Fanfiction

| At First Sight | 7

Happy Reading~

  [Prolog]  [1]  [2]  [3]  [4]  [5]  [6]

*

*

*

*

*

Author POV

Apa yang selanjutnya terjadi setelah siang itu..
Setelah Yoona kedapatan menjahili Siwon. Dan setelah Siwon dibuat terpesona, bahkan tak bisa beralih untuk terus memperhatikan bibir sewarna merah jambu milik Yoona, ialah kacau..

Siwon benar-benar merasa kacau dengan apa yang berada dalam pemikirannya saat itu.
Ia merasa bodoh dan..
Dan mesum..

Astaga..
Sebelumnya tak ada seorang gadis pun yang pernah membuatnya berpikiran kotor terlebih membuatnya membicarakan kebodohan dengan mengatakan ia berani bertaruh akan dapat menciumnya hingga gadis itu kehabisan napas.

Ia tahu pasti..
Saat kalimat itu terucap. Ia telah menjadi gila..

Siwon bahkan merasakan jantungnya berdegup kencang pada saat berniat untuk meminum kopi yang tadi dibawakan oleh Yoona, hanya karna membayangkan bibirnya akan menempel dengan bekas bibir Yoona yang tertinggal pada cangkir itu. Alhasil, Siwon hanya memandangi dan sesekali memegang cangkir kopi itu tanpa berani untuk meminumnya.

Hingga malam menjelang, Siwon bahkan tak tahu apa yang sudah dikerjakannya, atau memang tak ada yang benar-benar dikerjakannya dikarenakan dirinya tak bisa berkonsentrasi pada beberapa berkas dihadapannya.
Siwon baru keluar dari ruang kerjanya pada saat ahjumma Lee memanggilnya untuk makan malam.

“Siwon ah.. Sudah waktunya makan malam.. Tinggalkanlah dulu pekerjaanmu..”

Andai ahjumma Lee tahu tak ada yang pada saat itu dikerjakannya selain memikirkan bahwa Ia mungkin telah mengalami pemikiran yang menyimpang. Atau ketertarikan menyimpang sebenarnya. Bagaimana mungkin Ia tertarik pada seorang gadis hanya karna bibirnya, terlebih gadis itu masihlah belia dan Yoona..
Jelas-jelas dirinya mengetahui pasti bahwa gadis itu memiliki niat terselubung untuk menghancurkannya.

Sial..
Siwon menggeram sebelum kemudian menjawab ahjumma Lee yang terus mengetuk pintu ruang kerjanya.

“ne, ahjumma aku sudah selesai.. Aku akan segera keluar..”

Ayah dan ibu nya telah menunggu diruang makan, juga Yoona pastinya telah berada disana. Membayangkan nanti Ia akan kembali bertemu dengan gadis itu membuat Siwon kembali merasakan jantungnya berdegup lebih kencang dua kali lipat mungkin, dibanding biasanya.

Maka membiarkan berkas-berkasnya tetap berada diatas meja, Siwon lantas keluar dari dalam ruang kerjanya. Melangkah kearah ruang makan dan mulai mendengar ada pembicaraan antara ayahnya dengan Yoona dan melihat ibunya yang juga berada disana, namun tak menunjukkan keterlibatan pada pembicaraan ayahnya..

“Oh, Siwonie..”

Siwon menarik sudut bibirnya untuk tersenyum pada ayahnya yang saat itu menyapanya.

“duduklah Siwon.. Pekerjaan macam apa yang kau bawa pulang dan kau kerjakan hingga membuatmu terlihat kusut seperti itu..”

Ibunya mengungkapkan, dan Siwon langsung memperhatikan dirinya sendiri. Apa yang ibunya katakan mengenai kekusutan dirinya mungkin terlihat dari rambutnya yang berantakan, Siwon menyadari Ia telah berkali-kali menarik, mengacak-acak rambut di kepalanya karna frustasi dengan apa yang dipikirkannya mengenai Yoona.

Yoona..
Teringat akan kekacauan dirinya disebabkan oleh gadis itu,
Siwon kemudian mengarahkan pandangannya pada Yoona. Ayahnya tak terdengar lagi mengatakan sesuatu dan telah menghentikan obrolannya dengan Yoona, dan gadis itu hanya menundukkan wajah setelahnya.

“Ck! Siwon.. Kau tidak mendengar oemma?”

Ny.Choi mendecak, menyadari kemana arah pandangan mata Siwon pada saat itu. Putranya sedang terang-terangan memperhatikan Yoona yang entah mengapa pada saat itu, Ny.Choi menempatkannya untuk duduk disebelahnya dan bukannya seperti sebelumnya dimana Yoona akan duduk disamping Siwon. Mungkin wanita itu sedang mencegah terjadinya kontak fisik antara keduanya, yang tidak diketahuinya.

Namun bila mengetahui Siwon tak lepas memperhatikan Yoona, Ny.Choi merasakan percuma saja Ia menempatkan gadis itu untuk duduk disebelahnya, dan menjauhkannya dari jangkauan tangan Siwon saat makan malam itu. Karna dimanapun Yoona berada, Siwon akan tetaplah memperhatikannya.

“Siwon..!”

Ny.Choi merasa tak digubris oleh putranya. Dengan kesal ia menjatuhkan sebuah sendok, dan membuat benda itu mendenting saat terjatuh, hingga kemudian menarik perhatian Siwon untuk menatap kearahnya.

“Ada apa oemma?”

“Kau tidak mendengar apa yang oemma tanyakan..?”

“euh.. Aku dengar oemma, tentu saja aku membawa pekerjaan kantor”

Ny.Choi tak cukup puas dengan jawaban yang diberikan oleh Siwon, tapi apa yang bisa dilakukannya. Siwon sudah kembali mengarahkan tatapannya kearah Yoona yang masih juga tak mengarahkan pandangan matanya kearahnya.

Yoona masih tertunduk, mungkin sedang memilin jemarinya diatas pangkuannya..

Dalam hati Siwon mempertanyakan, apa yang mungkin sedang dipikirkan oleh Yoona setelah apa yang pada siang tadi dikatakannya?

Oh tentu saja..
Gadis itu akan semakin menanamkan pemikiran dalam kepalanya, bila dirinya adalah seorang bajingan..

Sial..
Mendadak Siwon merasakan keinginan untuk membuat Yoona tidak memberikan penilaian pada dirinya sebagai seorang bajingan.

Sebenarnya yang dirasakan oleh Yoona pada saat itu adalah takut. Takut apakah dirinya akan sanggup menghadapi sikap Siwon yang seperti itu terhadapnya.
Sikap yang sesungguhnya masihlah susah untuk dimengerti olehnya. Siwon menunjukkan padanya sikapnya yang seringkali berubah-ubah dan membuat Yoona tak dapat menerka ataupun memprediksi dan tak tahu pasti apa yang selanjutnya akan dilakukan pria itu. Yang
Yoona tahu Siwon juga tidak menginginkan bertunangan dengannya, tapi pria itu melakukannya hanya dengan mengatakan alasan tak ingin mempermalukan kedua orangtua nya dan membuat Yoona bertanggung jawab atas aksinya mencium Siwon hingga membuat pria itu bereaksi lebih.

“Sebaiknya kita mulai saja makan malamnya.. Aku sudah lapar. Ahjumma..”

Tn.Choi mengubah topik dan menyadari sang istri mendengus kesal kearahnya, namun kekesalan itu masihlah belum membuatnya melupakan apa yang seharusnya Ia lakukan. Ny.Choi tetaplah melakukan tugasnya sebagai seorang istri dengan kemudian menyendokkan nasi dan mengambil beberapa lauk makanan dari atas meja. Biasanya Ny.Choi akan melakukan hal yang sama pada Siwon. Namun nampaknya Ia masih terlalu kesal untuk melakukannya.

Baru saja Ny.Choi berniat untuk mengambil makanan untuk dirinya sendiri ketika kemudian ahjumma Lee muncul dan menghampiri tempat duduknya..

“Nyonya, maaf mengganggu anda.. Tapi seorang teman anda menelpon dan menginginkan untuk berbicara dengan anda..”

“Siapa ahjumma?”

“Ny.Kim..”

“Kim Tae Hee maksudnya?”

Ahjumma Lee mengangguk..

“Katakan padanya aku sedang tidak berada dirumah..”

Tn.Choi mengerutkan dahi dan Siwon juga langsung mengarahkan tatapannya pada sang ibu, begitupun dengan Yoona. Ketiganya jelas menginginkan untuk tahu mengapa wanita itu meminta ahjumma Lee untuk mengatakan kebohongan mengenai keberadaannya pada sang teman.

“Maaf Nyonya.. Tapi saya sudah terlanjur mengatakan keberadaan anda dirumah. Saya pikir ada sesuatu yang penting yang akan dibicarakan dengan anda..”

ahjumma Lee sedikit membungkuk dan beralih. Ny.Choi lantas mendengus dan meletakkan sumpit ditangannya..

“ada apa sih wanita itu menghubungiku..?”

Ny.Choi berdiri dari duduknya dengan menggumamkan gerutuan dibibirnya.

“kenapa yeobo..?”

“tidak apa-apa yeobo, teruskanlah makan kalian, aku akan mengurus wanita itu terlebih dulu..”

Jelas terlihat bila Ny.Choi tak terlalu senang terhadap telpon dari seorang wanita yang menghubunginya. Terlebih untuk berbicara lagi dengan seseorang itu, wanita bermarga Kim yang menghubunginya itu adalah salah satu dari beberapa temannya yang membuatnya kesal dengan terus membicarakan dan mempertanyakan mengenai Yoona, disiang hari tadi saat janji makan siang yang kemudian ditinggalkannya.

“yobseyo..”

Ny.Choi memulai dengan sapaan yang terdengar datar dan sama sekali tidak antusias. Mendengar wanita itu mengoceh melalui sambungan telponnya. Mengatakan bahwa sesaat setelah Ny.Choi meninggalkan acara makan siang bersama tadi, Ibu Jessica muncul, datang dengan mengajak sang putri bersamanya.
Jelas tersirat niatan dari wanita itu yang sedang memancingnya untuk membicarakan Yoona dan lantas membandingkannya dengan Jessica.

