Fanfiction

| At First Sight | 6

Happy Reading ~

[Prolog]  [1]  [2]  [3]  [4]  [5]

*

*

*

*

*

Rasanya Yoona sangat ingin menyumpal mulut Siwon yang telah seenaknya sendiri dalam berbicara. Ia kemudian dengan cepat mengikuti langkah pria itu untuk menuruni tangga dan menghampiri Tuan dan Ny.Choi. Bila Tn.Choi terlihat biasa saja, menunjukkan ketenangan seperti biasanya bahkan memberikan senyum padanya, berbeda halnya dengan Ny.Choi yang pada saat itu menatapnya dengan kekesalan yang menggurat diwajahnya dan dalam kemarahan yang sebentar lagi akan meledak.

Oh Ya ampun..
Bukankah hal itu kini juga telah menjadi sesuatu yang biasa untuk diterima oleh dirinya. Seperti halnya kesalahpahaman yang selalu dilihat oleh ibu Siwon yang belum sekalipun bisa untuk ia jelaskan kebenarannya.
Begitupun hal nya dengan kejadian yang tadi, bila ia menjelaskan bahwa Siwon memeluknya sebab dirinya yang akan terjatuh karna mencoba menghindari Siwon yang meminta ponsel ditangannya, sama saja, Ibu Siwon tetaplah akan marah. Mungkin lebih marah mengetahui larangannya agar Yoona tidak menggunakan ponsel telah dilanggar.

“omonim..”

“Jangan mengatakan apapun untuk membela dirimu, Yoona..!”

Yoona langsung mengunci mulutnya ketika Ny.Choi memberikan tatapan tajam terhadapnya, menandakan Ia tak membutuhkan lagi penjelasan apapun darinya.

“Apa kau baru saja berada dikamarnya? Kalian berdua didalam sana..?”

Ny.Choi telah beralih ke Siwon..

“oemma.. Aku hanya ingin..”

“Kau akan mengatakan jika Kau menginginkannya? Menginginkan gadis belia mu? Hah..? Keterlaluan..!”

“Tidak.. Oemma, bukan seperti itu..”

Tidak ada kesempatan bagi Siwon untuk menjelaskan ketika sebuah tas tangan ibunya telah menghantamnya berkali-kali. Tubuhnya kini yang menjadi sasaran amukan ibunya.

“Oemma.. Kenapa kau jadi suka memukulku..?”

“Kau pantas mendapatkannya..!”

Tn.Choi kembali hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat tingkah sang istri dan Siwon yang mencoba untuk menghindari pukulan dari ibunya. Sedangkan Yoona, Ia justru sedang kesulitan menahan tawa dengan apa yang saat itu disaksikannya.

“Apa sih yang kau lihat dari gadis itu? Yoona tidak lebih cantik dari Jessica.. Dia hanya gadis belia. Coba kau perhatikan lagi, Yoona bahkan memiliki dada yang belum sepenuhnya bertumbuh. Apa yang bisa kau nikmati dari tubuh gadis kurus seperti itu..?”

Disaat akhirnya Ny.Choi berhenti memukulkan tas tangannya ketubuh Siwon, dan beralih menatap Yoona. Yoona tak lagi merasa perlu menahan tawa, Ia tidak mungkin menertawakan dirinya sendiri kan. Ia membelalakkan mata kali ini oleh kata-kata Ny.Choi yang terang-terangan mengoreksi kekurangan tubuhnya. Yoona merasa malu, terlebih wanita itu membicarakannya didepan sang suami dan juga didepan Siwon yang kemudian menatapnya, seakan sedang membenarkan perkataan ibunya bahwa dirinya memang tidaklah menarik secara fisik.

“Astaga yeobo.. Ada apa denganmu? Aku melihat kau sudah cukup tenang pagi tadi saat mengajari Yoona merangkai bunga.. Tapi sekarang, Aku menilaimu kembali dikuasai amarah. Ini jelas bukan hanya karna kau melihat Siwon memeluk Yoona tadi. Apa yang terjadi?”

Tn.Choi mengambil alih, mengendalikan keadaan yang dirasanya menjadi sangat tidak nyaman untuk Yoona, terlebih setelah Ia memperhatikan gadis itu menunduk dengan jemarinya yang mengusap sudut matanya. Tn.Choi memperhatikan Yoona yang sedang menyembunyikan tangis saat itu.

“Tolong jaga ucapanmu.. Kau akan menyakiti Yoona bila berbicara seperti itu..”

