Fanfiction

| At First Sight | 10

Happy Reading~

Prolog    1   2   3   4   5   6  7   8   9

*

*

*

*

*

*

*

Yoona masih merasakan keterkejutan dengan keberadaan Donghae disana. Namun pria itu nampak tak memperdulikan gambaran ekspresi itu diwajahnya. Ia mencekal pergelangan tangan Yoona, dan sempat membuatnya mengaduh ketika kemudian ia menariknya dengan keras ke sisi sebelah rumah. Yoona merasa tak ada siapapun yang melihat keduanya saat itu, dan jelas Donghae telah mengenal bagian-bagian dari rumah Siwon.

“Kau menikmati gaya hidupmu sekarang?!”

Ucapnya penuh kesinisan setelah menghempaskan pergelangan tangan Yoona, dan memojokkan tubuh gadis itu hingga punggungnya menyentuh pada bagian tembok rumah.

“Oppa..”

“Apa sekarang kau mengingat bagaimana Yuri? Apa kau masih bisa merasakan sakit hatinya? Kau ingat apa yang telah kita rencanakan sebelumnya? Tidak.. Pasti tidak. Kulihat kau tidak lagi mengingat apalagi merasakan. Kau terlena dengan kemewahan yang diberikan si brengsek itu..! Sialan Yoona..!”

Yoona tersentak kaget ketika tangan Donghae yang mengepal meninju bagian tembok yang tepat berada disebelah wajahnya. Yoona langsung menutup kedua matanya, bahkan sekujur tubuhnya langsung gemetar, ngeri dengan sikap Donghae saat itu.

Ketika perlahan kemudian Yoona membuka matanya, Ia bisa melihat tatapan keras dikedua mata Donghae saat itu.

Pria itu marah padanya..

“Oppa..”

Ada getaran dalam nada suaranya ketika itu..

“jawab aku, Yoona! Apa kau masih perduli dengan bagaimana perasaan kakakmu?”

Yoona merasakan kedua matanya memanas. Cairan bening dari airmatanya menetes saat itu. Membasahi wajahnya yang sebelumnya nampak berseri-seri.

“bagaimana bisa kau menanyakan hal seperti itu padaku, oppa..?”

Yoona merasakan sakit dihatinya atas tuduhan Donghae terhadapnya.
Bagaimana bisa..
Bagaimana bisa pria itu memiliki pemikiran semacam itu terhadapnya.

Sejenak Yoona terdiam memikirkan..

Tapi benarkah?
Benarkah Ia telah terlena?
Benarkah dirinya melupakan Yuri? Melupakan kesakit hatian sang kakak dan melupakan rencana awalnya untuk menghancurkan Siwon.

Seperti itukah..?

Apakah diam-diam ia memiliki perasaan lain yang kemudian menutup dan membuatnya terlupa akan semua itu?

Tidak..
Tidak mungkin seperti itu.

Yoona jelas masih merasa mengingat Yuri oenni nya. Ia tidak akan mungkin lupa. Yuri satu-satunya keluarga yang dimilikinya. Yang menjaganya, menyayangi dan melindunginya. Karna itu Ia akan melakukan apapun untuk mengembalikan keadaan Yuri oenni nya. Dan untuk itu Ia menyetujui rencana Donghae yang ingin membalaskan kesakit hatian Yuri terhadap Siwon.

“mengapa kau berpikir seperti itu terhadapku, oppa?”

“itu berdasar oleh apa yang kulihat.. Lihatlah dirimu, kau menjadi nona muda sekarang?”

Donghae masih menatapnya dengan sinis..

“Aku hanya mencoba bertahan dirumah ini.. Maka aku menurut, aku melakukan apa yang mereka inginkan dariku. Aku menunggu.. Aku menunggumu mengatakan padaku apa rencanamu, oppa..”

Donghae diam dengan masih menatapnya. Mencoba untuk menemukan kesungguhan dari apa yang telah Yoona katakan.

“begitukah?”

“Aku tak tahu.. Aku tak tahu apa rencanamu yang selanjutnya, oppa. Maka cepatlah katakan padaku.. Aku ingin mengakhiri ini secepatnya. Aku tak ingin lagi berada disini..”

Setelahnya Yoona terdiam, terbersit perasaan bersalah yang mendadak menyelimuti hatinya. Bukan pada Siwon, melainkan perasaan bersalah itu lebih pada kedua orang tua Siwon. Terhadap Tn.Choi yang begitu bijaksana dalam menyikapi kehadirannya sebagai tunangan sang putra. Meski jelas-jelas dirinya hanyalah gadis biasa. Pria itu bahkan bisa menerimanya sedari awal. Yoona juga menyimpan rasa bersalah terhadap Ny.Choi yang meskipun bersikap keras, namun dalam beberapa hari terakhir ia bisa melihatnya dari sisi yang lain. Dan menemukan bahwa wanita itu memiliki keperdulian terhadapnya. Jika tidak, untuk apa dia mendandaninya. Memperbaiki tampilannya. Memasukkannya dalam kelas kepribadian yang bertujuan untuk membantunya bersikap. Setiap pagi Ny.Choi bahkan berada dikamarnya hanya untuk menyiapkan apa yang pantas untuk dikenakannya. Awalnya wanita itu memang terkesan mengatur, dan Yoona merasakan hanya menjadi sebuah objek atau sebuah boneka tepatnya. Namun kemudian nampaknya Yoona melihat sesuatu yang lain, hingga ia lebih menilai apa yang dilakukan wanita itu ialah sebagai sebuah bentuk kepedulian terhadapnya.

Untuk beberapa saat didalam kepalanya terus berputar pemikiran mengenai itu dan akan seperti apakah nantinya?

Meski hanya Siwon yang menjadi sasarannya, Ia juga sadar jika nanti pasti akan menorehkan luka mendalam terhadap kedua orangtua Siwon yang tak mengetahui permasalah yang menyangkut Yuri oenni nya.

Itulah yang sebelumnya tak pernah terbayangkan olehnya. Yoona tak pernah menyangka akan terlibat juga dengan kedua orangtua Siwon.

“baiklah.. Jika kau ingin aku mengatakan apa rencanaku..”

Apa yang dikatakan Donghae, membuat Yoona ditarik dari apa yang pada saat itu sedang menjadi pemikirannya. Ia kemudian menyadari Donghae telah lebih merapatkan tubuhnya.

“Kau tahu letak ruang kerja Siwon?”

Yoona hanya mengangguk..

“bagus..”

Ia mendongak menatap Donghae dengan penuh antisipasi untuk apa yang akan dia katakan selanjutnya.

“Dengarkan aku baik-baik.. Kau akan mengambil sebuah dokumen penting perusahaan yang aku yakin tersimpan didalamnya, dan menyerahkannya padaku. Selanjutnya akan menjadi urusanku..”

Donghae berbisik ditelinganya. Yoona masih terdiam, berusaha mencerna apa yang baru saja didengarnya.

“Apa kau mengerti, Yoona..?”

Yoona masih belum Yakin..

“Bagaimana.. Bagaimana aku tahu dokumen seperti apakah itu?”

“Kau pasti tahu, Yoona.. Aku yakin kau cukup pintar untuk dapat membedakan mana sebuah dokumen penting dengan yang hanya sebuah sampah..”

Donghae menatapnya dengan tatapan meyakinkan.

“Aku sudah berusaha mencarinya, tapi aku tidak menemukannya diruang penyimpan dokumen yang ada dikantor, itu berarti Siwon menyimpannya dirumah”

Yoona sedikit merasakan terkesiap atas apa yang baru saja diucapkan oleh Donghae.

