Fanfiction

| At First Sight | 2

Happy_Reading~

[ Prolog ]  [ 1 ]

*

*

*

*

*

*

Siwon POV

Dia gadis resepsionis itu, yang
ternyata adalah adik Yuri.
Meski aku bisa melihat gurat
kekerabatan diwajah mereka yang
terlihat mirip, yang memberi arti
keduanya memiliki ikatan keluarga,
tapi bila dilihat dari tatapan matanya
kepadaku, Aku menilai bahwa dia
seakan mempunyai aliran genetik
yang berbeda dengan yang dimiliki
Yuri.

Dari pandangan pertama aku
melihatnya dia selalu memberiku
tatapan berkilat kemarahan yang
tersorot dari kedua matanya, entah
karna apa?
Atau dia memang memberikan tatapan
seperti itu pada setiap orang yang
dilihatnya sebagai bentuk
perlindungan, proteksi pada dirinya
sendiri.

Tapi hal itu jelas berbeda dengan apa
yang dimiliki Yuri. Dia selalu
memberiku tatapan berbinar dari
kedua matanya, yang baru kuketahui
pada malam itu bahwa semua itu
karna dia mencintaiku.

“Saya tidak apa-apa.. Maafkan saya
Sajangnim, Saya tidak berhati-hati..”

Aku mengerjap ketika gadis itu tiba-
tiba berbicara dan membuyarkan apa
yang ada dikepalaku.

Dia mencoba berdiri namun terhuyung
hingga aku harus meraih lengannya
untuk mencegahnya agar tak kembali
terjatuh.

“Hati-hati nona..”

Ia menggigit bibir bawahnya, meringis
tanpa memandang kearahku..

“maaf Sajangnim..”

Yang kurasakan dia agak kasar ketika
menyingkirkan tanganku dari
pergelangan tangannya.

“Obati dulu luka dilututmu sebelum
bekerja. Dan kau terlambat hari ini..?”

Aku sedikit mendengar gumaman tak
jelas dari bibir gadis itu yang
bergerak-gerak.

“Akan ada sangsi jika Kau terus
terlambat seperti ini..”

Dia mendongak menatapku.
Masih dengan kilatan dimatanya..

“Saya mengerti.. Mianhae..”

Aku meninggalkannya yang sedang
menunduk meminta maaf, untuk
kemudian melangkah masuk kedalam
gedung.

Aku melihat Ada Donghae disana..
Berdiri dipinggir, diantara karyawan
lainnya.
Dan sudah berapa lama dia berdiri
disana?
Apa dia juga mengawasiku dan gadis
itu tadi, Adik Yuri..?

“Selamat pagi Tuan..”

Dia menyapaku formal, dan aku
mengangguk untuk menanggapi.

“Siapkan beberapa dokumen yang
kuperlukan. Aku menunggumu
diruanganku..”

“Baik Tuan.. Saya akan
menyiapkannya”

***

sepuluh menit setelah Aku duduk
dikursi meja kerjaku, Donghae
mengetuk pintu dan aku
mempersilahkannya masuk.

“Ini yang Kau perlukan..”

Dia meletakkan dua map biru diatas
meja kerjaku.
Aku masih tak memperhatikannya
karna sedang membaca satu file yang
masuk kedalam email perusahaan,
untuk kemudian membalasnya jika itu
dirasa perlu.

Sejak tak ada Yuri, praktis aku
mengerjakan semuanya sendirian.
Tak ada yang bisa diandalkan untuk
mengerjakan pekerjaan ku sebaik apa
yang Yuri kerjakan.

Mengingat Yuri..
Aku teringat keberadaannya dirumah
sakit jiwa itu.
Dan Donghae yang menyembunyikan
kenyataan itu dariku.

Tapi aku tak akan menanyakan hal itu
padanya.
Dia menyembunyikan hal itu dariku,
maka aku yakin dia juga tak
menginginkan aku untuk tahu
kenyataan itu.

Tapi aku butuh alasan mengapa dia
melakukan hal itu.
Maka dari pada menanyakan padanya,
Aku akan lebih suka mencari tahu hal
itu sendiri dengan bantuan seseorang yang telah ahli dalam penyelidikan
tentunya.

“Aku akan memeriksanya.. Kau boleh
keluar”

Saat ini aku merasa sedikit muak
melihatnya.
Meski Aku sudah lama mengenalnya.
Meski kami bahkan tumbuh bersama.
Aku tak banyak tahu tentang
pribadinya.

Dia sangat tertutup untuk yang satu
itu.
Kecuali tentang dirinya yang tidak
mempunyai Ayah.
Dan ibu nya, Ahjumma Lee yang
bekerja untuk keluargaku. Hingga
kemudian Aboji membiayai semua
kebutuhan mereka termasuk
membiayai sekolahnya yang Aboji
pindahkan ke sekolah yang sama
denganku, tak ada lagi yang kuketahui
tentang Donghae diluar itu.

Hingga
sampai saat ini dia bekerja denganku,
Donghae tetaplah tertutup bahkan
kadang aku merasa dia seperti
menghindariku.

“Baiklah.. Jika kau mencariku, Aku
tidak ada dikantor siang nanti. Aku
memiliki janji dengan seseorang
diluar..”

“untuk urusan perusahaan?”

“Ya.. Tentu saja. Dia klien yang
kupegang. Aku akan melapor padamu
nanti jika aku sudah mendapatkannya”

“Baik, pergilah..”

Aku membiarkannya keluar dari
ruanganku.

***

Pada jam makan siang, Aku benar-
benar tak menemukan Donghae
diruangannya. Tadinya aku berpikir
mungkin Dia belum pergi, jadi aku
berniat mengajaknya untuk makan
siang denganku terlebih dulu diluar.

Aku mengurungkan niatanku dan
kembali keruanganku.
Menelpon bagian resepsionis
dibawah, Aku mengatakan pada
mereka untuk memesankan makanan
untukku.
Aku menyebutkan menunya yang
kuinginkan sebelum menutup telpon.

Namun hingga hampir tiga puluh menit
kemudian Aku dibuat kesal, mereka
tak juga mengantarkan makananku.
Aku kelaparan karna tak sempat
sarapan dipagi tadi.

“Apa Kau sedang berniat membuatku
mati kelaparan!”

Aku meneriakkan itu pada seorang
resepsionis yang menjawab telponku..

“Yoona sedang mengantarnya keatas
Tuan.. Mohon tunggu sebentar..”

Aku langsung menutup telponnya.
Yoona..
Gadis itu?

Benar saja tak sampai dua menit, ada
ketukan dipintu ruanganku.

“Pesanan anda Sajangnim..”

“Masuklah.. Dan tutup pintunya..”

***

Author POV

Ketika kemudian Yoona
melangkahkan kakinya masuk dengan
membawa serta umpatan di dalam
hatinya, Ia membiarkan pintu
dibelakangnya terbuka dan
mengabaikan bagaimana Siwon yang
memutar mata melihatnya.

Ia justru memasang wajah se-biasa
mungkin dan berusaha agar tetap
mengesankan rasa hormatnya pada
Siwon.
Meski nampaknya gagal..

“Pesanan anda Sajangnim.. Maaf
membuat anda menunggu lama..”

Meletakkan sebuah nampan yang
dibawanya keatas meja, Yoona
membungkuk untuk kemudian ingin
secepatnya melarikan diri dari
hadapan Siwon ketika melihat tatapan
pria itu yang tak lepas darinya.

Oh..
Tentu saja karna hanya dirinya yang
berada diruangan itu.
Dan bagaimana jika dia berbuat
macam-macam.
Apa yang bisa dilakukannya?

Siwon hampir terkikik geli melihat
kilatan dimata gadis itu berubah
menjadi tatapan ngeri kearahnya.

Dasar gadis bodoh..

“Semoga anda menikmatinya..”

Yoona membalikkan tubuhnya dan
selangkah kakinya menjauh, Ia dengan
terpaksa menghentikannya ketika
mendengar pertanyaan dari Siwon..

“bagaimana dengan lututmu?”

Siwon sudah memperhatikannya sejak
pertama Yoona melangkah dan
melihat bagaimana gadis itu berjalan
sedikit terpincang karna luka pada
lutut nya.

