Fanfiction

♥ I Need ROMANCE ♥ Chap 7

# Happy Reading

*

*

*

*

*

*

*

Yoona segera menyingkirkan sepasang
tangan itu yang menutupi matanya.
Berbalik ia melihat kibum tersenyum
manis padanya.

Oh..
Mengapa dia menunjukkan senyum
seperti itu didepannya.
Sudah pasti banyak wanita akan
terpikat padanya.
Mungkin juga akan terjadi dengan nya
andai Siwon tak lebih dulu
memikatnya.

“Kibum ssi..”

“Hai.. Senang bisa bertemu denganmu
yoona”

“ne..”

Yoona masih bersikap kaku.
Atau malah waspada mungkin?
Karna bagaimanapun kibum pernah
tanpa ijin menciumnya. Juga pernah
memaksa memeluknya.
Dan kemungkinan akan adanya seseorang suruhan siwon yang sedang mengawasinya,
Sedikit banyak telah membuat kewaspadaan
itu didirinya.
Ya..
Ia berani bertaruh siwon tak mungkin takut dengan ancaman yang ia katakan agar tak seorangpun menguntitnya.
Menatap kesekeliling, yoona lantas mundur dari hadapan kibum. Tak mau jika benar ada seseorang yang mengawasinya nantinya melaporkan hal itu pada siwon dan memunculkan kesalah pahaman diantara keduanya.

“Apa yang kau lakukan disini yoona..?”

“Aku.. Oh, aku sedang membeli
keperluan untuk bayiku”

Yoona mengusap perutnya, membuat
tatapan kibum langsung terarah
kesana.

“Owh.. Kau hamil? Kau benar-benar
menikahi pria kasar itu?”

“Ya.. Aku melakukannya. Aku
mencintainya”

“hmm.. Sepertinya tak ada lagi yang bisa
kulakukan”

“maksudmu?”

“Kau pastinya wanita pintar yang mengerti maksudku, yoona..”

Oh…
apa yang sedang dia coba sampaikan..?

“Dan pastinya aku tak bisa membawamu kembali menari
denganku. Aku benar-benar ingin
melakukan nya lagi.. Kau partner yang
mengagumkan”

Yoona sedikit tersipu mendengar
pujian dari kibum.

“Ya.. Kau tak bisa membawa wanita
hamil untuk menari denganmu”

Yoona tersenyum menanggapi. sepertinya tak ada
yang perlu diwaspadai dari sikap kibum
saat ini.

“Lalu apa yang sedang kau lakukan
disini?”

“Tak ada yang khusus. Aku hanya ada
janji dengan seseorang.. Apa kau
sendirian?”

“ya..”

“dimana suamimu?”

“emm.. Dia sedang dikantor”

Oh..
Aku bahkan tak yakin siwon akan
berkantor hari ini. Dia begitu
berantakan tadi.
Batinnya mengintip dalam keraguan.

“kurasa aku bisa membantumu..”

tanpa seijin yoona, Kibum meraih
beberapa paper bag ditangan yoona.
Dan membawanya dikedua tangannya.

“suami mu itu kejam sekali,
membiarkanmu kesusahan membawa
belanjaan seperti ini..”

“Kibum ssi..tidak perlu.. Aku bisa melakukannya
sendiri”

“Aku pernah membaca jika wanita
hamil tak boleh terlalu lelah.. Jadi
biarkan aku membantumu”

“kibum ssi..”

“kajja.. Apalagi yang kau butuhkan untuk
bayimu? Kurasa Aku punya selera
cukup bagus dalam hal berbelanja”

Sepertinya kibum memang tak berniat
buruk padanya. Pria itu bersikap ramah padanya, dan
Yoona merasakan hal itu ketika kibum
membawanya untuk melihat-lihat
kereta bayi, juga box bayi dengan
berbagai macam nya.
Dan yoona benar-benar menyukainya…

***

Siwon tak bisa melepaskan kepalan
tangannya.
Bagaimana tidak, melihat yoona
tersenyum bahkan sesekali tertawa
disamping pria yang sejak dulu siwon
rasa memang telah menginginkan
istrinya.

Matanya menyala dalam kemarahan,
Yoona jelas terlihat nyaman bersama
pria itu.

Sialan!!

Namun kali ini entah mengapa ego nya menahan diri
untuk menghajar pria itu.
Ada waktunya.
Akan ada waktunya dimana ia bisa
melayangkan tinjunya atau pun
mematahkan tangan pria itu yang berani
menyentuh istrinya, miliknya.
Yang pasti tidak saat ini.
Tidak didepan yoona.
Yoona
jelas akan bertambah marah padanya
bila ia melakukan hal anarkis yang ada
dalam kepalanya.

***

“gomawoyo.. Kibum ssi, kau benar-
benar membantuku”

ucap yoona ketika kibum mengantarnya menuju mobil, setelah akhirnya ia selesai membeli keperluan untuk bayinya.

“aku senang bisa melakukannya.. Dan
Oh.. Apa kau berkendara sendiri?”

“ne..”

“Astaga.. Kau tak bisa melakukannya.
Aku akan mengantarmu”

“jangan berlebihan.. Aku masih bisa
melakukannya. Well.. Trimakasih telah
mau direpotkan. Kurasa aku terlalu
pemilih tadi. Aku hanya ingin
memberikan yang terbaik untuk bayiku”

Yoona merasakan binar kebahagiaan
itu telah mencapai matanya.
sebelumnya tak pernah terbayangkan olehnya
Membeli sesuatu untuk bayinya
ternyata lebih menyenangkan daripada
berbelanja untuk dirinya sendiri.

“Senang bisa melakukannya untukmu yoona..
Sampai bertemu lagi yoona..”

Oh…
mungkinkah mereka bertemu lagi?

Seharusnya tidak..

“Ne.. annyeong…”

“Berhati-hati lah…”

Yoona tersenyum ketika kemudian Kibum menutup pintu mobil nya dan
membiarkannya melaju meninggalkan
basemant parkir disana.

Belum sempat beranjak ketika tiba-
tiba kibum merasakan tubuhnya terdorong oleh seseorang
yang menyerangnya.

“simpan semua omong kosongmu..
Aku pastikan kau tak akan bisa
bertemu lagi dengan yoona!”

dan pukulan-pukulan keras itu yang kemudian
ia rasakan ditubuhnya. Membuatnya
lunglai tanpa perlawanan. Tapi dalam pandangan matanya yang redup,
kibum masih bisa melihat tatapan
tajam penuh kebencian yang tersorot dari
seseorang yang dikenalinya adalah..

“siwon..?”

***

Senyum cerah itu ditunjukkan yoona
ketika ia memasuki rumahnya.
Meski ada kekesalan karna siwon
benar-benar tak menghubungi nya sepanjang ia pergi tadi.

Oh…
sia-sia saja..
Tadinya ia yang berniat ingin mengabaikan
siwon. Tapi yang terjadi mengapa  malah terbalik. Justru
ia yang kini merasa diabaikan.

Menyebalkan!

“Kau baru pulang?”

Suara itu menyambutnya. Dan membuatnya terkejut ketika siwon menatapnya dengan pandangan yang tak biasa.

“ya..seperti yang kau lihat”

“kau pergi terlalu lama, tidakkah kau
pikir kau juga perlu mengurus
suamimu?”

“kau punya cukup banyak pelayan yang bisa kau andalkan.. Kau juga pastinya
pria dewasa yang bisa mengurus dirimu
sendiri… Aku pergi untuk membeli
keperluan bayiku, kau pikir siapa lagi
yang dia punya kalau bukan aku. Dia hanya punya aku..
setelah ayahnya bahkan tak mau
menerimanya”

“Yoona..!”

Siwon menggeram setelah mendengar jawaban bernada ketus yang dilontarkan yoona. Sedangkan siwon tahu yoona bukan hanya pergi untuk berbelanja tapi juga bertemu pria brengsek itu..

Sialan…

“aku lelah.. Aku perlu istirahat”
Ia akan menghindari pertengkaran lagi saat ini.

” Oh..tolong bawakan barang-barang
itu kekamar ku”

Yoona mengatakan hal itu pada
pelayannya.
Namun Sebelum ia sempat melangkah untuk menjauh dari tatapan tajam suaminya,
seorang pelayan lainnya berlari panik
kearah siwon.

“Tuan.. Ada banyak polisi diluar.
Mereka mencari anda atas laporan
dugaan penyerangan!”

“APA?”

Yoona membelalakkan mata untuk apa
yang baru saja didengarnya.

Polisi?
Penyerangan?
Apa maksudnya?

“APA? Apa yang kau katakan?”

“eh.. Polisi mencari Tn.Choi Ny..”

Yoona kemudian langsung mengarahkan
pandangan nya pada siwon, bertemu
dengan tatapan keras dari suaminya.

Kenapa?
Apa yang telah siwon lakukan hingga
polisi mencarinya?

“apa yang sudah kau lakukan?”
tuntutnya meminta penjelasan

“aku akan mengatasinya, tenanglah..”

Tenang?
Bagaimana mungkin ia bisa tenang
disaat seperti ini…
Mendengar suaminya dicari-cari polisi.
Membayangkan kemungkinan siwon
akan di penjarakan.
Demi Tuhan..
Ia tak bisa.
Dan jangan memintanya untuk tenang
sekarang…

“dimana mereka?”

“kami mencegahnya masuk, mereka
menunggu anda diluar Tuan..”

“Bagus… Aku akan menemuinya..”

Sesaat yoona menahan lengan siwon.
Ia benar-benar membutuhkan
penjelasan darinya.

