom hotel yang nanti akan kita gunakan..”

“Oh.. Hati-hati ya”

***

“Harry oppa, benar kau sudah tidak apa-apa?”

“tidak.. Kurasa Aku hanya lelah, makanya kepalaku pusing tadi”

Setelah memeriksakan kondisinya dirumah sakit. Siwon berkeras tak perlu berlama-lama disana. Ia hanya mengalami pusing dan merasa sudah lebih baik sekarang.

“jadi kau tinggal dihotel ini?”

“ya, untuk sementara. Aku berencana menyewa apartemen nanti”

“Kau serius ingin lama disini?”

“tentu saja.. Oh oppa, naiklah lebih dulu. Kamarku dilantai tujuh kamar nomor 407. Aku harus membeli sesuatu sebentar..”

Siwon masih memperhatikan langkah Fanny ketika tiba-tiba tubuhnya terdorong oleh seseorang. Keseimbangannya mampu membuatnya tak terjatuh. Namun wanita itu,
yang telah menabraknya hampir saja terjatuh andai ia tak meraih pinggangnya dan menopang tubuhnya..

“Kau??”

“Siwon..?”

Awalnya Yoona berniat melakukan pembicaraan dengan pihak hotel. Yang rencananya, ia akan menyewa salah satu ballroom disana untuk mengadakan fashion show guna memperkenalkan koleksi terbaru butiknya. Namun telpon dari Ny.Choi yang mengabarkan Hana terus menangis setelah pulang dari sekolahnya, membuat Yoona tak tenang. Hingga akhirnya membatalkan janji dengan mengubah rencana pembicaraan itu menjadi malam nanti.

Ia terburu-buru hingga tak memperhatikan langkahnya. Membuatnya hampir terjatuh setelah tanpa sengaja menabrak seseorang didepannya.

“Siwon..”

Yoona kembali menggumamkan nama yang sama..

Oh..
Siapa yang menyangka jika secepat itu ia bertemu lagi dengan pria itu. Pria yang telah membuatnya tak memperdulikan logika yang berbicara. Hingga begitu bodohnya ia menyamakan Siwon suaminya, dengan pria kasar macam dia. Bahkan sampai saat ini, Ia masih menyebut nama suaminya begitu melihat wajah pria itu dihadapannya.

Tapi, apa dia adalah pria yang sama yang telah memperlakukannya dengan sangat tidak sopan waktu itu?

Ya..
Tatapan mata itu benar adalah miliknya. Dialah Orang yang dengan sengaja telah melecehkan dan merendahkan harga dirinya.

Begitu menyadari hal itu, Yoona langsung berusaha menjauhkan diri dari rangkulan tangan pria itu dipinggangnya. Tak mau lagi membiarkan pria itu yang mungkin saja akan mengulangi lagi perbuatannya.

Namun niatnya terhalang oleh kuatnya rangkulan tangan Siwon pada pinggangnya. Pria itu juga seakan tengah menyusuri setiap inci wajahnya menggunakan tatapan matanya. Membuat Yoona kian tak nyaman. Bahkan Siwon suaminya belum pernah menatapnya sedemikian tajam seperti saat itu.

“maafkan saya Tuan..”

Sedikit mendorong tubuh pria dihadapannya, Yoona akhirnya melepaskan diri darinya..

Ada rasa sakit saat ia mengucap kata ‘Tuan’ tadi.
Ya Tuhan..
Jelas-jelas pria dihadapannya memiliki wajah yang serupa dengan suaminya. Tapi mengapa dia haruslah orang yang berbeda. Tidakkah Tuhan mencoba bersikap baik padanya dengan mengirimkan kembali sang suami kesisinya.

Tapi tidak..
Ia haruslah menelan dalam-dalam harapannya.
Bukan harapan tepatnya, tapi khayalan.
Ya khayalan..
Hanya orang yang sedang berkhayal lah yang memiliki harapan seperti itu. Karna nyatanya pria dihadapannya jauh berbeda bila dibandingkan dengan sang suami
yang selalu bersikap lembut padanya. Dan sangatlah tidak mungkin seseorang yang telah berkalang tanah untuk hidup kembali.

“mengapa terburu-buru, nona?”

Siwon mencekal pergelangan tangan Yoona, begitu ia melangkah untuk pergi.

“Tidakkah kita belum menyelesaikannya dengan benar? Kau berlari waktu itu. Tidakkah kau ingat?”

“Tidak ada yang perlu diingat untuk hal buruk semacam itu..”

“jadi kau anggap itu buruk? Maka kita haruslah menemukan hal ‘baik’ nya. Sesuai dengan keinginanmu, nona..”

Siwon perlahan mengulurkan tangannya berusaha untuk menyentuh wajah Yoona menggunakan jemarinya. Namun dengan cepat Yoona menepisnya.

Demi Tuhan..
Ia tak akan membiarkan lagi pria itu bersikap lancang dengan menyentuhnya.

“saya permisi Tuan..”

dengan sedikit berlari Yoona menjauh. Ia merasa tak akan mampu bertahan jika terlalu lama berada disana. Terlebih bertatapan dengan tatapan dari pria itu.
Mengapa hatinya terasa sangat sakit?
Apa karna orang yang memperlakukan nya sedemikian hina adalah seseorang yang memiliki kemiripan rupa dengan suaminya?
Hingga perasaan terluka itu kian dalam menggores atau bahkan telah menusuk-nusuk kedalam hatinya yang merana.

Namun reaksi Yoona itu justru mendapatkan senyuman sinis dari Siwon.

“tidakkah dia terlalu ‘murahan’ untuk bersikap seperti wanita suci?”

***

Dalam ketergesa-gesaan nya melangkah. Selain untuk berusaha secepatnya menjauhi pria itu, juga karna memikirkan tentang apa yg terjadi dengan Hana. Yoona harus menghentikan langkahnya karna suara dari seseorang yang memanggilnya.

“Yoona ssi.. Im Yoona ssi..”

Yoona menoleh mencari siapa seseorang itu, dan mendapati seorang wanita tengah tersenyum dan berjalan mendekat menghampirinya.

“Yoona ssi..”

Yoona mengerutkan kening karna tak merasa mengenali wanita yang kini berada dihadapannya ..

“senang bertemu lagi denganmu..”

Ada senyum tulus dan kegembiraan yang ditunjukkan wanita itu padanya.

“maaf.. Apakah kita pernah bertemu? Maafkan aku, tapi aku merasa tak mengenalimu”

“Oh.. Ya, aku paham jika anda tak mengenali ku”

ada nada kekecewaan tersirat dari kalimat itu ..

“Aku salah satu yang mengagumi anda. Aku juga pernah menjadi salah satu model pada rancangan yang anda buat. Kita juga pernah beberapa kali bertemu di Jepang. Yang terakhir memang sudah sangat lama, saat anda mencari putri anda Yoona ssi.. Ah, aku bahkan masih mengingat gadis kecil itu bernama Hana.. Aku benar kan? Anda mengingatnya Yoona ssi?”

