Fanfiction

♥ I Need ROMANCE ♥ Chap 5

#Happy Reading

*

*

*

Yoona mengikuti kemana kakinya ingin
melangkah, ia membuka pintu kamar
siwon kemudian masuk kedalamnya.

Setelah pembicaraan pernikahannya, ia
memang terkadang menginap dirumah
siwon untuk membicarakan sekaligus
merancang pernikahannya.

Aroma kamar siwon yang menguar dari dalamnya menjadi sangat
familiar baginya.
Yoona melangkah
mendekati tempat tidur, menyibakkan
selimut, kemudian meringkuk di
atasnya untuk menikmati aroma tubuh
siwon.

Bagaimana bisa setelah kemarahan yg
ia terima, ia masih saja sangat
merindukannya.

Dengan airmata yg masih membasahi
wajahnya, ia menatap cincin pemberian
siwon yg berkilau indah melingkar di
jari manisnya.

Calon suaminya itu baru
saja meninggalkan nya karna ia hamil…

Mendadak ia merasa lucu, dan
merasakan keinginan untuk tertawa yg
tak bisa ditahan.

“lihat apa yang telah kau lakukan padaku,
titik kecil!”

Ia menggumam pelan sembari
mengelus perutnya.
Ia tahu ini sangat mengejutkan bagi
siwon. Tapi dia benar-benar bereaksi
berlebihan.

Memangnya kapan dia tak bereaksi
berlebihan?
Batinnya menaikkan alis.

“Dia itu ayahmu titik kecil.. Aku harap
ia tenang dan pulang secepatnya”

Yoona kemudian makin terisak, Siwon belum
pernah meninggalkannya sebelumnya.
Bagaimana jika ia tak akan kembali?
Dia sangat rapuh dalam berbagai hal.
Yoona menjadi panik..
Apa yg bisa ia
lakukan?
Masalalu telah membentuknya seperti
itu.
Dan kenyataan itu berada diluar
kontrolnya.
Sejak ia berhubungan dengan siwon,
hidupnya menjadi sangat rumit.

Apa ia
tak akan bisa melewati ini? Apa ia tak
akan jadi menikah?
Tenggorokannya tercekat oleh
pemikiran itu.

Tidak..
Ia tak boleh berpikir begitu.
Siwon akan kembali.
Dia pasti kembali.

“aku tahu meski kau marah dan
berteriak padaku, tapi kau
mencintaiku.. Ya, kau mencintaiku dan
akan mencintai titik kecilku”

Memegang perutnya, ia mulai
mengantuk, malam ini ia akan
menunggunya, tidur dikamar siwon
untuk memastikan dia akan pulang
malam ini.

***

Yoona terjaga ketika merasakan hawa
dingin menusuk-nusuk kulit tubuhnya.
Ia menatap kearah jarum jam, dan menyadari
itu telah lewat jam satu malam, namun
siwon belum kembali.

Segera ia mencari ponselnya untuk
mengirim pesan pada siwon.

‘Dimana Kau?’

Tak ada balasan setelah ia menunggu
lebih dari sepuluh menit.
Kemana dia?
Siapa yg dia temui?
Apa dia sedang bersama wanita lain?
Pemikiran itu seakan menohoknya.

“Sialan!”

Suara itu sayup-sayup terdengar diluar.

Oh..
Itu siwon?

Yoona beranjak dari tempat tidur untuk
membuka pintu kamar. Ia kemudian
berjalan dengan cepat kearah pintu
depan.

Pemandangan yg ia lihat adalah,
Seorang wanita yg berjalan
sempoyongan memapah tubuh siwon,
dua orang pelayan mencoba membantu
si wanita, namun dengan tangannya
siwon menghalangi mereka.

“Siwon..”

Yoona berlari kearahnya dan
menyadari jika siwon sedang mabuk.

kenyataan itu membuat kulit kepalanya
seakan ditusuk.

“Siwon, apa kau baik-baik saja?”

“Dia berada di cafe ku sepanjang
malam, dan minum anggur terlalu
banyak”

Oh..

Yoona menatap sekilas wanita yg
memapah siwon, ia menyadari pernah
melihatnya. Di klub dan di cafe yg
penah ia datangi bersama Minho.
Victoria, nama yg pernah disebutkan
minho padanya.
Yoona merasakan kecemburuan dalam
hatinya, dan langsung meraih tubuh
siwon dari tangan victoria.

“Oh.. Yoona, kau terlihat sangat baik”

“kemana saja kau?”

Siwon meletakkan telunjuk dibibirnya
dan tersenyum.

“shh..!”

“sebaiknya kau pergi ketempat tidur,
pelayan akan mengantarmu”

“tidak.. Aku mau denganmu..”

Siwon terkekeh, dan yoona segera
meminta dua pelayan tadi membawa
siwon masuk kekamarnya.

Ia menatapnya sekilas kemudian
berbalik untuk mendapati Victoria yg
tengah memperhatikannya.

“trimakasih telah mengantarkan calon
suamiku, nona…”

“Victoria, panggil aku Victoria.. Senang
akhirnya aku melihatmu Yoona”

Vic tersenyum meremehkan kearahnya..

“Kau jauh dari yg aku harapkan”

Oh..
Siapa wanita ini?
Mengapa dia berhak memberi penilaian
padamu?
Batinnya berdiri dengan tatapan
menyelidik.

“apa maksudmu?”

“ani.. Lihatlah apa yg sudah kau
lakukan pada siwon dengan
kehamilanmu”

MWO..
Wanita itu tahu kau sedang hamil?
Siwon pasti sudah menceritakannya..
Batinnya berkata dengan berbisik.

“biarkan itu menjadi urusan kami, kau
bisa meninggalkan rumah ini sekarang”

“well, tak perlu mengusirku.. aku memang akan pergi.. Tolong
urus calon suamimu”

Victoria melangkah angkuh keluar dari
rumah siwon, sementara yoona dengan
perasaan jengkel menghampiri siwon
dikamarnya.

“Yoona..”

Siwon masih menggumam ketika yoona
masuk kekamarnya.

“duduklah, biarkan aku membuka
jaketmu”

“kamarnya berputar”

“kau mabuk, Siwon duduk! Kau perlu
membuka jaketmu”

“kau juga akan membuka pakaianku?
Apa kau masih mau tidur denganku
ketika ada bayi dalam perutmu”

“tidak.. Kau berbau alkohol, kau bisa
membuatku muntah”

perlahan Siwon duduk dipinggir tempat
tidur, Melepaskan jaketnya sendiri,
kemudian melemparnya kelantai.

“Oh.. Kau berbau harum yoona, aku
merindukanmu..”

“aku tak suka kau berbau alkohol
seperti ini”

“Ayolah Yoona.. Tidurlah denganku..”

Siwon masih terus menggumamkan
kata-katanya yg tak jelas sambil
menurunkan tangannya dipinggul
yoona, kemudian menariknya,
menempelkan bibirnya diperut yoona.

“apa yg harus kulakukan padanya?”

Oh..
Dia berbicara dengan titik kecilmu.
Batinnya mengerutkan dahi keheranan.

“jadilah ayah yg baik untuknya”

“ayah?”

Siwon mendongak untuk menatap
yoona.

“ya.. Kau akan menjadi ayah untuknya”

“Aku seorang ayah?”

Siwon tersenyum, tapi senyumnya
berubah seketika saat dia
memikirkannya, dan yoona bisa melihat
sebuah ekspresi ngeri melintas
diwajahnya, tatapannya mengirimkan
rasa dingin yg menusuk sampai
ketulangnya. Yoona benci ekspresinya
yg menyiratkan memori mengerikan
dan buruk yg pernah dialaminya.

“Ayolah Siwon..berhenti bicara dan
biarkan dirimu tidur”

Yoona berkata dengan lembut kemudian
mendorong tubuhnya pelan, hingga
siwon jatuh terlentang kekasur.

“kau akan tidur denganku?”

“aku akan membuka pakaianmu”

“sekarang kau yg menjadi nakal”

Siwon menyeringai,ekspresi takutnya
telah menghilang sekarang. Membuat yoona geli sekaligus kesal diwaktu yang sama.

“kemarilah sayang, bergabunglah
denganku”

Oh sial..
Rasanya jika harus memilih,yoona akan
lebih memilih siwon yg pemabuk
daripada siwon yg pemarah.

“Kau tak akan tidur dengan nyaman
dengan pakaian seperti ini, biarkan aku
membukanya”

Yoona naik keatas tempat tidur dan
membuka satu persatu kancing kemeja
yg digunakan siwon.

Ketika melakukannya, ia
membiarkan siwon memegang
pergelangan tangannya.

“kau akan lebih memilih dia daripada
aku?”

Oh My..
Siwon menatap dari balik bulu
matanya, tatapannya samar dan redup
membuat yoona merasakan jantungnya
sesak seketika.

“Siwon.. Jangan bersikap menggelikan,
Kau tak tahu apa yg sedang kau
bicarakan, dan aku tidak memilih siapa
diatas siapa”

Siwon menutup kedua matanya dan
genggamannya pada pergelangan
tangan yoona perlahan mengendur.
ketika yoona telah berhasil membuka
seluruh kancing kemejanya, Siwon
sudah tertidur pulas dan terlihat begitu
kelelahan.

Yoona menghembuskan napas pelan,
tak yakin jika ia punya energi lagi
untuk melepaskan pakaiannya lebih
lanjut. Ia lantas menarik selimut
dibawahnya dan menyelimutinya.

Ia terdiam menatapnya.
Tubuhnya sangat indah meskipun dia
sedang mabuk. Bibirnya yg indah
terbuka, rambutnya berantakan, namun
wajahnya nampak rileks.
Dia tampak muda.
Ya.. Siwon memang masih muda.
Calon suaminya yg masih muda, stress,
mabuk dan tidak bahagia.

Pemikiran itu tersimpan rapi dihatinya.
Tapi setidaknya dia berada dirumah,
bukannya berada diluaran sana terlebih
bersama wanita yang yoona sangat yakin,
dia juga menginginkan siwon menjadi
miliknya.

“Aku mencintaimu Siwon.. Apa yg
harus aku lakukan denganmu?
Meskipun kau mabuk dan pergi
menemui wanita itu dan entah apa yg
kalian lakukan, hanya Tuhan yg tahu.
Tapi aku tetap mencintaimu, selalu
mencintaimu”

“hmm..”

Siwon menggumam dalam tidurnya,
yoona lantas menyapukan jemarinya
pada rambutnya dan kemudian
mencium keningnya. Setelah itu ia
turun dari tempat tidur, mengambil
jaket kemudian melipatnya.

Ketika ia
melakukannya, ia menemukan ponsel
siwon terjatuh kelantai. Ia
mengambilnya dan membukanya.

Hal
yg pertama ia temukan adalah
beberapa pesan yg belum terbuka.
Yoona bisa melihat pesannya menjadi
salah satu diantaranya.

‘senang bertemu denganmu siwon,
kuharap kau meluangkan sedikit
waktumu untuk ku’

Sial…

Yoona merasakan kepalanya
berdenyut.
Tak ada nama dalam kontaknya, jelas
itu bukan pesan dari victoria, wanita yg
tadi mengantarnya pulang. Berapa
wanita yg dia temui malam ini?

Yoona kemudian membuka pesan
berikutnya.

