Fanfiction

♥ I Need ROMANCE ♥ Chap 8

# HappyReading

*

*

*

*

*

*

*

Setelah mencurahkan isi hatinya,
Yoona pulang dimalam hari dengan
diantar oleh soojung.
Sebenarnya soojung sudah
memintanya untuk menginap saja
diapartemen bersamanya, atau jika
perlu yoona lebih baik tinggal
disana,
daripada terus tertekan saat tinggal
bersama siwon.

Tapi yoona menolaknya.
Ia mengatakan sudah cukup dewasa
baginya untuk bertingkah layaknya
remaja yang marah kemudian pergi
meninggalkan rumahnya.
Meski ia juga mengatakan akan
memikirkan usulan soojung untuk
pergi, tapi setidaknya masih ada
satu
ganjalan dalam hatinya dan mesti ia
selesaikan.

Hal itu adalah tentang
kekhawatirannya
akan siwon yang mungkin saja
termakan
omongan victoria.
Jika itu semua terjadi.
Yoona akan memilih pergi
meninggalkan siwon sesuai saran
soojung.

Ya Tuhan..
Jangan sampai itu terjadi.

“oenni ya..benar kau tak apa-apa?”

“aku baik-baik saja soojung ah..
Pulanglah sebelum terlalu malam.
Akan berbahaya saat kau
berkendara
sendirian”

“ne..tapi oenni harus berjanji jika
siwon oppa berlaku kasar padamu, kau akan
memberitahuku. Aku akan menghajarnya
dengan
tanganku!!”

Yoona malah menanggapi ucapan
soojung dengan senyuman. Apalagi
melihat sang adik yang menggeram
marah hingga mencengkram kuat
kemudi mobilnya, entah mengapa
membuatnya terhibur.

Setidaknya akan ada yang
membantunya
jika pun siwon memang benar-
benar
perlu untuk dihajar.

Oh…
Mengapa ia jadi berpikir anarkis
disini.

“aku bercerita padamu lebih untuk
berbagi perasaan ku denganmu.
Bukan
bermaksud untuk membuat sesuatu
yang
anarkis dengan kemarahanmu. Kau
seorang wanita jadi bersikaplah
layaknya seorang wanita, yang
penuh
kelembutan”

Yoona mengusap bahu soojung
kemudian membuka pintu mobil
itu..

“aku masuk ya..berhati-hatilah
dijalan..”

Soojung tersenyum kemudian
menghembuskan napas pasrah.
Jika dipikir-pikir sang kakak
jugalah
seorang yang keras kepala, meski
yoona menolak untuk disebut
seperti
itu dan lebih memilih menyebutnya
dengan sikap pantang menyerah.

Yeah…
Coba temukan saja keras kepala
dan
pantang menyerah dimanakah
perbedaan nya?
Ataukah keduanya sama?
Atau benar-benar berbeda makna?

Sebaiknya soojung memang tak
memikirkan hal semacam itu, karna
hal itu justru membuatnya semakin
pusing saja.

***

Ketika yoona masuk kedalam
rumah,
kesunyian yang didapatkannya.
Keadaan didalamnya sepi, hanya
ada
beberapa pelayan saja yang terlihat
berseliweran disana.

“Oh.. Ny.. Selamat malam..”
seorang pelayan rumah
membungkuk
menyapanya.

“malam.. Siwon sudah pulang?”

“belum Ny.. Sepertinya Tuan akan
pulang larut malam”

Huuh..
Sebenarnya pekerjaan macam apa
yang saat ini dia kerjakan hingga
belakangan
membuatnya terus pulang larut.
Kenapa tak sekalian saja menginap
dikantornya.

“apa ada yang anda butuhkan
Ny..??”

Pertanyaan sang pelayan,
membuyarkan gerutuan dalam hari yoona.

“Oh..tidak, trimakasih.. Aku akan
ada
diruang baca sambil menunggu
siwon”

apa kau pikir siwon kemudian akan
senang melihatmu menunggunya?
Batinnya mempertanyakan.

“Tolong jika dia pulang dan
mencariku,
katakan padanya aku menunggu
disana..”

Oh..
Apa dia juga akan repot-repot
mencarimu.
Batinnya kembali menyela.

Namun
nampaknya yoona tak
memperdulikannya.

“baiklah Ny..”

Yoona kemudian menuju ruang
baca
atau perpustakan.
Ia ingat semalam sebuah buku
cukup
menarik untuk dipelajarinya dan ia
belum selesai membacanya.
Itu adalah sebuah buku tentang
bagaimana cara orang tua mendidik
buah hatinya.
Yoona menemukannya terselip
ditengah-tengah buku lainnya.
Pasti itu adalah buku milik ibu
siwon.

Oh..
Betapa malangnya wanita itu.
Yoona mungkin bisa memahami
rasa
tertekannya. Tapi ia tidak bisa
memahami bagaimana dia bisa
membunuh dirinya sendiri dan
meninggalkan anak-anaknya.

Seberapapun sakit hatinya wanita
itu.
Tak seharusnya dia mengambil
langkah sebodoh itu.

***

Ketika siwon pulang tepat dijam
dua
belas malam, ia melihat pintu
kamarnya terbuka dengan lampu
didalamnya yang masih menyala
terang.

Apakah yoona belum tidur?
Tanyanya pada diri sendiri,
sebelum
seorang pelayan yang tadi berbicara
dengan yoona menghampirinya.

“anda mencari Ny.. Tuan?”

Tidak…
Seharusnya ia mengatakan tidak.
Tapi…

“ya..dimana dia? Belum pulang?”

“Ny. sudah kembali sejak tadi dan
menunggu anda diruang baca”

“menungguku?”

“ne.. Ny. berpesan untuk
mengatakan
hal itu jika anda pulang”

Oh..
Siwon begitu saja meninggalkan
sang
pelayan tadi, untuk kemudian
membuka
pintu ruang perpustakaan dan
mendapati yoona tengah tertidur
disofa
yang berada didalamnya dengan sebuah buku dalam pelukannya.

Perlahan siwon mendekat
memandanginya.

Ya Tuhan…

Apa yg telah ia lakukan terhadap
wanita yang dicintainya.
Dan apa sesungguhnya yang benar-
benar
ia inginkan?

Kenapa semua yang dilakukannya, yang
berharap untuk kebahagiaan yoona
justru berakhir sebaliknya.
Yoona selalu tersakiti olehnya…

“mianhae..”

Suaranya lebih seperti bisikan
angin,
setelahnya siwon menggulung
lengan
kemejanya, mengambil sebuah
buku
dari tangan yoona, melihatnya sekilas dan kemudian
meletakkannya.

Memposisikan kedua lengannya
ditubuh yoona, siwon kemudian
mengangkat tubuh itu berniat
untuk
memindahkannya kekamar.

Namun sepertinya pergerakannya
tak
cukup halus dan justru membuat
yoona
terjaga…

“Siwon…”

Siwon berhenti melangkah hanya
untuk
memastikan apakah hal yang
dilakukannya telah mengganggu
tidur
yoona.
Tapi…

Oh..
Rupanya yoona bukannya terjaga
dari
tidurnya, melainkan mengigau
memanggil nama siwon dalam
tidurnya.

Siwon tertegun..
Apa yang mungkin sedang
dimimpikan
oleh yoona?
Mengapa ia menyebut namanya?
Sesuatu yang baikkah?
Atau sebaliknya…
Siwon membuat
yoona tersakiti bahkan sampai
kedalam mimpinya.

Ah..
Siwon sangat berharap ia tak
melakukannya.
Semoga saja apa yang dimimpikan
yoona
bukanlah sesuatu yang juga
menyakitinya.

Kembali melangkah, siwon
kemudian
keluar dari dalam ruang
perpustakaan
itu menuju kedalam kamar mereka.
Menurunkannya diatas tempat
tidur, ia
kemudian membenarkan posisi kaki
dan tubuh yoona agar merasa
nyaman
dalam tidurnya.
Siwon juga menyelimuti tubuhnya
sebelum akhirnya ia duduk disisi
tempat tidur.

Terdiam, hanya untuk memandangi
yoona yabg sedang tertidur.

Tarikan napasnya teratur.
Yoona juga bahkan sangat cantik
meski
dalam tidurnya.
Meski mungkin yoona mengalami
lelah
untuk harinya. Karna nyatanya ia
sama
sekali tak terbangun dengan apa yang
dilakukan siwon tadi.
Atau sebenarnya ia bukan lelah
secara
fisik namun kelelahan secara
mental,
untuk situasi yang bertubi-tubi
menekannya.

“maafkan aku sayang..maaf”

bahkan suara siwon saat itu lebih
terdengar sebagai gumaman serak.
Entah perasaan apa yabg kala itu
berkecamuk dalam hatinya.

Siwon kemudian mengulurkan
tangannya untuk menyentuh wajah
yoona,membelainya. Menyingkirkan
helaian halus rambutnya yang sedikit
menutupi paras cantiknya.

