Fanfiction

| At First Sight | 12

Happy Reading~

[11]

*

*

*

*

*

Author POV

Yoona seakan tak mempercayai pendengarannya, Ia meminta sang dokter untuk kembali mengulang kalimatnya.
Dan apa yang didengarnya tetaplah sama, bahwa Seohyun, sang dokter mengatakan padanya Yuri tidak sedang berada diluar negri.

Kecurigaan mengenai sesuatu yang disembunyikan yang kemudian membuat Seohyun mengajak Yoona untuk berbicara.

Di sebuah kafe yang berada disebrang jalan dimana Yoona seharusnya mengikuti kelas hari itu, Seohyun mencoba berbicara dengan Yoona yang terlihat memucat pada wajahnya atas apa yang sebelumnya dikatakan olehnya.

“Kau benar-benar tidak tahu dimana kakak mu sekarang berada?”

Seohyun bertanya setelah memesan dua minuman hangat dari seorang pelayan yang menghampiri mereka.

Yoona hanya menggeleng sebagai jawabannya.

“Kau benar-benar mengira kakakmu berada diluar negri?”

Yoona mengangguk..

Ya..
Itu apa yang dikatakan Donghae padanya dengan penuh keyakinan bahwa kakaknya akan disembuhkan bila berada disana karna akan ditangani oleh dokter kejiwaan yang lebih ahli.

“Yuri masih berada disini, Yoona..”

“Tapi, bagaimana dengan yang Donghae oppa katakan padaku? Oenni ku.. Bukankah Yuri oenni ku sedang dirawat oleh dokter ahli disana?”

Seohyun menghela napas dan menggeleng kearahnya..

“Jadi dimana.. Dimana Yuri oenni, dokter? Jika tidak diluar negri, apa itu berarti Yuri oenni kembali berada dirumah sakit? Anda mengetahuinya.. Maka saya mohon katakan dimana Yuri oenni? Aku.. Aku harus bertemu dengannya..”

Yoona berdiri dari duduknya dengan panik, hingga menyenggol sang pelayan kafe yang kebetulan hendak mengantarkan apa yang menjadi pesanan Seohyun. Nampan yang berisi dua gelas minuman hangat terlepas dari tangannya dan jatuh dengan suara pecahan gelas yang kemudian menarik perhatian pengunjung kafe yang lain.

“Mianhaeyo.. Aku akan mengganti semuanya, dan tolong buatkan lagi yang sama..”

Seohyun juga yang lantas menarik tangan Yoona agar kembali duduk.
Ia jelas belum selesai berbicara dan gadis muda itu telah kehilangan kendali atas dirinya. Seohyun bisa menangkap kepanikan itu di mata Yoona.

“tolong, tenangkan dirimu..”

Ketika Yoona menggelengkan kepalanya dengan arti ia tak dapat bersikap tenang seperti yang diingkan sang dokter, Seohyun meremas jari-jari tangan Yoona yang berada dalam genggamannya. Itu jelas menunjukkan dirinya mengerti dengan apa yang dirasakan Yoona pada saat itu. Ia seorang dokter yang setidaknya telah banyak menangani pasien dengan berbagai reaksi dan tingkat emosi yang beragam dari berbagai kasus.

“Aku tidak akan bisa tenang, dokter.. Tidak, sebelum bertemu dengan Yuri oenni. Dimana Yuri oenni dokter? Katakan dimana dia sekarang?”

“dia dalam keadaan baik-baik saja, tenanglah..”

Seohyun menatapnya dengan maksud agar Yoona mempercayainya.

“dan lebih dari itu Yoona, kurasa kita perlu membicarakan tentang sesuatu. Sesuatu yang.. Yang berhubungan dengan Donghae”

Yoona menatap Seohyun dengan penuh tanda tanya dan kebingungan untuk menyerap apa yang sebenarnya dia maksud.

“Aku ingin kau mengatakan padaku apalagi yang Donghae katakan padamu? Selain Yuri yang berada diluar negri..”

Yoona menggeleng..

“kurasa Donghae oppa hanya mengatakan itu padaku, dokter..”

“dia tidak mengatakan padamu mengenai penyebab depresi yang dialami kakakmu?”

“Donghae oppa mengatakannya.. Dia mengatakan penyebabnya karna Yuri oenni mendapatkan penolakan dari seorang pria yang dicintainya”

“dan kau mempercayainya?”

Yoona mengangguk..

“Tidak ada yang lebih ku percayai didunia ini selain kakak ku dan Donghae oppa.. Aku mengira memang benar seperti itu, Yuri oenni tak bisa mengatasi patah hatinya”

“Apa maksudmu dengan kata ‘mengira’? Jadi sebenarnya kau sendiri tidak yakin dengan alasan yang seperti itu?”

“Awalnya aku mempercayai hal itu, dokter. Tapi.. Tapi, aku menjadi ragu setelah seseorang yang dicintai Yuri oenni mengatakan padaku jika Yuri oenni adalah wanita yang pintar dan tidak mungkin menjadi seperti itu hanya karna cinta nya mengalami penolakan. Dan aku menjadi memikirkan hal itu..”

Keduanya kemudian sama-sama diam ketika sang pelayan kembali membawakan pesanan mereka. Seohyun sempat mengucap terimakasih sebelum kemudian mengambil gelasnya untuk sedikit menyesap minuman hangatnya.

“Jadi dimana Yuri oenni, dokter?”

Mengetahui keberadaan Yuri saat itu menjadi hal utama bagi Yoona.

“Mengapa kau tidak mempertanyakan kenapa Donghae membohongimu tentang keberadaan Yuri saat ini?”

“ku pikir, ku pikir aku akan menayakan hal itu nanti langsung pada Donghae oppa. Dia mencintai oenni ku, dan pasti yang dilakukannya adalah untuk kebaikan Yuri oenni. Saat ini Aku hanya sangat ingin untuk bertemu dengan Yuri oenni. Tolong katakan padaku, dokter.. Jebal..”

“Donghae mengurungnya, Yoona. Dia mengurung kakakmu dan hal itu bukanlah demi kebaikan Yuri apalagi kesembuhannya, tapi kebaikan dirinya sendiri. Donghae menginginkan Yuri menjadi miliknya sendiri, bahkan kau pun tidak diijinkan..”

Yoona tercekat, namun Seohyun masih terus melanjutkan..

“Lebih dari sekedar patah hati, kakakmu.. Yuri, telah mengalami pelecehan seksual. Itulah apa yang menjadi penyebab depresinya..”

Tidak..
Yoona merasakan limbung, informasi itu tidak dapat diterima olehnya.

“Membuatnya ketakutan setiap kali berdekatan dengan kaum pria. Dia terluka secara fisik dan sekaligus mentalnya yang kemudian jatuh terpuruk, terguncang. Itulah mengapa Yuri menjadi melihat dirinya sendiri sebagai wanita yang tak layak untuk diinginkan”

Yoona seakan merasakan gonjangan disekitarnya.
Tapi tidak..
Ia tidak merasakan apa-apa.
Ia tidak ingin merasakan apa-apa.
Bisakah ia mendapatkan mati rasa?
Ia tidak ingin..
Tidak ingin merasakan kesakitan yang luar biasa dari perasaannya yang tercabik saat itu, setelah mengetahui apa yang sudah menimpa oenni nya.
Ia masih tak ingin mempercayainya..

“Tidak dokter, itu tidak mungkin..”

Seohyun kembali meraih tangan Yoona ketika airmata gadis itu dengan bebasnya meluncur turun membasahi wajahnya yang sayu.

