Fanfiction

♥ I Need ROMANCE ♥ Chap 6


#Happy Reading

*

*

*

*

*

*

Sepasang tubuh itu masih menyatu
dalam pelukan yang menghangatkan. Yang
entah sejak kapan seiring bibir
keduanya yang juga tengah bertaut dalam
sebuah ciuman, kehangatan itu
berubah menjadi gairah panas yang
membakar. Benar-benar akan
membakar andai salah satu diantara
keduanya tidak dengan tiba-tiba
mendorong dada pasangannya seperti
yang dilakukannya saat ini. Yang membuat
panasnya gairah yang sedang melingkupi
keduanya dipaksa untuk mereda saat
itu juga.

“Oh.. Keterlaluan. Kau bisa
membunuhku!”

“tak ada seorangpun istri yang terbunuh
hanya karna ciuman dari suaminya
sayang..”

“mungkin akan ada jika aku tadi tak
menghentikanmu Siwon..”

“Oh ayolah sayang..”

Yoona langsung turun dari atas
ranjangnya begitu siwon mencoba
kembali meraih tubuhnya.

Astaga…
Apa pria ini tak akan bosan untuk
mempermainkan bibirnya…?

Ini sudah beberapa bulan setelah
pemberkatan pernikahan keduanya.
Kandungannya pun kian membesar
diusianya yang memasuki bulan ke
enam. Tapi siwon, suaminya itu
sepertinya sama sekali tak terganggu
dengan perubahan fisik yang
menyertainya. Siwon bahkan masih
selalu menunjukkan ketertarikan dan
berbagai puja-puji pada tubuhnya yang
bisa membuat gairah yoona serta
merta naik dan berujung mengikuti
permainan suaminya.

Tapi tidak saat ini.
Tidak dipagi buta seperti sekarang.
Dan tidak setelah semalam mereka
bahkan telah melakukannya.
Ia tentu masih merasa lelah bukan?

“Kau harus bersiap siwon.. Tidakkah
kau bekerja hari ini?”

“kau lupa siapa pemilik perusahaan
itu”

Siwon mendekati yoona yang tengah
berdiri didepan lemari, hendak
menyiapkan pakaian kerja untuknya.

Dengan cepat siwon menghentikan
dengan memberinya pelukan dari
belakang.

“aku merasa tak bersemangat bekerja
setelah kau tak lagi menjadi
asistenku”

“jadi kau ingin aku kembali menjadi
asistenmu?”

“tidak.. tidak.. Kau tak lupa kan aku
sudah memecatmu!”

“Ishh.. Jadi apa maumu sekarang?”

“Kau sayang.. Haruskah aku
mengatakannya tiap kali aku
menginginkanmu? Sedangkan kau tahu
aku tak pernah berhenti untuk
menginginkanmu Yoona”

“Siwon..”

Siwon terkekeh, ia tahu yoona sedang
tersipu dengan rona kemerahan
diwajahnya.

“Ya Tuhan.. Kau benar-benar menjadi
ekstasi buatku yoona..”

Secara tiba-tiba siwon membalik tubuh
yoona, menekan tengkuknya dan
memagut bibir yang semerah tomat
miliknya, menyesap semua rasa dari
dalamnya.

“aku mencintaimu sayang..”

Sebelum meninggalkan yoona untuk
masuk kekamar mandi, siwon terlebih
dulu membelai pipi yoona,
membisikkan kata-kata cinta yang
membuat sekujur tubuh yoona
merinding karna suka cita.

Oh…
Istri mana yang takkan bahagia dan rela
menyerahkan apapun yang dipunyanya
untuk sang suami bila dirinya
diperlakukan dengan sedemikian
berharga.

Yoona merasakan semua itu.
Keyakinan akan cinta nya pada siwon
juga cinta siwon untuknya, telah
membawanya menjalani rumah tangga
yang ia rasakan begitu membahagiakan
seperti sekarang ini.

“sayang.. Bisa tolong ambilkan
handukku”

Yoona tersadar dari lamunan
singkatnya. Dan tersenyum karna
sampai detik ini ia masih saja tersipu
tiap kali siwon menghujaninya dengan
pernyataan cinta.

Ya..
Kau benar-benar terlihat seperti
remaja yg sedang dimabuk cinta
yoona.
Batinnya terkadang heran dengan
reaksi yang dimunculkannya.

“sayang.. Kau mendengarku?”

“nde? Bukankah ada banyak handuk
didalam sana?”

“Iya.. Tapi aku bosan dengan
warnanya. Bisakah kau ambilkan satu
yg baru untukku?”

Oh…
Benar-benar aneh.
Haruskah sebuah warna handuk
menjadi masalah?
Batinnya mengetuk-ngetukkan kaki
dan menyipitkan mata seolah sedang
berpikir.

“tunggulah.. Akan aku ambilkan
untukmu”

Yoona menuju pintu kamarnya.
Meminta seorang pelayan
mengambilkan sebuah handuk
untuknya.
Hinggq tak berapa lama ia kembali
dengan sebuah handuk berwarna krem
susu ditangannya.

“Siwon.. Ini handukmu. Kurasa
warnanya tak akan jauh berbeda
dengan semua handuk putih didalam
sana”

“kau sudah membawanya?”

“Ya.. Buka pintunya dan akan aku
ulurkan untukmu”

“baiklah sayang, tunggu sebentar..”

Siwon membuka sedikit pintu kamar
mandi, memberi celah untuk yoona
mengulurkan tangannya.

“Yap.. Kena kau!”

seperti sudah ia rencanakan
sebelumnya, begitu tangan yoona
terulur siwon langsung menariknya
masuk kedalam kamar mandi
bersamanya.

Owh… Ya ampun…

Seharusnya kau sudah tahu apa yg
direncanakannya yoona. Batinnya
mendesah pelan seakan tahu apa yang
akan terjadi nantinya.

“yakk.. Siwon! Kau menjebakku..”

“untuk apa aku menjebakmu sayang..
Seorang suami takkan melakukan hal
seperti itu pada istrinya”

Yoona memukul pelan dada siwon,
menyerah dengan apa yang dilakukan
suaminya.

“aku hanya ingin memanfaatkan setiap
waktu yang kita miliki sayang..”

“setiap waktu yang kumiliki adalah
milikmu siwon. Kau tak perlu khawatir
akan kehilangan waktumu bersamaku”

“jadi apa kau setuju jika aku tak
kekantor hari ini?”

Yoona menyipitkan mata mendengar
pertanyaan itu.
Jadi apa yg sebenarnya ada dalam
kepalamu Choi Siwon??

***

Selesai meladeni sang suami dikamar
mandi, kini yoona berganti membantu
siwon bersiap untuk ke kantor.

Sebagai
mantan asisten yang kini telah berstatus
sebagai istri siwon, yoona sudah
sangat tahu apa saja yang dibutuhkan
sang suami saat berada dikantor.

Di awal menyandang status sebagai
seorang istri dari pria sekelas choi
siwon, yoona cukup merasa gerah
dengan omongan orang-orang yang
seolah paling tahu apa yang terjadi.

Bukan hal yang baik tentu.. melainkan
cibiran-cibiran yang mampu membuat
telinganya panas. Jika bukan karna ia
masih waras dan berpikir ia harus bisa
menjaga nama baik dan martabatnya
sebagai seorang istri, yoona mungkin
saja akan melakukan hal-hal anarkis
demi menjaga harga dirinya.

Harga diri macam apa?
Bukankah ia dalam keadaan hamil
diluar nikah?

Well…
itu memang benar. Ia mungkin pantas
disebut wanita hina. Tapi bisakah
orang-orang tidak menghakiminya.
Mereka tak tahu apa yang ada dibaliknya
juga apa yang dirasakannya.

“Sayang.. Benar kau akan
membiarkanku pergi kekantor?”

“hmm..”

“takkan mencegahku untuk tinggal?”

Siwon merajuk merangkul yoona.
Satu hal baru yang yoona ketahui setelah
menikahi siwon adalah masih
seringnya siwon merajuk seperti anak
kecil yang meminta sesuatu pada ibunya.

Astaga..
Pria ini. Suaminya. Pria penakut keras
kepala yang selalu bersikap posesif
padanya, protectif yang cenderung
berlebihan menurutnya, ternyata
memiliki sesuatu hal lain yang
tersembunyi dibalik sifat yang tadi
disebutkannya.

Awalnya ia merasa heran. Namun
Yoona juga merasa cukup senang
siwon berlaku seperti itu terhadapnya.
Tapi tidak jika siwon melakukan hal itu
pada wanita lain. Sudah cukup ia
menerima siwon dengan masalalunya
yang seringkali berganti wanita.

Kini pria
itu miliknya. Suaminya. Hanya ia lah
satu-satunya wanita yang akan selalu
ada dalam pikiran dan hati suaminya.
Tak boleh lagi ada wanita lain selain
saudara siwon dalam kehidupannya.

Jika sudah membicarakan siwon.
Batinnya bisa terkesima heran.
Mungkin sifat posesif pria itu telah
menular dan menjangkit dalam diri
yoona. Tidak sadarkah ia?