“Oppa.. Apa itu berarti.. Itu berarti kau lah yang telah..?”

“kebakaran itu maksudmu? Ya.. Aku memang berada didalam sana saat itu. Tapi kebakaran yang terjadi.. Itu hanya kecelakaan. Aku tak benar-benar merencanakannya”

Yoona kembali merasakan gemetar disekujur tubuhnya. Ia merasa ngeri dengan apa yang telah Donghae lakukan.
Membakar kantor Siwon?
Ya Tuhan..
Sampai harus sejauh itukah?

“Sudahlah.. Lupakan masalah kebakaran itu. Yang harus kau lakukan sekarang adalah menyelinap masuk kedalam ruang kerja Siwon dan menemukan dokumen itu untukku”

Donghae meraih dagu Yoona, menjadikan wajah yang menunduk itu kini bertatapan dengannya.

“Inilah saatnya, Yoona.. Lakukan bagianmu dan selanjutnya akan menjadi bagianku”

Donghae dengan perlahan mulai menjalankan jemarinya, menyentuh wajah Yoona.

Pada saat itu yang dilakukan oleh Yoona hanyalah menahan napas. Donghae, seseorang yang selama ini dikaguminya dan bahkan ia telah lama menempatkan perasaan tersembunyi dalam hatinya untuk pria itu, yang kini sedang melakukan apa yang belum pernah dilakukannya sebelumnya dengan menyentuhnya.
Sentuhan itu mungkin menjadi sesuatu yang selama ini diharapkannya, diinginkan olehnya. Namun yang Yoona rasakan pada saat itu justru tak seperti apa yang dibayangkan olehnya. Yoona hanya semakin merasakan gemetar ditubuhnya.

“Menguntungkan memilikimu yang tinggal dirumah ini, Yoona.. Siwon tidak akan menyadari sampai kehancuran itu meruntuhkan segalanya. Dan setelah kita melihat itu, kita akan pergi jauh dari jangkaunnya..”

Ucapannya terdengar seperti teror dan penuh dengan kebencian yang tersorot dimatanya. Donghae menjauhkan tangannya dan sekaligus tubuhnya.

“Kau akan melakukannya bukan?”

Yoona masih terdiam..

“Kau akan melakukannya, Yoona..”

ucapnya sekali lagi hingga kemudian Yoona mengangguk dengan perlahan. Donghae tersenyum dan kemudian mengulurkan tanggannya untuk kembali menyentuh wajah Yoona.

“itulah apa yang aku inginkan darimu, Yoona.. Dan aku menunggumu menyerahkan dokumen itu padaku, secepatnya.. Moment nya sangat tepat untuk dilakukan saat ini dan kita tak akan memiliki banyak waktu. Semua tergantung pada keberanianmu..”

Yoona justru diselimuti kegelisahan saat itu.

“Aku tahu kau akan melakukan itu untukku dan terutama ingat, kita melakukan ini untuk Yuri..”

Donghae sudah akan beranjak, namun Yoona menahan lengannya.

“Apakah.. Apakah setelah itu kita benar-benar akan pergi? Pergi keluar negri dan bertemu dengan Yuri oenni?”

Donghae tersenyum mendengarnya.

“itu pasti Yoona.. Dan ketika itu, dia akan tersenyum karna kau telah membawa kabar menggembirakan untuknya. Membalaskan kesakit hatiannya”

Setelahnya, Donghae benar-benar meninggalkannya. Entah melalui pintu pagar sebelah mana, yang jelas Yoona tak melihat ada mobil Donghae disekitarnya. Ia memang tak terlalu berkonsentrasi akan hal itu, Ia lebih merasakan lututnya yang melemas setelah Donghae meninggalkannya terpaku disana.

“Nona.. Nona Yoona!”

Ia mendengar suara sang supir yang mencarinya saat kemudian ia berhasil menyeret kedua kakinya untuk beranjak dari sana.

Mungkin Yoona berpikir pada saat itu tak ada yang melihat ataupun mendengar pembicaraannya dengan Donghae. Namun kenyataannya adalah salah. Disana, disudut bagian rumah yang lain, yang berada tak jauh dari keberadaan Donghae dan Yoona tadi, Siwon dengan jelas mendengar semuanya.

Bersyukur saat tadi meminta sang supir pribadi untuk memutar arah dan membawanya kembali ke rumah untuk mengambil beberapa berkas yang tertinggal. Ia membiarkan sang supir tetap berada dimobil sementara dirinya turun, dengan langkah lebar berniat untuk masuk kedalam rumahnya dan mengambil berkasnya yang tertinggal. Namun suara mengaduh yang didengarnya, dan sekelebat bayangan seorang pria kemudian menahannya. Ia memutar langkahnya sampai pada sudut yang tepat disekitar rumahnya. Hanya ingin tahu siapa orang yang berada disana dan tak berniat mencuri dengar sebenarnya, namun Ia melakukannya. Sampai akhirnya ia tetap berdiri disana dan menguping pembicaraan keduanya. Dengan rahang mengeras dan kedua tangan yang mengepal, tinjunya sudah hampir saja melayang, andai Ia tak cukup bisa mengendalikan diri. Ia mendengar lagi rencana licik itu, dan geraman lolos dari tenggorokannya segera setelah mereka beranjak dari sana.

“Sialan..!!”

***

Yoona memiliki banyak pemikiran didalam kepalanya. Karnanya ia banyak melamunkan hal itu. Setelah berbicara dengan Donghae tadi, ia justru merasakan kegelisahan dan tak bisa santai. Ia bahkan tak berkonsentrasi pada kelas yang diikutinya. Ia meminta ijin keluar dari kelas lebih cepat. Ia mungkin butuh menghirup udara segar. Namun ternyata diluar sana Ny.Choi justru sudah datang untuk menjemputnya. Dia sedang menunggunya.

Yoona menghembuskan napasnya pasrah, ia dalam pengawasan Ny.Choi, maka takkan mungkin bisa meski ia sangat ingin mencuri sedikit waktu untuk sebentar saja berjalan-jalan disekitar tempat itu, dan mencoba untuk menjernihkan pikirannya.

“Oh, Yoona ya.. Kenapa kau sudah berada diluar? Bukankah kelas belum berakhir? Masih sekitar dua puluh menit lagi kan..?”

Ny.Choi memeriksa jam pada pergelangan tangannya.

Bagus..
Wanita itu bahkan menghapal jadwal nya. Dan Yoona seharusnya tak perlu heran dengan itu.

“Aku.. Aku..”

Ny.Choi menatapnya tajam, sepertinya tahu jika ada sesuatu yang tak beres saat itu.

“Aku.. Aku sedikit merasa bosan, omonim.. Aku meminta ijin untuk keluar lebih cepat.”

Yoona menggigit bibir bawahnya setelah mengemukakan alasannya. Meski bukan itu yang sebenarnya dirasakan olehnya.

“Bosan?”

Ny.Choi memutar mata, ketika Yoona mengangguk dan langsung mendekat dengan melingkarkan tangan pada lengannya.

“ini bahkan baru pertemuan kedua, dan kau bilang bosan? Yang benar saja.. Cepat masuk kembali, dan katakan kau akan mengikuti kelas hingga selesai..”

Ny.Choi berusaha untuk menyingkirkan tangan Yoona dari lengannya, namun Yoona kembali meraihnya.

“omonim..”

Yoona memberengut..
Bisakah ia merajuk saat itu.

“Sepertinya aku sedikit tak enak badan. Aku merasa pusing dikepalaku.. Aku tak bisa berkonsentrasi dalam kelas tadi..”

