Fanfiction

| At First Sight | 9

Happy Reading~

Prolog    1   2   3   4   5   6  7   8

*

*

*

*

*

*

*

*

*

Siwon POV

Aku tak pernah menduga sebelumnya, kepergianku yang hanya selama tiga hari ternyata menjadi waktu yang lama. Hingga mampu membuat banyak perubahan yang telah ku lewatkan.

Pertama, aku tak pernah mengira bila aku akan mendengar tawa dari oemma saat bersama dengan Yoona.

Apa yang telah dilakukan gadis itu pada ibuku?
Bagaimana dia bisa mempengaruhinya?
Menjadi pertanyaan dikepalaku..

Padahal sebelumnya Aku bahkan masih memikirkan dia yang merasa tertekan dengan sikap keras yang ditunjukkan oemma padanya. Tapi yang kulihat justru sikap oemma yang bisa dengan cepat berubah dan aku dapat menangkap perubahannya yang mulai bersikap ramah, bahkan hangat padanya.
Aku benar-benar melewatkan hal apa yang telah mampu mengubah sikap oemma menjadi seperti itu.

Kedua, aku juga melewatkan perubahan tampilannya. Itu benar-benar tidak terduga, saat aku melihatnya dengan rambut coklat berkilau miliknya. Aku bahkan hampir tak mengenalinya.
Sejak kapan dia mengganti warna rambutnya?
Itu jelas juga sudah aku lewatkan..

Hal ketiga yang aku lewatkan adalah sikap keras oemma yang tadinya menentang pertunangan konyol yang kulakukan dengan Yoona, kini justru menjadi aneh menurutku, ketika kudengar oemma dengan mudahnya mengatakan membiarkan aku untuk berdua dengan Yoona. Oemma seolah sudah merelakan ‘hubungan’ kami. padahal dimalam dia mengetahui aku menciumnya, oemma memarahiku habis-habisan dan memintaku untuk menahan hasratku terhadap gadis itu.

Namun yang pasti tidak akan kulewatkan sekarang, dan tidak akan ku sia-sia kan adalah kesempatan itu, yang telah diberikan oemma padaku untuk berbicara berdua dengannya.

Meski sebelumnya aku bersikap layaknya seorang pecundang, dengan berlari menghindar ketika oemma memberi kesempatan waktu untuk berdua dengannya. Hal itu tak berlaku sekarang, setelah aku mengguyur kepalaku dengan air dari shower.

Setelah melakukan mandi tadi, aku seakan memiliki pemikiran yang jernih dan sebuah keberanian untuk mengendalikan debaran keras dalam dadaku.

Maka kemudian aku kembali untuk melihatnya, mendekatinya yang sedang memijit bagian kakinya.

Kehadiranku pasti membuatnya terkejut. Aku melihat itu ketika kemudian dia mendongak untuk melihatku. Kedua matanya yang mengerjap dengan binar keterkejutan membuatku berani bersumpah, dia sungguh terlihat cantik dan menarik saat itu. Dia tak lagi terlihat seperti gadis belia dengan tatapan berkilat kemarahan dan penuh kebencian pada pandangan pertama dia melihatku. Dia tidak terlihat seperti gadis belia yang dengan bodohnya berani menciumku di malam itu. Dia juga tidak terlihat seperti gadis belia usil yang pernah mencekik leherku dengan sebuah dasi, dan keberaniannya menjahiliku dengan kopi asin buatannya.
Tidak..
Dia sungguh tidak terlihat seperti gadis belia yang seperti itu.

Apa yang kulihat sekarang adalah murni apa yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Yoona yang kulihat kini, adalah seorang gadis yang memiliki rambut berwarna coklat, bergelombang dan berkilau dengan indahnya. Matanya bening memancarkan kepolosan. Wajahnya memunculkan rona kemerahan dikedua pipinya, dan dengan bibir merah jambu tipis yang sedikit basah, dia terlihat begitu memikat.

Dia sudah memikatku..
Bagaimana bisa dan bagaimana mungkin?
Sedangkan Yuri bahkan tak bisa melakukannya padaku.
Yuri jelas cantik. dia juga cerdas. dan memiliki tubuh seorang wanita dewasa yang sempurna. Yuri telah nyata-nyata menawarkan cinta padaku, tapi aku menolak.

dan apa sih yang sebenarnya kulihat dalam diri Yoona..?
dia hanya gadis belia..
dia tidak sepintar Yuri..
oemma bahkan mengkritisi tubuhnya dengan pernah menyebutnya memiliki dada yang belum sepenuhnya bertumbuh.
Yoona juga tidak menawarkan cinta dan justru memiliki rencana untuk menghancurkanku.

Karna itu
Aku mulai merasa ketertarikanku terhadapnya adalah sesuatu  yang menyimpang. dan berpikir mungkin sebaiknya aku berkonsultasi pada seorang dokter ahli. Dokter mungkin akan mengatakan ketertarikanku terhadap gadis belia itu dikarenakan aku seorang phedopil.

Astaga…

aku telah terlalu jauh berpikir. tentu saja aku bukanlah seorang phedopil. sebelum-sebelumnya aku tak pernah merasakan ketertarikan terhadap gadis belia. Meski Yoona masih tergolong gadis belia, usia kami hanya terpaut sepuluh tahun. dan bukankah itu masih tergolong wajar?

Tapi aku tak peduli mengenai perbedaan usia itu. dan niatannya yang mencoba menghancurkanku.
Sungguh, Aku benar-benar tak memperdulikan hal itu sekarang.

“Dibagian sebelah mana yang terasa pegal? Kau bisa menunjukkannya padaku..”

Aku malah teringat pada malam itu dihalaman belakang, ketika bahkan aku sempat memikirkan bagaimana dia bisa memiliki kakinya yang panjang, kini aku justru dapat menyentuhnya.

Kulit kakinya halus, bisa kurasakan kehalusannya mungkin bahkan melebihi kehalusan dari lembaran kain sutra.
Meski aku masih belum tau sehalus apa kain sutra itu.

“Aku bisa memijatnya untukmu..”

Mungkin aku telah mengatakan kebodohan. Aku sejenak melihatnya melebarkan mata sebelum kemudian kakinya menendang pahaku dan membuatku terjatuh secara tidak..
tidak pantas.
Ya..
Ini tidak pantas..
Dia begitu tidak sopan karena dengan berani telah menendangku..

“Oh, sajangnim.. Mianhae, aku tidak benar-benar berniat melakukannya. Aku tidak sengaja.. Aku hanya terkejut anda berani menyentuhku..”

Dia berdiri dari duduknya dan mencoba untuk membantuku, namun aku menolak. Aku merasakan kesal terhadapnya. Didalam hatiku aku sedang memuji dan mengaguminya, tapi dia justru menendangku.

Menjengkelkan..

“Jadi menurutmu aku menyentuhmu tadi?”

“ne..”

Ya..
Aku memang menyentuhnya.

Tapi..
Ck! Itu hanyalah pada bagian kakinya saja. Sekedar kaki. Dia tidak seharusnya bereaksi berlebihan seperti itu kan..

“jadi kau terkejut karna hal itu?”

Dia mengangguk, sambil menggigit bibir bawahnya.

Sial..
Itu hal yang tidak seharusnya dilakukannya dihadapanku.

Bukankah Aku sudah memperingatkannya sebelumnya..

“kau seharusnya tidak terkejut, karna bukan hanya sekali ini aku menyentuhmu kan..”

Dia mundur ketika aku kemudian mendekat.

“Sudah seharusnya kau membiasakan diri terhadap sentuhanku. Bagaimana jika kita menikah nanti.. Tentu saja aku akan menyentuh seluruh bagian tubuhmu..”

ekspresi terkejutnya luar biasa lucu setelah mendengar apa yang kukatakan. Wajahnya memerah, dia kembali mencoba untuk memundurkan langkahnya meski terhalang oleh kursi dibelakangnya. Hal itu yang kemudian membuatku bisa menangkap tubuhnya dengan melingkarkan lenganku dipinggangnya.

Dia bergerak risih, dan aku mencoba tak melihat itu..

“Apa yang kau pikirkan hingga kau menendang tunanganmu sendiri?”

“Aku sudah meminta maaf..”

“Aku tidak dapat memaafkan perbuatanmu..”

Dia merengut jengkel..

Aku sedang berpikir untuk membalas apa yang telah dilakukannya padaku.
Membuatnya menjadi kesal mungkin sebanding dengan tendangan yang dilakukannya padaku.
Meski yang dilakukannya tak melukaiku secara fisik, namun telah menyakiti ego ku..

“Aku mungkin masih merasakan jet lag, dan kau justru menendangku.. Yang benar saja?”

“Sajangnim.. Aku sudah meminta maaf”

“Aku belum mengatakan menerima permintaan maafmu kan..”

“Anda benar-benar seseorang yang pendendam..”

“Oh ya..? Tidakkah kalimat itu lebih tepat untuk kau ucapkan pada dirimu sendiri..”

Dia melebarkan mata mendengar aku membalikkan kalimatnya, tapi aku takkan menjelaskan hal itu. Dia juga sepertinya tak membutuhkan aku untuk menjelaskan maksudku saat kemudian aku merasakan dia kembali bergerak gelisah..

