Fanfiction

| At First Sight | 1

# HappyReading

[ Prolog ]

*

*

*

*

*

*

*

*

Yoona POV

Seminggu yang lalu saat
aku memasuki gedung megah ini,
tempat yang seakan menjadi dunia
lain bagiku, dimana aku merasa asing
didalamnya. Aku menyadari satu
tekad kuat dalam hatiku jika semua
harus berjalan dengan baik. Aku akan
bisa bertahan dan mencapainya.

Mencapai tujuanku untuk membuat
putra konglomerat berhati binatang
pemilik gedung megah dimana saat ini
aku berada didalamnya merasakan
kehancuran seperti apa yang telah
dilakukannya pada Yuri oenni ku.

Tapi apa yang kemudian bisa
kulakukan..
Jika setelah aku berada disini yang
kulakukan hanyalah berdiri dimeja
resepsionis dan harus selalu
tersenyum bodoh tiap kali seseorang
membutuhkan bantuan dariku, ataupun
menjawab telpon-telpon para
pembawa uang yang bisa kupastikan
mereka akan semakin
menggelembungkan kekayaan
keluarga ini.

Aku bukan justru menghancurkan tapi
sebaliknya, Kurasa aku semakin
memakmurkan kehidupan mereka..

Bukankah itu terdengar menyebalkan..
Percayalah aku memang sedang
dalam keadaan tak baik saat ini.
Bagaimana tidak, aku bahkan telah
satu minggu disini. Bekerja disini, dan
melakukan hal-hal menyebalkan tadi,
tapi Aku masih belum sekalipun
melihat seperti apa bajingan itu. Putra
pemilik gedung ini. Pria yang
kuketahui dari Donghae oppa jika
jabatannya sekarang adalah
menggantikan posisi sang ayah dalam
memimpin kerajaan bisnisnya.

Aku yakin pria itu hanyalah seorang
pecundang.
Yang tanpa ayah nya bisa kupastikan
dia akan menjadi gelandangan
sekarang.

Oh Tuhan..
Apa yang terjadi denganku hari ini?
Mengapa aku menjadi begitu sinis
sekarang..

“Yoona.. Yoona..”

Seseorang menyenggol lenganku..

“Kau sedang menggerutu?”

“nde?”

Hyoyeon..
Dia rekan kerjaku, justru mencibir
saat mungkin aku tanpa sadar sedang
menunjukkan wajah kebingunganku
padanya karna tak mengerti maksud
ucapannya.

“Kuperhatikan Kau berbicara tak jelas
tadi..”

“euh, hanya sedikit gerutuan kesal..”

“Oh, apakah yang telah membuatmu
kesal?”

Deringan telpon masuk mengalihkan
pertanyaan Hyoyeon padaku, saat
kemudian aku mengangkatnya.

“Ini aku..”

“Oh, Oppa..”

Aku memelankan suaraku setelah tahu
jika Donghae oppa lah yang menelpon,
tak ingin membuat kecurigaan
diwajah Hyoyeon yang memang selalu
mengamatiku tiap kali aku berbicara
dengan seseorang.

“Dia akan datang hari ini.. Bersiaplah,
kurasa kau juga akan menjadi salah
satu yang berjejer dilobi dan memberi
hormat padanya”

“Oh, nde.. Maksudnya apa Oppa?”

Aku berusaha tersenyum dan
mengangguk saat berbicara agar
Hyoyeon mengira jika aku sedang
melayani telpon dari salah satu
perusahaan.

“Choi Siwon.. Bajingan itu sudah
kembali dari perjalanan bisnisnya.
Dalam sepuluh menit kau akan
mendengar intruksi kedatangannya.
Maka siapkan dirimu..”

“ne.. Aku akan melakukannya.
Kamsahamnida..”

Meski kemudian Donghae oppa telah
menutup telponnya aku masih
berbicara sendiri. Benar-benar seperti
orang bodoh saat tak ada seorangpun
disebrang sana yang mendengar
ocehanku.

Sampai sekitar sepuluh menit
kemudian, tepat seperti apa yang
Donghae oppa katakan padaku
Hyoyeon menarik-narik lengan
kemejaku dan memberikan isarat agar
aku menutup telponku.

“Kau bilang penasaran dengan Tuan
muda itu kan?”

“ne..”

aku sudah tahu apa yang akan
dikatakan Hyoyeon selanjutnya.

“bersiaplah.. Dia akan datang”

Hyoyeon menarik lenganku saat
kemudian Ia membawaku untuk
bergabung dengan yang lain, berjejer
disepanjang pintu masuk sampai
kedalam lobi.

Apa-apaan ini?
Inikah bentuk penyambutan untuk pria
bajingan itu..

Benar-benar tak wajar, berlebihan Dan
sangat tidak pantas.
Pria seperti itu tak patut mendapatkan
penghormatan seperti ini.

Oh..
Kurasa aku harus bisa menahan
kesinisanku sekarang.

“Hyoyeon ssi.. Apa yang sedang kita
lakukan?”

“ssttt.. Kau akan lihat jika cerita-
cerita dalam dongeng itu memang
benar adanya. Akan ada pangeran
yang datang..”

“Ck! Kurasa aku akan lebih tertarik
dengan kuda yang ditungganginya”

Bisa kudengar Hyoyeon yang terkikik
sedikit menahan tawanya..

“Tapi dia tidak akan menunggang
kuda nona. Yang bisa kupastikan dia
akan mengendarai mobil mewahnya
yang tak akan sanggup kita miliki
bahkan setelah kita menghabiskan
seumur hidup untuk bekerja..”

itu terdengar berlebihan..
Tapi memang benar. Sebuah mobil
yang berkilap berhenti disana dengan
beberapa pengawal yang kemudian
bergerak cepat membuka pintu disana
saat kemudian seorang pria bertubuh
proporsional itu keluar dari dalamnya.
Berjalan masuk dengan tubuhnya yang
tinggi, tegap dan mempesona.

Ralat..
Aku akan merekam kedalam otakku,
seperti apa seharusnya dia dalam
pandangan mataku.

Dia terlihat sombong, angkuh, arogan
dan sok kuasa. Dan yang paling
penting dia adalah
Brengsek..
Bajingan..
Pecundang bodoh yang akan ku
hancurkan.

“Apa yang sedang Kau perhatikan
nona?”

Oh dear..
Aku seharusnya ikut menundukkan
wajahku.
Bukan justru menatapnya kasar dan
mencaci didalam hatiku..
Ottokhae..?

Yang kemudian kulakukan hanyalah
menundukkan wajahku, menghindari
tatapan matanya yang lurus mengarah
padaku.

Sial..
Dari banyaknya orang yang berada
disini mengapa dia harus melihatku?

Oh, jelas..
Mereka semua menunduk memberi
hormat. Sedangkan yang kulakukan
justru menatapnya dengan marah dan
cacian yang siap kukatakan padanya
andai aku tak memikirkan
kewarasanku saat ini.

Tuhan..
Kali ini Kau harus menolongku.
Aku tak ingin menerima resiko
dimarahi Donghae oppa karna
kecerobohanku.

Tapi bahkan setelah menyembunyikan
wajahku, aku masih bisa merasakan
tatapan matanya yang menusuk
kedalam tulang-tulangku.
Apakah dia benar-benar masih
menatapku?
Sayangnya aku tak bisa memastikan
itu.

Benar-benar sial..
Harusnya aku tak melakukan hal
bodoh seperti ini.

“Dia karyawan baru.. Dia pasti belum
mengerti apa yang harus dia lakukan
ketika anda datang..”

Itu suara Donghae Oppa..
Sejak kapan dia berada disana?
Aku bahkan tak bisa memandangnya
gara-gara pria itu..

Menyebalkan..

“Pastikan dia bekerja dengan benar.
Jika tidak, kau boleh memecatnya..”

Sialan..
Harusnya aku bisa meneriakkan
didepan wajahnya jika bukan karna
Yuri oenni, aku takkan sudi
menginjakkan kakiku disini.

“Saya akan melakukan apa yang anda
katakan.. Tapi sebaiknya anda tak
berlama-lama disini. Ada rapat yang
harus anda pimpin..”

Aku sedikit bisa bernapas lega ketika
Pria itu meneruskan langkahnya
dengan diikuti beberapa orang
dibelakangnya, termasuk Donghae
Oppa.