Ny.Choi sadar, Yoona masih tidak sebanding dengan Jessica..

“Kau pikir aku pergi karna menghindar untuk bertemu dengan mereka? Aku bahkan tidak mengetahui kalian juga mengundangnya..”

Ny.Choi sudah merasakan kekesalan pada saat itu..

“beberapa orang dari kami mengira seperti itu, kau juga tahu kan kami sempat percaya jika kalian akan berbesanan dengan Jessica yang menjadi tunangan putramu.. Dan bukan gadis…”

wanita itu menghentikan ucapannya..

“tapi percayalah.. Aku bukan seseorang itu yang berpikiran semacam itu terhadapmu..”

Ny.Choi sama sekali tak berpikir akan mempercayai omongan sang teman. Ia tahu pasti seperti apa karakter dari wanita itu. Seseorang yang gemar bergosip..

“Kau menghubungiku hanya untuk menyampaikan hal tidak penting seperti ini?”

“Oh, tentu saja tidak.. Aku ingin mengundangmu pada acara amal yang diselenggarakan suamiku. Dan..emm, bisakah kau mengajak tunangan putramu?”

“apa maksudmu?”

“tentu saja kau harus memperkenalkannya pada kami bukan? Kau begitu saja pergi pada acara setelah pertunangan putramu.. Gadis itu tentu harus diperkenalkan dengan lingkungan barunya. emm.. Kau tidak sedang mencoba untuk menyembunyikan gadis itu dengan statusnya sebagai tunangan putramu kan?”

Ny.Choi menahan geraman kekesalannya atas tuduhan menyembunyikan tunangan putranya, yang dikatakan wanita itu terhadapnya..

“bagaimana? Kau akan datang?”

“Aku akan memikirkannya..”

“Oh, katakanlah kau akan datang.. Aku benar-benar mengharapkan kehadiranmu. Semua diantara kita tahu, bahwa kau salah satu yang sering beramal dan tentu saja dengan jumlah yang besar. Kau tentu tidak akan melewatkan acara semacam ini hanya karna aku memintamu untuk membawa tunangan Siwon..”

Wanita itu benar-benar bermulut besar..
Ny.Choi menggumam didalam hati. Dan menyesalkan mengapa dirinya bisa berteman dengan wanita itu.

“Aku juga akan mengajak Taeyeon, putriku..”

Ny.Choi teringat ketika dirinya juga pernah berniat untuk menjodohkan Siwon dengan putri dari wanita itu. Wanita itu memiliki seorang putri berwajah cantik dan manis, Ia takkan mengingkari hal itu. Namun pada saat itu Siwon terus beralasan dan pada akhirnya menolak.

Dan sekarang sepertinya Ny.Choi mensyukuri penolakan Siwon. Ia pasti akan menyesalkan bila Siwon memiliki seorang ibu mertua yang menyebalkan menurutnya, seperti wanita itu..

“Ayolah.. Katakan padaku kau akan datang..”

Ny.Choi menghela napas sebelum memberikan jawaban..

“baiklah..”

“bersama gadis itu kan? Tunangan putramu..?”

“hm, aku akan membawanya bersamaku..”

Wanita itu memekik senang dan Ny.Choi sama sekali tak mengerti ada maksud apa dibalik kesenangan wanita itu hanya karna dirinya mengatakan akan datang dengan membawa Yoona bersamanya.

Tak menunggu wanita itu mengakhiri pembicaraan, Ny.Choi telah menutup telpon lebih dulu dan langsung kembali ke ruang makan.

“Kau sudah selesai dengan temanmu itu?”

Ny.Choi hanya mengangguk kearah sang suami dan kembali menduduki kursinya meski rasanya Ia takkan bisa meneruskan untuk makan pada malam itu..

“Aku sudah selesai, aku akan kembali berada diruang kerja..”

Siwon mendorong piring makannya dan menyisakan banyak makanan yang belum ia sentuh diatasnya.

“Ada apa denganmu? Kau tidak memakan makananmu, Siwonie..”

Ny.Choi mencegah, namun sesaat setelahnya menatap pada Yoona dan memberikan tatapan mencurigai padanya. Gadis itu juga tidak menikmati makanannya dan mungkin dia memiliki janji dengan Siwon setelahnya. Jelas Ia tidak akan membiarkannya..

“Aku masih memiliki pekerjaan yang harus aku selesaikan, oemma..”

“Masuklah kedalam kamarmu, Siwon.. Kau lebih baik tidur. Yeobo, biarkan dia beristirahat.. Kau bisa menggantikan Siwon menyelesaikan pekerjaannya kan?”

Tn.Choi mengannguk..

“Aku perlu berbicara dengan Yoona, Aku akan mengajaknya pada acara amal besok..”

Yoona langsung mengarahkan tatapannya pada Ibu Siwon yang berada disebelahnya. Wanita itu mengacuhkan dan tidak memandang kearahnya..

“Oh, itu terdengar bagus yeobo..”

Tn.Choi tersenyum, terlihat senang dan menyambut baik niatan sang istri..

“Kau memang perlu untuk memperkenalkan Yoona, dia calon menantu kita..”

“Oemma yakin akan mengajak Yoona?”

Siwon mempertanyakan, sedikit menahan keinginannya untuk kembali ke ruang kerjanya, seperti yang telah dikatakannya.

“Ya.. Kenapa? Kau keberatan..? Kau memiliki rencana untuk tidak datang kekantor besok dan menghabiskan waktumu dengannya. Jangan harap kau bisa melakukannya.. Oemma tidak akan membiarkan kalian..”

Siwon berdiri dari duduknya dan tidak menanggapi tuduhan yang dilontarkan ibunya yang menjadi terus berpikiran buruk terhadapnya. Percuma, ibunya tidak akan mempercayainya..

“lakukan apa yang oemma inginkan..”

Siwon beranjak, namun sesaat Ia tertahan oleh tatapan Yoona yang tiba-tiba bertemu dengan tatapannya.

Jantungnya kembali berdegub kencang, sepertinya sedang bekerja keras untuk memompa darah yang mengalir ditubuhnya atau sebenarnya itu efek dari tatapan mata Yoona.
Gadis itu biasanya memiliki tatapan berkilat-kilat marah seperti pada pandangan pertama ia melihatnya. Namun saat itu, Siwon menemukan sinaran lain dari kedua mata bening itu. Keluguan dan kepolosan khas gadis yang masih berada dikisaran umur belasan..

Sial..
Setelah bibir merah jambunya yang memikat.
Apa kini ia juga mulai terpikat oleh mata gadis itu..?

Oh Tuhan..
Pemikiran macam apa ini..

“Ayo kita tinggalkan mereka.. Biarkan ibumu mengatur rencananya bersama dengan Yoona untuk besok. Sebelum beristirahat, terlebih dulu Kau perlu menunjukkan padaku apa yang bisa kukerjakan untuk membantumu..”

Tn.Choi menepuk bahu Siwon dan melangkah lebih dulu. Siwon pun kemudian mengikutinya dan meninggalkan Ibunya bersama dengan Yoona disana.

***

Pada pagi hari ketika alarm yang berada disampingnya berbunyi dengan suara nyaring seakan ingin merobekkan gendang telinganya dan mampu untuk membangunkan semua orang dirumah itu, Yoona mengerang dan langsung mematikannya untuk selanjutnya menjauhkannya.

Ia baru bisa tidur pada sekitar pukul empat pagi dan harus terbangun pada saat jarum jam itu bergerak diangka tujuh. Nyaris, Yoona hanya mendapatkan tiga jam waktu istirahatnya.

“Yoona..! Im Yoona.. Kau sudah bangun? Yoona..!”

mendengar suara ibu Siwon menyertai ketukan pada pintu kamarnya, Yoona dengan cepat membuka matanya. Melompat turun dari atas tempat tidur dan langsung berjalan kearah pintu untuk membuka kunciannya..

“Kau baru bangun saat aku membangunkanmu..? Astaga..!”

“omonim..”

Ny.Choi tak menggubris dan langsung masuk kedalam kamarnya.

“Kau tidak lupa kau harus ikut denganku kan? Kita harus bersiap Yoona..!”

“omonim.. Maafkan aku..”

Yoona merasa tidak mungkin untuk mengatakan pada ibu Siwon jika dirinya baru bisa tertidur pada saat fajar bersiap menyingsing. Wanita itu pasti hanya akan semakin memarahinya atau parahnya akan melemparkan tuduhan-tuduhan terhadapnya dan menghubungkannya dengan Siwon. 

Maka yang kemudian bisa Yoona lakukan saat itu adalah mengikuti Ny.Choi yang masuk kedalam kamarnya. Ibu Siwon itu sudah terlihat rapi dan cantik dengan setelah yang dikenakannya. Ia langsung menuju pada lemari pakaian Yoona, membukanya, dan mendecakkan lidah sambil menggelengkan kepalanya. Miris melihat isi didalamnya.

“Hanya ini yang kau punya?”

Yoona menggigit bibir bawahnya dan menganggukkan kepala pada Ny.Choi yang sedang memandangnya penuh keprihatinan..

Oh dear..

“bagaimana seorang gadis yang bahkan masih seusiamu tak memiliki sebuah pakaian yang layak..”

tolak ukur ke-layak-an dimata Ny.Choi jelaslah berbeda dengan yang menurut Yoona. Bagi Yoona apa yang dimilikinya, pakaiannya sudahlah cukup pantas dan layak untuk dikenakannya pada saat dirinya berada dilingkungannya. Tapi Ia juga menyadari saat berada dirumah Siwon, apa yang dimilikinya jelaslah menjadi tidak layak.

Ny.Choi mendesah melihat hanya ada sebuah gaun yang menurutnya bisa untuk disebut pantas untuk dikenakan, yang tergantung didalam lemari itu. Yang pasti takkan mungkin Ia menyuruh Yoona untuk kembali mengenakannya. Gaun itu membuat Ny.Choi teringat akan malam penuh kemarahan menjengkelkan yang pernah Ia rasakan sepanjang hidupnya. Dan apa yang nanti akan dikatakan oleh teman-temannya bila melihat tunangan putranya mengenakan gaun yang sama, mereka jelas akan mencemooh dirinya habis-habisan. Ny.Choi bergidik membayangkannya..