Yoona berusaha menggali ingatannya lewat apa yang wanita itu ucapkan.
Dan ya..
Yoona ingat dengan wanita yang saat itu masih tersenyum kearahnya ..

“Kau..?”

“Annyeong.. Senang bertemu lagi denganmu Yoona. Maaf jika terdengar lancang, tapi terakhir kali anda memintaku memanggil seperti itu agar kita lebih akrab”

“Ya.. Senang bertemu lagi denganmu Tiffany..”

Fanny tak bisa memungkiri betapa senangnya dirinya setelah mendengar Yoona menyebutkan namanya. Meski terlebih dulu mengatakan apa yang bisa mengingatkan Yoona pada dirinya. Setidaknya wanita itu masihlah ingat pada dirinya. Itu sudahlah cukup untuknya.

“bagaimana kabarmu?”

“ah.. Aku baik-baik saja”

“mengapa susah sekali menghubungimu, Fanny?”

“apa kau menghubungiku? Benarkah?”

“ya.. Aku sempat beberapa kali menghubungimu dengan harapan kau bisa membantuku. Tapi tak pernah tersambung..”

“aku mengikuti aboji pindah keluar negri. Tapi aku sedang berencana menetap beberapa waktu disini..”

“Oh..benarkah? Kalau begitu mungkin kau bisa membantuku nanti”

“akan sangat menyenangkan bekerjasama denganmu Yoona. Tadi aku sudah sempat datang ke butik milikmu. Dan ya.. Itu sangat mengagumkan. Kau memiliki cukup banyak gaun yang kesemuanya ingin kumiliki.”

Yoona tersenyum menanggapi pujian dari Fanny.

“darimana kau tahu alamat butikku, Fanny?”

“aku mencarinya lewat internet.. Tak akan susah menemukan butik sebesar itu, Yoona. Tapi aku sedikit membuat keributan tadi. maaf..”

“nde..?”

“sebenarnya aku mengajak oppa ku tadi. Tapi mendadak dia mengalami sakit dan membuat beberapa karyawanmu panik. Maafkan aku..”

Yoona mencoba mencerna apa yang dikatakan Fanny.
Keributan dibutik?
Fanny dan oppa nya?
Siwon..
Bukankah salah satu dari karyawannya tadi mengatakan ada Siwon diantara keributan itu.

“lalu bagaimana dengan oppa mu? Dimana dia hingga tak bersamamu sekarang?”

entah kenapa ada rasa penasaran yang dirasakan oleh Yoona yang membuatnya akhirnya menanyakan hal itu.

“Dia hanya mengalami sakit kepala, dan kini sudah membaik. Kurasa Dia sedang beristirahat..”

“apa aku bisa melihatnya?”

“nde??”

Fanny mengerutkan kening mendengarnya.
Yoona ingin bertemu oppa nya?
Benarkah?
Tentu saja ia akan merasa senang jika seperti itu.

Ia memang sangat ingin agar Siwon juga mengenal Yoona. Wanita muda yang hebat menurutnya. Dia akan mengatakan pada Siwon betapa beruntungnya suami Yoona. Dan dengan begitu mungkin saja bisa memacu Siwon untuk menemukan wanita sekelas Yoona.

Bukankah seorang pria seringkali mempunyai ‘gengsi’ yang tinggi bila dibandingkan dengan pria lainnya?
Ya.. itu mungkin saja.

Fanny tersenyum dengan pemikirannya. Ia sudah akan mengatakan ketersediaan nya jika memang Yoona mau menjenguk oppa nya. Namun Yoona buru-buru meralat ucapannya.

“kurasa aku tidak bisa Fanny.. Maafkan aku, tapi aku sedang terburu-buru untuk pulang”

Teringat akan Hana dan perkataan Ny.Choi bahwa putrinya sedang menangis adalah penyebab Yoona membatalkan niatannya. Meski ia sangat ingin memastikan kebenaran akan seseorang yang diyakini sebagai Siwon oleh karyawannya.

Oh Tuhan..
Bahkan setelah beberapa kali kekecewaan nya, ia masih menyimpan harapan itu jauh didalam lubuk hatinya.

“kau bisa datang kebutik ku besok, dan kita akan membicarakan keterlibatanmu disana. Aku akan menunggumu, Fanny..”

“Aku pasti akan datang. Terimakasih atas tawaranmu, Yoona..”

Sekali lagi Fanny tak bisa menutupi kegembiraannya. Ia langsung berlari dan buru-buru untuk mencapai kamarnya.
Ia akan memberi tahu kabar menggembirakan itu pada Harry oppa nya.

***

Setelah memarkirkan mobilnya, Yoona langsung masuk kedalam rumah dan mendapati Ny.Choi sedang berusaha mendiamkan putrinya.

“oemma.. Hana ya..”

“Oh Yoona ya.. Hana, sayang lihatlah mommy sudah pulang..”

Hana tak memperdulikan dan masih menyembunyikan tangis di wajahnya diatas bantal tidurnya.
Yoona mendekat dan mengisaratkan pada Ny.Choi agar membiarkan dirinya berbicara berdua dengan putri kecilnya.

“Hana ya.. Ada apa sayang? Tak ingin mengataannya pada mommy?”

Hana masih bertahan dengan posisinya. Namun Yoona bisa mendengar sang putri sedang berusaha menahan isakannya.

“waegeurae? Hana ya..”

“mommy..”

“ada apa sayang?”

“mommy.. Benarkah daddy masih hidup? Daddy tidak pergi ke surga? Teman-teman hana disekolah melihat daddy ditelevisi, dan mengatakan bahwa daddy sengaja pergi menjauhi Hana. Daddy tidak sayang pada Hana. Hikss.. Mom, benarkah seperti itu?”

Ya Tuhan..
Jadi Inilah alasannya.
Inikah penyebabnya mengapa putrinya begitu sedih dan terisak seperti sekarang ini.

“ssttt.. Hana ya. Apa yang kau katakan? Itu tidak benar sayang. Sekarang Dengarlah apa yang akan mommy katakan…”

***

Malam harinya setelah tadi sempat dibuat nelangsa ketika harus memberi pengertian pada putrinya. Yoona kembali mendatangi hotel dimana ia telah membuat janji untuk membuat kesepakatan disana. Tak mungkin ia mengingkari dengan kembali membatalkannya.

“apakah keluar masuk hotel adalah salah satu hobi mu, nona..?”

Astaga..
Suara itu?
Apakah pria itu?
Suaranya memang terdengar biasa. Namun tersimpan arti yang menyakitkan didalamnya.

Mengapa pria itu terus-terusan menilai rendah dirinya.
Benarkah dimatanya ia seperti wanita murahan?
Hanya karna ia pernah memeluknya..