Dengan hal itu saja aku sudah bisa
memastikan betapa yang aku pikirkan
adalah benar.
Pria itu tak lebih dari seorang
pecundang bodoh.
Bagaimana bisa dia tak menyadari
jika Donghae oppa, salah satu yang
terlihat patuh dibelakangnya,
mengikuti langkahnya, ternyata
sedang merencanakan sesuatu
dikepalanya untuk menghancurkan
dirinya.

Oh..
Tapi akan lebih baik jika pria itu
mempertahankan kebodohannya yang
akan mempermudah kerjaku dan juga
Donghae oppa dengan rencana kami..

Mengangkat wajahku untuk melihat
Donghae Oppa, Aku akan mencatat
untuk berterimakasih pada nya yang
telah menghindarkanku dari masalah.

“Astaga Yoona.. Apa kau menatapnya
tadi?”

Hyoyeon mulai bersuara. Aku tahu dia
akan mengoceh setelahnya..

“hmm..”

“Kau gila.. Aku bahkan tak berani
melakukannya. Aku harus cukup puas
dengan memandangi punggungnya..”

Menggelikan..
Apa yang bisa dia kagumi hanya dari
sebuah punggung?

Wajahnya bahkan tak cukup menarik
dimataku..

“Jadi selama ini kau tak tahu seperti
apa wajahnya?”

“tentu saja aku tahu.. Jika tidak aku
takkan menyebutnya pangeran. Aku
bisa mencuri pandang darinya. Tidak
seperti apa yang kau lakukan tadi..”

Hyoyeon mulai menarik lenganku
kembali kemeja resepsionis, sebelum
seseorang memberikan teguran pada
kami..

“Kau benar-benar menunjukkan
ke-terpesona-an mu tadi..”

“Aku tidak sedang melakukannya..”

“Jangan mengelak.. Kau pasti wanita
normal yang juga tertarik dengan
ketampanan dan kemapanannya”

Aku mengangkat bahu.
Bisakah Hyoyeon mengganti topik
pembicaraannya.
Ini benar-benar memuakkan..

“Tapi sayangnya Tuan muda itu
takkan menggunakan matanya untuk
melirik kita.. Apalagi kau..”

“Aku? Mengapa dengan ku?”

“Kau masih cukup belia untuknya..”

“Kau tahu berapa usianya?”

“Tentu saja aku tahu.. Dia 28 tahun..”

Hyoyeon menggunakan kedua
tangannya untuk mempertegas
penyebutan angkanya padaku.

“Kau 18 tahun, itu berarti kalian
terpaut sepuluh tahun.. Cukup jauh
untuk bisa disatukan”

Aku mendengus kearahnya.
Memangnya siapa yang ingin
disatukan dengan pria bajingan itu?

Ya..
Aku memang masih belia jika
dikategorikan kedalam gadis-gadis
kaya yang manja.
Aku delapan belas tahun. Dan hanya
menyelesaikan sekolah menengahku.
Karna apa yang dilakukannya pada
Yuri oenni, aku harus mengubur
dalam-dalam mimpiku untuk masuk
universitas dan mencantumkan gelar
sarjana dibelakang namaku.

Kehidupanku cukup keras untuk
menyebut diriku belia diusia ku saat
ini..

“dan berapa usiamu?”

Aku mencoba bertanya untuk
menghindari tatapan Hyoyeon yang
mulai menyelidik kearahku..

“Oh, Aku? Aku sudah 20 tahun..”

“Kau juga cukup muda untuk
disandingkan dengannya. Dan 20
tahun.. Kau seharusnya
memberitahukannya padaku. Aku
sangat tidak sopan.. Seharusnya aku
memanggilmu oenni bukan?”

“Aigoo.. Setidaknya aku dua tahun
diatasmu dan hanya terpaut delapan
tahun dengannya. Dan jangan
memanggilku oenni saat dikantor,
biarkan mereka menganggap kita
seumuran”

Aku terkikik..
Terkadang Hyoyeon memang cukup
lucu disaat-saat tertentu.

***

Hari ini berlalu dengan cukup baik.
Setelah menyelesaikan jam kerjaku
hari ini, Aku memutuskan untuk
mengunjungi Yuri oenni. Dua hari tak
melihatnya dan aku sangat
merindukannya.

Namun ketika aku hampir mencapai
sebuah kamar yang ditempati Yuri
oenni, aku bisa melihat seseorang
berbalik keluar dari dalamnya.

Oh, pria itu?
Bukankah dia bajingan itu?

Ya Tuhan..
Apa yang dia lakukan disini?
Apa dia menyakiti Yuri oenni lagi?

Tidak..
Aku takkan membiarkannya..

“Hei..Tunggu!”

Ketika aku kemudian melangkah
dengan cepat atau mungkin bisa
menyebutnya dengan berlari untuk
mencapai pria itu, aku menyentuh
pundaknya yang kemudian
membuatnya menoleh, Membalikkan
tubuhnya menatap dengan heran
padaku.

“ada apa nona?”

Oh dear..
Bukan dia orangnya.
Dia bukan pria bajingan itu.
Aku salah mengenali seseorang..

Sepertinya setelah ini aku harus
belajar dari Hyoyeon tentang
bagaimana caranya bisa mengenali
pria bajingan itu hanya dari
punggungnya.

Hanya untuk mengenali, bukan
mengagumi seperti apa yang
dilakukan Hyoyeon padanya.
Bagiku tak ada sesuatu hal pun yang
bisa dikagumi darinya..

“euh, mianhae.. Aku mengira anda
seseorang yang kukenal..”

menggigit bibir bawahku, aku lantas
tersenyum canggung dan sedikit
membungkukkan badan sebagai
permintaan maaf.

“baiklah, tidak apa-apa..”

“emm, tapi apa yang anda lakukan? Itu
kamar oenni ku..”

“nde?”

Aku menunjuk pada kamar yang
ditempati Yuri oenni yang tadi kulihat
pria ini keluar dari dalamnya.

“Oh, saya hanya salah kamar..
Permisi nona, saya harus pergi..”

Aku mengerutkan dahi ketika pria itu
kemudian melangkah terburu dari
hadapanku dan merogoh ponsel dari
dalam saku celananya untuk
selanjutnya menempelkan pada
telinganya.

Astaga..
Kenapa aku justru memperhatikan
orang itu?
Aku seharusnya langsung menemui
Yuri oenni. Aku sangat
merindukannya..

Bergerak menuju ke hadapan pintu
kamarnya, aku mengetuk sekali dan
kemudian masuk kedalamnya.

“annyeong Oenni..”

Hatiku selalu teriris ketika
melihatnya.
Sapaan ku tak pernah dianggap.
Apa yang kukatakan dan kuceritakan
tak pernah sedikitpun direspon
olehnya.

Ini menyedihkan..
Ketika Yuri oenni seakan tak
mengenaliku sebagai adiknya.
Yuri oenni terguncang, depresi karna
patah hati.

Memuakkan bagiku, disaat hal itu
bahkan tak masuk akal untuk bisa
kuterima.
Oenni ku yang pintar seharusnya tak
akan jatuh terpuruk hanya karna
seorang pria.
Terlebih pria bajingan seperti Choi
Siwon.

“Oenni sudah makan?”

menutup pintu dibelakangku, aku
mendekat kesisi nya yang sedang
duduk dengan tatapan kosong,
dipinggiran ranjang tidurnya.

“Aku membawakan makanan
untukmu”

meletakkan bungkusan yang kubawa
keatas meja, Aku lantas berdiri
dihadapannya dan meraih tangannya.
Menggenggamnya erat, merasakan
betapa dinginnya tangan oenni ku..

“ingatkan aku untuk membawakan
sarung tangan untukmu.. Tanganmu
benar-benar dingin oenni, biarkan Aku
menghangatkanmu..”

Yang kulakukan kemudian adalah
menggosok-gosokkan tanganku
ketangannya, berusaha untuk bisa
menghangatkannya.

Meski tak ada respon darinya, aku
tahu oenni tak keberatan dengan apa
yang kulakukan. Hingga kemudian aku
mengambil sisir dari dalam tas ku
untuk merapikan rambutnya..

“Oenni, hari ini akhirnya aku
melihatnya..Bajingan itu, akhirnya
aku tahu seperti apa wajahnya..”

Tiba-tiba saja oenni meraih
pergelangan tanganku..

“Oenni ya..”

bibirnya bergetar seakan ingin
mengatakan sesuatu.

“Jangan mengkhawatirkanku.. Aku
tidak akan bertindak ceroboh,
Donghae oppa dan aku akan
membalas perbuatannya padamu
dengan lebih menyakitkan”

Oenni semakin mencengkeram kuat
pergelangan tanganku.

