Fanfiction

YOU’re My Destiny [1]

/Sequel Of YOU’re MINE >>>

Happy Reading~

*

*

*

*

*

*

Sehangat sinar matahari pagi yang kini bersinar. Sehangat itu pula sapaan Yoona pada kedua buah hatinya yang ia temukan sedang bermain ketika dirinya keluar dari dalam kamar, siap memulai aktifitasnya hari itu.

“good morning, sayang..”

“morning mom.. Jun ah ayo sapa mommy”

Hana mengarahkan sang adik yang masih asik dengan mainannya untuk menyambut sapaan mommy nya. Sepertinya Jun memang belum menyadari kehadiran Yoona saat itu.

“Jun ah..”

Yoona tersenyum, merentangkaan kedua tangannya, mengisaratkan agar putra kecilnya memeluknya. Melihatnya, seketika membuat Junseo meninggalkan mainannya dan berganti menghambur kedalam pelukan Yoona.

“umma..”

“aigoo..anak umma asik sekali”

Yoona kemudian mengangkat tubuh Junseo dalam gendongannya, membuat Jun kegirangan karenanya.

“aishh… Jun ah, noona sudah katakan panggil mommy, bukan umma. Mommy. Mom…my. Arra!”

Hana mempoutkan bibirnya dan juga menyilangkan kedua tangannya didada, seolah memarahi adiknya. Namun Junseo justru tertawa seakan mengira jika sang noona hanya  sedang mengajaknya bercanda.

“ya.. Jun ah, noona tidak sedang bercanda. Kenapa mommy tak mengajari Jun untuk memanggil ‘mommy’ dan bukan umma?”

rajuk Hana pada Yoona. Ini sudah sering terjadi, tapi sepertinya Hana memang tak mudah menyerah dan terus kekeuh dengan keinginannya.

“aigoo.. Biarkan saja sayang. Umma ataupun mommy sama saja kan, tak ada bedanya”

“iya..tapi Jun tetap harus memanggil ‘mommy’ sama seperti Hana. Jun ah..ayo ikuti apa yang noona katakan, mom..my. Okey! Mom..my”

“mom..my”

“ya..ulangi lagi..”

“Mom..my. Mommy. Mommy. Mommy..”

Junseo justru semakin riang mengucap kata ‘mommy’ disertai tawanya yang khas sebagai anak-anak. Begitupun Hana yang merasa puas dan bahkan kini dibuat tertawa oleh tingkah sang adik. Yoona hanya menggelengkan kepala nya dan ikut tersenyum melihat tingkah polah kedua buah hatinya. Tawa Hana dan Junseo adalah penyembuh lara dan perih dihatinya.

“Hana ya.. Siapkan tas sekolahmu dear, mommy akan mengantarmu”

“Okey mom! Jun ah..noona pergi ya!”

Hana berlari kecil kearah kamarnya, mengambil tas dan juga peralatan sekolah lainnya, membawanya keluar dari kamar dan kembali menghampiri sang adik yang kini sudah berada dalam gendongan sang halmoni.

“oemma, titip Junseo ya.. Hubungi aku bila oemma perlu sesuatu”

“jangan khawatir Yoong.. Hari ini oemma berencana menemui Sooyoung, dia semalam menelpon dan mengeluhkan kehamilan nya”

“apa morning sicknes nya belum juga berkurang?”

“sepertinya begitu. Entahlah oemma juga heran dengan anak itu”

“apa Jun nanti takkan merepotkan? Kalau tidak biarkan ahjumma yang menjaganya. Sayang sekali hari ini butik akan ramai karna beberapa pelanggan akan mengambil pesanan mereka, jadi aku tak bisa membawa Junseo bersamaku”

“tidak apa-apa,  lagipula Jun tidak merepotkan oemma. Kau fokuslah di butik. Kalau tidak kesorean, nanti oemma akan membawa Jun mampir ke butik mu”

Yoona tersenyum mengusap rambut Junseo kemudian menciumnya penuh sayang. Menggandeng tangan Hana, keduanya lantas berpamitan pada Ny.Choi dan Junseo. Jun sedikit menangis tak rela karna kembali ditinggal oleh umma dan noona nya.

Ini sudah hampir dua tahun semenjak peristiwa kecelakaan memilukan yang merenggut dua anggota keluarga mereka. Seperti itulah hari-hari yang kini di jalani Yoona.

Awalnya ia sempat terpuruk. Kehilangan Siwon telah membuat dunianya runtuh. Jiwa nya seakan ikut terkubur bersama jasad sang suami dan membuatnya menelantarkan Hana dan Junseo dengan terus mengurung diri dalam kamar.
Namun Pada akhirnya setelah hampir tiga bulan berada dalam keterpurukan, suara tangisan Junseo ditengah malam, memaksa dan menariknya kembali ke kesadarannya, kembali kepada kenyataan yang mau tak mau harus diterimanya. Siwon memang bagaikan nyawanya, tapi kedua buah hatinya masih membutuhkan dan bergantung padanya. Yoona menyadarinya. Semua itu membutnya menangis sesenggukan dan kemudian berlari keluar dari kamarnya, mencari keberadaan Junseo yang masih terus menangis. Ia mendekapnya. Mendekap erat seakan ingin menyerap tangis Junseo dan semua kesedihan putra kecilnya yang saat itu bahkan belum mencapai usia satu tahun. Jun baru berusia enam bulan ketika Siwon pergi. Dia jelas hanyalah bayi kecil tak berdaya yang tak mengerti apa-apa.

Sejak saat itu Yoona bertekad. Ia harus mampu bertahan demi Junseo dan Hana. Demi Ny.Choi sang ibu mertua yang sama terpukul sepertinya. Demi orang-orang disekitarnya yang menyayanginya dan demi ayahnya nya yang terus mengkhawatirkannya. Tn.Im jelas memiliki kekhawatiran sekaligus ketakutan yang berlebih. Takut bila Yoona mengalami depresi yang sama seperti waktu dulu yang membuatnya bagaikan mayat hidup.

Dan semua itu semakin menguatkan tekadnya. Ny.Choi mendukungnya dengan menjual semua saham perusahaan juga aset yang berada di Jepang dan kembali ke Korea untuk tinggal bersama Yoona dan menemani kedua cucunya.

Jika sedikit demi sedikit Yoona telah berhasil menata kembali hidupnya. Lalu bagaimana dengan Siwon?
Orang yang telah dianggap mati oleh keluarganya..
Bagaimana dengannya??

***

Kesibukan terjadi di sebuah rumah mewah yang berada dikawasan kota San Fransisco. Lebih tepatnya para pelayanlah yang tengah sibuk melayani kebutuhan para penghuni rumah tersebut tanpa terkecuali. Mereka akan siap sedia memenuhi apapun permintaan yang diinginkan Tuan nya.

“adakah yang masih anda butuhkan, Sir?”

“ambilkan kunci mobil ku..”

Salah satu pelayan yang juga berada disekitar kemudian bergerak kesalah satu kabinet yang berada diruangan tersebut guna mengambil sebuah kunci yang tergantung disana. Setelahnya menyerahkan kunci tersebut kepada sang Tuan dengan wajah tertunduk penuh hormat.

“kapan aboji boleh pulang dari rumah sakit?”

“belum ada kepastian dari dokter. Tapi Beliau berpesan agar Tn.Harry mengunjunginya dirumah sakit hari ini..”

“aku?”

“ya Sir..”

“untuk apa aboji memintaku kerumah sakit? Dia kan tau aku punya banyak pekerjaan ..”

gumam Harry sedikit bernada kesal sambil berjalan kearah pintu depan rumah. Sang pelayan tak berani menjawab dan hanya mengikuti langkah Harry di belakang. Seorang pelayan lainnya yang tengah berada di dekat pintu keluar bergegas membuka pintu begitu melihat Harry yang adalah sang Tuan muda, sedang berjalan kearahnya.

Harry mempercepat langkahnya melewati pintu depan begitu mendengar suara yang tak asing, bahkan sangat familiar ditelinganya. Semalam keduanya sudah berbicara dan Harry sudah tahu pasti apa yang diinginkan oleh Fanny, sang pemilik suara yang kini tengah memanggil-manggilnya.

“oppa..oppa!! Tunggu!!”

“Ck! Cepatlah..jika ingin pergi bersamaku jangan lambat seperti itu”

“mana bisa seperti itu. Aku ini wanita. Aku tak bisa secepat oppa”

Harry menghentikan langkahnya disamping mobil yang akan dikendarainya. Melepas kaca mata hitam yang sedari tadi sedikit menutupi wajah tampannya, Ia kemudian berkacak pinggang sambil memperhatikan langkah Fanny yang berjalan berjinjit tanpa alas kaki menghampirinya. Sepatu heels masih dia tenteng ditangannya.

“kau bilang ada pemotretan”

“iya, tapi tak perlu terburu-buru seperti ini. Jikapun aku terlambat mereka akan menungguku”

Setelah berhasil mencapai pria bernama Harry itu, Fanny langsung bergelayut manja dilengan nya. Membuat Harry lantas mengacak pelan rambut panjangnya yang halus karna perawatan yang tak pernah ia lewatkan.

“dasar kau ini. Ayo cepat masuk!”

“oppa akan bertemu aboji?”

“bukan hanya aku tapi juga kau gadis manja”

Fanny mempoutkan bibirnya saat Harry tak mengijinkannya melakukan protes dan justru mendorong tubuhnya masuk kedalam mobil. Namun ia juga tak langsung diam begitu saja, begitu Harry masuk dan duduk dikursi kemudi melajukan mobilnya, Fanny langsung menyuarakan protes nya.

“aku tak mau bertemu aboji, terlebih pergi kerumah sakit itu”

“apa masalahnya?”