‘Aku mengerti perasaanmu.
Tenanglah.. Mungkin kau harus
memikirkannya lagi, tak ada yg salah
dengan menjadi seorang ayah’

Oh..
Victoria?
Pesan yg baru saja ia baca adalah
darinya?
Siapa sebenarnya wanita itu?
Mengapa siwon dengan gampangnya
menceritakan masalah pribadi mereka?

Ia menjadi tak yakin jika wanita itu
hanyalah sekedar teman.
Yoona terperangah dengan
kemungkinan wanita bernama Victoria
itu lebih dari sekedar teman bagi
siwon.

Tidak, tidak, tidak…

Kakinya terasa lemas, ia terduduk
dilantai samping tempat tidur dalam
ketidakpercayaan, getir, terluka dan
terhina oleh pengkhianatan.

Bisa-bisa nya siwon melakukan itu?

Airmata panas kemarahan mengalir
perlahan dipipinya.
Siwon marah dan ketakutan, ia
mengerti dan memaafkan hal itu. Tapi ini…
Dia mengkhianatinya?
Hal itu sudah melewati batas.

Menarik lututnya keatas, ke dadanya
dan membungkus lengannya
disekitarnya untuk melindungi dirinya
juga titik kecilnya, Ia menangis
menumpahkan airmatanya.
Apa yg ia harapkan?
Benarkah ia akan menikahi pria ini?

Ya.. Ia ingin melakukannya karna ia
mencintainya, dan dilubuk hatinya yg
terdalam ia tahu siwon juga
mencintainya.
Ia tak percaya akan seperti ini jadinya.
Dua langkah maju kedepan dan tiga
sampai empat langkah mundur
kebelakang. Akan seperti itulah jika ia
terus bersamanya.

Lantas apa jadinya jika ia
meninggalkannya?
Pergi meninggalkannya, akankah
menjadi jalan keluar untuknya??

Tidak…

Tidak…

Tidak…

Sekarang bukan hanya dirinya. Tapi
ada janin dalam rahimnya.
Ia menepis semua pemikiran bodohnya.
Ia tak bisa pergi. Tak akan pernah bisa
pergi. Semua sudah terjadi dan yang
harus ia lakukan hanyalah bertahan
menghadapi siwon.

Dengan cepat yoona menyeka airmata
dengan jemarinya. Berdiri meletakan
ponsel siwon diatas meja, kemudian
menatapnya yg sedang tertidur,
tenteram seolah tak bersalah.

Ia lantas keluar dari kamar siwon.
Yoona melangkah masuk kedalam
kamar yg biasa ia tempati ketika ia
menginap. Masuk kedalamnya entah
mengapa tiba-tiba membuatnya
menghentikan langkah sebelum ia
mencapai sisi tempat tidur.

Teringat ia pernah bercinta dengan
siwon diruangan itu, membuatnya muak
dan berlari keluar.

Ia kembali masuk kekamar siwon.
Menggeledah meja kerjanya, ia
menemukan kunci yg dicarinya.
Kunci ruang perpustakaan kini berada
ditangan nya.

Ia tak akan tidur dikamarnya dan
memilih berada diruang perpustakaan
yg menjadi tempat terlarang untuknya.

Oh Yoona..
Kau berniat memancing kemarahannya
lagi?
Batinnya menaikkan alisnya ketakutan.

Dan sebelum keluar, ia mengambil satu
bantal, juga menarik salah satu selimut
dari tempat tidur siwon, kemudian
bergegas keluar menuju ruang
perpustakaan.

Membuka pintu, menyalakan lampu dan
kembali mengunci pintu, yoona masuk
kedalamnya dan merasakan ruangan
itu cukup menenangkan. Pantas saja
jika dulu ibu siwon betah
menghabiskan waktu nya disini.

Ia lantas berjalan mendekat kearah sofa,
sejenak menatap meja kecil yg ada
disudut ruangan. Bergidik ngeri
mengingat ia pernah melihat pistol
didalamnya.

Namun rasa penasaran yg ia rasakan,
mengalahkan kengerian dalam
ingatannya. Perlahan ia mendekat,
menarik salah satu laci yg waktu itu
terdapat pistol didalamnya.

“Oh..
Tak ada?”

Untuk memastikannya, ia membuka
semua laci meja, dan benar pistol itu
sudah tak ada disana.

Berarti siwon telah memindahkan nya?
Ahh..
Sebenarnya ia sangat ingin agar siwon
memusnahkan benda itu, dan
menghilangkan trauma yg
ditimbulkannya.

Ini sudah terlalu malam dan hari ini ia
sudah sangat lelah. Ia akan menjadi
seorang ibu, dan calon suaminya justru
sangat marah.
Hal itu kemudian menyeretnya untuk
meringkuk diatas sofa, dibawah selimut
yg tadi ia bawa. Ia tahu siwon pasti
akan cemas ketika esok tak mendapati
dirinya dalam kamar. Dan dia pasti tak
akan menduga ia berada di ruangan ini.

“biarkan saja, ini akan menjadi
pelajaran untuknya, dan jika ia ingin
bertengkar aku akan meladeninya”

Kelelahan dengan segera membawanya
untuk tertidur.

***

Jam Tujuh pagi ketika siwon terjaga
dari tidurnya dan merasakan pusing
dikepalanya, dia turun dari tempat tidur
dan berjalan terhuyung keluar dari
kamarnya.

“Yoona.. Yoona..”

Seakan lupa dengan kemarahannya, hal
pertama yg ia lakukan adalah menuju
kamar yoona, mencarinya.

“Yoona..”

Membuka pintu kamar ia tak mendapati
yoona berada didalamnya, dan untuk
memastikan ia memeriksa kamar
mandi dan hanya kekosongan yg
didapatkan nya.

“Yoona..”

Berubah menjadi panik, siwon berlari
keluar untuk bertanya pada para
pelayan di rumahnya.

“dimana yoona? Apa dia pulang?”

“tidak Tuan, mobilnya masih ada, nona
mungkin masih tidur dikamarnya”

“aku sudah memeriksanya, dia tak ada
disana. Sial! Kemana dia? Yoona…”

Siwon memerintahkan semua pelannya
untuk mencari, dia cemas dan luar
biasa panik. Mencarinya mengelilingi
rumah dan memastikan memasuki
semua ruangannya.

“Yoona..! Dimana kau?”

Siwon berhenti didepan pintu ruang
perpustakaan, menekan knop pintu yg
ternyata terkunci. Akhirnya dia berpikir
yoona tak berada didalamnya.

“Yoona!”

Sedari tadi sebenarnya yoona telah
terbangun oleh teriakan-teriakan siwon
juga pelayan rumah yg sedang
mencarinya.

Namun kali ini membuatnya membeku
saat siwon menekan-nekan knop pintu
berusaha membukanya. Tapi hanya
sampai disitu, suara itu kemudian
teredam dan sepertinya siwon telah
menjauh.

Yoona merasa lucu dengan tingkahnya.
bersembunyi diruang perpustakaan, itu
seperti dirinya sedang memainkan
petak umpet dengan siwon.

Astaga…

Kau benar-benar akan menerima
kemarahan darinya.
Batinnya mengingatkan.

Sepuluh menit kemudian ia beranjak
dari sofa, berjalan kepintu, ia perlahan-
lahan membuka kunci dan mengintip
keluar.

Tidak ada tanda-tanda siwon maupun
pelayan lain berada disekitar ruangan
itu.
Ia pun keluar dan berjalan menuju
kekamarnya.

Namun untuk mencapai kamarnya, ia
harus melewati ruang utama, dan…

Sial..!

Siwon tengah berdiri disana. Memberi
perintah tegas dan sesekali berbicara
serius pada lawan bicaranya ditelpon.

Yoona masih berdiri disana, memutar
matanya saat melihat apa yg dilakukan
siwon saat itu.

Ya Tuhan…

Ia tak berniat menjadikan melodramatis
seperti ini.

“ehmm..”

Berdeham, ia membuat para pelayan
berbalik dan ternganga melihatnya.
Termasuk siwon yg terlihat pucat,
berantakan, matanya melebar ketika
menatapnya.

“Yoona!”

Oh..
Sulit untuk menjelaskan tatapan siwon
kali ini.
Apakah dia takut kehilangan dirinya atau justru marah padanya??

Yoona mencoba tak perduli dengan
tatapan siwon padanya. Ia meneruskan
langkahnya, mengacuhkan para pelayan
yg masih ternganga melihatnya.

“dimana kau?”

Siwon bertanya dengan suara rendah
dan serak, berjalan mengikutinya
kearah kamar, namun yoona masih tak
memperdulikan nya.

“Yoona!”

Ia membuka pintu kamarnya dan
kembali menutupnys, kemudian
menguncinya sebelum siwon bisa
mencapainya.

“Yoona.. Buka pintunya!”

“Tidak..Pergi kau!”

“Tidak..Aku tak akan pergi sebelum
kau membuka pintu sialan ini,
Yoona..!”

Siwon menggedor pintu kamarnya.

Oh tidak…
Memangnya dimana kau sedang
berada?
Ini rumahnya!
Jelas Dia tak akan pergi.. Kau lah yg
seharusnya pergi..
Batinnya mengingatkan.

“Terserah kau!”

“Yoona, kumohon buka pintunya atau
aku akan mendobraknya!”

gertakan siwon membuat nyalinya
menciut, ia menggerutu kesal, lantas
memutar kunci untuk membuka
pintunya, waspada akan reaksi siwon
setelahnya.

“apa kau mencoba mengabaikan ku?”

“bagus jika kau telah mengerti”

Yoona berbalik, melangkah kearah
lemari yg berisi pakaiannya, kemudian
mengeluarkan satu stel pakaian kerja
dari dalamnya.

“mengapa kau melakukan ini padaku?”

“MWO.. Melakukan apa? Harusnya aku
yg menanyakan hal itu padamu!”

“mengapa kau mencoba
mengabaikanku?”

“menurutmu apa?”

“Yoona.. Jawab aku!”

“sekarang aku tak ingin bicara apapun
denganmu, aku akan bersiap kekantor”

Siwon menggeram dan menatap tajam
kearahnya.

“tapi kita perlu bicara!”

“waktu yg tepat untuk kita bicara
adalah kemarin, tapi kau justru
berteriak, marah dan pergi
meninggalkanku untuk mabuk dan
menemui wanita lain”

“berapa kali harus kukatakan Victoria
adalah temanku”

“karna itu kau merasa perlu
mendatanginya dan mengatakan
masalah pribadi kita padanya?”

“Dia tahu masalaluku, Dia tahu
semuanya tentangku”

Oh…
Wanita itu tahu semua tentang siwon,
termasuk masalalunya?
Kenyataan itu semakin memukulnya.
Dia jelas bukan sekedar teman untuk
siwon.

“apa kau juga tidur dengannya?”

Melihat ekspresi siwon yg penuh
kepahitan, terlihat terluka dan marah
pada saat yg sama, membuat Hatinya
hancur berkeping-keping.
Keterlaluankah ia karna mengucapkan
pertanyaan itu?

“Persetan Yoona.. Apa yg kau katakan?
Tidak, Dia temanku.. Aku tak pernah
tidur dengan temanku!”

“bukankah aku juga temanmu? Tapi
apa yg kau lakukan? Kau meniduriku.. Kau tidur
denganku!”

Siwon meletakkan tangannya diatas
kepala, menarik rambutnya frustasi.

“dari awal aku tak pernah
menginginkan mu hanya menjadi
temanku”

“calon suamiku pergi meninggalkanku
yg sedang hamil dan mendatangi
wanita lain. Kau pikir masih ada yg
bisa kupercayai darinya..”