“Aku akan baik-baik saja oenni..”

“Tidak.. Jangan..Tidak..!”

“Oenni.. Ada Donghae Oppa, dia akan
menjagaku”

“Tidak.. Tidak..!”

Yuri oenni melepaskan tangannku saat
kemudian dia menutup telinganya
dengan kedua tangan dan
menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Airmatanya kemudian mengalir
deras..

“Ada apa oenni? Katakanlah padaku..
Oenni harus mengatakannya padaku,
agar aku tahu apa yang harus
kulakukan..”

Kuraih tubuhnya dan memeluknya
erat. Kurasakan tubuhnya bergetar
dalam pelukanku.

Ya Tuhan..
Apa yang saat ini sedang dirasakan
Yuri oenni pastilah tak jauh-jauh dari
rasa sakit.
Rasa sakit yang disebabkan pria itu.

Brengsek..
Dia harus membayar untuk semua
kesakitan itu.

***

Setengah hari berdiri dibalik meja
resepsionis ini, entah sudah yang
keberapa kalinya aku dibuat
mendengus kesal karna kehadiran
beberapa wanita yang datang
bergantian sejak pagi hari tadi.
Dan yang mereka cari adalah seorang
Choi Siwon.
Pria yang sedang bersembunyi dibalik
meja kerjanya sementara aku harus
membohongi wanita-wanita itu
dengan mengatakan ketidak hadiran
pria itu dikantor.

“Aku ingin bertemu Choi Siwon..”

ketika seorang wanita lagi datang
menghampiriku, Aku tak bisa bersabar
lagi..

“Oh, ne.. Tuan berada diruangannya
dan menunggu kedatangan anda
nona..”

Wanita itu kemudian tersenyum miring
dan segera melangkah pergi dari
hadapanku.

Aku tahu saat ini Hyoyeon sedang
melotot kearahku.

“Kau gila Yoona!”
“terkadang aku memang bisa menjadi
gila..”

Hyoyeon justru terlihat khawatir, saat
aku menunjukkan wajah datarku dan
kembali mengalihkan perhatianku
pada deringan telpon dihadapanku..

“Hal..”

“Siapapun Kau.. Naik keruanganku
sekarang! Jika dalam waktu lima
menit Kau tak berada dihadapanku.
Kau dipecat!!”

Dia membanting telpon nya..
Oh dear..
Kau akan mendapat masalah dari
bajingan itu.
Bersiaplah..

Aku berdiri dengan gelisah, menyadari
apa yang selanjutnya akan terjadi.

Bodoh..
Harusnya aku bisa sedikit menahan
diriku dan mengendalikan keinginanku
untuk memberontak pada pria itu.

Sial..
Jika sudah seperti ini apalagi yang
bisa kulakukan kalau bukan
menghadapinya.

“Kau kenapa, Yoona?”

Hyoyeon pasti melihat keresahan
diwajahku..

“Ottokhae..”

“Wae?”

“Sajangnim memanggilku..”

“Tuan muda itu?”

Aku mengangguk sambil menggigit
bibir bawahku..

“Oh no.. Aku sudah menduganya.
Inilah akibat kegilaanmu membiarkan
wanita tadi masuk. Tuan muda akan
sangat marah.. Dia sudah
memperingatkan kita sebelumnya..”

Aku membayangkan kengerian dari
kata-kata Hyoyeon yang bahkan juga
dirasakan olehnya.

Demi Tuhan..
Ia tak seharusnya menakutiku dan
membuatku justru menjadi gugup.

“Ini masalah, Yoona..”

“Ya.. Aku tahu. Aku akan mendapatkan
masalah segera setelah aku
menginjakkan kaki diruangannya”

Oh..
Aku bahkan belum mengetahui dimana
letak ruang kerjanya.

“Dimana ruangan sajangnim?”

“Kau benar-benar akan naik dan
menemuinya?”

Aku mengangguk..

“Tak ada pilihan bukan.. Jadi ke lantai
berapa aku harus naik?”

“Tiga puluh..”

Oh Tidak..
Jadi selama ini sejauh itu jarakku
dengan si bajingan itu.

Tuhan tahu aku sangat ingin
menghancurkan nya.
Tapi mengetahui dia berada disana
bahkan hampir tak tersentuh olehku,
bagaimana bisa aku akan
melakukannya..

“Baiklah.. Aku akan menemuinya”

“Kau harus meminta maaf padanya..”

Tidak..
Itu bukan sesuatu yang kuinginkan
dan mustahil kulakukan.
Sepertinya..

Memberikan setengah senyum dari
bibirku, Aku mengangguk pada
Hyoyeon yang kemudian mengusap
pundakku.

“Aku berdoa agar Tuan muda tidak
memecatmu..”

Ah..
Dia terlalu mendramatisir.

Tapi dipecat..

Ya Tuhan..
Tidak tidak, Aku bahkan belum
mencapai apapun saat ini.
Donghae oppa kau harus
menolongku..

Aku berlari kearah lift dan menunggu
lift untuk terbuka dan membawaku
untuk naik.

Lima menit..
Dia hanya memberiku waktu lima
menit, dan kurasa aku telah
kehilangan lima menit itu.

Aku terus mendesah dan benar-benar
gelisah didalam lift saat menunggu
satu persatu angka yang bergerak
naik.
Tiga puluh..
Aku ingin segera mencapai lantai tiga
puluh dan menemuinya.
Persetan jika kemudian pria itu
berteriak didepan wajahku, bahwa aku
dipecat.

Aku punya kontrak kerja.
Dia tak akan bisa memecatku
semaunya.

Ya..
Aku akan menggunakan perjanjian
kerja itu untuk menolak kesewenang-
wenangannya.

Tuhan..
Kau harus bersamaku sampai detik itu
terjadi.

Menyadari lift yang kunaiki berhenti
diangka tiga puluh dan kemudian
terbuka, Aku langsung melangkah
cepat keluar.

Menatap kesekeliling, aku hanya
menemukan satu pintu.
Itu pasti pintu ruangannya yang harus
kumasuki dan yang akan menentukan
nasibku.

Mengatur napasku, tanganku terulur
untuk mengetuk pintu dihadapanku
namun kemudian seseorang meraih
pergelangan tanganku dan
menariknya.

Oh…

“Kau tidak perlu masuk..”

“Donghae Oppa..”

“Aku yang akan menyelesaikannya..”

Aku hanya bisa mengangguk,
mengerti.

Tuhan memberkatimu Donghae oppa.
Kau menyelamatkanku lagi dari pria
bajingan itu.

Aku masih tetap berada disini meski
Donghae oppa telah masuk kedalam
ruangan itu.
Aku sangat ingin mendengar apa yang
kemudian dikatakannya untuk
membelaku.
Tapi tak ada sedikitpun yang bisa
kudengarkan dari pembicaraan
mereka. Ruangan itu sepertinya kedap
suara?
Benar-benar menyebalkan..

“Astaga.. Kenapa lama sekali?”

Mengetukkan sepatu yang kukenakan
dan memilin jemariku, aku sedang
mencoba menghilangkan
kegelisahanku menunggu Donghae
oppa yang tak juga keluar dari dalam
ruangan itu.

Apa Donghae oppa tak berhasil
meyakinkannya agar tidak
memecatku?

Sejujurnya aku memang tak
menginginkan bekerja disini. Maka
tak masalah bila kemudian dia
memecatku.
Sungguh aku takkan perduli.
Tapi aku belum menjalankan rencana
apapun..

Dan demi Yuri oenni lah seharusnya
aku tetap berada disini.
Sampai pada akhirnya pintu itu
terbuka, dengan Donghae oppa yang
keluar menarik seorang wanita
bersamanya.
Dia wanita yang tadi kuijinkan masuk,
sedang menggerutu dengan raut kesal
diwajahnya.
Siapa dia sebenarnya? Dan
Mengapa pria itu justru marah disaat
seorang wanita cantik
mendatanginya..

Aku menunduk saat mereka berjalan
melewatiku, tapi kemudian kurasakan
Donghae oppa menghentikan
langkahnya..

“kembalilah.. Kita akan bicara
sepulang kerja nanti..”
dan Donghae oppa benar-benar
melewatiku..

***

Aku masih terdiam menunggu
Donghae oppa mengatakan sesuatu
padaku. Namun setelah hampir lima
belas menit kami berada disini, tak
sepatah katapun keluar dari
mulutnya..