“Tiga hari aku tak melihatmu, tidakkah kau berpikir aku mungkin merindukanmu..? Maka yang seharusnya kau lakukan sebagai seorang tunangan adalah memberikan pelukan untuk meleburkan rasa rindu itu. Bukan justru menendangku seperti tadi..”

Aku menarik pinggangnya lebih rapat, hingga dadanya menyentuh pada bagian dadaku. Dan kemudian memeluknya.
Aku benar-benar memeluknya.
Merengkuh tubuhnya dengan kedua tanganku, dan membuat tubuhnya terkunci dalam pelukanku. Aku bisa mencium semerbak dari keharuman rambut coklatnya yang menerpa hidungku.

“seperti ini yang benar.. Dan kau mungkin juga harus menanyakan bagaimana keadaanku, pekerjaanku dan apakah aku sempat melirik gadis-gadis lain disana? emm, sepertinya aku ingin mendengar ada sedikit kecemburuan dari tunanganku..”

Aku mendengar dia mendengus, sebelum kemudian dengan menggunakan kedua tangannya dia mendorong dadaku dan melepaskan diri dari pelukan tanganku.

“Anda bahkan tidak bersikap layaknya seorang tunangan.. Anda pergi melakukan perjalanan tanpa pemberitahuan apalagi berpamitan terlebih dulu padaku. Bagaimana bisa kemudian anda mengajariku mengenai sikap yang benar sebagai seorang tunangan.. Sementara anda jelas yang telah lebih dulu menunjukkan ketidak benaran sikap sebagai seorang tunangan..”

Harus ku akui bahwa Yoona adalah gadis belia yang memiliki mulut pintar saat berbicara denganku. Aku juga bisa memberikan tepuk tangan pada keberaniannya melawanku.

Keberaniannya mungkin yang telah membuatku menjadi tertarik padanya.

Dari pandangan pertama dia melihatku, dia telah dengan berani menatap marah padaku. Dia berani merencanakan untuk menghancurkanku. Dia berani menciumku dimalam itu. Dia juga berani berbuat jahil padaku. dan baru saja dia telah berani menendangku.

Aku menyimpulkan bahwa Yoona adalah seorang gadis yang memiliki segudang keberanian didalam dirinya. Dan itu sangat menarik untuk mengetahui keberanian macam apalagi yang bisa dilakukannya.

“Jadi menurutmu aku…”

“ehm..”

Aku baru saja akan membalas ucapannya ketika kemudian terdengar suara berdeham dari oemma, dan itu berada tak jauh dari kami..

“Oemma melihat kalian telah membuat jarak, karna itu aku menyimpulkan jika kalian telah selesai berbicara”

Sebenarnya aku telah menduga oemma mengawasi kami. Rasanya memang tidak mungkin dia begitu saja membiarkanku dan Yoona tanpa pengawasan dari kedua matanya.

“Ayahmu sudah pulang dan sedang menunggu untuk bertemu denganmu, Siwon. Kau bisa meninggalkan Yoona sekarang..”

itu bukan pemberitahuan, melainkan perintah. Maka aku mengangguk, mengiyakan..

“Oh, baiklah oemma.. Aku akan menemui aboji”

Aku meninggalkan oemma dan Yoona untuk kemudian menemui aboji. Berbicara beberapa waktu dengannya yang mempertanyakan bagaimana kunjunganku ke Cina dan perkembangan kerjasama perusahaan kami disana.

Aku mengatakan pada aboji perkembangannya cukup baik dan menguntungkan. Meski ada beberapa kendala yang mungkin akan sedikit menghambat dikedepannya, dan kemungkinan aku akan kembali lagi kesana dalam waktu dekat untuk  melakukan pemeriksaaan lagi di semuanya.

Aboji memberikan beberapa masukan padaku, dan ketika itu membuatku sangat ingin membahas mengenai Donghae dengannya. Namun aku menahannya. Berpikir mengenai Donghae yang melakukan itu lantaran berlatar belakang pribadi, membuatku mempertimbangkan akan lebih bijak bila aku tidak melibatkan aboji kedalamnya. Aku sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan masalahku sendiri.

Maka setelah perbincangan itu, oemma memanggil ku dan aboji untuk melakukan makan malam bersama. Tanpa sadar aku memang telah merindukan itu dalam tiga hari kemarin, aku menikmati makan sendiri atau dengan rekan bisnis disana. Tanpa oemma dan aboji itu tidak begitu mengenakkan. Dan juga tanpa Yoona, menjadi ada sesuatu yang terasa kurang.

Begitu cepatnya gadis itu memberikan pengaruh dihidupku, bahkan hanya dalam hitungan hari dengan menggunakan jari. Aku akan mengakui bahwa aku memang merindukannya. Aku bahkan memikirnya setiap hari. Sebelum tidur, wajahnya membayangiku. Terlebih rasa bibirnya yang kurasakan dimalam itu, seakan masih membekas dibibirku. Membuatku mendamba untuk dapat kembali merasakannya.

Yoona akan sanggup menguasai pikiranku, andai aku tak segera menghentikannya.
Tapi..
Tuhan..
Aku tak ingin menghentikannya.

“Tidak bisakah kau melihat pada makanan yang berada didepanmu, Siwon? Kau melihat Yoona seperti dia adalah makanan yang sebenarnya, dan kau sedang berniat untuk melahapnya bukan?”

Oemma melancarkan serangannya. Kupikir dia sudah bisa berdamai tadi.

“Oemma tahu, oemma sudah membuat Yoona terlihat lebih cantik. Tapi yang kulakukan padanya bukan bertujuan untuk memberikan kepuasan padamu, Siwon.. Maka jangan berani-berani kau menginginkannya sementara oemma berada dibawah atap yang sama dengan kalian..”

Oh, Ibu ku..
Dia benar-benar bermulut tajam. Dan ayahku bahkan tak mencoba untuk menghentikannya.

“Kau tidak lupa kan, apa yang oemma katakan padamu malam itu..?”

Ya..
Tentu saja aku ingat. Setelah memarahiku dan Yoona,
Oemma menambah kemarahannya padaku seperti aku adalah anak kecil yang membuat kesalahan semacam mencuri uang kepunyaannya. Oemma bahkan mengatakan berbagai macam norma yang seharusnya tidak kulanggar.

“Aku mengingatnya oemma.. Maka berhentilah mengingatkanku.. Jangan mempermalukanku seolah aku pria bodoh yang tak memiliki otak untuk menyimpan ingatan tentang itu.”

“Bagus jika kau berpikir seperti itu..”

Sisa malam itu berhasil kulalui, setidaknya karna kelelahan yang kemudian membuatku lebih cepat untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Aku terbangun karna ahjumma Lee yang membangunkanku, dan bukan ibuku seperti yang biasa dilakukannya. Membangunkanku biasanya telah menjadi rutinitas pagi yang tak akan dilewatkan oleh oemma.

Dan yang kuketahui kemudian dari apa yang dikatakan aboji adalah, oemma rupanya sedang disibukkan mendandani bonekanya.
Maksudku Yoona.

Ya..
Aku melihat oemma seperti menemukan mainan baru dengan kehadiran Yoona. Dia memang menginginkan seorang putri sebenarnya, setelah mendapatkanku. Tapi sayangnya ibuku tak berhasil memilikinya dan harus puas dengan seorang putra sepertiku. Hanya tak menyangka, gadis itu bisa membuat harapan itu terwujud.

Oemma tidak lagi menyiapkan pakaian untukku, dan lebih memilih berada didalam kamar gadis itu sampai ku ketahui yang dilakukannya benar-benar membuatku berdecak kagum.

Oemma menuruni anak tangga dengan Yoona yang berada dibelakangnya. Gadis itu seperti yang kemarin kulihat, luar biasa mempesona.
image

Dres hijau sebawah lutut yang dikenakannya, membuat kulit seputih susu yang dimilikinya semakin bersinar. Rambut coklat yang bergelombang itu pun tak kalah bersinar. Kedua mata bulatnya juga memancarkan sinarannya tersendiri.

Tapi aku tidak akan menyebut bibirnya bersinar..
Itu tidak akan menjadi tepat bila aku menyebutnya seperti itu.
Aku akan memilih menyebut bibirnya berkilau.
Berkilau dengan warnanya yang merah itu.
Merah..
Itu jelas warna kesukaan ibuku. Karna itu, dia tak pernah mengganti warna kuku-kukunya selain dengan warna merah. Dan kini, gadis itu juga memiliki warna kuku yang sama seperti ibuku.
Tak salah bila kini aku menyebut Yoona sebagai bonekanya.

“Selamat pagi, Siwon..”

Oemma masih mengingatku..

“selamat pagi, oemma..”

“bagaimana menurutmu? Oemma menyiapkan Yoona untuk hari ini.. Dia akan mulai mengikuti kelas kepribadian..”

Aku tidak sadar apa yang kuucapkan, tapi sepertinya aku telah menyuarakan apa yang ada dalam hatiku.

“Cantik..”

Dan rona dikedua pipinya semakin terlihat merah.

“Oh, tentu saja.. Tapi bukan itu yang oemma maksud. Bagaimana menurutmu dengan kelas kepribadian yang akan diikutinya?”

“Oh, tentu saja itu hal yang bagus untuk dilakukannya. Setidaknya dia takkan lagi melakukan perkelahian atau pun tendangan pada tunangannya sendiri..”