Andai dia tahu apa yang menjadi alasannya.
Haruskah ia mengatakan apa yang menjadi alasannya, agar pria itu tak terus-terusan merendahkannya?
Atau malah bersikap layaknya wanita ‘murahan’ seperti yang seringkali dituduhkannya..??

Tidak.. Tidak..
Yoona tak bisa melakukan kedua pemikirannya.
Pria itu tak berhak mengetahui kisah nya.
Ia juga tak akan pernah membiarkan dirinya untuk berpura-pura murahan seperti yang seringkali dituduhkan pria itu padanya.

Seharusnya satu tamparan atau mungkin tendangan pada kaki menggunakan high heels yang dikenakannya cukup untuk menghentikan pemikiran negatif itu terhadapnya.
Tapi tidak..
Yoona tak akan melakukannya.
Pria itu akan merasa puas jika ia melakukan hal semacam itu. Dia akan merasa berhasil dengan penghinaan terhadapnya.

Berbalik, Yoona hanya memberikan seulas senyum yang bahkan tak mencapai ujung bibirnya.

“aku harap ini menjadi pertemuan kita yang tak sengaja untuk yg terakhir kalinya, Tuan..”

“aku harap sebaliknya, nona.. Rasanya menyenangkan bisa bertemu dengan tidak sengaja seperti ini. Mungkin lain kali kita bisa bertemu dengan sengaja nona.. Apakah rasanya akan sama menyenangkan seperti saat ini? Aku rasa kita perlu mencobanya..”

Brengsek..
Pria itu benar-benar berniat memancing emosinya. Tak seharusnya ia berlama-lama berada disana dan meladeni omong kosongnya.

Ada hal lebih penting dan akan jauh menguntungkan jika ia secepatnya pergi dari hadapan pria kasar itu.

Hanya tatapan tajam dengan seulas senyum yang sama yang kemudian ditinggalkan oleh Yoona sebelum akhirnya ia benar-benar melangkah pergi dari hadapan Siwon.

“well.. Dia tak membantah ataupun mengiyakan perkataanku. Apa dia sedang mencoba berperan misterius didepanku? Inikah salah satu cara untuk menjerat ‘mangsa’ nya? Baiklah.. Kau berhasil nona. Aku suka ini..”

***

Selesai dengan pembicaraan yang dilakukan dengan pihak hotel dan mendapatkan kesepakatan yang sesuai. Yoona kemudian memutuskan untuk langsung pulang, namun ia masih harus menunggu sang supir yang tadi mengantarnya.

“Yoona..!”

“Changmin ssi..”

“apa yang kau lakukan disini, Yoona?”

“ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Kau sendiri?”

Changmin menunjukkan sebuah paper bag kearah Yoona..

“apa itu?”

“Sooyoung yang menginginkannya. Ini chees cake..”

Changmin membisikkan itu ditelinga Yoona yg membuatnya tersenyum mengerti.Pastilah Sooyoung dan sang bayi dalam perutnya yang menginginkan itu.

“Dia menginginkannya dari sini. Kau tahu kan rumah kami jauh dari sini dan dia tetap bersikeras agar aku membelinya disini.. Benar-benar merepotkan.”

Yoona kembali tersenyum dengan apa yang di keluhan Changmin padanya..

“mungkin Sooyoung pernah mencobanya dan itu enak. Makanya dia memaksa agar kau membelinya disini..”

“Tidak juga.. Itu hanyalah alasannya untuk mengerjai ku karna aku melarangnya untuk pergi tadi”

Yoona tak bisa menahan tawa mendengarnya. Pasangan itu memang selalu mempunyai cara tersendiri untuk hal-hal semacam ini. Terlebih Sooyoung, jauh sebelum keduanya akhirnya menjadi saudara ipar, Sooyoung adalah salah satu sahabatnya ketika berkuliah. Maka Yoona sudah sangatlah tahu dengan sifat jahil yang dimiliki Sooyoung yang mungkin juga sedang diberlakukan pada Changmin saat ini.

Dengan begitu ia juga merasa senang karna setidaknya Sooyoung bisa kembali menemukan keceriaannya.

“apa tak sebaiknya kau pulang saja denganku, Yoona. Ahjussi mungkin akan lama menjemputmu. Aku bisa mengantarmu..”

“Tidaklah.. tidak perlu, aku bisa menunggu ahjussi. Kau duluan saja, Sooyoung pasti sudah menunggumu.”

“biarkan saja dia menunggu.. Kau harus cepat pulang. Hana dan Junseo juga pasti menginginkanmu secepatnya berada dirumah bersama mereka..”

Benar apa yang dikatakan Changmin padanya. Dan dengan pemikiran itu Yoona mengikuti ajakan Changmin yang akan mengantarnya pulang.

***

“Dia tersenyum, dia juga tertawa.. Apa pria itu sedang merayunya?”

Tanpa disadari, Siwon sedari tadi terus memperhatikan gerak sepasang pria dan wanita yang berada tak jauh darinya.
Mengapa selalu terjadi kebetulan bertemu dengan wanita itu.
Tapi kali ini tidak bisa dikatakan bertemu, Karna Siwon hanya melihat wanita itu yang sedang berbicara asik dengan seorang pria.

“Oh.. Wanita itu mengikutinya? Apa mereka pergi bersama?”

Siwon lantas berdiri dari duduknya ketika pandangannya terhalang oleh beberapa orang yang lewat diantaranya. Matanya menajam ketika melihat Changmin membukakan pintu mobil dan sebelum Yoona masuk kedalamnya ia sempat tersenyum kearahnya.

“Ck!! Sudah kuduga. Apa tempat ini tak cukup aman untuk mereka ‘melakukannya’?”

“yakk.. Harry oppa apa yang sedang kau lakukan disini?”

Siwon berdecak setelah tahu pasti Fanny lah yang tengah berteriak padanya.

***

Esok harinya setelah dipaksa Fanny mengantarnya ke butik yang sama yang mereka datangi dihari sebelumnya. Sementara Fanny berada di dalam butik itu, Siwon hanya menunggu diluar, didalam mobil yang sengaja disewa oleh Fanny untuk mereka bepergian selama Siwon berada di Korea.
Kali ini ia menolak keras paksaan Fanny yang memintanya untuk ikut masuk kedalam.

Dan pada saat itu tanpa sengaja kedua matanya menangkap sosok wanita keluar dari dalam butik itu dengan seorang pria. Keduanya berjalan beriringan sebelum masuk kedalam mobil yang sama.
Benarkah dia wanita itu?

Siwon terus memperhatikan pada keduanya..

***

Belum beberapa lama ketika Yoona datang ke butik dan mendapat telpon dari pelayan rumahnya yang mengabarkan Junseo mengalami muntah-muntah dan Ny.Choi sedang membawanya ke rumah sakit.