Gaun berwarna kuning pucat yang dikenakan Yoona pada malam itu, juga membuatnya teringat pada malam yang menjebak dirinya untuk masuk kedalam situasi yang sekarang ini dirasakannya. Malam pertunangan dadakannya dengan Siwon yang dirasakan Yoona menjadi awal terjungkir balik nya kehidupannya.

Ny.Choi kembali menutup lemari pakaian itu dan beranjak dari sana, berpikir apa yang kemudian akan dilakukannya. Jika dirinya membatalkan untuk mengajak Yoona menghadiri acara amal sesuai undangan salah seorang temannya, jelas Ia tahu pasti dirinya kemudian hanya akan kembali menjadi bahan pembicaraan disana dan bahkan menjadi bahan olok-olokan teman-temannya. Jelas Ny.Choi tidak menginginkannya..

“mandilah terlebih dulu.. Aku yang akan mengurus pakaianmu..”

Yoona mendesah dengan perintah yang diucapkan Ny.Choi sesaat sebelum keluar dari kamarnya dan meninggalkannya disana. Sekali lagi, Yoona menurut. Dengan enggan Ia memasuki kamar mandi dan melakukan beberapa menit untuk membersihkan tubuhnya.

Pada sekitar lima belas menit setelahnya, Yoona keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya memakai handuk kimono yang menutupi tubuhnya, Ia melihat Ny.Choi yang telah kembali berada dikamarnya. Dan mendapati sebuah gaun yang sewarna dengan bunga tulip berada diatas tempat tidurnya. Ia tidak akan berani bertanya dari mana ibu Siwon bisa mendapatkannya dalam waktu singkat..

“Omonim..”

“Kau bisa memakai itu dan beri sedikit riasan pada wajahmu..”

Ny.Choi sudah akan kembali meninggalkannya ketika kemudian Yoona menahan lengannya..

“omonim..”

takut-takut untuk berbicara, Yoona kembali menggigit bibir bawahnya..

“omonim..”

“katakan Yoona.. Apa yang kau ingin katakan padaku?”

“omonim.. Aku, emm.. Aku tak tahu bagaimana cara merias wajahku..”

Ny.Choi melebarkan mata kearahnya, membuat Yoona merasakan perasaan malu pada pengakuannya. Karna sejujurnya Ia memang jarang sekali melakukan riasan terhadap wajahnya. Terlebih semenjak kondisi Yuri yang terpuruk, tak ada lagi yang memperhatikan tampilannya..

“Aigoo.. Bagaimana bisa kau disebut seorang gadis..”

Ny.Choi menyingkirkan tangan Yoona yang memegangi lengannya.

“Pakai dulu pakaianmu, aku akan mengambilkan peralatan rias milikku..”

Yoona tak menyangka, Ibu Siwon akan melakukan itu. Wanita itu keluar dari dalam kamarnya dan membiarkan Yoona untuk terlebih dulu mengenakan pakaian yang dibawakannya.

“Kau terlihat begitu sibuk, yeobo..”

Tn.Choi berkomentar setelah melihat sang istri yang bolak-balik, naik turun tangga dari kamar Yoona. Dan Ny.Choi mendesah mendengarnya..

“Aku harus mengurus gadis itu..”

“Sepertinya Yoona begitu menyita perhatianmu..”

Tn.Choi menutup lembaran surat kabar yang dibacanya dan tersenyum pada sang istri yang memutar mata kearahnya.

“dia gadis yang benar-benar buruk..”

“Dia hanya perlu sentuhan tanganmu..”

Tn.Choi mendekat, merengkuh bahu sang istri dan kembali menunjukkan senyum kearahnya..

“Aku masih tak mengerti bagaimana bisa Siwon menyukainya..”

“Siwon pastilah melihat sisi lain yang belum kau lihat dari gadis itu.. Yoona gadis yang lugu, dia polos dan pasti tak meminta macam-macam dari Siwon”

“Dia liar, yeobo..!”

“Aku memaklumi itu.. Yoona tak mendapatkan perhatian dari orangtua nya dan sang kakak, Dia pasti sedang bekerja keras diluar negri. Yoona gadis yang malang, dia kekurangan kasih sayang.. Untuk itu aku memintamu agar tidak terlalu keras terhadapnya”

“bagaimana aku bisa bersikap lunak padanya, bila sikapnya selalu membuat darahku mendidih..”

Tn.Choi justru tergelak mendengar perumpamaan sang istri, yang lantas dengan kesal meninggalkannya dengan membawa kotak berisi peralatan rias ditangannya.

Ny.Choi kembali menaiki puluhan anak tangga kearah kamar Yoona. Memasuki kamar itu dan melihat Yoona telah mengenakan gaun pemberiannya dan tengah menyisir rambutnya. Saat Yoona menoleh kearahnya, untuk sesaat Ia dibuat terpaku dengan kepolosan wajahnya. Yoona terlihat cantik saat itu. Gaun sewarna bunga tulip yang adalah gaun lama miliknya, terlihat cocok dan pas memeluk tubuh rampingnya.

“omonim..”

“euh.. Kau sudah selesai?”

Yoona mengangguk..
Ny.Choi lantas mendekat, mendudukkan tubuh Yoona pada kursi meja rias dan memulai memberikan riasan diwajahnya.
Menyapukan bedak, menambahkan sedikit perona pipi dan juga memberikan lipstik pada bibir Yoona. Ny.Choi merasa tak perlu menambahkan banyak polesan, kecuali pada seputaran mata Yoona yang menghitam. Yoona sudah mengesankan kecantikan naturalnya.

“Kau pasti kurang tidur kan?”

“nde?”

“Kau akan terlihat cantik jika tidak memiliki lingkaran hitam seperti ini dimatamu.. Jika aku melihatnya lagi dilain waktu, aku akan memarahimu.. Gunakanlah waktu tidur dengan baik, itu bisa untuk menjaga kesehatan kulitmu”

Ny.Choi menggumam dalam hati, tak menyangka dirinya akan mengatakan hal itu pada Yoona, terlebih menyebutnya dengan sebutan cantik meski hanya didalam hatinya saja.

Tak lama setelah selesai memoles wajah Yoona, keduanya keluar dan menuruni tangga dengan bersamaan, yang langsung disambut dengan tepukan tangan dan decak kekaguman dari Tn.Choi..

“Aigoo.. Aku melihat dua wanita cantik berada dirumahku.. Ini sungguh pagi yang indah..”

ketika itu pun Siwon baru saja membuka pintu kamarnya, bersiap untuk sarapan dan selanjutnya berangkat kekantor seperti biasanya. Pada saat melihat dan mendengar ayahnya yang menunjukkan pandangan dan suara kekagumannya, Siwon mengikuti arah pandangan itu dan terpaku pada Yoona.

Rambutnya yang tergerai, berkilau dan bergerak dengan ringan seiring dengan langkah kakinya. Langkah-langkah dari kakinya yang bergerak semakin dekat padanya.

Setelah bibir sewarna merah jambu..
Setelah matanya yang indah..
Kini gadis itu memikat dengan kilauan rambutnya.

Sialan..
Siwon membayangkan menyentuh, membelai rambut yang tergerai indah itu dengan menatap kedua mata beningnya, kemudian merasakan bibir yang kini dilihatnya bukan lagi sewarna merah jambu, namun merah dengan sempurna. Merah yang menantang. Mengundang untuknya dapat menciumnya..

Jantungnya kembali berdegup saat itu, dan ia pun menyadari semakin kencangnya debaran dari dalamnya..

Siwon merasa perlu untuk buru-buru pergi dan melarikan diri dari pandangan matanya yang tak lepas dari gadis itu..

“Oemma.. Aku memiliki janji pagi ini. Aku harus pergi.. Aboji aku berangkat..”

Tn.Choi mengangguk menyetujui, namun Ny.Choi langsung bersuara dan berusaha untuk mencegahnya.

“Siwon.. Siwonie..!”

Siwon mengabaikannya, Ia tahu pasti sang ibu hanya akan memprotes karna dirinya melupakan untuk memberikan ciuman padanya.

Siwon sudah memiliki firasat jika dirinya terlalu lama melihat Yoona, pagi itu akan menjadi kacau. Sama kacaunya dengan pada siang hari sebelumnya, dan mungkin akan semakin kacau dibanding semalam. Semalam yang dirasakannya adalah kamarnya dipenuhi dengan bayangan gadis itu, hingga membuatnya mengerang saat tak juga dapat memejamkan matanya dan tidur. Ketika berhasil untuk tidur, gadis itu bahkan hadir didalam mimpinya..

Yoona benar-benar telah mengacaukan dirinya…

***

Donghae menajamkan pandangannya pada sebuah sedan hitam yang melaju didepannya. Ia telah mengikuti mobil itu sejak tadi dan sedang berusaha untuk menghadang dan menghentikan lajunya.

Namun nampaknya sang pengendara memiliki kelincahan dalam mengemudikan kendaraannya, hingga membuat Donghae kesulitan untuk melakukan niatannya.

Baru pada jalanan yang lengang dan hanya beberapa mobil yang melintas, Donghae bisa menyalip dan memberhentikan mobil yang dikendarainya didepan sedan hitam itu. Terdengar bunyi klakson yang berbunyi keras setelahnya, yang seakan menyuarakan kemarahan seorang yang berada dibelakang kemudi mobil itu. Donghae bahkan memastikan seseorang itu sedang mengumpat, atau bahkan menyumpahinya..

“Sialan.. Keluar Kau!!”

Benar saja..
Suara makian itu terdengar saat kemudian Donghae keluar dari dalam mobilnya. Dan melihat seorang wanita yang tengan menatapnya tajam dengan kemarahan menggurat diwajah cantiknya..

“Maaf Nona..”

“Kau sudah gila.. Kau bisa membunuhku..!!”

Donghae menangkap tangan wanita itu yang terayun untuk memberikan tamparan diwajahnya.

“Uh, Kau harus tenang nona..”

“Sialan.. Brengsek Kau..! Apa maumu..?”

Suaranya mendesis marah. Namun tak sedikitpun membuat Donghae mundur, Ia justru menunjukkan senyum pada wanita itu..

