Fanfiction

♥ I Need ROMANCE ♥ Chap 9

#Happy Reading>>>

*

*

*

*

*

*

*

*

*

Minho terdiam sejenak untuk
memperhatikan soojung yang
terlihat
gelisah dalam duduknya. Ia tahu
gadis
itu pasti sedang mencemaskan apa
yang
nanti akan dikatakannya. Tapi
minho
telah memutuskan, sekarang adalah
saat yang tepat untuknya
mengatakan
pada keluarganya..

“hmm.. Aku..”

“Minho oppa..!”

Soojung berdiri dari duduknya dan
tanpa sadar berbicara terlalu keras,
hingga menarik perhatian dari
semuanya untuk tertuju
kearahnya..

“ada apa soojung ah..?”

Meraih tangan soojung, yoona
menatapnya dengan dahi berkerut
penuh tanda tanya..

“eh, oenni..anio, hanya saja oppa..
Minho oppa..”

Soojung terlihat kebingungan
menjawab pertanyaan yoona.

“gwechana noona.. Kami..
Maksudku,
aku dan soojung.. Kami , kami
berkencan.. Ini yang ingin
kuberitahukan pada kalian..”

Oh..
Reaksi apa yang kemudian akan
diterima olehnya.
Soojung hanya bisa menggigit bibir
bawahnya, menghalau panik akan
reaksi dari yoona dan terutama
siwon.

Entah atas dasar apa yang jelas ia
merasa belum siap jika keluarganya
tahu kedekatannya dengan minho
berubah menjadi suatu hubungan
yang
lebih dari sekedar persahabatan.

Rasa
kekeluargaan yang memang sejak
lama
terjalin diantara keduanya berubah
menjadi rasa sayang, cinta yang
sering
terjalin diantara dua insan
berlawan
jenis.

Well..
Cinta memang seringkali tumbuh
dalam
keterbiasaan.
Terbiasa bersua
Terbiasa bersama
Terbiasa berbicara
Terbiasa bercengkrama.

Maka tidaklah heran jika kemudian
ada
yang menyebut sahabat menjadi
cinta..

Seperti yang telah terjadi antara
siwon
dan yoona. Yang sepertinya
berlanjut
pada soojung dan minho.

“Oppa.. Kenapa kau
mengatakannya?”

“sampai kapan kita terus
menyembunyikannya. Mereka harus
tahu. Lagi pula ini bukanlah
sesuatu
yang layak untuk disembunyikan..”

“Sial.. Minho, sudah kukatakan kau
harus tahu batasannya!”

Siwon menggeram saat kemudian ia
berdiri dari duduknya, melangkah
cepat
kearah minho hingga sepersekian
detik
setelahnya ia telah mencengkram
kuat
kerah kemeja yang dikenakan oleh
minho.

Hal itu yang lantas menimbulkan
jerit
kepanikan dari yoona dan terutama
soojung.
Inilah yang dari awal ditakutkan
olehnya.

“Siwon..!”

“Oppa..”

Semua langsung berdiri dari
duduknya,
namun tak ada satupun yang
berani
mendekat untuk menghentikan
siwon.

“oenni ya..ottokhae?”

Soojung gemetar saat ia merangkul
lengan yoona, airmata bahkan telah
membasahi wajahnya.

“tenanglah sayang..tenang dulu,
siwon
pasti hanya terkejut.. Sama halnya
denganku, kami semua terkejut.
Tapi
kau juga tahukan siwon selalu
bertindak berlebihan..”

Yoona mencoba menenangkan sang
adik, sambil terus memperhatikan
apa
yang dilakukan siwon terhadap
minho.
Meski minho nampaknya bersikap
tenang saat menghadapi amukan
siwon. Mungkin hal seperti ini
telah ia
prediksikan sebelumnya akan
terjadi.

“Hyung.. Aku hanya ingin kalian
semua
tahu..”

“jangan main-main minho! Sudah
sejauh mana kalian berhubungan?
Hentikan semuanya sekarang! Jika
kau
hanya berniat mempermainkan
soojung, cari wanita lain yang bisa
kau
permainkan..”

“Hyung.. Aku tak sedikitpun
berniat
mempermainkan soojung. Aku
menyukainya dan ya.. Akhirnya aku
bisa merasakan perasaan seperti
yang
kau rasakan pada yoona noona. Aku
mencintainya.. Aku mencintai
soojung”

Siwon mengendurkan
cengkramannya,
dan menatap dikedalaman mata
minho,
mencari kebenaran akan kata-kata
yang diucapkannya.

Sementara yoona tersenyum
mendengar perkataan minho. Ia
kemudian beralih menatap soojung
yang masih saja gemetar
disampingnya.

“dia mengatakan mencintaimu..”

mengusap pergelangan tangan
soojung,
yoona lantas melepaskan
rangkulannya
untuk kemudian beralih mendekati
siwon.

“Siwon..”

Yoona meraih tangan siwon,
melepaskan cengkraman tangannya
dari minho.

“apa yang kau lakukan? Sudahlah..
Minho hanya berusaha berkata
jujur
dan kurasa tak ada yang salah
dengan
kejujurannya..”

“tapi soojung, yoona..! Kau pikir
aku
akan diam saja bila dia ingin
mempermainkan soojung. Tidak..
Aku
takakan membiarkannya. Aku tahu
Kau
sangat menyayangi soojung, dan
jika
soojung tersakiti itu sama halnya
dengan dia menyakitimu. Dan aku
tak
mau melihatmu tersakiti oleh
siapapun..”

Oh..
Yoona bisa merasakan keposesifan
dari sorot mata siwon kearahnya
dan
sekaligus kehangatan dari kata-
katanya. Ia merasa dijaga dan
dilindungi olehnya.

“Tidak.. Aku percaya minho tak
akan
melakukannya. Minho tak akan
mempermainkan soojung. Dia tak
akan
menyakitinya, bukankah begitu
minho..?”

“aku senang kau mempercayaiku
noona.. Ya, aku berjanji pada kalian
aku takkan menyakitinya..”

Yoona kembali tersenyum dengan
mengedikkan matanya kearah
minho,
sebelum kembali menatap siwon
yang
masih saja berada dalam
ketegangannya sendiri.

“Siwon.. Kau dengarkan minho
sudah
berjanji pada kita”

“tapi yoona..”

“ssttt.. Minho pasti akan menjaga
soojung.. Aku percaya padanya, Kau
juga bisa mempercayainya kan?”

Siwon masih menatap yoona yang
terus
mencoba meyakinkannya untuk
mempercayai minho. Bukan dirinya
tak
mau mempercayai minho, hanya
saja
sesuatu didalam hatinya masih
meragukan tepatkah bila ia
kemudian
memutuskan untuk menyetujui
hubungan yang entah sudah berapa
lama terjalin antara minho dan
soojung.

“Siwon.. Oh, ayolah.. Jangan
merusak
kebahagiaanku malam ini.. Kita
sedang
merayakan nama baru untuk titik
kecil
kan.. Tak ada salahnya bila kita
juga
kemudian merayakan hubungan
minho
dan soojung..”

Yoona benar tak bisa menutupi
binar
kebahagiaan diwajahnya. Ia bahagia
dengan perubahan sikap siwon
terhadap bayinya dan kini,
mendengar
pernyataan minho tentang
perasaannya
pada soojung semakin menambah
kebahagiaan dalam hatinya.

Meski tak menyangka, jika
seseorang
yang sebelumnya pernah
disebutkan
minho sebagai wanita yang
disukainya
adalah soojung. Itu bukanlah
menjadi
masalah. Ia sudah pasti sangat
mengenal soojung dan yakin sang
adiklah wanita yang tepat untuk
berada
disisi minho. Soojung sama halnya
dengan dirinya, bukanlah seseorang
yang lemah dalam kehidupannya.

Ya..
Rasanya memang sudah saatnya
pria-
pria bermarga ‘Choi’ itu menikmati
indahnya perasaan cinta yang saling
mengasihi dan mengubah silsilah
keluarga mereka yang buruk
dimasalalu berganti dengan
kebahagiaan-kebahagiaan yang bisa
mereka dapatkan.

“tapi soojung adikmu yoona.. Kita
sudah menjadi keluarga sekarang”

“Soojung memang adikku satu-
satunya,
tapi Kau juga tahu kan.. Aku dan
soojung tak berhubungan darah.
Tak
ada salahnya mereka bersama”

“baiklah.. Kalau begitu”

Yoona menarik napas lega saat
kemudian siwon beralih kembali
kearah minho.

“Aku akan memegang janjimu,
minho.
Jangan sampai aku mendengar kau
menyakiti soojung. Pastikan itu!!”

“Hyung.. Trimakasih untuk itu”

Minho merangkul siwon, memeluk
dengan eratnya.

“Kau bisa memegang janjiku
hyung..”

“Aku akan menghajarmu jika kau
melupakan kata-katamu sendiri..”

“Kau bisa melakukannya..”

Minho tersenyum saat siwon
menepuk-
nepuk punggungnya dan kemudian
melepaskan pelukannya, berganti
dengan soojung yang mendekat
kearahnya.

“Siwon oppa..trimakasih..”

“aku hanya mengkhawatirkanmu
soojung ah..”

“Aku tahu oppa..trimakasih.. Oenni
ya..”

Tersenyum, yoona menyambut
pelukan
soojung padanya.

“sayang.. Aku berbahagia untukmu.
Kau harus menceritakan padaku
sejak
kapan kalian memulai hubungan
itu..”

bisiknya yang membuat soojung
tersenyum malu.

“ne..oenni..”