Yoona menggunakan jari-jari pada tangan kanannya untuk menekan pada pelipis nya, dan apa yang dilakukannya cukup untuk menarik perhatian Ny.Choi saat itu.

“benarkah?”

Ny.Choi memeriksanya, dengan menempelkan punggung tangannya dikening Yoona. Tak ada yang salah disana. Suhu tubuhnya terasa normal..

“jangan bohong, Yoona.. Kurasa kau tak kenapa-napa. Suhu tubuhmu masih normal”

“tentu saja itu karna Aku memang tidak merasa demam.. Aku hanya merasakan pusing dikepalaku. Terasa berdenyut dan ini sedikit sakit..”

Yoona mencoba meyakinkan dengan mengerutkan dahinya dan kembali menekan pada pelipisnya.

“Aigoo.. Ya sudah, ayo pulang saja.. Seharusnya kau bisa ikut denganku pada makan siang dengan teman-temanku. Dan kita bisa mengunjungi butik setelahnya. Tapi sepertinya aku harus membatalkannya..”

“omonim tidak harus membatalkannya, aku bisa pulang dengan taksi..”

“Kau pikir aku akan membiarkanmu melakukannya? Tidak.. Kita akan pulang bersama. Aku memang berencana tidak datang jika kau tak ikut bersamaku..”

Ny.Choi berjalan lebih dulu menuju mobil dan kemudian diikuti Yoona dibelakangnya.

Kurang dari tiga puluh menit, mereka telah sampai didepan pagar rumah.
Ny.Choi kembali turun lebih dulu, dibelakangnya Yoona mengikuti langkahnya sambil mendengarkan apa yang harus dilakukannya.

Masuk kedalam rumah, Yoona langsung diminta untuk masuk kedalam kamarnya. Mencuci wajahnya terlebih dulu untuk membersihkan sisa-sisa make up dan kemudian mengganti pakaian dan beristirahat. Tak berapa lama setelah Yoona menyelesaikan semua itu dan bersiap untuk naik keatas tempat tidur, Ny.Choi mengetuk pintu kamarnya dan kemudian masuk dengan membawa sebuah nampan. Di atasnya ada segelas air putih dan beberapa butir pil.

“Kau bisa meminum obat untuk menghilangkan rasa pusing dikepalamu, terlebih dulu..”

Melihat Ny.Choi yang melangkah mendekatinya, Yoona justru tertegun, tersentuh oleh perhatian yang diberikan wanita itu kepadanya.

“omonim..”

Ny.Choi meletakkan nampan itu diatas meja kecil disisi tempat tidurnya.

“pastikan kau meminumnya.. Aku akan meninggalkanmu untuk beristirahat”

entah apa yang kemudian membuat Yoona menahan lengan Ny.Choi ketika wanita itu ingin beranjak keluar dari kamarnya.

“ada apa?”

“terimakasih..terimakasih untuk memperhatikanku”

Ny.Choi menghela napas.

“Aku hanya tidak ingin ada orang yang sakit didalam rumahku. Terlebih kau.. Suamiku dan apalagi Siwon mungkin akan berpikir aku melakukan sesuatu yang kasar terhadapmu. Dan Aku tak ingin terjadi seperti itu..”

“Apapun alasannya aku tetap berterimakasih..”

Ny.Choi mengangguk, setelah Yoona melepaskan tangannya, ia baru keluar dari dalam kamar itu dan membiarkan Yoona untuk beristirahat.

Sepeninggal Ny.Choi, Yoona masih hanya memandangi nampan yang berisi obat itu. Ia tak benar-benar pusing dalam arti memerlukan obat untuk meredakannya. Melainkan, ia pusing karna ada banyak hal yang berputar didalam kepalanya. Dan ia mendadak menjadi tak yakin dengan apa yang harus dilakukannya.

Yoona tidak bisa tertidur, dan entah sudah untuk yang keberapa kalinya ia mendengus. Yang dilakukannya hanyalah berjalan mondar-mandir didalam kamarnya. Mulai dari ujung ke ujung, mencoba untuk menemukan kemantapan hatinya.

Yang sebenarnya pada pandangan pertama ia melihat Siwon, ia telah mendapatkan kemantapan itu untuk menghancurkan pria yang telah menyakiti Yuri oenni nya dan membalaskan kesakitan hatinya dengan sama pantas.

Tapi mengapa..
Mengapa Ia menjadi gundah dalam kebimbangan yang dirasakannya.

Apakah itu dipengaruhi oleh apa yang dilakukan Siwon dengan membawa kedua temannya untuk bertemu dengannya, dan membuatnya merasa senang. Karna dengan itu ia menjadi menemukan sisi kebaikan dari pria itu?

Apakah itu juga karna sikap baik Tn.Choi?
Dan karna telah mengenal watak Ny.Choi yang dibalik kekerasan sikapnya, nyatanya memiliki kebaikan dan kelembutan hati sebagaimana seorang ibu.

Tidak..
Ia tidak boleh goyah oleh karna semua itu.
Kenyataan bahwa Yuri oenni nya mengalami depresi yang disebabkan oleh seorang Choi Siwon, itulah yang seharusnya menjadi fokus utamanya dan mengembalikan kemantapan hatinya untuk menghancurkan pria itu.

***

Setelah kembali kerumah dipagi hari tadi dan cukup tak menyangka akan mendengar pembicaraan diam-diam antara Donghae dan Yoona yang juga sempat membuatnya merasakan amarah namun masih berhasil mengendalikan dirinya, Siwon telah memutuskan untuk kembali ke kantor setelahnya dengan terlebih dulu mengambil berkasnya yang tertinggal sesuai dengan niatan awalnya.

Dan setelah beberapa jam dilaluinya dengan berkutat didalam kantornya, kini menjelang malam hari ketika Siwon kembali pulang ke rumahnya, Ia melangkah lebar sedikit terburu-buru pada saat masuk ke dalamnya.

“Siwonie.. Apa yang terjadi?”

Ny.Choi yang pada saat itu sedang menemani sang suami yang tengah bersantai dengan secangkir teh dan obrolan-obrolan diantaranya, mencoba menghentikan Siwon saat melihat langkah terburu dari sang putra tunggalnya itu.

“Langkahmu seperti sedang dikejar setan..”

“Aku sedang dikejar waktu, tepatnya..”

Ny.Choi mengerutkan dahi dan menatap pada sang suami yang duduk disampingnya, namun Tn.Choi hanya mengangkat kedua bahunya, jelas tak mengetahui apa yang terjadi dengan Siwon.

“Wegurae?”

Ny.Choi langsung menghampirinya.

“Apa yang terjadi?”

“bukan hal yang serius oemma.. Aku hanya harus berada dalam jamuan makan malam bisnis beberapa waktu lagi. Maka aku butuh bersiap dengan cepat dan kembali pergi..”

Siwon sudah akan beranjak dari hadapan sang ibu, namun Ny.Choi menahan lengannya.

“Tunggu.. Dengan siapa kau pergi?”

“Aku sendirian..”

“sendiri..?”

“hanya jamuan makan malam saja oemma, dan aku tidak akan lama berada disana..”

“ajaklah Yoona untuk menemanimu, oemma akan memberitahunya dan sekaligus membantunya bersiap”

Ny.Choi selangkah beranjak dari hadapan Siwon, dan kini berganti Siwon yang menghentikan langkahnya.

“tunggu, apa yang oemma katakan tadi? Mengajak Yoona? Untuk apa..?”