“masuklah kekamar.. Kau tak perlu
bertemu dengan mereka”

“tapi mengapa mereka mencarimu?”

“akan ada alasannya nanti..”

Siwon lantas meninggalnya disana,
mengikuti sang pelayan yang berjalan
lebih dulu didepannya.

“anda Tn.Choi Siwon?”

“Ya..”

Salah seorang polisi langsung
menunjukkan selembar kertas
bertuliskan perintah penangkapan
begitu siwon berhadapan dengan
mereka.

Sialan!!
Pria brengsek itu rupanya…

Siwon mengumpat dalam hati.
Tak menyangka pria itu berani
menantangnya.

“anda harus ikut dengan kami Tn.Choi
Siwon..”

“Apa? Apa yang akan kalian lakukan pada
suami ku?”

Yoona menyela diantara mereka,
berdiri didepan siwon seolah ingin
melindunginya.

“Tn.Choi.. Melakukan penyerangan
terhadap seseorang Ny..”

“penyerangan apa maksudmu?”

“seseorang bernama Kibum melapor
bahwa dirinya diserang secara tiba-
tiba oleh Tn.Choi Siwon”

“Siapa? Kibum?”

Oh Astaga…

Siwon!!

Rasanya yoona ingin berteriak saat itu
juga.
Siwon melakukan penyerangan pada
kibum?
Oh Tuhan…
Bagaimana bisa?
Apa siwon mengikutinya tadi?
Ia bahkan hanya mengira siwon memerintah seseorang, bukan dia sendiri yang melakukannya.

Dan melakukan penyerangan…
Oh..
Tentu saja. Dia juga suda pernah
melakukan hal yang sama sebelumnya.
Jika yang pertama yoona bisa memahami
siwon melakukan itu karna kibum
melakukan hal yang membuatnya merasa
tak nyaman.
Tapi kali ini, kibum bahkan tak berbuat
hal buruk padanya.
Kibum membantunya.
Bisa-bisanya siwon melakukan hal
demikian.

Yoona mengabaikan kehadiran para
polisi disana dan menarik siwon
kembali masuk kedalam rumah.

“Kau menyerang kibum? Jadi kau
menguntitku tadi?”

“Aku hanya memberinya pelajaran..”

“Pelajaran? Pelajaran macam apa yang
ingin kau berikan? Sekarang kau
bahkan harus menghadapi polisi itu.
Mereka bisa memenjarakanmu Siwon!! Kau
tahu itu..”

“Ini bukan masalah besar.. Aku bisa
mengatasinya. Kau tak perlu ikut
campur”

Siwon kemudian menarik yoona dalam
pelukannya. Meski sebelumnya yoona
sedikit menolak tapi akhirnya ia
membiarkan siwon melakukannya.
Mengusap punggungnya mencoba untuk
membuatnya merasa tenang.

“aku harus ikut mereka sekarang.. Kau
istirahatlah dan tunggulah aku
pulang..”

Siwon lantas mengecup kening yoona
kemudian meninggalkannya terdiam
disana.

“Siwon.. Ya Tuhan Siwon.. Apa yang
harus aku lakukan?”

“Ny.. Tenanglah. Saya akan
menghubungi pengacara untuk
membebaskan Tuan..”

“cepatlah.. Lakukan sekarang!”

“baik Ny..”

***

Siwon kembali mengepalkan tangannya
ketika seorang polisi disana melakukan
penyidikan dan mencecarnya dengan
berbagai pertanyaan.
Yang sungguh tak benar-benar ingin
untuk menjawabnya.

Ia juga menggeram menahan
amarahnya. Ketika melihat rekaman
cctv yang ditunjukkan polisi itu padanya.

Sial..!

Ia terlalu ceroboh untuk tak
memikirkan kemungkinan terekam
bukti disana.

Bukan menyesali apa yang telah ia
lakukan pada kibum. Tapi hanya
menyesali sedikit kecerobohannya.
Seharusnya ia menghancurkan cctv itu
terlebih dulu. Sebelum menghajar pria itu.

“bukti ini memberatkan anda Tn.. Dan
kami akan melakukan penahanan atas
apa yang telah anda lakukan”

“Persetan dengan semua bukti yang dia berikan.. kalian tak bisa menahanku disini…!”

***

“apa? Mereka menahan siwon? Kau
bilang akan menghubungi pengacara
tadi!”

Yoona berubah menjadi semakin panik dengan berita yang
disampaikan padanya.

“saya sudah melakukannya Ny.. Tapi
mereka memiliki bukti untuk menahan
Tn..”

“Ya Tuhan.. Apa yang bisa kulakukan?”

dalam kepanikan nya Yoona
memikirkan kemungkinan untuk
menghubungi kibum.
Ya…
Dia harus melakukannya.
mendatangi kibum..
Kibum mungkin bisa melakukan
perdamaian dengan siwon dan
membebaskannya.

“aku harus bertemu kibum sekarang..”

“Ny.. Ny.. Apa yang akan anda lakukan?”

***

Yoona terburu berjalan dikoridor rumah
sakit. Ia mendapatkan informasi jika
kibum mendapatkan perawatan disana.
ketika akhirnya seorang suster menunjukkan kamar rawat kibum, Ia bergegas masuk kedalamnya…

“Kibum ssi..”

“Oh.. Yoona. Kau.. Masuklah”

Yoona bisa melihat beberapa memar
kebiruan di beberapa bagian wajah
kibum.

Astaga..
Siwon benar-benar keterlaluan!

“Ya Tuhan.. Maafkan aku..”

“kau tak perlu minta maaf padaku”

“tapi siwon…”

“ya.. Suamimu itu yang harusnya
meminta maaf padaku”

“tapi dia begitu karna aku.. Mianhae, aku tak tahu jika dia akan menyerangmu..”

“Aku tahu itu..”

“emm, Kibum ssi.. ada yang ingin aku katakan padamu”

“apa?”

“bisakah kau memaafkan siwon. Dan berdamai dengannya..
Kumohon bebaskan dia..”

Yoona tak tahu apa ia masih pantas meminta hal semacam itu pada kibum..
Tapi ia sungguh tak bisa diam saja mengetahui siwon dipenjarakan..

“Tidak.. Aku tidak akan melakukannya.. aku tidak ingin berdamai dengannya..”

“kibum ssi..”

“Dia bisa saja membunuhku, yoona!”

“tidak.. Itu tidak mungkin. Siwon tak mungkin melakukannya..”

“Tapi dia hampir melakukannya kan.. kau lihat!!”

“Aku janji aku yang akan
mengawasinya.. dan siwon tak akan membahayakanmu lagi.. kumohon..”

Kibum menghela napas, tak tega melihat wajah memelas yoona dihadapannya yang ditujukan untuk memohonkah maaf bagi suaminya.

“baiklah..Tapi aku punya syarat untuk
kau penuhi..”

syarat?
Syarat apa yang kemudian diinginkan kibum padanya..

“Apa mau mu..?”

Yoona masih menunggu kibum
mengatakan syarat apa yang
dimaksudkannya, sampai kemudian ia
dikejutkan oleh tangan kibum yang
meraih dan langsung menggenggam tangannya.

“maukah kau meninggalkan suamimu
itu?”

“Apa?”

“Siwon.. Apa kau mau
meninggalkannya?”

tidak..tidak…

kibum tak sedang serius kan
memintanya meninggalkan siwon?
Apa hak nya?
Ia jelas tak berhak memintanya
melakukan hal itu.

Itu konyol!

“kibum ssi.. Apa maksudmu?”

“Astaga.. Yoona, kau jelas bukan
wanita bodoh yang tak mengerti
maksudku”

Yoona langsung menarik tangannya.
Wajahnya berubah pucat.
Ya Tuhan..
Apa Kibum benar-benar serius dengan
ucapannya?

“Kau lihat apa yang telah siwon lakukan
padaku. Dia berbahaya yoona.. Pria
kasar dan pemarah itu, tak seharusnya
kau bersamanya..”

“Kibum ssi..”

“Dia juga sudah menyakitimu kan?”

Tidak…
Setidaknya siwon tak pernah menyakitinya secara fisik.
tapi..
Ya..
Siwon memang terkadang membuatnya
kesal dan ia merasakan hatinya
tersakiti karnanya.

Tapi Demi Tuhan.. Ia merasa masih
bisa mengatasi dan bertahan dengan
semua sikapnya.

“Kau pasti tahu perasaan ku padamu
tanpa aku harus mengatakannya kan?”

Tidak…
Kibum hanya teman. Tak akan pernah
ada sesuatupun yang lebih diantaranya.

“kibum ssi.. Tidak.. Aku tak bisa. Aku
mencintai siwon. Aku akan tetap
bersamanya. Dan dia tidak pernah
menyakitiku.. Tidak sekalipun!!”
Kibum menatapnya tak yakin.

“Aku bersungguh-sungguh, siwon tak
pernah menyakitiku. Jadi aku tak
punya alasan untuk tidak bersamanya.
Maafkan aku..”

“Kau terlalu mencintainya yoon!”

“Yaa.. kurasa kau benar. Aku memang
terlalu mencintainya”

Ada senyum malu ketika ia
mengakuinya.
Mungkin saja saat itu kibum
menilainya bodoh.
Tapi biarlah. Ia merasa tak menyesali
kebodohannya.

“baiklah.. aku tak akan memaksamu..”
Kibum menarik dan menghembuskan
napasnya dengan perlahan.

“Itu tadi hanya penawaran. Dan
sepertinya kau memang tak tertarik
dengan tawaranku”

“nde..?”

“karna aku punya syarat yang
sesungguhnya, yoona..”
ada seringai dibalik senyum nya.