Ya Tuhan…

Yoona semestinya bahagia.
Mengapa ia justru rela
menderitakan
dirinya sendiri demi untuk
bertahan
disisinya.
Sebegitu kuatkah cintanya untuk
ku?
Ataukah ia hanya belum menyadari
betapa sebenarnya cintanya
teramat
bodoh untuk pria seperti dirinya?

Siwon mempertanyakan itu dalam
hatinya?
Merasa tak pantas menerima
semua itu
dari yoona.

Tapi yang sepantasnya siwon harusnya
bersyukur. Ia mendapatkan istri yang
setegar dan sekuat yoona. Dan
yoona
sudah membuktikan dirinya
bukanlah
wanita selemah ibunya.
Yoona cukup bisa bertahan
dengannya.

“Aku mencintaimu sayang.. Aku
mencintaimu.. Maafkan aku..”

Siwon kemudian dengan perlahan
dan
tampak ragu mengarahkan
tangannya
keatas perut yoona yang tertutup
selimut.
Menyentuhnya untuk kemudian
mengusapnya, dan berujar..

“maafkan aku.. Ah, maksudku,
maafkan
appa ‘titik kecil’ maaf.. Appa
berlaku
tak baik padamu..”

Siwon lantas beralih untuk
mengecup
kening yoona. Setelahnya ia
menyalakan lampu tidur,
mematikan
lampu kamar dan keluar dari
dalam
kamarnya.

Nampaknya ia tak ingin
mengganggu
tidur yoona.

***

Dalam temaram kamarnya Yoona
tercenung. Ia membuka kedua
matanya
setelah siwon keluar dari kamar.
Ia tak benar-benar tertidur tadi dan
mendengar semua yang dikatakan
siwon
padanya dan pada titik kecilnya.

Ya Tuhan…

Akhirnya..
Apakah yang siwon katakan tadi
sebagai tanda bahwa dirinya
menerima
bayi laki-laki nya?
Dan tak terpengaruh dengan
omongan
Victoria?

Syukurlah..
Mendadak yoona merasakan cairan
bening dikedua pipinya.
Ia menangis..
Kali ini bukanlah tangis
kesedihannya
melainkan tangis keharuan dari
dalam
hatinya yang sekaligus bercampur
dengan perasaan lega yang
menyertainya..

Ia tahu siwon juga merasa sama terlukanya
karna sikapnya sendiri.
Pria itu sebenarnya tengah
berusaha
melawan traumanya, perasaan
takut,
juga doktrinasi atas ucapan buruk ayahnya
dari dalam kepalanya.

Astaga..
Yoona menyesalkan pemikirannya
untuk mengikuti saran soojung.
Untuk pergi meninggalkan siwon.
Untunglah ia baru memikirkannya
dan
belum benar-benar melakukannya.
Dengan sikap siwon tadi, setidaknya
itu
cukup sebagai pembuktian bahwa
siwon masih peduli padanya.
Peduli pada bayi laki-laki nya dan
tetap mencintainya.

“aku juga mencintaimu
siwon..sangat
mencintaimu. Aku akan
menunggumu
sampai kau mengatakannya
langsung
padaku..kau menerimanya.
Menerima
bayi laki-laki kita”

***

Pagi harinya saat yoona terbangun,
ia
merasakan perasaan bersemangat
dalam dirinya.
Ia bahkan tak merasakan
kejengkelan
karna pagi itu pun siwon pergi
tanpa
berpamitan dulu padanya.

“tolong singkirkan beberapa barang
yang
tak berguna dari kamar itu.. Aku
akan
menjadikannya kamar untuk
bayiku”

Yoona memerintahkan beberapa
pelayan rumahnya.
Karna beberapa kejadian kemarin
membuatnya tak sempat menata
barang-barang yang telah ia beli
untuk
bayinya.

Dan hari ini ia berencana
melakukannya.
Membongkar salah satu kamar dan
menjadikannya sebagai kamar
untuk
bayinya kelak.

“Ny..apa yang ini juga akan
dikeluarkan?”

“Ya.. singkirkan itu..”

Ia benar-benar menikmati hari itu.
Menyusun pakaian-pakaian mungil
untuk bayinya adalah salah satu yang
paling dinikmatinya.

“aigoo.. betapa lucunya saat nanti
kau
memakainya sayang.. Oemma tak
sabar menunggumu lahir..”

mengelus perutnya yoona
tersenyum
dan kembali meneruskan
kegiatannya
sebelum akhirnya terdengar suara
pintu
terbuka dan…

“apa yang sedang kau lakukan dengan kamar
ini??”

“kakek…”

Yoona langsung beralih untuk
kemudian membungkuk memberi
hormat pada kakek siwon yang entah
untuk alasan apa tiba-tiba datang
hari
itu.

“Kau sedang menyiapkan kamar
untuk
bayimu?”

Yoona mengangguk, melihat sang
kakek yang kemudian mengamati
keseluruhan kamar itu, yang
masih belum sepenuhnya rapi.
Karnq Yoona
masih merencanakan untuk
mengganti
warna cat dengan yang lebih
berwarna
terang agar terkesan ceria, dan juga
memasang wallpaper dibeberapa
bagian dindingnya.

“ada perlu apa kakek datang?”

“apa aku tak boleh datang kerumah
cucuku?”

“Ah.. Aniy.. Bukan seperti itu
maksudku..”

Yoona menunduk merasa tak enak hati.
Ia telah salah bicara dan berharap
kakek tak tersinggung dengan
pertanyaannya tadi.

“Kau dan siwon, kalian sama saja
tak
pernah mengunjungiku, jadi
kuputuskan
untuk mengunjungimu. cucu
menantu
bagaimana keadaan mu?”

Saat itu juga yoona merasakan
perasaan bersalah dalam dirinya.
Setelah pemberkatan
pernikahannya
dan siwon, ia memang belum lagi
bertemu sang kakek.
Siwon pun tak sekalipun
mengajaknya
untuk berkunjung.

“maafkan aku kakek..aku benar-
benar
minta maaf.. Aku baik-baik saja
sekarang..”

Sekali lagi Yoona menunduk, kali ini untuk meminta maaf.
Sang kakek menghembuskan napas
perlahan kemudian menatap yoona.

“meskipun siwon selalu berulah?
Kau
masih merasa baik-baik saja?”

“nde?”

Yoona mendongak, terkejut oleh
pertanyaan yang dilontarkan sang
kakek
padanya.

“Aku dengar dari Sulli bahwa polisi
sempat melakukan penangkapan
pada
siwon karna dia menyerang seorang
temanmu.. Dan Sulli juga menilai
Siwon kurang antusias dengan bayi
mu. Bukankah semua itu benar?”

Oh.. Sulli..
Apa yang telah dikatakannya..?

“jangan salahkan Sulli jika aku
akhirnya tahu. Dari keempat
cucuku,
hanya dia lah yang dekat denganku.
Apapun itu dia selalu
menceritakannya
padaku”

Yoona memperhatikannya.
Menemukan
gurat-gurat kesedihan diwajah sang
kakek.
Melihat garis-garis keletihan
diwajah
tua nya yang mengeriput.

“Kakek.. Aku baik-baik saja. Aku
bisa
menghadapinya”

“Aku tahu kau wanita seperti itu.. bahkan sejak
saat pertama kali siwon
membawamu
dan mengenalkanmu sebagai calon
istrinya. Aku tahu kau bukanlah wanita biasa.. Aku hanya khawatir kau
pada
akhirnya akan mencapai batas
kesabaranmu.. Seperti apa yang
terjadi
pada istriku dan juga pada ibu
siwon..”

Entah bagaimana pembicaraan itu
kemudian berlanjut menjadi kisah
yang
panjang.
Sang kakek bercerita bagaimana
kehidupannya diwaktu dulu.

Istrinya pergi dengan membawa
seorang anak mereka dan
meninggalkannya hanya berdua
dengan
ayah siwon.
Sang kakek yang dengan kelimpahan
harta nya namun miskin akan cinta
akibat wanitanya pergi, kemudian
harus
dihadapkan untuk mengurusi ayah
siwon.
Putranya ia besarkan diatas
kemewahan. Kehidupannya bebas
dan
terjamin dengan banyaknya materi yang ia limpahkan.

Sampai pada akhirnya sang kakek
sadar, ia bukannya mendidik tapi
justru
menjerumuskan anaknya sendiri.

Kekeliruannya sudah tak bisa
diperbaiki. Ayah siwon terlanjur
menjatidirikan dirinya sebagai pria pembangkang
yang
tak mengenal arti tanggung jawab
dan
tak bisa mengkomitmenkan dirinya
terhadap seorang wanita.

“Aku tak pernah menyangka jika
pada
akhirnya aku lah yang menjadi perusak moralnya, juga
penyebab
kematian putraku sendiri.. Tapi
pada
saat itu aku harus memilih..
Putraku yang
telah menjadi seorang bajingan
atau
Siwon, cucuku yang masih punya
masa
depan yang panjang..”