“Saya baik-baik saja Sajangnim..”

Tanpa menoleh lagi, Yoona melangkah
keluar dan Siwon hanya bisa
menghembuskan napas melihatnya.
Ia tak mungkin menghentikannya.
Tadinya Ia berniat untuk menanyakan
tentang Yuri pada gadis itu. Tapi
nampaknya Yoona tak cukup bisa
untuk diajak berbicara saat itu.

***

Keluar dari dalam lift, Yoona
melangkah dengan menghentakkan
kakinya kembali ke meja resepsionis
dengan Hyoyeon yang melihatnya
dengan dahi berkerut.

“Apa yang terjadi? Dia memarahimu?”

Yoona hanya mendengus kearahnya..

“Hei.. Katakan apa yang terjadi? Tuan
muda itu kembali menelpon dan
berteriak kelaparan tadi..”

Hyoyeon mencecarnya..

“Tidak ada yang terjadi. Aku hanya
mengantarkan makanannya dan
segera keluar dari ruangannya.
Berada disana membuatku ngeri
hingga bulu kudukku berdiri..”

Hyoyeon memutar mata
mendengarnya..

“Kau pikir dia hantu hingga
ruangannya ber-aura mistis. Dan yakin
tidak memandangnya?”

“Tidak.. Untuk apa aku
memandangnya. Bisa saja dia seorang
vampir yang akan menghisap
darahku..”

Yoona memasang ekspresi ngeri
diwajahnya yang justru membuat
Hyoyeon tergelak dalam tawa..

“Astaga, kau terlalu banyak menonton
film. Oh ya.. Tadi juga ada telpon dari
seorang pria yang mencarimu”

“nuguya?”

Hyoyeon mengangkat kedua bahunya.

“Tidak tahu.. Dia tidak menyebutkan
nama. Aku mengatakan kau tidak ada
dan dia langsung menutup telpon..”

Yoona langsung berpikiran jika
Donghae lah yang tadi menelponnya.
Tapi kenapa?
Dan ada apa?
Tadi Yoona melihatnya keluar kantor
tapi dia tak mengatakan apapun
padanya..

“Kau punya kekasih ya?”

Yoona hanya menggeleng sebagai
jawaban dan kemudian mengambil
ponsel dari dalam tas nya.
Ia memilih mengirimkan pesan pada
Donghae..

“Kau tahu jam makan siang sudah
berakhir nona. Itu berarti waktu
istirahat telah selesai. Dan dilarang
memainkan ponsel selama jam
kerja..”

Oh dear…

Yoona langsung menyembunyikan
ponselnya kedalam tas dan menatap
kearah Siwon yang sudah berada
dihadapan meja resepsionis nya.

Mengapa pria itu bisa tiba-tiba
muncul kehadapannya?
Dia benar seorang vampir?
Yoona merasa merinding pada kulitnya..
Dan mengapa
Ia bisa selalu terlihat bermasalah
didepan pria itu?

Sial..

“Maaf Sajangnim.. Tapi saya tidak
sedang memainkan ponsel, saya
hanya menggunakannya untuk
mengirim pesan penting..”

“Tapi selama berada dikantor ku,
pekerjaan adalah hal yang paling
penting diatas segalanya..”

Yoona mengepalkan sebelah
tangannya, benar-benar merasa kesal
dengan apa yang baru Siwon katakan
padanya.
Namun Ia terpaksa mengutuki dirinya
sendiri karna masih harus menahan
diri untuk tidak memaki kehadapan
pria itu.

“Saya mengerti..”

“Aku akan mencatat itu. Dan Kau pun harus mencatat, jika Aku bukanlah seorang vampir nona..”

Siwon bisa melihat gadis itu
ternganga mendengarnya, dan Ia
mengabaikannya untuk beralih pada Hyoyeon.

“Aku ada pertemuan diluar.. Katakan
seperti itu jika ada yang mencariku”

Hyoyeon hanya mengangguk, tak bisa
mengeluarkan suaranya.
Pada saat Siwon telah melangkah
menjauh dari meja resepsionis
dengan beberapa orang
dibelakangnya, Ia langsung bernapas
dengan berlebihan.
Ia sudah menahan napasnya sejak
tadi.

“Sial Yoona, dia mendengar
pembicaraan kita..”

“Ya, benar-benar sial..”

***

Donghae mengabaikan bunyi pada
ponselnya ketika tengah berada
didalam ruangan sang dokter yang
biasa menangani Yuri.

“Aku tak mengenal siapa mereka
Donghae ssi..”

“tapi bagaimana dengan penjagaan
dirumah sakit ini. Kenapa bisa
meloloskan dua orang itu masuk..?”

Donghae menatap marah kearah
wanita didepannya. Temannya, yang kini berprofesi sebagai dokter yang
kebetulan bekerja dirumah sakit jiwa itu dan kini yang menangani Yuri.

“Aku akan memindahkan Yuri,
Seohyun ah.. Aku merasa dia sudah tidak aman berada disini..”

“Apa? Tidak.. Kau tidak bisa
melakukan itu..”

“Aku bisa..!”

Donghae berkeras untuk tetap
memindahkan Yuri darisana.
Sebelumnya dirinya memang sudah
berencana untuk memindahkan Yuri,
dan setelah mendengar jika ada dua orang pria yang menemui Yuri dan berusaha untuk mencari tahu tentang
penyebab Yuri ditempatkan disana,
membuatnya kemudian berpikir untuk
mempercepat rencananya
memindahkan Yuri.

Maka hari itu juga Ia akan membawa
Yuri keluar dari rumah sakit jiwa itu..

“Yuri ah..”

Masuk kedalam kamar yang ditempati
Yuri, Donghae membuatnya terkejut
hingga kemudian nampak antisipasi
dari wajah Yuri yang lantas beringsut
keujung tempat tidur dan memeluk
kedua lututnya.

“Yuri ah..”

“tidak..tidak..pergi..pergi..!”

Donghae tetap berusaha
mendekatinya meski Yuri mulai
berteriak dan melempar bantal
tidurnya juga apa saja yang berada
disekitarnya kearah Donghae.

“Aku datang untuk menjemputmu.. Kau
ingin pergi dari sini bukan? Aku akan membawamu ke tempat yang lebih
baik. Kau akan menyukai berada
disana.. Aku tak ingin ada seorangpun
yang menyakitimu, apalagi
menyentuhmu. Kau gadisku, maka aku lah yang
akan selalu melindungimu..”

Donghae menjalankan jemarinya
diatas rambut Yuri, mengusapnya.
Namun yang kemudian didengarnya
adalah jeritan kencang dari Yuri dan
seseorang yang lantas menarik
tangannya untuk menjauh.

“Ya Tuhan.. Apa yang kau lakukan
Donghae ssi?”

Seohyun, sang dokter yang menangani
Yuri langsung mencoba
menenangkannya.
Memberinya pelukan dan merasakan
Yuri balas memeluknya erat dengan
tubuhnya yang gemetar.

“tenanglah, tidak akan ada yang
menyakitimu.. Kami menjagamu..”

Seohyun menjalankan tangannya,
mengusap punggung Yuri.
Donghae menggeram frustasi sambil
meremas rambutnya..

“beri dia suntikan Seohyun ah, Aku akan membawanya keluar dari sini..”

“Donghae ssi..”

“Hanya lakukan apa yang kukatakan!
Beri dia suntikan penenang. Aku perlu
dia tenang untuk membawanya
pergi..”

“Kau tak seharusnya melakukan itu..”

“Aku takkan menerima nasehatmu..”

***

Yoona berlari keluar dari dalam rumah
sakit jiwa itu dengan linangan
airmata.
Menangis ketika malam itu ia datang
setelah menyelesaikan jam kerjanya
namun tak menemukan Yuri disana,
dan justru menerima informasi jika
sang kakak telah dipindahkan.

“Taksi..!!”

berteriak pada sebuah taksi yang
melintas, yang kemudian
memberhentikan lajunya. Yoona
masih terus menangis bahkan setelah
berada didalamnya.

Ia merasa kebingungan..
Kemana Yuri oenni nya dipindahkan?
Dan mengapa Donghae tak
memberitahunya?