“Kuharap kau akan mendengarkan ku.. Aku memiliki tawaran menarik untukmu, Jessica..”

Wanita itu yang adalah Jessica, melebarkan mata. Terkejut dengan siapa sesungguhnya pria itu dan apa yang dikatakannya..

Namun beberapa saat setelah mendengar Donghae mengatakan memiliki tawaran untukknya, sesaat justru membuat Jessica tergelak. Bukan karna apa, melainkan sebagai bentuk cibiran pada pria berkacamata hitam itu yang kini berada dihadapannya, yang beberapa saat lalu sudah hampir membuatnya celaka ditengah jalan raya.

Siapa dia?
Dan apa yang ditawarkannya jelas sangat tak membuatnya tertarik saat itu.

Sica hanya mendecakkan lidah sebagai respon dan tanpa bersuara lagi ia membalikkan tubuhnya. Berniat untuk menjauhi Donghae yang menurutnya adalah seorang pria sakit jiwa. Tak ada gunanya bila dirinya berada disana dan meladeni omongannya.

Namun saat kakinya mulai melangkah, pergelangan tangannya merasakan tarikan dari sebuah tangan yang mencengkram, menahannya.

Membalikkan tubuhnya, matanya kini bertatapan dengan Donghae. Melalui tatapan matanya itu, Sica jelas sedang menegaskan ketidak senangannya terhadap apa yang saat itu dilakukan oleh Donghae yang dirasa telah mengganggunya.

“Tunggu dulu nona.. Kau bahkan belum mendengar tawaranku..”

“Apa yang kau tawarkan jelaslah bukan sesuatu yang menarik untukku.. Maka simpan penawaran itu dalam kepalamu! Brengsek..!”

Kemarahan mendesis dalam nada suaranya.

Ketika Sica menyentak pergelangan tangannya, Donghae lantas melepas kacamata hitam yang sebagian menutupi wajahnya.

Sica sudah akan beralih. Namun kesadarannya akan sosok Donghae untuk sesaat menahan niatannya untuk melakukan itu.

“Kau..?”

“senang anda mengenaliku, nona..”

Senyuman memikat yang Donghae tunjukkan jelas tak mempengaruhi wanita cantik dihadapannya.

“Sialan.. Untuk apa si bajingan itu mengirimmu padaku. Katakan pada Siwon aku tidak tertarik..!”

Sica justru merasakan amarah mendidih dalam darahnya menyadari Donghae sebagai salah satu orang yang berada disekitar Siwon. Dan menganggap apa yang ditawarkan pria itu pastilah berdasar dari suruhan Siwon.

“Aku tidak akan lagi berurusan dengan bajingan sepertinya..! Sampaikan itu padanya!!”

Membawa kemarahan mengalir dalam darahnya, Sica meninggalkan Donghae disana dengan kembali memasuki sedan hitam miliknya.

Didalam mobilnya, Sica mendapati ponselnya berdering. Panggilan dari ibunya.

“ne umma..”

“dimana kau?”

“sedikit gangguan dijalan.. Aku akan sampai setidaknya dalam lima belas menit. Tidak perlu khawatir..”

Menutup ponsel, Sica dengan cepat melajukan mobilnya. Suara laju nya menderu seakan membelah jalanan yang dilaluinya.

“Sialan..!”

Melihat hal itu, Donghae menggeram kesal. Sica jelas telah salah mengartikan maksudnya. Ia datang bukan karna membawa tawaran dari Siwon, melainkan memiliki tawarannya sendiri.

***

Bagaimana dengan Yoona?
Bagaimana dengannya yang harus mengikuti Ibu Siwon menghadiri acara amal yang sebelumnya dirinya sama sekali tak pernah berada dalam acara yang semacam itu.

Gugup dan tegang, seperti itulah apa yang dirasakan oleh Yoona ketika memasuki tempat berlangsungnya acara amal itu. Meski sepanjang perjalanan menuju ketempat itu, Ny.Choi telah mengatakan setidaknya apa saja yang harus dilakukannya selama berada dalam acara, bahkan sudah sejak semalam hal itu telah dijelaskan oleh Ny.Choi pada Yoona. Tetap saja, berada diantara banyak nya orang yang sama sekali tak dikenalnya membuat kegugupan itu semakin nyata tergurat di wajah Yoona. Yoona hanya mengekor dibelakang Ny.Choi, mengikuti langkahnya.

Tangannya berkeringat dingin, ketika beberapa wanita paruh baya yang disebutkan Ny.Choi dengan berbisik sebagai teman-temannya, mulai mendekatinya..

“Aigoo.. Akhirnya kau datang.. Senang melihatmu disini..”

Yoona memperhatikan bagaimana Ny.Choi tersenyum tanggung, menyambut sapaan dari wanita yang telah mengundangnya. Salah satu wanita paruh baya yang cantik dengan tentengan tas mahal ditangannya. Hanya dengan melihat kedua wanita itu, Yoona menyimpulkan sendiri dalam kepalanya, rasanya sedikit tak pantas menyebut acara yang saat itu dihadirinya sebagai acara amal, melainkan Ia langsung menggantinya sebagai ajang pamer kekayaan. Yoona meyakini bila mereka mengeluarkan sejumlah uang besar untuk beramal, semata hanya demi gengsi dan harga diri.

Tidakkah itu terdengar sentimentil..
Biarkanlah, itu memang yang ada dalam pemikirannya.

Setelah terjadi sapaan basa-basi diantara Ibu Siwon dan beberapa temannya yang lain, mereka mulai atau sebenarnya telah sedari tadi mengarahkan perhatian pada Yoona. Tatapan mereka menyelidik, meneliti wajah dan apa yang pada saat itu dikenakannya. untuk pertama kalinya Ia membiarkan orang-orang itu menilainya.

Biasa..
Kata itu seakan sedang Yoona baca dari tatapan mata mereka. Tidak dengan tas mahal. Tidak ada pula kilauan berlian yang melekat ditubuhnya.

Segalanya telah menunjukkan dari kalangan mana dirinya berasal..

“Oh, inikah gadis beruntung itu?”

Wanita bermarga Kim itu memulai, Ny.Choi lantas menggeser tubuhnya dan menarik Yoona yang sebelumnya berada dibelakangnya, agar sedikit lebih maju dan berada tepat disampingnya.

“Sedikit lebih baik bila dibandingkan dengan malam pertunangan itu. emm.. Malam itu dia terlihat…”

“Perkenalkan dirimu, Yoona ya..”

Ny.Choi menghentikan apa yang Ia yakin akan dikatakan wanita itu adalah cemoohan untuk Yoona. Dengan segera ia tersenyum pada Yoona, menekan kejengkelannya pada sang teman agar tak meluap dan berakhir dengan sindiran sarkartis, Ny.Choi meminta Yoona dengan suara lembut agar memperkenalkan dirinya.

Maka dengan menunjukkan senyum yang sama kearah Ny.Choi, Yoona lantas memperkenalkan dirinya kepada beberapa wanita paruh baya dihadapannya.

Respon yang langsung diterimanya adalah beberapa diantara mereka saling berbisik, mungkin sedang bertukar penilaian tentang dirinya. Dan beberapa yang lain langsung melontarkan berbagai macam pertanyaan mengenai bagaimana dirinya bertemu dengan Siwon dan apa yang telah dilakukannya hingga mampu memikat putra satu-satunya dari keluarga Choi. Terang-terangan mereka menanyakan meski Ny.Choi dengan jelas dapat mendengarnya.

Yoona tak menjawab kecuali tersenyum. Senyum yang dibuatnya seolah menunjukkan bahwa dirinya malu untuk menceritakan apa yang telah dilakukan untuk menarik hati Siwon. Padahal yang sebenarnya adalah Yoona sama sekali tak memiliki jawaban untuk itu. Ia mengetahui dengan pasti tak ada yang sedang terpikat dengan dirinya. Semua hanya sandiwara belaka. Ia bersandiwara, Siwon pun diyakininya juga sedang bersandiwara hanya untuk menempatkannya kedalam situasi yang menyulitkan, karna dirinya adalah penyebab pertunangan yang sesungguhnya harus terjadi namun justru batal.

Satu situasi yang cukup bisa Ia atasi, membuat Yoona lega. Namun tak berlangsung lama, sampai kemudian seorang wanita muda yang dikenalinya hadir disana dengan seorang wanita muda lainnya dan juga seorang wanita paruh baya yang terlihat mirip dengan wanita muda yang dikenalinya sebagai calon tunangan Siwon yang batal.

Jessica berada tak jauh darinya, bersama sang ibu dan menatapnya tajam seakan hendak menelannya..

Oh dear..

“Oh, itu putriku.. Taeyeon ah..”

Ny.Kim begitu wanita itu dikenal sebagai istri dari penyelenggara acara memanggil sang putri yang sedang bersama dengan Jessica dan Ibunya.

“Aku sengaja meminta kalian mengajak gadis-gadis karna Anak muda seperti mereka sudah sewajarnya diperkenalkan dengan acara amal semacam ini kan..”

Ny.Choi mendesah melihatnya, jelas akan terjadi pembandingan yang dilakukan oleh wanita itu dan mungkin teman lainnya, terhadap Taeyeon, Yoona dan pastilah Jessica. Kedua gadis dari keluarga ningrat itu jelas jauh lebih unggul bila dibandingkan dengan Yoona.

Ketika kemudian mereka mendekat, Ibu Jessica memperlihatkan keengganannya untuk bertatapan langsung dengan Ny.Choi. Dia hanya menyapa pada sang empunya acara sebelum kemudian beranjak meninggalkan Jessica bersama Taeyeon, dengan membawa serta amarah dan Kebencian yang masih menggurat diwajahnya. Ia jelas terlihat sebagai wanita berkelas yang tak mungkin berlaku bar-bar ditengah acara. Meski merasa tak cukup hanya dengan memaki melalui telpon, namun Ia juga takkan mungkin menyerang Ny.Choi disana. Hal itu hanya akan mempermalukannya dan menjatuhkan harga dirinya.

Begitupun dengan Sica, gadis itu seakan mengancam dengan hanya menatap penuh kebencian pada Yoona yang kini berada tepat dihadapannya.