Dia melebarkan matanya kearahku dan aku bersusah payah menahan geli karna hal itu.

“Apa yang Siwon maksud adalah kau pernah menendangnya, Yoona ya..?”

Dia menggigit bibir bawahnya dan mengangguk pelan pada oemma yang kemudian mendecakkan lidah dan menggelengkan kepala mengetahuinya.

“Astaga.. Kau benar-benar harus cepat-cepat mengikuti kelas itu”

dan ekspresi memberengut diwajahnya benar-benar tidak ingin aku lewatkan. Tapi deringan dari ponsel milikku yang kemudian memaksaku untuk beralih.

Staf kantor menghubungiku..

“Tuan.. Sebaiknya anda cepat datang kekantor. Perusahaan mengalami kekacauan..”

Sial..
Apa yang terjadi disana..??

***

Author POV

Kabar yang diinformasikan oleh salah seorang staf, mengatakan bahwa telah terjadi kebakaran di gedung kantornya. Membuat Siwon cukup terkejut saat kemudian ia bergegas untuk sampai disana dan mengetahui separah apa keadaan kantornya.

Dengan ditemani oleh sang ayah, Tn.Choi yang tentu saja mengalami keterkejutan dan sekaligus perasaan panik yang sama seperti hal nya yang dirasakan oleh Siwon, akhirnya mereka tiba dikantor perusahaan dalam beberapa menit kemudian. Masih banyak karyawan yang berada diluar gedung meski mereka cukup tenang pada saat itu.

“Bagaimana bisa terjadi?”

Tn.Choi lah yang pertama kali menanyakan, sementara Siwon langsung bergerak masuk untuk memastikan sendiri keadaan didalamnya.

Petugas keamanan yang berjaga mengatakan, Kebakaran itu bersumber dari salah satu ruang penyimpan dokumen, dan untung saja sistem keamanan yang ada digedung itu yang terbilang canggih, langsung dapat mendeteksi sumber kebakaran yang berasal. Hingga kemudian api yang belum sepenuhnya membesar dapat dengan segera dipadamkan, sebelum merembet dan membakar bagian yang lain.

Hanya saja memang sempat terjadi kekacauan dari para karyawan yang menjadi panik dan berhamburan keluar gedung. Takut jika sewaktu-waktu api akan membesar.

Tapi yang kemudian dikhawatirkan adalah, dokumen-dokumen milik perusahaan yang terbakar saat itu. Bisakah terselamatkan?

“Bagaimana dengan dokumen-dokumen yang berada didalamnya? Adakah yang terbakar?”

“untungnya tidak ada Tuan.. Api belum sempat membakar dokumen. Namun untuk lebih meyakinkan, jelas kami akan melakukan pengecekan menyeluruh pada semua dokumen yang tersimpan didalam sana”

Siwon dan Tn.Choi bersama dengan petugas keamanan, beberapa direksi perusahaan dan juga staf kemudian melihat pada ruang penyimpan dokumen yang sebelumnya sempat terbakar.

Masih tercium bau asap disana dan beberapa bagian dinding yang menghitam, bekas dari api yang membakar.

“kalian sudah mengetahui apa yang menjadi penyebab bisa muncul api didalam ruangan ini?”

Siwon mempertanyakan sambil membuka salah satu pintu lemari yang terkunci. Memasukkan nomer sandi untuk membuka kunciannya, dan kemudian mengambil beberapa dokumen dari dalamnya.

“dugaan sementara konsleting listrik, namun kami masih akan menyelidikinya lagi, Tuan..”

“Kira-kira adakah unsur sabotase dalam kejadian ini?”

Apa yang diucapkan Siwon sontak membuat perhatian dari yang lain langsung terarah padanya. Tatapan dari mereka menginginkan Siwon untuk menjelaskan maksud kalimat yang baru saja diucapkannya.

“Apa maksudmu dengan adanya sabotase, Siwon..?”

Tn.Choi ikut mempertanyakan..

“Hanya dugaanku saja, aboji..”

“apa gerangan yang membuatmu berpikir seperti itu?”

Dalam hati Siwon langsung menyebut satu nama, Lee Donghae.
Entah mengapa nama itu yang kemudian terpikirkan olehnya.
Ditambah dengan fakta pria itu sedang merencanakan kehancuran dirinya, dan pasti perusahaan menjadi salah satu sasarannya. Ditambah dengan Donghae yang bahkan belum menunjukkan batang hidungnya disituasi yang bisa dikatakan mengancam tadi.

Jadi kemanakah pria itu sekarang?

“Dalam kejadian seperti ini, banyak unsur bisa kita jadikan bahan penyelidikan, aboji. Termasuk unsur sabotase. Bisa saja seseorang memang telah merencanakan hal ini.. Aboji tentu tidak lupa dengan dunia bisnis yang penuh dengan intrik dan kecurangan..”

“Ya.. aku mengerti maksudmu, Siwon. Memang masih ada beberapa orang yang memilih menggunakan cara kotor ketimbang mempergunakan kerja keras dan mengoptimalkan kerja otak mereka untuk meraih hasil yang maksimal. Maka kuharap untuk memperketat sistem keamanan dan bantulah putraku menjalankan perusahaan ini dengan baik..”

Tn.Choi kembali pada wibawanya sebagai seorang pemimpin ketika berbicara dengan beberapa direksi yang lain. Sesaat setelah itu, Donghae tiba-tiba muncul, dengan napas ngos-ngosan sehabis berlari sepertinya.

“Apa yang terjadi? Seseorang menghubungiku dan mengatakan terjadi kebakaran.. Apa semuanya baik-baik saja sekarang?”

Siwon mendengar suara itu. Namun ia tak beralih dari lemari dokumen yang sedang diperiksa olehnya, dan lebih memilih untuk mengabaikan kehadiran Donghae disana. Mendadak ia merasa muak dengan kelicikannya, yang jujur masih tak dapat dipercayai olehnya.

Donghae berniat mengkhianatinya?
Hampir tidak mungkin ia akan mempercayai hal itu bila orang lain yang menginformasikan padanya. Namun sayangnya, Siwon sendiri yang mendengar dengan kedua telinganya yang ia pastikan dapat berfuksi dengan baik, pada saat Donghae mengatakan rencananya itu beberapa waktu yang lalu.

“Oh, Lee Donghae.. Kau baru datang?”

Tn.Choi yang justru menyambutnya..

“maafkan saya Tuan.. Saya terjebak kemacetan dijalan..”

“hm, aku bisa mengerti itu?”

“bisakah saya mengetahui lebih rinci mengenai apa yang terjadi?”

Ucapan itu mungkin terdengar sebagai basa-basi saja ditelinga Siwon. Entah mengapa, ia justru memiliki dugaan kuat bila Donghae berada dibalik kebakaran itu.
Ia telah kehilangan kepercayaannya terhadap pria itu.

***

Meninggalkan persoalan kebakaran kecil yang sempat terjadi, dan sang ayah yang kemudian juga meninggalkan gedung perkantoran itu setelah merasa keadaan tak lagi mengkhawatirkan. Siwon justru kembali harus dihadapkan dengan laporan-laporan mengenai pembatalan kerjasama bisnis yang dilakukan secara sepihak oleh beberapa perusahaan yang menjadi rekanan bisnisnya. Setidaknya dalam catatan yang tertulis yang sedang dibaca olehnya, ada tiga pembatalan bisnis yang sebelumnya telah terjadi kesepakatan untuk dikerjakan, dan justru kini dibatalkan tanpa sepengetahuannya.
Dan seorang staf direksi menyebutkan jika mereka justru bergabung dengan perusahaan milik ayah Jessica. Siwon sedikit mengerutkan dahi mengenai informasi itu.

Apa yang telah terjadi selama tiga hari kepergiaannya?
Hanya dalam tempo waktu sesingkat itu, Siwon benar-benar telah melewatkan banyak hal. Bukan hanya keadaan dirumahnya saja, tapi juga keadaan yang terjadi di dalam lingkup perusahaan yang sekarang berada dalam kepemimpinannya.

Dan apakah juga ada keterlibatan Donghae didalamnya?
masih menjadi tanda tanya untuknya..
Jika iya..
itu berarti Donghae sedang mencoba melakukan gerak cepat dan ia harus mewaspadainya.

“Siapa yang bertanggung jawab dengan pembatalan ini? Mengapa tidak ada yang memberitahukannya padaku”

Seseorang yang berada diruangan Siwon guna memberikan laporan itu, baru akan memberikan jawaban ketika kemudian tertahan oleh masuknya Donghae kedalam ruangan itu.

“Biar aku yang menjelaskannya.. Sebaiknya kau mengurus pekerjaanmu yang lain”

Seseorang itu menurut dengan apa yang dikatakan oleh Donghae, dengan kemudian meninggalkan ruang kerja Siwon, dan membiarkan Donghae berada disana untuk menjelaskan semuanya.

“mengapa kau tak langsung menghubungiku?”

Siwon langsung bertanya tanpa berniat untuk berbasa-basi terlebih dulu. Jelas perkara sepenting itu sama sekali tak membutuhkan basa-basi.

“Apa kau sudah mengetahui kemana akhirnya mereka bekerjasama..?”

“hm, aku sudah membacanya..”

Siwon menunjukkan catatan dari salinan dokumen pembatalan yang tadi diberikan padanya.