“Oppa..”

Dia lantas menatapku..

“Apa yang akan kau bicarakan? Apa
aku benar-benar dipecat?”

“Kau memang tak seharusnya
seceroboh itu, Yoona!”

“Mianhae.. Aku merusak apa yang
sudah kau rencanakan..”

“bukan seperti itu.. Kau hanya perlu
membuat dirimu dekat dengan Siwon”

Oh dear..
Bagaimana caranya mendekati
bajingan itu?
“Tunggu saja.. Aku yang akan
mengaturnya..”

Setelah selesai berbicara
dengan Donghae oppa, kami berjalan
keluar untuk kemudian mengunjungi
Yuri oenni.

Aku sedikit merasa tak enak hati pada
Donghae oppa setelah dua kali
kecerobohan yang kulakukan.

Mulai saat ini aku akan berusaha
menekan kemarahanku dan
kebencianku pada Tuan muda itu,
Seperti apa yang dilakukan Donghae
oppa terhadapnya.

Siapa yang tahu jika ternyata Donghae
oppa, orang terdekat Tuan muda itu
adalah musuh yang sedang
merencanakan sesuatu dibelakangnya
dan akan menghancurkannya.

Ck! Kurasa Aku tak suka menyebutnya
sebagai Tuan muda seperti yang
sering dilakukan Hyoyeon.
Pria itu lebih pantas disebut Bajingan
setelah dia melukai perasaan Oenni
ku.

Tapi Aku senang dalam keadaan
seperti sekarang ini, Yuri oenni masih
tetap dicintai pria seperti Donghae
oppa. Meski aku juga harus
merasakan sakit diwaktu yang sama.
Aku memujanya dalam hati, setiap kali
aku melihatnya. Tapi tak sekalipun
Dia memandangku sebagaimana dia
memandang Yuri oenni dengan penuh
cinta dikedua matanya.

Tuhan..
Aku tak seharusnya merasakan hal
semacam ini dalam hatiku.

Aku akan mengubur..
Aku bisa mengubur perasaanku dan
melupakannya.

“Masuklah Yoona..”

Donghae oppa menghentikan
langkahnya didepan pintu kamar Yuri oenni.

“Oppa tak ikut masuk?”

dia menggeleng..

“Sementara kau didalam aku akan
menunggu, dan mungkin aku akan
menemui dokter yang biasa
memantau keadaan Yuri. Jika sudah
selesai kau bisa menghubungiku”

Aku tersenyum dan mengangguk
sebelum akhirnya kubuka pintu
dihadapanku.
Aku tahu Donghae oppa masih berdiri
disana.
Ia memang jarang sekali masuk dan
bertemu dengan Yuri oenni.
Hal itu dilakukannya semata untuk
menjaga Yuri oenni.
Yuri oenni selalu terlihat ketakutan
pada setiap pria yang berada
disekitarnya. Pada pekerja disana
juga termasuk pada Donghae oppa.
Dia bisa menjerit, histeris dan
menangis tiap kali Donghae oppa
mencoba mendekatinya.

Ia seakan tak ingin disentuh..

Aku begitu sedih tiap kali Yuri oenni
menekuk kedua kakinya,
membenamkan wajahnya dan
menangis.
Ia selalu menyembunyikan diri dari
setiap pria, seakan dirinya tak layak
untuk mereka.

Ini karna bajingan itu.
Apa yang telah dilakukannya hingga
menjadikan patah hati oenni ku
mencapai batas yang tak bisa dia
atasi, dan membuatnya seperti
sekarang ini.

Menganggap dirinya tak pantas, tak
layak untuk dicintai, dimiliki oleh
seorang pria.

“Oenni..”

Berusaha menarik senyum dari
bibirku, Aku ingin menunjukkan
padanya bahwa aku baik-baik saja
dan bisa menjaga diriku diluar sana.

Yang selanjutnya kulakukan adalah
menghabiskan waktuku untuk
berbicara dan menceritakan apapun
padanya kecuali tentang bajingan itu.
Aku tak ingin melihat Yuri oenni
menangis lagi seperti sebelumnya.

Aku menghabiskan sekitar dua jam
bersamanya, hingga kusadari Yuri
oenni tertidur. Mungkin dia merasa
bosan dengan mendengarkan aku
yang terus berbicara.

Merapikan helaian rambut yang
menutupi wajahnya, aku mencium
pipinya sebelum keluar
meninggalkannya.

“Tidurlah dengan nyenyak oenni..
Cepatlah sembuh. Aku
menyayangimu..”

Keluar dari dalam kamar Yuri oenni,
Aku melihat Donghae oppa yang
berdiri tak jauh dariku.

“Oppa..”

Aku memanggilnya dan kami sedikit
berbicara ketika kemudian berjalan
keluar dari rumah sakit.

“Dokter mengatakan belum ada
perubahan pada Yuri..”

“Aku bisa melihat itu, Oppa..”

“Aku ingin memindahkan Yuri
ketempat yang lebih baik dan dengan
dokter yang juga lebih baik daripada
disini.. Kau setuju kan?”

“Oppa..”

“Aku ingin melihat Yuri kembali
seperti sebelumnya. Aku akan
mengusahakan apapun untuk
kesembuhannya..”

Ya..
Kau memang begitu baik Oppa.

“Aku ingin melihat gadisku, Yuri ku
yang kucintai tersenyum padaku. Aku
merindukan senyumnya”

Ya..
Aku juga menginginkan hal yang
sama.
Dan Kau sangat beruntung oenni.
Donghae oppa memang begitu
mencintaimu.
Aku masih heran mengapa kau tak
menjatuhkan hatimu untuk pria sebaik
Donghae oppa dan justru memilih pria
bajingan itu.

“Aku setuju oppa.. Aku ingin Yuri
oenni segera sembuh”

“Baiklah..Jika kau menyetujuinya.
Aku akan mengurus untuk
memindahkan Yuri secepatnya”

“terimakasih untuk bantuanmu,
Oppa..”

Mencapai depan rumah sakit, Donghae
mengatakan tak bisa mengantarku
pulang karna ada sesuatu yang harus
dia kerjakan.

Maka aku membiarkannya melajukan
mobilnya, sementara aku memilih
untuk menunggu bis.

***

Pada pagi hari Aku terbangun, Aku
segera merasakan kekacauan.
Akibat telat bangun dan terlambat
mengejar bis yang bisa membawaku
sampai kekantor, Aku harus menunggu
bis berikutnya dan berlarian menuju
pintu masuk gedung setelahnya.
Aku tak ingin terlambat meski aku
tahu aku sudah terlambat datang.

Dan seketika bertambah buruk ketika
aku tak memperhatikan
kesekelilingku dan hampir membuat
diriku tertabrak sebuah mobil.

Aku memang hampir tertabrak tapi
aku sudah terjatuh..

“Awhh..”

perih menyerang lututku..

“Kau baik-baik saja nona?”

Oh dear..
benar-benar Sial..
Mendengar suara bajingan itu…

>>>

#Siwon Side

Pagi hari ketika alarm jam
diatas meja berbunyi, Aku mengerang
dalam kefrustasian.

Jet lag dan lelah karna jam dua dini
hari tadi aku bahkan baru pulang
setelah berkutat dengan beberapa
urusan pekerjaan yang kukerjakan
selama seminggu di Tokyo.

Kini setumpuk pekerjaan lain menantiku
dikantor. Dan sekali lagi Aku akan
menyalahkan
Aboji yang benar-benar keterlaluan.
Dia telah membebankan semua
urusan bisnisnya diatas tanganku.
Aku akan bersumpah tak jadi masalah
jika tak mendapatkan warisan apapun
darinya.

Demi Tuhan..
Aku sungguh merasakan ini
melelahkan.
Tapi kemana lagi aboji akan
mewariskan hartanya. Aku adalah
satu-satunya putra yang dimilikinya.
Pewaris tunggal segala bisnis yang
dibangunnya.
Tak seharusnya aku menyalahkan
aboji.
Aku justru sebaiknya berterimakasih
dengan kemewahan yang
diberikannya.

“Siwon ah.. Jam berapa ini? Irona..”

Ya Tuhan..
Oemma.. Tak bisakah memberikan
waktu untukku beristirahat lebih lama.
Dia sama saja seperti aboji.
Sungguh pasangan yang klik..

“Palli Siwon.. Bangunlah, sebelum
ayahmu menyeretmu turun dari tempat
tidur..”

