Fanfiction

| At First Sight | 11

Happy Reading~

[10]

*

*

*

*

*

SiwonPOV

Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Aku benar-benar merasa heran mengapa gadis itu begitu mempercayai Donghae. Mengapa Yoona begitu mudah terpengaruh. Aku mendengar percakapan mereka dipagi hari dan aku bersumpah menjadi sangat marah saat ini ketika aku kembali mengingatnya.

Pembatalan bisnis dan kebakaran yang sempat terjadi dikantor, meski itu hanya sebuah kebakaran kecil yang langsung bisa diatasi tapi aku segera tahu hal itu berpotensi menjadi kekacauan besar karna terjadi diruang penyimpan dokumen.
Dan Donghae ada pada saat kebakaran itu terjadi. Dia berada disana untuk menemukan sebuah dokumen perusahaan, itu yang aku dengar tadi. Tak berhasil disana dan mengingat dia telah membawa Yoona sebagai partner kejahatannya, gadis itu yang sekarang menjalankan perannya. Menuruti ucapan Donghae dengan mengendap kedalam ruang kerjaku pada dini hari seperti ini hanya untuk mengambil dokumen itu dari dalamnya.

Dia dengan mudah mendapatkannya karna aku memang dengan sengaja meletakkannya disana. Saat setelah pulang dari jamuan makan malam, aku mengambil dokumen itu dari dalam brankas. Sebuah brankas yang kupastikan aman karna berada didalam kamarku.
Apa dia pikir aku seorang bodoh yang sembarangan menyimpan dokumen penting dari perusahaan ayahku seperti itu..

Jelas tidak..
Aku sengaja melakukannya, mengambilnya dari dalam brankas sebelum kemudian meletakkannya diatas meja ruang kerjaku dan meninggalkannya disana tanpa mengunci pintu.

Aku bahkan menunggu dengan gelisah. Berada dibalik pintu kamarku dalam beberapa jam, dengan menajamkan pendengaranku hanya untuk mengetahui apakah Yoona benar-benar memiliki keberanian untuk mengambilnya.

Dan Ya..
Dia memang gadis belia pemberani seperti biasanya.
Namun keberaniannya kali ini mengagetkanku.
Tidak..
Itu tidak lebih tepat dari keberaniannya kali ini mengecewakan ku. Mengobarkan amarah didalam diriku.

Semalam aku masih sempat mempercayai bahwa dia terkesan dengan perlakuanku. Meski aku tidak dengan sengaja membuat diriku mengesankan dimatanya, karna yang kulakukan adalah memang benar apa yang ingin kulakukan terhadapnya. Aku hanya berpikir setidaknya dia akan sedikit mengubah pemikiran dan atau penilaian yang telah bersarang dikepalanya sejak pada pandangan pertama dia melihatku, bahwa aku adalah seorang bajingan.

Diam-diam kekecewaan itu menelusup kedalam hatiku, mengetahui dia tidak lebih meyakini apa yang dia lihat namun justru lebih mempercayai omong kosong yang dikatakan Donghae terhadapnya.

Sialan..
Aku menggeram didalam hatiku. Kekecewaan itu dengan segera telah berubah menjadi kemarahan yang aku yakin dapat dia lihat dari tatapan mataku padanya.

“Jadi apa yang kau curi itu, Yoona..?”

Dia mundur saat aku kembali mempertanyakan hal itu.

“Sa-jang-nim.. Aku, aku hanya..”

Bibirnya bergetar, wajahnya luar biasa pucat dan matanya meredup dengan kegelisahan saat menatapku.

“Kau mencuri itu dari dalam ruang kerjaku..”

“Sajang-nim.. Aku..”

Dia kembali mundur dan membiarkan dokumen itu jatuh dari tangannya yang gemetar.

“Apa yang kau pikir bisa kau lakukan dengan itu, Yoona?”

Dia menggeleng, aku yakin baru saja melihat airmata lolos dari sudut matanya namun dia dengan cepat menyeka dengan menggunakan jemarinya.

Kenapa dia harus menangis..?
Itu bukan sesuatu yang ingin aku lihat sekarang!

Aku mengeraskan hatiku dan melangkah mendekatinya. Dia mundur dari jangkauanku sampai kakinya menyentuh tempat tidurku dan membuatnya harus terhenti dan tetap berada disana.

Tempat tidur..
Sialan..
Amarah telah membangunkan sisi gelap dari diriku. Aku seakan mendengarnya berbicara untuk menghukum gadis itu diatas tempat tidurku.
Gairah ku menyala..
Aku hanya perlu sedikit mendorong tubuhnya untuk bisa membuatnya terjatuh diatas tempat tidurku. Melucuti pakaiannya dan merasakan tubuhnya berada dibawah tubuhku. Aku bisa menyentuhnya, membuatnya mengerang dengan keras atau aku akan menidurinya sampai dia menangis dan meminta maaf atas keberanian yang telah dilakukannya.
Gadis itu perlu dihukum..
Ya..
Yoona harus dihukum karna keberaniannya. Dan hukuman semacam itu sangatlah tepat untuknya.

Ya Tuhan..
Tidak..
Ketika aku sekali lagi melihatnya menjatuhkan airmata, sisi gelap itu seakan lenyap. Meski ingin tapi Aku tak akan membuatnya takut. Aku tidak ingin melihat airmatanya dan aku tidak ingin membenarkan penilaiannya bahwa aku seorang bajingan.

Tidak..
Aboji tidak membesarkanku untuk menjadi seorang bajingan. Itu yang selalu dikatakannya dan bersyukur aku masih mengingatnya saat ini, dan membuatku kehilangan niatan bejat yang berasal dari sisi gelapku.

Tidak..
Aku tidak akan melakukan itu pada gadis belia dihadapanku.
Tapi aku masih marah padanya..

“Jawab aku Yoona..! Apa yang akan kau lakukan dengan mencurinya dari ruang kerjaku..”

“Aku.. Aku tidak tahu, sajangnim.. Aku tidak tahu..”

“Kau tahu Yoona.. Jelas kau tau..!”

Dia menggeleng dan sekarang aku hanya beberapa inci berada dihadapannya.
Tubuhnya yang gemetar masih menguarkan keharuman yang sesaat mengacaukan kemarahanku. Aku sangat ingin mengendus dan menikmati keharuman itu. Keharuman murni dari tubuh seorang gadis belia. Dan aku benar-benar masih merasakan gairahku menyala terhadapnya.

Bagaimana rasanya bila aku menikmati keharumannya sambil menyentuh bagian-bagian sensitif dari tubuhnya dan membuat diriku berada didalam dirinya.

Sialan..
Tidak..
Berhenti memikirkan itu karna aku tidak akan melakukannya.

Yang bisa kulakukan hanya meremas rambutku dengan penuh kefrustasian. Aku bisa tapi aku tidak akan tega menyentuhnya dengan menggunakan kekerasan, sekali lagi aku hanya akan membuatnya semakin yakin akulah seorang bajingan. Dan aku tidak menginginkannya berpikir demikian.

“Kau melakukannya karna perintah Donghae.. Itu yang kau tahu dan itu yang seharusnya kau katakan padaku sekarang..!!”

Wajahnya hanya semakin memutih mendengar apa yang baru aku katakan. Dia mungkin shock.

“Apa kau terkejut? Aku telah mengetahui semuanya.. Semuanya, Yoona..”

Ucapku memberi penekanan, kurasa dia masih terlihat ragu dengan pendengarannya.

“Kau berkomplot dengan Donghae untuk menjatuhkanku..”

Dia hanya semakin gemetar.

“Kau telah menarik perhatianku dari pandangan pertama kau menatapku dengan penuh kebencian dan kemarahan dimatamu. Asal kau tahu, itu terlihat mencolok. Sampai pada akhirnya aku tahu kau sedang memiliki rencana dalam kepala cantikmu.. Aku mengikuti permainan kalian, aku juga membuat rencana dimalam pertunangan itu. Setelah aku mengetahui rencana murahanmu melalui ciuman itu, aku hanya ingin membuatnya menjadi lebih menarik..”

Aku menahan diri untuk tidak menyentuh bibirnya. Bibirnya yang manis yang telah beberapa kali berada didalam mulutku. Dan sampai sekarang aku masih selalu menginginkannya, hanya saja dia telah mengecewakanku dan membuatku marah.