“tidak ada. Hanya tidak mau. Lebih baik oppa antarkan dulu aku ke studio pemotretan”

“tapi darimana kau tahu aku akan menemui aboji?”

“Ck! Haruskah aku jawab?”

“baiklah tidak perlu.. Tapi benar kau tak mau mengunjungi aboji dulu dirumah sakit?”

“tidak, aku bisa terlambat nanti”

“kau bilang mereka pasti menunggumu, lagipula apa kau tak rindu pada aboji? Selama aboji dirawat kau baru sekali menemuinya”

“heuhh.. Tidak. Oppa tahu aku juga sibuk, dan aku memang sengaja tak mengunjungi aboji. Agar aboji merindukan ku. Jadi dia bisa memotifasi dirinya sendiri untuk sembuh dan keluar dari rumah sakit agar bisa menemui putrinya ini”

alasan yang dikemukakan Fanny justru mendapat cibiran dari Harry.

“alasan! Bilang saja kau tak mau pergi karna tak mau bertemu dengan Nickhun kan?”

seketika ucapan Harry mendapat tatapan tajam dari Fanny, namun pria itu tak lantas berhenti. Harry memang selalu suka menggoda Fanny dengan menjadikan Nickhun sebagai topik pembicaraan. Terlebih ia tahu pasti Fanny sangat tidak menyukai Nickhun karna dari yang diceritakan padanya, dokter muda itu tak bisa menyelamatkan nyawa ibu nya.

“tahu tidak, setiap kali aku kesana Nickhun selalu menanyakanmu ..”

“yak.. Oppa!! hentikan ocehanmu itu..”

Fanny mengepalkan tangannya untuk memukul-mukul lengan Harry. Dan hal itu justru membuat Harry meledakkan tawanya.

Harry..
Pria muda yang telah diangkat anak oleh Tn.Hwang.
Yang telah dianggap kakak oleh Fanny. Insiden kecelakaan yang awalnya dianggap musibah oleh Tn.Hwang ternyata adalah berkah tersembunyi yang dikirimkan Tuhan padanya. Amnesia yang diderita Harry justru memudahkan Tn.Hwang untuk membentuk pribadi Harry menjadi seperti sekarang ini.Hingga ia sangat mengandalkan nya untuk segala macam urusan bisnis perusahaan nya.Semua yqng diketahui, yang menjadi ilmu bisnis Tn.Hwang selama ini telah ia bagikan pada Harry.
Hanya satu yang tak berani Tn.Hwang ungkapkan.
Kenyataan bahwa dia tahu siapa jati diri Harry yang sebenarnya.

Harry adalah korban kecelakaan akibat kecerobohan Fanny putrinya.
Harry adalah seorang pria yang dari identitas yang ia temukan bernama Choi Siwon.
Harry adalah Siwon. Orang yang telah dianggap mati oleh keluarganya. Ternyata memiliki kehidupan baru didaratan dunia yang lainnya.

Jika seperti itu. Takdir seperti apa yang mungkin bisa mempertemukan mereka kembali??

***

Sebelum menuju butik nya, Yoona terlebih dulu mengantar Hana ke sekolah. Bila Jun belum mengerti apa-apa tentang kematian ayah nya, berbeda dengan Hana. Hana yang kini telah bersekolah di sekolah dasar sudah sangat mengerti akan arti kematian daddy nya. Hana masih saja menangis bila ia merindukan Siwon, sosok ayah yang baru sebentar ia rasakan kasih sayang nya. Jika sudah seperti itu, hanya Yoona lah yang bisa mendiamkan tangis Hana dan memberinya pengertian, meski hatinya sendiri terasa diremas hingga luar biasa sakitnya. Tangis Hana juga adalah suara tangisnya

“mom..Kenapa mommy diam?”

sambil melepaskan sabuk pengaman nya, Hana menatap sang mommy yang setelah memarkirkan mobil dihadapan gedung sekolahnya terlihat hanya diam sambil menatapnya.

“tidak apa-apa sayang.. Turun dan masuklah sebelum terlambat”

“sure?”

Yoona mengangguk dan tersenyum sambil mengusap rambut putrinya. Sebelum keluar dari mobil Hana terlebih dulu memberikan ciuman untuk Yoona.

“bye mom..”

“bye.. Jangan keluar sebelum ahjussi menjemput, arraso!”

“Okey mom!”

Setelah mengantarkan Hana, Yoona langsung menuju butik nya yang berada dikawasan pusat kota Seoul. Ini adalah butik barunya. Banyaknya pelanggan membuat Yoona akhirnya memindahkan butiknya ke tempat yang lebih besar dari sebelumnya.

“annyeong..”

Yoona langsung memberikan sapaan begitu dirinya memasuki butik. Beberapa karyawan butiknya balas menyapanya sambil menundukkan kepala.

Yoona jelas wanita muda yang matang. Kariernya kian menjulang di usianya yang kini telah memasuki kepala tiga. Kehidupan nya jelas sempurna bagi sebagian orang yang mengira bahwa dengan materi maka kebahagiaan akan mengnyertainya. Tapi bagi Yoona kebahagiaan utamanya adalah kedua buah hatinya dan Siwon. Cintanya yang telah terkubur untuk selamanya.

“hai Yoong..”

“Oh.. Pengantin baru. Ku kira kau akan menunda membantuku disini karna lelah setelah bulan madumu”

“ya.. Yoona!”

Yoona terkikik melihat Yuri yang tersipu. Yuri memang baru pulang setelah hampir dua minggu menjalani bulan madunya. Dia baru menikah dengan Yunho, yang adalah kakak dari Changmin suami Sooyoung. Pertemuan keduanya terjadi diacara pernikahan Sooyoung dan Changmin. Dan sejak saat itu Yunho gencar melakukan pendekatan pada Yuri. Sepertinya Yunho tak berbeda jauh dengan Changmin ketika melakukan pendekatan pada Sooyoung. Hingga pada akhirnya Yuri luluh dan menerima nya sebagai pasangan hidup.

“bogoshipoyo.. Jika tahu kau akan datang hari ini, aku bisa membawa Junseo bersamaku tadi. Aku takkan kerepotan meladeni pelanggan jika sudah ada kau”

“nado boghosipo Yoong.. Ah, coba kau bawa saja tadi Junseo. Aku juga sangat merindukannya”

Yuri menyambut pelukan Yoona. Dan keduanya kemudian masuk kedalam ruang kerja Yoona. Ada Jessica didalam nya yang saat itu baru saja menjawab panggilan telepon.

“Oh Yoona.. Ada undangan untukmu”

“undangan? Siapa yang mengirim?”

“ini dari Milan.. Ada kontes untuk disainer muda disana. Dan mereka mengundangmu untuk menjadi salah satu jurinya. Bagaimana? Kau bersedia? Mereka baru saja mengkonfirmasi.. Jika kau bersedia mereka akan mengirimkan tiket perjalanan ke Milan untukmu”

“Milan??”

***

Siwon melangkah masuk kedalam sebuah rumah sakit besar khusus bagi penderita jantung dimana Tn.Hwang dirawat. Ada dua pengawal yang mengikuti dibelakangnya.

“Oh Harry..”

baru saja ia akan membuka pintu kamar rawat Tn.Hwang ketika Nickhun lebih dulu keluar dari dalamnya.

“Dia sedang pemotretan..”

“egh..”

Nickhun tampak malu karna Siwon berhasil menangkap apa maksud dari tatapan matanya. Sangat jelas bahwa dirinya sedang mencari keberadaan Fanny yang lagi-lagi tak datang untuk sekedar menjenguk ayah nya.

“Dia takkan datang.. Kau saja yang datang kerumah jika merindukannya”

“Ah kau ini..Masuklah, Tn.Hwang sudah menunggumu”

“bagaimana keadaan aboji saat ini?”

“sudah lebih baik. Aku sudah membicarakan dengan dokter spesialis yang menangani Tn.Hwang untuk kemungkinan membawa nya pulang. Tapi sepertinya masih harus menunggu keputusan mereka. Jika Tuan masih tak stabil mereka tak mengijinkan kita membawanya pulang”

“lakukan yang terbaik. Aku tahu kau akan melakukan itu untuk aboji”

Siwon menepuk bahu Nickhun, kemudian masuk untuk menemui Tn.Hwang.

“Harry..”

“bagaimana keadaan aboji?”

Tn.Hwang langsung mengubah posisinya menjadi duduk ketika Siwon mulai mendekat kearahnya.

“aku sudah baik. Mereka saja yang berlebihan tak mengijinkanku pulang. Mana Tiffany?”

“Dia tak bisa ikut. Ada pemotretan lagi hari ini. Tadi aku yang mengantarnya..”

“anak itu benar-benar tak perduli padaku rupanya”

“Oh ya, apa yang ingin aboji bicarakan dengan ku?”

Siwon mengganti topik pembicaraan. Karna hal itulah yang menjadi alasannya datang saat itu.

“Ya.. Kau tahu, sebelum terbaring disini aku sempat terlibat pembicaraan bisnis dengan perusahaan besar yang berasal dari Milan. Dan karna aku sedang dalam kondisi seperti ini. Aku ingin kau mewakili ku melakukan penandatanganan bisnis itu di Milan”

“jadi aku harus pergi ke Milan??”

***

Malam hari setelah seharian sibuk meladeni pelanggan butiknya, Yoona akhirnya bisa kembali pulang kerumahnya.

“Yoona ya.. Kau sudah pulang”

sapaan Ny.Choi disambut senyuman oleh Yoona. Ia kemudian berjalan menghampiri nya.

“apa Hana dan Jun sudah tidur?”

“Hana ada dikamarnya, dan Jun, oemma baru saja menidurkannya”

“Oh.. Oemma bagaimana keadaan Sooyoung tadi?”