“Aku berbicara hal yang benar.. jangan munafik. Kebanyakan pria menyukai dan menikmati gadis berpayudara besar kan? Sedangkan Yoona, gadis itu memang hanya…”

Ibu Siwon menahan kalimatnya saat sang suami merangkulnya, meremas bahunya dan menunjukkan pada apa yang saat itu dilakukan oleh Yoona dengan beberapa kali menyeka matanya.

“Oh Tuhan, yeobo.. Jadi apa yang harus kulakukan? Aku seharusnya memiliki banyak putra, agar bila ada satu yang mengecewakanku.. Aku masih bisa membanggakan putraku yang lain..”

“Aku cukup bisa membanggakan Siwon..”

“Sekarang tidak denganku.. Aku tak lagi bisa membanggakannya setelah semua orang tahu siapa yang menjadi tunangannya..”

“Apa masalahnya dengan siapa yang dijadikan tunangan oleh putra kita. Siwon memiliki hak untuk memilih siapapun gadis yang diinginkannya..”

“Tapi mereka terus membicarakannya, yeobo.. Teman-temanku terus-terusan membahas gadis biasa itu, dan Siwon yang tak seharusnya bertunangan dengannya. Semua yang mereka katakan membuat telingaku panas. Aku bahkan tak bisa menikmati makan siangku.. Aku langsung pergi karna sudah tidak tahan..”

karna itu Ny.Choi sudah kembali pulang tidak lama setelah kepergiaannya dari rumah. Pembahasan mengenai tunangan putranya membuatnya sangat tidak nyaman. Kekesalannya pada beberapa teman yang dengan sengaja meledeknya, berubah dan bertambah menjadi kemarahan saat melihat apa yang Siwon dan Yoona lakukan tadi.

“Sudahlah oemma, jangan dengarkan mereka.. Orang yang semacam itu tidak pantas untuk dijadikan teman”

“Diam Kau, Siwon! Oemma tidak perlu pendapatmu.. Kau yang seharusnya mendengarkan oemma.. Oemma akan memperingatkanmu untuk jangan mencoba lagi berada dikamar Yoona.. Kalian tidak pantas melakukan perbuatan dosa didalam rumahku..”

Siwon hanya menghela napas mendengarnya. Apa yang bisa dikatakannya, dirinya sendiri yang telah membuat sang ibu memiliki tuduhan-tuduhan semacam itu terhadapnya.

Sementara Ny.Choi lantas beralih memperhatikan Yoona yang masih menundukkan wajahnya.

“Kau mendengar apa yang kukatakan, Yoona..?”

Yoona mengangguk..

“Apa kau tak bisa menunjukkan wajahmu dan menjawab dengan benar!”

“yeobo, sudahlah.. Kau seharusnya tidak perlu ambil pusing dengan apa yang teman-temanmu katakan, jangan menjadi mudah terpengaruh. Dan sama halnya denganku, jika tak menginginkan Siwon dan Yoona melakukan perbuatan dosa.. Kita seharusnya bukan hanya mempertunangkan keduanya, melainkan menikahkan mereka secepatnya”

“Jangan bicara omong kosong, yeobo.. Aku takkan membiarkan Siwon menikahi gadis yang bahkan belum bisa melakukan cara makan dengan benar. Bagaimana dia akan bisa mengurus Siwon nantinya..”

“tentu saja Kau yang akan mengajarinya. Yoona dengan cepat akan bisa belajar banyak tentang menjadi seorang istri yang baik sepertimu..”

Tn.Choi menunjukkan senyum membujuk pada sang istri yang seperti biasanya selalu berhasil untuk meluluhkan kekerasan hatinya..

“Tak ada masalah dengan Siwon mengenai pernikahan, dan bagaimana denganmu Yoona ya.. Apa kau bersedia menikah dengan Siwon?”

Kali ini Yoona merasa perlu untuk mendongak untuk memberikan jawaban pada apa yang ayah Siwon tanyakan padanya.

“Maaf, tapi saya.. saya..”

“Ada apa, Yoona?”

“Maaf Tuan.. Beri saya waktu untuk berpikir. Saya merasa belum memiliki kesiapan untuk sebuah pernikahan..”

Yoona memberi jawaban yang seakan Ia akan mempertimbangkan untuk melakukan pernikahan seperti yang dibicarakan ayah Siwon.
Tapi sebenarnya jawabannya adalah tidak..
Sudah pasti tidak..
Ia tidak akan mungkin menikah dengan pria yang telah menyakiti oenninya.
Bahkan terlintas pun dalam benaknya untuk itu sama sekali tidak pernah..