“ehmm.. Sekarang giliranku..”

deheman yang sengaja dilakukan
Kyuhyun, juga ulahnya dengan
suara
dentingan gelas yang beradu
dengan
sendok ditangan kyuhyun yang
sengaja
diciptakannya untuk menarik
perhatian
yang lain, sukses membuatnya kini
menjadi pusat perhatian.

Khuhyun tersenyum setelah semua
mata kini tertuju kearahnya.

“ada apa..?”

Meraih tangan sooyoung, kyuhyun
kembali bersuara..

“Aku akan segera menikahi
sooyoung..!”

Oh..
Kejutan lagi…

***

Yoona menggeliat diatas tempat
tidurnya, semalam menjadi malam
yang penuh dengan kejutan dan
sekaligus kebahagiaan untuknya.
Rasanya ia tak ingin malam itu
berakhir.

Tapi mau bagaimana lagi, malam
indah
itu telah berganti dengan pagi hari
yang
kini menyambutnya, dan menunggu
untuk diisi dengan kebahagiaan
lainnya.

Mengerjapkan kedua matanya,
yoona
berusaha mencari keberadaan
siwon
yang entah sejak berapa lama
sudah
tak lagi berada diatas ranjang
bersamanya.

“siwon..”

menyingkap selimut dari atas
tubuhnya,
ia sudah akan turun dari atas
tempat
tidurnya saat sebuah suara
mencegahnya.

“tetaplah disana sayang..”

Siwon telah berdiri diambang pintu,
tersenyum dan kemudian
melangkah
masuk dengan membawa sebuah
nampan di kedua tangannya.
Diatasnya terisi, segelas susu dan
beberapa potong roti diatas piring.
Juga terdapat sekuntum mawar
merah
yang merekah seolah tersenyum
untuk
yoona.

Oh..
Manis sekali…

“Siwon..”

“Selamat pagi sayang..”

Meletakkan nampan keatas meja
disisi
tempat tidur, siwon lantas
memberikan
kecupan didahi yoona. Setelahnya ia
duduk dipinggir tempat tidur
disampingnya.

“Aku membawakan sarapan
untukmu..
dan Yoon jo..”

“Kau sedang memanjakanku?”

“ kau merasa dimanjakan?”
“Hmm..”

“Ya.. Aku sedang melakukannya.
Memanjakan kalian tepatnya..”

meletakkan tangannya diatas perut
yoona, ia mengusap dan kemudian
berganti memberikan kecupan
disana.

“selamat pagi sayang.. Apa tidurmu
nyenyak semalam? Ahh.. appa
yakin
kau tidur dengan nyenyak dan
bermimpi indah sama seperti
umma
mu.. Karna appa memeluk kalian
sepanjang malam..”

Sekali lagi siwon mengusap dan
mencium perut yoona sebelum
akhirnya beralih menatap yoona
yang
tersenyum kearahnya.

“Kau bersikap sangat manis..”

“Aku melakukannya dengan baik
kan?”

“hmm..sangat baik..”

“makanlah sarapanmu.. Sebelum
Yoon
jo menendang perutmu karna dia
kelaparan..”

Yoona tak bisa lagi
menyembunyikan
perasaannya yang bahagia, ia
memeluk
dan memberikan kecupan dipipi
siwon.

“aku akan menghabiskannya..
Setelah
itu ada yang ingin ku tunjukkan
padamu..”

“apa?”

“Kau akan tahu nanti..”

***

Dengan begitu bersemangat, setelah
memakan beberapa potong roti yang
dibawakan siwon, juga menghabiskan
segelas susu yang terasa begitu nikmat
dan mengenyangkan, Yoona menarik
tangan siwon keluar dari kamar
mereka.

Berjalan beriringan untuk menuju
kesebuah kamar yang tertutup. Dan
yoona menghentikan langkah
didepannya.

“aku ingin menunjukkan sesuatu
padamu..”

“apa yang ingin kau tunjukkan
sayang..”

Siwon membelai rambutnya dan
kemudian melingkarkan lengannya
dipinggang yoona.

Membuka pintu yang tertutup, yoona
kembali menarik siwon agar
mengikutinya masuk kedalam kamar
yang telah ia rombak untuk dijadikan
kamar bagi bayi nya.

“ini..kamar ini..”

“ini akan menjadi kamar Yoon jo.. Kau
tidak keberatan kan, aku mengubah
interiornya?”

Yoona memperhatikan pergerakan mata
siwon yang mengawasi perubahan
kamar itu yang kini menjadi lebih
berwarna.
Dinding-dinding nya berlapis wallpaper
bergambar.
Terlihat lucu..
Menggemaskan..

Masih ada satu ranjang yang memang
belum atau mungkin sengaja tidak
dipindahkan.

Ada lemari kecil yang ketika siwon
membukanya, didalamnya berisi
pakaian-pakaian mungil dengan
dominan warna-warna biru, putih dan
juga hitam.

Yoona masih terus mengamati, saat
siwon kemudian berpindah menyentuh
pinggiran box bayi yang telah
terpasang, dengan beberapa mainan
bayi diatasnya.

“bagus..”

“benarkah? Kau juga menyukainya..?”

Yoona tersenyum senang, dan langsung
menghampiri siwon dan melingkarkan
tangan dipinggangnya.

“kau tidak melakukannya sendirian
kan..?”

“tidak..tentu saja tidak. Beberapa
pelayan membantuku.. Mereka juga
yang menyelesaikan semuanya. Aku
ingat saat meninggalkannya kamar ini
tidak serapi dan seindah sekarang..
Mereka bekerja sangat baik. Kau harus
menaikkan gaji mereka..”

Siwon tertawa mendengar perkataan
yoona. Ia kembali membelai rambutnya
dan kemudian mencium puncak
kepalanya.

“Aku menyesal kau membeli barang-
barang ini tidak denganku tapi
dengan…Ck! Aku tidak mau menyebut
namanya”

Yoona mencibir, menyadari
kecemburuan siwon yang mulai
muncul.

“aku sudah menduga kau akan
menyesalinya..Tapi sebaiknya kau tak
perlu menyesali itu, karna biarpun aku
tak membelinya bersamamu, aku
tetaplah menggunakan uangmu untuk
membeli semuanya..”

Yoona tersenyum sambil mengeratkan
rangkulannya.

“dan juga, kau tak perlu lagi
mencemburui kibum. Dia akan menetap
diluar negri”

“baguslah jika si brengsek itu akhirnya
memilih pergi dan.. Awhh..”

Siwon mengaduh ketika yoona
mencubit bagian pinggangnya.

“berhentilah menyebut kibum seperti
itu. Kurasa dia telah berubah menjadi
lebih baik.. Dia bersikap layaknya
teman. Setiap orang punya kesempatan
untuk menjadi lebih baik kan?”

“Ya kau benar.. Kuharap aku pun
memiliki kesempatan itu. Aku juga
ingin menjadi lebih baik untukmu dan
untuk Yoon jo..”

Yoona merasakan keharuan dari dalam
hatinya. Tak ada lagi keraguan, siwon
benar-benar berubah demi dirinya dan
juga calon bayi mereka.

“hmm..tapi yoona, apa tak sebaiknya
yoon jo..tidur bersama kita saja?”

“maksudmu?”

“Kau tak akan meninggalkan bayi kecil
kita sendirian kan.. Bagaimana bila dia
menangis..”

“anio.. Aku tak akan meninggalkannya.
Aku akan tidur dikamar ini
bersamanya..”

“Mwo..”

Siwon memutar mata mendengarnya.

“Kau akan meninggalkanku dikamar
kita sendirian..?”

“sepertinya begitu..”

“apa? Tidak.. Mana bisa kau
melakukan itu?”

“Tenang saja, hanya sampai Yoon jo
cukup berani untuk tidur sendirian.
Saat itu aku akan kembali tidur
dikamar kita..”

“Aku tidak mau.. Kau harus tetap adil
membagi kasih sayangmu, untukku
maupun yoon jo. Jangan karna yoon jo,
kemudian kau mengabaikanku.. Kau
takkan membiarkanku tidur dalam
keadaan kedinginan setiap malam kan.
Bagaimana bisa aku tidur tanpa
memelukmu..”

Yoona mendecak sambil menggeleng-
gelengkan kepala.

Siwon bertingkah manja sekarang..

“ada cara lain.. Kita tetap bisa tidur
bersama dan kau juga bisa terus
menjaga yoon jo..”
“bagaimana caranya?”
“pindahkan saja box bayinya kekamar
kita..”

“Ck! Kalau begitu sia-sia saja aku
menyiapkan kamar ini..”

“tidak juga.. Yoon jo bisa
menggunakannya nanti. Seperti yang
kau bilang, saat dia cukup berani untuk
tidur sendirian..”

Siwon tersenyum merasa berhasil
mendapatkan solusi yang adil.

“Kau setuju dengan appa kan,
sayang..?”

Siwon mengusap-usap kan tangannya
diatas perut yoona, untuk kemudian
menempelkan telinganya disana,
bermaksud mencari jawaban
persetujuan dari bayi yang berada
didalam nya.

“Oh.. Sayang, dia bergerak.. Yoon jo
menendang perutmu. Apa dia masih
lapar? Sudah kukatakan Kau
seharusnya menghabiskan makananmu
tadi. Ayo.. Kau harus makan lagi..”

“Siwon.. Dia bergerak bukan hanya
karna kelaparan. Tapi dia memberikan
tanda bahwa dia mendengar apa yang
kau katakan padanya.. Yoon jo sedang
meresponmu..”

“benarkah seperti itu?”

“hmm..”

“Kalau begitu, ayo ikut aku..”

“kemana?”

“menemui dokter Kim.. Aku ingin dia
mengeluarkan Yoon jo dari dalam
perutmu. Aku harus segera
melihatnya..”