“Sekarang kau berusaha mencuri dokumen dari ruang kerjaku, dan sayangnya aku juga telah mengetahui itu. Aku bahkan mengetahui siapa yang telah membuat kantorku terbakar. Dan hanya dengan membuka mulutku, aku bisa menjebloskannya kedalam penjara.. Aku mendengar pembicaraan mu dan Donghae dipagi hari tadi, Yoona..”

Gadis itu terlihat limbung, maka kemudian aku memegang kedua bahunya, menekan tanganku disana dan membuatnya tetap berdiri dihadapanku.

“Aku hanya tak yakin apa penyebabnya. Sebelumnya kau tidak mengenalku, jadi apa yang membuatmu menyetujui rencana Donghae? Aku tidak tahu motif yang kau gunakan aku lebih tidak tahu lagi bagaimana bisa Lee Donghae melakukan ini padaku..!!”

Aku merasakan getaran ditubuhnya, dan itu hanya semakin membuatku menekan jari-jariku untuk memegang kedua bahunya. Aku yakin dia akan dengan mudah terjatuh lunglai jika aku tak melakukannya.

“Sekian lama ahjumma Lee bekerja dan menjadi bagian dari keluargaku, begitupun dengan Donghae. Aku bahkan bisa mengatakan padamu kami tumbuh bersama. Sedikitpun aku tak dapat menemukan alasan yang masuk akal yang melatar belakangi keinginannya untuk menghancurkanku.. Maka jika kau tahu, kau seharusnya bisa mengatakannya padaku Yoona. Kenapa kalian begitu ingin menghancurkan ku..?”

Aku mengguncang tubuhnya agar dia berbicara, namun ia hanya diam. Bibirnya hanya bergerak karna gemetar. Dan sekuat aku mengendalikan diri serta kemarahanku terhadapnya, pada akhirnya aku lepas kendali dengan mendorongnya kebelakang hingga terjatuh diatas tempat tidurku.

Sisi gelap dalam diriku tertawa. Dia mendapatkan kemenangan pertamanya saat aku merangkak keatas tubuhnya, dan langsung melahap bibirnya, membawanya kedalam mulutku. Lidahku mendorong masuk kedalamnya, mengambil semua rasa yang berada disana. Dia menggerak-gerakkan kepalanya, dan memukul dadaku dengan tangannya yang mengepal, mencoba untuk menghentikanku.

Namun hal itu hanya membuatku semakin liar. Aku menahan kedua tangannya dengan tanganku, menempatkannya masing-masing disisi kepalanya. Aku merasa belum cukup. Aku belum mengambil semua rasa dari bibirnya. Menciumnya dengan keras, aku membuatnya mengerang didalam mulutku saat aku menggigit bibir bawahnya.

Aku merasakan lagi gerakan kuat dari kepalanya, dan pada saat itu aku menyadari kekasaranku terhadapnya, setelah melihat airmata meluncur diwajahnya.

Tuhan..
Aku benar-benar berlaku seperti bajingan. Seperti apa yang selama ini dipikirkannya.

Dengan cepat bergerak menjauh darinya, aku melihatnya terengah namun berusaha keras tidak terluka dengan apa yang baru saja dia terima akibat dari kemarahanku terhadapnya.

Dia kemudian bergerak mendudukkan tubuhnya dan menatapku dengan tatapan kuat yang berusaha dia tunjukkan padaku. Tapi aku justru menganggap itu adalah tatapan paling tidak berdaya darinya. Aku bersumpah itu hanya semakin membuatku menyesali apa yang baru saja kulakukan padanya.

“Apa itu semua hanya karna Yuri?”

Aku mengembalikan topik semula dan menjadikannya menatapku seolah apa yang aku katakan adalah hal mengejutkan pertama yang pernah dia dengar.

“Aku tahu kau adalah adik Yuri, Donghae bahkan yang pertama mengatakannya padaku..”

Aku sedikit bingung, mengapa pada saat itu dia mengatakan padaku bahwa Yoona adalah adik Yuri.
Bukankah jika dia menempatkan Yoona sebagai komplotannya, dia seharusnya menyembunyikan kenyataan itu dariku.
Entahlah karna itu bukan hal yang penting untuk dipikirkan sekarang. Seandainya pun pada saat itu Donghae tidak mengatakannya padaku, aku pasti akan mendapatkan itu dari informan yang telah aku sewa. Dan aku masih menunggu hasil penyelidikan selanjutnya yang terus dilakukannya.

“Aku tahu bagaimana keadaan Yuri, aku pernah sekali melihatnya berada dirumah sakit jiwa. Aku hanya tak tahu mengapa wanita sepintar Yuri bisa berada disana.. Aku tidak pernah berpikir Yuri menjadi gila karna…”

“Jangan menyebut Yuri oenni ku seperti itu! Dia sama sekali tidak gila..”

aku melihat luka dimatanya, dan usahanya pada saat itu hanya untuk dapat berbicara dengan bibirnya dan membela Yuri dari ucapanku. Hal itu yang kemudian membuatku sangat ingin meminta maaf karna telah menyebut Yuri seperti itu. Tapi aku tidak melakukannya.

“Mengapa aku yang kemudian menjadi tertuduh sebagai penyebab Yuri menjadi seperti itu..?”

“Kau pria yang dengan tega menyakitinya..”

“Aku sama sekali tidak menyakitinya, kecuali…”

Aku berhenti saat melihat lagi kilatan itu dimatanya.

“ini jelas tidak masuk akal, hanya dengan menjadikan Yuri alasan kau..”

“dia segalanya bagiku..”

Jadi hanya karna Yuri adalah segalanya untuknya, maka dia dengan mudahnya terpengaruh. Menelan mentah-mentah informasi dari Donghae tanpa terlebih dulu mencari tahu kebenarannya.

Dan Donghae..
Ya Tuhan..
Aku masih tidak percaya dengan apa yang dilakukannya padaku.

Setelah sikap baik kedua orangtua ku, Setelah kupikir aku juga melakukan hal yang baik terhadapnya, dia justru mencoba menikamku dari belakang.
Bukan berarti aku mengungkit, aku hanya tak habis mengerti dengan semua ini.
Dengan rencananya yang mencoba untuk menghancurkanku.
Jenis orang macam apa dia sebenarnya?
Dan apa yang ingin dia capai dengan menghancurkanku..?

Sedangkan Yoona, dia adalah..

“Kau gadis belia yang mudah terpengaruh..”

Ya..
Usianya terhitung belia, delapan belas tahun. Sebagai gadis diusia belasan sepertinya, dia jelas termasuk gadis yang sangat gampang untuk dimanfaatkan. Kelabilan emosinya yang memudahkan bagi seseorang untuk meracuni otak nya.

Itu menjadi satu-satunya alasan kuat mengapa Yoona dengan gampangnya menerima ucapan Donghae sebagai satu-satunya kebenaran. Atau kalau tidak, dia mungkin memiliki ketertarikan terhadap Donghae, hingga rela melakukan apapun untuk dapat membantunya.

Sial..
Aku marah dan menjadi kesal karna itu. Benar, dia pasti tertarik pada Donghae.
Aku pernah memperhatikan bagaimana dia menatap Donghae, matanya jelas memancarkan binar-binar kebahagiaan dari seorang gadis yang tertarik dan jatuh cinta. Tatapan yang sama yang kulihat dari Yuri yang ditunjukkannya padaku ketika itu.

“Tidak ada yang ku lakukan pada Yuri selain menolak pernyataan cintanya..”

“Kau menyakitinya karna itu..!”

“Apakah itu masuk akal sebagai penyebabnya mengalami depresi seperti itu?”

Dia tidak menjawab, aku justru melihat kedua tangannya meremas sprai tempat tidurku.

“Kau seharusnya mengenal kakak mu dengan lebih baik. Dia tidak mungkin terguncang hanya karna ditolak..”

Aku bahkan masih meyakini Yuri cukup pintar, sangat pintar. Dia bukanlah tipe wanita yang akan jatuh secara mental hanya karna hal semacam itu.

“Kau salah mempercayai seseorang, Yoona..”

Dia menatap setelah apa yang kukatakan. Pada saat itu aku kembali mendapati dia menjatuhkan airmatanya. Seberapa besar kemarahan ku sekarang, Aku masih merasakan ada dorongan dalam hatiku untuk menyeka airmata itu dari wajahnya.

Namun dorongan yang lebih kuat justru datang dari sisi gelap dalam diriku, yang kembali muncul untuk mengingatkan jika sebaiknya aku menghukum gadis itu, menghukumnya diatas tempat tidurku sebagai pelajaran untuknya.