Pertunangannya dengan Siwon yang tak terduga sebelumnya akan terjadi, sudah membuatnya kesulitan bernapas ketika memikirkan bagaimana reaksi dari Yuri oenni nya jika mengetahui hal itu. Maka yang kemudian dipikirkan olehnya adalah agar cepat-cepat mengakhiri pertunangan itu, bukan justru melanjutkannya sampai ke tahapan pernikahan.

Yoona memastikan hal itu tidak akan pernah terjadi..

“Baiklah.. Aku akan memberimu waktu. Sementara kau terus memikirkan itu, biarkan aku untuk membicarakannya dengan istriku terlebih dulu..”

Tn.Choi lantas merangkul sang istri yang terlihat masih enggan untuk beralih meninggalkan Siwon bersama Yoona disana.

Yoona yang melihat ayah dan ibu Siwon memasuki kamar mereka, langsung teringat untuk mengambil ponsel ahjumma Lee yang saat itu telah berada ditangan Siwon..

“Sajangnim..”

“Apa?”

Siwon mengabaikannya dengan melangkah menuju ruang kerjanya.

“Sajangnim.. Jangan berpura-pura..”

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.. Apa masih belum cukup oemma memarahi kita tadi..? Sekarang aku memiliki pekerjaan yang harus kuselesaikan.. Jadi jangan menggangguku..”

Siwon memasuki ruang kerjanya dan langsung menutup pintunya, namun Yoona tak lantas tinggal diam, Ia membuka pintu itu dan mengikuti Siwon masuk kedalamnya.

“Sajangnim.. Kembalikan ponsel ahjumma Lee padaku..”

“Oh.. Bukankah pembahasan mengenai perselingkuhanmu dengan pria lain belum terselesaikan tadi. Akan kulihat, siapa sebenarnya yang telah kau hubungi tadi?”

Siwon merogoh saku kemejanya, mengambil ponsel dari dalamnya dan dengan sengaja mempermainkan ponsel itu dihadapan Yoona.

“berikan itu padaku..”

Yoona mencoba menggapainya namun Siwon menjauhkannya..

“Sajangnim..!”

“hmm.. Kau benar-benar tidak menginginkanku untuk tahu?”

“Ini konyol..”

Siwon kembali mengabaikan ucapannya..

“baiklah.. Jika kau menginginkan ponsel ini kembali padamu, Kau harus melakukan sesuatu terlebih dulu..”

“anda tidak bisa meminta saya untuk melakukan sesuatu..”

“Oh, tentu saja aku bisa. Kau juga tahu aku bisa melakukan itu..”

Yoona mendengus dengan nada mengancam dari kalimat yang Siwon ucapkan, dan membuatnya kemudian memutuskan menyerah..
Untuk mendapatkan kembali ponsel ahjumma Lee yang ada ditangan Siwon, Ia merasa perlu untuk menjadi penurut pada apa yang pria itu katakan.

“Aku perlu berkonsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaanku.. Tapi pertama-tama aku perlu menjadi sedikit lebih rileks. Kau bisa membuatkanku secangkir kopi terlebih dulu..”

Yoona memutar mata kearahnya..

“Bukankah kau harus belajar menjadi seorang istri..”

“Nyonya mengatakan bahwa saya dilarang berada didapur. Dan ayah anda juga tidak akan suka jika saya berada disana.. Maka saya tidak akan melakukannya untuk membuatkan secangkir kopi untuk anda..”

“Kau mencoba mengelak..? Ketahuilah, ayah dan ibuku adalah pasangan yang romantis. Jika mereka berdua sudah berada dikamar, perlu beberapa waktu untuk mereka keluar dari sana. Maka jika Kau berada didapur sekarang.. Itu tidaklah akan menjadi masalah..”

Yoona mendecak, alasan apa lagi yang yang bisa digunakannya..

“Aku akan menghitung sampai tiga untuk membuatmu keluar darisini dan kembali dengan secangkir kopi untukku…”

“Anda tidak perlu menghitung.. Tapi anda harus berjanji akan mengembalikan ponsel itu pada saya.”

“hm.. Kau bisa mendapatkannya lagi setelahnya”

Siwon menahan geli melihat Yoona yang memberengut ketika keluar dari dalam ruangannya. Namun setelahnya raut wajahnya berubah serius saat menatap pada ponsel ditangannya. Memanfaatkan waktu dimana Yoona tak melihat apa yang dilakukannya, Siwon langsung memeriksa panggilan terakhir yang digunakan dari ponsel milik ahjumma Lee dan menemukan nomer milik Donghae sebagai kontak yang paling terakhir dihubungi.