“Dia baik-baik saja. Anak itu justru menjadi manja saat sedang hamil seperti itu”

Yoona hanya tersenyum menanggapi keluhan ibu mertuanya. Sooyoung memang tak lagi tinggal bersama mereka dan kini tinggal bersama Changmin, suaminya tentu saja. Dia sama hal nya dengan Yoona dan Ibu nya. Kehilangan Ayah sekaligus Siwon tepat setelah pesta pernikahannya merupakan pukulan berat baginya. Pada saat itu seharusnya Sooyoung bisa menikmati madu pernikahannya, bukan malah bergelung dalam kesedihan menangisi ayah dan kakak lelakinya. Kondisi psikologis nya yang tak stabil bahkan telah mengakibatkan dirinya sempat dua kali mengalami keguguran. Dan kali ini adalah kehamilannya yang ketiga , di tambah dengan usia kandungan yang sudah memasuki bulan kelima Sooyoung masih saja mengalami morning sicknes, maka wajar jika akhirnya Changmin menjadi sangat protectif padanya. Membuat Sooyoung kadang merasa kesal oleh larangan-larangan yang diberlakukan Changmin padanya. Semuanya kemudian berujung pada keluhan yabg selalu Sooyoung katakan pada Ny.Choi, ibunya.

“ada yang ingin aku sampaikan pada oemma..”

“katakanlah Yoong”

“lusa aku akan pergi ke Milan..”

memang bukan perjalanan keluar negri yang pertama bagi Yoona. Ia sudah sering diundang ke acara-acara fashion diluar negri. Dan meminta restu dari Ny.Choi adalah hal yang selalu dilakukannya.

“Milan? Benarkah?”

“ne oemma, ada undangan menjurii kontes desainer muda disana..”

“bagus kalau begitu, Kau bisa menambah wawasanmu dengan pergi kesana”

Ny.Choi lantas menghela Yoona kearah dapur menuju meja makan.

“Yoona ya.. Kau mau makan? Biar oemma siapkan untukmu”

“aniyo oemma.. Aku bisa melakukannya sendiri nanti, lagi pula aku ingin melihat Hana dan Junseo kemudian mandi terlebih dulu. Oemma istirahat saja..”

“baiklah kalau begitu. Kau juga istirahat ya..”

Yoona memandang Ny.Choi yang melangkah masuk ke kamarnya. Setelahnya ia pun kemudian menaiki anak tangga untuk mencapai lantai dua dimana kamarnya berada.

Tak ada yang berubah.
Ini masih rumah yang sama. Rumah yang menyimpan banyak kenangannya bersama dengan Siwon. Tak sedikitpun Yoona mengubah apapun yang ada didalamnya. Semua tetap sama seperti saat Siwon masih bersamanya.

“Hana ya..”

Yoona membuka pintu kamar Hana, masuk dan mendapati sang putri sudah tertidur nyenyak diatas tempat tidurnya dengan sebuah pigura foto Siwon yang didekap dengan eratnya.

Perlahan Yoona menarik pigura dari dekapan Hana, kemudian memasangkan selimut ditubuh nya. Hana memang selalu melakukannya. Jika tidak dengan menangis, Hana akan tidur dengan foto Siwon bila dia sedang merasakan kerinduan pada sosok daddy nya. Yoona sangat mengerti hal itu. Ia menatap pigura ditangannya dan tanpa sadar airmata sudah membasahi wajahnya.

“Aku juga merindukanmu yeobo.. Sangat merindukanmu.”

***

Suara hingar bingar dan musik yang berdentam dengan kerasnya serta banyaknya pengunjung yang menuruni lantai dansa menjadi pemandangan wajar disebuah klub malam itu.

Fanny ada didalamnya. Lelah setelah seharian melakoni pemotretan membuatnya memutuskan merileks kan tubuhnya dengan mengunjungi klub untuk sekedar minum dengan beberapa rekannya.

“Tiffany.. Kau bilang oppa mu akan datang, dimana dia?”

“nanti.. Sabarlah, dia mungkin masih diperjalanan kemari. Eh..itu dia. Oppa! Oppa! Harry oppa..”

Fanny melambaikan tangannya sebagai tanda begitu ia melihat Siwon menatap sekeliling mencarinya.

“disini kau rupanya. Ayo pulang!”

Siwon menarik lengan Fanny berusaha membawanya keluar dari keramaian klub, namun Fanny menyentak menolaknya.

“nanti dulu oppa..”

“mau apalagi? Kurasa kau sudah cukup minum malam ini”

“ada yang ingin berkenalan denganmu.. Mereka teman-teman ku”

Fanny memang sengaja mengajak beberapa temannya sesama model untuk ia perkenalkan kepada Siwon. Ia lantas mengarahkan pandangannya kearah teman-temannya yang sedari tadi diam, terpesona dan mengagumi sosok dihadapan mereka.

“kenalkan oppa..mereka teman-teman ku”

Siwon memutar matanya nampak tak suka dengan hal yang sudah sering kali Fanny lakukan padanya. Perkenalan dengan teman-teman Fanny selalu menjadi hal yang membosankan baginya.

Siwon bahkan sama sekali tak menyimak satu persatu nama wanita yang sudah bersusah payah memasang wajah secantik dan semenarik mungkin saat mendapat kesempatan menjabat tangannya.

“sudah selesai kan? ayo pulang!”

“Yak Oppa.. Apa yang kau lakukan?”

“sama sekali tak ada yang menarik Fanny. Bukankah sudah kukatakan tak perlu membawa teman mu kehadapanku”

“jika terus seperti itu. Oppa bisa di anggap gay karna tak tertarik pada wanita”

“APA..? GAY..?? Jangan bercanda Fanny ah..!! Aku tahu wanita seperti apa yang menarik bagiku. Ayo pulang! besok aku harus pergi ke Milan.”

“WOW.. Oppa akan ke Milan? Jinja? Oppa, bolehkah aku ikut denganmu..??”

***

Fanny terus saja merengek, meminta Siwon agar memperbolehkannya ikut pergi ke Milan. Semalam ia sudah mendapat penolakan dari Siwon yang mengatakan ia bukan pergi untuk berjalan-jalan, melainkan melakukan penandatanganan bisnis disana. Namun Fanny tak menyerah, ia kembali merajuk dipagi ketika Siwon sedang bersiap untuk pergi.
Fanny memang menjadi sangat dekat dengan Siwon. Ia bahkan tak segan merengek bila keinginannya tak dipenuhi.

Peristiwa kecelakaan yang disebabkan olehnya, yang tak diketahuinya telah mengakibatkan satu nyawa melayang, dan Siwon yang mengalami hilang ingatan seperti saat ini, sepertinya telah ia lupakan. Ia juga lupa fakta bahwa ditempat lain Siwon mungkin memiliki kelurga yang sedang mencarinya, atau bahkan menganggapnya mati setelah hampir dua tahun tanpa kabar.

Ya..
Fanny melupakan semua itu. Kehadiran Siwon sebagai sosok Harry membuatnya lupa akan kesepian dan kesedihannya setelah ia kehilangan ibu nya.
Siwon memberinya perhatian layaknya seorang kakak padanya. Tentu saja Fanny menikmati dan tak ingin kehilangan semua itu. Selama ini ia terbiasa hidup sebagai anak semata wayang, dan dengan perhatian Siwon menjadi suatu hal baru baginya. Ternyata rasanya menyenangkan memiliki seorang kakak, walau Siwon sering menggodanya dan terkadang membuatnya kesal, tapi Siwon dengan sosoknya sebagai Harry, juga yang selalu memperhatikan nya.

“Oppa..biarkan aku ikut. Aku bosan disini dan aku juga tak ada jadwal pemotretan atau apapun selama tiga hari kedepan. Apa yang bisa kulakukan sendirian dirumah sebesar ini?”

“kau bisa memanfaatkan waktumu untuk menemani aboji. Mungkin dengan kehadiranmu bisa menjadi obat penyembuh yang membuat aboji kembali sehat dan pulang kesini”

“tidak.. Aku tidak mau”

“kalau begitu pergi lah menemui teman-teman mu. Bukankah kau memiliki teman lebih dari banyak yang cukup untuk membuat keramaian disekitarmu”

“Harry oppa ayolah.. Kau tahukan aku seorang model dan Milan adalah salah satu pusat mode dunia. Akan sangat menyenangkan jika aku berwisata kesana”

“siapa bilang aku akan berwisata? Aku kesana untuk urusan bisnis dan karna aboji yang meminta”

Fanny menjadi kesal dengan penolakan yang diucapkan Siwon terus-terusan. Ia bergumam sebal sambil berjalan masuk kekamarnya.

“Ya sudah kalau oppa seperti itu.. Aku masih bisa menemukan kesenanganku sendiri”

“Sir.. Kita harus berangkat sekarang”

“Oh baiklah.. Fanny ah, aku pergi ya”

“pergilah.. Aku tak perduli!”

***

Setelah dengan berat hati meninggalkan Hana dan Junseo, menempuh perjalanan berjam-jam untuk mencapai Milan, akhirnya Yoona dapat sejenak mengistirahatkan tubuh nya disebuah kamar suit sebuah hotel berbintang yang telah disiapkan oleh pihak yang mengundang nya untuk menjurii kontes desainer muda yang dijadwalkan akan dilaksanakan pada malam harinya tepat di hotel yang sama.

“jika anda memerlukan sesuatu anda bisa menghubungi kami Nyonya..”

ucap ramah seorang pelayan hotel yang mengantar dan membawakan barang Yoona kedalam kamarnya. Yoona menyunggingkan senyum dan mengangguk kemudian menutup pintu kamar bernomor 307 itu setelah sang pelayan permisi meninggalkannya.

Ia lantas mengamati kamar itu, yang lumayan besar untuknya. Mengagumi keindahan yang tercitra dari hotel yang jelas mematok harga tinggi bila melihat fasilitas dan kenyamanan yang ia rasakan.