Siwon mendekat mencoba meraihnya,
namun yoona dengan segera
mengambil langkah mundur,
menjauhinya.

“jangan menyentuhku!”

Siwon membeku oleh kata-katanya.

“dimana kau bersembunyi tadi?”

“masihkah itu penting? Apa pedulimu?
Yang pasti aku tidak keluar dan pulang
dalam keadaan mabuk sepertimu.
Berapa wanita yg kau temui semalam?”

“Apa kau berpikir aku
mengkhianatimu?”

“memang itu yg kupirkan! Apakah kau
tahu seberapa besar kau telah
menyakitiku dengan pergi menemui
wanita lain?”

“tidak yoona.. Aku tak akan pernah
mengkhianatimu”

“tapi benar kan kau bukan hanya
bertemu dengan Victoria? Masih ada
wanita lain yg kau temui!”

Siwon terkejut dan wajahnya memucat
setelahnya.

“apa kau memata-mataiku?”

“ani.. aku menemukan ponselmu yang
terjatuh dan mendapati pesan
menjijikkan dari wanita yg kau temui
diponselmu”

“aku tak sengaja bertemu dengannya,
Victoria mengenalkannya sebagai
sepupunya, itu saja”

“tapi kau memberikan nomer ponselmu
padanya!”

Oh..
Hentikan yoona!
Kau pun mulai berlebihan. Tidakkah
kau lihat keseriusannya?
Kurasa dia berkata yg sebenarnya..
Batinnya mencoba menenangkan,
ketika emosi yg didasari
kecemburuannya kian menang.

“Aku tidak memberikannya. Victoria
mungkin yg memberikan itu padanya..
Demi Tuhan yoona ini tak penting untuk
diperdebatkan!”

Siwon menatapnya penuh kesakitan.

“Yah, kau benar! Lalu apa yg menjadi
penting untuk diperdebatkan? Bayi ini
kah?”

Yoona mengelus perutnya,
menimbulkan kesakitan lain diwajah
siwon.

“kau ingat semalam ketika kau mabuk,
apa yg kau tanyakan padaku?”

Siwon membeku, mengarahkan tatapan
kosong pada yoona.

“Siapa yg akan kupilih antara kau dan
bayi ini? Itulah yg kau tanyakan.. dan jawabanku Tentu saja aku akan lebih
memilih bayi tak berdaya ini daripada
kau. Itulah yg akan aku lakukan. Aku
akan bertahan meski sendirian
untuknya. Itulah yg ibuku ajarkan. Aku
menyesalkan ibumu yg terlalu rapuh
hingga tak mampu bertahan demi
anaknya. Jika salah satu yg kau
takutkan adalah aku akan menjadi seperti
ibumu? Akan kukatakan padamu, Aku
bukanlah wanita rapuh seperti ibumu..
dan aku takkan bunuh diri hanya karna
aku tak bisa bertahan denganmu. Jadi
hilangkan ketakutan itu dari dirimu, dan
kau bisa memikirkan untuk
melanjutkan pernikahan kita dengan
bayi ini, darah dagingmu atau kita
akhiri sampai disini. Aku akan
memberimu waktu untuk
memikirkannya, dan putuskan mana yg
kau pilih..”

Siwon membeku dengan apa yg yoona
katakan, tatapannya penuh kesakitan
namun yoona masih meneruskan
kalimatnya.

“sementara kau memikirkan keputusan
apa yg akan kau ambil, aku akan
kembali keapartemen ku dan mungkin
aku tak bisa lagi menginap disini”

“apa ini yg kau inginkan?”

nada suaranya lemah, selemah detak
jantungnya yg sekarang seolah tak
mampu lagi memompa darahnya dan
mengalirkan keseluruh tubuhnya.

“entahlah.. Aku bahkan tak tahu lagi
apa yg kuinginkan”

jawab yoona terkesan bimbang.

Oh Yoona..
Kau harus kuat untuk menghadapinya.
Batinnya menegaskan.

“Kau sudah tak menginginkan ku?”

ucap siwon kembali dengan suara lemah.

Oh tidak…

Tidak.. Tidak.. Siwon, jangan
membuatku lemah dengan pertanyaan
seperti itu.

Yoona menggumam dalam hati.

“bukan seperti itu!”

“tapi kau sudah berpikir untuk pergi
dariku?”

“aku hanya memberimu pilihan. Aku
akan tetap denganmu jika kau memilih
melanjutkan pernikahan kita dengan
bayi ini. Kau yg mengambil
keputusan!”

“Yoona jangan melakukan itu padaku,
aku tak bisa…”

“lantas bagaimana kau ingin aku
melakukannya? Aku sudah lelah untuk
memaksamu, aku menyerah dan
membiarkan mu untuk memilih”

“Yoona.. Kehamilanmu. Bayi itu. Aku
belum bisa menerimanya”

Batinnya menjerit penuh kekesalan dan
mendorongnya untuk berteriak.

“Kau pikir aku menerimanya? Tidak..
Sejujurnya tidak. Aku juga belum
sepenuhnya menerimanya. Aku
seorang wanita yg belum resmi
menikah dan sekarang aku telah
hamil. Kau pikir apa yg akan orang
katakan jika mereka tahu keadaanku?
Mereka akan menggunjingku dan
mereka akan menempatkanku sebagai
wanita hina. Kehamilan ini
membebaniku siwon.. Sangat
membebaniku. Tapi jika aku
membuang bayi ini aku akan menjadi
lebih hina daripada siapapun didunia
ini. Apa kau ingin aku melakukan itu?
Jika iya itu berarti kau akan
menempatkanku dalam kehinaan”

Oh titik kecil…

Maafkan aku. Aku tak bermaksud
menyakitimu dengan kalimatku. Aku
hanya ingin menyadarkan ayahmu.
Kuharap kau mengerti, titik kecilku..
maafkan aku.

Yoona menyentuh perutnya dan
menggumamkan kalimat itu dalam
hatinya.

“Aku tahu Kau tidak senang dengan
bayi ini. Kau mungkin beranggapan kau
akan menjadi seperti ayahmu. Tapi…
Ya Tuhan, kau sudah dewasa
sekarang. Kau bukan lagi anak kecil yang
bisa diperdaya oleh ucapan buruk
ayahmu. Kau harus berkembang dalam
kedewasaanmu dan berhenti
bertingkah seperti remaja pemarah
dan Jangan menjadikan traumamu
sebagai alasan untuk membiarkan
dirimu menjadi pecundang yang tak
bertanggung jawab atas perbuatanmu.
Bayi ini darah dagingmu siwon. Kau
harus menerima kenyataan bahwa Kau
bukanlah seperti ayahmu”

Yoona terengah-engah dengan rentetan
kalimat nya sendiri, sementara siwon
seperti kehilangan kata-kata, dia
hanya mampu menatap yoona dengan
rasa perih dihatinya.

“daripada kau berkubang dengan
membenci dirimu sendiri. Akan lebih
baik kau memikirkan keputusanmu.
Aku memberimu waktu.. Dan
keputusan ada ditanganmu siwon”

“Yoona..”

“Kumohon.. Tak ada lagi yg ingin
kukatakan padamu. Semua yg ingin
kukatakan.. Aku sudah mengatakan
semuanya padamu. Jika kau tak
keberatan, aku ingin kau keluar. Aku
perlu bersiap untuk kekantor”

Siwon pucat dan membisu. Dengan
perlahan dia mengambil langkah
mundur untuk mencapai pintu, sebelum
dia mencapainya sebuah ketukan dari
luar terdengar.

“Tuan.. Polisi telah menunggu diluar”

Yoona mengerutkan dahi mendengar
ucapan seorang pelayan dari luar kamarnya.

“Katakan pada mereka untuk pergi. Aku
tidak membutuhkan mereka berada
dirumahku”

“tapi Tuan..”

“tapi apa? Tak ada yg bisa mereka
lakukan disini.. Katakan pada mereka
kita telah menemukannya”

“baiklah..saya mengerti”

Pelayan itu lantas berlalu, dan siwon
mendapati yoona menatapnya dalam
kebingungan.

“untuk apa polisi datang kesini?”

“mencarimu..awalnya aku ingin
meminta bantuan mereka untuk
mencarimu. Aku terlalu panik ketika
tak menemukanmu tadi”

Oh..
Astaga..
Ia bahkan belum menghilang selama
dua puluh empat jam. Bagaimana bisa
siwon bahkan telah melapor pada
polisi.
Benar-benar pria penakut!
Batinnya menggumam keheranan.

Sementara yoona memutar matanya
atas reaksi berlebihan yg ditunjukan
siwon.

“kau berlebihan siwon..”

“aku bukanlah berlebihan yoona. Dan tidak ada yang berlebihan jika itu tentang mu.. Aku
membutuhkanmu yoona”

“kau tidak begitu kemarin”

“Demi Tuhan Yoona!”

“Keluarlah.. Aku ingin bersiap”

“Kau akan berangkat bersamaku”

Ucap Siwon tanpa ingin dibantah
sebelum dia keluar meninggalkannya.
Dan segera setelahnya yoona merasa
limbung, ia terduduk lemas diatas
tempat tidur setelah pembicaraan yang ia
lakukan dengan siwon cukup menguras
emosinya.

Dan ia bersyukur, ia tak menangis
dihadapan siwon tadi.

Oh Tuhan…

Semoga ia tak salah..
Semoga membiarkan siwon untuk
memilih adalah jalan terbaik yg ia
ambil..
Kini ia hanya perlu menunggu.
Menunggu apapun yg nanti akan
diputuskan siwon kepadanya dan untuk
titik kecil didalam perutnya…

“Bertahanlah titik kecil.. Bersabarlah
menunggu. Ayahmu pasti akan
memilihmu. Dia pasti akan
memilihmu…”

***

Sepanjang hari selama berada dikantor,
tak banyak interaksi yg dilakukan
yoona dan siwon. Yoona lebih banyak
menghabiskan waktunya diruangan
minho, sementara siwon memilih
bersama sooyoung untuk melakukan
pembicaraan bisnis diluar.

“noona..tumben sekali hyung tak
mengajakmu”

“euh.. Ada beberapa hal yg belum
selesai kukerjakan disini. Waeyo?”

“anio.. Hanya sedikit tidak biasa”

Yoona tersenyum masam dan lantas
mengambil beberapa file dari meja
kerja minho.

“aku akan keruanganku”

“ini sudah jam makan siang noona. Kita
keluar untuk makan?”

“tidak terimakasih. Aku tidak lapar”

“noona gwechana?”

Minho menatapnya penuh selidik.

“Kau terlihat bingung.. Kau sedang
memikirkan sesuatu?”

Oh..
Minho, haruskah aku mengatakan
padamu. Aku hamil dan kakak mu itu
tak menginginkan bayi ini…
Yoona
bertanya dalam hatinya sendiri..

“Aigoo.. Noona, apa kau merindukan
hyung? Kau terlihat sedih”

Minho mengedikan mata berusaha
untuk menggodanya.

“kurasa baru beberapa jam kalian tak
bersama. Bukankah begitu?”

“ya.. Ku rasa kau benar minho, aku
merindukannya..”

Yoona hanya bisa tersenyum dengan
pipinya yg merona menanggapi
godaan-godaan lain dari minho
padanya.

