Fanfiction

♥ I Need ROMANCE ♥ Chap 4

#Happy Reading~

*

*

*

Ketika telah lelah dan menemukan
penginapan, yoona mencoba
mengistirahatkan tubuhnya dengan
berbaring diatas tempat tidur.

ia kemudian merogoh kedalam tas nya
untuk mengambil ponsel dari dalamnya.

mati?

Pantas saja sedari tadi ia tak
mendengar suara ponselnya.

ketika kembali menyalakan ponselnya,
yoona langsung memukul kepalanya
dengan menggunakan telapak tangan.
menyadari bahwa ada lebih dari
duapuluh panggilan masuk dari nomer
yg berbeda, dan soojung yg mengirim
lebih dari delapan pesan yg isinya
mulai dari khawatir berubah menjadi
panik, bertanya ia ada dimana dan
mengapa tak menghubunginya.

Astaga…

Saat itu juga Yoona langsung mengubah
posisinya menjadi duduk dan kemudian
menekan kontak atas nama soojung
dari ponselnya.

“soojung ah.. Soojung! Mengapa kau
menangis? Apa terjadi sesuatu?”

isakan keras dari soojung adalah hal
pertama yg yoona dengar ketika
akhirnya panggilan nya tersambung
dengan soojung..

“soojung ah..kau membuat oenni takut,
apa yg terjadi?”

ia mulai berdiri mondar-mandir karena
panik, belum pernah sebelumnya ia
mendengar soojung seperti itu
semenjak orangtuanya meninggal.

“Yoona? Ya Tuhan Yoona! Apa kau
baik-baik saja?”

tiba-tiba ponsel telah berpindah ke
sooyoung karna soojung masih belum
bisa mengendalikan tangisnya..

“Sooyoung, aku baik-baik saja, apa yg
terjadi dengan soojung? Apa dia
terluka?”

“Soojung baik-baik saja, kami
menemaninya karena dia panik ketika
kau tak bisa dihubungi, kau membuat
kami takut setengah mati”

Yoona bisa mendengar tangis soojung
mulai pelan dan sulli yg
menenangkannya dengan mengatakan
semua baik-baik saja..

memelankan suaranya, sooyoung menjadi berbisik ditelpon

“soojung sudah memikirkan hal
terburuk, dia sangat yakin kau
mengalami kecelakaan mobil, dia
kehilangan kendali, dan sejujurnya
kami juga mulai merasa takut”

Sooyoung mengarahkan ponsel
ditangannya pada minho ketika melihat dia
mulai mendekat kearahnya..

“Ya Tuhan noona.. Kau telah
membuatku terlihat lima tahun lebih
tua saat ini, aku begitu takut terjadi
sesuatu padamu, astaga.. Apa kau
baik-baik saja?”

“ya aku baik..aku sangat menyesal
karna tak memeriksa ponselku, aku
hanya pergi untuk…”

“ya soojung mengatakan kau pergi
untuk berlibur, kurasa semua tak
berjalan baik dengan hyung?”

Sesaat yoona menghela napasnya..

“ya kau benar, itu tak berjalan dengan
baik, dia bilang padaku tak akan bisa
berubah, dan aku mengatakan padanya
kemungkinan aku takkan bekerja lagi
dengannya”

minho diam sejenak untuk kemudian
melanjutkan

“soojung mengatakan pada hyung kau
menghilang, dia sedang dalam
perjalanan kemari tapi aku telah
mengirim pesan padanya untuk tak
khawatir karna kau baik-baik saja”

Yoona tahu siwon akan menjadi gila
karna hal ini..

“hyung pasti akan bertanya dimana kau
sekarang berada noona?”

“Tidak! Jangan memberitahunya,
jangan membuat ini menjadi sulit
untukku, minho jebal”

“jika itu yg kau inginkan noona, aku
akan melakukannya”

“ini yg aku butuhkan minho.. Bisakah
berikan ponselnya pada soojung, aku
ingin bicara dengannya”

minho lantas memberikan ponsel
ditangannya pada soojung, masih ada
isakan lirih ketika soojung kemudian bicara..

“Oenni.. Aku tak bermaksud membuat
drama seperti ini, aku hanya takut dan
sedih setelah kau mengatakan
semuanya tadi, dan ingatan tentang
kecelakaan ayah dan ibu kembali
muncul kepermukaan”

Yoona bisa merasakan ketakutan dan
kepanikan soojung, tentu ia akan
merasakan hal yg sama jika berada
diposisinya.

“maafkan aku.. Sebelumnya aku telah
mengunjungi makam ayah dan ibu,
kemudian Aku berkendara beberapa
jam untuk mengunjungi makam ibuku
di Jinan, maaf karna telah membuatmu
takut”

“jadi oenni ada di Jinan sekarang?”

“hm.. Aku menyewa kamar disebuah
penginapan untuk beberapa hari
kedepan aku ingin disini”

Beberapa menit yoona menceritakan
kunjungannya kemakam ayah dan
ibunya adalah hal pertama yg ia
lakukan. Hal itu ia lakukan lebih untuk meminta maaf
karna ia telah bertindak melewati batas.
karna  dirinya telah berhubungan terlalu jauh
dengan pria yg belum resmi menjadi
suaminya.

menit berikutnya yoona mengatakan
rencananya selama berada di Jinan, ia
ingin menapaki kenangan masa
kecilnya saat masih tinggal bersama
kedua orangtuanya disana, dan hal itu
cukup membuat yoona lega karna
soojung kembali tenang setelah
mendengarnya.

pada saat yoona ingin mengakhiri
pembicaraan, ia mendengar keributan
yg membuat perutnya bergolak ketika
mendengar suara panik siwon yg
berteriak pada minho.

“SMSmu hanya mengatakan yoona
baik-baik saja, dimana dia? Tidakkah
dia terluka?”

Yoona buru-buru menyudahi
pembicaraan dengan soojung saat
mendengar ucapan siwon tadi..

“soojung.. Matikan telponnya dan
hapuslah caller ID pada ponselmu, jika
siwon bertanya katakan kau tak tahu
aku berada dimana, berbohonglah
untukku.. Aku akan menelponmu lagi
besok, jaga dirimu sayang”

“aku mengerti oenni..”

saat soojung akan mematikan telpon,
sesaat ia merasa tercekat mendengar
teriakan yg bernada permohonan dari
siwon..

“Tidak! Jangan tutup telponnya.
Soojung ah.. Kumohon!”

Bunyi klik terdengar menandakan
soojung mengabaikan permintaan
siwon, yoona menghembuskan napas
pelan dan kembali memeriksa
ponselnya.

Ada limabelas pesan lainnya dari
minho, sooyoung, sulli bahkan kyuhyun juga
mengirim pesan padanya, semua pesan
yg ia baca berisi kepanikan.

tiga pesan tertulis terakhir yg ia baca
adalah dari siwon, tak ada yg berkesan
dari pesannya selain putus asa dan
panik.

*Ya Tuhan Yoona! Kemana kau? Tolong
hubungi setidaknya salah satu diantara
kami*

*kumohon Yoona.. Kau baik-baik saja
kan? Telepon kami sebelum kau
membuatku benar-benar gila!*

*Mengapa kau pergi seperti ini? Kau
seharusnya tak pernah pergi. Mengapa
kau lakukan ini? Ya Tuhan.. Yoona ini
salahku, jika sesuatu terjadi padamu itu
salahku*

dan satu pesan suara dari siwon

“Yoona.. Ya Tuhan aku akan melakukan
apa saja untuk memutar waktu,
seharusnya kau tak pernah
membiarkanku menyentuhmu dan
membuatmu begitu tidak bahagia
hingga kau pergi meninggalkanku
seperti ini, aku berdoa agar kau baik-
baik saja.. Yoona.. aku begitu takut”

Yoona mendengar isakan pada suara
terakhirnya, tertegun ia merasa
bersalah karna telah membuat siwon
tertekan secara emosional.

Memejamkan mata, ia meringkuk
diatas tempat tidur memeluk bantal dan
menyerah pada airmata yg kembali
menetas ketika ia mengulang
mendengar pesannya.

ia tak pernah bermaksud membuatnya
khawatir, tapi kenyataannya ia
menyadari dengan melarikan diri ia
telah melakukan itu.
Situasinya berubah menjadi kacau.
Apa yg akan ia lakukan?
Ini bahkan belum duapuluh empat jam
dan ia sudah sangat merindukan siwon

Beralih menatap langit-langit kamar,
yoona merenung
ia mencintainya dari jiwa yg mendalam,
jantung yg berdebar-debar dan lutut yg
terasa lemah karna cinta, betapapun
jauhnya ia berada tak akan mengubah
itu. Menyerah tak akan mengubah hal
itu.

Membayangkan ia akan berjalan
menuju altar
berkeluarga bersama dalam cinta, ia
ingin saat bangun bisa melihat
wajahnya setiap hari, tertawa bersama,
menangis dengannya, mencintai dan
mendukungnya disituasi apapun, Dia
dan hanya Dia untuknya.

Yoona menyadari rasa itu tak akan
menghilang, ia tak bisa berlari atau
bersembunyi, tak ada yg bisa
membuatnya lupa betapa cintanya telah
begitu dalam kecuali mendadak ia
mengalami amnesia.

Oh Tuhan…

Ia telah berharap ada sesuatu apapun
itu yg bisa ia lakukan..
Ia lambat berpikir untuk menyadari
sesuatu.

Ya Ampun…

Seketika ia terduduk mengendalikan
napas dan memukul dahinya.
Ia sibuk berpikir bagaimana caranya
agar siwon jatuh cinta padanya, tetapi
pesan dari siwon yang ia baca dan dengar sudah
mengatakan kebenaran itu sendiri.

Siwon sudah jatuh cinta padanya..

“Oh..”