Yoona melangkah pelan mencapai pintu kaca yang terhubung langsung dengan balkon kamarnya. Membuka sedikit tirai yang menutup jendela kaca disampingnya, ia kemudian juga membuka pintu dan melangkah keluar ke balkon kamar yang langsung meniupkan angin segar yang semilir menerpa wajah dan membelai rambutnya.

***

Berdiri di balkon kamar hotelnya Siwon menghela napas pelan, Setidaknya masih ada satu kali lagi pertemuan yang telah dijadwalkan akan berlangsung nanti malam sebelum ia bisa kembali pulang.

Matanya terpejam merasakan hembusan angin yang menyentuh permukaan kulit wajahnya dan pada saat ia kembali membuka mata, keningnya langsung mengerut menatap seorang wanita yang terpisah jarak satu balkon kamar dengannya, sedang melakukan hal yang sama sepertinya. Siwon tersenyum melihat betapa wanita itu sangat menikmati tiupan angin yang menerbangkan helaian rambutnya.
Matanya mencoba mempertajam agar ia bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas. Entah mengapa ada rasa penasaran yang membuatnya ingin mengetahui rupa dari wanita itu.

Oh astaga..
Fanny bahkan sempat mengatai dirinya ‘gay’ karna tak tertarik pada semua teman wanita yang dikenalkannya. Tapi sekarang ia justru tertarik untuk memperhatikan wanita yang bahkan ia tak tahu seperti apa wajahnya.

“Sir.. Kita harus bersiap sekarang”

***

Yoona terkejut, sekelebat sosok yang tertangkap oleh pandangan matanya nampak serupa dengan sosok Siwon, suaminya.

Ya Tuhan..
Siwon?

“Siwon..”

Seketika itu juga Yoona berlari dari balkon kamarnya, membuka pintu kamar dan keluar dari dalamnya.

Ya Tuhan..
Mungkinkah?
Tapi Ia melihatnya..
Pria itu memang Siwon.
Siwon nya..
Suamianya..
Ayah dari anak-anak nya ..

Yoona akhirnya berhenti, Ia berdiri gugup didepan sebuah kamar bernomor 305 yang ia yakini ada Siwon didalamnya. Entah karna apa hati kecilnya menolak semua logika yang berbicara.

“Siwon..”

Yoona mundur sesaat, baru saja ia hendak menekan bel pintu dihadapannya namun seseorang sudah lebih dulu membuka pintunya. Muncul dihadapannya.

“Siwon..”

Seseorang itu mengernyit, mengerutkan dahi nampak heran melihat Yoona yang berdiri disana.

“anda mencari sesuatu Ny.?”

“egh.. Apakah anda yang menempati kamar ini, Tuan..?”

“Ya.. Apa yang anda inginkan?”

Yoona terdiam bingung. Apa yang bisa dikatakannya?
Lelaki dihadapannya jelas asing baginya dan bukan Siwon suaminya.

Haruskah ia berkata bahwa ia seperti melihat suaminya yang sudah tiada berada dikamar itu?

Astaga..
Mungkin pria dihadapannya akan langsung tertawa bila mendengarnya..

“eh, tidak.. Maaf, sepertinya saya salah kamar”

Yoona segera berjalan kembali kearah kamarnya. Membiarkan pria asing tadi kembali terheran oleh sikapnya.

“Kau berbicara dengan seseorang? Siapa?”

Siwon keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melilit ditubuhnya.

“Sir.. Bukan siapa-siapa. Hanya seorang wanita yang sedang mencari kamar”

Pria asing yang menemani siwon selama berada di Milan itu adalah asisten yang juga merangkap menjadi pengawalnya. Masih ada dua yang lainnya, namun keduanya berada dikamar yang berbeda.

“jadi jam berapa kita bertemu mereka?”

“jam 8 malam ini Sir.. Tapi kita harus berangkat sekarang”

“kalau begitu siapkan pakaian ku”

“ya Sir..”

lima belas menit setelahnya Siwon sudah keluar dari kamar hotelnya. Dan entah sejak berapa lama dua pengawal lainnya telah menunggu didepan pintu kamarnya dan siap melakukan pengawalan untuk Siwon, tuannya.

Saat  hendak menuju lift, Siwon tiba-tiba menghentikan langkahnya didepan pintu kamar bernomor 307, menatapnya sesaat kemudian entah apa yang membuatnya menarik senyum dibibirnya membuat ketiga pengawal dibelakangnya saling memberikan tatapan heran.

“apa wanita itu masih ada disana?”
gumamnya pelan..

“Sir.. Anda mengatakan sesuatu? Apa ada yang anda butuhkan?”

“Ah, tidak.. Ayo jalan”

Disana. Didalam kamar yang tadi dipandangi oleh Siwon, Yoona terdiam diatas tempat tidurnya dengan salah satu tangan memegang dadanya.

Rasanya sakit. Sangat sakit. Kerinduannya pada Siwon membuatnya jadi seperti ini. Andai ponsel yang masih berada dalam tas nya tidak berdering, mungkin Yoona masih akan terus terdiam dan entah untuk berapa lama.

“Hello.. hmm, baiklah saya akan bersiap… Ya… Terimakasih”

Yoona menutup ponselnya, mendesah pelan sebelum akhirnya memaksa tubuhnya untuk beranjak dari atas tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Ia harus bersiap. Pihak yang mengundangnya telah menelpon dan memintanya untuk menuju ke lokasi acara.

***

Siwon telah menyelesaikan semua urusannya. Kini ia hanya tinggal menunggu asisten juga pengawalnya mengemasi barang-barang mereka dan kemudian ia akan langsung kembali.

Sambil menunggu, Ia memutuskan keluar kearah balkon kamarnya. Mungkin saja wanita itu melakukan lagi hal yang sama sepertinya, begitu yang ada dalam pikirannya.

“Ah.. Dia tidak ada?”

Ada sedikit kekecewaan yang merasuk kedalam hatinya ketika mendapati sang wanita ternyata tak berada disana.

“mungkin saja dia sudah pergi.. Astaga! Apa aku ini waras? Aku bahkan tak tahu sedikit pun tentangnya.. Mengapa aku justru mengharapkan kehadirannya disana”

Siwon menggeleng-gelangkan kepalanya. Ia kemudian merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel dari dalamnya. Memastikan bahwa Tiffany benar-benar tak menghubunginya.

Benar saja. Fanny tak mengirim pesan apalagi menghubunginya. Kekesalannya pada Siwon sebelumnya mungkin masih tersimpan dalam hatinya.

“Sir.. Kita sudah bisa pergi sekarang”

***

Acara yang dihadirinya telah usai. Yoona cukup puas. Selama proses penjurian tadi, ia menemukan desainer-desainer yang usianya relatif muda tapi sudah memiliki kreatifitas yang luar biasa. Mereka bertalenta, bibit-bibit muda yang patut diperhitungkan.

Yoona sudah ingin kembali kekamarnya untuk beristirahat. Namun beberapa orang masih menahannya untuk meladeni obrolan dan menjawab beberapa pertanyaan mereka.

“senang dapat berbincang denganmu Ny.. Saya harap untuk kedepannya kita bisa bekerja sama”

“saya akan menantikan itu..dan akan sangat senang jika hal itu bisa terjadi”

Yoona menyalami seorang wanita dihadapannya, kemudian memberinya pelukan perpisahan sebelum dirinya meninggalkan tempat dimana acara tadi berlangsung.

Dengan gaun panjang berwarna tosca, dan heels yang berwarna senada, Ia melangkah di lobi hotel hendak menuju lift yang akan membawanya naik kelantai atas kamarnya.

Ada suara berbisik dari beberapa pengunjung hotel juga para pelayannya. kesemuanya adalah wanita yang kini tengah melihat dengan sorot mata kagum kearah pria yang berjalan terburu dengan kawalan para pengawalnya.

Yoona yang masih terus melangkah, sejenak menghentikan langkahnya. Tak ada yang aneh yang bisa dilihatnya, kecuali beberapa pria yang sedang mengawal Tuan nya. Hal ini biasa dilihatnya. Para pebisnis besar biasa melakukannya.

“Sir.. Tn.Hwang meminta anda pergi ke Jepang. Nn.Fanny berada disana dan hanya mau pulang jika anda yang menjemputnya”

“jadi gadis manja itu sedang berulah..”

Tapi..
Ya Tuhan..
Suara itu?

“Siwon..”

Yoona memang tak dapat melihat siapa sosok pria yang sedang dalam pengawalan itu. Tubuhnya tertutup oleh para pengawal dibelakangnya. Tapi entah mengapa Yoona merasa mengenali dan sangat tak asing dengan suara yang sepintas didengarnya.

“dan kita harus ke Jepang terlebih dulu?”

“Ya Sir..”

“Siwon..”

Atas dorongan hati kecilnya Yoona berusaha mendekat untuk mencari tahu siapa sebenarnya pria itu. Namun karna gaun panjang yang dipakainya juga heels yang ia kenakan sedikit menyulitkannya untuk berlari, Yoona tak bisa mencapainya. Pria itu sudah lebih dulu masuk kedalam sebuah mobil yang sudah menunggu didepan hotel bersama para pengawalnya.

Yoona terdiam, tubuhnya melemas, ia merasakan sesak dan sakit didadanya. Dengan sebelah tangannya ia kemudian meremas gaun dibagian dadanya, merasakan kesakitan yang ada disana.
Kesakitan akan kerinduannya yang tertahan pada Siwon, yang sekarang justru membuncah disana.

Milan..
Jelas bukan menjadi kota special baginya. Ia tak menyimpan kenangan apapun bersama Siwon disini. Tapi mengapa sejak menginjakkan kakinya disana ia justru merasakan kehadiran Siwon didekatnya. Atau itu semua hanya halusinasi nya semata akibat rasa rindunya yang sudah tak bisa lagi ia tahan dan kendalikan.