“MWO..!”

Siwon tergelak ketika yoona
memelototi dirinya, setelah ia
mengatakan kekonyolan, atau yang
lebih pantas disebut sebagai
kebodohan, karna berencana
meminta
dokter Kim yang adalah dokter
kandungan yoona, untuk
mengeluarkan
Yoon jo, bayi mereka dari dalam
perut
yoona.

“astaga.. Kau tak serius kan,
siwon..?”

“aku serius.. Sebenarnya aku
benar-
benar serius ingin yoon jo
secepatnya
keluar dari dalam perutmu. Tapi..
Ya,
kurasa dia masih perlu
mempersiapkan
diri didalam sana.. Ah,
tidak..tidak..
Aku lah yang masih perlu
mempersiapkan diri untuk
menyambut
kehadirannya dan agar kelak bisa
menjadi ayah yang baik untuknya..
Tapi..dokter Kim bisa membantu
kita
untuk melihatnya kan?”

“melihatnya?”

“hmm..melihat yoon jo. Aku baru
sekali
melihatnya ketika dia masih berupa
titik kecil didalam perutmu.
Sekarang
Aku ingin tahu, sejauh mana ia
telah
bertumbuh? melihatnya bergerak
didalam perutmu dan apakah dia
sehat
didalam sana? Aku ingin melihat
itu
sayang..”

Siwon tak bisa melepaskan
tangannya
dari atas perut yoona. Mengusapnya
penuh kelembutan.

Yoona bahkan tak menemukan lagi
kekakuan siwon ketika
melakukannya.
Siwon benar-benar telah menerima,
dan menjadi terbiasa dengan
kehadiran
bayi didalam perutnya.

“Kau bersedia melakukannya kan?”

“melakukan apa?”

“apa namanya itu.. Yang kau dan
dokter Kim lakukan hingga bayi
kita
yang berada dalam perutmu bisa
terlihat dilayar monitor?”

Oh…

Yoona nyaris tertawa geli
mendengarnya. Ekspresi wajah
siwon
benar-benar polos ketika
menanyakannya. Persis seperti
anak
kecil yang tak tahu apa-apa.

Astaga..
Apa dia memang tak tahu apa
namanya?

Batinnya ikut menggeleng-
gelengkan
kepala, heran.

Well..
Mungkin wajar saja, mengingat hal
itu
adalah pengalaman baru untuk
siwon.
Pengalaman pertamanya sebagai
calon
ayah.

Sebelumnya pastilah tak pernah
terbayang dalam benaknya tentang
kehadiran bayi dalam
kehidupannya.

“Usg.. namanya usg.. Itu kan
maksudmu?”

Yoona tersenyum memberikan
jawabannya.

“Ya, itu.. Ayo kita kerumah sakit,
dan
minta dokter kim melakukan itu?”

“hmm.. Tapi hari ini bukan
jadwalku
untuk periksa”
“bukan masalah, aku bisa
menghubunginya dan meminta
waktu
khusus untukmu..”

“Ck! Kau penuh kontrol.. Haruskah
kau
melakukan itu pada dokter Kim?
Kau
bisa mengacaukan jadwal pasien
lainnya..”

Siwon kembali tergelak
mendengarnya.

“terkadang itu diperlukan sayang..
Ayo,
kau harus bersiap kan.. apa perlu aku yang memandikan mu??”

Aishh…

***

Keluar dari dalam kursi kemudi
mobilnya, siwon lantas menuju
pintu
disebelahnya. Membukakan pintu
dan
mengulurkan tangannya untuk
diraih
yoona, siwon membantunya turun
dari
dalam mobil dan langsung
melingkari
pinggang yoona dengan rangkulan
tangannya.

Keduanya tersenyum, berjalan
masuk
ke dalam lobi rumah sakit.
“Apakah Dr.Kim diruangannya?”
tanya siwon pada salah seorang
suster
yang berjaga dibagian resepsionis.

“dengan Tn…?”

“Choi Siwon.. Aku sudah
menghubungi
tadi..”

“Owh..ne, Dr.kim sedang menerima
satu pasien terakhir dan anda bisa
langsung keruangannya..”

Setelah mengatakan terimakasih
nya
pada sang suster, siwon dan yoona
langsung menuju ruangan sang
dokter.

Yoona tak bisa berhenti tersenyum
saat
itu. Merasa bahagia saat siwon
disampingnya, menemaninya
menemui
dokter kim, terlebih ini adalah
permintaan khusus dari siwon.
Setelah sebelumnya siwon bahkan
enggan dan tak pernah ikut serta
bila
yoona memeriksakan
kandungannya.

“Aku merasa degdeg-an sayang..”

Siwon berbisik ditelinga yoona
ketika
mereka telah mencapai depan pintu
ruangan Dr.Kim.

“kenapa?”

“entahlah, kurasa itu karna yoon jo
akan melihatku.. Apakah dia akan
menyukaiku? Memikirkan itu
membuatku grogi dan sedikit
gugup..”

Yoona dibuat terkikik geli
mendengarnya.

“aigoo.. Yoon jo belum bisa
melihatmu.
Tapi kaulah yang akan melihatnya.
Kurasa dialah yang seharusnya
grogi
karna ‘appa’ nya akan segera
melihatnya..”

“Ah, kau benar sayang.. Kajja, aku
sudah tak sabar ingin melihatnya..”

Baru saja siwon akan meraih knop
pintu untuk membukanya, ketika
kemudian pintu itu justru terbuka
dari
dalam dan memunculkan seorang
wanita yang hendak keluar dari
dalamnya.

“Victoria..”

Siwon mengerutkan dahi
melihatnya,
sementara yoona menatap
bergantian
antara siwon dan victoria.

“sedang apa kau disini?”

“aku ada perlu..”

Jawabnya singkat sambil melirik
dengan tatapan tak suka kearah
yoona.

“masuklah..Aku sudah selesai..”

tanpa berkata lagi, victoria
melenggang
pergi dengan langkah angkuhnya
meninggalkan yoona dengan
tatapan
keheranannya.

Oh..
Apa yang dilakukan wanita itu
dengan
mendatangi Dr.Kim?

“Ayo sayang..”

suara dan tarikan siwon
ditubuhnya,
membuyarkan pertanyaan yang
terlintas dibenak yoona.

“euh, siwon..Menurutmu untuk apa
victoria menemui Dr.Kim? Apa dia
sedang…”

“sst..untuk apa dipikirkan, itu
urusannya. Biarkan saja..”

Tak mau menunggu lagi, siwon
kemudian mendorong pintu agar
kembali terbuka dan saat itu
mereka
langsung disambut oleh senyuman
dari
Dr.Kim yang sepertinya telah
menunggu kedatangan mereka..

“Silahkan masuk Tn.. Ny.Choi
silahkan..”

Dr.kim berdiri dari duduknya,
menyapa
ramah dan mempersilahkan siwon
dan
yoona menempati dua kursi yang
berada didepan meja kerjanya.

“saya terkejut menerima telpon
dari
Tn.Choi tadi.. Padahal sebelumnya
anda tak pernah datang untuk
sekedar
menemani istri anda melakukan
pemeriksaan”

Siwon hanya bisa tersenyum
masam.
Merasa tersindir atas ucapan
Dr.Kim.

“Apakah ada keluhan dengan
kandungan anda Ny?”

Siwon menggenggamkan tangannya
dengan tangan yoona, menatapnya
dan
tersenyum, sebelum akhirnya
dengan
senyum yang sama, siwon
mengalihkan pandangannya pada
Dr.kim yang kini menjadi terlihat
khawatir pada yoona.

“Tidak dokter.. Istri saya baik-baik
saja..”

“Oh, syukurlah.. Pada pemeriksaan
terakhir, saya memang tak
menemukan
sesuatu yang mengganggu.
Pertumbuhan Janin stabil dan
sehat,
begitupun istri anda. Jadi apa yang
bisa saya bantu?”

“Bisakah anda melakukan usg?
Saya
ingin bisa melihat yoon jo..”

“Yoon jo?”

“itu nama yang kami berikan untuk
bayi
kami dokter..”
Jawab yoona dengan tersenyum.

“Oh, jadi bukan lagi ‘titik kecil’
namanya?”

Dr.Kim menanggapi dengan senyum
yang sama. Sepertinya ia memang
seorang dokter dengan pribadi yang
mudah dekat dengan pasiennya dan
membuat mereka nyaman
dengannya,
termasuk juga yoona.

“nama yang bagus Tn.. Ny.. Saya
turut
senang mendengarnya”

“trimakasih dokter.. Jadi bisakah
kita
lakukan usg nya? Saya sudah tidak
sabar ingin melihat putra saya..”

“Maafkan saya Tn.. Saya tidak bisa
melakukannya..”

“kenapa tidak Dr? Anda punya alat-
alat
itu disini..?”

“kita tak bisa terlalu sering
melakukan
usg..”

Dr.Kim menggelengkan kepala dan
terlihat kecewa dengan apa yang
dikatakannya. Terlebih setelah
melihat
betapasiwon yang begitu
bersemangat,
kini juga terlihat kecewa
mendengarnya.

“tapi kenapa seperti itu?”

“Siwon.. Aku sudah katakan tadi,
hari
ini bukan jadwalku melakukan
pemeriksaan..”

Yoona menatap kekecewaan itu
dimata
siwon. Dan mencoba
menghilangkanny
a dengan mengeratkan genggaman
tangannya.

“begini Tn.. Ny.. Dalam medis kita
memang bisa melakukan usg,
namun
harus terjadwal. Terlalu sering
melakukan usg akan berdampak
tidak
baik untuk janin, juga untuk istri
anda..”

“apakah seperti itu?”