“astaga.. Kenapa bisa begitu Yoong?”

“entahlah Sica, aku juga belum tahu. Maafkan aku, tapi aku harus segera menyusul kerumah sakit.”

ucap Yoona sambil melirik ke arah Fanny, merasa tak enak padanya karna kedatangannya pagi itu atas permintaan Yoona pada malam sebelumnya saat tak sengaja keduanya bertemu kembali disalah satu hotel yang didatangi Yoona.

“gwechana.. kau memang harus pergi.”

“gomawo..”

Yoona kemudian mendekat kearah dimana Fanny sedang duduk menunggunya.

“Tiffany mianhae.. tapi Jessica akan membantumu untuk memilih apa yang akan kau kenakan nanti, aku harus pergi..”

“Tidak apa-apa, aku mengerti..”

“ada apa Yoona?”

Yuri yang baru saja datang dengan diantar sang suami Yunho, langsung menyadari kepanikan yang tersirat diwajah Yoona saat itu.

“apa yang terjadi?”

“Junseo.. Jun dibawa kerumah sakit.”

“Ya Tuhan..”

“aku harus pergi kesana sekarang”

“Yoona tunggu.. Kau tak bisa menyetir seperti itu. Kau sedang panik. Aku takut terjadi sesuatu.. Biarkan Yunho oppa mengantarmu..”

“Tidak.. Tidak perlu, aku bisa sendiri”

Tolak Yoona karna merasa tak enak hati pada Yunho. Ia tahu Yunho juga punya kesibukan lain dan ia tak mau merepotkannya.

“oppa kau bisa terlebih dulu mengantarkan Yoona kan?”

“Tak masalah sayang.. Aku bisa melakukannya”

“ikutlah dengannya Yoong.. Kumohon..”

“baiklah.. terimakasih Yuri”

sebelum Yoona pergi, Yuri terlebih dulu memberikan pelukan padanya.

“kuharap Jun baik-baik saja.. Dan hubungi kami jika kau butuh sesuatu”

“aku akan melakukannya..”

Yoona kemudian keluar mengikuti Yunho menuju mobil yg terparkir didepan butiknya.

“Terimakasih Yunho ssi.. Maaf merepotkanmu.”

“bukan masalah Yoona.. Jadi dimana rumah sakitnya?”

Disana..
Didalam mobil, Siwon nampak terkejut dan tak menyangka akan melihat lagi wanita itu. Seseorang yang beberapa kali ditemuinya tanpa sengaja dan kini ia kembali melihatnya, keluar dari butik dengan seorang pria.

“Astaga.. Wanita itu lagi? Dengan pria yang berbeda?”

Siwon mengerutkan kening setelah melihat mobil yang dimasuki pria dan wanita itu melaju pergi dari depan butik itu.

“Jadi selain hotel.. Wanita itu juga suka membawa pria-pria nya ke butik mewah? Pintar sekali.. Dan kemana lagi dia akan membawa pria itu kali ini?”

Entah terdorong oleh rasa apa yang tiba-tiba muncul, Siwon tanpa sadar menstater mobilnya dan mengikuti laju mobil didepannya.

“Kenapa kau begitu membuatku penasaran, nona..?”

***

“setahuku Yoona hanya mempunyai seorang putri?”

Fanny memulai percakapan dengan Sica saat keduanya tengah memilih beberapa gaun yang nantinya akan dikenakan olehnya. Fanny akan bergabung dalam fashion show yang akan digelar oleh Yoona yang sudah dijadwalkan akan dilaksanakan pada minggu depan.

“Hana kan putrinya? Aku pernah bertemu dengannya, dia menggemaskan dan sangat cantik seperti Yoona..”

Sica tersenyum sambil menyesuaikan sebuah gaun ditubuh Fanny ..

“kau pasti belum tahu.. Yoona memiliki seorang anak lagi. Seorang putra, Junseo namanya. Dia baru berusia dua tahunan. Jun sama menggemaskannya seperti Hana waktu kecil..”

“ah.. Pasti sangat menyenangkan. Aku jadi membayangkan betapa bahagianya Yoona dengan suami dan kedua anaknya yang menggemaskan itu..”

“Yoona sudah tidak memiliki suami..”

“nde?”

“Dia kehilangan suami dan ayah mertuanya dalam sebuah kecelakaan di Jepang..”

“Mwo.. Ya Tuhan. Aku tidak mengetahuinya”

***

“sekali lagi terimakasih untuk tumpangannya Yunho ssi..”

“ne.. Kuharap putramu Junseo baik-baik saja, maaf aku tak bisa ikut masuk..”

“Tidak apa-apa.. Kau pasti sibuk. Maafkan aku merepotkanmu Yunho ssi..”

“Tidak masalah Yoona.. Kau juga bisa menghubungiku atau Yuri jika terjadi sesuatu..”

“ne, gomawo..”

Siwon sempat mengernyit ketika mobil yang diikutinya justru berhenti disebuah rumah sakit dan bukannya hotel, cafe, klub atau mungkin rumah pribadi seperti yang ada dalam pikirannya.

Tapi yang dilihatnya wanita itu justru turun dan berjalan tergesa masuk kedalamnya, sendirian. Setelah mobil yang tadi membawanya justru melaju pergi meninggalkan nya disana.

“apa yang akan dilakukan wanita itu didalam sana?”

***

Yoona langsung menuju kesebuah ruangan dokter spesialis anak yang ditunjukkan oleh seorang suster padanya.

Di dalam sana..
Diatas ranjang rumah sakit, Junseo terlihat pucat dengan selang dan jarum infus ditangannya.

Ya Tuhan..
Apa yang terjadi dengan putra kecilnya??

“Jun ah..”

Jun nampaknya mendengar suara Yoona. Meskipun berwajah pucat Junseo tetap tersenyum ketika melihat Yoona berada disana.

“umma..umma..”

“sayang.. Ya Tuhan, ada apa? Tadi Jun baik-baik saja saat umma pergi, kenapa sekarang jadi seperti ini sayang..?”

“Yoona ya.. Maafkan oemma sayang. Oemma tak bisa menjaga Jun dengan baik”

Ny.Choi langsung mendekat pada Yoona yang sedang mengusap dan menciumi putra kecilnya.

“oemma ada apa? Sebenarnya Junseo kenapa, oemma..?”

“Junseo.. Dokter bilang Jun…”

Sebelum berhasil menyelesaikan kalimatnya, seorang dokter wanita masuk dan menginterupsi ucapan Ny.Choi.

“tidak apa-apa Nyonya.. Hanya saja tadi putra anda mungkin memakan makanan yang tak bisa diterima oleh pencernaannya, hingga membuatnya mengalami muntah-muntah..”

“tapi kenapa Junseo juga di infus, Dokter?”