“Sudah ku duga..”

Sementara itu, Yoona berjalan dengan gerutuan dibibirnya, menuju dapur untuk melakukan apa yang Siwon inginkan. Ia menemukan ahjumma Lee disana..

“Oh, Yoona ya..”

Yoona berusaha menunjukkan senyum padanya..

“Apa yang kau lakukan? Nyonya melarangmu berada didapur..”

“Siwon menginginkan aku untuk membuatkannya kopi..”

“benarkah? Kalau begitu, biar aku saja yang membuatkan kopinya.. Tunggulah sebentar dan kau hanya perlu memberikannya..”

Yoona mengangguk, memperhatikan ahjumma Lee yang kemudian mengambil sebuah cangkir dan meracik kopi yang kemudian Ia tuangkan kedalamnya.

Pada saat ahjumma Lee berniat untuk menambahkan bubuk kremer kedalamnya, mendadak terlintas sebuah ide yang lantas membuat Yoona menghentikan apa yang akan ahjumma Lee lakukan.

“Biar aku saja ahjumma, aku bisa melakukannya jika hanya seperti itu..”

“Baiklah.. Kau memang harus belajar untuk melayani Siwon nantinya.. Aku akan meneruskan pekerjaanku..”

Ahjumma Lee tersenyum, membiarkan Yoona mengambil alih meneruskan untuk membuat secangkir kopi yang belum selesai dikerjakannya.

Ada alasan tersendiri mengapa Yoona melakukannya. Ia bukan memasukkan sesendok kremer itu kedalam cangkir kopi dihadapannya, melainkan menggantinya dengan memasukkan lebih dari tiga sendok garam kedalamnya secara diam-diam tanpa sepengetahuan ahjumma Lee yang sudah sibuk dengan apa yang dikerjakannya sendiri.

Dalam hati Ia sudah tertawa terbahak, membayangkan akan seperti apa Siwon bereaksi ketika meminum kopi buatannya..

“Dia pantas menerimanya..”

gumamnya dengan senyum membingkai wajahnya ketika kemudian mengatakan pada ahjumma Lee, ia akan membawakan kopi itu untuk Siwon.

Meninggalkan dapur itu untuk selanjutnya kembali berjalan menuju ruang kerja Siwon, Yoona tidak perlu mengetuk pada pintu ruang kerja Siwon yang saat itu sudah terbuka..

“Sajangnim..”

“Oh, Kau sudah membawa kopinya..?”

“Anda sudah dapat melihatnya bukan?”

“kenapa sih kau tidak bisa berkata dan bersikap manis pada tunanganmu sendiri? Apa pria yang menjadi selingkuhanmu jauh lebih tampan dariku..? Apa kau menjadi bisa bermanis-manis saat bersamanya? Apa Kau merindukannya saat sementara kau terkurung didalam rumahku?”

“apa yang anda tanyakan tidak harus saya tanggapi..”

Yoona mendekat untuk menyerahkan secangkir kopi ditangannya dan ingin sesegera mungkin mendapatkan kembali ponsel milik ahjumma Lee, dan terutama mengetahui akan seperti apa saat Siwon meminum kopi buatannya..

“dimana ponsel itu?”

Siwon mengambilnya dari atas meja kerjanya, dan kemudian saling bertukar dengan Yoona. Secangkir kopi yang diulurkan oleh Yoona ditukar dengan ponsel yang kemudian diserahkan oleh Siwon. Keduanya menerima dan memindahkan ketangan mereka secara bersamaan, dan pada saat itu Siwon bisa melihat senyum tersembunyi diwajah Yoona.

Senyum yang mungkin sebagai tanda jika gadis itu akan dapat menghubungi Donghae setelah mendapatkan kembali ponsel itu darinya..

“apa Kau akan menghubungi pria itu lagi?”

“emm.. Bukan sesuatu yang bisa anda ketahui Tuan.. Saya akan meninggalkan anda untuk berkonsentrasi dalam mengerjakan pekerjaan, dan selamat menikmati kopinya..”

Jika tadi Ia memberengut ketika keluar dari ruang kerja Siwon, kali ini senyum terkembang dibibirnya, senyum kejahilan yang membingkai diwajahnya..

“YOONA..! APA YANG KAU LAKUKAN PADA KOPI BUATANMU..!!”

Yoona meledakkan tawanya mendengar teriakan Siwon dari ruang kerjanya, dan segera Ia berjalan cepat kearah tangga untuk bersembunyi didalam kamarnya. Namun baru pada anak tangga pertama melangkah, Ia sudah merasakan tarikan pada pergelangan tangannya..

