Fanfiction

| At First Sight | 4

  Happy Reading~

   [Prolog]   [1]   [2]  [3]

*

*

*

*

*

*

*

Yoona POV

Meski aku sudah mengerjapkan mataku berkali-kali tapi tetap saja, wanita yang semalam menatapku tajam, memaki penuh kemurkaan didepan wajahku kini sedang berdiri didepan pintu rumahku dengan wajah yang masih tak kalah mengancam. Kemarahan dan ketegangan jelas masih membingkai wajah tua nya.

Tidak..
Aku seharusnya tak menyebutnya tua.
Dia akan sangat marah bila aku berani mengucapkannya.

Terlepas dari rasa sakit hatiku atas apa yang dikatakan dan tuduhkannya padaku, Aku mengakui Ibu Siwon adalah seorang wanita cantik, bahkan kemarahan yang membingkai wajahnya, masih tak bisa untuk mengalahkan gurat-gurat kecantikan itu diwajahnya yang ‘sedikit’ menua.

Jelas berbanding terbalik dengan keadaanku saat ini. Aku kacau dan berantakan. Aku bahkan tak mengganti gaun yang kukenakan semalam. Entah bagaimana aku terlihat dimata wanita itu sekarang.

“Kau masih tak mendengar apa yang kukatakan..?!”

Terbengong, terkejut dan tidak menyangka akan kedatangan Ibu dari si bajingan itu dipagi hari seperti ini, setelah semalam bahkan aku sudah sempat terpikir untuk tak akan lagi datang kekantor apalagi bertemu dengan bajingan itu, aku mungkin akan kabur dan melarikan diri.

Tapi didepanku sekarang, Ibunya justru menyuarakan ide konyol dengan mengatakan padaku untuk mengemas barang-barangku dan pergi dengannya.

Tidak..
Aku takkan melakukannya.

“kemasi barang-barangmu sekarang..!”

“tapi Ny.. Saya..”

“kenapa? Kau akan menolak..?”

Mengerikan..
Bagaimana bisa wanita itu memiliki tatapan yang dingin dan sekaligus tajam seperti saat menatapku.

Aku pernah melihat Siwon juga memiliki tatapan yang sama seperti itu. Kini aku tahu itu adalah keturunan dari ibunya.

Mereka bahkan sanggup mengintimidasi siapapun yang sedang berbicara dengannya hanya dengan tatapan itu.

“Kau tidak sedang berada dalam pilihan untuk bisa menolak..”

Dan dia menerobos masuk kedalam rumahku.

Ya Tuhan..
Apa yang akan dilakukannya?

“Nyonya.. Apa yang akan anda lakukan?”

“Aku bahkan tak melihat ada sesuatu yang layak untuk dikemas..”

Matanya memutar seakan sedang menjelajahi isi rumahku.

“Ny.. Tapi saya tidak akan kemana-mana. Saya akan tetap berada disini”

“Aku sudah katakan Kau tak punya pilihan untuk menolak. Kemasi pakaianmu sebelum aku kehilangan kesabaran dan menyuruh orang untuk menyeretmu keluar..”

“Nyonya..”

“Kau tahu betapa susahnya saat ini untukku melihat wajahmu, Yoona.. Aku sedang berusaha menahan diri sekarang.. Maka lakukan apa yang kukatakan sebelum aku kehilangan kendali dan menyerangmu..!”

Wajahku pasti sudah berubah pucat sekarang. Wanita itu benar-benar pandai mengancam hingga aku tak dapat melihat sisi ke-ibu-an dalam dirinya.

Bahkan Yuri oenni memiliki sisi itu saat mengurusku, meski dia belum menjadi seorang ibu.

Aku mengangguk dan dengan terpaksa melangkah masuk kedalam kamarku, sebelumnya aku memperhatikan dari ekor matanya, Ibu Siwon mengikuti langkahku.

Dengan cepat, Aku lantas mengemas beberapa pakaianku, kemudian memasukkannya kedalam satu-satunya koper yang kumiliki.

“Hanya itu yang kau miliki?”

Aku terkejut saat dia berada diambang pintu kamarku. Meneliti dengan serius apa saja yang berada didalam koperku yang seakan tak layak bahkan untuk sekedar dilihat oleh kedua matanya.

“Aku tak ingin mengomentari apa yang pernah kau dan Siwon lakukan didalam kamar sempit ini..”

Aku juga memutuskan untuk tidak mengomentari kalimat yang baru diucapkannya yang jelas salah besar. Tidak seorang pria pun pernah masuk kedalam kamarku.

“Saya tidak memerlukan banyak pakaian untuk dibawa. Mungkin saya tidak akan lama tinggal bersama anda..”

“Kau tak berhak untuk menentukan itu. Aku yang akan memutuskan berapa lama kau bisa tinggal ataupun pergi.. Meski saat ini aku sangat ingin membuatmu pergi dari kehidupan putraku. Aku tidak akan melakukan itu dengan terang-terangan..!”

Apa ini sebuah ancaman lagi bagiku?

Tuhan..
Bagaimana aku bisa menghadapi wanita itu jika hanya dengan kata-kata yang diucapkannya sudah cukup untuk membuatku menahan napas dan merinding takut.

Aku benar-benar merasa jika Ibu Siwon adalah wanita paling mengerikan yang pernah kutemui sekaligus ibu paling cantik yang pernah kulihat. Susah untukku mendeskripsikan wanita semacam itu, apalagi setidaknya sampai saat itu aku juga pernah melihatnya tersenyum manis saat bersama dengan mantan calon tunangan putranya.

“Cepatlah.. Berapa lama lagi kau akan berada disana?”

buru-buru menutup dan mengancingkan koperku, aku lantas menyeretnya dan mengikuti Ibu Siwon yang sudah melangkah keluar dari dalam rumahku. Aku memastikan mengunci pintu sebelum akhirnya pergi meninggalkan rumah kecilku.

Aku harus menahan napas selama berada didalam mobil bersamanya dan duduk disampingnya. Terperangah mendengarnya saat melakukan pembicaraan dengan Siwon melalui sambungan ponselnya…

***

Author POV~

“Kau tidak akan memiliki sekretaris mulai hari ini..”

“Oemma.. Apa yang kau lakukan pada Yoona?”

“kenapa? Kau marah pada oemma karna mengambil kesenangan yang kau dapatkan dari gadis belia itu..”

“Oemma.. Jangan kekanakan..”

“dengar Siwon! Oemma memperingatkanmu.. Jangan lagi menggunakan sekretaris wanita jika hanya untuk kau tiduri didalam ruang kerjamu..! Kau pria dewasa, oemma tidak ingin kau bermain-main lagi. Ini sudah kelewatan untuk oemma..!”

“Oemma.. Aku tidak serendah itu, percayalah..”

“Terlambat.. Kau yang membuat oemma tak lagi bisa sepenuhnya mempercayaimu. Yoona bersama oemma, dia akan tinggal dirumah kita dan akan terus dalam pengawasanku.. Sebaiknya jaga kelakuanmu!!”

Ny.Choi langsung mengakhiri pembicaraan, menghela napasnya dengan kasar dan selanjutnya hanya terdiam sepanjang perjalanan menuju rumahnya.

Apa yang kemudian membuatnya mendatangi dan membawa Yoona untuk tinggal bersamanya adalah telepon dipagi hari dari Ibu jessica yang mengumpat, memaki dan menghina kelakuan putranya.

Meski Ny.Choi sempat mengatakan permintaan maafnya atas batalnya pertunangan antara Siwon dan Jessica, tetap saja hal itu tak mengurangai kemarahan dari kata-kata yang dilontarkan Ibu Jessica kepadanya.

“Putramu tak lebih dari seorang bajingan. Dia berkelakuan brengsek.. Bagaimana sebenarnya caramu mendidiknya hingga dia seperti itu?”

“Kau tak berhak mengomentari bagaimana caraku mendidik Siwon.. Itu menjadi urusanku”

“Oh, Kau jelas telah gagal sebagai seorang ibu.. Lihatlah Gadis yang bertunangan dengan putramu hanyalah seorang gadis rendahan.. Dia memang tak pantas mendapatkan putriku. Jessica gadis baik-baik, pintar dan bermartabat. Dia bisa menjaga harga diri dan kehormatannya. Tidak seperti…”

“Sebaik-baiknya putrimu, dia mungkin tak baik untuk putraku”

Ny.Choi memotong ucapan ibu Jessica dan mulai terpancing emosi saat itu. Ia mengatakan kesinisan setelah mendengar bagaimana Ibu Jessica menghina putranya. Bagaimanapun, seorang Ibu pastilah tetap memiliki nurani untuk membela putranya, sebejat apapun kelakuannya.
Meski Ia juga menyimpan kekecewaan yang begitu besar, tetap saja tak boleh ada yang menghina putranya.

Sebagai seorang ibu, Ia jelas akan pasang badan untuk membela putranya dari serangan orang-orang yang berkata buruk terhadapnya.

“Apa yang kau maksud putriku tak baik untuk putramu? Siwon lah yang tak baik untuk Jessica.. Dia bajingan! Aku takkan membiarkan putriku menjadi salah satu pelacurnya seperti gadis rendahan itu..”