“Oh.. Itu karna pada saat dibawa kesini tubuhnya lemah dan infus itu bisa membantu memulihkan kondisinya. Setelah cairan infus itu habis putra anda bisa kembali pulang. Hanya saja tolong perhatikan apapun yang masuk kedalam mulutnya. Anak seusia putra anda memang sedang sangat aktif juga rentan dengan berbagai virus yang mudah menyerang bila ketahanan tubuhnya tidak dijaga..”

Sang dokter memberi saran sekaligus menuliskan resep obat dan vitamin untuk Junseo.

“ne.. terimakasih dokter..”

“Yoona ya.. Ini salah oemma”

“Tidak.. Oemma sudah menjaga Jun dengan sangat baik”

“tapi Junseo seperti ini karna oemma..”

“Bukan.. Oemma adalah nenek terbaik untuk Jun dan Hana. Jadi berhenti menyalahkan diri oemma. Aku akan menebus obat untuk Jun.. Oemma tunggu dulu ya. Nanti kita pulang bersama..”

“Kau tak kembali ke butik?”

“aku akan kesana setelah Jun benar-benar baik”

Yoona kemudian keluar dari ruangan itu menuju farmasi dan mengambil obat untuk Junseo.
Syukurlah bukan hal yang serius yang terjadi pada putranya. Ia sudah sangat panik dan takut tadi.

“Ny.Yoona..”

“nde..”

“ini obatnya untuk putra anda.. Semoga lekas sembuh”

“ne..trimakasih suster”

Sebelum kembali keruangan sang dokter, Yoona berbelok menuju toilet wanita disana. Menghabiskan beberapa menit didalamnya sebelum akhirnya kembali keluar dan malah dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang sama sekali tak pernah disangkanya akan muncul disana.

Ya Tuhan..
Apa yang dilakukan pria itu disana?

Yoona lantas merapikan pakaiannya mencoba untuk bersikap tak perduli dengan berjalan melewatinya begitu saja.
Namun tak semudah itu saat pria itu, Siwon justru mencekal pergelangan tangannya dan mencegahnya untuk pergi.

“hei.. Apa yang kau lakukan?”

“dan apa yang kau lakukan, nona?”

“bukan urusanmu!”

“apa ada pria didalam?”

Yoona memberikan tatapan tajam mendengar pertanyaan itu dan pada tangan Siwon yang tak juga melepaskan pergelangan tangannya.

“ini toilet wanita.. Aku bisa berteriak agar orang-orang menghajarmu”

“Kau tidak akan bisa berteriak jika aku mau mengunci bibirmu..”

Siwon menyeringai dengan tatapan penuh peringatan, melangkah maju dan membuat tubuh Yoona terhimpit antara tembok dan juga dirinya.

Pada saat itu Yoona merasakan tubuhnya gemetar luar biasa..

Ya Tuhan..
Apa yang akan dilakukan pria itu padanya?

“aku hanya ingin tahu apa yang kau lakukan disini, nona?”

“kau tak berhak tahu apa yang sedang kulakukan!”

“apakah kau berencana melakukan aborsi karna bingung menentukan siapa ayah dari bayi dalam perutmu?”

“MWO..?”

Apa ia tak salah dengar?
Aborsi?
Tuduhan dan Kata-kata kasar apa lagi yang akan pria itu katakan padanya.
Yoona merasa tak cukup punya kesabaran lebih untuk menghadapinya. Ia hampir-hampir memberikan tamparan pada Siwon andai sebuah suara tak menghentikan niatannya.

“Yoona ya.. Yoongie.. Kau didalam?”

Astaga..
itu oemma nya?
Tidak.. Tidak..
Ia tak akan membiarkan ibu mertuanya itu bertemu dengan pria kasar yang sedang bersamanya.
Pastilah sang ibu akan langsung mengira pria itu adalah Siwon.
Tapi tidak..
Mereka memang serupa. Tapi demi Tuhan.. Pria itu bukanlah Siwon nya.

Siwon mengernyit melihat kepanikan diwajah Yoona.

“ada apa nona?”

“Diam kau!”

Yoona lantas mendorong tubuh Siwon, membuat keduanya masuk kedalam salah satu toilet yang sama.
Dengan cepat Yoona mengunci pintu dibelakangnya begitu mendengar langkah kaki itu kian mendekat masuk.

“Sayang.. Apa kau didalam?”

Sebelum menjawab pertanyaan Ny.Choi yang berada dibalik pintu yg telah ia tutup rapat, Yoona terlebih dulu meletakkan tangannya untuk membungkam mulut Siwon, memohon dengan matanya agar pria itu tidak bersuara.

“ne.. Oemma, aku disini.. Waeyo?”

“Oh..benar itu kau. Gwechana.. Oemma hanya seperti mendengar suaramu tadi. Ternyata benar. Kau belum selesai?”

“aku akan segera selesai, oemma..”

“baiklah.. oemma akan menunggu diluar. Oh.. Dr. bilang kita sudah bisa membawa Jun pulang”

“Oh ne.. syukurlah”

Ny.Choi lantas meninggalkannya disana.
Meninggalkan Yoona yang tanpa sadar berada terlalu dekat dengan seorang pria didalamnya.
“tidakkah kau membuat kita menjadi sangat dekat, nona?”

Siwon kembali menunjukkan seringai diwajahnya yang menimbulkan kepanikan lain muncul dengan sikap waspada yang ditunjukkan oleh Yoona.

“apa yang mau kau lakukan?”

“seharusnya aku yang memberikan pertanyaan itu padamu. Apa yang ingin kau lakukan denganku hingga mendorongku masuk dan menjadi sedekat ini denganmu?”

“aku..Tadi hanya, Aku..”

Yoona menjadi salah tingkah dan tak tahu jawaban seperti apa yang harus ia berikan.
Bahkan bertatapan mata dengan jarak sedekat itu sudah hampir membuatnya kehilangan konsentrasi untuk apa yang selanjutnya akan ia lakukan.

“pelukan? ciuman? Itukah yang kau inginkan, nona?”

astaga..
Ia benar-benar harus keluar dari sana..

Dengan jarak sedemikian dekat itu Siwon bisa merasakan hembusan nafas tak teratur dari Yoona yang menandakan wanita dihadapannya itu mungkin merasa gugup atau gelisah dalam ketidaknyamanan. Dan wangi parfum yang terhirup dihidungnya entah mengapa begitu terasa tak asing untuknya. Siwon seperti pernah mencium wangi yang sama sebelumnya.

Itu mungkin saja karna bukan baru pertama kali mereka bertemu kan?
Tapi tidak..
Sebelumnya ia bahkan tak sempat untuk merasakan wewangian apa yang wanita itu gunakan.
Pikirannya terlalu sibuk menerka-nerka dan membuat kesimpulannya sendiri. Sedangkan tatapan matanya tiap kali menatap wanita itu hanya untuk mencari-cari jawaban dari semua penyimpulannya, yang entah kenapa Siwon tak bisa menemukannya.