Ya Tuhan..
Mengapa ia merasa kembali terjatuh seperti ini.
Mengapa ia seperti merasakan lagi sakitnya kehilangan yang pernah ia rasakan.

Oh Tuhan..
Ia jelas tak boleh seperti ini. Ia masih harus bertahan demi Hana dan Junseo. Siwon pun pasti tak menginginkan melihatnya dalam kondisi terpuruk terus menerus. Dengan keyakinan itu, Yoona menguatkan hatinya, menyeka airmata yang entah sejak kapan telah membasahi kedua pipinya. Malam itu juga ia memutuskan kembali ke Korea. Milan mungkin bukan kota yang cocok untuknya.

***

Tiffany keluar dari dalam mobil setelah seorang supir yang tadi mengantarnya membukakan pintu untuknya. Ada gurat kesedihan terlihat di wajahnya. Ia telah menangis sepertinya. Dan dengan langkah pelan ia mulai masuk kedalam rumahnya. Rumah yang dulu ia tinggali bersama ibu dan ayahnya. Rumah yang menyimpan banyak kenangan untuknya. Namun kini hanya kesunyian yang dirasakannya.

“Hai.. Kau tak merindukan ku?”

Fanny terkejut mendengar suara yang menyapanya ..

“Harry oppa..”

Siwon tersenyum dan kemudian melangkah menghampiri Fanny.
Siwon memang akhirnya mengiyakan untuk menjemput Fanny di Jepang.

“gadis bodoh! Kenapa tak mau pulang? Kau kabur dari rumah?”

Sesaat Fanny cemberut kesal dengan apa yang dikatakan Siwon padanya. Namun rasa rindunya yang lebih besar mendorongnya untuk meraih Siwon dan memeluk nya.

“siapa bilang aku kabur. Bukankah aku sudah katakan aku punya libur selama tiga hari.. Salah mu tak memperbolehkan ku ikut ke Milan”

“jadi masih marah padaku?”

“tidak.. Aku hanya rindu pada oemma”

Siwon merasakan kemeja yang dikenakannya basah. Pada saat itu ia menyadari Fanny sedang menangis dalam pelukannya. Perlahan ia kemudian mengusap rambut Fanny untuk menenangkannya

“jadi kau datang untuk mengunjungi ibumu?”

“hmm..”

“bagaimana sekarang? Apa sudah bertemu?”

“sudah.. Aku tadi pergi ke makam oemma”

“kalau begitu kenapa masih menangis?”

“aku benar-benar merindukannya oppa.. Aku ingin menyentuh dan memeluk oemma. Aku ingin melakukannya..”

“ssttt.. Sudahlah. Kau bilang ibumu sudah beristirahat dengan tenang, jadi berhentilah menangisinya”

Siwon melepas pelukan Fanny kemudian memegang kedua bahunya.

“biarkanlah dia tenang disana. Dan sekarang lebih baik ayo ikut aku..”

“kemana?”

“kemana saja.. Anggap saja sebagai ganti karna aku tak mengajakmu ke Milan, dan Lagi pula aku belum pernah berjalan-jalan di Jepang. Kau kan pernah menetap disini. Jadi kau pasti tahu tempat-tempat yang menarik disini. Ayo..”

Siwon langsung menarik begitu saja tangan Fanny dan tak membiarkannya untuk menolak, dan lantas meminta kunci mobil dari seorang supir yang tadi mengantarkan Fanny. Keduanya kemudian pergi tanpa pengawalan.

***

Fanny merasakan suasana hatinya berubah dengan cepat. Seharian Siwon telah mengajaknya berkeliling kebeberapa tempat. Walau beralasan dirinya yang tak pernah berjalan-jalan di Jepang, tapi Fanny tahu Siwon sedang berusaha menghiburnya setelah melihatnya menangis tadi.

“oppa lihatlah.. Itu kafe yang sering aku kunjungi. Oppa harus mencoba makanan disana. Rasanya sangat enak..”

“benarkah? Apa kau akan mentraktirku?”

“tentu saja.. Ayo!”

Dengan senyum yang kini menghias wajahnya, Fanny merangkul lengan Siwon memasuki kafe yang ia maksud. Seorang pelayan cafe tersebut kemudian mengarahkan mereka kearah meja yang masih kosong dan seorang pelayan lainnya memberikan daftar menu dan siap mencatat pesanan mereka

“Oh Tuan.. Anda datang kembali. Maaf kan saya karna pernah mengacaukan makan malam anda bersama istri anda..”

Siwon dan Fanny sama-sama mengerutkan kening tak mengerti dengan ucapan seorang pelayan yang tadi memberikan daftar menu pada mereka.

“Istri..?”

“Ya.. Istri, Anda tidak ingat?”

“istri? Jadi Maksudnya aku pria beristri?”

Siwon tampaknya sedikit tertarik dengan apa yang dikatakan sang pelayan padanya…

“Ya.. Pada saat itu saya hanyalah karyawan baru, dan anda sangat menarik Tuan..”

Sang pelayan sedikit tersipu dengan ucapannya sendiri. Ia kemudian meneruskan kalimatnya..

“dengan lancangnya saya memberikan nomor ponsel pada anda dan membuat istri anda marah pada saat itu.. Anda ingat!”

“Tidak. Sama sekali tidak ingat..”

“Oh, benarkah? Apa saya salah mengenali anda? Tapi saya yakin anda orangnya, tuan.. Saya benar-benar mengingat anda. Pada saat itu saya begitu khawatir istri anda akan melapor pada atasan saya. Tapi syukurlah itu tidak terjadi. Saya benar-benar berterimakasih dan sekali lagi maafkan saya..”

“apa yang kau maksud istriku adalah wanita ini?”

“Bukan Tuan.. Oh ya Tuhan.. Apa anda berpisah dengan istri anda? Hingga anda berniat melupakan semua tentang nya? Maafkan saya jika justru mengingatkan anda padanya”

Siwon hanya mengernyit sementara Fanny langsung menyahuti dengan nada kesal.

“apa kau sedang membuat lelucon? Kami lapar dan ingin makan disini bukan justru mendengar lelucon bodoh mu itu..!!”

“biarkan saja Fanny ah.. Lagi pula aku sangat tertarik mendengar ceritanya. euh.. Bisa kau lanjutkan apalagi yang kau ingat tentang ‘istri’ ku.. Sepertinya aku memang melupakannya..”

“Ck! Harry oppa..!”

sang pelayan memandang bergantian antara Fanny dan Siwon. Tak yakin apa dia bisa melanjutkan kalimatnya setelah mendengar kekesalan dan tatapan tajam yang diarahkan Fanny kepadanya.

“euh.. Istri anda, dia.. Menurut saya dia wanita anggun dan cantik. Bahkan sangat cantik. Sangat cocok bila berdampingan dengan anda, Tuan. Sayang sekali jika pada kenyataan nya anda telah berpisah dengannya. Karna menurut saya dari tatapan mata juga bahasa tubuh antara anda dan istri anda menunjukkan betapa besar cinta yang ada diantara kalian. Ya Tuhan.. Maafkan saya atas kelancangan saya mengomentari urusan pribadi anda. Maaf Tuan..”

“Oh keterlaluan! Hai dengarkan aku! Kakak ku adalah pria lajang dan sama sekali belum menikah! Jadi hentikan omong kosong mengenai ‘istri’ yang ada dalam otakmu..”

Entah mengapa Fanny merasa begitu kesal mendengar apa yang disampaikan sang pelayan pada Siwon, terlebih melihat Siwon yang justru menunjukkan ketertarikan dengan apa yang dikatakan sang pelayan padanya. Mood yang tadi sudah membaik kini berubah menjadi kekesalan yang ia rasakan. Membuatnya secepatnya melangkah untuk keluar.

Sang pelayan hanya bisa menundukkan kepala, menyesal.
Oh..
Apakah sekali lagi kelancangan nya telah mengacaukan acara makan malam sang Tuan yang menarik dimatanya??

“Fanny ah.. Tiffany tunggu!”

Fanny tak perduli Siwon mengejarnya, ia justru semakin mempercepat langkahnya

“Fanny ah..!”

pada akhirnya Siwon bisa menyamai langkah Fanny dan meraih tangannya untuk menghentikan langkahnya.

“ada apa denganmu?”

“kenapa oppa masih bertanya?”

“aku hanya mendengarkan pelayan itu.. Apa masalahnya?”

“tidak seharusnya oppa melakukannya.. Apa yang menarik dari cerita bodoh itu? Ada begitu banyak pengunjung di cafe itu setiap harinya. Mana mungkin pelayan itu mengingat satu persatu dari kesemuanya..”

“aku sendiri tak tahu.. Entah mengapa aku menjadi sangat tertarik untuk mendengarnya. Mungkin karna selama ini tak ada seorangpun yang menceritakan padaku apa saja yang kulakukan sebelum aku mengalami amnesia seperti ini”

“tidak cukupkah apa yang aboji katakan padamu oppa.. Kau adalah anak dari rekan aboji. Orangtua mu meninggal dan aboji memutuskan untuk menjadikanmu anak nya. Kau adalah anak aboji dan juga kakak ku.. Tidakkah itu cukup untuk mengetahui siapa dirimu?”