Mengetahui ketidak senangan Sica terhadapnya, sebagai bentuk proteksi diri, Yoona kemudian merangkulkan tangannya pada lengan Ny.Choi. Bersyukur, setidaknya ibu Siwon tidak menyingkirkan tangannya.

“Taeyeon ah.. Sica ah, kalian tidak ingin berkenalan dengan gadis belia ini? Dia tunangan Siwon..”

Apa yang didengar Ny.Choi dari apa yang dikatakan sang teman dengan menyebutkan Yoona sebagai gadis belia, dianggap sebagai ejekan. Terlebih hal itu juga tersirat dari senyum tak tulus yang ditunjukkan wanita itu.

“Oh, kurasa aku salah.. Kalian berdua jelas lebih dewasa dibanding dengannya, sebaiknya gadis belia itu yang memperkenalkan dirinya. Siapa namamu tadi..?”

Ny.Kim mengarahkan tatapannya pada Yoona, Yoona sudah akan menjawab namun kemudian Ny.Choi menghentikannya dengan menarik tangan Yoona.

“Tak perlu lagi berbasa-basi.. Yoona pun tak perlu memperkenalkan dirinya. Kurasa mereka sudah mengetahui dia adalah tunangan putraku. Kabar pertunangan mereka telah menyebar bukan? Aku harus permisi, sepertinya suamimu sudah akan memulai acara..”

Ada decak kesal dari wanita itu, namun Ny.Choi mengabaikannya. Ia mengajak Yoona ketengah ruangan, duduk berdampingan pada kursi yang telah disediakan, hingga acara berlangsung.

Setelah penggalangan dana pada acara amal itu usai, mereka yang hadir mendapatkan jamuan makan bersama. Entah oleh karna kegugupan menghadapi tatapan orang-orang yang tak henti mengawasinya atau karna seorang Jessica yang menunjukkan dominasinya diantara para gadis yang hadir, dengan terus berusaha mengintimidasinya, baik dengan ucapan ataupun tatapan tajam kearahnya, Yoona sampai dua kali menjatuhkan peralatan makannya. Membuat Ny.Choi memelototi dirinya. Dan beberapa gadis yang melihat menertawai, diantaranya Jessica dan Taeyeon yang cekikikan karenanya.

Yoona merasa bodoh..
Dan telah mempermalukan ibu Siwon diantara teman-temannya yang ada disana.

“Omonim.. Aku perlu untuk ke toilet sebentar”

Sica melebarkan mata mendengar bagaimana cara Yoona memanggil pada Ny.Choi. Kecemburuan melandanya, seharusnya dirinyalah yang berada diposisi Yoona.
andai pada malam itu gadis itu tidak mengacaukannya.

“hm, cepatlah.. Kita akan pulang setelahnya”

Yoona mengangguk dan kemudian beranjak dari kursi yang didudukinya. Bertanya pada seorang pelayan yang ditemuinya, yang kemudian menunjukkan padanya dimana letak toilet disana.

Yoona bisa merasakan bernapas dengan lega ketika telah berada didalamnya. Sedari tadi Ia seakan menahan napas saat berada dibawah tatapan mata orang-orang yang dengan jelas sedang mencibir dirinya. Andaipun tidak ada Ibu Siwon yang bersamanya, mungkin mereka akan lebih terang-terangan untuk menyuarakan penghinaan terhadapnya. Tak terkecuali Jessica, wanita itu kerap kali melontarkan kata-kata tajam, berupa sindiran yang sudah pasti ditujukan untuknya.

Mendadak, Yoona merasakan kedua matanya memanas. Kesedihan menelusup, Ia sangat ingin menangis saat itu.
Tertekan oleh keadaan disekitarnya. Tempat itu bukanlah tempatnya. Ia tidak cocok berada disana. Diantara orang-orang kaya sombong itu, yang memandang mereka yang lain hanya dari apa yang mereka miliki, dari seberapa banyak perhiasan yang menempel ditubuhnya.

Menghirup dan menghembuskan napasnya berkali-kali sambil menatap dirinya pada cermin yang berada didalam toilet itu, Yoona berbicara pada dirinya sendiri. Berusaha untuk menguatkan hatinya. Hari itu pasti akan kembali bisa dilaluinya.

“Apa kau sedang menyadari ketidak pantasanmu berada disini..”

Tak perlu membalikkan tubuhnya, dari cermin yang berada dihadapannya, Yoona sudah bisa mengetahui siapa yang saat itu bersuara dibelakangnya. Jessica, wanita itu melangkah angkuh mendekatinya.

“Tidak ada seorangpun wanita jalang disini..”

Yoona membalikkan tubuhnya, berniat untuk keluar dari dalam toilet itu namun Sica dengan jelas menghadang dengan berdiri didepannya.

“Sangat tidak pantas.. Kau masih memakai sebuah gaun tua?”

Sica mencibir pada apa yang saat itu dikenakannya. Dibandingkan dengan tampilannya yang wah, dengan satu set berlian yang berkilau ditubuhnya, apa yang dikenakan oleh Yoona jelaslah tidak ada apa-apa nya.

“Ini gaun milik Ibu Siwon, milik Ibu tunanganku..”

Dengan sengaja Yoona menegaskan. Bertujuan untuk memanas-manasi wanita itu. Sudah cukup Ia menahan kekesalannya tadi. Saat Sica menyebutnya jalang, Ia merasa wanita itu telah melewati batas.

“Aku menghargai pemberiannya dan dengan senang hati mengenakannya. Omonim bahkan memujiku cantik. Gaun Ini tidak buruk.. Setidaknya tidak terlalu buruk dibanding dengan kelakuan gadis ningrat sepertimu. Sikapmu jauh lebih tidak pantas, nona..!”

“Kurang ajar..!!”

Jessica meradang mendengar apa yang dikatakan Yoona. Ia dengan cepat menyiramkan segelas anggur merah ditangannya kearah wajah Yoona. Membuat Yoona cukup terkesiap. Gaun sewarna bunga tulip yang dikenakannya, kini bernoda merah dibagian depannya.

Wanita itu membawa segelas anggur kedalam toilet..
Jelas dia telah merencanakan hal itu dalam kepalanya.

“Tutup mulutmu..! Wanita murahan sepertimu tidak berhak menilai sikapku.. Aku memiliki sebab atas apa yang kulakukan. Kau jalang yang telah merebut tunanganku! Sialan..”

Sica telah mengangkat tangannya, bersiap untuk memberikan tamparan pada Yoona, namun tak disangka olehnya bila kemudian Yoona bergerak menangkap tangannya..

“Jika seorang pria tidak menginginkanmu.. Kau tidak berhak menyalahkan wanita lain yang diinginkannya.. Siwon menginginkanku dan bukan kau!!”

Statusnya sebagai tunangan Siwon, sedikit banyak menguntungkan bagi Yoona untuk mengatakan apapun yang ingin dikatakannya pada Jessica. Dan membuat wanita itu merasakan kekesalan yang sama seperti yang telah dirasakannya.

“Siwon menginginkanku.. Dia jelas menginginkan ku untuk bertunangan dengannya.. Tapi kau mengacaukannya! Malam itu kau pasti telah menggodanya..”

“bukan hanya malam itu yang kumiliki bersama dengan Siwon.. Kau lupa jika Aku sekretarisnya? Aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan Siwon didalam kantornya..”

Yoona seakan tak perduli dengan apa yang baru dikatakannya pada Sica. wanita itu sudah menilainya buruk sejak dia memergokinya berada dibawah tubuh Siwon yang menindihnya. Maka Ia tak lagi memperdulikan bagaimana Sica akan melihatnya setelah itu.

“dan seharusnya kau bersyukur karna kejadian itu pertunangan kalian batal. Bukan aku tak kasihan padamu.. Hanya saja, Kau pasti akan jauh lebih kecewa bila setelah pertunangan kalian Siwon masih terus mencariku, dan berselingkuh dibelakangmu. Kebanyakan pria menyukai gadis yang lebih muda kan? yang hanya memberinya kepuasan, kenikmatan dan tidak menuntutnya macam-macam. Seorang pria seperti Siwon tidak suka dikekang, apalagi terikat oleh suatu hubungan..”

Yoona menunjukkan senyum mengejek dihadapan Sica. Ia sendiri tak mengerti darimana kalimat yang dengan lancar terucap dari bibirnya itu berasal. Ingin menunjukkan bahwa dirinya bukanlah seseorang yang bisa untuk diremehkan mungkinlah yang menjadi penyebab dengan mudah kalimat itu terangkai hingga terucap dengan lantang.

“Kau perlu menyadari jika Siwon menyetujui pertunangan itu hanya karna bisnis. Siwon bukan menginginkanmu melainkan menginginkan pertunangan bisnis keluarga kalian..”

Merasa telah cukup untuk mengatakan hal yang bisa untuk menyakiti wanita itu, Yoona memutuskan untuk meninggalkannya disana, namun selangkah Ia melewati tubuh Sica, wanita itu menarik rambutnya, membuat Yoona menjerit merasakan sakit pada kulit kepalanya akibat tarikan kuat yang dilakukan Sica pada rambutnya.

“Dasar jalang sialan..!”

Sica mengamuk, seakan telah kehilangan darah yang mengalir ditubuhnya sebagai wanita ningrat yang pantang berlaku onar apalagi bertindak anarkis. Apa yang dikatakan Yoona menyulut emosinya semakin naik.

“Kau lah yang sialan.. Kau hanyalah bekas calon tunangan..!”

Yoona membalas dan keributan tak terelakkan terjadi. Suara jerit menjerit terdengar ketika Yoona tak tinggal diam dan pasrah, namun membalas perlakukan Sica dengan sama menjambak rambutnya.

Sontak suara dari dalam toilet itu menarik perhatian orang-orang yang mendengarnya, terlebih seorang pelayan berlarian memberitahukan sedang terjadi keributan disana.

Ny.Choi langsung teringat bila Yoona berada didalam toilet itu. Dan mungkinkah..?
Astaga..

Dengan cepat kemudian Ny.Choi mencoba mencari tahu, melihat apa yang terjadi didalam toilet itu. Bukan hanya Ny.Choi saja yang dibuat penasaran dengan keributan macam apa yang telah menimbulkan suara jerit menjerit itu terdengar kencang.