“Jaga bicaramu..! Aku tidak akan memaafkanmu jika kau sekali lagi menyebut putraku sebagai bajingan dan tidak ada satu pelacur pun dalam kehidupan putraku!!”

Ny.Choi semakin meradang..

“Oh, benarkah? Lalu bagaimana dengan gadis yang dia telanjangi diruang kantornya.. Menjijikkan!”

“Siwon tidak menelanjanginya..!”

“Ya, dia akan melakukannya jika saja Jessica tidak memergokinya. Oh, bukankah kau sendiri juga melihat kelakuan bejat putramu..?”

“Hentikan ocehanmu..! bagaimanapun kau membanggakan putrimu Jessica, tetap saja Siwon tidak menginginkannya. Aku tidak akan menjerumuskan putraku untuk bertunangan dengan wanita yang tak diinginkannya. Dia putraku satu-satunya dan aku pastikan dia akan mendapatkan apa yang diinginkannya. Kebahagiannya ada pada gadis biasa itu, maka aku akan mendukungnya sepenuhnya..”

“Aku tak menyangka Kau sama saja seperti putramu yang…”

“Aku sudah selesai denganmu..!”

Ny.Choi mengakhiri pembicaraan begitu saja dengan menutup telpon dengan keras. Wajahnya memerah menahan amarah pada Ibu Jessica, juga masih pada Siwon yang telah mempermalukannya.

Pada saat itu sang suami langsung mendekatinya dan coba menanyakan siapa yang berbicara ditelpon dengannya dan membuatnya meluapkan kemarahan dipagi hari itu.

“wegurae? Siapa yang menelpon?”

“Ibu Jessica, dia memaki dan astaga, aku tak tahan mendengarnya..”

“Apa yang dia katakan?”

“tentu saja menghina Siwon.. Dimana dia aku harus bicara dengannya..?”

“Yeobo.. Yeobo..”

Tn.Choi mengikuti sang istri yang melangkah menuju kamar Siwon. Memperhatikan bagaimana sang istri yang membangunkan putranya dengan cara menarik satu guling dari pelukan Siwon kemudian memukulkan ketubuhnya, yang membuat Tn.Choi menggelengkan kepala sambil menahan tawanya.

“Bangun Siwon..! Bagaimana kau bisa tidur nyenyak setelah apa yang kau lakukan pada oemma..”

Siwon menggeliat dan mengerang merasakan pukulan-pukulan ditubuhnya.

“Oemma, apa yang kau lakukan?”

Ibunya tidak seperti biasanya yang membangunkannya hanya dari luar kamarnya dengan menggunakan suara dan ketukan pada pintu kamarnya.

“dimana gadis itu tinggal? Berikan alamatnya pada oemma..”

Siwon beranjak duduk sambil mengucek matanya yang masih terasa berat. Semalam Ia tak dapat tidur karna memikirkan kekonyolannya dengan bertunangan dengan Yoona. Dan membayangkan akan seperti apa nantinya bila Donghae meneruskan rencananya.
Ia bukan khawatir, melainkan antusias untuk mengikuti permainan. Meski Ia sadar, Ia tengah mempermainkan kehidupannya dan bukan hanya dirinya saja melainkan juga kedua orangtua nya.

“gadis yang mana oemma?”

“Ya Tuhan.. Memangnya ada berapa gadis yang pernah kau tiduri dikantormu? Keterlaluan..!”

“Awh.. Awhh.. Oemma..!”

Ny.Choi kembali memukulkan guling ditangannya kearah Siwon, kali ini lebih keras dari sebelumnya hingga membuat Siwon berjingkat dari tempat tidur untuk menghindarinya.

“Oemma.. Kau menyakitiku..”

“Itu tidak sebanding dengan kesakitan yang telah kau berikan pada oemma..! Katakan dimana gadis itu tinggal? Katakan pada oemma, Siwon..!”

“Yeobo.. Untuk apa kau mencari tahu dimana Yoona tinggal?”

Ny.Choi memutar mata kearah suaminya.

“benar-benar konyol.. Bagaimana bisa kita tidak mengetahui dimana gadis yang telah bertunangan dengan putra kita itu tinggal..”

“jadi yang oemma maksud Yoona?”

Ny.Choi kembali beralih pada Siwon dan menatapnya dengan kesal.

“Ya.. Bukankah dia pernah membawamu pulang kerumahnya.. Dimana gadis itu tinggal?”

“Apa yang akan oemma lakukan?”

“itu terserah pada oemma.. Aku bisa melakukan apapun pada gadis yang telah membuat bencana untuk keluargaku..”

“Astaga, yeobo.. Sudahlah. Semua sudah terjadi.. Kau harus menerimanya..”

“Kau juga jangan terus membela Siwon! Kau harusnya menyadarkannya, bahwa apa yang dilakukannya telah merugikan dirinya sendiri.. Bukankah bila mereka jadi bertunangan, perusahaan yang kau bangun dengan keringat dan airmata bisa semakin berkembang dengan menggabungkannya dengan perusahaan milik ayah Jessica..”

“Ya itu benar.. Tapi apa kau tega menukar putramu demi bisnis? Dari awal aku menyetujui perjodohan yang kau sarankan berdasar semua atas keinginan Siwon.. Bila Siwon tidak menginginkannya, ya sudahlah.. Untuk apa lagi memaksakannya. Kita sudah memiliki jauh melebihi yang kita butuhkan.. Aku sudah cukup puas dengan perusahaan yang kumiliki. Aku pun jauh lebih puas karna kita tidak bergantung pada bantuan oranglain, dan bisa berdiri dan bertahan dengan kedua kaki sendiri..”

Siwon tersenyum mendengar apa yang diucapkan ayahnya.

“Aboji benar oemma.. Untuk apa menggabungkan perusahaan kita dengan mereka, karna nyatanya perusahaan kita lah yang lebih besar. Jelas mereka yang akan mendapatkan keuntungan lebih..”

“Diam Kau Siwon.. Jangan terus membela dirimu. Ayah dan anak sama saja mengesalkan..!”

Tn.Choi dan Siwon kemudian saling menggunakan isarat mata dan sama-sama mengangguk.

“Sekarang katakan pada oemma dimana gadis itu tinggal?”

“Apa yang sebenarnya kau inginkan, yeobo?”

“Aku ingin memperbaiki yang rusak dari gadis itu..”

“Mwo.. Maksud oemma?”

“Jangan banyak bicara, dan cepat beritahu oemma dimana tempat tinggalnya?”

Maka kemudian dengan paksaan dari Ny.Choi, dan tak lagi ingin berdebat dengan sang ibu, Siwon akhirnya mengatakan dimana tempat tinggal Yoona. Dan tanpa banyak bicara lagi Ny.Choi meminta seorang supir untuk mengantarnya.

Apa yang tadi dikatakan oleh Ibu Jessica mempengaruhinya untuk menunjukkan jika Jessica bukanlah satu-satunya sosok wanita yang mengagumkan. Dan dirinya takkan menyesalkan karna tak mendapatkannya sebagai tunangan Siwon, putranya.
Ny.Choi ingin membela putranya dengan jalan menunjukkan pada semua orang yang berkomentar buruk padanya, bahwa gadis yang dipilih oleh putranya adalah gadis yang istimewa meski hanya terlahir dari kalangan biasa.

Tapi nyatanya niatannya untuk mencoba melunakkan sikapnya pada gadis itu sirna setelah melihat Yoona membukakan pintu dalam keadaan kacau dengan gaun semalam yang masih melekat ditubuhnya.

Dalam hati Ia mengerang..
Bagaimana bisa putranya menginginkan gadis seperti itu..
Dan bagaimana bisa Ia berniat mengubah gadis itu menjadi terhormat agar layak untuk bersanding dengan putranya.

“Ny.. Kita sudah sampai..”

Seorang supir yang telah menghentikan laju mobilnya dan membukakan pintu untuknya, menyadarkan Ny.Choi dari kediamannya. Ia kemudian menoleh pada Yoona disampingnya dan melihatnya yang juga hanya terdiam dengan jari jemari yang saling bertaut.

“Cepat turun.. Dan bawa barangmu..”

Ny.Choi berucap dingin sebelum akhirnya keluar dari dalam mobil.

Yoona mengambil koper miliknya dengan bantuan sang supir, dan lantas mengikuti langkah Ny.Choi masuk kedalam rumah yang membuatnya ternganga karna kemegahan dan keindahannya.

Bagaimana mungkin bila dirinya akan merasakan tinggal didalamnya..

Yoona memejamkan mata dan membukanya, mengerjap beberapa kali hanya untuk memastikan semua itu nyata dan dirinya tidak sedang bermimpi ataupun tengah melintas kedalam kisah-kisah dongeng yang dulu sering dibacanya dan hanya bisa diimpikannya saja.

“Ahjumma.. Ahjumma..”

Ny.Choi memanggil-manggil salah seorang pelayan rumahnya.

“ne.. Ny..”

“Ahjumma Lee, siapkan satu kamar untuknya..”

mata sang ahjumma mengikuti arah pandang Ny.Choi dan menatap pada Yoona, kemudian keduanya sama-sama terkejut melihat satu sama lain.

“Omo.. Yoona ya..”

“Ahjumma..”

“Kau mengenalnya ahjumma?”

Ny.Choi kini yang terlihat bingung mengarahkan pandangannya bergantian pada sang ahjumma dan juga Yoona.