Menutup mulutnya ia tersadar karna
semua terasa jelas sekarang, tanda-
tanda telah ada selama ini
Mengapa ia tak menyadari itu
sebelumnya?

“Ya Ampun Siwon..”

Seulas senyum tersungging dibibirnya,
menyadari bahwa siwon sebenarnya
telah jatuh cinta padanya adalah
kenyamanan yg besar, yg akan ia peluk
erat dalam hatinya dan membiarkan
rasa itu memenuhi dirinya.

Sekarang ia hanya perlu membuat
siwon menyadari dan membuatnya
untuk mengatakan isi hatinya keras-
keras.

Tekadnya sudah bulat meski ada
sedikit ketakutan namun menyadari
bahwa siwon mencintainya seketika
menghapus semua ketakutan itu dari
dirinya dan mulai merumuskan rencana
yg akan ia lakukan esok.

***

Yoona sangat bersemangat dipagi hari
saat ia terbangun, ia bahkan hampir
pusing karena suka cita yg
menerbangkannya keawan cinta.
dengan segala tekad nya ia melangkah
kekamar mandi dan bersiap-siap untuk
hari ini.

Kurang dari satu jam kemudian, ia telah
berkemas dan siap meninggalkan
kamar penginapan di Jinan untuk
segera kembali pulang.

***

Beberapa jam berikutnya yoona telah
tiba di Seoul, ia tak langsung pulang
keapartemen nya melainkan pergi
kesalah satu mall disana dan
menghabiskan beberapa jam
berikutnya dengan berbelanja habis-
habisan, ia memulai dengan membeli
heels, pakaian kerja baru, beberapa
mini dress dan rok pendek, tidak
terlalu pendek memang tapi ia
memastikan semua itu akan menarik
perhatian siwon.

Setelah selesai dimall, ia mengunjungi
salon kecantikan dan menghabiskan
lebih dari lima jam disana, melakukan
spa, waxing, sedikit memotong rambut
dan mewarnainya, manicure, pedicure
dan pijat.

Astaga…

Apa yg akan dilakukannya?
Tidakkah kau sedang berniat menjadi
seorang perayu?

Batinnya bergidik ngeri dengan
tingkahnya, namun yoona justru tertawa
dalam hati dengan rencananya.

Selesai melakukan perawatan tubuh
dari ujung kaki sampai rambut, yoona
merasa puas dengan perubahan mood
nya, ia tersenyum ketika kembali
memasuki mobil tepat saat soojung
menelpon.

“aku baru saja akan menghubungimu?
Ada apa sayang?”

“aku hanya ingin menanyakan
kabarmu, dan yah.. Memberitahumu
bahwa siwon oppa menghabiskan lebih
dari satu jam semalam, hanya untuk
mencecarku agar mengatakan dimana
oenni, dan sudah lima kali hari ini oppa
menelponku”

“Soojung.. Aku sudah dalam perjalanan
pulang, aku akan bicara denganmu..”

***

Ketika tiba ditempat parkir
apartemennya, yoona meminta soojung
untuk turun dan membantunya.

“Wow.. Oenni! Tidakkah ini sangat
cepat untukmu kembali dan
penampilanmu? Astaga.. Aku benar-
benar menduga kau merencanakan
sesuatu”

Yoona tak bisa menahan tawa, soojung
sangat mengenalnya dengan baik..

“begitulah..aku akan menjelaskan
padamu, sebelumnya bantu aku
mengangkut barang-barang yg kubeli”

Soojung menganga ketika melihat
kearah kursi belakang yg penuh dengan
tumpukan paper bag, dia bisa pastikan
sang kakak baru saja menguras isi
tabungannya.

“oenni ya.. Kau gila! Apa yg kau
rencanakan”

“untuk seseorang yg gila, terkadang
kita juga perlu menjadi gila”

Perlu dua kali bolak-balik untuk
membawa semuanya masuk kedalam
apartemen dan meletakkan semuanya
dikamar yoona.

“baiklah oenni.. Katakan padaku apa yg
membuatmu kembali dan tentang
rencanamu dengan barang-barang ini?”

“aku pulang karena aku menyadari
bahwa aku bahkan belum mencoba
memperjuangkan cintaku, aku
ketakutan dan langsung lari.. Kau tahu?
Itu bukanlah diriku”

Soojung mengerutkan dahi tampak
belum mengerti.

“aku menerima pesan dari siwon yang
membuatku menyadari bahwa dia juga
telah jatuh cinta padaku, dan
rencanaku adalah untuk membuatnya
menyadari itu, aku tak akan menyerah
untuk kami”

“aku senang kau menyadarinya sendiri,
tadinya aku sudah berpikir bahwa aku
harus meyakinkanmu oppa lah orang yg
tepat untukmu”

kini ganti yoona yg mengerutkan kening
mendengar ucapan soojung.

“tunggu dulu.. Soojung.. kau bahkan baru
mengetahui terjadi sesuatu diantara
kami, bagaimana kau bisa tahu tentang
perasaan nya?”

Soojung memberikan seringai ‘aku tahu
segalanya’ kearah yoona.

“Yah..setelah semua kegilaan yg tak
sengaja kubuat semalam, aku
melihatnya dari dekat bagaimana
perasaannya ketika oppa sampai disini
dia jelas sudah menangis, bahkan
ketika aku mengatakan oenni baik-baik
saja, oppa masih terlihat kacau dan
berantakan, dia sangat ingin bicara
denganmu, oppa begitu sedih saat dia
meninggalkan kami, dan segera
setelah itu sooyoung oenni, kyuhyun
oppa dan sulli mencecarku untuk
menjelaskan, mereka sungguh tak
pernah melihat siwon oppa berperilaku
seperti itu, dan aku telah menceritakan
semuanya”

“aku senang mereka akhirnya tahu,
karna dari awal aku tak ingin
merahasiakan apapun dari mereka, ini
akan membantuku untuk maju karna
aku benar-benar akan mengubah cara
siwon melihat sebuah hubungan”

“bagus oenni..aku mendukungmu, jadi
apa yg sudah kau rencanakan?”

“aku akan tampil lebih cantik untuknya,
hingga membuatnya tak bisa
memalingkan wajah dariku”

Yoona cekikikan dan merasa geli
dengan rencananya.

“Ooh.. Oenni aku suka caramu, ayo kita
lihat bagaimana penampilan barumu”

Satu persatu yoona mencoba memakai
semua pakaian yg ia beli dan
memperlihatkan nya pada soojung.
dengan tersenyum ia memutar tubuhnya dihadapan soojung agar sang adik memberikan penilaian pada penampilan barunya.

“aigoo.. Mengagumkan oenni, aku tak
bisa bayangkan saat siwon oppa tak
berkedip menatapmu, oenni luar biasa..
Inilah oenni ku yg tak mudah menyerah
untuk hal apapun”

Yoona kembali tersenyum dan menghambur
memeluk soojung.

seperti yg soojung katakan! Ia tak
mudah menyerah…

Jika membayangkan bagaimana dulu
ibu siwon lebih memilih bunuh diri
daripada bertahan untuk anak-anaknya,
ia jelas bisa menyimpulkan wanita itu
adalah wanita rapuh..
Dan yoona bukanlah wanita rapuh
seperti ibu siwon, itu yg akan ia
tunjukkan pada siwon, dan
meyakinkannya bahwa siwon adalah
pribadi yg berbeda, yg jiwa dan
raganya jelas jauh berbeda dari
seorang ayah yg kejam yg selama ini
mendoktrinasi pikirannya.

***

Pagi itu setelah memakaikan lotion
keseluruh tubuhnya, yoona memakai
kemeja putih berlengan pendek yg pas
ditubuhnya dan dipasangkan dengan
rok pensil setinggi dua inci diatas lutut,
serta heels merah yg sudah ia siapkan.

Jam delapan tepat ia telah berjalan
dilobi kantor, dengan semerbak parfum
yg tadi ia semprotkan, yoona bisa
merasakan kupu-kupu beterbangan
diperutnya.
Ini seperti hari pertamanya bekerja..

Ia gugup..

Tak salah memang ini hari pertamanya
untuk memecahkan pertahanan siwon,
agar menyuarahan isi hatinya.

Memasuki ruangannya, ia memeriksa
beberapa email yg masuk kemudian
membuat beberapa catatat sebelum
akhirnya ia memutuskan keluar dari
ruangannya untuk menyusuri lorong
menuju ruangan siwon.

Ada perasaan dejavu saat ia berdiri
diam diambang pintu, menatap
mengawasi siwon yg duduk dibalik
meja kerjanya dengan beberapa surat
kabar tersebar diatas mejanya.

Yoona yakin siwon tidak sedang membacanya.

Sesaat hatinya serasa diremas, ia
merasakan sakit saat melihat betapa
sedihnya siwon, dia tak serapi
biasanya dan warna hitam dibawah
matanya menandakan dia jelas tak
tidur dengan baik.

memulai doa kecil dalam hatinya,
yoona kemudian melangkah masuk.

“Siwon.. Selamat pagi, aku telah
membalas beberapa email dan
mengatur pertemuan hari ini..”

Raut wajahnya tak ternilai harganya,
dia benar-benar terpana melihat yoona
tersenyum berdiri dihadapannya…
“Yoona…”

“hai.. Aku datang untuk bekerja
denganmu..”

“Yoona.. Apakah itu benar-benar kau?
Atau aku sedang bermimpi lagi?”

Mengangkat sebelah alisnya yoona
kemudian menggeleng.

“ini aku..aku kembali untuk bekerja”

Berdiri siwon menghampirinya dan
mencoba meraih yoona ke pelukannya,
namun yoona mengambil langkah
mundur sebelum siwon bisa meraihnya.

“jangan..”

“yoona aku..”

“kumohon siwon.. Kita sudah berakhir,
aku kembali karna aku sadar aku
masih memerlukan pekerjaan, tak
lebih.. Tolong jangan mempersulitku”

Siwon meremas rambutnya dan
menghembuskan napas frustasi.