***

“yak.. Oppa, apa yg kau lakukan tadi?
Jika kau tak berniat bertemu mereka
lebih baik aku saja yang bernegosiasi
tadi. Jadi semua tak menjadi kacau
seperti ini”

Sooyoung mengomel disepanjang
lorong menuju ruang kerja siwon setelah mereka gagal melakukan negosiasi.

“diamlah soo.. Kau tak perlu mengomel
sepanjang hari. Tak ada ruginya bagi
kita hanya karna satu proyek gagal kita
dapatkan”

“jinja? Aishh.. Tapi tadi proyek besar
oppa, Keuntungannya pun akan sangat
besar untuk perusahaan kita”

“aku tak perduli.. Aku tak butuh semua
itu”

“Oppa.. Yak Oppa..”

Siwon melenggang pergi tak
memperdulikan sooyoung meneriakinya
penuh kekesalan.

“apa tak berjalan dengan baik?”

“Oh Yoona.. Apa kalian sedang
bermasalah?”

“maksudmu?”

“Kau dan Siwon oppa.. Kalian
bertengkar?”

“euh.. Itu.. Aku.. ”

“Oh astaga.. Ya, aku tahu jawabannya.
Apa yg sebenarnya sedang kalian
permasalahkan? Kalian sudah akan
menikah, tapi hari ini Oppa justru
seperti kehilangan pikirannya. Wae?”

“biar aku bicara dengannya”

“Yoona ada apa? Kalian akan tetap
menikah kan?”

“tidak ada apa-apa soo, semuanya
baik dan ya.. Kami akan menikah”

Yoona merasakan getir dihatinya, tak
yakin dengan apa yg baru
dikatakannya, namun ia tetap
memaksakan senyum diwajahnya.

“Aku akan bicara dengan siwon”

Ia kemudian berjalan kearah ruangan
siwon, dan sebelum yoona mencapai
pintu untuk membukanya, siwon sudah
terlebih dulu keluar dari ruangannya,
namun hanya menatap yoona sekilas
dan kemudian berlalu bahkan sebelum
yoona sempat berkata-kata.

“kenapa dia?”

mau tak mau sikap siwon membuatnya
mengerutkan dahi keheranan.

“Oh titik kecil.. Apa ayahmu marah
padaku? Dia tak berhak marah.. Akulah
yg seharusnya marah padanya”

Yoona mengelus perutnya sambil terus
menggerutu kesal pada siwon.

Tidakkah kau mulai banyak
menggerutu?
Kau sendiri yg memberinya
kesempatan untuk memilih. Jadi
biarkanlah dia memikirkan pilihannya.
Batinnya mencoba menilai dengan
bijak.

***

Yoona menepati ucapannya. Ia tak lagi
pulang kerumah siwon dan kembali
keapartemen nya setelah pulang
bekerja.
Ia duduk diatas sofa, menaikkan kedua
kakinya kemudian memeluk lututnya
dengan kedua tangan.

Kesepian, sendirian karna soojung
belum pulang membuat suasana
hatinya kian suram. Ketenangannya
telah tergelincir dan ia mulai
merasakan firasat aneh yg kemudian
membuat kepalanya tertunduk dengan
airmata yg menggenang.

Berapa lama waktu yg dibutuhkan
siwon untuk memberinya keputusan.
Agar ia tak semakin terombang-ambing
tanpa kepastian.

“Oh oenni ya.. Ku kira kau masih akan
menginap dirumah oppa”

bergelung dengan perasaannya sendiri,
yoona sampai tak menyadari soojung
telah masuk kedalam apartemen.

“Soojung ah.. Kau sudah pulang..”

Sementara soojung meletakkan tas dan
beberapa perlengkapan kuliahnya,
yoona buru-buru menghapus
airmatanya.

“Oenni sudah makan? Aku membeli
makan malam diluar tadi..”

“tidak.. Aku tak ingin makan. Kau saja”

Soojung memperhatikan raut wajah
kakaknya dan menyadari mata yoona
yang sembab oleh airmata.

“Oenni kau menangis? Waeyo?”

“tidak..tidak apa-apa”

Soojung lantas memposisikan dirinya
duduk disebelah yoona.

“oenni kau jelas habis menangis. Ada
apa? Katakan padaku”

“Oh Soojung..”

Yoona memeluknya dan seketika
airmatanya tumpah dibahu sang adik.

“aku menyadari ada sesuatu yg tak
baik ketika aku masuk dan berdiri
cukup lama tadi, tapi oenni tak
menyadari kedatanganku. Apa yg
terjadi? Apa yg mengganggu
pikiranmu?”

“Aku.. Aku tak yakin pernikahanku dan
siwon akan terjadi”

“MWO.. Oenni, apa yang kau bicarakan?”

“Aku tak tahu soojung ah.. Aku benar-
benar menjadi tak yakin dengan semua
ini”

“iya.. Tapi apa masalahnya? Apa yg
membuat oenni tak yakin?”

“Siwon.. Aku tak yakin siwon akan
melanjutkan rencana pernikahan ini
karna sekarang aku hamil dan dia
belum bisa menerima kehamilan ku”

“MWOO…”

Yoona semakin mengejutkan soojung
dengan menceritakan keputusan nya yg
memberikan kesempatan bagi siwon
untuk memilih.

“Oenni.. Kau gila! Tak seharusnya kau
berkata seperti itu! Siwon oppa tidak
dalam posisi berhak untuk memilih..
Tak ada pilihan baginya selain
bertanggung jawab, dan menikahi oenni
secepatnya”

Soojung benar-benar berada dalam
puncak kekesalannya. Ia marah akan
keputusan yoona tapi juga
mengasihaninya, dan menjadi benci
pada siwon yg berlaku buruk pada
kakaknya.

“apa yang lain mengetahui ini?”

“tidak.. Kau satu-satu nya yang tahu
setelah siwon”

dan wanita bernama victoria.

Yoona hanya berani berucap dalam hati,
tak mau membuat soojung semakin
marah.

“Brengsek! Jika siwon oppa tak mau
bertanggung jawab, Aku yg akan
menyeretnya kehadapan oenni”

“Soojung ah..tenanglah, kau bukan
gangster, apa yg bisa kau lakukan?”

“Oenni.. Bagaimana aku bisa tenang
sedangkan aku melihatmu tersakiti
seperti ini. Asal oenni tahu, aku bisa
berlaku apapun demi oenni”

Yoona menarik senyum dari wajahnya,
atas pembelaan sang adik untuknya .

“trimakasih sayang..tapi oenni masih
cukup mampu menghadapinya”

“Oenni..tapi kau tadi mengatakan kau
mulai tak yakin”

“aku akan menumbuhkan lagi
keyakinan itu. Bukankah kau juga
melihat siwon mencintaiku?”

“hm..”

“aku juga masih terus meyakini itu..
Dia mencintaiku dan dia pasti akan
memilihku dan menerima titik kecilku”

“titik kecil?”

Soojung mengerutkan dahi tak mengerti..

“bayiku.. Dia masih seperti titik kecil
diperutku..”

“titik kecil keponakanku? Oh oenni..
Aku pasti akan menyayanginya”
Soojung merangkul yoona erat.

“aku akan selalu bersama oenni dan
mendukung apapun cara oenni untuk
mengatasinya”

“terimakasih sayang..”

***

Gejala kehamilan yg sempat
disinggung oleh Dr.Kim, kini
nampaknya yoona mulai merasakannya.

Ia mulai sering mengalami pusing
hingga berkunang-kunang dan mual
dipagi hari ataupun ketika mencium
aroma yg terasa menyengat
dihidungnya, perutnya akan dengan
segera bergolak untuk memuntahkan
apapun dari dalam nya.

“huek..huekk”

“oenni ya gwechana?”

“huek..huekk.. ne Soojung ah, tapi
rasanya aku tak bisa meminum susu
itu, bau nya membuatku semakin mual”

“bau? Aigoo..bau apa yg kau bicarakan
oenni? Ini hanya segelas susu. Susu yg
sama yg biasa oenni minum”

“singkirkanlah itu oenni tak mau”

Soojung kemudian memasukkan gelas susu
kedalam bak cuci piring.

“jadi apa yg oenni inginkan?”

“tidak..aku tak ingin apapun sekarang.
Aku harus berangkat”

“akan sangat mengerikan membiarkan
oenni menyetir sendiri. Aku akan
mengantar oenni kekantor”

“baiklah.. Akan menyenangkan pergi
denganmu, kajja”

***

“trimakasih soojung ah..”

“ne.. Oenni tidakkah kau perlu
mengunjungi dokter? Mungkin ada cara
untuk mengatasi mual-mual yang kau
alami”

“Kau benar.. Aku sudah membuat janji
dengan Dr. sore ini”

“jinja? Oenni ya.. Bolehkah aku ikut?
Aku juga ingin melihat titik kecil,
keponakanku”

“kau tak ada jam kuliah?”

Soojung menggeleng dengan cepat.

“baiklah..”

“kalau begitu aku akan jemput oenni
nanti”

“Okey..”

Yoona melambaikan tangan ketika
soojung mulai menaikkan kaca
mobilnya dan berlalu dari hadapannya.

Setelahnya Ia berjalan masuk kedalam
lobi kantor, menunggu salah satu lift
terbuka untuk membawanya naik
keatas dimana ruangannya berada.

Didalam ruangannya ia mulai
menyibukkan diri dengan beberapa
pekerjaan setelah tadi sempat
melongok kedalam ruangan siwon dan
tak mendapatinya berada dalam
ruangannya.

Yoona hanya bisa mendesah pasrah.
Belakangan siwon memang menjadi
sulit ia temui. Siwon lebih banyak
menghabiskan waktunya diluar kantor
dan tak melibatkan dirinya.

Terasa aneh sebenarnya. Mengingat
posisi yoona sebagai asisten siwon,
tapi ia justru tak lagi dilibatkan dengan
semua pekerjaan yg ditangani siwon.

Ketika hendak mendatangi ruangan
minho, yoona berjalan sedikit
terhuyung karna mendadak mengalami
pusing dikepalanya.

Tubuhnya menjadi lemas dan wajahnya
memucat. Ia kemudian mencoba
meraih pegangan ketika keseimbangan
tubuhnya kian tak stabil.

“noona..noona..”

Minho yg tak sengaja melihat dan
menyadari keanehan pada yoona
segera menggapainya.

“noona..gwechana?”

“Oh Minho..”

“astaga noona.. Apa kau sakit?”

Sesaat minho berniat merangkulnya,
namun urung ketika melihat siwon
mendekat dan menatap penuh
kekhawatiran kearah yoona.

“Ya Tuhan.. Ada apa dengannya”

“entahlah hyung..kurasa noona sakit”

“tidak.. Aku hanya..”

Dengan suara lemah ia masih mencoba
menyangkal, namun siwon langsung
mengangkat tubuhnya,membawanya
masuk kedalam ruangan yg terdekat yg
adalah ruang kerja minho. kemudian
membaringkan tubuhnya disalah satu
sofa yg ada disana.

“astaga Yoona..apa yg terjadi? Belum
apa-apa tapi dia sudah
membahayakanmu”

“siwon..apa maksudmu?”

Siwon meremas rambutnya frustasi.

“dia..bayi itu pasti yg membuatmu
seperti ini.Dia membahayakanmu
yoona..Ya Tuhan”

Minho terkejut dengan apa yg baru
didengarnya, sedangkan yoona
berdecak kesal atas pemikiran yg
berlebihan dari siwon.

Astaga…

Kenapa dia selalu berpikir dengan
berlebihan dan hanya mengambil
kemungkinan yang terburuk?