Jadi mana mungkin ia sempat mencerna wangi parfum wanita itu.
Ini yang pertama dilakukannya.
Jelas ini yang pertama.
Tapi mengapa itu begitu menjadi tak asing untuknya?

Kembali Siwon mencoba menghirup wangi itu dan merasakannya lagi dengan lebih dalam, untuk sekedar memastikan bahwa dia salah.

Namun..
Yoona, wanita itu buru-buru mendorong tubuh Siwon agar tak berada terlalu dekat dengannya.

Yoona lantas membuka kuncian pada pintu dan segera berlari keluar. Merasa ngeri dengan kemungkinan yang akan dilakukan pria itu padanya bila ia terlalu lama berada disana.

“Oh.. Mianhae”

Yoona sedikit membungkukkan kepala ketika ia tanpa sengaja menabrak seorang wanita yang hendak masuk ketoilet yang sama dengannya.

Wanita itu mengerutkan dahi dan menatap Yoona penuh kecurigaan setelah melihat Siwon mengikuti keluar dibelakangnya. Wanita itu bahkan hampir memekik terkejut melihat seorang pria berada dalam toilet wanita.

Oh..
Yoona sudah bisa menyimpulkan apa yang kemudian ada dalam kepala wanita itu dengan tatapannya yang begitu menyelidik, memperhatikannya dari kepala hingga ujung kaki.

Rasanya ia ingin berteriak pada wanita itu bahwa pemikirannya salah. Ia tak melakukan hal yang tak bermoral seperti itu.
Tapi sudahlah..
Ia tak berkewajiban menjelaskan apapun saat ini. Biarkan saja wanita itu berpikir negatif padanya.
Hal pertama yang ingin dilakukannya adalah secepatnya keluar dan menjauh dari pria itu.

“maafkan saya..”

Yoona kemudian benar-benar keluar dari toilet itu tanpa menoleh lagi kebelakang. Ia tak tahu Siwon justru menarik senyum dari sudut bibirnya, hal yang jarang sekali dilakukannya. Setelah melihat betapa gugup nya ia. Biasanya hanya Fanny yabg bisa membuat nya tersenyum bahkan tergelak. Dan seingatnya belum pernah ada wanita lain yang bisa berlaku demikian padanya. Tapi baru saja, wanita itu membuatnya tersenyum?

Ah..
Apa yang sudah dilakukan wanita itu terhadapnya?

***

Memberi salam dan mengucap terimakasih kepada sang dokter yang tadi telah melakukan penanganan pada Junseo, Yoona dan Ny.Choi lantas keluar dari ruangan itu dengan Jun yang berada dalam gendongan Yoona.

Mereka kemudian menuju lobi rumah sakit menunggu seorang supir yang tadi mengantarkan Ny.Choi untuk menyiapkan mobil mereka.

Yoona sedikit was-was dengan kemungkinan pria itu akan kembali muncul dihadapannya.
Oh Tuhan..
Betapa pria itu sudah berkali mengejutkannya dengan ketidak sengajaan pertemuan keduanya.

Jangan sampai itu terjadi kali ini.
Tidak disaat ia sedang bersama ibu mertuanya. Tak habis ia membayangkan akan seperti apa reaksi Ny.Choi ketika berhadapan dengan pria itu yang jelas-jelas memiliki kemiripan raga seperti Siwon.

“kenapa Ahjussi lama sekali, oemma?”

“mungkin basemant parkirnya penuh, hingga harus mengantri.. Kita tunggu saja”

Berbeda dengan kecemasan yang dirasakan oleh Yoona. Junseo justru sudah kembali terlihat ceria. Dengan mata beningnya yang penuh kepolosan. Juga wajahnya yang sudah menampakkan rona, tidak sepucat seperti Yoona baru datang tadi. Sepertinya cairan infus yang diberikan telah benar-benar mengembalikan kondisi Junseo.

Yoona merasa lega melihatnya. Putra kecilnya sepertinya sudah tak merasakan kesakitan apa-apa.
Ah..
Begitulah biasanya bocah kecil bersikap. Mereka sering mengabaikan rasa sakit dan menutupnya dengan keceriaan diwajahnya.

“Umma.. Umma..”

“iya sayang, kita tunggu ahjussi mengambil mobil ya..”

“umma..”

Jun memilin-milin mempermainkan rambut Yoona yang tergerai, sebelum akhirnya putra kecilnya itu menggerak-gerakkan tangannya seperti hendak mengambil sesuatu, dan mengisaratkan Yoona untuk meraihnya.

“ada apa Jun ah..?”

Jun hanya mengerjap-ngerjapkan mata beningnya dan tertawa. Yoona mencoba menengok kesekeliling nya.

Sebenarnya apa yang sedang putra kecilnya lihat saat ini?? 

***

Siwon tertegun untuk apa yang kini dilihatnya. Tak jauh dari tempatnya berada, wanita itu tampak sedang menggendong seorang bocah kecil yang anehnya, bocah itu sedang menggerakkan tangannya seolah mengundangnya untuk mendekat.

Dan mendadak pada saat itu, kepalanya didera sakit yang sama seperti yang pernah ia rasakan.
Sebelum pandangannya berkunang, Siwon segera meraih ponsel disakunya dan melakukan panggilan.

“Nickhun..”

“Oh siwon.. Ada apa?”

Siapa sebenarnya wanita itu?
Dan siapa bocah kecil itu??

Adalah dua hal yang sebenarnya paling ingin Siwon tanyakan. Namun tak ia lakukan karna percuma saja Nickhun tak akan melihat mereka. Dia berada jauh darinya.
Pada akhirnya Siwon hanya mengeluhkan apa yang belakangan sering dirasakannya.

Nickhun lah yang selama ini menjadi dokternya, yang selalu memantau perkembangan keadaannya pasca amnesia yang di vonis kan padanya.

Siwon mengatakan melihat beberapa gambaran-gambaran kejadian yang ia sendiri tak tahu itu apa. Dan Nickhun menyimpulkan itu adalah bagian masalalu yang belum bisa diingatnya.

Nickhun tak berani berkata lebih karna dia sendiri tahu alasan apa dibalik semua itu. Dia juga tak bisa menyarankan pada Siwon bahwa mendatangi tempat-tempat yang dulunya sering ia datangi atau bertemu kembali dengan orang-orang dari masalalu nya, berkemungkinan besar untuk mengembalikan ingatannya.

Jika Siwon berhasil mengingat kembali masalalunya. Konsekuensinya adalah Fanny. Bagaimana nantinya gadis itu jika Siwon mengajukan tuntutan padanya?
Nickhun bahkan tak berani membayangkannya.
Sudah cukup rasanya ia membuat gadis itu sakit hati padanya karna kegagalannya menyelamatkan nyawa sang ibu yang teramat disayanginya. Dan bila nantinya ia juga yang akan membuat Fanny terguncang, sungguh ia tak akan memaafkan dirinya sendiri.