“setidaknya biarkan aku memeriksa
apakah kau baik-baik saja?”

“Siwon..aku baik, bisakah kita mulai
membicarakan pekerjaan saja?”

“Okey jika itu maumu!”

Siwon kembali kemeja kerjanya,
melipat koran dari atasnya sementara
yoona menarik kursi untuknya duduk.

Beberapa menit yoona menghabiskan
waktu menatap layar Ipad milik siwon
untuk membuka foto-foto yg dikirim
salah satu manager proyek pada
mereka, ia mengabaikan pandangan
siwon padanya.

Oh…

Dia pasti sedang memperhatikan
penampilannya, dan telah menilai
dalam hatinya,
tapi yoona sudah bertekad tak akan
membiarkan siwon merusak mood nya,
apalagi mengkritik penampilan barunya.

“aku sudah melihat semua fotonya, jadi
kapan kita kesana untuk memeriksa
detailnya?”

Yoona menatap dan bicara tiba-tiba,
membuat siwon yg sedari tadi
mengawasinya kesulitan untuk
memberikan jawaban karna kegugupan
yg dia rasakan.

Astaga….

Gugup?

Bahkan ini pertama kalinya dia
merasakan gugup didepan seorang
wanita.

“euh.. Itu.. Yang pasti tak bisa hari ini,
aku dan minho ada janji dengan kakek”

Siwon tiba-tiba berdiri, memasukkan
ponsel kedalam saku celananya
kemudian mengambil jas nya yg
tergantung.

“aku akan meninggalkan kantor untuk
bertemu kakek, kau bisa
menyelesaikan pekerjaanmu sampai
aku kembali setelah makan siang
nanti”

“nde…”

Siwon keluar begitu saja, membuat
yoona mengerutkan dahi heran dengan
sikapnya.

ada apa?
Apa ia telah gagal menarik
perhatiannya?

Ia baru saja maju satu langkah tapi
sikap siwon tadi membuatnya kembali
mundur bahkan sampai lima langkah
kebelakang.

“Oppa..”

Sooyoung melongok dipintu ruangan
siwon, seketika dia terkejut mendapati
yoona ada disana, berdiri merapikan
meja siwon.

“Yoona..?”

Mendongak yoona tersenyum pada
sooyoung yg melangkah mendekatinya.

“Omo.. Cantik sekali, aku sadar kau
selalu mempesona, tapi ini.. Astaga
kau luar biasa..”

pujian sooyoung membuat semburat
merah diwajahnya.

“benarkah?”

“ya..tentu saja, apa kau merencanakan
sesuatu? Ini hanya dugaanku, tapi
kurasa tak ada salahnya
memperjuangkan nya”

Tersenyum sekaligus mengangguk
yoona mengiyakan

“Aku tahu kau sudah mengetahui
semuanya dan ya.. Aku mencintai
siwon, awalnya aku ketakutan dan
berlari seperti pengecut, tapi setelah
aku menyadari sesuatu.. Berjuang
untuk dia adalah satu-satunya pilihan”

Melangkah maju sooyoung tersenyum
dan memberinya pelukan.

“tepat sekali yoong, Oppa juga jatuh
cinta padamu,jika kau belum tahu itu.
Sekarang yg kau perlukan hanya
membuat oppa menyadari itu”

“Oh..itulah yg sedang aku lakukan”

Ketika sooyoung melepaskan
pelukannya, minho masuk keruangan,
sekilas terbengong melihat yoona
untuk kemudian menghambur
memeluknya.

“noona..astaga noona.. Kau kembali,
aku senang sekali”

Minho mengeratkan pelukannya.

“minho.. Kau membuatku sesak napas”

Minho melepaskan pelukannya,
kemudian menyipitkan mata melihat
penampilan yoona.
mengangkat salah satu tangan yoona,
minho mengisyaratkan untuk memutar
tubuhnya.

“noona.. Apa yg kau lakukan? Ini gila..
Kau akan membuatku berkelahi lagi
dengan hyung, aku benar-benar jatuh
cinta padamu..”

Tertawa ia memukul pelan lengan
minho

“Ishh.. Apa yg kau katakan? Jika kau
melakukan perkelahian bodoh lagi, aku
akan langsung menjauhimu..tapi apa
yg kau lakukan disini? Kurasa tadi
siwon mengatakan dia akan pergi
denganmu menemui kakek kalian”

“anio.. aku bahkan belum bertemu
hyung hari ini”

“jadi siwon?”

“oppa pasti membohongimu..”

Sooyoung menyela dan berjalan
keseberang kearah sofa yg ada
diruangan itu.

“hyung pasti ketakutan melihat
penampilanmu”

“MWO.. Takut?”

Minho tertawa melihat ekspresi bodoh
yg ditunjukan yoona

“takut jika hyung tak bisa
mengendalikan perasaannya.. Jika aku
jadi dia kurasa aku akan langsung
menarik noona kealtar”

“Aishh.. Aku tak yakin padamu, kau
bahkan sama saja dengan siwon,
kalian takut berkomitmen”

Minho terdiam, dan yoona menyadari
kekeliruannya berbicara.

“minho..mianhae aku tak..”

“gwechana.. Noona benar, tapi
bukankah aku sudah katakan aku akan
memikirkan apa yg noona katakan
padaku, aku sedang berusaha untuk
itu..”

Yoona meraih tangan minho untuk
menggenggamnya.

“jadi.. Noona mengubah penampilan ini
untuk hyung?”

“ne..”

“hm.. Aku benar-benar cemburu pada
hyung, dia sangat beruntung, jadi
selanjutnya apa yg akan noona
lakukan?”

“entahlah..Awalnya aku merasa telah
selangkah lebih maju, tapi sikap siwon
tadi memundurkan semua itu”

“Noona..kurasa Kau perlu bantuanku..”

***

Minho mengatakan dia akan membantu
yoona, dia juga mengatakan trimakasih
nya karna setelah apa yg diketahuinya,
ia tak berlari dan justru mau
memperjuangkannya.

Diawali dengan makan siang bersama,
minho mengatakan yoona harusnya
bersikap acuh pada hyung nya,
mengabaikan nya adalah cara yg paling
tepat untuk menarik perhatian siwon.

“benarkah aku harus melakukannya?”

“jadi noona tak percaya padaku?”

“bukan begitu..hanya saja..”

“Ayolah noona.. Jadilah api maka
seperti ngengat hyung yg justru akan
mendekatimu”

“api? Maksudmu?”

“membuat hyung cemberu.. Kurasa
akan jauh membantu”

Sambil menikmati makan siangnya
keduanya meneruskan obrolan diselingi
tawa lepas yoona mendengar minho
mengatakan rencana-rencananya.

***

Siwon ternyata tak kembali kekantor
saat makan siang dan bahkan setelah
jam kantor berakhir pria itu benar-
benar tak menampakkan dirinya, dan
sukses membuat yoona menggerutu
kesal.

“begitu besar kah ketakutanmu?”

untuk sesaat memandang meja kerja
siwon, ia lantas meninggalkan ruangan
itu. Minho sudah menunggunya untuk
menjalankan rencana pertamanya, dia
akan mengajak yoona bertemu teman-
teman nya.

“minho ya..kenapa membawaku
kesini?”

“kau aman noona..mereka semua
temanku, dan aku punya informasi
untukmu, hyung ada dikafe ini”

“MWO..? Jadi dia tak kembali kekantor
dan justru menghabiskan waktunya
disini?”

“kafe ini milik Victoria noona.. Kau
ingatkan teman wanita hyung di klub
malam itu”

“ne..aku ingat”

Mana mungkin ia bisa melupakan
malam itu, bahkan rasa sakit ketika
melihat siwon bersama wanita lain
masih akan ia rasakan.

“santai saja noona.. Jika ingin rencana
kita berhasil maka nikmatilah malam
ini”

Untuk beberapa waktu yoona sedikit
canggung berada diantara teman-teman
minho, ini hal baru untuknya tapi minho
selalu bisa menciptakan suasana yg
nyaman yg bisa membuat yoona
akhirnya meledak dalam tawa.

disudut meja lainnya tatapan siwon tak
lepas memperhatikan nya dan itu
disadari oleh yoona, yg kemudian
membuat ia cukup puas ketika siwon
tiba-tiba meninggalkan kafe dengan
ekspresi tak terbaca.

“kau berhasil noona.. Aku berani
bertaruh hyung akan meledakkan
kemarahannya dalam mobil mewah
nya”

sudah untuk yg kesekian kalinya minho
membuat yoona tertawa dengan ucapan
nya.

***

Setelah kurang lebih satu jam
berolahraga ditempat gym yg biasa ia
datangi, yoona merasa tubuhnya lebih
segar setelah ribuan kalori yg mungkin
telah terbakar.

Astaga…

Ia bahkan sudah lupa kapan terakhir
kali ia datang ke gym..

Selesai dari gym, yoona kini melangkah
dilobi kantor, heels nya menekan lantai
dengan blus merah dan satu lagi
koleksi rok pensil pendek yg
membuatnya kian percaya diri
memamerkan kaki jenjangnya.

Ini sudah hari ketiga dimana yoona tak
menyerah dan mengikuti rencana
minho, dengan berusaha acuh pada
siwon dan menghabiskan lebih banyak
waktu dikantor bersama rekan kerja
lainnya, yoona menyadari selama
setahun bekerja, dunianya hanya
berkutat dengan siwon.

Ia kini lebih memilih menikmati makan
siang diluar bersama rekan nya
daripada menuruti ajakan siwon untuk
makan bersamanya, dan juga ia akan
menolak ketika siwon menawarkan
untuk pulang bersama.

“aku sudah ada janji, maafkan aku”

Tolak yoona pada seorang rekan yg tak
sengaja ia temui ditempat parkir ketika
ia hendak masuk kemobilnya.