Batinnya menggeleng-gelengkan
kepalanya.
Yoona setuju dengan hal itu.

“Siwon.. Ini tak seperti apa yg kau
bayangkan?”

“kau pikir apa yang sedang ku
bayangkan? Tidak.. Aku tak sedang
membayangkan apapun, tapi aku
sedang melihat kenyataan didepan
mataku. Kau pucat dan hampir saja
pingsan. Tidakkah kau pikir apa yang
akan terjadi jika tak ada yg
menemukanmu?”

Oh..
Apakah siwon nya telah kembali?
Posesif dan berlebih-lebihan padanya..

“Siwon.. Hal ini memang wajar terjadi”

“wajar? Jadi hal membahayakan tadi
kau bilang wajar? Astaga.. Aku tak tahu
lagi apa yg harus aku lakukan padamu..”

Oh yoona..
Kau sepertinya salah bicara.
Batinnya kembali mengantisipasi
reaksi apalagi yg akan ditunjukan pria
itu dihadapannya.

“wanita hamil umumnya mengalami hal
yg kualami. Mual, Pusing itu hal yang
biasa.. Kau mungkin tak mengerti, tapi
setidaknya kau pernah mendengarnya
bukan?”

“Persetan Yoona, tidak!”

“Siwon..”

Tak perduli yoona memanggilnya,
siwon tetap keluar dari ruangan minho,
meninggalkannya.

“Noona.. Kau..”

“Kau sudah mendengarnya bukan! Dan
lihatlah betapa berlebihannya kakakmu
itu”

“Noona.. Astaga! Kau hamil?”

“ya..”

“dan hyung..?”

“dia ketakutan dan belum bisa menerimanya”

jawab yoona disertai senyuman masam.

“ya aku tahu itu.. Lantas bagaimana
dengan pernikahannya? Kalian…”

“entahlah minho.. Aku sudah
menyerahkan semuanya pada siwon.
Dia bisa melanjutkan rencana
pernikahan kami dengan bayi ini,
atau…”

ada jeda cukup lama sebelum akhirnya
yoona dengan susah payah
mengucapkannya.

“kami akan berakhir.. Keputusan
sepenuhnya ada ditangan siwon”

“Oh Tuhan.. Tidak noona, kau tak bisa
melakukannya seperti itu. Hyung harus
bertanggung jawab atas kehamilanmu..
Aku akan bicara dengannya”

Sebelum minho berhasil melangkah,
yoona lebih dulu menahan lengannya.

“tidak perlu minho..”

“tapi noona..”

“jangan, aku tak ingin lagi
memaksanya”

“Sial! Mengapa dia harus kakakku? Aku
tak bisa melihatmu semakin terluka
noona.. Bukankah itu berarti benar.
Kami memang hanyalah seorang
perusak”

Ucap minho dengan nada yg terdengar
penuh kesakitan.

“Minho.. Berhenti berkata hal bodoh
seperti tadi. Atau aku tak akan pernah
mau bertemu denganmu lagi!”

Minho membeku mendengar nada
mengancam dari yoona. Dia kemudian
meraih tubuh yoona dan memeluknya.

“apa yang bisa kulakukan untukmu
noona? Kau tahu aku menyayangimu
dan aku tak ingin melihatmu tersakiti
oleh hyung”

“tidak minho.. Kau tak perlu melakukan
apapun. Tidak.. Semua akan baik-baik
saja. Pasti akan baik-baik saja”

Yoona menekankan kata-kata itu untuk
dirinya sendiri. Ingin agar ia menjadi
yakin dan sungguh, bersikap lemah
bukanlah cara yg tepat untuk
menghadapi siwon dengan berbagai
reaksinya yg terkadang sulit untuk
ditebak.

***

Seperti janjinya tadi, soojung kini
tengah berada dilobi kantor siwon,
menunggu yoona turun dan kemudian
mereka akan bersama-sama pergi
kerumah sakit.

“Oenni..”

Yoona yg baru saja keluar dari dalam
lift diikuti minho dibelakangnya,
tersenyum melihat soojung sudah
menunggunya.

“kau sudah lama disini?”

“tidak terlalu lama.. Sepuluh atau lima
belas menit kurasa”

“hm.. Baiklah, ayo kita jalan.. Dr.Kim
sudah menghubungiku tadi.
Minho..trimakasih atas bantuanmu”

“ne.. Noona, pastikan kau melakukan
pemeriksaan dengan benar”

Saat Minho dan yoona tengah
bercakap-cakap, soojung tanpa
sengaja melihat siwon. Ingin rasanya ia
menghampiri dan memakinya dengan
kata-kata kasar, namun ia urungkan
setelah menyadari tatapan siwon
tertuju pada kakaknya. Dalam dan
penuh kekhawatiran.

“Soojung ah.. Palliwa”

“euh..ne oenni..annyeong minho oppa”

“berhati-hatilah”

***

Didepan gedung rumah sakit soojung
menghentikan laju mobilnya.

“oenni turunlah dulu..aku akan cari
tempat parkir. Nanti aku menyusul
kedalam”

“ne..”

Yoona lantas membuka sabuk
pengamannya dan keluar dari dalam
mobil untuk kemudian berjalan masuk
kedalam, sementara soojung menuju
basemant rumah sakit untuk memarkir
mobilnya.

Setelah berhasil memarkirkan
mobilnya, soojung tak langsung keluar,
ia mengambil ponsel kemudian
menekan kontak atas nama siwon
untuk melakukan pagilan.

“yoboseyo..”

pada dering kedua terlponnya mendapat
jawaban.

“Oppa.. Siwon oppa”

“ne soojung ah..waeyo?”

“Oppa.. Oppa ottokhae? Oenni.. Yoona
oenni..”

“Yoona! Ada apa dengan yoona,
soojung?”

“Oenni.. Oenni dirumah sakit”

“rumah sakit? Ya Tuhan..apa yg
terjadi?”

dari nada suaranya Soojung
menyimpulkan siwon luar biasa panik
saat ini.

“kandungannya… oppa…”

Soojung memberikan nada penuh
kecemasan pada tiap kata yg
diucapkannya.

“Ya Tuhan.. Dimana kalian? Aku
kesana sekarang”

Sementara siwon diliputi kepanikan.
Soojung tersenyum saat keluar dari
mobilnya, ia berjalan dengan santai
untuk menyusul yoona yg sudah berada
didalam.

“aku hanya ingin mengatakan oenni
memeriksakan kandungannya.. Ah, dia
terlalu panik tadi.. Tapi nanti Oppa
harus berterimakasih padaku..”

***

Siwon tak bisa untuk tidak bersikap
panik. Ia luar biasa cemas hingga tak
tahu lagi apa yg bisa dilakukannya
kecuali datang secepatnya untuk
melihat keadaan yoona dan apa yg
terjadi dengan kandungannya?

Oh…

Kandungannya?

Apa Dia mengkhawatirkan nya?
Tidak, tentu tidak. Batinnya masih
mencoba menolak, Tapi nyatanya
Jawabannya adalah Ya…

Ada begitu banyak kekhawatiran yang
terlintas dibenaknya tentang keadaan
yoona, bila mengingat nada bicara
soojung yang begitu khawatir ditambah ia
sendiri melihat yoona hampir saja
pingsan dengan tubuh begitu lemah
dihadapannya.

Dan dari begitu
banyaknya kekhawatiran yang ia rasakan
untuk yoona, terselip juga kekhawatiran
lainnya. Siwon mencoba menepis
bahwa dia juga memikirkan bayi yang ada
dalam kandungan yoona.

Tidak.. Tidak…

Dia tak mengkhawatirkan nya. Lantas
mengapa kekhawatirannya menjadi
berlipat-lipat dari biasanya? Pemikiran
itu terus berputar-putar dikepalanya
seiring laju mobilnya yg semakin
kencang.

***

Ditemani Soojung, Yoona tengah
mengkonsultasikan kehamilannya pada
Dr.Kim. Mengatakan keluhannya
menghadapi morning sickness juga
beberapa hal lain, termasuk tidak
berseleranya ia terhadap makanan.

“begini Ny.Choi anda sebaiknya…”

“maaf dokter..tapi tolong bisakah anda
memanggil dengan nama saya saja”

entah apa yg mendadak membuatnya
risih atau justru tak yakin mendengar
sang dokter terus-terusan
memanggilnya Ny.Choi.

Ya Tuhan…

Ia tak yakin nama itu kelak akan
disandang olehnya, dan
Apakah Dr.Kim tak tahu dia belum
menikah?
Terlebih pria bermarga Choi yg
menyandangkan marga yang sama diatas
namanya nyata-nyata belum bisa
menerima kehadiran bayi dalam
perutnya.

“nde..?”

“panggil saja saya yoona, karna
sejujurnya saya belum menikah dengan
choi siwon”

Dr.Kim kini menyadari apa yang menjadi
alasan yoona terkejut dan bahkan
terguncang oleh kabar kehamilannya
sendiri.

“mianhaeyo.. Pada saat Tn.Choi
menghubungi saya, dan mengatakan
membutuhkan bantuan, Saya langsung
menyimpulkan bahwa anda adalah
istrinya. Maaf yoona ssi..”

Sebenarnya yoona merasa luar biasa
malu mengatakan yg sebenarnya. Tapi
apa boleh buat bila kenyataannya ia
memang belumlah resmi menyandang
predikat Ny.Choi seperti yang selalu disebutkan
Dr.Kim padanya.

“tidak apa-apa Dr. Karna oenni ku
sebentar lagi juga akan menikah
dengan Choi siwon oppa”

“soojung ah..”

“kau harus membiasakan dirimu
oenni.. tak lama lagi kau akan
menikah, dan orang-orang juga akan
memanggilmu seperti itu”

Ucap soojung terdengar sangat yakin.

“bagaimana kau begitu yakin aku akan
menikah?”

“Aigoo.. Bukankah persiapannya
sedang berlangsung. Dan lagi oenni
sudah hamil sekarang. Tak ada alasan
untuk kalian membatalkan pernikahan,
yang ada kurasa kalian harus
mempercepatnya, bukankah begitu
Dr.Kim?”

Sang dokter hanya tersenyum
menanggapi dan mengangguk
menyetujui apa yg dikatakan soojung,
sementara yoona dibuat terheran
dengan keyakinan yang tiba-tiba muncul
pada diri sang adik sedangkan dia tahu
apa masalahnya.

Yoona pasti tak menyadari dibalik
keyakinan kata-kata soojung, sang adik
justru sedari tadi terus melirik kearah
pintu masuk ruangan Dr.Kim,
menunggu dan berharap dengan cemas
Siwon akan datang dan akhirnya
menyadari apa pilihannya.

***

Siwon telah sampai didepan gedung
rumah sakit yg disebutkan oleh
soojung. Raut wajahnya penuh
kecemasan yg dia coba untuk ditahan.

Keluar dari dalam mobil dan
membiarkan mobilnya berada tepat
didepan pintu masuk gedung, Siwon
mengabaikan peringatan yg dikatakan
seorang security dan lantas berlari
masuk kedalam.

“dimana pasien atas nama Yoona?”

***

“tapi oenni ku menjadi tidak suka
makan dokter”

Soojung memberikan laporan
pribadinya disela-sela pembicaraan
Dr.Kim dan yoona.