“Ya.. Beberapa waktu lalu saat
pemeriksaan, kami telah
melakukan
usg. Jadi mungkin anda bisa
bersabar
menunggu, jika ingin melihatnya.
Anda
telah melewatkan beberapa kali
kesempatan Tn..”

“ya.. Saya menyesal telah
melakukannya Dr..”

“suamiku sibuk Dr.. Hingga
beberapa
kali kesempatan dia tak bisa
menemaniku..”

Dr.Kim kembali tersenyum
mendengar
pembelaan yoona untuk suaminya.

“Saya menjadwalkan usg untuk
dilakukan lagi menjelang perkiraan
tanggal persalinan. Hal itu
dilakukan
untuk mengetahui posisi bayi
didalam
perut. Dan juga, agar mengetahui
langkah apa yang akan kita ambil
dalam persalinan. Apakah
memungkinkan untuk melakukan
proses normal atau oprasi sesar..
Mungkin anda bisa melihatnya saat
itu..”

Siwon menganggukkan kepala,
memahami penjelasan dari sang
dokter.
Biasanya ia akan memaksa bila
keinginannya tak terpenuhi. Tapi
sepertinya ia memang harus
bersabar.

Terbiasa memaksa, namun kali ini
memikirkan tentang yoon jo dan
yoona,
tentang kebaikan untuk calon
anaknya,
siwon berusaha menahan diri untuk
tidak melakukan pemaksaan
terhadap
Dr.Kim.

“baiklah Dr. Saya mengerti.. Meski
sebenarnya saya telah berencana
membeli alat usg itu, dan membuat
anda datang setiap hari kerumah
kami,
agar saya bisa melihat bayi kami
setiap hari.. Sayang sekali saya
harus
membatalkan rencana itu..”

“Siwon.. Kau ini..”

Yoona menggeleng-gelengkan
kepala,
tak tahu harus bersikap seperti apa
untuk ‘kegilaan’ siwon kali ini.

“Astaga.. Anda terdengar sangat
bersemangat
Tn..”

“lebih dari bersemangat Dr.. Saya
benar-benar tidak sabar
menunggu..”

“tak kurang dari dua bulan lagi,
anda
bisa melihat putra anda setiap
hari..”

***

Meski kecewa karna tak bisa
melihat
yoo jo, setidaknya siwon masih bisa
merasakan lega.

Pemeriksaan yang tadi sempat
dilakukan Dr.Kim, menyatakan
yoon jo
dalam keadaan sehat.

“Kau masih kecewa karna tak
berhasil
melihat yoon jo?”

Tanya yoona setelah siwon
membantunya turun dari mobil, dan
kemudian merangkulnya untuk
memasuki rumah mereka.

“sedikit..tapi aku senang dia baik-
baik
saja. Aku akan memastikan yoon jo
dan
juga kau, terus sehat sampai proses
persalinan nanti..”

Keduanya masih berangkulan dan
tersenyum sampai melangkah
memasuki rumah.

Namun ada yang aneh, sedikit
terdengar keributan dari dalam dan
beberapa pelayan nampak
menunduk,
atau takut mungkin. begitu melihat
siwon dan yoona masuk.

“ada apa?”

“Tn.. Ada.. Ada nona..”

Sang pelayan tak menyelesaikan
kalimatnya setelah siwon bisa
melihat
sendiri dengan matanya.

“Victoria.. Kau disini?”

“Hai.. Sayang, Aku menunggumu..”

What…
Sayang??

Menegang, Yoona merasakan
Batinnya
mendelik, melihat wanita itu
dengan
sebuah koper yang berada
disisinya.

Apa yang akan dilakukan wanita
itu??

Yoona mewaspadai apa yang
kemudian
akan dilakukan victoria.

Wanita itu mendekat, dengan
memberikan senyum yang tertuju
untuk
siwon.
Hanya untuk siwon dan bukan
untuk
dirinya.

“apa yang kau lakukan disini?”

Siwon kembali mengulang
pertanyaannya, namun masih
belum
dihiraukan oleh victoria.
Ia justru meraih lengan siwon,
menariknya dalam rangkulannya.

Oh..
Apa-apaan ini?

Yoona terkesiap melihatnya. Ia
masih
belum mengerti, apa yang menjadi
tujuan wanita itu berada dirumah
mereka.

“Apa yang kau lakukan!”

bentak siwon kasar, dan
menepiskan
tangan victoria dari lengannya.

“Sayang, aku menunggumu..
Kenapa
kau lama sekali..”

“apa yang kau bicarakan, victoria!”

“kenapa kau menjadi kasar
padaku?
Kau tak pernah seperti ini
sebelumnya.. Apa karna wanita itu
ada
disini..?”

Victoria merendahkan tatapannya
kepada
yoona.

“Siwon.. Apa maksudnya?”

“Aku tidak tahu sayang.. Aku juga
heran
dengan sikapnya saat ini..”

Siwon kembali merangkul pinggang
yoona, dan memberikan tatapan
tajam
kearah victoria.

“Katakan apa yang kau inginkan
victoria? Sekarang!”

“well.. Aku ingin tinggal disini,
bersama kalian..”

Vic lantas menarik sebuah koper
yang
berada tak jauh darinya.

“Apa? Apa maksudmu? Apa kau
mengalami kebangkrutan
mendadak
dan diusir dari rumahmu sendiri.
Jangan bercanda victoria..”

“Aku serius.. Aku harus tinggal
denganmu, siwon..”

“Aku bisa mencarikan tempat
tinggal
untukmu, jika kau memang sedang
mengalami kesusahan. Kau teman
ku..
Percayalah, Aku takkan
membiarkanmu
mengalami kesusahan sendirian..”

“teman? Cih.. Lucu sekali.. Jadi kau
masih menganggapku sekedar
teman
setelah apa yang kita berdua
lakukan..”

Yoona mulai berusaha meregangkan
pelukan siwon ditubuhnya, namun
siwon tak membiarkannya. Dengan
erat, ia justru semakin merapatkan
tubuh yoona kearahnya.

“Demi Tuhan Victoria.. katakan apa
masalahmu, atau aku akan
memaksamu keluar dari
rumahku..”

“Oh.. Kau tak bisa melakukannya
siwon. Kau tak bisa mengusirku
dari
rumahmu disaat aku sedang
mengandung anakmu..”

“Apa?”

“Aku hamil.. Kurasa aku tak perlu
menjelaskan lebih jauh. Kalian
berdua
sudah melihatku dirumah sakit,
aku
memeriksakan kehamilanku tadi..”

“itu tidak mungkin victoria..”

“itulah yang terjadi dan ini adalah
anakmu..”

“Aku tak pernah tidur denganmu!”

“Ya.. Kau pernah, kau pernah tidur
denganku..kita pernah
melakukannya..”

“Sialan.. Kau bohong padaku..”

“Kau tak bisa menyangkalnya
siwon.
Kau selalu berlari kearahku ketika
kau
bermasalah dengan istrimu. Aku
tak
mau hanya sekedar menjadi tempat
pelarianmu. Aku ingin kau
bertanggung
jawab pada kehamilanku.. Aku
ingin
diperlakukan sama seperti
istrimu..”

Yoona kini benar-benar
menyentakkan
rangkulan siwon ditubuhnya.
Ia merasa limbung.
Shock dengan apa yang baru
didengarnya.

“Tidak.. Aku tak ingat kita pernah
melakukan hal seperti itu..”

“apa yang mungkin bisa diingat
oleh
seorang yang sedang mabuk saat
mendatangiku. Kau mungkin
melupakannya.. Tapi aku masih
mengingatnya, bagaimana rasanya
saat
kau menyentuhku.. Bagaimana saat
kita bercumbu, saat kita bercinta
dan
kau menyatu denganku dengan
sangat
manis…”

Tidak…

Yoona merasakan mual dan rasa
ingin
muntah mendengarnya.

Ya Tuhan..
Dengan teganya Kau telah
menjungkir
balikkan duniaku.

Mendorong tubuh siwon, yoona
lantas
melangkah dengan cepat
kekamarnya.
Ia tak mungkin lagi sanggup berdiri
disana dan mendengar kata-kata
wanita itu.

Dengan airmata yang dirasakannya
mulai terjatuh, yoona mencoba
mengabaikannya dan memfokuskan
untuk mengambil sebuah koper dan
memasukkan pakaian kedalamnya.

“Kau akan kemana yoona?”

Tiba-tiba siwon sudah berdiri tak
jauh
darinya, dengan nafas terengah dan
wajah panik melihat kopernya.

“bukan urusanmu..”

“Kita harus bicara sayang..”

Siwon mencoba meraih tangannya,
namun yoona menepisnya dengan
kasar.

“Jangan sentuh aku! Kau sudah
menghianatiku siwon.. Selama ini
aku
selalu melayanimu, berusaha untuk
terus menyenangkanmu. Tapi kau
justru mencari kepuasan lain
dengan
wanita itu.. Brengsek! Bajingan
Kau!”

Rasanya sudah terlalu lama ia tidak
mengumpat. Sekarang ia merasa
marah, sakit dan terluka. Dan
melampiaskan semuanya dengan
umpatan mungkin akan sedikit
melegakan untuknya.

“Demi Tuhan Yoona, kau harus
percaya
padaku..”

“apa yang bisa kupercayai siwon..
Victoria hamil, itulah yang saat ini
bisa
kupercayai..”

“Aku bersumpah yoona, aku
bukanlah
orang yang harus bertanggung
jawab
atas kehamilannya. Aku tak pernah
tidur dengannya..”

“tapi dia benar.. Kau selalu
mendatanginya disaat Kau sedang
bermasalah denganku. Kau
mungkin
tidak ingat sekarang.. Tapi aku
yakin
kau menikmatinya saat itu.. Sialan!
Kau menjijikkan..”