“IM YOONA.. ASTAGA..!!”

Ny.Choi memekik, mendapati dua orang yang sama-sama bergulingan dilantai sambil tarik menarik rambut itu, salah satunya adalah Yoona.

“Apa yang kau lakukan! Ya Tuhan.. Kenapa kau tak bisa menjaga kelakuanmu..!”

Segera Ny.Choi menghentikan perkelahian yang menjadi tontonan gratis teman-temannya itu dengan menarik tangan Yoona hingga kemudian berdiri disampingnya.

“Omonim..”

dengan napasnya yang masih menderu tak teratur, Yoona menangkap nyata kemarahan dari Ny.Choi atas apa yang baru saja terjadi.

Sica juga lantas berdiri, dengan rambut pirangnya yang acak-acakan, Ia menatap Yoona dengan penuh kemarahan.

“Oh, Sica ah.. Apa yang terjadi sayang..? Omo, Ommo.. Siapa yang membuatmu seperti ini?”

Ibu Jessica muncul ditengah keramaian kerumunan orang-orang yang melihat, dan menghampiri sang putri dengan mata melebar.

“Apa gadis itu yang telah melakukan ini padamu?”

Sica mengangguk dengan mata masih tak lepas menatap pada Yoona.

“Astaga..! Siapa yang memasukkan gadis liar seperti itu kemari.. Hah? Kau yang membawanya..?”

Ibu Sica bertemu tatap dengan Ny.Choi yang kemudian menjawab..

“Ya.. Aku yang membawanya.. Kim tae hee yang mengundangku untuk mengajak tunangan putraku..”

“Tapi aku tidak mengundangnya untuk membuat keributan pada acara yang diselengagarakan suamiku. Aku tidak menyangka gadis itu akan melakukannya..”

Ny.Kim berkomentar membuat Ny.Choi melotot tajam mendengar apa yang dikatakannya. Pasti telah terjadi persengkongkolan antara wanita itu dengan ibu Jessica. Seperti itu yang diduganya.

“Oh, Jadi seperti ini kelakuan tunangan putramu yang kau banggakan itu?”

“Jauh lebih bijak jika Kau terlebih dulu menanyakan apa yang sebelumnya telah terjadi. Jangan langsung menyalahkan Yoona atas kejadian ini..”

“begitukah? Aku yakin semua orang telah mengetahui siapa putriku.. Jessica tak sekalipun pernah melakukan keributan. Putriku adalah wanita terhormat.. Tidak seperti gadis liar itu! Pelacur kecil yang telah kau jadikan tunangan putramu! Benar-benar memalukan..!”

Ny.Choi tak dapat mencegah tangannya untuk tidak melakukan tamparan pada ibu Jessica setelah apa yang dikatakannya. Ia bukan bertujuan untuk membela Yoona melainkan membela harga diri putranya.

“Aku sudah memperingatkan untuk menjaga apa yang kau ucapkan..! Dia tunangan putraku.. Dan bukanlah pelacur nya..!”

Kesal dan marah, Ny.Choi lantas menarik tangan Yoona. Meninggalkan Ibu Jessica yang telah menjadi sama seperti putrinya, kehilangan darah ningratnya. Wanita itu mengeluarkan makian pada Ny.Choi dan juga Yoona yang telah berlalu dari hadapannya.

Ny.Choi menarik Yoona keluar dari dalam toilet itu dan dengan segera keluar dari tempat berlangsungnya acara amal hari itu. Mendorong Yoona masuk kedalam mobil dan langsung meminta sang supir untuk melajukannya.

“Omonim.. Maafkan aku..”

takut-takut, Yoona membuka suaranya ketika melihat Ny.Choi yang hanya terdiam disampingnya dengan napas memburu, pasti sedang mencoba mengendalikan atau menahan amarahnya.

“Omonim..”

Yoona mencoba meraih tangannya, namun Ny.Choi menyentakkannya.

“Aku benar-benar minta maaf.. Omonim, maafkan aku..”

Yoona mulai terisak. Sedari tadi ia sudah mencoba menahan airmata agar tak tertumpah ke wajahnya. Namun Ia tak kuat lagi sekarang. Beberapa hari yang dilaluinya sudah cukup menyulitkannya dan membuatnya tertekan. Serta kejadian tadi serta makian-makian yang diterimanya, membuat hatinya seakan teriris. Sakit hati, sebenarnya Ia tak bisa menerima tuduhan-tuduhan itu, meski Ia telah berusaha untuk mengabaikannya.

Seharusnya Ia memang bisa lebih kuat. Ia sendiri yang telah membuat dan menempatkan dirinya dalam situasi sedemikian itu.

“Wanita itu yang memulai.. Dia mencelaku, dia menuangkan anggur kedalam wajahku. Lihatlah omonim, Wanita itu mengotori baju pemberian omonim..”

Yoona meneruskan isak tangisnya. Sementara Ny.Choi kemudian memandangi tampilannya yang luar biasa berantakan.
Rambut panjangnya kusut acak-acakan. Sedangkan gaun sewarna bunga tulip yang dikenakan Yoona kini basah pada bagian depannya, dan meninggalkan warna kemerahan dari sisa anggur yang dituangkan Jessica kewajah Yoona.

“Dia yang lebih dulu menarik rambutku. Aku hanya melakukan perlawanan.. Aku takkan mungkin hanya diam saja dan membiarkan wanita itu menyerangku. Dia mengamuk seperti binatang hutan..”

Ny.Choi memutar mata dengan bagaimana Yoona menyebut Jessica. Wanita muda itu yang sebenarnya diinginkannya untuk menjadi tunangan putranya, bukan justru gadis belia yang berada disampingnya yang tak memiliki kesopanan dalam berbicara.

“omonim.. Percayalah padaku. Aku tidak bermaksud membuat keributan, apalagi mempermalukan omonim disana. Aku hanya membela diri..”

Yoona menunduk dan terisak semakin kencang. Persis seperti bocah kecil yang kehilangan mainan. Ny.Choi mendengus pada reaksi tak biasa yang ditunjukkan oleh Yoona..

“Astaga.. Hentikan tangisanmu. Kenapa kau menangis kencang seperti itu?”

Yoona menggeleng, dan malah kian terisak dengan berurai airmata. Seakan airmata yang dikeluarkannya bisa untuk menjadi perisai yang akan melindunginya.

Mungkin memang benar.
Terbukti, karna suara tangisannya dan airmata yang dikeluarkannya, Ny.Choi tak serta merta meledakkan kemarahan dihadapannya.

“Aku bahkan belum mengatakan apapun dan kau sudah menangis seperti ini.. Bagaimana aku bisa memarahimu..! Aigoo..”

“maka jangan memarahiku, omonim.. Jangan marah padaku. Maafkan aku..”

Yoona menatap Ny.Choi dengan matanya yang merah karna tangis.

“Kau tidak menangis ketika aku memarahimu. Ketika aku memakimu.. Ketika aku membentak dan berteriak kasar padamu. Kau tidak menangis karna semua itu.. Tapi sekarang, kau justru menangis sedangkan aku belum mengatakan apapun atas tontonan memalukan yang kau lakukan didepan teman-teman ku..”

“Aku sangat takut omonim akan marah padaku..”

“Tentu saja aku marah.. Aku sangat marah. Marah besar padamu..! Aigoo.. Kau bisa membunuhku dengan kelakuanmu yang seperti itu, Yoona..! Kau tidak seharusnya menunjukkan ke-liar-an mu dihadapan teman-teman ku..”

Yoona kembali terisak-isak, dua orang wanita dalam hari itu menyebutnya liar, dan entah mengapa hatinya menjadi sakit ketika mendengarnya. Suara tangisnya yang terisak-isak terdengar hingga membuat sang supir pada mobil yang ditumpanginya memberikan sekotak tisu untuknya. Ny.Choi mendecak dan memperingatkan sang supir untuk tidak ikut campur pada apa yang sedang terjadi dibelakangnya.

“Fokuslah menyetir dan bawa aku secepatnya pulang, ahjussi.. Dan jangan mengurusi apa yang sedang terjadi dibelakangmu”

“Saya mengerti Nyonya..”

Kembali pada Yoona yang saat itu mulai menyeka airmatanya, membersihkan wajahnya dengan tisu pemberian sang supir, Ny.Choi melihat pada wajahnya yang memerah dan mendapati bekas cakaran pada lehernya. Gadis itu pasti sedang merasakan perih pada bagian itu dan mendadak perasaan iba, kasihan saat mengetahui hal itu membuat Ny.Choi hanya bisa menghela napas berat. Kemarahannya menguar entah kemana. Dan kemudian terdiam hingga mobil itu berhenti dihalaman rumahnya.

“Bersihkan dirimu.. Dan ganti pakaianmu. Setelahnya temui aku dan kau bisa mengetahui hukuman yang akan kau terima atas kelakuanmu yang telah mempermalukanku..!”

“nde..?”

Yoona tak cukup responsif mendengar perintah cepat yang diucapkan Ny.Choi sebelum keluar dari dalam mobil dan meninggalkannya disana. Wanita itu tak mengulang apa yang telah dikatakannya dan justru lebih dulu masuk kedalam rumahnya. Membuat Yoona memberengut melihatnya.

Hukuman..
Apa Ibu Siwon mengatakan tentang hukuman tadi?
Ya ampunn..

Yoona buru-buru mengikuti Ny.Choi masuk kedalam rumah, dan langsung mendengar suara wanita itu yang memanggil ahjumma Lee untuk membawakan segelas air dingin untuknya.

Mungkin tidak hanya segelas..
Tapi Ny.Choi jelas akan membutuhkan beberapa gelas untuk dapat mendinginkan kepalanya akibat ulah yang dilakukan Yoona.

***

Sica benar-benar merasakan kekesalan yang luar biasa saat meninggalkan acara amal yang ia hadiri bersama ibunya. Yoona dan apa yang dengan berani diucapkannya telah membuatnya kehilangan kontrol diri. Hingga membuat perkelahian itu menjadi hal yang paling memalukan yang pernah terjadi dalam hidupnya.

kesal dan marah..
menjadi dua hal yang kemudian ia bawa dalam langkah kakinya yang cepat menuju tempat parkir kendaraan untuk mengambil mobilnya.