“bukan seperti itu Fanny ah.. Tapi amnesia ini membuatku merasa kehilangan jati diriku”

“jati diri seperti apa maksudmu? Aboji sudah menjelaskan semuanya pada oppa.. Harusnya semua itu cukup, Mengapa oppa merasa perlu menggali masalalu? Tidakkah kehidupanmu sekarang, juga aboji dan aku berharga dimata oppa?”

ada lelehan airmata yang tiba-tiba membasahi wajah gadis itu. Inilah yang selalu ia takutkan. Bila Siwon mulai membahas amnesia yang dialaminya dan mulai mencari tahu masalalunya. Fanny sangat takut jika nantinya Siwon ingat dengan semuanya. Dan mengetahui dialah penyebab Siwon mengalami amnesia seperti ini. Kehilangan semua bentuk perhatian dari Siwon kini menjadi satu-satu nya ketakutan terbesarnya.

“Ya Tuhan.. Bukan begitu maksudku. Tentu saja kalian sangat berharga bagiku. Aboji memberikan kehidupan baru untukku dan kau.. Aku sangat menyayangimu Fanny ah.. Tidakkah kau tahu itu?”

“aku tahu oppa.. Aku tahu. Jadi kumohon jangan lagi mengatakan kau kehilangan jati dirimu. Oppa anak aboji, kau kakak ku..Itulah jati dirimu!”

“Ya..Aku mengerti. Aku akan mengingatnya”

“janji!”

“Iya.. Aku janji gadis cengeng”

Siwon mengacak rambutnya..

“Yak.. Oppa!”

“Ayo pulang.. Dan besok kita harus kembali ke San Fransisco”

“Aku tidak mau.. Aku masih berencana mengunjungi seseorang yang sangat ku kagumi. Kudengar karier nya kian sukses sekarang..”

“jangan bilang kau berniat menjodohkanku?”

“aku ingin. Tapi sayangnya dia sudah menikah. Tapi oppa tetap harus menemaniku pergi ke korea. Dia tinggal disana..”

“Korea..?”

Siwon tampak enggan untuk menanggapi ajakan Fanny.
Pergi ke korea?
Walaupun ia merasa belum pernah mengunjungi negara itu, tapi Siwon sudah sangat yakin tak ada yang menarik disana.

“Kau harus mau oppa.. Aku tak akan menerima penolakan.”

“Dengarkan aku Fanny ah.. Besok kita tetap akan pulang. Aboji sedang sakit, tidak seharusnya kita meninggalkannya sendirian..”

“Aboji tak sendirian disana.. Ada Nickhun oppa bersamanya”

“jadi sekarang kau mempercayakan aboji ditangan Nickhun?”

“bukan seperti itu.. Aboji sendiri yang mempercayakan kesehatannya pada pria itu”

Jawab Fanny dengan nada kesal. Entah mengapa jika sudah menyebut nama Nickhun, ia langsung merasa antipati terhadapnya.

“sudahlah, jangan membuatku kesal lagi dengan membicarakannya.. Ayolah oppa! Kali ini saja, kau selalu saja sibuk dengan urusanmu sendiri. Lagipula oppa kan belum pernah kesana..”

“aku tak ingin kesana”

“why?”

“Tak perlu alasan kan untukku tidak ingin kesana..”

“Oppa!! Apa kau tak tahu aboji lahir disana. Kami pun pernah tinggal disana. Bagaimanapun aku juga merindukan negara itu”

“benarkah? Astaga.. Apa semua negara sudah pernah kau tinggali?”

Fanny justru menjadi tertawa geli mendengar keterkejutan dari Siwon.

“Tidak juga.. Hanya saja aboji lah yang selalu mengajak kami berpindah-pindah jika sudah menemukan tempat yang  berpeluang terbesar untuk mengembangkan bisnis nya. Jadi bagaimana? Kau mau kan kita pergi ke Korea besok?”

“hmm.. Kita lihat besok saja bagaimana”

Jawab siwon asal, kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan Fanny yang langsung berteriak saat mengejarnya.

***

Yoona sudah kembali ke rumahnya, setelah perjalanan dari Milan yang terasa jauh lebih melelahkan daripada saat keberangkatannya. Seorang supir yang tadi menjemputnya dibandara lansung bergerak turun dan membukakan pintu mobil untuknya.

“khamsahamnida ahjussi.. Ahjussi bisa pulang sekarang”

“baiklah Ny.. Apa tidak ada lagi yang Ny. butuhkan?”

“Tidak. trimakasih ahjussi..”

Yoona langsung melangkah masuk kedalam rumahnya. Ia sudah sangat rindu pada Hana dan Junseo.

“Hana ya.. Jun ah.. Mommy pulang sayang”

“mommy..!!”

pekikan suara Hana langsung terdengar seiring larian kecilnya untuk segera menghambur kepelukan Yoona.

“aigoo.. Mommy merindukanmu”

“Hana juga.. sangat-sangat merindukan mommy”

balas Hana yang kemudian mengeratkan pelukannya.

“Dimana Junseo?”

“Jun sedang bersama aunty cantik dan halmoni..”

“Oh.. Ada aunty Sooyoung?”

“dan Grandpa baru saja pergi”

“benarkah?”

Hana mengangguk dan kemudian menarik tangan sang mommy bersamanya.

“Oh Yoonngie ya..”

Sooyoung keluar dari arah ruang makan bersama Ny.Choi yang sedang menggendong Junseo. Mereka kemudian berjalan menghampiri Yoona.

“mommy.. Mom my..”

“aigoo.. Jun ah.. Mommy?”

Yoona meraih Jun dari Ny.Choi, menciumnya dan sedikit terkejut karna putra kecilnya tak lagi memanggilnya ‘umma’ seperti biasanya.

“siapa lagi kalau bukan karna gadis cilikmu ini yang mengajarinya”

Sooyoung mencubit pipi Hana dan membuatnya terkikik karenanya.

“Hai Soo.. Bagaimana kabarmu?”

“baik.. Mana oleh-oleh dari Milan untukku?”

“kau ini.. Yoona baru saja sampai sudah dimintai oleh-oleh”

tegur Ny.Choi pada Sooyoung dan Yoona hanya tersenyum melihatnya.

“Aku tak sempat berkeliling untuk mencari oleh-oleh. Mianhae..”

“Yah.. Kau ini. Sayang sekali jauh-jauh ke Milan tapi tak berkeliling disana”

“Ya..aku juga sedikit menyesalinya. Bagaimana kandunganmu sekarang?”

“Oh Tuhan.. Tahukah kau, aku harus katakan kehamilanku lebih parah daripada saat aku melihatmu mengandung Junseo dulu. Kurasa ini karna orang yang menghamiliku adalah Shim Changmin itu..”

“Ck! Kau ini jaga bicaramu..”

Ny.Choi kembali menegur Sooyoung dan mengisaratkan ada Hana yang juga mendengarkan mereka disana. Sooyoung hanya bisa meringis kemudian memberi isarat menggunakan tangannya pada Yoona.

“Oh Yoona ya.. Appa mu juga datang tadi”

“Iya oemma.. Hana sudah mengatakannya. Apa ada pesan dari appa untukku?”

“Tidak. Appa mu hanya bermain dengan Hana dan Jun tadi. Kau bisa menelpon appa mu terlebih dulu kemudian beristirahatlah. Kau terlihat lelah sayang..”

“ne..aku akan melakukannya. Kau akan menginap Soo?”

“tidak-tidak. Changmin oppa sedang dalam perjalanan menjemputku kemari..”

“baiklah kalau begitu aku akan naik dan berada dikamarku..”

“biarkan Junseo bersama oemma saja Yoong. Kau tidurlah..”

“anio oemma.. Biar Jun dengan ku saja. Aku merindukannya. Ayo sayang..”

Yoona mengajak serta Hana bersamanya untuk naik ke lantai dua kamarnya.

“apa oemma perhatikan wajah Yoona tadi?”

“apa?”

“raut wajahnya menggambarkan kesedihan..”

“kau ini.. Sejak kapan bisa membaca raut wajah seseorang? Anio.. Oemma rasa Yoona hanya kelelahan saja”

“hu uh.. Oemma ini tak percaya padaku.”

***

Tn.Hwang terlihat gelisah. Perusahaan miliknya yang berada di Jepang tengah bergolak. Akibat sakitnya yang tak kunjung sembuh membuat para pemegang saham mulai mempertanyakan kepemimpinannya. Satu-satu nya jalan mudah untuk mengatasinya adalah membiarkan Siwon menggantikannya.

Tapi..
Jepang..
Kecelakaan disana..
Bagaimana nantinya?
Bagaimana jika pada akhirnya kelurga Siwon mengenalinya dan berujung menuntut Fanny atas kecelakaan itu??

Awalnya Tn.Hwang tak merencanakan akan menjadi seperti ini. Ia membawa Siwon menjauh lebih untuk menyembuhkan luka akibat kecelakaan itu. Dan setelahnya Ia akan membicarakan semuanya. Meminta agar Siwon tak menuntut putrinya. Ia tahu Fanny memang bersalah. Tapi bagaimanapun juga, Ayah mana yang tega melihat putrinya diadili dan dipenjarakan sedangkan ia bisa untuk mencegahnya.

Tapi setelah menyadari Siwon mengalami amnesia, semuanya menjadi berubah. Rencananya tak lagi sama seperti sebelumnya. Ia justru menjadikan Siwon sebagai putra angkatnya dengan mengatakan pada Siwon bahwa dia adalah anak sahabat baiknya yang telah meninggal akibat kecelakaan yang sama dengan yang dialaminya.

Namun pada akhirnya Tn.Hwang harus memilih. Bagaimana pun Ia tahu pasti saat seperti ini pasti akan tiba. Hanya masalah waktu saja yang menentukan. Mengetahui Siwon dan Fanny tengah berada di Jepang saja sudah membuatnya luar biasa khawatir. Dan kini Ia harus memilih membiarkan Siwon untuk menetap disana.

Ya.. Rasanya sia-sia saja selama ini ia menjauhkan Siwon dari sana, bila akhirnya ia sendiri jugalah yang malah mengembalikannya.