“aku makan jika aku ingin soojung ah..
Tapi belakangan aku memang tak
bernafsu untuk menyentuh makanan
dokter”

“saya sudah sering mendengar keluhan
seperti itu dari banyak wanita hamil yang
baru memasuki trimester pertama
kehamilan. Kita bisa mencari alternatif
lain untuk mencukupi nutrisi untuk
janin dalam rahim anda, yoona
ssi..Jika tidak,seperti yang kau katakan
tadi, bukan hanya tubuhmu yg akan
menjadi lemah tapi juga janin dalam
kandunganmu”

“Yoona oenni juga tak mau meminum
susu dokter”

Dr.Kim kembali tersenyum mendengar
laporan soojung padanya.

“kalau begitu mari kita lakukan USG
untuk mengetahui sejauh mana
perkembangan janinnya”

Soojung sangat antusias untuk melihat
titik kecil yg diceritakan yoona padanya.

“Silahkan berbaring Yoona ssi”

“ne..”

“oenni aku tak sabar melihat titik kecil
itu”

“ne.. Aku juga merindukannya”

Ditengah Dr.Kim menyiapkan peralatan
untuk melakukan USG, mereka
mendengar keributan seseorang
dengan suster wanita rumah sakit.

Soojung melirik pintu masuk dan Ia
justru tersenyum. Hal ini telah ia
perkirakan akan terjadi.
Dan beberapa saat setelahnya
terdengar pintu ruangan yg dipaksa
untuk terbuka, dengan seorang suster
yg menunduk menyesal.

“mianhae saya sudah mencegahnya
masuk, tapi Tuan ini memaksa”

“Yoona!”

Wow…
Kau datang sangat cepat oppa.
Soojung menggumam dalam hati
sambil memperhatikan siwon yg masih
mencoba mengatur napasnya.

Siwon terengah-engah membuat
soojung sangat yakin dia telah
berlari sepanjang menuju ruangan
Dr.Kim.
Hal itu makin membuat soojung
terkikik dalam hati.

“Yoona!”

Dr.Kim mengangguk mengerti dan
mempersilahkan suster tadi untuk
pergi.

Sedangkan yoona yang sudah
membaringkan tubuhnya, cukup
terkejut mendengar dan sangat
mengenal suara yang memanggilnya. Ia
kemudian mengubah posisi tidurnya
menjadi duduk, dan tertegun mendapati
siwon berada tak jauh darinya.
berdiri diambang pintu menatapnya.

“Si won!”

“Ya Tuhan..”

Reaksi yang sangat tak terduga olehnya.
Siwon dengan cepat menghampirinya
dan memeluk tubuhnya erat. Sangat
erat.

“Siwon wae? Apa yg terjadi?”

“Oh Tuhan..hanya Kau yang tahu aku
sangat takut tadi”

Bukannya menjawab pertanyaannya,
siwon justru menggumam kan kalimat-
kalimat yang tak dimengerti oleh yoona.

“Aku sudah berpikir hal terburuk telah
terjadi padamu”

“Siwon.. Apa yang kau bicarakan?
Lihatlah aku baik-baik saja”

“Soojung menelponku dan mengatakan
Kau berada dirumah sakit dan
kandunganmu…”

Masih tersimpan kekhawatiran ketika
siwon mengungkapkan hal itu.

“soojung?”

Yoona tak mengerti,
Soojung?
Oh..
Kapan adiknya itu menelpon siwon?
Sedangkan ia tahu pasti sedari tadi
soojung tak beranjak dari sampingnya.

Ia kemudian melepaskan pelukan
siwon untuk menatap penuh tanya pada
sang adik.

“Soojung ah..apa yg sudah kau
lakukan?”

Siwon pun kini mengalihkan
pandangannya, membuat soojung
mendadak gugup mendapati tatapan-
tatapan yg terarah padanya.

“aniyo..aku hanya menghubungi siwon
oppa, dan memainkan sedikit peran
untuk membantu oppa”

Seketika siwon memutar mata
mendengarnya. Dia luar biasa panik
dan ternyata soojung hanya
mempermainkan nya?

“apa maksudmu soojung ah?”

“Oppa.. Aku hanya akan mengatakan
oenni kerumah sakit untuk
memeriksakan kandungannya, tapi
oppa langsung bereaksi berlebihan dan
menjadi panik kurasa”

“Astaga.. Kau pikir bagaimana aku
akan bereaksi? Kau berkata dengan
nada panik penuh kecemasan”

“jinja? Ah.. Kurasa bukannya aku, tapi
oppa lah yg cemas tadi”

Mendengar apa yang soojung katakan
membuat yoona kemudian
memperhatikan raut wajah siwon, dan
menemukan gurat-gurat kecemasan itu
disana.

“Si won”

Dengan kedua telapak tangannya,
yoona menangkup wajah siwon,
menjadikan tatapan mata keduanya
bertemu dan sangat dekat.

“Hei.. Lihatlah aku, tak ada yang perlu
dikhawatirkan. Kurasa tadi soojung
telah berbohong padamu”

“Yoona..”

“Aku baik-baik saja siwon”

“oenni ya.. Aku melakukannya karna
aku ingin membantu siwon oppa
menentukan pilihannya”

Protes soojung sedikit kesal kearah
yoona.

“tapi kau membuatnya panik soojung
ah”

“itu memang perlu dilakukan oenni..
Bagaimana oppa? Sekarang oppa tahu
kan apa yang sebenarnya harus oppa
lakukan?”

Siwon terpaku oleh ucapan soojung
dan juga oleh tatapan mata yoona yang
begitu intens kearahnya.

“ehmm.. Bisakah kita
meneruskannya?”

Perkataan Dr.Kim langsung
mengalihkan perhatian ketiganya.
Nampaknya sudah terlalu lama mereka
mengabaikan Dr.Kim yang hanya bisa
diam tak mengerti dengan apa yang
mereka bicarakan.

“mianhaeyo dokter.. ne, mari kita
teruskan pemeriksaannya”

“iya dokter..lakukan USG nya
sekarang, aku tak sabar melihat titik
kecil dalam perut Yoona oenni.. Oppa
kau juga ingin melihatnya kan?”

“aku akan menunggu diluar..”

“Siwon..”

Sebelum siwon sempat menyingkir dari
sampingnya, yoona meraih dan
menahan lengannya.

“tetaplah disini.. Aku ingin kau disini.
Temani aku..”

genggaman tangan yoona cukup erat
dan membuat siwon membeku oleh
permintaan nya.

“Tn.Choi, saya rasa anda juga ingin
melihatnya”

Siwon tak mengiyakan namun juga tak
menolak. Yoona masih menahan
pergelangan tangannya. Ia merasakan
kehangatan yang langsung merasuk
kehatinya dengan kehadiran siwon
disampingnya.

Dr.Kim tersenyum melihatnya
kemudian mengarahkan alat USG
keperut yoona.

“oenni..oenni apa itu titik kecil?”

Soojung menatap layar monitor dengan
warna dan gambar yg masih belum
jelas. Dr.Kim masih berusaha
mengarahkan alat USG diatas perut
yoona untuk menemukan letaknya yang tepat

“dokter..itukah titik kecil itu?”

Dr.Kim menekan salah satu tombol
untuk mencegah gambar pada layar
agar tak bergerak-gerak.

“ne..titik kecil itu adalah janinnya”

Seketika gambar pada layar monitor itu kembali
membuat siwon membeku.

Ya Tuhan…

Entah perasaan seperti apa yang kini
muncul dihatinya. Tak pernah
sekalipun dia pernah merasakannya.
Siwon merasakan gengaman tangan
yoona mengerat, dia lantas menoleh
kearahnya dan pada saat itu tatapan
mata keduanya bertemu.

“titik kecil itu calon bayi kita..dia
darah dagingmu siwon”

Siwon tak tahu apa yg mesti
dikatakannya. Sedikit penyesalan
muncul dihatinya.

Ya Tuhan…

Tega sekali ia menyebut titik kecil itu,
darah dagingnya, membahayakan untuk
yoona.

“Yoona..dia..titik kecil itu..darah
dagingku? bayi kita?”

Yoona tersenyum, ada kelegaan yang ia
rasakan. Inikah titik awal untuk siwon
menerima titik kecilnya??

Tapi kemudian secepat ia merasa menyesal telah
menganggap titik kecil itu
membahayakan untuk yoona. Secepat
itu pula ketakutan menjalari hati dan
pikirannya.

Siwon mendadak mundur, wajahnya
memucat menyadari titik kecil itu akan
bertumbuh menjadi bayi dengan darah
yg mengalir kedalam tubuhnya adalah
darahnya.

Tidak, tidak…

Jiwa pengecutnya kembali menang.
Siwon tak bisa menerima kehadiran
seorang bayi dalam hidupnya.

Tidak…

Membayangkan akan seperti apa bayi
itu tumbuh?
Dirinyakah?
Atau menjadi seperti ayahnya?
Seseorang yg menurutnya paling kejam
didunia ini..
Ia menggeleng dengan cepat. Bayangan
itu terlalu mengerikan untuknya.

“tidak yoona..tidak..”

Kelegaan itu terampas dari dirinya,
berganti kegetiran setelah apa yg
siwon ucapkan padanya adalah sebuah
kalimat penolakan yg sama terhadap
kehamilannya, titik kecilnya.

“Si won”

“tidak yoona.. Aku tak bisa…”

Siwon keluar dari ruangan Dr.Kim dan
seketika menimbulkan ketercengangan
dari sang dokter juga soojung yang
langsung meneriakkan kekesalannya.

“Yak Oppa.. Paboya! Apa yg kau
lakukan? Brengsek! Kau bajingan!”

Yoona merasakan hatinya mencelos
seketika. Namun logikanya
mendorongnya untuk bertindak dan
melakukan sesuatu.

“Si won! Si won..”

Ia bangkit dari tidurnya, membenarkan
pakaiannya dan lantas berlari keluar
mengejar siwon.

“Oenni ya.. Oenni! Astaga apa yg akan
kau lakukan?”

Soojung mungkin tak mengerti dan
akan menganggapnya bodoh dengan
terus mengejar siwon.
Namun Yoona merasa perlu untuk
menyadarkan siwon dari trauma yg
dideritanya.
Karna ia mencintainya.

“Siwon.. Siwon tunggu! Berhenti,
kumohon berhenti..”

Siwon menghentikan langkahnya
menyadari derap langkah kaki yoona yang
terus mengikuti dibelakangnya.

“Jangan seperti ini.. Kumohon jangan
seperti ini”

Memeluk tubuh siwon dari belakang,
yoona menyadari airmatanya mulai
menetes.

“Kau berlari ketakutan.. Khawatir dan
menjadi panik karna mendengar
sesuatu terjadi padaku. Tapi pada
akhirnya setelah kau melihatku,
mengapa kau justru kembali berlari,
bukan untuk meraihku tapi kau malah
meninggalkanku”

kini yoona merasakan bahu siwon
menegang karna ucapannya.

“kenapa kau bersikap seperti ini?
Mengapa kau tega melakukan semua
ini padaku? Aku menyerahkan hati dan tubuhku
sepenuhnya hanya untukmu. Tapi kini,
disaat aku sedang mengandung darah
dagingmu, buah cinta kita.. Kau justru
berniat mencampakkan ku”

Siwon membalikkan tubuhnya, menatap
yoona dengan tatapan sendu penuh
kepahitan.

“Ya Tuhan.. Aku tak pernah ingin
mencampakkanmu yoona. Hanya saja..
aku tak pernah berpikir ada seorang
bayi diantara kita”

“kau bisa mulai memikirkannya.. Karna
ini nyata siwon, aku mengandung
anakmu!”