“kalau begitu jika ada waktu apa kau
bisa menghubungiku?”

“Oh..tentu saja, berikan nomer
ponselmu padaku”

Yoona menyerahkan ponselnya. ketika
kemudian rekan prianya memasukkan
nomer ponselnya, yoona tersenyum
sangat manis dan hal itu membuat
sang rekan justru salah tingkah.

“baiklah..sampai jumpa!”

“ne..”

Yoona sudah akan membuka pintu
mobilnya saat minho meneriakinya

“Noona tunggu..”

“wae minho..?”

“kita pergi bersama saja?”

Yoona mengangguk dan tersenyum
kemudian melempar kunci mobilnya
kearah minho.

“kau yg mengemudi”

Dari balik kemudi mobilnya siwon
menggeram menyaksikan semua
tingkah tak biasa dari yoona.

***

Setelah menjemput soojung dan sulli
bersama minho, mereka menuju klub
yg biasa mereka datangi, bukan untuk
mabuk melainkan menikmati musik yg
bisa menggoyangkan tubuh mereka.
Musik yg diputar cukup membuat yoona
rileks,ia turun kelantai dansa bersama
soojung.

“Yoona?”

“kibum ssi”

“astaga..sudah lama aku tak
melihatmu”

dengan tanpa permisi kibum
memeluknya, membuat yoona bergerak
tak nyaman ketika kibum tak juga
melepaskannya.

“kibum ssi lepaskan aku”

“kenapa kau tak menepati janjimu
untuk datang kekelas dansa,aku
merindukanmu yoona”

Yoona merasa ngeri mendengarnya,
kata-kata minho tempo hari mendadak
muncul dipikirannya.

Astaga…

Itu jelas bukanlah bagian dari rencana minho..

Kenapa pria ini tak juga
melepaskannya?
Dimana soojungdan sulli?
Kemana minho?
Seharusnya dia tahu dan menjauhkan
kibum darinya..

“Brengsek! Lepaskan dia!”

Yoona bisa mendengar keributan
pengunjung lain ketika siwon
menerobos lantai dansa dan kemudian
menyentakkan tubuhnya terpisah dari
kibum.

“Hentikan kegilaanmu yg
menjengkelkan dari hadapanku..
Sekarang Yoona!!”

Oh..
Akhirnya..
dia datang..

Mergetakkan giginya siwon kemudian
mencengkram kuat pergelangan tangan
yoona, menariknya yg masih ternganga
karna kehadirannya yg tiba-tiba.

“Siwon lepaskan.. Sakit…”

Oh..
Pria ini bahkan tak menggubris rintihan
nya.
dan sudah Sejak kapan dia
mengawasinya?

“Siwon.. Sakit..”

Namun niat siwon untuk menjauhkan
yoona secepatnya dari kibum terhalang
saat kemudian kibum menghadang
langkahnya dengan berdiri didepannya.
dengan tatapan marah setelah apa yg
dilakukan siwon begitu sangat
mengusiknya.

“Kurasa dia keberatan dengan
perlakuanmu man!”

“Minggir Kau!”

“Lepaskan tangannya Bodoh..!”

“Brengsek.. Aku tahu niatmu! Dasar
Bajingan!!”

Siwon melepaskan pergelangan tangan
yoona untuk kemudian menggunakan
tangan nya untuk melayangkan pukulan
ke wajah kibum.

“Siwon Hentikan! Ya Tuhan Hentikan!”

Teriakan yoona seakan hilang tertelan
oleh musik yg masih terus berdentam,
dan kerumunan pengunjung yg
bukannya melerai tapi justru
menjadikan perkelahian itu sebagai
tontonan.

Beberapa kali kibum terkena pukulan
diwajahnya, dia limbung namun masih
memiliki tenaga yg cukup untuk
membalas siwon dengan melayangkan
beberapa tinjunya diwajah dan bagian
perut nya.

“Ya Tuhan Hentikan..”

Yoona sudah akan maju untuk menarik
salah satu diantara keduanya, namun
soojung dan sulli menghentikan nya.

“Oenni ya apa yg terjadi?”

“astaga..darimana saja kalian? Mana
minho? Ya Tuhan tolonglah hentikan
mereka..”

“Omo Siwon oppa! Kenapa dia
berkelahi? Dan siapa pria itu oenni?”

“dia yg menjadi partner ku dalam
kompetisi dansa waktu itu”

“Noona.. Noona gwechana?”

Minho terburu menghampiri yoona, dia
baru mengetahui ada keributan disana.

“minho astaga..kemana saja kau?
Hentikan mereka.. Cepatlah minta
siwon menghentikan nya, dia tak
mendengar ucapanku”

Minho mendekat dan menghentikan
siwon yg masih mengepalkan
tangannya.

“Hyung tenang..tenanglah, kau
membuat yoona noona ketakutan jika
seperti ini”

Siwon mundur, mencoba mengatur
pernapasannya, kilatan kemarahan
belum hilang dimatanya.

“Urus dia.. dan katakan padanya
jangan coba mendekat apalagi
menyentuh yoona atau aku akan
menghabisinya”

Huu..
Bergidik, yoona merasakan sekujur
tubuhnya merinding mendengar ucapan
siwon.

“tenanglah hyung.. Biar aku yg
mengurusnya”

Minho mendekati kibum yg tergeletak
dilantai dengan beberapa lebam pada
wajahnya yg mulai terlihat.

“sebaiknya ini yg pertama dan terakhir
kau berurusan dengannya”

Minho menepuk pelan bahu kibum
kemudian membantunya untuk berdiri,
sebenarnya dia ingin memberi
pertolongan lebih tapi ia urungkan
mengingat apa yg pernah dilihatnya,
semestinya sesekali kibum memang
pantas mendapatkannya.

Dan ketika melihat siwon menarik
yoona keluar dari klub, minho buru-
buru mengikutinya.

“siwon lepaskan aku..”

“tidak sebelum kau keluar dari tempat
sialan ini”

“oenni..”

“oppa..”

Soojung dan sulli hanya bisa mengekor
dibelakang tak berani berucap lebih
banyak ketika telah melihat tatapan
kemarahan dari siwon.

“Siwon..!! Apasih maumu?”

Sekuat tenaga yoona menyentakkan
pergelangan tangannya agar terlepas
dari cengkraman tangan siwon, ada
bekas kemerahan ketika ia melihatnya.

“Lalu apa maumu? Membiarkan
sembarangan pria memelukmu? Itukah
maumu? Hah??”

“sembarangan pria? Dia kibum..aku
mengenalnya, dan dia temanku”

“teman? Teman macam apa yg dengan
tatapan menjijikannya aku bisa
pastikan dia punya rencana untuk
menidurimu”

“Kau pikir aku akan melakukannya? Kau pikir aku wanita murahan? Brengsek Kau..!!”

“Oenni tenanglah… oppa.. Kau keterlaluan..”

Sulli menyela pertengkaran antara siwon dan yoona.

“lalu kemana kalian? Kenapa
meninggalkan yoona sendirian disana?”

“aku..aku dan soojung hanya ketoilet
sebentar, aku tak tahu apa yg terjadi?”

“kau bahkan tak tahu apa yg
terjadi..maka diamlah!”

Siwon kembali mengarahkan
tatapannya pada yoona, yg disambut
dengan tatapan menantang dari yoona.
tapi sebelum keduanya kembali
bersuara, minho lebih dulu
menghampiri.

“Hyung.. Noona..gwechana?”

“Sialan.. Apa yg kau lakukan? Kemana
kau? Kenapa meninggalkannya
sendirian tadi?”

“tenanglah hyung.. Aku hanya keluar
untuk menjawab telpon tadi, karna
didalam terlalu berisik, aku tak tahu
jika pria itu ada disana”

“mulai sekarang tak ada lagi pergi ke
klub tanpa aku”

Siwon menegaskan ucapannya dengan
menatap yoona, seolah itu adalah
pesan khusus untuknya.

“bawa soojung dan sulli pulang
bersamamu”

“ne.. hyung”

“aku juga akan pulang denganmu
minho..”

Yoona melangkah untuk menghindar
dari tatapan siwon, namun siwon
merenggut tangannya.

“jangan coba pergi disaat kau tahu aku
masih marah padamu..”

Merengut, ia kembali menatapnya.

“kemarahanmu tak beralasan..dan kau tak berhak memarahiku..”

“Oh..menurutmu begitu? Jadi ayo ikut aku
dan kau akan tahu kemarahanku sangat
beralasan..”

Membuka jaket dari tubuhnya, siwon
lantas memakaikannya pada yoona.

“Pakai ini.. kau kedinginan kan?”

“anio..”

“beberapa hari ini aku tak suka dengan
caramu berpakaian.. Kau sedang
menantangku bukan?”

Cemberut mendengar ucapannya, yoona
mengamati siwon membuka pintu
mobilnya.

“masuklah.. Kita perlu bicara yoona”

“aku ingin pulang..”

“Masuk Yoona.. Haruskah aku yg
mengangkatmu??”

Aishh…

***

Memendam perasaan bahagia yg
membucah dalam hatinya dan
memasang topeng keterpaksaan, yoona
berlagak kesal mengayunkan kakinya
masuk kedalam mobil siwon.

Dalam mobil diperjalanan ia hanya
menatap keluar dan sesekali
mengetuk-ngetukan heels nya ataupun
memilin jemarinya guna mengurai
kegugupan yg ia rasakan.
tapi semakin
mobil jauh melaju yoona mulai merasakan
kekesalan yg sebenarnya karna siwon
justru tak bersuara sepatah kata pun.

Duduk dengan gelisah ia mulai
mengalihkan pandangannya.

“sebenarnya apa sih yg ingin kau
bicarakan?”