Dia perlu diberi pelajaran..
Pelajaran yang lebih dari sebuah ciuman kasar..
Pelajaran yang tidak akan dia lupakan..

Aku menggeleng, tepatkah memberinya pelajaran seperti itu?
Aku mungki  bisa menampar wajahnya dengan keras saat ini.
Tapi aku bahkan tidak melakukannya.
Aku telah melakukan kekasaran dengan menciumnya dengan keras. Dan aku menyesali itu.
Jadi bagaimana mungkin aku bisa berbuat bejat kepadanya?
Tidak..
Aku masihlah seorang pria bermoral.
aku seharusnya tidak kalah untuk yang kedua kali dengan suara yang datang dari kegelapan dalam diriku.

“Aku telah mengetahui semuanya, maka permainan berakhir sekarang.”

Beranjak dari hadapannya, aku mengambil dokumen yang telah dijatuhkannya dilantai kamarku.
Aku masih belum mendengar lagi suaranya. Saat seperti ini aku harap dia menggunakan mulut pintarnya untuk berbicara denganku. Itu yang sudah sering dilakukannya. Dan yang aku inginkan dia juga melakukan itu sekarang.

Kenyataan bahwa aku tidak menyukai dia yang diam dan hanya sesekali bersuara, itupun dengan nada bergetar menahan tangis. Aku tidak suka melihat airmatanya. Aku juga tidak menyukai ekspresi ketakutan diwajahnya. Hal itu yang kemudian membuatku merasa perlu untuk menjauh sekarang. Aku harus menjauh sebelum aku membiarkan sisi  gelap dalam diriku memiliki kemenangan mutlak dan mengacaukan segalanya.

Aku suka dia banyak berbicara dan melawanku. Aku pun lebih menyukai wajahnya yang merona. Aku suka ekspresi kesal yang seringkali ditunjukkannya padaku. Tapi Aku benci saat melihat ketidak berdayaan dalam tatapan matanya. Dan Aku akan lebih membenci diriku yang telah membuatnya takut dengan kemarahanku.

“Aku bukanlah orang yang telah membuat Yuri menjadi seperti itu, hanya itu yang bisa ku katakan padamu..”

Aku melihatnya berdiri setelah beberapa saat terduduk dipinggir tempat tidurku. Tatapan mata kami saling beradu.

“Tapi itulah yang terjadi.. Yuri oenni ku terluka dengan sangat dalam. Dia tak bisa mengatasi sakit hatinya atas penolakan cinta yang anda katakan. Oenni ku bahkan menjadi seperti menganggap dirinya tidak layak untuk diinginkan. Dia benar-benar jatuh karna anda..”

Dia menggunakan mulut pintar nya sekarang..

“Itu tidak mungkin.. Aku tidak percaya Yuri menjadi seperti itu karna aku”

“Anda mungkin bisa menyangkal dan menganggap itu tidak masuk akal, tapi anda tidak mengetahui betapa mengerikannya efek yang diakibatkan dari perasaan luka dihati seseorang. Kebenarannya adalah oenni ku mengalami depresi dan itu adalah karna anda telah melukai perasaan dihatinya. Anda tidak akan pernah tahu sampai anda memiliki perasaan itu didalam diri anda..”

apa dia sedang mencoba mengatakan aku tidak memiliki perasaan?

“Aku menganggap itu hanyalah asumsi dalam dirimu atau bagian dari apa yang Donghae katakan padamu.. Benarkan?”

Dia kembali diam dan tak berkedip menatapku.

“Kurasa kau juga lebih mempercayai pria itu dari pada kakakmu. Sudahkah kau tanyakan pada Yuri tentang kebenarannya? Apakah dia memang mengiyakan depresinya disebabkan oleh karna aku? penolakanku? Itu tidak kau lakukan bukan..?”

“Oenni bahkan tidak mau berbicara padaku..”

“jadi karna itu Kau mencari pembenaran sendiri dengan menelan mentah-mentah apapun yang dikatakan Donghae padamu! Kau mempercayai semua ucapannya..! Kau hanyalah gadis belia bodoh, Yoona..”

Sialan..
Aku hanya semakin kesal dan marah sekarang. Aku pasti sama bodohnya dengan gadis itu. Sebelumnya aku juga percaya sepenuhnya pada Donghae dan tak menyangka dia memiliki rencana busuk dalam dirinya untuk menghancurkanku.

Apa sih yang diinginkannya? Bukankah kehancuranku, kehancuran perusahaan ayahku juga akan berimbas terhadapnya?
Bukankah itu juga akan membuatnya teracam kehilangan pekerjaannya bila perusahaan ayahku benar-benar hancur karenanya.
Ini sungguh membingungkanku..

Sedangkan ibunya, ahjumma Lee begitu baik padaku. Dan kurasa ahjumma Lee juga tak mengetahui apa yang coba dilakukannya padaku.
Tidak..
Ahjumma Lee pasti tidak mengetahui hal itu. Dan aku takkan mencoba untuk memberitahunya. Dia pasti akan menangis bila mengetahuinya. Aku tak menginginkan hal seperti itu. Aku menyayangi wanita itu dan tak ingin menghancurkan kepercayaannya pada Donghae sebagai putranya, sebagaimana hancurnya kepercayaanku terhadapnya.

Aku hanya perlu untuk berbicara dengan Donghae dan menyelesaikan semua ini. Adakah yang salah dengan diriku? Ataukah sedang terjadi kesalah pahaman diantara kami.

Aku kembali memperhatikan Yoona yang sama sekali belum beranjak. Dia mungkin sedang mencerna apa yang kukatakan atau menungguku untuk kembali berbicara. Yang jelas aku masih melihat kegelisahan dikedua matanya yang redup saat menatapku.

“Seperti yang sudah kukatakan. Permainan berakhir karna aku telah mengetahui semuanya. Maka berhenti dengan balas dendam konyol yang coba kau lakukan padaku. Kau salah sasaran, Yoona..”

Ini mungkin menjadi berakhir untuknya, tapi ini akan menjadi awal untukku menggali apa yang Donghae inginkan dariku. Aku takkan membuang-buang waktu jika itu dilakukannya padaku untuk balas dendam konyol karna apa yang dialami Yuri. Aku turut prihatin, tapi aku bukanlah orang yang harus bertanggung jawab atas apa yang dialaminya.

Jika semua ini telah berakhir, ini mungkin juga menjadi bagian akhir dari pertunangan konyol diantara kami. Aku hanya tak tahu apa yang bisa kujelaskan pada aboji dan juga oemma nanti.

Aboji jelas terlihat dapat menerima Yoona. Aku bisa mengatakan aboji telah menyukainya pada pandangan pertama dia melihatnya dimalam itu.

Begitupun dengan oemma yang terlihat telah dapat menerimanya. Mulai dari perlakuannya, Aku tak lagi mendengar ataupun melihat oemma berkata kasar padanya. Meskipun aku masih menganggap yang dilakukan oemma hanyalah untuk main-main dan menyenangkannya dengan menjadikan Yoona sebagai bonekanya yang penurut. Tapi aku juga melihat gelagat oemma yang mulai menyukainya. Oemma membawa gadis itu kemanapun dia pergi, bahkan aboji mengatakan oemma membatalkan rencananya untuk pergi hanya karna gadis itu mengeluhkan sakit dan tak bisa ikut dengannya.

Karna itu, Aku menarik Yoona masuk kedalam kamarku. Aku tak ingin membuat aboji dan oemma mendengar keributan dari kami. Aku masih ingin merahasiakan ‘permainan’ ini dari mereka. Aku tak ingin mengecewakan mereka, dan yang lebih kupertimbangkan adalah bagaimana bila mereka tahu mengenai apa yang telah direncanakan Donghae dan juga Yoona. Aku yakin hal itu hanya akan menumbuhkan rasa sakit hati mereka, seperti hal nya apa yang kurasakan saat ini.

Aku berharap akan bisa menyelesaikan ini dan tetap menjaganya sebagai rahasia..

“Sa-jang-nim..”

Aku mendengar suaranya yang masih saja bergetar, ketika aku telah mencapai pintu kamarku dan bergerak menekan knop pintu untuk membukanya. Menoleh, mataku kembali bertemu dengan tatapan matanya..

“Sa-jang-nim.. Aku…”

“Permainanmu telah berakhir, Yoona.. Maka pergi dari rumahku sebelum aku memberitahukan semua ini pada aboji dan oemma, dan membuat mereka mengusirmu dengan tidak terhormat..”

Itu bukanlah apa yang aku inginkan, dan tidak percaya baru saja aku telah mengatakan mengusirnya dari rumahku..