Merogoh ponsel dari dalam tas
tangannya, Ia segera menghubungi
Donghae.
Sampai pada panggilan ke tiga,
Donghae baru menjawab telponnya..

“Demi Tuhan Oppa.. Dimana Yuri
oenni? Aku pergi kerumah sakit dan
tak menemukan dia disana. Mereka
bilang kau sudah memindahkan Yuri
oenni. Dimana Oppa.. Aku ingin
bertemu dengan oenni!”

“tenanglah Yoona.. Pulanglah, aku menunggumu disini”

Hanya dengan mengatakan itu,
Donghae menutup ponselnya.

***

Tak sampai tiga puluh menit
setelahnya, Donghae melihat sebuah
taksi memberhentikan lajunya
didepan mobilnya. Dan Yoona yang
kemudian turun dari dalamnya.

Yoona melihatnya, berdiri bersedekap
didepan kap mobilnya dan Ia pun
langsung melangkah
menghampirinya.

“Oppa..”

“minumlah ini..”

Donghae menyodorkan sebotol air mineral kearahnya.

“dimana Yuri oenni sekarang?”

“minumlah dan tenangkan dulu dirimu,
Yoona..”

Yoona hanya seteguk meminumnya,
sebelum akhirnya kembali bertanya.

“katakan padaku dimana Yuri oenni,
Oppa..?”

“Aku mengirimnya keluar negeri. Dia
akan mendapatkan perawatan yang
lebih baik disana..”

Yoona tercengang mendengarnya..

“Apa? Apa maksudmu, Oppa?”

“Aku ingin melihat Yuri sembuh,
begitupun denganmu kan..”

“tapi kenapa Oppa tidak mengatakan
padaku terlebih dulu”

“Aku sudah mengatakannya padamu.
Dan Kau juga menyetujuinya..”

“tapi Kau tidak mengatakan akan
mengirimnya keluar negeri. Ya
Tuhan.. Bagaimana bisa kau
melakukan itu oppa? Siapa yang akan
menjaga Yuri oenni disana?”

Yoona mulai terlihat panik..

“tenanglah, aku membayar seseorang
untuk menjaganya”

Donghae memegang kedua bahu
Yoona, meyakinkannya.

“Yuri akan baik-baik saja. Dia akan
sembuh dan kembali bersama kita..”

“Tidak.. Tidak Oppa. Aku tak ingin
seperti ini. Kembalikan Oenni
padaku.. Biarkan aku yang
menjaganya. Kumohon bawa dia
kembali..”

“Yoona ya..dengarkan aku!”

Yoona kembali menangis hingga
Donghae perlu untuk mengguncang
bahunya agar ia mendengar apa yang
dikatakannya.

“Jika Kau ingin melihat Yuri sembuh,
biarkan dia menjalani perawatan
disana. Dan Kau tak boleh lupa
dengan apa yang kita rencanakan..
Kita harus bekerja sama untuk
menghancurkan bajingan itu. Choi
Siwon, dia yang menyebabkan Yuri
seperti itu. Kita akan membalasnya,
jangan lupakan itu..!”

“tidak Oppa.. Bagaimana aku bisa
melakukannya tanpa Yuri oenni. Dia sumber kekuatanku..”

“percayalah padaku Yuri akan senang
bila kau melakukannya, membalas
kesakitan yang dirasakannya. Jangan
lemah Yoona.. Kita hanya perlu
selangkah untuk mendekat dan
menghancurkan..”

***

Siwon POV

Tergesa mengendarai
mobilku, Aku memacunya diatas
kecepatan rata-rata hanya untuk
secepatnya mencapai rumah sakit
jiwa dimana Yuri dirawat disana.

Seseorang yang ku tugaskan untuk
mengawasi disana, nampaknya
melakukan kelalaian hingga
membuatnya kehilangan jejak Yuri,
yang sudah tak lagi berada disana.

Menikung pada jalan didepan yang
berbelok, aku mengurangi kecepatan
sebelum akhirnya menghentikan
lajunya ketika mencapai area rumah
sakit jiwa itu.

Aku baru saja berniat untuk turun dari
dalam mobilku ketika pandangan
mataku tak sengaja menangkap sosok
gadis resepsionis itu.
Gadis bernama Yoona itu berlari
keluar kearah jalan raya.
Dia terlihat kacau dengan airmata
diwajahnya.

Apa yang terjadi?
Apa dia juga baru mengetahui jika Yuri
sudah tak berada disana?
Tapi hal itu hampir tidak mungkin..

Aku bisa saja turun dan bertanya
langsung padanya, namun gadis itu
telah lebih dulu menghentikan sebuah
taksi yang melintas dan entah apa
yang kemudian terpikir olehku hingga
aku kembali menghidupkan mobilku
dan langsung mengikuti laju taksi
yang ditumpanginya.

Yoona adalah adik Yuri, segala
sesuatu yang berhubungan dengan
Yuri pasti atas dasar persetujuan
darinya.
Dia satu-satunya keluarga yang
dimiliki oleh Yuri.
Jadi dia pasti mengetahui kemana
Yuri dipindahkan.
Dan mungkin dia akan pergi ketempat
dimana Yuri kini menjalani perawatan.

Setelah sekitar tiga puluh menit aku
berkonsentrasi mengikuti taksi
didepanku, mobil itu berhenti dan
gadis itu segera keluar dari dalamnya.

Tetap berada didalam mobil, Aku bisa
melihatnya sedikit berlari.
Dan apa yang kemudian baru kusadari
adalah keberadaan Donghae disana,
juga gadis itu yang langsung
menghampirinya.

Aku tak bisa mendengar apa yang
mereka bicarakan, Aku hanya melihat
gadis itu kembali menangis dan
Donghae yang coba menguatkannya
dengan merengkuh kedua bahunya.

Aku tak yakin dengan apa yang
kulakukan, tapi aku keluar dari dalam
mobil karna merasa perlu untuk
mendengar apa yang mereka
bicarakan.
Apa yang membuat gadis itu menangis
mungkin berhubungan dengan
keadaan Yuri saat ini?

Aku cukup yakin akan hal itu..
Maka secara tersembunyi, mengendap
seperti penguntit aku melangkah
mendekat.
Menyembunyikan tubuhku disisi
sebuah mobil dari beberapa mobil
yang terparkir dipinggir jalan itu, Aku
bisa mendengar apa yang kemudian
mereka bicarakan.

“Jika Kau ingin melihat Yuri sembuh,
biarkan dia menjalani perawatan
disana. Dan Kau tak boleh lupa
dengan apa yang kita rencanakan..
Kita harus bekerja sama untuk
menghancurkan bajingan itu. Choi
Siwon, dia yang menyebabkan Yuri
seperti itu. Kita akan membalasnya,
jangan lupakan itu..!”

“tidak Oppa.. Bagaimana aku bisa
melakukannya tanpa Yuri oenni. Dia
sumber kekuatanku..”

“percayalah padaku Yuri akan senang
bila kau melakukannya, membalas
kesakitan yang dirasakannya. Jangan
lemah Yoona.. Kita hanya perlu
selangkah untuk mendekat dan
menghancurkan..”

Sialan..
Aku mungkin akan menyesali apa
yang kudengar. Atau sebaliknya aku akan merasa bersyukur karna telah
mendengar apa yang mereka
bicarakan.

Aku sepenuhnya yakin dengan
pendengaranku jika Donghae
berencana untuk menghancurkanku
dengan memperalat gadis itu.

Apa salahku padanya dan apa
kesalahanku pada Yuri hingga dia
dengan tega menuduhku menjadi
penyebab ke-gila-an Yuri.

Tuhan..
Apa aku baru saja menyebut Yuri gila?
Aku meminta maaf untuk itu.

Yang kulakukan malam itu mungkin
menyakitkan bagi Yuri.
Tapi aku hanya berusaha untuk jujur
padanya.

Dia mencintaiku tapi aku tak bisa
menerima cintanya.
Aku tak merasakan perasaan yang
sama dengannya.
Jantungku tak berdebar tiap kali
bersamanya.
Aku menghargainya sebagai rekan kerja.
Dan aku ingin menjaga hubungan
profesional itu.