“lalu apa yg bisa kulakukan untuknya?”

“kau bisa menjadi ayah yg baik
untuknya..seorang ayah yg
menyayanginya”

yakinkan dia yoona, Kau hanya perlu
meyakinkannya. Batinnya menegaskan.

“tidak..tidak.. Aku tak bisa menjadi
ayah yg baik untuknya”

“ya.. Kau bisa siwon!”

“tidak yoona!”

“astaga.. Jangan jadi pengecut! Kau
bahkan belum mencobanya”

“tapi dia akan menjadi pria sepertiku”

“apa salahnya menjadi sepertimu? Kau
bukanlah pria yg buruk, karna itu aku
mencintaimu”

“tidak yoona.. Aku tahu, aku sering
menyakitimu..bayi itu tidak bisa lahir
jika nantinya dia juga akan
menyakitimu”

“Ya Tuhan.. Paboya! Belum tentu dia
seorang pria! Bayi ini bisa saja terlahir
sebagai wanita seperti ku”

Siwon tertegun mendengar kata-kata
yoona.
Jika benar apa yg yoona katakan. Itu
berarti dia akan memiliki dua wanita
mengagumkan dalam hidupnya. Yoona
yang adalah wanita yg dicintainya dan yang
satunya adalah darah dagingnya
sendiri, anaknya.

Pemikiran itu sedikit memberikan
angin segar dihatinya namun ketakutan
akan tak bisanya dirinya menjadi ayah
yang baik masih terus menyelubunginya.

Yoona melihatnya. Ketakutan itu masih
tersirat dimatanya.

Jangan menyerah yoona..
Kau tak boleh kalah. Sedikit lagi.
Tinggal sedikit lagi kau akan berhasil
meyakinkannya..
Batinnya berusaha tegar dengan terus
memotifasi dirinya.

“Persetan yoona! Aku bukanlah ayah yg
baik untuknya”

Astaga..!

Membalik tubuhnya, siwon mulai
melangkah meninggalkan yoona yang
masih bersusah payah mencoba
menerima ucapannya. Tapi tidak…

“Si won..”

yoona tak bisa menerimanya. Ia
berjalan cepat mengejar siwon.Tapi
sayangnya ia tak menyadari lantai yg ia
pijak ternyata licin setelah petugas
kebersihan selesai membersihkannya.

Akibatnya ia terpeleset, tubuhnya
terjatuh dan seketika rasa nyeri ia
rasakan pada perutnya.

“awhh..”

Mengabaikan nyeri diperutnya, ia lebih
merasa ngeri melihat darah yang
mengalir dari selangkangannya.

Tidak…

Titik kecilnya…

Ia tak mau kehilangannya…

“awhh.. Si won..”

“Oh Tuhan.. Maafkan saya Ny.. saya
tak tahu anda akan melewatinya”

Yoona hanya bisa meringis menahan
sakit mendengar permintaan maaf
seorang petugas kebersihan
kepadanya. Pandangannya mulai
mengabur seiring suara langkah kaki
yang berlari mendekat menghampirinya…

“Yoona! Yoona! Sayang.. Ya Tuhan…!”

Yoona sudah tak sadarkan diri ketika
siwon membopong tubuhnya,
membawanya kembali masuk
keruangan Dr.Kim.

Dalam alam bawah
sadarnya, ia terus memohon agar titik
kecilnya baik-baik saja.

“Oenni ya.. Oenni, apa yg terjadi? Oppa
ada apa dengan oenni?”

Soojung langsung panik menyadari
siwon membawa tubuh yoona yang dalam
keadaan tak sadarkan diri.

“dokter.. Tolonglah!”

Siwon langsung membaringkan tubuh
yoona agar dokter segera
menanganinya.

“apa yang terjadi Tn.Choi?”

“Dia terjatuh tadi”

ucap siwon penuh penyesalan,
membuat soojung seketika menatapnya
dengan kemarahan. Kakaknya pasti
terjatuh saat berusaha mengejar siwon
tadi, begitu yang ada dipikannya.

“yak.. Oppa apa yg kau lakukan pada
oenni? Kenapa oenni bisa sampai
terjatuh?”

Siwon menyadari semua ini salahnya.
Yoona terjatuh karenanya.

“aku tak tahu akan jadi seperti ini
soojung ah,mianhae”

“maaf Tn.sebaiknya anda berdua
menunggu diluar”

Sela sang dokter pada Soojung dan
siwon.

“saya harus tetap disini dokter”

“aku juga dokter..aku harus
memastikan oenni ku baik-baik saja”

“Tolonglah.. Saya tahu anda khawatir,
tapi ijinkan saya menanganinya, saya
akan lakukan yg terbaik untuknya”

mau tak mau, keduanya akhirnya
menuruti perkataan Dr.Kim.

“Oenni.. Oenni.. Hikss”

Soojung mulai terisak didepan pintu
ruangan Dr.Kim. Sementara siwon
hanya diam dengan perasaan menyesal
yang berkecamuk semakin dalam
dihatinya.

“Oppa..apa yg kau lakukan pada Yoona
oenni? Kau jahat! Kau keterlaluan
oppa.. Oenni ya..hikss Oppa jahat! Kau
jahat!”

Masih dengan isakan tangisnya
soojung mengepalkan tangannya,
memukul-mukul dada siwon untuk
menyalurkan emosinya.
Siwon tak berontak ataupun berusaha
untuk menenangkan soojung karna dia
sendiri juga tak tenang saat ini.

Yang ia
lakukan hanyalah menggumamkan kata
maaf dengan tatapan nanar kearah
soojung.

***

Tigapuluh menit berlalu ketika Dr.Kim
akhirnya keluar dari ruangannya dan
langsung diberondong oleh pertanyaan-
pertanyaan bernada memaksa dari
siwon maupun soojung, agar sang
dokter secepatnya memberikan
jawaban dan kepastian tentang kondisi yoona saat ini.

“Tenanglah.. Semuanya baik..
kakak
anda soojung ssi, dan calon istri anda
Tn.Choi hanya mengalami sedikit
pendarahan, selebihnya tidak ada yang
perlu dikhawatirkan”

“benarkah?”

Siwon menarik napas lega dan
mencoba memastikan ia tak salah
dalam pendengaran.

“ne..tapi lain kali saya harap untuk
berhati-hati, kehamilannya masih
sangat muda jadi rentan untuk terjadi
sesuatu”

“Oh Tuhan.. Syukurlah, Trimakasih
dokter”

“dokter bisakah aku melihat keadaan
Yoona oenni”

Soojung tak sabar untuk memastikan
sendiri keadaan sang kakak.

“Silahkan..tapi kakak anda sedang
istirahat, sepertinya dia kelelahan,
suster akan memindahkannya keruang
perawatan jadi sebaiknya anda
menunggu disana”

***

“Oppa..sebaiknya kau pulang saja, biar
aku yang menjaga oenni”

“tidak soojung, kau tahu aku takkan
bisa meninggalkan nya”

Soojung hanya bisa menghembuskan
napas pelan, sambil membaringkan
tubuhnya diatas sofa single yang ada
diruang VIP perawatan yoona.

Sebelum
akhirnya tertidur ia sempat
memperhatikan bagaimana siwon yang begitu
mengkhawatirkan kakaknya, meskipun
Dr.Kim sudah menjelaskan bahwa
yoona baik-baik saja namun hal itu tak
serta merta menghilangkan gurat
kekhawatiran dari wajahnya.

Ia heran, mengapa dua orang yang sudah
saling mencintai justru memiliki
sesuatu hal yang rumit untuk
dipersatukan.

“Sayang..bangunlah..”

Siwon tak henti mengusap-usap tangan
yoona yang terasa dingin, mencoba untuk
menghangatkannya dan sesekali
menempatkan diwajahnya.

“maafkan aku, aku tak bermaksud
membuatmu seperti ini…”

Lama kelamaan Siwon mulai merasakan jemari yoona
bergerak memberikan respon padanya.

“sayang..kau sadar? Yoona..”

Mengerjapkan kedua matanya, yoona kemudian menggumam pelan.

“Si won..”

“iya sayang..ini aku, Ya
Tuhan..trimakasih kau telah sadar. Aku
sangat khawatir. Aku belum pernah
melihatmu selemah ini”

Siwon mengecupi punggung tangan
yoona, merasakan kelegaan yang luar
biasa dihatinya.

“titik kecilku..Ya Tuhan, bagaimana
dengan titik kecilku?”

Yoona meraba perutnya mencoba
merasakan kehadiran titik kecil yang berada
didalam perutnya.

“Yoona..tenanglah, dia masih ada
disana sayang, titik kecil itu masih
bertahan, dia sama kuatnya sepertimu”

Siwon ikut meletakkan tangannya
diatas perut yoona.

“benarkah? Aku masih memilikinya?
Titik kecilku..”

“ya sayang..iya”

Yoona meneteskan airmatanya, lega
karna sebelumnya ia sempat ketakutan
akan kehilangan titik kecilnya.

“maafkan aku, aku tak bermaksud
membuatmu seperti ini.. Aku begitu
ketakutan tak akan bisa berperan
sebagai ayah yang baik untuk bayi kita.
Tapi sebesar apapun ketakutan itu.. Ya
Tuhan, berpikir bahwa aku mungkin
kehilanganmu rasanya jauh lebih
menakutkan, yoona. Mianhae..maafkan
aku sayang”

Yoona tertegun mendengar ucapan
siwon. Hatinya kembali merasakan
kehangatan oleh kata-katanya.
Batinnya sudah mulai mengantisipasi
uforia yang mungkin sebentar lagi akan
diterimanya.

Apakah pria ini ingin mengatakan
menerima titik kecilnya?

“Siwon..apa itu berarti kau
menerimanya? Menerima titik kecil ini,
bayi kita?”

Siwon menatap sendu kedalam
matanya dan menggenggamkan
tangannya diatas tangan yoona.

“menurutmu aku akan bisa
melakukannya? Menjadi ayah yang
baik untuk nya?”

“ya..tentu saja. Kau pria yang baik
siwon.. Jangan menutup dirimu
seolah-olah kau pria brengsek didunia
ini”

Yoona balas menatapnya penuh
keyakinan. Ia tak ingin siwon kembali
mengambil langkah mundur saat ini.

“Aku takut.. Aku bukanlah pria baik.
Aku takut nantinya takkan bisa menjadi
ayah yang baik untuknya. Aku takut akan
melakukan hal yang sama seperti yang
ayahku lakukan, aku menjadi sangat
takut ketika memikirkannya. Aku takut
akan menyakitinya Yoona..aku sangat
takut”

Yoona bisa merasakan tatapan sendu
itu kini berubah menjadi tatapan penuh
kepahitan dan rasa sakit didalamnya.

Trauma dan Kesakitan dimasa lalu
masih membekas dan menghantui
siwon sampai sekarang.
Yoona tak ingin melihatnya seperti ini.
Melihat pria yg dicintainya terus-
terusan terkungkung kedalam masalalu
nya yang kelam.

“Dengarkan aku.. Bayi kita akan lahir
sebagai bayi yang suci yang belum mengerti
apa-apa. Dia takkan terlahir dengan
membawa masalalumu. Dia diibaratkan
kertas putih yang masih polos. Kita yang
akan mengisinya, menuliskan tinta
kebahagiaan keatasnya. Kau tak perlu
takut. Kau tidak seperti ayahmu. Kau
tak akan bertindak kejam kepada bayi
kita ataupun padaku. Kita akan
bersama-sama memberikan
kebahagian padanya. Kau pria yang baik
siwon.. Titik kecil ini, bayi kita, Dia
akan bahagia karna memiliki ayah
sepertimu, terlahir sebagai anakmu,
darah dagingmu. Dia akan bahagia,
Percayalah padaku..”