Astaga..
Aku pria dewasa, dua puluh delapan
tahun dan aku masih diperlakukan
seperti seorang bayi.

Ini lebih dari sekedar Menyebalkan..

“Aku sudah bangun oemma..”

mengerang, aku menyingkap selimut
dari atas tubuhku.

“baguslah.. Segeralah bersiap,
oemma menunggumu dimeja makan”

Setelah menggunakan sepuluh menit
waktuku untuk mandi, aku bisa
melihat setelan jas yang sudah berada
diatas tempat tidurku.

Benarkan, aku memang seorang bayi..
Oemma bahkan masih terus
menyiapkan pakaian untukku.
Kurasa dia juga akan memakaikan
pakaian yang telah disiapkannya jika
aku seorang anak perempuan.

Sayang sekali oemma, itu satu-
satunya hal yang tak bisa Kau lakukan
diusiaku sekarang..

“Kemarilah Siwonie.. Ahjumma Lee
menyiapkan sarapan paling enak
untukmu”

Disaat aku melangkah keluar dari
kamar, aku langsung menghampiri
mereka dimeja makan.

“Kapan Oemma yang akan memasak
untukku?”

“Tanyakan saja pada ayahmu, bukan aku tak mau.. Tapi ayahmu yang tak membiarkanku berada didapur. Menurutnya Api didapur bisa membakarku..”

Oemma tersenyum dan melirik kearah
Aboji yang segera mengalihkan
fokusnya pada koran yang sedang dia
baca untuk sekedar membalas
senyum dengan kedikan mata kearah
oemma.

Menggelikan..
Tapi Itulah yang aku suka dari kedua
orangtuaku. Diusia mereka sekarang,
cinta mereka tak sedikitpun memudar.

Tuhan benar-benar bermurah hati
menyatukan mereka dan
menempatkan aku diantaranya.

Betapa gerutuanku tadi sirna dan
berubah menjadi kebanggaan karna
mereka..

“Aku tak bisa sarapan.. Aku akan
memimpin rapat pagi ini”

Setidaknya aku tak melupakan aturan
untuk mencium oemma sebelum aku pergi.

***

Setelah menempuh beberapa menit
perjalan menuju kantor, aku
melangkah turun dari dalam mobil
untuk selanjutnya memasuki kantor.
Aku sudah terbiasa menerima
penghormatan ketika aku datang, tapi
ada hal yang berbeda kali ini.

Disaat semuanya membungkuk
kearahku, seseorang dengan
beraninya menaikkan dagunya
kearahku.
Dan pandangan pertamaku langsung
terfokus padanya.

Lancang..
Selama ini tak ada yang berani
melakukan hal semacam kebodohan
seperti itu dihadapanku.
Wanita muda itu bahkan berani
menatapku dengan mata berkilat-kilat
seperti kemarahan.

Marah..
Apakah dia marah?
Tapi siapa dia?
Jelas bila dilihat dari seragam
resepsionis yang dikenakannya, dia
bagian dari karyawan disini.

Maka tak
seharusnya dia memberiku tatapan
tak layak seperti itu.

“Apa yang sedang Kau perhatikan
nona?”

Mengerjap, dan seakan baru
menyadari kekeliruan yang
dilakukannya, dia langsung menunduk
menyembunyikan wajahnya yang
bersemu merah.

Lucu..
Setelah sebelumnya dengan tatapan
matanya yang terarah padaku, ia
seperti seekor serigala yang siap
menelanku, kini ia justru berubah
menjadi seekor rusa jinak dengan
wajahnya yang merona.

“Dia karyawan baru.. Dia pasti belum
mengerti apa yang harus dia lakukan
ketika anda datang..”

“Pastikan dia bekerja dengan benar.
Jika tidak, kau boleh memecatnya..”

Bagaimana nona?
Apa kau sudah salah memberikan
tatapan itu padaku?
Ataukah aku yang salah mengartikan
tatapan matamu?
Kau bukan marah, melainkan telah
salah mengekspresikan
kekagumanmu saat melihatku..

“Saya akan melakukan apa yang anda
katakan.. Tapi sebaiknya anda tak
berlama-lama disini. Ada rapat yang
harus anda pimpin..”

Kembali melangkah dan melewati
gadis bodoh itu aku lansung menuju
ruang rapat dengan beberapa direksi
yang sudah berada disana.

***

Ketika setumpuk pekerjaan masih
harus kukerjakan, ponsel yang berada
diatas mejaku berbunyi..

“Saya sudah menemukan wanita itu
Tuan..”

Kabar yang kuterima dari seseorang
yang selama ini kusewa cukup
mengagetkanku..

“dimana? Aku akan kesana
menyusulmu..”

Akhirnya aku menemukanmu Yuri..
Aku benar-benar menyesal telah
melakukan hal itu padamu.
Kau tak seharusnya pergi dariku
setelah malam itu..
Mianhae..

Aku baru saja akan menyingkirkan
tumpukan kertas-kertas diatas
mejaku dan meninggalkannya untuk
mendatangi Yuri, saat kemudian
seseorang itu kembali bersuara..

“Sebaiknya tidak sekarang Tuan..
Saya baru saja bertemu dengan gadis
muda yang mengaku sebagai
adiknya..”

“adiknya?”

“Ya.. Dia sedang berada disini”

“baiklah kalau begitu.. Tapi pastikan
kau tetap mengawasinya, dan segera
beritahu aku waktu yang tepat untuk
menemuinya”

Menghela napas dengan berat, aku
kembali menyesalkan kekeliruan
sikapku malam itu.

Andai aku tak melakukannya, Yuri
mungkin takkan pergi begitu saja
dariku.
Yuri pasti telah tersakiti karna itu..

***

Pagi berikutnya rutinitasku masih tak
berubah. Bangun dipagi hari dan
bersiap untuk selanjutnya menikmati
sarapan pagi bersama kedua orangtua
ku.
Menghabiskan beberapa menit untuk
mengobrol dengan aboji tentang
pekerjaan dan beberapa menit yang
lain untuk mendengar keinginan atau
aku lebih suka menyebutnya sebagai
keluhan Oemma karna tak adanya
seorang wanita yang saat ini ku
kencani.
Oemma sangat ingin melihatku
membawa seorang wanita yang
benar-benar kuinginkan
kehadapannya. Bukan hanya sekedar
main-main seperti yang sebelumnya
kulakukan.

Jika sudah seperti itu, aku tahu
kemana arah pembicaraan ini akan
berakhir.
Menyebalkan..

“Bukan aku tak mau berkencan
oemma.. Tapi lihatlah apa yang sudah
aboji lakukan padaku. Aku bahkan
hampir tak punya waktu untuk sekedar
melirik seorang gadis. Semua
pekerjaan itu menghalangiku untuk
melakukannya..”

dengusku kearah aboji yang seperti
biasa, menganggap lalu semua
keluhanku.

“Astaga.. Begitukah?”

Aku mengangguk dengan wajah
memelas kearah oemma..

“Ini masa mu untuk bekerja keras
Siwon ah.. Sama hal nya dengan apa
yang kulakukan dulu”

“Tapi yeobo.. Dulu saat Kau seusia
Siwon, Kau sudah memiliki Aku juga
menimang bayi Siwon dilenganmu..”

“Itu karna aku lebih pintar darinya.
Aku mengutamakan untuk mengejar
dan mendapatkanmu lebih dulu
yeobo..”

Aishh..
Melihat wajah Oemma yang merona,
Aku bisa memastikan jika oemma
takkan lagi memikirkan wajah
memelas yang kutunjukkan.
Yang justru akan terjadi jika aku tetap
berada diantara mereka, Aku hanya
akan dijadikan pendengar sekaligus
penonton cerita manis mereka seperti
yang sudah sering terjadi.

Dan aku tidak menginginkannya lagi.
Aku bahkan sudah menghapal diluar
kepalaku karna seringnya mereka
menceritakan hal itu kepadaku..

“Aku harus berangkat..”

Melirik jam pada pergelangan
tanganku, Aku berdiri untuk kemudian
mencium oemma.
Ini sudah menjadi aturan yang tak
boleh dilupakan.

“Oemma punya banyak kenalan dan
mereka mempunyai anak-anak gadis
yang cantik. Mungkin itu akan
membantumu untuk melirik salah satu
diantaranya dan menetapkan
pilihanmu..”

Aku memutar mata kearah Oemma
yang nampaknya tak memperdulikan
reaksi penolakan dalam bahasa
tubuhku.