“Setelah kita sampai baru kita
bicarakan semuanya”

“Apa yg mencakup ‘semuanya’ itu?
Kukira kau hanya marah karna kibum
memelukku tadi”

Siwon mencengkram kuat stir kemudi
berusaha menahan kekesalan atau
bahkan kemarahan karna yoona justru
kembali mengingatkannya pada
kejadian yg membuatnya muak.

Sudah cukup rasanya dia merasa
kecolongan saat kibum berani mencium
yoona, dan sejak saat itu dia sadar
bukan hanya dirinya yg setengah mati
menginginkan yoona.

“kau tahu itu hanya salah satu
diantaranya”

“Oh benarkah? sayangnya aku tak
tahu”

“jangan bercanda yoona.. Kau pikir apa
yg sudah kau lakukan?”

“apa yg kulakukan?”

“kembali kekantor dan tetap bekerja
denganku tapi kau justru
mengacuhkanku”

“MWO.. Mengacuhkanmu? Kau pikir
aku melakukan itu padamu?”

batinnya menyipitkan mata heran oleh kebohongan
ucapannya.

Well…
Kau memang melakukannya
yoona, bukankah mengacuhkan nya
adalah bagian dari rencanamu untuk
menarik perhatiannya?
Dan kini kau justru mengingkari hal itu
dihadapannya,
Apa kau sedang mencoba bermain-
main dengannya?

“ya kau melakukan itu.. Sejak kau
kembali dengan
mengubah penampilanmu, kau
menghindariku dan justru menjadi
dekat dengan karyawan lain, kau
bahkan menerima nomer ponsel
mereka dan astaga..pakaianmu!
Jangan kira aku tak menyadari kau
mengenakan rok yg lebih pendek dari
biasanya.. Ya Tuhan Yoona.. Aku suka
kau terlihat cantik, tapi memikirkan
kau melakukan perubahan itu demi
orang lain sungguh membuatku muak,
apa kau bertujuan memanas-manasi
ku?”

Wow…
Terperinci..!

Jelas selama ini siwon terus
mengawasinya dan niatnya untuk
membuat siwon tak bisa berpaling
darinya mungkin telah berhasil..

“benarkan? Kau melakukan itu
padaku?”

“Ya Tuhan apa yg kau katakan? Kau
salah.. Aku hanya sedang melanjutkan hidupku. mencoba menjadi
diriku, selama ini kupikir aku hanya
berkutat denganmu, dan setelah kita…
Ya kita telah berakhir siwon, kurasa
kau tak bisa mengkritiki penampilan
ataupun kehidupanku”

Oh..
Apalagi yg akan kau mainkan yoona?

Batinnya bertanya penuh antisipasi.

“tidak yoona.. Kita masih bisa
membicarakannya”

“Ya Tuhan tidak siwon, kita sudah
berakhir sejak kau katakan padaku kau
tak bisa merubah keputusanmu, lalu
apalagi yg bisa kita bicarakan? Aku
menyerah..”

“kita belum berakhir yoona dan tidak
akan pernah berakhir jadi berhenti
mengatakan hal seperti itu”

“lalu apa yg kau inginkan dariku?”

“kembalilah padaku yoona, kumohon..
Aku ingin kau bersamaku”

Dengan sebelah tangannya yg tetap
berpegang pada stir, siwon
menggunakan tangan kanannya untuk
menggenggam tangan yoona.

“kembalilah padaku..”

Yoona merasakan miris dihatinya,
siwon jelas masih takut untuk
berkomitmen.

“siwon.. Aku masih bersamamu,
tidakkah kau menganggapku sahabat?
Tapi Aku tak akan lagi bisa lebih dari
itu”

“yoona kau tahu aku sangat
menginginkan mu”

“kau kejam padaku siwon.. Kau hanya
menginginkan tubuhku, kau samakan
aku dengan wanita-wanita sialanmu
itu, kau pikir aku wanita murahan?? yg
kau tiduri dan kau tinggalkan, demi
Tuhan aku takkan lagi membiarkanmu
melakukan itu padaku”

“Ya Tuhan yoona.. aku tak pernah
menganggapmu seperti itu, tidak
yoona.. Hanya saja aku…”

“kau tak bisa berkomitmen? Itukan yg
ingin kau katakan padaku..”

“yoona..”

“Kau penakut siwon.. Kau takut akan
seperti ayahmu yg membiarkan istrinya
bunuh diri, yg menembak mati istrinya,
yg memberikan doktrinasi buruk pada
anaknya, itukan yg kau takutkan?”

Yoona merasa inilah waktu yg tepat
untuk membuka mata siwon pada
kenyataan yg sesungguhnya, dia tak
seburuk itu.

“yoona..darimana kau..”

“aku tahu semuanya.. Jika kau terus
membiarkan ayahmu bersarang
dipikiranmu, selamanya kau akan
menjadi pengecut siwon.. Turunkan
aku! aku tak ingin lebih lama bersama
pengecut sepertimu!”

“tidak yoona.. Kau tak bisa seperti ini”

“Hentikan mobilnya! atau kau ingin aku
melompat keluar!”

Siwon memucat dan spontan
menghentikan laju mobilnya saat Yoona
tak bisa lagi mengontrol kata-katanya.
ia keluar dengan kesedihan dan
airmata yg tak tertahan, bukan
menangisi dirinya, tapi siwon…

Dia menangisinya, masa lalu yg kelam
telah membuatnya seperti ini..
Limbung karna keseimbangan yg tak
terkontrol ia hampir terjatuh andai
kedua tangan siwon tak meraih
tubuhnya dan kemudian mendekapnya.

“jika itu yg kau mau, jika yg kau
maksud komitmen adalah hanya ada
aku dan kau didalamnya, aku akan
melakukannya yoona.. Aku akan
berkomitmen denganmu, Menikahlah
denganku.. Menikahlah denganku
Yoona…”

Yoona tertegun mendengar ucapan
Siwon, masih diam tak bergerak
seperti tak percaya dengan indera
pendengarannya sendiri.

“Menikahlah denganku Yoona.. Aku tak
ingin melihatmu lari dariku, Aku tak
akan sanggup bila kau menjauh dariku”

Ya Tuhan..
Apa maksudnya?
Tidakkah itu terdengar seperti
keterpaksaan?
Mungkinkah siwon terpaksa
memintanya menikah hanya untuk
mengikatnya?

Tidak.. Tidak..

Bergerak, Ia mendorong dada siwon,
melepaskan pelukan keduanya.

“tidak siwon..tidak.. Aku tak bisa
menikah denganmu”

Melihat kedalam matanya, ia
menemukan keterkejutan atas
penolakannya.

“wae? Kenapa yoona? Kenapa kau tak
bisa? Bukankah itu yg kau inginkan?
komitmen itu yg kau butuhkan untuk
tetap membuatmu bersamaku?”

Yoona menggelengkan kepalanya,
tampak menyedihkan melihat siwon
mengartikannya seperti itu..

“jadi apa maumu yoona? Katakan apa
maumu? Demi Tuhan apapun
keinginanmu Aku akan melakukannya
untukmu”

“tinggalkan aku..”

“Tidak.. Kau tahu aku tak bisa
melakukan itu”

Siwon meremas rambutnya, frustasi
dengan ketidak mengertiannya akan
sikap yoona.

“Sial Yoona..! Apa yg kau inginkan? Katakan dengan nyata apa yang sebenarnya kau inginkan??!”

Batinnya bersembunyi diruang paling
dalam dihatinya, ngeri setelah
mendengar ucapan yg bernada
kemarahan dari siwon.

Oh Yoona..
Mengapa kau bisa jatuh cinta pada pria
seperti ini?
Batinnya kembali bersembunyi setelah
mengajukan pertanyaan yg Ia sendiri
tak mempunyai jawabannya..

Apa yg membuatnya mencintai siwon?
Bagaimana pria pemarah, posesif dan
juga semaunya sendiri itu begitu
menarik hatinya.. Yoona jelas tak
punya jawaban untuk itu.

Disaat ia tengah bergelung dengan
gejolak perasaan nya sendiri, Siwon
berlutut kemudian meraih tangannya.

“Menikahlah denganku Im Yoona..”

Mengeluarkan sebuah kotak kecil dari
saku celananya, siwon membukanya
dan segera sebuah cincin yg berkilau
terlihat didalamnya

Oh…

Yoona terkejut dengan apa yg
dilakukannya, Batinnya yg tadi sempat
bersembunyi perlahan mengintip,
keheranan.

Cincin?
Kapan pria ini menyiapkan nya
untukmu Yoona??

“Siwon..”

“aku akan memakaikannya untukmu,
kita akan menikah secepatnya
kapanpun kau mau Yoona..”

Ini bukan lagi sebuah pertanyaan, tapi
telah berubah menjadi pernyataan.
Siwon jelas tengah menunjukan
dominasinya.

Batinnya berjingkat mengantisipasi
jawaban apa yg akan diberikan yoona
disaat siwon tengah mengeluarkan
cincin dari dalam kotaknya.

“aku tak bisa.. Mianhae”

Menarik tangannya, Yoona berbalik
membelakangi siwon hanya untuk
menyeka airmatanya.

Entahlah, rasa yg seakan meremas
hatinya membuat ia merasakan sakit.

Sakit?
Kesakitan apa yg kau rasakan yoona?
Bukankah ini impianmu?
Semua ini tujuanmu?
Lalu apalagi yg kau tunggu disaat
siwon telah berlutut untuk melamarmu
kau justru menolaknya..

Kali ini benar kata siwon ‘apa yg kau
inginkan yoona?’
Batinnya terus mendebat, membuat
airmatanya makin deras membanjiri
wajahnya.

Bukan karna ia tak bahagia..
Tentu saja ia bahagia siwon akhirnya
melamarnya, tapi niat siwon yg ingin
menikahinya jelas hanya sekedar untuk
mengikatnya itulah yg ia tangisi..