Siwon tertegun mendengar kalimat yg
diucapkan yoona. Tangannya kian
menggenggam erat tangan yoona.

“Kau percaya padaku kan?”

“Ya Tuhan.. Iya Yoona. Iya, aku
percaya padamu. Aku selalu
mempercayaimu. Tak ada yg lebih
kupercaya selain dirimu. Aku akan
melakukannya, menjadi ayah yang baik
untuknya”

Siwon menarik tubuh yoona kedalam
pelukannya, dan disaat itu yoona tak
dapat menahan lagi airmatanya.
Airmata keharuan juga kebahagiaannya yang
bercampur menjadi satu.

***

Pada akhirnya pernikahan itu…
Yang telah dirancang oleh keduanya
akhirnya akan segera dilaksanakan.

Yoona telah bersiap mengenakan gaun
pengantinnya yg berwarna putih,
dengan panjangnya yg menyapu lantai.
Wajahnya yang sudah mendapat sapuan
make up kian berseri seiring senyum
yg terus menghiasinya. Ia benar-benar
tak dapat menutupi kebahagiaan yang
membuncah dalam hatinya saat ini.

“Oenni ya… Ya Tuhan.. kau sangat cantik..”

Soojung menghampirinya dengan sebuah pujian dan senyum yang mengembang dibibir nya.

“Aku berbahagia untukmu oenni.. kuharap kebahagiaanmu takkan berhenti sampai disini.. Tuhan memberkati pernikahan kalian..”

“Trimakasih sayang… Tuhan pasti mendengar doa mu..”

Hanya satu yang kemuduan ia rasakan sedikit
mengganjal, yaitu ketidak hadiran
orangtuanya disisinya. Tak ada ibu yang
semestinya bisa menenangkan rasa
gugupnya saat ini. Tak ada ayah yang
akan mengantarnya menuju altar
pernikahan dan menyerahkannya
kepada calon suaminya.

Tapi keyakinan batinnya
menguatkannya. Ayahnya, Ibu
kandungnya, Maupun Ibu Soojung yang
adalah ibu tirinya yang juga telah membesarkannya dan telah ia
anggap sebagai ibu kandungnya, pasti
sekarang sedang tersenyum
melihatnya menjadi seorang pengantin.
berbalut gaun yang indah dan sangat
cantik.

Dan yang pasti ia akan menikah
dengan satu-satunya pria yang
dicintainya. Yang telah ia perjuangkan cintanya dengan berbagai sakit, kepiluan yang sempat ia rasakan.

“Sayang, apa Kau siap?”

Yoona menoleh ketika siwon berdiri
disampingnya, mengenakan tuxedo yang
membuatnya semakin tampan.

Siwon memberikan lengannya agar yoona bisa
melingkarkan tangannya.

Keduanya akan berjalan kealtar
bersama-sama untuk melakukan
pemberkatan dan mengucap janji suci
pernikahan.

“ne.. Aku sudah siap”

tersenyum, siwon lantas menggapit
tangan yoona untuk kemudian berjalan
menuju altar.

Di tempat pemberkatan yang hanya
dihadiri keluarga mereka, dan beberapa
rekan bisnis yang diundang siwon.
suasananya menjadi cukup khidmat
ketika janji itu mulai terucap dari
keduanya.

Sang pendeta sebelumnya
telah membacakan beberapa ayat
Tuhan dan pada akhirnya memberkati
pernikahan mereka.

Dan sorak sorai itupun mulai terdengar
saat kedua pengantin akan melakukan
ciuman pertama mereka sebagai
pasangan suami istri.

Diantaranya yang paling bersemangat tentu saja
saudara-saudara mereka. Sooyung yang
bersama Kyuhyun, Minho, Sulli, dan
Soojung lah yang sedikit banyak tahu
permasalahan mereka sebelum
akhirnya berada disituasi penuh
kebahagiaan seperti sekarang ini.

“Saranghaeyo Yoona..”

“Nado saranghae Siwon..”

Perlahan yoona memejamkan matanya
ketika dengan lembut bibir siwon
menyentuh bibirnya, yang menyebabkan
sensasi hangat yg merasuk dalam
hatinya.

‘Kau bukan ayahmu, dan aku tak
serapuh ibumu.. Jangan pernah
berpikir kita akan berakhir seperti
keluargamu. Tapi sebaliknya..
Bersama-sama kita akan mewujudkan
keluarga yang bahagia dan penuh cinta
bersama anak-anak kita nantinya’

Itulah satu hal yg terus yoona yakinkan
pada siwon
Baginya..
Usaha tanpa keyakinan adalah sia-sia.
Dan Keyakinan tanpa usaha adalah
omong kosong.

Yoona telah membuktikannya,
Ia meyakini cintanya dan juga
berusaha mewujudkan keyakinan
cintanya pada siwon.
Kini ia telah mendapatkannya.
Keyakinan dan usaha untuk
mendapatkannya telah berbuah
kebahagiaan yg akan terus ia
pertahankan selamanya~~

*

*

*

*

*

*

#TBC~

Yeahhh….
Next Chapter  mulai masuk ke INR 2 ya…

Moga ga makin ngebosenin and ga makin ngenes buat Yoona..
. Kekekekeeee….

Berubahkah siwon sepenuhnya…
Ataukah pernikahan hanya dijadikan alat penjerat agar yoona tak lari??
Hohhohohooo…

Gak perlu tanya sebagian udah pada tau kan… hahhahaaaa…

Tks for reading~
*cipok bareng YeWe #ngareeppp

133 thoughts on “♥ I Need ROMANCE ♥ Chap 5

  1. Sebenar.a Vic itu siapa.a Siw0n, smpat kesal jg sama dia yg ngeremehin Y00na,. Akhir.a Y00nW0n jd nikah & sem0ga aja Siw0n mau nerima keberadaan titik kecil mereka….

  2. Akhirnya mereka nikah jga walaupun ga gampang bagi yoona buat ngeyakinin siwon buat nerima kehamilannya…
    Kasian bget sma siwon, trauma bget sma msa lalunya, semoga yoona bisa bertahan untuk siwon…

  3. Aduuuuh nyblin bgt tu siwon mrah2 trus m yoona..
    Ksel jg knpa hrus ktmu victoria…
    Yoona sbar yaaa psti siwon nnti brubh

  4. Sumveh chapter ini bikin greget bgtt.. Wonppaa pgecut bgtt!! *pisslhowonppa.. Yoong eonni sprti ditrik ulur gtu.. Dsni Ɣĝ prhtian dann sweet bgtt malah minho.. Hhiisstt bikin gemes..^^
    Lanjut ke chapter brikutnya..
    Huahh.. Baguss!!

  5. Yah siwon sikapnya berubah2..
    N penasaran siapa sih victoria itu,,
    Mga2 vic bkan orang yg merusak RT yoonwon..
    N semoga siwon berubah…

  6. Akhirnya mreka menikah juga..
    Smoga siwon oppa bener” berubah..smoga dia bener mencintai yoona dan titik kecilnya..hehe😀

  7. Yeeii..akhirnya siwon oppa mau menikahi yoona oenni setelah beberapa masalah sempat menghambat. Mudah”an mereka menjadi keluarga yg bahagia..amiiinn

  8. sikap siwon itu bikn gregetan knpa sih dia gx pernah mau mncoba mnghilangkn perkataan buruk ayahnya
    dan smoga setelh mnikh siwon mau brubh dan gx nyakitin yoona lgi dan bisa sepenuhnya menerima calon anaknya

  9. Akhirnya mereka menikah juga… walaupun gk gampang bagi yoona buat ngeyakinin siwon buat nerima kehamilannya dan semoga siwon bisa menerima bayi itu, kalau seandainya bayinya berjenis kelamil laki2 dan suka banget sama cara yoona ngeyakinin siwon, dia gk pantang menyerah dan selalu berusaha bikin siwon berubah

  10. Akhirnya nikah juga mereka..😂
    Setelah permasahan yang datang bertubi-tubi..
    Siwon butuh waktu yang lama ya buat ngambil keputusan ampe yoona meregang nyawa baru deh dia ngambil keputusan..
    Moga setelah ini kehidupan mereka lebih bahagia lagi dan siwon benar-benar bisa menerima titik kecil mereka.. 😊

  11. akhirnya mereka menikah juga ahh senangnya.. tapi apa siwon oppa udah benar2 menerima titik kecilnya.. ouhh jgn bilang itu cuma alasan biar mereka jadi nikah. kalo emang begitu gue bakal cincang siwon oppa.. oppa please jgn sakitin yoong eonni lebih dalam lagi

  12. Akhirnyaaa siwon mau menerima kehamilan yoona eonni, walaipun masih ada ketakutan.
    Dan mereka pun menikah juga Oh seneng nyaaa, apa lagu kalau liat siwon oppa panik dan bersikap posesif kalau udah berhubungan sama yoona, lucu keliatannyaa soalnyaa terlalu berlebihan hahah tapi aku suka sama momen2 nyaaa walupun sering bertengkar
    Semoga ini awal yang baik buat siwon setelah menikah sama yoona, dan siwon jadi berubah🙂

  13. smoga kdpan’a ga bnyk rntngan buat yoonwon’a, iii sebel sma victoria apa mksud’a mandang remeh ke yoona, cuma sbtas tmn aja gitu bgt
    next

  14. akhirnya wonppa mau nerima kehamilan yoong meskipun masih ada ketakutan, tp yoong bisa ngeyakinin wonppa kalo dia bakal jadi ayah yg baik buat anak2 nanti. semoga ini awal yg baik buat hubungan yoonwon ke depannya.

  15. chaptet ini bikin greget..
    siwon oppa pengecut banget.
    semoga pernikahan ini terjadi bukan untuk mengikat yoona,supaya tidak larii.
    lanjut ke part berikutnyaa

  16. Hwaaa ff yang ini setiap chapternya selalu bikin netes2 :’) yaampun akhirnya siwon oppa nerima titik kecil dan wedd juga :’) chukkae yoonwon😭❤️❤️❤️

  17. Is geram sama siwon, kenapa payah gtu buat nerimanya.. tapi akhirnya hahaha… *fly.. tapi pasti lanjutannya bakal banyak lika liku lagi hahaha.. oke next chap: )

  18. Akhirnya pengorbanan dan usaha yoona tak sia2… mereka menikah yey
    Tp siapa vict??
    Siwon kenapa selalu crita banyak hal k vict?,
    Ini anaknya yoona nanti apa yaa?? Siwon sangat takut kalo anaknya cowok.. masih sejauh ini siwon oppa masih trauma aja ini sama masa lalu.. ikut sedih liat yoona😦

  19. Akhirnyaa yoonwon menikaahh dan siwon sedikit bisa nerima anak dalam kandungan yoona.. tp anaknya yoona apa nantii?? Mkin penasaran sa kelanjutan ceritanyaa
    Wonpa g mau ini yaa anaknya cowok..

  20. akhirnya siwon menerima bayinya wlpun hrs membuat ia sdkt syok..
    untng sj titik kcl itu masi brtahan…
    pnsrn dgn lnjutannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s