“Kau tentu mengerti atau setidaknya dapat menebak jika ini ada hubungannya dengan Jessica..”

“Apa maksudmu?”

Donghae yang kemudian menjelaskan bahwa gadis itu, Jessica berkemungkinan besar melakukan sebuah rencana sebagai bentuk pembalasan terhadap Siwon, lantaran gagalnya pertunangan mereka.

“Dia mungkin membujuk ayahnya untuk melakukan hal itu”

“Aku tidak pernah berpikir sampai sejauh itu..”

“Seseorang yang sakit hati bisa melakukan hal-hal yang jauh dari pemikiran, Siwon..”

untuk beberapa lama keduanya saling bertatapan dengan sekelebat pemikiran lain, sampai kemudian Donghae kembali pada penjelasannya yang mengatakan bahwa alasan utama para pemilik perusahaan itu membatalkan kerjasamanya dan memilih beralih pada perusahaan milik ayah Jessica dikarenakan ayah Jessica memberikan penawaran keuntungan melebihi apa yang dijanjikan oleh Siwon dalam kerja samanya.

Terdengar masuk akal bagi pebisnis seperti Siwon. Keuntungan terbesar pastilah yang mereka cari. Hanya saja, Ia sedikit tak menyangka jika Jessica sampai mencampur masalah pribadi kedalamnya.
Tapi tidak..
Bukankah sedari awal, pertunangan itu juga direncanakan untuk kepentingan bisnis semata?
maka harusnya tak mengherankan bila urusan pribadinya kemudian berdampak pada bisnis yang dijalaninya.

Siwon berdeham dan lantas meletakkan apa yang tadi ia baca keatas meja kerjanya.

“Baiklah.. Aku mengerti dengan penjelasanmu. Kau boleh pergi..”

Siwon menyudahi dan Donghae merasa tak ada lagi yang perlu untuk dikatakan hingga kemudian Ia beranjak.

Keluar dari dalam ruangan Siwon, Donghae tersenyum, merasa rencananya berjalan dengan baik. Ia memang yang telah menawarkan kerja sama dengan Jessica. Untuk menghancurkan Siwon, Ia sadar tak bisa melakukannya sendirian. Donghae yang kemudian menemukan rencana lain. Ia memanas-manasi Jessica, memanfaatkan kesakit hatian gadis itu dan memintanya untuk membujuk sang ayah agar mau mengambil alih beberapa kerjasama yang melibatkan perusahaan milik Siwon. Tentulah yang kemudian memberikan informasi mengenai bentuk kerjasama dan perusahaan mana saja yang sedang terlibat dalam kerjasama dengan Siwon, Donghae lah yang memberitahukannya.

Merasakan getaran dari dalam saku celananya, Donghae merogoh ponsel yang berada didalamnya dan segera menjawab panggilan masuk disana..

“Oh, Jessica.. Baiklah, aku bisa bertemu denganmu malam nanti. Tidak ada masalah, semua baik-baik saja..”

Donghae baru saja keluar dari dalam lift dan melangkah menuju lobi ketika pandangan matanya menangkap sosok Yoona melangkah disebelah Ibu Siwon yang terlihat cemas dan berjalan dengan tergesa. Ketika itu Yoona sedang mengarahkan pandangannya kearah meja resepsionis, pada Hyoyeon dan Sunny yang terbengong melihatnya, mungkin bukan hanya mereka berdua saja, melainkan karyawan lain yang mengetahui jika sebelumnya dirinya pernah berada dibelakang meja resepsionis itu, sekitar seminggu menjadi sekretaris dadakan Siwon, sampai pada pertunangannya yang Yoona yakin menjadi topik pembicaraan menghebohkan. Dan kini setelah malam pertunangan itu, ia kembali muncul di kantor, melenggang bak nona muda glamour disamping Ibu Siwon.

Masih menatap pada kedua teman kerjanya membuat Yoona tak mengetahui ketika kemudian Donghae menghampiri.

“Oh, Nyonya.. Anda datang?”

Menyapa pada Ny.Choi dengan membungkukkan badannya, Donghae kemudian menatap pada Yoona dan menyadari perubahan dalam tampilan gadis itu. Namun keberadaanya yang saat itu bersama dengan Ibu Siwon, membuatnya tak menanyakan apapun.

“Donghae ya.. Apa yang terjadi? Benarkah terjadi kebakaran.. Suamiku mengatakan sudah tidak masalah dan melarangku untuk datang. Tapi aku merasa  perlu untuk memastikannya”

“Tuan benar Nyonya.. Semua sudah bisa ditangani. Anda bisa tenang sekarang..”

“Oh, tentu aku juga mengharapkan ketenangan itu Donghae ya..”

Donghae tersenyum pada Ny.Choi, namun kemudian senyumnya tak ditunjukkan pada Yoona yang kini sudah menatapnya dengan senyum yang tersungging diwajahnya. Donghae tak membalas senyumnya. Senyum itu telah menghilang dari wajahnya.
Membuat Yoona seketika melenyapkan senyum itu dari bibirnya. Ia sadar rasanya yang terpendam untuk pria itu masihlah ada meski Ia sudah mencoba untuk mengubur kedasar hatinya setelah mengetahui betapa besar cinta Donghae untuk Yuri oenni nya.

“dan dimanakah Siwon sekarang, Donghae ya..?”

pertanyaan Ny.Choi mengalihkan tatapan Donghae dari Yoona.

“Siwon berada diruangannya, Nyonya. Saya akan mengantar anda naik jika anda ingin menemuinya..”

Ny.Choi menahan lengan Donghae..

“Tidak perlu, aku akan bersama Yoona.. Kau akan melakukan pekerjaan bukan?”

Donghae mengangguk..

“kerjakanlah.. Aku bisa naik bersama dengan Yoona”

Donghae mempersilahkan dan hanya bisa memperhatikan Yoona yang melangkah dibelakang Ibu Siwon. Ia memang telah mengabaikan gadis itu dalam beberapa hari terakhir dan malah tak melibatkannya kedalam rencana yang telah dijalankannya. Setelah ia menemukan cara lain dengan kembali memanfaatkan seorang wanita yang adalah Jessica dengan kesakit hatiannya untuk mendukung rencananya menghancurkan Siwon secara lebih cepat. Hanya tak menyangka pada saat tadi melihat Yoona, Ia seperti melihat gadis lain karna perubahan tampilannya.

Donghae berbalik setelah  mengetahui Ny.Choi dan Yoona masuk kedalam lift khusus. Ia kembali meneruskan langkahnya, merogoh kembali ponselnya dan meneruskan panggilannya..

***

“Siwonie.. Apa semua baik-baik saja sekarang?”

Ny.Choi mengejutkan Siwon dengan begitu saja masuk kedalam ruang kerjanya dan langsung menyerukan pertanyaan padanya.

“Oemma..”

Ia melihat Yoona yang menyusul masuk dibelakangnya. Masih dengan mengenakan dres berwarna hijau seperti yang tadi pagi dilihatnya.

“Aku begitu cemas mendengar kebakaran yang terjadi. Tapi ayahmu tak mengijinkanku untuk melihat.. Maka aku menunggu Yoona menyelesaikan kelas kepribadiannya. Menggunakannya untuk beralasan pada ayahmu, jika aku akan menjemputnya dan ingin pergi dengannya setelah itu. Tapi aku membawa Yoona kemari..”

Ny.Choi lantas mendudukkan tubuhnya pada sofa ditengah ruangan itu, sementara Yoona masih berdiri diam dibelakangnya. Siwon segera beranjak dari duduknya dan kemudian mendekati sang ibu.

“Tidakkah aboji mengatakan jika semuanya telah dapat ditangani?”

“Ya.. Ayahmu mengatakannya, tapi aku tak mempercayainya”

“Sejak kapan oemma tidak mempercayai aboji..”

Siwon menggunakan kalimat itu untuk mencibir sang ibu yang kemudian memutar mata kearahnya.

“Oemma hanya ingin memastikan..”

Ny.Choi menoleh kebelakang dan melihat Yoona disana.

“tidakkah kau lelah berdiri saja. Duduklah..”

Yoona menurut dengan mengambil langkah memutar untuk kemudian mendudukkan tubuhnya pada sofa yang lain.

“tidakkah oemma sebaiknya pulang saja?”

“dan membiarkanmu hanya bersama dengan Yoona, disini? seperti itukah yang kau inginkan? ”

Siwon mendecak pada kesalahan sang ibu menanggapi maksudnya.

“Bukan seperti itu maksudku, oemma..”

“Sudahlah, tak perlu menjelaskan. Oemma datang bersama Yoona. Dan tentu dia harus pulang denganku. Apa yang akan dikatakan ayahmu jika aku pulang sendirian tanpa Yoona. Lagi pula, setelah memastikan disini memang baik-baik saja, aku telah berencana untuk benar-benar pergi dengan Yoona. Oemma akan mengajaknya menghadiri fashion show, sekaligus mendatangi pameran perhiasan hasil rancangan salah satu putri temanku. Dan mungkin membeli beberapa yang cocok untuknya”

“dan oemma akan mengirim lagi semua tagihannya padaku, untuk membayarnya?”

“Oh, Kau sudah menerima tagihan yang sebelumnya?”

Siwon mengangguk..
baru beberapa saat yang lalu ia menerimanya.

“dan itu lumayan besar”

Ny.Choi justru tersenyum tanpa dosa.