“Aku yang melakukan pemeriksaan dihari pertama kau dan Donghae membawanya ke rumah sakit. Ada luka bekas kekerasan seksual dan visum yang ku lakukan menguatkan semua itu”

“mengapa.. mengapa dokter tak mengatakannya padaku waktu itu?”

“maafkan aku, itu karna Donghae.. Donghae memohon padaku untuk tidak memberitahukannya padamu. Dia mengatakan padaku jika hal itu hanya akan membuatmu semakin sedih dan terguncang”

“Lalu siapa pelakunya? Siapa bajingan itu? Keparat yang telah melakukan itu pada Yuri oenni!! Aku bisa melaporkannya ke polisi dan memastikan dia terpenjara dalam seumur hidupnya.. Atau mati!!”

Yoona berubah emosional..

“Aku mengerti dengan kemarahanmu sekarang.. Tapi tolong Yoona, dengarkan aku selesai berbicara. Hanya dengarkan..”

Seohyun memastikan Yoona terlebih dulu mengangguk sebagai persetujuan, sebelum kemudian ia kembali meneruskan.

“Aku baru mengetahui jika bukanlah seperti itu alasan Donghae meminta fakta itu disembunyikan darimu.. Melainkan karna, karna sebenarnya.. Yang melakukan hal itu pada Yuri adalah, adalah Donghae.. Yoona, aku mendapatkan sendiri kepastian itu dua hari yang lalu dari kakakmu. Yuri hanya sedikit mau berkomunikasi denganku, tapi dia mengangguk saat aku menanyakan dengan hati-hati mengenai Donghae yang telah menyakitinya. Dan dia menangis histeris setelahnya..”

Seohyun berhenti sejenak untuk melihat bagaimana respon Yoona, namun gadis itu masih diam dan menurutinya untuk hanya mendengarkan dulu sampai ia selesai.

“Donghae melarang keras aku untuk mengatakan hal itu padamu karna dia.. dia ingin melindungi dirinya sendiri. Maafkan aku.. Sebelumnya Aku telah mencurigai dia lah pelakunya, tapi aku tetap menutupi itu darimu. Aku bersalah padamu dan juga pada Yuri..”

Seohyun juga yang kemudian mengatakan bahwa ketersediaannya merahasiakan hal itu dikarenakan Donghae adalah salah satu temannya dan sekaligus seseorang yang disukainya. Maka otomatis Seohyun juga berkeinginan melindunginya meski ia sendiri menyadari perbuatan pria itu adalah kriminal.

“Aku mulai menyadari kekeliruanku tadi pada saat mendengarmu mengira Yuri berada di luar negri. Jelas telah terjadi kesalahan dan kebohongan-kebohongan yang dilakukan Donghae kepadamu, ataupun padaku. Kenyataannya adalah Yuri ditempatkan di sebuah apartemen, terkurung didalamnya. Ya Tuhan.. Aku sangat ingin membawanya keluar dari sana..”

Seohyun bisa saja melapor pada pihak yang berwajib, namun ia tak melakukannya. Hatinya selalu bimbang antara membuka yang sebenarnya ataukah menutupi itu demi untuk tidak melihat pria yang telah menjadi temannya dan bahkan hatinya mengatakan menyukainya, dipenjarakan. Seohyun sama hal nya memiliki pemikiran yang rumit untuk dijabarkan.
Itu terjadi dalam beberapa hari yang lalu, namun sekarang, setelah bertemu dengan Yoona dan ketidak tahuan gadis itu mengenai kondisi kakaknya sendiri membuatnya terenyuh dan merasa sangat kasihan..

“Aku tahu Donghae memang mencintai Yuri, namun cinta yang dimilikinya adalah cinta yang berkembang menjadi posesif, menuntut, memaksa untuk harus memiliki. Aku telah mulai mencurigai Donghae adalah seorang psyco, dia memiliki masalah kejiwaan. Tapi sejauh ini aku masih belum dapat memastikannya. Aku perlu lebih dulu melakukan pembicaraan dan pendekatan padanya, tapi Donghae selalu menghindar”

Yoona masih diam, namun kali ini kedua tangannya yang berada diatas meja telah mengepal. Antara percaya dan tidak percaya ketika mendengar Seohyun menyebut Donghae sebagai psyco, namun Yoona kemudian menjadi bergidik ngeri membayangkan Yuri berada ditangan pria yang seperti itu. Maka Ia bergerak dengan cepat, berdiri dari duduknya dan mendorong kursi dibelakangnya.

Ia harus menemukannya..
Menemukan keberadaan kakaknya..

“Aku sudah cukup mendengar anda, dokter. Aku akan menemui Yuri oenni sekarang..”

Yoona bahkan tak perlu menunggu Seohyun mengatakan dimana alamat keberadaan kakaknya. Namun kemudian Seohyun mengejarnya setelah terlebih dulu meninggalkan lembaran uang pembayaran diatas meja. Seohyun langsung berlari ketika melihat Yoona telah mencapai jalan raya. Ia seperti orang linglung yang terus menggumamkan nama Yuri dibibirnya. Ketika beberapa mobil yang melintas mulai menyalakan klakson untuk memperingatkannya agar tidak berbuat nekat dengan sembarangan saat menyebrang, Seohyun yang kemudian menariknya dengan kuat hingga ke bahu jalan.

“Astaga.. Yoona, kau pikir kau sudah tahu dimana kakakmu berada? Kau pikir aku sudah mengatakan dimana Yuri saat ini?! Jangan membahayakan dirimu jika kau benar-benar ingin bertemu dengan kakakmu..!”

Ucapan Seohyun menyentaknya, membuat Yoona terduduk dengan lemas diatas trotoar dan menangis. Isakannya terdengar pilu, menandakan Ia yang benar-benar terguncang saat itu.

Mengetahui kakaknya mengalami depresi setelah mendapatkan pelecehan seksual dari pria yang dekat dengannya dan sangat dipercayai olehnya nyaris tanpa cela, membuatnya sangat terpukul.
Yoona tak mengira jika Donghae sebejat itu. Setega itu pada Yuri, yang dari berkali pengakuannya, kakaknya adalah wanita yang dicintai olehnya.
Ia ditipu, diperalat dan dibodohi dengan mudahnya.

Benar apa yang Siwon katakan padanya, bahwa dirinya hanyalah gadis belia bodoh.

Siwon..
Teringat dengan Siwon, Yoona menyadari dirinya telah melakukan kesalahan besar pada pria itu bahkan sejak pada pandangan pertama ia melihatnya. Balas dendam yang direncanakannya yang mengatas namakan Yuri, rupanya salah. Ia salah sasaran. Harusnya ia bisa sedikit lebih pintar dalam mempercayai seseorang. Dan tidak dengan begitu saja menyerap semua informasi tanpa penyelidikan.

Donghae tak sebaik perkiraannya dan yang selama ini dilihatnya.
Tapi sebelumnya pria itu memang selalu bersikap baik padanya dan juga pada Yuri oenni nya.
Lalu mengapa dia berubah?
Karena apa dia menjadi begitu tega dan kejam?
Dan apa yang sebenarnya menjadi tujuan Donghae dengan melempar segala tuduhan pada Siwon?
Sedangkan dari apa yang dikatakan Siwon padanya, Donghae telah sekian lama mengenalnya. Siwon bahkan sampai menyebut mereka tumbuh bersama. Dan Yoona juga sempat menyaksikan kedua orangtua Siwon yang bersikap ramah padanya.

Selain mengatas namakan Yuri, Apa sebenarnya yang menjadi alasannya hingga sampai memiliki rencana untuk menghancurkan Siwon?
Apa yang diinginkannya?
Dan apa yang menjadi tujuannya..?

Ia tak dapat menemukan jawabannya..