“ne.. Kami tadinya bertetangga sebelum Donghae mengajakku untuk pindah.. Jadi Yoona, gadis yang bertunangan dengan Tuan muda Choi..?”

Yoona hanya bisa tersenyum kikuk dengan apa yang diucapkan ahjumma Lee, yang kemudian melangkah mendekatinya.

“Aku tidak menyangka jika Kau lah gadis yang disebut-sebut oleh Ny.. Sepanjang pagi tadi”

Yoona sangat ingin bertanya apa yang dikatakan oleh ibu Siwon tentangnya, namun mengetahui Ny.Choi yang terus mengarahkan tatapan padanya membuat Yoona kembali menelan apa yang ingin ditanyakannya.

Rasanya memang tak perlu, karna sepertinya Ia telah bisa menebak jika apa yang diucapkan Ibu Siwon untuknya pastilah sebuah caci maki dan kalimat penuh kemarahan seperti sebelumnya.

“Aku lebih tak menyangka Kau mengenalnya, ahjumma..”

“Dia gadis yang manis Ny..”

“Oh, aku akan percaya padamu andai aku tak melihat dengan mataku sendiri bagaimana liar-nya kelakuannya..!”

Ahjumma Lee justru tersenyum saat membelai rambut Yoona. Menyadari kekacauan diwajahnya, dan tahu jika telah terjadi sesuatu antara sang majikan dengan gadis itu. Yang membuat pagi tadi, saat Ia baru datang, ahjumma Lee langsung mendengar kemurkaannya.

“Tunjukkan padanya kamar yang bisa ditempati..”

“Saya akan melakukannya Ny..”

Ahjumma Lee kemudian meraih tangan Yoona dan menggandenganya, agar mengikutinya menaiki beberapa anak tangga menuju satu dari banyak kamar yang tersisa didalam rumah itu.

“Aku tidak tahu jika ahjumma bekerja untuk Ny.Choi..”

ahjumma Lee hanya tersenyum sambil memasangkan seprai beserta selimut diatas tempat tidur yang akan digunakan Yoona.

“Donghae oppa tidak mengatakannya padaku”

“Aku sudah lama bekerja disini. Mereka keluarga yang baik. Meski Nyonya terkadang marah, dia selalu memiliki alasan untuk kemarahannya. Termasuk padamu, aku yakin telah ada sesuatu yang terjadi hingga kemudian Kau ditunangkan dengan Siwon. Setauku gadis yang sering datang kemari dan bersama dengan Ny, yang akan menjadi tunangannya.. Jika aku boleh tahu apakah yang terjadi, Yoona ya?”

“ahjumma, aku bisa melakukan ini sendiri. Jangan melayaniku seperti ahjumma melayani Ny..”

Yoona jelas sedang menghindari apa yang ditanyakan ahjumma Lee padanya.

“baiklah, jika kau tak ingin menceritakannya padaku.. Aku tidak akan memaksa”

“maafkan aku..”

Yoona hanya bisa menunduk meminta maaf. Ia tak akan mungkin mengatakan semua itu terjadi karena rencananya bersama dengan Donghae yang bertujuan untuk menghancurkan Siwon.
Namun kini, Yoona mulai merasa dirinyalah yang akan hancur lebih dulu.

“Aku mendengar jika Yoona datang.. Benarkah itu kau?”

Yoona membalikkan tubuhnya pada arah suara yang didengarnya, dan mendapati Tn.Choi telah berdiri diambang pintu kamar yang akan mulai ditempati olehnya.

“Tuan..”

Yoona langsung membungkuk memberi hormat.

“Aku senang melihatmu berada disini”

“tapi saya merasa tidak nyaman Tuan, dapatkah saya kembali kerumah saya?”

“Oh, aku sangat berharap kau bisa nyaman tinggal bersama kami.. Kau telah menjadi bagian dari keluargaku. Kau sudah harus membiasakan dirimu mulai sekarang”

“tapi..”

“Aku sudah katakan padamu jika kau tak memiliki pilihan untuk menolak!”

Ny.Choi tiba-tiba datang dan memotong apa yang ingin dikatakan oleh Yoona dengan kembali mengingatkan dan mempertegas apa yang diucapkannya melalui tatapan tajam nya pada Yoona.

“Kau harus menghargai istriku yang telah datang menjemputmu dan membawamu kemari..”

Tn.Choi sadar bila sang istri masih berada dalam tingkat emosional yang harus diwaspadai. Untuk itu Ia kemudian merangkulkan lengannya pada tubuh sang istri, menahannya agar tidak bergerak maju mendekati Yoona.

“tapi, saya tidak ingin berada dikamar ini..”

“Apa kau pikir aku akan menempatkanmu dalam satu kamar bersama putraku?”

Tidak..
Tidak seperti itu yang dimaksudkannya.
Yoona hanya merasa kamar itu terlalu mewah untuknya. Luasnya bisa ia pastikan melebihi rumahnya. Ia takkan nyaman. Ia terbiasa tidur dalam kamar sempitnya yang berada didalam rumah kecilnya.

“bukan begitu Ny..”

“Ya, pasti begitu.. Aku bisa membaca pikiran gadis belia sepertimu. Dengarkan aku.. Kau akan terus berada dalam pengawasanku, jadi jangan harap kau bisa bersentuhan dengan Siwon didalam rumahku. Jaga kelakuanmu..!”

Menunduk sambil menghela napas, Yoona tahu jika percuma untuk membantah apa yang dikatakan Ibu Siwon saat itu.

“Pertama yang harus kau lakukan adalah bersihkan dirimu. Jangan lagi menunjukkan kekacauan wajahmu dihadapanku..!”

Yoona mengangguk dan melihat Ibu Siwon meninggalkan kamarnya diikuti oleh Tn.Choi dibelakangnya.

Ahjumma Lee kemudian juga bergerak kearah kamar mandi, mengatur suhu air yang akan mengisi bathtub untuk digunakan Yoona menyegarkan tubuhnya.

“Ahjumma kumohon jangan memperlakukanku seperti ini..”

“ini bagian dari pekerjaanku Yoona ya, jangan merasa tidak enak padaku.. Aku senang kau berada disini. Jadi kita bisa kembali dekat seperti dulu..”

ahjumma Lee kembali menunjukkan senyum ramahnya.

“Mandilah.. Kau perlu menyegarkan tubuhmu. Mungkin setelah ini ada yang ingin Nyonya bicarakan denganmu..”

ahjumma Lee yang kemudian juga menunjukkan tempat-tempat yang berisi peralatan mandi  yang berada didalamnya.

Setelah ahjumma meninggalkannya didalam kamar mandi, untuk beberapa lama Yoona hanya terbengong didalamnya. Bingung dengan situasi hidupnya yang mengalami perubahan secara mendadak. Dan bagaimana cara untuk mengatasinya.

Dengan perlahan kemudian, Yoona mencelupkan kakinya kedalam bak mandi yang ternyata berisi air hangat dengan wangi aroma yang menguar dari sabun mandi yang tadi dituangkan oleh ahjumma Lee.

Tergiur dengan wewangiannya, Ia lantas merendam tubuhnya didalamnya tanpa melepas gaunnya.

Setelah cukup lama berada didalam kamar mandi. Melihat kamar itu telah rapi dengan hordeng jendela kaca yang telah terbuka sepenuhnya.

Ia juga menemukan pakaian miliknya yang berada dalam kopernya telah tersusun didalam sebuah lemari. Yang kemudian ditertawakan oleh dirinya sendiri karna bahkan tak mampu mengisi penuh satu susun dalam lemari itu.

“menyedihkan..”

gumamnya sendiri sambil menarik salah satu kaos dari dalamnya.

“Yoona ya.. Apa kau sudah selesai? Ny.Choi memanggilmu.. Dia sudah menunggumu dibawah..”

“ne, ahjumma.. Sebentar lagi..”

Yoona buru-buru mengenakan pakaiannya dan sedikit menyisir rambutnya dengan sisir yang ditemukannya diatas meja rias, dan segera keluar dari dalam kamarnya.
Menuruni beberapa anak tangga, Ia melihat Ny.Choi sedang merangkul suaminya, mengantarnya yang terlihat akan pergi sampai kedepan pintu rumah itu.

“Oh, Yoona ya..”

Tn.Choi yang menyadari keberadaan Yoona langsung memanggilnya.

“Tuan..”

“Aigoo.. Satu yang harus kau ubah dan biasakan mulai sekarang adalah kau tak boleh lagi memanggilku ‘Tuan’. Kau bisa memanggilku ayah, dan ibu pada istriku..”

Tn.Choi melihat kearah sang istri yang hanya mendecak, mungkin merasa berkeberatan dengan apa yang diucapkan namun tak menunjukkan penolakan berarti. Mungkin juga sang istri sudah terlalu lelah menguras energi nya untuk berdebat dengannya.

“tapi Tuan, saya…”

“Ck! Tidak bisakah kau hanya mengatakan ‘iya’? Kau terlalu banyak membantah..”

Tn.Choi tersenyum dan mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan istrinya.

“Aku pergi yeobo..”

Yoona menyaksikan keharmonisan diantara kedua orangtua Siwon. Meski saat itu Ny.Choi masih terlihat kesal pada suaminya namun hal itu tak menutup banyaknya cinta yang melingkupi mereka.