“Itu harga yang pas untuk kau bayarkan agar gadismu tak lagi mempermalukan oemma dengan penampilannya yang biasa.. Maka bersiaplah untuk menerima beberapa tagihan lagi”

“omonim..”

Ny.Choi yang baru saja mengatakan apa yang direncanakannya untuk dilakukannya pada hari itu, mengalihkan pandangannya dari Siwon ke Yoona.

“ada apa Yoona?”

“omonim sudah membelikan ku terlalu banyak.. Dan aku tak tahu kemana aku akan mengenakan pakaian dan gaun-gaun itu. Kurasa aku tidak akan membutuhkannya lagi. Omonim tak perlu membelikannya lagi untukku..”

“Oh, tidak.. Tentu saja kau membutuhkannya. Ketahuilah bahwa banyak acara yang akan kau hadiri denganku. Dan aku yang akan menentukan kemana kau akan memakainya”

Siwon hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar percakapan selanjutnya antara ibu nya dan Yoona. Ia justru kemudian beralih ke lemari pendingin yang berada diruangannya. Mengambil sebotol air mineral yang kemudian diberikannya untuk sang ibu dan satu minuman kaleng ia ulurkan pada Yoona, setelah terlebih dulu membukakannya.

“minumlah.. Dan menyerahlah, kau tidak akan berhasil melawan ibuku”

Ucapan Siwon mengacu pada penolakan Yoona agar Ny.Choi tak lagi membelikannya banyak pakaian.

Yoona memang merasa tak nyaman dengan itu. Mendadak Ia juga merasakan mungkin akan lebih baik bila sikap ibu Siwon seperti sebelumnya. Keras, ketus dan kasar, juga penuh penghinaan terhadapnya. Meski hal itu cukup membuatnya tertekan, namun setidaknya ia tak merasakan perasaan bersalah seperti yang saat itu dirasakannya. Ia memiliki rencana untuk menghancurkan Siwon, namun sang Ibu dari pria itu justru bersikap seakan sedang memanjakannya. Menghujaninya dengan menggunakan berbagai barang mahal. Mendandaninya menjadi terlihat cantik, hingga orang-orang tak lagi memandangnya dengan sebelah mata, tapi justru membuat mereka semua melebarkan mata dan tak berkedip ketika melihatnya.

“ambilah, Yoona..”

Siwon kembali menggerakkan tangannya yang terulur kearah Yoona, membuat apa yang saat itu berada dipikirannya buyar seketika.

Yoona mengerjapkan mata melihat tangan Siwon yang terulur memegang sebuah kaleng minuman kehadapannya. Tak jua mengambil apa yang disodorkannya, Siwon kemudian berinisiatif dengan meraih tangan Yoona, dan menggenggamkan minuman itu ke tangannya.

Rasa dingin dari kaleng minuman itu, dan sekaligus kulitnya yang bersentuhan dengan tangan Siwon, mendadak membuat Yoona merasakan semacam sengatan yang mengalir didalam darahnya.

Benarkah ada aliran listrik ditangan Siwon?
Tidak.. Tidak..
Itu tidak mungkin..

Yoona terkesiap karna hal itu, dan dengan buru-buru Ia kemudian menarik tangannya yang telah menggenggam kaleng minuman pemberian Siwon.

“Te.. Terimakasih, Sajangnim..”

mendadak gugup, membuat Yoona tergagap ketika kalimat itu terucap dari bibirnya. Dan tatapan lurus dari kedua mata Siwon yang mengarah padanya, juga membuat Yoona merasa perlu untuk menundukkan wajah, menghindarinya.

“Bukankah kau pernah mengatakan akan mengubah caramu memanggil Siwon, Yoona..?”

Yoona mendongak mendengar teguran dari Ny.Choi.

“sangat terdengar tidak pantas kau memanggil Siwon seperti itu.. Kau bukan lagi resepsionis atau sekretaris palsunya. Menggelikan mendengarmu memanggilnya seperti itu..”

“ne, omonim.. Maafkan aku”

Yoona kemudian beralih untuk menatap Siwon. Pria itu meletakkan kedua tangan di dada. Dengan posisi bersedekap itu, raut wajahnya seakan sedang menertawakannya.

“terimakasih, op-pa..”

“sama-sama, sayang..”

Yoona memutar mata pada kerlingan mata Siwon yang menyertai ucapannya. Bukan hanya itu saja, pria itu memanfaatkan ketidak berdayaannya didepan Ny.Choi dengan berani menyentuh rambutnya. Dan menyelipkan sedikit helaian kebelakang telinganya.

Siwon akhirnya merasakan bagaimana lembutnya helaian rambut itu yang selama ini terlihat berkilau dimatanya.

Namun sedikit lain dengan apa yang pada saat itu dirasakan oleh Yoona. Meski ia merasakan sedikit merinding pada tubuhnya, tapi keinginan untuk menendang Siwon justru lebih besar. Ia lantas berdiri dari duduknya, dan dengan sengaja menginjak sepatu Siwon dengan menggunakan sepatu berhak tujuh senti setidaknya, yang pada saat itu dikenakannya.

Ya..
menginjak menjadi cara lain yang dapat dilakukannya menggantikan keinginannya  untuk menendang Siwon pada saat itu.

Siwon sekali lagi menyadari keberanian gadis itu yang membalas ucapan main-mainnya dengan memanggilnya ‘sayang’ didepan sang ibu yang sudah pasti melebarkan mata mendengarnya.

Siwon sudah akan bereaksi dengan apa yang dilakukan Yoona pada kakinya, gadis itu benar-benar sedang menginjaknya dan bahkan menekan ujung sepatunya. Namun niatan Siwon harus terhenti ketika mengetahui Ibu nya mendecak sebelum kemudian berdiri dari duduknya dan kembali menenteng tas tangannya. Ibu nya pasti telah memiliki pemikiran sendiri dalam kepalanya.

“Ayo, sudah waktunya kita pergi, Yoona. Sampai bertemu lagi dirumah, Siwon..”

Siwon tersenyum pada ibu nya, Ia juga merasakan sebelah kakinya sudah terbebas dari injakan sepatu Yoona. Dan ketika gadis itu kemudian beranjak tanpa mengatakan sesuatu padanya, Siwon menarik pergelangan tangannya, mendekatkan tubuhnya dibelakang Yoona sebelum kemudian berbisik pelan di telinganya.

“Ingatlah.. jika ada balasan untuk segala sesuatu yang telah kau lakukan”

Ketika Yoona menolehkan wajahnya, ia langsung merasakan bibir Siwon menempel pada pipinya, menekannya.

Jika tadi ia menekan sepatunya untuk menginjak kaki Siwon. Sekarang pria itu membalas dengan menekan bibir di pipinya.

Sialan..

“SIWON..!!”

Ny.Choi memekik dari ambang pintu, ketika menoleh dan mendapati apa yang pada saat itu dilakukan putranya. Suara sang ibu yang kemudian membuat Siwon menjauhkan dirinya dan melihat Yoona dengan terburu mendekat pada ibu nya.

“hm, Maafkan aku oemma..  Aku hanya ingin memberikan saran padamu, sebaiknya oemma menambah jam pada kelas kepribadian yang diikutinya..”

Ny.Choi mengerutkan dahi mendengarnya, dan Siwon hanya mengangkat kedua bahunya mengetahui kekesalan yang pada saat itu tersorot dari kedua mata Yoona.

***

Tak setegang sebelumnya, Siwon bahkan juga seakan tak sedang merasakan memiliki permasalahan dalam perusahaannya. Hal itu dirasakannya setelah kepergian ibunya dan juga Yoona. kedatangan ibu nya yang bersama dengan Yoona, terutama Yoona lah yang telah mempengaruhi perubahan perasaannya. Gadis yang memiliki keberanian itu, tanpa disadarinya justru telah menghiburnya dengan cara yang tak pernah terbayang olehnya.

Usil..
Yoona menginjak kakinya, dan hal itu justru membuat Siwon makin menikmati membuat gadis itu kesal ketika dirinya sengaja mencium pipinya dengan tiba-tiba. Apa yang dilakukannya tadi juga membuatnya terus tersenyum geli tiap kali mengingat ekspresi diwajah Yoona. Campuran dari keterkejutan dan juga kesal terhadapnya.

Melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, Siwon memutuskan sudah waktunya pulang untuknya. Keluar dari dalam ruangannya setelah terlebih dulu menghubungi sang supir untuk bersiap menunggunya didepan gedung, Ia turun menuju lobi dengan mempergunakan lift khusus.

Siwon baru melangkah keluar dari dalam lift, ketika sebuah suara menghentikannya.

“Sajangnim, tunggu.. Tunggu sajangnim..”

Ia menoleh dan mendapati dua orang gadis berseragam resepsionis takut-takut untuk menghampirinya. Keduanya bahkan saling mendorong tubuh satu sama lain. Siwon mengerutkan dahi melihatnya. Merasa hanya dipermainkan, Siwon berniat untuk mengabaikan mereka. Namun terdengar suara yang lebih keras menghentikannya.

“Tunggu Tuan..!”

Hyoyeon mungkin tak sadar ia telah memekik pada saat itu.