“Kau ini.. Tentu saja untuk menemanimu. Oemma dulu juga sering menemani ayahmu, jadi jangan kira oemma tak tahu dalam acara semacam itu kau jelas memerlukan pasangan. Dan lagi, setelah malam pertunangan itu kalian belum sekalipun pergi kedalam satu acara yang sama. Jangan kira orang-orang diluar sana tidak akan mempertanyakannya.. Kau bisa bersiap dan oemma yang akan mempersiapkan Yoona untuk menemanimu”

Ny.Choi beralih dari hadapan Siwon.

“yeobo.. Aku harus meninggalkanmu sebentar untuk mengurus Yoona..”

“Ya.. Lakukanlah..”

Tn.Choi memberikan senyum dukungannya, sementara Siwon masih berdiri disana.
Setelah ia bahkan tak bisa menyela kata-kata yang diucapkan oleh ibunya tadi, bagaimana bisa ia menghentikan ibu nya saat itu. Ia hanya bisa melihat sang ibu yang kemudian bersemangat menaiki puluhan anak tangga untuk mencapai kamar Yoona.

Membuka pintu kamar Yoona, Ny.Choi tak menemukan gadis itu berada diatas tempat tidurnya. Ketika Ny.Choi masuk untuk menemukannya, ia justru melihat obat yang seharusnya Yoona minum, masih utuh ditempatnya. Ia sudah akan meneriakinya, namun kemudian melihat Yoona keluar dari dalam kamar mandi.

“Oh, omonim..”

“Kau tidak meminum obat sakit kepalamu?”

Yoona menggigiti bibir bawahnya, mendengar kalimat yang berindikasi menumbuhkan kemarahan dari Ny.Choi.

“aku sudah merasa lebih baik.. Aku tak memerlukan obat itu, omonim..”

Ny.Choi menghela napasnya.

“baiklah.. Kau beruntung aku tak ingin berurusan lebih jauh dengan alasan itu sekarang. Bagus jika kau sudah merasa lebih baik saat ini, karna kau harus cepat bersiap untuk menemani Siwon menghadiri jamuan makan malam..”

Yoona masih terbengong didepan pintu kamar mandi, heran dengan begitu cepatnya wanita itu berucap, membuatnya tak memiliki kesempatan untuk membantah.

Yoona hanya terus menatap mengikuti Ny.Choi yang kemudian membuka lemari pakaiannya yang kini telah penuh dengan berbagai pakaian yang hampir setiap hari menambah isi lemarinya. Ia memperhatikan ketika wanita itu memilih-milih gaun yang tergantung dan memerintahkan Yoona untuk mendekat padanya. Ny.Choi bahkan tak perlu bertanya apakah Yoona bersedia memakai gaun yang dipilihkannya atau tidak.

“Kau bisa memakai yang ini..”

“benarkah aku harus menemani sajangnim.. emm maksudku, Siwon op-pa?”

“Ya, itu yang akan kau lakukan”

Yoona merasa tak perlu bersusah-susah untuk membantah, karna ia telah meyakini fakta bahwa Ny.Choi tidak akan mendengarkannya pada saat itu.

Maka yang kemudian dilakukannya adalah berjalan ke konter yang berisi pakaian dalamnya. Ada lusinan pakaian dalam baru dengan berbagai warna yang berada didalamnya, dan Yoona memilih sepasang warna yang senada dengan gaun berwarna biru muda yang telah dipilihkan Ny.Choi untuknya.

“Kau tidak memerlukan bra untuk gaun ini, Yoona..”

Ny.Choi mengambil itu dari tangannya dan mengembalikan lagi kedalam konter yang menjadi tempatnya.

“Omonim..”

Yoona sedikit terperangah melihatnya.

“Gaunmu berpotongan seperti ini, bagaimana mungkin kau akan memakai bra.. Itu tidak akan terlihat bagus. Biar aku yang mengurusmu”

Yoona mendekap tubuhnya sendiri dengan kedua tangan ketika Ny.Choi memintanya untuk membuka kimono handuk yang dikenakannya. Hal itu jelas membuat Ny.Choi memutar mata kearahnya.

“Aku.. Aku tidak bisa memakai itu, omonim..”

“Tidak ada waktu lagi untuk menemukan gaun yang lebih bagus dari ini, Yoona..”

“tapi aku.. aku harus memakai bra”

Yoona menunduk, memperhatikan pada dadanya. Ny.Choi mendesah melihatnya, Ia mungkin mengetahui apa yang pada saat itu berada dalam benak Yoona. Terbukti dengan Ny.Choi yang kembali beralih kehadapan lemari pakaiannya, membuka satu persatu gaun hingga kemudian menemukan satu gaun berwarna pitch yang menurutnya tak kalah bagus dengan gaun berwarna biru yang sebelumnya.

“Ini akan menjadi malam pertama kalian setelah pertunangan itu dimana kau dan Siwon akan tampil bersama. Aku ingin menunjukkan jika gadis yang menjadi tunangan putraku memang pantas saat berdampingan dengannya.. Kau akan sempurna dengan gaun ini. Dan ya, kau memang memerlukan untuk memakai bra.. Setidaknya itu diperlukan untuk memberi kesan pada payudaramu agar terlihat lebih berisi”

Yoona melongo dengan bagaimana mudahnya wanita itu mengucapkan kata-katanya.

Namun Ny.Choi tampaknya mengabaikan bagaimana ekspresi diwajah Yoona pada saat itu, dengan tak menunggu lama ia beralih ke konter pakaian dalam dan menarik sepasang yang berwarna senada dari dalamnya.

“Kau akan memakai yang ini, dan cepatlah Yoona.. Aku masih harus merias wajah dan menata rambutmu”

apa yang bisa dilakukan olehnya?
Jawabannya adalah tidak ada selain menurut. Dengan terlebih dulu mengenakan pakaian dalamnya, Yoona lantas memakai gaunnya dan Ny.Choi meneruskan dengan membantu menarik resleting yang terlihat samar dibagian punggungnya.

“Benarkan.. Aku memilihkan gaun yang tepat untukmu”

Ny.Choi tersenyum sambil membenarkan lipatan pada bagian depan gaunnya, dan Yoona mengangguk menyetujui, menatapnya dengan dalam dan sekali lagi ia dibuat terpaku atas bagaimana Ny.Choi memperhatikan dirinya.

“duduklah dan aku akan dengan cepat memaksimalkan kemampuanku untuk merias wajahmu..”

“dan jangan lupakan untuk mengatur rambutku, omonim..”

Yoona merasakan bibirnya tertarik untuk menunjukkan senyum diwajahnya.

“Ya ya.. Kau benar, penampilanmu malam ini harusslah spektakuler. Sekarang duduklah dan aku yang akan menanganinya. Mungkin aku harus mempertimbangkan untuk mempekerjakan seorang perias dirumah ini..”

Entah karna apa kedua wanita yang memiliki keterpautan umur cukup jauh itu, justru bisa cekikin bersama setelahnya.
Dan membuat Yoona terlupa dengan hal-hal yang sebelumnya telah memenuhi pikirannya.

Sementara Siwon yang berada dibawah telah bolak-balik melihat kearah anak tangga rumahnya, ia sudah selesai bersiap sekitar tiga puluh menit yang lalu dan masih harus menunggu sang ibu membawa Yoona turun dari kamarnya.

“Kau bisa naik keatas dan memanggilnya, jika sudah tak bisa menunggu”

Sang ayah menyarankan setelah menyaksikan Siwon berkali-kali melihat jam pada pergelangan tangannya.

“sebenarnya apa sih yang oemma lakukan untuk membuat Yoona bersiap?”