“Kau mencoba kabur setelah apa yang kau lakukan padaku..!”

Sial..

Yoona menggigit bibir bawahnya ketika kemudian Ia membalik tubuhnya menjadi berhadapan dengan Siwon, dan mendapati pria itu memberikan seringai diwajahnya..

“Awhh..”

tersentak ketika Siwon menarik pinggangnya, membuat dadanya berbenturan dengan kerasnya dada bidang Siwon. Yoona menunduk memperhatikan, mendadak teringat pada apa yang Ny.Choi katakan tentang bagian dadanya. Semburat malu langsung merayapi wajahnya ketika Siwon juga kemudian meraih dagu dan mendongakkan wajahnya..

“Kau harus mengganti rasa asin dari kopi buatanmu dengan rasa manis dari bibirmu..”

Oh dear..
Benar-benar sial…

***

Siwon POV

Aku telah sedikit menelan sebelum kemudian memuntahkan kopi yang memiliki rasa tak karuan dimulutku saat aku berteriak kesal pada Yoona.
Gadis itu benar-benar memiliki niat dalam kepala kecilnya untuk menjahiliku ketika dengan jelas terdengar suara tawa darinya segera setelah teriakanku.

“gadis nakal..”

Tak ingin membiarkannya merasa puas dan berhasil, aku menggeser kursi yang ku duduki, dan dengan langkah lebar keluar dari ruangan untuk kemudian mengejarnya.

Aku masih mendengar tawa terkikik darinya pada saat meraih pergelangan tangannya untuk menghentikan dan kemudian menarik pinggangnya, membuat tubuhnya merapat padaku. Dada kami bersentuhan, dan aku sedikit menangkap perasaan malu dari raut wajahnya yang kemudian tertunduk.

Apa yang dikatakan oemma pada bagian tubuhnya itu pasti telah mempengaruhinya..

Matanya mengerjap dengan penuh keterkejutan saat aku meraih dagunya dan mendongakkan wajahnya untuk menatapku. Hal itu yang lantas membuat deretan gigi putihnya terlihat saat dia menggigit bibir bawahnya, mulai gelisah. Namun sesaat aku justru terfokus pada sewarna merah jambu dari bibirnya yang mungil, aku pernah merasakannya setidaknya dua kali dan masih tak merasakan apapun pada saat itu.

Tapi saat ini..
Hanya dengan memperhatikan deretan gigi putihnya yang sedang menggigit itu, aku merasakan iri dan menginginkan untuk menggantikan menggigit dan merasakan bibir itu didalam mulutku.

Ini tidak layak..
Mengapa dia harus menggigit bibirnya seperti itu dan menggugah sesuatu dalam diriku menjadi benar menginginkan untuk melumatnya didalam mulutku..

Tuhan..
Apa yang terjadi padaku?

Aku terkesiap saat merasakan sesuatu yang seakan tengah menyengat tubuhku dan debaran kencang dari jantungku yang berdenyut, membuatku kemudian melepaskan tubuhnya dan mundur. Tak ingin membuatnya menyadari jantungku yang mungkin sedang bersiap melompat dari tempatnya.

Aneh..

Salah tingkah dengan apa yang kusadari telah kuucapkan padanya untuk menggantikan rasa asin dari kopi buatannya dengan menciumnya, aku mengalihkannya dengan sebuah pertanyaan..

“euh.. Apa yang kau lakukan pada kopi buatanmu..?”

itu terdengar bodoh untuk dikatakan saat aku telah mengatahui apa yang sudah dia lakukan dengan mencoba menjahiliku..

“Maaf sajangnim.. Aku hanya kesal..”

“Kau kesal setelah aku mengetahui kau telah berselingkuh dengan menghubungi pria lain tanpa sepengetahuanku..”

“baik saya maupun anda.. sama-sama mengetahui kata ‘berselingkuh’ itu tidaklah tepat untuk digunakan diantara kita..”

“kita? apa kau tadi menyebut aku dan dirimu sebagai kita..?”

Dia mendecak dengan kesal namun tak mengeluarkan bantahan dari bibirnya.

Bibir..
Bibir..
Bibir..
Mengapa aku terus terfokus pada bibirnya.

“Aku akan memaafkanmu bila kau dengan segera menyeret kakimu kedapur dan mendapatkan secangkir kopi yang benar untukku..”

Dia hanya menganguk dengan wajah memberengut dan bibirnya..