“Buatlah dirimu nyaman, Yoona..”

Yoona sedikit menarik senyum dari sudut bibirnya ketika melepas Tn.Choi pergi dengan menggunakan mobil yang dikendarai oleh seorang supir.

Setelahnya Ia langsung menerima tatapan dari Ny.Choi yang jelas terlihat sedang meneliti tampilannya.

“ikut aku sekarang..”

Yoona hanya mengangguk dan dengan gelisah mengikuti langkah Ny.Choi yang mengarah kehalaman belakang dari rumah itu. Ia kembali ternganga dengan pemandangan luasnya taman bunga yang berada disana.

“pertama-tama aku akan mengajarimu bagaimana cara merangkai bunga..”

Yoona hanya mengerutkan dahi ketika melihat Ny.Choi mulai mengambil gunting dan peralatan lainnya untuk memotong beberapa tangkai dari banyaknya jenis bunga yang telah bermekaran disana.

Ia masih tak mengerti adakah kegunaannya bila dirinya kemudian bisa merangkai bunga?

“Ini akan membuatmu terampil.. Dan lebih terlihat anggun ketika kau melakukannya”

untuk pertama kalinya Yoona melihat senyum diwajah Ny.Choi, ketika wanita itu mencium salah satu dari beberapa tangkai mawar ditangannya. Sangat terlihat bila wanita itu menyukai apa yang dilakukannya.

“Kau juga akan mendapatkan kesenangan bila kau bisa menikmatinya.. Bukan melulu kesenangan yang kau dapatkan dari putraku. Aishh.. Aku tak seharusnya mengatakan itu..”

Ny.Choi lantas menunjukkan pada Yoona bagaimana kemahirannya merangkai beberapa jenis bunga yang semakin terlihat cantik saat sudah terangkai didalam sebuah vas.

“Waw.. Nyonya membuat bunga-bunga itu semakin cantik”

Yoona terang-terangan mengatakan pujiannya dengan mata berbinar penuh kekaguman.

“sekarang giliranmu untuk melakukannya..”

“nde?”

“Aku ingin lihat apa kau tadi menyimak apa yang aku katakan..”

“tapi Nyonya..”

Yoona menggigit bibir bawahnya. Sangat tidak yakin jika dirinya bisa melakukan seperti apa yang Ny.Choi lakukan pada bunga-bunga itu.

Benar saja, Yoona berkali melakukan kesalahan yang membuat Ny.Choi terus mengomeli nya dan kembali merasakan kekesalan padanya.
Ia tak membiarkan Yoona berhenti sebelum berhasil mengerjakan rangkaian bunga yang menurutnya sempurna, meski Ia telah berkali mencoba dan menghabiskan beberapa jam waktunya disana.

“Aku akan meninggalkanmu sebentar.. Kau harus sudah menyelesaikan rangkaian itu dengan benar.. Jika tidak, Kau akan tetap berada disini bahkan hingga matahari tenggelam!”

Yoona menghela napasnya dengan kasar setelah Ny.Choi meninggalkannya sendirian disana dengan sebuah kalimat peringatan.

“memangnya apa gunanya bisa merangkai bunga? Bukankah dia punya cukup banyak uang untuk membayar seorang yang ahli  merangkaikan bunga-bunga ini untuknya. Mengapa harus menyuruhku melakukannya? Menyebalkan..!”

“Apa kau baru saja menyebut ibuku menyebalkan..?!”

Karna terkejut dengan suara Siwon yang tiba-tiba sudah berada disana, berdiri dengan kedua tangan menyilang didepan dada, akibatnya Yoona menjatuhkan sebuah vas disampingnya yang tersenggol oleh sebelah tangannya yang lantas terdengar suara terkikik dari Siwon yang justru menertawakannya.

“Aku akan mengatakan pada oemma jika kau membuat kekacauan pada bunga-bunga kesayangannya setelah kau juga mengatakan bahwa dia ‘menyebalkan’ ”

Siwon menyeringai saat menyebutkan kata ‘menyebalkan’ yang ditandai dengan tanda kutip dengan menggunakan jemarinya.

“Oemma.. Oemma.. Kau ingin tahu apa yang dikatakan gadis itu tentangmu? Oemma..!”

Yoona berubah panik melihat Siwon yang mulai melangkah sambil berteriak memanggil ibunya.

“Apa yang kau lakukan bodoh.. Jangan mengatakan itu..!”

“Oemma.. Oemm.. Ouhh..”

Dengan cepat dari belakang, Yoona membungkam mulut Siwon dengan kedua tangannya. Menghentikannya agar tidak berteriak dan memanggil ibunya untuk mengatakan umpatan yang didengar Siwon keluar dari bibirnya.

Namun Siwon memberontak, dengan menarik tangan Yoona yang sedang membungkam mulutnya. Ia membalikkan tubuhnya menjadi berhadapan dengan Yoona, namun Yoona kemudian mendorongnya.

Tidak sigap dan kurangnya keseimbangan tubuhnya, dengan mudah Yoona bisa membuat Siwon terjatuh. Namun sebelum tubuhnya terjatuh Ia sempat meraih tangan Yoona hingga kemudian membuatnya ikut terjatuh diatas tubuh Siwon.

Siwon mengerang merasakan sakit dibagian punggungnya, sekaligus nyeri saat tubuh Yoona menindih tubuhnya…

“Omo.. Omo.. Siwonie.. YOONA..!! APA LAGI YANG KALIAN LAKUKAN..!! YA TUHANNN..!!”

Ny.Choi meradang melihat kekacauan dihadapannya…

Gurat kemarahan itu juga kembali terlihat jelas ketika Ny.Choi sekali lagi meradang oleh kelakuan putranya dan seorang gadis yang baru semalam menjadi tunangannya.
Pertunangan yang diluar dari keinginannya.

Gadis itu belia dan cenderung liar dimatanya. Sama sekali tak sesuai dengan apa yang diinginkannya, yang menjadi harapannya adalah Siwon memiliki tunangan seorang wanita dewasa yang anggun, terhormat dan terlahir dari sebuah keluarga baik-baik, sehingga layak untuk berdampingan dengan putranya yang juga seorang pria yang memiliki reputasi baik dari segi materi maupun silsilah keluarganya, dan sudah masuk kedalam kategori dewasa bila dilihat dari segi umurnya.

Namun sayangnya Siwon justru bermain-main dan parahnya, dengan menggunakan mata kepalanya sendiri, Ia menyaksikan bagaimana sang putra yang begitu tertarik dan menginginkan gadis belia itu. Gadis belia yang menjadi liar tanpa didikan dari kedua orangtuanya

Risih dengan pemandangan yang ada dihadapannya, Ny.Choi langsung saja menarik tangan Yoona, menjauhkan tubuhnya yang terjatuh menimpa tubuh Siwon. Ia hanya bisa berdiri kikuk, sekaligus gelisah dengan tatapan Ny.Choi kearahnya.

“Demi Tuhan.. Kalian tak seharusnya berbuat asusila dirumahku..!”

Siwon langsung berdiri setelah mendapat tatapan tajam dari ibunya. Meringis mengusap punggungnya, menahan rasa sakit disana, Ia justru mendapat tambahan dari Ny.Choi yang memukul-mukul lengannya dan membuatnya mengaduh dan berusaha menghindar..

“Oemma.. Oemma kau menyakitiku.. Kenapa tak memukul gadis itu dan malah memukulku. Oemma..!”

Mendengar apa yang Siwon katakan, Yoona dengan kesal memutar mata kearahnya..

“Keterlaluan.. Kau keterlaluan Siwon! Apa yang akan kau lakukan..! Tidak bisakah Kau menahan dirimu..!”

“Aku tidak melakukan apapun oemma.. Yoona yang mendorongku. Aku tidak tahu apa yang sedang dia rencanakan..”

Menghentikan pukulan-pukulan yang diberikannya pada lengan Siwon, Ny.Choi beralih menatap Yoona yang hanya bisa menggigit bibir bawahnya setelah Siwon melempar kesalahan padanya. Ia tahu posisinya akan semakin buruk dimata Ibu Siwon..

“Kau..!”

“Nyonya.. Saya bisa jelaskan, Sajangnim yang lebih dulu…”

“Kau akan mengingkari jika kau lah yang mendorongku hingga terjatuh dan kemudian menjatuhkan tubuhmu diatasku..?”

Siwon dengan santai memotong kalimat Yoona dan mengatakan hal yang semakin membuat Yoona menatap kesal kearahnya.

“Oemma.. Kali ini dia lah yang bersalah dan bukan aku. Aku juga mendengarnya mengatakan jika.. Hmm…”

“SAJANGNIM..!”

Yoona tanpa sadar mengucapkannya terlalu keras, hingga membuat Ny.Choi memelototi ketidak sopannannya.

“Astaga.. Dasar gadis liar!”
Ahjumma.. Ahjumma, bawakan aku air dingin.. Aku harus mendinginkan kepalaku.. Ahjumma..!”

Ny.Choi dengan kesal menjauhinya, membawa kemarahan yang mendidih dikepalanya..

“saya tidak menyangka jika Anda benar-benar kekanakan Tuan..”

Yoona langsung melontarkan kalimat itu pada Siwon, dan membuat Siwon langsung memberikan tatapan dingin kepadanya..