“Yoona kenapa? Ada apa denganmu?”

Siwon kembali berdiri, kemudian
membalik tubuh yoona agar berhadapan
dengannya.

“Ya Tuhan.. Kau menangis? Apasih yg
sedang kau pikirkan?”

Siwon sudah akan menyeka
airmatanya, namun ia menepis
tangannya.

“Kau.. Kau yg sedang kupikirkan,
niatmu menikahiku jelas hanya untuk
mengikatku, kau tak tahu begitu
dalamnya arti komitmen dalam sebuah
pernikahan, aku tak bisa menerimamu
jika kau masih berpikir seperti itu”

“kau tahu masalahku yoona, kau jelas
sudah tahu.. Tapi aku memberanikan
diri mengambil langkah ini hanya
untukmu yoona, untukmu.. karna aku
begitu takut kehilanganmu”

“lalu apa kau mencintaiku? Berkali-
kali aku sudah katakan aku
mencintaimu, tapi kau selalu
mengacuhkanku, tak sekalipun kau
membalas pernyataanku”

Oh..
Inikah maksudmu yoona?
Kau ingin membuatnya mengatakan
cinta padamu?
Batinnya kembali menunggu untuk apa
yg akan terjadi selanjutnya.

“kau pasti sudah tahu yoona..haruskah
aku mengatakannya?”

“ya..apapun itu kau semestinya
mengatakan padaku”

“aku tak mengerti apa yg dimaksud
cinta, aku tak pernah merasakan itu”

Siwon kembali meraih tangannya.

“Aku benci melihatmu bersama pria
lain, aku marah ketika mereka
menyentuhmu, aku ingin kau hanya
denganku, hanya bersamaku, hanya
untukku, aku ingin memilikimu yoona..
Kumohon jangan lagi melarikan diri
dariku”

Pernyataan yg bersumber dari sikap
posesif nya entah mengapa langsung
menerbangkan kupu-kupu yg sedari
tadi berdiam diperutnya.

Aneh..
Apakah ia merindukan sikap posesif
itu?

“Siwon.. Kau…”

“aku tak tahu apa artinya semua itu..
Jika itu semua berarti cinta? Ya.. Aku
mencintaimu Yoona! Sangat
mencintaimu, hingga membuatmu
merasa sakit karna aku tak bisa
mengartikan itu.. Aku mencintaimu”

“kau bodoh..”

Menghambur kepelukannya, Yoona
memeluknya erat, lega karna akhirnya
ia mendengar siwon menyuarakan
kalimat itu padanya.

“jadi apa kau menerima lamaranku?”

“emm..tergantung!”

Siwon mengerutkan dahi dan langsung
melepaskan pelukan yoona, heran
dengan jawaban yg diberikannya.

tergantung?

Apa maksudnya?

“tergantung?”

“hm..”

“tergantung apa yoona? bukankah aku
sudah katakan aku mencintaimu?
Bukankah pernyataan itu yg ingin kau
dengar agar kau mau menikah
denganku?”

Oow…

Kau masih perlu menjelaskan yoona! Jelaskan padanya
bahwa cinta bukan sekedar
pengucapan, cinta memang dibutuhkan
sebagai landasan menjalin sebuah
pernikahan, tapi didalamnya haruslah
ada ketulusan, kesetiaan dan sikap
saling percaya sebagai bagian lain yg
dibutuhkan.

Yoona tertegun mendengar suara
batinnya yg tengah berdiri
menceramahinya.

menghembuskan napas perlahan ia
menatap siwon yg juga tengah
menatapnya penuh ketidak mengertian.

“aku memang menginginkan kau
menyuarakannya, tapi cinta bukanlah
sekedar pengucapan, dan landasan
sebuah pernikahan bukan hanya itu”

“ini rumit yoona, aku tak mengerti apa
yg kau katakan”

Siwon meremas rambutnya penuh
kefrustasian, satu langkah yg ia anggap
bisa membuatnya maju ternyata jauh
lebih rumit dari negosiasi bisnis yg
sering kali ia lakukan.

“dengarkan aku.. Jika kau mencintaiku,
jika kau memang tak bertujuan untuk
sekedar mengikatku, kau harus percaya
padaku, kau harus setia dengan
komitmen mu padaku, jika
perkataanmu benar kau sakit hati
melihatku dengan pria lain, begitupun
denganku.. Aku ingin kita sama-sama
setia satu sama lain, kau harus
mempercayaiku, karna aku sangat
percaya padamu siwon”

“Ya Tuhan.. Iya yoona, ya. Bagaimana
mungkin aku tak mempercayaimu, aku
akan berkomitmen denganmu,
komitmen yg hanya ada aku dan kau
didalamnya, tidak seorangpun yg bisa
masuk diantara kita”

Oh..
Yoona tampak tak memahami maksud
kalimat yg diucapkan siwon…

‘hanya ada kau dan dia dalam
pernikahan itu’
tidakkah itu terdengar aneh?
Tidakkah dia berpikir nantinya kalian
akan mempunyai keturunan?
yg otomatis nantinya akan hadir
diantara kalian..
Batinnya ikut membantunya mencerna
ucapan siwon.

Oh..
Begitukah?

Siwon menyadari kerutan pada dahi
yoona serta kediamannya menandakan
ia tengah berpikir.

“kenapa lagi yoona?”

“euh..apakah maksudmu tadi adalah…”

menggigit bibir bawahnya, ia nampak
ragu untuk mengatakan apa yg ada
dipikiran nya.
jelas masalah ini perlu untuk
dibicarakan lebih jauh, tapi sayangnya
sekarang bukanlah tempat yg tepat
untuk bisa berbicara, karna keduanya
tengah berada dipinggir jalan dan hal
itu yg baru disadari oleh yoona hingga
membuatnya pada akhirnya memilih
untuk menunda menyuarakan apa yg
tengah ada dalam pikirannya.

“kenapa sayang?”

Seperti tiupan angin kencang,
panggilan sayang yg kembali
diucapkan siwon padanya sukses
menerbangkan pikiran-pikiran buruk
dari kepalanya.

“emm.. Aku sedang memikirkan
apakah keluarga kita akan menerima
kita bersama”

“Astaga.. Kenapa kau justru
mempertanyakan hal itu? Tentu saja
mereka akan menerima”

“tidak..kita harus bertanya pada
mereka, apa mereka bisa menerimaku
sebagai calon istrimu dan bukan lagi
sekedar sahabatmu”

Yoona merasakan semburat kemerahan
yg tiba-tiba menjalari wajahnya, ia
merona akan kalimatnya sendiri.

Astaga…

Calon istri?
Jadi sekarang kau menyebut dirimu
calon istri siwon, Im Yoona?
Batinnya sedikit mengejek namun tak
menyurutkan rona merah diwajahnya.

tak ada yg salah bukan?
Siwon nyatanya telah mengajukan
lamaran untuk menikahinya.
Walaupun masih ada kalimat yg cukup
tak bisa ia pahami, namun
menyingkirkan hal itu untuk nantinya
akan ia bahas lebih jauh dengan siwon,
telah menjadi keputusanya.

“tapi secara pribadi kau menerima
lamaranku kan?”

Siwon kembali meraih tangan yoona
dengan tatapan penuh pengharapan.

mengangguk, yoona akhirnya
memberikan kepastian disertai
senyumnya yg sedikit mengembang.

“ya siwon.. Aku ingin menikah
denganmu”

binar-binar kebahagiaan itu tak luput
dari mata keduanya yg saling menatap.
dengan segera siwon memasangkan
cincin yg beberapa detik kemudian
telah melingkar indah dijari manis
yoona.

“trimakasih yoona..trimakasih untuk
mau menerimaku”

Menarik tangannya kewajah, siwon
memberikan kecupan pada punggung
tangannya.

“tapi jika adik-adikmu tak menerimaku,
apa aku bisa melepas ini?”

Terkejut mendengarnya, siwon segera
memelototinya.

“aku hanya bercanda, cepat sekali kau
marah”

“bercandamu tidak lucu yoona”

Membungkus  pinggang
yoona dengan lengannya, Siwon memeluknya erat.

“mereka pasti akan menerimamu.. Ayo
kita buktikan!”

“apa?”

“kita buktikan apakah kekhawatiranmu
itu benar atau tidak, kita temui keluarga
kita”

Siwon lantas menarik yoona,
membawanya kembali masuk kedalam
mobilnya, rona bahagia tak bisa lagi ia
sembunyikan.
ternyata Rasanya sangat
menyenangkan seperti dirinya telah
terlepas dari belenggu yg selama ini
membebaninya hingga menyulitkannya
untuk melangkah.

***

“kami akan menikah, bagaimana
menurut kalian?”

siwon yg sudah meminta soojung dan
adik-adiknya berkumpul dirumahnya
langsung berucap tanpa basa-basi, yg
membuat ketercengangan dari
semuanya.

“kalian setuju kan..??”

“Hyung.. Apa kau serius?”

“apa aku terlihat bercanda?”

“Noona kau juga…”

“iya Minho jika kalian semua setuju
kami akan menikah”

Tersenyum keduanya saling menatap.

“oenni ya.. Kau tak sedang hamil kan?
Kenapa terburu-buru menikah”

Ucapan soojung sontak mendapat
tatapan tajam dari yoona.

“soojung ah.. Oenni…”

“ne yoona.. Apa kau hamil?”

Sooyoung ikut memberikan tatapan
curiga seperti yg soojung lakukan
kearah yoona.

“Tidak.. Yoona tidak hamil, tidak akan
pernah”

Siwon merangkulnya dan memberikan
jawaban sekaligus pernyataan yg
membuatnya shock.

Astaga…

Dengar yg dia katakan?
Kau tak akan pernah hamil?
Oh yoona..
Dia tak menginginkan anak nantinya.