Sial..
Aku baru saja memperhatikan lagi bibirnya yang bergerak menggumamkan sesuatu. Aku harus segera beralih..

“Cepat Yoona.. Atau aku akan mengadukan perbuatanmu pada oemma dan membiarkannya mengajarimu bagaimana cara bersikap layak pada tunanganmu..”

“anda sangat suka memberikan ancaman dengan mengatas namakan ibu anda..”

“Aku tidak sedang mengancam.. aku hanya memberitaumu apa yang akan aku lakukan. semua tergantung pada apa yang kau lakukan..”

“Ck..! geurae.. baiklah Tuan muda, Saya akan melakukannya..”

dia masih memberengut dan dengan sedikit menghentakkan kakinya saat beranjak dari hadapanku untuk kemudian mengarah kedapur. Aku akan menunggunya diruang kerjaku.

Sementara menunggu Yoona membuatkan lagi kopi untukku, Aku tak bisa hanya dengan duduk sambil sesekali membuka file berisi pekerjaan yang harus diselesaikan. Aku justru berdiri, berjalan mondar-mandir didalam ruang kerjaku. Aku tak tahu, aku tak berkonsentrasi lagi untuk mengerjakan pekerjaanku..

Dan kemana gadis itu membuat kopi? hingga lebih dari sepuluh menit aku masih belum mendapatkannya berada diruang kerjaku..

Aku sudah hampir berteriak ketika terdengar ketukan pada pintu..

“Sajangnim..”

Suaranya terdengar dari luar, dan aku segera menempati kursi dibelakang meja kerja dan dengan serius membuka asal salah satu map diatasnya..

“Masuklah..”

Aku mendengar knop yang ditekan, dan pintu yang terbuka setelahnya. Langkah kakinya terdengar kecil dan samar mengarah padaku.

“saya sudah membuatkan yang baru..”

Dia menempatkan sebuah cangkir diujung meja, aku masih menghindari untuk memperhatikannya. Aku sedikit mempertanyakan pada diriku sendiri, mungkinkah aku akan kembali hanya terfokus pada bibir merah jambu miliknya bila kemudian aku mendongak untuk melihatnya..

“Silahkan mencicipinya, sajangnim..”

“Kau yakin kali ini tidak menambahkan garam seperti yang tadi?”

Aku membalik lembaran map, membuat kedua mataku agar terfokus pada apa yang saat ini ada dihadapanku. Tapi dia diam..
Yoona hanya diam dan tidak menjawab apa yang tadi kutanyakan. Jelas-jelas dia masih berdiri didepan mejaku, belum sedikitpun beranjak. Tapi mengapa tak menjawab?

“Kau tidak menambahkan garam, bukan?”

Rasanya aku ingin mengerang. Kediamannya kemudian memaksaku mendongak dan melihatnya hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban atas apa yang kutanyakan. Mengapa dia tidak menjawab dengan mengeluarkan suara dari bibirnya..

Hentikan..
Aku memperingatkan diriku sendiri agar tidak terus- terusan memandang pada bibir itu..

“Aku tidak yakin..”

“saya benar-benar tidak melakukannya lagi, sajangnim..”

Dia meyakinkan dengan kesal..

“buktikan padaku..”

Aku mendorong cangkir itu kearahnya, dan melihatnya memutar mata kearahku.

“Aku tidak akan terjebak untuk yang kedua kali. Sekarang aku perlu untuk diyakinkan terlebih dulu.. Cobalah mencicipinya..”

Dia mendengus namun kemudian meraih cangkirnya dari atas meja, menyesap dengan bibirnya untuk merasakannya. Ekspresinya biasa-biasa saja ketika kemudian dia sedikit menjulurkan lidahnya untuk selanjutnya memutarnya pada bagian bibir bawahnya guna membersihkan sisa-sisa kopi yang menempel diseputaran bibirnya.

Demi Tuhan..
Dia tidak seharusnya melakukan hal semacam itu didepanku. Bagaimana bisa gadis se-belia itu bisa melakukannya. Itu seksi, tapi jelas-jelas sangat tidak layak untuk dilakukan saat ini. Setelah sebelumnya aku merasakan iri pada deretan gigi putihnya yang dengan bebas dapat menggigiti bibirnya, kini aku merasakan hal yang serupa pada lidahnya. Sekarang Aku ingin mempergunakan lidahku untuk menjilatnya.

Sialan..