Tidak mungkin!
Apa maksudnya?

“apa mau mu?”

“Aku ingatkan lagi, ini bukan
penawaran seperti yang tadi. Jadi kau
tak bisa tak tertarik. Kau harus tertarik
dan menyetujui syarat yang ku berikan,
jika kau memang mau aku tak
melakukan tuntutan pada suami
tercinta mu itu”

“jadi apa?”

“berkencanlah denganku, yoona..”

“Mwo!”

berkencan??

Kibum memang sudah tak memintanya
meninggalkan siwon.
Tapi menggantinya dengan berkencan?
Yangg benar saja. Bukankah itu sama saja
dia menawarkan perselingkuhan kepadanya.

Kibum memperhatikan raut wajah
yoona, yang membuatnya justru menarik
senyum dari bibirnya.

“ini bukan seperti yang kau pikirkan..”

“euh..?”

“bukan benar-benar berkencan.
Sebenarnya suamimu itu telah
mengacaukan jadwalku. Aku
seharusnya akan pegi keluar negri dan
menetap beberapa waktu disana..”

“Kau akan pergi?”

“ya.. aku bosan disini.. dan kebetulan Seorang rekan menawarkan untuk
aku mengajar disekolah seni yang dia
dirikan. Aku menerimanya dan sudah
bersiap pergi. Tapi insiden ini
membuatku terpaksa menundanya..”

“Ya Tuhan.. Maafkan aku..”

“Untuk itu sebelum aku pergi kuharap
kau bisa meluangkan waktumu..”

“tapi kenapa kencan?”

“Siwon harus menerima balasannya
dariku. Dan kurasa melakukan kencan
denganmu akan menjadi setimpal untuknya”

“Kau benar-benar akan berkencan
dengan wanita hamil sepertiku?”

“Ya Tuhan.. Kau bahkan terlihat
semakin cantik yoona. Tentu saja akan
menyenangkan mengabiskan waktu
denganmu”

Ada perasaan lega yang kemudian yoona
rasakan.
Sepertinya ia memang harus
mengiyakan syarat yang di ajukan kibum
padanya.
Lagi pula itu bukanlah kencan dalam
arti yang sesungguhnya.

***

Siwon pada akhirnya terbebas. Setelah
kibum menyatakan tak akan
melakukan tuntutan dan lebih memilih
melakukan perdamaian dengannya.

Namun Siwon bisa merasakan keanehan atas
keputusan kibum. Ia meyakini ada
sesuatu dibaliknya.
Tak mungkin semudah itu ia mencabut tuntutan hukum kepadanya.

Dan benar saja..
Ketika ia pulang kerumahnya, seorang
pelayan mengatakan Yoona pergi untuk
menemui seseorang yang telah
melaporkan dirinya pada polisi.

Sialan!

Jadi yoona pergi menemui pria
brengsek itu.
Umpatnya dalam hati dengan amarah
tertahan.

Pada saat yoona kembali pulang dan masuk
kedalam kamarnya, siwon sudah berada disana dan tatapan tajam dari
siwon lah yang lantas menyambutnya.

“Siwon..”

“darimana kau?”

“aku.. aku hanya..”

“mengunjungi pria brengsek itu?”
geramnya marah..

“Siwon..dengarkan aku dulu…”

“apa yang kau lakukan yoona? Memohon
padanya? Sial.. kau tak harus melakukannya..”

“Aku hanya melakukan apa yabg bisa
kulakukan..”

“Aku sudah katakan kau tak perlu ikut
campur!”

“tapi aku tak bisa membiarkanmu!”

“Sialan!!”

“maafkan aku.. Aku mungkin telah
melukai ego mu sebagai seorang pria.
Tapi sebagai pasangan kita harus
saling membantu. Itulah yang aku
pelajari dari kedua orangtua ku.
Mungkin kau tak mengerti, karna
orangtua mu tak pernah saling berlaku
demikian..”

kalimat terakhirnya mungkin menyakiti
siwon. Tapi yoona merasa perlu
mengatakannya.

“jadi apa yang dia minta sebagai ganti
pembebasanku”

Astaga..
Bagaimana dia bisa tahu?

“maksudmu?”

“jangan kira aku bodoh yoona! Si
brengsek itu pasti punya motif dibalik
sikapnya yang bak malaikat itu”

“Siwon..”

“katakan apa yang dia inginkan?”
Yoona tertunduk ragu untuk
mengatakannya.

“kencan..”

“Brengsek!!”

Bodoh…

Yoona langsung menyesali
kejujurannya.
Mengapa ia tak bisa sedikit saja
berbohong pada siwon.
Dia jelas akan bertambah marah
sekarang.

Tidak…
Siwon tak bisa marah lagi padanya.
Memangnya siapa yang memulai dengan
tindakan bodohnya.
Jelas siwon pelakunya.
Jika dia tak menguntitnya.andai siwon tak melakukan penyerangan
pada kibum, ia pun tak harus mengikuti
kemauan pria itu untuk berkencan.

“seharusnya aku memang mematahkan
tangan dan kakinya”

emosi itu kian membara dimatanya.
Menggertakkan gigi, juga mengepalkan
tangannya, siwon seakan hendak
meninju apa saja untuk meluapkan
emosinya.

“siwon.. Kau membuatku takut..”

“MENGAPA KAU MELAKUKANNYA
YOONA!?”

Suara keras yang diucapkan siwon sedikit
mengecilkan keberanian yoona.
Ia jelas telah melukai ego pria itu.
Seharusnya ia mengikuti perkataan
siwon untuk tidak ikut campur.
Tapi tidak..
Ia jelas tak bisa membiarkannya.

“karna kau..”

suara pelan yang keluar dari bibir yoona
berbanding terbalik dengan kekerasan
suara siwon tadi.

“Karna aku mencintaimu…”

“sudah kubilang jangan ikut campur!”

“aku juga sudah bilang, Aku tak bisa
membiarkanmu disana!”

“Sialan!”

“jika bukan karna tindakan menguntitmu yang
kekanakan, juga penyerangan yang kau lakukan.. aku tak perlu melakukan hal
itu..”

“Oh.. Jadi maksudmu aku kekanakan?”

Demi Tuhan..
Kau salah bicara yoona.
Batinnya mengantisipasi untuk ledakan
kemarahan siwon selanjutnya.

Yoona bergeming, tak mau
terintimidasi oleh kemarahan siwon
saat ini. Ia menatap siwon menantang
untuk menyahuti perkataannya.

“Ya.. Kau kekanakan! Kau menguntitku.
Kau menyerang kibum. Ya Tuhan..
Kenapa kau tak bisa mempercayaiku!”

“seharusnya itu juga menjadi
pertanyaan untukmu yoona. Kau juga
tak mempercayai ku kan? Dan jika aku
tak menguntitmu, aku tak akan pernah
tahu kau bertemu si brengsek itu,
setelah apa yang kau katakan kau tak
keluar untuk bertemu pria lain.. Sialan!”

Ya Tuhan…

“Aku.. Aku percaya padamu. Sejujurnya
setelah kau menjelaskan padaku, aku
mempercayai ucapanmu. Aku hanya
kesal melihatmu mabuk..”

Siwon benar untuk yang satu itu.
Jika yoona tak mempercayai siwon,
pantas saja jika siwon juga tak percaya
padanya.

Ini menjadi satu koreksi baginya.
Jika ia menyuruh seseorang untuk
mempercayai nya, maka ia semestinya
juga melakukan hal yang sama untuk
mempercayai seseorang itu.

Tapi…
Menemui kibum dengan sengaja?
Penilaian itu jelas salah dan harus ia
luruskan.

“tapi aku tak sengaja bertemu kibum.
Dia melihatku kerepotan, dan
menawarkan bantuan. Tidak lebih..”

“dan kau menerimanya”

“ya.. Itu yang kulakukan jika seseorang
berniat baik padaku. Daripada
menguntitku kau seharusnya
membantuku.. ”
Ada nada kesal saat ia mengatakannya.

“tapi dia punya motif lain yoona! Dia
menyentuhmu!”

Astaga…

“Siwon.. Dia hanya menyentuh bukan
menggerayangi tubuhku. Itu hal yang berbeda dan masihlah
wajar, Bukanlah sesuatu dengan
maksud kurangajar..”

Jika saat itu kibum kemudian
menyentuh untuk menarik tangan
yoona, mengajaknya ketempat-tempat
yang menyediakan peralatan bayi yang
diinginkannya. Itu bukanlah sesuatu yang
bisa dikatakan sentuhan intim seperti
yang dimaksudkan siwon, meski dia tidak
terang-terangan mengatakannya.
Tapi ia tahu itulah yang dimaksud  oleh siwon.

Yoona kemudian mendekat kearah siwon,
mengetahui sedikit demi sedikit
amarah dimatanya meredup.
Ia lantas meraih tangan siwon,
meletakkan keduanya diatas
pinggulnya.
Ia sendiri kemudian meletakkan
tangannya didada siwon.
Mengusapnya disana dan sedikit
meremas nya.

Sentuhannya jelas dimaksudkan untuk
menarik perhatian suaminya.
Meski sebenarnya ia tak perlu
melakukannya karna sudah sedari tadi
siwon hanya memusatkan perhatian
padanya, walau dengan amarah yang menyelubunginya.

“Kau adalah satu-satunya pria yang telah
menyentuhku dengan sebenar-benarnya siwon. Hanya kau..”

Oh..
Kau menemukan cara untuk
menjinakkannya, yoona.
Batinnya terpaku pada apa yang kemudian akan
dilakukannya.

“Aku suka kau menyentuhku.. dan aku juga sangat suka
menyentuhmu..”