Hanya satu kesalahanku yang sampai
saat ini masih kusesali, Aku terlalu
kasar dengan penolakanku malam itu.
Aku mengatakan kata-kata yang
membuatnya tersakiti, terluka dan
menangis ketika meninggalkanku.

Jika hal itu yang kemudian dikaitkan
Donghae sebagai penyebab Yuri
menderita saat ini, aku benar-benar
tak percaya akan hal itu.
Yuri gadis pintar yang tak mungkin
menjadi gila hanya karna penolakan
ku..

Tidak..
Itu tidak mungkin.
Aku bahkan yakin jika Yuri mampu
menarik pria yang jauh melebihi
diriku.

Kepalaku terlalu dipenuhi dengan
ketidak percayaanku akan seorang
Donghae, hingga tak kusadari ketika
dia telah melajukan mobilnya
meninggalkan gadis itu.

Yoona berusaha menyeka airmatanya
dan berjalan menuju sebuah rumah
yang mungkin ditempatinya.

Dia menaiki sebuah tangga yang
berada diluar dengan langkah
tersaruk. Aku bahkan melihatnya
tersandung hingga tiga kali yang
kemudian membuatnya terduduk
ditengah anak tangga dan dia kembali
menangis disana.

Gadis yang malang..
Kini aku tahu alasan mengapa dia
selalu menatapku dengan mata
berkilat kemarahan.

Jadi..
Haruskah Aku mengikuti permainan
ini?
Apa yang mereka rencanakan dan
mainkan?
Dan apa yang bisa kumainkan??

“Selidiki Lee Donghae mulai
sekarang!!”

***

Author POV

Siwon hanya melakukan
panggilan singkat dan kembali
memasukkan ponsel kedalam saku
celananya.

Yang kemudian dilakukannya adalah
kembali melihat kearah gadis itu.
Yoona masih terduduk ditengah anak
tangga dan menangis. bahkan setelah
tiga puluh menit berlalu, Ia masih
terus bertahan disana.

Udara diluar yang terasa semakin
dingin, mungkin yang kemudian
membuatnya dengan perlahan berdiri
dan selanjutnya menaiki anak tangga
yang berada diatasnya.

Setelah melihat Yoona membuka
sebuah pintu dan kemudian masuk
kedalamnya, Siwon berjalan menuju
mobilnya dan kembali melakukan
panggilan setelah berada didalamnya.

***

Siwon bahkan tak bisa memejamkan
matanya semalaman.
Pikirannya berkecamuk dengan apa
yang membuat Yuri mengalami
depresi?
Dan dimana keberadaannya saat ini?
Ditambah lagi dengan apa yang tak
sengaja didengarnya.
Rencana Donghae dan gadis itu untuk
menghancurkan dirinya, dengan
mengatas namakan Yuri justru terasa
konyol untuknya.
Karna jelas Ia tak merasa menjadi
penyebab apa yang saat ini menimpa
Yuri.

“Siwonie.. Kau masih belum bangun?
Irona..!!”

Siwon mengerang ketika mendengar
sang oemma berada diluar, mengetuk
pintu kamarnya.

“Aku bahkan tidak tidur oemma..”

gumamnya sambil mengajak
rambutnya.

“Irona, Siwon.. Kau tidak mendengar
oemma?”

“Aku mendengarnya oemma.. Aku
akan bersiap”

Tak terdengar lagi suara sang oemma
ketika Siwon beranjak masuk kedalam
kamar mandi.

Hanya lima belas menit setelahnya, Ia
sudah berada dimeja makan bersama
dengan kedua orang tuanya.

“Apa yang akan kau kerjakan hari ini?”

tanya Tn.Choi mengawali
pembicaraan..

“hanya sebuah rapat dan seharian
mungkin aku hanya akan berada
dikantor..”

“Kau punya waktu untuk makan siang
diluar bersama oemma?”

Ny.Choi mulai menyela membuat
Siwon sedikit menyeringai
mendengarnya.
Jelas berdasarkan pengalamannya, Ia
mencurigai sang oemma memiliki
maksud dibaliknya.

“Kurasa aku akan memiliki sepuluh
menit untuk makan siang dikantor.
Jadi jangan menggangguku, oemma”

“itu terdengar berlebihan anak ku..”

Siwon mengangkat kedua bahunya dan
kembali mencoba menikmati sarapan
paginya.

“Oh, ahjumma..”

Melihat salah seorang pelayan
rumahnya yang melintas disekitar
ruang makan membuat Siwon lantas
berdiri dan mendorong kursi
dibelakangnya untuk kemudian
menghampiri sang ahjumma yang
tersenyum kearahnya.

“Ada apa nak?”

Ahjumma Lee yang adalah salah
seorang pelayan rumahnya dan juga
Ibu dari Donghae, memang selalu
bersikap lembut padanya.

“tidak, aku hanya ingin bertanya..”

“Apa yang ingin Kau tanyakan?”

“em, jam berapa Donghae pulang
semalam?”

“Oh, Donghae.. Dia pulang setelah
tengah malam. Apa sesuatu terjadi
dikantor?”

“aniy.. Kurasa dia bekerja terlalu
keras..”

“Ya, aku juga melihatnya nampak
lelah tadi..”

Siwon mengangguk mengerti dan
membiarkan sang ahjumma berlalu
dari hadapannya.

***

Yoona tak bisa menutupi wajahnya
yang terlihat kacau hanya dengan
sapuan bedak yang dipakainya.
Masih terlihat jelas saat itu, bola
matanya memerah dengan lingkaran
hitam disekitar matanya, akibat terus
menangis dan juga tidak tertidur
semalam. Ia terguncang dengan ketiadaan Yuri oenni nya.

“Yoona.. Apa yang terjadi denganmu?”

Hyoyeon menyadari ketidak-beres-an
pada diri Yoona..

“astaga..lihatlah dirimu?”

“aku tidak apa-apa Hyo, jangan
berlebihan..”

Hyoyeon tak menghiraukan apa yang
Yoona katakan, Ia justru mendekatinya
dan menempatkan punggung
tangannya pada kening Yoona untuk
memastikan keadaannya.

“Kau demam, Yoona.. Ayo ikut aku
keruang kesehatan, kau bisa
mendapatkan obat disana..”

Hyoyeon sudah meraih tangannya
ketika kemudian sebuah intruksi
mengarahkan mereka untuk
menyambut kedatangan Siwon, sang
pemimpin perusahaan.

“ini darurat.. Kita tak harus ikut
berjejer disana”

Hyoyeon memaksa agar Yoona tetap
mengikutinya, namun Ia justru
menolaknya.

“Tidak Hyo.. Aku masih bisa
melakukannya. Aku sudah cukup
banyak membuat masalah didepan
sajangnim. Aku sedang berusaha
untuk tidak mengulanginya lagi.
Kajja..”

Yoona berkeras dan justru berbalik
menarik Hyoyeon agar mengikutinya,
bersama dengan yang lain berjejer
disekitar pintu masuk sampai
kedalam lobi.

Yoona menundukkan wajahnya,
menahan rasa pusing dikepalanya dan
pandangan berkunang yang kemudian
juga dirasakannya.
Ia sempat menekan pelipisnya, namun
yang terjadi justru pandangan
matanya kian berkunang dan perlahan
menggelap.

Pandangannya benar-benar mengabur
seiring dengan kakinya yang terasa
kian lemas hingga tak mampu lagi
untuk menopang tubuhnya.
Ia terjatuh dan seharusnya merasakan
sakit pada tubuhnya yang membentur
lantai, namun hal itu tak dirasakannya
ketika sebuah tangan merangkulnya
dengan erat dan menahan tubuhnya.

“Sa-jang-nim..”

Yoona masih sempat menggumam dan
merasakan tubuhnya terayun dalam
gendongan seseorang, sebelum
akhirnya Ia benar-benar kehilangan
kesadarannya.

“Panggil dokter dan siapkan ruang
kesehatan!”

Siwon yang membopong tubuhnya dan
dengan sedikit berlari membawanya
masuk kedalam ruang kesehatan..

***

Yoona POV

Aku terbangun dengan
rasa pusing yang mendentam
dikepalaku. Dan menyadari jika saat
ini aku berada diruangan yang tidak
kukenali, tanpa seorang pun yang
berada disekitarku.