Dalam hati aku mengerang. Apa gadis itu telah dengan sengaja menggodaku?
Parahnya dia telah berhasil..
Apa dia juga mengetahui aku sedang berpikiran mesum hanya karna terus membayangkan apa yang bisa kurasakan dari bibir semerah jambu miliknya..

Oh Tuhan..
Aku harus segera menghentikan kekacauan ini dari kepala ku.

“tidak ada rasa yang menyimpang. Anda harus mempercayainya karna ahjumma Lee yang sudah mengajarkan saya bagaimana cara meraciknya..”

dia meletakkan lagi cangkir itu dan sedikit mendorongnya kehadapanku. Menunggu akan reaksiku dengan kembali menggigit bibir bawahnya.

Astaga..
Dia akan segera menjadi sumber ke-gila-an ku. Aku bahkan tak lagi dapat menghitung berapa kali dia telah melakukannya. Sesungguhnya aku memang tak pernah menghitungnya..

“hm.. Aku percaya..”

Aku tak dapat mempercayai suara ku yang bahkan terdengar bodoh saat ini. Gadis itu akan semakin membuatku merasa bodoh jika lebih lama berada disini..

“Keluarlah.. Aku perlu berkonsentrasi pada pekerjaanku..”

“Anda tidak perlu meminta.. Saya memang akan keluar..”

Dia mendecak, menggumamkan sesuatu yang tak jelas dibibirnya dan berbalik memunggungiku. Tiga langkah kakinya berjalan meninggalkan hadapan meja kerjaku, aku tak mengerti dengan otakku yang memerintahkan diriku hingga bibirku kemudian mengatakan sesuatu yang membuat dia menghentikan langkahnya dan kembali membalik tubuhnya menghadapku.

“tunggu Yoona..”

Aku telah menghentikan langkahnya dengan memanggilnya tadi. Untuk alasan apa, aku benar-benar tidak mengetahuinya.

Dia menatapku..
Aku menatapnya..
Aku bersumpah, saat itu aku terkunci dalam tatapan bening yang tersorot dari kedua matanya. Untuk sesaat sebelum aku melihatnya kembali menggigit bibir bawahnya. Mengantisipasi apa yang akan kukatakan padanya..

“Jangan lagi menggigit bibirmu dihadapanku.. Atau saat ini aku akan bergerak dengan cepat, mendorong tubuhmu hingga membentur dinding dan menciummu hingga kita sama-sama kehabisan napas..”

Dia terkesiap. Membelalakkan mata mendengar apa yang ku katakan dan aku jauh lebih terkesiap melebihi apa yang dia rasakan mengetahui aku baru saja mengatakan kebodohan.

Benar-benar gila Siwon..
Bodoh..

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

To Be Continued~

*ehmm.. yang masih bingung juga gimana cara dapetin PeWe ff disini.. terutama buat Chapter 5 kemarin, silahkan KLIK^^

@joongly

186 thoughts on “| At First Sight | 6

  1. Wahhhhh….status siaga nih bwt siwon….
    sdh mulai suka n
    sm yoona..hahhaha….
    gmn nasib selanjutx yoona d tangan ibu siwon…..

  2. Omma siwon menjadikan siwon pelampiasan kekesalan nya,, Hahaha 😄😄
    Dia ampe gebukin siwon gitu,,
    Untung aja cuma siwon yang di gebukin,,
    Yoona kena damprat juga walaupun cuma kata-kata aja,,
    Tapi tetep aja menyakitkan,,
    Emang bener sih kenyataan nya emang gitu,,
    Tapi ga harus juga kan ampe di katain di depan siwon juga,,
    Ampe nangis gitu anak orang buuu”..
    Lagian kan yoona emang masih belia,,
    Masih dalam masa pertumbuhan…. 😳😄😄😄

    Cie-cie yang udah mulai terpesona cieee. 😊😊
    Ampe segitu nya,,
    Ampe berpikiran mesum gitu,,☺☺
    Udah mulai kehilangan kendali dia,,
    Siwon udah bener-bener terbius dalam pesona yoona… ^^

  3. ngakak abiss gegara kelakuan konyolnya yoonwon😀
    dan kelemahan siwon oppa ternyata adl bibirnya yoong eonni(?)
    dasar otak yadong nihh oppa :p

  4. Yuhuuuuu dari pertama baca yg atas ampe bawah saya senyum” sendriri blom nemu yg sedih” malah meskipun yoona d katain ny.choi dada’y gx sempurna bukan’y risi dan miris malah nambah ngakaka .. Ny.choi ini benar” judes ya …aigo si oppa udah kecanduan ama bi”r si yoongi aw aw nanti lama” candu’y jadi akut loh oppa yoonwon d ff ini bukan cuman ada manis”ya tp benar” manis bnget LOL . Saya sudah klil unn tp yg muncul “MAAF HALAMAN TIDAK D TEMUKAN” sama aja dong kaya i need romanc pas unnie ksih PW gx bisa kebuka juga lanjut aja dah part selanjut’y makasih unnn🙂