Yoona mengerang dalam tangisnya, menyesalkan seharusnya ia bisa memikirkan semuanya dengan lebih baik.
Bukan justru dengan mudahnya diperdaya oleh seorang yang memiliki ganggungan kejiwaan.

Ya..
Ia mulai memikirkan Donghae memanglah pria berpenyakit jiwa. Karna hanya orang yang sakit jiwa lah yang tega melakukan hal-hal keji dan kejam seperti itu.

“Kau sakit jiwa Oppa.. Kau sakit jiwa!! Kenapa kau melakukan itu pada Yuri oenni.. Kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa kau membohongiku? Kau sakit oppa, kau benar-benar sakit..!!”

“Ayo, Yoona.. Ikutlah denganku, aku akan membawamu bertemu dengan Yuri”

Seohyun yang tak tega melihat tangisan Yoona, yang kemudian merengkuh bahu gadis itu untuk berdiri. Ia menuntun Yoona untuk menyebrang menuju mobilnya yang masih diparkir didepan tempat dimana mereka tak sengaja dipertemukan tadi.

Ia membuka pintu mobil dan membiarkan Yoona masuk kedalamnya, duduk disebelahnya yang dengan segera mengemudikan mobilnya ke arah jalan raya.

Yoona tak bisa menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan Seohyun sampai kemudian menghentikan laju mobilnya. Yang jelas menurut apa yang dirasakannya pada saat itu, setiap menit bahkan setiap detiknya rasanya sungguh sangat lama. Hingga mungkin ia telah sampai ratusan kali mempertanyakan pada Seohyun, kapankah ia akan sampai di tempat sang kakak dikurung, di sembunyikan.

Sial..
Kenyataan itu benar-benar menyakitinya. Terlebih fakta bahwa yang melakukan hal itu adalah seseorang yang dipercayainya, membuat Yoona telah berkali-kali mengumpat didalam hatinya.

Ia bertekad untuk membawa oenni nya. Karna tak ada seorangpun yang lebih berhak dan berkewajiban menjaga Yuri selain dirinya.

“Kita sudah sampai..”

Seohyun menyentuh lengan Yoona dan menyadarkan gadis itu dari lamunannya.

Yoona menatap ke sekeliling dan hanya menemukan setidaknya ada ratusan mobil disana.

“Kita di basemant gedung..”

Seohyun yang kemudian menjawab pertanyaan tak terucap dari Yoona.

“Donghae menempatkan kakakmu di salah satu kamar di gedung apartemen ini..”

Seohyun membuka sabuk pengamannya, Ia baru akan turun ketika kemudian mendengar ponselnya berdering.
Panggilan dari rumah sakit..

“Dokter, anda sebaiknya secepatnya datang ke rumah sakit. Pasien anda mencoba melakukan bunuh diri. Dia telah berhasil memutus urat nadinya dan sekarang sedang ditangani didalam ruang gawat darurat.. Keluarganya terus mempertanyakan dimana keberadaan anda..”

Pemberitahuan itu yang dengan segera membuat Seohyun menatap kearah Yoona yang telah membuka pintu mobilnya, bersiap untuk turun. Terpancar ketidak sabaran dari sorot matanya untuk segera dapat menjumpai kakaknya.

“aku mengerti..”

Setelah mengiyakan, Seohyun menutup ponselnya dan beralih pada Yoona.

“Panggilan dari rumah sakit..”

Seohyun memberitahukan..

“salah satu pasien ku dalam keadaan gawat.. Aku harus ke rumah sakit sekarang.”

“Tidak apa-apa dokter, anda bisa pergi. Aku akan menemui Yuri oenni. Terimakasih untuk semuanya. Saya benar-benar bersyukur Tuhan telah mempertemukan saya dengan anda, tadi..”

Yoona sudah akan membawa kakinya untuk turun ketika kemudian Seohyun menahan pergelangan tangannya.

“Tunggu Yoona.. Sebaiknya, sebaiknya kau ikut denganku saja..”

“nde? Apa maksud dokter?”

“Kau ikut dulu denganku ke rumah sakit. Setelah itu, aku akan membawamu kembali kesini. Kita akan bersama-sama saat menemui Yuri..”

Mendengarnya, Yoona langsung menyentakkan tangannya sebagai tanda penolakan. Sebenarnya Seohyun sendiri juga meragukan Yoona akan menuruti apa yang dikatakannya.

“Tidak.. Saya tidak mengerti, bagaimana maksud anda? Saya akan menemui Yuri oenni sekarang..”

“mungkin tidak aman jika kau masuk sendirian, Yoona..”

“Yuri oenni ku lebih tidak aman, dokter!!”

Yoona berteriak putus asa. Airmata kembali membasahi wajahnya.

“Aku harus bertemu dengan Yuri oenni.. Anda sudah begitu baik terhadapku. Maka sekarang, aku mohon untuk tidak mempersulit ku.. Katakan dikamar mana kakak ku disembunyikan?”

Seohyun hanya bisa menghela napas, Yoona jelas tidak dapat dicegah.

“Sebelumnya, tolong dengarkan aku..”

Seohyun kembali meraih tangan Yoona. Memegangnya erat seakan ia takkan melepaskannya sebelum Yoona kembali mendengarkan apa yang akan disampaikannya.

“Faktanya Donghae sengaja menyembunyikan Yuri darimu. itu berarti dia tak menginginkanmu untuk tahu keberadaan kakakmu, Yoona. dia juga menempatkan seorang penjaga disana untuk mengawasi Yuri.. Kau tidak akan bisa sembarangan masuk”

“tapi aku tetap harus bertemu dengan Yuri oenni, dokter..”

“Yoona..”

“Aku butuh untuk melihatnya, dokter..”

air matanya kembali menetes..

“kumohon dokter.. aku harus, aku benar-benar butuh untuk melihat oenni ku”

Seohyun kembali menghela napasnya..

“baiklah jika memang itu yang kau butuhkan..”

Seohyun kemuduan lebih dulu beralih pada tas tangannya, mengambilnya dari atas dashbor dan mengeluarkan beberapa jenis obat dari dalamnya.

“Awalnya aku memang berencana untuk mengunjungi Yuri dan memberikan beberapa obat untuknya.. Sekarang aku akan menggunakan ini sebagai alasan untuk membuatmu masuk ke dalam sana. aku akan mengatakan mengirim suster kesana ..”

Yoona mengangguk mengerti..

“Tapi sebelumnya, aku perlu lebih dulu menghubungi Donghae dan mengatakan agar dia memerintahkan penjaganya membukakan pintu untukmu”

Yoona kembali hanya mengangguk..

Seohyun kemudian menggunakan ponselnya untuk menghubungi Donghae. Namun dari dua kali panggilan yang dilakukannya, pria itu masih belum menjawab ponselnya. Setelah ke tiga kalinya dan masih tidak mendapatkan jawaban, Seohyun mencoba untuk menghubungi langsung sang penjaga yang selalu berada disana untuk menjaga Yuri.

Panggilannya dijawab dan Seohyun langsung mengatakan padanya, bila dirinya seharusnya datang untuk membawakan obat untuk Yuri namun keadaan dirumah sakit tak memungkinkan. Seohyun tak berbohong mengenai alasannya karna pasiennya yang dalam keadaan gawat, namun ia melakukan sedikit kebohongan dengan mengatakan Ia telah mengirimkan seorang suster untuk menggantikannya.

“Dia mungkin akan tiba disana dalam beberapa menit, maka ku harap kau akan membukakan pintu untuknya..”

Yoona hanya terus mendengarkan apa yang Seohyun katakan, yang sedang berusaha meyakinkan seseorang itu bahwa suster yang dikirim olehnya adalah orang kepercayaannya.