Sang ayah mengangkat kedua bahu.

“seperti itulah wanita.. Sepertinya kau belum cukup memahaminya”

Siwon berdiri dari duduknya..

“Aku akan menunggu lima menit lagi, jika tidak aku akan meninggalkannya”

“Mungkin kau bisa menggunakan lima menit itu untuk mendengar apa yang akan aku katakan..”

Siwon menatap pada sang ayah dan kembali mendudukkan tubuhnya.

“Apakah yang menjadi maksud, aboji?”

“Begini Siwon.. Yang aku lihat dari sikap ibumu adalah, dia melakukan apa yang tidak ibumu dapatkan dari nenekmu”

“apa yang tidak oemma dapatkan dari halmoni?”

“Perhatian.. Ibumu tak terlalu mendapatkan perhatian itu dari nenekmu, ibu mertuanya. Dia sedikit kurang menyetujui saat aku menikahinya. ibumu masih terlalu muda saat itu. Karna itu nenekmu terkadang bersikap dingin padanya”

“bukankah sebelumnya oemma juga bersikap kasar pada Yoona? Aku sedikit heran, aboji.. Bagaimana oemma bisa dengan cepat mengubah sikapnya?”

“Seperti yang kukatakan sebelumnya, ibumu tahu bagaimana rasanya berada diposisi Yoona, ketika seorang ibu mertua tak dapat menerimanya dengan sepenuhnya. Mungkin ibumu tak ingin hal itu dialami oleh Yoona, makanya dia dengan segera mengubah sikapnya.. Bukankah kau senang melihat keakraban mereka?”

Siwon tak menjawab, ia kembali mendengarkan sang ayah yang mengatakan jika ibunya bahkan membatalkan rencananya hari itu hanya karna Yoona mengeluhkan sakit dan membuatnya  tak bisa untuk ikut bersamanya.

Aneh..
Sejak kapan ibunya memiliki hobi menunjukkan Yoona ke muka umum.

“ini telah lewat dari lima menit, aboji..”

Siwon mendesah, sebelum kemudian kembali berdiri dari duduknya, diikuti sang ayah, dan mulai melangkah mendekati anak tangga. Siwon juga telah memiliki niat untuk meneriaki ibunya dan sekaligus Yoona pada saat itu, namun terhenti ketika melihat keduanya melangkah turun.

Mendadak ia seakan kehilangan suaranya..
Gadis itu kembali membuatnya terpesona dan itu tidak seharusnya dilakukan olehnya.

Gadis itu memiliki rambut brunette yang begitu indah. Dengan mengenakan gaun malam yang panjangnya menyapu lantai, kakinya yang jenjang sepenuhnya tertutupi, namun ketika ia melangkah sepasang sepatu berkilau silver terlihat menghiasi kakinya. Yoona juga mengenakan sepasang benda berkilau dikedua telinganya, kilauan yang sama juga terlihat dilehernya. Kilauan itu dari berlian yang menghiasi lehernya.

Dan Siwon berani bertaruh dirinya tak mengetahui kapan sang ibu membelikan Yoona benda-benda itu dan membuatnya terlihat begitu mempesona. Pasti terlalu banyak waktunya yang telah ia habiskan dikantor dan berkutat dengan perusahaan ayahnya hingga banyak hal yang tidak diketahui olehnya bahkan yang berada dalam rumahnya sendiri.

Siwon masih terus memperhatikan Yoona yang melangkah semakin dekat untuk turun, dan pada saat itu ia yakin telah beberapa kali menggumamkan kata ‘cantik’ didalam hatinya. Untuk beberapa saat kedua matanya bahkan seakan terkunci pada bibirnya. Siwon harus mendorong keinginan untuk merasakan bibir itu, jauh dari dirinya.

Sial..
Setelah mendengar pembicaraan Donghae dan Yoona tadi, ia seharusnya membencinya bukan malah mengaguminya dan menginginkan rasa dari bibirnya saat berada dimulutnya.

Untuk itu, Siwon mungkin akan menyalahkan ibunya untuk pertama kali karna telah membuatnya menjadi seperti itu.

Namun saat itu Ibu nya jelas sedang tersenyum kearahnya, berbeda hal nya dengan Yoona yang masih lebih sering menundukkan wajahnya.

“Oh Siwonie.. Kau sudah menunggu?”

Sudah sangat lama, oemma..!

Siwon seharusnya mengatakan kalimat itu dengan nada kesal, tapi yang dilakukannya justru diam dan hanya terus menatap pada Yoona.

“Lihatlah.. Masalalu ibumu yang kemudian membuatnya menyukai gadismu. Itulah salah satu alasan yang bisa kukatakan padamu, mengapa sikapnya berubah dengan begitu cepat”

Tn.Choi berbicara pelan disisi Siwon, kemudian ia tersenyum dengan tatapan matanya tertuju pada sang istri dan juga Yoona yang tinggal menuruni beberapa anak tangga lagi untuk dapat menghampirinya.

“kerja bagus, yeobo..”

Pujian Tn.Choi jelas tertuju pada sang istri untuk apa yang telah dilakukannya pada Yoona.

“benarkah? Kupikir memang seperti itu..”

Ny.Choi tersenyum saat menghampiri sang suami dan melingkarkan lengan untuk merangkulnya. Ia sudah bisa melihat tatapan Siwon yang terus hanya tertuju pada Yoona.

“Sekarang kau bisa membawa Yoona bersamamu..”

Ketika Yoona sampai di anak tangga yang terakhir, Siwon mengulurkan tangannya untuk diraih oleh Yoona. Terlihat ragu-ragu, Yoona justru terdiam menghentikan langkahnya dan hanya memandangi tangan Siwon yang terulur kehadapannya.

“Ayo, kurasa kita akan sedikit terlambat. Tapi itu tidak akan jadi masalah..”

Siwon menggerakkan tangannya, namun Yoona masih belum meraihnya. Sampai Siwon sendiri yang kemudian bergerak maju untuk meraihnya.

Persetan dengan semua omong kosong yang didengarnya. Persetan dengan rencana gadis itu untuk menghancurkannya. Dan persetan dengan permainan yang sedang dimainkan oleh Yoona maupun oleh dirinya sendiri. Karna untuk malam itu, Siwon jelas takkan memperdulikannya. Ia hanya akan menikmati kebersamaannya bersama dengan gadis itu.

Ia tidak jadi menyalahkan sang ibu, melainkan mengucap..

“terimakasih oemma..”

“hm, semoga jamuan makan malam nanti menyenangkan untuk kalian.. Dan jangan membawa Yoona pulang terlalu malam..”

Siwon mengangguk pada kalimat terakhir yang tersirat sebagai peringatan dari sang ibu. Ia kemudian merangkul Yoona keluar dari dalam rumah, dan langsung menuju mobil yang telah menunggu dengan seorang supir yang siap untuk mengantar keduanya.

***

Di dalam mobil, di sepanjang perjalanan menuju tempat diadakannya jamuan makan malam itu, Yoona hanya terdiam. Ia merasa terlalu gugup untuk bersuara apalagi membuka pembicaraan dengan Siwon yang juga sama saja seperti dirinya, hanya diam.

Hingga sampai mobil menghentikan lajunya, kemudian Siwon melangkah turun lebih dulu dan kembali mengulurkan tangannya, Yoona masih hanya terdiam ditempatnya.

“Kau masih ingin berada didalam sana, Yoona..?”

“sajangnim.. Aku, aku.. Mungkin aku tak bisa ikut masuk. Dapatkah aku menunggu didalam mobil saja?”