“bagian mana dari sikap ku yang kekanakan nona..?”

Siwon mendekat, meraih dagu Yoona dan mendongakkannya, membuatnya bertatapan lurus dengannya.

“sekarang sebutkan padaku yang mana yang kau bilang kekanakan itu..?”

Yoona merasa tatapan dingin Siwon telah membekukan tubuhnya, dan membuatnya kehilangan kata-kata.

“Astaga.. Siwon! Tidak bisakah kau menjauhkan tanganmu dari gadis itu.. Sekarang!!”

Siwon sedikit kaget mendapati ibunya yang Ia kira telah menjauh, kini justru sedang melebarkan mata melihatnya. Ia buru-buru menjauhkan tangannya dari dagu Yoona untuk kemudian berjalan menghampiri ibu nya.

“Oemma.. Kau harus percaya padaku.. Aku tidak..”

“Diam Kau Siwon..! Oemma tidak ingin mendengarmu bersuara atau oemma akan meledak karna kelakuanmu..”

Siwon mendesah dan memutuskan mengurungkan niatnya untuk mendekati ibunya yang masih sangat emosional terhadapnya.

“Aku akan berada dikamarku..”

Ucapnya kemudian melenggang masuk kedalam kamarnya, dan meninggalkan lagi kesalah pahaman dipundak Yoona.

Yoona benar-benar mengarahkan tatapan kesal pada pria itu, sampai kemudian ia tersadar jika yang harus dilakukannya adalah menjelaskan apa yang sebenarnya tadi terjadi pada Ny.Choi, agar wanita itu menarik kembali ucapannya yang menuduhkan Ia hendak berbuat asusila dirumahnya.

“Nyonya..”

Yoona mendekat pada Ny.Choi yang berkali-kali sedang menarik nafas panjang. Tangannya terlihat gemetar saat memegang segelas air dingin ditangannya.

“menjauhlah dariku..”

“Nyonya.. Anda hanya salah paham. Tadi hanyalah..”

“Aku tidak bisa mendengar penjelasan apapun darimu, Yoona.. Menjauhlah..”

Ny.Choi meneguk habis segelas air dingin ditangannya..

“Ahjumma.. Berikan aku segelas lagi..!”

“Nyonya.. Anda harus mendengarkan penjelasan saya. Jika tidak, Ny.. Akan terus menanamkan perilaku buruk itu melekat pada diri saya..”

Yoona memberanikan diri kembali bersuara..

“Apa maksudmu aku tak seharusnya menilaimu buruk? Kenyataannya Kau adalah gadis liar..! Ahjumma.. Dimana kau? Mana air dingin untukku..?”

Ahjumma lee entah muncul darimana, Ia sudah tiba-tiba berada disana dengan nampan berisi segelas air dingin sesuai dengan permintaan Ny.Choi. Mungkin Ia sudah sedari tadi berada diantara mereka, hanya takut-takut untuk menampakkan dirinya.

“Ini nyonya..”

“Ahjumma..”

“ne..”

“bawa gadis itu menjauh dariku..”

Ahjumma lee langsung menatap pada Yoona dan menganggukkan kepala kearahnya, namun Yoona menggeleng..

“Nyonya.. Anda belum mendengarkan penjelasan saya..”

“Tidak perlu.. Pergilah!”

“Apa maksud Nyonya saya boleh pergi dari rumah ini?”

Ny.Choi mendecak kesal, berdiri dari duduknya dan kemudian berkacak pinggang dihadapan Yoona..

“Kau masih belum mengerti?! Aku bukan menyuruhmu pergi dari rumahku.. Banyak hal yang perlu kau pelajari, dan aku tak akan melepaskanmu sebelum kau berhasil mengerjakan itu dengan baik..! Pergilah ke kamarmu..”

“Tapi Nyonya..”

“MASUK KE KAMARMU, YOONA..!”

Ny.Choi mulai membentak..

“Ketahuilah, suamiku sebentar lagi akan pulang dan meskipun kemarahanku saat ini mendidih padamu.. Aku tak ingin dia melihatku masih terus mengomeli mu.. Dia tidak akan suka. Maka jangan lagi membantah..! Bersihkan tubuhmu dan kembali turun dalam satu jam.. Ahjumma, siapkan makan malam..!”

Ahjumma lee mengangguk mengerti dengan kalimat yang ditujukan padanya sesaat sebelum
Ny.Choi pergi dari hadapannya dan Yoona. Gadis itu memucat dan tak lagi bisa bersuara..

“Yoona ya..”

Yoona menoleh dan melihat ahjumma lee yang tersenyum padanya..

“turutilah apa yang dikatakan Nyonya tadi.. Jika memang ada kesalah pahaman diantara kalian, akan ada waktunya nanti untukmu bisa menjelaskan padanya. Aku melihatnya sedang dilingkupi amarah..”

Yoona mengangguk dengan pasrah dan kemudian mulai melangkah menaiki anak tangga menuju tempat yang telah menjadi kamarnya. Kamarnya yang sangat luas.

Namun sesaat Ia menghentikan langkahnya saat melihat sebuah pintu terbuka, dan Siwon keluar dari dalamnya.

Dibelakang pintu itu pastilah kamarnya..
Yoona menduganya demikian.

Wajahnya menunjukkan kekesalan pada Siwon dan lantas menggumam..

“Bajingan..!”

Lalu dengan cepat Ia melangkahkan kakinya untuk menaiki puluhan anak tangga diatasnya.

Siwon yang melihatnya, hanya bisa tersenyum miring kearahnya..

“Gadis bodoh..!”

***

Satu jam kemudian Yoona masih berdiri mondar-mandir, gelisah didepan cermin sebuah meja rias besar yang berada dikamarnya.

Ia heran, siapa sebenarnya yang dulunya menempati kamar itu. Mengapa semua perabot untuk wanita berada didalamnya.
Apakah kamar yang saat itu ditempatinya sengaja telah disiapkan untuk Jessica..?
Entahlah..
Yang jelas bukan itu yang menjadi pokok utama sumber kegelisahannya.

Yoona gelisah untuk kembali bertemu dengan Ibu Siwon.
Wanita itu benar-benar membuatnya menunjukkan kengerian ketika berhadapan dengannya.

“Aigoo,, ottokhae..”

Yoona berkali menatap kearah cermin. Miris dengan tampilannya yang sama sekali tidak merefleksikan kelayakan sebagai seseorang yang menempati kamar super mewah menurut nya.

Ia kacau dan terlihat bertambah buruk dengan pakaian tidur yang dikenakannya..

Astaga..
Sebelumnya ia tak pernah risau dengan bagaimanapun tampilannya.

Tapi untuk saat itu, Ibu Siwon sudah pasti akan mendelik ketika melihatnya..

“Apa yang harus kulakukan..?”

Yoona kembali membuka lemari pakaiannya dan entah sudah untuk yang keberapa kalinya Ia melakukannya. Yang jelas terlihat, Ia tak menemukan sesuatu yang layak untuk bisa membuat Ibu Siwon tidak mendecakkan lidah kearahnya.

“Yoona ya.. Kau sudah selesai? Semua sudah menunggumu untuk makan malam..”

Menghela napasnya dengan berlebihan, Yoona kembali menjauh dari lemari pakaiannya, pasrah pada celana tidur dan kaos longgar yang yang saat itu dikenakannya. Membuka pintu kamarnya dan mengatakan Ia akan segera turun pada ahjumma Lee, Yoona justru merasakan ahjumma lee meraih tangannya dan memintanya untuk turun bersamanya.

Sang ahjumma mungkin melihat kegelisahan dimatanya, dan tak yakin bila dirinya akan segera turun untuk bergabung pada makan malam seperti yang dikatanya.

“Ahjumma..”

“ayolah, Yoona.. Apa yang kau takutkan? Kau sudah menjadi bagian dari keluarga ini.. Kau tunangan Tuan muda Choi, kau harus membiasakan dirimu”

Yoona sangat ingin meneriakkan bila dirinya tak menginginkan pertunangan itu, namun Ia tidak bisa melakukannya. Bayangan Yuri oenni nya dan apa yang dikatakan Donghae padanya masih terus terngiang olehnya.

Mengiangat Donghae, Yoona lantas teringat bila dirinya belum memberitahukan keberadaanya dirumah Siwon pada pria itu.

“Ahjumma, tunggu sebentar..”

Melepaskan tangan ahjumma lee yang memegangi tangannya, Yoona kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar. Mencari koper miliknya untuk menemukan ponsel yang sempat ia masukkan kedalamnya..

“Yoona ya, Apa yang kau cari?”

Ahjumma lee menghampirinya..

“Aku mencari ponselku.. Aku membutuhkannya untuk menghubungi Donghae oppa..”

“Oh.. Kau tidak akan menemukannya. Ponselmu ada pada Nyonya..”

“Apa maksud ahjumma?”

Ahjumma lee lantas mengatakan saat Yoona mandi dipagi tadi , ketika Ia membereskan koper milik Yoona dan memasukkan pakaian kedalamnya, Ny.Choi masuk dan memintanya untuk mengambil ponsel milik Yoona dan memberikan itu padanya.