“Aku sudah mencoba untuk menghubungi Tn.Lee, namun dia tidak menjawab ponselnya..”

Seohyun kemudian diam mendengarkan..

“baiklah, kau bisa coba menghubunginya. Dan katakan untuk menghubungiku.. Jika tidak, seharusnya kau telah diajarkan untuk mengambil keputusan disaat dalam keadaan darurat..”

Seohyun menutup ponselnya dengan kekesalan yang menggurat diwajahnya. Sang penjaga itu rupanya susah untuk di yakinkan.

“Bagaimana dokter?”

“Aku akan menunggu setidaknya lima menit sampai Donghae atau penjaga itu menelponku. Jika tidak ada dari keduanya yang menghubungiku dalam waktu itu, kau benar-benar harus ikut denganku, Yoona. Percuma kau berada disana, kau tidak akan pernah bisa masuk..”

Yoona menggeleng, walau bagaimana pun ia tetap harus bertemu dengan Yuri oenninya.

Setidaknya telah empat menit berjalan ketika kemudian ponsel Seohyun berdering.

Penjaga itu menelponnya..

“Bagaimana? Kau sudah menghubungi Tn.Lee? Apa yang dikatakannya..?”

Sang penjaga itu mengatakan jika dirinya juga sama tidak bisa menghubungi Donghae, maka setelah sekali lagi memastikan pada Seohyun, penjaga itu mengatakan akan melakukan apa yang Seohyun katakan.

“terimakasih untuk mendengarkan ku..”

Seohyun menutup ponsel dan sedikit tersenyum pada Yoona yang berwajah cemas saat itu.

“Kau bisa masuk, dan bawa ini..”

Seohyun menggenggamkan kantong yang berisi obat ke tangan Yoona dan mengatakan dilantai berapa serta kamar nomor berapa yang harus Yoona ketuk.

“Donghae tidak ada disana, dia memang jarang ada disaat pagi seperti ini. Dia berada dikantor dan biasanya datang untuk sekedar mengecek setelah jam kerja selesai. Jika masalah dirumah sakit sudah bisa diatasi, aku akan kembali kesini..”

“Terimakasih untuk bantuannya, dokter.. Aku sungguh berterimaksih..”

“ne.. dan tolong maafkan aku”

Yoona mengangguk..

“Satu lagi, Yoona.. Jangan bertindak ceroboh. Kau harus tahu keberadaanmu disana diawasi”

Yoona kembali mengangguk sebelum kemudian Ia benar-benar keluar dari dalam mobil Seohyun, untuk selanjutnya berjalan mencari lift sesaat setelah mobil Seohyun melaju meninggalkannya.

Yoona merasakan degupan jantungnya yang cukup keras ketika Ia berada didalam lift seorang diri. Tangannya gemetar saat mencoba menekan tombol angka untuk memberhentikan lift dilantai yang ia inginkan.

Kesendirian itu mencekamnya, membuat airmata kembali lolos membasahi wajahnya, namun dengan cepat Yoona langsung menghapus dengan jari-jarinya. Rasa dalam hatinya memang luar biasa sakit. Ia sedikitpun tak pernah menyangka Yuri akan mengalami hal yang seperti telah diungkapkan oleh Seohyun. Yoona juga lebih tak menyangka jika Donghae lah yang menjadi pelaku perbuatan bejat yang mengakibatkan Yuri menanggung derita itu.

Ketika kemudian pintu lift terbuka, Yoona hampir saja tersandung oleh kakinya sendiri. Ia limbung hingga merasa perlu berpegang pada tembok disekitarnya. Tangannya mengepal menggenggam kantong berisi obat yang dititipkan Seohyun padanya.

Yoona berjalan dengan perlahan, menyeret kakinya dan memfokuskan tatapan matanya untuk mencari-cari pintu apartemen yang sebelumnya telah disebutkan Seohyun padanya.

305..
Yoona menemukan pintu apartemen itu. Ia berdiri didepan interkom, dengan tangan gemetar tangannya memencet pada tombol..

“siapa?”

jawaban dari dalam..

“Aku.. Aku yang mengantarkan obat..”

terdengar kuncian pada pintu didepannya yang kemudian terbuka.

Seorang pria yang menurutnya lebih tinggi dari Donghae berdiri dihadapannya dan langsung mengulurkan tangan ke arahnya.

“berikan padaku..”

Yoona bergerak mundur dan seketika menjauhkan tangannya yang memegang kantong obat ke belakang tubuhnya. Membuat sang pria mengernyit melihatnya.

“Maaf Tuan.. Dokter Seohyun meminta saya untuk memastikan pasien meminum obatnya terlebih dulu. Tidakkah beliau mengatakan pada anda untuk memperbolehkan saya masuk?”

Jika Yoona langsung memberikan obat itu pada sang pria penjaga apartemen dihadapannya, Ia sadar takkan memiliki kesempatan untuk mengetahui kebenaran keberadaan kakaknya didalam apartemen itu. Ia haruslah memastikan jika Yuri tidak berada diluar negri dan benar apa yang Seohyun telah katakan bahwa Yuri memanglah dengan sengaja disembunyikan oleh Donghae darinya.

“masuklah..”

Pria itu menggeser tubuhnya untuk membiarkan Yoona masuk.

Begitu dirinya masuk ke dalam apartemen itu, Ia langsung memberikan tatapan awas pada keadaan disekitarnya.

“dimana kamar pasiennya?”

Yoona bertanya dengan nada bergetar dalam suaranya, namun untungnya pria itu sepertinya tak menyadarinya. Ia berucap agar Yoona mengikutinya dan membukakan kuncian pada pintu bercat hitam yang sebelumnya tak berada jauh dari tempat Yoona berdiri.

Yuri kakaknya terkurung dan bahkan terkunci didalam sana..
Ya Tuhan..

Yoona merasakan perih seakan-akan seseorang baru saja mengiris hatinya dan menaburkan garam ke atas luka yang dideritanya. Membuatnya sangat ingin menendang pria itu jauh-jauh saat itu juga, namun Yoona menahan diri saat mengingat apa yang Seohyun katakan padanya untuk tidak bertindak ceroboh.

“pastikan kau hanya melakukan apa yang menjadi tugasmu..”

ucapan pria itu bernada memperingatkan, namun sesaat Yoona justru memberikan tatapan tajam ke arahnya dan hanya memberikan anggukan kepala sebagai responnya.

Begitu pintu terbuka, Yoona dapat melihat Yuri sang kakak yang sedang meringkuk dalam tidurnya. Ia sangat ingin berlari dan kemudian mendekapnya, namun Yoona akan memastikan terlebih dulu pria penjaga itu takkan melihat ia melakukannya.

“Dia kembali tidur atau memang dia memang belum dibangunkan?”

Pria itu menggaruk tengkuknya mendengar pertanyaan dari Yoona.

“Dia belum bangun..”

“Kau tidak mencoba untuk membangunkannya dan memberinya makan?”

“Dia tidak membutuhkan itu..”

mendengar jawaban acuh bernada ketidak perdulian, rasanya Yoona sangat ingin melempar benda apa saja yang berada disekitarnya kearah pria itu.

Donghae benar-benar keparat..
Bajingan sialan yang tega membiarkan oenni nya bersama dengan pria berhati binatang seperti itu. Bagaimana bila pria itu berlaku kasar dan juga berperilaku sama bejat?
Yoona merasakan kemarahan dalam hatinya dan sekaligus bergidik ngeri membayangkannya..

Menyadari pada saat itu Yoona memberikan tatapan tajam padanya, sang pria kemudian melanjutkan.