“Jangan macam-macam oemma..
Hari ini aku tak punya waktu untuk hal
seperti itu”

Oemma mengangkat bahu, Aku bisa
menangkap ketidak perdulian
dimatanya.

Oh..
Mengapa harus ada topik semacam itu
dipagi ini.
Benar-benar merusak mood ku..

***

Setiba dikantor dan sebelum
memasuki ruang kerjaku, terlebih dulu
aku akan mengingatkan dua wanita
berseragam resepsionis itu untuk
memberi alasan ketidak hadiranku
pada siapapun yang mencoba
menemuiku.

Sekedar berjaga-jaga, Aku punya
firasat jika oemma akan melakukan
sesuatu.
Dan aku tak ingin diganggu dalam
pekerjaanku..

“Jika ada siapapun yang mencariku
tanpa membuat janji terlebih dulu,
katakan aku tidak ada..Terutama jika
itu seorang wanita, jangan pernah
mengijinkannya untuk naik
keruanganku”

“kami mengerti sajangnim..”

Keduanya mengangguk tanda mengerti
dengan apa yang kukatakan, termasuk
gadis yang sebelumnya dengan berani
menatapku.

Meneruskan langkahku menuju lift
khusus, Aku membutuhkan tak kurang
dari lima menit untuk berada dibalik
meja kerjaku dan berhadapan dengan
banyaknya pekerjaan yang harus
kuselesaikan.

Tuhan memberkatiku dengan tidak
adanya gangguan selama beberapa
jam aku berkutat dengan kertas-
kertas berisi banyak hal termasuk
salah satunya catatan bisnis dengan
beberapa perjanjian yang
menyertainya.

Mengerang beberapa kali, Aku teringat
akan Yuri.
Disaat seperti ini aku benar-benar merasa kehilangannya. Aku membutuhkan kehadirannya disini,
untuk membantuku menyelesaikan
semua pekerjaanku.

Yuri..
Aku harus secepatnya menemuinya.

“Choi Siwon ssi..”

Terkejut, aku mendongak mendengar
seseorang menyebut namaku. Dan
berdiri disana seorang wanita yang
tak kukenel tersenyum dengan
kedipan mata kearahku.

“Siapa kau?”

“Oh, kukira ibumu sudah memberi
tahu”

Dia melangkah mendekatiku..

“Siapa yang mengijinkanmu masuk?”

Dia berkerut keheranan..

“Seorang resepsionis mengatakan jika
kau sudah menungguku..”

Sialan..
Berani-beraninya mengabaikan ucapanku.

Mengambil telpon, Aku akan
memperingatkannya..

“Siapapun Kau.. Naik keruanganku
sekarang! Jika dalam waktu lima
menit Kau tak berada dihadapanku.
Kau dipecat!!”

Aku akan melihat siapa yang berani
mengabaikan ucapanku..

Aku benar-benar merasa
kesal terhadap siapapun yang telah
membiarkannya masuk, juga pada
kehadiran wanita yang entah berasal
darimana, tapi jelas keduanya telah
membuyarkan konsentrasiku.

Berdiri dari dudukku dengan kedua
tangan terlipat didepan dada juga
tatapan tajam yang terarah padanya,
kurasa aku telah berhasil
membuatnya terintimidasi oleh
sikapku.

Dan segera setelah ini aku juga akan
membuat siapapun yang mengabaikan
ucapanku menyesali keteledorannya.

“Maaf.. tapi aku tak tahu jika kau
sedang sibuk Siwon ssi.. Ibu mu yang
mengatakan jika Aku bisa bertemu
denganmu disini, dan resepsionis tadi
juga mengatakan jika Kau sedang
menungguku. Maka kurasa ibumu
sudah mengatur pertemuan kita..”

Oemma akan mendapat teguran dariku
segera setelah aku menginjakkan kaki
dirumah.
Tapi untuk saat ini aku benar-benar
menginginkan siapapun resepsiois itu
yang telah mengijinkan wanita ini
masuk untuk berada dihadapanku dan
menerima konsekuensi atas tindakan
lancang yang dilakukannya dengan
mengabaikan ucapanku..

“Choi Siwon ssi..”

Wanita itu memanggilku dengan suara
rendah nya, terlihat takut-takut..

“Jadi apa yang sekarang kau inginkan
nona?”

“emm.. Kurasa ini sudah terlanjur
terjadi. Kita sudah bertemu, maka tak
ada salahnya jika kita berkenalan
bukan..”

Aku mengerutkan dahi mendengarnya,
ternyata dia cukup punya nyali dengan
mengulurkan tangannya padaku..

“nama ku Jessica.. senang bisa
berkenalan denganmu, Siwon ssi..”

Aku bahkan tak memperkenalkan
diriku nona, tapi kau lah yang lebih
dulu mengenalku lewat campur tangan
oemma tentunya.

“Kau sempurna.. Sama seperti yang
dikatakan Ibu mu padaku”

tentu saja, Ibu mana yang tidak akan
membanggakan putranya. Terlebih
aku adalah anak semata wayang yang
dimilikinya.

Sudah pasti aku bisa membayangkan
bagaimana Oemma menceritakan
tentang diriku kepada gadis-gadis
yang ditemuinya.

Oemma akan bertindak layaknya SPG
yang mempromosikan produk yang
dijualnya tanpa cela.

Demi Tuhan..
Aku pernah melihat oemma
melakukannya dan itu cukup
memalukan untukku.
Aku bukan tak ingin serius dengan
gadis yang ku kencani.
Aku hanya belum menemukan gadis
yang bisa mengikat hatiku dan
membuatku berpikir untuk
memilikinya, dan membawanya ke
altar pernikahan seperti apa yang
diinginkan oemma, agar aku serius
menjalin satu hubungan dan
berkomitmen setelahnya.

“Jadi kau benar-benar sibuk?”

“Sangat..”

“tidak ada waktu sebentar untuk kita
bisa mengobrol?”

“sama sekali tidak.. Kurasa aku akan
menerima kerugian fantastis bila aku
menggunakan waktu kerja untuk
sesuatu yang tidak penting, seperti
mengobrol..”

Raut wajahnya berubah dan
mendengus kesal mendengar
ucapanku..
Aku masih tak perduli dan tetap
menunggu seseorang itu untuk berada
diruanganku.

Aku bisa menghitung saat ini bahkan
telah lewat dari waktu lima menit
yang kuberikan.

Dan kemudian pintu ruanganku
diketuk, dengan Donghae yang
kemudian masuk. Jelas bukan
resepsionis bodoh disana.

“Mana dia?”

“Saya akan menjelaskan pada anda
Tuan..”

Aku tahu Donghae selalu mengerti
dengan apa yang ada dikepalaku,
terbukti ketika dia kemudian
menghampiriku dan menarikku sedikit
agak menjauh dari Jessica.
Jika bukan karna aku yang telah lama
mengenalnya bahkan tumbuh besar
dengannya, Aku takkan membiarkan
Donghae melakukannya, terlebih
didepan seorang wanita yang berada
diruanganku.

“maksudmu resepsionis dibawah? Dia
yang kau tanyakan?”

Donghae tidak akan memanggilku
secara formal bila kami hanya
berbicara berdua.

“Ya.. Dia mengacaukan konsentrasiku
dengan membiarkan wanita itu masuk,
sementara aku sudah
memperingatkan sebelumnya..”

Donghae tahu betapa aku tak suka jika
waktu kerjaku terganggu.
Dia juga tahu, dua bulan kehilangan
Yuri sebagai sekertarisku membuatku
berubah lebih buruk dengan sikapku
itu.

Aku terbiasa mengandalkan Yuri. Dia
wanita paling pintar yang pernah
kukenal. Dan kehilangannya
membuatku pincang dalam urusan
pekerjaan.

Bukan aku tak mencari penggantinya.
Tapi aku tak menemukan yang seperti dirinya dalam
diri dua puluh sekertaris baru yang
sempat kupekerjakan dan kupecat
dalam dua bulan terakhir.
Kesemuanya tak ada yang sepintar
Yuri dalam menangani pekerjaan.

“Sebaiknya Kau urus pesangonnya,
Aku sudah memecatnya!”

“Tapi Kau tak bisa melakukannya..
Dia punya kontrak kerja”

“Persetan dengan itu.. Aku tak perduli!”

“yang satu ini kau pasti perduli jika
aku memberitahumu siapa dia
sebenarnya..”

“siapa?”

“gadis itu bernama Yoona.. Dia adik
Yuri..”

adik Yuri..?