Aku perlu meminum beberapa botol anggur untuk melupakan ini semua..

****

Yoona POV

Aku merosot menjatuhkan tubuhku ke lantai berlapis karpet tebal yang terasa hangat ketika bersentuhan dengan kulit kakiku, sesaat setelah Siwon menutup pintu kamarnya dan membiarkan aku sendiri didalamnya.

Kedua lutut ku benar-benar lemas, tubuhku bergetar hebat, dan didalam kepala ku berputar. Mengulang-ulang apa yang di ucapkan Siwon tadi.

Permainan telah berakhir..

Dia sudah tahu apa yang ku rencanakan, apa yang Donghae oppa rencanakan. Dia mendengar pembicaraan kami pagi tadi dan bahkan sebelum malam pertunangan itu terjadi, dia telah mengetahui semua rencana itu. Tapi dia dengan sengaja menyembunyikan nya dan justru bermain dalam permainan kami, tanpa sedikitpun ku sadari.
Bagaimana bisa..
Dari mana dia tahu?
Siapa yang mengatakannya?
Aku sama sekali tak menemukan jawaban untuk itu.

Apa yang dikatakan Siwon dan sekaligus ucapan Donghae oppa memenuhi kepalaku. Berputar-putar dengan bergantian didalam benakku. Apa yang diucapkan keduanya sangatlah bertentangan. Bertolak belakang satu sama lain. Dan hal itu jelas membingungkan ku.

Kau salah mempercayai seseorang..

Benarkah seperti itu?

Siwon mengatakan aku hanyalah gadis belia bodoh karna mempercayai apa yang diucapkan Donghae oppa. Tapi aku merasa memang dia lah satu-satunya orang yang dapat ku percayai. Aku tak pernah mendapati Donghae oppa membohongiku. Dia selalu berkata jujur. Aku telah lama mengenalnya, dan dia begitu baik padaku dan juga pada Yuri oenni.

Aku benar-benar bingung. Siapa yang harus kupercayai sekarang?

“Oenni ya.. Oenni, aku membutuhkanmu. Aku membutuhkanmu Yuri oenni..”

Dengan memeluk kedua lututku, Aku terisak dengan cukup banyak airmata yang tertumpah. Aku tak bisa mengendalikannya. Aku tak bisa menahannya. Aku menangis hingga tersedak. Aku membutuhkan Yuri oenni disampingku. Aku lebih membutuhkannya sekarang untuk mengatakan padaku apa yang sebenarnya terjadi padanya. Apa yang sesungguhnya membuatnya mengalami kesakitan seperti itu. Apapun itu aku jelas akan mempercayai ucapannya.

Aku selalu percaya padanya tanpa sedikitpun ada keraguan didalamnya. Dia kakakku, dia satu-satunya yang kumiliki dan yang selalu melindungiku. Kebutuhanku pada kehadiran Yuri oenni sama hal nya dengan kebutuhanku akan udara untuk ku bernapas. Kurasa aku akan segera terkapar tanpanya. Saat ini, saat aku benar-benar takut sendirian.

Dapatkah dia memelukku sekarang.
Membelai rambutku dengan sayang.
Menggenggam tanganku dengan erat dan mengatakan semua akan baik-baik saja.
Aku akan baik-baik saja, begitupun dengan dirinya yang dalam keadaan baik-baik saja.

Tuhan..
Dapatkah Kau membawa dia kehadapanku sekarang..
Ku mohon..
Setidaknya sekali ini saja, hanya saat ini saja, tunjukkanlah kebesaran Mu dengan nyata kehadapanku.
Bawa Yuri oenni padaku, kumohon..
Aku benar-benar memohon.

“Oen-ni ya.. Yu-ri oen-ni..”

Aku tersedak oleh airmata dan merasa sesak didada ku. Aku yang telah membuat diriku terjerembab kedalam kubangan menyedihkan seperti ini dan aku mungkin akan segera tenggelam kedalamnya. Aku butuh berpegangan sebelum aku benar-benar tenggelam, jika tidak aku pasti takkan sanggup mengatasi kekacauan ini.

Aku membutuhkanmu oenni..
Aku butuh dirimu untuk menjadi pegangan dan menyelamatkanku..

Aku terus menangis. Aku tak bisa mengendalikan airmata yang terus mengalir seakan takkan pernah mengering seberapa banyakpun aku telah menumpahkannya dari kedua mataku.
Bahkan setelah beberapa waktu lamanya, aku masih merasakan wajahku yang basah.

Aku terdiam ketika memandang pada pintu kamarnya. Dia keluar membawa kemarahannya dan meninggalkanku disini setelah mengatakan mengusirku dari rumahnya.

Dimana dia sekarang?
Kemana Siwon pergi saat dini hari seperti ini?
Aku tidak mendengar ada suara mobil, dia mungkin berada dalam salah satu ruang didalam rumahnya yang sebesar ini.

Apa aku harus menunggunya?
Apa aku perlu menunggunya kembali masuk dan kemudian berbicara lagi dengannya?

Tapi berada didalam kamar Siwon, dengan bau parfum yang bercampur dengan aroma tubuhnya, yang memenuhi seluruh ruang kamarnya hanya membuatku semakin merasakan sesak didada dan membuatku tertekan.

Aku si gadis belia bodoh yang telah diusir olehnya. Dan sudah seharusnya aku pergi dari sini.
Aku juga tidak ingin membuat kehebohan bila seseorang, terlebih ibunya menemukanku berada didalam kamarnya.

Maka dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki, aku berusaha keras untuk berdiri dan menyeret kedua kakiku yang lemas dan telah menjadi seperti jeli untuk keluar dari dalam kamarnya.

Aku bergerak seperti siput saat mencoba menaiki anak tangga untuk mencapai kamar yang ku tempati. Meski Aku seharusnya pergi setelah dia mengusirku. Tapi ini masih dini hari dan aku tidak memiliki kunci untuk keluar dari rumah ini. Aku juga masih ingin menangis. Aku pasti akan menangis saat telah berada didalam kamar ku.

Dan aku benar-benar melakukannya..

Dengan menjatuhkan tubuhku diatas tempat tidur, aku meredam jerit tangisanku diatas batal. Terus-terusan menangis dalam beberapa jam, membuat kepalaku terasa berat. Pusing menyerangku dengan luar biasa hebat, aku segera melarikan tubuhku ke kamar mandi ketika sesuatu didalam perutku bergolak. membuatku mual dan akhirnya muntah.

Lebih dari sepuluh menit aku berada didepan kloset, sampai benar-benar merasakan tak ada lagi sesuatu didalam perutku yang bisa dimuntahkan, aku baru beranjak.

Membasuh mulutku dengan air, tanganku kemudian bergerak mengatur suhu air agar menjadi hangat. Setelahnya aku menyalakan shower dan berdiri dibawahnya. Aku membuat seluruh tubuhku menjadi basah, sengaja melakukannya agar airmataku yang kembali menetes ikut terbawa oleh air yang mengguyur tubuhku. Ini telah menjadi kebiasaan. Aku selalu melakukannya saat tak bisa menghentikan airmataku.

Seperti sekarang ini, setelah aku mengetahui semua akan menjadi kekacauan. Setelah Aku benar-benar mengacaukan semuanya, aku hanya bisa menangis dan terus menangis..
Aku bersungguh-sungguh, airmataku seakan tak bisa mengering..

Apa yang akan dikatakan Donghae oppa bila mengetahuinya nanti?
Aku tak dapat membayangkannya..
Aku tak ingin memikirkannya..

“Oenni ya.. Oenni ya..”

Aku terus memanggil Yuri oenni dalam isakan tangisku dan tubuhku yang mulai merosot. Lututku semakin lemas dan tak kuat lagi menahan berat tubuhku, membuatku terduduk dilantai kamar mandi dengan air dari shower yang terus mengalir membasahiku.

Aku tak bisa bergerak..
Aku memang tak ingin beranjak..

Aku pasti telah cukup lama berada didalam kamar mandi ketika kemudian ku dengar pintu diketuk dari luar..

“Yoona ya.. Kau berada didalam? Kau masih belum selesai mandi..? Cepatlah, tidak ada lagi alasan sakit ataupun bosan hari ini.. Kau tetap harus mengikuti kelas kepribadian. Yoona ya..”

Ibu Siwon telah berada didalam kamarku..

“Yoona ya..”