“Yoona.. Kumohon jangan berpikir
seperti itu..”

Siwon menatapnya nanar menahan
luka. Melihatnya seperti itu juga
membuat yoona terluka.

Tapi apa yang bisa ia lakukan?

Pengkhianatan itu terlalu kejam
dan tak
bisa ia maafkan..

“aku harus pergi..”

“Tidak yoona.. Demi Tuhan
jangan…!”

Yoona menutup kedua matanya, tak
bisa melihat ketika siwon memohon
padanya. Membuat airmatanya kian
mengalir deras membasahi
wajahnya.

“Aku mohon sayang.. Jangan pergi
dariku..”

Siwon mendekat dan langsung
mendekap erat tubuh yoona
kedalam
pelukannya. Merasakan tubuh itu
bergetar dalam tangis yang
memilukan.

Ya Tuhan…

Yoona berusaha memberontak
namun
siwon tak membiarkannya.
Ia merasa terluka. Disaat ia
mencintai
siwon begitu dalam tapi pria itu
justru
mengkhianatinya.
Mungkin akan lebih baik jika ia
mengalami mati rasa, bukan justru
mengalami luka sayatan seperti
yang
sekarang dirasakannya.
Teramat perih…

“Biarkan aku pergi siwon..”

“tidak sayang..tidak..”

“itu yang aku butuhkan..Aku butuh
untuk menjauh darimu..”

“kita akan lebih terluka bila saling
menjauh..”

“tapi aku tak bisa melihatmu.. Tak
bisa
melihat wanita itu. Sialan..! Aku
tak
bisa menerima penghianatanmu.
Aku
mungkin masih mentoleransi segala
sifatmu yang lain. Tapi tidak jika
kau
sudah menyentuh wanita lain,
sementara aku masih menjadi
istrimu..”

“Demi Tuhan Yoona.. Aku tak
berkhianat padamu..”

Siwon melepaskan pelukannya,
merasakan kefrustasian memuncak
ketika yoona tak bisa mempercayai
ucapannya.

Apa ia memang benar-benar
melakukan
pengkhianatan itu?
Tidak..
Rasanya tidak..
Ia tak mungkin berkhianat dengan
meniduri wanita lain.
Ia bahkan telah kehilangan
gairahnya
pada perempuan lain sejak yoona
masuk kedalam hidupnya.
Yoona yang mematikan gairahnya
dan
hanya menyala untuknya.

Lalu apa yang tadi victoria katakan?

Bercinta dengannya?

Mungkinkah ia kehilangan
kontrolnya
saat itu?

Sialan…

“jangan membawa-bawa Tuhan
sekarang! Kau pasti juga tak
mengingat
ada Tuhan yang menyaksikan
ketika
kau melakukan penghianatanmu
padaku..”

Yoona kembali mengalihkan
perhatian
pada kopernya. Memasukkan
beberapa
potong pakaian sebelum menutup
dan
menariknya, berniat membawanya
keluar dari dalam kamarnya,
namun
siwon menghadang dengan berdiri
didepannya.

“minggir Kau..!”

“Yoona..”

“Kau sama saja seperti ayahmu..
Brengsek!”

Yoona mungkin akan menyesali
kata-
katanya. Tapi saat ini emosi
terlanjur
menguasainya. Ia tahu siwon
merasa
terluka. Ia bisa melihat itu disaat
siwon
langsung menggeser tubuhnya, tak
lagi
menghalangi jalannya.

Siwon merasakan tubuhnya spontan
lunglai mendengar kalimat yoona.

Benar..
Ia memang brengsek..
Ia tak ada bedanya dengan
ayahnya..
Sejarah terulang..
Harusnya ia sadar, ada monster itu
dalam tubuhnya.
Pria perusak…

***

meninggikan harga dirinya, yoona
berjalan tegak berusaha sekuat hati
tak
menundukkan wajahnya ketika
victoria
dengan teganya tersenyum.
Senyum palsu..
Senyum meremehkan..
Senyum diatas kesedihannya..

“Kau mau kemana yoona? Aku tak
memintamu keluar dari rumah ini..
Aku
juga tak memintamu meninggalkan
siwon. Kita bisa…”

“Persetan denganmu! Jalang..!”

Yoona masih merasakan sesak
meski
ia telah terlalu banyak mengumpat.
Ia
mengira dengan umpatannya itu
bisa
sedikit melegakan perasaan nya.
Tapi
nyatanya tidak sedikitpun…

“Yoona Tunggu! Sayang..
Kumohon..”

Dibelakangnya ia tahu siwon
mengejarnya. Namun dengan cepat
ia
menyambar salah satu kunci mobil
dan
langsung menuju garasi.
Tak terdengar langkah siwon
dibelakangnya.
Wanita itu pasti telah menahannya
agar
siwon tak mengejarnya.

Sialan..
Persetan dengan mereka!

“Biarkan saja dia.. Aku tak
memintanya
meninggalkanmu. Kau juga tak
ingin
dia pergi. Tapi yoona tetap pergi..
Itu
pilihannya..”

“Dia terluka sekarang.. Aku
mungkin
akan membunuh diriku jika dia tak
memaafkanku..”

“Siwon.. Kau tak membutuhkannya.
Aku
bersamamu.. Bukankah selama ini
kau
selalu mencariku. Itu yang kau
lakukan..”

“Itu karna kau temanku.
Sahabatku..
Aku percaya padamu..”

“Aku tak mau kau hanya
menganggapku
teman. Aku sedang mengandung
anakmu..”

“dengarkan aku Victoria..!”

dengan wajah memerah menahan
luka,
siwon mencengkram kuat kedua
bahu
victoria dan memberinya tatapan
tajam..

“Kau telah mengacaukan
hubunganku
dengan yoona. Kebahagiaanku.. Jika
kau berbohong padaku.. Demi
Tuhan
aku tak akan memaafkanmu. Aku
bersumpah..!”

Victoria gemetar dibawah tatapan
tajam
yang diarahkan siwon padanya.
Merasa teracam..
Dia benar-benar marah dengan
ulahnya.

“Si won.. Aku..”

“persetan denganmu..”

Mendorong tubuh victoria, siwon
kemudian berlari mengejar yoona…

***

Dengan nafas terengah dan tangan
yang gemetar memegang stir, yoona
masih berusaha mengendalikan
kemudi
mobil yang dikendarainya.

Airmata nya tak berhenti mengalir,
sementara dadanya sesak oleh
amarah.
Jadi begini rasanya?
Seperti inikah yang dirasakan ibu
siwon ketika mengetahui suaminya
menghamili wanita lain?

Ya Tuhan..
Rasanya jauh lebih sakit dari apa
yang
bisa dibayangkan olehnya.

Yoona akhirnya memilih
menghentikan
laju mobilnya disebuah bangunan
rumah mewah dua lantai.
Entahlah..
Tapi rasanya tempat ini adalah
satu-
satu nya tempat yang tepat untuk
menghindar dari siwon.

Jika suaminya itu masih sudi mencarinya atau sebaliknya..
Siwon akan lebih menikmati kehadiran wanita itu dirumahnya..

Sialan…

“Yoona.. Apa yang terjadi? Kau
kenapa
sayang..??”

“Kakek..”

Yoona menyeka sisa-sisa airmata
dengan menggunakan jemarinya,
ketika
seorang pria tua menyambutnya.

Ya..
Entah atas dasar apa, atau seperti
yang
diharapkannya ia dapat menghindar
dari siwon, Yoona memutuskan
untuk
mendatangi kakek siwon.

Kedatangan pria tua itu dihari
sebelumnya, yang ditujukan untuk
menguatkan dirinya, membuatnya
hanya memikirkan rumah sang
kakek
yang mungkin bisa
menyelamatkannya
untuk sementara.

Atau sebenarnya sang kakek telah
mempunyai firasat sebelumnya?
Hal buruk seperti itu akan terjadi
dalam
rumah tangganya dan siwon.
Hingga membuat sang kakek
mendatanginya hari itu hanya
untuk
menguatkannya…

“Apa Siwon berulah lagi?”

pertanyaan tepat yang diajukan
sang
kakek, langsung mendapat
anggukan
dramatis dari yoona.

“Oh.. Aku bisa melihat kekacauan
itu
diwajahmu. Ayo, masuklah.. Dan
katakan apa yang terjadi padaku..”

Yoona mengikuti sang kakek masuk
kedalam rumahnya.
Cukup melegakan untuknya, karna
perkiraan waktunya ternyata tepat.

Sang kakek sendirian didalam
rumah
besar itu, hanya ada beberapa
pelayan
dan juga pengawal dan beberapa
petugas keamanan yang yoona lihat
saat mereka membukakan pintu
pagar
untuknya tadi.

Minho dan sulli pastilah sedang
berada
dikampus.
Sooyoung mungkin berada dikantor,
atau sudah mulai disibukkan
dengan
rencana pernikahannya yang telah
diumumkan kyuhyun sebelumnya.

“apa yang ingin kau minum,
yoona?”

“tidak.. Aku tidak ingin apapun..”
“tapi yang ku lihat kau membutuhkannya
sayang..
Segelas air putih mungkin bisa
sedikit
membantu..”

“ya.. Trimakasih kakek..”

Sang kakek lantas meminta pelayan
rumahnya untuk membawakan
segelas
air putih untuk yoona. Yoona
meneguknya dengan cepat sampai
tak
tersisa, dan baru menyadari
tenggorokannya kering dan ia
sangat
kehausan.

“benar kan kau memang
membutuhkannya..”

“ya..”
jawab yoona sedikit malu ketika
sang
kakek memandanginya dengan
tersenyum.