“sungguh pertunjukan yang luar biasa, nona Jessica..”

Berbalik untuk menemukan sumber suara yang disertai dengan tepukan tangan bernada mengejek, Sica melihat pria yang tadi mencegatnya dijalan raya, kini berdiri tak jauh darinya dengan mata mengawasi kearahnya.

“Perkelahian antara gadis yang menjadi tunangan dan bekas calon tunangan, menjadi tontonan yang seru tadi..”

“Kau..!! apa yang kau lakukan disini..!”

“bukankah sudah kukatakan sebelumnya bahwa aku memiliki penawaran untukmu.. dan anda belum mendengarnya, nona..”

“Aku tidak tertarik..!”

terdengar bunyi bip ketika Sica membuka kuncian pada mobilnya. berniat masuk kedalamnya dan menghindar dari pria yang akan disebutnya tak waras jika terus memaksanya. namun niatannya terhalang oleh lengan Donghae yang menahan pintu mobilnya agar tak terbuka.

“Sialan.. minggir kau!!”

“Tidak.. sampai kau mendengarku..”

“Aku tidak akan berurusan dengan pria yang sama brengseknya seperti Siwon..!”

“Aku bukan suruhannya..”

Sica mengernyit mendengarnya..

“Percayalah tawaranku akan sanggup untuk membalas sakit hatimu atas apa yang telah Siwon lakukan padamu..”

“Apa maksudmu?”

Donghae menyeringai, mengetahui wanita itu yang mulai terpancing. sepertinya Ia masuk dalam moment yang tepat dalam diri Jessica yang sedang merasakan kekesalan pasca perkelahiannya dengan Yoona.

“ikutlah denganku.. Kita perlu mencari tempat untuk berbicara empat mata..”

***

Sekitar pukul tujuh malam ketika Siwon tiba dirumah, Ia mendapati keadaan yang sepi didalamnya. Melangkah ke ruang makan, Ia hanya mendapati ahjumma Lee yang berada didapur dan sedang berurusan dengan peralatan memasaknya.

“Ahjumma..”

“Oh, Siwon ah.. Kau sudah pulang..”

Ahjumma Lee tersenyum, melepas sarung tangan karet yang dikenakannya dan meninggalkan setumpuk peralatan memasak yang sedang Ia cuci, untuk kemudian menghampiri Siwon.

“dimana aboji dan oemma..”

“Tuan masih belum pulang.. Dan Ibu mu berada didalam kamar”

“Oh..”

Siwon tak berkomentar banyak, mendudukkan tubuhnya dan lantas meminum segelas air putih yang dituangkan ahjumma Lee untuknya.

“Kau tidak menanyakan dimana gadis yang telah menjadi tunanganmu?”

Siwon sedikit ragu untuk menjawab apa yang dikatakan ahjumma Lee padanya..

“hm.. Ne, dimana Yoona?”

“Dia sedang menjalani hukuman..”

“Mwo..! Hukuman?”

Ahjumma Lee mengangguk..

“sepertinya gadis itu membuat kekacauan saat menghadiri acara amal tadi. Ibu mu hanya mengatakan padaku jika Yoona berkelahi dengan Jessica..”

Siwon melebarkan mata mendengarnya..

“berkelahi?”

“hm, itu yang ibumu katakan..”

“dimana Yoona sekarang?”

“Ibumu menghukumnya untuk membersihkan taman bunganya dihalaman belakang. Sudah sejak beberapa jam yang lalu Yoona berada disana..”

Siwon meletakkan tas kerjanya dan langsung melangkah cepat ke halaman belakang rumahnya. Mencari-cari keberadaan Yoona disana, yang sepertinya sedang mengalami kesusahan karna ibu nya telah memberikan hukuman yang cukup berat untuknya. Hingga Yoona perlu berjam-jam berada dihalaman belakang rumahnya hanya untuk menyelesaikan hukumannya.

Namun ketika mendapati Yoona tersenyum dibawah sinaran lampu taman yang meneranginya, saat memainkan selang air ditangannya dan Siwon sepintas mendengar gadis itu bersenandung, menggumamkan nyanyian dari bibirnya, Ia menilai gadis itu justru tengah menikmati hukuman yang diberikan oleh ibunya.

Yoona memang hanya tinggal menyiram semua tanaman bunga yang tertanam dengan indah disana. Setelah sebelumnya Ia menyelesaikan mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh dalam setiap pot bunga, memotong daun-daunnya yang kering dan menyemprotkan pupuk cair atau sejenis obat penyubur tanaman, Ia tak paham mengenai itu. Yang pasti, Ibu Siwon lah yang mengajarkannya untuk melakukan semua itu.

Setelah sebelumnya terlebih dulu Yoona mengganti gaunnya yang basah dan bernoda merah dari anggur, dengan hanya mengenakan celana pendek dan atasan berwarna biru. Menyisir rambutnya yang kusut dan lantas mengikatnya menjadi dua bagian. Ia juga sempat mengumpat kesal pada Jessica yang telah menggoreskan luka cakaran yang terasa perih pada bagian atas lehernya. Bukan hanya kata-kata nya yang tajam, wanita itu juga memiliki kuku-kuku yang sama tajamnya.

Benar-benar sial dan
Menyebalkan..

Selesai dengan mengganti pakaian dan merapikan dirinya, Yoona langsung keluar dan turun dari kamarnya untuk menemui Ny.Choi. Wanita itu juga langsung mengatakan sebuah hukuman yang diterimanya akibat ulah perkelahiaannya dengan Jessica, ialah menggantikan tugas tukang kebunnya untuk membersihkan tanaman-tanaman bunganya yang jumlah nya mencapai ratusan.

Yoona sempat melebarkan mata mengetahui dirinya harus menyelesaikan pekerjaan itu seorang diri. Namun hanya itu respon yang ditunjukkannya sebelum akhirnya mengangguk patuh. Tak bisa melakukan protes dibawah tatapan mengerikan dari Ibu Siwon, menjadi kesialan lain dirinya dihari itu..

Sepuluh menit pertama yang dilakukan Yoona adalah menggerutu kesal pada Ibu Siwon yang sudah meninggalkannya disana. Tapi sepuluh menit berikutnya, Ia sudah cukup bisa menikmati apa yang harus dilakukannya, hingga sepuluh menit setelahnya Yoona merasakan kesenangan berada disana. Berada diantara warna-warni bunga itu, membuatnya menemukan keceriaannya sebagai seorang gadis, sesuatu yang telah lama tak dirasakannya. Dan keharuman dari bunga-bunga yang mengelilinginya bagaikan sedang merilekskan dirinya dari perasaan tertekan yang dirasakannya.

“Tunggu sampai besok pagi, aku pasti akan merangkai kalian menjadi lebih indah..”

Yoona mencium salah satu bunga mawar yang masih menguncup. Menghirup wanginya yang segar dihidungnya dan kembali menyiramkan air dari selang ditangannya..

“Jika aku tahu Nyonya tidak terlalu marah dan hanya memberikan hukuman semacam ini.. Aku menjadi menyesal, seharusnya aku tak menghentikan perkelahian dengan wanita itu dan membalas cakarannya. Dia benar-benar wanita gila menyebalkan..”

Siwon tersenyum sedikit geli mendengar gerutuan Yoona saat itu. Ia masih hanya diam memperhatikan gadis belia yang berada tak jauh darinya itu memainkan selang dan bermain-main dengan air yang keluar dari dalamnya.
image

Dengan celana pendek yang dikenakannya, Siwon baru menyadari jika gadis itu sedang mengekspos kaki jenjangnya.
bagaimana bisa gadis yang bahkan baru berusia delapan belas tahun memiliki kaki sepanjang itu dan indah. bagaimana dia tumbuh secepat itu?
apa yang dia konsumsi hingga dapat menumbuhkan kaki sepanjang itu?
mungkin dia juga perlu mengkonsumsi sesuatu itu untuk membuat dada nya semakin bertumbuh. hingga ibu nya tak perlu lagi untuk mencelanya.

Astaga..
Sial..
Siwon mengerang dalam hati dan menggeleng-gelengkan kepalanya. berharap apa yang berada didalam pikirannya mengenai Yoona bisa terlepas.
Dan jangan sampai ia dibuat limbung hanya karna sepasang kaki.

Beralih dari pikirannya yang kacau, Siwon lantas mendekat pada Yoona yang masih tak menyadari keberadaannya disana..

“Jadi se-seru apa pertarunganmu dengan Jessica?”

Yoona terkejut dengan suara berbisik dari Siwon yang tiba-tiba telah berada dibelakangnya, hembusan napas ditengkuknya membuat nya meremang. Berbalik, Yoona tanpa sengaja menyiramkan air dari selang ditangannya ketubuh Siwon. Membuat Siwon berjingkat terkejut memundurkan tubuhnya..

“Yoona..! apa yang Kau lakukan..!!”

“Oh, sajangnim mianhe.. Aku tidak sengaja. Maafkan aku..”

Yoona melempar selang ditangannya dan langsung mendekati Siwon. Mencoba mengeringkan kemeja Siwon yang basah dengan menggunakan tangannya.

“aigoo.. Bagaimana ini?”

Yoona merasa tak enak hati..

“Kenapa Sajangnim tiba-tiba muncul dibelakangku?”

“kenapa kau justru menyalahkanku!?”

ucap Siwon dengan kesal, membuat Yoona menghentikan usahanya untuk mengeringkan kemejanya dan justru menunjukkan wajahnya yang memberengut..

“Aku tidak sengaja..”

“Kau tidak sedang berniat untuk memandikanku kan? Jika iya.. Bukan disini tempatnya..!”

Yoona memutar mata, dan Siwon kembali merasakan geli ketika mengetahui telah berhasil menggoda gadis itu.

“Aku akan menyiramkan lebih banyak air jika sajangnim memang ingin di mandikan, seperti kuda mungkin..”

Yoona sepertinya serius dengan apa yang dikatakannya. Ia sudah akan mengambil selang air yang tadi dilemparnya, ketika kemudian ia mendengar seruan memanggilnya..

“Yoona ya.. Im Yoona..! Kau belum juga selesai..?”