Kembali pada sikap siwon yang sering
merajuk padanya, Ia paham masalalu
yang cukup sulit yabg pernah dijalani siwon
tak memberinya kesempatan lebih
untuk melakukan hal demikian diwaktu
kecilnya. Keadaan telah memaksanya
untuk bersikap waspada terhadap
apapun yg bisa kembali menyakitinya
dan juga saudaranya.

Tapi kini setelah
menikahi yoona, siwon bisa melakukan
apapun, termasuk bersikap seperti
seorang anak kecil didepan yoona. Tak
ada lagi batasan antara keduanya.

“sayang kau mendengarku? Kau takkan
mencegahku pergi?”

“aku ingin, tapi aku takkan
melakukannya”

Yoona bergeming dengan permintaan
siwon. Akibat ulahnya pagi ini, yoona
sudah bisa memastikan siwon akan
datang terlambat kekantor, untuk itu ia
berusaha cepat membuat siwon
bersiap dengan menarik siwon keluar
dari kamar dan membawa serta tas
kerja yang selalu dibawanya.

“kenapa kau tak melakukannya?”

“aku tak mau perusahaan kakek
bangkrut setelah diwariskan padamu,
terlebih setelah kau menikah
denganku. Apa yg akan dipikirkan
kakek terhadapku. Bisa-bisa kakek
ikut termakan omongan orang-orang
diluar sana yang mengatakan aku
sengaja menjebakmu kedalam
pernikahan dan kemudian
menggerogoti harta kekayaan mu.
Padahalkan kenyataannya kaulah yang
lebih sering menjebakku”

Siwon tergelak oleh penuturan yoona.

“astaga.. itu takkan terjadi sayang..
Tidak pergi kekantor sehari tak akan
membangkrutkan perusahaan ku. Lagi
pula ada sooyoung yang bisa kuandalkan”

Yoona menyipitkan mata
mendengarnya.

“itu alasan yang sama yang selalu kau
katakan suamiku. Anio.. Kau tetap
harus pergi. Cepatlah kau sudah
terlambat..”

“aku bisa datang semauku yoon. Tak
akan ada yang memecatku sekalipun aku
melakukannya setiap hari”

“itu bukan contoh yang baik bagi
karyawanmu.. Dan jika kau
melakukannya terus, akulah yang akan
memecatmu sebagai suamiku. Mana
ada wanita yang mau mempunyai suami
pemalas sepertimu”

Siwon kembali tergelak dalam tawa
karna ucapan yoona.

“ancamanmu sungguh menakutkan
sayang.. Baiklah aku akan berangkat,
kau tetap dirumah dan jangan
melakukan hal yabg membuatmu lelah”

Ucap siwon penuh dengan nada
protectif yang sama.
Setelahnya ia
memberikan kecupan diberbagai
bagian wajahnya. Tak lupa pelukan
erat pada tubuhnya yang seolah
mengatakan dirinya tak ingin
sedetikpun berjauhan dari yoona.

“aku pergi ya..”

“siwon..”

“hmm..”

“kau melupakan sesuatu..”

siwon mengerutkan kening, nampak
berpikir.

“kau tak berpamitan padanya..”

air muka siwon berubah seketika saat
melihat yoona mengelus perutnya.
Yoona sadar akan itu. Ia tahu siwon
selalu tampak menegang tiap kali ia
membicarakan anak dalam perutnya.
Titik kecilnya yang semakin bertumbuh
dalam rahimnya, mungkin siwon masih
menyimpan ketakutan dalam dirinya
tapi ia yakin suaminya itu juga tengah
berusaha untuk menerima kehadiran
seorang anak dalam kehidupan mereka
nantinya…

Siwon masih berdiri kaku disana
dengan tatapan mata mengeras melihat
yoona yang masih terus mengusap
perlahan bagian perutnya.

“siwon.. Kau tak ingin berpamitan
padanya? Kenapa aku harus selalu
mengingatkanmu”

Yoona langsung saja menarik tangan siwon,
kemudian meletakkannya diatas
perutnya. Menggerakkan nya Seolah
siwon sendirilah yang tengah mengusap
perutnya.

“kau tak akan mengatakan sesuatu?”

“aku..? Apa yg harus aku katakan
padanya?”

“apapun.. Kau bisa mengatakan apa
saja padanya”

tegang, kebingungan, siwon bahkan
berkeringat hanya karna hal itu.

Bagaimana bisa dia bereaksi
berlebihan seperti itu?

Hei…
dia hanya seorang bayi.
Janin yang bahkan masih berada dalam
perut ibunya.
Batinnya berdecak heran sambil
menggelengkan kepalanya.

“siwon..”

“euh.. Ya.. Aku, aku akan mengatakan
sesuatu padanya”

Siwon menghembuskan napas
berlebihan. Membuat yoona
sebenarnya menahan geli atas reaksi
siwon kali ini. Namun ia mencoba
menahan diri untuk lebih
mendengarkan apa yang akan siwon
katakan pada bayi mereka.

“euh.. Titik kecil, Aku.. Aku..”

“Appa.. Kau harus mulai mengajarinya
memanggilmu ‘appa’ siwon”

“ap-pa?”

“ya.. Ap-pa”

Yoona tersenyum sambil kembali
mengusapkan tangan siwon diatas
perutnya. Sementara siwon masih tak
bereaksi dan hanya menatap intens
kedalam mata yoona.

“siwon.. Ayo! Katakan apa yg tadi ingin
kau katakan pada bayi kita”

“euh.. Aku, Oh maksudku.. Ap-pa.
Appa.. Akan pergi kekantor. Titik kecil
Kau diam saja disana ya..”

Siwon buru-buru menarik tangannya
dari atas perut yoona begitu ia selesai
mengatakan kalimat itu. Kalimat yabg
hampir-hampir membuat yoona
memukul tangannya. Siwon seolah
takut bayi dalam perutnya akan
bereaksi setelah ia mengatakan
sesuatu padanya.

Astaga…

Betapa menjengkelkan dan kaku nya
sikap siwon ketika berhadapan dengan
bayi mereka. Sangat berbeda dengan
sikapnya pada yoona. Siwon bisa
berlaku manis bahkan terlewat
romantis bila sudah menggodanya.
Menghujaninya dengan kata-kata indah
yang seolah tiada habisnya. Tapi
dihadapan bayi yang bahkan masih
berada dalam perutnya siwon justru
seperti kehilangan kosa kata
bahasanya.

Dasar pria aneh…

Yoona mengumpat kecil dalam hatinya.
Kesabarannya kembali diuji untuk
menghadapi pria itu.

“hmm.. Kurasa titik kecil bukan lagi
nama yang pas untuknya. Kau lihatkan
perutku semakin besar dan
membuncit. Dia semakin bertumbuh
didalam sana. Kita harus mulai
memikirkan nama yang cocok untuknya”

“baiklah.. Aku akan memikirkan
beberapa nama perempuan untuknya”

“perempuan? Apa kau hanya akan
memikirkan nama perempuan
untuknya?”

“ya..”

“bagaimana jika dia seorang laki-laki?
kalau begitu biar aku saja yang memilih
nama laki-laki untuknya”

Yoona nampak antusias oleh idenya itu.

“Tidak yoona.. Dia takkan terlahir
sebagai seorang laki-laki sepertiku.
Bukankah kau sendiri yang mengatakan
jika bayi kita bisa saja seorang
perempuan. Dan aku percaya padamu.
Bayi kita pasti akan terlahir sebagai
seorang perempuan. Perempuan
sepertimu”

Yoona membeku sekaligus terperangah
oleh kata-kata siwon. Bagaimana
mungkin siwon berpikir dan mematri
kedalam ingatannya seperti itu?
Bagaimana ini?
Bagaimana jika nanti bayinya adalah
seorang laki-laki? Apa dia tidak akan
menerimanya?

Batinya ikut berputar-putar dalam
kepanikan.

Well…
Yoona memang mengatannya. Tapi
bukan seperti itu. Ia sama sekali tak
bermaksud menutup kemungkinan bayi
mereka akan terlahir sebagai seorang
laki-laki. Ia hanya mencoba membuka
pikiran siwon dari ketakutannya kala
itu, dengan mengatakan bayi mereka
bisa saja seorang perempuan seperti
dirinya.

Oh Tuhan..
Mengapa jadi seperti ini?
Mendadak ia merasakan kecemasan
merasuki hati dan pikirannya.

“sayang.. Aku pergi ya..”

namun Kecupan siwon dikeningnya
mengalirkan kehangatan yang langsung
menyerap kecemasan yang ia rasakan
hilang dari dalam dirinya.

“ingat pesanku.. Jangan membuat
dirimu lelah dan jangan pergi
kemanapun sendirian”

“euh siwon.. Sebenarnya aku lupa
mengatakan padamu. Hari ini aku
harus bertemu Dr.Kim untuk
melakukan pemeriksaan”

Dalam hati yoona berharap siwon akan
menawarkan diri untuk mengantarnya.

Sejak kejadian dirumah sakit waktu itu,
siwon belum lagi menemaninya
kerumah sakit untuk sekedar
melakukan pemeriksaan
kandungannya yang rutin ia lakukan
setiap bulannya.