“Maksudku.. Maksudku, aku tidak melakukannya karna aku takut hanya akan membuatnya histeris. Kau harus tahu jika dia tak bisa didekati oleh pria..”

“Kalau begitu biarkan aku mengurusnya.. Aku butuh beberapa waktu. Beberapa menit untuk memandikannya, memberinya makan dan juga memastikan dia meminum obat. Kau bisa meninggalkan kami bukan?”

Pria itu mengangguk..
Namun ketika sang pria hendak menutup pintu, Yoona mencegahnya.

“kau mungkin bisa membelikan sesuatu seperti bubur mungkin, untuknya makan..?”

“sudah ada.. Aku akan menghangatkannya”

Pria itu menutup pintu..

Sial..
Niatan Yoona untuk membuat pria itu keluar dari apartemen dan berada jauh, gagal..

Namun setidaknya Ia telah melihat dan berada didalam kamar itu bersama dengan kakaknya.

“Oenni ya..”

Airmata Yoona kembali menetes ketika ia bergerak melangkah mendekati tempat tidur tak terlalu besar yang diatasnya sang kakak sedang meringkuk.

“Oenni ya.. Aku sangat merindukanmu.. Yuri oenni..”

Ketika telah cukup dekat dengan Yuri, Yoona mengulurkan tangan menyentuh rambutnya. Melihat wajah pucat sang kakak sungguh membuatnya nelangsa. Yuri oenninya terlihat lebih kurus bila dibandingkan dengan terakhir kali ia melihatnya.

Ia duduk dipinggir tempat tidur dan kemudian meraih tangannya. Yoona dapat melihat bekas luka yang tergores dipergelangannya..

“oenni ya.. Apa yang terjadi? Apa yang terjadi denganmu..”

Yoona telah menjatuhkan kantong berisi obat itu dari tangannya. Kedua tangannya kini telah menggenggam erat tangan Yuri. Bahkan sesekali membawanya untuk menempel di wajahnya.

Airmatanya yang terus menetes yang membasahi tangan Yuri, yang kemudian membuat Yuri terjaga dari tidurnya.

Yuri langsung menarik tangannya dan dengan tatapan waspada bangun dari tidurnya untuk kemudian beringsut ke ujung tempat tidur..

“oenni ya..”

Yoona menggumamkan namanya dalam tangis kepiluan..

“ini aku oenni.. Aku sangat merindukanmu..”

Yuri terus menatapnya, tatapannya yang penuh kewaspadaan saat pertama kali melihat keberadaan seseorang disekitarnya perlahan-lahan berubah.

“Aku merindukanmu oenni..”

Yoona mengulurkan tangan untuk meraihnya, pada saat itu Ia melihat Yuri meneteskan airmatanya sesaat sebelum dia bergerak menghambur memeluk Yoona.

“Yoo-na.. Yoo-na ya.. Yoona..”

Yoona merasakan kelegaan mengetahui Yuri mengenalinya dan bahkan menyebut namanya, hal yang tak lagi dilakukannya setelah dokter memfonisnya mengalami depresi.  Namun kelegaan yang Yoona rasakan masih bercampur dengan rasa sakit ketika tubuh Yuri bergetar hebat dalam pelukannya.

“Aku takut.. Aku takut, Yoo-na..”

Ya Tuhan..

“Aku disini oenni, aku disini.. Aku akan menjagamu. Aku takkan membiarkan siapapun menyakitimu. Jangan takut..”

Yuri menggeleng dan mengeratkan pelukannya..

“Pergi.. Ayo pergi..!! Ayo pergi Yoona..!”

Yoona melihat kepanikan diwajah Yuri begitu Ia melepaskan pelukannya. Yuri menggenggam tangannya dan menariknya saat ia turun dari atas tempat tidur.

“Oenni ya.. Oenni, ku mohon tenanglah.. Tenang oenni..”

Yoona mencemaskan pria penjaga itu akan mendengar apa yang di teriakkan Yuri. Namun Yuri seakan tak mengerti, dia terus menggeleng dan terlihat kian panik..

“Pergi.. Ayo pergi Yoona, cepat pergi..! Ayo kita pulang Yoona.. Ayo..!!”

“Iya oenni kita akan pergi.. Kita akan pulang, kembali kerumah..”

Yoona mendekap tubuh Yuri untuk menenangkannya.

“kita akan pulang.. Aku akan membawa oenni pulang kerumah kita. Tenanglah oenni..”

Yoona merasakan Yuri hanya tenang sesaat dalam pelukannya, sebelum kemudian tubuhnya menegang ketika mendengar bunyi klik dari pintu kamar. Menandakan pintu itu kini telah terkunci. Mengunci mereka berdua didalamnya..

“gadis belia sepertimu jelas tidak akan bisa bermain-main denganku apalagi mencoba mengelabuhiku..”

Setelah mengunci pintu kamar yang ditempati Yuri, dan Yoona yang juga masih berada didalamnya, Pria penjaga di apartemen itu menyeringai pada foto Yoona yang berada ditangannya..

Ia kemudian beralih mendekat ke sebuah meja, untuk menjawab panggilan yang masuk pada ponsel miliknya yang tergeletak diatasnya..

“Ya, Tuan Lee..”

***

Siang hari itu Siwon merasa telah berada dalam puncak emosinya. Ia telah memarahi hampir semua karyawannya yang mencoba untuk menemuinya. Ruang kantornya berantakan. Berserakan berbagai kertas-kertas berisi perjanjian kerjasama yang bahkan tak lagi Ia pedulikan.

Siwon juga setidaknya telah mengabaikan banyak pesan yang masuk serta panggilan telpon dari ibunya, yang jika pun Ia menghitungnya mungkin jumlahnya hampir mendekati ratusan kali sang ibu mencoba untuk berbicara dengannya. Entah itu melalui panggilan di ponsel miliknya atau melalui telpon kantornya. Namun tak sedikitpun Ia mencoba menjawabnya..

Ketika kemudian layar ponselnya yang telah memiliki baterai nyaris minus akibat deringan yang berkali-kali kembali menyala, Siwon mengerang melihat nama sang ayah tertera pada layarnya.
Jika sudah berhadapan dengan sang ayah, ia jelas takkan bisa mengelak.

Maka kemudian ia menyambar ponselnya dan menyentuh layarnya untuk menerima panggilan..

“DEMI TUHAN SIWON.. APA KAU SEDANG BERNIAT MEMBUNUH OEMMA MELALUI TANGISAN..!!”

Jelas bukan suara sang ayah, dan Siwon langsung menjauhkan ponsel itu dari telinganya begitu mendengar sang ibu memekik dengan teriakan yang ditujukan padanya.

“Apa yang sedang kau lakukan dikantormu? Kau meniduri gadis belia lain disana? Demi Tuhan oemma akan membunuhmu jika kau berani melakukannya..!”

Siwon menarik frustasi rambutnya mendengar kata-kata kasar dari ibunya yang bertujuan sebagai ancaman untuknya.

“Ya Tuhan, oemma.. Apa sih yang oemma katakan? Aku memiliki banyak rapat hari ini, maka tidak mungkin aku sempat meniduri seorang wanita pun. Meski aku sedang ingin melakukannya..”

Siwon membalas dengan kemarahan yang sama pada ibunya..

“Apa yang oemma inginkan dariku, sekarang..!?”

“Yoona, Siwon.. Dimana Yoona? Apa dia bersamamu? Apa dia mendatangimu.. Katakan pada oemma kau sedang bersama dengannya sekarang. Iya kan.. Kalian sedang bersama..?”

Siwon mengernyit mendengarnya..

“Apa maksud oemma? Aku tak mengerti..”