Batinnya lemas menunjukan kesedihan
juga keprihatinnya.

“Siwon tapi.. Aku ingin kita…”

Yoona tak bisa meneruskan
kalimatnya, suaranya seolah tertahan
ditenggorokan nya ketika siwon
mengeratkan pelukannya dan
menatapnya dengan tatapan yg begitu
dalam namun tak ia mengerti maknanya.

Oh…

Apa Pria ini takut?
Apa yg ditakutkan nya dengan seorang
anak?

“siwon..”

“kita berkumpul untuk mengatakan
rencana pernikahan kita yoona, bukan
untuk membahas hal yg lain”

Siwon tak memberinya kesempatan
untuk berbicara, dia justru kembali
mengalihkan pembicaraan mengenai
tanggapan keluarganya akan
keputusannya untuk menikahi yoona.

“Aku setuju saja oppa menikah dengan
oenni.. Aku senang yoona oenni
akhirnya benar-benar akan menjadi
keluarga kita secara resmi”

Sulli yg pertama menyatakan
persetujuannya dengan senyum dan
mata berbinar penuh kebahagiaan.

Siwon balas memberikan senyuman,
dan tatapan matanya mengarah pada
yoona yg berada disampingnya, ia
hanya menyambut persetujuan sulli
dengan senyum sesaat, masih ada yg
mengganjal dipikirannya.

“jika oppa dan yoona sudah
memutuskan.. baiklah aku juga setuju”

“trimakasih sooyoungie..”

“hm.. Apa aku bisa memberitahu
Kyuhyun oppa?”

“tentu saja..”

Lagi-lagi hanya siwon yg menanggapi
sementara yoona masih bergelung
dengan pemikiran dan batinnya yg
terus memberontak dengan penolakan.

Kau tak bisa melakukannya yoona,
tidak..
Dia jelas mengatakan kau tak akan
pernah hamil, dia menolak memiliki
anak!
Rumah tangga macam apa yg nantinya
akan kau jalani?
Keluarlah cepat…
Dia hanya memanfaatkan mu,
Siwon jelas hanya menginginkan
tubuhmu sebagai pemuas nya.
Menyerahlah pada pria ini sebelum
kau menyesal, Hentikan kebodohanmu
Yoona…
Hentikan…

Yoona menggelengkan kepalanya,
menolak perkataan batinnya yg sedari
tadi terus memprotesnya.

“noona gwechana?”

“nde..?”

Yoona tersadar ketika minho
menyentuh bahunya, rupanya ia tak
menyimak saat minho mengatakan
persetujuannya.

“aku setuju noona menikah dengan
hyung”

Minho lantas memeluknya untuk
berbisik.

“trimakasih untuk tidak menyerah pada
hyung, trimakasih untuk bertahan,
tetaplah seperti ini noona, tetaplah
disampingnya, aku tahu masih ada yg
memberatkanmu, tapi kuharap noona
tak menyerah setelah melangkah
sejauh ini”

Minho melepaskan pelukannya, dia
tahu jika terlalu lama melakukannya,
hyung nya sendiri pasti yg akan
menjauhkannya

“trimakasih minho..”

“Kau tahu aku menyayangimu noona”

“ne.. Aku tahu itu”

Minho selalu bisa memahaminya, dan
entah kenapa yoona merasa
mendapatkan keyakinan setelah apa yg
dikatakannya tadi.

“jika kalian semua telah setuju, aku
akan membawa yoona bertemu kakek
untuk menentukan tanggal
pernikahannya”

“aku tahu kalian baik saat bersama,
kuharap oenni dan oppa selalu
bahagia”

Soojung memeluknya, dan dia
menangis, sedih bercampur bahagia
mungkin yg saat ini tengah dia
rasakan.

Sedih karna kemungkinan ia takkan lagi tinggal bersama oenni nya. Dan bahagia karna ikut merasakan kebahagiaan yoona.

***

Setelah pembicaraan malam itu
dengan keluarganya, Siwon menepati
ucapannya, dia telah mengajak yoona
bertemu dengan sang kakek seminggu
yg lalu.

Dari hasil pembicaraan mereka, sang
kakek cukup antusias menyambutnya
dan memberikan waktu kurang dari
dua bulan untuk melakukan persiapan.

Yoona benar-benar meneruskan
langkahnya, jika ia bisa membuat
siwon untuk berkomitmen dengan nya,
bukan tidak mungkin ia juga bisa
membuat siwon menerima kehadiran
anak diantara mereka nantinya.

Tapi untuk saat ini, ia bisa memahami
ketakutan yg masih siwon rasakan.
untuk itu ia setuju dengan permintaaan
siwon, yg memintanya mendatangi
salah satu rumah sakit untuk bertemu
dengan dokter yg akan memasangkan
alat kontrasepsi padanya.

Untuk sementara ia akan menggunakan
kontrasepsi yg bisa mencegahnya
hamil, sampai ia berhasil meyakinkan
siwon. Tak ada yang salah apalagi perlu ditakutkan dengan hadirnya bayi dalam kehidupan mereka.

“annyeong haseyo..”

“masuklah Ny… Tn.Choi sudah
menghubungi saya”

tersenyum hangat, yoona melangkah
masuk untuk kemudian melakukan
pemeriksaan.

Menghembuskan napas, sang dokter
nampak terkejut dan sekilas menatap
penuh tanya pada yoona

“saya tidak bisa melakukannya Nyonya..”

“maksud dokter?”

“apa anda tak menyadarinya?”

mengerutkan dahi, ia merasa semakin
tak mengerti dengan perkataan sang
dokter padanya.

“anda sedang hamil Nyonya…”

“A pa? Ha..mil??”

Batinya seketika lemas,
membayangkan akan seperti apa jika
Siwon mengetahuinya?
Dan Pernikahannya?
Apakah siwon akan membatalkan nya?

Oh Tuhan…

Tidak…

Yoona ternganga menghadap Dr.Kim yg
telah melakukan pemeriksaan padanya.

Dunia disekitarnya seakan mulai
runtuh.

Hamil…

Seorang bayi. Seorang bayi?
Tidak..
Tidak sekarang!
Mengapa harus sekarang?
Ia sangat tahu bahwa Siwon akan panik
luar biasa..

“Ny.Choi, anda sangat pucat, apa anda
ingin segelas air?”

“ya..”

Suaranya lemah, pikirannya berpacu..
Hamil?
Kapan?

“saya rasa anda terkejut”

Yoona mengangguk dalam diam pada
dokter saat ia menerima segelas air
kemudian meneguknya, kemudian
berkata pelan.

“terguncang..”

“menilai dari reaksi anda, saya
menduga baru beberapa minggu dari
masa pembuahan, dan saya rasa anda
belum mengalami gejala apapun?”

masih dalam keadaan diam,ia
mengangguk.

Gejala?
Tidak,ia tak merasakan gejala apapun,
selain fakta yg baru ia sadari bahwa
jadwal datang bulannya telah lewat.

Ataukah…

Pusing dan mual yg beberapa waktu
lalu sempat ia rasakan adalah
gejalanya.
Berarti ia telah salah mengira?
Itu bukanlah migrain melainkan gejala
kehamilannya?

Tidak.. Tidak…

Ia mengkonsumsi beberapa pil waktu
itu. Mungkinkah hal itu bisa merusak
janin nya?
Tiba-tiba yoona mendekap perutnya,
seolah memproteksi janin dalam
perutnya.

Bodoh…

Jika benar ia telah hamil saat itu, ia
bisa membunuh janinnya sendiri..

“dokter, berapa kira-kira usianya..?”

“kemungkinan empat atau lima minggu”

Syukurlah…

Ia merasa lega, berarti waktu itu ia
memang migrain dan belum hamil
seperti sekarang.

“kita bisa lakukan ultrasound untuk
mengetahui sejauh mana janinnya telah
berkembang, mari kita lakukan
sekarang”

Dr.Kim menuntunnya ke bagian lain
dalam ruanganannya yg berisi
peralatan komputer canggih, kemudian
menarik mesin ultrasound mendekat,
sembari duduk Dr.Kim memposisikan
layar hingga keduanya dapat melihat
layar itu kini menyala.

“tolong berbaring dan tekuk lutut anda
kemudian buka keduanya lebar-lebar Nyonya..”

ucap sang dokter blak-blakan membuat
Yoona membeku dalam kegelisahan.

“Jika anda hamil,kita bisa melihat
janinnya dengan alat ini, namanya
transvaginal ultrasound”

Oh..
Dia pasti bercanda!

Batinnya yg sedari tadi lemas kini
justru dibuat bergidik ngeri melihat
sang dokter mengangkat alat berwarna
putih itu.

“ne..”

Ia menggerutu, ketakukan, dan mulai
melakukan apa yg Dr.Kim perintahkan.

“tolong relaks Ny.Choi”
Relaks?

Hey.. Dia hamil!
Bagaimana kau bisa menyuruhnya
untuk relaks?
Batinnya meneriaki sang dokter…

Dengan perlahan dan lembut Dr.Kim
memasukkan alat itu dan visualisasi
dalam layar yg kemudian terlihat oleh
yoona hanyalah sesuatu yg mirip
dengan kabut.

“disana Nyonya..”

Dr.Kim menekan sebuah tombol yg
menghentikan gambar dilayar kemudian
menunjuk pada sebuah titik kecil
berwarna sepia mungkin…

Wow…

Ada titik kecil itu diperutnya.
Sangat kecil.
Yoona seakan lupa akan rasa
ketidaknyamanan oleh alat itu ketika ia
telah menatap titik kecil dalam
perutnya dengan rasa terkejut sekaligus takjub.

“terlalu dini untuk mendeteksi detak
jantungnya, tapi ya.. Anda jelas sedang
hamil Nyonya”

Yoona terlalu tercengang untuk
mengatakan apapun.
Titik kecil itu adalah janin yg akan
tumbuh menjadi bayi.
Bayi suci yg nyata.
Bayi dari Siwon.
Bayiku. Seorang bayi!