“benarkah? Kalau begitu aku akan
menugaskan beberapa orang untuk
mengantarmu”

Yoona sudah menduga seperti inilah yang
akan siwon katakan. Memupus semua
keinginan hatinya tadi.

“tidak perlu.. Minho dan soojung yang
akan menemaniku”

Siwon memutar matanya begitu
mendengar yoona menyebut nama
minho.

“minho?”

“ya.. Minho. Choi min ho”

“mengapa dia bisa tahu jadwal
priksamu?”

“entahlah.. Tapi kurasa soojung yang
mengatakan padanya”

“Sial.. Jadi karna ini dia
mengundurkan diri dari perusahaan?
Untuk mendekati istri ku”

Kini berganti yoona yg memutar mata
mendengar ucapan bernada
kecemburuan dari siwon.

“tidak.. Kau tidak boleh pergi
dengannya”

“MWO.. Siwon! Apa maksudmu?”

“Aku yg akan mengantarmu..”

***

Yoona tengah bersiap dikamarnya.
Senang akhirnya setelah terlebih dulu
menyelesaikan pekerjaan dikantornya,
siwon akan mengantarnya menjalani
pemeriksaan rutin kehamilannya.

“apa aku harus selalu membuatnya
cemburu terlebih dulu agar dia mau
menemaniku?”

Yoona menggumam sambil mencari
pakaian yang akan dikenakannya.

“Ny… Ada Tn.Minho menunggu anda
diluar”

Seorang pelayan memberitahu dari
balik pintu kamarnya.

“Astaga.. Aku lupa membatalkan janji
dengan minho”

Yoona buru-buru mengenakan
pakaiannya, menguncir rambutnya dan
memoleskan sedikit bedak
diwajahnya. Ia keluar dari kamarnya
setelah merasa tampilannya cukup
pas.

“Hai.. Minho”

“hai noona.. Sudah siap?”

“emm.. Sebenarnya aku ingin
membatalkan janji ku denganmu”

Minho mengerutkan dahi
mendengarnya.

“waeyo noona?”

“Siwon.. Dia yang akan mengantarku”
ada senyum dibibirnya ketika ia
mengatakan hal itu pada minho.

“jadi noona membatalkan janji
denganku hanya karna hyung?”
Minho menampilkan wajah kesal
kehadapan yoona.

“ya.. Apa kau marah?”

“tentu saja.. Apa noona tak melihat
bagaimana perubahan mood ku?”

“aigoo.. Yang benar saja. Aku lebih
memilih suamiku daripada adik iparku.
Jadi kau tak bisa marah padaku.
Lagipula apa kau tak punya kegiatan
lain?”

“tidak..”

“kuliah?”

“tidak juga..”

“kau akan punya kegiatan jika tetap
berada dikantor minho. Dan bukan
berada disini untuk mendekati istriku”

Siwon masuk dan langsung menyerang
minho dengan kata-katanya. Namun
minho malah terkikik dibuatnya.

“yak hyung.. Kau tak berubah!”

“tak ada yang perlu kurubah bukan!”

Siwon meletakkan tas kerjanya
kemudian menghampiri yoona dan
memberikan kecupan dibibirnya.

Hal
itu tentu membuat yoona merasa kikuk
dan malu, karna dilakukan dihadapan
minho tentu saja.

Astaga..
Siwon pastilah sengaja melakukannya.
Untuk menunjukkan pada adiknya itu
akan kepemilikannya atas diri yoona.

Sedangkan yoona masih merasa tak
nyaman bila menunjukkan keintiman
nya dengan siwon dihadapan orang
lain, sekalipun itu adalah keluarganya.
Tapi berbeda dengan siwon.
Yoona bahkan sudah menyebutnya pria
tak tahu malu karna seringnya siwon
mencoba menunjukkan keintiman
diantara keduanya dengan cara
menciumnya secara tiba-tiba tak
perduli mereka sedang bertempat
dimana. Ditempat umum sekalipun ia
tak segan melakukannya. Yoona
bahkan pernah sampai harus
menginjak kaki siwon hanya untuk
menghentikan aksinya. Bila sudah
seperti itu pelukan posesiflah yang
kemudian diterima oleh yoona, yang
seakan memagarinya dan tak
membiarkan siapapun meliriknya.

“sayang.. Kau sudah siap?”

“hmm..”

“kita pergi sekarang?”

“baiklah.. Oh, Minho ya.. Mianhae
kami meninggalkanmu”

“gwechana noona..”

“kau tak akan pergi?”

“Hyung mengusirku?”

“apa terdengar seperti itu?”

“tidak juga.. Kalian pergilah. Aku ingin
tidur sebentar disini..”

“Oh.. Minho ya, bisa kau beritahu
soojung.. jika aku tak jadi pergi dengannya?”

“Baiklah noona.. Lagi pula aku juga
akan menemuinya nanti”

“jinja? Kuperhatikan kau menjadi lebih
sering bersama dengan soojung”
Sela siwon menatap curiga kepada
minho.

“jadi hyung masih ada waktu untuk
memperhatikanku?”

“katakan saja minho”

“apa tidak boleh? Bukankah kita
memang dekat.. Apalagi setelah kita
benar-benar resmi menjadi keluarga”
Sanggah minho menjawab kecurigaan
siwon.

“sebaiknya kau tahu batasannya
minho?”

“siwon.. Apa maksudmu? Minho dan
soojung..?”

“anio.. Sudahlah ayo kita pergi..”

***

Siwon masih saja diam dalam
mobilnya meskipun mereka telah
sampai dipelataran rumah sakit,
dimana yoona selalu melakukan
pemeriksaan kehamilannya pada
Dr.Kim.

“Siwon.. Kau tak akan turun?”

“aku akan menunggumu disini.
Masuklah..”

Yoona terkesiap oleh jawaban siwon.
Tadi ia sudah sangat senang karna
akhirnya siwon mau mengantarnya.
Jika seperti ini, sama saja dengan ia
diantar oleh supir dan bukan
suaminya.

“kau tak ingin melihat
perkembangannya?”

“bukankah kau akan mengatakannya
padaku nanti, seperti yang biasanya kau
lakukan..”

Huuh..
Yoona mendesah pasrah. Menyerah
pada kekeras kepalaan suaminya.
Mungkin hari ini memang bukan
waktunya.

***

“annyeong haseyo Dr.”

“Oh.. Annyeong Ny.Choi.. Sedikit
terlambat hari ini”

“ne.. Maafkan saya membuat anda
menunggu”

“gwechana.. Baiklah mari kita lakukan
pemeriksaannya”

Dr.Kim menghela tubuh yoona untuk
berbaring dan kemudian mengambil
peralatan yang akan digunakan untuk
memeriksa keadaan janin dalam perut
yoona.

“apa ada keluhan..?”

“sejauh ini saya rasa tidak”

“Oh.. Itu bagus. Baiklah saya rasa usia
kehamilan anda sudah cukup untuk kita
bisa mengetahui jenis kelamin nya”

Yoona merasakan antisipasinya yang luar
biasa. Ia akan segera tahu apakah bayi
dalam kandungannya adalah seorang
laki-laki atau perempuan.
Dan dalam
hati meneriakkan permohonannya agar
bayinya kelak adalah seorang
perempuan.

Oh..
Atas dasar apa ia melakukannya kalau
bukan karna siwon.

“apakah sudah terlihat Dr.?”

“Ya.. Sepertinya begitu. Saya bisa
melihatnya”

“apa bayi saya perempuan? Atau laki-
laki?”

“bayi anda…”

Yoona menatap was-was pada Dr.Kim.
Berharap apa yang akan disampaikan
Dr.Kim tidaklah memperburuk keadaan
yg ada.

Oh…
Bukan buruk maksudnya. Hanya saja
sikap siwon masih cenderung kaku,
juga takut-takut pada bayi mereka. Dan
sampai saat ini ia belum menemukan
solusi untuk mengatasinya. Jika dokter
mengatakan bayinya adalah laki-laki,
maka sudah bisa dipastikan, ia harus
bekerja ekstra untuk meyakinkan siwon
bahwa bayi mereka tidaklah akan
menjadi seperti apa yang siwon
khawatirkan dan takutkan.

“bayi anda kemungkinan besar laki-laki
Ny..”

“A pa ??”

Dr.Kim memperhatikan keterkejutan yang
terlihat berlebihan yang ditujukan oleh yoona.

Well..
Bersiap-siap lah menghadapi suamimu
diluar sana yoona.
Batinnya
mengingatkan dengan tangan bertopang
dagu, terduduk lesu di sisi paling dalam
dari dirinya.

Tidakkah batinnya sedang ketakutan?
Ataukah ini hanya lah bentuk
kepasrahan dari seringnya
mengantisipasi hingga merasakan
reaksi siwon yang cenderung berlebihan
dan sangat susah dimengerti bahkan
oleh batinnya sendiri.

“laki-laki?”

dengan susah payah kata-kata itu
akhirnya bisa keluar dari bibir yoona.

“Ya.. Kemungkinan besar seperti itu
Ny..”

“seberapa besar kemungkinan itu?”

“saat ini saya baru bisa mengatakan
kemungkinannya mendekati tujuh puluh
persen”

“tidak adakah kemungkinan bayi saya
perempuan?”