Sedikit mencium bau obat, Aku juga
melihat pada pergelangan tanganku
yang terpasang jarum infus.

Tuhan..
Apa yang terjadi?
Mengapa aku begitu lemah dan
terbaring disini..

“berapa lama dia akan sadar?”

“mungkin tidak akan lama lagi Tuan..”

sayup-sayup kudengar pembicaraan
dari balik tirai yang menutupi ku, yang
kemudian membuatku bergerak dari
tempat tidur dan berusaha
memposisikan tubuhku untuk duduk.

“baiklah.. Jika dia bangun nanti,
katakan padanya untuk beristirahat
dan aku memberinya cuti sampai dia
sembuh”

“baik Tuan..”

“bisakah aku melihatnya untuk
memastikan?”

“silahkan Tuan..”

Jika aku tak merasakan lemas
ditubuhku, aku pasti sudah terlonjak
karna terkejut.

Aku mengenali suara itu dan kemudian
mengembalikan posisi tubuhku
kembali tertidur.
Lega pada saat kudengar suara tirai
yang dibuka, aku sudah kembali
menutup kedua mataku.
Berpura-pura belum tersadar mungkin
akan lebih baik untuk kulakukan saat
ini..

Aku tak bisa melihat apa yang dia
lakukan, tapi aku bisa merasakan
beberapa saat kemudian dia
menempatkan punggung tangannya
dikeningku, memeriksaku..

“Suhu tubuhnya sudah menurun?”

“saya memberinya obat penurun
demam, begitu dia tersadar dan cairan
infus habis, nona ini bisa keluar dari
ruangan ini..”

“suruh saja dia pulang setelah itu, dan
katakan padanya apa yang kukatakan
tadi..”

“baik Tuan..”

Aku kembali membuka mata setelah
mendengar tirai yang kembali ditutup.
Menghela napas perlahan, aku
berpikir..

Dia tidak seharusnya bersikap baik
padaku.
Apapun yang dilakukannya, tidak akan
mengubah penilaianku padanya.
Bahwa dia hanyalah seorang bajingan
yang menyakiti oenni ku.

Dan karna dia juga aku seperti ini.
Aku harus terpisah dengan Yuri oenni,
entah sampai kapan.
Aku membencinya karna hal itu.

Tuhan..
Dia benar-benar brengsek!
Menarik selang infus ditanganku, Aku
memaksa diriku untuk berdiri dan
ingin meninggalkan ruangan ini.

“nona, anda sudah sadar..”

Aku melihat seorang pria berjas putih
dan kupaksa senyum dari sudut
bibirku.

“saya sudah merasa lebih baik,
dokter.. terimakasih”

“syukurlah nona.. Selain demam,
Anda juga hampir mengalami
dehidrasi tadi”

Aku tak yakin jika menangis semalam
adalah penyebab aku hampir
mengalami dehidrasi seperti yang
dikatakan seorang dokter didepanku.

Tapi mungkin saja, aku memang
terlalu banyak mengeluarkan cairan
airmataku.

“Anda bisa pulang dan tidak perlu
bekerja hari ini. Tn.Choi Siwon sudah
memberikan anda cuti sampai anda
sembuh”

Bukan itu yang kuinginkan.
Aku ingin dia mengembalikan Yuri
oenni ku!

Sayangnya aku tak bisa meneriakkan
itu..

Mengangguk pada sang dokter, aku
menerima beberapa obat yang
diberikannya sebelum akhirnya keluar
dari ruangan itu.

“Yoona.. Kau sudah sadar?”

Hyoyeon yang pertama kali
menghampiriku dan merangkulku..

“Kau masih terlihat pucat..”

“Aku sudah merasa lebih baik..”

dia mendesah..

“Bahkan disaat sakit pun kau bisa
begitu beruntung Yoona. Tuan muda
itu menggunakan lengan kokohnya
untuk menahan tubuhmu agar tak terjatuh..”

aku mendecak mendengarnya, namun
Hyoyeon tak lantas menghentikan
ucapannya.

“Atau kau sengaja menjatuhkan
tubuhmu didepannya? Tuhan.. Jika
aku tahu Tuan muda bisa bersikap
begitu baik dan gentelmen dengan
menggendong tubuhmu, aku bersedia
beratus kali menjatuhkan tubuhku didepannya..”

aku memutar mata mendengar
kekonyolan ucapannya..

Pria itu benar-benar bisa mempesona
dimata Hyoyeon.

Aku baru saja akan menyahuti
ucapannya ketika kemudian kulihat
dua orang wanita berjalan bersisian
memasuki lobi dan menuju kearah lift khusus.

Seorang wanita paruh baya yang
masih terlihat cantik, dia pasti lebih
dari sekedar cantik diusia mudanya.
Dan seorang lagi adalah wanita muda
yang kukenali, dia wanita yang waktu
itu hampir saja menjadi sumber
masalah untukku setelah aku
membiarkannya masuk keruangan
pria bajingan itu.

“Dia adalah ibu dari Tuan muda..”

Hyoyeon menyenggol lenganku dan
aku menoleh kearahnya.

“dan wanita muda itu?”

“entahlah, bukankah dia juga pernah
datang waktu itu?”

Aku mengangguk membenarkan
ucapan Hyoyeon.

“mungkin dia teman kencan Tuan
muda, atau justru sudah menjadi calon
menantu Ny.Choi? Oh Tuhan tidak..
Yoona, Kau bisa mencekikku jika itu
benar. Aku akan lebih memilih
terkapar karna kau mencekikku
daripada Aku harus menangisi Tuan
muda yang dimiliki olehnya..”

aku menggeleng-gelengkan kepalaku,
benar-benar bingung dengan cara apa
aku harus menanggapi Hyoyeon.

“Aku akan pulang, sajangnim sudah
memberi ijin untukku beristirahat..”

Aku baru saja mengatakan hal itu pada
Hyoyeon saat kemudian kudengar
suara seorang wanita yang berseru..

“Siwonie.. Choi Siwon, tunggu..”

“tidak bisa oemma..Sekretarisku
sudah menunggu, kami ada pertemuan
bisnis diluar..”

Dan dia menarik pergelangan
tanganku..

Oh dear..

Kebingungan dan sekaligus terkejut
dengan cepatnya gerakan tangannya
yang menarikku, Aku kemudian
seakan dipaksa untuk mengikuti
langkah kakinya yang cepat yang
hampir saja membuatku terjatuh.

Sial..
Aku takkan bisa melawannya.
Tubuhku terasa lemas dan Aku masih
bisa merasakan pusing dikepalaku.
Apa sebenarnya yang akan
dilakukannya dengan menarikku ikut bersamanya?

“Sajangnim..”

Aku mencoba menyentak pergelangan
tanganku dan membebaskan dari
cengkraman tangannya, tapi percuma.
Itu tak cukup kuat untuk mengusiknya,
dia terlalu kuat menarikku.

“Diamlah, aku hanya membutuhkanmu
untuk keluar darisini..”

Yang kemudian terjadi dan kurasakan
adalah
Dia mendorong tubuhku masuk
kedalam mobilnya.
Apa dia memang tak bisa
memperlakukan wanita dengan baik?

Ya..
Aku tak seharusnya mempertanyakan.
Dia memanglah seorang bajingan!

Melirik dari kaca mobilnya, aku
melihat wanita paruh baya itu juga
seorang wanita muda disebelahnya
yang berjalan cepat, mencoba
mendekat dan akhirnya kembali
bersuara..

“Siwonie.. Astaga! Kau tidak
mendengar oemma?”

“Aku sudah telat oemma.. Kita bisa
berbicara dirumah!”

“Siwon..!”

Dia lantas masuk kedalam mobil dan
duduk disebelahku, dikursi kemudi
dan dengan cepat melajukan
mobilnya.

Apa yang bisa kukatakan?
Kepalaku terlalu pusing untuk
memikirkan kata apa yang
sepantasnya bisa kukatakan padanya.

Memutuskan untuk diam menjadi
lebih baik daripada aku mengucapkan
makian ke padanya.

“Astaga.. Oemma mulai keterlaluan.
Dia bisa membuatku tercekik jika
terus seperti itu..”