Yoona tak mengerti mengapa
kemudian
sang kakek berkisah seperti itu
padanya. Ia juga tak menyangka
akan
kembali mendengar cerita kelam
itu.

“Semua terjadi karena
kesalahanku..
Siwon menjadi seperti ini juga
karna
aku. jauh dalam hati nya dia pasti membenciku.. karna biar bagaimanapun anak ku yang bajingan itu adalah ayahnya. Dan aku membunuhnya , membuatnya kehilangan orangtua nya. Tapi aku masih bersyukur
karna
dia bertemu wanita sepertimu..”

Yoona tak tahu bagaimana ia harus
menanggapi pembicaraan ini.

“Siwon memang keras kepala.. Tapi
dibalik itu semua, dia hanyalah
seorang pria yang rapuh. Sama seperti
ibunya”

ya…
siwon mungkin mewarisi kerapuhan itu dari ibunya

“ya.. Aku mengerti itu kakek”

“jadi biar bagaimanapun, kumohon
tetaplah bersamanya. Jangan
menyerah padanya..”

Oh..
Inikah maksudnya?
Inikah tujuan sang kakek
mendatanginya?
Untuk menguatkannya…

“aku sangat ingin melakukannya
kakek..”

Sejenak yoona melihat kelegaan
diwajah sang kakek.
Pria yang sudah terlihat renta itu
pastilah
sangat menyayangi siwon.
Sikap nya yang kaku mungkinlah yang
kadang membuat cucu-cucunya
tidak
menyadari kasih sayangnya.

“trimakasih yoona..senang bisa
bercerita banyak denganmu..”

“Aku lebih senang karna kakek mau mencariku.. aku janji akan sering mengunjungi kakek..”

“Ya.. kau harus melakukan itu. Aku sangat kesepian dan akan senang jika kau datang kerumahku..”

“Aku juga akan sering membawa bayiku jika dia sudah lahir nanti..”

“Ya Tuhan.. aku sangat senang mendengarnya. Trimakasih sayang..”

***

Sepeninggal sang kakek dari
rumahnya,
yoona masih terus merenungkan
apa yang
dikatakan sang kakek tadi.
Sejarah keluarga siwon memang
teramat buruk.
Sang kakek mendatanginya dan
memintanya untuk bertahan,
pastilah
karna tak ingin siwon semakin
merasakan kelam dalam hidupnya.

Betapa siwon memang tak
semestinya
terjebak dalam trauma masa
kecilnya.
Dan yoona sangat berharap dapat
menghapus trauma itu dari dalam hidupnya.

Yoona merasakan lelah ditubuhnya,
setelah menyelesaikan menata
pakaian-pakaian mungil milik
bayinya,
ia memutuskan kembali kekamarnya untuk mengistirahatkan
tubuhnya.

Rasanya ia sudah akan terlelap
ketika
sebuah lengan memeluknya dan
diiringi suara yang berbisik
ditelinganya..

“aku merindukanmu sayang..”

Oh..
Siwon??

“bangunlah aku punya kejutan
untukmu…”

Yoona hanya menggeliat, merasa
bisikan-bisikan itu mungkin
hanyalah
buaian mimpi belaka.

“Sayang.. Kau benar-benar tak
akan
bangun. Aku merindukanmu.. dan
aku
ingin menunjukan sesuatu padamu”

Siwon yang sebelumnya telah
membaringkan tubuhnya disamping
yoona, kini semakin merapatkan
tubuh
padanya.
Menyentuh wajah yoona, kemudian
membelainya disana.

“Kau benar-benar tak ingin melihat
kejutan dariku? Baiklah…”

Oh tidak..
Siwon…

Yoona mengerjap setelah menyadari
bisikan yang didengarnya adalah
nyata.
Dan itu siwon..
Suaminya…
Oh…

“siwon..”

Senyum itu menyambutnya, dan
sentuhan lembut diwajahnya
semakin
ia rasakan.

“siwon..”

Seakan tak menemukan kata lain
yoona
terus menyebut namanya.
Berusaha menyadarkan dirinya
bahwa
siwon memang benar-benar berada
dekat dengannya. Tersenyum
padanya,
dan sedang membelai wajahnya.

Oh Tuhan..
Siwonnya telah kembali?
Dan kali ini dia harus benar-benar
kembali padanya.

Yoona telah merasakan beberapa
hari
diacuhkan. Dan itu sungguh tidak
mengenakan. Ia butuh siwon. Ia
butuh
suaminya. Selalu dan untuk
selamanya. Rasanya ia sudah
menggantungkan nyawa nya pada
pria
itu.

Terlalu berlebihan kah?
Tapi memang seperti itulah yang
dirasakannya…

“siwon..”

yoona kemudian melakukan
pergerakan
yang tak diduga sebelumnya oleh
siwon.
Ia memeluknya, memeluk erat
leher
siwon dengan kedua tangannya.
Matanya berair, dan sepersekian
detik
setelahnya airmata sudah
membanjiri
wajahnya.

Ia menangis..
Menangis untuk bahagia yang sedang
membuncah saat ini.

“maafkan aku..aku benar-benar
minta
maaf sayang..maaf..”

Yoona mengeratkan pelukannya.
Benar-benar erat hingga tak perduli
dengan ganjalan diperutnya, dan
juga
siwon yang mungkin kesulitan
untuk
bernapas.

“aku telah banyak melukaimu,
yoona.
Maafkan aku..”

“Aku mencintaimu..Aku percaya
padamu. Harusnya kau bisa berlaku
sama sepertiku..”

“Tapi aku bukan yang terbaik
untukmu..”

“Aku tak menginginkan yang terbaik!
Aku
hanya menginginkanmu. Hanya kau
Siwon..”

Yoona mengepalkan tangannya
untuk
memukul-mukul dada siwon.
Kesal dengan pemikiran bodoh yang
seakan terus bersarang diotaknya.

“Iya yoona..maafkan aku. Aku tak
akan
memikirkan menjadi yang terbaik.
Tapi
aku akan menjadi seperti apa yang
kau
inginkan. Aku janji padamu..”

“Kau pria baik siwon. Yang akan
menjadi ayah yang baik untuk bayi
kita.
Itu yang aku inginkan dan
butuhkan.
Aku percaya padamu..”

Yoona melepaskan pelukannya.
Keduanya duduk diatas tempat
tidur
kemudian saling menautkan
jemarinya.

“Kau menangis.. Ya Tuhan, aku
membuatmu menangis sayang..?”

Yoona mengangguk saat kemudian
siwon menghapus airmata dengan
kedua jarinya.

“Aku terharu dan bahagia, Tadinya aku takut
saat
kau melihatku dan kibum…”

Yoona berhenti, tak ingin
menyinggung
tentang prilaku siwon yang hampir
mencelakakan dirinya.

Tidak saat ini.
Tidak untuk membuat siwon
semakin merasa bersalah.

Dia memang seharusnya merasa
bersalah. Tapi tidak sekarang.
Yoona tak mau membuatnya
tertekan
oleh perasaan bersalah
terhadapnya.

Oh..
Kau benar-benar seorang yang
peduli
padanya yoona.
Batinnya memberi pujian.

“dan victoria, apa kau mendengar
apa
yabg dikatakannya saat itu?”
tanya nya mengalihkan.

“ya..aku mendengarnya..”

“semuanya?”

“semuanya..”

“itu yang kutakutkan..aku takut kau
akan
salah paham padaku. Aku takut
kau
semakin menjauh dariku. Aku
takut kau
lebih percaya pada victoria
daripada
aku. Aku takut…”

“ssttt..”

Siwon menempelkan telunjuknya
pada
bibir yoona. Menghentikan rentetan ketakutan yang diucapkannya.

“tidak sayang, tidak.. Aku
sepenuhnya
percaya padamu. Aku begitu marah
pada victoria saat itu. Aku marah
karna
dia berkata buruk padamu. Aku
menjadi
sangat marah ketika dia
mengatakan
bayi itu bukanlah darah dagingku.
Aku
tidak rela ada yang menyebutnya
seperti itu. Bayi itu bayi kita.. Titik
kecil itu buah penyatuan cinta kita.
Dia
anakku.. Hal itu kemudian
menyadarkanku bahwa
sesungguhnya
aku juga menginginkannya. Begitu
menginginkan bayi itu, sama
seperti
aku menginginkanmu, yoona..”

Airmata semakin deras mengalir
dikedua pipi yoona setelah
mendengar
pengakuan siwon yang ia yakini benar
adanya.
Siwon berkata jujur padanya, dia
memang selalu melakukannya.

“Ya Tuhan.. Aku benar tidak ingin
membuatmu menangis sayang..”

“Kau membuatku bahagia saat
ini..benar-benar bahagia..”

Yoona kembali memeluk siwon,
menumpahkan airmata bahagia
didada
bidangnya.
Siwon kemudian mengusap
rambutnya
juga menciumi puncak kepalanya.
Menghirup dalam-dalam
keharumannya.

Ya Tuhan..
Betapa ia sangat merindukannya.