Maka mengikuti apa yang dikatakan Tn.Hwang adalah satu-satu nya hal yang bisa ia lakukan untuk melindungi Fanny. Gadis yang memiliki arti lebih dalam hatinya.

“kusarankan kau untuk beristirahat Siwon.. Mungkin kau kelelahan. Kapan kau pulang? Agar kita bisa mendiskusikan lebih dalam tentang apa yang kau rasakan..”

“aku masih harus berada di Jepang untuk beberapa waktu ini”

Jelas Siwon tak akan mengatakan bahwa ia sedang berada di Korea saat itu.

“dan Fanny?”

“kau merindukannya?”

Disebrang sambungan telponnya Nickhun hanya tersenyum mendengarnya.

“tenanglah dia ada bersamaku.. Aku bisa memaksanya pulang jika kau merindukannya”

Siwon nampaknya sudah memulai menggoda Nickhun. Sadar akan kemungkinan pria itu pastinya sedang tersipu malu dibuatnya.

“bagaimana?”

“apa?”

“jika aku memaksa Fanny pulang?”

“Ah.. Tidak. Tidak perlu, biarkan saja jika dia masih ingin berada disana”

Siwon kemudian mengakhiri pembicaraannya dengan Nickhun, setelah menengok dan sudah tak mendapati lagi wanita itu disana.

Ah..
Kemana dia?
Dan bocah kecil itu?

***

Ketika Siwon akhirnya kembali ke hotel dimana ia dan Fanny menginap. Sambutan yang di terima oleh nya adalah kekesalan dan berbagai omelan dari Fanny yang membuatnya sangat ingin menutup rapat kedua telinganya.

“yakk.. Oppa, sebenarnya kemana saja kau? Meninggalkanku sendirian, kau bilang akan menungguku diluar. Tapi apa? Kau malah pergi entah kemana”

“aku ada urusan.. Bisakah kau berhenti sekarang. Berisik sekali..”

“Oppa..!”

Siwon tak menanggapi dan malah membaringkan tubuhnya diatas sofa panjang yang ada dalam kamar itu.

“Kau pulang besok.. Dan aku akan kembali ke Jepang.”

“Mwo.. Pulang? Tidak.. Aku tidak mau!”

“Tiffany dengarkan aku!”

“Oppa yang harus mendengar ku.. Oppa tahu aku sudah menyetujui pekerjaan untuk minggu depan. Aku tak mau membatalkannya..”

“aku bisa mengganti berkali lipat bayaranmu..”

“Kau tahu bukan itu masalahnya.. bukan uang yang kucari. Sudah lama Aku menginginkan bekerja sama dengannya..”

“Dengan siapa? desainer itu?”

“Ya.. Tentu saja. Oppa please.. Aku ingin tetap disini..”

“terserah kalau begitu.. Tapi aku akan kembali ke Jepang”

“Tidak bisa.. Oppa juga harus tetap disini. Aku ingin kau datang dan melihat ku diacara fashion show itu..”

“aku tidak mau..”

“Oppa Please..!”

“Jangan merengek Fanny.. Aku akan kembali ke Jepang. Aboji akan tahu jika aku terlalu lama berada disini”

Fanny terlihat kesal dengan apa yang dikatakan Siwon.

“baiklah, kau boleh pergi.. Tapi dihari itu oppa harus datang. Aku tak mau tahu.. Jika tidak aku akan membencimu!”

“ya ya ya.. Tiffany! Kenapa kau selalu memaksaku. ”

“Oppa yang membuatku melakukannya..”

Perdebatan itu akhirnya dimenangkan oleh Fanny.
Ya..
Lagi-lagi Fanny bisa memberikan jalan yang ia anggap adil.
Siwon bisa kembali ke Jepang dengan catatan dia akan datang dihari dimana gadis itu  ikut dalam acara peragaan busana yang diikutinya.

Sungguh kekanakan..

Siwon hanya bisa mengumpat kesal karna harus kembali mengalah pada adik manjanya itu.

***

Sisa hari yang dimiliki Yoona sebelum acara itu, ia gunakan untuk mematangkan semua persiapannya. Semua gaun sudah selesai dalam proses pengerjaan dan beberapa model sudah menyanggupi untuk bekerja sama dengannya.

Hanya tinggal menunggu besok, ia harap acara nanti akan berjalan lancar sesuai dengan yang ia harapkan.

“Yoona ssi..”

“Oh Tiffany.. Ada apa?”

“emm.. Bolehkah aku mengundang seseorang di acaramu nanti?”

“Ya..kurasa kau bisa”

“benarkah? Ah.. Syukurlah, aku sudah sangat takut kau tak akan mengijinkanku”

“memangnya siapa yang ingin kau undang?”

“Harry oppa?”

“Harry?”

“ne.. Dia kakak ku, kenapa? Kau tampak terkejut?”

Tidak.. Tidak..
Itu pasti bukan orang yang sama.
Bukan pria kasar itu kan??

Yoona buru-buru menyingkirkan pemikiran itu.
Tidak..
Dari sekian banyaknya orang didunia ini tak mungkin hanya ada satu nama ‘Harry’ kan?
Tak mungkin keduanya adalah orang yang sama.
‘Harry’ yang dimaksud oleh Fanny pastilah bukan ‘Harry’ yang serupa dengan Siwon.

Tapi bila mengingat kejadian sebelumnya.
Keributan dibutiknya.
Perkataan karyawannya yang mengatakan ada Siwon disana.
Dan pembenaran yang dikatakan Fanny tentang dirinya dan oppa nya yang pada hari itu datang kebutiknya.

Bukankah itu bisa menjadi mungkin?

Pria itu, yang dalam pemberitaan dan pengakuannya bernama ‘Harry’ adalah orang yang sama yang dimaksud Fanny sebagai oppa nya?
Benarkah?

“Yoona?”

“ne.. Oh, tidak..tidak apa-apa, kau bisa mengundangnya. Aku tidak keberatan.”

“gomawo..”

Ya..
Rasanya ia memang harus menyetujui. Untuk membuktikannya nanti.
Pria itu apakah satu orang yang sama atau bukan??

***

Siwon melempar beberapa map yang berisi berkas-berkas dari atas meja kerjanya. Membuat seorang asisten yang saat itu sedang berada diruangannya terkejut, namun juga tak berani melakukan apa-apa kecuali menundukkan wajahnya.

Sang asisten tentunya tak mengerti akan apa yang menjadi penyebab Tuan nya mendadak terlihat gusar.
Oh tunggu..
Dia harus meralatnya. Bukan mendadak, melainkan semenjak kepulangan Tuan nya dari korea, pria itu memang terlihat berbeda. Lebih sering murung dan terkadang melamun yang kemudian berubah gusar dan tiba-tiba menjadi terlihat emosi.