“jadi bisa kau memulainya?”

“nde? Ah.. Aku tak tahu apa yang
harus
kulakukan, kakek?”

“kurasa kau sudah tahu.. Kau
mendatangiku, itulah yang sedang
kau
lakukan.. Jadi kau hanya tinggal
mengatakan ulah apalagi yang
cucuku
lakukan padamu..”

Tanpa sadar airmata kembali jatuh
membasahi wajahnya.
Teringat apa yang terjadi..
Apa yang baru ia ketahui..
Tentang pengkhianatan siwon
dengan
wanita itu.

Menjijikkan…

“kakek pasti salah saat mengatakan
aku wanita yang kuat, tidak
serapuh ibu
siwon. Tapi nyatanya aku hanyalah
wanita lemah yang mungkin sama
lemahnya seperti ibu siwon. Aku
juga
seseorang yang memiliki kerapuhan
itu
dalam diriku.. Aku benar-benar tak
tahu
apa aku sanggup untuk hidup esok
hari..”

Sang kakek mencoba tenang
mendengar ucapan yoona. Meski
cucu
menantunya itu belum sampai pada
tahap masalah yang sedang dialami
dengan pernikahannya dan siwon,
sejauh yang dilihatnya yoona benar-
benar terluka saat ini.
Itu pastilah sesuatu yang lebih dari buruk.

“Kau hanya sedang terluka yoona.
Karna itu kau mengatakan hal
semacam itu.. Tapi aku masih yakin
kau cukup kuat untuk
menghadapinya.
Terbukti kau masih bisa mencapai
rumahku dan tidak menabrakkan
mobilmu dijalan raya jika kau
memang
benar-benar seperti ibu siwon. Kau
pasti sudah melakukannya tadi..
Membunuh dirimu sendiri dengan
cara
bodoh..”

Yoona mendapat kilasan senyum
dari
sudut bibirnya sendiri ketika
mendengar ucapan sang kakek.
Pria tua itu ternyata cukup bisa
membuatnya nyaman.

Tak salah yoona memilih
mendatanginya..

“Siwon mengkhianatiku.. Seorang
wanita mendatangi kami dan
mengaku
siwon telah menghamili nya dan
meminta pertanggung jawaban dari
suamiku atas anak yang
dikandungnya.
Ya Tuhan.. aku bahkan belum
melahirkan bayiku, tapi suamiku
sudah
akan menyambut kehadiran benih
yang
ia tanam dirahim wanita itu..
Menjijikkan!”

Sang kakek menarik napas sebelum
menanggapi ucapan yoona.

“jadi kejadiannya sama..? Ini yang
kemudian membuatmu melarikan
diri
dari siwon?”

“aku tak bisa melihatnya kakek..wanita itu akan tinggal dirumah kami..
Aku
marah.. Sakit hati dan terluka
karna
pengkhianatannya, aku bahkan tak
pernah memikirkan dia akan tega
melakukan itu padaku. Siwon
benar-
benar brengsek! Aku
membencinya..”

Yoona menyeka airmata dari
wajahnya,
melihat sang kakek melangkah
meninggalkannya dan kembali
dengan
segelas lagi air putih ditangannya.

Kali ini bukan memerintahkan sang
pelayan, tapi sang kakek sendiri
yang
membawakan untuknya.

“minumlah.. Kau sedang emosi
yoona,
kau perlu menenangkan dirimu.
Setelah
ini beristirahatlah, tidurlah disalah
satu
kamar dirumah ini. setelah kau
tenang.. Baru kita akan
melanjutkannya
lagi..”

“tapi kakek, aku tak bisa berada
disini
terlalu lama..”

“kenapa?”

“sooyoung, minho dan sulli pasti
akan
mengatakan keberadaanku jika
mereka
pulangdan melihatku disini. Siwon
dengan mudah akan
menemukanku..”

“kau benar-benar akan berlari dari
cucuku? Kau yakin?”

“untuk saat ini iya.. Itulah yang
aku
butuhkan..”

“baiklah.. dan untuk saat ini juga, aku akan
menyetujui tindakanmu. Kau bisa
ikut
denganku sayang.. Ada sebuah
tempat
yang bisa kau gunakan untuk
bersembunyi..”

“trimakasih kakek..”

***
Siwon memacu kecepatan mobilnya
dengan cukup kencang meski ia tak
benar-benar tahu kemana arah
tujuannya.

Yoona tak menjawab telponnya.
Dan
siwon baru mengetahui yoona
bahkan
tak membawa ponselnya setelah ia
memeriksa gps untuk mengetahui
dimana posisi yoona. Ponsel itu
justru
menunjuk pada rumahnya.

Sial…

Jika seperti ini dimana ia bisa
menemukan yoona?

“Kau dimana sayang? Ya Tuhan,
kumohon kau baik-baik saja..
Maafkan
aku..”

Siwon tak tahu kapan terakhir kali
ia
menangis. Tapi yang ia tahu, kali
ini
kepergiaan yoona berhasil membuat
airmata yang dengan keras ia coba
tahan jatuh juga.

Ia menangis..
Merasakan hatinya terkoyak.
Namun pasti yoona mengalami yang
lebih sakit dari apa yang saat ini
dirasakannya…

“maafkan aku..”

Siwonmencengkram erat roda
kemudi
mobilnya saat dengan cepat ia
memutar arah, menuju apartemen
yoona. Apartemen yang saat ini
ditempati soojung sendirian.

Ya..
Kemana lagi yoona akan pergi jika
bukan kesana.
Yoona pasti berada disana untuk
mengeluhkan sakit hati dan
perasaan
terlukanya pada soojung.

Dengan kecepatan tinggi dari mobil
yang dikendarainya, siwon bisa
mencapai gedung apartemen itu
dengan
waktu singkat.

Segera ia berlari untuk mencapai
depan
pintu apartemen milik yoona, dan
melakukan ketukan-ketukan pada
pintunya.

“Yoona.. Kau didalam? Buka
pintunya
sayang.. Kumohon.. Yoona..!”

Tak ada jawaban meski ia telah
berkali
mengetuk nya.

“Soojung ah..buka pintunya
untukku.
Aku butuh bicara dengan yoona..
Aku
perlu melihatnya! Soojung.. Ya
Tuhan..dengan apa aku harus
memohon agar kalian membuka
pintu
untukku.. Soojung! Yoona!”

dengan cepat ketukan-ketukan
pada
pintu yang tadi dilakukan oleh
siwon
berubah menjadi gedoran-gedoran
brutal.

“Demi Tuhan Yoona.. aku akan
melakukan pengrusakan pada pintu
sialan ini jika kau tak
membukakannya
sekarang! Yoona!”

“Hei Tuan.. Apa yang sedang kau
lakukan? Tidak ada siapapun
didalam.
Soojung sedang berkuliah.. Dan
yoona,
wanita itu bahkan sudah tak
tinggal
disini setelah dia menikahi pria
kaya..”

Ucap sinis seorang tetangga wanita
yang terganggu dengan apa yang
dilakukan siwon.

“Apa kau tak melihat yoona datang
hari
ini?”

“tidak..untuk apa dia datang
ketempat
seperti ini. Rumah suaminya yang
kaya
itu pasti lebih nyaman untuk ia
tinggali..”

Wanita itu kembali masuk kedalam
apartemen miliknya yang tepat
berada
didepan apartemen yoona.

Meninggalkan siwon yang berteriak
frustasi dan melampiaskan dengan
melayangkan pukulan pada dinding,
yang mengakibatkan memar
kebiruan
ditangannya.

***

Yoona memandangi rumah yang tak
kalah mewah dari rumah siwon
maupun
rumah sang kakek yang baru saja
ditinggalkannya.

Ia bahkan berkali mengerjap untuk
memastikan pandangannya tidak
salah,
ia memang sedang berdiri
dihadapan
rumah mewah itu.

“kenapa kakek membawaku kesini?
Rumah siapa ini? Aku tak perlu
tempat
semewah ini..berikan saja aku satu
kamar, dan aku bisa beristirahat
didalamnya..”

“tapi bukankah kau ingin
bersembunyi
tadi..? Rumah itu sangat luas, kau
bisa
bersembunyi didalamnya tanpa
khawatir siwon akan kesulitan
menemukanmu
bila dibandingkan dengan satu
kamar
yang kau inginkan.. Siwon akan
dengan
mudah menyergapmu bila aku
melakukan itu..”

senyum sang kakek sambil
mencoba
melemparkan candaan kearah
yoona.

Yoona tak mengerti mengapa sang
kakek begitu bersikap tenang
bahkan
setelah ia mengatakan
kebenciaannya
pada siwon.

Padahal saat dihari sebelumnya
kakek
mendatanginya, pria tua itu terlihat
menunjukkan wajah khawatirnya.

Takut bila yoona tak bertahan dan
memilih meninggalkan siwon
cucunya.

Tapi setelah kini, nyata-nyata yoona
telah meninggalkan siwon mengapa
sang kakek bersikap biasa saja dan
justru menyetujui keinginannya
untuk
bersembunyi dari siwon.

Aneh…

“Ayo masuklah..”

ajaknya ketika melihat yoona masih
saja diam ditempatnya.

“tapi kakek, ini rumah siapa?
Tidakkah
aku akan mengganggu penghuni
didalamnya..”

“jika itu yang kau cemaskan, kau
tak
perlu melakukannya. Rumah ini
milikmu..”

“Apa??”

Yoona terbengong mendengar
ucapan
yang pasti hanya candaan semata
dari
sang kakek.