Ya Tuhan…

“apa anda ingin saya mencetak gambar
itu”

Ia mengangguk, masih tak bisa
berkata-kata saat Dr.Kim kemudian
menarik alat itu darinya.
Terhuyung, ia terburu membenarkan
pakaiannya dan kemudian menghampiri
Dr.Kim yg telah kembali berada dibalik
mejanya.

“anda harus mulai mengkonsumsi
vitamin kehamilan dan ini adalah
seleberan mengenai apa yg boleh dan
tidak boleh anda lakukan”

Dr.Kim masih terus berbicara, namun
sepertinya yoona tak menyimaknya. Ia
terguncang dan kewalahan.

Seharusnya ia bahagia, tapi ini terlalu
cepat..
Mencoba mengendalikan kepanikannya,
ia lantas mengucapkan salam
perpisahan yg sopan pada Dr.Kim
kemudian berjalan kepintu keluar.

Kini ia mulai diliputi oleh perasaan
dingin yg mengerikan dan perkataan
siwon yg menghantuinya menyebabkan
firasat buruk secara tiba-tiba.

Siwon akan panik dan mungkin menjadi
kacau oleh kehamilannya.
Masuk kedalam mobilnya, ia mulai
mengemudi dengan perasaan
berkecamuk.
Ia seharusnya bahagia, itu yg
semestinya ia rasakan. Tapi ia tak
merasa seperti itu. Ini terlalu cepat.

Jauh terlalu cepat.

Bagaimana dengan Siwon dan dirinya?
Bagaimana pernikahannya?

Tidak.. Tidak…

Semua akan baik-baik saja.
Siwon akan baik-baik saja.
Dia pasti akan menerima
kehamilannya.
Bayinya..
Siwon pasti bisa menerimanya.
Dia menyukai Sulli saat masih bayi, ia
ingat itu ketika minho menceritakan
masalalu nya. Dan sekarangpun Siwon
terus menyayanginya,
hanya itu yg terus ia coba yakini, dan
menghentikan arah pemikiran buruknya
ketika mobil yg dikendarainya mulai
memasuki pekarangan rumah siwon.

Dan secara instingtif satu tangannya
bergerak melindungi perutnya. Titik
kecilnya.
Airmatanya berjatuhan saat melihat
siwon berdiri diambang pintu
menunggunya.
Apa yg harus ia lakukan?
Berkata jujur ataukah menyembunyikan
kenyataan itu darinya?

“Ya Tuhan..bantu aku”

Gambaran tentang seorang bocah
dengan rambut hitamnya dan matanya
yg cemerlang tiba-tiba muncul ketika
yoona terus menatap siwon dari dalam
mobilnya.

Bocah itu berlarian disekitar halaman,
tertawa dan memekik bahagia ketika
dirinya dan siwon mengejarnya,
mengayunkannya tinggi kemudian
menggendongnya. Gambaran itu
menginvasi pikirannya, membuatnya
tergiur akan kemungkinan bocah itu
adalah anaknya.

Namun sedetik kemudian, gambaran itu
berubah menjadi siwon yg menatapnya
jijik, ia gemuk karna mengandung dan
siwon melangkah kelorong
menjauhinya, suara langkah kakinya
menggema membuat ia merasakan
sakit dihatinya.

Siwon…

Ia tersadar…

Tidak…

Siwon akan murka..
Membuka sabuk pengaman, ia keluar
dari mobil dan berjalan menghampiri
siwon dengan gelisah.

“hai sayang..”

“hai..”

ia menggumam pelan, kemudian
berjalan melewatinya.

“ada apa?”

“tidak ada apa-apa”

“apa semuanya baik?”

Siwon mengikuti dibelakangnya dan
mencoba melakukan penyelidikan.

Aku hamil..!

Yoona menjerit dalam hati.

“ya baik. Pasti”

“Yoona, ada apa?”

Nada suaranya memaksa, membuat
yoona bergetar.
Siwon lantas meraih tangannya dan
menggenggamnya.

“Astaga tanganmu dingin, kau pucat,
sudahkah kau makan?”

“belum dan aku lapar sekarang”

Siwon merangkulnya ke meja makan
dan memerintahkan pelayan rumah
menyiapkan makan malam mereka.

Yoona hanya memainkan makanannya,
sebenarnya ia tak merasa lapar,
perutnya tegang karna was-was.

“Bagaimana pertemuanmu dengan
Dr.Kim tadi?”

Sial…

Ini adalah pertanyaan yg paling ingin ia
hindari saat ini.
Bisakah ia menghindar sekarang?

“aku tak bisa memakai kontrasepsi”

“kenapa? Bukankah kita telah sepakat”

Menelan ludah dan mencoba
meredakan panik yg telah mencapai
tenggorokannya, ia mencoba
mengambil napas dalam-dalam.

Sekarang atau tidak selamanya…

“Aku hamil”

Siwon terdiam, dan dengan segera
semua warna memudar dari wajahnya
yg kemudian berubah menjadi pucat.

“A pa?”

“Aku hamil”

Alisnya berkerut dengan ekspresi
wajah yg tak mengerti.

“Bagaimana bisa kau hamil?”

bagaimana..bagaimana bisa?
Pertanyaan menggelikan macam apa
itu?
Batinnya memicingkan mata
mendengarnya.

“menurutmu apa yg akan terjadi bila
kita berhubungan tanpa pengaman?
Itulah jawabannya!”

Cara berdirinya berubah seketika,
tatapan matanya pada yoona mengeras
layaknya batu api.

“kau bilang kau mengkonsumsi pil!”

“itu mungkin saja tak efektif, atau aku
terkadang lupa meminumnya”

“Ya Tuhan, Yoona!”

Siwon memukul meja, dan berdiri
dengan kasar hingga hampir
menjatuhkan kursi, membuat yoona
terkejut luar biasa, dan hanya bisa
menatapnya dalam kebisuan.

Astaga…

Dia sangat marah..

“Sial! Aku tak percaya ini.. Bagaimana
kau bisa begitu bodoh dan
melupakannya?”

Bodoh!
Ia tersentak dan sangat ingin berteriak
bukan hanya dirinya yg bodoh.

“Bodoh! Kenapa hanya aku yg bodoh?
Jika kau tak menginginkan seorang
bayi, seharusnya kau juga berhati-hati
dan tidak sembarangan meniduriku
semaumu!”

Yoona memekik dalam kemarahan, tak
habis pikir bagaimana siwon
menyalahkannya atas kehamilannya, yg
terjadi bukan sepenuhnya
kesalahannya.

Siwon terdiam, ya.. Seharusnya dia
berhati-hati. Dia selalu berhati-hati
dengan wanita lain, tapi tidak dengan
yoona. Yoona bisa membuatnya terlena
hingga melupakan kehati-hatiannya.

“maafkan aku”

Demi Tuhan..
Kau tak perlu minta maaf padanya!
Batinnya berputar-putar dalam
kebingungan.

“aku tahu waktunya tidak tepat”

“SANGAT TIDAK TEPAT!”

Berteriak, Siwon kemudian menutup
mata mencoba meredam
kemarahannya.

“Siwon.. Kumohon jangan berteriak
padaku”

airmata mulai jatuh dipipi yoona.

“jangan mulai dengan segala airmata
sekarang.. Sial! Kau pikir aku bisa
menjadi seorang ayah?”

suaranya tersendat, dan merupakan
campuran dari kemarahan dan
kepanikan.
Semua menjadi jelas, ketakutan dan
kebencian yg tampak dimatanya akibat
sosok sang ayah yg begitu kejam
dimasalalu.

“aku tahu kau tak siap akan hal ini,
begitupun denganku, tapi kupikir kau
bisa menjadi ayah yg luar biasa”

“Tidak Yoona.. Kau pikir apa yg bisa
kulakukan? Bayi? Seorang bayi? Aku
bahkan tak menginginkanmu hamil,
bagaimana bisa kau akan melahirkan
bayi yg mengalir darahku didalamnya..
Tidak.. Aku tak ingin mengalirkan
darah ini, Sial! Aku tak menginginkan
ada lagi perusak sepertiku, Aku tak
menginginkannya!”

“Siwon.. Berhenti berpikir seperti itu!”

“Persetan dengan semua itu! Tidak
Yoona..!”

Siwon melenguh lemah dan
mengangkat tangannya sebagai tanda
menyerah.
Dia membalikkan tubuhnya
berjalan meninggalkan ruang makan.
Langkah kakinya menggema ketika ia
menghilang masuk kedalam kamarnya,
dan kembali keluar setelah memakai
jaket.
Dia membanting pintu dibelakang
nya kemudian pergi…

Dia meninggalkan Yoona sendiri dalam
keheningan.

Yoona menatap ngeri kearah
pintu yg tertutup.
Siwon
meninggalkannya…

Ya Tuhan…

Reaksinya jauh lebih buruk dari yang
bisa ia bayangkan.

Mendorong kursi dibelakangnya, ia
melangkah meninggalkan ruang makan
sambil terisak…

*

*

*

TBC~

152 thoughts on “♥ I Need ROMANCE ♥ Chap 4

  1. Tdi sempet meleleh saat siwon mengungkapan persaannya dan melamar yoona tp hanya sebentar
    Yahh siwon oppa kenapa jahat sekali
    Harusnya dia bahagia yoona eonni hamil anaknya
    Siwon pliss move on dari masa lalu

  2. pgn menghajar siwon, stlh ia menanamkan benih skrg dia gk menginginkan hasilnya..
    ia selalu aja melukai yoona
    yoona hrs melawannya. jgn ampe dia melukai yoona dan bayinya…
    aku rasa yoona bs pergi lg jk siwon masi menolak bayi mrka…
    lanjut….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s