Melihatnya dari sudut mataku, dia
melonggarkan dasi pada lehernya dan
mengejutkanku dengan tiba-tiba
memukul pada roda kemudi dengan
salah satu tangannya.

Apa dia tidak menyadari
keberadaanku?
Apa dia melupakan telah menarik
seorang wanita sakit berwajah pucat
untuk ikut bersamanya?

Aku perlu berdeham dua kali untuk
membuatnya melirik kearahku.

“maafkan aku nona..Kau lihat, Aku
tertekan secara emosional karna
tingkah ibu ku..”

Dia tak seharusnya menceritakan hal
itu padaku. Aku takkan perduli
ataupun bersimpati padanya..

“Anda bisa menurunkan saya disini?”

“Owh.. Kau ingin aku
menurunkanmu?”

Aku sudah jelas berbicara bukan..

“Kurasa aku tak bisa melakukan itu.
Bukan gayaku untuk menurunkan
wanita ditengah jalan..”

‘gayamu pasti menurunkan wanita
ditengah ranjangmu..
Bajingan..’

“apa Kau baru saja menggumamkan
sesuatu tentangku, Yoona..?”

Astaga..

Dia mendengarku?
Tidak mungkin..
Aku hanya menyuarakan itu didalam
hatiku.

“euh..”

“bukankah namamu Yoona?”
Aku mengangguk..

“jadi benar kau menggumamkan
sesuatu tadi?”

“ani..anio sajangnim..”

“benarkah?”

“ne..”

“baiklah.. Aku percaya padamu. Aku
selalu mempercayai apa yang wanita
katakan..”

Apa dia sedang menyeringai padaku?

Sialan..
Beberapa menit berada didalam
mobilnya pasti telah membuat panas
ditubuhku meningkat. Dia benar-benar
mengesalkan, brengsek dan bajingan.

Tuhan..
Aku harus secepatnya keluar, jika
tidak aku takkan pernah berhenti
mengumpat. Aku bisa meledak karna
terus melakukan itu didalam hatiku.

Tapi Aku bahkan belum mengetahui
kemana dia akan membawaku,
sampai akhirnya Tuhan mengabulkan
doa ku.
Dia memberhentikan laju mobilnya..

“Turunlah.. Kau perlu beristirahat..”

Aku perlu mencerna apa yang dia
katakan.
Menatap kesekeliling ku dari dalam
mobilnya, Aku mengenali tempat ini.
Sangat mengenali..

“Sajangnim..darimana anda
mengetahui saya tinggal disini?”

Dia memutar tubuhnya dan menatap
kearahku.
Aku perlu mengerjapkan kedua
mataku untuk menghindari sorot
matanya yang seakan sanggup
menembusku..

“Aku menghapal daftar riwayat hidup
semua karyawanku, termasuk tempat
tinggal mereka..”

benarkah?
Dia pasti mengatakan kebohongan
padaku..

“daripada mempertanyakan darimana
aku mengetahui tempat tinggalmu,
akan lebih baik jika kau mengatakan
terimakasih karna aku telah
mengantarmu dengan selamat..”

Aku takkan mengucapkannya.
Aku tidak memintanya untuk
mengantarku, karna aku masih bisa
membawa tubuhku pulang dengan
kedua kakiku.
Dia yang menarikku untuk ikut
dengannya.

Tapi aku akan menghargai jika
menghapal daftar riwayat hidup
semua karyawannya adalah benar.
Maka aku bisa mengatakan pada
Hyoyeon bahwa Tuan muda nya
mengetahui dimana tempat
tinggalnya.
Itu akan membuatnya menjerit, jika
aku mengatakannya..

Benar-benar tidak mengucapkan
terimakasih padanya, Aku keluar dari
dalam mobilnya dan mempercepat
langkahku untuk masuk kedalam
rumah.

Aku perlu berada didalam kamarku
dan bergelung dibawah selimut yang
kumiliki.
Aku harus tidur. Setidaknya dengan
tidur bisa sesaat melupakan
suramnya kehidupan yang diberikan
Tuhan padaku.

Yuri oenni aku membutuhkanmu..

***

Aku hanya menggunakan dua hari cuti
tak tertulis yang diberikan padaku dan
kembali bekerja pada hari berikutnya.
Hari yang kemudian menjadi begitu
mengejutkan setelah Hyoyeon
memekik saat melihatku..

“Astaga, Yoona..! Bagaimana bisa?
sekarang kau menjadi sekertaris Tuan
muda? Benarkah?”

“Apa..??”

***

Author POV

Yoona masih mengernyit mendengar apa yang Hyoyeon katakan, namun sang teman justru mengabaikan kebingungannya dengan kembali mengatakan sesuatu yang tak dimengerti olehnya.

“Ya ampun Yoona.. Jadi Tuan muda tidak mengatakan padamu jika Kau sekarang telah menjadi sekretarisnya?”

“Apa sih maksudmu.. Siapa yang menjadi sekretarisnya? Sudah kukatakan padamu hari itu dia menarikku dengan mengatakan aku adalah sekretarisnya yang telah menunggu untuk pembicaraan bisnis, hanyalah karangannya saja.. Sajangnim hanya memperalatku untuk melarikan diri dari ibunya..”

Yoona mendengus kearah Hyoyeon, namun dengan menggerakkan kedua tangannya Hyoyeon menolak apa yang dimaksudkan oleh Yoona.

“Ya, Kau sudah mengatakan padaku ditelpon tentang itu. Tapi tidak.. Bukan itu. Kali ini nyata. Dia benar-benar akan menjadikanmu sekretarisnya.. Tuan muda sudah memberikan pengumuman dan bahkan posisimu sebagai resepsionis telah ada yang menggantikan”

Hyoyeon lantas menunjuk pada meja resepsionis yang biasa ditempati Yoona, dan memperlihatkan seorang wanita yang berada disana sedang melakukan pembicaraan ditelpon.

“lihatlah.. Nama nya Sunny, Dia akan menggantikanmu mulai hari ini..”

Yoona makin ternganga mendengarnya, melewatkan tatapan Hyoyeon yang mulai mencurigainya.

“ada apa sih sebenarnya antara Kau dan sajangnim? Ataukah terjadi sesuatu diantara kalian? Kau berhubungan dengannya? Astaga.. Yoona..”

Yoona memberikan tatapan memperingatkan pada Hyoyeon, menandakan jika dirinya tak menyukai pertanyaan yang Hyo ucapkan padanya.

“Oh, ayolah.. Aku hanya ingin tahu. Tak mungkin Tuan muda tiba-tiba menjadikanmu sebagai sekretarisnya, jika tak ada sesuatu dibaliknya”

“Aku tidak tahu Hyo.. Kau lihat kan aku baru datang. Aku juga tak bekerja dua hari, jadi aku tak tahu apa yang terjadi..”

Hyo menghembuskan napasnya kasar..

“Kau hanya menyelesaikan sekolah menengah dan tak menjalani perkuliahan. Mana bisa kau menjadi sekretarisnya? Kau tak memiliki dasar untuk itu. Dan Ini sedikit tak masuk akal Yoona..”

“ini lebih dari sedikit Hyo.. Tapi ini memang sangat tidak masuk akal. Jadi apa yang harus kulakukan?”

terbersit kemudian dalam benak Yoona, jika mungkin saja ini ada hubungannya dengan Donghae.

Ya..
Donghae mungkin saja telah mengaturnya.

Dia sengaja melakukan hal itu seperti apa yang menjadi niatannya, yaitu mendekat untuk menghancurkan.
Tapi bagaimana bisa dia melakukannya.

Jika memang Donghae yang mengusulkan agar dirinya menempati posisi sebagai seorang sekretaris Siwon, dan pria itu menyetujuinya..

Tidakkah dia berpikir jika itu hanya akan menyulitkannya. Harusnya Donghae lebih bisa menilai jika Ia tak memiliki kemampuan untuk itu.
Dan Siwon..
Pria itu juga harusnya bisa menilai kan?
Mengapa dia juga bertindak bodoh dengan mau menerimanya..

Astaga..
Itu membingungkan..

Yoona merasa tak akan bisa bekerja sebagai seorang sekretaris. Ia pastilah hanya akan menjadi wanita bodoh dalam posisi itu.