Tapi itulah yang kini dipilihnya. Membiarkan Siwon menggantikannya dan mengendalikan perusahaannya, adalah hal yang menjadi pilihannya guna mencegah gejolak perusahaan yang ada agar tak kian melebar.

Hanya sementara. Ia yakini itu semua hanya untuk sementara. Setelah semuanya kembali stabil dan kesehatannya pulih. Ia akan menarik Siwon kembali ke San Fransisco. Tempat dimana tak seorangpun mengetahui latar belakangnya yang sebelumnya.

“panggilkan pengacaraku kemari..”

Dan pada hari itu juga Tn.Hwang menyiapkan semuanya. Perusahaan nya yang sudah tergolong global setelah merambah kebeberapa negara lainnya, sudah pasti akan ada peliputan dari para penyebar berita kepada publik atas pergantian kepemimpinan ke tangan Siwon. Untuk berjaga-jaga ia meminta pengacaranya memastikan bahwa semua data mengenai status Siwon sebagai putranya telah berkekuatan hukum. Hingga kelak jika sesuatu yang buruk terjadi takkan ada yang bisa menuntutnya. Karna Siwon yang kini mengenal dirinya sendiri sebagai Harry adalah putranya, penerusnya.

***

“Oppa.. Kau sudah lebih dulu mengatakan akan pergi bersamaku”

“Iya aku tahu Fanny ah.. Maafkan aku, tapi ini sangat mendesak. Aku harus membantu aboji terlebih dulu.”

Fanny berdecak kesal ketika ia akhirnya berhasil memaksa Siwon bahkan keduanya sudah akan pergi menuju bandara. Namun kedatangan beberapa orang suruhan ayahnya pada akhirnya menggagalkan rencananya.

Siwon lebih memilih mengikuti orang-orang itu daripada meneruskan rencananya untuk pergi menemani Fanny ke Korea.

“itulah mengapa aku lebih memilih tak berurusan dengan perusahaan. Karna dengan begitu aboji tak bisa mengaturku..”

“Sudah jangan marah begitu.. Pergilah lebih dulu. Setelah semuanya selesai aku akan menyusulmu..”

***

Saat ini, dari balik layar tayangan televisi yang dilihatnya Tn.Hwang tersenyum bangga ketika melihat Siwon mengumumkan dirinya sebagai pengganti kepemimpinan ayahnya untuk sementara sampai kondisi Tn.Hwang pulih.

Seperti apa yang telah menjadi perkiraan nya sebelumnya, jika akan ada banyak media yang meliput peristiwa itu. Ini akan menjadikan wajah Siwon akhirnya terpampang dimana-mana. Satu hal itu yang sesungguhnya masih menjadi ketakutannya, namun dengan keyakinan tersendiri ia berusaha mengabaikan semua itu, hingga kini ia dapat tersenyum bangga ketika Siwon menyebutkan diri sebagai putranya.

Tapi berbeda dengan kebanggaan yang dirasakan Tn.Hwang ketika melihat Siwon. Keterkejutan yang luar biasa justru tengah didapatkan Jessica, saat dengan tidak sengaja ia melihat tayangan televisi dihadapannya. Ia tidak dengan sengaja ingin menonton siaran berita di televisi melainkan menyaksikan siaran Fashion seperti yang sering kali ia lakukan sambil menunggu para karyawan membuka butik Yoona.

“Ommo.. Astaga! Siwon? Itu Siwon kan? Ya Tuhan!”

seketika Sica terduduk lemas kemudian memanggil Yuri dengan volume suara paling tinggi yang ia bisa.

“Astaga.. waeyo Sica?”

“lihatlah.. Lihatlah itu!”

“nde? Ya Tuhan.. Itu? Benarkah itu siwon?”

Yuri terlihat begitu tidak percaya..

“Siwon.. Siwon..”

gelas ditangannya jatuh dan kemudian menjadi pecah berkeping-keping. Membuat Yuri dan Sica terkejut dan seketika mematikan televisi dihadapan mereka.

“Yoona…”

Yoona lantas merebut sebuah remote televisi itu dari tangan Sica. Dengan tangan gemetar ia mencoba menyalakan lagi televisi dihadapannya. Matanya mengawasi, mencari-cari tayangan televisi yang diyakininya memunculkan wajah sang suami disana.

Tidak mungkin..
Mana mungkin itu suaminya.
Mana mungkin Siwon masih hidup.
Setelah dengan mata kepalanya sendiri ia melihat jasad sang suami terkubur dalam tanah.

“Dia Siwon! Ya Tuhan Siwon.. Aku melihatnya tadi..”

“apa yang kau bicarakan Yoong? Mana mungkin kau melihat Siwon. Siwon sudah…”

Yuri menutup mulutnya,mencegah kata-katanya keluar. Ia yakin apa yang nanti dikatakannya pasti hanya akan menyakiti Yoona.

“Tidak.. Dia siwon. Tadi memang Siwon. Tidakkah kalian melihatnya? Ya Tuhan Siwon.. Aku harus bertemu dengannya..”

“Yoona! Yoona..!! Apa yang akan kau lakukan??”

Yuri buru-buru menarik pergelangan tangan Yoona ketika melihatnya mulai panik atas apa yang baru saja dilihatnya.

Siwon?
Ya Tuhan.
Mereka hampir-hampir tak mempercayai apa yang mereka lihat dengan kedua mata mereka sendiri.

“Yoona! Yoona..! Apa yang akan kau lakukan?”

“aku harus bertemu dengan Siwon, Yuri.. Aku harus menemuinya.”

“Yoona.. Dengarkan aku! Apa kau yakin itu Siwon? Apa kau tahu dimana dia sekarang? Kita tak tahu pasti benar tidaknya apa yang kita lihat tadi. Tenangkan dirimu.. Kita akan cari tahu dulu siapa pria itu.”

“Tidak Yuri.. Kumohon mengertilah. Aku yakin dia memang Siwon.”

“Yoona, Aku juga mohon padamu.. Dengarkan dulu aku. Aku bukan bermaksud menghalangimu menemui Siwon jika itu benar dia. Tapi aku takkan membiarkanmu pergi sementara kau sendiri tak tahu kemana arah tujuanmu..”

Yoona sedikit melunak oleh kata-kata Yuri. Tapi bagaimanapun juga ia merasa tetap harus menemui Siwon.

“Aku akan cari tahu siapa pria itu..”

Sica yang mulai berhasil mengatasi keterkejutannya, bergerak untuk mengambil ponsel pintar miliknya. Menggunakannya untuk Melakukan beberapa kali browsing di internet dari sedikit informasi yang berhasil mencapai ingatannya.

Ya..
Rasa terkejutnya membuat ia tak menyimak akan isi berita yang tadi ditayangkan.

“aku menemukannya.. ‘Harry pengganti sementara pimpinan perusahaan global yang berada di Jepang nampaknya juga akan menjadi pewaris yang akan

Sica mengutip beberapa kalimat yang ia baca dari news online yang berhasil didapatkan nya. Nampaknya berita mengenai Siwon memang sedang berada pada topik utama info bisnis dari beberapa media online yang ada.

“Harry.. Pria tadi bernama Harry. Dia anak dari pemilik perusahaan yang berada di Jepang dan bukan…”

Sica menghentikan ucapannya saat tiba-tiba Yoona merebut ponsel ditangannya.

“Yoona..”

Dengan menggunakan tangannya yang gemetar, ia mencoba memastikan kebenaran akan kata-kata Jessica.
Pria itu jelas-jelas Siwon. Mengapa orang-orang justru menuliskan nama ‘Harry’ disana?

“Tidak.. Ini salah. Ini semua salah. Dia Siwon. Dia suamiku. Mengapa mereka menuliskan nama yang salah padanya..”

Yoona mulai panik dan tak bisa lagi menguasai dirinya. Perasaan nya kalut oleh apa yang dibacanya.

“aku harus menemuinya. Aku harus meluruskannya..”

“Yoona.. Yoona..!!”

“jangan mencegahku.. Kalian jangan mencegahku! Aku harus bertemu Siwon. Ya Tuhan mereka semua salah. Dia suamiku..!”

Yoona begitu histeris dan gugup. Membuatnya berteriak entah pada siapa. Yang pasti hanya ada Siwon dipikirannya.

Yuri dan Sica hampir saja menangis melihatnya. Meski tak ikut merasakan perasaan seperti apa yang kini tengah berkecamuk dihati Yoona, tapi mereka mengerti apa yang sedang Yoona rasakan.
Ia pasti merasa kebingungan dengan apa yang akan ia lakukan.

“Yoona.. Pria itu berada di Jepang. Bisakah kau pergi kesana? Jepang Yoona.. Kau bahkan tak pernah lagi kesana setelah peristiwa itu..”

Sica mencoba mengingatkan.
Yoona memang tak mau lagi pergi ke negara itu. Baginya Jepang sudah menjadi tempat yang merenggut keluarganya. Merenggut suaminya. Merenggut ayah dari kedua anaknya dan merenggut kebahagian nya yang ia rasa telah sempurna waktu itu.

Sejak saat itu ia memutuskan tak akan lagi datang kesana. Jika pun mendapatkan undangan untuk acara fashion, ia lebih memilih untuk tidak menghadirinya atau ia akan mewakilkannya pada Jessica ataupun Yuri.

“Tidak, Tidak.. Aku bisa.. Aku akan kesana..”

Yoona mengambil tas tangan nya dan buru-buru keluar dari butiknya tak perduli Yuri dan Sica meneriakkan namanya mencoba untuk mencegah kepergianya.

“otthokae Sica? Yoona.. Apa yang akan dia lakukan? Apa yang harus kita lakukan? Cepatlah telepon bibi Choi. Paman Im. Sooyoung atau siapapun entahlah.. untuk mencegahnya.”