“Kau sudah membuatku terlambat dan sekarang kau justru menginginkan berdiam diri saja didalam mobil..? Tidak.. Tentu tidak Yoona, aku tidak akan membiarkannya”

Siwon meraih tangannya dan sedikit melakukan tarikan untuk memaksa Yoona keluar dari dalam mobilnya.

“Kau akan menjadi gadis yang baik dengan bersikap baik saat menemani tunanganmu.. Oemma seharusnya mengatakan itu padamu..”

Yoona mendengus ketika kemudian Siwon memaksakan tangannya untuk melingkar pada lengannya. Keduanya berjalan memasuki tempat berlangsungnya acara jamuan makan pada malam itu. Dan Siwon menyadari kegugupan Yoona pada saat itu.

“Kau hanya harus tersenyum saat aku memperkenalkanmu pada mereka..”

Siwon berbisik ditelinganya..

“dan lebih merapatlah padaku, Yoona..”

Siwon menarik pinggang Yoona untuk kemudian membawanya menemui beberapa rekan bisnis yang akan menjalin kerja sama dengannya.

Dan Yoona benar-benar hanya tersenyum ketika Siwon memperkenalkan dirinya sebagai gadis yang berstatus tunangannya. Ia masih merasakan gugup dan malah ditambah dengan perasaan minder ketika mengetahui seperti apa pasangan yang juga dibawa oleh rekan bisnis Siwon.

Mereka adalah wanita-wanita dewasa yang cantik, dan beberapa telah berstatus istri. Sedangkan dirinya hanyalah seorang gadis belia yang didandani sedemikian rupa. Rasanya masih tidak pantas bila dirinya disejajarkan dengan mereka.

Oh dear..
Kau tidak seharusnya memiliki perasaan rendah diri semacam itu. Karna Siwon nampaknya tak terpengaruh oleh pasangan lain dari rekan bisnisnya.

Siwon benar-benar bersikap gentle mulai dari lengannya yang terus merangkul Yoona, menarik sebuah kursi untuk didudukinya juga menawarkan makanan apa yang diinginkan Yoona pada saat itu.

“Kau ingin aku mengambilkan lagi untukmu?”

nada suaranya penuh dengan perhatian.

“Tidak, terimakasih..”

Yoona mengusap mulutnya setelah sedikit memakan makanannya.

Siwon yang kemudian menyodorkan segelas air untuknya. Yoona juga sempat ditawari sampagne, namun ia menolaknya.

“gadismu masih terlihat malu-malu, Siwon ssi..”

Komentar dari salah satu rekan bisnisnya..

“Sebenarnya tidak.. Dia cukup berani saat hanya berdua denganku”

Dia gadis belia paling berani yang pernah kukenal..

Siwon ingin menambahkan namun apa yang telah dikatakannya sudah cukup untuk membuat banyak rekan bisnisnya yang berada disana langsung tergelak. Dan Siwon justru bersikap santai dengan tersenyum pada Yoona yang kini memiliki wajah memerah setelah mendengar apa yang diucapkannya. Dan menyadari gelak tawa dari orang-orang disana tentulah disertai dengan asumsi yang beragam didalam pemikiran mereka.

“sepertinya kalian memiliki percintaan yang menyenangkan..”

“maaf.. Aku perlu ke toilet sebentar..”

ucap Yoona, tahu jika pembicaraan bisnis yang sebelumnya menjadi topik pembicaraan kini telah berubah menjadi tak terlalu serius dengan dimulainya kelakar dari mereka. Dan ia berharap tak sedang berada disana bila dirinya kemudian hanya dijadikan sebagai objek pengganti topik pembicaraan. Maka ia perlu untuk menghindar..

“Jangan terlalu lama, sayang.. Kita akan segera pulang”

Kedipan matanya justru membuat Yoona memutar mata kearahnya. Dan sebelum Yoona sempat berdiri dari duduknya, Siwon telah lebih dulu meraih tangannya yang berada diatas meja dan kemudian meremasnya..

Jika hanya sebuah sentuhan yang pernah dilakukan Siwon pada tangannya sudah cukup untuk membuatnya merasakan seperti tersengat aliran listrik, bagaimana dengan sekarang? Bagaimana setelah Siwon meremas jari-jari tangannya?

Ribuan volt aliran listrik itu seakan langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.

“ne..”

Yoona tanpa berbicara lagi melepaskan tangannya dari Siwon, ia terburu-buru saat berjalan mencari toilet dan tanpa sadar langkahnya telah bertabrakan dengan seseorang.

Seorang wanita yang kemudian sedikit mengumpat setelah gelas minuman yang dipegangnya, tertumpah membasahi blous putih yang dikenakannya.

“Astaga, mianhae.. Aku tidak sengaja. Aku benar-benar minta maaf, maafkan aku..”

Wanita itu mendongak dan seketika keterkejutan dirasakannya. Lebih tepatnya dirasakan pula oleh Yoona, setelah mengetahui Jessica lah wanita yang bertabrakan dengannya.

“Kau..! Sial.. Kau sengaja menumpahkan minumanku?!”

Sica sedikit membentak..

“Sama sekali tidak.. Aku tidak sengaja melakukannya. Maafkan aku..”

“Omong kosong..!”

Setiap kali melihat Yoona, Sica memang langsung merasakan amarah berkobar di dalam dirinya. Ia sudah mengangkat sebelah tangannya ketika kemudian sebuah suara menghentikannya..

“Sebaiknya jauhkan tanganmu dari tunanganku, Jessica ssi..”

Siwon yang memang mengetahui apa yang terjadi saat itu, karna dirinya tak melepaskan pandangannya dari Yoona, kemudian mendekat dan langsung menarik Yoona untuk berada disebelahnya.

“Dia tidak sengaja dan sudah meminta maaf, apalagi yang kau inginkan?”

Sica justru menajamkan tatapan matanya pada Siwon.

“Aku tidak memiliki urusan dengan bajingan sepertimu..!”

“tapi Kau memiliki urusan dengan gadis yang menjadi tunanganku. Ketahuilah, apa yang menjadi urusannya sudah pasti menjadi urusanku..”

Yoona tahu Siwon yang kemudian mengambil alih, maka ia memutuskan untuk diam dan hanya memperhatikan pada Siwon.
Pria itu yang kini sedang melindunginya.

Oh..

“Brengsek Kau, Siwon..!”

Sica menggeram kesal dan kemudian melangkah pergi, namun sempat dengan sengaja menabrakkan tubuhnya pada bahu Yoona. Pada saat itu, mengetahui Yoona yang menjadi berdiri dengan tidak seimbang akibat apa yang dilakukan Jessica, membuat Siwon kemudian dengan kuat mendekapnya agar tidak terjatuh.

“gwechana?”

Yoona mengangguk..

“kau masih ingin ke toilet..?”

Yoona kembali hanya mengangguk..

“baiklah, aku akan menunggumu.. Setelah itu kita akan pulang..”

Siwon melepaskan rangkulannya pada Yoona, kembali pada rekan bisnisnya dan membiarkan Yoona melangkah menuju toilet.

Setelah sekitar sepuluh menit berada didalam toilet itu, Yoona merasa telah berhasil menenangkan gemuruh dalam dadanya. Sebelumnya, jantungnya terasa berdebar dengan kencang dan Ia sedikit kebingungan dengan apa yang menjadi penyebabnya.

Apakah ia akan terkena serangan jantung saat itu?
Tidak..
Ia tak memiliki riwayat penyakit itu sebelumnya. Ia juga merasa sehat secara fisik. Dan bukankah dirinya masih terlalu muda untuk terkena serangan jantung semacam itu?
Maka jelas, yang dirasakannya bukanlah sejenis serangan jantung.