Jauh berbeda bila dibandingkan dengan Yuri oenni nya yang pintar dan berkemampuan lebih disana.

“Yoona ssi.. Im Yoona ssi..?”

Panggilan itu seketika membuyarkan apa yang sedang berada dalam pemikiran Yoona.

Ia dan Hyoyeon sama-sama menoleh, dan melihat seorang wanita yang tak lebih tinggi darinya, yang disebutkan Hyoyeon sebagai pengganti posisinya sebagai resepsionis mendekat menghampiri keduanya.

“Kau Im Yoona ssi?”

Yoona hanya mengangguk mengiyakan..

“Ah, namaku Sunny.. Mulai sekarang aku akan bekerja disini. Senang bertemu denganmu..”

gadis bernama Sunny itu tersenyum kearahnya. Terlihat jelas gurat-gurat kecerian yang memancar dari wajahnya.

“annyeong..”

Yoona akhirnya membalas senyuman itu dengan menyapanya.

“Ah, ya.. Sajangnim Choi menelpon dan memintamu untuk menemuinya diruangannya..”

Yoona masih hanya terdiam..

“Sekarang..!”

Sunny menambahkan dan Hyoyeon langsung menyikut lengan Yoona, mengharapkannya agar lekas bergerak.

“Oh.. Baiklah, aku akan naik sekarang..”

terdengar gugup, Yoona lantas melangkah dengan cepat menuju lift yang tak berapa lama terbuka, yang kemudian membawanya ke ruangan Siwon di lantai tiga puluh.

***

Donghae rupanya telah berada lebih dulu didalam ruangan Siwon, Ia terlihat mengerutkan dahi ketika mendengar penjelasan Siwon mengenai alasannya menjadikan Yoona yang hanyalah seorang resepsionis sebagai sekretaris nya.

“Ini semua gara-gara Ibuku.. Kau tahu, oemma akhir-akhir ini selalu datang tiba-tiba tanpa memberitahuku.. Dan parahnya, dia membawa seorang gadis muda bersamanya..”

Donghae masih belum mengerti, dimana alasan yang akan menjelaskan Siwon memerlukan Yoona sebagai seorang sekretarisnya.

Meski tak bisa Ia pungkiri, apa yang dilakukan Siwon mungkin akan memudahkan rencananya.
Dengan meletakkan Yoona didekat Siwon, sudah pasti memberi jalan tercepat untuk mensukseskan rencananya.

“Kau masih belum mengerti..?”

Siwon menegur Donghae yang tak bereaksi.

“Kau bisa melanjutkan.. Aku jelas belum menemukan alasannya..”

Siwon tersenyum dan kembali melanjutkan..

“hm.. Dua hari lalu aku memanfaatkan gadis itu, Yoona maksudku.. Untuk menghindari oemma, Aku membawanya untuk ikut denganku dan mengatakan pada oemma bahwa dia adalah sekretarisku yang sudah menungguku untuk pertemuan bisnis yang harus kulakukan..”

“Lantas?”

“Aku tidak akan mengambil resiko bila oemma tiba-tiba datang dan tak menemukan Yoona sebagai sekretarisku, tapi justru melihat gadis itu dimeja resepsionis. Dia akan tahu jika aku telah membohonginya sebelumnya..”

“Aku masih tidak mengerti mengapa Kau sampai harus menghindari ibumu dan gadis yang bersamanya..”

“Oh, Aku belum mengatakan padamu itulah kesalahan fatal yang kulakukan. Aku tidak seharusnya menghindari oemma dan gadis itu..”

“dan siapakah sebenarnya gadis yang kau sebut-sebut itu..?”

Donghae nampak mulai tertarik dengan pembahasan itu..

“Kau ingat saat aku menyuruhmu membawa pergi gadis yang berada disini waktu itu..?”

Donghae mengangguk..

“Namanya Jessica, Aku baru tahu jika ternyata dia adalah putri seorang pengusaha ternama. Aku baru mengetahuinya setelah kemarin oemma memarahiku, karna setidaknya telah tiga kali aku menghindar untuk berbincang dengannya..”

“Apa perbincangan itu dirasa cukup penting..?”

“Ya.. Untuk dua orang yang akan dijodohkan, itu jelaslah penting untuk memulai perbincangan dan saling mengenal..”

Donghae sedikit membelalak mendengarnya..

“perjodohan?”

“Ya.. Oemma dan aboji sedang dalam pembicaraan dengan orang tua Jessica untuk itu. Dan aku sedang dalam pemikiran untuk menerimanya..”

“Kau berencana menerima perjodohan itu?”

Siwon mengangguk dan menangkap nada kepanikan dari kalimat yang terucap dari Donghae..

“Apa yang menjadi alasanmu berpikir Kau bisa menerima perjodohan itu? Aku mengenalmu sebagai pria yang tidak suka diatur..”

“Well.. Aku melihat gadis itu cukup cantik untuk bersanding denganku. Dan poin utamanya adalah perusahaan kami akan bergabung setelahnya.. Kau tahu bila itu terjadi? Akan seperti apa kerajaan bisnis yang berada dibawah kekuasaanku..”

Donghae mengepalkan tangannya, tak suka dengan nada angkuh dari kalimat Siwon yang sedang menyombongkan dirinya.

“Semua itu akan dimulai dari rencana pertunangan kami. Minggu depan ketika kita merayakan ulang tahun perusahaan ini, oemma dan aboji akan mengumumkan pada semua orang tentang rencana itu..”

“Aku bisa menilai itu hanyalah sekedar pertunangan bisnis..”

Ucapan sinis yang bisa tertangkap dari ucapan Donghae justru membuat Siwon tergelak..

“Ya, semacam itulah yang akan terjadi diantara kami..  Aku memakai salah satu cara yang pebisnis lakukan untuk memperluas kerajaan bisnisnya..”

“Jadi untuk apa Kau melibatkan Yoona kedalamnya?”

Donghae teringat kembali akan pembicaraan utama mereka adalah tentang bergantinya posisi Yoona mulai hari itu..

“masalahnya Aku sudah terlanjur mengatakan pada oemma jika dia adalah sekretarisku, dan Jessica sudah pasti mendengar hal itu. Seperti yang kukatakan, Jika suatu hari dia datang dan tak menemukan Yoona sebagai sekretarisku, Aku khawatir dia akan memberi stempel pembohong ataupun pendusta dikepalaku. Aku ingin mendapatkannya sebagai tunanganku, maka aku haruslah memperbaiki kesalahanku padanya..”

“tapi tidak ada yang bisa dilakukan Yoona sebagai seorang sekretaris, dia hanya gadis…”

Siwon meletakkan satu teluncuk dibibirnya untuk memotong ucapan Donghae..

“Dia tidak akan bisa bekerja, Siwon..”

“Sebenarnya aku tak membutuhkannya untuk bekerja.. Jangan mengatakan pada siapapun tentang rencanaku. Dia hanya akan diposisi ini sampai minggu depan.. Sampai perayaan ulang tahun perusahaan dan sekaligus pengumuman pertunanganku dengan Jessica. Aku hanya tidak ingin gadis itu mundur dari perjodohan, jika dia mengetahui aku sempat membohonginya..”

Siwon terus mengamati bagaimana reaksi Donghae saat itu. Ia telah melempar umpan kehadapan pria itu, dan bersiap-siap untuk mengetahui akankah Donghae menyambarnya.
Ini akan jadi menarik untuknya mencari tahu apa yang dilakukan Donghae setelah mendengarnya.

Jika Dia memang berencana untuk menghancurkannya, sudah pasti ide pertunangannya dengan Jessica bukan menjadi kabar baik untuknya. Perusahaan ayahnya yang sekarang berada dalam kepemimpinannya akan semakin berkembang. Dan sulit rasanya bila seorang Donghae untuk bisa menghancurkannya.

“Sajangnim..”

Ketika keduanya berada dalam kediaman, ketukan pada pintu dan suara Yoona yang berada dibaliknya membuat Siwon maupun Donghae langsung mengalihkan perhatiannya.

Siwon menyuruhnya masuk, dan melihat Yoona dengan gugup masuk kedalamnya..