“jadi dia tidak disana? Kau tidak bersama Yoona? Kalian tidak bersama-sama sekarang?”

“tidak oemma.. Aku sedang berada dikantor”

“Ya Tuhan.. Bagaimana ini.. Dimana dia, Siwon.. Dimana Yoona sekarang?”

Siwon kemudian justru mendengar suara isakan tangis dari ibunya.
Tapi kenapa?
Apa yang terjadi?

“Oemma.. Apa yang…”

“Yoona, Siwon.. Yoona tidak ada ketika oemma menjemputnya ditempat kelas kepribadian yang diikutinya. pengajarnya bahkan mengatakan Yoona tidak datang. jelas-jelas ahjussi mengantarnya tadi.. Dimana dia? Kemana dia pergi..?”

Yoona pergi?
Siwon terdiam mendengarnya..
Jadi gadis itu pergi..

“ada apa dengan kalian? Kau bertingkah dengan mabuk seperti remaja.. Dan Yoona, kenapa dia tiba-tiba pergi? Itu pasti memiliki alasan.. Dia telah bersikap aneh di pagi tadi.. Ya Tuhan, seharusnya aku menyadarinya”

“Dia mungkin kembali ke rumahnya..”

Ucap Siwon santai. Kemana lagi gadis itu bisa pergi jika bukan kembali ke rumahnya..

“Oemma tidak akan repot-repot menghubungimu ratusan kali jika dia berada disana. Oemma telah mencari dirumahnya tapi Yoona tak berada disana. Dan bahkan aku telah berkeliling dengan ahjussi (supir) untuk mencarinya.. Tapi Yoona, dia tidak ada.. Kemana dia pergi, Siwon? Seharusnya dia memberitahu seseorang dan itu pasti kau..?”

Siwon menggeleng tak sadar ibunya tidak akan mengetahui responnya.

“Kau tahu kan kemana dia pergi?”

“Aku tidak tahu, oemma.. Aku tidak tahu..”

Siwon kembali meremas rambutnya..

“Kalau begitu kau harus menemukannya.. Temukan dia, Siwon.. Bagaiamana jika sesuatu terjadi padanya. Ya Tuhan.. Yoona mungkin memang sedang ha…”

“Aku pulang sekarang..”

Siwon memotong kalimat sang ibu dan langsung mengakhiri pembicaraan. Menelpon sang supir untuk menyiapkan mobil, dan lantas bergegas keluar dari dalam ruangannya.

Didalam lift khusus yang dipergunakannya untuk turun mencapai lobi, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini panggilan dari seorang agen..

“Simpan apapun informasi yang ingin kau sampaikan. Aku tak ingin mendengar apapun sekarang..”

Siwon mencegat bahkan sebelum sang agen yang disewanya sempat berbicara.

“tapi Tuan, ini sangat..”

Siwon mengerang..

“Kau bekerja atas perintahku.. Maka diamlah. Aku tak membutuhkan informasi apapun sekarang!”

Siwon menutup ponselnya begitu saja. Kepalanya telah dipenuhi dengan banyak hal dan terutama Yoona. Ia merasa tidak akan bisa lagi menampung informasi apapun itu yang ingin disampaikan sang agen padanya.

Keluar dari dalam lift, Siwon melangkah dengan cepat untuk menaiki mobilnya dan meminta sang sopir menyegerakan lajunya. Siwon akhirnya melompat dari dalam mobil setelah beberapa menit menempuh perjalanan menuju rumahnya. Ia berlari saat masuk kedalamnya..

“Oemma.. Oemma..!!”

Ia tak melihat sang ibu tertangkap oleh pandangan matanya..

“Oemma..”

“Ibu mu berada didalam kamar Yoona, setelah tadi berbicara denganmu..”

Sang ayah yang kemudian muncul dan menghampirinya..

“Apa yang terjadi, aboji..?”

“Ibu mu mengatakan Yoona menghilang.. Dia tidak ada dalam kelas saat ibumu menjemputnya. Ibu mu telah mencarinya kemana-mana, dia luar biasa panik dan sampai melapor pada polisi. Namun polisi belum dapat memproses laporannya. Dia pulang dalam keadaan pucat dan terus menangis..”

Tn.Choi menjelaskan..

“Aku juga telah meminta beberapa orang untuk mencarinya.. Kau benar tidak tahu kemana dia pergi?”

Siwon menggeleng..

Jadi gadis itu benar-benar pergi setelah Ia mengatakan mengusirnya dari dalam rumahnya..

“kupikir dia pulang ke rumahnya..”

“Tidak.. Ibumu sudah kesana dan tidak menemukannya. Apa sesuatu terjadi? Kalian memiliki masalah?”

“Aku akan melihat oemma, aboji..”

Siwon tidak menjawab, dia lebih memilih menghindar dari pada mengatakan suatu kebohongan pada sang ayah.

Dengan langkah lebar ia menaiki puluhan anak tangga untuk mencapai kamar yang sebelumnya bahkan semalam masih menjadi milik Yoona.
Dengan keadaan pintu kamar yang terbuka, didalamnya ia langsung dapat melihat sang ibu yang berada diatas tempat tidur, meringkuk sambil memeluk bantal tidur dan selimut yang biasanya dipakai oleh Yoona. Ibunya terisak..

Bagaimana bisa?
Bagaimana ibunya sampai bereaksi seperti itu..

“Oemma..”

Ny.Choi langsung mendongak begitu mendengar suara Siwon yang memanggilnya.

“Siwonie..”

matanya merah, sembab karna tangis.

“Siwon.. Apa kau datang bersama Yoona? Kau membawanya? Kau sudah menemukannya?”

Ny.Choi beranjak turun dari atas tempat tidur dan langsung mencari-cari keberadaan Yoona dibelakang Siwon, namun Ia tak menemukannya.

“dimana Yoona? Dimana dia, Siwon..!”

“Oemma.. Kenapa kau menjadi berlebihan seperti ini?”

“berlebihan katamu..? Oemma mengkhawatirkan gadis yang menjadi tunanganmu dan kau pikir itu berlebihan.. Hah?! Yang benar saja, pria macam apa kau ini..”

Sang Ibu mendorong dada Siwon dan berbalik. Kembali ke tempat tidur, Ia meraih bantal tidur Yoona dan mendekapnya saat kemudian mendudukan tubuhnya dipinggir tempat tidur..

“Yoona mungkin hanya berjalan-jalan saja, oemma..”

Siwon mengatakannya meski ia tahu bukan seperti itu apa yang sebenarnya.

Kenyataannya adalah Yoona benar-benar pergi karna dirinya yang memang telah mengusirnya.

Siwon hanya masih bingung bagaimana harus menjelaskannya. Ia juga tak mengira ibunya akan menjadi sepanik itu dan bahkan menangisi kepergian gadis belia itu..

Bagaimana bila ia menceritakannya dan membuat sang ibu tahu mengenai apa yang dilakukan Yoona dengan rencana menghancurkannya.
Akankah sang ibu masih akan menangisi kepergiannya..?

Ahh..
Siwon benar-benar merasa tak menginginkan ibunya untuk mengetahui tentang semua itu.
Atau dia akan merasakan kekecewaan dan sakit hati yang sama seperti apa yang dirasakannya.

“Ini baru beberapa jam saja oemma, jangan menjadi berlebihan seperti ini..”

Ny.Choi kembali menatap Siwon dengan tatapan tidak percaya..

“kenapa kau bisa sesantai itu?”

Tidak..
Sesungguhnya tidak..
Ia bahkan telah lupa bagaimana menjadi santai sejak peristiwa semalam. Siwon tidak merasa santai menghadapi kekecewaannya terhadap apa yang coba dilakukan Yoona padanya.
Ia bahkan telah merasa kacau..