“Maafkan aku Yoona ya, tapi aku tak bisa menolaknya.. Aku harus melakukan apa yang Ny.Choi perintahkan”

Yoona terduduk lemas diatas tempat tidur. Bagaimana bisa ibu Siwon melakukan itu padanya?
Ia telah melewati batasnya..
Seharusnya Ia tak memasuki area privasinya dengan mengambil ponsel yang menjadi barang pribadinya.

Yoona mulai menyadari, pada akhirnya Ia mungkin hanya akan dijadikan tawanan didalam rumah itu..

“Kau ingin menghubungi Donghae?”

Yoona mengangguk..

“Biar aku nanti yang akan mengatakan padanya tentang keberadaanmu disini. Jangan khawatir, setelah makan malam aku akan langsung pulang.. Kau ingin menitipkan pesan pada putraku?”

Yoona menggeleng..
Dan hanya mengucap terimakasih pada ahjumma lee yang akan mengatakan pada Donghae jika dirinya berada dirumah Siwon. Setidaknya Ia hanya ingin Donghae mengetahuinya. Dan selanjutnya, Yoona tak tau apa yang akan dilakukannya. Ia akan menunggu Donghae untuk memikirkannya..

“Kalau begitu, ayo kita turun..”

Ahjumma lee kembali meraih tangan Yoona dan membawanya keluar dari dalam kamarnya. Ia melangkah lebih dulu, sementara Yoona mengikuti dibelakangnya.

Mendekati meja makan, Yoona sudah mulai menunduk menyadari tatapan semua yang berada disana kemudian terarah padanya.

Siwon mengernyit..
Tn.Choi tersenyum..
Dan Ny.Choi menghembuskan napas berlebihan, mendecak dan menggelengkan kepala melihatnya..

“Selamat malam..”

Yoona menyapa, membungkuk pada Tn.Choi yang kemudian mengangguk dan mempersilahkannya untuk duduk disebelah Siwon.

“selamat malam Yoona ya.. Bagaimana hari pertamamu dirumah ini?”

Ny.Choi kembali mendecakkan lidah mendengarnya, namun Tn.Choi menghiraukannya..

“Saya.. Saya..”

“Kurasa Yoona menikmatinya, aboji.. Aku melihatnya sedang merangkai bunga-bunga kesukaan oemma.. Oemma pasti yang sudah mengajarinya”

Yoona kembali merasakan kekesalannya pada Siwon. Bukan itu yang ingin dikatakannya pada Tn.Choi, melainkan Ia ingin mengatakan ketidak nyamanannya saat berada dirumah itu juga perasaan tertekan yang dirasakannya.

Astaga..
Ia bahkan baru sehari berada disana, dan Ia telah merasa tertekan..
Bagaimana ia akan menjalani hari-hari selanjutnya.

Yoona merasa ngeri bahkan hanya sekedar untuk membayangkannya..

“benarkah seperti itu, yeobo..? Aku senang mengetahui kalian mulai dekat..”

Tn.Choi pasti tak menyadari sang istri yang sama sekali tak menunjukkan wajah senangnya atas apa yang dikatakannya.
Ny.Choi justru sedang menahan diri untuk tidak mengatakan pada sang suami atas kelakuan putranya bersama dengan gadis itu yang kembali dilihatnya tadi.

“Tidak bisakah kita hanya makan sekarang..”

Ny.Choi benar-benar tidak menanggapi, yang dilakukannya kemudian adalah mengambilkan semangkuk nasi untuk suaminya beserta makanan yang lainnya yang telah tertata diatas meja.

Yoona terdiam tak berniat mengambil apapun yang berada dihadapannya untuk dimakan..

“Kau tidak makan?”

Siwon mencondongkan tubuhnya kearah Yoona dan berbisik ditelinganya. Membuat Yoona sedikit terkejut dengan apa yang dilakukannya..

“Aku tidak akan bisa menelan..”

Siwon menahan diri untuk tidak tertawa mendengarnya..

“Ck! Bisakah kalian tidak bersuara saat sedang makan?!”

Ny.Choi memperingatkan..

“Nyonya.. Saya ingin bicara pada anda..”

Ny.Choi menatap kesal kearah Yoona. Benar-benar tidak suka ketika ucapannya diabaikan..

“Kau tidak mendengar apa yang kukatakan tadi..?”

“Tapi Ny.. Saya hanya ingin..”

“Makanlah Yoona.. Kau harus memakan makananmu agar mendapatkan tenaga saat berhadapan dengan ibuku..”

Siwon meraih sumpit miliknya dan mengambil sepotong ikan, kemudian meletakkannya diatas mangkuk nasi milik Yoona dan mendapati Ibunya yang tengah memelototinya ketika mendengar apa yang dikatakan dan dilakukan olehnya.

“Makanlah Yoona ya, jangan mengecewakan putraku yang sudah menaruh perhatian lebih padamu..”

Yoona pada akhirnya mengambil sumpit yang berada disebelah mangkuk nasi miliknya, dan dengan perlahan menyuapkan itu kedalam mulutnya.

Makanan itu seharusnya terasa enak, namun dilidah Yoona saat itu rasanya sangat hambar, hingga Ia benar-benar merasa kesusahan untuk menelannya, apalagi dibawah tatapan tajam Ny.Choi yang terus terarah padanya.

Wanita itu jelas sedang mengamati bagaimana caranya menghabiskan makanan itu, terbukti Ny.Choi langsung berkomentar dengan mengatakan Ia perlu belajar tatacara kesopanan saat berada dimeja makan..

“Besok aku yang akan mengajarkan semua itu padamu, agar kau tak mempermalukan Siwon saat berada dalam jamuan bisnis. Kau juga belum berhasil dalam merangkai bunga.. Jadi persiapkan dirimu untuk besok..”

Ny.Choi beranjak dari duduknya, nampak tak lagi tertarik untuk menikmati makanan dihadapannya. Namun kemudian Yoona menghentikannya yang sudah akan melangkah..

“Nyonya.. Bisakah anda mengembalikan ponsel saya? Saya membutuhkannya..”

Ny.Choi menggeram dengan kelancangan yang menurutnya ditunjukkan oleh Yoona pada saat itu..

“yeobo, Kau mengambil ponsel milik Yoona?”

“Aku hanya sedang berusaha menjauhkannya dari hal-hal yang tidak penting.. Dia harus berkonsentrasi pada apa yang akan kuajarkan padanya”

Ny.Choi mengungkapkan alasannya..

“Kau tidak harus berlaku sejauh itu, yeobo..”

“tapi saya membutuhkannya, Ny..”

Yoona merasa lebih berani setelah mendengar Tn.Choi yang juga menilai sang istri yang bersikap berlebihan.

“Dengar.. Yang kau butuhkan sekarang adalah menjadi seorang tunangan yang layak untuk Siwon! Aku tak akan membiarkan ke-liar-an mu mempermalukan Siwon nantinya.. Tak ada lagi pembahasan mengenai ponsel. Kau akan mendapatkan ponselmu kembali nanti..”

Dan dengan begitu, Ny.Choi melangkah meninggalkan mereka yang hanya bisa menghela napas karenanya.

Tn.Choi yang kemudian memberi Yoona pengertian, dan mengatakan padanya bahwa dirinya yang akan membujuk sang istri agar mau mengembalikan ponsel miliknya.

“Bersabarlah.. Aku mengenal istriku, dia tidak akan lama mempertahankan kemarahannya..”

Yoona mengangguk mengerti..

“Aku akan meninggalkan kalian.. Siwon mungkin bisa lebih mengatakan padamu bagaimana sifat ibu nya..”

Sebelumnya, Tn.Choi lebih dulu menepuk bahu Siwon, tersenyum pada Yoona dan kemudian menyusul sang istri yang telah lebih dulu masuk kedalam kamar mereka.

Tak ada yang dikatakan oleh Yoona maupun Siwon sepeninggal Tn.Choi dari meja makan itu, hingga kemudian Siwon mendorong kursi yang didudukinya untuk beranjak. Namun Yoona menghentikan dengan kata-kata nya..

“Sampai kapan anda akan mengakhiri ini, Tuan..?”

“Apa? Apa yang harus kuakhiri?”

Siwon berpura-pura tak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Yoona pada saat itu.

“mengakhiri kepura-puraan dengan pertunangan ini dan juga mengatakan pada orangtua anda jika saya bukanlah seseorang yang anda inginkan..”

Siwon justru menunjukkan seringai diwajahnya mendengar apa yang dikatakan Yoona padanya..

“bukankah aku sudah katakan pertunangan ini adalah bentuk dari tanggung jawab atas kekacauan yang kau sendiri yang meng-awali..”

Yoona berdiri dari duduknya mewaspadai apa yang akan dilakukan Siwon padanya..

“dan bagaimana kau tahu jika aku tidak menginginkanmu, Yoona..?”

Siwon menutup langkahnya, membuat Yoona terdorong hingga menyentuh sisi meja dan menguncinya disana dengan kedua lengannya yang Ia letakkan dikedua sisi tubuhnya. Membuat Yoona terkurung dan berada dekat dengan tubuhnya..

“Donghae mengumpankan gadis belia yang cantik kehadapanku.. Dan aku tidak akan mungkin menyia-nyiakannya..”

Yoona terkesiap dengan apa yang Siwon katakan, hingga membuatnya tak cukup sigap menerima apa yang Siwon lakukan pada bibirnya yang dengan cepat sudah berada dalam mulut pria itu..
Hanya beberapa detik, karena kemudian Siwon menarik diri darinya..