“ne.. ne, o-mo-nim..”

aku bergegas keluar dari bawah pancuran air yang berasal dari shower, mematikannya dan merasakan tubuhku menggigil setelahnya.
Aku benar-benar telah lama berada dibawahnya.

Basah kuyup, aku melepas semua pakaianku dan mengambil handuk untuk menutupi tubuhku. Setelah terlebih dulu mengatur pernapasanku, aku membuka kuncian pada pintu. Berjalan keluar, aku mendapati Ibu Siwon sedang berdiri didepan lemari pakaianku dengan beberapa pakaian yang telah berada diatas tempat tidurku.

Tidak..
Aku tidak bisa lagi menganggap semua itu milikku. Aku akan pergi dan meninggalkannya. Aku telah diusir..

Mengingat kembali apa yang Siwon katakan semalam hanya membuatku semakin menggigil. Gigiku pasti sedang membuat suara bergemeletuk, saat Ibu Siwon kemudian beralih menatapku.

“Ada apa?”

Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku, dan mencoba menunjukkan senyum dibibirku..

“berapa lama kau telah berada didalam kamar mandi?”

Dia berjalan mendekatiku, mengamatiku dengan kedua matanya yang menatapku dengan awas..

Ibu Siwon pasti menyadari aku sedang menggigil. Dia memutar matanya kearahku..

“Kau tidak bertingkah seperti anak kecil yang bermain air disaat sedang mandi kan?”

“Omo-nim.. A-ku.. Aku..”

Astaga..
Aku benar-benar menggigil.

“Jawab aku Yoona? Berapa lama kau berada didalam kamar mandi?”

“Tidak terlalu lama omonim.. Mungkin, mungkin sekitar tiga puluh menit..”

Aku berbohong..
Aku pasti telah berada didalam sana lebih dari satu jam lamanya. Mungkin telah mencapai dua jam.

“dan apa yang terjadi? kau menangis?”

Aku tahu, dia memperhatikan mataku yang sudah pasti membengkak, disebabkan oleh tangisan yang terus-menerus..

“Tiga puluh menit berada didalam kamar mandi sudah termasuk waktu yang lama, Yoona. Apa saja yang kau lakukan?”

“Aku.. Aku, kepalaku terasa pusing.. Aku mual dan muntah..”

Ibu Siwon melebarkan mata kearahku..

“Apa? Apa yang kau katakan tadi?”

“Tadi kepalaku terasa pusing. Perutku mual dan kemudian aku muntah, omonim..”

Aku mengulang apa yang sebelumnya kukatakan. Aku mengatakan apa yang sejujurnya tapi mengapa wanita itu masih tetap melebarkan matanya kearahku. Aku justru merasa dia berubah panik setelahnya.

“Ya Tuhan.. Bagaimana ini? Mengapa sampai sejauh itu..?”

Dia beranjak dari hadapanku dan terlihat mondar-mandir disekitar tempat tidur.

“Astaga Yoona.. Bagaimana kau bisa membiarkan hal seperti itu terjadi?”

“Aku.. Aku tak bisa menahan diriku, omonim. Aku..”

Dia melotot kearahku.

“apa Kau baru saja mengatakan tidak bisa menahan diri? Aigoo.. Mengapa ada gadis sepertimu..”

aku tak mengerti..
apa maksudnya?
Aku memang merasakan pusing, kepalaku sakit. Perutku tiba-tiba bergolak mual. Aku tak bisa menahan diriku untuk muntah.

“Kau pikir apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Nanti.. Dengan itu.. Dengan janin didalam perutmu..”

Janin?
Aku melongo ketika dia mengarahkan tatapannya pada tubuhku, tertuju pada perutku.

Jadi..
Jadi maksudnya?
Oh ya ampun..

“Kau pikir kau akan bisa mengatasinya..! Astaga.. Kau tidak sadar kau masih gadis belia?! Bagaimana bisa kau tidak memikirkan masa depanmu, Yoona!”

“Omonim.. Omonim, aku tidak..”

“Kau tidak berhati-hati.. Kau ceroboh.. Kau gadis yang liar, Yoona..!”

Dia terduduk diatas tempat tidur dan menghela napasnya berkali-kali.

“Omonim..”

Aku mendekat, berada dihadapannya dan mencoba meraih tangannya namun dia menepisnya.

“Aku marah padamu, Yoona.. bukan hanya kau tapi juga Siwon. Astaga.. aku sudah memperingatkannya untuk berhenti menyentuhmu..”

“tidak omonim.. Aku tidak, tidak ada janin didalam perutku”

Dia langsung menatapku saat aku kemudian meraih tangannya..

“Jadi omonim mengira aku hamil?”

“Ya, tentu saja.. Sejak kemarin kau mengeluhkan pusing dan kau baru saja mengatakan mual dan juga muntah. Apalagi yang bisa kupikirkan jika bukan seperti itu..”

Aneh..
Setelah semua yang terjadi, saat ini aku justru ingin tersenyum padanya. Sedikit geli setelah mengetahui apa yang berada dalam pemikirannya dan melihat kecemasan yang menggurat diwajahnya karna hal itu..

“Jika hal itu yang sedang omonim khawatirkan, itu salah.. Tidak ada janin didalam perutku”

“Tapi kau.. Bagaiamana kau tahu? Aku pernah mengandung Siwon dan seperti itu lah apa yang dulu kurasakan. Aku bahkan masih mengingatnya. Pusing, mual dan muntah di pagi hari..”

Aku benar-benar tersenyum sekarang..

“Tidak omonim..”

“bagaimana kau bisa yakin?”

“Aku.. Aku sedang berada dalam siklus bulanan saat ini. Itu jelas membuktikan jika aku tidak hamil kan.. Dan juga..”

Tidak ada seorang pria yang pernah meniduriku.

Aku meneruskan kalimat itu didalam hatiku..

Satu-satu nya pria yang pernah menyentuhku adalah Siwon. Dan keintiman yang pernah dilakukannya padaku hanya sebatas pada ciuman bibir. Dan hal itu tidak mungkin membuatku hamil kan..
Tidak..
Aku memang tidak sedang hamil.
Wanita itu benar-benar lucu ketika berpikir seperti itu. Sudah cukup dia berpikir aku pernah tidur dengan putranya, dan untuk sekarang dia tidak boleh berpikir sejauh itu.

“Oh Tuhan, syukurlah..”

Aku melihatnya menghembuskan napas lega sesaat sebelum kemudian dia menangkup wajahku dengan kedua tangannya.

“Dengarkan aku Yoona..”

Aku hanya bisa mengangguk..

“Kau tidak boleh hamil.. Maksudku tidak saat ini. Tidak sekarang sebelum kau menikah secara resmi..”

Aku mengangguk..

Ya..
Tentu saja tidak. Tidak akan terjadi hal seperti itu. Aku akan benar-benar menjaga diriku.

“Jika kau hamil sekarang, itu hanya akan mengacaukan segalanya. Aigoo.. Bagaimana aku harus menyebutnya? Aku tak ingin menganggap memiliki janin akan mengacaukan segalanya.. Hanya saja..”

Aku mengerutkan dahi, masih tak mengerti dengan apa yang menjadi maksud ucapannya.

“Jika itu terjadi sekarang, waktunya masih tidak tepat.. Banyak hal yang sedang aku rencanakan untuk mempersiapkanmu sebagai istri dari putraku”

istri dari putranya..
Ya Tuhan..
Aku tak percaya dia baru saja mengatakan hal itu.

“Salah satunya yang baru aku bicarakan dengan suamiku adalah mendaftarkanmu masuk ke perguruan tinggi..”

Tuhan..
Dia juga memikirkan hal itu.

“Kau bisa memilih perguruan tinggi mana yang kau inginkan untuk dijadikan tempat berkuliah, kita bisa membahas hal itu nanti. Aku juga telah memiliki beberapa saran untukmu.. Karna itu aku tidak mengharapkanmu untuk hamil saat ini..”

bagaimana bisa kata-katanya kembali menyentuh hatiku. Aku bahkan merasakan mataku yang kembali berair. Dia mengingingkanku untuk masuk dalam perguruan tinggi. Bagaimana bisa aku tidak senang mendengarnya. Itu apa yang selama ini ku inginkan.

“Jangan berpikir aku telah merestui kalian.. Tidak, sama sekali belum. Kau harus lebih dulu mendaftar ke perguruan tinggi, menyelesaikan pendidikanmu dan mendapatkan gelar sarjana dibelakang namamu, maka dengan itu kau akan sepenuhnya mendapatkan restu dariku.. Kau mengerti, Yoona..?”