“Aku ingin mengatakan ini padamu
sebelumnya, Aku yang membawanya
bekerja disini karna dia
membutuhkannya setelah kepergian
Yuri, dia butuh uang..”

Donghae juga yang dulu membawa
Yuri untuk bekerja. Dan keduanya
cukup dekat.
Aku bahkan sering melihatnya pergi
bersama.
Maka aku cukup heran saat dia tak
tahu kemana Yuri pergi.

Dan sekarang dia membawa adik
Yuri?
Tentu Aku butuh lebih banyak penjelasan
untuk itu..

“jelaskan padaku setelah kau bawa
wanita itu keluar dari ruanganku”

“Baik.. Aku akan melakukannya..”

Donghae kembali masuk keruang
kerja ku setelah beberapa saat
kemudian. Aku tak bisa menahan
diriku dan langsung bertanya
padanya..

“Jadi gadis itu adik Yuri?”

“Ya.. Seperti yang kukatakan padamu
tadi. Dia memang adik Yuri.. Dia
berada disini juga untuk membayar
hutang Yuri pada perusahaan.. Karna
itu kau tak bisa memecatnya begitu
saja”

Oh..
Ini sedikit mengagetkan,
Aku baru tahu jika Yuri memiliki
hutang pada perusahaan.
Kurasa aku menggajinya cukup besar sebagai sekertarisku..

“Bukankah kau tadi mengatakan dia bekerja karna butuh uang? Kenapa
sekarang menjadi dia dipekerjakan
untuk melunasi hutang? Dan kupikir
selama ini Yuri tak pernah berhutang
pada perusahaan.. Dia bisa meminjam
padaku secara pribadi jika dia
membutuhkannya”

“Kau pasti tahu, Yuri takkan
segampang itu melakukannya. Dia cukup punya harga diri..”

Ya..
Yuri memang tak pernah sekalipun
mengeluhkan tentang kehidupan
pribadinya padaku.

“Yoona mengatakan butuh pekerjaan
dan saat itu satu posisi resepsionis
kosong. Maka aku menawarkannya
dan dia menyetujui”

“kenapa kau tak membicarakannya
denganku terlebih dulu?”

“Kau berada di Tokyo minggu lalu..
dan kupikir kau akan bisa
menerimanya. Itu bukan sesuatu yang
perlu dibesar-besarkan”

Aku memikirkan bagaimana gadis itu
kemudian menghidupi dirinya jika ia
masih harus melunasi hutang yang
ditinggalkan Yuri. Karna setahuku Yuri
tak lagi memiliki orangtua, otomatis
keduanya menghidupi diri mereka
sendiri.

“berapa sebenarnya hutang yang
ditinggalkan Yuri? Bebaskan saja
semua itu..”

“Aku akan memeriksanya lebih dulu..”

***

Menyudahi beberapa pekerjaanku,
Aku meninggalkan kantor setelah
menerima telpon dari seseorang yang
aku perintahkan untuk mencari
dimana keberadaan Yuri.

Dia telah menemukannya dan saat ini
aku akan bertemu dengannya..
Aku begitu penasaran kemana
sebenarnya dia menghilang selama
ini.

Sebenarnya setelah mengatahui gadis
yang menjadi resepsionis itu adalah
adiknya, aku bisa saja menanyakan
padanya tentang Yuri.
Tapi aku tidak melakukannya, aku
akan mengetahuinya nanti dan Aku
ingin berbicara langsung pada Yuri.

Benarkah dia pergi karna perlakuanku
malam itu?
Jika iya..
Aku benar-benar menyesal dan akan
meminta maaf padanya..

Menggunakan lift untuk turun, aku
bisa mencapai lobi dengan cepat.
Melangkah kearah mobil yang sudah
menungguku, tanpa sengaja mataku
menangkap sosok Donghae bersama
gadis itu.
Gadis resepsionis itu, dan keduanya
memasuki mobil yang sama.
Mobil milik Donghae.

Mataku terus mengawasi bahkan
setelah mobil itu melaju.
Harusnya aku tidak perlu heran,
Donghae cukup dekat dengan Yuri dan
wajar bila dia juga dekat dengan
adiknya.

“Tuan..”

Sopir itu menyadarkanku, Aku
berdeham sebelum akhirnya masuk
kedalam mobil..

“Jalankan mobilnya ahjussi..”

“Baik Tuan..”

Dalam perjalanan aku menerima
alamat dimana aku bisa menemui
Yuri. Orang suruhanku masih berada
disana menungguku.

Aku tak bisa memastikan berapa
menit yang kuhabiskan dalam
perjalanan. Aku menyadari telah
mencapai tempat itu setelah orang
suruhanku mengetuk kaca mobilku.
Aku keluar dan berbicara dengannya..

“Ini tempatnya?”

“Ya.. Tuan..”

Tunggu..
Tempat apa ini?
Apa orang ini tidak salah?

“Kau serius? Kau yakin Yuri berada
disini?”

“Saya sudah memastikannya.. Bahkan
melihatnya secara langsung”

“Yang benar saja.. Tapi ini rumah
sakit jiwa!”

Tuhan..
Ada apa sebenarnya?

“Nona Yuri dalam perawatan didalam
sana..”

Tidak..
Tidak mungkin..
Itu pasti bukan Yuri..
Aku masih berusaha untuk tidak
mempercayai, namun kemudian sekali
lagi tanpa sengaja aku melihat
Donghae bersama gadis itu.

Keduanya baru saja keluar dari
sebuah rumah makan yang berada
disebrang dan kemudian berjalan
menuju kearah pagar pintu masuk
rumah sakit jiwa itu.

Tuhan..
Apa sebenarnya yang sedang Donghae
coba sembunyikan dariku.
Dia jelas mengetahui keberadaan Yuri,
tapi dia tak mengatakannya padaku.

“Maaf Tuan.. Sepertinya kita
terlambat. Baru saja saya melihat adik
nona Yuri masuk..”

“Kita tunggu sampai dia keluar.. Aku
harus melihatnya. Aku harus tahu apa
yang terjadi hingga Yuri berada
ditempat seperti ini..Dan apakah pria
itu juga sering datang?”

“Saya beberapa kali melihatnya
datang sendiri tanpa nona itu..”

Donghae..
Apa kau sedang menyembunyikan Yuri
dariku?

Sialan…

***

Lebih dari dua jam aku menunggu dan
baru melihat Donghae dan gadis itu
keluar.

Dia menaiki mobilnya tapi
membiarkan gadis itu berdiri dipinggir
jalan, yang kemungkinan aku
menduganya sedang menunggu bis
atau taksi..

Aku tak bisa lebih lama menunggu dan
segera melangkah masuk kedalam
rumah sakit jiwa itu, bersama dengan
orang suruhanku.

Mengerikan..
Aku bahkan tak pernah
membayangkan akan menginjakkan
kakiku ditempat seperti ini.

“Sebelah sini Tuan..”

Dia menunjukkan aku pada sebuah
kamar, dan setelah aku membuka
pintunya bisa kulihat Yuri tertidur
didalamnya..

“Yuri..”

Sontak dia terbangun dan menatap
terkejut kearahku..

Tuhan..
Apa yang terjadi dengannya?

Yang kemudian dilakukan
Yuri dalam penglihatanku adalah dia
beringsut ke ujung tempat tidur
dengan memeluk kedua lututnya.

“Yuri ah..”

Dia semakin mundur ketika aku lebih
mendekat..

“Yuri.. Ini aku? Apa yang terjadi?
Kenapa kau berada disini?”

Dia menggeleng-gelengkan
kepalanya, tanpa suara mencengkram
kuat kedua lututnya.

“Katakan sesuatu Yuri ah..”

Aku mencoba meraihnya, namun yang
kurasakan tubuhnya bergetar dan Ia
langsung menepiskan tanganku.
Matanya memerah oleh airmata..

“Ya Tuhan.. Yuri, ada apa
sebenarnya? Jelaskan padaku.. Kau
pergi setelah malam itu dan yang
kuterima hanya selembar kertas surat
pengunduran dirimu. Aku mencarimu
kemana-mana, dan setelah aku
menemukanmu.. Kau justru seperti
ini. Kenapa Yuri.. Apa yang terjadi?”

“Pergi.. Pergi.. Cepat pergi..”

Dia hanya menggumamkan kata itu
dari bibirnya tanpa memandang
kearahku..

“Apa yang terjadi? Apa yang terjadi
dengan Yuri.. Apa kau mengetahui
penyebabnya..”