Jadi..
Apakah itu sejenis perasaan yang sama seperti rasa tersengat aliran listrik?
Dan itu adalah bagian dari reaksi tubuhnya akibat dari apa yang dilakukan Siwon padanya?
Benarkah..?

Yoona menggelengkan kepalanya didepan cermin, membuang jauh-jauh pemikiran itu dari dalam kepalanya, dan setelahnya ia melangkah keluar dari dalam toilet.

Tak sampai lima langkah ia berjalan, seseorang dengan tiba-tiba menarik pergelangan tangannya dan kemudian membawanya keujung lorong.

“Oh, Donghae oppa.. Kau disini?”

Ya..
Donghae berada disana untuk bertemu dengan Jessica. Tapi setelah ia sempat melihat gadis itu mengalami insiden dengan Yoona, yang ditambah dengan campur tangan Siwon setelahnya, hal itu nampaknya yang membuat Jessica merasakan kesal dan sekaligus marah. Ia membatalkan janjinya dan justru mendesak Donghae untuk secepatnya mendapatkan dokumen dari perusahaan Siwon.

“sekali lagi aku melihat bukti kau telah melupakan sakit hati Yuri. Kakakmu sendiri, Yoona..”

“Tidak oppa.. Aku tidak seperti itu, apa yang kau bicarakan? Bukankah saat kita berbicara pagi tadi, aku sudah mengatakan padamu..”

“Kau hanya mengatakan omong kosong. Bagaimana dengan yang kulihat sekarang? Yang aku lihat adalah kau menikmati status dan posisimu sebagai tunangan Siwon. Kau berlagak seperti nona muda disampingnya..”

Donghae kembali menunjukkan kesinisan dalam nada suaranya.

“Tidak oppa.. Tidak seperti itu. Aku.. Aku hanya..”

“Buktikan jika memang tidak seperti itu! Buktikan jika kau memang tidak terlena oleh status dan posisimu.. Buktikan jika kau tidak menikmati barang-barang mewah pemberiannya..!”

Donghae merapatkan tubuhnya, menyentuh kalung yang berkilau dengan berlian yang menjadi liontinnya yang pada saat itu menghiasi leher Yoona, sebelum kemudian menyentaknya. Menarik lepas dari leher Yoona dan kemudian melemparnya.

Yoona terkesiap oleh apa yang dilakukan Donghae padanya saat itu..

“Oppa..”

“Buktikan jika memang benda itu tidak membuatmu melupakan Yuri! Buktikan semua itu tidak membuatmu terpengaruh, Yoona..”

Donghae selangkah mundur dari hadapannya..

“Dapatkan dokumen itu untukku, Yoona.. Dan aku akan mempercayai kau tidak hanya mengatakan omong kosong dan benar-benar menginginkan ini berakhir dengan cepat..”

Dengan itu Donghae meninggalkannya, meninggalkan Yoona yang merasakan lemas pada kedua kakinya. Kedua matanya juga memanas, namun sekuat hati ia menahan diri untuk tidak menangis. Ia masih harus menghadapi Siwon disana.

Maka kemudian, setelah beberapa menit berdiam diri, Yoona berhasil menyeret kedua kakinya untuk melangkah menghampiri Siwon.

“Kau sudah selesai?”

Yoona mengangguk, wajahnya pucat tanpa ekspresi dan sepertinya Siwon menyadari hal itu. Ia mengerutkan kening saat melihatnya.

“Aku ingin pulang..”

ucap Yoona kemudian..

“Ya, kita memang akan pulang.. Ayo..”

Yoona menolak ketika Siwon berniat merangkulnya. Ia berjalan lebih dulu meninggalkan Siwon yang masih melakukan sedikit basa-basi dengan rekan bisnisnya sebelum undur diri dan menyusul Yoona.

Siwon sengaja berjalan dibelakangnya dan memperhatikan langkah Yoona yang terlihat gontai, ia bahkan beberapa kali tersandung oleh gaun yang dikenakannya dan hampir membuatnya terjatuh andai Siwon tak bergerak cepat dengan menangkap tubuhnya.

“Apa yang terjadi?”

Siwon mengamati wajahnya. Hanya wajahnya dan pasti lehernya luput dari pengamatannya. Siwon jelas tidak menyadari kilauan yang sebelumnya menghias dilehernya, kini telah raib.

“Kau sakit?”

Yoona menggeleng..

“Aku merasa pusing.. Tolong bawa aku pulang..”

Pulang ke rumahnya..
Ia ingin pulang ke rumah kecilnya yang menjadi saksi kebersamaannya bersama dengan oenni nya.
Mendadak Yoona menginginkannya dan berpikir mungkin tidak seharusnya ia memulai permainan itu..
Maka ia tak harus merasakan yang seperti itu..

“Ya, kita akan segera pulang.. Sebelumnya Aku telah mendengar kau mengeluhkan sakit, tapi mengapa kau tetap menyetujui apa yang dikatakan oemma untuk ikut denganku..”

Yoona hanya terus melangkah, tidak menanggapi meski saat itu Ia tengah berada dalam rangkulan Siwon.

“Kau tidak harus meng-iya-kan apapun yang ibuku katakan. Kau masih bisa menggunakan mulutmu untuk mengatakan menolak kan..?”

Bahkan dalam perjalanan pulang Yoona terus terdiam. Ia hanya memandang keluar melalui kaca jendela mobil. Dan menjadikan keadaan pada saat itu justru terasa lebih hening bila dibandingkan dengan pada saat perjalanan keberangkatan mereka tadi.

Setelah mengetahui mobil yang ditumpanginya telah menghentikan lajunya, Yoona bahkan tak menunggu Siwon keluar lebih dulu ataupun sang sopir membukakan pintu untuknya. Ia sendiri yang kemudian membuka pintu disampingnya dan melangkah keluar dari dalamnya.

Sesampainya didalam rumah Siwon, Yoona merasa sedikit lega setidaknya Ny.Choi tidak sedang menunggunya saat itu dan tidak akan melihatnya tanpa sebuah kalung yang berkilau dilehernya. Ia jelas terbebas dari introgasi wanita itu mengenai kemana hilangnya benda itu. Meskipun tadi ia benar-benar melupakan mengenai yang satu itu.

Masuk kedalam kamarnya dan dengan segera melepas gaun yang dikenakannya dan langsung menggantinya dengan pakaian tidur, Yoona mengetahui sudah pukul sepuluh saat itu.

Dan kegelisahan semakin menghimpitnya, hingga seakan membuatnya kesulitan untuk bernapas.

Ia kembali berjalan mondar-mandir didalam kamarnya. Semua yang dikatakan Donghae memenuhi pikirannya dan Ia tak lagi bisa menahan diri. Yoona terduduk dipinggir tempat tidur dan menangis..

Ia benar-benar mengalami kebingungan yang seharusnya tidak perlu ia rasakan. Ia bertujuan untuk menghancurkan Siwon, maka hal itulah yang seharunya dilakukannya. Dan tidak perlu membuatnya terus bergumul dengan keragu-raguan..

“Tuhan.. Apa yang harus aku lakukan? Oenni ya.. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku akan bertemu denganmu setelah ini? Apakah kau benar-benar akan kembali seperti dulu? Apakah ini yang benar-benar kau inginkan oenni ya..? Jawab aku.. Kumohon jawab aku.. Apa yang harus aku lakukan sekarang..?”