Oh dear..
Itu adalah suara Ny.Choi yang terdengar, yang lantas membuat Yoona maupun Siwon menoleh.

Yoona segera berubah panik menyadari wanita itu mencarinya dan pasti sedang dalam langkah menuju taman di halaman belakang tempatnya sekarang berada. Kepanikannya bukan karna ia belum menyelesaikan hukumannya, kepanikannya justru didasari oleh keberadaan Siwon disana. Apa yang akan wanita itu komentarkan mengenai keduanya, ketika melihat mereka bersama nanti?
Tuduhan dan pemikiran-pemikiran buruk dan tak senonoh sudah pasti yang akan Ibu Siwon lontarkan pada mereka. Terutama pada dirinya..

“Oh, ottokhae sajangnim..? Nyonya akan sangat marah melihat anda berada disini bersamaku..”

“tidak ada sesuatu yang bisa dipersalahkan diantara kita, Kecuali aku mengatakan pada oemma bila kau dengan sengaja menyiramkan air padaku..”

“Aku tidak sengaja..! Melihat anda berada disini, Nyonya pasti akan langsung menuduhku.. Dia selalu menilaiku buruk..”

Yoona menggigiti bibir bawahnya. Ia pasti melupakan ancaman Siwon untuk tidak melakukan itu dihadapannya..

“Apa kau perduli dengan penilaian ibuku?”

“Yoona ya.. berapa lama Kau akan terus berada disana.. kau belum selesai? Dimana kau? Ini sudah waktunya makan malam..”

Yoona berjingkat semakin panik..

“Aishh, cepatlah anda pergi dari sini sajangnim..”

“Jika aku berlari darisini sekarang, aku akan langsung berpapasan dengan oemma..”

“Oh, sial.. Apa yang harus kita lakukan..?”

“bersembunyi..”

“euh..?”

Yoona belum cukup mencerna apa yang Siwon katakan, ketika kemudian pergelangan tangannya digenggam dan ditarik oleh Siwon untuk bersembunyi dibalik batang pohon yang berada tak jauh darinya..

“Sajangnim.. Anda hanya akan membuat Nyonya semakin marah, jika menemukan keberadaan kita disini.”

Yoona kembali menggigit bibirnya, gelisah..

“diamlah, jika kau tak ingin ibuku memergoki kita..”

Siwon menarik pinggang Yoona, lebih merapat pada dirinya, ketika mendengar langkah kaki Ny.Choi berada tak jauh dari keduanya..

“Sajangnim.. Sebaiknya kita tak melakukan ini..”

“ssttt..”

“Yoona..! Yoona..! Ya Tuhan.. Kemana gadis itu? Apa dia kabur dari hukuman yang kuberikan? Apa dia justru sedang berada dikamarnya? Gadis itu.. Dia bahkan tidak mematikan keran air nya.. Benar-benar ceroboh.. Yoona! Im Yoona..!!”

Ny.Choi menggerutu dengan kesal karna tak menemukan Yoona disana. Ia sudah akan melangkah masuk kembali kedalam rumah, namun terhenti saat sepertinya mendengar suara dari ranting pohon yang terinjak dan patah.

“Yoona.. Kau kah itu?”

Yoona melebarkan mata mendengarnya, Ia memang berdiri gelisah dengan tubuhnya yang gemetar. Takut aksinya dan Siwon yang justru bersembunyi akan diketahui oleh Ny.Choi dan kembali menyulut kemarahannya.

“Sajangnim.. Nyonya akan tahu kita berada disini..”

ucap Yoona dengan menggunakan suara lirih..

“bisakah kau hanya diam..!”

“tapi Nyonya sudah tahu..”

“Tidak.. Jika kau berhenti bersuara bodoh seperti itu”

“tapi anda juga bersuara..”

“Aku benar-benar harus membuatmu diam…”

Siwon berbisik ditelinganya, dan sepersekian detik setelahnya membuat Yoona membelalakkan mata. Bahkan, darah yang mengalir di tubuhnya serasa terhenti ketika Siwon menarik lehernya. Tak menyangka dengan maksud men-diam kan dirinya yang terus bersuara ialah dengan cara mencium bibirnya..

Oh..

*

*

*

*

*

*

To Be Continued~

*Hohohoo.. ini udah cukup panjang kan.. /awas kalau masih ada yang protes -_-

dan yg mau aq kasih catatan, jangan membayangkan perkelahian Yoona & Jessica sefenomenal adegan berantemnya DePe VS JuPe.-. /LOL

@joongly

179 thoughts on “| At First Sight | 7

  1. Hihi…senyum” sendiri liat sikap siwon oppa thd yoona oenni. Ih ak sebel bgt liat sikap donghae yg memanfaatkan yoona oenni

  2. Duh si donghae bener-bener ya,,
    Sekarang dia malah nyari sekutu baru,,
    Menfajak kerja sama jessica untuk menghancurkan siwon..
    Itu orang bener-bener licik… 😠

    Ow sekarang semua yang ada pada diri yoona mulai menarik semua dimata siwon,
    Semakin membuat siwon tersihir oleh pesona gadia belia ini,,😊
    #Ish siwon ambil kesempatan dalam kesempitan… ckckckckckck

  3. kkkk😀 kayanya seru tu klo ikutan nontonin adegan jambak2annya jessica sama yoong eonni,
    dan aigoo..😮 siwon oppa bnr2 dah kecanduan sama manisnya bibir merah jambu yoong eonni

  4. Hohoho pertarungan jupe dan depe versi gadis imut snsd seru sekali. ya meskipun yoonwon cuman secuil tapi pas yoona yg udah bisa buat luluh ny.choi itu menarik. Aku pengen tau siwon bisa romantis ama yoona lanjut baca yuuu part ini ngakaka’y meningkat😀

  5. my my my siwon memcuri kesempatam dalam kesempitan.
    kenapa gak siwonnya aja yg suruh bersembunyi dgn bgtu ibunya siwon tak akan tau klo siwon disana, tapi dasar siwon ingin mencuri kesempatan dalam kesempitan makanya dia memanfaatkan kepanikan yoona dan mengajak bersembunyi.
    maka jadilah mereka melakukan kisseu, ide yg nagus untuk mwndiamkan yoona

  6. Waow smakin bikin gemes ini ff jd pgen cubit pipi yoona ehh apa hubunganny lol

    Akhirnya choi siwon semakin terpesona, jtuh hati kpd gadis belia itu..
    Dr bibir naik ke atas, mata.. Naik lg, ke rambut dan turun ke kaki.. Begitu istimewa yh gadis belia itu .. Part slnjutny bag tubuh mna lg yg akn membuat siwon terpesona..

    Yoona mah sigadis belia yg polos, menggemaskan..waktu pembelaanny ttg perkelahianny dg jessica itu loh bikin gemes bgt.. Snyum2 sndiri bacany jjhehe

    Sdh pasti haesica pny rncana jhat ini.. Hae mah suka manfaatin gadis2 huu jhat

  7. donghae oppa mau manfaatkan jessica eonni buat menghancurkan Siwon oppa bener bener jahat banget gak tau teimakasih

  8. DONGHAE,,,DONGHAE,,,,,,sbnar na pa yg km rncanakan!?.?? Pa mslah donghae ma siwon,,,smpe2 pngen ngncurin siwon???,,,,,,,,smoga ja siwon ma yoona onnie ga ktahuan ma ibu na ,,,klo smpe ktahuan bsa dpatikan yoona pasti kna mrah lagi…hix,,,hix,,

  9. duh haeppa bner2 ya di sekarang malah nyari sekutu baru buat ngehancurin wonppa. jahat bgt. gk tau terimakasih. licik.
    apa sih yg ngebuat haeppa benci bgt sama wonppa??

  10. Ommo,ommo, modus bnget siwon, bisa aja ambil kesempatan dalam kesempitan, ngapain harus ngumpet berduaan, harusnya siwon ngumpet sendirian aja kali, hehehe
    Tapi gue suka bnget karakter ibunya siwon, dia galak tapi sebenernya baik dan penyayang, semoga aja yoona ama Ny.Choi jadi deket..

  11. ya ampun setelah yoona sekarang donghae cari mangsa(?) lagi buat nerusin rencana hancurin siwon,
    btw Ny.Choi galak sama yoona tapi di juga perhatian sama yoona

  12. Oh,sumpah ini ff makin kocak,yoona vs jessica seru banget berantemnya,dan donghae oppa deketin jessica untuk menghacurkan siwon,dia mencari sekutu baru ternyata,tapi makin gemes liat tingkah nyonyai choi sama yoona,perhatian tapi galak juga,hehehe

  13. Ya ampun yoona sama jessica sampai berkelahi.. ini yg liar jessica,,tp semua org udah nyetempel yoona lah yg liar
    Kasian..
    Dan siwoon lagi2 g bisa ngontrol perasaannya itu mgkn dgn seenaknya nyium yoona heheh

  14. Tersnym sendiri bca ff ini di akhir crita ya walaupun momn yoonwon ya sdikit tpi sru,,,ksiian bngt yoona slalu di slhn trs sma ny choi

  15. Yoona keren banget tadi waktu berantem sama Sica, kenapa gak bales cakar aja Yoong. Biar tahu rasa dianya, aish Donghae ngapain sih sama sica. Apa sih yang tuh orang rencanain, DASAR.
    Ommo, sweet banget Yooonwon moment. Bikin Yoona diem pake nyium dia, dasar Siwon modus. kekekeke…..
    Aku jadi suka lagi sama eommanya Siwon di chap ini, eonni.🙂🙂
    Suka nih ff, kerenn…

  16. Apalagi yg mau di rencanain donghae dari yoona sekarang jessica.. trus kenapa donghae kayaknya dendam bgt sama siwon padahal keluarga siwon udah baik sama dia n siwonnya juga baik ke dia apa gara” orng yg dia suka yaitu yuri malah suka sama siwon.. omg siwon ngambil kesempatan dalam kesempitan tuh..

  17. Hohoho..
    baguss yoona jangan mau terus2an di bully sam jessica,sekali kali harus juga di beri pelajaran..
    Sangat menikmati saat membaca bagian akhir dri part ini,kira kira bakalan ketahuan ga ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s