  5. wah kayaknya siwon mulai berfikiean mesum.
    mungkinkah tanda tanda tertarik pada yoona?
    hahaha bagaimana bisa siwon mengatakan hal seperti itu pada seorang gadis belia.
    suka karakter yoona disini meskipun umur dia 18 dan dikategorikan sebagai gadis belia melihat perbedaan umurnya dengan siwon tapi yoona gadis belia yang bermulut tajan juga iseng.
    dei awal bertemu siwon dia sudah berani dan bermulut tajam.

  6. Siwon dah mulai tumbuh benih benih cintanya ke yoona dasar siwon mesum mau nyosor aj nih giman nyonya choi gak ngamuk dasar mereka nya juga yg suka curi curi kesemapatanya yoona jahil bgt sih, semoga cepet selesai dah biar yoonwon ad moment sweetx

  7. Kyaaaa momentny YW sweet bin lucu hhe

    Siwon udh mulai jatuh hati kpd yoona,
    Si gadis belia yg bnar2 polos.. Tidak tahukah dia, bahwa dia tlh menjerat sajangnim-ny dg bibir merah mungilnya.. Ckck siwon mulai berpikiran mesum nih yHh

  8. Hahaha rsain tu siwon oppa mang enk dkerjain ma yoona onnie,,,hahhahahaha
    Aq bner2 ska bnget ma chapter ini,,,bner2 bkin ktawa,,,,,rsa na siwon oppa dah mlai ska tuh ma yoona onnie,,,,xixixiixixi

  9. aduhh kata2 ibunya wonppa tajem bgt sampe yoong jdi nanggis..tpi suka bgt sma moment yw dipart ini lucu apalagi wonppa kyaknya udah kecanduan bgt sma bibirnya yoong. tanda2 ada cinta nihh hahaha

  10. dada yg belum tumbuh hahaha, ngakak sumpah, btw sepertinya siwon mulai terpesona sama si gadis belia yg dada nya belum tumbuh :v

  11. Apa,nyonya choi,merhatiin yoona dalam banget sampe urusan dada diurusin,hahaha,tapi siwon oppa nyatanya juga mulai terjebak dengan pesona gadis belia ternyata,haha

  12. Siwon mulai suka ini yaa sama yoona
    Dan ny.choi bilang dada yoona belum tumbuh hahah
    Iya namanya jg msh 18thn tp siwon malah merhatiin bibirnya hahah

  13. akhirnya siwon menunjukan ketertarika terhadap yoona . makin seru cerita nya . thor konfirmasi dong fb ak .ak kn mau minta pw chapter 5

  14. Aduh ibunya Siwon omongannya itu loh, menohok di hati. Tega. Jadi gak cinta lagi akunya.
    Siwon mulai berpikiran mesum kayak gitu, terus Yoona itu sebenarnya ngerti gak sih kalau dia udah membangkitkan gairah pada Siwon kekeke.
    Seneng juga bacanya aku, Siwon udah mulai tertarik kayaknya sama Yoona, tapi Yoona masih gak tau apa apa tentang masalahnya, kasihan Yoona harus dimanfaatin sama Donghae.
    Kak July, lagi lagi keren banget ff nya. Daebbak!!!

  15. Omg siwon kenapa sampe ngomong kayak gitu gara” ngelihat bibirnya yoona.. tapi yoona jahil bgt sampe ngasih garem 3 sendok ke minumannya siwon..

  16. part 5 di kunci yah.. aku dah komen kak tpi gk kliatan komenku di kolom komentar trus di bgian Komentat trakhir id ku jg gkkliatan.. kok bisa kaaakk… 😭😭😭😭😭

  17. Hihihi,yoona benar2 choding banget..
    dan pa itu siwon kenapa yg ada dikepalamu hanya ciuman saja yg kau pikirin klo ada yoona disampingmu,kayaknya siwon mulai tertarik sama yoona..
    sebenernya penasaran sma part 5 karena diproteks jadi ga bisa baca.
    kira2 author ada yg bisa dihubungikah selain twitter karna sya ga punya twitter sedangkan fb aku invit kok ga ada balesan..
    tolong diadd dong pliiiiissss

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s