“Disaat seperti ini aku menjadi menyesal mengapa aku mengambil ponselnya. Aku seharusnya bisa menghubunginya atau dia yang menghubungiku.. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya? Ya Tuhan.. Aku tak berpikir sampai sejauh itu sebelumnya.”

Siwon melihat ibunya yang masih jelas memiliki gurat kekhawatiran diwajahnya, kemudian berdiri dari duduknya dan meletakkan bantal yang sedari tadi berada dalam dekapannya kembali ke tengah tempat tidur.

“Bagaimana jika dia benar-benar pergi, Siwon? Ya Tuhan.. Kurasa gadis itu benar-benar pergi, dia pergi karna aku.. Aku mengatakan padanya untuk tidak hamil. Tapi dia jelas sedang memiliki janin itu didalam perutnya, aigoo..”

Siwon melebarkan mata mendengar apa yang baru dikatakan ibunya.

“Oemma.. Bagaimana bisa..”

“Ya, oemma bisa mengetahuinya meski Yoona tidak mengakuinya. Kalian telah berbuat terlalu jauh..”

Bukan itu apa yang menjadi maksud Siwon..

“Aku telah mengatakan padanya jika dia tidak seharusnya hamil disaat sekarang. Dia pergi mungkin karna takut pada akhirnya aku akan mengetahui itu dan kemudian memarahinya. Bukankah dia juga telah mengatakan mengenai kehamilannya padamu? Dia mengatakannya dan kau belum bisa menerimanya. Kalian pasti memiliki pertengkaran mengenai itu semalam. Itulah mengapa kau melarikan diri dengan mabuk. Sedangkan Yoona, oemma melihat dengan jelas matanya membengkak. Dia pasti telah menangis sepanjang malam..”

Ny.Choi terengah oleh apa yang baru saja dikatakannya. Ia kembali duduk dipinggir tempat tidur, sementara Siwon benar-benar dibuat bingung darimana asalnya sang ibu bisa mendapatkan pemikiran yang semacam itu.

“Darimana oemma tahu jika Yoona hamil? Maksudku.. Bagaimana bisa kau menyimpulkan hal seperti itu? Yoona pasti tidak sedang hamil, oemma..”

“Dia telah mengeluhkan pusing, dia juga mual dan muntah. Itu adalah tanda-tanda wanita hamil, Siwon. Oemma pernah merasakannya. Seharusnya aku tidak mempercayai ketika dia mengelak tadi. Bagaimana dengan sekarang? Apa yang akan Yoona lakukan pada janinnya?”

Benarkah..
Benarkah Yoona sedang hamil?

Tidak..
Itu tidak mungkin..
Gadis belia itu tidak mungkin bisa hamil karna ia belum pernah sekalipun membawanya ke atas tempat tidur.

Tapi bagaimana dengan kemungkinan pria lain?
Pria lain itu yang telah membawanya ke atas tempat tidur dan menanamkan benih didalam rahimnya..
Pria lain itu mungkin adalah Donghae..?

Sial..

Siwon menggeram marah didalam hatinya membayangkan gadis belia itu telah disentuh dan dimiliki oleh pria lain selain dirinya.

Dan mengapa ia harus memiliki perasaan marah yang seperti itu?

“Cari dia Siwon.. Carilah kemana Yoona pergi. Temukan dimana dia berada sekarang. Dia tidak ada dirumahnya dan aku menjadi takut dengan kemungkinan dia berbuat nekat..”

Siwon terkesiap dengan kalimat terakhir yang baru dikatakan oleh ibunya.

“Apa maksud oemma..?”

“Dia masihlah gadis belia. Dia memiliki kelabilan emosi dan pemikiran yang dangkal. Ya Tuhan.. Banyak kasus bunuh diri yang dilatar belakangi oleh tingkat stres yang terlalu tinggi dan pemikiran melakukan itu menjadi langkah mudah untuk melarikan diri dari masalah”

Ny.Choi menghampiri Siwon, memeluknya dan terisak setelahnya.

“Cari Yoona, Siwon.. Temukan dia. Oemma takut dia melakukan itu karna merasa oemma ataupun kau tidak akan bisa menerima kehamilannya”

Meski Ia masih tak bisa mempercayai apalagi menerima apa yang disimpulkan ibunya mengenai kehamilan Yoona, tapi Siwon langsung memikirkan jika apa yang dikatakan ibunya mengenai kemungkinan gadis itu melakukan bunuh diri, mungkin ada benarnya.

Setelah yang terjadi pada dini hari itu, setelah ia mengintimidasinya dengan kemarahan Yoona bisa saja melakukannya.
Ya..
Yoona masihlah gadis belia labil. dan bukankah dia juga gadis belia pemberani. Maka bukan tidak mungkin bila dia juga memiliki keberanian untuk melakukan hal nekat semacam itu.

Siwon bergidik ngeri sekaligus dicekam perasaan takut membayangkannya.

Ia memegang kedua bahu ibunya untuk kemudian melepas pelukannya..

“Aku akan mencarinya, oemma. Aku akan menemukannya..”

Siwon melihat ibunya yang mengangguk ke arahnya, sebelum kemudian Ia bergegas keluar dari dalam kamar Yoona. Ia seakan berlari saat menuruni puluhan anak tangga rumahnya.

Persetan dengan kenyataan Ia lah yang telah mengusirnya. Faktanya sekarang ia benar-benar ingin menemukan keberadaannya.
Melihatnya..

Siwon bahkan sampai mengabaikan panggilan dari sang ayah yang pasti akan kembali memberikan pertanyaan padanya.

Ia melesat keluar dari dalam rumahnya, meminta kunci mobil dari sang supir dan mengemudikan sendiri mobil itu.

“Temui aku dirumah Donghae..”

Siwon menyempatkan diri menghubungi seorang agen yang disewanya yang di yakininya akan dapat membantunya untuk menemukan keberadaan Yoona.

Jika ibunya mengatakan Yoona tidak ada dirumahnya sendiri, satu tempat yang kemudian terpikir dibenaknya didatangi oleh gadis itu pastilah rumah Donghae. Yoona pasti berada disana untuk kemudian menceritakan pada Donghae mengenai dirinya yang telah mengetahui semua rencana yang dilakukan keduanya.

Maka dengan kecepatan tinggi saat berkendara dijalan raya, Siwon hanya membutuhkan beberapa menit untuk mencapai sebuah gang kecil yang tak bisa dilewati sebuah mobil, yang akan menghubungkannya dengan rumah Donghae. Ia menghentikan mobilnya disana, segera keluar dari dalamnya dan berlari untuk melewati gang kecil itu.

Menghentikan kakinya tepat didepan rumah Donghae, Siwon tak perlu menunggu untuk menggedor pintu rumah itu. Ahjumma Lee berada dirumahnya, maka Ia merasa tak perlu bersopan santun pada pria yang telah diketahuinya sedang merencanakan kehancurannya.

“Lee Donghae.. Kau mendengarku? Buka pintunya..!! Lee Donghae..!”

Selain untuk menemukan Yoona disana, Siwon memang menginginkan berbicara dengan pria itu dan menyelesaikan permasalahan yang bahkan tidak diketahui olehnya yang kemudian memicu niatan Donghae untuk menghancurkannya.

“Lee Donghae.. Aku perlu bicara denganmu..! Lee Donghae! Yoona.. Kau didalam..? Buka pintunya dan bicaralah denganku.. Lee Donghae.. Yoona!!”

Meski telah berkali-kali menggedor pintu itu, tetap saja tak ada jawaban yang berasal dari dalamnya.
Bukankah Ia juga tak melihat Donghae berada dikantor tadi..
Kemana mereka?