“hah.. Maksud anda?”

“ah.. tidak-tidak Dr.. Hanya saja saya
mengira bayi saya adalah seorang
perempuan”

“Oh.. Jika anda menginginkan seorang
bayi perempuan. Mungkin ada baiknya
nanti dikehamilan ke dua anda
melakukan program terlebih dulu. Saya
bisa membantu anda mendapatkan bayi
perempuan seperti yang anda inginkan
Ny..”

bukan aku, tapi suamiku yang berkeras
menginginkannya.

Yoona hanya mampu
menggumamkan kalimat itu dalam
hatinya.
Sebagai gantinya ia hanya bisa
tersenyum tanggung menanggapi
usulan Dr.Kim padanya.

Ya Tuhan…
Tidakkah dia tahu. Menghadapi
kehamilan pertamanya dengan sikap
siwon yang acuh tak acuh pada bayinya
saja sudah membuatnya hampir gila.
Bagaimana mungkin ia memikirkan
kehamilan ke dua?

Tidak …
Sepertinya Itu hanya akan terjadi bila
dirinya memang benar-benar
menginginkan menjadi gila.

Maka, sebelum ia berhasil mengubah
pandangan siwon tentang seorang
‘bayi’ diperutnya. Jangan mencoba
membicarakan kehamilan ke dua
dengannya.

***

Yoona melangkah keluar dari rumah
sakit dengan perasaan cemas akan
bagaimana caranya menyampaikan hal
itu pada siwon.
Haruskah ia berlari merangkulnya dan
berteriak dengan senyum gembira
bahwa bayi mereka nantinya adalah
seorang laki-laki.

Laki-laki yang pasti
akan sama tampannya seperti
ayahnya. Akankah siwon akan
menerima pelukannya dan
meneriakkan kegembiraan yang sama
sepertinya?

Oh..
Yg benar saja. Itu hanya akan ada
dalam mimpimu yoona.
Batinnya mulai berdiri meski masih
dengan gurat kelesuan diwajahnya.

Biar kutebak seperti apa reaksinya.
Pertama dia akan memberikan tatapan
membunuh padamu dan bayimu. Jika
tidak, yang kedua mungkin dia akan
berlari ketakutan, hingga membuatnya
tak berani menampakkan dirinya
dihadapanmu dan bayimu.

Yoona bergidik ngeri oleh gambaran yang
diperlihatkan oleh batinnya sendiri.

Dengan perasaan yang masih
berkecamuk, ia kemudian membuka
pintu mobil dan masuk kedalamnya.
Melihat siwon begitu bersikap tenang
entah mengapa justu membuatnya
kesal. Apalagi jika bukan karna
ketenangan yang seperti itu sedang tidak
ia miliki saat ini.

“sudah selesai?”

“hmm..”

“aku akan mengantarmu pulang dan
kembali kekantor”

huuh..
Lakukan apa yang kau mau siwon.
Menyebalkan..!!
Kau bahkan tidak bertanya bagaimana
hasil pemeriksaannya. Jika seperti itu,
aku juga takkan mengatakan padamu
bayi kita adalah seorang laki-laki.
Laki-laki. Kau dengar itu!!

Yoona hanya bisa mengungkapkan
kegalauan, meski itu lebih bisa disebut
kekesalannya, hanya dalam hatinya saja.

***

Daripada terus-terusan bergelung
dengan perasaan was-was, cemas yang
semakin menambah kadar kegalauan
dalam hatinya. Yoona memutuskan
menyibukkan diri didapur cantiknya.

Bergerak akan membuat ia juga bayi
dalam perutnya merasa lebih baik.
Siwon pernah melarangnya memasuki
area itu, karna tak mau jika yoona
didapur dan memasak.

Bersentuhan
dengan pisau tajam yang bisa saja
menggores tangannya ataupun
kemungkinan akan api yang bisa juga
menyulut bahkan membakarnya.

Lihatlah betapa takutnya siwon
terhadap sesuatu yang bisa menyakiti dan
melukainya.
Tapi tanpa sadar dengan sikapnya,
siwon mungkin telah menyakiti yoona
dari sisi yang lainnya.

“sayang.. Tidak-tidak apa yang kau
lakukan?? Duduk dan beristirahatlah..
biar aku yang melakukannya”

“Siwon.. Dr.Kim bilang aku harus
banyak bergerak. Ini akan membantu
proses persalinan nantinya”

“Kau sudah terlalu banyak bergerak.
Ikuti apa yang aku katakan atau aku akan
mengurungmu dikamar”

“kau berlebihan!”

“kau sudah tahu itu..”

“Yakk.. Siwon Turunkan aku!”

Yoona menjerit ketika tiba-tiba siwon
mengangkat tubuhnya untuk keluar dari
dapur.

“Siwon.. Ada yang harus aku katakan
tentang bayi kita padamu”

“apa..??”

Ketika siwon kemudian menurunkan
dirinya dari gendongan dan
menatapnya penuh tanya, Yoona hanya
menggigit bibir bawahnya gugup
sekaligus ragu. Mencoba
mempertimbangkan lagi akan niatnya
untuk mengatakan hasil pemeriksaan
kehamilannya tadi.

Sekarang atau nanti?
Bukankah sama saja?
Pada akhirnya siwon juga harus tahu.
Ia mengandung bayi laki-laki dan
bukan perempuan seperti yang diinginkan
siwon.

“sayang.. Ada apa? Kau baik-baik saja
kan?”

Aku baik, hanya saja aku ragu apakah
kau akan tetap merasa baik jika tahu
bayi kita adalah seorang laki-laki!

Yoona menggumam dalam hati sambil
menatap kedalam mata siwon.
Mencoba untuk menemukan fakta atau
apapun yang bisa meyakinkannya bahwa
suaminya itu tentulah bisa menerima
kehadiran bayi laki-laki nya.

Ya..
Siwon harus bisa menerima. Akan
sampai kapan dia bersikap seperti itu.
Bukankah dengan kehadiran bayi laki-
laki nantinya akan bisa mengubah
ketakutan atau bahkan traumanya
dimasa lalu.

Siwon bukanlah tak menginginkan bayi
laki-laki. Dia hanya takut jika darahnya
yang mengalir kedalam tubuh bayi laki-laki
mereka akan menjadikan bayi itu sama
sepertinya. Seorang pria ‘rusak’ yang
menerima aliran darah dan merasakan
kehidupan dari seorang pria ‘perusak’
macam ayahnya.

Siwon ingin menghentikannya.
Menghentikan aliran darah itu mengalir
dan menghadirkan kehidupan baru.
Sudah cukup sebatas dirinya saja darah
‘perusak’ itu mengalir. Jangan lagi ada
generasi baru yang mewarisinya.

Untuk itu ia berkeras menolak bayi
dalam kehidupannya dan yoona. Yoona
sudah cukup memberikan kebahagiaan
untuknya. Ia tak butuh sosok baru yang
‘katanya’ akan menambah
kebahagiannya. Cukup yoona. Yoona
sudah lebih dari cukup untuknya. Yoona
lah kebahagiaannya.
Tapi hati kecilnya terus berbisik. Untuk
apa dia bahagia jika yang terjadi adalah
sebaliknya pada yoona?

Yoona menginginkan bayinya. Yoona
bahagia karna ‘titik kecil’ itu dalam
perutnya. Yoona bahkan rela
meninggalkan dirinya demi
mempertahankan bayi nya.

Tidak..
Siwon tak akan bisa tanpa yoona.
Ketakutannya akan kehilangan yoona
jauh melebihi ketakutannya akan
hadirnya seorang bayi dalam hidupnya.
Karna itu siwon berusaha melunakkan
kekerasan hatinya. Mencoba menerima
kehadiran seorang bayi dalam
hidupnya. Mematri kedalam ingatannya
akan perkataan yoona. Jika bisa saja
bayi mereka adalah seorang
perempuan dan bukan laki-laki seperti
yang ditakutkannya.

Ya..
Dan jika bayi mereka perempuan
pastilah akan mewarisi semua sifat
yoona dan bukan dirinya. Bayi mereka
pastilah Bukan hanya sekedar cantik
dan menarik seperti yoona, tapi juga
baik, penyayang, mandiri, pantang
menyerah dan kuat menghadapi
permasalahan apapun yang menimpanya.

Tapi yang terjadi, bayi itu kemungkinan
besarnya adalah laki-laki. Lalu akan
seperti apa siwon menyikapinya??

“sayang..?”

Sentuhan lembut jemari siwon
diwajahnya, membuyarkan lamunan
yoona. Menariknya kembali ke
kesadarannya bahwa ia tetaplah harus
mengatakan kenyataan yang sebenarnya.

“apa yang ingin kau katakan sayang?”

“emm.. Tapi kau harus janji akan
mendengarkan apa yang aku katakan.
Jangan pergi sebelum aku selesai
mengatakan semua nya padamu. Kau
haruslah mendengar ku!”

“aku akan mendengarmu. Aku tak akan
pergi kemana-mana”

“janji?”

“tapi apa sebenarnya yang ingin kau
katakan sayang?”