“Ayo yoona..”
Kakek membuka pintu rumah itu
sambil
kembali berkata…

“Ini kubeli sebagai hadiah
pernikahanmu dan siwon, tapi cucu
keras kepalaku itu menolak dan
mengatakan akan tetap tinggal
dirumahnya”

“Aku tak mengerti mengapa kakek membelikanku rumah sebagus ini?”

“Kau bahkan pantas mendapatkan yang lebih dari ini, Yoona..”

Oh..
Ia merasa tersanjung..

Jadi ini benar-benar miliknya?

“aku baru memikirkan untuk
memberikannya pada sooyoung
setelah dia mengatakan rencana
pernikahannya. tapi
melihatmu sekarang, kau memang
membutuhkan rumah ini sayang..
ini milikmu.. maka tetaplah akan
menjadi milikmu”

“kakek..”

“Aku senang kau mendatangiku..
dan tahu apa yang terjadi langsung
dari mulutmu..
Selama ini tak ada cucuku yang
pernah
meminta bantuan padaku.
Beristirahatlah, aku akan
menempatkan
beberapa orang untuk melayani dan
menjagamu..”

“tapi kakek..”

“Tenang saja, siwon tidak tahu
lokasi rumah ini. Kau aman jika itu
yang sekarang kau inginkan.
Tidurlah.. Kau membutuhkan
istirahat dan
menjernihkan pikiranmu, yoona..
aku
akan meninggalkanmu disini..”

***

Setelahnya sang kakek kembali
memasuki mobilnya dan langsung
berbicara dengan dua orang pelayan
sekaligus pengawal yang sejak tadi
berada didalamnya…

“selidiki wanita yang saat ini
berada
dirumah cucuku..”

“baik Tuan..”

***

Setelah kepergian sang kakek,
yoona
masih terbengong sesaat. Ia
memperhatikan keselilingnya.
Rumah
mewah itu telah memiliki segala
macam yang mungkin diperlukan
olehnya, bila melihat perabot
lengkap
dan modern yang telah berada
didalamnya.

Apa yang kemudian akan
dilakukannya
dirumah sebesar itu, dan sendirian?

Ia masih sibuk menerka-nerka
ketika
kemudian seorang wanita paruh
baya
menghampirinya..

“selamat datang Ny. muda..”

Yoona hampir saja terlonjak akibat
terkejut dari sapaan tiba-tiba yang
didengarnya.
Ia mengira tengah sendirian disana.

“saya telah menunggu lama
kehadiran
pemilik rumah ini.. Senang
akhirnya
anda datang..”

Yoona sekilas menarik seulas
senyum
dari bibirnya. Kebingungan dengan
respon seperti apa yang harus ia
berikan pada wanita itu.

“anda ingin berkeliling, atau
istirahat
terlebih dulu? Ataukah
Ny..menginginkan sesuatu untuk
dimakan? Saya akan menyiapkan
untuk
anda.. Itulah mengapa saya ada disini, untuk melayani anda Ny…”

“aku ingin beristirahat saja.. Tolong
tunjukkan kamar mana yang siap
untuk
ku tempati..”

“Oh, ne.. Mari ikut saya Ny..”

Yoona melangkah mengikuti wanita
paruh baya itu, yang kemudian
membawanya masuk kedalam
sebuah
kamar.

Ruangannya berbau harum, sejuk
dan
sepertinya nyaman bila yoona
merebahkan tubuhnya diatas
ranjang
besar yang berada disana.

Spray berbahan satin itu terasa
lembut
ketikakemudian ia duduk
diatasnya,
dan melihat wanita paruh baya itu
kembali tersenyum kearahnya.

“bibi yang menyiapkan semua ini?”

“ne.. Tn.Choi mengatakan pemilik
rumah akan datang, dan meminta
saya
menyiapkan semuanya”

“Tn.Choi?”

yang terlintas dibenak yoona
tentulah
Choi Siwon, suaminya.

“Tn.Choi Shi ho.. Kakek yang
bersama
anda tadi Ny..”

“Oh, ya.. Bibi, tolong tinggalkan
aku,
aku ingin beristirahat. Sepertinya
terasa nyaman jika aku tidur
disini..”

“Baiklah Ny.. Anda memang
terlihat
membutuhkan istirahat. Panggil
saya
jika Ny. membutuhkan sesuatu..
Senang bisa melayani anda Ny..”

Yoona lantas merebahkan tubuhnya,
begitu wanita paruh baya itu
keluar dan
menutup pintu kamarnya.

Sendirian didalamnya membuat
sesak
didadanya kembali terasa.
Terngiang
suara parau siwon yang memohon
untuknya tidak pergi.
Yang langsung membuat airmata
nya
tertumpah dan ia kembali terisak.

Bagaimana bisa setelah
pengkhianatan
yang jelas-jelas telah dilakukan
siwon
padanya, masih membuatnya
memikirkan pria itu.
Ini bahkan baru beberapa jam
setelah
kepergiannya meninggalkan siwon,
Namun ia sudah merasakan
kerinduannya pada siwon yang
menghantam kuat kedadanya.

Bodoh..
Kau bodoh Im Yoona..

Batinnya mengolok-olok dirinya dan
kemudian memperlihatkan
gambaran
bagaimana saat ini Victoria berada
dirumahnya dan sedang menikmati
keberadaannya disana, dengan
siwon
suaminya.

Menjijikkan…

“Aku membencimu Siwon..
Brengsek!
Aku benci padamu.. Aku benci..!”

Yoona meremas spray satin
dibawahnya dengan kedua
tangannya.
Marah..
Kecewa..
Dan terluka..

Hingga menginginkan dirinya bisa
sesaat merasakan mati rasa, agar
tak
lagi merasakan perasaan itu yang
sanggup mengubah hidupnya
menjadi
terlihat suram dan mengerikan.

***

Siwon pada akhirnya harus
menelan
kepahitan saat kembali
kerumahnya
dengan keadaan kacau. Setelah tak
berhasil melacak keberadaan
Yoona.

Ini lebih dari sekedar buruk..
Saat Ia bahkan tak bisa
memperkirakan
dimana dan kemana Yoona pergi?
Bagaimana keadaan nya?
Apa ia masih menangis?

Hantaman kuat didadanya juga
siwon
rasakan ketika bayangan yoona
yang
tersakiti, menangis dan marah
menyentak kedalam pikirannya.
Membuatnya sesak dan hampir tak
sanggup untuk menghirup dan
mengisikan oksigen kedalam paru-
parunya.
Terkapar oleh ulahnya sendiri yang
dengan tega berkhianat pada
komitmennya untuk setia pada
yoona.

Tidak..
Tidak mungkin..
Ia tidak berkhianat..

Tapi mengapa bahkan dirinya sendiri
sulit
untuk menerima kata hatinya yang
meyakini ia memang tak
melakukan
pengkhianatan itu?

“Kau sama saja seperti ayahmu..
Brengsek!”

Kata-kata yang diucapkan yoona
dengan penuh amarah kembali
menggema saat siwon melangkah
memasuki kamarnya.

Menghancurkan harapannya untuk
melihat yoona tersenyum,
menyambut
dan kemudian memeluknya.

Yang dilihatnya justru wanita itu?

Victoria berada didalam kamarnya,
sedang mematut dirinya dicermin,
sambil menyemprotkan parfum dan
tersenyum memandangi tubuhnya
yang
berbalut gaun tidur transparan,
yang
dengan jelas memamerkan warna
merah dari pakaian dalamnya.

Sialan…

“apa-apa an kau? Siapa yang
memberimu ijin masuk
kekamarku?!”

“Siwon.. Kau pulang..”

Victoria mencoba kembali
tersenyum
meski ia merasa tersentak oleh
suara
siwon, dan tercekat oleh tatapan
matanya yang tajam menusuk.

“Jangan coba menyentuh barang-
barang istriku..”

Siwon menariknya menjauh dari
hadapan meja rias yang biasa
dipergunakan oleh yoona.

“Apa yang kau lakukan victoria?”

“Yoona sudah pergi..dan rasanya
aku
cukup pantas untuk berada disini.
Menggantikannya..”

“Sialan.. Tutup mulutmu!”

“Kau tak bisa mengelak siwon.. Kau
harus bertanggung jawab dan
menikah
denganku”

“Menikah? Tidak!!”

Siwon menolak keras permintaan
victoria. Permintaan pernikahan
yang
menurutnya konyol untuk
dilakukan.

Dengan keras ia menyentak
pergelangan tangan vic,
menyeretnya
keluar dari kamarnya. Begitupun
dengan sebuah koper miliknya yang
juga berada disana. Dengan kasar,
siwon mengambil dan
melemparnya.

“Kau keterlaluan siwon! Begini
caramu
memperlakukan wanita yang
sedang
mengandung anakmu..”

“Demi Tuhan victoria tutup
mulutmu!
Aku tak percaya kau mengandung
anakku! Tidak!”

“Ya.. Bayi ini anakmu! Berhenti
mengingkarinya dan terima
kenyataan
ini, siwon!”

“persetan dengan semua omong
kosongmu..”

Siwon berbalik untuk masuk
kedalam
kamarnya, Namun vic menahan
tangannya.

“Kau boleh marah karna yoona
meninggalkanmu. Tapi kau tak bisa
menyalahkanku dan juga bayiku..
Percayalah padaku, aku juga tak
menginginkan hal seperti ini..”

Siwon menegang. Menatap dengan
terkejut ketika vic, menarik
tangannya
dan meletakkan diatas perutnya.

“Kau bisa merasakannya kan..
Sesuatu
tengah hidup didalam sana..”

Siwon mencoba menarik tangannya
namun vic dengan kuat menahannya.

“lepaskan victoria!”