“Maaf Tuan.. Tapi saya tidak
mengetahuinya. Saya hanya
melakukan apa yang anda katakan
agar menemukan keberadaan nona
Yuri. Saya juga merasa terkejut ketika
menemukannya disini..”

Aku mengerang..
Apa..
Apa yang sebenarnya terjadi?

“Mulai sekarang cari tahu apa yang
terjadi hingga menyebabkan dia
seperti ini?”

“Baik Tuan..”

Aku mengarahkan kembali perhatianku
pada Yuri, dia masih memeluk kedua
lututnya dengan tatapan kosong. Sama
sekali tak memperhatikan
keberadaanku..

“Yuri ah..”

Dia kembali hanya menggumam. Aku
ingin mencoba lagi mendekatinya
namun terhenti ketika seorang wanita
berkacamata masuk dan berbicara..

“Apa yang Anda lakukan?”

Kurasa dia seorang dokter.
Dia mendekat untuk merangkul Yuri..

“Anda Siapa? Tidak ada yang
diperbolehkan masuk Selain keluarga”

“Dokter, apa yang terjadi? Apa yang
membuat Yuri seperti ini?”

Sang dokter melihat kearah Yuri dan
kembali mengarahkan tatapannya
padaku..

“Pasien terguncang.. Tolong anda
pergi”

“Dokter..”

“Maaf Tuan.. Lebih baik anda Keluar
sekarang..”

Aku tak tahu lagi apa yang bisa
kulakukan.

Oh Tuhan..
Yuri..
Apa yang terjadi dengannya?
Meski aku telah berkali menanyakan
pertanyaan yang sama. Tak sekalipun
aku menemukan jawabannya.
Tak ada yang bisa menjawab
pertanyaanku.
Kecuali Donghae mungkin.

Ya..
Dia tahu apa yang terjadi pada Yuri
tapi tak sekalipun dia mengatakannya
padaku.

***

Aku sudah sampai kerumah satu jam
setelahnya dan masih membawa apa
yang terjadi pada Yuri didalam
kepalaku, yang mulai terasa berdenyut
karenanya.

“Oh Siwonie, Kau sudah pulang..”

Aku mendengar Oemma menyapaku,
Aku melihatnya tersenyum dan Aku
melihat senyum yang sama dari
wanita yang berada disebelahnya.

Bukankah wanita itu?
Aku tak bisa mengingat namanya.
Yang aku ingat hanya wanita itu yang
tadi mengacaukan konsentrasiku
selama mengerjakan pekerjaan
dikantor.
Sedang apa dia disini?

“Aku lelah oemma.. Aku akan
beristirahat. Jalja..”

Aku mengerang ketika kurasakan
oemma menarik tanganku..

“Astaga.. Kau ini. Lihatlah siapa yang
berada disini. Bukankah kalian sudah
bertemu dikantor tadi..”

Seharusnya aku menegur oemma
sekarang, agar tak lagi meyuruh
siapapun gadis yang ditemuinya pergi
ke kantor ku. Tapi aku telah
kehilangan keinginan untuk
melakukan itu.

“Ya.. Tapi aku bahkan tak mengingat
siapa namanya”

Aku berbicara terus terang dan
mendapatkan pukulan dari oemma
pada pergelangan tanganku.
Dari sudut mataku, aku bisa melihat
wanita itu terkikik geli melihatnya.

Lihatlah apa yang telah oemma
lakukan?
Dia akan segera merusak reputasiku..

“namaku Jessica, Siwon ssi.. Kurasa
kita perlu mengulang perkenalan kita
tadi..”

“Ya.. Berbincanglah, disini tentu lebih
santai daripada dikantor”

Oemma mendorongku untuk duduk,
tapi aku segera berdiri lagi.
Demi Tuhan, aku tak ingin berbincang
konyol saat ini.

Aku tak akan bisa melakukannya
disaat kepalaku penuh oleh pemikiran
tentang penyebab Yuri ditempatkan
kedalam rumah sakit jiwa.

“Maaf oemma, mianhae Jessica..
Tubuhku benar-benar telah menjerit
memintaku untuk beristirahat. Aku
merasa kau gadis yang cukup
pengertian, bukankah begitu oemma..”

Aku memberi oemma satu kecupan
dipipi, meski hal itu akan membuatku
terlihat seperti seorang bocah
dihadapan Jessica.
Aku tak lagi perduli..

“Jaljayo..”

Dengan satu kata itu aku kemudian
menghilang, masuk kedalam kamarku.

***

Aku tak benar-benar bisa tidur
semalam, dan dipagi ini aku
menemukan kemuraman diwajahku.
Tapi aku tak bisa menghindar dan
tetap harus kembali kekantor.

Aku tak ingin terlihat lebih kacau,
maka aku sedikit menikmati tidurku
didalam mobil sebelum sebuah
guncangan yang kurasakan hampir
melemparkan tubuhku ke jok depan..

“Ahjussi!!”

“Maaf Tuan..Tapi wanita itu
mendadak berlari”

Aku melongok pada kaca depan dan
melihat seorang wanita terjatuh
didepan mobilku.

“Dia tertabrak?”

“hampir..”

“Aku akan turun..”

Keluar dari dalam mobil, Aku mencoba
mendekatinya..

“Kau baik-baik saja nona?”
Sambil menekan lututnya dia lalu
menatapku.

Oh..

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

To Be Continued~

@joongly

216 thoughts on “| At First Sight | 1

  1. Daebak eonn ff nya, jadi penasaran sebenarnya apa sih hubungan siwon sama yuri. Apa bener kalau siwon yang udah bikin yuri depresi, terus kenapa juga donghae semangat bangetbuat ngancurin siwon. Kayak ada sesuatu.
    Fighting eonnie!!!🙂

  2. Penasaran kenapa yuri sampe di rawat di rumah sakit jiwa, trus apa hubungan siwon n yuri.. kenapa donghae sama yoona berencana ngancurin siwon emang siwon pernah ngelakuin apa ke mereka..

  3. anyeong kak.. aku dah kmntar sblumnya kalu bkan Tintin idnya brarti tintin305 tpi gk smpet ku kirim ato dah kekirim mngkin ya abis tkan kirim aku silang webnya.. aku berhnti ngebaca soalnya kak gk trlau smngat crita series abis kbanyakan lgian kmaren critya blum rampung kan blum ampe end msih brasa di gantung nunggu updatean kak aku kan sukany yg pendek2 ajh kak yang bru baca lngsung dpet endingnya hehe..
    dan alsan sy ngebaca lg yah.. sya kangeen YW slma ni baca ff yg pairingnya Yoona sehun tapi stelah baca lg ngenanya masih sma YW..
    okay aku kbnyakn curhat intinya pengen ngasih tau ajah kaak mian kalu mngkin au kesany kek siders yg tba2 nongol bgitu critnya kelar.. tpi aku jelas bukan bgian dari mereka so.. next read ajah deh yah kaak…

  4. yoona kayaknya benci banget ma siwon, mang kenapa?
    trus kenapa yoona juga mau balas dendam ma siwon?
    mang apa hubungan siwon ma yuri?
    bingung…!!!!!
    mending baca next chapnya.

  5. yoona kayaknya benci banget ma siwon, udah gitu dia juga ngrencanain balas dendam?!?
    mang apa hubungan siwon, yoona, yuri dan donghae???
    ah bingung!!!!
    mending baca next chap biar lebih jelas.

  6. yoona kayaknya benci banget ma siwon, udah gitu dia juga ngrencanain balas dendam?!?
    mang apa hubungan siwon, yoona, yuri dan donghae???
    ah bingung!!!!
    mending cuss baca next chap biar lebih jelas.

  7. yoona kayaknya benci banget ma siwon, udah gitu dia juga ngrencanain balas dendam?!?
    mang apa hubungan siwon, yoona, yuri dan donghae???
    hubungan yang rumit.
    ah bingung!!!!
    mending baca next chap biar lebih jelas.

  8. yoona kayaknya benci banget ma siwon, udah gitu dia juga ngrencanain balas dendam?!?
    mang apa hubungan siwon, yoona, yuri dan donghae???
    hadech bingung!!!!
    mending baca next chap biar lebih jelas.

  9. Jadi alasannya yoona masuk perusahaan karena ingin balas dendam,di part moment yoonwonya cuma sedikitnya yah,tapi pas baxa diakhir cerita sepertinya seru lanjut baca part selanjutnya deh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s