“berjanjilah lebih dulu.. Janji?”

“Ya.. Aku janji padamu”

Yoona mengatur napasnya.
Ya Tuhan..
Mengapa Ia merasa Ini bahkan lebih
menegangkan daripada dulu ketika ia
mengatakan kehamilannya pada siwon.
Akankah reaksi siwon akan sama
seperti dulu?
Marah kepadanya?

“Dr.Kim mengatakan, bayi kita.. Bayi
kita.. Kemungkinan besar adalah
seorang laki-laki..”

Yoona menelusuri raut wajah siwon
dengan matanya. Mencari tahu akan
seperti apa suaminya itu setelah ia
mengatakannya.

Dan ya..
Siwon menegang saat itu juga. Sisi
gelap dalam dirinya muncul seiring
tatapan mata mengancam yang tertuju
pada yoona.

Oh Tuhan ku…
Tidak…

“persetan yoona.. Aku tak bisa
menerima seorang bayi laki-laki
diantara kita. Tidak.. Aku tak bisa!”

baiklah..
Selamat berjuang yoona!
Batinnya meringkuk pasrah dengan
reaksi yang ditunjukkan siwon.

“apa masalahnya?”

“Sial..! Kau tahu apa masalahnya!”

“Tidak.. Kau bodoh jika berpikir bayi
kita akan…”

“Hentikan yoona! Kita hentikan
pembicaraan ini.. Aku tak ingin
membicarakannya! Aku lelah. Aku ingin
tidur..”

“Siwon.. Aku belum selesai! Kau sudah
janji akan mendengarku!”

Siwon nampaknya tak perduli. Ia
langsung naik keatas tempat tidur.
Tanpa mengganti pakaiannya atau
bahkan mandi terlebih dulu.

Yoona hanya bisa melihatnya dan
Berdecak kesal dengan sikap
kekanakan yang ditunjukan siwon.

Oh..
Betapa bodohnya dia telah mencintai
dan menikahi pria menyebalkan seperti
itu.

Bagaimana bisa dia menolak darah
dagingnya sendiri?

“Kau pasti bisa menerimanya siwon..
Aku akan membuatmu bisa
menerimanya…”

Setelah beberapa lama Yoona mendekat kesisi ranjang
tidurnya. Memperhatikan deru napas
siwon yang sudah mulai teratur, yang menandakan
suaminya itu kini telah tertidur.

Mungkin benar apa yang dikatakan siwon
bahwa dia lelah, dan rasanya yoona
telah salah memilih waktu untuk
membicarakan tentang bayi mereka
tadi.

Mungkin besok. Setelah ketegangan
tadi mereka bisa mencoba
membicarakannya lagi.

Perlahan yoona melepaskan kedua
sepatu yang masih dikenakan siwon.
Kemudian menggulingkan tubuh siwon
yang sedang tertidur miring agar
memudahkannya untuk melepaskan
kemeja dari tubuhnya.

Betapa pria itu
tadi tak sempat mengganti pakaian
kerjanya. Terlalu lelah atau justru
terlalu panik adalah dua hal yang
mungkin melatar belakanginya.

Yoona menghembuskan napasnya
pasrah. Ia telah membuka semua
kancing kemeja siwon, tapi tak berhasil
menarik lepas dari tubuhnya. Rupanya
tenaganya sudah tak cukup kuat untuk
melakukan itu. Namun setidaknya
dengan begitu ia berharap siwon bisa
merasakan tidur dengan nyaman
malam ini. Hingga esok ketika dia
terbangun, siwon haruslah sudah
menemukan akal sehatnya. Dan
menerima dengan pemikiran terbuka
apa yang masih ingin dikatakan oleh
yoona tentang bayi mereka. Yang
harusnya bisa mengubah pandangan
negatif dalam benak siwon akan
hadirnya seorang bayi laki-laki dalam
kehidupan mereka.

Oh.. Tuhan…
Ia bisa gila bila harus terus menerus
menghadapi perubahan sikap tak
terduga dari suaminya. Pria itu sama
pandainya ketika sedang berubah
sikap, persis seperti bunglon yang juga
dengan mudah mengubah warna
kulitnya.

Sebelum naik keatas ranjang yang sama,
yoona masih sempat mengusap rambut
siwon, mencium keningnya, mengecupi
kedua pipinya juga bibir yang biasa
mengulum bibirnya yang kini tengah
mengatup rapat.

Astaga…

Yoona bahkan masih bisa tersipu malu
setelah apa yang dilakukannya.
Bagaimana bisa ia melakukan semua
itu setelah apa yang diterimanya tadi.
Bahkan dalam tidurnya pun siwon
berhasil menggodanya.

Bagaimanapun siwon memang telah
berhasil menguasai dirinya
sepenuhnya.

“kuharap kau bisa menghilangkan
ketakutan bodoh yang selalu membayangi
wajah tampanmu itu tiap kali kita
membicarakan bayi kita. Aku
mencintaimu siwon..”

Sekali lagi ia mencium kening siwon
dan menggumamkan perasaan
cintanya.
Betapa pun kesalnya ia dengan kekeras
kepalaannya.
Bagaimanapun siwon membentak,
berteriak dan marah padanya.
Bersikap acuh dan kaku pada bayi nya.
Semua itu takkan mampu untuk
menghentikan rasa sayang dan
cintanya terhadap pria itu.

Mungkin ia bodoh. Tapi tak sekalipun ia
menyesali kebodohannya. Tak
sekalipun ia berniat menjauh atau
berlari dari sisi siwon. Siwon bukan
seseorang yang layak untuk dijauhi, tapi justru
sebaliknya. Siwon adalah satu-satunya
pria yang sangat ingin ia raih, ia rangkul,
ia genggam tangannya dan
membawanya keluar dari sisi gelap
Kehidupan masalalunya yang masih terus
membayanginya mungkin hingga
sekarang ini.

Ia harus bisa bertahan untuk itu.
Bertahan untuk cintanya. Bertahan
untuk suaminya.
Bukankah seperti itu yang harus
dilakukan oleh pasangan yang bahkan
sudah terikat dalam janji pernikahan?
Tak akan ada pernikahan yang bertahan
jika keduanya begitu
saja menyerah pada keadaan yang
membuat mereka tak bertahan.

Jika siwon tak bisa menentukan sikap.
Maka ia lah yang harus mengambil peran
itu.
Tapi bukankah menjadi tidak sehat jika
kau yg terus menerus berada diposisi
bertahan?
Batinnya kini menyela perkataannya.

tak masalah jika aku mampu
melakukannya.
Jawabnya yakin..

lantas sampai kapan kau mampu
melakukannya?
Batinnya kembali mempertanyakan.

Sampai kapanpun aku akan pastikan
diriku mampu melakukannya.
Tekadnya penuh keyakinan..

Dan bukankah yang paling penting adalah
ia harus bertahan untuk ‘titik kecilnya’

Oh bukan…
Dia bukan titik kecil lagi.
Ia melihat sendiri bagaimana ‘titik
kecil’ itu telah berbentuk dan bergerak
didalam perutnya.
Rasanya ia memang benar-benar harus
memilih dan mengganti nama yang pas
untuk ‘titik kecil’ nya.

Well..
Cinta memang telah membutakan mu
yoona.
Batinnya mengedikkan mata tak
mencoba lagi menginterupsi
keyakinannya.

Dan Setelah melakukan perdebatan
dengan batinnya, Perlahan yoona
membaringkan tubuhnya disisi siwon.
Melingkarkan lengannya dipinggang
sang suami untuk memeluk dan
menemukan kehangatan dari tubuhnya.

Jika biasanya siwon yang berlaku seperti
itu padanya. Rasanya menyenangkan
karna sekarang ia yang berganti
melakukannya pada siwon.

Oh yoona..
Kau selalu menilai segala sesuatu dari
sisi paling positif yang bisa kau temukan.
Batinnya memberi pujian kemudian
beringsut memejamkan matanya.

***

Rasanya baru sebentar ia memejamkan
mata ketika pergerakan tubuh siwon
membuatnya terjaga. Mendengar suara
rintihannya,
Mendongak ia menemukan betapa
pucat nya wajah siwon dengan keringat
yang membasahinya. Tersirat ketakutan
dan rasa sakit disana membuat yoona
terkesiap dan langsung mengguncang
tubuh siwon, mencoba
membangunkannya.

Astaga…

Apa yg terjadi??
mimpi buruk kah yang kembali
mencekamnya??

“Ya Tuhan.. Siwon..! Siwon..! Bangun!
Siwon…”

Ketika akhirnya siwon terjaga, dia
seperti sedang tercekam oleh sesuatu
yang sedang memburunya. Yoona melihat
ketakutan dan sikap waspada dari
matanya.

Ya Tuhan..
Ia bahkan baru melihat ekspresi itu
dari wajah siwon. Ia pernah sekali
menyaksikan siwon yang sedang
bermimpi buruk, dan itu terjadi
sebelum pernikahan mereka. Setelah
menikah ia belum pernah sekalipun
melihat siwon mengalami mimpi buruk
lagi seperti saat ini.