“Aku sedang mengajarkanmu bagaimana cara mencium seseorang.. Apa yang kau lakukan malam itu benar-benar menunjukkan ketidak berpengalamanmu dalam berciuman..”

Yoona merasakan amarah berkobar dalam dirinya, Ia sudah mengangkat sebelah tangannya untuk memberikan tamparan pada Siwon. Namun pria itu telah lebih dulu mencekal pergelangan tangannya, menghentikan apa yang ingin dilakukannya..

“Ibuku tidak akan suka melihat Kau menampar tunanganmu sendiri.. Benar yang dikatakannya, jika Oemma perlu mengajarkan kesopanan padamu. Dan ingat.. Kau adalah tunanganku, Yoona.. Aku berhak melakukan apapun yang kuinginkan terhadapmu. Termasuk mendapatkan ciuman itu darimu..”

Yoona merasakan airmata menyeruak dari kedua sudut matanya, ketika Siwon menghempaskan tangannya dan meninggalkannya disana.

Membuat keyakinannya semakin kuat jika Siwon adalah seorang Bajingan…

***

Yoona POV

Aku merasakan sentuhan-sentuhan nan lembut membelai wajahku, dan menyentuh rambutku. Aku terbangun karna tangan itu berlama-lama mengusap rambut diatas kepalaku.

Mengerjapkan mata, Aku hampir tak percaya jika Yuri oenni berada disamping tempat tidurku. Dengan wajah sayu menatapku, tangannya mencoba menunjukkan kasih sayangnya padaku.

Aku bergerak..
Aku sangat ingin bergerak untuk memeluknya. Tapi seakan tubuhku lumpuh..
Aku ingin berteriak..
Ada apa denganku?
Mengapa aku tak bisa meraih oenniku..
Aku ingin memeluknya..
Aku ingin mengadu padanya..
Aku ingin dia membawaku keluar darisini..

“Oenni.. Oenni..”

“Kau adik kecilku yang kuat, Yoona.. Aku menyayangimu..”

“Oenni ya.. Oenni jangan.. Oenni.. Oenni jangan pergi!! Tidak oenni.. Jangan pergi..!!”

Aku benar-benar tak bisa menyentuhnya. Dan aku justru kehilangannya dalam kabut gelap..
Oenni ku pergi dan aku benar-benar terjaga dari sebuah mimpi..

Tuhan..

Aku memeluk kedua lututku dan menangis hingga hampir tersedak. Mengapa itu hanya mimpi?
Mengapa tidak ada Yuri oenni disisiku, sekarang, disaat aku benar-benar membutuhkannya..

Aku sudah cukup menangis semalam..
setelah bajingan itu merendahkan ku..
Dan sekarang aku heran, mengapa masih saja ada airmata yang tersisa dan siap untuk kembali kutumpahkan..

Bergerak menyingkap selimut dari atas tubuhku, aku melangkah kedalam kamar mandi untuk menyegarkan tubuhku.
Aku akan menghapus airmataku dengan air yang mengguyur tubuhku..

Aku kuat..
Aku gadis yang kuat seperti yang dikatakan oenni padaku.
Dia hadir dalam mimpiku, pasti untuk menyemangatiku..
Tapi mengapa kau menunjukkan wajah sayu itu oenni, kenapa..?
Seharusnya kau menunjukkan senyum penyemangat yang biasa kau berikan padaku..

Aku berlama-lama berada dibawah pancuran. Membiarkan air membawa sisa-sisa airmata dan membasahi seluruh tubuhku..

Aku hampir menggigil saat keluar dari dalamnya, memutuskan mengenakan pakaian dengan cepat dan kemudian mengeringkan rambutku yang basah. Aku sudah menyisirnya saat aku keluar dari dalam kamar sepuluh menit kemudian dan langsung mengarah kedapur. Aku ingin mencari tahu apakah ahjumma Lee sudah datang. Dan sudahkah dia mengatakan pada Donghae oppa tentang keberadaanku disini. Aku sangat ingin tahu bagaimana reaksinya tentang itu.

“Ahjumma.. Ahjumma..”

Aku menemukannya sedang mengolah sesuatu, dan kemudian aku menghampirinya..

“Ahjumma..”

“Oh, Yoona ya.. Kau sudah bangun? Bagaimana tidurmu semalam..?”

“tidak lebih baik daripada tidur didalam kamar sempitku..”

aku mendengus dan ahjumma tersenyum kepadaku..

“Kau akan terbiasa nanti.. Ingin meminum sesuatu? Teh hangat? Aku akan menyiapkannya untukmu..”

“Tidak.. Tidak usah ahjumma, jangan melayaniku.. Apa yang sedang kau kerjakan..?”

“Aku sedang membuat sarapan..”

“Nyonya dan Tuan belum bangun?”

Aku menatap kesekeliling mencari tahu..

“mungkin sudah.. Biasanya mereka akan keluar sebentar lagi. Dan mengapa kau masih memanggil mereka seperti itu? Kau sudah harus memanggil mereka ayah dan ibu, Yoona ya..”

“mereka bukan ayah dan ibu ku..”

“tapi kau sudah bertunangan dengan putra mereka.. Kalian akan menikah, sudah pasti Tuan dan Nyonya akan menjadi ayah dan ibu mu..”

“Tidak.. Aku tidak akan menikah dengan Siwon..”

Mengabaikan ahjumma lee yang mengernyit mendengar ucapanku, aku semakin mendekatinya..

“Kau ini bagaimana.. Jika sudah terjadi pertunangan sudah pasti yang selanjutnya menjadi pembicaraan adalah mengenai pernikahan”

Aku tak ingin menjelaskan pada ahjumma lee, maka aku hanya tersenyum kearahnya..

“Ahjumma..”

“hm..”

“ahjumma sudah mengatakan pada Donghae oppa?”

“Oh, semalam dia tidak pulang.. Aku juga kesulitan menghubunginya. Dia hanya mengirimkan pesan pada sore hari jika banyak pekerjaan yang harus diselesaikan..”

Aku hanya bisa mengehela napas mendengarnya. Donghae oppa pasti sangat sibuk..

“jangan khawatir.. Aku sudah mengirim pesan padanya..”

“ne.. Terimakasih ahjumma.. adakah yang bisa kubantu?”

“Tidak.. Tidak.. Tidak.. Jauhkan dirimu dari sana, Yoona..!”

Aku cukup terkejut dengan suara itu dan tangan Ibu Siwon yang langsung menarikku dari dapur..

“Apa yang sedang kau lakukan disana?”

“saya.. Saya hanya ingin membantu ahjumma lee, Ny..”

“Tidak.. Kau tidak boleh membantunya didapur. Suamiku sangat marah bila aku memasuki dapur.. Dia pasti akan melakukan hal yang sama padamu. Meski itu konyol, tapi dia tak ingin melihatku mengalami luka teriris pisau ataupun tersulut api kompor saat berada didapur..”

Aku mengerutkan dahi mendengarnya. Bahkan dirumahku, aku berdekatan dengan dapur, aku juga bisa tidur didalam dapurku sesekali..

“bukankah Nyonya membenci saya? Mengapa Nyonya justru mengkhawatirkan itu..?”

Aku merasakan dia melepaskan tanganku, dan tatapannya berubah kesal melihatku..

“Kau pikir aku sedang mengkhawatirkanmu? Ck! Yang benar saja.. Aku hanya memberitahumu apa yang tidak disukai oleh suamiku.. Memasuki dapur adalah larangan.. Kecuali ahjumma lee yang sudah biasa melakukannya.. Jangan lancang saat berbicara denganku..!”

Aku menunduk..
Kembali melakukan kesalahan sepertinya.

“Ada apa ini? Kenapa pagi-pagi sudah ada suara keributan dari istriku..”

Aku menoleh, melihat ayah Siwon menghampiri kami..

“Ada apa, yeobo..?”

“gadis itu mencoba berada di dapur, dia beralasan ingin membantu ahjumma lee.. Aku hanya sedang memberitahunya jika Kau tidak akan menyukai dia berada didapur..”

Aku melihatnya tersenyum saat merangkulkan lengannya pada ibu Siwon yang masih terlihat kesal, dan kemudian beralih menatapku..

“istriku benar Yoona ya.. Untuk apa kau berada didapur? Ahjumma lee sudah biasa mengatasi itu..”

“maaf Tuan.. Saya tidak tahu jika anda tidak akan menyukainya..”

“sekarang kau sudah tau kan? Istriku sudah memberitahumu..”

Dia kembali mengarahkan tatapan penuh cinta itu pada ibu Siwon.
Kenapa dia sangat berbeda dengan Siwon?
Pria itu jelas penuh kasih..
Sangat berbeda bila dibandingkan dengan putranya yang seorang bajingan..

“Satu lagi yang tidak akan aku sukai sekarang, jangan memanggilku ‘Tuan’ Kau mengerti kan..?”

Jadi aku harus memanggilnya ayah..
Oh dear..

“Oemma.. Oemma..! Dimana kemeja untukku? Oemma tidak menyiapkannya?”

Aku melihat pria itu berdiri diambang pintu kamarnya, bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk yang melilit sebatas pinggangnya.