Aku tak tahu bagaimana aku harus menjawab. Siwon mengetahui semuanya dan dia telah mengusirku. Aku akan pergi. Aku tidak akan berada disini untuk melakukan semua itu. Jadi apa yang bisa kukatakan sekarang?
Hanya tinggal menunggu waktu sampai Siwon membuka mulut dan menceritakan semuanya, Ibunya juga pasti akan langsung mengusirku dari dalam rumahnya. Dia akan membenciku..

Tuhan..
Aku merasakan itu akan sangat menyedihkan dan aku mungkin tidak akan bisa mengatasi kemarahannya padaku. Aku harus secepatnya pergi..

“Kau mengerti apa yang aku katakan padamu, Yoona?”

dia mengguncang bahuku, mungkin aku telah cukup lama terdiam dan tak menjawab pertanyaannya.

Aku menatapnya dan kemudian dengan perlahan mengangguk..

“ne, aku ingin melakukannya..”

Aku ingin tapi aku takkan bisa melakukannya.

Itu apa yang sesungguhnya ingin aku katakan padanya.

“Baiklah.. Itu akan kita bicarakan lagi nanti bersama dengan suamiku. Sekarang aku perlu membantumu bersiap. Kau akan pergi mengikuti kelas hari ini kan? Kau tidak pusing?”

Aku mengangguk..

“Tidak lagi.. Aku bisa pergi sekarang..”

Pergi dari rumah ini..

Aku memaksakan senyum di bibirku ketika ibu Siwon kemudian bergerak untuk mengambil pakaian yang telah dipilihkannya.

Setelah selesai dengan pakaianku, aku mengikutinya untuk duduk didepan meja rias. Dia terlebih dulu memberikan sedikit riasan diwajahku sebelum kemudian menyisir rambutku.

Ini akan menjadi yang terakhir kali..
Dan sekarang aku merasa perlu untuk menikmatinya.

“Jadi apa yang terjadi hingga kau merasa mual dan muntah?”

Dia bertanya ketika tengah memulai mengatur tatanan rambutku.

“um, mungkin.. Aku memakan sesuatu yang salah saat berada dijamuan makan malam itu”

“Oh, apa yang kau makan?”

“em, sesuatu yang.. Tapi aku tak tahu apa namanya”

Aku tak tahu apa yang membuatku mual dan menjadi muntah, aku hanya mengira memang makanan yang ku makan itu yang menjadi penyebabnya. Ataukah hal itu sebenarnya pengaruh dari cemas, panik dan bercampur dengan perasaan takut yang kurasakan.
Aku tidak tahu..

Mendengar alasanku dan ketidak tauanku mengenai apa yang ku makan, dari cermin meja rias yang berada dihadapanku, aku mengetahui pada saat itu Ibu Siwon langsung memutar mata kearahku. Dia menghela napasnya sebelum bersuara..

“itu hanya menambah daftar yang harus kau pelajari..”

Dia meneruskan menata rambutku dan kami tak lagi saling berbicara setelahnya. Aku hanya terus memperhatikan apa yang dilakukannya dari cermin meja rias dan sampai kemudian Ibu Siwon mengarahkan tatapannya padaku. Dia tersenyum ketika tatapan kami bertemu..

“Sudah selesai.. Ayo turun. Sebaiknya kau sarapan terlebih dulu dan aku akan memastikan kau meminum obat. Aku juga perlu memberimu vitamin. Yang ku lihat adalah daya tahan tubuhmu mungkin menurun. Seperti yang sudah ku katakan, aku tak ingin kau benar-benar sakit..”

Mengapa dia harus bersikap baik padaku..
Aku merasa tidak pantas menerima perhatian darinya. Dan pasti akan terasa lebih baik jika dia tetap bersikap keras padaku.

“Ayo Yoona..”

dia meraih tanganku..

“ne..”

Aku mengangguk dan mengikutinya keluar dari dalam kamar. Turun ke lantai bawah dan langsung menuju ruang makan, jantungku berdebar mengantisipasi kehadiran Siwon disana.
Tapi tidak..
Dia tidak berada disana.

“Oh, yeobo.. Dimana Siwon?”

Aku memperhatikan Tn.Choi yang mengangkat kedua bahunya sebagai tanda ketidak tahuannya.

“Apa dia belum bangun? Astaga.. Siwon..!”

Aku merasakan tubuhku kembali gemetar saat wanita itu bergerak melangkah menuju kamarnya. Seakan aku akan segera diadili begitu pria itu muncul.

“Siwon.. Kau tidak.. Oh, yeobo.. Apakah Siwon sudah berangkat? Dia tidak ada dikamarnya?”

Aku melihat Ibu Siwon kembali ke ruang makan.

“kemana anak itu? Dia tidak berada dikamarnya..”

dia baru menarik kursi untuk duduk ketika kemudian ahjumma Lee datang..

“Nyonya, saya melihat Tuan muda berada di gudang penyimpan anggur”

“Mwo?”

“Siwon sepertinya tertidur disana, Nyonya..”

“Astaga.. Yang benar saja. Yeobo.. Apa yang terjadi dengan Siwon? Dia pasti meminum banyak anggur dan mabuk.. Anak itu benar-benar..”

Ibu Siwon pasti akan langsung menemui putranya dan menanyakan apa yang terjadi dengannya. Dan Siwon..
Dia mungkin akan langsung menceritakan kejadian semalam kepada kedua orangtua nya.

Tuhan..
Apa yang harus aku lakukan. Siwon sudah memperingatkanku untuk pergi sebelum dia menceritakan semua itu pada mereka. Tapi sekarang, aku justru masih berada didalam rumahnya..

“Aku akan menemukannya..”

“tetaplah disana oemma, aku masih baik-baik saja..”

Aku rasa tubuhku menjadi menggigil ketika mendengar suaranya. Aku seharusnya tidak melihatnya, tapi aku sadar dia sedang menatap padaku. Rambutnya kusut acak-acakan, matanya memerah semakin tajam saat menatap padaku.

Dengan itu, dia membuat sekujur tubuhku terasa dingin..

“Apa yang kau lakukan? Kau mabuk..?”

Wanita itu jelas tak menghiraukan apa yang di ucapkan putranya. Dia langsung mendekati Siwon..

“Apa yang terjadi? Kau juga merokok..?”

Aku melihat Siwon hanya diam ketika Ibu nya bahkan telah mendorong bahunya.

“Oemma bahkan sudah lama tak melihatmu melakukannya. Bukankah kau telah lama berhenti merokok. Jawab oemma, Siwon.. apa masalahnya? apa yang terjadi denganmu?”

“SUDAH KU KATAKAN AKU BAIK-BAIK SAJA, OEMMA..!!”

Aku merasakan merinding mendengar nada suaranya yang membentak..

“Siwon..”

“biarkan Aku bersiap oemma, aku harus pergi ke kantor..”

Aku melihatnya ketika melangkah menuju kamarnya. Dia berjalan gontai dan langsung membanting pintu dengan suara keras, sesaat setelah dirinya masuk kedalam kamarnya.

Dia jelas masih marah dan mungkin akan terus marah dengan keberadaanku didalam rumahnya.

Tubuhku bergidik ngeri menyaksikan hal itu tadi..

Sepertinya bukan hanya aku yang tersentak, tapi juga kedua orangtua nya yang merasa terkejut dengan apa yang dilakukan Siwon saat itu.

“Ya Tuhan.. Apa sih yang sebenarnya terjadi? Siwon tidak pernah seperti itu, yeobo. Apa sesuatu terjadi semalam pada saat jamuan makan malam itu, Yoona..?”

Wanita itu kini memfokuskan tatapannya padaku. Dan aku hanya bisa menggelengkan kepala padanya.

“Apa kau dan Siwon bertengkar, Yoona ya..?”

Kini Tn.Choi yang mempertanyakan hal itu padaku.

Ya Tuhan..
Apa yang harus aku katakan sekarang..

“anio Tuan..”

bibirku bergetar saat mengucapkannya.

“kami tidak bertengkar..”

“biarkan aku yang mengurus ini, yeobo..”

Ibu Siwon menarik pergelangan tanganku, menjauh dari sang suami.

“Jawab dengan jujur Yoona.. Apa yang terjadi dengan Siwon pasti berhubungan denganmu kan?”

“Omonim..”