Ya..
Dua orang gadis resepsionis yang sedang mencoba menghentikan Siwon adalah Hyoyeon dan Sunny. Yang menjadi teman Yoona saat sebelumnya dia bekerja disana. Setelah jam kerja selesai, keduanya memang sengaja menunggu Siwon turun. Memberanikan diri berbicara dengannya.

“Apa yang kalian inginkan?”

Siwon yang kemudian justru berjalan beberapa langkah untuk menghampiri keduanya.

“Ma.. Maafkan kami Tuan..”

Sunny menunduk sambil mempergunakan lengannya untuk menyenggol lengan Hyoyeon. Mengisaratkan agar sang teman untuk berbicara.

“katakan kenapa kalian memanggilku? Tidakkah kalian tahu aku mungkin sedang terburu-buru dan tindakan kalian dengan menahanku disini sangatlah tidak sopan..”

Ucapan Siwon hanya semakin menciutkan nyali kedua gadis itu.

“Katakan apa yang kalian inginkan dalam tiga puluh detik.. Jika tidak, aku akan..”

Hyoyeon dan Sunny saling bertatapan, sebelum kemudian mengarahkan kembali tatapan mereka pada Siwon.

“Kami ingin bertemu Yoona..!”

Ucap keduanya kompak. Siwon justru mengerutkan dahi mendengarnya.

“Kami ingin bertemu dengan Yoona, Tuan.. Dia teman kami”

Hyoyeon memelankan suaranya, dan Sunny yang kemudian meneruskan. Keduanya bergantian mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan Siwon pada saat itu.

“Aku tak bisa menghubunginya setelah malam pertunangan itu terjadi. Dan dia juga tidak menghubungi kami.. Yoona bahkan tidak ada dirumahnya”

“dan tadi kami melihatnya muncul. Itu sungguh melegakan tapi sekaligus..”

Hyoyeon dan Sunny kembali bertatapan, haruskah mereka meneruskan sementara Siwon sedikitpun masih belum menanggapi ucapan mereka.

“Kami merindukannya..”

sekali lagi, keduanya berucap berbarengan. Nadanya terdengar pelan dan sedih.

Siwon berdeham sebelum kemudian menanggapi.

“hm, baiklah.. Kalian cukup beruntung hari ini. Ikutlah denganku sekarang jika kalian ingin bertemu dengan Yoona.. Dia tinggal bersamaku”

Hyoyeon dan Sunny melongo mendengarnya. Tidakkah mereka sedang bermimpi?
Siwon meminta mereka berdua untuk ikut dengannya?
Oh, Ya ampunn..

Namun Siwon yang lantas beranjak dari hadapan mereka, membuat keduanya tersadar. Bukan waktunya untuk mengira-ngira apakah itu mimpi atau bukan. Melainkan yang harus dilakukan adalah mengikuti langkah sang Tuan muda jika keduanya memang menginginkan untuk bertemu dengan Yoona.
Yoona..
Jadi Yoona menghilang dan justru tinggal bersama dengan sang Tuan muda? Tunangannya..
Oh..
Betapa beruntungnya gadis itu..

“bawa mereka bersama kita, ahjussi..”

Siwon berucap pada sang supir pribadi yang telah membukakan pintu mobil bagian belakang untuknya. Tapi Siwon kemudian memilih membuka sendiri pintu depan dan duduk disamping kemudi. Membiarkan Hyoyeon dan Sunny yang menempati kursi dibagian belakang.

“baiklah Tuan.. Silahkan masuk nona-nona..”

Hyoyeon dan Sunny mengangguk dengan sungkan. Namun pancaran dari kedua mata mereka menunjukkan binar yang antusias.
Tak bisa dipercaya oleh keduanya bisa merasakan masuk kedalam kemewahan mobil itu.

***

Yoona baru saja pulang dan memutuskan untuk langsung mandi dan mengganti pakaian sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Ny.Choi padanya. Setelah selesai, Ia kembali melangkah keluar dari dalam kamarnya, turun pada beberapa anak tangga  ia dapat mendengar suara Siwon didalam rumah itu.

Pria itu sudah pulang?
Darahnya seakan mendesir pada saat itu..

“Apa maksudmu dengan membawa dua gadis itu untuk bertemu dengan Yoona?”

Itu suara dari Ny.Choi. Terdengar keras dan tanpa basa-basi.

“mereka mengatakan ingin bertemu dengan Yoona, maka aku membawa mereka untuk bertemu dengannya..”

Suara dari Siwon lagi..

Mendengar dua kali namanya disebut, Yoona penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Maka kemudian ia mempercepat langkahnya menuruni anak tangga dan pada saat itu, ia mengetahui keberadaan Hyoyeon dan Sunny disana, tak terlalu jauh dari Siwon dan Ibu nya. Keduanya nampak menundukkan wajah mendengar Ny.Choi yang sepertinya tak menyukai kehadiran mereka didalam rumahnya.

“mereka berdua adalah teman-teman nya, oemma.. Dan mereka mengatakan padaku merindukan Yoona, jadi apa salahnya?”

“Tidak.. Yoona tak harus bergaul lagi dengan mereka. Oemma akan mencarikan teman yang pantas untuknya..”

Astaga..

Siwon menggeleng heran kearah sang ibu.

“Oemma terlalu berlebihan.. Oemma memang bisa mencarikannya pakaian dan apapun yang diperlukannya untuk menjadi pantas, dan semuanya terlihat sempurna. Tapi teman.. Oemma belum tentu bisa mendapatkan seseorang yang cocok dengan Yoona untuk menjadi temannya. Itu dua hal yang berbeda, oemma..”

Ny.Choi mendengus pada Siwon. Sepertinya masih memiliki pendapatnya yang lain, namun ketika hendak mengatakannya, Ny.Choi lebih dulu melihat Yoona yang berjalan mendekat dan sepertinya akan menghampiri kedua gadis yang tadi dibawa oleh Siwon kedalam rumahnya.

“Hyoyeon.. Sunny.. Kalian disini?”

Hyoyeon dan Sunny langsung mendongak, memperhatikan Yoona yang terlihat senang ketika hendak menghampiri mereka, namun kemudian justru tangan Ny.Choi meraihnya dan menariknya untuk berada disisinya.

“Omonim..”

“Aku keberatan kau berteman dengan mereka, Yoona.. Aku akan mengenalkanmu dengan putri-putri dari temanku yang lain. Kau akan bisa berteman dengan mereka nanti..”

“tapi omonim..”

Yoona sangat ingin menggeleng pada saat itu. Ia bukanlah seorang gadis yang pandai berteman. Ia hanya memiliki beberapa teman semasa disekolah menengah. Itu pun tak terlalu akrab. Tapi ia merasa bisa berinteraksi dengan baik saat bersama dengan Hyoyeon dan Sunny, meski ia terhitung baru mengenal keduanya.

“mereka juga temanku..”

Yoona memberanikan diri meski Ny.Choi masih tetap menggeleng pada saat itu.

“mungkin bukan waktu yang tepat untuk mereka datang dan bertemu denganmu saat ini. Kau baru pulang dan lelah.. Kau butuh tidur dan beristirahat..”

Menggunakan itu sebagai alasan, Ny.Choi benar-benar sedang mencoba untuk menjauhkan Yoona dari kedua gadis itu.

“Oemma.. Kurasa ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu”

“Apa?”

Siwon mendekat, merangkul bahu sang Ibu dan kemudian meraih tangannya untuk melepaskan tangan Yoona yang pada saat itu dipegangi oleh ibunya.

“hm, sebaiknya kita tidak bicara disini oemma.. Temuilah temanmu Yoona, mereka merindukanmu. Kau bisa membawa mereka ke kamarmu atau ke tempat manapun didalam rumah ini yang bisa membuat kalian nyaman saat mengobrol, dihalaman belakang mungkin..”

Siwon menyarankan, dan merangkul sang ibu yang mendecakkan lidah mendengar apa yang dikatakannya. Sepertinya masih tak rela membiarkan Yoona menemui kedua gadis itu, namun sesaat kemudian wanita itu justru memanggil ahjumma Lee..

“ahjumma, tolong siapkan minuman dan hidangan untuk kedua tamu Yoona..”

“baik Nyonya..”

Ny.Choi kemudian beralih menatap pada Hyoyeon dan Sunny.

“kalian jangan terlalu lama mengajak Yoona mengobrol, dia lelah dan membutuhkan tidur lebih cepat malam ini.. kulitnya akan lebih cepat mengeriput bila dia tak mendapatkan tidur yang cukup. kalian mengerti..!!”

Hyoyeon dan Sunny tak bersuara dan hanya bisa mengangguk. Keduanya bahkan telah merasakan merinding, ngeri sedari awal wanita itu memandang dengan tatapan tak suka kearah mereka.

Siwon kembali menggelengkan kepala melihat bagaimana sang ibu bereaksi pada saat itu.

“baiklah.. Buatlah temanmu merasa nyaman berada disini, Yoona..”

ucap Siwon sebelum kemudian beralih pada ibunya.

“Oh, oemma.. Apa aboji tidak berada dirumah?”

Yoona mendengar Siwon mengatakan itu saat membawa ibu nya menjauh darinya. Sebenarnya ia ingin mengucap terimakasih pada saat itu, namun Siwon telah lebih dulu berlalu dari hadapannya.

“Yoona..”

Yoona kembali tersadar dengan keberadaan Hyoyeon dan Sunny disana. Keduanya kini berani mendekati Yoona.