“tadi Kau bilang punya kejutan
untukku.. Apa?”

Yoona mendongak, begitu
bersemangat
menatap siwon.

“apa kau bangun karna aku
mengatakan mempunyai kejutan
untukmu?”

“jadi tidak ada kejutan?”

Ia berubah cemberut menatap
siwon.

“sebenarnya bukan untukmu tapi
untuk
bayi kita..”

Oh..
Meski masih terasa kaku, namun
yoona
senang karna siwon mau
menyentuh
perutnya tanpa ia perintah.

“tapi karna dia masih dalam
perutmu,
bukankah aku juga harus
membawamu.. Ayo keluar..”

“apa kejutannya?”

“Kau akan segera melihatnya..
Ayo..!”

Merangkulnya, Siwon membawa
yoona
keluar dari kamar mereka.

Baru beberapa langkah berjalan,
Yoona
sudah bisa melihat kejutan apa
yang
dimaksud siwon untuknya.

Oh bukan..
Itu jelas untuk titik kecilnya.

“Astaga… Siwon.. Kau serius
dengan
semua ini?”

Siwon justru tergelak mendengar
pertanyaan dari yoona.

“tentu saja, Aku tak pernah
seserius
saat ini sayang..”

“Kau gila.. Untuk apa semua ini?”

“semua ini untuk bayi kita, yoona..
Kau
suka?”

Yoona harusnya sudah biasa
menerima
sikap berlebihan yang selama ini
ditunjukkan siwon padanya.
Tapi untuk kali ini..

Ya Tuhan…

Untuk apa semua itu?
Bayinya saja belum lahir..
Bagaimana bisa siwon telah
membuat
rumah mereka bak taman bermain.

Rumah nya kini dipenuhi berbagai
jenis
mainan anak-anak yang ia yakin
tak
bisa memastikan untuk menghitung
berapa jumlah kesemuanya.

Jika tidak menyebut suaminya gila,
lalu
apa kata yang pas untuk
menggambarkan
‘kegilaan’ siwon saat ini.

“Apa Kau merencanakan
menjadikan
rumah kita taman bermain?”

Yoona mendecak sambil
menggelengkan kepalanya.

“aku akan melakukannya jika kau
setuju..”

“Siwon..!”

“Baiklah, aku bercanda.. Jadi kau
tak
menyukainya? Tadinya aku ingin
mengajakmu untuk ikut memilih
seperti
apa yang kau suka untuk bayi kita.
Tapi
setelah ku pikir itu bisa
membuatmu
lelah, aku mengurungkannya. Dan
memutuskan untuk melakukannya
sendiri. Semua ini aku sendiri yang
memilihnya.. Kau benar-benar tak
suka
dengan kejutanku?”

Jelas kejutan terbesar yang
dirasakan
yoona bukanlah dari mainan-
mainan
dihadapannya.
Kejutan terbesar baginya adalah
perubahan sikap siwon terhadapnya
dan juga titik kecilnya.

Tapi bukan itu maksudnya.
Bukan ia tak menyukai perhatian
berlebih yang ditunjukkan siwon.
Hanya saja, sekarang bayinya belum
lah membutuhkan semua itu..

“Bukan seperti itu.. Bukan aku tak
menyukainya. Hanya saja semua
ini…”

“kenapa yoona? Apa menurutmu
semua
ini masih kurang? Aku bisa
membelikannya
lagi. Aku bahkan bisa membeli
pabrik
mainan itu jika bayi kita
menginginkannya..”

Astaga…
Jelas yoona percaya suaminya itu
sanggup melakukannya.
Tapi bukan itu intinya. Bukan
maksud
yoona mengecewakan siwon karna
tak
menyukai kejutan darinya.

Ya Tuhan..
Batinnya ikut mendecak keheranan.
Sepertinya siwon memang belum
tahu
maksud yang ingin diutarakannya.

“Siwon dengarkan aku..”

Yoona menatapnya, kedua
tangannya
bahkan terulur untuk meraih wajah
siwon.

“Bukan aku tak menghargai
usahamu.
Bukan aku tak menyukainya..
Bukan,
bukan itu.. Aku berterimakasih
karna
kau mulai memberi perhatian pada
bayi
kita dengan membelikannya
mainan-
mainan itu. Hanya saja untuk saat
ini,
itu bukanlah sesuatu yang dia
butuhkan
siwon.. Bayi kita bahkan belum
lahir,
dia pastinya belum mengerti
dengan
semua yang kau belikan untuknya..”

“jadi semua ini sia-sia saja..?”

nada bicara yang diucapkannya jelas
terdengar kecewa.

“Aku tak ingin mengatakan seperti
itu.
Hanya saja saat ini bukanlah waktu yang tepat. Kurasa dia akan lebih
mengerti bila kau menunjukkan
kasih
sayangmu dengan cara yang lain..”

“maksudmu?”

“Dia masihlah didalam perutku,
Kau
bisa memulai menunjukan
perhatianmu
dengan menyentuhnya,
mengajaknya
bicara, Dia akan merasa
kehadirannya
diakui olehmu..”

Yoona tersenyum sambil mengusap
wajahnya.

“Kau mengerti maksudku?”

“Ya Tuhan.. Kau benar-benar
seorang
ibu sayang.. Kau mengerti apa yg
bayi
kita butuhkan”

Siwon meraih tangan yoona dari
wajahnya, kemudian mengecup
punggung tangannya beberapa kali.
Setelahnya ia mendekap tubuh
yoona
kedalam pelukannya.

“Aku benar-benar bahagia
mempunyai
bayi itu dalam perutmu. Kau
wanita yang
luar biasa yoona.. Dan aku
mencintaimu sayang, sangat
mencintaimu..”

Dan hanya dengan kata-kata manis
yang
diucapkan siwon untuknya, itu
sudahlah cukup untuk menyelimuti
hatinya dengan kebahagiaan yang
menghangatkan.

“begitupun denganku siwon.. Aku
juga
sangat mencintaimu”

***

Setelah Siwon menunjukkan
kejutan yang
ia rasa gagal untuk yoona,
keduanya
kembali masuk kedalam kamar.
Mengistirahatkan tubuh dengan
bersandar pada kepala ranjang.

Jari
siwon bertaut dengan jemari yoona
dan
hanya dengan melakukan itu
senyum
tak pernah lepas menghias
wajahnya.

“jadi perlu berapa lama bagi titik
kecil
untuk bisa melihat dunia ini..”

“emm..mungkin sekitar dua bulan
lagi..”

“Oh.. Itu waktu yang lama untukmu
sayang. Tidakkah dia semakin
berat..?”

“Ya.. Dia semakin bertumbuh dan
menjadi lebih berat. Tapi aku
menikmatinya..”

Siwon mulai menyentuh perut
yoona,
kemudian mengusapnya.

Menyentuh dan mengusap perut
yoona
mungkin akan menjadi hobinya
mulai
sekarang. Untuk merasakan ada
nyawa
didalam nya. Merasakan bayinya
bertumbuh didalamnya.

Oh…

Ya Tuhan…

Siwon tak pernah menyangka jika
rasanya begitu menakjubkan hingga
ia
sendiri tak bisa menggambarkan
seperti apa perasaannya.

“Siwon.. Aku belum
memberitahumu
jika kakek datang tadi..”

“kakek? Untuk apa dia
menemuimu?”

Yoona menyadari perubahan sikap
siwon.
Tubuhnya menegang dengan
tatapannya yang mengeras.

Oh..
Apakah itu topik yg salah??

Seharusnya disaat seperti itu
memang
menghindari topik yang mungkin
bisa
kembali memicu ketegangan
diantara
keduanya.

Tapi tidak ada yang semestinya
menegangkan hanya karna yoona
mengatakan sang kakek datang
menemuinya..

“Siwon.. Kenapa?”

“Kau bilang kakek datang.. Apa
yang
kemudian dia lakukan padamu
yoona?”

Yoona menghembuskan napasnya
pelan. Heran dengan reaksi Siwon
yang
terlihat waspada menanggapinya..

“Dia hanya berbicara denganku..”

“berbicara? Berbicara apa
maksudmu?
Demi Tuhan.. Katakan padaku,
kakek
tidak menyakitimu kan?”

Dengan cepat yoona menggelengkan
kepalanya. Kemudian mengubah
posisinya menjadi berhadapan agar
ia
bisa menatap kedalam matanya
yang
mengeras oleh rasa siaga dalam
dirinya.

“tidak..tidak seperti itu. Kakek
hanya
menanyakan kondisiku..”

“kondisimu? Yang benar saja
yoona..
Aku tahu bagaimana kakek, tak
mungkin dia mendatangimu hanya
untuk berbasa-basi menanyakan
kondisimu. Dia terlalu angkuh
untuk
kemudian melakukan hal semacam
itu..”

Siwon beralih turun dari tempat
tidur,
berdiri tegang didepan jendela kaca
kamarnya.

Frustasi dengan kemungkinan sang
kakek yang berkata buruk terhadap
yoona.