Meremas kemudian menarik baju yang
siwon kenakan, yoona membuatnya
menunduk saat ia memberikan ciuman
dibibirnya.
Dengan perlahan memindahkan
tangannya untuk mengalung dileher
siwon.

Apa yang ia lakukan adalah sebuah
ajakan bagi siwon. Yang kemudian
Membuatnya mengerang dalam ciuman
yang diberikan yoona.
Keduanya saling mencecap, menikmati
rasa bibir mereka masing-masing yg
telah menyatu.
Yang selanjutnya terjadi adalah keintiman
untuk tak henti saling menyentuh.
Mengubah amarah yg sempat
menyelubungi keduanya, menjadi
gairah yang saling memanaskan.

***

“jadi kapan si brengsek itu meminta
kencan denganmu??”

Siwon memulai pembicaraan, saat
keduanya masih berada diatas tempat
tidur. Bergelung dibawah selimut yang
sama. Yang menutupi tubuh keduanya.

“namanya kibum.. Tak bisakah kau
memanggil dengan namanya?”

“aku tak suka memanggil namanya..
Jadi kapan?”

“aku belum tahu.. Dia haruslah
menyembuhkan memar diwajahnya
terlebih dulu”

“baguslah.. Kurasa aku akan
memperlama penyembuhannya”

Seringainya yang kemudian dihadiahi
yoona dengan pukulan kecil didada
telanjangnya.

“Siwon! Jangan macam-macam lagi!”

“baiklah.. Beri tahu aku bila dia
menghubungimu”

“apa yang akan kau lakukan?”

“menguntit kalian..”

“MWO.. Siwon!”

Yoona memutar matanya mendengar
niatan yang diucapkan siwon dengan
begitu yakin.

Menguntit?
Apa siwon benar-benar akan
melakukannya?

Sebenarnya ia sendiri yakin siwon
memang akan melakukannya. Pria itu
tak pernah main-main dengan apa yang
dikatakannya.

“aku bisa langsung menghajarnya jika
dia berani macam-macam..”

“kenapa kau selalu menggunakan
kekerasan?”

Yoona mulai beringsut dari pelukan
siwon pada tubuhnya.

“karna hal itu sudah mendarah daging
dalam diriku..”

Sekilas yoona menemukan kilatan
gelap dimata siwon.
Oh..
bukan itu yang ingin didengarnya.
Ia sungguh tak berniat menyinggung
kenangan pahit itu.
Siwon pasti akan langsung mengaitkan
hal itu dengan masalalu yang dilakukan
ayahnya. Dengan melakukan
Kekasaran dan kekerasan
terhadap keluarganya.

“Tuan.. Ada Tn.Minho, Nona sooyoung,
Nona Sulli dan nona soojung mencari
anda..”

Suara ketukan pada pintu kamar
mereka, dan serentetan nama yang
disebutkan pelayan itu dari balik pintu,
sedikit banyak melegakan yoona.
Ia merasa tertolong setidaknya dari
topik yang mungkin akan membuat
ketegangan lagi dengan siwon.

Tidak setelah mereka berbaikan.
Dan tidak setelah mereka ‘tidur’
bersama kan..
Demi Tuhan..
Ia tidak akan bisa melakukannya lagi
sekarang.
Ia merasa lelah dan sudah tak
bertenaga jika harus bersitegang lagi
dengan siwon.

“Tuan.. Apa anda akan menemui
mereka?”

“Suruh mereka menunggu sebentar..”

Perhatian mereka jadi teralihkan
sekarang.

“Apa yang akan mereka lakukan dengan menyerbu rumahku..”

Siwon berdecak kesal sambil
menyingkap selimutnya dan turun dari
tempat tidur, untuk kemudian meraih pakaiannya
dan kembali mengenakannya.

“mungkin mereka sudah mendengar
kabar penangkapanmu oleh polisi”

“itu bukan sebuah penangkapan..”

“itu sudah jelas penangkapan. Kau
bahkan sudah hampir dipenjarakan..”

Yoona mencibirnya, seolah ingin
mengatakan dialah dewi penyelamat yang
pada akhirnya membuatnya
dibebaskan.

Siwon juga mengerti itu hanyalah
sekedar gurauan dari yoona.

“aku akan menemui mereka.. Kau?”

“aku berkeringat dan perlu mandi terlebih dulu.. Aku
akan segera menyusul keluar..”

“Oh.. kau akan selalu berkeringat bila bersama denganku sayang..”
Seringainya..

“baiklah.. Aku akan menemui mereka dan menunggumu keluar… meskipun aku sangat ingin bergabung
denganmu dalam kamar mandi..”

Ucapannya membuat yoona merasakan panas ditubuhnya.

Dan sebelum keluar, siwon masih sempat
mengecup keningnya.
Yoona merasa lega. Setidaknya siwon
sudah kembali bersikap lembut dan tak
lagi menunjukkan amarahnya.

***

“Oppa.. Oppa gwechana?”

Begitu siwon menghampiri mereka
semua, sulli lah yang pertama kali menghambur untuk
memeluknya.

“gwechana sulli ah..”

“tapi minho oppa bilang polisi
membawamu.. Apa yang mereka inginkan? Dan apa yang telah oppa
lakukan?”

“hanya sedikit membeli pelajaran..
Itukah yang membuat kalian beramai-
ramai menyerbu rumahku?”

“hmm..”

jawab mereka kompak yang disertai
dengan anggukan kepala.

“jadi tak ada yang perlu kami
khawatirkan?”

Sooyoung beralih duduk setelah tadi
berdiri tegang selama menunggu
siwon.
Takut-takut para polisi melakukan hal
yang mungkin membuat kakak nya itu
mengalami luka atau apapun yang
menyakiti tubuhnya.

Tapi kemudian ia bisa menarik napas
lega.
Siwon jelas terlihat tidak apa-apa dan baik-baik saja.

“sama sekali tidak.. Aku tak apa-apa”

“dimana oenni ku?”

Soojung mengedarkan pandangannya,
mencari-cari keberadaan yoona yang
belum dilihatnya.

“dia sedang mandi.. Dia akan segera
keluar setelah selesai..”

“Oh hyung.. Sepertinya sudah lama kita
tak berkumpul seperti ini. Bagaimana
kalau kita melakukan sesuatu”

“apa?”

“pergi keluar mungkin. Bagaimana
kalau club? Sudah lama kita tak datang kesana..”

“Kau tak bisa membawa wanita hamil
ke club minho..”

“Owh.. Noona”

Yoona keluar dari kamarnya, membuat
minho berseri saat melihatnya.

“kau masih tertarik pada istriku?”

“Mwo?? Yakk.. Hyung, sampai kapan
kau akan menyimpan kecemburuanmu
padaku? Yang benar saja..”

“aku selalu mewaspadai siapapun yang
memberikan tatapan berbinar seperti
itu setiap kali melihat istriku”

Siwon lantas menarik pinggang yoona dan merangkunya.
mencium harum rambutnya..
wangi tubuhnya sehabis mandi yang berbau sabun sungguh sangat memabukkan..

“aigoo.. Yoona noona bagaimana bisa
kau bertahan dengan hyung yang seperti
itu. Seharusnya kau mempertimbangka
nku..”

“Kau ini.. Jangan sampai kau bernasib
sama seperti kibum”

ucap Yoona mengingatkan, yang
kemudian tersenyum pada siwon meminta ijin agar pria itu melepaskan rangkulannya. Untuk kemudian ia menghampiri soojung dan
sulli. Mengajak keduanya untuk duduk
bersama dengan sooyoung.

“Oenni.. Bagaimana kandunganmu?
Kapan titik kecil itu lahir? Aku sudah
tak sabar ingin menggendongnya”

“ne oenni.. Aku juga. Apa dia seorang
laki-laki? Atau perempuan?”

Soojung dan Sulli menunjukkan
antusias yang sama terhadap bayi dalam
kandungan yoona, calon keponakan
pertama mereka.

“Menurut Dr.Kim kemungkinan besar
dia adalah laki-laki”

Yoona melirik kearah siwon. Melihat raut wajahnya yang kemudian berubah, ia tahu akan
pembicaraan itu bukanlah hal yang tepat untuk dibicarakan saat ini.

“jadi ‘titik kecil’ mu adalah seorang
laki-laki”
sooyoung ikut mengomentari.

“hmm.. Itu yang aku dapatkan dari hasil
usg”

“kalau begitu kita bisa memikirkan
nama untuk ‘titik kecil’ noona..”

“ne.. Oppa, menurutmu siapa nama yang
cocok untuk bayi yoona oenni?”

“emm.. Bagaimana kalau…”

“kalian teruskan saja obrolannya, aku
lelah..”

Semua kemudian terpaku dengan sikap
dingin yang tiba-tiba ditunjukkan siwon.
Yoona sudah memperkirakan hal ini
akan terjadi.
Meski mereka sudah berbaikan, itu tak
serta merta membuat siwon menerima
bayi laki-lakinya.

Lalu akan sampai kapan siwon seperti
itu??

“Aku perlu istirahat..”

Pada akhirnya Siwon yang memutuskan
obrolan, dan memilih kembali masuk
kedalam kamarnya. Membuat tanda
tanya bagi saudaranya.

Namun yoona kemudian meyakinkan dan
berusaha menutupi alasan perubahan
sikap suaminya, dengan mengatakan
siwon mungkin memang lelah dan
butuh istirahat setelah insiden
penangkapannya oleh polisi.

Walau terlihat meragukan, namun tak
satupun dari mereka yang lantas
mengajukan
pertanyaan, dan justru lebih memilih meninggalkan
rumah itu.