Sica melakukan apa yang Yuri katakan. Tapi ia lebih memilih menelpon Changmin. Dengan pemikiran bahwa ayah Yoona ataupun ibu mertua Yoona adalah sebagai orang tua, yang sudah pasti akan panik bila mendengar berita mengejutkan seperti itu. Sedangkan Sooyoung, dia sedang hamil dan Jessica juga tahu apa yang terjadi pada Sooyoung sebelumnya. Ia tentu tak menginginkan sesuatu yang buruk kembali terjadi pada kehamilan Sooyoung kali ini.

Setelah menghubungi Changmin, Yuri dan Sica yang masih berada dalam butik, justru merasa kian cemas setelah ponsel milik Yoona tak bisa dihubungi.
Changmin yang memang memiliki akses langsung untuk mengurusi bandara disana, mengatakan dan memastikan Yoona memang nekat pergi ke jepang, setelah mengecek daftar manifest dari beberapa maskapai yang melakukan penerbangan ke Jepang, dan menemukan nama Im Yoona pada salah satunya.

Sica sudah mengatakan kejadian awalnya dan reaksi yang sama, Changmin pun tak luput dari keterkejutannya ditambah lagi Sooyoung ternyata juga menyaksikan berita yang sama. Sudah bisa dipastikan dia mengalami shock. Tak menyangka akan apa yang tadi dilihatnya.

“paman..”

Yuri menjawab telponnya dan terkejut, ayah Yoona ternyata juga mengetahui berita mengenai Siwon dan sedang mempertanyaan keberadaan Yoona setelah mendapati hal yang sama pada ponsel Yoona yang tak dapat dihubungi.

“Changmin sudah memastikan jika Yoona memang pergi ke Jepang, paman. Maafkan aku.. Seharusnya aku bisa mencegahnya”

Tn.Im menjawab pasrah. Ia memahami kenekatan Yoona, ia hanya mengkhawatirkan kekecewaan yang akan diterima putrinya, karna ia sendiri sangsi akan pria itu adalah Siwon, menantunya. Jika memang dia Siwon, lantas siapa jasad yang telah mereka kuburkan waktu itu? Lalu kemana dia selama ini? Kenapa dia tega membiarkan Yoona tersiksa dan menganggapnya mati? Sedangkan Ia tahu pasti besarnya cinta yang ditunjukkan Siwon untuk Yoona.

“Yuri.. Kurasa kita harus ke rumah Yoona. Changmin oppa mengatakan Sooyoung juga sudah mengetahuinya. Dan bibi Choi tak berhenti menangis setelah mengetahui semuanya.”

“Ya Tuhan.. Kenapa jadi seperti ini?”

***

Yoona pada akhirnya nekat memberanikan dirinya kembali datang ke Jepang. Berbekal informasi yang didapatnya dari news online yang juga ia akses dari ponsel pintarnya. Yoona menemukan nama dan alamat perusahaan yang kini menjadikan Siwon sebagai pimpinan disana.

“Aku ingin bertemu suamiku..”

Yoona langsung mengatakan maksud tujuannya begitu ia berada dilobi dan bertemu dengan resepsionis yang berjaga.

sang resepsionis tak menjawab dan hanya mengerutkan kening nampak  bingung dengan apa yang di ucapkan oleh Yoona.
Saat itu Yoona sadar, bila ia seharusnya berbicara dengan menggunakan bahasa Jepang.

Namun belum sempat ia mengoreksi pertanyaan nya, matanya terpaku oleh sosok yang keluar dari dalam lift bersama dengan cukup banyak orang yang mengikutinya.

Pada saat itu Yoona merasakan angin yang menyejukkan dalam hatinya.

Ya Tuhan..
Suami yang telah ia anggap mati kini justru berada tak jauh darinya. Tanpa membuang waktu, Yoona berlari menghampirinya…

“Yeobo…!!”

Yoona semakin tak bisa mengendalikan dirinya. Ia berlari menghampiri Siwon. Menghambur kedalam pelukannya, tak perduli banyaknya orang yang saat itu berada disekitarnya dan memandangnya dengan mata melebar.

“Yeobo.. Yeobo aku merindukanmu. Ya Tuhan.. Aku merindukanmu. Mengapa kau membiarkanku terlalu lama merindukanmu..”

Yoona tak bisa menyembunyikan tangisnya. Membuat Siwon bertambah heran karenanya.

Bagaimana tidak, seseorang tiba-tiba memeluknya dan kini justru menumpahkan airmatanya.

Beberapa pengawal sudah akan menarik tubuh Yoona karna dirasa telah mengganggu Tuan nya. Namun dengan mengangkat salah satu tanganny, Siwon mengisyaratkan untuk tidak melakukannya hingga ia sendiri yang kemudian mencengkram bahu Yoona dan sedikit mendorongnya untuk menjauh.

“who is you?”

Yoona terkesiap dan tak habis mengerti dengan pertanyaan Siwon padanya.

“Yeobo..”

“aku bertanya siapa kamu?”

Matanya menatap tajam kearah Yoona, mempertanyakan siapa sebenarnya wanita dihadapannya hingga dengan berani dan bisa dikatakan lancang memeluknya.

“Siwon.. Aku merindukanmu. Sangat rindu hingga membuatku merasakan sakit didalam diriku.”

Yoona beranjak untuk meraih Siwon namun seketika Siwon memundurkan dirinya.

“kurasa jiwamu juga ikut sakit, nona..”

Siwon tersenyum mengejek tak perduli tatapan sendu yang pada saat itu membingkai pada wajah Yoona. Ini sungguh bukan sesuatu yang diduganya.

Tak ingin membuat orang-orang disekitarnya menjadikan dirinya sebagai tontonan gratis. Siwon pun beranjak untuk pergi, namun pergelangan tangannya tertahan oleh tangan Yoona yang kemudian menariknya.

“Siwon.. Kau mau pergi kemana? Jangan pergi! Aku sudah terlalu lama merindukanmu kembali padaku..”

Dasar wanita gila..!

Siwon mengumpat dalam hatinya. Dengan terang-terangan wanita itu berani mempermalukan nya. Tak ingin membuat keributan disana. Siwon pun mendekat membisikkan sesuatu ditelinga Yoona.

“pergilah keruanganku.. Kita akan selesaikan disana”

“maksudmu..?”

“antar dia keruanganku.. Aku belum selesai denganya”

“Ya.. Sir”

Siwon tak menggubris pertanyaan Yoona dan langsung berlalu dengan beberapa orang yang dengan setia mengekorinya.

Yoona telah merasakan kedua lututnya lemas, namun ia tetap mengikuti seorang pengawal yang tadi diperintahkan untuk mengantar dirinya menuju ruangan yang disebutkan oleh Siwon.

Disana Yoona kemudian menunggu. Berdiri dengan gelisah sambil menatap pintu ruangan yang masih setia menutup.

Sampai saat itu sudah lebih dari tiga jam ia berada didalamnya. Dan harus berapa lama lagi ia menunggu?
Menunggu Siwon datang, menghampirinya dan juga memeluknya..

Penantiannya dirasa tak sia-sia setelah pada akhirnya pintu ruangan itu terbuka. Siwon masuk dan kembali menutup rapat pintu dibelakangnya. Matanya dengan awas menatap kearah Yoona. Tatapan yang tidak biasa. Ada cemoohan yang tersirat disana.

Ini bahkan baru beberapa jam setelah pengumuman pada publik akan kepemimpinannya. Dan sekarang sudah ada wanita yang mengejarnya..

Mungkin benar apa yang pernah ia dengar. Wanita murahan selalu bisa menemukan sasarannya yang tepat.

Siwon terus bergelung dengan pemikirannya tentang Yoona, wanita yang kini berada dalam ruang kerjanya.

“Yeobo..”

Yoona kembali mencoba meraih nya, namun sekali lagi Siwon menghindar dengan berjalan kearah sofa panjang disana.

“well.. Mari kita selesaikan ini sekarang. Jika itu yang kau inginkan..”

Siwon Melepaskan jas dari tubuhnya kemudian melemparnya asal, membuka dasi juga menggulung lengan kemejanya.

“jadi berapa yang kau terima dari setiap pria yang menginginkanmu menanggalkan pakaian cantikmu itu?”

“Apa..??”

*

*

*

*

*

*

*

*

To Be Continued~

@joongly

164 thoughts on “YOU’re My Destiny [1]

  1. Ohh ya ampun,bacanya ampe nangis
    Kasian yoona yang selalu teringat siwon apalagi hana ama junseo..oh mudah2an siwon cepet inget ama yoona…
    Semangat thor….

  2. Ya ampun yoona dituduh wanita jalang sma siwon….
    Ahhhh tega banget jga tn.hwang sma tiffany sampek buat cerita khayalan yg gk jelas itu untuk asal-usul siwon….
    Huuuuuuhhhh tega tega bner tn.hwang tiffany

  3. Yoona dan siwon bener2 shock satu sama lain,kasihan yoona ngarep banget siwon oppa,siwon oppa balik kesifatnya yang dulu sebelum kenal Yoona,udah lama jadi reader disini,tapi baca ff ini baru sekarang memalukan ya saya ini,T.T

  4. Kasian mommy
    Terlalu rindu sama daddy sampai rela ninggalin hana junseo buat ke jepang nyusulin daddy
    Harry oppa kenapa gitu.. itu mommy dad,, istrimu
    Benci sama tn. Hwang n tiffany

  5. Terlalu rindunya mommy sampai ke jepang buat nyusulin daddy yg skg jd harry oppa😦
    Tn hwang licik sekali menyembunyikan semua ini
    Dad,,itu mommy
    Sadarlaah

  6. untng sj siwon masi hidup. wlpun krn keegoisan tuan hwang. dia hrs berpisah dr keluarganya. setidaknya dia masih hidup.
    kasian yoona….
    lanjut..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s