“Oemma tidak akan berurusan lagi denganmu.. Urus dirimu sendiri atau suruh gadis belia itu membantumu..”

Ibu Siwon menarik suaminya menjauh dariku, ketika kudengar Siwon memanggilku..

“hey.. Kau, kemarilah dan bantu aku, Yoona.. Cepat!”

Hah..
Untuk sesaat aku hanya terbengong seperti gadis tolol.
Apa maksudnya memintaku membantunya dan masuk kedalam kamarnya..
Apa dia sudah gila?
Dan bagaimana sih dengan sikap Ibu Siwon itu? Aku harus mengatakan dia tidak konsisten. Dia marah besar pada pertunangan itu dan dia membenciku berada dekat dengan putranya. Tapi sekarang dia justru menyuruhnya untuk meminta bantuanku. Yang benar saja..
Dia mengetahui aku akan berada dikamar putranya dan dia membiarkannya begitu saja.
Tidak mungkin..

Jelas tidak mungkin..
Karna kemudian aku mendengar teriakannya..

“JANGAN BERANI KAU MENGUNCI KAMARMU SIWON.. AWAS JIKA KAU MELAKUKANNYA SEMENTARA GADIS ITU BERADA DIDALAMNYA..! TETAP BUKA PINTUNYA AGAR AKU BISA MENGAWASI KALIAN..”

Astaga..
Bisakah aku mengukur berapa oktaf dalam nada teriakannya tadi..

“SIWON..! KAU MENDENGAR OEMMA..!”

“IYA OEMMA.. AKU TAU..! Yoona kemarilah..”

Sialan..

Aku mengumpat dengan keras didalam hatiku, saat Siwon kembali memanggilku. Dengan wajah mengeras, aku menghampirinya. Menunjukkan keengananku untuk membantunya, juga kemarahan setelah bagaimana semalam dia memperlakukanku dengan menunjukkan betapa brengseknya dia dihadapanku..

“Apa yang bisa saya bantu, Sajangnim..?”

“Oh, tunanganmu ini sedang membutuhkan kemejanya.. Bisa kau mencarikannya untukku..”

Aku memutar tubuhku dan menyadari betapa luasnya sebuah kamar yang ditempati olehnya. Lebih luas daripada kamar yang kutempati. Melihat begitu banyaknya lemari yang berjejer dan dipenuhi oleh semua pakaian-pakaiannya.

Bukankah seharusnya dia bisa mengambil salah satu diantaranya, tanpa perlu meminta bantuan oranglain.
Menyebalkan..

“Perlu berapa lama untukmu mengagumi kamarku? Kau bisa memilikinya setelah menikahiku.. Kau ingin aku untuk secepatnya menikahimu?”

Aku mendecak melihat seringai diwajahnya. Setidaknya dia tidak akan macam-macam seperti semalam setelah ibunya memberikan ancaman tadi.

“Jangan membicarakan hal-hal yang tidak mungkin, sajangnim.. Saya tidak akan menanggapi..”

Aku bergerak mendekati salah satu lemari, membukanya dan mendapati kemeja dengan berbagai jenis warna berada didalamnya.

“Aku membutuhkan yang berwarna putih..”

Dia memberitahuku, dan masuk kedalam kamar mandi setelah terlebih dulu menyambar sebuah celana panjang yang tergantung. Aku bisa mencium aroma dari sabun mandi yang menguar dari tubuhnya.
Berbau harum dan segar..

Astaga..
Itu bukan sesuatu yang seharusnya kunikmati.

Dia keluar tak berapa lama setelahnya dan menerima kemeja pemberianku. Memakainya dan lantas mengambil sebuah dasi yang justru dia ulurkan padaku..

“Kau bisa memakaikan ini?”

“Anda tentu bisa memakai itu sendiri..”

Dia akan bersikap mengesalkan lagi, karna itu aku segera berpikir untuk menghindar. Namun yang terjadi dia tidak membiarkanku beranjak menjauh darinya, dia menarik pinggangku dan membuat dada kami bersentuhan, tubuhku nyaris menempel pada tubuhnya.

“Sajangnim.. Anda akan membuat Nyonya salah paham lagi..”

“Tunanganmu membutuhkan bantuan.. Kau tidak seharusnya mengabaikannya..”

Aku mencoba melepaskan diri, namun dia justru menarikku lebih kuat.

Brengsek..

“Pakaikan ini untukku atau kau takkan pernah kulepaskan..”

“Sajangnim..!”

“Sekarang sebelum oemma melihat kita, Yoona.. Atau Kau ingin aku menunjukkan padanya ketertarikanku padamu..!”

Aku mengambil dasi itu dari tangannya dan menyentakkan lengannya dari pinggangku.
Mengalungkan dasi itu pada kerah kemeja di lehernya dan dengan kencang mengikatnya. Aku ingin membuatnya tercekik dan sepertinya aku sudah melakukannya saat dia mulai terbatuk..

Namun aku terpaksa menghentikan dan menjauhkan tanganku ketika mendengar seseorang bersuara dibelakangku..

“Apa yang sedang kau lakukan pada putraku, Yoona! Kenapa Siwon sampai terbatuk seperti itu..?”

benar-benar sial..
Mengapa sih ibu Siwon selalu berada pada waktu yang tidak kuinginkan. Mungkinkah dia memiliki indra keenam yang bertugas untuk mengawasiku..

Aku melihat Siwon ingin mengatakan sesuatu namun aku menghentikannya dengan lebih dulu menyingkir dari hadapannya dan lantas berbalik menghampiri ibunya yang sudah kuduga memberikan tatapan marah padaku..

“Omonim..”

Dia melebarkan mata dengan bagaimana aku mengubah caraku memanggilnya..

“Omonim.. Maafkan aku, Siwon memintaku untuk memasangkan dasi miliknya. Tapi sepertinya aku menyakitinya.. Maaf, aku belum pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya.. Aku tidak pernah memasangkan dasi pada seorang pria..”

Aku melihat kilatan dimatanya berkurang, itu berarti aku harus berkata dengan manis padanya..

“Omonim harus mengajarkan padaku bagaimana caranya.. Aku tak ingin membuat Siwon tersakiti lagi..”

Aku mengarahkan tatapanku pada Siwon, pria itu memutar mata kearahku dan aku memberikan tatapan kesal kepadanya.

“Jadi itu masalahnya?”

Aku mengangguk, memberikan sedikit senyum ketika kusadari dia mulai melunak..

“Perhatikan bagaimana aku melakukannya..”

Aku mengikuti ibu Siwon mendekat padanya, dan bagaimana caranya memakaikan dasi itu untuk putranya.

Aku tidak memperhatikan sebenarnya..
Aku justru memicingkan mata, menahan senyum puas diwajahku.

“bagaimana Yoona.. Kau bisa melakukannya?”

“euh.. Ya, aku mungkin bisa mencobanya nanti..”

Aku kembali tersenyum pada Ibu Siwon..

“Tidak perlu.. Aku bisa terlambat.. Terimakasih oemma, aku harus pergi..”

Dia mencium pipinya dan beralih mengambil tas kerjanya, setelahnya dia berhenti didepanku. Aku melihat seringai diwajahnya dan berharap dia tidak akan melakukan apa yang seperti dia lakukan pada ibunya dengan menciumku.
Aku akan mencekiknya lagi bila dia berani menciumku…

Dan kemudian dia mencondongkan tubuhnya, berbisik dengan suara yang sangat lirih dengan napasnya yang menggelitik dibelakang telingaku..

“Cium aku.. Atau aku yang akan menciummu..!”

Sialan…!!

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

To Be Continued~

@joongly

215 thoughts on “| At First Sight | 4

  1. Siwon jahil banget siih
    Dan selalu bikin ibunya salah paham sama yoona
    Tp merekaa lucu
    Dan yoona terus bicara maniss yaa sama ny.choi
    Udah sedikit lunak gitu.. hihi

  2. ya siwon jahil bnget sama yoona dan ibu ny siwon sering bnget slh paham sma yoona tpi lucu klau ibu ny siwon mrh2 sma yoona ah…. semoga aj hubungan ibu ny siwon ma yoona smakin baik

  3. Huwah seneng bacanya, siwon jahil gitu ke yoona. Aku kan jadi cemburu, kekekeke. Eommanya siwon gemesin banget sih, jadi pengen nyubit. Salah paham mulu sama yoong, tapi yoongnya tetep sabar dan ngomong yang manis-manis. Semoga hubungan yoong sama mertua semakin baik, dan sama siwon semakin lengket.
    Daebak eonnie. Fighting!!!

  4. Aigoo eommanya siwon salah paham melulu gara” ngelihat yoonwon pas kayak gitu padahal sebenernya gak sesuai sama apa yg di pikirin sama eommanya siwon.. tapi makin penasaran sama kelanjutannya..

  5. kaaak 😭😭😭 koment ku msih gk kekirim ini… gmna ini wp nya lg erorr ya..
    jd gk smngat koment ini.. gmna cranya komnt tpi gk msuk di kolom orng yg komentar…

  6. Suka dengan interaksi antara siwon dan yoona,semoga yoona cepet sadar bahwa dia hanya diperalat donghae demi kepentingannya sendiri.
    dan sepertinya sikap ubu siwon mulai lunak walau kadang kata2nya sngat tajam tapi itu mendakan klo dia peduli pada yoona..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s