“Siwon.. Aku berkata benar. Kakek
tidak melakukan apapun selain
bicara
denganku.. Dia datang bukan untuk
menyakitiku. Tapi sebaliknya,
kakek
datang karna mengkhawatirkan
kita.
Dia tahu yang terjadi padamu dan
dia
hanya takut bila aku kemudian
menjadi
wanita rapuh, dan menyerah
denganmu.
Jelas kakek menyayangimu siwon,
dia
pastilah tak ingin komitmen
pernikahan
kita menjadi seburuk orangtuamu”

Yoona menyadari selama ini
hubungan
siwon dan sang kakek tidaklah
terlalu
baik. Siwon menilai sang kakek
hanya
menganggapnya sebagai ahli waris,
generasi penerusnya.
Tapi bila yoona menilainya, dibalik
keangkuhan pria yang semakin
menua
itu, tersimpan rasa cinta yang besar
untuk cucu-cucunya. Kakek
hanyalah
seorang yang tak tahu bagaimana
cara
mengungkapkannya, selain dengan
memberikan materi lebih pada
mereka,
jelas itu bertujuan agar cucunya tak
mengalami kesusahan dalam hidup,
jelas karna kakek menyayangi
mereka.

“Kedatangannya justru
menguatkanku
untuk terus bersamamu siwon, percayalah..”

Siwon kemudian menatapnya
dengan
sendu, belum cukup yakin dengan
kebenaran ucapan yoona.

“aku menghargainya sebagai bentuk
usaha untuk memperbaiki sejarah
buruk keluarganya.. Aku yakin
kakek
pastilah ingin silsilah keluarganya
menjadi lebih baik, dan itu dimulai
dari
dirimu siwon..”

Siwon kembali mendekati yoona
yang
kini duduk dipinggiran tempat
tidur
memperhatikannya.

Duduk berlutut, siwon lantas
menggenggam tangannya erat.

“benarkah seperti itu yang
diinginkan
kakek?”

“Ya.. Pasti”

“astaga..apa kau pikir aku bisa
melakukannya?”

“tentu saja siwon, kau bisa.. Kau
pria
baik, Kau selalu perduli dengan
semua
keluargamu. Kau peduli padaku,
kau
peduli pada soojung.. Kau
menyayangi
kami semua. Dan segera kepedulian
dan rasa sayangmu akan bertambah
untuk bayi kita..”

Yoona tersenyum, kemudian
mengarahkan tangan siwon diatas
perutnya.

“Kau akan menjadi seorang ayah
yang
luar biasa untuknya..”

Siwon menatap tangannya yang
berada
diatas perut yoona, kemudian
beralih
menatap kedalam iris matanya.

“tapi kau harus membantuku, kau
haruslah terus denganku.. Agar aku
menjadi seseorang yang baik
seperti
yang kau katakan”

Oh..
Siwon masihlah tak yakin dengan
dirinya sendiri.

“Ya..tentu saja, kita akan
melakukannya bersama-sama. Aku
mencintaimu dan akan terus
denganmu..”

“trimakasih sayang.. Aku juga
mencintaimu..”

Siwon menarik senyum dibibir
yoona,
untuk kemudian mendekatkan
wajahnya. Merasakan hangat napas
yoona dipermukaan kulitnya,
sebelum
kemudian merasakan kelembutan
bibirnya.
Mengecupnya..
Tapi rasanya kemudian tak cukup
dengan mengecup, siwon kembali
menyatukan kelembutan bibir
yoona
dengan bibirnya.
Bergerak dengan pelan, ia
sepertinya
ingin berlama-lama menikmati rasa
yang tercipta dari penyatuan yang
dilakukannya.

“emmhh..”

memukul dada siwon, yoona lantas
membuat ciuman itu dipaksa untuk
disudahi.

“berhenti membuatku hampir
terbunuh
dengan ciumanmu..”

Yoona memelototinya, yang justru
disambut dengan seringaian dari
wajah
siwon.

“itu sangat manis.. Aku tak bisa
menghentikan diriku bila sudah
bersentuhan denganmu”

“Ck! Aku tahu itu.. Dan aku harus
menyingkir darimu sebelum kau
berbuat nekat..”

Siwon tergelak saat kemudian
yoona
benar-benar berusaha beralih
darinya.

“tunggu sayang..”

“apalagi?”

“aku ingin…”

“siwon!”

“Aku ingin berbicara dengan bayi
kita..
Jadi tetaplah duduk sebentar”

Siwon kemudian bergerak untuk
mencium perutnya dan
membisikkan
sesuatu setelahnya..

“aegy ah.. Aku, ah.. Appa tidak
sabar
menunggumu dua bulan lagi. Jadi
persiapkan dirimu dengan baik
ne..”

Yoona tersenyum geli dengan apa
yang
siwon katakan pada bayinya. Tapi
setelahnya ia terkejut karna pandangan siwon
yang
terkesiap dan pergerakan tubuhnya yang tiba-tiba mundur
menjauhinya.

“kenapa?”

“Yoona.. Apa yang dia lakukan?”

“nde?”

“bayi itu bergerak dalam
perutmu??”

Oh…
Astaga…

Sedikit kesal namun lebih terlihat
geli
dimatanya. Yoona merasa lucu
dengan
tingkah siwon saat ini.
Sebegitu tidak tahukah dia tentang
bayi
mereka?

Ya ampun…

“Siwon.. Kemarilah..”

Yoona mengulurkan salah satu
tangannya. Menggerakkannya
memberi
isarat agar siwon kembali
mendekat
padanya.

Namun siwon bergeming, dan tetap
berada di tempatnya. Memandang
dari
balik bulu matanya kearah perut
yoona
yang tadi dirasakannya ada
pergerakan
dari dalamnya.

“Ck! Oh.. Ayolah, tidak apa-apa..
Kau
akan tahu apa yang selama ini bayi
kita
lakukan didalam sana”

“Yoona.. Dia bergerak didalam
perutmu. Tidakkah kau merasa
sakit
ketika dia melakukannya?”

Oh..
Astaga..
Pemikiran yang bodoh…

“tidak..tentu saja tidak. Ayo
kemarilah..”

Dengan masih menggunakan isarat
tangannya, yoona mengundang
siwon
untuk kembali mendekat padanya.
Dan kemudian, dengan langkah
perlahan bahkan nampak keragu-
raguan dari wajahnya, siwon
menghampirinya. Memposisikan
tubuhnya duduk berlutut
dihadapan
yoona, seperti yang sebelumnya
telah
ia lakukan.

“rasakanlah..”

Yoona meraih tangan siwon,
kemudian
membimbing keatas perutnya,
merasakan pergerakan dari bayi
dalam
perutnya.

“otthe..?”

Siwon tertegun, secara bergantian
dia
menatap kedalam mata yoona
untuk
kemudian beralih kearah tangan
yoona
yang mengarahkan tangan nya agar
mengikuti kemana arah bayinya
bergerak.

“benar itu tidak sakit?”

“tidak..”

“tidak mengganggumu?”

“tidak.. Hanya sedikit
mengejutkanku
jika tiba-tiba dia melakukannya..”

“menakjubkan..”

Kata itu yang kemudian membuat
yoona
tersenyum saat mendengarnya.

“itu juga yang pertama kali
kurasakan
ketika dia seolah sedang
menendang-
nendang perutku dengan kaki
mungilnya.. Aku merasakan takjub,
bagaimana bisa ada kehidupan
didalam
perutku..”

“Oh.. Dia bergerak lagi..”

Yoona menarik tangannya dan
membiarkan siwon sendiri yang
melakukannya. Dia menjadi
nampak
antusias mengikuti kemana
pergerakan
bayinya saat itu.

“aegy ah.. Apa yang sedang kau
lakukan didalam sana?”

Siwon lantas menempelkan
telinganya
keatas perut yoona, dengan harapan
ia
bisa mendengar jawaban dari
bayinya.

Tentu saja itu tidak bisa…

Yoona menggelengkan kepalanya
heran
bercampur geli dan sekaligus
merasakan apa yang sedang siwon
lakukan begitu sangat manis
untuknya.

Ia kemudian menyentuh kepala
siwon
dan membelai rambutnya, membuat
siwon semakin betah menempel
diatas
perutnya.

“sayang..menurutmu apa yang coba dia
katakan dengan melakukan
pergerakan
di dalam sana..”

“molla.. Aku juga tidak tahu.
Mungkin
dia sedang merasa bosan disana..”

Siwon kemudian mendongak dan
menatap yoona.

“atau.. dia sedang berolahraga
disana?”

Yoona terkikik mendengar
perkiraan
siwon. Namun sang suami
nampaknya
tak terpengaruh dengan kegelian
yang
ditunjukkan nya, siwon justru
makin
antusias dengan tebakannya.

“bisa juga dia sedang marah
sayang..
Ah, aegy ah..apa kau marah karna
umma mu menolak kejutan dari
appa?
Kau pasti juga menginginkan
mainan
itu kan? Tenanglah appa akan
menyimpan semuanya untukmu..”