“Hai gadis beruntung.. tadinya aku ingin menyapamu seperti itu. tapi setelah…”

Hyoyeon mendengus dan tak meneruskan kalimatnya..

“mengerikan.. Aku tak menyangka kau tinggal dengan wanita seperti itu”

Sunny berucap dengan suara pelan. Yoona hanya menghela napas untuk menanggapi. Dan Hyoyeon kemudian menambahi..

“Jika aku jadi kau.. Aku pasti akan meminta Tuan muda untuk membelikan rumah atau setidaknya apartemen pribadi untuk ku tinggali sendiri. Tidak bersama dengan singa semacam itu. Dia pasti bisa setiap saat mengaung kearahmu..”

Yoona memutar mata dan sekaligus ingin terkikik mendengar bagaimana Hyoyeon menggambarkan tentang karakter Ny.Choi pada saat itu.

“jangan mengada-ada.. Dia sudah bersikap baik dalam beberapa hari ini”

“tapi Aku masih belum melihat yang seperti itu”

Yoona lantas mengajak mereka menuju teras dihalaman belakang dan mendengar decakan kekaguman dari Hyoyeon dan Sunny tentang megahnya rumah yang pada saat itu menjadi tempat dimana kedua kakinya berpijak di atas karpet mahal ataupun lantai granit nya yang berkilat kemewahan dari benda-benda yang berada disekitarnya.

“mengapa kau tak mengajak kami kekamarmu? Kurasa aku mendengar Tuan muda memperbolehkanmu tadi”

“disini saja.. Aku tak enak pada Ibu nya”

Tak berapa lama setelah duduk dikursi yang berada disana, ahjumma Lee datang dengan nampan berisi minuman. Dan kembali lagi dengan senampan penuh yang berisi makanan ringan.

“terimakasih ahjumma..”

“tidak usah sungkan..”

ahjumma Lee tersenyum..

“Oh, Yoona ya..”

“ne..”

“Aku mungkin tak bisa menunggumu selesai dengan teman-temanmu. Aku harus pulang..”

“tidak apa-apa ahjumma, aku bisa membereskannya sendiri nanti. ahjumma pulang saja..”

Meski Yoona telah mengatakan tak keberatan bila dirinya pulang lebih dulu, namun ahjumma Lee merasakan tak enak hati padanya. Ia bahkan meminta maaf sebelum kemudian Yoona mendekatinya dan merangkulnya, mengantarnya sampai ke pintu keluar dan membiarkan ahjumma Lee pergi.

Setelah memastikan ahjumma Lee keluar melewati pagar rumah, Yoona baru kembali masuk dan menghampiri Hyoyeon dan Sunny. Keduanya asik menikmati makanan yang tadi dibawakan ahjumma Lee untuk mereka.

“jadi apa kau akan menceritakan pada kami tentang kisah cintamu bersama dengan Tuan muda..? Hingga membuatmu berakhir ditempat ini dan…”

“Hei.. Kenapa kau menyebutku berakhir?”

Yoona memprotes..

“Aku belum berakhir.. Itu terdengar begitu kejam”

Ia memberengut pada keduanya..

“Jangan menyebutku seperti itu hanya karna kalian menganggapku berada bersama dengan seekor singa.. Begitukah?”

Hyoyeon dan Sunny tergelak, sementara Yoona langsung menutup mulutnya, menengok kesekelilingnya dengan wajah panik.
Itu akan jadi masalah bila apa yang baru saja diucapkannya didengar oleh Ibu Siwon.

“baiklah akan ku rubah..”

Hyoyeon mengulang sambil menyomot makanan didepannya.

“emm.. Sampai dimana tadi..?”

Yoona mendengus kearahnya..

“aishh.. Terlalu banyak makanan dimulutmu. Biar aku yang meneruskan”

Sunny mengambil alih dengan terlebih dulu membuka kaleng minuman bersoda, yang menjadi kaleng keduanya yang telah ia buka.

“Kami sungguh penasaran Yoona.. Kau jelas menyembunyikan hubunganmu dengan sajangnim. Bagaimana sebenarnya kisah cintamu dimulai hingga kini kau bisa duduk dihadapan kami selayaknya kami menyebutmu nona muda didalam rumah ini. Dan siapakah yang telah mengucapkan mantra sihir ataupun menyulap mu menjadi secantik ini..?”

Sunny terang-terangan memandanginya tanpa berkedip.

“Kau memiliki rambut coklat yang indah. Kau luar biasa cantik, Yoona..”

Yoona menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Pipinya pasti telah memerah karna mendadak ia tersipu dengan pujian yang Sunny ucapkan.

“Aigoo.. Lihatlah bagaimana caramu memujinya, kau seakan sedang berusaha merayu pasanganmu”

“Kau pikir aku seorang lesbian..”

Sunny mendelik kearah Hyoyeon yang terkikik melihatnya.

“Oh, ayolah ceritakan pada kami..”

Hyoyeon mengarahkan kembali pada inti obrolan mereka yang sebelumnya. Yoona kini menjadi gelisah dalam duduknya. Bagaimana dia harus mengarang cerita? Jelas ia tak pandai dalam hal itu. Dan tak mungkin juga ia mengakui bahwa dirinya sebenarnya telah terperangkap dalam jebakannya sendiri.
Itu sangat konyol..
Dan mungkin kedua temannya itu akan menertawakannya atau parahnya akan membencinya karna telah merencanakan sesuatu yang buruk terhadap Siwon.

Tidak..
Ia jelas tak akan mengatakan apapun pada mereka.

“tidak ada yang bisa kubagi dengan kalian.. Semua berjalan begitu saja..”

Hyoyeon dan Sunny saling menatap mendengarnya.

“tidak mungkin..”

Hyoyeon tak terima dengan penjelasan singkat yang sebenarnya tidak bisa disebut sebagai penjelasan, dari Yoona.

“pasti telah terjadi sesuatu diantara kalian.. Pada malam itu kau jelas tak mempersiapkan diri untuk sebuah pertunangan besar. Mungkinkan wanita yang seperti singa itu memergoki kau dan sajangnim sedang berciuman? Tidak, tidak.. Pasti lebih dari itu. Kalian sedang bermesraan mungkin..?”

Ucap Hyoyeon santai sambil mengangkat kedua bahunya.

“Awhh.. Lee Sunny!!”

Setelahnya, Ia justru mengaduh cukup keras saat kemudian Sunny memukulkan kaleng minumannya yang telah kosong keatas kepalanya.

“Kau harus membersihkan isi kepalamu yang telah kotor itu.. Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?”

“Aku hanya mencoba menebak.. Bukan sesuatu yang serius kan?”

“Sebelum menebak kau seharusnya melihat betapa polosnya, Yoona.. Dia baru delapan belas tahun. Tidak mungkin dia berani melakukan hal semacam itu..”

Yoona menghela napas, setidaknya ia justru merasa terselamatkan oleh tindakan Sunny dan sekaligus perdebatannya dengan Hyoyeon, yang kemudian justru menjadi pengalih hingga Ia tak perlu lagi menjawab pertanyaan mereka.

Sisa menit berikutnya mereka kembali meneruskan obrolan, Yoona bisa tertawa dengan keduanya sampai kemudian Hyoyeon dan Sunny berpamitan untuk pulang, dan Yoona mengantar mereka sampai ke pintu depan. Disana Ia melihat seorang supir yang sedang menunggu dan mengatakan jika Ia diperintahkan sang Tuan untuk mengantar kedua temannya.

“Sampai bertemu lagi Yoona..”

Sunny memberikan pelukan padanya.

“Aku akan senang bila kau mengatakan pada sajangnim..emm, maksudku tunanganmu yang baik hati itu untuk mengijinkan kami datang lagi lain waktu”

“Aku tak ingin kalian pergi, sungguh..”

Yoona menahan tangan Hyoyeon..

“tapi kami sungguh takut jika terlalu lama berada dikandang singa seperti ini. Bagaimana kalau dia bangun, kemudian mengaung lagi seperti tadi..”

Candanya membuat Yoona kemudian memukul pelan lengan Hyoyeon.

“berhati-hatilah, sampai jumpa lagi..”

“tenanglah kami pasti aman berada dalam mobil mewah itu. Aku mungkin akan meringkuk didalamnya dan tidur sampai besok pagi..”

Lagi-lagi Yoona dibuat tertawa oleh kedua temannya itu. Ia melambaikan tangan begitu keduanya memasuki mobil dan membuka jendela kacanya.

Selanjutnya sang supir melajukan mobil itu, meninggalkan Yoona yang masih berdiri disana. Ia masuk beberapa saat setelahnya dan langsung menuju teras belakang untuk membereskan bekas kaleng minuman juga sisa-sisa makanan seperti yang dikatakannya pada ahjumma Lee tadi.

Namun Yoona dibuat terkejut, mendapati Siwon yang kini duduk disana. Entah apa yang sedang diperhatikannya, karna sepertinya Ia tak mendengar langkah kaki Yoona pada saat itu.

“Sajangnim..”

Yoona mendekat, aroma dari sabun mandi langsung terhirup kedalam hidungnya. Wangi seperti biasanya dan benar-benar segar.

“Oh, mereka sudah pulang?”

Yoona hanya mengangguk..

“sepertinya kalian bersenang-senang tadi?”