Siwon selalu tidur nyenyak disetiap
malam nya.
Tapi kini..
Apa yang terjadi?
Apa yang membuat mimpi buruk itu
muncul lagi?
Apakah ini berhubungan dengan bayi
laki-laki nya?

Demi Tuhan..
Itu berlebihan.
Siwon tak seharusnya menjadi setakut
itu.

“siwon..”

Turun dari atas tempat tidurnya, yoona
lantas mengambil segelas air yang
kemudian ia berikan pada siwon,
berharap itu akan membuatnya lebih
tenang.

saat melihatnya perlahan mulai
kembali bernafas dengan normal,
yoona mengulurkan tangannya untuk
menyentuh bahu siwon.

“gwechana?”

“Yoona..”

Oh..
Ia bahkan bisa merasakan hatinya ikut
teriris saat siwon menyebut namanya
dengan suara bergetar.

“aku disini.. Apa yang terjadi?”

Yoona mengalihkan tangannya untuk
menggenggam tangan siwon, pada saat
itu siwon langsung mengeratkan
genggaman tangannya.

“sebuah mimpi buruk?”

“sangat buruk”

Oh..
Sudah kuduga.

“apa?”

“ayahku..”

ya..
Itu sangatlah buruk. Jika seorang yang
bahkan tak pantas disebut sebagai
ayah kini kembali menghantui nya.

“apa yang dia lakukan padamu?”

Yoona harus melakukannya. Ia harus
membuat siwon menceritakan mimpi
buruknya. Mungkin itu akan
menyakitkan bagi siwon. Tapi itu
perlu, agar ia tahu apa yang mungkin bisa
dilakukannya untuk menghilangkan
ketakutan yang terus bergelayut pada diri
suaminya.

“Benarkah aku akan menjadi
sepertinya? Aku mewarisi darah nya yang
mengalir ditubuhku..”

Oh Tuhan..
Itu bukanlah sebuah jawaban
melainkan pertanyaan bodoh yang tak
perlu dia tanyakan.

Jelas tidak.
Siwon tak sama seperti ayahnya.
Ia beribu kali lebih baik dari pria kejam itu.
Pria yang dengan teganya meninggalkan
doktrinasi buruk untuk darah dagingnya
sendiri.

“tidak siwon.. Kalian tidaklah sama.
Kau jelas berbeda seperti ayahmu..”

“Kau tak mengenal ayahku yoona! Dia
sama sepertiku. Aku sama sepertinya”

“darimana kau temukan pemikiran
bodoh itu? Aku tak perlu mengenal
orang seperti ayahmu untuk tahu kau
beribu kali lebih baik siwon.. Tidak, kau
tidak sama sepertinya kecuali kau
berniat membuatku bunuh diri sama
seperti ibumu, atau kau juga akan
menembak darah dagingmu. Itukah yang
akan kau lakukan? Hingga kau
menyebut dirimu sama seperti
ayahmu”

Yoona marah atas apa yang ada dalam
pemikiran siwon. Darah seorang ayah
yang mengalir tidak akan serta merta
membuat seorang anak mewarisi sifat
yang sama sepertinya. Tidakkah hal itu
pernah terpikir olehnya?
Tidakkah didalam tubuhnya juga
mengalir darah seorang ibu dan bukan
hanya darah ayahnya yang kejam..

“Sial Yoona! Tidak.. Tentu tidak. Aku
takkan pernah membiarkan hal itu
terjadi padamu”

Siwon melepaskan tangan yoona dari
genggamannya dan turun dari atas
tempat tidur. Dia berdiri tegang,
frustasi terhadap dirinya sendiri.

“siwon..”

Yoona kembali melakukan hal yang
sama, turun dari atas tempat tidurnya,
namun kali ini lebih untuk mendekat
kearah siwon berdiri. Tapi belum
sampai ia meraih tubuhnya, siwon
berbalik dan pergi, keluar dari kamar
mereka.

Yoona hanya bisa menarik napas berat.
Siwon jelas tidak berniat menjadi
seperti ayahnya.
Lalu mengapa dia harus terus berpikir
bahwa dia akan menjadi sama seperti
ayahnya?

***

Ketika matahari mulai merangkak naik
untuk menunjukkan cahaya dan
sinarnya yang hangat, pada saat itu
yoona terjaga dari tidur singkatnya. Ia
ingat ketika waktu menunjukkan pukul
lima pagi, itu masih belum bisa
membuatnya memejamkan mata. Ini
sudah jam tujuh pagi, ia harus
membantu siwon bersiap jika
suaminya itu berniat untuk ke kantor
hari ini.

Semalam siwon tak kembali kekamar.
Entah apa yang dilakukannya diluar
kamar mereka. Yoona pun tak mencari
tahu, karna merasa mungkin siwon
perlu waktu untuk merenungkan
semuanya sendiri.

“siwon..”

Yoona keluar dari kamar untuk mencari
keberadaan sang suami.

“siwon..”

“Oh.. Tuan sudah pergi Ny..”

“pergi?”

“ya.. Tuan pergi pagi-pagi sekali”

aneh…
Siwon bahkan tak berpamitan padanya.
Apa dia marah?
Oh..
Siwon tak berhak marah padanya.
Bukan dia yang seharusnya marah saat
ini.

***

Sisa hari itu dihabiskan yoona dalam
kamarnya.
Ia tak berniat keluar rumah jika itu
nantinya justru hanya akan membuat
siwon mungkin semakin marah
padanya.

Betapa mengesalkannya pria itu.
Seharian siwon bahkan tak
menghubunginya.
Tak mengirimkan pesan.
Tak memberi perhatian seperti
biasanya.

Tapi kini dia justru pulang dalam keadaan yang
paling tidak ingin dilihatnya..

“Siwon.. Apa yang kau lakukan? Kau mabuk…?”

Kesal melihat siwon yang pulang dalam
keadaan setengah sadar, berantakan
dan berbau alkohol, yoona menghindar
ketika siwon ingin meraihnya.

“sayang..”

“apa yang sudah kau lakukan?”

“kau menolakku?”

“Siwon! Jangan seperti anak kecil! Aku
benci melihatmu seperti ini..”

“kau membenciku? Sekarang kau mulai
membenciku! Gara-gara dia kau
membenciku!”

Siwon menunjuk kearah perut yoona
saat mengatakannya.

Ya Tuhan..
Lagi-lagi karna bayi dalam perutnya
siwon seperti itu.
Mungkin semakin parah setengah tahu
bayi dalam perutnya adalah laki-laki.

“Bukan begitu maksudku! Kau mabuk.
Aku benci ketika kau mabuk. Aku tak
suka melihatnya!”

Siwon memilih tak memperdulikan dan
beralih kearah sofa yang berada diruang
tamu rumahnya. Melepas dasi yang sudah
mengendur, kemudian melemparnya
kesembarang arah. Menaikkan kakinya
keatas, dia lantas merebahkan
tubuhnya disana.

Yoona hanya bisa berdecak kesal
sambil memandanginya.

“Oh noona..”

“Minho.. Kau datang?”

“aku yang membawa hyung pulang. Saat
aku memarkir, hyung keluar lebih dulu”

“Oh.. Dimana kau menemukannya?”

terdengar tak bisa menutupi
kekesalannya, saat yoona mengatakan
hal itu.

“nde? euh.. Victoria noona menelpon ku
dan mengatakan hyung berada di cafe
miliknya dan.. Mabuk”

Oh..
Wanita itu. Jadi siwon kembali
mengadu pada wanita itu?

Sialan…!

Wanita itu bahkan hanya menunjukkan
senyuman tipis saat memberikan
ucapan selamat atas pernikahannya
dan siwon.
Sangat terkesan tidak tulus.
Sejak pertama kali melihat wanita itu,
Yoona memang sudah merasa Victoria
menginginkan siwon. Wajar saja bila
kemudian dia menjadi tak rela ketika
siwon menikahinya, menjadi suaminya
dan ayah untuk bayinya.

“jadi dia disana? Seharian tadi?”

Yoona menggumam dalam
kekesalannya.
Minho pun tak mengetahui, karna dia
sudah memilih tak berkantor lagi untuk
lebih fokus meneruskan kuliahnya.

“sebenarnya apa yang terjadi? Kalian
bertengkar?”

“euh..”

“kusimpulkan jawabannya ‘iya’ bila
melihat noona gugup seperti itu, dan
hyung.. Astaga, aku sudah sangat tahu
mabuk adalah pelariannya”

“Ya.. Kami memang sedikit bertengkar”

pantaskah ia menyebutnya dengan sedikit pertengkaran?

Rasanya tidak…
itu bukan hanya sekedar pertengkaran melainkan sebuah pertentangan…

“apa masalahnya?”

Tidak..
Minho tak boleh tahu.
Itu menjadi masalah rumah tangganya.
Urusannya dan siwon.
Sebaiknya tak ada orang lain yang tahu
sebelum ia bisa mengatasinya.
Sedekat apapun minho dengannya,
tetaplah harus ada batasan dimana tak
semuanya mesti ia curhatkan pada
minho.

“gwechana..bukan hal yang perlu
dirisaukan”

“noona tak ingin berbagi denganku?”

“bukan sesuatu yang bisa dibagikan”
candanya..