Yoona memutar mata
mendengarnya,
sementara Siwon mengusap-usap
perut yoona berusaha
menghentikan
pergerakan bayinya dan
menenangkannya yang menurut
pemikiran nya, dia sedang marah
saat
ini.

“Kau pasti juga sudah ingin cepat
keluar dari dalam sana, appa juga
ingin
segera melihatmu. Oh..dua bulan
itu
akan terasa sangat lama..”

“itu tidak akan lama siwon..”

“Oh, Yoona.. Bisakah kita meminta
Dr.Kim untuk mempercepat proses
kelahirannya..? Aku benar-benar
tak
bisa menunggu..”

“MWO..!”

Siwon kemudian meringis
menyadari
ucapannya terlalu bodoh untuk
diucapkan apalagi untuk dilakukan.

“ne.. Aku tahu itu tidak mungkin..”

Siwon nampak kecewa, namun
kemudian ia kembali menyuarakan
pemikirannya terhadap bayi dalam
perut yoona.

“sayang kau sudah makan?”

Yoona menggeleng.

“Ya Tuhan.. Pantas saja, bayi kita
pasti
sedang merasa lapar. Dia pasti
sudah
berteriak jengkel didalam sana”
Siwon kemudian berdiri dari
duduknya.

“astaga.. Aku juga hampir lupa..”

“apa?”

“kejutan untukmu..”

“kejutan? Untukku?”

“hmm.. Tadi itu kejutan untuk bayi
kita,
dan nampaknya gagal.. Tapi aku
juga
sudah menyiapkan kejutan lain
untukmu. Dan yang ini kuharap
tidak
akan gagal..”

“apa?”

“tunggulah disini.. Aku akan
ambilkan
sesuatu terlebih dulu..”

Siwon lantas melangkah cepat
keluar
dari kamarnya, membuat yoona
mengerutkan dahi, bingung untuk
apa
yang akan siwon lakukan
selanjutnya.

Dan tak berapa lama siwon kembali
dengan sebuah paper bag tak
terlalu
besar ditangannya.

“pakai ini..”

“apa ini?”

“lihatlah..itu gaun untukmu..”

“gaun?”

“aku membelinya..karna aku sudah
punya rencana dengan kejutan
untukmu. Jadi pakailah..”

Yoona mengambil gaun dari dalam
paper bag yang diserahkan siwon
padanya.

“Ok..aku akan memakainya..”

“aku akan membantumu..”

“apa?”

“Oh, kau tak mungkin malu pada
suamimu sendiri kan? Aku bahkan
sudah hapal tiap inci tubuhmu..”

“Siwon..”

“Sini, aku akan mulai dengan
membuka
kancing bajumu..”

Siwon benar-benar tak bercanda
dengan apa yang diucapkannya.
Dengan perlahan ia membantu
yoona
melepas pakaiannya untuk
kemudian
menggantinya dengan sebuah gaun
yang ia belikan.

Setelahnya barulah dia yang
berganti
untuk bersiap dengan mandi
terlebih
dulu, dan membiarkan yoona
tersipu
dengan rona merah diwajahnya
menatap pantulan dirinya sendiri
dari
balik cermin.

Ia berkali tersenyum memandangi
tubuhnya. Balutan gaun pemberian
siwon yang ia kenakan tentulah tak
bisa menutupi perutnya yang
membuncit juga berat badannya
yang
terus bertambah.

Namun ia tak merasa risau akan
semua itu, justru perasaan
banggalah
yang kemudian muncul.
Perubahan bentuk tubuhnya terjadi
karna ia sedang mengandung.
Menganduh benih dari seorang
yang
teramat dicintainya.
Buah penyatuan cintanya dan
siwon,
suaminya.
Pria yang digilai banyak wanita.
Dan dirinyalah satu-satu nya wanita
yang bisa merasakan benih itu
tumbuh
dalam rahimnya.

Siapa yang tak bangga jika seperti
itu..

Terlebih bahagia dengan semua
perlakuan manis yang baru
didapatkannya dari sang suami.

“apa yang kau lakukan?”

Siwon baru saja melangkah keluar
dari
kamar mandi, dan memutuskan
untuk
bersandar pada salah satu dinding
dan
memperhatikan apa yang saat ini
tengah yoona lakukan.

“euh.. Kau sudah selesai?”

Sesaat yoona menoleh kearah
siwon,
namun kemudian ia kembali
menatap
dirinya dari balik cermin.
Memfokuskan matanya pada bagian
wajahnya.
Dan kembali melakukan apa yang
tadi
sedang ia lakukan.

Yoona menepuk-nepuk pipinya yang
membulat dengan menggunakan
kedua
tangannya, berharap apa yang
dilakukannya bisa sedikit
membantu
mengurangi kebulatan(?) pipinya
dan
menemukan lagi pipi tirusnya yang
dulu dengan tulang rahangnya yang
tegas, yang kini tidak lagi ia
temukan
pada wajahnya sendiri.

Siwon menyunggingkan senyum
melihatnya, kemudian melangkah
mendekatinya.

“ada apa dengan pipimu, eoh?”

Siwon mencubit pelan salah satu
pipi
yoona yang kemudian membuatnya
mempoutkan bibir dan berbalik
untuk
berhadapan dengan siwon.

“pipiku membulat..tak bisakah kau
lihat itu?”

“aku lihat.. dan itu membuatmu
terlihat
lucu dan menggemaskan”

“Ishh.. Jangan membual..”

“itu benar sayang..dan itu
membuatku
semakin tertarik untuk mencium
dan
merasakan pipi bulatmu”

Siwon langsung memberinya
kecupan
dipipi, yang sukses membuat
semburat
merah diwajah yoona yang hampir
pudar kembali terlihat.

“gaunnya cantik sekali..dan ini
sangat
pas ditubuhku..gomawo..”

“itu karna kau yang memakainya
sayang..dan tentu saja itu pas
untukmu, bukankah sudah
kukatakan
aku sangat mengenal tubuhmu..”

Oh..
Akan berapa kali lagi ia dibuat
tersipu
oleh sang suami..

“kemana kita akan pergi untuk
makan?”

“hmm.. Kau akan tahu sebentar
lagi.
Tunggulah..”

Siwon beralih dari hadapan yoona
menuju kearah lemari pakaiannya,
memilih dan kemudian menemukan
pakaian yang pas untuk
dikenakannya.

“biarkan aku membantumu..”

ucap yoona yang kemudian
mendekat
kearah siwon.

“Kau akan membantuku
berpakaian?”
seringainya kemudian.

“hmm.. Kau sudah membantuku
tadi.
Jadi sekarang giliranku..”

“well..itu sangat manis sayang..”

***

Keluar dari kamar mereka, yoona
sudah tak melihat lagi tumpukan
mainan disana.
Pastilah siwon telah
memerintahkan
para pelayan untuk
membereskannya.

“kemana semua mainan tadi?”

“disimpan.. Aku sangat yakin bayi
kita
juga meginginkannya. Jadi aku akan
menunggu sampai nanti dia
mengatakan menginginkan mainan
itu
dan aku bisa mengajaknya bermain
dengan semua itu..”

Yoona tersenyum mengeratkan
rangkulannya dilengan siwon.
Kata-kata siwon tadi sungguh
menghangatkan perasaannya dan
membuatnya semakin yakin, pria
itu
akan menjadi ayah yang baik untuk
bayi nya.

“Oh, kita tak akan keluar?”

Yoona memperhatikan siwon
dengan
raut wajah bingung saat siwon tak
mengajaknya menuju pintu depan,
tapi
justru membawanya kearah
halaman
belakang rumahnya.

“tadinya aku ingin mengajakmu
keluar,
tapi setelah kupikir aku tak akan
bisa
menahan amarahku saat ada pria
lain
yang melirikmu.. Jadi aku
mengurungkannya..”

“siwon.. Aku serius..”

“aku juga serius sayang.. Tidak,
kita
tidak akan keluar. Lebih efisien
untuk
kita berada dirumah dan tak
membuatmu kelelahan. Ayo.. Kau
akan
temukan kejutan untukmu..”

Oh…
Untuk apa ia bersusah-susah
memakai
gaun tadi..

Siwon merangkulnya,
membimbingnya
kearah halaman belakang
rumahnya,
yang ternyata telah didekorasi
sedemikian indah dengan kuntum-
kuntum bunga juga nyala lampu
yang
begitu terang ditaman itu.

Ya Tuhan..
Kapan semua itu disiapkan?

“siwon..ini…”

“ini untukmu sayang..”

Yoona menutup mulutnya takjub
dan
semakin terkejut saat kemudian
keluarga mereka juga hadir disana.

“Oh Tuhan.. Kalian..”

“Oenni..!!”

Soojung dan Sulli sama-sama
berseru
menghampirinya dan bergantian
memberinya pelukan.
Diikuti sooyoung dan kyuhyun, dan
juga minho dibelakangnya.