“Ya.. kami melakukannya. mereka banyak membuat lelucon tadi”

Siwon melihat senyum tersungging diwajah Yoona.

“lalu untuk apa kau kembali kesini..? Udara sudah terlalu dingin, sebaiknya kau masuk kedalam”

“Aku ingin membereskan meja terlebih dulu.. Aku sudah berjanji pada ahjumma Lee tadi..”

Yoona mulai mengambil beberapa kaleng kosong yang tercecer diatas meja. Menyatukannya dalam satu nampan dan kemudian membuangnya ketempat sampah.
Ia kembali lagi, kali ini untuk membereskan sisa-sisa makanan. Ia tahu Siwon terus memperhatikan apa yang dilakukannya, dan itu membuatnya gugup. Ia bahkan merasa tangannya sedikit gemetar saat memegangi nampan itu dengan kedua tangannya.

Siwon tak berbicara lagi sampai kemudian Yoona kembali meninggalkan teras itu. Ia menduga Yoona akan langsung naik kekamarnya setelah meja itu telah bersih namun kemudian Yoona kembali lagi kehadapannya. Jari-jarinya terjalin didepan, dan tiba-tiba ia kembali bersuara..

“trimakasih untuk membawa mereka kemari.. Saya merasa senang dan menghargai apa yang telah anda lakukan dengan membujuk Nyonya, tadi..”

Siwon tak pernah menyangka Yoona akan mengatakan hal itu padanya. Suaranya bernada lembut dan penuh ketulusan.

“Sama-sama, Yoona.. Kebetulan aku dalam mood yang baik tadi”

Ia menunjukkan senyum nya, yang seakan makin melelehkan hati Yoona yang kemudian membalas senyum itu.

“Jika tidak keberatan, bisakah anda membawa mereka lain waktu..”

“emm.. Akan ku pertimbangkan”

“terimakasih, sajangnim dan selamat malam..”

Yoona sudah akan beranjak, namun tertahan saat Siwon meraih pergelangan tangannya.

“tidakkah kau ingin menemaniku disini? Duduklah.. Mungkin kita bisa membicarakan sesuatu”

“nde..?”

Yoona cukup terkejut dengan permintaan Siwon, terlebih pria itu masih memegangi pergelangan tangannya. Dan Yoona merasakan lagi perasaan seperti tersengat aliran listrik pada saat itu..

“emm.. Sebaiknya saya masuk saja. Bukankah.. Bukankah tadi sajangnim mengatakan udara diluar sudah terlalu dingin. Dan lagi, Nyonya akan marah bila saya tidak segera tidur. Mungkin besok aku akan memiliki lingkaran hitam dibawah mata dan juga kulit yang mengeriput. Nyonya tidak akan menyukai hal itu..”

Siwon tersenyum mendengar alasan halus yang diucapkan Yoona sebagai penolakan terhadapnya. Ia kemudian melepaskan pergelangan tangannya.

“masuk dan tidurlah.. Selamat malam, Yoona..”

Yoona mengangguk dan buru-buru beranjak. Entahlah, rasanya terlalu aneh dengan percakapan singkatnya dengan Siwon tadi. Namun kemudian ia justru menarik sudut bibirnya dan tersenyum ketika kakinya perlahan melangkah menaiki anak tangga. Untuk pertama kalinya Ia tidak merasa kesal pada Siwon, dan pria itu juga tak bersikap mengesalkan seperti yang biasa dilakukannya.

Dan kupu-kupu itu kembali berterbangan, menggelitiki perutnya. Mungkin karna itu, Ia terus tersenyum sepanjang malam itu sebelum dirinya benar-benar tertidur pulas dan rasanya ia juga bermimpi bertemu dengan Siwon..

Oh, Ya ampun…

***

Pagi harinya ketika Yoona telah bersiap memulai kelas kepribadiannya hari itu, Ia tersenyum saat keluar dari dalam rumah untuk menuju mobil yang akan mengantarkannya. Senyumnya merekah bak bunga yang bermekaran dipagi yang cerah itu. Baju bermotif bunga-bunga kecil yang dipilihkan oleh Ny.Choi untuk hari itu, sepertinya tepat dan mewakili hatinya yang sedang berbunga-bunga.
Entah oleh karna sebab apa..

“ahjussi..”

Yoona menoleh kekanan dan kirinya, mencari keberadaan sang supir yang biasa mengantarnya.

“ahjussi.. Aku sudah siap..! Uwhh..”

tapi kemudian ia dikejutkan oleh tarikan pada pergelangan tangannya..

“jadi seperti inikah hidupmu sekarang? Kau menikmati peranmu sebagai nona muda dirumah ini.. Aku yakin tak ada lagi nama Yuri didalam kepalamu, Yoona.. Kau telah melupakan kesakitan kakakmu. Benarkan..!!”

“Donghae oppa..”

*

*

*

*

*

*

*

*

To Be Continued~

@joongly

174 thoughts on “| At First Sight | 9

  1. Senang’y liat ibu mertua yg klop ama mainanbaru ya “menantu Im” meskipun belum resmi tp mereka kompak beh bikin ngiri. Aa yoonwon tambah manis tambah gemes aiii pasangan cemewew ini benar” buat senyum gx henti” sampe gigi kering kekeke🙂 tp pasti yoona d hasut lagi ama hae oppa semoga gx buat siwon marah besar dah .next part 10 yooo

  2. akhirnya clear juga perasaan siwon terhadap yoona.
    seneng banget liat siwon perhatian banget sama yoona.
    yoona sepertinya bisa menjadi moodmaker bagi siwon.
    aku juga seneng sama perhatian ibunya siwon sama yoona meskipun kadang omongannya nyelekit, mungkin itu adalah salah satu cara untuk menunjukkan perhatiannya pada yoona.
    dan kenapa tiba tiba donghae menarik yoona, dia mau ngapain yoona?
    jangan bilang mau bersikap mesum setelah melihat perubahan penampilan yoona yg aku yakin donghae mikir mirip yuri.
    semoga aja yoona gak diapa apain soalnya gak mungkin juga berani secara dia ada dirumah siwon

  3. Ya donghae kau merusak ketenangan in tiba tiba muncul dengan nada sinis begitu, apalagi nih yg mau direncanakan donghae kok tiba tiba nongol aj dirumah siwon gak takut ap ketauan am siwon

  4. Aigooo part ini memuaskan readrs.. Ny choi yg sllu jd favorit hihi
    YW udh sering mrasa sprti tersengat aliran listrik setiap sling bersentuhan.. Momntny YW enth knp rasany sgt manis, pas bgt tdk begitu berlebihan.. Smoga moment ny choi sama yoona mkin bnyk hihi.. HyoSun yg nongol
    Dgn tingkahny yg sdikit somvlak bikin ngakak sendiri.. Apalgi perumpamaanny mngenai ny choi.. Aigoo

    Yg trakhir bkin was2 ehhh. Donghae nongol lg.. Jgn sampai dia mencuci otak polosny yoona.. Tkut dah rencana apa lg yg akn dilakukan dg memperalat yoona.. Huhh tidk cukupkah dia membakar kantorny siwon.. Aq ykin psti donghae dalang dibalik smw itu..

  5. aduhh senengnya yoong dapet perhatian dari ibu calon mertua dan wonppa. meski omongannya nyonya choi pedes tp mungkin aja itu caranya nyonya choi buat ngasih perhatian sama yoong dan kayaknya yoong mulai merasakan getar2 cinta apalagi yoong kyaknya jdi penyemangat buat wonppa.tp ksel jg tadi ada donghae yg tiba2 narik yoong, ckk apalagi yg mau direncanain haeppa??

  6. phedofi????hahahahahaaaq bner2 pngen ktawa …yoona onnie bner2 dah memikat siwon oppa…hehehehe tpi hati2 onnie rsa na siwon oppa dah mulai gila…hahahhaha
    aq bner2 ga ska ma ucapan donghae di bagian akhir,,,

  7. oh usaha Ny.Choi buat merubah yoona ( dalam penampilan) sepertinya udah berhasil, dan siwon udah mulai terpesona sama yoona
    hihihi makin seru aja

  8. Ahh yoona rupanya juga sudah mulai ada rasa ini sama siwoon
    Donghae itu kenapa selalu merusak semuanyaa
    Yoona inget lg deh nnt

  9. yoona dan siwon seperti orang yang kasmaran . apalgi sih rencana donghae pada siwon smpai sampai yoona yang udah bahagia nya sama siwon eh malah di ganggu lagi

  10. Argh, ngapain sih tuh orang pake nongol segala. Dasar.
    Kesakitan kakakmu apanya, elo tuh yang sakit, dasar psycho.
    Yoona sama Siwon, ihh so sweet😀
    Suka chapter ini, keculi bagian yang itu.
    Deabbak eonni, suka banget ff nya. Kereennn…🙂🙂

  11. Gak nyangka donghae udah sejauh itu jalanin rencananya bahkan sampe berimbas ke perusahaannya siwon.. trus kenapa tiba” dia dateng ke rumah siwon n nemuin yoona..

  12. Loph..lophe bnget baca cerita yg makin kesini makin membuat senyum2 sendir dengan moment yoonwon
    sepertinya makin lengket aja yoona sam calon ibu mertuanya..
    dan tadi yoona ditarik oleh donghae,apa yg akan terjadi kenapa tiba2 donghae ada disana dirumah siwon..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s