Bukan karna pekerjaan.
Jelas bukan karna itu.
Sang asisten tahu betul, tak ada masalah dengan hal itu.
Siwon bisa menangani dengan sangat baik apa yang menjadi pekerjaan nya.

Lantas karna apa?
Apa yang menjadi beban pikiran Tuan nya itu?

Sang asisten jelas tak akan berani dengan lancang menanyakan semua itu.

“Siapkan tiket ke korea besok..”

“tapi sir..?”

Siwon menggeram..

“hanya lakukan apa yang kuperintahkan padamu.. Jangan membantah!”

“Ya sir..”

Sang asisten undur diri dan keluar dari ruangannya.
Setelahnya Siwon menghela napas dengan berlebihan, untuk kemudian melonggarkan dasi berwarna abu-abu yang dipakainya.

Berdiri dari duduknya, Siwon kemudian melangkah kesisi dinding kaca ruang kerjanya untuk memperhatikan keramaian jalan raya yang ada dibawahnya.

Itu hanya lah pengalihan.
Pengalihan dari seorang wanita yang terus memenuhi pikirannya.
Apa yang kini harus dan bisa dilakukannya?
Siwon merasa frustasi dengan semua itu.
Jelas-jelas ia sudah memberi cap ‘murahan’ pada wanita itu.
Tapi mengapa ia justru kian memikirkannya.
Memikirkan penyimpulan buruk yang terlanjur ia tempelkan pada diri wanita itu.
Apakah ia salah?

Siwon menjadi ragu dengan apa yang ia simpulkan setelah melihat wanita itu dirumah sakit.

Tadinya ia berkesimpulan wanita itu akan melakukan aborsi?
Tapi yang terjadi, nyatanya wanita itu justru keluar dengan seorang bocah kecil dalam gendongannya. Bocah kecil yang terlihat nyaman dan bahagia dalam gendongannya.

Jadi..
Siapa sebenarnya wanita itu?
Oh Tuhan..
Siwon bahkan tak tahu siapa namanya.
Bagaimana ia bisa mencari tahu untuk memastikan siapa sebenarnya dia.
Selama ini pertemuannya dengan wanita itu hanya sekedar kebetulan.
Wanita itu pernah berada dikantornya, di Jepang. Dan beberapa kali dilihatnya di Korea.
Sebenarnya dimana dia tinggal?

“apa aku juga harus menunggu kebetulan itu lagi untuk bisa bertemu dengannya?”

Astaga..
Yang benar saja..

***

“Mommy.. Mommy..! Apakah Hana sudah terlihat cantik?”

Hana berlari kecil kearah Yoona yang sedang memakaikan sepatu pada Junseo. Ia kemudian memutar tubuhnya. Mengenakan sebuah gaun yang sengaja disiapkan sang mommy untuknya diacara fashion show hari itu.

image

(Umur menyesuaikan^^ sebenarnya pas bikin YaM, yang jadi visual nya Hanna tuh si Lauren Hanna Lunde. Makanya aq kasih namanya Hana, tapi yang sekarang justru kepincut dgn Aleyna Yilmaz.. *kiyuttt juga* kkkk~ terserah mau penggambaran yg mana antara dua bocah ulzzang itu^^)

“Wow.. So pretty dear..”

“Like a princess?”

“hmm..”

“benarkah? emm.. Jun ah, apakah noona cantik? Mommy bilang noona seperti princess.. Kau setuju?”

Junseo mengangguk-ngangguk sebagai persetujuannya dan kemudian bersuara kecil.

“noona yeppo..”

“kyaaa.. Jinjja? Khamsahamnida..”

Hana membungkukkan badannya sambil kedua tangannya mengangkat gaunnya agar terbuka dan benar-benar terlihat seperti princess dalam tokoh-tokoh cerita yang disukainya.

“thanks Jun ah.. Kau telah berkata jujur. Noona menyayangimu..”

Hana lantas memberikan kecupan-kecupan pada wajah Junseo, terlihat gemas pada sang adik yang memang sangat menggemaskan apalagi setelah Yoona selesai memakaikan sepatu dikedua kakinya. Terlihat semakin tampan.

“Jun ah.. Kau terlihat seperti daddy”

“daddy..?”

“Ya daddy..”

Hana menunjuk pada foto yang berada di dinding kamar Yoona. Seakan mengerti, Junseo kemudian tersenyum pada noona nya.

Ya Tuhan..
Dengan melihat kedua buah hatinya merindukan sosok Siwon diantara mereka. Adakah yang lebih merasakan miris seperti dirinya saat ini?

“sudah siap.. Ayo pergi. Mommy harus datang lebih awal sayang..”

***

Apakah ada yang bisa membuat Siwon terkejut seperti sekarang ini?
Dirinya sendiri sangsi.
Tidak akan ada..

Bayangkan apa yang dilihatnya..

Wanita itu..
Dia disana..
Dan kemudian tepuk tangan orang-orang menyambutnya.
Itu hal paling mengejutkan yang pernah dirasakannya.

Wanita itu?
Desainer itu?
Tidak mungkin??

*

*

*

*

*

*

*

To Be Continued~

@joongly

167 thoughts on “YOU’re My Destiny [2]

  1. Jun dan hanna menggemaskan.
    Jadi sdih sma yang rindu sma daddy nya.
    Kapan smua akan bersatu dan kelurga lagi.

    Sadar wonpa sdar ….

  2. Kyaa siwon jtuh cinta untuk kedua kalinya pda orang yg sama, cerita cinta yoonwon d sini menarik bget…
    Jun sma hanna makin gemesin deh…

  3. Penyebab Hana nangis tragis bgt, teman2 nya bilang Hana d jauhin Daddy.a.,
    Jun waktu d Rumah Sakit ngeliat Harry mungkin punya insting kalau dia Daddy.a,.
    Ha ha, ending.a trbukti kn tuh kalau Harry udah salah menilai Y00na.,^_^

  4. oh siwon dirimu kasar bgt sama yoona😦
    tp akhirnya siwon tau klo yoona itu seorg desainer terkenal dan bukn wanita murahan😛

  5. Hana sampek sedih gitu diejekin tmennya blg klo siwon gk mau ktemu sma hana…
    Dan kyk mana reaksi siwon liat yoona…
    Hahahahaha kyknya bkalan tambah seru

  6. Point yang aku suka dari ff ini,siwon oppa bukanlah pria yang lembut dan penuh kasih sayang dalam penilaian yoona,tapi ternyata sekarang berubah,uuh kasihan hana dan junseo bener 2 kangen dady nya

  7. Setidaknya siwon sudah kembali beradaekat dengan yoona.. dan junseo km ngenalin daddu jun
    Dan hana sedih bgt diledekin temen2nya gitu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s