“Oenni ya.. Kau tahu aku selalu bisa
jadi pendengar yg baik jika kau mau
bercerita padaku”

ucapan soojung ditengah pelukan
mereka membuat yoona menyadari,
soojung masih sama. Dia adalah
seorang adik yang peka terhadap
perasaannya.

“ne, aku tahu.. Jaga dirimu dan
pulanglah dengan hati-hati..”

“hmm.. Aku menyayangimu oenni”

“aku juga sayang..”

Yoona melepas kepergian soojung dari
rumahnya.

Menghembuskan napas perlahan ia
kemudian beralih untuk kembali
kekamarnya.
Pada saat ia masuk, hal yang sudah pasti
menjadi pusat perhatiannya adalah
keberadaan siwon saat itu.

Ia melihat nya tidur dengan posisi
miring membelakanginya.
Yoona kemudian mengambil posisi
disisi yang lainnya. Ia hanya diam dan
memilih untuk melakukan hal yang sama,
dengan tidur membelakangi siwon.
meski karna kehamilannya membuat ia
lebih sering mengubah posisi tidurnya.

Oh…
Tentu saja itu sangatlah kontras dengan
apa yang mereka berdua lakukan tak
lama sebelumnya.
Ditempat yang sama namun kini berbeda.
Terasa ada tembok besar ditengah-
tengah mereka yang memisahkan
keduanya.

Ini jelas bukan masalah kecemburuan
siwon yang berlebihan.
Ini bukan hal yang bisa diatasi dengan
‘tidur’ bersama.
Ini tentang ‘bayi laki-laki’ nya.
Sesuatu yang masih menjadi
pertentangan.
Sesuatu yang sulit karna menyangkut
trauma, rasa takut yang diakibatkan
kelamnya masalalu siwon yang masih
dan terus menekannya.

Ya Tuhan..
Sampai kapan ia mampu bertahan??

***

“Siwon..!”

Yoona terkesiap. Terjaga dari tidurnya
dengan napas yang tersengal dan
perasaan takut yang kemudian muncul.

Ya Tuhan..
Mimpi?
Jadi itu tadi hanya mimpi?
Ia melihat bagaimana siwon memegang
sebuah pistol yang diacungkan pada
kepalanya.

Tidak…
Apa Siwon berniat bunuh diri?
Oh Tuhan..
Ia bersyukur karna itu hanyalah sebuah
mimpi buruknya.
tapi selama ini ia jarang mendapatkan mimpi buruk.
apakah itu pengaruh dirinya yang merasa tertekan oleh keadaan?

yoona merasa tertekan. Tapi ia lebih tak ingin membuat siwon tertekan.
Jika bayi laki-laki nya itu membuat
siwon tertekan sedemikian dalam, dan
mimpi buruknya akan menjadi
kenyataan.
Demi Tuhan..
Ia tak sanggup membayangkannya.
Ia juga tak akan mungkin bisa
menerimanya.

Tapi yoona juga tak mau menyerah.
Ia jelas tak ingin menyerah untuk
meyakinkan siwon bahwa
pemikirannya hanya lah kebodohan
semata.

Lantas dengan cara apa ia bisa
meyakinkannya.
Jika perkataannya sudah tak cukup
meyakinkan bagi siwon.

Dengan berbagai pemikiran yang masih
berkecamuk, ia beranjak turun dari atas
tempat tidur, setelah menyadari siwon
sudah tak berada disana. Juga
menyadari itu sudah dipagi hari ketika
matahari merangkak naik dan sinarnya
mulai memasuki kamarnya.

Apa dia sudah pergi?
Yoona kemudian berjalan keluar dan
mendapati siwon sedang menikmati
sarapannya.

“pagi..”

Siwon mendongak dan menatapnya
sekilas sebelum akhirnya menggumam
pelan membalas sapaannya dan
kembali menikmati sarapannya.

“pagi..”

“Kau tak membangunkanku untuk
menemanimu sarapan?”

“tidak..”

“kenapa?”

“hanya tak ingin..”

Yoona mengernyit menyadari dinginnya
sikap siwon terhadapnya.

“aku sudah selesai..”

“kau belum menghabiskan
sarapanmu..”

“aku kehilangan selera makanku..”

apa?

Yoona ternganga mendengarnya.
Apa maksudnya?
Kehilangan selera makan?
Jadi maksudnya siwon kehilangan
selera makan karna kehadirannya…

Oh..
Yang benar saja.
Apalagi ini?
Apalagi yg sedang dia mainkan?

“Tak perlu menungguku malam ini..
Aku ada urusan diluar kota. Mungkin
aku akan pulang malam”

Oh..
Aku tak perduli.!

Yoona mengumpat dalam hati. Kesal
dengan perubahan sikap siwon kali ini. Tanpa berkata-kata lagi,
Ia kemudian beranjak dari ruang makan
begitu saja bahkan sebelum siwon
melangkah pergi.

***

Malam ketika yoona tengah membaca
sebuah buku yang berada dalam
perpustakaan dirumah itu. Ruang yang
sempat menjadi tempat terlarang
baginya. Ia mendapat telpon dari kibum
yang menagih janjinya…

“lusa kurasa waktu yang tepat yoona,
karna dihari berikutnya aku harus
segera pergi..”

“Oh.. Baiklah, tapi apa kau benar-benar
sudah pulih?”

“Ya.. Meski suamimu itu hampir
mematahkan sebagian tulang
ditubuhku, tapi aku masih baik-baik
saja”

“maaf untuk semua itu..”

“tidak.. Kau tak perlu minta maaf. Jadi
kau akan datang?”

“ya..tentu saja”

Ketika kibum kemudian menutup
telponnya, yoona kembali memusatkan
perhatian pada buku yang berada
ditangannya.

Namun sesaat ia tertegun, mengingat
sikap siwon tadi, masihkah ia perlu
mengatakan tentang kibum padanya?

Mungkin tidak…

Siwon sedang dalam mode
mengacuhkan, tak perduli padanya.
Ya…
Sudah pasti dia tak akan perduli meski
pada akhirnya ia berkencan dengan
Kibum.

“Jika kau memilih untuk tidak perduli
padaku. Maka akupun bisa melakukan
hal yang sama padamu. Aku takkan lagi
memperdulikanmu, Siwon..!!”

Menyebalkan..!!!

Pada akhirnya hanya itulah yang mungkin
bisa yoona lakukan.
Entah keputusan itu untuk sesaat karna
terpengaruh oleh kekesalannya akan
sikap siwon, atau memang itulah yang ia
rasa sikap yang benar yang perlu ia ambil.

Saling mengacuhkan?

Memang terdengar kekanakan. Tapi
Siwon benar-benar keterlaluan tadi.
Kata-kata yang diucapkannya terasa
menyakitkan bila yoona kembali
mengingatnya.

Tidakkah ini waktu yang tepat untuknya
menyerah?
Tidakkah sikap siwon sengaja
ditunjukkan untuknya mundur?
Siwon sudah tak menginginkannya
lagi?

Ya Tuhan…
Tidak mungkin!
Batinnya menganalisa dan berakhir
dengan kesimpulan yang menyakitkan.

Pada akhirnya yoona menyerah pada
rasa kantuknya. Ini sudah lebih dari
jam sepuluh malam, dan benar, belum
ada tanda-tanda siwon akan pulang.

entah kemana suaminya itu pergi?
Hanya Tuhan dan dia lah yang mengetahuinya…

Ia kemudian melangkah keluar dari
perpustakaan, meninggalkan bukunya
diatas sofa yang ia duduki.

Masuk kedalam kamarnya, ia bahkan
tak memikirkan sedari tadi ia sama
sekali belum menyentuh makanan.

***

Suara pintu kamarnya yang terbuka,
diikuti dengan langkah kaki setelahnya,
membuat yoona terbangun dari
tidurnya.

Itu pasti siwon…

Diliriknya sekilas jam yang telah
menunjukkan lewat dari pukul satu dini
hari.
Dan dia baru pulang?
Apa yang dilakukannya diluar sana?
Bekerja?
Atau justru menemui wanita bernama
victoria dan kembali minum disana?

Pikiran itu terasa menusuk hatinya.
Membuatnya merasakan sakit dan
muak pada waktu yang sama.

Sesaat yoona teringat akan harusnya
mereka saling percaya.
Tapi dengan sikap siwon yang seperti itu.
masihkah bisa ia mempercayainya?

“Aku tahu kau belum tidur yoona!”

Yoona tersentak, tak menyangka jika
siwon akan bersuara.

“sudah kukatakan untuk tak
menungguku. Kenapa kau masih
melakukannya?”

Oh..
Benar-benar…

Yoona lantas mendudukkan tubuhnya.
Dan menatap kearah siwon.

“aku tak menunggumu. Tapi Kau yang telah
mengganggu tidurku! Lain kali jika kau
pulang larut malam, tolong pelankan
suara langkah kakimu. Atau sebaiknya
kau tak usah masuk kekamar ini!”

menarik napasnya ia kemudian
melanjutkan…

“Masih banyak kamar kosong dirumah
ini yang bisa kau gunakan. Aku tak mau
tidurku terus-terusan terganggu dan
berpengaruh buruk pada perkembangan
bayi ku..”

Kembali membaringkan tubuhnya, dan
mencoba memejamkan mata, Yoona tak
perduli dengan ketajaman kata-kata yang
diucapkan nya.
Ataupun berhak dan tidaknya dirinya
mengucapkan kalimat itu.