“heuh..baiklah, tapi kuharap segera
selesaikan itu. Jika hyung macam-
macam, beri tahu aku. Biar aku yang
menghajarnya”

Yoona hanya tersenyum
menanggapinya.

“well.. Aku pergi. Jaga kesehatanmu
noona dan.. Aku menyayangimu”
Minho berucap malu-malu.

“ne.. Aku juga menyayangimu minho.
Tapi sebaiknya jangan mengatakan itu
jika tak mau siwon menendangmu”

“hahhaa..ne arraseo noona!”

Yoona tersenyum mengantar minho
sampai kedepan pintu, namun
kemudian senyumnya hilang dan
berganti mendecak kesal ketika
melihat lagi betapa berantakan siwon
saat ini.

“baiklah..nikmati bau alkohol itu dalam
tidurmu. Aku tak akan mengurusmu
lagi”

Yoona lantas kembali kekamarnya,
mencoba untuk tidur diranjang
empuknya seorang diri. Namun yang
terjadi, ia hanya bisa berguling kesana
kemari setelah tak jua bisa
memejamkan matanya.

“aigoo..”

Turun dari atas tempat tidur, ia
kemudian meraih satu selimut dan
keluar dari kamarnya.

Betapapun besarnya kekesalan itu pada
siwon, nyatanya ia tak bisa begitu saja
mengabaikannya yang sedang tertidur
diatas sofa dan pasti kedinginan
disana.

Yoona memasangkan selimut
yang dibawanya ketubuh siwon. Dan
sejenak memandangi wajah kusutnya.

“aku tahu kau akan bisa menerima bayi kita
siwon.. Aku tahu kau bisa berubah. Aku
hanya perlu menunggu untuk itu”

Kembali yoona meninggalkannya
disana.
Memasuki kamarnya kemudian
menutup rapat dan mengunci pintunya.
Kali ini ia harus tidur.
Benar-benar tidur walau tanpa siwon
disisinya.

***

Keesokan paginya, ketika siwon
terbangun dari tidurnya, ia merasakan
pusing dikepalanya. Mencoba
membuka matanya yang terasa berat, ia
menatap sekeliling dan sadar dimana
dirinya tidur saat itu.

“Yoona..”

Seperti lupa dengan kejadian semalam. Dan dengan
masih merasa lesu, ia kemudian
melangkah kekamarnya, dan mendapati
pintu itu terkunci saat ia mencoba
membukanya.

“Yoona.. Buka pintunya?”

tak ada jawaban meski berkali siwon
mengetuk pintu itu.

“Yoona.. Sayang kau didalam?”

Siwon sudah akan memanggil pelayan
rumahnya, andai pada detik itu ia tak
mendengar suara kunci yang diputar, dan
yoona membuka pintunya.
Terlihat rapi, segar dan wangi. Siwon
bisa mencium harum parfum itu yang
semerbak dihidungnya. Sangat bertolak
belakang dengan tampilannya yang
berantakan dan masih berbau alkohol.

“sayang.. Kau mau pergi?”

“ya..”

“kemana?”

“aku perlu udara segar”

“aku akan mengantarmu”

“tidak.. Aku bisa sendiri”

Yoona tahu, ketika ia mengabaikannya,
siwon akan marah.Tapi ia tetap dan
sengaja melakukannya..

“Yoona! Yoona!”

Yoona benar-benar mengabaikan suara
keras siwon yang memanggilnya.

Namun
sebelum mencapai pintu depan rumah
mereka, ia harus rela menghentikan
langkahnya saat beberapa pelayan
rumah menghalangi jalannya.

“Minggir kalian!”

“maaf Ny.. tapi Tuan..”

“Tuan mu itu urusanku..”

“tapi..”

para pelayan itu tetap tak beranjak.

Oh tentu saja..
Apalagi ketika melihat siwon berjalan
kearah mereka.
Yoona acuh dan berusaha untuk tak
terintimidasi dengan kekuasaan siwon
dirumah itu.

“Sebenarnya kau ingin pergi kemana?”

“sudah kubilang aku perlu udara segar.
Aku bukan tawanan dirumah ini!”

“aku akan menemanimu, tunggulah
sebentar”

“tidak perlu.. Aku ingin pergi sendiri”

“Yoona..! Aku tak akan mengijinkanmu
pergi sendiri”

“aku tak perlu ijin darimu..!”

“Jangan bersikap semaumu!”

“wae? Bukankah kau juga tak perlu ijin
dariku untuk apapun yang kau lakukan
diluar rumah. Kau yang selalu bersikap
semaumu dan bukan aku!”

Oh..
Yoona tak menginginkan hal semacam
ini.
Pertengkaran didepan para pelayan
rumah mereka.

Memalukan..!

Tapi mau bagaimana. Siwon terlanjur
memancing emosi nya.

“Aku hanya butuh udara segar. Aku
bukan berniat keluar untuk mabuk atau
menemui pria lain seperti yang kau
lakukan bersama Victoria!”

Siwon terkejut mendengar ucapan
yoona.
bagaimana ia bisa membawa nama victoria ditengah perdebatan mereka…

“Aku tidak bersama Victoria!”

“Ya.. Kau bersamanya!”

“Tidak.. Aku benar-benar tak
bersamanya, yoona! Bagaimana bisa
kau berpikir seperti itu?”

“Oh.. Kau menyangkal? Kau berada
dicafe nya. Kau mabuk disana..”

“aku memang berada dicafe nya. Aku
memang minum disana. Tapi tak ada
Victoria. Demi Tuhan.. Dia sedang
pergi saat itu”

“Tapi dia menelpon minho dan
memberitahunya kau sedang mabuk
disana. Kau pikir darimana dia tahu jika
bukan karna dia sedang bersamamu..”

“persetan dengan semua yang kau
katakan! Aku benar-benar tak tahu itu.
Karyawan cafe nya mungkin yang
memberitahukan keberadaanku disana
pada victoria. Astaga.. Aku sungguh tak
bersamanya. Percayalah padaku”

Siwon meraih tangan yoona dan
menggenggamnya. Hanya sebentar
karna setelah itu yoona menarik paksa
tangannya.

“entahlah..disaat seperti ini apa aku
masih bisa mempercayai mu”

“Yoona..”

“tolong perintahkan mereka untuk
minggir. Aku ingin keluar..”

“Sayang..”

“dan jangan ada yang berani mencoba
menguntit ku!”

Yoona memperingatkan. Ia tahu siwon
selalu menempatkan seseorang untuk
mengawasinya.

“Kau sungguh tak ingin aku
menemanimu…”

“tidak..”

“Kau akan kembali kan?”

Oh..
Dasar bodoh!

“Siwon.. Aku akan pergi secara
sembunyi-sembunyi jika aku berniat
kabur. Walau aku yakin itu tak akan
berhasil, dengan banyaknya penjaga yang
kau tempatkan dirumah ini”

Ada senyum geli ketika yoona
mengatakan hal itu.

“tentu saja aku akan kembali. Ini
rumahku. Kau pikir kemana lagi aku
akan pulang?”

“aku hanya takut kau..”

Siwon menggantungkan kalimatnya,
dan mengganti dengan kalimat perintah
pada para pelayannya.

“biarkan dia pergi..”

Dengan satu kalimat itu para pelayan
langsung menyingkir dan tak lagi
menghalangi jalan yoona.

Siwon membiarkannya. Membiarkan
yoona pergi seorang diri. Mungkin apa
yang dikatakan yoona sedikit melegakan
untuknya. Yoona akan kembali. Dia tidak pergi untuk meninggalkannya.

Ya…
Dia pasti akan kembali, pulang
untuknya.

***

Nyatanya siwon tak semudah itu
menjadi tenang. Belum sampai satu
jam setelah kepergian yoona, kerisauan
nya justru kian bertambah.

Namun ego nya sebagai seorang pria
menahannya untuk menghubungi
yoona.
Yoona sudah pasti akan menertawakan
dirinya. Bila baru sebentar saja yoona
pergi dan dia sudah uring-uringan
seperti ini.

Tak habis akal, siwon melacak
keberadaan yoona menggunakan gps
pada ponselnya. Yoona sudah pasti
membawa ponselnya, itu
mempermudah siwon untuk mengetahui
dimana keberadaan nya sekarang.

Yapp..
Dan ia menemukannya.

Siwon telah melakukan mandi tercepat
yang pernah ia lakukan, sebelum akhirnya
pergi untuk menyusul yoona.

***

Tadinya Yoona ingin meminta soojung
untuk menemaninya. Tapi setelah ia
menelponnya, soojung ternyata
memiliki jadwal kuliah. Hingga
akhirnya ia mencoba menikmati
harinya seorang diri.

Ia berkeliling disalah satu pusat
perbelanjaan. Mencari-cari keperluan
untuk bayinya.
Tak kurang dari tiga bulan ia akan
menjalani proses persalinan.
Bayinya akan lahir.

Dan…
Menyedihkan, Ia bahkan belum
mempersiapkan apa-apa untuk ‘titik
kecil’ nya.

“agassi.. Aku ingin yang ini,  juga yang itu
dan yang ada disana..”

Yoona menunjuk beberapa barang yang diinginkannya.