“Siwon.. Ini semua untuk??”

“Untuk mengumumkan nama baru
‘titik
kecil’ sayang..Aku sudah
menemukannya..”

“nama baru? Siapa..?”

Sebelum menjawab pertanyaan
yoona,
siwon terlebih dulu mengajaknya
duduk, bersama juga dengan
saudara
mereka yang lainnya.

Siwon juga yang kemudian
menyuruh
seorang pelayan membukakan
sebotol
wine yang kemudian ia sendiri
yang
menuangkannya untuk
kesemuanya.

“baiklah.. Aku akan mengumumkan
nama baru untuk ‘titik kecil’ “

Siwon lantas memberi perhatian
lebih
pada perut yoona dengan
mengusap-
usap nya.

“dan setelah itu kita akan
meminum
wine yang sudah aku tuangkan
bersama-sama..”

“Siwon.. Tapi aku tak bisa minum
wine?”

Yoona menginterupsi ucapan siwon.

“kau tak bisa? Kenapa?”

“Dr.Kim melarangku.. Itu bukan
hal
yang baik untuk dilakukan wanita
hamil..”

Siwon mengangguk paham.

“ya.. itu pasti bisa membuat bayi
kita
mabuk didalam sana..”

Siwon kembali mengelus perutnya,
membuat yoona hampir terkikik
geli
mendengar ucapannya.

“dan dia tak boleh menjadi pria
pemabuk sepertiku..”

Oh..
Yoona menyadari perubahan mood
siwon akan segera terjadi dan
buru-
buru ia menghentikannya.

“tidak.. Kau bukan pria pemabuk
siwon,
Kau hanya sesekali melakukan itu
dan
aku masih bisa memakluminya”

Yoona menyentuh pipi siwon,
mengusapnya disana. Tatapannya
menyiratkan cinta dan
kepercayaannya
pada sang suami.

“Aigoo.. Jadi kami dikumpulkan
hanya
untuk menyaksikan adegan
romantis
kalian”

Celetuk Kyuhyun sebagai tanda
protesnya.

“Iya oppa.. Kau bilang punya nama
baru
untuk titik kecil. Jadi siapa? Aku
ingin
mengetahuinya”

sambung sooyoung melengkapi
ucapan
sang kekasih.

“iya.. Siwon, aku juga ingin
mendengarnya. Siapa nama yang
sudah
kau siapkan untuk bayi kita?”

“hmm.. Baiklah sayang, aku akan
mengumumkan nama bayi kita..”

“tunggu dulu oppa..”

cegah soojung dan sulli secara
bersamaan, membuat yang lain
kemudian mengarahkan pandang
pada
keduanya.

“apa?”

“kenapa oppa tak meminta
pendapat
kami..?”

“iya oppa..harusnya bertanya dulu
pada kami..”

soojung dan sulli kompak
mengajukan
protesnya.

“bertanya tentang apa? Dan
pendapat
untuk apa dari kalian yang perlu
aku
dengar?”

“aishh..tentu saja pendapat untuk
nama calon keponakan kami. Aku
juga
sudah menyiapkan nama
untuknya..”

Siwon dan Yoona nampak saling
berpandangan dan mengerutkan
dahi
mendengarnya.
Sementara Sooyoung dan Kyuhyun
justru telah memulai menikmati
apa
yang tersaji diatas meja dihadapan
mereka. Nampak tak terlalu
terpengaruh dengan protes soojung
dan
sulli kepada siwon.

Tapi berbeda halnya dengan minho,
ia
nampak tertarik dan kemudian
menyimak apa yang dikatakan dua
gadis muda itu.

“Soojung ah.. Kau menyiapkan
nama
untuk bayi kami? Siapa?”

“ne oenni.. Aku ingin memberinya
nama Jin Goo..”

“Yak soojung.. Kenapa Jin goo? Kau
benar tergila-gila pada aktor itu
kan?”

“apa tidak boleh? Dia kan tampan..
Titik kecil pasti juga akan menjadi
setampan dia kalau kita
memberikan
nama yang sama”

“Anio oenni, oppa.. Soojung terlalu
banyak menghabiskan harinya
dengan
menonton drama sendirian, hingga
pikirannya telah dirasuki oleh
aktor-
aktor drama yang ditontonnya..
Sebaiknya kalian memakai nama
yang
ku usulkan saja. Hmm.. Sehun,
kurasa
akan pas untuk nama baru titik
kecil”

“MWO.. Sehun? Yak.. Sulli kau
ingin
memberinya nama sehun?”

“iya..kenapa memangnya?”

“aigoo.. Itu pria yang kau sukai
dikampus kan?”

Sulli hampir saja menginjak kaki
soojung karna ucapannya.

“jadi sulli menyukai sehun..padahal
temanku, Taemin ingin
mendekatimu
Sulli ah..”

Ucap Minho menyerukan
perdebatan
diantara dua gadis itu.

“Yak.. Minho oppa, aku tak tertarik
dengan temanmu itu..”

“itu karna kau sudah terjerat
pesona
sehun kan?”
lanjut soojung kemudian.

“Kau juga sudah terbius dengan
bocah
bernama Jin Goo itu kan?”

“yak.. Dia bukan lagi bocah. Dia
akan
cepat bertumbuh menjadi pria
dewasa
dan gagah..”

Yoona menggelengkan kepala
melihatnya, sementara siwon
tampak
mulai gerah dengan dua gadis itu
yang
justru semakin banyak bicara dan
menyita banyak waktunya untuk
mengumumkan nama bayinya.

“Hentikan perbincangan konyol
kalian.
Dan dengarkan aku.. Siapa pun pria
yang kalian suka. Siapapun pria
yang
tertarik pada kalian. Dia tetaplah
harus
memenuhi seleksi dan syarat
dariku..”

Jelas sikap protektif siwon mulai
keluar untuk dua gadis itu.

“MWO.. Oppa mana bisa seperti
itu?”

“tak ada bantahan.. dan mari kita
kembali ke topik awal kenapa
kalian
dikumpulkan disini..”

dengusan kesal yang kemudian
hanya
bisa dilakukan sulli dan soojung.
Sementara siwon tersenyum dan
meraih tangan yoona dari atas
meja,
kemudian menautkan jari-jari
keduanya.

“Kuharap Kau menyukai nama yang
aku
pilih sayang..”

diciumnya punggung tangan yoona
kemudian.

“Aku pasti akan menyukai nama
yang
kau pilih siwon.. Katakanlah, aku
sudah tidak sabar ingin
mendengarnya..”

“well.. Aku sudah memilih nama
Yoon
Jo sebagai nama baru untuk titik
kecil.
Choi Yoon Jo.. Apa kau
menyukainya?”

“Choi Yoon Jo..?”

Yoona kembali mengulang sebuah
nama yang tadi diucapkan siwon.

Choi Yoon Jo..

Terdengar manis untuk nama
seorang
bayi laki-laki mereka.

Tersenyum ia menyambut tatapan
mata
siwon yang meminta tanggapan atas
usulan namanya.

“aku menyukai nya siwon..”

“benarkah?”

“hmm.. Kita akan memanggilnya
Yoon
Jo mulai sekarang”

“Oenni ya..tak bisakah kau
mempertimbangkan usulan nama
kami
terlebih dulu? Kenapa langsung
menyetujui nama pemberian Siwon
oppa..”

“Soojung benar oenni..”
Sulli mengangguk menyetujui.

“Hei.. memangnya kalian pikir
siapa
yang lebih berhak memberinya
nama,
kalau bukan aku sebagai ayahnya..”

“tapi titik kecil calon keponakan
pertama kami oppa..setidaknya
kami
juga punya hak yang sama seperti
oppa..”

“Iya.. Sulli, aku setuju denganmu..”

kedua gadis itu nampaknya sedang
bahu-membahu menyuarakan
protes,
hanya demi sebuah nama yang
telah
ada dibenak mereka.

“kalian baru punya hak, jika kalian
yang mengandung atau yang
menanam
benih itu dirahim yoona seperti
yang
kulakukan..”

Yoona menyikut lengan siwon atas
kalimat yang diucapkannya, namun
nampaknya Siwon tak terpengaruh
dan
justru merangkul yoona, dan sekali
lagi
ia telah mementahkan protes kedua
gadis itu yang kembali mendengus
atas
sikap kuasa yang ditunjukkan
siwon
pada keduanya.

“memangnya kalian tak suka
dengan
nama Yoon Jo yang siwon berikan?”
tanya yoona kemudian.

“tidak juga sih.. Tapi kami rasa Jin
Goo akan lebih baik untuknya”

“yak.. Soojung, Sehun akan
terdengar
lebih cocok untuknya..”

“Jin Goo saja oenni..”

“Sehun lebih bagus oenni..”

“Jin goo..”

“aniy.. Sehun..”

Astaga…
Yoona mengangkat bahu, menyerah
dan
mengisaratkan pada siwon agar dia
mengatasinya.