Biarkan saja..
Ini memang rumah siwon.
Tapi ia adalah istrinya.
Tentu saja dirinya juga mempunyai hak
terhadap rumah itu.
Masa bodoh dengan ketersinggungan
siwon.
Bukankah dia sendiri yang memulainya.

Tak ada suara siwon yang menyahuti
ucapan yoona.
Tak ada juga pergerakan tubuhnya, yang
menandakan siwon masih diam disana.
Sesaat yang dilakukannya hanya menatap
kearah tempat tidur dimana yoona
membaringkan tubuhnya, terperangah
oleh apa yang tadi diucapkannya.

***

Tak mau membuat dirinya sendiri stres
karna tertekan oleh sikap siwon. Yoona
berusaha bersikap santai dan tak
terpengaruh.

Di pagi hari saat ia terbangun hal itulah
yang pertama kali dipikirkan dan akan
dilakukan nya.

Ia sudah menyegarkan tubuhnya,
mengganti pakaian tidurnya dengan
pakaian yang sama nyamannya ditubuhnya.
Ia kemudian menghampiri siwon yang
berada diruang makan.
Tak ada basa-basi untuk saling
memberikan sapaan.
Yoona langsung menarik kursi dan
duduk untuk menikmati sarapan
paginya.

Ia benar-benar merasa kelaparan.
Bukan hanya dirinya pasti, tapi bayi
nya juga merasakan hal yang sama,
setelah kemarin ia sama sekali tak
menyentuh makanan.

Oh…
Maafkan oemma titik kecil. Seharusnya
kekesalan oemma pada appa mu tak
membuatku menelantarkan mu.

Yoona mengucap dalam hati sambil
mengelus perutnya, dan lantas
menyuapkan makanan kedalam
mulutnya.

Ada senyum disetiap kunyahannya
menandakan ia benar-benar menikmati
rasa makanannya.

Rasanya setelah ini ia akan memuji
siapa saja yang sudah menyiapkan
sarapannya, yang telah mengembalikan
lagi nafsu makannya.

“Kau berencana pergi hari ini?”

Yoona menoleh kearah siwon setelah
terlebih dulu pria itu membuka
suaranya.

“ya..”
jawabnya singkat.

“kemana?”

Oh..
Apakah dia benar ingin tahu.
Apa mood nya kembali berubah hari
ini?

“butik..”

“butik?”

“ya.. Kurasa aku perlu membeli
beberapa pakaian baru. Aku tak bisa
lagi memakai pakaian lamaku, karna
Perutku semakin membesar. Dan juga,
aku perlu sesuatu yang pantas untuk ku
kenakan saat bertemu kibum..”

Yoona berusaha mempertahankan
ketenangan suaranya dan tak
terpengaruh oleh perubahan raut wajah
dan tatapan mata siwon saat dirinya
menyebut nama kibum.

“Ku pikir kau pernah memintaku
mengatakannya, maka aku akan
katakan. Kibum menghubungiku dan
besok adalah ‘kencan’ yang telah kita
sepakati. Aku akan pergi dengannya”

Gelisah, menungggu dengan cemas
akan seperti apa reaksi siwon setelah
ia terang-terangan mengatakannya.

“Pergilah.. Ku harap kau menikmati
‘kencan’ itu besok..”

Astaga…
Reaksi macam apa itu?
Bukankah dia bilang akan
menguntitnya?
Mengapa sekarang terkesan siwon
merelakannya??

Aishh..
Yang benar saja…

***

Setelah sarapan pagi yang
mengenyangkan sekaligus memuakkan
karna sikap siwon. Meski ia sudah
bertekad tak akan memperdulikan apa
yang siwon katakan, tetap saja perasaan
diabaikan itu begitu sakit untuknya.

Yoona bergegas menghubungi soojung
dan meminta sang adik untuk
menjemput dan menemaninya ke butik.
Saat ini satu-satu nya harapan untuk
membunuh kekesalan dalam hatinya
hanyalah soojung. Adiknya itu pasti
bisa mengubah mood nya menjadi lebih
baik.

“hai oenni..”

“Astaga cepat sekali. Apa kau memacu
mobil mu dengan kencang?”

“emm.. hanya sedikit lebih kencang dari biasanya.
Aku bersemangat karna oenni
mengajakku ke butik. Jadi aku bisa ikut
belanja kan?”

“Oh.. Tentu saja. Kajja!”

Sepanjang hari itu yoona menghabiskan
waktunya berdua dengan soojung.
Mengunjungi beberapa butik, membeli
beberapa gaun dan sepatu tanpa hak
untuk yoona, juga makan bersama
disalah satu resto ternama,
menciptakan nostalgia keduanya dimasalalu.

Dulu juga mereka melakukannya meski
dalam kondisi yang berbeda seperti
sekarang.
yang membedakan tentu kondisi
finansialnya.
Dulu keduanya harus menghitung
terlebih dulu berapa banyak yang telah mereka
habiskan. baru setelahnya mereka akan
makan dikedai pinggir jalan, atau jika
tak mencukupi membeli dua cup ramen
sudahlah cukup bagi keduanya.

Jelas jauh berbeda dengan makan diresto
ternama seperti yang saat ini dilakukan.

Berterimakasih pada siwon yang telah
mengubah kondisi keungannya tanpa
perlu khawatir, mungkin akan setiap
hari yoona lakukan bila ia memang
menikah untuk materi.

Tapi nyatanya ia menikah karna hati,
tentu jaminan materi tak cukup
untuknya.

“kencan? apa aku tak salah dengar?”

Soojung terkejut ketika yoona tiba pada
pembicaraan tentang permintaan
kencan dari kibum.

“ya..”

“tapi apa itu kibum.. Pria itu? Yang dulu
menari denganmu?”

“Memang dia orangnya..”

“Oh.. wae? Kenapa bisa begitu? Oenni
ya.. Kau tidak sedang memancing
kemarahan siwon oppa kan?”

“justru aku melakukan itu untuknya..?”

“hah? Maksudnya?”

Yang terjadi kemudian adalah cerita
tentang kejadian saat pertengkarannya
dengan siwon, kepergiannya yang tanpa
sengaja kemudian bertemu kibum,
penyerangan yang dilakukan siwon
sampai penangkapan polisi hingga
berakhir pada apa yang dilakukannya
untuk menemui kibum dan memintanya
melakukan perdamaian.

“Astaga.. Jika saat itu saja siwon oppa
‘mengamuk’ apa yang akan terjadi jika
dia tahu kau akan berkencan?”

“dia sudah tahu..”

“jadi siwon oppa sudah
mengetahuinya?”

“aku sudah katakan padanya. Dan dia
mengatakan agar aku menikmati
kencan itu..”

“Apa? Yang benar saja!”

***

Ketika malam setelah ia selesai
melakukan apa yang menjadi keinginanya
untuk dilakukan, yoona pulang dengan
beberapa paper bag yang kemudian ia
perintahkan beberapa pelayan untuk
memasukkannya kedalam kamar.
Ia merasa terlalu lelah sekarang.

“apa siwon sudah pulang?”

“belum Ny..”

Oh..
Tanpa berpikir lama, yoona kemudian
menutup rapat pintu kamar dan
menguncinya.

Biarkan saja siwon menempati kamar
lain. Dia tak bisa lagi mengganggu
tidurnya malam ini.

***

Dress yang saat ini yoona pakai memang
diperuntukkan untuk wanita hamil.
Ia membelinya kemarin. Panjangnya
selutut dengan warna putih dan pita
biru pada bagian atas perutnya,
semakin mempertegas kehamilannya
saat ini, membuat yoona cukup
berbangga. Meski suaminya belum bisa
menerima bayi laki-laki nya,
setidaknya ia akan segera menjadi
wanita sempurna, menjadi seorang ibu
bagi bayi nya.

“Hai.. Cantik sekali. Kau wanita yang
mengagumkan, yoona”

pujian kibum ketika menjemput dan
melihat tampilannya membuat pipinya
merona.

“bisa kita pergi sekarang?”

“ya..”

“tak perlu ijin terlebih dulu pada
suamimu?”

“tidak.. Dia sudah pergi tadi”

Yoona menghembuskan napas pelan.
Semalam ia mendengar siwon mencoba
membuka pintu kamarnya. Meski tak
ada usaha keras darinya untuk
memaksa membukanya, hanya dua kali
dia menekan knop pintu sebagai usaha untuk membukanya.
Setelahnya tak ada lagi suara.
Semalam siwon pasti mengikuti
sarannya untuk menggunakan kamar
lainnya.
Dan pagi-pagi tadi suara mobil siwon
terdengar yang menandakan
kepergiannya.
Tanpa berpamitan padanya, siwon pasti
sedang menghindar bertatap muka
dengannya.
Oh..
Betapa menyebalkannya dia.

***

“kemana kita pergi?”

“hmm..jujur aku juga tak tahu yoona,
kau punya ide?”

“kau pasti keberatan dengan ideku..”

“tentu saja tidak.. Apa? Katakanlah..”

“emm.. Kurasa aku ingin kembali
ketempat dimana kau menemaniku
membeli peralatan untuk bayiku. Ada
yang masih aku perlukan..”

Yoona menggigit bibir bawahnya,
merasa tak pantas bila mengajak kibum
kembali kesana.

“Ada yang masih kau perlukan?”

“Ya.. jika kau keberatan aku tak memaksa.. kita bisa pergi ketempat yang kau inginkan..”

“hmm.. tidak.. baiklah…Kita kesana”

Kibum kemudian fokus pada roda
kemudi ditangannya.
Namun ia tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah mobil
yang dipacu dengan kencang, menikungnya dan
hampir-hampir membuat ia dan yoona
celaka.

“berandalan gila!”