“baiklah Ny.. Saya akan
membungkusnya untuk anda”

Rasanya menyenangkan. Ia tak perlu
risau dengan berapa uang yang akan ia
keluarkan.

Siwon telah menjamin keuangannya.
Tentu saja..
Suaminya itu selain mengesalkan
ternyata juga sangat menguntungkan.

Tapi…
Kemana Siwon?
Dia bahkan tak mencoba
menghubunginya…

Menyebalkan!

Yoona sudah akan beralih darisana ketika tiba-
tiba pandangan nya berubah  menjadi gelap.

Oh…
Apa yang terjadi?

Seseorang yang berada dibelakangnya ternyata
sedang menggunakan kedua tangan untuk menutup matanya.

Apa mungkin..?

“Siwon?”

“bukan..! Tebak siapa aku?”

Oh..
Sial..!!

“Kibum ssi..?”

Tak jauh dari sana siwon menggeram,
mengepalkan tangannya untuk apa yang saat ini dilihatnya…

Yoona bersama pria brengsek itu..??

Sialan…!!!

*

*

*

*

*

TBC~

Yeahhh….
ini 10 part kayaknya yang masuk ke INR 2…^^

Aq gak maksa buat ninggalin komen koq^^
Just say thanks buat yang sudah meluangkan waktunya untuk baca… #tebarlopelope

kekkekekeeeee…..^^

145 thoughts on “♥ I Need ROMANCE ♥ Chap 6

  1. Tuh kan bner dpt baby boy.. oohh no.. masalah baru lg…

    Wonppa tuh tkut khilangan yoona oennie tp sikapnya egois bgt.. kasian yoona oennie msti selalu ngertiin wonppa disaat lg hamil gtu..

    Yaelah pake acRa ktmu s kibum siihh …
    Berantem lg deh ini mah.

  2. Ikut deg2an waktu nunggu dokternya nyebut jenis kelamin bayi…dan trnyataaaa bikin siwon enggak nerima lagii
    Dan itu apaa,, tiba2 ada si kibum,, oooh noo…
    Siwon pasti salah sangka deeeh… Next. Chapt lanjutt yaaah…

  3. wah krna bayinya kemungkinan laki laki laju gk mau siwon haha
    dan skarang malah yoona ketemu kibum di mall apa yg bkalan terjadi kalau siwon ksana krna dia udh mandi wkwkwk
    apakah semua pelarian siwon adalah mabuk…

  4. Aigo… Wonppa meskipun sangat romantis sama Yoong tetap aja blm menerima bayinya apalgi yg di dengarnya bayi itu bayi jenis klamin laki2, oh Wonppa sampai kpn otakmu trus di racuni oleh ayahmu sendiri. Kenyataannya sebenarnya dia adlh pria yg baik sperti yg di blg Yoona, klo dia pria jahat seperti ayahnya pasti dia udh mnghianati Yoona dan berselingkuh. Hatinya benar2 keras, kasihan Yoona hrs menghadapi tingkah Wonppa
    o ia sepertinya bakal terjadi sesuatu wni dgn Yoong apalagi wonppa melihat ki bum memeluk Yoona dri blakang, wow… amarahnya makin meledak ni. apa mereka akan berkelahi, puncak ceritanya makin menegangkan ya.

  5. romantiznya siwon oppa kalau sama yoona eonni,tpi kenapa kalau soal baby mereka siwon langsung dingin kayak gitu ya,sebegitu troumanya siwon sampai berharap kalu bayinya perempuan,tpi bayi yang dikandung yoona kan laki2 apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka

  6. Ttp aja Siw0n belum bisa nerima kemungkinan titik kecil mereka akan lahir sebagai laki2,, Jd frustasi & jadiin mabuk sebagai pelampiasan.a.,
    Sekali.a Siw0n ngijinin Y00na keluar sendiri. Malah ada Kibum tuh yg bakal jd penyulut kemarahan Siw0n..,

  7. Suka bget klo bca ff karakternya siwon itu romantis n memuja yoona, bkin hati deg degan tiap bcanya…
    Ohh timbul masalah bru lgi gra2 bayinya laki laki….
    siwon cpatlah sembuh dri traumamu, nanti yoona tmbah tersiksa kan kasihan dia lgi hamil…
    kesseeel nih sma siwon, tiap ada masalah pasti larinya k victoria…
    kenapa kibum hrus muncul lgi sih, nanti siwon bsa salah paham sma yoona…

  8. Psti siwon ngmuk niii krna tau yoona ktmu m kibum…
    Lgian knpa siwon bsa mabuk sbgi plmpiasn yg psti laah yoona mrah

  9. Akuu bsa ngrsain jdi yoong dichap ini.. Susah bgtt yaahh, hnya untk pnya anak.. Bnyk rntangannya!! Ohno!! Hhmmmm.. Akuu ikud frustasi bcanya!! Semoga kdpannya lbih bkin sntai dehh,, abiss akuu smpe kebawa emosi!!

    #kecupsauthor soalnyaa ffnya keren(y)

  10. Siwon itu sebenarnya takut kehilangan yoona,tpi egonya lebih..sehingga menimbulkan masalah terus..
    Ceritanya makin gregetan apalagi ditambah baby merka laki2..
    Lanjut chinggu..

  11. Ya tuhan !!! Udh menikah pun cobannya bnyk bngt..engga anak , engga yg lainnya ..ckck
    Sbenernya hub.siwon sma victoria tu apa sih ?
    Tuh lgi kibum dia ngejar” mulu -.-

  12. Egois + posesif.

    Entah bagaimana khdpan rumah tangga mreka. Di bilang saling mencintai iyaa, tp ada tapi nya untuk itu…!

  13. kasian bgt di yoona uni .. hrus ngdpn siwon yg masih aja trauma. -__- smpt sneng siwon udah agak nerima anaknya.. pas tau anaknya cwo kumat lg tuh si siwon kekek 😂😁

  14. So sweet…
    Meskipun siwon sangat romantis sama yoona tapi tetap aja belum menerima bayinya apa lagi yang di dengarnya bayi itu berjenis kelamin laki2 dan siwon lagi2 tengellam dalam ketakutan yang sebenernya belum tentu terjadi…

  15. Awalnya manis banget,,
    Siwon romantis dan perhatian banget sama yoona..😊
    Tapi pas tau anak mereka laki-laki lagi-lagi siwon merubah sikapnya..
    Dan kenapa sih dia selalu pergi mabuk ketempatnya victoria kenapa siwon harus selalu menemui dia dan menceritakan semuanya pada dia..
    Dan sekarang giliran yoona yang bersama cowok lain..
    Sekarang giliran yoona yang bikin kessel dan membuat siwon cemburu sama dia..yang #Yeay
    Emang enak siapa suruh kalo ada masalah harus selalu pergi ketempat vic..
    Sekarang rasain tuh balessan nya..

  16. tuh kan bener siwon oppa kembali gak normal lagi.. greget bgt sama siwon oppa yang masih anti sama babynya.. ouh itu hanya sebuah baby yang manis yang belum tercoret2.. aishhh rasanya siwon oppa pengen gua cekik.. oppa ayolah kasian yoong eonni yang selalu meyakinkan oppa.

  17. Setelah menikah siwon mengexpresikan terus rasa cinta nya sama yoona dengn bilang trus kalau dia mencinti yoona..
    Tapi setelah siwon tau yoona hamil nak laki2 dia malah marah dan ngga mau nerima karena takut, anaknyaa bakalan sama sepertiny yang perusak….
    Aku sebel tiap ada nama victoria aku yakin dia itu suka sama siwon n cuman siwon mah ngga peka aja, jangan sampe dia ngancurin rumah tangga siwon yoona…
    Apa tadi yang di sebut laki2 berengsek itu kibum? Wah kalau bener gimana kalau siwon tau? Apa yang bakalan terjadi?

  18. awalnya manis wonppa nya romantis bgt. tpi setelah tau kalo anak yg di kandung yoong laki2 dia marah bgt dan gk mau nerima soalnya dia takut kalo nanti anknya bakal kyak dia. sebel jg sama wonppa knp sih kalo dia ada masalah dia pake mabuk apalagi dia mabuk di caffe nya victoria bikin yoong kesel aja.

  19. Romantis banget si siwon tapi tetep keras kepalanya ga bisa ilang masih ajah kaku sm anaknya sendiri hedewhhhhh
    Yonna keep fighting ya

  20. Plisss siwon oppa lupainn trauma masa lalunya pelan pelan, kasian yoona nya jadi beban gitu pas dia lagi hamill huhuuu, fighting yoona pasti bisa benerin siwon oppaa, jangan deket2 victoria ishhh dasar nyebelinn huuuu yoonwon ❤️❤️ Jangan ada yg ganggu

  21. astagaa! kenapa daddy gga bisa nerima bayi laki2 itu sih ? ?
    ayolah daddy…
    jangan kekanakan seperti itu…
    dan kibum oppa ? ? apa kau mau cari mati ?

  22. Tega sekali wonpa itu.. dia gak pernah nemenin yoona periksain babynyaa.. knp tunggu diluar
    Itu kibum juga kenapa masih juga deketin yoona

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s