“Hentikanlah.. Kami sudah
memutuskan. Mau tak mau, suka
tidak
suka.. Kalian akan tetap
menerimanya..”

“Aku setuju dengan Hyung dan
noona..
Yoon Jo, nama yang bagus untuk
titik
kecil. Lebih bagus dari dua nama
yang
kalian sebutkan tadi..”

“Ishh.. Minho oppa..!”

Soojung dan sulli langsung
memberikan tatapan tajam pada
minho,
yang kemudian hanya dibalas
dengan
cengiran oleh nya.

“Iya, kalian berdua ini ada-ada
saja..Kami juga setuju siwon,
dengan
nama bayi kalian. Cukkaeyo..”

Kyuhyun menyuarakan
persetujuannya
dan juga sooyoung yang kemudian
ditanggapi senyuman oleh siwon
maupun yoona.

“jadi sudah tidak ada masalah
kan?”

Pertanyaan itu tertuju pada sulli
dan
soojung, yang nampaknya belum
merelakan nama yang mereka
usulkan
tak terpakai sebagai nama baru
calon
keponakan mereka.

“well.. Kami rasa begitu..”

Soojung yang pertama menjawab,
sambil menghela napas ia melirik
kearah sulli disebelahnya. Gadis itu
juga nampaknya tak bisa
melakukan
apa-apa lagi. Semua menyetujui,
jadi
percuma saja ia tetap kekeh pada
keinginannya.

“baiklah.. Yoon Jo terdengar tidak
terlalu buruk, meski tetap tak
sebagus
sehun.. Cukkaeyo oppa oenni.. Aku
tak
sabar menyambut kelahiran Yoon
Jo..”

“trimakasih..”

Semua mengangkat gelas masing-
masing yang berisi wine, kecuali
yoona
yang menggantinya dengan air
biasa.
Menandakan persetujuan dari
semuanya dan rasa bahagia
menyambut kehadiran Yoon Jo
ditengah
keluarga mereka.

“Siwon, trimakasih.. Aku sangat
bahagia malam ini..”

“sama-sama sayang, aku juga
bahagia.. Aku punya wanita
mengagumkan bernama Yoon Ah,
yang
menjadi istriku dan Yoon Jo
anakku..
Aku menantikan kehadirannya
disini.
Dia akan jadi malaikat kecil
dirumah
kita sayang..”

Siwon meraih tangan yoona,
meremaskan jari-jarinya disana.

“Siwon.. ‘Yoon Jo’ aku baru sadar
itu
terdengar menyerupai namaku..”

“Ya.. Aku memang sengaja
memilihkan
nama itu.. Yoon Jo dan Yoon ah,
kalian
akan menjadi kebahagiaan ku
untuk
selamanya”

Oh..
Betapa siwon telah mendekapnya
kedalam selimut kebahagian yang
menghangatkan.

“Oh siwon.. Aku mencintaimu,
trimakasih untuk semuanya..”

Reaksi yang kemudian ditunjukkan
yoona adalah memberikan ciuman
dibibir siwon, dan memeluknya
erat.

Sudah tak merasakan lagi perasaan
malu pada saudara mereka yang
menyaksikan dan langsung bersorak
karenanya.
Kebahagiaan nya membuncah…

Yang terjadi selanjutnya adalah
pesta
kecil diantara mereka semua,
dengan
menikmati hidangan yang telah
tersaji
diatas meja. Siwon tak luput
memberi
kan perhatiaannya terhadap yoona
dan
bayinya, ia berkali menyuapkan
makanan kemulut yoona,
memastikannya merasa kenyang
dan
tak membuat bayi mereka
kelaparan
hingga terus menendang-nendang
perut
yoona.

“Oh, oenni ya.. Sihir apa yang kau
lakukan pada siwon oppa. Kenapa
ia
berubah dalam sekejap mata..”

Yoona terkikik mendengar bisikan
soojung ditengah-tengah obrolan
mereka.

“aku senang karna tak perlu
melakukan
sihir padanya..Dia menyadari
kekeliruannya sendiri, kurasa itu
menjadi lebih baik untuknya..”

Soojung melihat binar kebahagiaan
itu
dimata yoona, ia tersenyum sesaat
sampai akhirnya senyum itu pudar
dan
berganti dengan kecemasan
diwajahnya, saat melihat minho
berdiri
ditengah-tengah mereka dan
berkata..

“Aku juga ingin mengumumkan
sesuatu..”

Oh…
Tidak..

Jangan…

*

*

*

*

*

*

*

*

*

TBC~

122 thoughts on “♥ I Need ROMANCE ♥ Chap 8

  1. Terharuuuu
    “ya.. itu pasti bisa membuat bayi
    kita
    mabuk didalam sana..” itu bener-bener bikin ngakak. LOL
    Dan sepertinya, aku sudah tau apa yang akan dikatakan MinHo.. Muehehehe

  2. akhirnya siwon brubah juga… senengnya mreka smua bahagia atas perubahan sikap siwon
    lucu ktika siwon berkomuniksi dgn calon aegi nya

  3. Akhirnya siwon menerima kehadiran anaknya dengan suka cita dan siwon lucu banget, bener2 pemula untuk seorang ayah 😄
    Senang karna perhatian siwon bukan cuma sama yoona aja tapi sama Yoon Jo 😊
    Ternyata kakek Choi Sebenernya orang baik dan peduli dengan cucun2nya, aku pikir sang kakek sama sifatnya dengan ayah mereka..
    Minho mau ngumumin apa? Apa mungkin soal soojung..

  4. Uuuuuuu akhirnya.. 😂
    Siwon mau juga menerima calon bayinya..
    Tapi sekarang malah kaya’nya siwon jauh lebih antusias dari yoona untuk menyambut anak nya ampe mau minta dokternya buat segera ngeluarin bayinya..😊😂
    Siwon jadi lucu dan polos ya..
    Dia ampe sekaget itu waktu ngerasain pergerakan bayi dikandungan yoona dia juga ampe beliin mainan sebanyak itu untuk anaknya yang bahkan belum lahir..😃
    Dan yang lebih lucu lagi waktu yoona bilang dia ga boleh minum wine masa siwon berfikir kalo itu bisa membuat bayinya mabuk..😄😄

    O’ow apaan tuh yang mau minho umumin ko soojung ampe ikutan tegang..
    Jangan-jangan ada hubungan antara mereka nih..

  5. Wah wah siwon akhirnyaaa berubah, walau belum semuanyaa berubah sih, , cuman lumayan . Sekarang siwon suka menyurakan sakih sayang nyaaa sama bayi nyaaa, dengan dia ngasih kejutan buat bayinyaa walaupun terlalu berlebihan, nyampe2 yoona bilang,apa rumahnyaa mau dijadiin taman bermain ,akibat siwon terlalu banyak membelikan mainan buat bayinyaa hehe
    Dan siwon lebih antusias banget menymbut kedtangan calon bayinyaa, sekarang dia mau nyentuh,dan ngajak ngobrol bayinyaa🙂
    Semoga kehidupan mereka lebih indah lebih bhagia, dari kehidupan keluarga siwon dulu. Dan siwon bisa berubah total dan ngga ngiget lagi kata2 ayahnyaaa dulu.

  6. Yeah siwon oppa bisa terim titik kecil yang ternya laki-laki, siwon oppa romantis banget dan sebegitunya cinta siwon oppa buat yoona, sampe anak mereka namanya dicari menyerempet nama yoona, dan kira minho sama soojung kenapa ya

  7. yeeee akhir’a wonppa nrima jga khdran clon mlaikat kcil nyaa, smoga mood nya ga rubah2 lgi, trus ga trbyang2 msa lalu nya yg kelam
    ehh minho mau ngmumin apa, pnsran
    next

  8. uwahhhh akhirnya wonppa bisa nerima bayi laki2 yg dikandung sma yoong. wonppa udah bisa mencurahkan kasih sayangny untuk bayinya bahkan dia udah gk sabr nanti kelahiran anknya. semoga kehidupan keluarga mereka semakin bahagia.. yeeeeyy

  9. ooohh my prince alkhirnya kau bisa menerima anakmu jugaa.
    aahh so swweeett nyaaa
    omoo minho akan mngatakan apa??
    jangan2..soojong dan minhoo??

  10. Yeshhhh yoonwon tahap tahap keluatga bahagia ckck yey ayo yoon jo keluar cepet2 yakk biar rame ramein rumahnya yoonwon hihii.. Btw minho oppa mau ngasih tau apa ituu😨

  11. Akhirnya daddy mau nerima bayi itu dengan tulus bahkan sangat antusias dengan kelahirannya…
    namamya juga sangat manis yoon jo🙂
    omo! apa jangan2 minho oppa punya hubungan sama soojung eonn ?

  12. Ah akhirnyaa siwon sadar dan nerima titik kecilnyaa
    Terharu deh sama perubahaannya wonpa
    Manisss bangettt.. dan romantiss
    Penasaran sama kelahiran yoon jo
    Akan serame dan sebahagia apa nanti?? Sweet bgtt deh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s