“wae.. Kau tak mau merasakan
kehadiran bayi kita? Kau tak mau
menyentuhku lagi? Aku selalu
memberimu kepuasan.. Itulah kenapa
kau selalu datang padaku. Dan
sekarang kau justru menatapku jijik
seakan-akan kau tak pernah
menyentuhku. Seakan aku dan bayiku
tak layak untuk kau sentuh. Kenapa
siwon.. Kenapa kau melakukan ini
padaku?”

“Hentikan victoria! Aku masih
menghargaimu dengan tidak menampar
mulutmu.. Dan menyeretmu keluar dari
rumahku karna kau temanku..”

“Tidak.. Kita bukan lagi teman setelah
kita bercinta. Setelah kau menikmati
tubuhku. Setelah aku mengandung
anakmu. Kau tak bisa lagi
menganggapku sekedar teman. Sekedar
tempat pelarianmu. Kau tak boleh
memperlakukanku seperti itu..”

“Victoria.. Demi Tuhan hentikan!
Sialan.. Kau seseorang yang pernah
sangat kupercayai. Tapi kau justru
merusak kepercayaanku padamu!”

“Kepercayaan apa maksudmu? Percaya
karna aku akan menyembunyikan
kebusukanmu meniduri wanita yang
kau sebut ‘teman’. Kepercayaan untuk
itu maksudmu? Well.. Mungkin aku
akan melakukannya jika sekarang tidak
ada bayi dalam perutku. Aku bisa
menyembunyikan itu, tapi tidak
sekarang.. Aku ingin pengakuanmu
atas bayi kita..”

“MWO.. bayi? Oppa.. Apa maksud
wanita itu?!”

Siwon terkejut saat melihat soojung
dan minho berdiri disana dan mungkin
telah mendengar semua omongan
victoria.

Kemana para pelayan rumahnya?
Mengapa membiarkan soojung dan
minho masuk dalam situasi seperti itu?

Soojung jelas menatapnya dengan mata
membelalak.
Dan minho..
Siwon bisa melihatnya mengepalkan
tangan dan memberinya tatapan tajam.

Sial…

“Soojung ah..”

“Katakan oppa! Apa maksud wanita
itu?”

“Aku bisa jelaskan soojung..”

“Biar aku yang menjelaskan padamu..”

Victoria tersenyum kearah soojung dan
melangkah mendekatinya.

“Aku hamil.. Dan bayiku membutuhkan
ayahnya. Untuk itu aku berada disini.
Dan hentikan tatapan remeh itu
padaku!”

“Apa?”

“Oh.. Tidakkah aku berkata dengan
jelas tadi..”

Soojung memandang kesal kearah
victoria. Terutama pada gaun tidur
transparan yang dipakainya, dengan
jelas memamerkan bagian dalam
tubuhnya yang sensitif, yang hanya
tertutup dengan warna merah dari
pakaian dalamnya.
Memalukan..
Tidakkah ia mempunyai rasa malu itu?

Benar-benar Menjijikkan…

“noona..bagaimana bisa? Kau hamil?
Kalian berdua.. Sialan! Apa yang telah
kalian lakukan?”

minho mergetakkan gigi, menatap
marah pada vic dan terutama siwon,
hyung nya.

“Apa yang bisa kulakukan minho..
Begitulah kenyataannya. Aku dan
siwon.. Kami..”

“Sialan.. Diam victoria! Soojung ah..
Ikut aku!”

Soojung masih merasakan shock saat
siwon menariknya menjauh dari
victoria. Tak perlu diminta, Minho pun
mengikuti langkah keduanya dengan
masih mencoba menahan diri untuk
meledakkan amarahnya pada siwon.

“Brengsek! Kau keterlaluan oppa..!”

“Soojung ah, tenanglah..tolong
dengarkan aku..”

“dimana oenni ku.. Aku datang karna
seharian yoona oenni tak bisa
dihubungi. Kemana dia?”

Soojung mulai panik. Sesuatu yang
baru didengarnya tadi membawanya
kedalam gambaran terburuk tentang
yoona.

“Oppa.. Aku ingin bertemu oenni. Mana
oenni ku? Oenni ya.. Oenni..!”

“Dia pergi.. Yoona meninggalkanku..”

“Pergi? Ya Tuhan.. Oenni seharusnya
mendatangiku. Tapi tidak.. Oenni tidak
ada. Oenni tidak mencariku.. Dimana
oenni? Kemana Yoona oenni pergi..”

“Aku belum tahu soojung.. Seharian
aku mencarinya, tapi tidak
menemukannya. Yoona meninggalkan
ponselnya, membuatku tak bisa
melacak keberadaannya..”

“lalu hyung menyerah begitu saja dan
justru berduaan dengan victoria noona!
Kau bajingan hyung..! Aku sudah
memperingatkanmu untuk tak
menyakiti yoona noona.. Kekacauan ini
sepenuhnya salahmu. Brengsek!!”

Minho mendorong tubuh siwon,
melayangkan kepalan tangannya ke
bagian rahang siwon. Berkali-kali
tanpa ampun yang langsung
mengalirkan darah segar dari sudut
bibirnya.
hingga kemudian membuat soojung
menjerit
dalam tangisnya. Meminta minho
menghentikan kebrutalannya.

“Hentikan oppa..!! kau bisa
membunuhnya!”

“Hyung memang pantas mati!
Bajingan!”

*

*

*

*

*

*

*

*

TBC~

*

*

*

Yeahh…
Welcome^^
Selamat datang di konflik
selanjutnya… kkkkk~

Why Why Why??
kenapa INR koq penuh dengan
konflik??
Yaa…
Biar sesuai title lah^^
& Sejauh mana aq bisa bikin
yang baca triaakkkk ‘ I Need
Romance’!!!!
hohhohooo….

Oiyaa…
Next part mungkin akan lebih
lama yaa…
Karna yang di page juga belum
selesai dan sama juga, sudah
sampai bagian ini …

So…
Mungkin (lagi) akan diselingi
dengan posting ‘YaM’ aka ‘You’re
Mine’

#Thanks
#Ketjup

115 thoughts on “♥ I Need ROMANCE ♥ Chap 9

  1. astaga lagi melayang melayangnya malah dijatohin begitu.. aku yakin anak yang di kandung victoria itu bukan anak siwon oppa.. bahkan bayangin senyum liciknya aja bikin orang mual.. harabeoji harus cepet2 nyelidikin victoria jangan sampe yoonwon terpisah lagi.. aishh bener2 tidak rela..

  2. Astaga wanita itu beneran pembawa masalah,
    Dia emang sengaja pengin ngancurin hubungan siwon dan yoona..
    Apa bener dia hamil anak siwon,,??
    Siwon beneran mengkhianati yoona?? atau siwanita itu aja yang sengaja pengen misahin yoona dari siwon..
    Padahal keadaan nya udah membaik,,
    Siwon nya udah mau menerima anak nya dan yoona juga udah dapet banyak kebahagiaan dari siwon..
    Tapi setelah semua kebahagiaannya sekarang dia malahan dihadapkan kepermasalahan yang lebih serius lagi…

  3. Wanita jahat itu ingin ditampar apa mulutnyaaa, kesel banget….
    Dia bilang dia hamil, mana buktinya coba kalau dia hamil anak siwon, Oh sangat tidak mungin dia hamil anak siwon, dia punya buktinyaa juga ngga, dan siwon juga ngga mungkin dia berbohong dan menghianati yoona, ,,,
    Aku harap kebusukan victoria terbongkar, bahwa semua itu bohong,
    Dan yoona sama siwon bisa hidup bahagia lagi, ,,
    Aku sebel sama wanita yang bernama victoria itu perusak rumah tangga orang, kasihan banget itu perempuan..

  4. Ternya soojung dan minho pacaran, dan disaat mereka merasakan kebahagian tapi victoria muncul dan merusak semuanya, yakin ini pasti akal-akalan victoria aja dech, yoona sabar ya

  5. Rasanya pengen jambak victoriaa
    untung kakek siwon baik yaa mau nyembunyiin yoona.
    cobaan yoona slama hamil berat banget.ada aja masalahnyaaa

  6. yaaakkkkk dasar wanita jahat berani2 nya dia dateng2 ngerusak kebahgiannya yoonwon gk tau malu dasar. pake bilang segala kalo dia lagi ngandung anknya wonppa.iihh dasar mana buktinya kalo itu emang bner anknya wonppa. pembohong…padahal rumah tangga yoonwon lagi bahagianya malah di rusak..kesel bgt aku sama victoria.

  7. Hedewhhhhhh berantem lagi
    Kemaren udah romantis2an b2 juga
    Ini lagi cewe oneng ngapain ikut2an disini
    Hahahahahahhahah
    Cepet baikan ya yonna sm siwon
    Tp kakek kaya detektive yak :p

  8. Sumpah masih nggak nyangka samaa kakeknya siwon oppa, jangan2 ada apa2 nya tu kakek , duh masalahnya dateng terus ditambah sama victoriaa ish jadi kesel pengen jambak rambutnya pasti victoria cuma ngaku ngaku aja dasar cewe gila

  9. omona! baru saja satu masalah selesai langsung timbul masalah lain…
    ais victoria memang benar2 licin…
    aku gga yakin daddy berbuat seperti itu…
    daddy gga mungkin mengkhianati mommy…
    dan semoga victoria mendapat balasannya..

  10. Kebahagiaannya hanya sebentar😦
    Victoria bener2 membuat maraah
    Aku percaya itu bukan anak siwon,, itu pasti akal2an vict aja
    Yoona sabar yaa.. kakek buruan selidiki victoriaa

  11. victoria mmg org jahat…
    dr awal adh pny feeling gk bgs tntng dia.
    skrg dia membuat hubungan yoona dan siwon berantakan…
    mdh2an kakek cpt mendapat info tntng kebusukannya. .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s