Kibum mengumpat saat itu juga. Masih
belum melihat yoona yang memucat dan
terkesiap.

Ia mengenali mobil yang dipacu
kencang itu.
Sangat mengenalinya.
Karna Itu mobil siwon?
mobil yang biasa dikendarai suaminya..

Apa dia benar-benar ingin membuatnya
celaka?

Ya Tuhan..
Apa yang ada dalam pikirannya??

Gila!!

***

Siwon meremas rambutnya kemudian
memukul keras roda kemudi mobilnya.

Ia baru saja bertindak bodoh.
Benar-benar bodoh.
Setan apa yang telah merasuki
pikirannya.
Hingga hampir saja ia membuat yoona
celaka.

Wanita yang dicintainya, istrinya,
bagaimana bisa ia berbuat sedemikian
bodoh karna emosi yang memenangkan
hati dan menguasai pikirannya.

Dari saat mobil kibum masuk pelataran
rumahnya dan kemudian keluar dengan
yoona yang berada didalamnya, Siwon
telah mengawasi dan kemudian
mengikutinya.
Hingga muncul niatan buruk yang
membuatnya hampir saja menabrakkan
mobilnya kearah mobil kibum.

Untungnya ia kemudian tersadar,
dengan cepat menikung dan hanya
mengakibatkan gesekan kecil antara
mobilnya yang menyerempet sisi bagian depan
mobil kibum.

Awalnya ia mengira akan menjadi
mudah dengan Keputusannya untuk
tidak perduli, dan membiarkan yoona
pergi dengan kibum.

Tapi nyatanya hal itu justru menjadi
bumerang untuknya. Kecemburuannya
benar-benar tak bisa ia kendalikan.

Ya Tuhan…

“sayang.. Maafkan aku. Aku tak berniat
mencelakakanmu. Maaf..”

Siwon kembalu mencengkeram kuat kemudinya.
Terbersit pemikiran setelahnya.

Ia persis seperti ayahnya.
Ia pria brengsek yang tak punya hati.
Ia berbahaya.
Ia bahkan telah membahayakan nyawa
istrinya.
Mungkin akan terulang kisah tragis
keluarganya, andai ia tak lekas
tersadar tadi.

Ya Tuhan…
Ia bisa saja membuat yoona terbunuh.
Tidak…
Bukan hanya yoona, tapi juga bayinya.

Yabg terjadi setelahnya akan sama seperti apa yang
ayahnya lakukan.
Yang menyebabkan ibunya bunuh diri.
Yang kemudian membunuh ibu Minho juga melukai minho.

Dan sedikit saja tadi.. ia pun
akan berada diposisi yang sama seperti
ayahnya, orang paling jahat didunia ini.

Tidak..
Ia jelas tak ingin menjadi sama seperti
ayahnya.

Siwon mengeram dalam penyesalan.
Harusnya ia tak bersikap seperti
bajingan.
Harusnya ia menjaga dan melindungi
istrinya.
Bukan justru mencelakakannya.
Ataukah..
Ataukah memang yoona yang tak
seharusnya bersamanya.

Yoona tak seharusnya bertahan
dengannya.
Yoona harusnya mendapatkan
kebahagiaannya.
Dan itu bukan dari dirinya..
Ia bukan orang yang pantas untuknya.
Ia bisa saja membahayakannya lagi.

Ya Tuhan..
Harus seperti apa sekarang?

Dan pilihannya kemudian adalah…
Yoona menjauhinya atau dirinya yang
menjauh dari yoona.
Atau mereka bertahan bersama-sama?

Jelas itu semua adalah hal yang menjadi
sulit untuk dilakukan.

***

Sejak kejadian dijalan tadi, yoona
kemudian menjadi lebih banyak diam.
Hanya berbicara jika kibum
menanyakan sesuatu.
Jawabannya pun hanya sekenanya yang
bisa ia katakan.
Ia masih merasa shock.
Kibum mungkin tak tahu mobil itu milik
siwon.
Dia memang lebih baik tak usah tahu.

Namun yang terjadi kemudian adalah
perasaan tak nyaman.
Yoona jelas merasa tak enak hati pada
kibum.
Itu seakan dirinya setengah hati
melakukan ‘kencan’ yang bahkan telah
sebelumnya mereka sepakati.

“Yoona..”

“euh..ne..”

“sesuatu mengganggumu?”

“Oh.. Tidak”

“Kau terlihat murung..”

“maafkan aku.. Hanya saja mungkin
karna pengaruh kehamilanku.. Aku
menjadi cepat lelah..”

Ia tak sepenuhnya berbohong untuk itu.

“Ya Tuhan maafkan aku.. Seharusnya
kau katakan padaku, yoona”

Kibum kemudian merangkul yoona,
keduanya baru saja melangkah keluar
dari toko perlengkapan bayi, sesuai
dengan yabg diinginkan yoona.

Ketika kemudian kibum tanpa sengaja
menyenggol lengan seorang wanita yang
berjalan berlawanan dengannya dan
sibuk dengan ponsel ditangannya.

Andai ponsel ditangan wanita itu tak
terjatuh, Sepertinya dia juga tak akan
menyadari bila dirinya bertabrakan
dengan kibum saat itu.

“Oh.. Astaga! Ponselku..”

Wanita itu kemudian membungkuk untuk
mengambil ponselnya yang terjatuh.

“Hei.. Perhatikan jalanmu bodoh!”

umpatnya yang kemudian mengarahkan
pandangannya pada siapa yang
sebenarnya telah mengganggunya.

“maaf nona..tapi bukan hanya aku yang
harus memperhatikan jalanku. Tapi
juga kau..”

balas kibum kemudian.
Namun wanita itu tak menyahuti dan
lebih tertarik memperhatikan
seseorang yang saat itu bersama dengan
kibum.

Oh…

“Kau..”

“Victoria ssi..”

“Im Yoona.. Apa yang kau lakukan dengan
pria ini?”

Victoria lantas menatap kearah
beberapa paper bag ditangan kibum,
juga memperhatikan toko perlengkapan
bayi yang berada tak jauh darisana.

“Oh.. Jadi ini yang kau lakukan? Yang
membuat siwon mabuk dan marah. Kau
berselingkuh?”

Apa?

“dari awal aku sudah yakin kau
bukanlah wanita baik-baik..”

“jaga bicaramu nona!”
Kibum memperingatkan.

“jangan ikut campur kau! Oh.. Aku
semakin yakin sekarang”

“Victoria ssi.. Ini bukan seperti apa..”

“Diam kau! Apa yang kau lakukan pada
siwon? Pria ini kan yang sebenarnya
menanamkan benih dirahimmu. Kau
menggunakan kehamilanmu untuk
menjebak siwon agar menikahimu..
Sialan!”

Ya Tuhan..
Bicara apa dia??

***

Tadinya siwon sudah memutuskan
untuk bertahan.
Meski sulit ia akan tetap menjaga
yoona sebagai istrinya.
Memastikan yoona baik-baik saja.

Namun yang ia dengar sekarang justru
seperti sambaran petir yang menyengat
tubuhnya.

Apa yang dimaksud Victoria?
Kehamilan yoona?
Bayi itu?
Anak Kibum?

Tidak mungkin..!!

***

“Harusnya aku lebih memperingatkan
siwon. Harusnya aku mengatakan
kecurigaan ku padanya. Aku menyesal
tak melakukannya, dan justru
membiarkannya menikah dengan
wanita murahan sepertimu!”

Victoria semakin lantang mengatakan
tuduhannya.

“Bisa-bisanya kau melakukan itu pada
siwon. Bisa-bisanya kau mengatakan
bayi sialan itu sebagai anaknya. Niat
busuk apa yang sedang kau rencanakan
Im Yoona? Memuakkan! Kau bahkan
lebih hina dari…”

Cukup…

Plakkk~

Yoona memberikan tamparan sebelum
victoria menyelesaikan ucapannya.

Sudah cukup omong kosongnya.
Wanita itu tak bisa lagi menghinanya.
Terlebih bayinya.
Ia akan melindungi bayinya dari
tuduhan victoria yang menyakitkan…

“berhenti bicara omong kosong padaku.
Kau tak tahu apa-apa tentang bayiku!”

“Kau.. Beraninya kau menamparku!”

Vic sudah mengangkat tangannya untuk
membalas tamparan diwajahnya,
namun niatannya terhalang oleh
kehadiran siwon yang tiba-tiba, dan
langsung merenggut tangan dan
mencekalnya.

“Siwon..”

Yoona menggumam pelan.
Ya Tuhan..
Siwon ada disini.
Apa siwon tadi juga mendengar tuduhan
vic padanya?

Tidak…
Siwon tak bisa mendengarnya.
Dia bisa salah paham nantinya.

“Siwon..”
Yoona sudah akan meraih siwon ketika
kemudian siwon bersuara dan menatap
tajam kearah victoria.

“Apa yang kau lakukan disini? Ikut aku
sekarang!”

Siwon kemudian menariknya menjauh
dari Yoona dan kibum.

Pemandangan itu membuat yoona
merasa sakit.
Harusnya siwon terlebih dulu
mengatakan sesuatu padanya.
Harusnya siwon menarik tangannya
dan membawanya pergi darisana, dan
bukan victoria.

Apakah kehadiran siwon memang
sudah direncanakan?

Ya…
Siwon pastilah berada disana untuk
bertemu dengan victoria.

Ya Tuhan…
Jadi siwon sudah Benar-benar tak
perduli padanya?

Tidak…
Pemikiran itu membuat yoona limbung.
Ia sudah pasti jatuh andai tak ada
lengan kibum yang merangkulnya.

“yoona..gwechana?”