“Siwon jelas telah mabuk.. Apa kalian bertengkar setelah kau mengatakan padanya kau hamil? Kau membohongiku.. Kau benar-benar hamil dan Siwon tak bisa menerima itu? dan dia melampiaskannya dengan mabuk.. Kau juga jelas memiliki mata yang membengkak akibat tangis. Jangan kira aku tak memperhatikan itu.. Kalian pasti memiliki pertengkaran semalam. Maka sekarang, katakan dengan jujur apa yang sebenarnya terjadi?”

Ya..
kami memililiki pertengkaran itu semalam. Siwon menunjukkan seperti apa kemarahannya. Dia marah, marah besar padaku. Tapi Aku menggeleng dengan yakin untuk tuduhan konyol mengenai kehamilan..

“tidak omonim..tidak seperti itu. Aku benar-benar tidak hamil.”

“Kau harus membuktikan itu!”

“omonim.. Aku sedang mendapatkan siklus bulanan saat ini. Tidakkah omonim mempercayaiku? perlukah aku memperlihatkannya..?”

Aku menggigit bibir bawahku ketika dia melotot padaku..

“Ya Tuhan.. Lalu apa? Jadi apa sebabnya? Aku tahu putraku dengan baik. Siwon tidak mungkin bertingkah seperti itu tanpa sebab..”

Aku melihat wajahnya yang begitu khawatir.

“jika bukan karna terjadi pertengkaran diantara kalian, itu pasti karna urusan perusahaan. Dia mungkin merasa stres apalagi setelah terjadi kebakaran itu. Siwon mungkin memerlukan minuman untuk sedikit melarikan diri dari itu. Tapi merokok.. seberapa  tinggi tingkat stres nya, hingga dia sampai kembali pada kebiasaan buruknya.. Oh putraku yang malang..”

Aku sedikit lega dia menyimpulkannya sendiri. Setidaknya aku tak akan menambah lagi kebohonganku.

“Aku akan berbicara dengan Siwon nanti.. Ayo sekarang kau harus mengambil sarapanmu dan berangkat”

Aku mengangguk, mengikutinya kembali ke ruang makan.

“yeobo.. ku harap kau tak terlalu menekan Siwon dengan urusan perusahaan. Sepertinya dia sedang mengalami stres karna itu..”

“hm, Aku akan bicara dengannya nanti..”

“Tidak.. aku yang akan berbicara lebih dulu dengannya.”

Aku hanya diam ketika ayah dan ibu Siwon membahas mengenai dugaan mereka tentang prilaku Siwon tadi. Hal itu justru membuatku merasa kesulitan menelan makananku.

Aku menyudahi sarapanku dan mengatakan aku harus pergi dan seperti yang dikatakannya sebelumnya, Ibu Siwon kemudian mengambilkan beberapa obat dan mengawasiku sampai aku memasukkan nya kedalam mulutku dan menelannya.

Setelah terlebih dulu berpamitan pada ayah Siwon, aku sejenak terpaku saat dia meraih tanganku dan mengatakan aku tidak seharusnya pergi mengikuti kelas hari ini jika keadaan tubuhku sedang tidak baik. Dia menyarankanku untuk kembali ke kamar dan beristirahat. Selalu, sampai saat ini aku menilai ayah Siwon adalah seorang pria yang penuh perhatian dan membuatku tersentuh. Bahkan sekarang aku merasa berdosa padanya..

Aku mengatakan padanya bahwa aku akan tetap pergi. aku harus pergi. aku baik-baik saja dan dia tidak perlu mengkhawatirkanku.

“kenapa kau masih terus memanggilku dengan sebutan ‘Tuan’?”

“nde..?”

“kau juga sebaiknya mengganti caramu memanggilku, Yoona ya.. seperti yang sudah kau lakukan pada istriku. aku iri padanya.. sekarang dia memilikimu sebagai seorang putri seperti yang diinginkannya”

Ya Tuhan..

“bisakah kau memberiku kebahagiaan yang sama dengan mengabulkannya? aku sudah sering memintanya darimu..”

Akankah dia membuatku hanya semakin merasa berdosa padanya..

“ne.. ne Tuan, em.. abonim. maafkan aku..”

“senang mendengarnya, Yoona ya..”

Dia tersenyum, mengusap punggung tanganku sebelum melepaskannya.

“Maaf .. Maafkan  aku abonim, aku harus pergi sekarang”

“Ya.. berhati-hatilah”

Melangkah untuk keluar aku tahu ibu Siwon mengikutiku. Mengantarku sampai di pintu depan dan menahanku disana..

“Benar kau merasa baik-baik saja?”

Aku mengangguk..

“kalau begitu, pastikan kau tidak akan lagi meninggalkan kelas sebelum waktunya berakhir.. Aku akan mengurus Siwon terlebih dulu sebelum berada disana untuk menjemputmu nanti. Setelahnya kita akan pergi ke acara lelang untuk amal. Aku juga akan mengajakmu menghadiri pameran..”

Aku hanya mengangguk dengan serentetan rencana yang dikatakannya.

“Aku harus pergi, omonim..”

aku benar-benar harus pergi. Keluar dari rumah ini dan meninggalkan kemewahan dibelakangku.
Aku tidak akan pernah kembali lagi..

“hm, baiklah.. Aku juga akan membawakan pakaian ganti untukmu nanti..”

Aku berusaha keras untuk tersenyum meski sebenarnya aku sangat ingin menangis pada saat itu.

Aneh..
Mengapa aku merasakan langkahku seakan terasa berat. Seorang supir dan mobil telah menungguku. Aku seharusnya dengan cepat masuk ke dalamnya, namun yang ku lakukan justru terdiam menatap pada wanita yang berada dihadapanku. Dia kembali menunjukkan senyumnya padaku dan entah sesuatu semacam apa yang kemudian mendorongku untuk bergerak dan memeluk tubuhnya. Aku benar-benar memeluknya dan dia tidak menolak..

“Oh..”

Dia pasti terkejut..

“Aku mungkin akan merindukanmu, omonim..”

maafkan aku. Jika suatu hari kau mengetahui apa yang sebenarnya telah ku lakukan, aku sangat berharap kau dapat memaafkan ku.

“Yoona ya..”

Aku merasakan tangannya mengusap pada punggungku.

“Aku akan pergi, maafkan aku..”

Aku beranjak tanpa berani menatapnya. Aku merasakan tatapannya yang tertuju padaku tapi aku tak berani untuk menoleh dan melihatnya.

Mataku memanas dan aku menangis ketika telah berada didalam mobil dengan seorang supir yang melajukannya.

“Anda baik-baik saja, nona..?”

“ne..ne ahjussi, gwechana.. Tolong antarkan aku dengan cepat. Kurasa aku akan sedikit terlambat..”

Aku menyeka airmata dengan ujung pakaianku, namun kemudian sang supir memberikan sekotak tisu padaku.

“saya akan melakukannya, nona..”

Beberapa menit setelahnya, aku telah sampai di tempat dimana aku mengikuti kelas kepribadian. Turun dari mobil, Aku melangkah masuk ke dalamnya karna tahu ahjussi pasti telah di peringatkan untuk mengawasiku dan tidak akan pergi meninggalkanku sebelum aku berada didalam.

Aku tak benar-benar akan mengikuti kelas hari ini. Aku hanya menggunakannya sebagai alasan untuk keluar dari dalam rumah Siwon. Dia telah mengusirku..
Dan pergi bukan lagi menjadi pilihan namun suatu keharusan.

Yang akan ku lakukan selanjutnya adalah menemui Donghae oppa dan mengatakan padanya bahwa Siwon telah mengetahui apa yang menjadi rencananya. Dan bagaimana yang harus kami lakukan selanjutnya.

Maka setelah mengintip dan memastikan mobil yang sebelumnya mengantarku tak lagi berada disana, aku keluar. Aku berjalan dengan cepat, hingga tanpa sengaja menabrak lengan seseorang dan membuat apa yang pada saat itu dibawanya terjatuh. Kertas-kertas itu berserakan dan aku harus menghentikan langkahku untuk membantunya..

“maafkan aku.. Aku terburu-buru dan tidak sengaja..”

Aku mengumpulkan semuanya kemudian menyerahkan itu padanya. Saat itu, aku mengetahui dia sedang memperhatikanku. menatapku dengan seksama.

“Kau.. Yoona?”

“ne.. Anda, dari mana anda mengetahui namaku..?”

Dia tersenyum..

“Kau tidak mengenaliku?”

Aku menggeleng, tapi didalam kepalaku aku berusaha untuk mengingat siapa wanita yang saat ini berada dihadapan ku.

Oh Tuhan..

“Anda.. Dokter Seohyun..”