“Sajangnim memanggil saya..?”

“Ya.. Kau bisa bereskan barang-barangmu yang mungkin berada dimeja resepsionis, dan pindahkan kemari. Mulai sekarang Kau sekretarisku..”

“tapi sajangnim..”

“Lakukan apa yang dikatakannya, Yoona..”

dengan itu Donghae langsung menyambar tangan Yoona dan membawanya keluar dari ruangan Siwon.

Siwon hanya melihatnya dengan senyum misterius diwajahnya..

“Aku membuat kalian untuk melangkah bukan..??”

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

To Be Continued~

@joongly

189 thoughts on “| At First Sight | 2

  1. Yoona lugu banget ya,,
    Semudah itu dia mempercayai omongan donghae,,,
    Padahal siwon bener juga,
    Rasanya ga mungkin banget kalo yuri ampe segitu depresinya hanya karna di tolak ama siwon,,
    Mungkin dia emang akan sedih,
    Tapi ga akan ampe depresi berat gitu..
    Yoona polos banget gampang banget dia di bohongin….
    Donghae memilih lawan yang salah,,
    Siwon ga segampang itu untuk di hancurin,,,
    Ga tau terimakaaih banget sih dia,
    Kalo bukan karna keluarga siwon,,
    Mungkin dia ga akan jadi apa-apa..
    Tapi sekarang dengan tega nya pengin ngancurin siwon..

  2. secepat itukah siwon oppa tau rencana jahat donghae oppa dan yoona eonni??
    trs gmn nasib mereka berdua selanjutnya??
    tp setuju bgt klo yoong eonni yg jd sekretarisnya siwon oppa,
    krn dgn begitu mereka bs lbh deket lg kkkk😀

  3. Wow sumpah ini ff tambah menarik buat d ikutin bahkan saya sampe senyum” geje dengan kelakun ny.choi memperlakukan siwon . D ff ini benar” klomplit siwon yg kaya, donghae yg menjadi laki” jahat ,yoona si gadis yg teripu dan terpedaya dengan kata” donghae dan si yuri yg menderita . Serasa nonton drama aii unn ini juga d buat novel aja kaya ff s meong nambah keren pasti . Oke lnjut part 3

  4. masih belum mengerti kenapa donghae sampai membenci siwon.
    padahal orangtua siwon udah baik banget sama donghae dg menyekolahkan di sekolah yg sama dg siwon.
    aku juga masih bingung penyebab yuri bisa depresi sampek gak mau disentuh sama cowok.
    siwon benar untuk ukuran orang pintar seperti yuri penolakan yg dilakukan siwon tak akan membuat dia sampek sedepresi itu meskipun ditolak dengan kasar.
    kecuali kalau malam habis penolakan itu yuri pergi ke klub trus disana dia mengalami pelecehan seksual.
    oy kenapa yoona disini umurnya belia banget 18, sedangkan siwon udah lumayan matang.

  5. Ya siwon enak bgt ya marn samber aj langs, yoona jd sekertaris siwon mih sekarang berarti gampang song buat balas dendam , tp donghae pindahin yuri kemana ya kok yoona gak tau sebenerx in ad ap sih kok yoo a yg adek gak tau apa apa malah donghae yg pegang kendali ngurusin yuri

  6. haduh… yoona eonni kenapa sih gampang banget percaya sama omongannya donghae oppa.untung aja rencananya udah diketahui sama siwon oppa jahat banget sih singkat padahal kan Siwon oppa
    sahabatnya sendiri

  7. Omo.. Omo.. Yoonwon mulai berinteraksi fisik.. Ahaay hyoyeon sngt terlihat jelas yh mengidolakan siwon.. Aigoo yoona masih saja sprti itu sikapny ke siwon.. Donghae sprtinya termakan permainanny siwon.. Kasihan yoona hrus jauh dr yuri.. Aq kok mencium gelagat jahat didiri donghae ya..

  8. Hhm, kasian yoona mudah bangwt percaya sma semua ucapan donghae tanpa menelaahnya terlebih dahulu, dan kenapa donghae sangat membenci siwon padahal siwon dan keluarganya sangat baik pada donghae dan ibunya.

  9. Wah,,,,,gwat2,,,,siwon dah tau rncan donghae ma yoona , mdah2an yoona ga dskiti ama siwon coz aq ngrasa yoona d pralat ma donghae,,,,,,smoga ja kbnaran trungkap,,,,hix,,hix,,,hix

  10. knp haeppa benci bgt sma wonppa padahal orangtua wonppa udah baik bgt sma dia. kalo bkn karna keluarga wonppa yg baik bgt dia gk mungkin bisa jadi kayak sekarang. apalagi yoong polos bgt dia bner2 percaya sama haeppa padahal mnurut aku bner jg apa yg dibilang wonppa kalo yuri gk mungkin depresi cuma gara2 ditolak sama wonppa. kecuali kalo yuri dilecehkan baru dia depresi sampe takut bgt kalo ketemu sma cowok.

  11. gak ngerti kenapa donghae bisa benci banget sama siwon, dan sebenernya yg buat yuri jadi gila itu beneran siwon atau bukan? o,o

  12. Oh,jadi siwon oppa udah tau rencana donghae dan yoona, kayanya siwon oppa lebih milih untuk ikutin permainanan mereka,dan kayanya aku nangkep yang gak beres sama donghae ya?

  13. Jadi yoona diperalat donghae utk ngancurin siwon
    Dan siwon kenapa g merasa melakukan kesalahan pd keadaan yuri skg
    Aduh.. ini sebenarnya ada apa??
    Dan donghae kenapa sangat ingin menghancurkan siwon
    Untung siwon mendengar rencana donghae
    Penasaran sungguh
    Next baca

  14. sepertinya yoona salah paham dengan siwon . aku suka dengan karakter siwon di cerita ini walaupun sudah tahu rencana donghae ttp ikutin . tpi yoona kenapa hrus nurut sma donghee .

  15. Ommo yoona polos bngt mau”nya di manfaati sma donghe,,tpi syukur lcch klo siwon udah tau rencana jahat yoona,,,mkin pnasaran nih nex prt

  16. makin seru cerita nya bkin pnasran trus knp yoona gampang bnget prcaya ama donghae??? tpi untung nya siwon udh tauk rencana jahat yoonhae semoga aj yoona cpt sadar yg jahat bkn siwon melainkan donghae,,, nex

  17. Yoong kenapa polos banget gitu, gampang banget dibohongin donghae. Donghae gak tahu diri banget sih, malah pengen bales dendam sama siwon gitu..manfaatin yoong lagi. Dasar kau donghae, tak tahu diuntung. Bener juga sih, mana mungkin yuri depresi kayak gitu cuma gara gara ditolak siwon, jadi curiga sama seseorang nih *lirikdonghae. Daebak eonn ff nya, makin seru.
    Fighting!!!

  18. Akhirnya siwon tau rencana jahat yg di lakuin donghae sama yoona tapi masih penasaran kenapa yuri sampe depresi masak cuma karna cintanya di tolak sama siwon dia kayak gitu n donghae sama yoona juga sampe mau ngancurin siwon segala.. agak curiga sama donghae dia kayaknya nyembunyiin banyak hal..

  19. siwon bener tuh untuk ukuran orang pintar seperti yuri penolakan yg dilakukan siwon tak akan membuat dia sampai sedepresi itu meskipun ditolak dengan kasar itu gj jd masuk akal bgt..
    kecuali kalau malam habis penolakan itu yuri pergi ke klub trus kna plecehan seksual ntu yg bru masuk akal.. n wait aku lupa loh nyata dsin yoongie msih 18 taon ya alloh, sedangkan siwon udah lumayan matang ntu wonppa gk dikta pedopil apa klu suka ama yonggiee…

  20. Kalo yuri stress hanya karena siwon menolaknya tidak mngkin dia smpe histeris seperti itu,bahkan smpe berteriak2 saat donhae mendekatinya apa jangan2 donghae telah melakukan sesuatu yg buruk hingga yuri seperti itu.
    aduh niatnya mau menghancurkan siwon tapi rencana belum dimulai malah siwon sudah tahu semuanya,semoga siwon ga slah paham dengan yoona..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s