Yoona kembali menjatuhkan airmatanya saat tubuhnya terduduk dengan memeluk kedua lututnya. Entah sudah berapa lama ia dalam posisi itu, hingga kemudian ia merasakan menemukan kemantapan.

Menjalankan rencana awal, menjadi apa yang akan dilakukannya..

Jam dua dini hari ketika itu, dan Yoona mulai keluar dari dalam kamarnya. Ia bergerak dengan langkah pelan menuruni puluhan anak tangga. Setelah berhasil melewatinya, ia langsung mengarah ke ruang kerja Siwon.

Tangannya gemetar pada saat mencoba meraih knop pada pintu dihadapannya. Dalam hati menggumamkan doa semoga Siwon melupakan untuk menguncinya.

Dan sepertinya keberuntungan itu berpihak padanya. Dengan hanya sekali menekannya, Yoona dapat membuat pintu itu terbuka. Sedikit mendorong untuk membuatnya terbuka lebih lebar, Yoona melakukan itu dengan memejamkan matanya. Berharap gerakan yang dilakukannya tidak menimbulkan bunyi berderit pada pintu itu.

Setelah masuk kedalam ruangan dan kembali menutup pintu dibelakangnya, Yoona menekan saklar lampu untuk penerangan. Setelahnya matanya dapat dengan jelas menyapu seluruh isi ruangan itu.

Yoona mendesah, melihat ada dua lemari besar yang pasti menyimpan berbagai dokumen didalamnya. Dan bagaimana ia dapat menemukan dokumen penting itu?

Entah karna apa, tapi Yoona langsung berpikir untuk memulai mencarinya diatas meja kerja Siwon. Ia pernah melihat pria itu berada disana dan mengerjakan sesuatu, bukan tidak mungkin bila Siwon menempatkan dokumen itu disana.

Yoona berusaha dengan cepat, membolak-balik beberapa tumpukan map diatasnya. Matanya bekerja bergantian mengawasi pada pintu ruangan itu, takut-takut ada seseorang yang masuk dan menemukannya disana.

Yoona bernapas dengan terburu-buru, namun sedetik berikutnya matanya berbinar mengetahui dokumen penting itu berada ditengah-tengah tumpukan map.

Sedikit aneh mengapa ia dapat dengan mudah menemukannya. Namun Yoona segera menyingkirkan pemikiran itu dan menggantinya dengan, mungkin itu adalah keberuntungannya. Ataupun Tuhan memang mempermudahnya dan mendukung apa yang telah direncanakannya..

“terimakasih Tuhan..”

Pada saat mulai melangkah keluar dari dalam ruangan itu, Yoona mendekap dokumen itu dengan mempergunakan sebelah tangannya, sementara tangan yang satunya ia pergunakan untuk menutup pintu. Dengan pelan ia melakukannya dan yang selanjutnya harus dilakukannya adalah bergegas mencapai kamarnya dan menyembunyikan dokumen itu sebelum ia menyerahkannya pada Donghae.

Namun sayangnya, niatannya terganjal oleh seseorang yang mencengkram pergelangan tangannya dan menariknya dengan kasar. Tubuhnya seakan dihempaskan saat dengan cepat ia telah berada dalam ruang lain disebelahnya. Kamar Siwon.

“Sa-jang-nim..”

Yoona merasakan tenggorokannya langsung mengering pada saat itu. Tubuhnya gemetar menerima tatapan tajam dari pria itu..

“Apa yang telah kau curi dari dalam ruang kerja ku, Yoona..”

Ucapannya terdengar dingin, namun sorot matanya jelas seperti api yang membara dan mengancam..

Oh dear..

*

*

*

*

*

*

*

*

To Be Continued~

*Hohohoo.. Perang akan dimulai tuh dan mesti sabar bwt menemukan next part nya lagi ya.. Cuz aq justru kebingungan setelah menemukan imajinasi yg bercabang #hikss
pinginnya alurnya begini dan begitu .-. #gigitbantal >_<

@joongly

172 thoughts on “| At First Sight | 10

  1. Ah ya ampun akhirnya yoona ketauan juga kan am siwon, bakal diapain nih sam siwon semoga yoona cepet tau klo bukan siwon yg bikin yuri gila eh gemez bgt ak baca nih geregetan am donghae yg bikin yoona jadi kayak gini tp dasr yoona juga sih terlalu polos ah kpn siwon bisa cerita in ke yoona klo bukan dia salah

  2. Oh dear..
    Yoona udh ketahuan.. Apa yg akn dilakukan siwon ?
    Pasti itu berat untuk yoona melakukan yg disuruh donghae.. Ihh pgn aq cubit dah mukany dongek.. Huwaaa aroma badai besar mulai tercium

  3. Sebaiknya jauhkan tanganmu dari tunanganku, Jessica ssi…hahaaha aq paling ska ma bagian ini…siwon oppa kren bnget,,,hihihihi
    OMG ,,,,yoona ktahuan…mdah2an yoona ga dmarahin ama siwon…hix…hix,,,hix

  4. ohh yoong ketahuan.. apa yang bakal dilakuin wonppa?? menegangkan aduhh gimana nasib yoong?? ini semua gara2 haeppa yg nyuruh yoong buat nyuri dokumen itu.

  5. Donghae sungguh licik.. dan yoona dgn mudahnya terpedaya dan berani ngambil dokumen penting di ruang kerja siwon yg pda akhirnya siwon tahu
    Oh god apa yg akan terjadi???

  6. siwon selalu di beri keberuntungan karena selalu tahu rencana donghae . kasian yoonasmapai ketahuan mengambil dokumen perusahaan siwon .apa yang akan di lakukan siwon terhadap yoona ya …?

  7. Oh my,,,,,yoona dah ketahuan,,,,apa yg akan terjadi,,,slanjut nya,,,kan yoona sih terlalu polos percya aja apa yg di katakan donghae oppa,

  8. Yoona ketahuan, apa yang bakal dilakuin Siwon ke Yoona.
    Yoona kan gak tahu apa apa, aish Donghae emang bener bener ya bikin kesel, ihh. Sebel.
    Kegembiraan di awal chapter sirna sudah, hanya karena bagian akhir yag menegangkan. Jadi tambak kesel akunya kan.
    Eonni, gak tahu kenapa kalau waktu baca bagian yang ada Donghaenya di ff ini, pasti gak dibaca langsung lanjut aja. Abisan sih, mianhae ya eonni. Abis aku baperan sih.
    Tapi emang daebbak, kerennn…🙂🙂

  9. Bener” semakin curiga sama donghae dia manfaatin yoona bahkan menekan yoona dg terus di sangkut pautin sama keadaan yuri itu untuk kepentingan pribadinya sendiri.. yoona nekat bgt sampe nyuri dokumen di ruangan kerja siwon tapi siwonnya mergoki dia.. penasaran gimana kelanjutannya..

  10. Kira2 apa nih yg bakalan terjadi, yoona udah ketangkep basah nyuri dokumen siwon, kira2 siwon bakalan ngapain yoona ya? Waah dia pasti bakalan marah besar…
    Gak sabar next chapter,,
    Di lanjut ya eonni

  11. Donghae benar2 jahat,memanfaatkan yoona yg notaben masih gadis belia untuk menghancurkan siwon tanpa sebab dengan dalih karena untuk bales dendam dengan apa yg pernah dilakukan siwon yuri.
    yoona bener2 gadis polos dan lugu sehingga mudah untuk dimanfaatkan.
    kasihan bangeg pasti dia merasa tertekan.
    semoga dengan ini siwon bisa ngejelasin yg sebenarnya dan bkin yoona sadar dengan apa yg telah dia lakukan itu salah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s