Dia mengangguk..

Ya..
Aku mengingatnya.
Dia adalah seorang dokter dirumah sakit yang pernah menangani Yuri oenni sebelum dipindahkan.

“Apa yang dokter lakukan disini?”

“Aku ingin menemui temanku.. Dia menjadi pengajar disini. Dan kau.. Apa yang kau lakukan?”

“Aku mengikuti salah satu kelas disini, dokter..”

Aku merasa Dia semakin awas ketika melihatku.

“Apa kau begitu sibuk, Yoona? Mengapa kau tak pernah lagi mengunjungi Yuri..?”

“nde..?”

Aku tak mengerti dengan maksudnya.

“Apa maksud dokter?”

“Aku selalu menyempatkan diri untuk datang dan memeriksa keadaan kakakmu, Yuri.. Tapi aku belum sekalipun melihatmu disana..”

Jadi dia mengunjungi Yuri oenni diluar negri…

“Bagaimana dokter.. Bagaimana keadaan Yuri oenni?”

“Mengapa kau tidak datang saja untuk mengunjunginya?”

“Aku tidak bisa..”

“Jadi benar apa yang Donghae katakan padaku.. Kau menelantarkan kakak mu demi seorang pria pengusaha itu dan kemewahan yang di berikannya padamu..”

Aku tercekat mendengar kata-kata nya yang diucapkan dengan sinis padaku..

“Tidak.. Dokter, apa yang anda katakan? Aku tidak pernah bermaksud menelantarkan oenni ku.. Tapi Donghae oppa lah yang membawanya ke luar negri, dan membuatku berada jauh darinya. Aku ingin tapi aku belum bisa datang menemuinya. Aku bahkan tak tahu kemana Donghae oppa menempatkannya. Tapi aku sepenuhnya percaya dia akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Yuri oenni..”

“Luar negri? Maksudnya..?”

Aku sedikit heran melihatnya mengerutkan dahi mendengar ucapanku..

“ne, dokter.. Bagaiaman keadaan Yuri oenni setelah dia ditangani di luar negri? Bukankah tadi anda mengatakan telah mengunjunginya?”

“Tunggu Yoona.. Sepertinya kita harus bicara. Dan kau perlu tahu, Yuri tidak berada di luar negri..”

“Apa..??”

*

*

*

*

*

*

To Be Continued~

@joongly

182 thoughts on “| At First Sight | 11

  1. syedihh binggo waktu yoona eonni pamitan dan meluk ny. choi.. T.T
    feelnya dpt dan daebakk!
    dan woww, permainan tlh berakhir.. secepat itu kahh??
    tp kayanya bklan ada kenyataan baru yg begitu mengjutkan ttg keberadaan dan kondisi yuri eonni yg sebenernya di next chapter..
    jd ga sabarr:D

  2. Sedih sedih
    Setelah chapter-chapter sebelumnya isinya kekonyolan-kekonyolan yang aga bisa berhenti bikin ketawa, chapter ini malah cerita paling memprihatinkan di cerita ini atau ada yang lebih memprihatinkan lagi
    Jelasnya, ini adalah awal dari terbongkarnya kebusukan Donghae muehehehe

  3. Oh kuat kanlah hati ku. Part ini membuat ku menangis yoona unn yg merasakan sakit hati sampe saya ikut nangis pas dia ama siwon ribut , pas yoona ama omonim pelukan terharus bnget. Lanjut..

  4. huah sedih banget pas adegan yoona meluk ibunya siwon.
    padahal ibunya siwon udah nerima yoona tapi dia malah mau pergi gara gara diusir.
    wajar siwon kecewa dan marah pada yoona, dia sudah berusaha baik dan mencintai yoona tapi malah mendapat penghianatan seperti itu dari yoona meskipun dari awal dia tau yoona memang ingin menghancurkan dia.
    sepertinya rahasia akan semakin dekat buat terungkap.
    kenpa donghae harus membohongi yoona dan menyatakan yuri diluar negeri padahal gak.
    apa orang psyco gitu ya kelakuannya ingin memiliki orang yangdia posesifin untuk dirinya sendiri tanpa mau berbagi dg org lain meskipun org itu keluarganya.

  5. Ta sedikit lg terbongkar, donghae emang jahat bgt suka memutar balik kan keadaan yoona bener bener di kibulin, untung ketemu dokter seo semga dokter seo jujur am yoona jadi yoona ceoet sadar klo siwon gak salah, tp yoona bakal beneran pergi nih

  6. Disaat hatiku sedih gundah gulana karena pertengkaran YW.. Sedih dg apa yg trjadi dg yoona sigadis belia yg masih polos ehh seketika aq lngsung tersenyum ngakak sendiri.. Dg kelakuan ny. Choi yg sllu slh pham.. Kkeke Ny. Choi paporit aq yg bnar2 jjang !!

    Dan apa itu yg trakhir ? Jd yuri tdk berada diluar negeri.. Bnar2 keterlaluan sii donghae..smoga seohyun bisa membantu yoona untuk bertemu yuri, agar terbongkar smw bejatny donghae..

  7. aq bner2 kasihan ma yoona onnie,,,ini smua gra2 donghae…sbnar na pa yg dya rncanain….yoona onnie tlong percaya ma siwon oppa coz bkan dya yang nykitin yuri onnie….hix…hix…hix

  8. sedih bgt baca part ini..apalagi saat yoong meluk ibunya wonppa itu feel nya dpt bgt .. padahal ibunya wonppa udah mulai sayang sama yoong tp knp harus ada perpisahan apalagi yoong di usir wonppa..
    trs knp haeppa harus nyembunyiin yuri dan bilang ke yoong kalo yuri dibawa keluar negeri… ??

  9. Oh kasihan siwon oppa,dia jatuh cinta sama yoona tapi disaat yang bersamaan dia terluka karena yoona, dan donghae oppa,kejahatan mu pasti akan terbongkar,sekarang kau berbohong dengan mengatakan yuri diluar negri,jahaaaat

  10. di saat siwon mulai merasakan jatuh cinta bersama yoona, di saat yg bersamaan siwon juga ngerasain kekecewaan terhadap gadia belia yg di sukai nya…..kasian *pukpuk

  11. Akhirnya siwon mengungkapkan semua yg dia ketahui sama yoona
    Dan skg dy jg ketemu dgn dr seohyun
    Semoga dgn ini yoona tahu kalau dy hanya diperalat donghae

  12. semoga yoona tidak pergi dari rumah siwon . dan kenapa pula yoona mau disuruh donghae mrlakukan hal yang menyebabkan siwon marah besar untung siwom tau rencana nya klw enggak pasti perusahaan siwon akan hancur

  13. Huuufff sediiih bngt waktu woonpa brtngkr sma yoona ennii trs waktu yoona mluk ny choi smpai ikutan nagiiis,,,akhirnya kebusukan donghe kethuan jga,,,nex prt

  14. Ah,,,,capter2 sblum nya aku tertawa ddan di capter ini aku sedih,,,,wah,,,daebak,,kasihan liat yoona,,,kuharap wonpa masih mau peduli ma yoona,,,kasihan yoona sendirian skrang,,,

  15. Sedih hiks hiks..waktu Yoona meluk Ny. Choi dan bilang dia akan pergi. Kasihan juga Siwon, kenapa harus begini. Jadi makin kesel kan aku sama Donghae di sini.
    Semoga rahasia busuk itu segera terbongkar, biar tau rasa tuh orang. Dan hubungan Yoonwon bisa kembali membaik.
    Ngefeel banget eonni, daebbak….🙂🙂

  16. Astaga gak nyangka siwon semarah itu dan sekecewa itu sampe dia minum” n ngerokok segala.. trus apalagi ini baru kebongkar kebohongannya donghae lagi ternyata yuri gak di kuar negeri trus donghae juga bohong ke seohyun soal yoona yg gak nemuin yuri lagi.. berharap setelah ini semua kebohongannya donghae terungkap..

  17. Makin seru nih, setelah yoona yg ketangkep basah oleh siwon, sekarang giliran donghae ug ketauan bohong, untung yoona bisa ketemu sama seohyun,,
    Trus kasian yoona harus terlibat dalam kebohongan donghae,,,

  18. Akhirnya yoona tahu klo sbenernua yuri ga dibawa ke luar negeri,semoga dia menyadari klo donghae sebenrnya orang yg jahat.
    tapi ga rela klo siwon bener bner mengusir yoona,apa selanjutnya siwon juga akan membenci yoona juga..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s