“ne..kepala ku hanya sedikit pusing.
Bisakah kita pergi saja dari sini?”

“Ya.. Aku akan mengantarmu. Kau
haruslah beristirahat”

***

“apa yang tadi kau katakan pada yoona?”

Siwon kini menatap marah pada
victoria.

“aku mengatakan apa yang seharusnya ku
katakan tadi. Siwon.. Apa yang kau lihat
darinya? Wanita itu.. Lihatlah tadi dia
bersama pria lain dan berbelanja
peralatan bayi? Kau pikir pria mana yang
melakukan hal itu jika bukan karna bayi
itu adalah anaknya”

Vic melihat tatapan keras dimata siwon
ketika ia mengatakan alasannya.

“Bayi itu.. Tidakkah kau berpikir bayi itu bukan darah dagingmu. Yoona pasti
sudah berbohong padamu! Pria yang
bersamanya tadi pastilah orang yang
telah menanamkan benih dirahimnya,
dan bukan kau!”

“Sialan kau.. Itu tidak mungkin!”

“Siwon.. Itu mungkin saja. Kau pikir
yoona tidak ‘tidur’ dengan pria lain
sementara dia mau ‘tidur’ denganmu.
Wanita murahan..!”

“Hentikan vic! Kau pikir siapa yang
sedang kau bicarakan? Yoona istriku
dan bukan wanita murahan.. Aku
percaya padanya. Dan bayi itu.. Bayi
itu sudah pasti anakku, darah dagingku.
Aku bisa merasakannya..”

“Siwon..!”

Vic berdecak kesal saat
Siwon langsung meninggalkannya.
Siwon jelas marah karna apa yang
victoria katakan.
Dia sahabatnya.
Bagaimana bisa dia memberikan
penilaian begitu buruk terhadap wanita
yang dicintainya.
Yoona jelas bukan wanita seperti itu.

***

Yoona tak lantas pulang kerumah
siwon. Ia meminta kibum
mengantarnya ke apartemen yang dulu ia
tempati bersama soojung.

Ia juga mengucap maaf, merasa tak
enak karna jelas itu bukanlah ‘kencan’
seperti yang diinginkan kibum.
Dan untunglah kibum bisa mengerti.

“Kau benar tidak apa-apa?”

“Ya.. kibum ssi. Aku akan bertemu soojung terlebih dulu..”

“Mungkin sebelum pergi aku bisa memberi penjelasan pada siwon. Wanita tadi.. apa yang diucapkannya.. aku hanya merasa suamimu akan menjadi salah paham bila mendengarnya tadi…”

Yoona tercenung.
Ya..
Itu jugalah yang menjadi ketakutannya saat ini..

“Tidak.. aku yakin siwon mempercayaiku. Dia akan mempercayai bayi ini adalah darah dagingnya..”

Yoona berusaha meyakinkan dirinya.

“Aku hanya mencemaskanmu yoon..”

“Ya.. trimakasih..”

Ketika kemudian kibum kembali melajukan mobilnya setelah mengatakan salam perpisahan karna esoknya ia harus pergi.yoona tersenyum dan memintanya untuk bethati-hati.kibum bersikap layaknya teman tadi. Mungkin pria itu telah berubah..
Entahlah..
Yoona tak merasa perlu memikirnya..

***

Ketika kemudian yoona menemui soojung, Pada saat itu soojung yang sedang tidak
berkuliah menyambutnya dengan
senang dan sekaligus bertanya-tanya
tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Dengan hanya melihat dari raut wajah yoona,
soojung yakin ada masalah yang kembali
terjadi antara kakaknya dengan siwon.

Dan benar saja…

Sebelum ia membuka suara untuk
bertanya, yoona lah yang lebih dulu
menceritakan semua kejadian hari itu
padanya.
Semuanya..
Tak ada yang ia lewatkan…

“Oenni tidakkah kau lelah?”

Soojung menatap iba kearah yoona yang
terdiam diapartemennya.
Yoona sedang menonton acara tv
dihadapannya, tapi soojung tahu sang
kakak tak sedang menyimak apa yang
dilihatnya.

“lelah untuk apa soojung ah..?”

“untuk terus bertahan bersama siwon
oppa.. Pergilah oenni. Tinggalkan
siwon oppa..”

“tidak semudah itu soojung.. Kau tahu
tidak semudah itu.. Bagaimana dengan
bayiku? Apa menurutmu aku akan tega
membiarkannya tumbuh tanpa seorang
ayah? Tidak.. Aku tidak bisa
melakukannya..”

“tapi siwon oppa tidak mau menerima
bayi laki-laki mu oenni.. Percuma saja
bila kau tetap tinggal disana”

“Siwon bukan tidak mau.. Dia hanya
belum bisa menerimanya. Aku yakin
dia akan menerimanya”

“tapi sampai kapan oenni? Aku takut
oppa akan semakin menyakitimu..”

“tidak.. Kau tahu siwon mencintaiku”

“Tapi sekarang Aku merasa mulai menyesalkan
keputusanku mendukung pernikahan
kalian..”

“soojung ah.. Jangan bicara seperti itu”

“tapi oppa begitu keterlaluan oenni. Aku
menjadi marah karna sikapnya padamu…
Cobalah untuk pergi oenni, dan lihat
bagaimana dia akan bersikap?”

“pergi? Kemana?”

Haruskan ia mempertimbangkan usulan soojung untuk pergi..??
Mencoba pergi seperti yang sudah pernah ia lakukan sebelumnya..??

Oh..
Entahlah…

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

TBC~

OK…
see you next part…
And tks for reading #ketjup

*Bingung mau bilang apaan…
Hihihiiii….

119 thoughts on “♥ I Need ROMANCE ♥ Chap 7

  1. Siwon ngeri banget kalau lg cemburu sampe kimbum masuk RS dan sampe berurusan dengan polisi..
    Semoga siwon gk percaya sama omongannya Victoria 😢
    Dan sebenernya yang bikin siwon tersiksa itu karna pikiran2 negatif dari masa lalunya, kalau saja siwon nggak terpengaruh sama masa lalunya pasti baik2 aja..

  2. Apaan lagi si victoria ngomong seenak nya aja dia pasti sengaja ngomong kaya gitu biar siwon salah paham dan ninggalin yoona..
    Siwon juga apaan lagi kenapa harus terpengaruh sama ucapan itu cewek..
    Jangan sampe dia mempercayai omongan victoria dan malah ga mempercayai yoona..
    Harus nya disaat kehamilan nya yoona bisa melewatinya dengan hari-hari yang tenang ga kaya gitu masalah datang silih berganti untung dia ga cepet stress kalo ga kan bisa membahayakan kandungan nya…

  3. jgn sampe siwon oppa terpedaya sama omongan victoria.. kasian yoong eonni nya selalu ngerasain sakit karna siwon oppa.. kalo diperluin pergi pergi aja eonn biar siwon oppa sadar kalau dia emang membutuhkan eonni sama baby nya..

  4. Ih sebel banget sama victoria itu, ngomongnyaaa sama yoona sembarangan banget ngga punya otak apa tuh orang…
    Mudah2an siwon ngga percaya sama itu omongan cewek…
    Kasihan kn sama yoon eonni😦 yang sbar yh eonni, siwon pasti bakaln berubah kok, sekarang2 aj udah keliatan ada perubahn🙂 next

  5. Selain siwonyang penakut, tapi dia overprotektif dan pencemburu berat, dan kibum oppa kenapa minta persyaratan kencan segala, dan Victoria, kamu menyebalkan ga tau apa-apa main nuduh yoon aja, semoga siwon oppa gak termakan omongan victoria

  6. jangan sampe siwon termakan omongan vic.
    jaHat banget victoria.gerem liatnya.
    soojoung benar mending yoona pergi dulu nenangin diri

  7. sebel bgt sma victoria omongannya gk bisa dijaga,sembarangan bgt pake nuduh2 yoong wanita murahan. bener2 ya bikin kesel aja. moga aja wonppa gk percaya sama omongannya victoria mudah2 aja dia lebih percaya sama yoong. buat yoong yg sabar ya wonppa bakal berubah kok.

  8. Uhh kesel sama victoria disini yang sok tau , untung yoona nampar diaa setuju banget ckckck siwon oppa jangan sampe
    Terpengaruh sama victoria jangan tinggalin yoona cuma gara2 trauma masa lalu omggg

  9. Aisshh ! daddy memang kelewatan !
    harus dengan cara apalagi mommy meyakinkan daddy untuk nerima bayi laki2 itu ?
    aku setuju banget sama sarannya soojung eonn…
    sebaiknya mommy pergi tapi untuk sementara saja dan liat apa yang terjadi sama daddy…

  10. Karena terlalu cemburu siwon sampai mukulin kibum itu sungguh ngeri..dan kibum malah memanfaatkn momen itu dgn ngajak kencan
    Oh licik sekali
    Dan victoria kalau ngomong ngasal,, siapa siih dia
    Beraninya bilang bukan anak wonpa
    Semoga wonpa g percaya y sama omongan vict..

  11. Terlalu cemburunya siwon sampe mukuli kibum gitu..dan dgn liciknya kibum memanfaatkan keadaan
    Victoria itu kenapa siih kok selalu ikut campur bahkan ngomongin yoona gitu
    semoga siwon gak terpengaruh sama omongannya vict
    Dan Kapan siwon oppa sadar??

  12. apakah yoona akan mngikuti saran soojung utk prgi
    terkdng siwon mmg sudah keterlaluan…
    dia bhkn mmbiarkan yoona merasa sndirian dan tersiksa dgn sikapnya saat mengandung anaknya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s