Siwon menggeram marah ketika tangannya mengepal dan meninju pintu rumah itu.

“Tuan Choi..”

Sang agen sampai disana dan langsung menghampirinya.

“Apa yang terjadi, Tuan?”

“gadis itu pergi..”

sang agen mengernyit tak mengerti..

“Yoona, adik Yuri.. gadis itu menghilang dan aku harus segera menemukannya. Tapi sepertinya dia tidak berada disini..”

“itulah apa yang menjadi alasan mengapa saya menghubungi anda tadi, tapi anda menolak untuk mendengarkan”

“maksudmu..?”

“Saya ingin menginformasikan apa yang telah saya dapatkan dari penyelidikan yang saya lakukan..”

Siwon hanya mendengarkan ketika kemudian seorang agen itu mengatakan bahwa selain berusaha mengorek informasi dari seorang dokter yang sempat menangani Yuri saat berada dirumah sakit jiwa, mengenai penyebab depresi yang dialami Yuri, diam-diam sebenarnya dalam beberapa kali ia telah mengikuti kemana dokter muda itu pergi. Seperti juga pagi tadi, tanpa kesengajaan sebenarnya Ia malah mengetahui saat Seohyun bertemu dengan Yoona hingga akhirnya membawa gadis itu bersamanya.

“Saya mendengar saat dokter itu mengatakan apa yang terjadi pada kakaknya dan saya melihat dengan jelas nona Yoona mengalami shock. Dia sepertinya tidak menyadari jika selama ini telah dibohongi dan dibodohi oleh pria bernama Donghae itu.”

Pria itu meneruskan dengan mengatakan selama ini Donghae mungkin mengatakan pada Yoona jika Yuri telah dipindahkan ke luar negri, dan gadis itu mempercayainya.

“Dia juga tidak mengetahui jika penyebab utama nona Yuri mengalami depresi adalah pelecehan seksual yang diterimanya. Kenyataan itu disembunyikan darinya..”

“Apa..? Apa yang kau katakan tadi? Pelecehan seksual..?”

sang agen mengangguk..

“Malam itu seperti pada rekaman cctv yang pernah saya perlihatkan pada anda, nona Yuri terlihat memasuki gang kecil ini. Dan saya yakin rumah ini lah yang menjadi tujuannya. Dan naas baginya malam itu didalamnya dia mungkin mendapatkan pelecehan seksual itu..”

Siwon mencerna dengan keras apa yang baru didengarnya.

“jadi maksudmu Donghae.. Donghae melakukan itu pada Yuri..?”

sang agen mengangguk.

Ya Tuhan..

“Saya juga mendengar dokter itu menyebut Tn. Lee Donghae sebagai seorang psyco..”

“Apa??”

Yang langsung membayangi Siwon adalah Yoona. Dan tidak adanya yang bisa menjamin keselamatan gadis itu sekarang.
Karna ia merasa tidak ada yang lebih berbahaya selain apa yang bisa dilakukan oleh seorang psyco. Meski ia masih tidak percaya jika Donghae adalah seorang yang seperti itu. Ia benar-benar tidak dapat mempercayai itu..

“Jadi kau tahu dimana Yoona berada sekarang?”

“saya mengetahuinya, Tuan..”

“Kita kesana sekarang..”

Siwon menyadari ia butuh untuk melihat gadis itu baik-baik saja sekarang, nanti dan seterusnya. Yoona harus baik-baik saja..

*

*

*

*

*

To Be Continued~

@joongly

221 thoughts on “| At First Sight | 12

  1. Tambah seru nih terbongkar sudah kejahatan donghae ke yuri, terus yoona giman nih mudah yoona gak di apa apin donghae, yoona berani bgt pergi sendiri, nyonya choi kykx sayang bgt am yoona ampe segitu nya yoona ilang

  2. Ohhh badai apa lagi ini.
    Donghae jgn sampai nyakitin yoonyul..

    Duh duh stlh baca tegang2 ny.. Dan ikut terharu dg kondisi ny choi stlh berita kehilangan yoona.. Ny choi masih smpt berspekulasi sndiri.. Dn itu hsilny sllu slh pham hihi ny choi smkim membuat aku klepek2 dah ckck

  3. akhirna…smua kbohongan donghae trbongkar …tpi aq takut yoona onnie ktahuan ma donghae…plis siwon oppa slametin yoona onnie……aq bner2 ga nyangka klo dongahe yang buat yuri kyak gtu…

  4. akhirnya semua kebongkar sdah kejahatannya haeppa, ternyata dia yg udah bikin yuri depresi sampe harus dirawat. kasian jg sma yoong dia sendirian nemuin yuri ditempat itu. jgn sampe terjadi apa2 sma yoong..jdi ikut sedih liat nyonya choi, dia takut terjadi apa2 sma yoong tp sempet2 nya nyonya choi berpikir kalo yoong pergi karna dia hamil ck ck..

  5. keberadaan yuri udah ketemu, tinggal nunggu aja cara ngeluar.in yuri dari tempat pengurungan(?) nya? dan apakah siwon akan datang membantu yoona? oke jadi makin penasaran baca next part nya

  6. Oh yoona,semoga gak terjadi apa apa ama yoona,berharap siwon datang tepat waktu,dan donghae kenapa jdi kayak gitu,dan aku terharu banget sama eomma siwon dia kawatir banget ama yoona….hwaiting onnie

  7. Ceritanya makin seru
    Akhirnya semua jelas
    Semua terbongkar
    Yoona dan yuri kelanjutanny gmn
    Aduh ketahuan pengawalnya donghae
    Siwon segeralah temui yoona

  8. akhirnya yoona mengetahui kebohongan donghae dari dokter yang merawat yoona . tpi kenapa yoona nekat harus k tempat kk nya seorang diri . semoga yoona tidak kenapa kenapa krena harus berhadapan dengan orang yang mengidap penyakit physco

  9. Yes,,,,yes,,,,,terbongkar sudah tu rahasia,,,,wonpa ku mhon tolongin yoona dan yuri,,,,dari si ikan,,,,makin sru aja ne crita nya,,lbih sru ff ne dari pd senetron indonesia,,

  10. Aigo.. Donghae bener bener ya, bajingan psycho. Yoona yang lugu harus kayak gitu, kasihan Yoong. Gak nyangka, kalau ternyata Ny. Choi sayang banget sama Yoona sampai kayak gitu. Jadi sedih.😦
    Daebbak eonni…

  11. Astaga gak nyangka ternyata donghae penyebab yuri depresi kayak gitu n ternyata karna pelecehan seksual.. donghae bener” psyco dia ngelakuin semuanya karna cintanya ke yuri tapi dia ngelakuinnya dg cara yg salah.. trus gimana tuh yoona yg ke kunci sama yuri di apartemennya donghae..

  12. Astaga ibu siwon sampe histeris kayak gitu karena yoona menghilang, padahal mah bukan hilang tapi diusir dan berakhir disekap donghae,bener2 licik dan kejam ya si donghae ampe berani ngelakuian hal kejam ke yuri dan dia malah mengarang cerita dan memanfaatkan yoona yg notabanenya adik yuri sendiri,,
    Pengen bca next chapter tapi di password, jadi unnie boleh ya minta passwordnya..

  13. Akhirnya terbongkar semua kebusukan donghae,,
    Tapi bagaimana selanjutnya,apa yg akan terjadi dengan yoona setelah tahu semuanya.semoga siwon bisa menyelamatkan yoona sebelum donghae berbuat macam2 padanya,mengetahui fakta bahwa dobghae seorang pysco..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s